Feedback

Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia.

Informasi dokumen
DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN ORAL DISPLASIA SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi Syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran gigi Oleh : TASHA CITRA PURNAMA NIM : 070600129 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Tahun 2011 Tasha Citra Purnama Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia viii + 35 halaman Oral displasia adalah salah satu jenis kelainan pada rongga mulut, terjadinya proliferasi yang tidak teratur, tetapi non neoplastik pada epitel rongga mulut. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) setiap sel dan hilangnya orientasi arsitektural sel tersebut. Sel displastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi ukuran dan bentuk) dan sering memiliki inti sel yang berwarna gelap (hiperkromatik) dan sangat besar dibandingkan dengan ukuran selnya sendiri. Berdasarkan tingkat atau derajat terjadinya proliferasi epitel rongga mulut, oral displasia dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tingkatan : 1. Epitelial hiperplasia 2. Mild dysplasia 3. Moderate dysplasia 4. Severe dysplasia 5. Karsinoma in situ Penanganan terhadap oral displasia yang paling banyak dilakukan adalah dengan melalui pembedahan sedangkan penggunaan radioterapi juga dapat dilakukan. Tetapi penggunaan radioterapi dapat menimbulkan efek samping, karena penyinaran yang dilakukan dilaporkan sering menimbulkan terjadinya sarkoma. Daftar rujukan 28 (1983-2011) Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi Medan, 13 Juli 2011 Pembimbing : Tanda tangan Indra Basar Siregar, drg., M. Kes NIP : 19470206 197603 1 003 Tasha Citra Purnama NIM : 070600129 Universitas Sumatera Utara Tim Penguji Skripsi Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi Pada tanggal 13 Juli 2011 Tim Penguji Ketua : Abdullah, drg Anggota : 1. Indra Basar Siregar, drg., M. Kes 2. Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM 3. Gostry Aldica Dohude, drg Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Karena dengan ridhoNya, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan Penulis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, Medan. Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan seikhlasikhlasnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Eddy Anwar Ketaren, drg.Sp.BM, selaku Ketua Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. 2. Indra Basar Siregar, drg.M.Kes, selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, tenaga, dan fikiran dalam membimbing dan mengarahkan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 3. Seluruh Staf Pengajar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial serta Staf Pengajar di bidang ilmu lainnya pada Fakultas Kedokteran Gigi yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan 4. Rusfian,drg. Selaku Dosen Penasehat Akademik penulis selama penulis menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara. 5. Teristimewa Kepada kedua orangtua, Ayahanda tersayang H.Hasriansyah Idris,drh. MM dan Ibunda Hj.Dwi Arti Sulistiyani, drg. Yang selalu memberikan doa dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dan studi di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara. 6. Prof. DR. Che Farid Ghazali sebagai dosen University Sains Malaysia, yang turut memberikan saran dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 7. Kepada Adik saya Syafira Anandhita, Nenek saya, sepupu-sepupu, Serta Om-Om dan Tante-Tante saya yang telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis sehingga selesainya penulisan skripsi ini. 8. Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman saya Winda, Hani, Dessy, Reni, Frida, Ali, Herry, Andrew, kak Findy, dan Seluruh teman-teman angkatan 2007 atas dukungan dan semua bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Juga kepada teman-teman saya tersayang Putri Debrita, Tiffani Bella Ayundha, Fella Eldyah SH, Shadrina Ningrum Sulaiman SH, Ditha Amelia Dislan, dan Mila Sari Lubis atas dukungan dan doa nya selama ini. 10. Juga kepada seluruh Pegawai dan Staf Administrasi maupun Akademik di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara atas dukungannya. Penulis menyadari bahwa banyak dari skripsi ini masih jauh dari sempurna, tentunya hal ini tidak terlepas dari keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman penulis. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan kita semua, semoga Allah SWT memberikan rahmat dan Karunia-Nya pada kita semua. Medan, Juli 2011 Penulis TASHA CITRA PURNAMA NIM : 070600129 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL. i HALAMAN PERSETUJUAN. ii HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI. iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI . vi DAFTAR GAMBAR . viii BAB 1 PENDAHULUAN . BAB 2 DEFENISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, TANDA-TANDA 2.1 Defenisi . 3 2.2 Etiologi. 4 2.3 Klasifikasi 2.3.1 Epitelial hiperlasia . 5 2.3.2 Mild dysplasia.6 2.3.3 Moderate dysplasia . 8 2.3.4 Severe dysplasia . 9 2.3.5 Karsinoma in situ.10 2.4 Tanda-Tanda 2.4.1 Tanda-tanda klinis . . 12 2.4.2 Tanda-tanda histopatologis .14 BAB 3 METODE DIAGNOSA ORAL DISPLASIA 3.1 Pemeriksaan klinis . 3.2 Pemeriksaan histopatologis . 3.3 Pemeriksaan dengan toluidine blue . 3.4 Biopsi . 15 16 17 18 PENATALAKSANAAN ORAL DISPLASIA 4.1 Pra bedah 4.1.1 Sterilisasi . 4.1.2 Premedikasi . 4.2 Pembedahan . 4.3 Penggunaan radioterapi . . 4.4 Pasca bedah . . 4.5 Komplikasi . 21 21 22 28 28 29 BAB 4 1 Universitas Sumatera Utara BAB 5 KESIMPULAN . . 31 DAFTAR PUSTAKA . 33 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Gambaran mikroskopis dari sel displasia . 3 2. Oral displasia atau lesi putih pada lidah . . 4 3. Gambaran mikroskopis epitelial hiperplasia . 6 4. Gambaran mikroskopis mild dysplasia . 7 5. Mild dysplasia . 7 6. Gambaran mikroskopis moderate dysplasia . 8 7. Moderate dysplasia . 9 8. Gambaran mikroskopis severe dysplasia . 9 9. Severe dysplasia . 10 10. Gambaran mikroskopis karsinoma in situ . 11 11. Karsinoma in situ pada mukosa bukal . 11 12. Gambaran mikroskopis dari leukoplakia . 13 13. Leukoplakia pada rongga mulut . 13 14. Lesi kecil pada dorsal lidah .23 15. Mengangkat atau menarik lesi dengan skalpel .23 16. Bekas lesi yang sudah diangkat dan siap untuk dijahit .24 17. Bekas lesi dijahit dengan benang .24 18. Biopsi insisional pada sisi kiri lesi .26 19. Garis eliptikal insisi .27 20. Garis eliptikal insisi berada dibawah lesi .27 Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Tahun 2011 Tasha Citra Purnama Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia viii + 35 halaman Oral displasia adalah salah satu jenis kelainan pada rongga mulut, terjadinya proliferasi yang tidak teratur, tetapi non neoplastik pada epitel rongga mulut. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) setiap sel dan hilangnya orientasi arsitektural sel tersebut. Sel displastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi ukuran dan bentuk) dan sering memiliki inti sel yang berwarna gelap (hiperkromatik) dan sangat besar dibandingkan dengan ukuran selnya sendiri. Berdasarkan tingkat atau derajat terjadinya proliferasi epitel rongga mulut, oral displasia dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tingkatan : 1. Epitelial hiperplasia 2. Mild dysplasia 3. Moderate dysplasia 4. Severe dysplasia 5. Karsinoma in situ Penanganan terhadap oral displasia yang paling banyak dilakukan adalah dengan melalui pembedahan sedangkan penggunaan radioterapi juga dapat dilakukan. Tetapi penggunaan radioterapi dapat menimbulkan efek samping, karena penyinaran yang dilakukan dilaporkan sering menimbulkan terjadinya sarkoma. Daftar rujukan 28 (1983-2011) Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN Oral displasia adalah salah satu jenis kelainan pada rongga mulut, terjadinya proliferasi yang tidak teratur, tetapi non neoplastik pada epitel rongga mulut. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) setiap sel dan hilangnya orientasi arsitektural sel tersebut. Sel displastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi ukuran dan bentuk) dan sering memiliki inti sel yang berwarna gelap (hiperkromatik) dan sangat besar dibandingkan dengan ukuran selnya sendiri. Apabila perubahan displastik ini nyata dan mengenai keseluruhan tebal epitel, lesi ini disebut Karsinoma in situ, suatu stadium kanker pra-invasif.1 Oral displasia sering juga disebut epitelial hiperplasia yakni terjadinya hiperkeratosis pada lapisan epitel rongga mulut yang secara klinis disebut leukoplakia, adanya lesi putih di rongga mulut. Leukoplakia sering ditemukan di daerah dasar mulut, ventro lateral lidah dan bibir.1,2,3 Berdasarkan tingkat atau derajat terjadinya proliferasi epitel rongga mulut, oral displasia dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tingkatan : 6. Epitelial hiperplasia. 7. Mild dysplasia. 8. Moderate dysplasia. 9. Severe dysplasia. 10. Karsinoma in situ. Kelima tingkatan oral displasia tersebut dapat dilihat berdasarkan gambaran sitologi dan arsitektural epitelnya.3,4,5 Faktor etiologi yang dapat memicu oral displasia berkembang menjadi karsinoma antara lain adalah tembakau, alkohol dan faktor pendukung lain seperti penyakit kronis, faktor gigi dan mulut, defisiensi nutrisi, jamur, virus dan faktor lingkungan. Walaupun rongga mulut memiliki aksesibilitas yang baik untuk pemeriksaan visual, oral displasia Universitas Sumatera Utara seringkali sulit terdiagnosa karena tidak menunjukkan gejala. Pada waktu didiagnosa, seringkali lesi telah membesar dan sudah menimbulkan keluhan.4,5 Pemeriksaan klinis, pemeriksaan sitologis secara histopatologis, pemeriksaan toluidine Blue dan biopsi, merupakan beberapa metode yang dapat digunakan untuk mendiagnosa secara dini. Upaya lainnya adalah pencegahan dengan memberikan pendidikan, pengamatan dan pencarian dini (screening) agar dapat mendiagnosa secara dini oral displasia agar tidak berkembang menjadi karsinoma.5 Penanganan terhadap oral displasia yang paling banyak dilakukan adalah dengan melalui pembedahan sedangkan penggunaan radioterapi juga dapat dilakukan. Tetapi penggunaan radioterapi dapat menimbulkan efek samping, karena penyinaran yang dilakukan dilaporkan sering menimbulkan terjadinya sarkoma.4,5 Universitas Sumatera Utara BAB 2 DEFENISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, DAN TANDA-TANDA ORAL DISPLASIA 2.1. Defenisi Dari beberapa literatur terdapat berbagai definisi dari oral displasia. Secara umum definisi oral displasia yaitu suatu kelainan pada rongga mulut dimana terjadi proliferasi yang tidak teratur pada epitel rongga mulut namun bersifat non neoplastik. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) dan orientasi arsitektural dari epitel rongga mulut. Sebagian pendapat menyatakan terjadi perubahan ukuran dan bentuk sel. Inti sel yang mengalami perubahan berwarna lebih gelap (hiperkromatik) dan berukuran lebih besar daripada selnya sendiri. 1,2,3 Dalam beberapa literatur lainnya, oral displasia disebut pula sebagai Squamous Intraepithelial Neoplasia (SIN) atau Squamous Intraepithelial Lesion (SIL). 6 Gambar 1 : Gambaran mikroskopis dari sel displasia. (http://en.wikipedia.org/wiki/Dysplasia” 06 Maret 2011) 2.2 Etiologi Etiologi oral displasia belum jelas diketahui, namun dari beberapa literatur menjelaskan bahwa lesi oral displasia adalah sebagai pertumbuhan abnormal atau perubahan abnormal dari sel epitel rongga mulut, terjadi proliferasi sel epitel rongga mulut bahkan dapat menjadi karsinoma akibat hal-hal berikut, antara lain : tembakau, alkohol dan faktor-faktor Universitas Sumatera Utara lain seperti penyakit kronis, faktor gigi dan mulut, defisiensi nutrisi, jamur, virus dan faktor lingkungan.6,7 Deborah Greenspan dkk (2004), menyatakan bahwa pada umumnya faktor tembakau (rokok) sangat erat hubungannya dengan kejadian oral displasia, termasuk perokok pasif. 