Fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Dalam Membangun Hubungan Sosial Dengan Masyarakat Sekitar (Studi Deskriptif di Perkebunan PT. Socfindo Kebun Aek Loba Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan)

Gratis

21
342
107
3 years ago
Preview
Full text

  

FUNGSI IKATAN PERSAUDARAAN MUSLIM

SOCFINDO (IPMS) DALAM MEMBANGUN

HUBUNGAN SOSIAL DENGAN MASYARAKAT

SEKITAR

  

(Studi Deskriptif Di Perkebunan PT. Socfindo Kebun Aek Loba Kecamatan

Aek Kuasan Kabupaten Asahan)

OLEH:

  

HENNY SUSANTI

090901032

DEPARTEMEN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

  

2013

  ABSTRAK

  Penulisan skripsi yang berjudul “Fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Dalam Membangun Hubungan Sosial Dengan Masyarakat Sekitar” berawal dari ketertarikan penulis dalam melihat interaksi sosial masyarakat perkebunan yang secara general cenderung lebih bersifat geselschaft yang mengakibatkan kurangnya keharmonisan antara individu dengan individu lainnya dan individu dengan masyarakat sekitar. Selain itu cara berinteraksi masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar sangat minim yang dikarenakan sistem kerja perusahaan PT Socfindo kebun Aek Loba yang tidak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Oleh sebab itu masyarakat perkebunan khususnya karyawan perkebunan membuat lembaga yang tujuannya untuk meningkatkan tali silaturrahmi dengan masyarakat sekitar yang bernama Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dengan cara membuat beberapa program yang bersifat membangun hubungan sosial yang lebih harmonis yang bersifat sosial keagamaan karena masyarakat di perkebunan Aek Loba mayoritas beragamakan Islam .

  Jenis penelitan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan metode kualitatif peneliti dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi dan data yang jelas serta terperinci mengenai fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitar di kecamatan Aek Kuasan kabupaten Asahan, serta melihat secara langsung bagaimana kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh lembaga tersebut.

  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sudah berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga sosial keagamaan yang bertanggung jawab terhadap keharmonisan masyarakat tidak hanya pada masyarakat perkebunan akan tetapi juga masyarakat di sekitarnya melalui kegiatan-kegiatan sosialnya yang dianggap sebagai kegiatan yang positif. Selain itu telah terjadi pergeseran sifat masyarakat perkebunan Aek Loba yang sebenarnya bersifat gemeinschaft yang memiliki rasa tolong menolong yang tinggi dan sistem kekeluargaan yang kuat. Tetapi dengan kesibukan pekerjaan yang menuntut mereka untuk loyal dalam pekerjaan membuat mereka berubah sifat menjadi geselschaft.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo

  

(IPMS) Dalam Membangun Hubungan Sosial Dengan Masyarakat Sekitar”

  disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana di departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Secara ringkas skripsi ini mendeskripsikan dalam melihat fungsi lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitar di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan.

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dukungan dari berbagai pihak

skripsi ini tidak akan terselesaikan. Penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada kedua orang tua yaitu ayahanda

tersayang Sujiran dan ibunda tercinta Juminem yang telah melahirkan dan

membesarkan serta mendidik penulis dengan penuh kasih sayang dan kesabaran

dalam mendidik anak. Inilah persembahan yang dapat penulis berikan sebagai tanda

ucapan terima kasih dan tanda bakti penulis kepada kedua orang tua.

  Dalam penulisan ini penulis menyampaikan penghargaan yang tulus dan ucapan

terimakasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian

skripsi ini kepada:

  

1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik, Universitas Sumatera Utara.

  

2. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si, Selaku ketua Departemen Sosiologi dan Drs. T.

  Ilham Saladin, M.Sp, selaku Sekretaris Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

  

3. Terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Drs. Sismujito, M.Si, selaku dosen

pembimbing skripsi penulis yang telah banyak mencurahkan waktu, tenaga, ide- ide dan pemikiran dalam membimbing penulis dari awal hingga penyelesaian penulisan skripsi ini.

4. Terima kasih kepada Bapak Drs. Henry Sitorus, M.si selaku dosen penguji skripsi penulis.

  

5. Terima kasih kepada para dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik terutama

dosen departemen Sosiologi yang telah membimbing, memberikan sumbangsih pemikiran dalam aspek sosiologis serta pengalaman penelitian dari proses pembuatan proposal penelitian lalu terjun langsung di lapangan dalam melihat realitas sosial, serta pengolahan data penelitian sejak awal perkuliahan hingga selesai kepada penulis.

  

6. Terima kasih kepada seluruh pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Universitas Sumatera Utara. Kak Fenni Khairifa,Kak Sugi Astuti dan Kak Betty yang telah banyak membantu penulis selama masa perkuliahan dalam hal administrasi.

  7. ayah penulis

  Ucapan terima kasih sebesar-besarnya juga saya ucapkan kepada

  Sujiran dan ibu Jum yang sangat penulis sayangi dan cintai, yang telah

  mencurahkan kasih sayangnya tiada terhingga dan tiada batasnya, selalu memberikan doa, semangat, nasehat, dan mendidik penulis dengan dukungan moril maupun materil pada masa kuliah.

  

Penulis merasa bahwa dalam penulisan skripsi masih terdapat berbagai kekurangan

dan keterbatasan, untuk itu penulis sangat mengharapkan masukan dan saran-saran

  

yang sifatnya membangun demi kebaikan tulisan ini. Demikianlah yang dapat penulis

sampaikan, harapan saya agar tulisan ini dapat berguna bagi pembacanya, dan akhir

kata dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada

semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini.

  Medan, Oktober 2013 (Penulis)

HENNY SUSANTI NIM: 090901032

  

Daftar Isi

  BAB I Pendahuluan ............................................................................................... 1

  1.1. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1

  1.2. Rumusan Masalah ............................................................................... 9

  1.3. Tujuan Penelitian ................................................................................ 9

  1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................ 10

  BAB II Kajian Pustaka.......................................................................................... 11

  2.1. Organisasi Sosial ............................................................................... 11

  2.2. Interaksi Sosial ................................................................................. 18

  2.3. Masyarakat Perkebunan .................................................................... 28

  2.4. Defenisi Konsep ................................................................................ 31

  BAB III Metode Penelitian .................................................................................. 33

  3.1. Jenis Penelitian .................................................................................. 33

  3.2. Lokasi Penelitian ............................................................................... 33

  3.3. Unit Analisis dan Informan ............................................................... 34

  3.3.1. Unit Analisis ....................................................................... 34

  3.3.2. Informan ............................................................................. 34

  3.3.2.1. Informan Kunci ................................................... 34

  3.3.2.2. Informan Tambahan ............................................ 35

  3.4. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 35

  3.5. Interpretasi Data ................................................................................ 37

  3.6. Jadwal Kegiatan ................................................................................ 38

  BAB IV Deskripsi Wilayah ................................................................................. 39

  4.1. Sejarah PT. Socfin Indonesia (Socfindo) .......................................... 39

  4.2. Deskripsi Wilayah PT. Socfindo Kebun Aek Loba .......................... 40

  4.3. Sarana Dan Prasarana PT. Socfindo Kebun Aek loba ...................... 42

  5.1.2. Profil Informan Tambahan ................................................. 57

  5.2.1.6. Bidang Seni ......................................................... 68

  5.2.1.5. Bidang STM ........................................................ 68

  5.2.1.4. Bidang PHBI ....................................................... 67

  5.2.1.3. Bendahara ............................................................ 67

  5.2.1.2. Sekretaris ............................................................. 66

  5.2.1.1. Dewan Penasehat ................................................ 66

  5.2.1. Struktur Organisasi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Kebun Aek Loba.................................................. 64

  5.2. Sejarah Lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Kebun Aek Loba ............................................................................. 62

  5.1.1. Profil Informan Kunci ........................................................ 48

  4.3.1. Sarana Pendidikan .............................................................. 43

  5.1. Karakteristik Informan ...................................................................... 48

  BAB V Temuan Data Dan Interpretasi Data ....................................................... 48

  4.5. Organisasi Pemerintahan ................................................................... 47

  4.4. Struktur Tenaga Kerja PT. Socfindo Kebun Aek Loba .................... 46

  4.3.5. Kondisi Jalan Dan Transportasi ......................................... 45

  4.3.4. Sarana Tempat Ibadah ........................................................ 45

  4.3.3. Sarana Olahraga ................................................................. 44

  4.3.2. Sarana Kesehatan ............................................................... 43

  5.2.1.7. Bidang Pendidikan .............................................. 69

  5.2.1.8. Ketua Ranting ...................................................... 69

  5.2.1.9. Anggota ................................................................69

  5.3. Program Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Kebun Aek Loba Dalam Menjalin Silaturrahmi Kepada Masyarakat…............ 72

  5.3.1. Pengajian Rutin (Tabligh Akbar) .......................................... 72

  5.3.2. Pengajian Rutin Al-Munawwaroh ........................................ 73

  5.3.3. Pengajian Rutin Az-Zidiniyyah ............................................ 74

  5.3.4. Upah-Upah Calon Jamaah Haji ............................................ 75

  5.3.5. Safari Ramadhan ................................................................... 76

  5.3.6. Sunat Massal ......................................................................... 77

  5.3.7. Santunan Anak Yatim ........................................................... 78

  5.3.8. Membentuk Panitia Lembaga Amil Zakat (LAZ) ................ 79

  5.3.9. Perayaan Hari Besar Islam .................................................... 80

  5.4. Interaksi Sosial Masyarakat Perkebunan Dengan Masyarakat Sekitar Dalam Mengikuti Kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Kebun Aek Loba ................................................................ 82

  BAB VI Kesimpulan Dan Saran …...................................................................... 93

  6.1. Kesimpulan .......................................................................................... 93

  6.2. Saran .................................................................................................... 94 Daftar Pustaka ...................................................................................................... 96

  ABSTRAK

  Penulisan skripsi yang berjudul “Fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Dalam Membangun Hubungan Sosial Dengan Masyarakat Sekitar” berawal dari ketertarikan penulis dalam melihat interaksi sosial masyarakat perkebunan yang secara general cenderung lebih bersifat geselschaft yang mengakibatkan kurangnya keharmonisan antara individu dengan individu lainnya dan individu dengan masyarakat sekitar. Selain itu cara berinteraksi masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar sangat minim yang dikarenakan sistem kerja perusahaan PT Socfindo kebun Aek Loba yang tidak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Oleh sebab itu masyarakat perkebunan khususnya karyawan perkebunan membuat lembaga yang tujuannya untuk meningkatkan tali silaturrahmi dengan masyarakat sekitar yang bernama Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dengan cara membuat beberapa program yang bersifat membangun hubungan sosial yang lebih harmonis yang bersifat sosial keagamaan karena masyarakat di perkebunan Aek Loba mayoritas beragamakan Islam .

  Jenis penelitan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan metode kualitatif peneliti dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi dan data yang jelas serta terperinci mengenai fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitar di kecamatan Aek Kuasan kabupaten Asahan, serta melihat secara langsung bagaimana kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh lembaga tersebut.

  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sudah berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga sosial keagamaan yang bertanggung jawab terhadap keharmonisan masyarakat tidak hanya pada masyarakat perkebunan akan tetapi juga masyarakat di sekitarnya melalui kegiatan-kegiatan sosialnya yang dianggap sebagai kegiatan yang positif. Selain itu telah terjadi pergeseran sifat masyarakat perkebunan Aek Loba yang sebenarnya bersifat gemeinschaft yang memiliki rasa tolong menolong yang tinggi dan sistem kekeluargaan yang kuat. Tetapi dengan kesibukan pekerjaan yang menuntut mereka untuk loyal dalam pekerjaan membuat mereka berubah sifat menjadi geselschaft.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

  Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama (Young:1959, dalam Soerjono Soekanto, 2001:67). Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan semacam itu baru akan terjadi apabila orang-orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian dan lain sebagainya. Maka dapat dikatakan bahwa interaksi sosial adalah dasar proses sosial, pengertian mana menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis.

  Dilihat pada aspek interaksi sosial tersebut dapat diartikan bahwa suatu individu tidak bisa hidup sendirian, sebab jika hanya sendirian ia tidak menjadi manusia. Dalam pergaulan hidup, manusia menduduki fungsi yang bermacam- macam. Di satu sisi ia menjadi anak buah, tetapi di sisi lain ia adalah pemimpin.

  Di satu sisi ia adalah ayah atau ibu, tetapi di sisi lain ia adalah anak. Di satu sisi ia adalah kakak, tetapi di sisi lain ia adalah adik. Demikian juga dalam posisi guru dan murid, kawan dan lawan, buruh dan majikan, besar dan kecil, mantu dan mertua dan seterusnya. Begitu juga masyarakat perkebunan yang berdampingan langsung dengan masyarakat desa di sekitarnya. Mereka perlu saling berinteraksi dan menjalin hubungan sosial yang baik agar tidak terjadi konflik karena perbedaan status mereka.

  Dalam proses interaksi sosial, suatu individu memiliki pengaruh terhadap perubahan yang terjadi di setiap lapisan masyarakat, baik itu perubahan ke arah yang lebih maju maupun berubah ke arah yang biasa-biasa saja. Pengaruh kedekatan sosial maupun kedekatan geografis terhadap keterlibatan suatu individu dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur dengan kasat mata. Karena masyarakat membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di sekitarnya dan mereka bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal lainnya. Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan. Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik tetapi juga kesamaan di antara anggota- anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan orang lebih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, atau karakter- karakter personal lain. Kesamaan juga merupakan faktor utama dalam memilih calon pasangan untuk membentuk kelompok sosial yang disebut keluarga.

  Kedekatan suatu individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok dapat menumbuhkan sebuah interaksi sosial yang matang dan positif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sosial, pendidikan, dan budaya. Menurut Ferdinand Tonnies (dalam Soerjono Soekanto, 2001:144) hubungan-hubungan positif antara manusia selalu bersifat

  

Gemeinschaft (paguyuban) atau Gesellschaft (patembayan). Gemeinschaft adalah

  bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Sedangkan Gesellschaft merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Seperti halnya pada masyarakat pedesaan, perkotaan, maupun pada masyarakat perkebunan yang memiliki pola interaksi yang berbeda-beda. Kalau masyarakat pedesaan biasanya diidentikan pada solidaritas masyarakat yang kuat dan kedekatan hubungan emosional yang bersifat kekeluargaan. Sedangkan masyarakat perkotaan diidentikkan dengan kedekatan hubungan dan kedekatan hubungannya dengan sesama memiliki interaksi sosial yang hanya bersifat sementara.

  Interaksi sosial terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Seperti halnya masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, masyarakat perkebunan juga berinteraksi antara satu dengan yang lainnya baik itu dengan sesama masyarakat perkebunan ataupun dengan masyarakat bukan perkebunan. Dan kalau masyarakat perkebunan hampir sama dengan masyarakat pedesaan, hanya saja masyarakat perkebunan memiliki keterikatan dengan suatu perusahaan sehingga masyarakat perkebunan tidak dapat bergerak bebas dan memiliki sifat yang sedikit tetutup dikarenakan kesibukan mereka dalam bekerja demi mencukupi kebutuhan ekonomi.

  Hal di atas sesuai dengan tulisan M. Situmorang (2011) dalam sebuah artikel online yang mengatakan bahwa masyarakat perkebunan merupakan masyarakat yang terikat, sehingga ruang gerak mereka sangat sempit dan kurang dalam berinteraksi antar sesama masyarakat perkebunan bahkan pada masyarakat luar. Buruh perkebunan misalnya, yang merupakan bagian organik dari kelompok masyarakat sipil (Civil Society). Meskipun secara struktural mereka adalah bagian tak terpisahkan dari perusahaan, tetapi kesatuan fundamental historis, secara kongkrit tidak tergabung dan tidak dapat bersatu. Karena mereka adalah sekelompok golongan masyarakat sipil yang menjadi subordinat atau golongan subyek dominan bagi kelompok-kelompok dominan. Kelompok-kelompok dominan itu adalah suatu kekuatan yang senantiasa eksis dalam sejarah masyarakat post kolonial meskipun bukan dalam bentuk aslinya. Struktur dikotomi masyarakat post kolonial adalah elite dan subaltern. Yang dimaksud elit adalah kelompok-kelompok dominan, baik pribumi maupun asing. Yang asing bisa pemilik industri, pemilik perkebunan yang pribumi dibagi menjadi dua yang beroperasi di tingkat nasional (pegawai pribumi di birokrasi tinggi) dan mereka yang beroperasi di tingkat lokal (pegawai pribumi di birokrasi lokal, birokrasi perkebunan). Pola interaksi dan interrelasi ketiga pilar tersebut tidak selalu berjalan secara harmonis. Bagaimanapun pola interaksi dan interelasi mereka berjalan secara dinamik, di mana merupakan arena pertarungan kekuasaan sepanjang masa. Konflik kepentingan dan kontelasi masing-masing aktor tersebut terjadi antara kekuatan yang dominan dan yang didominasi. Dialektika dominasi dan resistensi seperti ini berlangsung terus menerus dalam konteks sejarah, sosial dan politik yang berubah-ubah. diakses pada tanggal 28 Desember 2012 pukul 18:09 WIB).

  Dari pernyataan di atas terlihat bahwa interaksi yang terjadi berbeda satu sama lain tergantung di wilayah mana suatu masyarakat berada, atau dengan kata lain terdapat pengelompokan-pengelompokan di dalam struktur organisasi masyarakat perkebunan yang juga mempengaruhi proses interaksi sosialnya.

  Misalnya karyawan hanya bisa bergaul dengan sesama karyawan, atau buruh bergaul dengan sesama buruh saja. Hal ini menumbuhkan sebuah interaksi yang kaku serta menimbulkan ketidakharmonisan dalam kehidupan masyarakat perkebunan. Masyarakat perkebunan yang sangat bergantung dengan mata pencahariannya pada perusahaan kemudian jadi sulit berkembang apalagi bergaul. Keterbatasan waktu yang dimiliki oleh para karyawan perkebunan membuat mereka kurang berinteraksi dengan masyarakat lainnya dikarenakan sebagian besar waktu mereka gunakan untuk bekerja. Tentu saja ini kemudian membuat masyarakat perkebunan menjadi tertutup. Keterikatan akan kontrak kerja dengan perusahaan membuat para buruh perkebunan menjadi kurang ruang gerak dan pemikirannya sehingga berdampak pada kurangnya kesempatan untuk mengembangkan diri atau mensejahterakan diri dan keluarganya ke arah yang lebih baik melalui jalan lain. Bahkan mereka lebih memilih anak dan seluruh keluarganya bekerja di perkebunan juga. Selain itu, kehidupan masyarakat perkebunan yang terikat ini juga mempengaruhi pola interaksinya, baik itu terhadap sesama masyarakat perkebunan maupun dengan masyarakat sekitar yang notabenenya bukan masyarakat perkebunan. Karena jarang sekali bertemu dan bersosialisasi, hal ini tentu saja kemudian menciptakan hubungan yang tidak harmonis di antara kedua masyarakat yang berbeda status ini.

