Feedback

Karakterisasi Simplisia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat dan Etanol Daun Muda Dari Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Dengan Metode DPPH

Informasi dokumen
KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MADU HUTAN LHOKNGA, MONTASIK DAN SARE KABUPATEN ACEH BESAR SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL SKRIPSI OLEH: DIANA FEBRITA NIM 081524042 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MADU HUTAN LHOKNGA, MONTASIK DAN SARE KABUPATEN ACEH BESAR SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: DIANA FEBRITA NIM 081524042 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MADU HUTAN LHOKNGA, MONTASIK DAN SARE KABUPATEN ACEH BESAR SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL OLEH: DIANA FEBRITA NIM 081524042 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: Agustus 2011 Pembimbing I Panitia Penguji Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt. NIP 195103261978022001 Prof. Dr. Urip Harahap, Apt. NIP 195301011983031004 Pembimbing II, Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt. NIP 195103261978022001 Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt. NIP 195112231980032002 Dr. Marline Nainggolan, M.Si., Apt. NIP 195709091985112001 Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt. NIP 195107231982032001 Disahkan Oleh: Dekan Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ”Karakterisasi Simplisia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat dan Etanol Daun Muda Dari Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Dengan Metode DPPH”. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, Sudirman Nasir dan Mulida Gustina atas doa dan pengorbanannya dengan tulus dan ikhlas, juga kepada adik-adik tersayang yang selalu setia memberi doa, dorongan dan semangat. Penulis juga ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas selama masa pendidikan. 2. Ibu Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., dan Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt., selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan nasehat selama penelitian dengan penuh kesabaran hingga selesainya penyusunan skripsi ini. 3. Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt., Dr. Marline Nainggolan, M.Si., Apt., Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 4. Ibu Dra. Saodah, M.Sc, Apt., selaku dosen wali yang telah memberi bimbingan dan dorongan kepada penulis selama perkuliahan. 5. Ibu dan Bapak Kepala Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Farmakognosi yang telah memberikan fasilitas, petunjuk dan membantu selama penelitian. 6. Sahabat-sahabat terbaikku Rosdiana Lubis, Willy Delviana, Muzzammil di Farmasi Klinis dan Komunitas 2007 terima kasih atas segala perhatian dan kebersamaan selama ini. Medan, Agustus 2011 Penulis, Diana Febrita Universitas Sumatera Utara KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MADU HUTAN LHOKNGA, MONTASIK DAN SARE KABUPATEN ACEH BESAR SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL Abstrak Madu merupakan cairan kental yang di kumpulkan dalam indung madu oleh lebah. Madu mengandung asam organik, enzim, asam fenolat, flavonoid, beta karoten, Vitamin A, vitamin C dan Vitamin E. Dalam madu terdapat banyak nutrisi yang berfungsi sebagai antioksidan dan semua senyawa tersebut bekerjasama dalam melindungi sel normal dan menetralisir radikal bebas. Telah dilakukan karakterisasi dan penentuan aktivitas antioksidan pada madu hutan Lhoknga, hutan Montasik dan hutan Sare. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan peredaman 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visible. Karakterisasi madu dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Madu di uji aktivitas antioksidannya sebagai penangkap radikal 1,1diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visibel. Data diolah menggunakan rumus persen inhibihi untuk mendapatkan aktivitas antioksidan. Hasil pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap ketiga madu hutan Lhoknga, Montasik dan Sare merupakan cairan kental, berwarna coklat kemerahan, coklat kekuningan, coklat kekuningan tua, mempunyai bau dan rasa yang khas. Hasil mikroskopik madu menunjukkan adanya butir butir serbuk sari. Kadar air masing masing madu yang diperoleh 20,62%; 23,94%; 21,91%, kadar abu total 0,23%; 0,24%; 0,23% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,13%; 0,10%; 0,11%. Hasil uji aktivitas antioksidan ketiga madu dengan konsentrasi masingmasing 3000 µg/ml, 4000 µg/ml, 5000 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan madu hutan Lhoknga 73,34%; 73,89%; 79,66%; madu Montasik 63,36%; 68,88%; 74,18; madu Sare 65,58%; 67,17%; 75,06%. Sedangkan BHT sebagai pembanding dengan konsentrasi 20 µg/ml, 40 µg/ml, 60 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan 74,46%; 83,31%; 86,87%. BHT pada konsentrasi 20 µg/ml menunjukkan aktivitas antioksidan yang hampir sama dibandingkan dengan ketiga madu pada konsentrasi 5000 µg/ml. Peningkatan aktivitas antioksidan mempunyai arti bahwa telah terjadinya penangkapan radikal DPPH oleh madu. Kata kunci: madu hutan, aktivitas antioksidan, DPPH Universitas Sumatera Utara CHARACTERIZATION AND ANTIOXIDANT ACTIVITY TEST OF HONEY FROM LHOKNGA, MONTASIK, AND SARE FOREST IN ACEH BESAR REGENCY ACCORDING TO SPECTROPHOTOMETRY VISIBLE Abstract Honey is viscous liquid was collected in honey ovarian by bee. Honey contain of organic acid, enzyme, fenolic acid, flavonoid, beta caroten, Vitamin A, C and E. Honey contain many nutrision that use as antioxidant and all of that cooperate to save the normal cell from free radicals. It has been done characterization an antioxidant activity test of honey from Lhoknga, Montasik and Sare forest. Antioxidant activity determined by damping of 1.1-diphenyl-2picrylhydrazyl (DPPH) according to spectrophotometry visible. The characterization of honey by macroscopic examination, microscopic examination, determination of water content, total ash content and acid insoluble ash content. Honey was tested antioxidant activity assay as a catcher 1.1-diphenyl2-picrylhydrazyl (DPPH) radicals. The data were analyzed using a percen of inhibition equation to obtain antioxidant activity. The macroscopic examination of Honey from Lhoknga, Montasik and Sare forest is viscous liquid, reddish brown, fawn, dark fawn, has a special smell and taste. The microscopic examination of honey showed that they had bee pollen. The results obtained characteristic of each honey are 20.62%; 23.94%; 21.91% water content, 0.23%; 0.24%; 0.23% total ash content, 0.13%; 0.10%; 0.11% acid insoluble ash content. The result of antioxidant activity test all of three kind honey with each concentration 3000 µg/ml, 4000 µg/ml, 5000 µg/ml obtained the antioxidant activity of honey from Lhoknga 73.34%; 73.89%; 79.66%, honey from Montasik 63.36%; 68.88%; 74.18 and honey from Sare 65.58%; 67.17%; 75.06%. Whereas BHT as consideration with concentration 20 µg/ml, 40 µg/ml, 60 µg/ml obtained the antioxidant activity 74.46%; 83.31%; 86.87%. BHT 20 µg/ml showed antioksidan activity as same as with three of honey with consentration 5000 µg/ml. Increase value of antioxidant activity showed that occurrence radical DPPH catching. Keyword(s): forest honey, antioxidant activity, DPPH Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i LEMBAR PENGESAHAN . ii ABSTRAK . iii ABSTRAC . iv DAFTAR ISI . v DAFTAR TABEL . viii DAFTAR GAMBAR . ix DAFTAR LAMPIRAN . x BAB I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 3 1.3 Hipotesis . 3 1.4 Tujuan Penelitian . 4 1.5 Manfaat Penelitian. 4 1.6 Kerangka Pikir Penelitian . 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA . 5 2.1 Madu . 5 2.1.1 Proses Terbentuknya Madu . 