Feedback

Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel “Princess Masako” Karya Benn Hils.

Informasi dokumen
ANALIS SIS PSIKO OLOGIS TO OKOH UT TAMA MAS SAKO DAL LAM NOV VEL “PRIINCESS M MASAKO” KARYA K BENN HILSS BENN HIILS NO SA AKUHIN N NO "PRINC CESS MAS SAKO" NO O SHOUSE ETSU NI OKERU MASA AKO TO IU U SHUUJIN NKOU NO SHINRIG GAKUTEKINA BUNSE EKI PSI SKRIP Panitia Ujian n Fakultas Ilmu I Budayya Universitas Skripsii ini diajukaan kepada P Sumaterra Utara Meedan untuk m melengkapii salah satu syarat ujiann sarjana dallam bidaang Ilmu Sasstra Jepang OLEH H: EKA A PUTRI GINTING G 0707080 033 D DEPAR RTEM MEN SA ASTRA A JEPA ANG FAK KULTA AS ILM MU BU UDAYA A UN NIVER RSITA AS SUM MATER RA UT TARA MEDA AN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasihnya sampai saat ini penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini adalah langkah awal bagi penulis untuk melanjutkan perjalanan hidup menuju cita-cita yang sudah dirangkai demi masa depan yang baik. Dan tentunya juga dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu sastra ke depannya. Skripsi yang berjudul “ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA MASAKO DALAM NOVEL “PRINCESS MASAKO” KARYA BENN HILS” ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana pada jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Bapak Drs. Syahron Lubis, M.A.,selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan. 2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum, selaku Ketua Program Studi S-1 Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai Dosen Pembimbing I serta sebagai Dosen Penasehat Akademik yang telah banyak memberi arahan dan waktu untuk penulisan skripsi ini. 3. Bapak Muhammad Pujiono, S.S, M.Hum.,sebagai Dosen Pembimbing II yang telah memberi masukan dan berkenan memberi waktu kepada penulis dalam skripsi ini. 4. Seluruh Dosen Program Studi Sastra Jepang USU yang telah mengajarkan ilmu dan pengetahuan Sastra Jepang. 5. Kedua orang tuaku, Bapak Henri Ginting dan Ibu Mariani Sinulingga, yang telah membesarkan dan mendukung seluruh perjalanan hidup saya sampai saat Universitas Sumatera Utara ini. Semua pengorbanan yang tidak akan terbalaskan sampai kapan pun. Skripsi ini kupersembahkan untuk kalian sebagai langkah awal untuk mengejar mimpi untuk masa depan yang pasti lebih baik untuk kita semua. Bujur melala, Tuhan simasu-masu. 6. Kedua adikku Chandra Keriahenta Ginting dan Daniel Ginting yang selalu mendukung dan mendoakan serta menjadi motivasi untukku menggapai citacita yang luar biasa. Skripsi ini juga kupersembahkan untuk kalian sebagai motivasi untuk tetap berjuang menggapai cita-cita. 7. Bibik Elishabet Ginting yang juga telah ikut membesarkan dan mendukung perjalanan hidupku. 8. Teman-teman di Departemen Sastra Jepang terutama stambuk 2007, Rani (sobat tempatku merangkai mimpi dan khayalan), Wika, Remi, Kristin, Trya, Adji, Ade, Yuni, Rizayu, Veni, dan semua yang tidak bisa disebutkan satu per satu serta senpai dan kohai. Kepada anak kos Bidan Vina, Fika, Capung, Evi, Ria, Kia, Ima, Puja, Happy, dan semuanya, terima kasih buat pinjaman laptopnya. Dan juga seseorang di sana yang lama mendukung dan menemaniku di masa perkuliahan. Skripsi ini juga kupersembahkan untuk kalian semuanya. 9. Tim pelayan di runggun GBKP Kabanjahe Kota atas doa dan dukungannya. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun pada skripsi ini agar bermanfaat untuk pengembangan Ilmu Sastra ke depannya. Universitas Sumatera Utara Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini bermanfaat bagi penulis sendiri, pembaca dan pengembangan Ilmu dalam bidang Sastra Jepang. Medan, 21 September 2011 Penulis Eka Putri Ginting Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 1.2. Rumusan Masalah 5 1.3. Ruang Lingkup Pembahasan 6 1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 6 1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian 10 1.6. Metode Penelitian 11 BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL PRINCESS MASAKO, TOKOH MASAKO, DAN TEORI KOGNISI DEPRESI AARON BECK 2.1. Setting Novel Princess Masako 12 2.2. Realitas Kehidupan Masako Sebagai Tokoh Cerita 16 Universitas Sumatera Utara 2.3.Tatanan Kehidupan Kekaisaran Jepang 19 2.4. Kognisi Depresi Aaron Beck 21 BAB III ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH MASAKO 3.1. Ringkasan Cerita 28 3.2. Analisis