Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara )

 3  59  77  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

  

Skripsi

Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan

Upah Minimum Daerah

(Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum

  

Provinsi Sumatera Utara )

Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar

Sarjana Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara

  

Oleh

Nama : Melki S. Naibaho NIM : 040903029 Departemen : Ilmu Administrasi Negara

  

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu politik

Universitas Sumatera Utara

Medan

2011 Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih karunia serta berkat yang berlimpah tiada berkesudahan, yang memberikan penulis petunjuk serta kesehatan sehingga sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagaimana adanya.

  Adapun yang menjadi judul dalam skrispsi ini adalah “Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara). Skripsi ini ingin melihat bagaimana peran Dewan Pengupahan Daerah yang dibentuk untuk membantu memformulasikan kebijakan pada bidang pengupahan melaksanakan tugasnya. Tetapi sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kata sempurna. Diperlukan lebih banyak lagi kritik dan masukan dari berbagai pihak guna memperkaya dan lebih menyempurnakan lagi isi tulisan ini. Demikianlah seharusnya dianamika intelektual kita senantiasa semakin disempurnakan dengan saling memberikan koreksi dan masukan demi perbaikan bangunan intelektual yang kita bangun bersama.

  Penulis juga tidak lupa hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang dengan sabar dan murah hati memberikan bantuan baik secara moril maupun materil guna penyelesaian skripsi ini.

  Medan, 17 Desember 2010 Penulis Relasi antara pengusaha dengan buruh memiliki potensi yang senantiasa dapat memicu konflik antara kedua pihak. Salah satu masalah krusial dalam relasi tersebut adalah bagaimana distribusi keuntungan perusahan dilakukan. Pemenuhan rasa keadilan menjadi menjadi titik penting terjadinya kompromi antara pengusaha dan buruh. Dimana besaran upah yang ditetapkan merupakan perwujudan kompromi diantara kedua pihak. Pada titik ini terdapat persoalan sudut pandang keadilan antara kedua pihak mengenai besaran upah yang ditetapkan. Pada satu sisi untuk kepentingan efisiensi perusahaan maka upah harus ditekan serendah mungkin. Di lain pihak buruh berharap melalui upah yang diterimanya dapat memenuhi kesejahteraan hidupnya dan bila memungkinkan meningkatkannya. Persoalan inilah yang harus diselesaikan agar perusahaan tetap dapat berjalan dan kesejahteraan hidup buruh tidak diabaikan.

  Pemerintah sebagai pengelola negara tentunya berusaha agar stabilitas dalam proses produksi selain itu sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan ditengah-tangah warganya. Maka pemerintah juga harus mengabil peran dalam menyelesaikan persoalan antara relasi buruh dan pengusaha. Untuk memediasi persolan upah tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan upah minimum. Dimana perumusan kebijakan upah tersebut dilakukan melalui suatu lembaga non struktural yang bersifat tripartit. Pemerintah, pengusaha dan buruh menjadi unsur didalam lembaga tersebut ditambah pakar dari perguruan tinggi. Pada dasarnya kebijakan upah minimum merupakan jaring pengaman agar harga upah tidak turun terlalu rendah. Maka melalui proses formulasi yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang dapat diterima oleh semua pihak. Sehingga ketika kebijakan tersebut diberlakukan tidak terjadi gejolak di masyarakat. Kata kunci : Upah Minimum, Kebijakan, Formulasi

  Kata Pengantar ................................................................................................................ i Abstraksi ......................................................................................................................... ii Daftar Isi ......................................................................................................................... iii

  BAB I Pendahuluan I.1. Latar Belakang Masalah ................................................................................ 1 I.2. Perumusan Masalah ....................................................................................... 8 I.3. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 9 I.4. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 9 I.5. Kerangka Teori .............................................................................................. 10 I.5.1. Peranan..................................................................................... 10 I.5.2. Dewan Pengupahan Daerah ...................................................... 11 I.5.3. Formulasi Kebijakan ................................................................. 11 I.5.4. Upah Minimum ........................................................................ 17 I.6. Defenisi Konsep ............................................................................................ 30 I.7. Defenisi Operasional ..................................................................................... 30 I.8. Sistematika Penulisan .................................................................................... 32 BAB II Metodologi Penelitian II.1. Metode Penelitian ......................................................................................... 33 II.2. Lokasi Penelitian .......................................................................................... 33 II.3. Informan ...................................................................................................... 33 II.4. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 34 II.5. Teknik Analisa Data ..................................................................................... 34 BAB III Deskripsi Lokasi Penelitian III. 1 Kondisi Geografis Daerah ........................................................................... 35 III. 2 Demografi ................................................................................................... 37 III. 3 Potensi Unggulan Daerah ............................................................................ 41

  III. 4 Kondisi Ketenagakerjaan di Sumatera Utara................................................ 43

  BAB IV Penyajian Data .................................................................................................. 50 BAB V Analisa Data V. 1 Mengetahui Preferensi Publik....................................................................... 60 V. 2 Menemukan Pilihan-pilihan Kebijakan ......................................................... 61 V. 3 Menilai Konsekuensi Masing-masing Pilihan Kebijakan .............................. 63 V. 4 Menilai Ratio Sosial Yang Dikorbankan....................................................... 64 V.5 Memilih Alternatif Kebijakan Yang Paling Efisien........................................ 65 BAB VI Penutup Kesimpulan Dan Saran VI. 1 Kesimpulan ................................................................................................. 67 VI. 2 Saran .......................................................................................................... 68 Daftar Isi ......................................................................................................................... Lampiran.........................................................................................................................

  Relasi antara pengusaha dengan buruh memiliki potensi yang senantiasa dapat memicu konflik antara kedua pihak. Salah satu masalah krusial dalam relasi tersebut adalah bagaimana distribusi keuntungan perusahan dilakukan. Pemenuhan rasa keadilan menjadi menjadi titik penting terjadinya kompromi antara pengusaha dan buruh. Dimana besaran upah yang ditetapkan merupakan perwujudan kompromi diantara kedua pihak. Pada titik ini terdapat persoalan sudut pandang keadilan antara kedua pihak mengenai besaran upah yang ditetapkan. Pada satu sisi untuk kepentingan efisiensi perusahaan maka upah harus ditekan serendah mungkin. Di lain pihak buruh berharap melalui upah yang diterimanya dapat memenuhi kesejahteraan hidupnya dan bila memungkinkan meningkatkannya. Persoalan inilah yang harus diselesaikan agar perusahaan tetap dapat berjalan dan kesejahteraan hidup buruh tidak diabaikan.

  Pemerintah sebagai pengelola negara tentunya berusaha agar stabilitas dalam proses produksi selain itu sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan ditengah-tangah warganya. Maka pemerintah juga harus mengabil peran dalam menyelesaikan persoalan antara relasi buruh dan pengusaha. Untuk memediasi persolan upah tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan upah minimum. Dimana perumusan kebijakan upah tersebut dilakukan melalui suatu lembaga non struktural yang bersifat tripartit. Pemerintah, pengusaha dan buruh menjadi unsur didalam lembaga tersebut ditambah pakar dari perguruan tinggi. Pada dasarnya kebijakan upah minimum merupakan jaring pengaman agar harga upah tidak turun terlalu rendah. Maka melalui proses formulasi yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang dapat diterima oleh semua pihak. Sehingga ketika kebijakan tersebut diberlakukan tidak terjadi gejolak di masyarakat. Kata kunci : Upah Minimum, Kebijakan, Formulasi

  

Pendahuluan

I.1 Latar Belakang Masalah

  Sudah menjadi sesuatu yang alami dan naluriah bagi manusia untuk berusaha bertahan hidup. Fakta inilah yang mendorong manusia untuk senantiasa kreatif dan bekerja keras untuk melakukan proses produksi. Yaitu menghasilkan barang-barang yang dapat menunjang kehidupan manusia itu sendiri.Untuk hidup, manusia harus memproduksi alat-alat penyambung hidupnya (makanan dan lain sebagainya). Untuk melakukannya mereka harus

  

  bekerja sama di dalam suatu pembagian kerja Hal inilah yang mendorong terjadinya perubahan dalam tingkatan proses produksi.

  Sejarah peradaban manusia tidak terlepas pada proses perubahan tingkat perkembangan produksi manusia itu sendiri. Pada awalnya kegiatan produksi manusia hanya dilakukan melalui pengumpulan bahan-bahan makanan langsung dari alam.Kemudian pola tersebut mengalami perubahan ke pola agraris yaitu menanam tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap di Inggris oleh James Watt membawa manusia ke era baru. Era baru tersebut adalah zaman Industrilisasi, dimana proses produksi manusia ditandai dengan penggunaan mesin-mesin.

  Pada setiap tingkat perkembangan produksi adalah merupakan hasil dari perkembangan sejarah dan merupakan pencapaian generasi sebelumnya. Tentunya perubahan tingkatan produksi akan memberikan pengaruh pada struktur sosial dalam masyarakat itu sendiri. Perkembangan produksi mengharuskan keterlibatan bentuk-bentuk kerja sama, pembagian kerja, dan karenanya juga organisasi kemasyarakatan. Dimana masyarakat mengalami perubahan dalam serentetan tingkatan yang ditandai dengan berbagai bentuk 1 kepemilikan modal.Pemilikan komunal masyarakat kuno didasarkan pada peranan budak

  Anthony Brewer, A Guide to Marx’s Capital , diterjemahkan oleh Joebaar Ajoeb dengan judul Kajian kritis Das Kapital Karl Marx, jilid 3 (Jakarta: TePLOK PRESS, 2000), h. 11.

  (kapitalis) atas eksploitasinya terhadap proletariat dari pekerja upahan yang tidak memiliki

   apa-apa .

  Perkembangan ini di pandang merupakan keniscayaan dalam sejarah perjalanan manusia.Tetapi ada konskuensi yang harus di tanggung disini yaitu timbulnya pertentangan antara kelas pekerja dan kelas pemodal. Dimana Marx meramalkan bahwa pertarungan ini akan dimenangkan oleh pekerja. Yang pada akhirnya akan tercipta sebuah masyarakat tanpa kelas yaitu masyarakat komunis. Ramalan Marx tersebut tidaklah dilahirkan begitu saja tanpa melihat realitas yang terjadi.Terlepas dari benar atau tidaknya ramalan tersebut, dari ramalan tersebut terlihat bahwa hubungan antara pekerja dan pemilik modal/pengusaha memiliki sebuah titik kritis yang berpotensi untuk meledakkan konflik terbuka antara kedua kelas tersebut.

  Berkaitan dengan hal tersebut, maka salah satu persoalan utama dalam hubungan kerja antara pekerja dan pemilik modal/pengusaha adalah bagaimana pendistribusian hasil produksi dapat memuaskan kedua belah pihak. Sehingga terjadi kompromi antara kedua belah pihak dan tidak terjadi benturan.Salah satu aspek yang sangat menetukan baik dan buruknya hubungan pekerja dan pemilik modal/pengusaha adalah upah.Hingga saat ini persoalan nominal upah yang layak masih banyak diperdebatkan. Hal ini terjadi antara lain karena pekerja dan pemilik modal memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat upah tersebut. Dalam pendekatan (paradigma) kapitalis, pekerja/buruh dipandang sebagai faktor

  

  ekonomi saja sehingga nilai buruh diserahkan pada mekanisme pasar .Pandangan seperti ini memberikan mekanisme pasar sebagi faktor dominan dalam penentuan upah buruh/pekerja dibandingkan faktor tenaga, skill atau waktu yang di korbankan buruh kepada 2 pengusaha/pemilik modal.Padahal realita menunjukkan antara jumlah angkatan kerja dengan 3 ibid., h. 11 KPS, Hak-Hak Buruh (Edisi I, Medan:Kelompok Pelita Sejahtera, 2005) hal. 45 tinggi dari permintaan pengusaha.

  Faktor inilah yang memberikan posisi kuat bagi pengusaha untuk menekan upah pekerja/buruh serendah-rendahnya dan mengabaikan kewajibannya pada buruh/pekerja.Dan hal tesebut merupakan salah satu bagian dari kepentingan pengusaha.Kepentingan dari pemilik modal ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang bekerja pada mereka.Kelas pekerja berkepentingan terhadap meningkatnya upah, meningkatnya kesejahteraan.Sedangkan kepentingan pengusaha adalah untuk meningkatkan keuntungan.

  Pengusaha akan selalu berusaha untuk mempertahankan keuntungannya, dan para pengusaha

  

  biasanya menyiasatinya dengan cara :

  1. Menekan serendah mungkin upah buruh/pekerja ini adalah hal yang biasa dilakukan pengusaha.

  2. Meningkatkan setinggi mungkin kuantitas (jumlah) produksi, ini berarti pekerja/buruh dituntut untuk bekerja lebih keras.

  3. Meningkatkan harga produk.

  Agar kepentingan masing-masing pihak tercapai, maka masing-masing pihak harus mengorbankan kepentingan pihak lain. Dan biasanya pihak buruh/pekerja sering kali yang menjadi korban. Hal ini ditunjukkan selain jumlah upah yang masih di bawah standar, juga sama sekali tidak memenuhi prinsip utama pengupahan itu sendiri, yaitu pembagian atas

  

  keuntungan didasarkan pada nilai lebih barang yang di hasilkan pekerja Hal inilah yang sering melahirkan konflik vertikal antara buruh/pekerja dengan pemilik modal/pengusaha.Sering terdengar dalam beberapa pemberitaan media masa, kelompok buruh melakukan aksi unjuk rasa bahkan mogok kerja di beberapa tempat. 4 Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan upah masih menyimpan potensi konflik yang 5 Ibid, hal. 46 Saut Kristianus, “Kebijakan Perburuhan Di Masa Krisi”, dalam Indrasari Tjandraningsih, Jurnal Anlisis

  Sosial: Situasi Krisis Titik Balik Kekuatan Buruh (Vol.4 No. 2, Bandung, Akatiga, 1999) hal. 14 dapat di tangani oleh pemerintah melalui institusi terkait dengan baik, maka stabilitas Negara dapat terganggu.Untuk itulah pemerintah sebagai institusi pengambil kebijakan harus turut serta dan berperan aktif untuk menyelesaikan persoalan ini.Karena, selain berkepentingan untuk menjaga stabilitas Negara, sesuai konstitusi pemerintah juga mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi warga negaranya.

  Hal tersebut tercermin dalam Pasal 27 UUD 1945 ayat 2 yang berbunyi: “Tiap-tiap

   warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” .

  Demikian juga halnya dalam Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia (DUHAM) diisyaratkan hidup layak sebagai salah satu cerminan masyarakat adil dan makmur adalah Hak Azasi Manusia.Pasal 25-nya mengenai pengertian hidup layak menyebutkan “layak untuk kesehatan dan kesejahteraan diri dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian, perumahan dan perawatan medis dan pelayanan sosial yang diperlukan.Manusia lebih membutuhkan sekedar kebutuhan dasar seperti pangan, pakaian dan perumahan agar bisa menjalani kebutuhan hidup bermasyarakat”.

  Sebab dalam memberikan kehidupan yang layak pada rakyatnya faktor upah mempunyai peranan yang penting dalam pencapaian tujuan tersebut.Maka persoalan perburuhan yang dalam hal ini masalah upah buruh, pemerintah harus melakukan intervensi dalam bentuk pembuatan kebijakan. Karena tanpa adanya pihak ketiga yang menengahi konflik kepentingan buruh/pekerja dan pengusaha/pemilik modal maka akan sulit terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak.

  Untuk mengatasi problema upah, pemerintah saat ini mengambil kebijakan dengan 6 membuat batas minimal upah yang harus di bayarkan oleh perusahaan kepada

  Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Bab X, pasal 27 pekerja/buruh tidak terus turun semakin rendah sebagai akibat tidak seimbangnya pasar

  

  kerja .Penetapan batas minimal upah dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan Upah Minimum.Upah minimum pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal 1970-an. Sejak akhir 1980-an, seiring dengan berbagai perubahan dalam pasar tenaga kerja, peranan upah minimum berubah menjadi sangat penting.Dalam paruh pertama tahun 1990-an, pemerintah meningkatkan upah minimum riil lebih dari dua kali lipat.Dalam paruh kedua 1990-an, secara nominal upah minimum masih terus meningkat, tetapi dalam hitungan riil kenaikannya kecil.Bahkan pada tahun 1998 nilai riil upah minimum jatuh cukup besar karena tingginya inflasi pada tahun tersebut akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

  Ketentuan upah minimum dikeluarkan oleh menteri tenaga kerja RI berdasarkan hasil kerja Dewan Penelitian Pengupahan nasional maupun daerah (DPPN/DPPD).DPPN dibentuk pemerintah oleh pemerintah Orde baru pada pertengahan 1969 melalui Keputusan Presiden No. 58/1969 yang diikuti dengan pembentukan DPPD pada 1970.DPPN bertugas memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada pemerintah tentang kebijakan dan prinsip- prinsip pengupahan.Secara struktural DPPN bertanggungjawab kepada menteri tenaga kerja. Komposisi keanggotaan DPPN terdiri dari 17 unsur yang 11 diantaranya mewakili berbagai instansi pemerintah (Departemen Tenaga kerja, Departemen Keuangan, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan, Departemen Pertambangan, Departemen Pekerjaan umum, Departemen Dalam Negeri, Bank Sentral dan Bappenas), satu dari unsur perguruan tinggi (Universitas Indonesia), satu unsur asosiasi pengusaha Indonesia (APINDO), satu dari unsur serikat buruh (SPSI) ditambah dengan perwakilan perwakilan panitia penyelesaian perselisihan perburuhan pusat (P4P) 7 yaitu Departemen tenaga Kerja (DEPNAKER), asosiasi pengusaha (APINDO), dan serikat

  KPS, op. cit., h. 42 asosiasi pengusaha 2 orang, serikat buruh 2 orang, dan unsur perguruan tinggi 1 orang.

