Feedback

The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness to Seller at Bogor Regency

Informasi dokumen
STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR Oleh : BAKRI M. H252074075 SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 2 PERNYATAAN MENGENAI TUGAS AKHIR DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir ”Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tugas akhir ini. Bogor, 19 September 2011 B a k r i M. NRP. H252074075 3 ABSTRACT BAKRI M. “The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness to Seller at Bogor Regency”. Directed by MUHAMMAD FIRDAUS and LUKMAN M. BAGA Traditional market in Bogor Regency is a place to meet transaction between producers and consumers which has the strategic value for the developing people’s economic growth. But, the embeded problem, the traditional market is still low competitiveness if it is compared to the modern market (hyper market, super marker, etc) competitiveness. In that condition, it’s necessary to get the strategies of competitiveness of the traditional market increased in Bogor Regency. The objective of the research is to formulate strategy and program to achieve more competitiveness of the traditional market in Bogor Regency. The specific aims are to identify the condition of traditional market, to analyze the perception of consumers and to formulate the strategies for the increasing competitiveness of the traditional market in Bogor Regency. Research uses the method that has the descriptive quantitative with it for identificating of condition of the traditional market, IPA Analysis for the Analysis perception customer to traditional market and SWOT and QSPM Analysis for formulating strategy and program to increase competitiveness the traditional market in Bogor Regency. Results of the research show the three priority strategics for increasing the competitiveness of the traditional market in Bogor Regency, those are 1) to increase quality of service market, 2) to increase quality of infrastructure market, and 3) to control the PKL trader those belong to the traditional market. Key words: Bogor Regency, Traditional Market, Increase Competitiveness, Analysis of Customer Perception, SWOT, QSPM. 4 RINGKASAN BAKRI M. Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap pedagang di Kota Bogor. Komisi pembimbing terdiri dari MUHAMMAD FIRDAUS sebagai ketua dan LUKMAN M. BAGA sebagai anggota komisi pembimbing. Pasar tradisional merupakan tempat transaksi masyarakat produsen dan konsumen yang sarat dengan nilai strategis dalam mengembangkan pasar domestik dan bagi perkembangan perekonomian masyarakat. Nilai stategis yang dimiliki pasar tradisional adalah hampir 100 persen barang dan jasa yang diperdagangkan merupakan hasil produksi dan dikonsumsi di dalam negeri dan sangat sedikit hasil impor. Kondisi ini akan meningkatkan transaksi ekonomi yang terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor akan dinikmati oleh masyarakat. Sehingga transaksi ekonomi di pasar tradisional lebih memberikan manfaat bagi masyarakat di Kota Bogor. Selain memiliki nilai strategis, terdapat beberapa kelemahan pasar tradisional antara lain tidak aman, kumuh dan tidak nyaman, kotor dan basah, tidak tertib, timbangan/takaran tidak sesuai, kualitas kurang baik, masih tawar menawar, macet, dan lain-lain. Lemahnya daya saing (posisi tawar) pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern akan menjadikan kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar, hal ini berkaitan dengan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pasar yang harus dikembangkan. Beberapa hal yang menjadi permasalahan yang terdapat di pasar tradisional yang sesuai dengan penelitian ini adalah ; 1) kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, 2) persepsi pelanggan terhadap pengelolaan dan pelayanan PD Pasar Pakuan Jaya di Kota Bogor, 3) Strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional terhadap pedagang yang terdapat di Kota Bogor. Sementara tujuan spesifik dari penelitian ini adalah : mengidentifikasi kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, menganalisis persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor dan merumuskan strategi untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Dalam rangka untuk mencapai tujuan penelitian, data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari data PD Pasar Pakuan Jaya, BPS Kota Bogor dan Bappeda Kota Bogor, dan sebagian dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuisioner. Sementara metode analisis yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif, IPA Analysis, SWOT dan QSPM. Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan penelitian, bahwa strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor harus di fokuskan pada program peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan sarana dan prasarana pasar dan pengaturan PKL di pasar. Kondisi pasar tradisional di Kota Bogor dapat diketahui melalui Kondisi bangunan fisik pasar yang berupa kondisi kios dan los, kondisi dasar dan lantai bangunan, kondisi gedung, kondisi fasilitas listrik, 5 kondisi fasilitas drainase, kondisi fasilitas keamanan, ketertiban dan kebersihan dan kondisi terdapatnya PKL. Kondisi bangunan fisik pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor perlu direnovasi. Kondisi fisik yang perlu direnovasi terutama di tiga pasar yang dilakukan kajian yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari, dan Pasar Kebon Kembang adalah kondisi fisik kios dan los pasar, kondisi koefisien dasar bangunan dan koefisien lantai bangunan, dan kondisi gedung pasar. Di pasar tradisional di Kota Bogor kondisi ketertiban, keamanan dan kebersihan perlu ditingkatkan, dan masih terdapat banyak PKL yang perlu ditertibkan. Untuk itu diperlukan pengelolaan PKL dengan baik salah satunya dengan relokasi/ memindahkan ketempat yang tidak mengganggu ketertiban umum. Mengenai persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional berdasarkan pada hasil penelitian ini adalah secara umum persepsi pelanggan terhadap kinerja pasar tradisional di Kota Bogor adalah rendah, sementara harapan pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. Begitu juga dengan tingkat kepentingan pelanggan pasar tradisional di Kota Bogor terhadap dimensi kinerja adalah rendah, sedangkan tingkat kepentingan pelanggan terhadap dimensi harapan atribut pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. Dimensi yang paling penting menurut responden adalah dimensi assurance, yang mencakup keamanan dan ketertiban pasar, kemudahan mendapat izin berdagang, kejujuran petugas penarik retribusi, kualitas barang dan kelengkapan jenis barang. Jika dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, maka pemerintah harus lebih menekankan pada aspek-aspek ini. Mengingat sekarang persaingan antara pasar modern dan pasar tradisional sangat ketat, dimana para pembeli lebih senang berbelanja di pasar modern dikarenakan beberapa hal seperti nyaman, bersih dan terjamin. Terdapat tiga strategi prioritas dari sembilan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di Kota Bogor yaitu : peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan kualitas sarana dan prasarana pasar, dan pengaturan PKL di sekitar pasar tradisional 6 © Hak Cipta milik IPB, tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB. 7 STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR B a k r i M. Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 8 Penguji luar pada ujian tugas akhir : A. Faroby Falatehan, SP, ME 9 Judul Tugas Akhir : Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor Nama : B a k r i M. NRP : H 252074075 Program Studi : Manajemen Pembangunan Daerah Disetujui, Komisi Pembimbing Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec Anggota Dr. Muhammad Firdaus, SP. M.Si Ketua Diketahui, Ketua Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec Dr. Ir. Dahrulsyah, MSc Tanggal Ujian : Tanggal Lulus : 10 PRAKATA Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap pedagang di Kota Bogor”. Penulisan ini merupakan salah satu tugas yang harus dipenuhi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional dalam program Pascasarjana Manajemen Pembangunan Daerah Institut Pertanian Bogor. Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Muhammad Firdaus, SP. M.Si selaku ketua komisi pembimbing dan Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec selaku anggota komisi pembimbing dan A. Faroby Falatehan, SP ME sebagai penguji. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada para dosen dan pimpinan serta pengelola Program Magister Manajemen Pembangunan Daerah Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih juga secara khusus penulis sampaikan kepada Istri tercinta dan anak-anakku yang telah memberikan dukungan kepada penulis berupa semangat, moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini. Kepada Bapak Jenal Abidin, MP sebagai ketua kelas Bogor 10 dan teman teman seangkatan yang tidak bisa saya sebut satu persatu dan seluruh keluarga besar MPD IPB yang telah banyak mendorong, menyemangati dan memberikan bantuannya sampai selesainya pendidikan ini. Tak lupa kepada Bappeda Kota Bogor, BPS Kota Bogor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor, Kabag Perekonomian Pemda Kota Bogor, PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor, para kepala pasar, penulis ucapkan terimakasih atas kerjasamanya yang selama ini di bangun. Terlepas dari berbagai bentuk kekurangan dari kajian ini, penulis berharap tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak. Bogor, 19 September 2011 B a k r i M. 11 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Batang Kapas pada tanggal 8 Agustus 1962 dari seorang Ayah bernama Ismael dan Ibu bernama Manyar. Pendidikan Dasar penulis diselesaikan di SD Negeri Anakan pada tahun 1974. Penulis melanjutkan ke SMP Negeri Batang Kapas dan lulus pada tahun 1977. Kemudian penulis melanjutkan ke SMA Negeri Painan dan lulus tahun 1980. Pada tahun 2002 kemudian penulis melanjutkan ke Universitas Ibnu Kholdun (UIK) Bogor di Fakultas Ekonomi dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun 2008, penulis melanjutkan kuliah di Program Studi Magister Manajemen Pembangunan Daerah pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan menamatkannya pada tahun 2011. Penulis pernah bekerja sebagai Pedagang di Pasar Cibinong dan Pasar Cileungsi Bogor, serta aktif di organisasi sosial dan Profesi. Pada tahun 2007 sampai tahun 2010 sebagai Badan Pengawas PD Pasar Tohaga di Kabupaten Bogor. Sekarang penulis bekerja sebagai Direktur Umum PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor. Penulis menikah dengan Farianis dan di karuniai empat orang anak yaitu Alfian Bakti, Sari Gumala Bakti, Incim Gumala Sari dan Para Seno Bakti. 12 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................... xvii DAFTAR GAMBAR....................................................................................... xx DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xxi I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1.2 Perumusan Masalah ............................................................................... 1.3 Tujuan.................................................................................................... 1.4 Manfaat .................................................................................................. 1 1 2 4 4 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 2.1 Definisi Pasar ......................................................................................... 2.2 Pasar Tradisional dan Modern ................................................................ 2.3 Permasalahan Utama Pasar..................................................................... 2.4 Manajemen Pasar ................................................................................... 2.5 Pedagang dan Struktur Kegiatannya ....................................................... 2.6 Persepsi Pelanggan ................................................................................. 2.7 Kajian Penelitian Terdahulu ................................................................... 6 6 7 9 12 13 14 18 III. METODOLOGI KAJIAN ....................................................................... 3.1 Kerangka Pemikiran ............................................................................... 3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................................. 3.3 Data dan Metode Analisis ...................................................................... 3.4 Metode Perumusan Strategi dan Perancangan Program .......................... 21 21 22 23 31 IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH .......................................................... 4.1 Kondisi Geografis Kota Bogor ............................................................... 4.2 Pemerintahan ......................................................................................... 4.3 Penduduk ............................................................................................... 4.4 Kondisi Perekonomian ........................................................................... 4.5 Keberadaan Pasar di Kota Bogor ............................................................ 34 34 36 36 37 38 V. KONDISI PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR .................. 5.1 Kondisi Bangunan Fisik Pasar Tradisional di Kota Bogor ...................... 5.2 Kondisi Fasilitas Listrik Pasar Tradisional Kota Bogor ........................... 5.3 Kondisi Fasilitas Drainase Pasar Tradisional Kota Bogor ....................... 5.4 Kondisi Fasilitas Keamanan, Ketertiban dan Kebersihan Pasar Tradisional di Kota Bogor ...................................................................... 5.5 Kondisi PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor........................................ 41 41 44 44 46 48 VI. PERSEPSI PELANGGAN TERHADAP PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR ....................................................... 50 6.1 Karakteristik Pelanggan Pasar Tradisional di Kota Bogor ........................ 50 6.2 Persepsi Pelanggan Terhadaap Pasar Tradisional di Kota bogor .............. 52 13 6.3 Tingkat Kepentingan Atribute Kualitas Pengelolaan Pasar ...................... 62 6.4 Implikasi Pengembangan Pasar Tradisional terhadap Pembangunan Kota Bogor ..................................................................................................... 66 VII. STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR.................................................................................................... 69 7.1 Analisis Lingkungan Internal ................................................................. 69 7.2 Analisis Lingkungan Eksternal .............................................................. 72 7.3 Evaluasi Faktor Internal (IFE)................................................................ 74 7.4 Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) ............................................................ 76 7.5 Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional t erhadap Pedagang di Kota Bogor......................................................... 77 7.6 Penentuan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional t erhadap Pedagang di Kota Bogor......................................................... 79 7.7 Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional ............................ 81 VIII. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 84 8.1 Kesimpulan ............................................................................................ 84 8.2 Saran ..................................................................................................... 85 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 86 LAMPIRAN 14 DAFTAR TABEL Halaman 1. Pendapatan Operasional Pasar di Kota Bogor……………………………… 3 2. Jenis Usaha Ritel di Indonesia ……………..……………………………… 7 3. Kelebihan dan Kekurangan Pasar Tradisional dan Pasar Modern ………… 8 4. Data dan Metode Analisis ................................................................... ….. 23 5. Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar Pakuan Jaya .......................................... 25 6. Matrik IFE ..................................................................................................... 30 7. Matrik EFE .................................................................................................... 30 8. Matrik SWOT ................................................................................................ 31 9. Matrik Analisis QSPM ................................................................................... 33 10. Kondisi Kios dan Los tahun 2009................................................................. 41 11. Kondisi Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan ............ 42 12. Bangunan yang perlu diperbaiki ................................................................... 44 13. Sarana Listrik yang Perlu Renovasi .............................................................. 45 14. Sarana Drainase yang Perlu Perbaikan ......................................................... 46 15. Sarana Ketertiban dan Keamanan yang Perlu Renovasi ................................ 47 16. Sarana Kebersihan yang Perlu Renovasi ....................................................... 48 17. Jumlah PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor .............................................. 49 18. Karakteristik Pelanggan Berdasarkan Status Pernikahan............................... 51 19. Pendidikan Responden di Pasar Tradisional Kota Bogor .............................. 51 20. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ................................... 52 21. Persepsi Pelanggan Pasar Bogor terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan.....................................................................................................53 15 22. Persepsi Pelanggan Pasar Sukasari terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan.....................................................................................................56 23. Persepsi Pelanggan Pasar Kebon Kembang Terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan .................................................................................... 58 24. Persepsi Seluruh Pelanggan Pasar Terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan.................................................................................................. 61 25. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Bogor................ 63 26. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Sukasari............. 64 27. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Kebon Kembang.. 64 28. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Semua Pasar................ 65 29. Matrik IFE dari Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor ................................................................ 75 30. Matrik EFE Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor................................................................ 76 31. Matrik SWOT Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor .......................................... 78 32. Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor ............................................................................................ 80 33. Matrik Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor ............................................................ 83 16 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka Pemikiran Kajian ....................................................................... 22 2. Diagram Kartesius ..................................................................................... 27 3. Peta Lokasi Kota Bogor ............................................................................. 34 4. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Bogor .......................................... 54 5. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Sukasari ..................................... 57 6. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Kebon Kembang ........................ 59 7. Hasil Diagram Kartesius untuk Gabungan Pasar di Kota Bogor ............. 62 17 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bogor yang memiliki visi menjadi kota jasa yang nyaman dengan masyarakat madani dan pemerintahan yang amanah merupakan visi yang harus di jalankan oleh pemerintah dan mendapat dukungan dari masyarakat secara keseluruhan. Syarat untuk mewujudkan Kota Bogor sebagai kota jasa, pemerintah Kota Bogor memiliki empat program prioritas diantaranya adalah: penyelesaian persoalan transportasi, penyelesaian pedagang kaki lima (PKL), pengentasan kemiskinan dan kebersihan lingkungan hidup. Keempat program prioritas ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu pusat kehidupan ekonomi masyarakat di Kota Bogor. Pasar dalam arti sempit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran bertemu, dalam hal ini pengertian pasar lebih mengarah pada pasar tradisional (Umar, 2005). Sedangkan dalam arti luas, pasar adalah proses transaksi antara permintaan dan penawaran, dalam hal ini lebih mengarah pada pasar modern. Pasar tradisional merupakan tempat transaksi masyarakat produsen dan konsumen yang sarat dengan nilai strategis dalam mengembangkan pasar domestik dan bagi perkembangan perekonomian masyarakat. Beberapa nilai strategis pasar tradisional adalah 1) barang dan jasa kebutuhan masyarakat sebagian besar merupakan produksi nasional dan lokal; 2) bahan baku untuk memproduksi barang dan jasa tersebut sebagian besar merupakan produksi nasional (local content); 3) uang sebagai hasil transaksi akan beredar sebanyak mungkin di dalam negeri/ lokal; 4) meminimalisir pengeluaran devisa negara; 5) peningkatan penyerapan tenaga kerja; dan 6) meningkatkan pendapatan masyarakat. Nilai strategis lain yang dimiliki pasar tradisional adalah hampir 100 persen barang dan jasa yang diperdagangkan merupakan hasil produksi dan dikonsumsi di dalam negeri dan sangat sedikit hasil impor. Kondisi ini akan meningkatkan transaksi ekonomi yang terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor 18 akan dinikmati oleh masyarakat. Sehingga transaksi ekonomi di pasar tradisional lebih banyak memberikan manfaat bagi masyarakat di Kota Bogor. Banyaknya nilai strategis yang dimiliki oleh pasar tradisional belum tentu dapat meningkatkan posisi tawar pasar dan menjadi pilihan utama masyarakat dalam berbelanja, hal ini dikarenakan terdapatnya beberapa kelemahan yang dimiliki oleh pasar tradisional dan rendahnya daya saing jika dibandingkan dengan pasar modern (mall, supermarket, minimarket, dll). Beberapa kelemahan pasar tradisional antara lain tidak aman, kumuh dan tidak nyaman, kotor dan basah, tidak tertib, timbangan/takaran tidak sesuai, kualitas kurang baik, masih tawar menawar, macet, dan lain-lain. Lemahnya daya saing (posisi tawar) pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern akan menjadikan kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional, hal ini berkaitan dengan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pasar yang harus dikembangkan. Dengan kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor seperti diatas, maka diperlukan sebuah penelitian strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor guna meningkatkan minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. 1.2 Perumusan Masalah Pasar tradisional selain merupakan tempat interaksi antara penjual dan pembeli, juga merupakan potensi yang dimiliki oleh Kota Bogor sebagai penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD). Nilai PAD dari pengelolaan tujuh pasar dan pendapatan perizinan kartu kuning, mandi cuci kakus dan pendapatan kerja sama dengan pihak ketiga dalam mengoperasionalkan sebagian pasar, dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai PAD dari pengelolaan pasar, retribusi, mandi cuci kakus dan pendapatan kerja sama dengan pihak ketiga dari tahun 2006 hingga tahun 2010 adalah 12.308 juta, pendapatan tersebut dari tahun ke tahun selalu meningkat. Pendapatan dari pasar tradisional dan Pendapatan tertinggi dari tahun 2006 hingga tahun 2010 berasal dari Pasar Bogor, yaitu sebesar Rp 3.911 juta, selanjutnya adalah Pasar Kebon Kembang sebesar Rp 2.608 juta. 19 Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa penerimaan pendapatan operasional dari pasar tradisional pada tahun 2006 hingga 2010 mengalami penurunan, walaupun secara nominal mengalami peningkatan. Peningkatan penerimaan tertinggi pada tahun 2006 ke tahun 2007 rata-rata sebesar 16,8 persen, selanjutnya menurun menjadi 6,6 persen, 4,8 persen dan 0,7 persen. Penurunan terbesar terjadi di Pasar Jambu Dua, sebesar 10,3 persen. Secara keseluruhan, pada Tabel 1, pertumbuhan pendapatan operasional pasar tertinggi adalah dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 12,68 persen, selanjutnya menurun hingga 2,08 persen pada tahun 2009/2010. Pertumbuhan rata-rata dari tahun 2006 hingga tahun 2010 adalah 6,57 persen. Tabel 1. Pendapatan Operasional Pasar di Kota Bogor (dalam Rp juta) 1 a Sumber Pendapatan Retribusi Pasar Bogor b Kb. Kembang No 2006 2007 TAHUN 2008 2009 2010 Total Pendapatan 672 799 804 808 826 3.911 467 505 526 552 557 2.608 197 114 74 60 50 100 38 200 122 77 65 53 129 47 207 125 80 59 54 112 48 906 584 379 292 235 342 212 480 28 30 2.505 6,01 528 28 30 2.643 5,51 528 67 30 2.698 2,08 6,57 2.461 202 170 12.308 c d e f g 2 3 4 a b c Merdeka 108 191 Sukasari 107 113 Gunung Batu 71 74 Jambu Dua 53 54 Padasuka 38 39 Kartu Kuning 44 34 MCK Kontraktor Bina Citra 440 485 PROPINDO 45 32 Cardo Lestari 47 32 JUMLAH 2.097 2.363 Pertumbuhan (%) 12,68 Pertumbuhan rata per tahun (%) Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor, 2011 Penurunan pertumbuhan pendapatan operasional yang terjadi pada pasar tradisional di Kota Bogor yang dikelola oleh PD Pasar Pakuan Jaya dari tahun 2006 hingga 2010 antara lain dikarenakan oleh berbagai kelemahan, seperti segi manajemen pengelolaan, infrastruktur, kualitas sumberdaya keberpihakan kebijakan pemerintah dan lemahnya karakter pedagang. manusia, 20 Pasar modern berkembang sangat pesat, dengan sarana dan prasarana yang lengkap, lahan parkir yang cukup luas, keamanan terjamin, antar lantai dihubungkan dengan eskalator dan lif, diruangan pasar memakai ac dan koridor yang cukup lapang serta dikelola dengan mempergunakan teknologi tinggi dan sumber daya manusia yang handal, dan jumlah pasar modern lebih banyak dari pasar tradisional di Kota Bogor. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh pasar tradisional ini menjadi tantangan bagi PD Pasar Pakuan Jaya dalam upaya mengembangkan pasar, agar pasar tradisional dapat memiliki posisi tawar di mata masyarakat dan pasar modern. Oleh karenanya yang menjadi rumusan permasalahan dari penelitian ini adalah : 1. Bagimana kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor? 2. Bagaiman persepsi pelanggan terhadap pengelolaan dan pelayanan PD Pasar Pakuan Jaya di Kota Bogor? 3. Strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor? 1.3 Tujuan Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. Sementara tujuan spesifik dari penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. 2. Menganalisis persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor. 3. Merumuskan strategi untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 1.4 Manfaat Manfaat dari penelitian ini di harapkan menjadi bahan acuan bagi pemerintah Kota Bogor dan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor, serta dapat menjadi acuan bagi penelitian-penelitian lain dalam upaya 21 mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam pengembangan pasar tradisional di Indonesia. 22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pasar Pasar merupakan suatu lapangan atau pelataran yang sebagian beratap atau sebagian terbuka, seluruhnya terbuka atau tertutup yang sesuai berdasarkan peraturan dan ketentuan pemerintah setempat. Menurut Umar (2005), pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, atau saling bertemunya antara kekuatan permintaan dan penawaran untuk membentuk suatu harga. Secara fisik pasar merupakan pemusatan beberapa pedagang tetap yang selanjutnya para pedagang tersebut menempati bangunan-bangunan. Sedangkan secara fungsional, pasar adalah suatu tempat dimana terjadi proses tukar menukar dan proses itu berlangsung bila sejumlah penjual dan pembeli bertemu satu sama lainnya yang kemudian sepakat untuk memindah tangankan barang-barang yang diperjualbelikan kepada pembeli yang dinyatakan dengan bentuk transaksi. Secara ekonomi, pasar merupakan sebagai pusat sosial ekonomi suatu lingkungan, dimana penduduk dapat memenuhi kebutuhannya terutama kebutuhan barang-barang pokok sehari-hari atau kebutuhan jasa-jasa dalam bentuk eceran, sedangkan pengertian dari sudut pelayanannya pasar merupakan sarana umum yang ditempatkan oleh pemerintah sebagai tempat transaksi jual beli umum dimana pedagang secara teratur dan langsung memperdagangkan barang dan jasa dengan mengutamakan adanya barang-barang kebutuhan sehari-hari. Pasar merupakan sebuah perwujudan kegiatan ekonomi yang telah melembaga serta tempat bertemunya antara produsen (pedagang) dan konsumen (pembeli) untuk melaksanakan transaksi dimana proses jual beli terbentuk yang menurut kelas mutu pelayanan menjadi pasar tradisional dan pasar modern, dan menurut pendistribusiannya dapat digolongkan menjadi pasar eceran dan pasar perkulakan/ grosir (Yogi, 2000). Jika dilihat dari jenis usahanya, maka pasar di Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis usaha, yaitu minimarket, supermarket, hypermarket, toko dengan sistem pembayaran cash and carry, toko kecil dengan layanan penuh dan pasar 23 tradisional. Secara lengkap dan detil dapat dilihat pada Tabel 2 mengenai batasan fisik dan barang yang dijualnya. Table 2. Jenis Usaha Ritel di Indonesia Usaha Ritel Minimarket “Convenience Stores” Batasan Fisik - Supermarket - Hipermarket - - Toko dengan sistem pembayaran cash and carry - Toko kecil dengan layanan penuh - Mempekerjakan 2–6 orang Luasnya kurang dari 350 m3 Luasnya 350–8000 m3 Memiliki lebih dari 3 mesin hitung Berdiri sendiri (tanpa bergabung dengan yang lain) Luasnya di atas 8.000 m3 Memiliki mesin hitung untuk setiap 1.000 m3 Mempekerjakan 350– 400 orang Luasnya lebih dari 500 m3 Perlu menjadi anggota untuk masuk Milik keluarga Luasnya kurang dari 200 m3 Independen Banyak pedagang Lapak kecil dengan ukuran 2–10 m3 Barang-barang yang Tersedia - Makanan kemasan - Barang-barang higienis pokok - Makanan - Barang-barang rumahtangga - Makanan - Barang rumahtangga - Elektronik - Busana/Pakaian - Alat olah raga - Makanan Barang rumahtangga - Makanan tertentu Barang rumahtangga tertentu Pasar tradisional - Bahan-bahan segar - Barang-barang produksi rumahtangga - Barang-barang pokok rumahtangga Diadaptasi dari Collett & Wallace (2006), dalam Suryadarma, D et al, 2007 2.2 Pasar Tradisional dan Modern Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, swasta, koperasi, atau swadaya masyarakat dengan tempat usaha 24 berupa toko, kios atau los dan tenda, yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil dan menengah dan koperasi, dengan usaha skala kecil dan modal kecil dengan proses jual beli melalui tawar menawar. Sedangkan pasar modern adalah pasar yang umumnya dimiliki oleh pemodal kuat, mempunyai kemampuan untuk menggaet konsumen dengan cara memberikan hadiah langsung, hadiah khusus, dan juga discount-discount menarik (Zumrotin, 2002). Pasar modern pada umumnya diisi oleh retailer (pengecer besar), baik perusahaan pengecer dengan skala lokal maupun nasional. Mereka ini merupakan pesaing yang mengancam keberadaan pasar-pasar tradisional. Oleh karena itulah modernisasi pasar dengan manajemen pengelolaan secara modern baik dari sistem pengelolaan maupun kelembagaannya perlu ditingkatkan untuk mengembangkan perekonomian pedagang kecil serta pemacu pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut Yamato (2011) dalam blognya, kelebihan dan kelemahan pasar tradisional dan pasar modern adalah sebagai berikut: 1. Pasar tradisional merupakan pasar yang memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Biasanya lokasi dari pasar tradisional ini strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, memiliki harga yang rendah, serta sistem tawar menawar yang menunjukkan sikap keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan tersendiri yang dimiliki pasar tradisional. Sisi kekeluargaan inilah yang menjadi salah satu pemandangan yang indah kala berada di pasar 2. Pasar tradisional memiliki kelemahan yang sangat urgen ialah pada kumuh dan kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang mayoritas diperjualbelikan oleh oknum pedagang yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan bahan kimia yang tak seharusnya dipakai, dan praktek seperti itu marak sekali terjadi di pasar tradisional. Bukan hanya itu saja, kurang menariknya kemasan produk di pasar tradisional juga yang membuat kurang dilirik konsumen, bahkan makin hari bukannya semakin bagus akan tetapi malah semakin memburuk kondisinya. Dan jelas hal seperti itu cukup membahayakan keberadaan pasar tradisional. 3. Kelebihan pasar modern dibanding pasar tradisional cukup jelas, mereka memiliki banyak keunggulan yakni; nyaman, bersih serta terjamin. Dan tiga hal 25 tersebut yang membuat para konsumen mau membeli ke pasar modern. Sejuk, bersih, nyaman mempunyai peranan penting bagi pasar modern, dan ketiga komponen tadi menjadi andalan dari pasar modern dan hal tersebut tidak dimiliki oleh pasar tradisional. 4. Secara sekilas, tidak terdapat kelemahan dari pasar modern ini. Mungkin kelemahannya terdapat pada praktik jual belinya dimana konsumen tidak bisa menawar harga barang yang hendak dibelinya. Secara keseluruhan kelebihan dan kekurangan dari kedua pasar ini dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kelebihan dan Kekurangan Pasar Tradisional dan Pasar Modern Pasar Tradisional Kelebihan Pasar Modern lokasi yang strategis - nyaman area penjualan yang luas - bersih keragaman barang yang - terjamin lengkap - harga yang rendah - keakraban antara penjual dan pembeli dengan adanya sistem tawar menawar - mendongkrak perekonomian daerah untuk kalangan menengah ke bawah Kekurangan - kumuh - konsumen tidak bisa menawar - kotor harga - banyaknya produk yang diperjualbelikan oleh oknum pedagang yang tak bertanggung jawab menggunakan bahan kimia yang tak seharusnya dipakai - cara pengemasan di pasar tradisional yang kurang baik Sumber: http://fhryamato.blogspot.com/2011/03/kekurangan-dan-kelemahanpasar-modern.html 2.3 - Permasalahan Utama Pasar Pasar sebagai suatu infrastruktur publik yang disediakan oleh pemerintah tentunya memiliki berbagai permasalahan yang perlu diselesaikan oleh pengelola. Beberapa permasalahan utama pasar yang berasal dari Zumrotin, 2002: 26 1. Pengelolaan : Ketidakmampuan dalam mengelola pasar tradisional untuk menciptakan pasar yang bersih, aman, nyaman, serta tidak adanya upaya untuk melakukan pembinaan kepada para pedagang untuk berpraktek dagang yang sehat dan jujur akan menyebabkan konsumen enggan berbelanja dipasar tradisional. Selain itu pasar yang becek, berbau tidak sedap, tidak aman/ rawan keamanan, dan praktek dagang yang tidak sehat akan menimbulkan kekecewaan dan ketidakpercayaan konsumen sehingga mereka lebih baik meninggalkan pasar tradisional karena memiliki resiko tinggi 2. Tata Ruang dan Lokasi : Masalah timbul dari operasional tata ruang, lokasi dan masih tersdianya tempat usaha yang tidak produktif. 3. Pola Pembangunan dan Pendanaan : Selama ini pemerintah melakukan sistem pengadaan atau penyediaan pasar khususnya pasar tradisional sebagai salah satu infrastruktur, yaitu dengan melakukan pembangunan fisik pasar yang belum ada wujudnya, dimulai dengan penyediaan lahan sampai berdirinya bangunan pasar yang dioperasikan (Thamrin, 2000). Keterbatasan dan tantangan yang dihadapi oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai pengelola pasar tradisional (Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) saat ini adalah adanya kebijakan regulasi di bidang dunia usaha nasional yang mulai menitikberatkan pada usaha perekonomian rakyat. Situasi pasar yang lebih bebas dengan tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas dan kuantitas menghasilkan produk yang lebih tinggi. Kurang dan terbatasnya modal yang diperlukan oleh perusahaan untuk operasional dan pemeliharaan perusahaan, dan rendahnya hasil usaha, mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan pengembangan investasi, kurangnya profesionalisme, transparansi, dan pengawasan dalam manajemen pengelolaan perusahaan serta banyaknya BUMD yang mengalami kesulitan keuangan (Subowo, 2002). Pengembangan penyediaan prasarana yang efisien melalui keterlibatan pihak swasta tidak lain karena untuk memenuhi keinginan masyarakat, artinya tidak saja efisien dan ekonomis tetapi juga harus memiliki dimensi sosial. Keterlibatan swasta dalam sektor prasarana dikarenakan hal-hal sebagai berikut (Darrin dan Mervin, 2001) : 27 1. Keterbatasan pemerintah dalam membiayai pembangunan infrastruktur, di satu sisi disebabkan oleh keterbatasan teknologi, daya dan dana. Sedangkan di pihak lain kebutuhan akan infrastruktur semakin mendesak. 2. Partisipasi pembangunan berdasarkan keinginan masyarakat (Community Driven Development) melalui pembagian resiko yang sebelumnya menjadi tanggungjawab pemerintah, didistribusikan kepada pihak swasta. 3. Motivasi profit dari pihak swasta akan mendorong organisasi yang dikelola menjadi lebih efisien, transparan dan kompetitif. 4. Capacity Building 5. Kebijakan pemerintah, diantaranya adalah terdapatnya peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai perusahaan daerah yang masih berlaku hingga saat ini adalah undang-undang No 5 tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah. Berdasarkan ketentuan tersebut maka dalam rangka melakukan usaha Perusahaan Daerah mengenai “Bisnis Birokrasi” yaitu kebijakan pengembangan sangat ditentukan oleh pemerintah daerah sebagai pihak yang mewakili daerah sebagai pemilik Perusahan Daerah. Pada masa itu direksi dan mayoritas pegawai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari birokrasi pemerintahan daerah. Sehingga dalam prakteknya pengelolaan mirip dengan pengelolaan lembaga birokrasi. Akibatnya dalam banyak kasus, manajemen kurang memiliki independensi dan fleksibilitas inovasi usaha guna mencapai tujuan organisasinya (Subowo, 2002). Pengaturan misi Perusahaan Daerah secara luas yaitu memberi jasa, menyelenggarakan kepentingan umum, dan memupuk pendapatan tanpa melihat apakah usaha Perusahaan Daerah tersebut sesungguhnya merupakan bidang komersial atau bukan. Keberadaan Perusahaan Daerah berorientasi ganda yaitu public sevice oriented dalam rangka menyelenggarakan kemanfaatan umum dan profit oriented dalam rangka memupuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). Akan tetapi jika dilihat secara profesional berdasarkan prinsip-prinsip koperasi, public mission dan profit hal tersebut merupakan dua sisi yang sangat sulit untuk disatukan. Menurut Davey adalah ‘Bagaimana Perusahaan daerah memaksimumkan keuntungan tanpa mengorbankan layanan terhadap masyarakat, terutama kelas bawah dan menengah’ (Davey, 1983). 