Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan

 19  217  111  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
PENGETAHUAN DAN SIKAP LANSIA TENTANG PEMANFAATAN PELAYANAN POSYANDU LANSIA DI KELURAHAN PASAR TELUK DALAM KABUPATEN NIAS SELATAN SKRIPSI Oleh Noperius Telaumbanua 081121032 FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN, 2012 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Judul Nama Nim Jurusan Tahun akademik : Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan : Noperius Telaumbanua : 081121032 : Sarjana Keperawatan (S.Kep) : 2011/2012 Abstrak Program pelayanan posyandu lanjut usia adalah sebuah program yang ditetapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesehatan lansia di masyarakat yang dijalankan oleh puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. Jenis penelitian ini adalah survey yang bersifat deskriptif. Populasi adalah seluruh lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam. Sampel sebanyak 85 responden yang dipilih secara Purposive Sampling. Pengumpulan data dilakukan pada 14 Desember 2011 sampai dengan 03 Januari 2012 dengan mengunakan kuesioner yang terdiri dari tiga bagian yaitu yang pertama mengenai data demografi, bagian kedua pengetahuan lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia dan bagian ketiga sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Dari analis data diketahui bahwa 58 orang (68,2%) responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, 19 orang (22,4%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik dan 8 orang (9,4%) responden memiliki tingkat pengetahuan kurang serta 55 orang (64,7%) responden memiliki sikap positif dan 30 orang (35,3%) responden memiliki sikap yang negatif tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Disarankan kepada Kepada petugas puskesmas untuk tetap mempertahankan program posyandu lansia dan memberikan penyuluhan kesehatan serta mensosialisasikan keberadaan dan manfaat pelayanan posyandu lansia, kepada kader dan kepala lingkungan lebih berperan aktif dalam mengimbau masyarakat khususnya lansia agar tetap mengikuti kegiatan posyandu lansia, dan juga diharapkan untuk kepada anggota keluarga agar mendampingi lansia mengikuti setiap kegiatan posyandu lansia. Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Lansia, Pemanfaatan Posyandu Lansia. ii Universitas Sumatera Utara PRAKATA Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini yang berjudul “Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Selama proses penulisan Skripsi ini penulis telah banyak mendapat bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada berbagai pihak, yaitu : 1. Bapak dr. Dedi Ardinata M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Erniyati, SKp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Ismayadi, S.Kep, Ns. selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, masukan, arahan dan motivasi yang berharga bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kep, Ns, M.Kep selaku dosen pembimbing akademik yang telah banyak memberikan nasehat dan motivasi kepada penulis iii Universitas Sumatera Utara 5. Bapak Iwan Rusdi, S.Kp, MNS yang telah banyak memberikan nasehat dan bimbingan kepada penulis selaku dosen penguji I 6. Ibu Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns, M.Kep yang telah banyak memberikan nasehat dan bimbingan kepada penulis selaku dosen penguji II 7. Bapak Jefri Irmanda, SKM dan Ibu Feryana Harahap, SE yang telah banyak membantu penulis dalam bidang administrasi akademik berserta pegawai lainnya. 8. Seluruh staf pengajar yang telah banyak memberikan ilmu kepada penulis 9. Kedua orang tua yang di banggakan dan dicintai penulis, Bapak S.Telaumbanua dan Ibu R.Ge’e yang telah banyak memberikan bimbingan, bantuan materi, nasehat, doa dan motivasi yang diberikan selama penulis menjalankan kewajiban dalam menuntut ilmu. 10. Buat abang dan adek penulis (Erwin, Mulia, Elmoris, Putri, Teguh dan Afdol) dan seluruh keluarga yang telah membantu penulis baik secara moril maupun materi. 11. Teman-teman satu angkatan (Naomi, Lasma, Rohaya, Nanda, Shanti, Fitri, Ula) dan teman-teman lain yang namanya tidak bisa disebut satu persatu yang telah banyak membantu, memberikan dorongan dan persahabatan selama di Fakultas Keperawatan USU. 12. Semua pihak yang dalam kesempatan ini tidak dapat di sebutkan namanya satu persatu yang telah banyak membantu penulis baik dalam penyelesaikan proposal ini iv Universitas Sumatera Utara Dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dalam memberikan informasi dibidang kesehatan terutama Keperawatan dan masyarakat, khususnya bagi penelitian selanjutnya. Medan , Februari 2012 Penulis v Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Hal LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………………… i ABSTRAK …………………………………………………………………. ii PRAKATA……………… …………………………………………………. iii DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. vi DAFTAR SKEMA ………………………………………………………… ix DAFTAR TABEL……………………………..…………………………… x BAB 1. PENDAHULUAN ……………………………………………..... 1 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar belakang ……………………………………………… Pertanyaan Penelitian ………………………………………. Tujuan Penelitian …………………………………………… Manfaat Penelitian ………………………………………….. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………. 2.1 2.2 2.3 Pengetahuan ………………………………………………... 2.2.1 Defenisi Pengetahuan ………………………………. 2.2.2 Tingakatan Pengetahuan …………………………… 2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan …. Sikap………………………………………………………… 2.3.1 Defenisi Sikap ………………………………………. 2.3.2 Komponen Pokok Sikap ……………………………. 2.3.3 Tingakatan Sikap …………………………………… 2.3.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap………….. Konsep Lansia ……………………………………………… 2.3.1 Defenisi lansia ……………………………………… 2.3.2 Batasan-Batasan Lanjut Usia ………………………. 2.3.3 Karakteristik Lansia………………………………… 2.3.4 Perubahan-Perubahan pada Lansia…………………. 2.3.5 Permasalahan Umum Kesehatan Lansia……………. 1 4 5 5 7 7 7 8 9 11 11 12 13 14 16 16 17 18 19 21 vi Universitas Sumatera Utara 2.4 Konsep Posyandu lansia …………………………………… 2.4.1 Defenisi Posyandu Lansia ………………………….. 2.4.2 Dasar Hukum ……………………………………….. 2.4.3 Proses Pembentukan………………………………… 2.4.4 Lokasi Posyandu ……………………………………. 2.4.5 Tujuan Posyandu Lansia……………………………. 2.4.6 Sasaran Posyandu Lansia …………………………… 2.4.7 Indikator Keberhasilan Posyandu Lansia…………… 2.4.8 Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia…………… 2.4.9 Bentuk pelayanan posyandu lansia ………………… BAB 3. KERANGKA PENELITIAN …………………………………… 3.1 3.2 Kerangka Penelitian ………………………………………… Defenisi Operasional ……………………………………….. BAB 4. METODE PENELITIAN ………………………………………. 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 Desain Penelitian …………………………………………… Populasi dan Sampel………………………………………… 4.3.1 Populasi Penelitian …………………………………. 4.3.2 Sampel Penelitian ………………………………….. Lokasi dan Waktu Penelitian ……………………………….. Pertimbangan Etik ………………………………………….. Instrumen Penelitian………………………………………… 4.5.1 Kuesioner Data Demografi …………………………. 4.5.2 Kuesioner Pengetahuan……………………………… 4.5.3 Kuesioner Sikap …………………………………….. Uji Validitas dan Ui Reliabilitas …………………………… 4.6.1 Uji Validitas………………………………………… 4.6.2 Uji Reliabilitas……………………………………… Pengumpulan Data …………………………………………. Analisa Data ………………………………………………... BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………… 5.1 23 23 24 24 25 26 26 26 27 28 31 31 32 34 34 34 34 34 36 36 37 37 37 38 39 39 40 40 41 42 Hasil Penelitian……………………..……………………….. 42 5.1.1 Data Demograf………………………………………. 42 5.1.2 Pengetahuan Lansia Tentang pemanfaatan vii Universitas Sumatera Utara 5.2 Pelayanan Posyandu lansia………………………….. 5.1.3 Sikap Lansia Tentang pemanfaatan Pelayanan Posyandu lansia………………………….. Pembahasan…………………………………………………. 5.2.1 Pengetahuan Lansia Tentang pemanfaatan Pelayanan Posyandu lansia………………………….. 5.2.2 Sikap Lansia Tentang pemanfaatan Pelayanan Posyandu lansia………………………….. BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………….. 6.1 6.2 43 46 49 49 51 56 Kesimpulan…………………………………………………. 56 Saran………………………………………………………… 57 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN 1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden 2. Instrument Penelitian 3. Uji Reliabilitas Pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu lansia 4. Uji Reliabilitas Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu lansia 5. Crosstabs 6. Surat Izin Penelitian dari F.K EP. USU 7. Surat Keterangan Penelitian dari Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan 8. Surat Keterangan Penelitian dari Puskesmas Plus Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan 9. Daftar Riwayat Hidup viii Universitas Sumatera Utara DAFTAR SKEMA Hal Skema 3.1. Kerangka konsep pengetahauan dan sikap lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia………………………………….. 32 viii Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Hal Tabel 3.1. Kerangka operasional Pengetahuan dan Sikap Lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia…………………………. 33 Tabel 5.1. Distribusi frekuensi karakteristik data demografi lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan……. 42 Table 5.2 Distribusi pengetahuan posyandu lansia di responden Kelurahan tentang Pasar pemanfaatan Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan……………………………………….. Table 5.3. Distribusi kuesioner pemanfaatan pengetahuan responden tentang posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan……………………………….. Tabel 5.4. 44 Distribusi sikap responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan……………………………………….. Tabel 5.5. 44 46 Distribusi kuesioner sikap responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan……………………………………….. 47 ix Universitas Sumatera Utara Judul Nama Nim Jurusan Tahun akademik : Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan : Noperius Telaumbanua : 081121032 : Sarjana Keperawatan (S.Kep) : 2011/2012 Abstrak Program pelayanan posyandu lanjut usia adalah sebuah program yang ditetapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesehatan lansia di masyarakat yang dijalankan oleh puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. Jenis penelitian ini adalah survey yang bersifat deskriptif. Populasi adalah seluruh lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam. Sampel sebanyak 85 responden yang dipilih secara Purposive Sampling. Pengumpulan data dilakukan pada 14 Desember 2011 sampai dengan 03 Januari 2012 dengan mengunakan kuesioner yang terdiri dari tiga bagian yaitu yang pertama mengenai data demografi, bagian kedua pengetahuan lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia dan bagian ketiga sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Dari analis data diketahui bahwa 58 orang (68,2%) responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, 19 orang (22,4%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik dan 8 orang (9,4%) responden memiliki tingkat pengetahuan kurang serta 55 orang (64,7%) responden memiliki sikap positif dan 30 orang (35,3%) responden memiliki sikap yang negatif tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Disarankan kepada Kepada petugas puskesmas untuk tetap mempertahankan program posyandu lansia dan memberikan penyuluhan kesehatan serta mensosialisasikan keberadaan dan manfaat pelayanan posyandu lansia, kepada kader dan kepala lingkungan lebih berperan aktif dalam mengimbau masyarakat khususnya lansia agar tetap mengikuti kegiatan posyandu lansia, dan juga diharapkan untuk kepada anggota keluarga agar mendampingi lansia mengikuti setiap kegiatan posyandu lansia. Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Lansia, Pemanfaatan Posyandu Lansia. ii Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Populasi lansia pada masa ini semakin meningkat, oleh karena itu pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang (Erfandi, 2008). Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit. Pelayanan Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya (Erfandi, 2008). Pelayanan Posyandu Lansia ini berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia 1 Universitas Sumatera Utara 2 tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut Meja I : sebagai tempat pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan, Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini, sedangkan pada Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi (Erfandi, 2008). Pemerintah telah merumuskan berbagai peraturan dan perundangundangan, yang diantaranya seperti tercantum dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dimana pada pasal 19 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2007 tentang Penbentukan Posyandu, disebutkan bahwa kesehatan manusia usia lanjut diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kemampuannya agar tetap produktif, serta pemerintah membantu penyelenggaraan upaya kesehatan usia lanjut untuk meningkatkan kualitas hidupnya secara optimal. Oleh karena ini berbagai upaya dilaksanakan untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan produktif untuk usia lanjut (Badan Informasi Daerah Pemkot Jogja, 2007). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2008, jumlah lansia yang dibina sebesar 24.659 atau 30% dari seluruh populasi lansia yang jumlahnya mencapai 820.990 jiwa. Begitu juga dengan kegiatan pelayanan Universitas Sumatera Utara 3 kesehatan lansia di puskesmas yang mencakup pengobatan, pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kosneling, arisan atau pengajian dan kunjungan rumah atau home care hanya sebesar 19,5% (80 dari 409 puskesmas) dan 400 posyandu lansia yang sudah terbentuk atau sekitar 23,2%. Berdasarkan data Puskesmas Perawatan Plus Teluk Dalam, jumlah lansia di kelurahan Pasar Teluk Dalam berjumlah 108 orang dan posyandu lansia telah dibentuk sebanyak 2 posyandu tetapi jumlah kunjungan lansia yang berkunjung di posyandu yang telah di bentuk yaitu berkisar sebanyak 50 orang pada tahun 2010 Sedangkan jumlah lansia yang berkunjung pada tahun 2011 bulan juni berkisar sebanyak 30 orang dan itu hanya 1 posyandu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kunjungan ke posyandu lansia masih sangat rendah berdasarkan jumlah kunjungan lansia ke posyandu, jumlah lansia yang dibina masih kurang dari target pencapaian cakupan pelayanan kesehatan lansia pada tahun 2010 berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu sebesar 40%. Dalam kenyataannya, kegiatan posyandu lansia yang diselenggarakan oleh Puskesmas Pus Teluk Dalam kurang popular bila dibandingkan dengan posyandu untuk balita. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kunjungan lansia di Puskesmas yang telah ditunjuk sebagai pelaksana dari posyandu lansia dan hasil dari 10 lansia yang diwawancarai oleh peneliti menemukan bahwa 7 orang diantaranya mengatakan tidak tahu apa itu posyandu lansia dan 3 orang lainnya mengetahui keberadaan posyandu lansia. Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan posyandu lansia, Nurhayati (2007) di puskesmas Helvetia Medan menunjukkan bahwa Universitas Sumatera Utara 4 pemanfaatan posyandu lansia dalam satu tahun terakhir yang terbanyak yaitu 7 kali sebanyak 62 orang dan paling sedikit memanfaatkan < 5 kali yaitu sebanyak 15 orang (12,5%) artinya bahwa masyarakat yang mempunyai keluarga lansia menunjukkan bahwa kecenderungan pemanfaatan pelayanan kesehatan di posyandu lansia sangat rendah, dan keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu pun juga sangat rendah. Hal tersebut disebabkan oleh karena kurangnya pengetahuan lansia itu sendiri bahkan keluarga serta masyarakat belum memahami dan mengetahui akan adanya kegiatan posyandu lansia serta tujuan dari kegiatan tersebut. Karena kegiatan promosi posyandu lansia di masyarakat masih sebatas informasi dari orang ke orang yang sudah pernah memanfaatkan kegiatan posyandu lansia ataupun informasi yang didapat saat mengunjungi puskesmas sebagai penyelenggara kegiatan posyandu lansia. Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan dan sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. 1.2. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan ? Universitas Sumatera Utara 5 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui Pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. b. Untuk mengetahui Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. 1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Puskesmas Sebagai bahan masukan bagi petugas puskesmas dan kader kesehatan dalam meninggkatkan kualitas pelayanan kesehatan lanjut usia 1.4.2. Masyarakat dan Lansia Sebagai bahan masukan bagi masyarakat, anggota keluarga dan bagi lansia tersebut untuk lebih memperhatikan kesehatan lansia dengan memanfaatkan sarana yang telah ada di setiap tempat pelayanan kesehatan yaitu bentuk pelayanan posyandu lansia. 1.4.3. Pendidikan Keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam pengembangan mata kuliah keperawatan komunitas sehingga pendidikan dapat Universitas Sumatera Utara 6 mempersiapkan mahasiswa keperawatan untuk dapat memberikan pelayanan dan perawatan kepada lansia di masyarakat. 1.4.4. Penelitian Keperawatan Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan dan sumber data bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian berikutnya yang terkait tentang program pelayanan posyandu lansia. Universitas Sumatera Utara BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Konsep Pengetahuan 2.1.1. Definisi Pengetahuan Menurut Bloom, Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman penelitian tertulis bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoadmojo, 2003). Pengetahuan adalah merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan ini terjadi setelah orang malakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu obyek tertentu (Mubarok, dkk, 2007) Pengetahuan merupakan membenarkan (justifies) justified true believe. kebenaran atas Seorang individu kepercayaannya berdasarkan observasinya mengenai dunia. Jadi bila seseorang menciptakan pengetahuan, ia menciptakan pemahaman atas suatu situasi baru dengan cara berpegang pada 7 Universitas Sumatera Utara 8 kepercayaan yang telah dibenarkan. Dalam definisi ini, pengetahuan merupakan konstruksi dari kenyataan, dibandingkan sesuatu yang benar secara abstrak. Penciptaan pengetahuan tidak hanya merupakan kompilasi dari fakta-fakta, namun suatu proses yang unik pada manusia yang sulit disederhanakan atau ditiru. Penciptaaan pengetahuan melibatkan perasaan dan sistem kepercayaan (belief sistems) dimana perasaan atau sistem kepercayaan itu bisa tidak disadari (Bambang, 2008). 2.1.2. Tingakatan Pengetahuan di dalam Domain Kognitif Pengetahuan yang dicapai di dalam domain kognitif mempunyai 5 tingkatan yakni: a. Tahu, diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali atau recall terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat yang paling rendah. Kata kerja bahwa untuk mengukur orang tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan sebagainya. b. Comprehension (memahami), Diartikan sebagai sesuatu untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obejek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, memperkirakan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Universitas Sumatera Utara 9 c. Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil atau sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis tersebut dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. e. Sintesis, menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam bentuk suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasiformulasi yang ada. Dan evaluasi, berkaitan dengan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-peniaian itu berdasarkan suatu kriteria tersendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Soekidjo, 2003). Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penilaian atau responden. Kedalaman pengetahuan orangtua yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas. 2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Notoadmojo (2003) faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara 10 a) Umur Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan penyelidikan epidemiologinya. Angka – angka kesakitan maupun kematian hamper semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur. Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur di laporkan tetap, apakah panjangnya interval didalam pengelompokkan cukup atau tidak. b) Pendidikan Mendidik atau pendidik adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa mendidik adalah kata kerja, pendidik kata benda. Kalau kita mendidik berarti kita melakukan suatu kegiatan atau tindakan, kegiatan mendidik menunjukkan adanya yang mendidik disuatu pihak yang dididik adalah suatu kegiatan yang mengandung antara dua manusia atau lebih. c) Pengalaman Sudarmita (2002) mengatakan bahwa pengetahuan dapat terbentuk dari pengalaman dan ingatan yang didapat sebelumnya. Nanda (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi (Nanda, 2005). Universitas Sumatera Utara 11 2.2. Sikap (attitude) 2.2.1. Defenisi Sikap Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya. (Widayatun,T.R, 2009) Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunujukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan seharihari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb dalam Soekidjo (2003), salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai penghayatan terhadap objek. Ciri-ciri sikap adalah sebagai berikut : a. Sikap seseorang tidak dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang tersebut. b. Sikap tidak berdiri sendiri melainkan senantiasa mengandung relasi terhadap suatu objek. Dengan kata lain sikap terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas. Universitas Sumatera Utara 12 c. Sikap dapat berubah-ubah oleh karena itu dipelajari oleh sebagian orangtua sebaliknya. d. Objek sikap dapat merupakan satu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi sikap dapat berkenaan dengan satu objek saja tetapi juga berkenaan dengan sederetan objek-objek yang serupa. e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inilah yang membedakan sikap dengan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan- pengetahuan yang dimilki seseorang (Soekidjo, 2003). 2.2.2. Komponen Pokok Sikap Menurut Allport (1945) yang dikutip oleh Nurasiyah (2007), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yakni; kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek, kecendrungan untuk bertindak ( trend to behave ). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Soekidjo, 2003). Selanjutnya ciri-ciri sikap menurut WHO adalah : a. Sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu. b. Sikap akan ikut atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu pada pengalaman orang lain. c. Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pada pengalaman seseorang. Universitas Sumatera Utara 13 d. Didalam suatu masyarakat apapun selalu berlaku nilai-nilai yang menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat. 2.2.3. Berbagai Tingkatan Sikap Sebagai halnya dengan pengetahuan sikap ini terdiri dari bebagai tingkatan yakni : a. Menerima (receiving), diartikan bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan obyek. b. Merespon (responding), memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap ini, karena dengan suatu usaha untuk menjawab suatu pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan terlepas pekerjaan itu benar atau salah adalah bahwa orang menerima ide tersebut. c. Menghargai (valuing), mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat ini. d. Bertanggung jawab (responsible), betanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi dalam tingkatan sikap (Soekidjo, 2003). Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Universitas Sumatera Utara 14 2.2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap antara lain : a. Pengalaman Pribadi Pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba atau mengejutkan yang meninggalkan kesan paling mendalam pada jiwa seseorang. Kejadian-kejadian dan peristiwaperistiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus-menerus, lama-kelamaan secara bertahap diserap kedalam individu dan mempengaruhi terbentuknya sikap. b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Dalam pembentukan sikap pengaruh orang lain sangat berperan. Misal dalam kehidupan masyarakat yang hidup dipedesaan, mereka akan mengikuti apa yang diberikan oleh tokoh masyarakat. c. Kebudayaan Dimana kita hidup mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap. Dalam kehidupan dimasyarakat, sikap masyarakat diwarnai dengan kebudayaan yang ada didaerahnya. Menurut Elly, (2010) budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa dan rasa, kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa sanskerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris kata budaya berasal dari kata culture . Dengan demikian kebudayaan berarti hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala Universitas Sumatera Utara 15 daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam . Menurut E.B. Taylor dalam Elly (2010) budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota keluarga. