Feedback

Perpisaham Meja Dan Ranjang Dalam Perkawinan Di Tinjau Dari Hukum Perdata (BW)

Informasi dokumen
PERPISAHAN MEJA DAN RANJANG DALAM PERKAWINAN DITINJAU DARI HUKUM PERDATA (BW) TESIS OLEH EPI SULASTRI 097011075/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERPISAHAN MEJA DAN RANJANG DALAM PERKAWINAN DITINJAU DARI HUKUM PERDATA (BW) TESIS Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh EPI SULASTRI 097011075/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi : : : PERPISAHAN MEJA DAN RANJANG DALAM PERKAWINAN DITINJAU DARI HUKUM PERDATA (BW) Epi Sulastri 097011075 Kenotariatan Menyetujui Komisi Pembimbing (Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum) Pembimbing (Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn) Pembimbing (Chairani Bustami, SH, SpN, MKn) Ketua Program Studi, (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Dekan, (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum) Tanggal lulus : 07 Juli 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal : 07 Juli 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum Anggota : 1. Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn 2. Chairani Bustami, SH, SpN, MKn 3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 4. Notaris Syafnil Gani, SH, MHum Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Perpisahan meja dan ranjang pada hakikatnya adalah perpisahan antara suami dan isteri tampa mengakhiri ikatan perkawinan. Akibat hukum terpenting dari perpisahan meja dan ranjang antara pasangan suami isteri tersebut adalah ditiadakannya kewajiban bagi suami isteri untuk tinggal bersama, dan dibidang harta perkawinan akibat hukumnya sama dengan perceraian. Hal ini ditegaskan oleh Pasal 243 KUH Perdata (BW) yang menyatakan, “Perpisahan meja dan ranjang selamanya mengakibatkan perpisahan harta kekayaan dan karenanya merupakan alasan untuk mengadakan perpisahan persatuan, seolah-olah perkawinan telah dibubarkan”. Pengaturan perpisahan meja dan rajang dalam KUH Perdata (BW) diatur dalam bab kesebelas buku ke satu tentang orang, Pasal 233 sampai dengan Pasal 249 KUH Perdata (BW). Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pengaturan mengenai pisah meja dan ranjang dalam KUH Perdata (BW) khususnya dalam bidang perkawinan, akibat hukum terjadinya peristiwa pisah meja dan ranjang dan prosedur hukum pengajuan permohonan tuntutan pisah meja dan ranjang. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif, yang berawal dari premis umum dan berakhir pada suatu kesimpulan khusus. Kumpulan data diperoleh dari bahan hukum primer yang terdiri dari norma atau kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan terkait dengan pengaturan perpisahan meja dan ranjang. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari hasil-hasil penelitian, laporan-laporan serta artikel-artikel yang berkaitan dengan penelitian ini. Bahan hukum tersier terdiri dari kamus hukum, kamus umum, jurnal ilmiah, majalah yang terkait dengan penelitian ini. Sebagai data penunjang dalam penelitian ini juga didukung dengan penelitian lapangan (field research) yang berupa wawancara langsung dengan Panitera Pengadilan Negeri Medan dan juga beberapa orang pasangan suami isteri dari golongan timur asing Tiong Hoa dimana kehidupan perkawinannya sedang dalam masalah perceraian, yang dalam penelitian ini memiliki kapasitas sebagai narasumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan pisah meja dan ranjang dalam perkawinan menurut KUH Perdata (BW) dimaksudkan untuk mempersulit terjadinya suatu perceraian. Hal ini sejalan dengan asas yang terkadung didalam KUH Perdata (BW) yakni tidak menginginkan terjadinya suatu perceraian dalam perkawinan. Disamping itu akibat hukum yang timbul dari terjadinya pisah meja dan ranjang adalah sama dengan terjadinya perceraian. Perbedaanya hanya terletak pada masih utuhnya ikatan perkawinan dalam suatu perbuatan hukum pisah meja dan ranjang tersebut. Hasil penelitian lainnya adalah bahwa prosedur hukum tuntutan pisah meja dan ranjang adalah sama dengan prosedur hukum tuntutan perceraian. Perbedaanya