Feedback

Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna

Informasi dokumen
FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN JATI (Tectona grandis L.f.) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI OLEH: NONIE ERINDA NIM 071501055 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN JATI (Tectona grandis L.f.) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: NONIE ERINDA NIM 071501055 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PENGESAHAN SKRIPSI FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN JATI (Tectona grandis L.f.) SEBAGAI PEWARNA OLEH: NONIE ERINDA NIM 071501055 Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: Agustus 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji: Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt. NIP 195404121976031003 Dra. Saodah, M.Sc., Apt. NIP 194901131976032001 Pembimbing II, Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt. NIP 195404121976031003 Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt. NIP 195011171980022001 Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt. NIP 195107031977102001 Drs. Agusmal Dalimunthe, M.S., Apt. NIP 195406081983031005 Disahkan Oleh: Dekan, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Bismillahirrohmaanirrohiim, Alhamdulillah, penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Penulis mempersembahkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahandaku Erdi Syam dan Ibundaku Ilhamiah yang selalu memberikan dukungan dan cinta yang teramat tulus, untuk adikku Akmal Khairi, atas semua doa, semangat dan pengorbanan baik moril maupun materil. Semoga Allah SWT selalu melindungi kalian semua. Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt., dan Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt., selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan nasehat selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. 3. Bapak dan Ibu Pembantu Dekan, Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan, serta Universitas Sumatera Utara Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt., selaku penasehat akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama ini. 4. Ibu Dra. Saodah, M.Sc., Apt., Ibu Dra. Djendakita, M.Si., Apt., dan Bapak Drs. Agusmal Dalimunthe, M.S., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan saran, arahan, kritik dan masukan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 5. Sahabat-sahabat penulis: Putri, Lia, Riah, dan Mahadi yang selalu memberi semangat pada penulis, Kak Rini, Kak Uni, Kak Yola, Darma, Wahyudin, Rahma, Danny, Karsih, Nurul, Meyo, Nova, Ayu, rekan-rekan FKK 2007, rekan-rekan di Laboratorium Farmasetika Dasar dan rekan-rekan mahasiswa Farmasi atas dukungan, bantuan dan persahabatan selama ini, serta seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, motivasi dan inspirasi bagi penulis selama masa perkuliahan sampai penyusunan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda dan pahala yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Farmasi. Medan, Agustus 2011 Penulis, (Nonie Erinda) Universitas Sumatera Utara FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN JATI (Tectona grandis L.f.) SEBAGAI PEWARNA ABSTRAK Daun jati muda (Tectona grandis L.f.) telah sejak lama digunakan masyarakat secara tradisional sebagai pewarna kain, tikar, dan juga makanan. Daun jati muda memiliki kandungan pigmen alamiah, salah satunya adalah golongan antosianin, yaitu pelargonidin. Peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pigmen alamiah yang terkandung dalam daun jati muda. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, minyak mawar (oleum rosae), butil hidroksitoluen, nipagin, serta penambahan pewarna ekstrak daun jati dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5% dan 15%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik sediaan mencakup pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles, dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test). Formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak daun jati menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65ºC, memiliki kekuatan lipstik yang baik, mudah dioleskan dengan warna yang merata, pH berkisar antara 4,3-4,6, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 4 yaitu sediaan dengan konsentrasi pewarna ekstrak daun jati 10%. Kata kunci: Daun jati, Tectona grandis L.f., Lipstik, Komponen Lipstik. Universitas Sumatera Utara FORMULATION OF LIPSTICK USING TEAK LEAF EXTRACT (Tectona grandis L.f.) AS COLORANT ABSTRACT The young teak leaf (Tectona grandis L.f.) have long been used traditionally by the people as a dye fabrics, mats, and also food. The young teak leaf contain natural pigments, one of which is the class of anthocyanin, namely phelargonidine. Researches made formulation of lipstick by using the natural pigments which contained in young teak leaf. Lipstick formulation comprised of several components such as cera alba, lanolin, vaseline alba, cetaceum, cetyl alcohol, oleum ricini, propylene glycol, titanium dioxide, rose oil (oleum rosae), butylated hydroxytoluene, nipagin, and the addition of colorant teak leaf extract with concentrations of 2.5%, 5%, 7.5%, 10%, 12.5% and 15%. Test of product include physical quality inspection such as homogenity test, melting point, breaking point, stability test of shape alteration, colour and odor during storage in 30 days at room temperature, smear test, pH test, also irritation and hedonic test. Formulation of lipstick using colorant of leaf teak extract showed that the product was stable, homogeneous, melting point 65ºC, possesses a good lipstick, easily applied with a uniform color, pH ranged from 4.3 to 4.6, and do not cause irritation so it is quite safe to use, and most preferred product are product 4 with concentration 10% colorant of teak leaf extract. Keyword: Teak leaf, Tectona grandis L.f., Lipstick, Lipstick Components Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i LEMBAR PENGESAHAN . iii KATA PENGANTAR . iv ABSTRAK . v ABSTRACT . vii DAFTAR ISI . viii DAFTAR TABEL . xi DAFTAR GAMBAR . xii DAFTAR LAMPIRAN . xiii BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 3 1.3 Hipotesis . 3 1.4 Tujuan Penelitian . 4 1.5 Manfaat Penelitian . 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 5 2.1 Daun Jati . 5 2.1.1 Morfologi Tumbuhan . 5 2.1.2 Sistematika Tumbuhan . 6 2.1.3 Kandungan Zat Warna Daun Jati Muda . 6 2.2 Antosianin . 6 Universitas Sumatera Utara 2.3 Ekstraksi. 7 2.4 Kulit . 8 2.4 Bibir . 9 2.5 Kosmetik . 10 2.6 Kosmetik Dekoratif . 12 2.7 Lipstik . 13 2.8 Komponen Utama Dalam Sediaan Lipstik . 14 2.8.1 Komponen Lipstik yang Digunakan Dalam Formulasi 15 2.9 Uji Tempel (patc test) . 19 2.10 Uji Kesukaan (hedonic test) . 19 BAB III METODELOGI PENELITIAN . 20 3.1 Alat dan Bahan . 20 3.1.1 Alat . 20 3.1.2 Bahan. 20 3.2 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel . 20 3.2.1 Pengambilan Sampel . 20 3.2.2 Identifikasi Tumbuhan . 21 3.2.3 Pengolahan Sampel . 21 3.3 Pembuatan Ekstrak Daun Jati. 21 3.4 Pembuatan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Daun jati Dalam Berbagai Konsentrasi. 22 3.4.1 Formula . 22 3.4.2 Prosedur Pembuatan Lipstik . 24 3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan . 24 Universitas Sumatera Utara 3.5.1 Pemeriksaan Homogenitas . 24 3.5.2 Pemeriksaan Titik Lebur Lipstik . 25 3.5.3 Pemeriksaan Kekuatan Lipstik. . 25 3.5.4 Pemeriksaan Stabilitas Sediaan . 25 3.5.5 Uji Oles . 25 3.5.6 Penentuan pH Sediaan. 