7 Gambar 2: Oral displasia atau lesi putih pada lidah. (Jack H, Lee K, Polonowita. Dilemas in managing oral dysplasia : a case report and literature review, Journal of the New Zealnd Medicine Assosiations,2009) 2.3. Klasifikasi Secara umum klasifikasi dari oral displasia atau sering disebut epithelial dysplasia atau oral epithelial dysplasia hanya dapat digolongkan berdasarkan gambaran mikroskopik. Terjadinya proliferasi sel epitel pada rongga mulut dibagi ke dalam beberapa tingkatan : 1. Epitelial hiperplasia 2. Mild dysplasia 3. Moderate dysplasia 4. Severe dysplasia 5. Karsinoma in situ Kelima tingkatan oral tersebut dapat dilihat secara mikroskopis, dengan melihat gambaran sitologi dan arsitektur sel epitelnya.6,8 Universitas Sumatera Utara 2.3.1. Epitelial hiperplasia Epitelial hiperplasia adalah salah satu jenis oral epitelial displasia yang paling ringan. Oral displasia jenis ini terjadi proliferasi sel epitel rongga mulut yang paling ringan sehingga sering juga disebut simpel hiperplasia. Oral displasia jenis ini juga non spesifik hiperplasia dan hiperkeratosis. 8,11,21 Gambar 3 : Gambaran mikroskopis epitelial hiperplasia. (Rosin MP, Cheng Xing, Poh C, et al. Use of allelic loss to predict malignant risk for low-grade oral epithelial dysplasia. http://clincancerres.aacrjournals.org/content/6/2/357.full 06 Maret 2011) 2.3.2. Mild dysplasia Oral displasia jenis ini terjadi proliferasi sel epitel rongga mulut yang lebih banyak daripada epitel hiperplasia. Hiperplasia terjadi pada sel basal epitel dan nampak adanya hiperkromatis pada inti sel. Lapisan sel epitel yang terkena perubahan adalah pada lapisan ketiga sel epitel terbawah. 3,6,8 Universitas Sumatera Utara Gambar 4 : Gambaran mikroskopis mild dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP. Contemporary oral and Maxillofacial pathology, 2nd ed. St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 16586) Gambar 5 : Mild dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP. Contemporary oral and maxillofacial Pathology, 2nd ed. St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-86) 2.3.3. Moderate dysplasia Displasia pada tingkat ini sudah terjadi perubahan pada lapisan sel epitel yang tengah sampai diatasnya. Polaritas sel sudah hilang, terjadi kerusakan pada proses pendewasaan dari Universitas Sumatera Utara sel basal sampai sel squamous. : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 Mikyal Ayya Riefka : Penatalaksanaan Penderita Kandidiasis Oral, 2004. USU e-Repository © 2008 pesawat ortondonti bertujuan untuk mengekstruksikan gigi permanen yang impaksi. Pesawat ini terbuat dari kawat stainless steel yang kaku, biasanya berdiameter 0,036 inci. Pada tahap kedua, pesawat ortodonti bertujuan untuk meluruskan/ menyusun posisi gigi pada lengkung rahang. Pesawat ini terbuat dari kawat yang lebih fleksibel yang dikenal dengan incisor aligning arch wire.27 Jika pasien memiliki kebiasaan mendorong lidah, Transpalatal arch space maintainer dengan fixed tongue crib dapat diberikan untuk menghentikan kebiasaan tersebut(Gambar17).28 Gambar 17 Transpalatal-arch wire dengan fixed tongue crib (Hemalatha R, Balasubramaniam MR. Cleidocranial dysplasia: a case report. J Indian Soc Pedod Prev Dent 2008: 26(1) :40-3) Universitas Sumatera Utara 38 Setelah pesawat ortodonti dibuat, seluruh supernumerary teeth dan gigi desidui pada regio anterior diekstraksi, dan dilakukan tindakan bedah untuk mengexposure mahkota gigi permanen regio anterior. Jika perawatan dilakukan pada pasien yang telah dewasa, ekstraksi dilakukan pada seluruh gigi desidui sekaligus. Exposure mahkota gigi permanen hanya dilakukan pada tulang bagian labial/bukal untuk mempertahankan ketinggian tulang alveolar. Selain kombinasi tindakan bedah dan ortodonti, salah satu pilihan perawatan masalah gigi geligi pada penderita Kleidokranial displasia adalah mengekstraksi seluruh gigi desidui diikuti dengan pembuatan gigi tiruan biasa atau penggunaan