UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA BAGI SISWA KELAS IV SDN 1 KUTA DALOM KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Gratis

0
6
76
2 years ago
Preview
Full text
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA BAGI SISWA KELAS IV SDN 1 KUTA DALOM KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh Dahlena Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN pada Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 iii UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA BAGI SISWA KELAS IV SDN 1 KUTA DALOM KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh DAHLENA ABSTRAK Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di kelas IV SDN 1 Kuta Dalom nampak bahwa hasil belajar matematika masih rendah. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran guru belum menggunakan alat peraga. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui penggunaan alat peraga pada siswa kelas IV SDN 1 Kuta Dalom. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tiga siklus, setiap siklusnya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut, yakni (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) observasi; dan (4) refleksi. Adapun subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV sebanyak 17 orang, sedangkan teknik pengumpulan data digunakan teknik tes dan non tes berupa observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dari siklus ke siklus. Peningkatan ini terlihat dari ketuntasan hasil belajar matematika yang semula saat pra siklus hanya 41,2 persen menjadi 64,7 persen pada siklus I dan 70,6 persen pada siklus II dan meningkat menjadi 76,5 persen pada siklus III. Dengan demikian maka hendaknya perlu lebih dioptimalkan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran, khususnya matematika. Kata kunci: hasil belajar, alat peraga ii DAFTAR ISI Daftar Isi Halaman Halaman Depan …………………………………………………………….. i Abstrak ……………………………………………………………………… ii Halaman Judul ……………………………………………………………… iii Halaman Persetujuan ……………………………………………………….. iv Halaman Pengesahan ………………………………………………………... v Halaman Pernyataan ……………………………………………………….. vi Riwayat Hidup ……………………………………………………………… vii Motto ……………………………………………………………………….. viii Halaman Persembahan ……………………………………………………… ix Sanwacana …………………………………………………………………. x Daftar Isi ……………………………………………………………………. xi Daftar Tabel ………………………………………………………………… xiii Daftar Gambar ……………………………………..……………………….. xiv Daftar Lampiran ….……………………………….………………………… xv BAB I BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………………………………… B. Identifikasi Masalah …………………..…….……..…… C. Rumusan Masalah…………………………….…….……. D. Tujuan Penelitian …………………………………….… E. Manfaat Penelitian …………..……………….……..….. F. Hipotesis Tindakan …………………………………….. 1 4 4 4 5 5 TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran ……………................................. 6 1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran ……………….. 6 2. Teori Belajar dan Pembelajaran ……………………… 8 B. Hasil Belajar ………………………………………..…… 13 C. Alat Peraga ………….……………..……….………….. 14 D. Hakikat Pembelajaran Matematika …………………….. 17 xi BAB III BAB IV BAB V METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian ………………………………….…….. 1. Subjek Penelitian ……………………………………. 2. Waktu Penelitian ……………………………………. 3. Tempat Penelitian …….……………………………… B. Sumber Data ……………………………………………. C. Teknik Pengumpulan Data …………………….……… 1. Teknik Tes ……………………………………………. 2. Teknik Non tes …………….……………………….. D. Alat Pengumpul Data ………………………………….. E. Teknik Analisis Data ………….………………………… F. Prosedur Penelitian …………………………………….. G. Langkah Tindakan Penelitian …………………………... H. Indikator Keberhasilan ………………………………….. 20 20 20 20 20 20 21 21 21 22 22 23 32 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Lokasi Sekolah dan Karakteristik Guru ………….. B. Penetapan Kelas dan Waktu Penelitian ………………… C. Hasil Penelitian Tindakan Kelas ………………………. 1. Implementasi Siklus I ………………………………… 2. Implementasi Siklus II ………………………………. 3. Implementasi Siklus III ……………………………… D. Pembahasan ……………………………………………. 33 33 33 33 40 45 50 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………………….………………………….. 52 B. Saran ………………………..…………………………… 52 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………….………….. 54 LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………… 55 xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang paling sulit dan tidak menarik. Anggapan seperti ini juga terjadi di SDN 1 Kuta Dalom. 