Feedback

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lambatnya Pertumbuhan Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di Kabupaten Dairi

Informasi dokumen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perbankan yang baik dalam suatu negara adalah salah satu indikator bahwa negara tersebut telah memiliki suatu manajemen tata kelola pemerintahan yang baik (Good Government Governance). Sebagaimana dapat dilihat bahwa hampir semua negara baik negara maju ataupun negara berkembang memberikan perhatian yang sangat besar untuk menciptakan sistem perbankan yang tangguh. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa sistem perbankan suatu negara adalah sangat vital. Apabila sistem perbankan tidak berfungsi, maka bukan saja industri perbankan itu saja yang “collaps” tetapi juga akan memiliki multiflier effect yang sangat negatif terhadap kinerja sistem - sistem ekonomi yang lain seperti terhambatnya pertumbuhan sektor riil, tingkat pengangguran yang tinggi, dan rendahnya pertumbuhan ekonomi. Sektor perbankan sebagai sektor vital dalam perekonomian untuk melakukan fungsi bertujuan intermediasi keuangan, menjamin sistem pembayaran yang mendukung dalam proses pembangunan ekonomi. Dalam hal ini, sektor perbankan memiliki peran strategis dalam mengurangi biaya transaksi (transaction cost), melakukan pembagian resiko (risk sharing). Hal inilah yang diharapkan dari peran vital perbankan tersebut yaitu bahwa fungsi intermediasi keuangan bank dalam ekonomi dapat secara optimal di manfaatkan bagi kebutuhan masyarakat baik oleh surplus unit maupun deficit unit. Universitas Sumatera Utara Dalam konteksnya secara nasional, globalisasi keuangan terutama untuk sektor perbankan didalam peranannya untuk kegiatan produksi, investasi dan perdagangan sebenarnya belum cukup berkembang khususnya untuk beberapa daerah tertentu. Dan oleh karena beberapa kelemahan mendasar yang ada dan karena kebijaksanaan yang kurang tepat, maka pada tahun 1997 terjadi krisis perbankan yang parah. Namun sektor perbankan di Indonesia pernah mengalami masa boom, baik dalam jumlahnya maupun dalam peranannya yang cukup signifikan hingga pertengan tahun 1997. Hal ini dapat dilihat pada 1 Juni 1983, pemerintah mengeluarkan kebijakan deregulasi perbankan yang menandai era liberalisasi di sektor perbankan. Kebijakan ini dan serangkaian kebijakan deregulasi di bidang perbankan dan sektor keuangan lainnya dalam periode sesudahnya telah mendorong begitu pesatnya perkembangan sektor perbankan dan keuangan di Indonesia baik dari segi jumlah bank yang beroperasi dan juga besarnya dana masyarakat yang dapat di mobilisasi . Dalam perkembangan selanjutnya untuk mendorong kegiatan ekonomi dalam negeri, maka pada tahun 1988 pemerintah mengeluarkan kebijakan Paket Oktober. Paket Oktober tahun 1988 merupakan penyempurnaan kebijakan di bidang keuangan, moneter dan perbankan. Dalam hubungannya dengan upaya peningkatan efektivitas pengendalian moneter, maka langkah-langkah yang di tempuh antara lain adalah penurunan reserve requirment dari 15% menjadi 2%. Selain itu dilakukan penciptaan iklim persaingan yang lebih kondusif melalui kemudahan izin untuk pendirian bank-bank baru dan bank campuran. Universitas Sumatera Utara Setelah itu beberapa tahun kemudian, sektor perbankan mulai mengalami krisis berkepanjangan bahkan hingga saat ini. Ada banyak faktor sebagai sumber penyebabnya, baik oleh karena persoalan intern maupun eksternal sektor perbankan itu sendiri. Namun karena disadari bahwa peranan sektor perbankan ini sangat penting dalam perekonomian negara, maka berbagai upaya untuk mengatasi persoalan-persoalan dilakukan pemerintah, Bank Indonesia dan juga oleh pelaksana-pelaksana perbankan sendiri. Dalam kondisi yang sulit seperti itu, sektor perbankan juga harus berhadapan dengan wacana baru yang tidak dapat ditolak yaitu besarnya tuntutan daerah untuk berotonomi dan semakin mendesaknya era pasar bebas (liberalisasi) atau globalisasi ekonomi. Dengan adanya implementasi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2001, maka timbul beberapa permasalahan mendasar yang timbul dari implementasi daerah dan desentralisasi fiskal tersebut. Salah satu permasalahan utama dari penerapan otonomi daerah adalah keterbatasan