adalah bahwa dalam pisah meja dan ranjang dibenarkan dilakukan i Universitas Sumatera Utara berdasarkan kesepakatan bersama antara pasangan suami isteri, sedangkan dalam perceraian tidak dibenarkan menurut KUH Perdata (BW) dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama antara suami isteri. Oleh karena itu pisah meja dan ranjang yang diatur dalam KUH Perdata (BW) agar dapat memperoleh kepastian hukum harus dikuatkan ruang lingkup pemberlakuannya melalui suatu peraturan perundangundangan yang baru mengingat KUH Perdata (BW) tidak lagi dipandang sebagai undang-undang. Lembaga pisah meja dan ranjang agar lebih disosialisasikan di pengadilan oleh hakim kepada para pasangan suami isteri yang hendak bercerai, agar tujuan pengaturan pisah meja dan ranjang dalam KUH Perdata (BW) sebagai pencegah terjadinya perceraian dapat tercapai. Disamping itu agar lebih jelas dan lebih terperinci prosedur hukum pengajuan tuntutan maupun permohonan pisah meja dan ranjang tersebut dalam hal tata caranya maka sebaiknya diatur dalam suatu produk peraturan perundang-undangnya yang khusus sehingga menimbulkan kejelasan dan kepastian hukum bagi para pihak yang melaksanakannya. Kata kunci : Perpisahan Meja dan Ranjang, Hukum Perkawinan, KUH Perdata (BW) ii Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Separation from bed and board is actually the separation between husband and wife without being divorced. The legal effect of the separation from bed and board between husband and wife means the lack of their obligation to live together in the same house, and this legal effect is also applicable to the joint property. This case is stipuated in Article 243 of the Civil Code (BW) which says, The separation from bed and board always causes the separation of property and this it is the reason for the separation of the couple as if there were a divorce. “The regulations of the separation from bed and board is stipulated in Chapter eleven, Book one about persons, from Article 233 until Article 249 of the Civil Code (BW). The problems which would be analyzed in this research were comprised of the regulations of the separation from bed and board in the Civil Code (BW). The problems which would be analyzed in this research were comprised of the regulations of the separation from bed and board in the Civil Code (BW), especially of marital status, the legal effects of the separation from bed and board, and the legal procedures of filing a claim for the separation from bed and board. The type of this research was descriptive analytic by using judicial normative approach; it meant that this research referred to legal norms which were found in the legal provisions as the normative based which began with the general premise and ended in a special conclusion. The data were gathered from the primary law which consisted of norms or basic principles, basic regulations, and legal provisions concerning the separation from bed and board. The secondary law consisted of the results studies, reports, and articles which were correlated with this research. The tertiary law consisted of dictionaries of legal system, dictionaries, scientific journals, and magazines which were gathered by doing field research with direct interviews with the clerk of Medan District Court and with some people who had experienced the separation from bed and board as the source persons. The result of the research showed that the regulations of the separation from bed and board in marriage, according to the Civil Code (BW) were intended to hamper a divorce. This was in accordance with the legal principle in the Civil Code (BW) which implicitly contained the prevention from a divorce. The emphasis was on the unimpaired bonds of matrimory. Another result of the research was that the legal procedure of filing a claim for the separation from bed and board was the same as the filing a claim for the divorce. The difference was that the separation from bed and board was allowed to be claimed by the agreement between husband and wife, whereas a divorce, according to the Civil