Perancangan media informasi Band Respect

Full text

(1)
(2)
(3)
(4)

RIWAYAT HIDUP

Identitas Diri

a. Nama : Rendra Prawijaya K.D

b. Tempat dan Tanggal Lahir : Bandung, 14 November 1989

c. Status Perkawinan : Belum Kawin

d. Alamat Lengkap : Jl.Trs.Pasirkoja No.194/91 RT.03/RW.02

Bandung

e. Nama Ayah : Yana Suryana

f. Pekerjaan Ayah : Wiraswata

g. Nama Ibu : Iis Sugriati

h. Pekerjaan Ibu : Wiraswasta

Pendidikan Formal

a. TK Khusnul Khotimah : 1996

b. SD Negeri Pagarsih Bandung : 1996 s/d 2002

c. SMP Pasundan 2 Bandung : 2002 s/d 2005

d. SMA Pasundan 2 Bandung : 2005 s/d 2008

e. Desain Komunikasi Visual ( D3 )

(5)

Laporan Pengantar Tugas Akhir

PERANCANGAN MEDIA INFORMASI BAND RESPECT

DK 26313/Tugas Akhir

Semester I 2012-2013

Oleh :

Rendra Prawijaya K.D

52108006

Program Studi Desain Grafis

FAKULTAS DESAIN

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(6)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Bandung, Januari 2013

(7)

ii

II.1.2 Peran dan Fungsi Media Informasi ... 6

II.1.2.1 Peran Media Massa ... 6

II.1.2.2 Fungsi Media Massa ...7

II.2 Pengertian Musik Underground ……….. ...8

(8)

iii

II.5 Khalayak Sasaran………. ...24

II.5.1 Geografis ………. ...24

II.5.2 Demografis ……… ...24

II.5.3Psikografis ...25

Bab III Perancangan Media Informasi Band Respect ...26

III.1 Strategi Komunikasi ...26

III.2 Tujuan Komunikasi ...26

III.3 Materi Pesan ...26

Bab IV Teknis Produksi ...31

IV.1 Media Utama ...31

(9)

iv

IV.3.1 Teknik Pengadaan events……….. ...36

(10)

44 DAFTAR PUSTAKA

Chaffey, D & & Smith, PR. (2008). E-marketing : Excellence, UK: Butterworth-Heinemann

Davis, Gordon B. (1974) ”Management Information System: Conceptual

Foundation, Structure, and Development”. Aucklland: McGraw-Hill International Book Company. http://blog.re.or.id/definisi-informasi-2.htm [ 28 Mei 2009]

D. Lasswell, Harold., & Kaplan, Abraham. (1970). Power and Society. New Haven: Yale University Press.

De vito, Joseph. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional Book Fadiani, Amadea. (2012). Perancangan Komunikasi Visual Buku Biografi Band

White Shoes & The Couples Company “White Shoes & The Couple

Company; Pelan Tapi Pasti”. Jakarta: DKV Binus New Media Department

Heinich. (1993). Instructional Media and the Technologies of Instruction. New York: McMillan Publishing Company.

Kharisma H Prabowo, Janet. (2010). Mbok Mase Dalam Sejarah Butik Laweyan. Bandung: Fakultas Desain Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)

McQuail, (1987). Teori Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga

Purnama Sidiq, Mochamad. (2011). Pengenalan Permainan Tradisional Egrang Bambu Kepada Anak Usia Dini. Bandung: Fakultas Desain Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)

Ricky Adi Mahardhika, Ricky Adi., Irawan, Andjrah Hamzah. (2012).

Perancangan Buku Biografi Visual Pure Saturday. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)

Rolling Stone Indonesia Magazine. (2009). Perkembangan Musik Underground Article. Jakarta: JHP Media

Solomon, R. Michael. (1997). Costumer Behaviour (6th ed). New York: Prentice Hall.Inc

_____________, 2012, Pengertian musik underground, [Online]

(11)

45

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi yang sangat pesat banyak merubah dan mempengaruhi

banyak hal di kehidupan kita sehari – hari, dengan akses internet masyarakat

begitu mudah mendapatkan informasi tentang banyak hal baik positif dan negatif.

bahkan perkembangan seni dan budaya terus menerus berubah sesuai dengan

pengaruh globalisasi, begitu pula perkembangan musik di Indonesia. Bandung

yang terkenal dengan daya kreatifitas yang tinggi, banyak melahirkan band – band

yang memiliki musikalitas yang unik, kemampuan bermusik yang maksimal, dan

talenta menulis lirik yang bisa diancungi jempol.

Salah satu band yang memiliki musikalitas yang unik yaitu band Respect. Band

Respect terbentuk pada awal tahun 2011 di Bandung, band ini mengusung aliran musik hardcore, beatdown, metal dengan meyatukan beberapa jenis aliran musik dalam lagu, membuat band respect memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga lagu yang dibawakan oleh band tersebut dapat dengan mudah dikenali oleh penikmat

musik. Namanya pun mulai tidak asing lagi dikalangan mencinta musik

underground di kota Bandung. Antusiasme terhadap band tersebut terlihat dari semakin banyak penggemarnya terlihat dari jumlah dalam event-event tertentu. Band Respect mengembangkan namanya melalui media online seperti facebook,

(13)

2 Band Respect terdiri dari 5 anak muda yang berambisi merubah scene hardcore

agar lebih berani menunjukan skill, power dan totalitas dalam bermusik. Pada pertengahan tahun 2011 respect mengeluarkan single pertama mereka yg ber-title "You Can't take what we have" yang mendapat respon positif dari masyarakat bandung. Dan untuk menunjukan eksistensinya di dunia musik, awal tahun 2012

Respect merilis EP album "This is Us".

Oleh sebab itu penulis ingin mencoba mengangkat konsep Fotografi Sebagai

Media Promosi Respect Band yang Beraliran Musik Underground di Kota Bandung sebagai keperluan pengerjaan tugas akhir.

I.2 Identifikasi Masalah

1. Respect merupakan band indie yang memiliki genre musik yang unik dan

punya prestasi, namun tidak semua masyarakat mengenal band Respect.

2. Perkembangan musik indie di Indonesia makin maju, dibarengi dengan

munculnya band-band baru yang sesuai permintaan pasar dibawah label

major saat ini, membuat masyarakat kurang mengetahui perkembangan

musik lain (indie).

3. Persaingan dan perkembangan band bergenre underground di Bandung

termasuk pesat, namun media untuk mempromosikan band Respect masih

terbatas.

I.3 Tujuan Perancangan

Adapun tujuan yang ingin penulis berikan dalam pembuatan karya media

(14)

3 1. Memperkenalkan karya media informasi dengan teknik fotografi esay

yang tepat dan bisa memunculkan karakter dari band Respect yang membawakan musik beraliran underground.

2. Menciptakan karya media informasi dengan cara menonjolkan sisi

karakter dari band Respect dengan teknik fotografi yang benar dan bervariasi.

