Metode Penyambungan Belt Dalam Pemeliharaan Belt Conveyor Dengan Panjang Lintasan 2,5 Km Di PT. INALUM

Gratis

11
131
80
3 years ago
Preview
Full text

ANALISA PENYAMBUNGAN BELT CONVEYOR 102 DENGAN KAPASITAS ANGKUT 700 TON/JAM DAN KECEPATAN 120 M/MIN DI PT. INALUM

ZARKASI NIM. 040401056

SKRIPSISkripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN2010

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala karunia dan rahmat-Nya yang senantiasa diberikan kepada penulis sehinggapenulis dapat menyelesaikan Tugas Sarjana ini. Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan pembahasan dan penyajian, baik dengan disiplin ilmu yang diperolehdari perkuliahan, menggunakan literatur serta bimbingan dan arahan dari Bapak Ir.

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR

  i DAFTAR ISIiii DAFTAR GAMBARiv DAFTAR TABELv DAFTAR NOTASIvi 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Tujuan Penulisan 2 1.3 Batasan Masalah 2 1.4 Sistematika Penulisan 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran PT. Inalum 4 2.1.3 Pembangkit Listrik PLTU 5 2.1.4 Belt Conveyor di PT.

1.1 Latar belakang

  1.2 Tujuan penulisan Tujuan penulisan tugas sarjana ini adalah untuk mengetahui bagaimana teknik penyambungan belt yang baik dan jenis pemeliharaanAluminium ( INALUM) sehingga produksi dapat tercapai dengan biaya perawatan yang murah. BAB II merupakan Tinjauan Pustaka yang berisikan tentang Sejarah singkat Inalum, Belt conveyor, Metode penyambugan belt, manajemen pemeliharaan , preventive maintenanceBAB III merupakan Metodologi yang berisikan tentang uraian atau tahapan yang berkaitan dengan pelaksanaan studi kasus pada belt conveyor di PT.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran PT. Inalum

2.1.1 Sejarah Inalum

  Tanggal 7 Juli 1975, di Tokyo, setelah melalui perundingan – perundingan yang panjang, pemerintah Indonesia dan para penanam modal Jepangmenandatangani Perjanjian Induk untuk membangun PLTA dan pabrik peleburanAluminium Asahan. Tanggal 20 Januari 1982, presiden Soeharto yang datang bersama pejabat tinggi pemerintahan, meresmikan operasi tahap pertama peleburan Aluminium PT INALUM di Kuala Tanjung dan menyebut proyek ini sebagai “Impian yang menjadi kenyataan”.

2.1.2 Ruang lingkup PT. Inalum

2.1.3 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

  Inalum terdiri dari PLTA sungai Asahan di Paritohan, KecamatanPintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir dan pabrik peleburan Aluminium di Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara beserta seluruhprasarana yang di perlukan untuk kedua proyek, seperti: pelabuhan, jalan-jalan, perumahan karyawan, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain, dengan investasi yangkeseluruhannya berjumlah ± 411 Milyar yen (US $ 920.476.000). PLTA diSiguragura dan Tangga masing-masing digerakkan dengan potensi air terjun ini, dengan kapasitas total : Kapasitas terpasang : 603 MW Output tetap : 426 MW Output puncak : 513 MW Tenaga listrik yang dihasilkan disalurkan ke pabrik peleburan aluminium di Kuala Tanjung.

2.1.4 Belt Conveyor di PT. Inalum

  Material yang dibawa belt conveyor adalahberjalan dari satu BC ke BC lainnya. Belt conveyor reacted alumina (BC 1-1, BC 1-2, BC 3, BC 4, BC 5 danBC 6)Berfungsi mengangkut reacted alumina dari silo reacted alumina (1-B-1, 2-B-1, 3-B-1) menuju ke silo harian (day-bin) dengan sistem ban berjalan .