Code (BW), was not allowed to be claimed by the agreement between husband and wife, therefore, the separation from bed and board which was stipulated in the Civil Code (BW), in order to obtain legal certainly, should be broaden in its imposition through new legal provisions because the case of the separation from bed and board in the Civil Code (BW) was considered obsolete. The committee of the iii Universitas Sumatera Utara separation from bed and board should be socialized by judges in courts to the couples who wanted to divorce so that the regulations of the separation from bed and board in the Civil Code (BW) could be implemented. Besides that, in order that the procedures of filing a claim for the separation from bed and board became clearer and more detailed, it was recommended that these procedures should be regulated in a special product of legal provisions so that the persons involved in the case would obtain legal certainty. Keywords : Separation from Bed and Board, Marriage Law, Civil Code (BW) iv Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini tepat pada waktunya. Adapun judul tesis ini adalah “Perpisaham Meja Dan Ranjang Dalam Perkawinan Di Tinjau Dari Hukum Perdata (BW)”. Penulisan tesis ini merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Ilmu Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan baik berupa masukan maupun saran, sehingga penulisan tesis dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan amat terpelajar Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Pembimbing utama penulis, Bapak Notaris/PPAT Syahril Sofyan, SH, MKn, selaku Pembimbing II penulis, Ibu Chairani Bustami, SH, SpN, MKn selaku selaku Pembimbing III penulis yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini. Kemudian juga, kepada Dosen Penguji yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Prof. Dr Muhammad Yamin, SH, MS, CN dan Bapak Notaris/PPAT Syafnil Gani, SH, M.Hum yang telah berkenan memberi masukan dan arahan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tertutup sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah. Dalam kesempatan ini penulis juga dengan tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSC (CTM), Sp.A (K), selaku Rektor Universitas Sumatra Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini. v Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara, yang telah memberi kesempatan dan fasilitas kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini. 3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta saran yang membangun kepada penulis Tesis ini. 4. Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis sampai kepada tingkat Magister Kenotariatan. 5. Para pegawai/karyawan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang selalu membantu kelancaran dalam hal manajemen administrasi yang dibutuhkan. Sungguh rasanya suatu kebanggaan tersendiri dalam kesempatan ini penulis juga turut menghaturkan sembah sujud dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda Bapak H. Sulaiman B dan Ibunda Hj. Cut Nursiah, yang telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan penulis, Ayah dan Ibu mertua, Bapak H. Rustam Rasyid Efendi SH, S.Pn dan Ibu Hj. Safni Rustam, yang telah memberikan bimbingan, perhatian dan doa yang cukup besar selama ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi pada Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada suami tercinta H. Revino Rustam, SH, serta ananda tersayang Nazwa Aura Fadillah dan serta kakanda H. Suheri, Hj. Linda Leni, dan aidinda Jupli serta sahabat terkasih Amelia Silvani, Melissa Harahap, Desy Melaroza, Desy Viviani, Nasriel Iskandar, Moses, Dani, juga kepada Staf bagian Pendidikan Magister Kenotariatan USU, Sari, Bu Fatimah, Lisa, Winda, Afni, Bang Iken, Bang Aldy dan Bang Rizal, yang selama ini telah memberikan semangat dan doa restu serta kesempatan untuk menimba ilmu vi Universitas Sumatera Utara di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun tak ada salahnya jika penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak. Medan, Juli 2011 