3. Perkembangan musik indie di Indonesia makin maju, di barengi

dengan munculnya band-band yang sesuai permintaan pasar dibawah

label major saat ini, membuat masyarakat khususnya pecinta musik

kurang mengetahui perkembangan musik lain (indie)

4. Belum ada yang membuat media informasi buku band respect.

I.4 Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan

masalah, batasan masalah, tujuan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II IDENTIFIKASI DATA

Dalam bab ini berisikan pengertian music underground, sejarah

perkembangan musik underground, profile band respect yang beraliran

underground, pengertian photography serta yang menjadi target dari media informasi.

BAB III KONSEP PERANCANGAN

Dalam bab ini berisikan konsep-konsep yang akan diterapkan penulis seperti

(15)

4 BAB IV VISUALISASI

Dalam bab ini berisikan rekomendasi karya yaitu media penunjang dari hasil

karya fotografi yang dapat diterapkan dalam media buku, poster,

t-shirt, stiker, pin, hand band, banner, tote bag, pick gitar dan pembatas buku BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini berisikan kesimpulan dan saran dari pembahasan masalah

(16)

5

BAB II

IDENTIFIKASI DATA

II.1 Pengertian Media Informasi

Menurut Heinich (1993), media merupakan alat saluran komunikasi. Media

berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata "medium" yang

secara harfiah berarti perantara yaitu perantara sumber pesan dengan penerima

pesan. Heinich mencontohkan media ini seperti film, televisi, diagram, bahan

tercetak, komputer, dan instruktur. Contoh media tersebut bisa dipertimbangkan

sebagai media pembelajaran jika membawa pesan-pesan dalam rangka mencapai

tujuan pembelajaran. Heinich juga mengaitkan hubungan antara media dengan

pesan dan metode. Sedangkan informasi adalah data yang telah diolah menjadi

suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang

dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan

keputusan yang akan datang. (Gordon, 1974)

Media informasi yang ditujukan untuk orang banyak disebut Media massa, adalah

suatu istilah yang mulai dipergunakan dari tahun 1920-an untuk mengistilahkan

jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat

luas.

II.1.1 Jenis Media Informasi

Menurut Setyowati (2006),media massa saat ini dibagi menjadi

beberapa jenis, antara lain:

(17)

6

Media massa jenis ini mempunyai jangkauan wilayah tertentu

sesuai dengan tema informasi yang disajikan. Media massa cetak

biasanya mempunyai tingkat aktualitas yang cukup cepat, yaitu

sekitar persatu hari untuk surat kabar, dan perbulan untuk majalah.

b. Media non Cetak : radio, TV, internet, film.

Jenis media massa ini isinya disebarluaskan melalui suara atau

gambar dengan menggunakan teknologi elektro. Media massa non

cetak khususnya televisi saat ini merupakan media massa yang

cukup diminati. Karena mempunyai unsur audio dan visual, serta

murah maka media ini menjadi pilihan sebagai hiburan dan

informasi bagi masyarakat. Sedangkan media online yaitu internet

dimasyarakat sudah menjadi lebih dari sekedar media informasi,

namun bagi beberapa orang media ini temasuk menjadi bagian dari

gaya hidup. Karena dari segi jangkauan media ini memiliki area

yang paling luas dari semuanya.

II.1.2 Peran dan Fungsi Media Informasi

II.1.2.1 Peran Media Massa

Denis McQuail, Mass Communication Theory (Teori Komunikasi

Massa), Erlangga, 1987Peran yang dimainkan media massa selama

ini, yakni:

1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta

menghidupkan industri lain utamanya dalamperiklanan/promosi.

2. Sumber kekuatan –alat kontrol, manajemen, dan inovasi

(18)

7

3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.

4. Wahana pengembangan kebudayaan –tatacara, mode, gaya hidup

dan norma.

5. Sumber dominan pencipta citra individu, kelompok, dan

masyarakat.

II.1.2.2 Fungsi Media Massa

Fungsi media massa sejalan dengan fungsi komunikasi massasebagaimana

dikemukakan para ahli sebagai berikut.

Harold D. Laswell:

4. Menganugerahkan status - menunjukkan kepentingan orang-orang

tertentu; name makes news. Perhatian massa = penting.

5. Membius - massa terima apa saja yang disajikan media.

(19)

8 II.2 Pengertian Musik Underground

Musik underground merujuk ke berbagai macam sub-genre musik yang biasanya

mengembangkan sub-budaya sendiri meskipun tanpa permintaan pasar khalayak

ramai, kurang dikenali dan bukan musik yang komersil. Band underground dan para artis-artisnya sering membuat kontrak dengan perusahaan rekaman

independen. Mereka biasanya mempromosikan musik di tempat-tempat kecil, dari

mulut ke mulut, situs internet, fanzine dan sekolah atau komunitas radio.

II.3 Sejarah Musik Underground

Musik underground merujuk ke berbagai macam sub-genre musik yang biasanya

mengembangkan sub-budaya sendiri meskipun tanpa permintaan pasar khalayak

ramai. Band underground dan para artis-artisnya sering membuat kontrak dengan perusahaan rekaman independen. Mereka biasanya mempromosikan musik di

tempat-tempat kecil, dari mulut ke mulut, situs internet, fanzine dan sekolah atau komunitas radio.

Underground, Jika dirunut pada sejarah masuknya musik rock ke Indonesia,

khususnya Bandung, diawali sejak tahun 70-an. Musik rock yang masuk ke

Indonesia berasal dari Amerika dan Eropa. Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan

budaya benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya

baru yang diciptakan para generasi muda pada saat itu dianggap tabu dan

dianggap sebagai ide-ide yang subversif. Pada tahun 50-an para seniman di

Prancis dan Inggris biasa mengekspresikan karya mereka di subway atau stasiun

(20)

9

fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya

mereka mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan

dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat itu. Karya-karya yang

dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui kalangan terbatas. Karya

yang diciptakan pada saat itu menjadi semacam 'basic' bagi perkembangan semua

karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah 'underground' untuk pertama

kalinya muncul.

II.3.1 Underground' Era Revolusi Industri

Di tahun yang sama juga benua Eropa mengalami revolusi industri. Ketika

sektor-sektor industri di Eropa melakukan transformasi teknologi yang

drastis. Demi efesiensi dan mempercepat kapasitas produksi pasca

berakhirnya perang dunia kedua pabrik-pabrik di Eropa mengganti tenaga

kerja manusia dengan mesin. Hal ini berdampak pada banyaknya

pengangguran dan menimbulkan masalah sosial. Di Inggris lahirlah

kelompok-kelompok buruh yang terkena PHK mengorganisir diri ke dalam

kelompok berbagai organisasi 'working class'. Dengan dandanan khas rambut plontos t-shirt putih dan bersepatu boots dr.Martens, setiap malam

mereka menggelar pentas-pentas musik di subway serta melakukan 'squat'

atau reclaiming terhadap gedung-gedung kosong bergabung dengan para imigran dari Jamaika, Maroko, dan Afrika. Lirik yang disampaikan adalah

lirik protes terhadap kondisi sosial dan kesetiakawanan. Dari sinilah muncul

(21)

10

sosial pada saat itu. Kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa ideologi.

