Feedback

Reproduksi ikan Telnatherina sarasinorum (Kottetat, 1991) sebagai dasar konservasi di danau Matano Sulawesi Selatan

Informasi dokumen
REPRODUKSI IKAN Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991) SEBAGAI DASAR KONSERVASI DI DANAU MATANO SULAWESI SELATAN JUSRI NILAWATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul Reproduksi Ikan Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991) Sebagai Dasar Konservasi di Danau Matano Sulawesi Selatan adalah karya saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Februari 2012 Jusri Nilawati NRP C161050071 ABSTRACT JUSRI NILAWATI. Reproduction of Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991) as the Foundation of Conservation in Lake Matano South Sulawesi. Under direction of SULISTIONO, DJADJA S. SJAFEI †, M.F. RAHARDJO, and ISMUDI MUCHSIN. The research was aimed to analyze characteristics of preferential spawning habitat, spatial and temporal distribution, and reproduction of T. sarasinorum in spawning habitat. Research was carried out in Lake Matano from September 2008 to August 2009 at different sampling sites. Fish were caught by using mini beach seine of 10 m length, 3 m depth, and 3 mm mesh size. Habitat condition was analyzed, and water physical chemical characteristics were measured monthly. Fish standard length, total weight, and gonad weight were measured. Results showed that the fish preferred to spawn in sandy gravel arena and root arena shaded by vegetation or boulders. Mean standard length of male and female were 54,50 mm and 48,60 mm, respectively. Male has larger body and dominant in population. Population was dominated by mature individuals. Male and female’s first standard length at gonadal maturation was 40,28 mm and 37,95 mm, respectively. Mean fecundity was 224. Oocyte and spermatocyte development of T. sarasinorum was asynchronic; the species spawned in batches. Oocyte diameter ranged between 0,50 and 1,75 mm. The spawning peaked at the end of dry season with gradual increased of water level. The fish protected the freshly laying eggs. In addition, the sneakers and single males seemed picking the sperm remnants. Currently, conservation of the fish and its habitat is urgently required cause of increasing anthropogenics surrounding the lake. Keywords: spawning arena, preferences, Telmatherina sarasinorum RINGKASAN JUSRI NILAWATI. Reproduksi Ikan Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991) Sebagai Dasar Konservasi di Danau Matano Sulawesi Selatan. Dibimbing oleh SULISTIONO, DJADJA S. SJAFEI, M.F. RAHARDJO dan ISMUDI MUCHSIN. Danau Matano adalah salah satu pusat biodiversitas dunia yang memiliki endemisitas tinggi. Ikan Telmatherina sarasinorum merupakan salah satu ikan endemik Danau Matano. Ikan ini mempunyai bentuk dan warna yang indah sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai ikan hias, tetapi hingga saat ini belum dapat dipelihara di luar habitat aslinya. Penelitian reproduksi ikan Telmatherina sarasinorum di Danau Matano bertujuan untuk menganalisis karakteristik habitat, distribusi spasial dan temporal dan reproduksi T. sarasinorum yang berada pada habitat pemijahan di Danau Matano. Penelitian dilakukan di Danau Matano Sulawesi Selatan dari bulan September 2008 sampai dengan Agustus 2009 pada 15 lokasi sampling. Ikan contoh ditangkap dengan pukat pantai mini berukuran panjang 10 m, tinggi 3 m dan mata jaring 3 mm. Parameter fisik kimiawi perairan dan substrat pemijahan diukur setiap bulan. Kualitas air dan substrat pemijahan dianalisis. Habitat dan tingkah laku pemijahan ikan dianalisis melalui pengamatan bawah air dengan melakukan snorkeling. Suhu, pH dan oksigen terlarut diukur dengan water quality checker Horiba. Padatan tersuspensi total dan padatan terlarut total diukur di laboratorium. Kecerahan diukur dengan papan putih secara horisontal. Ikan contoh ditentukan jenis kelamin dan warnanya sebelum diawetkan. Panjang baku (PB), berat total, berat gonad, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, faktor kondisi relatif, fekunditas dan diameter telur ditentukan. Jaringan histologi gonad dibuat untuk analisis tingkatan perkembangannya. Tingkah laku pemijahan ikan di habitatnya dicatat langsung di dalam air pada kertas plastik, difoto dan direkam dengan kamera vidio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua arena pemijahan yaitu arena batu berpasir dan arena perakaran. Kedua arena mendapat naungan dari bayang-bayang pohon tepian danau atau batu besar di sekitarnya. Lokasi sampling dapat dibagi menjadi lima kelompok yang memiliki kesamaan kondisi fisik kimiawi perairan dan karakteristik substrat pemijahan. Kualitas perairan di lokasilokasi tersebut umumnya: suhu 29,15 ± 0,73 0C; oksigen terlarut 6,18 ± 0,57 mg l1 ; pH 8,58 ± 0,12; kecerahan perairan 15,56 ± 2,25 m; padatan tersuspensi total 0,97 ± 0,55 mg l-1 ; dan padatan terlarut total 109,21 ± 18,60 mg l-1. Curah hujan harian rata-rata wilayah adalah 7,34 ± 3,34 mm dan tinggi muka air danau ratarata 392,09 ± 0,51 m dpl. Ikan jantan berukuran lebih besar (54,50 ± mm; 2180 ekor) daripada ikan betina (48,60 ± mm; 985 ekor). Ukuran panjang baku rata-rata menurun dari lokasi bagian Barat ke lokasi bagian Timur danau. Jumlah ikan di lokasi bagian Barat lebih sedikit dengan ukuran panjang baku lebih besar daripada di lokasi bagian tengah dan Timur; perbedaan ini menunjukkan perbedaan karakteristik substrat pemijahan. Ikan jantan warna abu-abu dominan dalam populasi (46,10%), kemudian diikuti oleh jantan biru, jantan kuning, abu-abu kuning, dan jantan biru kuning. Nisbah kelamin di lokasi bagian barat lebih besar daripada di bagian tengah dan timur danau. Ikan-ikan di arena pemijahan didominasi oleh ikan-ikan yang siap memijah, yang ditandai dengan tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG) dan faktor kondisi yang tinggi. IKG rata-rata ikan jantan lebih rendah daripada IKG rata-rata betina. Sebagian besar tingkat perkembangan oosit dan spermatosit terdapat di dalam gonad yang sama; ikan T. sarasinorum adalah pemijah sebagian. Ketiga kelompok ukuran diameter telur terdapat di dalam gonad, dengan komposisi telur berukuran kecil jumlahnya paling banyak dan telur berukuran besar jumlahnya paling sedikit. Puncak pemijahan terjadi pada akhir musim kemarau dengan kenaikan muka air secara perlahan, dan musim hujan. Ukuran panjang baku ikan jantan petama kali matang kelamin (TKG IV) adalah 40,28 mm sedangkan ikan betina adalah 37,95 mm. Fekunditas rata-rata adalah 224 butir (kisaran 64 – 488 butir). Tingkah laku pemijahan ditandai dengan ikan berpasangan. Ikan kawin di arena pemijahan pada substrat pasir di antara kerikil dan batu, atau pada alga yang menyelimuti perakaran. Pasangan ikan sering diikuti oleh ikan jantan pengganggu pemijahan dan jantan tunggal lain. Ikan-ikan jantan ini memakan sisa sperma yang tidak membuahi telur. Jantan utama, dan kadang-kadang betina, menyembunyikan telur di antara alga atau di dalam pasir. Pemijahan paling banyak terjadi pada siang hari. Pemeliharaan kondisi arena pemijahan ikan di daerah litoral dapat dilakukan dengan menjaga keberadaan vegetasi terestrial tepian danau dan menanami kembali vegetasi asli Danau Matano sepanjang tepian danau; menangkarkan ikan secara in situ untuk tujuan konservasi; mengembangkan program pendidikan konservasi kepada masyarakat; upaya konservasi yang melibatkan pemerintah, perusahaan dan masyarakat; dan wisata danau adalah konsep pengelolaan dan pemanfaatan ikan endemik ini. © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB. REPRODUKSI IKAN Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991) SEBAGAI DASAR KONSERVASI DI DANAU MATANO SULAWESI SELATAN JUSRI NILAWATI Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Perairan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup: 1. Dr. Ir. Didik Wahju Hendro Tjahjo, M.Si. 2. Dr. Ir. Ridwan Affandi Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka: 1. Dr. Ir. Gadis Sri Haryani 2. Dr. Ir. Isdradjad Setyobudiandi, M.Sc. PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan disertasi berjudul “Reproduksi Ikan Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991) sebagai Dasar Konservasi di Danau Matano Sulawesi Selatan”. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc. sebagai ketua komisi pembimbing, Prof. Dr. Ir. M.F. Rahardjo dan Prof. Dr. Ir. Ismudi Muchsin sebagai anggota komisi pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama penyusunan disertasi ini. 2. Penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr. Ir. Djadja S. Sjafei (Alm.) atas bimbingan dan arahan kepada penulis, dan semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT. 3. Penguji luar komisi serta Pimpinan IPB, Pimpinan Departemen dan Pimpinan Program Studi Ilmu Perairan yang telah berkenan menyumbangkan buah pikiran untuk memperkaya tulisan ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Februari 2012 Jusri Nilawati UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atas bantuan beasiswa BPPS 2005 dan Hibah Doktor. 2. Pt Inco Tbk. Indonesia atas bantuan akomodasi di lapangan. 3. The Stability of Rainforest Margins in Indonesia (Storma) atas bantuan dana penelitian. 4. Rektor Universitas Tadulako Palu atas bantuan dan kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan S3. 5. Ayahanda E. Soeparman dan Ibunda Sunarmi atas curahan kasih sayang, semangat, dorongan serta doa bagi penulis dalam menuntut ilmu. 6. Papa Yasin Tantu (Alm.) yang kasih sayangnya dapat penulis rasakan melalui kehangatan keluarga dan Mama Quraisyin Abdulwali (Almh.) atas kasih sayang, perhatian dan doa di saat hidupnya. 7. Aki Sukanta Astraperwata (Alm.) yang melalui penanya senantiasa mendorong penulis untuk senantiasa berjuang menuntut ilmu. 8. H. Hasan Athori (Alm.) dan Uwa dr. Sunarli (Alm.) atas nasihat dan dorongan untuk menyelesaikan studi. 9. Adinda Rizki Abdussalam, SH, Afiati Nurrohmah, SH, Arif Rachman Saleh, Amd., Senti Elisah, S.Ei., Dody Djatmika Sutisna, dan seluruh keluarga besar Sukanta Astraperwata dan Sumaatmadja atas dukungan semangat dan doa yang telah diberikan. Kakanda Isma Y. Tantu, Muh. Rum Y. Tantu, Usman Y. Tantu, M.Kes, S.Sos., Rukyani Y. Tantu, Maryam Y. Tantu, Adinda Isra Y. Tantu, Ir. Rizal Y. Tantu, M.Si., dan Irfan Y. Tantu, dan seluruh keluarga besar Tantu-Abdulwali yang telah memberikan dukungan semangat dan doa kepada penulis. 