Perspektif hukum Islam terhadap Perda No.05/2002 Pemda Kota Pekanbaru dalam upaya menanggulangi pekerja seks komersial (PSK)

Gratis

0
8
84
2 years ago
Preview
Full text
PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERDA NO.05/2002 PEMDA KOTA PEKANBARU DALAM UPAYA MENANGGULANGI PEKERJA SEKS KOMERSIAL (PSK) Oleh KATON 103045128147 JURUSAN JINAYAH SIYASAH KONSENTRASI PIDANA ISLAM FAKUTAS SYARI’AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2008 PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERDA NO.05/2002 PEMDA KOTA PEKANBARU DALAM UPAYA MENANGGULANGI PEKERJA SEKS KOMERSIAL (PSK) Oleh KATON 103045128147 JURUSAN JINAYAH SIYASAH KONSENTRASI PIDANA ISLAM FAKUTAS SYARI’AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2008 PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERDA NO.05/2002 PEMDA KOTA PEKANBARU DALAM UPAYA MENANGGULANGI PEKERJA SEKS KOMERSIAL (PSK) Oleh KATON 103045128147 JURUSAN JINAYAH SIYASAH KONSENTRASI PIDANA ISLAM FAKUTAS SYARI’AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2008 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW, yang telah melepaskan umatnya dari lembah kebodohan ke arah yang penuh dengan cahaya ilmu pengetahuan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Hukum Islam pada jurusan Jinayah Siyasah Program Studi Pidana Islam Fakultas Syariahdan Hukum. Sebagai manusia biasa, penulis menyadari bahwa kemungkinan besar skripsi ini masih memiliki kelemahan dan kekurangan, maka penulis sangat mengahrapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif. Disamping itu, penulis meyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini penulis telah banyak menerima bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besrnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya terutama kepada yang terhormat: 1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis baik secara edukatif maupun administratif sejak awal perkuliahan hingga akhir perkuliahan ini. 2. Ketua Jurusan dan Siyasah/Pidana Islam Sekretaris Jurusan/Program Studi Jinayah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu bapak Asamawi, M.Ag. dan Ibu Sri Hidayati, M.Ag. yang telah banyak membantu dan memotivasi penulis untuk selalu semangat dalam penulisan skripsi ini. 3. Pembimbing dengan segala ketulusan hati telah memberikan bimbingan, arahan, nasihat yang sangat berarti dalam penulisan skripsi ini yaitu bapak Dedy Nursyamsi, SH,M.Hum dan Dr. Asep Saepuddin Jahar, MA. 4. Pimpinan dan staf perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan fasilitasnya untuk memperoleh literature dan bahan yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini. 5. Ayahanda tercinta Kabir dan Ibunda Syamsilar atas segala dukungan lahir dan batin demi kesuksesan anaknya menatap masa depan yang gemilang. 6. Kakak tercinta Eli Rosmita serta abang Anasril sekeluarga, Iwat Triliati, Wila Wulantari dan Wanda 7. Kakak tercinta Ermawati serta abang Helmi sekeluarga, Roy Hidayat dan M. Fais 8. Udo Edi Siswarianto beserta kak Tuti sekeluarga, Diyo. 9. Adinda tersayang Nurhadisah yang telah memberikan bantuan moril kepada penulis selama kuliah sampai terselesaikannya skripsi ini. 10. Ombak Ujang Umar sekeluarga yang selalu memberi nasehat kepada penulis 11. M. Hendra Yunal, M.Si dan Ahmad Taridi, S.Hi, yang telah banyak memberikan nasehat kepada penulis. 12. Sahabatku Mahyudi, Yusuf Mahdani, Kajudin, Asef Margana, Karunial Akhyar, Ajhon, Deva, dan muridku tercinta Hadi Ismanto yang telah memberikan bantuannya kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi ini. 13. Kawan-kawan Pidana Islam, khususnya angkatan 2003 yang tidak penulis sebutkan satu persatu. 