Feedback

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI MALANG

Informasi dokumen
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI MALANG SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagai Syarat Mencapai Derajat Sarjana Keperawatan (S.Kep) Pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang Oleh Dian Ratminasari Nim. 201010420312173 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013 i LEMBAR PENGESAHAN HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI KELURAHAN POLOWIJEN KECAMATAN BELIMBING MALANG SKRIPSI Disusun Oleh : DIAN RATMINASARI NIM. 201010420312173 Diujikan Tanggal 26 Januari 2013 Penguji I Penguji II Nurul Aini, S.Kep. Ns., M.Kep NIP. UMM. 112.050.104.19 Aini Alifatin, M.Kep NIP. UMM. 112.9311.0305 Penguji III Penguji IV Yoyok Bekti Prastyo, S.Kep.Kom NIP. UMM. 112.0309.0405 Sri Widowati, S.Kep.Ns NIP. UMM. 112.0203.0393 Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang Tri Lestari Handayani, M.Kep.,Sp.Mat NIP.UMM. 112.9311.0304 ii LEMBAR PENGESAHAN HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI KELURAHAN POLOWIJEN KECAMATAN BELIMBING MALANG SKRIPSI Disusun Oleh : DIAN RATMINASARI NIM. 201010420312173 Diujikan Tanggal 26 Januari 2013 Penguji I Penguji II Nurul Aini, S.Kep. Ns., M.Kep NIP. UMM. 112.050.104.19 Aini Alifatin, M.Kep NIP. UMM. 112.9311.0305 Penguji III Penguji IV Yoyok Bekti Prastyo, S.Kep.Kom NIP. UMM. 112.0309.0405 Sri Widowati, S.Kep.Ns NIP. UMM. 112.0203.0393 Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang Yoyok Bekti Prastyo, S.Kep.Kom NIP. UMM. 112.0309.0405 iii KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah AWT, berkat rahmat dan bimbingan-Nya saya dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanwangi Malang”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan (S. Kep) pada program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang. Bersamaan dengan ini perkenankan saya mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya dengan hati yang tulus pada: 1. Tri Lestari Handayani, M. Kep, Sp. Mat selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, 2. Ns. Nurul Aini, S.Kep.M.Kep selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatann fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, 3. Yoyok Bekti Prastyo, S.Kep. M. Kom selaku pembimbing I dan, 4. Sri Widowati, S. Kep. Ns selaku pembimbing II atas bimbingannya, 5. Bapak/ibu, keluarga dan teman-temanku tercinta atas segala dukungan moril maupun materiil serta doa-doanya. Dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Mohon maaf atas kesalahan dan ketidaksopanan yang mungkin saya perbuat. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan setiap langkah-langkah kita menuju kebaikan dan selalu menganugerahkan kasih sayang-Nya untuk kita semua. Amin. Malang, 14 Mei 2012 Penulis iv Intisari HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI MALANG Dian Ratminasari1, Yoyok Bekti Prasetiyo,S.Kep.Sp.Kom2, Sri Widowati,S.Kep.Ns3 Abstrak : Kemajuan ilmu dan teknologi di bidang kedokteran dan kesehatan telah dapat meningkatkan usia harapan hidup penduduk Indonesia. Meningkatnya usia harapan hidup membawa konsekuensi semakin bertambahnya jumlah penduduk lansia. Secara fisiologis penduduk lansia akan mengalami penurunan kondisi fisik, hal ini ditambah dengan masalah pisikologis yang muncul akibat dari penurunan produktifitas lansia akan berdampak pada kondisi kejiwaan pada lansia itu sendiri, sehingga lansia akan memerlukan bantuan dan dukungan (Dukungan Sosial) agar dapat menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahan dalam hidupnya. Dukungan sosial terhadap lansia dapat mempengaruhi kondisi psikologis (tingkat depresi). Permasalahannya apakah lansia telah mendapatkan dukungan sosial, bentuk dukungan sosial apa yang dominan, dan bagaimana hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pada lansia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pada lansia di Kelurahan Polowijen Kecamatan Belimbing Malang, dengan desain studi cross sectional. Sampel terdiri dari 108 orang lansia yang dipilih dengan teknik Cluster Random sampling. Analisa data dilakukan dengan uji Chi Square dengan koreksi kontinyuitas. Dari penelitian ini didapatkan bahwa dukungan kelompok merupakan dukungan yang dominan diberikan kepada lansia yaitu sebesar 83,3%, sedangkan dukungan informasional sebesar 76,7%, dukungan emosional sebesar 73,3% dan dukungan instrumental sebesar 0%. Berdasarkan uji Chi Square dengan koreksi kontinyuitas didapatkan nilai p < 0,05 yaitu 0,010 yang berarti ada hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat depresi pada lansia di Kelurahan Polowijen Kecamatan Belimbing Malang. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Tingkat Depresi, Lansia. 1. Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang 2. Staf Pengajar Community Health Nursing Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang 3. Staf Pengajar Mental Health Nursing Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang v Abstract CORRELATION BETWEEN SOCIAL SUPPORT AND DEPRESION LEVEL OF ELDERLY IN PUSKESMAS PANDANWANGI AREA MALANG Dian Ratminasari1 Yoyok Bekti Prasetyo,S.Kep.Sp.Kom2 Sri Widowati,S.kep.Ns3 Abstract : Science and technology progress in medical and health area have been able to increase life expectancy of Indonesian people. The increasing of life expetancy causing increasing amount of elderly. Physiologically, elderly decrease in physical condition that will restrict them in fulfil their needs, therefore they need help from other people (Social Support). Social support that given to elderly can influence their perception about change of pisycologic (depresion level). The problems are, have the elderly got social support from their family, which social support is dominant, and how is the correlation between family social support and level of depresion of elderly. This research purpose is to know the correlation between social support and level of depresion of elderly in Kelurahan Polowijen Kecamatan Belimbing Malang, by cross sectional study design. The sample consist of 108 elderly that choosed by Cluster Random sampling. The datas were analyzed by Chi Square test with continuity correction. Through this research have been found that group support the dominant support given by the social to the elderly, the amount of group support was group support was 83,3%, while the informational emotional support 76,7%, the emotional support 73,3 and the instrumental support 0%. Based on the Chi Square test by continuity correction have been found p score < 0.05 that is 0.010 which is mean that there was correlation between family social support and self concept of elderly in Kelurahan Polowijen Kecamatan Belimbing Malang. Keywords: Social Support, level of depresion, Elderly. 1. Student of Nursing Science Program Study Healthl Faculty Muhammadiyah University Malang 2. Lecture of Community Health Nursing at Nursing Science Program Study Helth Faculty Muhammadiyah University Malang 3. Lecture of Mental Health Nursing at Nursing Science Program Study Health Faculty Muhammadiyah University Malang vi DAFTAR ISI Halaman Lembar Pengesahan . i Kata Pengantar . ii Daftar Isi . iii Daftar Tabel . v Daftar Lampiran . vi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Rumusan Masalah . 4 1.3 Tujuan Penelitian . 4 1.4 Manfaat Penelitian . 5 1.5 Keaslian Penelitian . 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dukungan Sosial . 7 2.1.1 Definisi Dukungan Sosial . 7 2.1.2 Bentuk Dukungan Sosial . 7 2.1.3 Dampak Dukungan Sosial. 9 2.1.4 Sumber-sumber Dukungan Sosial. 10 2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi Dukungan Sosial . 11 2.1.6 Aspek-aspek Dukungan Sosial . 11 2.1.7 Komponen-komponen Dukungan Sosial . 13 2.2 Konsep Depresi pada Lansia. 15 2.2.1 Definisi Depresi . 16 2.2.2 Definisi Depresi pada Lansia . 16 2.2.3 Tingkat Depresi pada Lansia . 19 2.2.4 Proknosis . 21 2.2.5 Etiologi Depresi pada Lansia . 21 2.2.6 Faktor Penyebab Terjadinya Depresi Pada Lansia . 24 2.2.7 Resiko yang Ditimbulkan Depresi pada Lansia . 26 2.3 Hubungan Dukungan Sosial Terhadap Tingkat Depresi vii Pada Lansia . 30 2.4 Peran Perawat Dalam Perawatan Lansia dengan Depresi . 30 BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual . 34 3.2 Hipotesis Penelitian . 35 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian. 36 4.2 Populasi, Sampel, dan Sampling . 36 4.2.1 Populasi . 36 4.2.2 Sampel . 37 4.2.3 Teknik Sampling . 37 4.3 Variabel Penelitian . 37 4.4 Definisi Operasional . 37 4.5 Tempat Penelitian . 39 4.6 Waktu Penelitian . 39 4.7 Instrumen Penelitian . 39 4.8 Prosedur Pengumpulan Data . 39 4.9 Analisa Data . 40 4.9.1 Analisa Data Dukungan Sosial . 40 4.9.2 Analisa Data Tingkat Depresi . 41 4.9.3 Analisa Hubungan Dukungan Sosial Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia . 41 4.10 Etika Penelitian. 42 DAFTAR PUSTAKA . 44 LAMPIRAN . 46 viii DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Distribusi Responden Dari 4 Posyandu . 38 Tabel 4.2 Definisi Operasional. 39 Tabel 4.2 Pemberian Skor Kuasioner Data Tingkat Depresi . 42 ix DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lembar Persetujuan Menjadi Responden . 46 Lampiran 2 Kuesioner Penelitian . 