Psikologis Tokoh Masako 33 3.2.1. Kehidupan Masako di Istana Kekaisaran Jepang 33 3.2.2. Tekanan dan Tuntutan yang Dialami Masako 39 3.2.3. Analisis Kognisi Depresi Aaron Beck 48 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan 61 4.2. Saran 62 DAFTAR PUSTAKA 63 ABSTRAK 65 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dan menggunakan bahasa sebagai medianya. Artinya, karya sastra akan selalu dekat dengan kehidupan manusia dengan bahasa sebagai media penyampaiannya. Novel sebagai salah satu karya sastra fiksi memiliki dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam novel yang akan ditelaah adalah tokoh. Walaupun tokoh yang terdapat dalam sebuah karya sastra merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia tetap seorang tokoh yang hidup secara wajar sebagaimana kehidupan manusia yang terdiri dari darah dan daging, yang mempunyai pikiran dan perasaan. Sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berpengaruh besar dalam terbentuknya bangun cerita dari suatu karya sastra. Salah satunya adalah unsur psikologis. Psikologis tokoh yang terdapat dalam karya sastra fiksi merupakan hak seorang pengarang untuk menampilkan bagaimana psikologis tokohnya sehingga terdapat keserasian dan kesesuaian antara tokoh dan jalan cerita yang dibuat oleh pengarang tersebut. Psikologis tokoh dapat kita lihat dari karakter tokoh di dalam cerita fiksi tersebut. Pada skripsi ini penulis menganalisis sisi psikologis dari tokoh utama pada novel “Princes Masako” karya Benn Hills. Novel “Princess Masako” diangkat dari kisah nyata yang kemudian ditulis kembali oleh pengarang dalam bentuk cerita. Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang wanita karir yang bernama Masako Owada yang akhirnya menikah dengan Naruhito yang merupakan putra mahkota Kaisar Jepang saat ini. Dalam pernikahannya Masako mengalami penyesuaian Universitas Sumatera Utara yang berat karena kebiasaan di istana yang jauh berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Hingga akhirnya Masako diberitakan mengalami “gangguan penyesuain”. Akan tetapi pada novel ini juga disebutkan bahwa sebenarnya Masako hanyalah mengalami depresi. Untuk mengetahui lebih dalam penulis menganalisis sisi psikologis tokoh utama pada novel ini dengan judul “Anilisis psikologis tokoh utama Masako pada novel ‘Princess Masako’ karya Benn Hils”. Dalam menganalisis novel ini, penulis menggunakan teori analisa depresi dari Aaron Beck yaitu teori kognisi depresif. Teori kognisi depresi adalah teori yang menyatakan bahwa depresi dapat terjadi pada seseorang melalui cara berpikir yang negatif terhadap diri sendiri, dunia dan masa depan. Penulis menganalisis apa saja hal-hal ataupun kondisi yang mendukung terjadinya depresi pada tokoh utama melalui cuplikan-cuplikan pada novel. Setelah melakukan analisis psikologis pada tokoh utama dengan menggunakan teori kognisi depresif dari Aaron Beck, penulis menemukan bahwa Masako mengalami depresi. Banyak orang beranggapan bahwa pikiran yang sedih lebih merupakan akibat dari penyebab suatu depresi. Namun, telah dikemukakan bahwa cara berpikir negatif terhadap disi sendiri, dunia, dan nasa depan itu sendiri yang merupakan penyebab utama depresi, atau yang memperburuk keadaan dan memelihara kondisi tersebut. Jadi, seseorang yang mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya, dunia, dan masa depan kemungkinan lebih mudah menderita penyakit depresi daripada orang yang mempunyai pandangan lebih positif. Pada kasus Masako, ia kehilangan perspektif dalam hidupnya. Terhadap dirinya sendiri, Masako merasa telah gagal menjalankan peran pentingnya di istana timur, yaitu memperoleh seorang putra yang akan menjadi ahli waris Universitas Sumatera Utara kekaisaran. Hal ini disebabkan karena dari awal pernikahannya, para anggota keluarga istana termasuk para kunaicho, sangat berharap agar Masako dapat memiliki anak laki-laki sebagai penerus kekaisaran karena pangeran Akishino adik dari Naruhito yang menikah mendahului Naruhito belum memiliki anak lakilaki. Jadi pada saat itu, untuk mendapatkan ahli waris dibebankan kepada Masako dan Naruhito. Terhadap lingkungannya, Masako merasa para kunaicho dan anggota keluarga lainnya di istana terlalu menuntut banyak terhadap dirinya. Salah satunya adalah mendapatkan seorang putra yang akan menjadi ahli waris. Pada usianya yang tidak produktif lagi, saat