  Dalam perjalanannya, masyarakat di wilayah perkebunan sudah mulai kritis dan mulai berkembang pola pikirnya terhadap keberlangsungan hidupnya tidak hanya dalam hal ekonomi akan tetapi juga pergaulan dengan masyarakat lainnya. Oleh karena itu kemudian muncullah lembaga-lembaga yang mendukung dan mengatur pola-pola interaksi tidak hanya pada masyarakat perkebunan tetapi juga masyarakat bukan perkebunan yang ada di sekitarnya agar berlangsung harmonis sehingga dapat menguntungkan satu sama lain. Lembaga sosial dalam wilayah perkebunan diharapkan mampu menjadi sebuah wadah yang dapat mengelola dengan baik hubungan-hubungan sosial masyarakatnya. Salah satu lembaga kemasyarakatan di suatu wilayah perkebunan adalah lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) yang ada di badan perkebunan PT. Socfindo.

  Pemukiman masyarakat perkebunan pada umumnya terpisah dari masyarakat desa lainnya. Hal ini dilakukan pihak perkebunan agar para karyawan bisa fokus bekerja dan mudah ditemui. Akan tetapi hal berbeda terjadi di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba, pemukiman masyarakat perkebunan terlihat saling berdampingan dengan masyarakat desa di sekitarnya bahkan berada dalam satu wilayah. Selain itu, pihak pemerintah desa dan kecamatan tidak membedakan perlakuan terhadap masyarakat perkebunan yang ada di wilayahnya. Mereka dianggap sama dengan masyarakat desa yang bukan merupakan karyawan perekebunan, sehingga kemudian mengaburkan perbedaan status sosial di antara kedua lapisan masyarakat ini. Hal ini juga mempermudah lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dalam mengadakan kegiatan yang mengikutsertakan seluruh masyarakat baik itu yang merupakan bagian dari perkebunan maupun bukan.

  Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) adalah lembaga independen yang ada dalam perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Socfindo yang berdiri pada tahun 1997 dan berpusat di Medan. Lembaga ini ada di tiap-tiap cabang perkebunan PT. Socfindo yaitu di provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Di provinsi Nangroe Aceh Darussalam yaitu lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) perkebunan Sei Liput, perkebunan Seu Nagan, perkebunan Seu Mayam, dan perkebunan Lae Butar. Sedangkan di provinsi Sumatera Utara yaitu lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) perkebunan Matapao, perkebunan Lima Puluh, perkebunan Aek Loba, perkebunan Aek Ledong, perkebunan Negeri Lama, perkebunan Tanah Betsi, perkebunan Aek Pamingke, perkebunan Tanah Gambus, perkebunan Halimbe, perkebunan Bangun Bandar, dan perkebunan Tanjung Maria. Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) merupakan sebuah lembaga sosial keagamaan yang dibentuk oleh seluruh jajaran pekerja di perkebunan PT. Socfindo. Lembaga ini bertujuan untuk menjalin hubungan sosial antar sesama karyawan perkebunan, buruh, staf pegawai perkebunan, asisten manager, maupun manager yang beragama Islam. Adapun bentuk kegiatan sosialnya tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Muslim di perkebunan PT.

  Socfindo tetapi juga pada masyarakat bukan perkebunan yang tinggal di sekitarnya. Hal ini bertujuan agar tidak ada lagi perbedaan yang tampak di antara lapisan-lapisan jabatan warga perkebunan sehingga mereka bisa saling membantu tanpa terganggu dengan struktur organisasi tenaga kerja yang bersifat kolonial tersebut. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang juga mengikutsertakan masyarakat bukan perkebunan tersebut diharapkan mampu menciptakan hubungan yang harmonis di antara keduanya.

  Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek loba adalah salah satu lembaga sosial keagamaan yang rutin melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan adalah memberikan bantuan hidup bagi anak yatim piatu, bantuan pendidikan berupa beasiswa bagi anak warga perkebunan yang tidak mampu, wirid akbar sekecamatan, sunat massal, safari ramadhan, perayaan hari besar Islam, serta pengajian rutin. Program- program kegiatan yang dilakukan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba juga tidak terbatas pada masyarakat perkebunan saja, tetapi juga mengikutsertakan masyarakat desa yang ada di sekitarnya. Tentu saja hal ini membuat interaksi antara masyarakat perkebunan maupun masyarakat sekitar yang merupakan bukan karyawan perkebunan semakin banyak. Dan pada akhirnya akan mengaburkan perbedaan dan kesenjangan sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

  Misalnya pada bulan Januari 2013 lalu lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Lae Butar di Aceh Singkil membuat kegiatan sunatan massal gratis. Para peserta yang mengikuti sunatan massal berasal dari anak karyawan perkebunan dan anak-anak dari desa sekitar. Panitia pelaksana kegiatan sunatan massal sebenarnya menyediakan tempat untuk seratus orang peserta, akan tetapi peserta yang mendaftar hanya sebanyak 80 (delapan puluh) orang. Padahal panitia sudah menyiapkan bingkisan bagi para peserta yang mendaftar. Walaupun demikian, masyarakat terlihat sangat antusias dengan diadakannya kegiatan sosial inidiakses pada 05 Maret 2013 pukul 21:49 WIB).

  Kegiatan yang tersebut di atas menggambarkan bagaimana proses interaksi terjadi. Misalnya ketika para orang tua melihat anaknya sedang disunat, ada suasana yang membuat orang tua merasa lucu dan was-was dengan tingkah laku peserta yang ketakutan. Perasaan itu kemudian diceritakan kepada orang tua yang lain sehingga proses interaksi terjadi. Dari contoh kasus tersebut maka peneliti kemudian tertarik untuk melakukan penelitian mengenai fungsi lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) di tempat lain yaitu di kebun Aek Loba kecamatan Aek Kuasan, kabupaten Asahan dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitarnya.

  1.2. Rumusan Masalah

  Sebuah penelitian harus memiliki batasan-batasan permasalahan yang harus diteliti. Selain agar permasalahan yang berkaitan dapat terjawab juga agar penelitian tidak lari dari jalur yang sudah ditetapkan. Oleh karena itu berdasarkan uraian permasalahan yang telah dijelaskan dalam latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana fungsi lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitar di kecamatan Aek Kuasan kabupaten Asahan?”

  1.3. Tujuan Penelitian

  Setelah merumuskan masalah yang akan diteliti pada sebuah penelitian, maka selanjutnya adalah menetapkan tujuan penelitian yang sejalan dengan rumusan masalah penelitian. Adapun yang menjadi tujuan penelitian berdasarkan perumusan masalah di atas adalah untuk mengetahui bagaimana fungsi lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dalam membangun hubungan sosial serta interaksi dengan masyarakat desa sekitarnya.

1.4. Manfaat Penelitian

  Manfaat penelitian merupakan sesuatu yang diharapkan ketika sebuah penelitian sudah selesai. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  a. Manfaat teoritis Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan sumbangan pemikiran bagi peneliti lain sebagai bahan rujukan untuk perbandingan atas masalah yang sama terutama dalam bidang ilmu sosiologi khususnya tentang studi masyarakat perkebunan yang sangat sedikit referensinya.

  b. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam membuat karya tulis ilmiah melalui penelitian ini. Selain itu hasil penelitian juga nantinya diharapkan dapat memberi manfaat bagi peneliti selanjutnya dalam menjadikan sebuah referensi tentang fungsi organisasi dalam meningkatkan hubungan sosial antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat desa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Organisasi Sosial

  Organisasi adalah institusi masyarakat yang dominan di dalam kehidupan manusia. Seseorang mungkin dilahirkan di rumah sakit, dididik di sekolah formal, mencari nafkah dengan bekerja di suatu perusahaan, mengadakan kegiatan sosial dengan aktif di organisasi kemasyarakatan, mengikuti perkumpulan yang menyalurkan hobi tertentu, mengikuti salah satu partai politik, dan pada saat meninggal kematiannya diatur oleh organisasi tertentu. Organisasi telah meliputi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Setiap hari seseorang hampir selalu berhubungan dengan berbagai organisasi dan sebagian besar waktunya dihabiskan dalam aktivitas organisasi. Hanya masyarakat primitif dan terasing saja yang tidak mempunyai organisasi (Ibrahim, 2003:63).

  Menurut Stephen Robbins (dalam Sobirin, 2007:5) organisasi adalah unit sosial yang sengaja didirikan untuk jangka waktu yang relatif lama, beranggotakan dua orang atau lebih yang bekerja bersama-sama dan terkoordinasi, mempunyai pola kerja tertentu yang terstruktur, dan didirikan untuk mencapai tujuan bersama atau satu set tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Organisasi sosial dapat diartikan sebagai perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Organisasi sosial merupakan tata cara yg telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia dalam sebuah wadah yang disebut dengan Asosiasi. Asosiasi memiliki seperangkat aturan, tata tertib, anggota dan tujuan yang jelas, sehingga berwujud kongkrit.

  Menurut Schein (dalam Ibrahim, 2003:67) bahwa di dalam organisasi ada koordinasi, tujuan bersama, pembagian kerja, dan integrasi. Koordinasi muncul dari adanya kenyataan bahwa setiap individu tidak akan dapat memenuhi kebutuhan dan harapannya seorang diri, setelah beberapa orang mengkoordinir usaha bersama maka mereka merasa lebih banyak berhasil daripada kalau mereka melakukan sendiri-sendiri. Tentu saja organisasi sudah mendarah daging menjadi suatu wadah yang dapat menampung segala aspirasi dan tujuan kelompok masyarakat yang nantinya akan menimbulkan keharmonisan dalam bermasyarakat.

  Alvin L. Bertrand (1980:25) mengemukakan pengertian organisasi sosial dalam arti luas adalah tingkah laku manusia yang berpola kompleks serta luas ruang lingkupnya di dalam setiap masyarakat. Organisasi sosial dalam arti khusus adalah tingkah laku dari para pelaku di dalam sub-sub unit masyarakat misalnya keluarga, bisnis dan sekolah. Selanjutnya Robin Williams (dalam Bertrand, 1980:26) mengemukakan bahwa organisasi sosial menunjuk pada tindakan manusia yang saling memperhitungkan dalam arti saling ketergantungan. Ia selanjutnya menjelaskan bahwa pada saat individu melakukan interaksi berlangsung terus dalam jangka waktu tertentu, maka akan timbul pola-pola tingkah laku. JBAF Maijor Polak (1985:254) mengemukakan bahwa organisasi sosial dalam arti sebagai sebuah asosiasi adalah sekelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu, kepentingan tertentu, menyelenggarakan kegemaran tertentu atau minat-minat tertentu.

  Masalah organisasi terletak pada keberadan tujuan sebuah organisasi. Thompson (dalam Liliweri:1997), tujuan organisasi adalah suatu objek yang bersifat abstrak dari organisasi, dia merupakan cita-cita ideal yang harus dicapai oleh semua anggota organisasi. Tujuan organisasi merupakan pikiran yang mendominasi masa depan, dominasi itu yang mendorong anggota organisasi mengadakan koalisi. Tanpa adanya sebuah tujuan dalam pembentukan organisasi maka tidak akan ada manfaat dari sebuah organisasi. Karena tujuan organisasi merupakan bentuk mutlak yang ada dalam struktur keorganisasian agar dapat berdiri tegak sesuai dengan keinginan para anggotanya.

  Berdasarkan definisi organisasi sosial seperti yang telah disebutkan di atas, menurut Sobirin (2007) organisasi pada dasarnya mempunyai lima karakteristik utama yaitu sebagai berikut :

  1. Unit atau entitas sosial, meski bukan sebagai realitas fisik, bukan berarti bahwa organisasi tidak membutuhkan fasilitas fisik. Fasilitas fisik seperti gedung, peralatan kantor, maupun mesin-mesin masih tetap dibutuhkan (meski tidak harus dimiliki) karena dengan fasilitas fisik inilah sebuah organisasi bisa melakukan kegiatannya. Di samping itu dari fasilitas fisik ini pula orang luar mudah mengenali adanya entitas sosial.

  2. Beranggotakan minimal dua orang, siapapun yang mendirikan organisasi atau berapapun banyaknya, yang pasti manusia dianggap sebagai unsur utama dari organisasi. Sebab tanpa keterlibatan unsur manusia sebuah entitas sosial tidak bisa dikatakan sebagai organisasi.

  Dengan kata lain salah satu persyaratan agar sebuah entitas sosial disebut sebagai organisasi adalah harus beranggotakan dua orang atau lebih agar kedua orang tersebut bisa saling bekerja sama, melakukan pembagian kerja dan agar terdapat spesialisasi dalam pekerjaan.

  3. Berpola kerja yang terstruktur, untuk dikatakan sebagai organisasi sebuah unit sosial harus bernaggotakan minimal dua orang di mana keduanya bekerja secara terkoordinasi dan mempunyai pola kerja yang terstruktur. Penjelasan ini menegaskan bahwa berkumpulnya dua orang atau lebih belum dikatakan sebuah organisasi manakala berkumpulnya dua orang atau lebih tersebut tidak terkoordinasi dan tidak mempunyai pola kerja yang terstruktur. Tanpa koordinasi dan pola kerja yang terstruktur, kumpulan dua orang atau lebih hanyalah sekedar kumpulan orang bukan organisasi.

  4. Mempunyai tujuan, organisasi didirikan bukan untuk siapa-siapa dan bukan tanpa tujuan. Organisasi didirikan karena manusia sebagai makhluk sosial, sukar mencapai tujuan individualnya jika segala sesuatu harus dikerjakan sendirian. Kalau dengan bekerja sendiri tujuan individual tersebut bisa tercapai tetapi akan lebih efisien dan efektif jika cara pencapaiannya dilakukan dengan bantuan orang lain melalui organisasi. Artinya tujuan didirikannya sebuah organisasi adalah agar sekelompok manusia yang bekerja dalam satu ikatan kerja lebih mudah mencapai tujuannya ketimbang mereka harus bekerja sendiri-sendiri.

  5. Mempunyai identitas diri, jika sekelompok manusia diorganisir untuk melakukan kegiatan maka jadilah sekelompok manusia tersebut entitas sosial yang berbeda dengan entitas sosial lainnya. Identitas diri sebuah organisasi secara formal misalnya bisa diketahui melalui akte pendirian organisasi tersebut yang menjelaskan siapa yang menjadi bagian dari organisasi dan siapa yang bukan, kegiatan apa yang dilakukan, bagaimana organisasi tersebut diatur atau siapa yang mengaturnya. Di samping itu organisasi juga dapat diidentifikasikan melalui variabel yang sifatnya informal dan sulit dipahami tetapi keberadaannya tidak diragukan. Variabel tersebut biasa disebut sebagai budaya. Organisasi sosial disebut juga dengan lembaga kemasyarakatan, pranata sosial atau institusi sosial. Menurut Koentjaraningrat (dalam Ibrahim, 2003:87), lembaga kemasyarakatan (pranata sosial) adalah suatu sistem dan norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat. Soerjono Soekanto (dalam Ibrahim, 2003:87) mendefenisikan lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan dari norma-norma segala tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok manusia di dalam kehidupan masyarakat.

  Gillin dan Gillin (dalam Basrowi, 2005:99) dalam bukunya General

  

Features Of Social Institutions mengatakan bahwa ciri umum lembaga

  kemasyarakatan adalah sebagai berikut :

  1. Merupakan suatu organisasi yang berisi pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud melalui aktifitas-aktifitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya. Lembaga kemasyarakatan dalam hal ini berisi tata kelakuan, adat istiadat, kebiasaan, serta unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung atau tidak tergabung dalam satu unit fungsional.

  2. Mempunyai tingkat kekekalan tertentu. Dalam hal ini sistem kepercayaan dan tindakan yang lain baru akan menjadi bagian lembaga kemasyarakatan setelah melewati waktu yang relatif lama.

  3. Mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu. Sebagai contoh, suatu lembaga persaingan bebas dalam kehidupan ekonomi yang bertujuan agar produksi berjalan secara efektif oleh karena para individu akan terpaut pada keuntungan yang akan diperolehnya kepada orang-orang yang mempunyai pengaruh serta mengetahui cara-caranya.

  4. Mempunyai alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, misalnya peralatan penggunaannya biasanya akan berlainan untuk masing-masing masyarakat.

  5. Mempunyai lambang-lambang yang berbeda, yang menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga tersebut. Misalnya sekolah-sekolah mempunyai lambang yang merupakan ciri khas sekolah tersebut.

6. Mempunyai tradisi yang tertulis maupun tidak tertulis, yang merumuskan tujuannya, tata tertib yang berlaku.

  Selanjutnya Gillin dan Gillin (dalam Basrowi, 2005:100) juga mengklasifikasikan lembaga kemasyarakatan sebagai berikut :

  1. Dari sudut perkembangannya, dibedakan menjadi crescive institution dan

  enacted institution. Crescive institution disebut sebagai lembaga primer, yaitu lembaga yang tak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat.

  Enacted institution, yaitu lembaga kemasyarakatan yang sengaja dibentuk untuk memenuhi tujuan tertentu.

  2. Dari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat dibagi menjadi

  basic institution dan subsidiary institution. Basic institution adalah

  lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat, misalnya keluarga dan sekolah, sedangkan subsidiary institution adalah lembaga kemasyarakatan yang dianggap kurang penting, misalnya rekreasi.

  3. Dari sudut penerimaan masyarakat, dibagi menjadi social sanctioned-

  

institutions (approved) dan unsanctioned-institutions. Social sanctioned-

institutions adalah lembaga yang diterima masyarakat, misalnya sekolah.

  Dan unsanctioned-institutions adalah lembaga yang ditolak masyarakat, misalnya kelompok penjahat.

  4. Dari sudut penyebarannya, dibagi menjadi general institutions dan

  restricted institution. General institution adalah lenbaga kemasyarakatan yang dikenal hampir semua masyarakat di dunia, misalnya agama.

  Sedangkan restricted institution adalah lembaga yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu, misalnya agama Islam, Kristen, Hindu, Budha.

  5. Dari sudut fungsinya, dibagi menjadi operative institutions dan regulative

  institutions. Operative institutions adalah lembaga kemasyarakatan yang

  berfungsi untuk menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga tersebut, misalnya lembaga industrialisasi. Sedangkan regulative institutions adalah lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian yang mutlak dari lembaga tersebut, misalnya pengadilan.

  Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1996) menyebutkan bahwa lembaga sosial memiliki dua fungsi yaitu :

  1. Fungsi manifes, yaitu fungsi yang diharapkan oleh banyak orang akan dipenuhi oleh lembaga itu sendiri, misalnya lembaga keluarga harus memelihara anak, lembaga pendidikan harus mendidik siwa-siswanya. Fungsi manifes ini bersifat jelas dan diakui.

