PEMANFAATAN KULIT KAKAO YANG DIFERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp)

Gratis

1
5
41
2 years ago
Preview
Full text
PEMANFAATAN KULIT KAKAO YANG DIFERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp) Skripsi ARI PRATAMA 0814111027 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2014 ABSTRAK PEMANFAATAN KULIT KAKAO YANG DIFERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp) Oleh ARI PRATAMA Penelitian dilakukan untuk mengetahui nilai nutrisi tepung kulit kakao yang di fermentasi dan pengaruh pemanfaatan limbah kulit kakao terhadap pertumbuhan lele sangkuriang (Clarias sp.). Penelitian dilakukan dengan menggunakan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Pakan A (kontrol), pakan B dengan tepung kulit kakao 20%, pakan C dengan tepung kulit kakao 25%, dan pakan D dengan tepung kulit kakao 30%. Ikan uji yang digunakan adalah lele sangkuriang dengan berat rata - rata 8,5 gram. Wadah pemeliharaan yang digunakan adalah kolam terpal sebanyak 12 buah dengan ukuran 200 x 100 x 50 cm. Kolam tersebut diisi benih lele sangkuriang sebanyak 100 ekor/kolam. Pemberian pakan dengan cara ad libitum sebanyak tiga kali sehari selama 60 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan uji yang terbaik yaitu pakan A (kontrol) sedangkan pakan D dengan tepung kulit kakao 30% memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pakan B dengan tepung kulit kakao 20% dan pakan C dengan tepung kulit kakao 25%. Pakan A memberikan hasil pertumbuhan mutlak sebesar 75,67 gram, pertumbuhan harian sebesar 1,26 gram/hari dan Feed Convertion Ratio (FCR) 1,32. Dengan parameter pengamatan analisis ragam (Annova) berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Kualitas air disetiap perlakuan masih dalam keadaan optimum untuk budidaya Kata kunci: Kulit Kakao, Pakan buatan, Lele sangkuriang, Pertumbuhan, Feed Convertion Ratio (FCR) ABSTRACT UTILIZATION OF FERMENTED COCOA RIND AS RAW MATERIAL FISH FEED OF SANGKURIANG CATFISH(Clarias sp) By ARI PRATAMA Research were conducted to know the nutritional value of fermented cocoa rind flour and the influence of utilization of the waste cocoa rind against the growth of sangkuriang catfish (Clarias sp). Research was carried out using 4 treatments and 3 repeated. Feed A is the control, feed B use 20% cocoa rind flour, feed C use 25% cocoa rind flour, and feed D use 30% cocoa rind flour. The test fish was sangkuriang catfish, average weight 8,5 gram. Pond of cultivation was used 12 pieces pond tarps with size 200 x 100 x 50 cm. The pond is filled by sangkuriang catfish (Clarias sp) contains with 100 per pond. Ad libitum feeding was given three times a day during 60 days of cultivation. The results showed the best is feed A (control), whereas feed D with 30% cocoa rind flour showed a better results than feed B that use 20% cocoa rind flour and feed C that use 25% cocoa rind flour. Feed A showed the absolute growth of 75,67 gram, daily growth of 1,26 gram per day and Feed Convertion Ratio (FCR) 1,32. With the parameters of different varieties of real analysis observations between treatment (P < 0,05). Water quality in every treatment is still in a optimum condition of cultivation. Keyword: cocoa rind, artificial feed, sangkuriang catfish, growth, Feed Convertion Ratio (FCR). PEMANFAATAN KULIT KAKAO YANG DIFERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp) Oleh ARI PRATAMA Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERIKANAN Pada Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 03 Maret 1990. Peneliti adalah anak kedua dari empat bersaudara, pasangan Bapak Asari dan Ibu Harni. Penulis menyelesaikan pendidikan di Taman Kanakkanak Aisyah Bustanul Athfal Pugung Raharjo pada tahun 1997, tamat dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 01 Pugung Raharjo pada tahun 2002. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pugung Raharjo pada tahun 2005. Penulis tamat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bandar Sribhawono pada tahun 2008 dan aktif dalam semua kegiatan organisasi. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan kejenjang S1 terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada tahun 2008. Selama menjadi mahasiswa penulis mengikuti kegiatan kemahasiswaan yaitu HIDRILA pada tahun 2008 sebagai Anggota Bidang penelitian dan pengembangan dan pada tahun 2009 sebagai anggota bidang pengabdian masyarakat. Penulis pernah mengikuti praktik umum di Balai Budidaya Ikan Air Tawar Curug Barang, Pandeglang, Banten dengan judul ”Pembenihan Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus)”. Pada tahun 2014, penulis menyelesaikan tugas akhirnya dengan menulis skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Kulit Kakao yang Difermentasi Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp)”. Kupersembahkan karya ini kepada Allah SWT sebagai wujud rasa syukur atas pencapainku saat ini Bapak dan Ibu tercinta berserta ketiga adikku tersayang atas cinta, kasih sayang, dan doa yang tak ternilai harganya sahabatku dan almamaterku tercinta. MOTTO Jangan pernah meragukan keberhasilan Sekelompok kecil orang yang bertekad mengubah dunia Karena hanya kelompok seperti itulah yang pernah berhasil melakukannya (Margaret Mead) DOA dan USAHA KERAS adalah kunci dari kekuatan dan kemajuan diri kita Pendidikan adalah senjata paling dahsyat yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia (Nelson Mandela) SANWACANA Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Kulit Kakao yang di fermentasi Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.)” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan di Universitas Lampung. Selama proses penyelesaian skripsi, penulis telah memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. 