Feedback

Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara )

Informasi dokumen
Skripsi Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara ) Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Oleh Nama NIM Departemen : Melki S. Naibaho : 040903029 : Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu politik Universitas Sumatera Utara Medan 2011 Universitas Sumatera Utara Kata Pengantar Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih karunia serta berkat yang berlimpah tiada berkesudahan, yang memberikan penulis petunjuk serta kesehatan sehingga sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagaimana adanya. Adapun yang menjadi judul dalam skrispsi ini adalah “Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara). Skripsi ini ingin melihat bagaimana peran Dewan Pengupahan Daerah yang dibentuk untuk membantu memformulasikan kebijakan pada bidang pengupahan melaksanakan tugasnya. Tetapi sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kata sempurna. Diperlukan lebih banyak lagi kritik dan masukan dari berbagai pihak guna memperkaya dan lebih menyempurnakan lagi isi tulisan ini. Demikianlah seharusnya dianamika intelektual kita senantiasa semakin disempurnakan dengan saling memberikan koreksi dan masukan demi perbaikan bangunan intelektual yang kita bangun bersama. Penulis juga tidak lupa hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang dengan sabar dan murah hati memberikan bantuan baik secara moril maupun materil guna penyelesaian skripsi ini. Medan, 17 Desember 2010 Penulis Universitas Sumatera Utara Abstarksi Relasi antara pengusaha dengan buruh memiliki potensi yang senantiasa dapat memicu konflik antara kedua pihak. Salah satu masalah krusial dalam relasi tersebut adalah bagaimana distribusi keuntungan perusahan dilakukan. Pemenuhan rasa keadilan menjadi menjadi titik penting terjadinya kompromi antara pengusaha dan buruh. Dimana besaran upah yang ditetapkan merupakan perwujudan kompromi diantara kedua pihak. Pada titik ini terdapat persoalan sudut pandang keadilan antara kedua pihak mengenai besaran upah yang ditetapkan. Pada satu sisi untuk kepentingan efisiensi perusahaan maka upah harus ditekan serendah mungkin. Di lain pihak buruh berharap melalui upah yang diterimanya dapat memenuhi kesejahteraan hidupnya dan bila memungkinkan meningkatkannya. Persoalan inilah yang harus diselesaikan agar perusahaan tetap dapat berjalan dan kesejahteraan hidup buruh tidak diabaikan. Pemerintah sebagai pengelola negara tentunya berusaha agar stabilitas dalam proses produksi selain itu sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan ditengah-tangah warganya. Maka pemerintah juga harus mengabil peran dalam menyelesaikan persoalan antara relasi buruh dan pengusaha. Untuk memediasi persolan upah tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan upah minimum. Dimana perumusan kebijakan upah tersebut dilakukan melalui suatu lembaga non struktural yang bersifat tripartit. Pemerintah, pengusaha dan buruh menjadi unsur didalam lembaga tersebut ditambah pakar dari perguruan tinggi. Pada dasarnya kebijakan upah minimum merupakan jaring pengaman agar harga upah tidak turun terlalu rendah. Maka melalui proses formulasi yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang dapat diterima oleh semua pihak. Sehingga ketika kebijakan tersebut diberlakukan tidak terjadi gejolak di masyarakat. Kata kunci : Upah Minimum, Kebijakan, Formulasi Universitas Sumatera Utara Daftar Isi Kata Pengantar . i Abstraksi. ii Daftar Isi . iii BAB I Pendahuluan I.1. Latar Belakang Masalah . 1 I.2. Perumusan Masalah . 8 I.3. Tujuan Penelitian . 9 I.4. Manfaat Penelitian . 9 I.5. Kerangka Teori . 10 I.5.1. Peranan. 10 I.5.2. Dewan Pengupahan Daerah . 11 I.5.3. Formulasi Kebijakan. 11 I.5.4. Upah Minimum . 17 I.6. Defenisi Konsep . 30 I.7. Defenisi Operasional . 30 I.8. Sistematika Penulisan . 32 BAB II Metodologi Penelitian II.1. Metode Penelitian. 33 II.2. Lokasi Penelitian . 33 II.3. Informan . 33 II.4. Teknik Pengumpulan Data . 34 II.5. Teknik Analisa Data . 34 BAB III Deskripsi Lokasi Penelitian III. 1 Kondisi Geografis Daerah . 