Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia.

 2  64  41  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN ORAL DISPLASIA

  SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi

  Syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran gigi Oleh :

  TASHA CITRA PURNAMA NIM : 070600129

  FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

  Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial

  Tahun 2011 Tasha Citra Purnama

  Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia viii + 35 halaman Oral displasia adalah salah satu jenis kelainan pada rongga mulut, terjadinya proliferasi yang tidak teratur, tetapi non neoplastik pada epitel rongga mulut. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) setiap sel dan hilangnya orientasi arsitektural sel tersebut. Sel displastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi ukuran dan bentuk) dan sering memiliki inti sel yang berwarna gelap (hiperkromatik) dan sangat besar dibandingkan dengan ukuran selnya sendiri.

  Berdasarkan tingkat atau derajat terjadinya proliferasi epitel rongga mulut, oral displasia dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tingkatan :

  1. Epitelial hiperplasia

2. Mild dysplasia

  3. Moderate dysplasia

  4. Severe dysplasia

  5. Karsinoma in situ Penanganan terhadap oral displasia yang paling banyak dilakukan adalah dengan melalui pembedahan sedangkan penggunaan radioterapi juga dapat dilakukan. Tetapi penggunaan radioterapi dapat menimbulkan efek samping, karena penyinaran yang dilakukan dilaporkan sering menimbulkan terjadinya sarkoma.

  Daftar rujukan 28 (1983-2011)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

  Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi Medan, 13 Juli 2011

  Pembimbing : Tanda tangan

  Indra Basar Siregar, drg., M. Kes Tasha Citra Purnama NIP : 19470206 197603 1 003 NIM : 070600129

  

Tim Penguji Skripsi

  Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi Pada tanggal 13 Juli 2011

  Tim Penguji Ketua : Abdullah, drg

  Indra Basar Siregar, drg., M. Kes Anggota : 1.

  2. Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM

  3. Gostry Aldica Dohude, drg

KATA PENGANTAR

  Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Karena dengan ridho- Nya, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan Penulis untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, Medan.

  Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan seikhlas- ikhlasnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Eddy Anwar Ketaren, drg.Sp.BM, selaku Ketua Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

  2. Indra Basar Siregar, drg.M.Kes, selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, tenaga, dan fikiran dalam membimbing dan mengarahkan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

  3. Seluruh Staf Pengajar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial serta Staf Pengajar di bidang ilmu lainnya pada Fakultas Kedokteran Gigi yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan

  4. Rusfian,drg. Selaku Dosen Penasehat Akademik penulis selama penulis menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara.

  5. Teristimewa Kepada kedua orangtua, Ayahanda tersayang H.Hasriansyah Idris,drh.

  MM dan Ibunda Hj.Dwi Arti Sulistiyani, drg. Yang selalu memberikan doa dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dan studi di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara.

  6. Prof. DR. Che Farid Ghazali sebagai dosen University Sains Malaysia, yang turut memberikan saran dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  7. Kepada Adik saya Syafira Anandhita, Nenek saya, sepupu-sepupu, Serta Om-Om dan Tante-Tante saya yang telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis sehingga selesainya penulisan skripsi ini.

  8. Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman saya Winda, Hani, Dessy, Reni, Frida, Ali, Herry, Andrew, kak Findy, dan Seluruh teman-teman angkatan 2007 atas dukungan dan semua bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini.

  9. Juga kepada teman-teman saya tersayang Putri Debrita, Tiffani Bella Ayundha, Fella Eldyah SH, Shadrina Ningrum Sulaiman SH, Ditha Amelia Dislan, dan Mila Sari Lubis atas dukungan dan doa nya selama ini.

  10. Juga kepada seluruh Pegawai dan Staf Administrasi maupun Akademik di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara atas dukungannya.

  Penulis menyadari bahwa banyak dari skripsi ini masih jauh dari sempurna, tentunya hal ini tidak terlepas dari keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman penulis. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan kita semua, semoga Allah SWT memberikan rahmat dan Karunia-Nya pada kita semua.

  Medan, Juli 2011 Penulis

  TASHA CITRA PURNAMA NIM : 070600129

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN........................................................................ ii HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI........................................................... iii KATA PENGANTAR ................................................................................... iv DAFTAR ISI ................................................................................................. vi DAFTAR GAMBAR .................................................................................... viii BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................

  1 BAB 2 DEFENISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, TANDA-TANDA

  2.1 Defenisi ...................................................................................... 3

  2.2 Etiologi ....................................................................................... 4

  2.3 Klasifikasi

  2.3.1 Epitelial hiperlasia ..................................................................... 5

  2.3.2 Mild dysplasia..............................................................................6

  2.3.3 Moderate dysplasia .................................................................... 8

  2.3.4 Severe dysplasia ......................................................................... 9

  2.3.5 Karsinoma in situ........................................................................10

  2.4 Tanda-Tanda

  2.4.1 Tanda-tanda klinis ................................................... .................. 12

  2.4.2 Tanda-tanda histopatologis ..........................................................14

  BAB 3 METODE DIAGNOSA ORAL DISPLASIA 3.1 Pemeriksaan klinis ............................................................

  15 3.2 Pemeriksaan histopatologis ...............................................

  16 3.3 Pemeriksaan dengan toluidine blue ..................................

  17 3.4 Biopsi ................................................................................

  18 BAB 4 PENATALAKSANAAN ORAL DISPLASIA

  4.1 Pra bedah 4.1.1 Sterilisasi ..........................................................................

  21 4.1.2 Premedikasi ......................................................................

  21 4.2 Pembedahan .....................................................................

  22 4.3 Penggunaan radioterapi .................................................. ..

  28 4.4 Pasca bedah ..................................................................... .