  DPPD berkedudukan dibawah gubernur dan bertanggungjawab kepada Menteri Tenaga Kerja.DPPD bertugas memebrikan rekomendasi dan pertimbangan kepada Menaker tentang kebijakan dan prinsip-prinsip pengupahan di daerah untuk jangka waktu pendek ataupun panjang dengan memperhatikan factor-faktor ekonomi, sosial, tenaga kerja, dan perkembangan ekonomi dalam arti luas.Funsi DPPD adalah untuk menyusun upah minimum untuk daerahnya.DPPD memberikan rumusan usulan upah minimum untuk tingkat propinsi dan kabupaten/kota.

  Unsur-unsur DPPD terdiri dari wakil-wakil kantor wilayah dan dinas tenaga kerja, pemerintah daerah, badan pusat statistik (BPS), dinas perindustrian, kantor pajak, wakil pengusaha (APINDO) dan wakil buruh (SPSI). Komposisi keanggotaan di DPPN/D memperlihatkan dominasi pemerintah demikian kuat yang membuat serikat buruh tidak mempunyai kekuatan untuk bernegoisasi baik dalam proses pembahasan dan pengambilan keputusan. Selai itu posisi serikat buruh yang berada dibawah kendali pemerintah memperlihatkan keberadaan serikat buruh hanya sebagai formalitas untuk menunjukkan bahwa di Indonesia juga terdapat serikat buruh.Akibatnya, pada prakteknya di dewan pengupahan era orde baru kepentingan buruh kurang tersalurkan.

  Kenaikan upah minimum pada tahun 2001 sangat dipengaruhi oleh nuansa oronomi daerah dan kebebasan berserikat.Kedua hal tersebut mendorong beberapa perubahan dalam kebijakan pengupahan dan institusi perumus upah minimum. Berdasarkan Keputusan Menteri No. 226 Tahun 2000, terjadi pelimpahan kewenangan ketetapan upah minimum provinsi dan kabupaten/kota dari Menteri Tenaga kerja kepada Gubernur. Hal ini berarti Gubernur berkewenangan penuh dalam menetapkan UMP/UMK di wilayahnya. Dan juga terjadi daerah, yaitu : Istilah “ Upah minimum regional tingkat I (UMR Tk. I)” diubah menjadi “ Upah minimum provinsi”, istilah “ upah minimum regional tingkat II (UMR Tk. II)” diubah

   menjadi upah “minimum kabupaten/kota” .

  Dari sisi institusi perumusan upah minimumpun mengalami perubahan, yaitu dalam komposisi keanggotaan yang menggunakan model keterwakilan berimbang.Hal ini dimaksudkan agar dalam penetapan upah minimum kepentingan semua pihak dapat terakomodir dan tidak ada pihak yang merasa di rugikan.

  Sebagai pengganti dari DPPN dan DPPD dibentuklah lembaga non-struktural yang bersifat tripartit.Dimana keanggotaan lembaga ini terdiri atas unsur pemerintah, Organisasi Pengusaha, Serikat pekerja/ Serikat buruh dan di tambah dari pakar dan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan.Hal ini nampaknya memberikan peluang bagi serikat buruh untuk berpartisipasi baik dalam proses pembahasan maupun pengambilan keputusan

  Pada tingkat nasional lembaga ini disebut Dewan Pengupahan Nasional (Depenas), untuk propinsi bernama Dewan Pengupahan Provinsi (Depeprov) dan untuk kabupaten/kota disebut Dewan Pengupahan Kabupaten/Dewan Pengupahan Kota (Depekab/Depeko). Yang nantinya lembaga inilah yang akan memberikan saran dan pertimbangan pada pemerintah mengenai kebijakan upah. Dewan Pengupahan Nasional bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam rangka perumusan kebijakan pengupahan dan

  

  pengembangan sistem pengupahan nasional .Dan untuk daerah, Dewan Pengupahan bertugas memberikan saran dan pertimbangan sesuai dengan ruang lingkup masing-masing.

  Penentuan upah minimum merupakan keputusan politik yang banyak dipengaruhi 8 oleh kekuatan lobby daripada kekuatan institusi. Ketika serikat buruh masih dibawah tekanan 9 Republik Indonesia, Keputusan Menteri No. 226, Tahun 2000.

  Republik Indonesia, Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 2004, BAB II, Pasal 4 sesuai dengan kebutuhan hidup buruh. Namun, seiring dengan perubahan yang terjadi, muncul harapan yang memungkinkan buruh dapat memanfaatkan kesempatan yang ada secara optimal dalam upaya perbaikan kondisinya

  Penentuan Upah Minimum merupakan proses pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Dimana pada prinsipnya setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah harus berorientasi pada pencapaian kesejahteraan masyarakat banyak. Sehingga dalam perumusan kebijakan publik dibutuhkan adanya proses yang akomodatif dengan kepentingan semua pihak dalam rangka pencarian alternatif rumusan kebijakan yang dapat diterima semua pihak untuk pencapaian kesejahteraan bersama. Maka dalam hal ini tentunya akan ada interaksi antara aktor-aktor kepentingan. Dimana masing-masing kepentingan akan saling berebut pengaruh agar kebijakan yang dikeluarkan nantinya berpihak pada kepentingan yang dibawanya.

  Dengan sedikit deskripsi diawal maka penulis merasa tertarik dan tertantang untuk mengangkat skripsi ini yang berjudul “ Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam

  Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah”

I.2 Perumusan Masalah

10 Arikunto Menyatakan bahwa dalam suatu penelitian, agar dapat dilaksanakan

  dengan sebaik-baiknya maka peneliti haruslah merumuskan masalah dengan jelas, sehingga akan jelas darimana harus mulai, kemana harus pergi dan dengan apa. Perumusan masalah juga diperlukan untuk mempermudah menginterpretasikan data dan fakta yang diperlukan dalam suatu penelitian.

10 Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: suatu pendekatan paraktek,edisi 3 (Jakarta: Rineka cipta, 1996), h.

  19 menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah BagaimanaPeranan Dewan

  PengupahanDaerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum ? I. 3 Tujuan Penelitian

  Hadi menyatakan setiap penelitian tentu memiliki sasaran yang hendak dicapai atau target yang ingin diraih

  

  1. Secara Subyektif. Sebagai suatu sarana untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah, sistematis dan metodologis penulis dalam menyusun berbagai kajian literatur untuk menjadikan satu wacana baru dalam memperkaya khazanah kognitif.

  . Satu riset khusus dalam ilmu pengetahuan yang empiris pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

  Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui BagaimanaPeranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum tersebut dijalankan?

I. 4. Manfaat Penelitian

  Adapun manfaat yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

  2. Secara Strategis. Memberikan data dan informasi yang berguna bagi semua kalangan terutama yang secara serius mengamati dan mengawal proses kebijakan upah minimum.

  3. Secara Akademis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara langsung atau tidak bagi kepustakaan jurusan ilmu administrasi negara dan bagi 11 HadiSutrisno,Metodologi Research(jilid 2,.Yogyakarta, Penerbit ANDI Offset, 1989) h. 3 formulasi kebijakan khususnya mengenai penetapan upah minimum.

  4. Secara Prinsipil. Memberi motivasi kepada mahasiswa atau pihak tertentu untuk meneliti hal yang sama sebagai kajian terhadap proses formulasi kebijakan upah minimum.

I. 5. Kerangka Teori

  Sebagai titik tolak atau landasan berpikir dalam menyoroti atau memecahkan masalah perlu adanya pedoman teoritis yang dapat membantu.Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana maslah tersebut disoroti.

12 Menurut Arikunto kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti

  memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variable pokok, sub variable atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya.

I. 5. 1 Peranan

  Peranan merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status).Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan

  

  perannya Sehingga peranan dapat dipandang sebagai landasan persepsi yang digunakan setiap orang yang berinteraksi dalam suatu kelompok atau organisasi untuk melakukan suatu kegiatan mengenai tugas dan kewajibannya.

  Selain itu peranan dapat pula dipandang sebagai fungsi dan wewenang yang dimilki oleh orang atau lembaga yang lahir karena kedudukannya.Peranan meliputi hak dan 12 kewajiban yang muncul serta merta karena kedudukan dan tanggungjawabnya.Menurut 13 Arikunto, Op. Cit., h. 75 Soerjono Soekamto, Sosiologi Sebagai Pengantar (Jakarta, PT Raja Garfindo Pusat, 1990) h. 268

  

  yang terutama dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa .Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa peranan merupakan fungsi dan wewenang yang berpengaruh terhadap suatu peristiwa.

  I. 5. 2. Dewan Pengupahan Daerah (Depeda)

  Pada tingkat nasional lembaga ini disebut Dewan Pengupahan Nasional (Depenas), untuk propinsi bernama Dewan Pengupahan Provinsi (Depeprov) dan untuk kabupaten/kota disebut Dewan Pengupahan Kabupaten/Dewan Pengupahan Kota (Depekab/Depeko). Yang nantinya lembaga inilah yang akan memberikan saran dan pertimbangan pada pemerintah mengenai kebijakan upah. Dewan Pengupahan Nasional bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam rangka perumusan kebijakan pengupahan dan

  

  pengembangan sistem pengupahan nasional .Dan untuk daerah, Dewan Pengupahan bertugas memberikan saran dan pertimbangan sesuai dengan ruang lingkup masing-masing.

  Adapun keanggotaan pada Dewan Pengupahan Daerah (DEPEDA) terdiri dari unsur tripartit plus dengan komposisi 2:1:1 ditambah pakar dari perguruan tinggi.

  I. 5. 3. Formulasi Kebijakan Formulasi kebijakan adalah turunan dari formula dan berarti untuk pengembangan

  rencana, metode, resep, dalam hal ini untuk meringankan suatu kebutuhan, untuk tindakan

  

  Woll berpendapat bahwa formulasi kebijakan berarti pengembangan sebuah mekanisme untuk menyelesaikan masalah public, dimana pada tahap para analis kebijakan public mulai menerapakan beberapa teknik untuk menjustifikasi bahwa sebuah pilihan

  14 15 W.J.S. Purwadarminta, KBI (Jakarta, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Balai Pustaka, 1978) h. 755 16 Republik Indonesia, Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 2004, BAB II, Pasal 4 Charles O Jones, Pengantar Kebijakan Publik (Public policy), ( Jakarta, PT. Raja Grafindo, 1996) h. 137

  

  pilihan kebijakan pada tahap ini dapat menggunakan analisis biaya manfaat dan analisis keputusan, dimana keputusan yang harus diambil pada posisi tidak menentu dengan informasi serba terbatas.

  Mengenai apa yang dilakukan dalam perumusan kebijakan ini, Budiwinarnomenyatakan bahwa masalah yang telah masuk kedalam agenda kebijakan

  

  kemudian akan dibahas oleh para pembuat kebijakan . Masalah-masalah tadi didefenisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik.Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif yang ada.Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk kedalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk pemecahan masalah. Pada tahap ini masing-masing aktor akan bermain untuk mengusulkan pemecahan masalah terbaik.

  Model-Model Formulasi Kebijakan Di lingkuangan para pembelajar perumus kebijakan publik terdapat sejumlah model.

  Thomas R. Dyemerumuskan model-model secara lengkap dalam Sembilan model formulasi

  

  kebijakan yaitu :

1. Model Kelembagaan

  Formulasi kebijakan model kelembagaan secara sederhana bermakna bahwa tugas membuat kebijakan publik adalah pemerintah. Jadi apapun yang dibuat pemerintah dengan cara apapun adalah kebijakan publik. Model ini mendasar kepada fungsi- fungsi kelembagaan pemerintah, di setiap sektor dan tingkat di dalam formulasi

   17 kebijakan . Dye menyebutkan ada tiga hal yang membenarkan pendekatan ini yaitu Nogi dkk, Kebijakan Publik Yang Membumi, konsep, Strategi dan kasus, (Yayasan Pembaharuan 18 Administrasi Publik Indonesia dan Lukman Offset) h. 8 19 Budi Winarno, Teori Dan Proses Kebijakan Publik, (MED Press, 2002) h. 29 Dian Nugroho, Kebijakan Publik, Formulasi, Implementasi dan Evaluasi, (Jakarta, PT. Elex Media 20 komputindo, 2003) h. 108.

  Ibid, universal dan memang pemerintah memonopoli fungsi pemaksaan (koersi) dalam

   kehidupan bersama .

2. Model Proses

  Didalam model ini para pengikutnya menerima asumsi bahwa politik merupakan suatu aktifitas sehingga mempunyai proses. Untuk itu, kebijakan publik merupakan juga proses politik yang menyertakan rangkaian kegiatan :

  Tahapan Aktifitas Identifikasi Masalah Mengemukakan tuntunan agar pemerintah mengambil tindakan Menata agenda formulasi kebijakan Memutuskan isu apa yang dipilih dan permasalahan apa yang hendak dikemukakan Perumusan proposal kebijakan Mengembangkan proposal kebijakan untuk menangani masalah tersebut

Legitimasi Kebijakan Memilih satu buah proposal yang dinilai terbaik

untuk kemudian dicari dukungan politik agar dapat diterima sebuah hokum

Implementasi Kebijakan Mengorganisir birokrasi, menyediakan pelayanan

dan pembayaran, dan pengumpulan pajak

Evaluasi Kebijakan Melakukan studi program, melaporkan out put

nya, mengevaluasi pengaruh (impact) dan kelompok sasaran dan non-sasaran dan memberikan rekomendasi penyempurnaan

kebijakan

21 Ibid,

  Model pengmbilan kebijakan teori kelompok mengandaikan kebijakan sebagai titik keseimbangan (equilibrium). Inti gagasannya adalah interaksi di dalam kelompok akan menghasilkan keseimbangan, dan keseimbangan adalah yang terbaik. Di sini individu di dalam kelompok-kelompok kepentingan berinteraksi secara formal maupun informal, secara langsung atau melalui media massa menyampaikan tuntutan kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan publik yang diperlukan.

  4. Model Teori Elit

  Model teori elit berkembang dari teori politik elit massa yang melandaskan diri pada asumsi bahwa didalam setiap masyarakat pasti terdapat dua kelompok, yaitu pemegang kekuasaan atau elit dan yang tidak memiliki kekuasaan atau massa. Teori ini mengembangkan diri pada kenyataan bahwa sedemokratis apapun, selalu ada bias dalam formulasi kebijakan, karena pada akhirnya kebijakan-kebijakan yang dilahirkan merupakan preferansi dari pada elit tidak lebih.

  5. Model Teori Rasionalisme

  Model ini mengedepankan gagasan bahwa kebijakan publik sebagai maximum social

  gain berarti pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang memberikan manfaat

  optimum bagi masyarakat.Model ini merupakan model yang paling banyak dicontoh didunia.Dengan asumsi bahwa model ini lebih menekankan pada aspek ekonomis dan efisiensi. Cara-cara formulasi kebijakan disusun dalam urutan :

  • Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya
  • Menemukan pilihan-pilihan
  • Menilai konsekunsi masing-masing pilihan
  • Menilai ratio nilai sosial yang dikorbankan
  • Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien

  6. Model Inkrementalis Model inkrementalis pada dasarnya merupakan kritik terhadap model rsional.

  Dikatakannya, para pembuat kebijakan tidak pernah melakukan proses seperti yang disyaratkan oleh pendekatan rasional karena mereka tidak memiliki cukup waktu, intelektual, maupun biaya, ada kekhawatiran muncul dampak yang tidak diinginkan akibat kebijakan yang belum pernah dibuat sebelumnya, adanya hasil-hasil dari kebijakan sebelumnya yang harus dipertahankan, dan menghindari konflik.