5 2.1.2 Jenis Madu . 6 2.1.3 Kualitas Madu . 7 2.1.4 Kandungan Madu . 7 Universitas Sumatera Utara 2.1.5 Manfaat Madu . 9 2.2 Radikal Bebas . 9 2.3 Antioksidan . 10 2.3.1 Antioksidan Sintetik . 11 2.3.2 Butylated Hydroxytoluen (BHT) . 11 2.4 DPPH . 12 2.4.1 Pelarut . 13 2.4.2 Pengukuran Absorbansi-Panjang Gelombang. 13 2.4.3 Waktu Pengukuran . 13 2.5 Spektrofotometri . 14 BAB III.METODE PENELITIAN . 15 3.1 Alat-alat . 15 3.2 Bahan-bahan . 15 3.3 Pengumpulan Sampel . 15 3.4 Pembuatan Pereaksi . 16 3.4.1 Pereaksi Molish . 16 3.4.2 Pereaksi Benedict . 16 3.4.3 Pereaksi Seliwanoff . 16 3.4.4 Larutan DPPH 0,5 mM . 16 3.5 Pemeriksaaan Karakteristik Sampel . 16 3.5.1 Pemeriksaan Makroskopik . 16 3.5.2 Pemeriksaan Mikroskopik . 17 3.5.3 Penetapan Kadar Air . 17 3.5.4 Penetapan Kadar Abu Total . 17 Universitas Sumatera Utara 3.5.5 Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam . 18 3.6 Skrining Madu . 18 3.6.1 Pemeriksaan Flavonoid . 18 3.6.2 Pemeriksaaan Sukrosa . 18 3.6.3 Pemeriksaan Glukosa . 19 3.6.7 Pemeriksaan Fruktosa . 19 3.7 Pengujian Kemampuan Antioksidan Dengan Spektrofotometri Visibel . 19 3.7.1 Prinsip Metode DPPH . 19 3.7.2 Pengukuran Larutan DPPH . 19 3.7.3 Pembuatan Larutan Induk . 20 2.7.4 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Sampel Uji. 20 2.7.5 Pengukuran Aktivitas Antioksidan BHT . 20 2.7.6 Penentuan Persen Peredaman . 20 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN . 21 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN . 26 5.1 Kesimpulan . 26 5.2 Saran . 26 DAFTAR PUSTAKA . 27 LAMPIRAN . 29 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel Halaman 2.1 Persyaratan Kualitas Madu . 8 3.1 Hasil karakterisasi madu . 22 3.2 Hasil skrining fitokimia madu . 23 3.3 Data aktivitas antioksidan madu hutan Lhoknga, Montasik, Sare BHT . 24 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman Gambar 2.3.2.1 Rumus Bangun BHT . 11 Gambar 2.4.1 Rumus Bangun DPPH. 12 Gambar 2.4.2 Reaksi antara DPPH dengan atom H netral yang berasal dari antioksidan . 13 Gambar 2.5.1 Konstruksi Dasar dar Spektrofotometri . 14 Gambar 4.3.1 Grafik konsentrasi vs aktivitas antioksidan madu hutan Lhoknga, Montasik dan Sare . 25 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Bagan Kerja Penelitian . 29 2. Gambar Daerah Pengambilan Madu . 30 3. Gambar Makroskopik Madu . 31 4. Gambar Mikroskopik Madu . 32 5. Hasil Perhitungan Karakteristik Madu . 33 6. Gambar Alat Spektrofotometri UV-Vis . 38 7. Data absorbansi dan % inhibisi madu hutan Lhoknga, Montasik, Sare dan BHT . 39 8. Perhitungan % inhibisi madu hutan Lhoknga, Montasik, Sare dan BHT . 41 Universitas Sumatera Utara KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MADU HUTAN LHOKNGA, MONTASIK DAN SARE KABUPATEN ACEH BESAR SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL Abstrak Madu merupakan cairan kental yang di kumpulkan dalam indung madu oleh lebah. Madu mengandung asam organik, enzim, asam fenolat, flavonoid, beta karoten, Vitamin A, vitamin C dan Vitamin E. Dalam madu terdapat banyak nutrisi yang berfungsi sebagai antioksidan dan semua senyawa tersebut bekerjasama dalam melindungi sel normal dan menetralisir radikal bebas. Telah dilakukan karakterisasi dan penentuan aktivitas antioksidan pada madu hutan Lhoknga, hutan Montasik dan hutan Sare. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan peredaman 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visible. Karakterisasi madu dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Madu di uji aktivitas antioksidannya sebagai penangkap radikal 1,1diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) secara spektrofotometri visibel. Data diolah menggunakan rumus persen inhibihi untuk mendapatkan aktivitas antioksidan. Hasil pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap ketiga madu hutan Lhoknga, Montasik dan Sare merupakan cairan kental, berwarna coklat kemerahan, coklat kekuningan, coklat kekuningan tua, mempunyai bau dan rasa yang khas. Hasil mikroskopik madu menunjukkan adanya butir butir serbuk sari. Kadar air masing masing madu yang diperoleh 20,62%; 23,94%; 21,91%, kadar abu total 0,23%; 0,24%; 0,23% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,13%; 0,10%; 0,11%. Hasil uji aktivitas antioksidan ketiga madu dengan konsentrasi masingmasing 3000 µg/ml, 4000 µg/ml, 5000 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan madu hutan Lhoknga 73,34%; 73,89%; 79,66%; madu Montasik 63,36%; 68,88%; 74,18; madu Sare 65,58%; 67,17%; 75,06%. Sedangkan BHT sebagai pembanding dengan konsentrasi 20 µg/ml, 40 µg/ml, 60 µg/ml diperoleh nilai aktivitas antioksidan 74,46%; 83,31%; 86,87%. BHT pada konsentrasi 20 µg/ml menunjukkan aktivitas antioksidan yang hampir sama dibandingkan dengan ketiga madu pada konsentrasi 5000 µg/ml. Peningkatan aktivitas antioksidan mempunyai arti bahwa telah terjadinya penangkapan radikal DPPH oleh madu. Kata kunci: madu hutan, aktivitas antioksidan, DPPH Universitas Sumatera Utara CHARACTERIZATION AND d. Oxygen scavenger, yang mampu mengikat oksigen sehingga tidak mendukung reaksi oksidasi reduksi, misalnya vitamin C. e. Chelators atau sequestrant, yang dapat mengikat logam yang mengkatalisis reaksi oksidasi misalnya asam sitrat. Mekanisme kerja antioksidan secara umum adalah menghambat oksidasi lemak. Untuk mempermudah pemahaman tentang mekanisme kerja antioksidan perlu dijelaskan lebih dahulu mekanisme oksidasi lemak. Oksidasi lemak terdiri dari tiga tahap utama yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Pada tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal asam lemak, yaitu suatu senyawa turunan asam lemak yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat dari hilangnya satu atom hidrogen (reaksi 1). pada tahap selanjutnya, yaitu propagasi, radikal asam lemak akan bereaksi dengan oksigen membentuk radikal peroksi (reaksi 2). Radikal peroksi lebih lanjut akan menyerang asam lemak menghasilkan hidroperoksida dan radikal asam lemak baru (reaksi 3). Inisiasi : RH —- R* + H* (1) Propagasi : R* + O2 —–ROO* (2) ROO* + RH —–ROOH +R* (3) Hidroperoksida yang terbentuk bersifat tidak stabil dan akan terdegradasi lebih lanjut menghasilkan senyawa-senyawa karbonil rantai pendek seperti aldehida dan keton yang bertanggungjawab atas flavor makanan berlemak. Tanpa adanya antioksidan, reaksi oksidasi lemak akan mengalami terminasi melalui reaksi antar radikal bebas membentuk kompleks bukan radikal (reaksi 4) Terminasi : ROO* +ROO* —- non radikal (reaksi 4) R* + ROO* —- non radikal R* + R* —– non radikal Antioksidan yang baik akan bereaksi dengan radikal asam lemak segera setelah senyawa tersebut terbentuk. Dari berbagai antioksidan yang ada, mekanisme kerja serta kemampuannya sebagai antioksidan sangat bervariasi. Seringkali, kombinasi beberapa jenis antioksidan memberikan perlindungan yang lebih baik (sinergisme) terhadap oksidasi dibanding dengan satu jenis antioksidan saja. Sebagai contoh asam askorbat seringkali dicampur dengan antioksidan yang merupakan senyawa fenolik untuk mencegah reaksi oksidasi lemak. Adanya ion logam, terutama besi dan tembaga, dapat mendorong terjadinya oksidasi lemak. Ion-ion logam ini seringkali diinaktivasi dengan penambahan senyawa pengkelat dapat juga disebut bersifat sinergistik dengan antioksidan karena menaikan efektivitas antioksidan utamanya. Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai antioksidan harus mempunyai sifat-sifat: tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), dapat terkonsentrasi pada permukaan/lapisan lemak (bersifat lipofilik) dan harus dapat tahap pada kondisi pengolahan pangan umumnya. Beberapa contoh komponen flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan Komponen Sumber Vitamin Buah-buahan & sayuran Vitamin C Padi-padian, kacang-kacangan dan minyak Vitamin E Anthosianidin Anggur (wine) Oenin Buah anggur, raspberri, strawberri Cyanidin Kulit buah aubergine Delphinidin Flavo-3-ols Bawang, kulit buah apel, buah berri, buah anggur, tea dan brokoli Quercertin Leek, brokoli, buah anggur dan teh Kaempferol Flavonone Bawang, kulit buah apel, buah berri, buah anggur, tea dan brokoli Rutin Lemon, olive, cabe merah Luteolin Kulit buah Chrysin Celery dan parsley Apigenin Flavan-3-ols Red/black grape wine (Epi)catecin Tea Epigallocatecin Tea Epigallocatecin Tea gallate Epicatecin gallate Flavonone Buah jeruk citrus Taxifolin Buah jeruk citrus Narirutin Buah jeruk citrus Naringenin Jus Orange Hesperidin Jus Orange Hesperetin Theaflavin Black tea Theaflavin Black tea Theaflavin-3-gallate Black tea Theaflavin-3’-gallate Black tea Theaflavin digallate Dua jenis antioksidan yang digunakan dalam produk pangan adalah antioksidan alami dan sintetis. Vitamin E adalah antioksidan alami paling terkenal dan terdapat dalam jumlah yang cukup dalam seluruh minyak nabati. Antioksidan alami lain yakni sesamol dan gosipol, terdapat dalam minyak wijen dan minyak biji kapas. Pala dan paprika juga mengandung senyawa dengan aktivitas sebagai antioksidan. Penambahan rempah-rempah ke dalam masakan secara tidak disengaja juga menambah antioksidan di dalamnya (Anonim, 2010). Sedangkan jenis antioksidan sintetis yang pada umumnya digunakan dalam produk pangan a.l. BHA (butylated hidroxyanisole, BHT (butylated hydroxytoluen), PG (propil galat) dan TBHQ (tert-butylhydoxynisole). BHA dan BHT sangat efektif untuk lemak hewan, sedangkan PG selain untuk lemak hewan juga baik untuk minyak nabati walaupun senyawa ini menimbulkan perubahan warna jika terdapat besi dan air. Kecenderungan perubahan warna dalam penggunaan PG tidak dialami pada TBHQ. Senyawa ini mempunyai kelarutan yang lebih baik serta stabil pada suhu tinggi dan sedikit menguap dibandingkan dengan BHA dan BHT. Saat ini masih banyak negara yang tidak mengizinkan penggunaan BHA dan BHT ini. Karena pada percobaan binatang, pemberian dalam dosis tinggi kedua senyawa menimbulkan efek teratogenik pada tikus (Anonim, 2010). BAB III METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Metodologi penelitian meliputi pengumpulan dan pengolahan sampel, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak serta pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Penelitian dilakukan di Laboratorium Obat Tradisional dan Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan. 3.1 Alat-alat Alat-alat yang digunakan terdiri dari beaker glass, gelas ukur, labu tentukur, corong, labu alas bulat, seperangkat alat PK air, botol bersumbat, cawan berdasar rata, pipet tetes, kertas saring, aluminium foil, vacuum rotary evaporator (Buchi 461), neraca kasar (Ohaus), neraca analitis (Vibra), oven listrik (Stork), Spektrofotometer UV-Visibel (Shimadzu), penangas air, eksikator, mikroskop, kaca objek dan kaca penutup. 3.2 Bahan-bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah herba labu siam yang segar. Bahan-bahan kimia yang lainnya adalah 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) (Sigma), BHT (Sigma), n-heksan, etil asetat, etanol, metanol, kloroform, isopropanol, eter, benzen, asam asetat anhidrat, natrium hidroksida, alfa naftol, asam nitrat pekat, asam sulfat pekat, asam klorida pekat, toluen, kloralhidrat, iodium, raksa (II) klorida, timbal (II) asetat, besi (III) klorida, bismut (III) nitrat, kalium iodida, amil alkohol, arang aktif, air suling, serbuk Mg. 3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel 3.3.1 Pengumpulan Sampel Metode pengambilan herba labu siam dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan serupa dari daerah lain. Herba labu siam yang digunakan diperoleh dari Pasar Pagi Padang Bulan Medan, Kelurahan Padang Bulan Selayang II, Kecamatan Medan Selayang. 