Analisis Logam Cr Pada Eye Shadow Yang Teregistrasi Dan Tanpa Registrasi Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM) Secara Spektrofotometri Serapan Atom

 6  77  59  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

ANALISIS LOGAM Cr PADA EYE SHADOW YANG TEREGISTRASI DAN TANPA REGISTRASI BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN (BPOM) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM SKRIPSI FENNY RAHMAWINA HARAHAP 090822020 DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

  Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat kandunganlogam Cr di dalam sampel yang teregistrasi dan tanpa registrasi BPOM yang merupakan bahan yang dilarang digunakan dalam pembuatan kosmetik. Salah satu jenis sediaan kosmetika rias adalah perona kelopak mata (eye shadow) yang merupakan sediaan rias yang berisi pigmen warna yang digunakan pada kelopak mata untuk memberi latar belakang atau bayangan yang menarik pada mata sehingga memberi efek berkilau pada mata.

1.1 Latar Belakang

  Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagianluar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau memelihara tubuh padakondisi baik (BPOM, 2008). Salah satu jenis sediaan kosmetika rias adalah perona kelopak mata (eye shadow) yang merupakan sediaan rias yang berisi pigmen warna yang digunakan pada kelopak mata untuk memberi latar belakang atau bayangan yang menarik pada mata sehingga memberi efek berkilau pada mata.

1.2 Permasalahan

  Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah kosmetika perona kelopak mata (eye shadow) yang teregistrasi dan tidak teregistrasi BPOM. 1.5 Manfaat Penelitian Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya para ibu dan remaja putri tentang bahaya yang bisa ditimbulkan oleh kosmetika perona kelopak mata (eye shadow) yang didalamnya terdapat kandungan logam Cr baik yang teregistrasi dan tanpa registrasi BPOM sehingga dapat terhindar dari bahaya tersebut.

1.7 Metodologi Penelitian

  Sampel dipreparasi dengan menggunakan metode destruksi (pengabuan) kering dan hasil akhir destruksi dilarutkan dengan pelarut HCl 6 M. Penentuan kadar logam Cr dilakukan dengan Spektrofotometer Serapan Atom dengan panjang gelombang 357,9 nm.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kosmetika

  Ketika kemudian terjadi kemajuan dalam segala bidang kehidupan termasuk bidang sains dan teknologi, kosmetika berubah menjadikomoditi yang diproduksi secara luas dan diatur oleh berbagai peraturan dan persyaratan tertentu untuk memenuhi standar mutu dan keamanan bagi konsumen. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RepublikIndonesia Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik yang dimaksud dengan kosmetik adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan padabagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan,mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM, 2008).

2.1.1 Penggolongan Kosmetika

  Sediaan suntan dan sunscreen, yaitu losion atau krim yang digunakan dengan maksud merubah kulit yang putih menjadi berwarna coklat, tanpa kulit terbakaroleh sinar matahari. Tata rias mata atau sediaan make-up mata merupakan sediaan yang digunakan untuk memperindah penampilan bentuk mata termasuk di dalamnya mascara, eye shadow, eye brow pencil, dan eye liner (Lesmono, 1985).

2.1.2 Perona Kelopak Mata ( Eye Shadow)

  Rias mata merupakan hal yang tidak dapat dilupakan begitu saja apabilaseseorang ingin berpenampilan lebih, tentu dengan selalu mempertimbangkan kondisi, keperluan dan tujuan yang ingin dicapai. Perona kelopak mata (eye shadow) ialah rias kelopak mata yang dipakai agar tampak lebih gelap sehingga kelopak mata terihat lebih cekung ke dalam.

2.1.3 Bahan Baku dalam Pembuatan Kosmetika Bahan baku kosmetika sangat bervariasi dan jumlahnya dapat mencapai ribuan jenis

Untuk memenuhi kebutuhan dasar produksi kosmetika, ada 5 macam bahan baku yang penting, yaitu : waxws dan oils, pengawet dan antiseptik, antioksida, pewarna, danpewangi/parfum.

2.1.3.1 Pewarna

  Di dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor :HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetik yang dimaksud dengan bahan pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memberi dan ataumemperbaiki warna pada kosmetik. Daftar bahan pewarna yang diizinkan digunakan dalam bahan kosmetik tersebut khususnya yang digunakan dalam pembuatankosmetik untuk tata rias mata dan membran mukosa dapat dilihat pada tabel 1 dalam lampiran (BPOM, 2008).

