Feedback

Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011

Informasi dokumen
SKRIPSI PENGARUH KEPATUHAN DAN MOTIVASI PENDERITA TB PARU TERHADAP TINGKAT KESEMBUHAN DALAM PENGOBATAN DI PUSKESMAS SADABUAN KOTA PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2011 Oleh : INDAH DOANITA HASIBUAN NIM. 091000195 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan penting bagi masyarakat di dunia hingga saat ini termasuk Indonesia. Puskesmas Sadabuan merupakan puskesmas yang memiliki angka kesembuhan terendah dari 9 puskesmas yang ada di Kota Padangsidimpuan. Jumlah penderita TB Paru BTA positif di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan pada Tahun 2008 sebanyak 103 orang dengan angka kesembuhan 85,44%. Pada Tahun 2009, terdapat 61 penderita TB Paru BTA positif tapi angka kesembuhan hanya 63,93%. Hal ini berarti terjadi penurunan angka kesembuhan di Puskesmas Sadabuan dan belum mencapai target yang ditetapkan yaitu minimal 85%. Jenis penelitian ini menggunakan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh kepatuhan dan motivasi (dukungan keluarga/PMO, dorongan petugas dan rasa tanggung jawab) terhadap tingkat kesembuhan dalam pengobatan TB paru di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011. Populasi adalah seluruh penderita TB paru BTA positif yang tercatat di form TB-01 dengan sampel sebanyak 44 orang. Uji statistik yang digunakan adalah regresi logistik ganda. Hasil uji statistik bivariat menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai pengaruh terhadap tingkat kesembuhan pengobatan TB paru yaitu kepatuhan penderita (p=0,000), dukungan keluarga/PMO (p=0,005), dorongan petugas kesehatan (p=0,033), dan rasa tanggung jawab (p=0,000). Variabel yang paling dominan memberikan pengaruh terhadap tingkat kesembuhan pengobatan TB Paru, yaitu kepatuhan penderita (B=3.408). Untuk meningkatkan kesadaran (awarenes) penderita TB, perlu adanya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang penyakit TB paru, penyuluhan atau pemberian bimbingan konseling kepada penderita sehingga penderita lebih paham akan penyakit yang dideritanya dan bertanggung jawab atas kesembuhannya. Kata kunci : Kesembuhan TB Paru, Kepatuhan dan Motivasi Universitas Sumatera Utara ABSTRACK Tuberculosis (TB) is one of the infectious disease remains a significant health problem for people in the world till now, including Indonesia. Sadabuan Health Center is a clinic that has the lowest cure rate of 9 health centers in Padangsidimpuan City. The number of patients with Pulmonary TB positive BTA at Sadabuan health center Padangsidimpuan City by the Year 2008 as many as 103 people with cure rate 85.44%. In the year 2009, there were 61 patients with Pulmonary TB positive BTA but cure rate only 63.93%. This means decreasing of cure rate in Sadabuan Health Center and did not reach the target yet that was set at least 85%. This type of research using explanatory research that aims to explain the effect of adherence and motivation (family support / PMO, staff support and sense of responsibility) to cure level of pulmonary tuberculosis treatment at Sadabuan health center Padangsidimpuan City on 2011. The population were all patients with positive BTA pulmonary TB were recorded in the form of TB-01 with a sample size of 44 people. The statistic test was used multiple logistic regression. The results of bivariat statistic test showed that variables which had influence on treatment of Pulmonary TB cure rate, were patient compliance (p=0.000), the family support/PMO (p=0.005), staff support (p=0.033) and sense of responsibility (p=0.000). Variables that had dominant influence with treatment of Pulmonary TB cure rate was patient compliance (B=3.408). For increase TB patients awareness need IEC (Information, Education and Communication) about pulmonary tuberculosis diseases, extension or counseling to patients so that patients