3.3.2 Identifikasi Tumbuhan Identifikasi tumbuhan dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi – LIPI di Bogor. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 24. 3.3.3 Pengolahan Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah herba labu siam segar dan muda berwarna hijau. Herba labu siam dikumpulkan, dibersihkan dari kotoran-kotoran yang melekat, dipotong-potong, dicuci dengan air sampai bersih, ditiriskan, lalu dikering anginkan di udara terbuka dan terlindung dari cahaya matahari. Herba labu siam yang sudah bersih ditimbang berat seluruhnya sebagai berat basah. Kemudian herba labu siam dikeringkan di lemari pengering dengan suhu ± 40°C sampai herba labu siam kering dan mudah rapuh. Setelah kering herba labu siam ditimbang sebagai berat kering kemudian diserbuk dengan blender. Serbuk simplisia sebelum digunakan disimpan dalam wadah plastik terlindung dari cahaya matahari. Bagan kerja penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2 halaman 25. 3.4 Pembuatan Pereaksi Pembuatan larutan pereaksi dilakukan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV dan Materia Medika Indonesia Jilid VI. 3.4.1 Pereaksi Bouchardat Sebanyak 4 g kalium iodida P dilarutkan dalam air secukupnya, lalu ditambahkan 2 g iodium P kemudian ditambahkan air hingga 100 ml (Ditjen POM, 1995). 3.4.2 Pereaksi Mayer Larutan raksa (II) klorida P 2,266% b/v sebanyak 60 ml dicampur dengan 10 ml larutan kalium iodida P 50 % b/v, kemudian ditambahkan air secukupnya hingga 100 ml (Ditjen POM, 1995). 3.4.3 Pereaksi Dragendorff Larutan bismut nitrat P 40% b/v dalam asam nitrat P sebanyak 20 ml dicampur dengan 50 ml kalium iodida P 54,4% b/v, didiamkan sampai memisah sempurna. Lalu diambil lapisan jernihnya dan diencerkan dengan air secukupnya hingga 100 ml (Ditjen POM, 1995). 3.4.4 Pereaksi Molish Sebanyak 3 g α-naftol P, dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995). 3.4.5 Larutan Asam Klorida 2 N Larutan asam klorida pekat sebanyak 17 ml ditambahkan air suling sampai 100 ml (Ditjen POM, 1995). 3.4.6 Larutan Asam Sulfat 2 N Larutan asam sulfat pekat sebanyak 9,8 ml ditambahkan air suling sampai 100 ml (Ditjen POM, 1995). 3.4.7 Larutan Asam Nitrat 0,5 N Sebanyak 3,4 ml asam nitrat pekat diencerkan dengan air suling hingga volume 100 ml (Ditjen POM, Ekstrak cair Dikeringkan dengan alat freeze dryer Ekstrak kental 75 Universitas Sumatera Utara Lampiran 7. Bagan ekstraksi cair-cair ekstrak etanol Ekstrak Ditambah 40 ml etanol Ditambahkan 100 ml air panas, dihomogenkan Dimasukkan ke dalam corong pisah Diekstrasi dengan 100 ml n-heksan sebanyak 3 kali Fraksi n-heksan di k k Fraksi air 76 Universitas Sumatera Utara Lampiran 8. Isolasi steroid/triterpenoid dari fraksi n-heksan pucuk labu siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Fraksi n-Heksan Di KCV dengan fase gerak n-heksan:etilasetat secara gradien dan fase diam silika gel 60 H 11 fraksi 100:0 95:5 90:10 85:15 80:20 75:25 70:30 65:35 60:40 55:45 50:50 Digabung Di KCV dengan fase gerak n heksan :etilasetat secara gradien dan fase diam silika gel 60 H 11 fraksi 100:0 90:10 80:20 70:30 60:40 50:50 40:60 30:70 20:80 10:90 0:100 Di kromatografi kolom dengan fase gerak n-heksan:etilasetat (80:20) dan fase diam silika gel 60 H Fraksi-fraksi (85 vial) 77 Universitas Sumatera Utara Lampiran 8. (Lanjutan) Fraksi-fraksi (85 vial) Fraksi yang sama digabung F1-9 F10-14 F15-18 F19-23 F24-26 F27-30 F31-39 F40-79 F80-85 Di KLT preparatif Dua noda Masing-masing dikerok isolat Direndam dengan metanol 20 ml dan disaring residu filtrat Dicuci dengan metanol dingin isolat KLT dua arah Satu noda Isolat murni UV dan IR Spektrum 78 Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. Kromatogram dan harga Rf dari fraksi n-heksan pucuk labu siam (Sechium edule (jacq.) sw.) bp tp 100:0 (V1) 90:10 (V2) 80:20 (V3) 70:30 (V4) 60:40 (V5) Keterangan: Fase diam silika gel GF254, fase gerak n-heksan-etilasetat (80:20) penampak bercak Liebermann-Burchard, tp=titik penotolan, bp=batas pengembangan, V= vial (V3 adalah fase gerak yang terbaik). Harga Rf kromatogram fraksi n-heksan pucuk labu siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Fase gerak Harga Rf n-heksan:etilasetat (100:0) 1=0,35 2=1 1=0,18 2=0,26 3=0,39 1=0,25 2=0,38 3=0,59 4=0,73 1=0,91 1=0,96 n-heksan:etilasetat (90:10) n-heksan:etilasetat (80:20) n-heksan:etilasetat (70:30) n-heksan:etilasetat (60:40) 79 Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Kromatogram cair vakum I dari hasil ekstraksi cair-cair bp tp 100:0 95:5 90:10 85:15 80:20 75:25 70:30 65:35 60:40 (V1) (V2) (V3) (V4) (V5) (V6) (V7) (V8) (V9) 55:45 50:50 (V10) (V11) Keterangan: Fase diam silika gel GF254, fase gerak n-heksana:etilasetat (80:20), penampak bercak Liebermann-Burchard, tp= titik penotolan, bp= batas pengembangan, V= vial (V8, V9, V10, dan V11 digabung). 80 Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. Kromatogram cair vakum II dari fraksi KCV I yang digabung bp tp 100:0 90:10 80:20 70:30 60:40 50:50 40:60 30:70 (F1) (F2) (F3) (F4) (F5) (F6) (F7) (F8) 20:80 10:90 0:100 (F9) (F10) (F11) Keterangan: Fase diam silika gel GF254, fase gerak n-heksan:etilasetat (80:20), penampak bercak Liebermann-Burchard, tp=titik penotolan, bp=batas pengembangan, F=fraksi (F3 dikromatografi kolom). 81 Universitas Sumatera Utara Lampiran 12. Kromatogram kolom dari fraksi KCV II (F3) bp tp F1 F4 F7 F10 F13 F16 F19 F22 F25 F28 F31 F34 F37 F40 F43 F46 F49 bp tp F52 F55 F58 F61 F64 F67 F70 F73 F76 F79 F82 F85 Keterangan: Fase diam silika gel GF254, fase gerak n-heksana:etilasetat (80:20), penampak bercak Liebermann-Burchard, tp=titik penotolan, bp=batas pengembangan, F=fraksi (F10-F14 digabung). 82 Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. KLT preparatif dari fraksi kolom (F10-F14) bp km hk mu tp Keterangan: Fase diam silika gel GF254, fase gerak n-heksan:etilasetat (80:20), penampak bercak Liebermann-Burchard, tp=titik penotolan, bp=batas pengembangan, mu= merah ungu, hj= hijau kekuningan, km= kuning merah. 83 Universitas Sumatera Utara Lampiran 14. KLT dua arah dan harga Rf dari isolat murni A2 bp2 bp1 mu A1 tp Keterangan: Fase diam silika gel GF254, fase gerak I=n-heksana:etilasetat (80:20), fase gerak II=toluen:etilasetat (90:10), penampak bercak Liebermann-Burchard, tp=titik penotolan, bp1=batas pengembangan pertama, bp2=batas pengembangan kedua, A1=arah pertama, A2 =arah kedua, mu= merah ungu. Harga Rf KLT dua arah Fase gerak n-Hekasan:etilasetat (80:20) toluen:etilasetat (90:10) Harga Rf 0,35 84 Universitas Sumatera Utara 3.153 3.000 1 Lampiran 15. Panjang gelombang isolat pucuk labu siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Abs. 2.000 1.000 0.000 -0.264 200.00 250.00 No. 1 300.00 nm. P/V Wavelength 207.50 350.00 Abs. 2.868 400.00 Description 85 Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Spektrum isolat T 52.5 r %T a 45 n s 37.5 m 30 4000 3500 Pucuk Labu Siam IR No Peak 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1002.98 1060.85 1379.1 1448.54 1562.34 1641.42 1710.86 2852.72 2924.09 3414 3000 1710.86 164142 60.85 1002.98 .09 n 852.72 a 22,5 1379.10 1562.34 t 1448.54 i 2500 2000 1500 1000 500 1/cm Intensity Corr. Intensity Base (H) Base (L) Area Corr. Area 21.804 20.494 24.262 23.955 28.162 22.166 22.364 20.968 19.692 18.671 1.555 2.114 0.105 1.728 0.194 0.322 0.08 0.828 0.868 0.089 1022.27 1091.71 1381.03 1481.33 1564.27 1660.71 1712.79 2866.22 2941.44 3417.86 941.26 1024.2 1363.67 1429.25 1546.91 1633.71 1689.64 2690.7 2879.72 3406.29 50.534 44.952 10.644 31.53 9.493 17.588 14.874 107.23 42.54 8.421 0.778 1.35 0.009 1.092 0.036 0.119 0.048 0.235 0.525 0.014 86 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. Perhitungan hasil penetapan kadar