PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DAN GAYA INKLUSI TERHADAP HASIL BELAJAR SERVIS ATAS DALAM PERMAINAN BOLAVOLI PADA SISWA PUTRA KELAS VII SMP N 1 KARANGGEDE TAHUN AJARAN 2009

Gratis

5
119
75
2 years ago
Preview
Full text
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DAN GAYA INKLUSI TERHADAP HASIL BELAJAR SERVIS ATAS DALAM PERMAINAN BOLAVOLI PADA SISWA PUTRA KELAS VII SMP NEGERI 1 KARANGGEDE TAHUN AJARAN 2009/2010 SKRIPSI Oleh: ANDRI SURYANTO K4606017 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 commit to user i perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DAN GAYA INKLUSI TERHADAP HASIL BELAJAR SERVIS ATAS DALAM PERMAINAN BOLAVOLI PADA SISWA PUTRA KELAS VII SMP NEGERI 1 KARANGGEDE TAHUN AJARAN 2009/2010 Oleh: ANDRI SURYANTO K4606017 Skripsi Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 commit to user ii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pembimbing I Pembimbing II Drs. H. Sunardi, M.kes NIP. 19581121 199003 1 004 Drs. Waluyo, M.Or NIP. 19660307 199403 1 002 commit to user iii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar sarjana pendidikan. Pada hari: Kamis Tanggal : 29 juli 2010 Tim Penguji Skripsi : (Nama Terang) (Tanda Tangan) Ketua : Drs. H Mulyono, M.M. ____________ Sekretaris : Dra. Hanik Liskustyawati, M.Kes. _____________ Anggota I : Drs. H. Sunardi, M.Kes _____________ Anggota II : Drs. Waluyo, M.Or _____________ Disahkan oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas maret Dekan, Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd, NIP. 19600727 198702 1001 commit to user iv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ABSTRAK Andri Suryanto. PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DAN GAYA INKLUSI TERHADAP HASIL BELAJAR SERVIS ATAS DALAM PERMAINAN BOLAVOLI PADA SISWA PUTRA KELAS VII SMP N 1 KARANGGEDE TAHUN AJARAN 2009/2010, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Perbedaan Pengaruh Pembelajaran Servis atas bolavoli dengan pendekatan konvensional dan gaya inklusi terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010. (2) Pembelajaran servis atas bolavoli yang lebih baik pengaruhnya antara pendekatan konvensional dan gaya inklusi terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi penelitian adalah siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010 berjumlah 113 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Bila Subjek penelitian adalah sampel yang diambil dari populasi (N) yang diketahui besarnya,maka rumus yang digunakan adalah yang mengandung N, sehingga besarnya sampel yang digunakan sebanyak 40 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan pengukuran kemampuan servis atas dalam permainan bolavoli dari Nurhasan tahun 2001. Teknik analisis data yang digunakan dengan uji t pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh simpulan sebagai berikut: (1) Tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pembelajaran servis atas bolavoli antara pendekatan konvensional dan gaya inklusi terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010, dengan nilai perhitungan thit sebesar 1,657 dan ttabel sebesar 2,09 dengan taraf signifikansi 5%. (2) Pembelajaran servis atas bolavoli dengan gaya inklusi memiliki pengaruh yang lebih baik terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010. Kelompok 1 (pembelajaran servis atas bolavoli dengan gaya inklusi) memiliki peningkatan sebesar 52,81%. Sedangkan kelompok 2 (pembelajaran servis atas bolavoli dengan pendekatan konvensional) memiliki persentase peningkatan sebesar 40,11%. commit to user v perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ABSTRACT Andri Suryanto. THE DIFFERENCE OF CONVENTIONAL AND INCLUSION STYLE LEARNING APPROACHES EFFECT ON THE LEARNING ACHIEVEMENT OF UPPER SERVICE IN VOLLEYBALL GAME IN THE VII MALE GRADERS OF SMP N 1 KARANGEDE IN THE SCHOOL YEAR OF 2009/2010, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty of Surakarta Sebelas Maret University, July 2010. The objective of research is to find out: (1) The difference of volleyball upper service learning effect with conventional approach and inclusion style on the learning achievement of upper service in volleyball game in the VII male graders of SMP N 1 Karangede in the School Year of 2009/2010, and (2) the volleyball upper service learning with the better effect between the conventional approach and inclusion style on the learning achievement of upper service in volleyball game in the VII male graders of SMP N 1 Karangede in the School Year of 2009/2010. This research employed an experimental method. The population of research was the VII male graders of SMP N 1 Karangede in the School Year of 2009/2010 consisting of 113 students. The sampling technique used was random sampling one. If the subject of research was the sample taken from the population (N) with its known size, the formula used was the one containing N, so that the sample size used was 40 respondents. Techniques of collecting data used were test and the measurement of upper service competency in volleyball game from Nurhasan 2001. Technique of analyzing data employed was t-test at significance level of 5%. Considering the result of research it can be concluded as follows: (1) there is no significant effect of volleyball upper service learning between conventional approach and inclusion style on the learning achievement of upper service in volleyball game in the VII male graders of SMP N 1 Karangede in the School Year of 2009/2010, with the tstat value of 1.657 and ttable of 2.09 at significance level of 5%. (2) The volleyball upper service learning with inclusion type has a better effect on the learning achievement of upper service in volleyball game in the VII male graders of SMP N 1 Karangede in the School Year of 2009/2010. Group 1 (volleyball upper service learning with inclusion style) has increase of 52.81%. Meanwhile group 2 (volleyball upper service learning with conventional method) has percentage increase of 40.11%. commit to user vi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id MOTTO  Hidup adalah tantangan yang harus dihadapi, jangan pernah takut & menyerah dalam menghadapinya.  “Mensana in corpora sano”. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.  Semangat….!Semangat…!!!,Dan teruslah Semangat!!” commit to user vii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PERSEMBAHAN Skripsi ini dipersembahkan kepada :  Bapak dan ibu tercinta dengan segala kasih sayangnya.  Adik-Adikku tersayang  Dik Winasih Kusumaningrum, S.Pd yang selalu memberi semangat.  Teman-teman Cos “ANGKASA” (Team touring Porwokerto) Your’s Is The Best.  Teman-teman PENJAS “06”  Adik-adik JPOK FKIP UNS.  Keluarga besar JPOK FKIP UNS tercinta.  Almamater. commit to user viii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas rahmat dan hidayah-Nya yang dilimpahkan kepada kami sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Kami menyadari bahwa tidak mungkin menyelesaikan penulisan skripsi ini tanpa bantuan berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M. Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan izin penulisan skripsi. 2. Drs. H. Agus margono, M. Kes., Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan kesehatan Unuversitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberikan izin penulisan skripsi. 3. Drs. H. Sunardi, M.Kes., Ketua Program Pendidikan Kesehatan Jasmani Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan izin penulisan skripsi. 4. Drs. H. Sunardi, M.Kes. pembimbing I dan Drs. Waluyo, M.Or selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Kepala Sekolah & Guru Penjas SMP Negeri 1 Karanggede yang telah memberikan izin penelitian. 6. Murid-murid kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede yang telah membantu penelitian. 7. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. Semoga segala amal baik tersebut mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya berharap semoga hasil penelitian yang sederhana ini dapat bermanfaat. commit to user ix Surakarta, Juli 2010 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR ISI Halaman JUDUL……………………………………………………………………… i PENGAJUAN……………………………………………………………… ii PERSETUJUAN…………………………………………………………… iii PENGESAHAN…………………………………………………………….. iv ABSTRAK………………………………………………………………….. v MOTTO……………………………………………………………………... vii PERSEMBAHAN.......................................................................................... viii KATA PENGANTAR……………………………………………………… ix DAFTAR ISI………………………………………………………………... x DAFTAR GAMBAR……………………………………………………….. xiii DAFTAR TABEL………………………………………………………….. xiv DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………. xv BAB I 1 PENADAHULUAN……………………………………………… A. Latar Belakang Masalah…………….……………………………. 1 B. Perumusan Masalah………………..……………………………… 6 C. Tujuan Penelitian…………………………………………………. 6 D. Manfaat Penelitian………………………………………………… 7 LANDASAN TEORI……………………………..……………… 8 A. Tinjauan Pustaka…………………………………………………. 1. Pembelajaran Servis Atas Dengan Pendekatan Konvensional.. 8 a. Pengertian pendekatan Konvensional…………………….. 8 BAB II b. Pelaksanaan Pembelajaran Servis Atas Dengan Pendekatan Konvensional………………………………… 9 c. Kelebihan Dan Kelemahan Pembelajaran Servis Atas Dengan Pendekatan Konvensional………………………. commit to user x 11 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2. Pembelajaran Servis Atas Dengan Gaya Inklusi……………. 12 a. Gaya Mengajar …………………………………………. 12 b. Pengertian Gaya Inklusi…………………………………. 13 c. Pembelajaran Servis Atas Gaya Inklusi…………………. 14 d. Kelebihan Dan Kelemahan Pembelajaran Servis Atas dengan gaya Inklusi……………………………………… 16 3. Permainan Bolavoli…………………………………………… 17 a. Pengertian permainan bolavoli…………………………… 17 b. Macam-macam Teknik Dasar Bermain Bolavoli………… 19 c. Pentingnya Penguasaan Teknik Dasar Blavoli…………… 21 4. Servis Atas Bolavoli………………………………………….. 23 a. Pentingnya Servis Dalam Permainan Bolavoli…………… 23 b. Servis Atas………………………………………………... 24 c. Teknik Pelaksanaan Servis Atas………………………….. 24 d. Kesalahan Yang Sering Dilakukan Saat Melakukan Servis Atas………………………………………………... 27 5. Pendekatan Pembelajaran…………………………………….. 28 a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran………………...…… 28 b. Prinsip-prinsip Pembelajaran Servis Atas Bolavoli...…….. 29 c. Karakteristik Atau ciri-ciri Perubahan Akibat Belajar..….. 30 B. Kerangka Pemikiran……………………………………………… 35 C. Perumusan Hipotesis…………………………………………..… 37 BAB III METODE PENELITIAN……………………………….……... 39 A. Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………. 39 1. Tempat penelitian…………………………………………….. 39 2. Waktu Penelitian……………………………………………... 39 B. Metode Penelitian……………………………………………….. … 40 C. Variabel Penelitian………………………………………………… 41 D. Populasi dan Teknik Pengambilan sampel………………………… 42 1. Populasi……………………………………………..…………. 42 commit to user 2. Teknik Pengambilan sampel…………………………………… 42 xi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id E. Teknik Pengumpulan Data…………………………….………….. 43 F. Teknik Analisis data……………………………………………… 43 BAB IV HASIL PENELITIAN…………………………………………... 46 A. Diskripsi Data………………………………………………….. … 46 B. Uji Prasyarat Analisis……………………………………………… 47 1. Uji Normalitas…………………………………………………. 47 2. Uji Homogenitas………………………………………………. 48 C. Pengujian Hipotesis ………………………………………………. 49 D. Pembahasan Hasil Analisis Data…………………………………. 52 BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan………………………………………………………….. 55 B. Implikasi…………………………………………………………... 55 C. Saran…………………………………………………………….... 56 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………. 57 LAMPIRAN………………………………………………………………… 60 commit to user xii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Sikap permulaan servis atas ………………………………,,, 25 Gambar 2. Sikap pelaksanaan servis atas………………………………. 26 Gambar 3 Sikap akhir servis atas ……………………………………... 26 commit to user xiii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Diskripsi Data Tes Awal dan Tes Akhir Hasil Belajar Servis Atas Bolavoli Pada Kelompok 1 dan Kelompok 2…,,.. 46 Tabel 2. Ringkasan Hasil Uji Reliabilitas Data tes Awal ……………... 46 Tabel 3. Tabel Range Kategori Reliabilitas …………………………... 47 Tabel 4. Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data ……………………... 47 Tabel 5. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Data …………………... 48 Tabel 6. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Tes Awal Pada Kelompok 1 dan Kelompok 2 …………………………………………….. 49 Tabel 7. Rangkuman Uji Perbedaan Hasil Tes Awal dan Tes Akhir pada Kelompok 1 ………………………………………….. 50 Tabel 8. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Tes Awal dan Tes Akhir Pada Kelompok 2 …………………………………………... 50 Tabel 9. Rangkuman Hasil Uji Perbedaan Tes Akhir Antara Kelompok 1 dan Kelompok 2 ……………………………… 51 Tabel 10. Rangkuman Hasil Penghitungan Nilai Perbedaan Peningkatan Hasil Belajar Servis Atas Bolavoli antara Kelompok 1 dan kelompok 2 …………………………………………………. 52 commit to user xiv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Data Tes Awal Kemampuan Servis Atas Bolavoli …………. 61 Lampiran 2. Data Hasil Tes Awal Servis Bawah Bolavoli berdasarkan Ranking …………………………………………………….. 62 Lampiran 3. Tabel Data Kelompok Sampel Penelitian Berdasarkan hasil Tes Awal Kemampuan Servis Atas Bolavoli …………………………. 63 Lampiran 4. Tabel Data Tes Akhir Kemampuan Servis Atas Bolavoli ………. Lampiran 5. Tabel Uji Reliabilitas Data Tes Awal Kemampuan Servis Atas 64 Bolavoli …………………………………………………………. 65 Lampiran 6. Tabel Kerja Uji Normalitas Tes Awal Kelompok 1 ……….. 68 Lampiran 7. Tabel Kerja Uji Normalitas Tes Awal Kelompok 2 ……….. 69 Lampiran 8. Tabel Kerja Uji Normalitas Tes Akhir Kelompok 1 ………. 70 Lampiran 9. Tabel Kerja Uji Normalitas Tes Akhir Kelompok 2 ………. 71 Lampiran 10. Tabel Uji Homogenitas Data Tes Awal Kemampuan Servis atas Bolavoli ……………………………………………….. 72 Lampiran 11. Tabel Kerja Perbedaan Tes Awal Antar Kelompok (Uji T) .. 73 Lampiran 12. Tabel Kerja Perbedaan Tes Awal dan Tes Akhir Kelompok 1………………………………………………… 74 Lampiran 13. Tabel Kerja Perbedaan Tes Awal dan Tes Akhir Kelompok 2 ………………………………………………... 75 Lampiran 14. Tabel Kerja Perbedaan Tes Akhir Antar Kelompok ………. 76 Lampiran 15. Petunjuk Pelaksanan Tes Kemampuan servis Atas Bolavoli ……………………………………………………. 77 Lampiran 16 Banyaknya sampel yang digunakan dalam penelitian …….. 79 commit to user Lampiran 17. Program Pembelajaran Servis Atas Bolavoli dengan Gaya xv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Inklusi ……………………………………………………… 80 Lampiran 18. Program Pembelajaran Servis Atas Bolavoli dengan pendekatan Konvensional …………………………………. 82 Lampiran 19. Prinsip Program Pembelajaran Konvensional dan Gaya Inklusi …………………………………………………….. 86 commit to user xvi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah yang bersifat formal, di sengaja direncanakan dengan bimbingan guru. Apa yang hendak dicapai dan dikuasai oleh siswa dituangkan dalam tujuan belajar, dipersiapkan bahan apa yang harus dipelajari, dipersiapkan juga metode pembelajaran yang sesuai dan dilakukan evaluasi untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. Sejalan dengan permasalahan belajar mengajar, kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah selalu terkait langsung dengan tujuan yang jelas. Dalam hal ini Adang Suherman (1999/2000: 23) menyatakan, “secara umum tujuan pendidikan jasmani dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu: “(1) perkembangan fisik, (2) perkembangan gerak, (3) perkembangan mental dan, (4) perkembangan social”. Melalui pendidikan jasmani diharapkan dapat merangsang perkembangan dan pertumbuhan jasmani siswa, merangsang perkembangan sikap, mental, social, emosi yang seimbang serta keterampilan gerak siswa. Pentingya peranan pendidikan jasmani di sekolah maka harus diajarkan secara baik dan benar. Aktivitas jasmani atau gerak tubuh merupakan sarana dalam pendidikan jasmani. Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan jasmani anak dan potensi lainya seperti : afektif, koqnitif dan psikomotor. Aktifitas gerak sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani telah dituangkan dalam kurikulum pendidikan jasmani yang berlaku. Pendidikan jasmani adalah suatu proses melalui aktivitas jasmani, yang dirancang dan di susun secara sistematis, untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, meningkatkan kemampuan dan keterampilan jasmani, kecerdasan dan pembentukan watak, serta nilai dan sikap yang positif. Tujuan umum pendidikan commit to user 1 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2 jasmani adalah memacu kepada pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional dan sosial yang selaras dalam upaya membentuk dan mengembangkan kemampuan gerak dasar, menanamkan nilai, sikap dan membiasakan hidup sehat. Pendidikan jasmani merupakan suatu pendidikan yang didalamnya terdapat beberapa macam cabang olahraga yang wajib diajarkan. Ditinjau dari materi yang harus diberikan kepada siswa, materi pendidikan jasmani dibedakan menjadi dua kelompok yaitu materi pokok dan materi pilihan. Materi pokok merupakan mata pelajaran yang harus diajarkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Sedangkan materi pilihan merupakan kegiatan olahraga di luar jam pelajaran sekolah berupa kegiatan ektrakulikuler olahraga. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di dalamnya diajarkan beberapa macam cabang olahraga yang terangkum dalam kurikulum pendidikan jasmani, salah satu olahraga yang diajarkan dalam pendidikan jasmani yaitu permainan bolavoli. Permainan bola voli merupakan suatu permainan yang komplek yang tidak mudah dilakukan setiap orang. Sebab dalam permainan bola voli dibutuhkan koordinasi gerak yang benar-benar bisa diandalkan untuk melakukan semua gerakan yang ada dalam permainan bola voli. Dalam hal ini Aip Syarifudin (1991/1992: 187) menyatakan,”Teknik dasar dalam permainan bolavoli pada dasarnya terdiri atas servis (service) dan membagi-bagi bola (pass), baik dari bawah maupun dari atas”. Namun dengan semakin maju dan berkembangnya bentuk-bentuk gerakan dalam permainan bolavoli (terutama dalam pertandingan), maka teknik dasar berkembang menjadi adanya teknik dalam melakukan smash dan teknik untuk mengantisipasi smash dari lawan(teknik membendung/block). Permainan bola voli dimainkan