Pandangan hukum Islam terhadap perlindunagn saksi dalam perkara pidana di Indonesia menurut UU No.13 tahun 2006

Gratis

0
10
103
2 years ago
Preview
Full text
PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN SAKSI DALAM PERKARA PIDANA DI INDONESIA MENURUT UU NO. 13 TAHUN 2006 Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Oleh: ABDUL ROZAK NIM: 103043227981 KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM JURUSAN PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 H / 2008 M PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN SAKSI DALAM PERKARA PIDANA DI INDONESIA MENURUT UU NO. 13 TAHUN 2006 SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (S. H. I) Oleh: ABDUL ROZAK NIM: 103043227981 Di bawah Bimbingan Pembimbing I, Pembimbing II, DR. HA. Juaini Syukri, LCS, MA NIP : 150 256 969 Dedy Nursyamsi, M. Hum NIP : 150 264 001 KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZDHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 H / 2008 M PENGESAHAN PANITIA UJIAN Skripsi yang berjudul “PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN SAKSI DALAM PERKARA PIDANA DI INDONESIA MENURUT UU NO. 13 TAHUN 2006” Telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 3 Juni 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam pada Program Strata 1 (S1) pada Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum Program Studi Perbandingan Hukum. Jakarta, 3 Juni 2008 Mengesahkan, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma. SH.,MA.,MM NIP: 150 210 422 PANITIA UJIAN MUNAQASYAH Ketua: Dr. H. Mujar Ibnu Syarif, M.Ag NIP: 150 275 509 : Sekertaris:H. Muhammad Taufiqi. M.Ag NIP: 150 290 159 : Pembimbing I: Dr. HA. Juaini Syukri, LCS, MA NIP: 150 256 969 : Pembimbing II: Dedy Nursyamsi. SH.,M. Hum NIP: 150 264 001 : Penguji I: H. Zoebir Laini, SH NIP: 150 009 273 : Penguji II: Dr. Yayan Sopyan, M.Ag Nip: 150 277 991 : ‫اﷲ ا ﺮ ﺎن ا ﺮ‬ KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT. Pencipta dan Pemelihara alam semesta, yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya. Sehingga dengan izin dan iradat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam yang selalu tercurah keharibaan Nabi besar Muhammad SAW dan segenap para sahabat-sahabatnya. Penulis sangat menyadari, bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin terselesaikan tanpa bantuan dan uluran tangan dari berbagai pihak, oleh karenanya dari renung hati yang paling dalam, penulis ucapkan terima kasih yang tiada hingga kepada yang terhornat: 1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA., MM. beserta jajarannya yang telah memberikan dukungan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 2. Ketua Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum Bapak Dr. H. Ahmad Mukri Aji MA. dan Sekertaris Program Studi Bapak H. Muhammad Taufiqi M.Ag. serta para dosen dan karyawan di Fakultas Syariah Dan Hukum. 3. Kepada Bapak Dr. HA. Juaini Syukri, LCS, MA dan Bapak Dedy Nursyamsi, SH, M.Hum, selaku dosen pembimbing yang telah mengerahkan waktu, tenaga dan ilmunya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 4. Kepada Pimpinan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah Dan Hukum serta karyawan dan pegawai yang telah membantu dalam pencarian sumber bacaan buku dan referensi. 