Ada yang cenderung fasis dan ultra nasionalis dan pastinya jadi rasis. Ada

juga yang berideologi kesetaraan dan anarkis. Dari sinilah lahir budaya

'punk' dengan segala macam aktifitas seni dan gerakan politisnya.

Puncaknya adalah ketika terjadi peristiwa Paris '68 di Prancis. Pada saat itu

mahasiswa sebagai bagian dari 'middle class' atau kaum intelektual melebur

bersama para kaum 'underground' dan kaum miskin kota dalam hal ini

korban PHK akibat dampak dari revolusi industri melakukan demonstrasi

besar-besaran menuntut perbaikan ekonomi. Selama berminggu-minggu

mereka membuat barikade di jalan-jalan kota Paris dan melakukan aksi

mogok secara nasional. Hingga akhirnya pemerintah Prancis melakukan

reformasi total di segala bidang. Salah satu alumnus peristiwa Paris '68

adalah Malcolm Mc Laren yang jadi manajer band punk rock kontroversial

sepanjang masa, Sex Pistols.

II.3.2 Underground Era Flower Generation

Kondisi di Amerika kurang lebih mirip. Di Amerika pada tahun 50-an masih

menganut sistem politik apartheid dan perbudakan. Masyarakat sosial

Amerika pada saat itu terbagi menjadi tiga kelas sosial utama. Kelas borjuis

yaitu kaum pengusaha, birokrat dan agamawan yang cenderung rasis dan

menjunjung tinggi semangat 'white supremacy'. Kaum tehnokrat yang terdiri kaum intelektual dan mahasiswa. Kaum buruh yang terdiri dari budak-budak

kulit hitam. Pembagian strata sosial ini membawa dampak pada pola

(22)

11

dari benua afrika oleh hukum yang berlaku pada saat itu mendapatkan

perlakuan yang tidak manusiawi. Gaji yang tidak sesuai dengan porsi kerja

dan tindakan diskriminatif di segala bidang. Semua gerak langkah mereka

dibatasi hingga menimbulkan rasa frustasi yang begitu mendalam.

Satu-satunya saluran ekspresi mereka adalah lewat media musik. Mereka

biasanya dipisahkan dari lingkungan kulit putih dengan cara kolonisasi.

Dibuatkan area perkampungan yang kumuh atau dikenal dengan istilah

'ghetto' dan sengaja dibuat miskin secara sistematis hingga menimbulkan kerawanan sosial.

Setiap malam sehabis lelah bekerja mereka biasanya berkumpul dan

memainkan musik. Musik yang diciptakan adalah musik yang sifatnya

sangat personal. Musik yang menjadi ekspresi pribadi dalam

mengekspresikan segala kesumpekan dalam diri. Lahirlah kemudian jazz

dan blues. Musik yang cenderung instrumental. Karena pada saat itu

membuat lirik yang bernada protes sosial apalagi dilakukan oleh kulit hitam

merupakan pelanggaran berat. Mereka membentuk komunitas dan

menggelar konser-konser sederhana di bar-bar kulit hitam. Saling

berekspresi dan mengapresiasi sambil meneriakan protes-protes lewat

nada-nada sendu dan bernuansa kelam. Kalaupun memakai lirik maka

pengucapannya dilakukan dengan cepat, bergumam dan menggunakan

'bahasa kode' yang hanya dimengerti oleh komunitas itu sendiri. Musik yang

pada saat itu sangat diharamkan untuk didengar apalagi dimainkan oleh

(23)

12

Dari sinilah muncul sikap DIY [do-it-yourself]. Para musisi kulit hitam ini membuat perusahaan rekaman 'motown records' yang khusus memproduksi artis-artis kulit hitam dan mendistribusikannya ke setiap koloni-koloni yang

tersebar di seantero benua Amerika. Mereka membuat jaringan komunikasi

dan media komunitas kulit hitam. Mulai mengorganisir diri dalam gerakan

yang lebih ke arah politis. Salah satunya organisasi 'black panther'. Lahirlah pionir pejuang-pejuang kemanusiaan yang mengusung isu kesetaraan hak,

diantaranya Malcolm X dan Martin Luther King. Hingga suatu saat Elvis

Presley mendobrak budaya konservatif tersebut. Diam-diam dia mendatangi

bar-bar kulit hitam yang menampilkan musik blues dan jazz. Dia terinspirasi

dari aliran musik tersebut hingga digabungkan dengan musik country.

Lahirlah rock&roll.

Musik yang pada saat itu mengalami penolakan keras dari kaum konservatif

dan kalangan gereja. Rock&roll pada jaman Elvis disebut sebagai 'musik pemuja setan'. Karena iramanya dianggap mendorong anak muda untuk

berjoget seronok dan membangkang pada orangtua. Ketika Amerika

mengalami krisis ekonomi berkepanjangan akibat perang dunia kedua dan

terlibat dalam perang Vietnam, beberapa kalangan seniman 'underground', kalangan akademisi dan para veteran perang menggelar aksi protes anti

perang Vietnam serta menuntut perbaikan kehidupan sosial dan ekonomi.

Mereka menggelar panggung-panggung festival musik secara besar-besaran.

Contohnya adalah Woodstock pada tahun 1969. Panggung tersebut diisi

(24)

13

generation' yang sudah bosan dengan segala kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Namun

kembali gerakan ini tidak berlangsung lama dikarenakan terjadi proses

komodifikasi dan eksploitasi besar-besaran oleh para pelaku industri

mainstream. Terutama industri yang bergerak di bidang hiburan dan fashion.

Pada akhirnya hanya dua elemen nilai itulah yang 'dijual' dan sampai ke

khalayak. Band-band heavy metal pada era itu sudah tidak dianggap 'underground' lagi. Beberapa pelaku sub-kultur akhirnya menolak cara-cara tersebut dan lebih memilih kembali pada jalur 'underground' serta

mengembangkan sistem mereka sendiri. Pada era 70-an para pelaku

komunitas sub-kultur ini telah mampu menciptakan dan mengembangkan

berbagai penyikapan alternative untuk melawan arus mainstream. Lahirnya

industri indie label yang mengakomodir semangat independensi dan

berbagai macam media independen adalah salah satu contohnya.