35 III. 2 Demografi . 37 III. 3 Potensi Unggulan Daerah . 41 Universitas Sumatera Utara III. 4 Kondisi Ketenagakerjaan di Sumatera Utara. 43 BAB IV Penyajian Data . 50 BAB V Analisa Data V. 1 Mengetahui Preferensi Publik. 60 V. 2 Menemukan Pilihan-pilihan Kebijakan . 61 V. 3 Menilai Konsekuensi Masing-masing Pilihan Kebijakan . 63 V. 4 Menilai Ratio Sosial Yang Dikorbankan. 64 V.5 Memilih Alternatif Kebijakan Yang Paling Efisien. 65 BAB VI Penutup Kesimpulan Dan Saran VI. 1 Kesimpulan. 67 VI. 2 Saran . 68 Daftar Isi . Lampiran. Universitas Sumatera Utara Abstarksi Relasi antara pengusaha dengan buruh memiliki potensi yang senantiasa dapat memicu konflik antara kedua pihak. Salah satu masalah krusial dalam relasi tersebut adalah bagaimana distribusi keuntungan perusahan dilakukan. Pemenuhan rasa keadilan menjadi menjadi titik penting terjadinya kompromi antara pengusaha dan buruh. Dimana besaran upah yang ditetapkan merupakan perwujudan kompromi diantara kedua pihak. Pada titik ini terdapat persoalan sudut pandang keadilan antara kedua pihak mengenai besaran upah yang ditetapkan. Pada satu sisi untuk kepentingan efisiensi perusahaan maka upah harus ditekan serendah mungkin. Di lain pihak buruh berharap melalui upah yang diterimanya dapat memenuhi kesejahteraan hidupnya dan bila memungkinkan meningkatkannya. Persoalan inilah yang harus diselesaikan agar perusahaan tetap dapat berjalan dan kesejahteraan hidup buruh tidak diabaikan. Pemerintah sebagai pengelola negara tentunya berusaha agar stabilitas dalam proses produksi selain itu sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan ditengah-tangah warganya. Maka pemerintah juga harus mengabil peran dalam menyelesaikan persoalan antara relasi buruh dan pengusaha. Untuk memediasi persolan upah tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan upah minimum. Dimana perumusan kebijakan upah tersebut dilakukan melalui suatu lembaga non struktural yang bersifat tripartit. Pemerintah, pengusaha dan buruh menjadi unsur didalam lembaga tersebut ditambah pakar dari perguruan tinggi. Pada dasarnya kebijakan upah minimum merupakan jaring pengaman agar harga upah tidak turun terlalu rendah. Maka melalui proses formulasi yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang dapat diterima oleh semua pihak. Sehingga ketika kebijakan tersebut diberlakukan tidak terjadi gejolak di masyarakat. Kata kunci : Upah Minimum, Kebijakan, Formulasi Universitas Sumatera Utara BAB I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Masalah Sudah menjadi sesuatu yang alami dan naluriah bagi manusia untuk berusaha bertahan hidup. Fakta inilah yang mendorong manusia untuk senantiasa kreatif dan bekerja keras untuk melakukan proses produksi. Yaitu menghasilkan barang-barang yang dapat menunjang kehidupan manusia itu sendiri.Untuk hidup, manusia harus memproduksi alat-alat penyambung hidupnya (makanan dan lain sebagainya). Untuk melakukannya mereka harus bekerja sama di dalam suatu pembagian kerja 1. Hal inilah yang mendorong terjadinya perubahan dalam tingkatan proses produksi. Sejarah peradaban manusia tidak terlepas pada proses perubahan tingkat perkembangan produksi manusia itu sendiri. Pada awalnya kegiatan produksi manusia hanya dilakukan melalui pengumpulan bahan-bahan makanan langsung dari alam.Kemudian pola tersebut mengalami perubahan ke pola agraris yaitu menanam tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.Revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap di Inggris oleh James Watt membawa manusia ke era baru. Era baru tersebut adalah zaman Industrilisasi, dimana proses produksi manusia ditandai dengan penggunaan mesin-mesin. Pada setiap tingkat perkembangan produksi adalah merupakan hasil dari perkembangan sejarah dan merupakan pencapaian generasi sebelumnya. Tentunya perubahan tingkatan produksi akan memberikan pengaruh pada struktur sosial dalam masyarakat itu sendiri. Perkembangan produksi mengharuskan keterlibatan bentuk-bentuk kerja sama, pembagian kerja, dan karenanya juga organisasi kemasyarakatan. Dimana masyarakat mengalami perubahan dalam serentetan tingkatan yang ditandai dengan