2 Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa rata-rata nilai Matematika siswa kelas IV SDN 1 Kuta Dalom pada tahun ajaran 2012/2013 masih rendah, seperti terlihat pada tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Data Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Kutadalom Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013 No Rentang Nilai Frekuensi Persentase (%) 1 75 – 79 3 17,6 2 70 – 74 1 5,9 3 65 – 69 1 5,9 4 60 – 64 2 11,8 5 55 – 59 1 5,9 6 50 – 54 5 29,3 7 45 – 49 2 11,8 8 40 – 44 2 11,8 Jumlah 17 100 Sumber: Rekapitulasi Dokumen Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SDN 1 Kutadalom Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013. Tabel di atas menunjukkan bahwa, dari 17 siswa, yang sudah tuntas hanya 7 orang atau 41,2 persen siswa, sisanya yang 10 orang atau 58,8 persen siswa belum tuntas atau masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 60. Rendahnya nilai Matematika tersebut disebabkan karena pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal Matematika. Hal ini disebabkan karena siswa hanya mendengarkan penjelasan guru. Guru lebih banyak menyampaikan materi melalui ceramah dan latihan soal. Pemberian tugas berupa pekerjaan rumah (PR) dari guru sering tidak dikerjakan oleh siswa. Persiapan dari guru ketika akan mengajar juga kurang optimal. 3 Penyampaian materi pelajaran Matematika, terutama guru kurang baik dalam mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari yang relevan sebagai pendukung. Hal ini menimbulkan kejenuhan dan kebosanan pada diri siswa, siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran. Dalam setiap pembelajaran siswa sering tidak menjawab pertanyaan dari guru karena merasa takut dan malu apabila jawabannya salah. Siswa juga tidak pernah mengungkapkan pendapatnya setiap diminta oleh guru. Setiap kali guru memberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang sudah disampaikan guru, kebanyakan siswa menjawab sudah jelas dan tidak perlu ada pertanyaan lain, tetapi pada kenyataannya ketika guru memberikan soal matematika sedikit sekali siswa yang bisa menjawab dengan benar. Guru jarang/belum menggunakan alat peraga dalam pembelajaran, padahal untuk memahami konsep matematika, terutama di SD sangat diperlukan alat peraga. Kondisi tersebut jika terjadi terus menerus tentunya sangat berdampak pada hasil belajar matematika. Atas dasar hal tersebut, maka diperlukan adanya suatu tindakan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Dengan alat peraga, siswa dapat dilibatkan dalam pembelajaran, sehingga dapat membantu mempermudah siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dapat berlangsung lebih menarik, siswa tidak jenuh, sehingga materi lebih dimengerti oleh siswa. Melalui alat peraga dapat membantu siswa dalam menyelesaikan soalsoal Matematika melalui contoh-contoh yang nyata sesuai dengan 4 pengalaman sehari-hari siswa. Dengan kata lain, materi Matematika yang bersifat abstrak dapat disajikan dalam bentuk kongkret. Dengan demikian pembelajaran Matematika melalui penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. B. Identifikasi Masalah Masalah yang dapat diidentifikasi dari latar belakang di atas adalah: 1. Pembelajaran matematika masih dilaksanakan dengan metode ceramah dan latihan soal. 2. Siswa belum dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. 3. Guru jarang/belum menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. 4. Nilai rata-rata Matematika masih rendah. C. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas maka permasalahan yang muncul adalah “apakah pembelajaran menggunakan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas IV SDN 1 Kuta Dalom tahun pelajaran 2013/2014?”. D. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Berdasarkan rumusan masalah sebagaimana telah dikemukakan di atas maka, penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Matematika melalui penggunaan alat peraga pada siswa kelas IV SDN 1 Kuta Dalom Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran tahun pelajaran 2013/2014. 5 E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. Bagi Siswa Membantu meningkatkan hasil belajar matematika melalui penggunaan alat peraga. 2. Bagi Guru Memberi masukan bagi guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika melalui penggunaan alat peraga. 3. Bagi Sekolah Memberi masukan bagi sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui penggunaan alat peraga. 