IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TENTANG YODISASI TERHADAP MUTU GARAM PADA INDUSTRI GARAM SKALA KECIL DI KECAMATAN KALIORI KABUPATEN REMBANG

Gratis

20
166
155
2 years ago
Preview
Full text
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TENTANG YODISASI TERHADAP MUTU GARAM PADA INDUSTRI GARAM SKALA KECIL DI KECAMATAN KALIORI KABUPATEN REMBANG SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Oleh: Luthfia Zauma 6411410106 JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014 IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TENTANG YODISASI TERHADAP MUTU GARAM PADA INDUSTRI GARAM SKALA KECIL DI KECAMATAN KALIORI KABUPATEN REMBANG SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Oleh: Luthfia Zauma 6411410106 JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014 Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Juni 2014 ABSTRAK Luthfia Zauma Implementasi Kebijakan Tentang Yodisasi Terhadap Mutu Garam pada Industri Garam Skala Kecil di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, V + 136 halaman + 4 tabel + 8 gambar + 19 lampiran Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu garam yang di produksi oleh produsen garam serta menganalisis faktor pendukung dan penghambat implementasi kebijakan tentang yodisasi dan pengadaan garam beryodium di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang. Jenis penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (indept interview) dengan para informan awal yang di tentukan dengan teknik purposive sampling yaitu dari Kepala Seksi Usaha Industri Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang, Kepala Bidang Pemerintahan, sosial dan Budaya Bappeda Kabupaten Rembang, Pemilik Perusahaan Garam, dan Petani garam dengan jumlah informan seluruhnya 6 orang. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dengan alat bantu panduan wawancara dan pengumpulan data melalui wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data penelitian menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian ini adalah Implementasi kebijakan tentang yodisasi dan pengadaan garam beryodium di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang belum berjalan maksimal. Faktor yang mendukung dan menghambat implementasi kebijakan tentang yodisasi dan pengadaan garam beryodioum antara lain: Komunikasi yang belum berjalan optimal, kurangnya informasi dari petugas mengenai isi kebijakan, perbedaan persepsi antara petugas dan produsen serta tidak tegasnya pengawasan terhadap pelanggaran yang terjadi. Saran yang peneliti rekomendasikan adalah sosialisasi merk dagang garam yang terjamin kualitasnya dan meningkatkan bantuan alat yodisasi. Kata Kunci : Implementasi Kebijakan, Yodisasi, Garam beryodium Kepustakaan : 45 (1979-2014) ii Public Helath Science Departement Faculty of Sport Science Semarang State University June 2014 ABSTRACT Luthfia Zauma Implementation Of Policy About Iodization Toward Salt Quality At Small Scale Of Salt Industry In Kaliori Subdistrict, Rembang Regency, V + 136 pages + 4 tables + 8 images + 19 attachments The aim of this research is to study salt quality produced by salt producer and analizes supporting factors and inhibiting factors policy implementation of iodization dan levying iodized salt in Kaliori Subdistrict, Rembang Regency. This type of research is, technical collecting data by in-depth interview, the firs informan were selected by Sampling Purposive Method. They are form Head of Labor Industry Section Trade and Industry Departement of Rembang Regency, Head of Goverment, Social, and Culture Section Planning and Development Committee of Rembang Regency, Salt Producer, Salt Farmer, altogether amout to 6 peoples. The instrument tools used for this research are researcher itself and Interview guide, collecting data from interview result, documentation. The techiques analyze of research data use Interactive model analyzes. The results of this research are the policy implementation of iodization dan levying iodized salt in Kaliori Subdistrict, Rembang Regency not works maximally yet. It can be seen from the orientation of goverment and the realization talked about that were not appropriate with that expected after policy was acceptable. There are many supporting factors and inhibiting factors of policy implementation of iodization dan levying iodized salt, they are communications which not worked optimally yet, Lack of information about a policy from officer, the perception differences between producer and officer and not explicitly controling and monitoring about infraction. The advice can be given is salt brand secured sosialization and improve assist of iodization tools. Keywords Literatute : Implementation of policy, Iodization, iodized salt : 45 (1979-2014) iii PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Implementasi Kebijakan Tentang Yodisasi Terhadap Mutu Garam pada Industri Garam skala Kecil di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang” adalah hasil pekerjaan saya sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah digunakan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian maupuan yang belum atau tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam daftar pustaka. Semarang, Peneliti, Juni 2014 Luthfia Zauma iv PERSETUJUAN Dengan ini skripsi yang berjudul “Implementasi Kebijakan Tentang Yodisasi Terhadap Mutu Garam pada Industri Garam skala Kecil di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang” telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan panitia sidang ujian skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Semarang, Menyetujui, Pembimbing I Mardiana, S.KM, M.Si NIP. 198004202005012003 Mengetahui, Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Dr. dr. Hj. Oktia Woro, KH, M.Kes NIP. 195910011987032001 v v Juni 2014 MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO  Kita tidak perlu jadi matahari dalam kehidupan orang lain. Boleh jadi, kita cukup jadi lampu teplok bagi kehidupan diri sendiri. Yang menerangi hidup kita, pilihan-pilihan kita, sikap, kejujuran, integritas, pun termasuk menerangi kebahagiaan hidup kita (Darwis Tere Liye).  Bahkan jika kau ingin meminta kepada tuhanmu, kau harus mengikuti prosedurnya. PERSEMBAHAN Tanpa mengurangi rasa syukur kepada Allah SWT, Skripsi ini penulis persembahkan untuk : 1. Ayahanda (Zaenuri Abha) dan Ibunda (Umi Marhamah) tercinta atas segala dukungan, motivasi dan doanya yang tak pernah berhenti. 