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia Herskovits dalam Iqbal (2009) memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Malinowski dalam Noorkasiani (2009), bahwa kebudayaan pada prinsipnya berdasarkan atas berbagai sistem kebutuhan manusia. Tiap kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang khas misalnya guna memenuhi kebutuhan manusia akan kesehatanya, timbul budaya berupa perlindungan yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu seperti lembaga kemasyarakatan. Landasan ini dapat diperoleh dari ilmu sosial yang ruang lingkupnya manusia dalam konteks sosial. d. Media Massa Media masa elektronik maupun media cetak sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Dengan pemberian informasi melalui media masa mengenai sesuatu hal akan memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap Universitas Sumatera Utara 16 e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama Dalam lembaga pendidikan dan lembaga agama berpengaruh dalam pembentukan sikap, hal ini dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan kkonsep moral dalam diri individu. f. Faktor Emosional Sikap yang didasari oleh emosi yang fungsinya hanya sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego, sikap yang demikian merupakan sikap sementara dan segera berlalu setelah frustasinya hilang, namun bisa juga menjadi sikap yang lebih persisten dan bertahan lama. (Azwar, 2009). 2.3. Konsep Lansia 2.3.1. Definisi Lansia Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1965 yang termuat dalam pasal 1 seperti dikutip oleh Nugroho (2000) adalah bahwa seseorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. Undangundang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab I pasal 1 ayat 2 dijelaskan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas (Nugroho, 2000). Universitas Sumatera Utara 17 Keberadaan lansia di tandai dengan umur harapan hidup yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan upaya pemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan produktif. Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat di hindari, berjalan secara terus-menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan memengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. Menjadi tua di tandai dengan adanya kemunduran biologis terlihat sebagai gejala - gejala kemunduran fisik. Usia lansia dapat di katakan usia emas, karena tidak semua orang dapat mencapai usia tersebut, maka orang yang berusia lanjut memerlukan tindakan baik yang bersifat promotif maupun preventif, agar lansia dapat menikmati masa usia emas serta menjadi lansia yang berguna dan bahagia (Rosidawati 2008). Soekidjo, (2007) mengatakan lansia adalah tergantung pada kerangka pada pandang setiap pandang individu . Sedangkan menurut WHO lansia adalah tergantung dari konteks kebutuhan yang tidak di pisah - pisahkan. Dari beberapa pengertian di atas belum ada kesepakatan siapa di sebut golongan lansia ,tapi seseorang yang telah berumur 60 tahun sering di katakan telah lansia 2.3.2. Batasan-Batasan Lanjut Usia Menurut Rosidawati 2008, klasifikasi lansia di bagi dalam lima bagian antara lain: a. Pralansia (Prasenilis) adalah seseorang yang berusia antara 45- 59 tahun b. Lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih Universitas Sumatera Utara 18 c. Lansia risiko tinggi adalah seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan. d. Lansia Potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan jasa. e. Lansia tidak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain . Lanjut usia menurut Koesoemato Setyonegoro terdiri dari 3 kategori, yaitu young old (70 – 75 tahun), old (75 – 80 tahun) dan very old (di atas 80 tahun). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merumuskan batasan lanjut usia sebagai berikut: a. Usia pertengahan (middle age) yaitu antara usia 45 – 59 tahun b. Lanjut usia (elderly) yaitu antara usia 60 – 74 tahun c. Lanjut usia tua (old) yaitu antara usia 75 – 90 tahun d. Usia sangat tua (very old) yaitu di atas usia 90 tahun (Nugroho, 2000). 2.3.3. Karakteristik Lansia Menurut Bustam, (2007), lansia memiliki karakteristik untuk mengetahui keberadaan masalah kesehatan lansia adalah: a. Jenis kelamin ; lansia lebih banyak pada wanita, terdapat perbedaan kebutuhan dan masalah kesehatan yang berbeda antara lansia laki dan wanita. a. Status perkawinan; status masih pasangan lengkap atau sudah hidup janda/ duda akan mempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologis, Universitas Sumatera Utara 19 b. Living arrangement; misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama istri, anak atau keluarga lainya c. Kondisi kesehatan d. Keadaan ekonomi 2.3.4. Perubahan-Perubahan pada Lansia Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diterima (Constantinides, 1994 dan Nugroho, 2000). Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berlanjut) secara alami. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua mahluk hidup. Menua bukanlah suatu penyakit tetapi proses berkurangnnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh (Nugroho, 2000). Bagi sebagian besar orang, proses menua adalah suatu proses perubahan klinikal yang didasarkan pengalaman dan observasi yang didevenisikan dengan: (1) penuaan pada kemikal dengan manifestasi perubahan struktural kristal atau pada makromulekuler, (2). Penuaan ekstraseluler dengan manifestasi progresif pada jaringan kolagen dan jaringan elastic atau kekurangan amiloid, (3). Penuaan intraseluler dengan manifestasi perubahan komponen sel normal atau akumulasi pesubstansi dan (4). Penuan pada organisme dalam (Gilchrest,1998). Pada lansia sering terjadi komplikasi penyakit atau multiple penyakit. Hal ini di pengaruhi beberapa faktor, terutama oleh perubahan-perubahan dalam diri Universitas Sumatera Utara 20 lansia tersebut secara fisiologis. Lansia akan lebih sensitif teradap penyakit seperti terhadap nyeri, temperatur, dan penyakit berkemih (Hodkinson, 1982). Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut: a. Perubahan fisik meliputi perubahan pada sel, sitem pernapasan, sistem pendengaran, sistem penglihatan, sistem kardiovaskuler, sitem pengaturan temperature suhu, sistem pencernaan, site genitourinaria, sistem endokrin, sistem kulit dan sistem muskoluskletal. Perubahan yang terjadi pada bentuk dan fungsi masing-masing (Nugroho, 2000). b. Perubahan-perubahan mental pada lansia berkaitan dengan 2 hal yaitu kenangan dan intelegensia. Lansia akan mengingat kenangan masa terdahulu namun sering lupa pada masa yang baru, sedangkan intelegensia tidak berubah namun terjadi perubahan dalam daya membayangkan (Nugroho, 2000). c. Perubahan psikososial: pada masa pensiunan, lansia akan mengalami kehilangan financial, kehilangan status, kehingan teman dan kehilangan pekerjaan, kemudian akan mersakan atau sadar terhadap kematian, perubahan cara hidup ; penyakit kronis dan ketidakmampuan, serta kehilangan kekuatan dan ketegapan fisik yaitu perubahan terhadap konsep diri dan gambaran diri. (Nugroho, 2000). d. Perkembangan spiritual: agama dan kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970 dalam Nugroho,2000). e. Perubahan minat: terdapat hubungan yang erat antara jumlah keinginan dan minat orang pada seluruh tingkat usia dan keberhasilan penyesuaian mereka. Keinginan tertentu mungkin dianggap sebagai tipe keinginan berusia lanjut Universitas Sumatera Utara 21 yang pada umumnya antara lain: keinginan dan minat pribadi, minat untuk berkreasi keinginan social, keinginan yang bersifat keagamaandan keinginan untuk mati (Hurlock, 1999). 2.3.5. Permasalahan Umum Kesehatan Lansia a. Mudah jatuh Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka. Faktor instrinsik yang menyebabkan mudah jatuh antara lain gangguan jantung dan sirkulasi darah, gangguan sisitem anggota gerak, gangguan sistem saraf pusat, gangguan penglihatan dan pendengaran, gangguan psikologis, vertigo dan penyakit-penyakit sistemik. Sedangkan faktor ekstrinsik penyebab jatuh antara lain cahaya ruangan yang kurang terang, lantai licin, tersandung benda-benda, alas kaki kurang pas, tali sepatu, kursi roda dan turun tangga (Nugroho, 2000). b. Kekacauan mental akut. Kekacauan mental pada lansia dapat disebabkan oleh keracunan, penyakit infeksi dengan demam tinggi, alcohol, penyakit metabolisme, dehidrasi, gangguan fungsi otak, dan gangguan fungsi hati. c. Mudah lelah, disebabkan oleh faktor psikologis berupa perasaan bosan, keletihan, dan depresi. Faktor organik yang menyebabkan kelelahan antara lain anemia, kekurangan vitamin, osteomalasia, kelainan metabolisme, gangguan pencernaan dan kardiovaskuler. Universitas Sumatera Utara 22 d. Nyeri dada, dapat disebabkan oleh penyakit jantung koroner, aneurisme aorta, radang selaput jantung dan gangguan pada sistem pernafasan. e. Sesak nafas, terutama saat melakukan aktifitas/kerja fisik, dapat disebabkan oleh kelemahan jantung, gangguan sistem saluran nafas, berat badan berlebihan dan anemia. f. Palpitasi/jantung berdebar-debar, dapat disebabkan oleh gangguan irama jantung, keadaan umum badan yang lemah karena penyakit kronis, dan faktor psikologis. g. Pembengkakan kaki bagian bawah, dapat disebabkan oleh kaki yang lama digantung, gagal jantung, bendungan vena, kekurangan vitamin B1, penyakit hati dan ginjal. h. Nyeri pinggang atau punggung, dapat disebabkan oleh gangguan snedi atau susunan sendi pada tulang belakang, gangguan pankreas, kelainan ginjal, gangguan pada rahim, kelenjar prostat dan otot-otot badan. i. Gangguan penglihatan dan pendengaran, dapat disebabkan oleh presbiop, kelainan lensa mata, glukoma, dan peradangan saraf mata. Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh kelainan degeneratif, misalnya oteosklerosis. j. Sulit tidur, dapat disebabkan oleh faktor ekstrinsik seperti lingkungan yang kurang tenang, dan faktor intrinsic seperti gatal-gatal, nyeri, depresi, kecemasan dan iritabilitas. k. Sukar menahan buang air besar, dapat terjadi karena penggunaan obat-obatan pencahar, keadaan diare, kelainan usus besar dan saluran pencernaan. Universitas Sumatera Utara 23 l. Eneuresis, sukar menahan buang air kecil atau sering ngompol dapat sidebabkan oleh penggunaan obat-obatan, radang kandung kemih, kelainan kontrol pada kandung kemih, kelainan persyarafan kandung kemih serta akibta faktor psikologis. m. Berat badan menurun, dapat disebabkan oleh nafsu makan menurun, penyakit kronis, gangguan saluran cerna, dan faktor-faktor sosioekonomis (Nugroho, 2000). 2.4. Konsep Posyandu Lansia 2.4.1. Definisi Posyandu Lansia Posyandu Lansia adalah suatu wadah pelayanan bagi usia lanjut di masyarakat, dimana proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah dan non-pemerintah, swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan menitik beratkan pelayanan pada upaya promotif dan preventif (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Usia lanjut atau lanjut usia adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, yang secara fisik terlihat berbeda dengan kelompok umur lainnya (Depkes RI, 2003). Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh Universitas Sumatera Utara 24 masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan (Dinkes Kabupaten Malang, 2006). 2.4.2. Dasar Hukum Pembinaan usia lanjut di Indonesia dilaksanakan berdasarkan beberapa undang-undang dan peraturan sebagai dasar dalam menentukan kebijaksanaan pembinaan. Dasar hukum/ketentuan perundangan dan peraturan dimaksud adalah: (1) UU No. 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan, (2) UU No. 36 tahun 2009 pasal 138 tantang kesehatan usia lanjut, (3) UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pasal 14, (4) UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, (5) UU No.25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, (6) peraturan pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonomi (Depkes RI, 2003). 