Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati (Biofertilizer) Dari Bakteri Rhizobium sp. Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Carrier Terhadap Produksi Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L)

 3  92  62  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

DAFTAR ISI

  Fiksasi Nitrogen oleh Bakteri yang Hidup Bebas 18 2.5. Saran 43 DAFTAR PUSTAKA 44 LAMPIRAN 46 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Kontribusi nitrogen beberapa tanaman legume berbintil 19 Tabel 2.2 Kelompok inokulasi silang Rhizobium 23 Tabel 2.3 Komposisi medium YEMA 24 Tabel 2.4 Peningkatan Produksi Tanaman di India dengan Pemberian 27 Pupuk Bio Tabel 4.1 Data Perhitungan Jumlah Koloni Bakteri Rhizobium 38 Tabel 4.2 Data Pengamatan Produksi Kacang Hijau 38 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1.

DAFTAR LAMPIRAN

  HalamanLampiran A Gambar Penelitian 47 Lampiran B Data Perhitungan Jumlah Sel Bakteri Rhizobium 48 Lampiran C Data Perhitungan %Penambahan Produksi Kacang Hijau 48 Lampiran D Data Perhitungan Aktivitas Air (A w ) 48 ABSTRAK Telah dilakukan penelitian pengaruh penambahan pupuk hayati dari bakteri Rhizobium sp yang diinokulasikan ke dalam dolomit sebagai carrier terhadap produksi kacang hijau. Pembuatan pupuk hayati dilakukan dengan cara mengisolasi bakteri Rhizobium sp dari bintil akar putri malu kemudian bakteri itu dibiakkan dalam media agar YEMA dan Congo Red.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Telah banyak pupuk-pupuk mikroba yang diproduksi oleh dan untuk kepentingan negaranya masing-masing seperti Rhizoteeka oleh India, Nodosit oleh Belgia,Rhizonit oleh Hungaria, N-germ oleh Prancis, Nitrogerm dan Mycobedds olehAustralia, Nodulud oleh Austria, Radicin Impfsfoff oleh Jerman, dan Mycho Rhiz olehAmerika Serikat. Variasi perbandingan antara dolomit dengan starter kultur (Rhizobium/gram carrier) yang dilakukan 1:7, 1:8, 1:9, 1:10, dengan masing–masing 5 gram dolomitdicampurkan dengan 35, 40, 45, dan 50 mL starter kultur dalam wadah yang berbeda.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pupuk

  Setiap kemasan pupuk yang diberi label yang menunjukkan jenis dan unsur hara yang dikandungnya. Selain menentukan jenis pupuk yang tepat, perludiketahui juga cara aplikasinya yang benar, sehingga takaran pupuk yang diberikan dapat lebih efisien.

2.1.1. Penggolongan Pupuk

Pupuk dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Pupuk Kimia (Anorganik)

  Pupuk hayati berbeda dari pupuk kimia buatan, misalnya urea, TSP dan lain- lain, karena dalam pupuk hayati komponen utamanya adalah jasad hidup yang padaumumnya diperoleh dari alam tanpa ada penambahan bahan kimia, kecuali bahan kimia yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan jasad hidupnya selama dalampenyimpanan. Kelompok mikroba yangsering digunakan adalah mikroba-mikroba yang menambat N dari udara, mikroba yang malarutkan hara (terutama P dan K), mikroba-mikroba yang merangsangpertumbuhan tanaman.

2.2. Unsur Hara Tanaman

  Unsur-unsur hara ini harus dalam bentuk zat terlarut dalam tanah agar dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan, dan senyawa-senyawa organik seperti kotoran hewan,sisa-sisa tumbuhan atau zat-zat organik tanah, harus dipecah dan dimineralisasi menjadi molekul-molekul sederhana sebelum senyawa organik ini digunakan. Ada beberapa senyawa yang terdapat pada banyak tanaman termasukprotein, asam nukleat dan klorofil yang penting untuk berbagai macam proses seperti transfer energi, mendapatkan makanan dan fungsi enzim.

