Analisis Penggunaan Peluang Modal Sosial Dalam Pemeliharaan Prasarana Jalan (Studi Deskriptif di Desa Pertambatan Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai)

 0  57  128  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

  UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN SOSIOLOGI ANALISIS PENGGUNAAN PELUANG MODAL SOSIAL DALAM PEMELIHARAAN PRASARANA JALAN (Studi Deskriptif di Desa Pertambatan Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai) SKRIPSI

  Diajukan Oleh: Viana Rofinita Saragih

  060901043

  Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

  Medan 2011

  Abstrak Modal sosial dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk

mengutamakan keputusan komunitas yang menghasilkan kinerja yang

mengandung nilai sosial. Kebersamaan, kemampuan berempati, toleransi,

semangat kerjasama merupakan modal sosial yang sangat melekat dalam

kehidupan bermasyarakat.

  Jalan merupakan salah satu prasarana yang memiliki fungsi yang sangat penting dalam masyarakat terkait dalam upaya transportasi dan dan

mobilitas warga. Prasarana jalan dekat terkait dengan masalah sosial

ekonomi baik antar satu daerha maupun hubungan antar daerah. Mengingat

fungsinya yang begitu penting pemeliharaan jalan hendaknya lebih

dimaksimalkan guna menjaga kinerha jalan yang tetap pada porsinya.

Terkait dalam hal ini modal sosial yang meliputi elemen jaringan sosial,

kepercayaan dan pranata sosial dituntut untuk mampu menjalankan

fungsinya dalam menangani berbagai masalah di masyarakat. Namun dalam kenyataanya modal sosial masih hanya konsep yang berlaku dalam interaksi

bermasyarakat dan tidak digunakan dalam upaya pembangunan di

masyarakat.

  Dalam penelitian ini peneliti meneliti bagaimana penggunaan modal

sosial dalam upaya pemeliharaan jalan di desa Pertambatan. Metode

penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan

kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan

studi dokumentasi. Penelitian ini dilakukan terhadap 10 orang informan.

  

Adapun informan tersebut 2 berasal dari pemerintah, 2 berasal dari

pengusaha, 2 dari tokoh masyarakat, 3 berasal dari masyarakat desa

Pertambatan dan 1 berasal dari luar desa Pertambatan. Adapun konsep utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah

modal sosial yang mengutamakan elemen jaringan sosial, kepercayaan dan

pranata sosial. Sehubungan dengan penggunaan modal sosial dalam upaya

pemeliharaan jalan di desa Pertambatan ini modal sosial berupa sikap

kerjasama, toleransi, kepercayaan belum dapat digunakan sesuai dengan

hakekat modal sosial yang sesungguhnya yang dapat digunakan untuk

mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat.

  Kata Pengantar

  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, ibarat pepatah yang menyatakan “tiada gading yang tak retak”. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari saudara pembaca demi perbaikan skripsi ini.

  Atas bimbingan dan bantuan yang diterima penulis dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini hingga selesai, serta selama perkuliahan di Universitas Sumatera Utara Medan, maka dengan hati yang tulus penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak Prof. Dr. Syahril Pasaribu, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara Medan.

  2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan.

  3. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.si, selaku Ketua Jurusan Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan.

  4. Ibu Dra. Ria Manurung, M.si selaku Dosen Pembimbing

  5. Bapak/ibu dosen serta staf dan Pegawai Universitas Sumatera Utara Mean 6. Segenap perangkat pemerintahan kabupaten Serdang Bedagai.

  Terimakasih untuk kesediaannya memberikan informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.

  7. Segenap masyarakat desa Pertambatan kecamatan Dolok Masihul kabupaten Serdang Bedagai terima kasih atas kesediaannya memberikan informasi bagi penelti dalam menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

  8. Ayahanda S. Saragih dan Ibunda S. Purba yang sangat saya cintai yang telah banyak berkorban demi selesainya studi saya dan menjadi motivasi terbesar untuk saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

  9. Adik-adik saya Friska Saragih, Wulany Dajawak, Yuli Sani Saragih, Satria Fahrezi dan Bayu Davian Saragih yang selalu memberi dukungan dan menjadi salah satu motivasi bagi saya dan juga tante Elfidawaty dan keluarga yang selama ini juga banyak membantu dalam studi saya.

  10. Ibu Drg. Ateta. MARS dan keluarga yang telah banyak mendukung saya dalam materi maupun moril saya haturkan terimakasih sebanyak- banyaknya.

  11. Kawan-kawan di Departemen Sosiologi stambuk 2006.

  12. Adik-adik di Departemen Sosiologi stambuk 2007-2010. Tetap semangat!

  13. Kakak-kakak di Departemen sosiologi. Terimaksi untuk dukungan dan semangatnya.

  14. Sahabat-sahabat terbaik, Ani Laia, Nurchandani, Sumarni. Terima kasih banyak untuk dukungan kalian selama ini yang selalu ada di saat suka dan duka.

  15. Segenap keluarga besar Saragih Dajawak di huta Sidiamdiam Kecamatan Silou Kahean kabupaten Simalungun. Terima kasih untuk dukungan dan semangat yang saya terima selama ini.

  16. Segenap keluarga besar Purba Tambak di huta Nagori Dolok Kecamatan Silou Kahean kabupaten Simalungun. Terimakasih untuk dukungan dan semangat yang saya terima selama ini.

  Medan, Maret 2011 Penulis

  Viana Rofinita Saragih

  

Daftar Isi

  Abstrak ............................................................................................................. i Kata Pengantar ................................................................................................. ii Daftar Isi ............................................................................................................v Daftar Tabel ................................................................................................... viii Daftar Lampiran ................................................................................................ix Daftar Gamba................................................................................................... rx

  BAB I. PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang .................................................................................1

  1.2 Perumusan maslah ............................................................................5

  1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................5

  1.4 Manfaat Penelitian ...........................................................................5

  1.5 Defenisi Konsep. ..............................................................................6

  BAB II. KAJIAN PUSTAKA ........................................................................... 10 BAB III. METODE PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian ............................................................................. 17

  3.2 Lokasi Penelitian .......................................................................... 17

  3.3 Unit Analisis dan Informan Penelitian ........................................... 17

  3.4 Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 18

  3.5 Interpretasi Data ........................................................................... 19

  3.6 Jadwal Kegiatan Penelitian .......................................................... 20

  3.7 Keterbatasan Penelitian ................................................................. 20

  BAB IV. INTERPRETASI DATA .................................................................... 21

  4.1 Setting Daerah Lokasi ................................................................... 22

  4.2 Gambaran Sosial Masyarakat dan Dinamika Sosial ........................ 26

  4.3 Fungsi Jalan desa Pertambatan Bagi Masyarakat, Perusahaan dan Masyarakat Kecamatan Silou Kahean............................................ 29

  4.4 Kondisi Kerusakan Jalan Desa Pertambatan .................................. 33

  4.5 Profil Informan ............................................................................. 34

  4.6 Gambaran Peluang Modal Sosial Masyarakat ................................ 39

  4.6.1 Gambaran Jaringan Sosial .................................................... 40

  4.6.1.1 Gambaran Partisipasi dalam Masyarakat ....................... 40

  4.6.1.2 Gambaran Hubungan Timbal Balik antar Masyarakat, Pemerintah dan Pengusaha.............................................. 46

  4.6.1.3 Gambaran Solidaritas dalam Masyarakat ........................ 50

  4.6.1.4 Gambaran Kerjasama dalam Masyarakat ........................ 52

  4.6.1.5 Gambaran Adanya Kesamaan (Equity) dalam Masyarakat ................................................................... 55

  4.6.2 Gambaran bentuk Kepercayaan dalam Masyarakat ................. 58

  4.6.2.1 Gambaran Adanya Transparansi dalam Hubungan Bermasyarakat .............................................................. 60

  4.6.2.2 Egaliter atau Sifat Amanah ........................................... 62

  4.6.3 Gambaran Bentuk Pranata atau Institusi Lokal ....................... 64

  4.7 Pandangan Informan tentang Pemeliharaan Jalan ........................... 69

  4.8 Analisis Penggunaan Peluang Modal Sosial dan Tahapan Pemeliharaan Jalan ....................................................................... 72

  4.8.1 Partisipasi dalam Pemeliharaan Jalan .................................... 73

  4.8.2 Hubungan Timbal Bali kantar Stakeholder dalam Pemeliharaan Jalan .................................................................................... 78

  4.8.3 Bentuk Kerjasama dalam Pemeliharaan Jalan ........................ 79

  4.8.4 Transparansi Dana dalam Pemeliharaan jalan ........................ 81

  4.8.4 Peranan Pranata Lokal dalam Pemeliharaan Prasarana Jalan .................................................................................... 84

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 86 DAFTAR PUSTAKA

  

Daftar Tabel

  Jadwal Kegiatan Penelitian ............................................................................... 20

  Daftar Lampiran

  Kuesioner...................................................................................................... LI-1 Transkrip Wawancara dengan Pengusaha Surat Bantuan Bina Lingkungan PT. PN III Kebun Silau Dunia Surat Permohonan Pengerasan Jalan desa Pertambatan kepada PT. PN III Kebun Silau Dunia Surat Permohonan Bantuan Alat Berat kepada PT. PN III Kebun Silau Dunia dalam Perbaikan Jalan di Desa Pertambatan Surat Permohonan Perbaikan Jalan Desa Pertambatan kepada PT. PN III Kebun Silau Dunia Bukti Pengeluaran PT. PN III untuk Bantuan Perbaikan Jalan di Desa Pertambatan Daftar Pengeluaran Bahan dan Alat Berat Untuk Bantuan dalam Perbaikan Jalan di Desa Pertambatan Surat izin Penelitian Surat Pemberian ixin Penelitian Lembar Bimbingan Skripsi

  

Daftar Gambar

  Gambar Kerusakan Jalan yang Tergenang Air .............................................. GI -1 Gambar Kantor PT. PN III Kebun Silau Dunia .............................................. GI-2

  Gambar Bangunan Mesjid di Desa Pertambatan ............................................ GI-2 Gambar Sekolah MTS di Desa Pertambatan .................................................. GI-2 Gambar Pertanian di Sekitar Perumahan Penduduk Pertambatan .................... GI-2 Gambar Peneliti Bersama Informan dan Penduduk ........................................ GI-2 Gambar Warga yang Mengambil Jalan Lintas untuk Menghindari Jalan yang Rusak ..................................................................... GI-3 Gambar Lahan Perkebunan PT. Socfin Indonesia .......................................... GI-3 Gambar Perkebunan Karet PT. PN III Silau Dunia ........................................ GI-3 Gambar Perkebunan Kelapa Sawit PT. PN III Silau Dunia............................. GI-4

  Daftar Lampiran

  Transkrip Wawancara dengan Pemerintah ...................................................... LI-1 Transkrip Wawancara dengan Pengusaha ....................................................... LI-8 Surat Bantuan Bina Lingkungan PT. PN III Kebun Silau Dunia Surat Permohonan Pengerasan Jalan desa Pertambatan kepada PT. PN III Kebun Silau Dunia Surat Permohonan Bantuan Alat Berat kepada PT. PN III Kebun Silau Dunia dalam Perbaikan Jalan di Desa Pertambatan Surat Permohonan Perbaikan Jalan Desa Pertambatan kepada PT. PN III Kebun Silau Dunia Bukti Pengeluaran PT. PN III untuk Bantuan Perbaikan Jalan di Desa Pertambatan Daftar Pengeluaran Bahan dan Alat Berat Untuk Bantuan dalam Perbaikan Jalan di Desa Pertambatan

  

Daftar Gambar

Gambar Kerusakan Jalan yang Tergenang Air ......................................................

  Gambar Kantor PT. PN III Kebun Silau Dunia ..................................................... Gambar Bangunan Mesjid di Desa Pertambatan ................................................... Gambar Sekolah MTS di Desa Pertambatan ......................................................... Gambar Pertanian di Sekitar Perumahan Penduduk Pertambatan ........................... Gambar Peneliti Bersama Informan dan Penduduk ............................................... Gambar Warga yang Mengambil Jalan Lintas untuk Menghindari Jalan yang Rusak....................................................................................

  Gambar Lahan Perkebunan PT. Socfin Indonesia ................................................. Gambar Perkebunan Karet PT. PN III Silau Dunia ............................................... Gambar Perkebunan Kelapa Sawit PT. PN III Silau Dunia....................................

  Abstrak Modal sosial dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk

mengutamakan keputusan komunitas yang menghasilkan kinerja yang

mengandung nilai sosial. Kebersamaan, kemampuan berempati, toleransi,

semangat kerjasama merupakan modal sosial yang sangat melekat dalam

kehidupan bermasyarakat.

  Jalan merupakan salah satu prasarana yang memiliki fungsi yang sangat penting dalam masyarakat terkait dalam upaya transportasi dan dan

mobilitas warga. Prasarana jalan dekat terkait dengan masalah sosial

ekonomi baik antar satu daerha maupun hubungan antar daerah. Mengingat

fungsinya yang begitu penting pemeliharaan jalan hendaknya lebih

dimaksimalkan guna menjaga kinerha jalan yang tetap pada porsinya.

Terkait dalam hal ini modal sosial yang meliputi elemen jaringan sosial,

kepercayaan dan pranata sosial dituntut untuk mampu menjalankan

fungsinya dalam menangani berbagai masalah di masyarakat. Namun dalam kenyataanya modal sosial masih hanya konsep yang berlaku dalam interaksi

bermasyarakat dan tidak digunakan dalam upaya pembangunan di

masyarakat.

  Dalam penelitian ini peneliti meneliti bagaimana penggunaan modal

sosial dalam upaya pemeliharaan jalan di desa Pertambatan. Metode

penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan

kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan

studi dokumentasi. Penelitian ini dilakukan terhadap 10 orang informan.

  

Adapun informan tersebut 2 berasal dari pemerintah, 2 berasal dari

pengusaha, 2 dari tokoh masyarakat, 3 berasal dari masyarakat desa

Pertambatan dan 1 berasal dari luar desa Pertambatan. Adapun konsep utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah

modal sosial yang mengutamakan elemen jaringan sosial, kepercayaan dan

pranata sosial. Sehubungan dengan penggunaan modal sosial dalam upaya

pemeliharaan jalan di desa Pertambatan ini modal sosial berupa sikap

kerjasama, toleransi, kepercayaan belum dapat digunakan sesuai dengan

hakekat modal sosial yang sesungguhnya yang dapat digunakan untuk

mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Dalam kehidupan manusia yang berkelompok sebagai wujud nyata manusia sebagai mahluk sosial memunculkan sebuah kekuatan bersama yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama yang sering disebut dengan istilah modal sosial. Modal sosial adalah sumber daya yang dapat dipandang sebagai investasi untuk mendapatkan sumber daya baru. Seperti di ketahui bahwa sesuatu yang disebut sumber daya adalah sesuatu yang dapat dipergunakan untuk dikonsumsi, disimpan, dan diinvestasikan. Modal sosial merupakan kekuatan yang mampu membangun civil community yang dapat meningkatkan partisipatif, dengan demikian basis-basis modal sosial adalah trust, ideologi, institusi, dan religi. Modal sosial dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk mengutamakan keputusan komunitas yang menghasilkan kinerja yang mengandung nilai sosial. Kebersamaan, kemampuan berempati, toleransi, semangat kerjasama merupakan modal sosial yang sangat melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Modal manusia sebagai sumber daya manusia jadi manusia secara individu dan sebagai masyarat harus membangun jaringan atau akses baik secara lokal maupun inter lokal. Jaringan (networking) ditentukan oleh kepatuhan akan norma dan saling percaya, jika kepatuhan terhadap norma dan saling percaya yang tinggi, maka jaringan bisa di bangun di manapun baik lokal maupun intenasional. Jaringan yang dibangun khususnya di daerah baik pada lembaga pemerintah, legislatif, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), organisasi keagamaan, organisasi pemuda dimaksudkan untuk memberikan wawasan tentang dinamika lingkungan disekitar dan menambah wawasan berpikir bagi pengambil keputusan yang suatu organisasi. Membangun jaringan merupakan hal yang penting dalam proses perencanaan pembangunan dimana para stakeholder yaitu pemerintah, pihak swasta, masyarakat dan stakeholder lainnya secara intensif melakukan koordinasi perencanaan untuk memperoleh suatu kesepakatan atas kebutuhan masyarakat di daerahnya.

  Jalan sebagai bagian sistem transportasi nasional mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung ekonomi, sosial budaya, lingkungan, politik, serta pertahanan dan keamanan. Dari aspek ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyarakat merupakan katalisator diantara proses produksi, pasar, dan konsumen akhir. Dari aspek sosial budaya, keberadaan jalan membuka cakrawala masyarakat yang dapat menjadi wahana perubahan sosial, membangun toleransi, dan mencairkan sekat budaya. Dari aspek lingkungan, keberadaan jalan diperlukan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Dari aspek politik, keberadaan jalan menghubungkan dan mengikat antar daerah, sedangkan dari aspek pertahanan dan keamanan, keberadaan jalan memberikan akses dan mobilitas dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan.

  Dalam Undang-undang RI No. 38 Tahun 2004 Tentang Jalan menyebutkan jalan sebagai salah satu prasarana transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan kehidupa n berbangsa dan bernegara. Dalam rangka tersebut, jalan mempunyai peranan untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan, dan hasil-hasilnya, dan pertumbuhan ekonomi, dan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

  Jalan menjadi prasarana untuk transportasi dan memperlancar komunikasi antar wilayah untuk menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dalam Undang-undang No.38 Tahun 2004 tentang jalan dikatakan bahwa jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, diatas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan/air serta diatas permukaan air kecuali jalan kereta api jalan lori dan jalan kabel. Jalan mempunyai peran yang sangat strategis, dalam bidang sosial, ekonomi, budaya.

  Hal ini dapat dilihat dari besar tuntutan agar jalan yang dilewati memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi pengendara.

  Melihat begitu besarnya fungsi jalan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara maka selayaknya keberadaan jalan menjadi perhatian semua kalangan masyarakat maupun pemerintah baik dalam proses pembangunan maupun pemeliharaan jalan. Kegiatan pemeliharaan jalan adalah seluruh pekerjaan yang ditujukan kepada upaya agar jalan dapat memberikan pelayanan sesuai dengan yang direncanakan.

  Yang termasuk kedalam jenis pemeliharaan jalan adalah:

  1. Pekerjaan pemeliharaan rutin yakni pekerjaan yang dilaksanakan secara terus menerus (sepanjang tahun) untuk mengatasi kerusakan jalan yang bersifat minor dan memerlukan pelayanan segera, seperti penambalan lubang, penutupan retak- retak, pembersihan saluran air. Mencakup di dalamnya pemeliharaan rutin dan berkala.

  2. Pekerjaan perkuatan struktur perkerasan, yakni pekerjaan yang apabila pekerjaan pemeliharaan berkala terlambat dilaksanakan sehingga kerusakan jalan yang terjadi telah mempengaruhi pondasi. Melalui pekerjaan ini kinerja jalan dikembalikan keadaan seperti kondisi awal saat jalan itu dibangun.

  Berdasarkan pemaparan diatas saya melihat sesuatu yang menarik di desa Pertambatan Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai. Dimana di sepanjang wilayah desa tersebut menuju Wilayah Tapal Batas Kecamatan Silou Kahean Kabupaten Simalungun terdapat sebuah jalan umum yang mengalami kerusakan parah. Jalan rusak tersebut belum mendapat proses pemeliharaan yang maksimal. Desa pertambatan ini merupakan desa pembatas antara kecamatan Dolok Masihul kabupaten Serdang Bedagai dengan kecamatan Silou Kahean kabupaten Simalungun. Desa Pertambatan memiliki potensi penduduk yang cukup besar yaitu 2.738 orang. Desa Pertambatan ini merupakan desa yang dikelilingi perusahaan perkebunan yaitu PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar dan PT. PN III (Persero) Kebun Silau Dunia.

  Jalan yang rusak di desa tersebut merupakan jalan yang dipakai untuk lintas umum antar daerah yaitu antar desa Pertambatan kecamatan Silou Kahean kabupaten Simalungun dengan kecamatan Silou kahean kabupaten Simalungun. Seluruh pihak yang memanfaatkan jalan tersebut terkait dalam upaya pengakutan umum maupun distribusi hasil pertanian dan perkebunan. Bagi masyarakat desa Pertambatan jalan tersebut memiliki fungsi pengakutan barang dan jasa. Bagi masyarakat kecamatan Silou Kahean jalan tersebut sebagai fungsi distribusi barang, distribusi jasa maupun hasil pertanian dan perkebunan. Menurut pandangan masyarakat desa Pertambatan sendiri jalan umum di desa mereka memiliki lebih banyak fungsi terhadap masyarakat kecamatan Silou Kahean dalam distribusi barang, jasa maupun hasil pertanian. Selain sebagai jalan lintas untuk fungsi distribusi bagi dua wilayah yang berbeda jalan tersebut jalan juga dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan perkebuan seperti PT. Socfindo Bangun Bandar dan PT. PN III (Persero) Kebun Silau Dunia yang ada di desa tersebut untuk pengakutan hasil perkebunan.

  Berdasarkan pengamatan peneliti sebenarnya ada peluang modal sosial yang dapat digunakan untuk memperbaiki jalan rusak tersebut. Hal ini dapat tergambar dari pola interaksi masyarakat yang masih kuat mencerminkan adanya potensi modal sosial di masyarakat. Namun peluang modal sosial yang ada tidak digunakan dalam upaya pemeliharan jalan rusak tersebut.

1.2 Perumusan Masalah

  Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di latar belakang masalah tersebut yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah

  1.Bagaimana pandangan informan tentang pemeliharaan jalan?

  2.Bagaimana penggunaan peluang modal sosial untuk pemeliharaan jalan di desa Pertambatan Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai?

1.3 Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peluang modal sosial digunakan untuk pemeliharaan jalan di desa Pertambatan Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai, apakah ada hambatan terhadap pemeliharaan jalan dan bagaimana stakeholder memandang peluang modal sosial dalam pemeliharaan jalan.

1.4 Manfaat Penelitian

  Beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

  1.4.1 Manfaat Teoritis

  Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sebuah hasil kajian ilmiah yang akurat, sehingga dapat memberi sumbangan pemikiran bagi kalangan akademis dalam bidang pendidikan khususnya instansi pemerintah Serdang Bedagai dalam melihat perkembangan penduduknya dan bagi masyarakat pada umumnya.

  1.4.2 Manfaat Praktis

  Yang menjadi manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk menambah referensi dari pada hasil penelitian dan dapat juga dijadikan sebagai bahan rujuakan bagi peneliti berikutnya yang ingin mengetahui lebih dalam lagi terkait dengan penelitian sebelumnya.

1.5 Defenisi Konsep

1.5.1 Stakeholder

  Stakeholder diartikan setiap individu ataupun kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan, keterlibatan, perhatian dan jasa di dalam sebuah proyek/program dan mereka dapat menentukan keberhasilan dan kegagalan proyek tersebut ("http://one.indoskripsi.com/node/7994" _http://one.indoskripsi.com/node/7994_, diakses tanggal 14 oktober 2009 pukul 15.43).

1.5.2 Modal Sosial

  Modal sosial merupakan kekuatan yang mampu membangun civil community yang dapat meningkatkan pembangunan partisipatif, dengan demikian basis modal sosial adalah trust, idiologi dan religi. Modal sosial dapat dicirikan dalam bentuk kerelaan individu untuk mengutamakan keputusan komunitas, Dampak dari kerelaan ini akan menumbuhkan interaksi kumulatif yang menghasilkan kinerja yang mengandung nilai sosial. Adapun yang menjadi elemen pokok dari modal sosial ini adalah jaringan sosial, kepercayaan dan pranata yang mencakup nilai dan norma.

1.5.3 Pemeliharaan Jalan

  Kegiatan pemeliharaan jalan adalah seluruh pekerjaan yang ditujukan kepada upaya agar jalan dapat memberikan pelayanan sesuai dengan yang direncanakan. Yang termasuk kedalam jenis pemeliharaan jalan adalah:

  1. Pekerjaan pemeliharaan rutin yakni pekerjaan yang dilaksanakan secara terus menerus (sepanjang tahun) untuk mengatasi kerusakan jalan yang bersifat minor dan memerlukan pelayanan segera, seperti penambalan lubang, penutupan retak-retak, pembersihan saluran dan sebagainya. Mencakup di dalamnya pemeliharaan rutin dan berkala. Pemliharaan rutin dan berkala ini akan sangat mempengaruhi tingkat kemampuan layan jalan yang dikaitkan dengan umur rencana jalan.