Penulis, Epi Sulastri vii Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP I. IDENTITAS PRIBADI Nama Lengkap : Epi Sulastri Tempat/Tanggal Lahir : Meunasah Mancang Lhoksukon Aceh Utara/17 Juli 1982 Status : Kawin Alamat : Jln. Makmur No. 8 Sei Agul Medan II. KELUARGA Nama Suami : H. Revino Rustam, SH Pekerjaan : Wiraswasta Nama Anak Kandung : 1. Nazwa Aura Fadillah III. PENDIDIKAN - SD : Tahun 1991 s/d 1996 SD Negeri Mancang Ara - SLTP : Tahun 1996 s/d 1999 MTSN Lhokseumawe - SMU : Tahun 1999 s/d 2001 SMU Negeri 12 Medan Helvetia Medan - S1 : Tahun 2001 s/d 2006 Fakultas Hukum UMSU Medan - S2 : Tahun 2009 s/d 2011Program Studi Magister Kenotariatan FH USU viii Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK . i ABSTRACT . iii KATA PENGANTAR. v RIWAYAT HIDUP . viii DAFTAR ISI. ix DAFTAR ISTILAH . xi BAB I PENDAHULUAN. 1 A. Latar Belakang . 1 B. Perumusan Masalah . 6 C. Tujuan Penelitian . 7 D. Kerangka Teori dan Konsepsi. 7 1. Kerangka Teori. 7 2. Konsepsi. 23 E. Metode Penelitian. 24 1. Sifat dan Jenis Penelitian . 24 2. Alat Pengumpul Data . 25 3. Analisis Data . 25 BAB II. TIMBULNYA LEMBAGA PISAH MEJA DAN RANJANG DALAM PENGATURAN MENGENAI PERKAWINAN MENURUT KUH PERDATA (BW) . 27 A. Pengertian Perpisahan Meja dan Ranjang Menurut KUH Perdata (BW) . 27 B. Tujuan Diadakannya Lembaga Pisah Meja dan Ranjang dalam Pengaturan Hukum Perkawinan Menurut KUH Perdata (BW) . 31 C. Pembubaran Perkawinan Setelah Perpisahan Meja dan Ranjang 42 BAB III. AKIBAT HUKUM YANG TIMBUL DARI TERJADINYA PERISTIWA PISAH MEJA DAN RANJANG MENURUT KUH PERDATA (BW) 53 ix Universitas Sumatera Utara A. Ruang Lingkup Lembaga Pisah Meja dan Ranjang Menurut KUH Perdata (BW) . 53 B. Akibat Hukum Terjadinya Pisah Meja dan Ranjang Menurut KUH Perdata (BW) . 63 BAB IV. PROSEDUR HUKUM TUNTUTAN PISAH MEJA DAN RANJANG MENURUT KUH PERDATA (BW) . 76 A. Prosedur Hukum Tuntutan Pisah Meja dan Ranjang Berdasarkan alasan –alasan yang Telah Ditetapkan Menurut KUH Perdata (BW) . 76 B. Prosedur Hukum Tuntutan Pisah Meja dan Ranjang Berdasarkan Permintaan bersama Suami-Istri . 96 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.103 A. Kesimpulan .103 B. Saran .104 DAFTAR PUSTAKA . 106 LAMPIRAN x Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISTILAH BW : Burgerlijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) RBg : Rechtsreglement KUHPerdata juga menyebutkan, perjanjian perkawinan harus 111 Lihat Pasal 1320 KUHPerdata yang menyatakan bahwa untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat : a. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya b. kecakapan untuk membuat suatu perikatan c. suatu hal tertentu d. suatu sebab yang halal Universitas Sumatera Utara 60 dibuat sebelum perkawinan dilangsungkan. Setelah perkawinan dilangsungkan, perjanjian perkawinan, dengan cara bagaimanapun, tidak dapat diubah. Syarat pembuatan perjanjian perkawinan dengan akta Notaris adalah untuk memperoleh kepastian tanggal pembuatan perjanjian perkawinan, karena kalau perjanjian perkawinan dibuat dengan akta di bawah tangan, maka ada kemungkinan bisa back date (tanggal mundur) diubah isi perjanjian perkawinan dan syaratnya sehingga dapat merugikan pihak ketiga. Syarat tersebut juga dimaksudkan, agar perjanjian perkawinan mempunyai kekuatan pembuktian dan kepastian hukum tentang hak dan kewajiban calon pasangan suami isteri atas harta benda mereka”.112 Selain syarat-syarat sahnya perjanjian perkawinan, KUHPerdata juga telah menentukan dengan terperinci beberapa ketentuan yang tidak boleh dijadikan persyaratan dalam perjanjian perkawinan yaitu dalam Pasal 139-142 KUHPerdata, yang antara lain :113 a). Tidak boleh bertentangan dengan kesusilaan atau dengan ketertiban umum (Pasal 139 KUHPerdata). b). Tidak boleh memuat syarat yang menghilangkan status suami sebagai kepala keluarga, dan juga ketentuan yang memuat janji bahwa isteri akan tinggal secara terpisah dalam tempat tinggal kediaman sendiri dan tidak mengikuti tempat tinggal suami (Pasal 140 KUHPerdata). c). Tidak boleh memuat perjanjian yang melepaskan diri dari ketentuan undangundang tentang pusaka bagi keturunan mereka, juga tak boleh mengatur sendiri pusaka keturunan mereka itu. Tidak boleh diperjanjikan salah satu pihak diharuskan akan menanggung lebih besar hutang dari keuntungan yang diperoleh dari kekayaan bersama. (Pasal 141 KUHPerdata). d). Tidak boleh membuat perjanjian-perjanjian yang bersifat kalimat-kalimat yang umum, bahwa perkawinan mereka akan diatur oleh Undang-Undang 112 M. Yahya Harahap, Op. Cit., hal. 77. 