  7. Model Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning)

  Model ini merupakan upaya menggabungkan antara model rasional dengan model inkremental. Model ini memperkenalkan suatu pendekatan terhadap formulasi keputusan-keputusan pokok inkremental, menetapkan proses formulasi kebijakan pokok dan urusan tinggi yang menentukan ptunjuk dasar, proses-proses yang mempersiapkan keputusan-keputusan pokok, dan menjalankan setelah keputusan itu tercapai. Model ini ibaratnya pendekatan dua kamera: wide angle untuk melihat keseluruhan dan zoom untuk melihat detailnya.

  8. Model Demokratis

  Merupakan model baru yang dikembangkan yang berasumsi bahwa dalam perumusan kebijakan itu harus sebanyak mungkin mengelaborasi suara dari stakeholders.Dikatakan sebagai model demokratis karena menghendaki agar setiap “pemilih hak demokrasi” diikutkan serta sebanyak-banyaknya.

  9. Model Strategis

  Intinya adalah pendekatan ini menggunakan rumusan tuntutan perumusan strategi sebagai basis perumusan kebijakan.Bryson merumuskan makna perencanaan strategis itu yakni upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting

  

  dan mengapa organisasi (entitas lainnya) mengerjakan hal seperti itu . Perencanaan strategis mensyaratkan pengumpulan informasi secara luas, eksplorasi alternatif, dan menekankan implikasi masa depan dengan keputusan sekarang. Dari berbagai model dalam perumusan kebijakan penulis melihat kecenderungan bahwa pendekatan model Rasionalisme lebih tepat untuk melihat proses formulasi kebijakan

  

  upah minimum. Mengenai model proses ini berikut dikutip pendapat Anderson

  ”Public policy may be viewed as the response of political system to demands arising

from its environment. The political system, as defined by Easton, is composed of those

indefinitable and interrelated institutions and activities in a society that make authoritive

decision (or allocations of values) that are binding on society.

  Terjemahan bebasnya bermakna sebagai berikut: Kebijakan publik dapat dilihat sebagai jawaban sistem politik atas tuntutan-tuntutan dari lingkungan. Sistem politik sebagaiman didefenisikan Easton terdiri atas lembaga-lembaga yang tidak dapat berdiri sendiri dan aktivitasnya saling ketergantungan di dalam masyarakat yang membentuk otoritas kebijakan (atau alokasi-alokas nilai) yang mengikat masyarakat.

24 Kemudian Anderson menjelaskan :

  Input into political system from the environment consist of demands and supports. The Environment consists of all those conditions and events external to the bounderies of the political system. Demands are the claim made by individuals and groups on the political system for action to satisfy their interest. Support is rendered when groups and individuals abide by elections results, pay taxes, obey laws, and otherwise accept the decisions and actions of the authorative political system made response to 22 demands 23 Ibid., h. 127 24 James E. Anderson, Public policy Making (III, Hongkong, University of Hongkong, 1979 ) h. 13 Ibid, hal 14

  Input dari lingkungan terjadap sistem politik terdiri atas tuntutan dan dukungan. Lingkungan terdiri atas seluruh peristiwa-peristiwa dari luar sistem yang memasuki batas dan sistem politik.Tuntutan adalah keluhan yang diungkapkan oleh individu-individu atau kelompok terhadap sistem politik untuk memberikan keuntungan bagi mereka.Dukungan terjadi ketika kelompok-kelompok atau individu-individu yang diabaikan hasil pemilihan, membayar pajak, mematuhi peraturan dan namun demikian menerima keputusan dan tindakan dari otoritas sistem politik yang dilakukan untuk menjawab tuntutan-tuntutan.

  These authoritive allocations of values constitute publik policy. The concept of feed back indicates that publik policy (out put) may subsequently alter the environment and demands generated therein, as well as the character of political system itself. Policy outputs may produce new demands, which lead to further policy outputs, and

   so on in a continuing, never ending flow of public policy .

  Terjemahan bebasnya bermakna : Otoritas-otoritas pengalokasian nilai-nilai merupakan kebijakan publik.Konsep dari umpan balik mengindikasikan bahwa kebijakan publik (out put/hasil) mungkin pada akhirnya mengatasi lingkungan politik dan tuntutan-tuntutan yang berada didalamnya seperti karakter sistem politik itu sendiri.Buah kebijakan mungkin saja membentuk tuntutan baru, demikian juga dengan hasilnya (out put) dan demikianlah seterusnya berlangsung secara kontiniu, arus kebijakan publik yang tak berujung.

I. 5. 4. Upah minimum Pengertian Upah

  Upah adalah kata atau terminologi yang sangat populer di masyarakat kita secara 25 keseluruhan. Secara awam, upah dapat diartikan sebagai salah satu imbalan yang diterima

  ibid, hal 54 dalam pelaksanaan hubungan kerja, yang mempunyai peranan strategis dalam pelaksanaan hubungan industrial. Upah diterima pekerja atas imbalan jasa kerja yang dilakukannya bagi pihak lain. Sehingga upah pada dasarnya harus sebanding dengan kontribusi yang diberikan pekerja untuk memproduksi barang atau jasa tertentu. Kaitannya dengan bidang ketenagakerjaan, pengertian pengupahan adalah imbalan yang diterima pekerja atas jasa kerja yang diberikannya dalam proses memproduksi barang atau jasa di perusahaan. Dengan demikian, maka pengusaha dan pekerja adalah 2 pihak yang paling berkepentingan dengan hal-hal yang berkaitan dengan pengupahan.

  Pekerja berikut keluarganya, mempunyai ketergantungan terhadap besarnya nilai upah yang diterima dalam rangka membiayai pemenuhan kebutuhannya sehari-hari, mulai dari kebutuhan pangan, sandang, pangan dan beragam kebutuhan lainnya. Itulah sebabnya, pekerja atau serikat pekerja senantiasa mengharapkan bahkan sering menuntut kenaikan upah kepada pihak pengusaha. Demikian sebaliknya, pihak pengusaha juga mempunyai kepentingan yang besar dengan upah karena upah merupakan komponen penting pengeluaran biaya perusahaan. Tidak jarang pengusaha mempunyai anggapan bahwa upah hanya merupakan biaya semata, sehingga mengakibatkan kehati-hatian yang berlebihan dalam mengalokasikan anggaran untuk upah.

  Selain kedua pihak tersebut di atasyakni pemberi upah dan penerima upah, pihak lain yang sangat terkait adalah pemerintah sebagai institusi yang mewakili negara dan masyarakat dalam menjaga dan memelihara kondisi kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang sehat. Pemerintah mempunyai kepentingan untuk menetapkan kebijakan pengupahan guna menjamin kelangsungan kehidupan yang layak bagi pekerja dan keluarganya dan meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menjamin peningkatan produktivitas kerja. Di samping itu, pemerintah juga mempunyai kepentingan untuk menjamin ketersediaan produksi kesempatan kerja.

  Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, upah adalah hak pekerja/ buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh, yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan

   jasa yang telah atau akan dilakukan .

  Defenisi upah yang ditetapkan oleh DPPN tahun 1970 adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada penerima kerja untuk suatu pekerjaan atas jasa yang dilakukan, berfungsi sebagai jaminan kelangsungan hidup yang layak bagi kemanusiaan dan produksi dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang, yang ditetapkan menurut suatu persetujuan undang-undang dan peraturan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pemberi kerja dengan penerima kerja.

  Komponen upah

  Penghasilan pekerja /buruh yang didapat dari pengusaha ada yang berupa upah dan bukan upah.Menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja R.I. No.SE-07/MEN/1990, penghasilan tersebut terdiri dari upah dan non upah.

  a. Upah pokok yaitu imbalan dasar yang dibayarkan kepada pekerja/buruh menurut tingkat atau jenis pekerjaan yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan.

  b. Tunjangan tetap yaitu suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjaan yang diberikan secara bertahap untuk pekerja/buruh dan keluarganya serta dibayarkan 26 dalam satuan waktu yang sama dengan pembayaran upah pokok seperti tunjangan 27 Republik Indonesia, Undang-undang No. 13 Tahun 2003, Pasal 1 ayat 3 Maimun, S.H. S. Pd, Hukum Ketenaga Kerjaan Suatu Pengantar, (cet. II, Jakarta, PT. Padnya Paramita,

  2007) h. 48 pembayarannya dilaukuakan secara teratur dan tidak dikaitkan dengan kehadiran pekerja atau suatu pencapaian suatu prestasi kerja tertentu.

  c. Tunjangan tidak tetap yaitu suatu pembayaran yang secra langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan pekerja/buruh dan keluarganya diberikan serta dibayarkan menurut satuan waktu yang tidak sama dengan waktu pembayaran upah pokok seperti tunjangan transport atau tunjangan makan apabila diberikan berdasarkan kehadiran pekerja/buruh

  a. Fasilitas yaitu kenikmatan dalam bentuk nyata yan diberikan perusahaan oleh karena hal-hal khusus atau untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh seperti fasilitas kendaraan, pemberian makan secara Cuma-Cuma, sarana ibadah, tempat penitipna bayi, koperasi, kantin dan lain-lain.

  b. Bonus yaitu pembayarean yang diterima pekerja dari hasil keuntungan perusahaan atau karena pekerja menghasilkan hasil kera lebih besar dari target produksi yang normal atau karena peningkatan produktivitas, besarnya pembagian bonus diatur berdasarkan kesepakatan.

  c. Tunjangan Hari Raya ( THR ), gartifikasi dan pembagian keuntungan lainnya.

  Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupaan yang layak bagi kemanusiaan, oleh karena itu pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindung pekerja/buruh yang meliputi:

  a. Upah minimum

  b. Upah kerja lembur 28

  c. Upah tidak masuk kerja Karena berhalangan

  Ibid., h. 48 e. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya

  f. Bentuk dan cara pembayaran upah

  Pengertian Upah minimum

  Jaminan hukum atas upah yang layak tercantum dalam UUD 1945 pasal 28D dan

  pasal 27 ayat 2 menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan upah dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Juga UU No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, di mana dalam pasal 88 menyebutkan bahwa setiap buruh berhak memperoleh penghasilan yang layak bagi kemanusiaan dan untuk mewujudkannya pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan

  

  yang melindungi buruh . diantaranya yaitu upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup layak (KHL), upah lembur, struktur dan skala upah yang proporsional, dan upah untuk pembayaran pesangon.

  Dalam hubungan industrial, kedudukan upah minimum merupakan persoalan prinsipil.Upah minimum harus dilihat sebagai bagian sistem pengupahan secara menyeluruh.Menurut ILO dalam Report of the Meeting of Experts of 1967, Upah minimum didefinisikan sebagai upah yang memperhitungkan kecukupan pemenuhan kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan hiburan bagi pekerja serta keluarganya sesuai dengan perkembangan ekonomi dan budaya tiap negara. Pengertian upah minimum menurut Permenaker Nomor Per-01/MEN/1992 tentang upah minimum pada pasal 1 ayat 1 yang menyatakan: upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap.

30 Menurut Soedarjadi , upah minimum adalah ketetapan yang dikeluarkan oleh

  pemerintah mengenai keharusan perusahaan untuk membayar upah sekurang-kurangnya sama

  29 30 Republik Indonesia, Undang-undang No. 13 Tahun 2003, Pasal 88

Soedarjadi, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan, Edisi Revisi (cet-V; Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2008) h. 75 tingkatannya.

  Pada prinsipnya, sistem penetapan upah minimum dilakukan untuk mengurangi eksploitasi atas buruh.Ini sesungguhnya berisi kewajiban pemerintah memproteksi buruh.Intervensi dan peran pemerintah dalam hubungan industrial adalah bentuk penguatan terhadap posisi tawar yang memang tidak seimbang antara buruh ketika berhadapan dengan pengusaha.Dengan kata lain, bahwa upah minimum dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen kebijakan pemerintah untuk melindungi kelompok pekerja lapisan paling bawah di setiap perusahaan agar memperoleh upah serendah-rendahnya sesuai dengan nilai atau harga kebutuhan hidup minimum.

  Pihak-pihak terkait dalam penetapan upah minimum

  a. Kepala daerah Kepala daerah menetapakan upah minimum dengan memperhatikan rekomendasi dari dewan pengupahan dan berdasarkan usulan komisi penelitian pengupahan dan jaminan sosial dewan ketenagakerjaan daerah.

  b. Dewan pengupahan Dewan pengupahan adalah lembaga nonstruktural yang bertugas untuk memberikan rekomendasi kepada kepala daerah dalam menetapkan upah minimum. Dewan pengupahanberkedudukan di tingkat nasioanal, provinsi, kabupaten/kota. Untuk kabupaten/kota disebut dengan dewan pengupahan kabupaten/kota yang diangkat dan diberhentikan oleh bupati/walikota. Anggota dewan pengupahan berasal dari unsur pemerintah, buruh, dan pengusaha dengan komposisi 2:1:1, dimana suara pemerintah menjadi mayoritas. Untuk tingkat kabupaten/kota dewan pengupahan mempunyai tugas untuk melakukan survei KHL setiap bulannya. Hasil surveiini akan dijadikan acuan untuk menentukan besaran UMK/UMP dari masing-masing wilayah.

  Untuk UMSProp dan UMSKab, komisi penelitian dan jaminan sosial dewan ketenagakerjaan daerah, mengadakan penelitian serta menghimpun data dan informasi mengenai: homogenitas perusahaan, jumlah perusahaan, jumlah tenaga kerja, devisa yang dihasilkan, kemampuan perusahaan, asosiasi perusahaan, dan serikat buruh terkait.

  Tujuan kebijakan upah minimum

  Penetapan kebijakan upah minimum adalah sebagai jaring pengaman (sosial safety

  

net) dimaksudkan agar upah tidak terus merosot sebagai akibat dari ketidakseimbangan pasar

  kerja (disequilibrium labour market). Juga untuk menjaga agar tingkat upah pekerja pada level bawah tidak jatuh ke tingkat yang sangat rendah karena rendahnya posisi tawar tenaga kerja di pasar kerja. Agar pekerja pada level bawah tersebut masih dapat hidup wajar dan terpenuhi kebutuhan gizinya, maka dalam penetapan upah minimum mempertimbangkan standar kehidupan pekerja.

  Kebijakan penetapan upah minimum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 diarahkan untuk mencapai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) selain memberi jaminan pekerja/buruh penerima upah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Program pencapaian upah minimum terhadap Kebutuhan Hidup Layak (KHL) menunjukan perbaikan nyata. Hal ini dimaksudkan bahwa pemenuhan kebutuhan hidup akan dicapai secara bertahap.

  Di lain pihak upah minimum juga diharapkan harus dapat mendorong kemajuan usaha dan daya saing sehingga menaikkan tingkat produktivitas. Di sisi lain dalam penetapan upah minimum juga perlu mempertimbangkan kemampuan membayar upah dari usaha-usaha mikro dan kecil yang paling tidak mampu (marginal) untuk tetap hidup yang nantinya usaha- usaha tersebut diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dalam upaya mengurangi pengangguran dan penciptaan lapangan kerja baru. upah, dengan tujuan :

  1. Menghindari atau mengurangi persaingan yang tidak sehat sesama pekerja dalam kondisi pasar kerja yang surplus, yang menyebabkan pekerja menerima upah di bawah tingkat kelayakan.

  2. Menghindari atau mengurangi kemungkinan eksploitasi pekerja yang memanfaatkan kondisi pasar untuk akumulasi keuntungannya.

  3. Sebagai jaring pengaman untuk menjaga tingkat upah

  4. Menghindari terjadinya kemiskinan absolut pekerja melalui pemenuhan kebutuhan dasar pekerja.

  Upah minimum di Indonesia diperkenalkan tahun 1996, peran upah minimum semakin penting. Hingga tahun 2000, tingkat upah minimum ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja untuk tiap propinsi di Indonesia. Dengan diberlakukannya otonomi daerah, mulai tahun 2000 tanggung jawab menetapkan upah minimum terletak di pundak pemerintah propinsi dan pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu setiap daerah harus membentuk dewan pengupahan sebagai lembaga non struktural yang bertugas dalam perumusan upah minimum kota.

  Jenis-jenis upah minimum Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-01/MEN/1999 jo.

  Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor KEP-226/MEN/2000 jangkauan wilayah upah minimum meliputi: a. Upah minimum provinsi (UMP) adalah upah minimum yang berlaku untuk seluruh kabupaten/kota di satu provinsi. kabupaten/kota.

  c. Upah minimum sektoral provinsi (UMPProp) adalah upah minimumyang berlaku secara sektoral di seluruh kabupaten/kota da satu provinsi d. Upah minimum sektoral kabupaten/kota(UMSKab) adalah upah minimum yang berlaku secara sektoral di daerah kabupaten/kota.

