Pemanfaatan Limbah Air Kelapa Sebagai Bahan Baku Pembuatan Tablet Nata De Coco Dengan Variasi Penambahan Amilum Manihot Dan Vitamin C

 1  57  76  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

DAFTAR ISI

1.4 Tujuan penelitian 7 2.2.1 Jenis-jenis acetobakter 7 2.2 Acetobakter 5 2.1 Tanaman kelapa 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1.7 Metodologi penelitian 4 1.6 Lokasi penelitian 4 1.5 Manfaat penelitian 3 HalamanJuduli Persetujuanii 1.3 Pembatasan masalah 2 1.2 Perumusan masalah 1 1.1 Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN Daftar Lampiranxiii Daftar Tabelxii Daftar Gambarxi Daftar Isiviii Abstractvii Abstrakvi Penghargaaniv Pernyataaniii 3

2.2.2 Acetobakter xylinum

10 19 17 2.5.3 Defisiensi Vitamin C 18 2.5.4 Sumber-sumber Vitamin C 18 2.6 Pati 2.6.1 Amilosa 17 19 2.6.2 Amilopektin 19 2.7 Serat 20 7 2.5.2 Manfaat Vitamin C 2.5.1 Sifat-sifat Vitamin C 2.2.3 Sifat-sifat Acetobakter xylinum 2.3.1 Pembuatan nata de coco Xylinum 11 2.2.5 Aktifitas Acetobakter xylinum pada fermentasi nata 12 2.3 Nata de coco 12 13 16 2.3.2 Fermentasi nata de coco 14 2.4 Selulosa 15 2.4.1 Aplikasi nata de coco 15 2.5 Vitamin C (Asam Askorbat) 2.2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Acetobakter 2.8 Tablet 34 3.4.7 Penentuan kadar vitamin C 36 3.4.6 Penentuan kadar serat 35 3.4.5 Pembuatan tablet nata de coco dengan metode granulasi kering 35 3.4.4 Pembuatan serbuk nata de coco 3.4.3 Isolasi amilum manihot (pati) dari umbi singkong(manihot utilissima) 4.1 Hasil Penelitian 33 3.4.2 Pembuatan nata de coco 32 3.4.1 Pembuatan starter air kelapa 32 3.4 Bagan penelitian 31 37 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 38 31 4.1.3.3 Spektrum FT-IR Vitamin C 4.2 Pembahasan 4.1.3.6 Spektrum FT-IR campuran Amilum-Nata de coco-Vitamin C 49 48 4.1.3.5 Spektrum FT-IR campuran Nata de coco-Vitamin C 47 4.1.3.4 Spektrum FT-IR campuran Amilum-Vitamin C 46 45 4.1.1 Perhitungan kadar serat 4.1.3.2 Spektrum FT-IR Nata de coco 44 4.1.3.1 Spektrum FT-IR Amilum 44 4.1.3 Analisis spektroskopi Infra Merah 41 4.1.2 Perhitungan Vitamin C 38 3.3.3 Penentuan analisis FT-IR 3.3.2 Penentuan kadar vitamin C 21 2.9.1 Kegunaan analisis Spektroskopi Infra Merah 25 3.1.1Alat 25 3.1 Alat dan bahan 24 BAB 3 BAHAN DAN METODE PENELITIAN 2.9.2 Syarat-syarat Interpretasi spektrum 23 23 26 2.9 Spektrofotometri Infra Merah 23 2.8.3 Bahan pengikat 22 2.8.2 Pembuatan bahan tablet menggunakan metode granulasi kering 21 2.8.1 Granulasi 3.1.2Bahan 3.2 Prosedur penelitian 30 28 3.3.1 Penentuan kadar serat 30 3.3 Parameter yang diamati 28 3.2.7 Pembuatan granul dengan metode granulasi kering 28 3.2.6 Isolasi amilum manihot dari umbi singkong (manihot utilissima) 3.2.5 Pembuatan serbuk nata de coco 27 28 3.2.4 Pembuatan nata de coco 27 3.2.3 Pembuatan starter air kelapa 27 3.2.2 Pembuatan larutan pereaksi 27 3.2.1 Pengambilan Sampel 50 4.2.1 Pengaruh penambahan vitamin C dan Amilum terhadap kadar serat dari nata de coco 50 4.2.2 Pengaruh penambahan vitamin C dan Amilum terhadap kadar vitamin C dari nata de coco 50 4.2.3 Karakterisasi Interaksi intermolekular melalui hasil kajianFT-IT dari tablet nata de coco dengan penambahan vitamin C danAmilum 51 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 52 5.2 Saran 53 DAFTAR PUSTAKA 54 LAMPIRAN 56 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Pohon kelapa 5 Gambar 2.2 Tahap-tahap pertumbuhan bakteri Acetobakter xylinum dalam kondisi normal 8 Gambar 2.3 Nata de coco 13 Gambar 2.4 Struktur Selulosa 15 Gambar 2.5 Struktur Vitamin C 16 Gambar 2.6 Struktur Amilosa 19 Gambar 2.7 Struktur Amilopektin 20 Gambar 4.1 Spektrum FT-IR Amilum manihot 44 Gambar 4.2 Spektrum FT-IR Nata de coco 45 Gambar 4.3 Spektrum FT-IR Vitamin C 46 Gambar 4.4 Spektrum FT-IR campuran Amilum-Vitamin C 47 Gambar 4.5 Spektrum FT-IR campuran Nata de coco-Vitamin C 48 Gambar 4.6 Spektrum FT-IR campuran Amilum-Nata de coco-Vitamin C 49 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Perbandingan komposisi air kelapa muda dengan air kelapa tua 6 Tabel 3.1 Formulasi Granul 29 Tabel 4.1 Hasil analisa tablet nata de coco dengan penambahanVitamin C dan Amilum manihot 38