  2. Fungsi laten, merupakan dampak atau akibat dari adanya fungsi manifes, seperti efek samping dari suatu kebijakan, program, lembaga-lembaga atau asosiasi yang tidak dikehendaki. Misalnya, lembaga ekonomi tidak hanya memproduksi dan mendistribusikan kebutuhan pokok, tetapi terkadang juga meningkatkan pengangguran dan perbedaan kekayaan.

2.2. Interaksi Sosial

  Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang sejak dilahirkan sudah membutuhkan pergaulan dengan orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya (Gerungan, 2000:24). Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku, interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing-masing, maka proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Di dalam kehidupan sehari-hari tentunya manusia tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya, ia akan selalu perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk dapat berinteraksi ataupun bertukar pikiran. Interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan-kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi (Soerjono Soekanto, 2001).

  Interaksi Sosial menurut menurut Shaw (dalam Ali, 2004:87) merupakan suatu pertukaran antarpribadi yang masing- masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka dan masing- masing perilaku mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini, tindakan yang dilakukan seseorang dalam suatu interaksi merupakan stimulus bagi individu lain yang menjadi pasangannya. Dan pada akhirnya mereka akan saling berperilaku sama lain untuk menunjukkan adanya kegiatan timbal balik yang saling berhubungan.

  Menurut Narwoko (2007:20) interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan proses komunikasi di antara orang- orang untuk saling mempengaruhi perasaan, pikiran dan tindakan. Interaksi sosial akan berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari tindakan tersebut menimbulkan reaksi individu yang lain. Interaksi sosial terjadi jika dua orang atau lebih saling berhadapan, bekerja sama, berbicara, berjabat tangan atau bahkan terjadi persaingan dan pertikaian. Manusia dalam kehidupannya tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang sepanjang hidupnya bersosialisasi dengan orang lain dalam proses interaksi. Interaksi sosial menghasilkan banyak bentuk sosialisasi.

  Menurut Soerjono Soekanto (2001:71), interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

  1). Kontak Sosial Kata “kontak” (Inggris: “contact") berasal dari bahasa Latin con atau cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi, kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, sebab orang bisa melakukan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon, radio, atau surat elektronik. Oleh karena itu, hubungan fisik tidak menjadi syarat utama terjadinya kontak. Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut.

  a. Kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik.

b. Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial primer terjadi apabila para peserta interaksi bertemu muka secara langsung.

  Misalnya, kontak antara guru dan murid di dalam kelas, penjual dan pembeli di pasar tradisional, atau pertemuan ayah dan anak di meja makan.

  Sementara itu, kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara. Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya terjadi saat ketua RW mengundang ketua RT datang ke rumahnya melalui telepon. Sementara jika Ketua RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan pesan kepada ketua RT agar datang ke rumahnya, yang terjadi adalah kontak sekunder tidak langsung. 2). Komunikasi

  Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Ada lima unsur pokok dalam komunikasi yaitu sebagai berikut.

  a). Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.

  b). Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan.

  c). Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan dapat berupa informasi, instruksi, dan perasaan.

  d). Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.

  e). Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan pesan dari komunikator.

  Proses komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam menjalin proses interaksi sosial. Ada tiga tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut.

  a. Encoding

  Pada tahap ini, gagasan atau program yang akan dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar. Dalam tahap ini, komunikator harus memilih kata, istilah, kalimat, dan gambar yang mudah dipahami oleh komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan kode-kode yang membingungkan komunikan.

  b. Penyampaian Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian dapat berupa lisan, tulisan, dan gabungan dari keduanya.

  c. Decoding

  Pada tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami kalimat serta gambar yang diterima menurut pengalaman yang dimiliki.

  Komunikasi-komunikasi melalui isyarat-isyarat sederhana menurut Johnson (dalam Narwoko, 2007:16) adalah bentuk paling elementer dan yang paling pokok dalam komunikasi. Tetapi, pada masyarakat ‘isyarat’ komunikasi yang dipakai tidaklah terbatas pada bentuk komunikasi ini. Hal ini disebabkan karena manusia mampu menjadi objek untuk dirinya sendiri (dan juga sebagai subjek yang bertindak) dan melihat tindakan-tindakannya seperti orang lain dapat melihatnya. Dengan kata lain manusia dapat membayangkan dirinya secara sadar dalam perilakunya dari sudut pandangan orang lain. Sebagai akibatnya mereka dapat mengonsentrasikan perilakunya dengan sengaja untuk membangkitkan tipe respon tertentu dari orang lain.

  Dalam sebuah organisasi komunikasi menjadi sangat penting karena di dalamnya terdapat unsur-unsur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu manusia. Nimran (dalam Komang dkk:2008) mengatakan bahwa ada bermacam- macam paradigma atau cara pandang yang dapat dipakai untuk membedakan berbagai bentuk komunikasi.

1. Dari aspek lingkup organisasi.

  a. Komunikasi intern, komunikasi yang terjadi antara pihak-pihak internal.

  b. Komunikasi ekstern, komunikasi antara suatu organisasi dengan pihak eksternal.

2. Dari aspek sudut arahnya.

  a. Komunikasi searah, komunikasi yang ditandai oleh adanya satu pihak yang aktif yaitu penyampai informasi sedangkan pihak lainnya pasif dan menerima.

b. Komunikasi dua arah, komunikasi yang ditandai peran aktif kedua belah pihak baik pemberi atau penerima informasi.

3. Dari aspek tingkatan organisasi.

  a. Komunikasi vertikal adalah komunikasi yang berlangsung antara bawahan dengan atasan dalam hirarki organisasi.

  b. Komunikasi horisontal adalah komunikasi yang terjadi di antara pejabat yang sederajat.

4. Dari aspek aliran komunikasi dalam organisasi.

  a. Komunikasi dari atas ke bawah, komunikasi yang mengalir dari manajer ke bawah atau ke para karyawan.

  b. Komunikasi dari bawah ke atas, komunikasi yang mengalir ke atas yakni dari karyawan ke manajer.

  c. Komunikasi horizontal yaitu komunikasi yang terjadi di anatara semua karyawan di tingkatan organisasi yang sama.

  d. Komunikasi diagonal, komunikasi antara orang-oranng yang mempunyai hirarki berbeda dan tidak memiliki hubungan wewenang secara langsung.

5. Dari aspek media atau alat yang digunakan.

  a. Komunikasi visual, komunikasi yang memakai alat tertentu untuk mengirim pesan yang dapat ditangkap oleh mata.

  b. Komunikasi audial, komunikasi yang menggunakan alat tertentu yang dapat ditangkap oleh telinga.

  c. Komunikasi audio visual, komunikasi yanng memakai alat tertentu yang pesannya ditangkap oleh mata dan telinga secara bersamaan.

6. Dari aspek cara penyampaian.

  a. Komunikasi verbal, komunikasi yang pesan-pesannya disampaikan dengan memakai kata-kata yang dapat dimengerti baik lisan maupun tulisan.

b. Komunikasi nonverbal, komunikasi yang pesan-pesannya disampaikan melalui simbol, isyarat, atau perilaku tertentu.

7. Dari aspek strategi atau teknik.

a. Komunikasi koersif, komunikasi yang dengan cara memaksa agar komunikan dapat menerima pesan yang disampaikan.

  b. Komunikasi persuasif, komunikasi dengan melibatkan aspek psikologis komunikan, sehingga ia tidak saja menerima dan menyetujui tetapi mau melaksanakannya dalam bentuk kegiatan atau tindakan sebagaimana yang dikehendaki oleh komunikator.

8. Dari aspek jaringan di mana informasi mengalir.

  a. Komunikasi informal, komunikasi yang tidak resmi sumber dan maksudnya.

  b. Komunikasi formal, komunikasi yang berkaitan denga tugas dan mengikuti rantai wewenang.

9. Dari aspek manajerial.

  a. Komunikasi interpersonal, yaitu komunikasi antara dua orang atau lebih.

  b. Komunikasi organisasi, yaitu semua pola,jaringan, dan sistem komunikasi dalam suatu organisasi .

  Konsep lain yang juga perlu diperhatikan mengenai interaksi sosial ialah konsep definisi situasi. Menurut W. I. Thomas (dalam Kamanto:2004) definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat itu merupakan aturan yang mengatur interaksi manusia. Selanjutnya Hall (dalam Kamanto:2004) dalm bukunya The Hidden

  

Dimension mengemukakan bahwa di dalam interaksi dijumpai aturan tertentu

  dalam hal penggunaan ruang. Pengamatan terhadap penggunaan ruang beserta teori-teorinya oleh Hall dinamakan Proxemics. Dari penelitiannya Hall menyimpulkan bahwa dalam situasi sosial orang cenderung menggunakan empat macam jarak yaitu :

  1. Jarak intim, berkisar antara 0-18 inci (0-45 cm), keterlibatan dengan tubuh orang lain disertai keterlibatan intensif dari pancaindera.

  2. Jarak pribadi berkisar antara 4-12 kaki (45 cm-1.22 m), interaksi pada tahap dekat dalam jarak ini cenderung dijumpai di antara orang-orang yang hubungannya dekat, misalnya suami isteri.

  3. Jarak sosial berkisar antara 4-12 kaki (1.22 m-3.66 m), orang yang berinteraksi dapat berbicara secara normal dan tidak saling menyentuh.

  4. Jarak publik (di atas 12 kaki atau 3.66 m) dipelihara oleh orang yang harus tampil di depan umum seperti politikus dan aktor.

  Menurut Ferdinand Tonnies (dalam Soerjono Soekanto, 2001:144-146) bahwa suatu masyarakat memiliki hubungan-hubungan positif satu sama lainnya.

  Adapun bentuk hubungan tersebut dibedakan atas dua yaitu paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (Gesellschaft). Paguyuban (Gemeinschaft) adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan.

  Kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis, sebagaimana dapat diumpamakan dengan organ tubuh manusia atau hewan. Bentuk paguyuban terutama akan dapat dijumpai di dalam keluarga, kelompok kerabatan, rukun tetangga dan lain sebagainya. Sebaliknya patembayan (Gesellschaft) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam fikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk Gesellschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik, misalnya ikatan antara pedagang, organisasi dalam suatu pabrik atau industri dan lain sebagainya.

  Di dalam Gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu kemauan bersama (common will), ada suatu pengertian serta juga kaidah-kaidah yang timbul dengan sendirinya dari kelompok tersebut. Apabila terjadi pertentangan antara anggota suatu paguyuban, maka pertentangan tersebut tidak akan dapat dibatasi dalam suatu hal saja. Hal itu disebabkan karena adanya hubungan yang menyeluruh antara anggota-anggotanya. Tak mungkin suatau pertentangan yang kecil diatasi, oleh karena pertentangan tersebut, akan menjalar ke bidang-bidang lainnya.

  Keadaan yang sedikit berbeda akan dijumpai pada patembayan atau Geselschaft, dimana terdapat public life yang artinya bahwa hubungannya bersifat untuk semua orang; batas-batas antara “kami” dengan “bukan kami” kabur. Pertentangan- pertentangan yang terjadi antara anggota dapat dibatasi pada bidang-bidang tertentu, karena suatu persoalan dapat dilokalisasi (Basrowi, 2005:54). Menurut Tonnies (dalam Soekanto, 2001:146), di dalam setiap masyarakat selalu dapat dijumpai salah satu di antara tiga tipe paguyuban, yaitu:

a. Paguyuban karena ikatan darah (gemeinschaft by blood), yaitu

  Gemeinschaft atau paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan

  pada ikatan darah atau keturunan, contohnya keluarga, dan kelompok kekerabatan.

  b. Paguyuban karena tempat (gemeinschaft of place), yaitu suatu paguyuban yang terdiri dari orang-orang yang berdekatan tempat tinggal, sehingga dapat saling tolong-menolong, contohnya rukun tetangga, rukun warga, dan arisan.

  c. Paguyuban karena jiwa fikiran (gemeinschaft of mind), yang merupakan suatu Gemeinschaft yang terdiri dari orang-orang yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah atau tempat tinggalnya tidak berdekatan, akan tetapi mereka mempunyai jiwa dan fikiran yang sama dan ideologi yang sama. Paguyuban semacam ini biasanya ikatannya tidak sekuat paguyuban karena darah atau keturunan.

  Dari teori yang dikemukakan Ferdinand Tonnies tersebut terlihat bahwa hubungan masyarakat saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya baik itu dari ikatan darah, keluarga, maupun saudara jauh. Begitu juga dengan lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) yang berperan sebagai suatu kelompok sosial dalam bidang keagamaan yang dapat mendekatkan masyarakat perkebunan dari berbagai status sosial dan ekonominya.

2.3. Masyarakat Perkebunan

  Sejarah perkembangan perkebunan di Indonesia memang sangat ditentukan oleh politik kolonial penjajah, terutama Belanda. Kebijaksanaan- kebijaksanaan yang diterapkan dari waktu ke waktu telah mewarnai wajah perkebunan di Indonesia hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini. Dimulai dari sejak berkuasanya VOC yang menerapkan sistem monopoli dan pungutan paksa terhadap usaha kebun di Indonesia, kemudian Daendels dan Raffles dengan pandangan liberal, disusul kemudian oleh berkuasanya Gubernur Jenderal Van den Bosch yang menerapkan sistem tanam paksa dalam mengembangkan perkebunan di Indonesia, hingga dikeluarkannya Agrarische wet tahun 1870 (Mubyarto, 1992:16).

  Kehadiran perkebunan kelapa sawit berpengaruh terhadap perubahan pola pekerjaan, yang diikuti dengan peningkatan penghasilan masyarakat. Konsekuensi lain adalah berpengaruh terhadap pola hidup dan hubungan sosial yang ditandai dengan pergeseran berbagai irama kehidupan, perubahan pola interaksi sosial yang sederhana dan bercorak lokal berubah ke pola interaksi yang kompleks serta menembus batas pedesaan, bertambahnya penduduk sehingga berbagai pola kehidupan saling mempengaruhi.

  Secara umum pembagian tenaga kerja perkebunan dibedakan dalam empat golongan yaitu administratur, pegawai staf, pegawai nonstaf, dan terakhir adalah buruh perkebunan. Dalam struktur organisasi perkebunan terdapat pembagian tugas yang jelas dengan penempatan tenaga kerja menurut golongan.

  Pengelompokan berdasarkan perbedaan bangsa, warna kulit dan ras, ternyata juga sangat mewarnai startifikasi pekerja perkebunan. Di dalam pengelompokannya, kelompok pertama selalu terdiri dari pegawai berkebangsaan Belanda dan Inggris serta beberapa orang Cina, sedangkan kelompok di bawahnya adalah pegawai pribumi. Pejabat administratur, pegawai staf dan nonstaf perkebunan biasanya termasuk dalam kelompok pertama, sedangkan bangsa pribumi senantiasa hanya menempati posisinya sebagai buruh rendahan. Dalam satu unit perkebunan, tanggung jawab terbesar dipegang oleh seorang administratur. Sebagai pucuk pimpinan, administratur dibantu oleh seorang penasihat dan kontrolir yang lazim disebut pegawai staf karena kedudukan mereka yang tidak terjun langsung mengawasi aktifitas di kebun. Seorang kontrolir membawahi beberapa kepala bagian antara lain kepala bagian tanaman, bagian teknik, bagian pabrik dan staf administrasi, yang masih termasuk pegawai staf. Masing-masing kepala bagian membawahi seorang asisten yang langsung diberi wewenang di lapangan. Dalam melaksanakan tugas dan pengawasan langsung di lapangan, seorang asisten dibantu oleh beberapa orang mandor sesuai dengan jenis-jenis pekerjaan mereka, misalnya mandor tanam, panen, pengolahan, sortasi, pengepakan, dan sebagainya.

  Lapisan terbawah dalam hirarki perkebunan adalah para buruh, baik buruh kebun maupun buruh pabrik. Di samping itu di setiap perkebunan dipekerjakan polisi- polisi khusus penjaga perkebunan yang bertanggung jawab langsung dengan kontrolir. Para mandor biasanya adalah penduduk pribumi yang berasal dari keluarga penguasa desa yang bekerja di perkebunan (Mubyarto, 1992:115-116).

  Dalam tradisi kolonialis, sistem ini memang sengaja dibangun untuk mengefektifkan proses produksi dan untuk mengakumulasikan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Sistem semacam ini merupakan perpaduan antara sistem kapitalisme yang menghambakan pada pemupukan modal dan sistem feodalisme yang menghambakan ketaatan pada sang penguasa. Sistem masyarakat semacam ini masih banyak menjadi fenomena di masyarakat perkebunan sekarang ini.

  Tidak banyak perubahan yang terjadi secara signifikan dalam masyarakat perkebunan dari masa kolonial hingga sekarang. Secara geografis mereka terisolir, akses untuk informasi dan pendidikan sangat minim. Pagar pembatas atau palang pintu untuk masuk dan keluar perkebunan dijaga ketat oleh security. Letak perumahan yang masih sangat membedakan antara kelas administratur dengan buruh perkebunan. Perilaku elit adiministratur yang kurang manusiawi yang masih memandang rendah dan sebelah mata para golongan kaum buruh.

2.4. Defenisi Konsep

  Konsep adalah suatu hasil pemaknaan di dalam intelektual manusia yang merujuk ke kenyataan nyata ke alam empiris, dan bukan merupakan refleksi sempurna. Dalam sosiologis, konsep menegaskan dan menetapkan apa yang akan di observasi (Suyanto, 2005:49). Defenisi konsep adalah rangkuman peneliti dalam menjelaskan peristiwa yang akan diteliti nantinya. Konsep yang digunakan sesuai konteks penelitian ini antara lain:

  1. Fungsi adalah sekelompok aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifat atau pelaksanaannya. Fungsi merupakan manfaat dari suatu sistem terhadap sistem lainnya yang saling berkaitan.

  2. Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) adalah sebuah lembaga sosial keagamaan milik masyarakat perkebunan PT. Socfindo yang bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi antar sesama karyawan, pegawai staf, pegawai nonstaf, dan buruh di perkebunan PT. Socfindo.

  3. Hubungan sosial adalah suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan antarindividu, individu dengan kelompok atau antar kelompok yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menciptakan rasa saling pengertian dan kerja sama yang cukup tinggi, keakraban, keramahan, serta menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.

  4. Masyarakat perkebunan adalah sekumpulan orang atau warga yang merupakan karyawan perkebunan yang tinggal dan menetap di wilayah yang disediakan oleh perkebunan serta melakukan interaksi secara terus- menerus.

  5. Masyarakat sekitar perkebunan adalah masyarakat yang bukan merupakan karyawan perkebunan atau pensiunan perkebunan dan tinggal di sekitar wilayah perkebunan tetapi bukan di tanah milik perkebunan, sehingga mereka memiliki banyak ruang untuk saling berinteraksi dengan warga perkebunan.