2.1.3 Keracunan Kosmetika

  Sehubungan dengan kemungkinan timbulnya reaksi kulit yang disebabkan oleh bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan sediaan kosmetika, maka masalahyang kita hadapi dalam penggunaan sediaan kosmetika umumnya tidak dicantumkan kandungan bahan dasar dan bahan aktif pada kemasan dari sediaan kosmetika yangberedar di Indonesia (Sartono, 2002). Di dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RepublikIndonesia Nomor : HK.00.05.42.1018 Tentang Bahan Kosmetika tercantum bahwa bahan kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang berasal dari alam dan atausintetik yang merupakan komponen kosmetika.

2.1.4 Manfaat Kosmetika

  Bila dasar kecantikan adalah kesehatan, maka penampilan kulit yang sehat adalah bagian yang langsung dapat kita lihat, karena kulit merupakan organ tubuh yangberada paling luar dan berfungsi sebagai pembungkus tubuh. Dengan demikian pemakaian kosmetika yang tepat untuk perawatan kulit, rias atau dekoratif akanbermanfaat bagi kesehatan tubuh (Wasitaatmadja, 1997).

2.2 Logam Berat

  Logam merupakan bahan pertama yang dikenal oleh manusia dan digunakan sebagai alat-alat yang berperan penting dalam sejarah peradaban manusia. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk ke dalam organisme hidup (www.blogspot.com).

2.2.1 Logam Kromium (Cr)

  Kromium adalah logam kristalin yang putih, tak begitu liat dan tak dapat ditempa o dengan berarti. Logam berat kromium (Cr) merupakan logam berat dengan berat atom 51,996 g/mol; tahan terhadap oksidasi meskipun pada suhu tinggi, memiliki titik didih o 2.672 C, bersifat paramagnetik (sedikit tertarik oleh magnet), membentuk senyawa- senyawa berwarna (Gambar 2.2), memiliki beberapa bilangan oksidasi, yaitu +2, +3,dan +6, dan stabil pada bilangan oksidasi +3.

2.2.1.1 Kegunaan Kromium (Cr)

  Selain itu kromium juga berfungsi menjaga keseimbangan kadar gula darah dan meningkatkan efisiensi kerjainsulin, menurunkan kolesterol dan trigliserida, dan membantu sintesa kolesterol (www.lovekimiabanget.blogspot.com). Senyawa ZnCrO 4 atauzinc yellow digunakan untuk mencegah korosi pada spare-part pesawat yang menggunakan Al dan Mg.

2.2.1.2 Efek Toksik / Bahaya Kromium (Cr)

  Logam Cr adalah bahan kimia yang bersifat persisten, biokumulatif, dan toksik yang tinggi serta tidak mampu terurai di dalam lingkungan, sulit diuraikan, dan akhirnyadiakumulasi di dalam tubuh manusia melalui rantai makanan. Pekerja yang terkena limbah industri dan cat yang mengandung krom tinggi dikaitkan dengan Kromium adalah karsinogen manusia, yang menginduksi kanker paru-paru di antara pekerja yang terpapar logam ini.

2.2.1.3 Pencegahan dan Penanggulangan Toksisitas Cr

  Mengetahui kadar Cr pada rambut, urin, dan darah, baik serum, sel darah merah, maupun whole blood guna mengetahui apakah kadar Cr telah melampaui batasaman atau telah mengontaminasi meskipun ada kesulitan untuk membedakan kadar Cr (III) dengan Cr (VI). Menghindari makanan yang kotor dan tidak higienis dan mencuci tangan sebelum makan (Widowati, 2008).

2.3 Spektrofotometri Serapan Atom

2.3.1 Teori Spektrofotometri Serapan Atom

  Frekwensi radiasi yang dipancarkan bersifat karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnyasebanding dengan jumlah atom yang tereksitasi dan yang mengalami proses de- eksitasi. Hubungan antara energi dan panjang gelombang (λ) dilukiskan sebagai :E = hc λ dengan E = energi cahaya (Joule) h = konstanta Planck (6,63 x 10 J.s) 8 c = kecepatan cahaya (3.10 m/s), dan λ = panjang gelombang (nm) Bila materi disinari, kemungkinan cahaya diserap, dihamburkan (nefelometri dan turbidimetri), diserap dan dipancarkan kembali dengan panjang gelombang yangsama atau berbeda (spektrofotometri), dibelokkan, dan diubah sudut getarnya.