implan. Lombardas mengusulkan penggunaan osseointegrated implant pada lengkung maksila untuk menjaga estetis dan retensi gigi tiruan penuh.14 Namun pada saat ini, penanganan masalah gigi geligi penderita Kleidokranial displasia dengan kombinasi tindakan bedah dengan pemakaian protesa telah ditinggalkan. Karena kombinasi tindakan bedah dengan pemakaian protesa memperlihatkan prognosa yang rendah dan membutuhkan waktu kunjungan yang berulang.8 Universitas Sumatera Utara BAB 5 KESIMPULAN 39 Kleidokranial displasia adalah suatu sindroma kelainan pada tulang yang disebabkan oleh mutasi gen CBFA I(core binding factor alpha I)/RUNX2 pada kromosom 6p21. Mutasi gen ini dapat diturunkan melalui gen autosomal dominan dan dapat terjadi secara spontan. Kleidokranial displasia biasanya ditandai dengan aplasia atau hipoplasia klavikula, baik unilateral maupun bilateral yang mengakibatkan hipermobiliti bahu. Gambaran klinis dari Kleidokranial displasia dapat dilihat juga pada sebagian besar anggota tubuh. Pada penderita Kleidokranial displasia dapat terlihat palatum yang tinggi pada rongga mulutnya. Hal ini disebabkan adanya pertumbuhan yang abnormal pada tengkorak. Penderita Kleidokranial displasia juga mengalami gangguan pertumbuhan gigi geligi seperti persistensi gigi desidui, keterlambatan atau kegagalan erupsi gigi permanen, dan perkembagan supernumerary teeth. Pada pemeriksaan radiologi didapat gambaran yang kompleks. Pada foto rontgen tengkorak terlihat tulang frontal yang besar disertai dengan kurang menutupnya sutura. Pada foto dental terlihat susunan gigi geligi yang tidak beraturan dengan rahang yang sempit. Foto thorak terlihat tulang bahu yang mengalami aplasia atau hipoplasia. Foto pelvis terlihat penutupan simphisis yang kurang sempurna. Perawatan dari Kleidokranial displasia ini tidak memiliki pola perawatan yang tepat dan jelas. Jenis perawatan yang diperlukan tergantung pada kesehatan individu tersebut. Untuk menangani masalah dental yang merupakan masalah yang utama bagi Universitas Sumatera Utara 40 penderita Kleidokranial displasia maka dilakukan beberapa perawatan yaitu perawatan bedah ortognatik dan perawatan ortodonti yang dikombinasikan dengan perawatan bedah. Diagnosa dan perawatan Kleidokranial displasia sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk mencegah terjadinya anomali dental yang lebih parah. Anomali dental yang dijumpai pada Kleidokranial diplasia sangat kompleks sehingga diperlukan kerja sama yang baik dari beberapa disiplin ilmu seperti bedah mulut dan ortodontik sehingga diperoleh hasil perawatan yang optimal. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA 41 1. Schuurs AHB, Moorer WR, Prahl-Andersen B, Thoden van Velsen SK, Visser JB. Patologi gigi geligi: kelainan-kelainan jaringan keras gigi. Alih bahasa: Sutatmi Suryo Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992: 280-8. 2. Neville BW, Damm DD, Allen CM, Bouqout JE. Oral & maxillofacial pathology. 2nd ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company,2002 : 537-9. 3. Stafne.EC. Oral radiographic diagnosis. 5th ed. Philadelphia : W.B.Saunders Company, 1985 : 286-287. 4. Sudiono.J. Gangguan tumbuh kembang dentokraniofasial. Jakarta : EGC, 2008 : 72-74. 5. Wood NK, Goaz PW. Differential diagnosis of oral and maxillofacial Lessions. 5th ed. St. Louis : Mosby, 1997 :506-507. 6. Mundlos S. Cleidocranial dysplasia: Clinical and molecular genetic. J med Ganet 1999: 36 : 177-82. 7. Children’s craniofacial association. Cleidocranial dysplasia. 20 Mei 2008. < http://www.cigna.com/healthinfo/nord961.html> (06 Agustus 2010) 8. Kolokhita OG, Papadopoulou AK. Cleidocranial dysplasia: etiology, clinical characteristic, diagnostic information and treatment approach. Hell Orthod Rev 2008: 11: 21-33. 9. Tanaka JLO, Ono E, Filho EM, Castilho JCM, Moraes LC, Moraes MEL. Cleidocranial dysplasia: importance of radiographic images in diagnosis of the conditions. J Oral Sci 2006: 48(3): 161-6. Universitas Sumatera Utara 42 10. Mendozo-Londono R, Lee B. Cleidocranial dysplasia. January 3 2006. (5 Juli 2010). 