berbagai bentuk kepemilikan modal.Pemilikan komunal masyarakat kuno didasarkan pada peranan budak 1 Anthony Brewer, A Guide to Marx’s Capital , diterjemahkan oleh Joebaar Ajoeb dengan judul Kajian kritis Das Kapital Karl Marx, jilid 3 (Jakarta: TePLOK PRESS, 2000), h. 11. Universitas Sumatera Utara .Pemilikan feodal (tanah) atas pemerasan hamba.Dan pemilikan perorangan borjuis (kapitalis) atas eksploitasinya terhadap proletariat dari pekerja upahan yang tidak memiliki apa-apa 2. Perkembangan ini di pandang merupakan keniscayaan dalam sejarah perjalanan manusia.Tetapi ada konskuensi yang harus di tanggung disini yaitu timbulnya pertentangan antara kelas pekerja dan kelas pemodal. Dimana Marx meramalkan bahwa pertarungan ini akan dimenangkan oleh pekerja. Yang pada akhirnya akan tercipta sebuah masyarakat tanpa kelas yaitu masyarakat komunis. Ramalan Marx tersebut tidaklah dilahirkan begitu saja tanpa melihat realitas yang terjadi.Terlepas dari benar atau tidaknya ramalan tersebut, dari ramalan tersebut terlihat bahwa hubungan antara pekerja dan pemilik modal/pengusaha memiliki sebuah titik kritis yang berpotensi untuk meledakkan konflik terbuka antara kedua kelas tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, maka salah satu persoalan utama dalam hubungan kerja antara pekerja dan pemilik modal/pengusaha adalah bagaimana pendistribusian hasil produksi dapat memuaskan kedua belah pihak. Sehingga terjadi kompromi antara kedua belah pihak dan tidak terjadi benturan.Salah satu aspek yang sangat menetukan baik dan buruknya hubungan pekerja dan pemilik modal/pengusaha adalah upah.Hingga saat ini persoalan nominal upah yang layak masih banyak diperdebatkan. Hal ini terjadi antara lain karena pekerja dan pemilik modal memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat upah tersebut. Dalam pendekatan (paradigma) kapitalis, pekerja/buruh dipandang sebagai faktor ekonomi saja sehingga nilai buruh diserahkan pada mekanisme pasar 3.Pandangan seperti ini memberikan mekanisme pasar sebagi faktor dominan dalam penentuan upah buruh/pekerja dibandingkan faktor tenaga, skill atau waktu yang di korbankan buruh kepada pengusaha/pemilik modal.Padahal realita menunjukkan antara jumlah angkatan kerja dengan 2 3 ibid., h. 11 KPS, Hak-Hak Buruh (Edisi I, Medan:Kelompok Pelita Sejahtera, 2005) hal. 45 Universitas Sumatera Utara permintaan pengusaha di pasar tidaklah seimbang, artinya tingkat angkatan kerja selalu lebih tinggi dari permintaan pengusaha. Faktor inilah yang memberikan posisi kuat bagi pengusaha untuk menekan upah pekerja/buruh serendah-rendahnya dan mengabaikan kewajibannya pada buruh/pekerja.Dan hal tesebut merupakan salah satu bagian dari kepentingan pengusaha.Kepentingan dari pemilik modal ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang bekerja pada mereka.Kelas pekerja berkepentingan terhadap meningkatnya upah, meningkatnya kesejahteraan.Sedangkan kepentingan pengusaha adalah untuk meningkatkan keuntungan. Pengusaha akan selalu berusaha untuk mempertahankan keuntungannya, dan para pengusaha biasanya menyiasatinya dengan cara 4: 1. Menekan serendah mungkin upah buruh/pekerja ini adalah hal yang biasa dilakukan pengusaha. 2. Meningkatkan setinggi mungkin kuantitas (jumlah) produksi, ini berarti pekerja/buruh dituntut untuk bekerja lebih keras. 3. Meningkatkan harga produk. Agar kepentingan masing-masing pihak tercapai, maka masing-masing pihak harus mengorbankan kepentingan pihak lain. Dan biasanya pihak buruh/pekerja sering kali yang menjadi korban. Hal ini ditunjukkan selain jumlah upah yang masih di bawah standar, juga sama sekali tidak memenuhi prinsip utama pengupahan itu sendiri, yaitu pembagian atas keuntungan didasarkan pada nilai lebih barang yang di hasilkan pekerja 5 Hal inilah yang sering melahirkan konflik vertikal antara buruh/pekerja dengan pemilik modal/pengusaha.Sering terdengar dalam beberapa pemberitaan media masa, kelompok buruh melakukan aksi unjuk rasa bahkan mogok kerja di beberapa tempat. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan upah masih menyimpan potensi konflik yang 4 Ibid, hal. 46 Saut Kristianus, “Kebijakan Perburuhan Di Masa Krisi”, dalam Indrasari Tjandraningsih, Jurnal Anlisis Sosial: Situasi Krisis Titik Balik Kekuatan Buruh (Vol.4 No. 2, Bandung, Akatiga, 1999) hal. 14 5 Universitas Sumatera Utara tinggi yang akan senantiasa menunggu waktu untuk meledak. Dan apabila persoalan ini tidak dapat di tangani oleh pemerintah melalui institusi terkait dengan baik, maka stabilitas Negara dapat terganggu.Untuk itulah pemerintah sebagai institusi pengambil kebijakan harus turut serta dan berperan aktif untuk menyelesaikan persoalan ini.Karena, selain berkepentingan untuk menjaga stabilitas Negara, sesuai konstitusi pemerintah juga mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi warga negaranya. Hal tersebut tercermin dalam Pasal 27 UUD 1945 ayat 2 yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” 6. Demikian juga halnya dalam Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia (DUHAM) diisyaratkan hidup layak sebagai salah satu cerminan masyarakat adil dan makmur adalah Hak Azasi Manusia.Pasal 25-nya mengenai pengertian hidup layak menyebutkan “layak untuk kesehatan dan kesejahteraan diri dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian, perumahan dan perawatan medis dan pelayanan sosial yang diperlukan.Manusia lebih membutuhkan sekedar kebutuhan dasar seperti pangan, pakaian dan perumahan agar bisa menjalani kebutuhan hidup bermasyarakat”. Sebab dalam memberikan kehidupan yang layak pada rakyatnya faktor upah mempunyai peranan yang penting dalam pencapaian tujuan tersebut.Maka persoalan perburuhan yang dalam hal ini masalah upah buruh, pemerintah harus melakukan intervensi dalam bentuk pembuatan kebijakan. Karena tanpa adanya pihak ketiga yang menengahi konflik kepentingan buruh/pekerja dan pengusaha/pemilik modal maka akan sulit terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak. Untuk mengatasi problema upah, pemerintah saat ini mengambil kebijakan dengan membuat batas minimal upah yang harus di bayarkan oleh perusahaan kepada 6 Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Bab X, pasal 27 Universitas Sumatera Utara pekerja/buruh.Penetapan upah minimum dimaksudkan sebagai jaring pengaman agar upah pekerja/buruh tidak terus turun semakin rendah sebagai akibat tidak seimbangnya pasar kerja 7.Penetapan batas minimal upah dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan Upah Minimum.Upah minimum pertama kali Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) yang dibentuk oleh masjumi. Prinsip perjuangannya bahwa perjuangan buruh berbeda dengan perjuangan politik. Organisasi ini menegakkan Agar buruh dan Majikan berkompromi walau kehidupan buruh masih sekarat. Pada intinya Serikat ini Menginginkan kontrol dan menghancurkan Serikat yang berpolitik. Kebijakan Perburuhan Di Zaman Kolonial Belanda Dari bernagai macam literatur yang ada dijelaskan bahwa sistem perburuhan Indonesia dimulai dengan zaman perbudakan, rodi dan poenale sactie. Pada zaman perbudakan orang yang melakukan pekerjaan pada orang lain, yaitu budak tidak memiliki hak apapun. Para budak hanya mempunyai kewajiban untuk melakukan segala pekerjaan dan melakukan segala perintah tanpa sekalipun boleh menentangnya, sedangkan sang majikan sebagai pihak yang berkuasa betul-betul mempunyai hak penuh, bukan saja terhadap perekonomiannya namun juga terhadap hidup matinya para budak itu sendiri45. Melihat kondisi tersebut diatas terdapat suatu usaha penghapusan perbudakan yang dilakukan oleh Raffles. Usaha ini membuahhkan lahirnya S.1817 Nomor : 42 yang bersisi larangan untuk memasukan budak-budak ke pulau jawa. Kemudian Tahun 1818 ditetapkan pula undang-Undang Dasar Hindia Belanda yaitu RR (Regeling Reglement) 1818 yang beberapa pasalnya menyatakan sebagai berikut : 1. Pasal 114 berisi larangan jual beli budak dari luar Indonesia (Hindia Belanda) 45Zainal Asikin dkk, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, Jakarta : Rajawali Pers, hal. 10 74 Universitas Sumatera Utara 2. Pasal 115 berisi perintah untuk mengadakan peraturan-peraturan mengenai perlakukan terhadap keluarga budak. Pelaksanaan peraturan tersebut diatas diatur dalam beberapa