2.4.3. Proses Pembentukan Posyandu Lansia Langkah- langkah yang ditempuh dalam pembinaan kesehatan lansia adalah : a. Diseminasi informasi pembinaan kesehatan lansia kepada staf puskesmas b. Membuat kesepakatan diantara staf puskesmas tentang pelaksanaan pembinaan kesehatan lansia. c. Melakukan bimbingan dan pelatihan pembinaan kesehatan lansia kepada staf puskesmas Universitas Sumatera Utara 25 d. Membuat rencana kegiatan pembinaan kesehatan lansia dan mengintegrasikanya dalam perencanaan tahunan puskesmas: (a) pengumpulan data dasar, (b) membuat peta lokasi lansia dan masalah yang dihadapi, (c) membuat rencana kegiatan bedasarkan masalah yang ada. e. Melakukan pendekatan lintas sektoral tingkat kecamatan dan desa/ kelurahan termasuk lembaga swadaya masyarakat dan LKMD untuk menginformasikan dan menjelaskan peranannya dalam pembinaan kesehatan lansia f. Melakukan survei mawas diri bersama tenaga kecamatan dan desa setempat untuk mengenal masalah yang berkaitan dengan kesehatan lansia g. Melakukan musyawarah masyarakat desa untuk mencapai kesepakatan tentang upaya yang dilaksanakan. h. Membentuk kelompok kerja dalam pembinaan kesehatan lansia. i. Menjelaskan teknis upaya kesehatan lansia yang diselenggarakan bersama sektor dan lembaga swadaya masyarakat terkait. j. Mendorong pembentukan dan pengembangan pembinaan kesehatan lansia dimasyarakat secara mandiri. (Departemen Kesehatan RI, 2005) 2.4.4. Lokasi Posyandu Syarat lokasi/letak yang harus dipenuhi meliputi menurut Effendi (1998): a. Berada di tempat yang mudah didatangi oleh masyarakat b. Ditentukan oleh masyarakat itu sendiri c. Dapat merupakan lokal tersendiri d. Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan di rumah penduduk, balai rakyat, pos RT/RW atau pos lainnya. Universitas Sumatera Utara 26 2.4.5. Tujuan Posyandu Lansia Tujuan umum dari Posyandu Lansia adalah meningkatkan kesejahteraan Lansia melalui kegiatan Posyandu Lansia yang mandiri dalam masyarakat. Tujuan khususnya, meliputi: (1) meningkatnya kemudahan bagi Lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, (2) meningkatnya cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan Lansia, khususnya aspek peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan aspek pengobatan dan pemulihan, (3) berkembangnya Posyandu Lansia yang aktif melaksanakan kegiatan dengan kualitas yang baik secara berkesinambungan (Depkes RI, 2003). 2.4.6. Sasaran Sasaran pelaksanaan pembinaan Posyandu lansia, terbagi dua yaitu: (1) sasaran langsung, yang meliputi pra lanjut usia (45-59 tahun), usia lanjut (60-69 tahun), usia lanjut risiko tinggi (>70 tahun atau 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan, (2) sasaran tidak langsung, yang meliputi keluarga dimana usia lanjut berada, masyarakat di lingkungan usia lanjut, organisasi sosial yang peduli terhadap pembinaan kesehatan usia lanjut, petugas kesehatan yang melayani kesehatan usia lanjut, petugas lain yang menangani Kelompok Usia Lanjut dan masyarakat luas (Depkes RI, 2003). 2.4.7. Indikator Keberhasilan Posyandu Lansia Penilaian keberhasilan upaya pembinaan lansia melalui kegiatan pelayanan kesehatan di posyandu dilakukan dengan menggunakan data pencatatan dan Universitas Sumatera Utara 27 pelaporan, pengamatan khusus dan penelitian. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari: a. Meningkatnya sosialisasi masyarakat lansia dengan berkembangnya jumlah organisasi masyarakat lansia dengan berbagai aktivitas pengembangannya. b. Berkembangnya jumlah lembaga pemerintah /swasta yang memberikan pelayanan kesehatan bagi lansia c. Berkembangya jenis pelayanan kesehatan pada lembaga d. Berkembangnya jangkauan pelayanan kesehatan bagi lansia e. Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit pada lansia (Depkes RI, 2003). 2.4.8. Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja dalam pelayanan terhadap balita, menurut Dinas Kesehatan kabupaten Malang (2006) posyandu lansia hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut : a. Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan b. Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seerti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini. c. Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi (Dinkes Kabupaten Malang, 2006). Universitas Sumatera Utara 28 Dan ada juga yang mengunakan system 5 meja dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima terhadap Lansia, mekanisme pelaksanaan kegiatan yang sebaiknya digunakan adalah sistim 5 tahapan (5 meja) sebagai berikut: a. Tahap pertama: pendaftaran Lansia sebelum pelaksanaan pelayanan. b. Tahap kedua: pencatatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan Lansia, serta penimbangan berat badan dan pengukuran tinggibadan. c. Tahap ketiga: pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan, dan pemeriksaan status mental. d. Tahap keempat: pemeriksaan air seni dan kadar darah (laboratorium sederhana). e. Tahap kelima: pemberian penyuluhan dan konseling (Depkes RI, 2003). 2.4.9. Bentuk pelayanan posyandu lansia Pelayanan kesehatan di Posyandu Lansia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional. Kartu Menuju Sehat (KMS) Lansia sebagai alat pencatat dan pemantau untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi dan mencatat perkembangannya dalam Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan (BPPK) Lansia atau catatan kondisi kesehatan yang lazim digunakan di Puskesmas. Jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada Lansia di Posyandu adalah Universitas Sumatera Utara 29 a. Pemeriksaan aktifitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living) meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya. b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional, dengan menggunakan pedoman metode 2 menit (lihat KMS Usia Lanjut). c. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik Indeks Massa Tubuh (IMT). d. Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit. e. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan Talquist, Sahli atau Cuprisulfat. f. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus). g. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal. h. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bila mana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7. i. Penyuluhan bisa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan yang dihadapi oleh individu dan atau kolompok usia lanjut. j. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota kolompok usia lanjut yang tidak datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan Universitas Sumatera Utara 30 masyarakat (Publik Health Nursing). Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat k. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) penyuluhan sebagai contoh menu makanan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi Lansia, serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut. l. Kegiatan olah raga antara lain senam Lansia, gerak jalan santai, dan lain sebagainya untuk meningkatkan kebugaran. Kecuali kegiatan pelayanan kesehatan seperti uraian di atas, kelompok dapat melakukan kegiatan non kesehatan di bawah bimbingan sector lain, contohnya kegiatan kerohanian, arisan, kegiatan ekonomi produktif, forum diskusi, penyaluran hobi dan lainlain (Depkes RI, 2003). Universitas Sumatera Utara BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 3.1. Kerangka Konseptual Kerangka konsep ini pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang diamati/diukur melalui penelitian yang akan di lakukan. Namun di masyarakat pelayanan posyandu lansia ini belum populer dan di ketahui oleh masyarakat itu sendiri oleh karena itu, dengan mensintesis konsep pengetahuan dan sikap lansia tentang pelayanan posyandu lansia, maka disusunlah kerangka penelitian sebagai berikut : Skema 3.1. Kerangka konsep pengetahauan dan sikap lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia Pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu lansia Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu lansia Baik Cukup Kurang Positif Negatif 31 Universitas Sumatera Utara 32 3.1. Definisi Operasional Untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang istilah yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka dibawah ini akan di jelaskan secara operasional beberapa istilah berikut : Definisi operasional penelitian tertera pada tabel 3.1. Tabel 3.1. Pengetahuan dan Sikap Lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia No 1. Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Pengetahuan Pengetahuan adalah Kuesioner Hasil Ukur 1. Baik : segala sesuatu yang apabila responden diketahui oleh lansia mendapat skor 8-12 tentang sistem pelayanan posyandu Skala Ordinal dari 12 pernyataan 2. Cukup : Apabila responden lansial, antara lain mendapat skor 4-8 Pemeriksaan dari 12 pernyataan aktifitas kegiatan sehari-hari, 3. Kurang : Apabila responden Pemeriksaan status mendapat skor 0-4 gizi, Pengukuran dari 12 pernyataan tekanan darah, Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bila mana ada keluhan, Penyuluhan, Universitas Sumatera Utara 33 Kegiatan olah raga antara lain senam Lansia, gerak jalan santai, dan lain sebagainya 2. Sikap Sikap adalah respon Kuesioner 1. Positif : lansia terhadap Apabila responden pemanfaatan pelayanan mendapat skor 21- posyandu lansia antara lain penerimaan, Nominal 40 dari 10 pernyataan 2. Negatif : pemberian respon, Apabila responden penilaian, organisasi, da mendapat skor 1-20 n dari 10 pernyataan karakterisasi. Universitas Sumatera Utara BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bersifat survei yang dapat gambaran mengenai pengetahuan dan sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. 4.2. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah semua lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabuapaten Nias Selatan dengan jumlah 108 orang berdasarkan data dari Puskesmas Plus Teluk Dalam sejak Januari sampai dengan desember 2011. 4.3.2. Sampel Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiono, 2006). Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah : a. Umur ≥ 60 tahun. b. Kooperatif dan dapat diwawancarai oleh peneliti. c. Bersedia menjadi responden penelitian. d. Lansia yang berdomisili di Kelurahan Pasar Teluk Dalam dalam wilayah kerja Puskesmas Plus Teluk Dalam. 34 Universitas Sumatera Utara 35 Untuk menghitung besarnya sampel, penelitian ini menggunakan rumus Solvin untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 1.000 yang dibutuhkan dalam ketepatan (accurancy) besarnya sampel (Notoatmodjo, 2005). Keterangan : N : Besarnya populasi n : Besar sampel d : Penimpangan terhadap populasi atau derajat ketetapan yang diinginkan, biasanya 0,05 jadi : sampel Universitas Sumatera Utara 36 4.1.Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. pada 14 Desember 2011 sampai dengan 03 Januari 2012. 4.2. Pertimbangan Etik Penelitian ini dilakukan setelah peneliti mendapatkan persetujuan dari Fakultas Keperawatan selanjutnya mengirim surat permohonan untuk mendapatkan ijin dari pihak Kelurahan Pasar Teluk Dalam dan Puskesmas Plus Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. Setelah mendapatkan persetujuan barulah melakukan penelitian. Dalam pengumpulan data ini terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan pertimbangan etik, yaitu peneliti terlebih dahulu memberi penjelasan kepada calon responden penelitian tentang tujuan penelitian dan prosedur pelaksanaan penelitian. Kemudian peneliti menyerahkan langsung lembar persetujuan penelitian kepada responden. Responden yang bersedia terlebih dahulu menandatangani lembaran persetujuan. Responden yang tidak bersedia berhak untuk menolak dan mengundurkan. Apabila calon responden bersedia, maka responden dipersilahkan untuk menandatangani informed consent, tetapi jika calon responden tidak bersedia, maka calon responden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri selama peneliti menjelaskan cara pengisian kuesioner kepada responden agar responden mengerti untuk mengisinya. Untuk menjaga kerahasian responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh responden. Lembar tersebut hanya Universitas Sumatera Utara 37 diberi nomor kode tertentu. Kerahasian informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti (Nursalam, 2003). 4.3. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini berupa kuisioner yang disusun oleh peneliti didasarkan pada konsep dan tinjauan pustaka. Instrumen terdiri dari 3 (tiga) bagian, yaitu: (1) data demografi responden (lansia) yang meliputi: umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan penghasilan, (2) kuisioner tentang pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia, (3) kuisioner tentang sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia. 4.3.1. Kuesioner Data Demografi Instrumen penelitian ini berisi pertanyaan tentang umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan penghasilan. 