113 Ibid., hal. 53. Universitas Sumatera Utara 61 negara lain atau oleh beberapa adat kebiasaan yang dulu berlaku di Indonesia.(Pasal 142 KUHPerdata). Syarat-syarat perjanjian perkawinan ini juga ada diatur dalam UU Perkawinan dalam Pasal 29 yang antara lain :114 a). Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Perjanjian ini berlaku terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut; b).Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan apabila melanggar batas-batas hukum, agama, dan kesusilaan; c). Perjanjian tersebut berlaku sejak perkawinan dilangsungkan; d).Selama perkawinan berlangsung, perjanjian tersebut tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga. c. Bentuk Perjanjian Perkawinan Sebagai bentuk penyimpangan harta kekayaan perkawinan yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinan, maka calon suami isteri oleh undang-undang diberikan kebebasan untuk memilih bentuk perjanjian perkawinan yang dikehendakinya. Hal ini sesuai pula dengan ketentuan Pasal 29 UU Perkawinan yang tidak mengatur bentuk perjanjian perkawinan secara rinci. Pasal 29 UU Perkawinan tersebut hanya mengatur dari segi waktu pembuatan perjanjian perkawinan, keabsahan, masa berlaku dan tentang dapat diubahnya perjanjian perkawinan dengan persetujuan kedua belah pihak. Pada umumnya bentuk perjanjian perkawinan yang dibuat oleh pasangan calon suami isteri ada dua yaitu; persatuan untung rugi dan persatuan hasil dan pendapatan. Namun dengan adanya asas kebebasan berkontrak, maka dalam 114 Libertus Jehani, Op. Cit., hal. 29-30. Universitas Sumatera Utara 62 ketentuan Pasal 139 KUHPerdata memberikan kebebasan kepada calon suami isteri untuk menentukan bentuk perjanjian perkawinan sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan masyarakat. Adanya kebebasan untuk memilih bentuk perjanjian perkawinan membawa konsekuensi bagi calon suami isteri yang mengadakan perjanjian perkawinan untuk memilih bentuk selain perjanjian perkawinan seperti tersebut di atas (persatuan untung rugi atau persatuan hasil dan pendapatan). Oleh karenanya diperbolehkan jika calon suami isteri mengadakan perjanjian perkawinan dengan tujuan untuk mengadakan perpisahan harta kekayaan perkawinan di antara mereka.115 Tiga bentuk perjanjian perkawinan yang dapat dipilih oleh calon suami isteri tersebut, yaitu : 1). Persatuan untung dan rugi; Dalam Pasal 155 KUHPerdata disebutkan : Jika dalam perjanjian perkawinan oleh kedua calon suami isteri hanyalah diperjanjikan bahwa dalam persatuan perkawinan mereka akan berlaku persatuan untung dan rugi, maka berartilah bahwa perjanjian yang demikian, dengan sama sekali tak berlakunya persatuan harta kekayaan seluruhnya menurut undang-undang, setelah berakhirlah persatuan suami isteri, segala keuntungan pada mereka, yang diperoleh sepanjang perkawinan harus dibagi antara mereka berdua, sepertipun segala kerugian harus mereka pikul berdua pula. Ketentuan mengenai persatuan untung rugi ini tidak semua harta kekayaan suami isteri dicampur menjadi harta persatuan, tetapi hanya sebagian dari harta kekayaan suami isteri saja yang merupakan keuntungan dan kerugian yang timbul 115 Benyamin Asri dan Thabrani Asri, Dasar-Dasar Hukum Waris Barat, Suatu Pembahasan Teoritis dan Praktek, (Bandung: Tarsito, 1988), hal. 99. Universitas Sumatera Utara 63 selama perkawinan dan merupakan persatuan harta terbatas, yaitu persatuan untung rugi. Dalam perjanjian perkawinan dengan persatuan untung dan rugi ini tidak terdapat persatuan bulat harta perkawinan. Keuntungan yang diperoleh begitu pula kerugian yang terjadi sepanjang perkawinannya, dalam perjanjian perkawinan semacam