BAB III METODE PENELITIAN

  3.1. Jenis Penelitian

  Jenis penelitan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kulitatif adalah metode yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain- lain secara holistik dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Meleong, 2006:6). Dengan menggunakan metode kualitatif peneliti dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi dan data yang jelas serta terperinci mengenai fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitar di kecamatan Aek Kuasan kabupaten Asahan, serta melihat secara langsung bagaimana kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh lembaga tersebut.

  3.2. Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilakukan di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba kecamatan Aek Kuasan kabupaten Asahan. Alasan peneliti memilih lokasi ini karena di perkebunan tersebut terdapat sebuah lembaga sosial keagamaan yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat tidak hanya bagi masyarakat perkebunan akan tetapi juga masyarakat sekitarnya. Selain itu pemukiman masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar tersebut saling berdampingan sehingga semakin banyak kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) turut melibatkan masyarakat sekitarnya dan membuat intensitas hubungan sosial semakin meningkat.

3.3. Unit Analisis dan Informan

  3.3.1. Unit Analisis

  Sasaran penelitian tidak tergantung pada judul dan topik penelitian, tetapi secara konkrit tergambarkan dalam rumusan masalah penelitian. Sedangkan informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian (Bungin, 2007:76). Unit analisis pada penelitian ini adalah seluruh pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, masyarakat perkebunan, dan masyarakat sekitarnya di kecamatan Aek Kuasan kabupaten Asahan yang telah mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  3.3.2. Informan

  Adapun yang menjadi informan sebagai sumber informasi bagi peneliti adalah sebagai berikut:

3.3.2.1 Informan kunci : 1. Ketua Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  2. Pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  3. Karyawan perkebunan/anggota Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dengan karakteristik sebagai berikut : a. Sering mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS).

  b. Mengetahui sejarah Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  c. Bekerja di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba sebelum Ikatatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dibentuk.

3.3.2.2 Informan tambahan 1. Pemerintah Kecamatan Aek Kuasan.

2. Tokoh agama kecamatan Aek Kuasan yang sering mengikuti kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  3. Masyarakat sekitar perkebunan yang sering mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

  Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data agar mendapatkan kesesuaian penelitian dengan fokus dan kebutuhan peneliti dalam mengolah data dan informasi yang diperoleh nantinya. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder.

a) Data primer

  Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian melalui observasi dan wawancara baik secara partisipatif maupun wawancara mendalam, oleh karena itu untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara penelitian lapangan, yaitu sebagai berikut:

  1. Observasi atau pengamatan yaitu kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja panca indera mata serta dibantu dengan panca indera lainnya. Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan (Bungin, 2007:115). Dengan observasi peneliti dapat melihat secara langsung kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dalam menciptakan keharmonisan dan membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitarnya.

  2. Wawancara mendalam, yaitu proses tanya jawab secara langsung ditujukan terhadap informan di lokasi penelitian dengan menggunakan pedoman wawancara serta menggunakan alat bantu perekam jika memang dibutuhkan. Dalam hal ini peneliti nantinya akan mewawancarai informan yang menjadi subjek penelitian guna mengetahui bagaimana fungsi lembaga Ikatan Persaudaran Muslim Socfindo (IPMS) dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitarnya.

b) Data sekunder

  Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen, majalah, jurnal dan bahan dari situs- situs internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti sehingga memudahkan peneliti dalam menuliskan laporan penelitian.

3.5. Interpretasi Data

  Pengolahan data dalam penelitian ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan (observasi) yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi, foto, dan sebagainya. Setelah data tersebut dibaca, dipelajari, dan ditelaah maka langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan rangkuman yang terperinci dan merujuk ke inti temuan data dengan cara menelaah pernyataan-pernyataan yang diperlukan sehingga tetap berada dalam fokus penelitian. Setelah itu data tersebut disusun dan dikategorisasikan serta diinterpretasikan secara kualitatif sesuai dengan metode penelitian yang telah ditetapkan.

  3.6. Jadwal Kegiatan Tabel 1

  No Kegiatan Bulan ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9

  1 Pra Observasi √

  2 Acc Penelitian √

  3 Penyusunan Proposal Penelitian √ √ √

  4 Seminar Desain Penelitian √

  5 Revisi Proposal Penelitian √

  6 Penelitian Lapangan √ √ √

  7 Pengumpulan Data Dan Analisis Data √ √ √ √

  8 Bimbingan √ √ √

  9 Penilisan Laporan Akhir √ √ √

  10 Sidang Meja Hijau √

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN Sejarah PT. Socfin Indonesia (Socfindo) 4.1. PT. Socfin Indonesia (Socfindo) didirikan pada tahun 1924 dengan

  komoditi utama adalah tumbuhan kelapa sawit (Elais Guenensis jacq). Perusahaan ini pada awalnya dimiliki oleh perusahaan Belgia yaitu Socfin Medan, Sumatera Utara yang hak konsensinya di bawah naungan pemerintah Hindia-Belanda. Pada tahun 1942, PT. Socfindo diambil alih secara paksa oleh pemerintah Jepang.

  Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia (tahun 1945), perusahaan ini diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia dan kemudian dikembalikan pada PT. Socfin pada tahun 1950. Dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1967, perusahaan ini dikuasai dan dipegang sepenuhnya oleh pemerintah Republik Indonesia yang mengadakan nasionalisasi perusahaan asing menjadi sebuah perusahaan milik negara. Namun, pada tahun 1968 perusahaan ini berubah menjadi sebuah perusahaan swasta nasional dalam bentuk Joint enterprise (patungan) dengan nama PT. Socfin Indonesia (Socfindo) dengan perbandingan saham yang dimiliki antara pemerintah Republik Indonesia dan perusahaan Belgia pada saat itu adalah 40%:60%, akan tetapi saat ini saham terbesar dipegang oleh perusahaan Belgia yaitu sekitar 90% dan 10% sisanya dimiliki oleh pemerintah Republik Indonesia.

  Visi dan misi perusahaan PT. Socfindo yaitu mempertahankan keseimbangan dalam arti yang sehat dan berkembang di masa yang akan datang dengan mengelola dan mengembangkan agroindustri serta usaha-usaha yang difokuskan pada basis utama. Selain itu juga dapat menambah devisa negara dan penghasilan daerah, serta mengurangi angka pengangguran di lingkungan setempat.

  Deskripsi Wilayah PT. Socfindo Kebun Aek Loba 4.2.

  PT. Socfindo kebun Aek Loba merupakan salah satu cabang perkebunan dari PT. Socfin Indonesia (Socfindo) yang berada di kabupaten Asahan, Sumatera Utara. PT. Socfindo perkebunan Aek Loba merupakan yang terbesar dan terluas dari cabang-cabang perkebunan yang lainnya. PT. Socfindo kebun Aek Loba memiliki 8 (delapan) divisi yang sedikit berjauhan satu sama lainnya tergantung luasnya wilayah perkebunan sawit di tiap-tiap divisi. Adapun luas masing-masing divisi keseluruhan di PT. Socfindo kebun Aek Loba dapat dilihat pada tabel berikut :

  Tabel 2. Luas Wilayah PT. Socfindo Kebun Aek Loba Per Divisi No Divisi Luas Kebun (Ha) Luas Lahan Lain (Ha) Total (Ha)

  1 I 1.219,14 12,92 1.232,06

  2 II 1.130,00 2,85 1.132,85

  3 III 1.172,65 51,29 1.223,94

  4 IV 1.248,09 7,71 1.255,80

  5 V 1.055,12 5,92 1.061,04

  6 VI 1.013,92 81,63 1.095,55

  7 VII 1.582,90 27,21 1.610,11

  8 VIII 1.050,00 12,51 1.062,51

  

Total 9.471,82 202,04 9.673,86

  Sumber : Arsip Kantor Perkebunan PT. Socfindo Kebun Aek Loba Tahun 2013 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa total luas lahan perkebunan yang ditanami sawit adalah 9.471,82 Ha yang tersebar di 8 (delapan) Divisi dan luas lahan lain yaitu perumahan, mesjid, kantor, dan sarana-sarana lainnya adalah 202,04 Ha. Jadi total keseluruhan luas wilayah perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba adalah 9.673,86 Ha. Perkebunan PT. Socfindo kebun Aek loba merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan lahan milik penduduk sekitarnya. Adapun batas-batas wilayah dari perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba dapat dilihat sebagai berikut.

  Sebelah Utara : Desa Horison dan Desa Lobu Jiur Sebelah Selatan : Desa Aek Bange Sebelah Timur : Desa Rawa Sari Sebelah Barat : Desa Aek Bamban

  Perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba berada persis di pusat kecamatan Aek Kuasan sehingga memudahkan para pekerja untuk berurusan dengan pihak pemerintahan yaitu di Divisi III. Adapun Divisi-Divisi lainnya juga mudah untuk menuju ke pusat pemerintahan karena akses jalan yang disediakan oleh perusahaan mudah dilalui kendaraan baik itu roda dua maupun roda empat. Akses jalan yang lebar dan rapi membuat semua jenis kendaraan dapat melaluinya tanpa kesulitan yang berarti.

  Selanjutnya terkait dengan masalah ketenagakerjaan dalam hal ini peneliti hanya menyoroti klasifikasi tenaga kerja di PT. Socfindo kebun Aek Loba berdasarkan agama yang dianutnya saja. Hal ini dimaksudkan karena hanya klasifikasi ini yang dianggap relevan dengan permasalahan penelitian. Adapun jumlah tenaga kerja berdasarkan agama di PT. Socfindo kebun Aek Loba adalah sebagai berikut :

  

Tabel 3. Jumlah Tenaga Kerja PT. Socfindo Kebun Aek Loba Berdasarkan

Agama

No Jabatan Islam Kristen Lain-lain Jumlah (orang) (orang) (orang) (orang)

  17 278

  • 1 Pegawai 261

  2 Karyawan 1.508 69 - 1.577

  86 1.855 - Total 1.769

  Sumber : Arsip Lembaga IPMS, Jumlah Tenaga Kerja PT. Socfindo Kebun Aek Loba Tahun 2013 Pada tabel 3 menunjukkan ada sekitar 1.855 orang tenaga kerja di PT.

  Socfindo kebun Aek Loba kecamatan Aek Kuasan, kabupaten Asahan, yang terdiri dari 1.577 orang karyawan dan 278 orang pegawai nonstaff. Dan selanjutnya adalah 261 orang pegawai yang beragama Islam dan 17 orang pegawai yang beragama Kristen, lalu 1.508 orang karyawan yang beragama Islam dan 69 orang karyawan yang beragama Kristen. Jadi total keseluruhan tenaga kerja yang beragama Islam adalah 1.769 orang dan yang beragama Kristen 86 orang dari total keseluruhan 1.855 orang. Sedangkan yang beragama selain Islam dan Kristen tidak ada. Jumlah ini adalah yang terbesar jika dibandingkan dengan wilayah perkebunan PT. Socfindo yang lain.

4.3. Sarana Prasarana PT. Socfindo kebun Aek Loba Kabupaten Asahan

  Perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan aktifitas secara umum sehari-hari, sehingga masyarakat di sekitar perkebunan dapat dengan mudah melakukan interaksi dengan masyarakat yang lain. Misalnya saja sarana prasarana yang telah disediakan oleh pihak perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. Adapun sarana prasarana yang disediakan yaitu sebagai berikut

  4.3.1. Sarana Pendidikan

Tabel 4. Keadaan Sarana Pendidikan PT. Socfindo Kebun Aek Loba

No Sarana pendidikan Jumlah

  1 TK

  5

  2 SD

  3

  3 SMP

  4 SMA Sumber : Arsip Kantor perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba Tahun 2013

  Tabel di atas menunjukkan bahwa di perkebunan PT. Socfindo ada 5 (lima) unit bangunan sekolah TK dan 3 (tiga) unit bangunan Sekolah Dasar (SD).

  Sedangkan untuk sarana pendidikan yang lain seperti SMA ataupun SMP tidak ada di lahan perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. Akan tetapi sarana pendidikan tersebut di atas bukan merupakan milik dari perusahaan PT. Socfindo kebun Aek Loba, pihak perkebunan hanya memberikan lahan untuk bangunan saja.

  4.3.2. Sarana Kesehatan

Tabel 5. Jumlah Sarana Kesehatan PT. Socfindo Kebun Aek Loba

No Sarana kesehatan Jumlah

  1 Poliklinik

  1

  2 Pos Kesehatan

  8 Sumber : Arsip Kantor Perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba 2013 Dari tabel di atas dapat dilihat poliklinik sebagai pusat pengobatan masyarakat perkebunan ada sebanyak 1 (satu) unit sedangkan pos kesehatan ada 8 (delapan) unit. Pos kesehatan di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba tersebar di seluruh divisi, atau dengan kata lain masing-masing divisi memiliki 1 (satu) unit pos kesehatan yang dihuni oleh seorang petugas kesehatan seperti dokter ataupun bidan. Dari sinilah kemudian warga memperoleh pengobatan awal dan jika berkelanjutan akan dirujik ke poliklinik pusat yang ada di pusat wilayah perkebunan.

  4.3.3. Sarana Olah raga Tabel 6. Jumlah Sarana Olah raga PT. Socfindo Kebun Aek Loba

No Jenis Sarana olahraga Jumlah (unit)

  1 Lapangan Bola

  8

  2 Lapangan Tenis

  1

  3 Lapangan Badminton

  8

  4 Lapangan Voli

  1 Sumber : Arsip Kantor perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba, 2013 Tabel 6 menunjukkan ada 8 (delapan) lapangan bola yang tersebar di masing-masing Divisi, 1 (satu) lapangan tenis, 8 (delapan) lapangan badminton yang juga ada di masing-masing Divisi, dan 1 (satu) lapangan voli yang ada di wilayah perekebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba, kecamatan Aek Kuasan, kabupaten Asahan. Keseluruhan sarana olahraga tersebut merupakan fasilitas perusahaan yang dapat dinikmati oleh seluruh warga perkebunan baik itu atasan maupun pekerja bawahan.

  4.3.4. Sarana Tempat Ibadah Tabel 7. Jumlah Sarana Ibadah PT. Socfindo Kebun Aek Loba No Jenis Tempat Ibadah Jumlah

  1 Mesjid

  8

  2 Gereja

  1 Sumber : Arsip kantor perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba, 2013 Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa mesjid yang berada di wilayah PT.

  Socfindo kebun Aek Loba ada sekitar 8 (delapan) unit. Adapun mesjid-mesjid tersebut tersebar di seluruh divisi yang ada di perkebunan. Masing-masing divisi memiliki 1(satu) unit mesjid yang cukup luas dan dirawat oleh seorang Mudin. Sedangkan gereja di perkebunan ini hanya sekitar 1 (satu) unit yang berada di beberapa divisi saja. Hal ini dikarenakan karyawan di perkebunan ini mayoritasnya beragama Islam sehingga membuat lebih banyak mesjid dari pada gereja.

4.3.5. Kondisi Jalan Dan Transportasi

  Kondisi jalan di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba terbilang cukup baik karena perusahaan selalu rutin mengadakan perbaikan. Walaupun kondisi jalan bukan merupakan aspal atau dengan kata lain jalan berkontur tanah tetapi tidak banyak kerusakan-kerusakan yang berarti. Jalanan yang lebar membuat kendaraan berukuran besar juga bisa melewatinya. Hal ini dikarenakan salah satu sarana pengangkutan buah sawit di perkebunan dari kebun ke pabrik pengolahan dengan menggunakan truk besar. Selain itu ada transportasi lain yang digunakan untuk mengangkut kelapa sawit yang telah dipanen menuju pabrik pengolahan yaitu Lokomotif. Lokomotif berukuran kecil ini mengangkut gerbong seperti kereta api. Di dalam gerbong inilah kemudian kelapa sawit diangkut. Seperti layaknya kereta api pada umumnya, lokomotif juga berjalan di atas rel, rel ini dibangun di sepanjang jalan yang melewati perkebunan sawit.

  Pihak perusahaan juga menyediakan bus untuk mengangkut anak-anak karyawan yang bersekolah. Hal ini dimaksudkan agar para siswa yang rumahnya berada sangat jauh dari jalan utama atau bahkan dari sekolahnya menjadi lebih mudah untuk sampai ke tujuan. Selain itu juga agar para orang tua tidak kerepotan mengantar atau menjemput anaknya sehingga bisa lebih fokus dalam menjalankan pekerjaannya. Fasilitas bus juga dapat dinikmati seluruh siswa dengan gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun. Tentu saja hal ini semakin meringankan beban orang tua.

4.4. Struktur Organisasi Tenaga Kerja PT. Socfindo Kebun Aek Loba

  Setiap perusahaan tentu saja memiliki sturuktur organisasi yang jelas sesuai dengan sistem yang dibuat oleh pemilik perusahaan. Tujuannya agar kegiatan yang dilaksanakan dalam menjalankan perusahaan berjalan sesuai dengan visi dan misi yang diharapkan. Hal ini dapat dikaitkan dengan perusahaan perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba yang memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit yang mereka miliki. Tentu saja dilakukan dengan cara kerjasama dan kordinasi antar sesama pekerja supaya tepat sasaran sesuai dengan target-target yang ditetapkan perusahaan. Struktur tertinggi dipegang oleh pengurus kebun yang terdiri dari dewan direksi perkebunan. Selanjutnya pengurus kebun membawahi pegawai staff yaitu assisten kepala (askep) dan tekniker, dan berikutnya masing-masing askep dan tekniker membawahi assisten lapangan, dan assisten lapangan membawahi pegawai dan tenaga kerja di masing-masing perkebunan dengan spesifikasi pekerjaannya masing-masing.

4.5. Organisasi Pemerintahan

  Organisasi pemerintahan merupakan hal mutlak yang ada di dalam suatu wilayah. Mereka adalah ujung tombak masyarakat dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan kependudukan. Organisasi pemerintahan memegang peran penting dalam mengatur kebutuhan-kebutuhan masyarakatnya. Senada dengan hal ini, organisasi pemerintahan di Kecamatan Aek Kuasan merupakan salah satu pemegang kuasa dalam cakupan wilayah kecamatan. Pemerintah kecamatan mempunyai hak tertinggi atas kemaslahatan masyarakatnya dalam setiap kegiatan apapun termasuk dengan masyarakat perkebunan.

  Dalam berhubungan dengan masyarakat desa sekitar, Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba selalu melalui pihak kecamatan yang merupakan pimpinan tertinggi dalam sebuah wilayah kecamatan. Langkah pihak kecamatan kemudian dilanjutkan ke kepala desa dan selanjutnya kepala desa memberitahukan warga desanya. Hubungan ini kemudian membentuk suatu sistem yang saling terkait satu sama lainnya sehingga harus saling berkoordinasi agar tercapai tujuan positif yang dimaksudkan oleh semua pihak.