10. Suami Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si., dan ananda Fauzia Noorchaliza, Fadhilah Noor Nabiilah, dan Fathan Noor Ilmi Fadly Tantu atas doa, kasih sayang, pengertian, dukungan dan pengorbanan bagi keberhasilan penulis. 11. Teman-teman: Syahrir Abdulwali, Syukri Abdulwali dan Sinyo Rio atas bantuan di lapangan. 12. Teman-teman Program Studi Ilmu Perairan (Bu Maja, Bu Sriati, Pak Fadly, Pak Eman, Pak Heru, Pak Erly, Bu Niken dan Bu Ina) atas dukungan semangat dan kerja sama yang telah diberikan selama masa studi. 13. Berbagai pihak yang turut memberikan andil dalam keberhasilan penulis menyelesaikan studi S3 di Program Studi Ilmu Perairan, SPs IPB, Bogor. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 13 Juni 1967 dari orang tua Ayah E. Soeparman S.A. dan Ibu Sunarmi. Penulis adalah anak pertama dari empat bersaudara. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado dan lulus tahun 1990. Pada tahun 1991 penulis mulai bekerja sebagai staf pengajar pada Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado. Pada tahun 1993 penulis melanjutkan studi ke Department of Biology, Faculty of Science University of Waterloo Canada dan meraih gelar Master of Science pada tahun 1995. Pada tahun 1998 penulis menikah dengan Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si. dan dikaruniai empat orang putera puteri yaitu Fauzia Noorchaliza (11 tahun), Fatimah Noorasysyifa, Fadhilah Noor Nabiilah (7 tahun) dan Fathan Noor Ilmi Fadly Tantu (2,5 tahun). Pada tahun 2003 penulis pindah tugas sebagai staf pengajar pada Program Studi Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu. Kemudian pada tahun 2005 penulis melanjutkan studi pada Program Studi Ilmu Perairan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Karya ilmiah yang sudah dipublikasikan adalah: Spawning habitat of Telmatherina sarasinorum (Family: Telmatherinidae) in Lake Matano, 2010, dalam Jurnal Iktiologi Indonesia 10(2): 101-110. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ................................................................................... xxiii DAFTAR GAMBAR ............................................................................... xxv DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xxvii 1. PENDAHULUAN Latar Belakang................................................................................ Tujuan dan Manfaat Penelitian........................................................ Kebaruan ........................................................................................ Ruang Lingkup Penelitian ............................................................... 1 9 9 9 HABITAT PEMIJAHAN IKAN T. sarasinorum DI DANAU MATANO Pendahuluan ................................................................................... Bahan dan Metode .......................................................................... Hasil dan Pembahasan .................................................................... Kesimpulan..................................................................................... 11 12 15 33 SEBARAN SPASIAL-TEMPORAL IKAN T. sarasinorum DI DANAU MATANO Pendahuluan ................................................................................... Bahan dan Metode .......................................................................... Hasil dan Pembahasan .................................................................... Kesimpulan..................................................................................... 35 36 37 47 REPRODUKSI DAN TINGKAH LAKU PEMIJAHAN IKAN T. sarasinorum DI DANAU MATANO Pendahuluan ................................................................................... Bahan dan Metode .......................................................................... Hasil dan Pembahasan .................................................................... Kesimpulan..................................................................................... 49 51 54 86 5. PEMBAHASAN UMUM ............................................................... 87 6. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 95 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 97 2. 3. 4. DAFTAR TABEL 1. Klasifikasi ukuran substrat .............................................................. Halaman 13 2. Lokasi pengamatan, jumlah arena pemijahan dan deskripsi karakter substrat pemijahan ............................................................. 19 Kisaran parameter fisik kimiawi perairan pada setiap lokasi sampling di Danau Matano ............................................................. 24 Kisaran parameter fisik kimiawi perairan pada setiap bulan di Danau Matano ............................................................................ 28 Nilai indeks kematangan gonad ikan T. sarasinorum jantan dan betina untuk setiap tingkat kematangan gonad................................. 68 3. 4. 5. DAFTAR GAMBAR 1. Sketsa lokasi penelitian di Danau Matano ....................................... Halaman 14 2. Kontur dasar di kedua tipe habitat pemijahan .................................. 15 3. Arena pemijahan T. sarasinorum: arena batu berpasir (atas) dan arena perakaran (bawah) ........................................................... 16 Curah hujan rata-rata harian wilayah dan tinggi muka air di Danau Matano selama penelitian..................................................... 21 Fluktuasi parameter fisik kimiawi perairan secara spasial di Danau Matano ................................................................................ 25 Fluktuasi parameter fisik kimiawi perairan secara spasial di Danau Matano ................................................................................ 29 Pengelompokan habitat pemijahan ikan T. sarasinorum di Danau Matano ................................................................................ 31 Jumlah ikan rata-rata yang tertangkap pada masing-masing lokasi sampling selama periode penelitian ................................................. 37 Kelas ukuran panjang baku (PB) ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) .......................................................................... 40 10. Sebaran jumlah rata-rata ikan secara temporal................................. 42 11. Jumlah ikan T. sarasinorum jantan menurut warna secara spasial ............................................................................................. 44 Jumlah ikan T. sarasinorum jantan menurut warna secara temporal ......................................................................................... 46 Jumlah ikan T. sarasinorum jantan menurut warna per kelas ukuran ............................................................................................ 47 14. Nisbah kelamin T. sarasinorum menurut lokasi sampling ............... 54 15. Nisbah kelamin T. sarasinorum menurut waktu sampling ............... 56 16. Hubungan panjang berat ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) ................................................................................ 57 Faktor kondisi relatif ikan T sarasinorum jantan dan betina secara spasial .................................................................................. 58 Faktor kondisi relatif ikan T. sarasinorum jantan dan betina secara temporal ............................................................................... 59 19. Struktur histologis gonad ikan T. sarasinorum jantan ...................... 60 20. Struktur histologis gonad ikan T. sarasinorum betina ...................... 62 21. Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) secara spasial..................................................................... 64 4. 5. 6. 7. 8. 9. 12. 13. 17. 18. Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) secara temporal ................................................................. 65 Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) menurut kelas ukuran ........................................................ 66 Nilai IKG rata-rata ikan T. sarasinorum jantan dan betina secara spasial .................................................................................. 69 Nilai IKG rata-rata ikan T. sarasinorum jantan dan betina secara temporal ............................................................................... 70 26. Hubungan fekunditas dan panjang baku ikan T. sarasinorum .......... 71 27. Sebaran diameter telur ikan T. sarasinorum pada TKG III, TKG IV dan TKG V di Danau Matano ........................................... Ethogram tingkah laku pemijahan ikan T. sarasinorum ................... 73 77 22. 23. 24. 25. 28. DAFTAR LAMPIRAN 1. Deskripsi lokasi penelitian .............................................................. Halaman 109 2. Pohon tambeua (Myrtacea) ............................................................. 112 3. Curah hujan rata-rata harian wilayah selama penelitian ................... 113 4. Sebaran spasial ikan T. sarasinorum jantan menurut kelas ukuran panjang ............................................................................... 114 Sebaran spasial ikan T. sarasinorum betina menurut kelas ukuran panjang ............................................................................... 115 Sebaran temporal ikan T. sarasinorum jantan menurut kelas ukuran panjang ...................................................................... 116 Sebaran temporal ikan T. sarasinorum betina menurut kelas ukuran panjang ............................................................................... 117 Ikan T. sarasinorum jantan kuning (a), biru (b), biru kuning (c), abu-abu (d) dan abu-abu kuning (e), dan betina (f) .................... 118 9. Variasi spasial nisbah kelamin ikan di Danau Matano ..................... 119 10. Variasi temporal nisbah kelamin ikan di Danau Matano .................. 120 11. Deskripsi karakter morfologis dan histologis gonad T. sarasinoum jantan pada berbagai tingkat perkembangan .................................... 121 Deskripsi karakter morfologis dan histologis gonad T. sarasinoum betina pada berbagai tingkat perkembangan .................................... 122 5. 6. 7. 8. 12. 