more understand about their diseases and responsible on their recovery. Key Word : Pulmonary TB cure, Compliance and Motivation Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Indah Doanita Hasibuan Tempat/Tgl Lahir : Sibuhuan, 26 Nopember 1984 Agama : Islam Status Perkawianan : Belum Menikah Jumlah anggota keluarga : 5 (anak ke-1 dari 5 bersaudara) Alamat Rumah : Jl. Setia Gg. Mulia No 36i Medan Riwayat Pendidikan 1990 – 1996 : SD Negeri No.142926 Barumun Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas 1996 – 1999 : SMP Negeri I Barumun Kecamatan Barumun 1999 – 2002 : SMU Negeri I Barumun 2002 – 2005 : DIII Ilmu Keperawatan USU Medan 2009 – 2011 : Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Medan Riwayat Pekerjaan 2005 – 2006 : Perawat Klinik Bersalin Elly Medan 2006 – 2009 : Staf Dinas Kesehatan Daerah Kota Padangsidimpuan Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011, guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan baik moril maupun materil oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Dr. Drs. Surya Utama, M.S., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2. dr. Heldy B.Z, M.P.H., selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Dosen Pembimbing I sekaligus sebagai Ketua Penguji. 3. Siti Khadijah Nst., SKM, M. Kes., selaku Dosen Pembimbing II dan Dosen Penguji I. 4. Prof. dr. Aman Nasution, M.P.H selaku Dosen Penguji II. 5. dr. Fauzi, SKM, selaku Dosen Penguji III. 6. Ir. Evi Naria, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing Akademik. 7. Para Dosen dan Staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara khususnya Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Universitas Sumatera Utara 8. Seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan secara khusus kepada drg. Khairunnisa, selaku Kepala Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan. 9. Terkhusus kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Darman Hasibuan dan Ibunda Pinta Marsaulina, adik-adikku Rini, Ikhsan, Hafiz dan Obi yang senantiasa mendukung dan mendoakan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 10. Sahabat-sahabat terbaikku Sondari, Hariyanti dan Syafrina. 11. Teman-teman seperjuangan di Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya. Medan, Juli 2011 Penulis INDAH DOANITA HASIBUAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Halaman Persetujuan. Abstrak . Abstract . Daftar Riwayat Hidup. Kata Pengantar. Daftar Isi . Daftar Tabel. i ii iii iv v vii x BAB I PENDAHULUAN . 1.1. Latar Belakang . 1.2. Perumusan Masalah. 1.3. Tujuan Penelitian. 1.4. Manfaat Penelitian. 1 1 8 8 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Tuberkulosis . 2.1.1. Cara Penularan. 2.1.2. Risiko Penularan. 2.1.3. Gejala-gejala Tuberkulosis. 2.1.4. Penemuan Penderita Tuberkulosis Paru. 2.1.5. Diagnosis Tuberkulosis Paru. 2.1.6. Klasifikasi Penyakit. 2.1.7. Tipe Penderita Tuberkulosis Paru. 2.1.8. Pengobatan Tuberkulosis Paru. 2.1.8.1. Prinsip Pengobatan Tuberkulosis. 2.1.8.2. Hasil Pengobatan. 2.2. Penanggulangan TB Paru. 2.2.1. Rencana Global Penanggulangan TB Paru. 2.2.2. Strategi DOTS. 2.3. Pengawas Minum Obat (PMO). 2.4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesembuhan. 2.4.1. Kepatuhan Berobat. 2.4.2. Motivasi. 2.4.2.1. Definisi Motivasi. 2.4.2.2. Teori Motivasi. 2.5. Kerangka Konsep. . 2.6. Hipotesis Penelitian. 9 9 9 10 10 10 11 11 12 13 13 14 15 16 16 18 19 19 23 23 24 26 27 BAB III METODE PENELITIAN . 28 3.1. Jenis Penelitian . 28 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian. 28 Universitas Sumatera Utara 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. Populasi dan Sampel. Metode Pengumpulan Data . Definisi Operasional. Aspek Pengukuran. 3.6.1. Aspek Pengukuran Variabel Independen. 3.6.2. Aspek Pengukuran Variabel Dependen. 3.7. Teknik Analisa Data. 28 29 29 31 31 32 32 BAB IV HASIL PENELITIAN. 