BAB V TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA

5.1. Karakteristik Informan

  Informan merupakan variabel yang sangat penting dalam sebuah penelitian kualitatif. Informan mampu memberikan informasi yang akurat dan valid bagi permasalahan penelitian. Penentuan informan dalam sebuah masyarakat juga tidak dilakukan secara sembarangan. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil jumlah informan sebanyak 11 (sebelas) orang yang terdiri dari 7 (tujuh) orang informan kunci dan 4 (empat) orang informan biasa. Informan kunci yang terdiri dari 7 (tujuh) orang yaitu terdiri dari 1 (satu) orang ketua Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dan sisanya adalah pengurus dan anggota-anggotanya. Sedangkan informan biasa yang terdiri dari 4 (empat) orang merupakan pihak yang mewakili pemerintahana kecamatan Aek Kuasan, tokoh agama, dan masyarakat sekitar yang sering mengikuti kegiatan- kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

5.1.1. Profil Informan Kunci

  

5.1.1.1 Nama : Ir. H. Edyana Suryana Usia :46 Tahun Pendidikan : Strata-1 Jabatan Pekerjaan : Pegawai Staff/Manager

Jabatan Pengurus : Ketua Lembaga Proses pertemuan awal peneliti dengan ketua lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan terbilang tidak mudah, karena beliau merupakan orang yang sibuk dalam pekerjaannya. Ketika peneliti datang ke rumahnya untuk wawancara, beliau tidak ada dirumahnya. Pembantunya mengatakan bahwa beliau belum pulang ke rumah dan masih di mesjid untuk sholat jumat. Istri beliau juga sedang tidak berada di rumah karena ke luar kota.

  Kemudian peneliti memutuskan untuk menemui beliau di mesjid tempat beliau sholat jumat karena waktu menunjukkan bahwa sholat jumat telah usai.

  Sesampainya di sana ternyata mesjid sudah kosong dan beliau tidak ada di sana. Setelah bertanya pada mudin mesjid kemudian peneliti kembali mendatangi rumah ketua lembaga tersebut. Ternyata beliau sudah berada di rumah dan sedang ada tamu. Setelah peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan, beliau kemudian meminta peneliti untuk datang lagi di lain hari yang sudah ditentukan karena saat ini beliau sedang menjamu tamunya.

  Hari selanjutnya akhirnya peneliti dapat menemuinya untuk wawancara di rumahnya setelah sebelumnya telah bersepakat. Bapak Edyana merupakan ketua Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba yang terbilang cukup lama menduduki jabatan sebagai ketua lembaga. Terhitung sejak tahun 2000 beliau sudah menjabat sebagai ketua lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sampai dengan saat ini. Masyarakat muslim di perkebunan PT. Socfindo selalu memberi kepercayaan kepada bapak Edyana sebagai ketua Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Hal ini dikarenakan beliau merupakan orang yang sudah berpengalaman.

  

5.1.1.2 Nama : Drs. Muhammad Taufik

Usia : 44 Tahun Pendidikan : Strata-1 Jabatan Pekerjaan : Pegawai divisi III/Mudin Jabatan Pengurus : Sekretaris Lembaga

  Untuk bertemu dengan bapak Muhammad Taufik peneliti tidak mengalami kesulitan yang begitu berarti. Bapak Taufik, begitu panggilan akrab beliau, merupakan salah seorang pegawai perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. Beliau berprofesi sebagai Mudin di Mesjid AT-Taufiq divisi III dan ditugaskan untuk mengurus mesjid serta kemaslahatan karyawan di wilayah tersebut. Hal ini yang kemudian mempermudah peneliti dalam menemui beliau untuk wawancara.

  Pekerjaan utama beliau yang tidak memakan waktu dan tenaga yang banyak membuat beliau lebih banyak di rumah ketika tidak. Pertama kali peneliti bertemu dan mewawancarai beliau adalah pada malam hari selepas sholat Isya. Waktu ini digunakan peneliti untuk wawancara karena dianggap tidak mengganggu kesibukan beliau di waktu lain. Selepas sholat Isya di mesjid yang kebetulan tepat di sebelah rumahnya juga biasanya beliau langsung pulang ke rumah. Saat inilah kemudian peneliti menemuinya untuk wawancara terkait dengan kepengurusan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS).

  Bapak Taufik memiliki 2 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki- laki yang masih kecil. Ketika peneliti datang ke rumahnya sang istri menyambut dengan senyum dan mempersilakan masuk untuk menunggu bapak yang sedang sholat di mesjid. Beberapa menit kemudian beliau sampai di rumah dan bersapa ramah dengan peneliti.

  Pak Taufik mengatakan bahwa sudah 11 tahun bekerja di PT. Socfindo kebun Aek Loba tepatnya pada tahun 1997, dan sejak pertama bekerja itulah beliau menjadi anggota Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Selanjutnya beliau juga menerangkan sudah 10 tahun menjadi pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, dan periode saat ini (2012-2015) menjadi sekretaris Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Pada periode sebelumnya beliau adalah pengurus di bidang Perayaan Hari Besar Islam (PHBI). Beliau merupakan orang yang cukup aktif dalam setiap kegiatan kelembagaan sehingga kemudian beliau dipercaya sebagai pengurus oleh warga muslim perkebunan. Pak Taufik juga merasa tidak keberatan mengemban tugas yang diamanahkan kepadanya. Hal ini dikarenakan kecintaan beliau kepada Islam dan juga ingin menjadikan masyarakat perkebunan memiliki jiwa persaudaraan yang kuat antara satu dengan yang lain. Selain itu juga kegiatan-kegiatan kelembagaan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) juga sejalan dengan profesinya sebagai mudin di salah satu divisi perkebunan Aek Loba. Sehingga membuat beliau semakin tekun menjalani profesi juga sekaligus pengurus di Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS).

5.1.1.3 Nama : Ahmad Andi Usia : 31 Tahun Pendidikan : SMA Jabatan Pekerjaan : Operator Komputer Cirad Jabatan Pengurus : Bendahara Lembaga

  Sebelumnya peneliti tidak pernah membuat janji dengan beliau untuk bertemu. Pertemuan terjadi begitu saja ketika peneliti mendatangi rumah informan. Bang Andi, begitulah sapaan peneliti kepada beliau karena usianya yang terbilang masih muda. Bang Andi saat ini memiliki 1 (satu) orang anak laki- laki yang masih balita. Peneliti juga menemuinya pada malam hari karena bang Andi ada di rumahnya pada waktu malam saja, dan pada siang harinya beliau bekerja di kantor perusahaan.

  Ketika peneliti bertamu ke rumah beliau, bang Andi sedang makan dan meminta waktu sebentar untuk menghabiskan makanannya. Setelah beberapa menit bang Andi menemui peneliti dan menanyakan maksud kedatangan. Setelah peneliti menjelaskan barulah beliau mengerti. Pembicaraan berjalan sangat santai dengan obrolan yang juga ringan karena beliau merupakan orang yang ramah dan mudah bergaul. Walaupun malam semakin larut obrolan tetap tidak terasa kaku.

  Bang Andi menjelaskan bahwa dirinya bekerja di perkebuna PT. Socfindo kebun Aek Loba sudah sejak tahun 2004 dan langsung terdaftar sebagai anggota dari Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS). Setahun kemudian yaitu pada tahun 2005 beliau dipercaya untuk menjadi pengurus inti di Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, dan sampai saat ini beliau tetap di percaya menjadi pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba yaitu sebagai bendahara.

5.1.1.4 Nama : Kresno Hadi, S.Pd Usia : 49 Tahun Pendidikan : Strata-1

  Jabatan Pekerjaan : Pegawai Divisi Pabrik/Mudin Jabatan Pengurus : Koord. PHBI

  Awal pertemuan peneliti dengan bapak Kresno Hadi terjadi ketika peneliti bertamu ke rumahnya selepas Sholat Isya. Beliau mengatakan bahwa baru sja pulang ke rumah setelah sebelumnya mengunjungi orang tuanya di desa sebelah. Bapak Kresno merupakan orang yang sangat ramah, terbukti ketika peneliti mengunjungi rumahnya untuk menggali informasi terkait masalah kepengurusan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) beliau menyambut dengan senyum ramahnya.

  Bapak Kresno, begitu orang-orang selalu memanggilnya, memiliki seorang anak perempuan yang masih kecil. Beliau tinggal di perumahan yang disediakan oleh perkebuna PT. Socfindo kebun Aek Loba sejak pertama kali bekerja dahulu. Bapak Kresno merupakan salah satu pegawai di perkebunan PT.

  Socfindo kebun Aek Loba, beliau adalah seorang Mudin untuk mesjid Al-Hidayah Divisi Pabrik perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba sejak tahun 1999 lalu.

  Beliau juga mengatakan bahwa sejak pertama kali bekerja langsung terdaftar sebagai anggota Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. selang setahun kemudian bapak Kresno terpilih sebagai pengurus di Ikatan Persaudaraan Muslim Socfino (IPMS) kebun Aek Loba, dan sampai saat ini beliau tetap dipercaya menjadi pengurus. Sudah banyak kegiatan-kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) yang diikuti oleh bapak Kresno, karena beliau merupakan pengurus tetap di lembaga tersebut. Hal ini tentu saja membuat bapak Kresno memiliki banyak pengalaman terkait dengan masalah kepengurusan di Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS).

5.1.1.5 Nama : Nazaruddin Sitorus Usia : 51 Tahun Pendidikan : SMA Jabatan Pekerjaan : Pegawai Divisi I/Mudin Jabatan Pengurus : Koord. Pendidikan

  Bapak Nazaruddin merupakan oranng yang bersahabat sehingga untuk menemui beliau peneliti tidak sama sekali menemui kesulitan. Peneliti menemui beliau di rumahnya selepas sholat Isya setelah sebelumnya peneliti membuat janji melalui telepon. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan peneliti beliau langsung mempersilahkan datang pada waktu yang telah ditentukan.

  Bapak Nazaruddin adalah seorang mudin di Divisi I PT. Socfindo kebun Aek Loba. Beliau mengatakan bahwa menjadi mudin sejak tahun 1999 silam ketika pertama kali bekerja di PT. Socfindo kebun Aek Loba. Ayah dari 2 (dua orang anak ini juga berprofesi sebagai seorang guru di sebuah sekolah swasta Islam di desanya.

  Sejak 14 tahun silam beliau bergabung pada lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) khusunya kebun Aek Loba. selama itu juga beliau mengabdi sebagai pengurus Ikatan Persuadaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Sudah banyak kegiatan-kegiatan yang diikuti beliau sampai dengan saat ini, karena beliau juga salah seorang yang bertanggung jawab dalam semua kegiatan yang diadakan. Tidak jarang juga beliau memberi masukan kegiatan atau bahkan ide kegiatan untuk program-program Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  5.1.1.6 Nama : Panio Usia : 56 Tahun Pendidikan : SMA Jabatan Pekerjaan : Karyawan Divisi III Jabatan Pengurus : Anggota

  Untuk menemui bapak Panio peneliti tidaklah mengalami kesulitan yang berarti. Beliau merupakan karyawan PT. Socfindo kebun Aek Loba setingkat pegawai. Ketika ditemui di rumahnya beliau sedang menonton televisi dengan keluarganya. Setelah menjelaskan maksud kedatangan peneliti barulah kemudian bapak Panio mengerti. Bapak Panio memiliki 4 (empat) orang anak yaitu 3 (tiga) orang anak laki-laki dan 1(satu) orang anak perempuan.

  Sifat ramah beliau kemudian membuat peneliti menjadi nyaman untuk mewawancarai beliau terkait masalah penelitian. Beliau mengatakan bahwa bekerja di PT. Socfindo kebun Aek Loba sejak tahun 1989. Selanjutnya pada tahun 1997 saat pertama kalinya Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dibentuk beliau mulai mengenal lembaga sosial keagamaan tersebut dan langsung terdaftar sebagai anggota lembaga. Bapak Panio menjadi pengurus di Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) sejak tahun 2004 hingga saat ini. Sudah banyak kegiatan yang diikuti oleh beliau mulai dari pengajian, sunat massal, hingga safari Ramadhan. Tidak jarang pula beliau memberikan ide-ide terkait dengan kemaslahatan lembaga terhadap masyarakat baik itu yang merupakan bagian dari lembaga maupun yang bukan termasuk anggota lembaga.

  5.1.1.7 Nama : Sujiran

  Usia : 50 Tahun Pendidikan : SMA Jabatan Pekerjaan : Karyawan Divisi III Jabatan Pengurus : Anggota

  Ketika menemui beliau pada malam hari, peneliti dapat langsung mewawancarainya. Sikap ramahnya membuat peneliti merasa sudah mengenal lama. Beliau juga memperkenalkan dirinya secara transparan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bapak Jiran mengaku sudah bekerja di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba sudah sejak tahun 1984 silam. Waktu itu Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) belum dibentuk. Beliau juga mengatakan masa dinasnya di perkebunan PT. Socfindo hanya tinggal 1 (satu) tahun lagi. Hal ini dikarenakan beliau sudah terikat kontrak kerja dengan masa dinas 30 tahun.

  Bapak Jiran memiliki 3 orang anak, yaitu 1 (satu) orang anak perempuan dan 2 (dua) orang anak laki-laki. Beliau mengatakan walaupun dirinya tidak pernah menjadi pengurus inti di Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kemudian membuatnya tidak mengenal lembaga sosial keagamaan tersebut.

  Bapak Jiran cukup baik mengenal lembaga tersebut. Ini terbukti ketika peneliti menanyakan beberapa hal mendasar terkait kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, beliau menjawabnya tanpa ragu-ragu lagi. Beliau menjawab dengan lancar apa-apa yang ditanyakan terkait permasalahan penelitian.

  Beliau menjelaskan bahwa ketika Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dibentuk pada tahun 1997 khususnya di kebun Aek Loba masyarakat perkebunan tidak ada yang menolaknya. Bahkan para pekerja di perkebunan terutama yang beragama Islam merasa senang karena mereka akhirnya memiliki wadah untuk mengembangkan potensinya. Para pekerja yang dulunya hanya bekerja saat ini setelah hadirnya Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) sudah mulai terbuka pikirannya. Kegiatan-kegiatan yang diadakan membuat interaksi dengan sesama pekerja dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik.

5.1.2 Informan Tambahan

5.1.2.1 Nama : Budi Hartono Usia : 41 Tahun Pendidikan : Strata-2 Pekerjaan : Wiraswasta Alamat : Desa Aek Loba Afd. 1

  Untuk mewawancarai bapak Budi Hartono, peneliti harus menunggu ketika malam hari. Hal ini dikarenakan bapak Budi Hartono banyak kegiatan di luar rumah. Beliau adalah seorang kepala sekolah di sebuah sekolah Islam Swasta di desanya. Selain itu beliau juga berprofesi sebagai seorang guru di beberapa sekolah Islam lainnya baik itu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemudian selanjutnya membuat beliau sulit sekali ditemui di rumahnya. Istri beliau yang juga seorang guru membuatnya ikut sibuk di luar rumah.

  Ketika peneliti bertamu beliau sedang menonton televisi dengan istrinya. Sifat ramah tamah beliau juga yang kemudian membuat peneliti tidak merasa canggung untuk banyak bertanya mengenai permasalahan penelitian. Beliau mempunyai seorang anak perempuan yang masih kecil dan saat itu sudah tidur karena hari memang sudah lumayan malam.

  Bapak Budi adalah seorang pendakwah Islam. Beliau mengatakan bahwa sering ada undangan ceramah di berbagai tempat baik itu di desanya maupun di desa-desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Begitu juga halnya dengan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba yang sering mengundangnya untuk mengisi ceramah pada acara-acara keagamaan yang diadakan oleh lembaga tersebut. Beliau mengaku pertama kali mengenal Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sejak tahun 2004 lalu.

  Ketika itu beliau diundang untuk mengisi ceramah pada sebuah pengajian. Model ceramahnya yang santai dan ringan membuat banyak masyarakat yang menyukainya termasuk masyarakat perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. Sejak saat itulah kemudian beliau sering mendapat undangan ceramah dari lembaga tersebut. Banyak keterangan beliau mengenai lembaga sosial keagamaan tersebut terkait dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat di sekitarnya karena belaiu yang merupakan masyarakat sekitar perkebunan yang sering merasakan manfaat positif dari kehadiran lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  

5.1.2.2 Nama : Suherman Siregar S.Sos Usia : 47 Tahun Pendidikan : Strata-1 Pekerjaan : Camat Aek Kuasan Alamat : Desa Aek Loba Afd. 1 Untuk menemui pejabat pemerintahan seperti bapak Suherman peneliti cukup mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan beliau merupakan seorang pejabat yang hampir tidak pernah berada di rumahnya ataupun di kantornya. Ketika pertama kali peneliti akan menemui beliau, istri beliau mengatakan bahwa beliau tidak berada di rumah dan menyuruh peneliti kembali lagi esok hari.

  Setelah keesokan harinya sesuai waktu yang telah dijanjikan istri beliau kemudian peneliti datang ke rumahnya, akan tetapi beliau lagi-lagi sedang tidak ada di rumah dan istri beliau mempersilahkan peneliti datang 2 jam lagi. Saat itu lah kemudian peneliti baru bisa bertemu dengan bapak Suherman.

  Bapak Suherman menjadi camat di kecamatan Aek Kuasan sejak tahun 2010, dan sejak saat itu juga beliau mengenal Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Beliau mengatakan bahwa Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba merupakan lembaga sosial keagamaan yang sangat berpengaruh dalam menjalin silaturahmi antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar di kecamatan Aek Kuasan. Kegiatan-kegiatan yang dibuat oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba yang selalu mengikutsertakan dua lapisan masyarakat yang berbeda ini kemudian dapat menyatukan kehidupan sosialnya.

  Beliau mengatakan bahwa pemerintah mendukung sepenuhnya atas semua kegiatan-kegiatan positif yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba untuk menunjang interaksi sosial masyarakatnya. Sejauh ini pemerintah merasa terbantu dengan adanya lembaga ini. Setidaknya masyarakat di kecamatan Aek Kuasan turut merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat perkebunan.

5.1.2.3 Nama : Watini Usia : 47 Tahun Pendidikan : SMP Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

  

Alamat : Desa Aek Korsik

  Untuk mewawancarai ibu Watini peneliti tidak membuat janji apa pun juga. Wawancara berlangsung pada saat kegiatan sunat massal yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba di poliklinik divisi III PT. Socfindo kebun Aek Loba. Saat itu ibu Watini sedang mengantarkan anaknya untuk ikut sunat massal gratis tersebut. Beliau mengatakan bahwa tiga tahun yang lalu juga pernah mengantarkan keponakannya untuk sunat massal yang diadakan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba juga. Beliau mengatakan bahwa cukup terbantu dengan adanya kegiatan ini.