peraturan pelaksana, salah satunya adalah S.1825 Nomor 44. Selanjutanya pengaturan tersebut diubah yaitu pada Tahun 1836 dengan dikeluarkannya RR 1836 selanjutnya RR 1854 yang didalam pasal 115-117 tegas-tegas menghendaki agar perbudakan segera dihapuskan paling lambat 1 januari 186046. Selain dari budak pada zaman ini dikenal juga peluruhan dan perhambaan. Peluruhan adalah ketidakbebasan sesorang karena terikatnya pada suatu kebun tertentu. Orang-orang ini bersama dengan orang-orang cina dan para budak diharuskan menanam pala yang harus dijual kepada VOC, dengan harga yang telah ditentukan. Sedangkan perhambaan adaalah bekerjanya sesorang pada orang lain (tanpa upah) karena orang lain itu pernah meminjam uang kepada orang lain tersebut dan tidak mampu membayarnya maka ia bekerja kepada orang tersebut sebagai usaha mengansur pengembalian utangnya. Pada tahun 1616 VOC melakukan pelarangan mengenai perhambaan ini, pada tahun 1808 Daendels mempartegas, larangan ini berlanjut dengan adanya RR 1818, samapi akhirnya pada tahun 1822 lahir Staatsblaad Nomor 10. Yang kemudian staatsblaad ini diperteguh pada tahun 1854 di daerah jawa dan Madura dengan adanya pasal 118 RR 1854 yang kemudian menjadi pasal 172 Indische Staatsregeling 1926. Zaman rodi (kerja paksa) sendiri mulai terjadi bersamaan dengan zaman perbudakan, dan resminya berakhir untuk jawa dan Madura tangaal 1 Februari 193847. Kerja rodi ini dimasudkan untuk kepentingan penguasa dimana penguasa memaksa rakyat untuk bekerja tanpa mengenal prikemanusiaan. Kerja rodi ini 46Ibid., hal 13 47Imana Soepomo, Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan Kerja Perlindungan Buruh, Cet.V, Jakarta : Pradya Paramita, 1983., hal.15 75 Universitas Sumatera Utara dijalankan di bidang perkebunan, bangunan-bangunan untuk kepentingan penguasa, pembuatan pabrik-pabrik, pengangkutan benda-benda berat untuk kepentingaan militer dan lain-lain. Pada zaman penjajahan ini terdapat juga Poenale Sanctie. Yaitu suatu peraturan perburuhan yang didalamnya mengatur adanya ancaman pidana. Ponale Sanctie ini diatur dalam Algemene Politie Strafreglement 1872 Nomor 111, yang menentukan : seorang tiada alasan yang dapat diterima meninggalkan atau menolak melaksanakan pekerjaannya dapat dipidana dengan denda antara 16 sampai 25 rupiah atau denda rodi 7-12 hari. Peraturan ini lahir untuk menjaga kepentingan pengusaaha dimana ketika itu perusahaan-perusahaan perkebunan mengalami kesulitan mendapatkan buruh karena adanya rodi, kemudian atas izin penguasa pada saat itu pegusaha dapat melakukan perjanjian kerja dengan penguasa sebagai contoh dengan kepala desa. Akan tetapi perjanjian ini malahan berkembang dan dijadikan alat penguasa untuk melakukan pemerasaan, pemaksaan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak layak bagi kemanusiaan sampai akhirnya menyebabkan banyaknya buruh-buruh yang melariikan diri dari tempat kerjanya untuk itulah Poenale Sanctie lahir. Zaman Kolonial Jepang Segera setelah kedatangan mereka di Indonesia, para pembesar militer jepang membubarkan semua jenis organisasi rakyat Indonesia, hanya organisasioraganisasi untuk mendukung usaha perang jepang yang diperkenankan dan didorong48. Partai-partai politik dan serikat-serikat buruh sepenuhnya bertentangan dengan kebijakan jepang,demikianlah selama seluruh periode jepang gerakan serikat buruh di tindas. Banyak pemimpin serikat buruh yang yakin bahwa pada akhirnya sekutu akan memenangkan perang tentara jepang akan meninggalkan negeri ini dan 48Tedjasukmana Iskandar, Watak Politik Gerakan serikat Buruh Indonesia, TURC, Jakarta; 2008 hal 28 76 Universitas Sumatera Utara Indonesia akan merdeka, mulai menyusun rencana untuk masa depan. Banyak dari mereka bergabung pada gerakan di bawah tanah yang dipimpin oleh kaum sosialis, komunis dan sekelompok nasionalis. Orang-orang indonesia ini menolak bekerjasama dengan jepang. Sebaliknya mereka terlibat dalam suatu kampanye propaganda ilegal, memberitahukan kepada rakyat bahwa usaha perang jepang adalah sesuatu yang tiada berpengharapan dan bahwa demokrasi pasti menang dalam jangka panjang. Tokoh serikat buruh lainnya