Implementasi Load-Balancing dengan Metode Round Robin dalam Software Defined Networking (SDN) Menggunakan Controller Pox

 46  170  91  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

IMPLEMENTASI LOAD-BALANCING DENGAN METODE ROUND ROBIN DALAM SOF TWARE DEFINED NETWORKING (SDN) MENGGUNAKAN CONTROLLER POX DRAFT SKRIPSI DWINSON SITOHANG 131421005 PROGRAM STUDI EKSTENSI S1 ILMU KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGIINFORMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

IMPLEMENTASI LOAD-BALANCING DENGAN METODE ROUND ROBIN DALAM SOF TWARE DEFINED NETWORKING (SDN) MENGGUNAKAN CONTROLLER POX

SKRIPSIDiajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh ijasah Sarjana Ilmu KomputerDWINSON SITOHANG 131421005PROGRAM STUDI EKSTENSI S1 ILMU KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015 PERSETUJUANLOAD-BALANCING Judul : IMPLEMENTASI DENGANMETODE ROUND ROBIN DALAM SOFTWARE

DEFINED NETWORKING

  (SDN) CONTROLLER MENGGUNAKAN POXKategori : SKRIPSINama : DWINSON SITOHANGNomor Induk Mahasiswa : 131421005Program Studi : EKSTENSI S1 ILMU KOMPUTERFakultas : ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARADiluluskan di Medan, Februari 2015Komisi Pembimbing :Pembimbing 2 Pembimbing 1Handrizal, S. 1961203171991031001Diketahui/Disetujui olehProgram Studi S1 Ilmu KomputerKetua,Dr.

LOAD-BALANCING ROUND ROBIN

SOFTWARE DEFINED NETWORKING

IMPLEMENTASI DENGAN METODE DALAM (SDN) MENGGUNAKAN

CONTROLLER POX

  Dengan kata lain pengguna hanya dapat melakukan konfigurasi melalui management interface pada perangkat tersebut dalam menerapkan fitur yang diinginkan, sehingga apabila seseorang ingin load-balancing bereksperimen dengan beberapa teknik seperti teknik baru atau routing protocol baru maka dia tidak akan dapat melakukan hal itu karena Software Defined perangkat tidak mendukung teknik dan protokol tersebut. Softwa re Defined Networking dapat diterapkan dengan menggunakan salah satu controller terpusat yaitu POX yang bertugas untuk mengontrol segala arus data yang melewati Switch dan Router sehingga kebijakan yang telah ditetapkantersebut langsung diimplementasikan sesuai dengan karakteristik jaringan yang Load balancing ada saat itu juga.

