Komposisi Komunitas Cacing Tanah Pada Areal Kebun Kelapa Sawit Ptpn Iii Sei Mangkei Yang Diberi Pupuk Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

 0  64  56  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

DAFTAR LAMPIRAN

  Lokasi I Areal kebun yang tidak dialiri limbah cair pabrik kelapa sawit (Kontrol), Lokasi II ( Areal kebun kelapa sawit yang telah mulaikering (lembab), Lokasi III (Areal kebun kelapa sawit dengan kondisi air limbah yang masih basah). Dari hasil Penelitian ditemukan 4 spesies cacing tanah antara lain Pontoscolex corethrurus, Megascolex sp1 dan Pheretima posthuma, dan Fridericia sp yang terdapat pada ketiga lokasi penelitian, dan spesies Fridericia sp hanya ditemukan pada lokasi III.

1.1 Latar Belakang

  Menurut Wallwork (1970) dalam Russel (1988) cacing tanah dan organisme tanah lainnya merupakan variabel biotis penyusun suatu komunitas yang memilikibeberapa peranan, diantaranya adalah sebagai pengurai dalam rantai makanan, jembatan transfer energi kepada organisme yang memiliki tingkatan tropik yang lebihtinggi, membantu kegiatan metabolisme tumbuhan dengan menguraikan serasah daun- daunan dan ranting. Keberadaan jenis dan jumlah individu masing-masing jenis cacing tanah dapat digunakan untuk mengetahui komposisi komunitas cacing tanah, sertahubungannya dengan faktor fisik kimia tanah di areal kebun kelapa sawit yang dialiri limbah cair pabrik kelapa sawit dengan yang tidak dialiri limbah cair pabrikkelapa sawit sebagai pupuk 1.4 Hipotesis Berdasarkan uraian-uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:a.

1.5 Manfaat Penelitian

  Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang meliputi:a. Dari penelitian diharapkan dapat diketahui komposisi komunitas cacing tanah di perkebunan kelapa sawitb.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Cacing Tanah

  Penggolongan ini didasarkan pada bentuk morfologi, karena tubuhnyatersusun atas segmen-segmen yang berbentuk cincin (annulus), setiap segmen memiliki beberapa pasang setae, yaitu struktur berbentuk rambut yang berguna untukmemegang substrat dan bergerak, tubuh dibedakan atas bagian anterior dan posterior, pada bagian anteriornya terdapat mulut, prostomium dan beberapa segmen yang agakmenebal membentuk klitelium (Edward & Lofty, 1997). Lahan yang banyak mengandung cacing tanah akan menjadi subur, sebabkotoran cacing tanah yang bercampur dengan tanah telah siap untuk diserap akar tumbuh-tumbuhan.

2.2. Ekologi Cacing Tanah

  Aktivitas hidup cacing tanah dalam suatu ekosistem tanah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti : iklim (curah hujan, intensitas cahaya dan lainsebagainya), sifat fisik dan kimia tanah (temperatur, kelembaban, kadar air tanah, pH dan kadar organik tanah), nutrien (unsur hara) dan biota (vegetasi dasar dan faunatanah lainnya) serta pemanfaatan dan pengolahan tanah (Hanafiah, 2005). Kelembaban TanahKelembaban tanah sangat erat hubungan dengan popul asi cacing tanah, karena tubuh hewan tanah mengandung air, oleh karena itu kondisi tanah yang kering dapatmenyebabkan tubuh cacing tanah kehilangan air dan hal ini merupakan masalah yang besar bagi kelulusan hidupnya (Anas, 1990)b.

2.3 Tanaman Kelapa Sawit

  2.3.1 Klasifikasi Tanaman Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit diklasifikasikan oleh Jacquin (1763) sebagai berikut:Kingdom : PlantaeDivisio : SpermatophytaKelas : MonocotyledoneOrdo : ArecalesFamili : ArecaceaeGenus : ElaeisSpesies : Elaeis guineensis 2.3.2 Morfologi Tanaman Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit dibedakan atas 2 bagian, yakni: bagian vegetatif dan bagian generatif. Buah kelapa sawit termasuk buah batu yang terdiri dari 3 bagian yakni; lapisan luar(epicarpium) yang disebut kulit luar, lapisan tengah (mesocarpium) yang disebut daging buah, mengandung minyak sawit dan lapisan dalam (endocarpium) yangdisebut inti, mengandung minyak inti.