5. Kepada para Dosen penulis haturkan banyak terima kasih, khususnya dari civitas akademika Fakultas Syariah dan Hukum yang telah berkontribusi positif bagi khazanah dialetika pemikiran penulis selama proses pendidikan berlangsung demi memahami kondisi kontemporer dengan penuh kearifan. Terutama kepada Bapak Dr. JM. Muslimin, dan Bapak Alfitra SH, MH, serta para dosen yang lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu dan tidak mengurangi rasa hormat penulis. 6. Kepada Ayahanda tercinta Bapak Satiri dan Ibunda Rohani yang selalu setia menanti ananda dalam meraih gelar kesarjanaan. Berkat jasa dan doa beliaulah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan Ayah dan Ibu. Amin. 7. Kepada Keluarga besar Kedoya Jak Bar: Satiri Mansyur {Bapak}, Satria, Saanah, Suhatih, Sitinah, Rohani {Ibu}, Royani, Rohadi, Rohmat, Rozak. Terutama untuk kakakku Bang Roy, Ka Amril, Bang Madun, Mpo Ana, Mpo Titin yang selalu memberikan suport serta dukungan morilnya kepada penulis. Dari merekalah penulis sangat terinspirasi dan termotivasi untuk menyelesasikan skripsi ini dengan baik. Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan mereka. 8. Kepada Ibunda Ustadzah Diah {Istri almarhum KH. Ahmad Dimiyati} dan Ustadz Yazid {Putra almarhum KH. Ahmad Dimiyati}, yang telah memberikan semangat dan do’a kepada penulis. Dan kepada rekan-rekan Alumni Ponpes Daarul Uluum Lido, Arif, Indra, Firdaus, Heri, Juniardi, Cucum, dan sahabatsahabat lainnya. Yang banyak memberikan dorongan moril dan nasihatnya bagi penulis. Thanks for all. 9. Rekan-rekan seperjuangan dan sepenanggungan anak-anak Perbandingan Hukum angkatan 2003, sengaja saya paparkan semua teman sekelas agar tidak terlupakan satu diantara kalian, walaupun ada yang tidak sampai akhir perjuangan: A. Zaenudin, A. Qodir, A. Rozak, Abdulazim, Abdurrahman, Agung Gunawan, Agus Hermawan, Ahmad Hafidz, Ahmad Ratomi Zaen, Ahmad Zaki, Alwanih, Anhar Kurniawan, Azwardi, Firdaus Ahmad, Harun Rosyid, Imroah, Istiamah, Maysaroh, Makiyah, Miftah Faridh, Mohammad Syaiban, M. Abdul Fatah HS, M. Alif Yusuf, M. Fathurrahman, M. Iqbal, M. Jauhar Haekal, M. Syukron, Mukhtar Efendi, Neni Syafrida, Nur Hasan, Salman Faris, Sunarti, Syadat M. Nur, Syahril Aili, Teguh Widyantarto, Unun Ru’yatul Hilal, Yakobus Liga, Yustam Syahril. Dan lebih spesial dari kawan gue yang sudah banyak bantu, kepada: Aal, Tomi, Maman, Syadat, Ucup, Fathur, Miftah {Ustadz}, Qodir, Narti, Unun, thanks abiz atas apa yang telah kamu berikan kepadaku dan jangan pernah lupakan KKS Subang yang begitu manis dan indah. Dan juga kepada Dadan, Bondan, Solihin, Gozali, Miftah Dirosat, dan Ujang yang banyak membantu dalam menyelesaikan tugas skripsi. Semoga segala partisipasi, dan motivasi serta doa kepada penulis memohonkan ridha di sisi-Nya. Harapan terakhir, semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembangunan ke Ilmuan, ke Islaman dan ke Indonesian. akhirnya, hanya kepada-Nya segala urusan dan akan kembali pula kepada-Nya. Tiada daya dan upaya hanya milik-Nya, lalu kita memohon hidayah dan ampunan-Nya. Jakarta, 29 Jumadil Ula 1429 H 4 Juni 2008 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. i DAFTAR ISI. v BAB I BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang . 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah . 8 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian . 9 D. Metode Penelitian . 10 E. Sistematika Penulisan . 12 TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DALAM HUKUM ISLAM A. Saksi Menurut Hukum Islam . 14 1. Pengertian. 14 2. Macam-macam dan Syarat-syarat Saksi . 18 3. Hak-hak Saksi dan Tujuan Saksi . 