2.1.5 Produksi Aluminium Batangan

  Pabrik Anoda Karbon Gedung karbon memproduksi balok-balok anoda karbon yang akan digunakan pada tungku-tungku reduksi dan terdiri dari 3 bagian yaitu, bagiankarbon mentah (Green plant), bagian pemanggang anoda (Baking plant), dan bagian penangkaian (Rodding plant). Pabrik Pencetakan Aluminium cair dari tungku reduksi diangkut ke bagian penuangan dan setelah dimurnikan lebih lanjut dalam tungku-tungku penampung, dibentukmenjadi aluminium batangan (ingot) yang beratnya masing-masing 50 pon (22,7 kg) dan merupakan produksi akhir PT INALUM yang dipasarkan di dalam dan keluar negeri.

2.1.6 Fasilitas lainnya

  Di area peleburan dibangun juga bengkel-bengkel untuk perbaikan, perawatan dan peralatan permesinan, kelistrikan dan kendaraan angkut danfasilitas penyimpanan bahan baku, antara lain : 1. Silo alumina (3 unit @ 20.000 ton) 2.

2.2 Belt Conveyor

  Menurunkan polusi udara 3 Belt conveyor mempunyai kapasitas yang besar (500 sampai 5000 m / jam atau lebih), kemampuan untuk memindahkan bahan dalam jarak (500 sampai 1000 meter atau lebih). Kombinasi horizontal-inklinasi Gambar 2.1 Lintasan belt Pada umumnya belt conveyor terdiri dari : kerangka (frame), dua buah pulley yaitu pulley penggerak (driving pulley) pada head end dan pulley pembalik( take-up pulley) pada tail end, sabuk lingkar (endless belt), Idler roller atas dan Idler roller bawah, unit penggerak, cawan pengisi (feed hopper) yang dipasang di atas conveyor, saluran buang (discharge spout), dan pembersih belt (belt cleaner) yang biasanya dipasang dekat head pulley.

2.2.1 Komponen utama Belt Conveyor

  Take-up pulley Perangkat yang mengencangkan belt yang kendur dan memberikan tegangan pada belt pada start awal. Gambar 2.9 Sistem kerja belt conveyor Belt conveyor mentransport material yang ada di atas belt, dimana umpan atau inlet pada sisi tail dengan menggunakan chute dan setelahsampai di head material ditumpahkan akibat belt berbalik arah.

1. Fabric belt

  Belt dengan penguat jenis fabric adalah belt dengan lapisan penguat(ply) yang terbuat dari serat tekstil (serat buatan). Aramide fiberFabric merupakan rajutan yang terdiri dari serat memanjang (WRAP) dan serat pengisi dengan arah melintang (WEFT).

2. Steel cord

  Steel cord adalah belt yang lapisan penguatnya terbuat dari serat baja yang galvanizing. Steel cord belt biasanya digunakan pada conveyor yang membawa beban berat.

1. Cover rubber

  Alasanpenggunaan karet adalah untuk melindungi ply karena karet memiliki elastisitas tinggi dan tahan gesek, namun karet tidak memiliki tegangantarik yang baik. Tebal dari top cover adalah 1 mms/d 8 mm untuk Fabric belt dan 5 mm s/d 18 mm untuk Steel cord belt.

2. Tie rubber

  Tie rubber berfungsi untukmelekatkan ply satu dengan yang lainnya pada fabric belt, dan melekatkan sling baja dengan cover rubber pada steel cord belt. Disamping jenis lapisanpenguat yang telah disebut di atas, terdapat juga konstruksi khusus yang dirancang untuk melindungi lapisan penguat dari sobek yang memanjang.

2.2.4 Kekuatan Belt

2.2.4.1 Kekuatan Tarik Belt (Tensile strength)

  Tensile strength adalah kekuatan tegangan tarik suatu belt conveyor yang dinyatakan dalam Kg/cm/ply. pada steel cord tidak terdapat ply, yang dipakai adalah unit sling baja.

2.2.4.2 Pembacaan dan penulisan spesifikasi fabric belt

  Karena pembacaan yang tidak jelas akanmengakibatkan kesalahan dalam pemakaian jenis belt conveyor dan akan memberikan data yang tidak akurat, baik untuk penggantian belt baru 1. Pembacaan spesifikasi fabric beltSpesifikasi Fabric Belt 200 m RMA-2 NN-150 900 x 4P x 6 x 2 mmPembacaan 200 m : panjang beltRMA-2 : Grade cover rubberNN-150 : Tensile Strength 150 Kg/cm/ply 900 : Lebar belt 4P : jumlah ply = 4 6 mm : tebal top cover = 62 mm : tebal bottom cover = 2 2.