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pulau Sulawesi telah lama dikenal sebagai pusat biodiversitas karena tingginya derajat endemisme di antara fauna aslinya (Whitten et al. 2002). Sekitar 76% ikan asli di Sulawesi adalah endemik (Kottelat et al. 1993). Ikan endemik adalah ikan yang sebarannya sangat terbatas dan tidak terdapat di tempat lain di dunia. Penelitian mengenai keberadaan ikan-ikan endemik dari perairan tawar Sulawesi menunjukkan bahwa ikan-ikan ini hanya hidup di danau-danau dan sungai-sungai yang terletak di bagian tengah Sulawesi dan tidak menyebar ke perairan tawar yang ada di Sulawesi Utara maupun Sulawesi Selatan (Soeroto & Tungka 1991; Soeroto et al. 1992; Soeroto & Tungka 1996). Danau Matano adalah salah satu danau tua di dunia yang terdapat di Sulawesi. Danau tua, yaitu danau yang telah ada sejak masa sebelum Pleistosin (Wilke et al. 2008). Danau Matano berada pada bagian hulu dari rangkaian sistem danau Malili yaitu Matano, Mahalona dan Towuti. Tiga danau utama telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) melalui Surat Keputusan Mentan No. 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979. Luas kawasan ini mencapai 98.500,00 ha (termasuk perairan danau), dengan rincian luas masing-masing yaitu: TWA Matano 30.000 ha (perairan danau 16.408 ha), TWA Towuti 65.000 ha (perairan danau 56.108 ha) dan TWA Mahalona 3.500 ha (perairan danau 2.440 ha). Walaupun dihubungkan oleh sistem aliran dari dua danau di hilirnya, danau ini terisolasi dari sistem hilir oleh rintangan-rintangan fisik bagi penyebaran biota akuatik. Danau ini memiliki luas 164 km2, kedalaman 590 m (terdalam ke-8 di dunia), airnya sangat jernih (kecerahan >20 m), memiliki pinggiran yang curam dengan daerah litoral yang terbatas, dan terkenal sebagai danau oligotrofik (Haffner et al. 2001). Ikan-ikan di Danau Matano umumnya hanya menempati daerah-daerah litoral. Kottelat (1991) menyatakan bahwa terdapat tujuh spesies Telmatherinidae di habitat Danau Matano, yaitu Telmatherina abendanoni, T. antoniae, T. obscura, T. opudi, T. prognatha, T. sarasinorum dan T. wahjui; kesemua ikan ini merupakan ikan endemik Danau Matano. Tantu & Nilawati (2006, 2008) 2 melaporkan adanya satu spesies baru dari famili Telmatherinidae Danau Matano yaitu T. albolabiosus. Menurut Haffner et al. (2001), interaksi antara perubahan iklim dan aktivitas manusia dapat menjadikan fauna endemik Danau Matano Sulawesi berada dalam bahaya. Habitat utama ikan-ikan endemik Danau Matano terus mendapat tekanan dari berbagai aktivitas yang berlangsung di sekitar danau. Beberapa aktivitas yang merupakan ancaman potensial bagi ekosistem danau dengan fauna akuatik endemiknya adalah (1) pembukaan lahan pertambangan, permukiman, jalan, perkebunan, (2) perubahan sistem hidrologi danau dan sungai Petea akibat pelurusan dan pembendungan sungai, (3) limbah rumah tangga dan minyak dari mesin perahu, dan (4) introduksi ikan. Studi terkini mengenai ikan-ikan Telmatherinidae dari sistem danau-danau Malili yang sudah dilakukan adalah: keragaman dan evolusi (Herder et al. 2006); radiasi adaptif dan genetika populasi (Heath et al. 2006); pemeliharaan polimorfisme warna jantan pada telmatherinid (Gray et al. 2006); deskripsi perbandingan tingkah laku kawin ikan telmatherinid dari danau-danau Malili (Gray & McKinnon 2006). Para peneliti menunjukkan kekhawatiran dan perhatian terhadap keselamatan biodiversitas fauna akuatik endemik yang ada dalam sistem sungai-sungai ini, sebagai akibat pengelolaan danau yang dinilai buruk. Penelitian-penelitian selama ini tidak ada yang memusatkan perhatian pada reproduksi telmatherinid sehubungan dengan habitat pemijahannya. Aksi manajemen yang komprehensif perlu diterapkan di danau ini, jika tidak maka dapat dipastikan spesies akuatik khususnya yang endemik akan punah seiring dengan rusak dan hilangnya habitat di danau Matano. Kelompok ikan endemik yang diprediksi mendapat tekanan pertama adalah ikan-ikan telmatherinid, salah satunya T. sarasinorum, karena ikan ini memanfaatkan habitat litoral untuk menjalankan fungsi-fungsi hidupnya. Ikan T. sarasinorum merupakan kelompok ikan berukuran relatif kecil dari Danau Matano. Menurut catatan Kottelat et al. (1993), panjang baku yang tertinggi 66 mm. Habitat pemijahan ikan ini ada dua, yaitu pertama di lokasi pantai dangkal dengan substrat dasar berbatu-batu dengan sedikit pasir (litofil), sedangkan habitat pemijahan kedua adalah lokasi perairan yang relatif lebih dalam 3 dengan akar-akar pohon menjurai atau pada batang/ ranting pohon tumbang yang diselimuti alga (fitofil). Pada lokasi habitat pertama telur diletakkan di substrat berpasir di antara batuan, sedangkan pada habitat kedua telur diletakkan pada substrat beralga. Perairan di habitat pemijahan kedua ini diamati memiliki dasar yang relatif berlumpur atau tertutup sedimen. Latar belakang yang dikemukakan di atas menjadi dasar rencana penelitian yang diarahkan pada telaahan keterkaitan antara strategi reproduksi T. sarasinorum sehubungan dengan preferensi habitat dalam ekosistem danau yang sedang mengalami perubahan. Penggunaan spesies T. sarasinorum dalam penelitian ini didasarkan pada beberapa alasan yaitu: (1) merupakan salah satu spesies dominan dari kelompok telmatherinid penghuni Danau Matano, (2) menempati habitat litoral sebagai daerah pemijahan dan berbagai aktivitas biologi lainnya, dan (3) ditemukan memiliki dua habitat pemijahan berbeda (fitofil dan litofil). Klasifikasi dan Ciri Taksonomik Ikan Deskripsi taksonomi beberapa spesies anggota Telmatherinidae pertama kali dipublikasikan oleh Boulenger (1897), yang kemudian direvisi oleh Aarn dan Kottelat (1998) dan Kottelat (1990, 1991). Klasifikasi T. sarasinorum menurut Kottelat (1991) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Actinopterygii Order : Atheriniformes Family : Telmatherinidae Genus : Telmatherina Boulenger, 1897 Spesies : Telmatherina sarasinorum Kottelat 1991 T. sarasinorum dibedakan dari semua spesies Telmatherinidae lain dengan sirip-siripnya yang meruncing, warna kuning atau kebiru-biruan, sirip dorsal dan anal besar yang pada jantan besar mencapai setengah posterior dari sirip kaudal dan jika dilipat ke belakang jari-jari terpanjang lebih panjang daripada tinggi tubuh. Jari-jari sirip dorsal D1 VI–VIII, D2 I,8-10½; jari-jari sirip kaudal bercabang 8+7; jari-jari sirip anal I,12-13½; jari-jari sirip pektoral 13-15; jari-jari 4 sirip ventral I,5. Sisik pada baris longitudinal 32–34. Sisik pada baris transversal ½8½ (pada satu spesimen ½7½). Sisik predorsal 12–14. Sisik preoperkulum 4. Sisik operkulum 5–7. Gillraker pada lengkungan pertama 20–25. Warna ikan hidup, jantan bentuk kuning, tubuh keabu-abuan atau hijau kekuningan sampai kuning cerah, sirip-sirip kuning, dan sirip pektoral transparan. Ikan betina berwarna kuning kecoklatan (Kottelat 1991). Gray et al. (2003, 2006) mengidentifikasi lima bentuk warna jantan pada T. sarasinorum yaitu kuning, biru, biru kuning, abu-abu, dan abu-abu kuning, sedangkan betina berwarna abuabu pasir. Heath et al. (2006) mengidentifikasi tiga warna dominan pada Telmatherinidae dari Danau Matano, yaitu biru, kuning dan coklat, serta dua warna transisi, yaitu kuning-biru dan kuning-hijau. Analisis filogenetik pada telmaterinid dari sistem Danau Malili menunjukkan suatu asal monofiletik kuno (Martens 1997; McKinnon 2002). Penyebaran dan Habitat T. sarasinorum Sebagai ikan endemik Danau Matano, menurut Kottelat (1991), wilayah penyebaran T. sarasinorum hanya terbatas di daerah dangkal sepanjang tepian danau, tetapi lebih sering terdapat di sepanjang tepian danau bagian selatan. Ikan menempati perairan dengan dasar berpasir dan hampir datar, serta berada pada perairan yang relatif dangkal (4096 Catatan: Komposisi substrat menurut Wolman (1954) Pengukuran kondisi fisik kimiawi perairan untuk suhu, oksigen terlarut dan pH dilakukan secara in-situ menggunakan Water Quality Checker Horiba. Pengukuran padatan tersuspensi total dan padatan terlarut total dilakukan di laboratorium. Sampel air dikoleksi di dalam botol sampel lalu diberi larutan 14 pengawet. Kecerahan diukur sebagai ukuran jarak pandang pengamat di dalam air terhadap benda berwarna putih berukuran 30 cm x 30 cm. Tinggi muka air danau dan curah hujan wilayah diperoleh berdasarkan data yang dikoleksi selama periode sampling dari stasiun pengamatan PT. INCO Sorowako. Analisis statistik Analisis keragaman satu arah dilakukan untuk menilai perbedaan antara parameter-parameter lingkungan yang diamati di dalam suatu lokasi dengan menggunakan fasilitas yang terdapat dalam perangkat lunak Minitab versi 14. Untuk mengetahui apakah terdapat korelasi di antara parameter-parameter lingkungan yang diukur dilakukan penghitungan koefisien korelasi Pearson r dengan alat bantu perangkat lunak Minitab 14. Nilai uji statistik r bisa positif atau negatif tetapi selalu terletak di antara -1 dan +1. Nilai mendekati +1 menunjukkan korelasi positif yang kuat, sedangkan nilai mendekati -1 menunjukkan korelasi negatif yang kuat. Nilai 0 menunjukkan kurangnya korelasi, walaupun hal ini juga dapat berarti bahwa terdapat suatu korelasi yang lebih kompleks (McCleery et al. 2007). Gambar 1 Sketsa lokasi sampling di Danau Matano Ket.: 1) S. Lawa, 2) Desa Matano, 3) Paku, 4) Sokoio, 5) Pantai Kupu-kupu, 6,13) Pantai Salonsa, 7) Pantai Old Camp, 8) S. Tanah Merah, 9,14) P. Otuno I, 10,15) P. Otuno II, 11) S. Petea, dan 12) S. Soluro 15 Hasil dan Pembahasan Deskripsi lokasi sampling Sebanyak 15 lokasi di daerah litoral Danau Matano dijadikan sebagai titik pengamatan. Kelima belas lokasi ini menyebar dari bagian barat danau sampai ke bagian timur danau. Secara spasial lokasi-lokasi ini dapat dikelompokkan ke dalam 3 zona yaitu: zona 1 adalah lokasi sampling yang terletak di bagian barat danau (S. Lawa, Pantai Desa Matano, Pantai Paku dan Pantai Sokoio), zona 2 di bagian tengah danau (Pantai Kupu-kupu, Pantai Salonsa I-A, Pantai Salonsa I-B, Pantai Old-Camp, dan Pantai S. Tanah Merah) dan zona 3 di bagian timur danau (P. Otuno I-A, P. Otuno I-B, P. Otuno II-A, P. Otuno II-B, Pantai Sungai Petea, dan Pantai Sungai Soluro). Masing-masing lokasi secara ringkas dideskripsikan sebagaimana ditampilkan pada Lampiran 1. Beberapa vegetasi yang ditemukan di lokasi adalah Myrtacea (Lampiran 2), pohon