4. Bagi Penulis Menambah wawasan dan pengalaman saat penulis melaksanakan kegiatan pembelajaran, sehingga dapat memperbaiki dan menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, serta mampu menciptakan pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan untuk siswa dimasa yang akan datang. F. Hipotesis Penelitian Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah jika pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan alat peraga maka dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN 1 Kuta Dalom Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran tahun pelajaran 2013/2014. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran 1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Menurut Skinner dalam Dimyati (2002:9) belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik dan sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Sedangkan Daryanto (2009:2) mengemukakan pengertian belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Ruminiati (2007: 1.3) seseorang dikatakan belajar jika dalam diri orang tersebut terjadi suatu aktifitas yang mengakibatkan perubahan tingkah laku yang dapat diamati relatif lama. Perubahan tingkah laku itu tidak muncul begiru saja, tetapi sebagai akibat dari usaha orang tersebut. Oleh karena itu, proses terjadinya perubahan tingkah laku dengan tanpa adanya usaha tidak disebut belajar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu secara menyeluruh, sebagai pengalaman individu tersebut dalam interaksi dengan lingkungannya. 7 Sedangkan pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh Gagne dan Briggs dalam Aisyah (2007:13) melukiskan pembelajaran sebagai “upaya orang yang tujuannya adalah membantu orang belajar” secara terperinci Gagne mendefinisikan pembelajaran sebagai “seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal”. Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 20 dijelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran menurut Corey (dalam Ruminiati, 2007: 14) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang dikelola secara sengaja untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu, sehingga dalam kondisi-kondisi khusus akan menghasilkan respons terhadap situasi tertentu juga. Jadi, dalam pembelajaran semua kegiatan guru diarahkan untuk membantu siswa mempelajari suatu materi tertentu baik berupa pelajaran, keterampilan, sikap, kerohanian dan sebagainya. Dengan demikian, maka pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu, membimbing, dan memotivasi siswa mempelajari suatu informasi tertentu dalam suatu proses yang telah dirancang secara masak mencakup segala kemungkinan yang terjadi. 8 2. Teori Belajar dan Pembelajaran a. Teori Belajar Behaviorisme Winataputra (2008:6.10), Perspektif behaviorisme pertama kali dikemukakan oleh Ivan Pavlov dari Rusia pada tahun 1927, dan selanjutnya dikembangkan oleh Skinner pada tahun 1953. Teori Behaviorisme mendefinisikan belajar adalah perubahan perilaku atau perilaku baru yang diperoleh sebagai hasil respon terhadap suatu rangsangan. Prinsip belajar teori ini bahwa, perilaku seseorang dipengaruhi oleh rangsangan dari luar. Konsekuensi perilaku berupa ganjaran atau hukuman, harus segera diberikan sebagai penguat perilaku. Implikasi dan aplikasi dalam pembelajaran teori ini adalah merancang kondisi belajar yang efektif dengan merumuskan tujuan belajar dan langkah-langkah pembelajaran yang jelas, menggunakan ganjaran dan hukuman sebagai penguat perilaku yang dihasilkan. Keberhasilan belajar menurut teori behavioristik ditentukan oleh adanya interaksi antara stimulus dan respon yang diterima oleh manusia. Mengajar atau mendidik perlu dilakukan dengan cara memperbanyak stimulus dan respon yang diberikan kepada siswa. Salah satu indikasi keberhsilan belajar menurut teori ini adalah adanya perubahan tingkah laku yang nyata dalam kehidupan masyarakat (Muchith, 2008:56). 