4.3.2. Kuisioner Pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Instrumen penelitian tentang pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia terdiri kuesioner yang telah diberi bobot dari 12 pertanyaan. Penilaian menggunakan Skala Gutman dengan cara menetapkan bobot jawaban terhadap tiap-tiap item yaitu skor pernyataan positif adalah benar (skor 1) dan salah (skor 0). Skor untuk pernyataan negatif adalah benar (skor1) dan salah (skor 0). Total skor di peroleh terendah 0 yang tertinggi 12 semakin tinggi skor maka semakin baik pengetahuan lansia. Universitas Sumatera Utara 38 Berdasarkan rumus statistic menurut Sdjuna (1992) adalah : Dimana P merupakan panjang kelas dengan rentang 4 dan 3 kategori kelas untuk menilai pengetahuan lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia yaitu pengetahuan baik, cukup dan kurang, maka didapat panjang kelas 3. Maka pengetahuan lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia dikategorikan interval sebagai berikut : 1. Baik, apabila responden memiliki skor 8-12. 2. Cukup, apabila responden memiliki skor 4-8. 3. Kurang, apabila responden memiliki skor 0-4. 4.5.3. Kuisioner Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Instrumen penelitian tentang sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia terdiri dari 10 pertanyaan. Penilaian menggunakan skala likert dengan cara menetapkan bobot jawaban terhadap tiap-tiap item yaitu skor pernyataan positif yaitu Sangat setuju (skor 4 ), Setuju (skor 3), Ragu-ragu (skor 2), Tidak setuju (skor 1), Sangat tidak setuju (skor 0). Skor untuk pernyataan negatif Sangat setuju (skor 0), Setuju (skor 1), Ragu-ragu (skor 2), Tidak setuju (skor 3), Sangat tidak setuju (skor 4). Total skor sikap tertinggi adalah 40 dan terendah 0, semakin tinggi skor maka semakin positif sikap lansia dalam pemanfaatan posyandu lansia Pengukuran sikap lansia terhadap pemanfaatan posyandu. Universitas Sumatera Utara 39 Berdasarkan rumus statistik yang dikutip menurut Sdjuna (1992) adalah : Dimana P merupakan panjang kelas dengan rentang 20 dan 2 kategori kelas untuk menilai sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia yaitu sikap positif dan sikap negatif, maka didapat panjang kelas 20 menggunakan P = 4 dan nilai terendah 0 sebagai batas bawah kelas interval pertama, maka sikap lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dikategorikan sebagai berikut : 1-20 adalah sikap negatif dan 21-40 adalah sikap positif. 4.4. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas 4.4.1. Uji Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atu kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid bila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. memiliki validitas tinggi. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran validitas tersebut (Arikunto, 2006). Uji validitas yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui validitas kuesioner pengetahuan dan sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia adalah teknik content validity. Untuk membuktikan instrumen lebih sahih maka uji validitas dilakukan oleh Bapak Iwan Rusdi, S.Kp, MNS di Departemen jiwa dan komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 40 4.4.2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar derajat atau kemampuan alat ukur, mengukur sasaran yang akan diukur. Uji reliabilitas untuk dilakukan pada 20 sampel penelitian. Uji reliabilitas untuk kuesioner pengetahuan lansia menggunakan KR 21. Sedangkan uji reliabilitas kuesioner sikap lansia menggunakan rumus alpha. Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang dilakukan, nilai reliabilitas kuesioner pengetahuan lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia adalah 0,913, ini dikatakan reliable karena nilai reliabilitasnya > 0,7 sedangkan nilai reliabiltas kuesioner sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia adalah 0,964, nilai ini dikatakan reliabilitas > 0,6. 4.5. Pengumpulan Data Pada tahap awal peneliti mengajukan surat permohonan ijin pelaksanaan penelitian pada institusi Pendidikan Fakultas Keperawatan USU, kemudian mengajukan surat permohonan ijin pelaksanaan penelitian kepada Pemerintahan setempat, selanjutnya mengajukan surat permohonan ijin pelaksanaan penelitian ke Puskesmas Plus Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan karena tempat penelitian merupakan wilayah kerja puskesmas tersebut, setelah mendapat izin, kemudian mengadakan pendekatan kepada calon responden untuk memberikan penjelasan maksud dan tujuan penelitian serta prosedur penelitian berdasarkan data lansia yang diperoleh dari kelurahan dan puskesmas dan bekerja sama dengan kader posyandu lansia untuk mengunjungi lansia dengan cara door to door, bila pasien bersedia menjadi responden, maka dipersilahkan menandatangani lembaran persetujuan (informed concent) menjadi responden, dan menjelaskan kepada Universitas Sumatera Utara 41 responden tentang cara pengisian kuesioner, serta mencatat jawaban responden dan data dikumpulkan bersama kuesioner dari responden lain. 4.6. Analisa Data Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpulkan melalui beberapa tahap di mulai dengan editing untuk memeriksa kelengkapan data, kemudian memberikan kode (coding) untuk memudahkan tabulasi. Selanjutnya memasukkan (entry) data kedalam computer dan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan bantuan komputerisasi. Data dianalisa dengan menggunakan statistic deskripsi. Kemudian data demografi, pengetahuan dan sikap lansia di sajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase. Universitas Sumatera Utara BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASA Pada bab ini akan diuraikan data hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengetahuan dan sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, yang dilaksanakan pada 14 Desember 2011 sampai dengan 03 Januari 2012. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner di rumah masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia. 5.1. Hasil Penelitian 5.1.1. Data Demografi Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan karakteristik data demografi lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, n = 85 orang No 1 2 3 4 Variabel Umur 60-74 Tahun 75-90 Tahun >90 Tahun Jenis Kelamin Pria Wanita Suku Bangsa Nias Batak Padang Jawa Tionghoa Agama Islam Kristen Protestan Kristen Katolik Budha Frekuensi Presentase 59 25 1 69,4 29,4 1,2 39 46 45,9 54,1 54 14 4 2 11 63,5 16,5 4,7 2,4 12,9 6 47 24 8 7,1 55,3 28,2 9,4 Universitas Sumatera Utara 43 Tabel 5.1 Lanjutan No 5 6 7 Data Demografi Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan Pensiunan PNS/POLRI/TNI Buruh Wiraswasta Petani Ibu rumah tangga Guru Penghasilan > Rp 1.000.000,Rp 500.000-1.000.000,Rp 500.000,- Frekuensi Presentase 11 21 36 17 12,9 24,7 42,4 20,0 18 1 32 23 9 2 21,2 1,2 37,6 26,7 10,6 2,4 20 22 43 23,5 25,9 50,6 Tabel 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden 69,4% (59 orang) berusia 60-74 tahun, jenis kelamin perempuan 46 orang (54,1%), suku nias 54 orang (63,5%), agama Kristen protestan 47 orang (55,3%), tingkat pendidikan sebagian besar responden SMA sebanyak 36 orang (42,4%), sebagian besar responden bekerja sebagai wiraswasta 32 orang (37,6%) dan sebagian besarnya juga berpenghasilan Rp 500.000,- sebanyak 43 orang (50,6%). 5.1.2. Pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Tingkat pengetahuan responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan terdiri dari tiga kategori yaitu baik, cukup, dan kurang. Universitas Sumatera Utara 44 Tabel 5.2 Distribusi pengetahuan responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, n = 85 orang. No Pengetahuan Responden Frekuensi Presentase 1 Baik 19 22.4 2 Cukup 58 68.2 3 Kurang 8 9.4 85 100 Total Tabel 5.2 menunjukkan tingkat pengetahuan lansia yang terbanyak adalah berada dalam kategori cukup sebanyak 58 orang (68,2%) dan baik sebanyak 19 orang (22,4%) dan kurang sebanyak 8 orang (9,4%). Tabel 5.3 Distribusi kuesioner pengetahuan responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, n = 85 orang. No 1 Pernyataan Frekuensi Benar Salah Presentase Benar Salah Posyandu Lansia adalah suatu wadah pelayanan bagi usia lanjut di 63 22 74.1 25.9 28 57 32.9 67.1 58 27 68.2 31.8 masyarakat. 2 Posyandu Lansia menitik beratkan pada pelayanan dalam upaya pengobatan dan pemulihan 3 Posyandu lansia dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan, kemampuan untuk mandiri, produktif dan berperan aktif. Universitas Sumatera Utara 45 Tabel 5.3 Lanjutan No 4 Pernyataan Frekuensi Benar Salah Presentase Benar Salah Posyandu lansia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan Lansia melalui kegiatan Posyandu Lansia yang 55 30 64.7 35.3 mandiri dalam masyarakat 5 Posyandu lansiadiadakan tiga kali sebulan 6 41 44 51.8 48.2 Posyandu lansia dilaksanakan di Puskesmas dan rumah warga yang telah 45 40 52.9 47.1 56 29 65.9 34.1 52 33 61.2 38.8 40 45 47.1 52.9 35 50 41.2 58.8 50 35 58.8 41.2 ditentukan 7 Dengan menghadiri kegiatan posyandu, Bapak/ibu akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat. 8 Pemeriksaan kesehatan, penyuluhan, pemberian makanan tambahan serta olah raga merupakan jenis kegiatan di posyandu lansia 9 Setiap ke posyandu lansia tidak wajib membawa kartu menuju sehat (KMS) lansia 10 Sebelum pemeriksaan kesehatan, lansia tidak harus melapor ke petugas administrasi terlebih dahulu 11 Keaktifan dalam menghadiri posyandu lansia, akan memberi dorongan kepada lansia untuk meningkatkan kesehatan, dan kemampuan untuk mandiri Universitas Sumatera Utara 46 Tabel 5.3 Lanjutan No 12 Pernyataan Frekuensi Benar Salah Presentase Benar Salah Lansia akan mendapatkan pendidikan dan informasi dari penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan di 47 38 55.3 44.7 posyandu lansia 5.1.3. Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Sikap responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan terdiri dari dua kategori yaitu sikap positif dan sikap negatif seperti dapat dilihat pada table berikut : Tabel 5.4 Distribusi sikap responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, n = 85 orang. No Sikap Responden Frekuensi Presentase 1 Positif 55 64.7 2 Negatif 30 35.3 85 100 Total Tabel 5.3 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap yang positif sebanyak 55 orang (64,7%) dan sikap negatif sebanyak 30 orang dengan presentase 35,3%. Universitas Sumatera Utara 47 Tabel 5.5 Distribusi kuesioner sikap responden tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, n = 85 orang. No 1 2 3 4 5 Pernyataan Frekuensi Presentase Jawaban Bapak/Ibu menghadiri 5 5.9 Sangat setuju posyandu lansia setiap 11 12.9 Setuju bulannya 15 17.6 Ragu-Ragu 41 48.2 Tidak Setuju 13 15.3 Sangat Tidak Setuju Bapak/Ibu menghadiri 7 8.2 Sangat setuju posyandu lansia karena 7 8.2 Setuju sangat bermanfaat 18 21.2 Ragu-Ragu 45 52.9 Tidak Setuju 8 9.4 Sangat Tidak Setuju Bila Bapak/Ibu sakit dan 3 3.5 Sangat setuju mengalami keluhan 19 22.4 Setuju kesehatan, akan pergi ke 21 24.7 Ragu-Ragu posyandu lansia 35 41.2 Tidak Setuju 7 8.2 Sangat Tidak Setuju Bapak/Ibu akan 7 3.5 Sangat setuju mengajak dan 17 22.4 Setuju menganjurkan teman 18 24.7 Ragu-Ragu lansia untuk ikut ke 32 41.2 Tidak Setuju posyandu lansia 11 8.2 Sangat Tidak Setuju Posyandu lansia sangat 6 7.1 Sangat setuju mudah di jangkau dan 16 18.8 Setuju pelayanan petugas 28 32.9 Ragu-Ragu memuaskan 23 27.1 Tidak Setuju 12 14.1 Sangat Tidak Setuju Universitas Sumatera Utara 48 Tabel 5.5 Lanjutan No 6 Pernyataan 8.2 Sangat setuju posyandu lansia setiap 31 16 24 7 36.5 18.8 28.2 8.2 Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 8 28 22 18 9 9.4 32.9 25.9 21.2 10.6 Sangat setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 5 14 29 28 9 5.9 16.5 34.1 32.9 10.6 Sangat setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 5 18 31 26 5 5.9 21.2 36.5 30.6 5.9 Sangat setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 6 28 14 31 6 7.1 32.9 16.5 36.5 7.1 Sangat setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap bulannya karena tidak ingin dirumah Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap bulannya karena ingin dapat obat gratis 9 Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap bulannya karena diajak teman lansia 10 Jawaban 7 jalan-jalan ke puskesmas 8 Presentase Bapak/Ibu menghadiri bulannya karena ingin 7 Frekuensi Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap bulannya bila di antar oleh anggota keluarga Universitas Sumatera Utara 49 5.2. Pembahasan 5.2.1. Pengetahuan Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Posyandu lansia merupakan pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggarannya melalui program puskesmas yang melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial. Posyandu lansia dengan berbagai programnya sudah seharusnya banyak memberikan manfaat bagi orang tua di wilayah kerja puskesmas (Anonim, 2009). Pengetahuan merupakan pedoman penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, apabila perilaku tersebut didasari pengetahuan, kesadaran dan sikap positif maka perilaku tersebut bersifat positif, oleh sebab itu, pemanfaatan pelayanan posyandu dipengaruhi oleh pengetahuan lansia tentang posyandu itu sendiri. Berdasarkan dari hasil penelitian pengetahuan lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia yang dilakukan di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, sebagian besar responden 58 orang (68,2%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan 8 orang (9,4%) yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum mengerti dan memahami sepenuhnya tentang manfaat dari pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan responden terdapat 36 orang (42,4%) responden dengan tingkat pendidikan SMA dan 17 orang (20%) responden dengan tingkat pendidikan Sarjana. Sesuai dengan pendapat Notoadmodjo (2003), mengatakan bahwa tingkat pengetahuan dapat dipengaruhi oleh pendidikan, motivasi, lingkungan dan sosial ekonomi. Ini sesuai Universitas Sumatera Utara 50 dengan pendapat yang menyatakan bahwa sekolah atau pendidikan berpengaruh terhadap perkembangan pribadi individu dan mempertinggi taraf intelegensi individu. Ini dibuktikan berdasarkan hasil pengukuran pengetahuan lansia tentang pemanfaatan posyandu lansia dalam fokus pelayanan posyandu lansia menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif sesuai dengan pengertian posyandu lansia sebagai tempat untuk peningkatan kesehatan, kemampuan untuk mandiri, produktif dan berperan aktif (Depkes RI, 2003). Hal ini didukung oleh data pada table 5.3 yang menunjukkan bahwa responden sebanyak 28 orang (32,9%) memiliki pengetahuan yang kurang, dimana selama ini mereka berpendapat bahwa pelayanan posyandu lansia itu berfokus pada upaya pengobatan (curative) dan rehabilitasi (rehabilitation). Menurut Notoatmodjo (2003) untuk mengukur seseorang tahu tentang sesuatu adalah dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan mengenai hal tersebut. Berdasarkan dari hasil penelitian sebanyak 22 orang (25,9%) lansia tidak dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan mengenai posyandu, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang keberadaan dan manfaat dari pelayanan posyandu lansia masih minim dan belum memadai oleh karena sebagian lansia mengetahui keberadaan dan manfaat posyandu lansia itu sendiri diperoleh dari petugas-petugas kesehatan pada saat berkunjung ke puskesmas setempat. Hal ini di dukung oleh pendapat Nanda (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang Universitas Sumatera Utara 51 minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi Menurut Notoatmodjo (2003), lingkungan juga dapat mempengaruhi pengetahuan misalnya lingkungan kerja, berdasarkan karakteristik pekerjaan responden terdapat 32 orang (37,6%) responden bekerja sebagai wiraswasta dan 23 orang (27,1%) responden bekerja sebagai petani. Lingkungan memiliki fungsi sebagai alat pergaulan dan bertukar informasi yang dalam hal ini mengenai pemanfaatan pelayanan posyandu lansia tidak dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan karena responden tidak mempunyai waktu untuk bertukar pikiran karena kesibukkan dalam pekerjaan. Namun dari responden juga diketahui bahwa 19 orang (22,4%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa ada juga sebagian responden mengerti dan memahami sepenuhnya tentang keberadaan dan manfaat dari pelayanan posyandu lansia. Berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan responden terdapat 17 orang (20%) berpendidikan sarjana. 5.2.1. Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Lansia sebagai tahap akhir dari setiap siklus kehidupan manusia, sering diwarnai dengan kondisi hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmojo, 2003). Sikap dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu pengetahuan, pemberian respon dan persepsi, maka dari itu, pengetahuan saja tidak cukup tetapi diperlukan sikap lanjut lansia yang mendukung kegiatan setiap posyandu lansia. Universitas Sumatera Utara 52 Berdasarkan dari hasil penelitian sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia yang dilakukan di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, diperoleh sebagian besar responden 55 orang (64,7%) memiliki sikap positif. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden bersikap positif tentang manfaat dari pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Hal ini berarti bahwa sikap lansia berada pada tingkat menerima dan merespon. Menerima diartikan bahwa lansia mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan dan merespon artinya memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan serta menerima ide-ide yang diberikan (Notoatmodjo, 2003). Sikap positif lansia terhadap kegiatan posyandu didorong oleh karena kebutuhan akan pelayanan kesehatan, Sikap yang didasari oleh emosi yang fungsinya hanya sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego, sikap yang demikian merupakan sikap sementara dan segera berlalu setelah frustasinya hilang, namun bisa juga menjadi sikap yang lebih persisten dan bertahan lama (Azwar, 2009). Dimana selama ini mereka berpendapat bahwa pelayanan posyandu lansia itu berfokus pada upaya pengobatan (curative) dan rehabilitasi (rehabilitation). Sehingga sikap lansia mendukung kegiatan-kegiatan posyandu dalam kesehatan lansia, lansia menyetujui adanya kegiatan-kegiatan posyandu lansia seperti penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, kegiatan olahraga dan penyuluhan kesehatan dapat memberikan informasi tentang keadaan kesehatan lansia setiap bulan dan lansia dapat lebih memperhatikan kesehatannya sendiri. Universitas Sumatera Utara 53 Sementara itu, 30 orang (35,3%) memiliki sikap yang negatif tentang manfaat dari pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Hal ini disebabkan oleh tingkat pengetahuan yang rendah dan keterbatasan informasi mengenai betapa penting dan bermanfaatnya pelayanan posyandu lansia untuk memelihara dan meningkatkan status kesehatan lansia. Berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan responden terdapat 11 orang (12,9%) responden dengan tingkat pendidikan SD dan 21 orang (24,7 %) responden dengan tingkat pendidikan SMP. Berdasarkan karakteristik suku bangsa, responden terbanyak adalah suku Nias sebanyak 54 orang (63,5%), lansia pada suku Nias sangatlah dihargai dan dihormati sebagai seorang yang memberikan nasehat dan wejangan baik di keluarga maupun lingkungan sekitar sehingga mereka menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh, sehingga aktifitas mereka hanyalah di rumah dan keluargalah yang bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan lansia. Hal ini membuat sikap lansia menjadi negatif dalam pemanfaatan pelayanan posyandu lansia oleh karena pembatasan aktifitas terkait masalah kebudayaan dan kurangnya peran keluarga untuk mengantar lansia untuk mengikuti pelayanan posyandu lansia dikarenakan kesibukan pekerjaan. Sesuai dengan pendapat Azwar (2009) mengatakan bahwa dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap dalam kehidupan dimasyarakat, sikap masyarakat diwarnai dengan kebudayaan yang ada didaerahnya. Menurut E.B. Taylor dalam Elly,(2010) budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat Universitas Sumatera Utara 54 istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota keluarga. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Herskovits dalam Iqbal (2009) memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Malinowski dalam Noorkasiani (2009), bahwa kebudayaan pada prinsipnya berdasarkan atas berbagai sistem kebutuhan manusia. Tiap kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang khas misalnya guna memenuhi kebutuhan manusia akan kesehatanya, timbul budaya berupa perlindungan yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu seperti lembaga kemasyarakatan. Landasan ini dapat diperoleh dari ilmu sosial yang ruang lingkupnya manusia dalam konteks sosial. Berdasarkan karakteristik penghasilan responden terdapat 43 orang (50,6%) tingkat penghasilanya Rp 500.000 rupiah perbulan, Hal ini membuat sikap lansia menjadi negatif dalam pemanfaatan pelayanan posyandu lansia oleh karena jarak antara pelayanan posyandu lansia dengan tempat tinggal cukup jauh, sehingga membutuhkan biaya untuk bisa sampai ke pelayanan posyandu lansia. Berdasarkan data yang dikumpulkan Sakernas (1991) yang dikutip oleh Hardywinoto (2007) mengatakan bahwa Kondisi lanjut usia akan menyebabkan kemunduran dibidang pendapatan. Masa pensiun akan berakibat turunya pendapatan, hilangnya fasilitas-fasilitas, kekuasaan wewenang dan penghasilan lain. Buruknya kondisi sosial ekonomi sebagian besar lansia, akan memengaruhi rendahnya derajat kesehatan dan ketidakmandirian lansia secara ekonomi, kondisi ini akan memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hal ini sesuai dengan Universitas Sumatera Utara 55 pendapat Green dalam Sarwono (2004), pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor predisposisi (predisposing factor) meliputi pengetahuan, sikap, persepsi, sosial budaya, sosial ekonomi. Menurut teori Green penghasilan merupakan faktor pemungkin (enabling factor) yang mempengaruhi perilaku seseorang, seseorang akan berperilaku postif atau negatif juga tergantung pada ketersediaan dana (uang). Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Notoadmodjo (2003) yang menyatakan bahwa sikap demikian dapat merupakan sikap sementara dan segera berlalu akan tetapi dapat pula merupakan sikap persisten dan bertahan lama. Sikap dapat dipengaruhi pengalaman di lingkungan kehidupan sehari-hari, sikap adalah cara mengkomunikasikan suasana hati (mood) dalam diri sendiri kepada orang lain. Universitas Sumatera Utara BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan mengenai pengetahuan dan sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan terhadap 85 orang responden menggambarkan sebagian besar responden 58 orang (68.2%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan 8 orang (9.4%) yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Karena tingkat pendidikan responden terlihat bahwa 36 orang (42.4%) responden dengan tingkat pendidikan SMA dan 17 orang (20%) responden dengan tingkat pendidikan Sarjana. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum mengerti dan memahami sepenuhnya tentang manfaat dari pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Namun dari responden juga diketahui bahwa 19 orang (22.4%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik. tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia untuk meningkatkan dan memelihara status kesehatannya Sedangkan gambar sikap lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan diperoleh sebagian besar responden 55 orang (64.7%) memiliki sikap positif. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengetahui manfaat dari pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Sikap positif lansia terhadap kegiatan posyandu didorong oleh karena kebutuhan akan pelayanan kesehatan lansia dan 56 Universitas Sumatera Utara 57 pengetahuan yang kurang tepat, dimana selama ini mereka berpendapat bahwa pelayanan posyandu lansia itu berfokus pada upaya pengobatan (curative) dan rehabilitasi (rehabilitation). Sementara itu, 30 orang (35.3%) memiliki sikap yang negatif tentang manfaat dari pemanfaatan pelayanan posyandu lansia. Hal ini disebabkan oleh tingkat pengetahuan yang rendah dan keterbatasan informasi mengenai betapa penting dan bermanfaatnya pelayanan posyandu lansia untuk memelihara dan meningkatkan status kesehatan lansia. Serta sosial budaya dan penghasilan yang rendah. 