pembiayaan pembangunan. Keterbatasan ini tidak saja terjadi di daerah-daerah yang tidak memiliki sumber daya alam, tetapi juga di daerah yang kaya akan sumber daya alam. Keterbatasan sumber-sumber pembangunan daerah selain disebabkan oleh belum optimalnya pemerintah daerah untuk menggali semua potensi penerimaan daerah, juga ketidakmampuan pemerintah pusat sepenuhnya untuk menjalankan pembagian dana baik dana alokasi umum maupun dana alokasi khusus. Universitas Sumatera Utara Dengan keterbatasan sumber-sumber penerimaan, maka akan sulit untuk mengharapkan bahwa pemerintah daerah dapat memainkan peranannya sebagai pendorong utama pembangunan di daerah secara optimal . Oleh sebab itu, sangat wajar bila pemerintah daerah di era otonomi dan desentralisasi fiskal sangat mengharapkan sektor swasta dapat lebih berperan melaksanakan pembangunan daerah. Dalam kaitan itu, maka sumber-sumber pembiayaan bagi sektor swasta menjadi sangat perlu di kembangkan. Salah satu sumber pembiayaan bagi sektor swasta tersebut adalah perbankan . Dalam rangka untuk mengembangkan dan mempertahankan kegiatan usahanya, bank dapat memilih cara dengan melalui penambahan kantor cabang. Perkembangan penduduk atau kegiatan ekonomi dapat mengubah struktur nasabah sehingga suatu bank harus selalu mengikutinya, di antaranya melalui pendirian jaringan kantor baru agar dapat melayani pasar tertentu. Itulah sebabnya, penambahan jaringan kantor cabang baru dapat dipandang sebagai cara untuk mengembangkan daya cakup geografis agar dapat melayani lebih masyarakat . Namun terdapat pro dan kontra dalam pengembangan jaringan kantor cabang ( Julius, 1996 : 152 ). Bagi yang setuju memiliki argumentasi bahwa : 1. Jaringan kantor cabang yang luas memungkinkan suatu bank menjual lebih banyak jasa kepada masyarakat pada lokasi yang berbeda. 2. Jaringan cabang yang luas memungkinkan bank mendiversifikasikan sumber dan penggunaan dana . Universitas Sumatera Utara Dan bagi yang tidak setuju memiliki beberapa alasan yakni : 1. Sarana bank koresponden memungkinkan suatu bank melayani nasabah pada daerah geografis yang berbeda melalui bank korespondennya. 2. Penambahan jaringan kantor cabang bank justru akan menambah biaya overhead (biaya tetap) yang belum jelas potensi usaha yang dapat diraihnya. Dan mengacu kepada laporan Bank Indonesia, sampai dengan bulan Maret 2006, jumlah bank yang beroperasi di Indonesia tercatat sebanyak 131 bank umum dan 2066 BPR. Total aset perbankan nasional adalah Rp 1.465,3 triliun dengan total DPK yang di himpun perbankan telah mencapai Rp 1.270,6 triliun. Jumlah dana tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menaruh kepercayaan terhadap perbankan sebagai alternatif investasi dan sebagai institusi penyimpanan dana. Oleh karena itu pertumbuhan sektor perbankan di Indonesia dapat dilihat dari tingkat DPK, jumlah kredit yang disalurkan dan juga jumlah kantornya . Demikian juga dengan propinsi Sumatera Utara yang menduduki posisi pertama di luar pulau Jawa yang memiliki 99 perusahaan bank umum dan 57 Bank Perkreditan Rakyat. Jika dihitung berdasarkan jumlah kantor, maka terdapat 422 kantor perbankan yang terdiri dari 337 unit kantor bank umum dan 85 kantor BPR. Namun kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi sektor perbankan yang terjadi di kabupaten Dairi . Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten yang telah terbentuk cukup lama dan merupakan sebuah kabupaten induk sebelum adanya pemekaran dengan Kabupaten Pakpak Barat. Namun hingga saat ini jumlah kantor cabang Universitas Sumatera Utara bank umum di Kabupaten Dairi yang berfungsi dalam intermediasi perbankan adalah 2 unit yaitu Bank BRI dan Bank Sumut (tidak termasuk kantor pembantu cabang unit bank BRI dan kantor kas bank BTPN) dan 2 Bank Perkreditan Rakyat. (BPS, Dairi Dalam Angka 2008). Hal ini berbeda dengan kabupaten-kabupaten lainnya seperti Kabupaten Tanah Karo, Kabupaten Tanjung Balai, Kabupaten Toba Samosir dan kabupaten lainnya. Padahal berdasarkan studi potensi pendirian kantor bank umum dan BPR di Sumatera Utara, Kabupaten Dairi merupakan kabupaten kedua dalam kategori daerah cukup berpotensi setelah Kabupaten Asahan diurutan pertama (Jhon Tafbu Ritonga, dkk 2005 : 6). Dan berikut perbandingan jumlah jaringan kantor