itu Masako butuh waktu lama untuk memiliki anak. Dan juga pernah mengalami keguguran. Hingga proses bayi tabung pun ia jalani demi memperoleh seorang ahli waris. Hingga akhirnya memiliki seorang putri yang tetap saja tidak bisa menjadi ahli waris, karena hanya anak laki-laki yg akan menjadi penerus kekaisaran. Meskipun demikian, tuntutan terus-menerus diterima Masako dari orang-orang di lingkungannya. Hal ini membuat Masako mengalami depresi dan akhirnya memperlihatkan sikap-sikap memberontak terhadap orangorang di istana. Terhadap masa depan, Masako tetap merasa tidak ada akhir yang bahagia pada cerita hidupnya. Tak ada hal di istana yang dapat diubah olehnya sesuai dengan cita-citanya terdahulu seperti memberi sedikit perubahan pada kebiasaan istana kekaisaran yang kuno dan kaku. Karena pada kenyataannya Masako hanya akan tetap menjadi boneka dalam istana yang harus turut pada semua aturan yang ada. Semua ilmu dan pengaruh yang ia miliki sebelum menjadi bagian istana timur tidak berarti apa-apa untuk masa depannya kelak. Karena seumur hidupnya Universitas Sumatera Utara Masako harus menjalankan aturan yang telah ada di istana Kekaisaran jepang. Hal ini membuat Masako tertekan dan tidak berharap sesuatu yang lebih baik akan terjadi pada masa depannya hingga memicu munculnya depresi yang dialaminya. Banyak hal penting dan menarik yang penulis ketahui dari novel Pricess Masako. Seperti kehidupan di Istana timur dan sisi psikologis di dalamnya. Banyak hal-hal yang tidak terungkap di publik tetapi ditulis dalam novel ini. Satu hal yang penulis dapatkan setelah menganalisis novel ini adalah “kita akan hidup lebih bahagia jika menjalankan kata hati dan bukan mengorbankan hidup kita untuk orang lain”. Dengan demikian penulis berharap skripsi ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi pembaca untuk hidup yang lebih baik ke depannya. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sastra adalah karya seni yang dikarang menurut standar bahasa kesusastraan, standar kesusastraan yang dimaksud adalah penggunaan kata-kata yang indah, gaya bahasa serta gaya cerita yang menarik (Zainuddin, 1992 : 99), sedangkan menurut Semi dalam (http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertiansastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/) Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai medianya. Artinya, karya sastra akan selalu dekat dengan kehidupan manusia dengan bahasa sebagai media penyampaiannya. Menurut Aminuddin (2000 : 66), fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Dapat dikatakan bahwa sebuah karya sastra adalah replika kehidupan nyata. Walaupun berbentuk fiksi, misalnya cerpen, novel, dan drama, persoalan yang disodorkan oleh pengarang tak terlepas dari pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Hanya saja dalam penyampaiannya, pengarang sering mengemasnya dengan gaya yang berbeda-beda dan syarat pesan moral bagi kehidupan manusia. Universitas Sumatera Utara Menurut Moeliono (1988 : 618) dijelaskan bahwa novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa di dalam suatu novel terdapat suatu kesatuan yang utuh yang mampu menampilkan cerita yang menarik dan mendalam dengan memaparkan secara detail isi dari suatu cerita. Novel sebagai salah satu karya sastra fiksi memiliki dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam novel yang akan ditelaah adalah tokoh. Aminuddin (2000 : 79), mengatakan bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin sebuah cerita. Walaupun tokoh yang terdapat dalam sebuah karya sastra merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia tetap seorang tokoh yang hidup secara wajar sebagaimana kehidupan manusia yang terdiri dari darah dan daging, yang mempunyai pikiran dan perasaan. Unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berpengaruh besar dalam terbentuknya bangun cerita dari suatu karya sastra. Salah satunya adalah unsur psikologis. Psikologis tokoh yang terdapat dalam karya sastra fiksi merupakan hak seorang pengarang untuk menampilkan bagaimana psikologis tokohnya sehingga terdapat keserasian dan kesesuaian antara tokoh dan jalan cerita yang dibuat oleh pengarang tersebut. Psikologis tokoh dapat kita lihat dari karakter tokoh di dalam cerita fiksi tersebut. Novel sebagai bagian bentuk sastra, merupakan jagad realita yang di dalamnya terjadi peristiwa dan perilaku yang