berpartisipasi dengan kaum nasionalis di dalam persiapan-persiapan untuk pendirian suatu Indonesia merdeka menurut pola jepang, tetapi yang disusun oleh Dr soekarno dan Dr moh hatta dengan cara mereka sendiri. Zaman Orde Lama Semangat kemerdekaan untuk melakukan perlindungan kepada rakyat khususnya kepada buruh tertuang dalam Undang-Undang dasar 1945 pasal 27 ayat (2) “Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” selanjutnya juga tertuang dalam Pasal 28 “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang”. Semangat mempertahankan kemerdekaan juga dikongkritkan oleh pemerintah dengan memperhatikan nasib para buruh yaitu dengan dikeluaarkannya Undang-undang Kerja No.12 Tahun 1948 yang diperkuat dengan Undang-Undnang No.1 Tahun 1951 dinyatakan berlaku untuk seluruh Indonesia, Undang-Undang No.23 Tahun 1948 tentang Pengawasan Perburuhan yang juga diperkuat dengan Undang-Undang No.21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan antara serikat buruh dengan pengusaha, Undang-Undang No.12 tahun 1954 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta, Undang-Undang No.14 Ttahun 1969 mengenai ketentuan pokok tenaga kerja, undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan kerja. Selanjutanya semangat untuk melakukan perlindungan kepada rakyat pemerintah juga mengeluarkan peraturan- 77 Universitas Sumatera Utara peraturan pelaksana undang-undang tersebut, diantaranya adalah Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1948 untuk Undang-Undang Kerja Tahun 1948, Peraturan Pemerintah Noo.13 Tahun 1950 tentang Waktu Kerja dan Istirahat, Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 1954 tentang Istirahat Tahunan bagi Buruh, Peraturan Pemerintah no.41 Tahun 1953 tentan kewajiaban melaporkan perusahaan dan Peraturan Pemerintah No.2 Tahun 1988 untuk Undang-undang Kecelakaan No.33 Tahun 1947, Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang pertanggungan sakit, hamil, bersalin dan menginggal dunia, serta Peraturan Pemerintah No.33 Tahun 1977 tentang Asuransi Sosial tenaga Kerja. Usaha-usaha melakukan perlidungan terhadap buruh ini tidak terhenti sampai disitu, pemerintah selanjutnya meratifikasi hasil-hasil konferensi ILO, antara lain konvensi No.98 Tahun 1949 mengenai dasar-dasar hak untuk berorganisasi dan untuk berunding bersama (Lembaran Negara RI No.42 Tahun 1956). Konvensi No.100 Tahun 1951 tentang pengubahan yang sama bagi buruh laki-laki dan wanita untuk pekerjaan yang sama (Lembaran Negara RI No.171 Tahun 1957) Konvensi No.106 Tahun 1957 tentang istirahat, mingguan dalam perdagangan dan kantor-kantor (Lembaran Negara RI No.14 Tahun 1961). Konvensi No.1120 Tahun 1964 tentang hygine dalam perniagaan dan kantorkantor (Lembaran Negara RI No.14 Tahun 1961)49. Substansi semua undang-undang ini lahir dikarenakan pada saat itu posisi gerakan buruh cukup dominan secara politis. Selama Orde Lama, banyak pemimpin serikat buruh duduk di parlemen. Bahkan hingga tahun 1956 terdapat Fraksi Buruh khusus di Parlemen yang anggotanya terdiri dari para pemimpin SOBSI. Tercatat Fraksi di DPRS (menurut catatan tahun 1954): Masjumi 43 orang; PNI 42 100,00 Jumlah Frekuensi Persentase Universitas Sumatera Utara Dari tabel 30 diatas dapat dilihat bahwa dari 23 responden 11 responden mengatakan bahwa formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 sudah baik, 5 orang responden mengatakan bahwa formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 sangat baik, 2 orang responden mengatakan cukup baik, namun 3 orang responden mengatakan bahwa formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 tidak baik. Dan 2 orang responden mengatakan bahwa sangat tidak baik formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010. Dari data diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mengatakan bahwa formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 sudah baik. Hal diatas dapat dilihat dari bar chat dibawah ini: Gambar 6. Bar chat formulasi upah minimum kota medan tahun 2010 Universitas Sumatera Utara Dapat disimpulkan bahwa Formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 sudah baik, hal ini terlihat