Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012

Gratis

4
40
154
2 years ago
Preview
Full text
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA PEKERJA SEKS KOMERSIAL DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DI BANDAR BARU KECAMATAN SIBOLANGIT TAHUN 2012 SKRIPSI Oleh : RUDI CHANDRA NIM. 091000239 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 Universitas Sumatera Utara HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA PEKERJA SEKS KOMERSIAL DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN PENYAKIT INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DI BANDAR BARU KECAMATAN SIBOLANGIT TAHUN 2012 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat OLEH RUDI CHANDRA NIM. 091000239 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP IDENTITAS DIRI Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Status Perkawinan Jumlah Bersaudara Alamat : RUDI CHANDRA : Tanjung Morawa/ 07 JULI 1982 : Protestan : Belum Kawin : 4 Orang : Dusun V Wonosari Kec.Tanjung Morawa Kab.Deli Serdang RIWAYAT PENDIDIKAN SD : Negeri 104240 Wonosari Kec.Tanjung Morawa SMP : Negeri 1 Lubuk Pakam Kec.Lubuk Pakam SMU : Negeri 1 Lubuk Pakam Kec.Lubuk Pakam D-3 Keperawatan : Fakultas Non Gelar Keperawatan Universitas Darma Agung Medan RIWAYAT PEKERJAAN PNS di Instansi DINAS KSEHATAN Kabupaten Nias Selatan s/d Sekarang. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS) di Indonesia sulit ditelusuri sumbernya sebab tidak pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya pencegahan penularan Penyakit Infeksi Menular Seksual Terutama Pada Pekerja Seks Komersial Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap wanita pekersa seks komersial dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain metode survey analitik untuk melihat hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan penyakit infeksi menular seksual dengan menggunakan rancangan cross sectional study dengan wawancara menggunakan kuesioner terhadap 78 responden yang dipilih secara Accidental Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan responden berada pada kategori Cukup yaitu 44 orang (56,4%), sikap responden berada pada kategori Baik yaitu 65 orang (83,3%), tindakan responden berada pada kategori Baik yaitu 55 orang (70,5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksial (IMS) dengan (p=0,50) dan tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan (p=0,10) PSK diharapkan untuk lebih meningkatkan pengetahuannya mengenai pencegahan penyakit menular seksual (PMS) sehingga mengetahui bagaimana cara agar tidak tertular dan menularkan penyakit berbahaya tersebut. Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Pencegahan Penyakit Menular Seksual Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The spread of sexually transmitted diseases (STDs) in Indonesia is difficult because the source was never traced the registration done on patients who are found, therefore it was necessary for the prevention of transmission of Sexually Transmitted Infections Diseases Primarily On Commercial Sex Workers This research aims to determine the relationship of knowledge and attitudes of female commercial sex workers with measures of disease prevention of sexually transmitted infections in Bandar Baru Kecamatan Sibolangit 2012. This research uses a survey of analytical design methods to look at the relationship of knowledge and attitudes with measures of disease prevention sexually transmitted infections by using a design of a cross sectional study with interviews using a questionnaire to 78 respondents who selected Accidental Sampling. The results showed that respondents in the category of knowledge that is just 44 people (56.4%), the attitude of the respondents in good category 65 people (83.3%), the action of respondents in good category 55 people (70.5% ). The results showed that there was no significant association between knowledge of disease prevention measures PSK with sexually transmitted infections (STIs) with (p = 0.50) and no significant relationship between attitudes PSK with disease prevention measures Seksial transmitted infections (STIs) with (p = 0,10) PSK was expected to further increase the knowledge about the prevention of sexually transmitted diseases (STDs), so knowing how to avoid contracting and transmitting harmful diseases .. Key words: Knowledge, Attitude, Action, Prevention of Sexually Transmitted Diseases Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kemudahan dan petunjuk kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : “Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012”. Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Drs. Tukiman, MKM selaku Ketua Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM USU. 3. Bapak Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes selaku Dosen Pembimbing I dan Ketua Penguji yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan masukan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 4. Bapak Drs. Eddy Syahrial selaku Dosen Pembimbing II dan Dosen Penguji I yang telah banyak memberikan waktu dan pikiran dalam memberikan bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 5. Bapak Drs. Tukiman, MKM selaku Dosen Penguji II yang telah banyak memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 6. Ibu Dr. Namora Lumongga Lubis, MSc selaku Dosen Penguji III yang telah banyak memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini. 7. Ibu Siti Khadijah SKM, MKes selaku Dosen Penasihat Akademik. 8. Para Dosen dan Pegawai Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 9. Bapak Bupati Kabupaten Nias Selatan yang telah memberikan dukungan moril dengan izin yang telah diberikan kepada penulis untuk melanjutkan study di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 10. Bapak Rahmad Alyakin Dachi SKM,MM,Mkes beserta Ibu Mesyalina Saragih,SKM (Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan) atas motivasi yang telah diberikan selama ini. 11. Ibu Murniati Dakhi SKM,Mkes selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan atas Izin yang telah diberikan kepada penulis untuk melanjutkan study di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 12. Kepada Ayahanda Tercinta dan Ibunda Tercinta yang telah memberikan doanya tanpa kenal waktu, semangat, nasihat, dukungan, dan kasih sayang yang tak terhitung banyaknya. Kalian adalah inspirasi terbesar dalam pencapaian tujuan hidupku. 13. Kepada kakak-adikku, yang telah memberikan dukungan selama penulis menyusun skripsi. 14. My best friends Republik Coffee b” Warsito, Romji, Anas atas bantuan dan dukungan yang diberikan kepada penulis hingga penulis merasa tidak pernah Universitas Sumatera Utara sendiri untuk menghadapi rintangan dalam melewati setiap proses perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini. 15. Dan tidak lupa juga ucapan terima kasih penulis ucapkan buat b”Yanov, b”Hendro, Dino Kabakir, Kitynk, Redu, Jhon thanks ya bro...,Ibu Icam alias mami, makasih ya bu atas makanan dan minuman yang penulis nikmati selama mengikuti proses perkuliahan di FKM USU sehat selalu dan panjang umur ya.. 16. Rekan-rekan peminatan Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku , dan seluruh teman-teman di FKM USU. Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan serta masih diperlukan penyempurnaan, hal ini tidak terlepas dari keterbatasan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya. Medan, Juli 2012 Penulis RUDI CHANDRA Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Pengesahan .............................................................................................. Abstrak ..................................................................................................................... Abstract .................................................................................................................... Riwayat Hidup Penulis............................................................................................ Kata Pengantar......................................................................................................... Daftar Isi .................................................................................................................. Daftar Tabel ............................................................................................................. i ii iii iv v viii xi BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang .................................................................................................. 1 1.2. Perumusan Masalah ........................................................................................... 7 1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................................... 7 1.3.1. Tujuan Umum ......................................................................................... 7 1.3.2. Tujuan Khusus ........................................................................................ 7 1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................................. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 9 2.1. Pengertian Perilaku ............................................................................................ 9 2.1.1. Pengetahuan (Knowledge)....................................................................... 9 2.1.1.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ..................... 12 2.1.1.2. Cara Memperoleh Pengetahuan ................................................. 15 2.1.2. Sikap (Attitude) ........................................................................................ 19 2.1.3. Tindakan (Practice) ................................................................................. 23 2.2. Perilaku Pencegahan Penyakit Menular ........................................................... 25 2.3. Seksual ................................................................................................................ 29 2.3.1. Definisi Seksual ....................................................................................... 29 2.3.2. Bentuk Perilaku Seksual.......................................................................... 30 2.3.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual ............................ 31 2.4. Penyakit Infeksi Menular Seksual..................................................................... 32 2.4.1.Pengertian Penyakit Infeksi Menular Seksual ........................................ 32 2.4.2.Penyakit Menular Seksual yang Disebabkan Oleh Organisme dan Bakteri ................................................................................................................... 33 2.4.3. Penyakit Menular Seksual yang Disebabkan Oleh Virus ..................... 37 2.4.4. Penyakit Menular Seksual yang Disebabkan Oleh Parasit ................... 40 2.4.5. Bagian Tubuh yang Dapat Terpengaruh PMS dan Hubungan Organ Reproduksi dengan PMS ......................................................................... 43 2.4.6. Tanda dan Gejala PMS Secara Umum Serta Cara Penularannya ......... 43 2.4.7. Komplikasi Dari Penyakit Infeksi Menular Seksual ............................. 45 2.5. Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual Termasuk HIV/Aids ............ 50 2.6. Kondom .............................................................................................................. 52 2.6.1.Cara Menggunakan Kondom Dengan Baik dan Benar .......................... 53 2.6.2.Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menggunakan Kondom......... 54 2.6.3.Tempat Memperoleh Kondom ................................................................. 55 Universitas Sumatera Utara 2.7. Pekerja Seks Komersial ..................................................................................... 55 2.7.1.Motif yang Melatar Belakangi Pelacuran ............................................... 57 2.7.2.Kebiasaan PSK Sebelum Dan Sesudah Melakukan Hubungan ............. 58 2.8. Variabel yang Diteliti......................................................................................... 59 2.9. Kerangka Konsep ............................................................................................... 59 2.10. Hipotesa Penelitian .......................................................................................... 60 BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................... 61 3.1. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian....................................................... 61 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................................. 61 3.3. Populasi dan Sampel .......................................................................................... 62 3.3.1. Populasi .................................................................................................... 62 3.3.2. Sampel ...................................................................................................... 62 3.4. Metode Pengumpulan Data ............................................................................... 62 3.4.1. Data Primer .............................................................................................. 62 3.4.2. Data Sekunder.......................................................................................62 3.5. Defenisi Operasional.......................................................................................... 63 3.6. Aspek Pengukuran ............................................................................................. 64 3.6.1. Pengetahuan ............................................................................................. 64 3.6.2. Sikap ......................................................................................................... 65 3.6.3. Tindakan ................................................................................................... 66 3.7. Pengolahan dan Analisa Data ............................................................................ 67 3.6.1. Pengolahan Data ...................................................................................... 67 3.6.2. Analisa Data ............................................................................................. 68 3.8. Uji Validitas dan Reliabilitas ............................................................................ 68 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian .............................................................. 70 4.2 Karakteristik Responden................................................................................. 71 4.3 Analisis Univariat .......................................................................................... 72 4.3.1. Pengetahuan Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 .... 72 4.3.2. Sikap Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 .................. 80 4.3.3.Tindakan Responden Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 ......................................................................................... 85 4.4 Analisis Bivariat ............................................................................................. 88 Universitas Sumatera Utara 4.4.1. Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 ....................................................... 88 4.4.2. Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 ...................................................... 89 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Analisis Univariat .......................................................................................... 91 5.1.1. Pengetahuan Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 .... 91 5.1.2. Sikap Responden Terhadap Pengetahuan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 ................................................................................................................... 95 5.1.3.Tindakan Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS )di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 ........................................................................................... 97 5.2. Analisis Bivariat ............................................................................................ 101 5.2.1. Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 .......................… 102 5.2.2. Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012................................................... 105 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ......................................................................................... 109 6.1 Saran .................................................................................................. 110 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara Daftar Tabel Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 .......................................... Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012........................................... Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 ...................................... Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012. ................................................................ Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Sikap Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012........................................... Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012........................................... Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Tindakan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012........................................... Tabel 4.8. Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 .................................................................................................................. Tabel 4.9. Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 ........................... Universitas Sumatera Utara 71 72 80 81 85 85 88 89 90 ABSTRAK Penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS) di Indonesia sulit ditelusuri sumbernya sebab tidak pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya pencegahan penularan Penyakit Infeksi Menular Seksual Terutama Pada Pekerja Seks Komersial Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap wanita pekersa seks komersial dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain metode survey analitik untuk melihat hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan penyakit infeksi menular seksual dengan menggunakan rancangan cross sectional study dengan wawancara menggunakan kuesioner terhadap 78 responden yang dipilih secara Accidental Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan responden berada pada kategori Cukup yaitu 44 orang (56,4%), sikap responden berada pada kategori Baik yaitu 65 orang (83,3%), tindakan responden berada pada kategori Baik yaitu 55 orang (70,5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksial (IMS) dengan (p=0,50) dan tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan (p=0,10) PSK diharapkan untuk lebih meningkatkan pengetahuannya mengenai pencegahan penyakit menular seksual (PMS) sehingga mengetahui bagaimana cara agar tidak tertular dan menularkan penyakit berbahaya tersebut. Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Tindakan, Pencegahan Penyakit Menular Seksual Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The spread of sexually transmitted diseases (STDs) in Indonesia is difficult because the source was never traced the registration done on patients who are found, therefore it was necessary for the prevention of transmission of Sexually Transmitted Infections Diseases Primarily On Commercial Sex Workers This research aims to determine the relationship of knowledge and attitudes of female commercial sex workers with measures of disease prevention of sexually transmitted infections in Bandar Baru Kecamatan Sibolangit 2012. This research uses a survey of analytical design methods to look at the relationship of knowledge and attitudes with measures of disease prevention sexually transmitted infections by using a design of a cross sectional study with interviews using a questionnaire to 78 respondents who selected Accidental Sampling. The results showed that respondents in the category of knowledge that is just 44 people (56.4%), the attitude of the respondents in good category 65 people (83.3%), the action of respondents in good category 55 people (70.5% ). The results showed that there was no significant association between knowledge of disease prevention measures PSK with sexually transmitted infections (STIs) with (p = 0.50) and no significant relationship between attitudes PSK with disease prevention measures Seksial transmitted infections (STIs) with (p = 0,10) PSK was expected to further increase the knowledge about the prevention of sexually transmitted diseases (STDs), so knowing how to avoid contracting and transmitting harmful diseases .. Key words: Knowledge, Attitude, Action, Prevention of Sexually Transmitted Diseases Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelacuran merupakan fenomena sosial yang senantiasa hadir dan berkembang di setiap putaran roda zaman dan keadaan. Keberadaan pelacuran tidak pernah selesai dikupas, apalagi dihapuskan. Walaupun demikian, dunia pelacuran setidaknya bisa mengungkapkan banyak hal tentang sisi gelap kehidupan manusia, tidak hanya menyangkut hubungan kelamin dan mereka yang terlibat di dalamnya, tetapi juga pihak-pihak yang secara sembunyi-sembunyi ikut menikmati dan mengambil keutungan dari keberadaan pelacuran. Setelah Indonesia merdeka, aktivitas dan perkembangan prostitusi terus tumbuh dengan subur. Alasan ekonomi merupakan kondisi yang patut diperhatikan di sini sebab pada masa-masa awal Indonesia merdeka kondisi perekonomian bangsa Indonesia memang masih memprihatinkan. (Lamijo, 2009) Pelacuran atau Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikan. Pelacuran berasal dari bahasa Latin pro-stituere atau pro-stauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zina, melakukan persundalan, percabulan dan pergendakan. Sedang prostitute adalah pelacur atau sundal, dikenal juga dengan istilah WTS atau wanita tunasusila (Kartono, 2007). Menurut Kartono (2003), pekerja seks komersial adalah pekerjaan atau profesi melacurkan diri, penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan Universitas Sumatera Utara dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan bayaran. Alasan komersial mereka siap melakukan apa saja untuk kepuasan pelanggan sampai dengan perilaku seksual yang tidak sehat, sehingga kelompok ini beresiko tinggi untuk terkena penyakit menular seksual. Pekerja seks bekerja dalam berbagai macam bentuk. Mereka dapat bekerja di lokalisasi terdaftar di bawah pengawasan medis (direct sex workers) atau dapat juga sebagai Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung (indirect sex workers). Wanita Pekerja Seksual Tidak Langsung (indirect sex workers) mendapatkan klien dari jalan atau ketika bekerja di tempat-tempat hiburan seperti kelab malam, panti pijat, diskotik, café, tempat karaoke atau bar. Beberapa dari mereka adalah WPS yang sudah pernah bekerja di lokalisasi tetapi keluar dari lokalisasi kemudian bekerja menjadi WPS Tidak Langsung di tempat-tempat hiburan yang mereka anggap memiliki kelas yang lebih tinggi. Ada juga yang merasa lebih fleksibel dengan bekerja sebagai WPS Tidak Langsung karena tidak diatur ketat oleh mucikari. Bahkan ada juga karena melihat peluang untuk mendapatkan tambahan uang lebih ketika mereka bekerja sebagai pemandu