29 4. Dasar Hukum . 38 B. Saksi Menurut Hukum Positif. 41 1. Pengertian. 41 2. Macam-macam dan Syarat-syarat Saksi . 42 3. Hak-hak dan Tujuan Saksi . 44 4. Dasar Hukum . 47 C. Tujuan Perlindungan Saksi . 46 1. Menurut Hukum Islam . 46 2. Menurut Hukum Posistif . 48 BAB IIIPERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PADA PERKARA PIDANA DALAM U A. Saksi Dalam Perkara Pidana . 50 1. Perkara Pidana . 50 2. Saksi Sebagai Alat Bukti . 52 3. Faktor Penyebab Perlunya Perlindungan Saksi Dalam Undang -undang Nomor 13 Tahun 2006 . 54 B. UU No. 13 Tahun 2006. 56 1. Sejarah Terbentuknya . 56 2. Tujuan Pembentukannya . 58 3. Landasan Hukumnya . 59 4. Susunan dan Isi . 59 C. Perlindungan Hukum Dalam UU No. 13 Tahun 2006 Terhadap Saksi . 61 1. Perlindungan Hukum Dari Ancaman Terhadap Saksi . 61 2. Pemberian Restitusi, Pelayanan Rehabilitasi Kesehatan, dan Sosial . 67 BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM MENGENAI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM UU NO. 13 TAHUN 2006 BAB V A. Analisis Terhadap Perlindungan Saksi Dari Ancaman . 72 B. Analisis Terhadap Restitusi . 75 C. Analisis Terhadap Rehabilitasi . 83 PENUTUP A. Kesimpulan . 89 B. Saran-saran. 91 DAFTAR PUSTAKA . 93 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk yang paling dimuliakan Allah. Allah SWT menciptakannya dengan tangan (kekuasaan)-Nya sendiri, meniupkan ruh dariNya kepadanya, memerintahkan sujud semua Malaikat kepadanya, menundukkan semua apa yang ada dilangit dan dibumi kepadanya, menjadikan kholifah-Nya dibumi, dan membekalinya dengan kekuatan serta bakat-bakat agar ia dapat menguasai bumi ini, dan supaya ia dapat meraih dengan semaksimal kemampuannya akan kesejahteraan kehidupan materil dan spirituilnya.1 Islam adalah agama yang universal dalam mengatur segala hal dan permasalahan. Tidak ada satupun dari aspek kehidupan dialam semesta ini yang lepas dari kontrol dan aturan yang telah digariskan oleh syari’at Islam, demikian pula dalam hal sistem persaksian sudah tercakup didalamnya. Syari’at Islam telah mengatur sedemikian rupa tentang aturan persaksian, termasuk didalamnya mengatur tentang kewajiban saksi terhadap kejadian yang telah dialaminya.2 Firman Allah SWT menyatakan : ( 283:‫ )ا ﺮة‬ 1 ‫ﻜ ﻬﺎ ﺈ ءاﺛ‬ ‫ و ﻜ ﻮا ا ﻬﺎدة و‬ Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, terj (Bandung : Al-Ma’arif, 1987), Cet ke-2 h. 13 Ahmad ad-Da’ur, terj- Syamsuddin Ramadlan., Hukum Pembuktian dalam Islam, (Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, 2002), Cet. ke- 1, h. 21 2 Artinya: “ dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya .” (Q. S Al-Baqarah : 283). Sementara dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi juga telah diatur pula dalam persaksian, baik itu mengenai hak-hak bagi para saksi atau lainnya, seperti yang tercantum pada pasal 5 yang berbunyi “ Perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya, dan sebagainya.3 Hak yang paling utama dijamin oleh Islam adalah hak hidup, hak pemilikan, hak memiliki kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan, dan hak menuntut ilmu pengetahuan. Hak paling penting dan yang sangat diperlukan dalam perhatian diantara hak-hak tersebut adalah hak hidup, tidak dibenarkan secara hukum dilanggar kemuliaannya dan tidak boleh dianggap remeh eksistensinya. Manusia juga sebagai makhluk hidup yang sempurna, tentu saja memiliki akal serta pikiran yang sehat. Di dalam kehidupan yang dijalani, pasti muncul