dialami dan diperbuat manusia (tokoh). Realita sosial, realita psikologis, realita religius merupakan tema-tema Universitas Sumatera Utara yang sering kita dengar ketika seseorang menjadikan novel sebagai realita kehidupan. Secara spesifik realita psikologis sebagai misal, adalah kehadiran fenomena kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama ketika merespons atau bereaksi terhadap diri dan lingkungan. Sebagai contoh gejala yang penulis temukan pada tokoh utama novel “PRINCESS MASAKO” yang bernama Masako. Novel ini adalah cerita tentang kehidupan nyata putri mahkota kekaisaran Jepang yang merupakan istri dari putra mahkota Naruhito. Masako adalah rakyat biasa yang akhirnya dipinang oleh putra mahkota kaisar Jepang. Banyak sekali penyesuian yang harus dijalani masako ketika menjadi anggota keluarga istana yang baru. Ditambah lagi masako merupakan wanita Jepang yang sudah lama tinggal di luar negri karena ayahnya adalah seorang diplomat. Selain itu masako juga lama mengecap pendidikan di luar negri. Dan setelah menerima pinangan dari sang pangeran ia harus hidup mengikuti semua aturan istana yang penuh dengan peraturan kuno yang sangat kaku. Padahal Masako adalah seorang wanita yang bebas. Keberadaan Masako di istana saat telah menjadi putri mahkota menimbulkan reaksi dari berbagai pihak dan hal ini membuat sang putri tertekan sehingga mengalami gangguan secara psikologis. Dalam novel ini tokoh utama cerita rela mengubah semua tata cara kehidupannya yang awalnya seorang wanita karier sukses yang merupakan wanita jepang yang sangat modern harus berubah menjadi wanita kuno yang harus tunduk pada semua peraturan istana yang sangat kaku demi mengabdi kepada sang suami Pangeran Naruhito. Pilihan yang benar-benar membuat Masako harus meninggalkan semua mimpi dan karier yang sudah dicapai dengan susah payah. Akan tetapi dia tetap menjalaninya walaupun harus mengalami hambatan dalam Universitas Sumatera Utara penyesuaian dirinya di istana timur. Selain itu banyak tekanan-tekanan yang diterima tokoh utama dari lingkungan barunya sehingga timbul tingkah laku yang tidak biasa sehingga memberi dampak terhadap anggota keluarga istana, pejabat istana, serta juga masyarakat Jepang sendiri. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menganalisis dan membahas novel ini lebih dalam lagi. Novel Princess Masako adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan Putri Masako dan seluruh anggota istana secara terbuka atau dapat dikatakan blakblakan. Hal ini membuat novel Princess Masako dilarang terbit di Jepang. Karena tokoh-tokoh dalam novel tersebut merupakan orang-orang yang sangat dihormati oleh masyarakat Jepang dan tidak layak jika kehidupan pribadi mereka yang kurang baik dibicarakan di depan umum secara terbuka. Novel Princess Masako ditulis oleh seorang pemuka jurnalis investigasi asal Australia yang bernama Ben Hills. Awalnya ditulis dalam bahasa inggris dan kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Pengarang menulis novel ini dengan mewawancarai orang-orang yang dekat dengan anggota keluarga istana dan juga mengumpulkan berbagai informasi dari koran maupun majalah yang memuat berita tentang kehidupan istana. Suatu karya yang kontroversial namun diminati oleh pembacanya di berbagai belahan dunia sehingga menjadi salah satu novel international bestseller. Dalam novel ini juga digambarkan bagaimana tatanan kehidupan rumah tangga kekaisaran yang sangat penting untuk menambah wawasan penulis dan pembaca tentang kebudayaan Jepang. Oleh karena itu penulis menganggap hal ini penting untuk dibahas di dalam skripsi ini dengan melihat dari sisi psikologis tokoh utama dengan judul “ Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel ‘Princess Masako’ karya Benn Hills”. Universitas Sumatera Utara 1.2. Perumusan Masalah Kehidupan seorang wanita karier seperti Masako berbeda jauh dengan kehidupan seorang putra mahkota Kaisar Jepang. Sekalipun Masako adalah wanita cerdas dan meninggal. Alur terakhir diceritakan tentang Eriko yang bekerja di sebuah bar namun karena kecantikannya setelah dioperasi itu banyak pria yang mengejar-ngejarnya sampai-sampai Eriko di bunuh oleh pria gila yang menyukainya. Pria gila tersebut kecewa dan merasa dibohongi karena mengetahui bahwa Eriko adalah seorang pria dan bekerja di bar homoseksual. Mikage dan Yuichi sangat syok dan sedih setelah kematian Eriko yang di bunuh, mereka menjadi sangat kesepian dan tidak bisa melihat keceriaan Eriko lagi. Namun mereka berusaha bangit dan ingin memfokuskan diri mereka dengan melakukan kegiatan. Mikage mencoba untuk memfokuskan diri dengan belajar memasak. c. Tokoh Tokoh adalah orang yang sangat penting untuk menjalankan sebuah cerita. Dengan adanya tokoh, cerita yang ditampilkan akan terasa hidup untuk dibaca. Di dalam karya sastra fiksi tokoh biasanya dibedakan menjadi beberapa jenis. Sesuai dengan keterlibatannya dalam cerita, tokoh dibedakan antara tokoh utama dan tokoh tambahan. 