14. Kawan-kawan Ikatan Pelajar Mahasiswa Kampar (IPMK) Jakarta, , Fajri, Pices, Salman, Yarnas, Hanafi, Yudi, Habib, dan Danil. 15. Kawan-kawan Himpunan Pelajar Mahasiswa Riau (HIPEMARI) Jakarta, Jamal, Dona, Anto, Ichan, Ides, Ncunk, Taufik, Inef, Rozy, Ali, dan Fahmi. 16. Semua pihak yang penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan dalam penulisan skripsi ini. Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama bagi kami sebagai penulis. Mohon maaf atas segala kekurangan. Mari kita berjuang untuk menatap masa depan yang gemilang, semoga senantiasa bahagia hidup di dunia maupun di akirat kelak. Amiin 13 November 2008 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Balakang Masalah.1 B. Perumusan Masalah.7 C. Tujuan Penelitian dan Mamfaat Penelitian .8 D. Metode Penelitian dan Tehnik Penulisan.9 E. Sistematika Penulisan.12 BAB II HUKUM ISLAM DALAM MENANGGULANGI PEKERJA SEKS KOMERSIAL.14 A. Pekerja Seks Komersial Dalam Hukum Islam.14 B. Sebab-sebab Yang Mempengaruhi Pekerja Seks Komersial.17 C. Isalam Dalam Penanggulangan Pekerja Seks Komersial.20 BAB III PERDA NO. 05 TAHUN 2002 PEMDA KOTA PEKAN BARU DALAM MENANGGULANGIN PEKERJA SEKS KOMERSIAL.32 A. Gambaran Umum kota Pekan Baru.32 B. Pekerja Seks Komersial dikota Pekan Baru.36 C. Perda No. 05 Tahun 2002 Pemda kota Pekanbaru.38 BAB IV PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENANGGULANGAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL MELALUI PERDA NO. 05 TAHUN 2002 DI KOTA PEKAN BARU.47 A. Pandangan Terhadap Perda No. 05 Tahun 2002 .47 B. Pandangan Terhadap Kebijakan Preventif dan Represif . 48 C. Analisa Penulis.52 BAB V PENUTUP.57 A. Kesimpulan.57 B. Saran-saran.59 DAFTAR PUTAKA.60 LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum islam adalah titah Allah SWT yang berkaitan dengan aktivitas para mukallaf, baik berbentuk perintah (suruhan dan larangan), pilihan, maupun ketetapan. Hukum islam tersebut digali dari dalil-dalinya yang terperinci, yaitu alquran dan sunnah, dan lain-lain yang diratifikasikan kepada kedua sumber tersebut.1 Disyari’atkannya hokum islam adalah untuk memelihara kemaslahatan manusia sekaligus menghindari mafsadatnya, ada lima tujuan disyari’atkannya hukum islam. 1. Memelihara Agama 2. Memelihara Jiwa 3. Memelihara Akal 4. Memelihara Keturunan 5. Memelihara Harta Hukum Islam meupakan hukum yang sangat komprehensif (menyeluruh) yang mengatur kehidupan manusia baik secara vertical yaitu hubungan manusia dengan penciptanya maupun horizontal yakni hubungan manusia dengan manusia lainnya. Tentang penyaluran seksualpun telah diatur dalam hukum islam penerangannya banyak ditemui dalam al-Quran maupun dalam hadit-hadist nabi, Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Masail Al-Fiqhiyah, UIN Jakarta Press yaitu dengan jalan menika. Hal ini tidak laian merupakan salah satu tujuan untuk memelihara keturunan dan mencegah perbuatan perzinahan, bagi pelaku kejahatan atau penyimpangan dalam hokum islam tidak lain sebagai upaya tindakan preventif maupun represif agar manusia tidak melakukan kejahatan, sebagai mana para fuqoha menyatakan bahwa adanya syari’at islam atau hokum antara lain menjamin keamanan dari kebutuhan-kehidipan hidup.2 Dalam hukum islam pelacuran merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual, pelacuran merupakan perbuatan zina. Hukum islam memberikan sanksi yang jelas bagi pelaku tindakan perzinahan yaitu cambuk bagi pelaku yang ghairu mukhsan, sedangkan bagi pelaku yang mukhsan hukumannya adalah rajam. Upaya penanggulangan terhadap pekerja seks komersial merupakan manivestasi dalam pemeliharaan keturunan atau dalam hokum islam dikenal dengan sebutan Hifz Al-Nashl. Pekerja seks komersial adalah perilaku zina jelasjelas dilarang dalam hukum islam. Allah SWT berfirman : !"