  2. Pekerjaan perkuatan struktur perkerasan, yakni pekerjaan yang apabila pekerjaan pemeliharaan berkala terlambat dilaksanakan sehingga kerusakan jalan yang terjadi telah mempengaruhi pondasi. Melalui pekerjaan ini kinerja jalan dikembalikan keadaan seperti kondisi awal saat jalan itu dibangun.

1.5.4 Jaringan Sosial

  Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk formal maupun informal. Hubungan sosial adalah cerminan dari kerjasama dan koordinasi antara warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprokal atau hubungan saling timbal balik (Ibrahim, 2002: 67).

  1.5.5 Pranata Sosial

  Pranata sosial menurut Koentjaraningrat adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kompleks- kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan bermasyarakat (Soerdjono, 2002:196). Pranata muncul disebabkan adanya keperluan dan kebutuhan manusia yang tidak dapat dipenuhi sendiri, maka muncullah lembaga-lambaga masyarakat dengan norma masing-masing.

  1.5.6 Reciprocity atau Hubungan Timbal Balik

  Modal sosial senantiasa diwarnai oleh kecenderungan saling tukar kebaikan antar individu dalam kelompok atau antar kelompok atau antar kelompok itu sendiri. Pola pertukaran ini bukanlah suatu yang dilakukan secara resiprosikal seketika seperti dalam proses jual beli, melainkan suatu kombinasi jangka pendek dan jangka panjang dalam nuansa altruism (semangat untuk membantu dan mementingkan kepentingan orang lain). Seseorang atau banyak orang dari suatu kelompok memiliki semangatmembantu yang lain tanpa mengharapkan imbalan seketika (Abimanyu, 2004:1).

1.5.7 Trust atau Kepercayaan

  Trust atau kepercayaan adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, paling tidak yang lain tidak akan bertindak merugikan dirinya dan kelompoknya. Trust adalah sikap saling mempercayai di masyarakat yang memungkinkan masyarakat tersebut saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan modal sosial (Hartati, 2005:1).

1.5.8 Solidaritas

  Solidaritas kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud adanya rasa kebersamaan dalam menghadapi suatu masalah.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Konsep modal sosial menawarkan betapa pentingnya suatu hubungan. Dengan membangun hubungan satu sama lain dan memeliharanya agar terjalin

  terus, setiap individu dapat bekerjasama untuk memperoleh hal-hal yang tercapai sebelumnya serta meminimalisasi kesulitan yang besar.

  Putnam (1993) mendefenisikan modal sosial sebagai suatu nilai mutual atau trust (kepercayaan) antara anggota masyarakat dan masyarakat terhadap pimpinannnya. Modal sosial didefenisikan institusi sosial yang melibatkan jaringan, norma kepercayaan sosial, yang mendorong sebuah kolaborasi sosial untuk kepentingan bersama dikutip dari (http://masroed.wordpress.com/2010/05/26/_pengaruh-dan-wujud- pengembangan-modal-sosial-untuk-menciptakan-sistem-politik-yang-dinamis/), diakses tanggal 28 agustus 2010 pukul 20.55 WIB. Sedangkan Pierre Bourdie ( dalam Hasbullah 2006: 11) menegaskan modal sosial sebagai suatu yang berhubungan satu dengan yang lain, baik ekonomi, budaya, maupun bentuk- bentuk social capital ( modal sosial) berupa institusi lokal maupun kekayaaan sumber daya alam lainnya. Pendapatnya menegaskan tentang modal sosial mengacu pada keuntungan dan kesempatan yng didapatkan seseorang di dalam masyarakat melalui keanggotaannya dalam entitas sosial tertentu.

  Menurut Francis Fukuyama (2002:37) social capital adalah kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat atau bagian tertentu dari dirinya. Ia bisa dilembagakan dalam kelompok sosial yang paling kecil dan paling mendasar, demikian juga kelompok-kelompok lain yang ada diantaranya. Fukuyama mendefenisikan trust adalah sikap saling mempercayai dalam masyarakat yang memungkinkan masyarakat tersebut saling bersatu dengan yang lain dan memberiakan kontribusi pada peningkatan modal sosial.

  Beberapa nilai dan unsur yang merupakan nilai dan ruh modal sosial antara lain sikap yang partisipasi, sikap saling memperhatikan, saling memberi dan menerima, saling percaya mempercayai, dan diperkuat oleh nilai-nilai dan norma yang mendukungnya. Untuk dapat melihat dan mengidentifikasi potensi modal sosial yang ada dalam suatu masyarakat atau komunitas maka terlebih dahulu harus diketahui elemen-elemen dari modal sosial.

  Lubis (dalam Badaruddin, 2005:31) menjelaskan bahwa modal sosial adalah sumber daya yang berintikan elemen-elemen pokok mencakup:

  1. Saling percaya (trust), yang meliputi adanya kejujuran (honesty), kewajaran

  

(fairness), sikap egaliter (egoliterianisme), toleransi (tolerance) dan kemurahan

hati (generosity).

  2. Jaringan sosial (social networks), yang meliputi partisipasi (participation), pertukaran timbal balik (reciprocity), solidaritas (solidarity), kerjasama

  (cooperation) dan keadilan (equity).

  3. Pranata ( institution), yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value), norma-norma dan sanksi (norms and sanction) dan aturan-aturan (rules).

  Sementara itu Rusdi Syahra (dalam Kristina, 2003) menyatakan bahwa modal sosial dapat dilihat dan diukur dari:

  1. Kepercayaan atau sifat amanah (trust) adalah kecenderungan untuk menepati sesuatu yang telah dikatakan baik secara lisan maupun tulisan. Adanya sifat kepercayaan ini merupakan landasan utama bagi kesediaan seseorang untuk menyerahkan sesuatu kepada orang lain, dengan keyakinan bahwa yang bersangkut an akan menepati janji atau memenuhi kewajiban.

  2. Solidaritas, kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud adanya rasa kebersamaan dalam menghadapi suatu masalah.

  3. Toleransi, kesediaan untuk memberikan konsekuensi atau kelonggaran baik dalam bentuk materi maupun non materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal- hal yang bersifat prinsipil.

  Trust (Fukuyama, 2002: 36) adalah pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur dan kooperatif, berdasarakan norma-norma yang dimiliki bersama demi kepentingan anggota yang lain dari komunitas itu. Kepercayaan adalah unsur penting dalam modal sosial yang merupakan perekat bagi langgengnya hubungan dalam kelompok masyarakat. Dengan menjaga suatu kepercayaan, orang-orang dapat bekerjasama secara efektif.

  Menurut Hasbullah, dalam (Ibrahim 2002:67-68) pada kelompok sosial yang biasanya terbentuk secara tradisional atas dasar kesamaan garis keturunan, pengalaman-pengalaman sosial turun temurun, dan kesamaan kepercayaan pada dimensi ketuhanan cenderung memiliki kohesifitas yang tinggi, tetapi rentang jaringan maupun trust yang terbangun sangat sempit. Sebaliknya pada kelompok yang dibangun atas dasar kesamaan orientasi dan tujuan dengan ciri pengelolaan organisasi yang lebih modern akan memiliki tingkat partisipasi anggota yang lebih baik dan memiliki rentang jaringan yang luas. Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan sosial adalah cerminan dari kerjasama dan koordinasi antara warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal.

  Keterkaitan jaringan dan kelompok merupakan aspek vital dari modal sosial. Jaringan sosial terjadi berkat adanya keterkaitan antar individu dalam komunitas. Keterkaitan terwujud di dalam beragam tipe kelompok yang pada tingkat lokal maupun tingkat yang lebih tinggi lagi. Jaringan hubungan sosial biasanya diwarnai oleh suatu tipologi khas sejalan dengan karakteristik dan orientasi kelompok.

  Pranata adalah suatu sistem norma khusus sistem-sistem aturan yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Diciptakannya pranata selain untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga sekaligus untuk mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat berjalan dengan tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

  Kaidah-kaidah tersebut bisa berupa aturan-aturan formal yang tertulis dan bisa juga berupa aturan-aturan informal yang disepakati bersama. Norma-norma akan berperan dalam mengontrol bentuk-bentuk hubungan antar individu. Norma yang tercipta diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh individu pada suatu entitas sosial tertentu.

  Pranata menunjuk pada adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku warga masyarakat atau individu ( Soekanto, 2002:197). Aturan-aturan atau norma-norma yang dirumuskan tersebut bertujuan agar hubungan antar individu terlaksana sesuai dengan apa yang diinginkan. Sebagai salah satu elemen inti yang tidak bisa dilepaskan dari konsepsi modal sosial, pranata merupakan pendorong bagi terciptanya hubungan kerjasama yang saling menguntungkan, baik dibidang sosial, budaya bahkan ekonomi.

  Beberapa upaya dalam membanguan modal sosial dalam masyarakat adalah: 1. Struktur sosial dibangun melalui organisasi baik formal maupun non-formal.

  Organisasi disusun karena diperlukan adanya pembagian tugas dan wewenang untuk para anggotanya. Tidak harus semua mengatur yang lain, sebab bila hal itu terjadi akan mengakibatkan pada kerancuan peran dan fungsi masing-masing anggota. Bentuk yang paling tepat dari struktur sosial ini sangat ditentukan oleh karakteristik anggota dan tujuan yang dicapai.

  2. Jaringan sosial terbentuk karena adanya interaksi diantara pemangku kepentingan (stakeholder). Dalam jaringan ini terjadi interaksi antar anggota dan antar kelompok. Interaksi antar anggota terjadi manakala adanya keinginan untuk saling membutuhkan antara satu dengan lainnya di dalam kelompok tersebut.

  Kesamaan tempat usaha, kesamaan bentuk usaha, kesamaan asal daerah, dan kesamaan–kesamaan lain dapat memperat jaringan sosial ini. Dengan jaringan sosial yang mantap akan menghasilkan suatu nilai tambah yang berbentuk suatu nilai tawar (bargaining power). Jaringan komunikasi dan informasi akan dibutuhkan dalam jaringan sosial ini.

  3. Norma sosial dibangun karena apa yang dilakukan dalam kelompok masyarakat perlu diatur. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang dirugikan. Semua merasakan adanya rasa keadilan. Rasa keadilan ini akan dicapai apabila norma yang dibangun diataati bersama. Norma ini akan menjadi tumbuh dengan baik, bila setiap anggotanya menghormati dan menjalankan secara konsekuen. Perangkat penegak norma sosial sebagai kontrol sosial juga perlu diperhatikan. Karena itu sanksi juga bisa diberikan bila ada pelanggaran.

  4. Membangun kepercayaan ini membutuhkan konsistensi usaha, ketepatan janji, dan pemahaman akan hak dan kewajiban sebagai bagian dari masyarakat.

  Menurut Lesser modal sosial ini sangat penting bagi komunitas karena (1) memberikan kemudahan dalam mengakses informasi bagi angota komunitas; (2) menjadi media power sharing atau pembagian kekuasaan dalam komunitas;(3)mengembangkan solidaritas;(4) memungkinkan mobilisasi sumber daya komunitas;(5) memungkinkan pencapaian bersama; dan (6) membentuk perilaku kebersamaam dan berorganisasi komunitas.

  Pembangunan merupakan suatu proses terencana dilakukan oleh golongan tertetu dengan tujuan tertentu seperti meningkankan kesejahteraan, menciptakan perdamaian. Ciri yang paling mendasar dalam pembangunan yakni direncanakan dan adanya campur tangan dari pihak tertentu. Dalam negara pihak yang merancang konsep, melaksanakan, intervensi terhadap pembangunan yakni pemerintah dengan objek pembangunan masyarakat(ttp:/halimsani.wordpress.com/2010/05/26/kapital-sosial-dalam- pembangunan masyarakat/), diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 09.37 WIB.

  Masyarakat seharusnya dilibatkan langsung dalam proses pembangunan, dimana masyarakat memiliki potensi dan kemampuan dalam mengembangkan kualitas hidupnya.

  Francis Fukuyama (1999) dengan meyakinkan berargumentasi bahwa modal sosial memegang peranan yang sangat penting dalam memfungsikan dan memperkuat kehidupan masyarakat modern. Modal sosial sangat penting bagi pembangunan manusia, pembangunan ekonomi, sosial, politik, dan stabilitas demokrasi. Konsep Modal sosial memberikan penekanan pada kebersamaan masyarakat untuk mencapai tujuan memperbaiki kualitas kehidupan dan senantiasa melakukan perubahan dan penyesuaian secara terus menerus. Dalam proses perubahan dan upaya untuk mencapai tujuan, masyarakat senantiasa terikat pada nilai-nilai dan norma yang dipedomani sebagai acuan bersikap, bertindak dan bertingkah laku serta berhubungan dengan pihak lain. Beberapa acuan nilai dan unsur yang merupakan ruh modal sosial antara lain sikap yang partisipatif

  

(participative), hubungan timbal balik (resiprosity), saling percaya (trust), dan

  diperkuat oleh nilai-nilai dan norma (norms) serta membangun jaringan

  

(networking) serta penciptaan kreasi dan ide-ide baru dikutip dari("http://

  alexa.ngeblo gs.com/2009/12 /04/modal-sosial-bermasyarakat/),diakses_ tanggal 27 Januari 2010 pukul. 15.58 WIB.

BAB III METODE PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Analisa deskriptif berusaha menggambarkan model hubungan antara berbagai variabel dengan memberikan penafsiran ilmiah dan analisis yang logis atas hubungan antar faktor sedangkan pendekatan kualitatif dapat diartikan sebagai pendekatan yang menghasilkan data, tulisan dan tingkah laku yang didapat dari apa yang dapat diamati (Nawawi, 1994:203). Berkenaan dengan penelitian ini sebagai studi deskriptif maka penelitian ini menjelaskan dan menggambarkan bagaimana penggunaan peluang modal sosial dalam upaya pemeliharaan prasarana jalan.

  3.2 Lokasi Penelitian

  Lokasi penelitian ini dilakukan di kecamatan Dolok Masihul, kabupaten Serdang Bedagai. Melihat kondisi prasarana jalan di desa ini yang mengalami kerusakan namun belum mendapat penanganan yang maksimal. Mengingat juga bahwa lokasi desa Pertambatan ini berdekatan dengan daerah asal peneliti sehingga dapat memberi kemudahan dalam proses pengumpulan data di lapangan.

  3.3 Unit Analisis dan Informan

3.3.1 Unit Analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek

  penelitian (Arikunto, 2002 : 121). Yang menjadi unit analisis atau objek kajian dalam penelitian ini adalah para stakeholder yaitu orang-orang yang memanfaatkan ruas jalan desa Pertambatan yaitu para pengusaha, tokoh masyarakat, pemerintah, masyarakat dan masyarakat yang berasal dari luar desa Pertambatan yang dianggap dapat menjawab permasalahan dari penelitian ini.

  Informan terdiri dari informan kunci dan informan biasa.

3.3.2 Informan

  Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang ikut memanfaatkan prasarana jalan umum yang ada di desa Pertambatan yaitu Masyarakat desa Pertambatan, Masyarakat kecamatan Silou Kahean, Pengusaha (Perusahaan Perkebunan), dan Pemerintah. Penentuan informan dilakukan dengan memperhatikan potensi informan untuk dapat menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini. Informan dibagi atas informan kunci dan informan biasa.

  3.3.2.1 Informan Kunci

  Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah:

  1. Pemerintah 2 orang, 1 orang dari pemerintah desa, 1 orang dari pemerintah kecamatan. 2. Pengusaha 3 orang yaitu 1 orang dari PT. PN III (Persero) Kebun Silau Dunia, dan 1 orang dari PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar

  3. Tokoh masyarakat 2 orang

  3.3.2.2 Informan Biasa

  Adapun yang menjadi informan biasa dalam penelitian ini adalah:

  1. Masyarakat biasa 3 orang yang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan

  2. Masyarakat dari kecamatan Silau Kahean 1 orang

3.4 Teknik Pengumpulan Data

  Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan dibagi menjadi dua cara yaitu:

3.4.1 Data Primer

  Dalam mendapatkan data primer dalam menjawab masalah dalam penelitian ini dilakukan dengan mengadakan studi lapangan yaitu melalui :

  3.4.1.1 Wawancara mendalam dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam (in-depth

  interview) dengan cara mengumpulkan data atau informasi secara langsung bertatap muka dengan informan, dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti. Wawancara dilakukan secara berulang-ulang untuk mendapatkan informasi yang akurat dengan menggunakan bantuan alat perekam dan pedoman wawancara.

  3.4.1.2 Observasi

  Observasi atau pengamatan yaitu pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian. Dalam penelitian ini data penelitian diperoleh dengan pengamatan langsung terhadap berbagai gejala yang tampak pada penelitian.

3.4.2 Data Sekunder

  Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder (Bungin, 2001 : 128). Data ini diperoleh dari buku-buku referensi jurnal, internet, dokumen, dan artikel yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti.

3.5 Interpretasi Data

  √ √

  √

  10 Sidang Meja Hijau

  √ √

  9 Penulisan Laporan Akhir

  √ √ √

  8 Bimbingan

  √

  7 Pengumpulan dan Analisis Data

  √

  6 Penelitian ke Lapangan

  √

  5 Revisi Proposal Penelitian

  √

  4 Seminar Proposal Penelitian

  Interpretasi data merupakan upaya untuk memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang dilakukan. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi akurat yang diperoleh dari lapangan.

  Data-data yang diperoleh dari lapangan diatur, diurutkan, dikelompokkan kedalam kategori, pola, atau uraian tertentu. Disini peneliti mengelompokkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan sebagainya yang dipelajari dan ditelaah secara seksama agar diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik (Moleong, J Lexy 2006:151). Data-data yang diperoleh dari lapangan diatur, diurutkan, dikelompokkan kedalam kategori, pola, atau uraian tertentu.

  5

  3. 6 Jadwal Kegiatan

  No Kegiatan Bulan Ke

  1

  2

  3

  4

  6

  √

  7

  8

  9

  1. Pra Observasi

  √

  2 ACC Judul

  3 Penyusunan Proposal Penelitian

3.8 Keterbatasan Penelitian

  Peneliti dalam melakuakan penelitian ini mengalami banyak kendala yang menjadi keterbatasan penelitian. Adapun yang menjadi keterbatasan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Keterbatasan dalam kemampuan dalam pengalaman yang dimiliki oleh peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian ilmiah.

  2. Keterbatasan dalam mendapatkan teori dalam pemahaman analisis data.

  Pemilihan teori yang cocok dan analisis yang agak rumit sehingga membutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam menyelesaikannya.

  3. Keterbatasan untuk memperoleh data tentang kewilayahn berupa luas penduduk dan sejarah desa yang tidak ada dalam catatan administrasi desa Pertambatan sehingga data tentang sejarah dan luas wilayah tersebut tidak dapat dicantumkan oleh peneliti dalam hasil penelitian ini.

  4. Kesulitan dalam menentukan waktu untuk dapat melakukan wawancara terhadap informan mengingat bahwa variasi informan berasal dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, masyarakat dan pengusaha.

BAB IV INTERPRETASI DATA

4.1 Setting Daerah Lokasi

  Desa Pertambatan adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Dolok Masihul kabupaten Serdang Begadai. desa Pertambatan ini merupakan desa yang dikelilingi oleh daerah perkebunan kelapa sawit dan karet maka tidak mengherankan, begitu memasuki desa ini yang pertama sekali yang dapat dilihat adalah hamparan kebun kelapa sawit dan karet. Perkebunan tersebut sangat dekat dengan perumahan penduduk bahkan pembatas yang memisahkan antar dusun di desa ini adalah perkebunan kelapa sawit dan karet. Desa Pertambatan ini sebelah Timur berbatasan dengan PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar, sebelah barat berbatasan dengan Sungai Belutu, sebelah utara berbatasan dengan PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar dan sebelah selatan Berbatasan dengan Kecamatan Silou Kahean kabupaten Simalungun

  Desa Pertambatan memiliki enam dusun, yaitu: Pertambatan, Bandar Pamah, Silau Bandar, Batu Hobot, Bandar Bayu, dan Huta Melayu. Setiap dusun dikepalai oleh satu orang kepala dusun.Jarak antar dusun cukup jauh. Jarak antara dusun Pertambatan dengan dusun Silau Bandar cukup jauh bahkan letak dusun Silau Bandar dan dusun Batu Hobot lebih berdekatan dengan daerah kecamatan Silou Kahean, sementara jarak antara dusun Pertambatan dengan Bandar Pamah sangat dekat. Antar dusun di desa Pertambatan ini dipisahkan oleh daerah perkebunan dan posisinya berlapis dengan pembatas kebun kelapa sawit dan karet.

  Bagi penduduk yang memiliki lahan pertanian sendiri di desa ini lahan pertanian tersebut berada di samping ataupun dibelakang rumah yang ditanami dengan tanaman yang bisa dimanfaatkan seperti sayuran ataupun bahan bumbu- bumbu dapur seperti lengkuas, serei, kunyit maupun jahe serta ubi, jagung, kacang-kacangan ataupun sayuran untuk konsumsi sendiriz. Namun lahan pertanian ini tidak luas.

  Adapun dua perkebunan besar yang mengelilingi desa Pertambatan ini adalah PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar dan PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Kebun Silau Dunia. Selain itu di desa ini juga terdapat sebuah tambang galian pasir milik persero dan dikelola oleh pemerintah desa Pertambatan.

  Penduduk desa Pertambatan adalah 2.738 orang. Sebagian besar pendudukn ya bermata pencaharian sebagi buruh tani maupun buruh perkebunan.

  Kondisi perumahan penduduk cukup beragam, ada perumahan yang telah permanen namun masih ada perumahan penduduk yg terbuat dari papan kayu ataupun bambu.

  Daerah desa Pertambatan yang dikelilingi oleh perkebunan menyebabkan penduduk setempat hanya memiliki sedikit lahan untuk pertanian. Oleh karena itu sebagian besar penduduk desa Pertambatan bermata pencaharian sebagai buruh dan untuk sampingan warga berinisiatif untuk melakukan usaha ternak lembu dengan memanfaatkan rumput-rumput yang tumbuh disekitar area perkebunan yang mengelilingi desa mereka. Seperti yang dikatakan informan U (Lk, 40 tahun), yaitu:

  “kami buat ternak lembu..sampingan lah dek..hampir semua orang disini ada ternak lembunya” Perangkat pemerintah desa Pertambatan juga mengakui bahwa sebagian besar penduduknya memang bekerja sebagai buruh dan untuk sampingan dilakukan usaha ternak lembu. Hal ini seperti yang dikatakan informan M.N (Lk, 40 tahun), yaitu:

  “sekitar 70 persen warga kami bekerja sebagai buruh kebun dan sebagianya ada juga yang petani..mereka biasanya buat ternak lembu untuk sampingan..lumayan..”

  Sementara itu bagi penduduk yang ingin memiliki lahan pertanian mereka harus membeli lahan yang jauh dari desa mereka. Hal ini seperti yang dikatakan informan S (Lk, 50 tahun), yaitu:

  “desa pertambatan ini sebenarnya ga luas dek..lihat saja itu..di belakang rumah aja udah kebun itu..makanya lahan orang sini kan dikit cuma cukup untuk rumah aja..kalaupun mau bertani harus beli lahan di luar..itu pun jauh..”

  Hal yang sama juga dikatakan informan U (Lk, 40 tahun) sebagai berikut:

  “penduduk desa kami kalau mau membeli lahan pertanian sendiri ya harus jauhlah dari desa ini…seperti saya lahan pertanian saya ada di dolok masihul (dolok masihul: nama salah satu desa di kecamatan dolok masihul yang jaraknya jauh dari desa Pertambatan) sana, karena di desa kami kan gada lahan untuk pertanian”.

  Sarana beribadah bagi penduduk cukup lengkap dan letaknya tersebar di beberapa dusun. Bagi penduduk yang beragama muslim di desa Pertambatan ini terdapat empat mesjid dan dua mushola yang tersebar di beberapa dusun yaitu dusun Bandar Pamah, dusun Pertambatan, dusun Huta Melayu dan dusun Bandar Bayu. Bangunan mesjid-mesjid di desa ini sudah permanen. Selain mesjid juga terdapat mushola yaitu di dusun Bandar Pamah dan dusun Pertambatan. Letak tempat beribadah ini tidak jauh dari perumahan penduduk.