2.2.4.3 Penentuan jumlah ply

  Pemikiran awam untuk menghadapi masalah belt yang sering putus adalah dengan menambah jumlah ply, tanpa mempertimbangkan stress yangakan terjadi pada saat belt berjalan melewati pully (pada titik momen) yang akan berakibat fatal. Diameter pullyJumlah ply yang banyak mengharuskan pemakaian diameter pully yang besar untuk menjaga fleksibilitas belt conveyor.

2.2.4.4 Nilai mulur (Elongation)

  Belt conveyor akan mengalami mulur sewaktu beroperasi sebagai akibat dari sifat serat dan stress yang dialaminya. Dalam pemilihan jenis reinforcement, yang harus di perhatikan adalah jumlah kemuluran yangakan terjadi pada waktu belt beroperasi beberapa saat.

2.3 Manajemen Pemeliharaan

2.3.1 Manajemen

  Lewis, et all, (2004) dalam bukunya“management: challenges For tomorrow’s Leaders”, yaitu: “management is the process of administering and coordinating resourcesManajemen merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam mengatur sumber daya-sumber daya yang dimilikinya agardapat dikelola secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut. Pengawasan (controlling) kegiatan yang berkaitan dengan pemeriksaan untuk menentukan apakah pelaksanaannya sudah dikerjakan sesuai denganperencanaan, sudah sampai sejauh mana kemjuan yang dicapai, dan pelaksanaan yang belum terselasaikan.

2.3.2 Pemeliharaan (maintenance)

2.3.2.1 Defenisi pemeliharaan

  (2004) pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakanperbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yangdirencanakan. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pemeliharaan dilakukan untuk merawat ataupun memperbaiki peralatanperusahaan agar dapat melaksanakan produksi dengan efektif dan efisien sesuai dengan pesanan yang telah direncanakan atau ditentukan oleh perusahaan denganhasil produksi yang berkualitas.

2.3.2.2 Tujuan pemeliharaan

  Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidakterganggu, 3. Mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi-fungsi utama lainnya dari suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaanyaitu tingkat keuntungan (return on investment) yang sebaik mungkin dan total biaya yang terendah.

2.3.2.3 Fungsi pemeliharaan

  Menurut pendapat Ahyari, Agus, (2002) fungsi pemeliharaan adalah agar dapat memperpanjang umur ekonomis dari mesin dan peralatanproduksi yang ada serta mengusahakan agar mesin dan peralatan produksi tersebut selalu dalam keadaan optimal dan siap pakai untuk pelaksanaan proses produksi. Mesin dan peralatan produksi yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan akan dapat dipergunakan dalam jangka waktu panjang,b.

2.3.2.4 Kegiatan-kegiatan pemeliharaan

  Oleh karena itu kegiatan teknik ini sangat diperlukan terutama apabila dalam perbaikan mesin-mesin yang rusak tidak di dapatkan ataudiperoleh komponen yang sama dengan yang dibutuhkan. Kegiatan administrasi (Clerical Work)Pekerjaan administrasi ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan-pencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukanpekerjaan-pekerjaan pemeliharaan dan biaya-biaya yang berhubungan dengan kegiatan pemeliharaan, komponen (spareparts) yang di butuhkan, laporankemajuan (progress report) tentang apa yang telah dikerjakan .

2.3.2.5 Jenis-jenis pemeliharaan

  Pemeliharaan korektif (Corrective Maintenance)Pemeliharaan korektif adalah pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi fasilitas atau peralatan sehinggamencapai standar yang dapat di terima. Pemeliharaan Darurat (Emergency Maintenance)Pemeliharan ini adalah pekerjaan pemeliharaan yang harus segera dilakukan karena terjadi kemacetan atau kerusakan yang tidak terduga.