2.3.2 Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom

  Beberapa dari atom-atom gas ini berada dalam bentuk yang tereksitasi dan mengemisikan cahaya padapanjang gelombang yang spesifik sama dengan logam yang akan dianalisis (Lestari, 2009). Sistem pemanasan dengan tanpa nyala ini dapat melalui 3 tahap yaitu : pengeringan (drying) yang membutuhkan suhu yang relatif rendah; pengabuan(ashing) yang membutuhkan suhu yang lebih tinggi karena untuk menghilangkan matriks kimia dengan mekanisme volatilasi atau pirolisis; dan pengatoman(atomising) (Gandjar, 2007).

2.3.3 Analisis Kuantitatif dengan SSA

  Ada beberapa metode kuantifikasi hasil analisis dengan metode SSA yaitu dengan menggunakan kurva kalibrasi; dengan perbandingan langsung; dengan menggunakandua baku; dan dengan menggunakan metode standar adisi (metode penambahan baku). Cara standar adisiKebanyakan analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar dalam larutan air, karenanya pada kasus ini diperlukan pencampuran matriksdengan baku.

2.3.4 Gangguan dalam Spektrofotometri Serapan Atom

  Yang dimaksud dengan gangguan-gangguan (interference) pada SSA adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsure yang dianalisismenjadi lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel. Terbentuknya atom-atom netral yang masih dalam keadaan azas didalam nyala sering terganggu oleh dua peristiwa kimia yaitu : (a) disosiasi senyawa-senyawa yang tidak sempurna, dan (b) ionisasi atom-atom di dalam nyala.

2.4 Destruksi

  Pada dasarnya ada dua jenis destruksi yang dikenal dalam ilmi kimia yaitu destruksi basah (oksidasi basah) dan destruksikering (oksidasi kering). Kedua destruksi ini memiliki teknik pengerjaan dan lama pemanasan atau pendestruksian yang berbeda.

2.4.1 Jenis-jenis Destruksi

  Pelarut yang dapat digunakan untuk destruksi basah adalah asam nitrat, asam sulfat, asam perkhlorat, asam klorida dan dapat digunakan secara tunggal maupuncampuran. Bila oksida-oksida logam yang terbentuk mudah menguap, maka perlakuan ini tidak memberikanhasil yang baik, disebabkan pada suhu tertentu oksida logam tersebut sudah habis menguap.

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat-alat Fisons Pyrex Whatman No. 42 Pyrex 3.2 Bahan-bahan 3 ) 2 .6 H

2 O Merck

37% p.a Merck

3.3 Prosedur Penelitian

  3.3.4 Pembuatan larutan seri standar Kromium 0,4 ; 0,8 ; 1,2 ; 1,6 ; dan 2,0 mg/L Sebanyak 2; 4; 6; 8 dan 10 mL larutan standar Cr 10 mg/L dimasukkan ke dalam 5 buah labu ukur 50 mL kemudian diencerkan dengan aquadest sampai garis tanda dandihomogenkan sehingga diperoleh larutan seri standar kromium 0,4; 0,8; 1,2; 1,6 dan 2,0 mg/L. Perlakuan dilakukanSpektrofotometer Serapan Atom pada λ sebanyak 3 kali dan dilakukan hal yang sama untuk larutan seri standar 0,8; 1,2; 1,6 dan 2,0 mg/L.