ini menjadi hak dan tanggung jawab suami isteri bersama. Dengan demikian apa yang diperoleh suami isteri selama perkawinan baik dari hasil pekerjaan atau usaha maupun kekayaan lainnya sepanjang perkawinan adalah merupakan keuntungan dan menjadi hak milik bersama. Hak milik bersama ini merupakan milik bersama terikat, sehingga hanya boleh dimintakan pembagian atau pemecahan masingmasing haknya dalam waktu dan hal-hal tertentu, misalnya dalam hal perkawinan tersebut menjadi putus. Harta yang dibawa ke dalam perkawinan menjadi hak milik masing-masing pribadi suami isteri termasuk yang diperoleh dengan jalan mewaris dan hibah.116 Perjanjian perkawinan dengan persatuan untung rugi terjadi apabila calon pasangan suami isteri menyatakan dengan tegas di dalam akta perjanjian perkawinan bahwa di antara mereka mengehandaki perjanjian perkawinan dengan bentuk persatuan untung rugi atau dalam perjanjian perkawinan mereka menyatakan bahwa di antara mereka tidak diadakan persatuan harta perkawinan, sehingga secara otomatis akan terjadi persatuan untung rugi. 2). Persatuan Hasil dan Pendapatan; Perjanjian perkawinan dengan bentuk persatuan hasil dan pendapatan ini, yaitu selama perkawinan berlangsung, segala hasil dan pendapatan yang akan diperoleh oleh calon suami isteri, begitu pula untung rugi menjadi milik bersama.117 116 J. Satrio, Hukum Harta Perkawinan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), hal. 175. 117 Soeroso Wigjodipoero, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, (Jakarta: Haji Masagung, 1990), hal. 151. Universitas Sumatera Utara 64 Bentuk ini membawa konsekuensi bahwa apabila selama persatuan tersebut memperoleh keuntungan, maka keuntungan tersebut dibagi dua antara suami isteri, akan tetapi jika dalam persatuan tersebut timbul suatu kerugian, maka kerugian itu hanya ditanggung oleh suami dalam kedudukannya sebagai kepala rumah tangga. Isteri hanya bertanggung jawab atas kerugian yang timbul sebagai akibat perbuatannya sendiri. Hal ini sesuai dengan Pasal 105 KUHPerdata yang menentukan bahwa: “Setiap suami adalah kepala dalam persatuan suami isteri. Ia (suami) harus mengurus harta kekayaan itu laksana seorang bapak rumah yang baik, dan karenanyapun bertanggung jawab atas segala kealpaan dalam pengurusan itu.” Dari pasal tersebut dapat dilihat bahwa KUHPerdata menempatkan suami berperan lebih besar dalam keluarga, sehingga kerugian yang timbul dalam praktek perjanjian perkawinan dalam bentuk persatuan hasil dan pendapatan ini adalah menjadi tanggungan suami.118 Maka dengan perjanjian perkawinan dengan persatuan hasil dan pendapatan jika dalam persatuan tersebut terjadi kerugian, maka kerugian tersebut akan ditanggung oleh suami sebagai kepala rumah tangga, sedangkan dalam perjanjian perkawinan persatuan untung rugi kerugian yang timbul menjadi tanggung jawab bersama suami isteri. 3). Pemisahan Harta Sama Sekali. Bentuk ini adalah bagi calon suami isteri yang menginginkan adanya pemisahan harta sama sekali atas kekayaan Sri Maryani Hal 65  114   Universitas Sumatera Utara   ini sering kurang efektif dan diperlukan kerjasama yang baik dengan pasangan, karena sulit untuk menghindari hubungan seksual untuk waktu yang lama. Tidak ada efek samping fisik dan cara ini dianjurkan apabila cara KB lain sulit dipergunakan pada waktu menderita demam, infeksi vagina, setelah melahirkan atau pada waktu menyusui adapun keuntungan dan kerugian dalam sistem KB kalender ini adalah a. Kerugian KB kalender Kemungkinan kegagalan yang jauh lebih tinggi. Ini terutama bila tidak dilakukan pengamatan yang mendalam untuk mengetahui dengan pasti masa subur, karena tidak ada yang bisa menjamin ketepatan perhitungan sebab masa suburpun terjadi secara alami, selain itu kedua pasangan tidak bisa menikmati hubungan suami istri secara bebas karena ada aturan yang ditetapkan dalam sistem ini. Masa berpantang yang cukup lama dapat membuat pasangan tidak bisa menanti dan melakukan hubungan pada waktu berpantang. Kerugian lain dari KB kalender adalah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk ditentukan, ovulasi