cabang bank umum yang terdapat di beberapa kabupaten di Sumatera Utara. Tabel 1.1 Distribusi Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di Beberapa Kabupaten Sumatera Utara No 1 2 3 4 5 6 7 Kabupaten Langkat Tanah Karo Simalungun Nias Asahan Mandailing Natal Tobasa Jumlah Jaringan Kantor Cabang Bank Umum 8 8 7 4 10 6 5 Sumber : Kantor Bank Indonesia Medan 2005 Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan, penulis mengambil fokus penelitian ditinjau dari jumlah kantor bank umum, dan yang menjadi judul skripsi penulis adalah ”Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruh Lambatnya Pertumbuhan Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di Kabupaten Dairi” . Universitas Sumatera Utara 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan dari uraian diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Faktor-faktor apa yang menjadi permasalahan mendasar yang mengakibatkan lambatnya pertumbuhan sektor perbankan di Kabupaten Dairi jika ditinjau dari jumlah jaringan kantor cabang bank umum? 2. Bagaimana solusi penyelesaiannya yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Dairi dalam mendorong peningkatan pendirian kantor cabang bank umum di masa yang akan datang? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas maka secara umum tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi faktor–faktor yang menjadi permasalahan yang mendasar yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan sektor perbankan di Kabupaten Dairi jika di tinjau dari jumlah kantor cabang bank umum. 2. Merekomendasikan solusi penyelesaian yang dapat digunakan dalam membuat kebijakan untuk mendorong peningkatan pendirian kantor cabang bank umum di Kabupaten Dairi. Universitas Sumatera Utara 1.4 Manfaat penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah penulis dalam disiplin penerapan ilmu selama kuliah dan juga sebagai syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan Strata satu (S-1). 2. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi para pengambil kebijakan khususnya Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Dairi. 3. Dari hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya ekonomi pembangunan sehingga dapat memperkaya penelitian sejenis yang telah ada dan juga sebagai bahan referensi dan informasi bagi penelitian-penelitian selanjutnya dengan topik yang sama . Universitas Sumatera Utara ABSTRACT As one financial institution, the bank is very important to enhance the economic growth of a country. Bank is as a mediator between surplus and deficit units in the function units to perform the intermediation function. Therefore, banks are expected to establish branch offices As for the objectives of this research focused to know the factors that affect the slow growth of bank branch networks common in Dairi District. And the second is to recommend that the settlement solution can be implemented by local government in the Dairi encourage the establishment of branches of commercial banks in the future In this study uses primary data and secondary data. Primary data in the form of interviews, observations, and also distribute a questionnaire to 100 respondents. The respondents consisted society, businessmen, goverment officers , and also the bank. As for the secondary data obtained from the BPS and Bank Indonesia (BI). From the results of this study show that low income is still owned by the community is one of the factors that affect the slow growth new brach of network of offices in Dairi District. This is a great effect on the utilization of bank products both savings, loans, and other banking services. In addition Dairi economic conditions less supportive as the placement of funds for banks as economic growth is another important rendah. One of the finding of this study is that expected the government's attention in improving the service of public utilities and the role of banks in improving their marketing strategies to the publicat Dairi. Keywords: Banking Habits and Entrepreneur Society, Role of Local Government, The Bank, economic potential Dairi Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Sebagai salah satu lembaga keuangan, bank sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bank adalah sebagai