26 3.6 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test) . 26 3.6.1 Uji Iritasi. 27 3.6.2 Uji Kesukaan (Hedonic Test) . 28 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 29 4.1 Ekstrak Daun Jati. 29 4.2 Hasil Formulasi Sediaan Lipstik . 29 4.3 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan . 29 4.3.1 Homogenitas Sediaan . 29 4.3.2 Titik Lebur Lipstik . 30 4.3.3 Kekuatan Lipstik. . 31 4.3.4 Stabilitas Sediaan . 32 4.3.5 Uji Oles . 33 4.3.6 Pemeriksaan pH . 34 4.2 Hasil Uji Iritasi . 35 4.3 Hasil Uji Kesukaan . 36 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 38 5.1 Kesimpulan . 38 5.2 Saran . 38 Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA . 39 LAMPIRAN . 42 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1. Modifikasi Formula Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Daun Jati Dalam Berbagai Konsentrasi . 23 Tabel 4.1. Data Pemeriksaan Titik Lebur. 30 Tabel 4.2. Data Pemeriksaan Kekuatan Lipstik. 31 Tabel 4.3. Data Pengamatan Perubahan Bentuk, Warna, dan Bau Sediaan. 32 Tabel 4.4. Data Pengukuran pH Sediaan. 34 Tabel 4.5. Data Uji Iritasi . 35 Tabel 4.6. Data Uji Kesukaan . 36 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Halaman Tumbuhan Jati (Tectona grandis L.f.) . 43 Gambar 2. Daun Jati Muda . 44 Gambar 3. Wadah Sediaan Lipstik . 45 Gambar 4. Sediaan Lipstik Tanpa Pewarna Ekstrak Daun Jati . 46 Gambar 5. Sediaan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Daun Jati. 47 Gambar 6. Hasil Uji Homogenitas. 48 Gambar 7. Hasil Uji Oles . 48 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Halaman Hasil Identifikasi Tumbuhan . 42 Lampiran 2. Gambar Tumbuhan Jati (Tectona grandis L.f.). 43 Lampiran 3. Gambar Daun Jati Muda . 44 Lampiran 4. Gambar Wadah Sediaan Lipstik . 45 Lampiran 5. Gambar Sediaan Lipstik Tanpa Pewarna Ekstrak Daun jati . 46 Lampiran 6. Gambar Sediaan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Daun Jati . 47 Lampiran 7. Gambar Hasil Uji Homogenitas . 48 Lampiran 8. Gambar Hasil Uji Oles . 48 Lampiran 9. Perhitungan Hasil Uji Kesukaan . 49 Universitas Sumatera Utara FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN JATI (Tectona grandis L.f.) SEBAGAI PEWARNA ABSTRAK Daun jati muda (Tectona grandis L.f.) telah sejak lama digunakan masyarakat secara tradisional sebagai pewarna kain, tikar, dan juga makanan. Daun jati muda memiliki kandungan pigmen alamiah, salah satunya adalah golongan antosianin, yaitu pelargonidin. Peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pigmen alamiah yang terkandung dalam daun jati muda. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, minyak mawar (oleum rosae), butil hidroksitoluen, nipagin, serta penambahan pewarna ekstrak daun jati dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5% dan 15%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik sediaan mencakup pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles, dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test). Formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak daun jati menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65ºC, memiliki kekuatan lipstik yang baik, mudah dioleskan dengan warna yang merata, pH berkisar antara 4,3-4,6, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 4 yaitu sediaan dengan konsentrasi pewarna ekstrak daun jati 10%. Kata kunci: Daun jati, Tectona grandis L.f., Lipstik, Komponen Lipstik. Universitas Sumatera Utara FORMULATION OF LIPSTICK USING TEAK LEAF EXTRACT (Tectona grandis L.f.) AS COLORANT ABSTRACT The young teak leaf (Tectona grandis L.f.) have long been used traditionally by the people as a dye fabrics, mats, and also food. The young teak leaf contain natural 2.4 Anatomi rambut (Mitsui, 1997). a. Ujung rambut Pada rambut yang baru tumbuh serta sama sekali belum atau tidak pernah dipotong mempunyai ujung rambut yang runcing. b. Batang rambut Batang rambut adalah bagian rambut yang terdapat di atas permukaan kulit berupa benang-benang halus yang terdiri dari zat tanduk atau keratin. Universitas Sumatera Utara Batang rambut terdiri dari 3 lapisan yang terdapat dalam gambar 2.4 berikut: Gambar 2.5 Struktur batang rambut (Anonima, 2011). 