2 O 5 :K O = :1:1) (Laegreid et al, 1999)

  Unsur hara yang diserap oleh tanaman berasal dari 3 sumber sebagai berikut: 1. Unsur hara ini terikat di permukaan atau di antara lapisan koloid tanah dan sebagai sumber utama dari unsur hara yang dapat diatur oleh manusia.

2.3. Nitrogen Nitrogen merupakan unsur yang penting untuk seluruh proses dalam tumbuhan

  Gas yang terdapat di atmosfer merupakan sumber utama N, tetapi secara alamiah gas ini memiliki reaktivitas yang rendah dan hanya beberapa bakteri yang dapat memanfaatkannya. Kebanyakan nitrogen tanah terdapat dalam senyawa 4 , kemudian mikroba yang lain mengubah NH 4 dengan cepat menjadi NO 3 , yang merupakan bentuk mineral utama N dalam tanah.

2.3.3. Siklus Nitrogen

  Aktivitasdari beberapa mikroorganisme yang khusus sangat penting dalam mengubah nitrogen menjadi bentuk-bentuk yang berguna (Tortora, 2001). Protein, asam nukleat, basa purin, pirimidin, dan asam amino (glukosamin dan galaktosamin) merupakan senyawanitrogen oraganik yang berasal dari sisa tanaman atau hewan.

2 O

  Asam amino Asam Ammonia α-keto Karena tumbuhan dapat memanfaatkan ammonia yang dibebaskan ini sebagai sumber nitrogen, siklus ini dapat berhenti di sini karena menyangkut keseimbanganalam. Bakteri ini merubahsejumlah besar nitrat menjadi nitrogen yang masuk ke dalam atmosfer dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat berarti.

2.4. Fiksasi Nitrogen Secara Biologis

  Karena sistemnitrogenase bersifat tidak stabil dan segera mengalami inaktivasi oleh oksigen atmosfer, enzim ini sulit untuk diisolasi dalam bentuk aktif dan dimurnikan. Produkfiksasi nitrogen stabil yang pertama dikenali adalah ammonia (NH 3 ); jadi proses keseluruhan dipandang terdiri dari reduksi satu molekul nitrogen (N ) menjadi dua 2 molekul ammonia (Lehninger, 1982).

2.4.1. Organisme Pengikat Nitrogen

  Beberapa bakteri yang hidup bebas, seperti sianobakteri atauganggang hijau-biru, yang terdapat tidak hanya di dalam air tawar dan air asin, tetapi juga pada tanah dan jenis-jenis bakteri lainnya, seperti Azotobacter, mampumelakukan fiksasi nitrogen atmosfer. Produk penting pertama dari fiksasi nitrogen pada organisme ini adalah ammonia (NH 3 ), yang dapat dipergunakan oleh bentuk kehidupan lain, baik secara langsung atau setelah pengubahannya menjadi senyawa terlarut lainnya, seperti nitrit, nitrat, atau asam amino (Lehninger, 1982).

2.4.2. Biokimia Nitrogenase Semua spesies yang dapat mengikat nitrogen memiliki kompleks nitrogenase

  Strukturnya, sama pada semua spesies yang telah diteliti sejauh ini, mengandung dua protein yang disebut nitrogenase dan nitrogenase reduktase. Leghemoglobin memiliki afinitas O yang sangat tinggi menjaga 2 masuknya O 2 cukup rendah untuk melindungi nitrogenase yang sedang melakukan transport pasif O 2 untuk bakteri aerobik (Voet, 1998).

2.4.3. Mekanisme Reduksi Nitrogen oleh Nitrogenase

  Selama proses fiksasi nitrogen secara biologis, gas nitrogen (N ) direduksi menjadi 2 ammonia (NH 3 ) oleh enzim nitrogenase. Protein Fe-Mo (nitrogenase) bereaksi dengan satu molekul N membentuk 2 2 kompleks nitrogen nitrogenase (NNC ).

2 Kompleks nitrogen nitrogenase

  Nitrogenase tereduksi dalam kompleks nitrogenase menerima enam molekul ion 2 menjadi ammonia dengan menggunakan enam elektron. Elektron-elektron yang ada pada atom Fe dari nitrogenase digunakan untuk tujuan ini.