DAFTAR LAMPIRAN

  HalamanLampiran 1 Spektrum Serapan Infra Merah dari Beberapa Gugus Fungsi Senyawa 57 Lampiran 2 Gambar Penelitian 58 ABSTRAK Penelitian tentang pemanfaatan limbah air kelapa sebagai bahan baku pembuatan tablet nata de coco dengan penambahan vitamin C dan amilum manihot sebagai bahanpengisi dengan menggunakan metode granulasi kering. Dari hasil penelitian diperoleh kadar serat untuk masing-masing perbandingan sebesar 36,1067%,39,3880%, dan 36,4289%, dan kadar vitamin C masing-masing adalah 2,5987%,2,6733%, dan 2,5813% serta hasil kajian FT-IR diperoleh bahwa terjadi interaksi fisika antara nata de coco, amilum manihot dan vitamin C.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan peranan asam askorbat (vitamin C) di dalam metabolisme tubuh sebagai antioksidan, yang dapat mempengaruhi dan memperbaiki metabolisme tubuh makapermasalahan yang ingin diteliti oleh penulis adalah apakah terjadi intereaksi antara asam askorbat (vitamin C) dan dapat masuk ke dalam Nata de coco di dalam tabletnata de coco sehingga dapat digunakan sebagai zat tambahan makanan atau suplemen. Pembuatan tablet dengan pencampuran antara pati (amilum manihot), nata de coco dan vitamin C dengan perbandingan untuk formula A ( 4:0:1), formula B(2:2:2), dan formula C (0:4:1) dari masing-masing massa tablet 250 mg 4.

1.7 Metodologi Penelitian

  Penelitian ini adalah eksperimental laboratorium, dengan menggunakan sampel berupa limbah air kelapa yang diperoleh dari pedagang kelapa di Pajak Sore Padang Bulan,Medan yang dijadikan sebagai nata de coco. Penentuan kadar serat dilakukan dengan metode defatting dan o digestion kemudian diabukan dalam tanur pada suhu 600 C 3.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Kelapa Kelapa merupakan tanaman tropis yang penting bagi negara-negara Asia dan Pasifik

  Sementara nitrogen juga dapat diperoleh dari protein yang terkandung dalam air kelapa, meskipun dalam jumlah yang kecil. Air kelapa yang baik adalah yang diperoleh dari kelapa setengah tua, yaitu tidak terlalu tua dan tidak pula terlalu muda.

2.2 Acetobacter

  adalah bakteri yang digunakan untuk membuat cuka. Selulosa ini difermentasi oleh bakteri yang dinamakan selulosa bakteri (Philip G.

2.2.1 Jenis-jenis Acetobacter

  Acetobacter xylinum, bakteri ini digunakan dalam pembuatan nata de coco. Nata yang dihasilkan berupa pelikel yang mengambang dipermukaan substrat.

2.2.2 Acetobacter xylinum

  Bakteri pembentuk nata termasuk kedalam golongan Acetobacter, yang mempunyai ciri – ciri antara lain : ”sel bulat panjang sampai batang (seperti kapsul), tidakmempunyai endospora, sel – selnya bersifat gram negatif, bekerja secara aerob tetapi dalam kadar yang kecil (Pelczar dan Chan,1988). Fase pertumbuhan diperlambatPada fase ini, terjadi pertumbuhan yang diperlambat karena ketersediaan nutrisi yang telah berkurang, terdapatnya metabolit yang bersifat toksik yangdapat menghambat pertumbuhan bakteri, dan umur sel yang telah tua.

2.2.3. Sifat-sifat Acetobacter xylinum

  Sifat Morfologi Acetobacter xylinum merupakan bakteri berbentuk batang pendek, yang mempunyai panjang 2 mikron dan lebar 0,6 mikron, dengan permukaan dinding yang berlendir. Pertumbuhan koloni pada medium cair setelah 48 jam inokulasi akan membentuk lapisan pelikel dan dapat dengan mudah diambil dengan jarum ose.