  Bagi penduduk yang beragama kristen juga terdapat sarana beribadah yaitu gereja yang terletak di semua dusun dan khusus di dusun Batu Hobot dan dusun Silau Bandar terdapat dua gereja di masing-masing dusun ini karena sebagian besar penduduknya beragama kristen. Sama halnya dengan mesjid letak gereja juga dibangun tidak jauh dari perumahan penduduk dan telah memiliki bangunan permanen.

  Di desa Pertambatan ini terdapat sarana pendidikan yang cukup lengkap mulai dari pendidikan yang sejajar TK yaitu adanya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang terletak di dusun Bandar Pamah tepatnya di kantor kepala desa, terdapat 2 sekolah dasar yaitu SD (Sekolah Dasar) Negeri di dusun Batu Hobot dan MDA Alittihadiyah yang terletak di dusun Bandar Pamah, satu MAS Alittihadiyah yang terletak di dusun Bandar Pamah, satu MTS Alittihadiyah yang terletak di Bandar Pamah. Bangunan sekolah ini sudah permanen kecuali PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang masih diadakan di kantor kepala desa yang memiliki ruangan kosong dan dimanfaatkan untuk penyelengaraan pendidikan bagi anak dibawah umur 5 tahun tersebut.

  Sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat di desa ini diselengarakan dengan adanya sebuah Puskesmas yang terletak di dusun Pertambatan. Puskesmas ini adalah bangunan semi permanen dengan fasilitas kesehatan yang masih sederhana dan terletak tidak berjauhan dengan mesjid yang ada di dusun Pertambatan. Selain adanya Puskesmas tersebut di desa ini terdapat beberapa praktek bidan yang juga turut membantu dalam upaya fasilitasi kesehatan masyarakat setempat.

  Balai desa yang berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan desa terletak di dusun Bandar Pamah. Balai desa dijadikan sebagai pusat kegiatan administrasi desa dan juga sebagai tempat berkumpulnya lembaga desa seperti LKMD (Lembaga Ketahan masyarakat Desa), PKK, BPD (Badan Perwakilan Desa), dan lembaga desa lainnya. Wadah rapat maupun rembug desa seperti kegiatan Musrembang (Musyawarah Rencana Pembangunan). Balai desa Pertambatan ini merupakan bangunan baru yang diperbaiki atas gagasan kepala desa. Seperti pengakuan yang disampaikan dalam wawancara dengan informan M.N (Lk,40 tahun), yaitu:

  “ini ruangan ini seperti ini karena saya yang mengusulkan ini bu…kalau ga dulunya mana gini bu..”

  Hal tersebut juga dibenarkan disampaikan informan A.Z (Lk, 50 tahun), yaitu:

  “iya memang..sejak kades barulah itu di bangun jadi begitubangunannya.. kalau dulunya memang kantor kepala desanya ga bagus.”

  Selain sebagai pusat kegiatan administrasi pemerintahan desa, balai desa juga mempunyai lokasi khusus untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang setara dengan TK (Taman Kanak-kanak) yang terbentuk berdasarkan gagasan isteri Bupati Serdang Bedagai. Guru yang mengajara di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ini adalah para ibu-ibu dari kesatuan PKK desa Pertambatan sementara muridnya sendiri adalah anak-anak dari desa Pertambatan itu sendiri.

  Di daerah pembatas antara dusun Bandar Pamah dan dusun Pertambatan terdapat sebuah lapangan bola yang cukup luas. Lapangan ini digunakan para pemuda desa untuk bermain bola pada sore hari. Berdasarkan pengamatan peneliti pada sore hari jika ada pertandingan bola antar pemuda desa maka disekeliling lapangan tersebut terlihat beberapa penduduk yang berjualan makanan maupun minuman.

  4.2 Gambaran Sosial Masyarakat dan Dinamika Sosial

  Penduduk desa Pertambatan terdiri dari suku yang heterogen. Namun hal ini juga tidak pernah membuat munculnya konflik di masyarakat. Penduduk desa Pertambatan ini terdiri dari suku Melayu, batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Banten, Jawa, Minang, Tionghoa dan Nias. Penduduk desa Pertambatan yang bersuku Jawa menjadi mayoritas di desa Pertambatan ini khususnya di dusun Pertambatan dan dusun Bandar Pamah. Sementara itu penduduk yang bersuku batak Toba mayoritas berada di dusun Batu Hobot dan Pertambatan.

  Hal ini sperti yang dikatan informan M.N (Lk, 40 tahun), yaitu:

  “penduduk kalau dari suku, di dusun Bandar Pamah ini dan dusun Pertambatan itu kebanyakan suku jawa dan kalau kita batak itu kebanyaknnya di dusun batu hobot, sama silau bandar.”

  Keberagaman suku di desa ini terjadi karena sebagian dari penduduk desa Pertambatan adalah pendatang dari berbagai daerah. Desa Pertambatan yang dikelilingi oleh perusahaan perkebunan menyebabkan banyak warga berasal dari penduduk luar yang pada awalnya ingin mencari pekerjaan. Walaupun sebagian penduduk berasal dari daerah ataupun suku yang berbeda namun hal tersebut tidak pernah menjadi pemicu konflik suku antar warga dalam pergaulan di masyarakat. Gambaran interaksi tersebut seperti yang disampaikan oleh informan U (Lk,40 tahun), yaitu:

  “ah ga pernah ada kejadian itu..walaupun disini macam- macam sukunya kayak saya ini Jawa sementara tetangga sekitar saya banyak batak tapi ga pernahlah..setiap suku kan ada kebiasaannya yang penting bagi kami saling menghargai aja namanya kita bergaul ya harus bias saling menerima masing-masing”.

  Hal yang sama dikatakan informan M.N (Lk, 40 tahun), yaitu:

  “kalau konflik karena suku ga pernah ada..seingat saya ga pernah ada bu..aman saja kalau masalah itu.”

  Informan A.S (Lk, 51 tahun), dari perkebunan PT. PN III Silau Dunia mengatakan:

  “kalau masalah itu sebenarnya kami tidak tau pasti ya dek..bagaimana..tapi seingat saya selama saya kerja di kasdun (kasdun: pt. pn 3 kebun silau dunia) ini karena kan dekat ajanya ini sama pertambatan itu..tapi ga pernah ada masalah mereka karena suku..dan kami juga sama kami ga pernah mau ada bikin-bikin masalah sama mereka.”

  Penduduk desa Pertambatan terdiri dari agama Islam, Protestan, Katolik dan Budha. Mayoritas masyarakat desa Pertambatan adalah beragama Islam yang tersebar di beberapa dusun.

  Desa Pertambatan ini memang memiliki masyarakat yang heterogen baik dari segi agama. Namun hal ini tidak menjadi alasan munculnya konflik agama dalam masyarakat. Seperti yang dituturkan oleh informan S (Lk,50 tahun), yaitu:

  

“perbedaan agama tidak pernah jadi masalah

disini…kalau misalnya agama jadi memicu konflik ga pernah itu….kalau ada pesta ataupun acara disini ya sama-sama bantu…saling menghargai…”.

  Hal serupa juga dikatakan informan S.H (Lk, 50 tahun), yaitu:

  “ooo…tidak pernah ada masalah itu..saya sudah lama tinggal disini tetapi tidak pernah ada masalah karena perbedaan agama atau apa begitu..saling menghargai ya walaupun beragama dan suku yang berbeda.” Hal tersebut juga dibenarkan informan A (pr, 70 tahun), yaitu:

  “tidak ada masalah walaupun beda agama,.saya saja sama tetangga saya itu kan..yang itu adek liat..itu batak..tapi gak pernah kami ada masalah karena agama..”

  Informan perusahaan yang ada di desa ini yaitu PT. PN III (Persero) Kebun Silau Dunia) juga membenarkan hal yang sama, seperti yang dikatakan informan A.S (Lk, 51 tahun), yaitu:

  “saya tidak pernah mendengar ada masalah di desa itu lagi pula kalau kami pihak kasdun (kasdun: pt. pn 3

kebun silau dunia) selalu berusaha membuat

kesamaan..apalagi kalau kasih bantuan misanlya kalau yang Kristen butuh bantuan untuk bangun gereja kami bantu yang Islam juga begitu..jadi gada masalah.”

  

4.3 Fungsi Ruas Jalan desa Pertambatan bagi Masyarakat, Perusahaan dan

Masyarakat Silou Kahean

  Di desa Pertambatan ini terdapat sebuah jalan umum yang terletak memanjang di tengah-tengah pemukiman penduduk. Pada awalnya jalan tersebut dibangun sebagai sarana transportasi untuk upaya lalu lintas dan distribusi antar masyarakat dan antar daerah yaitu dengan kecamatan Silou Kahean kabupaten Simalungun yang bersebelahan dengan desa tersebut dan juga dimanfaatkan untuk prasaran pengakutan hasil panen bagi perkebunan yang berdiri di desa tersebut.

  Namun seiring dengan berjalanya waktu penggunaan terhadap jalan tersebut semakin banyak bahkan tidak sesuai lagi dengan muatan maksimal jalan. Hal tersebut mengakibatkan jalan menjadi rusak ditambah pula upaya pemeliharaan rutin yang tidak pernah dilakukan mengakibatkan kerusakan jalan semakin parah.

  Ruas jalan umum yang rusak di desa Pertambatan ini merupakan prasarana umum yang memiliki fungsi yang sangat besar bagi penggunanya karena jalan ini merupakan satu-satunya jalan lintas untuk keluar masuk desa Pertambatan dan kecamatn Silou Kahean serta juga dimanfaatkan perusahaan yang berada di desa tersebut untuk distribusi hasil panen mereka.

  Bagi tokoh masyarakat desa Pertambatan fungi ruas jalan yang ada desa Pertambatan tersebut identik dengan kegunaanya sebagai prasarana transportasi dan jalur lintas bagi masyarakat desa Pertambatan, masyarakat Silou Kahean dan juga perusahaan yang ada di desa tersebut.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang dikatakan informan A.Z (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

  “jalan di desa kami ini jalan lintas satu-satunya untuk desa Pertambatan dan Silou Kahean itu bahkan perusahaan juga memakai jalan ini untuk mengangkut hasil panen mereka…silou kahean itu kan rata-rata sawit semua itu..mau jual hasil pertanian dan perkebunan mereka ya lewat jalan ini..PN 3..socfin juga makai…jadi memang sebenarnya penting sekali jalan ini untuk kami..”

  Hal yang sama juga diutarakan informan S (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

  “kalau masalah fungsi jelas utamanya itu untuk transpotasi ya..mau dari silou kahean..pertambatan…socfindo (pt.socfin indonesia)…pt. pn 3 semua pake jalan ini karena memang cuma ini jalur keluar masuk daerah sini..silou kahean itu kalau mau keluar kan pasti dari sini.”

  Pemerintah memandang fungsi ruas jalan umum di desa Pertambatan identik dengan penggunaan jalan tersebut selain sebagai prasarana transportasi bagi masyarakat juga funsinya sebagai penghubung antar daerah. Dalam hal ini terkait dengan wilayah kecamatan Silou Kahean yang berbatasan dengan desa Pertambatan. Secara otomatis melalui ruas jalan umum desa Pertambatan.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan M.N (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  ”kalau kami sebenarnya sedikitnya memakai jalan ini bu...kalau dalam kegiatan distribusi ya..karena kami kan ada sawit pun kami jualnya ke silou kaheannya..trus mereka bawa keluar ya lewat jalan ini..silou kahean sana bisa orang mau ke situ ya lewat jalan ini..jadi kalau

secara fungsi utama itu sebenarnya

penghubung..bagaimana orang dari luar bisa kesana ya lewat desa kami..mereka pun kalau mau keluar daerah mereka ya lewat sini..jadi pemakaiannya tu sama-sama.”

  Hal yang sama juga diutarakan oleh informan S.A (Lk, 38 tahun) yang mengatakan:

  ”desa Pertambatan itu kan perbatasan dengan silou kahean..jadi sebenarnya kalau fungsi utamanya itu untuk penghubung dua daerah..saya yakin kalau pemakainya itu lebuh banyaknya dari siloh kahean..penyebab kerusakan itu uga dari meraka..distribusi barang maupun jasa sebenarnya lebih banyak dari situ,”

  Pengusaha yaitu PT. PN III Kebun Silau Dunia berpendapat bahwa fungsi rusa jalan umum di desa Pertambatan tersebut diidentikkan dengan penggunaanya sebagai prasarana distribusi untuk hasil usaha mereka dan jalan tersebut merupakan satu-satunya jalur lintas yang bisa dimanfaatkan untuk distribusi hasil usaha tersebut. Dalam kegiatan usaha mereka memasukkan fungsi jalan tersebut dalam kegiatan produksi.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang dikatakan oleh informan A.S (Lk, 51 tahun) yang mengatakan:

  ”jelas ada ya dek..jalan itu kan jalan utama untuk kami untuk kegiatan pengakutan panen jadi..penting sekalilah

  buat kami..itu satu-satunya jalan mau keluar dari sini..masih termasuk dalam kegiatan produksi itu..”

  Namun tidak semua perusahaan mengatakan hal yang sama. PT. Socfin Indonesia memandang bahwa jalan tersebut tidak memiliki fungsi dalam usaha mereka karena mereka punya jalan sendiri. Maka mereka tidak merasa memiliki tanggung jawab terhadap jalan tersebut karena mereka juga beranggapan bahwa biaya yang seharusnya mereka beri untuk jalan tersebut telah diberi melalui pajak yang mereka berikan ke kabupaten Serdang Bedagai.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan informan H.M.S (Lk,56 tahun) yang mengatakan:

  “kami punya jalan sendiri..jalan itu bukan urusan kami..lagipula kami sudah bayar pajak untuk memakai jalan itu..tanya sajalah ke pusatnya...jangan-jangan banyak gayus-gayus disana.”

  Sementara itu masyarakat memandang fungsi jalan umum di desa mereka tersebut sebagai prasarana transportasi untuk kegiatan angkutan barang dan jasa namun masyarakat Pertambatan juga memandang bahwa jalan desa mereka itu sebenarnya lebih memiliki banyak fungsi terhadap masyarakat Silou Kahean yang berbatasan dengan desa mereka dari pada desa mereka sendiri misalnya saja untuk hasil pertanian, karena masyarakat desa Pertambatan sebagian besar adalah buruh maka jalan itu tidak memiliki fungsi yang cukup besar terhadap distribusi hasil pertanian bagi masyarakat mereka. Sedangkan menurut mereka masyarakat Silou Kahean sebagian besar adalah petani dan memiliki lahan kelapa sawit yang luas.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan informan S.H (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

  ”kalau fungsi secara garis besarnya kami makai jalan ini untuk lalu lintas..ya adek tau sendirilah..kalau mau

  keluar masuk dari sini pasti kami mamakai jalan ini..tapi ya dek...kalau besarnya fungsi jalan kami ini lebih berfungsi sama orang silou kahean itu..disana kan rata- rata orang bertani...kelapa sawit itu banyak sekali itu keluarannya dari situ..kalau kami kan jarang ada yang bertani disini..adapun satu-satu orang yang punya sawit dijual sama merekanya..”

  Hal yang sama diperkuat oleh informan U (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  ”namanya pun jalan ya..untuk transpotasi kamilah..tapi sebenarnya yang banyak makai ini itu silou kahean sana...mereka bawa hasil sawit mereka dari sini..berapa ton itu adek pikir setiap hari lewat truk-truk besar itu dari sini..makanya alan kami ini hancur begini..adek liat ajalah sendiri kan..bus untuk sewa itu kan banyakan penumpangnya dari sana..kalau dari sini ya naik kereta yang banyak.”

  Hal yang sama juga diperkuat informan A (Pr, 70 tahun) yang mengatakan:

  ”kalau untuk keluar masuk desa sini ya pasti pakai jalan ini..orang silou kahean itu juga begitu..malah mereka itu yang lebih banyak makai..”

4.4 Kondisi Kerusakan Jalan desa Pertambatan

  Kondisi kerusakan jalan di desa Pertambatan telah merusak pondasi jalan karena upaya pemeliharaan rutin yang tidak pernah diperhatikan. Hal ini mengakibatkan jalan menjadi rusak parah. Berdasarkan pengamatan peneliti di sepanjang jalan terlihat lubang-lubang besar dan tergenang air jika turun hujan, seperti kumpulan danau-danau kecil ditengah jalan. Kondisi kerusakan jalan ini diakui menghambat terhadap kegiatan masyarakat dan penggunannya. Seperti pengakuan yang disampaikan informan A (Pr,70 tahun), yaitu:

  “kalau musim kemarau jadi jorok sekali, debu bertebaran apalagi kalau dilalui kendaran..sedangkan kalau jalan rusak ini membuat musim hujan jadi becek dan licin tu jalanan..’’ Hal yang sama juga diakui oleh informan U (Lk, 40 tahun) sebagai berikut:

  “jalan rusak ini membuat jarak tempuh keluar dari desa kami itu bias dua kali lipat lamannya, yang tadinya bisa di lalui 20 menit jadi 40 menit, itulah karena jalan yang rusak ini, apalagi kalau baru dating hujan, becek sekali”.

  Hal ini juga diperkuat informan S (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

  “kerusakan jalan memang sangat menganggu kami, jelas

sangat mengganggu dalam kegiatan transportasi,

memperlambat kendaraan melewati jalan ini, kalau hujan deras jalanan jadi becek, di jalan itu air semua tapi kalau sudah musim kemarau debu banyak”.

  Hal yang serupa juga dikatakan informan A.S (Lk,51 tahun), yaitu:

  “menggangu terhadap jarak tempuh kendaraan truk untuk mengangkat sawit..yang tadinya bias setengah jam jadi satu jam..menambah biaya produksi.”

  Sementara itu informan dari pemerintah M.N (Lk, 40 tahun) mengatakan:

  “kerusakan jalan di desa ini jalan sangat menghambat dalam kegiatan distribusi barang dan jasa baik dari daerah kami maupun dari daerah silou kahean, makanya seharusnya jalan ini menjadi perhatian banyak pihak”.

4.5 Profil Informan

4.5.1 Informan Kunci

4.5.1.1 Pemerintah

  1. M.N (Lk, 40 tahun) M.N adalah seorang laki-laki menjabat sebagai kepala desa Pertambatan. informan mengepalai enam dusun di desa Pertambatan. Berusia 40 tahun, beragama Islam, bersuku Banten dan tinggal di dusun 2 Bandar Pamah.

  Pendidikan terakhir dari M.N adalah SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). M.N adalah asli kelahiran desa Pertambatan. Informan sudah menikah dan memiliki 2 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Selain itu informan juga memiliki seorang anak angkat.

  M.N menjabat sebagai Kepala Desa di desa Pertambatan sejak tahun 2008. Sejak bapak M.Nmenjabat sebagai kepala desa di desa Pertambatan tersebut banyak usaha demi perubahan desa tersebut yang telah dilakukan oleh informan, diantaranya melakukan perbaikan terhadap kantor kepala desa Pertambatan yang dulunya menurut M.N tidak layak disebut sebagai kantor kepala desa, dibentuknya kembali keanggotaan baru dari institusi desa seperti LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa), BPD (Badan Perwakilan Desa) dan Pokja (Kelompok Pekerja), berdirinya PAUD (Pendidikan Anka Usia Dini) yang ditempatkan di kantor kepala desa serta terlaksananya upaya pemeliharaan jalan di dusun 2 Bandar Pamah sepanjang 300 meter.

  2. S.A (Lk, 38 tahun) S.A adalah seorang laki-laki dan bekerja sebagai sekretaris camat kecamatan Dolok Masihul kabupaten Serdang Badagai. S.A menamatkan pendidikan terakhir pada jenjang strata satu sebagai sarjana hukum. S.A beragama Islam, bersuku Jawa. Beliau berusia 38 tahun. Informan adalah asli kelahiran Dolok Masihul dan menetap disana sampai sekarang. Informan menjabat sebagai sekretaris camat kurang lebih 3 tahun. Informan sudah menikah dan memiliki 1 orang anak.

4.5.1.3 Pengusaha

  1. A. S ( Lk, 51 tahun) A.S adalah laki-laki berusia 51 tahun, bersuku jawa, dan beragama Islam.

  A.S sudah menikah dan memiliki 3 orang anak. Informan tinggal di Emplasmen

  PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Kebun Silau Dunia di Silau Dunia. A.S telah bekerja selama 11 tahun di PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Kebun Silau Dunia sebagai asisten Personalia.

  A.S adalah seorang yang memiliki kepribadian terbuka dan rendah diri terlihat dari sikapnya yang sangat respek terhadap kehadiran peneliti untuk mencari data di perusahaan tersebut.

  2. H.M.S (Lk, 56 tahun) H.M.S adalah seorang laki-laki berusia 56 tahun, bersuku jawa, beragama islam dan tinggal di desa Martebing.pendidikan terakhir adalah sarjana. Informan sudah menikah dan memiliki 3 orang anak. Informan bekerja sebagai kepala pimpinan di perusahaan PT. Socfin Indonesia. Informan telah kurang lebih 10 tahun bekerja di perusahaan tersebut.

4.5.1.4 Tokoh Masyarakat

  1. A.Z (Lk, 50 tahun) A.Z adalah seorang laki-laki berusia 50 tahun, seorang muslim, bersuku banten dan tinggal di dusun 2 Bandar Pamah. Informan mememiliki tiga orang anak, dua diantaranya perempuan dan satu laki-laki. A.Z juga memiliki seorang anak asuh yang disekolahkan dan tinggal di rumahnya. A.Z asli kelahiran desa Pertambatan dimana orang tuanya dulunya memang adalah pendatang yang pertama sekali menempati desa Pertambatan ini. Informan adalah ketua LKMD (Lembaga Ketahanan Masayarakat Desa) Pertambatan, selain sebagai ketua LKMD A.Z adalah seorang petani yang memiliki sedikit lahan perkebunan kelapa sawit yang lokasinya tidak jauh dari desa. A.Z ini adalah saudara kandung dari kepala desa Pertambatan.

  Menurut penuturan A.Z pengakatannya sebagai kretua LKMD (Lembaga Ketahan Masyarakat Desa) pada periode baru ini adalah hasil pemilihan dari masyarakat dan pihak pemerintah desa. Sebelumnya AZ juga sempat berhenti dalam institusi desa karena dia menilai sifat masyarakat desa ini yang sulit untuk diarahkan. Namun pada tahun 2008 bapak AZ kembali menjabat dalam institusi desa, hal ini tentunya disebabkan karena banyak pihak yang menilai bahwa bapak AZ memiliki kompetensi untuk posisi tersebut.

  A.Z adalah salah satu dari pelopor terlaksananya perbaikan di beberapa jalan-jalan desa di desa Pertambatan ini. Informan pernah berkecimpung di dunia politik sebagai kader partai Golkar sebelum memfokuskan dirinya untuk mengabdi pada bidang sosial kemasyarakatan.

  2. S (Lk, 50 tahun) S adalah seorang laki-laki. Informan adalah salah seorang tokoh masyarakat di desa Pertambatan dengan ide dan pemikirannya yang selalu dipertimbangkan dalam upaya peningkatan kepentingan desa. Informan tinggal di dusun 1 Pertambatan dan asli kelahiran desa Pertambatan. Informan adalah bapak dari dua orang anak dimana kedua anaknya adalah perempuan. Informan berusia 50 tahun, bersuku Jawa dan mengecap pendidikan terakhir pada tingkst SLTP (Sekolah Menengah Tingkat Pertama).

4.5.2 Informan Biasa

4.5.2.1 Masyarakat Desa Pertambatan

  1. U (Lk, 40 tahun) U adalah seorang laki-laki salah seorang penduduk desa Pertambatan.

  Informan berusia 40 tahun, bersuku Jawa, bekerja sebagai petani, dan beragama islam. Pendidikan terakhir yang dijalani U sampai pada tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas).

  Walaupun U asli kelahiran desa Pertambatan tetapi waktu mudanya U sering merantau dan pindah-pindah tempat. Walaupun pada akhirnya memang U memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Informan menuturkan bagaimanapun tanah kelahiran sendiri itu lebih baik dari pada dirantau orang.

  Tempat terakhir yang didatangi oleh U adalah daerah Jambi. Informan akhirnya memutuskan kembali ke desanya karena di Jambi informan sempat terserang penyakit gatal akibat alergi penggunaan air. U beserta anak dan istrinya sudah 12 tahun kembali ke desanya dan memutuskan untuk menetap di sana sampai sekarang. U memiliki dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan.

  U selain sebagai petani juga memiliki usaha warung bakso di rumahnya. Warung tersebut dikelola oleh istri dan ibu dari bapak U.