mediator antara unit surplus dan defisit unit dalam fungsinya untuk menjalankan fungsi intermediasi. Maka dari itu, bank sangat diharapkan dapat mendirikan kantor cabangnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini difokuskan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lambatnya pertumbuhan jaringan kantor cabang bank umum di Kabupaten Dairi. Dan kedua adalah merekomendasikan solusi penyelesaiannya yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Dairi dalam mendorong peningkatan pendirian kantor cabang bank umum di masa yang akan datang. Dalam penelitian ini mempergunakan data primer dan data sekunder. Data primer berupa wawancara, observasi dan juga menyebarkan kuesioner kepada 100 responden. Para responden terdiri masyarakat, pengusaha, pejabat pemrintah, dan juga pihak bank. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari BPS dan Bank Indonesia (BI) Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya pendapatan yang masih dimiliki oleh masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi lambatnya pertumbuhan jaringan kantor cabng di Kabupaten Dairi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan produk-produk bank baik simpanan, pinjaman, dan jasa bank lainnya. Selain itu kondisi perekonomian Kabupaten Dairi kurang mendukung sebagai penempatan dana bagi pihak bank karena pertumbuhan ekonomi yang rendah.Penemuan penting lainnya adalah diharapkan adanya perhatian pemerintah dalam meningkatkan pelayanan terhadap sarana dan prasarana umum serta peranan dari pihak bank dalam meningkatkan strategi pemasarannya kepada masyarakat di Kabupaten Dairi. Kata kunci: Habits Banking Masyarakat dan Pengusaha, Peranan Pemerintah Daerah, Pihak Bank, Potensi Ekonomi Kabupaten Dairi. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perbankan yang baik dalam suatu negara adalah salah satu indikator bahwa negara tersebut telah memiliki suatu manajemen tata kelola pemerintahan yang baik (Good Government Governance). Sebagaimana dapat dilihat bahwa hampir semua negara baik negara maju ataupun negara berkembang memberikan perhatian yang sangat besar untuk menciptakan sistem perbankan yang tangguh. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa sistem perbankan suatu negara adalah sangat vital. Apabila sistem perbankan tidak berfungsi, maka bukan saja industri perbankan itu saja yang “collaps” tetapi juga akan memiliki multiflier effect yang sangat negatif terhadap kinerja sistem - sistem ekonomi yang lain seperti terhambatnya pertumbuhan sektor riil, tingkat pengangguran yang tinggi, dan rendahnya pertumbuhan ekonomi. Sektor perbankan sebagai sektor vital dalam perekonomian untuk melakukan fungsi bertujuan intermediasi keuangan, menjamin sistem pembayaran yang mendukung dalam proses pembangunan ekonomi. Dalam hal ini, sektor perbankan memiliki peran strategis dalam mengurangi biaya transaksi (transaction cost), melakukan pembagian resiko (risk sharing). Hal inilah yang diharapkan dari peran vital perbankan tersebut yaitu bahwa fungsi intermediasi keuangan bank dalam ekonomi dapat secara optimal di manfaatkan bagi kebutuhan masyarakat baik oleh surplus unit maupun deficit unit. Universitas Sumatera Utara Dalam konteksnya secara nasional, globalisasi keuangan terutama untuk sektor perbankan didalam peranannya untuk kegiatan produksi, investasi dan perdagangan sebenarnya belum cukup berkembang khususnya untuk beberapa daerah tertentu. Dan oleh karena beberapa kelemahan mendasar yang ada dan karena kebijaksanaan yang kurang tepat, maka pada tahun 1997 terjadi krisis perbankan yang parah. Namun sektor perbankan di Indonesia pernah mengalami masa boom, baik dalam jumlahnya maupun dalam peranannya yang cukup signifikan hingga pertengan tahun 1997. Hal ini dapat dilihat pada 1 Juni 1983, pemerintah mengeluarkan kebijakan deregulasi perbankan yang menandai era liberalisasi di sektor perbankan. Kebijakan ini dan serangkaian kebijakan deregulasi di bidang perbankan dan sektor keuangan lainnya dalam periode sesudahnya telah mendorong begitu pesatnya perkembangan sektor perbankan dan keuangan di Indonesia baik dari segi jumlah bank yang beroperasi dan juga besarnya dana masyarakat yang dapat di mobilisasi . Dalam perkembangan selanjutnya untuk mendorong kegiatan