sagu, Nephentes, pohon mangga dan Pandanus sp. Gambar 2 Kontur dasar di kedua tipe arena pemijahan 16 Menurut kontur dasar perairan kelima belas lokasi penelitian ini memiliki dua bentuk kontur dasar yaitu, kontur dasar landai dan kontur dasar curam (Gambar 2). Kontur dasar landai umumnya memiliki substrat dasar batu-batuan dan pasir. Arena pemijahan Pengamatan bawah air berhasil mengidentifikasi adanya habitat spesifik yang digunakan oleh T. sarasinorum untuk melakukan aktivitas perkawinan. Habitat pemijahan spesifik ini dalam penelitian ini disebut sebagai arena pemijahan, yang didefinisikan sebagai tempat berlangsungnya peristiwa perkawinan atau pemijahan kelompok ikan T. sarasinorum. Terdapat dua tipe arena pemijahan T. sarasinorum di Danau Matano (Gambar 3). Pertama arena pemijahan yang terletak di dasar perairan dengan kontur dasar landai yang substrat dasarnya terdiri dari pasir dan kerikil yang berada di antara batuan, atau ruang berbentuk kolam-kolam pasir bercampur kerikil. Kedua arena perakaran, ranting atau batang pohon yang terendam di perairan. Gambar 3 Arena pemijahan T. sarasinorum: arena batu berpasir (atas) dan arena perakaran (bawah) 17 Sebuah arena dapat diidentifikasi dengan mengamati adanya peristiwa pemijahan yang ditandai oleh adanya rangkaian aktivitas kelompok ikan. Aktivitas itu berupa adanya beberapa ikan jantan yang sedang berusaha mendapatkan seekor betina yang ada di dalam arena pemijahan; adanya ikan betina yang berpasangan; serta ikan betina melakukan gerakan pelepasan telur dan dalam waktu yang hampir bersamaan ikan jantan melepaskan sperma yang ditandai oleh terlihatnya pasangan ikan jantan dan betina secara bersama-sama menekan abdomennya ke dasar substrat. Secara keseluruhan ada 15 lokasi sampling yang diamati dan di dalamnya ditemukan 24 arena pemijahan yang terdiri atas 19 arena pemijahan pada substrat dasar perairan dan 5 arena pemijahan di perakaran. Luas keseluruhan arena pemijahan yang diamati dalam lokasi sampling kurang lebih 90 m² (Tabel 2). Susunan substrat dasar perairan di arena pemijahan bervariasi mulai dari substrat halus lumpur sampai dengam substrat batuan dasar. Tidak semua lokasi sampling memiliki arena pemijahan. Pantai Sokoio dan Sungai Petea tidak memiliki arena pemijahan. Tidak adanya arena pemijahan di Pantai Sokoio diduga berkaitan dengan tutupan substrat yang didominasi oleh batu-batuan besar yang tidak memiliki jebakan pasir atau kolam-kolam pasir. Di sekitar S. Petea substrat dasar perairannya banyak mengandung lumpur. Penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi bahwa arena pemijahan selalu berada di dekat tepian danau pada daerah bervegetasi pohon, dan berada dalam area bayang-bayang atau teduhan yang berasal dari pohon di tepi danau atau dari batu besar – batuan dasar di dekatnya. Umumnya jarak arena dari tepian berkisar antara 2 – 10 m, dan kedalaman arena berkisar antara 0,30 – 3,00 m. Jumlah pasangan ikan yang berada di dalam arena berkisar antara 2 sampai 12 pasang. Umumnya arena perakaran memiliki jumlah pasangan ikan lebih banyak daripada arena batu berpasir. Menurut Vono & Barbosa (2001), kompleksitas struktur suatu habitat menentukan jumlah kehadiran ikan. Pemilihan arena dengan naungan dari bayang-bayang pohon atau batu besar di dalamnya mungkin berhubungan dengan strategi reproduksi ikan ini. Pada area yang mendapatkan bayang-bayang tersebut intensitas cahaya lebih rendah, telur-telur yang dilepaskan sulit kelihatan oleh predator telur T. sarasinorum dan atau 18 kompetitor pembuahan. Sejauh ini tidak ditemukan penelitian mengenai pengaruh bayangan pohon atau benda lain di dalam habitat pemijahan ikan terhadap preferensi habitat pemijahan di dalam sistem lain. Pemilihan tempat pelepasan telur (oviposition) dapat berdampak pada kelangsungan hidup keturunan (Smith et al. 2001). Tempat pelepasan telur dapat berbeda-beda kualitasnya. Pada spesies yang ikan jantannya melakukan pengasuhan terhadap anak, pemilihan pasangan oleh betina sering dipengaruhi oleh karakteristik posisi sarang, selain memperhatikan resiko predasi dan kondisi oksigen yang ada (Spence et al. 2007). Pemilihan tempat pelepasan telur adalah salah satu cara betina menjamin kelangsungan hidup anak. Seperti halnya ikan T. sarasinorum, ikan zebrafish betina adalah pemilih tempat pelepasan telur (Smith et al. 2001). Jadi jika ikan betina aktif memilih tempat pelepasan telur, ikan jantan bisa meningkatkan keberhasilan pemijahannya dengan mengamankan telur yang telah dibuahi. Hal ini tampak pada ikan T. sarasinorum; ikan jantan tampak berusaha menutupi telur yang telah dibuahinya dengan alga atau pasir. Dengan demikian usaha-usaha pemilihan tempat pelepasan telur dan perlindungan telur yang baru dilepaskan oleh ikan T. sarasinorum sesungguhnya adalah bentuk kepedulian induk (parental care). Ikan ini memijah pada substrat batu berpasir, dan tidak ditemukan memijah pada substrat belumpur. Hal ini merupakan strategi reproduksi ikan untuk menjamin kelangsungan keturunannya. Telur yang dilepaskan pada substrat berlumpur bisa tertutup lumpur dan tidak mendapat oksigen, sehingga telur mati. Sebaliknya, substrat kerikil memungkinkan air bersirkulasi melalui ruang-ruang antara sehingga telur-telur teroksigenasi. Selain itu telur yang dilepaskan di antara kerikil terlindung dari kanibalisme dan predasi. Ikan salmon mengubur telurtelurnya di dalam kerikil yang longgar dan banyak ikan cyprinid melepaskan telur secara bebas (egg-scattering) lebih suka memijah pada substrat kerikil (Shackle et al. 1999). Komposisi substrat dan kedalaman habitat merupakan penentu keberadaan ikan-ikan siklid di Danau Malawi (Genner et al. 2004). Habitat pemijahan ikan T sarasinorum sebagian besar tersebar di sisi selatan danau. Hal ini disebabkan bagian selatan Danau Matano mempunyai daerah litoral yang lebih Tabel 2 Lokasi pengamatan, jumlah arena pemijahan dan deskripsi karakter substrat pemijahan No Lokasi Pengamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 S. Lawa Desa Matano Paku Sokoio Pantai Kupu-kupu Pantai Salonsa-A Old Camp S. Tanah Merah P. Otuno I-A P. Otuno II-A S. Petea S. Soluro Pantai Salonsa-B P. Otuno I-B P. Otuno II-B Arena Jumlah Luas Jarak dari pemijahan arena arena tepi danau Habitat 1/ (dalam (m2) (m) Habitat 2 transek) Habitat 1 2 6 4,0 - 8,0 Habitat 1 1 8 5,0 - 10,0 Habitat 1 2 8 5,0 - 10,0 Habitat 1 3 8 5,0 - 6,0 Habitat 1 2 10 5,0 - 10,0 Habitat 1 3 6 3,0 - 5,0 Habitat 1 1 10 3,0 - 5,0 Habitat 1 2 10 2,0 - 5,0 Habitat 1 2 5 4,0 -5,0 Habitat 1 1 5 3,0 - 5,0 Habitat 2 1 4 2,0 - 3,0 Habitat 2 2 4 3,0 - 5,0 Habitat 2 2 6 2,0 - 4,0 Kedalaman arena (m) 0,30 - 0,60 0,40 - 0,60 0,40 - 0,60 0,30 - 0,65 0,30 - 0,75 0,40 - 0,60 0,40 - 0,60 0,40 - 0,60 0,40 - 0,60 0,60 - 0,80 0,30 - 0,60 2,50 - 3,00 2,00 - 2,50 Jumlah Karakter substrat dan % tutupan pada arena pasangan Lumpur/ Batu Batu Batuan dalam Pasir Kerikil lempung bulat besar dasar arena 2-5 30 20 50 2-4 20 80 3-6 20 30 50 60 40 4-6 20 20 60 4-8 30 20 40 10 3-5 30 55 15 2-5 40 40 20 3-4 40 20 20 20 3-4 30 60 10 50 30 20 3-6 30 40 30 2-4 30 40 30 5 - 12 30 70 5 - 10 10 20 40 30 - Ket: Habitat 1 : Substrat dasar batu berpasir Habitat 2 : Substrat perakaran 19 19 19 20 lebar daripada bagian utara. Selain itu, pada sisi utara Danau Matano banyak terdapat batuan besar yang tidak disertai pasir. Sementara itu, vegetasi adalah gambaran umum dari habitat alami zebrafish (Spence et al. 2007). Larvae zebrafish mempunyai perlengkapan untuk melekat dan mampu menempel pada tumbuhan setelah menetas sampai pecahnya gelembung renang. Penjelasan adaptif untuk preferensi ini ditunjukkan dengan meningkatnya kelangsungan hidup telur-telur di dalam kerikil. Telur-telur yang diinkubasi di dalam kerikil menunjukkan kelangsungan hidup yang secara signifikan lebih tinggi daripada di dalam lumpur. Pengaruh ini mungkin karena telur-telur yang diinkubasi di dalam kerikil mengalami oksigenasi yang lebih baik dibandingkan dengan yang diinkubasi di dalam lumpur; di dalam lumpur telur mungkin menghadapi resiko lebih besar terhadap mati lemas/kekurangan nafas atau infeksi oleh mikroorganisme (Wootton 1990). Unsur oksigen sangat diperlukan untuk perkembangan embrio. Keuntungan lain dari kerikil sebagai substrat pemijahan adalah telur-telur jatuh di antara kerikil dan dengan demikian terlindung dari gangguan atau kanibalisme (Spence et al. 2007). Ikan T. sarasinorum yang memijah mencari daerah substrat yang lebih berpori berupa alga pada perakaran dan pasir. Pemilihan arena pemijahan di daerah yang ternaungi mungkin lebih berhubungan dengan kondisi intensitas cahaya yang lebih rendah (Goddard & Mathis 1997). Adanya preferensi tempat pemijahan demikian penting dalam menentukan manajemen habitat. Keadaan hidrologis dan parameter fisik kimiawi perairan Danau Matano Curah hujan dan fluktuasi muka air Curah hujan dan tinggi muka air danau berfluktuasi secara temporal (Gambar 4 dan Lampiran 3). Curah hujan dan fluktuasi muka air dalam satu tahun menunjukkan ketidak serasian, terutama pada periode bulan Mei sampai dengan Agustus. Data tersebut menunjukkan saat curah hujan menurun, tinggi muka air danau justru bergerak naik. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April dan Mei masing-masing 14,78 mm dan 11,37 mm, dan terendah pada bulan Juni yaitu 2,98 mm. 21 Tinggi muka air danau jika dilihat mulai dari Februari – Agustus 2009 tampak periode ini merupakan periode pengisian air danau. Hal ini karena pola yang terbentuk adalah peningkatan tinggi muka air secara terus-menerus tanpa fluktuasi mengikuti periode pola curah hujan. Puncak-puncak muka air danau tampaknya berada dalam periode bulan Agustus - Desember. Keadaan muka air terendah pada bulan Februari berada pada ketinggian 391,46 m dpl, sedangkan muka air tertinggi berada pada bulan September dengan ketinggian 392,65 m dpl. Gambar 4 memberikan informasi bahwa terdapat penurunan air yang terjadi sangat drastis pada periode bulan Desember - Januari dan titik terendahnya terjadi pada bulan Februari. Data ini menunjukkan bahwa tidak terjadi fluktuasi alami pada tinggi muka air danau. Data yang ditampilkan pada periode Desember, Januari dan Februari menunjukkan ada kegiatan pelepasan massa air Danau Matano. Pola tersebut dikhawatirkan akan mengganggu biota perairan yang memanfaatkan daerah litoral sebagai tempat bereproduksi. Hal ini disebabkan pada saat muka air terendah sebagian daerah litoral menjadi kering. Pada saat itu ikan berpindah ke daerah yang masih tergenangi air dengan kedalaman sekitar 0,50 m. Tinggi muka air 392,80 392,60 392,40 392,20 392,00 391,80 391,60 391,40 391,20 391,00 18,00 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 Tinggi muka air (m dpl) Curah hujan (mm) Curah hujan Waktu Gambar 4 Curah hujan rata-rata harian wilayah dan tinggi muka air di Danau Matano selama penelitian 22 Fluktuasi muka air memengaruhi proses dan pola ekologis danau dalam beberapa hal (Wantzen et al. 2008). Pada tahun 2003 dibangun dam di S. Petea yang dimaksudkan untuk pengadaan listrik bagi keperluan industri. Dam tersebut selesai dibangun dan mulai beroperasi pada tahun 2005. Pada waktu pintu air dam ditutup, massa air Danau Matano meningkat. Daerah pinggir danau yang tergenang menjadi bertambah luas. Naiknya muka air menyebabkan daerahdaerah yang tadinya tidak tergenangi menjadi tergenang. Pada saat itu pinggiran danau mengalami abrasi yang menyebabkan tanah bagian atas turun ke perairan menutupi daerah litoral yang menjadi tempat hidup ikan. Sedimentasi ini dapat memengaruhi keberadaan ikan di daerah tersebut. Pada waktu pintu air di dam tersebut dibuka, massa air danau keluar menuju danau-danau di bagian hilir yaitu Danau Mahalona dan Towuti. Hal tersebut menyebabkan penurunan muka air secara tiba-tiba. Daerah-daerah litoral yang tadinya tergenang menjadi kering. Habitat pemijahan ikan asli danau itu yang umumnya terdapat di daerah litoral tiba-tiba menjadi kering. Telur-telur ikan yang baru dilepaskan diduga menjadi mati. Hal ini tentu berpengaruh terhadap keberadaan spesies ikan di habitatnya. Secara alami, pada waktu air surut daerah litoral yang biasanya mengering dimanfaatkan oleh organisme terestrial seperti serangga untuk menjalankan sebagian siklus hidupnya untuk bereproduksi. Daun-daun dari pinggiran danau yang jatuh ke daerah litoral mengering. Pada waktu muka air meningkat, daerah tersebut tergenang air dan daun-daun mengalami dekomposisi. Serangga di perairan dan hasil dekomposisi tumbuhan itu menjadi sumber makanan bagi ikanikan di Danau Matano. Tetapi perlu ditekankan bahwa fluktuasi muka air adalah pola alami yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup banyak spesies. Fluktuasi muka air alami di danau menjamin produktivitas dan biodiversitas. Hanya banjir dan kekeringan yang ekstrim dan yang bukan waktunya memberikan pengaruh berbahaya bagi biota. Pengaturan muka air danau untuk produksi listrik dan mengontrol banjir adalah sebagian dari pengaruh antropogenik utama dalam ekosistem akuatik boreal. Lebih dari 300 danau di Finlandia, yang merupakan sepertiga dari total 23 luas perairan daratan di negara itu, telah mengalami pengaturan oleh manusia (Aroviita & Hämäläinen 2008). Fluktuasi muka air yang diubah adalah sebagian dari pengaruh antropogenik besar di dalam ekosistem danau dan sungai. Konstruksi dam dan reservoir untuk produksi listrik tenaga air dan pengontrol banjir, pemindahan air untuk irigasi, bersama-sama dengan penggunaan air lainnya, telah mengubah rejim alami hidrologis perairan tawar di seluruh dunia. Bagian perairan yang terutama rentan terhadap perubahan muka air adalah zona litoral danau. Organisme di daerah litoral danau mungkin terpengaruh langsung oleh kekeringan, dan terpengaruh tidak langsung oleh berkurangnya ketersediaan habitat dan sumber-sumber makanan. Banyak faktor abiotik terutama di zona litoral danau-danau besar, yang dapat memengaruhi interaksi biotik pada berbagai kedalaman air: tekanan hidrolik pada organisme yang disebabkan oleh aksi gelombang lebih rendah di perairan yang lebih dalam (Baumgärtner et al. 2008). Stabilitas habitat, ukuran partikel substrat dan tempat berlindung makroavertebrata berubah dengan kedalaman air. Sampainya cahaya dan spektrum cahaya menjadi lebih sempit dengan kedalaman, dan komunitas alga epilitik—sumber makanan bagi peramban—berubah. Suhu dan kisaran suhu harian bervariasi bergantung pada kedalaman air dan musim. Fluktuasi muka air jangka panjang berhubungan dengan pergeseran garis pantai yang besar, oleh karena itu dampak utama fluktuasi muka air jangka panjang terhadap ekositem danau adalah perubahan habitat (Hofmann et al. 2008). Fluktuasi muka air jangka panjang membanjiri/menggenangi daerah pinggiran yang sebelumnya kering atau permukaan sedimen di bawah permukaan air yang terpapar pada atmosfir. Jadi, fluktuasi muka air jangka panjang berperan dalam pemilihan spesies sessil yang beradaptasi pada kondisi kering atau basah. Selain itu, fluktuasi muka air jangka panjang menghasilkan suatu perubahan sifat permukaan sedimen di zona litoral, karena ukuran butiran di wilayah pantai tidak tersebar secara homogen tetapi berubah dari besar ke kecil menuju wilayah yang lebih dalam di danau. Daerah yang terutama dipengaruhi oleh fluktuasi muka air jangka pendek adalah zona litoral danau yang dangkal, bahkan sekalipun ketinggian gelombang kecil. Zona litoral sangat penting bagi seluruh ekosistem karena daerah ini 24 ditandai oleh tingginya keragaman dan kelimpahan spesies dan penting untuk reproduksi dan siklus hidup banyak spesies ikan. Fluktuasi muka air dan curah hujan tampak tidak memengaruhi jumlah ikan T. sarasinorum di habitatnya (Bab 3). Kondisi berbeda dapat dilihat pada pemijahan ikan; puncak pemijahan ikan tampak dipengaruhi oleh fluktuasi muka air dan curah hujan (Bab 4). Dinamika karakteristik fisik kimiawi perairan Perairan Danau Matano memiliki karakteristik sifat fisik kimiawi perairan yang unik. Mengingat proses kejadiannya, serta sebagai salah satu danau tertua dan terdalam kedelapan di dunia yang dihuni oleh relatif banyak organisme akuatik endemik tentu mempunyai kualitas perairan yang menarik. Dibandingkan dengan danau-danau tua dunia, kondisi danau saat ini relatif masih lebih baik. Tetapi berdasarkan pengukuran kondisi air (Tabel 3) tampak bahwa perairan danau tidak terlepas dari pengaruh berbagai aktivitas yang ada di sekelilingnya. Tabel 3 Kisaran parameter fisik kimiawi perairan pada setiap lokasi sampling di Danau Matano Parameter fisik Parameter kimiawi Padatan pH tersuspensi total (mg/l) Padatan terlarut total (mg/l) Suhu (ºC) Kecerahan (m) Oksigen terlarut (mg/l) S. Lawa 26,70-29,20 10,20-18,30 5,88-7,43 8,48-8,77 0,50-2,40 80,00-130,00 Ds. Matano 27,80-29,50 11,30-20,30 5,42-6,94 8,45-8,75 0,40-1,60 84,00-134,00 Paku 27,30-29,30 10,00-19,20 5,02-6,93 8,54-8,75 0,30-3,90 80,00-130,00 Sokoio 27,40-30,80 12,25-18,30 5,46-7,22 8,55-8,75 0,40-1,50 80,00-132,00 Pt. Kupu-kupu 28,80-29,80 13,35-18,55 5,18-6,36 8,35-8,79 0,30-1,50 80,00-134,00 Pt. Salonsa-A 28,20-30,00 12,40-17,00 5,22-6,93 8,43-8,74 0,40-2,40 70,00-146,00 Old Camp 28,50-30,20 14,10-21,10 5,02-6,93 8,52-8,79 0,40-1,20 80,00-143,00 S. Tanah Merah 28,30-30,50 13,40-18,45 5,02-6,93 8,47-8,87 0,40-1,50 100,00-134,00 P. Otuno I-A 28,50-30,00 12,10-19,40 5,65-7,45 8,34-8,68 0,70-2,60 90,00-144,00 P. Otuno II-A 29,30-30,40 14,10-18,25 5,02-6,93 8,34-8,68 0,30-2,10 80,00-132,00 S. Petea 28,40-30,40 8,60-13,10 5,77-7,23 8,48-8,65 0,60-2,60 100,00-140,00 S. Soluro 27,30-29,50 13,10-17,20 4,93-6,93 8,34-8,82 0,40-1,40 100,00-154,00 Pt. Salonsa-B 28,00-29,40 12,40-17,00 5,67-6,53 8,22-8,68 0,40-2,40 70,00-146,00 P. Otuno I-B 28,33-30,00 14,00-19,80 5,60-7,35 8,25-8,64 0,70-2,60 90,00-145,00 P. Otuno II-B 29,10-30,08 15,25-19,55 5,22-6,88 8,22-8,66 0,20-1,80 84,00-121,00 Lokasi sampling Selama periode sampling kisaran suhu perairan adalah 26,70 - 30,80 0C; kecerahan perairan 8,60 – 21,10 m; oksigen terlarut 4,93 – 7,45 mg l-1; pH 8,22 – 25 8,87; padatan tersuspensi total 0,20 - 3,90 mg l-1 ; dan padatan terlarut total 70 – 154 mg l-1. Secara spasial terdapat perbedaan nilai hasil pengukuran parameter fisik kimiawi antara lokasi sampling (Tabel 3). Berdasarkan Tabel 3 dan hasil uji rata-rata one way Anova dapat dideskripsikan dinamika parameter fisik kimiawi perairan berikut ini (Gambar 5). Gambar 5 Fluktuasi parameter fisik kimiawi perairan secara spasial di Danau Matano Suhu perairan di lokasi sampling S. Lawa selama periode sampling (26,70 – 29,20 0C) merupakan suhu terendah dibandingkan dengan suhu di lokasi sampling lain kecuali pada bulan November, Februari, Maret, April, Juni dan Agustus. 26 Sungai Lawa merupakan sungai utama yang mengalirkan air masuk ke dalam danau. Lokasi sampling di S. Lawa mempunyai naungan dari pohon di pinggiran danau. Keadaan suhu perairan menurut lokasi sampling menunjukkan adanya perbedaan nyata rata-rata nilai pengukuran suhu di antara lokasi sampling. Suhu terendah berada di S. Lawa (28,08 0C) dan tertinggi di P. Otuno II-A (29,86 0C). Walaupun suhu air di S. Lawa merupakan suhu air terendah dibandingkan dengan suhu air di lokasi-lokasi lain di Danau Matano, hasil uji statistik one way Anova menunjukkan tidak berbeda nyata dengan suhu air di Desa Matano, Pantai Paku dan S. Soluro. Daerah S. Lawa, Desa Matano dan Pantai Paku terletak di bagian hulu danau, sedangkan lokasi sampling di S. Soluro terletak dekat dengan sumber air masuk Danau Matano. Jika dilihat menurut zona, maka tampak bahwa suhu rata-rata perairan di lokasi-lokasi penelitian dalam zona 1 memiliki nilai lebih rendah daripada dua zona yang ada di bagian hilir. Tampak bahwa semakin ke bagian timur danau suhu rata-rata relatif semakin tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Haffner et al. (2001) menemukan bahwa secara vertikal suhu permukaan berkisar antara 27,53 0C – 29,06 0C, dan suhu permukaan dengan suhu pada kedalaman 40 meter hanya memiliki selisih 0,030C (27,53˚C di permukaan dan 27,56 0C untuk pengukuran pukul 09.00). Pengukuran pada waktu menjelang sore hari (pukul 15.00) suhu di permukaan lebih tinggi 1,47 0C daripada keadaan suhu pada kedalaman 20 m (29,06 0C di permukaan dan 27,59 0C di kedalaman 20 m). Menurut Haffner et al. (2001), perairan Danau Matano mengalami percampuran secara vertikal, dan terjadi proses penghangatan secara vertikal setiap hari. Perbandingan kandungan oksigen terlarut rata-rata di antara lokasi-lokasi menunjukkan bahwa S. Lawa memiliki oksigen terlarut tertinggi (5,88 – 7,43 mg l-1). Oksigen terlarut di S. Lawa ini paling tinggi dibandingkan dengan oksigen terlarut di lokasi-lokasi lain