2. Adik-adikku tercinta (Fathi Falaha Zauma dan Afiqha Rahmati Zauma) yang selalu menjadi semangatku. 3. Sahabat-sahabatku tersayang (Neydi Zahara Rimadani dan Evi Kurniawati), serta Kekasihku (Ali Imron). 4. Almamaterku Universitas Negeri Semarang, khususnya Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. vi KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Implementasi Kebijakan Tentang Yodisasi Terhadap Mutu Garam pada Industri Garam skala Kecil di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang” dapat terselesaikan dengan baik. Penyelesaian skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi persyaratan agar memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Keberhasilan Penyelesaian penelitian sampai dengan tersusunnya skripsi ini atas bantuan dari berbagai pihak, dengan Rendah hati disampaikan terima kasih kepada : 1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Dr. Harry Pramono, M.Kes., atas ijin penelitian. 2. Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Drs. Tri Rustiadi, M.Kes, atas ijin penelitian. 3. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Dr. dr. Oktia Woro KH, M.Kes., atas persetuan penelitian yang diberikan. 4. Pembimbing Skripsi Mardiana, S.KM, M.Si, atas bimbingannya dalam penyusunan skripsi ini. 5. Penguji I, Dr. dr. Oktia Woro KH, M.Kes., atas saran-saran dan masukan yang diberikan dalam skripsi ini. vii 6. Penguji II, Drs. Bambang Wahyono, M.Kes atas saran-saran dan masukan yang diberikan dalam skripsi ini. 7. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat atas bekal ilmu pengtetahuan yang diberikan selama di bangku kuliah. 8. Staf TU Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat (Bapak Ngatno) dan slurus staf TU FIK UNNES yang telah membantu dalam segala urusan administrasi dan surat perijinan penelitian. 9. Kepala Seksi Usaha Industri Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang, Ibu Sri Wahyuni dan Kepala Bidang Pemerintahan, sosial dan Budaya Bappeda Kabupaten Rembang, Bapak Sulistiyo SE. 10. Produsen Garam Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang (Bapak Pupon dan Bapak Sutopo), Petani Garam di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang ( Bapak Suharno) atas bantuan dan kerja samanya. 11. Ayahanda (Zaenuri Abha) dan Ibunda (Umi Marhamah), adik-adikku tercinta (Fathi Falaha Zauma dan Afiqha Rahmati Zauma) dan sahabat-sahabatku tersayang (Neydi Zahara Rima dan Evi Kurniawati), serta Kekasihku (Ali Imron) atas segala motivasi, cinta, kasih dan sayang, dukungan baik moral maupun materil serta doa-doanya selama menempuh pendidikan dan penyusunan skripsi ini. 12. Teman-temanku Peminatan Gizi, Qiqi, Teteh, Novi, Dina, Yos, Viqa, Tiara, Tisa, Valent dan juga Iin, Amel, Nuning, Agung, Syafa, Pristi, Mustafidah, viii serta seluruh mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat angkatan 2010 atas motivasi dan bantuan serta doa dalam penyususnan skripsi ini. Semua pihak yang telibat dalam penelitian dan penyususnan skripsi. Masih banyak kekurangan dalam skripsi ini, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan guna menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Semarang, Penulis, Luthfia Zauma ix Juni 2014 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i ABSTRAK ..................................................................................................... ii ABSTRACT .................................................................................................... iii PERNYATAAN .............................................................................................. iv PENGESAHAN .............................................................................................. v MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................. vi KATA PENGANTAR .................................................................................... vii DAFTAR ISI .................................................................................................. x DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xvi BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 4 1.3 Tujuan ........................................................................................................ 5 1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................................... 5 1.4.1 Untuk Dinas Terkait ............................................................................... 5 1.4.2 Untuk Produsen Garam .......................................................................... 6 1.4.3 Untuk Peneliti ........................................................................................ 6 x 1.5 Keaslian Penelitian .................................................................................... 6 1.6 Ruang Lingkup .......................................................................................... 9 1.6.1 Ruang Lingkup Tempat .......................................................................... 9 1.6.2 Ruang Lingkup Waktu ........................................................................... 9 1.6.3 Ruang Lingkup Materi ........................................................................... 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 11 2.1 Kebijakan Pemerintah ............................................................................... 11 2.2 Implementasi Kebijakan Pemerintah ........................................................ 14 2.3 Pendekatan-Pendekatan Dalam Implementasi Kebijakan Publik ............. 17 2.4 Model Implementasi Kebijakan Publik ..................................................... 19 2.4.1 Model George C. Edwards III ................................................................ 19 2.4.2 Model Implementasi Merilee S. Grindle ................................................ 21 2.4.3 Model Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn ............................... 22 2.4.4 Model Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier (1983) ................... 24 2.4.5 Model G. Shabbir Cheema dan Dennis A. Rondinelli ........................... 28 2.5 Kebijakan Pemerintah Tentang Iodisasi .................................................... 31 2.6 Iodisasi ...................................................................................................... 