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian. 4.1.1. Letak Geografis. 4.1.2. Demografis. 4.1.3. Sumber Daya Kesehatan. 4.2. Analisis Univariat. 4.2.1. Deskripsi Karakteristik Responden. 4.2.2. Deskripsi Responden Berdasarkan Kepatuhan Penderita. 4.2.3. Deskripsi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga/PMO. 4.2.4. Deskripsi Responden Berdasarkan Dorongan Petugas Kesehatan . 4.2.5. Deskripsi Responden Berdasarkan Rasa Tanggung Jawab. . 4.2.6. Deskripsi Responden Berdasarkan Tingkat Kesembuhan Pengobatan. 4.3. Analisis Bivariat. 4.4. Analisis Multivariat. 4.5. Hasil Wawancara. 34 34 34 34 35 36 36 37 44 45 47 48 BAB V 50 PEMBAHASAN. 5.1. Pengaruh Kepatuhan Penderita terhadap Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru. 5.2. Pengaruh Motivasi terhadap Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru. 5.2.1. Pengaruh Dukungan Keluarga/PMO terhadap Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru. 5.2.2. Pengaruh Dorongan Petugas Kesehatan terhadap Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru. 5.2.3. Pengaruh Rasa Tanggung Jawab terhadap Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru. 5.3. Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi (Dukungan Keluarga/ PMO, Dorongan Petugas Kesehatan dan Rasa Tanggung Jawab) terhadap Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru. 5.4. Variabel Lain Memengaruhi Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru yang Ditemukan di Lapangan. 39 41 43 50 52 52 53 54 54 55 Universitas Sumatera Utara BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. 6.1. Kesimpulan. 6.2. Saran. 56 56 57 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. Kuesioner Hasil Pengolahan Statistik Surat Permohonan Izin Penelitian Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.1. Jumlah Kesakitan dan Kesembuhan TB Paru Menurut Puskesmas di Kota Padangsidimpuan Tahun 2008 - 2009 . 6 Tabel 3.1. Aspek Pengukuran Variabel Independen. 32 Tabel 3.2. Aspek Pengukuran Variabel Dependen . 32 Tabel 4.1. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin . 35 Tabel 4.2. Puskesmas Pembantu di Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan . 35 Tabel 4.3. Jenis Tenaga Kesehatan di Puskesmas Sadabuan . 36 Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan dan Pekerjaan . 37 Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan Penderita . 38 Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Kepatuhan Penderita . 39 Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga/ PMO . 40 Tabel 4.8. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Dukungan Keluarga/ PMO . 41 Distribusi Responden Berdasarkan Dorongan Petugas Kesehatan . 42 Tabel 4.10. Distribusi Kategori Dorongan Petugas Kesehatan . 42 Tabel 4.11. Distribusi Responden Berdasarkan Rasa Tanggung Jawab . 43 Tabel 4.12. Distribusi Kategori Rasa Tanggung Jawab . 44 Tabel 4.13. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Kesembuhan Pengobatan . 44 Tabel 4.14. Hubungan Kepatuhan Penderita dengan Tingkat Kesembuhan. 45 Tabel 4.9. Universitas Sumatera Utara Tabel 4.15. Hubungan Dukungan Keluarga/PMO dengan Tingkat Kesembuhan . 46 Tabel 4.16. Hubungan Dorongan Petugas Kesehatan dengan Tingkat Kesembuhan . 46 Tabel 4.17. Hubungan Rasa Tanggung Jawab dengan Tingkat Kesembuhan . 47 Tabel 4.18. Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Antara Kepatuhan Penderita, Dukungan Keluarga/PMO, Dorongan Petugas Kesehatan dan Rasa Tanggung Jawab dengan Tingkat Kesembuhan . 47 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian . 26 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan penting bagi masyarakat di dunia hingga saat ini termasuk Indonesia. Puskesmas Sadabuan merupakan puskesmas yang memiliki angka kesembuhan terendah dari 9 puskesmas yang ada di Kota Padangsidimpuan. Jumlah penderita TB Paru BTA positif di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan pada Tahun 2008 sebanyak 103 orang dengan angka kesembuhan 85,44%. Pada Tahun 2009, terdapat 61 penderita TB Paru BTA positif tapi angka kesembuhan hanya 63,93%. Hal ini berarti terjadi penurunan angka kesembuhan di Puskesmas Sadabuan dan belum mencapai target yang ditetapkan yaitu minimal 85%. Jenis penelitian ini menggunakan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh kepatuhan dan motivasi (dukungan keluarga/PMO, dorongan petugas dan rasa tanggung jawab) terhadap tingkat kesembuhan dalam pengobatan TB paru di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun responden (5,3%) yang menjawab melalui batuk, bersin yang mengandung kuman TBC dan terhirup oleh orang lain. Berdasarkan pertanyaan tentang keadaan yang dapat memperburuk penderita TB paru, 31 responden (81,6%) menjawab kebiasaan merokok atau lingkungan yang kotor, 3 responden (7,9%) menjawab kebiasaan merokok, lingkungan dan kurang gizi, sedangkan sisanya 4 responden (10,5%) tidak tahu. Menurut 22 responden (57,9%), semua orang tanpa batas usia dapat terkena penyakit TB Paru sedangkan 10 responden (26,3%) menyatakan bahwa orang yang Imelda Zuliana : Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan Dan Faktor Peran Pengawas Menelan Obat Terhadap Tingkat Kepatuhan Penderita Tb Paru Dalam Pengobatan Di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan Tahun 2009, 2010. 45 rentan terhadap penyakit TB Paru adalah orang dewasa. Sisanya 6 responden (15,8%) tidak tahu. Berdasarkan pertanyaan tentang lama pengobatan TB Paru yang diketahui, sebanyak 28 responden (73,7%) menjawab tidak tahu dengan alasan tidak pernah diberi informasi oleh petugas Puskesmas berapa lama harus mengkonsumsi obat, sedangkan responden yang menjawab 2 bulan sebanyak 8 responden (21%) dan yang menjawab 6 bulan hanya 2 responden (5,3%). Berdasarkan pertanyaan tentang pengobatan TB Paru, sebagian besar yaitu 33 responden (86,8%) menjawab minum obat setiap hari pada tahap awal dan tiga kali dalam seminggu pada tahap lanjutan. Hanya 4 responden (10,6%) yang menjawab pada tahap awal obat diminum setiap hari dan pada tahap lanjutan tiga kali dalam seminggu ditambah dengan pemeriksaan dahak sebanyak tiga kali. Sisanya 1 responden (2,6%) menjawab tidak tahu. Menurut 17 responden (44,7%) manfaat dari pemeriksaan dahak dan photo Rontgen adalah untuk memastikan penyakit atau memantau kemajuan pengobatan. Hanya 3 responden (7,9%) yang menjawab lengkap yaitu untuk memastikan penyakit, memantau kemajuan pengobatan dan memastikan kesembuhan sedangkan sebanyak 18 responden (47,4%) menjawab tidak tahu. Menurut 11 responden (28,9%) penyakit TB Paru dapat dicegah dengan meningkatkan gizi atau lingkungan yang bersih, sedangkan sisanya 27 responden (71,1%) menjawab tidak mengetahui cara pencegahan penyakit TB Paru (Tabel 4.5). Imelda Zuliana : Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan Dan Faktor Peran Pengawas Menelan Obat Terhadap Tingkat Kepatuhan Penderita Tb Paru Dalam Pengobatan Di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan Tahun 2009, 2010. 46 Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di Wilayah Kerja Puskesmas Pekan Labuhan Tahun 2009 No. Pengetahuan Responden Jumlah % 1. Penyakit TB Paru 1. Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri yang 6 15,7 menyerang paru dan dapat disembuhkan 2. Penyakit batuk darah 27 71,1 3. Tidak tahu 5 13,2 Jumlah 38 100 2. Penyebab Penyakit 1. Kuman Tuberkulosis 6 15,8 2. Bibit penyakit dan merokok 18 47,4 3. Tidak tahu 14 36,8 Jumlah 38 100 3. Cara Penularan 1. Melalui batuk, bersin yang mengandung kuman 2 5,3 TBC yang terhirup orang lain. 2. Melalui batuk dan makanan 24 63,1 3. Tidak tahu 12 31,6 Jumlah 38 100 4. Keadaan yang Memperburuk 1. Kebiasaan merokok, lingkungan dan kurang gizi 3 7,9 2. Kebiasaan merokok atau lingkungan / kurang gizi 31 81,6 3. Tidak tahu 4 10,5 Jumlah 38 100 5. Usia Rentan TB Paru 1. Semua orang tanpa batas usia 22 57,9 2. Semua orang terutama orang dewasa 10 26,3 3. Tidak tahu 6 15,8 Jumlah 38 100 6. Lama Pengobatan 1. 