  28

  4.5 Komplikasi ........................................................................ 29

  BAB 5 KESIMPULAN ............................................................................. . 31 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 33

  DAFTAR GAMBAR

  11. Karsinoma in situ pada mukosa bukal ............................................................... 11

  19. Garis eliptikal insisi ............................................................................................27

  18. Biopsi insisional pada sisi kiri lesi ......................................................................26

  17. Bekas lesi dijahit dengan benang ........................................................................24

  16. Bekas lesi yang sudah diangkat dan siap untuk dijahit .......................................24

  15. Mengangkat atau menarik lesi dengan skalpel ...................................................23

  14. Lesi kecil pada dorsal lidah ................................................................................23

  13. Leukoplakia pada rongga mulut ........................................................................ 13

  12. Gambaran mikroskopis dari leukoplakia ........................................................... 13

  10. Gambaran mikroskopis karsinoma in situ ......................................................... 11

  Gambar Halaman

  9. Severe dysplasia ................................................................................................. 10

  8. Gambaran mikroskopis severe dysplasia ............................................................. 9

  7. Moderate dysplasia .............................................................................................. 9

  6. Gambaran mikroskopis moderate dysplasia ........................................................ 8

  5. Mild dysplasia ...................................................................................................... 7

  4. Gambaran mikroskopis mild dysplasia ................................................................ 7

  3. Gambaran mikroskopis epitelial hiperplasia ........................................................ 6

  2. Oral displasia atau lesi putih pada lidah ............... .............................................. 4

  1. Gambaran mikroskopis dari sel displasia ............................................................ 3

  20. Garis eliptikal insisi berada dibawah lesi ...........................................................27

  Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial

  Tahun 2011 Tasha Citra Purnama

  Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia viii + 35 halaman Oral displasia adalah salah satu jenis kelainan pada rongga mulut, terjadinya proliferasi yang tidak teratur, tetapi non neoplastik pada epitel rongga mulut. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) setiap sel dan hilangnya orientasi arsitektural sel tersebut. Sel displastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi ukuran dan bentuk) dan sering memiliki inti sel yang berwarna gelap (hiperkromatik) dan sangat besar dibandingkan dengan ukuran selnya sendiri.

  Berdasarkan tingkat atau derajat terjadinya proliferasi epitel rongga mulut, oral displasia dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tingkatan :

  1. Epitelial hiperplasia

2. Mild dysplasia

  3. Moderate dysplasia

  4. Severe dysplasia

  5. Karsinoma in situ Penanganan terhadap oral displasia yang paling banyak dilakukan adalah dengan melalui pembedahan sedangkan penggunaan radioterapi juga dapat dilakukan. Tetapi penggunaan radioterapi dapat menimbulkan efek samping, karena penyinaran yang dilakukan dilaporkan sering menimbulkan terjadinya sarkoma.

  Daftar rujukan 28 (1983-2011)

BAB 1 PENDAHULUAN Oral displasia adalah salah satu jenis kelainan pada rongga mulut, terjadinya

  proliferasi yang tidak teratur, tetapi non neoplastik pada epitel rongga mulut. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) setiap sel dan hilangnya orientasi arsitektural sel tersebut. Sel displastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi ukuran dan bentuk) dan sering memiliki inti sel yang berwarna gelap (hiperkromatik) dan sangat besar dibandingkan dengan ukuran selnya sendiri. Apabila perubahan displastik ini nyata dan mengenai keseluruhan tebal

  1

  epitel, lesi ini disebut Karsinoma in situ, suatu stadium kanker pra-invasif. Oral displasia sering juga disebut epitelial hiperplasia yakni terjadinya hiperkeratosis pada lapisan epitel rongga mulut yang secara klinis disebut leukoplakia, adanya lesi putih di rongga mulut.

  1,2,3 Leukoplakia sering ditemukan di daerah dasar mulut, ventro lateral lidah dan bibir.

  Berdasarkan tingkat atau derajat terjadinya proliferasi epitel rongga mulut, oral displasia dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tingkatan :

  6. Epitelial hiperplasia.

  7. Mild dysplasia.

  8. Moderate dysplasia.

  9. Severe dysplasia.

  10. Karsinoma in situ.

  Kelima tingkatan oral displasia tersebut dapat dilihat berdasarkan gambaran sitologi

  3,4,5 dan arsitektural epitelnya.

  Faktor etiologi yang dapat memicu oral displasia berkembang menjadi karsinoma antara lain adalah tembakau, alkohol dan faktor pendukung lain seperti penyakit kronis, faktor gigi dan mulut, defisiensi nutrisi, jamur, virus dan faktor lingkungan. Walaupun rongga mulut memiliki aksesibilitas yang baik untuk pemeriksaan visual, oral displasia seringkali sulit terdiagnosa karena tidak menunjukkan gejala. Pada waktu didiagnosa,

  4,5 seringkali lesi telah membesar dan sudah menimbulkan keluhan.

  Pemeriksaan klinis, pemeriksaan sitologis secara histopatologis, pemeriksaan

  

toluidine Blue dan biopsi, merupakan beberapa metode yang dapat digunakan untuk

  mendiagnosa secara dini. Upaya lainnya adalah pencegahan dengan memberikan pendidikan, pengamatan dan pencarian dini (screening) agar dapat mendiagnosa secara dini oral displasia

  5 agar tidak berkembang menjadi karsinoma.

  Penanganan terhadap oral displasia yang paling banyak dilakukan adalah dengan melalui pembedahan sedangkan penggunaan radioterapi juga dapat dilakukan. Tetapi penggunaan radioterapi dapat menimbulkan efek samping, karena penyinaran yang dilakukan

  4,5 dilaporkan sering menimbulkan terjadinya sarkoma.

BAB 2 DEFENISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, DAN TANDA-TANDA ORAL DISPLASIA

  2.1. Defenisi

  Dari beberapa literatur terdapat berbagai definisi dari oral displasia. Secara umum definisi oral displasia yaitu suatu kelainan pada rongga mulut dimana terjadi proliferasi yang tidak teratur pada epitel rongga mulut namun bersifat non neoplastik. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) dan orientasi arsitektural dari epitel rongga mulut.

  Sebagian pendapat menyatakan terjadi perubahan ukuran dan bentuk sel. Inti sel yang mengalami perubahan berwarna lebih gelap (hiperkromatik) dan berukuran lebih besar

  1,2,3 daripada selnya sendiri.