  Ibu Watini berasal dari desa yang cukup jauh dari tempat sunat massal berlangsung. Ada sekitar 15 kilometer jarak yang ditempuh oleh ibu Watini dari rumahnya menuju tempat kegiatan sunat massal berlangsung, belum lagi jalan rusak dan berbatu yang harus dilewatinya. Akan tetapi ini tidak membuatnya menjadi rendah keinginan untuk mengantarkan anaknya sunat massal. Beliau mengatakan datang ke poliklinik itu bersama dengan beberapa orang tetangganya.

  Mereka diantarkan oleh kepala desa ke poliklinik tempat sunat massal berlangsung, sedangkan pulangnya mereka diantarkan oleh mobil fasilitas dari perusahaan PT. Socfindo kebun Aek Loba.

5.1.2.4 Nama : Sugianto Usia : 53 Tahun Pendidikan : SMP

  

Pekerjaan : Kuli Bangunan

Alamat : Desa Alang Bombon

  Bapak Sugianto adalah orang tua peserta sunat massal yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo kebun Aek Loba tahun 2013. Peneliti menemuinya ketika beliau sedang mengantarkan anaknya di Poliklinik untuk sunat massal. Bapak Sugianto memiliki 5 (lima) orang anak laki-laki dan 3 (tiga) orang anak perempuan. Beliau mengatakan datang ke Poliklinik dengan naik sepeda motor bersama istri dan anaknya yang akan disunat.

  Beliau mengatakan bahwa sudah 4 (empat) kali mengikuti sunat massal yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba ini dan sekarang adalah yang keempat kalinya, dengan spesifikasi 3 (tiga) kali mengantar anaknya dan 1(satu) kali mengantarkan anak saudaranya. Ia mengatakan bahwa tahun depan juga akan membawa anak saudaranya lagi yang sudah masuk waktu untuk disunat.

  Bapak Sugianto juga mengaku bahwa banyak keuntungan yang ia dapatkan dari mengikutkan anak dan saudaranya pada kegiatan sunat massal ini.

  Selain tidak dipungut biaya sedikitpun ia juga bisa bertemu dengan masyarakat lainnya sehingga dapat menambah teman. Beliau mengatakan bahwa kegiatan ini banyak memberikan bantuan sehingga meringankan beban ekonomi mereka terutama masyarakat yang kurang mampu.

  

5.2. Sejarah Lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Kebun

Aek Loba

  Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) merupakan sebuah lembaga sosial keagamaan yang dibentuk untuk mengembangkan potensi pekerja perkebunan terutama dalam hal sosial keagamaan. Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) didirikan pada 08 Oktober 1997 di Medan Sumatera Utara oleh seluruh jajaran pekerja yang beragama Islam di perkebunan PT. Socfindo.

  Selanjutnya Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dibentuk di masing- masing cabang perkebunan PT. Socfindo yang tersebar di seluruh wilayah provinsi Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam.

  Adapun pembentukan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) secara terpusat dibentuk oleh para petinggi perkebunan yang beragama Islam.

  Pembentukan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dimaksudkan sebagai wadah untuk menggali potensi para pegawai staf maupun nonstaf dan karyawan perkebunan. Adapun tujuan dari lembaga ini dibentuk adalah sebagai alat untuk mengikat tali silaturrahmi di seluruh jajaran pekerja di wilayah perkebunan. Agar serta merta para pekerja tidak hanya bekerja akan tetapi juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif sehingga dapat menguntungkan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Seperti pernyataan bapak Edyana sebagai berikut:

  

“IPMS diharapkan dapat menjadi wadah untuk kegiatan-kegiatan positif

para warga perkebunan terutama yang muslim, sehingga para warga

  

perkebunan memiliki sikap toleransi dan gotong royong antara satu sama

lainnya.”

  (Sumber : Wawancara 20 Juni 2013) Setelah Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dibentuk secara terpusat, selanjutnya mereka mengeluarkan surat edaran di wilayah cabang perkebunan PT. Socfindo untuk membentuk kepengurusan Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) yang mewakili cabang-cabang perkebunannya. Sistem kepengurusannya juga sudah diatur dalam surat keputusan yang dikirimkan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) pusat. Sistem kepengurusan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba hampir sama dengan organisasi sosial lainnya. Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dipimpin oleh seorang ketua, kemudian dibantu oleh sekretaris sebagai orang yang berurusan dengan surat menyurat, seorang bendahara yang mengatur keuangan, dan seksi-seksi lainnya sesuai dengan bidang-bidang program lembaga seperti pendidikan, perayaan hari besar Islam, sosial, dan lainnya. Adapun sumber dana Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) adalah iuran dari seluruh tenaga kerja PT. Socfindo yang dipotong langsung dari gaji mereka setiap bulannya.

  Adapun besarnya jumlah iuran tersebut adalah Rp. 3000,- perorang.

  Sejak pertama kali dibentuk pada tahun 1997 Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sudah aktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan baik itu bagi masyarakat perkebunan sendiri maupun bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh bapak Sujiran sebagai berikut :

  “Sejak pertama kali dibentuk dulu IPMS sudah aktif melakukan kegiatan-

kegiatan, misalnya saja sunat massalnya yang memang sudah ada sejak dulu,

atau mendidik anak-anak karyawan maupun bukan untuk mengaji.”

  (Sumber : Wawancara 26 Juni 2013) Hal senada juga diungkapkan oleh bapak Panio pada saat peneliti mewawancarainya sebagai berikut :

  

“Sebelum ada IPMS Dahulu, karyawan taunya ya cuma bekerja, tapi setelah

kehadiran IPMS para pekerja perkebunan terlihat antusias, saya merasa ada

tempat untuk saling berbagi satu sama lainnya. Kegiatan-kegiatan positifnya

banyak sekali yang menguntungkan.”

  (Sumber : Wawancara 27 Juni 2013) Beberapa wawancara di atas menunjukkan bahwa kehadiran Ikatan

  Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) sangat menguntungkan masyarakat perkebunan. Hal ini ditunjukkan dengan antusiasnya mereka menerima keputusan pimpinan pusat untuk membentuk sebuah wadah yang nantinya dapat bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

  

5.2.1 Struktur Organisasi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS)

Kebun Aek Loba

  Dalam setiap organisasi pasti memiliki sebuah sistem kepengurusan yang terpusat agar tidak terjadi konflik dalam setiap menjalankan semua program- programnya. Selain itu, pengurus yang diberi tugas sesuai dengan spesifikasi struktur organisasinya juga akan dituntut bertanggung jawab atas kewajibannya sehingga membuat mereka tidak bisa saling mendahului yang dapat menyebabkan konflik. Sama halnya dengan lembaga sosial keagamaan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba yang juga memiliki struktur organisasi kepengurusannya. Adapun skema struktur organisasi pada Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dijelaskan sebagai berikut :

  

Gambar 2. Struktur Kepengurusan Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo

(IPMS) Kebun Aek Loba DEWAN PENASEHAT KETUA UMUM SEKRETARIS BENDAHARA PHBI STM PENDIDIKAN SENI KETUA RANTING

  DIVISI I-VIII ANGGOTA

  5.2.1.1 Dewan Penasehat

  Dewan penasehat merupakan pengurus tertinggi dalam Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, yaitu staf pengurus perkebunan yang dipercaya untuk memegang kendali kepengurusan cabang perkebunan PT. Socfindo. Dengan kata lain, dewan penasehat adalah pengurus pusat yang mewakili cabang perkebunan di pusatnya, dalam hal ini adalah dewan penasehat di Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) PT. Socfindo kebun Aek loba. Dewan penasehat biasanya bersifat tetap pada setiap periode. Artinya adalah tidak digantikan oleh siapapun untuk jangka waktu yang panjang. Akan tetapi dewan penasehat hanya bertugas mengetahui program-program yang diadakan saja untuk kemudian dilaporkan kepada pipmpinan pusat.

  5.2.1.2 Sekretaris

  Dalam setiap organisasi seorang sekretaris sangat diperlukan, hal ini dikarenakan sekretaris merupakan puncak dari segala hal yang berhubungan dengan administratif atau surat menyurat. Segala yang berhubungan dengan surat menyurat ditanggung jawabi oleh seorang sekretaris.

  Seperti halnya pada lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba yang juga memiliki seorang Sekretaris. Dalam hal ini sekretaris bertugas untuk mencatat segala kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba yang kemudian menjadi dokumen sebagai pertanggungjawaban pada sebuah organisasi. Misalnya adalah membuat undangan, membuat laporan pertanggungjawaban, dan mencatat hasil musyawarah. Tanggung jawab sekretaris Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo

  (IPMS) adalah mengurus administrasi organisasi, memberikan informasi kepada seluruh anggota atas kegiatan organisasi, mengurus komunikasi dua arah, serta membuat pengumuman dan instruksi yang sehubungan dengan kegiatan intern dan ekstern organisasi.

  5.2.1.3 Bendahara

  Bendahara adalah seorang yang mengatur keuangan dalam sebuah organisasi. Pada Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba bendahara ditugaskan sebagai pengatur keuangan organisasi, yaitu mengutip uang iuran wajib bagi seluruh anggota Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, dan mengatur semua belanja organisasi. Bendahara ditugaskan menghimpun dana baik yang berasal dari sumber intern organisasi maupun sumber lainnya, membukukan pengeluaran dana sesuai dengan anggaran yang telah disetujui oleh rapat anggota atau pengeluaran rutin sesuai dengan yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADART), serta membuat laporan triwulan dan diumumkan kepada semua anggota tentang penerimaan dan penggunaan dana.

  5.2.1.4 Bidang Perayaan Hari Besar Islam (PHBI)

  Pada bidang ini pengurus bertanggung jawab untuk mengatur semua kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perayaan hari besar Islam oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Misalnya saja perayaan Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi Muhammad Saw, safari Ramadhan, atau perayaan tahun baru Islam (Hijriah) yang diperingati setiap tahunnya baik itu yang diadakan secara terpusat atau yang hanya pada kelompok karyawan tertentu. Dalam hal ini pengurus bidang perayaan hari besar Islam dituntut untuk bertanggung jawab atas semua kegiatan yang ada. Misalnya saja di mana perayaan diadaka secara terpusat, apa-apa saja kegiatan untuk mengisi acara, dan bahkan siapa-siap saja yang akan diundang untuk menghadiri acara perayaan tersebut.

  5.2.1.5 Bidang Serikat Tolong Menolong (STM)

  Sebagai sebuah lembaga Sosial Keagamaan, Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba juga memiliki program kegiatan yang berhubungan dengan kepekaan terhadap masyarakat yang sedang kesusahan. Hal inilah yang kemudian mendasari hadirnya program ini. Serikat tolong menolong ini biasanya membantu pada saat anggota ataupun masyarakat sekitar perkebunan mendapatkan kemalangan seperti meninggal dunia atau keluarganya yang meninggal dunia, dirawat di rumah sakit, dan juga santunan untuk fakir miskin dan anak yatim. Pengurus bidang inilah yang kemudian mengatur kegiatan yang berhubungan dengan tolong menolong untuk masyarakat yang butuh pertolongan.

  5.2.1.6 Bidang Seni

  Pengurus pada bidang seni ini bertugas mengatur kegiatan yang berhubungan dengan kesenian. Adapun kegiatan yang sering diadakan biasanya tergabung dalam perayaan hari besar Islam misalnya Nasyid dan tarian-tarian Islam sebagai hiburan bagi acara perayaan tersebut. Pengurus bidang inilah yang kemudian menyediakan hiburan yang telah dibimbing dan dilatih sebelumnya.

  Para pelaku seni ini juga terdiri dari keluarga pekerja perkebunan, baik itu anak, istri atau bahkan dirinya sendiri.

  5.2.1.7 Bidang Pendidikan

  Pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara, oleh karenanya kemudian Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba juga memiliki badan yang mengatur bidang pendidikan. Adapun pendidikan yang dimaksud adalah memberikan pelatihan-pelatihan mengaji atau belajar membaca Al-Quran setiap minggunya baik itu mengahafal (Hafiz) ataupun melagukannya (Qori). Selain itu Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba juga mewisuda anak-anak karyawan yang sudah mampu membaca Al-Quran. Hal ini dimaksudka agar anak-anak menjadi bersemangat untuk belajar Al-Quran.

  5.2.1.8 Ketua Ranting

  Ketua ranting adalah seorang yang bertanggung jawab pada sebuah wilayah yang cakupannya lebih kecil di PT. Socfindo kebun Aek Loba. Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Medan adalah pusat, selanjutnya Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba merupakan salah satu cabang, dan rantingnya adalah divisi-divisi yang ada di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. kalau di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba memiliki 8 (delapan) divisi, maka itu artinya dalah 8 (delapan) ranting dan ketuanya. Masing- masing ranting memiliki ketua yang nantinya akan bertanggnung jawab terhadap anggota-anggotanya di divisinya masing-masing dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba.

  5.2.1.9 Anggota

  Anggota Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba merupakan seluruh karyawan, pegawai staf dan pegawai nonstaf yang beragama Islam di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba, baik itu yang sudah lama bekerja maupun yang baru saja masuk bekerja di perusahaan PT. Socfindo kebun Aek Loba. Sejak pertama kali terdaftar sebagai karyawan PT. Socfindo jika ia beragama Islam maka sudah mutlak menjadi anggota Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dan langsung dikenai biaya iuran.

  Susunan Dewan Pengurus Pusat disahkan dalam rapat anggota yang dihadiri oleh seluruh anggota dan utusan dari cabang-cabang. Selanjutnya susunan Dewan Pengurus Cabang disahkan oleh rapat anggota cabang dan disahkan oleh Dewan Pengurus Pusat. Lalu susunan Dewan Pengurus Ranting disahkan oleh rapat anggota ranting yang dihadiri oleh pengurus cabang.

  Pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dipilih berdasarkan hasil musyawarah dari seluruh warga perkebunan. Perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba yang terdiri dari 8 (delapan) Divisi kemudian mengirim perwakilannya sebanyak 2 sampai 3 orang untuk bermusyawarah dan kemudian menjadi pengurus di lembaga ini. Biasanya pengurus-pengurus lama yang ada kemudian terpilih menjadi pengurus lagi di bidang yang berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada kriteria khusus untuk menjadi pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, yang penting merupakan pekerja perkebunan dan beragama Islam. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan bang Andi :

  

“Untuk musyawarah pembentukan pengurus cabang IPMS di kebun Aek

Loba biasanya masing-masing divisi disuruh untuk mengirim utusan untuk

  

dijadikan pengurus. Tiap-tiap divisi mengirim 2 sampai 3 orang untuk

musyawarah. Kebanyakan sih pengurus yang lama datang lagi.”

  (Sumber : Wawancara 11 Juni 2013) Dari hasil wawancara peneliti dengan informan, Ikatan Persaudaraan

  Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba memiliki konsistensi dalam menjalankan lembaga ini. Semua dilakukan demi mencapai satu tujuan yang sama agar dapat menjadi sebuah organisasi yang dikenal oleh masyarakat perkebunan dan masyarakat sekitar. Seperti yang dikemukakan oleh Thompson (dalam Liliweri:1997), yang menyatakan bahwa “tujuan organisasi adalah suatu objek

  

yang bersifat abstrak dari organisasi, dia merupakan cita-cita ideal yang harus

dicapai oleh semua anggota organisasi. Tanpa adanya sebuah tujuan dalam

pembentukan organisasi maka tidak akan ada manfaat dari sebuah organisasi.

Karena tujuan organisasi merupakan bentuk mutlak yang ada dalam struktur

keorganisasian agar dapat berdiri tegak sesuai dengan keinginan para

anggotanya.”

  Dari teori tersebut dapat dikaitkan bahwa Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba berdiri karena seluruh stakeholder memiliki tujuan yang sama dalam membesarkan nama lembaga tersebut. Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba membuat program kegiatan sosial setiap tahunnya agar eksistensi lembaga ini dikenal oleh masyarakat perkebunan dan masyarakat sekitar. Sehingga fungsi organisasi melalui program-program kegiatan yang dicanangkan lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dapat berjalan sesuai dengan tujuannya dalam menjalin hubungan silaturrahmi antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar.

  

5.3. Program Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Kebun Aek

Loba Dalam Menjalin Silaturrahmi Kepada Masyarakat

  Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) merupakan sebuah lembaga masyarakat yang berasaskan Islam. Oleh karena itulah kemudian lembaga ini banyak membuat program-program untuk meningkatkan rasa persaudaraan di dalam masyarakat. Adapun program-program kegiatan yang dibuat oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo khususnya kebun Aek Loba adalah seperti yang dijelaskan di bawah ini.

5.3.1. Pengajian rutin (Tabligh Akbar)

  Pengajian ini merupakan program rutin yang diadakan setiap bulan dari Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Aek Loba. Peserta yang hadir biasanya adalah ibi-ibu perwiritan baik itu warga perkebunan maupun masyarakat biasa yang ada di sekitar perkebunan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan kaum laki-laki juga hadir memenuhi undangan dari Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo IPMS) kebun Aek Loba. Karena pengajian ini memang ditujukan untuk masyarakat perkebunan dan masyarakat sekitar perkebunan. Seperti apa yang dikatakan oleh bapak Taufik :

  

”Biasanya yang banyak hadir di acara pengajian rutin ini adalah ibu-ibu

khususnya ibu perwiritan karena mereka senang mendengarkan ceramah.

  

Sedangkan untuk yamg laki-laki itu ada tapi sedikit jumlahnya karena pada

umumnya mereka bekerja.”

  (Sumber : Wawancara 10 Juni 2013) Selain itu juga tempat yang digunakan untuk pengajian rutin Tabligh

  Akbar ini berpindah-pindah dari satu mesjid ke mesjid yang lain dan berada di wilayah perkebunan. Bapak Taufik juga mengatakan bahwa biaya sepenuhnya ditanggung oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Senada dengan pernyataan bapak Taufik, bang Andi sebagai bendahara juga menguatkan dengan pernyataan sebagai berikut.

  

“Nanti abang yang mengurus pembiayaannya, uang iuran dari seluruh

anggota IPMS kebun Aek Loba ini yang akan digunakan sebagai dana

pengajian, baik itu untuk makanannya para undangan pengajian ataupun

cenderamata untuk pengisi ceramahnya, semua dari IPMS.”

  (Sumber : Wawancara 11 Juni 2013) Dari wawancara di atas dapat dilihat bahwa Ikatan Persaudaraan Muslim

  Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba tidak main-main dalam menjalankan program- programnya untuk masyarakat. Hal ini kemudian yang membuat pengajian selalu ramai dikunjungi masyarakat.

5.3.2. Pengajian rutin Al-Munawwaroh Pengajian ini sedikit berbeda dengan pengajian Tabligh Akbar di atas.

  Bedanya adalah kalau pengajian Tabligh Akbar merupakan kegiatan yang diadakan dan diurus sendiri oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, sedangkan pengajian Al-Munawwaroh merupakan bentuk kerja sama antara pihak Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dengan pihak pemerintahan kecamatan. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh bang Andi :

  

“Kalau pengajian Al-Munawwaroh ini pihak IPMS bekerja sama dengan

pihak kecamatan. Biayanya dibagi dua dan tempatnya bergantian di wilayah

perkebunan dan wilayah kecamatan. Nanti kami yang mengurus semua

administrasinya.”