2.4 Limbah Cair Kelapa Sawit

  Efisiensi pengutipan minyak dari air limbah yang rendah akan mempengaruhi karakteristik limbah cair yang dihasilkanUntuk menanggulangi limbah PKS yang begitu banyak, beberapa pihak perkebunan dan pabrik kelapa sawit telah mencoba memanfaatkan limbah tersebut keareal kebun, seperti janjang kosong, solid decanter dan abu ketel telah dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur dan pH tanah serta mengurangi penguapan tanah. Setelah terjadi penurunan tingkat pencemaran limbah ini dialirkan kelahan perkebunan 2.5 Pemanfaatan limbah cair Menurut Loebis dan Tobing (1989) limbah cair pabrik pengolahan kelapa sawit mengandung unsur hara yang tinggi seperti N, P, K, Mg, dan Ca, sehingga limbah cairtersebut berpeluang untuk digunakan sebagai sumber hara bagi tanaman kelapa sawit, di samping memberikan kelembaban tanah, juga dapat meningkatkan sifat fisik–kimiatanah, serta dapat meningkatkan unsur hara tanah.

BAB 3 BAHAN DAN METODE

  3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan September sampai bulan Oktober 2010 pada areal kebun kelapa sawit PTPN III, Desa Sei Mangkei, Kecamatan Bosar Maligas,Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara yaitu areal kebun yang diberi perlakuan dengan limbah cair pabrik kelapa sawit pada Blok II dan Blok III, dan arealkebun yang tidak dialiri limbah cair kelapa sawit pada Blok I sebagai Kontrol. Identifikasi sampel di Laboratorium Taksonomi Hewan Departemen Biologi FMIPA USU Medan.

A. Lokasi I

Merupakan lokasi pertama (kontrol), areal kebun kelapa sawit yang tidak dialiri limbah cair pabrik kelapa sawit (Land Application) pada tahun tanam 1994, (Gambar 3.1) yang terletak pada titik kordinat 3 02’ 31,2’’ LU, 99 12’ 44,64’’ BT. Gambar 3.1 Lokasi 1 (Kontrol) Tanpa dialiri Limbah

B. Lokasi II

Merupakan lokasi kedua areal kebun yang dialiri limbah cair pabrik kelapa sawit(Land Application) dengan kondisi air limbah yang telah mulai kering (lembab), pada tahun aplikasi 1994 (Gambar 3.2) lokasi ini terletak pada titik kordinat 3 03’ 46,96’’LU, 99 14’ 2,4’’ BT. Gambar 3.2 Lokasi II areal kebun yang dialiri limbah yang telah mulai kering (lembab)

C. Lokasi III

  Merupakan lokasi ketiga areal kebun yang di aliran limbah cair pabrik kelapa sawit(Land Application) dengan kondisi air limbah yang masih basah pada tahun aplikasi 1994 (Gambar 3.3) lokasi ini terletak pada titik kordinat 3 03’ 23,04’’ LU, 99 13’10,56’’ BT. Gambar 3.3 Lokasi III areal kebun yang dialiri dengan limbah dengan kondisi yang (basah) 3.3 Metoda Penelitian Penentuan lokasi plot sampling dilakukan dengan metoda Purposive Random Sampling yaitu dipilih secara acak pada areal kebun, pengambilan sampel cacing tanah dilakukan dengan menggunakan metoda, Kuadrat dan Hand sortir.

3.4.1 Pengambilan Sampel Cacing Tanah

  Pada masing-masing titik sampel yang telah ditentukan dibuat plot berukuran 30 x 30 cm dengan kedalaman 20 cm sebanyak 15 plot dan diambil tanahnya denganmenggunakan cangkul pada masing-masing plot, kemudian ditempatkan dalam lembaran plastik. Cacing tanah yang didapatkan dikumpulkan dan dibersihkan dengan air serta dihitung jumlahnya,kemudian dimasukkan ke dalam botol sampel yang telah berisi formalin 4%, setelah itu diawetkan dengan alkohol 70% (Suin, 1997).