47 x DAFTAR PUSTAKA Anonimhttp://indonesiannursing.com/2008/07/tugas-tugas-perawat – dalam – setiap –teoripenuaan/ Anonim,2008.http://sampoernae.blogspot.com/2008/10/konsep-keluarga-lansia.html, diperolehtanggal 21-08-2011 Anonim,2011.http://www.datastatistikindonesia.com/content/view/806/806/diperolehtanggal21-08-2011 Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, edisi revisi IV, Rineka Cipta, Yogyakarta. Azizah ma’rifatul lilik (2011). Keperawatan lanjut usia. Yogyakarta.: Geraha ilmu C. Trihendradi (2007). Statistik inferen menggunakan SPSS. Yogyakarta: Andi Darmojo, Boedi. 2000. Geriatri (Ilmu Kesehatan Lanjut Usia). Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FK UI DermatologyNursing. 2002. Geriatric Depression Scale (GDS). http://www.medscape.com/viewarticle/447735. Diaksestanggal 18 april 2011. H. nugroho Wahyudi,B.Sc.,SKM (2008). Gerontik dan geriatrik, edisi 3. Jakarta: EGC Isaacs, Ann. 2001. Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. Jakarta: EGC Kozier, B, et.all. 2004. Fundamentals of Nursing. Concepts, Process, and Practice, 7th edition, Pearson Education, Inc, New Jersey. Kushariyadi. (2010). Asuhan Keperawatan Pada Usia Lanjut. Jakarta : Salemba Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta : EGC Nugroho, Wahyudi. (2008). Keperawatan Gerontik Edisi 3. Jakarta : EGC Nurmiati, Amir. 2005. Depresi Aspek Neurologi Diagnosis dan Tatalaksana. Balai penerbit fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Penerbit Salemba Medika, Jakarta. R. Siti Maryam, Mia Fatma Ekasari, dkk (2008). Mengenal usia lanjut dan perawatanya. Jakarta : salemba medika xi S. Tamher-noorkasiani (2009). Kesehatan usia lanjut dengan pendekatan asuhan keperawatan. Jakarta : salemba medika Yosep Iyus, S.Kp.,M.Si (2010). Keperawatan Jiwa. Edisi Revisi. Bandung: Aditama xii Refika BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Sarason cit. Kuntjoro (2002), bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Dukungan sosial berasal dari lingkungan diperoleh dari keluarga, maupun masyarakat yang mana mereka bersedia dan peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi lansia. Menurut Sheridan dan Radmacher, sarafino serta Taylor, dalam Azizah (2011), Bentuk dukungan sosial yang dapat diberikan pada lansia adalah Dukungan instrumental (tangibleassisstance), dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan pada harga diri, dukungan dari kelompok sosial. Dikatakan juga oleh Hurlock juga ada kebutuhan lanjut usia yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan pada masa tua, yaitu : kebutuhan yang diterima “acceptance”, kebutuhan afektif “affection”, kebutuhan prestasi“achievement”. Cara mengatasi depresi pada lansia adalah dengan membentuk kegiatan sosial untuk lansia yang berdasarkan kesamaan minat dan kesamaan tujuan yang memberikan lansia tempat untuk berbagi cerita dan mengungkapkan masalah yang dihadapi.Adanya wadah untuk berkumpul dalam suatu kelompok, lansia dapat merasa dihargai, memiliki kegiatan untuk dilakukan, tidak merasa ditelantarkan dan tidak kesepian. Bentuknya suatu wadah tempat lansia mendapatkan informasi tentang kesehatannya,cara menghadapi perubahan yang terjadi pada fisik dan psikis lansia, dan mendapat pemeriksaan medis selain dirumah sakit atau puskesmas yang letaknya dekat dari lingkungan tempat tinggal lansia. 1 2 Perkiraan bertambahnya Lansia Indonesia dalam kurun waktu 1990 – 2025, tergolong tercepat didunia (Mudjadid, 2003). Jumlah pada tahun 2002 sebanyak 16 juta dan diperkirakan akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,7 % penduduk, dan ini merupakan peningkatan ke empat dunia. Peningkatan jumlah penduduk lansia ini sebagai konsekuensi dari peningkatan usia harapan hidup. Peningkatan usia harapan hidup penduduk Indonesia ini merupakan indikasi berhasilnya pembangunan jangka panjang salah satu di antaranya yaitu bertambah baiknya keadaan ekonomi dan taraf hidup masyarakat. Akan tetapi dengan bertambahnya umur rata-rata ataupun harapan hidup (life expectancy) pada waktu lahir, karena berkurangnya angka kematian kasar (crude date rate) maka presentasi golongan tua akan bertambah dengan segala masalah yang menyertainya (Maramis, 2004). Undang-undang untuk perlindungan lansia dan Kesejahteraan Lanjut Usia telah lama dikeluarkan oleh pemerintah untuk melindungi lansia salah satunya seperti Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, selain itu ada juga undang-undang pemberian pertolongan pada lansia di atur dalam undangundang nomor 4 tahun 1965. kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI MALANG
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI MALANG

Gratis