  (Sumber : Wawancara 11 Juni 2013) Dari pernyataan di atas terlihat bahwa pihak pemerintah khususnya kecamatan mendukung adanya kegiatan ini. Biaya yang ditanggung juga dibagi dua agar meringankan. Wilayah yang dijadikan sebagai tempat pengajian juga tidak hanya di wilayah perkebunan akan tetapi juga mesjid-mesjid di wilayah kecamatan. Hal ini dimaksudkan agar para warga perkebunan dapat berbaur dan saling berinteraksi satu sama lain tanpa ada rasa canggung lagi.

  Kepanitiaan pengajian juga dibagi dua, maksudnya adalah yang bertanggung jawab dalam kegiatan pengajian ini tidak hanya pihak Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba akan tetapi juga pihak dari pemerintahan kecamatan.

5.3.3. Pengajian rutin Az-Zidiniyah

  Pengajian ini juga hampir sama dengan pengajian-pengajian di atas, yang berbeda hanyalah waktu dan panitianya saja. Atau dengan kata lain kepanitiaan ditanggungjawabi oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Tempat-tempat yang digunakan juga lebih banyak mesjid-mesjid di wilayah desa atau bukan merupakan wilayah perkebunan.

  Sedangkan biaya ditanggung oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dan masyarakat sekitarnya. Pengutipan biaya dari pihak masyarakat biasanya melalui pihak pemerintahan kecamatan. Jadi dengan kata lain pihak kecamatan yang mengutipnya dari masyarakat dan kemudian diserahkan pada pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba untuk selanjutnya dimanfaatkan.

5.3.4. Upah-upah calon jamaah haji

  Dalam kegiatan ini pihak Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) bekerja sendiri atau tidak bekerja sama dengan pihak pemerintahan. Akan tetapi yang diupah-upah tidak hanya warga perkebunan yang akan naik haji saja, tetapi juga masyarakat yang berada di sekitaran perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. kegiatan ini rutin dilakukan tiap setahun sekali ketika musim haji tiba. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada lagi perbedaan antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat yang bukan merupakan warga perkebunan. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh bapak Nazaruddin sebagai berikut :

  

“IPMS memang sebagai lembaga sosial keagamaan yang sering melakukan

kegiatan-kegiatan sosial termasuk upah-upah calon jamaah haji. Sebagai

orang Islam kita kan dituntut untuk berbuat baik, ya salah satunya dengan

mendoakan orang yang akan berangkat haji dengan mengupah-upahnya.

  

Sekalian juga memperkenalkan IPMS untuk masyarakat desa yang belum

tahu”.

  (Sumber : Wawancara 26 Juni 2013) Pernyataan bapak Nazaruddin di atas juga diperkuat oleh hasil wawancara dengan bapak Kresno sebagai berikut :

  

“Upah-upah calon jamaah haji dilakukan pada saat musim haji ini tidak

hanya diperuntukkan bagi masyarakat perkebunan saja, akan tetapi juga

dipersembahkan untuk masyarakat sekitar. Supaya ada rasa tanggung

jawab orang-orang perkebunan terhadap kemaslahatan umat yang ada di

sekitarnya.”

  (Sumber : Wawancara 15 Juni 2013)

5.3.5. Safari Ramadhan

  Kegiatan Safari Ramadhan merupakan kegiatan tahunan yang wajib dilakukan oleh lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Hampir tidak pernah absen para pengurus lembaga ini mengadakan safari pada bulan Ramadahan. Setiap bulan Ramadhan tiba, Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) berkeliling dari mesjid yang satu ke mesjid yang lain untuk berceramah. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari yaitu dimulai dari menjelang berbuka puasa hingga selesai sholat Tarawih.

  Dulu Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba melakukan kegiatan safari Ramadhan hanya di wilayah perkebunan saja, akan tetapi saat ini Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) sudah bekerja sama dengan pihak kecamatan Aek Kuasan untuk mengadakan safari bersama dan wilayahnya tidak hanya mencakup wilayah perkebunan saja tapi juga wilayah kecamatan. Safari Ramadhan biasanya diisi dengan ceramah oleh Ustad Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) bergantian dengan Ustad dari pihak kecamatan. Selain itu juga untuk membagikan cenderamata bagi mesjid yang dikunjungi untuk kepentingan ibadah. Hal ini sesuai dengan pernyataan bapak Edyana kepada peneliti sebagai berikut :

  

“Dulunya Safari Ramadhan ini cuma diadakan di mesjid-mesjid wilayah

perkebunan saja, tapi sekarang kan sudah merambah ke mesjid-mesjid di

sekitar perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba.”

  (Sumber : Wawancara 20 Juni 2013)

5.3.6. Sunat Massal

  Kegiatan Sunat Massal rutin dilakukan setiap tahunnya. Biasanya dilakukan di setiap bulan Juni. Sunat Massal ditujukan untuk anak para karyawan perkebunan dan masyarakat di sekitar wilayah perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. Biaya sepenuhnya ditanggung oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Sedangkan para peserta tidak dimintai biaya sedikitpun bahkan mereka diberi bingkisan sebagai daya tarik agar para anak-anak berani disunat. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Pak Kresno :

  

“ Para peserta tidak ada dimintai biaya sedikitpun dan malah mereka diberi

bingkisan sebagai hiburan berupa uang dan cenderamata secukupnya, hal

ini dibuat supaya anak-anak merasa tertarik dan tidak merasa takut untuk

disunat.”

  (Sumber : Wawancara 15 Juni 2013)

  Pak Taufik juga mengatakan bahwa tenaga medis yang digunakan adalah dokter ahli dari Rumah Sakit Umum Kisaran kabupaten Asahan. Jadi jaminan akan kesehatan dari para peserta tidak perlu diragukan lagi karena yang menangani langsung adalah dokter yang sudah berpengalaman.

  

“Untuk tenaga medisnya biasanya pihak IPMS bekerja sama dengan PT.

Socfindo kebun Aek Loba. Beberapa tenaga medis dari perkebunan biasanya

dipakai dan selebihnya merupakan panggilan dari Rumah Sakit Umum

Kisaran.”

  (Sumber : Wawancara 10 Juni 2013) Sesuai dengan observasi langsung yang dilakukan peneliti pada saat acara sunat massal dapat diketahui bahwa antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah peserta sunat massal tahun 2013 lebih banyak dari masyarakat yang bukan karyawan perkebunan.

5.3.7. Santunan anak yatim

  Kegiatan ini rutin dilakukan setiap satu tahun sekali, biasanya menjelang hari raya Idul Fitri. Santunan tidak hanya diberikan untuk anak-anak yatim di wilayah perkebunan, akan tetapi juga bagi masyarakat di sekitaran perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba. Adapun bentuk santunannya adalah berupa bingkisan dan uang tunai untuk sekedar meringankan beban ekonomi orang yang mengurusinya. Adapun penyerahan santunan ini dilakukan pada saat penyerahan zakat fitrah untuk masyarakat miskin oleh BKM sebuah mesjid di wilayah perkebunan. Jadi pihak Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) bekerja sama dengan pengurus mesjid. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan bang Andi sebagai bendahara Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) :

  

“Untuk santunan anak yatim biasanya IPMS memberikan bantuan

sekedarnya pas menjelang hari raya idul fitri. Biasanya sekalian dengan

penyerahan zakat fitrah. Jadi ya IPMS bekerja sama dengan BKM di sebuah

mesjid yang ada di wilayah perkebunan. Jumlahnya ya sekedarnya saja lah.”

  (Sumber : Wawancara 11 Juni 2013)

5.3.8. Membentuk panitia Lembaga Amil Zakat (LAZ)

  Panitia Lembaga Amil Zakat (LAZ) merupakan Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Kepanitiaan ini diatur oleh lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Mereka menghimpun dan mengelola dana yang dikumpulkan dari para warga perkebunan berbentuk zakat profesi.

  Gaji para karyawan langsung dipotong setiap bulan sebesar 2,5% tergantung berapa banyak jumlah gajinya, karena masing-masing karyawan berbeda jumlah gaji yang didapat, tergantung jabatan dan lemburnya dan diserahkan kepada Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba untuk selanjutnya dialokasikan kepada yang berhak, seperti biaya pendidikan bagi anak-anak kurang mampu baik itu yang merupakan anak karyawan maupun masyarakat di sekitaran perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba, serta biaya hidup bagi fakir miskin baik itu yang merupakan karyawan perkebunan maupun masyarakat di sekitarannya.

5.3.9. Perayaan Hari Besar Islam

  Kegiatan ini biasanya meliputi perayaan Maulid dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Perayaan ini rutin dilakukan setiap tahunnya oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan secara terpusat di wilayah perkebunan secara bergantian di tiap-tiap Divisi. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan masing- masing Divisi tersebut membuat kegiatan sendiri di wilayahnya. Sedangkan Isra’ Mi’raj Nabi Muhamad SAW tidak diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS), selain karena minimnya biaya juga karena terlalu dekat dengan bulan suci Ramadhan sehingga digantikan dengan kegiatan Safari Ramadhan.

  Dari berbagai program yang telah dilaksanakan lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) untuk membangun hubungan sosial dengan masyarakat sekitar perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba ternyata membuat lembaga ini sudah tidak asing lagi di kenal oleh masyarakat sekitar. Hal ini dikarenakan hubungan baik yang dilakukan IPMS membuat masyarakat mengapresiasikan kegiatan yang dibuat oleh IPMS sehingga tujuan yang diharapkan lembaga ini sesuai dengan visi dan misi yang telah dibuat. Selain itu hubungan dan interaksi antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar semakin baik dengan adanya kegiatan-kegiatan yang dibuat oleh IPMS.

  Secara sosiologis peneliti mengaitkan teori interaksi sosial yang dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies. Menurut Ferdinand Tonnies (dalam Soerjono Soekanto, 2001:144-146) bahwa “suatu masyarakat memiliki hubungan-

  

hubungan positif satu sama lainnya. Adapun bentuk hubungan tersebut dibedakan

atas dua yaitu paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (Gesellschaft).”

  Paguyuban (Gemeinschaft) adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggota- anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Dalam hasil penelitian yang dilakukan ternyata maksud dan tujuan lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) adalah untuk menciptakan hubungan silaturrahmi yang bersifat kekeluargaan antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar yang secara umum sebagian masyarakat memandang bahwa masyarakat perkebunan lebih tertutup daripada masyarakat sekitar. Akan tetapi peneliti menganalisis bahwa hal tersebut tidak semuanya benar. Karena dengan adanya Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS), lembaga ini menjadi suatu alat penghubung antara masyarakat sekitar dengan masyarakat perkebunan. Sehingga secara alami menumbuhkan rasa kepedulian antar sesama umat beragama yang saling tolong menolong dalam menjalani kehidupan sosial. Hal ini sesuai dengan pernyataan bapak Budi Hartono selaku masyarakat sekitaran perkebunan yang merasakan langsung dampak dari kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sebagai berikut :

  

“Sudah banyak manfaat dari kegiatan-kegiatan yang diadakan IPMS ini

untuk masyarakat sekitar, selain sebagai penunjang ekonomi juga sebagai

sarana interaksi antara masyarakat perkebunan dengan kami masyarakat

desa di sekitarnya. Masyarakat desa juga jadi merasa seperti ada ikatan

batin karena sering terbantu, misalnya sunatan massal tiap tahun itu. Dan

akhirnya membuat kami merasa takut untuk berbuat jahat di perkebunan

itu.

  (Sumber : Wawancara 15 Juni 2013) Sedangkan kalau dilihat pada konsep patembayan (Gesellschaft) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam fikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk

  

Gesellschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan

  ikatan timbal balik. Dalam konsep ini dapat dijelaskan bahwa kegiatan IPMS berlangsung dengan bantuan masyarakat sekitar dengan tujuan untuk mensukseskan kegiatan yang sifatnya hanya sementara dan tidak untuk melakukan proses dalam jangka waktu yang panjang agar hubungan antara masyarakat perkebunan dan masyarakat sekitar dapat terjaga.

  

5.4. Interaksi Sosial Masyarakat Perkebunan Dengan Masyarakat Sekitar

Dalam Mengikuti Kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Kebun Aek Loba

  Dalam suatu masyarakat senantiasa terjalin interaksi sosial, artinya sebagai makhluk hidup yang memiliki sifat saling ketergantungan sudah tentu manusia saling memerlukan satu sama lain. Oleh karena itulah kemudian interaksi sosial sudah menjadi hal mutlak dalam pergaulan masyarakat sehari-hari. Mulai dari lingkungan keluarga sampai kepada masyarakat yang lebih luas. Masyarakat terbentuk dari manusia satu dengan manusia lainnya.

  Aristoteles mendefinisikan bahwa manusia adalah Zoon Politicon, artinya pada dasarnya manusia adalah makhluk yang selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan manusia yang lainnya dan jadi makhluk yang bermasyarakat. Dari sifat suka bergaul dan bermasyarakat itulah manusia dikenal sebagai makhluk sosial. Aristoteles seorang filsuf Yunani terkenal dengan gagasannya tentang manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang hidup bersama manusia yang lain, dan makhluk yang ada dan berelasi dengan manusia yang lain. Secara kodrati manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kebersamaan dengan yang lain untuk belajar hidup sebagai manusia.

  Senada dengan hal di atas, masyarakat perkebunan juga merupakan bagian dari makhluk sosial yang tentu saja memiliki rasa ketergantungan antara yang satu dengan yang lain. Sedikit memiliki perbedaan, masyarakat perkebunan merupakan sebuah komunitas yang diatur oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan di dalamnya. Dalam berinteraksi, masyarakat perkebunan juga tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain pada umumnya. Di perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba misalnya, para pekerja berinteraksi sebagaimana mestinya, hanya saja intensitasnya sedikit bila dibandingkan dengan masyarakat desa di sekitarnya. Hal ini dikarenakan para pekerja perkebunan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja.

  Dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya, masyarakat perkebunan PT. Socfindo kebun Aek Loba terbilang cukup kurang. Hanya jika ada kepentingan-kepentingan tertentu saja mereka berinteraksi. Misalnya dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba, barulah mereka saling berinteraksi. Masyarakat perkebunan di PT. Socfindo kebun Aek Loba cenderung tertutup dan kurang berinteraksi bukan karena mereka tidak mau bergaul, hanya saja karena mereka pada umumnya bekerja hingga seharian bahkan hingga malam hari, jadi waktu untuk berada di rumah dan bergaul dengan warga sekitar menjadi kurang. Hal ini telah menunjukkan suatu pergeseran antara masyarakat paguyuban (gemeinscaft) menjadi masyarakat patembayan (gesellscaft) yang disebabkan oleh tuntutan pekerjaan yang harus dilakukan masyarakat perkebunan setiap harinya. Dengan kata lain interaksi-interaksi yang terjadi ada dikarenakan sebuah kepentingan. Dalam hal ini kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sebagai fasilitator akan interaksi yang terjadi antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitarnya. Akan tetapi hal ini tidak membuat kualitas pergaulan di antara keduanya menjadi buruk dan tidak harmonis. Seperti yang dikatakan oleh bapak Budi Hartono sebagai berikut :

  

“Orang kebun baik-baik semuanya kok, cuma saja kalau berinteraksi ya

jarang, karena mereka orang kebun kan harus bekerja sesuai prosedur dari

perusahaan, jadi kalau tidak ada kegiatan yang mengaharuskan keduanya

untuk bertemu ya sangat jarang bertemu. Tapi bukan berarti sama sekali

tidak pernah berinteraksi.”

  (Sumber : Wawancara 18 Juni 2013) Pernyataan bapak Budi di atas juga diperkuat oleh pernyataan bapak

  Suherman sebagai berikut :

  

“Saya sebagai camat kalau melihat interaksi masyarakat desa dengan

masyarakat kebun terbilang sudah lumayan baik. Apalagi pemukiman

keduanya saling berdekatan. Perumahan karyawannya juga banyak yang

bersebelahan langsung dengan masyarakat desa. Tapi ya mungkin mereka

jarang bertemu, karena orang kebun kan harus bekerja.”

  (Sumber : Wawancara 21 Juni 2013) Dari hasil wawancara dengan dua informan di atas dapat dilihat bahwa masyarakat perkebunan menjadi kurang berinteraksi dengan masyarakat desa di sekitarnya dikarenakan mereka harus bekerja sesuai dengan prosedur waktu yang sudah ditentukan oleh pihak perusahaan. Dan hasilnya adalah mereka jadi kurang pergaulan sehingga membuat mereka terlihat tertutup dengan masyarakat luar. Akan tetapi hal ini tidak semata-mata membuat kualitas hubungan mereka menjadi tidak harmonis, hanya intensitasnya saja yang kurang. Selain itu juga bukan berarti sama sekali tidak ada interaksi di antara masyarakat perkebun dengan masyarakat sekitarnya jika di luar kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

  Interaksi di antara keduanya tetap terjalin dengan baik walaupun di luar kegiatan- kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada.

  Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sebagai lembaga sosial keagamaan kemudian mencari solusi dengan mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang turut mengikutsertakan masyarakat desa di sekitarnya. Melalui pemerintah kecamatan, Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba kemudian berhubungan dengan masyarakat sekitar. Salah satu kegiatan andalan dari Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba adalah sunat massal yang diadakan setiap setahun sekali. Dalam memberitahukan kepada masyarakat sekitar tentang adanya kegiatan sunat massal ini pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba kemudian menghubungi pemerintah kecamatan Aek Kuasan yang selanjutnya pihak kecamatan menyurati kepala desa untuk selanjutnya diumumkan kepada masyarakat desa. Organisasi pemerintahan merupakan garis penghubung masyarakat perkebunan dengan masyarakat desa sekitarnya. Tanpa adanya organisasi pemerintahan mustahil kegiatan-kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba dapat berjalan dengan lancar. Pihak pemerintah kecamatan juga tidak mempersulit akan masyarakat perkebunan yang ingin berbaur dengan masyarakat desa melalui kegiatan-kegiatan positifnya tersebut. Dengan kata lain organisasi perkebunan saling bekerja sama dengan organisasi pemerintahan agar tercipta hubungan yang harmonis di antara kedua lapisan masyarakat tersebut. Hal ini seperti yang diterangkan oleh bapak Kresno sebagai berikut :

  

“IPMS mengadakan kegiatan-kegiatan sosial seperti ini supaya masyarakat

sekitar juga turut menikmati kegiatan yang diadakan oleh orang-orang

perkebunan. Supaya bisa saling berbaur dan merasa seperti saudara satu

sama lainnya.”