3.4.2 Identifikasi Spesias Cacing Tanah

Sample cacing tanah yang dibawa dari lapangan dilakukan pengelompokan sesuai dengan kesamaan ciri-ciri morfologinya, kemudian diawetkan dalam alkohol 70 %selanjutnya dideterminasi dan diidentifikasi dengan memperhatikan bentuk luar(morfologi) dengan bantuan loop dan mikroskop Stereo Binokuler, serta buku acuan menurut Dindal (1990), Suin (1997), Jhon (1998).

3.5 Pengukuran faktor fisik kimia tanah

  Kelembaban relatif dan pH diukur dengan menggunakan Soil Tester dan suhu tanah diukur pada bagian permukaan danpada ke dalaman 10 cm dengan menggunakan Soil Thermometer Pengukuran kadar air dan kadar organik tanah dilakukan di Laboratorium Riset dan Teknologi Fakultas Pertanian USU. Selanjutnya sampel tanah ini dikeringkan dalam oven pada suhu 105 C selama 2 jam sehingga beratnya konstan dan ditentukan kadar air tanahnya denganrumus sebagai berikut : A – B Kadar air tanah x 100%AKeterangan: A = Berat basah tanah B = Berat konstan tanah Selanjutnya diambil sebanyak 5 gram dan dibakar di dalam tungku pembakar(Furnace Mufle) dengan suhu 600 C selama tiga jam.

3.6 Analisis Data

Jenis cacing tanah dan jumlah individu masing-masing jenis yang didapatkan dihitung nilai : kepadatan populasi, kepadatan relatif, Frekuensi kehadiran dengan tujuan agardiketahui keberadaan jenis dan komposisi komunitas makrofauna tanah dengan menggunakan rumus menurut Walwork (1976), dan Suin (2002) sebagai berikut :

a. Kepadatan Populasi (K)

  Frekuensi Kehadiran (FK)Jumlah plot yang ditempati suatu jenis FK =Jumlah total plot Dimana nilai FK :0-25% : Aksidental (sangat jarang)25%-50% : Assesori (jarang)50%-75% : Konstan (sering)75%-100% : Absolut (sangat sering) d. Komposisi Komunitas: didasarkan pada nilai urut Kepadatan Relatif (KR) terbesar hingga terkecil dari masing-masing jenis yang didapatkan.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Spesies Cacing Tanah Yang Ditemukan

  Jenis cacing tanah pada spesies Fridericia sp tidak didapatkan pada lokasi I dan II, hanya didapatkan pada lokasi III hal ini disebabkan karena spesies Fridericia sp ini sangat menyukai tanah yang basah sampaiberair, sedangkan pada lokasi I dan II merupakan habitat yang tidak cocok terhadap perkembangbiakan dan pertumbuhan spesies Fridericia sp. Banyaknya spesies cacing tanah yang didapatkan dilokasi III diduga karenaKelembaban, Kadar air, Kadar organik, N-total, K-tukar, Mg-tukar dan P tersedia lebih tinggi bila dibandingkan pada lokasi I dan lokasi II, Hal ini sesuai denganpernyataan Notohadiprawiro (1998) komunitas yang kaya akan nutrisi mempunyai banyak organisme.

1. Spesies Fridericia, family : Enchytraeidae

  Panjang tubuh berkisar antara 10-15 mm, diameternya 0,8-1 mm dan jumlah segmen antara 71-134. Setae mulai dari segmen I dengan tipe lumbricine, seta bagian posterior lebih besar dari pada bagian anterior sehinggaterlihat jelas (Arlen, 1998) Menurut Stephenson dalam Suin (1994) cacing dari spesies Fridericia sp tersebar cukup luas di Indonesia termasuk di pulau Sumatera, cacing tanah ini lebihmenyukai hidup pada tanah yang berair.