1. Selaput rambut (kutikula) Kutikula adalah lapisan yang paling luar dari rambut yang terdiri atas selsel tanduk yang gepeng atau pipih dan tersusun seperti sisik ikan. Kutikula ini berfungsi sebagai pelindung rambut dari kekeringan dan masuknya bahan asing ke dalam batang rambut (Barel, dkk., 2001). Hasil mikrograf Scanning Electron Microscopy (SEM) kutikula rambut dapat dilihat pada Gambar 2.6. Gambar 2.6 Mikrograf scanning electron microscopy kutikula rambut dengan 3000 kali perbesaran (Barel, dkk., 2001). 2. Kulit rambut (korteks) Universitas Sumatera Utara Korteks terdiri atas sel-sel tanduk yang membentuk kumparan, tersusun secara memanjang, dan mengandung melanin. Granul-granul pigmen yang terdapat pada korteks ini akan memberikan warna pada rambut. Sel–sel tanduk terdiri atas serabut-serabut keratin yang tersusun memanjang. Tiap serabut terbentuk oleh molekul-molekul keratin seperti tali dalam bentuk spiral (Bariqina dan Ideawati, 2001). Jika rambut dibasahi dan direntang perlahan-lahan, rambut dapat memanjang sampai 1½ kali karena bentuk sel-sel dalam korteks rambut ini (Tranggono dan Latifah, 2007). 3. Sumsum rambut (medula) Medula terletak pada lapisan paling dalam dari batang rambut yang dibentuk oleh zat tanduk yang tersusun sangat renggang dan membentuk semacam jala/anyaman sehingga terdapat rongga-rongga yang berisi udara. c. Akar Rambut Akar rambut adalah bagian rambut yang tertanam di dalam kulit. Bagianbagian dari akar rambut adalah sebagai berikut: 1. Kantong rambut (Folikel) Folikel merupakan saluran menyerupai tabung, berfungsi untuk melindung akar rambut, mulai permukaan kulit sampai bagian terbawah umbi rambut. 2. Papil rambut Papil rambut adalah bulatan kecil yang bentuknya melengkung, terletak di bagian terbawah dari folikel rambut dan menjorok masuk ke dalam umbi rambut. Papil rambut bertugas membuat atau memproduksi bermacam-macam zat yang diperlukan untuk pertumbuhan rambut. Misalnya sel-sel tunas rambut, zat protein Universitas Sumatera Utara yang membentuk keratin, zat makanan untuk rambut, zat melanosit yang membentuk melanin. 3. Umbi rambut (Matriks) Matriks adalah ujung akar rambut terbawah yang melebar. Struktur bagian akar rambut ini berbeda dengan struktur batang dan akar rambut diatasnya. Pada umbi rambut melekat otot penegak rambut yang menyebabkan rambut halus berdiri bila ada suatu rangsangan dari luar tubuh (Bariqina dan Ideawati, 2001). 2.6.2 Bentuk rambut Rambut dapat berwujud tebal atau kasar, halus atau tipis, dan normal atau sedang. Keadaan atau wujud rambut dapat dilihat berbentuk lurus, berombak, atau keriting. Struktur rambut dengan bentuk folikel memberi perbedaan pada penampang rambut sebagai berikut: - Rambut lurus dengan folikel seperti silinder lurus, bentuk penampangnya bulat dan panjang. - Rambut berombak dengan folikel seperti silinder yang melengkung/bengkok, bentuk penampangnya oval dan panjang. - Rambut keriting dengan folikel seperti silinder yang melengkung menyerupai busur, bentuk penampangnya semi oval dan panjang. - Rambut yang sangat keriting dengan folikel seperti silinder yang sangat melengkung, bentuk penampangnya pipih dan panjang (Bariqina dan Ideawati, 2001). 