6 bulan 2 5,3 2. 2 bulan 8 21,0 3. Tidak tahu 28 73,7 Jumlah 38 100 7. Pengobatan TB Paru 1. Pada tahap awal minum obat setiap hari dan pada 4 10,6 tahap lanjutan tiga kali dalam seminggu 2. Pada tahap awal minum obat setiap hari dan pada tahap lanjutan tiga kali dalam seminggu dan 33 86,8 pemeriksaan dahak sebanyak tiga kali 3. Tidak tahu 1 2,6 Jumlah 38 100 Imelda Zuliana : Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan Dan Faktor Peran Pengawas Menelan Obat Terhadap Tingkat Kepatuhan Penderita Tb Paru Dalam Pengobatan Di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan Tahun 2009, 2010. 47 Lanjutan Tabel 4.5. No. Pengetahuan Responden 8. Manfaat Pemeriksaan Dahak dan Rontgen 1. Untuk memastikan menderita penyakit TB Paru, memantau kemajuan pengobatan dan memastikan kesembuhan 2. Untuk memastikan menderita penyakit TB Paru atau memantau kemajuan pengobatan atau memastikan kesembuhan 3. Tidak tahu Jumlah 9. Cara Pencegahan 1. Meningkatkan gizi, memberikan imunisasi BCG, memberikan pengobatan pencegahan 2. Meningkatkan gizi atau memberikan imunisasi BCG atau memberikan pengobatan pencegahan 3. Tidak tahu Jumlah Jumlah % 3 7,9 17 44,7 18 38 47,4 100 0 0 11 28,9 27 38 71,1 100 Berdasarkan hasil penelitian, 28 responden (73,7%) mengalami efek samping selama mengkonsumsi OAT dengan efek yang banyak dirasakan adalah warna kemerahan pada urine, mual dan gangguan pencernaan lainnya, gatal dan kemerahan pada kulit, kesemutan dan rasa terbakar di kaki, dan nyeri sendi (Tabel 4.6). Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Efek Samping OAT di Wilayah Kerja Puskesmas Pekan Labuhan Tahun 2009 No. Efek Samping OAT Ada % Tidak % 1. Efek samping yang dialami 28 73,7 10 26,3 2. Mengganggu aktivitas sehari-hari 25 65,8 13 34,2 3. Mengatasi dengan cara sendiri 13 34,2 25 65,8 Sebanyak 25 responden (65,8%) mengaku terganggu aktivitas sehari-harinya akibat efek samping tersebut sekitar 1-7 hari. Awalnya responden akan mengatasi gangguan tersebut dengan cara yang diketahuinya sendiri seperti membeli obat yang dijual bebas di warung-warung atau membiarkannya saja sampai efek tersebut hilang Imelda Zuliana : Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan Dan Faktor Peran Pengawas Menelan Obat Terhadap Tingkat Kepatuhan Penderita Tb Paru Dalam Pengobatan Di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan Tahun 2009, 2010. 48 dengan sendirinya. Namun, sebagian responden memilih berobat ke Puskesmas untuk menghindari bertambah parahnya penyakit 4.3. Faktor Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan pada penelitian ini meliputi: ketersediaan OAT, sikap petugas kesehatan, lokasi/jarak, penyuluhan kesehatan, dan kunjungan rumah. Ketersediaan OAT dilihat dari tersedia atau tidaknya OAT pada saat jadwal pengambilan obat responden dan kualitas obat yang diperoleh dari Puskesmas. Sikap petugas kesehatan diukur melalui keramahan petugas, perhatian terhadap keluhan responden, penjelasan tentang penyakit yang diderita responden, mengingatkan jadwal periksa ulang, perhatian terhadap kemajuan dan efek samping yang mungkin dialami responden, dan tentang pemungutan biaya perobatan. Lokasi/jarak diukur dengan jarak tempuh, transportasi dari dan ke Puskesmas, dan biaya transportasi. Kunjungan rumah dinilai berdasarkan pernah atau tidaknya petugas berkunjung ke rumah responden dan kegiatan yang dilakukan pada saat kunjungan tersebut, s edangkan penyuluhan kesehatan diukur dari ada tidaknya penjelasan petugas tentang penyakit TB Paru, penjelasan tentang jadwal minum obat, penjelasan manfaat minum obat secara benar, penjelasan tentang kemungkinan adanya efek samping dari OAT dan penjelasan tentang PMO. Berdasarkan hasil penelitian, seluruh responden (100%) menyatakan bahwa OAT selalu tersedia dan berkualitas baik yaitu kondisi fisik obat dan kemasannya selalu dalam keadaan bagus dan warna obat tidak berubah, namun responden tidak Imelda Zuliana : Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan Dan Faktor Peran Pengawas Menelan Obat Terhadap Tingkat Kepatuhan Penderita Tb Paru Dalam Pengobatan Di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan Tahun 2009, 2010. 