karaoke, pelayan bir, atau pramuria di tempat hiburan malam. Mereka diketahui memiliki tingkat penggunaan kondom yang rendah dan memiliki angka IMS yang lebih tinggi dibandingkan pekerja seks di lokalisasi. (Dandona R, 2005) IMS yang disebabkan oleh bakteri meliputi gonore, infeksi genital non spesifik, sifilis, ulkus mole, limfogranuloma venereum, vaginosis bakterial. IMS yang disebabkan oleh virus meliputi herpes genitalis, KA, infeksi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), hepatitis B, moluskum kontagiosum. IMS yang disebabkan oleh jamur adalah Universitas Sumatera Utara kandidosis vulvovaginal. IMS yang disebabkan protozoa dan ektoparasit adalah trikomoniasis, pedikulosis pubis, skabies. (Aprilianingrum, 2006) Estimasi jumlah orang terkena IMS yang dapat diobati (Curable Sexually Transmitted Infections) sekitar lebih dari 30 juta kasus setiap tahunnya. Tahun 2006 diperkirakan terdapat 8,6 juta orang yang positif HIV (ODHA) di Asia Tenggara, termasuk 960.000 orang yang baru terinfeksi (kasus baru) pada tahun sebelumnya. Diperkirakan sekitar 630.000 orang telah meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan AIDS. Sehingga dalam kurun waktu kurang lebih 6 tahun (2000-2006) terdapat peningkatan kasus sebesar 130.000 orang yang meninggal karena AIDS. (UNJP on HIV AIDS, 2006) Angka penyakit IMS di kalangan WPS (Wanita Pekerja Seks) tiap tahunnya menunjukkan peningkatan. Saat ini diperkirakan 80%-90% WPS terjangkit IMS seperti : Neisseria gonorrhoeae, herpes simplex vinio tipe 2 dan clamidia. IMS yang berarti suatu infeksi kebanyakkan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal dan lewat vagina). Harus diperhatikan bahwa IMS menyerang sekitar alat kelamin, tetapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak dan organ tubuh lainnya. Ada beberapa penyakit IMS yang disebabkan oleh virus seperti : HIV, herpes kelamin dan hepatitis B adalah contoh IMS yang tidak dapat disembuhkan. Herpes kelamin memiliki gejala yang muncul hilang dan bisa terasa sangat sakit jika penyakit tersebut sedang aktif. Pada herpes,obat-obatan hanya bisa digunakan untuk mengobati gejala saja, tetapi virus yang menyebabkan herpes tetap hidup di dalam tubuh selamanya. ( FKUI, 2001) Penelitian prevalensi IMS pada WPS, yang diselenggarakan oleh Sub Direktorat AIDS dan PMS, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Universitas Sumatera Utara Lingkungan Depertemen Kesehatan Indonesia bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dan Program ASA pada tahun 2003, melaporkan bahwa 7 kota yang diteliti terdapat 62%-93% WPS jalanan yang terinfeksi IMS, 54%-74% WPS lokalisasi, dan 48%-77% WPS tempat hiburan. Khusus Kota Semarang dilaporkan terdapat 57% WPS lokalisasi dan 68% WPS jalanan yang terinfeksi lebih dari satu penyakit IMS. Pada WPS lokalisasi prevalensi IMS tertinggi adalah gonore (31%), klamidia (22%), bacterial vaginosis (16%), infeksi ganda gonore dan klamidia (9%), sifilis laten lanjut (5%), kandidiasis vaginalis (4%) dan trikomoniasis (3%). (Ahnaf, kk, 2005) Data Nasional untuk HIV/AIDS menunjukkan terjadi peningkatan yang signifikan terlihat bahwa pengidap HIV diseluruh Indonesia tercatat 5.904 orang sedangkan pengidap AIDS tercatat 11.384 orang. Jumlah total pengidap HIV/AIDS mencapai 17.288 orang dengan korban meninggal 2.289 orang. Sementara untuk Sumatera Utara jumlah kasus HIV/AIDS berjumlah 520 kasus HIV (+) serta 416 orang penderita AIDS (KPAD SUMUT, 2007). Dari 416 kasus HIV/AIDS yang ada di Sumatera Utara, 191 berada pada stadium AIDS dan diketahui 77 orang telah meninggal dunia. Kota Medan merupakan penyumbang terbesar penderita HIV/AIDS dengan jumlah 360 kasus. Sebagai Ibukota provinsi, Kota Medan beresiko tinggi terhadap penyebaran virus HIV/AIDS. Penyebaran virus ini dipengaruhi dari perilaku individu beresiko tinggi terutama perilaku seks, merebaknya peredaran narkoba khususnya pengguna jarum suntik. Terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara tahun 2008 yaitu sejumlah 1238 (Dinkes kota Medan, 2005) Universitas Sumatera Utara Penyebaran PMS di Indonesia sulit ditelusuri sumbernya sebab tidak pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan. Jumlah penderita yang sempat terdata hanya sebagian kecil dari jumlah penderita sesungguhnya. Oleh karena itu, sulit untuk melakukan penelusuran sumber penyebarannya jika ditemukan penderita baru. Disejumlah Negara maju PSK terdata sedemikian rupa sehingga mudah ditelusuri darimana suatu penyakit ditularkan saat ditemukan penderita baru. Hal ini juga mempermudah penanganan penderita PMS. Tempat-tempat hiburan, Bar, Warung-warung, Karauke, Café, Pub,Massage atau panti pijat dan pinggiran jalan tempat para PSK menjual diri atau menjadi tempat mereka bekerja, biasanya para PSK berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain (Arianto, 2005). Menurut laporan Waspada pada tanggal 21 November 2005 dalam satu minggu, ratarata lima Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi Bandar Baru, kabupaten Deli Serdang, ditemukan terjangkit Infeksi Menular Seksual (IMS) jenis gonorhea dan sifilis. Hal itu terungkap ketika anggota DPD RI asal Sumut, Parlindungan Puba bersama, mewakili Dinkes Sumut, Andi Ilham Lubis, dalam kunjungan kerja ke puskesmas Bandar Baru. Petugas kesehatan pada Klinik IMS Puskesmas Bandar Baru, Tomo Edy, menjelaskan, tingginya kasus IMS pada kalangan PSK disebabkan minimnya penggunaan kondom saat melakukan hubungan seks dengan pelanggannya. "Para PSK mengaku, dari 10 pelanggan yang dilayaninya, hanya satu orang yang menggunakan kondom. Padahal, kondisi ini bukan hanya berisiko terjangkit IMS tetapi juga HIV/AIDS," (www.waspada.co.id, 2005) Untuk mencegah masalah semakin meningkatnya angka kejadian PMS dan HIV/AIDS khususnya pada wanita pekerja seks, ada beberapa pencegahan yang dapat Universitas Sumatera Utara dilakukan, yaitu : Memutuskan rantai penularan infeksi PMS, Mencegah berkembangnya PMS serta komplikasinya, Tidak melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, Menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Dengan melakukan pencegahan tersebut maka rantai penularan PMS dapat terputus dan komplikasi tidak akan terjadi (Iwan, 2006). Berdasarkan survei awal dari Puskesmas Bandar Baru yang juga merupakan klinik IMS/VCT diperoleh data PSK tahun 2011 yaitu sebanyak 84 orang wanita pekerja seksual (WPS) yang beroperasi di Bandar Baru yang sebagian besar menjadi WPS tidak langsung yaitu WPS yang beroperasi secara terselubung, yang biasanya bekerja pada tempat-tempat yang khusus atau barak seperti Barak Agen Gurusinga, Barak Mira, barak Novi, Barak Lina, Barak Agung, Barak Leni, Barak Maria, Barak Erik, Barak Sempurna, Barak Sembiring, Barak Salon, Barak Ayu Wulandari, Barak Ani, Barak WintoBarak Gres / Ines, Barak Hadi, Barak Sagu, Barak Oukup dan Barak Bukit Indah dengan jumlah rata-rata 6 orang yang beroperasi setiap hari baik siang maupun malam. Dari 87 PSK, 47 orang yang memanfaatkan kunjungan ke klinik IMS/HIV AIDS di temukan 1 orang yang terinfeksi HIV dan 2 orang yang mengalami penyakit menular seksual sipilis. (Puskesmas Bandar Baru, 2011). Berdasarkan latar belakang sebagaimana telah dijelaskan diatas sebelumnya maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian hubungan antara pengetahuan dan sikap wanita Pekerja Seks Komersial dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Tahun 2012. Universitas Sumatera Utara 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah ditemukan di atas, maka yang menjadi masalah adalah ” Bagaimana Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012 1.3.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah : 1 Untuk mengetahui Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial tentang pencegahan penyakit infeksi menular seksual. 2 Untuk mengetahui Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial tentang pencegahan penyakit infeksi menular seksual. 3 Untuk mengetahui Tindakan Wanita Pekerja Seks Komersial tentang pencegahan penyakit infeksi menular seksual. 4 Untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial terhadap tindakan pencegahan penyakit infeksi menular seksual. 5 Untuk mengetahui Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial terhadap tindakan pencegahan penyakit infeksi menular seksual. Universitas Sumatera Utara 1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi institusi pemerintah ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat yang menangani masalah PSK dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengadakan program-program kegiatan kesehatan. 2. Sebagai bahan acuan bagi pihak lain yang akan melanjutkan penelitian ini ataupun penelitian yang ada kaitannya dengan pencegahan penyakit infeksi menular seksual khususnya pada wanita pekerja seksual. Universitas Sumatera Utara BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Perilaku Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan : berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuai dengan batasan ini, perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan. Perilaku aktif dapat dilihat, sedangkan perilaku pasif tidak tampak, seperti pengetahuan, persepsi, atau motivasi. Beberapa ahli membedakan bentuk-bentuk perilaku ke dalam tiga domain yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan atau sering kita dengar dengan istilah knowledge, attitude, practice. (Sarwono, 2004) 2.1.1. Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan merupakan ”hasil tahu” dari manusia dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca indera, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (believes), takhyul (superstition) dan penerangan-penerangan yang keliru. Manusia sebenamya diciptakan oleh Tuhan Universitas Sumatera Utara Yang Maha Esa sebagai makhluk yang sadar, kesadaran manusia dapat disimpulkan dan kemampuannya untuk berfikir, berkehendak dan merasa. (Soekanto, S : 2002) Pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan juga dapat diperoleh dari pengalaman orang lain yang disampaikan kepadanya, dari buku, teman, orang tua, guru, radio, televisi, poster, majalah dan surat kabar. Pengetahuan yang ada pada diri manusia bertujuan untuk dapat menjawab masalah kehidupan yang dihadapinya sehari-hari dan digunakan untuk menawarkan berbagai kemudahan bagi manusia. Dalam hal ini pengetahuan dapat diibaratkan sebagai suatu alat yang dipakai manusia dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi. (Notoatmodjo, 2003) Menurut Notoatmodjo (2003) , pengetahuan mempunyai 6 tingkatan yaitu: 1. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memahami {Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Universitas Sumatera Utara 3. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenamya. Aplikasi dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain. 4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata keria, dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan satu sama lain. 5. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan suatu teori. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek. Penilaian-penilaian berdasarkan suatu cerita yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2003) 2.1.1.1 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Tentang PMS Universitas Sumatera Utara Menurut Notoatmodjo (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan sebagai berikut : 1. Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu obyek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang diketahui, akan menumbuhkan sikap makin positif terhadap obyek tersebut . 2. Informasi / Media Massa Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan Universitas Sumatera Utara perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut. 3. Sosial budaya dan ekonomi Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. 4. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu. 5. Pengalaman Universitas Sumatera Utara Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya. 6. Usia Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Dua sikap tradisional mengenai jalannya perkembangan selama hidup : • Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya. • Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah tua karena mengalami kemunduran baik fisik maupun mental. Dapat diperkirakan bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada Universitas Sumatera Utara beberapa kemampuan yang lain seperti misalnya kosa kata dan pengetahuan umum. Beberapa teori berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun cukup cepat sejalan dengan bertambahnya usia. (Notoatmodjo, 2007) 2.1.1.2. Cara Memperoleh Pengetahuan Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni: 1. Cara Tradisional untuk Memperoleh Pengetahuan Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum dikemukakannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Cara – cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi: a. Cara Coba-Salah (Trial and Error) Cara yang paling tradisional, yang pernah digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah melalui cara coba – coba atau dengan kata yang lebih dikenal “trial and error”. Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya peradaban. Cra coba – coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba kembali dengan kemungkinan ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat terpecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode trial (coba) and error (gagal atau salah) atau metode coba – salah/coba – coba. Universitas Sumatera Utara Metode ini telah digunakan orang dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah. Bahkan sampai sekarang pun metode ini masih sering digunakan, terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. b. Cara Kekuasaan atau Otoritas Dalam kehidupan manusia sehari – hari, banyak sekali kebiasaan – kebiasaan dan tradisi – tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Kebiasaan – kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, mengapa harus ada upacara selapanan dan turun tanah pada bayi, mengapa ibu yang sedang menyusui harus minum jamu, mengapa anak tidak boleh makan telor, dan sebagainya. Kebiasaan seperti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Kebiasaan – kebiasaan ini seolah – olah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin – pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan. c. Berdasarkan Pengalaman Pribadi Universitas Sumatera Utara Pengalaman adalah guru terbaik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Apabila dengan cara yang digunakan tersebut orang dapat memecahkan masalah yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah lain yang sama, orang dapat pula menggunakan cara tersebut. Tetapi bila gagal menggunakan cara tersebut, ia tidak akan mengulangi cara itu, dan berusaha untuk mencari cara yang lain, sehingga dapat berhasil memecahkannya. d. Melalui Jalan Pikiran Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan – pernyataan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat kesimpulan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan – pernyataan khusus kepada yang umum dinamakan induksi. Sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan – pernyataan umum kepada yang khusus. Universitas Sumatera Utara 2. Cara Modern dalam Memperoleh Pengetahuan Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah”, atau lebih popular disebut metodologi penelitian (research methodology). Cara ini mula – mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561 - 1626). Ia adalah seorang tokoh yang mengembangkan metode berpikir induktif. Mula – mula ia mengadakan pengamatan langsung terhadap gejala – gejala alam atau kemasyarakatan. Kemudian hasil pengamatannya tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan dan akhirnya diambil kesimpulan umum. Kemudian metode berpikir induktif yang dikembangkan oleh Bacon ini dilanjutkan oleh Deobold van Dallen. Ia mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung dan membuat pencatatan – pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang diamatinya. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok yakni: a. Segala sesuatu yang positif yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengamatan. b. Segala sesuatu yang negatif yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan. c. Gejala – gejala yang muncul secara bervariasi yaitu gejala – gejala yang berubah – ubah pada kondisi – kondisi tertentu. Berdasarkan hasil pencatatan – pencatatan ini kemudian ditetapkan ciri – ciri atau unsur – unsur yang pasti ada pada sesuatu gejala. Selanjutnya hal tersebut dijadikan dasar pengambilan kesimpulan atau generalisasi. Prinsip – prinsip umum yang dikembangkan oleh Bacon ini kemudian dijadikan dasar untuk mengembangkan Universitas Sumatera Utara metode penelitian yang lebih praktis. Selanjutnya diadakan penggabungan antara proses berpikir deduktif – induktif – verivikatif seperti dilakukan oleh Newton dan Galileo. Akhirnya lahir suatu cara melalukan penelitian, yang dewasa ini dikenal dengan metode penelitian ilmiah (scientific research method). (Notoatmodjo, 2005) 2.1.2. Sikap (Attitude) Menurut Notoatmojo (2005), sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap juga merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan juga merupakan pelaksanaan motif tertentu. Menurut Gerungan (2002), sikap merupakan pendapat maupun pendangan seseorang tentang suatu objek yang mendahului tindakannya. Sikap tidak mungkin terbentuk sebelum mendapat informasi, melihat atau mengalami sendiri suatu objek. Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu: 1. Menerima (receiving). Diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). 2. Merespon (responding). Memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. 3. Menghargai (valuing). Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4. Bertanggung jawab (responsibility). Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. Menurut Ahmadi (2003), sikap dibedakan menjadi : Universitas Sumatera Utara A. Sikap negatif yaitu : sikap yang menunjukkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma yang berlaku dimana individu itu berada B. Sikap positif yaitu : sikap yang menunjukkan menerima terhadap norma yang berlaku dimana individu itu berada. Sedangkan fungsi sikap dibagi menjadi 4 golongan yaitu: 1. Sebagai alat untuk menyesuaikan. Sikap adalah sesuatu yang bersifat communicable, artinya sesuatu yang mudah menjalar, sehingga mudah pula menjadi milik bersama. Sikap bisa menjadi rantai penghubung antara orang dengan kelompok atau dengan kelompok lainnya. 2. Sebagai alat pengatur tingkah laku. Pertimbangan dan reaksi pada anak, dewasa dan yang sudah lanjut usia tidak ada. Perangsang itu pada umumnya tidak diberi perangsang spontan, akan tetapi terdapat adanya proses secara sadar untuk menilai perangsangan-perangsangan itu. 3. Sebagai alat pengatur pengalaman. Manusia didalam menerima pengalamanpengalaman secara aktif. Artinya semua berasal dari dunia luar tidak semuanya dilayani oleh manusia, tetapi manusia memilih mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dilayani. Jadi semua pengalaman diberi penilaian lalu dipilih. 4. Sebagai pernyataan kepribadian. Sikap sering mencerminkan pribadi seseorang ini disebabkan karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya. Oleh karena itu dengan melihat sikap pada objek tertentu, sedikit banyak orang bisa mengetahui pribadi orang tersebut. Jadi sikap merupakan pernyataan pribadi. (Notoatmodjo, 2005) Universitas Sumatera Utara Manusia dilahirkan dengan sikap pandangan atau sikap perasaan tertentu, tetapi sikap terbentuk sepanjang perkembangan. Peranan sikap dalam kehidupan manusia sangat besar. Bila sudah terbentuk pada diri manusia, maka sikap itu akan turut menentukan cara tingkahlakunya terhadap objek-objek sikapnya. Adanya sikap akan menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap objeknya. Sikap dapat dibedakan menjadi : a. Sikap Sosial Suatu sikap sosial yang dinyatakan dalam kegiatan yang sama dan berulangulang terhadap objek sosial. Karena biasanya objek sosial itu dinyatakan tidak hanya oleh seseorang saja tetapi oleh orang lain yang sekelompok atau masyarakat. b. Sikap Individu Sikap individu dimiliki hanya oleh seseorang saja, dimana sikap individual berkenaan dengan objek perhatian sosial. Sikap individu dibentuk karena sifat pribadi diri sendiri. Sikap dapat diartikan sebagai suatu bentuk kecenderungan untuk bertingkah laku, dapat diartikan suatu bentuk respon evaluatif yaitu suatu respon yang sudah dalam pertimbangan oleh individu yang bersangkutan. Sikap mempunyai beberapa karakteristik yaitu : 1. Selalu ada objeknya 2. Biasanya bersifat evaluatif 3. Relatif mantap 4. Dapat dirubah Universitas Sumatera Utara Sikap adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Menurut Allpon (1954), bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu : 1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. 2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek 3. Kecenderungan untuk bertindak Ketiga komponen ini akan membentuk sikap yang utuh (Total Attitude), dalam penentuanberpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif atau negatif terhadap orang lain,, objek atau situasi. Sikap tidak sama dengan perilaku dan kadang-kadang sikap tersebut baru diketahui setelah seseorang itu berperilaku. Tetapi sikap selalu tercermin dari perilaku seseorang (Ahmadi, 2003) Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung, melalui pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek secara tidak langsung dilakukan dengan pertanyaan hipotesis, kemudian dinyatakan pendapat responden. 2.1.3. Tindakan (Practice) Tindakan adalah realisasi dari pengetahuan dan sikap suatu perbuatan nyata. Tindakan juga merupakan respon seseorang terhadap stimilus dalam bentuk nyata atau terbuka (Notoatmodjo, 2003). Universitas Sumatera Utara Suatu rangsangan akan direspon oleh seseorang sesuai dengan arti rangsangan itu bagi orang yang bersangkutan. Respon atau reaksi ini disebut perilaku, bentuk perilaku dapat bersifat sederhana dan kompleks. Dalam peraturan teoritis, tingkah laku dapat dibedakan atas sikap, di dalam sikap diartikan sebagai suatu kecenderungan potensi untuk mengadakan reaksi (tingkah laku). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu tindakan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi fasilitas yang memungkinkan (Ahmadi, 2002) Menurut Notoatmodjo (2005), tindakan adalah gerakan atau perbuatan dari tubuh setelah mendapat rangsangan ataupun adaptasi dari dalam maupun luar tubuh suatu lingkungan. Tindakan seseorang terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut. Secara biologis, sikap dapat dicerminkan dalam suatu bentuk tindakan, namun tidak pula dapat dikatakan bahwa sikap tindakan memiliki hubungan yang sistematis. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu disebut juga over behavior. Menurut Notoatmodjo (2005), empat tingkatan tindakan adalah : 1. Persepsi (Perception), Mengenal dan memiliki berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang diambil. Universitas Sumatera Utara 2. Respon terpimpin (Guided Response), dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar. 3. Mekanisme (Mechanism), apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu merupakan kebiasaan. 