  Dalam beberapa literatur lainnya, oral displasia disebut pula sebagai Squamous

  6 Intraepithelial Neoplasia (SIN) atau Squamous Intraepithelial Lesion (SIL).

  Gambar 1 : Gambaran mikroskopis dari sel displasia. (http://en.wikipedia.org/wiki/Dysplasia” 06 Maret 2011)

  2.2 Etiologi

  Etiologi oral displasia belum jelas diketahui, namun dari beberapa literatur menjelaskan bahwa lesi oral displasia adalah sebagai pertumbuhan abnormal atau perubahan abnormal dari sel epitel rongga mulut, terjadi proliferasi sel epitel rongga mulut bahkan dapat menjadi karsinoma akibat hal-hal berikut, antara lain : tembakau, alkohol dan faktor-faktor lain seperti penyakit kronis, faktor gigi dan mulut, defisiensi nutrisi, jamur, virus dan faktor

  6,7 lingkungan.

  Deborah Greenspan dkk (2004), menyatakan bahwa pada umumnya faktor tembakau

  7 (rokok) sangat erat hubungannya dengan kejadian oral displasia, termasuk perokok pasif.

  Gambar 2: Oral displasia atau lesi putih pada lidah. (Jack H, Lee K, Polonowita. Dilemas in managing oral dysplasia

  

: a case report and literature review, Journal of the New Zealnd

  Medicine Assosiations,2009)

2.3. Klasifikasi

  Secara umum klasifikasi dari oral displasia atau sering disebut epithelial dysplasia atau oral epithelial dysplasia hanya dapat digolongkan berdasarkan gambaran mikroskopik.

  Terjadinya proliferasi sel epitel pada rongga mulut dibagi ke dalam beberapa tingkatan :

  1. Epitelial hiperplasia

  2. Mild dysplasia

  3. Moderate dysplasia

  4. Severe dysplasia

  5. Karsinoma in situ Kelima tingkatan oral tersebut dapat dilihat secara mikroskopis, dengan melihat

  

6,8

gambaran sitologi dan arsitektur sel epitelnya.

  2.3.1. Epitelial hiperplasia Epitelial hiperplasia adalah salah satu jenis oral epitelial displasia yang paling ringan.

  Oral displasia jenis ini terjadi proliferasi sel epitel rongga mulut yang paling ringan sehingga sering juga disebut simpel hiperplasia. Oral displasia jenis ini juga non spesifik hiperplasia

  8,11,21 dan hiperkeratosis.

  Gambar 3 : Gambaran mikroskopis epitelial hiperplasia. (Rosin MP, Cheng Xing, Poh C, et al. Use of allelic loss to predict malignant risk

for low-grade oral epithelial dysplasia.

http://clincancerres.aacrjournals.org/content/6/2/357.full

  06 Maret 2011)

  2.3.2. Mild dysplasia

  Oral displasia jenis ini terjadi proliferasi sel epitel rongga mulut yang lebih banyak daripada epitel hiperplasia. Hiperplasia terjadi pada sel basal epitel dan nampak adanya hiperkromatis pada inti sel. Lapisan sel epitel yang terkena perubahan adalah pada lapisan

  3,6,8 ketiga sel epitel terbawah. Gambar 4 : Gambaran mikroskopis mild dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP. Contemporary oral and Maxillofacial

  nd

pathology, 2 ed. St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-

  86) Gambar 5 : Mild dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP.

  nd

Contemporary oral and maxillofacial Pathology, 2 ed. St.Louise,

  Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-86)

2.3.3. Moderate dysplasia

  Displasia pada tingkat ini sudah terjadi perubahan pada lapisan sel epitel yang tengah sampai diatasnya. Polaritas sel sudah hilang, terjadi kerusakan pada proses pendewasaan dari sel basal sampai sel squamous. Hiperplasia pada sel basal. Bentuk sel menjadi tidak seragam

  6,8 karena terjadi kerusakan, pada inti sel terjadi hiperkromatik.

  Gambar 6 : Gambaran mikroskopis moderate dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR,

  nd Wysocki GP. Contemporary oral and Maxillofacial pathology, 2 ed.

  St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-86) Gambar 7 : Moderate dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki

  nd GP. Contemporary oral and Maxillofacial pathology, 2 ed.

  St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-86)

2.3.4. Severe dysplasia

  Displasia pada tingkat ini sudah terjadi perubahan pada lapisan sel epitel yang lebih

  6,8 tinggi. Keseluruhan bentuk sel sudah tidak seragam dan tidak ada lagi keteraturan. Gambar 8 : Gambaran mikroskopis severe dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP. Contemporary oral and Maxillofacial

  nd

pathology, 2 ed. St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-

  86) Gambar 9 : Severe dysplasia. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP.

  nd

Contemporary oral and Maxillofacial pathology, 2 ed. St.Louise,

  Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-86)

2.3.5. Karsinoma in situ Displasia pada tingkat ini sudah terjadi perubahan pada keseluruhan lapisan sel epitel.

  Perubahan sel terjadi keseluruhan, lapisan sel epitel sudah tidak Nampak atau hilang dari atas

  10,12,18 sampai lapisan terbawah, terjadi perubahan arsitektural sel. Gambar 10 : Gambaran mikroskopis karsinoma in situ. (Laskin DM.

  

Oral and maxillofacial surgery. Vol. 1. St.Louise,Missouri : Mosby,

  2000: 503-5) Gambar 11: Karsinoma in situ dari mukosa bukal. (Laskin DM. Oral

  and maxillofacial surgery. Vol. 1. St.Louise,Missouri : Mosby, 2000:

  503-5)

2.4 Tanda-tanda oral displasia

  Oral displasia dapat di identifikasi melalu tanda-tanda klinis dan histopatologis.

2.4.1 Tanda-tanda klinis Oral displasia pada rongga mulut ditandai dengan adanya lesi putih (leukoplakia).

  Lesi ini merupakan lesi pra ganas yaitu kondisi penyakit yang secara klinis belum menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada lesi ganas, namun di dalamnya sudah terjadi perubahan-perubahan patologis yang merupakan pertanda akan terjadinya keganasan. Lebih sering ditemukan pada orang yang berumur diatas 40 tahun, dengan kecenderungan terjadi

  10,11,13 pada seorang perokok.

  Leukoplakia merupakan salah satu kelainan yang terjadi di mukosa rongga mulut. Meskipun leukoplakia tidak termasuk dalam jenis tumor, lesi ini sering meluas sehingga menjadi suatu lesi pra kanker. Leukoplakia merupakan suatu istilah lama yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu bercak putih atau plak yang tidak normal yang terdapat pada membran mukosa. Pendapat lain mengatakan bahwa leukoplakia hanya merupakan suatu bercak putih yang terdapat pada membran mukosa dan sukar untuk dihilangkan atau

  19,20,21 terkelupas.