DAFTAR ISI

HalamanPersetujuanii Pernyataaniii Penghargaaniv Abstrakvi Abstract viiDaftar Isiviii Daftar Tabelx Daftar Gambar8i Daftar Lampiran8i 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 3 1.3 Batasan Masalah 3 1.4 Tujuan Penelitian 3 1.5 Manfaat Penelitian 4 1.6 Metodologi Penelitian 4 1.7 Sistematika Penulisan 5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Softwa re Defined Networking (SDN) 7 2.1.1 Konsep Dasar Softwa re Defined Networking 7 2.1.2 Arsitektur Softwa re Defined Networking (SDN) 9 Controller 2.1.3 POX 11 Load-Balancing 2.2 12 Round-Robin 2.3 13 Load Balancing 2.4 Contoh Kasus dan dengan Perhitungan 16 Metode Round Robin 2.5 Penelitian Terkait 19 BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Pemilihan Server 20 3.2 Perancangan 24 Load Balancing 3.3.1 Perancangan dengan Metode 24 dalamMenggunakan Controller POX 3.2.2 Perancangan Jaringan dalam Emulator Mininet 27 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN 4.1 Implementasi 31 Controller 4.1.1 Menjalankan POX 31 Ping 4.1.2 Menjalankan Perintah pada Masing-masing 33 Client 4.2 Pengujian 58 4.2.1 Pengujian Terhadap Paket HTTP 58 4.2.2 Analisis Sebelum dan Setelah Load-Balancing 59 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 62 5.2 Saran 63 Daftar Pustaka 64 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Perangkat yang dibutuhkan beserta atribut-atribut 23 pendukung server round Tabel 3.2 Hasil perhitungan posisi berdasarkan metode 24 robin DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Flowchart arus paket dalam Switch OpenFlow 9 Gambar 2.2 Arsitektur Softwa re Defined Networking 10 Softwa re Gambar 2.3 Controller layer (POX) dalam Arsitektur 11 Defined Networking load-balancing Gambar 2.4 Komponen 13 Round Robin Gambar 2.5 Antrian dalam Algoritma 14 Gambar 2.6 Flowchart Round-Robin Load-Balancing 15 Gambar 2.7 Contoh Kasus Load Balancing dan dengan Perhitungan 18 Round RobinMetode Flowchart load-balancing Gambar 3.1 dari pengimplementasian 27 round-robin software defined dengan metode dalam networking menggunakan controller POX Gambar 3.2 Topologi jaringan yang akan dirancang 28 Flowchart Gambar 3.3 topologi jaringan yang dibuat di dalam 29 Mininet (secara garis besar) Gambar 3.4 Flowchart topologi jaringan yang dibuat di dalam 30 SimpleTestMininet (perluasan proses ) Controller Gambar 4.1 POX yang telah dijalankan 32 Client client capture 41 Gambar 4.19 Hasil POX controller 10.0.0.18 oleh server ke-12 kepada 40 Gambar 4.18 Hasil pemetaan client ke-12 melakukan ping ke alamat publik10.0.0.100 Client 40 Gambar 4.17 39 Gambar 4.16 Hasil capture paket data ICMP dari client ke-14 melalui aplikasi Wireshark POX controller 10.0.0.17 oleh paket data ICMP dari ke-12 melalui aplikasi Wireshark ke-14 kepada Client controller POX 10.0.0.17 oleh server ke-9 kepada client 43 Gambar 4.24 Hasil pemetaan ke-9 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 43 Gambar 4.23 41 Gambar 4.20 Client ke-3 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 ke-3 melalui aplikasi Wireshark client paket data ICMP dari capture 42 Gambar 4.22 Hasil POX controller 42 Gambar 4.21 Hasil pemetaan client ke-3 kepada server 10.0.0.16 oleh server client ke-4 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 server ke-1 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 Client 35 Gambar 4.8 35 Gambar 4.7 Hasil capture paket data ICMP dari client ke-10 melalui aplikasi Wireshark POX controller 10.0.0.17 oleh ke-10 kepada client client 35 Gambar 4.6 Hasil pemetaan ke-10 melakukan ping ke alamat publik10.0.0.100 Client 34 Gambar 4.5 34 Gambar 4.4 Hasil capture paket data ICMP dari client ke-4 melalui aplikasi Wireshark controller POX 33 Gambar 4.3 Hasil pemetaan client ke-4 kepada server 10.0.0.16 oleh 36 Gambar 4.9 Hasil pemetaan ke-1 kepada 39 Gambar 4.15 Hasil pemetaan Client ke-14 melakukan ping ke alamat publik10.0.0.100 Client 38 Gambar 4.14 38 Gambar 4.13 Hasil capture paket data ICMP dari client ke-7 melalui aplikasi Wireshark controller POX 37 Gambar 4.12 Hasil pemetaan client ke-7 kepada server 10.0.0.16 oleh ke-7 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 37 Gambar 4.11 server ke-1 melalui aplikasi Wireshark client paket data ICMP dari capture Gambar 4.10 Hasil POX controller 10.0.0.18 oleh 44 Gambar 4.25 Hasil 54 Gambar 4.41 controller 10.0.0.17 oleh server ke-11 kepada client 54 Gambar 4.42 Hasil pemetaan ke-11 melakukan ping ke alamat publik10.0.0.100 Client 53 Gambar 4.40 Hasil capture paket data ICMP dari client ke-8 melalui aplikasi Wireshark 55 Gambar 4.43 Hasil controller POX 10.0.0.16 oleh server ke-8 kepada client 52 Gambar 4.39 Hasil pemetaan ke-8 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 Client 51 Gambar 4.38 POX capture client 57 Gambar 4.46 Hasil server (setelah load-balancing ) paket HTTP terhadap reqest 58 Gambar 4.47 Grafik percobaan pertama ke-13 melalui aplikasi Wireshark client paket data ICMP dari capture POX paket data ICMP dari controller 10.0.0.18 oleh server ke-13 kepada client 56 Gambar 4.45 Hasil pemetaan 56 Gambar 4.44 Client ke-13 melakukan ping ke alamat publik10.0.0.100 ke-11 melalui aplikasi Wireshark client ke-2 melalui aplikasi Wireshark paket data ICMP dari capture client capture 47 Gambar 4.31 Hasil 10.0.0.16 oleh controller POX 46 Gambar 4.30 Hasil pemetaan client ke-15 kepada server ke-15 melakukan ping ke alamat publik10.0.0.100 Client 46 Gambar 4.29 ke-6 melalui aplikasi Wireshark paket data ICMP dari client capture 45 Gambar 4.28 Hasil POX controller 45 Gambar 4.27 Hasil pemetaan client ke-6 kepada server 10.0.0.18 oleh 44 Gambar 4.26 Client ke-6 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 ke-9 melalui aplikasi Wireshark client paket data ICMP dari paket data ICMP dari ke-15 melalui aplikasi Wireshark capture capture 51 Gambar 4.37 Hasil POX controller 50 Gambar 4.36 Hasil pemetaan client ke-2 kepada server 10.0.0.18 oleh 49 Gambar 4.35 Client ke-2 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 ke-5 melalui aplikasi Wireshark client paket data ICMP dari 49 Gambar 4.34 Hasil 47 Gambar 4.32 POX controller 10.0.0.17 oleh server ke-5 kepada client 48 Gambar 4.33 Hasil pemetaan ke-5 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 Client 59 Gambar 4.48 Grafik percobaan kedua paket HTTP terhadap 59 server (setelah load-balancing ) Gambar 4.49 Grafik percobaan pertama reqest paket HTTP terhadap 60 server (sebelum load-balancing ) reqest Gambar 4.50 Grafik percobaan kedua paket HTTP terhadap 60 server load-balancing (sebelum )