4. Adaptasi (Adaptation), adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Menurut Green yang dikutip oleh Notoatmojo (2002), faktor-faktor yang merupakan penyebab perilaku menurut Green dipengaruhi oleh tiga faktor yaotu faktor predisposisi seperti pengetahuan, sikap keyakinan, dan nilai, berkanaan dengan motivasi seseorang bertindak. Faktor pemungkin atau faktor pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana, atau prasarana yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Terakhir faktor penguat seperti keluarga, petugas kesehatan dan lain-lain. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku 2.2. Perilaku Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual Psikologi memandang perilaku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Pada manusia khususnya dan pada Universitas Sumatera Utara berbagai spesies hewan umumnya memang terdapat bentuk – bentuk perilaku instinktif (species – specific behavior) yang didasari oleh kodrat untuk mempertahankan kehidupan. Salah satu karakteristik reaksi perilaku manusia yang menarik adalah sifat diverensialnya. Maksudnya, satu stimulus dapat menimbulkan lebih dari satu respon yang berbeda dan beberapa stimulus yang berbeda dapat saja menimbulkan satu respon yang sama. Kurt Lewin (1951,dalam buku Azwar, 2009) merumuskan suatu model hubungan perilaku yang mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai – nilai, sifat kpribadian dan sikap yang saling berinteraksi pula dengan faktor – faktor lingkunga dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang – kadang kekuatannya lebih besar dari pada karakteristik individu. Hal inilah yang menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks. Teori tindakan beralasan mengatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan dan dampaknya terbatas hanya pada 3 hal yaitu : 1. Perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. 2. Perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tetapi juga oleh norma – norma subjektif (subjective norms) yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. Universitas Sumatera Utara 3. Sikap terhadap suatu perilaku bersama norma – norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu. Secara sederhana, teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya. Dalam teori perilaku terencana keyakinan – keyakinan berpengaruh pada sikap terhadap perilaku tertentu, pada norma – norma subjektif dan pada control perilaku yang dia hayati. Ketiga komponen ini berinteraksi dan menjadi determinan bagi intensi yang pada gilirannya akan menentukan apakah perilaku yang bersangkutan akan dilakukan atau tidak (Azwar, 2009). Menurut Green dalam buku Notoatmodjo (2003) menganalisis bahwa perilaku manusia dari tingkatan kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yakni faktor perilaku (behaviour causer) dan faktor dari luar perilaku (non behaviour causer). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu : 1. Faktor – faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai – nilai dan sebagainya. 2. Faktor – faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas – fasilitas atau sarana - sarana kesehatan misalnya Puskesmas, obat – obatan, alat – alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya. 3. Faktor – faktor pendorong (reinforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Universitas Sumatera Utara Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. Menurut Leavel dan Clark yang disebut pencegahan adalah segala kegiatan yang dilakukan baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah suatu masalah kesehatan atau penyakit. Pencegahan berhubungan dengan masalah kesehatan atau penyakit yang spesifik dan meliputi perilaku menghindar (Romauli, 2009). Tingkatan pencegahan penyakit menurut Leavel dan Clark ada 5 tingkatan yaitu (Maryati, 2009): a. Peningkatan kesehatan (Health Promotion). 1) Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitas. 2) Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan. 3) Peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat antara lain pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja yang hamil diluar nikah, yang terkena penyakit infeksi akibat seks bebas dan Pelayanan Keluarga Berencana. b. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit tertentu (Spesific Protection). 1) Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah terhadap penyakit – penyakit tertentu. 2) Isolasi terhadap penyakit menular. Universitas Sumatera Utara 3) Perlindungan terhadap keamanan kecelakaan di tempat – tempat umum dan ditempat kerja. 4) Perlindungan terhadap bahan – bahan yang bersifat karsinogenik, bahan – bahan racun maupun alergi. c. Menggunakan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (Early Diagnosis and Promotion). 1) Mencari kasus sedini mungkin. 2) Melakukan pemeriksaan umum secara rutin. 3) Pengawasan selektif terhadap penyakit tertentu misalnya kusta, TBC, kanker serviks. 4) Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita. 5) Mencari orang – orang yang pernah berhubungan dengan penderita berpenyakit menular. 6) Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus. d. Pembatasan kecacatan (Dissability Limitation) 1) Penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan lanjut agar terarah dan tidak menimbulkan komplikasi. 2) Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.Perbaikan fasilitas kesehatan bagi pengunjung untuk dimungkinkan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif. e. Pemulihan kesehatan (Rehabilitation) 1) Mengembangkan lembaga – lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat. Universitas Sumatera Utara 2) Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberi dukungan moral, setidaknya bagi yang bersangkutan untuk bertahan. 3) Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah cacat mampu mempertahankan diri. 4) Penyuluhan dan usaha – usaha kelanjutannya harus tetap dilakukan seseorang setelah ia sembuh dari suatu penyakit. 2.3. Seksual 2.3.1. Definisi Seksual Menurut Zawid (1994) seksualitas sulit untuk di definisikan karena seksualitas memiliki aspek kehidupan kita dan diekspresikan melalui beragam perilaku. Seksualitas bukan semata-mata bagian intrinsik dari seseorang tetapi juga meluas sampai berhubungan dengan orang lain. Keintiman dan kebersamaan fisik merupakan kebutuhan sosial dan biologis sepanjang kehidupan. Kesehatan seksual telah didefinisikan sebagai pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual dan sosial dari kehidupan seksual, dengan cara yang positif memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi dan cinta. Seks juga digunakan untuk memberi label jender, baik seseorang itu pria atau wanita . Pendapat Denney dan Quadagno (1992) dan Zawid (1994) seksualitas dilain pihak adalah istilah yang lebih luas. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seseorang mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada orang lain melalui tindakan yang di lakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, senggama seksual dan melalui Universitas Sumatera Utara perilaku yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpelukan dan perbendaraan kata. 2.3.2. Bentuk Perilaku Seksual Transeksual adalah orang yang identitas seksual atau jendernya berlawanan dengan seks biologinya. Seorang pria mungkin berfikir tentang dirinya sebagai seorang wanita dalam tubuh wanita. Perasaan terperangkap seperti ini disebut disforia jender. Para peneliti tidak memahami dengan jelas sifat atau penyebab dari saling-silang. Penjelasannya mencakup teori biologis dan pembelajaran sosial. Para penganut transeksual tidak melihat identitas seksual mereka sebagai suatu pilihan. Identifikasi mereka tentang diri mereka sebagai wanita dan pria, seksual dan sosial adalah jelas dan persis dan seiring sejak masa kanak-kanak dini. Menurut Seidel (1991), transvestit adalah pria heteroseksual yang secara periode berpakaian seperti wanita untuk pemuasan psikologis dan seksual. Transvestit umumnya melakukan hal ini dalam lingkup pribadi dan perilaku mereka kadang bersifat rahasia bahkan dari orang yang sangat dekat dengan mereka sekalipun. 2.3.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Kolodny, Master dan Johnson (1979) menyatakan bahwa keinginan seksual beragam diantaranya individu, sebagian orang menginginkan dan menikmati seks setiap hari. Sementara yang lainnya menginginkan seks hanya sekali satu bulan dan yang lainnya lagi tidak memiliki keinginan seks sama sekali dan cukup merasa nyaman dengan fakta tersebut. Keinginan seksual menjadi masalah jika klien semata-mata Universitas Sumatera Utara menginginkan untuk melakukannya pada beberapa norma kultur atau jika perbedaan dalam keinginan seksual dari pasangan menyebabkan konflik. a. Faktor Fisik Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik. Aktivitas seksual dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Bahkan hanya membayangkan bahwa seks dapat menyakitkan sudah menurunkan keinginan seks. Penyakit minor dan keletihan adalah alasan seseorang untuk tidak merasakan seksual. Citra tubuh yang buruk, terutama jika diperburuk oleh perasaan penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh, dapat menyebabkan klien kehilangan perasaannya secara seksual. b. Faktor Hubungan Masalah dalam berhubungan dengan mengalihkan perhatian seseorang dari keinginan seks. Setelah kemesraan hubungan telah mundur, pasangan mungkin mendapati bahwa mereka dihadapkan pada perbedaan yang sangat besar dalam nilai atau gaya hidup mereka. Keterampilan seperti ini memainkan peran yang sangat penting ketika menghadapi keinginan seksual dalam berhubungan. Penurunan minat dalam aktifitas seksual dapat mengakibatkan ansietas hanya karena harus mengatakan kepada pasangan perilaku seksual apa-apa yang diterima atau menyenangkan. c. Faktor Gaya Hidup Faktor gaya hidup, seperti penggunaan atau penyalahgunaan alkohol dapat mempengaruhi keinginan seksual. Namun demikian, banyak bukti sekarang ini menunjukkan bahwa efek negatif alkohol terhadap seksual jauh melebihi euforia Universitas Sumatera Utara (perasaan yang berlebihan) yang mungkin dihasilnya. Pada awalnya menemukan waktu yang tepat untuk aktivitas seksual adalah faktor gaya hidup. Klien seperti ini sering mengungkapkan bahwa mereka perlu waktu untuk menyendiri, berfikir dan istirahat sebagai hal yang lebih penting dari seks. d. Faktor Harga Diri Tingkat harga diri juga dapat menyebabkan konflik yang melibatkan seksualitas. Jika harga diri seksual tidak pernah diperlihatkan dengan mengembangkan perasaan yang kuat tentang seksual diri dan dengan mempelajari keterampilan seksual, seksual mungkin menyebabkan perasaan negatif atau menyebabkan tekanan perasaan seksual. Harga diri seksual dapat menurun didalam banyak cara, yaitu perkosaan, inses dan penganiayaan fisik atau emosi meninggalkan luka yang dalam (Herdiana, 2007). 2.4. Penyakit Infeksi Menular Seksual 2.4.1. Pengertian Penyakit Infeksi Menular Seksual Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah infeksi apapun yang terutama didapat melalui kontak seksual. Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan istilah umum dan organisme penyebabnya, yang tinggal dalam darah atau cairan tubuh, meliputi virus, mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta dan parasit-parasit kecil. Sebagian organisme yang terlibat hanya ditemukan di saluran genital (reproduksi) saja tetapi yang lainnya juga ditemukan dalam organ tubuh lain. Sering kali Penyakit Menular Seksual (PMS) timbul secara bersama-sama dan jika salah satu ditemukan, adanya Penyakit Menular Seksual (PMS) harus dicurigai. Terdapat rentang keintiman kontak tubuh yang dapat menularkan Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk berciuman, Universitas Sumatera Utara hubungan seksual, hubungan seksual melalui anus, kunilingus, anilingus, felasio dan kontak mulut atau genital dengan payudara (Benson, 2009). 2.4.2. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Organisme dan Bakteri a. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Human Immunideficiency Virus (HIV) pertama kali dilaporkan menyebabkan penyakit pada tahun 1981. Di Amerika Serikat AIDS merupakan penyebab utama kematian nomor lima pada wanita usia subur. Salah satu kesulitan mengenali infeksi Human Immunideficiency Virus (HIV) adalah masa laten tanpa gejala yang lama, antara 2 bulan hingga 5 tahun. Umur rata-rata saat diagnosis infeksi Human Immunideficiency Virus (HIV) ditegakkan adalah 35 tahun (Benson, 2009). b. Gonorrhea Neisseria gonorrhoeae adalah diplokokus gram negatif yang biasanya berdiam dalam uretra, serviks, faring atau saluran anus wanita. Infeksi terutama mengenai epitel kolumner atau transisionel saluran kemih dan kelamin. Organisme ini sangat sulit untuk dikultur dan peka terhadap suasana kering, cahaya matahari, pemanasan dan sebagian besar desinfektan. Diperlukan media khusus untuk mencapai hasil yang optimal. Biakan saluran genital bawah biasanya didapat dengan memutar lidi kapas selama 15-20 detik jauh didalam saluran endoserviks. Jika dibuat usapan rektum, insiden keberhasilan meningkat dari 85% menjadi > 90% (Benson, 2009). c. Infeksi Chlamidia Chlamydia trachomatis adalah mikroorganisme intraseluler obligat dengan dinding sel yang menyerupai bakteri gram negatif. Meskipun dikelompokkan sebagai bakteri, namun chlamydia mengandung DNA dan RNA, dan melakukan pembelahan Universitas Sumatera Utara biner, hanya tumbuh intra seluler seperti virus. Karena kebanyakan serotipe Chlamydia trachomatis hanya menyerang sel epitel kolumner (kecuali serotipe L yang agresif), tanda-tanda dan gejala yang terjadi cenderung terlokalisit di tempat yang terinfeksi misalnya mata atau saluran genital tanpa adanya invasi ke jaringan dalam (Benson, 2009). Infeksi clhamydia biasanya berlangsung pada hubungan seks lewat vagina dan anus. Chlamydia trachomatis dapat pula mengenai mata bila mata terkena tangan yang sudah menyentuh kelamin dari orang yang terinfeksi. Chlamydia trachomatis juga dapat menyerang kerongkongan, sehingga pasangan dianjurkan untuk tidak melakukan seks oral bila salah satu sudah terkena. Bayi dapat terinfeksi chlamydia pada matanya sewaktu melewati cervix ibu yang menderita infeksi (Hutapea, 2003). 2) Siffilis Siffilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh spirokaeta Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak langsung dengan lesi basah yang infeksius. Organisme ini dapat menembus membran mukosa yang intake atau kulit yang terkelupas atau didapat melalui transplasenta. Satu kali kontak seksual dengan mitra seksual yang terinfeksi memberikan kemungkinan 10% menderita siffilis (Benson, 2009). 3) Vaginitis Vaginitis adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan adanya infeksi atau peradangan vagina. Vaginitis biasanya ditandai dengan adanya cairan berbau kurang enak yang keluar dari vagina. Gejala lain adalah gatal atau iritasi di daerah kemaluan dan perih sewaktu kencing. Beberapa kasus vaginitis disebabkan oleh reaksi alergi Universitas Sumatera Utara atau kepekaan terhadap bahan kimia. Umumnya disebabkan oleh kuman yang ditularkan secara seksual atau yang tadinya menetap di vagina dan menjadi ganas karena gangguan keseimbangan di dalam vagina (Hutapea, 2003). 4) Candidiasis Candidialis juga dikenal dengan nama moniliasis, thrush atau infeksi yeast yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Candidialis biasanya menimbulkan gejala peradangan, gatal dan perih di daerah kemaluan. Juga terdapat keluarnya cairan vagina yang menyerupai bubur. Walaupun fungus selalu terdapat sampai taraf tertentu, biasanya tidak menimbulkan gejala selama lingkungan vagina terjaga normal. Candidialis dapat ditularkan secara seksual seperti bola pingpong antar pasangan seks, sehingga dua pasangan harus diobati secara simultan. Candidialis pada pria biasanya berbentuk Non Gonococcal Urethritis (NGU), penis memerah, atau lecet dikemaluan yang rasanya membakar dan nyeri sewaktu kencing. Candidialis juga dapat menular secara non seksual, bila wanita memakai handuk atau lap yang sama. Penularan juga terjadi melalui seks oral atau anal (Hutapea, 2003). 5) Chancroid Crancoid (chancre lunak) disebabkan oleh kuman batang gram negatif Haemophilus ducreyi dan jarang ditemui di Amerika Serikat. Infeksi pada wanita dimulai dengan lesi papula atau vesikopustuler pada perineum, serviks atau vagina 3-5 hari setelah terpapar. Lesi berkembang selama 48-72 jam menjadi ulkus dengan tepi tidak rata berbentuk piring cawan yang sangat lunak. Beberapa ulkus dapat berkembang Universitas Sumatera Utara menjadi satu kelompok. Discharge kental yang dihasilkan ulkus berbau busuk atau infeksius (Benson, 2009). 6) Granuloma Inguinale Granuloma inguinale disebabkan oleh Calymmatobacterium granulomatis. Penemuan yang khas dalam lesi adalah badan Donovan (bakteri yang terbungkus dalam lekosit mononuklear). Hampir tidak pernah di jumpai di Amerika Serikat (kira-kira 100 kasus/ tahun) tetapi umum terjadi di India, Brazil dan Hindia Barat. Masa inkubasi 112 minggu. Granuloma inguinale dapat menyebar melalui kontak seksual maupun non seksual yang berulang (Benson, 2009). 7) Infeksi Panggul Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran genital atas yaitu endometrium (endometritis), dinding uterus (miositis), tuba uterina (salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum latum dan serosa uterina (parametritis) dan peritoneum pelvis (peritonitis). Organisme dapat menyebar ke dan di seluruh pelvis dengan salah satu dari lima cara, diantaranya: 8) Intralumen Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kirakira 99%) terjadi akibat masuknya kuman patogen melalui serviks ke dalam kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke tuba uterina, akhirnya pus dari ostium masuk ke ruang peritoneum. Organisme yang diketahui menyebar dengan mekanisme tersebut adalah N. gonnorhoeae, C. Trachomatis, Streptococcus agalactiae, sitomegalovirus dan virus Universitas Sumatera Utara herpes simpleks. Tiga per empat wanita dengan PRP akut juga menderita endometritis, kira-kira 40%-nya disertai servistis mukopurulen dan 50% kasus dengan biakan endoserviks positif untuk C. Trachomatis atau N. Gonnorhoeae juga mengalami endometritis. Fase endometritis biasanya tidak bergejala, seringkali singkat dan terjadi pada akhir menstruasi. 9) Limfatik Infeksi purpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang berhubungan dengan IUD menyebar melalui sistem limfatik seperti infeksi Mycoplasma non purpuralis. 10) Hematogen Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit tertentu misalnya tuberkulosis (TBC) dan jarang terjadi di Amerika Serikat (Benson, 2009). 2.4.3. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Virus a. Herpes Virus herpes simpleks menimbulkan berbagai jenis herpes. Yang paling sering, virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) mengakibatkan herpes mulut, berupa lecet dan bentolan disertai salesma dan demam di daerah mulut dan bibir. HSV-1 juga dapat ditularkan ke daerah kemaluan dengan sentuhan atau seks oral. Herpes genitalis disebabkan oleh herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) yang mengakibatkan lepuh yang nyeri dan luka di daerah kemaluan. Herpes ini juga dapat berpindah ke mulut melalui seks oral. Herpes dapat ditularkan melalui seks per vagina, anal atau oral, atau dengan menyentuh luka herpes. Sentuhan yang kemudian mengenai mata dapat menimbulkan Universitas Sumatera Utara infeksi mata serius. Virus ini dapat hidup beberapa jam pada benda-benda seperti toilet duduk, dan dapat berpindah melalui benda tersebut. Herpes oral dapat dipindahkan dengan berciuman, memakai gelas atau haduk bersama penderita herpes dan sudah tentu melalui hubungan seksual (Hutapea, 2003). b. Viral Hepatitis Terdapat sejumlah jenis radang hati atau hepatitis. Penyebabnya adalah virus dan sering ditularkan secara seksual. Jenis yang terutama adalah hepatitis A, B, C dan D. Infeksi hepatitis A biasanya bersifat sementara dan ditandai dengan gejala kuning (jaundice), yaitu suatu kondisi dimana kulit, urine dan bola mata menguning karena kadar pigmen empedu yang meninggi di dalam darah. Gejala lain adalah nyeri perut lemah dan mual, hilangnya nafsu makan dan tinja yang berwarna pucat. Hepatitis B lebih parah dan lama serangannya. Hepatitis C gejalanya ringan, jarang disertai gejala kuning, tetapi dapat berlanjut menjadi penyakit hati menahun atau kanker hati. Hepatitis D terjadi hanya bersamaan dengan hepatitis B. Gejalanya mirip dengan hepatitis B tetapi lebih mengancam nyawa penderita. Hepatitis A dan B dapat ditularkan secara seksual, terutama melalui kegiatan seks anal. Hepatitis A ditularkan terutama karena melalui kontak dengan tinja yang terinfeksi, yang dapat mengenai air atau makanan. Transmisi seksual dari hepatitis A biasanya melalui kegiatan oral dan anal seks. Transmisi seksual dari hepatitis B dapat juga lewat transfusi darah yang tercemar, jarum suntik yang dipakai bersamasama (biasanya pada kelompok pengguna obat terlarang), dan lewat mani, ludah, cairan mens dan lendir hidung penderita. Hepatitis C juga dapat ditularkan secara seksual. Sedangkan hepatitis D ditularkan melalui kegiatan seksual atau kontak dengan darah yang tercemar. Universitas Sumatera Utara Hepatitis biasanya didiagnosis melalui tes darah untuk memeriksa kelainan dalam fungsi hati. Tidak terdapat obat untuk hepatitis, tetapi istirahat ditempat tidur dengan banyak minum cairan biasanya dianjurkan. Vaksin telah tersedia untuk perlindungan terhadap hepatitis B dab D, karena hepatitis D tidak mungkin ada tanpa hepatitis B. Tidak ada vaksin terhadap hepatitis C (Hutapea, 2003). c. Genital Warts Genital Warts atau disebut juga venerel warts disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). Penyakit ini menyerang pria dan wanita berusia 20 hingga 24 tahun. Lesi kelihatan didaerah kemaluan dan anus beberapa bulan setelah infeksi. Wanita lebih rentan daripada pria karena ada suatu bagian pada leher rahim di mana selselnya melakukan pembuahan diri lebih cepat dibanding yang lainnya, dan Human Papiloma Virus (HPV) membonceng pada sel-sel tersebut untuk berkembang biak. Genital Warts agak mirip dengan warts (kutil) yang biasa ada ditelapak kaki dan terdiri dari benjolan gatal dari berbagai bentuk dan ukuran. Bejolan ini teraba agak keras dengan warna kuning-keabuan pada permukaan kulit yang kering, sedangkan di daerah basah seperti vagina, bentuknya seperti bunga kol berwarna merah muda dan teraba lembek. Kutil ini dapat pula terlihat didaerah penis, kulup, skrotum dan didalam saluran kencing pada pria. Pada wanita dapat pula muncul di labia mayora dan minora dinding vagina dan cervix. Pria dan wanita sering juga menemukannya di luar daerah kemaluan seperti di mulut, bibir, alis, puting susu, sekitar anus atau bahkan didalam rektum. Universitas Sumatera Utara Genital Warts yang berada didalam uretra akan mengeluarkan cairan atau darah dan terasa perih. Human Papiloma Virus (HPV) dapat pula menimbulkan kanker pada organ-organ reproduksi seperti pada penis atau cervix. Human Papiloma Virus (HPV) dapat ditularkan melalui kontak seks atau jenis lainnya, seperti melalui pakaian dan handuk. Genital Warts sebaiknya diangkat dengan menggunakan teknik pembekuan (cryotherapy) dengan nitrogen cair kutil ini dapat juga dicuci dengan larutan podophylin yang bertujuan untuk mengeringkan dan membuang jaringannya. Dapat pula dibuang dengan cara membakar dengan elektrode atau pembedahan baik dengan pisau atau sinar laser. Walaupun tidakan-tindakan tersebut bertujuan membuang wartsnya, akan tetapi Human Papiloma Virus (HPV)-nya sendiri tidak lenyap dari dalam tubuh kita. Genital Warts sewaktu-waktu dapat kambuh lagi (Hutapea, 2003). 2.4.4. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Parasit a. Trichomoniasis Trichomoniasis atau trich adalah suatu infeksi vagina yang disebabkan oleh suatu parasit atau suatu protozoa (hewan bersel tunggal) yang disebut trichomonas vaginalis. Gejalanya meliputi perasaan gatal dan terbakar di daerah kemaluan, disertai dengan keluarnya cairan berwarna putih seperti busa atau juga kuning kehijauan yang berbau busuk. Sewaktu bersetubuh atau kencing sering terasa agak nyeri di vagina. Namun sekitar 50% dari wanita yang mengidapnya tidak menunjukkan gejala apaapa. Trichomoniasis hampir semuanya ditularkan secara seksual. Hal ini dapat mengakibatkan radang saluran kencing pada pria, yang tidak menunjukkan gejala Universitas Sumatera Utara atau berupa adanya sedikit cairan yang keluar dari penis biasanya pada waktu kencing pertama sekali di pagi hari. Dapat juga terasa gatal, geli atau iritasi di uretra. Karena pria dapat mengidap trich tanpa menyadarinya, mereka pun dapat menularkannya kepada pasangan-pasangan seksnya. Kuman ini dapat pula ditularkan melalui kontak dengan mani atau ada pada lap, handuk atau seprei. Walaupun secara teoritis kontak melalui tempat duduk di toilet kecil sekali, tetapi bila terjadi kontak langsung pada bagian kemaluan, hal ini dapat saja terjadi (Hutapea, 2003). b. Pediculosis Pediculosis adalah terdapatnya kutu pada bulu-bulu di daerah kemaluan. Kutu pubis ini diberi julukan crabs karena bentuknya yang mirip kepiting seperti di bawah mikroskop. Parasit ini juga dapat dilihat dengan mata telanjang. Kutu pubis termasuk kelompok serangga kutu penggigit seperti halnya kutu kepala dan kutu badan. Kutu kepala bergayut pada akar rambut di kepala dan sering terdapat pada anak-anak sekolah. Kutu pubis sering ditularkan secara seksual, tetapi juga melalui kontak lewat handuk, seprei dan tempat duduk di toilet. Kutu pubis hanya dapat hidup dalam satu hari apabila diluar tubuh manusia. Telur yang terdapat pada kain seprei atau handuk dapat menetas sesudah satu minggu. Semua alat tidur, handuk dan pakaian yang pernah digunakan orang pengidap kutu ini harus dicuci dengan air panas atau dry clean untuk membuang dan memusnahkan telur. Parasit ini menempel pada rambut dan dapat hidup dengan cara mengisap darah, sehingga menimbulkan gatal-gatal. Masa hidupnya singkat, hanya sekitar satu bulan. Tetapi kutu ini dapat tumbuh subur dan bertelur berkali-kali sebelum mati (Hutapea, 2003). Universitas Sumatera Utara Penyakit-penyakit tersebut diatas tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu : Faktor dasar yaitu karena adanya penularan penyakit dan berganti-ganti pasangan seksual. Faktor medis yaitu pengobatan modern, mudah, murah, cepat dan efektif sehingga resiko resistensi tinggi dan bila disalah gunakan akan meningkatkan resiko penyebaran infeksi. Faktor sosial yaitu mobilisasi penduduk, prostitusi, waktu yang santai, kebebasan individu serta ketidak tahuan. Peningkatan insiden PMS tidak terlepas kaitannya dengan perilaku resiko tinggi. Perilaku resiko tinggi adalah perilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai resiko besar terserang penyakit. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah : • Usia 20-34 tahun pada laki-laki dan 16-24 tahun pada wanita. • Wisatawan/turis. • Pekerja seks komersial atau WTS. • Pecandu narkoba. • Homoseksual (Manuaba, 2009). 2.4.5. Bagian Tubuh yang dapat Terpengaruh PMS dan Hubungan Organ Reproduksi dengan PMS Kebanyakan PMS membahayakan organ-organ reproduksi. Pada wanita PMS menghacurkan dinding vagina atau leher rahim, biasanya tanpa tanda-tanda infeksi. Pada pria, yang terinfeksi terlebih dulu adalah saluran air kencing. Jika PMS tidak Universitas Sumatera Utara diobati dapat menyebabkan keluarnya cairan yang tidak normal dari penis dan berakibat sakit pada waktu buang air kecil. PMS yang tidak diobati dapat mempengaruhi organ-organ reproduksi bagian dalam dan menyebabkan kemandulan baik pada pria atau wanita. Bagian tubuh yang dapat terpengaruh PMS, yaitu : • • • • • • • • Pada Wanita Saluran indung telur Indung telur Rahim Kandung kencing Leher rahim Vagina Saluran kencing Anus • • • • • • • • • • Pada Pria Kandung kencing Vas deferens Prostat Penis Epididymis Testicle Saluran kencing Kantung zakar Seminal vesicle Anus (Manuaba, 2009) 2.4.6. Tanda dan Gejala PMS Secara Umum serta Cara Penularannya PMS tidak menunjukkan tanda dan gejala sama sekali sehingga kita tidak tahu kalau kita sudah terinfeksi. PMS dapat bersifat Asymtomatic (tidak memiliki gejala) baik pada pria atau wanita. Beberapa PMS baru menunjukkan tanda-tanda dan gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah terinfeksi. Ada beberapa gejala dari PMS secara umum, yaitu : • Keluar cairan/keputihan yang tidak normal dari vagina atau penis. Pada wanita terjadi peningkatan keputihan. Warnanya bias menjadi lebih putih, Universitas Sumatera Utara kekuningan, kehijauan atau kemerahan. Keputihan bias memiliki bau tidak sedap dan berlendir. • Pada pria, rasa sakit seperti terbakar atau sakit selama atau setelah kencing, biasannya disebabkan oleh PMS. Pada wanita, beberapa gejala dapat disebabkan oleh PMS tapi juga disebabkan oleh infeksi kandung kencing yang tidak ditularkan melalui hubungan seksual. • Luka terbuka atau luka basah disekitar alat kelamin atau mulut. Luka tersebut dapat terasa sakit atau tidak. • Tonjolan kecil-kecil (Papules) disekitar alat kelamin. • Kemerahan disekitar alat kelamin. • Pada pria rasa sakit atau kemerahan terjadi pada kantung zakar. • Rasa sakit diperut bagian bawah yang muncul dan hilang dan tidak berhubungan dengan menstruasi. • Bercak darah setelah hubungan seksual. Walaupun seseorang mungkin mengalami beberapa dari gejala tersebut, perlu diperhatikan bahwa penyakit yang lain juga dapat menyebabkan gejala-gejala seperti ini. Jika muncul gejala tersebut lebih baik dikonsultasikan dengan dokter secepatnya. Kebanyakan PMS didapat dari hubungan seks yang tidak aman. Yang dimaksud dari seks yang tidak aman yang dapat menularkan PMS, adalah : • Melakukan hubungan seksual lewat vagina tanpa kondom (penis didalam vagina). • Melakukan hubungan seksual lewat anus tanpa kondom (Penis didalam anus). Universitas Sumatera Utara • Hubungan seksual lewat oral (penis didalam mulut tanpa kondom atau mulut menyentuh alat kelamin wanita) • Darah Dari transfusi darah yang terinfeksi, menggunakan jarum suntik bersama, atau benda tajam lainnya kebagian tubuh untuk menggunakan obat atau membuat tato. • Ibu hamil kepada bayinya Penularan selama kehamilan, selama proses kelahiran, setelah lahir. HIV bias menular melalui menyusui (Manuaba, 2009). 2.4.7. Komplikasi dari Penyakit Infeksi Menular Seksual a. Endometriosis Endometriosis terjadi karena jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat diluar kavum uteri. Menurut teori Sampson, endometrium ditemukan di Ovarium, Peritoneum dan ligamentum sakrouterium, Kavum douglas, Dinding belakang uterus, Tuba fallopii, Plika vesikouterina, Ligamentum rotundum dan Sigmoid, Septum reptovaginal, Kanalis iguinalis, Appendiks, Umbilicus, Servic uteri, Vagina, Kandung kemih, Vulva, Perineum, dan Kelenjar limfe. Meskipun jarang, endometriosis juga ditemukan disekitar lengan, paha, pleura dan pericardim. Jika endometriosis menyebabkan pelekatan disaluran telur, kemudian saluran tersumbat maka akan menyebabkan infertilitas (kemandulan). Tingkat kejadian kasus ini sangat tinggi. Endometriosis menimbulkan nyeri saat menstruasi. Bahkan pada kasus yang lebih parah, nyeri juga terjadi diluar menstruasi. Gejala lain yaitu nyeri saat senggama dan Universitas Sumatera Utara ada benjolan di perut bagian bawah. Menifestasi endometriosis adalah timbul bercak atau kista. Angka kejadian endometriosis semakin hari semakin tinggi. Endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita dari golongan ekonomi menengah keatas. Hal yang menarik perhatian, ternyata endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak menikah dan wanita yang tidak mempunyai anak. Hal ini menunjukkan fungsi ovarium yang tidak diselingi kehamilan memegang peranan untuk terjadinya endometriosis. Meigs seorang ahli kandungan mengatakan bahwa cara paling mudah untuk mengurangi resiko endometriosis adalah dengan kehamilan. Pada saat hamil gejala endometriosis berkurang. Bahkan bisa hilang pada saat hamil dan sesudahnya. Oleh karena itu jika anda sudah siap maka jangan menunda kehamilan. b. Kanker Pada Wanita Kanker merupakan penyakit yang ditakuti semua orang, termasuk wanita. Apalagi, organ reproduksi adalah bagian tubuh yang paling sering terkena kanker. Deteksi dini merupakan cara yang efektif untuk menyembuhkan kanker. Sejumlah penelitian menyebutkan kanker yang pengobatannya pada stadium awal dapat sembuh total. Untuk dapat mewaspadainya lebih cepat, perlu informasi yang memadai tentang gejala awal pada setiap jenis kanker khas wanita. Ada tiga kanker yang sering terjadi pada wanita, yaitu Kanker serviks (Leher rahim), Kanker indung telur (Ovarium), dan Kanker endometrium (Badan rahim). c. Kanker serviks (Leher rahim) Universitas Sumatera Utara Selama dua dekade terakhir, kanker leher rahim masih menduduki urutan pertama antara kanker yang terjadi pada wanita Indonesia. Kanker ini mulai ditemukan pada wanita usia 25-34 tahun dan puncaknya pada usia 45-54 tahun. Kanker leher rahim secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni Preinvasif dan Invasif. Kanker preinvasif adalah jenis kanker leher rahim yang belum menyebar sehingga kemungkinan sembuhnya hampir mencapai 100% jika pengobatannya sejak dini. Jenis invasif merupakan jenis kanker leher rahim yang sudah menyebar ke seluruh bagian leher rahim dan lebih sulit disembuhkan. Penyebab kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi diduga sekitar 95% dikarenakan jenis virus Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini dapat menular melalui hubungan seksual. Penyebab yang cukup mengejutkan dan kontroversial pernah diungkap Lancet. Ia mengungkapkan ternyata penggunaan pil kontrasepsi jangka panjang dapat meningkatkan resiko berkembangnya kanker leher rahim pada wanita dengan penyakit menular seksual. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemakaian pil kontrasepsi jangka panjang dapat meningkatkan resiko kanker pada wanita yang tidak menderita HPV. Selain itu ada beberapa faktor resiko yang menjadi pemicu terjadinya kanker leher rahim. Faktor-faktor tersebut meliputi berhubungan seksual di usia muda (kurang dari 20 tahun), berganti-ganti pasangan hubungan seksual, kehamilan berulang kali (sering melahirkan), infeksi virus (virus herves simpleks dan virus papilloma), dan kurangnya kebersihan alat genital sehingga sering mengalami infeksi. Upaya paling baik untuk menghindari kanker leher rahim adalah dengan melakukan pemeriksaan Pap’s smear secara berkala, terutama jika anda sudah pernah Universitas Sumatera Utara melakukan hubungan intim. Dengan cara ini, kemungkinan kanker dapat terdeteksi dengan cepat karena pada tahap awal jenis kanker ini tidak menunjukkan gejala secara khusus. Kecuali, keluhan akibat infeksi seperti keputihan, perdarahan vagina diluar masa menstruasi, serta keluhan sakit dan perdarahan setelah bersenggama. Pada stadium lanjut mengakibatkan rasa sakit pada panggul, perdarahan yang mirip dengan air cucian daging dan berbau amis, gangguan buang air kecil dan buang air besar (sembelit), nafsu makan hilang, berat badan menurun, lemah dan anemia karena perdarahan. Pengobatan kanker leher rahim sangat tergantung pada stadium atau tingkatan kliniknya. Pengobatan yang biasa dilakukan meliputi operasi pengangkatan rahim radikal (Histerektomie radikal), radio terapi atau kemoradiasi. d. Kanker indung telur Kanker indung telur sering sulit dideteksi. Bahkan, sekitar tiga perempat wanita yang menderita kanker ovarium terdignosis setelah kondisinya parah. Pemeriksaan dini untuk mengetahui seorang wanita menderita kanker ovarium tidak semudah mendeteksi dini kanker leher rahim. Idealnya, setiap wanita melakukan pemeriksaan dalam dan USG setiap satu tahun sekali bersamaan dengan pemeriksaan Pap’s smear. Tes darah (tumor marker) dilakukan jika ada kecurigaan keganasan ovarium. Rangkaian pemeriksaan ini dapat anda lakukan di Klinik Spesialis, Rumah Bersalin, Rumah Sakit Ibu dan Anak, Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan yang menyediakan sarana tersebut. Utamanya, anda yang menpunyai riwayat kanker di keluarga, lakukan pemeriksaan tersebut. Wanita ini memiliki kemungkinan lebih besar menderita Universitas Sumatera Utara kanker ovarium. Selain itu, pemberian bedak atau parfum pada daerah sekitar vagina dapat meningkatkan resiko terkena kanker ini. Gejala kanker ovarium hampir sama dengan penyakit gangguan rahim sehingga banyak wanita yang tidak curiga. Gejala yang muncul berupa perut terasa kembung dan tidak nyaman. Sayangnya, semua gejala itu tidak spesifik sehingga sulit dideteksi. Kecuali, jika sudah ada tahap lanjutan dengan gejala perut membesar, terasa ada benjolan didalam perut, nyeri panggul, serta gangguan buang air besar dan buang air kecil akibat penekanan pada saluran pencernaan dan saluran kencing. Pada keadaan yang lebih lanjut dapat terjadi penimbunan cairan dirongga perut dan rongga dada sehingga perut nampak membuncit. Kadang disertai sesak nafas. Biasanya jika gejala ini sudah muncul sulit untuk menanganinya. Lokasi ovarium yang berada didalam rongga perut menjadikan kanker ini sulit dideteksi. Oleh karena itu, kanker jenis ini dapat menyerupai kista dengan bagian padat. Untuk mengetahui secara lebih pasti, dilakukan operasi guna memastikan diagnosis kanker ovarium dan perluasan atau penjalaran penyakit (stadium kanker). Tindakan operasi juga menentukan jenis dan keberhasilan pengobatan selanjutnya. e. Kanker endometrium Kanker endometrium tidak sepopuler kanker leher rahim. Kanker jenis ini dapat diderita oleh semua wanita yang sudah mengalami menstruasi. Kanker endometrium terjadi karena adanya penebalan dinding endometrium secara berlebihan. Kanker ini dapat menimbulkan gangguan serius pada organ tubuh di sekitarnya. Gejala kanker endometrium berupa perdarahan, terutama pada pasca menopause di luar menstruasi. Namun, anda perlu waspada jika darah menstruasi keluar secara Universitas Sumatera Utara berlebihan dalam waktu lama. Perdarahan diluar menstruasi yang terlalu lama dan berulang dapat menunjukkan adanya penebalan dinding endometrium yang tidak wajar. Kanker jenis ini lebih sering ditemukan pada stadium dini. Gejalanya yang mudah terlihat membuat setiap wanita merasa perlu untuk memeriksakan keadaannya ke Dokter kandungan. Untuk mengetahui keadaan endometrium, biasanya dilakukan pemeriksaan USG. Selanjutnya, dilakukan kuretase untuk mengetahui kanker atau bukan. Pengobatan untuk kanker endometrium dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu operasi dan kemoterapi. Namun, semuanya sangat tergantung stadium yang akan ditentukan selanjutnya (Eka, 2008). 2.5. Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual termasuk HIV/AIDS Untuk mencegah semakin meningkatnya angka kejadian Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS. Maka perlu dilakukan beberapa pencegahan, yaitu : 1. Memutuskan rantai penularan infeksi PMS. 2. Mencegah berkembangnya PMS serta komplikasinya. 3. Tidak melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. 4. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Ada beberapa program yang dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan telah diterapkan di beberapa negara untuk dilaksanakan secara bersama-sama, yaitu : • Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda. Universitas Sumatera Utara • Program penyuluhan sebaya untuk berbagai kelompok sasaran (Peer Group Education). • Program kerja sama dengan media cetak dan elektronik. • Paket pencegahan komprehensif untuk pecandu narkotika. • Program pendidikan agama. • Program promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat. • Pelatihan keterampilan hidup. • Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling. • Dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prostitusi anak. • Program pencegahan dengan pengobatan, perawatan dan dukungan untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA). • Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat AZT (Jaya Sarimawar, 2002). \ 2.6. Kondom Kondom adalah alat kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan atau penularan penyakit kelamin pada saat bersenggama. Kondom biasanya dibuat dari bahan karet latex, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma. Kondom dipakai pada alat kelamin pria pada keadaan ereksi sebelum bersenggama (bersetubuh) atau hubungan seksual. (BKKBN,2006) Universitas Sumatera Utara Kondom yang terbuat dari bahan latex ini secara klinis sangat baik dalam mencegah • Vaginitis yang disebabkan oleh infeksi seperti trichomoniasis • Pelvic inflammatory disease (PID) • Gonorrhea • Chlamydia • Syiphilis • Chancroid • Human immunodeficiency virus (HIV) Selain itu kondom yang terbuat dari latex juga mampu mencegah terhadap : • Human papilloma virus (HPV) yang dapat menyebabkan genital wart • Herpes simplex virus (HSV) yang dapat menyebabkan genital herpes • Virus Hepatitis-B 2.6.1. Cara Menggunakan Kondom Dengan Baik dan Benar • Pegang bungkus kondom dengan kedua belah tangan lalu dorong kondom dengan jari anda keposisi bawah. Tujuannya agar tidak robek saat membuka bungkusnya, selanjutnya sobek bagian atas bungkus kondom. • Dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya, kemudian pegang kondom dan perhatikan bagian yang menggulung harus berada disebelah luar. Universitas Sumatera Utara • Pencet ujung kondom agar tidak ada udara yang masuk dan letakkan pada kepala penis. • Baik pihak suami atau istri dapat memasangkan kondom ke penis, pada saat kondom dipasang penis harus selalu dalam keadaan tegang. Pasanglah kondom dengan menggunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga pangkal penis (jangan menggunakan kuku, karena kondom dapat robek). • Jangan ada kontak penis dengan vagina sebelum menggunakan kondom. • Segera setelah ejakulasi, cabut penis dari vagina. Pegang pangkal penis dan lepaskan kondom dengan hati-hati selagi masih tegang (jangan sampai ada cairan sperma yang tercecer keluar). • Ikat kondom agar cairan sperma tidak dapat keluar, dan buang ditempat yang aman. Jangan buang kondom bekas pakai di WC karena dapat menyumbat. • Pilih kondom yang paling cocok dengan selera dan ukuran penis anda (BKKBN, 2006). 2.6.2. Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Meggunakan Kondom • Periksalah tanggal kadaluwarsa pada bungkus kondom. • Periksalah kondisi bungkus kondom, jangan membeli atau menerima konkom yang bungkusnya sudah rusak,ada gelembung udara di dalamnya, dan berlubang. Universitas Sumatera Utara • Gunakan kondom baru setiap kali bersanggama. • Simpanlah kondom di tempat sejuk dan kering, jauhkan kondom dari sinar lampu dan letakan di tempat yang tidak terkena matahari langsung atau di tempat yang panas. • Sebaiknya tidak diletakan kondom di saku celana, karena suhu tubuh dapat mempengaruhi pula kualitas kondom. • Sebaiknya memiliki persediaan kondom lebih dari satu dan jangan sampai kehabisan. • Jangan menggunakan pelicin tambahan yang terbuat dari minyak seperti minyak goreng , metega, body lotion, dsb. Karena dapat merusak kondom. Bila pelicin dirasa kurang, gunakan pelicin kondom tambahan seperti jelly khusus vagina yang dapat dibeli di apotik. • Hati-hati dalam memasang dan melepaskan kondom bagi mereka yang memiliki kuku panjang atau cincin dengan bagian yang tajam. Kondom mudah sobek bila diperlakuakan kurang baik (BKKBN,2006). 2.6.3. Tempat Memperoleh Kondom Kondom dapat diperoleh diantara lain di : • Apotik • Klinik KB • PPKBD / Sub PPKBD • Pos KB Desa Universitas Sumatera Utara • Toko Obat • Pasar Swalayan • Puskesmas • Puskesmas Pembantu • Vending Machine Kondom (BKKBN, 2006). 2.7. Pekerja Seks Komersial Prostitusi adalah gejala kemasyarakatan dimana wanita menjual diri melakukan perbuatan seksual sebagai mata pencaharian sehari-hari dengan jalan melayani relasirelasi seksual, karena berhubungan dengan mata pencaharian maka orang sering menyebut prostitusi sebagai sebuah pekerjaan. Menurut Amstel yang dikutip Kartono (2007), prostitusi adalah penyerahan diri dari wanita kepada banyak laki-laki dengan pembayaran. Menurut May yang dikutip Kartono (2007), menekankan masalah barter atau perdagangan secara tukar menukar, yaitu menukarkan pelayanan seks dengan bayaran uang, hadiah atau barang-barang berharga lainnya. Juga mengemukakan promiscuitas, yaitu hubungan seks bebas, dan ketidak acuhan emosional, melakukan hubungan seks tanpa emosi, tanpa perasaan cinta dan kasih. Pihak pelacur mengutamakan motif-motif komersial atau alasan keuntungan materil. Karena motif komersialnya itu maka pelacur juga disebut sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial). Universitas Sumatera Utara Prostitusi dapat dibagi menurut aktivitasnya, yaitu terdaftar dan terorganisir dan yang tidak terdaftar. Prostitusi yang terdaftar pelakunya diawasi oleh bagian seperti Vice Control dari kepolisian yang dibantu dan bekerjasama dengan jawatan social dan jawatan kesehatan. Pada umumnya ini dilokalisir dalam satu daerah tertentu. Penghuninya secara periodik harus memeriksakan diri pada dokter atau petugas kesehatan dan mendapatkan suntikan serta pengobatan sebagai tindakan kesehatan dan keamanan umum. Prostitusi yang tidak terdaftar, termasuk dalam kelompok ini hádala mereka melakukan prostitusi secara gelap dan liar. Perbuatannya tidak terorganisir, tempat pun tidak tentu. Mereka tidak pernah mencatatkan diri kepada yang berwajib sehingga kesehatannya Sangat diragukan, karena mereka Belum tentu mau memeriksakan kesehatannya kepada dokter atau petugas kesehatan. Statistik menunjukkan bahwa kurang lebih 75% dari jumlah pelacur adalah wanita-wanita muda dibawah umur 30 tahun. Mereka itu umumnya memasuki dunia pelacuran pada usia muda, yaitu pada usia 13-24 tahun, dan yang paling banyak adalah usia 17-21 tahun (Kartono, 2007). Menurut Kartono (2007), 60-80% dari jumlah pelacur itu memiliki intelektual yang tinggi, berpendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas atau lepasan akademi dan perguruan tinggi. Mereka bertingkah laku immoral karena didorong oleh motivasi-motivasi sosial dan ekonomi. 