34 2.7 Garam Beryodium ..................................................................................... 35 2.7.1 Pengertian Garam Beryodium ................................................................ 35 2.7.2 Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Garam Beryodium .............. 35 2.7.3 Uji Kandungan Garam Beryodium ........................................................ 36 xi 2.7.4 Yodisasi Garam Beryodium untuk Penanggulangan GAKY Jangka Panjang ................................................................................................ 36 2.8 Produksi Garam Kecil/ Petani Berskala Kecil (Small Scale Farming) ..... 37 2.9 Mutu Garam .............................................................................................. 39 2.10 Kerangka Teori ........................................................................................ 39 BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 40 3.1 Alur Pikir ................................................................................................... 40 3.2 Fokus Penelitian ........................................................................................ 40 3.3 Jenis Dan Rancangan Penelitian ............................................................... 40 3.4 Sumber Informasi ...................................................................................... 41 3.4.1 Data Primer ............................................................................................ 41 3.4.2 Data Sekunder ........................................................................................ 43 3.5 Instrumen Penelitian Dan Teknik Pengambilan Data ................................ 44 3.6 Prosedur Penelitian .................................................................................... 44 3.6.1 Tahap Pra-Penelitian .............................................................................. 44 3.6.2 Tahap Penelitian ..................................................................................... 45 3.6.3 Tahap Pasca-Penelitian .......................................................................... 46 3.7 Pemerikasaan Keabsahan Data ................................................................. 47 3.8 Teknik Analisis Data ................................................................................. 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................. 50 4.1 Produksi Garam Di Kecamatan Kaliori ..................................................... 50 xii 4.2 Impelementasi Kebijakan Pengadaan Garam Beryodium Dan Yodisasi .. 51 4.3 Target Yang Diinginkan Pemerintah Mengenai Realisasi Pengadaan Garam Dan Program Yodisasi ................................................................ 58 4.4 Pemahaman Masyarakat Terhadap Kebijakan Pengadaan Garam Beryodium Dan Yodisasi ........................................................................ 64 4.5 Upaya Pemerintah Dalam Meningkatkan Garam Beryodium ................... 67 4.6 Fakto-Fakror Pendorong Dan Penghambat Implementasi Kebijakan Tentang Pengadaan Garam Beryodium Dan Yodisasi Di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang .................................................................. 71 4.6.1 Komunikasi ............................................................................................. 71 4.6.2 Sumberdaya ............................................................................................. 79 4.6.3 Disposisi .................................................................................................. 85 4.6.4 Keadaan Lingkungan ............................................................................. 90 4.6.5 Faktor Lainnya ........................................................................................ 93 4.7 Kelemahan Penelitian................................................................................. 96 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 97 5.1 Simpulan .................................................................................................... 97 5.2 Saran ........................................................................................................... 98 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 100 LAMPIRAN ................................................................................................... 103 xiii DAFTAR TABEL Tabel 1.1Keaslian Penelitian ........................................................................... 6 Tabel 2.1 Parameter Uji SNI Garam Konsumsi .............................................. 35 Tabel 2.2 Syarat Mutu Garam Beryodium ...................................................... 39 Tabel 4.1 Luas Lahan Garam di Kecamatan Kaliori ....................................... 55 xiv DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Hubungan Variabel yang mempengaruhi implementasi .............. 20 Gambar 2.2 Model Implementasi Kebijakan Grindle ..................................... 22 Gambar 2.3 Model Implementasi Kebijakan Van Meter dan Van Horn ........ 24 Gambar 2.4 Model Implementasi Kebijakan Mazmanian dan Sebatier ......... 27 Gambar 2.5 Model Implementasi Cheema dan Rondinelli .............................. 30 Gambar 2.6 Kerangka Teori ............................................................................ 39 Gambar 3.1 Alur Pikir ..................................................................................... 40 Gambar 3.2 Analisis Data Model Interaktif .................................................... 47 xv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil Pemantauan Garam Beryodium yang Beredar di Kabupaten Rembang ................................................................... 105 Lampiran 2. Produsen Garam di Kabupaten Rembang .................................... 107 Lampiran 3. Komposisi Pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang Menurut Pendidikan Formal .................... 108 Lampiran 4. Surat Keputusan Penetapan Pembimbing Skripsi ....................... 109 Lampiran 5. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas Ilmu Kelolahragaan Kepada Kepala Kesbangpolinmas Kabupaten Rembang ......................... 110 Lampiran 6. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas Ilmu Kelolahragaan Kepada Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang ..................................................... 