Feedback

Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif

Informasi dokumen
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK ETANOL HERBA RANTI (Solanum nigrum Linn) DAN ISOLASI SENYAWA DARI FRAKSI AKTIF SKRIPSI OLEH: EMILDA KHAIRUNISA NIM 091524025 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK ETANOL HERBA RANTI (Solanum nigrum Linn) DAN ISOLASI SENYAWA DARI FRAKSI AKTIF SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: EMILDA KHAIRUNISA NIM 091524025 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK ETANOL HERBA RANTI (Solanum nigrum Linn) DANISOLASI SENYAWA DARI FRAKSI AKTIF OLEH: EMILDA KHAIRUNISA NIM 091524025 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: Agustus 2011 Pembimbing I Panitia Penguji Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt. NIP 195112231980032002 Prof. Dr. Urip Harahap, Apt. NIP 195301011983031004 Pembimbing II, Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt. NIP 195112231980032002 Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt. NIP 195103261978022001 Dr. Marline Nainggolan, M.Si., Apt. NIP 195709091985112001 Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt. NIP 195107231982032001 Disahkan Oleh: Dekan Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ”Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif ”. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, Mukmil Dumairi dan Huriyah atas doa dan pengorbanannya dengan tulus dan ikhlas, juga kepada kakak, abang dan adik tersayang yang selalu setia memberi doa, dorongan dan semangat. Penulis juga ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas selama masa pendidikan. 2. Ibu Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt., dan Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan nasehat selama penelitian dengan penuh kesabaran hingga selesainya penyusunan skripsi ini. 3. Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt., Ibu Dr. Marline Nainggolan, M.Si., Apt., Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 4. Ibu Dra. Aswita Hafni Lubis, M. Si., Apt., yang telah memberikan waktu, membantu dan membimbing selama penelitian dengan penuh kesabaran hingga selesainya penyusunan skripsi ini. 5. Ibu Poppy Anjelissa Z Hasibuan, S.Si M.Si., Apt., selaku dosen wali yang telah memberi bimbingan dan dorongan kepada penulis selama perkuliahan. 6. Ibu dan Bapak Kepala Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Farmakognosi yang telah memberikan fasilitas, petunjuk dan membantu selama penelitian. 7. Sahabat-sahabat terbaikku “ten_tuwin” kak ira, kak winda, kak ve, desmi, rika, nita, ipit, vivi, iza, silvi, deni satria dan teman-teman di Farmasi Ekstensi 2008-2009 yang namanya tidak dapat ditulis satu persatu, yang telah begitu banyak membantu dalam proses penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini. Medan, Agustus 2011 Penulis, Emilda Khairunisa Universitas Sumatera Utara Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) Dan Isolasi senyawa Dari Fraksi Aktif Abstrak Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif yang relatif stabil. Senyawa fenolik dan flavonoid merupakan sumber antioksidan alami yang biasanya terdapat dalam tumbuhan. Herba ranti (Solanum nigrum Linn) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Adanya kandungan flavonoid dalam herba ranti tersebut mendorong untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan sebagai antioksidan alami. Uji aktivitas antioksidan penangkapan radikal bebas telah dilakukan terhadap fraksi n-heksan, kloroform, etilasetat, air dan senyawa aktif dari fraksi etilasetat dari herb ranti. Herba ranti diekstraksi secara maserasi dengan mengpgunakan etanol 96% diperolah ekstrak etanol. Kemudian difraksinasi dengan cara ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, etilasetat. Masing-masing fraksi diuji aktivitas antioksidan menggunakan penangkap radikal DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Fraksi etilasetat dikromatografi preparatif dengan menggunakan asam asetat 50% sebagai fase gerak. Kemudian dilihat menggunakan lampu UV dengan penampak bercak 5% b/v aluminium klorida pada panjang gelombang 366 nm. Isolat diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometer UV menggunakan pereaksi geser. Isolasi menghasilkan 2 flavonoid, F1 memiliki harga Rf = 0,48 kemungkinan adalah flavanon dan F2 memiliki harga Rf = 0.59 kemungkinan adalah flavonol dengan gugus 4’OH pada cincin B. kemudian dilakukan uji aktivitas antioksidan terhadap isolat. Hasil uji aktivitas antioksidan keempat fraksi dengan konsentrasi masingmasing 80 µg/ml diperoleh % peredaman fraksi n-heksan 15,22%, fraksi kloroform 68,03%, fraksi etilasetat 68,14% dan fraksi sisa 23,44%. Sedangkan aktivitas antioksidan isolat dengan konsentrasi masing-masing 80 µg/ml diperoleh % peredaman flavonoid1 (flavanon) 49,70%dan isolat flavonoid 2 (flavonol) 41,21%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etilasetat mempunyai aktivitas antioksidan paling kuat. Kata kunci; herba ranti, Solanum nigrum Linn, antioksidan Universitas Sumatera Utara Antioxidant Activities Test of Fraction Ethanol Extract of Ranti Herb (Solanum nigrum. L) And Isolation of fraction active Abstract Antioxidant is a compound which can inhibit oxidation in such a way that it reacts with reactive free radicals to form a relatively stable radicals. Flavonoid and phenolic compounds are sources of antioxidant which are commonly found in plants. Ranti herb (Solanum nigrum L) contains flavonoid and phenolic compounds and believed possesses a medical use. A further research on the activity test of antioxidant is encouraged since ranti herb may be used as natural antioxidant for its flavonoid content In order to increase the usage of natural antioxidant from food, the research has been determine the activity testing of flavonoidas antioxidant, nhexane fraction, chloroform fraction, ethylacetate fraction of ranti herb and isolating active fraction compounds and the activity testing of flavonoidas antioxidant. Ranti herb was extracted by maceration with ethanol 96%, and fractionated by liquid extraction using n-hexane, chloroform and solvent. The ethylacetate fraction was separated by preparative paper chromatography using 50% acetic acid as mobile phase, visualization using 5% b/v aluminium chloride and 366 nm UV ray. The isolate were identified by UV spectrophotometer using shift reagent.their antioxidant activities weredone by the DPPH (1,1-diphenyl-2picrylhydrazyl) scaevenging method. The isolate result obtained two flavonoids, F1 has Rf = 0.48, indicated that F1 is flavanon and F2 has Rf = 0.59, indicated that F2 flavonol with hydroxyl grops in position 4’. The result of antioxidant activity test all of fraction with each concentration 80 µg/ml showed that n-hexane fraction has %inhibition value is 15.22%, Chloroform fraction is 68.03%, ethylacetate fraction is 68.1%l, and water fractin is 23,44%. wherever the isolated flavonoid 1 (flavanon) has % inhibition value is 49.70% and isolated flavonoid 2 (flavonol) is 41.21%. The ethylacetate exhibited a strong free radical scavenging. Keyword(s): ranti herb, Solanum nigrum Linn, antioxidant Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i LEMBAR PENGESAHAN . iii KATA PENGANTAR . iv ABSTRAK . vi ABSTRACT . vii DAFTAR ISI . viii DAFTAR TABEL . xii DAFTAR GAMBAR . xiii DAFTAR LAMPIRAN . xiv BAB I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 2 1.3 Hipotesis . 3 1.4 Tujuan Penelitian . 3 1.5 Manfaat Penelitian. 3 1.6 Kerangka Pikir Penelitian . 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA . 5 2.1 Uraian Tumbuhan . 5 2.1.1 Daerah Tumbuh . 5 2.1.2 Nama Daerah . 5 2.1.3 Sistematika Tumbuhan. 5 Universitas Sumatera Utara 2.1.4 Marfologi Tumbuhan . 