oleh dua regu terdiri atas 6 orang pemain, setiap regu berusaha untuk dapat memukul dan menjatuhkan bola ke dalam lapangan lawan. Bola boleh dipukul dengan tangan maupun anggota tubuh yang lainnya dari batas pinggang ke atas dengan pantulan yang sempurna, sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Walaupun begitu, permainan bolavoli sangat cepat berkembang dan merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat popular di Indonesia. Di Indonesia sendiri permainan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3 bolavoli, secara resmi dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional II yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1951. Langkah awal dalam proses pembelajaran permainan bolavoli yaitu memperkenalkan macam-macam teknik dasar bolavoli agar siswa memahami dan menguasainya. Seperti dikemukakan M. Furqon H. (1995:115) bahwa, “Dalam awal proses belajar, siswa tidak harus dibebani secara mental dan fisik. Oleh karena itu belajar teknik tetap diberikan pada bagian pertama atau permulaan sesi latihan “. Dengan menguasai macam-macam teknik dasar dalam bolavoli, diharapkan siswa akan memiliki keterampilan bermain bolavoli. Servis merupakan salah satu teknik dasar bolavoli yang berperan sebagai tanda dimulainya permainan dan sebagai serangan pertama sebagai regu yang melakukanya. Berdasarkan jenisnya, servis bolavoli dibedakan menjadi dua macam yaitu servis bawah dan servis atas. Pentingnya peranan servis, maka harus diajarkan kepada siswa, agar siswa memahami dan menguasainya sehingga dapat melakukan servis dengan baik dan benar. Servis atas merupakan sesuatu yang menantang bagi siswa, Untuk menggunakan servis ini siswa harus mampu melempar secara konsisten dan harus memiliki kekuatan serta koordinasi untuk memukul bola keatas jaring dengan menggunakan suatu gerakan melempar tangan atas. Siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 karanggede tahun pelajaran 2009/2010 adalah sampel yang akan digunakan dalam penelitian untuk membuktikan dan menjawab permasalahan yang muncul dalam penelitian. Peneliti mengambil sampel di SMP Negeri 1 Karanggede karena peneliti merupakan alumni dari SMP Negeri 1 Karanggede, dimana di sekolah itu dalam pelajaran olahraga ada cabang olahraga yang diminati dan disukai oleh siswa pada umumnya baik itu siswa putra maupun siswa putri yaitu sepak bola dan bolavoli. Diantara kedua cabang tersebut yang paling diminati adalah permainan bolavoli. Banyak siswa di SMP Negeri 1 Karanggede yang bisa bermain bolavoli dan berprestasi hingga ke tingkat kabupaten, sampai sekarangpun masih ada siswa yang berprestasi dalam permainan bolavoli. Siswa putra commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 4 kelas VII SMP Negeri 1 karanggede adalah siswa baru, sehingga kemampuan servis atas masih rendah dan perlu ditingkatkan. Hal ini disebabkan karena pada awalnya di Sekolah Dasar (SD) belum memiliki kemampuan dasar servis atas, sehingga belum menguasai teknik servis atas yang benar. Di samping itu juga, pada umumnya siswa kelas VII SMP belum memiliki kekuatan yang memadai. Belum menguasai teknik servis atas dan kekuatan yang belum memadai, sehingga kurang mampu melakukan servis atas yang baik dan efektif. Hal tersebut diperkuat oleh bapak Efendi, S.pd yang merupakan guru olahraga kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede, bahwa dalam melakukan berbagai teknik dalam permaian bolavoli anak kelas VII masih kurang. Misalnya melakukan servis atas maupun servis bawah, banyak siswa yang dalam melakukanya kurang begitu baik, servisnya melenceng ke kanan maupun kekiri lapangan pemainan ada yang tidak sampai net bahkan ada pula bolanya melebihi lapangan lawan. Berdasarkan kenyataan bahwa, siswa pemula kebanyakan melakukan servis tanpa memperhitungkan efektifitas gerakan yang dilakukan. Hal yang terpenting bola dapat menyeberang melewati net dan masuk ke permainan lawan. Tetapi ada juga pukulan servisnya tidak menyeberangi net, servisnya tidak sampai di net bahkan ada juga yang servisnya melenceng jauh kekanan maupun ke kiri lapangan. Kondisi yang demikian dapat menyebabkan siswa enggan dan bosan untuk melakukan pembelajaran. Metode pembelajaran konvensional dan gaya inklusi merupakan pendekatan pembelajaran dan gaya pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi kendala-kendala dalam pembelajaran servis atas bolavoli terutama untuk siswa pemula. Pendekatan konvensional menekankan pada penguasaan teknik servis atas, sedangkan gaya inklusi rancangan pembelajaran yang di buat guru yang di dasarkan pada kemampuan masing-masing siswa dari yang mudah ke yang sukar. Gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam praktek pendidikan jasmani cenderung konvensional atau tradisional. Praktek ditekankan pada “Teacher Centered” dimana para siswa melakukan latihan fisik berdasarkan perintah yang commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 5 ditentukan oleh guru. Dalam pendekatan ini, guru menentukan tugas-tugas bagi siswa melalui kegiatan fisik. Biasanya tujuan pembelajaran ditekankan pada penguasan yang mengarah pada pencapaian tujuan prestasi tanpa melakukan modifikasi baik dalam peraturan, ukuran lapangan maupun jumlah pemain. Pendekatan seperti itu menjadikan anak kurang senang atau bahkan merasa frustasi untuk melakukan program pendidikan jasmani karena tidak mampu dan sering gagal untuk melaksanakan tugas yang diberikan dalam bentuk kompleks. Tugas-tugas yang merupakan keterampilan komplek seperti itu sesungguhnya hanya mampu dilakukan oleh orang dewasa saja. Karena dalam pendekatan tradisional tidak dilakukan upaya memodifikasi tugas gerak yang kompleks menjadi tugas gerak yang sederhana, maka dapat diramalkan tingkat keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas yang harus dipelajari tergolong rendah. Gaya mengajar inklusi, dalam hal ini guru merancang pembelajaran teknik dasar bolavoli pada level yang paling mudah, sedang dan tingkatan paling sulit. Dari rancangan yang telah di buat guru, siswa diberi kebebasan melakukan tugas ajar sesuai kemampuanya, misalnya dari tingkatan paling mudah, jika sudah menguasai tingkatkan pada level berikutnya. Pembelajaran konvensional dan gaya inklusi, masing-masing bertujuan untuk meningkatkan penguasan teknik servis atas bolavoli, namun belum diketahui pendekatan mana yang lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar servis atas bolavoli. Untuk itu perlu dilakukan penelitian dengan judul ,”Perbedaan Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Konvensional Dan Gaya Inklusi Terhadap Hasil Belajar Servis Atas Bolavoli Pada Siswa Putra Kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede Tahun Ajaran 2009/2010”. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 6 B. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Adakah perbedaan pengaruh antara pendekatan pembelajaran konvensional dan gaya inklusi terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010 ? 2. Manakah yang lebih afektif antara pendekatan pembelajaran konvensional dan gaya inklusi terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010 ? C. Tujuan penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui. 1. Perbedaan pengaruh antara pendekatan pembelajaran konvensional dan gaya inklusi terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010 2. Efektifitas antara pendekatan pembelajaran konvensional dan gaya inklusi terhadap hasil belajar servis atas bolavoli pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Karanggede tahun ajaran 2009/2010 commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 7 D. Manfaat Penelitian Masalah dalam penelitian ini penting untuk diteliti dengan harapan dapat memberi manfaat antara lain. 1. Dapat meningkatkan kemampuan servis atas bola voli bagi siswa yang dijadikan objek penelitian. 2. Dapat dijadikan sebagai masukan dan pedoman bagi guru penjaskes di SMP Negeri 1 Karanggede bahwa pentingnya pendekatan pembelajaran yang baik dan tepat, sehingga dapat diperoleh hasil belajar yang optimal. 3. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti tentang karya ilmiah untuk dikembangkan lebih lanjut. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 8 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pembelajaran Servis Atas dengan Pendekatan Konvensional a. Pengertian Pendekatan Konvensional Ditinjau Dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (2001: 592) konvensional diartikan, “kesepakatan, umum seperti adat istiadat, kebiasaan, kelaziman dan tradisional”. Berdasarkan pendapat tersebut, maka pengertian pendekatan konvensional diartikan pendekatan tradisional. Berkaitan dengan pendekatan tradisional Amung Ma’mun & Toto Subroto (2001: 7) menyatakan, “pendekatan tradisional adalah cara belajar yang lebih menekankan komponen-komponen teknik”. Sedangkan Beltasar Tarigan (2001: 15) berpendapat, “pendekatan tradisional mempunyai pengertian yang sama dengan pendekatan teknik yaitu pembelajaran yang menekankan pada penguasaan keterampilan atau teknik dasar suatu cabang olahraga”. Berdasarkan pengertian pendekatan tradisional yang dikemukakan dua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan konvesional merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada penguasaan teknik suatu cabang olahraga yang dalam pelaksanaanya dilakukan secara berulang-ulang. Dalam hal ini pembelajaran service atas dengan pendekatan konvesional dilakukan drilling atau latihan secara terus menerus. Sugiyanto (1996: 72) menyatakan, “dalam pendekatan drill siswa melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan apa yang diinstruksikan guru dan melakukannya secara berulang-ulang”. Pengulangan gerakan ini dimaksudkan agar terjadi otomasisi gerakan. Oleh karena itu, dalam pendekatan konvensional perlu disusun tata urutan pembelajaran yang baik agar siswa terlibat aktif, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Lebih lanjut Sugiyanto (1996: 72) memberikan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 9 beberapa saran yang perlu dipertimbangkan apabila pendekatan drill yang digunakan yaitu: 1. Drill digunakan sampai gerakan yang benar bisa dilakukan secara otomatis atau menjadi terbiasa, serta menekankan dalam keadaan tertentu gerakan itu harus dilakukan. 2. Pelajaran diarahkan agar berkonsentrasi pada kebenaran pelaksanaan gerakan serta ketepatan penggunaannya. Apabila pelajar tidak meningkat penguasaan geraknya, situasinya perlu dianalisis untuk menemukan penyebabnya dan kemudian membuat perbaikan pelaksanaannya. 3. Selama pelaksanaan drill perlu selalu mengoreksi agar perhatian tetap tertuju pada kebenaran gerak. 4. Pelaksanaan drill disesuakan dengan bagian-bagian dari situasi permainan olahraga yang sebenarnya. Hal ini bisa menimbulkan daya tarik dalam latihan. 5. Perlu dilakukan latihan peralihan dari situasi drill ke situasi permainan yang sebenarnya. 6. Suasana kompetetif perlu diciptakan dalam pelaksanaan drill, tetapi tetap ada control kebenaran geraknya. Saran-saran dalam pendekatan drill tersebut sangat penting untuk dipahami dan dimengerti oleh seorang guru dalam pelaksanaan mengajar keterampilan gerak. Seorang guru harus mampu menyusun tugas-tugas ajar secara baik, dapat membelajarkan siswa secara aktif sehingga pelaksanaan proses belajar mengajar berjalan secara kondusif. b. Pelaksanaan Pembelajaran Servis Atas dengan Pendekatan Konvensional Bertolak dari kesimpulan pendekatan konvensional tersebut diatas, maka pembelajaran servis atas dengan pendekatan konvensional yaitu dengan memilahmilah teknik gerakan servis atas. Bagian-bagian teknik servis atas dipelajari secara berulang-ulang dari sikap permulaan, gerakan pelaksanaan dan gerak lanjut. Kerangka kerja pendekatan konvensional yang diterapkan terangkum dalam table sebagai berikut : commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 10 Teknik 1. Sikap permulaan Proses Pembelajaran a. Di jelaskan sikap siap servis atas b. Dijelaskan posisi kaki yang benar, sikap badan, posisi kedua tangan c. Siswa mempraktekkan sikap permulaan servis atas sesuai dengan instruksi 2. Gerak pelaksanaan a. Dijelaskan cara melambungkan bola dan pemukul dan tingginya lambungan bola. b. Dijelaskan gerakan lengan perkenaan lengan dengan bola. c. Siswa mempraktekkan sesuai instruksi dari guru. 3. Gerak lanjutan a. Dijelaskan sikap atau gerakan kaki setelah memukul bola. b. Dijelaskan maksud dan tujuan setelah melakukan pukulan servis langsung masuk kelapangan dan melakukan sikap siap normal kembali. c. Siswa mempraktekkan sesuai dengan instruksi guru. Berdasarkan kerangka pembelajaran servis atas tersebut, guru bertugas mengorganisasi pembelajaran di antaranya mengatur tata urutan pembelajaran, formasi pembelajaran, alokasi waktu pembelajaran dan lain sebagainya. Disamping itu juga, menciptakan kondisi belajar yang menggairahkan adalah sangat penting, agar siswa terhindar dari rasa bosan. Dalam hal ini seorang guru harus mampu menciptakan variasi-variasi pembelajaran servis atas, misalnya servis atas di arahkan pada sasaran yang berubah-ubah dan sebagainya. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 11 Keaktifan siswa melakukan tugas ajar sangat di tuntut dalam pendekatan konvensional. Seperti dikemukakan Rusli Lutan (1988: 399) bahwa “keaktifan sendiri dari pihak siswa merupakan kunci utama penguasaan dan pemantapan gerak. Kelangsungan proses latihan pada tahap berikutnya ialah penguasaan teknik yang ideal. Hal ini tergantung pada inisiatif dan self-activity dari pihak siswa itu sendiri”. Sedang guru bertugas mengarahkan penguasaan gerak, melakukan koreksi dan evaluasi setiap terjadi kesalahan teknik adalah penting terhindar dari pola gerakan yang salah dari teknik yang dipelajari. Seperti dikemukakan Sugiyanto (1996: 72) bahwa“setiap pelaksanaan drill perlu selalu mengoreksi agar perhatian tertuju pada kebenaran gerak”. c. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Servis Atas dengan pendekatan Konvensional Berdasarkan pengertian dan pelaksanaan pembelajaran servis atas dengan pendekatan konvensional yang telah di kemukakan di atas dapat di identifikasi kelebihan dan kelemahannya. Kelebihan pembelajaran servis atas dengan pendekatan konvensional antara lain : 1) Siswa dapat memperagakan atau mempraktekkan teknik servis atas dengan baik dan benar. 2) Kesalahan teknik dapat dikenali lebih awal karena ada koreksi dari guru, sehingga dapat meminimalkan kesalahan teknik. Pembelajaran servis atas dengan pendekatan konvensional memiliki kelemahan antara lain : 1) Dapat menimbulkan rasa bosan, karena harus mengulang–ulang gerakan yang sama secara terus menerus dan menunggu giliran untuk melakukan tugas ajar. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 12 2) Hasrat gerak siswa tidak terpenuhi karena pembelajaran harus dilakukan secara runtut. 3) Siswa kurang ada tantangan dalam melakukan servis atas karena gerakan terlalu monoton. 2. Pembelajaran Servis Atas dengan Gaya Inklusi a. Gaya Mengajar Pembuatan keputusan pada awal pengajaran tentang gaya mengajar yang akan digunakan oleh guru pendidikan jasmani sangatlah penting untuk mencapai pengajaran yang sukses. Bila gaya mengajar tidak direncanakan , maka guru pendidikan jasmani akan menghadapi kesukaran untuk menyampaikan materi. Berkaitan dengan gaya mengajar Husdarto dan Yudah M. Saputra (2000: 21) menyatakan, “gaya mengajar merupakan interaksi yang dilakukan oleh guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar agar materi yang disajikan dapat diserap oleh siswa”. Sedangkan Srijono Brotosuroyo, Sunardi dan M. Furqon (1994: 250) berpendapat, “gaya mengajar didefinisikan dengan keputusan-keputusan yang dibuat oleh guru dan dibuat oleh siswa di dalam episode atau peristiwa belajar yang diberikan”. Berdasarkan pengertian gaya mengajar yang dikemukakan dua ahli tesebut dapat disimpulkan bahwa, gaya mengajar merupakan cara atau siasat yang dilakukan guru untuk mengaktifkan dan menggiatkan partisipasi siswa dalam melaksanakan tugas-tugas dari guru. Dalam hal ini guru dapat memilih atau menerapkan gaya mengajar tertentu untuk menyampaikan materi pelajaran dan mengatur kegiatan belajar. Dalam hal ini Muska Mosston dan Sara Ashworth (1992: 17-116) mengelompokkan gaya mengajar menjadi 5 yakni “(1) The command style, (2) The practice style, (3) The reciprocal style, (4) The shelf-check style, (5) The inclusion style”. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 13 Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar sangat penting untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Penerapan gaya mengajar ini dikaitkan dengan pengelolaan lingkungan belajar dan atmosfir belajar mengajar . b. Pengertian Gaya Inklusi Setiap gaya mengajar memiliki karekteristik sendiri-sendiri dan masingmasing memiliki kelebihan dan kelemahan. Menurut Muska Mosston dan Sara Ashworth (1992: 116) bahwa gaya mengajar inklusi adalah gaya mengajar yang dirancang oleh guru, di mana rancangan pembelajaran yang dibuat didasarkan pada kemampuan masing-masing siswa. Dari rancangan tersebut siswa diberi kebebasan untuk melaksanakan tugas ajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Menurut Husdarta dan Yudha M. Saputra (2000: 30) tujuan gaya mengajar inklusi adalah “untuk membelajarkan siswa pada level kemampuan masing-masing siswa”. Gaya mengajar lainnya yang memiliki pengertian hampir sama dengan gaya inklusi adalah gaya tugas. Berkaitan dengan gaya tugas Rusli Lutan (2000: 32) menyatakan: Ciri gaya tugas yaitu guru bertanggungjawab menentukan tujuan pengajaran, memilih aktivitas dan menetapkan tata urut kegiatan untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam gaya tugas ini siswa ikut serta menentukan cepat atau lambatnya tempo belajar. Guru memberi keleluasaan bagi setiap siswa untuk menentukan sendiri kecepatan belajar dan kemajuan belajarnya. Berdasarkan tiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, gaya mengajar inklusi merupakan gaya mengajar yang mempunyai tujuan membelajarkan siswa berdasarkan kemampuan masing-masing siswa. Dalam hal ini siswa melakukan tugas ajar sesuai dengan rancangan yang telah dibuat guru, dimana rancangan ini dibuat dengan tingkatan-tingkatan dari yang sederhana atau mudah, sedang atau tingkatan yang lebih sulit. Peranan siswa