  Menurut Hardijan Rusli upah minimum dapat terbagi atas

  

  a. Upah minimum berdasarkan wilayah propinsi atau kabupaten/kota. Besar upah yang untuk tiap wilayah propisi dan kabupaten/kota tidaklah sama tergantung dari nilai kebutuhan minimum di daerah yang bersangkutan. Setiap kabupaten/kota tidak boleh menetapkan upah minimum di bawah upah minimum propinsi yang bersangkutan.

  :

  b. Upah minimum berdasarkan sektor/subsektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota. Upah minimum sektoral ditetapkan berdasarkan kelompok usaha tertentu misalnya kelompok usaha manufaktur dan non faktur. Upah minimum sekotoral ini tidak boleh lebih rendah dari upah minimum di daerah yang bersangkutan.

  Mekanisme Perumusan Upah Minimum Provinsi

  Dalam perumusan Upah Minimum Provinsi (UMP) Pemeritah Daerah membentuk dewan pengupahan Provinsi yang beranggotakan dari wakil pemerintah, kantor/dinas, unit terkait, organisasi serikat pekerja, organisasi pengusaha, dan akademisi. Dewan pengupahan Provinsi berfungsi melakukan survei dan pendataan harga-harga bahan pokok di daerah sekitarnya, dalam komponen kelompok-kelompok kebutuhan hidup layak yang antara lain meliputi komponen sandang, pangan, perumahan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan tabungan. 31 Hardijan Rusli, Hukum Ketenagakerjaan (cet. I; Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004) h. 120 perusahaan mampu membayar kenaikan yang akan ditetapkan. Kebijakan diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan inflasi, dan faktor-faktor lain. Biasanya masing- masing perwakilan menghitung kenaikan berbeda-beda karena mereka melihat sudut pandang dan kepentingan yang berbeda.Organisasi serikat pekerja selalu minta lebih tinggi dari wakil pengusaha, sedangkan untuk wakil pemerintah berperan sebagai stabilisator.

  Hasil survei yang dilakukan oleh tim peneliti nantinya akan dibawa dalam forum musyawarah dewan pengupahan untuk dibahas dan disepakati besaran nilai KHL yang akan diajukan kepada kepala daerah nantinya, sebagai bentuk bahan pertimbangan dalam menetapkan UMP. Masing-msaing perwakilan pastinya mengahendaki hasil survei mereka yang disepakati ataupun yang paling mendekati untuk menjadi pertimbangan yang akan diajukan kepada kepala daerah.

  Upah minimum berlaku terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berjalan dan ditetapkan 60 hari sebelumnya (untuk UMP), dan 40 hari sebelumnya (untuk UMK).

  60 hari 40 hari UPAH MINIMUM

  • UMP UMK

  Untuk mencapai kesepakatan akan tingkat upah yang menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan upah minimum maka lembaga tripartit yang terdiri dari unsur pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah daerah harus melakukan rapat dan forum musyawarah yang membahas, mengkaji, dan menganalisis tingkat upah yang diusulkan oleh masing-masing lembaga. Upah minimum yang nantinya menjadi rekomendasi yang Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang menjadi dasar perumusan upah minimum.

  Dalam forum diskusi dan musyawarah yang dilakukan oleh lembaga tripartit tersebut tidak dapat dihindari terjadinya pertentangan dan perdebatan tentang tingkat upah yang menjadi usulan nantinya. Masing-masing lembaga akan mempertahankan pandanganya tentang tingkat upah yang mereka usulkan. hal ini karena masing-masing lembaga memiliki usulan upah yang berbeda sesuai dengan kepentingan yang mereka wakili. Inilah yang menjadi salah satu permasalahan dalam perumusan tingkat upah, oleh karena itu tidaklah mudah untuk mencapai kesepakatan akan tingkat upah minimum.

  Sebelum perumusan kebijakan pengupahan Terlebih dahulu lembaga tripartit tersebut melakukan survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di pasar-pasar tradisional. Dengan survei KHL ini maka dewan pengupahan dapat menyesuaikan tingkat harga kebutuhan buruh saat ini dengan usulan upah yang nantinya di rumuskan. KHL bukan satu-satunya faktor yang dipertimbangkan dalam penetapan upah minimum, masih ada 4 faktor lain, yaitu: produktivitas, pertumbuhan ekonomi, kemampuan usaha marginal dan kondisi pasar kerja.

  Namun keempat faktor tersebut masih bersifat kualitatif. KHL merupakan faktor yang bersifat kuantitatif, oleh karena itu dalam menetapkan nilai KHL yang akan dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penetapan upah minimum haruslah tepat dan akurat.

  Hasil survei KHL tersebut nantinya akan menjadi dasar perumusan tingkat upah oleh pemerintah daerah, serikat pekerja/serikat buruh dan juga dunia usaha. Ketiga lembaga tripartit tersebut mewakili kepentingan masing-masing.Sehingga mereka mengusulkan tingkat upah yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kepentingan yang melatar belakangi mereka.Hanya pemerintah lah yang menjadi penengah antara kedua kelompok kepentingan tersebut.Tidak lah mudah untuk mencapai kesepakatan dalam menentukan tingkat upah minimum tersebut, karena masing-masing pihak memiliki pandangan dan latar pandangan atau pun kepentingannya pasti ada. Setiap perbedaan dan perdebatan tentang tingkat upah yang diusulkan oleh masing-masing lembaga akan dirapatkan dan dimusyawarahkan.

  Hal yang menjadi perdebatan dalam forum atau rapat dewan pengupahan adalah usulan akan tingkat upah minimum yang akan disepakati nantinya. Serikat pekerja/serikat buruh akan mengusulkan tingkat upah yang tinggi dan diatas dari nilai KHL, namun sebaliknya tingkat upah yang diusulkan dunia usaha cenderung rendah dan dibawah nilai KHL. Dan pemerintah daerah sendiri sebagai penengah juga akan mengusulkan tingkat upah yang dinilai mampu menengahi kedua kepentingan dari serikat pekerja dan pengusaha.

  Perdebatan dan perbedaan usulan antara serikat pekerja dan pengusaha ini harus dibahas bersama dan di musyawarahkan demi mencapai kesepakatan.Jika musyawarah tidak menghasilkan kesepakatan maka dewan pengupahan melakukan voting tentang tingkat upah yang menjadi hasil kesepakatan bersama.Hasil kesepakatan rapat diputuskan dengan syarat 2/3 kuorum. Bagaimana pun juga kesepakatan akan tingkat upah yang nantinya menjadi dasar penetapan upah minimum haruslah diputuskan.

  Melalui rapat dewan pengupahan maka semua perbedaan hasil survei dibahas, dikaji, dihitung, dan dianalisa untuk mendapatkan besaran upah yang menjadi usulan bagi pertimbangan penetapan upah minimum yang nantinya diputuskan oleh kepala daerah.Meskipun ada perbedaan dari masing-masing lembaga dapat dimusyawarahkan atau mungkin tidak, maka jumlah nominal tetap diusulkan kepada kepala daerah. Oleh karena itu interaksi lembaga tripartit tersebut akan menentukan tercapai tidaknya kesepakatan akan tingkat upah yang menjadi usulan dewan pengupahan nantinya sebagai dasar pertimbangan dalam penetapan tingkat upah minimum oleh kepala daerah.

  Dalam tataran normatif, KHL merupakan standar kebutuhan yang harus dipenuhi seorang buruh lajang untuk dapat hidup layak, baik secara fisik maupun nonfisik dalam kurun waktu satu bulan.Setiap pekerja berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan diri secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.Upah minimum dipandang sebagai sumber penghasilan bersih (take home pay) sebagai jaring pengaman (Safety net) KHL.Sebab itu, upah minimum diharapkan dapat memenuhi kebutuhan seorang buruh terhadap pendidikan, kesehatan, transportasi, dan rekreasi.Bahkan, bila dimungkinkan dapat disisihkan untuk menabung.

  Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, dalam pasal 88 ayat (4) diamanatkan bahwa pemerintah menetapkan upah minimum berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Dalam pasal 89 juga dijelaskan bahwa Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dalam penetapan upah minimum dicapai secara bertahap.Sebagai tindak lanjut dari amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 seperti tersebut diatas, maka diterbitkanlah Permenakertrans Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak.

  Nilai kebutuhan hidup layak (KHL) diperoleh melalui survei harga yang dilakukan oleh tim tripartit ( untuk pemerintah diwakili oleh badan pusat statistic (BPS), perwakilan pengusaha dan perwakilan serikat buruh).

  Pokok-pokok pikiran yang mendasari perumusan komponen KHL adalah sebagai berikut :

  1. Perlunya keseimbangan gizi antara karbohidrat dan protein mengakomodir kebutuhan khusus pekerja wanita.

  3. Kondisi masyarakat Indonesia yang religius, sehingga perlu mengakomodir kebutuhan perlengkapan ibadah yang juga memerlukan biaya.

  4. Perlunya menambahkan beberapa jenis kebutuhan yang secara riil digunakan oleh masyarakat pada semua lapisan.

I. 6. Defenisi Konsep

32 Defenisi Konsep adalah istilah yang digunakan dalam menggambarkan secara

  abstrak mengenai kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi perhatian ilmu sosial.Tujuannya adalah untuk mendapatkan pembatasan yang jelas dari setiap konsep yang diteliti, maka berdasarkan pada judul yang dipilih oleh peneliti, maka yang menjadi konsep dalam penelitian ini adalah :

  1. Formulasi Kebijakan, yaitu dapat diartikan pengembangan sebuah mekanisme untuk menyelesaikan masalah publik, dimana pada tahap para analis kebijakan public mulai menerapakan beberapa teknik untuk menjustifikasi bahwa sebuah pilihan kebijakan merupakan pilihan yang terbaik dari kebijakan yang lain.

  2. Peranan, yaitu dapat diartikan merupakan fungsi dan wewenang yang berpengaruh terhadap suatu peristiwa

I. 7. Defenisi Operasional

33 Defenisi Operasional adalah suatu batasan yang diberikan pada suatu variabel

  dengan cara memberikan memberikan atau mempersiapkan, memberikan suatu petunjuk 32 operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel-variabel tertentu. 33 Masri Singarimbun, Metode Penelitian Survey, (Jakarta, LP3S, 1995) h. 37 Ibid., h. 47 mengukur suatu variabel. Konsep operasional merupakan uraian dari konsep yang sudah dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator sehingga akan lebih memudahkan operasionalisasi dari suatu penelitian. Defenisi operasional dari varibel adalah sebagai berikut :

  1. Formulasi Kebijakan, dengan Indikator :

  • Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya
  • Menemukan pilihan-pilihan kebijakan
  • Menilai konsekunsi masing-masing pilihan kebijakan
  • Menilai ratio nilai sosial yang dikorbankan
  • Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien

  2. Peranan Dewan Pengupahan Daerah, dengan indikator :

  • Tugas pokok dan Fungsi Dewan Pengupahan Daerah

  BAB I: Pendahuluan Bab ini berisikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, defenisi konsep, defenisi operasional, dan sistematika penulisan. BAB II: Metode Penelitian Bab ini berisikan bentuk penelitian, lokasi penelitian, Populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini. BAB III:Deskripsi Lokasi Penelitian Bab ini berisikan tentang gambaran atau karakteristik lokasi penelitian sebagai objek penelitian yang relevan dengan topic penelitian. BAB IV: Penyajian Data Bab ini berisikan hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan dan dokemnetasi yang

  akan dianalisis

  BAB V: Analisi Data Bab ini berisikan pembahasan atau interpretasi dari data-data yang disajikan dan diperoleh dari lokasi penelitian. BAB VI: Penutup Bab ini berisikan kesimpulan penelitian dan saran-saran dari hasil penelitian yang dilakukan serta untuk kemajuan objek penelitian dimasa akan datang.

  

Metode Penelitian

  II.1.Bentuk Penelitian

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,

  

  sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki . Telaah deskriptif merupakan sebuah teknik pengkajian yang dilakukan dengan cara menganalisis beberapa parameter yang

   dipandang sebagai determinan bagi sebuah topik .

  II. 2. Lokasi Penelitian

  Lokasi penelitian ini dilakukan di pemerintah Provinsi Sumatera Utara khususnya pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumatera Utara

  II. 3. Informan

  Untuk dapat memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai masalah yang sedang dibahas, maka dipergunakan teknik informan. Informan adalah seseorang yang benar-benar mengetahui suatu persoalan atau permasalahan tertentu yang darinya dapat diperoleh informasi yang jelas, akurat dan terpercaya baik berupa pernyataan, keterangan atau data-data yang dapat membantu dalam memahami persoalan atas permasalahan tersebut.

  Menurut Moleong informan adalah orang yang dapat memberikan keterangan atau informasi mengenai masalah yang sedang ditelitidan dapat berperan sebagai narasumber

   selama proses penelitian .

  Berdasarkan uraian diatas maka ditentukanlah informan untuk penelitian ini adalah :

  1. Unsur Depeda : 3 orang (serikat buruh 1 orang, pengusaha 1 orang, 34 pemerintah 1 orang) 35 Moh Nazir, Metode penelitian,cet-3,(Jakarta, Ghalia Indonesia, 1988) h. 63 36 Sarundajang,Arus balik kekuasaan pusat ke daerah,(Jakarta, Sinar Harapan, 1999) h. 3

Ida Bagus Mantra, Filsafat Penelitian Dan Metode Penelitian Sosial (Yogyakarta;Pustaka Belajar, 2004) h.

  86

  II. 4. Teknik Pengumpulan data

  Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengumpulan data primer dan sekunder,

  1. Pengumpulan data primer, yaitu data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung kelokasi penelitian (field research) untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti dan dilakukan melalui :

  • Wawancara, yaitu dilakukan untuk memperoleh data yang lengkap dan mendalam dari objek penelitian.

  2. Pengumpulan data sekunder

  • Penelitian kepustakaan yaitu buku, tulisan, dan karya ilmiah yang berhubungan
  • Studi dokumentasi yaitu catatan tertulis yang ada di lokasi penelitian

  II. 5. Teknik Analisa Data

  Data-data akan dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif yaitu, yaitu analisa terhadap data yang diperoleh berdasarkan kemampuan nalar peneliti dalam menghubungkan fakta, data dan informasi. Dimana data yang diperoleh akan dikumpulkan untuk kemudian diolah, disusun dan diperinci secara sistematis sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang menunjukkan hasil akhir penelitian ini.

  

Deskripsi Lokasi Penelitian

GAMBARAN UMUM PROVINSI SUMATERA UTARA

III. 1 Kondisi Geografis Daerah

  1. Luas Wilayah

  Provinsi Sumatera Utara terletak diantara 1 -4 Lintang Utara dan 98 -100 Bujur

  2 Timur. Luas wilayah Provinsi Sumatera Utara mencapai 71.680,68 km atau 3,72% dari luas Wilayah Republik Indonesia, dengan posisi geografis antara 1 -4 LU dan 98 - 100 BT.

  Provinsi Sumatera Utara memiliki 162 pulau, yaitu 6 pulau di Pantai Timur dan 156 pulau di Pantai Barat.

  Batas wilayah Provinsi Sumatera Utara meliputi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam di sebelah Utara, Provinsi Riau dan Sumatera Barat di sebelah Selatan, Samudera Hindia di sebelah Barat, serta Selat Malaka di sebelah Timur.Letak geografis Provinsi Sumatera Utara berada pada jalur strategis pelayaran Internasional Selat Malaka yang dekat dengan Singapura, Malaysia dan Thailand.

  2. Topografis

  Wilayah Sumatera Utara terdiri dari daerah pantai, dataran rendah dan dataran tinggi serta pegunungan Bukit Barisan yang membujur ditengah-tengah dari Utara ke Selatan.

  Kemiringan tanah antara 0 - 12 % seluas 65,51% seluas 8,64 % dan diatas 40 % seluas 24,28 %, sedangkan luas Wilayah Danau Toba 112.920 Ha atau 1,57 %.

  Berdasarkan Topografi Daerah Sumatera Utara dibagi atas 3 (tiga) bagian yaitu bagian Timur dengan keadaan relatif datar, bagian tengah bergelombang sampai berbukit dan bagian Barat merupakan dataran bergelombang.Wilayah Pantai Timur yang merupakan

  2

  dataran rendah seluas 24.921,99 Km atau 34,77 persen dari luas wilayah Sumatera Utara ini memiliki potensi ekonomi yang tinggi sehingga cenderung semakin padat karena arus migrasi dari wilayah Pantai Barat dan dataran tinggi.Banjir juga sering melanda wilayah tersebut akibat berkurangnya pelestarian hutan, erosi dan pendangkalan sungai.Pada musim kemarau terjadi pula kekurangan persediaan air disebabkan kondisi hutan yang kritis.