6.2. Saran Berdasarkan hasil penelitian diberikan saran kepada berbagai pihak antara lain : a. Puskesmas Kepada petugas puskesmas untuk tetap mempertahankan program posyandu lansia dan kepada kader dan kepala lingkungan lebih berperan aktif dalam mengimbau masyarakat khususnya lansia agar tetap mengikuti kegiatan posyandu lansia. dan juga diharapkan untuk memberikan penyuluhan kesehatan betapa penting dan bermanfaatnya pelayanan posyandu untuk meningkatkan dan memelihara status kesehatan lanjut usia serta mensosialisasikan tentang keberadaan program pelayanan posyandu lansia di masyarakat. Universitas Sumatera Utara 58 b. Masyarakat dan Lansia Diharapkan untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap positif dalam pemanfaatan pelayanan posyandu untuk meningkatkan dan memelihara status kesehatan lanjut usia dan Kepada anggota keluarga, agar dapat berperan aktif mandampingi lansia dalam mengikuti setiap kegiatan posyandu. c. Pendidikan Keperawatan Pada institusi pendidikan keperawatan terutama pada bidang komunitas dapat memberikan gambaran kebutuhan lansia di masyarakat sehingga melalui ilmu keperawatan dapat memenuhi kebutuhan tersebut. d. Penelitian Keperawatan Hasil penelitian yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah, dapat menjadi rekomendasi bagi peneliti selanjutnya untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan lansia. dan juga juga perlu menggunakan jumlah sampel yang lebih representatif. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Admin. 2010. Jenis-jenis Posyandu Lansia. lansia.com) (http://jenis-jenis posyandu Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, edisi revisi v, Jakarta: Rineka Cipta. Azzahy, G.S. 2008. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku. (http://syakirablog.blogspot.com). Depkes RI, 2003. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta : Depkes RI. Depkes RI. 2005. Pedoman Pembinaan Kesehatan Lansia Bagi Petugas Kesehatan I. Jakarta. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2006. Profil Pembinaan Kelompok Usia Lanjut di Sumatera Utara. Medan. Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, 2006. Kebijakan Program Lansia di Kabupaten Malang. Seminar yang disampaikan pada pertemuan Pengelola Program Lansia Kabupaten Malang, 27 Juni 2006. Effendi, Nasrul, 1998. Dasar-Dasar Perawatan Kesehatan Masyarakat, Jakarta : EGC. Enina Tarigan. 2009. Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Lansia tentang Pemanfaatan Posyandu Lansia Dalam Menunjang Status Gizi di Puskesmas Petisah Medan tahun 2009.Skripsi FKM USU. Medan. Erfandi, 2008. Pengelolaan Posyandu Lansia.www.puskesmas oke.blogspot.com Fauzi, A. 2007. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penurunan Minat Lansia Terhadap Posyandu Lansia. Karya Tulis Ilmiah Fakultas Ilmu Kesehatan UMM. Hardywinoto, Setiabudhi, 2007, Panduan Gerontologi, Jakarta, Pustaka Utama. Mubarak. Wahid Iqbal. (2007). Promosi Kesehatan. Jogjakarta : Graha ilmu. ……....2007.Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan aplikasi.Jakarta:Salemba Medika Mubarak, Iqbal, Wahit, 2009, Sosiologi untuk Keperawatan Pengantar dan Teori, Jakarta, Salemba Medika Universitas Sumatera Utara Nazir, Muhammad. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Noorkasiani, Tamher, S, 2009, Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan, Jakarta, Salemba Medika Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Cetakan I. PT. Rineka Cipta, Jakarta. ………2007. Kesehatan Masyarakat. Cetakan I. PT. Rineka Cipta, Jakarta. ………2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan Cetekan I. PT. Rineka Cipta, Jakarta. ………2005. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Adi Offset. Yogyakarta. Nurkusuma, Dudy D. 2001. Posyandu Lanjut Usia di Puskesmas Pare Kabupaten Temanggung. (http://www.tempo.co.id) Nursalam & Siti Pariani. 2000. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : CV. Sagung Seto. PemkotJogja, 2007. Pemkot Jogja Peduli Lansia(http://mediainfokota.jogja.go.id) Rosidawati, 2008, Mengenal Usia Lanjut dan Perawatanya, Jakarta, Salemba Setiadi, Elly, 2010, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Jakarta, Kencana Setiawati, Dermawan. 2008. Proses Pembelajaran Dalam Pendidikan Kesehatan. Jakarta: CV. Trans Info Media. Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian, Bandung: CV. Alfabeta. Suranto. 2005. Komunikasi Perkantoran. Media Wacana. Yogyakarta Syafrudin, Yudhia Fratdhina. 2009. Promosi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kebidanan Cetakan I. Jakarta: CV. Trans Info Media. Widayatun,T,R. 2009. Ilmu Perilaku. Jakarta : CV Agung Seto Universitas Sumatera Utara LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Pengetahuan Dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia Di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan Oleh Noperius Telaumbanua Saya adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan, akan melakukan penelitian tentang “Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan” sebagai syarat perkuliahan mahasiswa keperawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia di Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan, untuk keperluan tersebut saya mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu menjadi responden dalam penelitian ini, informasi dari Bapak/Ibu hanya akan digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan dan tidak akan dipergunakan untuk maksud lain. Demikianlah permohonan ini disampaikan atas bantuan dan partisipasinya saya ucapkan terima kasih. Medan, Desember 2011 Responden ( ) Universitas Sumatera Utara Kode (diisi oleh peneliti) : Tanggal : KUESIONER PENELITIAN Kuesioner I. Data Demografi. Petunjuk Penelitian a. Menjawab semua pertanyaan yang tersedia dengan memberikan tanda checklist (√) pada tempat yang disediakan b. Semua pertanyaan harus di jawab c. Setiap pertanyaan di isi dengan satu jawaban d. Bila ada yang kurang mengerti, silakan Tanya kepada peneliti. 1. Umur : 2. Jenis Kelamin : tahun ( ) Pria ( ) Wanita 3. Suku Bangsa : ( ) Nias ( ) Padang ( ) Batak ( ) Jawa ( ) ………………. Universitas Sumatera Utara 4. Agama ( ) Islam ( ) Budha ( ) Protestan ( ) Hindu ( ) Katolik 5. 6. Pendidikan terakhir yang berijazah : ( ) SD ( ) SMU ( ) SMP ( ) Perguruan Tinggi Pekerjaan Responden : ( ) Pensiun PNS/TNI/POLRI ( ) Petani ( ) Buruh ( ) Wiraswasta 7. ( ) Lain-lain (…………………….) Penghasilan responden setiap bulan : ( ) > Rp. 1.000.000/ bulan ( ) Rp. 500.000- Rp 900.000/ bulan ( ) < Rp. 500.000/ bulan Universitas Sumatera Utara Kuesiner II. Pengetahuan Lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia Petunjuk Penelitian 1. Menjawab semua pertanyaan yang tersedia dengan memberikan tanda checklist (√) pada tempat yang disediakan 2. Semua pertanyaan harus di jawab 3. Setiap pertanyaan di isi dengan satu jawaban 4. Bila ada yang kurang mengerti, silakan Tanya kepada peneliti. Keterangan : B = Benar S = Salah No Pernyataan B 1. Posyandu Lansia adalah suatu wadah pelayanan bagi usia S b lanjut di masyarakat. 2. Posyandu Lansia menitik beratkan pada pelayanan dalam s upaya pengobatan dan pemulihan 3. Posyandu lansia dapat bermanfaat untuk meningkatkan b kesehatan, kemampuan untuk mandiri, produktif dan berperan aktif. Universitas Sumatera Utara 4. Posyandu lansia bertujuan untuk meningkatkan b kesejahteraan Lansia melalui kegiatan Posyandu Lansia yang mandiri dalam masyarakat 5. Posyandu lansiadiadakan tiga kali sebulan 6. Posyandu lansia dilaksanakan di Puskesmas dan rumah s b warga yang telah ditentukan 7. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, Bapak/ibu akan B mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat. 8. Pemeriksaan kesehatan, penyuluhan, pemberian makanan b tambahan serta olah raga merupakan jenis kegiatan di posyandu lansia 9. Setiap ke posyandu lansia tidak wajib membawa kartu s menuju sehat (KMS) lansia 10. Sebelum pemeriksaan kesehatan, lansia tidak harus melapor s ke petugas administrasi terlebih dahulu 11. Keaktifan dalam menghadiri posyandu lansia, akan memberi b dorongan kepada lansia untuk meningkatkan kesehatan, dan kemampuan untuk mandiri 12. Lansia akan mendapatkan pendidikan dan informasi dari b penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan di posyandu lansia Universitas Sumatera Utara Kuesiner III. Sikap Lansia tentang pemanfaatan pelayanan posyandu lansia Petunjuk Penelitian 1. Menjawab semua pertanyaan yang tersedia dengan memberikan tanda checklist (√) pada tempat yang disediakan 2. Semua pertanyaan harus di jawab 3. Setiap pertanyaan di isi dengan satu jawaban 4. Bila ada yang kurang mengerti, silakan Tanya kepada peneliti. Keterangan : SS = Sangat setuju S = Setuju RR = Ragu-ragu TS = Tidak setuju STS = Sangat tidak setuju No Pernyatan SS S RR TS STS Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap 1. bulannya Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia karena 2 sangat bermanfaat Universitas Sumatera Utara Bila Bapak/Ibu sakit dan mengalami keluhan 3 kesehatan, akan pergi ke posyandu lansia Bapak/Ibu akan mengajak dan menganjurkan 4 teman lansia untuk ikut ke posyandu lansia Posyandu lansia sangat mudah di jangkau dan 5 pelayanan petugas memuaskan Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap 6 bulannya karena ingin jalan-jalan ke puskesmas Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap 7 bulannya karena tidak ingin dirumah Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap 8 bulannya karena ingin dapat obat gratis Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap 9 bulannya karena diajak teman lansia Bapak/Ibu menghadiri posyandu lansia setiap 10 bulannya bila di antar oleh anggota keluarga Universitas Sumatera Utara FREQUENCY TABLE DEMOGRAFI Umur Frequency Valid Percent Cumulative Percent Valid Percent 60 - 74 Tahun 59 69.4 69.4 69.4 75 - 90 Tahun 25 29.4 29.4 98.8 1 1.2 1.2 100.0 85 100.0 100.0 > 90 Tahun Total Gender Frequency Valid Percent Cumulative Percent Valid Percent Pria 39 45.9 45.9 45.9 Wanita 46 54.1 54.1 100.0 Total 85 100.0 100.0 SukuBangsa Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Nias 54 63.5 63.5 63.5 Batak 14 16.5 16.5 80.0 Padang 4 4.7 4.7 84.7 Jawa 2 2.4 2.4 87.1 Tionghoa 11 12.9 12.9 100.0 Total 85 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Agama Frequency Valid Islam Percent Valid Percent Cumulative Percent 6 7.1 7.1 7.1 Kristen Protestan 46 54.1 54.1 61.2 Kristen Katolik 24 28.2 28.2 89.4 Budha 8 9.4 9.4 98.8 Hindhu 1 1.2 1.2 100.0 85 100.0 100.0 Total Pendidikan Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent SD 11 12.9 12.9 12.9 SMP 21 24.7 24.7 37.6 SMA 36 42.4 42.4 80.0 Perguruan Tinggi 17 20.0 20.0 100.0 Total 85 100.0 100.0 Pekerjaan Frequency Valid Pensiunan PNS/POLRI/TNI Buruh Percent 18 21.2 Valid Percent 21.2 Cumulative Percent 21.2 1 1.2 1.2 22.4 Wiraswasta 32 37.6 37.6 60.0 Petani 23 27.1 27.1 87.1 IRT 9 10.6 10.6 97.6 Guru 2 2.4 2.4 100.0 Total 85 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Penghasilan Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent > Rp 1.000.000,- 20 23.5 23.5 23.5 Rp 500.000 - 900.000,- 22 25.9 25.9 49.4 < Rp 500.000,- 43 50.6 50.6 100.0 Total 85 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara FREQUENCY TABLE PENGETAHUAN Tahu1 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 22 25.9 25.9 25.9 Benar 63 74.1 74.1 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu2 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent benar 28 32.9 32.9 32.9 Salah 57 67.1 67.1 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu3 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 27 31.8 31.8 31.8 Benar 58 68.2 68.2 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu4 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 30 35.3 35.3 35.3 Benar 55 64.7 64.7 100.0 Total 85 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Tahu5 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent benar 41 48.2 48.2 48.2 Salah 44 51.8 51.8 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu6 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 40 47.1 47.1 47.1 Benar 45 52.9 52.9 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu7 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 29 34.1 34.1 34.1 Benar 56 65.9 65.9 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu8 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 33 38.8 38.8 38.8 Benar 52 61.2 61.2 100.0 Total 85 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Tahu9 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent benar 40 47.1 47.1 47.1 Salah 45 52.9 52.9 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu10 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent benar 35 41.2 41.2 41.2 Salah 50 58.8 58.8 