persoalan-persoalan yang dihadapi, entah antara individu dengan individu, individu dengan golongan, atau golongan dengan golongan. Untuk mengatasi hal ini, maka manusia membentuk aturan-aturan yang kita kenal dengan hukum. Dalam memperhatikan fungsi hukum dimasyarakat yang dapat berjalan tanpa 3 Cet. ke- 1. h. 3 Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban (Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2006), menerima pelayanan hukum. Keadaan ini menjadi lebih jelas lagi apabila kita berhadapan dengan masyarakat yang tidak lagi tradisional dimana kontak-kontak pribadi serta konflik-konflik kepentingan terjadi dengan lebih efektif.4 Untuk menyelesaikan konflik yang ada, maka dibentuklah badan-badan peradilan untuk menyelesaikan berbagai konflik yang muncul didalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika manusia ingat bahwa kebenaran dapat dicapai dengan usaha-usaha pikiran dan lainnya, maka manusia mempunyai dasar yang sehat dalam agama. Manusia tidak menjadi orang berharga jika percaya dengan mudah atau menolak sesuatu kepercayaan dengan mudah pula, dengan tidak memakai penyelidikan yang seksama. Oleh karena sebuah pendapat adalah lebih dekat kepada kebenaran dari pada pendapat yang lain, maka kewajiban manusia adalah mengetahui pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran itu. Kebenaran akan menjadi lebih terlihat dengan adanya saksi dan bukti, tapi disamping itu manusia harus membedakan antara saksi yang benar dan yang tidak benar, dan harus belajar menarik kesimpulan dari pada saksi yang mutlaq.5 Sesungguhnya keadilan itu dapat diwujudkan dengan menyampaikan setiap hak kepada yang berhak dan dengan melaksanakan hukum-hukum yang 4 Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat (Bandung : Angkasa, 1979), Cet ke-4 h. 11 David Trueblood, terj- M. Rasjidi, Filsafat Agama, (Jakarta : PT Bulan Bintang, 1965), Cet. ke- 1, h. 30 5 telah disyari’atkan Allah SWT serta dengan menjauhkan hawa nafsu melalui pembagian yang adil diantara sesama manusia.6 Peradilan adalah suatu tugas suci yang diakui oleh seluruh bangsa, baik mereka yang tergolong bangsa-bangsa yang telah maju ataupun yang belum. Di dalam peradilan yang terkandung perintah menyuruh ma’ruf dan mencegah yang mungkar, menyampaikan hak kepada yang harus menerimanya dan menghalangi orang yang zalim daripada berbuat aniaya, serta mewujudkan perbaikan umum. Dengan peradilanlah dilindungi jiwa, harta dan kehormatan. Apabila peradilan itu tidak terdapat dalam suatu masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang kacau balau.7 Walaupun tidak sepenuhnya dipercaya, pengadilan tetap merupakan tumpuan masyarakat dalam mengusung keadilan yang dicita-citakan. Hal ini meniscayakan lembaga pengadilan untuk mampu mengeluarkan keputusan yang tidak memihak, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Inilah doktrin idealisme dari aliran pemikiran hukum liberal (Liberal Legal Thought School).8 6 Sayyid Sabiq, terj- Mahyuddin Syaf, Fiqih Sunnah (Bandung : Al-Ma’arif, 1994), Cet ke- 4, Jilid 14, h. 17 7 Hasbi Ash-Shiddieqy, Peradilan dan Hukum Acara Islam, (Yogyakarta : Al-Ma’arif, 1964), h. 7 8 Ifdhal Kasim, Berkenaan dengan “Critical Legal Studies” dalam Roberto M. Unger, Gerakan Studi Hukum Kritis, (terj), (Jakarta : ELSAM, 1999), Cet. Ke- 1, h. XI (Kata Pengantar). Gerakan ini dipelopori antara lain oleh Ronald Dworkin. Lihat Karya Ronald Dworkin, A Matter Of Principle,(Cambridge : Harvard