di Danau Matano. Hal ini mungkin disebabkan lokasi sampling di daerah ini berada di daerah aliran masuk (inlet) danau dan pengaruh kecepatan arus air yang datang; air lebih bergolak dan air yang lebih sejuk dapat menahan lebih banyak oksigen. Oksigen terlarut rata-rata terendah berada di S. 27 Soluro (5,76 mg l-1 ± 0,56), berbeda nyata dengan oksigen terlarut rata-rata di S. Lawa, P. Otuno I-A, S. Petea, dan P. Otuno I-B. Secara keseluruhan nilai pH perairan di lokasi-lokasi sampling tidak bervariasi lebar, dan tidak ada perbedaan yang nyata. Walaupun demikian, nilai pH air tertinggi ditemukan di lokasi S. Tanah Merah yaitu 8,87 pada bulan Juni. Nilai pH air terendah ditemukan di Pantai Salonsa B (8,22) pada bulan September, dan di P. Otuno II-B (8,22) pada bulan Januari. Berdasarkan pengamatan di bagian hulu S. Lawa terdapat penebangan kayu dan pengambilan rotan yang dilakukan oleh penduduk sekitar danau. Nilai pH di lokasi sampling S. Lawa masih berada dalam kisaran basa dan tidak berbeda jauh dengan kisaran pH di lokasi lain, sehingga diduga aktivitas penduduk tersebut tidak berpengaruh terhadap nilai pH perairan setempat; diamati bahwa penduduk tidak membuang sisa gergajian ke dalam perairan. Kisaran pH perairan Danau Matano berada dalam kisaran basa. Hal ini berkaitan dengan proses kejadian danau; Danau Matano merupakan perairan laut yang terperangkap saat pembentukan pulau Sulawesi. Daerah ini merupakan daerah karst. Batuan yang terdapat di dasar perairan dilapisi antara lain batuan kapur - terutama kalsium karbonat dari cangkang hewan (Whitten et al. 2002). Nilai padatan tersuspensi total rata-rata antar lokasi sampling secara statistik tidak berbeda nyata. Padatan tersuspensi total rata-rata antar lokasi berkisar antara 0,71 – 1,35 mg l-1. Padatan tersuspensi total rata-rata relatif tinggi di S. Petea. Padatan tersuspensi total rata-rata antar lokasi menunjukkan beda nyata antar lokasi. Padatan tersuspensi total rata-rata tertinggi ditemukan di S. Petea (126,00 mg l-1 ± 13,58). Kandungan padatan tersuspensi total rata-rata di S. Petea berbeda nyata dengan di Pantai Kupu-kupu, Pantai Salonsa-A, P. Otuno II-A, dan Pantai Salonsa-B. Padatan tersuspensi total dan padatan terlarut total di daerah S. Petea paling tinggi dibandingkan dengan yang terdapat di lokasi-lokasi pengamatan lain. Hal ini mungkin berhubungan dengan letak S. Petea di bagian timur danau, tepatnya pada out-let danau. Kecerahan perairan rata-rata di P. Salonsa-A dan P. Salonsa-B adalah 15,021 m (± 1,251). Kecerahan perairan rata-rata di kedua lokasi ini berbeda nyata dengan di S. Petea. Kecerahan tampak memengaruhi jarak visual ikan yang 28 berkaitan dengan aktivitas ikan dalam mencari makan dan pemijahan. Ikan-ikan di S. Petea tidak menggunakan daerah ini sebagai lokasi memijah karena tidak terdapat habitat untuk memijah di lokasi ini. Kecerahan paling rendah di S. Petea (8,60 – 13,10 m) karena sungai ini merupakan out-let danau; semua materi yang keluar danau harus melalui sungai ini. Sungai ini berarus kuat yang dapat membawa materi keluar danau. Lokasi pemijahan ikan di S. Lawa yang kandungan oksigen terlarutnya tinggi mempunyai ikan-ikan yang panjang bakunya paling tinggi dibandingkan dengan lokasi lain. Hal sebaliknya tampak di lokasi S. Petea yang mempunyai ikan-ikan dengan panjang baku yang rendah. Oksigen terlarut di S. Petea paling rendah dibandingkan dengan lokasi lain. Dalam kasus ini diduga oksigen berperan dalam proses pertumbuhan ikan. Menurut Tom (1998), oksigen penting dalam proses respirasi dan metabolisme ikan. Laju metabolisme dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen di dalam air. Jika konsentrasi oksigen terlarut menurun, aktivitas respirasi dan makan juga berkurang. Akibatnya laju pertumbuhan menurun dan kemungkinan serangan penyakit meningkat. Tabel 4 Kisaran parameter fisik kimiawi perairan pada setiap bulan di Danau Matano Parameter fisik Parameter kimiawi pH Padatan tersuspensi total (mg/l) Padatan terlarut total (mg/l) 5,65-6,94 8,22-8,82 0,30-3,90 84,00-146,00 9,85-21,10 5,65-7,22 8,36-8,79 0,40-2,40 80,00-125,00 28,30-30,30 9,45-19,15 5,46-6,93 8,33-8,74 0,40-2,40 80,00-133,00 Des '08 27,60-30,20 11,75-16,50 5,18-7,22 8,29-8,67 0,40-2,40 80,00-140,00 Jan '09 26,70-30,50 10,20-18,55 5,18-7,45 8,22-8,78 0,50-1,50 90,00-138,00 Feb '09 28,00-30,20 12,40-20,30 4,93-6,75 8,35-8,58 0,40-2,60 80,00-140,00 Mar '09 27,40-30,30 10,35-17,00 5,02-7,02 8,34-8,79 0,40-2,10 80,00-134,00 Apr '09 27,30-29,60 8,60-19,80 5,02-7,03 8,25-8,72 0,40-2,10 70,00-134,00 Mei '09 28,30-30,20 12,10-19,00 5,43-7,23 8,44-8,75 0,20-1,10 80,00-154,00 Jun '09 27,30-30,30 10,50-17,10 5,22-6,93 8,54-8,87 0,40-1,50 90,00-132,00 Jul '09 27,70-30,80 11,10-18,40 5,35-7,43 8,54-8,72 0,50-1,40 90,00-143,00 Agu '09 28,40-30,30 10,15-19,35 5,02-7,35 8,49-8,75 0,40-2,10 80,00-145,00 Bulan Suhu (ºC) Kecerahan (m) Oksigen terlarut (mg/l) Sep '08 27,50-30,10 10,60-16,00 Okt '08 26,80-30,08 Nov '08 Keadaan fisik kimiawi perairan selama periode sampling berfluktuasi dinamis menurut waktu sampling. Fluktuasi parameter fisik kimiawi perairan 29 secara temporal disajikan dalam Tabel 4 dan Gambar 6, dan dideskripsikan sebagai berikut. Gambar 6 Fluktuasi parameter fisik kimiawi perairan secara temporal di Danau Matano Suhu perairan terendah tercatat pada bulan Januari (26,70 0C) di S. Lawa, dan tertinggi pada bulan Juli (30,80 0C) di Sokoio. Nilai suhu yang terukur dipengaruhi oleh waktu pengukuran, kondisi naungan di lokasi dan kondisi substrat. Suhu tinggi di perairan Sokoio kemungkinan dipengaruhi oleh dindingdinding batuan yang menyusun pinggiran danau. Batuan menyerap panas yang kemudian dipantulkan yang antara lain menyebabkan perairan di sekitarnya 30 menjadi lebih hangat. Selain itu di lokasi sampling tidak terdapat naungan; daerah ini merupakan daerah perairan terbuka. Uji rata-rata dengan menggunakan one way Anova dengan fasilitas Minitab versi 14 pada tingkat kepercayaan 95% diperoleh hasil beda nyata antar waktu sampling (p < 0,05). Suhu pada bulan September 2008 berbeda nyata dengan suhu bulan November 2008, Januari 2009, Juli 2009 dan Agustus 2009. Sementara itu suhu bulan Juli 2009 berbeda nyata dengan suhu rata-rata bulan September 2008, Oktober 2008 dan Maret 2009. Kandungan oksigen terlarut rata-rata perairan dengan nilai terendah pada bulan Juni 2009 yaitu 6,29 mg l-1 (± 0,58) dan tertinggi pada bulan Mei 2009 yaitu 6,37 mg l-1 (± 0,57). Oksigen terlarut rata-rata selama waktu penelitian September 2008 – Agustus 2009 tidak berbeda nyata antar waktu sampling. Nilai pH perairan danau terendah pada bulan September dan Januari yaitu 8,22 dan tertinggi pada bulan Juni 2009 yaitu 8,87. Nilai pH perairan relatif tidak bervariasi jauh antar bulan selama penelitian. Kandungan padatan tersuspensi total rata-rata perairan danau terendah pada bulan Mei 2009 yaitu 0,59 mg l-1 (± 0,24) dan tertinggi pada bulan September 2008 yaitu 1,27 mg l-1 (± 1,02). Padatan tersuspensi total rata-rata bulan Mei 2009 berbeda nyata dengan kandungan rata-rata bulan September dan Oktober 2008. Kandungan padatan terlarut total rata-rata adalah terendah pada bulan Februari 2009 yaitu 100,20 mg l-1 (± 19,50) dan tertinggi pada bulan Juni 2009 yaitu 118,13 mg l-1 (± 15,25). Padatan terlarut total rata-rata setiap bulan selama penelitian tidak berbeda nyata. Kecerahan perairan rata-rata di Danau Matano terendah pada bulan Juni 2009 yaitu 14,56 m (± 1,67) dan tertinggi pada bulan Februari 2009 yaitu 16,91 m (± 2,18). Kecerahan perairan rata-rata bulan Februari 2009 berbeda nyata dengan kecerahan perairan rata-rata bulan Agustus 2009. Penetrasi cahaya di danau dikontrol oleh sedimen-sedimen tersuspensi dari aliran-aliran sungai dan hamparan danau oleh kelimpahan fitoplankton yang mengabsorpsi cahaya untuk fotosintesis (Anderson 1996). Danau Matano diketahui sebagai danau yang perairannya jernih. Nilai pengukuran bahan tersuspensi dan terlarut total relatif rendah sehingga tidak sampai menyebabkan perairan di arena pemijahan keruh. 31 Puncak musim pemijahan ikan T. sarasinorum terjadi pada akhir musim kemarau dan awal musim hujan (Bab 4). Pada waktu-waktu tersebut suhu cenderung meningkat menjadi lebih hangat daripada bulan-bulan sebelumnya. Dendrogram Tingkat kesamaan (%) Single Linkage; Correlation Coefficient Distance 65,54 77,03 85,00 88,51 100,00 a pu ku A p B no io ea B B A A ah r o aw -ku P a sa- o I- ata Cam II - er olu ns a- o I- II- oko Pet L S S. lon tun M ld tuno ah M S. S alo tun tuno S. upu S .O O Sa . O esa O O an K i i a a P D P P. ai P. . T nt nt nt a a S a P P P Lokasi Gambar 7 Pengelompokan habitat pemijahan ikan T. sarasinorum di Danau Matano Kondisi fisik kimiawi perairan di semua lokasi sampling tidak bervariasi jauh, sehingga pengelompokan lokasi sampling dilakukan berdasarkan tingkat kesamaan karakter substrat, luas arena pemijahan, jarak dari tepian danau dan kedalaman arena di masing-masing lokasi (Gambar 7). Hasil pengelompokan lokasi diperoleh tiga kelompok lokasi yang memiliki kesamaan karakter substrat pada selang kepercayaan 85%. Kelompok pertama (S. Lawa, Desa Matano, Paku, Pantai Kupu-kupu, Pantai Salonsa A, Pantai Salonsa B, Old Camp, S. Tanah Merah, P. Otuno I-A, P. Otuno I-B, P. Otuno II-A, P. Otuno II-B, S. Soluro), kelompok kedua (Sokoio), dan kelompok ketiga (S. Petea). Kualitas perairan di lokasi-lokasi tersebut tidak berbeda jauh. Gambar 7 menunjukkan bahwa kesamaan lokasi-lokasi di dalam suatu kelompok lebih banyak ditentukan oleh kondisi substrat habitat pemijahan. Kelompok pertama mempunyai substrat dasar yang disukai oleh ikan untuk pemijahan. Kelompok pertama ini mencakup dua tipe arena pemijahan ikan. Sementara lokasi dalam kelompok kedua mempunyai substrat yang terdiri dari 32 batu besar dengan dinding batuan dasar. Lokasi dalam kelompok kedua ini tidak mempunyai pasir; sehingga tidak ada arena pemijahan ikan. Kelompok ketiga mempunyai substrat dasar dengan kandungan lumpur tinggi, dan tidak terdapar arena pemijahan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa substrat dasar di lokasi menentukan perbedaan setiap lokasi. Efektivitas percampuran vertikal di dalam kolom air juga dikonfirmasi terjadi pada pH dalam kisaran basa (7,4) dan konduktivitas tidak berubah menurut kedalaman (Haffner et al. 2001). Jumlah