2 O. Sifat yang paling menonjol dari bakteri ini adalah memiliki

  Selanjutnya, selulosa tersebut membentuk matrik yang dikenal sebagai nata. Faktor – faktor dominan yangmempengaruhi sifat fisiologi dalam pembentukan nata adalah ketersediaan nutrisi, derajat keasaman, temperatur, dan ketersediaan oksigen.

2.2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Acetobacter xylinum

  Sumber karbonSumber karbon yang dapat digunakan dalam fermentasi nata adalah senyawa karbohidrat yang tergolong monosakarida dan disakarida. Namun, amonium sulfat dan amonium fosfat (di pasar dikenal dengan ZA) merupakan bahan yang lebih cocok digunakan dari sudut pandangekonomi dan kualitas nata yang dihasilkan.

2.2.5 Aktifitas Acetobacter xylinum pada fermentasi nata

  Apabila ditumbuhkan dalam media yang kaya akan sukrosa (gula pasir), bakteri ini akan memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Selanjutnya, bakteri Acetobacter xylinum membentuk mikrofibril selulosa di sekitar permukaan tubuhnya hingga membentuk serabut selulosa yang sangat banyakdan dapat mencapai ketebalan tertentu.

2.3. Nata de coco

  Nata de coco adalah jenis nata dengan Gambar 2.3 Nata de coco Nata de coco adalah bahan padat seperti agar-agar tapi lebih kenyal, atau seperti kolang-kaling, tetapi lembek, berwarna putih transparan. Penambahan gula pasir dan ureaKetersediaan karbohidrat dan protein yang terdapat dalam air kelapa belum mencukupi kebutuhan untuk pembentukan nata, kedalam air kelapa tersebut perluditambahkan gula pasir 10% dan urea 0,5%.

2.3.2 Fermentasi nata de coco

Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktifitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai. Terjadinya fermentasi ini dapat menyebabkan perubahan

2.4 Selulosa

  Selulosa adalah senyawa seperti serabut, liat, tidak larut dalam air, dan ditemukan di dalam dinding sel pelindung tumbuhan, terutama pada tangkai, batang, dahan, dansemua bagian berkayu dari jaringan tumbuhan. Molekul selulosa merupakan rantai – rantai ataumikrofibril dari D–glukosa sampai sebanyak 14000 satuan yang terdapat sebagai berkas-berkas terpuntir mirip tali yang terikat satu sama lain oleh ikatan hidrogen(Fessenden J.R.,1986).

2.4.1 Aplikasi Nata de coco

  Aplikasi dalam bidang medis Salah satu cara yang digunakan dalam proses cetak langsung tablet adalah mikrokristal selulosa, karena mempunyai daya ikat tablet yang sangat baik dan waktuhancur tablet relatif singkat. Nata de coco dapat berfungsi demikian karenastruktur tiga dimensi dari serat selulosa dan kestabilan terhadap perlakuan fisika dan kimia, seperti ketahanan terhadap panas, asam, dan garam.

2.5 Vitamin C (Asam Askorbat)

  Struktur vitamin C dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 2.5 Struktur Vitamin C Keadaan vitamin C inaktif sering terjadi pada proses pemanasan (bila sayur- sayuran dimasak), dalam suasana asam vitamin ini lebih stabil daripada dalam basa(Prawirokusumo, S., 1991). Sifat utama dari vitamin C adalah kemampuan mereduksinya yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalisoleh beberapa logam, terutama Cu dan Ag (Andarwulan, N., 1992).

2.6 Pati

  Beberapa makananpokok manusia (seperti kentang, beras, jagung, dan gandum) mengandung pati. Polisakarida yang terkandung di dalam pati yaitu amilosa dan amilopektin.

2.6.1 Amilosa

  Amilosa memiliki struktur rantai panjang yang tidak bercabang yang tersusun atas monomer glukosa dengan ikatan α (1,4) glikosida. Bukti pembentukan kompleks tersebut adalah warnabiru tua yang dihasilkan oleh pati bila ditambahkan iod (Fessenden, R.

2.6.2. Amilopektin

  Gambar 2.6.2 Struktur Amilopektin Pati dalam jaringan tanaman berbentuk granul (butir) yang berbeda – beda. Dengan mikroskop, jenis pati dapat dibedakan karena mempunyai bentuk, ukuran, letak hilum yang unik dan juga dapat merefleksikan cahaya terpolarisasi (Wurzburg,1986).

2.7 Serat

  Para ilmuwan mengungkapkan bahwa serat-serat yang terdapat dalam bahan pangan yang tidak tercerna mempunyai sifat positif bagi gizi dan metabolisme. Bahan pengikat : ditambahkan agar tablet tidak pecah atau retak dan dapat merekat, biasanya yang digunakan adalah Amylum Manihot.