  2 Wilayah dataran tinggi dan wilayah Pantai Barat seluas 46.758,69 Km atau 65,23

  persen dari luas wilayah Sumatera Utara, yang sebagian besar merupakan pegunungan, memiliki variasi dalam tingkat kesuburan tanah, iklim, topografi dan kontur serta daerah yang struktur tanahnya labil. Beberapa danau, sungai, air terjun dan gunung berapi dijumpai di wilayah ini serta sebagian wilayahnya tercatat sebagai daerah gempa tektonik dan vulkanik.

  3. Iklim

  Iklim di Sumatera Utara termasuk iklim tropis yang dipengaruhi oleh angin Passat dan angin Muson.Kelembaban udara rata-rata 78%-91%, Curah hujan (800-4000) mm / Tahun dan penyinaran matahari 43%.

  4. Batas Administrasi

  Wilayah Sumatera Utara berada pada jalur perdagangan Internasional, dekatdengan dua Negara Asean, yaitu Malaysia dan Singapura serta diapit oleh 3(tiga) Provinsi, dengan batas sebagai berikut :

  Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam • Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka. • Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat. • Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia •

  5. Pembagian wilayah Administrasi Pemerintahan

  Seiring dengan laju perkembangan pemekaran wilayah Kabupaten / Kota di wilayah Sumatera Utara yang begitu pesat, sampai tahun 2008 jumlah kabupaten/kota di Provinsi Kabupaten dan 7 Kota, 383 Kecamatan, Desa Kelurahan 5736 dengan Ibukota Provinsinya di

  2 kota Medan dengan luas 265 Km dan jumlah penduduk 2.083.156 jiwa.

III. 2 Demografis

  Penduduk Sumatera Utara terdiri dari berbagai suku, yaitu Melayu, Batak, Nias, Aceh, Minangkabau, Jawa.Walaupun berbeda Agama dan adat istiadat, kehidupan bersama berlangsung rukun dan damai dengan Pancasila sebagai pedoman hidup.

  1. Jumlah Penduduk

  Pada tahun 2003, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara berjumlah11.890.399 jiwa, terdiri dari 5.942.682 laki-laki dan 5.947.717 perempuan, dengan kepadatan rata-rata 166 Jiwa/Km². Sekitar 56,75 % penduduk bertempat tinggal di pedesaan dan 43,25 % bertempat tinggal di daerah perkotaan.

  Pada tahun 2007, penduduk Provinsi Sumatera Utara bertambah jumlahnya menjadi 12.834.371 jiwa yang terdiri dari 6.405.076 jiwa penduduk laki-laki atau sebesar 49,91 persen dan 6.429.925 jiwa penduduk perempuan atau sebesar 50,09 persen, dengan kepadatan rata-rata 179 Jiwa/Km².

  2. Laju Pertumbuhan Penduduk

  Laju pertumbuhan Penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu Tahun 1990 – 2000 adalah 1,20 persen pertahun, dan pada Tahun 2000 – 2005 menjadi 1,35 persen pertahun.

  Laju pertumbuhan penduduk tertinggi antara Tahun 2000 – 2005 terdapat di Kabupaten Tapanuli Tengah sebesar 2,96 persen pertahun, hal ini kemungkinan karena letak Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai daerah transit bagi Kabupaten di sekitarnya seperti Kabupaten Nias dan Tapanuli Selatan. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk terendah ada di Kabupaten Toba Samosir, yang tercatat sebesar negatif 0,96 persen pertahun. Berdasarkan struktur usia keseluruhan terdiri dari 33,68 persen berusia dibawah 15 Tahun; 42,06 persen wanita usia

3. Struktur Usia

  Berdasarkan struktur usia, secara keseluruhan penduduk Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 33,68 persen berusia dibawah 15 Tahun; 42,06 persen wanita usia subur dan 18,17 persen usia diatas 45 Tahun (termasuk 3,3 persen diatas 64 Tahun). Penduduk Provinsi Sumatera Utara dilihat dari segi usia dapat dilihat pada tabel.2.2 berikut ini :

  

Jumlah Penduduk Provinsi Sumatera Utara Menurut Kelompok Umur

Tahun 2007

  Golongan Umur Jumlah Penduduk Laki-laki + Perempuan

  Laki-laki Perempuan

  1

  2

  3

  4

  0-4 655.094 642.106 1.297.200 5-9 756.662 744.906 1.501.568

  10-14 773.885 750.080 1.523.965 15-19 727.634 663.641 1.391.274 20-24 557.516 590.393 1.147.908 25-29 506.509 525.670 1.032.178 30-34 443.754 475.676 919.430 35-39 429.123 448.807 877.931 40-44 385.465 424.920 810.386 45-49 374.820 344.151 718.972 50-54 285.824 290.082 575.906 55-59 178.983 165.177 344.160 60-64 128.545 135.080 263.625

  • 65 201.262 228.607 429.869

  Total 6.405.076 6.429.295 12.834.371 Distribusi penduduk Provinsi Sumatera Utara relatif tidak merata, dengan penyebaran berdasarkan wilayah pembangunan sebagai berikut : a) Wilayah Pantai Timur dengan luasnya 24.921,99 Km² (34,77 %). Pada Tahun 2003,

  Jumlah Penduduk 7.378.654 Jiwa (62,06 %), kepadatan ± 296 Jiwa/Km². Pada Tahun 2007, Jumlah Penduduk 8.020.815 Jiwa (62,49 %), kepadatan ± 322 Jiwa/Km².

  b) Wilayah Dataran Tinggi luasnya 20.569,62 Km² (28,70%). Pada Tahun 2003, Jumlah Penduduk 2.321.900 Jiwa (19,53 %), kepadatan ± 113 Jiwa/Km². Pada Tahun 2007, Jumlah Penduduk 2.459.901 Jiwa (19,17 %), kepadatan ± 120 Jiwa/Km².

  c) Wilayah Pantai Barat dengan luas 26.189,07 Km² (36,54%). Pada Tahun 2003, Jumlah Penduduk 2.189.845 Jiwa (18,42 %), kepadatan ± 84 Jiwa/Km². Pada Tahun 2007, Jumlah Penduduk 2.353.655 Jiwa (18,34 %), kepadatan ± 90 Jiwa/Km².

5. Distribusi Penduduk Berdasarkan Suku dan Agama

  Provinsi Sumatera Utara memiliki 7 etnis serta 5 etnis pendatang yang tersebar pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Adapun distribusi penduduk berdasarkan suku bangsa dan agama di daerah Sumatera Utara adalah sebagai berikut : a) Suku Bangsa

  Jumlah dan persentase menurut suku/etnis asli daerah Sumatera Utara sebanyak 7 (tujuh) suku/etnis yaitu meliputi :

  Melayu sebanyak 674.122 orang atau 5,86 % - Karo sebanyak 585.173 orang atau 5,09 % - Simalungun sebanyak 234.515 orang atau 2,04 % - Tapanuli/Toba sebanyak 2.948.264 orang atau 25,62 % - Mandailing sebanyak 1.296.518 orang atau 11,27 % - Pakpak sebanyak 83.866 orang atau 0,73 % - b) Sedangkan suku/etnis pendatang meliputi :

  • Jawa sebanyak 3.843.602 orang atau 33,40 %
  • Minang sebanyak 306.550 orang atau 2,66 %
  • Cina sebanyak 311.779 orang atau 2,71 %
  • Aceh sebanyak 111.686 orang atau 0,97 %
  • Lainnya (warga negara asing) sebanyak 379.113 orang atau 3,29 %

  c) Agama Jumlah dan persentase menurut agama di daerah Sumatera Utara yang dianut yaitu meliputi :

  • Islam sebanyak 7.530.839 jiwa atau 65,45 %
  • Khatolik sebanyak 550.456 jiwa atau 4,78 %
  • Protestan sebanyak 3.062.965 jiwa atau 26,62 %
  • Hindu sebanyak 21.329 jiwa atau 0,19 %
  • Budha sebanyak 324.864 jiwa atau 2,82 %
  • Lainnya sebanyak 16.355 jiwa atau 0,14 %

III. 3 Potensi Unggulan Daerah

  Potensi sumber daya alam Sumatera Utara cukup berlimpah, diantaranya tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, perikanan dan pariwisata. Potensi Pertanian Provinsi Sumatera Utara diantaranya adalah sayuran, jeruk dan buah-buahan yang sebagian besar telah dipasarkan dengan baik dan sudah di ekspor keluar negeri maupun provinsi lain. Luas areal perkebunan adalah 1.634.772 ha atau 22,73% dari luas Sumatera Utara dengan produksi sebesar ± 3.738.516 ton untuk 23 komoditi diantaranya sawit, karet, kopi, kakao, tembakau dan kelapa.

  Rata-rata pertambahan luas lahan perkebunan 0,72 % pertahun dan pertumbuhan

  276.030 ton pertahun dan sudah dimanfaatkan sekitar 90,75 %, sedangkan potensi Samudera Hindia atau Pantai Barat sebesar 1.076.960 ton per Tahun dan baru dimanfaatkan 8,79 %.

  Potensi Pantai Barat ini perlu dikembangkan mengingat tingkat pemanfaatannya masih rendah.

  Sumatera Utara juga merupakan salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) mempunyai 399 objek wisata yang tersebar di seluruh daerah.Dari 120 objek wisata yang dipasarkan meliputi potensi alam, seperti Danau Toba, Wisata Bahari terutama di Nias, Agro Wisata, Seni dan Budaya etnis yang masing-masing mempunyai nilai sendiri-sendiri.

  Komoditi Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara, seperti jagung, kentang, kopi, ikan mas, sapi, bawang merah dan sebagainya, juga berpotensi untuk dikembangkan.

  Pengembangan Kawasan Agromarinepolitan Wilayah Pesisir, Pulau-pulau kecil dan Pulau terluar, dengan luas laut Sumatera Utara 110.000 km², panjang pantai 1.300 km (Pantai Timur 545 km dan Pantai Barat 375 km serta Pulau Nias 380 km), Jumlah Pulau sebanyak 419 buah (bernama 237 buah dan tidak bernama 182 buah) sangat berpotensi untuk dikembangkan. Hal ini seiring dengan bertambahnya penduduk Indonesia dan dunia sehingga akan meningkatkan permintaan terhadap kelautan dan perikanan, ditambah dengan menurunnya kemampuan produksi perikanan tangkap dunia.

  Potensi Sumber Daya Ikan (SDI) di kawasan Pantai Barat mencapai 1.076.960 ton/Tahun dengan potensi jenis ikan unggulan di laut pesisir seperti Tuna, Tongkol, Cakalang, Kerapu, Kakap, Kembung, Tenggiri, Teri dan Ikan Hias (tingkat pemanfaatan baru sekitar 8,79%).Potensi SDI di Kawasan Pantai Timur mencapai276.030 ton/Tahun dengan potensi jenis ikan unggulan di laut pesisir seperti, Tuna, Tongkol, Cakalang, Kerapu, Kakap, Potensi Kepariwisataan Bahari, banyak memiliki pantai yang indah seperti, Pantai Lagundri, Sorake, Pulau Pandan dan lain-lain yang amat diminati oleh wisata Mancanegara untuk berselancar, diving dan lain-lain.

  Potensi Bahan Tambang dan Galian yang cukup besar seperti Energi Panas Bumi, Timah Putih, Pasir Kuarsa, Kaolin dan Bauksit.Disamping itu, letak geografis Sumatera utara merupakan Kawasan Jalur Perdagangan Internasional sebab dekat dengan Selat Malaka (Malaysia) dan Singapura.

III. 4 Kondisi Ketenagakerjaan Di Sumatera Utara

  Adapun gambaran secara singkat kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Utara adalah sebagai berikut

  

  1. Jumlah angkatan kerja di Provinsi Sumatera Utara dalam kurun waktu satu tahun bertambah sebanyak 541.825 orang. Pada Agustus 2007, jumlah angkatan kerja di daerah ini sebanyak 8.378.148 orang, dan pada Agustus 2008 naik menjadi 8.919.973 orang.

  :

  2. Jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi Sumatera Utara pada Agustus 2008 sebanyak 5.540.263 orang, dan pada Agustus 2007 sebanyak 5.082.797 orang. Dengan demikian, selama kurun waktu satu tahun, jumlah penduduk yang bekerja bertambah sebanyak 457.466 orang.

  3. Jumlah pengangguran berkurang sebanyak 16.795 orang dalam kurun waktu satu tahun.

  Pada Agustus 2007, jumlah pengangguran di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 571.334 orang, dan pada Agustus 2008 turun menjadi 554.539 orang.

  4. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Sumatera Utara turun dari 10,10 persen pada Agustus 2007 menjadi 9,10 persen pada Agustus 2008.

  1. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Angka Pengangguran 37 Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Sumatera Utara No.01/01/12/Th. XII, 5 Januari 2009 danmenempati urutan ke-empat setelah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.Pada tahun 2008,penduduk Provinsi Sumatera Utara sebanyak 13,042 juta orang. Sementara itu jumlahpenduduk Jawa Barat sebanyak 40,92 juta orang, Jawa Timur sebanyak 37,09 juta orang danJawa Tengah sebanyak 32,63 juta orang.

  Besarnya jumlah penduduk di provinsi ini berdampak langsung dengan besarnya jumlahangkatan kerja (usia 15 tahun keatas) yang tersedia. Pada Agustus 2008, jumlah angkatan kerjadi Provinsi Sumatera Utara sebanyak 8.919.973 orang, dan pada Agustus 2007 sebanyak8.378.148 orang. Dengan demikian, terjadi penambahan angkatan kerja sebanyak 541.825 orangdalam kurun waktu satu tahun di provinsi ini.

  Penambahan angkatan kerja menuntut ketersediaan lapangan kerja agar mereka dapatterserap pada lapangan kerja tersebut. Penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Utaracukup baik, sebab dalam kurun waktu Agustus 2007 – Agustus 2008, penduduk yang bekerjabertambah sebanyak 457.466 orang. Pada Agustus 2007, jumlah penduduk Sumatera Utara yangbekerja sebanyak 5.082.797 orang, dan pada Agustus 2008 naik menjadi 5.540.263 orang.

  Sejalan dengan penambahan jumlah penduduk yang bekerja tersebut di atas, jumlahpengangguran turun sebanyak 16.795 orang. Pada Agustus 2007, jumlah pengangguran terbukasebanyak 571.334 orang, dan pada Agustus 2008 turun menjadi 554.539 orang. Dengandemikian, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 10,10 persen pada Agustus 2007menjadi 9,10 persen pada Agustus 2008.

  

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan Utama

di Provinsi Sumatera Utara, 2007 – 2008

  Kegiatan Utama Satuan 2007 2008 Februari Agustus Februari Agustus

  (1) (2) (3) (4) (5) (6)

  1 Penduduk usia 15 tahun ke Orang 8.287.473 8.378.148 8.794.804 8.919.973 atas

  2 Angkatan Kerja Orang 5.647.710 5.654.131 5.930.892 6.094.802

  • Bekerja Orang 5.047.615 5.082.797 5.364.414 5.540.263
  • Penganggur Orang 600.095 571.334 566.478 554.539

  3 Bukan Angkatan Kerja Orang 2.639.763 2.724.017 2.863.912 2.825.171

  4 Tingkat Partisipasi Angkatan % 68,15 67,49 67,44 68,33 Kerja

  5 Tingkat Pengangguran % 10,63 10,10 9,55 9,10 Terbuka

  Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional 2007 dan 2008

  Dari jumlah pengangguran pada Agustus 2007, sekitar 49,35 persen berada di daerahperkotaan dan 50,65 persen di daerah perdesaan. Sedangkan pada Agustus 2008, sebesar 53,59persen penganggur berada di perkotaan dan 46,41 persen berada di perdesaan.

2. Lapangan Pekerjaan Utama

  Penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Utara masih bertumpu pada SektorPertanian.Sebagian besar penduduk di daerah perdesaan bekerja di sektor ini. Pada Agustus2008, sekitar 71,21 persen penduduk di daerah perdesaan bekerja di Sektor Pertanian padaumumnya bekerja di Sektor Perdagangan dan Sektor Jasa Kemasyarakatan.

  Tabel 2. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Wilayah Tempat Tinggal di Provinsi Sumatera Utara, pada Agustus 2008 (%)

  Lapangan Pekerjaan Utama Daerah Perdesaan + Perkotaan

  Perdesaan Perkotaan

  (1) (2) (3) (4)

  1. Sektor Pertanian 71,21 11,70 47,12

  2. Sektor Industri 4,43 13,23 8,08

  3. Sektor Perdagangan 10,58 33,79 20,20

  4. Sektor Jasa Kemasyarakatan 5,65 21,07 12,04

  5. Sektor Lainnya*) 8,13 20,21 12,56 Jumlah 100,00 100,00 100,00

  

Keterangan : *) = Sektor Pertambangan/penggalian, Listrik, Gas dan Air, Konstruksi,

Transportasi dan Keuangan Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2008

  Struktur penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Utara tidak menunjukkanperubahan yang signifikan, dan sektor pertanian masih menjadi tumpuan untuk menampungjumlah angkatan kerja yang ada.