2. Ibu Ir. Siti Hudaidah, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Budidaya Perairan Universitas Lampung. 3. Bapak Ir. Suparmono, M.T.A. selaku dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing dengan penuh kesabaran 4. Bapak Limin Santoso, S.Pi., M.Si selaku dosen Pembimbing Utama yang telah membimbing, mengarahkan, memberi semangat dan saran-saran yang membangun dari awal hingga selesainya skripsi ini. 5. Bapak Wardiyanto, S.Pi., M.P selaku dosen Pembimbing Kedua yang telah membimbing, mengarahkan, nasehati penulis dalam menyelesaikan karya ini. 6. Bapak Agus Setyawan, S. Pi., M. S. selaku dosen Pembahas dengan ketelitian dan kecermatan yang dimilikinya, telah memberikan perhatiannya secara penuh. 7. Kedua orang tua tercinta Bapak Asari dan Ibu Suharni terimakasih untuk setiap doa, motivasi, kasih sayang, materi, dan kesabaran yang selalu menjadi semangat dalam setiap nafas. 8. Adik-adikku Cahya sari, Muhakbar dan Muhakmal terima kasih untuk setiap doa, dukungan, keceriaan, dan kebersamaan yang menjadi motivasi terbesar dalam hidupku. 9. Kepada bang Edo, bang Bowo, bang Aan, bang Leo, kang Hasim, bang Gajoul, kang Bendol, bang Agung, bang Sanny, bang Candra dan sahabat seperjuangan Suhendra terimakasih untuk saran-saran, perhatian, kebersamaan, dan semangat yang kalian berikan sehingga menjadikanku manusia berkarakter dan dapat hidup mandiri. . 10. Teman-teman seperjuangan khususnya angkatan 2008 setra adik-adik tingkat 2009, 2010 dan 2011 yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu terimakasih untuk setiap waktunya semoga ukhuwah kita tetap terjalin. Bandar Lampung, Agustus 2014 Penulis Ari Pratama 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ikan merupakan salah satu sumber pangan yang bergizi. Selain sebagai sumber protein juga sebagai sumber asam lemak esensial yang menunjang perbaikan kualitas sumberdaya manusia. Untuk mendukung pengadaan ikan sebagai pangan tidak hanya mengandalkan hasil tangkapan di laut, tetapi juga hasil usaha budidaya, baik di perairan laut maupun tawar. Salah satu ikan air tawar yang saat ini banyak dibudidayakan adalah ikan lele sangkuriang ( Clarias Sp.), ikan ini merupakan jenis ikan catfish air tawar ekonomis penting yang sudah lama dibudidayakan dan pembudidayanya hampir merata di seluruh Indonesia. Dalam usaha budidaya lele sangkuring, faktor yang terpenting dalam usaha pembesaran menjadi ikan konsumsi adalah ketersediaan pakan dalam jumlah cukup serta berkualitas untuk ikan lele sangkuriang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pakan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam keberhasilan kegiatan budidaya karena kandungan pakan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan ikan akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan ikan. Kualitas pakan akan dipengaruhi oleh komposisi bahan baku yang digunakan. Pemakaian bahan baku dengan kandungan yang sesuai dengan kebutuhan ikan sangat baik dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan ikan. Namun salah satu hambatan dalam pembuatan pakan tersebut adalah ketersediaan bahan baku 1 yang mahal karena masih diimpor dari luar negeri. Bahan baku pakan ikan yang diimpor tersebut antara lain: tepung ikan, tepung cumi, tepung krustasea, tepung kedelai, serta berbagai jenis vitamin dan mineral (KKP, 2009). Oleh karena itu, perlu dicari bahan baku pakan alternatif yang murah, berkualitas, dan tersedia sepanjang waktu. Kakao (Theobroma cacao) merupakan salah satu tanaman komoditi ekspor di Provinsi Lampung. Menurut Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung luas areal tanaman kakao Rakyat di Provinsi Lampung tahun 2009 mencapai 39,556 ha dengan produksi 27,429 ton, sedangkan luas areal kebun kakao milik swasta mencapai 3,198 ha dengan produksi 4,037 ton. Di Provinsi Lampung terdapat 6 perusahaan pengolahan kakao. Pada pengolahan buah kakao selain menghasilkan tepung kakao, perusahan juga menghasilkan limbah berupa kulit kakao yang tidak dimanfaatkan. Berdasarkan survei lapangan kulit kakao dibuang begitu saja, belum dimanfaatkan secara optimal khususnya di daerah Lampung. Biasanya kulit kakao hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk kompos. Padahal ditinjau dari potensinya kulit kakao dapat dijadikan salah satu bahan alternatif yang digunakan sebagai bahan baku pakan ikan. Roesmanto (1991) menyatakan bahwa kandungan nutrisi pada kulit kakao yaitu : bahan kering 90,4%, protein kasar 6,00%, lemak 0,90%, serat kasar 31,5% dan abu 16,4%. Namun pemberian kulit kakao yang segar dan dikeringkan dengan sinar matahari secara langsung atau tanpa difermentasi dulu mengakibatkan penurunan berat badan pada ternak atau ikan, karena masih rendahnya kandungan protein pada kulit kakao. Oleh karena itu sebelum pemberian pada ternak atau ikan sebaiknya difermentasi terlebih 2 dahulu untuk meningkatkan nilai nutrisinya, akan tetapi tetap harus diperhatikan batasan konsentrasi pemberianya karena adanya senyawa anti nutrisi theobromin. Kulit kakao mengandung alkaloid theabromin yang merupakan faktor pembatas pada pemberian limbah kulit kakao sebagai pakan (Baharrudin, 2007). Fermentasi adalah suatu proses perubahan kimiawi dari senyawa-senyawa organik karbohidrat, lemak, protein dan bahan organik lain (Rarumangkay, 2002). Secara terbatas masyarakat hanya mengenal proses fermentasi sebagai pengubahan karbohidrat menjadi alkohol. Ditinjau dari metabolis bahwa fermentasi merupakan suatu reaksi oksidasi-reduksi di dalam sintesa biologi, yang menghasilkan energi sebagai donor dan akseptor elektron. Senyawa organik yang digunakan yaitu karbohidrat dalam bentuk glukosa. Senyawa ini akan diubah oleh reaksi reduksi dengan katalis enzim menjadi asam. 1.2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kulit kakao yang difermentasi sebagai bahan baku pakan terhadap pertumbuhan ikan lele sangkuriang. 