2.8.1 Granulasi

  Dalam farmasi granulasi kering yang diaplikasikan adalah slugging dan roller compaction, yaitu: a. Slugging inidipengaruhi oleh sifat bahan, seperti kohesivitas, bobot jenis, distribusi ukuran, dan karakteristik mesin cetak tablet, seperti tipe dan kapasitas mesin, diameterlumping (DIE), ketinggian isi, kecepatan pencetakan, tekanan slugging.

2.8.3 Bahan Pengikat

  Merupakan bahan yang mempunyai sifat kohesif dan adhesif yang mampu mengaglomerasi partikel serbuk kering membentuk granul sesudah pengeringan. Kadar tinggi pengikat, terutama turunan selulosa dapat menimbulkan masalah disintegrasi dan disolusi tablet karena membentuk lapisan musilago di sekitarpermukaan partikel.

2.9 Spektrofotometri Infra Merah

  Pengukuran pada spektrum infra merah dilakukan pada daerah cahaya infra merah tengah (mid-infrared) yaitu pada panjang gelombang 2,5 - 50 μm atau bilangan gelombang 4000 - 200 cm . Spektrum yang dihasilkan berupa grafik yang menunjukkan persentase transmitan yang bervariasi pada setiap frekuensi radiasi infra merah.

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Gallenkamp Gallenkamp Whatman 41 Fisher Edward

3.1.2 Bahan

  3 COOH (l) teknis 2 SO 4(p) p.a E. Merck 3 teknis E.

3.2 Prosedur penelitian

  3.2.1 Pengambilan Sampel Sampel limbah air kelapa diperoleh dari Pajak Sore Padang Bulan Medan. 3.2.2 Pembuatan larutan pereaksi 3.2.2.1 Pembuatan larutan NaOH 3,25% Ditimbang 8,13 g NaOH (s), kemudian dilarutkan 8,13 g NaOH (s) dengan akuades di dalam labu takar 250 ml, dan diencerkan hingga garis tanda.

2 SO 4 1,5%

2 SO 4(p) , kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 50 ml, diencerkan dengan akuades sampai garis tanda

  Dipipet 3,13 ml larutan H 3.2.2.3 Pembuatan HPO 3 -Asam asetat Sebanyak 15 gram meta-phospat (HPO 3 glasial) dilarutkan dalam 40 ml asam asetat dan 200 ml akuades dengan digojog kuat-kuat. Kemudain disaring dan disimpan dalam botol gelap dan tertutup dalam refrigator.

3.2.3 Pembuatan starter air kelapa

  3.2.5 Pembuatan Serbuk Nata de coco Nata de coco dihaluskan dengan menggunakan blender, kemudian dikeringkan dalam o freze drier pada suhu -40 C. 3.2.7 Pembuatan Granul Dengan Metode Granulasi Kering Granul dibuat dalam bentuk 3 formula dengan memvariasikan massa nata de coco dan amilum yang digunakan sebagai matriks dan massa bahan aktif yaitu vitamin C danbahan pengikat adalah tetap.

3.3 Parameter yang diamati

  Kadar serat = x 100% 3.3.2 Penentuan vitamin C Timbang 100 mg bahan dan hancurkan kemudian dimasukkan ke dalam labu takar tambahkan 100 ml dan diencerkan dengan HPO 3 -asam asetat hingga garis tanda. Dipipet 10 ml dengan menggunakan pipet volume dan dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer 50ml kemudian dititrasi dengan 2,6 D sampai terbentuk warna merah lembayung.

3.3.3 Penentuan FT-IR

  Tablet yang dihasilkan dibuat dalam bentuk partikel kecil. Sampel ditimbang sebanyak 1 gram, selanjutnya ditambahkan pellet KBr ditekan kemudian diletakkanpada tempat sampel dan selanjutnya diarahkan sinar IR.

3.4.1 Pembuatan Starter Air Kelapa

500 ml air kelapaDisaring Residu/kotoran FiltratDitambahkan 50 ml gula pasirDitambahkan 2,5 ml ureaDipanaskan sambil diaduk hingga larut Larutan asam bergulaDituangkan dalam wadah fermentasi yang telahdisterilkan dalam keadaan panasDidinginkanDitambahkan CH 3 COOH (l) 25% hingga pH 4Ditambahkan 50 ml starter Acetobacter Xylinum Diinkubasi pada suhu o kamar 28-30 C selama ± 14 hariStarter Air Kelapa 800 ml air kelapaDisaring Residu/kotoranFiltrat Ditambahkan 80 ml gula pasirDitambahkan 4 ml ureaDipanaskan sambil diaduk hingga larut Larutan asam bergulaDituangkan ke dalam wadah fermentasi yang telahdisterilkan dalam keadaaan panasDidinginkanDitambahkan CH COOH 3 (l) 25% hingga pH 4Ditambahkan 80 ml starter Acetobakter Xylinum Diinkubasi pada suhu kamar o 28-30 C selama ± 14 hariNata de coco