II.3.3 Underground Era Orla

Di Indonesia sendiri pada tahun 60-an ketika Soekarno masih berkuasa,

perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik pada saat

itu. Soekarno yang berkuasa mengambil poros Jakarta-Beijing-Moskow

sebagai garis politiknya di masa perang dingin. Sehingga hal-hal yang

sifatnya berbau Amerika dianggap sebagai sesuatu yang kontra revolusioner

dan bentuk imperialisme budaya barat. Sehingga musik rock&roll pada saat

itu dianggap 'menyesatkan' dan 'kebarat-baratan' serta dilarang dikonsumsi

(25)

14

pada semangat perubahan, segala sesuatu yang datang dari 'barat' pasti

dilarang. Semua bentuk kesenian haruslah mengacu pada realisme sosialis

dan tidak mengandung muatan borjuisme. Beberapa band seperti Koes Plus

mendapatkan perlakuan represif dari aparat keamanan. Beberapa radio yang

memutar musik rock&roll ditutup. Petugas keamanan rajin melakukan

razia-razia ke tempat keramaian anak muda. Apabila kedapatan mengenakan

setelan 'barat' pasti ditahan. Apabila ketahuan menggelar acara musik

rock&roll atau istilah Soekarno disebut musik 'ngak-ngik-ngok' pasti

dibubarkan. Sehingga pada saat itu beberapa musisi lokal menggelar

acara-acara musik rock & roll secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka

bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain menghindari razia petugas

keamanan. Dari sinilah awal lahirnya istilah 'underground' di Indonesia.

II.3.4 Underground Era Orba

Pasca Soekarno runtuh dimulailah era orde baru. Segala bentuk kesenian

yang berasal dari barat mulai masuk dan ikut mempengaruhi perkembangan

musik Indonesia. Kebijakan politik yang diambil pada saat itu lebih

mengarah kepada politik pencitraan bahwa Indonesia adalah negara yang

demokratis dan penuh dengan nuansa keterbukaan. Di tahun 1970-an, musik

cadas tidak pernah menyebut dirinya sebagai komunitas musik indie,

mengingat pada saat itu Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau

Uriah Heep merupakan komoditas yang dianak-emaskan oleh industri major

label di benua Amerika dan Eropa. Begitu pun dengan musik cadas di

(26)

15

suka mengidentifikasikan dirinya sebagai musik 'underground'. Komunitas mereka sangat bangga dengan sebutan itu, mengingat tak semua orang suka

akan musik yang kekuatan bunyinya jauh di atas 60 dB atau jauh di atas

batas toleransi pendengaran manusia. Ada semacam pola imitasi yang

berkembang pada saat itu. Terutama dari jenis musik yang dimainkan dan

pola fashion. Sehingga yang terjadi adalah proses imitatif kebudayaan luar

yang datang namun tidak mampu menyerap kondisi realitas yang terjadi di

kultur lokal.

Banyak band Indonesia pada saat itu yang mencoba menjadi Deep Purple,

Led Zeppelin atau Black Sabbath. Mereka benar-benar meniru habis-habisan apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun yang diadopsi hanya sebatas

musikalitas dan fashionnya saja. Sementara isu-isu sosial yang terjadi pada

tingkat lokal sama sekali tidak tersentuh. Mereka lebih memilih

memproduksi karya dengan lirik yang dinilai 'aman' dan sebisa mungkin

menghindari konflik dengan pemerintah yang totaliter.

Fenomena yang dihasilkan pada era ini hanyalah fenomena 'aksi protes'

yang diekspresikan dalam aksi panggung yang kontroversial, pemakaian

obat bius dan seks bebas. Walaupun ada beberapa band yang dianggap

fenomenal pada masa itu namun hanya sebatas di paparan karya musikalitas

dan tidak membawa perubahan secara radikal di tingkat masyarakat.

Sementara stigma seniman di mata para akademisi terutama musisi rock

adalah urakan, tidak mempunyai intelektualitas tinggi, dan bersikap apolitis.

(27)

16

kalangan akademisi pada saat itu. Sehingga beberapa gerakan mahasiswa

pada saat itu tidak melibatkan musisi secara aktif. Karena apabila kesadaran

untuk melakukan perubahan secara bersama-sama itu dimunculkan pada

saat era tersebut sepertinya reformasi tidak perlu menunggu hingga tahun

1998. Ada semacam kegagapan dalam menyikapi realitas perubahan. Di

satu sisi kebebasan untuk menyerap segala informasi dari luar mulai terbuka

di sisi yang lain proses pemasungan terhadap kebebasan berekspresi

kembali terjadi, bahkan lebih mengerikan dibandingkan era Soekarno. Dan

itu secara umum kondisi tersebut diterima begitu saja oleh kalangan musisi

pada saat itu. Istilah 'underground' pada saat itu mengalami pergeseran makna. Hanya diartikan sebagai musik 'brang-breng-brong', aksi panggung

teatrikal dan kontroversial serta komposisi musik yang rumit dipenuh

skill-skill tingkat tinggi.

Nilai-nilai perlawanan yang diusung hanya sebatas pada pemberontakan

terhadap nilai feodalistik yang sudah mapan namun tidak secara kritis

mencari alternatif baru dalam menciptakan nilai pembanding dan nilai

tandingan. Baik itu media komunikasi independen maupun sistem ekonomi

tandingan yang dikembangkan. Sehingga yang terjadi adalah gerakan

budaya tandingan yang coba disusun pada akhirnya ikut larut dalam

dinamika budaya mainstream di mana segala sesuatunya hanya berorientasi

(28)

17 II.3.5 Underground di Ujungberung

Ketika pada tahun akhir 80-an arus globalisasi ikut melanda Indonesia.

Investasi asing mulai masuk seiring dengan masuknya IMF ke Indonesia.

Dan hal tersebut mulai berdampak bagi perkembangan musik 'underground'

di Indonesia, khususnya di kota Bandung. Arus informasi yang kuat telah

mendorong beberapa majalah dan rilisan kaset 'underground' dari luar negeri

mulai masuk dan banyak dikonsumsi oleh musisi di Bandung. Di

Ujungberung sendiri terjadi sebuah fenomena 'shock culture' yang hebat. Ketika lahan-lahan agraris yang produktif disulap oleh para investor asing

menjadi lahan industri yang sarat polutan. Kultur bertani dan bercocok

tanam yang kental dengan nuansa komunal tiba-tiba secara drastis dirubah

menjadi kultur buruh/pekerja yang secara sistematis diarahkan menjadi

mahluk asosial. Hal ini jelas berdampak pada perilaku masyarakat secara

umum. Muncul konflik-konflik kepentingan lokal dalam menyikapi masalah

tersebut.

Pemuda sebagai bagian dari sebuah struktur masyarakat menyikapi

masalah tersebut dengan mencari saluran-saluran ekspresi yang dinilai bisa

mewakili gejolak perasaan mereka. Maka musik metal dijadikan media

berekspresi yang dinilai sesuai dengan kondisi keresahan mereka. Musik

yang cepat, agresif serta lirik-lirik protes yang sarkastik menjadi pelarian

(29)

18 II.3.6 Radikalisme Ideologi DIY ( Do-It-Yourself ) Ujungberung

Tahun 1989 ada empat band pelopor di Ujungberung yang sudah

memainkan komposisi lagu metal ekstrim semacam Napalm Death,

Sepultura, Obituary, Carcass dan lain-lain. Mereka adalah Funeral,

Necromancy, dan Orthodox. Mereka adalah angkatan pertama di

Ujungberung yang mulai menanamkan radikalisme dalam mengekspresikan

karya mereka. Ketika trend festival musik pada saat itu masih berkutat di

hard rock dan slow rock, mereka dengan berani mengacak-ngacak panggung festival itu dengan komposisi thrash metal dan death metal.