DAFTAR LAMPIRAN

  Dengan kata lain pengguna hanya dapat melakukan konfigurasi melalui management interface pada perangkat tersebut dalam menerapkan fitur yang diinginkan, sehingga apabila seseorang ingin load-balancing bereksperimen dengan beberapa teknik seperti teknik baru atau routing protocol baru maka dia tidak akan dapat melakukan hal itu karena Software Defined perangkat tidak mendukung teknik dan protokol tersebut. Softwa re Defined Networking dapat diterapkan dengan menggunakan salah satu controller terpusat yaitu POX yang bertugas untuk mengontrol segala arus data yang melewati Switch dan Router sehingga kebijakan yang telah ditetapkantersebut langsung diimplementasikan sesuai dengan karakteristik jaringan yang Load balancing ada saat itu juga.

1.1. Latar Belakang

  Pilihan-pilihan ini merupakan bagian dari sistem operasi Router Switch yang disediakan oleh vendor penyedia perangkat dan dimana sistem operasi dan fitur-fiturnya sudah langsung embedded pada perangkattersebut sehingga apabila seseorang ingin bereksperimen dengan beberapa teknik load-balancing routing protocol seperti teknik baru atau baru maka dia tidak akan dapat melakukan hal itu karena perangkat tidak mendukung teknik dan protokoltersebut. Padapenelitian ini dilakukan pengujian dengan cara mengirimkan paket HyperText Transfer Protocol Internet Control Message Protocol (HTTP) dan (ICMP) paket ke server , kemudian dari situ dapat dilihat respone-time sebelum dan setelah load- balancing.load-balancing Tentunya hasil yang diinginkan setelah adalah respone-time load-balancing.