6 2.1.5 Kandungan Kimia Tumbuhan dan Kegunaan . 6 2.2 Ekstraksi . 7 2.3 Radikal Bebas . 8 2.4 Antioksidan. 9 2.4.1 Antioksidan Sintetik . 10 2.4.2 Butylated Hydroxytoluent (BHT) . 11 2.5 DPPH . 11 2.5.1 Pelarut . 12 2.5.2 Pengukuran Absorbansi-Panjang Gelombang. 12 2.5.3 Waktu Pengukuran . 13 2.6 Spektrofotometri . 13 2.7 Senyawa Flavonoid . 14 2.8 Kromatografi . 17 BAB III.METODE PENELITIAN . 20 3.1 Alat-alat . 20 3.2 Bahan-bahan . 20 3.3 Pengumpulan dan Pembuatan Simplesia . 21 3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan . 21 3.3.2 Identifikasi Tumbuhan . 21 3.3.3 Pembuatan Simplisia. 21 3.4 Pembuatan Pereaksi . 22 3.4.1 Larutan Pereaksi Libermann-Burchard . 22 3.4.2 Larutan Pereaksi Asam Klorida 2N . 22 Universitas Sumatera Utara 3.4.3 Larutan Pereaksi Asam Sulfat 2N . 22 3.4.4 Larutan Pereaksi Aluminium Klorida 5%b/v . 22 3.4.5 Larutan Pereaksi Natrium Hidroksida 2N . 22 3.4.6 Larutan Radikal Bebas DPPH 0,5mM . 23 3.5 Pembutan Ekstrak Etanol Dan Ekstraksi Cair-Cair Ekstrak Etanol . 23 3.5.1 Pembuatan Ektrak Etanol . 23 3.5.2 Ekstraksi Cair-cair Ekstrak Etanol . 23 3.6 Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi n-heksan, kloroform,Etilasetat, sisa dan BHT . 24 3.6.1 Prinsip Metode Penangkapan Radikal Bebas . 24 3.6.2 Pembuatan Larutan DPPH 0,5mM . 24 3.6.3 Pembuatan Larutan Induk . 24 3.6.4 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Sampel Uji dan BHT . 25 3.6.5 Penentuan Persen Peredaman . 25 3.6.6 Penentuan Nilai IC50 . 26 3.7 Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif . 26 3.7.1 Analisis Senyawa dari Fraksi Aktif Secara KKt . 26 3.7.2 Pemisahan Senyawa Dari Fraksi Aktif Secara KKt Preparatif . 27 3.7.3 Uji Kemurnian Terhadap Isolat . 28 2.7.4 Identifikasi Isolat . 28 3.8 Uji Aktivitas Antioksidan Isolat Senyawa Dari Fraksi Aktif . 29 3.8.1 Pembuatan Larutan Induk Isolat . 29 3.8.2 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Isolat . 29 Universitas Sumatera Utara 3.8.2.1 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Isolat 1 . 29 3.8.2.2 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Isolat 2 . 30 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN . 31 4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan. 31 4.2 Hasil Ekstraksi dan Fraksinasi Cair-cair dari Ekstrak Etanol . 31 4.3 Hasil Uji Aktivtas Antioksidan Fraksi n-heksan, kloroform, Etilasetat, air dan BHT . 31 4.4 Hasil Analisis Senyawa Dari Fraksinasi Secara KKt . 33 4.5 Hasil Uji Kemurnian Terhadap Isolat. 34 4.6 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan Isolat . 38 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN . 41 5.1 Kesimpulan . 41 5.2 Saran . 41 DAFTAR PUSTAKA . 42 LAMPIRAN . 44 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4.1 Aktivitas Antioksidan frksi n-heksan, kloroform, etilasetat, air dan BHT dari ekstrak etanol herba ranti . 32 4.2 Aktivitas Antioksidan isolat flavonoid herba ranti . 38 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1.1 Kerangka fikir Penelitia. 4 2.1 Rumus Bangun BHT . 11 2.2 Rumus Bangun DPPH . 11 2.3 Reaksi antara DPPH dengan atom H netral yang berasal dari Antioksidan. 12 2.4 Kerangka Flavonoid . 14 2.5 Struktur Dasar Flavonoid . 14 2.6 Struktur Flavon . 15 2. 7 Struktur Flavonol . 15 2.8 Struktur Flavanon. 16 2.9 Struktur Flavanonol. 16 2.10 Struktur Auron . 16 2.11 Struktur Kalkon. 16 2.12 Struktur Isoflavon . 17 2.13 Struktur Antosianin . 17 3.1. Gambar grafik Konsentrasi Vs persen peredaman fraksi n heksan, kloroform, etilasetat, air dan isolat flavonoid . 33 3.2. Gambar grafik Konsentrasi Vs persen peredaman isolat senyawa dari fraksi aktif . 39 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Gambar Tumbuhan Dan Daun Ranti. 44 2. Hasil Identifikasi Tumbuhan . 45 3. Bagan Kerja Penelitian . 46 4. Bagan Pembuatan Ekstrak Etanol Herba Ranti . 