2. Spesies Megascolex sp1, Family: Megascolecidae

  Klitelium berbentukcincin dan tidak membengkak (Gambar 4.2) segmennya jelas serta mengkilap, berwarna kemerahan, dimulai pada segmen ke XIV-XVI, mempunyai setae, bagiandorsal dan ventral tidak menebal. Lubang kelamin betina pada septa 7/8-8/9(Arlen,1998) Suin (1997) menyatakan bahwa cacing tanah jenis Megascolex sp1 ini memiliki sebaran yang sangat luas di Indonesia, dan banyak ditemukan pada semakbelukar, padang rumput, dan tidak ditemukan pada hutan yang lebat, cacing tanah ini ditemukan pada setiap lokasi areal kebun kelapa sawit yang dialiri limbah maupunyang tidak dialiri limbah yaitu pada lokasi (I, II dan III).

3. Spesies Pheretima posthuma, Family: Megascolecidae

  Lubang spermateka 4 pasang, terletak pada septa 5/6 kurang jelas (Arlen, 1998) Cacing tanah ini umumnya ditemukan pada tanah yang banyak ditumbuhi oleh vegetasi dasar, berupa rumput dan semak, serta tumpukan bahan organik berupaserasah daun atau kompos. Selanjutnya Arlen (1998, 2001, dan 2010) menjelaskan bahwa cacing tanah dari jenis Pheretima posthuma juga ditemukan di Sumatera Utara, yaitu pada bagian pinggir tumpukan sampah kota, areal perkebunan kelapa sawit dan areal pertanian tanaman pangan.

4. Ponthoscolex corethrurus family Glossocolecidae

  (Arlen, 1998) Suin (1997) menyatakan bahwa cacing tanah jenis Pontoscolex corethrurus ini memiliki sebaran yang sangat luas di Indonesia, dan banyak ditemukan pada semakbelukar, padang rumput, dan tidak ditemukan pada hutan yang lebat. SelanjutnyaArlen (1998, 2001, dan 2010) menjelaskan bahwa cacing tanah dari jenis Pontoscolex corethrurus juga ditemukan di Sumatera Utara, yaitu pada areal perkebunan kelapa sawit, coklat dan karet, serta areal pertanian tanaman pangan.

4.2 Faktor fisik kimia tanah pada masing-masing lokasi PTPN III Sei Mangkei

  Faktor fisik kimia tanah yang paling nampak perbedaannya adalahP tersedia pada lokasi I sangat rendah 3,99 sedangkan pada lokasi II 354,35 dan lokasi Suin (1982) menyatakan bahwa pada tanah dengan vegetasi dasarnya rapat, maka cacing tanah akan banyak ditemukan, karena kondisi fisik kimia tanahnya lebihbaik dan juga sumber makanan yang banyak ditemukan. Sedangkan pada lokasi I kondisi fisik kimianya kurang bagus untuk perkembangbiakan cacing tanah karenaKelimpahan cacing tanah dipengaruhi oleh bahan organik, dengan meningkatnya bahan organik maka meningkat pula populasi cacing tanah , karena disekitar liangcacing tanah kaya akan N total dan C organik Kotoran (feses) cacing tanah mengandung banyak bahan organik yang tinggi, berupa N total dan nitrat, Ca dan Mg, dan kemampuan penukaran basa.

4.3 Kepadatan (individu/m²) dan Kepadatan Relatif (%) Populasi Cacing Tanah

Kepadatan populasi cacing tanah pada ketiga lokasi penelitian tidak terlalu berbeda, kepadatan populasi cacing tanah yang paling tinggi didapatkan pada lokasi III yaitu41,46 individu/m2. dan kepadatan populasi yang paling rendah dari ketiga lokasi ini Tabel 4.3 Kepadatan (individu/m²) dan kepadatan Relatif Populasi Cacing Tanah Pada Masing-Masing Lokasi Penelitian No Spesies Lokasi I Lokasi II Lokasi III K KR Kom K KR Kom K KR Kom