2.3.2.6 Klasifikasi pemeliharaan

  Pemeliharaan terencana (planned maintenance)Pemeliharaan terencana adalah pemeliharaan yang dilakukan secara terorginir untuk mengantisipasi kerusakan peralatan di waktu yang akan datang,pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pemeliharaan korektif (Corrective Maintenance)Pemeliharaan secara korektif (corrective maintenance) adalah pemeliharaan yang dilakukan secara berulang atau pemeliharaan yang dilakukanuntuk memperbaiki suatu bagian (termasuk penyetelan dan reparasi) yang telah terhenti untuk memenuhi suatu kondisi yang bisa diterima.

2.3.3 Kegiatan Inspeksi pada pemeliharaan belt conveyor

  Selama interval umur equipment bagian-bagian pada belt conveyor yang telah ditentukan, maka inspeksi-inspeksi pada bagian-bagian tersebut dilakukansecara berkala, yaitu : 1. Pengecekan pada conveyor belt yaitu cek kelurusan conveyor belt pada saat operasi 2.

2.3.4 Hubungan kegiatan pemeliharaan dengan biaya

  Tujuan utama manajemen produksi adalah mengelola penggunaan sumber daya berupa faktor-faktor produksi yang tersedia baik berupa bahan baku,tenaga kerja, mesin dan fasilitas produksi agar proses produksi berjalan dengan efektif dan efisien. pada saat ini perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatanpemeliharaan harus mengeluarkan biaya pemeliharaan yang tidak sedikit.

2.3.5 Analisa kebijakan Pemeliharaan

  Dengan demikian metode yang digunakan untuk memelihara mesin dalam perusahaan adalah metode probabilitas untuk menganalisa biaya. Menghitung biaya yang dikeluarkan jika melaksanakan kebijakan pemeliharaan preventive:Untuk menentukan biaya pemeliharaan preventive meliputi pemeliharaan setiap satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan seterusnya, harus dihitungperkiraan jumlah kerusakan mesin dalam suatu periode.

2.4 Metode Manajemen Pemeliharaan

  Sebuah sistem manajemen pemeliharaan yang baik digabungkan dengan pengetahuan dan staf pemeliharaan mampu dapat mencegahmasalah-masalah kesehatan dan keselamatan dan kerusakan lingkungan; menghasilkan aset hidup dengan lebih sedikit gangguan dan mengakibatkan biayaoperasi yang lebih rendah dan kualitas hidup yang lebih tinggi. Metode peningkatan pemeliharaan lainnyaSelama 10 tahun terakhir, berbagai metode manajemen, seperti pemeliharaan produktif total (TPM) dan kehandalan yang berpusat padapemeliharaan (RCM), telah dilembangkan dan disebut-sebut sebagai obat mujarab untuk pemeliharaan yang tidak efektif.

2.5 Metode Penyambungan belt

  Belt conveyor adalah salah satu komponen dari belt conveyor sistem yang berfungsi untuk membawa material dan meneruskan gaya putar. Memberikan pemindahan yang terus menerus dalam jumlah yang tetap sesuai dengan keinginan 3.

2.5.1 Jenis Penyambungan Belt

  Untuk material yang panas, splice dapat merambatkan panas ke carccas, sehingga carccas rapuh setempatCara penyambungan mechanical joint adalah ; belt ditempatkan berhadapan dengan potongan lurus yang tegak lurus terhadap garistenah belt, selanjutnya dilakukan pelubangan belt untuk memasang bolt b. Penyambungan panas (Hot splicing)Penyambungan panas adalah proses penyambungan belt conveyor dengan proses vulkanisasi pada prosesnya menggunakan alatpemanas yang disebut heating solution.