umumnya terjadi 14 ±2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Dengan demikian pada wanita dengan haid yang tidak teratur, saat terjadi ovulasi, sulit atau sama sekali tidak dapat diperhitungkan. Selain itu, ada kemungkinan bahwa pada wanita dengan haid 115   Universitas Sumatera Utara   teratur oleh salah satu sebab (misalnya karena sakit) ovulasi tidak datang pada saat semestinya59 b. Keuntungan KB kalender Ditinjau dari segi ekonomi : KB kalender dilakukan secara alami dan tanpa biaya sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli alat kontrasepsi Dari segi kesehatan : sistem kalender ini jelas jauh lebih sehat karena bisa dihindari adanya efek sampingan yang merugikan seperti halnya memakai alat kontrasepsi lainnya (terutama yang berupa obat) Dari segi psikologis : yaitu sistem kalender ini tidak mengurangi kenikmatan hubungan itu sendiri seperti bila memakai kondom misalnya, Meski tentu saja dilain pihak dituntut kontrol diri dari pasangan untuk ketat berpantang selama masa subur.                                                             59 http://akubaiq.blogspot.com/2012/05/cara-mudah-ber-kb-dengan-kbkalender.html Pada tanggal 6 mei 2013 116   Universitas Sumatera Utara   BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan uraian dan penjelasan/pembahasan bab-bab sebelumnya, maka dalam penulisan ini dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan dalam skripsi ini yaitu sebagai berikut : 1. Gambaran umum kependudukan kotamadya Medan Sesuai dengan dinamika pembangunan kota, luas wilayah Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar ( 265,10 km2) atau 3,6 % dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara dengan 21 kecamatan dan 151 kelurahan, Medan mempunyai wilayah yang relatif kecil dengan berbanding terbalik pada jumlah penduduknya yang relatif besar yaitu 2.121.053, sedangkan penduduk tidak tetap mencapai 566.611 jiwa dengan demikian kota Medan memiliki potensi kepadatan penduduk yang sangat besar. Penduduk kota Medan memiliki ciri penting yaitu meliputi unsur agama, suku/etnis, budaya dan adat istiadat adapun berbagai etnis yang mayoritas di kota Medan adalah :suku Jawa, suku Tapanuli, suku Tionghoa, suku Mandailing, suku Minangkabau, suku Karo dan suku Aceh dengan keanekaragaman etnis ini memunculkan karakter sebagian besar penduduk kota Medan bersifat terbuka. 2. BKKBN ( Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional ) yang didirikan dengan Peraturan Presiden No.62 Tahun 2010, yang pada awal keberadaannya tahun 1957 merupakan suatu organisasi yang murni berstatus 117   Universitas Sumatera Utara   swasta, kemudian tahun 1968 menjadi organisasi semi pemerintah, dan pada tahun 1970 menjadi organisasi resmi pemerintah yang saat sekarang ini merupakan lembaga yang berstatus Lembaga Non Kementrian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dengan tugas sebagai pelaksana dalam program Keluarga Berencana Nasional dan salah satu alternatife dalam pengendalian penduduk, khususnya di kota Medan terutama dalam hal tugas tersebut belum dapat berhasil ketidak behasilan tersebut dapat dilihat pada laju pertumbuhan penduduk kota medan 5 tahun terakhir yitu 2008 sebesar 1,51%, 2009 sebesar 0,63%, 2010 sebesar 1,50%, 2011 sebesar 1,53% dan pada tahun 2012 sebsar 0,77%. 3. Adapun sistem pendekatan BKKBN Kota Medan dalam program Keluarga Berencana (KB) melakukan sosialisasi kepada masyarakat dilalui dengan beberapa pendekatan dan pelayanan yaitu : Melalui pendekatan pelayanan medis dan kesehatan dengan penyediaan sarana Klinik dan Puskesmas, melalui pendekatan media berupa media iklan dan media cetak seperti televisi dan radio, melalui metode konseling pada alat kontrasepsi seperti : kondom, pil KB, suntik KB, dan yang terakhir melalui sistem alat pemakaian kalender semua program ini dilakukan demi tujuan mencapai keluarga yang sejahtera dan bahagia dan menghindari terjadinya ledakan penduduk. B. Saran 1. Supaya penduduk kota Medan yang termasuk orang yang berpendidikan agar lebih berhati-hati untuk melaksanakan program Keluarga