1.3. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada praktisi budidaya mengenai penggunaan kulit kakao yang telah difermentasi sebagai bahan baku pakan buatan untuk ikan lele sangkuriang. 1.4. Kerangka Pemikiran Ikan lele disamping sebagai salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat, juga merupakan komoditas yang dapat menunjang ekonomi rumah 3 tangga. Namun, dalam budidaya ikan secara intensif yang jadi masalah bagi para petani ikan adalah harga pakan ikan yang semakin mahal. Karena ketersediaan bahan baku pakan ikan di Indonesia masih sangat tergantung pada bahan baku impor sehingga mempengaruhi harga pakan ikan. Salah satu usaha yang diupayakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memanfaatkan kulit kakao yang telah difermentasi sebagai bahan baku pakan ikan. Kulit kakao merupakan limbah agroindustri yang menghasilkan tanaman kakao. Buah kakao terdiri dari 74% kulit, 2% plasenta dan 24% biji. Sehingga dalam 1 kg buah kakao didapat limbah kulit kakao sebanyak 0,74 kg kulit kakao (Kurniansyah et al, 2011). Produksi buah kakao sangat melimpah hampir setiap tahun, sedangkan kulit kakao belum banyak dimanfaatkan sehingga harganya masih relatif murah khususnya di daerah Lampung. Biasanya kulit kakao hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pupuk ataupun hanya dibuang begitu saja. Penggunaan kulit kakao dalam pakan masih dibatasi oleh beberapa hal yaitu: kandungan serat kasar yang tinggi 32,7% (Prabowo et al. 2002) dan kulit kakao mengandung theobromin apalagi dikonsumsi terus menerus akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan dan keracunan pada ikan ataupun ternak (Baharrudin,2007). Selain kandungan serat kasar yang tinggi, kulit kakao memiliki kandungan protein yang rendah. Sehingga diperlukan suatu proses untuk meningkatkan nilai nutrisi pada kulit kakao dengan dilakukannya proses fermentasi yang diharapkan dapat meningkatkan kandungan protein serta menurunkan serat kasar pada kulit kakao agar mudah dicerna oleh ikan. Secara umum kerangka pikir dalam penelitian dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini. 4 Lele Sangkuriang ( Clarias Sp.) Pakan Buatan Pakan alami Sumber Protein Sumber Karbohidrat Sumber Lemak Sumber Vitamin dan Mineral Bahan Baku Impor Bahan Baku Lokal - Tepung kulit kakao - Kandungan protein 6 % - Jumlah limbah kulit kakao melimpah - Harga murah - Mengandung Theobromin yang kurang baik untuk tenak dan ikan Pakan ikan yang berkualitas dengan harga yang murah Tepung ikan Tepung cumi Tepung crustasea Tepung kedelai Vitamin dan mineral (Tepung Kulit Kakao Terfermentasi) - Kandungan protein 8 % - Serat kasar berkurang sehingga mudah dicerna oleh ikan - Kandungan Theobromin berkurang sehingga aman bagi ikan Pendapatan petani ikan meningkat Gambar 1. Kerangka pikir penelitian 5 1.5. Hipotesis Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: H0 : i = 0 Penggunaan kulit kakao yang telah difermentasi sebagai pakan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan pada ikan lele sangkuriang. H1 : i ≠ 0 Setidaknya ada 1 perlakuan penggunaan kulit kakao sebagai pakan terhadap pengaruh pertumbuhan pada ikan lele sangkurian. 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Lele Sangkuriang 2.1.1. Sejarah Singkat Lele Sangkuriang Lele sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silangbalik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6) lele Dumbo. Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele Dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di BBPBAT Sukabumi. Sejak tahun 2000 BBPBAT Sukabumi telah menghasilkan ikan lele sangkuriang yang memiliki pertumbuhan yang lebih baik. Hasil perekayasaan ini menghasilkan lele sangkuriang dan sudah dilepas sebagai varietas unggul dengan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 26/MEN/2004 tanggal 21 Juli 2004 (Mahyuddin, 2007). 2.1.2. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang Ciri-ciri morfologi ikan lele sangkuriang tidak memiliki banyak perbedaan dengan ikan lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan ikan lele sangkuriang sendiri merupakan hasil silang dari ikan lele dumbo (Anonimus 2005). Ikan Lele mempunyai ciri-ciri morfologi antara lain: jumlah jari-jari sirip punggung 68-79, jari-jari sirip dada 9-10, jari-jari sirip perut 5-6, jari-jari sirip anal 49-50 dan 7 jumlah sungut sebanyak 4 pasang, dimana 1 pasang diantaranya lebih panjang dan besar. Bentuk kepala pipih dan simetris, dari kepala sampai punggung berwarna coklat kehitaman, mulut lebar dan tidak bergerigi, bagian badan bulat dan memipih ke arah ekor, memiliki patil serta memiliki alat pernapasan tambahan (accesory breathing organ) berupa kulit tipis menyerupai spons. Dengan organ pernapasan tambahan (aborescent), ikan lele dapat hidup pada air dengan kadar oksigen rendah. Ikan ini memiliki kulit berlendir dan tidak bersisik (mempunyai pigmen hitam yang berubah menjadi pucat bila terkena cahaya matahari), dua buah lubang penciuman yang terletak di belakang bibir atas, sirip punggung dan anal memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak menyatu dengan sirip ekor, mempunyai senjata berupa patil untuk melindungi dirinya dari serangan atau ancaman dari luar yang membahayakan, dan panjang maksimum patil ikan lele mencapai 400 mm (Suyanto 2007). Untuk lebih jelas ikan lele dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini. Gambar 2. Ikan Lele Sangkuriang (Sumber: lelesangkuriang.blogspot.com) 8 Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang menurut Suyanto (2007) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Pisces Sub Class : Teleostei Order : Ostariophysi Sub Order : Siluroidae Family : Clariidae Genus : Clarias Species : Clarias sp. 2.2. Kebutuhan Nutrisi Pada Ikan