  2. A (Pr, 70 tahun) A adalah seorang perempuan yang telah berumur 70 tahun namun walaupun demikian informan masih terlihat sehat bugar dan tampak jauh lebih muda dari pada usianya. Informan adalah seorang muslim, bersuku jawa dan tinggal di dusun Pertambatan. Informan memiliki 3 orang anak yang ketiganya adalah laki-laki. AS sekarang tinggal bersama anaknya yang bungsu yang juga telah berkeluarga. AS asli kelahiran desa Pertambatan. Orang tuanya adalah pemuka desa Pertambatan.

  A adalah istri dari mantan sekretaris desa Pertambatan pada tahun 70an. Beliau menjadi salah satu tokoh yang dituakan di desa ini. Walaupun usianya yang telah tua AS mengaku selalu berusaha mengeikuti perkembangan yang ada di daerahnya.

  3. S.H (Lk, 50 tahun) S.H adalah seorang laki-laki beragama kristen, bersuku Batak Toba, berusia 50 tahun, dan tinggal di dusun Pertambatan. Informan memiliki dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Anak dari informan S.H yang sulung menamatkan kuliah di keperawatan di Pakam sedangkan anak bungsunya masih duduk di bangku SMA. Istri dari S.H adalah seorang Pegawai Negeri mengajar sebagai guru SD (Sekolah Dasar) sementara S.H sendiri selain sebagai sekretaris BPD (Badan Perwakilan Desa) juga bekerja sebagai petani, mereka memiliki sedikit lahan di belakang rumah mereka. Keluarga S.H pada awalnya adalah pendatang di desa ini. Kelahiran S.H adalah di daerah Pakam namun karena ikut istri yang ditugaskan di daerah desa Pertambatan tersebut maka informan pun ikut istri untuk pindah.

  Pendidikan terakhir yang diterima oleh S.H adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) tetapi walaupun demikian SH juga adalah tokoh yang disegani dan memiliki pemikiran dan ide-ide kreatif untuk kemajuan desa ini. Dikalangan masyarakat desa Pertambatan yang bersuku batak toba informan adalah salah satu penetua agama dikalangan agama kristen. Informan ramah dan terbuka terhadap perubahan yang positif.

4.5.2.2 Masyarakat Kecamatan Silou Kahean

  J.S (Lk, 55 tahun) J.S adalah seorang laki-laki, beragama kristen, berusia 55 tahun, bersuku simalungun dan tinggal di desa Nagori Dolok tepatnya di sebelah kantor camat kecamatan Silou Kahean. J.S menjabat sebagi camat di kecamatan Silou Kahean. J.S asli kelahiran Pematang Siantar. Informan sudah menikah dan memiliki 4 orang anak. Informan menjabat sebagai camat di kecamatan Silau Kahean selama 6 tahun.

  4.6 Gambaran Peluang Modal Sosial Masyarakat

  Modal sosial didefenisikan institusi sosial yang melibatkan jaringan, norma kepercayaan sosial, yang mendorong sebuah kolaborasi sosial untuk kepentingan bersama. Sedangkan Pierre Bourdie ( dalam Hasbullah 2006: 11) menegaskan modal sosial sebagai suatu yang berhubungan satu dengan yang lain, baik ekonomi, budaya, maupun bentuk-bentuk social capital ( modal sosial) berupa institusi lokal maupun kekayaaan sumber daya alam lainnya.

  Bank Dunia (1999) mendefinisikan Modal Sosial sebagai sesuatu yang merujuk ke dimensi institusional, hubungan- hubungan yang tercipta, dan norma norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat. Cohen dan Prusak (2001) memberikan pengertian bahwa Modal Sosial sebagai stok dan hubungan yang aktif antar masyarakat. Setiap pola hubungan yang terjadi diikat oleb kepercayaan (trust) kesaling pengertian (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama dapat dilakukan secara efisien dan efektif dikutip dari pot.com/2010/03/ definisi-modal-sosial.html) diakses tanggal 13 maret 2011 pukul 11.02 WIB.

  4.6.1 Gambaran Jaringan Sosial

  Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk formal maupun informal. Hubungan sosial adalah cerminan dari kerjasama dan koordinasi antara warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal ( Ibrahim, 2002:67). Maka jaringan sosial (social networks) meliputi; partisipasi

  

(participation), pertukaran timbal balik (reciprocity), solidaritas (solidarity),

  kerjasama (cooperation) dan keadilan (equity). Bentuk dari jaringan sosial dalam masyarakat desa Pertambatan ini dapat diuraikan dari beberapa komponen jaringan sosial, yaitu:

  4.6.1.1 Gambaran Partisipasi dalam Masyarakat

  Pengertian prinsip partisipasi dimana masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasan, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (PTO PNPM PPK, 2007). Sementara itu menurut Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa, partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat (ttp://learning-of.slametwi dodo.com/2008/02/01/partisipasi- pemberdayaan-dan-pembangunan/, diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 09.58).

  Partisipasi masyarakat menurut Hetifah Soemarto (2003) adalah proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung mempengaruhi kehiduapan mereka. Menurut Keith Davis, dalam (B. Suryobroto) partisipasi didefenisikan sebagai berikut: “Partisipation is defined as a mental and emotional involved at a

  

person in a group situasion which encourager then contribut to group goal and

share responsibility in them”. Dimana dalam pengertian ini partisipasi

  dimaksudkan sebagai keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya dikutip dari (ttp://earning- of.slametwidodo.com/2008/02/01/partisipasi-pemberdayaan-dan-pembangunan/), diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 09.58 WIB.

  Dalam interaksi sosial masyarakat hal ini tergambar dari kesediaan anggota masyarakat untuk ikut berpartisipasi meringankan beban sesama anggota masyarakat dalam upacara perkawinan. Jika ada warga yang berpesta dan memiliki niat untuk mengadakan acara hiburan namun biaya tidak mencukupi maka partisipasi masyarakat akan muncul melalui pengumpulan dana secara sukarela agar acara hiburan tetap dilaksanakan. Biasanya biaya untuk hiburan bisa diperoleh lebih dari setengah biaya yang dibutuhkan dan kekurangannya akan ditambahkan oleh orang yang berpesta.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan informan S.H (Lk, 50 tahun), sebagai berikut:

   “kalau partisipasi kami terhadap sesama ya kalau ada pestalah..kalau misalnya ada yang pesta..sudah seringlah ini terjadi..bisa dibilang memang udah kebiasaan begitu..kalau misalnya yang pesta mau ngundang kibot..rupanya dana

  kurang..ya pemuda-pemuda itu nanti..jalan itu mereka bawa buku kan..mereka kutiplah sumbangan..kayak gitu itu dari satu hari sebelum pesta misalnya udah taulah kan kurang dana..udah jalan itu mereka..begitu itu..”

  Hal yang sama dikuatkan oleh informan U (Lk, 40 tahun), yang mengatakan:

  

“kekompakan kami itu kalau ada yang butuh bantuan itu

memang disitulah jalannya kekeluargaan itu..apalagi kalau

ada pesta kawinan..wah rame memang..satu orang yang pesta

sudah seperti pestanya satu kampong apalagi kalau sama

orang batak itu dek..kompak kali mereka tu kalau dah ada

pesta..kami kalau mau ngundang kibotnya pesta ga susahnya

itu..sumbangan untuk undang kibot dikutip berapa secar

sukarela.”

  Gambaran ini juga diutarakan oleh tokoh masyarakat di desa Pertambatan ini yaitu informan S (Lk, 50 tahun) yaitu:

  

“kalau bentuk partisipasi warga dalam bentuk penggalangan

dana untuk acara hiburan dalam pesta seperti itu memang

sangat tinggi, kalau warga yang kurang mampu yang berpesta

untuk dana hiburan biasanya uangnya sebagian besar dari para

warga saja, yang berpesta hanya menambahi sedikit

kekurangannya.”

  Sementara itu pihak perkebunan PT. PN III Kebun Silau Dunia yaitu informan A.S (Lk, 51 tahun) mengatakan:

  “kalau masalah warga seperti pesta begitu kami kurang berperan karena mereka juga tidak pernah mengikut sertakan kebun tapi kalaupun diundang atau diminta ikut berpartisipasi kami pasti bantu”.

  Selain dalam wujud tersebut, bentuk partisipasi masyarakat juga tercermin dalam pembangunan rumah ibadah yaitu kesediaan masyarakat untuk terlibat dalam bentuk dana. Dimana dana tersebut dapat berbentuk dana wajib ataupun sumbangan suka rela. Hal ini adalah wujud rasa tanggung jawab masyarakat terhadap pembangunan rumah ibadah yang juga digunakan sendiri oleh mereka.

  Gambaran diatas seperti yang dikatakan informan S.H (Lk, 50 tahun) sebagai berikut:

  

“pembangunan gereja kami ini dulu, gereja sumber dananya

itu berasal dari kami sendiri, karena itu memang tanggung

jawab kami, kami membuat bentuk sumbangan wajib per

kepala keluarga dan sumbangan sukarela bagi yang ingin

menyumbang diluar sumbangan wajib yang ditentukan, kami

juga dulu menggalang dana dari hasil pelelangan makanan

dan barang yang dibuat langsung oleh anggota gereja

kemudian dilelang dalam acara amal yang kami buat, dan

kami juga dapat sumbangan dana dari luar gereja kami karena

kami buat proposal permohonnan dana untuk mereka, hasilnya

bisalah dibangun gereja kami itu”.

  Adanya wujud partisipasi masyarakat juga tergambar dari pernyataan informan S (Lk, 50 tahun) sebagai berikut:

  “kalau masalah pembangunan mesjid selama ini sebagian besar

dananya memang hasil partisipasi warga dalam sumbangan

wajib dan sumbangan sukarela, kami tidak memberatkan

dananya pada pemerintah desa”.

  Hal tersebut dibenarkan informan pemerintah desa Pertambatan M.N (Lk, 40 tahun) yaitu:

  

“pembangunan gereja atau mesjid memang masalah dananya

pemerintah tidak terlalu ikut campur menyumbang dana

kecuali saya secara pribadi yang juga bagian dari masyarakat,

sebagai bagian dari anggota mesjid saya berpartisipasi dana

sebagai anggota bukan atas nama pemerintah desa karena itu

adalah tanggung jawab saya sebagi anggota mesjid”.

  Bentuk partisipasi masyarakat bukan hanya dalam bentuk dana tetapi juga dalam bentuk pengawasan. Dalam masyarakat hal ini bentuk partisipasi masyarakat dalam pengawasan adalah terhadap dibangunnya galian pasir di desa mereka yang mengambil pasir dari sungai yang tepat berada di belakang pemukiman penduduk. Hal ini tergambar dari pernyataan informan U (Lk, 40 tahun) sebagai berikut:

  “galian pasir yang ada di sungai belutu itu (sungai belutu adalah sungai yang berda tepat dibelakang perumahan penduduk dan dimanfaatkan untuk galian pair) dimulai kalau tidak salah bulan 2 tahun 2010, kami sangat tidak setuju galia itu dibuat karena kalau pasir disungai it uterus di ambil pastinya akan berakibat sungai makin dalam dan bisa longsor itu akibatnya perumahan penduduk yang diatas kan bisa ikut longsor, makanya kami langsung bilang sama kepala desa biar dihentikan, dan bulan 3 kemarin itu dihentikan”.

  Hal yang sama juga dibenarkan oleh informan S (Lk, 50 tahun) sebagai berikut:

  “kalau masalah galian pasir itu memang banyak penduduk yang tidak setuju dibuat karena kalau pasirnya terus digali dari sungai itu sungainya maki dalam tanahnya bisa longsor padahal sungai itu tepat dibelakang rumah penduduk, makanya bulan 3 itu karena banyak warga yang protes galiannya dihentikan”.

  Hal ini juga dibenarkan informan dari pemerintah desa Pertambatan yaitu M.N (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  “galian pasir itu dibangun bulan 2 tahun 2010 dan mulai

bulan 3 kemaren memang dihentikan karena banyak

masyarakat yang protes yang mengatakan bisa merusak lingkungan, bisa longsor padahal galian itu bisa menambah pemasukan kas desa, tapi kalau menurut pandangan saya itu cuma kecemburuan social saja dari salah satu warga karena kalah dalam penentuan untuk pengelola galian pasir itu jadinya ada propokasi”.

  Sementara informan dari pemerintah kecamatan S. A (Lk, 38 tahun) mengatakan:

  “galian pasir di desa Pertambatan itu dikelola sejak bulan 2 tahun 2010 dan hasil pasirnya itu digunakan pembangunan bandara di kuala namu, tapi dari bulan 3 kemarin di hentikan karena saya dengar banyak warga yang protes kalau-kalau nantinya galian itu bisa membuat longsor, tapi kalau menurut saya wajar saja

  masyarakat berpandangan seperti itu karena itu berarti kan mereka peduli terhadap lingkungan mereka, itulah bentuk pengawasan yang dilakukan masyarakat bagi perkembangan desa”.

  Realitas adanya partisipasi masyarakat juga peneliti dapat melihat langsung dilapangan ketika ikut dalam acara pertangiangan (kebaktian doa bagi masyarakat yang beragama kristen) para mudi-mudi ikut berpartisipasi dalam acara tersebut dan ketika acara selesai para mudi-mudi tersebut juga membantu tuan rumah untuk menyediakan makanan ringan dalam acara tersebut. Mereka terlihat sudah biasa melakukan tanggung jawab tersebut dan sudah merasa hal tersebut sebagai tanggung jawab untuk melayani orang tua mereka sehingga tanpa dimintapun mereka sudah melakukannya (observasi, 27 juni 2010)..

  Conyers (1991) menyebutkan tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakata, tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal, alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut. Alasan ketiga yang mendorong adanya partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep man- cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia dikutip dari diakses tanggal 12 maret 2011 pukul 12.35 WIB.

  Gambaran tersebut diatas menunjukkan adanya partisipasi dalam masyarakat dalam bentuk partisipasi dana maupun pengawasan. Peluang bentuk partisipasi dalam masyarakat cukup tinggi.

  4.6.1.2 Gambaran Hubungan Timbal Balik (Resiprositas) antar Masyarakat, Pemerintah dan Pengusaha

  Modal sosial senantiasa diwarnai oleh kecenderungan saling tukar menukar kebaikan antar individu dalam kelompok atau antar kelompok itu sendiri.

  Pola pertukaran ini bukanlah suatu yang bersifat seperti dalam proses jual beli. Melainkan suatu kombinasi jangka pendek dan jangka panjang dalam nuansa

altruism (semangat untuk membantu dan mementingkan kepentingan orang lain).

  Seseorang atau banyak orang dari suatu kelompok memiliki semangat membantu yang lain tanpa mengharapkan imbalan seketika (Abimanyu, 2004:1). Hubungan resiprosikal menyebabkan modal sosial dapat tertambat kuat dan bertahan lama. Karena diantara orang-orang yang melakukan hubungan tersebut mendapat keuntungan timbal balik dan tidak ada salah satu pihak yang dirugikan. Disini hubungan telah memenuhi unsur keadilan diantara sesama individu.

  Dalam hubungan sosial masyarakat adanya prinsip resiprosikal (hubungan timbal balik) menjadi salah satu kekuatan yang dapat menyatukan masyarakat untuk meringankan beban orang lain tanpa mengharapkan imbalan nyata yang bersifat seketika dari apa yang telah mereka berikan. Hal ini masih tergambar melalui interaksi masyarakat jika ada anggota masyarakat yang meninggal dunia.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan A (Pr,70 tahun), yang mengatakan:

  “jika ada tetangga yang kemalangan atau meninggal dunia ibu pasti akan bantu tanpa pamrih , karena semua itu pasti berbalas dek, kita juga suatu saat membutuhkan bantuan orang lain”.

  Hal yang sama juga dibenarkan oleh informan S.H (Lk, 46 tahun) sebagai berikut:

  “kalau ada tetangga yang meninggal dunia saya merasa itu

sudah kewajiban saya membantu dan datang, tanpa

dimintapun kalau saya tahu saya pasti datang”.

  Hubungan timbal balik antar masyarakat dan pengusaha perkebunan ditunjukkan dari bentuk bantuan yang diberikan pengusaha untuk masyarakat.

  Seperti yang dilakukan perusahaan perkebunan PT.PN III Kebun Silau Dunia melalui program bina lingkungan. Gambaran seperti ini sesuai dengan yang diutarakan oleh informan A.S (Lk, 51 tahun), yang mengatakan:

  “kalau di perusahaan kami..ada yang namanya bina lingkungan dek..jadi kami membantu masyarakat tempat kami melakukan usaha.karena kita saling membutuhkan dan memang ada timbal baliknya kan…kami mendapatkan lahan tempat perkebunan di desa dan desa juga mendapat keuntungan dari kami kalau di desa Pertambatan ini banyak yang sudah kami bantu...perbaikan tempat ibadah, jalan, beasiswa untuk murid..kalau kurban juga kami kasih setiap tahunnya.”

  Hal ini dibenarkan oleh informan dari pemerintah desa M. N (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  “perkebunan di desa ini yang cukup membantu kami adalah kasdun (kasdun: PT. PN III Kebun Silau Dunia) ya memang itulah bentuk imbalan mereka untuk lingkungan karena kalau daerah perkebunan mereka kan memang sangat luas di sini, bantuannya kalau hari raya kurban memang selalu kasi kurban, bantuan dana beasiswa juga kami pernah terima untuk membeli buku-buku dan alat tulis, tetapi tidak semua wargalah yang dapat”. Hal yang sama juga dibenarkan oleh iforman dari pemerintah kecamatan yaitu informan S.A (Lk, 38 tahun) yang mengatakan:

  “kalau PT. PN III Kebun Silau Dunia memang rajin memberi bantuan untuk masyarakat tempat usaha mereka karena mereka memang luas sekali perkebunannya di Serdang Bedagai ini bukan hanya di Pertambatan di desa lain juga mereka kasi bantuan, mereka bantuan untuk lingkungan biasa namanya bina lingkungan”.

  Dari gambaran tersebut tercermin masih adanya hubungan saling bertukar kebaikan antar masyarakat maupun dengan perusahaan yang ada di desa Pertambatan ini. Namun PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar sebagai salah satu perusahaan perkebunan yang ada di desa Pertambaan ini tidak memiliki program CSR (Coorporate Social Responsibility) ataupun bentuk tanggung jawab sosial lainnya terhadap masyarakat sebagai wujud adanya hubungan timbal balik dengan masyarakat lingkungan tempat usaha mereka. Hal ini tergambar dari pernyataan informan dari perkebunan tersebut yaitu H.M.S (Lk, 56 tahun) sebagai berikut:

  “perusahaan perkebunan kami belum memiliki program csr ataupun bina lingkungan atau apapun itu, yang ada itu kan PT. PN III atau sejenisnya kalau perusahaan kami belum ada, mungkin masih akan dibuat”.

  Tidak adanya hubungan ini juga diakui oleh informan pemerintah kecamatan yaitu S.A (Lk, 38 tahun) yang mengatakan:

  

“pt.socfindo tidak pernah kasi bentuk bantuan ke

masyarakat, socfindo itu pelit, kami menjulukinya si

“belanda hitam” mereka tidak pernah ada program bina lingkungan ke masyarakat”.

  Hal yang sama juga dibenarkan oleh informan dari pemerintah desa Pertambatan yaitu informan M.N (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  “kalau socfindo (socfindo: pt. socfin Indonesia bangun bandar) tidak pernah ada beri kami bantuan, socfindo (socfindo: pt. socfin Indonesia bangun Bandar) itu “belanda

  hitam” itu mereka sangat pelit, cuek dan tidak mau tahu, kalau ibu mau tahu ibu langsung saja datang kesana, bila perlu saya akan mendampingi ibu, saya sudah sangat sering memperingatkan mereka itu, kalau ada rapat di kabupaten kan mereka pasti ikut saya sudah sering sindir tapi mereka tidak juga peduli, kalau ibu tanya masalah hubungan masyarakat desa ini dengan socfindo(socfindo: pt.socfin Indonesia bangun Bandar) sama sekali tidak ada komunikasi atau hubungan baik apapun”.

  Informan A.Z (Lk, 50 tahun) yang adalah salah seorang tokoh masyarakat di desa Pertambatan juga membenarkan hal yang sama tentang PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar dengan mengatakan:

  “kalau socfindo (socfindo: pt. socfin Indonesia bangun bandar) itu memang tidak punya hati, mereka sudah mendirikan usahanya di daerah kami tapi bentuk imbalan mereka tidak ada, mereka itu kami sebut “belanda hitam” seperti lintah penghisap darah, mereka tidak pernah peduli terhadap lingkungan mereka padahal kalau keuntungan yang mereka dapat itu pastilah sangat banyak, apalah salahnya kalau saja mereka mau berbagi sedikit saja dari keuntungan mereka ke masyarakat”.

  Selain terjalin hubungan yang tidak harmonis dalam bentuk bantuan kepada masyarakat desa Pertambatan. Masyarakat desa Pertambatan juga mendapat tuduhan pencurian terhadap hasil perkebunan perusahaan tersebut. Sementara masyarakat tidak mengakui adanya hal tersebut.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan A.Z (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

  

“sebenarnya kita juga tidak mau ya dek berkonflik atau

bagaimana..tapi memang kalau perusahaan sini saya tidak

taulah..apakah memang dari atasan mereka..karena inikan

hanya cabang saja masih ada atasan pasti..apa memang begitu

kebijakannya atau saya tidak mengertilah..pernah lagi itu ada

kasus warga sini dituduh mencuri buah.. wah…bukannya

ngasih malah dituduh mencuri.mereka buat begitu supaya kami

tidak mendekati lahan perkebunan mereka padahal untuk apa kami begitu?”. Hal yang sama diperkuat oleh informan S.H (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

   “saya tidak bisa beranggapan pasti itu akibat dari apa..apa karena warga sakit hati dengan sikap mereka atau justru kebun yang sengaja..mereka sering menuduh warga kami mencuri tanda buah itu..sawit itu..tapi saya juga ga tau ya bilang siapa yang benar atau salah..”

  Sementara itu informan H.M.S (Lk,56 tahun) dari perusahaan perkebunan PT. Socfin Indonesia sendiri menyatakan:

  “saya kurang mengetahui pasti tentang hal itu, tetapi tidak menutup kemungkinan itu benar, yang pasti tuduhan itu bukan dari saya, karena saya tidak di lapangan”.

  4.6.1.3 Gambaran Solidaritas dalam Masyarakat

  Lubis dalam (Badaruddin 2005:31), menyebutkan bahwa solidaritas merupakan salah satu komponen dari jaringan sosial. Dan Rusdi Syahra, dkk, dalam (Kristina 2003:60), dimana solidaritas diartikan sebagai kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud adanya rasa kebersamaan dalam menghadapi suatu masalah.

  Masyarakat memiliki kerelaan untuk membantu anggota masyarakat lainnya. Saling membantu dinilai dapat meringankan beban yang berat terutama bagi kelompok minoritas. Potensi ini tergambar dari interaksi masyarakat desa Pertambatan dalam membantu sesamanya di acara pesta perkawinan atau hajatan massal.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan S.H (Lk, 59 tahun), yang mengatakan:

  

“ya kalau kita pesta..kalau sama-sama dikerjakan kan lebih

cepat..kami disini batak hanya sedikit kalau kami ada acara

perkawinan begitu tapi hanya kami saja yang mengerjakan kan

lama sekali..jadi kalau semua ikut membantu lebih ringan

  

pekerjaan itu..lebih cepat selesainya jadi kalau masyarakat

disini kalau sudah namanya ada kegiatan..kayak pesta masing- masing orang sudah tau”.

  Hal yang sama diperkuat oleh informan A.Z (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

  

“tentunya pemikiran dan tenaga dari sepuluh orang akan

sangat berbeda dari pemikiran satu orang..kan gitu gitu

dek..jadi kalau cari solusi itu pun bisa lebih banyak

masukan..”

  Bentuk solidaritas masyarakat juga terwujud jika ada anggota masyarakat yang sakit maka anggota masyarakat lainnya akan datang membesuk, memberikan dukungan semangat ataupun memberi sejumlah uang untuk warga yang sakit. Hal ini merupakan cerminan dari wujud sukarela dan kebersamaan dalam masyarakat.

  Gambaran diatas seperti yang dikatakan informan A (Lk, 70 tahun) sebagai berikut:

  “buat ibu tetangga yang sakit berarti keluarga ibu juga, ibu harus bisa berbuat apa yang ibu bisa, kalaupun tidak bisa beri uang setidaknya menengok yang sakit memberi semangat”.