2 N-NH

  Begitu juga dengan NH 3 yang dihasilkan, dilepaskan ke dalam sitoplasma. Reaksi reduksi nitrogen oleh nitrogenase menjadi ammonia dapat dituliskan sebagai berikut: N 2 + 8H + 8e + 16MgATP 2NH 3 + H 2 + 16MgADP + 16P i .

2.5. Fiksasi Nitrogen Oleh Bakteri

  Dua kelompok mikroorganisme yang terlibat dalam proses fiksasi nitrogen adalah mikroorganisme non simbiotik (termasuk dalam kelompok ini adalah mikroorganismeyang hidup bebas di dalam tanah) dan mikroorganisme simbiotik (Budiyanto, 2004). Penambat nitrogen hidup bebas yang paling penting terdapat di antara sianobakteri dan dalam bakteri yang diklasifikasikan dalam marga Azotobacter.

2 Total kontribusi nitrogen (q/ha)

  Bakteri yang hidup bebas dan memiliki kemampuan untuk memfiksasi nitrogen molekular dapat dibedakan menjadi organisme aerob obligat, aerob fakultatif, dananaerob. Bakteri aerob obligat termasuk dalam genus-genus Azotobacter, Beijerinckia, nitrogen dalam proses mereduksi sulfat (Rao, 1994)Kebanyakan bakteri pemfiksasi nitrogen yang hidup bebas mampu mengikat sejumlah besar nitrogen di bawah kondisi laboratorium.

2.5.1. Fiksasi Nitrogen oleh Bakteri yang Hidup Bebas

2.5.2. Fiksasi Nitrogen oleh Bakteri Simbiotik

  tanah biasanya terdapat kekurangan karbohidrat yang dapat dipakai sebagai persediaan energi yang dibutuhkan untuk reduksi nitrogen menjadi ammonia, yang kemudianmenjadi protein. Inilah sebabnya mengapa para petani menggilir tanamannya dari tanaman yang menghabiskan nitrogen (seperti jagung) sampai tanaman yang mengisi kembali Ada contoh yang sama dari fiksasi nitrogen simbiotik pada tanaman-tanaman nonlegume, seperti pohon alder.

2.6. Bakteri

  Bakteri adalah kelompok mikroorganisme yang sangat penting karena pengaruhnya yang membahayakan maupun menguntungkan. Mereka dijumpai di udara, air dan tanah, dalam usus binatang, pada lapisan yang lembab pada mulut, hidung atau tenggorokan, pada permukaan tubuhatau tumbuhan.

2.6.1. Rhizobium dan Perbintilan Akar

  Rhizobiummampu menghasilkan hormon pertumbuhan berupa IAA dan giberellin yang dapat memacu pertumbuhan rambut akar, percabangan akar yang memperluas jangkauanakar. Hampir 10-12% Legumminoseae telah diperiksa hingga saat ini mengenai bintil akarnya; dari jumlah itu diketahui bahwa 10% dari Mimosoideae,65% dari Ceasalpinoideae dan 6% dari Papilionoideae tidak memiliki bintil akar (Rao, 1994).

2.6.2. Klasifikasi Rhizobium

  Prinsip pengelompokan inokulasi- silang didasarkan pada kemampuan suatu isolat Rhizobium untuk membentuk bintilpada genus-genus yang terbatas dari spesies legume yang satu sama lain berkerabat. Semua Rhizobium yang dapat membentuk bintil dalam perakaran tipe legume tertentu secara kolektif dimasukkan dalam satu spesies.

2.6.3. Teknik Kultivasi dan Perbanyakan Rhizobium/Bradyrhizobium

  Rhizobium pada umumnya dipelihara dengan menumbuhkannya dalam medium padat Yeast Extract Mannitol Agar (YEMA). Kultur yang dipelihara inilah yang digunakan sebagai “kultur induk” yangdigunakan sebagai inokulum untuk perbanyakan Rhizobium yang akan diformulasi sebagai pupuk hayati.