2.6.3 Jenis rambut a. Jenis rambut menurut morfologinya, yaitu: Universitas Sumatera Utara 1. Rambut velus Rambut velus adalah rambut sangat halus dengan pigmen sedikit. Rambut ini terdapat diseluruh tubuh kecuali pada bibir, telapak tangan, dan kaki. 2. Rambut terminal Rambut terminal adalah rambut yang sangat kasar dan tebal serta berpigmen banyak. Terdapat pada bagian tubuh tertentu seperti kepala, alis, bulu mata, dan ketiak. b. Jenis rambut menurut sifatnya 1. Rambut berminyak Jenis rambut ini mempunyai kelenjar minyak yang bekerja secara berlebihan sehingga rambut selalu berminyak. Rambut berminyak kelihatan mengkilap, tebal, dan lengket. 2. Rambut normal Rambut ini mempunyai kelenjar minyak yang meproduksi minyak secara cukup. Rambut normal lebih mudah pemeliharaannya serta tidak terlalu kaku sehingga mudah dibentuk menjadi berbagai jenis model rambut. 3. Rambut kering Jenis rambut ini tampak kering, mengembang, dan mudah rapuh. Hal ini karena kandungan minyak pada kelenjar lemaknya sedikit sekali akibat kurang aktifnya kelenjar minyak (Putro, 1998). 2.6.4 Tekstur rambut Tekstur rambut adalah sifat-sifat rambut yang dapat ditentukan dengan penglihatan, perabaan, atau pegangan, dapat berupa kasar, sedang, halus, atau sangat halus. Sifat ini biasanya ditentukan oleh diameter rambut (Scott, dkk., Universitas Sumatera Utara 1976). Pengertian ini meliputi sifat-sifat rambut sebagai berikut (Bariqina dan Ideawati, 2001). a. Kelebatan rambut (Densitas rambut) Kelebatan rambut dapat ditentukan dengan melihat banyaknya batang rambut yang tumbuh di kulit kepala, rata-rata 90 helai rambut kasar sampai 130 helai rambut halus setiap sentimeter persegi. Banyaknya rambut yang tumbuh di seluruh kulit kepala berkisar antara 80.000-120.000 helai tergantung pada halus kasarnya rambut seseorang. b. Tebal halusnya rambut Tebal halusnya rambut ditentukan oleh banyaknya zat tanduk dalam kulit rambut. Pada umumnya, rambut yang berwarna hitam dan coklat lebih tebal daripada rambut merah atau pirang. Rambut di pelipis lebih halus daripada rambut di daerah lain. c. Kasar licinnya permukaan rambut Kasar licinnya permukaan rambut ini ditentukan melalui perabaan. Permukaan rambut dikatakan lebih kasar jika sisik-sisik selaput rambut tidak teratur rapat satu dengan yang lain. Hal ini dapat juga disebabkan oleh kotoran yang menempel pada permukaan rambut atau kelainan rambut yang berupa simpul. d. Kekuatan rambut Sifat ini tergantung pada banyaknya dan kualitas zat tanduk dalam rambut. Kekuatan rambut dapat diketahui dengan cara meregangkan rambut sampai putus. e. Daya serap (porositas) rambut Universitas Sumatera Utara Porositas rambut adalah kemampuan rambut untuk mengisap cairan. Porositas tergantung dari keadaan lapisan kutikula, yaitu lapisan rambut paling luar yang mempunyai sel-sel seperti sisik, bertumpuk-tumpuk membuka ke arah ujung rambut. Selaput rambut yang sisik – sisiknya terbuka dan zat tanduk yang keadaannya kurang baik akan meningkatkan daya serap rambut. Rambut di puncak kepala memiliki daya serap terbaik. f. Elastisitas rambut Elastisitas rambut adalah daya kemampuan rambut untuk memanjang bila ditarik dan kembali kepada panjang semula jika dilepas. Normalnya, daya elastisitas rambut dapat mencapai kira-kira 20-40% dari panjang asli rambut. Elastisitas pada rambut basah dapat mencapai 40-50% lebih panjang dari keadaan semula. g. Plastisitas rambut Plastisitas adalah sifat mudah tidaknya rambut dapat dibentuk. 