  Hal yang sama juga dibenarkan informan S (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

  “kami biasanya di desa ini kalau aa yang sakit kita usahakan setidaknya membesuk, kalaupun ke rumah sakit biasanya kami buat rombangan untuk membesuk, jadi kalau seperti itu kan berarti ada kebersamaan, kami biasanya sewa bus, untuk ongkos kami biayai bersama atau kadang bisa juga pakai mobil warga lain, kadang kalau ada warga yang tidak bisa ikut pun sering titip uang untuk yang sakit”.

  Realitas sosial ini juga peneliti dapat melihat langsung dilapangan. Bagaimana ketika ada seorang ibu yang bersuku batak Toba, beragam Kristen dan merupakan seorang pendatang di desa Pertambatan mau melahirkan dibantu para ibu yang beragama islam. Ibu tersebut mengalami kesulitan ketika akan melahirkan anak ketiganya sehingga ibu tersebut harus dibawa ke rumah sakit. Hampir semua warga, baik yang ibu-ibu maupun yang bapak-bapak terlibat membantu. Para ibu terlihat sibuk membantu bidan dalam menangani ibu yang mau melahirkan tersebut sementara para bapak sibuk mencari kendaraan yang akan digunakan untuk membawa ibu yang mau melahirkan itu ke rumah sakit dan ada sebagian bapak yang pergi memberitahukan keluarga dari ibu tersebut bahwa dia sedang kritis dan harus di bawa ke rumah sakit. Kendaraan yang digunakan untuk membawa ibu tersebut ke rumah sakit adalah mobil salah seorang warga desa Pertambatan. Di saat ada warga yang dalam kesulitas solidaritas warga muncul dengan sendirinya untuk membantu. Fakta sosial itu menunjukkan bahwa rasa solidaritas masih tinggi dalam masyarakat (observasi, 23 Juni 2010).

  Satu lagi bentuk solidaritas yang ditemukan peneliti di lapangan yang menjadi adapt kebiasaan yang melekat di masyarakat adalah adat bagi masyarakat yang bersuku batak simalungun yang disebut dalam bahasa daerah “tonggo raja” yaitu malam pengumpulan dana untuk sebuah acara untuk perkawinan bagi pihak laki-laki. Jadi setiap masyarakat batak simalungun yang akan menikahkan anaknya laki-laki akan menentukan satu malam untuk mengadakan acara “tonggo

  

raja” tersebut. Dalam acara tersebut setiap orang yang datang akan memberikan

  bantuan sukarela kepada orang yang mengundang. Bantuan sukarela ini dapat berbentuk uang ataupun beras yang bisa diterima kembali imbalannya oleh si pemberi jika dia akan menikahkan anaknya (observasi, 11 maret 2011).

  4.6.1.4 Gambaran Kerjasama dalam Masyarakat

  Menurut Zainudin dalam, (websitediakses tanggal 12 februari 2011 pukul 10.35 WIB) kerjasama merupakan kepedulian satu orang atau satu pihak dengan orang atau pihak lain yang tercermin dalam suatu kegiatan yang menguntungkan semua pihak dengan prinsip saling percaya, menghargai dan adanya norma yang mengatur. Dalam masyarakat hal tersebut tergambar dari interaksi saling bekerjasama dalam acara hajatan pesta perkawinan maupun sunatan. Semua anggota masyarakat ikut bekerjasama sebagi bentuk kepedulian kepada sesama anggota masyarakat. Hal ini seperti yang dikatakan informan A (Pr, 70 tahun), yaitu:

  “membantu sesama kita itu bentuk kepedulian terhadap sesama, kalau ada kerjasama semua bias dapat lebih cepat diselesaikan, kalau di di desa ini kerjasama dalam acara perkawinan atau pesta lainnnya masih sangat kuat”.

  Hal yang ini juga tergambar dari pernyataan informan S (Lk, 50 tahun), yaitu:

  ”saya sudah lama tinggal disini...saya asli kelahiran sini jadi kalau yang saya rasakan dari dulu kalau yang namanya

kerjasama antar kami masyarakat itu masih sangat

kuat..tidak peduli itu mau dari agama apa..suku apa..saya juga heran..kalau sudah ada pesta atau kemalangan...bisa membaur”.

  Rusdi Syahra,dkk, dalam (Kristina, 2003:60) menyebutkan jaringan sosial terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat dalam suatu entitas atau kelompok untuk bekerjasama membangun suatu jaringan untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut diwarnai oleh suatu pola interaksi timbal balik dan saling menguntungkan dan dibangun atas kepercayaan yang ditopang oleh norma- norma dan nilai-nilai sosial positif dan kuat. Kekuatan tersebut akan maksimal jika didukung oleh semangat membuat jalinan hubungan diatas prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama.

  Hal ini tergambar dalam kegiatan gotong royong yang masih terlaksana di masyarakat. Biasanya terjalin dalam acara gotong royong untuk kebersihan lingkungan desa bahkan disepakati untuk ditetapkan satu hari sebagai hari untuk bergotong royong warga untuk membersihkan lingkungan.

  Gambaran diatas seperti yang dikatakan informan S.H (Lk, 50 tahun) sebagai berikut:

  “warga kami biasanya melakukan gotong royong kebersihan untuk membersihkan parit-parit halaman rumah agar air bias mengalir jika hujan dan sampah tidak menumpuk di parit yang dapat menyumbat aliran air hujan, kegiatan gotong royong seperti itu masih berlaku di desa kami ini”.

  Hal yang sama juga dibenarkan oleh informan A (Pr, 70 tahun), sebagai berikut:

  “di desa kami gotong royong untuk kebersihan memang masih dijalankan karena kebersihan itu kan untuk diri sendiri juga, kalau lingkungan bersih kita pun sehat, biasanya kalau untuk jadwal kami sering mengadakannya hari jumat”.

  Informan S ( Lk, 56 tahun) yang adalah tokoh masyarakat di desa Pertambatan juga membenarkan hal yang sama, dengan mengatakan:

  “kami menerapkan kegiatan itu setiap hari jumat dua kali sebulan, jadi di dusun Pertambatan ini kami menyebut gotong royong itu “jumat bersih”, jadi semua warga berkewajiban ikut kebersihan gotong royong”.

  Hal ini juga dibenar kan informan M.N (Lk, 40 tahun) dari pemerintahan desa yang mengatakan:

  “kalau masalah gotong royong di desa kami biasanya yang ada itu gotong royong kebersihan seperti membersihkan pekarangan rumah dan parit agar aliran air tidak tersumbat sampah yang ada di parit itu, kegiatannya biasanya dilakukan hari jumat”.

  Dari gambaran interaksi dalam masyarakat tersebut tercermin bentuk peluang kerjasama yang masih ada di masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkung tempat tinggal mereka. Baik dalam interaksi sosial maupun kebersihan lingkungan dimana pada dasarnya hal tersebut memberi keuntungan bagi masyarakat itu sendiri. Suatu tujuan bersama dilakukan secara bersama-sama.

  4.6.1.5 Gambaran Adanya Kesamaan (Equity) diantara Masyarakat

  Menurut Dede Mariana (2006) proses pembangunan di masyarakat prinsip kesetaraan sangat diperlukan dalam menjalankan hubungan dengan semua anggota. Setiap anggota yang terlibat dalam kemitraan dan penuh, dihargai, dihormati, dan diberikan pengakuan dalam hal kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki. Dalam prinsip kesamaan individu, organisasi atau institusi yang ada bersedia menjalin kemitraan dengan posisi duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan yang lainnya. Semua anggota komunitas memiliki kedudukan yang sejajar dalam mencapai tujuan yang disepakati.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang terjadi dalam masyarakat dalam kegiatan gotong royong kebersihan dimana setiap anggota masyarakat memiliki kewajiban yang sama untuk mengikuti kegiatan kebersihan lingkungan mereka. Seperti yang diutarakan informan S (Lk, 50 tahun) sebagai berikut:

  “dalam kegiatan “jumat bersih” semua warga punya kewajiban yang sama kalau dulu biasanya bagi yang tidak ikut gotong royong membersihkan parit atau halaman rumah diberi teguran, mereka tidak ikut gotong royong karena harus bekerja tapi kami tetap buat ketetapan setidaknya ada salah satu perwakilan dari kepala rumah tangga yang ikut bergotong royong kebersihan”.

  Hal yang sama juga dibenarkan oleh informan M.N (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  

“kami selalu mengupayakan semua warga bisa

ikutbergotong royong kebersihan tetapi terkadang sulit bias mengumpulkan semua warga karena pada siang hari banyak yang kerja jauh jadi buruh di perkebunan tetapi kami

  mengharuskan ada perwakilan keluarga yang ikut bergotong royong”.

  Gambaran interaksi ini juga terlihat dalam serikat kesatuan warga yaitu STM (Serikat Tolong Menolong). Di desa Pertambatan STM (Serikat Tolong Menolong dibentuk oleh setiap kesatuan masyarakat baik bagi yang beragama islam maupun yang beragama kristen memiliki STM (Serikat Tolong Menolong) tersendiri. Dalam serikat masyarakat ini terwujud pola penentuan ketua panitia ataupun penentuan penggunaan peralatan yang dimiliki oleh serikat ini dan semua anggota memiliki hak yang sama untuk dapat menjadi pengurus serikat ataupun memiliki hak yang sama untuk dapat menggunakan peralatan serikat. STM dibentuk untuk membantu anggotanya yang membutuhkan bantuan mendesak dalam kegiatan pesta perkawinan ataupun kemalangan. Peralatan yang ada untuk keperluan pesta perkawinan atau kemalangan seperti tenda, peralatan memasak ataupun peralatan makan. Perlatan tersebut juga dapat digunakan oleh warga di luar anggota dengan perhitungan sewa.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang dikatakan informan S.H (Lk, 50) sebagai berikut:

  “kalau STM disini kami punya sendiri-sendiri..bagi yang islam ada..yang kristen juga punya..karena bagaimana pun kita kan harus saling menghargai..ga mungkin kita bisa

disatukan peralatannya…kalau kami kristen STM itu

biasanya ada buat bantuan untuk anggota bentuk uang..atau peralatan…dan semua anggota memiliki hak yang sama untuk memakai peralatan serikat kami,kami biasanya juga menyewakan peralatan bagi warga dari luar akeanggotaan kami”.

  Hal yang sama juga tergambar dari pernyataan informan S (Lk, 50 tahun), yaitu:

  “kami STM yang islam punya kepengurusan sendiri..dan sepertinya yang kristen juga ada mereka punya STM…kami

  kalau STM mang sudah lama punya…namanya juga Serikat

Tolong Menolong..ya kita selalu bantulah sesama

anggota..kami bentuk bantuan dana ataupun

peralatan…kalau kami ada itu punya peralatan sendiri..jadi kalaupun ada pesta atau kemalangan biasanya peralatan umum yang dipakai itu di kami islam dari punya STM kami itu dek..kalau yang batak juga sepertinya begitu..”

  Gambaran diatas tentang adanya kesamaan, dimana semua memiliki posisi dan kedudukan yang sama dalam komunitas juga tergambar dalam serikat arisan yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Hal ini seperti yang diutarakan informan S.H (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

  

”dalam arisan ya semua kita sama, semua haknya

sama..kewajiban juga sama..kita sama-sama bayar tabungan dengan jumlah yang sama..semua juga dapat hak yang sama untuk makai tabungan itu..jadi ga da beda..kalaupun ada

ketua atau sekretaris..sama aja itu..dalam

posisinya..semuanya jadi anggota...”

  Hal tersebut juga dikuatkan oleh pernyataan informan A (Pr, 70 tahun), yaitu:

  ”dalam arisan kami ibu-ibu perwiritan semau kami samakan saja, walau dia ketua dia tetap anggota kan?semau anggota juga punya kewajiban yang sama, iuran yang sama dan punya kesempatan yang sama untuk menjadi pengurus dalam arisan kami”.

  Gambaran tersebut mencerminkan peluang adanya kesetaraan ataupun kesamaan dalam penentuan perilaku dalam interaksi masyarakat. Baik dalam interaksi bermasyarakat maupun dalam komunitas tertentu.

  Adanya perlakuan kesetaraan juga diberlakukan oleh perusahaan perkebunan PT. PN III Kebun Silau Dunia dalam memberikan bantuan kepada masyarakat desa Pertambatan dengan memberi kesempatan yang sama bagi setiap masyarakat desa tersebut. Namun tanggung jawab pelaksanaan sepenuhnya diberikan kewenangan kepada pemerintah desa Pertambatan. Gambaran ini seperti yang diutarakan informan A.S (Lk, 51 tahun) sebagai berikut:

  “kalau memberi bantuan kami tidak membeda-bedakan, niat kami juga sama untuk memberi sedikit keuntungan yang kami dapat, jadi saya rasa semua warga punya hak yang sama untuk mendapat bantuan dari kami, hanya saja hal ini sepenuhnya kami serahkan kepada perangkat pemerintah desa”.

  Hal ini juga dibenarkan oleh informan M.N (Lk, 40 tahun) dari pemerintah yang mengatakan:

  “kasdun (kasdun: pt. pn 3 kebun silau dunia) tidak pernah menetapkan siapa yang pantas atau tidak pantas mendapat bantuan dari mereka, semua kami usahakan mendapat hak yang sama, tetapi karena kita selalu berusaha mendahulukan kepentingan masyarakat yang membutuhkan jadi bantuan seperti beasiswa yang pernah kami dapat selama saya menjabat kepala desa kami berikan terutama bagi yang tidak mampu tetapi berprestasi”.

  Namun dilapangan peneliti tidak menemukan adanya informan dari masyarakat yang mengetahui tentang bantun yang diberikan oleh perkebunan terhadap masyarakat. Hal ini seperti yang tergambar dari pernyataan informan U (Lk, 40 tahun) sebagai berikut:

  “saya tidak tau apa ada bantuan dari perkebunan, hanya kadeslah (kades: kepala desa) yang tau itu”.

  Hal yang sama juga dikatakan informan A (Pr, 70 tahun) sebagai berikut:

  “kalau bantuan dari perkebunan sepertinya tidak ada, yang saya tahu tidak ada tetapi untuk lebih pastinya adek tanya ke kepala desa saja nanti”.

  Informan S.H (Lk, 50 tahun) juga membenarkan hal yang sama:

  “setahu saya tidak pernah ada bantuan, bahkan hubungan masyarakat dengan perkebunan pun tidak baik”.

  4.6.2 Gambaran Bentuk Kepercayaan dalam Masyarakat

  Kepercayaan adalah unsur penting dalam modal sosial yang merupakan perekat bagi langgengnya hubungan dalam kelompok masyarakat. Dengan menjaga suatu kepercayaan, orang-orang dapat bekerjasama secara efektif. Kepercayaan sosial efektif dikembangkan melalui jalinan pola hubungan sosial resiprosikal atau timbal balik antar pihak yang terlibat dan berkelanjutan (Ibrahim, 2006: 111).

  Adapun trust (kepercayaan) menyebabkan mudah dibinanya kerjasama yang saling menguntungkan, sehingga mendorong timbulnya hubungan resiprosikal. Kepercayaan merupakan hubungan sosial yang dibangun atas dasar rasa percaya dan rasa memiliki bersama. Saling percaya (trust) meliputi adanya kejujuran (honesty), kewajaran (fairness), sikap egaliter (egoliterianisme), toleransi (tolerance) dan kemurahan hati (generosity).

  Gambaran diatas tercermin dalam kegiatan ekonomi masayarakat dalam jual beli dimana bagi masyarakat yang ingin membeli barang di warung dengan modal saling percaya yang tumbuh di dalam masyarakat sistem bon atau utang dapat diberlakukan. Di desa Pertambatan antar masyarakat yang berjualan dan pembeli bisa mengutang barang yang dibelinya dan biasanya akan di bayar ataupun dicicil pada akhir minggu. Gambaran ini seperti yang dikatakan informan A (Pr, 70 tahun) sebagai berikut:

  

“kalau belanja diwarung, seperti warung ibu aja kalau

sudah langganan ya bisa mengutang dulu, kami buat

catatan lengkap, ibu punya catatan yang belanja juga

begitu jadi setiap pembelian sama-sama dicatat biar tidak

salah, nah..barulah akhir minggu biasanya perhitungan, ada yang nyicil ada juga yang melunaskan”. Hal ini juga dibenarkan informan S (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

  

“dalam kegiatan ekonomi yang saya rasa masih kuat

kepercayaannya itu ya di warung, kalau kita sudah

langganan diwarung itu bisa ngebon (mengutang) dulu

kemudian setiap minggunya pembayaran, kalau sudah ada

kepercayaan mau belanja apapun di warung itu kita bisa”.

  Modal sosial dapat bermanfaat bukan hanya dalam aspek sosial melainkan juga ekonomi. Melalui unsur kepercayaan yang semakin meluas melalui interaksi sosial yang bersumber dari hubungan timbale balik antar pelakunya (Soetomo.2006:87). Gambaran peluang tingkat kepercayaan dalam pergaulan masyarakat desa Pertambatan ini juga dapat diuraikan dari beberapa uraian tentang komponen kepercayaan berikut ini:

  4.6.2.1 Gambaran Adanya Transparansi dalam Hubungan Bermasyarakat

  Adanya transparansi, saling meyakini dan sikap bertanggung jawab terhadap kewajiban yang ada menjadi komponen penyelaras hubungan dalam pergaulan bermasyarakat meskipun berada di atas keragaman yang ada. transparan jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat transparansi seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harfiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lain dikutip dari (tp://mpiq.wordpress.com/2007/01/25/ kejujuran-itu-indah-walau- kadang-menyakitkan/nya) diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 12.46 WIB.

  Dalam interaksi masyarakat hal ini tergambar dari aktivitas keseharian masyarakat dalam kegiatan arisan marga bagi masyarakat batak. Di acara arisan warga dituntut adanya transparansi dalam diri setiap anggota. Arisan marga bagi masyarakat batak di lakukan setiap sebulan sekali yang digilir bagi setiap anggota dan hasil tabungan yang dikumpul oleh warga akan di gunakan bagi anggota yang membutuhkan bantuan dana dalam waktu yang mendesak. Dalam proses ini transparansi dari setiap anggota sangat diutamakan untuk menentukan mana anggota yang benar-benar membutuhkan dana.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan informan S.H (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

  ”dalam penentuan anggota yang mendapat giliran arisan harus benar benar-benar mebutuhkan dan menunjukkan kebenaran kalau dia memang membutuhkan uang tersebut” .

  Gambaran adanya transparansi juga terdapat dalam kegiatan STM (Serikat Tolong Menolong) antar warga yang mana dalam pengelolaan dana hasil penyewaan peralatan di upaya menerapkan prinsip transparansi dengan mempertanggung keberadaan keuangan serikat. Hal ini seperti yang dikatakn informan S (Lk, 50 tahun):

  “masalah uang sewa peralatan kami serahkan sepenuhnya ke pada pengurus dan catatanya itu selalu lengkap, mengurus itu tanggung jawab pengurus seksi keuangan tetapi pada anggota daftar penyewa peralatan, berapa peralatan yang keluar dan kapan itu semua jelas harus diterangkan ke pada anggota”. Gambaran adanya transparansi dalam kehidupan bermasyarakat juga terdapat dalam upaya pembangunan rumah ibadah, dimana transparansi tentang dana dan jumlah bantuan semuanya harus di sampaikan secara transparan kepada anggota gereja ataupun mesjid. Hal ini seperti yang dikatakan informan S.H (Lk, 50 tahun) sebagai berikut:

  

“keterangan dana pembangunan gereja kami jelas sekali,

kami transparan, makanya saya pun kalau menyumbang

untuk dana gereja tidak perlu kawatir karena saya tahu

kemana dana itu digunakan, setiap hari minggu dalam

kegiatan ibadah, bagi jemaat (anggota gereja) di beritahu

berapa uang yang masuk, digunakan untuk apa semuanya

jelas”.

  Gambaran yang sama juga dikatakan informan A.Z (Lk, 50 tahun) sebagai berikut:

  

“dalam kegiatan pembangunan mesjid kami semau

masalah dana kita buat ketreangannya untuk anggota,

siapa yang menyumbang, kemana alokasi dana semau kami

jelaskan kepada anggota mesjid kami, biasanya kami buat

catatanya di mading yang ada di mesjid jadi semua jemaat

bisa membacanya”.

  Dari gambaran tersebut tercermin bahwa dalam masyarakat adanya transparansi dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap anggota masyarakat lainnya yang dapat menjadi suatu pengikat yang bisa digunakan untuk membentuk komunitas yang dapat meringankan beban sesama anggota masayarakat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peluang adanya transparansi dalam masyarakat ada ditemukan di lapangan.

4.6.2.2 Egaliter atau Sifat Amanah

  Rusdi Syahra (dalam Kristina, 2003) menyatakan sifat amanah adalah kecenderungan untuk menepati sesuatu yang telah dikatakan baik secara lisan maupun tulisan. Adanya sifat kepercayaan ini merupakan landasan utama bagi kesediaan seseorang untuk menyerahkan sesuatu kepada orang lain, dengan keyakinan bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajiban.

  Di desa Pertambatan hal ini tergambar dari pelaksanaan usaha ternak lembu yang mereka lakukan sebagai sampingan mata pencaharian selain sebagai buruh ataupun petani. Dalam metode peternakan ini para pemilik ternak cukup hanya menyediakan ternak dan kandang sementara untuk penggembalaan ternak dipercayakan penuh kepada sekelompok anak sekolah yang melakukan kegiatan menggembalakan ternak ini pada siang hari seusai pulang sekolah. Sekelompok anak remaja ini dinilai mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik maka dari itu mereka terus dipercaya untuk mengurus ternak warga.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan U (Lk, 40 tahun), yang mengatakan:

  “ya itu mereka yang bawa makan..kalau dah sore bawa pulang..bagus kerja mereka..kan lumayan..lagian kalau mang kita ga percaya kan mana mungkin kita kasih..lagipula kerja mereka bagus.”

  Hal yang sama uga diperkuat oleh informan S (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

  “iya memang ada itu..adek perhatikan juga itu ya.?ada

memang..karena kan sampingan..mereka kerjanya

bagus…kalau sore dibawa pulang sama mereka..ke kandang masing-masing.”

  Realitas sosial ini juga peneliti dapat melihat langsung dilapangan. Para anak muda tersebut adalah anak sekolah yang melakukan pekerjaan mereka pada siang hari seusai sekolah. Mereka mengiring ternak tersebut ke lahan perkebunan yang banyak di tumbuhi rumput. Gerombolan lembu tersebut dibawa lewat jalan umum desa yang rusak parah. Kawanan ternak lembu ini sering mengganggu lalu lintas jalan karena banyaknya lembu tersebut memang memenuhi luas jalan. Pada sore hari ternak di bawa pulang ke kandang pemilik masing-masing. Hal tersebut berlangsung rutin setiap harinya (Observasi, 23-24 Juni 2010).

  Gambaran sikap amanah ini juga terdapat dalam kegiatan Musrembang (Musyawarah Rencana Pembangunan) desa dimana dalam kegiatan ini dari setiap dusun di desa Pertambatan harus mengutus wakilnya. Dalam rapat tersebut perwakilan setiap dusun menyampaikan aspirasi ataupun keinginan masyarakat setempat yang akan diusulkan dalam Musrembang (Musyawarah Rencana Pembangunan) desa. Untuk hal ini diperlukan adanya kepercayaan masyarakat untuk perwakilannya dapat menyampaikan keinginan semua anggota masyarakat.

  Hal ini seperti yang dikatakan informan dari pemerintah kecamatan S.A (Lk, 38 tahun) sebagai berikut: “dalam musrembang (musyawarah rencana pembangunan)

  desa biasanya diutus perwakilan tiap dusun mewakili masyarakat 1 orang, perwakilan ini nantinya yang akan menyampaikan keinginan komunitas, hasil dari musrembang (musyawarah rencana pembangunan) desa akan dibawa dalam musrembang (musyawarah rencana pembangunan) kecamatan dan yang dibawa adalah masalah yang menjadi prioritas”.

