Feedback

Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas

Informasi dokumen
APLIKASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DAN ASAM HUMIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SUREN (Toona sureni Merr) PADA TANAH PASCA TAMBANG EMAS (Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal) Oleh: Ismail Rasyid Siregar 071202003 Budidaya Hutan PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara APLIKASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DAN ASAM HUMIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SUREN (Toona sureni Merr) PADA TANAH PASCA TAMBANG EMAS (Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal) SKRIPSI Oleh: Ismail Rasyid Siregar 071202003 Budidaya Hutan PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara APLIKASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DAN ASAM HUMIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SUREN (Toona sureni Merr) PADA TANAH PASCA TAMBANG EMAS (Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal) SKRIPSI Oleh: Ismail Rasyid Siregar 071202003 Budidaya Hutan Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ISMAIL RASYID SIREGAR: Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas. Dibimbing oleh NELLY ANNA dan DELVIAN. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan asam humik terhadap pertumbuhan semai Suren pada media tanah bekas tambang. Penelitian ini dilakukan di rumah kasa dan laboratorium biologi tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, dimulai pada bulan April sampai Juli 2011. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu FMA dan asam humik. Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis FMA dan asam humik serta interaksi antara keduanya memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi, pertambahan diameter, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P tanaman. Kata kunci : FMA, asam humik, tanah bekas tambang emas, pertumbuhan, Toona sureni merr. Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Ismail Rasyid Siregar dilahirkan di Padang Sidimpuan pada tanggal 05 Oktober 1988 dari ayah Drs. H. M. Yunan Siregar dan Ibu Hj. Fazrina Harahap. Penulis merupakan anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Penulis memulai pendidikan formal di SD Negeri P. sidimpuan, lulus tahun 2001 dan melanjutkan pendidikan di MTs Negeri P. Sidimpuan dan lulus tahun 2004. Tahun 2007 penulis lulus dari MA Negeri 2 Model P. Sidimpuan dan pada tahun yang sama juga penulis diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Universitas Sumatera Utara melalui jalur PMP (Panduan Minat dan Prestasi) pada Program Studi Budidaya Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan, penulis telah mengikuti Praktik Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) di Hutan Dataran Rendah Aras Napal dan Hutan Mangrove Pulau Sembilan Kabupaten Langkat. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Perum Perhutani Unit II KPH Banyuwangi Selatan, Jawa Timur. Pada akhir kuliah, penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas” di bawah bimbingan Ibu Nelly Anna S.Hut M.Si dan Bapak Dr. Delvian, S.P,M.P. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. Judul dari penelitian ini adalah “Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas”. Penelitian ini melibatkan banyak pihak sehingga memberi kesan yang berarti di hati penulis. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ayah Drs. H. M. yunan Siregar dan dan Ibu Hj. Fazrina Harahap yang telah memberikan doa yang tulus, kasih sayang, dorongan materi dan semangat kepada penulis. 2. Ibu Nelly Anna S.Hut M.Si dan Bapak Dr. Delvian, S.P,M.P selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan serta masukan yang sangat bermanfaat selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. 