4 NaCl 0,1 g

  Mannitol *) 10,0 gYeast extract 1,0 g Akuades 1000 mlAgar 20 g Perbanyakan Rhizobium dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dalam medium cair dalam skala volume yang disesuaikan dengan kapasitas produksiinokulan. Beberapa bahan pembawa yang dapat digunakan untuk formulasi inokulanrhizobia antara lain gambut, lignite, arang, vermiculite, zeolite dan lain-lain.

2.7. Kacang Hijau Kacang hijau mempunyai nama lain mungo, mungbean, green–grain, golden grown

  Kacang hijau yang sudah menjadikecambah mengandung vitamin E (tokoferol) yang penting sebagai antioksidan. Kadar lemak yang rendah dalam kacang hijau menyebabkan bahan makanan atau minuman yang terbuatdari kacang hijau tidak mudah tengik.

2.8. Pemanfaatan Inokulan Rhizobium di India

  Peningkatan produksi dari berbagai tanaman dengan pemberian inokulan Rhizobium di beberapa daerah di India dengan kondisi agro-klimatik yang berbeda dapat dilihatpada tabel berikut ini (Dubey, 2006): Tabel 2.4 Peningkatan Produksi Tanaman di India dengan Pemberian Pupuk Bio Respon Hasil Panen (%peningkatan tanaman* dibandingkan kontrol, pH tanah(%peningkatan 7,3)** Tanaman Lokasi dibandingkan kontrol yang %PeningkatanTanaman C tidak (q/ha)diinokulasi) Hisar, Haryana 5-25Pantnagar, U. 4-26UI-22,57 (LensPadi 13,2 Tidak ada h RI-25,55Lud iana, Punjab culinaris) respon Kacang Pudukkotti, T.

2.9. Produk Inokulan Mikroba

  Beberapa jenis inokulan mikroba yang telah diproduksi secara komersial beberapa negara di dunia seperti India, Belgia, Prancis, Australia dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Dubey, 2006): Tabel 2.5 Produk Inokulan Mikroba di India No Perusahaan Produk 1 Bacfil Rhizoteeka 2 Microbes India Rhizoteeka 3 Rallis India Rhizoteeka 4 Indian Organic Chemicals Ltd Nodin, Natrin Tabel 2.6 Produk Inokulan Mikroba di Luar India No Perusahaan Produk 1 Union Chemique S. dan Institute for Myco RhizMycorrhizal Research and Development,U.

BAB 3 BAHAN DAN METODELOGI PENELITIAN

  Bintil akar putri malu 9. Media Yeast Manitol Broth (YMB) 2.

3.3. Prosedur Penelitian

  Preparasi Sampel Sampel yang digunakan adalah Rhizobium hasil isolasi dari bintil akar putri malu(Lampiran A gambar 1), yang diambil dari FMIPA USU. Bintil akar dipilih dari tanaman putri malu yang tersedia kemudian bintil akar tersebut dicuci denganmerendamnya ke dalam tabung reaksi yang berisi akuades kemudian disaring.

3.3.4.1. Isolasi Bakteri Rhizobium pada Media Selektif dengan Penambahan

  Congo Red Satu ose dari suspense bintil akar putri malu yang sudah disiapkan sebelumnya diambil, kemudian digoreskan pada media YEMA + Congo Red (Lampiran A, ogambar 2). Bakteri yang diperoleh ditumbuhkan kembali pada medium YEMA (Lampiran A gambar 3) dengan o menggunakan metode gores sinambung, lalu diinkubasi pada suhu 37 C selama 2 hari.

3.3.4.2. Identifikasi Bakteri Rhizobium

  Pembuatan Starter Kultur Biakan Rhizobium yang ditumbuhkan kembali pada YEMA kemudian diambil 1-2 ose dan dicampur dengan 100 mL Yeast Manitol Broth (YMB) dalam gelas Erlenmeyer(Lampiran A gambar 5), lalu dikocok dengan menggunakan shaker pada temperatur kamar hingga diperoleh starter kultur. Pengujian Jumlah Sel dari Medium Pembawa (Carrier) Masing-masing wadah dengan perbandingan antara dolomit dengan starter kultur 1:7,1:8, 1:9, 1:10 ditimbang sebanyak 1 gram dan dimasukkan dalam masing-masing 5 tabung reaksi yang berbeda, kemudian ditambahkan dengan 10 mL akuades steril.