Tampilan fashion yang ofensif dan style musik yang bising mereka bergerilya dari satu panggung festival ke festival yang lain mengusung

semangat 'kumaha aing'. Keikutsertaan mereka dalam festival tersebut lebih mengarah kepada pembuktian eksistensi dan pernyataan sikap. Mereka

mulai memproduksi lagu-lagu sendiri dengan mengangkat isu-isu sosial

yang sedang populis pada saat itu. Dengan kritis mereka mereka menyikapi

kultur festival musik sebagai bentuk dari pemasungan kreativitas. Parameter

penilaian yang justru pada akhirnya malah mengkerdilkan makna kejujuran

dalam berekspresi. Semangat menurut pasar hanya menciptakan bentuk

keseragaman dalam karya dan pada akhirnya melahirkan kebosanan.

Media-media mainstream pada saat itu hanya menampilkan informasi musik

yang itu-itu saja. Pada tahun 1993 mulailah terbentuk beberapa komunitas

musik ekstrim di Bandung. Mereka rajin membuka ruang-ruang diskusi

(30)

19

Mengorganisir diri ke dalam bentuk komunitas yang mempunyai kecintaan

dan minat yang sama. Saling bertukar informasi dan membuat workshop

media dan eksplorasi teknologi alat musik. Penyikapan konkret mereka

buktikan dengan cara membuat media-media informasi tandingan yang

isinya lebih kepada pengenalan kultur ini kepada khalayak. Dari situlah

maka mereka mulai merambah acara-acara festival musik di kota Bandung.

Dari mulai event 'agustusan' hingga pensi-pensi SMA. Pada masa itu sikap

diskriminatif terhadap band 'underground' kerap terjadi. Dari mulai aksi

teror secara verbal hingga yang sifatnya fisik. Tidak jarang mereka harus

menerima hinaan ataupun cibiran dari beberapa orang yang tidak suka atau

bahkan yang tidak mengerti sama sekali tentang aliran musik ekstrim.

Band-band yang beraliran punk, hardcore, grindcore dan black metal kerap mendapatkan perlakukan diskriminatif dari pihak penyelenggara. Dari mulai

jatah waktu tampil yang dikorupsi, perlakuan pihak sound system yang dengan sengaja mengacaukan setting sound, hingga terror fisik dari preman lokal yang merasa tersaingi.

Sikap tersebut terbentuk karena tatanan sosial pada saat itu pada umumnya

masih dihinggapi perasaan xenophobia atau selalu merasa khawatir terhadap

nilai dan tatanan baru yang muncul. Mereka selalu merasa bahwa hal baru

sama dengan ancaman baru. Pada saat itu parameter berekspresi adalah

sesuatu yang dapat menembus batasan yang sudah ditetapkan oleh pihak

(31)

20

yang baik terhadap hal baru yang dapat menambah khazanah keberagaman,

utamanya di bidang musik. Kondisi nyata seperti itulah yang menjadi latar

belakang komunitas Ujungberung bercita-cita menggelar acara musik yang

konsepnya menampilkan semua jenis musik underground dalam satu

panggung. Terinspirasi oleh pagelaran Hullabaloo #1 pada tahun 1994 yang

sukses digelar di Gor Saparua yang menampilkan musik underground

dengan berbagai macam aliran. Dari mulai hip-hop, grindcore, pop, punk,

hingga musik industrial. Komunitas Ujungberung mengadopsi konsep

tersebut namun format musik yang disuguhkan lebih kepada sajian musik

dengan distorsi tingkat tinggi. Lahirlah acara Bandung Berisik #1 pada

tahun 1995 yang melahirkan acara-acara metal legendaris khas ala

Ujungberung seperti Bandung Death Fest, Rebellion Fest, dan Rottrevore Death Fest yang rutin digelar secara berkala menampilkan band beraliran metal ekstrim.

II.3.7 Counter Culture

Era 1996 hingga 1997 komunitas musik 'underground' di Bandung mengalami masa perkembangan yang pesat. Konsep kolektivisme dan DIY

mulai banyak direalisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan kongkret. Dari

mulai membuat perusahaan rekaman berbasiskan indie label lengkap dengan

konsep distribusi dan promosinya, pembuatan merchandise band, pembuatan media informasi komunitas berupa fanzine fotokopian, hingga

(32)

21

agresif. Lirik yang diproduksi mulai banyak menyentuh hal-hal yang

sifatnya politis. Banyak lirik pada saat itu yang bercerita tentang nasib

buruh, petani, dan kaum miskin kota.

Dengan frontal mulai melakukan kritik-kritik terhadap pemerintah yang

dinilai gagal mengatasi krisis. Industri musik mainstream pada saat itu sedang dilanda kejenuhan pasar. Paska booming Slank dan Iwan Fals pada saat itu tidak ada lagi fenomena musik yang luar biasa. Media-media

mainstream mulai kehabisan bahan berita hingga akhirnya komunitas

'underground' dengan segala bentuk dinamika pergerakannya menjadi bahan eksploitasi berita. Hampir semua media terutama media cetak mainstream

yang ber-target marketing anak muda membahas fenomena pergerakan musik 'underground' terutama yang terjadi di kota Bandung. Hal tersebut jelas berdampak sangat besar pada perkembangan musik 'underground' pada saat itu yang seolah-olah di-setting menjadi trend musik masa kini. Melalui peran media mainstream pula hingga akhirnya booming musik 'underground' ini mewabah hampir di semua kota besar di Indonesia, utamanya di pulau Jawa. Lahirlah beberapa komunitas musik 'underground' di kota Jakarta, Bali, Surabaya, Malang, Yogya dan Medan. Beberapa

pagelaran bertema serupa ramai digelar di kota-kota tersebut dalam skala

kecil. Di kota Bandung yang notabene adalah barometer musik

'underground' pada saat itu hampir setiap minggu Gor Saparua menjadi

langganan acara-acara musik 'underground' yang diorganisir oleh beberapa komunitas di kota Bandung. Gor Saparua selalu dipenuhi oleh massa

(33)

22

Ada yang dari Medan, Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang dan kota-kota

lainnya. Terjadilah transformasi informasi dan proses penyerapan kultur.

Dari sinilah awal terbentuknya jaringan komunikasi lintas komunitas dalam

rangka memperluas jaringan. Beberapa komunitas dari luar kota Bandung

dijadikan basis distribusi bagi penyebaran produk dan informasi yang

berkaitan dengan aktivitas sub kultur. Bahkan sekarang sudah terbentuk

jaringan event yang diorganisir secara kolektif yang rutin menjalin kerjasama penyelenggaraan event 'underground'. Pada masa itu lahirlah acara-acara musik seperti Bandung Underground yang di organisir oleh

komunitas Muda-Mudi Margahayu, Gorong-Gorong Bandung diorganisir

oleh komunitas punk P.I., Bandung Minoritas, Campur Aduk dan lain-lain.