1.4. Tujuan Penelitian

  AnalisisAnalisis masalah yang dimulai dengan tahap mengindentifikasi masalah, memahami cara kerja Metode ini dilaksanakan dengan melakukan studi kepustakaan melalui membaca buku-buku, skripsi, dan jurnal yang dapat mendukung penulisanTugas Akhir yang relevan mengenai Software Defined Networking (SDN), Load-Balancing dan Round-Robin . PengujianSetelah proses pengkodean selesai maka akan dilakukan proses pengujian terhadap program yang dihasilkan untuk mengetahui apakah program sudahberjalan dengan benar dan sesuai dengan perancangan yang dilakukan.

1.7. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini menggunakan sistematika penulisan yang membagi pembahasan skripsi dalam lima bagian utama, yang terdiri atas:

BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan

  BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini berisikan analisis mengenai metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan perancangan dari sistem yang dibangun. BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM Pada bab ini dibahas cara kerja sistem beserta proses pengujian terhadap sistem yang telah dikembangkan BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini dibuat mengenai rangkuman dari hasil analisis dan implementasi kerja sistem pada bagian sebelumnya, dan pada bagian ini terdapat saran yang diberikan untuk pengembangan sistem selanjutnya.

BAB 2 LANDASAN TEORI Di dalam bab ini, penulis mengambil beberapa tinjauan pustaka yang dijadikan

sebagai landasan pengerjaan implementasi Load-Balancing dengan metode round-robin Softwa re Defined Networking pada (SDN) dengan menggunakan controller POX.

2.1. Software Defined Networking (SDN)

  Software Defined Networking (SDN) merupakan sebuah pendekatan arsitektur jaringan komputer yang memisahkan control plane dari sebuah switch router data plane perangkat jaringan komputer ( atau ) dengan perangkat jaringan komputer tersebut (Khondoker, Zaalouk, Marx & Bayarou. data-plane control-plane Pemisahan dan ini memungkinkan untuk memprogram perangkat tersebut sesuai dengan yang diiinginkan secara terpusat (SDN Controller ), sehingga hal ini memungkinkan untuk mengontrol, memonitor, dan mengatur sebuah jaringan komputer dari sebuah titik ( node ) terpusat tersebut.

2.1.1. Konsep Dasar

  Hal ini dapat dilakukan dengan membuat algoritma dan controller forwarding rules-nya pada kemudian aturan tersebut didistribusikan ke switchOpenFlow controller yang ada di jaringan. Entri adalah entri yang diperlukan yang menentukan set instruksi yang akan diterapkan terhadappaket yang masuk ketika tidak ada yang cocok atau sesuai dengan flow table dropping prosedur .

2.1.2. Arsitektur Software Defined Networking (SDN)

  Software Defined Networking layer Dalam arsitektur (SDN) setiap dapat bekerja secara independen dan berkomunikasi melalui antarmuka jaringan untukmemberikan fungsi berlapis dari perangkat fisik yang berbeda (Wensong. Aspek arsitektur ini memungkinkan administrator jaringan untuk mengatasi beberapa tantangan dalam dunia jaringan komputer Software Defined Networking Gambaran logis dari arsitektur (SDN) dapat Softwa re Defined dilihat pada gambar 1.2.

2.1.3. POX

  OpenFlow Dalam anologi sistem operasi, bertindak sebagai sistem operasi dan harus mengimplementasikan dua interface, yaitu: southbound interface yang Switch OpenFlow memungkinkan berkomunikasi dengan controller (POX, northbound OpenDaylight, FloodLight, Ryu, dan sebagainya) dan interface yang menyajikan Application Programming Interface (API) yang dapat diprogram Pyretic, Frenetic untuk mengontrol jaringan dan memanajemen aplikasi ( ). Secara umum, konsep dari virtual server dan virtual IPini adalah sebuah alamat IP, sebuah nama, atau bisa juga dikatakan sekelompok alamat IP yang bertugas sebagai perwakilan dan jembatan penghubung antara client yang merupakan pengakses dari luar dengan sekelompok server atau perangkat jaringan yang berada dibelakangnya.