ekonomi dalam negeri, maka pada tahun 1988 pemerintah mengeluarkan kebijakan Paket Oktober. Paket Oktober tahun 1988 merupakan penyempurnaan kebijakan di bidang keuangan, moneter dan perbankan. Dalam hubungannya dengan upaya peningkatan efektivitas pengendalian moneter, maka langkah-langkah yang di tempuh antara lain adalah penurunan reserve requirment dari 15% menjadi 2%. Selain itu dilakukan penciptaan iklim persaingan yang lebih kondusif melalui kemudahan izin untuk pendirian bank-bank baru dan bank campuran. Universitas Sumatera Utara Setelah itu beberapa tahun kemudian, sektor perbankan mulai mengalami krisis berkepanjangan bahkan hingga saat ini. Ada banyak faktor sebagai sumber penyebabnya, baik oleh karena persoalan intern maupun eksternal sektor perbankan itu sendiri. Namun karena disadari bahwa peranan sektor perbankan ini sangat penting dalam perekonomian negara, maka berbagai upaya untuk mengatasi persoalan-persoalan dilakukan pemerintah, Bank Indonesia dan juga oleh pelaksana-pelaksana perbankan sendiri. Dalam kondisi yang sulit seperti itu, sektor perbankan juga harus berhadapan dengan wacana yang tidak dapat bersaing dengan cara-cara demikian (Reijntjes, dkk, 1999). Pendapatan usaha tani adalah selisih antara penerimaan (TR) dan semua biaya (TC). Jadi Pd = TR – TC. Penerimaan usaha tani (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (Py). Biaya usaha tani biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk tenaga kerja. Total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC), maka TC = FC + VC (Soekartawi, 2002). Menurut Sukirno (2006) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan. Beberapa klasifikasi pendapatan antara lain: 1. Pendapatan pribadi. yaitu: semua jenis pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima penduduk suatu Negara. 2. Pendapatan disposibel, yaitu; pendapatan pribadi dikurangi pajak yang harus dibayarkan oleh para penerima pendapatan, sisa pendapatan yang siap dibelanjakan inilah yang dinamakan pendapatan disposibel. Jakson Sunario Panjaitan: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Dairi, 2008. USU e-Repository © 2008 3. Pendapatan nasional, yaitu; nilai seluruh barang-barang jadi dan jasa-jasa yang diproduksikan oleh suatu Negara dalam satu tahun. Menurut Sobri (1999) pendapatan disposibel adalah suatu Jenis penghasilan yang diperoleh seseorang yang siap untuk dibelanjakan atau dikonsumsikan. Besarnya pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang diterima dikurangi dengan pajak langsung (pajak perseorangan) seperti pajak penghasilan. Menurut teori Milton Friedman bahwa pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pendapatan permanen dapat diartikan: 1. Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, sebagai contoh adalah pendapatan dan upah, gaji. 2. Pendapatan yang diperoleh dan hasil semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang. 2.1.3.3 Produksi Total, Produksi Marginal, Produksi Rata-rata Produksi total (Total Product) adalah banyaknya produksi yang dihasilkan dari penggunaan total faktor produksi TP = f (K.L) Produksi marginal (Marginal Product) adalah tambahan produksi karena penambahan penggunaan satu unit faktor produksi MP = TP L Jakson Sunario Panjaitan: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Dairi, 2008. USU e-Repository © 2008 Produksi rata-rata output adalah rata-rata output yang dihasilkan per unit faktor produksi AP = TP L 2.2. Penelitian Sebelumnya Desky (2007) dalam penelitiannya meneliti pengaruh luas lahan, waktu kerja, jumlah pekerja, pupuk, pestisida, dan bibit/benih terhadap produksi padi di Kabupaten Aceh Tenggara. Selain itu juga untuk mengetahui faktor apa yang paling dominan mempengaruhi produksi padi di Kabupaten Aceh Tenggara. Metode yang digunakan untuk menganalisis data penelitian adalah model regresi linier berganda. Data yang digunakan berupa data primer dalam bentuk cross-sectional yang dikumpulkan melalui kuesioner. Jumlah sampel yang digunakan sehanyak 115 petani padi. hasil penelitian menunjukkan hahwa secara parsial variabel luas lahan, waktu kerja dan jumlah pekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produki padi. Untuk variabel pupuk dan benih walaupun positif namun tidak signiflkan mempengaruhi