47 5. Bagan pengambilan tumbuhan, identifikasi tumbuhan, karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etilasetat, fraksi air dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH sebagai sumber radikal bebas dan absorbansi DPPH diukur menggunakan alat spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 516 nm. 3.1 Alat-Alat Alat-alat yang digunakan terdiri dari alat-alat gelas laboratorium, desikator, freeze dryer (Virtis), krus porselin, lemari pengering, mikroskop, neraca analitis (Vibra), neraca kasar (O’haus), oven listrik (Stork), penangas air (Yenaco), rotary evaporator (Stuart), spektofotometer UV/Vis (Shimadzu UV1800) dan tanur (Gallenkamp). 3.2 Bahan-Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah herba kurmak mbelin dan air suling. Bahan-bahan kimia yang digunakan, kecuali dinyatakan lain adalah berkualitas pro analisis: produksi Sigma: 1,1-diphenyl-2picrylhydrazyl (DPPH). Produksi Merck: etanol, metanol, kloroform, n-heksana, etilasetat, isopropanol, eter, benzen, asam asetat anhidrida, natrium hidroksida, alfa naftol, asam nitrat pekat, asam sulfat pekat, asam klorida pekat, toluena, kloralhidrat, iodium, raksa (II) klorida, timbal (II) asetat, kalium iodida, bismut 20 (III) nitrat, besi (III) klorida, amil alkohol. Bahan kimia berkualitas teknis: etanol 96%, n-heksana dan etilasetat. 3.3 Penyiapan Tumbuhan 3.3.1 Pengambilan tumbuhan Pengambilan tumbuhan dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Tumbuhan yang digunakan adalah herba kurmak mbelin yang diperoleh dari Desa Singa, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. 3.3.2 Identifikasi tumbuhan Identifikasi tumbuhan dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI di Bogor. Tumbuhan yang digunakan untuk penelitian adalah sama dengan tumbuhan yang digunakan oleh Silalahi. Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 46. 3.3.3 Pengolahan tumbuhan Pengolahan herba kurmak mbelin dilakukan terhadap tumbuhan segar, yaitu herba dibersihkan dari kotoran-kotoran, dicuci dengan air sampai bersih, ditiriskan, ditimbang (5 kg), lalu dikeringkan di lemari pengering pada suhu 40 - 50oC sampai menjadi simplisia, kemudian ditimbang (430 g). 3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi 3.4.1 Larutan pereaksi bouchardat Sebanyak 4 g kalium iodida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling, ditambahkan iodium sebanyak 2 g dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml (Depkes, 1995). 21 3.4.2 Larutan pereaksi mayer Sebanyak 1,4 g raksa (II) klorida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling hingga 60 ml. Pada wadah lain ditimbang sebanyak 5 g kalium iodida lalu dilarutkan dalam 10 ml air suling. Kedua larutan dicampurkan dan ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 ml (Depkes, 1995). 3.4.3 Larutan pereaksi dragendorff Sebanyak 0,8 g bismuth (III) nitrat ditimbang, kemudian dilarutkan dalam 20 ml asam nitrat pekat. Pada wadah lain ditimbang sebanyak 27,2 g kalium iodida lalu dilarutkan dalam 50 ml air suling. Kedua larutan dicampurkan dan didiamkan sampai memisah sempurna. Larutan yang jernih diambil dan diencerkan dengan air suling hingga 100 ml (Depkes, 1995). 3.4.4 Larutan pereaksi molish Sebanyak 3 g alfa naftol ditimbang, kemudian dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga volume 100 ml (Depkes, 1995). 3.4.5 Larutan pereaksi asam klorida 2 N Sebanyak 17 ml asam klorida pekat dilarutkan dalam air suling hingga volume 100 ml (Depkes, 1995). 3.4.6 Larutan pereaksi asam sulfat 2 N Sebanyak 5,5 ml asam sulfat pekat dilarutkan dalam air suling hingga volume 100 ml (Depkes, 1995). 3.4.7 Larutan pereaksi asam nitrat 0,5 N Sebanyak 3,4 ml asam nitrat pekat diencerkan dengan air suling hingga volume 100 ml (Depkes, 1995). 22 3.4.8 Larutan pereaksi timbal (II) asetat 0,4 M Sebanyak 15,17 g timbal asetat ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling bebas karbondioksida hingga volume 100 ml (Depkes, 1995). 