1 Fridericia

1,48 3,56 4 2 Megascolex sp1 11,11 37,50 2 21,47 53,70 1 22,96 55,37 1 3 Pheretima 5,18 17,48 3 7,40 18,50 3 10,36 24,98 2 Posthuma 4 Pontoscolex 13,33 44,96 1 11,11 27,78 2 6,66 16,06 3corethrurusJumlah 29,62 99,94 39,98 99,98 41,46 99,97 Keterangan: Lokasi I, Areal kebun yang tidak dialiri dengan limbah cair kelapa sawit (Kontrol), Lokasi II, Areal kebun yang dialiri limbah cair kelapa sawit yang telah mulai kering (lembab) Lokasi III = Areal kebun yang dialiri limbah cair kelapa sawit yang masih basah K=Kepadatan, KR= Kepadatan Relatif Dari Tabel 4.3 terlihat bahwa spesies yang memiliki nilai kepadatan tertinggi 2 pada lokasi 1 yaitu spesies Pontoscolex corethrurus 13,33 individu/m dengan nilai kepadatan relatif 44,96 %, dan nilai kepadatan terendah di dapatkan pada spesies

2 Pheretima posthuma 5,18 individu/m dengan nilai kepadatan relatif 17,48. Pada

  Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Suin (1997) cacing tanah dari jenis Pontoscolex corethrurus dan Megascolex sp1 ini sangat luas penyebarannya di Indonesia dan banyak ditemukan pada semak belukar, padang rumput, Tetapi tidak ditemukan di hutan yang lebat. Selanjutnya Suin (1988) dalam Arlen menyatakan cacing tanah dari jenisPontoscolex corethrurus banyak ditemukan pada tanah hutan, padang rumput dansemak belukar yang memiliki pH tanah netral (6,4-7), dan tidak menyukai tanah dengan pH < 6,4, serta telah tercemar oleh bahan-bahan kimia, seperti debu semen,pupuk dan pestisida kimia yang banyak digunakan dalam dunia pertanian.

4.5 Cacing Tanah yang Dapat Hidup dan Berkembangbiak dengan baik

Untuk mengetahui kondisi lingkungan yang baik dan dapat mendukung kehidupan dan perkembangbiakan cacing tanah pada suatu habitat dapat diketahui berdasarkan nilaiKR >10% dan FK > 25% (Suin, 1997) seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 4.5 Cacing Tanah yang Kepadatan Relatifnya (KR) ≥ 10 % dan Frekuensi Kehadiran (FK) ≥ 25 % pada Tiga Lokasi Penelitian No Spesies Lokasi I Lokasi II Lokasi III

KR (%) FK (%) KR (%) FK (%) KR (%) FK(%)

  Keadaan ini menunjukkan bahwa keadaan masing-masing lokasi penelitian dapat mendukung kehidupan dan perkembangbiakan spesies cacing tanah seperti pada ≥ 10% dan FK ≥ 25% menunjukkan bahwa hewan tersebut dapat hidup dan berkembang dengan baik di habitatnya. Hal ini sesuai denganMichael (1995) yang menyatakan secara alamiah, penyebaran hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan diatur oleh jumlah dan keragaman bahan yang dibutuhkan olehorganisme, dan faktor fisik dan batas toleransi organisme terhadap komponen- komponen ini di lingkungan.

5.1 Kesimpulan

  Di dapatkan 3 spesies cacing tanah yang dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik yaitu Megascolex sp1, Pheretima posthuma dan Pontoscolex corethrurusd. Pada lokasi I cacing tanah yang bersifat assesori terdiri dari 2 spesies yaitu Megascolex sp1 dan Pheretima posthuma, sedangkan yang bersifat Konstan 1 spesies yaitu Pontoscolex corethrurus.

5.2 Saran

Untuk memperoleh hasil yang lebih baik tentang komposisi komunitas cacing tanah yang diberi pupuk dan yang tidak diberi pupuk limbah cair pabrik kelapa sawit perludilakukan penelitian lebih lanjut dilokasi penelitian pada musim dingin dan musim kemarau agar dapat dibandingkan dengan yang telah didapatkan dilokasi penelitian inidengan memperhatikan bagaimana pengaruh keberadaan dan penyebaran setiap jenis cacing tanah terhadap tingkat kesuburan tanah dilokasi penelitian

DAFTAR PUSTAKA

  Komposisi Komunitas Makrofauna Tanah pada Areal Pertanian yang Diberi Pupuk Organik dan Anorganik yang dapat digunakan Sebagai Bioindikator Kesuburan Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat dan Balitbang Pertanian.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Komposisi Komunitas Cacing Tanah Pada Areal K..

Gratis

Feedback