Lele Sangkuriang Pakan buatan harus mengandung tiga komponen penyimpan energi yaitu: protein, karbohidrat dan lemak. Untuk pelengkap, sebaiknya kandungan pakan ditambahkan vitamin dan mineral (Stickney, 1993). Komposisi nutrisi dalam pakan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan nutrien ikan yang dibudidayakan. Kebutuhan protein dan energi masing-masing spesies ikan, umur, dan stadia ikan berbeda-beda. Selain itu kebutuhan nutrient ikan berubah-ubah dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis, ukuran, dan aktifitas ikan, macam makanan, serta factor lingkungan seperti suhu air dan kadar oksigen terlarut. Umumnya terdapat enam macam nutrien utama pada pakan ikan yaitu protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air. Dalam menentukan formula pakannyapun memerlukan perhitungan yang berbeda pula. Perbedaan kebutuhan protein dan energi tersebut akan mempengaruhi komposisi bahan - bahan pakan yang akan digunakan untuk 9 menyusun formula pakan. Oleh karena itu, dalam pembuatan pakan harus memperhatikan kebutuhan gizi ikan (Goddard, 1996). 2.2.1. Kebutuhan Protein Halver (1989) menyebutkan bahwa protein merupakan komponen organik terbesar pada jaringan tubuh ikan, karena sekitar 65-75% dari total bobot tubuh ikan terdiri dari protein. Protein merupakan nutrien yang sangat dibutuhkan oleh ikan untuk perbaikan jaringan tubuh yang rusak, pertumbuhan, materi pembentukan enzim dan beberapa jenis hormon, serta sebagai sumber energi (NRC, 1993). Menurut Watanabe (1988) kebutuhan ikan akan protein dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: ukuran ikan, suhu air, kadar pemberian pakan, energi dalam pakan dan kualitas protein. Rasio pakan buatan untuk ikan catfish stadia benih yang sedang dalam pertumbuhan secara umum memerlukan protein 32% (Stickney,1993). 2.2.2. Kebutuhan Karbohidrat Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi dalam makanan ikan. Karbohidrat sebagian besar didapat dari bahan nabati. Karbohidrat dalam pakan disebut dengan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) atau Nitrogen Free Extract (NFE). BETN ini mengandung karbohidrat, gula, pati dan sebagian besar berasal dari hemiselulosa. Daya cerna karbohidrat sangat bervariasi tergantung dari kelengkapan molekul penyusunnya. Pada ikan catfish dapat memanfaatkan kandungan karbohidrat di dalam pakan secara optimum pada kisaran 30-40% (Furuichi, 2005). 10 Kadar karbohidrat dalam pakan ikan dapat berkisar antara 10-50%. Kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat ini tergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan enzim pemecah karbohidrat (amylase). Ikan karnivora biasanya membutuhkan karbohidrat sekitar 12%, sedangkan untuk omnivora kadar karbohidratnya dapat mencapai 50% (Almatser, 2009). Bahan baku pakan yang mengandung karbohidrat antara lain : jagung, beras, dedak, tepung tapioka, dan sagu. Selain berperan sebagai sumber karbohidrat, juga berperan sebagai alat perekat (binder) untuk mengikat komponen bahan baku dalam pakan. Karbohidrat atau hidrat arang atau zat pati, berasal dari bahan baku nabati (Afrianto dan Liviawaty, 2005). 2.2.3. Kebutuhan Lemak Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang tinggi dalam pakan ikan. Lemak juga berfungsi sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K dan sumber asam lemak essensial, yaitu asam lemak linoleat. Lemak terutama dalam bentuk fosfolipid dapat berperan dalam struktur sel dan memelihara fleksibilitas serta permeabilitas membran. Menurut Chou dan Shiau (1996), kadar lemak 5% dalam pakan sudah mencukupi kebutuhan ikan lele, namun kadar lemak pakan sebesar 12% akan menghasilkan perkembangan yang maksimal (Anonim, 2012) 2.2.4. Kebutuhan Vitamin dan Mineral Vitamin adalah senyawa organik kompleks, biasanya ukuran molekulnya kecil. Vitamin dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit sehingga keberadaannya dalam pakan dalam jumlah yang sedikit pula (1–4% dari total komponen pakan). Vitamin dibutuhkan untuk pertumbuhan normal, 11 mempertahankan kondisi tubuh dan reproduksi. Kekurangan vitamin dalam pakan ikan selain akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan reproduksi serta dapat menimbulkan gejala penyakit kekurangan vitamin (Lim, 2002). Mineral merupakan komponen pakan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, yakni sebagai pembentuk struktur tubuh (rangka), memelihara sistem kaloid (tekanan osmotik viskositas) dan regulasi keseimbangan asam basa (Halver, 1989). Disamping itu mineral juga merupakan 45 komponen penting dari hormon dan aktivator enzim (kofaktor). Mineral berperan penting dalam membangun struktur tulang, sisik dan sirip ikan maupun dalam fungsi metabolisme. Mineral terdiri dari makromineral dan mikromineral. Makromineral ada dalam konsentrasi tinggi dalam tubuh ikan diantaranya kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K), fosfor (K), klorida (Cl) dan sulfur (S). Sedangkan mikromineral antara lain besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), iodium (I), kobalt (Co), nikel (Ni) fluor (F), krom (Cr), silikon (Si) dan selenium (Se). Kebutuhan ikan akan mineral bervariasi, tergantung pada jenis ikan, stadia dan status reproduksi (Halver 1989). 