  Hal yang sama juga dikatakan informan M.N (Lk, 40 tahun) sebagai berkut:

  “dalam musrembang desa setiap dusun diambil perwakilan masyarakat satu orang dan kadus (kadus: kepala dusun)

wajib ikut, perwakilan ini yang akan menyampaikan keinginan masyarakat dalam rencana pembangunan desa”. Keyakinan bahwa individu atau anggota komunitas yang diamanahkan mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik menjadi salah satu prinsip hubungan pergaulan di dalam kehidupan masyarakat. Dengan pemberian amanah kepada seseorang maka akan menumbuhkan tanggung jawab dan saling percaya untuk menjalankan apa yang diamanahkan.Gambaran diatas menunjukkan adanya peluang sikap amanah dalam masyarakat untuk menjalankan apa yang menjadi kepercayaan masyarakat terhadap perwakilan mereka ataupun orang yang mereka percayai.

  4.6.3 Gambaran Pranata atau Institusi Lokal

  Pranata (institution), menurut Lubis, dalam (Badaruddin, 2005:31) merupakan salah satu elemen dari modal sosial yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value), norma-norma dan sanksi (norms and sanction) dan aturan-aturan (rules). Sementara itu pranata sosial menurut Koentjaraningrat adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktifitas- aktifitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan bermasyarakat (Soerdjono, 2002:196). Defenisi tersebut menekankan pada sistem tata kelakuan atau norma-norma untuk memenuhi kebutuhan. Di dalam pranata warga masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain tetapi sudah diikat oleh aturan-aturan yang sudah disepakati bersama.

  Adanya sikap saling percaya yang terbangun merupakan dasar bagi keinginan untuk membentuk jaringan sosial yang akhirnya dimapankan dalam wujud pranata (Badaruddin,2005:36).Lahirnya pranata bertujuan untuk menciptakan suatu keteraturan pola perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pranata merupakan wadah dalam menyatukan keanekaragaman yang ada demi mencapai tujuan bersama.

  Pada masyarakat desa Pertambatan ditemukan pranata pemerintahan lokal yang cukup lengkap seperti LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa), POKJA (Kelompok Kerja), PKK, BPD (Badan Perwakilan Desa), PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan Musrembang (Musyawarah Rencana Pembangunan). Temuan tersebut merupakan hasil wawancara dengan informan M.N (Lk, 40 tahun),yaitu:

  

“semua lengkap disini bu..ada pokja, pkk, lkmd, bpd, paud

dan musrembang yang diadakan setahun sekali, kalau

perkumpulan warga seperti arisan, perwiritan dan untuk

batak apa tu namanya juga ada.”

  Hal ini juga dibenarkan informan A.Z (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

  

“kalau lembaga pemerintahan desa di Pertambatan ada pkk,

pokja, bpd, paud dan musrembang, semua dikepalai satu

orang ketua dan perangkat pengurus, kantornya semua ada

di kantor kepala desa yang ada di dusun bandar pamah itu”.

  Pranata-pranata pemerintah lokal tersebut berfungsi menjalankan pemerintahan desa Pertambatan dan sebagai wadah perkumpulan desa ada Musrembang (Musyawarah Rencana Pembangunan). Musrembang itu sendiri berfungsi untuk menampung keinginan masyarakat yang tentunya terkait dengan kebutuhan desa secara umum.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang dikatakan informan M.N (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  “kami musrembang desa itu..sekali setahun bu..tahun ini sudah dibuat bulan dua kemaren..kami biasanya menundang semua perwakilan, dari tokoh masyarakat, masyarakat kami undang perwakilan tiap dusun, tokoh agama, perangkat desa mewakili semua, dan tempatnya di kantor kades ini..kalau

  tahun ini memang yang utamanya tentang perbaikan jalan umum inilah bu.”

  Hal tersebut dibenarkan informan S (Lk, 50 tahun), yaitu:

  “musrembang ya…saya ikut..taun ini saya ikut..bulan dua kemaren itu…saya juga ikut.. kalau ga salah ada empat orang dari dusun ini..saya sebagai kepala dusun, kemudian 2 orang dari BPD (Badan Perwakilan Desa) yang ada di dusun kami sama satu orang perwakilan dari masyarakat”.

  Adanya aturan-aturan yang disepakati dan diinstitusionalkan akan mendukung terjaganya suatu hubungan yang telah terjalin. Nilai yang dihormati dan dihargai oleh para anggota masyarakat merupakan kesepakatan bersama yang dianggap memiliki dampak positif terhadap kehidupan bermasyarakat. Demikian adanya yang terjadi dalam komunitas masyarakat di desa pertambatan ini. Nilai untuk selalu menghargai orang lain, menjadi pedoman yang layak dimiliki oleh setiap orang mengingat bahwa masyarakat desa ini adalah heterogen.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan informan A.Z (Lk,50 tahun) yang mengatakan:

   “emmm…disini kan beragam ya..suku maupun agama juga begitu..jadi sikap saling menghargai dan adanya sikap menghormati itu penting..kalau yang agama Kristen membuat acara keagamaan kami yang non kristen tidak pernah buat masalah untuk mengacaukan acara mereka dan kami juga begitu kalau ada acara keagamaan juga bisa berjalan lancar”.

  Hal yang sama diperkuat juga oleh informan S (Lk, 50 tahun), yaitu:

  

“kami memang banyak budaya disini karna beda suku..agama juga tapi tidak pernah masalah dengan hal itu, kiat berbeda agama tetapi kalau sudah ada kemalangan misalnya, semua bisa bersama-sama, dan acara keagamaan juga kami tidak pernah ada masalah”. Hal ini juga dibenarkan informan dari pemerintah yaitu M.N (Lk, 40tahun) yang mengatakan:

  “perbedaan agama yang ada tidak pernah jadi pemicu masalah di desa kami, sikap saling menghargai menjadi pedoman mutlak, kalau melaksanakan acara keagamaan tidak pernah sejarahnya terjadi keributan atau kerusuhan”.

  Pranata adalah suatu sistem norma khusus sistem-sistem aturan yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Diciptakannya pranata selain untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga sekaligus untuk mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat berjalan dengan tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

  Kaidah-kaidah tersebut bias berupa aturan-aturan formal yang tertulis dan bisa juga berupa aturan-aturan informal yang disepakati bersama. Norma-norma akan berperan dalam mengontrol bentuk-bentuk hubungan antar individu. Norma yang tercipta diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh individu pada suatu entitas sosial tertentu .

  Dalam kehidupan masyarakat norma kesopanan menjadi salah satu norma yang masih dipegang kuat. Bagaimana norma ini di pakai dalam interkasi bermasyarakat. Hal ini terwujud dalam pergaulan bagaimana anak dituntut untuk berbicara sopan kepada yang lebih tua dan tidak boleh berbicara keras kepada orang tua. Dalam acara partangiangan (ibadah doa bagi masyarakat yang beragama kristen) perempuan harus memakai kain sarung untuk menjaga kesopanan tidak terkecuali para mudi-mudi desa demikian juga di acara pesta dalam kegiatan rewang ataupun marhobas (kegiatan membantu memasak dalam acara pesta) bagi ibu-ibu ataupun anak gadis diwajibkan memakai kain sarung.

  Gambaran di atas sesuai dengan yang diutarakan informan S.H (Lk,50 tahun), yaitu:

  “.norma kesopanan dalam bergaul itu masih kuat disini anak tidak bisa bentak-bentak sama orang tua tidak pantas anak itu bersuara keras sama orang tua, kalau ada acara partangian(ibadah doa bagi masyarakat yang beragama kristen) atau marhobas (kegiatn membantu memasak dalam pesta)anak gadis kayak adek ini harus pake kain sarung .karena disana kan gabung pasti sudah ada orang tua apalagi tamu jadi kesopanan itu harus dijaga..”

  Hal yang sama diperkuat informan A (Pr, 70 tahun) yang mengatakan:

  “harus sopan kalau anak gadis itu bantu ibu-ibu dipesta harus pake kain sarung..saya senang melihatnya jadi sopan dia kan..”

  Dalam pergaulan muda-mudi kesopanan juga menjadi acuan. Bagi anak gadis di desa ini jam 10 adalah batas untuk keluar rumah. Jika dilanggar akan mendapat sanksi dari orang tua mereka. Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan salah satu informan A (Pr, 70 tahun), yang mengatakan:

  “kalau anak gadis kayak adek-adek ini jam 10 malam ga bisa lagi keluar rumah..kecuali sama orang tua…atau kalau ada acara kibot itu..bisalah itupun yang dekat ya..disini kalau kibot-kibot gitu jam 12 an udah berhenti itu.”

  Hal yang sama diperkuat oleh informan S. H (Lk, 50 tahun) yang mengatakan:

   “harus sopanlahlah sama orang tua..ga bias itu bentak atau suara keras…melawan orang tua pantangan itu.”

  Bagi anggota masyarakat yang melakukan penyimpangan akan diusir dri desa. Misalnya hamil diluar nikah dan melakukan perjinahan ataupun perselingkuhan. Pelaku penyimpangan akan dilaporkan ke kepala desa dan kepala desa biasanya kan memeriksa kebenarannya dan jika terbukti maka warga yang melakukan penyimpangan akan segera disuruh meninggalkan desa.

  Gambaran diatas seperti yangdikatakan informan M.N (Lk, 40 tahun), yaitu:

   “saya tegas bagi masyarakat yang melakukan penyimpangan, kalau setelah saya periksa memang terbukti akan saya coret dari daftar kependudukan dan saya suruh pergi..saya sendiri yang akan buat surat pindahnya..karena saya merasa hal seperti itu sangat meresahkan masyarakat saya….tapi kalau di desa ini masih jarang kejadian seperti itu..adapun pernah sekali..kasus perselingkuhan tapi bukan dengan masyarakat desa ini…saya suruh pergi..saya yang langsung tanda tangani surat pindahnya…saya buatkan surat pindahnya..dari pada meresahkan warga lain.”

  Hal tersebut juga dibenarkan oleh informan S (Lk, 50 tahun) yaitu:

  “kalau penyimpangan begitu kita ga bisa terima…tapi biasanya kalaupun ada begitu akan mundur sendiri…karena mereka ga tahan mungkin di ejek warga yang lain…tapi memang juga kalau pak kades itu keras kalau masalah penyimpangan begitu…pernah kemarin itu ada kejadian perselingkuhan..di dusun bandarpamah…langsung ditindak sama kades.”

  Dari gambaran tersebut dapat disimpulkan masih adanya tertanam nilai- nilai social dalam masyarakat yang dijadikan panutan untuk menjalankan perilaku ataupun tindakan bersama.

4.7 Pandangan Informan tentang Pemeliharaan Jalan

  Masyarakat desa Pertambatan memandang bahwa wewenang pemeliharan jalan tersebut berada ditangan pemerintah. Mereka beranggapan bahwa pemerintahlah yang memiliki kewajiban dalam upaya pemeliharaan jalan tersebut. Karena menurut pandangan mereka dana untuk pemeliharaan jalan tersebut ada di APBD kabupaten.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan U (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  ”kalau perbaikan jalan ini kan tanggung jawab pemerintah..jadi bukan tanggung jawab kami..kan sudah ada di anggaran APBD itu.”

  Hal yang sama juga diperkuat informan A (Pr, 70 tahun) yang mengatakan:

  ”perbaikan jalan itu tanggung jawab pemerintah...dananya kan dari mereka..bukan dari masyarakat”

  Pemerintah desa juga mengakui bahwa wewenang pemeliharaan jalan tersebut berada di tangan pemerintah namun keikutsertaan perusahaan perkebunan yang menggunakan jalan tersebut belum maksimal dilakukan. Hal ini seperti yang dikatakan informan M.N (Lk, 40 tahun) sebagi berikut:

  ”kami sadar memang jalan tersebut wewenang pemerintah tetapi dana untuk perbaikan itu belum dapat maksimal adanya sementara perkebunan pun partisipasinya belum maksimal semua”.

  Jalan menjadi salah satu prasarana yang penting bagi keseharian masyarakat. Seperti yang tertuang dalam Undang-undang Negara Republik Indonesia No.38 Tahun 2004 Tentang Jalan dimana jalan sebagai sistem transportasi nasional mempunyai peranan penting tertutama dalam mendukung bidang ekonomi, sosial, dan budaya serta lingkungan dan dikembangkan melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah, membentuk dan memperkukuh kesatuan. Maka dari itu perhatian yang cukup seharusnya diberikan mengingat fungsi jalan yang vital dalam kehidupan masyarakat. Pemeliharaan terhadap jalan menjadi tanggung jawab semua pihak, bukan saja bertumpu pada pemerintah tetapi masyarakat yang memanfaatkannya bahkan pihak pengusaha. Dimana upaya pemeliharaan jalan itu sendiri adalah segala upaya yang ditujukan kepada upaya agar jalan dapat memberikan pelayanan sesuai dengan yang direncanakan. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutinitas yang harus diperhatikan secara berkala dan terus-menerus untuk menjaga agar keberadaan jalan tetap dapat dimanfatkan semaksimal mungkin.

4.8 Analisis Penggunaan Peluang Modal Sosial dalam Pemeliharaan Jalan

  Menurut Coleman (dalam Soetomo, 2006:88) modal sosial adalah kemampuan masyarakat untuk bekerjasama demi mencapai tujuan bersama dalam berbagai kelompok dan organisasi. Selain pengetahuan dan keterampilan, porsi lain dari human capital adalah kemampuan masyarakat untuk melakukan asosiasi datu sama lain. Kemampuan berasosiasi ini menjadi modal penting bukan hanya pada kehidupan ekonomi, tetapi juga bagi aspek sosial lainnya. Kemampuan ini sangat tergantung dari kondisi dimana komunitas mau berbagi untuk mencari titik temu norma-norma dan nilai-nilai bersama. Jika titik temu etis normatis ini diperoleh, maka pada gilirannyakepentingan individu akan tunduk pada kepentingan komunitas.

  Dewasa ini orang tidak lagi melihat modal hanya dari segi financial dan modal fisik saja, melainkan juga human capital. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, berdasarkan pendapat Coleman, human capital tidak terbatas berasal dari pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga berasal dari kemampuan untuk bekerjasama guna mencapai tujuan bersama yang kemudian disebut modal sosial.

  Sama halnya apabila akan dimanfaatkan untuk kepentingan transaksi ekonomis pada umunya dan keutungan ekonomi pada khususnya, jika modal sosial akan dimanfaatkan untuk usaha dan tindakan bagi kesejahteraan bersama perlu digali, diidentifikasi dan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung berbagai usaha pembangunan untuk kepentingan warga masyarakat. Dalam hal ini peranan dan kontribusinya juga sejalan dengan bidang ekonomi yaitu meringankan beban pemerintah dalam usaha mewujudkan kesejateraan sosial warganya (Soetomo, 2006:89).

4.8.1 Partisipasi dalam Pemeliharaan Jalan

  Partisipasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “participation” yang berarti pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Menurut Keith Davis partisipasi didefenisikan sebagai berikut: “Partisipation is defined as a mental and emotional

  

involved at a person in a group situasion which encourager then contribut to

group goal and share responsibility in them”. (Partisipasi dimaksudkan sebagai

  keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya) dikutip dari diakses tanggal 12 maret 2011 pukul 12.28 WIB.

  Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (PTO PNPM PPK, 2007). Hoofsteede (1971) menyatakan bahwa patisipasi adalah the taking

  

part in one ore more phases of the process sedangkan Keith Davis (1967)

menyatakan bahwa patisipasi “as mental and emotional involment of persons of

person in a group situation which encourages him to contribute to group goals

and share responsibility in them”.

  Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa, partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat. Theodorson dalam Mardikanto (1994) mengemukakan bahwa dalam pengertian sehari-hari, partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepat diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri dikutip dari (ttp://earning-of.slmetwi dodo.com/2008/02/01/partisipasi-pemberdayaan-danpembangunan/), diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 09.58 WIB.

  Terkait dengan masalah kerusakan jalan di desa Pertambatan adapun bentuk partisipasi yang pernah dilakukan masyarakat adalah menutup lubang- lubang yang ada di tengah kerusakan jalan dengan batu ataupun tongkol kelapa sawit. Gambaran ini seperti yang dikatakan informan S.H (Lk,50 tahun), yaitu:

  “pernah dulu ada kegiatan para pemuda sini menutup lubang-lubang jalan yang rusak parah itu dengan batu-batu padas atau tungkul-tungkul sawit tapi ga lama itu..ujung- ujungnya malas mereka..karna mereka aja yang kerja..susah memang..”

  Hal serupa juga dikatakan informan S (Lk, 50 tahun), yaitu:

  “memang dulu pernah ada pemuda-pemuda kita menutup lubang-lubang di ujung jalan itu dengan batu padas yang diambil dari sungai yang sekarang jadi tambang pasir itu..tapi ga lama jugalah..bis tu berhenti sampai sekarang ga ada lagi.”

  Partisipasi masyarakat dalam pembangunan mutlak diperlukan, tanpa adanya partisipasi masyarakat pembangunan hanyalah menjadikan masyarakat sebagai objek semata. Salah satu kritik adalah masyarakat merasa “tidak memiliki” dan “acuh tak acuh” terhadap program pembangunan yang ada.

  Penempatan masyarakat sebagai subjek pembangunan mutlak diperlukan sehingga masyarakat akan dapat berperan serta secara aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi pembangunan dikutip dar pembangunan/), diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 10.38 WIB.

  Peneliti menemukan partisipasi masyarakat dalam pengawasan terhadap muatan jalan tersebut juga tidak ada. Hal ini dapat dilihat langsung oleh peneliti dilapangan bagaimana truk-truk besar jelas sekali melebihi muatan maksimal jalan dibiarkan saja melintas seoleh seperti rutinitas yang biasa. Setelah membayar iuran rutin untuk perpass truk-truk tersebut lolos dari tanggung jawab. Pungutuan iuran perpass itu sendiripun berada di daerah perbatasan antara desa Kerapuh dengan desa Pertambatan padahal kondisi alan yang rusak ada di desa Pertambatan (Observasi, 16 Juni 2010).

  Peneliti menemukan bahwa bentuk partisipasi masyarakat di desa Pertambatan tersebut untuk pemeliharaan prasarana jalan tidak ada, hanya dalam bentuk penutupan lubang-lubang ditengah jalan namun hal tersebut pun tidak berlangsung lama. Dalam proses pemeliharaan jalan pun masyarakat tidak diturut sertakan untuk terlibat dalam proses perbaikan tersebut. Perbaikan sepenuhnya diserahkan kepada pekerja jalan.

  Sementara itu bentuk partisipasi dari perusahaan perkebunan yang ada di desa tersebut terwujud dari bentuk bantuan dana maupun bantuan pengadaan alat- alat berat untuk proses perbaikan jalan. Perusahaan memberi bantuan karena menyadari bahwa mereka juga memanfaatkan jalan tersebut untuk usaha mereka.

  Gambaran diatas seperti yang dikatakan informan A.S (Lk, 51 tahun), yaitu:

  “wah..kalau hitung-hitungan duit..sudah ga bisa dihitung berapa kami habis untuk membantu perbaikan jalan

itu..belum lagi bantuan alat berat..untuk perbaikan

meratakan batu-batu itu kan..kami mau bantu karena kami juga merasa memang jalan itu penting sekali untuk kami..untuk pengakutan panen kami bawa lewat jalan itu..tentang bantuan ada semua datanya itu nanti saya kasih tunjuk ke adek..”

  Hal tersebut juga dibenarkan oleh pemerintah desa Pertambatan informan M.N (Lk, 40 tahun), yaitu:

  ”selama ini PT. PN III setiap pemeliharaan jalan selalu turun buat bantuan alat-alat berat....tapi kalau PT. Socfin Indonesia itu ga pernah ada...pelit mereka itu...kami kalau sebutnya belanda hitam.” Proses pemeliharaan jalan rusak di desa Pertambatan belum mengalami perbaikan yang maksimal. Keterbatasan dana yang ada menjadi salah satu penyebab sulitnya proses yang maksimal terhadap pemeliharaan jalan tersebut ditambah pula bantuan dari pihak perusahaan yang melakukan usahanya di desa tersebut belum maksimal padahal perusahaan perkebunan tersebut dinilai oleh pemerintah memanfaatkan jalan di desa Pertambatan tersebut. Oleh karena itu selama ini upaya pemeliharaan yang bersifat sementara dilakukan dari sumbangan dari beberapa pengusaha yang melakukan usahanya di desa tersebut.

  Gambaran diatas seperti yang diutarakan oleh informan S.A (Lk, 38 tahun), yang mengatakan:

  

“kami sudah berulang kali membawa masalah ini dalam

musrembang kecamatan dan kami usulkan di musrembang

kabupaten tapi belum bisa ada upaya maksimal karena ini

terkait dana..APBD tidak memadai..dan kalau partisipasi

masyarakat bantuan seperti uang atau sejenisnya belum ada

pernah saya dengar tetapi kalau dari pt. pn 3 selama ini

memang ada kepedulian”.

  Hal yang sama diperkuat oleh informan M.N (Lk, 40 tahun), yang mengatakan:

  

“masalah utama itu terkait dana ya bu…karena kan jalan ini

cukup panjang itu dari ujung ke ujung sana, kurang lebih enam

kilometer..selama ini saya sudah sering menggerakkan para

perusahaan itu untuk meminta bantuan sama mereka untuk

perbaikan jalan ini..paling kalau yang rajin kasih tu PN.III

silou dunia..kalau pt.socfin pelit itu bu”.

  Dalam upaya pemeliharaan maksimal yaitu pekerjaan perkuatan struktur perkerasan jalan sepenuhnya dipegang tanggung jawabnya oleh pemerintah kabupaten Serdang Bedagai. Pemeliharaan jalan yang dilakukan secara bertahap di jalan umum desa Pertambatan ini dananya bersumber dari pemerintah kabupaten dan diserahkan proses proses perbaikan sepenuhnya kepada pekerja jalan tanpa ikut campur dari masyarakat.

  Gambaran diatas seperti yang dikatakan pemerintah desa Pertambatan informan M. N (Lk, 50 tahun), yaitu:

  

“perbaikan bulan mei baru sekitar 300 meter yang

diperbaiki..dan itupun dananya semua dari pemkab..kami tidak memberatkan masyarakat dan perbaikan pun semua dilakukan pemborng..tidak ada campur tangan masyarakat.”

  Hal serupa juga dikatakan informan S (Lk, 50 tahun), yaitu:

  

“kalau masyarakat ga pernah ikut campur..proses perbaikan

itu semua ditangani sama pemborong..lagian kalau masyarakat

kita kan mana ada yang punya keahlian untuk bagusin jalan

begitu..dan kalau kumpul dana juga tidak pernah ada.”

  Hal tersebut juga diakui oleh informan dari masyarakat U (Lk, 40 tahun), yaitu:

  

“kami tidak pernah ikut campur urusan perbaikan

jalan..pemborng semua yang kerjakan..uang juga kita tidak

pernah di kutip...”

  Sementara itu bentuk partisipasi pemerintahan desa Pertambatan terwujud dalam upaya pengajuan proposal perbaikan jalan dalambentuk dana maupun bantun peralatan baik dari perusahaan perkebunan maupun pemerintah tingkat desa maupun tingkat kabupaten. Hal ini seperi yang dikatan informan M. N (Lk, 40 tahun) sebagai berikut:

  “usaha yang saya lakukan untu pebaikan jalan kami ini sudah

cukup banyak ya bu…dalam setiap rapat saya selalu

menyampaikan tentang masalah ini ke kecamatan atau

kabupaten sedangkan kalau di perusahaan saya kasih proposal

untuk perbaikan jalan, dalam setiap kesempatan yang ada saya

selalu berusaha menyampaikan hal ini, dalam musrembang

desa atau kecamatan sampai kabupaten saya selalu berusaha

menyampaikan masalah ini”.

  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan partisipasi yang ada dalam upaya pemeliharaan prasarana jalan di desa Pertambatan ini hanya berada di pemerintah dan perusahaan. Namun peluang partisipasi di masyarakat tidak digunakan.

4.8.2 Hubungan Timbal Balik Antar Stakeholder dalam Pemeliharaan Jalan

  Dalam kaitannya dari sikap resiprosikal dan pertukaran, Prety dan Ward, dalam (Badaruddin, 2005:32) mengemukakan bahwa adanya hubungan-hubungan yang dilandasi prinsip resiprositas dan pertukaran akan menumbuhkan kepercayaan resiprositas dan pertukaran akan menumbuhkan kepercayaan, karena setiap pertukaran akan dibayar kembali. Kepercayaan akan menimbulkan kewajiban sosial, dengan mempercayai seseorang akan menimbulkan kepercayaan kembali dari orang tersebut. Hal ini merupakan pelicin dari suatu hubungan kerjasama yang telah dibangun agar tetap konsisten dan berkesinambungan.

  Namun hal ini tidak ditemukan peneliti dilapangan.