3.4.9 Larutan pereaksi besi (III) klorida 1% Sebanyak 1 g besi (III) klorida ditimbang, kemudian dilarutkan dalam air suling hingga volume 100 ml (Depkes, 1995). 3.4.10 Larutan pereaksi kloralhidrat 70% b/b Sebanyak 70 g kristal kloralhidrat ditimbang, kemudian dilarutkan dalam 30 ml air suling (Depkes, 1995). 3.4.11 Larutan pereaksi DPPH 0,5 mM Sebanyak 20 mg DPPH ditimbang, kemudian dilarutkan dalam metanol hingga volume 100 ml (Marinova, 2011). 3.5 Pemeriksaan Mikroskopik Herba Kurmak Mbelin Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap penampang melintang dari daun dan batang kurmak mbelin. Caranya: 2 - 3 tetes larutan kloralhidrat diteteskan di atas kaca objek, lalu sayatan daun dan batang kurmak mbelin diletakkan di atasnya, dipanaskan, kemudian ditutup dengan kaca penutup, lalu diamati di bawah mikroskop. 3.6 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam (Depkes, 1995; WHO, 2011). 23 3.6.1 Pemeriksaan makroskopik Pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap herba kurmak mbelin dengan mengamati bentuk, warna, bau, rasa dan ukuran simplisia. 3.6.2 Pemeriksaan mikroskopik Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia herba kurmak mbelin. Sedikit serbuk simplisia ditaburkan di atas kaca objek yang telah ditetesi dengan larutan kloralhidrat dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian diamati di bawah mikroskop. 3.6.3 Penetapan kadar air Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, dipasang alat penampung dan pendingin, kemudian didestilasi selama 2 jam. Destilasi dihentikan dan dibiarkan dingin selama 30 menit, kemudian volume air dalam tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Dimasukkan 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama ke dalam labu tersebut, kemudian dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Kecepatan tetesan diatur 2 tetes per detik setelah toluen mendidih, sampai sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan destilasi dinaikkan sampai 4 tetes tiap detik. Bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen setelah semua air terdestilasi. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml setelah air dan toluen memisah sempurna. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen (WHO, 2011). 24 3.6.4 Penetapan kadar sari larut dalam air Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform (2,5 ml kloroform dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam, kemudian disaring. Sejumlah 20 ml filtrat pertama diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes, 1995). 3.6.5 Penetapan kadar sari larut dalam etanol Sebanyak 5 g serbuk yang telah dikeringkan di udara, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 96% dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama lalu dibiarkan selama 18 jam kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol. Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol 96% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes, 1995). 3.6.6 Penetapan kadar abu total Sebanyak 2 g serbuk yang telah digerus dan ditimbang dengan seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara kemudian diratakan. Krus dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pemijaran dilakukan pada suhu 600oC selama 3 jam kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot 25 tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes, 1995). 3.6.7 Penetapan kadar abu tidak larut dalam asam Abu yang telah diperoleh dalam penetapan kadar abu dididihkan dalam 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, lalu bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan dan disaring melalui kertas saring yang dipijarkan sampai bobot tetap kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang dikeringkan di udara (Depkes, 1995). 