2.3. Kandungan Nutrisi pada Kulit Kakao Kulit buah kakao terdiri dari 10 alur (5 dalam dan 5 dangkal) berselang seling. Permukaan buah ada yang halus dan ada yang kasar, warna buah beragam ada yang merah hijau, merah muda, dan merah tua (Poedjiwidodo, 1996). Untuk lebih jelas kulit kakao dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini. 12 Gambar 3. Kulit Kakao Kulit buah kakao merupakan hasil samping dari pemrosesan biji coklat dan merupakan salah satu limbah dari hasil panen yang sangat potensial untuk dijadikan salah satu bahan baku pakan. Kulit buah kakao dapat menggantikan sumber-sumber energi tanpa mempengaruhi kondisi ternak (Roesmanto (1991). Adapun kandungan gizi kulit buak kakao dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan Gizi Kulit Kakao Komponen (a) • Bahan kering 84,00 – 90,00 • Protein kasar 6,00 – 10,00 • Lemak 0,50 – 1,50 • Serat kasar 19,00 – 28,00 • Abu 10,00 – 13,80 • BETN 50,00 – 55,60 • Kalsium • Pospor - (b) 91,33 6,00 0,90 40,33 14,80 34,26 - (c) 90,40 6,00 0,90 31,50 16,40 0,67 0,10 Sumber : (a). Smith dan Adegbola (1982) (b). Amirroenas (1990) (c). Roesmanto (1991) Untuk menjadikan kulit kakao sebagai alternatif bahan baku pakan ikan yang memiliki nilai nutrisi tinggi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: pengelolaan secara mekanis dan biologis. Pengelolaan secara mekanis dapat dilakukan dengan cara menggunakan alat-alat mekanik dengan berbagai tahapan 13 seperti: pengukusan, pengeringan, dan penggilingan. Sedangkan pengelolaan secara biologis biasanya dengan fermentasi menggunakan kapang yang bertujuan untuk meningkatkan kadar protein pada kulit kakao. 2.4. Fermentasi Fermentasi sering didefinisikan sebagai proses pemecahan karbohidrat dan protein secara anaerob yaitu tanpa memerlukan oksigen. Senyawa yang dapat dipecah dalam proses fermentasi adalah karbohidrat, sedangkan asam amino dapat difermentasi oleh beberapa jenis bakteri tertentu (Friaz, 1992). Menurut Saono (1974) fermentasi adalah segala macam proses metabolisme dimana enzim dari mikroorganisme melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa, dan reaksi kimia lainnya, sehingga terjadi perubahan kimia pada substrat organik dengan menghasilkan produk tertentu. Fermentasi merupakan proses mikroorganisme memperoleh sejumlah energi untuk pertumbuhannya dengan jalan merombak bahan yang memberikan zat-zat nutrien atau mineral bagi mikroorganisme seperti: hidrat arang, protein, vitamin, dan lain-lain (Adams and Moss, 1995). Proses fermentasi dapat dilakukan melalui kultur media padat dan media cair, sedangkan kultur terendam dilakukan dengan menggunakan media cair dalam bio-reaktor atau fermentor. Melalui fermentasi terjadi pemecahan substrat oleh enzim-enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna, misalnya seluosa dan hemiselulsa menjadi gula sederhana. Selama proses fermentasi terjadi pertumbuhan kapang, dihasilkan enzim, dan protein ekstraseluler, serta protein hasil metabolisme kapang sehingga terjadi peningkatan kadar protein (Winarno, 1983). 14 2.4.1. Rhizopus oligosporus Rhizopus oligosporus merupakan kapang dari filum yang banyak menghasilkan protease. Rhizopus sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia dalam pembuatan tempe. Karena R. oligosporus yang menghasilkan enzim yang dapat memecah asam pada kedelai menjadi komponen sehingga lebih mudah dicerna dan zat gizinya lebih mudah terserap tubuh (Jennessen et al 2008). R. oligosporus dapat tumbuh pada suhu 30-35 °C, dengan suhu minimum 12 °C, dan suhu maksimum 42 °C (Wipradnyadewi et al. 2005). Untuk lebih jelas Rhizopus oligosporus dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini. Gambar 4. Rhizopus oligosporus R. oligosporus mempunyai koloni abu-abu kecoklatan dengan tinggi 1 mm atau lebih, panjang lebih dari 1000 mikro meter dan diameter 10-18 mikro. Sporangia berbentuk Bentuk elip atau silindris dengan ukuran 7-30 mikro meter atau 12-45 mikro meter x 7-35 mikro meter dengan bagian tengah yang agak rata, pertama-tama berwarna putih, kemudian saat dewasa berubah menjadi hitam kebiruan (Wipradnyadewi et al. 2005). R. oligosporus mampuan menghasilkan antibiotik alami yang secara khusus yang dapat melawan bakteri gram positif, biosintesa vitamin B, 15 kebutuhannya akan senyawa sumber karbon dan nitrogen perkecambahan spora, dan penetrisi miselia jamur tempe ke dalam jaringan biji kedelai (Madigan, 2006) 2.5. Kualitas Air Ikan lele sangkuriang termasuk salah satu jenis ikan yang dapat hidup pada air dengan kadar oksigen rendah, karena memiliki organ pernapasan tambahan (aborescent). Kandungan oksigen yang diperlukan untuk budidaya ikan lele minimal 4 mg/liter air, sedangkan kandungan karbondioksida kurang dari 5 mg/liter air dan pH yang normal bagi kehidupan lele sangkuriang adalah 7 pada skala pH 1 sampai 14 (Boyd, 1990). Oleh karena itu pengontrolan kualitas air selama budidaya sangat penting untuk dilakukan Pengelolaan kualitas air memegang peranan penting pada pemeliharaan ikan dan dapat dilakukan dengan penyiponan, pergantian air, dan penggunaan filter air. Penyiponan adalah usaha untuk menyedot kotoran berupa sisa makanan ataupun feses ikan dari wadah pemeliharaan dengan menggunakan selang hingga air bersih dan kemudian menggantinya dengan air baru sejumlah air yang terbuang. Penurunan kualitas air dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, timbulnya penyakit, pengurangan rasio konversi pakan, pakan bahkan dapat menyebabkan kematian. Kualitas air juga sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup maupun reproduksi ikan. Kualitas air yang kurang baik dapat menyebabkan ikan mudah terserang penyakit (Boyd, 1990). 2.6. Pertumbuhan Pertumbuhan adalah penambahan ukuran panjang atau bobot ikan dalam kurun waktu tertentu yang dapat dipengaruhi pakan yang tersedia, suhu, umur dan 16 ukuran ikan (Effendie, 1997). Pertumbuhan ikan dapat terjadi jika jumlah nutrisi pakan yang dicerna dan diserap oleh ikan lebih besar dari jumlah yang diperlukan untuk pemeliharaan tubuhnya. Ikan akan mengalami pertumbuhan yang lambat dan kecil ukurannya bila pakan yang diberikan kurang memadai (Lovell 1989). Terdapat hubungan antara laju pertumbuhan, ukuran, dan umur ikan. Laju pertumbuhan menurun dengan bertambahnya ukuran tubuh atau umur ikan, dan umur mempengaruhi kebutuhan energi (Zonneveld, 1991). Setiap spesies ikan membutuhkan kadar protein yang berbeda untuk pertumbuhannya dan dipengaruhi oleh umur /ukuran ikan, namun pada umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 30-50% dalam pakannya. Ikan lele sangkuriang merupakan salah satu ikan dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Asyari, dkk., (1997) laju pertumbuhan lele sangkuriang dalam keramba jaring apung yang diberi pakan sebesar 14% bobot tubuh dengan kandungan protein sebesar 23% adalah 21,45% per bulan. Jika kandungan protein dalam pakan dan pengelolaan kualitas air ditingkatkan maka laju pertumbuhan ikan akan lebih baik. 17 II. 2.1. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2013 di Way Huwi, Lampung Selatan. Sedangkan untuk uji proksimat dilakukan di Laboratorium uji Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPPBAT) Sempur Bogor. 2.2. Alat dan Bahan 2.2.1. Alat Penelitian Alat-alat yang digunakan yaitu : kolam terpal ukuran 2x1x0,5m sebanyak 12 buah, aerator, selang aerasi, batu aerasi, pH meter, termometer, DO meter, timbangan digital, penggaris, mesin penepung, mesin pencetak pakan, baki, gelas ukur, ember plastik, scoopnet, selang sipon, kertas label, plastik, dan alat tulis. 2.2.2. Bahan penelitian 2.2.2.1. Ikan uji Ikan uji adalah benih ikan lele sangkuriang yang berasal dari petani di Way Huwi sebanyak 1200 ekor dengan ukuran benih berkisar 8-9 cm dan berat rata-rata 8,5 gram /ekor. 18 2.3. Rancangan Penelitian Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL), terdiri atas 4 (empat) perlakuan dan masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut : - Perlakuan A = Pakan pabrik (kontrol) - Perlakuan B = Pakan dengan tepung kulit kakao 20% - Perlakuan C = Pakan dengan tepung kulit kakao 25% - Perlakuan D = Pakan dengan tepung kulit kakao 30% Komposisi bahan-bahan baku yang akan dijadikan formulasi pakan meliputi: tepung kedelai, tepung ikan, tepung kakao, tepung jagung, tepung tapioka, minyak ikan, minyak jagung, dan premix (Tabel 2). Tabel 2. Komponen bahan baku pakan Bahan Baku Tepung kedelai Tepung Ikan Tepung kakao Tepung jagung Tepung tapioka Minyak ikan Minyak jagung Premix Jumalah B 15 % 30 % 20 % 20 % 7% 3% 3% 2% 100 % Perlakuan C 15 % 30 % 25 % 15 % 7% 3% 3% 2% 100 % D 15 % 30 % 30 % 10 % 7% 3% 3% 2% 100 % Model linear yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan uji Annova yang digunakan adalah sebagai berikut : Yij = µ + i + ∑ij 19 Keterangan : i : Perlakuan A, B, C, D, dan E j : Ulangan 1, 2, dan 3 Yij : Nilai pengamatan dari pemberian pakan dengan persentase tepung kakao yang berbeda ke-i terhadap pertumbuhan ikan pada ulangan ke-j µ : Nilai tengah umum τi : Pengaruh pemberian pakan dengan persentase tepung kakao yang berbeda ke-i terhadap pertumbuhan benih ikan ∑ij : Pengaruh galat percobaan pada pemberian pakan dengan persentase tepung kakao yang berbeda ke-i terhadap pertumbuhan benih ikan pada ulangan ke-j Uji F digunakan untuk menguji perbedaan antar perlakuan digunakan pada taraf kepercayaan 95% pada penelitian ini dan akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) jika perlakuan berbeda nyata (Steel dan Torrie, 2001). 2.4. Prosedur Penelitian 2.4.1. Persiapan penelitian Persiapan penelitian terdiri atas: pembuatan tepung kulit kakao yang telah difermentasi, pembuatan pakan, persiapan kolam, serta persiapan ikan uji. Cara pembuatan tepung kakao fermentasi yaitu kulit kakao yang diperoleh dari petani dicacah hingga ukuran satu inci, dan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur selama 2-3 hari di bawah sinar matahari. Selanjutnya kulit kakao yang sudah kering digiling menggunakan mesin penepung sampai menjadi tepung. Kulit kakao yang telah jadi tepung ditambahkan air sebanyak 600 ml/kg dan kemudian di kukus selama 30 menit agar bahan menjadi steril. Bahan didinginkan dan difermentasi menggunakan kapang Rhizopus sp. Lama fermentasi 4 hari secara aerob (Suhenda, 2010). Kulit kakao yang telah terfermentasi di jemur dibawah 20 sinar matahari kemudian dihaluskan menggunakan mesin penggiling dan dilakukan uji proksimat di Laboratorium Uji Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPPBAT) Sempur Bogor. Peroses pembuatan pakan meliputi: penimbangan bahan, pencampuran bahan, pencetakan pellet, pengeringan dan pembentukan pakan. Bahan baku ditimbang dengan menggunakan timbangan manual sesuai dengan formulasi perlakuan dan selanjutnya dicampur hingga homogen. Proses selanjutnya pencetakan pakan dengan menggunakan mesin mencetak pellet, pengeringan dengan penjemuran selama 2-3 hari apabila musim penghujan dan selanjutnya pembentukan pakan sesuai dengan bukaan mulut ikan uji. Proses terakhir dilakukan pengujian proksimat untuk mengetahui kandungan nutrisi formulasi pakan untuk setiap perlakuan. Persiapan wadah pemeliharaan ikan terdiri atas pembuatan kolam terpal dengan ukuran 2x1x0,5 m, pengaturan tata letak kolam terpal, penyiapan aerasi dan pengisian air. Setiap kolam terpal diisi air setinggi 30 cm. Persiapan ikan uji meliputi pengambilan benih lele sangkuriang dari petani ikan di Way Huwi, Lampung Selatan, dengan ukuran benih lele sangkuriang berkisar panjang 8-9 cm dan berat 8,5 gram yang kemudian diaklimatisasi selama 7 hari untuk mengadaptasikan lingkungan barunya. Padat tebar pemeliharaan ikan yaitu 100 ekor/kolam terpal. 2.4.2. Pelaksanaan penelitian Benih ikan lele sangkuriang ditebar dalam kolam terpal sebanyak 100 ekor. Pemeliharaan benih dilakukan selama 60 hari dengan pemberian pakan tiga hari sehari pada pukul 08.00 WIB, 13.00 WIB dan 17.00 WIB, dengan cara 21 ad libitum (pemberian pakan sampai kenyang) terhadap benih ikan lele tersebut. Selama masa pemeliharaan dilakukan sampling dengan pengukuran berat benih ikan lele setiap 10 hari sekali. Untuk menjaga kualitas air selama penelitian setiap 10 hari sekali pada pagi hari sebelum pemberian pakan dilakukan penyiponan dan penggantian air sebanyak 20% dari volume total air. Pengukuran kualitas air dilakukan pada awal, pertengahan dan akhir penelitian. Parameter kualitas air yang diamati meliputi : suhu, pH dan kadar oksigen terlarut (DO). 