  

Penduduk Provinsi Sumatera Utara Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja

Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, 2007 – 2008

(%)

  Lapangan Pekerjaan Utama 2007 2008 Februari Agustus Februari Agustus

  (1) (2) (3) (4) (5 )

  1. Pertanian 49,70 47,60 49,40 47,12

  2. Pertambangan dan Penggalian 0,50 0,43 0,50 0,29

  3. Industri 9,20 7,61 7,60 8,08

  4. Listrik, Gas dan Air 0,40 0,18 0,20 0,17

  5. Konstruksi 3,40 4,76 4,00 4,93

  6. Perdagangan 18,80 18,80 21,00 20,20

  7. Transportasi 5,80 6,39 5,40 6,12

  8. Keuangan 1,10 1,29 1,10 1,05

  9. Jasa Kemasyarakatan 11,20 12,93 10,80 12,04 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00

  Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional, 2007 – 2008

3. Status Pekerjaan Utama

  Pada bulan Agustus 2008, komposisi status pekerjaan utama penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja di Sumatera Utara yang terbesar adalah buruh/karyawan yaitu 28,40 persen.Dibandingkan dengan bulan Agustus 2007, terjadi penurunan sebesar 3,70 persen. Sebaliknya,pekerja tidak dibayar meningkat dari 17,78 persen pada Agustus 2007 menjadi buruh tidak tetappada Agustus 2008 sebesar 20,12 persen, berusaha sendiri tanpa dibantu buruh sebesar 19,69persen, berusaha dibantu buruh tetap sebesar 2,78 persen. Penduduk yang bekerja denganstatus pekerja bebas di pertanian dan pekerja bebas non pertanian pada bulan Agustus 2008masing-masing 4,74 persen dan 3,65 persen.

  

Penduduk Provinsi Sumatera Utara Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja

Menurut Status Pekerjaan Utama, 2007 – 2008

(%)

  Status Pekerjaan Utama 2007 2008 Februari Agustus Februari Agustus

  (1) (2) (3) (4) (5 )

  1. Berusaha sendiri 20,39 19,48 18,79 19,69

  2. Berusaha dibantu buruh tidak 17,66 19,78 20,35 20,12 tetap

  3. Berusaha dibantu buruh tetap 2,65 2,62 3,10 2,78

  4. Buruh/Karyawan 31,83 32,10 27,90 28,40

  5. Pekerja bebas di pertanian 5,46 5,18 6,61 4,74

  6. Pekerja bebas di non pertanian 3,38 3,06 3,95 3,65

  7. Pekerja tidak dibayar 18,63 17,78 19,30 20,62 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00

  Sumber : Survei Angkatan Kerja Nasional, 2007 – 2008

  

Penyajian Data

  Data yang akan penulis sajikan merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan dokumen dari lokasi penelitian. Adapun sumber wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah pihak-pihak yang berkepentingan dalam kebijakan pengupahan yaitu dari pemerintah, kalangan buruh/pekerja yang diwakili oleh serikat buruh/pekerja dan kalangan pengusaha yang diwakili oleh asosiasi pengusaha Indonesia. Data akan disajikan dalam bentuk deskriptif.

  Sebuah kebijakan tidaklah lahir begitu saja. Dibutuhkan sebuah proses agar tercipta sebuah kebijakan yang memberikan manfaat positif pada persoalan-persoalan public. Woll berpendapat bahwa formulasi kebijakan berarti pengembangan sebuah mekanisme untuk menyelesaikan masalah publik, dimana pada tahap para analis kebijakan publik mulai menerapakan beberapa teknik untuk menjustifikasi bahwa sebuah pilihan kebijakan merupakan pilihan yang terbaik dari kebijakan yang lain.

  Kebijakan pengupahan merupakan hal krusial yang harus ditangani oleh pemerintah.Dikarenakan persoalan upah merupakan masalah pokok dalam hubungan industrial antara pengusaha dengan pekerja.Bila hal ini tidak ditangani dengan baik maka potensi konflik antara pengusaha dan pekerja seperti yang diramalkan oleh Karl Marx dapat meletup. Dan bila hal itu terjadi maka semua pihak akan dirugikan terutama pemerintah yang bertanggungjawab untuk menjaga stabilitas baik sosial maupun ekonomi demi terjaminnya pelaksanaan pembangunan Negara sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD 1945.

  Dalam kebijakan pengupahan pemerintah memberlakukan kebijakan upah minimum.Yang mana upah minimum dimaksudkan adalah sebagai jaring pengaman (sosial

  

safety net) dimaksudkan agar upah tidak terus merosot sebagai akibat dari ketidakseimbangan

  pasar kerja (disequilibrium labour market).Ini adalah bentuk intervensi pemerintah terhadap tawar yang lebih baik kepada buruh ketika berhadapan dengan pengusaha, yang selama ini posisi buruh selalu lemah ketika berhadapan dengan pengusaha.

  Melalui penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menjaga kesejahteraan buruh.Hanya saja untuk menentukan besaran nilai upah minimum tidak mungkin dilakukan secara sembarangan.Karena harus juga dipertimbangkan bagaimana kesanggupan perusahaan untuk membayar upah buruh tersebut.Agar kebijakan yang diambil lebih baik dan dapat menyelesaikan persoalan dalam hal pengupahan maka pemerintah membentuk Dewan Pengupahan di tingkat nasional dan daerah.Dewan ini merupakan lembaga non struktural yang bersifat tripatit. Kanggotaan lembaga ini sebagaimana yang diatur dalam Keputusan Presiden No 107 tahun 2004 adalah pemerintah, serikat buruh/pekerja, pengusaha (APINDO). Lembaga inilah nantinya yang akan memberikan saran dan pertimbangan dalam penetapan upah minimum. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Bapak Nyito Suprayogi dari dinas tenaga kerja dan transmigarasi pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan juga bapak DR. Eko Wahyu Nugrahadi, Msi dari perguruan tinggi (Dosen UNIMED) yaitu :

  “Sesuai dengan amanat keputusan Presiden no 107 tahun 2004 bahwa ada dua tugas yang harus dilakuka Dewan Pengupahan Daerah yaitu :

a. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Gubernur dalam rangka : 1) Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP).

  2) Penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dan Upah Minimum Sektoral (UMS). 3) Penerapan sistem pengupahan di tingkat Provinsi.

b. Menyiapkan bahan perumusan pengembangan sistem pengupahan nasional.

  Tidak berbeda jauh yang disampaikan oleh perwakilan baik dari buruh maupun pengusaha.Hanya saja perwakilan kedua pihak tersebut hanya fokus kepada pemberian saran dan pertimbangan kepada gubernur dalam rangka penetapan upah minimum dan penerapan sistem pengupahan di daerah. terlebih dahulu dilakukan beberapa proses untuk menemukan rumusan kebijakan yang dapat diterima oleh semua pihak.

  Proses tersebut dimulai dengan mencari tahu bagaimana preferensi publik. Seperti yang dikemukakan oleh Bapak Nyito Suprayogi dari dinas tenaga kerja dan transmigarasi pemerintah Provinsi Sumatera Utara :

  

“Sebelum melakukan rapat dewan pengupahan, terlebih dahulu dilakukan survey KHL ke

seluruh kabupaten/kota yang ada di provinsi sumatera utara. Survey tersebut dilakukan

dengan parameter KHL yang telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri no 17 tahun 2005.

Dimana di dalam aturan tersebut terdapat 46 komponen kebutuhan hidup layak”

  Demikian juga yang disampaikan oleh perwakilan Asosiasi Pengusaha Indonesia yaitu bapak T. Hasby (DPD APINDO Sumatera Utara) :

  

“Kita melakukan survey ke daerah-daerah untuk melakukan penghitungan berapa nilai

nominal untuk memenuhi kebutuhan hidup layak tentunya berdasarkan parameter yang telah

ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

  Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan dari serikat buruh yaitu bapak Ediman manik S. H. (Korwil K-SBSI Sumatera Utara)

  

“Sebenarnya kalau untuk melakukan survey hal tersebut memang sudah menjadi

aturan.Karena hal tersebut sudah diatur dalam Peraturan Menteri no 17 Tahun 2005.Hal ini

dilakukanuntuk melihat secara langsung berapa kebutuhan yang diperlukan untuk

memperoleh kehidupan yang layak. Survey dilakukan ke pasar-pasar tradisional untuk

menghitung harga-harga barang yang termasuk dalam komponen hidup layak sesuai dengan

keputusan menteri tenaga kerja tersebut”

  Menurut pakar dari perguruan tinggi Bapak Eko Wahyu Nugrahadi, M. Si, :

  

“Survey ini sebenarnya dilakukan untuk melihat bagaiman preferensi publik. Dalam

keputusan Menteri Tenaga Kerja bahawa harus dilakukan survey keseluruh daerah tingkat 2

yang ada di Provinsi tersebut dengan parameter-parameter yang telah ditetapkan. Nantinya

hasil survey inilah yang akan dikaji dengan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan

kondisi pengupahan misalnya produktivitas, inflasi, pertumbuhan ekonomi dan juga kemampuan usaha paling tidak mampu untuk membayar upah” menemukan pilihan-pilihan kebijakan yang akan diambil. Menurut bapak Nyito Suprayogi :

  “Setelah dilakukan survey ke lapangan dengan memperhatikan tingkat inflasi, produktivitas, pertumbuhan ekonomi dan usaha yang paling tidak mampu, maka dilihatlah daerah mana yang memiliki nilai KHL terendah dan inilah yang akan menjadi acuan nilai KHL yang akan dipergunakan. Hanya saja hal yang penting untuk diingat bahwa tujuan diberlakukannya upah minimum adalah sebagai jaring pengaman agar nilai upah buruh tidak jatuh terlalu dalam karena ketidakseimbangan yang terjadi dalam dunia kerja ”

  Tidak jauh berbeda dengan yang diatas hal senada juga dikemukakan oleh bapak T. Hasby :

  “Hasil dari survey tersebut akan diperoleh nilai kebutuhan hidup layak di seluruh kabupaten/kota yang ada di provinsi sumatera utara. Dari data-data tersebutlah akan dilihat mana daerah yang nilai KHL nya paling rendah dari daerah-daerah yang lain. Dan nilai tersebutlah yang dijadikan sebagai acuan penetapan Upah Minimum Provinsiyang akan diajukan kepada pemerintah”

  Hal yang sama dikemukakan oleh Bapak Eko Wahyu Nugrahadi, M. Si, :

  “Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu peraturan menteri tenaga kerja nomor 17 Tahun 2005 bahwa dalam menentukan upah minimum di tingkat provinsi maka dilihat daerah mana nilai KHL yang paling terendah untuk dijadikan acuan dalam penetapan upah minimum provinsi. Tetapi tidak lupa juga untuk melihat dan mempertimbangkan hal-hal lain yang dapat berpengaruh terhadap nilai tersebut seperti produktivitas, pertumbuhan ekonomi dan juga usaha yang paling tidak mampu.Karena hal ini berkaitan langsung dengan kemampuan dari perusahaan untuk membayar upah pekerjanya.Karena kita juga tidak menginginkan pihak pengusaha menjadi sangat terbebani dalam melaksankan tugasnya membayar upah pekerjanya.Tetapi kita juga tidak berharap kesejahteraan dan kehidupan yang layak pekerja terlupakan. Karena hal tersebut merupakan hak mereka”

  Hal yang disampaikan oleh bapak Ediman Manik S. H :

  “ Kami melihat bahwa upah minimum merupakan sarana untuk peningkatan kesejahteraan bagi pekerja. Sehingga menurut kami penghitungan hasil survey yang dilakukan merupakan

pemenuhan kebutuhan paling minimum bukan merupakan peningkatan

kesejahteraan.Sehingga kami mengusulkan untuk penetapan Upah Minimum yang lebih

besar dari hasil survey.Karena dengan demikianlah kesejahteraan buruh dapat

ditingkatkan.Jangan hanya kebutuhan hidup minimum yang dihitung tetapi bagaimana meningkatkan kesejahteraan buruh.”

  Melalui survey yang dilakukan akan diketahui bagaimana preferensi maka dengan sendirinya akan didapatkan pilihan-pilihan kebijakan. Dari pilihan-pilihan kebijakan tersebut pilihan kebijakan mana yang paling tepat untuk diambil. Hal ini dikemukakan oleh bapak Nyito:

  “Dalam penentuan Upah Minimum masing-masing pihak memiliki pandangan yang berbeda-

beda.Pihak dari serikat buruh menginginkan nilai nominal yang lebih tinggi dari pihak

pengusaha dan pihak pengusaha menginginkan nilai nominal yang lebih rendah dari yang

disampaikan oleh pihak buruh.Tentunya kita memaklumi hal tersebut.Pengusaha

berpendapat bahwa nilai yang ditawarkan oleh pihak buruh memberatkan mereka dan

menyampaikan pilihan yang menurut mereka dapat mereka penuhi. Sementara di pihak lain

perwakilan buruh berpandangan bahwa nilai yang diajukan oleh pengusaha sangatlah

rendah dan tidak mensejahterakan kaum buruh. Mereka yakin bahwa nilai yang mereka

tawarkan sebenarnya sanggup untuk dipenuhi oleh pengusaha sekaligus dapat

mensejahterakan buruh/pekerja.Kedua pihak berpandangan bahwa tawaran merekalah yang

paling baik.Maka disinilah pemerintah berusaha untuk menjadi penengah dalam perbedaan

pandangan tersebut.Kita ingin agar diperoleh nilai kompromi antara buruh dan pengusaha.

Maka untuk kita akan meminta kepada pakar dari perguruan tinggi untuk menjelaskan

kepada kedua belah pihak tentang produktivitas, pertumbuhan ekonomi, inflasi dan

kemampuan perusahaan. Setelah diberikan penjelasan barulah kemudian dilakukan

perundingan kembali antar buruh dan pengusaha untuk mencari kata sepakat. Bila tidak ada

kata sepakat maka langkah yang dilakukan adalah voting untuk memutuskan pilihan mana

yang akan diputuskan untuk menjadi nilai nominal Upah Minimum.Untuk tahun ini dalam

pemutusan nilai nominal Upah Minimum tidak sampai dilakukan voting. Karena akhirnya

kedua belah pihak dapat berkompromi dan mendapatka besaran nominal yang dapat

disepakati oleh kedua belah pihak”

  Menurut bapak T. Hasby :

  

“Tawaran yang kita ajukan adalah sesuai dengan hasil survey dan kondisi di lapangan

dengan kata lain jika besaran sesuai dengan hasil survey yang kami lakukan dipenuhi, maka

kebutuhan hidup layak akan terpenuhi. Orientasi upah minimum kita kan pada kebutuhan

hidup layak. Dan menurut kita, kita masih sanggup untuk memenuhi besaran nilai

tersebut.Sehingga kami tetap mempertahankan usulan kami berdasarkan hasil survey yang

dilakukan. Selain itu kami melihat bahwa tawaran yang disampaikan oleh pihak buruh

terlalu tinggi dan memberatkan, sehingga kami merasa keberatan dengan tawaran yang

mereka sampaikan”

  Sedangkan menurut bapak Ediman Manik

  

“Kita melihat bahwa tawaran yang disampaikan oleh pihak pengusha terlalu rendah dan

sangat memberatkan kehidupan para buruh.Hasil survey yang dilakukan menurut kami

hanyalah untuk menghitung nilai kebutuhan hidupburuh yang paling minimal. Kalau ini

yang akan disepakati menjadi upah minimum, maka kami bisa pastikan kesejahteraan buruh

tidak akan dapat tercapai. Maka dengan sendirinya bahwa kebijakan upah minimum yang

  

Untuk itulah kami mengusulkan agar nilai Upah Minimum yang akan ditetapkan lebih tinggi

dari hasil survey dengan pertimbangan untuk peningkatan kesejahteraan buruh”

  Pandangan bapak Eko Wahyu Nugrahadi, M. Si, :: “Sangatlah wajar memang jika dalam memberikan usulan besaran nilai yang akan

  

disepakati antara pengusaha dan buruh terjadi perbedaan pandangan dan pendapat. Karena

masing-masing menggunakan logika yang berbeda dan merasa bahwa pandangan merekalah

yang paling benar dibandingkan pandangan yang lain. Hal ini terjadi karena kedua pihak

memiliki kepentingan masing-masing dan saling bertentangan antara satu dengan yang lain.