University Press, 1985) Satu hal yang menarik adalah, sehubungan dengan kedudukan peradilan sebagai lembaga yang secara resmi diberi wewenang untuk menentukan suatu keputusan demi terciptanya keadilan kepastian hukum di tengah masyarakat, pengadilan sering kali dituduh tidak memihak kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan.9 Kenyataan ini memang kerap kali terjadi pada taraf pengambilan keputusan. Barangkali penyebabnya adalah tidak terpenuhinya sumber-sumber atau dasar-dasar yang dapat meyakinkan hakim secara sempurna dalam proses ini, sedangkan hakim tertuntut secara yuridis untuk menjatuhkan satu ketetapan yang mengikat pihak-pihak berperkara itu, sesuai dengan azas hukum acara, bahwa hakim mengadili setiap perkara yang diajukan kepadanya.10 Sumber-sumber yang dipergunakan seorang hakim dalam mengambil keputusan disebut sebagai “alat bukti”. Setiap alat bukti berbeda-beda kekuatan satu dengan yang lainnya. Yang secara langsung dapat mempengaruhi keputusan yang dihasilkan. Jika kekuatan alat bukti dapat diakui, maka seorang hakim untuk memutuskan perkara memerlukan waktu yang tidak singkat, sehingga hakim merasa yakin dengan keputusannya. Hakim sebagai salah satu unsur atau bagian dari proses penegakan hukum yang berada dalam suatu institusi peradilan. Dalam memutuskan suatu perkara 9 Inilah fokus dari titik gerakan Critical Legal Studies bahwa proses-proses hukum tidak pernah bekerja dalam ruang hampa, melainkan berlangsung dalam realitas yang tidak netral dari nilai yang ada dibelakangnya ialah subyektif. Ibid., h. XVI (Kata kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (103 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Peran komisis yudisial dalam reformasi peradilan di Indonesia menurut hukum Islam
0
9
121
Tindak pidana pemalsuan data dalam undang-undang no. 11 tahun 2008 tentang ite dan kajian hukum Islam
1
10
88
Pandangan hukum pidana positif dan hukum pidana Islam tentang pencurian mayat (putusan pengadilan Negeri purbalinga nomor: 31/pid.b/2003/pn.pbg)
4
29
128
Tindak pidana pembajakan pesawat udara menurut hukum pidana Islam dan hukum pidana positif
0
10
89
Tindak pidana profesi kedokteran menurut hukum pidana Indonesia dan hukum pidana Islam
0
5
147
Perkembangan hukum perdata Islam di Indonesia (tinjauan UU.no.03 tahun 2006 tentang perubahan atas UU no.7 tahun 1989 tantang paradian agama)
0
5
76
Peranan kedokteran porensik dalam proses pembuktian menurut hukum acara pidana Indonesia dan hukum pidana Islam : studi analisa putusan pengadilan Negeri Jakarta Barat No. Perkara 346/Pid. B/2006/PN.JKT.BAR
0
5
124
Pandangan Hukum Islam terhadap Perlindungan Saksi dan korban dalam perkara pidana di Indonesia: kajian terhadap pasal (1) UU No.13 Tahun 2006
0
22
87
Kedudukan lembaga perlindungan saksi dan korban di Indonesia : kajian hukum Islam
0
4
29
Proses akomodasi hukum Islam ke dalam hukum pidana nasional
0
7
22
Kedudukan saksi dalam perkara pidana menurut UU Acara Malaysia dan Indonesia
0
6
78
Perspektif hukum Islam terhadap konsep kewarganegaraan Indonesia dalam UU No.12 tahun 2006
12
111
111
Pandangan hukum Islam terhadap perlindunagn saksi dalam perkara pidana di Indonesia menurut UU No.13 tahun 2006
0
10
103
Sanksi tindak pidana penyalahgunaan narkotika dalam undang-undang nomor 35 tahun 2009 ditinjau dari hukum Islam
2
14
81
Sanksi tindak pidana penyalahgunaan narkotika dalam undang-undang nomor 35 tahun 2009 ditinjau dari hukum Islam
1
4
81
Show more