3. Saudara dan saudari penulis, Syahrial Mukhlis S.SiT, Yusra Dewi Siregar MA, M. Taufik Arham S.Pd, Ridawati Syukriah A.md, Ir. Marahalam S.Sos, Ilham Muttaqin S.Sos, Mikrot Junaidi S.Pt MM, Muslimah Nurul Utami dan Dian Akhfiana Fitri atas dorongan semangat dan materi yang telah diberikan 4. Teman-temanku M Riyadh, Fehni Al-Asyari, Dikki Angriawan, Arief Setiawan, Lola Adres, Rahmad Adventa, Moehar Marghy, King M dan seluruh pihak yang mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dari awal penelitian hingga akhir skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak luput dari kekurangan. Penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kehutanan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAK. i RIWAYAT HIDUP . iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI . v DAFTAR GAMBAR . vi PENDAHULUAN . 1 Latar Belakang . Tujuan Penelitian . Kegunaan Penelitian . Hipotesis Penelitian . 1 2 3 3 TINJAUAN PUSTAKA . 4 METODOLOGI PENELITIAN . Waktu dan Tempat . Bahan dan Alat . Metode Penelitian . Pelaksanaan Penelitian . Parameter Pengamatan . 15 15 15 16 17 18 HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Kimia Tanah . Pertumbuhan Tinggi Tanaman . Pertumbuhan Diameter Tanaman . Berat Kering Total Tanaman . Persentase Infeksi Akar . Serapan P Tanaman . Pembahasan . 21 21 22 23 23 24 26 27 KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan. Saran . 36 36 36 DAFTAR PUSTAKA. 37 LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Tinggi Tanaman . Gambar 2. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Diameter Tanaman . Gambar 3. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Berat Kering Tanaman . Gambar 4. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Persen Infeksi Akar . . Gambar 5. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Serapan P Tanaman . . Gambar 6. Contoh akar yang terinfeksi FMA . . . 22 23 24 25 26 33 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil Analisis sidik ragam Serapan P Tanaman . . Lampiran 2. Hasil analisis sidik ragam Persentasi infeksi akar . . Lampiran 3. Hasil Analisis sidik ragam Pertambahan Diameter Tanaman. Lampiran 4. Hasil analisis sidik ragam Pertambahan Tinggi Tanaman. Lampiran 5. Hasil Analisis sidik ragam BKT . Lampiran 6. Gambar kegiatan Penambangan . . Lampiran 7. Gambar kegiatan Pengambilan Tanah dan Penanaman . Lampiran 8. Gambar Contoh Tanaman . . . Lampiran 9. Gambar Contoh Infeksi Akar . . 49 49 49 49 50 50 50 51 52 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ISMAIL RASYID SIREGAR: Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas. Dibimbing oleh NELLY ANNA dan DELVIAN. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan asam humik terhadap pertumbuhan semai Suren pada media tanah bekas tambang. Penelitian ini dilakukan di rumah kasa dan laboratorium biologi tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, dimulai pada bulan April sampai Juli 2011. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu FMA dan asam humik. Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis FMA dan asam humik serta interaksi antara keduanya memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi, pertambahan diameter, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P tanaman. Kata kunci : FMA, asam humik, tanah bekas tambang emas, pertumbuhan, Toona sureni merr. Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Pertambangan merupakan salah satu sumber daya alam potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber devisa untuk pembangunan nasional. Dalam kegiatan penambangan biasanya dilakukan dengan cara pembukaan hutan, pengikisan lapisan-lapisan tanah, pengerukan dan penimbunan. Dampak kegiatan pengoperasian tambang pada akhirnya akan mempengaruhi kesuburan tanah sebagai media pertumbuhan tanaman, mengakibatkan merosotnya kesuburan tanah yang disebabkan karena terkupasnya lapisan tanah oleh kegiatan penambangan. Pada zaman sekarang ini, industri pertambangan terus berkembang pesat, mencakup seluruh wilayah-wilayah di seluruh Indonesia. Adanya industri pertambagan memberikan pengaruh besar kepada kondisi perekonomian Indonesia dan juga daerah-daerah tempat adanya industri pertambangan tersebut. Namun demikian kegiatan pertambangan apabila tidak dilaksanakan secara tepat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan terutama gangguan keseimbangan permukaan tanah yang cukup besar. Dampak lingkungan kegiatan pertambangan antara lain, tingginya tingkat erosi dan menurunnya kemampuan peresapan air yang lebih lanjut akan mengakibatkan penurunan produktivitas tanah, pemadatan tanah, sedimentasi, terjadinya gerakan tanah atau longsoran, terganggunya flora dan fauna, terganggunya keamanan dan kesehatan penduduk, serta perubahan iklim mikro. Kenyataannya, untuk melakukan kegiatan rehabilitasi pada lahan-lahan bekas tambang mengalami kendala. Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi Universitas Sumatera Utara lahan yang tidak menguntungkan, antara lain kurangnya unsur hara khususnya NPK, kurangnya air, dan kandungan logam berat yang sangat tinggi. Untuk menunjang keberhasilan dalam merehabilitasi lahan-lahan yang rusak tersebut, maka berbagai upaya seperti perbaikan lahan pra tanam, pemilihan jenis yang cocok, aplikasi silvikultur yang benar, dan penggunaan pupuk biologis fungi mikoriza arbuskula perlu dilakukan (Setiadi, 1996). Permasalahan yang muncul setelah dilakukannya kegiatan penambangan di antaranya adalah penurunan produktivitas tanah, pemadatan tanah dan sedimentasi, hal ini mengakibatkan lahan bekas tambang menjadi kritis, untuk itu perlu dilakukan usaha untuk mengembalikan produktivitas tanah atau paling tidak mengurangi kerusakan yang ditimbulkan. Untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lingkungan yang lebih parah, maka perlu dicari berbagai upaya pengendalian yang mengarah pada kegiatan rehabilitasi lahan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan Asam humik pada bibit tanaman yang akan digunakan dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang. Potensi biologis fungi mikoriza dan prospek aplikasinya telah diketahui secara luas, diantaranya dapat memacu pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur hara bagi tanaman, membuat tanaman mampu beradaptasi dengan lingkungan yang kurang baik serta secara tidak langsung dapat memberikan manfaat berupa peningkatan kesuburannya menjadi lebih baik. Pemanfaatan mikoriza diharapkan menjadi teknologi alternatif guna mengatasi kendala-kendala dalam usaha revegetasi lahan pasca tambang. Karena tipe jamur ini mampu meningkatkan resistensi tanaman terhadap kekeringan dan penggunaannya dianggap sebagai cara Universitas Sumatera Utara yang efisien untuk membantu pertumbuhan tanaman pada daerah-daerah yang kurang hujan. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui pengaruh aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan asam humik terhadap pertumbuhan semai Suren pada media tanah bekas tambang. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan berguna untuk memberikan data sebagai bahan informasi dalam usaha penanganan lahan bekas tambang melalui upaya peningkatan pertumbuhan tanaman dengan inokulasi FMA dan pemberian asam humik. Hipotesis Penelitian 1. Interaksi antara FMA dengan asam humik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan semai suren dengan media tanam lahan bekas tambang . 2. Aplikasi FMA pada dosis tertentu berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit suren dengan media tanam lahan bekas tambang . 