49 pernah memerhatikan tanggal kadaluarsa obat. Dalam hal sikap petugas kesehatan, sebanyak 38 responden (100%) menyatakan bahwa petugas kesehatan di Puskesmas Pekan Labuhan ramah, memerhatikan keluhan responden, memberikan keterangan yang jelas tentang cara memakan obat, selalu menanyakan kemajuan pengobatan dan menanyakan ada tidaknya efek samping yang diderita oleh responden. Terdapat 3 responden (7,9%) yang pernah dipungut bayaran pada awal pengobatan TB Paru di Puskesmas Pekan Labuhan. Biaya yang dipungut oleh petugas kesehatan berkisar antara Rp.1000,- sampai dengan Rp.5000,-. Petugas kesehatan menjelaskan bahwa uang tersebut bukanlah pungutan wajib melainkan ”uang terima kasih” karena dahak pasien yang diperiksa terlalu parah dibandingkan dengan pasien yang lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 responden (86,8%) menyatakan jarak dari tempat tinggal mereka ke Puskesmas tidak menjadi hambatan karena sebagian besar tempat tinggal responden relatif tidak jauh dan berada satu lingkungan dengan Puskesmas; seluruh responden (100%) mengatakan bahwa alat transportasi baik karena Puskesmas Pekan Labuhan dilalui oleh banyak angkutan kota dan juga ojek; sebanyak 29 responden (76,3%) menyatakan bahwa biaya transportasi yang dibutuhkan terjangkau, hal ini dikarenakan Puskesmas yang dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki atau dengan ongkos angkutan kota sekitar Rp.2000,- pulang pergi. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 33 responden dan disegani oleh penderita. PMO seharusnya memberikan penyuluhan, mendorong, mengingatkan dan mengawasi penderita TB Paru menelan obat (Depkes RI, 2007) Universitas Sumatera Utara BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa tingkat kepatuhan berobat penderita TB Paru berada dalam kategori patuh sebanyak 22 responden (59,5%) dan sebanyak 15 responden (40,5%) termasuk dalam kategori tidak patuh. Responden yang tidak patuh berobat dikarenakan keluhan yang dirasakan sudah hilang setelah melewati pengobatan tahap awal, lupa minum obat karena mereka sibuk bekerja serta responden merasa bosan karena terlalu lama harus minum obat. 2. Terdapat pengaruh yang bermakna antara variabel pengetahuan responden (ρ=0,012) dan PMO (ρ=0,032) terhadap tingkat kepatuhan berobat penderita TB Paru. 3. Variabel yang tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan berobat penderita TB Paru adalah faktor pelayanan kesehatan berupa ketersediaan OAT, penyuluhan kesehatan dan sikap petugas kesehatan. 58 Universitas Sumatera Utara 59 6.2. Saran Berdasarkan hasil penelitian, peniliti mengajukan beberapa saran, yaitu : 1. Diharapkan petugas dapat memberi tahu dan menjelaskan secara jelas tugas-tugas seorang PMO sehingga peran pengawasan menjadi lebih optimal dan keberhasilan pengobatan dapat dicapai. 2. Diharapkan petugas melakukan penyuluhan kesehatan secara berkesinambungan dalam rangka peningkatan pengetahuan penderita TB Paru. 3. Hendaknya dibuat maping penderita yang tidak teratur berobat setiap tahun berdasarkan wilayah, yang kemudian dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Medan guna memudahkan intervensi dalam penanggulangan TB Paru. 4. Untuk mendukung kesempurnaan hasil penelitian ini sebaiknya ada penelitian lain pada masa mendatang secara kohort dan case control. Dengan adanya penelitian tersebut diharapkan menghasilkan data yang lebih sempurna untuk pengembangan upaya pemberantasan penyakit TB Paru. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Aditama, Tjandra Y. 1994. Tuberkulosis Penanggulangannya. UI Press. Jakarta. Paru: Masalah dan Aditama, Tjandra Y. 2002. Tuberkulosis : Diagnosis, Terapi dan Masalahnya. Yayasan IDI. Jakarta. Bart, Smet. 1994. Psikologi Kesehatan. PT. Grasindo. Jakarta. Crofton, John. 2002. Tuberkulosis Klinis. Edisi 2, Widya Medika. Jakarta. Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke8. Jakarta. --------------. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2, Cetakan Pertama. Jakarta. --------------. 2007. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Jakarta. -------------- dan WHO. 2008. Lembar Fakta Tuberkulosis. Jakarta. --------------. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta. Dinkes Kota Medan. 2010. Profil kesehatan Kota Medan 2009. Medan. Dinkes SU. 2005. Laporan Tahunan Program TB. Medan. Eliska. 2005. Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan, dan Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru di Puskesmas Teladan Medan Tahun 2005. Skripsi, FKM USU. Medan. Ester, Monica. 2000. Psikologi Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Freedman, Jonathan L. 1991. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hastono, S. P. 2001. Modul Analisa Data. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta. Ivanti, Risti. 2009. Pengaruh Karakteristik dan Motivasi Penderita Tuberkulosis Paru terhadap Kepatuhan Berobat di Balai Pengobatan Paru-paru (BP4) Medan Tahun 2009. Skripsi, FKM USU. Medan. 60 Universitas Sumatera Utara Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Simamora, Jojor. 2004. Faktor yang Memengaruhi Ketidakteraturan Berobat Penderita TB Paru di Puskesmas Kota Binjai Tahun 2004. Tesis. Pascasarjana USU. Medan. Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survei. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Yogyakarta. Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Administrasi. Penerrbit Alfa Beta. Bandung. Tanjung, Azhar dkk. 1995. Tuberkulosis Paru Dewasa Pada Penderita Batuk Kronik di Kecamatan Kotanopan. ISSN. Jakarta. WHO. 2010. Global Tuberculosis Control 2010. http://www.who.int/tb/data Yasril. 2009. Analisis Multivariat untuk Penelitian Kesehatan. Penerbit Mitra Cendikia Press. Jogjakarta. Zuliana, Imelda. 2009. Pengaruh Karakteristik Individu, Faktor Pelayanan Kesehatan dan Pengawas Minum Obat terhadap Kepatuhan Penderita TB Paru dalam Pengobatan di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan Tahun 2009. Skripsi, FKM USU. Medan. 61 Universitas Sumatera Utara KUESIONER PENELITIAN PENGARUH PENGETAHUAN PENDERITA TB PARU, FAKTOR PELAYANAN KESEHATAN DAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT DI PUSKESMAS AMPLAS KOTA MEDAN TAHUN 2011 A. Identitas Responden Nama Responden : Umur : Alamat : Pendidikan : 1. Tidak tamat SD 2. SD 3. SLTP Pekerjaan : 1. Tidak bekerja 4. SLTA 5. Akademi/ Sarjana 2. Bekerja (.) B. Pengetahuan Responden No 1 2 3 4 5 Pertanyaan Jawaban Tahu Tidak tahu Menurut Anda apa itu penyakit TB Paru? - Penyakit menular yang disebabkan oleh kuman/bakteri Anda tahu penyebab penyakit TB Paru? - Kuman Mycobacterium tuberculosis Anda tahu apa tanda seseorang terkena penyakit TB Paru? - Batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih, batuk bercampur darah, berkeringat pada malam hari tanpa kegiatan fisik. Anda tahu bagaimana cara penularan penyakit TB Paru? - Penularan penyakit TB Paru dapat terjadi melalui batuk, bersin yang mengandung kuman TB yang terhirup orang lain. Anda tahu kebiasaan yang memperburuk kesehatan penderita TB Paru? - Merokok, lingkungan dan kurang gizi. Universitas Sumatera Utara 6 7 8 9 Anda tahu bila tidak menelan obat sekali saja pengobatan bisa gagal? Anda tahu pemeriksaan apa yang dilakukan untuk dapat menegakkan seseorang menderita TB Paru? dahak, rontgen dan - Pemeriksaan laboratorium. Anda tahu berapa lama seorang penderita TB Paru harus minum obat? - Minum obat selama 6 