2.7.1. Motif yang Melatar Belakangi Pelacuran Menurut Kartono (2007), ada beberapa motif yang melatar belakangi seseorang menjadi pelacur diantaranya sebagai berikut : Universitas Sumatera Utara a. Tekanan ekonomi, Faktor kemiskinan, adanya pertimbangan-pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidup, khususnya dalam usaha mendapatkan status sosial yang lebih baik. b. Aspirasi materil yang tinggi pada diri wanita dan kesenangan, ketamakan, terhadap pakaian-pakaian indah dan mewah namun malas bekerja. c. Disorganisasi dan disintegrasi dari kehidupan keluarga seperti ayah dan ibu bercerai, suami dan isteri bercerai. d. Adanya ambisi-ambisi yang besar pada wanita untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, dengan jalan yang mudah tanpa kerja berat, tanpa keterampilan khusus. e. Pekerjaan pelacur tidak memerlukan keterampilan, intelegensi tinggi, mudah dikerjakan asal orang yang bersangkutan memiliki kecantikan, kemudahan dan keberanian. Tidak hanya wanita normal, wanita yang agak lemah ingatannya pun bisa melakukan pekerjaan ini. f. Adanya pengalaman traumatis seperti gagal dalam bercinta ataupun perkawinan, pernah dikecewakan sehingga muncul kematangan seks yang terlalu dini dan abnormalitas seks. g. Banyaknya tindakan Trafficking dan perdagangan perempuan yang terjadi. Biasanya para wanita ini tertipu dengan iming-iming pekerjaan yang layak disuatu tempat, yang akhirnya terjebak dalam dunia prostitusi. Dinas sosial Provinsi Sumatera Utara mengakui masih banyak anak-anak yang dilacurkan yang belum terdata atau cendrung memalsukan umurnya. Diperkirakan 200400 anak usia 13-18 tahun setiap tahunnya dijual keberbagai daerah dan Universitas Sumatera Utara Negara tujuan prostitusi seperti Batam, Tanjung Balai Karimun, Dumai, Malaysia dan Singapura. Menurut Kartono (2007), PSK adalah kelompok yang mempunyai resiko tinggi terkena atau menimbulkan dan menyebarluaskan PMS (Penyakit Menular Seksual). Apalagi dengan alasan komersil, mereka siap melakukan apasaja untuk kepuasan pelanggan sampai kepada perilaku seks yang tidak sehat, sehingga kelompok ini beresiko tinggi untuk terkena PMS. 2.7.2. Kebiasaan PSK Sebelum dan Sesudah Melakukan Hubungan Seksual Beberapa penelitian melaporkan, untuk mencegah terjadinya penyakit menular seksual dan HIV/AIDS para PSK sering melakukan praktik ”Vaginal Douching” atau pembersihan alat kelamin dengan bahan-bahan tertentu dalam bentuk cairan atau sabun sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual. Mereka percaya bahwa praktik ini akan melindungi dirinya dari PMS, sehingga berakibat pada penurunan pemakaian kondom. Mereka lebih percaya pada alternatif pencegahan PMS dengan vaginal douching atau meminum tablet antibiotik sebelum dan sesudah hubungan seks. Mereka menganggap khasiatnya lebih ampuh dari sekedar memakai kondom (Eka, 2008). 2.8. Variabel yang diteliti Dilihat dari tinjauan pustaka maka variabel yang diteliti adalah pengetahuan dan sikap tentang pencegahan penyakit infeksi menular seksual pada wanita PSK sebagai variabel independen, dan tindakan pencegahan penyakit menular seksual pada wanita PSK sebagai variabel dependen. Universitas Sumatera Utara 2.9. Kerangka Konsep Berdasarkan pola pemikiran di atas maka dibuatlah kerangka konsep variabel yang diteliti sebagai berikut : Variabel Independen Variabel Dependen PSK di Bandar Baru Kelurahan Deli Serdang Kecamatan Sibolangit • Umur • Suku • Pendapatan / minggu • Pendidikan Pengetahuan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Sikap 2.10. Hipotesa Penelitian Hipotesa sebagai jawaban sementara penelitian, patokan dugaan atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2005). Berdasarkan masalah yang telah di paparkan maka hipotesa dalam penelitian ini adalah: Universitas Sumatera Utara Ho : Tidak ada hubungan pengetahuan dengan tindakan pencegahan penyakit menular seksual pada PSK di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012 Ha : Ada hubungan pengetahuan dengan tindakan pencegahan penyakit menular seksual pada PSK di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012 Ho : Tidak ada hubungan sikap dengan tindakan pencegahan penyakit menular seksual pada PSK di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012 Ha : Ada hubungan sikap dengan tindakan pencegahan penyakit menular seksual pada PSK di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012. Universitas Sumatera Utara ABAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian menggunakan metode penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional (Soekidjo, 2005) yaitu untuk menganalisis korelasi antara faktor pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan penyakit menular seksual. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Bandar baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang adalah salah satu tempat dimana para PSK menjajakan dirinya. Para PSK biasanya berada dibeberapa tempat penginapan atau bungalow yang ada di Bandar baru, seperti : Barak Agen Gurusinga, Barak Mira, Barak Novi, Barak Lina, Barak Agung, Barak Leni, Barak Maria, Barak Leni, Barak Erik, Barak Sempurna, Barak Sembiring, Barak Salon, Barak Ayu Wulandari, Barak Anik, Barak Winto, Barak Gres/Ines, Barak Hadi, Barak sagu, Barak Oukup dan Barak Bukit Indah. Adapun alasan pemilihan lokasi ini yaitu banyaknya lokasi penginapan yang menjadi tempat para PSK untuk menjajakan diri di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang dan waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei s/d Juni 2012. Universitas Sumatera Utara 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti/objek penelitian (Notoadmodjo, 2007). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita pekerja seks komersial yang ada di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. 3.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang di teliti dan dianggap memiliki seluruh populasi ((Notoadmodjo, 2007). Pengambilan sampel dalam penelitian ini secara Accidental Sampling yaitu responden yang ada di lokasi penelitian pada saat penelitian berlangsung yaitu sebanyak 78 orang. 3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer Data yang diperoleh langsung dari responden melalui teknik wawancara yang berpedoman pada kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. 3..4.2. Data Sekunder Data tidak langsung yang diperoleh dari literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian. Universitas Sumatera Utara 3.5. Defenisi Operasional 1. Umur adalah usia responden sejak lahir hingga ulang tahun terakhir 2. Suku adalah nama adat istiadat yang dianut oleh responden berdasarkan garis keturunannya seperti, adat batak, jawa, minang, mandailing dan sebagainya. 3. Pendapatan adalah banyaknya imbalan yang diperoleh dari pelayanan seks yang diberikan oleh responden (PSK) kepada pelanggan dalam bentuk rupiah selama waktu satu minggu 4. Pengetahuan wanita pekerja seks komersial terhadap pencegahan penyakit menular seksual yang meliputi : • Pengertian PMS • Jenis-jenis PMS. • Bagian tubuh yang terpengaruh PMS. • Tanda dan gejala serta cara penularan PMS. • Komplikasi dari PMS • Pencegahan PMS. • Cara menggunakan kondom, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian kondom, tempat memperoleh kondom serta manfaat penggunaan kondom. 5. Sikap wanita PSK adalah tanggapan terhadap pencegahan penyakit menular seksual. 6. Tindakan adalah segala sesuatu yang dilakukan wanita PSK dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit menular seksual. Universitas Sumatera Utara 7. Pencegahan adalah segala sesuatu tindakan yang dilakukan agar tidak tertular dan menularkan penyakit menular seksual. 8. PSK adalah wanita yang melakukan perbuatan seksual sebagai mata pencaharian sehari-hari dengan cara melayani hubungan seksual para pelanggannya. 3.6. Aspek Pengukuran 3.6.1. Pengetahuan Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh PSK tentang pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual yang diukur melalui 20 pertanyaan dari nomor 120 dengan skor tertinggi adalah 40. Untuk pertanyaan nomor ( 2, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 13, 14, 16, 18, 19, 20 ) • Nilai 2 di beri untuk jawaban yang benar • Nilai 1 di beri untuk jawaban yang mendekati benar • Nilai 0 di beri untuk jawaban yang tidak tahu Untuk pertanyaan dengan jawaban bisa lebih dari satu ( pertanyaan no 1, 11, 12 ) • Jika responden menjawab 3-4 item yang benar, skornya 2 • Jika responden menjawab 1-2 item yang benar, skornya 1 • Jika responden menjawab tidak tahu, skornya 0 Universitas Sumatera Utara Untuk pertanyaan dengan jawaban boleh dari satu ( pertanyaan no 3, 6, 15, 17 ) • Jika responden menjawab > 5 item yang benar, skornya 2 • Jika responden menjawab≤ 5 item yang benar, skornya 1 • Jika responden menjawab tidak tahu, skornya 0 Berdasarkan total skor jawaban, pengetahuan dikategorikan sebagai berikut : 1. Baik, jika total skor jawaban responden > 75% (31) 2. Cukup, jika total skor jawaban responden 40-75% (16-30) 3. Kurang, jika total skor jawaban responden < 40% (15). (Azwar, 2007) 3.6.2. Sikap Variabel sikap menggunakan skala Likert dengan mengukur melalui 10 pertanyaan dengan item jawaban sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Adapun ketentuan pemberian bobot nilai pada item jawaban sikap sebagai berikut (Riduwan, 2007): a. Apabila pernyataan positif (1, 2, 3, 4, 6, 9 dan 10) maka skor : Sangat setuju :5 Setuju :4 Netral/ragu-ragu :3 Tidak setuju :2 Sangat tidak setuju :1 Universitas Sumatera Utara b. Apabila pernyataan negatif (5, 7 dan 8), maka skor: Sangat setuju :1 Setuju :2 Netral/ragu-ragu :3 Tidak setuju :4 Sangat tidak setuju :5 Adapun skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah berjumlah 50. Cara menentukan kategori tingkat sikap responden mengacu pada persentase berikut (Arikunto, 2007) : 1. Sikap baik, apabila skor jawaban >75% nilai keseluruhan (38-50) 2. Sikap cukup baik, apabila skor jawaban 40%-75% nilai keseluruhan (20-37) 3. Sikap kurang baik, apabila skor jawaban <40% nilai keseluruhan (10-19) 3.6.3. Tindakan Variabel tindakan tentang pencegahan penyakit infeksi menular seksual berupa pertanyaan tertutup dan terbuka dengan 2 pilihan jawaban yaitu : 1. Ya (Positif/1), apabila responden melakukan tindakan pencegahan tentang penyakit menular seksual. 2. Tidak (Negatif/O), apabila responden tidak ada melakukan pencegahan tentang penyakit menular seksual. Universitas Sumatera Utara Adapun skor tertinggi yang dapat dicapai responden adalah berjumlah 10. Cara menentukan kategori tingkat sikap responden mengacu pada persentase berikut (Arikunto, 2007) : • Tindakan Pencegahan Penyakit IMS baik, apabila skor jawaban >75% nilai keseluruhan (8-10) • Tindakan Pencegahan Penyakit IMS cukup baik, apabila skor jawaban 40%75% nilai keseluruhan (4-7) • Tindakan Pencegahan Penyakit IMS kurang baik, apabila skor jawaban <40% nilai keseluruhan (< 4) 3.7. Pengolahan dan Analisa Data 3.7.1. Pengolahan Data Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing, yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. Coding, yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. Data entry yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau database komputerisasi. 3.7.2 Analisa Data Analisis data dalam penelitian ini mencakup : 1. Analisis univariat, yaitu analisis yang menggambarkan secara tunggal variabel-variabel independen dan dependen dalam bentuk distribusi frekuensi Universitas Sumatera Utara 2. Analisis bivariat, yaitu analisis lanjutan untuk melihat hubungan dua variabel independen dengan menggunakan uji chi square dan α 0,05 pada taraf kepercayaan 95%. 3. 3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas Sebelum penyebaran kuesioner pada sampel penelitian, butir-butir pertanyaan pada kuesioner harus diuji coba untuk melihat validitas dan reliabilitasnya.Uji validitas menunjukkan sejauh mana skor atau nilai ataupun ukuran yang diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran atau pengamatan yang ingin diukur. Uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antara masing-masing item pertanyaan dengan skor total variabel dengan nilai item corrected correlation pada analisis reability statistics. Jika nilai item correted correlation > rtabel (0,361), maka nilai dinyatakan valid. Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Dalam penelitian ini teknik untuk menghitung indeks reliabilitas yait menggunakan metode Cronbach’s Alpha, yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran dengan ketentuan jika nilai r Cronbach’s Alpha > rtabel (0,361), maka dinyatakan reliabel Uji coba kuesioner dilakukan pada 30 wanita pekerja seksual yang ditemui peneliti di Bandar Baru. Bila nilai rhitung setiap pertanyaan > dari rtabel (0,361) α 0,05, maka pertanyaan dinyatakan valid, untuk realibilitas dilihat dari nilai cronbach’s alpha bila > rtabel dari (0,361) dinyatakan kuesioner reliable (Singarimbun, 1995).A Universitas Sumatera Utara BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1.Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Desa Bandar Baru berada pada 45°14 - 6°18 LU dan 110°33 - 120°48 BT. Secara administrasi desa Bandar Baru merupakan salah satu desa dari 15 desa yang ada di Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara dan mempunyai batas-batas sebagai berikut : • Sebelah Utara berbatasan dengan desa Suka Makmur. • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dati II Karo. • Sebelah Barat berbatasan dengan Sei Betimus / desa Durin Sirugun. • Sebelah Timur berbatasan dengan desa Sikeben. Luas wilayah desa Bandar Baru adalah 1250 Ha atau sekitar 22,26 km persegi Total luas ini meliputi kawasan taman wisata Sibolangit, kawasan pemukiman, terminal, pasar, sarana rekreasi, penginapan-penginapan, dan lahan pertanian. Desa Bandar Baru masih dibagi-bagi atas lima dusun yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala dusun. Kelima dusun tersebut adalah Dusun I, Dusun II, Dusun III, Dusun IV, dan Dusun V. Desa Bandar Baru berada pada ketinggian 860 M diatas permukaan air laut. Suhu rata-ratanya berkisar 18° C - 26° C dengan kelembaban udara yang relatif tinggi, topografi desa ini terletak di dataran tinggi dengan curah hujan sepanjang tahun berkisar antara 3250 Mm /tahun. Keadaan ini menyebabkan suasana sejuk di kawasan ini. Orbitasi (jarak dari pusat pemerintahan)desa ini adalah : Universitas Sumatera Utara • Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : - km • Jarak dari pusat pemerintahan kota ADM : 47 km • Jarak dari ibukota kab / kodya TK II : 74 km • Jarak dari ibukota Prop. Dati I : 47 km • Jarak dari ibukota Negara : - km 4.2. Karakteristik Responden Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi umur, suku, dan pendapatan per minggu . Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden disajikan dalam tabel 4.1. berikut ini: Tabel No. 1. 2. 3. 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Umur Responden Jumlah 1 61 16 % 1,3 78,2 20,5 Suku Responden % 82,0 10,3 5,1 1,3 1,3 % 100,0 < 20 Tahun 20-30 Tahun > 30 Tahun No. 1 2. 3. 4. 5 Jawa Batak Melayu Minang Aceh Jumlah 64 8 4 1 1 No. 1 Pendapatan Responden per Minggu > Rp. 1000.000 Jumlah 78 Berdasarkan tabel 4.1. tentang karakteristik responden diperoleh bahwa responden terbanyak berusia 20-30 tahun sebanyak 61 orang (78,2%) paling sedikit berusia <20 tahun yaitu sebanyak 1 orang (1,3%). Berdasarkan Suku responden Universitas Sumatera Utara terbanyak adalah suku Jawa yaitu sebanyak 64 orang (82,0%) dan yang paling sedikit yaitu suku Minang dan Aceh masing-masing sebanyak 1 orang (1,3%). Sedangkan Pendapatan per minggu pada keseluruhan responden yaitu sebanyak 78 orang (100,0%) memiliki penghasilan > Rp. 1000. 000 per minggu. Dilihat melalui data UMP Sumatera Utara tahun 2012 yakni : Rp. 1.035.000 setiap bulanya dan UMK Deli Serdang tahun 2012 yakni : Rp. 1.290.000 4.3.Analisis Univariat 4.3.1. Pengetahuan Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada PSK maka pengetahuan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 4.2. berikut ini: Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 No 1 Item pernyataan Apakah Kepanjangan dari PMS? a. Penyakir Menular Seksual(2) b. Penyakit Mengganggu Seks(1) n % 15 63 19,2 80,8 10 15,4 56 71,8 Menurut anda apa yang dimaksud dengan 2 PMS? a. penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seks (2) b. penyakit yang timbul karena Universitas Sumatera Utara 3 4 5 6 7 hubungan sex (1) c. Tidak tahu (0) Menurut anda PMS dapat di tularkan melalui apa ? a. Hubungan badan atau seksual (2) b. Berinteraksi dengan orang yang menderita PMS (1) Penyakit apa saja yang termasuk PMS? a. Gonorrhoe (GO) b. Sifilis c. HIV/Aids d. Herpes e. Clamydia f. Hepatitis B g. Endogenous • <5 • >5 • Tidak tahu Tindakan yang tidak akan menjadi penyebab penularan PMS dan HIV adalah? a. Tidak berhubungan seksual dengan orang yang terkena PMS b. Menggunakan WC umum c. Bersentuhan kulit dengan penderita PMS d. Berciuman e. Menggunakan kolam renang umum • 1-2 • Tidak tahu Menurut anda kelompok yang berisiko tinggi terserang PMS adalah? a. Pekerja seks komersial atau WTS b. Wisatawan/ turis c. Pecandu narkoba d. Homoseksual • 1-2 • 3-4 12 12,8 24 54 30,8 69,2 10 56 12 12,8 71,8 15,4 60 18 76,9 23,1 46 32 59,0 41,0 Menurut anda apakah penyebab terjadinya PMS? a. Virus b. Jamur Universitas Sumatera Utara 8 9 10 11 c. Bakteri/ kuman d. Parasit • 1-2 • Tidak tahu Cara yang dilakukan untuk melakukan pencegahan PMS adalah? a. Menggunakan kondom setiap akan berhubungan seks b. Tidak berhubungan seksual dengan penderita PMS c. Setia pada satu pasangan saja d. Menolak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang tidak menggunakan kondom • 1-2 • 3-4 Menurut anda bagaimanakah cara agar kita bisa terhindar dari Penyakit Menular Seksual? a. memutuskan rantai penularan infeksi PMS b. Mencegah berkembangnya PMS serta komplikasinya c. Tidak melakukan hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan d. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual • 1-2 • 3-4 • Tidak tahu Menurut anda seks yang tidak aman yang beresiko menimbulkan PMS adalah? a. Melakukan hubungan seksual lewat vagina, anus, dan oral tanpa kondom (penis di dalam vagina, anus dan mulut) (2) b. Seks tanpa kondom (1) 67 11 85,9 14,1 63 8 7 80,7 10,3 9,0 56 10 12 71,8 12,8 15,4 32 46 41,0 59,0 Menurut anda bagian tubuh yang dapat terpengaruh PMS? a. Saluran indung telur b. Indung telur c. Rahim Universitas Sumatera Utara d. e. f. g. h. • 12 13 Kandung kencing Leher rahim Vagina Saluran kencing Anus <5 Menurut anda, gejala dai PMS yang terjadi pada wanita adalah? a. Terjadi peningkatan keputihan (tidak normal) yang memiliki bau tidak sedap dan berlendir (2) b. Keputihan yang tidak normal dari vagina (1) c. Tidak tahu (0) Apa saja yang tergolong penyakit menular seksual yang disebabkan oleh organisme dan bakteri? a. HIV/Aids b. Gonorrhoea c. Infeksi chlamidia d. Sifilis e. Vaginitis f. Candidiasis g. Chancriod h. Granuloma inguinale i. Infeksi panggul • <5 78 100,0 10 12,8 56 12 71,8 15,4 78 100,0 Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus adalah? 14 a. HIV/Aids (1) b. Tidak tahu (0) Penyakit menular seksual yang 27 51 34,6 65,4 5 28 45 6,4 35,9 57,7 disebabkan oleh parasit adalah? 15 a. Trichomoniasis, pediculas (2) b. Herpes (1) c. Tidak tahu (0) Universitas Sumatera Utara Menurut anda ancaman penyakit menular seksual pada PSK adalah? 16 a. PMS akan merusak organ reproduksi dan menimbulkan kecacatan dan kematian (2) b. PMS akan menimbulkan gejala nyeri, gatal atau keluarnya cairan (1) c. Tidak tahu (0) Menurut anda, yang dimaksud 10 12,8 56 12 71,8 15,4 56 71,8 10 12 12,8 15,4 32 46 41,0 59,0 61 17 78,2 21,8 dengan kondom adalah? 17 18 19 a. Alat kontrasepsi yang terbuat dari latex (1) b. Alat kontrasepsi yang terbuat dari karet, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma (2) c. Tidak tahu (0) Kondom dapat digunakan sebagai? a. Alat kontrasepsi dan alat untuk mencegah penularan penyakit kelamin pada saat bersenggama (2) b. Alat Kontrasepsi saja (1) Tempat-tempat untuk memperoleh kondom adalah? a. Apotek b. Klinik KB c. PPKBD/ Sub PPKBD d. Pos KB Desa e. Toko Obat f. Pasar Swalayan g. Puskesmas h. Vending Machine kondom • <5 • Tidak tahu Cara menggunakan kondom yang baik dan benar adalah? 20 a. Buka bungkus kondom, dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya kemudian pencet ujung Universitas Sumatera Utara kondom agar tidak ada udara didalamnya, letakkan pada kepala penis, pastikan penis dalam keadaan tegang, pada saat memasang gunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga kepangkal penis, jangan menggunakan kuku agar kondom tidak robek (2) b. Buka bungkus kondom, dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya kemudian letakkan pada kepala penis, pastikan penis dalam keadaan tegang (1) 32 41,0 46 59,0 Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa pengetahuan PSK tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) berdasarkan pengetahuan tentang pertanyaan Apakah Kepanjangan dari PMS yang paling banyak menjawab Penyakit mengganggu seksual yaitu 63 orang (80,8%) Berdasarkan pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan PMS yang paling banyak menjawab penyakit yang timbul karena hubungan seks yaitu 56 orang (71,8) Berdasarkan pertanyaan tentang PMS dapat di tularkan melalui apa yang paling banyak dengan jawaban berinteraksi dengan orang yang menderita PMS yaitu sebanyak 54 orang (69,2%). Universitas Sumatera Utara Berdasarkan Pertanyaan Penyakit apa saja yang termasuk PMS dengan pilihan jawaban Gonorrhoe (GO), Sifilis, HIV/Aids, Herpes, Clamydia, Hepatitis B, Endogenous dan Tidak tahu, yang paling banyak dengan jawaban > 5 yaitu 56 orang (71,8%). Berdasarkan pertanyaan tentang Tindakan yang tidak akan menjadi penyebab penularan PMS dan HIV dengan pilihan jawaban Tidak berhubungan seksual dengan orang yang terkena PMS, Menggunakan WC umum, Bersentuhan kuliat dengan penderita PMS, Berciuman, Menggunakan kolam renang umum dan Tidak tahu yang paling banyak menjawab 1-2 pilihan yaitu 60 orang (76,9%) Berdasarkan pertanyaan tentang kelompok yang berisiko tinggi terserang PMS dengan pilihan jawaban lebih dari satu yaitu Pekerja seks komersial atau WTS, Wisatawan/ turis, Pecandu narkoba, Homoseksual dan Tidak tahu, yang paling banyak menjawab 1-2 pilihan yaitu 46 orang (59,0%). Berdasarkan pertanyaan apakah penyebab terjadinya PMS dengan pilihan jawaban lebih dari satu yaitu Virus, Jamur, Bakteri/ kuman, Parasit dan Tidak tahu, yang paling banyak menjawab 1-2 pilihan yaitu 67 orang (85,9%). Berdasarkan pertanyaan tentang bagaimana cara yang dilakukan untuk melakukan pencegahan PMS dengan pilihan jawaban lebih dari satu yaitu Menggunakan kondom setiap akan berhubungan seks, Tidak berhubungan seksual dengan penderita PMS, Setia pada satu pasangan saja, Menolak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang tidak menggunakan kondom dan Tidak tahu, yang paling banyak dengan memilih jawaban 1-2 yaitu 63 orang (80,8%). Universitas Sumatera Utara Berdasarkan pertanyaan mengenai bagaimanakah cara agar kita bisa terhindar dari Penyakit Menular Seksual dengan pilihan jawaban lebih dari satu yaitu memutuskan rantai penularan infeksi PMS, Mencegah berkembangnya PMS serta komplikasinya, Tidak melakukan hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan, Menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan Tidak tahu, yang paling banyak memilih jawaban 1-2 pilihan jawaban yaitu 56 orang (71,8%). Berdasarkan pertanyaan seks yang tidak aman yang berisiko menimbulkan PMS yang paling banyak menjawab dengan jawaban seks tanpa kondom yaitu 46 orang (59,0%). Berdasarkan pertanyaan tentang bagian tubuh yang dapat terpengaruh PMS dengan pilihan jawaban lebih dari satu yaitu Saluran indung telur, Indung telur, Rahim, Kandung kencing, Leher rahim, Vagina, Saluran kencing, Anus dan Tidak tahu yang paling banyak dengan memilih jawaban < 5 pilihan jawaban yaitu 78 orang (100,0%) atau seluruh responden. Berdasarkan pertanyaan gejala dari PMS yang terjadi pada wanita yang paling banyak dengan menjawab keputihan yang tidak normal dari vagina yaitu 56 orang (71,8%). Berdasarkan pertanyaan mengenai Apa saja yang tergolong penyakit menular seksual yang disebabkan oleh organisme dan bakteri dengan pilihan jawaban lebih dari satu yaitu HIV/Aids, Gonorrhoea, Infeksi chlamidia, Siffilis, Vaginitis, Candidiasis, Chancriod, Granuloma inguinale, Infeksi panggul dan Tidak tahu yang Universitas Sumatera Utara paling banyak dengan memilih jawaban < 5 pilihan yaitu 78 orang (100,0%) atau seluruh responden. Berdasarkan pertanyaan tentang jenis penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus paling banyak responden tidak tahu yaitu 51 orang (65,4%) Berdasarkan pertanyaan tentang jenis penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit paling banyak responden tidak tahu yaitu 45 orang (57,7%) Berdasarkan pertanyaan tentang ancaman penyakit menular seksual pada PSK yang paling banyak dengan menjawab PMS akan menimbulkan gejala nyeri, gatal atau keluarnya cairan yaitu 56 orang (71,8%). Berdasarkan pertanyaan tentang yang dimaksud dengan kondom yang paling banyak dengan jawaban alat kontrasepsi yang terbuat dari latex yaitu 56 orang (71,8%). Berdasarkan pertanyaan tentang kegunaan kondom yang paling banyak dengan jawaban alat kontrasepsi saja yaitu 46 orang (59,0%). Berdasarkan pertanyaan tentang Tempat-tempat untuk memperoleh kondom dengan pilihan jawaban lebih dari satu yaitu Apotek, Klinik KB, PPKBD/ Sub PPKBD, Pos KB Desa, Toko Obat, Pasar Swalayan, Puskesmas, Vending Machine kondom dan Tidak tahu yang paling banyak dengan memilih jawaban < 5 pilihan yaitu 61 orang (78,2%). Berdasarkan pertanyaan tentang bagaimana cara menggunakan kondom yang baik dan benar yang paling banyak dengan memberikan jawaban yaitu Buka bungkus kondom, dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya kemudian letakkan Universitas Sumatera Utara pada kepala penis, pastikan penis dalam keadaan tegang alat kontrasepsi saja yaitu sebanyak 46 orang (59,0%). Penilaian terhadap pengetahuan PSK tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dilakukan berdasarkan perhitungan total skor pengetahuan responden. Tingkat pengetahuan selanjutnya dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu pengetahuan baik, cukup dan kurang. Tingkat pengetahuan responden tentang pemberian imunisasi dasar lengkap dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini: Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 No. 1. 