2.4. Contoh Kasus Load Balancing dan dengan Perhitungan Metode Round Robin

dan dengan perhitungan metode round robin :Misalkan diketahui, Berikut dibawah ini akan diuraikan contoh kasus load balancing Protocol ke-3 7 = Paket request ke-5 4 = Paket request ke-9 - Client 9 = Paket request server ke-2 - berdasarkan metode round robin adalah sebagai berikut: Server = Paket request ke-0 modulo jumlah serverServer = 0 mod 3Server = 0 (Server ke-0) Server = Paket request ke-2 modulo jumlah serverServer = 2 mod 3Server = 2 (Server ke-2) Server = Paket request ke-1 modulo jumlah server Client request (IP) s/d Address Client : 202.10.133.1 s/d 202.10.133.10 s/d 2) Protocol (IP) Address Server : 192.168.1.1 192.168.1.3 2 = Paket Protocol (IP) Address Virtual : 8.8.8.8 Dianologikan urutan paket request ditentukan berdasarkan urutan client yang melakukan request , berikut dibawah ini ditentukan urutannya : 1 = Paket request ke-0 - Client 6 = Paket ke-7 request Server = 1 mod 3Server = 1 (Server ke-1) Client 4 dilayani oleh server ke : -request Server = Paket ke-9 modulo jumlah serverServer = 9 mod 3Server = 0 (Server ke-0) Client 5 dilayani oleh server ke : -request Server = Paket ke-8 modulo jumlah serverServer = 8 mod 3Server = 2 (Server ke-2) Client 6 dilayani oleh server ke : - Server = Paket request ke-7 modulo jumlah serverServer = 7 mod 3Server = 1 (Server ke-1) Client 7 dilayani oleh server ke : Client 8 dilayani oleh server ke : Server = Paket ke-6 modulo jumlah serverServer = 6 mod 3Server = 0 (Server ke-0) Client 9 dilayani oleh server ke : -request Server = Paket ke-3 modulo jumlah serverServer = 3 mod 3Server = 0 (Server ke-0) Client 10 dilayani oleh server ke : -request Server = Paket ke-4 modulo jumlah serverServer = 4 mod 3Server = 1 (Server ke-1) request load balancing Gambar di bawah ini adalah aliran arus paket dengan berdasarkan perhitungan di atas : Client 1Request Reply AlamatIP: 202.10.133.1Client 2 AlamatIP:Server 1 202.10.133.2Alamat IP: Client 3192.168.1.1 AlamatIP: 202.10.133.3Client 4 AlamatIP: 202.10.133.4Client 5 Switch AlamatIP: IP Virtual:Server 2 202.10.133.5 8.8.8.8 Client 6Alamat IP: 192.168.1.2 AlamatIP: 202.10.133.6Client 7 AlamatIP: 202.10.133.7Client 8 AlamatIP: 202.10.133.8Client 9 Server 3Alamat IP: 192.168.1.3 AlamatIP: 202.10.133.9Client 10 AlamatIP: 202.10.133.10 Gambar 2.7. Contoh Kasus Load Balancing dan dengan Perhitungan Metode Round Robin

2.5. Penelitian Terkait

  Kemudian mereka melakukan analisa terhadap metode yang ada load balancing Software Defined Networking untuk menerapkan pada Softwa re Defined Networking (SDN), dan mengemukakan kelebihan dari (SDN) untuk mengatasi masalah dalam sistem jaringan komputer. Load Balancingand Multicasting Using the Extended Dijkstra’s “Algoritm in Software Defined Networking ”Extended Dalam jurnal mereka dijelaskan kelebihan algoritmaDijkstra pada Software Defined Networking (SDN) dalam menerapkan Load Balancing Multicasting dan .

3. Jurnal oleh Christopher Monsanto, Joshua Reich, Nate Foster, Jennifer

  Composing Softwa re-Defined Networks Rexford, David Walker. “ ”Softwa re Defined Dalam jurnal mereka dijelaskan kemampuan Networking (SDN) untuk melaksanakan beberapa tugas secara langsung packet-processing rules dengan menerapkan pada switch dalam sistem jaringan komputer, seperti: routing, traffic monitoring, acces control, server load balancing, dan lain sebagainya.