  Peneliti menemukan tidak adanya bentuk hubungan timbal balik antar PT. Socfin Indonesia Bangun Bandar yang melakukan usahanya di desa Pertambatan terhadap usaha pemeliharaan jalan rusak di desa Pertambatan tersebut. Perusahaan tersebut merasa bahwa jalan tersebut bukan jalan mereka sehingga mereka tidak memiliki tanggung jawab terhadap jalan tersebut.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan H.M.S (Lk, 56 tahun), yang mengatakan:

  “kami tidak ada program-program csr atau apapun..kami belum punya itu..kemungkinan masih akan dijalankan lagi pula kami punya jalan sendiri..jalan itu bukan urusan kami..jadi kami tidak ada tanggung jawab kesitu..kami sudah bayar pajak untuk memakai jalan itu..tanya sajalah ke

  pusatnya..jangan-jangan ada gayus-gayus junior..lagipula kami punya jalan sendiri.”

  Dalam pengamatan peneliti ketika melakukan wawancara dengan informan dari perusahaan tersebut terlihat sambutan yang kurang mengenakkan.

  Informan terkesan cuek namun tetap menjawab pertanyaan peneliti. Informan duduk di kursinya menjawab pertanyaan peneliti sambil mengerjakan pemeriksaan berkas yang akan dikirim ke medan (Observasi, 2 Juli 2010).

  Namun adanya hubungan timbal balik antara pengusaha dan masyarakat ditunjukkan oleh perusahaan perkebunan PT. PN III dalam upaya pemeliharaan jalan di desa Pertambatan. Perusahaan ini telah banyak memberi bantuan berupa dana maupun bantuan alat berat untuk keperluan perbaikan jalan sebagai wujud adanya rasa saling membutuhkan dan adanya pertukaran yang dinilai perusahaan sebandinga dengan apa yang telah mereka dapat dari pemanfaatan prasarana jalan di desa Pertambatan. Hal ini seperti yang dikatakan informan A. S (Lk, 51 tahun) sebagai berikut:

  ”kami mau bantu karena kami rasa itu pantas kami beri sebagai wujud

  imbalan yang pantas karena jaln itu jeas...bagaimanapun sangat penting buat perusahaan kami”..

  Adanya bantuan dalam pemeliharaan jalan yang dilakukan oleh PT. PN III Kebun Silau Dunia juga diaku oleh pemerintah desa Pertambatan. Hal ini seperti yang diakui oleh informan M.N (Lk, 40 tahun) yang mengatakan:

  “ kasdun (kasdun: pt. pn 3 kebun silau dunia) kalau perusahaan ini kami akui banyak membantu kami, setiap ada perbaikan, mau itu hanya kegiatan menutup lubang-lubang kecil ataupun perbaikan yang besar kami buat saja proposal mereka pasti Bantu, mau itu uang atau alat-alat berat seperti pengrata batu itu mereka turunkan itu”.

  Hal yang sama juga tergambar dari pernyataan pemerintah kecamatan yaitu informan S. A (Lk, 38 tahun) yang mengatakan:

  ‘kalau pt. pn 3 silau dunia banyak memberi bantuan untuk jalan di Pertambatan itu, setiap ada perbaikan mereka selalu ikut serta, memang hal itu jelas perlu bagi perusahaan mereka karena mereka kan memakai jalan itu jadi saya rasa juga wajar saja mereka memberi bantuan itu kepada desa Pertambatan, sawit-sawit mereka itu berapa ton yang lewat dari situ setiap hari jadi memang harus seperti itulah sharusnya yang dilakukan perusahaan terhadap lingkungan usaha mereka’.

  Dengan demikian dapat disimpulkan adanya sikap resiprosikal (hubungan timbal balik) antara perusahaan perkebunan PT. PN III Kebun Silau Dunia terhadap desa Pertambatan sebagai lingkungan usahanya. Hal tersebut sebagai wujud tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat.

4.8.3 Bentuk Kerjasama dalam Pemeliharaan Jalan

  Kerjasama pada hakekatnya mengindikasikan adanya dua pihak atau lebih yang berinteraksi secara dinamis untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dalam pengertian itu terkandung tiga unsur pokok yang melekat pada suatu kerangka kerjasama, yaitu unsur dua pihak atau lebih, unsur interaksi dan unsur tujuan bersama. Jika satu unsur tersebut tidak termuat dalam satu obyek yang dikaji, dapat dianggap bahwa pada obyek itu tidak terdapat kerjasama.Unsur dua pihak, selalu menggambarkan suatu himpunan yang satu sama lain saling mempengaruhi sehingga interaksi untuk mewujudkan tujuan bersama penting dilakukan. Apabila hubungan atau interaksi itu tidak ditujukan pada terpenuhinya kepentingan masing-masing pihak, maka hubungan yang dimaksud bukanlah suatu kerjasama.

  Suatu interaksi meskipun bersifat dinamis, tidak selalu berarti kerjasama. Suatu interaksi yang ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses interaksi, juga bukan suatu kerjasama. Kerjasama senantiasa menempatkan pihak-pihak yang berinteraksi pada posisi yang seimbang, serasi dan selaras dikutip dari diakses tanggal 12 maret 2011 pukul 20.49 WIB.

  Peneliti menemukan tidak adanya kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah terhadap upaya pemeliharaan jalan rusak di desa Pertambatan tersebut.

  Gambaran tersebut sesuai dengan yang diutarakan oleh informan M.N (Lk,40 tahun),yaitu:

  “kalau saja ada keinginan untuk bersama-sama menangani masalah ini mungkin akan lebuh ringan..saya sebenarnya selalu berusaha menggalakkan kerjasama semua pihak..tapi ya seperti yang ibu lihatlah..masyarakat sini memang sulit diajak kerjasama..mungkin mereka sudah jenuh…karena memang gini-gini aja keadaannya..saya rasa kalau semua pihak turut peduli saya rasa seperti yang saya bilang tadi…bisa lebih cepat kerjanya..tapi apa yang ada...kami tidak pernah ada kerjasama dengan masyarakat..kalau dana semua dari kabupaten..yang kerja juga pemboronglah.”

  Peneliti juga menemukan tidak adanya kerjasama antara perangkat pemerintahan desa Pertambatan kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai dengan daerah kecamatan Silou Kahean kabupaten Simalungun dalam upaya pemeliharaan jalan yang rusak di desa Pertambatan tersebut. Kecamatan Silou Kahean menilai bahwa prasarana jalan umu di desa Pertambatan itu bukan nerupakan tanggung jawab mereka.

  Gambaran diatas seperti yang dikatakan informan M.N (Lk,40 tahun), yaitu:

  “kalau kerjasama dengan silou kahean tidak pernah ada..padahal mereka juga menggunkan jalan kami

  ini...perkebunan di sana itu hampir semuanya kelapa sawit...diangkut semua lewat jalan kami...tapi tidak pernah ada upaya apa-apa dari mereka.”

  Sementara itu informan dari kecamatan silou kahean J.S (Lk, 55 tahun) menyatakan:

  “jalan desa pertambatan itu wewenang dari pemerintah kabupaten serdang bedagai jadi kami sialungun tidak memiliki tanggung jawab ke sana, jalan kami ya silou kahean ini, adek lihat sendirilah....kan bagus....kalau saya rasa serdang bedagai itu kurang sigap dalam menangani prasarana jalan mereka itu...memang kalau sudah bicara

masalah perbaikan jalan itu bukan sedikit

biayanya...makanya kami pun tidak bisa berbuat apa- apa...kalau masalah upaya yang kami silou kahean lakukan wewenang kami itu sekedar hanya mengingatkan, kami sudah pernah utus perwakilan daerah kami ke serdang bedagai itu menyampaikan tentang kerusakan jalan itu...karena kami juga terganggu dengan keruskan itu tapi memang hanya sebatas itulah wewenang kami..”

  Padahal dalam Undang-undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan pasal 45 ayat 10 menyebutkan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan negara mempunyai kewenangan menyelenggarakan jalan. Penyelenggaraan jalan, sebagai salah satu bagian penyelenggaraan transportasi, melibatkan unsur masyarakat dan pemerintah. Agar diperoleh suatu hasil penanganan jalan yang memberikan pelaynan yang optimal, diperlukan penyelenggaraan jalan secara terpadu dan bersinergi antar sektor, antar daerah, dan juga antarpemerintah serta masyarakat termasuk dunia usaha.

  4.8.4 Transparansi Dana dalam Pemeliharaan Jalan

  Transparansi yaitu konsep yang maknanya lebih luas dari sekedar keterbukaan. Transparansi adalah keterbukaan yang sungguh-sungguh,

  menyeluruh dan memberi tempat bagi partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam proses pengelolaan sumber daya publik. Transparansi menyangkut berbagai aspek kehidupan di bidang politik, ekonomi dan bisnis, sosial, dan kebudayaan. Tumbuh dan berkembangnya transparansi hanya dimungkinkan dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral di segala bidang. Hanya dalam masyarakat yang transparan yang menjunjung tinggi etika dan moral keadilan dapat ditegakkan dikutip dari (http://eone_ 87. wordpress. com /201004/02/ langkah-dan-strategi-penanganan- bencana-gempa-di-yogyakarta- an-jawa-tengah/),diakses tanggal 16 desember

  2010 pukul 12. 56 WIB.

  Peneliti menemukan tidak adanya transparansi antara masyarakat dan pemerintah dalam memberikan informasi tentang bantuan untuk pemeliharaan prasarana jalan yang diberikan oleh perkebunan PT. PN III Kebun Silau Dunia. Adanya pemberian bantuan dari perusahaan yang ada di desa tersebut ternyata tidak diketahui oleh masyarakat desa mengakibatkan pandangan yang negatif terhadap perusahaan. Hal ini tentunya memberi akibat tidak baik terhadapa hubungan antar masyarakat dengan pemerintah maupun perusahaan perkebunan yang dapat menghambat proses pembangunan desa dalam hal ini adalah pemeliharaan jalan di desa tersebut.

  Gambaran diatas sesuai dengan yang diutarakan oleh informan U (Lk, 40 tahun), yang mengatakan:

  “saya tidak tau kalau selama ini PT. PN III pernah ada kasih bantuan untuk jalan ini..kades lah itu sama perangkat desa yang tanggung jawab.” Menurut pengamatan peneliti, informan terlihat terkejut mendengar bahwa ternyata salah satu perusahaan yang melakukan usaha di desanya telah memberi bantuan terhadap masyarakat desa tersebut. Informan juga kelihatan bingung mengetahui hal tersebut (Observasi, 11 Juni 2010). Hal yang sama juga diperkuat oleh informan S (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

  “saya tidak tau pasti apa ada bantuan atau tidak...yang tau

pasti ya perangkat desa..saya tidak tau kalau memang ada

untuk jalan ini.”

  Ketiadaan tranparansi telah menimbulkan dampak negatif yang sangat luas dan merugikan masyarakat. Ketidaktransparanan menimbulkan kecurigaan- kecurigaan terhadap kinerja pemerintah. Hal ini seperti yang diutarakan oleh infroman U (Lk, 40 tahun), yang mengatakan:

  “ya kalau masalah dana ya saya ga taulah..itu urusan kadeslah itu..berapa dana untuk perbaikan jalan...entah kemana digunakan kemana aja saya tidak tau tapi nyatanya jalan ini belum ada dilakukan perbaikan yang maksimal.”

  Hal yang sama juga diperkuat oleh informan S (Lk, 50 tahun), yang mengatakan:

  “saya dengar katanya dana dari bupati untuk jalan ini sebenarnya sudah ditangan pemborong..tapi saya juga tidak tau kenapa masih begitu belum dilakukan..ada juga yang baru diperbaiki yang di dusun bandar pamah itulah..ga panjang itu..dengar-dengar katanya 300 meter saja...yang ini belum taulah kapan diperbaiki....itu urusan kades.”

  Hal yang sama juga diperkuat oleh informan A (Pr, 70 tahun), yang mengatakan:

  “ya memang sudah diperbaiki yang di dusun bandar pamah itu kan..disini belum..masih kayak ginilah adek liat..itu pun saya ga tau kenapa harus dusun bandar pamah yang duluan yang dibagusin..apa karena disana rumah kades..kantor kades juga disitu.” Peneliti juga menemukan tidak adanya transparansi dana perbaikan jalan yang diperoleh dari pemerintah kabupaten. Masyarakat sama sekali tidak mengetahui berapa dana yang dialokasikan untuk perbaikan bertahap yang telah dilakukan terhadap prasarana jalan mereka. Hal ini tergambar dari pernyataan informan A (Pr, 70 tahun) sebagai berikut:

   “ibu tidak tau kalau masalah dana untuk perbaikan jalan yang di dusun Bandar pamah kemarin itu, kami tidak pernah ada pemberitahuan, di kantor kadeslah (kades: kepala desa) itu keterangannya”.

  Hal yang sama juga diperkuat informan U (Lk, 40 tahun) yang mengatakan: “masalah dana kami warga tidak pernah dikasi tau, itu urusan kades”.

  Sementara itu informan pemerintah yaitu M.N mengatakan:

  

“kami memang tidak ada penginformasian langsung kepada

seluruh warga tetapi ada perwakilan dari setiap dusun yang saya

rasa sebagai perwakilan dari masyarakat”.

  Informan dari pengusaha yaitu A.S (Lk, 51 tahun) mengatakan:

  

“masalah dana perbaikan jalan itu kami tidak ada wewenang

khusus untuk mencampurinya karena itu kan kewenangan

pemerintahan desa Pertambatan kecuali ada transparansi

sendiri dari mereka, tetapi selama ini tidak ada”.

4.8.4 Peran Pranata Lokal dalam Pemeliharaan Prasarana Jalan

  Modal sosial secara sederhana dapat didefenisikan sebagai serangkaian nilai dan norma informal yang dimiliki bersama antara anggota para suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka (Fukuyama, 2002:22). Karakteristik kehidupan sosial dalam sebuah komunitas adalah adanya ikatan lokalitas, solidaritas sosial, rasa saling percaya karena saling mengenal. Karakteristik tersebut menjadi semacam nilai yang mewarnai kehidupan sosial dalam komunitas yang bersangkutan. Pada umunya nilai dan norma tersebut difsilitasi oleh institusi lockal atau institusi tradisional yang kemudian banyak teraktualisasi dalam berbagai tindakan bersama yang saling menguntungkan termasuk tindakan bersama untuk kepentingan bersama. Dengan kata lain modal sosial yang di dalamnya terkandung dimensi struktural berupa proses, prosedur dan mekanisme dan dimensi kognitif berupa nilai dan norma yang dapat menggerakkan tindakan bersam untuk mewujudkan kepentingan bersama (Soetomo, 2006: 92).

  Dalam wacana pembangunan, Kartodirdjo (1987) menyebut nilai, norma serta bentuk semangat solidaritas, toleransi, serta empati sebagai sumberdaya sosial yang dalam masyarakat desa termanifestasi dalam pranata sosial, kepemimpinan dan ieoloi pembangunan. Sementara Sayogyo (1994) menyebutnya sebagai energi sosial berdasarkan hasil penelitiannya di beberapa desa di NTT (Nusa Tenggara Timur) terbukti cukup besar kontribusinya bagi keberhasilan pembangunan (Soetomo, 2006:91).

  Namun peneliti tidak menemukan gambaran ini di lapangan dalam upaya pemeliharaan prasarana jalan di desa Pertambatan . Menurut penuturan informan yang berasal dari lembaga LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) peranan lembaga kemasyarakatan di desa Pertambatan dalam pemeliharaan prasarana jalan lebih bertumpu pada partisipasi satu pihak. Informan mengaku telah berulang kali melakukan upaya untup perbaikan jalan yang rusak di desa itu dengan mengusulkan proposal pemeliharaan jalan ke pemerintah kabupaten namun sebagai perwakilan dari salah satu lembaga kemasyarakatan di desa itu informan hanya bergerak sendiri. Hal ini seperti pernyataan informan A.Z (Lk, 50 tahun) sebagi beriku:

  

“terkadang merasa saya bergerak sendiri disini

dek…susah…itulah salah satu kekurangan masyarakat

disini..mereka menyangka kalau kami buat kegiatan dikira

kami dapat persenan berapa…padahal saya sendiri

dek…saya pribadi ..terkadang ga saya perhitungkan lagi

berapa saya habis untuk mengurus ini itu untuk

kepentingan desa ini..tapi ya sama aja itu buat

mereka..nanti kalau kita ajak diskusi pun mereka ya acuh

aja..kalau kumpul diwarung saja misalnya kita coba bahas

gitu ya ga terlalu diopenin”.

  Dari gambaran tersebut dapat isimpulkan bahwa lembaga kemasyarakatan di desa Pertambatan baik lembaga pemerintahan kemasyarakatan desa ataupun asosiasi lainnya yang ada di masyarakat tidak dapat berperan dalam upaya pemeliharaan prasarana jalan di desa Pertambatan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Kemampuan masyarakat untuk bekerjasama demi mencapai tujuan bersama di dalam berbagai komunitas disebut modal sosial. Kemampuan bekerjasama muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat atau di bagian paling kecil dalam masyarakat. Modal sosial bisa dilembagakan (menjadi kebiasaan) dalam kelompok yang paling kecil ataupun kelompok masyarakat yang besar seperti negara. Kerjasama yang dilandasi kepercayaan akan terjadi apabila dilandasi oleh kejujuran, keadilan, keterbukaan, saling peduli, saling menghargai, saling menolong di antara anggota kelompok (warga masyarakat). Pihak luar komunitas (kelompok) akan memberikan dukungan, bantuan dan kerjasama kepada kelompok apabila kelompok tersebut bisa dipercaya, artinya kepercayaan merupakan modal yang sangat penting untuk membangun jaringan kemitraan (kerjasama) dengan pihak luar dikutip dari w.p2kp.org/pustakadetil.asp?mid=67&catid=6&) diakses tanggal 20 februari 2011 pukul 15.32 WIB.

  Dalam kebanyakan kasus dijumpai kenyataan bahwa modal sosial dalam komunitas dengan difasilitasi oleh institusi lokal dapat dimanfaatkan untuk mendorong tindakan bersama guna membangun fasilitas umum, bahkan juga sekaligus pengelolaannya untuk memberikan pelayanan sosial. Pemanfaatan modal sosial untuk mendorong aktivitas bersama guna meningkatkan kesejahteraan sosial ini agaknya cukup relevan dan actual sesuai tuntutan perkembangan saat ini yang menuntut masyarakat dapat lebih mandiri dalam menjalankan proses pembangunan. Dalam implementasi untuk terwujudnya kemandirian dan keberlanjutan proses pembangunan tersebut dibutuhkan kapasitas masyarakat untuk melakukan pengelolaan pembangunannya, dan hal itu dilakukan dengan memanfaatkan modal sosial pada tingkatan komunitas (Soetomo, 2006:93-94).

  Peneliti menemukan peluang modal sosial yang cukup tinggi di masyarakat baik dari unsur jaringan sosial melalui tingkatan partsisipasi, solidaritas maupun kerjasama dalam bermasyarakat maupun dunia usaha, unsure kepercayaan dengan adanya transparansi dan mementingkan amanah, serta pranata yang berisikan nilai dan norma yang cukup berkembang yang tercipta di masyarkat. Namun peneliti menemukan dilapangan bahwa peluang modal sosial yang ada di masyarakat hanya digunakan dalam pola interaksi dalam masyarakat namun tidak digunakan untuk mendorong tindakan bersama untuk kepentingan bersama. Dalam proses pembangunan di masyarakat peluang modal sosial yang ada belum mampu dialokasikan sebagai modal ataupun investasi yang dapat menjadi kekuatan bersama.

  Dalam penelitian ini proses pemeliharaan prasarana jalan di desa Pertambatan nyatanya belum dapat dilakukan secara maksimal padahal banyak peluang modal sosial yang ada di masyarakat yang dapat dimanfaatkan. Hambatan pemeliharaan jalan masih hanya berada pada keterbatasan dana tanpa mengkaji bahwa ada kekuatan komunitas yang bias dimanfaatkan.

5.2 Saran

  1. jalan memang memiliki fungsi yang sangat penting terhadap kehidupan bermasyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial, sampai pada maslah politik dan keamanan maka dari itu hendaknya keberadaan sebuah prasarana jalan harus menjadi perhatian semua pihak.

  2. terhadap para pengguna ruas jalan desa Pertambatan ini selayaknya lebih memperhatikan rasa tanggung jawab dan memiliki terhadap jalan tersebut dengan demikian dapat memunculkan keinginan untuk bersama-sama memeliharanya.

  3. peneliti menyarankan diadakannya sebuah forum stake holder antar pengguna jalan tersebut guna meningkatkan kepedulian dan keikutsertaan mereka terhadap keberadaan jalan tersebut. 4. ada baiknya dibuat sebuah badan pengawasan terhadap kendaraan yang mengangkut muatan yang melalui jalan tersebut karena jika muatan berlebihan terus saja melewati jalan tersebut kerusakan tidak akan dapat dicegah, walaupun diperbaiki jalan tersebut akan dapat rusak lebih cepat. Hal ini bisa dijadikan bahan untuk diajukan ke pemerintahan pusat melalui musrembang agar mendapat perhatian juga dari pemerintah pusat. 5. kepada perangkat desa diharapkan untuk membuat sistem keterbukaan dalam menjalin hubungan dengan masayarakat desa agar masyarakat desa dapat lebh mengetahui apa yang terjadi di desanya dan perkembangannya dengan demikian diharapkan kerjasama yang dan hubungan yang harmonis dapat lebih terjalin antar kedua pihak.

  

Daftar Pustaka

Arikunti, Suharsimi.2003. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

  Badarudin. 2005. Modal Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Nelayan, dalam

  

Arif Nasution, Subhila, Badarudin (ed). Isu-isu Kelautan: dari

Kemiskinan Hingga Bajak Laut. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

  Bungin, Burhan. 2002. Metode Pnelitian Sosial. Surabaya: Airlangga Universitas Pers Fukuyama, Francis. 2002. Trust: Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran.

  Yogyakarta: Penerbit Qalam. Hasbulah, Jourasi. 2006. Social Capital ( Menuju Keunggulan Budaya Manusia

  Indonesia). Jakarta: MR. United Press

  Mariana, Dede. 2006. Modal Sosial dan Partisipasi Pembangunan. Jakarta: Warta Bapeda

  Moleong, J. Lexy. 2006. Filsafat Penelitian Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya. Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Soetomo. 2006. Strategi-strategi Pembangunan Masyarakat. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 2009. Undang-undang RI no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bandung : Citra umbar.

  Jurnal:

  Kristina. 2003. Masyarakat dalam Pemilu perspektif: Social Capital. Jurnal FISIP Universitas Sebelas Maret. Vol 3. NO.2

  Ibrahim, Linda D. 2006. Memanfaatkan Modal Sosial Komunitas Lokal Dalam

  Program Kepedulian Korporasi. Galang: Jurnal Filontropi dan

  Masyarakat Madani. Edisi Januari Vol. 1. No.2

  Situs Internet:

  pengaruh-dan-wujud-pengembangan- modal- sosial-untuk-menciptakan-sistem-politik-yang-dinamis/), diakses tanggal 28 agustus 2010 pukul 20.55 WIB. (http:/halimsani.wordpress.com /2010/05/26/ kapital-sosial-dalam-pembangunan masyarakat/,diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 09.37).

  (http:// alexa.ngeblogs.com/2009/12/04/modal-sosial-bermasyarakat/), diakses tanggal 27 Januari 2010 pukul. 15.58).

  (ttp://earning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/partisipasi-pemberdayaan-dan- pembangunan/), diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 09.58 WIB.

  (websit diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 12.46 WIB.

  87. wordpress. com /201004/02/ langkah-dan-strategi-penanganan- bencana-gempa-di-yogyakarta- an-jawa-tengah/),diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 12. 56 WIB. slamet wido do.com/ 2008/02/01/ partisipasi-pemberdayaan- dan-pembangunan/),diakses tanggal 16 desember 2010 pukul 10.38 WIB.

   diakses tanggal 20 februari 2011 pukul 15.32 WIB.

  

Transkrip Wawancara

Hari/tanggal : Senin, 7 Juni 2010

Jam : 08.45-10.05

Tempat : Kantor Kepala Desa Pertambatan

Informan : Pemerintah

Pewawancara : Peneliti

  Daftar Pertanyaan :

  Tanya : Sudah bepara lama Bapak menjabat sebagai kepala desa? Jawab : Saya baru sejak tahun 2007.. sekitar jalan tiga tahun Tanya : Dalam kehidupan bermasyarakat bagaimana yang bapak rasakan? Jawab : Sejauh ini baik-baik saja ya kalau hubungan bermasyarakat di desa saya tidak pernah ada konflik.