  (Sumber : Wawancara 15 Juni 2013) Pernyataan dari bapak Kresno juga diperkuat oleh pernyataan dari bapak

  Edyana sebagai berikut :

  

“Sunat massal ini diadakan sebagai bentuk tanggung jawab sosial

perusahaan bagi masyarakat sekitarnya. IPMS inilah yang kemudian

menjadi wadah untuk tindakan sosial perkebunan agar kehadiran kami

dirasakan oleh mereka. Jadi diharapkan mampu memberikan kontribusi

positif bagi mereka yang bukan karyawan juga.”

  (Sumber : Wawancara 20 Juni 2013)

  Seperti yang peneliti lihat secara langsung pada saat observasi kegiatan sunat massal bulan Juni 2013 lalu, terlihat antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Jumlah peserta pada tahun 2013 ini lebih banyak daripada tahun 2012 lalu. Jika tahun 2013 jumlah seluruh peserta adalah 170 orang, maka tahun 2013 bertambah menjadi 210 orang. Dengan presentase 40% adalah masyarakat perkebunan dan 60% adalah masyarakat desa sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat desa sudah mulai merasakan kehadiran masyarakat perkebunan dalam ikatan emosional mereka.

  Masyarakat desa yang ikut dalam kegiatan sunat massal ini mengaku sangat senang, karena selain sunat massal tidak dipungut biaya sedikitpun mereka dibekali dengan obat untuk perawatan di rumah juga diberi santunan berupa bingkisan berisi sajadah, sarung, dan buku serta uang sejumlah Rp 50.000, - untuk biaya perawatan peserta sunat massal. Mereka mengaku cukup terbantu dengan adanya kegiatan ini. Akan tetapi hal ini tidak semerta-merta membuat masyarakat merasa tergantung dengan kegiatan sunat massal gratis dan bingkisan serta uang yang diberikan secara cuma-cuma tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan observasi peneliti secara langsung ketika mengikuti kegiatan sunat massal, para peserta tidak ada yang berdesak-desakan untuk mendapatkan bingkisan, mereka mengikuti dengan tertib acara yang telah terkonsep. Sebagai bahan perbandingan bahwa tahun-tahun sebelumnya panitia sunat massal Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba tidak pernah memberikan bantuan uang kepada para peserta sunat massal, akan tetapi masyarakat yang mengikuti kegiatan ini juga luar biasa banyaknya. Itu artinya, diberi ataupun tidak diberi bingkisan mereka tetap antusias mengikuti sunat massal ini. Dengan kegiatan ini juga kemudian mereka mengenal masyarakat perkebunan yang sebelumnya tidak mereka kenal. Seperti pernyataan seorang informan bernama ibu Watini yang langsung peneliti wawancarai ketika kegiatan sunat massal sedang berlangsung sebagai berikut :

  

“Saya pribadi ya sangat senang dengan adanya kegiatan IPMS ini, sunat

massalnya gratis, sudah gitu anaknya yang sunat dikasih hadiah yang isinya

sajadah dan buku, terus ada uangnya juga di amplop yang lumayan untuk

berobat anak, sarung untuk sunat anak juga dikasih baru sama mereka.

  

Terus juga saya jadi kenal sama orang-orang kebun di sini, kan jadi

menambah teman. Siapa tau ada keperluan di luar nanti.”

  (Sumber : Wawancara 25 Juni 2013) Pernyataan dari ibu Wati di atas juga semakin membuat kehadiran lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sangat menguntungkan masyarakat sekitarnya dan kemudian membuat kegiatan-kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba menjadi sangat dinantikan oleh masyarakat desa sekitarnya. Hal ini dikarenakan selain sunat massalnya gratis juga masyarakat diberi bantuan uang saku dan barang-barang lainnya yang tentu saja membuat mereka merasa diuntungkan dalam segi ekonomi. Akan tetapi jika dalam sunat massal para peserta tidak diberi bingkisan, mereka tetap mau mengikuti sunat massal tersebut. Karena yang diinginkankan masyarakat bukan bingkisannya, tetapi sunat massalnya yang gratis. Sesuai dengan pernyataan bapak Edyana pada saat peneliti mewawancarainya sebagai berikut :

  

“Sering ada masyarakat yang bertanya pada saya kapan sunat massalnya

diadakan, pengajiannya diadakan, atau perayaan-perayaan hari besar

Islamnya diadakan, bahkan mereka sendiri yang meminta untuk

diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh IPMS ini.”

  (Sumber : Wawancara 20 Juni 2013) Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa Ikatan Persaudaraan Muslim

  Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sudah berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga sosial keagamaan yang bertanggung jawab terhadap kemaslahatan masyarakat tidak hanya pada masyarakat perkebunan akan tetapi juga masyarakat di sekitarnya melalui kegiatan-kegiatan sosialnya. Masyarakat desa sekitarnya juga turut merasakan manfaat positif dari kehadiran lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba ini. Hal ini dikarenakan kegiatan-kegiatan yang diadakan Ikatan Persudaraan Muslim Socfindo (IPMS) secara tidak langsung dapat meningkatkan hubungan sosial serta ekonomi masyarakat.

  Bahkan bentuk antusiasme masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek loba terkadang membuat panitia dan pengurus kewalahan. Seperti pada kegiatan sunat massal tahun 2013 ini. Panitia sudah membatasi jumlah peserta sunat massal adalah sebanyak 170 orang. Akan tetapi jumlah peserta semakin bertambah dan berlebihan sehingga membuat pengurus kewalahan. Panitia sudah mengantisipasi para orang tua yang hendak mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan sunat massal supaya mendaftarkan anaknya segera dan tidak pada hari dimana acara berlangsung supaya tidak terjadi kesalahan administrasi. Tetapi walaupun begitu masih ada juga orang tua yang mendaftarkan anaknya di waktu yang mendesak.

  Padahal panitia sunat massal sudah mengumumkan jauh hari melalui pemerintah kecamatan bahwa pendaftaran sunat massal telah dibuka dan para orang tua dipersilahkan mendaftarkan anaknya langsung ke panitia sunat massal yaitu pengurus Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba. Seperti yang dikatakan oleh bapak Sugianto ketika peneliti wawancarai di kegiatan sunat massal lalu sebagai berikut :

  

“Saya kurang informasi dek, katanya tanggal sekian rupanya tanggal sekian,

udah gitu saya juga sibuk jadi gak sempat daftarkan anak saya, tau-tau udah

hari H aja, ya mau nggak mau saya daftarkan anak saya pas di hari H nya.

Awalnya panitia menolak, tapi kemudian mereka menyetujui karena ada

juga peserta yang nggak jadi disunat jadi direkap sama anak saya.”

  (Sumber : Wawancara 25 Juni 2013) Pernyataan bapak Sugianto di atas juga dipertegas dengan pernyataan bapak Taufik sebagai berikut :

  

“Memang seperti itu budayanya, orang tuanya lalai mendaftarkan anaknya,

dan akhirnya ya panitia juga yang kerepotan karena harus belanja bingkisan

tambahan lagi, kan yang sebelumnya bingkisan sudah sesuai dengan dengan

jumlah para peserta. Untuk menyiasatinya ya peserta yang gagal ikut

kemudian digantikan mereka yang baru mendaftar. Tapi walaupun begitu

pihak panitia biasanya menampung semua peserta selama masih dalam

batas wajar.”

  (Sumber : Wawancara 10 Juni 2013) Dari hasil wawancara di atas dapat menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya antusias dengan kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo

  (IPMS) kebun Aek Loba. Tidak peduli apakah ada hadiah yang masih tersedia ataupun tidak. Atau bahkan jika panitia tidak menyediakan hadiah sekalipun.

  Yang penting mereka bisa ikut sunat massal. Pernyataan bapak Taufik di atas juga diperkuat dengan pernyataan bapak Kresno sebagai berikut :

  

“Kalau masalah bingkisan yang tidak sesuai dengan jumlah peserta yang

membludak, kami panitia juga tidak perlu ambil repot. Peserta itu kan

tujuannya mau disunat dan bukan mau nyari hadiah, jadi kalau ada yang

tidak kebagian ya mereka biasa saja dan memakluminya. Tidak ada yang

marah-marah ataupun menuntut. Apa lagi kalau yang daftarnya belakangan

pas hari H. Gak penting hadiahnya sama mereka, yang penting bisa

disunat.” (Sumber : Wawancara 15 Juni 2013)

  Bentuk antusiasme masyarakat seperti yang telah dipaparkan di atas secara tidak langsung menimbulkan interaksi sosial. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ferdinand Tonnies dalam konsep Geselschaft, yaitu ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam fikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Interaksi masyarakat terjadi karena adanya kepentingan-kepentingan yang mengharuskan mereka berkomunikasi. Karena kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) ini kemudian membuat masyarakat perkebunan berhubungan langsung dengan masyarakat desa sekitar. Akan tetapi dalam penelitian ini kenyataannya masyarakat perkebunan tidak hanya berinteraksi dengan masyarakat sekitar pada saat ada kegiatan saja, bahkan di luar kegiatan pun mereka tetap berinteraksi sebagaimana mestinya.

  Dari hasil penelitian ini masyarakat perkebunan memiliki pergeseran budaya yang dulunya dipandang sebagai masyarakat yang memiliki sifat individualis dan tidak mau berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang dikarenakan oleh tuntutan pekerjaan yang tindak memiliki waktu untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Ternyata mereka juga memiliki keinginan untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang dikarenakan ingin menjalin hubungan kekeluargaan yang lebih dekat. Inilah yang menjadi hal yang mendasar terjadinya pergeseran budaya yang semakin terkikis oleh perubahan zaman yang dikarenakan masyarakat yang semakin lama semakin berkembang sumber daya manusia dan ilmu pengetahuannya. Mereka menjadi Geselschaft oleh karena hubungan sosialnya terbangun karena adanya kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan oleh suatu organisasi sosial. Interaksi secara tidak langsung terjadi karena adanya suatu kepentingan. Sebaliknya, mereka menjadi Gemeinschaft karena di luar kegiatan-kegiatan sosial tersebut mereka berinteraksi seperti biasa dan bahkan semakin mengenal satu sama lain karena pemukiman masyarakat perkebunan berdampingan langsung dengan masyarakat desa sekitarnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan mereka satu dan terikat dalam hubungan emosional yang saling terkait, dan kemudian timbul jiwa gotong royong tanpa merasa berbeda.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  1. Thompson (dalam Liliweri:1997), menyatakan bahwa tujuan organisasi adalah objek yang bersifat abstrak dari organisasi, dia merupakan cita-cita ideal yang harus dicapai oleh semua anggota organisasi. Tanpa adanya sebuah tujuan dalam pembentukan organisasi maka tidak akan ada manfaat dari sebuah organisasi. Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba misalnya, fungsi lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dapat berjalan sesuai dengan tujuannya dalam menjalin hubungan sosial antara masyarakat perkebunan dengan masyarakat sekitar melalui program kerja yang dibuat setiap tahunnya dengan cara membuat kegiatan-kegiatan sosial yang berbasis agama serta atas hasil kerjasama antar anggota pengurus lembaga dengan tujuan agar lembaga ini semakin lebih dikenal oleh masyarakat perkebunan dan masyarakat sekitar, serta sebagai tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar.

  2. Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) kebun Aek Loba sudah berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga sosial keagamaan yang bertanggung jawab terhadap kemaslahatan masyarakat tidak hanya pada masyarakat perkebunan akan tetapi juga masyarakat di sekitarnya melalui kegiatan-kegiatan sosialnya yang dianggap sebagai kegiatan yang positif.

  3. Ferdinand Tonnies dengan konsep Paguyuban (Gemeinschaft) merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Konsep ini dapat diterapkan karena sesuai dengan fakta yang ada di lapangan dalam melihat lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) yang ternyata telah menjadi suatu alat penghubung antara masyarakat sekitar dengan masyarakat perkebunan. Sehingga secara alami menumbuhkan rasa kepedulian antar sesama umat beragama yang saling tolong menolong dalam menjalani kehidupan sosial. Masyarakat perkebunan yang juga bagian dari masyarakat pedesaan kemudian juga memiliki rasa solidaritas yang tinggi yaitu sikap peduli dan tolong menolong satu sama lainnya.

  4. Dalam konsep patembayan (Gesellschaft) Ferdinand Tonnies menjelaskan bahwa ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam fikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Bentuk Gesellschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik. Dalam konsep ini dapat dijelaskan bahwa kegiatan Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) diadakan sebagai cara untuk meningkatkan hubungan sosial. Dengan diadakannya kegiatan-kegiatan sosial keagamaan, masyarakat kemudian saling berbaur dan berinteraksi. Dengan kata lain, hubungan sosial diawali dengan kegiatan-kegiatan sosial yang difasilitasi oleh sebuah organisasi sosial yaitu Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS).

6.2. Saran

  1. Sebaiknya lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) meningkatkan hubungan silaturrahmi kepada masyarakat dengan cara membuat suatu program yang berbasis pendidikan dasar yang khususnya bagi anak dari latar belakang keluarga yang kurang mampu tanpa membedakan agama.

  2. Pemerintah setempat sebaiknya lebih intensif melakukan kerjasama dengan lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) dalam meningkatkan kegiatan-kegiatan yang dibuat oleh lembaga ini melalui bantuan dana dan ide-ide yang bersifat membangun agar keharmonisan hubungan antara pemerintah, pihak perkebunan, dan masyarakat dapat terjaga.

  3. Sebaiknya masyarakat perkebunan dan masyarakat sekitar tidak hanya menjalin hubungan sosial pada saat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) saja, tetapi masyarakat tersebut menjalin silaturrahmi di luar kegiatan misalnya saja dengan cara membuat arisan, perwiritan, membuat kerajinan tangan, dan juga kegiatan-keiatan lain yang membuat hubungan sosial yang hidup bersama di daereah tersebut tidak terputus.

  

Daftar Pustaka

  Agusyanto, Rudi. 2007. Jaringan Sosial Dalam Organisasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

  Ali, M & Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

  Alo, DR. Liliweri. 1997. Sosiologi Organisasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. Ardana, Komang dkk. Perilaku Keorganisasian. Yogyakarta: Graha Ilmu. Ari, AAGN Dwipayana dkk. 2003. Membangun Good Governance di Desa.

  Yogyakarta: IRE Press. Basrowi, Dr. M.S. 2005. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia. Bertrand, Alvin. 1980. Sosiologi (diterjemahkan oleh Saupiah S.F). Jakarta: PT.

  Bina Aksana. Breman, Jan.1997. Menjinakkan sang kuli : Politik Kolonial, Tuan Kebun, Dan

  Kuli di Sumatera Timur Pada Awal Abad Ke-20. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

  Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  Dwi, J. Narwoko & Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  Gerungan, WA. 2000. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.

  Horton, Paul B., Chester L. Hunt. 1996. Sosiologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Meleong, Lexy J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.

  Mubyarto dkk. 1992. Tanah Dan Tenaga Kerja Perkebunan. Yogyakarta: Aditya Media.

  Mustain, Dr. 2007. Petani VS Negara: Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

  Polak, Major. 1985. Sosiologi Suatu Buku Pengantar Ringkas. Jakarta: PT Ichtiar Baru.

  Ritzer, Goerge & Douglas J. Goodman.2008. Teori-teori Sosiologi Modern Eds.ke-6. Jakarta: Kencana.

  Situmorang, M. 2011. Wajah Perkebunan. (online), diakses pada 28 Desember 2012 pukul 18.09 WIB).

  Sobirin, Achmad. 2007. Budaya Organisasi: Pengertian, Makna Dan Aplikasinya

  

Dalam Kehidupan Organisasi. Yogyakarta: Unit Penerbit Sekolah Tinggi

Ilmu Manajemen YKPN.

  Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

  Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

  Suyanto, Bagong dkk, 2005. Metode Penelitian Sosial : Berbagai Alternatif Pendekatan. Edisi 1. Jakarta: Pernada Media.

  Su’adah dkk. 2007. Beberapa Pemikiran Tentang Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Malang: UMM Press.

  Tarik, Jabal Ibrahim. 2003. Sosiologi Pedesaan. Malang: UMM Press.

  Sumber lain

  akses pada 05 Maret 2013 pukul 21:49 WIB

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Sistem Pengawasan Intern Terhadap Aktiva Tetap Pada PT. Socfin Indonesia Medan (Socfindo) Perkebunan Aek Pamienke
23
237
51
Gambaran fungsi Paru Pekerja Bagian Produksi Lateks Yang Terpajan Amoniak Di PT Socfindo Kebun Aek Pamienke Kabupaten Labuhan Batu Utara Tahun 2010
2
43
80
Gambaran Sikap Kerja dan Keluhan Kesehatan pada Pekerja Bagian Produksi Lateks PT. Socfindo Kebun Karet Aek Pamienke Rantau Prapat Tahun 2010
9
106
77
Peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam Pembangunan Desa” (Studi di Desa Aek Song-Songan, Kecamatan Aek Song-Songan, Kabupaten Asahan)
15
119
123
Risiko Produksi Karet Alam di Kebun Aek Pamienke PT Socfindo, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Provinsi Sumatera Utara
3
14
182
Suwuk (Etnografi tentang Pengobatan Tradisional Etnis Jawa di Desa Aek Loba Pekan Kec. Aek Kuasan Kab. Asahan)
7
108
137
LPSE Kabupaten Asahan BA.HP AEK LOBA TU
0
0
4
Suwuk (Etnografi tentang Pengobatan Tradisional Etnis Jawa di Desa Aek Loba Pekan Kec. Aek Kuasan Kab. Asahan)
0
0
11
Suwuk (Etnografi tentang Pengobatan Tradisional Etnis Jawa di Desa Aek Loba Pekan Kec. Aek Kuasan Kab. Asahan)
0
0
1
Suwuk (Etnografi tentang Pengobatan Tradisional Etnis Jawa di Desa Aek Loba Pekan Kec. Aek Kuasan Kab. Asahan)
0
1
18
Suwuk (Etnografi tentang Pengobatan Tradisional Etnis Jawa di Desa Aek Loba Pekan Kec. Aek Kuasan Kab. Asahan)
0
1
27
Suwuk (Etnografi tentang Pengobatan Tradisional Etnis Jawa di Desa Aek Loba Pekan Kec. Aek Kuasan Kab. Asahan)
0
0
3
Suwuk (Etnografi tentang Pengobatan Tradisional Etnis Jawa di Desa Aek Loba Pekan Kec. Aek Kuasan Kab. Asahan)
0
0
2
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Organisasi Sosial - Fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Dalam Membangun Hubungan Sosial Dengan Masyarakat Sekitar (Studi Deskriptif di Perkebunan PT. Socfindo Kebun Aek Loba Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan)
0
1
22
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah - Fungsi Ikatan Persaudaraan Muslim Socfindo (IPMS) Dalam Membangun Hubungan Sosial Dengan Masyarakat Sekitar (Studi Deskriptif di Perkebunan PT. Socfindo Kebun Aek Loba Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan)
0
0
10
Show more