# Artinya : Dan janganlah kamu menghampiri perbuatan zina itu adalah suatu perbuatanyang keji suatu jalan yang buruk (Q.S : Al- Isra : 32) Ahmad Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992) Meskipun sudah ada nash yang mengatur dan melarang, akan tetapi masih saja melakukan tetap memelakukan perzinahan atau seks bebas. Padahal dalam huku islam memerintahkan kepada manusia untuk melakukan pernikahan. Mernurut hokum pelacuran adalah perzinahan komersial yang akan berakibat buruk, tidak hanya tehadap keislamannya saja, akan tetapi hartanya pula yang diunakan untuk jalan haram. Disamping itu pula pelacuran juga bisa menghacurkan keharmonisan rumah tangga, merusak keturunan sebagai generasi kedepan serta mengotori perkembangan masyarakat. Pelacuran merupakan problematika sepanjang zaman. Ia (pelacuran) bukanlah masalah baru kehidupan dunia, akan tetapi pelacuran telah membumi dan selalu hadir dari zaman ke zaman dalam paradigm yang berbeda. Hal ini senada dengan ungkapan Sarlito Wirawan, beliau berpendapat bahwa masalah pelacuran ini dari abad ke abad tidak pernah terselesaikan, ibarat rumah ia merupakan saluran kotoran, dan ibarat manusia pelacuran adalah alat pembuangan kotoran.3 Dalam siklus historisnya, pelacuran telah berkembang dengan pesat wanita-wanita penggoda yang beparas cantik dan mempesona telah diperdagangkan untuk memenuhi birahi hidung belang. Demikian juga sebaliknya, para pria tampan juga dijadikan pemuas hasrat seksual para nyonyanyonya dikalangan elit. Sarlto Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial, Individu dan Teori-teori Psikologi Sosisal, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997) Pelacuran telah berkembang begitu pesatnya dari waktu ke waktu, hal ini disebabkan oleh berbagai alasan diantaranya adalah, tingginya angka perceraian, sulitnya perekonomian sehingga wanita rela menjajahkan tubuhnya. Apalagi dierah globalisasi ini penyaluran wanita pekerja seks komersial begitu mudah karena banyak konsumennya, baik dalam negeri yang notabenenya muslim apalagi Negara-negara lain diberbagai belahan dunia. Dewasa ini pelacuran sudah menjadi profesi bagi sebagian orang yang menekuninya, alaupun departemen tenaga kerja selama ini tidak mengakui pelacuran sebagai jenis pekerjaan. Sekarang para pekerja seks komersial tidak lagi susah ditemukan, tidak hanya di lokalisasi-lokalisasi resmi, tetapi juga di jalan-jalan, warung remang-remang di mall-mall maupun di salon-salon. Hal yang seperti itu merupakan suatu penyakit dalam masyarakat yang adapt mengganggu kenyamanan, ketertiban umum serta dapat meresakan warga sekitarnya. Pelacuran bukan merupakan gejala individu tetapi sudah menjadi gejala social dari penyimpangan yang normal dan agama. Arena pelacuran bukan hanya memiliki dampak terhadap individu-individu pelakunya dan pemakai jasa ini secara personal, tetapi juga memeliki dampak terhadap masyarakat umum. Meskipun pelacuran jelas-jelas merupakan sebuah tindakan yang benar-benar menyimpang dari agama. Ternyata tidak mudah memponisnya begitu saja lantaran persoalan ini terkait dengan berbagai hal yang saling berkaitan. Menurut Soerjono Soekamto yang mengutip teoriu Edwin h. Suterland dengan teori differential association, dimana menurut teori ini bahwa sesungguh suatu perbuatan penyimpangan yang dilakukan oleh seseorag merupakan hasil dari proses pembelajaran yang meruapakan alih budaya, berdasarkan pergaulan dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar dimana dia bertempat tinggal. Sehinga perilaku