2.6.5 Fisiologi rambut 2.6.5.1 Pertumbuhan rambut Rambut dapat tumbuh dan bertambah panjang. Hal ini disebabkan karena sel-sel daerah matrix/umbi rambut secara terus menerus membelah. Rambut mengalami proses pertumbuhan menjadi dewasa dan bertambah panjang lalu rontok dan kemudian terjadi pergantian rambut baru. Inilah yang dinamakan siklus pertumbuhan rambut (Rostamailis, dkk., 2008). Siklus pertumbuhan rambut telah dimulai saat janin berusia 4 bulan di dalam kandungan. Pada usia ini bibit rambut sudah ada dan menyebar rata diseluruh permukaan kulit. Diakhir bulan ke-enam atau awal bulan ketujuh usia Universitas Sumatera Utara kandungan, rambut pertama sudah mulai tumbuh dipermukaan kulit, yaitu berupa rambut lanugo, atau rambut khusus bayi dalam kandungan. Kemudian menjelang bayi lahir atau tidak lama sesudah bayi lahir, rambut bayi ini akan rontok, diganti dengan rambut terminal. Itulah sebabnya ketika bayi lahir, ada yang hanya berambut halus dan ada juga yang sudah berambut kasar dan agak panjang, bahkan kadang-kadang sudah mencapai panjangnya antara 2-3 centimeter. Kecepatan pertumbuhan rambut sekitar 1/3 milimeter per hari atau sekitar 1 centimeter perbulan. Dengan demikian kalau seorang bayi lahir dengan panjang rambut 2 centimeter, berarti pada bulan ke 7 kehamilan, rambut lanugo bayi sudah diganti dengan rambut dewasa terminal. Rambut tidak mengalami pertumbuhan secara terus menerus. Pada waktu-waktu tertentu pertumbuhan rambut itu terhenti dan setelah mengalami istirahat sebentar, rambut akan rontok sampai ke umbi rambutnya. Sementara itu, papil rambut sudah membuat persiapan rambut baru sebagai gantinya (Rostamailis, dkk., 2008). Pertumbuhan rambut mengalami pergantian melalui 3 fase, yaitu: 1. Fase anagen (fase pertumbuhan) Fase angkak 6% Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 8% Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 10% Sediaan 5 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 12% UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan a. Ekstrak angkak dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi sediaan lipstik. Variasi konsentrasi pewarna ekstrak angkak yang digunakan dalam formulasi menghasilkan perbedaan intensitas warna sediaan lipstik. Warna yang dihasilkan yaitu warna merah muda kecoklatan pada kosentrasi pewarna ekstrak angkak 4% dan 6%, warna merah kecoklatan pada konsentrasi pewarna ekstrak angkak 8% dan warna merah tua kecoklatan pada konsentrasi pewarna ekstrak angkak 10% dan 12%. Lipstik yang paling disukai yaitu lipstik dengan pewarna ekstrak angkak 10%. b. Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan terhadap 10 orang panelis menunjukkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat tidak menyebabkan iritasi. c. Hasil penentuan mutu fisik sediaan menunjukkan bahwa seluruh sediaan yang dibuat stabil, tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk, warna, dan bau dalam penyimpanan selama 30 hari. 5.2 Saran Disarankan untuk dilakukan penelitian selanjutnya mengenai pemanfaatan pewarna alami ekstrak angkak untuk formulasi sediaan kosmetik lainnya, seperti pewarna pipi. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR PUSTAKA Balsam, M.S. (1972). Cosmetic Science and Technology Second Edition. London: Jhon Willy and Son, Inc. Hal. 64 Butler, H. (2000). Poucher’s Perfumes, Cosmetics and Soaps Tenth Edition. Netherlands: Kluwer Academic Publishers. Hal. 210 Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 33. Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 83-86, 195-197. Fabre, C.E., Goma, G., dan Blanc, P.J. (1993). Production and food applications of the red pigments of Monascus ruber. Journal of Food Science. 58(5): 1099-1102. Fardiaz, S.F.D.B., dan Zakaria, F. (1996). Toksisitas dan imunogenitas pigmen angkak yang diproduksi dari kapang Monascus purpureus pada substrat limbah cair tapioka. Buletin Teknologi dan Industri Pangan. 