  Lesi sering nampak di daerah lidah, mukosa rahang bawah dan daerah mukosa pipi . Kadang-kadang terlihat pada daerah langit-langit, garis rahang atas dan bibir bawah. Pada pemeriksaan dengan mata biasa, leukoplakia, lesi nampak sangat bervariasi dari saat mulai terbentuk, warnanya putih yang tak jelas di dasar, tanpa kebengkakan, terlihat normal, menunjukan jaringan yang jelas, berwarna putih, tebal, keras/kasar, bercelah-celah, seperti kutil. Pada beberapa leukoplakia nampak adanya zona yang kemerahan, yang pada beberapa istilah disebut speckled leukoplakia (erythroleukoplakia). Jika dipalpasi, beberapa lesi terasa lunak, halus atau terasa granul halus. Pada beberapa lesi lainnya terasa kasar dan ber-nodul.

  10,11,22

  Gambar 12 : Gambaran mikroskopis leukoplakia. (Reichart P.A, Philipsen H.P. Color atlas of dental medicine oral pathology, Switzerland,2008, 73-8) Gambar 13 : Leukoplakia pada rongga mulut. (Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP. Contemporary oral and maxillofacial pathology, 2

  nd

  ed. St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 98-102, 165-86)

2.4.2. Tanda-tanda histopatologis

  Oral displasia pada rongga mulut secara histopatologis ditandai dengan adanya perubahan arsitektural dan seluler dari sel epitel. Perubahan histologis terlihat dari hiperkeratosis, displasia dan karsinoma in situ yang terjadi pada sel epitel rongga mulut.

  5,14,17

  Oral displasia dapat ditunjukkan adanya sel epitel yang abnormal dan kerusakan pertumbuhannya, dari yang a-typia menjadi sel yang inti selnya abnormal. Tingkatan oral displasia dari yang ringan sampai terjadinya karsinoma in-situ hanya dapat jelas dilihat secara mikroskopis.

  9,10 Ciri khas dari oral displasia adalah :

  1. Hilangnya garis atau lapisan sel epitel

  2. Bertumpuknya sel basal

  3. Lapisan menjadi tak teratur

  4. Meningkatnya gambaran sel yang abnormal

  5. Terjadinya keratinisasi yang cepat

  6. Terjadinya hiperkromatis dan pleomorfis pada inti sel

  7. Meningkatnya ratio inti sel – sitoplasma Apabila perubahan-perubahan tersebut terjadi penebalan dari sel epitel lapisan atas sampai ke bawah, maka disebut karsinoma in situ. Karsinoma in situ secara klinis tampak datar, merah, halus, dan granuler. Mungkin secara klinis Karsinoma in situ kurang dapat dilihat. Hal ini berbeda dengan hiperkeratosis atau leukoplakia yang dalam pemeriksaan intra

  5,9,12,16 oral kelainan tersebut tampak jelas.

BAB 3 METODE DIAGNOSA ORAL DISPLASIA

3.1. Pemeriksaan klinis

  

Seluruh rongga mulut, faring dan laring harus diperiksa secara cermat, baik dengan

  cara dipalpasi, pemeriksaan langsung atau visualisasi tidak langsung dengan menggunakan kaca mulut. Daerah-daerah ini sulit diperiksa apabila pencahayaan kurang baik. Selain sumber cahaya, juga diperlukan sarung tangan, spatula lidah dan kasa. Semua lesi harus

  8,9,23 diperiksa secara cermat, baik lokasi, ukuran, warna, tekstur dan ciri fisik lainnya.

  Prosedur pemeriksaan dianjurkan sebagai berikut bibir harus diperiksa dengan mulut terbuka maupun tertutup. Perhatikan warna, corak dan kelainan permukaan dari tepi. Dengan mulut setengah terbuka, perhatikan warna dan pembengkakan mukosa dan ginggiva vestibular. Dengan kaca mulut sebagai retraktor dan posisi mulut terbuka lebar, periksa seluruh mukosa bukal meluas dari komisura dan kembali ke pilar anterior tonsil. Perhatikan setiap perubahan warna dan gerak mukosa, pastikan bahwa komisura diperiksa secara cermat dan tidak tertutup oleh kaca mulut selama retraksi pipi. Periksa lidah pada keadaan istirahat dan mulut dalam keadaan setengah terbuka, periksa dorsum lidah untuk melihat pembengkakan, ulserasi, selaput atau variasi warna dan corak. Juga perhatikan perubahan pola papila yang menutupi permukaan lidah. Pasen kemudian harus memajukan/menjulurkan lidahnya dan periksa apakah ada pergerakan yang abnormal. Dengan bantuan kaca mulut, periksa tepi lidah dan permukaan ventralnya. Dengan lidah tetap terangkat, periksa dasar mulut untuk melihat apakah ada ulserasi dan perubahan warna. Daerah sulkus alveolar- lingual, dasar mulut, merupakan daerah yang sulit dilihat. Di daerah ini perlu juga diperiksa secara cermat. Dengan posisi mulut terbuka lebar dan kepala pasen mendongak ke belakang, periksa pallatum durum (langit-langit keras) dan pallatum molle (langit-langit lunak). Otot- otot wajah yang tampak tidak normal serta linfonode sub-mandibularis dan servikal juga

  25,26 harus diperiksa dengan cara dipalpasi.

  3.2. Pemeriksaan histopatologis

  Untuk lebih memastikan dan menguatkan pemeriksaan klinis dalam menentukan adanya Oral displasia perlu dilakukan pemeriksaan histopatologis atau dengan sebutan pemeriksaan sitologi mulut. Pemeriksaan sitologi dengan pengambilan bahan kerokan dari permukaan yang mengalami kelainan/lesi pada rongga mulut, secara standard dengan

  24 pewarnaan Haematoxylin dan Eosin (HE).