8QLYHUV LWDV 6 XPDWHUD8WDUD Tokoh utama adalah tokoh paling terlibat dalam makna atau tema, paling banyak berhubungan dengan tokoh yang lain dan paling banyak memerlukan waktu penceritaan menurut Sayuti dalam Wiyatmi (2009:31). Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang mendukung jalan cerita dari sebuah karya sastra. Tokoh utama dalam novel ini bernama Mikage Sakurai. Mikage adalah seorang gadis yang menginspirasikan bahwa dalam hidupnya dibutuhkan perjuangan dan kedewasaan dalam menentukan sikap. Dia hanya menemukan kedamaian dari sebuah ruangan yang bernama “dapur”. Bagi Mikage dapur menjadi tempat yang sangat istimewa karena dapur adalah tempat satu-satunya tempat yang dapat membuatnya tidak merasa kesepian, dan selalu menghadirkan kedamaian dan ketentraman. Tokoh-tokoh tambahan digambarkan sebagai teman-temannya yang sayang kepada Mikage. Chika ialah manajer bar milik Eriko dan juga seorang waria, dan Sotaro adalah mantan kekasih Mikage. d. Setting/Latar Menurut Jacob Sumardjo (1997 : 75-76) setting dalam cerita bukan hanya sekedar Background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan kapan terjadinya, tetapi juga terjadi erat dengan karakter, tema dan suasana cerita. Untuk menghasilkan cerita yang baik, setting harus benar-benar mutlak dalam menggarap tema dan plot tertentu. Setting menurut Dick Hartono dalam Sudjiman dkk (1984 : 46) adalah segala keterangan mengenai ruang, waktu dan suasana terjadinya lakon dalam karya sastra atau pun novel secara lengkap, pembaca tentu harus memahami bagaimana setting dari karya sastra tersebut. 8QLYHUV LWDV 6 XPDWHUD8WDUD Sedangkan latar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (2008 : 794) adalah keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra. Latar memiliki fungsi untuk memberi konteks cerita. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sebuah cerita terjadi dan dialami oleh tokoh disuatu tempat tertentu, pada suatu masa dan lingkungan masyarakat tertentu. Dalam fiksi latar dibedakan menjadi tiga macam yaitu latar tempat, waktu dan sosial. Latar tempat berkaitan dengan masalah geografis. Di lokasi mana peristiwa terjadi, di desa apa, kota apa dan sebagainya. Latar waktu berkaitan dengan masalah waktu, hari, jam maupun historis. Latar sosial berkaitan dengan kehidupan manusia menurut Sayuti dalam Wiyatmi (2009 : 40). Latar tempat dalam novel Kitchen ini berada di Tokyo. Dan latar waktu terjadi pada selama menjalani kehidupan sebagai pramusaji. Sedangkan latar sosialnya menggambarkan hidup seorang wanita muda yang tinggal di Tokyo dan setelah kematian neneknya dia hidup sebatangkara. Mikage hanya tinggal sendirian dan tidak mampu mengatasi kenyatan ini. Setiap malam, ia tidur di dapur, satu ruangan yang membantu kesepakatan dia dengan rasa sakit saat ia mampu mendengarkan suara bergetar kulkas yang besar dan dingin. 2.4 Unsur Ekstrinsik Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya 8QLYHUV LWDV 6 XPDWHUD8WDUD sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan dari karya sastra tersebut. Secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra. Unsur ekstrinsik karya sastra cukup berpengaruh terhadap totalitas keterpaduan cerita yang dihasilkan oleh pengarang. Di dalam unsur ekstrinsik juga memiliki beberapa unsur diantaranya keadaan subjektifitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup yang semuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya. Unsur ekstrinsik merupakan segala faktor yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra yang merupakan milik subjektifitas pengarang yang berupa kondisi sosial, motivasi dan tendensi yang mendorong dan mempengaruhi kepengarangan seseorang. Unsur-unsur ektrinsik meliputi tradisi dan nila-nilai, struktur kehidupan sosial, keyakinan dan pandangan hidup, suasana pollitik, lingkungan hidup, agama dan lain-lain.Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik diperlukan bantuan ilmu- ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat dan lain-lain. 2.5 Psikoanalisa Sigmud Freud Dalam Kajian Sastra Menurut Sigmund freud (http://www.anneahira.com/psikologi-sastra.htm) psikologi dan sastra memiliki hubungan yang erat. Dia juga mengungkapkan bahwa hubungan sastrawan dengan gejala psikologis, baik yang terlihat maupun yang terungkap akan dituangkan lewat dalam karya sastra. Hal Ini semua akan dilihat dari pendekatan psikoanalisis. Menurut Frued, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar, prasadar, dan tak sadar. Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsikan unsur cermati dalam setiap event mental seperti 8QLYHUV LWDV 6 XPDWHUD8WDUD berfikir dan berfentasi. Freud mengemukakan gagasannya bahwa kesadaran merupakan sebagian kecil dari kehidupan mental sedangkan bagian besarnya adalah keteksadaran atau tak sadar. Berbagai kelainan tingkah laku dapat disebabkan karena faktor-faktor yang terdapat dalam alam ketidaksadaran ini. Karena itu untuk mempelajari jiwa seseorang kita harus menganalisa jiwa orang itu sampai kita dapat melihat keadaan alam ketidaksadarannya yang terletak jauh di dalam jiwa orang tersebut, tertutup oleh alam kesadaran. Freud percaya bahwa faktor-faktor yang berada dalam ketidaksadaran bukan merupakan faktor-faktor yang statis melainkan masing-masing mempunyai kekuatan yang membuatnya dinamis, jadi di dalam alam ketidaksadaran selalu terdapat pergeseran-pergeseran, gerakan-gerakan akibat saling mempengaruhi antara faktor-faktor dalam alam ketidaksadaran tersebut. Psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk menganalisis secara psikologis tokoh-tokoh dalam drama dan novel. Terkadang pengarang secara tidak sadar maupun secara sadar dapat memasukan teori psikologi yang dianutnya. Sedangkan dalam psikoanalisis menurut Freud, prilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia yang berupa: a. Id Id adalah aspek kepribadian yang “gelap” dalam bahwa sadar manusia yang berisi insting da nafsu-nafsu tak kenal nilai dan agaknya berupa “energi buta”. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu: berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. 8QLYHUV LWDV 6 XPDWHUD8WDUD Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemudian membuat Id memunculkan Ego. b. Ego Ego berkembang dari Id agar mampu menangani realita, sehingga Ego beroperasi mengikuti prinsip realita. Ego berusaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata dapat memuaskan kebutuhan. Ego memiliki dua tugas utama; pertama, memilih dorongan mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Menurut Freud, Ego terbentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar Ego dalam menjalankan fungsinya tidak ditujukan untuk menghambat pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang berasal dari Id, melainkan sebagai perantara dari tuntutan naluriah organism disatu pihak dengan keadaan lingkungan dipihak lain. Yang dihambat oleh Ego adalah pengungkapan nalurinaluri yang tidak layak atau tidak bisa diterima oleh lingkungan. Jadi dalam melaksanakan tugasnya Ego harus menjaga benar bahwa yang cerdas dan berintelektual tinggi tidak akan melakukan hal memalukan demikian. Super ego terus memberikannya perasaan jijik dan rendah diri hingga pada akhirnya dia mengalami tekanan batin yang ditumpahkannya dalam buku hariannya. Dalam hal ini, Super ego telah berhasil mengalahkan Id dan segala tuntutan-tuntutannya. Ichiyo mengatakan bahwa jiwanya telah dirampas oleh materialisme yang menjerumuskannya. Hal itu juga berarti Ego Universitas Sumatera Utara Ichiyo sudah kembali berfungsi dengan baik. Dia sudah dapat mengerti bahwa itu merupakan tindakan pemuasan kebutuhan yang salah dan ingin kembali ke tindakan pemuasan kebutuhan yang tidak bertentangan dengan nilai moral. Dalam situasi ini, Super ego menang terhadap Id dan Ego. Universitas Sumatera Utara BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Dari analisis yang telah dilakukan terhadap tokoh utama “Ichiyo Higuchi” dalam novel “Catatan Ichiyo” dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Tokoh yang ada di dalam novel merupakan tokoh yang benar-benar hidup di dunia nyata pada zaman Meiji. Tokoh utama bernama Ichiyo Higuchi lahir pada tahun 1872 dan meninggal di usianya yang ke-24 pada tahun 1896. 