3.4.3 Isolasi Amilum (pati) dari umbi singkong (Manihot Utilissima)

Umbi SingkongDikupas kulitnya dan dicuci bersihDitimbang 100 g dan dipotong kecil-kecilDitambahkan 200 ml akuades lalu diblender selama ± 30 detik. DisaringAmpas Larutan keruhDitambahkan 20 ml akuadesDiaduk dan dibiarkan mengendapDidekantasi Endapan putih FiltratDitambahkan 200 ml akuadesDiaduk dan dibiarkan mengendapDidekantasi FiltratEndapan putih Ditambahkan 100 ml alkohol 96%DiadukDisaring Endapan putih FiltratDikeringkan Amylum manihot

3.4.4 Pembuatan serbuk nata de coco

Nata de cocoDihaluskan dengan menggunakan blender o Dikeringkan dalam freze drier pada suhu -40 CDihaluskan dengan blender kering Serbuk nata de coco 3.4.5 Pembuatan tablet nata de coco dengan penambahan vitamin C dan amilum (pati) Amilum Nata de coco Vitamin CDicampurkan ketiga bahan secara bersamaan dengan perbandingan massa amilum : nata de coco : vitaminC yaitu untuk formulasi A (4:0:1); formulasi B(2:2:1); dan formulasi C (0:4:1)Diaduk hingga homogenDimasukkan ke dalam alat pencetak tabletDicetak dengan menggunakan pencetak tablet Tablet 250 mg

3.4.6 Penentuan kadar serat dari tablet dengan metode Defatting dan Digestion

Dihilangkan kandungan lemaknya dengan n- heksan menggunakan alat soklet selama 2 jamDikeringkanDitambahkan 50 ml H 2 SO 4 1,25 % dan didihkan selama 30 menitDisaringDitambahkan 50 ml NaOH 3,25 % dan didihkan selama 30 menitDisaring dengan kertas saring biasa residufiltrat Dicuci dengan H 2 SO 4 1,25 % yang telah dipanaskan Dicuci dengan akuades panasDicuci dengan etanol 96 %Dimasukkan ke dalam cawan chrusibel yang telah diketahui beratnyaDikeringkan dalam oven pada suhu 105 o CDidinginkan dalam desikatorDitimbang sampai berat konstanDiabukan dalam tanur pada suhu 600 o CDidinginkan dalam desikatorDitimbang sampai berat konstanDihitung kadar seratnya Hasil1,0071 g sampel

3.4.7 Penentuan Kadar Vitamin C dari tablet dengan metode Titrimetri

100 mg sampelDihaluskanDimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan dengan HPO -asam asetat hingga 3 garis tandaDihomogenkanDipipet 10 ml dengan menggunakan pipet volumDimasukkan ke dalam gelas ErlenmeyerDititrasi dengan larutan standard 2,6 D hingga terjadi perubahan warna menjadi merahlembayungDicatat volume larutan 2,6 D yang terpakai dan dilakukan titrasi untuk larutan blanko Hasil

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian tablet Nata de coco seperti pada lampiran 2 yang dilakukan, diperoleh hasil kadar serat dan kadar vitamin C dari masing-masing formula tabletyang dapat dilihat dalam tabel 4.1 sebagai berikut ini: Tabel 4:1 Hasil Analisa tablet nata de coco dengan penambahan Vitamin C dan Amilum manihot No Parameter Formula A Formula B Formula C 1 Kadar serat 36,10 % 39,39 % 36,42% 2 Kadar vitamin C 2,6 % 2,67 % 2,58 %