3.4.1 Preparasi Sampel

  (Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 2 – Juli 2008; ISSN : 1410-7031) 2,5 g sampelDimasukkan ke dalam cawan porselinDitambahkan 3 mL larutan Mg(NO 3 ) 2 50% b/v DihomogenkanSampel homogen Dipanaskan di atas hot plateSampel kering o Dipijarkan dalam tanur pada suhu 500 C selama 3 jamDidinginkan Serbuk sampelDitambahkan 25 ml HCl 6 MDisaring dengan kertas saring Whatman No.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

2 H 9 0,7 2,815,0 2 Kondisi alat Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada pengukuran konsentrasi logam Cr dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Kondisi Alat SSA Merek Shimadzu Tipe AA-6300 pada Pengukuran Konsentrasi Logam Cr 6 Panjang gelombang (nm)Tipe NyalaKecepatan aliran gas pembakar (L/min)Kecepatan aliran udara (L/min)Lebar celah (nm)Ketinggian tungku (mm) 5 4 3 2 1 No Parameter Logam Cr 357,9Udara – C Tabel 4.2 Data Absorbansi Larutan Standar Cr Konsentrasi (mg/L) Absorbansi rata-rata0,4000 0,00420,8000 0,01201,2000 0,01931,6000 0,02702,0000 0,0324 Gambar 4.1 Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Kromium (Cr)

4.2 Pengolahan Data

4.2.1.1 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square

  Hasil pengukuran absorbansi larutan seri standar kromium pada tabel 4.2 diplotkan terhadap konsentrasi sehingga diperoleh kurva kalibrasi berupa garis linier. Untuk derajat kepercayaan 95% (P = 0,05), nilai t = 4,30 maka : d = t (P .

4.2.1.4 Penentuan Kadar Kromium (Cr) Pada Eye Shadow Dalam Satuan mg/Kg

Pengukuran kadar kromium (Cr) dalam sampel eye shadow (A) denganSpektrofotometer Serapan Atom : X x Volume pelarut x faktor pengenceran 6 Kadar logam Cr = x 10 mg/Kg Berat sampel1,2860 mg/L x 0,025 L x 50 6 Kadar logam Cr = x 10 mg/Kg 3 2,5 x 10 mg= 643 mg/Kg Tabel 4.5 Data Hasil Pengukuran Kadar Kromium pada Eye Shadow dengan Metode Destruksi Kering Secara SSA Kadar Logam Cr Kadar Logam CrNo Sampel (mg/L) (mg/Kg) 1 A 1,2860 ± 0,011051 643 2 B 0,3392 ± 0,013287 3,392 3 C 0,5069 ± 0,006751 5,069 4 D 0,2327 ± 0,016512 2,327 5 E 0,4181 ± 0,006966 4,181 6 F 0,7179 ± 0,012470 7,179Keterangan :A : Sari Ayu (teregistrasi BPOM : POM C A18071200679)B : Just Mist (teregistrasi BPOM : POM CL 0907702388)C : Pixy (teregistrasi BPOM : POM C A18091206837)D : VOV eye shadow (tidak teregistrasi BPOM)E : MAC eye shadow (tidak teregistrasi BPOM)F : Cubic eye shadow (tidak teregistrasi BPOM)

4.3 Pembahasan

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar kadar logam Cr di dalam eye shadow yang tanpa registrasi BPOM dengan asumsi di dalam eye shadowyang teregistrasi BPOM kadar logam Cr adalah nol. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa di dalam sampel yang teregistrasi dan tanpa registrasi BPOM terdapat kandungan logam Cr yang diketahui dari kadar logamCr yang diperoleh melalui perhitungan.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

  Pada sampel yang teregistrasi dan tanpa registrasi BPOM terdapat kandungan logam Cr yang diketahui melalui kadar Cr yang diperolehmelalui perhitungan. Dan juga perlu diperhatikan ketelitian dan ketepatan guna mendapatkan hasil analisis yang lebih baik dan lebihefisien.

Analisis Logam Cr Pada Eye Shadow Yang Teregistrasi Dan Tanpa Registrasi Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM) Secara Spektrofotometri Serapan Atom Analisis Kuantitatif dengan SSA Bahan-bahan Bagan Penelitian .1 Preparasi Sampel Hasil Penelitian .1 Logam Cr Efek Toksik Bahaya Kromium Cr Pencegahan dan Penanggulangan Toksisitas Cr Gangguan dalam Spektrofotometri Serapan Atom Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom Kegunaan Kromium Cr Logam Kromium Cr Keracunan Kosmetika Pengertian Kosmetika Kesimpulan Saran KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Latar Belakang KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pembahasan KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penggolongan Kosmetika Perona Kelopak Mata Eye Shadow Permasalahan Pembatasan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Lokasi Penelitian Metodologi Penelitian Alat-alat
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Logam Cr Pada Eye Shadow Yang Tereg..

Gratis

Feedback