28 2.4 Manajemen Pasar Manajemen berasal dari kata to manage yang mempunyai arti mengatur. Pada hakikatnya manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan. Untuk dapat mengatur kegitan yang berlangsung maka harus terdapat unsur-unsur manajemen yang menunjang proses kegiatan tersebut yaitu : manusia, uang, metode, material, mesin dan pasar. Keenam unsur tersebut perlu diatur agar lebih berdaya guna, berhasil guna, terintegrasi dan terkoordinasi dalam mencapai tujuan yang dinginkan (Hasibuan, 1996). Adapun pengertian umum manajemen adalah pendayagunaan sumberdaya manusia dengan cara yang paling baik agar dapat mencapai rencana-rencana dan sasaran perusahaan (Madura, 2001). Manajemen pasar merupakan proses pengaturan kegiatan perdagangan yang berlangsung dipasar dengan sumber daya meliputi pedagang, tempat usaha dan pengorganisasiannya. Serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam fungsifungsi manajemen pasar merupakan sebuah proses manajemen. Untuk melaksanakan manajemen tersebut maka diperlukan adanya manajer yang dalam pelaksanaan tugas kegiatan serta kepemimpinannya harus melakukan tahap-tahap seperti dibawah ini : 1. Perencanaan, adalah suatu proses penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan dengan memilih alternatif yang terbaik dan beberapa perencanaan yang ada. 2. Pengorganisasian, adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitasnya masing-masing, menyediakan alat-alat yang diperlukan, dan menetapkan wewenang secara relatif untuk kemudian didelegasikan kepada setiap individu yang melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. 3. Pengarahan, adalah mengarahkan semua bawahan agar mau bekerjasama secara aktif untuk mencapai tujuan. Tujuan dan pengarahan untuk membuat semua anggota kelompok mau bekerjasama dan bekerja secara ikhlas untuk mencapai tujuan dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian. 4. Pengendalian, adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan, agar sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana. Tujuan 29 untuk mengukur dan memperbaiki kinerja bawahan, apakah sudah sesuai dengan rencana sebelumnya atau tidak. 2.5 Pedagang dan Struktur Kegiatannya Kegiatan perdagangan di pasar merupakan suatu kegiatan ekonomi pasar, seperti yang digambarkan oleh Geertz (1969), yaitu suatu perekonomian dimana arus total perdagangan terpecah-pecah menjadi transaksi-transaksi orang ke orang yang masing-masing tidak ada hubunganya yang mana jumlahnya sangat besar, sangat berbeda dengan ekonomi barat yang berpusatkan firma, dimana perdagangan dan industri dilakukan melalui serangkaian pranata sosial yang tidak bersifat pribadi, yang mengorganisasikan berbagai pekerjaan yang bertalian dengan tujuan-tujuan produksi dan distribusi tertentu, maka ekonomi jenis ini adalah berdasarkan pada kegiatan yang independen dan pedagang terpacu untuk bersaing secara sehat antara satu dengan lainnya (Nas, 1986). Pedagang yang menempati kios dianggap telah masuk kedalam sektor formal karena telah menjadi pedagang yang tetap di pasar. Pedagang tetap ini merupakan kelompok pedagang yang telah mapan di kota, yang berusaha mengorganisasikan kegiatan mereka dengan lebih sistematis dengan modal usaha yang besar seperti yang dahulu pernah dilakukan oleh orang tua mereka. Sedangkan pedagang yang tidak menempati kios menjadi sektor informal atau yang lebih dikenal dengan pedagang kaki lima (PKL) atau pedagang pengecer, hanya menggunakan jalan masuk dan wilayah sekitar pasar sebagai tempat menggelar dagangannya. Jenis kegiatan usahanya cenderung berkelompok sesuai dengan ciri-ciri khas daerah atau suku bangsa mereka. Barang dagangan mereka peroleh dari juragan atau tokoh yang menjadi patron bagi pedagang kaki lima sekaligus menyewakan peralatan jualan yang berupa gerobak ataupun meja gelaran. Mengingat Pasar Tradisional memiliki peranan yang sangat strategis, selain akan menciptakan lapangan kerja juga akan menumbuhkan dunia usaha dan kewiraswastaan baru dalam jumlah banyak sehingga kelompok ini mempunyai keterkaitan dengan sektor industri dan jasa lainnya. Dalam kegiatan inilah membangun pasar tradisional menjadi perlu dilakukan. Pembinaan dan penataan 30 melalui uluran tangan pemerintah secara terus menerus perlu dilakukan. Dengan demikian, diharapkan karena peranannya maka pasar tradisional dapat menumbuhkan tata perdagangan yang lebih mantap, lancar, efektif, efisien dan berkelanjutan dalam satu mata rantai perdagangan nasional yang kokoh (Yogi, 2000). 2.6 Persepsi Pelanggan Persepsi merupakan suatu proses memperhatikan dan menyeleksi, mengorganisasikan dan menafsirkan stimulus lingkungan melalui panca indra (pendengaran, penglihatan, perasa, penciuman, dan peraba). Namun demikian, makna dari proses persepsi tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu individu yang bersangkutan. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi pelanggan adalah harga, citra, tahap pelayanan dan momen pelayanan. Persepsi pelanggan terhadap produk atau jasa berpengaruh terhadap tingkat kepentingan pelangggan, kepuasan pelanggan, dan nilai pelanggan (Rangkuti, 2003). 2.6.1 Tingkat Kepentingan Pelanggan Tingkat kepentingan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk jasa yang akan dijadikannya standar acuan dalam menilai kinerja produk jasa tersebut (Rangkuti, 2003). Menurut Lovelock dan Wraight (2005), menyatakan bahwa ada dua tingkat kepentingan pelanggan, yaitu : 1. Adequate service, adalah tingkat kinerja jasa minimal yang akan diterima pelanggan tanpa merasa tidak puas. 2. Desire service, adalah tingkat kualitas jasa yang diidam-idamkan yang diyakini pelanggan dapat dan seharusnya diberikan. Diantara adequate service dengan desire service terdapat zone of tolerance, yaitu rentang dimana variasi pelayanan yang masih dapat diterima oleh pelanggan. 2.6.2 Kepuasan Pelanggan 31 Kepuasan pelanggan merupakan persepsi pelanggan terhadap produk atau jasa yang telah memenuhi harapannya (Irawan, 2007). Pelanggan tidak akan puas apabila pelanggan mempunyai persepsi bahwa harapannya belum terpenuhi dan sebaliknya pelanggan akan puas apabila persepsinya sama atau lebih dari yang diharapkan. Kepuasan pelanggan, selain dipengaruhi oleh persepsi kualitas jasa, juga ditentukan oleh kualitas produk, harga, kualitas pelayanan dan faktor-faktor yang bersifat situasional. Kepuasan didefinisikan juga sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Jika kinerja berada dibawah harapan maka pelanggan tidak puas, jika kinerja memenuhi harapan maka pelanggan puas dan jika kinerja melebihi harapan pelanggan sangat puas (Kotler, 2005). Sedangkan menurut Lovelock dan Wright (2005), kepuasan pelanggan adalah keadaan emosional, reaksi pasca pembelian mereka dapat berupa kemarahan, ketidakpuasan, kejengkelan, netralitas, kegembiraan, atau kesenangan. 2.6.3 Nilai Pelanggan Tugas pertama bagi sebuah perusahaan adalah untuk menciptakan pelanggan. Nilai yang diterima pelanggan (Customer Delivered Value) adalah selisih antara total customer value atau jumlah nilai bagi pelanggan dan total customer cost atau biaya total pelanggan. Total customer value adalah kumpulan manfaat yang diharapkan diperoleh pelanggan dari produk atau jasa tertentu. Total customer cost adalah kumpulan pengorbanan yang diperkirakan pelanggan akan terjadi dalam mengevaluasi, memperoleh dan menggunakan produk jasa tersebut (Druker dalam Kotler, 2005). Menurut Lovelock dan Wright (2005), dalam menciptakan nilai untuk pelanggan berkaitan dengan konsep 8 P, yaitu : 1. Place and Time (tempat dan waktu), keputusan manajemen tentang kapan, dimana, dan bagaimana menyampaikan jasa tersebut kepada pelanggan. 32 2. Process (proses), metode pengoperasian atau serangkaian tindakan tertentu, yang umumnya berupa langkah-langkah yang diperlukan dalam suatu urutan yang telah ditetapkan. 3. Productivity (produktivitas), seberapa efisien pengubahan input jasa menjadi output yang menambah nilai bagi pelanggan. 4. Product (produk), semua komponen kinerja jasa yang menciptakan nilai bagi pelanggan. 5. People (orang), karyawan (kadang-kadang pelanggan lain) yang terlibat dalam proses produksi. 6. Promotion and Education (promosi dan edukasi), semua aktivitas dan alat yang menggugah komunikasi yang dirancang untuk membangun prefensi pelanggan terhadap jasa dan penyedia jasa tertentu. 7. Phisical Evidence (bukti fisik), petunjuk visual atau berwujud lainnya yang memberi bukti atas kualitas jasa. 8. Price and other cost service (harga dan biaya jasa lainnya), pengeluaran uang, waktu dan usaha oleh pelanggan untuk membeli dan mengkonsumsi jasa. Nilai didefinisikan sebagai pengkajian secara menyeluruh manfaat suatu produk yang didasarkan pada persepsi pelanggan atas apa yang telah diterima oleh pelanggan dan yang telah diberikan. 2.6.4 Survei Kepuasan Pelanggan Menurut Berry dalam Lovelock dan Wraight (2005) agar survei berkelanjutan seharusnya dilakukan dengan menggunakan portofolio teknik riset yang membentuk sistem informasi kualitas jasa (service quality information system) suatu perusahaan. Pendekatan yang memungkinkan dapat mencakup : 1. Survei transaksi (transactional survei), didesain untuk mengukur kepuasan dan persepsi pelanggan tentang pengalaman jasa pada saat masih segar dalam ingatan pelanggan tersebut. 2. Survei pasar menyeluruh (total market survei), mengukur penilaian total pelanggan terhadap kualitas jasa. 33 3. Belanja misterius, orang yang disewa perusahaan untuk bertindak sebagai pelanggan biasa. 4. Survei pelanggan yang baru, berkurang, dan sebelumnya, bertanya kepada pelanggan sebelumnya mengapa mereka berpindah dapat sangat membantu jika informasinya menenangkan hati untuk melihat bidang-bidang di mana kekurangan kualitas jasa suatu perusahaan. 5. Wawancara kelompok fokus (focus group interview), dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada sekelompok wakil pelanggan tentang masalah atau topik khusus. 6. Laporan lapangan karyawan, merupakan metode sistematis untuk mengetahui apa yang dipelajari karyawan dari interaksi mereka dengan pelanggan dan dari pengamatan langsung mereka terhadap perilaku pelanggan. Salah satu tujuan dari survei kepuasan pelanggan adalah untuk membuat produk atau jasa yang ditawarkan dapat memberikan keuntungan yang optimal kepada pelanggan tanpa menimbulkan kerugian bagi perusahaan yang bersangkutan sehingga perusahaan dapat menghasilkan produk atau jasa yang mampu menciptakan nilai superior kepada pelanggan. 2.6.5 Manfaat Pengukuran Mutu dan Kepuasan Pelanggan Menurut Gerson (2004), terdapat lima manfaat dari pengukuran mutu dan kepuasan pelanggan, sebagai berikut : 1. Pengukuran menyebabkan orang memiliki rasa berhasil dan berprestasi, yang kemudian diterjemahkan menjadi pelayanan yang prima kepada pelanggan. 2. Pengukuran bisa dijadikan dasar dalam menentukan standar kinerja dan standar prestasi yang harus dicapai, yang akan mengarahkan menuju mutu yang semakin baik dan kepuasan pelanggan meningkat. 3. Pengukuran dapat memberikan umpan balik segera kepada pelaksana, terutama bila pelanggan sendiri yang mengukur kinerja pelaksana atau perusahaan yang memberikan pelayanan. 34 4. Pengukuran memberitahukan anda apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki mutu dan kepuasan pelanggan serta bagaimana harus melakukannya. 5. Pengukuran memotivasi orang untuk melakukan dan mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Menurut Kotler dan Keller (2007) lima model mutu jasa menurut tingkat kepentingan : 1. Keandalan – Kemampuan melaksanakan layanan yang dijanjikan secara meyakinkan dan akurat. 2. Daya tanggap – Kesediaan membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. 3. Jaminan – Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka menyampaikan kepercayan dan keyakinan. 4. Empati – Kesediaan memberikan perhatian yang mendalam dan khusus kepada masing-masing pelanggan. 5. Benda berwujud – Penampilan fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan, dan bahan komunikasi. 2.7 Kajian Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi acuan dan perbandingan bagi penelitian ini antara lain : Penelitian yang dilakukan oleh Soleh (2005) dengan judul Analisis Kesiapan Kabupaten Dalam Menarik Investor, Studi Kasus Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap penting oleh investor dalam pengambilan keputusan investasi, menganalisis kesiapan pemerintah Kabupaten temanggung terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan investasi sebagaimana yang diharapkan oleh investor, menguji perbedaan persepsi antara aparat pemerintah daerah dengan para investor terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan investasi dan merumuskan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan oleh pemda setempat agar mampu menarik investor. Penelitian ini menggunakan metode studi 35 kasus. Alat analisis yang digunakan adalah analisis rentang kriteria terhadap tingkat harapan dan tingkat kinerja, importance performance analisys (IPA), uji beda rata-rata t Test terhadap responden investor dengan pemda untuk melihat perbedaan persepsi diantara kedua responden. Relevansinya dengan penelitian ini adalah dalam penelitian ini juga menggunakan analisis IPA untuk menganalisis persepsi pelanggan pasar tradisional di Kota Bogor. Perbedaannya yaitu, objek penelitian yang berbeda dan pada penelitian yang dilakukan oleh Soleh (2005) tidak melakukan analisis faktor internal dan eksternal dan hanya melakukan analisis persepsi terhadap investor. Oktaviani dan Suryana (2006) dalam penelitiannya menganalisis kepuasan pengunjung dan pengembangan fasilitas wisata agro. Dalam penelitian ini digunakan alat analisis Importance Performance Analisys (IPA). Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa pihak manajemen kebun wisata agro Pasir Muku sebaiknya memperbaiki kinerja dari promosi, kemudahan mencapai lokasi, serta sarana peribadatan. Selain itu manajemen sebaiknya mempertahankan kinerja dari kegiatan edukatif yang merupakan keunggulan perusahaan dimata pengunjung dibandingkan dengan objek wisata lain yang sejenis. Relevansinya dengan penelitian ini adalah penggunaan metode Importance Performance Analisys (IPA). Zarkoni (2007) melakukan penelitian dengan tujuan menganalisis berbagai peluang, ancaman, kekuatan serta kelemahan, menganalisis tingkat persaingan, mengidentifikasi faktor strategis internal, mengidentifikasi faktor strategis eksternal dan merekomendasikan strategi bersaing bagi PT. Nalco Indonesia dalam industri pengolahan air di industri minyak kelapa sawit. Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu tahapan input, tahap penyocokan, tahapan kompilasi kemudian tahapan keputusan. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kasus. Pendekatan survei dilakukan dengan menyebar kuisioner dan wawancara langsung kepada para ahli yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bisnis pengelolaan air di industri minyak kelapa sawit. Relevansi terhadap penelitian ini adalah data diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuisioner oleh responden, serta telaah pustaka. Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu tahap input, pencocokan, kompilasi kemudian 36 keputusan. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada penelitian Zarkoni (2007) tidak melakukan analisis persepsi dan hanya melakukan analisis strategi melalui faktor internal dan eksternal. Mattanette, 2008, mengadakan kajian analisis kepuasan pedagang terhadap pengelolaan Pasar Citeurep I. Metode analisis yang digunakan dalam kajian tersebut menggunakan Importance and Performance Analysis, Customer Satisfaction Index, analisis Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Eksternal Factor Evaluation-EFE) dan Matriks Evaluasi Faktor Internal (Internal Factor Evaluation-IFE), analisis Matriks Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (SWOT), dan analisis Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM). Atribut yang digunakan sebanyak 17 buah atribut, hasil analisis Importance and Performance Analysis adalah: (1) Prioritas utama atribut kualitas jasa, yaitu kondisi bangunan/gedung pasar, kondisi kebersihan pasar, kondisi tempat usaha/berdagang, pengelola pasar cepat dan tanggap dalam menghadapi masalah yang ada, (2) Pertahankan prestasi atribut kualitas jasa, yaitu kondisi MCK di pasar, pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, keramahan dan kesopanan petugas penarik retribusi, (3) Prioritas rendah atribut kualitas jasa, yaitu besarnya retribusi, petugas unit pasar cepat dan tanggap atas keluhan pedagang, pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur, pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum dan (4) Berlebihan untuk atribut kualitas jasa, yaitu kebersihan kantor unit pasar, kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, besarnya sewa tempat usaha, kejujuran petugas penarik retribusi, pengelola pasar memberikan rasa aman dan nyaman kepada pedagang, sikap pegawai unit pasar. Sedangkan hasil Customer Satisfaction Index atribut kualitas jasa sebesar 56,023 persen, menunjukkan pedagang pasar Citeureup I ”Cukup Puas” dengan kualitas pengelolaan Pasar Citeureup I di Kabupaten Bogor. Prioritas strategi pengelolaan Pasar Citeureup I yang terpilih adalah: (1) Penataan tempat-tempat usaha di Pasar Citeureup I; (2) Peningkatan kualitas pelayanan Pasar Citeureup I untuk menarik konsumen berkunjung dan berbelanja di Pasar Citeureup I.; dan (3) Menyelenggarakan bazar pada event-event tertentu atau periode tertentu di Pasar Citeureup I. 37 BAB III METODOLOGI KAJIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Kota Bogor merupakan kota jasa yang ramai dengan kehidupan perekonomian yang berasal dari berbagai sektor. Salah satu sektor perekonomian yang dapat meningkatkan pendapatan daerah bagi Kota Bogor yaiu pasar tradisional. Namun, kaitannya dengan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor masih kalah jauh jika dibandingkan dengan kemajuan pasar modern yang banyak berdiri tegak di Kota Bogor ini. hanya saja peluang pasar tradisional masih besar untuk dikembangkan. Pasar tradisional saat ini belum menjadi tujuan berbelanja utama bagi masyarakat di Kota Bogor. Hal ini disebabkan karena secara realita kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor masih jauh dari harapan para pengunjung. Selain itu juga banyaknya persoalan yang di hadapi oleh pasar tradisional menjadikan masyarakat enggan untuk berbelanja di pasar tradisional. Hal inilah yang nantinya akan menyebabkan pasar tradisional kalah bersaing dengan pasar modern. Kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor masih belum dapat bersaing dengan pasar modern/mal-mal yang ada. Dari tujuh pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, tiga merupakan pasar tradisional yang dianggap besar, yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Namun, kondisi ke tiga pasar tersebut sangat jauh dari harapan pelanggan. Seperti kondisi bangunan, fasilitas listrik, fasilitas drainase, ketertiban, keamanan dan kebersihan serta adanya PKL. Kondisi yang sekarang terjadi terhadap pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor yaitu masih lemahnya pola pengelolaan pasar, lemahnya manajemen pengelolaan sumberdaya manusia, dan belum sehatnya kondisi sarana dan prasarana pasar. Hal inilah merupakan kondisi yang membuat pasar tradisional kalah bersaing dengan pasar modern. Hal lain yang menyebabkan lemahnya posisi tawar pasar tradisional yaitu masih banyaknya persoalan yang dihadapi oleh pasar tradisional. Beberapa persoalan yang sekarang berkembang yaitu daya saing pasar tradisional yang 38 relatif rendah, manajemen pengelolaan yang tidak profesional dan lemahnya kualitas sumberdaya manusia. Oleh karenanya pasar tradisional di Kota Bogor masih memiliki kondisi yang memprihatinkan dan memiliki banyak persoalan yang harus diselesaikan, maka diperlukan suatu persepsi pelanggan untuk merubah citra pasar tradisional di Kota Bogor agar lebih baik. Dengan berbagai kondisi seperti telah dijelaskan diatas, maka diperlukan suatu penelitian mengenai strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. PASAR TRADISIONAL KOTA BOGOR Persoalan Pasar Tradisional: 1. Daya saing rendah 2. Pengelolaan Pasar tidak Profesional 3. Rendahnya kualitas SDM Persepsi Pelanggan 1. 2. 3. 4. Bentuk Fisik (Tangible) Kepercayaan (Reliability) Ketanggapan (Responsiveness) Jaminan (Assurance) 5. Empati (Emphaty) Analisis IPA Strategi Peningkatan Daya Saing (SWOT) Rancangan Program (QSPM) Gambar. 1 Kerangka Pemikiran Penelitian 3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, mulai dari bulan Mei sampai Juni 2011. Penelitian ini dilakukan di PD Pasar Pakuan Jaya dan 3 pasar 39 tradisional yang terdapat di Kota Bogor yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Ketiga pasar ini dijadikan sebagai tempat penelitian karena merupakan tiga pasar terbesar yang ada di Kota Bogor. 3.3 Data dan Metode Analisis Pada penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari data PD Pasar Pakuan Jaya, BPS Kota Bogor dan Bappeda Kota Bogor, dan sebagian dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuisioner. Sementara metode analisis yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif, IPA Analysis, SWOT dan QSPM. Data dan Metode seperti tampak pada Tabel 4. Tabel 4. Data dan Metode Analisis Tujuan Kajian 1. Mengindentifikasi kondisi pasar tradisional di Kota Bogor 2. Menganalisis pesepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor 3. Merumuskan strategi dan program untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor Data Jenis Sumber Sekunder berupa : Data PD Pasar Kondisi 3 pasar Pakuan Jaya Kota tradisional di Kota Bogor Bogor seperti Bangunan, fasilitas listrik, fasilitas drainase, ketertiban, keamanan dan kebersihan dan PKL. Primer Survey Pelanggan di 3 pasar yaitu di Pasar Bogor, Sukasari dan Kebon Kembang. Primer berupa hasil Direktur PD wawancara kuisioner Pasar Pakuan Jaya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Dinas Perekonomian dan Kepala Bappeda serta 3 kepala pasar. Metode analisis Deskriptif Kuantitatif Importance and Performance Analysis (IPA) Analisis SWOT Analisis QSPM 40 3.3.1 Teknik Pengumpulan Data Data mengenai kepuasan pelanggan yang ditinjau melalui tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap pengelolaan PD Pasar Pakuan Jaya, diperoleh melalui : 1. Kuesioner terstruktur, yaitu daftar pertanyaan yang berkaitan dengan topik penelitian, disebarkan kepada responden dengan jumlah 60 orang responden yang mewakili 3 pasar. Setiap pasar diambil 20 orang dari pedagang. 2. Wawancara terbuka, yaitu suatu tehnik pengumpulan data primer dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden. 3. Studi kepustakaan, dengan cara mencari literatur, penelusuran data kepustakaan, buku, jurnal, surat kabar dan internet. Wawancara juga dilakukan kepada Dirut PD Pasar Pakuan Jaya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Dinas Perekonomian, Kepala Bappeda dan 3 Kepala Pasar untuk merumuskan strategi dan program untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 3.3.2 Metode Pengolahan dan Analisis Data 3.3.2.1. Analisis Deskriptif Kuantitatif Analisis deskriptif kuantitatif ini digunakan untuk mengidentifikasi kondisi 3 pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. Analisis ini digunakan untuk menganalisis kondisi pasar tradisional di Kota Bogor, pola pengelolaan pasar, manajemen pengelolaan SDM dan kondisi sarana dan prasarana pasar. Analisis deskriptif kuantitatif merupakan teknik analisis yang dilakukan dalam bentuk tabel-tabel data atau angka yang kemudian di analisis dan di interpretasikan dalam bentuk uraian. Tabel-tabel tersebut meliputi seperti yang tercantum dalam tujuan kajian. 41 3.3.2.2 Importance and Performance Analysis (IPA) Analisis ini digunakan untuk menjawab perumusan masalah mengenai sejauh mana tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Atribut kualitas ini seperti pada Tabel 5, dimodifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Mattanete, 2008 berdasarkan atas lima dimensi kualitas menurut Lovelock (2005). Tabel 5. Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar Pakuan Jaya No 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar Pakuan Jaya Tangible (Kenyataan/ bentuk Fisik) Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Reliability (Kehandalan/kepercayaan) Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Responsiveness (Ketanggapan) Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Assurance (Jaminan/kepastian) Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Emphaty (Empati) Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar 42 Analisis tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pelanggan dilakukan dengan diagram tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Analisis tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pelanggan dilakukan dengan diagram tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Berdasarkan hasil penilaian tingkat kepentingan dan hasil penilaian kinerja akan dihasilkan suatu perhitungan mengenai tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dan kinerja Pasar Pakuan Jaya. Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor kinerja/pelaksanaan dengan skor kepentingan (Supranto, 2001). Tingkat kesesuaian ini akan menentukan urutan prioritas peningkatan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pedagang. Pada prioritas peningkatan ini digunakan variabel X mewakili tingkat kinerja Pasar Pakuan Jaya dan variabel Y untuk tingkat kepentingan pedagang. Menurut Supranto (2001), variabel-variabel tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Dimana : Tki Xi Yi = Tingkat kesesuaian responden = Skor penilaian kinerja perusahaan = Skor penilaian kepentingan pelanggan Sumbu mendatar (X) diisi oleh skor tingkat kepuasan pedagang, sedangkan sumbu tegak (Y) diisi oleh skor tingkat kepentingan. Adapun skor tingkat kepuasan tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya (X) dan skor tingkat kepentingan tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya (Y). Menurut Supranto (2001) seiap faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan disederhanakan dengan rumus sebagai berikut : Dimana : N = Jumlah responden 43 X Y = Skor rata-rata tingkat kepuasan pada tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya = Skor rata-rata kepentingan pada tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya Selanjutnya nilai rata-rata tingkat kepentingan atribut dan kepuasan/kinerja perusahaan kemudian dianalisis pada diagram kartesius (Important-Performance Matrik). Diagram kartesius IPA merupakan suatu bangun yang dibagi atas empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada titiktitik (X, Y) (Supranto, 2001) dimana X merupakan rata-rata dari rata-rata skor tingkat kepuasan pedagang terhadap seluruh kualitas pengelolaan Pasar Pakuan Jaya dan Y adalah rata-rata dari skor tingkat kepentingan pedagang terhadap seluruh atribut kualitas pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Seluruh atribut kualitas pengelolaan diberi simbol K dengan rumus sebagai berikut : Dimana : K = banyaknya atribut yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan Selanjutnya tingkat unsur-unsur tersebut akan dijabarkan dan dibagi menjadi empat bagian kedalam diagram kartesius yang menunjukkan bahwa kuadran 1 adalah prioritas utama, kuadran II adalah pertahankan, kuadran III adalah prioritas rendah, kuadran IV adalah berlebihan. Keempat kuadran tersebut disajikan pada Gambar 2 Penting A B C D Kepentingan Kurang Penting Kurang baik Kinerja Baik Gambar 2. Diagram Kartesius (Importance Performance Matrik) 44 Berdasarkan diagram tersebut, maka perusahaan dapat merumuskan strategi yang dapat dilakukan berkenaan dengan posisi masing-masing atribut pada keempat kuadran tersebut yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Kuadran A (Atributtes to Improve) Menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap mempengaruhi kepuasan pelanggan, termasuk unsur-unsur jasa yang dianggap sangat penting, namun manajemen belum melaksanakannya sesuai dengan keinginan pelanggan. Sehingga mengecewakan/ tidak puas. 2. Kuadran B (Maintenance Performance) Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, untuk itu wajib dipertahankan. Dianggap sangat penting dan memuaskan. 3. Kuadran C (Atributtes to Maintenance) Posisi ini menunjukkan beberapa atribut kualitas jasa yang kurang penting pengaruhnya bagi pelanggan dan pelaksanaannya oleh pasar biasa-biasa saja. Dianggap kurang penting dan kurang memuaskan. Peningkatan atribut-atribut ini dapat dipertimbangkan kembali karena pengaruhnya terhadap manfaat yang dirasakan oleh pelanggan sangat kecil. 4. Kuadran D (Main Priority) Posisi ini menunjukkan faktor yang kurang penting pengaruhnya bagi pelanggan akan tetapi pelaksanaannya berlebihan. Dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan dalam pelaksanaannya. Atribut-atribut yang termasuk dalam kuadran ini dapat dikurangi agar perusahaan dapat menghemat biaya. 3.3.3.3 Matrik IFE dan EFE 45 Untuk merumuskan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor (tujuan ketiga), maka digunakan analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT), yang diawali dengan membuat analisis Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Matriks IFE digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama, sedangkan matriks EFE digunakan untuk pengambilan keputusan dalam meringkas dan mengevaluasi semua informasi lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman (David, 2002). David (2002) menyebutkan langkah - langkah yang diperlukan untuk menyusun matriks EFE dan IFE, yaitu : 1. Daftarkan semua faktor-faktor eksternal dan internal yang diidentifikasi, termasuk peluang, ancaman, kelemahan dan kekuatan. 2. Berikan pembobotan untuk setiap faktor yang menunjukan kepentingan relatif semua faktor. Pembobotan berkisar antara 0,0 (tidak penting) sampai 1,0 (sangat penting). Setiap variabel menggunakan skala 0,1, 2. Untuk menentukan bobot yang digunakan adalah : - A varibel baris/sebelah kiri kurang penting daripada variabel kolom/bagian atas, maka pada kotak pertemuan antraa A (kiri) dan B (atas) nilai = 0 - A variabel baris/sebelah kiri sama penting dengan C pada variabel bagian atas, maka pada kotak pertemuan antara A (kiri) dan C (atas) nilainya = 1 - A variabel baris/sebelah kiri lebih penting daripada D pada variabel bagian atas, maka pada kotak pertemuan antara A (kiri) dan C (atas) nilainya = 2. 3. Tentukan rating setiap faktor, yaitu peringkat 1 sampai 4 pada setiap faktor sukses kritis untuk menunjukkan seberapa efektif pengaruh faktorfaktor tersebut. Untuk EFE yaitu : 4 = peluang utama, 3 = peluang, 2 = ancaman, 1 = ancaman utama. Sedangkan untuk IFE, rating 4 = kekuatan utama, 3 = kekuatan, 2 = kelemahan kecil dan 1 = kelemahan utama. 46 4. Setiap rating dikalikan dengan masing-masing bobot untuk setiap variabelnya. Selanjutnya dilakukan penjumlahan dari pembobotan untuk mendapatkan skor pembobotan 5. Jumlah skor pembobotan berkisar antara 1,0 – 4,0 dengan rata-rata 2,5. Jika jumlah skor pembobotan IFE dibawah 2,5, maka kondisi internalnya lemah. Untuk jumlah skor bobot faktor eksternal berkisar 1,0 – 4,0 dengan rata-rata 2,5. Jika jumlah skor pembobotan EFE 1,0 menunjukkan ketidakmampuan memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman yang ada. Jumlah skor 4 menunjukkan kemampuan merespon peluang maupun ancaman yang dihadapi dengan sangat baik. Matriks IFE dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Matriks IFE Faktor Internal Kekuatan 1. 2. Kelemahan 1. 2. Bobot Rating Skor Tabel 7 menggambarkan mengenai matriks EFE. Tabel 7. Matriks EFE Faktor Eksternal Peluang 1. 2. Ancaman 1. 2. Bobot Rating Skor 47 3.3.3.4. Matrik SWOT Hasil analisis faktor internal dan eksternal dilanjutkan kepada analisis Strenght Weakness Opportunity Threat (SWOT). Analisis ini merupakan alat untuk memaksimalkan peranan faktor yang bersifat positif, meminimalisasi kelemahan yang ada serta menekan dampak ancaman yang timbul. Tabel 8. Matriks SWOT Faktor Internal STRENGTHS (S) WEAKNESSES (W) Faktor Eksternal OPPORTUNITIES (O) THREATS (T) STRATEGI S-O STRATEGI W-O Menggunakan Meminimalkan kekuatan untuk kelemahan dengan memanfaatkan memanfaatkan peluang peluang STRATEGI S-T STRATEGI W-T Menggunakan Meminimalkan kekuatan untuk kelemahan dan mengatasi ancaman menghindari ancaman Analisis SWOT memiliki matriks dengan empat kuadran yang merupakan perpaduan strategi antara faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) sebagaimana disajikan dalam Tabel 8. 3.4 Metode Perumusan Strategi dan Perancangan Program Dalam melakukan perumusan strategi dan perancangan program digunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). QSPM merupakan alat yang memungkinkan untuk mengevaluasi strategi alternatif secara objektif berdasarkan pada faktor-faktor kunci internal dan eksternal. Analisis QSPM juga merupakan teknik yang digunakan pada tahap pengambilan keputusan karena menunjukkan strategi alternatif yang paling baik dipilih. Pada matriks QSP terdapat komponen-komponen utama yang terdiri dari : 48 Key Factors, Strategic Alternatifs, Weights, Attractiveness Score, Total Attractiveness Score dan Sum Total Attractiveness Score, sebagaimana tersaji dalam Tabel 9. Langkah-langkah dalam analisis QSPM adalah sebagai berikut : 1. Menyusun daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman di kolom sebelah kiri QSPM. 2. Memberi bobot (weight) pada masing-masing external dan internal key success factors. 3. Mengidentifikasi strategi alternatif yang pelaksanaannya harus dipertimbangkan. Mencatat strategi-strategi ini di bagian atas baris QSPM. Mengelompokkan strategi-strategi tersebut ke dalam kesatuan yang mutually exclusive, jika memungkinkan. 4. Menetapkan Attractiveness Scores (AS), yaitu nilai yang menunjukkan kemenarikan relative untuk masing-masing strategi yang terpilih. Attractiveness Scores ditetapkan dengan cara meneliti masing-masing external dan internal key success factors. Batasan nilai Attractiveness Scores adalah : 1 2 3 4 5. Menghitung Total Attractiveness Scores (TAS). Total Attractiveness Scores (TAS) didapat dari perkalian bobot (weight) dengan Attractiveness Scores pada masing-masing baris. Total Attractiveness Scores menunjukkan relative attractiveness dari masing-masing alternatif strategi 6. Menghitung Sum Total Attractiveness Scores, dengan cara menjumlahkan semua TAS yang didapat. Nilai TAS dari alternatif strategi yang tertinggi yang menunjukkan bahwa alternatif strategi itu yang menjadi pilihan utama. Nilai TAS terkecil menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan terakhir. 49 Tabel 9. Matriks Analisis QSPM Strategi Alternatif Faktor Kunci Bobot I AS INTERNAL Kekuatan …………….. Kelemahan ……………. EKSTERNAL Peluang …………….. Ancaman …………….. JUMLAH RANKING II TAS AS III TAS AS TAS 50 pelayanan dibidang perpasaran, dengan menyelenggarakan usaha pengelolaan dan penyewaan sarana dan prasarana pasar (seperti termpat berdagang, perparkiran, tempat bongkar muat, pengelolaan kebersihan, mandi cuci kakus (MCK), serta usaha lainnya yang terkait dengan penyelenggaraan pasar. Tujuan didirikannya PD Pasar Pakuan Jaya sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya adalah: 1. Meningkatkan pelayanan kebutuhan sarana dan prasarana pasar yang nyaman, bersih dan teratur. 2. Mendorong perekonomian daerah. 3. Menunjang pembangunan daerah. 4. Meningkatkan profesionalitas dan efisiensi pengelolaan pasar. 5. Meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). 51 BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis Kota Bogor 4.1.1 Letak dan Batas Wilayah Kota Bogor terletak diantara 106 derajat 43’30” BT dan 30’30” LS – 6 derajat 41’00” LS serta mempunyai ketinggian rata-rata minimal 190 meter, maksimal 350 meter dengan jarak dari ibukota kurang lebih 60 kilometer. Pasar Kebon Kembang Pasar Bogor Pasar Sukasari Gambar 3. Peta Lokasi Pasar Tempat Penelitian Kota Bogor 52 Kota Bogor memiliki luas wilayah 118,50 km2 dan mengalir beberapa sungai yang permukaan airnya jauh dibawah permukaan, yaitu : Sungai Ciliwung, Cisadane, Cipakancilan, Cidepit, Ciparigi dan Cibalok. Oleh karena adanya kondisi tersebut, maka Kota Bogor relatif aman dari bahaya banjir. Berdasarkan pada Gambar 3, batas-batas wilayah Kota Bogor sebagai berikut : 1. Sebelah Selatan : Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin Kab. Bogor 2. Sebelah Timur : Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi Sebelah Utara : Kecamatan Sukaraja, Bojong Gede dan Kab. Bogor 3. Kemang Kab. Bogor 4. Sebelah Barat : Kecamatan Kemang dan Dramaga Kab. Bogor Wilayah Kota Bogor dari berbagai arah berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bogor. Wilayah Kota Bogor berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. 4.1.2 Iklim dan Curah Hujan Kota Bogor mempunyai ketinggian dari permukaan laut minimal 190 meter dan maksimal 330 meter. Kota Bogor disebut kota hujan dengan keadaan cuaca dan udara yang sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 derajat celcius dan kelembaban udaranya kurang lebih 70 persen. Suhu terendah di Kota Bogor adalah 21,8 derajat celcius yang paling sering terjadi pada bulan desember dan januari. Arah mata angin sewaktu-waktu dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi oleh angin muson barat dengan arah mata angin 6 persen terhadap arah barat (BPS, 2010).. 4.1.3 Keadaan Topografi Kota Bogor Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 0 – 15 persen dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 15 - 30 persen. Hampir diseluruh 53 wilayah Kota Bogor terdapat jenis tanah Latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dengan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Kedudukan Topografi Kota Bogor berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya yang dekat dengan ibukota negara merupakan potensi yang strategis untuk perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Adanya Kebun Raya Bogor (KRB) yang didalamnya terdapat Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Kedudukan Kota Bogor yang berada diantara jalur Puncak/Cianjur juga merupakan potensi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat (BPS, 2010).. 