11. Reddy SK. Cleidocranial Dysplasia (Dysostosis) – A Case Report. The Orthodontic CYBERjournal, March 2010. 12. Vojvodić D, Komar D, Žabarović D. Prosthetic Rehabilitation of a patient with Cleidocranial dystosis: a clinical report. Acta Stomatol Croat 2007 : 41(3) : 2738. 13. Silva. C, Dirienzo. S,Serman. N. Cleidocranial dysplasia: a case report. Col Dent Rev 1997: 2 :26. 14. López BSG, Solalinde CO, Ito TK, Carillo EL, Soladinde EO. Cleidocranial dysplasia: report of a family. JOral Sci 2004: 46(4): 259-66. 15. Go al n I, Bau mert U, Hrala BP, βMigű D. Dentomaxillofacial variability of cleidocranial dysplasia: clinicoradiological presentation and systematic review. Dentomaxillofacial radiology 2003: 32: 347-54. 16. Laskaris George. Color atlas of oral diseases. Greece: Litsas Medical Publications ,1986 : 36-37. 17. Archer. WH. Oral and maxillofacial surgery. Vol I. 5th ed.Philadelphia : W.B.Saunders Company, 1975 : 366-74. 18. Daskalogiannakis J, Piedade L, Lidholm TC, Sándor GKB, Carmichael RP. Cleidocranial dysplasia: 2 generations of management. J Can Dent Assoc 2006: 72(4): 337-42. Universitas Sumatera Utara 43 19. McNamara CM, O’Riordan BC, Blake M, Sandy JR. Cleidocranial dysplasia : Radiological appearances on dental panoramic radiography. Dentomaxillofacial Radiology 1999: 28 : 89-97. 20. Garg RK, Agrawal P. Clinical spectrum of cleidocranial dysplasia: a case report. 8 Desember 2008. < http://www.casesjournal.com/content/1/1/377> (06 Agustus 2010). 21. Genetic Information and Patient Services Inc. Cleidocranial dysplasia. (06 Agustus 2010). 22. Babyn PS. Teaching atlas of pediatric imaging. New York: Thieme Medical Publishers Inc,2005 :619. 23. Jensen BL, Kreiborg S. Dental treatment strategies in cleidocranial dysplasia. Br Dent J 1992: 172: 243-7. 24. Angle AD, Robellato J. Dental management for a patient with cleidocranial dystosis. Am J Orthod DentofacialOrthop 2005; 128: 110-7. 25. Ishii K, Nielsen IL, Vargervik K. Characteristics of jaw growth in cleidocranial dysplasia. Cleft Palate-Craniofacial J 1998: 35(2): 161-6. 26. Petropoulus VC, Balshi TJ, Balshi SF, Wolfinger GJ. Treatment of a patient with cleidocranial dysplasia using osseointegrated implants: a patient report: Int J Oral Maxillofac Implants 2004: 19: 282-7. 27. Adrian Becker. The orthodontic treatment of impacted teeth. 2nd ed. United Kingdom: Informa, 2007: 299-23. 28. Hemalatha R, Balasubramaniam MR. Cleidocranial dysplasia: a case report. J Indian Soc Pedod Prev Dent 2008: 26(1) :40-3. Universitas Sumatera Utara 44 29. Langlais.RP. Atlas berwarna kelainan rongga mulut yang lazim. Jakarta: Hipokrates, 1998 :14. 30. Dhaif B, McManus . Cleido-cranial dystosis. case report and review of skeletal abnormalities. Bahrain Medical Bulletin 1996: 18(4) Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Lengkap : Imme Paulina Tempat/ Tanggal Lahir : Dumai/18 Januari 1988 Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Alamat : Jln.Setia Budi Psr.1 gg. Beo no 9A Orangtua Ayah : Janaik Saragih, SE.,MBA Ibu : Dameria Nababan Alamat : Jln.Setia Budi Psr.1 gg. Beo no 9A Riwayat Pendidikan 1. 1993-1999 : SD St.Tarcisius, Dumai 2. 1999-2002 : SLTP St.Tarcisius, Dumai 3. 2002-2005 : SMA Negeri 4, Medan 4. 2006-2010 : Fakultas Kedokteran Gigi USU, Medan 45 Universitas Sumatera Utara
Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia. Biopsi Melakukan biopsi dengan pemeriksaan histopatologis akan lebih meyakinkan kita Epitelial hiperplasia Moderate dysplasia Pembedahan PENATALAKSANAAN ORAL DISPLASIA Pemeriksaan histopatologis Pemeriksaan dengan toluidine blue Pemeriksaan klinis METODE DIAGNOSA ORAL DISPLASIA PENDAHULUAN Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia. Penggunaan radioterapi Pasca bedah Komplikasi Tanda-tanda histopatologis Tanda-tanda oral displasia
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia.

Gratis