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan proses analisis dan perancangan sistem yang

digunakan dalam penelitian ini, dimulai dari analisis performa jaringan, kemudian perancangan load balancing dalam SDN dan perancangan jaringan dalam emulator Mininet, sehingga alur sistem yang dirancang akan dapat dipahami proses pembuatannya.

3.1. Analisis Pemilihan Server

  Berdasarkan contoh kasus dalam penulisan skripsi ini akan ditentukan jumlah Client adalah 15 unit, jumlah Server adalah 3 unit, jumlah Switch adalah 1 unit Controller dan jumlah adalah 1 unit. Akan dilakukan analisa terhadap metode round-robin dan mengimplementasikan teknik load-balancing .

3.2. Perancangan

Load Balancing Round Robin

3.2.1. Perancangan dengan Metode dalam Software Defined Networking Controller Menggunakan POX

  Berikut ini adalah tahap-tahap logis yang dilakukan untuk mengimplementasikan load-balancing dengan metode round-robin dalam software defined networking controller server load- menggunakan POX, dimana balancer Switch yang dalam hal ini diterapkan oleh melakukan pemetaan terhadap paket request yang masuk menuju server . Aspek utama dalam proses ini adalahkomputer client hanya mengetahui alamat IP ( IP Address ) dari load-balancer Virtual IP yang merupakan bukan alamat yang sebenarnya ( ).

3.2.2. Perancangan Jaringan dalam Emulator Mininet Network Emulator

  Mininet mendukung Sebuah topologi yang fleksibel yang dapat dikonfigurasi berdasarkan parameter-parameter yang ingin diterapkandapat diciptakan hanya dengan beberapa baris dari code program yang ditulis dalam bahasa pemrograman Python. Topologi jaringan yang akan dirancang Gambar 3.3 dibawah ini menampilkan flowcha rt topologi jaringan yang dibuat di dalam Mininet: Startnet.start Load ModuleMain SetLogLevel = info SimpleTest (for defining &building network) CLI(net) Stopnet.stop Gambar 3.3.

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN

4.1. Implementasi

  Pada proses implementasiini terlebih dahulu masing-masing client akan melakukan ping pada alamat IP address server 10.0.0.100 yang merupakan alamat secara publik. Agar proses Round-Robin implementasi ini menunjukkan keberhasilan metode maka masing- masing client akan melakukan ping secara acak, sebagai berikut : Client- 4, Client- Client- Client- Client- Client- Client- Client- Client- Client- 10, 1, 7, 14, 12, 3, 9, 6, 15, Client- Client- Client- Client- Client- 5, 2, 8, 11, 13.

4.1.1. Menjalankan Controller POX

  Proses awal yang terlebih dahulu harus dilakukan adalah menjalankan ControllerPOX. Ketika Controller telah dijalankan maka akan tampil alamat Publik, Server, Client dan berdasarkan ketentuan yang telah dibuat.

4.1.2. Menjalankan Perintah pada Masing-masing

  Ketika hal ini controller dilakukan maka POX akan menjalankan perannya untuk menerapkan load-balancing dengan metode round-robin terhadap akses server dari perintah pingclient tersebut. Berikut ini adalah akses masing-masing melalui paket ICMP ping client server dengan perintah , hasil pemetaan terhadap yang dilakukan oleh controller POX, dan hasil capture paket melalui aplikasi Wireshark.

4.1.2.1. Client ke-4

  ke-10 Dari gambar-gambar yang menyangkut client ke-10 dibawah ini dapat disimpulkan bahwa client berhasil melakukan ping terhadap alamat publik controller client 10.0.0.100 dan POX juga berhasil memetakan ke-10 tersebut pada server ke-2 dengan alamat IP address 10.0.0.17. ke-7 Dari gambar-gambar yang menyangkut client ke-7 dibawah ini dapat disimpulkan client bahwa berhasil melakukan ping terhadap alamat publik 10.0.0.100 dan controller client POX juga berhasil memetakan ke-7 tersebut pada server ke-1 address dengan alamat IP 10.0.0.16.