111 Lampiran 7. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas Ilmu Kelolahragaan Kepada Kepala BAPPEDA Kabupaten Rembang ................................... 112 Lampiran 8. Surat Ijin Penelitian dari Kesbangpolinmas Kabupaten Rembang ..................................................................................... 113 Lampiran 9. Surat Keterangan Pelaksanaan Pengambilan Data/ Penelitian dari BAPPEDA Kabupaten Rembang ........................................ 114 Lampiran 10. Surat Keterangan Pelaksanaan Pengambilan Data/ Penelitian dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang ................................................................... 115 Lampiran 11. Surat Keterangan Pelaksanaan Pengambilan Data/ Penelitian dari Industri Garam UD. Apel Merah Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang ................................................................... 116 xvi Lampiran 12. Surat Keterangan Pelaksanaan Pengambilan Data/ Penelitian dari Industri Garam UD. Ndan-Ndut Ria Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang ................................................................... 117 Lampiran 13. Kebijakan Tentang Pengadaan Garam Beryodium ................... 118 Lampiran 14. Check list Data Skunder ............................................................ 121 Lampiran 15. Lembar Observasi ...................................................................... 122 Lampiran 16. Panduan Focus Group Discussion (FGD) ................................. 123 Lampiran 17. Instrumen Penelitian (Panduan Wawancara) ............................. 125 Lampiran 18. Dokumentasi Penelitian ............................................................. 129 Lampiran 19. Data Informan ............................................................................ 135 Lampiran 20. Hasil Wawancara................................................................................... 137 xvii 18 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Yodium merupakan mikronutrien yang diperlukan oleh tubuh untuk sintesis hormon tiroid yang berperan penting dalam metabolisme di dalam sel. Kekurangan yodium merupakan masalah yang serius mengingat dampaknya sangat besar terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia (Setyawan H, 2013: 2). Selain berupa pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroid, kekurangan yodium pada wanita hamil mempunyai risiko terjadinya abortus, lahir mati, sampai cacat bawaan, sedangkan pada bayi yang lahir akan mengakibatkan gangguan perkembangan syaraf, mental dan fisik yang disebut kretin. Semua gangguan ini dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahnya produktifitas kerja pada orang dewasa serta timbulnya berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat yang dapat menghambat pembangunan (Departemen Kesehatan RI, 2005 ). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, secara keseluruhan (perkotaan dan pedesaan) rumah tangga yang mengonsumsi garam mengandung cukup yodium mencapai 62,3%, yang mengonsumsi garam kurang mengandung yodium sebesar 23,7% dan yang tidak mengandung yodium sebesar 14,0%. Angka tersebut masih jauh dari pencapaian Universal Salt Iodization (USI) dan Indonesia Sehat, yaitu 90% rumah tangga mengonsumsi garam beryodium dengan kandungan yodium yang cukup secara berkesinambungan. Berkaitan dengan itu 18 1 192 Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, mengeluarkan Surat Edaran Nomor : JM.03.03/BV/2195/09 tertanggal 3 Juli 2009, mengenai Percepatan Penanggulangan Gangguan Akibat Kurang Yodium yang antara lain menginstruksikan kepada seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota agar meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam peningkatan garam beryodium dan menghentikan suplementasi kapsul minyak yodium pada sasaran (WUS, ibu hamil, ibu menyusui dan anak SD/MI). Hal ini diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium sebagai upaya Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Indonesia. Keppres No. 69 Tahun 1994 yang mengatur mengenai pengadaan garam beryodium menyebutkan bahwa dalam rangka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dipandang perlu melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan berbagai gangguan terhadap kesehatan manusia akibat dari kekurangan yodium melalui kegiatan Yodisasi garam. Hakekat dari regulasi tersebut adalah bahwa garam yang dapat diperdagangkan untuk keperluan konsumsi manusia, ternak, pengasinan ikan dan bahan penolong industri pangan adalah garam beryodium yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Upaya mempercepat pencapaian konsumsi Garam Beryodium Untuk Semua atau Universal Salt Iodization (USI), pemerintah melakukan pemenuhan garam nasional yang dilakukan melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi produksi garam nasional, perbaikan kualitas, perbaikan tata niaga untuk mendukung pencapaian stabilitas dan kesesuaian harga, serta dukungan sarana dan prasarana, 19 20 3 dan aspek lain yang menjadi perhatian adalah upaya pemenuhan garam beryodium untuk kebutuhan konsumsi yang sesuai dengan SNI. Garam beryodium yang memenuhi syarat SNI didukung dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 42/M-IND/PER/11/2005 tentang Persyaratan teknis pengolahan, pengemasan dan pelabelan garam beryodium. Di Indonesia terdapat 11 wilayah sentra produksi garam, yaitu Pati, Rembang, Demak (Jateng), Indramayu dan Cirebon (Jabar), Sampang, Pamekasan, Pasuruan (Jatim), Jeneponto (Sulsel), Bima (NTB), Kupang (NTT). Total produksi garam nasional dari ke-11 propinsi sentra produksi garam tersebut pada tahun 2000 mencapai 902.752 ton (Kementerian Perindustrian, 2004). Dari seluruh sentra garam yang ada di Indonesia, Jawa Tengah menjadi sentra produksi garam tingkat nasional karena memproduksi garam terbanyak untuk kebutuhan garam nasional. Kabupaten Rembang merupakan salah satu sentra garam yang ada di wilayah Jawa Tengah dengan pesisir yang memiliki luas lahan garam sebanyak 1.515,24 ha dengan jumlah penduduk sebanyak 4.120 orang yang bekerja disektor ini atau sebagai produsen garam. Pada tahun 2013 produksi garam di Rembang mencapai 107.121,09 ton atau sekitar 6,8 persen dari kebutuhan garam nasional (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang, 2013). Hasil penelitian Uji kandungan yodium dalam garam dapur yang beredar oleh Sumandi dari UNNES pada tahun 2007 di Kabupaten Rembang menunjukan bahwa bahwa 13 merek dagang garam rumah tangga yang ada di Rembang tidak 20 1 214 mengandung yodium. Hal ini berbeda dari label setiap kemasan yang menuliskan “mengandung KIO3 30-80ppm” atau “beryodium. Dengan kapasistas produksi yang sangat besar dan daerah pemasaran yang cukup luas akan sangat berbahaya jika garam yang diedarkan ke masyarakat bukan garam beryodium atau tidak memenuhi SNI. Berdasarkan data temuan ini, produksi garam yang sesuai dengan persyaratan yang ditentukan masih relatif rendah atau belum memenuhi SNI. Mendukung adanya Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium sebagai upaya Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium di Indonesia, Kabupaten Rembang sebagai salah satu sentra garam di Jawa Tengah berkomitmen untuk memberantas GAKY melalui program pengawasan peredaran garam beryodium sesuai standar SNI yang telah disepakati oleh tim pemberantasan GAKY. Dengan adanya permasalahan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Kebijakan Tentang Yodisasi Terhadap Mutu Garam Pada Industri Garam Skala Kecil di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang”. 1.2 RUMUSAN MASALAH Besarnya akibat yang ditimbulkan dari kekurangan konsumsi zat gizi mikro yodium dan masih banyak garam konsumsi yang belum mengandung cukup yodium sesuai dengan SNI (>30 ppm) beredar di Kabupaten Rembang padahal daerah tersebut merupakan salah satu sentra garam terbesar di Jawa Tengah. Jawa 21 22 5 Tengah sendiri produsen/ penghasil garam utama tingkat nasional karena memproduksi garam terbanyak untuk kebutuhan garam nasional. Atas dasar pemikiran tersebut, maka di dapat rumusan masalah yaitu : 1. Bagaimana mutu garam yang di produksi oleh produsen garam skala kecil di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang? 2. Faktor apa saja yang mendukung implementasi kebijakan tentang yodisasi di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang? 3. Faktor apa saja yang menghambat implementasi kebijakan tentang yodisasi di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang? 1.3 TUJUAN Tujuan dari penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yaitu : 1. Mengetahui mutu garam yang di produksi oleh produsen garam skala kecil di Kecamatan Kaliori kabupaten Rembang. 2. Mengetahui faktor yang mendukung implementasi kebijakan tentang yodisasi di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang. 3. Mengetahui faktor yang menghambat implementasi kebijakan tentang yodisasi di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang. 1.4 MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk : 1.4.1 Dinas Terkait Sebagai bahan informasi dan acuan yang dapat digunakan dalam pembuatan rumusan kebijakan yang akan diambil menyangkut pengadaan garam beryodium dan sebagai upaya untuk melakukan peningkatan kinerja aparat agar lebih baik. 22 236 1.4.2 Produsen Garam Memberikan informasi kepada produsen garam tentang pentingnya memproduksi garam beryodium sebagai salah satu program pemerintah dalam menanggulangi GAKY yang ada di Indonesia. 1.4.3 Peneliti Menambah pengetahuan dalam melaksanakan penelitian tentang implementasi sebuah kebijakan serta mampu menganalisis faktor pendorong dan penghambat khsusnya tentang Yodisasi Garam dan seberapa besar pengaruh Produsen garam di Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang. dalam menghasilkan garam beryodium yang baik sebagai salah satu usaha untuk mengurangi prevalensi GAKY di Indonesia. 1.5 KEASLIAN PENELITIAN Keaslian penelitian dapat digunakan untuk membedakan penelitian yang dilakukan sekarang dengan penelitian sebelumnya (Tabel 1.1) 23 247 Tabel 1.1. Penelitian-Penelitian yang Relevan dengan Penelitian Ini No. Judul Penelitian 1. Studi Implementasi Kebijakan Pengadaan Garam Beryodium di Kecamatan Batangan Kabupaten Pati Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Devita 2007 Ayu Kec. Mirandati Batangan Kab. Pati 24 Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian Indepth Interview Komunika si Sumber daya Sikap Faktor lain yang berpengaruh dalam implementasi Pertama: Implementasi Keppres No. 69 Tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium di Kec. Batangan Kab. Pati berjalan kurang maksimal dikarenakan target dan realisasi belum sesuai. Kedua: Faktor yang mendorong dan menghambat implementasi Keppres No. 69 Tahun 1994 antara lain: komunikasi yang kurang optimal, kurangnya kemampuan petugas dalam penguasaan informasi dan cara komunikasi, perbedaan persepsi 25 8 Lanjutan tabel 1.1 No. 2. Judul Penelitian Analisis Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Penghentian Suplementasi Kapsul Iodium di Kabupaten Magelang Nama Peneliti Styawan Heriyanto Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian 2013 Observasio Kabupaten nal Magelang 25 Variabel Penelitian Sasaran dan tujuan kebijakan Sumber daya Komunika si Karakteris tik badan pelaksana Lingku- Hasil Penelitian antara produsen dan petugas dalam memahami isi kebijakan, dan lemahnya penegakan hukum terhadap produsen garam yang tidak mentaati peraturan. Ketiga: Strategi optimalisasi implementor dalam pengadaan garam beryodium dalam menangani faktor penghambat belum ada. Implementasi kebijaan di Kabupaten Magelang ditemukan bahwa standar pelaksanaan belum jelas bagi pelaksana, kurangnya komunikasi dan koordinasi, belum adanya 926 Lanjutan tabel 1.1 No. Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian -ngan 6. Sikap Pelaksana SOP untuk petunjuk pelaksanaan, dan dukungan masyarakat yang kurang. Dapat disimpulkan bahwa variabel sasaran dan tujuan, sumber daya, komunikasi, karakteristik badan pelaksana, lingkungan, dan sikap pelaksana sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi kebijakan 1.6 RUANG LINGKUP 1.6.1 Ruang Lingkup Tempat Penelitian ini dilakukan di Desa Kaliori Kabupaten Rembang. 1.6.2 Ruang Lingkup Waktu Penelitian ini dilakukan pada tahun 2014. 