bulan dengan tahap awal (2 bulan) obat diminum setiap hari dan dilanjutkan dengan minum obat 3x seminggu selama 4 bulan. Anda tahu kemungkinan efek samping yang dapat ditimbulkan OAT? - Warrna kemerahan pada air seni (urine), tidak ada nafsu makan, mual, sakit perut, nyeri sendi dan kesemutan sampai dengan rasa terbakar. C. Faktor Pelayanan Kesehatan Ketersediaan OAT 1. Apakah OAT selalu tersedia pada saat jadwal pengambilan obat di puskesmas? a. Ya b. Tidak 2. Apakah kualitas OAT yang Anda peroleh dari puskesmas dalam keadaan baik? a. Ya b. Tidak Penyuluhan Kesehatan No 1 2 Pertanyaan Jawaban Pernah Tidak pernah Apakah petugas kesehatan pernah memberikan penyuluhan tentang penyakit TB Paru selama dalam pengobatan? Apakah petugas kesehatan pernah menjelaskan tentang pengobatan TB Paru harus teratur? Universitas Sumatera Utara 3 4 5 No 1 2 3 4 5 Apakah petugas kesehatan pernah menjelaskan tentang jadwal minum obat? Apakah petugas kesehatan pernah menjelaskan tentang kemungkinan adanya gejala efek samping dari OAT ? Apakah petugas kesehatan pernah menjelaskan tentang hal-hal yang dapat memperburuk keadaan penderita TB Paru? Sikap Petugas Kesehatan Pertanyaan Jawaban Ya Tidak Apakah petugas kesehatan bersikap ramah dalam memberikan pelayanan kesehatan? Apakah petugas kesehatan menanggapi keluhan yang Anda sampaikan? Apakah petugas kesehatan dalam memberikan penjelasan mengenai penyakit Anda dan cara memakan obat sudah jelas? Apakah petugas kesehatan selalu mengingatkan Anda untuk periksa ulang dan mengambil obat ? Apakah petugas kesehatan menanyakan kemajuan yang Anda peroleh selama berobat ? Pengawas Menelan Obat 1. Apakah ada yang mengawasi anda menelan obat? a. Ada, siapa. b. Tidak ada 2. Apakah PMO selalu memberikan dorongan kepada Anda untuk berobat? a. Ya b. Tidak 3. Apakah PMO selalu mengingatkan Anda untuk mengambil obat dan memeriksakan dahak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan? a. Ya b. Tidak Universitas Sumatera Utara 4. Apakah PMO selalu mengawasi Anda dalam menelan obat? a. Ya b. Tidak 5. Apakah PMO selalu menegur Anda, bila Anda tidak mau atau lalai minum obat? a. Ya b. Tidak D. Kepatuhan Berobat No 1 2 3 4 Pertanyaan Jawaban Ya Tidak Apakah Anda selalu mematuhi petunjuk petugas kesehatan dan PMO dalam menelan obat? Bila tidak, alasan. Apakah selama pengobatan tahap awal (2 bulan) Anda meminum obat setiap hari? Bila tidak, alasan. Apakah selama pengobatan tahap lanjutan (4 bulan) Anda selalu meminum obat 3x seminggu? Bila tidak, alasan. Apakah Anda selalu mematuhi jadwal pemeriksaan dahak dan pengambilan obat yang telah ditetapkan? Bila tidak, alasan. Universitas Sumatera Utara
Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011 Cara Penularan Risiko Penularan Gejala-Gejala Tuberkulosis Penemuan Penderita Tuberkulosis Paru Deskripsi Responden Berdasarkan Dorongan Petugas Kesehatan Deskripsi Responden Berdasarkan Rasa Tanggung Jawab Deskripsi Responden Berdasarkan Dukungan KeluargaPMO Diagnosis Tuberkulosis Paru Tipe Penderita Tuberkulosis Paru Pengobatan Tuberkulosis Paru Hasil Wawancara Pengaruh Kepatuhan Penderita terhadap Tingkat Kesembuhan Kepatuhan Berobat Faktor- faktor yang memengaruhi Kesembuhan Kerangka Konsep Jenis Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Latar Belakang Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011 Pengaruh Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011 Perumusan masalah Tujuan Penelitian Pengawas Menelan Obat PMO Populasi dan Sampel Metode Pengumpulan Data Definisi Operasional Rencana Global Penanggulangan TB Strategi DOTS Directly Observed Treatment Shortcourse Teknik Analisis Data Analisis Bivariat Teori Penguatan Motivasi 1. Definisi Motivasi Umur Tahun Deskripsi Karakteristik Responden Variabel Lain Memengaruhi Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Kesimpulan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011

Gratis