3. Pemberian asam humik pada dosis tertentu berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit suren dengan media tanam lahan bekas tambang . Universitas Sumatera Utara TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Suren (Toona sureni Merr) Suren (Toona sureni Merr) merupakan tanaman yang cepat tumbuh dan kayunya dapat digunakan untuk papan dan bahan bangunan perumahan, peti, venire, alat musik, kayu lapis, venir, dan mebel. Bagian tanaman suren khususnya kulit kayu dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional seperti tonik, obat diare, dan anti biotik. Tanaman ini tumbuh pada daerah bertebing dengan ketinggian 600 - 2.700 m dpl dengan temperatur 22ºC (Balai penelitian dan pengembangan kehutanan, 2009). Pohon suren ini memiliki karakter khusus seperti harum yang khas apabila bagian daun atau buah diremas dan pada saat batang dilukai atau ditebang. Ada ciri lain yang dapat membedakan secara sekilas, yaitu : 1. Batang Bentuk batang lurus dengan bebas cabang mencapai 25 m dan tinggi pohon dapat mencapai 40 sampai 60 m. Kulit batang kasar dan pecah-pecah seperti kulit buaya berwarna coklat. Batang berbanir mencapai 2 m. 2. Daun Daun suren berbentuk oval dengan panjang 10-15 cm, duduk menyirip tunggal dengan 8-30 pasang daun pada pohon berdiameter 1-2 m. 3. Bunga Kedudukan bunga adalah terminal dimana keluar dari ujung batang pohon. Susunan bunga membentuk malai sampai 1 meter. Musim bunga 2 kali dalam setahun yaitu bulan Februari-Maret dan September-Oktober. Universitas Sumatera Utara 4. Buah Musim buah 2 kali dalam setahun yaitu bulan Desember-Februari dan April-September, dihasilkan dalam bentuk rangkaian (malai) seperti rangkaian bunganya dengan jumlah lebih dari 100 buah pada setiap malai. Buah berbentuk oval, terbagi menjadi 5 ruang secara vertikal, setiap ruang berisi 6-9 benih. Buah masak ditandai dengan warna kulit buah berubah dari hijau menjadi coklat tua kusam dan kasar, apabila pecah akan terlihat seperti bintang. Ciri lain dari buah masak yaitu, pohon seperti meranggas/tidak berdaun. 5. Benih Warna benih coklat , panjang benih 3-6 mm dan 2-4 mm lebarnya dan pipih, bersayap pada satu sisi sehingga benihnya akan terbang terbawa angin. Suren tumbuh tersebar hampir di seluruh pulau-pulau besar di Indonesia, Nepal, India, Burma, China, Thailand, Malaysia sampai ke barat Papua Nugini. Suren termasuk ke dalam famili Meliaceae, tumbuh dengan cepat, tinggi mencapai 40-60 meter, tinggi bebas cabang setinggi 25 meter dengan diameter mencapai 100 cm (Balai penelitian dan pengembangan kehutanan, 2009). Saat ini suren belum banyak dibudidayakan secara luas. Namun demikian mengingat kegunaan dari jenis kayu ini, tidak tertutup kemungkinan untuk dikembangkan secara luas di masa mendatang. Suren juga memiliki potensi untuk digunakan sebagai salah satu jenis tanaman rehabilitasi lahan terdegradasi (Sofyan dan Islam, 2006) Pemilihan jenis adalah tahap yang paling penting dalam upaya merestorasi lahan bekas tambang. Pemilihan ini bertujuan untuk memilih spesies tanaman yang disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan direstorasi. Kunci utama Universitas Sumatera Utara m diatas permukaan laut, namun tumbuh optimal pada ketinggian 600-2.000 m diatas permukaan laut dengan suhu udara sekitar 22oC (Djam’an dan Ochsner, 2002). Universitas Sumatera Utara Suren memiliki banyak kegunaan dan manfaat yang dapat diperoleh mulai dari akar, batang, kulit, buah dan daun. Pohon suren sering ditanam sebagai tanaman pagar pemecah angin, naungan dan pelindung tanaman di bawahnya. Daunnya mengandung senyawa surenon, surenin, surenolakton yang terbukti efektif sebagai repellant (pengusir dan penolak) serangga, dan daunnya juga dapat diekstrak sebagai antibiotik dan bioinsektisida. Buahnya dapat disuling untuk menghasilkan minyak esensial (aromatik). Kulit dan akar suren dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat diare karena mengandung senyawa diarrhoea. Kayu suren dapat dipergunakan sebagai kayu perkakas, peti kemas, kotak cerutu, kayu bangunan, plywood, kayu perkapalan, kayu ukiran, furniture, panel dekoratif, alat musik, finir dan lain-lain (Djam’an dan Ochsner, 2002). Pertumbuhan Tanaman Dalam perencanaan Penelitian pertumbuhan tanaman, penting untuk ditetapkan parameter apakah yang harus diamati, bagaimana cara atau metode pengamatannya, kapan sebaiknya pengamatan dilakukan, dan berapa besar sampel yang diperlukan (Sitompul dan Guritno, 1995). Penelitian ini, parameter yang diamati yaitu, tinggi tanaman, diameter tanaman, berat kering tanaman (biomassa) dan serapan P tanaman. Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan aau perlakuan yang diterapkan. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan tanaman yang paling mudah dilihat (Sitompul dan Guritno, 1995). Universitas Sumatera Utara Pengertian biomassa dapat diartikan dari asal katanya (bio + massa), sehingga biomassa tanaman adalah massa bagian hidup tanaman. Biomassa tanaman merupakan ukuran yang paling sering digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari pertumbuhan tanaman. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa taksiran biomassa (berat) tanaman mudah diukur dan merupakan integrasi dari hampir semua peristiwa yang dialami tanaman sebelumnya. Sehingga parameter ini merupakan indikator pertumbuhan yang paling representatif apabila tujuan utama adalah untuk mendapatkan penampilan keseluruhan pertumbuhan tanaman. Pengukuran biomassa tanaman dapat dilakukan melalui penimbangan bahan tanaman yang sudah dikeringkan. Pengeringan bahan, yang bertujuan untuk menghilangkan semua kandungan air bahan, dilaksanakan pada suhu yang relatif tinggi selama jangka waktu tertentu, maka cara yang banyak dilakukan adalah mengeringkan bahan selama 2 × 24 jam pada suhu 75-80o C (Sitompul dan Guritno, 1995). Penyerapan hara oleh akar merupakan faktor penting yang menentukan efisiensi hara. Adaptasi morfologi perakaran terhadap defisien hara di antaranya yaitu pemanjangan akar, peningkatan kerapatan perakaran, maupun peningkatan jumlah dan panjang rambut akar (Gerloff, 1987). Selanjutnya Kant dan Kafkafi (2004) menjelaskan bahwa defisiensi hara tidak hanya terkait dengan kapasitas penyerapan hara oleh akar tetapi juga penggunaan hara tersebut oleh seluruh bagian tanaman. Tanaman yang ditumbuhkan pada larutan defisien hara, umumnya mempunyai akar yang lebih panjang dibandingkan tanaman pada kondisi hara standar. Akar yang panjang diharapkan mampu menjangkau lapisan tanah lebih dalam untuk memperoleh unsur hara. Pada kondisi defisien hara, Universitas Sumatera Utara pertumbuhan akar di bagian atas dan tengah terhambat sehingga bobot keringnya mengalami penurunan. Menurut Marschner (1986) dalam kondisi defisien hara umumnya fotosintat akan lebih terkonsentrasi ke akar dibandingkan tajuk sehingga pertumbuhan tajuk akan lebih tertekan. Memang hubungan diantara tajuk dan akar dapat berubah pada keadaan lingkungan yang berbeda. Berat akar yang tinggi tidak selalu menghasilkan berat tajuk yang besar, konsep ini menekankan kepada fungsi akar menyerap unsur hara dan air untuk pertumbuhan tanaman yang optimum. Tanaman yang mempunyai nisbah tajuk/akar yang tinggi menunjukkan bahwa akar relatif sedikit cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Jika tanaman berada pada kondisi kekurangan air dan unsur hara, tanaman akan membentuk akar lebih banyak, yang mungkin ditujukan untuk menghasilkan nisbah tajuk/akar yang rendah (Sitompul dan Guritno, 1995) Unsur hara Fosfor (P) diserap tanaman dalam bentuk H2PO4- dan HPO4+. Secara umum fungsi P dalam tanaman adalah dapat mempercepat pertumbuhan akar semai, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman, mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, dan meningkatkan produksi biji-bijian. Unsur P mudah diserap tanaman pada keasaman tanah (pH) 5,0 - 8,5, dan daya serap tanaman terhadap unsur hara yang optimal ditentukan juga oleh kemasaman tanah. Jadi terangkutnya unsur-unsur