produksi padi. Secara simultan variabel-variabel yang diobservasi berpengaruh signifikan terhadap produksi padi. Variasi kemampuan variabel observasi dalam menjelaskan produksi padi di Kabupaten Aceh Tcnggara sebesar 73,6 persen, sisanya sebesar 26,4 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dirnasukkan dalam model penelitian. Jakson Sunario Panjaitan: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Dairi, 2008. USU e-Repository © 2008 Yusri (2005) berkesimpulan bahwa rata-rata hasil produksi petani untuk lahan luas adalah sebesar 7,31 ton dengan rata-rata luas lahan sebesar 1,56 Ha. Sedangkan hasil produksi untuk petani lahan sempit adalah sebesar 1.59 ton dengan rata-rata luas lahan sebesar 4,67 ton/Ha, produksi rata-rata sebesar 4,67 ton/Ha. Dari hasil estimasi diperoleh nilai t-hitung untuk variable luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk organik, pupuk unorganik, pestisida adalah: 6,247; 1,073: 3,358; 1,410; 3,325; dan 0,512. Sedangkan nilai t-tabel untuk n=90 pada tingkat kepercayaan 95% ( =0,05) adalah 1,990 maka dapat disimpulkan bahwa vaniabel luas lahan, benih, pupuk anorganik berpengaruh secara siginiflkan terhadap produksi usaha tani padi sawah pada tingkat keyakinan 95%. Yusniar (2006) dilihat dan kepekaan pcnggunaan faktor produksi terhadap kegiatan produksi pupuk, PT. Pupuk Iskandar Muda, modal, dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi. Hasil analisis data dengan uji serempak menunjukkan bahwa faktor produksi modal dan tenaga kerja berpengaruh terhadap Output, hal ini dbuktikan dengan nilai Fhitung 17.992 > Ftabel yaitu 2,08 dan demikian juga dengan melihat nilai sig = 0.000 < 0.05. Untuk uji parsial modal dan tenaga kerja berpengaruh secara signifikan, hal ini dibuktikan. oleh thitung 4,660 > ttabel 2,021 dan nilai sig sebesar 0.000 < dan nilai sig 0,039 > = 0.05, dan untuk tenaga kerja thitung = 2,123 ≥ ttabel = 2,021 0.05. Dan penggabungan koefesiensi regresi 1 + 2 diperoleh nilai sehesar 0,618 yang berarti bahwa keadaan produksi PT. Pupuk Iskandar Muda berada pada decreasing return to scale atau proporsi penambahan faktor produksi akan mengliasilkan tambahan produksi lebih kecil, hal ini ditunjukan Jakson Sunario Panjaitan: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Dairi, 2008. USU e-Repository © 2008 oleh 1 + 2 < 1. Penambahan input sebesar 1% akan menambah produksi 0,618. Artinya produksi pupuk PT. Pupuk Iskandar muda belum berproduksi secara optimal. Adi Setianto,Herlina Tarigan, Saptana,Tri Panaji (2004), dalam hasil penelitiannya tentang Analisis terhadap pengendalian hama terpadu dan teknologi PHT dalam mendukung agribisnis kopi rakyat dalam rangka otonomi daerah. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelatihan pertanian(pembibitan), pengalaman bertani, Teknologi PHT, Pestisida berpengaruh nyata terhadap peningkatan produksi kopi rakyat. Dalam hasil penelitiannya juga menyatakan bahwa keberhasilan dalam proses teknologi PHT dapat ditunjukkan dari prioritas komponen yang diterapkan dalam pengendalian hama terlihat bahwa pestisida tidak lagi merupakan prioritas pengendali hama. 2.3. Kerangka Pemikiran Dalam kerangka pemikiran perlu dijelaskan secara teoritis antara variabel independen dan variabel dependen. Dengan demikian maka kerangka pemikiran peneliti dalam penelitian ini adalah pendapatan petani kopi (sebagai dependen variabel) yang dipengaruhi oleh luas lahan, pengalaman bertani, waktu kerja, penggunaan pupuk dan penggunaan pestisida (sebagai independen variabel). Jakson Sunario Panjaitan: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Dairi, 2008. USU e-Repository © 2008 Luas Lahan Pengalaman Bertani Produksi Kopi Harga Waktu Kerja Penggunaaan Pupuk Pendapatan Petani Penggunaan Pestisida Gambar 2.2. Kerangka Pemikiran Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi di Kabupaten Dairi 2.4. Hipotesis Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas maka dikemukakan hipotesis adalah sebagai berikut: 1. Luas lahan mempunyai pengaruh positif terhadap produksi kopi di Kabupaten Dairi, ceteris paribus. 2. Pengalaman bertani mempunyai pengaruh positif terhadap produksi kopi di Kabupaten Dairi, ceteris paribus. 