dalam gaya inklusi adalah mencoba melakukan gerakan untuk setiap tingkatan sesuai dengan kemampuannya. Siswa dapat memilih commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 14 gerakan yang mereka anggap mampu. Siswa dapat melanjutkan aktivitasnya pada level yang lebih sukar atau sulit, jika sebelumnya telah dikuasai. Peranan guru dalam gaya inklusi adalah mempersiapkan tugas gerak yang akan dilakukan siswa dan menentukan tingkat kesukaran di dalam tugas gerak yang akan diberikan. Guru harus mempersiapkan keriteria untuk masing-masing tahapan tugas. Berdasarkan pengertian gaya inklusi di atas, gaya mengajar inklusi ini memiliki karakteristik yaitu, siswa diberi kebebasan untuk melakukan tugas gerak yang telah disusun oleh guru. Siswa dapat melakukan tugas gerak sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dengan kata lain, siswa diberikan pembelajaran servis atas bola voli dari rancangan yang sederhana atau mudah, untuk kemudian meningkat pada rancangan yang lebih sulit atau kompleks. c. Pembelajaran Servis Atas Gaya Inklusi (Net meningkat dengan Jarak Bertahap) Pembelajaran servis atas gaya Inklusi dengan net meningkat jarak bertahap berorientasi pada kondisi siswa yang belum siap atau belum mampu melakukan servis dari jarak yang sebenarnya. Seringkali servis atas dari jarak sebenarnya maupun dengan tinggi net yang sesuai kurang dapat dilakukan dengan baik, bolanya sering menyangkut net, atau bolanya melenceng diluar lapangan permainan. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu disusun cara belajar dari yang mudah atau sederhana, untuk selanjutnya ditingkatkan secara bertahap. Menurut Sugiyanto (1996: 64) bahwa: Berdasarkan pertimbangan tingkat kesulitan dan tingkat kompleksitas, penyusunan materi pelajaran hendaknya mengikuti prinsip-prinsip penyusunan materi keterampilan yaitu: (1)dimulai dari materi belajar yang mudah dan ditingkatkan secara berangsur-angsur ke materi yang lebih sukar, (2) dimulai dari materi belajar yang sederhana dan ditingkatkan secara berangsur-angsur ke materi yang semakin komplek. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 15 Dari pendapat yang di kemukakan tokoh di atas ada pendapat lain yang dikemukakan Rusli Lutan dan Adang Suherman (2000: 76) bahwa: Manakala kondisi sebenarnya menjadi penghambat belajar keterampilan tertutup, rubahlah kondisi latihan itu pada tingkat yang bisa dilakukan siswa selama perubahan kondisi tersebut tidak merusak integritas skill yang dipelajarinya. Pada kesempatan ini ubahlah orientasi pembelajaran agar lebih menekankan pada efisiensi (proses) daripada efektivitas (produk). Jelaskanlah pengetahuan hasil tentang proses. Untuk elanjutnya tingkatkan kondisi. Berdasarkan dua pendapat ahli diatas menunjukkan bahwa, pembelajaran servis atas dengan net meningkat dan jarak bertahap merupakan cara belajar yang dilakukan dalam pembelajaran servis atas dengan gaya inklusi, karena servis atas dari jarak maupun tinggi net yang sesuai siswa mengalami kesulitan. Pembelajaran servis atas ini dilakukan dari kondisi yang mudah atau sederhana baik dari tinggi net maupun jarak servis secara bertahap di tingkatkan menuju yang sebenarnya atau sesuai. Belajar tahap demi tahap hasilnya akan lebih baik. Hasil yang dicapai pada tahap awal bisa menjadi modal untuk mempelajari materi berikutnya. Kemampuan fisik dan gerak akan berkembang sejalan dengan aktifitas mempraktekkan gerak berulang-ulang. Dengan meningkatnya daya fisik dan gerak akan menjadi siap untuk mempelajari gerakan-gerakan yang semakin sukar atau berat dan kompleks. Pelaksanaan pembelajaran servis atas yaitu: Berdasarkan jadwal yang direncanakan yaitu selama enam minggu dengan tiga kali pembelajaran dalam satu minggu. Pada minggu pertama servis atas dilakukan dengan tinggi net putri (2,10 meter), setelah tiga kali pertemuan tinggi net di naikkan 6 cm (dari sisa ketinggian 2,10 yaitu 33 cm di bagi 5 minggu yaitu 6,6 diambil 6 cm) dan seterusnya hingga ketinggian net pada ketinggian yang sebenarnya (prinsip overload). Jarak servis pada pertemuan 1 adalah 3 m. dari program yang dijadwalkan ada jarak sisa 6 meter. Dari 6 meter di bagi 5 minggu hasilnya 1,20 m. Dengan demikian jarak servis setelah tiga kali pertemuan jaraknya ditambah 1,20 m.. Dari jarak servis dan tinggi net yang bertahap sampai mencapai tinggi dan jarak servis yang sebenarnya tersebut di harapkan siswa akan lebih mudah menyeberangkan bola ke daerah lapangan lawan. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 16 d. Kelebihan dan Kelemahan Mengajar Inklusi Mengajar gaya inklusi merupakan bentuk mengajar yang menekankan pada tingkat kesukaran dan kompleksitas gerakan yang dipelajari. Tingkat kemudahan atau kesukaran tugas gerak telah disusun atau dirancang oleh guru dan siswa dapat memilih tugas ajar sesuai dengan kemampuannya. Berdasarkan hal tersebut, gaya mengajar inklusi dapat di identifikasi kelebihan dan kelemahannya. Kelebihan gaya mengajar inklusi terhadap penguasaan teknik dasar bolavoli antara lain: 1. Siswa dapat mengukur tingkat kemampuannya masing-masing, sehingga dapat menentukan dan memilih tugas ajar sesuai dengan kemampuannya. 2. Belajar tahap demi tahap mempunyai dampak yang lebih baik, sehingga akan memberi kemudahan untuk mempelajari tugas gerak yang lebih sulit atau rumit. 3. Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, karena merasa tertantang dengan tugas ajar yang semakin sukar atau rumit. Sedangkan kelemahan gaya mengajar inklusi terhadap penguasaan teknik dasar bolavoli antara lain: 1. Dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam pembelajaran, karena menuntut kemampuan yang memadai sebelum mempelajari tahap berikutnya. 2. Waktu yang dibutuhkan lebih lama, bila pada tahap sebelumnya siswa belum menguasai dengan baik. 3. Kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda, siswa yang terampil akan semakin berkembang, sedangkan yang kemampuannya rendah peningkatan kemampuan agak lambat. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 17 3. Permainan Bolavoli a. Pengertian Permainan Bolavoli Permainan bolavoli merupakan cabang olahraga yang cukup populer yang diciptakan oleh William G. Morgan pada tahun 1895. Dia adalah seorang Pembina pendidikan jasmani pada organisasi Young Man Cristian Association (YMCA) di kota Massachusetts, Amerika Serikat. Mula-mula permainan bolavoli diberi nama Mintonette, di mana permainanya hampir serupa dengan permainan badminton. Jumlah pemain tidak terbatas, sesuai dengan tujuan yaitu untuk mengembangkan kesegaran jasmani para buruh di samping bersenam umum. Kemudian permainan diubah menjadi Volleyball yang artinya memvoli bola berganti-ganti. Pada tahun 1992 YMCA berhasil mengadakan kejuaran nasional bolavoli di negara Amerika Serikat. Pertandingan bolavoli yang pertama tahun 1947 di polandia. Pada tahun 1948 IVBF(Internasional Volley Ball Federation) didirikan dengan beranggotakan 15 negara dan berpusat di Paris. Bolavoli masuk ke Indonesia pada tahun 1928, yang dibawa oleh serdaduserdadu Belanda, serta guru yang di datangkan dari Belanda, sewaktu mereka bertugas di Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, bekas angkatan perang Belanda yang bergabung dengan TNI, ikut mempopulerkan bolavoli. Pada PON III tahun 1953 di Medan (sumatera Utara) bola voli mulai dipertandingkan. Pada tahun 1954, Surabaya dan Jakarta mulai membentuk organisasai bolavoli nasional, atas jasa Dr. Azis Saleh, waktu itu menjabat komisaris teknik KOI (Komite Olimpiade Indonesia). Setelah diadakan pertemuan IBVOS (Surabaya) dan PERVID (Jakarta), bersepakat membentuk Organisasi bolavoli nasional. Dan pada tanggal 22 januari 1955, lahirlah Organisasi persatuan Bolavoli Indonesia(PBVSI), dengan ketuanya W.J. Latumenten. Prestasi yang pernah dicapai Indonesia adalah juara Asia dalam Asian Game IV tahun 1962, Ganefo I di Jakarta, juara putra Sea Games XI di Manila, juara putri Sea Game XII di Singapura. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 18 Permainan bola voli merupakan cabang olahraga beregu atau tim. Permainan bolavoli dimainkan oleh dua tim yang masing-masing tim terdiri dari enam orang pemain. Permainan bolavoli dimainkan di atas lapangan berbentuk empat persegi panjang berukuran 18 X 9 meter yang dipisahkan oleh net. Pelaksanaan permainan bola voli yaitu dengan memvoli atau memantulkan bola. Syarat pantulan bola harus sempurna tidak terjadi pukulan ganda. Bola divoli atau dipantulkan sebanyak tiga kali dan selanjutnya diseberangkan kedaerah permainan lawan. Seperti dikemukakan Amung Ma’mun dan Toto Subroto (2001: 43) bahwa, “Pada dasarnya prinsip bermain bolavoli adalah memantulkan bola agar jangan sampai bola menyentuh lantai, bola di mainkan sebanyak-banyaknya tiga kali sentuhan dalam lapangan sendiri dan mengusahakan bola hasil sentuhan itu diseberangkan ke lapangan lawan melewati jaring dan masuk sesulit mungkin”. Seiring dengan upaya penyempurnaan permainan agar lebih menarik, maka unsur-unsur dalam permainan bolavoli mengalami perubahan. Dalam sejarahnya, perkembangan bolavoli menyangkut empat hal pokok, yaitu: Teknik, Peraturan permainan, sarana dan perlengkapan, dan perkembangan bentuk permainan. Perkembangan teknik diarahkan pada peningkatan keterampilan gerak, dirancang agar bola yang dimainkan dapat dilewatkan melalui jaring ke lapangan lawan sehingga lawan tidak mampu mengembalikan bola atau mengalami kesulitan untuk mengembalikan bola dengan baik, tanpa mengabaikan peraturan perm

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN GERAK DASAR SERVIS BACKHAND PENDEK MELALUI MODIFIKASI ALAT DALAM PERMAINAN BULUTANGKIS PADA SISWA KELAS VIII D DI SMP NEGERI 1 NATAR TAHUN AJARAN 2011/2012
1
49
71
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU SISWA KELAS VII ANTARA PEMBELAJARAN KREATIF DAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DI SMPN 4 NATAR TAHUN AJARAN 2012-2013
0
4
50
PENGARUH PEMBELAJARAN PAIKEM TERHADAP HASIL BELAJAR PASSING ATAS BOLA VOLI PADA SISWA KELAS VII SMP 3 TERUSAN NUNYAI LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
12
64
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN DRILL DAN BERMAIN TERHADAP KETERAMPILAN GERAK DASAR PERMAINAN BOLAVOLI
0
19
72
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR RENANG GAYA DADA MELALUI PENDEKATAN DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR PADA SISWA KELAS VII SMP ADVENT BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2012/2013
0
6
83
PENGARUH METODE BAGIAN DAN METODE KESELURUHAN TERHADAP KETERAMPILAN RENANG GAYA DADA PADA SISWA KELAS VII 7 SMP N 1 RUMBIA TAHUN AJARAN 2012/2013
1
18
51
PENGARUH PENGGUNAAN METODE DISKUSI, MEDIA PEMBELAJARAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII MATA PELAJARAN IPS TERPADU PADA SMP NEGERI 22 BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2011/2012
0
23
91
PENGARUH PENGGUNAAN METODE DISKUSI, MEDIA PEMBELAJARAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII MATA PELAJARAN IPS TERPADU PADA SMP NEGERI 22 BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2011/2012
0
9
69
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR RENANG GAYA DADA MELALUI PENDEKATAN DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR PADA SISWA KELAS VII SMP ADVENT BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2012/2013
0
8
83
KONTRIBUSI POWER OTOT LENGAN, KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELENTUKAN TERHADAP HASIL ROLL BELAKANG PADA SISWA PUTRA KELAS VII SMP N 1 PESISIR T
2
26
67
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DAN SELF-EFFICACY SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP
2
3
8
PERBEDAAN HASIL BELAJAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERBANTUAN KOMIK FISIKA DENGAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA SISWA KELAS VIII SMPN 1 LABUAPI TAHUN AJARAN 20132014
0
0
6
View of HASIL BELAJAR KETERAMPILAN SERVIS ATAS PADA PERMAINAN BOLAVOLI DITINJAU DARI PERSPEKTIF PEMBELAJARAN
0
0
6
PENGARUH LATIHAN KEKUATAN OTOT LENGAN TERHADAP KEMAMPUAN SERVIS ATAS DALAM PERMAINAN BOLAVOLI MAHASISWA PUTRA
1
2
8
PENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION SISWA KELAS VII C SMP N 1 NGLIPAR GUNUNGKIDUL
0
0
8
Show more