Hanya saja yang perlu disadari disini bahwa kedua belah pihak walaupun memiliki

kepentingan yang berbeda tetapi keduanya saling membutuhkan.Pengusaha membutuhkan

buruh untuk menjalankan perusahaan demikian juga buruh membutuhkan pekerjaan dan gaji

untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.Berdasarkan inilah hendaknya kedua belah

pihak menyelesaikan perbedaan pandangan. Sehingga walau sejauh apapun perbedaan yang

ada diantara kedua belah pihak tetap akan ditemukan sebuah kesepakatan bersama. Dan

untuk membantu menemukan kesepakatan bersama kita coba untuk menjelaskan bagaimana

kondisi perekonomian di Sumatera Utara dari sisi produktivitas, pertumbuhan ekonomi,

inflasi, dan juga kemampuan perusahaan. Melalui penjelasan ini diharapkan masing-masing

semakin terbuka pemikirannya dan pada akhirnya akan diperoleh sebuah nilai kompromi

antara kedua belah pihak”

  Pilihan-pilihan kebijakan yang telah diberikan penilaian tersebut selanjutnya akan dilihat ratio sosial yang akan dikorbankan. Menurut bapak Nyito bahwa:

  

“Masing-masing pilihan kebijakan yang akan diambil pastinya akan memberikan

dampak.Untuk itulah kita mempertimbangkan pilihan mana yang paling kecil menimbulkan

efek negatif. Pilihan kebijakan itulah yang akan kita ambil. Dalam hal ini kita melihat

tawaran yang disampaikan oleh pihak buruh sangatlah memberatkan bagi kalangan

pengusaha. Dan para pengusaha merasa keberatan akan pilihan tersebut. Kita

berpandangan bahwa kondisi tersebut akan memberikan dampak buruk bagi perusahaan

yang ada di Sumatera Utara. Dan apabila hal tersebut terjadi maka buruh juga akan terkena

dampaknya. Maka setelah mendengarkan masukan dan pandangan dari pakar yang berasal

dari perguruan tinggi akhirnya kita dapat menyepakati bersama nilai nominal yang akan

diajukan kepada Gubernur”

  Sedangkan menurut bapak T. Hasby :

  

“Kami berpandangan bahwa jika nilai nominal yang disepakati terlalu tinggi maka

perusahaan akan terganggu stabilitasnya. Hal ini tentu sangat merugikan bagi kami, tetapi

bila hal ini terjadi saya rasa para buruh juga akan terkena dampak negatif. Kita sebenarnya

juga berharap dapat mensejahterakan para pekerja, hanya saja kita juga harus melihat

bagaimana kondisi riil perusahaan, bagaimana kesanggupan perusahaan untuk membayar

upah pekerja. Karena hal ini akan memberikan dampak secara langsung kepada

perusahaan.Oleh karena itu maka kami berharap agar nilai yang diputuskan tersebut tidak

  

memang dibutuhkan kompromi dan saling tawar menawar pada kedua belah pihak untuk

menemukan pilihan yang tepat.”

  Menurut pandangan bapak Ediman Manik :

  

“Tiap-tiap manusia sudah pasti ingin meningkatkan kesejahteraan mereka.Sperti itu jugalah

harapan kami para buruh.Bagaimana kesejahteraan buruh dapat ditingkatkan tentunya

melalui uapah yang diterima oleh buruh.Kami berpandangan bahwa upah minimum yang

ditetapkan selama ini belum dapat memberikan kesejahteraan kepada para buruh. Maka

dengan penetapan upah minimum yang rendah sudah pastilah kesejahteraan buruh akan

terabaikan. Nah, hal inilah yang sering memicu ketegangan antara buruh dan pihak

perusahaan.Persoalan kesejahteraan buruh harus menjadi perhatian semua pihak agar hal-

hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.”

  Penjelasan dari bapak Eko Wahyu Nugrahadi, M. Si, :

  

“ Menurut saya pilihan besaran nominal haruslah ditentukan secara benar. Pada satu sisi

kepentingan perusahaan adalah untuk meminimalkan pengeluaran, salah satunya adalah

upah buruh dan di sisi lain buruh memperjuangkan kesejahteraan hidupnya dan menuntut

kenaikan upah yang lebih layak. Nilai yang terlalu besar akan memberatkan pengusaha dan

perusahaan serta dapat menggangu kinerja perusahaan. Sedangkan pada sisi yang lain nilai

yang terlalu rendah akan mangakibatkan kesejahteraan buruh tidak terpenuhi. Kedua hal

tersebut haruslah dapat diatasi melalui pilihan yang tepat. Untuk itulah kita perlu melihat

bagaimana kondisi ekonomi di Sumatera Utara, sehingga melalui hal tersebut kita akan

dapat memperoleh pilihan yang rasional dan tidak merugikan kedua belah pihak. Melalui

informasi tersebut kita akan dapat memprediksikan kemampuan untuk membayar upah

pekerjanya. Tentunya kalau melebihi kesanggupan maka akan membawa dampak yang

kurang baik bagi perusahaan dan juga pada pekerja yang ada di perusahaan tersebut. Inilah

yang harus kita hindari tanpa mengorbankan kepentingan para buruh/pekerja”

  Setelah dilakukan penilaian maka akan dilakukan pemilihan kebijakan mana yang paling efisien. Dan untuk melakukan hal tersebut menurut bapak Nyito :

  

“Mana pilihan yang paling efisien manurut kami adalah ketika terjadi kompromi antara

kedua belah pihak soal berapa nilai nominal yang ditetapkan. Karena dengan demikian

pastilah pilihan tersebut akan didukung oleh semua pihak. Beruntung pada akhirnya kedua

belah pihak mampu untuk berkompromi dan menyepakati bersama besaran nilai nominal

Upah Minimum yang akan diputuskan”

  Sementara bapak T. Hasbymengatakan :

  

“ Pada awalnya memang agak sulit untuk menemukan kesepakatan bersama untuk

penentuan besaran upah minimum yang akan diputuskan. Tetapi setelah melalui dialog dan

juga mendengar masukan dari pakar yang berasal dari perguruan tinggi maka akhirnya

  

paling efisien karena masing-masing pihak tidak keberatan akan pilihan tersebut sehingga

nantinya dalam proses penerapannya semua dapat mendukungnya. Karena pilihan tersebut

dihasilkan bersama”

  Dan bapak Ediman Manik berpandangan bahwa:

  

“ Walau memang hasilnya belum sesuai dengan harapan kita, tetapi kami rasa

merundingkan dan mengkompromikan besaran nilai nominal upah minimummerupakan hal

yang tidak kalah penting. Karena hal ini berhubungan langsung dengan masa depan sekian

banyak buruh di sumatera Utara. Maka kami kira berkompromi dengan pihak pengusaha

merupakan jalan terbaik agar ditemukan kesepakatan bersama.”

  Pandangan Bapak Eko Wahyu Nugrahadi, M. Si, : :

  

“ Saya melihat bahwa memang melakukan kompromi adalah jalan yang paling efektif untuk

menentukan besaran nilai nominalupah minimum. Karena kesepakatan yang lahir dari

kesepakatan bersama akan lebih dihargai oleh kedua belah pihak dibandingkan adanya

pemaksaan dari satu pihak kepada pihak lain”

  Dalam proses penyusunan kebijakan tersebut tidak terlalu banyak kendala yang dihadapi hanya persoalan perbedaan pandangan antara perwakilan buruh dan pengusaha seperti yang dikemukakan oleh bapak Nyito :

  

“ Kalau kendala sih tidak terlalu banyak ditemukan. Hanya perbedaan pandangan antara

buruh dan pengusaha soal besaran nilai nominal. Tetapi hal tersebut dapat diselesaikan

setelah melakukan perundingan dan mendengarkan masukan dan penjelasan dari pakar

yang berasal dari perguruan tinggi”

  Hal senada juga dikemukan dari kalangan buruh maupun pengusaha. Mereka melihat bahwa hanya perbendaan pandangan antara mereka saja yang menjadi kendala dalam proses tersebut dan hal tersebut jaga dapat diselesaikan dengan baik antara kedua belah pihak dan akhirnya ditemukan kesepakatan bersama untuk besaran nilai nominal KHL.

  

Analisa Data

  Dalam bab ini akan dianalisa semua data yang diperoleh dari hasil penelitian seperti yang sudah disajikan dalam bab sebelumnya. Adapun analisa yang dilakukan adalah dengan analisa data kualitatif, yaitu analisa terhadap data yang diperoleh berdasarkan kemampuan nalar peneliti dalam menghubungkan fakta, data dan informasi.Jadi teknik analisa data dilakukan dengan penyajian data yang terdapat melalui keterangan yang diperoleh dari responden dari lapangan, selanjutnya diinterpretasikan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dirumuskan.

  Dalam bab sebelumnya telah dikemukakan yang apa yang menjadi tujuan penelitian. Dimana tujuan tersebut diukur melalui indikator-idikator pada defenisi operasional.Pada defenisi operasional dijelaskan yang menjadi indikator penelitian adalah tugas pokok dan fungsi Dewan Pengupahan Daerah serta proses formulasi kebijakan yaitu :

  • Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya
  • Menemukan pilihan-pilihan kebijakan
  • Menilai konsekunsi masing-masing pilihan kebijakan
  • Menilai ratio nilai sosial yang dikorbankan
  • Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien

  Sesuai dengan apa yang diaturkan dalam Keputusan Presiden no 107 Tahun 2004 terdapat dua tugas pokok yang harus dilakukan oleh Dewan Pengupahan Provinsi yaitu antara lain :

  a. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Gubernur dalam rangka : 1) Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP).

  2) Penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dan Upah Minimum Sektoral (UMS). b. Menyiapkan bahan perumusan pengembangan sistem pengupahan nasional.

  Saran dan usulan yang diberikan oleh Dewan Pengupahan Provinsi inilah nantinya akan ditetapkan menjadi kebijakan oleh Gubernur. Maka dengan kata lain proses formulasi kebijakan pengupahan dilakukan di tingkat Dewan Pengupahan Provinsi dan nantinya hasil dari formulasi tersebut akan diputuskan oleh gubernur menjadi sebuah kebijakan. Sehingga degan melihat bagaimana proses formulasi kebijakan upah minimum provinsi dilakukan kita dapat melihat bagaimana peranan dewan pengupahan provinsi.

  Formulasi kebijakan berarti pengembangan sebuah mekanisme untuk menyelesaikan masalah publik, dimana pada tahap para anlis kebijakan publik mulai menerapakan beberapa teknik untuk menjustifikasi bahwa sebuah pilihan kebijakan merupakan pilihan yang terbaik dari kebijakan yang lainnya. Untuk kebijakan pengupahan persoalan publik yang harus diselesaikan adalah konflik kepentingan antara buruh dan pengusaha. Buruh menginginkan nominal yang ditetapkan tinggi dengan alasan untuk kesejahteraan hidupnya sementara para pengusaha menginginkan yang sebaliknya. Upah yang terlalu besar akan memberatkan pengusaha dan perusahaan. Dan logika ekonomi dari perusahaan adalah menekan pengeluaran seminimal mungkin. Tentunya upah rendah menjadi keinginan para pengusaha.

  Agar persoalan ini dapat terselesaikan dengan baik maka pemerintah membentuk lembaga non-struktural untuk menyelesaikan konflik kepentingan antara buruh dan pengusaha. Melalui badan inilah kedua belah pihak melakukan pembicaraan untuk mencari titik temu.

  Untuk melakukan perumusan kebijakan publik terdapat beberapa model yang dapat digunakan. Salah satu model yang digunakan adalah model teori Rasionalisme. Dimana model ini mengedepankan gagasan bahwa kebijakan publik sebagai maximum social gain masyarakat. Model ini dilakukan dengan beberapa urutan :

V. 1 Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya

  Dalam UU Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 kebijakan penetapan upah minimum diarahkan untuk mencapai kebutuhan hidup layak selain memberi jaminan pekerja/buruh penerima upah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka preferensi publik yang ingin diketahui dalam hal ini adalah nilai nomial kebutuhan hidup layak. Untuk itulah sebelum Dewan Pengupahan melakuakan persidangan terlebih dahulu dilakukan survey keseluruh kabupaten/kota. Hal ini dilakukan agar ditemukan patokan dalam penentuan KHL. Sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan transmigrasi no 17 Tahun 2005 tentang komponen dan pelaksanaan kebutuhan hidup layak bahwa nilai KHL diperoleh melalui survei harga dengan pedoman yang telah diaturkan dalam Peraturan Menteri tersebut. Seperti yang disampaikan oleh bapak Nyito Suprayogi :

  

“Sebelum melakukan rapat dewan pengupahan, terlebih dahulu dilakukan survey KHL ke

seluruh kabupaten/kota yang ada di provinsi sumatera utara. Survey tersebut dilakukan

dengan parameter KHL yang telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri no 17 tahun 2005.

Dimana di dalam aturan tersebut terdapat 46 komponen kebutuhan hidup layak”

  Terdapat sekitar 46 komponen yang menjadi pedoman dalam melakukan survei ke seluruh Kabupaten/kota yang ada di sumatera utara. Dan pada akhirnya daerah yang memiliki nilai KHL terendah akan ditetapkan sebagai dasar dalam menetapkan upah minimum. Data- data yang diperoleh inilah yang akan dikaji oleh masing-masing pihak untuk menjadi tawaran besaran KHL yang akan disampaikan dalam sidang Dewan Pengupahan. Ada beberapa faktor yang akan dijadikan pertimbangan dalam melakukan pengkajian yaitu produktivitas, inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Pertimbangan faktor-faktor inilah nantinya yang akan menyebapkan terjadinya perbedaan pandangan dalam penetapan besaran KHL yang akan dajukan kepada Gubernur setelah dilakukan sidang Dewan Pengupahan.

  Data-data dari lapangan yang diperoleh melalui survei ke daerah-daerah kemudian dilakukan pengkajian, penghitungan dan analisa berdasarkan faktor-faktor ekonomi. Pada tahap ini akan terlihat pandangan yang berbeda antara perwakilan buruh dan pengusaha. Perbedaan ini terjadi dikarenakan kedua belah pihak memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menilai berapa besaran KHL yang akan disepakati. Bagi buruh menginginkan nominal yang disepakati lebih tinggi dari nilai yang diperoleh dari hasil survey di daerah-daerah. Hal ini dikarenakan buruh berpendapat bahwa Upah minimum merupakan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. Dan menurut meraka bahwa survey yang dilakukan hanyalah menghitung kebutuhan hidup riil buruh yang paling minimal. Sementara bagi kalangan pengusaha melihat bahwa upah minimum merupakan upah standar sehingga menurut mereka hasil survey yang dilakukan sudah merupakan gambaran standar kebutuhan hidup layak dan tepat untuk dijadikan acuan untuk penetapan upah minimum. Dan mereka berpandangan bahwa demikianlah seharusnya yang harus dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  Sementara dari kalangan pemerintah melihat bahwa upah minimum merupakan sebuah jaring pengaman yang bermaksud agar upah tidak terus mengalami penurunan yang diakibatkan ketidakseimbangan pada pasar kerja.Maka dengan demikian upah minimum tidak didasarkan pada pencapaian KHL untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Sehingga dalam melakukan atas kajian upah minimum perlu untuk memperhatikan faktor-faktor lain yang berpengaruh pada kondisi perekonomian.

  Hal yang terutama untuk diperhatikan adalah usaha-usaha yang paling tidak mampu. Jika nilai upah yang ditetapkan terlalu tinggi maka hal tersebut akan menimbulkan konsekunsi pada keberlangsungan usaha-usaha tersebut. Selain hal tersebut pertimbangan- pertimbangan faktor lain juga harus diperhatikan antara lain produktivitas yaitu merupakan tenaga kerja pada periode yang sama. Nilai Inflasi yang ditetapkan sebesar 6-7,5 % dan pertumbuhan ekonomi. Dalam mengkaji menentukan pilihan nilai Upah minimum yang akan ditetapkan harus memperhatikan faktor-faktor diatas. Agar nantinya kebijakan yang diambil tidak malah membawa kerugian pada masyarakat luas.

  Dengan kepentingan yang berbeda maka masing-masing pihakakan mengajukan pilihan tawaran yang berbeda pula. Satu pihak berharap agar nilai KHL diperbesar sementara pada lain pihak berharap agar nilai KHL lebih kecil. Perbedaan pandangan tersebut merupakan hal yang wajar untuk terjadi seperti yang dikemukakan oleh bapak Eko Wahyu Nugrahadi, M. Si : “Sangatlah wajar memang jika dalam memberikan usulan besaran nilai yang akan

  

disepakati antara pengusaha dan buruh terjadi perbedaan pandangan dan pendapat. Karena

masing-masing menggunakan logika yang berbeda dan merasa bahwa pandangan merekalah

yang paling benar dibandingkan pandangan yang lain. Hal ini terjadi karena kedua pihak

memiliki kepentingan masing-masing dan saling bertentangan antara satu dengan yang lain.