26 27 10 1.6.3 Ruang Lingkup Materi Penelitian ini meliputi materi Kebijakan Pemerintah tentang Yodisasi garam dan peran serta Industri garam dalam membantu pemerintah dalam menjalankan program penanggulangan GAKY. 27 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KEBIJAKAN PEMERINTAH Pengertian kebijakan pemerintah prinsipnya dibuat atau atas dasar kebijakan yang bersifat luas. Menurut Werf (1997) yang dimaksud dengan kebijakan adalah usaha mencapai tujuan tertentu dengan sasaran tertentu dan dalam urutan tertentu. Sedangkan kebijakan pemerintah mempunya pengertian baku yaitu keputusan yang dibuat secara sistematik oleh pemerintah dengan maksud dan tujuan tertentu yang menyangkut kepentingan umum (Anonimous, 1992). Sesuai dengan sistem administrasi Negara Republik Indonesia kebijakan dapat terbagi 2 (dua) yaitu : 1. Kebijakan internal (manajerial), yaitu kebijakan yang mempunyai kekuatan mengikat aparatur dalam organisasi pemerintah sendiri. 2. Kebijakan eksternal (publik), suatu kebijakan yang mengikat masyarakat umum. Sehingga dengan kebijakan demikian kebijakan harus tertulis. Pengertian kebijakan pemerintah sama dengan kebijaksanaan berbagai bentuk seperti misalnya jika dilakukan oleh Pemerintah Pusat berupa Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Menteri (Kepmen) dan lain - lain. Sedangkan jika kebijakan pemerintah tersebut dibuat oleh Pemerintah Daerah akan melahirkan Surat Keputusan (SK), Peraturan Daerah (Perda) dan lain-lain. 11 12 Dalam penyusunan kebijaksanaan/kebijakan mengacu pada hal-hal berikut : 1. Berpedoman pada kebijaksanaan yang lebih tinggi. 2. Konsistensi dengan kebijaksanaan yang lain yang berlaku. 3. Berorientasi ke masa depan. 4. Berpedoman kepada kepentingan umum. 5. Jelas dan tepat serta transparan. 6. Dirumuskan secara tertulis. Sedangkan kebijakan atau kebijaksanaan pemerintah mempunyai beberapa tingkatan yaitu : 1. Kebijakan Nasional Yaitu kebijakan Negara yang bersifat fundamental dan strategis untuk mencapai tujuan nasional/negara sesuai dengan amanat UUD 1945 GBHN. Kewenangan dalam pembuat kebijaksanaan adalah MPR, dan Presiden bersamasama dengan DPR. Bentuk kebijaksanaan nasional yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan dapat berupa : 1) UUD 1945 2) Ketetapan MPR 3) Undang-Undang 4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) dibuat oleh Presiden dalam hal kepentingan memaksa setelahmendapat persetujuan DPR. 13 2. Kebijaksanaan Umum Kebijaksanaan yang dilakukan oleh Presiden yang bersifat nasional dan menyeluruh berupa penggarisan ketentuan-ketentuanyang bersifat garis besar dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan sebagai pelaksanaan UUD 1945, Ketetapan MPR maupun Undang-Undang guna mencapai tujuan nasional. Penetapan kebijaksanaan umum merupakan sepenuhnya kewenangan presiden, sedangkan bentuk kebijaksanaan umum tersebut adalah tertulis berupa peraturan perundang-undangan seperti halnya Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Presiden (Kepres) serta InstruksiPresiden (Inpres). Sedangkan kebijaksanaan pelaksanaan dari kebijakan umum tersebut merupakan penjabaran dari kebijakan umum serta strategi pelaksanaan dalam suatu bidang tugas umum pemerintahan dan pembangunan dibidang tertentu. Penetapan kebijaksanaan pelaksanaan terletak pada para pembantu Presiden para Menteri atau pejabat lain setingkat dengan Menteri dan Pimpinan LPND sesuai dengan kebijaksanaan pada tingkat atasnya serta perundang-undangan berupa Peraturan, Keputusan atau Instruksi Pejabat tersebut (Menteri/Pejabat LPND). 3. Strategi Kebijakan Merupakan salah satu kebijakan pelaksanaan yang secara hirarki dibuat setingkat Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota berupa Surat Keputusan yang mengatur tatalaksana kerja dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sSumber Daya Manusia. Pengertian strategi merupakan serangkaian sasaran organisasi yang kemudian mempengaruhi penentuan tindakan komperhensif untuk mencapao ssasaran yang telah ditentukan atau alat dengan nama tujuan akan dicapai. 14 2.2 IMPLEMENTASI KEBIJAKAN Implementasi kebijakan dipandang sebagai suatu proses melaksanakan keputusan kebijakan, biasanya dalam bentuk Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Peradilan, Perintah Eksekutif atau Dekrit Presiden. Riant Nugroho mengatakan bahwa “kebijakan publik adalah segala sesuatu yang dikerjakan dan yangtidak dikerjakan oleh pemerintah” (2006 : 4). Selain itu, ia juga mengatakan bahwa Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapatmencapai tujuannya (2006 : 158). Meter dan Horn (1975) dalam Wahab (2001) merumuskan proses implementasi kebijakan sebagai “Tindakan-tindakan yang dilakukan baik olehindividu- individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atauswasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan”. Van Meter dan Carl Van Horn (1975) dalam Wahab (2001) menekankan bahwa tahap implementasi tidak dimulai pada saat tujuan dan sasaran kebijakan publik ditetapkan, tetapi tahap implementasi baru terjadi selama proses legitimasidilalui dan pengalokasian sumber daya, dana yang telah disepakati. Studi implementasi kebijakan menekankan pada pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau ketidakberhasilan pencapaian sasaran kebijakan. Ada dua hal mengapa implementasi kebijakan pemerintah memiliki relevansi, yaitu: (1) memberikan masukan bagi pelaksanaan operasional program, sehingga dapat dideteksi apakah program berjalan sesuai dengan yang telah dirancang, serta mendeteksi kemungkinan tujuan kebijakan negatif yang 15 ditimbulkan, (2) memberikan alternatif model pelaksanaan program yang lebih efektif. Udoji (1981) dalam Wahab (2001 : 59) dengan tegas mengatakan bahwa “The execution of policies is as important of not more important than policymaking. Policies will remain dreams or blue print file jackets unless they are implemented” (pelaksanaan kebijaksanaan adalah sesuatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebih penting daripada pembuatankebijaksanaan. Kebijaksanaankebijaksanaan akan sekedar berupa impian ataurencana bagus yang tersimpan rapi dalam arsip kalau tidak diimplementasikan). Islamy (1991), menjelaskan bahwa tugas dan kewajiban pejabat dan badanbadan pemerintah bukan hanya dalam perumusan kebijakan negara, tetapi juga dalam pelaksanaan kebijakan. Keduanya sama-sama penting, tetapi dalam kenyataannyabanyak pejabat dan badan-badan pemerintah lebih dominan peranannya dalam perumusan kebijakan, kurang dalam implementasi kebijakan, dan masih lemah sekali dalam menyebarluaskan kebijakan-kebijakan baru kepada masyarakat. Hal tersebutmenyebabkan kurang efektifnya pelaksanaan kebijakan. Jeleknya proses