4.1.1 Perhitungan kadar serat

Penentuan kadar serat pada tablet formula A (Amilum-Vitamin C) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:Berat sampel = 1,0049 gBerat cawan + kertas saring = 17,3913 gBerat kertas saring + cawan + sampel basah = 18,3962 gBerat kertas saring + cawan +sampel kering = 18,7582 gBerat serat = 0,3620 g Kadar serat = x 100% 0,3620= x 100% 1,0049= 36,02 % Kadar serat ( A 2 ) = 36,13% Kadar serat ( A ) = 36,14 % 336,02% 36,13% 36,14 % Kadar serat rata-rata = 3 = 36,10 %Penentuan kadar serat pada tablet formula B (Amilum-Nata de coco-Vitamin C) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:Berat sampel = 1,1225 gBerat cawan + kertas saring = 20,0994 gBerat kertas saring + cawan + sampel basah = 21,2219 gBerat kertas saring + cawan + sampel kering = 21,664 gBerat serat = 0,4421 g Kadar serat = x 100% 0,4421= x 100% 1,1225= 39,39 % 2 Kadar serat ( A 3 ) = 39,39 %39,39 % 39,38% 39,39 % Kadar serat rata-rata = 3 =39,39 % Penentuan kadar serat pada tablet formula C (Nata de coco-Vitamin C) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:Berat sampel = 1,1123 gBerat cawan + kertas saring = 20,7413 gBerat kertas saring + cawan + sampel basah = 21,8536 gBerat kertas saring + cawan + sampel kering = 22,2588 gBerat serat = 0,4052 g Kadar serat = x 100% 0,4052= x 100% 1,1123= 36,42 % Kadar serat ( A 2 ) = 36,43 % Kadar serat ( A 3 ) = 36,42 %36,42 % 36,43 % 36,42 % Kadar serat rata-rata = 3 = 36,42 %

4.1.2 Perhitungan kadar vitamin C

Penentuan kadar vitamin C dari tablet formula A (Amilum-Vitamin C) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:Berat sampel = 100 mgVolume larutan 2,6 D yang terpakai saat titrasi = 5,0667 mlVolume blanko = 2,1667 ml 100 Faktor pengenceran (Fp) = = 1 100 ( volume titran volume blanko ) x ,88 x Fp −Kadar vitamin C = X 100%berat sampel ( 5 , 0667 2 , 1667 ) x , 88 x 1− = x 100% 100 = 2,55 %Kadar vitamin C ( A 2 ) = 2,67 % Kadar vitamin C ( A 3 ) = 2,58 %2,55 % 2,67 % 2,58 % Kadar vitamin C rata-rata = 3 = 2,6 % 100 Faktor pengenceran (Fp) = = 1 100 ( volume titran volume blanko ) x ,88 x Fp −Kadar vitamin C = X 100%berat sampel ( 5 , 1667 2 , 1667 ) x , 88 x 1− = x 100% 100 = 2,64 %Kadar vitamin C ( A 2 ) = 2,67 % Kadar vitamin C ( A ) = 2,71 % 32,64 % 2,67 % 2,71 % Kadar vitamin C rata-rata = 3 = 2,67 % 100 Faktor pengenceran (Fp) = = 1 100 ( volume titran volume blanko ) x ,88 x Fp −Kadar vitamin C = X 100%berat sampel ( 5 , 1 2 , 1667 ) x , 88 x 1− = x 100% 100 = 2,58 %Kadar vitamin C ( A 2 ) = 2,59 % Kadar vitamin C ( A ) = 2,58 % 32,58 % 2,59 % 2,58 % Kadar vitamin C rata-rata = 3 = 2,58 %

4.1.3 Analisis Spektroskopi FT-IR Bahan dan Formulasi Granul

4.1.3.1 Spektrum FT-IR Amylum Manihot

Spektrum FT-IR amylum manihot dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.1 Spektrum FT-IR Amylum Manihot Pada gambar 4.1 menunjukkan spektrum FT-IR amylum manihot dengan serapan puncak-puncak pada bilangan gelombang: 3414,0 cm yang menunjukkan adanya vibrasi ulur –OH yang didukung vibrasi tekuk –OH pada 1651,9 cm ; bilangan gelombang 2932,7 cm menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H yang didukung vibrasi 1 ; serapan dengan dua puncak pada 1157,2 cm dan 1019 cm menunjukkan adanya vibrasi gugus C-O-C eter dari ikatan glikosida antar monomer glukosa yang terpaut satu sama lain; serapan dengan intensitas medium pada 765,9 cm - 530 cm menunjukkan vibrasi tekuk C-H luar bidang.

4.1.3.2 Spektrum FT-IR Nata de coco

Spektrum FT-IR Nata de coco dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.2 Spektrum FT-IR Nata de coco Pada gambar 4.1 menunjukkan spektrum FT-IR Nata de coco dengan serapan puncak- puncak pada bilangan gelombang: 3353,66 cm yang menunjukkan adanya vibrasi ulur –OH yang didukung vibrasi tekuk –OH pada 1645,75 cm ; bilangan gelombang 2896,78 cm menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H yang didukung vibrasi tekuk C-H asimetris pada 1428,72 cm dan vibrasi tekuk C-H simetris pada 1372,71 cm ; serapan dengan dua puncak pada 1163,58 cm dan 1110,56 cm menunjukkan adanya vibrasi gugus C-O-C eter dari ikatan glikosida antar monomer glukosa yang terpaut satu sama lain; serapan dengan intensitas medium pada 666,62 cm – 559,65