  Pemeriksaan sitologi secara histologis ini dimaksudkan untuk mencari adanya perubahan-perubahan / proliferasi lapisan sel epitel baik aspek sitologi-nya maupun arsitektural-nya. Bilamana perubahan-perubahan tersebut masih bersifat ringan, hanya terjadi pada lapisan basal sel epitel terbawah dan biasanya non-spesifik hiperplasia dan hiperkeratosis. Gambaran histopatologis demikianlah yang disebut oral displasia. Oral

  12,13,23 displasia pada tahap ini masih bersifat non neoplastik.

  Pemeriksaan sitologi ditujukan untuk mencari adanya sel ganas atau perubahan- perubahan yang terjadi pada sel epitel, dan hasilnya dinyatakan dengan beberapa klas, yaitu : Klas I : sel normal Klas II : sel normal atipik Klas II : sel displastik Klas IV : curiga adanya karsinoma Klas V : karsinoma Pemeriksaan dengan sitologi ini mempunyai ketepatan diagnosa sebesar 86%, akan tetapi pemeriksaan ini bukanlah menentukan suatu diagnosa kanker ataupun pra-kanker pada

  9,12,13 rongga mulut.

  3.3. Pemeriksaan dengan toluidine blue

  Dalam mendiagnosa suatu kanker mulut yang tidak bergejala daerah kemerahan yang menetap diluar batas waktu observasi harus di biopsi. Tetapi untuk melukakan biopsi dengan mengambil sejumlah sampel secara acak dari seluruh daerah tersebut bukanlah prosedur diagnostik yang tepat. Karena fokus yang kecil dari sel-sel tumor tersebut dapat terlewatkan.

  Maka untuk membantu melakukan biopsi dapat dilalukan dengan bahan pewarna toluidine

  

blue. Karena dengan toluidine blue dapat melokalisir fokus yang kecil dari sel-sel tumor pada

17,23,26, suatu peradangan.

   Toluidine blue adalah zat pewarnaan biologis yang akan mewarnai lesi-lesi yang

  ganas namun tidak akan mewarnai lesi yang jinak atau tidak akan mewarnai mukosa yang normal. Pada oral displasia, pewarnaan ini tidak akan diserap oleh lesi. Zat pewarna ini bersifat nuklear-basofilik, sehingga akan terserap pada inti sel yang abnormal dan neoplastik sehingga akan berwarna biru. Sedangkan pada Oral displasia, inti sel tidak bersifat neoplastik sehingga tidak akan berwarna biru. Aplikasi secara topikal yakni dengan dikumur-kumurkan memakai asam asetat 1 % maka akan mudah menentukan (walaupun masih secara kasar) apakah ada bagian mukosa mulut yang sudah mengindikasikan adanya sel-sel neoplastik atau tidak (oral displasia). Tampak jelas bahwa toluidine blue sebagai bahan kumur-kumur

  17,22,24 intraoral umum untuk tujuan deteksi secara kasar.

3.4. Biopsi

  

Melakukan biopsi dengan pemeriksaan histopatologis akan lebih meyakinkan kita

  terhadap adanya perubahan-perubahan sel epitel rongga mulut dan diagnosa kita mendekati 100 %. Untuk mendapatkan spesimen biopsi yang memadai ada beberapa kriteria tertentu yang harus dipenuhi yaitu : 1. Spesimen yang didapat atau diperiksa harus mewakili lesi yang dicurigai.

  2. Harus mewakili kedalaman yang memadai (melewati epitelium sampai kedalam jaringan ikat) untuk menentukan integritas dan mencari sarang dari tumor yang invasif.

  3. Spesimen meliputi zona terdekat yang secara klinis normal dengan tujuan untuk mengenali perubahan-perubahan keganasannya.

  4. Bila terdapat ulserasi maka spesimen tidak akan membantu diagnosa, tumor-tumor yang variabel biasanya terdapat di tepi-tepi lesi dekat jaringan normal. Maka jaringan yang secara klinis tidak normal ini diikut sertakan.

  Biopsi pada lesi, dapat lebih tepat menentukan apakah oral displasia yang terjadi masih pada tingkatan epitel hiperplasia atau bahkan sudah sampai terjadi karsinoma in-situ.

  Bilamana lesi terletak di daerah yang mudah dijangkau, biopsi disertai anastesi lokal dapat dilakukan (infiltrasi di luar lesi). Untuk lesi yang berukuran kecil, dapat dilakukan biopsi eksisional dengan mengikutsertakan jaringan normal ½ cm dari tepi lesi. Jika lesi berukuran besar, biopsi dilakukan secara insisional pada tempat yang dicurigai terjadi perubahan (biopsi dapat dilakukan lebih dari 1 tempat pada satu lesi).

  14,15,19,26

  Untuk dapat membantu dalam mendiagnosa dini kanker di rongga mulut upaya yang dilakukan berupa upaya memberikan pendidikan kesehatan baik pada dokter maupun masyarakat, pengamatan atau pencarian kasus(case finding), serta pencarian dini(screening).

  1. Dokter Pendidikan kesehatan tentang diagnosa dini dalam pemeriksaan displasia ataupun kanker di rongga mulut mulai diberikan kepada mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi.

  2. Masyarakat Pendidikan di masyarakat tentang suatu pra-kanker ataupun kanker di rongga mulut dapat diberikan dalam bentuk ceramah-ceramah ilmiah pada masyarakat atau penyebaran informasi melalui media massa, dll.

  3. Pengamatan Pengamatan dapat dilakukan terhadap penderita yang datang berobat atau memeriksa diri ke tempat pelayanan-pelayanan kesehatan. Selain pemeriksaan umum dan spesifik untuk penyakitnya sendiri, pada setiap penderita dilakukan juga pemeriksaan pada rongga mulut.

  4. Pemeriksaan dini(screening) Tenaga medis aktiv mencari(men-screening)kanker dini di rongga mulut pada penduduk yang tampaknya sehat. Diutamakan pada kelompok yang mempunyai resiko tinggi

  17,23,25 terkena kanker mulut.

BAB 4 PENATALAKSANAAN ORAL DISPLASIA

4.1 Pra Bedah

  4.1.1. Sterilisasi Tindakan pra bedah dalam penatalaksanaan oral displasia antara lain adalah sterilisasi.

  Sebelum memasuki ruang bedah, dokter gigi/ahli bedah melepas pakaian luar dan memakai pakaian bedah yang steril, termasuk penutup sepatu dan penutup kepala. Ruang steril atau sub steril terletak berdekatan dengan ruang bedah, yang dilengkapi dengan masker, sikat dan bak penyikat dengan wadah sabun dan air yang dikontrol dengan menggunakan kaki atau lutut.