komunikasi akan menjadi titik lemah dalam mencapai efektivitas pelaksanaan kebijaksanaan negara (1991 : 107-108). Anderson ( 1979 : 92-93). mengemukakan bahwa implementasi kebijakan dapat dilihat dari empat aspek, yaitu “Who is involved in policy implementation, the nature of administrative process, compliance with policy, and the effect of implementation on policy content and impact” (siapa yang terlibat dalam implementasi kebijakan, dasar dari proses administrasi, kepatuhan kepada 16 kebijakan, dan dampak implementasi pada isi kebijakan dan pengaruh dari kebijakan tersebut) Setiap kebijakan yang telah ditetapkan pada saat akan diimplementasikan selalui didahului oleh penentuan unit pelaksana (Governmental Units), yaitu jajaran birokrasi publik mulai dari level atas sampai pada level birokrasi yang paling rendah. Aspek lain yang penting dalam implementasi kebijakan menurut Anderson adalah kepatuhan. Kepatuhan yaitu perilaku yang taat hukum. Kebijakan selalu berdasarkan hukum atau peraturan tertentu, maka pelaksanaan kebijakan juga harus taat kepada hukum yang mengaturnya. Untuk menumbuhkan kepatuhan dalam implementasikebijakan, diperlukan sistem kontrol dan komunikasi yang terbuka, serta penyediaan sumber daya untuk melakukan pekerjaan. Dari berbagai pandangan para ahli tentang konsep implementasi, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan sesungguhnya merupakan sebuah tahapan yang sangat penting sebagai bentuk penterjemahan (baik tujuan, sasaran serta cara) dari pernyataan-pernyataan kebijakan yang dihasilkan oleh sistem politik yang kemudian ditransformasikan ke dalam tindakan-tindakan nyata yang dilakukan pemerintah atau pejabat publik dalam rangka mencapai maksud dan tujuan-tujuan dengan cara pengalokasian sumber-sumber daya yang dimiliki dalam pencapaian dan ditujukan bagi kepentingan publik. 17 2.3 PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK Beberapa pendekatan dalam Implementasi Kebijakan Publik adalah Pendekatan secara top-down, yaitu pendekatan secara satu pihak dari atas ke bawah. Dalam proses implementasi peran pemerintah sangat besar, pada pendekatan ini asumsi yang terjadi adalah pembuat keputusan merupakan aktor kunci dalam keberhasilan implementasi, sedangkan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses implementasi dianggap menghambat, sehinga para pembuat keputusan meremehkan inisiatif strategi yang berasal dari level birokrasi rendah maupun subsistem-subsistem kebijakan yang lain. Yang kedua adalah pendekatan secara bottom-up, yaitu pendekatan yang berasal dari bawah (masyarakat). Pendekatan bottom-up didasarkan pada jenis kebijakan publik yang mendorong masyarakat untuk mengerjakan sendiri implementasi kebijakannya atau masih melibatkan pejabat pemerintah namun ganya ditataran rendah. Asumsi yang mendasari kebijakan ini adalah bahwa implementasi berlangsung dalam lingkungan pembuat keputusan yang terdesentralisasi. Model ini menyediakan suatu mekanisme untuk bergrak dari level birokrasi paling bawah sampai pada pembuatan keputusan tertinggi di sektor publik maupun sektor privat. Dalam pelaksanaanya implementasi kebijakan publik memerlukan model implementasi yang berlainan, karena ada kebijakan publik yang perlu diimplementasikan secara top-down atau secara bottom-up. Kebijakan-kebijakan yang bersifat top-down adalah kebijakan yang bersifat strategis dan berhubungan dengan keselamatan negara, seperti kebijakan antiterorisme, berbeda dengan 18 kebijakan yang lebih efektif jika diimplementasikan secara bottom-up, yang biasanya berkenaan dengan hal-hal yang secara tidak langsung berkenaan dengan national security, seperti kebijakan alat kontrasepsi, padi varietas unggul, pengembangan ekonomi nelayan dan sejenisnya. Dalam implementasi sebuah kebijakan pilihan yang paling efektif adalah jika kita bisa membuat kombinasi implementasi kebijakan publik yang partisipasif, artinya bersifat top-down dan bottom-up. Model ini biasanya lebih dapat pberjalan secara efektif, berkesinambungan dan murah, bahkan dapat juga dilaksanakan untuk hal-hal yang bersifat national security. Dalam penelitian ini pendekatan yng paling sesuai adalah pendekatan secara partisipatif dimana kebijakan yng telah dibuat oleh pemerintah dapat direspon dengan baik oleh masyarakat. Satu hal yang paling penting adalah implementasi kebijakan haruslah menampilkan keefektifan dari kebijakan itu sendiri. (Riant Nugroho, 2006) pada prinsipnya harus memenuhi „empat tepat‟ dalam rangka keefektifan implementasi kebijakan, yaitu : 1. Apakah kebijakannya sendiri sudah tepat Ketepatan kebijakan dinilai dari sejauh mana kebijakan yang ada telah bermuatan hal-hal yang memang memecahkan masalah yang hendak dipecahkan. 2. Ketepatan Pelaksana Aktor implementasi bukan hanya pemerintah, ada tida lembaga yang dapat menjadi pelaksana, yaitu pemerintah, kerjasama antara pemerintah- 19 masyarakat/swasta atau implementasi yang diswastakan (privatization atau contracting out) 3. Ketepatan target implementasi Ketepatan disini berdasarkan atas tiga hal, yaitu : pertama, apakah target yang diintervensi sesuai dengan yang direncanakan, apakah tidak ada tumpang tindih dengan intervensi yang lain. Kedua, apakah targetnya dalam kondisi siap untuk diintervensi ataukah tidak, ketiga, apakah intervensi implementasi kebijakan bersifat baru atau memperbarui implementasi kebijakan sebelumnya 4. Apakah lingkungan implementasi sudah tepat Ada dua lingkungan yang paling menentukan, yaitu (1) lingkungan kebijakan, merupakan interaksi diantara lembga perumus kebijakan dan pelaksana kbijakan dan lembagalain yang terkait; (2) lingkungan eksternal kebijakan yang terdiri atas public opinion, persepsi publik akan kebijakan dan implementasi kebijakan, interpretive institutions yang berkenaan dengan interpretasi dari lembaga-lembag strategis dalam masyarakat. 2.4 MODEL IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK Dalam implementasi kebijakan publik dikenal beberapa model, antara lain : 2.4.1 Model George C. Edwards III Menurut George C. Edwars, keberhasilan implementasi kebijakan dipengarugi oleh 4 variabel, yaitu (1) komunikasi, (2) Sumber daya, (3) Disposisi, (4) Struktur Birokrasi. 