4.1.3.3 Spektrum FT-IR Vitamin C

Spektrum FT-IR vitamin C dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.3 Spektrum FT-IR Vitamin C Pada gambar 4.3 menunjukkan spektrum FT-IR vitamin C dengan serapan puncak- puncak pada bilangan gelombang: 3526,2 cm - 3026,3 cm menunjukkan adanya vibrasi ulur –OH; bilangan gelombang 2917,4 cm - 2747,6 cm menunjukkan 1 dan vibrasi tekuk C-H simetris pada 1458,10 cm ; serapan dengan pita tajam pada 1754,6 cm menunjukkan adanya vibrasi gugus C=O dari R-CO-OR (lakton); 1673,1 cm menunjukkan adanya vibrasi gugus C=C dari alkena alifatik; 1141,2 cm - Terdapat spektrum yang banyak dan kurang jelas di daerah sidik jari (1000 -

4.1.3.4 Spektrum FT-IR Material Campuran Amylum Manihot -Vitamin C

Spektrum FT-IR material campuran amylum manihot–vitamin C dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.4 Spektrum FT-IR Campuran Amylum Manihot -Vitamin C Pada gambar 4.4 menunjukkan spektrum FT-IR material campuran amylum manihot–vitamin C dengan serapan puncak-puncak pada bilangan gelombang: 3526 cm – 3220,1 cm menunjukkan adanya vibrasi ulur gugus –OH; 2917,1 cm menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H yang didukung vibrasi tekuk C-H asimetris pada 1497,5 cm dan vibrasi tekuk C-H simetris pada 1388,3 cm ; serapan dengan pita tajam pada pada 1755,3 cm menunjukkan adanya vibrasi gugus C=O dari R-CO- OR (lakton) dari vitamin C; 1674,1 cm menunjukkan adanya vibrasi gugus C=C dari alkena alifatik pada vitamin C; serapan pada 1198,3 cm – 989,1 cm menunjukkan adanya vibrasi gugus C-O-C eter dari ikatan glikosida.

4.1.3.5 Spektrum Nata de coco-Vitamin C

Spektrum FT-IR material campuran Nata de coco–vitamin C dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.5 Spektrum FT-IR Campuran Nata de coco –Vitamin C Pada gambar 4.5 menunjukkan spektrum FT-IR campuran Nata de coco-Vitamin C dengan serapan puncak-puncak pada bilangan gelombang (cm ) : 3526,1-3025,0 cm menunjukkan adanya gugus –OH; 2917,1 cm menunjukkan adanya rentangan C-H; serapan dengan pita tajam pada 1754,2 cm menunjukkan adanya gugus C=O dari R-CO-OR (lakton) pada vitamin C dan gugus C=O dari selulosa nata de coco; 1665,0 cm menunjukkan adanya gugus C=C dari alkena alifatik pada vitamin C; 1497,6- 1454,4 cm menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H; 1389,3-1222,2 cm menunjukkan adanya gugus C-O-H bengkok; serapan pada 1199,1-989,1 cm menunjukkan adanya gugus C-O-C eter dari ikatan glikosida; serapan pada 870,5-566,4 cm menunjukkan adanya gugus lentur C-H luar bidang.

4.1.3.6 Spektrum Amilum manihot-Nata de coco-Vitamin C

Spektrum FT-IR material campuran amylum manihot-Nata de coco–vitamin C dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 4.6 Spektrum FT-IR Campuran Amilum-Nata de coco-Vitamin C Pada gambar 4.6 menunjukkan spectrum FT-IR campuran Amilum-Nata de coco- Vitamin C dengan serapan puncak-puncak pada bilangan gelombang (cm ): 3525,37- 3225,37 cm menunjukkan adanya gugus –OH; 2917,52 cm menunjukkan adanya rentangan C-H; 1754,71 cm menunjukkan adanya gugus C=O dari R-CO-OR(lakton) pada vitamin C dan gugus C=O pada selulosa nata de coco dan amilum; 1673,39 cm menunjukkan adanya gugus C=C dari alkena alifatik pada vitamin C; 1479,67-1432,51 cm menunjukkan adanya gugus vibrasi ulur C-H; 1364,44-1323,36 cm menunjukkan adanya gugus C-0-H bengkok; serapan pada 1198,44-990,15 cm menunjukkan adanya gugus C-O-C eter dari ikatan glikosida, serapan pada 869,61-

4.2 Pembahasan

  4.2.1 Pengaruh penambahan vitamin C dan Amilum terhadap kadar serat dari Nata de coco Kadar serat yang diperoleh pada tablet formula A (Amilum-vitamin C) adalah36,1067%, tablet formula B (Amilum-Nata de coco- Vitamin C) adalah 39,3880%, dan tablet formula C (Nata de coco-Vitamin C) adalah 36,4289%. 4.2.2 Pengaruh penambahan Vitamin C (Asam Askorbat) terhadap kadar Vitamin C dalam Nata de coco Kadar vitamin C yang diperoleh pada tablet formula A (Amilum-Vitamin C) adalah2,5987 %, tablet formula B (Amilum-Nata de coco-Vitamin C) adalah 2,6733 %, dan tablet formula C (Nata de coco-Vitamin C) adalah 2,5813 %.