Namun pada masa itu pula situasi politik dan ekonomi Indonesia mengalami

guncangan. Masa peralihan kekuasaan yang diwarnai kisruh pertarungan

politik di tingkat elit kekuasaan berdampak besar pada perekonomian.

Tragedi krisis moneter yang mengguncang hebat perlahan ikut membawa

dampak pada perkembangan musik Underground, khususnya di kota Bandung. Demonstrasi besar-besaran kerap mewarnai jalanan kota

Bandung. Daya beli masyarakat secara keseluruhan mulai menurun

dikarenakan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Hingga pola

konsumsi masyarakat pada saat itu berubah dengan cara mengurangi hal-hal

yang dirasa tidak terlalu penting. Acara yang biasanya ramai dipenuhi oleh

penonton lambat laun mulai sepi pengunjung. Beberapa organiser yang

(34)

23

untuk membuat event musik 'underground'. Di samping tidak mau mengalami kerugian secara finansial (walaupun pada saat itu dan sampai

sekarang tidak pernah mencari keuntungan), juga disebabkan kendala

perijinan yang semakin represif terhadap hal-hal yang sifatnya

mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Beberapa yang memaksakan

diri mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan sepi penonton atau

dengan alasan meresahkan dan mengganggu ketertiban secara sepihak

dibubarkan oleh aparat keamanan.

Beberapa pelaku subkultur 'underground' pada masa itu ikut melebur bersama beberapa organ buruh dan mahasiswa aktif menggelar aksi-aksi

demonstrasi menuntut perubahan di segala bidang. Pada saat sulit tersebut

justru komunitas Ujungberung banyak mengalami kemajuan yang

signifikan. Banyak band-band baru terbentuk dengan semangat dan

idealisme yang tinggi. Beberapa band seperti Jasad, Sacrilegious, Sonic

Torment, Burgerkill dan Forgotten bahkan telah mampu memproduksi dan

mendistribusikan album perdana mereka secara independen. Pada masa itu

komunitas Ujungberung mulai membangun basis ekonomi komunitas

sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi komunitas dengan cara

membangun distro Rebellion yang khusus menjual produk-produk band

Ujungberung dan komunitas musik lain di Bandung. Semua murni

(35)

24 II.4 Respect Band

Respect terbentuk pada awal tahun 2011di Bandung dan terlahir sebagai band hardcore beatdown metal di Bandung , jawa barat. Band respect terdiri dari 5 anak muda yang berambisi merubah scene hardcore agar lebih berani menunjukan skill,

power dan totalitas dalam bermusik. Pada awal pembentukan nya, band respect

mengalami berbagai perubahan personil yang beragam, mulai dari Otong vocal

pertama dari band respect digantikan oleh Andy, yang kemudian digantikan oleh Choky ex Burned up, dan hingga akhirnya Raii julian novalo (drum), Rizky

darmawan (lead guitar), Bentar Nupang (rhytm guitar), Sebastian Arga (bass) dan

Choky (vocal) bertahan hingga sampai saat ini.

Pada pertengahan tahun 2011 band respect mengeluarkan single pertama mereka yg ber-title "You Can't take what we have" yang mendapat respon positif dari masyarakat bandung.

Awal tahun 2012 Respect merilis EP album "This is Us" dibawah naungan Riotic records, yang berisikan 4 lagu beatdown.

II.5 Khalayak Sasaran

Masyarakat terutama remaja yang sedang mempelajari dan memperdalam ilmu

fotografi dan sejenisnya. Dengan meliputi khalayak sasaran seperti:

II.5.1 Geografis

Masyarakat remaja yang berada di Bandung dan yang ingin belajar tentang

bagian dari ilmu fotografi khususnya yang ingin mengetahui band Respect

lebih lengkap.

II.5.2 Demografis

(36)

25

Primary : Remaja umur 15 sampai 25 tahun. Di usia ini termasuk kedalam

usia yang memiliki suatu usaha dalam mewujudkan keinginan dan memiliki

rasa penasaranyang tinggi akan pengetahuan.

Sekunder : Masyarakat umum yang ingin tahu dengan aliran musik

underground.

II.5.3 Psikografis

Psikografis adalah metode untuk membagi pasar berdasarkan aspek

psikologi dan kebiasaan atau gaya hidup pelanggang. Solomon (1997)

mendefinisikan psikologi sebagai “use of psychological, sociological, and

anthropological factors for market segmentation.” Dari definisi tersebut,

dapat diartikan bahwa psikografi merupakan penggunaan faktor – faktor

psikologis, sosiologis dan antropologis yang digunakan untuk segmentasi

pasar.

Dari pengertian diatas, Penulis memilih masyarakat yang mengikuti

perkembangan jaman, Remaja baik laki-laki ataupun perempuan yang

(37)

26

BAB III

PERANCANGAN MEDIA INFORMASI BAND RESPECT

III.1 Strategi Komunikasi

Penyampaian informasi mengenai band Respect dilakukan dengan media informasi buku. Penyampaian pesan utama mengenai band Respect dalam media informasi dilakukan dengan bentuk biografi tentang band Respect. Penggunaan dalam media ini dibuat untuk memudahkan audience dalam memahami pesan yang ingin disampaikan oleh media ini. Selain itu buku sebagai media terpilih ini

dilengkapi dengan informasi mengenai musik underground, hal ini dirancang agar masyarakat dapat mengenal musik underground untuk menilai positif.

III.2 Tujuan Komunikasi

Tujuan dari perancangan media informasi ini adalah menyampaika ninformasi

mengenai band Respect sebagai salah satu identitas musik underground. Perancangan media ini juga ditujukan untuk mengembangkan musik underground

khusunya band Respect.

III.3 Materi Pesan

Adapun pesan yang akan disampaikan oleh media informasi ini mengenai band

respect kepada audience adalah band yang bisa menggabungkan beberapa genre

(38)

27 III.4 Konsep Visual

III.4.1 Warna

Penggunaan warna pada buku ini dipilih berdasarkan pedekatan cerita dan

maksud yang ingin disampaikan pada tiap adegan. Adapun warna yang

mendominasi buku ini adalah:

C : 0 M : 0 Y : 0 K : 100%

C : 0 M : 0 Y : 0 K : 0

III.4.2 Tipografi

Penggunaan tipografi pada buku ini dipilih berdasarkan pedekatan pola

perilaku target audience yang dirumuskan melalui studi indikator. Berikut adalah sampel tipografi yang digemari oleh target audience yang dilihat dari

pola perilaku gaya hidup.

(39)

28

Sumber :

http://www.zalora.co.id/nike/?gclid=CIq1iqXanrQCFZEf6wode1gASA&wt_sn6= 3635668632_14920185072&wt_snk6=Exact_3635668632_nike?sort=popularity

Dari hasil studi indikator tersebut terlihat bahwa target audience menyukai tulisan yang memiliki sifat tegas, elegan, simple, dan eksklusif. Hasil dari pendekatan tersebut kemudian direalisasikan kedalam bentuk ini dengan

tipografi berikut:

COLLEGIATEFLF

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

1234567890

IMPACT

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

abcdefghijklmnopqrstuvwxyz

1234567890

III.5 Strategi Media

(40)

29 III.5.1 Media Utama

Media yang cocok dipilih sebagai media informasi mengenai band Respect

adalah buku. Media ini dipilih karena memiliki sifat praktis, tahan lama, dan dapat digunakan/dibaca berulang-ulang. Buku juga memiliki ketahanan karena merupakan barang privasi.