a. Perhitungan hasil penetapan kadar air Kadar air = volume air (ml) berat sampel (g) x 100% 1.Sampel I Berat sampel = 5,001 g Volume air = 0,2 ml Kadar air = 0,2 5,0019 x 100% = 3,99% 2.Sampel II Berat sampel = 5,0021 g Volume air = 0,2 ml Kadar air = 0,2 5,0021 x 100% = 3,99% 3.Sampel III Berat sampel = 5,0010 g Volume air = 0,2 ml Kadar air = 0,2 5,0010 x 100% = 3,99% Kadar air rata-rata = 3,99%+3,99%+3,99% 3 = 3,99% b. Perhitungan hasil penetapan kadar sari yang larut dalam air Kadar sari larut dalam air = berat sari berat simplisia x 100 20 x 100% 87 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. (lanjutan) 1. Kadar sari larut dalam air I Berat Cawan = 45,081 g Berat Cawan + Berat Sari = 45,418 g Berat Sampel = 5,0011 g Berat sari = 33,7 g Kadar sari larut dalam air = 33,7 5,0011 x 100 x 100 x 100 = 33,69 % 20 x 100% 2. Kadar sari larut dalam air II Berat Cawan = 43,205 g Berat Cawan + Berat Sari = 43,536 g Berat Sampel = 5,0020 g Berat sari = 33,1 g Kadar sari larut dalam air = 33,1 5,0020 = 33,08 % 20 x 100% 3.Kadar sari larut dalam air III Berat Cawan = 45,211 g Berat Cawan + Berat Sari = 45,547 g Berat Sampel = 5,0020 g Berat sari = 33,6 g Kadar sari larut dalam air = 33,6 5,0020 = 33,58% Kadar sari larut dalam air rata-rata = 20 x 100% 33,69%+33,08%+33,58% = 33,45% 3 88 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. (lanjutan) c. Perhitungan hasil penetapan kadar sari yang larut dalam etanol Kadar sari larut dalam etanol = 1. Kadar sari larut dalam etanol I berat sari berat simplisia x Berat Cawan = 44,156 g Berat Cawan + Berat Sari = 44,252 g Berat Sampel = 5,001 g Berat sari = 9,6 g Kadar sari larut dalam etanol = 9,6 5,001 x = 9,59% 100 x 100% 100 x 100% 100 x 100% 100 x 100% 20 20 2. Kadar sari larut dalam etanol II Berat Cawan = 45,110 g Berat Cawan + Berat Sari = 45,211 g Berat Sampel = 5,002 g Berat sari = 10,1 g Kadar sari larut dalam etanol = 10,1 5,002 x = 10,09% 20 3. Kadar sari larut dalam etanol III Berat Cawan = 45,120 g Berat Cawan + Berat Sari = 45,232 g Berat Sampel = 5,003 g Berat sari = 10,2 g Kadar sari larut dalam etanol = 10,2 5,003 = 10,19% Kadar sari larut dalam etanol rata-rata x 20 = 9,59%+10,09%+10,19% 3 = 9,96% 89 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. (lanjutan) d. Perhitungan hasil penetapan kadar abu total Kadar abu total = berat abu berat simplisia x 100% 1. Sampel I Berat simplisia = 2,0099 g Berat abu = 0,0825 g Kadar abu total = 0,0825 2,0099 x 100% = 4,10% 2. Sampel II Berat simplisia = 2,1544 g Berat abu = 0,0891 g Kadar abu total = 0,0891 2,1544 x 100% = 4,13% 3. Sampel III Berat simplisia = 2,0133 g Berat abu = 0,0834 g Kadar abu total = 0,0834 2,0133 x 100% = 4,14% Kadar abu total rata-rata = 4,10%+4,13%+4,14% = 4,13% 3 e. Perhitungan Hasil Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Dalam Asam Kadar abu tidak larut dalam asam = berat abu berat simplisia x 100% 90 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. (lanjutan) 1. Sampel I Berat simplisia = 2,0099 g Berat abu = 0,0192 g Kadar abu tidak larut asam = 0,0192 2,0099 x 100% = 0,95% 2. Sampel II Berat simplisia = 2,1544 g Berat abu = 0,0191 g Kadar abu tidak larut asam = 0,0191 2,1544 = 0,88 % � 100% 3. Sampel III Berat simplisia = 2,0133 g Berat abu = 0,0207 g Kadar abu tidak larut asam = 0,0207 2,0133 x 100% = 1,03 % Kadar abu tidak larut asam rata-rata = 0,95%+0,88%+1,03% = 0,96% 3 91 Universitas Sumatera Utara 92 Universitas Sumatera Utara
Karakterisasi Simplisia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat dan Etanol Daun Muda Dari Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Dengan Metode DPPH
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Karakterisasi Simplisia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat dan Etanol Daun Muda Dari Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.) Dengan Metode DPPH

Gratis