  Sebelum menggunakan sarung tangan, dokter gigi/ahli bedah memakai masker dan pelindung mata serta menyikat tangan dengan sabun dan air. Sabun yang dipergunakan pun adalah sabun bedah / sabun anti-bakteri. Keseluruhan tindakan-tindakan ini dilakukan diatas bak penyikat tempat mencuci tangan. Peralatan bedah untuk melakukan biopsi pun semuanya

  11,17 dipersiapkan dan disterilkan.

  4.1.2. Pre medikasi

Pasien yang telah diindikasikan ada oral displasia, dipersiapkan secara fisik dan

  mental. Tindakan pre medikasi dilakukan baik dengan anestesi lokal maupun anestesi umum,

  16,18 untuk dilakukan tindakan bedah (biopsi).

4.2 Pembedahan

  Perawatan terbaik dari kasus displasia adalah dengan pembedahan. Perawatan displasia dilakukan secara surgical contouring yaitu pengambilan massa lesi secara

  13,17 pembedahan.

  Pembedahan merupakan suatu jenis terapi mengambil lesi yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Seperti prosedur bedah lainnya, pembedahan disini tidak jauh berbeda. Tehniknya meliputi :

  1. Anastesi

  2. Insisi

  3. Pembuangan jaringan

  4. Pembersihan daerah operasi

  5. Penjahitan 6. Pasca bedah.

  Luas pembedahan tergantung dari besarnya lesi. Apabila bersifat ganas dan parah maka pembedahan lesi juga akan lebih luas. Lesi setempat tanpa disertai tanda mencurigakan

  19,20,23 umumnya dapat dirawat dengan eksisi setempat yang lebar.

  Bila lesi kecil pengambilan dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan yang besar. Tetapi jika lesi telah meluas dan pengambilan secara keseluruhan yang terlibat tidak memungkinkan maka pembedahan dilakukan hanya sampai batas-batas estetik yang dicapai. Apabila pembedahan dilakukan untuk tujuan estetik, sebaiknya pembedahan ditunda sampai setelah masa pubertas dimana ada kecendrungan pertumbuhan lesi akan berhenti dan hasil

  

8,21,22

  operasi yang dicapai akan lebih memuaskan Tindakan pembedahan dilakukan apabila dijumapai beberapa kondisi sebagai berikut :

  1. Lesi menimbulkan rasa sakit

  2. Lesi menekan atau merusak jaringan sekitarnya

  3. Menimbulkan gambaran atau roman muka yang jelek

  4. Keadaan lesi merupakan predisposisi patologi Gambar 14 : Lesi kecil pada dorsal lidah.

  (http://ebookee.org/Manual-of-Minor-Oral-Surgery-for-the-General- Dentist-repost-_281794.html 16 Juli 2011).

  Gambar 15 : Mengangkat atau menarik lesi dengan skalpel yang di persiapkan untuk membuat inisi eliptikal pada satu bidang. (http://ebookee.org/Manual-of-Minor-Oral-Surgery-for-the-General- Dentist-repost-_281794.html 16 Juli 2011).

  Gambar 16 : Bekas lesi yang sudah di angkat dan siap untuk dijahit. (http://ebookee.org/Manual-of-Minor-Oral-Surgery-for-the- General-Dentist-repost-_281794.html 16 Juli 2011).

  Gambar 17 : Bekas lesi dijahit dengan benang. (http://ebookee.org/Manual-of-Minor-Oral-Surgery-for-the-General- Dentist-repost-_281794.html 16 Juli 2011).

  Biopsi merupakan pengambilan sejumlah kecil jaringan dari tubuh yang akan dikirimkan ke laboratorium untuk di periksa. Syarat – syarat dilakukan biopsi antara lain :

  1. Tidak boleh membuka flep.

  2. Dilakukan secara tajam.

  3. Tidak boleh memasang drain.

  4. Letaknya dibagian tumor/lesi yang dicurigai.

  5. Garis insisi harus memperhatikan rencana terapi definitif (dilektakkan dibagian yang akan diangkat saat oprasi definitif).

  Setelah melakukan kriteria mendapatkan spesimen biopsi terpenuhi maka teknik biopsi dapat dilakukan. Menurut Malcom A.Lynch (1992) teknik biopsi secara umum adalah :

  1. Anastesi lokal dengan infiltrasi atau topikal bahkan boleh tanpa menggunakan anastesi

  2. Benang sutra 000 diselipkan kedalam jaringan yang hendak di biopsi. Benang ini digunakan untuk memanipulasi spesimen tersebut.

  3. Lakukan insisi kecil berbentuk elips dibuat dengan menggunakan skalpel. Insisi harus sejajar dengan benang.

  4. Spesimen diangkat dengan benang

  5. Jaringan dimaksukkan kedalam botol spesimen yang berisi bahan pengawet lalu benangnya dipotong.

  6. Lakukan penjahitan untuk menutup tempat biopsi tidak harus dilakukan kecuali dibutuhkan untuk menjamin adanya hemostatis yang memadai.

  Teknik biopsi yang sering dipergunakan di dalam klinik bedah mulut adalah insisional, eksisional dan aspirasi.

  14,24,25

  1. Biopsi insisional, yaitu pengambilan sampel jaringan melalui pemotongan dengan pisau bedah. Pasien akan dianastesi secara total ataupun lokal tergantung lokasinya. Biopsi insisi dipilih apabila permukaan lesi melebihi 1 cm dari segala arah mengirimkan spesimen yang benar-benar dapat mewakili dan harus mengikutsertakan tepi jaringan yang normal.

  Gambar 18 : Biopsi insisional pada sisi kiri lesi memperlihatkan atau menunjukkan sel-sel yang ideal untuk diangkat dibawah lapisan basal dari lesi. Insisi yang baik adalah kecil dan dalam, kemudian melebar dan dangkal. (http://ebookee.org/Manual-of-Minor-Oral-Surgery-for-the General-Dentist-repost-_281794.html 16 Juli 2011).