3.4.1. Isolasi Bakteri Rhizobium

Bintil akar tanaman putri maludicuci dengan akuades dibiarkan 1 menitdisaring Bintil akar tanaman putri maludimasukkan kedalam tabung reaksi disemprot dengan alkohol 70%disemprot dengan larutan klorok dibilas dengan akuades Bintil akar tanaman putri maludigiling dengan menggunakan alu dan lumpang ditambah 1 mL akuades steril Suspensi bintil akar tanaman putri maludiinokulasi 1 ose pada media YEMA + congo red o diinkubasikan pada suhu 37 C selama 2 hariCampuran Koloni Rhizobium dan Agrobacteriumdilihat bentuknya diamati warnanyadipisahkan dengan jarum ose Koloni berwarna merah Koloni berwarna putih(Agrobacterium) (Rhizobium)odisimpan dalam lemari es pada suhu 4 C selama 2 hari diuji mikroskopdikembangbiakkan kembali untuk mendapatkan biakan murni pada medium YEMA dengan menggunakan metode gores sinambungo diinkubasi pada suhu 37 C selama 2 hari Hasil

3.4.2. Pembuatan Perbandingan Biakan Murni Rhizobium dan Media Pembawa (Carrier)

Biakan murniDolomit Rhizobium diambil 1-2 ose isolat Rhizobium ditimbang dolomit sebanyak 140 gramdiinokulasikan kedalam media disterilkan di dalam autoklaf o Yeast Manitol Broth (YMB) pada suhu 121 C dan tekanan 15 psi selama 1 jamDikocok dengan shaker pada temperatur kamar Starter kulturDolomit Steril diukur volume dengan variasi 35, 40, 45, dan 50 mL dicampurkan starter kultur dengan dolomitdimasukkan ke dalam 4 wadah plastik yang berbeda dengan perbandingan 1:7, 1:8, 1:9, 1:10 Wadah I Wadah II Wadah III Wadah IV5 gram 5 gram 5 gram 5 gramdolomit + 35 dolomit + 40 dolomit + 45 dolomit + 50mL starter mL starter mL starter mL starter diinokulasikan selama 5 minggu pada temperatur o di bawah 20 C Rhizobium dalam serbuk dolomit

3.4.3. Perhitungan Jumlah Sel Pada Pembawa (Carrier) Metode Lay, (1994)

ditimbang sebanyak 1 gram dimasukkan kedalam masing-masing 5 tabungreaksi ditambahkan 10 mL akuades sterildihomogenkan dengan vorteks didiamkan selama 1 menitdipipet sebanyak 1 mL dimasukkan ke dalam tabung reaksidihomogenkan dengan vorteks diambil sebanyak 0,25 mLdisebarkan pada media YEMA+congo red dalam cawan petri diinkubasi pada suhu 37 o C selama 2 hari dihitung jumlah sel pada pembawa (carier) dari minggu ke-1 sampaiminggu ke-5 Rhizobium dalam serbuk dolomit Filtrat Rhizobium Endapan serbukSuspensi Rhizobium FiltratHasil

3.4.4. Pengaplikasian Pupuk Rhizobium Terhadap Tanaman Kacang Hijau

  3.4.4.1. Tanaman Kacang Hijau Tanpa Penambahan Pupuk Rhizobium Biji Kacang Hijau diambil 2 – 3 biji kacang hijaudimasukkan ke dalam polybag yang telah diisi tanah dan dolomit yang telah dihomogenkan Tanaman Kacang Hijau diamati pertumbuhan tanaman kacang hijausampai dihasilkan buah dicatat hasil pengamatan Hasil 3.4.4.2.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

  Dari hasil penelitian pupuk mikroba dan pengaplikasian pada tanaman kacang hijau yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa produksi buah kacang hijau denganpenambahan starter kultur 1:9 memperlihatkan hasil yang paling baik dibandingkan dengan perbandingan starter kultur yang lainnya. Data Perhitungan Jumlah Koloni Bakteri Rhizobium Minggu (koloni) Sampel Pengenceran I II III IV V 9 1:7 10 300 335 385 435 467 9 1:8 10 314 347 403 458 482 9 1:9 10 328 372 420 485 509 9 1:10 10 291 320 359 406 443 Tabel 4.2.