2. Tingkat Pengetahuan Cukup Kurang Jumlah 44 34 % 56,4 43,6 Berdasarkan tabel 4.3. diperoleh bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) berada pada kategori cukup yaitu 44 orang (56,4%). 4.3.2. Sikap Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner tentang sikap PSK tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual di bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012. Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini: Universitas Sumatera Utara Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Item pernyataan Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dapat menularkan PMS : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju - Sangat tidak setuju Menggunakan kondom dalam berhubungan seksual dapat mencegah penularan PMS : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju - Sangat tidak setuju Wanita PSK yang berresiko tinggi untuk tertular HIV/AIDS sangat penting memeriksakan kesehatannya ke petugas kesehatan untuk mengetahui apakah terinfeksi virus HIV : - Sangat setuju - Setuju - Tidak setuju Setiap berhubungan seksual (oral, anal dan vaginal) sebaiknya menggunakan kondom : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju n % 11 40 6 15 6 14,1 51,3 7,7 19,2 7,7 17 40 3 8 10 21,8 51,3 3,8 10,3 12,8 64 13 1 82,1 16,7 1,3 45 24 6 3 57,7 30,8 7,7 3,8 Universitas Sumatera Utara Penggunaan kondom dalam berhubungan seksual tidak penting, yang utama menjaga daya tahan tubuh agar tetap fit : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju - Sangat tidak setuju Sebaiknya segera memeriksakan ke petugas kesehatan jika terdapat keluhan seperti gatal, nyeri dan panas saat buang air kecil : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju Menggunakan kondom adalah tindakan yang kurang efektif, hanya buang-buang uang : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju - Sangat tidak setuju Pemakaian kondom saat berhubungan seksual dapat mengurangi kenikmatan sehingga banyak yang tidak menggunakannya : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju - Sangat tidak setuju Selain anda, pelanggan juga menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual : - Sangat setuju - Setuju - Netral - Tidak setuju - Sangat tidak setuju 5 11 2 28 32 6,4 14,1 2,6 35,9 41,0 43 32 1 2 55,1 41,0 1,3 2,6 5 1 2 17 53 6,4 1,3 2,6 21,8 67,9 8 2 2 19 47 10,3 2,6 2,6 24,4 60,3 11 40 6 15 6 14,1 51,3 7,7 19,2 7,7 Universitas Sumatera Utara Sebaiknya kita harus menambah informasi tentang PMS : - Sangat setuju - Setuju - Tidak setuju 64 13 1 82,1 16,7 1,3 Dapat dilihat bahwa sikap responden tentang pernyataan Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dapat menularkan PMS yang paling banyak yaitu 40 orang (51,3%) menjawab setuju dan yang paling sedikit berjumlah 6 orang (7,7%) menjawab dengan pilihan netral dan sangat tidak setuju. Berdasarkan sikap responden tentang pernyataan Menggunakan kondom dalam berhubungan seksual dapat mencegah penularan PMS yang paling banyak yaitu 40 orang (51,3%) menjawab setuju dan yang paling sedikit berjumlah 3 orang (3,8%) menjawab netral. Sikap responden tentang pernyataan Wanita PSK yang berresiko tinggi untuk tertular HIV/AIDS sangat penting memeriksakan kesehatannya ke petugas kesehatan untuk mengetahui apakah terinfeksi virus HIV yang paling banyak yaitu 64 orang (82,1%) menjawab sangat setuju dan yang paling sedikit berjumlah 1 orang (1,3%) menjawab tidak setuju. Sikap responden tentang pernyataan bahwa Setiap berhubungan seksual (oral, anal dan vaginal) sebaiknya menggunakan kondom yang paling banyak yaitu 45 orang (57,7%) menjawab sangat setuju dan yang paling sedikit berjumlah 3 orang (3,8%) menjawab tidak setuju. Universitas Sumatera Utara Sikap responden tentang Penggunaan kondom dalam berhubungan seksual tidak penting, yang utama menjaga daya tahan tubuh agar tetap fit yang paling banyak yaitu 32 orang (41,0%) menjawab sangat tidak setuju dan yang paling sedikit berjumlah 2 orang (5,6%) menjawab netral. Sikap responden tentang pernyataan Sebaiknya segera memeriksakan ke petugas kesehatan jika terdapat keluhan seperti gatal, nyari dan panas saat buang air kecil yang paling banyak yaitu 43 orang (55,1%) menjawab sangat setuju dan yang paling sedikit berjumlah 1 orang (1,3%) menjawab netral. Distribusi sikap responden tentang pernyataan bahwa menggunakan kondom adalah tindakan yang kurang efektif, hanya buang-buang uang yang paling banyak yaitu 53 orang (67,9%) menjawab sangat tidak setuju dan yang paling sedikit berjumlah 1 orang (1,3%) menjawab setuju. Sikap responden tentang pernyataan pemakaian kondom saat berhubungan seksual dapat mengurangi kenikmatan sehingga banyak yang tidak menggunakannya yang paling banyak yaitu 47 orang (60,3%) menjawab sangat tidak setuju dan yang paling sedikit berjumlah 2 orang (8,3%) menjawab netral dan setuju. Berdasarkan sikap responden tentang pernyataan selain anda (PSK), pelanggan juga menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual yang paling banyak yaitu 40 orang (51,3%) menjawab setuju dan yang paling sedikit berjumlah 6 orang (7,7%) menjawab netral dan sangat tidak setuju. Sikap responden tentang pernyataan Sebaiknya kita harus menambah informasi tentang PMS yang paling banyak yaitu 64 orang (82,1%) menjawab sangat setuju dan yang paling sedikit berjumlah 1 orang (1,3%) menjawab tidak setuju. Universitas Sumatera Utara Berdasarkan perhitungan jumlah skor yang didapat dari pernyataan responden pada pengukuran sikap maka tingkat sikap responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) selanjutnya dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu sikap baik, cukup dan kurang. Tingkat sikap responden tentang pemberian imunisasi dasar lengkap pada balita dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini: Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Sikap Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 No. 1. 2. Tingkat Sikap Baik Cukup Jumlah 65 13 % 83,3 16,7 Berdasarkan tabel 4.5. diperoleh bahwa sebagian besar sikap responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) berada pada kategori baik yaitu 65 orang (83,3%). 4.3.3. Tindakan Responden Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada responden maka tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 dapat dilihat tabel 4.6. berikut ini: Universitas Sumatera Utara Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Tindakan Responden Anda pernah memeriksakan kesehatan ke petugas kesehatan - Ya - Tidak Anda memeriksakan diri kepetugas kesehatan secara rutin - Ya - Tidak Anda penderita PMS, Apakah anda terus melakukan hubungan seksual dengan pelanggan anda - Ya - Tidak Anda tahu pelanggan anda terkena PMS, apa anda akan tetap lakukan hubungan seksual dengan pelanggan anda tersebut - Ya - Tidak Jika anda penderita PMS, Apakah anda melakukan pemeriksaan secara rutin ke petugas kesehatan - Ya - Tidak Anda menyarankan untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pelanggan anda dan pelanggan anda menolak, apa anda akan tetap berhubungan seksual - Ya - Tidak. Apakah anda melakukan oral seks saat pasangan anda tidak menggunakan kondom - Tidak Apakah anda melakukan Anal seks saat pasangan anda tidak menggunakan kondom - Ya - Tidak n % 44 34 56,4 43,6 64 14 82,1 17,9 65 13 83,3 16,7 63 15 80,8 19,2 71 7 91,0 9,0 64 14 82,1 17,9 78 100,0 13 65 16,7 83,3 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan Tabel 4.6. diketahui bahwa tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan memeriksakan kesehatan ke petugas kesehatan yang paling banyak yaitu 44 orang (56,4%) menjawab ya. Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan memeriksakan diri kepetugas kesehatan secara rutin yang paling banyak yaitu 64 orang (82,1%) menjawab ya. Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan terus melakukan hubungan seksual dengan pelanggan meskipun tertular PMS yang paling banyak yaitu 65 orang (83,3%) menjawab ya. Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan tetap melakukan hubungan seksual dengan pelanggan meskipun tahu pelanggan terkena PMS yang paling banyak yaitu 63 orang (80,8%) menjawab ya. Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan melakukan pemeriksaan secara rutin ke petugas kesehatan saat diketahui menderita PMS, yang anda paling banyak yaitu 71 orang (91,0%) menjawab ya. Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) menyarankan untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pelanggan namun pelanggan menolak, sehingga akan tetap berhubungan seksual yang paling banyak yaitu 64 orang (82,1%) menjawab ya. Universitas Sumatera Utara Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan melakukan oral seks saat pasangan tidak menggunakan kondom yang paling banyak yaitu 78 orang (100,0%) menjawab tidak melakukan. Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan melakukan Anal seks saat pasangan tidak menggunakan kondom paling banyak yaitu 65 orang (83,3%) menjawab tidak melakukan. Berdasarkan perhitungan jumlah skor yang didapat dari pernyataan responden pada pengukuran tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) maka tingkat Tindakan responden terhadap pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) selanjutnya dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu dukungan keluarga baik, cukup dan kurang. Tingkat tindakan responden terhadap pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini: Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Tindakan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 No. 1. 2. Tingkat Tindakan Baik Cukup Jumlah 55 23 % 70,5 29,5 Berdasarkan tabel 4.7. diperoleh bahwa sebagian besar tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular seksual (IMS) berada pada kategori Baik yaitu 55 orang (70,5%). 4.4.Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat dimaksud untuk melihat hubungan masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat yang mempunyai hasil analisis p < 0,05. Universitas Sumatera Utara 4.4.1. Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Tabel 4.8 Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Pengetahuan PSK Cukup Kurang Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Baik Cukup n 27 28 % 61,4 82,4 n 17 6 % 38,6 17,6 Total n 44 34 % 100,0 100,0 P 0,049 Dari hasil analisis tabel 4.8 bahwa dari 44 PSK berpengetahuan cukup yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) baik yaitu 27 orang (61,4%) dan 17 (38,6%) yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Dari 34 PSK berpengetahuan kurang yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang baik yaitu 28 orang (82,4%) dan 6 orang (17,6%) yang melakukan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Secara statistik dibuktikan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksial (IMS) dengan (p=0,049). 4.4.2. Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Universitas Sumatera Utara Hubungan sikap Wanita Pekerja Seks Komersial dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut ini: Tabel 4.9. Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Sikap PSK Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Baik Cukup n 46 9 Baik Cukup % 70,8 69,2 n 19 4 % 29,2 30,8 Total n 65 13 % 100,0 100,0 P 0,903 Dari hasil analisis tabel 4.9 bahwa dari 65 PSK bersikap baik yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) baik yaitu 46 orang (70,8%) dan 19 (29,2%) yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Dari 13 PSK bersikap cukup yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang baik yaitu 9 orang (69,2%) dan 4 orang (30,8%) yang melakukan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Secara statistik dibuktikan tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan (p=0, 903). Universitas Sumatera Utara BAB V PEMBAHASAN 5.1. Analisis Univariat 5.1.1. Pengetahuan Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, surat kabar, atau media massa dan elektronik (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan WPS tentang program pencegahan dan pemberantasan IMS, HIV dan AIDS diharapkan akan menjadi dasar untuk bersikap positif terhadap pelaksanaan Program Pencegahan dan Pemberantasan IMS, HIV dan AIDS dan selanjutnya akan mendorong WPS untuk bertindak atau membentuk praktik melaksanakan Program Pencegahan dan Pemberantasan IMS, HIV dan AIDS. Berdasarkan tabel 4.3. diperoleh bahwa sebagian besar pengetahuan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) berada pada kategori cukup yaitu 44 orang (56,4%). Pengetahuan PSK tentang penyebab, cara penularan, akibat dan cara pencegahan IMS dan HIV&AIDS diarahkan sesuai dengan kemampuan berfikir Universitas Sumatera Utara terhadap apa yang telah mereka lihat dan alami sendiri. Pengetahuan merupakan domain yang penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Penerimaan seseorang terhadap suatu perilaku baru karena suatu rangsangan yang melalui proses kesadaran, merasa tertarik, menimbang, mencoba dan akhirnya subyek berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Namun demikian perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut. Apabila didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku akan bersikap langgeng dan jika perilaku tidak didasari pengetahuan dan kesadaran maka perubahan perilaku tersebut tidak akan langgeng. (Notoatmodjo, 2007) Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan subyek mengenai IMS cukup baik. IMS menurut sebagian besar responden adalah penyakit mengganggu seksual, dan penyakit yang timbul karena hubungan seks. Ada juga sebagian kecil subjek yang menjawab bahwa IMS adalah penyakit yang ditularkan dengan berinteraksi dengan orang yang menderota PMS hal ini dapat dilihat berdasarkan jawaban responden pada pertanyaan no 1,2 dan 3. Tidak semua jenis penyakit yang termasuk PMS mereka ketahui hal ini terlihat dari jawaban responden pada pertanyaan tentang pengetahuan no.4 yang hanya mampu menjawab kurang dari 5 pilihan jawaban yang diberikan. IMS adalah infeksi yang sebagian menular melalui hubungan seks dengan pasangan yang sudah terinfeksi. Hubungan ini termasuk hubungan seks melalui liang senggama, lewat mulut atau lewat dubur. Istilah IMS lebih luas maknanya karena menunjukkan pada cara penularan dan tanda-tanda yang tidak selalu ada di alat kelamin. (Sarwono, 2004) Universitas Sumatera Utara Selanjutnya mereka juga tidak banyak mengetahui tindakan yang akan dan tidak akan menjadi penyebab penularan PMS hal ini terlihat dari jawaban jawaban yang mereka berikan hanya mampu menjawab 1-2 pilihan jawaban yang di berikan pada pertanyaan No 5, 6, 8, dan 9 dan menjawab bahwa seks yang tidak aman yang berisioko yang menimbulkan PMS adalah seks tanpa kondom pada pertanyaan No10. Dari jawaban tersebut seluruh subyek mempunyai pengetahuan yang kurang karena tidak dapat menjawab dengan tepat. IMS hanya bisa menular melalui hubungan seksual yang tidak aman. Tidak aman disini adalah hubungan seksual lewat liang senggama tanpa kondom, Hubungan seksual lewat dubur tanpa kondom, seks oral. Ada juga cara penularan yang lain yaitu pertama melalui darah misal transfusi darah, saling tukar jarum suntik atau benda tajam, pemakaian obat bius dan menindik telinga atau tato. Yang kedua ibu hamil ke janin yaitu bisa saat hamil, saat melahirkan atau sudah melahirkan lewat Air Susu Ibu (ASI). (Sarwono, 2004) IMS tidak menular dengan cara duduk bersebelahan dengan orang yang terkena IMS, menggunakan toilet umum, bekerja terlalu keras, menggunakan kolam renang, berjabat tangan, melalui peralatan makan, bersin atau berkeringat. IMS menular terutama jika cairan kelamin atau darah seseorang yang sudah terkena IMS masuk ke dalam tubuh orang lain. (Sarwono, 2004) Pengetahuan responden yang kurang baik juga terlihat pada jawaban responden tentang bagian tubuh yang dapat terpengaruh IMS yang hanya mampu memberikan <5 pilihan jawaban yang diberikan pada pertanyaan No.11. IMS jika tidak diobati bisa berakibat buruk diantaranya menyebabkan kemandulan pada lakilaki maupun perempuan, kanker rahim pada perempuan, kehamilan di luar rahim, Universitas Sumatera Utara infeksi menyeluruh, nyeri di perut bagian bawah atau infeksi saluran reproduksi, bayi terlahir dengan cacat-bawaan dan infeksi HIV. (Sarwono, 2004). Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan dapat dikatakan sebagai pengalaman yang mengarah pada kecerdasan serta akan meningkatkan minat dan perhatian. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dari pengalaman dan penelitian ternyata prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Semakin baik pengetahuan individu tentang masalah kesehatan akan sangat membantu dalam pencegahan terjadinya masalah kesehatan tersebut. Pengetahuan akan membentuk sikap PSK, dan akhirnya akan patuh dalam melakukan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kusniaty (1998) perbedaan tingkat pengetahuan tentang seksual ini dapat disebabkan oleh beberapa hal: 1. Perbedaan kesempatan untuk memperoleh informasi tentang seksual 2. Kurangnya informasi seksual dari orangtua 3. Adanya berbagai informasi yang menyesatkan yang menimbulkan terjadinya salah presepsi tentang seksual 4. Adanya keingintahuan yang dalam terhadap masalah seksual Menurut (Fatmawati, 2004) pergaulan lingkungan sosial yang ada memberikan dampak positif dan negatif. Jadi PSK yang tinggal di lokalisasi berpengetahuan cukup terhadap pencegahan penularan PMS, karena kurang mendapat penyuluhan atau informasi tentang pencegahan penularan PMS. Sumber informasi yang didapatkan PSK juga berpengaruh terhadap pengetahuan PSK. Universitas Sumatera Utara Penyuluhan tentang pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS) pada seseorang yang beresiko terhadap Penyakit tersebut sangat diperlukan (terutama PSK). Dengan adanya penyuluhan dapat memberikan pengetahuan kepada PSK, sehingga PSK dapat mengurangi resiko-resiko penularan penykit Menular Seksual (PMS) dan mengubah perilaku Seksualnya menjadi pola seksual yang aman. (Depkes RI, 2004) 5.1.2. Sikap Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Menurut Sunaryo (2004) faktor penentu sikap seseorang salah satunya adalah faktor komunikasi sosial. Informasi yang diterima individu tersebut dapat menyebabkan perubahan sikap pada diri individu tersebut. Positif atau negatif informasi dari proses komunikasi tersebut tergantung seberapa besar hubungan sosial dengan sekitarnya mampu mengarahkan individu tersebut bersikap dan bertindak sesuai dengan informasi yang diterimanya. Sikap merupkan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari, bila sikap itu sudah terbentuk dalam diri seseorang selanjutnya akan ikut menentukan tingkah lakunya terhadap sesuatu. Menurut Alport (1954) sikap itu mempunyai tiga kelompok pokok yaitu: 1) Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap sesuatu obyek 2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap sesuatu obyek 3) Kecenderungan untuk bertindak. Universitas Sumatera Utara Ketiga komponen ini secara bersama-sama dapat membentuk suatu sikap yang utuh. Sikap yang utuh dipengaruhi oleh pengetahuan, keyakinan dan emosi seseorang. Sebagai contoh seorang WPS yang akan memperoleh penyuluhan mengenai HIV dan AIDS, bila WPS tersebut telah mendengar mengenai penyebab, akibat/bahaya, pencegahan HIV dan AIDS dan sebagainya, maka pengetahuan ini akan membawa WPS tersebut untuk berpikir kearah pencegahan HIV dan AIDS pada dirinya. Dengan demikian WPS ini mempunyai sikap tertentu terhadap obyek yang berupa pencegahan HIV dan AIDS. (Notoatmodjo, 2003) Berdasarkan tabel 4.5. diperoleh bahwa sebagian besar sikap responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) berada pada kategori baik yaitu 65 orang (83,3%). Menurut Azwar (2007), sikap terbentuk dari adanya informasi secara formal maupun informal yang diperoleh setiap individu. Berarti sikap sejalan dengan pengetahuan, yaitu jika seseorang berpengetahuan baik maka sikap juga akan baik. Berdasarkan tabulasi silang antara pengetahuan dengan sikap diketahui bahwa dari responden yang berpengetahuan rendah, sebagian besar responden memiliki sikap yang baik yaitu 65 orang (83,3%). Hal ini bisa saja terjadi karena dalam bentuk, sikap sulit untuk dinilai maupun diukur. Sikap merupakan tanggapan atau reaksi seseorang terhadap obyek tertentu yang bersifat positif atau negatif yang biasanya diwujudkan dalam bentuk rasa suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju Menurut Notoatmodjo (2005), sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tertentu melalui persuasif serta tekanan dari kelompok sosialnya. Dari pertanyaan yang diberikan kepada responden Universitas Sumatera Utara mempunyai sikap baik terhadap pemberian imunisasi dasar lengkap. Jika dilihat dari tingkat pengetahuan PSK yang cukup tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dapat disimpulkan bahwa pengetahuan PSK yang cukup tidak mencerminkan sikap sama pula tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). 