4.1.2.5. Client ke-14

  client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-14 dibawah ini dapat disimpulkan bahwa client berhasil melakukan ping terhadap alamat publik controller client 10.0.0.100 dan POX juga berhasil memetakan ke-14 tersebut address pada server ke-2 dengan alamat IP 10.0.0.17. Hasil pemetaan client ke-14 kepada server 10.0.0.17 oleh controller POX Gambar 4.16.

4.1.2.6. Client ke-12

  client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-12 dibawah ini dapat client disimpulkan bahwa berhasil melakukan ping terhadap alamat publik10.0.0.100 dan controller POX juga berhasil memetakan client ke-12 tersebut address pada server ke-3 dengan alamat IP 10.0.0.18. Hasil pemetaan client ke-12 kepada server 10.0.0.18 oleh controller POX Gambar 4.19.

4.1.2.7. Client ke-3

  client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-16 dibawah ini dapat disimpulkan bahwa client berhasil melakukan ping terhadap alamat publik controller client 10.0.0.100 dan POX juga berhasil memetakan ke-16 tersebut pada server ke-1 dengan alamat IP address 10.0.0.16. Hasil pemetaan client ke-3 kepada server 10.0.0.16 oleh controller POX capture client Gambar 4.22.

4.1.2.8 Client ke-9

  client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-9 dibawah ini dapat disimpulkan client bahwa berhasil melakukan ping terhadap alamat publik 10.0.0.100 dan controller POX juga berhasil memetakan client ke-9 tersebut pada server ke-2 address dengan alamat IP 10.0.0.17. Hasil pemetaan client ke-9 kepada server 10.0.0.17 oleh controller POX Gambar 4.25.

4.1.2.9. Client ke-6

  client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-6 dibawah ini dapat disimpulkan bahwa client berhasil melakukan ping terhadap alamat publik 10.0.0.100 dan controller client POX juga berhasil memetakan ke-6 tersebut pada server ke-3 address dengan alamat IP 10.0.0.18. ke-6 melakukan ping ke alamat publik 10.0.0.100 client server Gambar 4.27.

4.1.2.10. Client ke-15

  Hasil capture paket data ICMP dari client ke-5 melalui aplikasi Wireshark Client 4.1.2.12 ke-2client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-2 dibawah ini dapat disimpulkan client bahwa berhasil melakukan ping terhadap alamat publik 10.0.0.100 dan controller POX juga berhasil memetakan client ke-2 tersebut pada server ke-3 address dengan alamat IP 10.0.0.18. Hasil paket data ICMP dari ke-2 melalui aplikasi Wireshark Client 4.1.2.13 ke-8 client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-8 dibawah ini dapat disimpulkan client bahwa berhasil melakukan ping terhadap alamat publik 10.0.0.100 dan controller POX juga berhasil memetakan client ke-8 tersebut pada server ke-1 address dengan alamat IP 10.0.0.16.

4.1.2.14 Client ke-11

  client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-11 dibawah ini dapat client disimpulkan bahwa berhasil melakukan ping terhadap alamat publik controller client 10.0.0.100 dan POX juga berhasil memetakan ke-11 tersebut pada server ke-2 dengan alamat IP address 10.0.0.17. Hasil pemetaan client ke-11 kepada server10.0.0.17 oleh controller POX Gambar 4.43.

4.1.2.15 Client ke-13

  client Dari gambar-gambar yang menyangkut ke-13 dibawah ini dapat client disimpulkan bahwa berhasil melakukan ping terhadap alamat publik10.0.0.100 dan controller POX juga berhasil memetakan client ke-13 tersebut address pada server ke-3 dengan alamat IP 10.0.0.18. Hasil pemetaan client ke-13 kepada server10.0.0.18 oleh controller POX capture client Gambar 4.46.

4.2 Pengujian

  Tahap pengujian sistem merupakan lanjutan dari tahap yang sebelumnya telah dilakukan, yaitu tahap implementasi sistem. Pengujian sistem ini diterapkan Hypertext Transfer Protocol dengan melakukan permintaan paket HTTP ( ) kepada server melalui alamat publik 10.0.0.100.