4.2 Pemerintahan Kota Bogor di pimpin oleh seorang Walikota yang dibantu oleh seorang Wakil Walikota. Dalam urusan pelaksanaan birokrasi, Walikota di bantu oleh seorang Sekretaris Daerah (Sekda) yang bertanggung jawab langsung kepada Walikota. Dalam menjalankan program kerja, terdapat beberapa Dinas yang membidangi beberapa bidang yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang bertanggung jawab kepada Walikota melalui sekretaris daerah. Di Kota Bogor terdapat 45 orang anggota legislatif yang terdiri dari berbagai partai politik yang bekerja untuk mengontrol pemerintahan, membuat peraturan daerah bersama Walikota dan mengalokasikan anggaran terhadap program-program pemerintah. Kota Bogor memiliki 6 Kecamatan dengan 758 rukun warga, 3.392 rukun tetanggan. Kecamatan yang terdapat di Kota Bogor diantaranya adalah : 4.3 1. Kecamatan Bogor Selatan 2. Kecamatan Bogor Timur 3. Kecamatan Bogor Utara 4. Kecamatan Bogor Barat 5. Kecamatan Bogor Tengah 6. Kecamatan Tanah Sareal Penduduk 54 Dalam kaitanya dengan pembangunan yang berkelanjutan, hampir tidak satu programpun yang tidak memperhatikan penduduk. Oleh karena itu, informasi kependudukan dengan berbagai karakteristik, kecenderungan dan diferensiasinya menjadi sangat penting. Data penduduk sebagaimana data lainnya sangat diperlukan dalam berbagai perencanaan dan evaluasi pembangunan terutama setelah adanya pergeseran paradigma pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan pertumbuhan ekonomi semata tetapi upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia telah menjadi tumpuan dan tujuan pembangunan itu sendiri. Penduduk Kota Bogor dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 penduduk Kota Bogor sebesar 905.132 orang, kemudian meningkat pada tahun 2008 mencapai 942.204 orang. Jumlah penduduk Kota Bogor dari tahun 2007 ke tahun 2008 mengalami peningkatan 4,09 persen. Sementara pada tahun 2009 jumlah penduduk Kota Bogor sebesar 946.204 orang, yang terdiri dari 481.559 laki-laki dan 464.645 perempuan. Juga mengalami kenaikan dari tahun 2008. Kenaikan jumlah penduduk dari tahun ke tahun ini diduga karena faktor penarik Kota Bogor sendiri mengingat semakin banyaknya fasilitas sosial yang mudah diperoleh selain itu juga Kota Bogor merupakan kota penyangga ibukota negara sehingga menarik para pendatang untuk tinggal dan menanamkan usahanya di Kota Bogor (BPS, 2010). Rasio jenis kelamin penduduk Kota Bogor adalah 102, yang artinya setiap 102 penduduk laki-laki berbanding dengan 100 penduduk perempuan dengan luas daerah 118,50 km2. Ini berarti kepadatan penduduk per km2 sebesar 7.951 jiwa. Kecamatan Bogor Barat merupakan kecamatan yang jumlah penduduknya terbanyak yaitu 205.123 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Bogor Timur yang hanya 94.329 jiwa. Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan terpadat penduduknya, yaitu mencapai 13.770 jiwa/km2, hal ini disebabkan karena pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi banyak berada di kecamatan ini. Umumnya sebuah kota besar, Kota Bogor penduduknya mulai bertambah dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor, Bekasi, Jakarta, Kabupaten Sukabumi dan Depok (BPS, 2010). 55 4.4 Kondisi Perekonomian Kondisi perekonomian Kota Bogor dari tahun ke tahun ditopang oleh aktivitas sembilan sektor lapangan usaha, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik perdagangan, industri air dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Dari kesembilan sektor penopang kehidupan ekonomi daerah, terdapat tiga sektor paling dominan. Dari hasil kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009, PDRB Kota Bogor dari tahun 2005 sampai tahun 2009, struktur perekonomian utamanya didominansi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor angkutan dan komunikasi. Secara rinci, sektor perdagangan, hotel dan restoran berkontribusi sebesar 38,40 persen terhadap PDRB Kota Bogor tahun 2009 atas dasar harga berlaku, disusul kemudian oleh sektor industri pengolahan yang mencapai 25,57 persen, serta sektor angkutan dan komunikasi sebesar 14,45 persen Berdasarkan pada data teraktual yang dimiliki oleh BPS, PDRB atas dasar harga berlaku Kota Bogor pada tahun 2009 tercapai sebesar Rp. 11.904.559.660.000,00 artinya mengalami pertumbuhan 17,98 persen dari tahun 2008 yang terhitung hanya mencapai Rp. 10.089.943.960.000,00 dan diperkirakan pada tahun 2010 akan mencapai 13,340 triliun. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh tiga sektor lapangan usaha yang mengalami laju pertumbuhan tertinggi, yaitu sektor angkutan dan komunikasi sebesar 28,18 persen, sektor industri pengolahan sebesar 19,89 persen dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 18,58 persen. Laju pertumbuhan positif yang dialami beberapa sektor lapangan usaha telah mendorong Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Bogor pada tahun 2009 sebesar 6,01 persen dan pada tahun 2010 LPE Kota Bogor mencapai 6,2 persen. 4.5 Keberadaan Pasar di Kota Bogor 4.5.1 Letak, Luas dan Wilayah Kerja 56 Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya terletak di Kota Bogor yang memiliki pasar sejumlah 7 buah pasar tradisional yaitu : Pasar Baru Bogor, Pasar Sukasari, Pasar Kebun Kembang, Pasar Padasuka, Pasar Gunung Batu, Pasar Merdeka dan Pasar Jambu Dua. Dari 7 pasar tradisional yang ada, luas tanah secara keseluruhan adalah 54.186,92 m2 dengan luas bangunan sebesar 119.611,22 m2. 4.5.2 Kondisi Fisik dan Fasilitas Bangunan Secara umum kondisi bangunan ketujuh pasar tersebut perlu direnovasi secara terus menerus, yaitu melalui : pengecatan bangunan, perbaikan tangga pasar, penggantian keramik rusak, perbaikan pintu akses, perbaikan kantor, perbaikan lokasi parkir dan bongkar muat, perbaikan MCK, penambahan dan atau perbaikan TPS, pembangunan pos kesehatan, pemeliharaan sarana/ prasarana fisik bangunan dan kegiatan lainnya sesuai lokasi yang belum masuk dalam kegiatan diatas. Di lokasi PD Pasar Pakuan Jaya juga diperlukan perbaikan sarana fasilitas listrik, baik untuk pemeliharaan jaringan listrik, pengadaan genset, maupun pemasangan listrik baru. Di pasar juga diperlukan perbaikan dan pemeliharaan drainase seperti perbaikan drainase luar, saluran pipa air, pengadaan bak air, pemeliharaan saluran air, perbaikan drainase luar maupun pembangunan bak penampungan air. Selain itu, di pasar juga diperlukan peningkatan kualitas keamanan, ketertiban dan kebersihan lingkungan pasar sebagai pendukung dari kenyamanan kondisi fisik dan fasilitas bangunan pasar. 4.5.3 Tujuan Berdirinya PD Pasar Pakuan Jaya Sesuai dengan ketentuan pasal 40 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya, bahwa PD Pasar Pakuan Jaya mempunyai kewajiban untuk menyusun Rencana Kerja Tahunan dan Anggaran Pendapatan Belanja. Keberadaan PD Pasar Pakuan Jaya dituntut untuk mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dan berupaya berdikari didalam pembiayaan pembangunan. Perusahaan daerah diharapkan dapat berperan 57 dalam mendorong pertumbuhan perekonomian daerah (agent of development); merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) serta dapat berperan dalam mewujudkan pembangunan nasional tanpa meninggalkan fungsi sosialnya terlebih lagi dalam upaya mewujudkan citra Bogor sebagai Kota Jasa yang nyaman. PD. Pasar Pakuan Jaya adalah perusahaan daerah yang didirikan oleh pemerintah Kota Bogor yang akan menggantikan tugas, fungsi dan peran dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi Kota Bogor dalam memberikan pelayanan dibidang perpasaran, dengan menyelenggarakan usaha pengelolaan dan penyewaan sarana dan prasarana pasar (seperti termpat berdagang, perparkiran, tempat bongkar muat, pengelolaan kebersihan, mandi cuci kakus (MCK), serta usaha lainnya yang terkait dengan penyelenggaraan pasar. Tujuan didirikannya PD Pasar Pakuan Jaya sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya adalah: 6. Meningkatkan pelayanan kebutuhan sarana dan prasarana pasar yang nyaman, bersih dan teratur. 7. Mendorong perekonomian daerah. 8. Menunjang pembangunan daerah. 9. Meningkatkan profesionalitas dan efisiensi pengelolaan pasar. 10. Meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). 58 BAB V KONDISI PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR 5.1 Kondisi Bangunan Fisik Pasar Tradisional di Kota Bogor Berdasarkan pada hasil penelitian dilapangan, kondisi bangunan fisik pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor sudah perlu perbaikan. Kondisi fisik yang perlu diperbaiki terutama pada tiga pasar yang diteliti yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari, dan Pasar Kebon Kembang adalah kondisi kios dan los pasar, kondisi koefisien dasar bangunan dan koefisien lantai bangunan, dan kondisi bangunan yang perlu perbaikan. 5.1.1 Kondisi Kios dan Los Pasar Tradisional Pasar tradisional di Kota Bogor secara keseluruhan memiliki 6.042 kios dan 1.043 los dengan jumlah seluruhnya 7.085 unit. Kios dan los yang terdapat di pasar tradisional ini dimanfaatkan oleh pedagang pasar baik pedagang pakaian, hasil industri rumah tangga, alat rumah tangga, alat elektronik, dan hasil pertanian seperti sayuran, buah-buahan dan lain-lain. Untuk mengetahui jumlah kios dan los yang terdapat di pasar tradisional, khususnya pada tiga pasar tradisional dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Kondisi Kios dan Los Tahun 2009 Kios Los Nama No Beroperasi Tutup Jumlah Beroperasi Tutup Jumlah Pasar 1 Bogor 960 1.011 1.971 198 82 280 2 Sukasari 99 130 229 70 52 122 3 Kebon 634 184 818 864 664 1.528 Kembang Jumlah 1.693 1.325 2.018 1.132 698 1.820 Sumber : RKT PD Pasar Pakuan Jaya (2010) Berdasarkan pada Tabel 10 dapat dilihat bahwa pada ketiga pasar masih lebih banyak jumlah kios yang tutup dibandingkan dengan jumlah kios yang buka. dari 4.542 kios, 1.059 kios buka dan 1.141 kios masih tutup. Hal ini terjadi karena masih kurangnya minat masyarakat untuk berdagang didalam kios yang sudah disediakan oleh PD Pasar dikarenakan harga kios yang dianggap cukup mahal oleh pedagang. Berbeda dengan los, di ketiga pasar tradisional jumlah los yang buka lebih banyak dari pada los yang tutup dari 402 los yang terdapat di ketiga 59 pasar, sebanyak 268 los buka dan 134 los masih tutup. Hal ini terjadi karena harga los lebih murah jika dibandingkan dengan kios. 5.1.2 Kondisi Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan Kondisi Dasar Bangunan dan Kondisi Lantai Bangunan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam mengetahui kondisi pasar tradisional. Kondisi ini ditunjukkan oleh nilai koefisien yang menunjukkan kepada pengelola untuk mengetahui layak tidaknya kondisi pasar dan mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi pada dasar dan lantai bangunan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui tingkat kenyamanan pelanggan dan pedagang bertransaksi di pasar. Kondisi KDB dan KLB Pada ketiga pasar dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Kondisi Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan Kondisi Existing No Nama Pasar Kebijakan Rencana Kota KDB KLB 80% 3-6 80% 3-6 80% 3-6 KDB KLB 1 Bogor 95% 6 2 Sukasari 70% 2 3 Kebon Kembang 80% 3 Sumber : Tim Kelayakan PD Pasar (2009) Berdasarkan pada Tabel 11 terlihat bahwa kondisi KDB dan KLB di Pasar Bogor dan Pasar Kebon Kembang masih terlihat baik (tinggi), dasar dan lantai bangunan masih layak untuk digunakan, belum perlu renovasi, hanya diperlukan pemeliharaan saja pada dasar dan lantai bangunan. Sementara kondisi KDB dan KLB di Pasar Sukasari terlihat rendah (70% dan 2), artinya kondisi bangunan sudah rusak berat, perlu dilakukan uji kelayakan teknis apakah sekedar perbaikan struktur bangunan atau renovasi, sehingga bangunan pasar tidak layak untuk digunakan. Kebijakan pemerintah Kota Bogor adalah meningkatkan nilai KDB dan KLB pada pasar yang rusak berat, sehingga bangunan pasar dapat layak digunakan. 60 5.1.3 Kondisi Bangunan Gedung Pasar Tradisional Kondisi bangunan (gedung) di pasar tradisional memiliki peran yang sangat penting. Tingkat kenyamanan berbelanja pelanggan di pasar tradisional tidak hanya ditentukan oleh kondisi kebersihan bangunan saja, tetapi juga ditentukan oleh kondisi kualitas bangunan gedung pasar. Gedung pasar yang rusak, becek, berbau akan mempengaruhi pelanggan untuk malas berbelanja di pasar tradisional. Sebaliknya gedung pasar yang rapih, bersih, terawat dan indah akan menarik pelanggan berbelanja di pasar tradisional. Gedung pasar yang terdapat pada tiga lokasi pasar tradisional ini sangat strategis. Gedung Pasar Bogor lokasinya dekat dengan kebun raya sebagai tempat pariwisata, gedung Pasar Sukasari lokasinya berada di jalan menuju puncak (tempat pariwisata) dan gedung Pasar Kebon Kembang lokasinya dekat dengan keramaian stasiun kereta api. Dengan letak lokasi yang strategis ini maka ketiga gedung pasar tradisional ini mendapat kunjungan banyak pelanggan. Berdasarkan pada hasil dari penelitian yang dilakukan oleh PD Pasar Pakuan Jaya pada tahun 2010, maka masih banyak kondisi bangunan pada ketiga pasar tradisional yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang bagian-bagian bangunan pasar yang perlu diperbaiki. Seperti di Pasar Bogor lokasi basement, dalam dan luar gedung, dan ruang kantor. Pada Pasar Sukasari beberapa bagian bangunan yang perlu diperbaiki diantaranya adalah bagian dalam dan luar gedung, lokasi lantai atas gedung, lokasi parkir dan MCK. Pada Pasar Kebon Kembang, bagian gedung yang perlu diperbaiki diantaranya adalah lokasi parkir, tempat pembuangan sampah, MCK dan perbaikan Blok A,B,E dan F. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 12. 61 Tabel 12. Bangunan yang Perlu Diperbaiki No Nama Pasar 1 2 3 4 1 Bogor 5 6 7 8 9 1 2 2 Sukasari 3 Kebon Kembang 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlu Renovasi Pengecatan luar gedung semua lantai Perbaikan pintu akses utama lantai basement Perbaikan pintu akses kecil lantai basement Perbaikan pintu akses dari luar ke lantai 1 Penggantian tangga Tangga dari basement ke lt 1 Tangga dari basement ke lt 2 Tangga dari lt 1 ke lt 2 Pagar sekeliling basement Penggantian keramik yang rusak Penatan jenis komoditi Perbaikan kantor Perbaikan lt 3 untuk wisata kuliner Pembuatan jalan tembus ke basement Pengecatan Gedung Penataan jenis komoditi Perbaikan keramik Perbaikan kantor Perbaikan lokasi parkir Renovasi MCK tiap lantai Pengecatan Perbaikan pintu akses Penggantian keramik yang rusak Penataan jenis komoditi Perbaikan kantor Perbaikan lokasi parkir Perbaikan lokasi bongkar muat Perbaikan MCK Pembangunan/ perbaikan TPS di abesin Lokasi Dalam dan luar gedung Basement Basement Lantai 1 Basement ke lt 1 Basement ke lt 2 Basement ke lt 1 Basement Basement dan lt 1 Basement Ruangan kantor Lt 3 Lt Basement Luar dan dalam gedung Lt 1 dan 2 Lt basement, 1 dan 2 Ruang kantor Depan dan belakang Semua lantai Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Ruang kantor Lokasi parkir Lokasi bongkar muat Semua blok Lokasi TPS Sumber : Hasil Survei PD Pasar (2010) 5.2 Kondisi Fasilitas Listrik Pasar Tradisional di Kota Bogor Peran listrik di pasar tradisional sangat penting. Tidak hanya sebagai alat penerangan tetapi juga dapat digunakan dalam mengawetkan sayuran, buahbuahan, daging, ikan,dan lain-lain. Hanya saja persoalan yang terjadi adalah belum lengkapnya sarana listrik dan masih banyaknya sarana listrik di pasar yang perlu renovasi. Seperti terlihat pada Tabel 13. 62 Tabel 13. Sarana Listrik yang Perlu Renovasi No Nama Pasar Perlu Renovasi 1 Pemindahan panel listrik dari basement ke lantai 1 2 Perbaikan jaringan listrik (kabel, 1 Bogor saklar, dll) 3 Biaya pemeliharaan jaringan listrik semua lantai 1 Perbaikan jaringan listrik lantai 1 2 Sukasari 2 Pengada an genset 3 Pemeliharaan jaringan listrik 1 Perbaikan jaringan listrik Kebon 3 Kembang 2 Biaya pemeliharaan jaringan listrik semua lantai Sumber : Hasil survei PD Pasar (2010) Lokasi Basement ke lt 1 Basement lt 1 dan 2 Semua lantai Lt 1 Gedung Semua lantai Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Berdasarkan pada hasil survei PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor tahun 2010, masih terdapat beberapa sarana listrik yang perlu perbaikan di tiga pasar tradisional tersebut. Sarana yang perlu di perbaiki antara lain perbaikan jaringan listrik, perlunya pengadaan genset dan perlunya penambahan biaya pemeliharaan jaringan listrik disemua lantai dan blok pasar. 5.3 Kondisi Fasilitas Drainase Pasar Tradisional di Kota Bogor Kondisi fasilitas drainase di pasar tradisional memiliki peran yang cukup signifikan dalam membuat image pasar tradisional. Kondisi drainase yang tidak baik akan menyebabkan pasar tradisional terlihat kumuh dan kotor, becek karena sumbatan air buangan limbah pasar dan dapat mengganggu kebersihan serta sebagai sarang penyakit. Oleh karena itu, drainase di pasar harus selalu diperhatikan oleh pengelola pasar dan dijaga oleh pedagang. Salah satu upaya menjaga drainase pasar agar tetap baik adalah dengan tidak membuang sampah/ sisa limbah dagangan ke dalam saluran air. Kondisi drainase di ketiga pasar tradisional di Kota Bogor adalah seperti terlihat pada Tabel 14. 63 Tabel 14. Sarana Drainase yang Perlu Perbaikan No Nama Pasar Perlu Perbaikan 1 2 3 Bogor Lokasi 1 Perbaikan Drainase luar Keliling gedung 2 Saluran pipa air dalam gedung Semua lantai 3 Penggantian bak air Gedung 4 Pemeliharaan saluran air Semua lantai 1 Saluran pipa air dalam gedung Semua lantai 2 Biaya pemeliharaan saluran air Semua lantai 1 Perbaikan drainase luar Semua blok 2 Saluran pipa air dalam gedung Semua blok 3 Pengadaan bak air Semua blok 4 Pemeliharaan saluran air Semua blok Sukasari Kebon kembang Sumber : Hasil Survei PD Pasar (2010) Berdasarkan pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa perbaikan sarana drainase pada ketiga pasar tradisional di Kota Bogor harus dilakukan pada sekeliling gedung, semua blok dan semua lantai. Beberapa sarana yang perlu diperbaiki antara lain : perbaikan drainase luar gedung, perbaikan pipa air dalam dan luar gedung, pergantian bak air dalam pasar dan pemeliharaan saluran air. 5.4 Kondisi Fasilitas Keamanan, Ketertiban dan Kebersihan Pasar Tradisional di Kota Bogor Salah satu faktor untuk mendorong masyarakat berbelanja di pasar tradisional adalah dikarenakan kondisi yang keamanan, ketertiban dan kebersihan yang selalu terjaga di pasar. Pasar tradisional yang aman, tertib dan bersih akan diminati pelanggan untuk melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa, namun sebaliknya kondisi pasar yang rawan pencurian (tidak aman), risuh tempat parkirnya (tidak tertib), dan kotor (tidak terjaga kebersihannya) akan ditinggalkan oleh pelanggan. Kondisi fasilitas keamanan, ketertiban dan kebersihan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 15. 64 No 1 2 3 Nama Pasar Bogor Sukasari Kebon kembang Perlu Renovasi Lokasi 1 Penggantian APAR Semua lantai 2 Pengisian tabung APAR Semua lantai 3 Pembangunan pos keamanan 4 lokasi di pojok gedung 4 Pengadaan Handy Talky Semua lantai 5 Pengadaan radio panggil dan Semua lantai megaphone 6 Pemeliharaan keamanan 1 Penggantian APAR Semua lantai 2 Pengisian tabung APAR Semua lantai 3 Pembangunan pos keamanan Depan dan belakang 4 Pengadaan alat gandy talky 5 Pengadaan radio panggil dan Semua lantai megaphone 6 Pemeliharaan keamanan 1 Penambahan APAR Semua blok 2 Pengisian tabung APAR Semua blok 3 Pembangunan pos keamanan Semua blok 4 Pengadaan alat handy talky 5 Pengadaan radio panggil dan Semua blok megaphone 6 Sarana alat sarana fisik Semua lantai komunikasi/ Semua lantai sarana fisik Semua lantai komunikasi/ Semua blok pemadam Semua blok 65 kebakaran berupa hydrant 7 No Nama Pasar Pemeliharaan sarana fisik Semua blok keamanan dan ketertiban Perlu Renovasi Lokasi Tabel 15. Sarana Ketertiban dan Keamanan yang Perlu Renovasi Keterangan: APAR = Alat Pemadam Api Ringan Sumber: Hasil Survei Lapangan PD. Pasar (2010) Berdasarkan pada Tabel 15, renovasi fasilitas keamanan dan ketertiban pada ketiga pasar tradisional di Kota Bogor masih perlu dilakukan. Terlihat bahwa beberapa fasilitas keamanan, ketertiban dan kebersihan yang perlu diperbaiki antara lain : pengisian dan penggantian tabung APAR, pembangunan dan renovasi pos keamanan, pengadaan alat komunikasi dan alat pemadam kebakaran, dan pemeliharaan sarana fisik keamanan dan ketertiban. Sementara untuk sarana kebersihan yang perlu direnovasi seperti terlihat pada Tabel 16. Tabel 16. Sarana Kebersihan yang Perlu Renovasi 66 1 2 3 Bogor 1 Perbaikan TPS Belakang gedung 2 Penambahan tong sampah Semua blok 3 Pengadaan gerobak sampah Gedung 4 Pengadaan kebersihan 5 Pemeliharaan kebersihan 1 Renovasi TPS Depan belakang 2 Penambahan tong sampah Semua lantai 3 Pengadaan gerobak sampah Semua lantai 4 Penambahan kebersihan 1 Penambahan tong sampah 2 Penambahan kontainer sampah Semua blok 1 setiap blok 3 Pengadaan gerobak sampah 4 Pengadaan kebersihan 5 Pemeliharaan kebersihan peralatan Semua lantai sarana fisik Semua lantai dan Sukasari Kebon Kembang peralatan Semua lantai Semua blok Semua blok peralatan Semua blok sarana fisik Semua blok Sumber: Hasil Survei Lapangan PD Pasar (2010) Berdasarkan Tabel 16, dapat dilihat bahwa ketiga pasar tradisional di Kota Bogor tersebut masih terdapat sarana kebersihan yang perlu di renovasi, antara lain: perbaikan TPS, penambahan tong sampah dan gerobak sampah, penambahan peralatan kebersihan dan pemeliharaan sarana fisik kebersihan. Renovasi ini dilakukan pada semua blok disemuan lantai gedung pasar tradisional. 5.5 Kondisi PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor 67 Kota Bogor dikenal juga memiliki permasalahan di pasar tradisional yaitu tentang penanganan pedagang kaki lima (PKL). Lokasi pasar tradisional yang memiliki banyak PKL akan menyebabkan ketidaknyamanan pada pejalan kaki, kemacetan lalulintas, kekotoran dan kesemrawutan. Oleh karenanya diperlukan penanganan yang serius dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan PKL. Pada tiga pasar tradisional yang diteliti terdapat 863 orang PKL. Lihat pada Tabel 17. Tabel 17. Jumlah PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor No Nama Pasar Jumlah PKL (orang) 1 Bogor 463 2 Sukasari 60 3 Kebon Kembang 340 Jumlah 863 Sumber : Hasil Survei PD Pasar (2010) Berdasarkan pada Tabel 17, dapat dilihat bahwa jumlah PKL di Pasar Bogor lebih banyak dibandingkan jumlah PKL yang terdapat di Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Hal ini terjadi karena kondisi fisik Pasar Bogor, terutama dari sisi bangunannya (KDB dan KLB) lebih baik dari pada Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin baik baik kondisi pasar, semakin banyak PKL berkeliaran. Untuk mengatasi persoalan ini, maka pengelola perlu melakukan penataan PKL dengan baik salah satunya dengan relokasi/ memindahkan ketempat yang tidak mengganggu ketertiban umum. 68 BAB VI PERSEPSI PEDAGANG TERHADAP PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR Dalam melakukan pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor, PD. Pasar Pakuan Jaya harus meningkatkan kinerja, mengetahui dan memperhatikan apa yang menjadi Kepentingan pedagangnya. Kinerja perusahaan dan Kepentingan dari pedagang merupakan sesuatu yang berbanding lurus. Ketika kinerja perusahaan baik, maka Kepentingan pedagang terhadap perusahaan juga akan semakin besar. Citra perusahaan bukan dilihat dari sudut pandang perusahaan tetapi dari sudut pandang pedagangnya, dan perusahaan yang dapat memberikan kepuasan kepada pedagangnya adalah perusahaan yang mengerti kepentingan dari pedagangnya/ konsumen (Kotler, 2007). Menentukan persepsi pedagang terhadap perusahaan adalah tidak mudah. Perlu upaya yang besar dari perusahaan untuk memikat hati pedagang agar tidak pindah berusaha ke tempat lain. Oleh karenanya perusahaan PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor perlu mengetahui karakteristik pedagang. 6.1 Karakteristik Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bogor Hal yang perlu menjadi acuan dalam menentukan persepsi pedagang pasar tradisional di Kota Bogor adalah karakteristik pedagang. Karakteristik pedagang pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilihat dari status pernikahan, tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Karakteristik ini membantu untuk mengetahui pedagang seperti apa yang menjadi pedagang pasar tradisional di Kota Bogor. 6.1.1 Karakteristik Pedagang Berdasarkan Status Pernikahan Pedagang pasar tradisional di Kota Bogor sebagian besar adalah sudah menikah (berkeluarga), di Pasar Bogor dari 20 orang responden (pedagang) yang disurvei, terdapat 16 orang pedagang sudah menikah, 3 orang belum menikah dan 1 orang janda. Di Pasar Sukasari terdapat 18 pedagang sudah menikah, 1 orang belum menikah dan 1 orang janda. Sementara di Pasar Kebon Kembang, terdapat 69 16 pedagang sudah menikah, 4 orang belum menikah. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Karakteristik Pedagang Berdasarkan Status Pernikahan Status Pernikahan Menikah Belum menikah Duda/Janda Total Pasar Bogor 16 3 1 20 Pasar Sukasari 18 1 1 20 Kebon Kembang 16 4 0 20 6.1.2 Karakteristik Pedagang Berdasarkan Pendidikan Berdasarkan pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa karakteristik pedagang pasar tradisional dilihat dari segi pendidikan yaitu sebagian besar pedagang pasar tradisional berpendidikan SMA/ sederajat. Di Pasar Bogor, dari 20 responden yang disurvei terdapat 8 pedagang berpendidikan SMA/sederajat, 5 orang berpendidikan SMP, 3 orang berpendidikan SD, 3 orang Diploma dan 1 orang Sarjana. Di Pasar Sukasari, terdapat 10 pedagang yang berpendidikan SMA/ sederajat, 5 orang SMP, 1 orang SD, 2 orang Diploma dan 2 orang sarjana. Sementara di Pasar Kebon Kembang, terdapat 9 orang SMA/ sederajat, 5 orang SMP, 1 orang SD, 1 orang Diploma dan 4 orang Sarjana. Tabel 19. Pendidikan Responden di Pasar Tradisional Kota Bogor Pendidikan Responden SD SMP SMA Diploma Sarjana Total Pasar Bogor 3 5 8 3 1 20 Pasar Sukasari 1 5 10 2 2 20 Kebon Kembang 1 5 9 1 4 20 6.1.3 Karakteristik Pedagang Berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik pedagang dapat dilihat pada Tabel 20, sebagian besar pedagang di pasar tradisional Kota Bogor berjenis kelamin perempuan (ibu-ibu),. Di Pasar Bogor, dari 20 responden yang di survei, terdapat 11 pedagang berjenis 70 kelamin perempuan dan 9 orang berjenis kelamin laki-laki. Di Pasar Sukasari terdapat 11 pedagang perempuan dan 9 orang laki-laki. Sementara di Pasar Kebon Kembang, terdapat 12 pedagang perempuan dan 8 pedagang laki-laki. Tabel 20. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Responden Laki-laki Perempuan Total 6.2 Pasar Bogor Pasar Sukasari 9 11 20 9 11 20 Pasar Kebon Kembang 8 12 20 Persepsi Pedagang Terhadap Pasar Tradisional di Kota Bogor 6.2.1 Persepsi Pedagang Pasar Bogor Pedagang Pasar Bogor mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD. Pasar Pakuan Jaya dalam mengelola pasar tardisional di Kota Bogor berkinerja rendah (skor 2,9) dan pedagang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi (skor 3,7) sebagaimana terlihat pada Supranto (2003), mengatakan bahwa kinerja dikatakan baik bila hasil perhitungan rata-ratanya berada diantara skor 3,5 sampai dengan 4,5 (Tabel 21). Berdasarkan pada hasil penelitian ini, kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai paling tinggi oleh pedagang Pasar Bogor adalah kelengkapan jenis barang (skor 3,8), dimana atribut ini berkaitan dengan lengkap dan mudah diperolehnya berbagai jenis barang yang akan dibeli oleh pedagang. Kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai tinggi oleh pedagang adalah 2 atribut, yaitu 1) kualitas barang, dan 2) lokasi pasar yang mudah dijangkau. Selanjutnya persepsi pedagang terhadap kinerja PD Pasar Pakuan Jaya (Pasar Bogor) yang dinilai lebih rendah menyangkut sepuluh atribut, yaitu 1) harga kios dan los, 2) pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, 3) besarnya retribusi, 4) jam operasional, 5) kejelasan informasi kepada pedagang, 6) kemudahan mendapat izin berdagang, 7) sikap pegawai unit pasar, 8) musyawarah dengan pedagang, 9) sosialisasi tata tertib pasar dan 10) kesungguhan petugas dalam mengelola pasar. Atribut kinerja dinilai oleh pedagang lebih rendah, jika nilai skor antara 3,0 sampai dengan 3,5. Tabel 21. Persepsi Pedagang Pasar Bogor terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan 71 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar Rata-rata Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,6 4,0 2,6 3,7 2,7 3,7 2,3 3,5 2,9 3,6 2,8 2,3 2,3 3,2 3,4 2,4 2,9 3,5 3,5 3,8 3,6 4,0 3,7 3,6 3,1 3,0 2,5 2,5 2,9 3,0 2,8 3,2 2,9 3,7 3,8 2,8 3,6 3,4 3,8 3,9 3,9 3,9 3,8 3,8 3,7 3,8 4,0 3,6 3,1 2,9 4,0 3,8 2,9 3,9 3,0 3,3 3,2 2,9 3,7 3,9 3,9 3,7 Sementara kinerja PD Pasar Pakuan Jaya (Pasar Bogor) yang dinilai paling rendah oleh pedagang yaitu tujuh atribut, yaitu: 1) kebersihan kantor unit pasar, 2) kondisi bangunan/ gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum (MCK, mushola, penerangan), 5) kondisi tempat berdagang (kios), 6) 72 ketersediaan bak penampungan sampah, 7) keramahan petugas pasar, 8) penataan PKL, 9) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat, 10) kepedulian menampung keluhan pedagang, 11) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 12) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 13) keamanan dan ketertiban pasar, 14) kejujuran petugas penarik retribusi, 15) pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar, 16) pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan dan 17) pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum. Terhadap tingkat Kepentingan, pedagang Pasar Bogor menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolaan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang pasar memiliki kepentingan yang paling tinggi terhadap atribut 1) pelayanan dari unit pasar, 2) kelengkapan jenis barang, 3) sikap pegawai unit pasar, 4) lokasi pasar, 5) kebersihan kantor unit pasar, 6) kondisi bangunan/gedung pasar, 7) kondisi kebersihan pasar, 8) kondisi fasilitas umum, 9) kondisi tempat usaha, 10) ketersediaan bak penampung sampah, 11) keramahan petugas pasar, 12) harga kios dan los, 13) penataan PKL, 14) kemudahan pengurusan sewa tempat, 15) besarnya retribusi, 16) kepedulian menampung keluhan, 17) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 18) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 19) keterbukaan informasi kepada pedagang, 20) keamanan dan ketertiban, 21) kemudahan izin berdagang, 22) kejujuran petugas penarik retribusi, 23) kualitas barang, 24) pemberian sanksi terhadap pelanggaran, 25) pembinaan dan penyuluhan kepada pedagang, 26) pengelola memberikan jaminan rasa keadilan, 27) musyawarah dengan pedagang, 28) sosialisasi tata tertib dan 29) kesungguhan dalam mengelola pasar. Sementara itu atribut yang memiliki tingkat Kepentingan yang rendah yaitu 1) atribut jam operasional, dikarenakan pengaturan jam operasional di pasar sudah diketahui oleh pedagang. Jadi pedagang sudah mengetahui kapan waktu untuk berbelanja di pasar tradisional. Berdasarkan hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan di Pasar Bogor, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 2,9 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,7. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil 73 dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan (Gambar 4). Gambar 4. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Bogor 6.2.2 Persepsi Pedagang Pasar Sukasari Berdasarkan pada Tabel 22, pedagang Pasar Sukasari mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD Pasar Pakuan Jaya dalam pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor berkinerja rendah (skor 2,9) dan tingkat kepentingan pedagang tinggi (skor 3,8). Kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai paling tinggi oleh pedagang Pasar Sukasari adalah 1) kualitas barang dan 2) lokasi pasar yang strategis. Selanjutnya atribut yang dinilai berkinerja lebih rendah menyangkut sepuluh atribut, yaitu 1) keramahan petugas pasar, 2) harga kios dan los, 3) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, 4) besarnya retribusi, 5) jam operasional, 6) keamanan dan ketertiban pasar, 7) kemudahan mendapat izin berdagang, 8) kejujuran petugas penarik retribusi, 9) musyawarah dengan pedagang dan 10) sosialisasi tata tertib pasar. 74 Sementara itu beberapa atribut yang dinilai berkinerja paling rendah oleh pedagang Pasar Sukasari menyangkut delapan belas atribut, yaitu : 1) kebersihan kantor unit pasar. 2) kondisi bangunan/ gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum (MCK, mushola, penerangan), 5) kondisi tempat usaha (kios), 6) ketersediaan bak penampungan sampah, 7) pelayanan pegawai unit pasar, 8) penataan PKL, 9) kepedulian menampung keluhan pedagang, 10) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 11) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 12) kejelasan informasi kepada pedagang, 13) kelengkapan jenis barang, 14) pemberian sanksi atas pelanggaran tata tertib pasar, 15) sikap pegawai unit pasar, 16) pembinaan kepada pedagang, 17) pegelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum, dan 18) kesungguhan petugas mengelola pasar. Tabel 22. Persepsi Pedagang Pasar Sukasari terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,6 4,2 2,8 3,8 2,0 3,8 2,2 3,7 2,4 3,8 2,5 2,4 3,2 3,2 2,9 2,6 3,1 3,8 3,7 3,7 3,7 3,7 3,8 3,7 3,0 3,4 2,9 2,7 2,9 2,8 3,2 3,4 3,1 3,8 2,9 3,8 3,8 3,7 4,1 3,9 3,9 3,9 3,8 4,2 4,2 3,9 75 24 25 26 27 28 29 30 Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata 2,9 3,9 tertib pasar Sikap pegawai unit pasar 2,9 3,9 Pengelola pasar memberikan 2,7 3,7 pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan 2,7 3,7 kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang 3,0 3,8 Sosialisasi tata tertib pasar 3,3 3,8 Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar 2,9 4,1 2,9 3,8 Skor rata-rata Terhadap tingkat kepentingan, pedagang Pasar Sukasari menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang Pasar Sukasari memiliki kepentingan yang tinggi terhadap tiga puluh atribut pengelolaan pasar, sedangkan empat atribut lainnya yaitu kualitas barang, lokasi pasar, kejujuran petugas penarik retribusi dan kesungguhan petugas dalam mengelola pasar merupakan tingkat Kepentingan tertinggi yang harus diperhatikan oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Hal ini berkaitan dengan kualitas barang dan kondisi manajemen pasar tradisional yang perlu peningkatan. Berdasarkan hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan di Pasar Sukasari seperti tampak pada Gambar 5, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 2,9 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,8. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan. 76 Gambar 5. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Sukasari 6.2.3 Persepsi Pedagang Pasar Kebon Kembang Tabel 23 menggambarkan persepsi pedagang Pasar Kebon Kembang terhadap pengelolaan PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang Pasar Kebon Kembang mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD Pasar Pakuan Jaya dalam pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor berkinerja rendah (skor 3,1) dan tingkat kepentingan pedagang tinggi (skor 3,9). Tabel 23. Persepsi Pedagang Pasar Kebon Kembang terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,4 4,1 2,4 3,5 2,4 3,9 2,2 3,8 2,5 4,0 3,0 2,3 3,7 3,0 3,3 2,4 3,1 3,8 3,8 3,8 3,9 3,9 3,7 3,6 77 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar Skor rata-rata 3,1 3,4 2,9 2,9 3,1 3,0 2,8 3,4 3,5 3,9 3,6 3,1 3,9 3,9 4,3 4,1 4,2 4,1 4,0 4,0 4,1 4,1 4,1 3,7 3,1 3,1 3,8 4,0 3,1 4,0 3,1 3,3 3,3 3,1 4,0 3,9 4,1 3,9 Kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai paling tinggi oleh pedagang Pasar Kebon Kembang adalah 1) kualitas barang, 2) keramahan petugas pasar, 3) kelengkapan jenis barang, dan 4) kejujuran petugas penarik retribusi. Selanjutnya atribut yang dinilai memiliki kinerja lebih rendah menyangkut tujuh belas antribut, yaitu : 1) lokasi pasar, 2) kondisi tempat usaha/dagang, 3) harga kios dan los, 4) pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, 5) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, 6) besarnya retribusi, 7) jam operasional, 8) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 9) kejelasan informasi kepada pedagang, 10) kemudahan mendapat izin berdagang, 11) pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar, 12) sikap pegawai unit pasar, 13) pembinaan oleh pengelola pasar, 14) pengelola memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum, 15) musyawarah dengan pedagang, 16) sosialisasi tata tertib pasar dan 17) kesungguhan petugas mengelola dalam pasar. Kinerja yang dinilai paling rendah adalah 1) kebersihan kantor unit pasar, 2) kondisi bangunan/gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum, 5) ketersediaan bak penampungan sampah, 6) penataan PKL, 7) 78 kepedulian menampung keluhan pedagang, 8) kecepatan respon atas keluhan pedagang, dan 9) keamanan dan ketertiban pasar. Gambar 6. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Kebon Kembang Terhadap tingkat kepentingan, pedagang Pasar Kebon Kembang menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolaan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang Pasar Kebon Kembang memiliki kepentingan yang tinggi terhadap atribut 1) kepedulian menampung keluhan pedagang, dan 2) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang. Selanjutnya untuk ke dua puluh delapan atribut lainnya pedagang Pasar Kebon Kembang menganggap penting.Pada Gambar 6 dapat dilihat hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan di Pasar Kebon Kembang, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 3,1 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,9. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan. 6.2.4 Persepsi Pedagang terhadap Pasar Tradisional (Gabungan) di Kota Bogor Tabel 24 menggambarkan persepsi pedagang terhadap pengelolaan pasar oleh PD. Pasar Pakuan Jaya. Pedagang mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD. Pasar Pakuan Jaya dalam pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor 79 berkinerja rendah (skor 3,0) dan tingkat kepentingan pedagang yang tinggi (skor 3,8). Kinerja PD. Pasar Pakuan Jaya yang dinilai tinggi oleh pedagang adalah 1) kualitas barang dan 2) lokasi pasar yang strategis. Hal ini berkaitan dengan lokasi Kota Bogor yang sangat strategis yang merupakan daerah ramai sebagai kota jasa. Selanjutnya persepsi pedagang yang dinilai lebih rendah yaitu menyangkut atribut: 1) keramahan petugas pasar, 2) harga kios dan los, 3) pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, 4) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, 5) besarnya retribusi, 6) jam operasional, 7) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 8) kemudahan mendapat izin berdagang, 9) kejujuran petugas penarik retribusi, 10) kelengkapan jenis barang, 11) sikap pegawai unit pasar, 12) musyawarah dengan pedagang, 13) sosialisasi tata tertib pasar, dan 14) kesungguhan petugas dalam mengelola pasar. Sementara atribut yang memiliki kinerja paling rendah yaitu 1) kebersihan kantor unit pasar, 2) kondisi bangunan/gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum, 5) kondisi tempat usaha, 6) ketersediaan bak penampungan sampah, 7) penataan PKL, 8) kepedulian menampung keluhan pedagang, 9) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 10) kejelasan informasi kepada pedagang, 11) keamanan dan ketertiban pasar, 12) pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar, 13) pembinaan oleh pengelola pasar kepada pedagang, dan 14) pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum. Tabel 24. Persepsi Seluruh Pedagang Pasar terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,6 4,1 2,6 3,6 2,4 3,8 2,2 3,7 2,6 3,8 2,8 2,3 3,4 3,7 3,7 3,8 80 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar Skor rata-rata 3,1 3,2 2,5 3,0 3,7 3,8 3,7 3,6 3,1 3,3 2,7 2,7 3,0 2,9 2,9 3,3 3,2 3,7 3,4 2,9 3,8 3,7 3,9 4,0 4,0 3,9 3,9 3,8 4,0 4,0 4,0 3,7 3,0 2,9 3,9 3,8 2,9 3,8 3,0 3,3 3,1 3,0 3,8 3,8 4,1 3,8 Terhadap tingkat kepentingan, pedagang menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolaan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang memiliki kepentingan yang paling tinggi terhadap atribut : 1) lokasi pasar, dan 2) kesungguhan petugas dalam mengelola pasar. Sementara untuk ke dua puluh delapan atribut lainnya Kepentingan pedagang juga tinggi karena skornya diatas 3,5 semua. Pada Gambar 7 dapat dilihat hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan untuk Gabungan Pasar Tradisional di Kota Bogor, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 3,0 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,8. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan. 81 Gambar 7. Hasil Diagram Kartesius untuk Gabungan Pasar di Kota Bogor 6.3 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar 6.3.1 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Bogor Dari Tabel 25 dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi Assurance merupakan dimensi pengelolaan yang paling dianggap penting oleh pedagang dibanding dengan dimensi-dimensi kualitas pengelolaan lainnya. Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata tingkat kepentingan tertinggi (3,2) yang dimiliki oleh dimensi assurance, sedangkan dimensi responsiveness memiliki nilai ratarata tingkat kepentingan terendah yaitu sebesar (2,7), hal ini menunjukkan bahwa dimensi pengelolaan yang bersifat responsiveness merupakan dimensi yang dianggap tidak penting oleh pedagang. Tabel 25. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Bogor No 1 2 3 4 5 Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,8 3,0 2,7 3,2 3,1 2,9 Tingkat Kepentingan 3,6 3,7 3,9 3,8 3,8 3,8 Selanjutnya pada tingkat kepentingan, dimensi responsiveness merupakan dimensi atribut pengelolaan pasar yang paling dianggap penting oleh pedagang 82 dibandingkan dengan dimensi kepentingan lain. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata tingkat kepentingan tertinggi (3,9), sedanagkan dimensi tangible adalah dimensi dengan tingkat kepentingan terendah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata tingkat kepentingan Kepentingan (3,6). Artinya dimensi tangible tingkat kepentingannya terendah dan dianggap rendah kepentingannya oleh pedagang. 6.3.2 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Sukasari Pada Tabel 26 dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi assurance merupakan dimensi yang paling dianggap penting jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini di tunjukan dengan nilai rata-rata tingkat kepentingan yang tertinggi (3,2). Sedangkan dimensi yang memiliki tingkat kepentingan terendah yaitu dimensi tanggible dengan nilai rata-rata (2,6). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi tangible merupakan dimensi yang dianggap tidak penting oleh pedagang. Selanjutnya pada tingkat kepentingan dimensi assurance merupakan dimensi yang memiliki nilai rata-rata tertinggi (4,0). Ini menunjukkan bahwa dimensi assurance merupakan dimensi yang paling penting jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Sementara dimensi yang memiliki nilai rata-rata paling rendah yaitu dimensi reliability dengan nilai rata-rata (3,7). Namun di Pasar Sukasari semua dimensi kepentingan memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Tabel 26. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Sukasari No 1 2 3 4 5 Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,6 3,0 2,8 3,2 2,9 2,9 Tingkat Kepentingan 3,8 3,7 3,9 4,0 3,8 3,8 6.3.3 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Kebon Kembang 83 Selanjutnya pada Tabel 27 dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi assurance merupakan dimensi pengelolaan atribut yang memiliki nilai rata-rata tertinggi (3,4). Hal ini menunjukkan dimensi assurance merupakan dimensi yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan dimensi pengelolaan atribut lainnya. Sementara dimensi yang memiliki tingkat kepentingan terendah yaitu dimensi tangible dengan nilai rata-rata (2,6). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi tangible dianggap tidak penting oleh pedagang. Selanjutnya pada tingkat Kepentingan, dimensi responsiveness merupakan dimensi yang memiliki tingkat kepentingan pengelolaan atribut yang tertinggi dengan nilai rata-rata (4,2). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi responsiveness adalah dianggap peting oleh pedagang jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Tabel 27. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Kebon Kembang No 1 2 3 4 5 Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,6 3,1 3,0 3,4 3,1 3,1 Tingkat Kepentingan 3,8 3,8 4,2 4,0 4,0 3,9 6.3.4 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Tradisional Kota Bogor Pada Tabel 28, dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi assurance memiliki nilai rata-rata kepentingan atribut tertinggi dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi assurance dianggap penting oleh pedagang pasar tradisional di Kota Bogor. Sementara dimensi yang memiliki nilai kepentingan terendah yaitu dimensi tangible dengan nilai rata-rata (2,6). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi tangible dianggap tidak penting oleh pedagang pasar tradisional Kota Bogor. 84 Selanjutnya pada tingkat Kepentingan, dimensi responsiveness memiliki nilai rata-rata tertinggi jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepentinganya tertinggi. Namun secara umum di pasar tradisional di Kota Bogor, semua dimensi Kepentingan memiliki tingkat kepentingan pengelolaan antribut yang tinggi. Tabel 28. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Semua Pasar No Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar 1 2 3 4 5 Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,6 3,1 2,8 3,2 3,0 3,0 Tingkat Kepentingan 3,7 3,7 4,0 3,9 3,9 3,8 Berdasarkan pada hasil penelitian ini secara umum dapat dilihat bahwa persepsi pedagang terhadap kinerja pasar tradisional di Kota Bogor adalah rendah, sementara Kepentingan pedagang terhadap pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. Begitu juga dengan tingkat kepentingan pedagang pasar tradisional di Kota Bogor terhadap dimensi kinerja adalah rendah, sedangkan tingkat kepentingan pedagang terhadap dimensi Kepentingan atribut pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. 6.4 Implikasi Pengembangan Pasar Tradisional terhadap Pembangunan Kota Bogor Pasar-pasar tradisional di Kota Bogor terletak di daerah yang strategis, seperti Pasar Bogor yang berada di depan pintu masuk Kebun Raya Bogor, Pasar Jambu Dua yang berada di daerah Warung Jambu dimana di daerah ini kini telah berdiri Mal Jambu Dua, Pasar Merdeka yang berada di daerah yang sangat strategis karena berhubungan dengan Terminal Merdeka dan pasar lainnya. Di daerah-daerah tersebut kini menjadi daerah yang tumbuh dengan relative cepat, ditandai dengan banyaknya pasar modern yang tumbuh di daerah tersebut dan/atau di sekitar wilayah tersebut. 85 Pembangunan pasar modern di sekitar pasar tradisional tersebut sedikit demi sedikit mempengaruhi keberadaan dari pasar tradisional. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya perkembangan penerimaan pendapatan operasional dari pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Pakuan Jaya pada tahun 2006 hingga 2010 mengalami penurunan, walaupun secara nominal mengalami peningkatan. Peningkatan penerimaan tertinggi pada tahun 2006 ke tahun 2007 rata-rata sebesar 16,8 persen, selanjutnya menurun menjadi 6,6 persen, 4,8 persen dan 0,7 persen. Penurunan terbesar terjadi di Pasar Jambu Dua, sebesar 10,3 persen. Penurunan penerimaan pendapatan operasional ini salah satunya dikarenakan dengan menurunnya penerimaan dari para pedagang, sehingga mempengaruhi pembayaran mereka terhadap penerimaan pendapatan operasional PD. Pasar Pakuan Jaya. Hal ini boleh jadi terjadi karena berkurangnya pedagang di pasar-pasar yang dikelola PD. Pasar. Oleh karena itu pada tahun 2009, Pemerintah Kota Bogor mendirikan PD Pasar Pakuan Jaya. Tujuan didirikan PD Pasar Pakuan Jaya ini adalah untuk (1) meningkatkan pelayanan kebutuhan sarana dan prasarana pasar yang nyaman, bersih dan teratur, (2) mendorong perekonomian daerah, (3) menunjang pembangunan daerah, (4) Meningkatkan profesionalitas dan efisiensi pengelolaan pasar, dan (5) meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Pasar tradisional, banyak memiliki kekurangan, seperti lokasinya yang strategis terkadang dapat mengganggu lalu lintas di sekitarnya, kumuh, kurang tertata, dan lain-lain. Berdasarkan hasil analisis terhadap responden, maka dapat dilihat bahwa dimensi yang paling penting menurut responden adalah dimensi assurance, yang mencakup keamanan dan ketertiban pasar, kemudahan mendapat izin berdagang, kejujuran petugas penarik retribusi, kualitas barang dan kelengkapan jenis barang. Dimensi ini jika dibagi berdasarkan atas pedagang, maka penekanan dari pedagang adalah pada aspek keamanan dan ketertiban pasar, kemudahan mendapat izin berdagang, kejujuran petugas menarik retribusi.dan kualitas dari barang yang dijual dan kelengkapan jenis barang. Jika dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, maka pemerintah harus lebih menekankan pada aspek-aspek ini. Mengingat 86 sekarang persaingan antara pasar modern dan pasar tradisional sangat ketat, dimana para pembeli lebih senang berbelanja di pasar modern dikarenkan beberapa hal seperti nyaman, bersih dan terjamin. Pemerintah harus melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi terhadap pasar tradisional, aparat yang terkait harus lebih jeli dan tegas dalam melaksanakan tugasnya. Teliti dalam artian musti melihat juga apa yang dijual oleh pedagang, apakah barang yang sudh dijual di pasar tradisional sudah lengkap dan sesuai dengan yang diinginkan oleh para pembeli. Selain itu juga harus sering melakukan pengawasan terhadap produk yang dijual agar kualitas barangnya terjamin. Pembenahan pasar tradisional ini tidak semata-mata untuk melindungi pasar tradisional dengan masyarakat awamnya. Akan tetapi juga dapat menarik minat wisatawan baik lokal maupun asing (Sutrisna dan Andi, 2010), seperti Pasar Klewer di Surakarta, Pasar Pagi Manggadua dan Pasar Baru di Jakarta, hingga Pasar ‘Central Market’ di Kuala Lumpur, Malaysia. Hal tersebut merupakan langkah yang cukup bijak mengingat penataan tidak hanya bertujuan untuk menjaga kelangsungan pasar tetapi juga untuk meningkatkan pemasukan perekonomian. Sehingga kebijakan tersebut lebih menguntungkan banyak pihak. Jika dihubungkan dengan Kota Bogor, pengembangan pasar yang dihubungkan dengan wisata di Kota Bogor ini sangat mendesak dan penting, mengingat di Kota Bogor belum ada pasar yang mengkhususkan untuk wisata dan belanja khusus untuk oleh-oleh Bogor. Jika ini dapat direalisasikan maka dampaknya sangat luas, tidak saja meningkatkan PAD Kota Bogor, tetapi secara luas dapat meningkatkan perekonomian dan pendapatan masyarakat Bogor, baik masyarakat Kota maupun Kabupaten Bogor, membuka lapangan kerja, meningkatkan kegiatan sector lainnya, mengingat di kelebihan dari pasar tradisional adalah keragaman barang yang lengkap. Di lain pihak, pembenahan pasar tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena menyangkut tingkat pendidikan masyarakat lapis bawah yang cenderung rendah. Selain itu pola kebiasaan masyarakat juga turut menjadi penghambat penataan pasar. Secara normatif solusi yang tepat untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut adalah dengan menyinergikan pasar tradisional 87 dan tempat perbelanjaan modern sebagai satu kesatuan fungsional (Sutrisna dan Andi, 2010). Kebijakan-kebijakan pemerintah haruslah bersifat memberikan solusi kepada pasar-pasar tradisional. Karena pasar tradisional merupakan merupakan salah satu pilar ekonomi yang cukup potensial untuk meningkatkan perekonomian. Pasar tersebut mampu memberikan kehidupan bagi perekonomian terutama masyarakat bawah. Pemerintah Kota Bogor juga diuntungkan dengan dijadikannya pasar-pasar tradisional menjadi kawasan tujuan wisata. Oleh karena itu diperlukan perhatian, bantuan dan kerjasama Pemerintah Kota Bogor dalam pengembangan pasar tradisional ini, jika tidak, maka peranan pasar tradisional akan semakin menurun karena adanya pasar modern yang semakin berkembang, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya perekonomian ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang digerakkan oleh para penjual dan pembeli di pasar tradisional di Kota Bogor. 88 BAB VII STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR 7.1 Analisis Lingkungan Internal Analisis lingkungan internal ditujukan untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang dapat menjadi kekuatan dan kelemahan dalam kaitannya dengan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Faktor-faktor strategis internal tersebut adalah : 7.1.1 Kekuatan Faktor-faktor yang dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor yaitu : 1. Pasar tradisional sudah berdiri lama Kekuatan pertama dari Pasar tradisional di Kota Bogor yaitu sudah berdiri sejak tahun 1955. Pada awal berdirinya, pasar tradisional ini hanya berupa pasar yang terdiri dari lapak-lapak yang di pasar yang dipakai berjualan oleh pedagang. Setelah perkembangannya, barulah pasar tradisional di bentuk dengan menggunakan kios dan los dan dikelola oleh dinas perindustrian dan perdagangan Kota Bogor. Baru pada tahun 2009, untuk meningkatkan kualitas pasar tradisional dibentuklah perda dan perwali yang menyatakan bahwa pasar tradisional dikelola oleh PD. Pasar Pakuan Jaya. 2. Lokasinya strategis berada di pusat kota Lokasi Kota Bogor yang strategis berada di pusat kota menjadi faktor kekuatan untuk peningkatan posisi tawar pasar tradisional. Terdapat tiga alasan utama yang menjadikan pasar tradisional di Kota Bogor menjadi ramai pembeli, yaitu pasar tradisional di Kota Bogor terletak antara berdekatan dengan Kebun Raya Bogor sebagai tempat wisata, terminal barangsiang, dan stasiun kereta api. 89 3. Menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok Seperti halnya pasar tradisional di kota-kota lain, pasar tradisional di Kota Bogor merupakan tempat yang utama dikunjungi oleh masyarakat dikarenakan pasar dapat menyediakan hampir seluruh kebutuhan pokok. Mulai dari beras, sayuran, ikan, minyak goreng, dll terdapat di pasar tradisional. Hampir semua produk yang dijual di pasar tradisional merupakan hasil bumi sendiri dengan pemanfaatan potensi lokal petani yang dijual ke pasar. 4. Harga barang terjangkau oleh pelanggan Harga barang di pasar tradisional jelas lebih murah dibandingkan dengan harga barang di pasar modern. Perbedaan harga ini dapat mencapai 20-30%. Hal ini disebabkan di pasar modern, harga barang menjadi lebih mahal dikarenakan pembiayaan pajak barang dan bangunan dibebankan kepada konsumen oleh pedagang. Namun di pasar tradisional tidak terdapat pajak yang dibebankan sehingga harga barang lebih terjangkau/murah. 7.1.2 Kelemahan Faktor-faktor yang merupakan kelemahan yang terdapat di pasar tradisional Kota Bogor antara lain : 1. Manajemen pengelolaan masih kurang profesional Salah satu penyebab pasar tradisional tidak mengalami kemajuan yaitu karena manajemen pengelolaan tidak profesional. Sebelum dikelola oleh PD Pasar Pakuan Jaya (swasta, profesional), pasar tradisional dikelola oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Kota Bogor (PNS). Terlihat perbedaan cara pengelolaan yang dilakukan oleh pihak swasta dan PNS. Ketika pasar dikelola oleh PNS, maka budaya santai, kurang semangat dan tingkat kreativitas mengelola pasar sedikit sekali. Oleh karenanya kondisi ini diperbaiki dengan perubahan status pengelolaan oleh PD Pakuan Jaya. 2. Minimnya sarana dan prasara pasar Faktor sarana dan prasarana menjadi sangat penting dalam pengelolaan pasar tradisional. Pun halnya faktor sarana dan prasarana ini berkaitan dengan 90 peningkatan posisi tawar pasar tradisional dengan pasar modern. Kondisi sarana dan prasara pasar tradisional di Kota Bogor sudah rusak, kumuh, dan perlu renovasi. Beberapa sarana dan prasarana pasar yang perlu di renovasi yaitu kios dan los, sarana kebersihan, sarana drainase, sarana parkir, dan lainnya. 3. Kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan Faktor yang menjadi kelemahan bagi pasar tradisional di Kota Bogor yaitu kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan. Hampir diseluruh lokasi pasar tradisional masih terdapat premanisme, sehingga pelanggan malas belanja di pasar. Selain itu juga kondisi kumuh dan kotor, kebersihan yang kurang terawat menjadikan pasar tradisional sepi pengunjung. Oleh karenanya diperlukan peningkatan dasi sisi keamanan, ketertiban dan kebersihan di pasar tradisional. 4. Pedagang belum dapat dipercaya Di pasar tradisional masih terdapat pedagang yang sulit dipercaya kejujurannya. Masih terdapat kecurangan dari beberapa hal. Seperti mengurangi berat timbangan, tidak jujur mengenai kualitas barang dan mencampur jenis barang dengan kualitas yang berbeda. Hal ini yang menyebabkan pelanggan enggan belanja di pasar tradisional. Praktek seperti ini menjadi kelemahan yang ada dan perlu diperbaiki oleh pengelola pasar. 5. Masih terdapat kios dan los yang belum optimal Optimalisasi kios dan los di pasar tradisional Kota Bogor perlu untuk di tingkatkan. Dari sekitar 6.042 jumlah kios di seluruh pasar tradisional Kota Bogor, kios yang buka hanya 1.262 kios dan yang masih tutup 1.852 kios. Begitu juga dengan jumlah los, dari 1.043 julah los, yang buka sebanyak 348 los dan 311 masih tutup. Tutupnya kios dan los ini salah satunya disebabkan oleh harga yang tidak terjangkau oleh pedagang dan kondisi bangunan yang tidak layak sehingga pedagang enggan untuk berjualan. Diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas kios dan los, sehingga jika kios dan los akan menjadi peluang pendapatan bagi PD. Pakuan Jaya dan meningkatkan posisi tawar tradisional di Kota Bogor. 91 7.2 Analisis Lingkungan Eksternal Faktor-faktor strategis eksternal terdiri dari faktor-faktor yang dapat dijadikan peluang dan ancaman dalam kaitannya dengan peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain : 7.2.1. Peluang Faktor peluang merupakan bagian dari faktor-faktor strategis eksternal yang dapat dimanfaatkan dalam upaya peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Faktor-faktor tersebut antara lain : 1. Pendapatan masyarakat Kota Bogor meningkat Faktor peluang pendapatan masyarakat Kota Bogor dapat dikatakan meningkat dapat dilihat dari kemampuan daya beli masyarakat meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 daya beli masyarakat meningkat 0,96 point dibandingkan dengan tahun 2009. Dari 66,15 menjadi 67,11. Ini berarti terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Selain itu terdapat juga peningkatan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kota Bogor sebesar 17,98%. Hal ini dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk tetap berbelanja di pasar tradisional dengan kondisi harga lebih murah, sehingga masih ada anggaran masyarakat untuk kebutuhan lainnya. 2. Kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat Faktor peluang lainnya yaitu sekarang ini masyarakat mulai muncul kembali kesadaran untuk kembali berbelanja di pasar tradisional. Beberapa yang menjadi alasan yaitu dapat meningkatkan ekonomi lokal, menyerap hasil bumi sendiri, menghargai jerih payah para petani dan kondisi barang yang masih segar. Untuk meningkatkan budaya kembali ke pasar tradisional maka perlu dicotohkan oleh para pejabat di Kota Bogor kepada masyarakat, sehingga masyarakat tertarik untuk kembali ke pasar tradisional. 92 3. Banyak potensi permintaan barang ke pasar tradisional Akhir-akhir ini banyak permintaan kembali barang ke pasar tradisional. Hal ini disebabkan karena barang yang berasal dari pasar tradisional memilki kualitas bagus, masih segar, harga lebih murah dan langsung berasal dari produksi dalam negeri. Dengan beberapa alasan itu, menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern. 7.2.2 Ancaman Beberapa faktor yang menjadi ancaman yang harus diatasi dalam kaintannya dengan peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor antara lain : 1. Banyak beroperasinya pasar modern Pasar modern banyak masyarakat yang beranggapan dapat memudahkan pelanggan untuk memenuhi kebutuhannya. Namun di sisi lain pasar modern dapat merusak keberadaan pasar tradisional. Di Kota Bogor terdapat banyak pasar modern yang keberadaannya cukup dekat dengan pasar tradisional, antara lain : Botani Square, Bogor Trade Mall, Mall Jambu Dua, Jogja dan Mall Ekalokasari Plaza. Banyaknya pasar modern ini dapat menjadi ancaman bagi keberadaan pasar tradisional seperti dapat mematikan pedagang kecil dan mematikan ekonomi rakyat menengah ke bawah. 2. Tingkat kriminalitas masih tinggi Di Kota Bogor masih terdapat banyak tindakan kriminalitas, terutama pada malam hari. Pencurian, peredaran narkoba, minuman keras, klub malam dan pengangguran merupakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kriminalitas di pasar. Kriminalitas ini disebabkan karena terjadi kesenjangan ekonomi yang masih terjadi di Kota Bogor. Tindakan melakukan kriminal dilakukan dengan sangat terpaksa karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti mencuri, mencopet, menodong, dan bahkan meminta uang dengan paksa kepada pedagang yang ada dipasar yang dilakukan oleh oknum preman. 93 3. Banyaknya PKL yang beroperasi Di Kota Bogor terdapat lebih dari 1200 PKL di sekitar pasar tradisional, ini menjadi perhatian pemerintah dan perlu dilakukan pengelolaan dengan baik dengan cara : pemeliharaan zona-zona bebas PKL yang dilakukan oleh patroli, penertiban PKL skala kecil dan penjagaan lokasi bekas penertiban, ploting dan patroli pada wilayah anjal dan gepeng yang terdapat disekitar pasar. Keberadaan PKL dapat merusak citra pasar tradisional salah satunya dapat menambah kemacetan di sekitar pasar. 4. Pola hidup masyarakat yang hedonik sehingga mereka lebih menyukai pasar modern yang lebih nyaman daripada pasar tradisional Seiring dengan perkembangan zaman, meningkatnya alat teknologi dan mudahnya informasi, semakin membuat masyarakat malas untuk berbelanja ke pasar tradisional. Mereka lebih senang dengan belanja instan sehingga banyak diantara masyarakat lebih memilih konsep belanja delivery dengan diantar langsung ke rumah oleh pedagang. Konsep ini sudah berkembang di Kota Bogor, sehingga kehidupan masyarakat sudah terlihat hedonik. Selain itu juga masyarakat lebih memilih berbelanja di Mall, Giant, dan pasar modern lainnya. Selain lebih mudah, aman, juga untuk membuat citra mereka semakin meningkat. 7.3 Evaluasi Faktor Internal (IFE) Evaluasi faktor internal (Internal Faktor Evaluation) merupakan hasil dari identifikasi faktor-faktor strategi internal berupa kekuatan dan kelemahan yang berpengaruh terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Hasil evaluasi faktor internal berdasarkan jawaban dari responden dan diperoleh nilai dan bobot serta rating di masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan. Matrik evaluasi faktor internal secara lengkap disajikan pada Tabel 28. Berdasarkan pada Tabel 29, dapat dilihat bahwa kekuatan yang mempunyai pengaruh atau tingkat kepentingan yang relatif tinggi dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor yaitu 1) menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok, dan 2) lokasinya strategis berada di pusat kota. Sementara faktor kelemahan yang paling mempengaruhi adalah masih terdapatnya 94 kios dan los yang kosong yang mendapat rating 4. Sementara yang lainnya yaitu 1) pedagang kurang dapat dipercaya, 2) kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan, dan 3) manajemen pengelolaan pasar masih kurang profesional. Tabel 29. Matrik IFE dari Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor No Faktor Strategis Internal Bobot Rating Skor Kekuatan 1 Pasar tradisional sudah berdiri lama 0,120 4 0,481 2 Lokasi strategis berada di pusat kota 0,125 4 0,499 3 Menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok Harga barang terjangkau oleh pelanggan/murah Kelemahan Manajemen pengelolaan masih kurang profesional Sarana dan prasarana pasar masih minim Kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan Pedagang kurang/belum dapat dipercaya Masih terdapat kios dan los yang belum optimal Jumlah 4 1 2 3 4 5 0,133 0,111 0,104 0,081 0,111 0,101 0,115 1.000 4 4 2 2 2 3 4 0,531 0,442 0,209 0,161 0,221 0,303 0,460 3,308 Hasil peringkat dari evaluasi faktor internal menunjukkan bahwa keseluruhan faktor kekuatan mendapatkan penilaian peringkat tertinggi 4, artinya semua faktor tersebut pengaruhnya sangat kuat terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Penilaian peringkat pada faktor internal yang menjadi kelemahan adalah faktor pedagang yang kurang dipercaya dengan rating tertinggi 3, dan faktor yang lain memiliki rating 2. Artinya semua faktor tersebut memiliki tingkat pengaruh lemah dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 95 Skor tertimbang yang dihasilkan dari matrik ini adalah 3.308 yang menunjukkan bahwa secara internal faktor-faktor tersebut memiliki respon yang tinggi terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 7.4 Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) Evaluasi faktor eksternal (Eksternal Faktor Evaluation) merupakan hasil dari identifikasi faktor-faktor strategi eksternal berupa peluang dan ancaman yang berpengaruh terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Tabel 30. Matrik EFE Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor No Faktor Strategis Eksternal Bobot Rating Skor 0,125 3 0,376 0,130 3 0,390 0,141 4 0,566 0,123 2 0,246 0,168 3 0,503 0,148 2 0,297 0,164 2 0,329 Peluang 1 2 3 1 2 3 4 Pendapatan masyarakat meningkat Kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat Banyak potensi permintaan barang ke pasar tradisional Ancaman Banyaknya beroperasinya pasar modern Tingkat kriminalitas masih tinggi (premanisme) Banyaknya PKL yang beroperasi Pola hidup masyarakat yang hedonik sehingga mereka lebih menyukai pasar modern yang lebih nyaman daripada pasar tradisional Jumlah 1.000 2,706 Hasil evaluasi faktor eksternal berdasarkan jawaban dari responden dan diperoleh nilai dan bobot serta rating di masing-masing faktor peluang dan ancaman. Dari hasil analisis EFE terlihat bahwa faktor peluang yang mempunyai pengaruh atau tingkat kepentingan yang relatif tinggi dalam peningkatan posisi 96 tawar pasar tradisional di Kota Bogor adalah 1) kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat dan 2) banyaknya potensi permintaan barang ke pasar tradisional. Sementara faktor ancaman yang memiliki pengaruh tinggi dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor adalah 1) tingkat kriminalitas yang masih banyak di pasar tradisional. Secara umum terlihat pada Tabel 30. Hasil peringkat dari evaluasi faktor eksternal diatas menunjukkan bahwa faktor peluang banyak potensi permintaan barang ke pasar tradisional mendapat rating 4. Hal ini menunjukkan bahwa faktor peluang tersebut pengaruhnya sangat kuat terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Penilaian peringkat pada faktor eksternal yang menjadi ancaman adalah tingkat kriminalitas masih tinggi dengan rating 3. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kriminalitas (premanisme) merupakan faktor ancaman yang kuat pengaruhnya dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Skor tertimbang yang dihasilkan dari matrik EFE ini adalah 2.706 yang berarti bahwa secara eksternal faktor peluang dan ancaman dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor direspon dengan sedang. 7.5 Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional Tahap selanjutnya dalam perumusan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor adalah dengan memindahkan matrik IFE dan EFE ke matrik SWOT. Tujuan matrik ini adalah untuk memperoleh alternatif strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Dari hasil analisis SWOT yang dilakukan didapat sembilan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor yang terdiri dari tiga strategi S-O, tiga strategi S-T dan tiga strategi W-O. Sebagai berikut : 1. Strategi S-O Strategi S-O (strategi agresif) merupakan strategi yang dilakukan dengan menggunkan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh tiga strategi yaitu : 1) peningkatan sarana 97 dan prasarana pasar, 2) penataan tempat berdagang, dan 3) peningkatan kualitas pelayanan di pasar. Tabel 31. Matrik SWOT Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor Faktor Internal Faktor Eksternal Kekuatan (Strengths) S1 : Pasar sudah berdiri lama S2 : Lokasi strategis di pusat kota S3: Menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok S4 : Harga barang terjangkau/lebih murah Kelemahan (Weaknesses) W1 : Manajemen pengelolaan kurang profesional W2 : sarana dan prasarana minim W3 : Kurangnya tingkat keamanan, kebersihan dan ketertiban W4 : Pedagang kurang dipercaya W5 : Masih terdapat kios/los yg belum terisi optimal (S – O) (W – O) Peluang (Opportunities) O1 : Pendapatan masyarakat meningkat O2 : Kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat O3 : Banyak potensi permintaan barang ke pasar 1. 2. 3. Ancaman (Threats) T1 : Banyak beroperasinya pasar modern T2 : Kriminalitas masih tinggi T3 : Banyak PKL yang beroperasi T4 : Pola hidup masyarakat yang hedonik sehingga mereka lebih menyukai pasar modern yang lebih nyaman daripada pasar tradisional Peningkatan sarana dan prasarana pasar Penataan tempat berdagang Peningkatan kualitas pelayanan di pasar (S – T) 1. 2. 3. Peningkatan pencitraan pasar tradisional Penerapan peraturan dan tata tertib pasar Pengaturan PKL di pasar 1. 2. 3. Peningkatan kualitas SDM Pengelola Pembinaan pengelola dan pedagang pasar Renovasi bangunan pasar yang rusak (W – T) - 2. Strategi S-T Staregi S-T (strategi diversifikasi), dimaksudkan dengan kekuatan yang dimiliki untuk dapat mengatasi ancaman yang ada. Dari hasil analisis yang dilakukan didapat tiga strategi S-T, yaitu: 1) peningkatan pencitraan pasar tradisional, 2) penerapan peraturan dan tata tertib pasar dan 3) pengaturan PKL di sekitar pasar. 98 3. Strategi W-O Strategi W-O (strategi orientasi putar balik) dimaksudkan dengan peluang yang dimiliki dapat mengatasi kelemahan yang ada. Dari hasil analisi SWOT di dapat tiga alternatif strategi W-O, yaitu: 1) peningkatan kualitas SDM pengelola, 2) pembinaan pengelola dan pedagang pasar dan 3) renovasi bangunan pasar yang telah rusak. Sembilan strategi yang dihasilkan dari analisi SWOT ini merupakan strategi alternatif yang dapat dilakukan oleh pemerintah atau pengelola pasar tradisional berdasarkan prioritas dan dapat dijalankan secara bersamaan. Strategi yang telah dihasilkan dari analisis SWOT terhadap responden ini dapat di ujicobakan dan diusulkan kepada pemerintah sebagai masukan hasil penelitian. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 31. 7.6 Penentuan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor Analisis SWOT telah menghasilkan sembilan rumusan strategi yang harus ditentukan strategi mana yang menjadi strategi prioritas peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Penentuan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional merupakan tahap selanjutnya dari perumusan strategi dengan menggunakan analisis Quantitative Strategic Palnning Matrix (QSPM). Analisis ini ditujukan untuk menentukan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Analisis QSPM dilakukan dengan cara memberikan nilai kemenarikan relatif (Attractive Score = AS) pada masing-masing faktor internal maupun eksternal. Setelah dilakukan perhitungan nilai Total Attractive Score (TAS), maka didapat prioritas strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor seperti pada Tabel 32. Dari Tabel 32 diperoleh prioritas kebijakan dan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Yaitu 1) peningkatan kualitas pelayanan pasar, 2) peningkatan sarana dan prasarana pasar, 3) pengaturan PKL di pasar, 4) renovasi bangunan pasar, 5) penerapan peraturan dan tata tertib pasar, 6) pembinaan pengelola dan pedagang pasar, 7) peningkatan kualitas SDM 99 pengelola, 8) penataan tempat berdagang dan 9) meningkatkan pencitraan pasar tradisional. Tabel 32. Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor No Strategi Skor Ranking 1 Peningkatan kualitas SDM pengelola 7.211 7 2 Pembinaan pengelola dan pedagang pasar 7.398 6 3 Peningkatan sarana dan prasarana pasar 7.654 2 4 Meningkatkan pencitraan pasar tardisional 6.884 9 5 Penerapan peraturan dan tata tertib pasar 7.479 5 6 Penataan tempat berdagang 7.039 8 7 Renovasi bangunan pasar 7.582 4 8 Peningkatan kualitas pelayanan pasar 7.739 1 9 Pengaturan PKL di Pasar 7.632 3 Dari hasil analisis QSPM, strategi peningkatan kualitas pelayanan pasar memiliki nilai kemenarikan (attractive score) yang tertinggi yaitu 7.739. keseluruhan strategi yang dihasilkan dari analisis QSPM dapat diimplementasikan secara tidak berurutan maupun pada waktu yang berbeda karena semua strategi tersebut mempunyai kepentingan yang sama yaitu dalam rangka peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Strategi-strategi tersebut merupakan strategi alternatif yang dapat digunakan oleh pengelola pasar PD Pasar Pakuan Jaya atau pemerintah Kota Bogor dalam rangka melengkapi strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional yang masih dalam benak pengelola. Strategi tersebut merupakan saran yang dapat di aplikasikan dalam bentuk program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 100 7.7 Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor Perancangan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor merupakan bentuk implementasi dari strategi yang diperoleh dari hasil analisis internal dan eksternal dan analisis QSPM serta hasil analisis dari persepsi responden. Strategi yang diprioritaskan berdasarkan hasil analisis sebelumnya adalah Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Pasar. Beberapa program yang dapat diturunkan dari strategi prioritas ini adalah: 1. Melakukan zoning untuk ketertiban dan kenyaman pelanggan Program ini bertujuan untuk membuat pasar di Kota Bogor menjadi lebih tertib sehingga menimbulkan rasa nyaman bagi konsumen yang datang ke pasar. Program ini dilakukan dengan cara membuat pengelompokan terhadap jenis komoditas yang ada di pasar. Pelaksana dari program ini adalah PD. Pasar Pakuan Jaya dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor terhadap pasar-pasar yang berada dibawah pengelolaannya. Usulan pembiayaan berasal dari APBD Kota Bogor. 2. Menjadikan pasar di Kota Bogor sebagai pusat grosir hasil bumi dan barang kebutuhan rumahtangga lainnya. Program ini bertujuan untuk menciptakan pasar di Kota Bogor menjadi pusat pasar yang lengkap dan murah dengan kualitas yang terjammin. Pasar grosir di Kota Bogor sebenarnya sudah ada dan berjalan, sehingga program ini dilakukan untuk pengembangan dari pasar yang ada. Pelaksana dari program ini adalah PD. Pasar Pakuan Jaya dan Dinas Agribisnis dan Pertanian Kota Bogor terhadap pasar-pasar yang berada dibawah pengelolaannya. Usulan pembiayaan berasal dari APBD Kota Bogor. 101 3. Melakukan penataan lapak-lapak di pasar Program ini difokuskan untuk penataan dan penertiban terhadap lapak-lapak di pasar yang dimiliki oleh pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima ini merupakan hal yang lumrah di setiap pasar, tetapi keberadaannya terkadang dapat mengganggu kenyamanan pembeli dan kinerja penjualan pedagang yang memiliki kios di pasar. Oleh karena itu musti dilakukan penataan, karena pedagang kaki lima ini merupakan aset, sehingga tidak mungkin digusur. Untuk melaksanakan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor membutuhkan dana lima milyar, yang dibiayai dengan anggaran APBD Kota Bogor. Secara lengkap, kesembilan strategi dan masing-masing programnya dapat dilihat pada Tabel 33. 102 Tabel 33. Matrik Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional di Kota Bogor Strategi Program Pelaksana Usulan Pembiayaan a. Meningkatkan kebersihan 1.Peningkatan ketertiban, keamanan b. Melakukan penataan barang kualitas dagangan sesuai zoning pelayanan pasar 2.Peningkatan sarana dan prasarana pasar komoditi a. Perbaikan tangga pasar b. Perbaikan Mesjid/Musolla c. Penyediaan tempat sampah 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Satpol PP 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Disperindagkop APBD (Kota Bogor ) APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) Swasta APBD (Kota Bogor ) a. Membuat zoning untuk PKL b. Melakukan penataan lapaklapak c. Merenofasi lapak-lapak PKL a. Renovasi bangunan pasar b. Perbaikan drainase, saluran listrik pasar d. Renovasi kios dan los pasar 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Satpol PP 6.Pembinaan pedagang pasar a. Mengadakan pelatihan dan pembinaan kepada pedagang b. Memberikan motivasi tentang kewirausahaan 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2Disperindagkop 7.Peningkatan SDM pengelola pasar a. Mengadakan pendidikan dan pelatihan SDM pengelola b. Peningkatan kapasitas dan kinerja dengan sistem reward and punishman. 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Disperindagkop 8.Penataan tempat berdagang a. Menata tempat berdagang sesuai zoning komoditi b. Merapikan lorong dan koridor umum 1. PD. Pasar APBD (Kota Pakuan Jaya Bogor dan 2.Disperindagkop Provinsi Jabar) APBD (Kota 1. PD. Pasar Bogor dan Pakuan Jaya 2 Disperindagkop Provinsi 3.Humas Jabar) 3.Pengaturan PKL di pasar 4.Renovasi bangunan pasar 5.Penerapan peraturan dan tata tertib pasar APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) Swasta a. Penegakkan aturan dan tata 1. PD. Pasar APBD (Kota tertib di pasar Pakuan Jaya Bogor dan b. Membuat sistem kinerja bagi 2. Bagian Hukum Provinsi pengelola pasar(SOP) 3. Satpol PP Jabar) a. Membuat iklan dimedia 9.Meningkatkan untuk sosialisasi pasar tradisional pencitraan pedagang pasar b. Sosialisasi pasar ramah pelanggan 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. PU/Swasta APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) 103 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan kajian, maka dapat disimpulkan bahwa strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor harus di fokuskan pada program peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan sarana dan prasarana pasar dan pengaturan PKL di pasar. Secara spesifik dalam kajian ini terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Persentase jumlah kios dan los yang tutup di pasar yang dikelola oleh PD. Pasar Pakuan Jaya yang tutup pada tahun 2009 adalah 51 dan 29 persen di Pasar Bogor, 57 dan 42 persen di Pasar Sukasari dan 22 dan 43 persen di Pasar Kebon Kembang, Kondisi Koefisien Dasar Baangunan dan Koefisien Lantai Bangunan di Pasar Bogor dan Pasar Kebon Kembang masih terlihat baik (tinggi), sementara di Pasar Sukasari terlihat rendah. Sementara itu untuk sarana listrik, beberapa perlu perbaikan, seperti perbaikan jaringan listrik, perlunya pengadaan genset dan perlunya penambahan biaya pemeliharaan jaringan listrik disemua lantai dan blok pasar. Sedangkan untuk perbaikan sarana drainase, pada ketiga pasar tradisional di Kota Bogor harus dilakukan pada sekeliling gedung, semua blok dan semua lantai. Beberapa sarana yang perlu diperbaiki antara lain : perbaikan drainase luar gedung, perbaikan pipa air dalam dan luar gedung, pergantian bak air dalam pasar dan pemeliharaan saluran air. Untuk jumlah PKL, di Pasar Bogor paling banyak dibandingkan pasar lain. 2. Kondisi fisik bangunan pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor secara keseluruhan tidak terawat dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian kondisi pasar di Kota Bogor adalah: bangunan pasar sudah berumur diatas lima belas tahun, saluran pembuangan air tidak lancar, saluran hidran pemadam kebakaran tidak aktif, jaringan listrik yang ada didalam pasar tidak tertata dengan rapi, kondisi keamanan belum sepenuhnya aman, kebersihan belum terpelihara serta zoning komoditi belum berjalan. 