fitoplankton sangat kecil (< 10 sel ml-1) dan kelimpahan spesies tidak berubah di dalam kolom air. Kedalaman eufotik adalah 40 m dan 32 m pada tahun 1993 dan 1995. Apabila sel-sel fitoplankton tercampur merata di dalam zona eufotik adalah mungkin bahwa percampuran vertikal membatasi produksi ototrofik. Tetapi pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa detritus C lebih berlimpah daripada biomassa alga, sehingga adalah mungkin bahwa jaring makanan Danau Matano disebabkan oleh masukan detritus organik yang berasal dari sekeliling danau. Profil oksigen menunjukkan profil fotosintesis lemah hingga ke bawah kirakira 40 m, dan setelah kedalaman itu oksigen berkurang hingga di bawah 1% kejenuhan. Danau Matano adalah oligotrofik dalam hal jumlah total nitrogen dan total fosfor di atas 100 m dari kolom air. Konsentrasi nitrogen dan fosfor sangat rendah dan sering tidak terdeteksi. Tingginya kecerahan perairan menunjukkan sistem dengan sangat sedikit bahan biotik dan abiotik tersuspensi. Profil oksigen menunjukkan kurva fotosintetik yang meluas ke bawah hingga 40 m, sama dengan prediksi kedalaman eufotik (Crowe et al. 2008). Setelah 40 m konsentrasi oksigen berkurang; penurunan ini merupakan respon terhadap laju respirasi mikroba yang tinggi yang berhubungan dengan metabolisme bahan organik yang mengalami sedimentasi. Di bawah 100 m terdapat gradien suhu/kimia yang tetap yang menunjukkan bahwa Danau Matano dapat didefinisikan sebagai meromiktik (Crowe et al. 2008), dengan sangat sedikit pertukaran kimiawi antara perairan bagian atas dan bawah. Struktur demikian menyumbang secara signifikan pada hilangnya nutrien secara terus-menerus dari epilimnion melalui sedimentasi bahan planktonis. 33 Selain itu, sel-sel alga yang tertinggal kecil kemungkinannya untuk kembali ke lapisan epilimnion. Faktor-faktor fisik seperti ketersediaan cahaya dan percampuran bukan merupakan faktor pembatas, walaupun sedikit pertukaran nutrien melalui lapisan termal yang dalam bisa berperan penting. Sedimentasi bahan biologis dan geologis dapat secara terus-menerus menurunkan cadangan nutrien pada permukaan air bagian atas. Hampir semua jenis aktivitas (pertanian, urbanisasi, komunikasi, pertambangan, industri) menyebabkan peningkatan materi tersuspensi di permukaan perairan, terutama disebabkan oleh deforestasi (Meybeck et al. 1989). Salah satunya adalah perubahan siklus hidrologis yang mengubah intensitas dan kemampuan percampuran badan air dan keseimbangan hidrologis. Namun demikian hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi-lokasi sampling menunjukkan tidak terdapat perubahan nilai yang mencolok antar bulan. Dengan demikian dapat dipandang bahwa kualitas perairan saat ini tidak menyebabkan perubahan keberadaan ikan; jumlah ikan pada setiap bulan sampling tidak banyak bervariasi (Bab 3). Kesimpulan Habitat pemijahan ikan T. sarasinorum tersebar di sepanjang daerah litoral danau. Terdapat dua tipe habitat pemijahan dalam penelitian ini yaitu habitat batu berpasir dan habitat perakaran. Dari 12 lokasi penelitian ditemukan tiga lokasi yang mempunyai dua tipe habitat pemijahan (habitat batu berpasir dan habitat perakaran) yaitu Pantai Salonsa, P. Otuno I, dan P. Otuno II. Lokasi lainnya hanya memiliki satu tipe habitat, yaitu habitat batu berpasir. Tempat pemijahan pada setiap habitat berbentuk arena. Arena ini secara spesifik berada pada daerah yang mendapat naungan bayang-bayang yang berasal dari pohon di tepian danau dan atau dari batu-batu besar yang ada di sekitarnya. Ikan-ikan yang memijah di arena batu berpasir meletakkan telur di antara pasir, sedangkan ikan yang memijah di arena perakaran meletakkan telur pada alga atau sponge air tawar yang menyelimuti perakaran atau batang pohon yang tumbang di dalam air. 34 Parameter fisik kimiawi perairan selama penelitian bervariasi sempit. Kisaran suhu perairan adalah 26,70 - 30,80 0C; kecerahan perairan 8,60 – 21,10 m; oksigen terlarut 4,93 – 7,45 mg l-1; pH 8,22 – 8,87; padatan tersuspensi total 0,20 - 3,90 mg l-1; dan padatan terlarut total 70 – 154 mg l-1. Aktivitas manusia di sekeliling danau belum menyebabkan perubahan kualitas air hingga saat ini. 35 3 SEBARAN SPASIAL-TEMPORAL IKAN T. sarasinorum DI DANAU MATANO Pendahuluan Sebaran ikan T. sarasinorum di Danau Matano pertama kali dilaporkan oleh Kottelat (1991). Hingga saat ini diketahui terdapat sembilan jenis ikan yang termasuk dalam famili Telmatherinidae yang hidup di Danau Matano. Ikan T. sarasinorum adalah salah satunya yang diketahui endemik Danau Matano dan salah satu spesies yang dominan. Menurut Kottelat (1991), ikan ini memiliki penyebaran yang terbatas di daerah litoral sepanjang tepian danau dan lebih sering ditemukan di bagian selatan dari danau. Ikan T. sarasinorum umumnya menyebar di sisi selatan danau yaitu di dekat pulau-pulau sebelah timur danau sampai ke bagian barat danau. Ikan ini umumnya menempati habitat perairan dengan dasar berpasir yang hampir datar, pada perairan yang relatif dangkal (3 berarti pertambahan panjang tidak secepat pertambahan berat. 57 Gambar 16 Hubungan panjang berat ikan T. sarasinorum jantan dan betina Pertambahan panjang ikan T. sarasinorum jantan dan betina tidak secepat pertambahan beratnya. Tubuh ikan jantan lebih tinggi dan lebih tebal dibandingkan dengan ikan betina. Faktor kondisi Perhitungan nilai Kn rata-rata ikan jantan dan betina di setiap lokasi menunjukkan bahwa Kn rata-rata ikan jantan lebih tinggi dibandingkan dengan Kn rata-rata betina (Gambar 17). Nilai Kn rata-rata ikan jantan adalah 1,088 (±0,154; N=2180) sedangkan Kn rata-rata ikan betina adalah 1,040 (±0,156; 58 N=985). Selanjutnya uji rata-rata nilai Kn dengan menggunakan one way Anova menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata nilai Kn ikan jantan antar lokasi (P>0,05), tetapi ada perbedaan nyata yang kecil nilai Kn ikan betina antar lokasi (P0,05). Perbedaan ini diduga berkaitan dengan musim pemijahan; pada musim pemijahan nilai Kn meningkat. Nilai Kn rata-rata ikan jantan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 1,196 (±0,167; N=174) dan terendah pada bulan Juni yaitu 1,001 (±0,124; N=171). Nilai 59 Kn rata-rata ikan betina tertinggi terjadi pada bulan Februari yaitu 1,212 (±0,121; N=75) dan terendah pada bulan Mei yaitu 0,846 (±0,080; N=100). Pada bulan Februari dan Maret saat memasuki musim hujan nilai Kn ikan betina dan jantan tinggi; pada saat itu ikan diduga mengumpulkan energi untuk persiapan pemijahan pada bulan berikutnya. Pada bulan Mei dan Juni ikan baru selesai memijah, nilai Kn ikan betina dan jantan pada waktu itu paling rendah. Hal ini ditandai oleh semakin rendahnya jumlah ikan TKG IV. Gambar 18 Faktor kondisi relatif ikan T. sarasinorum jantan dan betina secara temporal Tingkat kematangan gonad Secara mikroskopis, tingkat-tingkat kematangan gonad ditentukan berdasarkan distribusi oosit dan sel-sel spermatogenik. Tipe pemijahan diidentifikasi berdasarkan karakteristik histologis ovari yang dipijahkan dan distribusi frekuensi tingkat-tingkat kematangan gonad (Goncalves et al. 2006). Secara makroskopis, ovari bervariasi volumenya, ketebalan dan warnanya, menurut tingkatan kematangan gonad. Secara mikroskopis, dibungkus oleh tunica 60 albuginea yang mengeluarkan septae ke bagian dalam organ, membentuk ovigerous lamellae dimana terdapat oosit dengan tingkat-tingkat perkembangan berbeda. Morfologi testis dan spermatogenesis Testis T. sarasinorum berupa organ berpasangan, memanjang dan fusiform terletak di dalam rongga perut secara lateral ke saluran pencernaan. Testis terdapat bebas dan menyatu pada ujung kaudal membentuk spermatic duct yang biasa, yang terbuka pada urogenital papilla, dimana spermatozoa meninggalkan tubuh. Gambar 19 Struktur histologis gonad ikan T. sarasinorum jantan Ket.: A=TKG I, B=TKG II, C=TKG III, D=TKG IV, E=TKG V, Sg=spermatogonia, Sc= spermatosit, Spt=spermatid, Sz=spermatozoa, Lo=lobul. Secara mikroskopis, testis dibungkus oleh tunica albuginea yang memunculkan septae ke bagian dalam organ, membentuk lobul yang berisi tubule 61 seminiferi. Dinding tubule ini terdiri dari kista yang dibatasi oleh perpanjangan sitoplasma sel-sel Sertoli. Pengamatan histologis gonad jantan menunjukkan bahwa di dalam gonad jantan terdapat spermatogonia yang menyebar (Gambar 19). Pada TKG I sel-sel punca berada di dalam spermatogonia (SG). Pada TKG II lebih banyak kista berisi spermatogonia, dan pada meiosis spermatogonia menjadi spermatosit (ST). Setelah memasuki TKG III, kista menunjukkan adanya spermatid (SPT) yang mengalami spermiogenesis, dan sel-sel berubah menjadi spermatozoa (SZ). Dinding kista pecah dan spermatozoa dikeluarkan ke dalam lobule lumen. TKG IV adalah tahap akhir spermatogenesis. Spermatozoa yang berada di dalam lobule lumen bertambah banyak, dan spermatozoa masuk ke dalam efferent duct. Batch-batch baru dari sel-sel di dalam kista matang perlahan-lahan. Kista yang berisi spermatogonia lebih dahulu menghilang, diikuti oleh spermatosit dan spermatid, sampai semua sel di dalam gonad menyelesaikan spermatogenesis. Pada TKG V terdapat banyak ruang kosong karena banyak spermatozoa yang telah dikeluarkan saat pemijahan. Spermatozoa yang tertinggal dalam tubule seminiferi mengalami fagositosis (Lampiran 11). Morfologi ovari dan oogenesis Berbeda dengan ikan pada umumnya yang mempunyai ovari berpasangan, pada T. sarasinorum ovari berbentuk organ tunggal yang membulat terletak di dalam rongga perut di bagian posterior hati dan lateral saluran pencernaan. Ovari terdapat bebas dan pada bagian posterior berupa oviduct, yang terbuka pada urogenital papilla di depan anus. Secara makroskopis, ovari bervariasi volume, ketebalan dan warnanya, menurut tingkatan kematangan gonad. Ovari yang belum matang berwarna agak jernih. Ovari dibungkus oleh selaput tipis berwarna hitam pada ovari yang belum matang, dan kuning pada ovari yang sudah matang, dan didalamnya terdapat oosit dengan tingkat-tingkat perkembangan berbeda. Ovari yang sudah matang mengisi sepertiga rongga perut. Pengamatan dengan mikroskop menunjukkan terdapat filamen yang tumbuh mengelilingi oosit. Diameter oosit bertambah dengan berkembangnya oosit. Fungsi dari filamen tersebut adalah untuk melekatkan embrio yang sedang berkembang pada substrat. 