Berencana, jaman dahulu masih ada istilah banyak anak banyak rejeki namun karena kemajuan 118   Universitas Sumatera Utara   jaman sekarang dua anak saja sudah cukup dengan ini agar masyarakat lebih memperhatikan program KB terutama pada BKKBN Medan karena unutk prediksi 2015 saja sudah terjadi apalagi sepuluh tahun atau dua puluh tahun yang akan datang 2. BKKBN kota Medan agar dapat berkerja lebih profesional unutk meningkatkan hasil kerjanya, agar pada akhirnya nanti bukan saja penduduk kota Medan menjadi minus ataupun zero tetapi sesuai fungsi yang paling mulia adalah masing masing penduduk kota medan akan menjadi “Keluarga kecil yang berkualitas dan bahagia sejahtera, hal ini dimungkinkan untuk tercapai salah satunya adalah apabila petugas/pegawai BKKBN kota Medan harus profesional terutama petugas tekhnis untuk pemasangan alat kontrasepsi misalnya kepalanya adala Dokter gigi, sudah pasti tidak profesional disbanding dengan seorang Dokter ahli kandungan (Sp.OG) 3. Sistem pendekatan BKKBN Kota Medan dalam rangka program keluarga berencana disarankan sesuai yang sudah dilaksanakan selama ini supaya diberikan semacam Punishment atau Reward yaitu merupakan penghukuman dan pemberian hadiah/penghargaan baik kepada petugas/pegawai BKKBN yaitu apabila tidak berprestasi maka akan ditunda kenaikan pangkatnya dan yang berprestasi diberikan perhatian khusus berupa percepatan kenaikan pangkat, sementara pada penduduk kota medan apabila anaknya 3 orang atau lebih ada diberi tuntutan pajak atau hukuman yang lain, sebaliknya kalau anaknya 2 orang akan diberikan penghargaan berupa beasiswa atau bebas pajak. 119   Universitas Sumatera Utara   DAFTAR PUSTAKA 1.Buku. Daldjoeni, 1977, Masalah Penduduk Dalam Fakta Dan Angka, Penerbit: UGM, Jokjakarta. Daldjoeni, 1977, Penduduk, Lingkungan, Dan Masa Depan, Penerbit : Alumni 1977, Bandung Munir, Rozi, 1983. Teori – Teori Kependudukan, Penerbit: PT.Bina Aksara, Jakarta. Mc Donal, Peter, 1990, Pengatar Kependudukan, Penerbit: UGM, Jokjakarta. Maryani, Sri, 2008, Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi, Penerbit: TIM, Jakarta. Melaini, Niken, 2010, Pelayanan Keluarga Berencana, Penerbit: Fitramaya. Jokjakarta. Pandi, E.Srihartati, 1981., Sejarah Perkembangan Keluarga Berencana Dan Program kependudukan, Penerbit: Pusat Pendidikan BKKBN, Jakarta. Rusli, Said, 1983. Pengantar Ilmu Kependidikan, Penerbit: Lp3es, Jakarta Rusmini, Nani, 1999, Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Penerbit: Jabal Rahmad, Medan. Soekanto, Soerjono, 2002, Sosiologi Suatu Pengantar, Penerbit: PT.Grafindo Persada, Jakarta. T.Fawcett, James, 1984. Psikologi Dan Kependudukan, Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.   Universitas Sumatera Utara   2 Undang – Undang Dan Peraturan Perundangan. UU No.52 Tahun 2009, Tentang Perkembangan Kependuduk dan Pembagunan Keluarga, UU NO.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya Merupakan Kekayaan Budaya Bangsa PP No.35 Tahun 1992 Tentang Pembentukan Beberapa Kecamatan Di Kotamadya Daerah Tingkat II Medan PP No.27 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan kependudukan PP No.62 Tahun 2010, Tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Wawancara dengan Bpk.Datang Sembiring, (Dikantor Bkkbn Medan Krakatau) 3. Internet Http://arsyadshawir.blogspot.com/2011/12/isu-kependudukan-dan-peranbkkbn.html Http://novanopa.blogspot.com/2013/04/kependudukan-dan-demografi.html Http://Handika60.blogspot.com/2012/12/masalahkependudukan-diindonesia.html Http://www.pemkomedan.go.id/selayang_informasi.php Http://notaris-dan-ppat-medan.blogspot.com/2010/08/geografi-kota-medan.html Http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Depan.bmkg Http://www.bekamsteriljakarta.com/2009/10/wisata-budaya-gambaran-umumkota-medan.html Http://www.pemkomedan.go.id/perekonomian_struktur.php   Universitas Sumatera Utara
Perpisaham Meja Dan Ranjang Dalam Perkawinan Di Tinjau Dari Hukum Perdata (BW) Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perpisaham Meja Dan Ranjang Dalam Perkawinan Di Tinjau Dari Hukum Perdata (BW)

Gratis