104 3. Secara umum persepsi pelanggan terhadap kinerja pasar tradisional di Kota Bogor adalah rendah (seperti kebersihan kantor unit pasar, kondisi bangunan/gedung pasar, kondisi kebersihan pasar, kondisi fasilitas umum dan kondisi tempat usaha), sementara kepentingan pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi (seperti lokasi pasar dan kesungguhan petugas dalam mengelola pasar).. 4. Terdapat tiga strategi prioritas dari sembilan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di Kota Bogor yaitu : 8.2 a. Peningkatan kualitas pelayanan pasar b. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pasar c. Pengaturan PKL di sekitar pasar tradisional Saran Berdasarkan hasil kajian, maka disarankan bahwa peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor harus terus dilakukan oleh PD Pasar Pakuan Jaya dan stakeholder dengan : 1. Peningkatan sarana dan prasara fisik pasar, seperti perbaikan bangunan, kos dan los pasar. Sehingga pelanggan merasa nyaman ketika berbelanja. 2. Melakukan relokasi kepada PKL, agar tidak mengganggu pelanggan dan merapikan tempat parkir. 3. Perlunya dilakukan pencitraan pasar tradisional kepada masyarakat dengan mensosialisasikan produk unggulan lokal untuk menarik minat masyarakat belanja di pasar. 4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi pasar tradisional dan ketahanannya terhadap keberadaan pasar modern di Kota Bogor. 105 DAFTAR PUSTAKA BPS Kota Bogor. 2009. Kota Bogor dalam Angka. 2009 Darrin, G And Mervin, K. Lewis. 2001. Evaluating The Risk of Public Private Partnership for Infrastructure Project. Davey, K.J. 1983. Financing Regional Government, Ltd. New York, Brisbane, Toronto, Singapore : Wiley and Sons. David, R.F. 2002. Manajemen Strategis : Konsep. Alih Bahasa Alexander Sindoro. PT. Prenhalindo. Jakarta Geertz, C. 1992. Penjaja dan Raja : Perubahan Sosial dan Moderenisasi Ekonomi di Dua Kota Indonesia. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia. Gerson, R. 2004. Mengukur Kepuasan Pelanggan. PPM. Jakarta. Hasibuan, H. M. S.P. 1996. Manajemen : Dasar, Pengertian dan Masalah. PT. Toko Gunung Agung. Jakarta Irawan, H. 2007. Sepuluh Prinsip Kepuasan Pelanggan. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta Kotler. P 2005. Manajemen Pemasaran. Edisi Bahasa Indonesia. PT. Indeks Kelompok Media. Jakarta. Kotler, P dan Keller, K 2007. Manajemen Pemasaran. Edisi Bahasa Indonesia. PT. Indeks. Lovelock, C. and L.K Wright. 2005. Manajemen Pemasaran Jasa (Terjemahan). Indeks. Jakarta Madura, J. 2001. Pengantar Bisnis. Jakarta : Salemba Empat. Mattanete, H. 2008. Analisis Kepuasan Pedangan terhadap Pengelolaan Pasar dan Strategi Pengembangan Pasar (Kasus di Pasar Citeureup I Kabupaten Bogor). Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Nas, P, J. M. 1986. The Indonesian City : Studies in Urban Development and Planning. Holland. Foris Publications. Oktaviani dan Suryana. 2006. Analisis Kepuasan Pengunjung dan Pengembangan Fasilitas Wisata Agro (Studi Kasus Kebun Wisata Pasir Mukti, Bogor). Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 24. No. 1, Mei 2006, 41-58. 106 Pemerintah Kota Bogor. 2009. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya. Pemerintah Daerah Kota Bogor. Rangkuti, F. 2003. Measuring Costumer Satisfactions. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Rasjiddin. I. 2008. Formulasi Strategi Bersaing. PT. Yanagi Histanayala dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan Bisnis. Tesis Program Studi Manajemen Bisnis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Undang-Undang Republik Indonesia No 34 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Soleh. 2005. Analisis Kesiapan Kabupaten dalam Menarik Investor, Studi Kasus Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tesis Program Studi Manajemen Bisnis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Subowo, E. 2002. Pokok-Pokok Pikiran Deregulasi Perusahaan Milik Daerah sebagai Lembaga Pertumbuhan Ekonomi. Diklat Manajemen Pasar Daerah. Badan Pendidikan dan Pelatihan Departemen Dalam Negeri. Supranto, J. 2003. Metode Riset. Aplikasinya dalam Pemasaran. Edisi Revisi ke 7. Penerbit Rineka Citra. Jakarta Suryadarma, D et al. 2007. Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia. Lembaga Penelitian SMERU Umar, H. 2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Jakarta Bussines Research Centre (JBRC). Jakarta Zarkoni. 2007. Analisis Strategi Bersaing PT. Nalco Indonesia dalam Bisnis Pengolahan Air di Industri Minyak Kelapa Sawit. Tesis Program Studi Manajemen Bisnis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor Zumrotin, K.S. 2002. Pola Keterkaitan Pasar Modern dengan Pasar Swalayan. Diklat Manajemen Pasar Daerah. Badan Pendidikan dan Pelatihan Departemen Dalam Negeri. 3 ABSTRACT BAKRI M. “The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness to Seller at Bogor Regency”. Directed by MUHAMMAD FIRDAUS and LUKMAN M. BAGA Traditional market in Bogor Regency is a place to meet transaction between producers and consumers which has the strategic value for the developing people’s economic growth. But, the embeded problem, the traditional market is still low competitiveness if it is compared to the modern market (hyper market, super marker, etc) competitiveness. In that condition, it’s necessary to get the strategies of competitiveness of the traditional market increased in Bogor Regency. The objective of the research is to formulate strategy and program to achieve more competitiveness of the traditional market in Bogor Regency. The specific aims are to identify the condition of traditional market, to analyze the perception of consumers and to formulate the strategies for the increasing competitiveness of the traditional market in Bogor Regency. Research uses the method that has the descriptive quantitative with it for identificating of condition of the traditional market, IPA Analysis for the Analysis perception customer to traditional market and SWOT and QSPM Analysis for formulating strategy and program to increase competitiveness the traditional market in Bogor Regency. Results of the research show the three priority strategics for increasing the competitiveness of the traditional market in Bogor Regency, those are 1) to increase quality of service market, 2) to increase quality of infrastructure market, and 3) to control the PKL trader those belong to the traditional market. Key words: Bogor Regency, Traditional Market, Increase Competitiveness, Analysis of Customer Perception, SWOT, QSPM. 4 RINGKASAN BAKRI M. Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap pedagang di Kota Bogor. Komisi pembimbing terdiri dari MUHAMMAD FIRDAUS sebagai ketua dan LUKMAN M. BAGA sebagai anggota komisi pembimbing. Pasar tradisional merupakan tempat transaksi masyarakat produsen dan konsumen yang sarat dengan nilai strategis dalam mengembangkan pasar domestik dan bagi perkembangan perekonomian masyarakat. Nilai stategis yang dimiliki pasar tradisional adalah hampir 100 persen barang dan jasa yang diperdagangkan merupakan hasil produksi dan dikonsumsi di dalam negeri dan sangat sedikit hasil impor. Kondisi ini akan meningkatkan transaksi ekonomi yang terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor akan dinikmati oleh masyarakat. Sehingga transaksi ekonomi di pasar tradisional lebih memberikan manfaat bagi masyarakat di Kota Bogor. Selain memiliki nilai strategis, terdapat beberapa kelemahan pasar tradisional antara lain tidak aman, kumuh dan tidak nyaman, kotor dan basah, tidak tertib, timbangan/takaran tidak sesuai, kualitas kurang baik, masih tawar menawar, macet, dan lain-lain. Lemahnya daya saing (posisi tawar) pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern akan menjadikan kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar, hal ini berkaitan dengan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pasar yang harus dikembangkan. Beberapa hal yang menjadi permasalahan yang terdapat di pasar tradisional yang sesuai dengan penelitian ini adalah ; 1) kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, 2) persepsi pelanggan terhadap pengelolaan dan pelayanan PD Pasar Pakuan Jaya di Kota Bogor, 3) Strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional terhadap pedagang yang terdapat di Kota Bogor. Sementara tujuan spesifik dari penelitian ini adalah : mengidentifikasi kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, menganalisis persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor dan merumuskan strategi untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Dalam rangka untuk mencapai tujuan penelitian, data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari data PD Pasar Pakuan Jaya, BPS Kota Bogor dan Bappeda Kota Bogor, dan sebagian dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuisioner. Sementara metode analisis yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif, IPA Analysis, SWOT dan QSPM. Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan penelitian, bahwa strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor harus di fokuskan pada program peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan sarana dan prasarana pasar dan pengaturan PKL di pasar. Kondisi pasar tradisional di Kota Bogor dapat diketahui melalui Kondisi bangunan fisik pasar yang berupa kondisi kios dan los, kondisi dasar dan lantai bangunan, kondisi gedung, kondisi fasilitas listrik, 5 kondisi fasilitas drainase, kondisi fasilitas keamanan, ketertiban dan kebersihan dan kondisi terdapatnya PKL. Kondisi bangunan fisik pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor perlu direnovasi. Kondisi fisik yang perlu direnovasi terutama di tiga pasar yang dilakukan kajian yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari, dan Pasar Kebon Kembang adalah kondisi fisik kios dan los pasar, kondisi koefisien dasar bangunan dan koefisien lantai bangunan, dan kondisi gedung pasar. Di pasar tradisional di Kota Bogor kondisi ketertiban, keamanan dan kebersihan perlu ditingkatkan, dan masih terdapat banyak PKL yang perlu ditertibkan. Untuk itu diperlukan pengelolaan PKL dengan baik salah satunya dengan relokasi/ memindahkan ketempat yang tidak mengganggu ketertiban umum. Mengenai persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional berdasarkan pada hasil penelitian ini adalah secara umum persepsi pelanggan terhadap kinerja pasar tradisional di Kota Bogor adalah rendah, sementara harapan pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. Begitu juga dengan tingkat kepentingan pelanggan pasar tradisional di Kota Bogor terhadap dimensi kinerja adalah rendah, sedangkan tingkat kepentingan pelanggan terhadap dimensi harapan atribut pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. Dimensi yang paling penting menurut responden adalah dimensi assurance, yang mencakup keamanan dan ketertiban pasar, kemudahan mendapat izin berdagang, kejujuran petugas penarik retribusi, kualitas barang dan kelengkapan jenis barang. Jika dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, maka pemerintah harus lebih menekankan pada aspek-aspek ini. Mengingat sekarang persaingan antara pasar modern dan pasar tradisional sangat ketat, dimana para pembeli lebih senang berbelanja di pasar modern dikarenakan beberapa hal seperti nyaman, bersih dan terjamin. Terdapat tiga strategi prioritas dari sembilan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di Kota Bogor yaitu : peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan kualitas sarana dan prasarana pasar, dan pengaturan PKL di sekitar pasar tradisional 17 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bogor yang memiliki visi menjadi kota jasa yang nyaman dengan masyarakat madani dan pemerintahan yang amanah merupakan visi yang harus di jalankan oleh pemerintah dan mendapat dukungan dari masyarakat secara keseluruhan. Syarat untuk mewujudkan Kota Bogor sebagai kota jasa, pemerintah Kota Bogor memiliki empat program prioritas diantaranya adalah: penyelesaian persoalan transportasi, penyelesaian pedagang kaki lima (PKL), pengentasan kemiskinan dan kebersihan lingkungan hidup. Keempat program prioritas ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu pusat kehidupan ekonomi masyarakat di Kota Bogor. Pasar dalam arti sempit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran bertemu, dalam hal ini pengertian pasar lebih mengarah pada pasar tradisional (Umar, 2005). Sedangkan dalam arti luas, pasar adalah proses transaksi antara permintaan dan penawaran, dalam hal ini lebih mengarah pada pasar modern. Pasar tradisional merupakan tempat transaksi masyarakat produsen dan konsumen yang sarat dengan nilai strategis dalam mengembangkan pasar domestik dan bagi perkembangan perekonomian masyarakat. Beberapa nilai strategis pasar tradisional adalah 1) barang dan jasa kebutuhan masyarakat sebagian besar merupakan produksi nasional dan lokal; 2) bahan baku untuk memproduksi barang dan jasa tersebut sebagian besar merupakan produksi nasional (local content); 3) uang sebagai hasil transaksi akan beredar sebanyak mungkin di dalam negeri/ lokal; 4) meminimalisir pengeluaran devisa negara; 5) peningkatan penyerapan tenaga kerja; dan 6) meningkatkan pendapatan masyarakat. Nilai strategis lain yang dimiliki pasar tradisional adalah hampir 100 persen barang dan jasa yang diperdagangkan merupakan hasil produksi dan dikonsumsi di dalam negeri dan sangat sedikit hasil impor. Kondisi ini akan meningkatkan transaksi ekonomi yang terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor 18 akan dinikmati oleh masyarakat. Sehingga transaksi ekonomi di pasar tradisional lebih banyak memberikan manfaat bagi masyarakat di Kota Bogor. Banyaknya nilai strategis yang dimiliki oleh pasar tradisional belum tentu dapat meningkatkan posisi tawar pasar dan menjadi pilihan utama masyarakat dalam berbelanja, hal ini dikarenakan terdapatnya beberapa kelemahan yang dimiliki oleh pasar tradisional dan rendahnya daya saing jika dibandingkan dengan pasar modern (mall, supermarket, minimarket, dll). Beberapa kelemahan pasar tradisional antara lain tidak aman, kumuh dan tidak nyaman, kotor dan basah, tidak tertib, timbangan/takaran tidak sesuai, kualitas kurang baik, masih tawar menawar, macet, dan lain-lain. Lemahnya daya saing (posisi tawar) pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern akan menjadikan kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional, hal ini berkaitan dengan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pasar yang harus dikembangkan. Dengan kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor seperti diatas, maka diperlukan sebuah penelitian strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor guna meningkatkan minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. 1.2 Perumusan Masalah Pasar tradisional selain merupakan tempat interaksi antara penjual dan pembeli, juga merupakan potensi yang dimiliki oleh Kota Bogor sebagai penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD). Nilai PAD dari pengelolaan tujuh pasar dan pendapatan perizinan kartu kuning, mandi cuci kakus dan pendapatan kerja sama dengan pihak ketiga dalam mengoperasionalkan sebagian pasar, dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai PAD dari pengelolaan pasar, retribusi, mandi cuci kakus dan pendapatan kerja sama dengan pihak ketiga dari tahun 2006 hingga tahun 2010 adalah 12.308 juta, pendapatan tersebut dari tahun ke tahun selalu meningkat. Pendapatan dari pasar tradisional dan Pendapatan tertinggi dari tahun 2006 hingga tahun 2010 berasal dari Pasar Bogor, yaitu sebesar Rp 3.911 juta, selanjutnya adalah Pasar Kebon Kembang sebesar Rp 2.608 juta. 19 Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa penerimaan pendapatan operasional dari pasar tradisional pada tahun 2006 hingga 2010 mengalami penurunan, walaupun secara nominal mengalami peningkatan. Peningkatan penerimaan tertinggi pada tahun 2006 ke tahun 2007 rata-rata sebesar 16,8 persen, selanjutnya menurun menjadi 6,6 persen, 4,8 persen dan 0,7 persen. Penurunan terbesar terjadi di Pasar Jambu Dua, sebesar 10,3 persen. Secara keseluruhan, pada Tabel 1, pertumbuhan pendapatan operasional pasar tertinggi adalah dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 12,68 persen, selanjutnya menurun hingga 2,08 persen pada tahun 2009/2010. Pertumbuhan rata-rata dari tahun 2006 hingga tahun 2010 adalah 6,57 persen. Tabel 1. Pendapatan Operasional Pasar di Kota Bogor (dalam Rp juta) 1 a Sumber Pendapatan Retribusi Pasar Bogor b Kb. Kembang No 2006 2007 TAHUN 2008 2009 2010 Total Pendapatan 672 799 804 808 826 3.911 467 505 526 552 557 2.608 197 114 74 60 50 100 38 200 122 77 65 53 129 47 207 125 80 59 54 112 48 906 584 379 292 235 342 212 480 28 30 2.505 6,01 528 28 30 2.643 5,51 528 67 30 2.698 2,08 6,57 2.461 202 170 12.308 c d e f g 2 3 4 a b c Merdeka 108 191 Sukasari 107 113 Gunung Batu 71 74 Jambu Dua 53 54 Padasuka 38 39 Kartu Kuning 44 34 MCK Kontraktor Bina Citra 440 485 PROPINDO 45 32 Cardo Lestari 47 32 JUMLAH 2.097 2.363 Pertumbuhan (%) 12,68 Pertumbuhan rata per tahun (%) Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor, 2011 Penurunan pertumbuhan pendapatan operasional yang terjadi pada pasar tradisional di Kota Bogor yang dikelola oleh PD Pasar Pakuan Jaya dari tahun 2006 hingga 2010 antara lain dikarenakan oleh berbagai kelemahan, seperti segi manajemen pengelolaan, infrastruktur, kualitas sumberdaya keberpihakan kebijakan pemerintah dan lemahnya karakter pedagang. manusia, 20 Pasar modern berkembang sangat pesat, dengan sarana dan prasarana yang lengkap, lahan parkir yang cukup luas, keamanan terjamin, antar lantai dihubungkan dengan eskalator dan lif, diruangan pasar memakai ac dan koridor yang cukup lapang serta dikelola dengan mempergunakan teknologi tinggi dan sumber daya manusia yang handal, dan jumlah pasar modern lebih banyak dari pasar tradisional di Kota Bogor. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh pasar tradisional ini menjadi tantangan bagi PD Pasar Pakuan Jaya dalam upaya mengembangkan pasar, agar pasar tradisional dapat memiliki posisi tawar di mata masyarakat dan pasar modern. Oleh karenanya yang menjadi rumusan permasalahan dari penelitian ini adalah : 1. Bagimana kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor? 2. Bagaiman persepsi pelanggan terhadap pengelolaan dan pelayanan PD Pasar Pakuan Jaya di Kota Bogor? 3. Strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor? 1.3 Tujuan Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. Sementara tujuan spesifik dari penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. 2. Menganalisis persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor. 3. Merumuskan strategi untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 1.4 Manfaat Manfaat dari penelitian ini di harapkan menjadi bahan acuan bagi pemerintah Kota Bogor dan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor, serta dapat menjadi acuan bagi penelitian-penelitian lain dalam upaya 21 mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam pengembangan pasar tradisional di Indonesia. 22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pasar Pasar merupakan suatu lapangan atau pelataran yang sebagian beratap atau sebagian terbuka, seluruhnya terbuka atau tertutup yang sesuai berdasarkan peraturan dan ketentuan pemerintah setempat. Menurut Umar (2005), pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, atau saling bertemunya antara kekuatan permintaan dan penawaran untuk membentuk suatu harga. Secara fisik pasar merupakan pemusatan beberapa pedagang tetap yang selanjutnya para pedagang tersebut menempati bangunan-bangunan. Sedangkan secara fungsional, pasar adalah suatu tempat dimana terjadi proses tukar menukar dan proses itu berlangsung bila sejumlah penjual dan pembeli bertemu satu sama lainnya yang kemudian sepakat untuk memindah tangankan barang-barang yang diperjualbelikan kepada pembeli yang dinyatakan dengan bentuk transaksi. Secara ekonomi, pasar merupakan sebagai pusat sosial ekonomi suatu lingkungan, dimana penduduk dapat memenuhi kebutuhannya terutama kebutuhan barang-barang pokok sehari-hari atau kebutuhan jasa-jasa dalam bentuk eceran, sedangkan pengertian dari sudut pelayanannya pasar merupakan sarana umum yang ditempatkan oleh pemerintah sebagai tempat transaksi jual beli umum dimana pedagang secara teratur dan langsung memperdagangkan barang dan jasa dengan mengutamakan adanya barang-barang kebutuhan sehari-hari. Pasar merupakan sebuah perwujudan kegiatan ekonomi yang telah melembaga serta tempat bertemunya antara produsen (pedagang) dan konsumen (pembeli) untuk melaksanakan transaksi dimana proses jual beli terbentuk yang menurut kelas mutu pelayanan menjadi pasar tradisional dan pasar modern, dan menurut pendistribusiannya dapat digolongkan menjadi pasar eceran dan pasar perkulakan/ grosir (Yogi, 2000). Jika dilihat dari jenis usahanya, maka pasar di Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis usaha, yaitu minimarket, supermarket, hypermarket, toko dengan sistem pembayaran cash and carry, toko kecil dengan layanan penuh dan pasar 23 tradisional. Secara lengkap dan detil dapat dilihat pada Tabel 2 mengenai batasan fisik dan barang yang dijualnya. Table 2. Jenis Usaha Ritel di Indonesia Usaha Ritel Minimarket “Convenience Stores” Batasan Fisik - Supermarket - Hipermarket - - Toko dengan sistem pembayaran cash and carry - Toko kecil dengan layanan penuh - Mempekerjakan 2–6 orang Luasnya kurang dari 350 m3 Luasnya 350–8000 m3 Memiliki lebih dari 3 mesin hitung Berdiri sendiri (tanpa bergabung dengan yang lain) Luasnya di atas 8.000 m3 Memiliki mesin hitung untuk setiap 1.000 m3 Mempekerjakan 350– 400 orang Luasnya lebih dari 500 m3 Perlu menjadi anggota untuk masuk Milik keluarga Luasnya kurang dari 200 m3 Independen Banyak pedagang Lapak kecil dengan ukuran 2–10 m3 Barang-barang yang Tersedia - Makanan kemasan - Barang-barang higienis pokok - Makanan - Barang-barang rumahtangga - Makanan - Barang rumahtangga - Elektronik - Busana/Pakaian - Alat olah raga - Makanan Barang rumahtangga - Makanan tertentu Barang rumahtangga tertentu Pasar tradisional - Bahan-bahan segar - Barang-barang produksi rumahtangga - Barang-barang pokok rumahtangga Diadaptasi dari Collett & Wallace (2006), dalam Suryadarma, D et al, 2007 2.2 Pasar Tradisional dan Modern Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, swasta, koperasi, atau swadaya masyarakat dengan tempat usaha 24 berupa toko, kios atau los dan tenda, yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil dan menengah dan koperasi, dengan usaha skala kecil dan modal kecil dengan proses jual beli melalui tawar menawar. Sedangkan pasar modern adalah pasar yang umumnya dimiliki oleh pemodal kuat, mempunyai kemampuan untuk menggaet konsumen dengan cara memberikan hadiah langsung, hadiah khusus, dan juga discount-discount menarik (Zumrotin, 2002). Pasar modern pada umumnya diisi oleh retailer (pengecer besar), baik perusahaan pengecer dengan skala lokal maupun nasional. Mereka ini merupakan pesaing yang mengancam keberadaan pasar-pasar tradisional. Oleh karena itulah modernisasi pasar dengan manajemen pengelolaan secara modern baik dari sistem pengelolaan maupun kelembagaannya perlu ditingkatkan untuk mengembangkan perekonomian pedagang kecil serta pemacu pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut Yamato (2011) dalam blognya, kelebihan dan kelemahan pasar tradisional dan pasar modern adalah sebagai berikut: 1. Pasar tradisional merupakan pasar yang memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Biasanya lokasi dari pasar tradisional ini strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, memiliki harga yang rendah, serta sistem tawar menawar yang menunjukkan sikap keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan tersendiri yang dimiliki pasar tradisional. Sisi kekeluargaan inilah yang menjadi salah satu pemandangan yang indah kala berada di pasar 2. Pasar tradisional memiliki kelemahan yang sangat urgen ialah pada kumuh dan kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang mayoritas diperjualbelikan oleh oknum pedagang yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan bahan kimia yang tak seharusnya dipakai, dan praktek seperti itu marak sekali terjadi di pasar tradisional. Bukan hanya itu saja, kurang menariknya kemasan produk di pasar tradisional juga yang membuat kurang dilirik konsumen, bahkan makin hari bukannya semakin bagus akan tetapi malah semakin memburuk kondisinya. Dan jelas hal seperti itu cukup membahayakan keberadaan pasar tradisional. 3. Kelebihan pasar modern dibanding pasar tradisional cukup jelas, mereka memiliki banyak keunggulan yakni; nyaman, bersih serta terjamin. Dan tiga hal 25 tersebut yang membuat para konsumen mau membeli ke pasar modern. Sejuk, bersih, nyaman mempunyai peranan penting bagi pasar modern, dan ketiga komponen tadi menjadi andalan dari pasar modern dan hal tersebut tidak dimiliki oleh pasar tradisional. 4. Secara sekilas, tidak terdapat kelemahan dari pasar modern ini. Mungkin kelemahannya terdapat pada praktik jual belinya dimana konsumen tidak bisa menawar harga barang yang hendak dibelinya. Secara keseluruhan kelebihan dan kekurangan dari kedua pasar ini dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kelebihan dan Kekurangan Pasar Tradisional dan Pasar Modern Pasar Tradisional Kelebihan Pasar Modern lokasi yang strategis - nyaman area penjualan yang luas - bersih keragaman barang yang - terjamin lengkap - harga yang rendah - keakraban antara penjual dan pembeli dengan adanya sistem tawar menawar - mendongkrak perekonomian daerah untuk kalangan menengah ke bawah Kekurangan - kumuh - konsumen tidak bisa menawar - kotor harga - banyaknya produk yang diperjualbelikan oleh oknum pedagang yang tak bertanggung jawab menggunakan bahan kimia yang tak seharusnya dipakai - cara pengemasan di pasar tradisional yang kurang baik Sumber: http://fhryamato.blogspot.com/2011/03/kekurangan-dan-kelemahanpasar-modern.html 2.3 - Permasalahan Utama Pasar Pasar sebagai suatu infrastruktur publik yang disediakan oleh pemerintah tentunya memiliki berbagai permasalahan yang perlu diselesaikan oleh pengelola. Beberapa permasalahan utama pasar yang berasal dari Zumrotin, 2002: 26 1. Pengelolaan : Ketidakmampuan dalam mengelola pasar tradisional untuk menciptakan pasar yang bersih, aman, nyaman, serta tidak adanya upaya untuk melakukan pembinaan kepada para pedagang untuk berpraktek dagang yang sehat dan jujur akan menyebabkan konsumen enggan berbelanja dipasar tradisional. Selain itu pasar yang becek, berbau tidak sedap, tidak aman/ rawan keamanan, dan praktek dagang yang tidak sehat akan menimbulkan kekecewaan dan ketidakpercayaan konsumen sehingga mereka lebih baik meninggalkan pasar tradisional karena memiliki resiko tinggi 2. Tata Ruang dan Lokasi : Masalah timbul dari operasional tata ruang, lokasi dan masih tersdianya tempat usaha yang tidak produktif. 3. Pola Pembangunan dan Pendanaan : Selama ini pemerintah melakukan sistem pengadaan atau penyediaan pasar khususnya pasar tradisional sebagai salah satu infrastruktur, yaitu dengan melakukan pembangunan fisik pasar yang belum ada wujudnya, dimulai dengan penyediaan lahan sampai berdirinya bangunan pasar yang dioperasikan (Thamrin, 2000). Keterbatasan dan tantangan yang dihadapi oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai pengelola pasar tradisional (Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) saat ini adalah adanya kebijakan regulasi di bidang dunia usaha nasional yang mulai menitikberatkan pada usaha perekonomian rakyat. Situasi pasar yang lebih bebas dengan tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas dan kuantitas menghasilkan produk yang lebih tinggi. Kurang dan terbatasnya modal yang diperlukan oleh perusahaan untuk operasional dan pemeliharaan perusahaan, dan rendahnya hasil usaha, mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan pengembangan investasi, kurangnya profesionalisme, transparansi, dan pengawasan dalam manajemen pengelolaan perusahaan serta banyaknya BUMD yang mengalami kesulitan keuangan (Subowo, 2002). Pengembangan penyediaan prasarana yang efisien melalui keterlibatan pihak swasta tidak lain karena untuk memenuhi keinginan masyarakat, artinya tidak saja efisien dan ekonomis tetapi juga harus memiliki dimensi sosial. Keterlibatan swasta dalam sektor prasarana dikarenakan hal-hal sebagai berikut (Darrin dan Mervin, 2001) : 27 1. Keterbatasan pemerintah dalam membiayai pembangunan infrastruktur, di satu sisi disebabkan oleh keterbatasan teknologi, daya dan dana. Sedangkan di pihak lain kebutuhan akan infrastruktur semakin mendesak. 2. Partisipasi pembangunan berdasarkan keinginan masyarakat (Community Driven Development) melalui pembagian resiko yang sebelumnya menjadi tanggungjawab pemerintah, didistribusikan kepada pihak swasta. 3. Motivasi profit dari pihak swasta akan mendorong organisasi yang dikelola menjadi lebih efisien, transparan dan kompetitif. 4. Capacity Building 5. Kebijakan pemerintah, diantaranya adalah terdapatnya peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai perusahaan daerah yang masih berlaku hingga saat ini adalah undang-undang No 5 tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah. Berdasarkan ketentuan tersebut maka dalam rangka melakukan usaha Perusahaan Daerah mengenai “Bisnis Birokrasi” yaitu kebijakan pengembangan sangat ditentukan oleh pemerintah daerah sebagai pihak yang mewakili daerah sebagai pemilik Perusahan Daerah. Pada masa itu direksi dan mayoritas pegawai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari birokrasi pemerintahan daerah. Sehingga dalam prakteknya pengelolaan mirip dengan pengelolaan lembaga birokrasi. Akibatnya dalam banyak kasus, manajemen kurang memiliki independensi dan fleksibilitas inovasi usaha guna mencapai tujuan organisasinya (Subowo, 2002). Pengaturan misi Perusahaan Daerah secara luas yaitu memberi jasa, menyelenggarakan kepentingan umum, dan memupuk pendapatan tanpa melihat apakah usaha Perusahaan Daerah tersebut sesungguhnya merupakan bidang komersial atau bukan. Keberadaan Perusahaan Daerah berorientasi ganda yaitu public sevice oriented dalam rangka menyelenggarakan kemanfaatan umum dan profit oriented dalam rangka memupuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). Akan tetapi jika dilihat secara profesional berdasarkan prinsip-prinsip koperasi, public mission dan profit hal tersebut merupakan dua sisi yang sangat sulit untuk disatukan. Menurut Davey adalah ‘Bagaimana Perusahaan daerah memaksimumkan keuntungan tanpa mengorbankan layanan terhadap masyarakat, terutama kelas bawah dan menengah’ (Davey, 1983). 28 2.4 Manajemen Pasar Manajemen berasal dari kata to manage yang mempunyai arti mengatur. Pada hakikatnya manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan. Untuk dapat mengatur kegitan yang berlangsung maka harus terdapat unsur-unsur manajemen yang menunjang proses kegiatan tersebut yaitu : manusia, uang, metode, material, mesin dan pasar. Keenam unsur tersebut perlu diatur agar lebih berdaya guna, berhasil guna, terintegrasi dan terkoordinasi dalam mencapai tujuan yang dinginkan (Hasibuan, 1996). Adapun pengertian umum manajemen adalah pendayagunaan sumberdaya manusia dengan cara yang paling baik agar dapat mencapai rencana-rencana dan sasaran perusahaan (Madura, 2001). Manajemen pasar merupakan proses pengaturan kegiatan perdagangan yang berlangsung dipasar dengan sumber daya meliputi pedagang, tempat usaha dan pengorganisasiannya. Serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam fungsifungsi manajemen pasar merupakan sebuah proses manajemen. Untuk melaksanakan manajemen tersebut maka diperlukan adanya manajer yang dalam pelaksanaan tugas kegiatan serta kepemimpinannya harus melakukan tahap-tahap seperti dibawah ini : 1. Perencanaan, adalah suatu proses penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan dengan memilih alternatif yang terbaik dan beberapa perencanaan yang ada. 2. Pengorganisasian, adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitasnya masing-masing, menyediakan alat-alat yang diperlukan, dan menetapkan wewenang secara relatif untuk kemudian didelegasikan kepada setiap individu yang melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. 3. Pengarahan, adalah mengarahkan semua bawahan agar mau bekerjasama secara aktif untuk mencapai tujuan. Tujuan dan pengarahan untuk membuat semua anggota kelompok mau bekerjasama dan bekerja secara ikhlas untuk mencapai tujuan dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian. 4. Pengendalian, adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan, agar sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana. Tujuan 29 untuk mengukur dan memperbaiki kinerja bawahan, apakah sudah sesuai dengan rencana sebelumnya atau tidak. 2.5 Pedagang dan Struktur Kegiatannya Kegiatan perdagangan di pasar merupakan suatu kegiatan ekonomi pasar, seperti yang digambarkan oleh Geertz (1969), yaitu suatu perekonomian dimana arus total perdagangan terpecah-pecah menjadi transaksi-transaksi orang ke orang yang masing-masing tidak ada hubunganya yang mana jumlahnya sangat besar, sangat berbeda dengan ekonomi barat yang berpusatkan firma, dimana perdagangan dan industri dilakukan melalui serangkaian pranata sosial yang tidak bersifat pribadi, yang mengorganisasikan berbagai pekerjaan yang bertalian dengan tujuan-tujuan produksi dan distribusi tertentu, maka ekonomi jenis ini adalah berdasarkan pada kegiatan yang independen dan pedagang terpacu untuk bersaing secara sehat antara satu dengan lainnya (Nas, 1986). Pedagang yang menempati kios dianggap telah masuk kedalam sektor formal karena telah menjadi pedagang yang tetap di pasar. Pedagang tetap ini merupakan kelompok pedagang yang telah mapan di kota, yang berusaha mengorganisasikan kegiatan mereka dengan lebih sistematis dengan modal usaha yang besar seperti yang dahulu pernah dilakukan oleh orang tua mereka. Sedangkan pedagang yang tidak menempati kios menjadi sektor informal atau yang lebih dikenal dengan pedagang kaki lima (PKL) atau pedagang pengecer, hanya menggunakan jalan masuk dan wilayah sekitar pasar sebagai tempat menggelar dagangannya. Jenis kegiatan usahanya cenderung berkelompok sesuai dengan ciri-ciri khas daerah atau suku bangsa mereka. Barang dagangan mereka peroleh dari juragan atau tokoh yang menjadi patron bagi pedagang kaki lima sekaligus menyewakan peralatan jualan yang berupa gerobak ataupun meja gelaran. Mengingat Pasar Tradisional memiliki peranan yang sangat strategis, selain akan menciptakan lapangan kerja juga akan menumbuhkan dunia usaha dan kewiraswastaan baru dalam jumlah banyak sehingga kelompok ini mempunyai keterkaitan dengan sektor industri dan jasa lainnya. Dalam kegiatan inilah membangun pasar tradisional menjadi perlu dilakukan. Pembinaan dan penataan 30 melalui uluran tangan pemerintah secara terus menerus perlu dilakukan. Dengan demikian, diharapkan karena peranannya maka pasar tradisional dapat menumbuhkan tata perdagangan yang lebih mantap, lancar, efektif, efisien dan berkelanjutan dalam satu mata rantai perdagangan nasional yang kokoh (Yogi, 2000). 2.6 Persepsi Pelanggan Persepsi merupakan suatu proses memperhatikan dan menyeleksi, mengorganisasikan dan menafsirkan stimulus lingkungan melalui panca indra (pendengaran, penglihatan, perasa, penciuman, dan peraba). Namun demikian, makna dari proses persepsi tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu individu yang bersangkutan. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi pelanggan adalah harga, citra, tahap pelayanan dan momen pelayanan. Persepsi pelanggan terhadap produk atau jasa berpengaruh terhadap tingkat kepentingan pelangggan, kepuasan pelanggan, dan nilai pelanggan (Rangkuti, 2003). 2.6.1 Tingkat Kepentingan Pelanggan Tingkat kepentingan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk jasa yang akan dijadikannya standar acuan dalam menilai kinerja produk jasa tersebut (Rangkuti, 2003). Menurut Lovelock dan Wraight (2005), menyatakan bahwa ada dua tingkat kepentingan pelanggan, yaitu : 1. Adequate service, adalah tingkat kinerja jasa minimal yang akan diterima pelanggan tanpa merasa tidak puas. 2. Desire service, adalah tingkat kualitas jasa yang diidam-idamkan yang diyakini pelanggan dapat dan seharusnya diberikan. Diantara adequate service dengan desire service terdapat zone of tolerance, yaitu rentang dimana variasi pelayanan yang masih dapat diterima oleh pelanggan. 2.6.2 Kepuasan Pelanggan 31 Kepuasan pelanggan merupakan persepsi pelanggan terhadap produk atau jasa yang telah memenuhi harapannya (Irawan, 2007). Pelanggan tidak akan puas apabila pelanggan mempunyai persepsi bahwa harapannya belum terpenuhi dan sebaliknya pelanggan akan puas apabila persepsinya sama atau lebih dari yang diharapkan. Kepuasan pelanggan, selain dipengaruhi oleh persepsi kualitas jasa, juga ditentukan oleh kualitas produk, harga, kualitas pelayanan dan faktor-faktor yang bersifat situasional. Kepuasan didefinisikan juga sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Jika kinerja berada dibawah harapan maka pelanggan tidak puas, jika kinerja memenuhi harapan maka pelanggan puas dan jika kinerja melebihi harapan pelanggan sangat puas (Kotler, 2005). Sedangkan menurut Lovelock dan Wright (2005), kepuasan pelanggan adalah keadaan emosional, reaksi pasca pembelian mereka dapat berupa kemarahan, ketidakpuasan, kejengkelan, netralitas, kegembiraan, atau kesenangan. 2.6.3 Nilai Pelanggan Tugas pertama bagi sebuah perusahaan adalah untuk menciptakan pelanggan. Nilai yang diterima pelanggan (Customer Delivered Value) adalah selisih antara total customer value atau jumlah nilai bagi pelanggan dan total customer cost atau biaya total pelanggan. Total customer value adalah kumpulan manfaat yang diharapkan diperoleh pelanggan dari produk atau jasa tertentu. Total customer cost adalah kumpulan pengorbanan yang diperkirakan pelanggan akan terjadi dalam mengevaluasi, memperoleh dan menggunakan produk jasa tersebut (Druker dalam Kotler, 2005). Menurut Lovelock dan Wright (2005), dalam menciptakan nilai untuk pelanggan berkaitan dengan konsep 8 P, yaitu : 1. Place and Time (tempat dan waktu), keputusan manajemen tentang kapan, dimana, dan bagaimana menyampaikan jasa tersebut kepada pelanggan. 32 2. Process (proses), metode pengoperasian atau serangkaian tindakan tertentu, yang umumnya berupa langkah-langkah yang diperlukan dalam suatu urutan yang telah ditetapkan. 3. Productivity (produktivitas), seberapa efisien pengubahan input jasa menjadi output yang menambah nilai bagi pelanggan. 4. Product (produk), semua komponen kinerja jasa yang menciptakan nilai bagi pelanggan. 5. People (orang), karyawan (kadang-kadang pelanggan lain) yang terlibat dalam proses produksi. 6. Promotion and Education (promosi dan edukasi), semua aktivitas dan alat yang menggugah komunikasi yang dirancang untuk membangun prefensi pelanggan terhadap jasa dan penyedia jasa tertentu. 