menyinpang dan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang pada dasarnya berasal dari interaksi social yang ia lakukan dalam kehidupannya. Masyarakat yang mempunya tata cara aturan hidup berusaha menanggulangi penyakit social ini atau lebih dikenal dengan penyakit masyarakat (PEKAT) dengan berupaya melarang kegiatan praktek prositusi di wilayah sekitarnya. Usaha preventif dan represif oleh pemerintah telah dilakukan sebagai upaya mencegah atau menghambat perkembangan pekerja seks komersial semaksimal mungkin, karena dalam kenyataannya ditengah-tengah masyarakat praktek pelacuran dapat menimbulkan akibat negativ. Upaya ini pun dilegitimasikan dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) Pasal 296: barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencaharian atau kebiasaan diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu.4 Di kota pekan Baru maslah pelacuran sudah ada sejak lama, sejak terdapat banyak tempat-tempat hiburan, baik itu cafe-café, warung remang-remang dan ada pula yang mangkal di pinggir-pinggir jalan ataupun pertokoan-pertokoan yang dianngap aman untuk melakukan transaksi seks mereka. Upaya pemerintah pekan Dr, Andi Hantzah, SH, KUHP & KUHAP, (Jakrta: PT. Raja Grafindo Cipto, 2002) Baru dan aparat keamanan serta instansi terkait dalam menyikapi praktek pelacuran ini terus dilakukan dalam upaya penekanan serta penanggulangan jumlah wanita yang bekerja sebagai pekerja seks komersial di kota pekan Baru. Pemerintah kota pekan Baru telah berusaha menekan dan memberantas praktek pelacuran yang terjadi di wilayah pekan Baru, salah satunya adalah dengan mengeluarkan peraturan daerah No. 05 Tahun 2002 Tentang Ketertiban Umum di wilayah kota pekan Baru. Yang pada pasal 24 di nyatakan 1. Dilarang setiap orang melakukan atau menimbulakn persangkaan akan berbuat asusila atau perzinahan di rumah-rumah (gedung, hotel, wisma, penginapan, dan temapt-tempat usaha). 2. Dilarang setiap orang yang tingkah lakunya menimbulkan persangkaan akan berbuat asusila atau perzinahan untuk berda di jalan, taman, dan tempat umum. 3. Dilarang bagi setiap orang untuk menyuruh, menganjurkan dengan cara lain pada orang lain untuk melakukan perbutan asusila atau perzinahan di jalan, jalur hijau, taman dan tempat umum.5 Peraturan daerah kota pekan Baru yang berkaitan dengan penyakit masyarakat ini belum sepenuhnya dapat dipatuhi oleh masyarakat khususnya para pekerja seks komersial. Hal ini terlihat dengan masih adanya pekerja seks komersial yang mangkal di jalan-jalan mapun pertokaan-pertokaan serta tempat 5 Pemda kota Pekan Baru, Perda No. 05 Tahun 2002, Tentang Ketertiban Umum umum lainnya, seperti dicafe-cafe dan diskotik. Apakah mereka tidak tahu peraturan yang ada, atau upaya pemerintah kota pekan Baru yang belum maksimal. Oleh karena itu berdasarkan alasan tersebut di atas penulis sangat tertarik untuk menegtahui pekerja seks komersial di kota pekan Baru serta bagaimana kebijkan pemerintah pekan Baru melalui undang-undang No. 05 tahun 2002 tentang ketertiban umum dalam menanggulanginya. B. Perumusan Masalah Berangkat dari latar belakang masalah di atas seputar masalah pekerja seks komersial di wilayah kota pekan Baru, dan supaya pembahasan skripsi ini lebih terarah maka penulis mencoba untuk merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana praktek pekerja seks komersial diwilayah kota pekan Baru? 2. Bagaimana ketentuan pemerintah melalui perda No. 05 tahun 2002 pemda kota pekan Baru dalam menaggulangi Pekerja Seks Komersial? 