1(12): 3438. Gandjar, I., dan Samson, R.A. (1999). Pengenalan Kapang Tropik Umum. Depok: Universitas Indonesia. Hal. 76. Hidayat, N., dan Saati, E.A. (2006). Membuat Pewarna Alami. Surabaya: Penerbit Trubus Agrisarana. Hal. 35. Keithler. (1956). Formulation of Cosmetic and Cosmetic Specialities. New York: Drug and Cosmetic Industry. Hal. 153-155. Lotong, N., dan Suwanarit, P. (1990). Fermentation of angkak in plastic bags and regulation of pigmentation by initial moisture content. J. Appl. Bacteriol. (68): 565-570. Mitsui, T. (1997). New Cosmetic Science. Amsterdam: Elsveir Science. Hal. 3, 13, 121, 386. Mart´ınkov´a, L., dan Pat´akov´a, P. (1999). Monascus dalam Encyclopedia of Food Microbiology. New York: Academic Press. Hal. 1481-1486. Rawlins, E.A. (2003). Bentley’s Textbook of Pharmaceutics. Edisi Kedelapan belas. London: Bailierre Tindall. Hal. 355. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Rowe, C.R., Paul, J.S., dan Marian E.Q. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients. Edisi Ke-enam. Washington: Pharmaceutical Press. Hal. 75, 378, 442, 592, 742. Sabater-Vilar, M., Maas, R.F.M., dan Fink-Gremmels, J. (1999) Mutagenicity of commercial Monascus fermentation products and the role of citrinin contamination. Mutation Research (444): 7-16. Soekarto, S.T. (1981). Penilaian Organoleptik. Bogor: IPB Press. Hal. 57. Tranggono, R.I.S., dan Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 7-8, 93-96. Vishwakarma, B., Dwivedi, S., Dubey, K., dan Joshi, H. (2011). Formulation And Evaluation of Herbal Lipstick. International Journal of Drug Discovery & Herbal Research. 1(1): 18-19. Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-Press. Hal. 28. Young, A. (1974). Pratical Cosmetic Science. London: Mills & Boon Limited. Hal. 86. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 1. Angkak Gambar Angkak Lampiran 2. Angkak yang telah dihaluskan Gambar angkak yang telah dihaluskan UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 3. Perhitungan Modifikasi Formula Sediaan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Angkak Contoh perhitungan formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 4% untuk 100g Ekstrak angkak 4% = Propilen glikol 10% = Titanium dioksida 0,5% = Oleum rosae 0,5% = Butil hidroksi toluen 0,1% = Nipagin 0,1% = Tween 1% Basis lipstik Cera alba = = 100 - ( 4 + 10 + 0,5 + 0,5 + 0,1 + 0,1 + 1 ) = 100 – 16,2 = 83,8 = Lanolin = Vaselin alba = Setil alkohol = Oleum ricini = Carnauba wax = UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Perhitungan formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 4% untuk 20g Ekstrak angkak 4% = Propilen glikol 10% = Titanium dioksida 0,5% = Oleum rosae 0,5% = Butil hidroksi toluen 0,1% = Nipagin 0,1% = Tween 1% = Cera alba = Lanolin = Vaselin alba = Setil alkohol = Oleum ricini = Carnauba wax = UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 4. Kuesioner Uji Kesukaan (Hedonic Test) FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK ANGKAK (Monascus purpureus) SEBAGAI PEWARNA Nama : Usia : Berdasarkan kemudahan pengolesan lipstik, homogenitas dan intensitas warna lipstik saat dioleskan, berikanlah penilaian Saudara terhadap lima sediaan uji berikut ini. Konsentrasi Pewarna 4% Nilai Kesukaan 6% 8% 10% 12% Keterangan: 5 (sangat suka) 4 (suka) 3 (cukup suka) 2 (kurang suka) 1 (tidak suka) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 5. Perhitungan Rendemen % Rendemen = = = 11,11% Lampiran 6. Perhitungan Uji Kesukaan (Hedonic Test) Untuk menghitung nilai kesukaan rerata dari setiap panelis digunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: n : banyak panelis S2 : keragaman nilai kesukaan 1,96 : koefisien standar deviasi pada taraf 95% : nilai kesukaan rata-rata : nilai kesukaan dari panelis ke i, dimana i= 1,2,3,.,n s : simpangan baku nilai kesukaan UNIVERSITAS SUMATERA UTARA - Sediaan 1 = 2,03 P ( 1,5 2,56 ) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA - Sediaan 2 = 2,86 P ( 