  2. Biopsi eksisional, merupakan pengambilan seluruh massa yang dicurigai untuk kemudian diperiksa dibawah mikroskop. Biopsi eksisional yaitu insisi lesi secara in-toto adalah pendekatan umum untuk lesi yang ukurannya kecil. Eksisi ini dimaksudkan melibatkan jaringan normal dan masih memungkinkan penutupan kembali. Metode ini dilakukan dibawah bius umum atau lokal tergantung lokasi massa dan biasanya dilakukan bila massa tumor kecil dan belum ada metastase atau penyebaran tumor

  Gambar 19 : Garis eliptikal insisi untuk biopsi eksisional dibuat pada batas jaringan normal ke lesi. (http://ebookee.org/Manual-of-Minor- Oral-Surgery-for-the-General-Dentist-repost-_281794.html 16 Juli 2011).

  Gambar 20 : Garis eliptikal insisi(seperti pada gambar 15) berada di bawah lesi. Tarikan pada jaringan lesi akan mendapatkan atau membersihkan lesi di tempat tersebut. (http://ebookee.org/Manual-of-Minor-Oral-Surgery-for-the- General-Dentist-repost-_281794.html 16 Juli 2011).

  3. Aspirasi, yaitu teknik biopsi yang hanya dilakukan apabila lesi diduga mengandung cairan. Aspiran (isi cairan lesi) yang didapatkan, dikirimkan ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan yakni pemeriksaan sitologi dan pemeriksaan bakteriologi. Teknik aspirasi tidak cocok dilakukan apabila lesi berupa massa padat (solid).

  4.3 Penggunaan radioterapi

  Penggunaan radioterapi dapat juga digunakan sebagai bentuk terapi primer dalam penatalaksanaan keganasan di mulut.Radioterapi memusnahkan sel-sel kanker yang tersisa setelah pembedahan. Penggunaan secaea umum ini juga efektif dalam membasmi fokus kecil dari sel-sel ganas yang terdapat pada lesi yang masih dini sekali. Penggunaan radioterapi ini sedikit banyaknya dapat menolong untuk menekan aktivitas osteoblastik dan pada beberapa kasus nampaknya berhasil. Dengan radiasai yang cukup dapat menyebabkan sel-sel kanker rusak dan akan merusak komponen sel-sel kanker serta mencegah sel-sel tersebut berkembang atau tumbuh kembali. Tetapi perlu mendapat perhatian, perawatan dengan cara penyinaran ini mengandung resiko karena ada kemungkinan dapat menimbulkan komplikasi

  14,25,26 sarkoma seperti yang telah banyak dilaporkan dari kasus displasia.

  4.4 Pasca bedah

  Sebagian besar pasien dapat dilakukan rawat jalan sehari setelah dilakukannya pembedahan. Perawatan pasca pembedahan meliputi : pemberian antibiotik yang diberikan selama 3 sampai 7 hari, Pembersihan daerah operasi dilakukan dengan menggunakan qid dengan saline normal: peroksida hidrogen dalam rasio 1:1 yang dimulai pada hari pascaoperasi, suction saluran drainase tetap dilakukan sampai kurang dari 30 ml per 24 jam,

  11,14 dan pasien harus mengikuti diet lunak selama enam minggu.

  4.5 Komplikasi

  Komplikasi yang dapat terjadi pasca operasi antara lain terjadinya pendarahan, injuri pada saraf, infeksi, pembengkakan maupun fistula. Kemudian komplikasi lanjut pasca oprasi antara lain masalah bicara, masalah menelan, dan problem psikologis.

  Pada lesi yang bersifat ganas di rongga mulut, biasanya dilakukan dengan pembedahan dengan radioterapi pada beberapa minggu. Dampak yang terjadi kemudian adalah terjadinya penambahan jaringan mukosa, tulang kelenjar ludah dan gigi, yang sering bersifat Irreversible (tidak akan kembali).

  4.5.1 Oral Komplikasi dari radioterapi Yang terkini, komplikasi dari radioterapi adalah merusak kulit dan folikel rambut.

  Folikel rambut sangat sensitiv terhadap radioterapi yang dapat menyebabkan rambut rontok. Dampak ini dapat bersifat sementara karena rambut dapat tumbuh kembali beberapa minggu/bulan. Kulit di sekitar penyinaran dapat terlihat pecah- pecah merah, bahkan dapat timbul seperti ulserasi. Radioterapi juga dapat mengganggu atau memberikan efek negativ pada kesehatan mulut, terdapatnya perubahan pada kelenjar ludah, dan akan menimbulkan karies akibat radioterapi.

  4.5.2 Komplikasi lainnya akibat radioterapi Terjadinya Hypogeusia (kehilangan secara partial terhadap rasa. Kemungkinan terjadinya candida albicans yaitu infeksi jamur pada rongga mulut yang sering disebut dengan istilah Candidiasis. Dan juga radioterapi dapat menyebabkan

  26,28 gangguan trismus.

BAB 5 KESIMPULAN Oral displasia adalah salah satu jenis kelainan pada rongga mulut, terjadinya

  ploriferasi yang tidak teratur, tetapi non neoplastik pada epitel rongga mulut. Displasia adalah hilangnya keseragaman (uniformitas) setiap sel dan hilangnya orientasi arsitektural sel tersebut. Sel displastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi ukuran dan bentuk) dan sering memiliki inti sel yang berwarna gelap (hiperkromatik) dan sangat besar dibandingkan dengan ukuran selnya sendiri.

  Berdasarkan tingkat atau derajat terjadinya proliferasi epitel rongga mulut, oral displasia dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tingkatan :

  1. Epitelial hiperplasia

  2. Mild dysplasia

  3. Moderate dysplasia

  4. Severe dysplasia

  5. Karsinoma in situ Kelima tingkatan oral displasia tersebut dapat dilihat berdasarkan gambaran sitologi dan arsitektural epitelnya.

  Tanda-tanda klinis dari oral displasia adalah oral displasia pada rongga mulut ditandai dengan adanya lesi putih (leukoplakia). Lesi ini merupakan Lesi pra ganas yaitu kondisi penyakit yang secara klinis belum menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada lesi ganas, namun di dalamnya sudah terjadi perubahan-perubahan patologis yang merupakan pertanda akan terjadinya keganasan. Secara histopatologis ditandai dengan adanya perubahan arsitektural dan seluler dari sel epitel. Perubahan histologis terlihat dari hiperkeratosis, displasia dan karsinoma in situ yang terjadi pada sel epitel rongga mulut.