4.2.1 Pengujian Terhadap Paket HTTP

  client Pengujian dilakukan dimana masing-masing secara bersamaan melakukan request server permintaan ( ) paket HTTP kepada melalui alamat publik10.0.0.100. Gambar 4.47 dan 4.48 di halaman selanjutnya ini menampilkan grafik hasil permintaan ( request ) paket HTTP tersebut, dimana dapat dilihat bahwa response time grafik percobaan pertama membutuhkan (waktu respon) lebih response time kurang 80 detik, sedangkan percobaan kedua membutuhkan (waktu respon) lebih kurang 50 detik.

4.2.2 Analisis Sebelum dan Setelah

  client server Ketika seluruh melakukan akses terhadap (melalui paket HTTP) load-balancing yang tidak menerapkan teknik maka secara pasti besar waktu yang diperoleh untuk melayani seluruh paket tersebut akan lebih banyak atau lama. Grafik percobaan kedua reqest paket HTTP terhadap server (sebelum load-balancing ) load-balancing pertama dan percobaan kedua setelah diterapkannya dinyatakan sebagai berikut: Besaran paket data HTTP yang dilayani oleh server cukup besarhingga lebih kurang detik ke 25, hal tersebut mengindikasikan bahwa tiga unit server dapat melayani banyak paket data dengan waktu yang cukup singkat.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  load-balancing diterapkan response time yang diperoleh Pada saat teknik adalah ± 50 load-balancing tidak diterapkan, response time yang diperoleh ± 155 response time yang diperoleh ketika load-balancing diterapkan adalah ± response time tiga (3) kali lebih cepat daripada yang diperoleh ketika load-balancing client teknik tidak diterapkan (ketika seluruh melakukan request HyperText Transfer Protocol paket (HTTP) terhadap alamat publik). Pemisahan dan pada perangkat jaringan Router Switch komputer seperti dan memungkinkan untuk memprogram perangkat tersebut sesuai dengan yang diiinginkan secara terpusat.

5.2. Saran

Pada penelitian ini terdapat beberapa saran dalam pengembangan penelitian ini lebih lanjut, yakni:

1. Perlunya pengimplementasian SDN dengan perangkat yang sesungguhnya

  Percobaan dapat menggunakan metode yang berbeda contohnya Weighted Round-Robin, Least Connections, dan lain-lain. Percobaan dapat dilakukan dengan mengkombinasikan teknik balancingbandwidth dengan teknik lainnya seperti firewall, QOS, management , dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

  Software Defined Networking With OpenFlow Azodomolky, S. Evaluation of Different Scheduling Algorithms in WIMAX Server Load Balancing Bourke, T.

F. Tang, 2013. “LABERIO:

  Comparison and Selection of Software Defined Networking (SDN) Controllers Composing Monsanto, C., Reich, J., Foster, N., Rexford, J & Walker, D. Softwa re Defined Networking Security US: Open Networking Foundation.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

PENDIDIKAN FORMAL

Nama : DWINSON SITOHANG Tempat,Tanggal Lahir : Ujungbatu, 14 Maret 1991Agama : Kristen Protestan Kewarganegaraan: IndonesiaEmail : dwinson.tohang@gmail.com, dwinson.sitohang@students.usu.ac.id No.Hp : 085277721348 2009 Informatika Komputer Medan Business Polytechnic (MBP)2006 2003 1995 Negeri 041 Ujungbatu (Kelas I

PENDIDIKAN NON FORMAL

2013 : CCNA Exploration: Network Fundamental di Cisco NetworkingAcademy 2013 : CCNA Exploration: Routing Protocols and Concepts di CiscoNetworking Academy 2014 : O nline course “Computer Networks” di coursera.org 2014 : O nline course “Internet History, Technology, and Security” di coursera.org 2014 : O nline course “Programming for Everybody (Python)” di coursera.org 2014 : O nline course “An Introduction to Interactive Programming in Python ” di coursera.org
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Implementasi Load-Balancing dengan Metode Rou..

Gratis

Feedback