dari hasil rekapitulasi data dalam tabel sebelumnya bahwa formulasi upah minimum kota sudah mengacu pada nilai KHL, bahkan sudah berada diatas KHL. Proses formulasi juga sudah sesuai dengan Permenakertrans No 17 tahun 2007 tentang komponen dan pencapaian kebutuhan hidup layak. Hingga akhirnya dihasilkan kesepakatan rumusan upah minimum Kota Medan tahun 2010 adalah Rp 1.100.00,-. BAB VI PENUTUP 6.1 KESIMPULAN 1. Formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 adalah proses perumusan alternatifalternatif atau pilihan tindakan oleh serikat pekerja/serikat buruh, pengusaha dan pemerintah daerah dalam menentukan tingkat upah yang menjadi usulan bagi pertimbangan penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2010. Proses formulasi dimulai dari survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang dilakukan oleh tim dalam dewan pengupahan. Setelah survei KHL disepakati, maka dihasilkan nilai KHL yang menjadi dasar dalam perumusan upah minimum. Nilai KHL Kota Medan tahun 2009 yang disepakati sebagai dasar dalam perumusan upah minimum Kota Medan adalah Rp 1.094.213,-. Nilai Kebutuhan Hidup Layak tersebut menjadi Universitas Sumatera Utara dasar bagi setiap aktor dalam mengusulkan usulan upah. Upah yang diusulkan haruslah diatas KHL, sebagaimana tercantum dalam pasal 4 ayat 2 Permenakertrans No 17 tahun 2005. Usulanusulan upah tersebut lah yang menjadi dasar pembahasan dan perdebatan dalam setiap rapat dewan pengupahan hingga menghasilkan kesepakatan akan usulan upah minimum Kota Medan tahun 2010. Dari hasil rekapitulasi semua tabel tunggal menunjukan bahwa Formulasi upah minimum Kota Medan sudah mengacu pada nilai KHL, bahkan sudah berada diatas KHL. Proses formulasi juga sudah sesuai dengan Permenakertrans No 17 tahun 2007 tentang komponen dan pencapaian kebutuhan hidup layak. Hingga akhirnya dihasilkan kesepakatan rumusan upah minimum Kota Medan tahun 2010 adalah Rp 1.100.00,-. Untuk Kota Medan sendiri formulasi upah minimum kota dimulai pada tahun 2006 dengan dibentuknya dewan pengupahan Kota Medan. Sejak saat itu Kota Medan merumuskan sendiri besaran upah minimum kota. Proses formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 sudah mengacu pada KHL, dan sesuai dengan aturan yang berlaku yaitu Permenakertrans No 17 tahun 2005. Hanya yang menjadi persoalan adalah Permen yang menjadi dasar hukum dalam formulasi upah minimum masih perlu diperbaiki. Karena Permen tersebut sarat akan permasalahan dan banyak ketidakpuasan kelompok akan Permen tersebut. Sehingga perlu direvisi. 2. Formulasi upah minimum kota dirumuskan oleh unsur tripartit yang terdiri dari unsur pemerintah, unsur serikat pekerja/serikat buruh dan unsur pengusaha. Ketiga unsur tersebut tergabung dalam dewan pengupahan. Setiap anggota dewan pengupahan mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan pendapat dan argumen akan usulan upah. Tidak dipungkiri bahwa Universitas Sumatera Utara masing-masing unsur memiliki pandangan dan usulan yang berbeda tentang upah, Karena masing-masing unsur mewakili kepentingan kelompoknya. Namun rumusan upah minimum tidak hanya diputuskan berdasarkan tuntutan dan aspirasi kedua kepentingan yaitu buruh dan pengusaha, tetapi tetap mengacu kepada KHL, pertumbuhan ekonomi, inflasi, UMP, dan tingkat upah daerah sekitar. Formulasi upah minimum kota adalah untuk mengahasilkan kesepakatan usulan upah minimum yang nantinya menjadi rekomendasi upah minimum Kota Medan kepada Gubernur. Kesepakatan yang dihasilkan oleh dewan pengupahan sangat ditentukan oleh interaksi antar aktor di dalamnya. Interaksi antar aktor dilihat dari bagaimana para aktor merumuskan usulan upah hingga dapat menghasilkan kesepakatan akan tingkat upah minimum kota yang akan disampaikan kepada Walikota untuk disahkan oleh Gubernur nantinya. Dari hasil penelitian di lapangan diketahui bahwa interaksi para aktor dalam merumuskan usulan upah sudah cukup baik. Masing-masing aktor bebas berpendapat dan menyampaikan usulannya tanda ada tekanan dari pihak manapun. Selain itu musyawarah sebagai metode dalam mencapai kesepakatan merupakan metode pembahasan usulan upah yang demokratis. Dalam formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2009 unsur serikat pekerja megusulkan Rp 1.275.000,- sedangkan APINDO mengusulkan Rp 1.070.000,-. Namun akhirnya disepakati Rp. 1.100.000,- sebagai angka tengah atas kesepakatan bersama. Hasil rumusan upah tersebut tidak langsung diterima oleh APINDO yaitu dengan melakukan aksi walk out dalam voting tersebut. Sehingga perlu kedewasaan dari dari masing-masing aktor atas setiap kesepakatan yang dihasilkan bersama. 