  Pemeriksaan klinis, pemeriksaan histopatologis, pemeriksaan dengan toluidine blue, dan biopsi merupakan metode untuk mendiagnosa apakah dalam kasus tersebut merupakan pra kanker atau sudah terjadinya kanker.

  Pembedahan merupakan perawatan yang terbaik sedangkan radioterapi menimbulkan resiko karena ada kemungkinan dapat menimbulkan komplikasi sarkoma seperti yang telah banyak dilaporkan dari kasus displasia.

DAFTAR PUSTAKA

  nd

  1. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi. 7 ed , Vol. 1. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007 : 189-1.

  nd

  2. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi .7 ed, Vol. 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007 : 860-1.

  nd 3. Neville BW, Damm DD, Allen CM, et al. Oral & maxillofacial pathology. 2 ed.

  Philadelphia : Saunders, 2002: 340-5.

  th

  4. Shafer, William G. A textbook of oral pathology, 4 ed. Philadelphia : W.B. Saunders Company, 1983: 679-80.

  th

  5. Regezi JA, Sciubba JJ, Jordan RCK. Oral pathology clinical pathologic correlations, 5 ed. St. Louise, Missouri: Saunders Elsevier, 2008: 85-90.

  6. Speight Paul M. Update an oral epithel dysplasia and progression to cancer. < http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2807503/> (08 February 2011).

  7. Greenspan D, Jordan RCK. The white lession that kills-aneuploid dysplastic oral

  leukoplakia. < http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMp048028#t=article> (10 Februari 2011). nd

  8. Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP. Contemporary oral and maxillofacial pathology, 2 ed. St.Louise, Missouri: Mosby, 2004 : 99-103, 176-90.

  7th

  9. Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Pathologic basic of disease. ed. Philadelphia: Elsavier Saunders, 2005: 270-5.

  th

  10. Ibsen OAC, Phelan JA. Oral pathology for the dental hygienist, 4 ed. St.Louis, Missouri: Saunders, 2004: 260-3.

  11. Rosin MP, Cheng Xing, Poh C, et al. Use of allelic loss to predict malignant risk for low- grade oral epithelial dysplasia.

  <http://clincancerres.aacrjournals.org/content/6/2/357.full> (06 Maret 2011).

  12. Anonymous. Kanker rongga mulut (oral) premaligna, karsinoma sel skuamous.

  <http://ilmubedah.info/kanker-rongga-mulut-oral-premaligna-karsinoma-sel-skuamous- 20110213.html> (03 April 2011).

  13. Anonymous. Cancer of the mouth and throat.

  <http://www.emedicinehealth.com/cancer_of_the_mouth_and_throat/article_em.htm> (08 February 2011).

  14. Bailey BJ, Biller HF. Surgery of the larynx. Philadelphia: W.B.Saunders Company, 1985 : 230-2.

  15. Laskin DM. Oral and maxillofacial surgery. Vol. 1. St.Louise,Missouri : Mosby, 2000: 503-5.

  16. Killey HC, Seward GR, Kay LW. An outline of oral surgery. Part 1. London: Briston, 1971: 135-7.

  17. Pinborg, J.J. Kanker dan prakanker rongga mulut. Alih Bahasa : Lilian Yuwono. Jakarta: EGC,1991: 13-20, 142-6.

  rd 18. Neville BW, Damm DD, Allen CM, et al. Oral & maxillofacial pathology. 3 ed.

  Philadelphia : Saunders, 2009: 362-9.

  nd 19. Scully C. Oral and maxillofacial medicine, the basis of diagnosis and treatment, 2 ed.

  Philadelphia : Churchill Livingstone Elsevier, 2008, 211-20.

  20. Regezi JA, Sciubba JJ, Pogrel A. Atlas of oral and maxillofacial pathology, Philadelphia : W.B Saunders Company, 2000, 33-6.

  21. Reichart P.A, Philipsen H.P. Color atlas of dental medicine oral pathology, Switzerland,2008, 73-8.

  22. Jack H, Lee K, Polonowita. Dilemas in managing oral dysplasia : a case report and literature review, Journal of the New Zealnd Medicine Assosiations,2009.

  23. Zain R.B. Cultural and dietary risk factors of oral cancer and precancer-a brief overview,Faculty Of Dentistry. University of Malaya, Malaysia, 2000.

  24. Nurwiadh,A., Manullang, K. Karsinoma sel skuamosa pada lidah. Bandung: Universitas Padjajaran, Jurnal Kedokteran Gigi, Vol.11,No.3&4:1999:275-89.

  25. Anderson JR. Muir’s textbook of pathology. Ed.12, Edwars Arnold, 1985: 20-5.

  26. Reksoprawiro,S. Deteksi dan diagnosa dini kanker rongga mulut. Majalah ilmu Bedah Surabaya, Surabaya : IKABI, Vol.VII, No.4, 1994:239-45.

  27. Anonymous. Manual of minor oral surgery for the general dentist.

  <http://ebookee.org/Manual-of-Minor-Oral-Surgery-for-the-General-Dentist-repost- _281794.html >. (16 Juli 2011).

  28. Anonymous. Oral cancer and complications of cancers therapies.

  <http://www.netce.com/coursecontent.php?courseid=514>. (18 Juli 2011).

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama Lengkap : Tasha Citra Purnama Tempat/ Tanggal Lahir : Medan/ 10 Februari 1990 Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Komplek Johor Indah Permai I Blok. VIII No.17 Medan Orangtua

  Ayah : Drh.H.Hasriansyah Idris.MM Ibu : Drg.Hj.Dwi Arti Sulistiyani

  Alamat : Komplek Johor Indah Permai I Blok. VIII No.17 Medan Riwayat Pendidikan

  1. 1993-1995 : TK Angkasa, Medan 2. 1995-2001 : SD Angkasa, Medan 3. 2001-2004 : SLTP.Swasta Harapan 2, Medan 4. 2004-2007 : SMA.Negeri.1, Medan 5. 2007-2010 : Fakultas Kedokteran Gigi USU, Medan

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Diagnosa dan penatalaksanaan oral displasia.

Gratis

Feedback