3.7 Skrining Fitokimia Skrining fitokimia serbuk simplisia herba kurmak mbelin meliputi: pemeriksaan senyawa alkaloida, glikosida, saponin, flavonoida, antrakinon, tanin dan steroida/triterpenoida. 3.7.1 Pemeriksaan alkaloida Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia 10,1 9,7 8,2 8,1 7,5 6,9 ---- D3 14,1 13,7 12,3 10,8 9,8 8,5 7,2 - Keterangan : D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri D* = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri rata- rata - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri D* 14,17 13,5 12,47 11,07 9,87 8,27 7,2 - 58 Universitas Sumatera Utara Lampiran 9 (Lanjutan) 3. Data hasil uji aktivitas antibakteri fraksi etilasetat terhadap bakteri Staphylococcus aureus No. Konsentrasi (mg/ml) 1. 500 2. 400 3. 300 4. 200 5. 100 6. 75 7. 50 8. 25 9. 12,5 10. Blanko Diameter Daerah Hambatan (mm) D1 D2 18,3 18,5 17,1 17,4 16,1 16,1 15,4 15,8 14,4 14,7 13,8 14,1 12,4 13,2 11,1 11,8 10,2 10,3 -- D3 D* 18,4 18,4 17,2 17,23 16,1 16,1 15,6 15,6 14,5 14,53 13,9 13,93 12,8 12,8 11,4 11,43 10,2 10,23 -- Keterangan : D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri D* = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri rata- rata - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri 59 Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Data hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksana dan fraksi etilasetat terhadap bakteri Escherichia coli 1. Data hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol terhadap bakteri Escherichia coli No. Konsentrasi (mg/ml) 1. 500 2. 400 3. 300 4. 200 5. 100 6. 75 7. 50 8. 25 9. 12,5 10. Blanko Diameter Daerah Hambatan (mm) D1 D2 16,2 16,6 15,1 15,1 14,8 14,7 13,3 13,4 12,6 12,1 11,4 11,2 10,5 10,3 9,1 9,6 8,3 8,2 -- D3 D* 16,7 16,5 15,5 15,23 14,4 14,63 13,3 13,33 12,7 12,47 11,3 11,3 10,4 10,4 9,5 9,4 8,4 8,3 -- 2. Data hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana terhadap bakteri Escherichia coli No. Konsentrasi (mg/ml) 1. 500 2. 400 3. 300 4. 200 5. 100 6. 75 7. 50 8. 25 9. 12,5 10. Blanko Diameter Daerah Hambatan (mm) D1 D2 15,5 15,1 14,2 14,5 13,1 13,4 11,2 11,7 10,3 10,1 8,5 9,1 7,1 7,3 6,1 6,2 --- D3 D* 15,9 15,5 14,3 14,33 13,2 13,23 11,8 11,56 10,4 10,27 8,8 8,8 7,3 7,23 6,5 6,27 --- Keterangan : D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri D* = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri rata- rata - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri 60 Universitas Sumatera Utara Lampiran 10 (Lanjutan) 3. Data hasil uji aktivitas antibakteri fraksi etilasetat terhadap bakteri Escherichia coli No. Konsentrasi (mg/ml) 1. 500 2. 400 3. 300 4. 200 5. 100 6. 75 7. 50 8. 25 9. 12,5 10. Blanko Diameter Daerah Hambatan (mm) D1 D2 D3 D* 17,1 17,4 17, 5 17,25 16,2 16,2 16,8 16,4 16,1 15,8 15,9 15,93 15,4 14,7 15, 5 15,05 13,1 13,2 13,6 13,3 12,6 12,1 12,3 12,33 11,8 11,2 11,5 11,5 10,5 10,1 10,3 10,3 8,9 9,1 9,3 9,1 -- -- Keterangan : D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri D* = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri rata- rata - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri 61 Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. Data hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksana dan fraksi etilasetat terhadap bakteri Shigella dysenteriae 1. Data hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol terhadap bakteri Shigella dysenteriae No. Konsentrasi (mg/ml) 1. 500 2. 400 3. 300 4. 200 5. 100 6. 75 7. 50 8. 25 9. 12,5 10. Blanko Diameter Daerah Hambatan (mm) D1 D2 16,1 16,5 15,4 15,5 14,2 14,6 13,7 13,3 12,5 12,6 11,5 11,1 10,5 10,4 9,2 9,4 8,7 8,5 -- D3 D* 16,7 16,43 15,8 15,56 14,4 14,4 13,5 13,5 12,9 12,67 12,1 11,56 11,4 10,76 10,5 9,7 9,2 8,8 -- 2. Data hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana terhadap bakteri Shigella dysenteriae No. Konsentrasi (mg/ml) 1. 500 2. 400 3. 300 4. 200 5. 100 6. 75 7. 50 8. 25 9. 