20 Komunikasi Sumber Daya Implementasi Sikap Struktur Birokrasi Sumber : Subarsono, 2005 : 91 Gambar 2.1 Hubungan Variabel yang mempengaruhi implementasi Keterangan : 1. Komunikasi Proses komunikasi terjadi antara pembuat kebijakan, pelaksanakebijakan dan sasaran kebijakan dimana dalam komunikasi tersebut terdapat penekanan pada dua aspek yaitu proses penyampaian dan kejelasan isi program. Kemampuan kerja pelaksana diturunkan dari variabel sumber daya. Dengan adanya komunikasi, implementor dapat menterjemahkan kebijakan-kebijakan yang ada dengan tepat, akurat, dan konsisten. Jika pemberian informasi menimbulkan mengenai kesalahpahaman kebijakan kurang diantara pembuat jelas, maka akan kebijakan dan implementornya. 2. Sumber Daya Dengan adanya komunikasi, implementor dapat menterjemahkan kebijakan-kebijakan yang ada dengan tepat, akurat, dan konsisten. Jika pemberian informasi mengenai kebijakan kurang jelas, maka akan 21 menimbulkan kesalahpahaman diantara pembuat kebijakan dan implementornya. 3. Disposisi Sikap merupakan unsur penting dalam implementasi kebijakan. Jika pelaksana kebijakan didasari oleh sikap positif terhadap kebijakan, besar kemungkinan dapat melaksanakan apa yang dikehendaki pembuat kebijakan. 4. Struktur Birokrasi Struktur birokrasi yang terlalu panjang cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Maka diperlukan struktur birokrasi yang efektif dan efisien. 2.4.2 Model Implementasi Merilee S. Grindle Keberhasilan implementasi menurut Grindle dipengaruhi oleh dua variabel utama yaitu: isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan implementasi (context of implementation). Isi kebijakan mencakup: (1) Kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan; (2) jenis manfaat yang akan dihasilkan; (3) derajat perubahan yang diinginkan; (4) kedudukan pembuat kebijakan; (5) siapa pelaksana program; (6) sumber daya yang dikerahkan. Variabel lingkungan kebijakan mencakup: (1) seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan; (2) karakteristik institusi dan rezim yang sedang berkuasa; (3) tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran. 22 Pelaksana Kebijakan dipengaruhi oleh : A. Isi Kebijakan 1. Kepentingan yang dipengaruhi 2. Tipe manfaat 3. Derajat perubahan yang diinginkan 4. Letak pengambilan keputusan 5. Sumber daya yang dilibatkan B. Konteks Implementasi 1. Kekuasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat 2. Karakteristik lembaga pengauasa 3. Kepatuhan daya tangkap Tujuan Kebijaka nnn Tujuan Tercapai?? Hasil Kebijakan a. Dampak pada masyarakat b. Perubahan dan penerimaan dari masyarakat Program aksi dan proyek individu yang didisain dan didanai Program yang dilaksanakan sesuai rencana Mengukur Keberhasilan Sumber : Subarsono, 2005 : 94 Gambar 2.2 Model Implementasi Kebijakan Grindle 2.4.3 Model Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn Meter dan Horn (1975) (dalam Subarsono, 2005:99) ada lima variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi, yakni: (1) standar dan sasaran kebijakan; (2) sumber daya; (3) komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas; (4) karakteristik agen pelaksana; dan (5) kondisi sosial, ekonomi dan politik. 1. Standar dan sasaran kebijakan. Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisir. Apabila standar dan sasaran kebijakan kabur, 23 maka akan terjadi multiinterpretasi dan mudah menimbulkan konflik diantara para agen implementasi. 2. Sumberdaya. Implementasi kebijakan perlu dukungan sumberdaya, baik sumberdaya manusia (human resources) maupun sumberdaya nonmanusia (non- human resources). 3. Hubungan antar organisasi. Dalam banyak program, implementasi sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu program. 4. Karakteristik agen pelaksana. Karakteristik agen pelaksana mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya itu akan mempengaruhi implementasi suatu program. 5. Kondisi Sosial, Politik dan ekonomi. Variabel ini mencakup sumberdaya ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan; sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan; karakteristik para partisipan, yakni mendukung atau menolak; bagaimana sifat opini publik yang ada di lingkungan; dan apakah elite politik mendukung implementasi kebijakan. 6. Disposisi implementor. Mencakup tiga hal, yakni: (a) respon implementor terhadap kebijakan, yang mempengaruhi kemauannya melaksanakan kebijakan; (b) kognisi, yaitu pemahaman terhadap kebijakan; dan (c) intensitas disposisi implementor, yakni preferensi nilai yang dimiliki

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (155 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS KONDISI EKONOMI BURUH ANGKUT GARAM DI DESA GERONGAN KECAMATAN KRATON KABUPATEN PASURUAN
0
36
17
PENGARUH KONSENTRASI GARAM DAN TAWAS PADA PEREBUSAN IKAN TONGKOL TERHADAP MUTU IKAN PINDANG TONGKOL (Auxis thazard)
1
34
8
PERBEDAAN KADAR NIKOTIN ROKOK GUDANG GARAM MERAH DENGAN ROKOK HOME INDUSTRI DI KECAMATAN PAITON KABUPATEN PROBOLINGGO
0
3
1
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TERHADAP PRODUK ROKOK MERK GUDANG GARAM DI KECAMATAN KALIWATES KABUPATEN JEMBER
0
5
77
ANALISIS PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PADA INDUSTRI KECIL KERIPIK PISANG DI KECAMATAN RANDUAGUNG KABUPATEN LUMAJANG
0
11
10
ANALISIS USAHA TANI GARAM RAKYAT DAN KINERJA KELEMBAGAAN KUGAR (KELOMPOK USAHA GARAM RAKYAT) DI KABUPATEN SAMPANG
2
15
21
ELASTISITAS PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA INDUSTRI KECIL DI KECAMATAN ASEMBAGUS KABUPATEN SITUBONDO
0
5
18
ELASTISITAS PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA INDUSTRI KECIL DI KECAMATAN ASEMBAGUS KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2004-2009
0
5
18
ELASTISITAS PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA INDUSTRI KECIL DI KECAMATAN ASEMBAGUS KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2004-2009
0
3
18
UPAYA PENINGKATAN PENERAPAN SANITASI PADA INDUSTRI PANGAN SKALA KECIL
0
0
9
IMPLEMENTASI PENJAMINAN MUTU PADA PROSES PRODUKSI MINUMAN JAHE INSTAN SKALA INDUSTRI KECIL MENENGAH
0
1
10
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL KRECEK DI KECAMATAN BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI
0
0
13
ANALISIS USAHA INDUSTRI WAJIT SKALA KECIL DI KECAMATAN CILILIN KABUPATEN BANDUNG BARAT
0
0
79
TEKNOLOGI YODISASI GARAM UNTUK DlGUNAKAN DI DAERAH GANGGUAN AKlBAT KURANG YODIUM
0
0
6
PEMANFAATAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI DESA GUDANG GARAM KECAMATAN BINTANG BAYU KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
0
0
14
Show more