4.1.1. Perhitungan Jumlah Sel Rhizobium

  a df× −1CFU ml = V a : Rata-rata jumlah koloni per cawan petri df : Faktor pnegenceran V : Volume suspensi biakan yang disebarkan Perbandingan 1:7 Minggu I9 300 10 sel91 ×− CFU 1200 10 sel mL = = × , 25 mL(Data perhitungan jumlah sel bakteri selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B) 4.1.2. Perhitungan %Penambahan Produksi Kacang Hijaum m p − b 100 % × % Penambahan Produksi Kacang Hijau = m b m p : massa perlakuanm b : massa blankoPerbandingan 1:7 25 , 8573 20 , 7469 − 100 % 24 , 63 % × = % Penambahan Produksi Kacang Hijau = 20 , 7469(Data perhitungan %penambahan produksi kacang hijau selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C) 4.1.3.

2 A

  n n 1 2 n : jumlah mol dolomit. 1n 2 : jumlah mol air.

4.2. Pembahasan

  Dari hasil pengaplikasian pupuk hayati di lapangan terhadap tanaman kacang hijau dapat dilihat bahwa produksi buah kacang hijau kontrol dan produksi buahkacang hijau dengan penambahan pupuk hayati terdapat perbedaan yang signifikan yaitu besarnya persen penambahan produksi buah antara tanaman kontrol dengantanaman perlakuan, yaitu sebesar 24,63% (1:7); 56,14% (1:8); 83,65% (1:9); 44,08%(1:10). Pada perlakuan 1:9 ini jumlah total sel bakteri yang terdapat dalam carrier adalah 2036 × 9 10 sel/gram carrier dan merupakan jumlah bakteri yang terbanyak dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

  Biakan murni ini dapat dijaga pertumbuhannya dengan cara menyimpannya pada tempat dengan suhu di bawah o 20 C, dengan masa simpan selama enam bulan. Dolomit dapat digunakan sebagai bahan pembawa (carrier) karena memiliki kemampuan menahan air yang tinggi dan tidak bersifat toksik bagi bakteri.

Informasi dokumen
Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati (Biofertilizer) Dari Bakteri Rhizobium sp. Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Carrier Terhadap Produksi Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L) Bahan-Bahan Alat-Alat Pembahasan Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati (Biofertilizer) Dari Bakteri Rhizobium sp. Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Carrier Terhadap Produksi Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L) Biokimia Nitrogenase Fiksasi Nitrogen Secara Biologis Fiksasi Nitrogen oleh Bakteri yang Hidup Bebas Fiksasi Nitrogen oleh Bakteri Simbiotik Klasifikasi Rhizobium Teknik Kultivasi dan Perbanyakan RhizobiumBradyrhizobium Latar Belakang Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati (Biofertilizer) Dari Bakteri Rhizobium sp. Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Carrier Terhadap Produksi Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L) Lokasi Penelitian Pupuk Kimia Anorganik Pupuk Organik Pupuk Hayati Mekanisme Reduksi Nitrogen oleh Nitrogenase Nitrogen : Kimia dan Bentuk Nitrogen dalam Tanah Organisme Pengikat Nitrogen Fiksasi Nitrogen Secara Biologis Pemanfaatan Inokulan Rhizobium di India Produk Inokulan Mikroba Pembuatan YEMA Yeast Extract Manitol Agar Pembuatan YMB Yeast Manitol Broth Preparasi Sampel Pembuatan Starter Kultur Pencampuran Starter dengan Medium Pembawa Carrier Pengujian Jumlah Sel dari Medium Pembawa Carrier Pengujian Lapangan Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Metodelogi Penelitian Rhizobium dan Perbintilan Akar Sistematika Tanaman Kacang Hijau Kandungan Gizi Kacang Hijau Manfaat Kacang Hijau Unsur Hara Tanaman Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati (Biofertilizer) Dari Bakteri Rhizobium sp. Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Carrier Terhadap Produksi Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L)
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati (Biofertiliz..

Gratis

Feedback