2.5. Parameter Pengamatan Selama penelitian berlangsung parameter yang diamati yaitu : pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan harian, kelangsungan hidup, efisiensi pakan dan kualitas air media pemeliharaan. 2.5.1. Pertumbuhan Mutlak Pertumbuhan berat mutlak adalah selisih berat total tubuh ikan pada akhir pemeliharaan dan awal pemeliharaan. Perhitungan pertumbuhan berat mutlak dapat dihitung dengan rumus Effendi (1997). Keterangan : Wm : Pertumbuhan berat mutlak (g) Wt : Bobot rata-rata akhir (g) Wo : Bobot rata-rata awal (g) 22 2.5.2. Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan harian dihitung dengan menggunakan rumus Zonneveld et al (1991). Keterangan : GR : Laju pertumbuhan harian (g/hari) Wt : Bobot rata-rata ikan pada hari ke-t (g) Wo : Bobot rata-rata ikan pada hari ke-0 (g) t : Waktu pemeliharaan (hari) 2.5.3. Kelangsungan Hidup Kelangsungan hidup adalah tingkat perbandingan jumlah ikan yang hidup dari awal hingga akhir penelitian. Kelangsungan hidup dapat dihitung dengan rumus Effendi (1997) : Keterangan : SR : Kelangsungan hidup (%) Nt : Jumlah ikan akhir (ekor) No : Jumlah ikan awal (ekor) 2.5.4. Feed Convertion Ratio (FCR) Rasio konversi pakan adalah jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram daging. Menurut Djarijah (1995), adapun rumus untuk menghitung konversi pakan (FCR) sebagai berikut. 23 Keterangan : F : Jumlah Pakan yang diberikan selama pemeliharaan Wt : Berat total ikan saat panen Wo : Berat total ikan saat awal penebaran 2.5.5. Kualitas Air Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah pH, Suhu, DO (oksigen terlarut). Parameter tersebut diukur pada awal, tengah, dan akhir pemeliharaan. 2.6. Analisis Data Pengaruh perlakuan terhadap parameter pengamatan dianalisis dengan mengunakan analisis ragam (Annova). Apabila hasil uji antar perlakuan berbeda nyata, maka akan dilakukan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT) dengan selang kepercayaan 95%. 24 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pakan komersil memberikan hasil jauh lebih baik terhadap pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) dibandingkan pada pakan uji yang dibuat dari limbah kulit kakao. 5.2. Saran Limbah kulit kakao tidak layak digunakan sebagai bahan baku pakan ikan lele sangkuriang dikarenakan rendahnya kandungan protein dan tingginya serat kasar pada pakan uji. 38 DAFTAR PUSTAKA Afrianto, E., dan Liviawaty, E. 2005.Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta. 148 Hal. Amirroenas, D. E. 1990. Mutu Ransum Berbentuk Pellet Dengan Bahan Serat Biomassa POD Coklat Untuk Pertumbuhan Sapi Perah Jantan. Tesis Fakultas Pascasarjana, Institute Pertanian, Bogor. Anonimus. 2005. Petunjuk Teknik Pembesaran Ikan Patin, Mas dan Lele. Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar. Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat. Anonim. 2012. Air. http://id.wikipedia.org/wiki/Air . Di akses 27 Juni 2012 Asyari., Arifin, Z., dan Utomo, J. 1997. Pembesaran Ikan Patin (pangasius pangasius) Dalam Keramba di Sungai Musi Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. III, No. 2. Baharrudin , W. 2007. Mengelola kulit Buah Kakao Menjadi Pakan Ternak.Jurnal Ilmu dan peternakan.http://disnaksulsel.info/ BBAT. Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. 2005. Budidaya Ikan Lele Sangkuriang. Jakarta: Agromedia. Boyd, C.E. 1990. Water Quality in Pond for Aquaculture. Elseiver Scientific Publishing Company. New York. Chou,B.S., dan Shiau, S.Y.1996. Optimal Dietary Lipid Level for Growth of Juvenile Hybrid Tilapia Oreochromis niloticus x Oreochromis aureus in Nutrien Requirement and Feeding of Finfish for Aquaculture. CABI Publishing. New York.USA Davies, S.J., Nengas, I., Alexis, M., 1991. Partial substitution of fish meal with different meat meals products in diets for sea bream (Sparus aurata). In: Kaushik, S.J., Luquet (Eds.), Fish Nutrition in Practice. Coll. Les Colloques, vol. 61. INRA, Paris. Effendi, M. I., 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta. Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Furuichi, M. 1988. Carbohydrates. Di dalam: Watanabe T, Editor. Fish Nutrition and Mariculture. Tokyo: Departement of Aquatic Biosciences, University of Fisheries. Furuichi M. 1988. Fish nutrition. pp. 1-78. In. Watanabe T, editor. Fish nutrition and mariculture, JICA textbook, the General Aquaculture Course. Tokyo. Kanagawa International Fisheries Training Center . Furuichi, M. 2005. Carbohydrates. Di dalam: Watanabe T, Editor. Fish Nutrition and Mariculture. Tokyo: Departement of Aquatic Biosciences, University of Fisheries. Goddard, S. 1996. Feed Management in Intensive Aquaculture. Chapman and Hall. New York. Ghufran, M. 2009. Budidaya Perairan.PT Citra Aditya Bakti: Bandung .964 hal. Gusrina. 2000. Budidaya ikan. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta 355 hal. Halver, J. E. 1989. Fish Nutrition. Ed. ke-2. Academic Press. INC. New York. Jennessen, J., J. Schnurer, J. Olsson, R.A. Samson, and J. Dijksterhuis, 2008, Morphological characteristics of sporangiospores of the tempe fungus Rhizopus oligosporus differentiate it from other taxa of the R. microsporus group. Mycol. Kurniansyah. A, Nugraha. R, Handoko. W. A. 2011. Fermentasi Limbah Kulit Kakao Sebagai Sumber Protein Arternatif Dalam Pakan. Bogor: IPB Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2009. Evaluasi Impor Bahan Baku Pakan Ikan Dan Udang Berdasarkan SKT. DJPB. DKP. Jakarta. Lovell, R. T. 1989. Nutrition and Feeding of Fish. An AVI Book. Van Nostrand Reinhold. Auburn University, New York. Maeda. 