2,5 3,22 ) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA - Sediaan 3 = 3,46 P ( 3,11 3,81) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA - Sediaan 4 = 4,06 P ( 3,56 4,56 ) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA - Sediaan 5 = 2,9 P ( 2,4 3,4 ) Keterangan: Sediaan 1 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 18% Sediaan 2 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 20% Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 22% Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 24% Sediaan 5 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 26% UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 7. Alat Freeze Dryer Gambar alat freeze dryer Lampiran 8. Ekstrak Angkak Gambar ekstrak angkak UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 9. Sediaan Lipstik Tanpa Pewarna Ekstrak Angkak Gambar sediaan lipstik tanpa pewarna ekstrak angkak Lampiran 10. Sediaan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Angkak Gambar sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak angkak UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 11. Hasil Uji Oles 123 45 Gambar hasil uji oles Keterangan: Sediaan 1 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 4% dengan lima kali pengolesan Sediaan 2 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 6% dengan lima kali pengolesan Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 8% dengan lima kali pengolesan Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 10% dengan lima kali pengolesan Sediaan 5 : Formula dengan konsentrasi pewarna ekstrak angkak 12% dengan lima kali pengolesan UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 12. Hasil Uji Homogenitas Gambar hasil uji homogenitas UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Lampiran 13. Surat Pernyataan untuk Uji Iritasi SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Umur : Jenis Kelamin : Alamat : Menyatakan bersedia menjadi panelis untuk uji iritasi dalam penelitian dari Linda dengan Judul penelitian Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Angkak (Monascus purpureus) Sebagai Pewarna dan memenuhi kriteria sebagai panelis uji iritasi sebagai berikut (Ditjen POM, 1985): 1. Wanita 2. Usia antara 20-30 tahun 3. Berbadan sehat jasmani dan rohani 4. Tidak memiliki riwayat penyakit alergi 5. Menyatakan kesediannya dijadikan panelis uji iritasi Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama uji iritasi, saya tidak akan menuntut kapada peneliti. Demikian surat pernyataan ini dibuat, atas partisipasinya peneliti mengucapakan terimakasih. Medan, Mei 2012 (.) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna Bibir Kosmetik Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna Ekstrak Daun Jati Hasil Formulasi Sediaan Lipstik Hasil Uji Iritasi Tabel 4.5 Data Uji Iritasi Hasil Uji Kesukaan Hedonic Test Tabel 4.6 Data Uji Kesukaan Hedonic Test Ekstraksi Kulit Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna Komponen Lipstik yang Digunakan dalam Formulasi Kosmetik Dekoratif Lipstik Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna Latar Belakang Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna Pemeriksaan Homogenitas Pemeriksaan Titik Lebur Lipstik Pemeriksaan Kekuatan Lipstik Pemeriksaan Stabilitas Sediaan Uji Oles Penentuan pH Sediaan Uji Iritasi Perumusan Masalah Hipotesis Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Antosianin Stabilitas Sediaan Tabel 4.3 Data Pengamatan Perubahan Bentuk, Warna, dan Bau Sediaan Uji Oles Titik Lebur Lipstik Tabel 4.1 Data Pemeriksaan Titik Lebur Kekuatan Lipstik Tabel 4.2 Data Pemeriksaan Kekuatan Lipstik Uji Tempel Patch Test Pembuatan Ekstrak Daun Jati
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna

Gratis