3. Bagaimana analisis hukum islam terthadap penanggulangan pekerja seks komersial melalui perda No 05 Tahun 2002 Pemerintah Kota Pekanbaru C. Tujuan Penelitian dan Mamfaat Penelitian 1. Adapun yang mnenjadi tujuan dalam penulisan ilmiah ini adalah: a. Untuk mengetahui praktek pekerja seks komersial dikota pekanbaru b. Untuk mengetahui upaya pemerintah kota Pekan Baru serta instansi terkait dalam menanggulangi pekerja seks komersial melalui Perda No 05 Tahun 2002 c. Untuk mengetahui analisis hukum islam dalam menanggulangi Pekerja Seks Komersial melalui perda no 05 Tahun 2002 Pemda kota Pekanbaru 2. Mengenai mamfaat penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah a. mamfaat akademik menambah pengetahuan dibadang hukum islam khususnya mengenai perspektif hukum isalam terhadap perdano.05/2002 pemda kota pekanbaru dalam upaya menanggulangi pekerja seks komersial b. Mamfaat bagi pemda kota Pekenbaru mereka tahu bagaimana pandangan hukum islam terhadap perda no 05 tahun 2002 tentang ketertiban umum c. Mafaat bagi masyarakat umumnya, dan masyarakat kota Pekanbaru khususnya adalah, mereka mengetahui adanya larangan pemerintah setempat melalui perda no 05 tahun 2002 tentang ketertiban umum dan mereka juga tahu bagaimana menanggulangi Pekerja Seks Komersial D. Metode Penelitian dan Tehnik Penulisan hukum islam dalam Untuk mengumpulkan data dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut: 1. Jenis dan Sifat Data Adapun jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah kualitatif yakni berupa kata-kata, ungkapan, norma atau aturan-aturan dari fenomena yang diteliti, 6 olek karena itu penulis berupaya mengupas serta mencermati megenai pekerja seks komersial dikota Pekan Baru. Dan penelitian juga menggambarkan pekerja seks komersial secara sistematis, factual dan akurat berdasarkan data yang didapat dikota Pekan Baru. Metode penilisan yang dipergunakan adalah metode deskriftif, metode deskriftif bertujuan melukiskan sitematis fakta atau karakteristik populasi terentu secara kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (84 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Perlindungan hukum terhadap hak-hak pekerja Buruh perempuan di PT. Indofood
8
118
100
Faktor-faktor yang menyebabkan terjerumusnya wanita menjadi pekerja seks komersial di Bandar Baru
9
134
60
Karakteristik pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi desa Puger kulon kecamatan Puger Kabupaten Jember
1
5
67
Tinjauan hukum Islam terhadap wewenang kepolisisan malaysia dan Indonesia dalam menanggulangi untuk rasa di tempat umum
0
4
97
Tinjauan hukum Islam dan hukum positif terhadap pemerkosaan dalam rumah tangga sebagai alasan perceraian
0
12
80
Perspektif hukum Islam terhadap putusan Mahkamah Konstitusi tentang tata cara pelaksanaan pidana mati
0
4
163
Peran pekerja sosial Yayasan Akur Kurnia dalam menanggulangi perilaku Anak Jalanan Jakarta Timur
0
6
130
Hubungan antara tingkat religiusitas dengan penerimaan sosial masyarakat terhadap pekerja seks komersial (PSK)
1
10
87
Perspektif M.Quraish Shihab terhadap wanita pekerja
0
4
80
Pemberdayaan pekerja seks komersial pada program keterampilan menjahit High Speed di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Mulya Jaya
0
24
89
Peranan remaja pengajian Majlis Taklim Darussaadah dalam upaya menanggulangi kenakalan remaja
2
10
98
Pembebasan bersyarat sebagai upaya pembinaan narapidana dalam perspektif hukum positif dan hukum islam
0
3
93
Tinjauan hukum Islam terhadap hak-hak penerima suaka politik dalam hukum Internasional
11
70
88
Perspektif hukum Islam terhadap konsep kewarganegaraan Indonesia dalam UU No.12 tahun 2006
12
111
111
Perspektif hukum Islam terhadap Perda No.05/2002 Pemda Kota Pekanbaru dalam upaya menanggulangi pekerja seks komersial (PSK)
0
8
84
Show more