6.2 SARAN Universitas Sumatera Utara 1. Formulasi upah minimum Kota Medan tahun 2010 sudah baik, karena sudah berada di atas harga Kebutuhan Hidup Layak. Namun, usulan upah yang diusulkan harus juga mempertimbangkan bagaimana sebenarnya tuntutan buruh dan tingkat kebutuhan saat ini. Survei KHL yang dilakukan sebagai dasar dalam perumusaan upah harus benar-benar objektif, sehingga bisa dihasilkan nilai KHL yang sesuai dengan kebutuhan riil saat ini. Item/komponen kebutuhan yang disurvei juga harus jelas dan sesuai dengan harga kebutuhan sekarang. Selain itu perlu ada perbaikan dalam revisi Permenakertrans No 17 tahun 2005 tentang komponen dan tahapan pencapaian kebutuhan hidup layak sebagai dasar dalam perumusan upah minimum kota. Karena memang Permen tersebut dianggap sarat akan permasalahan yang menyebabkan tingkat upah buruh rendah. 2. Masing-masing aktor dalam proses formulasi juga harus lebih objektif dalam melihat realita kehidupan saat ini. Sehingga usulan upah yang diajukan juga tidak hanya mempertimbangkan kepentingan kelompok saja. Pembicaraan bipartite antara buruh dan pengusaha harus dilakukan, sehingga keduanya bisa saling mengerti kondisi dan tuntutan masing-masing pihak. 3. Selain itu juga peran pemerintah sebagai mediator harus dapat ditingkatkan dengan maksimal. Unsur pemerintah harus bisa bersikap tegas dan netral dalam memberikan usulan upah minimum kota. Pertimbangan Kebutuhan Hidup Layak, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan tingkat upah juga harus lebih diperhatikan. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Abidin, Zainal Said. 2004. Kebijakan Publik. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah. Asikin, Zainal, dkk. 1993. Dasar-Dasar Hukum Perburuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Asyhadie, Zaeni. 2007. Hukum Kerja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Arikunto, Suharsini. 2004. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Rineka Cipta. Faturohman, Deden Dan Wawan Sobari. 2004. Pengantar Ilmu Politik. Malang. UMM Press. Husni, Lalu. 2003. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Islamy, Irfan. 2001. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara. Jones, Charles O. 1991. Pengantar Kebijakan Publik. Penerjemah Ricky Istamto. Jakarta, Rajawali. Maimun. 2004. Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Moleong, Lexy .J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Parsons, Wayne. 2005. Publik Policy. Jakarta: Prenada Media. Rusli, Hardijan. 2004. Hukum Ketenagakerjaan 2003. Jakarta : Ghalia Indonesia. Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. 2005. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Universitas Sumatera Utara Soedarjadi. 2008. Hukum Ketenagakerjaan Di Indonesia. Jakarta: Pustaka Yustisia. Subarsono, AG. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sugiono, 2004. Metodologi Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. Tjandra, Surya, dkk. 2007. Advokasi Hukum Di Daerah. Jakarta: TURC. Winarni, F dan G sugiyarso. 2006. Administrasi Gaji & Upah. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo. Sumber Lain: UU No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. PP 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah. Keputusan Presiden RI No: 107 tahun 2004 Tentang Dewan Pengupahan. Permenakertrans No: PER-17/MEN/VII/2005. Tentang Komponen Dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak. Permenaker No: PER-01/MEN/1999 Tentang Upah Minimum. Universitas Sumatera Utara
Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara )
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara )

Gratis