5.1.3. Tindakan Responden Terhadap Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Praktik atau tindakan adalah merupakan salah satu dari tiga perilaku berbentuk perbuatan (action) terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Perbuatan atau praktik tidak sama dengan perilaku, melainkan hanya sebagian dari perwujudan perilaku. Perwujudan dari perilaku yang lain dapat melalui pengetahuan dan sikap. Suatu sikap belum tentu terwujud dalam sutu tindakan, untuk terwujudnya suatu sikap agar menjadi tindakan perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain seperti fasilitas dan dukungan dari pihak lain: sebagai contoh disini adalah penggunaan kondom pada WPS, dalam hal ini perlu biaya untuk membeli kondom dan dukungan dari pengasuh ataupun pelanggan. (Notoatmodjo, 2003) Berdasarkan tabel 4.7. diperoleh bahwa sebagian besar tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular seksual (IMS) berada pada kategori Baik yaitu 55 orang (70,5%). Meskipun sebagian besar tindakan responden tenyang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) pada kategori baik namun masih terdapat responden Universitas Sumatera Utara yang memiliki risiko tinggi terkena penyakit Infeksi Menular Seksual disebabkan perilaku pencegahan yang tidak baik seperti tidak memeriksakan kesehatan ke petugas kesehatan sebanyak yaitu 34 orang (43,6%). Perempuan lebih jarang melakukan pengobatan dibandingkan dengan laki-laki karena sering tidak menunjukkan gejala pada awal, malu atau tidak mau pergi ke klinik. Akibatnya infeksi yang ditularkan secara seksual dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius sebelum perempuan-perempuan tersebut mendapatkan pengobatan. Mereka akan menderita IMS lebih lama dan mengakibatkan kondisi yang lebih parah, seperti kehamilan ektopik, radang pelvis dan kemandulan. (Anonim, 1998) Kemudian berdasarkan tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang menyatakan bahwa responden menyarankan untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pelanggan namun pelanggan menolak, sehingga akan tetap berhubungan seksual yang paling banyak yaitu 64 orang (82,1%) menjawab bersedia untuk melakukan hubungan seks. Menurut Satoto (2001) Kondom adalah suatu selubung yang terbuat dari karet atau kulit binatang yang dikenakan pada penis yang ereksi dan berperan sebagai penghalang untuk mencegah semen atau cairan preejakulasi pada saat penis dalam vagina atau rectum (dubur) yang bermanfaat sebagai pencegah penularan HIV&AIDS dan juga memberikan perlindungan terhadap penyakit infeksi menular lain seperti infeksi gonore, chlamydia, sifilis dan herpes serta merupakan metode lain dalam keluarga berencana. Menurut Kalina, dkk (2009) menyatakan bahwa perilaku seksual yang berisiko mempunyai 2 faktor yaitu: Universitas Sumatera Utara 1. Faktor Psikologi Keadaan kejiwaan seseorang yang dapat mendorong untuk melakukan perilaku seksual sehingga sebagai variasi dalam berhubungan seksual misalnya; bermabuk-mabukan, merokok yang merupakan suatu bentuk variasi sebelum melakukan hubungan seksual. 2. Faktor perilaku Suatu bentuk tindakan yang dipengaruhi oleh faktor psikologi seseorang yang tidak stabil sehingga dalam berhubungan seksual tanpa memikirkan keadaan kesehatan. Misalnya melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom / pil kontrasepsi. Hali ini sejalan dengan hasil penelitian Kalina, dkk (2009) menyatakan bahwa sebanyak 62% dari siswa Slovak mempunyai pengalaman dalam berhubungan seksual, selain itu sebanyak 81% dari wanita dan 71% pada laki-laki tidak menggunakan kondom dalam berhubungan seksual. Perilaku tersebut sangat berisiko terhadap penularan penyakit seksual dan tidak ada faktor lain yang berhubungan dalam penggunaan kondom. Menurut Daili, dkk (2007), menyatakan bahwa perilaku risiko tinggi dalam penyebaran PMS ialah perilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai risiko besar terserang penyakit. Peningkatan insiden PMS tidak terlepas dari kaitannya dengan perilaku risiko tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang terkena sifilis melakukan hubungan seks rata-rata sebanyak 5 pasangan seksual yang tidak diketahui asal-usulnya, sedangkan orang yang terkena gonorhoe melakukan hubungan seks dengan rata-rata 4 pasangan seksual. Universitas Sumatera Utara Menurut hasil penelitian Ratnawati (2002) perilaku oral seks dan anal seks dilakukan komunitas waria dalam berhubungan seksual yang sangat berisiko terhadap terjadinya PMS. Jenis PMS yang menyerang waria antara lain gatal-gatal pada penis, Sifilis dan Harpes kelamin. Cara lain untuk memenuhi kebutuhan seks dapat dengan cara onani. Penelitian oleh Wright (2003) memaparkan bahwa pemakaian kondom dipengaruhi oleh : a. Faktor individu : persepsi individu (PSK atau mitra seks) tentang bahaya HUS promiskuitas, persepsi individu tentang kondom, b. Faktor komunitas : kemudahan akses kondom, budaya perilaku HUS. Kondom merupakan wujud perilaku seksual yang aman pada PSK dan mitra seksualnya. Kondom jika digunakan secara kontiniu, konsisten dan tepat waktu dapat memberikan perlindungan sebesar 95% untuk terjadinya kanker serviks. IMS, HIV dan AIDS terutama dapat terjadi melalui hubungan seksual, sehingga pencegahan perlu difokuskan pada hubungan seksual, dalam hal ini langkah pencegahan yang dianjurkan untuk dilakukan adalah : (bkkbn.go.id, 2012) 1. Melakukan hubungan monogami seumur hidup. Secara statistik dapat diperhitungakan bahwa dengan melakukan hubungan seks dengan pasangan yang terbatas maka resiko terinfeksi kuman penyebab IMS dan virus HIV juga akan berkurang. Universitas Sumatera Utara 2. Berhubungan seks yang aman, yaitu dengan : • Lebih berhati-hati dalam memilih pasangan, yaitu yang beresiko rendah terhadap infeksi kuman IMS, HIV dan AIDS . • Hindarkan berganti-ganti pasangan. 3. Mempraktekan protective sex, yaitu hubungan seksual yang tidak terdapat pertukaran atau kontak dengan semen, cairan vagina atau darah antar pasangan. Termasuk dalam kategori ini adalah penggunaaan kondom. Dalam kasus prostitusi maka upaya yang paling dimungkinkan untuk mencegah penularan IMS dan HIV-AIDS adalah dengan mempraktekaan seks yang aman (protective sex) yaitu dengan selalu menggunakan kondom setiap melakukan hubungan seks dengan siapapun. 5.2. Analisis Bivariat Saparinah Sadli (1982) yang mengutip pendapat J. Kosa dan L.S. Robertson mengatakan bahwa perilaku kesehatan individu cenderung dipengaruhi oleh kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan yang diinginkan, dan kurang didasarkan pada pengetahuan yang berasal dari ilmu-ilmu biologi. Kenyataannya memang mendukung pernyataan ini. Terhadap kondisi kesehatan yang terganggu masing-masing individu mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengambil tindakan pencegahan atau penyembuhannya. Pada umumnya tindakan yang diambil berdasarkan penilaian individu atau mungkin dibantu oleh orang lain, terhadap gangguan tersebut. Penilaian semacam ini menunjukkan bahwa gangguan Universitas Sumatera Utara yang dirasakan individu menstimulir dimulainya suatu proses sosial psikologis. Proses sosial semacam ini menggambarkan berbagai tindakan yang dilakukan si penderita mengenai gangguan yang dialami, dan merupakan bagian integral dari interaksi pada umumnya. (Notoatmodjo, 2003) Infeksi Menular Seksual (IMS) diketahui mempermudah penularan HIV. Selain itu, IMS juga merupakan petunjuk adanya perilaku seksual yang berisiko. Prevalensi IMS yang tinggi pada suatu populasi di suatu tempat merupakan pertanda awal akan risiko penyebaran HIV, walaupun prevalensi HIV masih rendah. Di samping menunjukkan risiko penyebaran HIV, prevalensi IMS dapat memvalidasi data perilaku penggunaan kondom yang didapat dari surveilans perilaku. Kurangnya perilaku penggunaan kondom akan tergambar dengan tetap tingginya prevalensi IMS. Di lain pihak, peningkatan penggunaan kondom akan lebih cepat tergambar melalui penurunan prevalensi IMS daripada penurunan prevalensi HIV. (USAID, 2000) 5.2.1. Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan perilaku, namun hubungan positif antara kedua variabel ini telah diperlihatkan oleh Cartwrigth (1981) dalam Inantha (1997), dalam studi tiga komuniti dibidang kesehatan, pengetahuan tertentu tentang kesehatan penting sebelum suatu tindakan pribadi terjadi, tindakan kesehatan yang diharapkan mungkin tidak akan terjadi kecuali apabila seseorang mendapat isyarat yang kuat untuk memotivasinya bertindak atau dasar pengetahuan yang dimilikinya. (Notoatmodjo, 2003) Universitas Sumatera Utara Dari hasil analisis tabel 4.8 bahwa dari 44 PSK berpengetahuan cukup yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) baik yaitu 27 orang (61,4%) dan 17 (38,6%) yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Dari 34 PSK berpengetahuan kurang yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang baik yaitu 28 orang (82,4%) dan 6 orang (17,6%) yang melakukan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Secara statistik dibuktikan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksial (IMS) dengan (p=0,049). Berdasarkan teori Health Belief Model oleh Rosentock menyebutkan bahwa seseorang pada umum tidak mencoba melakukan sesuatu yang baru kecuali mereka pikir mereka bisa melakukannya. Tindakan ini akan tergantung pada manfaat yang dirasakan dan rintangan yang ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut. Sehingga untuk meningkatkan pengetahuan tentang IMS, dan HIV&AIDS tidak selalu memperhatikan pendidikan tetapi lebih ditekankan pada upaya memberikan kesadaran akan manfaat yang dirasakan. (Notoatmodjo, 2003) Teori Health Belief Model dalam penelitian ini, bahwa walaupun responden memiliki pengetahuan yang cukup, akan tetapi ia berfikir memiliki banyak pengalaman dan rintangan dalam proses perubahan perilaku tersebut kemungkinan hal tersebut tidak akan dilakukan. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Hartino (2009) Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan kejadian PMS pada gay (p= 0,709). Pengetahuan Universitas Sumatera Utara kesehatan reproduksi yang kurang mempunyai risiko 1,5 kali lipat terkena PMS dibandingkan yang mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Lestari (2006) bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja jalanan sangat kurang dikarenakan kurangnya informasi yang diperoleh dengan benar tentang kesehatan reproduksi. Penerapan tentang pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik akan menjadi dasar terbentuknya perilaku seksual yang sehat pada tahapan selanjutnya sehingga akan dapat mengurangi prevalensi kejadian PMS serta pemberian informasi tentang kesehatan reproduksi kepada komunitas gay yang tidak hanya gencar membicarakan tentang penanggulangan HIV/AIDS. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksual yang setengahsetengah tidak hanya membuat komunitas gay penasaran dan ingin coba-coba tetapi malah membuat persepsi yang salah. Misalnya melakukan hubungan seksual secara oral seks tidak dapat mengakibatkan PMS. Pada penelitian Kalina,dkk (2009) bahwa pada umur 15-19 tahun pada siswa sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Hal ini merupakan perilaku yang berisiko terhadap PMS karena dalam berhubungan seksual akan terjadinya luka pada jaringan sehingga virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui jaringan yang luka. Hal ini jelas bahwa dengan memakai pengaman akan menggurangi kontak kulit atau mukosa sehingga mengurangi terjadinya infeksi. Universitas Sumatera Utara 5.2.2. Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 Menurut Azwar (2007) bahwa sikap merupakan cikal bakal dari sebuah perilaku karena sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk berperilaku. Jika ada kesejajaran antara sikap dan perilaku. Dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak faktor menyebabkan perilaku responden kurang baik, diantaranya pengetahuan, sikap dan tingkat pendidikan. Sarwono (2007) mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Hal ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi yaitu apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial, tanggapan dan penghayatan seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat oleh karena itu sikap akan mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional dalam situasi yang melibatkan emosi penghayatan, pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama membekas. Pengaruh orang lain, orang lain disekitar kita merupakan salah satu komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Universitas Sumatera Utara Dari hasil analisis tabel 4.9 bahwa dari 65 PSK bersikap baik yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) baik yaitu 46 orang (70,8%) dan 19 (29,2%) yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Dari 13 PSK bersikap cukup yang memiliki tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang baik yaitu 9 orang (69,2%) dan 4 orang (30,8%) yang melakukan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) cukup. Secara statistik dibuktikan tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksial (IMS) dengan (p=0.903). Ketidak cocokan perilaku seseorang dengan sikapnya akan menimbulkan berbagai masalah psikologis bagi individu yang bersangkutan sehingga individu akan berusaha mengubah sikapnya atau perilakunya. Sikap merupakan predisposisi untuk berperilaku yang akan tampak aktual dalam bentuk perilaku atau tindakan. (Green LW& Kreuter MW, 2000) Hubungan perilaku dengan sikap, keyakinan dan nilai tidak sepenuhnya dimengerti, namun bukti adanya hubungan tersebut cukup banyak. Analisis akan memperlihatkan misalnya bahwa sikap, sampai tingkat tertentu merupakan penentu, komponen dan akibat dari perilaku. Hal ini merupakan alasan yang cukup untuk memberikan perhatian terhadap sikap, keyakinan dan nilai sebagai faktor predisposisi. (Asmadi, 1991) Adanya hubungan yang erat antara sikap dan perilaku didukung oleh pengertian sikap yang menyatakan bahwa sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak. Dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Warner dan De Fleur Universitas Sumatera Utara (1969) didefinisikan bahwa adanya tiga hubungan antara sikap dan praktik sebagai berikut. : (Asmadi, 1991) a. Keajegan (concistency). Sikap verbal merupakan alasan yang masuk akal untuk menduga apa yang dilakukan oleh seseorang bila dihadapkan dengan obyek sikapnya. Dengan kata lain ada hubungan langsung antara sikap dan tingkah laku (praktik). b. Ketidak ajegan (inconcistency). Alasan ini yang membantah adanya hubungan yang konsisten antara sikap dengan tingkah laku (praktik). Sikap dan tingkah laku adalah dimensi yang individual yang berbeda dan terpisah. Demikian pula sikap dan tingkah laku adalah tidak tergantung satu sama lain. c. Keajegan yang tidak tertentu (concistency contingent). Alasan ini mengusulkan bahwa hubungan antara sikap dan tingkah laku tergantung pada faktor-faktor situasi tertentu pada variabel antara. Pada situasi tertentu diharapkan adanya hubungan antara sikap dan tingkah laku, dalam situasi yang berbeda hubungan itu tidak ada. Hal ini lebih dapat menerangkan hubungan sikap dan tingkah laku (praktik). Sehingga hasil penelitian ini tidak sama berdasarkan hasil penelitian Dewi (2008) tentang hubungan antara faktor predisposing, enabling dan reinforsing terhadap ranah perilaku PKS dan hubungan perilaku PSK tersebut terhadap kejadian penyakit sifilis dan HIV di Lokalisasi Perbatasan Kecamatan Bagan Sinembah Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2008 menunjukkan bahwa faktor Predisposing, Enabling dan Reinforcing yang berhubungan dengan ranah pengetahuan adalah masa kerja (p=0,027); ranah sikap adalah masa kerja (p=0,377), penghasilan (p=0,002), Universitas Sumatera Utara pendidikan (p=0,000), dan ketersediaan pelayanan kesehatan (p=0,000) dan sumber informasi (p=0,029); sedangkan ranah tindakan adalah tingkat penghasilan (p=0,031), sumber informasi (p=0,002), dan ketersediaan pelayanan kesehatan (p=0,000). Dan Ranah perilaku yang berhubungan kejadiaan sifilis dan HIV adalah tindakan (p=0,018). Berdasarkan hasil penelitian tersebut terdapat hubungan antara perilaku PSK terhadap Kejadian penyakit sifilis dan HIV di Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012. Universitas Sumatera Utara BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Hasil penelitian terhadap 78 responden yang menjadi sampel penelitian terhadap hubungan antara pengetahuan dan sikap wanita Pekerja Seks Komersial dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) di Bandar Baru Tahun 2012, diperoleh bahwa: 1. Pengetahuan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) berada pada kategori Cukup yaitu 44 orang (56,4%). 2. Sikap responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) berada pada kategori Baik yaitu 65 orang (83,3%). 3. Tindakan responden tentang pencegahan penyakit Infeksi Menular seksual (IMS) berada pada kategori Baik yaitu 55 orang (70,5%). 4. Secara statistik dibuktikan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksial (IMS) dengan (p=0,049). 5. Secara statistik dibuktikan tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap PSK dengan tindakan pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksial (IMS) dengan (p=0,903). Universitas Sumatera Utara .6.2 Saran 1. Diharapkan kapada para Mucikari PSK dan penyedia sarana kesehatan di Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang lebih meningkatkan pengetahuannya mengenai pencegahan Penyakit menular Seksual (PMS) sehingga mengetahui bagaimana cara agar tidak tertular dan menularkan penyakit berbahaya tersebut pada PSK. 2. Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Deli Serdang untuk lebih meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap PSK melalui penyuluhan dan pemberian kesadaran terhadap PSK akan manfaat kondom dan pemeriksaan kesehatan sehingga menjamin tidak terjadinya penularan PMS di Puskesmas Bandar Baru. 3. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat untuk peneliti lainnya, agar penelitian lebih lanjut dapat menggali faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi perilaku pencegahan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) atas tindak lanjut dari penelitian ini terkhusus melibatkan peran serta para Mucikari,petugas kesehatan dan personal hygine para PSK. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Ahnaf Arizal, Anwar J, Pramono D, Mulia A, Sugihartono, dkk. 2005. Situasi Perilaku Berisiko Tertular HIV di Jawa Tengah. Hasil Survei Surveilans Perilaku (SSP) Tahun 2004 di Kota Semarang. Badan Pusat Statistik. Jakarta Ahmadi. 2003. Tentang Sikap yang Tercermin dari Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta Arianto. 2005. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Kondom Pada Pelanggan Wanita Pekerja Seks Sebagai Upaya pencegahan Penyakit Menular Seksual di Belawan. Medan, Skripsi. Ariani F. 2005. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Sifilis Pada Pekerja Seks Komersial (Studi di Lokalisasi Ngujang Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung Tahun 2005). [Skripsi] Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Arikunto, Suharsimi, Dr, Prof. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta:Rineka Cipta. Aprilianingrum , F. 2006. Faktor Risiko Kondiloma akuminata Pada pekerja seks Komersial (Studi Kasus Pada PSK Resosialisasi Argorejo Kota Semarang. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang Azwar, S. 2007. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar , Yogyakarta BKKBN, 2006 . Tanya Jawab Tentang Penigkatan Partisipasi Pria dalam KB Dan KR. BKKBN, Jakarta Badan Pusat Statistik Indonesia, 2007. Pekerja Seks di Bawah Umur. http://www.kespro.com. Diakses Tanggal 11 Juni 2011. Benson, R. C. dkk. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi, Edisi 9. Jakarta: EGC. Daili, F. Makes, W., Zubier, F., Judanarso, J. 2007. Penyakit Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Dewi, Tri Buana T. 2008.Hubungan Perilaku Pekerja Seks Komersial Dengan Kejadian Penyakit Sifilis dan HIV di Lokalisasi Perbatasan Kecamatan Bagan Sinembah Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2008. Tesis, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera UtaraDandona R, Dandona L, Gutierrez JP, Kumar AG, McPherson S, Samuels F, Bertozzi SM; ASCI FPP Study Team. 2005. High risk of HIV in non-brothel based Female sex workers in India. BMC Public Health. Davison CG. Dkk. 2004. Abnormal Pscychologi. 9th ed. John Wiley & Sons, inc Dianawati A. 2003 . Pendidikan seks untuk remaja. Jakarta : Kawan Pustaka Dinkes Kota Medan. 2005. Profil Kesehatan Kota Medan tahun 2005. Depkes. RI. 2004. Pedoman Penatalaksanaan PMS, Jakarta. Depkes. RI. 2007.Kesehatan Reproduksi. Jakarta. Depkes. RI. 2008. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia. Ditjen PPM & PLP Depkes RI. Eka 2008. Pekerja Seks Komersial. Bandung. Universitas Sumatera Utara http://ekanurmawaty.blogspot.com/2010/103/Pekerja-Seks-Komersial.htm tanggal 4 November 2010 jam 13.12wib Fatmawati, 2004. Ilmu Perilaku, CV Infomedika, Jakarta Hartino, Aput. 2009. Faktor Risiko Kejadian Penyakit Menular Seksual (PMS) Pada Komunitas Gay Mitra Stratedis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta. [Skripsi] Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta Herbaleng NT. 2001. Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi dan Perilaku Seksual Remaja Berdasarkan Jenis Kelamin. [Skripsi] Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM Herdiana. Y. 2007. Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Siswa-siswi Tentang PERILAKU Seks Bebas di SMUN 6 Padeglang. Serang: STIKes Falatehan Hutagalung. E. 2002. Hubungan Karakteristik Anak Jalanan Terhadap Perilaku Seksualnya dan Kemungkinan Terjadinya Resiko Penyakit Menular Seksual (PMS) Di Kawasan Terminal Terpadu Pinang Baris Medan Tahun 2002. [Skripsi]. FKM Unair. Hutapea. R. 2003. AIDS & PMS dan Pemerkosaan . Jakarta : PT. Rineka Cipta. http://www.waspada.co.id/index.php, Dalam sepekan, lima PSK Bandar Baru terjangkit IMS, 2005. Diakses 2 Januari 2012 Iwan. 2006. Pencegahan terhadap PMS. Yogyakarta. http://www.pencegahanterhadapPMS/med/topic3359.htm, diakses tanggal 4 November 2010 jam 13.20 wib. Jaya Sari Mawar. 2002. Kebijakan dalam Kesehatan Reproduksi. Jaringan Epid Nasional Bekerjasama Dengan Ford Foundation. Kartono, Kartini. 2007. Patologi Sosial. Jilid I, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Kalina O. dkk. 2009. Psychological and Behavioural Factors Associated with Seksual Risk Behaviour Among Slovak Students. BMC Publich Health Journal. Vol. 9. No 15 KL, Wright. Dual Protection and Consistency of Condom Use. FHI Publications Networks. 2003; vol 22; no 4. http://www.fhi.org/en/RH/Pubs/Network/v22 4/nt2244.htm). KPAD SUMUT, 2007. Gambaran Kasus HIV dan AIDS Sumatera Utara, Medan. Kusniaty, E., 1988. Pengetahuan dan Sikap Remaja SMU Negeri Manna Tentang Kesehatan Reproduksi Di Kabupaten Bengkulu Selatan. FKM USU. Medan. Lamijo, 2009. Prostitusi di Jakarta Dalam Tiga Kekuasaan, 1930 – 1959. Sejarah dan Perkembangannya. http://sejarah.fib.ugm.ac.id/artdetail.php?id=22. Diakses pada tanggal 11 Desember 2011. Lestari DA. 2006. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dan Perilaku Pemeliharaan Organ Reproduksi Remaja Jalanan Mitra PKBI Yogyakarta. [Skripsi]. Fakultas Fakultas Kesehatan Masyarakat UAD Manuaba, Gde, Bagus, 2009. Memahami Reproduksi Wanita. ECG, Jakarta. Notoadmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar Jakarta : P.T.Asdi Mahasatya. Universitas Sumatera Utara Notoadmodjo, Soekidjo. 2003. Pengantar Pendidikan Kesehatan Dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Edisi I, Andi Offset, Yogjakarta. Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. P.T. Rineka Cipta, Jakarta. Notoadmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan seni .P.T Rineka Cipta, Jakarta Ratnawati R. 2002. Perilaku Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) Dalam UpayaPenanggulangan Penyakit Menular Seksual (PMS) Dan AIDS Di Kota Madiun Tahun 2002. [Skripsi] Surabaya : Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Riduwan, 2007. Rumus Dan Data dalam Analis Statistik. Alfabeta . Cetakan ke -2. Bandung. Satoto. 2001. The Right Condom on The Right Place. Semarang. Sarwono, S, 2004. Sosiologi Kesehatan. Gajah Mada UniversityPerss, Jogjakarta. Sarwono, S, W. 2007 . Psikologi Remaja. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta Singarimbun, dan Effendi, 1995. Metode Penelitian Survei. Lembaga Penelitian , Pendidikan dan penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Cetakan Ke dua, Jakarta. Sugiarto. (2010). Pelacuran Anak di Indonesia. Jakarta. http://id.tempo.com/pelacuran-anak-diIndonesia. Tanggal 10 April 2011. Jam 11.37 WIB. Soetjiningsih, 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. CV Sagung Seto, Cetakan Ke 2 , Jakarta United Nations Joint Programme on HIV/AIDS and World Health Organization. AID Epidemic Update 2006. Joint United Nations Programme on HIV/AIDS /World Health Organization. Geneva. Varga CA. 1997. The condom conundrum: Barriers to condom use among Commercial sex workers in Durban South Africa. African Journal of Reproductive Health Wasono. (2010) . Clinic For Children. Jakarta. http://id.wikipidia.org. Tanggal 10 April 2011. Jam 12.05 WIB Wahyuni, Nurul S dan Saiful Nur H. 2009. Pengetahuan PSK Tentang PMS Mempengaruhi Perilaku PSK Dalam Mencegah Penularan PMS. [Jurnal]. Fakultas Ilmu Kesehatan UNMUH Ponorogo Universitas Sumatera Utara .2000. Leaflet Fakta tentang HIV/AIDS. Diadaptasi dari The Global Business Council on HIV/AIDS www.businessfightaids.org. Family Health International. USAID. . Mitosmitos Seputar PMS http://www.bkkbn.go.id.hqweb/ceria/pengelolaceria/pp3pms.html , Diakses tanggal : 11 Mei 2012 . 1998. Population Report Man Made Differences : Slowing The Spread of HIV / AIDS. Vol XXXI. Number 2. Universitas Sumatera Utara 1. Analisis Univariat Frequencies Statistics Total skor N Total skor pengetahuan Total skor sikap tindakan responden responden responden Valid 78 78 78 0 0 0 Mean 2.14 1.17 1.33 Median 2.00 1.00 1.00 Std. Deviation .350 .375 .501 Minimum 2 1 1 Maximum 3 2 3 Missing Total skor pengetahuan responden Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent CUKUP 67 85.9 85.9 85.9 KURANG 11 14.1 14.1 100.0 Total 78 100.0 100.0 Total skor sikap responden Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 1 65 83.3 83.3 83.3 2 13 16.7 16.7 100.0 Total 78 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Total skor tindakan responden Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 1 53 67.9 67.9 67.9 2 24 30.8 30.8 98.7 3 1 1.3 1.3 100.0 78 100.0 100.0 Total 2. Analisis Bivariat a. Hubungan Pengetahuan Wanita Pekerja Seks Komersial dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual Crosstabs Case Processing Summary Cases Valid N Missing Percent N Total Percent N Percent Total skor pengetahuan responden * Total skor 78 100.0% 0 .0% 78 100.0% tindakan responden Universitas Sumatera Utara Total skor pengetahuan responden * Total skor tindakan responden Crosstabulation Total skor tindakan responden 1 Total skor pengetahuan CUKUP responden Count Total 24 1 67 45.5 20.6 .9 67.0 62.7% 35.8% 1.5% 100.0% 79.2% 100.0% 100.0% 85.9% 53.8% 30.8% 1.3% 85.9% Count 11 0 0 11 Expected Count 7.5 3.4 .1 11.0 100.0% .0% .0% 100.0% 20.8% .0% .0% 14.1% 14.1% .0% .0% 14.1% 53 24 1 78 53.0 24.0 1.0 78.0 67.9% 30.8% 1.3% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 67.9% 30.8% 1.3% 100.0% % within Total skor pengetahuan responden % within Total skor tindakan responden % of Total % within Total skor pengetahuan responden % within Total skor tindakan responden % of Total Total 3 42 Expected Count KURANG 2 Count Expected Count % within Total skor pengetahuan responden % within Total skor tindakan responden % of Total Universitas Sumatera Utara Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value df sided) a 2 .049 Likelihood Ratio 9.331 2 .009 Linear-by-Linear Association 5.667 1 .017 Pearson Chi-Square 6.041 N of Valid Cases 78 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .14. 2. Hubungan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Seksual Case Processing Summary Cases Valid N Missing Percent N Total Percent N Percent Total skor sikap responden * Total skor tindakan 78 100.0% 0 .0% 78 100.0% responden Universitas Sumatera Utara Total skor sikap responden * Total skor tindakan responden Crosstabulation Total skor tindakan responden 1 Total skor sikap responden 1 Count Expected Count % within Total skor sikap responden % within Total skor tindakan responden % of Total 2 Count Expected Count % within Total skor sikap responden % within Total skor tindakan responden % of Total Total Count Expected Count % within Total skor sikap responden % within Total skor tindakan responden % of Total 2 3 Total 44 20 1 65 44.2 20.0 .8 65.0 67.7% 30.8% 1.5% 100.0% 83.0% 83.3% 100.0% 83.3% 56.4% 25.6% 1.3% 83.3% 9 4 0 13 8.8 4.0 .2 13.0 69.2% 30.8% .0% 100.0% 17.0% 16.7% .0% 16.7% 11.5% 5.1% .0% 16.7% 53 24 1 78 53.0 24.0 1.0 78.0 67.9% 30.8% 1.3% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 67.9% 30.8% 1.3% 100.0% Universitas Sumatera Utara Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value df sided) a 2 .903 Likelihood Ratio .368 2 .832 Linear-by-Linear Association .041 1 .840 Pearson Chi-Square N of Valid Cases .204 78 a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .17. Universitas Sumatera Utara Kuesioner Penelitian Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012 I. Karakteristik Responden 1. Nomor Responden : 2. Umur : 3. Suku : 4. Pendapatan / Minggu : Rp. 5. Pendidikan : II. Tahun Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual Petunjuk: Pilihlah Jawaban yang sesuai dengan jawaban anda yang sebenarbenarnya dengan memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang anda pilih. 1. Apakah Kepanjangan dari PMS? a. Penyakir Menular Seksual(2) b. Penyakit Mengganggu Seks(1) c. Tidak tahu (0) 2. Menurut anda apa yang dimaksud dengan PMS? a. penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seks (2) b. penyakit yang timbul karena hubungan sex (1) c. Tidak tahu (0) 3. Menurut anda PMS dapat di tularkan melalui apa ? a. Hubungan badan atau seksual (2) b. Berinteraksi dengan orang yang menderita PMS (1) c. Tidak tahu (0) 4. Penyakit apa saja yang termasuk PMS? (jawaban boleh lebih dari satu) (jika responden menjawab≤ 5 item skornya 1, > 5 skornya 2) a. Gonorrhoe (GO) Universitas Sumatera Utara b. Sifilis c. HIV/Aids d. Herpes e. Clamydia f. Hepatitis B g. Endogenous h. Tidak tahu 5. Tindakan yang tidak akan menjadi penyebab penularan PMS dan HIV adalah? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawab 1-2 item skornya 1, 3-4 item skornya 2) a. Tidak berhubungan seksual dengan orang yang terkena PMS b. Menggunakan WC umum c. Bersentuhan kuliat dengan penderita PMS d. Berciuman e. Menggunakan kolam renang umum f. Tidak tahu (0) 6. Menurut anda kelompok yang berisiko tinggi terserang PMS adalah? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawab 1-2 item skornya 1, 3-4 item skornya 2) a. Pekerja seks komersial atau WTS b. Wisatawan/ turis c. Pecandu narkoba d. Homoseksual e. Tidak tahu 7. Menurut anda apakah penyebab terjadinya PMS? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawab 1-2 item skornya 1, 3-4 item skornya 2) a. Virus Universitas Sumatera Utara b. Jamur c. Bakteri/ kuman d. Parasit e. Tidak tahu 8. Cara yang dilakukan untuk melakukan pencegahan PMS adalah? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawab 1-2 item skornya1, 3-4 item skornya 2) a. Menggunakan kondom setiap akan berhubungan seks b. Tidak berhubungan seksual dengan penderita PMS c. Setia pada satu pasangan saja d. Menolak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang tidak menggunakan kondom e. Tidak tahu 9. Menurut anda bagaimanakah cara agar kita bisa terhindar dari Penyakit Menular Seksual? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawab 1-2 item skornya1, 3-4 item skornya 2) a. memutuskan rantai penularan infeksi PMS b. Mencegah berkembangnya PMS serta komplikasinya c. Tidak melakukan hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan d. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual e. Tidak tahu 10. Menurut anda seks yang tidak aman yang berisiko menimbulkan PMS adalah? a. Melakukan hubungan seksual lewat vagina, anus, dan oral tanpa kondom (penis di dalam vagina, anus dan mulut) (2) b. Seks tanpa tanpa kondom (1) c. Tidak tahu (0) 11. Menurut anda bagian tubuh yang dapat terpengaruh PMS? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawan≤ 5 item skornya 1, > 5 item skornya 2) a. Saluran indung telur b. Indung telur Universitas Sumatera Utara c. Rahim d. Kandung kencing e. Leher rahim f. Vagina g. Saluran kencing h. Anus i. Tidak tahu 12.Menurut anda, gejala dari PMS yang terjadi pada wanita adalah? a. Terjadi peningkatan keputihan (tidak normal) yang memiliki bau tidak sedap dan berlendir (2) b. Keputihan yang tidak normal dari vagina (1) c. Tidak tahu (0) 12. Apa saja yang tergolong penyakit menular seksual yang disebabkan oleh organisme dan bakteri? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawab ≤ 5 skornya 1, > 5 skornya 2) a. HIV/Aids b. Gonorrhoea c. Infeksi chlamidia d. Siffilis e. Vaginitis f. Candidiasis g. Chancriod h. Granuloma inguinale i. Infeksi panggul j. Tidak tahu 13. Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus adalah? a. Herpes, Viral hepatitis, genital warts (2) b. HIV/Aids (1) c. Tidak tahu (0) Universitas Sumatera Utara 14. Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit adalah? a. Trichomoniasis, pediculas (2) b. Herpes (1) c. Tidak tahu (0) 15. Menurut anda ancaman penyakit menular seksual pada PSK adalah? a. PMS akan merusak organ reroduksi dan menimbulkan kecacatan dan kematian (2) b. PMS akan menimbulkan gejala nyeri, gatal atau keluarnya cairan (1) c. Tidak tahu (0) 16. Menurut anda, yang dimaksud dengan kondom adalah? a. Alat kontrasepsi yang terbuat dari latex (1) b. Alat kontrasepsi yang terbuat dari karet, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma (2) c. Tidak tahu (0) 17. Kondom dapat digunakan sebagai? a. Alat kontrasepsi dan alat untuk mencegah penularan penyakit kelamin pada saat bersenggama (2) b. Alat Kontrasepsi saja (1) c. Tidak tahu (0) 18. Tempat-tempat untuk memperoleh kondom adalah? (jawaban bisa lebih dari satu) (jika responden menjawab≤ 5 skornya 1, > 5 skornya 2) a. Apotek b. Klinik KB c. PPKBD/ Sub PPKBD d. Pos KB Desa e. Toko Obat f. Pasar Swalayan g. Puskesmas k. Vending Machine Universitas Sumatera Utara l. Tidak tahu 19. Cara menggunakan kondom yang baik dan benar adalah? a. Buka bungkus kondom, dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya kemudian pencet ujung kondom agar tidak ada udara didalamnya, letakkan pada kepala penis, pastikan penis dalam keadaan tegang, pada saat memasang gunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga kepangkal penis, jangan menggunakan kuku agar kondom tidak robek (2) b. Buka bungkus kondom, dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya kemudian letakkan pada kepala penis, pastikan penis dalam keadaan tegang (1) c. III. Tidak tahu (0) Sikap tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual Mohon berikan sikap anda terhadap hal-hal sebagai berikut ; (berikan tanda ceklis √( ) dengan masing-masing kotak yang disediakan sesuai jawaban anda.) Petunjuk: SS = sangat setuju N = Netral S = Setuju TS = Tidak setuju STS = Sangat tidak setuju Pernyataan o S S TS Berhubungan seksual dengan berganti- Universitas Sumatera Utara 0 IV. ganti pasangan dapat menularkan PMS. Menggunakan kondom dalam berhubungan seksual dapat mencegah penularan PMS.. Wanita PSK yang berresiko tinggi untuk tertular HIV/AIDS sangat penting memeriksakan kesehatannya ke petugas kesehatan untuk mengetahui apakah terinfeksi virus HIV. Setiap berhubungan seksual (oral, anal dan vaginal) sebaiknya menggunakan kondom. Penggunaan kondom dalam berhubungan seksual tidak penting, yang utama menjaga daya tahan tubuh agar tetap fit. Sebaiknya segera memeriksakan ke petugas kesehatan jika terdapat keluhan seperti gatal, nyari dan panas saat buang air kecil. Menggunakan kondom adalah tindakan yang kurang efektif, hanya buang-buang uang. Pemakaian kondom saat berhubungan seksual dapat mengurangi kenikmatan sehingga banyak yang tidak menggunakannya. Selain anda, pelanggan juga menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual. Sebaiknya kita harus menambah informasi tentang PMS. Tindakan tentang Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual Apakah anda pernah melakukan hal-hal sebagai berikut? (berikan tanda ceklis √( ) dengan masing-masing kotak yang di sediakan sesuai jawaban anda.) No Item Pertanyaan Ya Tidak 1 Anda pernah memeriksakan kesehatan ke petugas kesehatan 2 Anda memeriksakan diri kepetugas kesehatan secara rutin 3 Anda penderita PMS, Apakah anda terus melakukan hubungan seksual dengan pelanggan anda Universitas Sumatera Utara 4 5 6 7 8 9 10 Anda tahu pelanggan anda terkena PMS, apa anda akan tetap lakukan hubungan seksual dengan pelanggan anda tersebut Anda penderita PMS, Apakah anda melakukan pemeriksaan secara rutin ke petugas kesehatan Apakah ada petugas kesehatan yang datang ketempat anda untuk pemeriksaan atau pembagian kondom gratis Apakah pasangan anda selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual Anda menyarankan untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pelanggan anda dan pelanggan anda menolak, apa anda akan tetap berhubungan seksual Apakah anda melakukan oral seks saat pasangan anda tidak menggunakan kondom Apakah anda melakukan Anal seks saat pasangan anda tidak menggunakan kondom Universitas Sumatera Utara N Umu O r Suk u 1 2 3 23 28 22 4 5 6 7 27 23 35 22 8 30 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 28 24 Jawa Jawa Mela yu Jawa Jawa Jawa Bata k Mela yu Jawa Jawa 23 39 Pend Peng apat et_1 an 2 1 2 1 2 1 Master Tabel Peng Peng Peng et_2 et_3 et_4 Peng et_5 Peng Peng et_6 et_7 Peng et_8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 0 1 1 1 1 2 2 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 2 2 2 0 0 0 1 0 1 1 2 2 1 1 2 1 0 2 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 Jawa 2 1 1 1 1 0 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 25 Bata k Jawa 2 1 1 1 1 0 1 0 1 26 Jawa 2 1 1 1 1 1 2 1 1 25 Jawa 2 1 0 1 0 1 1 1 1 25 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 2 24 Aceh 2 1 1 1 1 1 1 1 2 29 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 24 Jawa 2 1 0 1 0 1 1 1 0 20 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 33 Jwa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 27 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 0 0 22 Jawa 2 1 1 2 1 1 1 0 0 Universitas Sumatera Utara 3 2 4 2 5 2 6 2 7 2 8 2 9 3 0 3 1 3 2 3 3 3 4 3 5 3 6 3 7 3 8 3 9 4 0 4 1 4 2 4 3 4 4 4 26 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 2 23 Jawa 2 1 0 2 0 0 2 1 1 29 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 22 2 1 0 1 0 0 1 0 0 22 Bata k Jawa 2 1 0 2 0 0 2 1 1 22 Jawa 2 1 0 1 0 0 2 1 1 37 Jawa 2 1 1 1 1 1 2 0 0 36 2 1 1 2 1 1 2 1 1 24 Bata k Jawa 2 1 1 2 1 1 2 1 1 23 Jawa 2 1 1 2 1 1 2 1 1 34 Jawa 2 1 1 1 1 1 2 1 1 22 Jawa 2 1 1 1 1 0 1 1 1 31 2 1 1 2 1 1 2 1 2 22 Bata k Jawa 2 2 1 2 1 1 2 1 1 32 Jawa 2 2 1 2 1 1 2 1 1 22 Jawa 2 2 2 1 2 1 1 1 1 22 Jawa 2 2 2 1 2 1 1 1 1 24 Jawa 2 2 0 1 0 0 2 1 1 25 Jawa 2 1 2 1 2 1 1 1 1 29 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 22 Jawa 2 2 2 2 2 1 1 1 1 37 Jwa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 Universitas Sumatera Utara 5 4 6 4 7 4 8 4 9 5 0 5 1 5 2 5 3 5 4 5 5 5 6 5 7 5 8 5 9 6 0 6 1 6 2 6 3 6 4 6 5 6 6 6 42 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 23 Jawa 2 1 2 1 2 1 2 1 1 21 Jawa 2 1 1 2 1 1 2 1 2 20 Jawa 2 2 0 1 0 0 1 1 1 19 Jawa 2 2 0 1 0 0 1 1 1 35 Jawa 2 1 2 1 2 1 1 1 1 33 Jawa 2 1 2 1 2 1 1 1 1 25 2 1 1 2 1 1 2 1 1 23 Bata k Jawa 2 1 0 1 0 0 1 1 1 27 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 32 Jawa 2 2 1 2 1 1 2 0 1 31 Jawa 2 2 1 2 1 1 2 1 1 22 Jawa 2 2 1 1 1 1 2 1 1 35 Jawa 2 2 1 2 1 0 2 1 1 30 Jawa 2 1 1 1 1 1 2 1 1 27 Jawa 2 1 1 1 1 1 2 1 1 27 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 23 Bata k Mina ng Jawa 2 1 1 2 1 1 1 1 1 24 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 24 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 24 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 25 Universitas Sumatera Utara 7 6 8 6 9 7 0 7 1 7 2 7 3 7 4 7 5 7 6 7 7 7 8 26 Jawa 2 1 1 1 1 1 2 1 1 28 Jawa 2 1 2 1 2 1 1 0 1 35 Jawa 2 1 2 1 2 1 1 1 1 26 Mela yu Jawa 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 0 2 0 0 1 1 0 22 Mela yu Jawa 2 1 1 1 1 1 2 1 1 26 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 22 Jawa 2 1 1 2 1 1 1 1 1 23 Jawa 2 1 1 1 1 1 1 1 1 24 Bata k 2 1 1 1 1 1 1 1 1 27 24 Peng et_9 Peng et_10 Peng et_11 Peng et_12 Peng et_13 Peng et_14 Peng et_15 Peng et_16 Peng et_17 Peng et_18 Peng et_19 Peng et_20 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 Universitas Sumatera Utara 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 0 2 1 2 1 1 2 1 0 0 2 2 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 0 2 1 2 1 1 2 1 0 0 2 2 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 0 2 1 2 1 1 2 1 0 0 2 2 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 0 2 1 2 1 1 2 1 0 0 2 2 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 Universitas Sumatera Utara 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 0 1 1 1 1 1 Sikap_1 2 4 4 4 2 2 2 2 4 4 4 3 2 Sikap_2 3 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Sikap_3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Sikap_4 4 4 5 5 4 5 5 5 5 5 3 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 2 1 2 Sikap_5 4 5 5 2 5 5 3 5 4 5 5 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 0 1 1 1 1 1 Sikap_6 4 5 4 5 4 5 5 5 5 5 4 2 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 0 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 Sikap_7 4 5 5 4 5 5 1 4 4 5 5 5 5 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Sikap_8 4 5 5 2 5 5 4 5 4 5 5 5 5 2 2 2 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 Sikap_9 Sikap_1 2 5 4 5 4 5 4 5 2 5 2 5 2 5 2 5 4 5 4 5 4 5 3 5 2 5 Universitas Sumatera Utara 4 4 1 4 4 4 2 1 1 1 2 2 4 1 1 2 2 5 5 5 4 4 3 4 2 4 4 4 4 3 4 5 4 2 4 4 4 4 5 3 5 4 1 5 4 1 5 5 2 2 1 4 4 2 4 4 4 4 4 5 5 5 1 4 1 4 4 4 4 3 2 1 1 4 4 1 1 5 4 4 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 2 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 3 5 5 5 5 4 4 3 5 5 4 4 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 2 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 2 4 5 4 4 1 3 1 5 5 1 4 2 5 5 5 4 5 5 4 4 5 5 4 5 5 4 4 2 2 4 2 5 2 5 5 5 2 4 4 5 5 4 4 5 5 4 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 4 5 5 2 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 4 4 5 4 5 1 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 4 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 4 4 5 4 5 1 4 5 5 5 5 5 1 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 4 5 4 4 4 4 5 5 5 5 4 5 5 5 2 5 4 Universitas Sumatera Utara 4 4 1 4 4 4 2 1 1 1 2 2 4 1 1 2 2 5 5 5 4 4 3 4 2 4 4 4 4 3 4 5 4 2 4 4 4 4 5 3 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 2 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 2 5 5 3 2 4 5 4 4 3 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 4 5 4 4 5 2 4 5 2 4 4 4 1 2 3 4 4 4 4 4 5 5 5 4 5 4 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 4 5 5 5 2 4 5 4 5 3 4 2 3 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 4 5 5 5 4 2 5 4 5 4 2 4 5 5 2 4 4 1 1 4 4 4 5 5 4 4 4 4 5 5 4 5 4 5 4 4 4 4 5 4 3 4 5 5 4 5 4 5 5 4 4 5 5 5 5 4 5 5 4 5 1 5 5 5 2 3 3 1 1 5 5 5 5 5 Tinda Tinda Tinda Tinda Tinda Tinda Tinda Tinda Tinda k_1 k_2 k_3 k_4 k_5 k_6 k_7 k_8 k_9 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 4 4 1 1 5 5 5 5 4 5 4 1 5 5 5 1 5 5 1 1 4 5 3 5 5 4 4 2 5 5 3 2 4 5 4 4 3 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 4 5 Tinda k_10 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 Universitas Sumatera Utara 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 1 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 Universitas Sumatera Utara 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 Pengetahuan_tot 16 17 8 24 24 22 23 20 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 Sikap_tot 46 47 41 41 43 36 42 44 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 Tindakan_tot 10 10 9 5 10 9 9 10 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Pengetahuan_PMS 3 3 3 2 2 2 2 2 Universitas Sumatera Utara Sikap_PMS 1 1 1 1 1 2 1 1 24 17 21 17 24 14 20 19 19 11 20 20 17 18 19 16 20 8 15 14 21 25 25 24 24 18 25 26 26 26 26 15 24 19 26 19 18 29 24 11 47 44 39 39 43 42 34 42 46 32 40 38 38 38 32 42 36 35 37 39 40 49 49 49 44 47 41 40 40 44 42 44 43 29 44 43 44 38 44 44 8 7 5 7 10 9 10 8 9 10 5 7 9 9 7 10 7 8 10 10 9 7 7 4 4 9 7 10 10 10 6 10 7 6 4 7 8 2 5 10 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 3 3 2 2 3 Universitas Sumatera Utara 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 11 24 24 23 10 18 23 26 25 22 22 24 18 23 19 19 19 19 23 24 24 22 30 12 22 18 21 19 21 44 42 48 42 40 40 39 42 49 42 35 47 45 46 39 30 39 42 47 37 42 43 36 38 42 46 44 47 50 10 10 10 7 10 7 10 10 10 8 9 10 9 9 7 7 10 10 10 10 10 10 10 10 5 8 10 10 10 3 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 3 2 Universitas Sumatera Utara 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Negeri 7 Medan
10
81
63
Gambaran Karakteristik Infeksi Menular Seksual (IMS) Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Pada Tahun 2012
4
62
85
Hubungan Faktor Pendukung dan Faktor Penguat Pekerja Seks Komersil Dengan Pemanfaatan Klinik VCT (Voluntary Conselling Testing)Di Wilayah Kerja Puskesmas Wisata Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012
2
46
176
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) Di Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Tahun 2012
4
40
154
Faktor- Faktor yang Berhubungan Dengan Penggunaan Kondom Pada Pelanggan Wanita Pekerja Seks Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Menular Seksual Di Belawan Tahun 2005
2
29
133
Gambaran Distribusi Penyakit Menular Seksual Dan Faktor Yang Berhubungan Dengan Penderita PMS Pada WTS Di Lokasi Desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Tahun 2000
0
31
85
Hubungan Sosiodemografi, Pengetahuan, dan Sikap Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan Upaya Pencegahan HIV/AIDS di Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir Propinsi Riau
0
79
120
Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Tindakan Pemakaian Kondom Dalam Upaya Pencegahan Penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) Di Kota Medan Tahun 2010
3
40
99
Pengetahuan Dan Sikap Pekerja Seks Komersial (PSK) Tentanginfeksi Menular Seksual (IMS) Di Desa Naga Kesiangan Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2010
4
49
92
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara Tentang Infeksi Menular Seksual (IMS)
0
28
60
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Terhadap Penyakit Menular Seksual Di Puskesmas Padang Bulan Medan
3
81
77
Hubungan Perilaku Pekerja Seks Komersial Dengan Kejadian Penyakit Sifilis Dan HIV Di Lokalisasi Perbatasan Kecamatan Bagan Sinembah Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2008
1
58
92
Karakteristik Pekerja Seks Komersil(PSK) Dan Faktor Yang Berhubungan Dengan Penyakit Menular Seksual (PMS) Di Lokasi Bukit Maraja Kabupaten Simalungun Tahun 2003
0
28
116
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infeksi Menular Seksual 2.1.1 Definisi dan Epidemiologi Infeksi Menular Seksual - Studi Kualitatif Pencegahan Penyakit Infeksi Menular pada Komunitas Waria di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013
0
0
26
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infeksi Menular Seksual 2.1.1 Definisi dan Epidemiologi Infeksi Menular Seksual - Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Negeri 7 Medan
0
0
15
Show more