2.5.2 Beban yang dialami Sambungan Belt

2.5.2.1 Kekuatan Tarik Sambungan

Menurut Niemann, 1986 dalam bukunya Elemen Mesin menerangkan bahwa besarnya gaya tarik yang dialami oleh sambungan perekat tergantungkepada panjangnya belt yang direkatkan. Dalam hal ini besarnya gaya tarik yang dialami oleh sambungan dapat dihitung dengan rumus :F = b × L × sτ izin Dimana : F = gaya tarik belt b = panjang belt yang direkatkanL s = panjang langkah penyambungan = tegangan tarik izin τ izin Besarnya panjang langkah penyambungan dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut : Tabel 2.2 Panjang langkah carccas Konstruksi carcass Panjang langkah (mm) EP 250/5100 EP 200/2EP 500/4EP 300/3EP 400/3 150EP 250/2 PNN 300/3NH 300/3 EP 630/4200 NN 630/4EP 630/3 250 EP 1250/4 350

2.5.2.2 Kecepatan Belt

Kecepatan sebuah ban berjalan (belt) tergantung besarnya diameter pulley penggerak dan jumlah putaran yang ditransmisikan oleh motor penggerak(Niemann, 1986). Besarnya kecepatan belt dapat diketahui dengan menggunakan rumus : dnπ V=

60 Diaman : V = kecepatan belt

d = diameter pulley n = putaran yang ditransmisikan

2.5.2.3 Berat persatuan panjang material conveyor (Q)

Beratnya suatu conveyor persatuan panjang materialnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Zainuri, 2006) :

2 Q = 0.1 m x q c

Dimana : Q = berat conveyor persatuan panjang q c = kapasitas curah

BAB II I OBJEK DAN METODOLOGI

  3.2 METODOLOGI Metode yang dilakukan penulis tujuannya adalah memberikan uraian dari pelaksanaan penelitian yang dilakukan penulis untuk mengetahui sistempemeliharaan yang dilakukan oleh perusahaan. Survey dilakukan untuk mengetahuibagaimana kegiatan pemeliharaan pada belt conveyor yang dilakukan.

3.2.3 Sumber data

  Data sekunderData sekunder diperoleh melalui perusahaan, dimana data tersebut sudah ada disimpan oleh perusahaan sebelumnya, diantaranya adalah spesifikasi mesin,data shet tentang pemeliharaan belt conveyor pada bulan atau tahun yang sudah lewat, kemudian penulis melakukan studi kepustakaan dengan mempelajari buku-buku atau hal-hal yang berhubungan dengan belt conveyor. Meliputi data kegiatan pemeliharaan perusahaan umumnya, serta pada belt conveyor khususnya.

3.2.4.1 Alat penelitian

  Adapun alat yang digunakan untuk meneliti kerusakan pada belt conveyor adalah sebagai berikut: 1. Alat pemanas sambungan (hot splicing)Hot splicing berfungsi sebagai pemanas sambungan belt, yaitu pada saat belt sudah disatukan dengan perekat maka belt dimasukkan ke dalampemanas untuk mendapatkan hasil sambungan yang kuat.

3.2.4.2 Bahan Penelitian

  Bahan Penelitian yang digunakan adalah belt conveyor, yang terdiri dari drive unit, roller, conveyor belt dan pulley . Adapun ukuran atau data sheet untuk belt conveyor pada perusahaan PT.

3.3 Perawatan preventive pada belt conveyor

  Kegiatan perawatan pada belt conveyor dilakukan secara berkala, mulai dari pengecekan, pelumasan, penggantian dan overhaul. Kegiatan ini dilakukan untukmeminimalkan kerusakan sekaligus untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan pada saat operasi sedang berlangsung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penanganan perawatan pada Belt Conveyor

  Perawatan preventive yang dilakukan pada bagian belt conveyor meliputi drive unit, pulley, roller dan belt. Dalam hal ini yang dibahas adalah roller dan belt, karena tingkat kerumitan pada roller dalam memperbaikinya hampir sama denganpulley dan drive unit.

4.1.1 Kerusakan dan penanganan pada belt

  Putusnya belt bisa terjadi di bagiantengah belt dan juga tepat pada sambungan belt yang semula. Terjadinya slip pada belt akibat adanya komponen lain yang rusak, seperti rusaknya permukaan roller dan pulleyJika belt sobek atau putusnya maka belt harus disambung kembali.