62 Selama oogenesis, oogonia (kecil, dengan sebuah nukleus vesikel, sebuah nukleolus pusat dan sedikit sitoplasma) merupakan asal dari oosit. Oogenesis adalah suatu fase fundamental dalam proses reproduksi organisme. Oogenesis memberikan gambaran rinci tentang kondisi reproduksi ikan betina. Gambar 20 Struktur histologis gonad ikan T. sarasinorum betina Ket.: A= TKG I, B=TKG II, C=TKG III, D=TKG IV, E=TKG V, Og= oogonia, Nu= nukleus, Os=oosit, Ot=ootid, Kt= kuning telur, Oa= oosit atresia, Bm= butiran minyak, Do= dinding ovari Gonad ikan betina yang berada pada kondisi TKG I menunjukkan perkembangan gonad dimana oogonia tersebar di dalam ovari dengan ukuran yang sangat kecil (Gambar 20). Selanjutnya oogonia akan berkembang melalui pembelahan meiosis. Pada TKG II oosit bertambah volume dan ukurannya. Telur 63 masih berupa butiran kecil berwarna putih susu. Pada TKG III, oosit dapat dilihat dengan mata telanjang. Ootid terbentuk; pada tahap ini telur memasuki tahap pematangan gonad. Pada tahap ini terdapat tiga kelompok ukuran telur. Telur yang masih kecil berwarna putih, kemudian telur yang berkembang berwarna kekuningan, dan telur yang matang berwarna kuning bening dengan nukleus berukuran besar. Pada TKG IV, ootid berkembang menjadi ovum. Sebagian telur di dalam ovari mulai matang. Telur yang sudah siap dipijahkan ditandai dengan adanya nukleus berukuran besar dan dikelilingi oleh butiran kuning telur dan nukleolus. Pada TKG V tampak banyak oosit atresia yang bentuknya tidak beraturan (Lampiran 12). Pemijah berulang ditandai oleh pola temporal tingkat-tingkat ovari makroskopik, kejadian teratur ovari yang salin sebagian, dan pola perkembangan oosit, dengan lepasnya oosit matang dalam batch, seperti dalam kasus Cichla monoculus (Chellappa et al. 2005). Awal kematangan kelamin merupakan fase transisi yang kritis dalam sejarah hidup, karena alokasi sumberdaya terutama berhubungan dengan pertumbuhan sebelum dan pada reproduksi setelah kematangan kelamin (Chellappa et al. 2005). Proses reproduksi, seperti kematangan gonad, pada ikan-ikan tropis dipengaruhi oleh berbagai perubahan lingkungan yang dirangsang oleh awal musim hujan. Beberapa ikan jantan, terutama yang matang untuk pertama kalinya, menghasilkan lebih sedikit sel-sel punca yang sedang matang di dalam gonadnya (Dziewulska & Domagała 2003). Dengan kata lain, sebagian besar sel-sel punca tetap tidak aktif, pada tingkat spermatogonium, dalam satu siklus reproduksi. Kondisi ini disebut ―pematangan tidak sempurna‖. Frekuensi jumlah ikan jantan dan betina menurut status tingkat kematangan gonad (TKG) ditampilkan secara spasial dan temporal dalam Gambar 21 - 23. Persentase TKG ikan jantan dan betina berfluktuasi baik berdasarkan lokasi, waktu maupun kelas ukuran. Secara umum, jumlah ikan jantan TKG IV adalah dominan pada setiap lokasi dan waktu sampling. Uji rata-rata dengan menggunakan two way Anova menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata jumlah ikan jantan di setiap lokasi (F=1,47; P=0,153; df=14; α=0,05). Jumlah rata-rata ikan jantan menurut TKG 64 berbeda nyata menurut lokasi (F=60,66; P=0,000; df=4; α=0,05). Jumlah rata-rata ikan jantan TKG IV adalah dominan di setiap lokasi, sedangkan antara jumlah rata-rata ikan jantan TKG I, II, III dan IV tidak berbeda nyata antar lokasi (Gambar 21). Gambar 21 Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) secara spasial Secara umum, jumlah ikan betina TKG IV dan V adalah dominan pada setiap lokasi dan waktu sampling. Uji rata-rata dengan menggunakan two way Anova menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata jumlah ikan betina di setiap lokasi (F=1,29; P=0,245; df=14; α=0,05), sedangkan jumlah rata-rata ikan betina menurut TKG berbeda nyata menurut lokasi (F=66,80; P=0,000; df=4; α=0,05). Jumlah rata-rata ikan betina TKG IV dan V tidak berbeda nyata, tetapi berbeda nyata dengan jumlah ikan betina TKG I, II dan III di setiap lokasi. Jumlah rata-rata ikan betina TKG I, II dan III tidak berbeda (Gambar 21). 65 Gambar 22 Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) secara temporal Jumlah rata-rata ikan jantan tidak berbeda nyata antar waktu sampling (F=0,31; P=0,979; df=11; α=0,05), sedangkan ikan betina tidak berbeda nyata antar waktu sampling (F=0,21; P=0,996; df=11; α=0,05). Sementara jumlah ratarata ikan jantan dan betina menurut TKG berbeda nyata antar waktu sampling; one way Anova untuk jantan (F=331,23; P=0,000; df=4; α=0,05) dan betina (F=0,21; P=0,996; df=11; α=0,05). Jumlah rata-rata ikan jantan TKG IV adalah dominan pada setiap waktu (Gambar 22), sedangkan jumlah rata-rata jantan TKG I, II, III dan V tidak berbeda nyata. Sementara jumlah rata-rata ikan betina TKG IV adalah dominan pada setiap waktu sampling, tetapi tidak berbeda nyata dengan jumlah betina TKG V, dan berbeda nyata dengan jumlah betina TKG I, II dan III. Histogram untuk setiap tingkat kematangan gonad ikan jantan dan betina pada setiap waktu sampling menunjukkan bahwa ikan T. sarasinorum memijah 66 Gambar 23 Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina (bawah) menurut kelas ukuran sepanjang waktu (Gambar 22). Hal ini ditandai dengan ditemukannya semua tingkat kematangan gonad dengan persentase berbeda-beda pada setiap bulan. Ikan yang merupakan pemijah bertahap pada gonadnya diperoleh komposisi tingkat kematangan yang terdiri dari berbagai tingkatan dengan persentase berbeda-beda (Cárdenas et al. 2008; Goncalves et al. 2006; Şaş 2008). Jumlah rata-rata ikan jantan tidak berbeda nyata antar kelas ukuran (F=1,84; P=0,075; df=11; α=0,05), sedangkan jumlah rata-rata ikan jantan menurut TKG berbeda nyata antar kelas ukuran (F=12,33; P=0,000; df=4; α=0,05). Jumlah ratarata ikan jantan TKG IV adalah dominan pada setiap kelas ukuran; jumlah ratarata ikan jantan TKG I, II, III dan V tidak berbeda nyata (Gambar 23). Berdasarkan Gambar 23 tampak bahwa kelas ukuran 22,44-26,83 dan 26,84-31,23 mm diisi oleh ikan jantan TKG I (100%). Kelas ukuran 31,24-35,63 mm didominasi oleh ikan jantan TKG I (83%). Selanjutnya kelas ukuran 35,64-40,03 mm didominasi oleh ikan TKG II (83%). Kelas-kelas ukuran berikutnya 67 didominasi oleh ikan jantan TKG IV. Kelas ukuran terbesar hanya berisi ikan jantan TKG IV (96%) dan V (4%). Dengan demikian jelas bahwa kelas-kelas ukuran kecil didominasi oleh ikan TKG I atau II, sedangkan kelas-kelas ukuran besar yang hadir di arena pemijahan umumnya adalah ikan yang siap memijah. Jumlah rata-rata ikan betina berbeda nyata antar kelas ukuran (F=3,45; P=0,002; df=11; α=0,05). Begitu pula, jumlah rata-rata ikan betina menurut TKG berbeda nyata antar kelas ukuran (F=4,42; P=0,004; df=4; α=0,05). Jumlah ratarata ikan betina TKG IV dan V tidak berbeda nyata dengan jumlah betina TKG III, tetapi berbeda nyata dengan jumlah TKG I dan II (Gambar 23). Gambar 23 menunjukkan bahwa kelas ukuran 35,64-40,03 mm didominasi oleh ikan betina TKG I (60%). Kelas-kelas ukuran berikutnya didominasi oleh ikan-ikan betina TKG IV dan atau V. Ikan-ikan T. sarasinorum jantan dan betina yang berada di dalam habitat pemijahan adalah ikan-ikan dewasa kelamin yang siap untuk memijah. Umumnya ikan jantan berada pada TKG IV yang berukuran antara 40,04 mm sampai dengan 75,23 mm, sedangkan ikan betina berukuran antara 40,04 – 66,43 mm. Ikan-ikan ini memijah setiap waktu, tetapi puncaknya adalah pada akhir musim kemarau dan musim hujan dengan muka air yang meningkat. Puncak pemijahan ikan T. sarasinorum tampak dipengaruhi oleh fluktuasi muka air dan curah hujan. Banyaknya ikan yang mempunyai TKG IV pada waktu akhir musim kemarau dan awal musim hujan mengantar pada dugaan bahwa ikan T. sarasinorum mempunyai puncak pemijahan pada waktu-waktu tersebut yang disertai kenaikan muka air danau. Ikan memijah pada akhir musim kemarau, sehingga diperkirakan makanan akan cukup tersedia bagi larva pada waktu air naik kembali pada musim hujan. Telur-telur ikan-ikan yang dipijahkan di daerah litoral yang dangkal memiliki peluang mengalami bahaya kekeringan jika terjadi penurunan massa air akibat dibukanya pintu air untuk kepentingan pembangkit listrik yang ada di Danau Towuti (Gambar 4 pada Bab 2). Komposisi dan fluktuasi tingkat kematangan gonad ikan T. sarasinorum disajikan pada Gambar 19. Tahap matang gonad atau memijah (TKG IV) pertama kali ditemukan pada kisaran panjang baku 40,04 – 44,43 mm untuk jantan dan 35,64 – 40,03 mm untuk betina. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ikan 68 betina lebih cepat matang daripada ikan jantan. Ikan jantan TKG I dan II tidak terdapat di habitat perakaran di P. Otuno I dan P. Otuno II, sedangkan ikan TKG III tidak ditemukan dalam sampel di Pantai Salonsa. Sementara ikan betina didominasi oleh ikan-ikan tingkat kematangan akhir hingga pascapemijahan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ikan-ikan yang berada di habitat perakaran adalah ikan-ikan yang siap memijah. Indeks kematangan gonad Indeks kematangan gonad (IKG) ikan T. sarasinorum untuk setiap TKG secara keseluruhan ditampilkan pada Tabel 5. Tampak bahwa semakin tinggi tingkat kematangan gonad ikan semakin tinggi pula indeks kematangan gonadnya, kecuali pada ikan jantan TKG V. Hal ini karena jantan mulai mempersiapkan kembali untuk perkembangan gonad pada pemijahan berikutnya. Tabel 5 Nilai indeks kematangan gonad ikan T. sarasinorum jantan dan betina untuk setiap tingkat kematangan gonad Jenis kelamin Jantan Betina TKG I II III IV V I II III IV V IKG (%) Rata-rata 0,548 0,632 0,945 1,915 1,158 0,363 0,418 1,092 2,298 2,849 SB 0,818 0,288 0,274 0,795 0,891 0,287 0,229 0,393 0,956 0,977 Indeks kematangan gonad rata-rata ikan jantan dan betina di setiap lokasi menunjukkan bahwa IKG rata-rata ikan jantan lebih rendah dibandingkan dengan IKG rata-rata betina (Gambar 24). Nilai IKG rata-rata ikan jantan adalah 1,541 (± 0,901; N=2180) sedangkan IKG rata-rata ikan betina adalah 2,261 (±1,132; N=985). Selanjutnya uji rata-rata nilai IKG dengan menggunakan one way Anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata nilai IKG ikan jantan antar lokasi (P
Reproduksi ikan Telnatherina sarasinorum (Kottetat, 1991) sebagai dasar konservasi di danau Matano Sulawesi Selatan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Reproduksi ikan Telnatherina sarasinorum (Kottetat, 1991) sebagai dasar konservasi di danau Matano Sulawesi Selatan

Gratis