4.2.3 Interaksi fisika melalui hasil kajian FT-IR dari tablet nata de coco dengan penambahan Amilum dan Vitamin C

  Pada campuran Nata de coco–vitamin C dan campuran amylum manihot–Nata de coco–vitamin C, serapanpuncak gugus C=O dari lakton dan gugus C=C dari alkena alifatik tidak terlihat, yang terlihat adalah serapan puncak gugus C=O khas pada selulosa Nata de coco. Dari analisa hasil kajian FT-IR, diketahui bahwa terjadi interaksi fisika antara amylum manihot, Nata de coco, dan vitamin C berdasarkan adanya perubahan bilangan gelombang gugus-gugus reaktif dari Nata de coco, amylum manihot, dan vitamin C (gambar 4.4, gambar 4.5 dan gambar 4.6) jika dibandingkan denganspektrum FT-IR murni dari ketiga material (gambar 4.1, gambar 4.2, dan gambar 4.3).

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  Kadar serat dari tablet formula A (Amilum-Vitamin C) adalah sebesar 36,1067%, tablet formula B (Amilum-Nata de coco-Vitamin C) adalah sebesar39,3880 %, dan tablet formula C (Nata de coco-Vitamin C) adalah sebesar36,4289 %, sedangkan kadar vitamin C dari tablet formula A (Amilum-Vitamin C) adalah sebesar 2,5987 %, tablet formula B (Amilum-Nata de coco-Vitamin C) adalah sebesar 2,6733 %, dan tablet formula C (Nata de cococ- Vitamin C) adalah sebesar 2,5813 %. Nata de coco sangat baik digunakan sebagai matriks bahan tablet vitamin C karena pelepasan vitamin C terjadi secara berkala bila dibandingkan denganpenggunaan matriks amylum manihot, dan diperkuat melalui hasil kajian FT- IR dimana terjadi interaksi fisika antara amylum manihot, Nata de coco, dan vitamin C berdasarkan adanya perubahan bilangan gelombang gugus-gugusreaktif dari Nata de coco, amylum manihot, dan vitamin C karena vibrasi gugus-gugus reaktif yang saling berinteraksi.

5.2. Saran

  Sebaiknya penelitian ini dilanjutkan dengan melakukan uji kelayakan tablet nata de coco dengan penambahan vitamin C dan amilum untuk dikonsumsi sebagai suplemensesuai dengan standarisasi BPOM. Preparasi dan Karakterisasi Selulosa Mikrokristal dari Nata de Coco untuk Bahan Pembantu Pembuatan Tablet.

Informasi dokumen
Pemanfaatan Limbah Air Kelapa Sebagai Bahan Baku Pembuatan Tablet Nata De Coco Dengan Variasi Penambahan Amilum Manihot Dan Vitamin C Acetobacter xylinum Acetobacter acetii, ditemukan oleh Beijerinck pada tahun 1898. Bakteri ini Granulasi Pembuatan Bahan Tablet Menggunakan Metode Granulasi Kering Pembuatan Granul Dengan Metode Granulasi Kering Pembuatan Nata de coco Pembuatan Nata de coco Isolasi Amilum pati dari umbi singkong Manihot Utilissima Pembuatan serbuk nata de coco Pembuatan tablet nata de coco dengan penambahan vitamin C dan amilum pati Penentuan kadar serat dari tablet dengan metode Defatting dan Digestio Pembuatan starter air kelapa Pembuatan nata de coco Pembuatan Serbuk Nata de coco Isolasi Amilum dari Umbi Singkong Manihot Utilissima Pengaruh penambahan vitamin C dan Amilum terhadap kadar serat dari Nata de coco Pengaruh penambahan Vitamin C Asam Askorbat terhadap kadar Vitamin C dalam Nata de coco Perhitungan kadar serat Perhitungan kadar vitamin C Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Lokasi Penelitian Serat Kesimpulan TINJAUAN PUSTAKA Sifat-sifat Acetobacter xylinum Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Acetobacter xylinum Sifat – Sifat Umum Vitamin C Manfaat Vitamin C Defisiensi Vitamin C Spektrum FT-IR Amylum Manihot Spektrum FT-IR Nata de coco Spektrum FT-IR Vitamin C Spektrum FT-IR Material Campuran Amylum Manihot -Vitamin C Spektrum Nata de coco-Vitamin C Spektrum Amilum manihot-Nata de coco-Vitamin C Tanaman Kelapa TINJAUAN PUSTAKA
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pemanfaatan Limbah Air Kelapa Sebagai Bahan B..

Gratis

Feedback