4.1.2 Perhitungan Belt conveyor

  Kekuatan sambungan belt b FF L FKeterangan: F = gaya tarik b = lebar belt yang direkatkan L = panjang belt yang direkatkan Gambar 4.2 Gaya tarik F pada sambungan Besarnya gaya tarik F pada belt dapat dihitung dengan rumus: F = b . 3 B B ( ) 3 x 1200 ) 1200= 1569600= 1252.8 mm izin B /k , angka keamanan k = 2- B sambungan perekatτ = τ 3 dan τ 2 adalah antara 7-20 N/mm2 8 N / mm= izinτ 3 2 = 2.67 N/mm 2 F = 1252 mm x 785 mm x 2.67 N/mm = 2624.12 KN 3.

3 Q = 0.21 m x 1200 kg/m = 252 kg/m

  Berat idler rotating part G pG p ≈ 10B + 7 kg ≈ 10 x 1.2 + 7 ≈ 19 kg Berat idler rotating part pada sisi atas (q’ ) dan bawah (q” ) : p pG p 19 q’ p = = = 23.5 kg/m l . S S 3 4 2 1 S S Gambar 4.3 Titik tarikan belt 0.020.025 2 w’ + 0.5 q b .l 0.5(q b +q)l 1μ + 4 S 4 = S 3 + W 3,4 + W pl = S 3 + [0.5(q b + q) + q’ p ]l 1 w’ + 0.5(q b +q)l 1 ≈ 1.07S 1 = 1.07 x (S 2 = 1.07 .

4.2 Biaya Perawatan Belt conveyor

Biaya preventive maintenance yang dibahas pada bab ini adalah biaya preventive maintenance yang terdapat pada bagian Belt conveyor yang meliputi: Belt dan roller.

4.2.1 Biaya Belt Dalam melakukan perawatan dan perbaikan belt conveyor PT

  Biaya consumable belt conveyor 3 ) adalah$7082.65 dan biaya rata-rata perbaikan setelah rusak (C R ) adalah $21247.95 maka jumlah kerusakan dan biaya alternative Preventive maintenance padabelt adalah : P PT. Inalum memiliki 13 join belt pada mesin Belt conveyor 102, dimana biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk servis rutin (C Jumlah$ 7082.65 $ 4692$ 136.5$ 1056.2$ 1197.95 4 Man powerMan hourToolConsumable 2 a.

4.2.2 Evaluasi biaya preventive maintenance belt

  Dimana : T C = Total cost (biaya total)C R = Biaya perbaikan setelah rusakM = jumlah mesinMTBF = Total mean diantara kerusakan T C = 77 10.80 13 $ 21247 95 . × T C = $3574.31/ bulanJadi besar biaya per bulan tanpa menggunakan sistem Preventive Maintenance adalah $ 3574.31 Perhitungan dibawah ini menunjukkan harga B j yang merupakan jumlah kerusakan diantara servis rutin pada bulan ke-j :B 12 = M.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

  Dengan menerapkan teknik penyambungan kering atau penyambungan tak berujung yaitu hot splicing pada belt ketika terjadi sobek atau putus,kekuatan sambungan belt dapat menahan tarikan sebesar 2624.12 KN. Sambungan ini tahan terhadap tarikan di setiap titik, dimana besar tarikan di setiap titik adalah : Tabel 5.1 Kekuatan tarik belt No Letak Tarikan belt Kekuatan Tarikan (N) 1 S 1 (belt meninggalkan pulley penggerak) 10905.44 2 S 2 (belt mendekati tail pulley) 22113.7 3 S 3 (belt meninggalkan tail pulley) 22661.12 4 S 4 (belt mendekati pulley penggerak) 32061.68 2.

5.2 SARAN

  Pada penyambungan belt sebaiknya dipakai metode penyambungan tak berujung dengan jenis Hot splicing dan bentuk sambungan miring, dandengan metode yang sebenarnya, sehingga hasil penyambungan diperoleh dengan sempurna 2. Untuk mendapatkan biaya yang lebih murah sebaiknya dalam perawatan pemakaian alat dimaksimalkan 3.

DAFTAR PUSTAKA

  Assauri, Sofyan, 2004, Manajemen Produksi dan Operasi, edisi revisi, Lembaga Penerbit FE UI, Jakarta. Pengetahuan Bahan Untuk Mesin dan Listrik.

Dokumen baru