hara atau zat-zat mineral ketika panen berlangsung berarti menunjukkan banyaknya unsur hara yang diserap tanaman (Sutedjo, 2002). Universitas Sumatera Utara METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2011 di rumah kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Analisis tanah bekas tambang dan analisis serapan P tanaman dilakukan di Laboratorium Sentral Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Analisis berat kering tanaman dilakukan di laboratorium Teknologi Hasil Hutan Program studi Kehutanan, dan laboratorium Agroekoteknologi, Program studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polibag kapasitas 5 kg, cangkul, jangka sorong, penggaris, timbangan, ember, kertas label, kantong kertas, sprayer, gelas ukur, oven, mortar, alat tulis, dan kamera digital. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah media tanam berupa tanah bekas galian tambang emas tradisional di Kelurahan Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, asam humik dan aktivator orgadec, serta bibit suren yang berasal dari pembibitan tanaman kehutanan, Dinas Kehutanan Kabupaten Karo, Tongkoh. Metode Penelitian Percobaan ini dilakukan dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu : Universitas Sumatera Utara Faktor 1 : Aktivator orgadec dengan 4 dosis, yaitu: A0 : 0 g / polibag A1 : 50 g / polibag A2 : 100 g / polibag A3 : 150 g / polibag Faktor 2 : Asam humik dengan 3 dosis, yaitu: H0 : 0 % / polibag H1 : 2,5 % / polibag H2 : 5 % / polibag dengan demikian ada 12 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali, sehingga diperoleh 60 satuan percobaan. Kombinasi perlakuannya adalah sebagai berikut: A0H0 A0H1 A0H2 A1H0 A1H1 A1H2 A2H0 A2H1 A2H2 A3H0 A3H1 A3H2 Model linier yang digunakan adalah : Yij = μ + αi + βj + (αβ)ij + ∑ij Dimana : Yij = Hasil pengamatan asam humik pada dosis ke-i dan pemberian aktivator orgadec pada dosis ke-j. μ = Nilai rata-rata. αi = Pengaruh asam humik pada dosis ke-i. βj = Pengaruh aktivator orgadec pada dosis ke-j. Universitas Sumatera Utara (αβ)ij = Pengaruh interaksi aktivator orgadec pada dosis ke-i dan pemberian asam humik pada dosis ke-j. ∑ij = Pengaruh galad aktivator orgadec pada dosis ke-i dan pemberian asam humik pada dosis ke-j. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan perlakuan yang berpengaruh nyata akan diuji dengan uji Duncan (DMRT) Pelaksanaan Penelitian 1. Analisis tanah Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan analisis awal tanah untuk mengetahui kondisi kimia tanah, parameter yang diamati antara lain; pH, N total, P tersedia, K-dd, Cu, dan Fe. 2. Pemberian aktivator orgadec Pemberian aktivator orgadec dilakukan pada satu minggu sebelum penanaman bibit karena aktivator orgadec tergolong lambat dalam menyediakan unsur hara seperti N dalam tanah untuk tanaman, karena harus mengalami perubahan-perubahan terlebih dahulu (pengikatan zat N oleh bakteri dan sebagainya) (Sutedjo, 2002). Dosis pemberian aktivator orgadec adalah 50 g / polibag, 100 g / polibag, dan 150 g / polibag. 3. Penanaman Bibit ditanam di dalam polibag berkapasitas 5 kg yang diisi dengan 4 kg tanah bekas tambang kemudian ditancapkan ajir di samping tanaman dan Universitas Sumatera Utara diberi tanda pada ajir sebagai patokan saat mengukur diameter dan tinggi bibit. 4. Pemberian asam humik Pemberian asam humik dilakukan sebanyak dua kali, yang pertama saat penanaman bibit ke polibag dan yang ke dua pada saat satu bulan setelah penanaman ke polibag. Hal ini dilakukan dalam usaha untuk meningkatkan kandungan unsur hara dalam tanah. Pemberian dilakukan dengan penyiraman asam humik dengan dosis 2,5 % / polibag dan 5 % / polibag. 5. Pemeliharaan tanaman Tanaman dipelihara di rumah kasa dan disiram 2 kali sehari, pada pagi dan sore hari. Panen dilakukan saat bibit berumur 3 bulan setelah tanam. 