1985. Studies on the physiology of shell formation in molluscan larvae, with special ´reference to Crepidula fornicata. PhD Thesis, University of Southampton, UK, 155 pp. Madigan MT, Martinko JM. 2006. Brock Biology of Microorganisms 11th ed. New Jersey : Pearson Education. Hal. 175-185. Mahyuddin, B. 2007. Pola Pengembangan Pelabuhan Perikanan dengan Konsep Triptyque Portuaire: Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu [Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Millamena, O. M., Relicado M. C and Felicitas P. P. 2002. Nutrition in Tropical Aquaculture. Southeast Asian Fisheries Development Center. Tigbauan, Iloilo, Philippines Mukul, M., Roy, D., Satpathy, S., dan Kumar, V.A. 2003, “Bootstrapped Spatial Statistics: a More Robust Approach to the Analysis of Finite Strain Data”,Journal of Structural Geology, 26(2004), National Research Council [NRC]. 1993. Nutrient Requirements of Fish Subcomittee on Fish Nutrition, National Research Council. National Academies Press (USA). 124 pp. http://www.nap.edu/catalog/2115.html Poedjiwidodo, M. S., 1996. Sambung Samping Kakao. Trubus Agriwidya, jawa Tengah. Prabowo, A. Dan S. Bahri. 2002. Kajian Sistem Usaha Tani Ternak Kambing Pada Perkebunan Kakao Rakyat Dilampung. Laporan Hasil Pengkajian TA 2002 BPTP Lampung, Bandar Lampung Rarumangkay, J. 2002. Pengaruh Fermentasi Isi Rumen Sapioleh Trichoderma viridie terhadap Kandungan Serat Kasar dan Energi Metabolis pada Ayam Broiler. Program PascaSarjana, UNPAD. Bandung. Roesmanto, J. 1991. Yogyakarta Kakao Kajian Sosial Ekonomi. Aditya Media, Sholikhati, F. 1999. PenggunaanTepungKeong Mas (Pomaceasp) SebagaiBahanSubtitusiTepungIkanDalamPakanIkanPatin (Pangasius sp.)Skripsi.FakultasPerikanan Dan IlmuKelautan. IPB Smith, D.H and A.A. Adegbola. 1982. Studies of feeing value of agroindustrial by product and feeding value of cacao pods for cattle. Tropical Animal Production, 7 : 290-295. Stickney, R.R. 1993. Culture of Non Salmonid Freshwater Fisher. Advances in Fisheries Sciene. Ed. Ke-2. CRC Press. Boca Raton. Florida. Subandiyono. 2009. Bahan ajar nutrisi ikan protein dan lemak. Jurusan perikanan. Universitas Diponogoro Bandung. Sugianto,G.2007. Pengaruh TingkatPemberian Manggot Terhadap Pertumbuhan dan Efesiensi Pemberian Pakan Benih Ikan Gurame (O. Gouramy) [skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan .IPB. Bogor Suhenda, N., Melati, I., Nugraha, A. 2010. Proses Fermentasi Tepung Jagung Dan Penggunaannya Dalam Pakan Ikan Mas Cyprinus carpio. Di Dalam: Bioteknologi Akuakulture III; IPB ICC, Bogor, 07 Oktober 2010. Bogor : Departemen Budidaya Perairan FPIK, IPB dan Direktorat Program Diploma, IPB. P:54 Supriyati, T.P., Hamid, H., Sunurat, A. 1998. Fermentasi Bukil Inti Sawit Secara Substrat Padat Dengan Menggunakan Aspergillus Niger. Jurnal Ilmu Ternak Dan Veteriner Vol. 3 No. 3. Bogor Suyanto, S.R. 2007. Budidaya lele (edisi revisi). Penebar Swadaya. Jakarta: iv + 92 hlm. Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. JICA textbook the general aquaculture course. Tokyo: Departement of Aquatic Biosciences, Tokyo University of Fisheries Yulfiperius, 2001. Pengaruh kadar vitamin E dalam pakan terhadap kualitas telur ikan patin. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Webster, C. D.,and C.E. Lim. 2002. Nutrien Requirements and Feeding of Finfish for Aquaculture. CABI Publishing, New York. Zakaria, M.W. 2003. Pengaruh Suhu Media Yang Berbeda Terhadap Kelangsungan Hidup dan Laju Pertumbuhan Benih Ikan Nilem (Osteochilus hasselti, C.V.) Hingga Umur 35 Hari. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor Zonneveld, N, Huisman E. A. Boon, J. H. 1991. Prinsip-prinsip budidaya ikan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

PEMANFAATAN TEPUNG AZOLLA SEBAGAI BAHAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, RETENSI PROTEIN DAN RASIO KONVERSI PAKAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)
1
7
16
UJI KUALITAS FISIK PAKAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) BERBAHAN Azolla microphylla
1
9
24
RESPON BEBERAPA STRAIN BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TERHADAP PAKAN YANG SAMA
1
19
68
PENINGKATAN KUALITAS TELUR IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.) MELALUI PENAMBAHAN VITAMIN C DAN E PADA PAKAN INDUK
0
5
23
PEMANFAATAN Azolla sp. PADA SISTEM RESIRKULASI YANG BERBEDA DALAM PEMELIHARAAN BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)
1
12
31
RESPON BEBERAPA STRAIN BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TERHADAP PAKAN YANG SAMA
0
8
10
PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
2
32
35
PEMANFAATAN TEPUNG KEPALA IKAN TERI JENGKI (Stolephorus insularis) SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DALAM PAKAN BUATAN IKAN LELE MASAMO (Clarias sp.)
5
83
52
PEMANFAATAN KULIT KAKAO YANG DIFERMENTASI SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp)
1
5
41
PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG YANG DIFERMENTASI Rhizopus sp SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus)
2
11
51
PENGARUH SUBTITUSI PARSIAL TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG TULANG TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)
1
9
42
PENAMBAHAN TEPUNG BIOFLOK SEBAGAI SUPLEMEN PADA PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)
4
27
47
PENGGUNAAN TEPUNG BIOFLOK SEBAGAI AGEN IMUNOSTIMULAN PADA SISTEM PERTAHANAN NO SPESIFIK IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)
5
38
58
PENAMBAHAN TEPUNG BIOFLOK SEBAGAI SUPLEMEN PADA PAKAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)
0
0
6
PEMANFAATAN KULIT BUAH KAKAO DAN KULIT BUAH PISANG YANG DIFERMENTASI BERBAGAI BIOAKTIVATOR TERHADAP PERFORMANS KAMBING KACANG JANTAN LEPAS SAPIH
0
0
11
Show more