Pengaruh Shift Kerja Terhadap Kelelahan Kerja Karyawan Bagian Produksi Seksi Reduksi PT. INALUM Kuala Tanjung Tahun 2011

 25  119  41  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama : Tri Hengky PutraTempat/Tanggal Lahir : Tanjung Gading, 31 Desember 1988Agama : IslamStatus : Belum KawinJumlah Anggota Keluarga : 3 (Tiga)Alamat Rumah : Jln. Pembangunan Gang Mesjid No.22, MedanAlamat Kantor : -Riwayat Pendidikan : 1.

KATA PENGANTAR

  Pada hasil uji statistikregresi linear tunggal diperoleh terdapat pengaruh shift I dan shift III terhadap kelelahan kerja (p<0.05) dan tidak ada pengaruh shift II terhadap kelelahan kerja(p>0,05). Disarankan kepada karyawan yang bekerja pada shift I dan shift III untuk memanfaatkan waktu istirahat pada saat bekerja dengan sebaik-baiknya untukmencegah terjadinya kelelahan kerja yang dapat menyebabkan menurunnya kinerja karyawan.

BAB I PENDAHULUAN Pada saat ini industrialisasi berkembang dengan pesat. Untuk lebih menjamin

  Bagi sektor industri peran yang dapat dilakukan di antaranya dengan mengurangi atau menghilangkan berbagai potensi bahaya yang ada pada lingkungankerja seperti peralatan (mesin), iklim, pola waktu kerja (shift kerja), dan sebagainya, sehingga berbagai dampak negatif yang akan timbul terhadap pekerja sedini mungkindapat dicegah. Untuk menghasilkan ingot tersebut bahan mentah yaitu larutan alumina Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh penulis terhadap tenaga kerja lapangan di seksi reduksi yang semuanya berjenis kelamin laki-laki, terlihatbahwasanya tenaga kerja di lapangan bekerja dengan sistem shift, yang terbagi menjadi 3 shift yaitu shift I dimulai dengan waktu kerja pukul 24.00-08.00 WIB, shift II dimulai dengan waktu kerja pukul 08.00-16.00 WIB, shift III dimulai dengan waktu kerja pukul 16.00-24.00 WIB.

1.4 Manfaat Penelitian

  Sebagai masukan bagi pihak perusahaan PT Inalum Kuala Tanjung khususnya mengenai pengaruh shift kerja terhadap kelelahan tenaga kerja di bagianproduksi seksi reduksi subseksi reduction operation. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai pengaruh shift kerja terhadap kelelahan tenaga kerja di bagian produksi seksi reduksi 3.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 Defenisi Shift Kerja

  Menurut Suma’mur (1994), shift kerja merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanyadibagi atas kerja pagi, sore dan malam. Proporsi pekerja shift semakin meningkat dari tahun ke tahun, ini disebabkan oleh investasi yang dikeluarkan untuk pembelianmesin-mesin yang mengharuskan penggunaannya secara terus menerus siang dan malam untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

2.1.2 Sistem Shift Kerja

  Sistem shift kerja dapat berbeda antar instansi atau perusahaan, walaupunMenurut William yang dikutip oleh Sri Ramayuli (2004) dikenal dua macam sistem shift kerja yang terdiri dari : 1. Tenaga kerja yang bekerja pada shift malam yang tetap adalah orang-orang yang bersedia bekerja padamalam hari dan tidur pada siang hari.

2. Sistem Rotasi Tenaga kerja bekerja tidak terus-menerus di tempatkan pada shift yang tetap

  Sistem rotasi ini dianjurkan olehpakar yang berpandangan modern dengan mempertimbangkan faktor sosial dan Banyak pandangan orang yang tidak menyukai shift kerja tetapi sikap ini tidak umum. Individu yang tidak suka terhadap shift kerja tersebut disebabkan oleh beberapa hal di antaranya 61% beranggapan bahwa shift kerja berpengaruh terhadap kehidupansosial, 47% beranggapan bahwa shift kerja menyebabkan waktu tidur tidak teratur,44% karena kerja malam, 38% waktu makan tidak teratur, 35% menyebabkan cepat bangun (Fish dalam Hery Firdaus, 2005).

2.1.4 Efek Shift Kerja

  Menurut Fish yang dikutip oleh Hery Firdaus (2005) mengemukakan bahwa efek shift kerja yang dapat dirasakan antara lain : 1. Efek terhadap keselamatan kerjaSurvei pengaruh shift kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja yang dilakukan Smith et.

2.2 Irama Sirkadian

  Hampir seluruh makhluk hidup di dunia ini mempunyai irama yang secara teratur mengalami perubahan fungsi tubuh dan fisiologik dalam siklus 24 jam, tetapi adapula Hery Firdaus (2005) menyatakan bahwa circardian rhythm setiap individu berbeda dalam penyesuaian kerja malam, namun antara shift pagi dan siang terlihat sedikitperbedaan. Setiap hari fungsi tubuh ini akan berubah-ubah antara maksimum dan minimum, pada siang hari meningkat dan pada malam harimenurun.

2.3 Kelelahan Kerja

  Bila rasa letih sedemikian menonjol dan terus menerus sehingga menggangu kerja dan kegiatan lainnya ini disebut kelelahan (fatique). Banyak defenisi tentang kelelahan kerja yang telah dikemukakan, namun secara garis besar dapat dikatakan bahwa kelelahan merupakan suatu pola yangtimbul pada suatu keadaan, yang secara umum terjadi papda setiap individu, yang telah tidak sanggup lagi melakukan aktivitasnya (Satalaksana, 1979).