2. Novel ini merupakan kisah nyata dari tokoh utama dalam novel ini yang juga bernama Ichiyo Higuchi. Semasa hidupnya, Ichiyo selalu menuliskan setiap hal yang terjadi dalam kehidupannya. Baik hal-hal yang dialaminya secara langsung maupun hal-hal yang hanya dilihatnya saja. Setiap pengalaman yang dilihat, dirasakan bahkan dialami oleh Ichiyo semuanya berpengaruh kepada penciptaan novel-novelnya yang luar biasa. 3. Buku harian Ichiyo kemudian ditulis kembali oleh seorang perempuan bernama Rei Kimura yang berprofesi sebagai pengacara yang memiliki passion dalam bidang menulis. Rei Kimura menampilkan kisah yang digali dari kejadian nyata dan hidup orang-orang yang sebenarnya dalam beberapa bukunya. Rei Kimura meyakini bahwa ini adalah cara yang paling baik untuk menjadikan sejarah yang tersembunyi menjadi diketahui banyak orang. Universitas Sumatera Utara 4. Unsur psikologis merupakan unsur yang sangat mendukung dalam novel ini, karena adanya beban psikologis yang dibuat oleh pengarang kepada tokoh utama, sehingga harus menggunakan pendekatan psikologis dalam menganalisis novel ini. 5. Novel Catatan Ichiyo karya Rei Kimura menceritakan tentang kehidupan seorang anak perempuan Jepang bernama Ichiyo Higuchi. Sesosok perempuan yang bertubuh kecil dengan bentuk wajah menyerupai burung, namun mempunyai cita-cita, kecerdasan dan ambisi yang luar biasa besar dalam bidang sastra. Suatu impian yang melawan segala bentuk batasan tehadap wanita, yang pada zaman Meiji dunia kesusastraan tertutup rapatrapat bagi seorang wanita. Namun Ichiyo mempunyai semangat hidup dan semangat juang yang tinggi untuk meraih impiannya menjadi seorang penulis wanita. Meskipun ia harus berjuang di tengah kemiskinan yang mengerikan dan tanpa dukungan keluarga yang berpengaruh. Banyak konflik batin dan kecemasan mendalam yang dialaminya sejak ayahnya meninggal. Selain berjuang untuk impiannya, dia juga harus berjuang untuk membangkitkan perekonomian keluarganya. Segala penderitaan dan kemiskinan menempahnya menjadi sesosok wanita yang tangguh, teguh berdiri di tengah segala tantangan yang dialaminya. Pada akhir hidupnya, karya-karyanya diakui dan dihormati dalam dunia sastra dan Ichiyo menjadi terkenal. Beratus-ratus tahun kemudian wajahnya diabadikan dalam mata uang kertas 5.000 yen Jepang. Sebuah penghormatan dan kedudukan yang tak pernah dicapai oleh perempuan Jepang mana pun. Universitas Sumatera Utara 6. Novel Catatan Ichiyo ini dianalisis dengan menggunakan psikoanalisa Sigmund Freud dengan teori struktur kepribadian yaitu: Id, Ego dan Super ego, dan teori dinamika kepribadian, yaitu: Naluri dan Kecemasan. Psikoanalisa Sigmund Freud sangat membantu penulis dalam melakukan analisis terhadap setiap konflik batin yang dialami oleh tokoh utama. 7. Novel Catatan Ichiyo memberikan pengetahuan yang baru yang belum diketahui oleh pembaca. Novel ini menggambarkan kondisi zaman Meiji, yaitu zaman dimana segala hal didominasi oleh kaum pria, khususnya dunia kesusastraan. Derajat wanita berada di bawah pria. Wanita tidak terlalu diperbolehkan mendapat pengetahuan intelektual melebihi seorang pria. Hal itu disebabkan karena pria akan takut mendekati dan melamar wanita bila kecerdasan wanita tersebut di atas dirinya. Kodrat wanita pada zaman Meiji hanya ditakdirkan sebagai seorang perempuan yang pada akhirnya harus menikah dan mengurus rumah tangga. Sehingga seorang wanita harus mampu melakukan segala aktivitas kewanitaan, seperti menjahit, mencuci, memasak, dan hal lainnya. Pintu kesusastraan sama sekali tertutup bagi seorang wanita. Bahkan ada penulis wanita yang harus menyamarkan namanya menjadi nama seorang pria. Hingga pada akhirnya Ichiyo menembus segala batasan tersebut dan membuktikan walaupun dirinya adalah seorang wanita, namun dari segi kecerdasan dalam bidang sastra, dia tidak kalah dengan pria. Ichiyo menjadi seorang penulis wanita yang terkenal yang karya-karyanya diakui dan dihormati oleh semua orang, bahkan sampai saat ini. Universitas Sumatera Utara 8. Melalui Novel Catatan Ichiyo ini juga ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kehidupan tokoh utama, di antaranya yaitu semangat hidup yang tak pernah surut, ketekunan dan tekad yang luar biasa dalam mencapai impian, kegigihan dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, serta sikap bertanggung jawab kepada dirinya dan keluarga mengantarkan Ichiyo kepada kesuksesan dan penghormatan untuk setiap karya-karyanya. 