6. Parameter pengamatan Sumatera Utara Pandiangan, H. 2000. Studi Pertumbuhan Suren (Toona surenii Merr) Dengan Perlakuan Pupuk NPK dan Pupuk Kandang. IPB. Bogor. Rosmarkam, A. dan N.W Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta. Soegiman. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Sofie. 2010. Manfaat Asam Humat di Tanah Liat. Diakses dari: http://humagold.com/manfaat-asam-humat-di-tanah-liat/ [23 Maret 2010] [19.53 WIB]. Sri Adiningsih, J. dan Mulyadi. 1993. Alternatif teknik rehabilitasi dan pemanfaatan lahan alang-alang. hlm. 29-50. Dalam S. Sukmana, Suwardjo, J. Sri Adiningsih, H. Subagjo, H. Suhardjo, Y. Prawirasumantri (Ed.). Pemanfaatan lahan alang-alang untuk usaha tani berkelanjutan. Prosiding Seminar Lahan Alang-alang, Bogor, Desember 1992. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian. Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2004. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. hlm. 21-66. Dalam A. Adimihardja, L.I. Amien, F. Agus, D. Djaenudin (Ed.). Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Sutedjo dan Kartasapoetra A.G. 2005. Pengantar Ilmu Tanah. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Sutejo, M.M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta Sutisna, U., T. Kalima dan Purnadjaja. 1998. Pedoman Pengenalan Pohon Hutan di Indonesia. Disunting oleh Soetjipto, N. W. dan Soekotjo. Yayasan PROSEA Bogor dan Pusat Diklat Pegawai & SDM Kehutanan. Bogor. Yulyatin A. 2007. Pengaruh NPK (15-15-15) dan campuran media tanah dan kompos terhadap pertumbuhan bibit salam (Eugenia polyantha Wight) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Yustiasih, A. 2007. Pengaruh Bioaktivator Dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Awal Legum Sengon (Albizia falcataria L. FOSBERG) Pada Tanah Latosol. IPB. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Tabel Rataan Pengukuran tinggi bibit suren dan analisis sidik ragam pada aplikasi asam humik dan pupuk NPK majemuk pada tanah marginal. Humik 0% 2.50% 5% Ulangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 0 2.1 1 1.3 1.4 1.5 1.5 1.3 2.2 2 NPK 1 13.6 13.1 21.5 34.8 15.2 18.8 23.2 22.4 13 2 15.9 34.1 29.8 27.5 31.5 41.8 33.6 24.2 21.5 3 31.9 20.7 41 21.4 18.1 23.2 24.9 30.3 16.6 4 23.4 42.1 23.8 32.7 40.6 44.3 17.2 26.3 40.4 Jumlah 86.9 111 117.4 117.8 106.9 129.6 100.2 105.4 93.5 Analisis sidik ragam Anova Sk db JK KT Perlakuan 14 5836.361 416.8829 Humik 2 107.344 53.672 NPK 4 5278.464 1319.616 Interaksi 8 450.5538 56.31922 Galad 30 1585.247 52.84156 Total 45 28274.49 628.322 Keterangan : tn = berpengaruh tidak nyata pada taraf uji 95% F Hitung 7.889301 1.015716tn 24.97307* 1.065813tn F Tabel 2.04 3.3158 2.6896 2.2662 Rataan tinggi tanaman pada perlakuan pupuk NPK majemuk Perlakuan Rataan N0 1.58a N1 19.51b N2 28.87c N3 25.34bc N4 32.31c Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Universitas Sumatera Utara Lampiran 2. Tabel Rataan Pengukuran diameter bibit suren dan analisis sidik ragam pada aplikasi asam humik dan pupuk NPK majemuk pada tanah marginal. Humik 0% 2.50% 5% Ulangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 NPK 0 1 2 3 4 Jumlah 0.05 0.2 0.27 0.31 0.33 1.16 0.06 0.27 0.29 0.26 0.34 1.22 0.05 0.19 0.29 0.38 0.31 1.22 0.08 0.29 0.27 0.41 0.32 1.37 0.08 0.26 0.29 0.2 0.46 1.29 0.05 0.38 0.26 0.35 0.4 1.44 0.08 0.32 0.26 0.39 0.24 1.29 0.1 0.32 0.4 0.29 0.26 1.37 0.07 0.25 0.21 0.3 0.43 1.26 Analisis sidik ragam Anova Sk db JK KT Perlakuan 14 0.459 0.032786 Humik 2 0.009 0.0045 NPK 4 0.431 0.10775 Interaksi 8 0.019 0.002375 Galad 30 0.105 0.0035 Total 45 3.565 0.079222 Keterangan : tn = berpengaruh tidak nyata pada taraf uji 95% F Hitung 9.367 1.285tn 30.785* 0.678tn F Tabel 2.04 3.3158 2.6896 2.2662 Rataan diameter tanaman pada perlakuan pupuk NPK majemuk Perlakuan Rataan N0 0.068a N1 0.275b N2 0.282b N3 0.321bc N4 0.343c Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Universitas