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu11 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 35 41.2 41.2 41.2 Benar 50 58.8 58.8 100.0 Total 85 100.0 100.0 Tahu12 Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent Salah 38 44.7 44.7 44.7 Benar 47 55.3 55.3 100.0 Total 85 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara FREQUENCY TABLE SIKAP Sikap1 Frequency Valid Sangat Tidak Setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 5 5.9 5.9 5.9 Tidak Setuju 11 12.9 12.9 18.8 Ragu-ragu 15 17.6 17.6 36.5 Setuju 41 48.2 48.2 84.7 Sangat Setuju 13 15.3 15.3 100.0 Total 85 100.0 100.0 Sikap2 Frequency Valid Sangat Tidak Setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 7 8.2 8.2 8.2 7 8.2 8.2 16.5 Ragu-ragu 18 21.2 21.2 37.6 Setuju 45 52.9 52.9 90.6 8 9.4 9.4 100.0 85 100.0 100.0 Tidak Setuju Sangat Setuju Total Sikap3 Frequency Valid Sangat Tidak Setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 3 3.5 3.5 3.5 Tidak Setuju 19 22.4 22.4 25.9 Ragu-ragu 21 24.7 24.7 50.6 Setuju 35 41.2 41.2 91.8 7 8.2 8.2 100.0 85 100.0 100.0 Sangat Setuju Total Universitas Sumatera Utara Sikap4 Frequency Valid Sangat Tidak Setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 7 8.2 8.2 8.2 Tidak Setuju 17 20.0 20.0 28.2 Ragu-ragu 18 21.2 21.2 49.4 Setuju 32 37.6 37.6 87.1 Sangat Setuju 11 12.9 12.9 100.0 Total 85 100.0 100.0 Sikap5 Frequency Valid Sangat Tidak Setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 6 7.1 7.1 7.1 Tidak Setuju 16 18.8 18.8 25.9 Ragu-ragu 28 32.9 32.9 58.8 Setuju 23 27.1 27.1 85.9 Sangat setuju 12 14.1 14.1 100.0 Total 85 100.0 100.0 Sikap6 Frequency Valid sangat setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 7 8.2 8.2 8.2 setuju 31 36.5 36.5 44.7 Ragu-ragu 16 18.8 18.8 63.5 Tidak Setuju 24 28.2 28.2 91.8 7 8.2 8.2 100.0 85 100.0 100.0 sangat tidak setuju Total Universitas Sumatera Utara Sikap7 Frequency Valid sangat setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 8 9.4 9.4 9.4 setuju 28 32.9 32.9 42.4 Ragu-ragu 22 25.9 25.9 68.2 Tidak Setuju 18 21.2 21.2 89.4 9 10.6 10.6 100.0 85 100.0 100.0 sangat tidak setuju Total Sikap8 Frequency Valid sangat setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 5 5.9 5.9 5.9 setuju 14 16.5 16.5 22.4 Ragu-ragu 29 34.1 34.1 56.5 Tidak Setuju 28 32.9 32.9 89.4 9 10.6 10.6 100.0 85 100.0 100.0 sangat tidak setuju Total Sikap9 Frequency Valid sangat setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 5 5.9 5.9 5.9 setuju 18 21.2 21.2 27.1 Ragu-ragu 31 36.5 36.5 63.5 Tidak Setuju 26 30.6 30.6 94.1 5 5.9 5.9 100.0 85 100.0 100.0 sangat tidak setuju Total Universitas Sumatera Utara Sikap10 Frequency Valid sangat setuju Percent Valid Percent Cumulative Percent 6 7.1 7.1 7.1 setuju 28 32.9 32.9 40.0 Ragu-ragu 14 16.5 16.5 56.5 Tidak Setuju 31 36.5 36.5 92.9 6 7.1 7.1 100.0 85 100.0 100.0 sangat tidak setuju Total Universitas Sumatera Utara FREQUENCY TABLE (PENGETAHUAN & SIKAP) Pengetahuan Frequency Valid Percent Cumulative Percent Valid Percent Kurang 8 9.4 9.4 9.4 Cukup 58 68.2 68.2 77.6 Baik 19 22.4 22.4 100.0 Total 85 100.0 100.0 Sikap Frequency Valid Percent Cumulative Percent Valid Percent Negatif 30 35.3 35.3 35.3 Positif 55 64.7 64.7 100.0 Total 85 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara CROSSTABS (PENGETAHUAN & SIKAP) Umur * Pengetahuan Crosstabulation Count Pengetahuan Kurang Umur Cukup Baik Total 60 - 74 Tahun 7 43 9 59 75 - 90 Tahun 1 14 10 25 > 90 Tahun 0 1 0 1 8 58 19 85 Total Umur * Sikap Crosstabulation Count Sikap Negatif Umur 60 - 74 Tahun 75 - 90 Tahun > 90 Tahun Total Positif Total 18 41 59 11 14 25 1 0 1 30 55 85 Gender * Pengetahuan Crosstabulation Count Pengetahuan Kurang Gender Total Cukup Baik Total Pria 5 28 6 39 Wanita 3 30 13 46 8 58 19 85 Universitas Sumatera Utara Gender * Sikap Crosstabulation Count Sikap Negatif Gender Positif Total Pria 14 25 39 Wanita 16 30 46 30 55 85 Total SukuBangsa * Pengetahuan Crosstabulation Count Pengetahuan Kurang SukuBangsa Nias Cukup Baik Total 4 42 8 54 Batak 2 9 3 14 Padang 1 2 1 4 Jawa 0 2 0 2 Tionghoa 1 3 7 11 8 58 19 85 Total SukuBangsa * Sikap Crosstabulation Count Sikap Negatif SukuBangsa Nias Total Positif Total 9 45 54 Batak 8 6 14 Padang 4 0 4 Jawa 1 1 2 Tionghoa 8 3 11 30 55 85 Universitas Sumatera Utara Agama * Pengetahuan Crosstabulation Count Pengetahuan Kurang Agama Islam Cukup Baik Total 3 2 1 6 Kristen Protestan 3 37 6 46 Kristen Katolik 1 17 6 24 Budha 1 2 5 8 Hindhu 0 0 1 1 8 58 19 85 Total Agama * Sikap Crosstabulation Count Sikap Negatif Agama Islam Positif Total 5 1 6 11 35 46 Kristen Katolik 8 16 24 Budha 5 3 8 Hindhu 1 0 1 30 55 85 Kristen Protestan Total Pendidikan * Pengetahuan Crosstabulation Count Pengetahuan Kurang Pendidikan SD Total Cukup Baik Total 2 6 3 11 SMP 3 12 6 21 SMA 2 26 8 36 Perguruan Tinggi 1 14 2 17 8 58 19 85 Universitas Sumatera Utara Pendidikan * Sikap Crosstabulation Count Sikap Negatif Pendidikan SD Positif Total 4 7 11 SMP 10 11 21 SMA 9 27 36 Perguruan Tinggi 7 10 17 30 55 85 Total Pekerjaan * Pengetahuan Crosstabulation Count Pengetahuan Kurang Pekerjaan Total Cukup Baik 15 2 Total Pensiunan PNS/POLRI/TNI 1 18 Buruh 0 1 0 1 Wiraswasta 2 20 10 32 Petani 4 14 5 23 IRT 1 6 2 9 Guru 0 2 0 2 8 58 19 85 Universitas Sumatera Utara Pekerjaan * Sikap Crosstabulation Count Sikap Negatif Pekerjaan Positif Total 11 18 Pensiunan PNS/POLRI/TNI 7 Buruh 0 1 1 11 21 32 Petani 8 15 23 IRT 3 6 9 Guru 1 1 2 30 55 85 Wiraswasta Total Penghasilan * Pengetahuan Crosstabulation Count Pengetahuan Kurang Penghasilan Cukup Baik > Rp 1.000.000,- 1 Rp 500.000 900.000,- 2 < Rp 500.000,- 5 29 9 43 8 58 19 85 Total 14 Total 15 5 5 20 22 Penghasilan * Sikap Crosstabulation Count Sikap Negatif Penghasilan > Rp 1.000.000,- 9 Rp 500.000 900.000,- 9 < Rp 500.000,Total Positif 11 13 Total 20 22 12 31 43 30 55 85 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara RELIABILITY (VALIDITAS DAN RELIABILITAS PENGETAHUAN) Case Processing Summary N Cases Valid Excluded % 20 100.0 0 .0 20 100.0 a Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardize N of Alpha d Items Items .91 .914 1 Item Statistics Mean Std. Deviation N Tahu1 .65 .489 20 Tahu2 .80 .410 20 Tahu3 .70 .470 20 Tahu4 .85 .366 20 Tahu5 .75 .444 20 Tahu6 .75 .444 20 Tahu7 .70 .470 20 Tahu8 .80 .410 20 Tahu9 .70 .470 20 Tahu10 .85 .366 20 Tahu11 .70 .470 20 Tahu12 .80 .410 20 Universitas Sumatera Utara Item-Total Statistics Scale Mean Scale Corrected Cronbach's if Item Variance if Item-Total Alpha if Deleted Item Deleted Correlation Item Deleted Tahu1 8.40 11.200 .893 .898 Tahu2 8.25 12.513 .580 .913 Tahu3 8.35 11.608 .792 .904 Tahu4 8.20 13.011 .462 .918 Tahu5 8.30 12.326 .591 .913 Tahu6 8.30 12.116 .664 .910 Tahu7 8.35 11.713 .756 .906 Tahu8 8.25 12.513 .580 .913 Tahu9 8.35 11.608 .792 .904 Tahu10 8.20 12.905 .504 .916 Tahu11 8.35 11.924 .684 .909 Tahu12 8.25 12.513 .580 .913 Scale Statistics Mean 9.05 Varianc e 14.366 Std. Deviation 3.790 N of Items 12 Universitas Sumatera Utara UJI COBA VALIDITAS Jumlah Butir semula : 12 Pertanyaan Jumlah Butir Gugur : Tidak Ada Jumlah Butir Valid : 12 item Valid Responde R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 r hasil r tabel r alpha status Tahu 1 Tahu 2 Tahu 3 Tahu 4 Tahu 5 Tahu 6 Tahu 7 Tahu 8 Tahu 9 Tahu 10 Tahu 11 Tahu 12 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0.893 0.444 0.898 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0.58 0.444 0.913 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0.792 0.444 0.904 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0.462 0.444 0.918 v 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0.591 0.444 0.913 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0.664 0.444 0.91 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0.756 0.444 0.906 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0.58 0.444 0.913 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0.792 0.444 0.904 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0.504 0.444 0.916 v 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0.684 0.444 0.909 v 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0.58 0.444 0.913 v Keterangan : Jika nilai r hasil > r tabel maka, pertanyaan dinyatakan valid Jika nilai r alpha > r tabel maka, pertanyaan dinyatakan reliabel Universitas Sumatera Utara RELIABILITY (VALIDITAS DAN RELIABILITAS SIKAP) Case Processing Summary N Cases Valid Excluded % 20 100.0 0 .0 20 100.0 a Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardize N of Alpha d Items Items .96 .964 1 Item Statistics Mean Std. Deviation N Sikap1 1.45 1.146 20 Sikap2 1.40 1.273 20 Sikap3 1.70 1.031 20 Sikap4 1.40 1.188 20 Sikap5 1.55 1.146 20 Sikap6 1.60 1.142 20 Sikap7 1.60 1.273 20 Sikap8 1.65 1.137 20 Sikap9 1.60 1.095 20 Sikap10 1.35 1.182 20 Universitas Sumatera Utara Item-Total Statistics Scale Mean Scale Corrected Cronbach's if Item Variance if Item-Total Alpha if Deleted Item Deleted Correlation Item Deleted Sikap1 13.85 81.292 .934 .956 Sikap2 13.90 80.200 .881 .958 Sikap3 13.60 86.779 .732 .963 Sikap4 13.90 80.411 .943 .955 Sikap5 13.75 82.513 .868 .958 Sikap6 13.70 84.221 .781 .962 Sikap7 13.70 85.168 .643 .968 Sikap8 13.65 84.134 .790 .961 Sikap9 13.70 83.484 .860 .959 Sikap10 13.95 80.576 .939 .956 Scale Statistics Mean Varianc e 15.30 101.905 Std. Deviation 10.095 N of Items 10 Universitas Sumatera Utara UJI COBA VALIDITAS Jumlah Butir semula : 12 Pertanyaan Jumlah Butir Gugur : Tidak Ada Jumlah Butir Valid : 10 item Valid Responde R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 r hasil r tabel r alpha status Sikap 1 Sikap 2 Sikap 3 Sikap 4 Sikap 5 Sikap 6 Sikap 7 Sikap 8 Sikap 9 Sikap 10 1 1 2 0 3 2 1 4 1 0 2 3 2 1 1 0 0 3 1 1 0.934 0.444 0.956 v 1 1 0 0 3 2 3 4 1 0 2 3 2 1 0 0 0 3 1 1 0.881 0.444 0.958 v 1 1 1 1 3 2 1 4 1 2 2 3 2 1 1 0 3 3 1 1 0.732 0.444 0.963 v 1 1 1 0 3 2 2 4 1 0 2 3 2 1 0 0 0 3 1 1 0.943 0.444 0.955 v 1 2 0 2 3 2 1 4 1 0 2 3 2 1 2 0 0 3 1 1 0.868 0.444 0.958 v 1 1 1 2 3 2 1 4 1 3 2 3 2 1 0 0 0 3 1 1 0.781 0.444 0.962 v 1 1 0 0 3 2 1 4 1 0 2 3 2 1 2 4 0 3 1 1 0.643 0.444 0.68 v 1 1 2 3 3 2 1 4 1 0 2 3 2 1 2 0 0 3 1 1 0.79 0.444 0.961 v 1 1 2 0 3 2 1 4 1 2 2 3 2 1 2 0 0 3 1 1 0.86 0.444 0.959 v 1 1 0 0 3 2 1 4 1 0 2 3 2 1 0 1 0 3 1 1 0.939 0.444 0.956 v Keterangan : Jika nilai r hasil > r tabel maka, pertanyaan dinyatakan valid Jika nilai r alpha > r tabel maka, pertanyaan dinyatakan reliabel Universitas Sumatera Utara HASIL UJI RELIABILITAS KUESIONER PENGETAHUAN NO R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 R12 R13 R14 R15 R16 R17 R18 R19 R20 NP p q pq M 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 13 0.65 0.35 0.2275 9.05 2 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 16 0.8 0.2 0.16 3 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 14 0.7 0.3 0.21 4 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 17 0.85 0.15 0.1275 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 15 0.75 0.25 0.1875 3 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 15 0.75 0.25 0.1875 7 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 14 0.7 0.3 0.21 8 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 16 0.8 0.2 0.16 9 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 0 14 0.7 0.3 0.21 10 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 17 0.85 0.15 0.1275 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 14 0.7 0.3 0.21 12 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 16 0.8 0.2 0.16 X 12 12 12 12 12 12 12 12 2 12 6 5 12 12 5 4 12 6 4 5 181 2 X 144 144 144 144 144 144 144 144 4 144 36 25 144 144 25 16 144 36 16 25 1911 2.1775 Universitas Sumatera Utara UJI RELIABILITAS MENGGUNAKAN KR-21 (KUESIONER PENGETAHUAN LANSIA) Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara CURRICULUM VITAE Nama : Noperius Telaumbanua Tempat/Tanggal Lahir : Hiliana’a, 11 Nopember 1986 Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Kristen Protestan Status Perkawinan : Belum Kawin Alamat Rumah : Jl. Pancasila no. 1b Kelurahan Pasar Teluk Dalam Kecamatan Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan Riwayat pendidikan : 1. 1993 - 1999 : SD Negeri 3 Kecamatan Teluk Dalam 2. 1999 - 2002 : SMP Negeri 1 Kecamatan Teluk Dalam 3. 2002 - 2005 : SMA Negeri 1 Kecamatan Teluk Dalam 4. 2005 - 2008 : D-III Keperawatan Imelda Medan 5. 2008 - 2012 : Fakultas Keperawatan USU Medan Pengalaman Lainnya 1. 2009 s/d sekarang : : PNS di Kabupaten Nias Selatan Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Pemanfaa..

Gratis

Feedback