4.2. Saran Setelah membaca dan memahami isi dari skripsi ini diharapkan kepada pembaca agar kita juga memiliki semangat dan ketekunan yang tinggi dalam mencapai cita-cita atau sesuatu yang kita impikan. Mungkin kehidupan yang kita alami tidak sekeras Ichiyo, namun kita tetap bisa belajar dari semangat hidup Ichiyo. Di tengah tantangan hidup yang mungkin akan begitu banyak, jangan pernah menyerah dengan keadaan, sesulit apa pun keadaan itu. Karena setiap mimpi yang dikerjakan dengan usaha yang sungguh-sungguh selalu membuahkan hasil yang luar biasa. Tidak ada mimpi yang terlalu mustahil untuk diwujudkan, selagi masih ada semangat dan kesungguhan yang luar biasa dalam mewujudkan mimpi tersebut. Bahkan seorang Ichiyo yang hidup dengan kemiskinan dan tanpa dukungan keluarga mampu mewujudkan impian tersebut, bukan tidak mungkin kita juga mampu mewujudkan impian-impian kita, apa pun itu. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, H. Abu. 2009. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian (Edisi Revisi). Malang: Muhammadiyah Malang Press. Aminuddin. 2000. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo. Aziez, Furqonul dan Abdul Hasim. 2010. Menganalisis Fiksi. Bogor: Ghalia Indonesia (Anggota IKAPI). Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra (Edisi Revisi). Yogyakarta: MedPress (Anggota IKAPI). Fananie. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Fudyartanta. 2006. Pengantar Psikodiagnostik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hall, Calvin dan Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI). Kimura, Rei. 2012. Catatan Ichiyo Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Koeswara, E. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: PT. Eresco (Anggota IKAPI). Luxemburg, Jalan Van, Mieke Bal dan Willem G. Westeijn. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (Edisi Terjemahan oleh Dick Hartoko). Jakarta: PT. Gramedia. Minderop, Albertine. 2010. Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Universitas Sumatera Utara Naisaban, Ladidlaus. 2004. Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya. Jakarta: PT. Grasindo. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Pradopo, Rachmat (disusun oleh Jabrohim, dkk). 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widia. Semi, Drs. M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Bandung: Angkasa. Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT. Grasindo. Siswantoro. 2004. Metode Penelitian Sastra Analisis Psikologi. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Soeratno, Dr. Siti (disusun oleh Jabrohim, dkk). 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widia. Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sujanto, Agus, dkk. 1986. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Penerbit Angkasa Baru. Widodo, Erna dan Mukhtar. 2000. Konstruksi Ke Arah Penelitian Deskriptif. Yogyakarta: Avyrouz http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2219748-metode-penelitian- psikologi-sastra/ http://Id, Ego, dan Superego Oleh Sigmund Freud | belajarpsikologi.com http://www.anneahira.com/unsur-intrinsik-novel.htm Universitas Sumatera Utara
Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel “Princess Masako” Karya Benn Hils. Analisis Kognisi Depresi Aaron Beck Cuplikan halaman 199 : Kerangka Teori Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori Kognisi Depresi Aaron Beck Latar Belakang Masalah Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel “Princess Masako” Karya Benn Hils. Latar sosial Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel “Princess Masako” Karya Benn Hils. Latar Tempat Latar Waktu Metode Penelitian Setting Novel Princess Masako Perumusan Masalah Ruang Lingkup Pembahasan Realitas Kehidupan Masako Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel “Princess Masako” Karya Benn Hils. Ringkasan Cerita Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel “Princess Masako” Karya Benn Hils. Tatanan Kehidupan Kekaisaran Jepang Tekanan dan Tuntutan yang Diemban oleh Masako Tinjauan Pustaka Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Psikologis Tokoh Utama Masako Dalam Novel “Princess Masako” Karya Benn Hils.

Gratis