7. Phisical Evidence (bukti fisik), petunjuk visual atau berwujud lainnya yang memberi bukti atas kualitas jasa. 8. Price and other cost service (harga dan biaya jasa lainnya), pengeluaran uang, waktu dan usaha oleh pelanggan untuk membeli dan mengkonsumsi jasa. Nilai didefinisikan sebagai pengkajian secara menyeluruh manfaat suatu produk yang didasarkan pada persepsi pelanggan atas apa yang telah diterima oleh pelanggan dan yang telah diberikan. 2.6.4 Survei Kepuasan Pelanggan Menurut Berry dalam Lovelock dan Wraight (2005) agar survei berkelanjutan seharusnya dilakukan dengan menggunakan portofolio teknik riset yang membentuk sistem informasi kualitas jasa (service quality information system) suatu perusahaan. Pendekatan yang memungkinkan dapat mencakup : 1. Survei transaksi (transactional survei), didesain untuk mengukur kepuasan dan persepsi pelanggan tentang pengalaman jasa pada saat masih segar dalam ingatan pelanggan tersebut. 2. Survei pasar menyeluruh (total market survei), mengukur penilaian total pelanggan terhadap kualitas jasa. 33 3. Belanja misterius, orang yang disewa perusahaan untuk bertindak sebagai pelanggan biasa. 4. Survei pelanggan yang baru, berkurang, dan sebelumnya, bertanya kepada pelanggan sebelumnya mengapa mereka berpindah dapat sangat membantu jika informasinya menenangkan hati untuk melihat bidang-bidang di mana kekurangan kualitas jasa suatu perusahaan. 5. Wawancara kelompok fokus (focus group interview), dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada sekelompok wakil pelanggan tentang masalah atau topik khusus. 6. Laporan lapangan karyawan, merupakan metode sistematis untuk mengetahui apa yang dipelajari karyawan dari interaksi mereka dengan pelanggan dan dari pengamatan langsung mereka terhadap perilaku pelanggan. Salah satu tujuan dari survei kepuasan pelanggan adalah untuk membuat produk atau jasa yang ditawarkan dapat memberikan keuntungan yang optimal kepada pelanggan tanpa menimbulkan kerugian bagi perusahaan yang bersangkutan sehingga perusahaan dapat menghasilkan produk atau jasa yang mampu menciptakan nilai superior kepada pelanggan. 2.6.5 Manfaat Pengukuran Mutu dan Kepuasan Pelanggan Menurut Gerson (2004), terdapat lima manfaat dari pengukuran mutu dan kepuasan pelanggan, sebagai berikut : 1. Pengukuran menyebabkan orang memiliki rasa berhasil dan berprestasi, yang kemudian diterjemahkan menjadi pelayanan yang prima kepada pelanggan. 2. Pengukuran bisa dijadikan dasar dalam menentukan standar kinerja dan standar prestasi yang harus dicapai, yang akan mengarahkan menuju mutu yang semakin baik dan kepuasan pelanggan meningkat. 3. Pengukuran dapat memberikan umpan balik segera kepada pelaksana, terutama bila pelanggan sendiri yang mengukur kinerja pelaksana atau perusahaan yang memberikan pelayanan. 34 4. Pengukuran memberitahukan anda apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki mutu dan kepuasan pelanggan serta bagaimana harus melakukannya. 5. Pengukuran memotivasi orang untuk melakukan dan mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Menurut Kotler dan Keller (2007) lima model mutu jasa menurut tingkat kepentingan : 1. Keandalan – Kemampuan melaksanakan layanan yang dijanjikan secara meyakinkan dan akurat. 2. Daya tanggap – Kesediaan membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. 3. Jaminan – Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka menyampaikan kepercayan dan keyakinan. 4. Empati – Kesediaan memberikan perhatian yang mendalam dan khusus kepada masing-masing pelanggan. 5. Benda berwujud – Penampilan fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan, dan bahan komunikasi. 2.7 Kajian Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi acuan dan perbandingan bagi penelitian ini antara lain : Penelitian yang dilakukan oleh Soleh (2005) dengan judul Analisis Kesiapan Kabupaten Dalam Menarik Investor, Studi Kasus Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap penting oleh investor dalam pengambilan keputusan investasi, menganalisis kesiapan pemerintah Kabupaten temanggung terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan investasi sebagaimana yang diharapkan oleh investor, menguji perbedaan persepsi antara aparat pemerintah daerah dengan para investor terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan investasi dan merumuskan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan oleh pemda setempat agar mampu menarik investor. Penelitian ini menggunakan metode studi 35 kasus. Alat analisis yang digunakan adalah analisis rentang kriteria terhadap tingkat harapan dan tingkat kinerja, importance performance analisys (IPA), uji beda rata-rata t Test terhadap responden investor dengan pemda untuk melihat perbedaan persepsi diantara kedua responden. Relevansinya dengan penelitian ini adalah dalam penelitian ini juga menggunakan analisis IPA untuk menganalisis persepsi pelanggan pasar tradisional di Kota Bogor. Perbedaannya yaitu, objek penelitian yang berbeda dan pada penelitian yang dilakukan oleh Soleh (2005) tidak melakukan analisis faktor internal dan eksternal dan hanya melakukan analisis persepsi terhadap investor. Oktaviani dan Suryana (2006) dalam penelitiannya menganalisis kepuasan pengunjung dan pengembangan fasilitas wisata agro. Dalam penelitian ini digunakan alat analisis Importance Performance Analisys (IPA). Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa pihak manajemen kebun wisata agro Pasir Muku sebaiknya memperbaiki kinerja dari promosi, kemudahan mencapai lokasi, serta sarana peribadatan. Selain itu manajemen sebaiknya mempertahankan kinerja dari kegiatan edukatif yang merupakan keunggulan perusahaan dimata pengunjung dibandingkan dengan objek wisata lain yang sejenis. Relevansinya dengan penelitian ini adalah penggunaan metode Importance Performance Analisys (IPA). Zarkoni (2007) melakukan penelitian dengan tujuan menganalisis berbagai peluang, ancaman, kekuatan serta kelemahan, menganalisis tingkat persaingan, mengidentifikasi faktor strategis internal, mengidentifikasi faktor strategis eksternal dan merekomendasikan strategi bersaing bagi PT. Nalco Indonesia dalam industri pengolahan air di industri minyak kelapa sawit. Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu tahapan input, tahap penyocokan, tahapan kompilasi kemudian tahapan keputusan. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kasus. Pendekatan survei dilakukan dengan menyebar kuisioner dan wawancara langsung kepada para ahli yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bisnis pengelolaan air di industri minyak kelapa sawit. Relevansi terhadap penelitian ini adalah data diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuisioner oleh responden, serta telaah pustaka. Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu tahap input, pencocokan, kompilasi kemudian 36 keputusan. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada penelitian Zarkoni (2007) tidak melakukan analisis persepsi dan hanya melakukan analisis strategi melalui faktor internal dan eksternal. Mattanette, 2008, mengadakan kajian analisis kepuasan pedagang terhadap pengelolaan Pasar Citeurep I. Metode analisis yang digunakan dalam kajian tersebut menggunakan Importance and Performance Analysis, Customer Satisfaction Index, analisis Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Eksternal Factor Evaluation-EFE) dan Matriks Evaluasi Faktor Internal (Internal Factor Evaluation-IFE), analisis Matriks Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (SWOT), dan analisis Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM). Atribut yang digunakan sebanyak 17 buah atribut, hasil analisis Importance and Performance Analysis adalah: (1) Prioritas utama atribut kualitas jasa, yaitu kondisi bangunan/gedung pasar, kondisi kebersihan pasar, kondisi tempat usaha/berdagang, pengelola pasar cepat dan tanggap dalam menghadapi masalah yang ada, (2) Pertahankan prestasi atribut kualitas jasa, yaitu kondisi MCK di pasar, pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, keramahan dan kesopanan petugas penarik retribusi, (3) Prioritas rendah atribut kualitas jasa, yaitu besarnya retribusi, petugas unit pasar cepat dan tanggap atas keluhan pedagang, pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur, pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum dan (4) Berlebihan untuk atribut kualitas jasa, yaitu kebersihan kantor unit pasar, kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, besarnya sewa tempat usaha, kejujuran petugas penarik retribusi, pengelola pasar memberikan rasa aman dan nyaman kepada pedagang, sikap pegawai unit pasar. Sedangkan hasil Customer Satisfaction Index atribut kualitas jasa sebesar 56,023 persen, menunjukkan pedagang pasar Citeureup I ”Cukup Puas” dengan kualitas pengelolaan Pasar Citeureup I di Kabupaten Bogor. Prioritas strategi pengelolaan Pasar Citeureup I yang terpilih adalah: (1) Penataan tempat-tempat usaha di Pasar Citeureup I; (2) Peningkatan kualitas pelayanan Pasar Citeureup I untuk menarik konsumen berkunjung dan berbelanja di Pasar Citeureup I.; dan (3) Menyelenggarakan bazar pada event-event tertentu atau periode tertentu di Pasar Citeureup I. 37 BAB III METODOLOGI KAJIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Kota Bogor merupakan kota jasa yang ramai dengan kehidupan perekonomian yang berasal dari berbagai sektor. Salah satu sektor perekonomian yang dapat meningkatkan pendapatan daerah bagi Kota Bogor yaiu pasar tradisional. Namun, kaitannya dengan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor masih kalah jauh jika dibandingkan dengan kemajuan pasar modern yang banyak berdiri tegak di Kota Bogor ini. hanya saja peluang pasar tradisional masih besar untuk dikembangkan. Pasar tradisional saat ini belum menjadi tujuan berbelanja utama bagi masyarakat di Kota Bogor. Hal ini disebabkan karena secara realita kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor masih jauh dari harapan para pengunjung. Selain itu juga banyaknya persoalan yang di hadapi oleh pasar tradisional menjadikan masyarakat enggan untuk berbelanja di pasar tradisional. Hal inilah yang nantinya akan menyebabkan pasar tradisional kalah bersaing dengan pasar modern. Kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor masih belum dapat bersaing dengan pasar modern/mal-mal yang ada. Dari tujuh pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, tiga merupakan pasar tradisional yang dianggap besar, yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Namun, kondisi ke tiga pasar tersebut sangat jauh dari harapan pelanggan. Seperti kondisi bangunan, fasilitas listrik, fasilitas drainase, ketertiban, keamanan dan kebersihan serta adanya PKL. Kondisi yang sekarang terjadi terhadap pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor yaitu masih lemahnya pola pengelolaan pasar, lemahnya manajemen pengelolaan sumberdaya manusia, dan belum sehatnya kondisi sarana dan prasarana pasar. Hal inilah merupakan kondisi yang membuat pasar tradisional kalah bersaing dengan pasar modern. Hal lain yang menyebabkan lemahnya posisi tawar pasar tradisional yaitu masih banyaknya persoalan yang dihadapi oleh pasar tradisional. Beberapa persoalan yang sekarang berkembang yaitu daya saing pasar tradisional yang 38 relatif rendah, manajemen pengelolaan yang tidak profesional dan lemahnya kualitas sumberdaya manusia. Oleh karenanya pasar tradisional di Kota Bogor masih memiliki kondisi yang memprihatinkan dan memiliki banyak persoalan yang harus diselesaikan, maka diperlukan suatu persepsi pelanggan untuk merubah citra pasar tradisional di Kota Bogor agar lebih baik. Dengan berbagai kondisi seperti telah dijelaskan diatas, maka diperlukan suatu penelitian mengenai strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. PASAR TRADISIONAL KOTA BOGOR Persoalan Pasar Tradisional: 1. Daya saing rendah 2. Pengelolaan Pasar tidak Profesional 3. Rendahnya kualitas SDM Persepsi Pelanggan 1. 2. 3. 4. Bentuk Fisik (Tangible) Kepercayaan (Reliability) Ketanggapan (Responsiveness) Jaminan (Assurance) 5. Empati (Emphaty) Analisis IPA Strategi Peningkatan Daya Saing (SWOT) Rancangan Program (QSPM) Gambar. 1 Kerangka Pemikiran Penelitian 3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, mulai dari bulan Mei sampai Juni 2011. Penelitian ini dilakukan di PD Pasar Pakuan Jaya dan 3 pasar 39 tradisional yang terdapat di Kota Bogor yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Ketiga pasar ini dijadikan sebagai tempat penelitian karena merupakan tiga pasar terbesar yang ada di Kota Bogor. 3.3 Data dan Metode Analisis Pada penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari data PD Pasar Pakuan Jaya, BPS Kota Bogor dan Bappeda Kota Bogor, dan sebagian dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuisioner. Sementara metode analisis yang digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif, IPA Analysis, SWOT dan QSPM. Data dan Metode seperti tampak pada Tabel 4. Tabel 4. Data dan Metode Analisis Tujuan Kajian 1. Mengindentifikasi kondisi pasar tradisional di Kota Bogor 2. Menganalisis pesepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor 3. Merumuskan strategi dan program untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor Data Jenis Sumber Sekunder berupa : Data PD Pasar Kondisi 3 pasar Pakuan Jaya Kota tradisional di Kota Bogor Bogor seperti Bangunan, fasilitas listrik, fasilitas drainase, ketertiban, keamanan dan kebersihan dan PKL. Primer Survey Pelanggan di 3 pasar yaitu di Pasar Bogor, Sukasari dan Kebon Kembang. Primer berupa hasil Direktur PD wawancara kuisioner Pasar Pakuan Jaya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Dinas Perekonomian dan Kepala Bappeda serta 3 kepala pasar. Metode analisis Deskriptif Kuantitatif Importance and Performance Analysis (IPA) Analisis SWOT Analisis QSPM 40 3.3.1 Teknik Pengumpulan Data Data mengenai kepuasan pelanggan yang ditinjau melalui tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap pengelolaan PD Pasar Pakuan Jaya, diperoleh melalui : 1. Kuesioner terstruktur, yaitu daftar pertanyaan yang berkaitan dengan topik penelitian, disebarkan kepada responden dengan jumlah 60 orang responden yang mewakili 3 pasar. Setiap pasar diambil 20 orang dari pedagang. 2. Wawancara terbuka, yaitu suatu tehnik pengumpulan data primer dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden. 3. Studi kepustakaan, dengan cara mencari literatur, penelusuran data kepustakaan, buku, jurnal, surat kabar dan internet. Wawancara juga dilakukan kepada Dirut PD Pasar Pakuan Jaya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Dinas Perekonomian, Kepala Bappeda dan 3 Kepala Pasar untuk merumuskan strategi dan program untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 3.3.2 Metode Pengolahan dan Analisis Data 3.3.2.1. Analisis Deskriptif Kuantitatif Analisis deskriptif kuantitatif ini digunakan untuk mengidentifikasi kondisi 3 pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor. Analisis ini digunakan untuk menganalisis kondisi pasar tradisional di Kota Bogor, pola pengelolaan pasar, manajemen pengelolaan SDM dan kondisi sarana dan prasarana pasar. Analisis deskriptif kuantitatif merupakan teknik analisis yang dilakukan dalam bentuk tabel-tabel data atau angka yang kemudian di analisis dan di interpretasikan dalam bentuk uraian. Tabel-tabel tersebut meliputi seperti yang tercantum dalam tujuan kajian. 41 3.3.2.2 Importance and Performance Analysis (IPA) Analisis ini digunakan untuk menjawab perumusan masalah mengenai sejauh mana tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Atribut kualitas ini seperti pada Tabel 5, dimodifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Mattanete, 2008 berdasarkan atas lima dimensi kualitas menurut Lovelock (2005). Tabel 5. Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar Pakuan Jaya No 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar Pakuan Jaya Tangible (Kenyataan/ bentuk Fisik) Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Reliability (Kehandalan/kepercayaan) Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Responsiveness (Ketanggapan) Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Assurance (Jaminan/kepastian) Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Emphaty (Empati) Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar 42 Analisis tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pelanggan dilakukan dengan diagram tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Analisis tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pelanggan dilakukan dengan diagram tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan pedagang terhadap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Berdasarkan hasil penilaian tingkat kepentingan dan hasil penilaian kinerja akan dihasilkan suatu perhitungan mengenai tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dan kinerja Pasar Pakuan Jaya. Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor kinerja/pelaksanaan dengan skor kepentingan (Supranto, 2001). Tingkat kesesuaian ini akan menentukan urutan prioritas peningkatan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pedagang. Pada prioritas peningkatan ini digunakan variabel X mewakili tingkat kinerja Pasar Pakuan Jaya dan variabel Y untuk tingkat kepentingan pedagang. Menurut Supranto (2001), variabel-variabel tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Dimana : Tki Xi Yi = Tingkat kesesuaian responden = Skor penilaian kinerja perusahaan = Skor penilaian kepentingan pelanggan Sumbu mendatar (X) diisi oleh skor tingkat kepuasan pedagang, sedangkan sumbu tegak (Y) diisi oleh skor tingkat kepentingan. Adapun skor tingkat kepuasan tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya (X) dan skor tingkat kepentingan tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya (Y). Menurut Supranto (2001) seiap faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan disederhanakan dengan rumus sebagai berikut : Dimana : N = Jumlah responden 43 X Y = Skor rata-rata tingkat kepuasan pada tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya = Skor rata-rata kepentingan pada tiap atribut pengelolaan Pasar Pakuan Jaya Selanjutnya nilai rata-rata tingkat kepentingan atribut dan kepuasan/kinerja perusahaan kemudian dianalisis pada diagram kartesius (Important-Performance Matrik). Diagram kartesius IPA merupakan suatu bangun yang dibagi atas empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada titiktitik (X, Y) (Supranto, 2001) dimana X merupakan rata-rata dari rata-rata skor tingkat kepuasan pedagang terhadap seluruh kualitas pengelolaan Pasar Pakuan Jaya dan Y adalah rata-rata dari skor tingkat kepentingan pedagang terhadap seluruh atribut kualitas pengelolaan Pasar Pakuan Jaya. Seluruh atribut kualitas pengelolaan diberi simbol K dengan rumus sebagai berikut : Dimana : K = banyaknya atribut yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan Selanjutnya tingkat unsur-unsur tersebut akan dijabarkan dan dibagi menjadi empat bagian kedalam diagram kartesius yang menunjukkan bahwa kuadran 1 adalah prioritas utama, kuadran II adalah pertahankan, kuadran III adalah prioritas rendah, kuadran IV adalah berlebihan. Keempat kuadran tersebut disajikan pada Gambar 2 Penting A B C D Kepentingan Kurang Penting Kurang baik Kinerja Baik Gambar 2. Diagram Kartesius (Importance Performance Matrik) 44 Berdasarkan diagram tersebut, maka perusahaan dapat merumuskan strategi yang dapat dilakukan berkenaan dengan posisi masing-masing atribut pada keempat kuadran tersebut yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Kuadran A (Atributtes to Improve) Menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap mempengaruhi kepuasan pelanggan, termasuk unsur-unsur jasa yang dianggap sangat penting, namun manajemen belum melaksanakannya sesuai dengan keinginan pelanggan. Sehingga mengecewakan/ tidak puas. 2. Kuadran B (Maintenance Performance) Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, untuk itu wajib dipertahankan. Dianggap sangat penting dan memuaskan. 3. Kuadran C (Atributtes to Maintenance) Posisi ini menunjukkan beberapa atribut kualitas jasa yang kurang penting pengaruhnya bagi pelanggan dan pelaksanaannya oleh pasar biasa-biasa saja. Dianggap kurang penting dan kurang memuaskan. Peningkatan atribut-atribut ini dapat dipertimbangkan kembali karena pengaruhnya terhadap manfaat yang dirasakan oleh pelanggan sangat kecil. 4. Kuadran D (Main Priority) Posisi ini menunjukkan faktor yang kurang penting pengaruhnya bagi pelanggan akan tetapi pelaksanaannya berlebihan. Dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan dalam pelaksanaannya. Atribut-atribut yang termasuk dalam kuadran ini dapat dikurangi agar perusahaan dapat menghemat biaya. 3.3.3.3 Matrik IFE dan EFE 45 Untuk merumuskan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor (tujuan ketiga), maka digunakan analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT), yang diawali dengan membuat analisis Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Matriks IFE digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama, sedangkan matriks EFE digunakan untuk pengambilan keputusan dalam meringkas dan mengevaluasi semua informasi lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman (David, 2002). David (2002) menyebutkan langkah - langkah yang diperlukan untuk menyusun matriks EFE dan IFE, yaitu : 1. Daftarkan semua faktor-faktor eksternal dan internal yang diidentifikasi, termasuk peluang, ancaman, kelemahan dan kekuatan. 2. Berikan pembobotan untuk setiap faktor yang menunjukan kepentingan relatif semua faktor. Pembobotan berkisar antara 0,0 (tidak penting) sampai 1,0 (sangat penting). Setiap variabel menggunakan skala 0,1, 2. Untuk menentukan bobot yang digunakan adalah : - A varibel baris/sebelah kiri kurang penting daripada variabel kolom/bagian atas, maka pada kotak pertemuan antraa A (kiri) dan B (atas) nilai = 0 - A variabel baris/sebelah kiri sama penting dengan C pada variabel bagian atas, maka pada kotak pertemuan antara A (kiri) dan C (atas) nilainya = 1 - A variabel baris/sebelah kiri lebih penting daripada D pada variabel bagian atas, maka pada kotak pertemuan antara A (kiri) dan C (atas) nilainya = 2. 3. Tentukan rating setiap faktor, yaitu peringkat 1 sampai 4 pada setiap faktor sukses kritis untuk menunjukkan seberapa efektif pengaruh faktorfaktor tersebut. Untuk EFE yaitu : 4 = peluang utama, 3 = peluang, 2 = ancaman, 1 = ancaman utama. Sedangkan untuk IFE, rating 4 = kekuatan utama, 3 = kekuatan, 2 = kelemahan kecil dan 1 = kelemahan utama. 46 4. Setiap rating dikalikan dengan masing-masing bobot untuk setiap variabelnya. Selanjutnya dilakukan penjumlahan dari pembobotan untuk mendapatkan skor pembobotan 5. Jumlah skor pembobotan berkisar antara 1,0 – 4,0 dengan rata-rata 2,5. Jika jumlah skor pembobotan IFE dibawah 2,5, maka kondisi internalnya lemah. Untuk jumlah skor bobot faktor eksternal berkisar 1,0 – 4,0 dengan rata-rata 2,5. Jika jumlah skor pembobotan EFE 1,0 menunjukkan ketidakmampuan memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman yang ada. Jumlah skor 4 menunjukkan kemampuan merespon peluang maupun ancaman yang dihadapi dengan sangat baik. Matriks IFE dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Matriks IFE Faktor Internal Kekuatan 1. 2. Kelemahan 1. 2. Bobot Rating Skor Tabel 7 menggambarkan mengenai matriks EFE. Tabel 7. Matriks EFE Faktor Eksternal Peluang 1. 2. Ancaman 1. 2. Bobot Rating Skor 47 3.3.3.4. Matrik SWOT Hasil analisis faktor internal dan eksternal dilanjutkan kepada analisis Strenght Weakness Opportunity Threat (SWOT). Analisis ini merupakan alat untuk memaksimalkan peranan faktor yang bersifat positif, meminimalisasi kelemahan yang ada serta menekan dampak ancaman yang timbul. Tabel 8. Matriks SWOT Faktor Internal STRENGTHS (S) WEAKNESSES (W) Faktor Eksternal OPPORTUNITIES (O) THREATS (T) STRATEGI S-O STRATEGI W-O Menggunakan Meminimalkan kekuatan untuk kelemahan dengan memanfaatkan memanfaatkan peluang peluang STRATEGI S-T STRATEGI W-T Menggunakan Meminimalkan kekuatan untuk kelemahan dan mengatasi ancaman menghindari ancaman Analisis SWOT memiliki matriks dengan empat kuadran yang merupakan perpaduan strategi antara faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) sebagaimana disajikan dalam Tabel 8. 3.4 Metode Perumusan Strategi dan Perancangan Program Dalam melakukan perumusan strategi dan perancangan program digunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). QSPM merupakan alat yang memungkinkan untuk mengevaluasi strategi alternatif secara objektif berdasarkan pada faktor-faktor kunci internal dan eksternal. Analisis QSPM juga merupakan teknik yang digunakan pada tahap pengambilan keputusan karena menunjukkan strategi alternatif yang paling baik dipilih. Pada matriks QSP terdapat komponen-komponen utama yang terdiri dari : 48 Key Factors, Strategic Alternatifs, Weights, Attractiveness Score, Total Attractiveness Score dan Sum Total Attractiveness Score, sebagaimana tersaji dalam Tabel 9. Langkah-langkah dalam analisis QSPM adalah sebagai berikut : 1. Menyusun daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman di kolom sebelah kiri QSPM. 2. Memberi bobot (weight) pada masing-masing external dan internal key success factors. 3. Mengidentifikasi strategi alternatif yang pelaksanaannya harus dipertimbangkan. Mencatat strategi-strategi ini di bagian atas baris QSPM. Mengelompokkan strategi-strategi tersebut ke dalam kesatuan yang mutually exclusive, jika memungkinkan. 4. Menetapkan Attractiveness Scores (AS), yaitu nilai yang menunjukkan kemenarikan relative untuk masing-masing strategi yang terpilih. Attractiveness Scores ditetapkan dengan cara meneliti masing-masing external dan internal key success factors. Batasan nilai Attractiveness Scores adalah : 1 2 3 4 5. Menghitung Total Attractiveness Scores (TAS). Total Attractiveness Scores (TAS) didapat dari perkalian bobot (weight) dengan Attractiveness Scores pada masing-masing baris. Total Attractiveness Scores menunjukkan relative attractiveness dari masing-masing alternatif strategi 6. Menghitung Sum Total Attractiveness Scores, dengan cara menjumlahkan semua TAS yang didapat. Nilai TAS dari alternatif strategi yang tertinggi yang menunjukkan bahwa alternatif strategi itu yang menjadi pilihan utama. Nilai TAS terkecil menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan terakhir. 49 Tabel 9. Matriks Analisis QSPM Strategi Alternatif Faktor Kunci Bobot I AS INTERNAL Kekuatan …………….. Kelemahan ……………. EKSTERNAL Peluang …………….. Ancaman …………….. JUMLAH RANKING II TAS AS III TAS AS TAS 50 pelayanan dibidang perpasaran, dengan menyelenggarakan usaha pengelolaan dan penyewaan sarana dan prasarana pasar (seperti termpat berdagang, perparkiran, tempat bongkar muat, pengelolaan kebersihan, mandi cuci kakus (MCK), serta usaha lainnya yang terkait dengan penyelenggaraan pasar. Tujuan didirikannya PD Pasar Pakuan Jaya sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya adalah: 1. Meningkatkan pelayanan kebutuhan sarana dan prasarana pasar yang nyaman, bersih dan teratur. 2. Mendorong perekonomian daerah. 3. Menunjang pembangunan daerah. 4. Meningkatkan profesionalitas dan efisiensi pengelolaan pasar. 5. Meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). 51 BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis Kota Bogor 4.1.1 Letak dan Batas Wilayah Kota Bogor terletak diantara 106 derajat 43’30” BT dan 30’30” LS – 6 derajat 41’00” LS serta mempunyai ketinggian rata-rata minimal 190 meter, maksimal 350 meter dengan jarak dari ibukota kurang lebih 60 kilometer. Pasar Kebon Kembang Pasar Bogor Pasar Sukasari Gambar 3. Peta Lokasi Pasar Tempat Penelitian Kota Bogor 52 Kota Bogor memiliki luas wilayah 118,50 km2 dan mengalir beberapa sungai yang permukaan airnya jauh dibawah permukaan, yaitu : Sungai Ciliwung, Cisadane, Cipakancilan, Cidepit, Ciparigi dan Cibalok. Oleh karena adanya kondisi tersebut, maka Kota Bogor relatif aman dari bahaya banjir. Berdasarkan pada Gambar 3, batas-batas wilayah Kota Bogor sebagai berikut : 1. Sebelah Selatan : Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin Kab. Bogor 2. Sebelah Timur : Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi Sebelah Utara : Kecamatan Sukaraja, Bojong Gede dan Kab. Bogor 3. Kemang Kab. Bogor 4. Sebelah Barat : Kecamatan Kemang dan Dramaga Kab. Bogor Wilayah Kota Bogor dari berbagai arah berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bogor. Wilayah Kota Bogor berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. 4.1.2 Iklim dan Curah Hujan Kota Bogor mempunyai ketinggian dari permukaan laut minimal 190 meter dan maksimal 330 meter. Kota Bogor disebut kota hujan dengan keadaan cuaca dan udara yang sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 derajat celcius dan kelembaban udaranya kurang lebih 70 persen. Suhu terendah di Kota Bogor adalah 21,8 derajat celcius yang paling sering terjadi pada bulan desember dan januari. Arah mata angin sewaktu-waktu dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi oleh angin muson barat dengan arah mata angin 6 persen terhadap arah barat (BPS, 2010).. 4.1.3 Keadaan Topografi Kota Bogor Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 0 – 15 persen dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 15 - 30 persen. Hampir diseluruh 53 wilayah Kota Bogor terdapat jenis tanah Latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dengan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Kedudukan Topografi Kota Bogor berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya yang dekat dengan ibukota negara merupakan potensi yang strategis untuk perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Adanya Kebun Raya Bogor (KRB) yang didalamnya terdapat Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Kedudukan Kota Bogor yang berada diantara jalur Puncak/Cianjur juga merupakan potensi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat (BPS, 2010).. 4.2 Pemerintahan Kota Bogor di pimpin oleh seorang Walikota yang dibantu oleh seorang Wakil Walikota. Dalam urusan pelaksanaan birokrasi, Walikota di bantu oleh seorang Sekretaris Daerah (Sekda) yang bertanggung jawab langsung kepada Walikota. Dalam menjalankan program kerja, terdapat beberapa Dinas yang membidangi beberapa bidang yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang bertanggung jawab kepada Walikota melalui sekretaris daerah. Di Kota Bogor terdapat 45 orang anggota legislatif yang terdiri dari berbagai partai politik yang bekerja untuk mengontrol pemerintahan, membuat peraturan daerah bersama Walikota dan mengalokasikan anggaran terhadap program-program pemerintah. Kota Bogor memiliki 6 Kecamatan dengan 758 rukun warga, 3.392 rukun tetanggan. Kecamatan yang terdapat di Kota Bogor diantaranya adalah : 4.3 1. Kecamatan Bogor Selatan 2. Kecamatan Bogor Timur 3. Kecamatan Bogor Utara 4. Kecamatan Bogor Barat 5. Kecamatan Bogor Tengah 6. Kecamatan Tanah Sareal Penduduk 54 Dalam kaitanya dengan pembangunan yang berkelanjutan, hampir tidak satu programpun yang tidak memperhatikan penduduk. Oleh karena itu, informasi kependudukan dengan berbagai karakteristik, kecenderungan dan diferensiasinya menjadi sangat penting. Data penduduk sebagaimana data lainnya sangat diperlukan dalam berbagai perencanaan dan evaluasi pembangunan terutama setelah adanya pergeseran paradigma pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan pertumbuhan ekonomi semata tetapi upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia telah menjadi tumpuan dan tujuan pembangunan itu sendiri. Penduduk Kota Bogor dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 penduduk Kota Bogor sebesar 905.132 orang, kemudian meningkat pada tahun 2008 mencapai 942.204 orang. Jumlah penduduk Kota Bogor dari tahun 2007 ke tahun 2008 mengalami peningkatan 4,09 persen. Sementara pada tahun 2009 jumlah penduduk Kota Bogor sebesar 946.204 orang, yang terdiri dari 481.559 laki-laki dan 464.645 perempuan. Juga mengalami kenaikan dari tahun 2008. Kenaikan jumlah penduduk dari tahun ke tahun ini diduga karena faktor penarik Kota Bogor sendiri mengingat semakin banyaknya fasilitas sosial yang mudah diperoleh selain itu juga Kota Bogor merupakan kota penyangga ibukota negara sehingga menarik para pendatang untuk tinggal dan menanamkan usahanya di Kota Bogor (BPS, 2010). Rasio jenis kelamin penduduk Kota Bogor adalah 102, yang artinya setiap 102 penduduk laki-laki berbanding dengan 100 penduduk perempuan dengan luas daerah 118,50 km2. Ini berarti kepadatan penduduk per km2 sebesar 7.951 jiwa. Kecamatan Bogor Barat merupakan kecamatan yang jumlah penduduknya terbanyak yaitu 205.123 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Bogor Timur yang hanya 94.329 jiwa. Kecamatan Bogor Tengah merupakan kecamatan terpadat penduduknya, yaitu mencapai 13.770 jiwa/km2, hal ini disebabkan karena pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi banyak berada di kecamatan ini. Umumnya sebuah kota besar, Kota Bogor penduduknya mulai bertambah dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor, Bekasi, Jakarta, Kabupaten Sukabumi dan Depok (BPS, 2010). 55 4.4 Kondisi Perekonomian Kondisi perekonomian Kota Bogor dari tahun ke tahun ditopang oleh aktivitas sembilan sektor lapangan usaha, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik perdagangan, industri air dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Dari kesembilan sektor penopang kehidupan ekonomi daerah, terdapat tiga sektor paling dominan. Dari hasil kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009, PDRB Kota Bogor dari tahun 2005 sampai tahun 2009, struktur perekonomian utamanya didominansi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan dan sektor angkutan dan komunikasi. Secara rinci, sektor perdagangan, hotel dan restoran berkontribusi sebesar 38,40 persen terhadap PDRB Kota Bogor tahun 2009 atas dasar harga berlaku, disusul kemudian oleh sektor industri pengolahan yang mencapai 25,57 persen, serta sektor angkutan dan komunikasi sebesar 14,45 persen Berdasarkan pada data teraktual yang dimiliki oleh BPS, PDRB atas dasar harga berlaku Kota Bogor pada tahun 2009 tercapai sebesar Rp. 11.904.559.660.000,00 artinya mengalami pertumbuhan 17,98 persen dari tahun 2008 yang terhitung hanya mencapai Rp. 10.089.943.960.000,00 dan diperkirakan pada tahun 2010 akan mencapai 13,340 triliun. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh tiga sektor lapangan usaha yang mengalami laju pertumbuhan tertinggi, yaitu sektor angkutan dan komunikasi sebesar 28,18 persen, sektor industri pengolahan sebesar 19,89 persen dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 18,58 persen. Laju pertumbuhan positif yang dialami beberapa sektor lapangan usaha telah mendorong Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Bogor pada tahun 2009 sebesar 6,01 persen dan pada tahun 2010 LPE Kota Bogor mencapai 6,2 persen. 4.5 Keberadaan Pasar di Kota Bogor 4.5.1 Letak, Luas dan Wilayah Kerja 56 Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya terletak di Kota Bogor yang memiliki pasar sejumlah 7 buah pasar tradisional yaitu : Pasar Baru Bogor, Pasar Sukasari, Pasar Kebun Kembang, Pasar Padasuka, Pasar Gunung Batu, Pasar Merdeka dan Pasar Jambu Dua. Dari 7 pasar tradisional yang ada, luas tanah secara keseluruhan adalah 54.186,92 m2 dengan luas bangunan sebesar 119.611,22 m2. 4.5.2 Kondisi Fisik dan Fasilitas Bangunan Secara umum kondisi bangunan ketujuh pasar tersebut perlu direnovasi secara terus menerus, yaitu melalui : pengecatan bangunan, perbaikan tangga pasar, penggantian keramik rusak, perbaikan pintu akses, perbaikan kantor, perbaikan lokasi parkir dan bongkar muat, perbaikan MCK, penambahan dan atau perbaikan TPS, pembangunan pos kesehatan, pemeliharaan sarana/ prasarana fisik bangunan dan kegiatan lainnya sesuai lokasi yang belum masuk dalam kegiatan diatas. Di lokasi PD Pasar Pakuan Jaya juga diperlukan perbaikan sarana fasilitas listrik, baik untuk pemeliharaan jaringan listrik, pengadaan genset, maupun pemasangan listrik baru. Di pasar juga diperlukan perbaikan dan pemeliharaan drainase seperti perbaikan drainase luar, saluran pipa air, pengadaan bak air, pemeliharaan saluran air, perbaikan drainase luar maupun pembangunan bak penampungan air. Selain itu, di pasar juga diperlukan peningkatan kualitas keamanan, ketertiban dan kebersihan lingkungan pasar sebagai pendukung dari kenyamanan kondisi fisik dan fasilitas bangunan pasar. 4.5.3 Tujuan Berdirinya PD Pasar Pakuan Jaya Sesuai dengan ketentuan pasal 40 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya, bahwa PD Pasar Pakuan Jaya mempunyai kewajiban untuk menyusun Rencana Kerja Tahunan dan Anggaran Pendapatan Belanja. Keberadaan PD Pasar Pakuan Jaya dituntut untuk mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dan berupaya berdikari didalam pembiayaan pembangunan. Perusahaan daerah diharapkan dapat berperan 57 dalam mendorong pertumbuhan perekonomian daerah (agent of development); merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) serta dapat berperan dalam mewujudkan pembangunan nasional tanpa meninggalkan fungsi sosialnya terlebih lagi dalam upaya mewujudkan citra Bogor sebagai Kota Jasa yang nyaman. PD. Pasar Pakuan Jaya adalah perusahaan daerah yang didirikan oleh pemerintah Kota Bogor yang akan menggantikan tugas, fungsi dan peran dinas perindustrian, perdagangan dan koperasi Kota Bogor dalam memberikan pelayanan dibidang perpasaran, dengan menyelenggarakan usaha pengelolaan dan penyewaan sarana dan prasarana pasar (seperti termpat berdagang, perparkiran, tempat bongkar muat, pengelolaan kebersihan, mandi cuci kakus (MCK), serta usaha lainnya yang terkait dengan penyelenggaraan pasar. Tujuan didirikannya PD Pasar Pakuan Jaya sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya adalah: 6. Meningkatkan pelayanan kebutuhan sarana dan prasarana pasar yang nyaman, bersih dan teratur. 7. Mendorong perekonomian daerah. 8. Menunjang pembangunan daerah. 9. Meningkatkan profesionalitas dan efisiensi pengelolaan pasar. 10. Meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). 58 BAB V KONDISI PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR 5.1 Kondisi Bangunan Fisik Pasar Tradisional di Kota Bogor Berdasarkan pada hasil penelitian dilapangan, kondisi bangunan fisik pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor sudah perlu perbaikan. Kondisi fisik yang perlu diperbaiki terutama pada tiga pasar yang diteliti yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari, dan Pasar Kebon Kembang adalah kondisi kios dan los pasar, kondisi koefisien dasar bangunan dan koefisien lantai bangunan, dan kondisi bangunan yang perlu perbaikan. 