Hanya saja yang perlu disadari disini bahwa kedua belah pihak walaupun memiliki

kepentingan yang berbeda tetapi keduanya saling membutuhkan.Pengusaha membutuhkan

buruh untuk menjalankan perusahaan demikian juga buruh membutuhkan pekerjaan dan gaji

untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.Berdasarkan inilah hendaknya kedua belah

pihak menyelesaikan perbedaan pandangan. Sehingga walau sejauh apapun perbedaan yang

ada diantara kedua belah pihak tetap akan ditemukan sebuah kesepakatan bersama. Dan

untuk membantu menemukan kesepakatan bersama kita coba untuk menjelaskan bagaimana

kondisi perekonomian di Sumatera Utara dari sisi produktivitas, pertumbuhan ekonomi,

inflasi, dan juga kemampuan perusahaan. Melalui penjelasan ini diharapkan masing-masing

semakin terbuka pemikirannya dan pada akhirnya akan diperoleh sebuah nilai kompromi

antara kedua belah pihak”

  Walaupun terdapat perbedaan diantara kedua belah pihak tetap kedua-duanya menyadari bahwa masing-masing pihak saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Maka yang dibutuhkan agar ditemukan jalan tengah diantara kedua belah pihak adalah melakukan perundingan. Maka untuk itu perlu dilakukan penilaian terhadap masing-masing pilihan kebijakan.

  Setiap pilihan kebijakan yang akan ditetapkan memiliki konsekwensi masing-masing. Maka agar pilihan kebijakan yang nantinya ditetapkan danpat memberikan manfaat maksimum bagi masyarakat, perlu dilakukan penilaian konsekuensi dari masing-masing kebijakan.

  Pihak buruh sebagi elemen yang paling merasakan konsekuensi dari kebijakan upah minimum mengaharapkan agar upah minimum dapat mensejahterakan kehidupannya. Maka mereka berharap nilai KHL yang akan ditetapkan lebih besar. Agar pencapaian kesejahteraan buruh dapat terpenuhi. Mereka menilai bahwa hasil dari survey yang dilakukan merupakan nilai kehidupan minimal. Bukan merupakan untuk pencapaian kesejahteraan kehidupan buruh. Dan mereka menilai jika nominal KHL yang akan ditetapkan kecil maka dapat dipastikan bahwa kesejahteraan buruh tidak akan dapat terpenuhi. Konsekuensinya kehidupan buruh tetap tidak akan mengalami perubahan. Seperti yang disampaikan oleh bapak Ediman Manik :

  

“Kita melihat bahwa tawaran yang disampaikan oleh pihak pengusha terlalu rendah dan

sangat memberatkan kehidupan para buruh.Hasil survey yang dilakukan menurut kami

hanyalah untuk menghitung nilai kebutuhan hidupburuh yang paling minimal. Kalau ini

yang akan disepakati menjadi acuan penetapan upah minimum, maka kami bisa pastikan

kesejahteraan buruh tidak akan dapat tercapai. Maka dengan sendirinya bahwa kebijakan

upah minimum yang menurut kami merupakan sarana untuk pencapaian kesejahteraan buruh

tidak tercapai. Untuk itulah kami mengusulkan agar nilai KHL yang akan ditetapkan lebih

tinggi dari hasil survey dengan pertimbangan untuk peningkatan kesejahteraan buruh”

  Pada pihak lain pengusaha merasa bahwa tawaran yang disampaikan oleh pihak buruh terlalu tinggi dan pengusaha beranggapan bahwa tawaran tersebut tidak sanggup untuk dipenuhi oleh pengusaha. Bagi pengusaha hasil survey yang dilakukan sudah merupakan gambaran kebutuhan hidup dari seorang buruh, maka menurut mereka kewajiban perusahaan adalah untuk membayar sesuai dengan kebutuhan mereka. Bila upah minimum yang akan ditetapkan nantinya terlalu besar maka perusahaan dipastikan akan kesulitan memenuhi perusahaan yang akan tergangu dengan peningkatan pengeluaran perusahaan. Hal ini akan memicu pada kebangkrutan perusahaan ataupun pemutusan hubungan kerja karyawan perusahaan tersebut. Maka kalangan pengusaha berharap agar nilai nominal KHL yang ditetapkan jangan terlalu tinggi.Karena tidak semua perusahaan memiliki kondisi usaha yang baik.Dan ada banyak perusahaan yang kondisinya kurang baik. Dan jika mereka dibebani dengan kewajiban untuk membayar gaji yang besar, maka dapat dipastikan perusahaan tersebut tidak akan mampu untuk melakukannya.

  Bagi pemerintah sendiri yang mengeluarkan kebijakan Upah Minimum yang bertujuan untuk melindungi upah pekerja/buruh agar tidak jatuh terlalu rendah, juga tidak menginginkan nilai Upah Minimum yang terlalu tinggi. Karena hal ini akan memberikan dampak yang kurang baik bagi kekondusifan dunia usaha. Dan pemerintah juga sebagai penengah dalam hal ini melihat bahwa pengusaha berkeberatan bila tingkat upah minimum ditetapkan terlalu tinggi.Posisi inilah yang harus ditangani oleh pemerintah dengan baik. Oleh karena itu diperlukan dialog antara dua kepentingan yang berbeda tersebut untuk mendapatkan alternatif kebijakan yang dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

  Sehingga dengan demikian pilihan kebijakan yang akan diambil nantinya dapat memberikan manfaat optimal bagi semua pihak yang berkepentingan dalam kebijakan tersebut.

V. 4 Menilai Ratio Nilai Sosial Yang Dikorbankan

  Pada pembahasan diatas dijelaskan bahwa tiap-tiap pilihan kebijakan memiliki konsekuensi masing-masing. Jika pilihan kebijakan yang ditetapkan adalah menaikkan nilai KHL maka bagi pihak buruh hal tersebut akan dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan buruh. Tetapi pada lain pihak pihak pengusaha keberatan dengan hal tersebut. Mereka melihat bahwa jika hal tersebut terjadi maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam pembayaran upah pekerjanya. Dan ini akan berdampak pada terganggunya stabilitas berdampak pada buruh itu sendiri dengan hilangnya pekerjaan dan berkurangnya lahan pekerjaan.

  Maka pihak pengusaha cenderung menginginkan agar nilai KHL yang ditetapkan lebih rendah dari tawaran buruh dan berdasarkan pada hasil survey yang telah dilakukan.Karena dalam pandangan pengusaha bahwa kondisi perusahaan juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam penetapan nilai KHL.

  Pada kesempatan inilah pemerintah berperan sebagai penengah.Hal ini diperlukan agar tercapai kesepakatan antara pihak pengusaha dan juga buruh/pekerja. Biasanya pemerintah akan meminta pakar atau kalangan dari perguruan tinggi untuk memberikan penjelasan dan saran kepada kedua belah pihak akan tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak. Penjelasan yang disampaikan oleh pakar bisanya berhubungan dengan kondisi perekonomian secara makro dan bagaina prediksi-prediksi ekonomi kedepan. Hal inilah yang diharapkan nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kedua belah pihak dalam melakukan perundingan untuk menentukan pilihan kebijakan yang akan diambil.

V. 5 Memilih Alternatif Kebijakan Yang Paling Efisien

  Proses terakhir dalam melakukan formulasi kebijakan adalah melakukan memilih alternatif kebijakan yang paling efisien. Diantara pilihan-pilihan kebijakan yang telah ditawarkan tersebut, yang telah melalui proses penilaian dan penghitungan dampak yang ditimbulkan akan dipilih mana yang akan diputuskan. Proses pemilihan kebijakan dapat saja dilakukan dengan voting jika proses dialog tidak berhasil mencapai kata sepakat diantara keduabelah pihak.

  Setalah menyampaikan masukan dan pandangan dari masing-masing pihak dan mendengarkan penjelasan dan saran dari pakar yang berasal dari kalangan perguruan tinggi, maka akan dilakukan dialog. Pada kesempatan inilah masing-masing pihak mencoba untuk menurunkan tawarannya dan demikian halnya pihak dari pengusaha mencoba untuk menaikkan tawarannya. Pada akhirnya akan diperoleh nilai yang dapat disepakati bersama.

  Kesepakatan inilah yang akan dietapkan menjadi pilihan kebijakan upah minimum Provinsi Sunatera Utara.

  Demikianlah proses yang dilakukan untuk memperoleh rumusan upah minimum yang akan disampaikan kepada Gubernur untuk ditetapkan menjadi upah minimum Provinsi Sumatera Utara. Dalam proses tersebut semua pihak mengakui bahwa tidak ada kendala berarti yang ditemui dalam melakukan proses tersebut. Hanya persoalan perbedaan pandangan antara buruh/pekerja dengan pengusaha yang menjadi kendala dalam proses tersebut. Tetapi melalui dialog yang dilakukan dalam forum tersebut akhirnya perbedaan- perbedaan pandangan yang terdapat dalam rapat tersebut dapat terselesaikan. Dimana pada akhirnya ditemukan kesepakatan dan dihasilkan sebuah pilihan kebijakan yang akan ditetapkan.

  

Penutup

VI. 1 Kesimpulan

  Setelah melalui analisa data, penulis perlu mengambil kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. Bebrapa hal yang menjadi kesimpulan adalah :

  1. Upah merupakan persoalan vital dalam hubungan industrial antara buruh/pekerja dan pengusaha. Baik atau buruknya hubungan tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi pengupahan. Karena upah dipandang sebagai sarana distribusi keuntungan perusahaan.

  2. Upah minimum merupakan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah yang bertujuan sebagai jaring pengan agar upah buruh tidak jatuh terlalu rendah dikarenakan ketidak seimbangan yang terjadi dalam dunia kerja. Dan bisanya pihak buruh memiliki posisi yang lemah ketika berhadapan dengan pengusaha.

  3. Penentuan upah biasanya akan diwarnai oleh perbedaan dua kepentingan yaitu buruh dan pengusaha. Dimana masing-masing kepentingan bertentangan antara satu dengan yang lain. Buruh berkepentingan untuk memperoleh upah yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Sementara bagi pengusaha upah dipandang sebagai pengeluaran semata sehingga mereka berharap agar upah dapat ditekan serendah mungkin.

  4. Dewan Pengupahan Provinsi adalah lembaga non-struktural yang bersifat bipartit yang salah satu tugasnya adalah melakukan formulasi kebijakan dalam penetapan upah minimum Provinsi.Dimana Dewan Pengupahan Akan mengusulkan besaran upah minimum kepada Gubernur untuk ditetapkan menjadi upah minimum provinsi. tahapan-tahapan formulasi kebijakan yang menghasilkan usulan kebijakan yang akan diberikan kepada pemerintah untuk ditetapkan menjadi kebijakan oleh pemerintah.

VI. 2 Saran

  1. Dalam menetapkan kebijakan pengupahan perhatian pada kesejahteraan buruh hendaknya dapat menjadi pertimbangan dengan porsi yang lebih besar.

  2. Parameter-paremeter dalam survey Kebutuhan Hidup Layak kiranya dapat dikaji kembali apakah parameter tersebut sudah mengarah pada pencapaian kesejahteraan buruh atau tidak. Bila tidak maka perlu kiranya untuk dilakukan perbaikan-perbaikan.

  3. Pemerintah diharapkan dapat lebih memberikan penjelasan mengenai kebijakan upah minimum, agar tidak terjadi perbedaan persepsi dalam melihat Upah Minimum. Brewer, Anthony. 2000. A Guide to Marx’s Capital , diterjemahkan oleh Joebaar Ajoeb dengan judul Kajiankritis Das Kapital Karl Marx,jilid 3, TePLOK PRESS, Jakarta.

  KPS, Hak-HakBuruh, 2005, Edisi I, KelompokPelita Sejahtera, Medan. Kristianus, Saut Kebijakan Perburuhan Di Masa Krisis, 1999, dalam Indra sari

  Tjandraningsih, Jurnal Anlisis Sosial: Situasi Krisis Titik Balik Kekuatan Buruh, Akatiga,Vol.4 No. 2, Bandung.

  Arikunto, Suharsimi, Prosedur penelitian: suatu pendekatan paraktek,1996, edisi 3, Rinekacipta, Jakarta.

  Sutrisno, Hadi, Metodologi Research, 1989,jilid 2, Penerbit ANDI Offset, Yogyakarta. Soekamto, Soerjono, Sosiologi Sebagai Pengantar, 1990, PT Raja GarfindoPusat, Jakarta. Purwadarminta, W.J.S., KBI, 1978,Pusat Pembinaan dan Pengembangan Balai Pustaka, Jakarta.

  O Jones, Charles, Pengantar Kebijakan Publik (Public policy),1996, PT. Raja Grafindo, Jakarta.

  Nogidkk, Kebijakan Publik Yang Membumi, konsep, Strategi dan kasus, Yayasan Pembaharuan Administrasi Publik Indonesia danLukman Offset.

  Winarno, Budi, Teori Dan Proses KebijakanPublik, 2002, MED Press. Nugroho, Dian, Kebijakan Publik, Formulasi, Implementasi dan Evaluasi, 2003, PT. Elex Media komputindo, Jakarta.

  Anderson, James E, Public policy Making, 1979, jilid III, University of Hongkong, Hongkong.

  Maimun, S.H. S. Pd, Hukum Ketenaga Kerjaan Suatu Pengantar, 2007, cet. II, PT. Padnya Paramita, Jakarta

  Rusli, Hardijan, Hukum Ketenagakerjaan, 2004,cet. I, Ghalia Indonesia, Jakarta. Singarimbun, Masri, Metode Penelitian Survey, 1995,LP3S, Jakarta. Nazir, Moh, Metode penelitian,1988, cet-3, Ghalia Indonesia, Jakarta. Sarundajang, Arus balik kekuasaan pusat ke daerah, 1999, Sinar Harapan, Jakarta. Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, 2005, Alfabeta, Bandung.

  PeraturanPerundang-Undangan

  Undang-UndangDasar 1945, Bab X, pasal 27 Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. 226Tahun 2000Tentang Perubahan Pasal 1, Pasal 3,Pasal 4, Pasal 8, Pasal 11, Pasal 20, Dan Pasal 21 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-01/Men/1999 TentangUpah Minimum Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 2004 Tentang Dewan Pengupahan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. 01Tahun 1999 TentangUpah Minimum.

  Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. 17 Tahun 2005 Tentang Komponen Dan PelaksanaanTahapanPencapaianKebutuhanHidupLayak.

  Undang-undang No. 13Tahun 2003Tentang Ketenagakerjaan Undang-undang no 21 Tahun 2000 Tentang Serikat Buruh/Pekerja

  PertanyaanUntukWawancaraPeneltian

A. PertanyaanUntukUnsurDepeda

  1. Menurut bapak apa yang menajdi tugas Dewan Pengupahan Daerah?

  2. Untuk mengetahuibagaimanapreferensipublik,dalamformulasi kebijakan upah minimum mekasnisme apa yang digunakan?

  3. Setelah mendapatkan preferensipublikbagaimana hal tersebut diubah menjadi pilihan- pilihan kebijakan?

  4. Daripilihan-pilihan kebijakan yang telah ditemukan selanjutnya dilakukan penilaian terhadap kensekuensi pilihan kebijakan, bagaimana melakukannya dan apa dasar pertimbangan yang diambil?

  5. Setiap kebijakan biasanya ada ratio sosial yang dikorbankan, untuk itu bagaimana pertimbangan yang diambil dalam mempertimbangkan nilai ratio sosial yang dikorbankan?

  6. Selanjutnya setelah tahapan proses tersebut dilalui maka akan dilakukan pemilihan alternatif kebijakan yang paling efektif untuk dilakukan. Dalam kebijakan upah minimum apa ukuran yang digunakan untuk mengukur efektif tidaknya kebijakan tersebut dan adakah kendala ketika hal tersebut dilakukan?

  7. Apakah keputusan yang diambil adalah keputusan yang paling efisien? Alasan atas pernyataan tersebut?

  8. Kendala apa yang dialami dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi tersebut?

Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara ) 3 Tujuan Penelitian 4. Manfaat Penelitian 5. Kerangka Teori 5. 1 Peranan 5. 4. Upah minimum Pengertian Upah 6. Defenisi Konsep 7. Defenisi Operasional 8. Sistematika Penulisan BAB I: Pendahuluan Analisa Data Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara ) Deskripsi Lokasi Penelitian Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara ) Latar Belakang Masalah Pendahuluan Metode Penelitian Deskripsi Lokasi Penelitian Penyajian Data Analisi Data Penutup Metode Penelitian Model Demokratis Model Strategis Model Kelembagaan Model Proses Model Teori Kelompok Model Teori Elit Model Teori Rasionalisme Model Inkrementalis Model Pengamatan Terpadu Mixed Scanning Penyajian Data Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara )
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formula..

Gratis

Feedback