  Tanya : Berarti aman dan harmonis ya pak kalau tingkat kerjasama dan gotong royong itu bagimana pak?apa masih ada? Jawab : kalau masalah gotong royong di desa kami biasanya yang ada itu gotong royong kebersihan seperti membersihkan pekarangan rumah dan parit agar aliran air tidak tersumbat sampah yang ada di parit itu, kegiatannya biasanya dilakukan hari jumat

  Tanya : apakah semua warga wajib ikutbergotong royong pak? Jawab : kami selalu mengupayakan semua warga bisa ikut bergotong royong kebersihan tetapi terkadang sulit bias mengumpulkan semua warga karena pada siang hari banyak yang kerja jauh jadi buruh di perkebunan tetapi kami mengharuskan ada perwakilan keluarga yang ikut bergotong royong

  Tanya : Kalau terkait dengan ekonomi masyarakat pak masyarakat desa Pertambatan ini mata pencaharian penduduk yang paling dominant itu apa pak?

  Jawab : Kalau disisni buruh ya bu bisa dibilang 70 persen itu buruh..ada juga memang sebagian yang petani tapi itu pun kalau bertani jauh dari kampong

  Tanya : Melihat kondisi kerusakan jalan yang ada di desa ini pak bagaimana keterlibatan bapak selaku kepala desa dalam upaya pemeliharaan jalan ini?

  Jawab : Saya selalu berusaha meningkatkan partisipasi semua pihak tapi kami belum bisa melakukan upaya pemeliharaan yang maksimal..ini saja kemarin..perbaikan bulan mei baru sekitar 300 meter yang diperbaiki..dan itupun dananya semua dari pemkab.

  Tanya : Kendala nya itu bagaimana pak? Jawab : Masalah utama itu terkait dana ya bu…karena kan jalan ini cukup panjang itu dari ujung ke ujung sana, kurang lebih enam kilometer..selama ini saya sudah sering menggerakkan para perusahaan itu untuk meminta bantuan sama mereka untuk perbaikan jalan ini..paling kalau yang rajin kasih tu PN tiga itu kalau socfin pelit itu bu..dan lagi pun ini kan daerha perbatasan sama simalungun mereka kebanyakan kebun sawit..truk-truk besar mereka kan lewat sini semua.. Tanya : Apakah pernah ada jalinan kerjasama dengan mereka pak? Jawab : kalau kerjasama dengan silou kahean tidak pernah ada..padahal mereka juga menggunkan jalan kami ini...perkebunan di sana itu hampir

  LI- semuanya kelapa sawit...diangkut semua lewat jalan kami...tapi tidak pernah ada upaya apa-apa dari mereka.

  Tanya : Tadi bapak bilang socfindo itu pelit..bagaimana upaya bapak? Jawab : Memang kalau socfindo itu sulit itu bu..tapi saya sering menyindir mereka kalau ada acara pertemuan wakil mereka datang langsung saya utarakan itu.. Tanya : tanggapan mereka bagaimana pak? Jawab : Mungkin karena malu disinggung di depan umum mereka bilang akan melakukan upaya tapi tidak ada sampai sekarang..

  Tanya : berarti mereka tidak pernah ada kasi bantuan ya pak? Jawab : kalau socfindo (socfindo: pt. socfin Indonesia bangun bandar) tidak pernah ada beri kami bantuan, socfindo (socfindo: pt. socfin Indonesia bangun Bandar) itu “belanda hitam” itu mereka sangat pelit, cuek dan tidak mau tahu, kalau ibu mau tahu ibu langsung saja datang kesana, bila perlu saya akan mendampingi ibu, saya sudah sangat sering memperingatkan mereka itu, kalau ada rapat di kabupaten kan mereka pasti ikut saya sudah sering sindir tapi mereka tidak juga peduli, kalau ibu tanya masalah hubungan masyarakat desa ini dengan socfindo(socfindo: pt.socfin Indonesia bangun Bandar) sama sekali tidak ada komunikasi atau hubungan baik apapun

  Tanya : Wah..akan coba saya pertimbangkan pak..nah..dalam kondisi yang demikian jadi bagaimana hubungan dengan mereka itu pak? Jawab : Tidak ada hubungan..tidak ada…

  LI- Tanya : Itu kan socfindo yang tadi bapak bilang kalau kebun silau dunia itu bagaimana pak? Jawab : Kalau mereka lumayan..dengan silau dunia kami baik..kalau kami ada kegiatan perbaikan kami selalu bilang sama mereka dan mereka mau bantu kita.. Tanya : apakah mereka mentetapkan siapa yang berhak untuk mendapat bantuan dari mereka pak? Jawab : kasdun (kasdun: pt. pn 3 kebun silau dunia) tidak pernah menetapkan siapa yang pantas atau tidak pantas mendapat bantuan dari mereka, semua kami usahakan mendapat hak yang sama, tetapi karena kita selalu berusaha mendahulukan kepentingan masyarakat yang membutuhkan jadi bantuan seperti beasiswa yang pernah kami dapat selama saya menjabat kepala desa kami berikan terutama bagi yang tidak mampu tetapi berprestasi

  Tanya : Kalau dari masyarakat pak?bagaimana keikutsertaan masyarakat?misalnya dalam dana atau tenaga? Jawab : Wah..tidak ada ya..saya tidak membebankan masalah dana sama warga..turut kerja juga mereka ga ada pemborong yang jalani semuanya.. Tanya : Apakah selama ini pernah dilakukan forum diskusi begitu pak untuk melakukan upaya pemeliharaan yang maksimal dengan jalan ini pak?misalnya dengan warga atau dengan perusahaan?

  Jawab : Ohh…tidak pernah ada…belum pernah ada ya…

  Tanya : bagaimana dengan kegiatan musrembang pak? siapa yang wajib atau seharusnya ikut dalam musrembang tersebut? Jawab : kami musrembang desa itu..sekali setahun bu..tahun ini sudah dibuat bulan dua kemaren..kami biasanya menundang semua perwakilan, dari tokoh masyarakat, masyarakat kami undang perwakilan tiap dusun, tokoh agama, perangkat desa mewakili semua, dan tempatnya di kantor kades ini..kalau tahun ini memang yang utamanya tentang perbaikan jalan umum inilah bu

  Tanya : berarti perwakilan tersebutlah yang akan menyampaikan aspirasi masyarakat lainnya ya pak...kemudian terkait dengan penerapan nilai dan norma di desa yang heterogen begini pak, dengan perbedaab agama dan suku apa pernah ada konflik karena masalah keagamaan? Dalam melakukan ibadah misalnya?

  Jawab : perbedaan agama yang ada tidak pernah jadi pemicu masalah di desa kami, sikap saling menghargai menjadi pedoman mutlak, kalau melaksanakan acara keagamaan tidak pernah sejarahnya terjadi keributan atau kerusuhan

  Tanya : apakah di desa ini pernah ada warga yang melakukan penyimpangan sosial pak?maksud saya di luar aturan norma yang ada di masyarakat dan bagaiman sikap bapak?

  Jawab : saya tegas bagi masyarakat yang melakukan penyimpangan, kalau setelah saya periksa memang terbukti akan saya coret dari daftar kependudukan dan saya suruh pergi..saya sendiri yang akan buat surat pindahnya..karena saya merasa hal seperti itu sangat meresahkan masyarakat saya….tapi kalau di desa ini masih jarang kejadian seperti itu..adapun pernah sekali..kasus perselingkuhan tapi bukan dengan masyarakat desa ini…saya suruh pergi..saya yang langsung tanda tangani surat pindahnya…saya buatkan surat pindahnya..dari pada meresahkan warga lain

  Tanya : dalam pembangunan gereja apakkah ada campur tangan pemerintah pak? Jawab : pembangunan gereja atau mesjid memang masalah dananya pemerintah tidak terlalu ikut campur menyumbang dana kecuali saya secara pribadi yang juga bagian dari masyarakat, sebagai bagian dari anggota mesjid saya berpartisipasi dana sebagai anggota bukan atas nama pemerintah desa karena itu adlah tanggung jawab saya

  Tanya : saya lihat di desa ini ada galian pasir pak, bagaimana keberadaan galian pasir ini pak? Dan apa keuntungannya bagi warga sini? Jawab : galian pasir itu dibangun bulan 2 tahun 2010 dan mulai bulan 3 kemaren memang dihentikan karena banyak masyarakat yang protes yang mengatakan bisa merusak lingkungan, bisa longsor padahal galian itu bisa menambah pemasukan kas desa, tapi kalau menurut pandangan saya itu cuma kecemburuan sosial saja dari salah satu warga karena kalah dalam penentuan untuk pengelola galian pasir itu jadinya ada propokasi

  Tanya : apakah menurut yang bapak ketahui solidaritas antar warga di desa ini masih ada pak?

  Jawab : jelas masih ada..saya melihatnya ketika ada bencana atau musibah duka yang menimpa salah satu warga semua juga ikut memperhatikan dan merasakan beban yang sama

  Tanya : dalam proses perbaikan jalan di desa ini pak, apakah ada pemebritahuan kepada masyarakat tentang keterangan dana atau berap pembiayaan untuk jalan?

  Jawab : kami memang tidak ada penginformasian langsung kepada seluruh warga tetapi ada perwakilan dari setiap dusun yang saya rasa sebagai perwakilan dari masyarakat

  Tanya : apa itu tidak menutup kemungkinan partisipasi masyarakat pak? Jawab : kami memang tidka memberatkan dana apapun bagi warga untuk perbaikan jalan ini

  

Transkrip Wawancara

Hari/tanggal : Kamis/ 17 Juni 2010 Waktu : 10.35 – 11.30 Tempat : Kantor Perkebunan PN. III Silau Dunia Informan : Pengusaha Pewawancara : Peneliti Daftar Pertanyaan :

  Tanya : Bapak sudah berapa lama bekerja di perkebunan ini pak? Jawab : Wah..kalau saya sudah lama kali ya dek. Saya kerja disini. Selama disini saya, sudah berpa kali saya ganti pimpinan.

  Tanya : Berarti sudah cukup taulah tentang perusahaan ya pak? Jawab : Ya jelas.

  Tanya : Begini pak..terkait dengan kondisi jalan yang rusak di desa Pertambatan itu pak..dan baru-baru ini kan juga sudah dilakukan upaya pemeliharaan tapi baru sekitar 300 meter.dalam hal itu bagaimana selama selama ini keterlibatan instansi bapak?

  Jawab : Wah..kalau hitung-hitungan duit..sudah ga bisa dihitung berapa kami habis untuk membantu perbaikan jalan itu..belum lagi bantuan alat berat..untuk perbaikan meratakan batu-batu itu kan..kami mau bantu karena kami juga merasa memang jalan itu penting sekali untuk kami..untuk pengakuitan panen kami bawa lewat jalan itu..tentang bantuan ada semua datanya itu nanti saya kasih tunjuk ke adek..

  Jawab : Jadi sudah sering kasih bantuan ya pak?

  Jawab : Iya…ini aja yang baru-baru ini perbaikan itu kami juga trunkan itu bantuan alat-alat berat untuk meratakan batu itu..batu krikil..sudah banyaklah yang kami buat.. Tanya : Dalam upaya yang sekian banyak..apa sebenarya dampak yang dirasakan instansi bapak terkait dengan kerusakan jalan itu pak?

  Jawab : Jelas ada ya dek..jalan itu kan jalan utama untuk kami untuk kegiatan pengakutan panen jadi..penting sekalilah buat kami..sopir itu juga kan sering mengeluh kalau dah lewat situ..waktu tempuh setengah jam pun bisa jadi satu jam karena kerusakan itu..

  Tanya : Jadi karena itu prusahaan pun ikut membantu ya pak? Jawab : Kami kan juga memakai jalan itu..jadi kami merasa punya kewajiban memperhatikanya..lagi pula dalam prinsip kami ka nada bagi hasil keuntungan..jadi tidak salah keuntungan perusahaan kita bagi bersama dengan tempat kita usaha kan…

  Tanya : Seperti csr itu ya pak? Jawab : Iya..tapi kalau sama kami itu namanya bina lingkungan tapi bentuknya seperti csr tu jugala..

  Tanya : Terkait denganpemberian bantuan apakah ada penentuan siapa yang berhak atau yang pantas mendapat bantuan dan tidak begitu pak? Jawab : kalau memberi bantuan kami tidak membeda-bedakan, niat kami juga sama untuk memberi sedikit keuntungan yang kami dapat, jadi saya rasa semua warga punya hak yang sama untuk mendapat bantuan dari kami, hanya saja hal ini sepenuhnya kami serahkan kepada perangkat pemerintah desa

  Tanya : Terkait dengan pengawasan muatan pak?itu jalan ka nada sebenarnya muatan maksimalnya..nah..truk untuk angkutan bapak selamaini bagaimana kalau lewat sana pak?apakah ada pemeriksaan muatan begitu?

  Jawab : Pemeriksaan ga ada..kami lewat aja..tapi sebenarnya itu dia penyebabnya makanya truk-truk besar itu bebas masuk..dengan muatan yang tidak seharusnya kan…kalau kami truk buah kami memang yang standart..jadi gada masaah kalaupun ada pemeriksaan.

  Tanya : Sejauh ini apa pernah ada undangan dari pihak desa pertambatan yang mengundang misalnya untuk membicarakan tentang jalan itu pak? Jawab : Oh…tidak pernah.. Tanya : Kalaupun seandainya ada..apakah instansi bapak bersedia hadir pak? Jawab : Wah..tentu saja ..kami selalu berusaha menjalin hubungan yang baik sama warga sini..sama silou kahean saja kami begitu nanti saja saya mau ke silou kahean ini ada undangan untuk acara agustusan nanti..lagi pula saya rasa perlu juga itu ada rapat begitu.

  Transkip Wawancara Hari/ Tanggal : Senin/ 7 Juni 2010 Jam : 11. 45 – 12. 25 Tempat : Rumah Informan Informan : Tokoh Masyarakat Peneliti : Peneliti Hasil Wawancara

  T : Bagaimana hubungan bapak dengan masyarakat sini pak? J : Hubungan ya?maksudnya pergaulan sehari-hari begitu? T : Iya pak..kalau dengan warga sini ya baik ya..baik saja..wajarlah begitu..saya tidak suka cari masalah sama orang lain. Berarti harmonis ya pak..maksudnya gada pernah maslah? J : Kurang lebih begitulah..

  T : Jadi kalau terkait nilai atau norma pak..bagaimana yang bapak rasakan di desa ini?apa norma yang dipakai dalam pergaulan maksud saya pak? J : Emm..disini kan beragam ya..sukunya itu berbeda-beda..agama juga begitu..jadi kalau saya rasa saling menghargai itu yang paling penting..biar bias bagus hubungannya..menurut adek kan juga gitu?

  T : Kalau keagaamaan pak? J : Kalau itu mutlak..dan karena disini kita beda-beda agama..ya dengan keyakinan masing-masinglah..

  T : Apa pernah ada konflik gara-gara perbedaan itu pak? J : (menggeleng-gelengkan kepala) ga pernah ada..sejak saya bias mengingat ya..ga pernahlah ada..

  LI- T : Berbeda ya pak..jadi walaupun berbeda gitu bapak..?bagimana sikap bapak kalau ada sesama warga yang membutuhkan bantuan?apa solidaritas itu masih ada di desa ini pak?

  J : Solidaritas…masihlah..masih..kalau ada acara kita sama bantun..kita kan juga ga bisa hidup sendiri..

  T : Kalau semangat gotong royong pak? J : Adalah ada..seperti yang saya bilang tadi kita saling bant..kalau ada yang butuh bantuan kita usahakan bantu..kalau ada kegiatan gotong royong warga juga masihlah..masih ada yang mau…nanti masing-masing membersihkan paritnya.

  T : Kalau perkumpulan warga kayak arisan itu masih ada pak? J : Adalah…masih ada..

  T : Bapak kan menjabat sebagai ketua LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) ya pak..jadi rutinlah ikut kalau ada acara dikantor kades ya..atau kalau ada pertemua?

  J : Iya harus dek..kadang saya ga datang itu dijemput sama mereka.. T : Kalau yang saya lihat kan pak..desa Pertambatan ini di kelilingi sama perkebunan..jadi bagiamana itu pak hubungan warga sini dengan pihak pengusaha itu?

  J : Wahh (sambil memperbaiki posisi duduknya) bagaimana saya bilang ya dek..kalau kami tu sama mereka hamper bisa dibilang gada hubungan..mereka itu kan cuek..jadi ga pernah ada komunikasi. T : Maaf pak…maksudnya bagaimana ya?

  LI- J : Sebenarnya kita juga tidak mau ya dek berkonflik atau bagaimana..tapi memang kalau perusahaan sini saya tidak taulah..apakah memang dari atasan mereka..karena inikan hanya cabang saja masih ada atasan pasti..apa memang begitu kebijakannya harus tidak peduli atau saya tidak mengertilah..pernah lagi itu ada kasus warga sini dituduh mencuri buah.. wah…bukanya ngasih malah dituduh mencuri. T : Wah..jadi tindakan warga bagaimana pak? J : Ya diam saja..lagipula kalaupun mungkin itu benar itu sebenarnya karena sikap mereka juga yang begitu cuek..

  T : Kalau terkait dengan kondisi jalan yang rusak pak..bagaimana dampak yang bapak rasakan? J : Wah..lalu lintaslah itu yang paling terganggu..apalagi kalau hujan..banjir itu penuh air..kalau kemarau ya debunyalah sampe masuk ke rumah T : Sudah berapa lama pak kerusakan ini? J : Wah sudah lama sekali ini..sejak masih jadi deli serdang juga sudah hancur begini.

  T : Setahu bapak upaya yang pernah dilakukan pak? J : Cekk...belum ada yang nyata tapi kami sudah berulang kali sampaikan kepusat..

  T : Bagaimana dengan masyarakat sini pak? J : Maksud adek? T : Partisipasinya..atau bentuk keikut sertaannya..bagaimana? J : Sekedar begitu sajala..apalah yang bisa dibuat..ini kan masalah dana besar dek..

  LI- T : Kalau yang pernah dibuat pak? J : Apa ya..paling bersih-bersih parit T : Bapak kan selain sebagai tokoh masyarakat juga sebagai perangkat pemerintahan desa bagiamana hubungan bapak sebagai perangkat desa dengan masyarakat pak?dalam pergaulan kepercayaan..apakah masih perlu itu pak?

  J : Wah..sangat perlu saya rasa dek..karena bagaimana pun apalagi dalam menjalankan pemerintahan kita hrus saling mengertilah dan percaya..

  T : Ini kan katanya kadesnya baru pak..apa perbedaan yang bapak rasakan apa tidak ada perubahan? J : Wah..jauh berbedalah dek..bukan karena saudara saya ya.. T : Saya dengar kantor kepala desa itu juga baru direhab ya pak..atas usulan kades baru J : Memang..sejak kades barulah itu di bangun jadi begitu kalau dulunya memang gada kantor kepala desanya ga bagus.

  T : Jadi yang bapak rasakan dalam pergaulan bapak?masyarakat setempat..kususnya dalam maslah kerusakan jalan ini pak bagaimana? J : Terkadang merasa saya bergerak sendirri disini dek…susah…itulah salah satu kekurangan masyarakat disini..mereka menyangka kalau kami buat kegiatan dikira kami dapat persenan berapa…padahal saya sendiri dek…saya pribadi ..terkadang ga saya perhitungkan lagi berapa saya habis untuk mengurus ini itu untuk kepentingan desa ini..tapi ya sama aja itu buat mereka..nanti kalau kita ajaka diskusi pun mereka ya acuh aja..kalau kumpul diwarung saja misalnya kiata coba bahas gitu ya ga terlalu diopenin.

  T : Wah kenapa bisa begitu pak? J : Yah..namanya juga sifat orang itu beda-beda ya dek..kita kalau di pemerintahan itu dianggap udah senang-senang..makanya mungkin mereka jadi malas. T : Dengan kata lain..kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah itu kurang ya pak..

  J : Saya rasa juga begitu..mereka juriga kami ada main atau bagaimana..mereka hanya mencibir kalau kita bahas mengenai keadaan desa..menurut mereka kami itu udah yang paling senang..dapat bagian berapalah..dari dulu memang gitu dek..dulu sebelum kades yang sekarang ini lebih parah lagi.

  T : Jadi …begini pak..terkait dengan kepercayaan tadi..kalau seandainya ada bantuan dana untuk masyarakat siapa paling bapak percaya untuk mengolahnya pak?

  J : Saya…he..he…(menjawab sambil tersenyum) T : Maksud bapak? J : Maksud saya yang saya yang kelola..karena saya yakin sama diri saya..saya bisa dipercaya..dan bertanggung jawab..dari pada sama orang lain juga belum tentu aman.. T : Tapi terkait jalan ini apa memang belum pernah ada perbaikan pak? J : Adalah..seperti yang ade liat di dusun inikan..ada sekitar 300 meter itu yang udah di bagusin..dan sebelumnya juga pernah lah ada perbaikan kecil..

  T : Jadi dananya dari mana itu pak? J : Kalau yang 300 meter itu dari pusatlah ya..tapi kalau kecil-kecil itu selama ini kami upaya kan dari pendapatan desa..

  LI- T : Kalau dana dari masyarakat tidak pernah di kumpul pak? J : Wah..tidaklah..

  T : Kalau pekerjanya pak? J : Ya itu juga urusan pemborong itu..

  T : Tapi kalau penyebab utama kerusakan jalan ini menurut bapak itu apa pak.? J : Pemanakaian yang melebihi batas..ini kan jalanya ga terlalu besar tapi yang lewat sini tu truk-truk besar dan sebenarnya buka dari sini tapi dari simalungun itu..kan disana banyak kebun sawitnya.. T : Melebihi muatan…apa tidak ada pemeriksaan pak? J : Tidak ada itu..

  T : Kalau perusahaan yang perkebunan itu pak..bantuan mereka bagaimana? J : Gada itu dek..kayak yang saya bilang tadi mereka itu cuke da pelit..orang sini bilangnya belanda hitam..mereka tu pintar mereka buat jalan sendiri di balik kebun mereka itu jadi mereka tidak perlu pakai jalan sini..tapi baimana pun sebenarnya mereka tetap pakai kok..itu jalan yang di bawah itu..yang hancur dekat kebun-kebun itu..mereka pakai itu..tapi mang dasar mereka pelit.

  T : Apa semua begitu pak? J : Sama saja itu..tapi yang paling parah memang socfin ini..pelit..(menunjukkan wajah kesal).

  T : Kalau dengan simalungun sendiri pak?apa tidak pernah ada kerjasama? J : Kerjasama?oo..ga pernah ada… T : Kalau warga yang beribadah apa pernah ada keributan begitu pak ?mengingat kan

  LI- masyarakatnya desa ini terdiri dari agama yang berbeda-beda? J : jadi sikap saling menghargai dan adanya sikap menghormati itu penting..kalau yang agama Kristen membuat acara keagamaan kami yang non kristen tidak pernah buat masalah untuk mengacaukan acara mereka dan kami juga begitu kalau ada acara keagamaan juga bisa berjalan lancar

  T : lembaga pemerintahan desa apakah lengkap di desa ini pak?apa saja?? J : kalau lembaga pemerintahan desa di Pertambatan ada pkk, pokja, bpd, paud dan musrembang, semua dikepalai satu orang ketua dan perangkat pengurus, kantornya semua ada di kantor kepala desa yang ada di dusun bandar pamah itu

  T : dalam pembangunan mesjid pak, itu sumber dananya apaka dari pemerintah atau masyarakat ataua bagaimana pak? J : kalau pembangunan mesjid kami anggota menggunakan dana dari partisipasi anggota saja, dari sumbangan wajib kami buat perorang kemudian baru dari sumbangan pihak luar yang pastinya kami upayakan sendiri

  T : dalam pembangunan mesjid pak, keterangan dana...masalah keterbukaan tentang dana pembangunan itu bagaimana pak? J : dalam kegiatan pembangunan mesjid kami semua masalah dana kita buat keterangannya untuk anggota, siapa yang menyumbang, kemana alokasi dana semau kami jelaskan kepada anggota mesjid kami, biasanya kami buat catatanya di mading yang ada di mesjid jadi semua jemaat bisa membacanya

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Penggunaan Peluang Modal Sosial Dala..

Gratis

Feedback