5.1.1 Kondisi Kios dan Los Pasar Tradisional Pasar tradisional di Kota Bogor secara keseluruhan memiliki 6.042 kios dan 1.043 los dengan jumlah seluruhnya 7.085 unit. Kios dan los yang terdapat di pasar tradisional ini dimanfaatkan oleh pedagang pasar baik pedagang pakaian, hasil industri rumah tangga, alat rumah tangga, alat elektronik, dan hasil pertanian seperti sayuran, buah-buahan dan lain-lain. Untuk mengetahui jumlah kios dan los yang terdapat di pasar tradisional, khususnya pada tiga pasar tradisional dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Kondisi Kios dan Los Tahun 2009 Kios Los Nama No Beroperasi Tutup Jumlah Beroperasi Tutup Jumlah Pasar 1 Bogor 960 1.011 1.971 198 82 280 2 Sukasari 99 130 229 70 52 122 3 Kebon 634 184 818 864 664 1.528 Kembang Jumlah 1.693 1.325 2.018 1.132 698 1.820 Sumber : RKT PD Pasar Pakuan Jaya (2010) Berdasarkan pada Tabel 10 dapat dilihat bahwa pada ketiga pasar masih lebih banyak jumlah kios yang tutup dibandingkan dengan jumlah kios yang buka. dari 4.542 kios, 1.059 kios buka dan 1.141 kios masih tutup. Hal ini terjadi karena masih kurangnya minat masyarakat untuk berdagang didalam kios yang sudah disediakan oleh PD Pasar dikarenakan harga kios yang dianggap cukup mahal oleh pedagang. Berbeda dengan los, di ketiga pasar tradisional jumlah los yang buka lebih banyak dari pada los yang tutup dari 402 los yang terdapat di ketiga 59 pasar, sebanyak 268 los buka dan 134 los masih tutup. Hal ini terjadi karena harga los lebih murah jika dibandingkan dengan kios. 5.1.2 Kondisi Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan Kondisi Dasar Bangunan dan Kondisi Lantai Bangunan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam mengetahui kondisi pasar tradisional. Kondisi ini ditunjukkan oleh nilai koefisien yang menunjukkan kepada pengelola untuk mengetahui layak tidaknya kondisi pasar dan mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi pada dasar dan lantai bangunan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui tingkat kenyamanan pelanggan dan pedagang bertransaksi di pasar. Kondisi KDB dan KLB Pada ketiga pasar dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Kondisi Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan Kondisi Existing No Nama Pasar Kebijakan Rencana Kota KDB KLB 80% 3-6 80% 3-6 80% 3-6 KDB KLB 1 Bogor 95% 6 2 Sukasari 70% 2 3 Kebon Kembang 80% 3 Sumber : Tim Kelayakan PD Pasar (2009) Berdasarkan pada Tabel 11 terlihat bahwa kondisi KDB dan KLB di Pasar Bogor dan Pasar Kebon Kembang masih terlihat baik (tinggi), dasar dan lantai bangunan masih layak untuk digunakan, belum perlu renovasi, hanya diperlukan pemeliharaan saja pada dasar dan lantai bangunan. Sementara kondisi KDB dan KLB di Pasar Sukasari terlihat rendah (70% dan 2), artinya kondisi bangunan sudah rusak berat, perlu dilakukan uji kelayakan teknis apakah sekedar perbaikan struktur bangunan atau renovasi, sehingga bangunan pasar tidak layak untuk digunakan. Kebijakan pemerintah Kota Bogor adalah meningkatkan nilai KDB dan KLB pada pasar yang rusak berat, sehingga bangunan pasar dapat layak digunakan. 60 5.1.3 Kondisi Bangunan Gedung Pasar Tradisional Kondisi bangunan (gedung) di pasar tradisional memiliki peran yang sangat penting. Tingkat kenyamanan berbelanja pelanggan di pasar tradisional tidak hanya ditentukan oleh kondisi kebersihan bangunan saja, tetapi juga ditentukan oleh kondisi kualitas bangunan gedung pasar. Gedung pasar yang rusak, becek, berbau akan mempengaruhi pelanggan untuk malas berbelanja di pasar tradisional. Sebaliknya gedung pasar yang rapih, bersih, terawat dan indah akan menarik pelanggan berbelanja di pasar tradisional. Gedung pasar yang terdapat pada tiga lokasi pasar tradisional ini sangat strategis. Gedung Pasar Bogor lokasinya dekat dengan kebun raya sebagai tempat pariwisata, gedung Pasar Sukasari lokasinya berada di jalan menuju puncak (tempat pariwisata) dan gedung Pasar Kebon Kembang lokasinya dekat dengan keramaian stasiun kereta api. Dengan letak lokasi yang strategis ini maka ketiga gedung pasar tradisional ini mendapat kunjungan banyak pelanggan. Berdasarkan pada hasil dari penelitian yang dilakukan oleh PD Pasar Pakuan Jaya pada tahun 2010, maka masih banyak kondisi bangunan pada ketiga pasar tradisional yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang bagian-bagian bangunan pasar yang perlu diperbaiki. Seperti di Pasar Bogor lokasi basement, dalam dan luar gedung, dan ruang kantor. Pada Pasar Sukasari beberapa bagian bangunan yang perlu diperbaiki diantaranya adalah bagian dalam dan luar gedung, lokasi lantai atas gedung, lokasi parkir dan MCK. Pada Pasar Kebon Kembang, bagian gedung yang perlu diperbaiki diantaranya adalah lokasi parkir, tempat pembuangan sampah, MCK dan perbaikan Blok A,B,E dan F. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 12. 61 Tabel 12. Bangunan yang Perlu Diperbaiki No Nama Pasar 1 2 3 4 1 Bogor 5 6 7 8 9 1 2 2 Sukasari 3 Kebon Kembang 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlu Renovasi Pengecatan luar gedung semua lantai Perbaikan pintu akses utama lantai basement Perbaikan pintu akses kecil lantai basement Perbaikan pintu akses dari luar ke lantai 1 Penggantian tangga Tangga dari basement ke lt 1 Tangga dari basement ke lt 2 Tangga dari lt 1 ke lt 2 Pagar sekeliling basement Penggantian keramik yang rusak Penatan jenis komoditi Perbaikan kantor Perbaikan lt 3 untuk wisata kuliner Pembuatan jalan tembus ke basement Pengecatan Gedung Penataan jenis komoditi Perbaikan keramik Perbaikan kantor Perbaikan lokasi parkir Renovasi MCK tiap lantai Pengecatan Perbaikan pintu akses Penggantian keramik yang rusak Penataan jenis komoditi Perbaikan kantor Perbaikan lokasi parkir Perbaikan lokasi bongkar muat Perbaikan MCK Pembangunan/ perbaikan TPS di abesin Lokasi Dalam dan luar gedung Basement Basement Lantai 1 Basement ke lt 1 Basement ke lt 2 Basement ke lt 1 Basement Basement dan lt 1 Basement Ruangan kantor Lt 3 Lt Basement Luar dan dalam gedung Lt 1 dan 2 Lt basement, 1 dan 2 Ruang kantor Depan dan belakang Semua lantai Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Ruang kantor Lokasi parkir Lokasi bongkar muat Semua blok Lokasi TPS Sumber : Hasil Survei PD Pasar (2010) 5.2 Kondisi Fasilitas Listrik Pasar Tradisional di Kota Bogor Peran listrik di pasar tradisional sangat penting. Tidak hanya sebagai alat penerangan tetapi juga dapat digunakan dalam mengawetkan sayuran, buahbuahan, daging, ikan,dan lain-lain. Hanya saja persoalan yang terjadi adalah belum lengkapnya sarana listrik dan masih banyaknya sarana listrik di pasar yang perlu renovasi. Seperti terlihat pada Tabel 13. 62 Tabel 13. Sarana Listrik yang Perlu Renovasi No Nama Pasar Perlu Renovasi 1 Pemindahan panel listrik dari basement ke lantai 1 2 Perbaikan jaringan listrik (kabel, 1 Bogor saklar, dll) 3 Biaya pemeliharaan jaringan listrik semua lantai 1 Perbaikan jaringan listrik lantai 1 2 Sukasari 2 Pengada an genset 3 Pemeliharaan jaringan listrik 1 Perbaikan jaringan listrik Kebon 3 Kembang 2 Biaya pemeliharaan jaringan listrik semua lantai Sumber : Hasil survei PD Pasar (2010) Lokasi Basement ke lt 1 Basement lt 1 dan 2 Semua lantai Lt 1 Gedung Semua lantai Blok A,B,E,F Blok A,B,E,F Berdasarkan pada hasil survei PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor tahun 2010, masih terdapat beberapa sarana listrik yang perlu perbaikan di tiga pasar tradisional tersebut. Sarana yang perlu di perbaiki antara lain perbaikan jaringan listrik, perlunya pengadaan genset dan perlunya penambahan biaya pemeliharaan jaringan listrik disemua lantai dan blok pasar. 5.3 Kondisi Fasilitas Drainase Pasar Tradisional di Kota Bogor Kondisi fasilitas drainase di pasar tradisional memiliki peran yang cukup signifikan dalam membuat image pasar tradisional. Kondisi drainase yang tidak baik akan menyebabkan pasar tradisional terlihat kumuh dan kotor, becek karena sumbatan air buangan limbah pasar dan dapat mengganggu kebersihan serta sebagai sarang penyakit. Oleh karena itu, drainase di pasar harus selalu diperhatikan oleh pengelola pasar dan dijaga oleh pedagang. Salah satu upaya menjaga drainase pasar agar tetap baik adalah dengan tidak membuang sampah/ sisa limbah dagangan ke dalam saluran air. Kondisi drainase di ketiga pasar tradisional di Kota Bogor adalah seperti terlihat pada Tabel 14. 63 Tabel 14. Sarana Drainase yang Perlu Perbaikan No Nama Pasar Perlu Perbaikan 1 2 3 Bogor Lokasi 1 Perbaikan Drainase luar Keliling gedung 2 Saluran pipa air dalam gedung Semua lantai 3 Penggantian bak air Gedung 4 Pemeliharaan saluran air Semua lantai 1 Saluran pipa air dalam gedung Semua lantai 2 Biaya pemeliharaan saluran air Semua lantai 1 Perbaikan drainase luar Semua blok 2 Saluran pipa air dalam gedung Semua blok 3 Pengadaan bak air Semua blok 4 Pemeliharaan saluran air Semua blok Sukasari Kebon kembang Sumber : Hasil Survei PD Pasar (2010) Berdasarkan pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa perbaikan sarana drainase pada ketiga pasar tradisional di Kota Bogor harus dilakukan pada sekeliling gedung, semua blok dan semua lantai. Beberapa sarana yang perlu diperbaiki antara lain : perbaikan drainase luar gedung, perbaikan pipa air dalam dan luar gedung, pergantian bak air dalam pasar dan pemeliharaan saluran air. 5.4 Kondisi Fasilitas Keamanan, Ketertiban dan Kebersihan Pasar Tradisional di Kota Bogor Salah satu faktor untuk mendorong masyarakat berbelanja di pasar tradisional adalah dikarenakan kondisi yang keamanan, ketertiban dan kebersihan yang selalu terjaga di pasar. Pasar tradisional yang aman, tertib dan bersih akan diminati pelanggan untuk melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa, namun sebaliknya kondisi pasar yang rawan pencurian (tidak aman), risuh tempat parkirnya (tidak tertib), dan kotor (tidak terjaga kebersihannya) akan ditinggalkan oleh pelanggan. Kondisi fasilitas keamanan, ketertiban dan kebersihan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 15. 64 No 1 2 3 Nama Pasar Bogor Sukasari Kebon kembang Perlu Renovasi Lokasi 1 Penggantian APAR Semua lantai 2 Pengisian tabung APAR Semua lantai 3 Pembangunan pos keamanan 4 lokasi di pojok gedung 4 Pengadaan Handy Talky Semua lantai 5 Pengadaan radio panggil dan Semua lantai megaphone 6 Pemeliharaan keamanan 1 Penggantian APAR Semua lantai 2 Pengisian tabung APAR Semua lantai 3 Pembangunan pos keamanan Depan dan belakang 4 Pengadaan alat gandy talky 5 Pengadaan radio panggil dan Semua lantai megaphone 6 Pemeliharaan keamanan 1 Penambahan APAR Semua blok 2 Pengisian tabung APAR Semua blok 3 Pembangunan pos keamanan Semua blok 4 Pengadaan alat handy talky 5 Pengadaan radio panggil dan Semua blok megaphone 6 Sarana alat sarana fisik Semua lantai komunikasi/ Semua lantai sarana fisik Semua lantai komunikasi/ Semua blok pemadam Semua blok 65 kebakaran berupa hydrant 7 No Nama Pasar Pemeliharaan sarana fisik Semua blok keamanan dan ketertiban Perlu Renovasi Lokasi Tabel 15. Sarana Ketertiban dan Keamanan yang Perlu Renovasi Keterangan: APAR = Alat Pemadam Api Ringan Sumber: Hasil Survei Lapangan PD. Pasar (2010) Berdasarkan pada Tabel 15, renovasi fasilitas keamanan dan ketertiban pada ketiga pasar tradisional di Kota Bogor masih perlu dilakukan. Terlihat bahwa beberapa fasilitas keamanan, ketertiban dan kebersihan yang perlu diperbaiki antara lain : pengisian dan penggantian tabung APAR, pembangunan dan renovasi pos keamanan, pengadaan alat komunikasi dan alat pemadam kebakaran, dan pemeliharaan sarana fisik keamanan dan ketertiban. Sementara untuk sarana kebersihan yang perlu direnovasi seperti terlihat pada Tabel 16. Tabel 16. Sarana Kebersihan yang Perlu Renovasi 66 1 2 3 Bogor 1 Perbaikan TPS Belakang gedung 2 Penambahan tong sampah Semua blok 3 Pengadaan gerobak sampah Gedung 4 Pengadaan kebersihan 5 Pemeliharaan kebersihan 1 Renovasi TPS Depan belakang 2 Penambahan tong sampah Semua lantai 3 Pengadaan gerobak sampah Semua lantai 4 Penambahan kebersihan 1 Penambahan tong sampah 2 Penambahan kontainer sampah Semua blok 1 setiap blok 3 Pengadaan gerobak sampah 4 Pengadaan kebersihan 5 Pemeliharaan kebersihan peralatan Semua lantai sarana fisik Semua lantai dan Sukasari Kebon Kembang peralatan Semua lantai Semua blok Semua blok peralatan Semua blok sarana fisik Semua blok Sumber: Hasil Survei Lapangan PD Pasar (2010) Berdasarkan Tabel 16, dapat dilihat bahwa ketiga pasar tradisional di Kota Bogor tersebut masih terdapat sarana kebersihan yang perlu di renovasi, antara lain: perbaikan TPS, penambahan tong sampah dan gerobak sampah, penambahan peralatan kebersihan dan pemeliharaan sarana fisik kebersihan. Renovasi ini dilakukan pada semua blok disemuan lantai gedung pasar tradisional. 5.5 Kondisi PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor 67 Kota Bogor dikenal juga memiliki permasalahan di pasar tradisional yaitu tentang penanganan pedagang kaki lima (PKL). Lokasi pasar tradisional yang memiliki banyak PKL akan menyebabkan ketidaknyamanan pada pejalan kaki, kemacetan lalulintas, kekotoran dan kesemrawutan. Oleh karenanya diperlukan penanganan yang serius dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan PKL. Pada tiga pasar tradisional yang diteliti terdapat 863 orang PKL. Lihat pada Tabel 17. Tabel 17. Jumlah PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor No Nama Pasar Jumlah PKL (orang) 1 Bogor 463 2 Sukasari 60 3 Kebon Kembang 340 Jumlah 863 Sumber : Hasil Survei PD Pasar (2010) Berdasarkan pada Tabel 17, dapat dilihat bahwa jumlah PKL di Pasar Bogor lebih banyak dibandingkan jumlah PKL yang terdapat di Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Hal ini terjadi karena kondisi fisik Pasar Bogor, terutama dari sisi bangunannya (KDB dan KLB) lebih baik dari pada Pasar Sukasari dan Pasar Kebon Kembang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin baik baik kondisi pasar, semakin banyak PKL berkeliaran. Untuk mengatasi persoalan ini, maka pengelola perlu melakukan penataan PKL dengan baik salah satunya dengan relokasi/ memindahkan ketempat yang tidak mengganggu ketertiban umum. 68 BAB VI PERSEPSI PEDAGANG TERHADAP PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR Dalam melakukan pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor, PD. Pasar Pakuan Jaya harus meningkatkan kinerja, mengetahui dan memperhatikan apa yang menjadi Kepentingan pedagangnya. Kinerja perusahaan dan Kepentingan dari pedagang merupakan sesuatu yang berbanding lurus. Ketika kinerja perusahaan baik, maka Kepentingan pedagang terhadap perusahaan juga akan semakin besar. Citra perusahaan bukan dilihat dari sudut pandang perusahaan tetapi dari sudut pandang pedagangnya, dan perusahaan yang dapat memberikan kepuasan kepada pedagangnya adalah perusahaan yang mengerti kepentingan dari pedagangnya/ konsumen (Kotler, 2007). Menentukan persepsi pedagang terhadap perusahaan adalah tidak mudah. Perlu upaya yang besar dari perusahaan untuk memikat hati pedagang agar tidak pindah berusaha ke tempat lain. Oleh karenanya perusahaan PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor perlu mengetahui karakteristik pedagang. 6.1 Karakteristik Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bogor Hal yang perlu menjadi acuan dalam menentukan persepsi pedagang pasar tradisional di Kota Bogor adalah karakteristik pedagang. Karakteristik pedagang pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilihat dari status pernikahan, tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Karakteristik ini membantu untuk mengetahui pedagang seperti apa yang menjadi pedagang pasar tradisional di Kota Bogor. 6.1.1 Karakteristik Pedagang Berdasarkan Status Pernikahan Pedagang pasar tradisional di Kota Bogor sebagian besar adalah sudah menikah (berkeluarga), di Pasar Bogor dari 20 orang responden (pedagang) yang disurvei, terdapat 16 orang pedagang sudah menikah, 3 orang belum menikah dan 1 orang janda. Di Pasar Sukasari terdapat 18 pedagang sudah menikah, 1 orang belum menikah dan 1 orang janda. Sementara di Pasar Kebon Kembang, terdapat 69 16 pedagang sudah menikah, 4 orang belum menikah. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Karakteristik Pedagang Berdasarkan Status Pernikahan Status Pernikahan Menikah Belum menikah Duda/Janda Total Pasar Bogor 16 3 1 20 Pasar Sukasari 18 1 1 20 Kebon Kembang 16 4 0 20 6.1.2 Karakteristik Pedagang Berdasarkan Pendidikan Berdasarkan pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa karakteristik pedagang pasar tradisional dilihat dari segi pendidikan yaitu sebagian besar pedagang pasar tradisional berpendidikan SMA/ sederajat. Di Pasar Bogor, dari 20 responden yang disurvei terdapat 8 pedagang berpendidikan SMA/sederajat, 5 orang berpendidikan SMP, 3 orang berpendidikan SD, 3 orang Diploma dan 1 orang Sarjana. Di Pasar Sukasari, terdapat 10 pedagang yang berpendidikan SMA/ sederajat, 5 orang SMP, 1 orang SD, 2 orang Diploma dan 2 orang sarjana. Sementara di Pasar Kebon Kembang, terdapat 9 orang SMA/ sederajat, 5 orang SMP, 1 orang SD, 1 orang Diploma dan 4 orang Sarjana. Tabel 19. Pendidikan Responden di Pasar Tradisional Kota Bogor Pendidikan Responden SD SMP SMA Diploma Sarjana Total Pasar Bogor 3 5 8 3 1 20 Pasar Sukasari 1 5 10 2 2 20 Kebon Kembang 1 5 9 1 4 20 6.1.3 Karakteristik Pedagang Berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik pedagang dapat dilihat pada Tabel 20, sebagian besar pedagang di pasar tradisional Kota Bogor berjenis kelamin perempuan (ibu-ibu),. Di Pasar Bogor, dari 20 responden yang di survei, terdapat 11 pedagang berjenis 70 kelamin perempuan dan 9 orang berjenis kelamin laki-laki. Di Pasar Sukasari terdapat 11 pedagang perempuan dan 9 orang laki-laki. Sementara di Pasar Kebon Kembang, terdapat 12 pedagang perempuan dan 8 pedagang laki-laki. Tabel 20. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Responden Laki-laki Perempuan Total 6.2 Pasar Bogor Pasar Sukasari 9 11 20 9 11 20 Pasar Kebon Kembang 8 12 20 Persepsi Pedagang Terhadap Pasar Tradisional di Kota Bogor 6.2.1 Persepsi Pedagang Pasar Bogor Pedagang Pasar Bogor mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD. Pasar Pakuan Jaya dalam mengelola pasar tardisional di Kota Bogor berkinerja rendah (skor 2,9) dan pedagang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi (skor 3,7) sebagaimana terlihat pada Supranto (2003), mengatakan bahwa kinerja dikatakan baik bila hasil perhitungan rata-ratanya berada diantara skor 3,5 sampai dengan 4,5 (Tabel 21). Berdasarkan pada hasil penelitian ini, kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai paling tinggi oleh pedagang Pasar Bogor adalah kelengkapan jenis barang (skor 3,8), dimana atribut ini berkaitan dengan lengkap dan mudah diperolehnya berbagai jenis barang yang akan dibeli oleh pedagang. Kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai tinggi oleh pedagang adalah 2 atribut, yaitu 1) kualitas barang, dan 2) lokasi pasar yang mudah dijangkau. Selanjutnya persepsi pedagang terhadap kinerja PD Pasar Pakuan Jaya (Pasar Bogor) yang dinilai lebih rendah menyangkut sepuluh atribut, yaitu 1) harga kios dan los, 2) pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, 3) besarnya retribusi, 4) jam operasional, 5) kejelasan informasi kepada pedagang, 6) kemudahan mendapat izin berdagang, 7) sikap pegawai unit pasar, 8) musyawarah dengan pedagang, 9) sosialisasi tata tertib pasar dan 10) kesungguhan petugas dalam mengelola pasar. Atribut kinerja dinilai oleh pedagang lebih rendah, jika nilai skor antara 3,0 sampai dengan 3,5. Tabel 21. Persepsi Pedagang Pasar Bogor terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan 71 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar Rata-rata Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,6 4,0 2,6 3,7 2,7 3,7 2,3 3,5 2,9 3,6 2,8 2,3 2,3 3,2 3,4 2,4 2,9 3,5 3,5 3,8 3,6 4,0 3,7 3,6 3,1 3,0 2,5 2,5 2,9 3,0 2,8 3,2 2,9 3,7 3,8 2,8 3,6 3,4 3,8 3,9 3,9 3,9 3,8 3,8 3,7 3,8 4,0 3,6 3,1 2,9 4,0 3,8 2,9 3,9 3,0 3,3 3,2 2,9 3,7 3,9 3,9 3,7 Sementara kinerja PD Pasar Pakuan Jaya (Pasar Bogor) yang dinilai paling rendah oleh pedagang yaitu tujuh atribut, yaitu: 1) kebersihan kantor unit pasar, 2) kondisi bangunan/ gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum (MCK, mushola, penerangan), 5) kondisi tempat berdagang (kios), 6) 72 ketersediaan bak penampungan sampah, 7) keramahan petugas pasar, 8) penataan PKL, 9) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat, 10) kepedulian menampung keluhan pedagang, 11) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 12) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 13) keamanan dan ketertiban pasar, 14) kejujuran petugas penarik retribusi, 15) pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar, 16) pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan dan 17) pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum. Terhadap tingkat Kepentingan, pedagang Pasar Bogor menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolaan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang pasar memiliki kepentingan yang paling tinggi terhadap atribut 1) pelayanan dari unit pasar, 2) kelengkapan jenis barang, 3) sikap pegawai unit pasar, 4) lokasi pasar, 5) kebersihan kantor unit pasar, 6) kondisi bangunan/gedung pasar, 7) kondisi kebersihan pasar, 8) kondisi fasilitas umum, 9) kondisi tempat usaha, 10) ketersediaan bak penampung sampah, 11) keramahan petugas pasar, 12) harga kios dan los, 13) penataan PKL, 14) kemudahan pengurusan sewa tempat, 15) besarnya retribusi, 16) kepedulian menampung keluhan, 17) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 18) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 19) keterbukaan informasi kepada pedagang, 20) keamanan dan ketertiban, 21) kemudahan izin berdagang, 22) kejujuran petugas penarik retribusi, 23) kualitas barang, 24) pemberian sanksi terhadap pelanggaran, 25) pembinaan dan penyuluhan kepada pedagang, 26) pengelola memberikan jaminan rasa keadilan, 27) musyawarah dengan pedagang, 28) sosialisasi tata tertib dan 29) kesungguhan dalam mengelola pasar. Sementara itu atribut yang memiliki tingkat Kepentingan yang rendah yaitu 1) atribut jam operasional, dikarenakan pengaturan jam operasional di pasar sudah diketahui oleh pedagang. Jadi pedagang sudah mengetahui kapan waktu untuk berbelanja di pasar tradisional. Berdasarkan hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan di Pasar Bogor, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 2,9 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,7. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil 73 dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan (Gambar 4). Gambar 4. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Bogor 6.2.2 Persepsi Pedagang Pasar Sukasari Berdasarkan pada Tabel 22, pedagang Pasar Sukasari mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD Pasar Pakuan Jaya dalam pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor berkinerja rendah (skor 2,9) dan tingkat kepentingan pedagang tinggi (skor 3,8). Kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai paling tinggi oleh pedagang Pasar Sukasari adalah 1) kualitas barang dan 2) lokasi pasar yang strategis. Selanjutnya atribut yang dinilai berkinerja lebih rendah menyangkut sepuluh atribut, yaitu 1) keramahan petugas pasar, 2) harga kios dan los, 3) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, 4) besarnya retribusi, 5) jam operasional, 6) keamanan dan ketertiban pasar, 7) kemudahan mendapat izin berdagang, 8) kejujuran petugas penarik retribusi, 9) musyawarah dengan pedagang dan 10) sosialisasi tata tertib pasar. 74 Sementara itu beberapa atribut yang dinilai berkinerja paling rendah oleh pedagang Pasar Sukasari menyangkut delapan belas atribut, yaitu : 1) kebersihan kantor unit pasar. 2) kondisi bangunan/ gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum (MCK, mushola, penerangan), 5) kondisi tempat usaha (kios), 6) ketersediaan bak penampungan sampah, 7) pelayanan pegawai unit pasar, 8) penataan PKL, 9) kepedulian menampung keluhan pedagang, 10) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 11) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 12) kejelasan informasi kepada pedagang, 13) kelengkapan jenis barang, 14) pemberian sanksi atas pelanggaran tata tertib pasar, 15) sikap pegawai unit pasar, 16) pembinaan kepada pedagang, 17) pegelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum, dan 18) kesungguhan petugas mengelola pasar. Tabel 22. Persepsi Pedagang Pasar Sukasari terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,6 4,2 2,8 3,8 2,0 3,8 2,2 3,7 2,4 3,8 2,5 2,4 3,2 3,2 2,9 2,6 3,1 3,8 3,7 3,7 3,7 3,7 3,8 3,7 3,0 3,4 2,9 2,7 2,9 2,8 3,2 3,4 3,1 3,8 2,9 3,8 3,8 3,7 4,1 3,9 3,9 3,9 3,8 4,2 4,2 3,9 75 24 25 26 27 28 29 30 Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata 2,9 3,9 tertib pasar Sikap pegawai unit pasar 2,9 3,9 Pengelola pasar memberikan 2,7 3,7 pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan 2,7 3,7 kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang 3,0 3,8 Sosialisasi tata tertib pasar 3,3 3,8 Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar 2,9 4,1 2,9 3,8 Skor rata-rata Terhadap tingkat kepentingan, pedagang Pasar Sukasari menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang Pasar Sukasari memiliki kepentingan yang tinggi terhadap tiga puluh atribut pengelolaan pasar, sedangkan empat atribut lainnya yaitu kualitas barang, lokasi pasar, kejujuran petugas penarik retribusi dan kesungguhan petugas dalam mengelola pasar merupakan tingkat Kepentingan tertinggi yang harus diperhatikan oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Hal ini berkaitan dengan kualitas barang dan kondisi manajemen pasar tradisional yang perlu peningkatan. Berdasarkan hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan di Pasar Sukasari seperti tampak pada Gambar 5, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 2,9 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,8. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan. 76 Gambar 5. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Sukasari 6.2.3 Persepsi Pedagang Pasar Kebon Kembang Tabel 23 menggambarkan persepsi pedagang Pasar Kebon Kembang terhadap pengelolaan PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang Pasar Kebon Kembang mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD Pasar Pakuan Jaya dalam pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor berkinerja rendah (skor 3,1) dan tingkat kepentingan pedagang tinggi (skor 3,9). Tabel 23. Persepsi Pedagang Pasar Kebon Kembang terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,4 4,1 2,4 3,5 2,4 3,9 2,2 3,8 2,5 4,0 3,0 2,3 3,7 3,0 3,3 2,4 3,1 3,8 3,8 3,8 3,9 3,9 3,7 3,6 77 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar Skor rata-rata 3,1 3,4 2,9 2,9 3,1 3,0 2,8 3,4 3,5 3,9 3,6 3,1 3,9 3,9 4,3 4,1 4,2 4,1 4,0 4,0 4,1 4,1 4,1 3,7 3,1 3,1 3,8 4,0 3,1 4,0 3,1 3,3 3,3 3,1 4,0 3,9 4,1 3,9 Kinerja PD Pasar Pakuan Jaya yang dinilai paling tinggi oleh pedagang Pasar Kebon Kembang adalah 1) kualitas barang, 2) keramahan petugas pasar, 3) kelengkapan jenis barang, dan 4) kejujuran petugas penarik retribusi. Selanjutnya atribut yang dinilai memiliki kinerja lebih rendah menyangkut tujuh belas antribut, yaitu : 1) lokasi pasar, 2) kondisi tempat usaha/dagang, 3) harga kios dan los, 4) pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, 5) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, 6) besarnya retribusi, 7) jam operasional, 8) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 9) kejelasan informasi kepada pedagang, 10) kemudahan mendapat izin berdagang, 11) pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar, 12) sikap pegawai unit pasar, 13) pembinaan oleh pengelola pasar, 14) pengelola memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum, 15) musyawarah dengan pedagang, 16) sosialisasi tata tertib pasar dan 17) kesungguhan petugas mengelola dalam pasar. Kinerja yang dinilai paling rendah adalah 1) kebersihan kantor unit pasar, 2) kondisi bangunan/gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum, 5) ketersediaan bak penampungan sampah, 6) penataan PKL, 7) 78 kepedulian menampung keluhan pedagang, 8) kecepatan respon atas keluhan pedagang, dan 9) keamanan dan ketertiban pasar. Gambar 6. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Kebon Kembang Terhadap tingkat kepentingan, pedagang Pasar Kebon Kembang menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolaan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang Pasar Kebon Kembang memiliki kepentingan yang tinggi terhadap atribut 1) kepedulian menampung keluhan pedagang, dan 2) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang. Selanjutnya untuk ke dua puluh delapan atribut lainnya pedagang Pasar Kebon Kembang menganggap penting.Pada Gambar 6 dapat dilihat hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan di Pasar Kebon Kembang, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 3,1 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,9. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan. 6.2.4 Persepsi Pedagang terhadap Pasar Tradisional (Gabungan) di Kota Bogor Tabel 24 menggambarkan persepsi pedagang terhadap pengelolaan pasar oleh PD. Pasar Pakuan Jaya. Pedagang mempersepsikan bahwa secara umum kinerja PD. Pasar Pakuan Jaya dalam pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor 79 berkinerja rendah (skor 3,0) dan tingkat kepentingan pedagang yang tinggi (skor 3,8). Kinerja PD. Pasar Pakuan Jaya yang dinilai tinggi oleh pedagang adalah 1) kualitas barang dan 2) lokasi pasar yang strategis. Hal ini berkaitan dengan lokasi Kota Bogor yang sangat strategis yang merupakan daerah ramai sebagai kota jasa. Selanjutnya persepsi pedagang yang dinilai lebih rendah yaitu menyangkut atribut: 1) keramahan petugas pasar, 2) harga kios dan los, 3) pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar, 4) kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha, 5) besarnya retribusi, 6) jam operasional, 7) keterbukaan dalam menerima kritik pedagang, 8) kemudahan mendapat izin berdagang, 9) kejujuran petugas penarik retribusi, 10) kelengkapan jenis barang, 11) sikap pegawai unit pasar, 12) musyawarah dengan pedagang, 13) sosialisasi tata tertib pasar, dan 14) kesungguhan petugas dalam mengelola pasar. Sementara atribut yang memiliki kinerja paling rendah yaitu 1) kebersihan kantor unit pasar, 2) kondisi bangunan/gedung pasar, 3) kondisi kebersihan pasar, 4) kondisi fasilitas umum, 5) kondisi tempat usaha, 6) ketersediaan bak penampungan sampah, 7) penataan PKL, 8) kepedulian menampung keluhan pedagang, 9) kecepatan respon atas keluhan pedagang, 10) kejelasan informasi kepada pedagang, 11) keamanan dan ketertiban pasar, 12) pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar, 13) pembinaan oleh pengelola pasar kepada pedagang, dan 14) pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum. Tabel 24. Persepsi Seluruh Pedagang Pasar terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Atribut Pengelolaan Pasar Lokasi pasar Kebersihan kantor unit pasar Kondisi bangunan/ gedung pasar Kondisi kebersihan pasar Kondisi fasilitas umum (MCK, Mushola, penerangan) Kondisi tempat usaha/berdagang (kios) Ketersediaan bak penampungan sampah Keramahan petugas pasar Tingkat Tingkat Kinerja Kepentingan 3,6 4,1 2,6 3,6 2,4 3,8 2,2 3,7 2,6 3,8 2,8 2,3 3,4 3,7 3,7 3,8 80 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Harga kios dan los Pelayanan yang diberikan pegawai unit pasar Penataan PKL Kemudahan dalam pengurusan sewa tempat usaha Besarnya retribusi Jam operasional Kepedulian menampung keluhan pedagang Kecepatan respon atas keluhan pedagang Keterbukaan dalam menerima kritik pedagang Kejelasan informasi kepada pedagang Keamanan dan ketertiban pasar Kemudahan mendapat izin berdagang Kejujuran petugas penarik retribusi Kualitas barang Kelengkapan jenis barang Pemberian sanksi terhadap pelanggaran tata tertib pasar Sikap pegawai unit pasar Pengelola pasar memberikan pembinaan/penyuluhan secara baik dan teratur Pengelola pasar memberikan rasa keadilan dan kepastian hokum Musyawarah dengan pedagang Sosialisasi tata tertib pasar Kesungguhan petugas dalam mengelola pasar Skor rata-rata 3,1 3,2 2,5 3,0 3,7 3,8 3,7 3,6 3,1 3,3 2,7 2,7 3,0 2,9 2,9 3,3 3,2 3,7 3,4 2,9 3,8 3,7 3,9 4,0 4,0 3,9 3,9 3,8 4,0 4,0 4,0 3,7 3,0 2,9 3,9 3,8 2,9 3,8 3,0 3,3 3,1 3,0 3,8 3,8 4,1 3,8 Terhadap tingkat kepentingan, pedagang menyatakan bahwa seluruh atribut pengelolaan pasar penting bagi mereka dan seharusnya dilakukan dengan baik oleh PD Pasar Pakuan Jaya. Pedagang memiliki kepentingan yang paling tinggi terhadap atribut : 1) lokasi pasar, dan 2) kesungguhan petugas dalam mengelola pasar. Sementara untuk ke dua puluh delapan atribut lainnya Kepentingan pedagang juga tinggi karena skornya diatas 3,5 semua. Pada Gambar 7 dapat dilihat hasil analisis terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat Kepentingan untuk Gabungan Pasar Tradisional di Kota Bogor, di dapat nilai Tingkat Kinerja rata-rata sebesar 3,0 dan Tingkat Kepentingan rata-rata sebesar 3,8. Oleh karena itu berada pada Kuadran B. Posisi ini menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan oleh pasar, wajib dipertahankan. Pada kuadran ini dianggap sangat penting dan memuaskan. 81 Gambar 7. Hasil Diagram Kartesius untuk Gabungan Pasar di Kota Bogor 6.3 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar 6.3.1 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Bogor Dari Tabel 25 dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi Assurance merupakan dimensi pengelolaan yang paling dianggap penting oleh pedagang dibanding dengan dimensi-dimensi kualitas pengelolaan lainnya. Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata tingkat kepentingan tertinggi (3,2) yang dimiliki oleh dimensi assurance, sedangkan dimensi responsiveness memiliki nilai ratarata tingkat kepentingan terendah yaitu sebesar (2,7), hal ini menunjukkan bahwa dimensi pengelolaan yang bersifat responsiveness merupakan dimensi yang dianggap tidak penting oleh pedagang. Tabel 25. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Bogor No 1 2 3 4 5 Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,8 3,0 2,7 3,2 3,1 2,9 Tingkat Kepentingan 3,6 3,7 3,9 3,8 3,8 3,8 Selanjutnya pada tingkat kepentingan, dimensi responsiveness merupakan dimensi atribut pengelolaan pasar yang paling dianggap penting oleh pedagang 82 dibandingkan dengan dimensi kepentingan lain. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata tingkat kepentingan tertinggi (3,9), sedanagkan dimensi tangible adalah dimensi dengan tingkat kepentingan terendah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata tingkat kepentingan Kepentingan (3,6). Artinya dimensi tangible tingkat kepentingannya terendah dan dianggap rendah kepentingannya oleh pedagang. 6.3.2 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Sukasari Pada Tabel 26 dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi assurance merupakan dimensi yang paling dianggap penting jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini di tunjukan dengan nilai rata-rata tingkat kepentingan yang tertinggi (3,2). Sedangkan dimensi yang memiliki tingkat kepentingan terendah yaitu dimensi tanggible dengan nilai rata-rata (2,6). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi tangible merupakan dimensi yang dianggap tidak penting oleh pedagang. Selanjutnya pada tingkat kepentingan dimensi assurance merupakan dimensi yang memiliki nilai rata-rata tertinggi (4,0). Ini menunjukkan bahwa dimensi assurance merupakan dimensi yang paling penting jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Sementara dimensi yang memiliki nilai rata-rata paling rendah yaitu dimensi reliability dengan nilai rata-rata (3,7). Namun di Pasar Sukasari semua dimensi kepentingan memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Tabel 26. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Sukasari No 1 2 3 4 5 Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,6 3,0 2,8 3,2 2,9 2,9 Tingkat Kepentingan 3,8 3,7 3,9 4,0 3,8 3,8 6.3.3 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Kebon Kembang 83 Selanjutnya pada Tabel 27 dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi assurance merupakan dimensi pengelolaan atribut yang memiliki nilai rata-rata tertinggi (3,4). Hal ini menunjukkan dimensi assurance merupakan dimensi yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan dimensi pengelolaan atribut lainnya. Sementara dimensi yang memiliki tingkat kepentingan terendah yaitu dimensi tangible dengan nilai rata-rata (2,6). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi tangible dianggap tidak penting oleh pedagang. Selanjutnya pada tingkat Kepentingan, dimensi responsiveness merupakan dimensi yang memiliki tingkat kepentingan pengelolaan atribut yang tertinggi dengan nilai rata-rata (4,2). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi responsiveness adalah dianggap peting oleh pedagang jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Tabel 27. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Kebon Kembang No 1 2 3 4 5 Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,6 3,1 3,0 3,4 3,1 3,1 Tingkat Kepentingan 3,8 3,8 4,2 4,0 4,0 3,9 6.3.4 Tingkat Kepentingan Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar di Pasar Tradisional Kota Bogor Pada Tabel 28, dapat dilihat bahwa pada tingkat kinerja dimensi assurance memiliki nilai rata-rata kepentingan atribut tertinggi dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi assurance dianggap penting oleh pedagang pasar tradisional di Kota Bogor. Sementara dimensi yang memiliki nilai kepentingan terendah yaitu dimensi tangible dengan nilai rata-rata (2,6). Hal ini menunjukkan bahwa dimensi tangible dianggap tidak penting oleh pedagang pasar tradisional Kota Bogor. 84 Selanjutnya pada tingkat Kepentingan, dimensi responsiveness memiliki nilai rata-rata tertinggi jika dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepentinganya tertinggi. Namun secara umum di pasar tradisional di Kota Bogor, semua dimensi Kepentingan memiliki tingkat kepentingan pengelolaan antribut yang tinggi. Tabel 28. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Semua Pasar No Dimensi Atributte Pengelolaan Pasar 1 2 3 4 5 Tangible (kenyataan/bentuk fisik) Reliability (keandalan/kepercayaan) Responsiveness (ketanggapan) Assurance (Jaminan/kepastian) Emphaty (empati) Skor Rata-rata Tingkat Kinerja 2,6 3,1 2,8 3,2 3,0 3,0 Tingkat Kepentingan 3,7 3,7 4,0 3,9 3,9 3,8 Berdasarkan pada hasil penelitian ini secara umum dapat dilihat bahwa persepsi pedagang terhadap kinerja pasar tradisional di Kota Bogor adalah rendah, sementara Kepentingan pedagang terhadap pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. Begitu juga dengan tingkat kepentingan pedagang pasar tradisional di Kota Bogor terhadap dimensi kinerja adalah rendah, sedangkan tingkat kepentingan pedagang terhadap dimensi Kepentingan atribut pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. 6.4 Implikasi Pengembangan Pasar Tradisional terhadap Pembangunan Kota Bogor Pasar-pasar tradisional di Kota Bogor terletak di daerah yang strategis, seperti Pasar Bogor yang berada di depan pintu masuk Kebun Raya Bogor, Pasar Jambu Dua yang berada di daerah Warung Jambu dimana di daerah ini kini telah berdiri Mal Jambu Dua, Pasar Merdeka yang berada di daerah yang sangat strategis karena berhubungan dengan Terminal Merdeka dan pasar lainnya. Di daerah-daerah tersebut kini menjadi daerah yang tumbuh dengan relative cepat, ditandai dengan banyaknya pasar modern yang tumbuh di daerah tersebut dan/atau di sekitar wilayah tersebut. 85 Pembangunan pasar modern di sekitar pasar tradisional tersebut sedikit demi sedikit mempengaruhi keberadaan dari pasar tradisional. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya perkembangan penerimaan pendapatan operasional dari pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Pakuan Jaya pada tahun 2006 hingga 2010 mengalami penurunan, walaupun secara nominal mengalami peningkatan. Peningkatan penerimaan tertinggi pada tahun 2006 ke tahun 2007 rata-rata sebesar 16,8 persen, selanjutnya menurun menjadi 6,6 persen, 4,8 persen dan 0,7 persen. Penurunan terbesar terjadi di Pasar Jambu Dua, sebesar 10,3 persen. Penurunan penerimaan pendapatan operasional ini salah satunya dikarenakan dengan menurunnya penerimaan dari para pedagang, sehingga mempengaruhi pembayaran mereka terhadap penerimaan pendapatan operasional PD. Pasar Pakuan Jaya. Hal ini boleh jadi terjadi karena berkurangnya pedagang di pasar-pasar yang dikelola PD. Pasar. Oleh karena itu pada tahun 2009, Pemerintah Kota Bogor mendirikan PD Pasar Pakuan Jaya. Tujuan didirikan PD Pasar Pakuan Jaya ini adalah untuk (1) meningkatkan pelayanan kebutuhan sarana dan prasarana pasar yang nyaman, bersih dan teratur, (2) mendorong perekonomian daerah, (3) menunjang pembangunan daerah, (4) Meningkatkan profesionalitas dan efisiensi pengelolaan pasar, dan (5) meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Pasar tradisional, banyak memiliki kekurangan, seperti lokasinya yang strategis terkadang dapat mengganggu lalu lintas di sekitarnya, kumuh, kurang tertata, dan lain-lain. Berdasarkan hasil analisis terhadap responden, maka dapat dilihat bahwa dimensi yang paling penting menurut responden adalah dimensi assurance, yang mencakup keamanan dan ketertiban pasar, kemudahan mendapat izin berdagang, kejujuran petugas penarik retribusi, kualitas barang dan kelengkapan jenis barang. Dimensi ini jika dibagi berdasarkan atas pedagang, maka penekanan dari pedagang adalah pada aspek keamanan dan ketertiban pasar, kemudahan mendapat izin berdagang, kejujuran petugas menarik retribusi.dan kualitas dari barang yang dijual dan kelengkapan jenis barang. Jika dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, maka pemerintah harus lebih menekankan pada aspek-aspek ini. Mengingat 86 sekarang persaingan antara pasar modern dan pasar tradisional sangat ketat, dimana para pembeli lebih senang berbelanja di pasar modern dikarenkan beberapa hal seperti nyaman, bersih dan terjamin. Pemerintah harus melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi terhadap pasar tradisional, aparat yang terkait harus lebih jeli dan tegas dalam melaksanakan tugasnya. Teliti dalam artian musti melihat juga apa yang dijual oleh pedagang, apakah barang yang sudh dijual di pasar tradisional sudah lengkap dan sesuai dengan yang diinginkan oleh para pembeli. Selain itu juga harus sering melakukan pengawasan terhadap produk yang dijual agar kualitas barangnya terjamin. Pembenahan pasar tradisional ini tidak semata-mata untuk melindungi pasar tradisional dengan masyarakat awamnya. Akan tetapi juga dapat menarik minat wisatawan baik lokal maupun asing (Sutrisna dan Andi, 2010), seperti Pasar Klewer di Surakarta, Pasar Pagi Manggadua dan Pasar Baru di Jakarta, hingga Pasar ‘Central Market’ di Kuala Lumpur, Malaysia. Hal tersebut merupakan langkah yang cukup bijak mengingat penataan tidak hanya bertujuan untuk menjaga kelangsungan pasar tetapi juga untuk meningkatkan pemasukan perekonomian. Sehingga kebijakan tersebut lebih menguntungkan banyak pihak. Jika dihubungkan dengan Kota Bogor, pengembangan pasar yang dihubungkan dengan wisata di Kota Bogor ini sangat mendesak dan penting, mengingat di Kota Bogor belum ada pasar yang mengkhususkan untuk wisata dan belanja khusus untuk oleh-oleh Bogor. Jika ini dapat direalisasikan maka dampaknya sangat luas, tidak saja meningkatkan PAD Kota Bogor, tetapi secara luas dapat meningkatkan perekonomian dan pendapatan masyarakat Bogor, baik masyarakat Kota maupun Kabupaten Bogor, membuka lapangan kerja, meningkatkan kegiatan sector lainnya, mengingat di kelebihan dari pasar tradisional adalah keragaman barang yang lengkap. Di lain pihak, pembenahan pasar tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena menyangkut tingkat pendidikan masyarakat lapis bawah yang cenderung rendah. Selain itu pola kebiasaan masyarakat juga turut menjadi penghambat penataan pasar. Secara normatif solusi yang tepat untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut adalah dengan menyinergikan pasar tradisional 87 dan tempat perbelanjaan modern sebagai satu kesatuan fungsional (Sutrisna dan Andi, 2010). Kebijakan-kebijakan pemerintah haruslah bersifat memberikan solusi kepada pasar-pasar tradisional. Karena pasar tradisional merupakan merupakan salah satu pilar ekonomi yang cukup potensial untuk meningkatkan perekonomian. Pasar tersebut mampu memberikan kehidupan bagi perekonomian terutama masyarakat bawah. Pemerintah Kota Bogor juga diuntungkan dengan dijadikannya pasar-pasar tradisional menjadi kawasan tujuan wisata. Oleh karena itu diperlukan perhatian, bantuan dan kerjasama Pemerintah Kota Bogor dalam pengembangan pasar tradisional ini, jika tidak, maka peranan pasar tradisional akan semakin menurun karena adanya pasar modern yang semakin berkembang, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya perekonomian ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang digerakkan oleh para penjual dan pembeli di pasar tradisional di Kota Bogor. 88 BAB VII STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR 7.1 Analisis Lingkungan Internal Analisis lingkungan internal ditujukan untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang dapat menjadi kekuatan dan kelemahan dalam kaitannya dengan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Faktor-faktor strategis internal tersebut adalah : 7.1.1 Kekuatan Faktor-faktor yang dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor yaitu : 1. Pasar tradisional sudah berdiri lama Kekuatan pertama dari Pasar tradisional di Kota Bogor yaitu sudah berdiri sejak tahun 1955. Pada awal berdirinya, pasar tradisional ini hanya berupa pasar yang terdiri dari lapak-lapak yang di pasar yang dipakai berjualan oleh pedagang. Setelah perkembangannya, barulah pasar tradisional di bentuk dengan menggunakan kios dan los dan dikelola oleh dinas perindustrian dan perdagangan Kota Bogor. Baru pada tahun 2009, untuk meningkatkan kualitas pasar tradisional dibentuklah perda dan perwali yang menyatakan bahwa pasar tradisional dikelola oleh PD. Pasar Pakuan Jaya. 2. Lokasinya strategis berada di pusat kota Lokasi Kota Bogor yang strategis berada di pusat kota menjadi faktor kekuatan untuk peningkatan posisi tawar pasar tradisional. Terdapat tiga alasan utama yang menjadikan pasar tradisional di Kota Bogor menjadi ramai pembeli, yaitu pasar tradisional di Kota Bogor terletak antara berdekatan dengan Kebun Raya Bogor sebagai tempat wisata, terminal barangsiang, dan stasiun kereta api. 89 3. Menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok Seperti halnya pasar tradisional di kota-kota lain, pasar tradisional di Kota Bogor merupakan tempat yang utama dikunjungi oleh masyarakat dikarenakan pasar dapat menyediakan hampir seluruh kebutuhan pokok. Mulai dari beras, sayuran, ikan, minyak goreng, dll terdapat di pasar tradisional. Hampir semua produk yang dijual di pasar tradisional merupakan hasil bumi sendiri dengan pemanfaatan potensi lokal petani yang dijual ke pasar. 4. Harga barang terjangkau oleh pelanggan Harga barang di pasar tradisional jelas lebih murah dibandingkan dengan harga barang di pasar modern. Perbedaan harga ini dapat mencapai 20-30%. Hal ini disebabkan di pasar modern, harga barang menjadi lebih mahal dikarenakan pembiayaan pajak barang dan bangunan dibebankan kepada konsumen oleh pedagang. Namun di pasar tradisional tidak terdapat pajak yang dibebankan sehingga harga barang lebih terjangkau/murah. 7.1.2 Kelemahan Faktor-faktor yang merupakan kelemahan yang terdapat di pasar tradisional Kota Bogor antara lain : 1. Manajemen pengelolaan masih kurang profesional Salah satu penyebab pasar tradisional tidak mengalami kemajuan yaitu karena manajemen pengelolaan tidak profesional. Sebelum dikelola oleh PD Pasar Pakuan Jaya (swasta, profesional), pasar tradisional dikelola oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Kota Bogor (PNS). Terlihat perbedaan cara pengelolaan yang dilakukan oleh pihak swasta dan PNS. Ketika pasar dikelola oleh PNS, maka budaya santai, kurang semangat dan tingkat kreativitas mengelola pasar sedikit sekali. Oleh karenanya kondisi ini diperbaiki dengan perubahan status pengelolaan oleh PD Pakuan Jaya. 2. Minimnya sarana dan prasara pasar Faktor sarana dan prasarana menjadi sangat penting dalam pengelolaan pasar tradisional. Pun halnya faktor sarana dan prasarana ini berkaitan dengan 90 peningkatan posisi tawar pasar tradisional dengan pasar modern. Kondisi sarana dan prasara pasar tradisional di Kota Bogor sudah rusak, kumuh, dan perlu renovasi. Beberapa sarana dan prasarana pasar yang perlu di renovasi yaitu kios dan los, sarana kebersihan, sarana drainase, sarana parkir, dan lainnya. 3. Kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan Faktor yang menjadi kelemahan bagi pasar tradisional di Kota Bogor yaitu kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan. Hampir diseluruh lokasi pasar tradisional masih terdapat premanisme, sehingga pelanggan malas belanja di pasar. Selain itu juga kondisi kumuh dan kotor, kebersihan yang kurang terawat menjadikan pasar tradisional sepi pengunjung. Oleh karenanya diperlukan peningkatan dasi sisi keamanan, ketertiban dan kebersihan di pasar tradisional. 4. Pedagang belum dapat dipercaya Di pasar tradisional masih terdapat pedagang yang sulit dipercaya kejujurannya. Masih terdapat kecurangan dari beberapa hal. Seperti mengurangi berat timbangan, tidak jujur mengenai kualitas barang dan mencampur jenis barang dengan kualitas yang berbeda. Hal ini yang menyebabkan pelanggan enggan belanja di pasar tradisional. Praktek seperti ini menjadi kelemahan yang ada dan perlu diperbaiki oleh pengelola pasar. 5. Masih terdapat kios dan los yang belum optimal Optimalisasi kios dan los di pasar tradisional Kota Bogor perlu untuk di tingkatkan. Dari sekitar 6.042 jumlah kios di seluruh pasar tradisional Kota Bogor, kios yang buka hanya 1.262 kios dan yang masih tutup 1.852 kios. Begitu juga dengan jumlah los, dari 1.043 julah los, yang buka sebanyak 348 los dan 311 masih tutup. Tutupnya kios dan los ini salah satunya disebabkan oleh harga yang tidak terjangkau oleh pedagang dan kondisi bangunan yang tidak layak sehingga pedagang enggan untuk berjualan. Diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas kios dan los, sehingga jika kios dan los akan menjadi peluang pendapatan bagi PD. Pakuan Jaya dan meningkatkan posisi tawar tradisional di Kota Bogor. 91 7.2 Analisis Lingkungan Eksternal Faktor-faktor strategis eksternal terdiri dari faktor-faktor yang dapat dijadikan peluang dan ancaman dalam kaitannya dengan peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain : 7.2.1. Peluang Faktor peluang merupakan bagian dari faktor-faktor strategis eksternal yang dapat dimanfaatkan dalam upaya peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Faktor-faktor tersebut antara lain : 1. Pendapatan masyarakat Kota Bogor meningkat Faktor peluang pendapatan masyarakat Kota Bogor dapat dikatakan meningkat dapat dilihat dari kemampuan daya beli masyarakat meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 daya beli masyarakat meningkat 0,96 point dibandingkan dengan tahun 2009. Dari 66,15 menjadi 67,11. Ini berarti terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Selain itu terdapat juga peningkatan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Kota Bogor sebesar 17,98%. Hal ini dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk tetap berbelanja di pasar tradisional dengan kondisi harga lebih murah, sehingga masih ada anggaran masyarakat untuk kebutuhan lainnya. 2. Kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat Faktor peluang lainnya yaitu sekarang ini masyarakat mulai muncul kembali kesadaran untuk kembali berbelanja di pasar tradisional. Beberapa yang menjadi alasan yaitu dapat meningkatkan ekonomi lokal, menyerap hasil bumi sendiri, menghargai jerih payah para petani dan kondisi barang yang masih segar. Untuk meningkatkan budaya kembali ke pasar tradisional maka perlu dicotohkan oleh para pejabat di Kota Bogor kepada masyarakat, sehingga masyarakat tertarik untuk kembali ke pasar tradisional. 92 3. Banyak potensi permintaan barang ke pasar tradisional Akhir-akhir ini banyak permintaan kembali barang ke pasar tradisional. Hal ini disebabkan karena barang yang berasal dari pasar tradisional memilki kualitas bagus, masih segar, harga lebih murah dan langsung berasal dari produksi dalam negeri. Dengan beberapa alasan itu, menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern. 7.2.2 Ancaman Beberapa faktor yang menjadi ancaman yang harus diatasi dalam kaintannya dengan peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor antara lain : 1. Banyak beroperasinya pasar modern Pasar modern banyak masyarakat yang beranggapan dapat memudahkan pelanggan untuk memenuhi kebutuhannya. Namun di sisi lain pasar modern dapat merusak keberadaan pasar tradisional. Di Kota Bogor terdapat banyak pasar modern yang keberadaannya cukup dekat dengan pasar tradisional, antara lain : Botani Square, Bogor Trade Mall, Mall Jambu Dua, Jogja dan Mall Ekalokasari Plaza. Banyaknya pasar modern ini dapat menjadi ancaman bagi keberadaan pasar tradisional seperti dapat mematikan pedagang kecil dan mematikan ekonomi rakyat menengah ke bawah. 2. Tingkat kriminalitas masih tinggi Di Kota Bogor masih terdapat banyak tindakan kriminalitas, terutama pada malam hari. Pencurian, peredaran narkoba, minuman keras, klub malam dan pengangguran merupakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kriminalitas di pasar. Kriminalitas ini disebabkan karena terjadi kesenjangan ekonomi yang masih terjadi di Kota Bogor. Tindakan melakukan kriminal dilakukan dengan sangat terpaksa karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti mencuri, mencopet, menodong, dan bahkan meminta uang dengan paksa kepada pedagang yang ada dipasar yang dilakukan oleh oknum preman. 93 3. Banyaknya PKL yang beroperasi Di Kota Bogor terdapat lebih dari 1200 PKL di sekitar pasar tradisional, ini menjadi perhatian pemerintah dan perlu dilakukan pengelolaan dengan baik dengan cara : pemeliharaan zona-zona bebas PKL yang dilakukan oleh patroli, penertiban PKL skala kecil dan penjagaan lokasi bekas penertiban, ploting dan patroli pada wilayah anjal dan gepeng yang terdapat disekitar pasar. Keberadaan PKL dapat merusak citra pasar tradisional salah satunya dapat menambah kemacetan di sekitar pasar. 4. Pola hidup masyarakat yang hedonik sehingga mereka lebih menyukai pasar modern yang lebih nyaman daripada pasar tradisional Seiring dengan perkembangan zaman, meningkatnya alat teknologi dan mudahnya informasi, semakin membuat masyarakat malas untuk berbelanja ke pasar tradisional. Mereka lebih senang dengan belanja instan sehingga banyak diantara masyarakat lebih memilih konsep belanja delivery dengan diantar langsung ke rumah oleh pedagang. Konsep ini sudah berkembang di Kota Bogor, sehingga kehidupan masyarakat sudah terlihat hedonik. Selain itu juga masyarakat lebih memilih berbelanja di Mall, Giant, dan pasar modern lainnya. Selain lebih mudah, aman, juga untuk membuat citra mereka semakin meningkat. 7.3 Evaluasi Faktor Internal (IFE) Evaluasi faktor internal (Internal Faktor Evaluation) merupakan hasil dari identifikasi faktor-faktor strategi internal berupa kekuatan dan kelemahan yang berpengaruh terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Hasil evaluasi faktor internal berdasarkan jawaban dari responden dan diperoleh nilai dan bobot serta rating di masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan. Matrik evaluasi faktor internal secara lengkap disajikan pada Tabel 28. Berdasarkan pada Tabel 29, dapat dilihat bahwa kekuatan yang mempunyai pengaruh atau tingkat kepentingan yang relatif tinggi dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor yaitu 1) menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok, dan 2) lokasinya strategis berada di pusat kota. Sementara faktor kelemahan yang paling mempengaruhi adalah masih terdapatnya 94 kios dan los yang kosong yang mendapat rating 4. Sementara yang lainnya yaitu 1) pedagang kurang dapat dipercaya, 2) kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan, dan 3) manajemen pengelolaan pasar masih kurang profesional. Tabel 29. Matrik IFE dari Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor No Faktor Strategis Internal Bobot Rating Skor Kekuatan 1 Pasar tradisional sudah berdiri lama 0,120 4 0,481 2 Lokasi strategis berada di pusat kota 0,125 4 0,499 3 Menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok Harga barang terjangkau oleh pelanggan/murah Kelemahan Manajemen pengelolaan masih kurang profesional Sarana dan prasarana pasar masih minim Kurangnya tingkat keamanan, ketertiban dan kebersihan Pedagang kurang/belum dapat dipercaya Masih terdapat kios dan los yang belum optimal Jumlah 4 1 2 3 4 5 0,133 0,111 0,104 0,081 0,111 0,101 0,115 1.000 4 4 2 2 2 3 4 0,531 0,442 0,209 0,161 0,221 0,303 0,460 3,308 Hasil peringkat dari evaluasi faktor internal menunjukkan bahwa keseluruhan faktor kekuatan mendapatkan penilaian peringkat tertinggi 4, artinya semua faktor tersebut pengaruhnya sangat kuat terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Penilaian peringkat pada faktor internal yang menjadi kelemahan adalah faktor pedagang yang kurang dipercaya dengan rating tertinggi 3, dan faktor yang lain memiliki rating 2. Artinya semua faktor tersebut memiliki tingkat pengaruh lemah dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 95 Skor tertimbang yang dihasilkan dari matrik ini adalah 3.308 yang menunjukkan bahwa secara internal faktor-faktor tersebut memiliki respon yang tinggi terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 7.4 Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) Evaluasi faktor eksternal (Eksternal Faktor Evaluation) merupakan hasil dari identifikasi faktor-faktor strategi eksternal berupa peluang dan ancaman yang berpengaruh terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Tabel 30. Matrik EFE Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor No Faktor Strategis Eksternal Bobot Rating Skor 0,125 3 0,376 0,130 3 0,390 0,141 4 0,566 0,123 2 0,246 0,168 3 0,503 0,148 2 0,297 0,164 2 0,329 Peluang 1 2 3 1 2 3 4 Pendapatan masyarakat meningkat Kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat Banyak potensi permintaan barang ke pasar tradisional Ancaman Banyaknya beroperasinya pasar modern Tingkat kriminalitas masih tinggi (premanisme) Banyaknya PKL yang beroperasi Pola hidup masyarakat yang hedonik sehingga mereka lebih menyukai pasar modern yang lebih nyaman daripada pasar tradisional Jumlah 1.000 2,706 Hasil evaluasi faktor eksternal berdasarkan jawaban dari responden dan diperoleh nilai dan bobot serta rating di masing-masing faktor peluang dan ancaman. Dari hasil analisis EFE terlihat bahwa faktor peluang yang mempunyai pengaruh atau tingkat kepentingan yang relatif tinggi dalam peningkatan posisi 96 tawar pasar tradisional di Kota Bogor adalah 1) kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat dan 2) banyaknya potensi permintaan barang ke pasar tradisional. Sementara faktor ancaman yang memiliki pengaruh tinggi dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor adalah 1) tingkat kriminalitas yang masih banyak di pasar tradisional. Secara umum terlihat pada Tabel 30. Hasil peringkat dari evaluasi faktor eksternal diatas menunjukkan bahwa faktor peluang banyak potensi permintaan barang ke pasar tradisional mendapat rating 4. Hal ini menunjukkan bahwa faktor peluang tersebut pengaruhnya sangat kuat terhadap peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Penilaian peringkat pada faktor eksternal yang menjadi ancaman adalah tingkat kriminalitas masih tinggi dengan rating 3. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kriminalitas (premanisme) merupakan faktor ancaman yang kuat pengaruhnya dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Skor tertimbang yang dihasilkan dari matrik EFE ini adalah 2.706 yang berarti bahwa secara eksternal faktor peluang dan ancaman dalam peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor direspon dengan sedang. 7.5 Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional Tahap selanjutnya dalam perumusan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor adalah dengan memindahkan matrik IFE dan EFE ke matrik SWOT. Tujuan matrik ini adalah untuk memperoleh alternatif strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Dari hasil analisis SWOT yang dilakukan didapat sembilan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor yang terdiri dari tiga strategi S-O, tiga strategi S-T dan tiga strategi W-O. Sebagai berikut : 1. Strategi S-O Strategi S-O (strategi agresif) merupakan strategi yang dilakukan dengan menggunkan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh tiga strategi yaitu : 1) peningkatan sarana 97 dan prasarana pasar, 2) penataan tempat berdagang, dan 3) peningkatan kualitas pelayanan di pasar. Tabel 31. Matrik SWOT Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor Faktor Internal Faktor Eksternal Kekuatan (Strengths) S1 : Pasar sudah berdiri lama S2 : Lokasi strategis di pusat kota S3: Menyediakan sebagian besar kebutuhan pokok S4 : Harga barang terjangkau/lebih murah Kelemahan (Weaknesses) W1 : Manajemen pengelolaan kurang profesional W2 : sarana dan prasarana minim W3 : Kurangnya tingkat keamanan, kebersihan dan ketertiban W4 : Pedagang kurang dipercaya W5 : Masih terdapat kios/los yg belum terisi optimal (S – O) (W – O) Peluang (Opportunities) O1 : Pendapatan masyarakat meningkat O2 : Kesadaran kembali ke pasar tradisional meningkat O3 : Banyak potensi permintaan barang ke pasar 1. 2. 3. Ancaman (Threats) T1 : Banyak beroperasinya pasar modern T2 : Kriminalitas masih tinggi T3 : Banyak PKL yang beroperasi T4 : Pola hidup masyarakat yang hedonik sehingga mereka lebih menyukai pasar modern yang lebih nyaman daripada pasar tradisional Peningkatan sarana dan prasarana pasar Penataan tempat berdagang Peningkatan kualitas pelayanan di pasar (S – T) 1. 2. 3. Peningkatan pencitraan pasar tradisional Penerapan peraturan dan tata tertib pasar Pengaturan PKL di pasar 1. 2. 3. Peningkatan kualitas SDM Pengelola Pembinaan pengelola dan pedagang pasar Renovasi bangunan pasar yang rusak (W – T) - 2. Strategi S-T Staregi S-T (strategi diversifikasi), dimaksudkan dengan kekuatan yang dimiliki untuk dapat mengatasi ancaman yang ada. Dari hasil analisis yang dilakukan didapat tiga strategi S-T, yaitu: 1) peningkatan pencitraan pasar tradisional, 2) penerapan peraturan dan tata tertib pasar dan 3) pengaturan PKL di sekitar pasar. 98 3. Strategi W-O Strategi W-O (strategi orientasi putar balik) dimaksudkan dengan peluang yang dimiliki dapat mengatasi kelemahan yang ada. Dari hasil analisi SWOT di dapat tiga alternatif strategi W-O, yaitu: 1) peningkatan kualitas SDM pengelola, 2) pembinaan pengelola dan pedagang pasar dan 3) renovasi bangunan pasar yang telah rusak. Sembilan strategi yang dihasilkan dari analisi SWOT ini merupakan strategi alternatif yang dapat dilakukan oleh pemerintah atau pengelola pasar tradisional berdasarkan prioritas dan dapat dijalankan secara bersamaan. Strategi yang telah dihasilkan dari analisis SWOT terhadap responden ini dapat di ujicobakan dan diusulkan kepada pemerintah sebagai masukan hasil penelitian. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 31. 7.6 Penentuan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor Analisis SWOT telah menghasilkan sembilan rumusan strategi yang harus ditentukan strategi mana yang menjadi strategi prioritas peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Penentuan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional merupakan tahap selanjutnya dari perumusan strategi dengan menggunakan analisis Quantitative Strategic Palnning Matrix (QSPM). Analisis ini ditujukan untuk menentukan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Analisis QSPM dilakukan dengan cara memberikan nilai kemenarikan relatif (Attractive Score = AS) pada masing-masing faktor internal maupun eksternal. Setelah dilakukan perhitungan nilai Total Attractive Score (TAS), maka didapat prioritas strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor seperti pada Tabel 32. Dari Tabel 32 diperoleh prioritas kebijakan dan strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Yaitu 1) peningkatan kualitas pelayanan pasar, 2) peningkatan sarana dan prasarana pasar, 3) pengaturan PKL di pasar, 4) renovasi bangunan pasar, 5) penerapan peraturan dan tata tertib pasar, 6) pembinaan pengelola dan pedagang pasar, 7) peningkatan kualitas SDM 99 pengelola, 8) penataan tempat berdagang dan 9) meningkatkan pencitraan pasar tradisional. Tabel 32. Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor No Strategi Skor Ranking 1 Peningkatan kualitas SDM pengelola 7.211 7 2 Pembinaan pengelola dan pedagang pasar 7.398 6 3 Peningkatan sarana dan prasarana pasar 7.654 2 4 Meningkatkan pencitraan pasar tardisional 6.884 9 5 Penerapan peraturan dan tata tertib pasar 7.479 5 6 Penataan tempat berdagang 7.039 8 7 Renovasi bangunan pasar 7.582 4 8 Peningkatan kualitas pelayanan pasar 7.739 1 9 Pengaturan PKL di Pasar 7.632 3 Dari hasil analisis QSPM, strategi peningkatan kualitas pelayanan pasar memiliki nilai kemenarikan (attractive score) yang tertinggi yaitu 7.739. keseluruhan strategi yang dihasilkan dari analisis QSPM dapat diimplementasikan secara tidak berurutan maupun pada waktu yang berbeda karena semua strategi tersebut mempunyai kepentingan yang sama yaitu dalam rangka peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. Strategi-strategi tersebut merupakan strategi alternatif yang dapat digunakan oleh pengelola pasar PD Pasar Pakuan Jaya atau pemerintah Kota Bogor dalam rangka melengkapi strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional yang masih dalam benak pengelola. Strategi tersebut merupakan saran yang dapat di aplikasikan dalam bentuk program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor. 100 7.7 Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor Perancangan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor merupakan bentuk implementasi dari strategi yang diperoleh dari hasil analisis internal dan eksternal dan analisis QSPM serta hasil analisis dari persepsi responden. Strategi yang diprioritaskan berdasarkan hasil analisis sebelumnya adalah Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Pasar. Beberapa program yang dapat diturunkan dari strategi prioritas ini adalah: 1. Melakukan zoning untuk ketertiban dan kenyaman pelanggan Program ini bertujuan untuk membuat pasar di Kota Bogor menjadi lebih tertib sehingga menimbulkan rasa nyaman bagi konsumen yang datang ke pasar. Program ini dilakukan dengan cara membuat pengelompokan terhadap jenis komoditas yang ada di pasar. Pelaksana dari program ini adalah PD. Pasar Pakuan Jaya dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor terhadap pasar-pasar yang berada dibawah pengelolaannya. Usulan pembiayaan berasal dari APBD Kota Bogor. 2. Menjadikan pasar di Kota Bogor sebagai pusat grosir hasil bumi dan barang kebutuhan rumahtangga lainnya. Program ini bertujuan untuk menciptakan pasar di Kota Bogor menjadi pusat pasar yang lengkap dan murah dengan kualitas yang terjammin. Pasar grosir di Kota Bogor sebenarnya sudah ada dan berjalan, sehingga program ini dilakukan untuk pengembangan dari pasar yang ada. Pelaksana dari program ini adalah PD. Pasar Pakuan Jaya dan Dinas Agribisnis dan Pertanian Kota Bogor terhadap pasar-pasar yang berada dibawah pengelolaannya. Usulan pembiayaan berasal dari APBD Kota Bogor. 101 3. Melakukan penataan lapak-lapak di pasar Program ini difokuskan untuk penataan dan penertiban terhadap lapak-lapak di pasar yang dimiliki oleh pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima ini merupakan hal yang lumrah di setiap pasar, tetapi keberadaannya terkadang dapat mengganggu kenyamanan pembeli dan kinerja penjualan pedagang yang memiliki kios di pasar. Oleh karena itu musti dilakukan penataan, karena pedagang kaki lima ini merupakan aset, sehingga tidak mungkin digusur. Untuk melaksanakan strategi dan program peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor membutuhkan dana lima milyar, yang dibiayai dengan anggaran APBD Kota Bogor. Secara lengkap, kesembilan strategi dan masing-masing programnya dapat dilihat pada Tabel 33. 102 Tabel 33. Matrik Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional di Kota Bogor Strategi Program Pelaksana Usulan Pembiayaan a. Meningkatkan kebersihan 1.Peningkatan ketertiban, keamanan b. Melakukan penataan barang kualitas dagangan sesuai zoning pelayanan pasar 2.Peningkatan sarana dan prasarana pasar komoditi a. Perbaikan tangga pasar b. Perbaikan Mesjid/Musolla c. Penyediaan tempat sampah 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Satpol PP 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Disperindagkop APBD (Kota Bogor ) APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) Swasta APBD (Kota Bogor ) a. Membuat zoning untuk PKL b. Melakukan penataan lapaklapak c. Merenofasi lapak-lapak PKL a. Renovasi bangunan pasar b. Perbaikan drainase, saluran listrik pasar d. Renovasi kios dan los pasar 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Satpol PP 6.Pembinaan pedagang pasar a. Mengadakan pelatihan dan pembinaan kepada pedagang b. Memberikan motivasi tentang kewirausahaan 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2Disperindagkop 7.Peningkatan SDM pengelola pasar a. Mengadakan pendidikan dan pelatihan SDM pengelola b. Peningkatan kapasitas dan kinerja dengan sistem reward and punishman. 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. Disperindagkop 8.Penataan tempat berdagang a. Menata tempat berdagang sesuai zoning komoditi b. Merapikan lorong dan koridor umum 1. PD. Pasar APBD (Kota Pakuan Jaya Bogor dan 2.Disperindagkop Provinsi Jabar) APBD (Kota 1. PD. Pasar Bogor dan Pakuan Jaya 2 Disperindagkop Provinsi 3.Humas Jabar) 3.Pengaturan PKL di pasar 4.Renovasi bangunan pasar 5.Penerapan peraturan dan tata tertib pasar APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) Swasta a. Penegakkan aturan dan tata 1. PD. Pasar APBD (Kota tertib di pasar Pakuan Jaya Bogor dan b. Membuat sistem kinerja bagi 2. Bagian Hukum Provinsi pengelola pasar(SOP) 3. Satpol PP Jabar) a. Membuat iklan dimedia 9.Meningkatkan untuk sosialisasi pasar tradisional pencitraan pedagang pasar b. Sosialisasi pasar ramah pelanggan 1. PD. Pasar Pakuan Jaya 2. PU/Swasta APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) APBD (Kota Bogor dan Provinsi Jabar) 103 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan kajian, maka dapat disimpulkan bahwa strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor harus di fokuskan pada program peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan sarana dan prasarana pasar dan pengaturan PKL di pasar. Secara spesifik dalam kajian ini terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Persentase jumlah kios dan los yang tutup di pasar yang dikelola oleh PD. Pasar Pakuan Jaya yang tutup pada tahun 2009 adalah 51 dan 29 persen di Pasar Bogor, 57 dan 42 persen di Pasar Sukasari dan 22 dan 43 persen di Pasar Kebon Kembang, Kondisi Koefisien Dasar Baangunan dan Koefisien Lantai Bangunan di Pasar Bogor dan Pasar Kebon Kembang masih terlihat baik (tinggi), sementara di Pasar Sukasari terlihat rendah. Sementara itu untuk sarana listrik, beberapa perlu perbaikan, seperti perbaikan jaringan listrik, perlunya pengadaan genset dan perlunya penambahan biaya pemeliharaan jaringan listrik disemua lantai dan blok pasar. Sedangkan untuk perbaikan sarana drainase, pada ketiga pasar tradisional di Kota Bogor harus dilakukan pada sekeliling gedung, semua blok dan semua lantai. Beberapa sarana yang perlu diperbaiki antara lain : perbaikan drainase luar gedung, perbaikan pipa air dalam dan luar gedung, pergantian bak air dalam pasar dan pemeliharaan saluran air. Untuk jumlah PKL, di Pasar Bogor paling banyak dibandingkan pasar lain. 2. Kondisi fisik bangunan pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor secara keseluruhan tidak terawat dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian kondisi pasar di Kota Bogor adalah: bangunan pasar sudah berumur diatas lima belas tahun, saluran pembuangan air tidak lancar, saluran hidran pemadam kebakaran tidak aktif, jaringan listrik yang ada didalam pasar tidak tertata dengan rapi, kondisi keamanan belum sepenuhnya aman, kebersihan belum terpelihara serta zoning komoditi belum berjalan. 104 3. Secara umum persepsi pelanggan terhadap kinerja pasar tradisional di Kota Bogor adalah rendah (seperti kebersihan kantor unit pasar, kondisi bangunan/gedung pasar, kondisi kebersihan pasar, kondisi fasilitas umum dan kondisi tempat usaha), sementara kepentingan pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi (seperti lokasi pasar dan kesungguhan petugas dalam mengelola pasar).. 4. Terdapat tiga strategi prioritas dari sembilan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di Kota Bogor yaitu : 8.2 a. Peningkatan kualitas pelayanan pasar b. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pasar c. Pengaturan PKL di sekitar pasar tradisional Saran Berdasarkan hasil kajian, maka disarankan bahwa peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor harus terus dilakukan oleh PD Pasar Pakuan Jaya dan stakeholder dengan : 1. Peningkatan sarana dan prasara fisik pasar, seperti perbaikan bangunan, kos dan los pasar. Sehingga pelanggan merasa nyaman ketika berbelanja. 2. Melakukan relokasi kepada PKL, agar tidak mengganggu pelanggan dan merapikan tempat parkir. 3. Perlunya dilakukan pencitraan pasar tradisional kepada masyarakat dengan mensosialisasikan produk unggulan lokal untuk menarik minat masyarakat belanja di pasar. 4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi pasar tradisional dan ketahanannya terhadap keberadaan pasar modern di Kota Bogor. STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR Oleh : BAKRI M. H252074075 SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 105 DAFTAR PUSTAKA BPS Kota Bogor. 2009. Kota Bogor dalam Angka. 2009 Darrin, G And Mervin, K. Lewis. 2001. Evaluating The Risk of Public Private Partnership for Infrastructure Project. Davey, K.J. 1983. Financing Regional Government, Ltd. New York, Brisbane, Toronto, Singapore : Wiley and Sons. David, R.F. 2002. Manajemen Strategis : Konsep. Alih Bahasa Alexander Sindoro. PT. Prenhalindo. Jakarta Geertz, C. 1992. Penjaja dan Raja : Perubahan Sosial dan Moderenisasi Ekonomi di Dua Kota Indonesia. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia. Gerson, R. 2004. Mengukur Kepuasan Pelanggan. PPM. Jakarta. Hasibuan, H. M. S.P. 1996. Manajemen : Dasar, Pengertian dan Masalah. PT. Toko Gunung Agung. Jakarta Irawan, H. 2007. Sepuluh Prinsip Kepuasan Pelanggan. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta Kotler. P 2005. Manajemen Pemasaran. Edisi Bahasa Indonesia. PT. Indeks Kelompok Media. Jakarta. Kotler, P dan Keller, K 2007. Manajemen Pemasaran. Edisi Bahasa Indonesia. PT. Indeks. Lovelock, C. and L.K Wright. 2005. Manajemen Pemasaran Jasa (Terjemahan). Indeks. Jakarta Madura, J. 2001. Pengantar Bisnis. Jakarta : Salemba Empat. Mattanete, H. 2008. Analisis Kepuasan Pedangan terhadap Pengelolaan Pasar dan Strategi Pengembangan Pasar (Kasus di Pasar Citeureup I Kabupaten Bogor). Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Nas, P, J. M. 1986. The Indonesian City : Studies in Urban Development and Planning. Holland. Foris Publications. Oktaviani dan Suryana. 2006. Analisis Kepuasan Pengunjung dan Pengembangan Fasilitas Wisata Agro (Studi Kasus Kebun Wisata Pasir Mukti, Bogor). Jurnal Agro Ekonomi, Vol. 24. No. 1, Mei 2006, 41-58. 106 Pemerintah Kota Bogor. 2009. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pendirian Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya. Pemerintah Daerah Kota Bogor. Rangkuti, F. 2003. Measuring Costumer Satisfactions. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Rasjiddin. I. 2008. Formulasi Strategi Bersaing. PT. Yanagi Histanayala dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan Bisnis. Tesis Program Studi Manajemen Bisnis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Undang-Undang Republik Indonesia No 34 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Soleh. 2005. Analisis Kesiapan Kabupaten dalam Menarik Investor, Studi Kasus Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Tesis Program Studi Manajemen Bisnis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Subowo, E. 2002. Pokok-Pokok Pikiran Deregulasi Perusahaan Milik Daerah sebagai Lembaga Pertumbuhan Ekonomi. Diklat Manajemen Pasar Daerah. Badan Pendidikan dan Pelatihan Departemen Dalam Negeri. Supranto, J. 2003. Metode Riset. Aplikasinya dalam Pemasaran. Edisi Revisi ke 7. Penerbit Rineka Citra. Jakarta Suryadarma, D et al. 2007. Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia. Lembaga Penelitian SMERU Umar, H. 2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Jakarta Bussines Research Centre (JBRC). Jakarta Zarkoni. 2007. Analisis Strategi Bersaing PT. Nalco Indonesia dalam Bisnis Pengolahan Air di Industri Minyak Kelapa Sawit. Tesis Program Studi Manajemen Bisnis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor Zumrotin, K.S. 2002. Pola Keterkaitan Pasar Modern dengan Pasar Swalayan. Diklat Manajemen Pasar Daerah. Badan Pendidikan dan Pelatihan Departemen Dalam Negeri.
The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness to Seller at Bogor Regency Analisis Lingkungan Eksternal STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL Analisis Lingkungan Internal STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR TRADISIONAL Data dan Metode Analisis Definisi Pasar TINJAUAN PUSTAKA Evaluasi Faktor Eksternal EFE Evaluasi Faktor Internal IFE Implikasi Pengembangan Pasar Tradisional terhadap Pembangunan Kajian Penelitian Terdahulu TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Pedagang Pasar Tradisional di Kota Bogor Keberadaan Pasar di Kota Bogor Kerangka Pemikiran METODOLOGI KAJIAN Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Kondisi Bangunan Fisik Pasar Tradisional di Kota Bogor Kondisi Fasilitas Drainase Pasar Tradisional di Kota Bogor Kondisi Fasilitas Keamanan, Ketertiban dan Kebersihan Pasar Kondisi Geografis Kota Bogor Kondisi Perekonomian GAMBARAN UMUM WILAYAH Kondisi PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor Manajemen Pasar TINJAUAN PUSTAKA Metode Perumusan Strategi dan Perancangan Program Pasar Tradisional dan Modern Pedagang dan Struktur Kegiatannya Pemerintahan Penduduk GAMBARAN UMUM WILAYAH Penentuan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional Pengelolaan : Tata Ruang dan Lokasi : Pola Pembangunan dan Pendanaan : Persepsi Pedagang Terhadap Pasar Tradisional di Kota Bogor Persepsi Pelanggan TINJAUAN PUSTAKA Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional Saran KESIMPULAN DAN SARAN
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags

Obligation Of The Seller

Competitiveness Of The Sector
Upload teratas

The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness to Seller at Bogor Regency

Gratis