3. Waktu Kerja mempunyai pengaruh positif terhadap produksi kopi di Kabupaten Dairi, ceteris paribus. Jakson Sunario Panjaitan: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Dairi, 2008. USU e-Repository © 2008 4. Pemberian Pupuk mempunyai pengaruh positif terhadap produksi kopi di Kabupaten Dairi, ceteris paribus. 5. Pemberian Pestisida mempunyai pengaruh positif terhadap produksi kopi di Kabupaten Dairi, ceteris paribus. Jakson Sunario Panjaitan: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kopi Di Kabupaten Dairi, 2008. USU e-Repository © 2008 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Penentuan Daerah Penelitian Daerah penelitian ditentukan secara purposive yaitu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang diambil dari tujuan penelitian. Kecamatan terpilih adalah Kecamatan Sumbul, Kecamatan Parbuluan dan Kecamatan Sidikalang dengan pertimbangan bahwa kecamatan-kecamatan ini memiliki tanaman kopi terluas di Kabupaten Dairi. Luas pertanaman Kopi di Kecamatan Sumbul, Kecamatan resid 9.263580 Log likelihood -24.22931 Durbin-Watson stat 1.829063 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 6.428644 0.757227 0.636407 0.797704 85.76685 0.000000 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran.3 Uji Normalitas 12 Series: Residuals Sample 1 95 Observations 95 10 8 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis 6 4 2 Jarque-Bera Probability 0 -0.5 0.0 0.5 2.98E-16 0.010868 1.144432 -0.725698 0.313925 0.262574 4.107161 5.943781 0.051206 1.0 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran 4. Uji Heterokedastisitas White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.847337 17.12611 Probability Probability 0.064571 0.071620 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 08/06/09 Time: 09:56 Sample: 1 95 Included observations: 95 Variable Coefficien t Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(X1) (LOG(X1))^2 LOG(X2) (LOG(X2))^2 LOG(X3) (LOG(X3))^2 LOG(X4) (LOG(X4))^2 LOG(X5) (LOG(X5))^2 4.256175 -0.077010 -0.033744 -0.808076 0.049851 -0.203588 0.014961 0.026567 0.019097 -0.416001 0.109503 5.047096 0.081269 0.050685 1.435814 0.105963 0.284987 0.023057 0.048247 0.025602 0.415208 0.111052 0.843292 -0.947596 -0.665758 -0.562800 0.470459 -0.714379 0.648898 0.550637 0.745933 -1.001910 0.986050 0.4015 0.3461 0.5074 0.5751 0.6392 0.4770 0.5182 0.5833 0.4578 0.3193 0.3269 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.180275 0.082689 0.165498 2.300733 41.93168 2.104325 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 0.097511 0.172797 -0.651193 -0.355481 1.847337 0.064571 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran 5. Uji Multikolinearitas Luas Lahan Dependent Variable: LOG(X1) Method: Least Squares Date: 08/06/09 Time: 09:57 Sample: 1 95 Included observations: 95 Variable Coefficien t Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(X2) LOG(X3) LOG(X4) LOG(X5) -5.713550 0.462218 0.313522 0.143177 -0.046588 0.747685 -7.641655 0.124943 3.699430 0.053482 5.862179 0.064984 2.203273 0.111355 -0.418373 0.0000 0.0004 0.0000 0.0301 0.6767 R-squared 0.802972 Adjusted R-squared 0.794215 S.E. of regression 0.303541 Sum squared resid 8.292346 Log likelihood -18.96832 Durbin-Watson stat 1.676789 Mean dependent var -0.523761 S.D. dependent var 0.669130 Akaike info criterion 0.504596 Schwarz criterion 0.639011 F-statistic 91.69689 Prob(F-statistic) 0.000000 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran 6. Uji Multikolinearitas Waktu Kerja Dependent Variable: LOG(X2) Method: Least Squares Date: 08/06/09 Time: 09:58 Sample: 1 95 Included observations: 95 Variable Coefficien t Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(X1) LOG(X3) LOG(X4) LOG(X5) 6.513444 0.285564 0.045357 0.160545 0.067437 0.313180 0.077191 0.049184 0.049632 0.087323 20.79776 3.699430 0.922188 3.234737 0.772278 0.0000 0.0004 0.3589 0.0017 0.4420 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.711817 0.699009 0.238587 5.123122 3.906196 1.978377 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 6.942971 0.434880 0.023027 0.157442 55.57536 0.000000 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran 7. Uji Multikolinearitas Pupuk Dependent Variable: LOG(X3) Method: Least Squares Date: 08/06/09 Time: 09:58 Sample: 1 95 Included observations: 95 Variable Coefficien t Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(X1) LOG(X2) LOG(X4) LOG(X5) 3.989750 0.881357 0.206381 0.250460 0.453211 1.553806 0.150346 0.223795 0.108695 0.180676 2.567728 5.862179 0.922188 2.304249 2.508420 0.0119 0.0000 0.3589 0.0235 0.0139 R-squared 0.778522 Adjusted R-squared 0.768678 S.E. of regression 0.508932 Sum squared resid 23.31102 Log likelihood -68.06400 Durbin-Watson stat 2.017869 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 6.044674 1.058159 1.538190 1.672604 79.09009 0.000000 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran 8. Uji Multikolinearitas Pestisida Dependent Variable: LOG(X4) Method: Least Squares Date: 08/06/09 Time: 09:58 Sample: 1 95 Included observations: 95 Variable Coefficien t Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) LOG(X5) -4.649738 0.357441 0.648741 0.222425 0.088029 1.435592 -3.238900 0.162232 2.203273 0.200555 3.234737 0.096528 2.304249 0.175871 0.500535 0.0017 0.0301 0.0017 0.0235 0.6179 R-squared 0.703330 Adjusted R-squared 0.690145 S.E. of regression 0.479604 Sum squared resid 20.70180 Log likelihood -62.42549 Durbin-Watson stat 1.472905 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 1.165511 0.861595 1.419484 1.553898 53.34185 0.000000 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran 9. Uji Multikolinearitas Umur Tanaman Dependent Variable: LOG(X5) Method: Least Squares Date: 08/06/09 Time: 09:59 Sample: 1 95 Included observations: 95 Variable Coefficien t Std. Error t-Statistic Prob. C LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) LOG(X4) 0.139072 -0.041665 0.097619 0.144181 0.031535 0.907814 0.153195 0.099587 -0.418373 0.126404 0.772278 0.057479 2.508420 0.063002 0.500535 0.8786 0.6767 0.4420 0.0139 0.6179 R-squared 0.303147 Adjusted R-squared 0.272176 S.E. of regression 0.287054 Sum squared resid 7.416012 Log likelihood -13.66298 Durbin-Watson stat 1.500111 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 1.746947 0.336473 0.392905 0.527319 9.788031 0.000001 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Lampiran 10. DAFTAR KUESIONER Angket ini diperlukan untuk mendukung penelitian yang berjudul : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI COKELAT DI KABUPATEN DAIRI OLEH DOODY.S.TUMANGGOR NIM. 077018032 MAGISTER EKONOMI PEMBANGUNAN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009 I. DENTITAS RESPONDEN 1. Nama : . 2. Kecamatan : . 3. Desa : . 4. Jenis kelamin : . 5. Usia : . tahun 6. Pendidikan terakhir : . 7. Jumlah tenaga kerja : orang 8. No. Urut Sampel : . Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 II. PERTANYAAN : 1. Produksi adalah jumlah produksi biji cokelat Produksi coklat bentuk kering yang diperoleh petani dari hasil panen per satuan hektar diukur dalam satuan .kg/ha/tahun kilogram per tahun 2. Hasil dijual kemana. a. Ke pasar b. Pedagang pengumpul 3. Harga biji cokelat Rp./kg 4. Luas lahan adalah total luas tanah yang digunakan Luas lahan oleh petani untuk pertanaman cokelat di ukur dalam satuan hektar . Hektar 5. Bagaimana status lahan yang digunakan a. Milik sendiri b. Menyewa c. Bagi hasil d. Lain-lain 6. Waktu kerja adalah jumlah jam kerja yang digunakan Waktu kerja petani untuk mengelola pertanaman cokelat diukur dalam per bulan .jam/bulan Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009 Pupuk 7. Pupuk adalah pupuk yang digunakan dalam proses produksi baik pupuk organik maupun pupuk anorganik dalam persatuan hektar diukur dalam satuan kilogram/tahun Urea.Kg/ha/tahun TSP.Kg/ha/tahun KCL.Kg/ha/tahun Kompos .Kg/ha/tahun Lain – lain : . . . . 8. Pestisida adalah obat yang dipakai dalam PESTISIDA pengendalian gulma maupun hama penyakit pada tanaman cokelat dalam persatuan hektar diukur dalam satuan liter pertahun 9. Umur tanaman coklat adalah lama tanaman cokelat .liter/ha/thn UMUR COKLAT yang berproduksi diukur dalam satuan tahun .tahun .2009 Doody S. Tumanggor : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Cokelat Di Kabupaten Dairi, 2009
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lambatnya Pertumbuhan Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di Kabupaten Dairi
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lambatnya Pertumbuhan Jaringan Kantor Cabang Bank Umum Di Kabupaten Dairi

Gratis