2.3.1 Jenis Kelelahan kerja

  Kelelahan kronis, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh sejumlah faktor yang berlangsung secara terus-menerus dan terakumulasi. Kelelahan umum, adalah perasaan yang menyebar yang disertai adanya penurunan kesiagaan dan kelambanan pada setiap aktivitas (Grandjean, 1985).

2.3.2. Faktor Yang Menyebabkan Timbulnya Kelelahan

  Ada beberapa faktoryang mempengaruhi tingkat kelelahan yaitu : jam kerja; periode istirahat; cahaya, suhu dan ventilasi yang berpengaruh pada kenyamanan fisik, sikap, mental dankelelahan tenaga kerja; kebisingan dan getaran merupakan gangguan yang tidak diinginkan, sejauh mungkin dikurangi atau dihilangkan. Shift kerja secara nyata berpengaruh terhadap timbulnya kelelahan terutama shift kerja siang dan shift kerja malam.

2.3.3 Proses Terjadinya Kelelahan Kerja

  Setiap kontraksi dari otot akan selalu diikuti oleh reaksi kimia(oksida glukosa) yang merubah glikogen menjadi tenaga, panas dan asam laktat(produk sisa). Pada dasarnya kelelahan ini timbul karena terakumulasinya produk-produk sisa dalam otot dan peredaran darah yang disebabkan tidak seimbangnya antara kerjadengan proses pemulihan.

2. Karbohidrat yang didapat dari makanan diubah menjadi glukosa dan disimpan

  Jika ini terjadi maka kelelahan akan timbul, karena reaksi oksidasi dalam tubuh yaitu untuk mengurangi asam laktat menjadi H 2 O (air) dan CO 2 (karbondioksida) agar di keluarkan dari tubuh, menjadi tidak seimbang dengan pembentukan asam laktat itu sendiri (asam laktat terakumulasi dalam otot atau dalam peredaran darah) (Nasution, 1998). Untuk kelelahan fisiologis, para ahli meyakini bahwa keadaan dan perasaan kelelahan yang timbul karena adanya reaksi fungsional dari pusat kesadaran (Cortex cerebri) atas pengaruh dua sistem antagonistik yaitu sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi).

2.3.4 Akibat Kelelahan Kerja

  Kelelahan dapat kita ketahui dari gejala-gejala atau perasaan-perasaan yang sering timbul seperti :Perasaan berat di kepala, menjadi lelah seluruh tubuh, kaki terasa berat, menguap, pikiran kacau, mengantuk, mata berat, kaku dan canggung dalamgerakan, tidak seimbang dalam berdiri dan merasa ingin berbaring. Gejala kelelahanberikut merupakan gejala yang jelas dilihat dan dirasakan, yaitu menurunnya perhatian, lamban dalam bergerak, gangguan persepsi, pikiran melemah, motivasimenurun, kinerja menurun, ketelitian menurun dan kesalahan meningkat (Grandjean,1985).

2.3.5 Penanggulangan Kelelahan Kerja

  Kelelahan dengan menurunnya efisiensi dan ketahanan dalam bekerja meliputi sumber utamanya adalah mata (visual), kelelahan fisik umum, kelelahan mental,kelelahan syaraf, kelelahan oleh karena lingkungan kerja yang monoton ataupun karena lingkungan kerja yang kronis terus-menerus. Kerja fisik yang melibatkan kecepatan tangan dan fungsi mata serta memerlukan konsentrasi yangterus-menerus dapat menyebabkan kelelahan fisiologis dan penurunan keinginan untuk bekerja yang disebabkan oleh faktor psikis yang mengakibatkan kelelahan(Nasution, 1998).

5.3. Pengaruh

  Dari hasil penelitian diperoleh pada shift III hampir semua karyawan sering merasakan gejala-gejala perasaan lelah seperti tidak mudah mengingat-ingat sesuatusesuatu, merasa sulit mengingat apa masalah yang perlu segera diatasi, merasa ragu- ragu terhadap kemampuan diri sendiri, tidak mampu memaksa diri sendiri melakukanpekerjaan sebaik-baiknya, dan merasa tidak perlu bekerja dengan terampil. Menurut Suma’mur (1994) shift sore perlu mendapatkan perhatian yang serius karena dapat menyebabkan gangguan pada irama faal dan metabolisme tubuh,gangguan pencernaan, kurang tidur, kelelahan dan gangguan reaksi psikologis dan pengaruh-pengaruhnya bersifat kumulatif.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

  Tingkat kelelahan kerja karyawan shift I berada pada kategori sangat lelah sejumlah 61 orang (87.1%), shift II kategori lelah sejumlah 65 orang (92.9%)dan shift III kategori lelah sejumlah 44 orang (62.9%). Ada pengaruh antara shift I dan shift III terhadap kelelahan kerja dan tidak ada pengaruh shift II terhadap kelelahan kerja.

6.2. Saran

Agar karyawan yang bekerja pada shift I dan shift III mempergunakan waktu istirahat pada saat bekerja dengan sebaik-baiknya untuk mencegah terjadinyakelelahan kerja yang dapat menyebabkan penurunan kinerja pada karyawan.

DAFTAR PUSTAKA

  Perbandingan Sistem Rotasi Shift Kerja Malam Berdasarkan Kelelahan Kerja Pada Perawat di Rumah Sakit Materna dan Rumah Sakit Herna Medan Tahun 1997 . Hubungan Faktor Individu dan Shift Kerja Dengan Produktivitas Tenaga Kerja Wanita Pada Bagian Pengepakan di PT.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pengaruh Shift Kerja Terhadap Kelelahan Kerja..

Gratis

Feedback