III.5.2 Media Promosi

Adapun media promosi yang digunakan adalah :

III.5.2.1 Poster

Media promosi ini ditempel ditoko pakaian/distro, studio musik, dan disetiap sudut jalan di kota Bandung khususnya yang menjadi tempat banyaknya anak muda berkumpul. Gunanya sebagai pemberi informasi kepada target audience. Media promosi ini dipajang dua minggu sebelum buku beredar.

III.5.2.2 Baner

Media promosi ini sebagai media pengingat sebagai pemberi informasi kepada target audience.

III.5.2.3 T-shirt

Media promosi ini di jual secara paket dengan media lainya dalam acara

launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat

audience untuk hadir di acara launcing mini album band respect.

III.5.2.4 Handband

Media promosi ini di jual secara paket dengan media lainya dalam acara

launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat

(41)

30 III.5.2.5 Tote bag

Media promosi ini sebagai media pendukung yang berguna untuk

packaging media-media pendukung.

III.5.3 Media Pengingat

Media ini adalah media alternatif yang berfungsi sebagai reminder terhadap media utama.Adapun media pengingat yang digunakan adalah :

III.5.3.1 Stiker

Media promosi ini sebagai gimik yang di berikan kepada audience dalam acara launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat audience dan lebih mengenalkan band respect.

III.5.3.2Pembatas Buku

Media ini berguna sebagai pengingat halaman buku. This Is Us Respect.

III.5.4 Gimmick

Adapun media informasi sebagai gimmick yang diberikan kepada target

audience dalam acara launcing mini album band respect sebagai berikut:

III.5.4.1 Pin

Media promosi ini sebagai gimmick yang di berikan kepada audience

dalam acara launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat audience dan lebih mengenalkan band respect.

III.5.4.2 Pick gitar

Media promosi ini sebagai gimmick yang di berikan kepada audience

(42)

31

BAB IV

TEKNIS PRODUKSI MEDIA

IV.1 Media Utama

Media utama yang dipilih untuk menyampaikan informasi adalah buku cerita bergambar. Buku ini dirancang dengan ukuran 19 x 14.5 cmlandscape. Perancangan buku dengan ukuran tersebut dimaksudkan agar tampilan foto pada cerita bergambar lebih terlihat detail. Pemilihan hard cover pada sampul buku agar isi buku tidak mudah rusak dalam penyimpanan dan lebih tahan lama.

IV.2 Teknis Pembuatan Buku

Proses pembuatan buku dilakukan secara bertahap dengan urutan membuat sinopsis, sketsa, penjadwalan dengan personail untuk pengambilan gambar profile. Adapun urutan proses pembuatannya secara rinci dijelaskan sebagai berikut :

IV.2.1 Pembuatan Sinopsis

Sinopsis dibuat berdasarkan hasil pengumpulan informasi yang telah diteliti sebelumnya. Pengumpulan data dan penelitian dilakukan dengan metode wawancara dan pengumpulan sumber pustaka.

IV.2.2 Pembuatan Sketsa

(43)

32

baik diatas kertas maupun diatas kanvas, dengan tujuan untuk dikerjakan lebih lanjut.

Gambar IV. 1 Sketsa Sumber :Dok. Pribadi

IV.2.3 Penjadwalan Foto Sesi

(44)

33 IV.2.4 Teknis Editing

Setelah melakukan pemotretan selanjutnya dilakukan proses editing. Proses ini dilakukan dengan menggunakan software Adobe Photoshop CS 5 dan Corel Draw X5 Langkah pertama dalam proses editing adalah menyunting hasil foto sesuai dengan storyline. Setelah itu dilakukan proses editing satu persatu adalah sebagai berikut :

IV.2.4.1 Menyunting Gambar

Gambar yang disunting berdasarkan adegan dimasukan kedalam Adobe Photoshop CS 5.

Gambar IV. 2 Teknis Editing

(45)

34 IV.2.4.2 Coloring

Setelah menyunting gambar kemudian melakukan coloringblack & white

untuk mendapatkan hasil foto yang dramatis.

Gambar IV. 3 Teknis Editing

Sumber :Dok. Pribadi

Gambar IV. 4 Teknis Editing

(46)

35 IV.2.4.3 Teknis editing layout.

Teknis editing layoutmenggunakan Corel Draw X5 langkah pertama menyunting gambar.

Gambar IV. 5 Teknis Editing

Sumber : Dok. Pribadi

Untuk mengatur ukuran gambar ke dalam layout menggunakan powerclip.

Gambar IV. 6 Teknis Editing

(47)

36

Proses selanjutnya melakukan transparency font untuk lebih menyatu dengan gambar.

Gambar IV. 7 Teknis Editing

Sumber :Dok. Pribadi

IV.3 Media Penunjang

Media penunjang dari pembuatan buku ini adalah event musik launcing mini album yang diadakan pada area target audience guna menghadirkan suasana dalam buku kekehidupan audience.

IV.3.1 Teknis Pengadaan event

(48)

37

a. PerizinandanPenggunaanTempat

Pengerjaan ini dilakukan oleh pihak yang ditunjuk sebagai pengurus perizinan dan penggunaan tempat untuk event. Pihak ini bertanggung jawab terhadap pihak pemilik tempat.

b. SetdanProperty

Pengerjaan ini dilakukan oleh pihak yang berpengalaman dalam bidang ini. Pengerjaan set dan property dilakukan setelah ada keputusan dari pihak yang bertanggung jawab mengenai perizinan.

c. Crew event

Pihak ini berkerja sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap jalannya

event pada harinya.

IV.4 Media Promosi

Pembuatan media promosi bertujuan untuk media pemberi tahu dan media pengingat target audience terhadap media utama berupa buku cerita bergambar. Adapun jenis media promosi yang digunakan adalah :

IV.4.1 Poster

(49)

38 Gambar IV.9 Poster

IV.4.2 Banner

Media promosi ini sebagai media pengingat sebagai pemberi informasi kepada target audience. Media ini pasang sebagai background stand

panggung saat acara launcing mini album band respect.

(50)

39 IV.4.3 T-shirt

Media promosi ini di jual secara paket dengan media lainya dalam acara

launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat

audience untuk hadir di acara launcing mini album band respect.

Gambar IV.11 T-shirt

IV.4.4 Handband

Media promosi ini di jual secara paket dengan media lainya dalam acara

launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat

(51)

40 Gambar IV.12 Handband

IV.4.5 Tote bag

Media promosi ini sebagai media pendukung yang berguna untuk packaging

media-media pendukung.