12,5 10. Blanko Diameter Daerah Hambatan (mm) D1 D2 15,4 15,2 14,5 14,2 13,9 13,4 12,7 12,6 11,2 11,3 9,1 9,4 8,8 8,7 7,7 7,1 --- D3 D* 15,5 15,37 14,5 14,4 13,3 13,53 12,6 12,63 11,5 11,33 9,3 9,26 8,6 8,7 7,4 7,4 --- Keterangan : D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri D* = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri rata- rata - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri 62 Universitas Sumatera Utara Lampiran 11 (Lanjutan) 3. Data hasil uji aktivitas antibakteri fraksi etilasetat terhadap bakteri Shigella dysenteriae No. Konsentrasi (mg/ml) 1. 500 2. 400 3. 300 4. 200 5. 100 6. 75 7. 50 8. 25 9. 12,5 10. Blanko Diameter Daerah Hambatan (mm) D1 D2 17,8 17,6 16,5 16,1 15,3 15,2 14,5 14,2 13,6 13,5 12,9 12,3 11,4 11,1 10,5 10,4 9,7 10,1 -- D3 D* 17,4 17,6 16,3 16,3 15,5 15,33 14,2 14,3 13,5 13,53 12,2 12,46 11,5 11,33 10,7 10,53 9,2 9,67 -- Keterangan : D = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri D* = Diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri rata-rata - = Tidak terdapat daerah hambatan pertumbuhan bakteri 63 Universitas Sumatera Utara Lampiran 12. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol herba sawi tanah terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Shigella dysenteriae 1. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus 14 25 36 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 7 8 9 10 0 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 64 Universitas Sumatera Utara Lampiran 12 (Lanjutan) 2. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli 1 2 3 4 5 6 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 8 7 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 65 Universitas Sumatera Utara Lampiran 12 (Lanjutan) 3. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Shigella dysenteriae 1 2 3 4 5 6 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 8 7 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 66 Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana herba sawi tanah terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli serta Shigella dysenteriae 1. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus 14 5 2 36 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 8 7 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 67 Universitas Sumatera Utara Lampiran 13 (Lanjutan) 2. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli 1 2 3 4 5 6 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 7 8 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 68 Universitas Sumatera Utara Lampiran 13 (Lanjutan) 3. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Shigella dysenteriae 1 2 3 4 5 6 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 7 8 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 69 Universitas Sumatera Utara Lampiran 14. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi etilasetat herba sawi tanah terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli serta Shigella dysenteriae 1. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus 4 1 5 2 6 3 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 7 8 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 70 Universitas Sumatera Utara Lampiran 14 (Lanjutan) 2. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli 1 2 3 4 5 6 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 7 8 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 71 Universitas Sumatera Utara Lampiran 14 (Lanjutan) 3. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Shigella dysenteriae 1 3 2 4 5 6 Keterangan: 1. Blanko 2. Konsentrasi 500 mg/ml 3. Konsentrasi 400 mg/ml 4. Konsentrasi 300 mg/ml 5. Konsentrasi 200 mg/ml 7 8 9 10 6. Konsentrasi 100 mg/ml 7. Konsentrasi 75 mg/ml 8. Konsentrasi 50 mg/ml 9. Konsentrasi 25 mg/ml 10. Konsentrasi 12,5 mg/ml 72 Universitas Sumatera Utara
Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif

Gratis