Sumatera Utara Lampiran 3. Tabel Rataan Bobot Kering bibit suren dan analisis sidik ragam pada aplikasi asam humik dan pupuk NPK majemuk pada tanah marginal. NPK Humik Ulangan 0 1 2 3 4 Jumlah 0% 1 1.45 3.85 7.7 7.5 5.65 26.15 2 1.1 7.6 4.4 7.7 7.4 28.2 3 1.2 6.7 5.1 6.7 1.4 21.1 2.50% 1 0.1 5.1 3.55 4.9 5.05 18.7 2 0.55 3 5.9 5.8 6.55 21.8 3 0.6 3.2 3.4 6.85 2 16.05 5% 1 0.55 5.7 4.4 6.05 5.9 22.6 2 0.7 5.55 4.6 4.55 4.3 19.7 3 2.3 4.95 8.4 5.5 8.3 29.45 Analisis sidik ragam Anova Sk db JK KT Perlakuan 14 175.578 12.54129 Humik 2 13.37644 6.688222 NPK 4 150.9356 37.73389 Interaksi 8 11.26578 1.408222 Galad 30 74.42 2.480667 Total 45 1172.533 26.05628 Keterangan : tn = berpengaruh tidak nyata pada taraf uji 95% F Hitung 5.055611 2.696139tn 15.21119* 0.567679tn F Tabel 2.04 3.3158 2.6896 2.2662 Rataan bobot kering tanaman pada perlakuan pupuk NPK majemuk Perlakuan Rataan N0 0.95a N1 5.072b N2 5.272b N3 6.172b N4 5.172b Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Universitas Sumatera Utara Lampiran 4. Tabel Rataan Rasio Tajuk Akar bibit suren dan analisis sidik ragam pada aplikasi asam humik dan pupuk NPK majemuk pada tanah marginal. Humik 0% 2.50% 5% Ulangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 0 0.035 0.1 0.2 1 0.1 0.2 0.222 0.272 0.0222 NPK 1 0.79 0.948 0.472 1.31818 0.66667 1.66667 0.932 0.73438 0.237 2 1.109 0.795 1.04 1.29 0.552 1.428 1.66667 1 0.887 3 0.293 0.48 0.942 1.279 1.148 1.584 1.75 0.82 0.83333 4 0.88333 1 0.16667 1.2954 1.425 0.33333 1.313 0.91111 0.88636 Jumlah 3.11033 3.323 2.82067 6.18258 3.89167 5.212 5.88367 3.73749 2.86589 Analisis sidik ragam Anova Sk db JK KT Perlakuan 14 6.103748 0.435982 Humik 2 1.215026 0.607513 NPK 4 4.104697 1.026174 Interaksi 8 0.784025 0.098003 Galad 30 4.403012 0.146767 Total 45 40.97389 0.910531 Keterangan : tn = berpengaruh tidak nyata pada taraf uji 95% F Hitung 2.970571 4.1393 6.991855 0.667746 F Tabel 2.04 3.3158 2.6896 2.2662 Rataan rasio tajuk akar tanaman pada perlakuan asam humik Perlakuan Rataan H0 0.6169a H1 1.0191ab H2 0.8325b Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Rataan bobot kering tanaman pada perlakuan pupuk NPK majemuk Perlakuan Rataan N0 0.239a N1 0.8628b N2 1.0853b N3 1.0144b N4 0.9127b Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Tabel Rataan Total Luas Daun bibit suren dan analisis sidik ragam pada aplikasi asam humik dan pupuk NPK majemuk pada tanah marginal. Humik 0% 2.50% 5% Ulangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 0 119.78 120.33 133.29 98.679 123.692 119.997 121.607 132.098 128.808 NPK 1 682.779 461.003 511.994 621.366 689.827 501.68 653.771 536.364 422.136 2 805.35 1082.19 660.538 992.018 657.292 1092.757 635.192 837.12 1054.547 3 979.452 1408.973 1313.722 1623.064 1021.637 1102.615 1635.655 984.322 960.632 4 739.951 1191.001 573.644 603.287 748.566 405.01 865.335 1109.538 1110.67 Jumlah 3327.312 4263.497 3193.188 3938.414 3241.014 3222.059 3911.56 3599.442 3676.793 Analisis sidik ragam Anova Sk db JK KT Perlakuan 14 6335897.087 452564.0776 Humik 2 20614.37768 10307.18884 NPK 4 6018067.645 1504516.911 Interaksi 8 297215.064 37151.883 Galad 30 1267998.317 42266.61057 Total 45 30893433.03 686520.734 Keterangan : tn = berpengaruh tidak nyata pada taraf uji 95% F Hitung 10.70736621 0.243861258 35.59587322 0.878988935 F Tabel 2.04 3.3158 2.6896 2.2662 Rataan total luas daun tanaman pada perlakuan pupuk NPK majemuk Perlakuan Rataan N0 122.03a N1 564.55b N2 868.56c N3 1225.6d N4 816.33c Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Universitas Sumatera Utara Lampiran 6. Kriteria penilaian sifat-sifat tanah (Pusat Penelitian Tanah Bogor 1983) Sifat Tanah C (Carbon) N (Nitrogen) P- avl Bray II K- tukar Satuan % % Ppm Me/100 Sangat Rendah 1,2 pH H2O Sangat Masam 8,5 Universitas Sumatera Utara
Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas

Gratis