(52)

41 IV.5 Media Pengingat

Media ini adalah media alternatif yang berfungsi sebagai reminder terhadap media utama. Adapun media pengingat yang digunakan adalah :

IV.5.1 Stiker

Media promosi ini sebagai gimik yang di berikan kepada audience dalam acara launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat audience dan lebih mengenalkan band respect.

(53)

42 IV.5.2 Pembatas Buku

Media ini berguna sebagai pengingat halaman buku. This Is Us Respect.

Gambar IV.15 Pembatas buku

IV.6 Gimmick

Adapun media informasi sebagai gimmick yang diberikan kepada target audience

dalam acara launcing mini album band respect sebagai berikut:

IV.6.1 Pin

(54)

43 Gambar IV.16 Pin

IV.6.2 Pick gitar

Media promosi ini sebagai gimmick yang di berikan kepada audience dalam acara launcing mini album band respect. Gunanya sebagai media penarik minat audience dan lebih mengenalkan band respect.

(55)
(56)

Kenapa harus band RESPECT ?

Mempunyai misi mengajak anak

muda untuk lebih melakukan

hal-hal positif.

lirik- lirik band RESPECT lebih

mudah dimengerti.

Band baru yang potensial.

Band RESPECT menggabungkan

(57)

Bagaimana cara menarik perhatian

masyarakat terhadap band

Respect

dengan

media informasi?

Pandangan masyarakat yang selalu menilai

negatif pada musik Underground.

Bagaimana menciptakan media informasi yang

bisa menyampaikan pesan melalui media buku

dengan obyek band

Respect

agar muncul

(58)

Bagaimana cara untuk mengangkat band RESPECT agar mudah

diterima oleh masyarakat luas setidaknya mereka mengetahui

nilai-nilai positif dari musik Underground khususnya band RESPECT dan

mengenalkan genre yang dimainkan oleh band RESPECT dalam

(59)

Perancangan ini bertujuan untuk

mengenalkan band RESPECT dan

musik Underground.

Perkembangan musik indie di

Indonesia makin maju, di barengi

dengan munculnya band-band yang

sesuai permintaan pasar dibawah label

major saat ini, membuat masyarakat

khususnya pecinta musik kurang

mengetahui perkembangan musik lain

(indie)

Mempromosikan band RESPECT.

(60)
(61)

UNDERGROUND

Hardcore

Punk

Metal

Rock

Grindcore

(62)

Hardcore

Suara gitar yang lebih tebal, berat dan cepat.

Membawakan lagu tentang politik, kebebasan

berpendapat.

Metal

Musik yang lebih keras dibandingkan dengan Rock

Genre Metal yang dikategorikan keras dimana lagunya

memiliki vocal ala scream dan growl dimana vokal ini

lebih banyak digunakan di aliran hardcore.

Beatdown

tempo musik yang lebih banyak beat beat pada

(63)
(64)

Judul utama dari mini album:

THIS IS US

Lirik :

here we are, young, strong and proud all my friends, always on my side respect, this is us

this is us you can’t break Look in the fuckin dark sky

there’s nothing you to fear respect, this is us

this is us you cant break Every single drop of my blood Every breath I take in my life This is my way, this is my life

here we are, young, strong and proud

Pesan dari lirik : dara muda yang penuh semangat, kuat dan pantang

(65)

Demografi

Umur

: 17

20 tahun.

Jenis Kelamin

: Perempuan & Laki-laki.

Pendidikan

: SMA sampai dengan perguruan tinggi.

Geografi

Bandung dan sekitarnya.

Behaviour

masyarakat yang mengikuti perkembangan jaman, remaja

baik laki-laki ataupun perempuan yang menyukai dan

(66)

Perancangan Buku sebagai media informasi Band

Respect

Perancangan media informasi ini bersifat inovasi yang dibuat dalam media

buku. Pendekatan yang dilakukan adalah membuat biografi band RESPECT

melalui fotografi yang dibukukan dengan prosentase 30% tulisan 70% foto

Keterangan :

Lirik Band RESPECT mengandung Unsur Ajakan

Contoh lirik :

here we are, young, strong and proud

all my friends, always on my side

respect, this is us

(67)

Fotografi Sebagai Bahasa Komunikasi untuk

menyampaikan informasi mengenai band RESPECT

sebagai salah satu identitas musik Underground.

(68)

Media Utama:

Buku media informasi

Media Pendukung:

Packaging Buku dan Mini Album

Poster

Pembatas buku

Stiker

T-Shirt

Pin

Handband

Pick gitar

(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)

Media yang cocok dipilih sebagai media informasi

(75)
(76)
(77)

T-shirt

:

Media promosi ini di jual secara paket dengan media lainya dalam

(78)

Handband

:

Media promosi ini di jual secara paket dengan media lainya

dalam acara

launcing

mini album band

respect

. Gunanya sebagai media penarik minat

(79)

Tote bag :

Media promosi ini sebagai media pendukung yang berguna untuk

(80)

Media ini adalah media alternatif yang berfungsi sebagai

reminder

terhadap media

utama. Adapun media pengingat yang digunakan adalah :

(81)

Adapun media informasi sebagai gimik yang diberikan kepada target

audience

dalam

acara

launcing

mini album band

respect

sebagai berikut.

Pin & Pick gitar

Media promosi ini sebagai gimik yang di berikan kepada

audience

dalam acara

launcing

(82)

Media

Bulan

Desember

January

Februari

Buku & Mini

Album

Poster

Stiker

T-shirt

Pin

Handband

Gambar

Gambar III.1Brand ProdukPakaian
Gambar III 1Brand ProdukPakaian . View in document p.38
Table IV.1 Penjadwalan

Table I.

V 1 Penjadwalan . View in document p.43
Gambar IV. 1 Sketsa
Gambar IV 1 Sketsa . View in document p.43
Gambar IV. 2 Teknis Editing
Gambar IV 2 Teknis Editing . View in document p.44
Gambar IV. 3 Teknis Editing
Gambar IV 3 Teknis Editing . View in document p.45
Gambar IV. 5 Teknis Editing
Gambar IV 5 Teknis Editing . View in document p.46
Gambar IV. 6 Teknis Editing
Gambar IV 6 Teknis Editing . View in document p.46
Gambar IV. 7 Teknis Editing
Gambar IV 7 Teknis Editing . View in document p.47
Gambar IV.9 Poster
Gambar IV 9 Poster . View in document p.49
Gambar IV.10 Baner
Gambar IV 10 Baner . View in document p.49
Gambar IV.11 T-shirt
Gambar IV 11 T shirt . View in document p.50
Gambar IV.13 Tote bag
Gambar IV 13 Tote bag . View in document p.51
Gambar IV.12 Handband
Gambar IV 12 Handband . View in document p.51
Gambar IV.14 Stiker
Gambar IV 14 Stiker . View in document p.52
Gambar IV.15 Pembatas buku
Gambar IV 15 Pembatas buku . View in document p.53
Gambar IV.16 Pin
Gambar IV 16 Pin . View in document p.54
Gambar IV.17 Pick gitar
Gambar IV 17 Pick gitar . View in document p.54

Referensi

Memperbarui...

Download now (82 pages)