9 Muchith (2008:57), dalam Pembelajaran Kontekstual mengungkapkan bahwa tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada proses memperluas dan penambahan pengetahuan siswa, sedangkan proses belajar sebagai “mimetic”, yang menuntut siswa agar memiliki kemampuan mengungkapkan kembali pengetahuan dan pemahaman yang sudah dipelajari baik dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang, yang diperoleh melalui berbagai cara dalam pembelajaran. b. Teori Belajar Kognitivisme Winataputra (2008:6.10), Pemikir teori ini adalah J.F. Brunner. Belajar didefinisikan sebagai gejala internal mental seseorang yang dapat dilihat dalam perilaku maupun yang tidak terlihat. Prinsip belajar teori kognitivisme adalah seseorang memproses secara mental informasi yang diperoleh, menyimpan dan menggunakannya untuk menghasilkan perilaku tertentu. Implikasi dan aplikasi dalam pembelajaran adalah membantu siswa memproses informasi dengan efektif, dengan cara menyusun materi pembelajaran dengan sistematis dan akurat membuat hubungan antara pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki pebelajar. Pada hakekatnya teori kognitif adalah sebuah teori pembelajaran yang cenderung melakukan praktek yang mengarah pada kualitas 10 intelektual siswa. Konsekuensi proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar siswa mengembangkan kualitas intelektualnya. Secara umum proses pembelajaran harus didasarkan atas asumsi umum (Muchith, 2008: 69). a). Proses pembelajaran adalah suatu realitas sistem. Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh satu aspek/faktor saja, tetapi lebih ditentukan secara simultan dan komprehensif dari berbagai faktor yang ada. b). Proses pembelajaran adalah realitas kultural/natural. Artinya dalam proses pembelajaran tidak diperlukan adanya berbagai paksaan dengan dalil membentuk kedisiplinan. c). Pengembangan materi harus benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan siswa. d). Metode pembelajaran tidak dilakukan secara monoton, metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam proses pembelajaran. e). Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, sehingga proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. f). Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada menghafal. g). Pembelajaran harus memperhatikan perbedaan individual siswa, karena sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar. 11 c. Teori Belajar Humanisme Winataputra (2008:4.1), para pendukung teori ini yakin bahwa perilaku harus dipahami bukan sekadar dikendalikan atau direkayasa. Teori ini mementingkan pilihan pribadi, kreativitas dan aktualisasi diri setiap individu yang belajar. Belajar merupakan suatu proses di mana siswa mengembangkan kemampuan pribadi yang khas dalam bereaksi terhadap lingkungan sekitar. Dengan kata lain, siswa tersebut mengembangkan kemampuan terbaik dalam diri pribadinya. Pada hakekatnya teori humanistik lebih menekankan pada proses untuk memanusiakan manusia atau siswa, yaitu suatu pemahaman atau kesadaran untuk memahami potensi, perbedaan, kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap siswa (Muchith, 2008: 94). d. Teori Belajar Konstruktivisme Winataputra (2008:6.10), pemikir teori ini adalah Vygotsky, Piaget, dan John Dewey. Mendefinisikan belajar adalah proses membangun atau membentuk makna, pengetahuan, konsep dan gagasan melalui pengalaman. Prinsip belajar teori ini adalah seseorang membangun suatu realitas berdasarkan pengalaman dn interaksi dengan lingkungan, melalui pemecahan masalah. Implikasi dan aplikasi dalam pembelajaran adalah mendorong siswa bersikap lebih otonom dalam menterjemahkan pengetahuan yang diperoleh, melalui memecahkan masalah yang riil, kompleks dan 12 bermakna bagi siswa, dialog dalam kelompok belajar bersama, bimbingan dalam proses pembentukan pemahaman. Muchith (2008:96), menyatakan bahwa pembelajaran harus mampu memberikan pengalaman pembelajarannya nyata dilakukan bagi secara siswa, natural. sehingga Penekanan model teori konstruktivisme bukan pada membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori yang dibangun dari realitas lapangan. Muchith (2008:97) juga mengatakan belajar bukanlah proses teknologi (robot) bagi siswa, melainkan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Sehingga proses pembelajaran tidak hanya menyampaikan materi yang bersifat normatif (tekstual) tetapi juga menyampaikan materi yang bersifat kontekstual. Dari keempat teori belajar tersebut, peneliti akan menggunakan teori belajar konstruktivisme. Dalam pembelajaran siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Siswa dipandang sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan 13 dasar pembelajaran dan pembimbingan.Guru berperan sebagai fasilitator. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa. B. Hasil Belajar Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hasil belajar adalah sesuatu yang diadakan oleh adanya usaha belajar. Romiszowski, Keller dalam Abdurrahman (2003:38) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemrosesan berbagai masukan (inputs). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya perbuatan atau kinerja. Menurut Hamalik (2002:155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahun sikap, dan keterampilan. Hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulangulang, serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya, karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi indvidu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi, sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik. Menurut Dimyati (2002:3) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Jadi, penulis menyimpulkan 14 bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari usaha yang dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar. C. Alat Peraga Menurut Sudjana (2002: 99), alat peraga dalam pengajaran memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Setiap proses belajar mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur, antara lain tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi. Unsur metode dan alat tidak dapat dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran aar sampai kepada tujuan. Dalam pencapaian tujuan tersebut, peranan alat bantu atau alat peraga memegang peranan penting sebab dengan adanya alat peraga ini bahan dapat dengan mudah dipahami siswa. Dalam proses belajar mengajar alat peraga dipergunakan dengan tujuan untuk membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif dan efisien. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah alat bantu yang dipergunakan untuk membantu guru dalam penyampaian materi pada proses belajar mengajar sehingga mudah dipahami oleh siswa. Alat peraga secara sederhana dapat dibuat sendiri oleh guru atau siswa yang bersumber dari bahan-bahan yang murah dan mudah didapatkan. Bahanbahan tersebut dapat berupa barang-barang bekas seperti botol kosong, kardus, gelas plastik, dan sebagainya. Bahan tersebut dapat pula berupa 15 barang yang mudah didapat, seperti batu, lidi, gelas minuman, sendok, lilin, kertas, dan sebagainya. Walaupun sederhana, alat peraga sangat penting bagi perkembangan berpikir siswa, karena belajar mulai dari yang sederhana dulu menuju yang kompleks. Jadi, pemilihan alat peraga yang sederhana untuk proses pembelajaran siswa ini bukanlah semata-mata karena harganya murah atau alasan yang lain, melainkan didasarkan untuk kepentingan perkembangan belajar siswa. Dengan alat-alat sederhana yang telah mereka kenal dalam kehidupan seharihari, pusat perhatian siswa akan lebih terpusat pada objek yang diselidiki dan tidak terpesona pada alat buatan pabrik yang digunakan. Dengan alat peraga yang sederhana setidaknya para siswa terhindar dari rasa takut, misal takut dimarahi karena salah menggunakan alat tersebut atau takut rusak karena alat tersebut berharga mahal. Sudjana (2002: 100) menyatakan, alat peraga terdapat beberapa jenis, yaitu: a. Alat peraga dua dan tiga dimensi Alat peraga dua dimensi artinya alat yang mempunyai ukuran panjang dan lebar, sedangkan alat peraga tiga dimensi adalah alat peraga yang mempunyai ukuran panjang, lebar, dan tinggi. Alat peraga dua dan tiga dimensi ini antara lain ialah: bagan, grafik, poster, papan tulis, potongan kertas, model banggun ruang, dan lain sebagainya. 16 b. Alat-alat peraga yang diproyeksi Alat peraga yang diproyeksi adalah alat peraga yang menggunakan proyektor sehingga gambar nampak pada layar. Alat peraga yang yang diproyeksi antara lain: film, slide, dan filmstrip. Ada beberapa fungsi atau manfaat dari penggunaan alat peraga dalam pengajaran matematika, di antaranya: 1) Dengan adanya alat peraga, anak-anak akan lebih banyak mengikuti pelajaran matematika dengan gembira, sehingga minatnya mempelajari matematika semakin besar. Anak akan terangsang, senang, tertarik, dan bersikap positif terhadap pengajaran matematika. 2) Dengan disajikan konsep abstrak matematika dalam bentuk kongkret, maka siswa pada tingkat-tingkat yang lebih rendah akan lebih mudah memahami dan mengerti. 3) Alat peraga dapat membantu daya tilik ruang, karena tidak membayangkan bentuk-bentuk geometri terutama bentuk geometri ruang sehingga dengan melalui gambar dan benda-benda nyatanya akan terbantu daya tiliknya sehingga lebih berhasil dalam belajarnya. 4) Anak akan menyadari adanya hubungan antara pengajaran dan bendabenda yang ada di sekitarnya, atau antara ilmu dengan alam sekitar dan masyarakat. 5) Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk kongkret, yaitu dalam bentuk model matematika dapat dijadikan objek penelitian dan dapat pula dijadikan alat untuk penelitian ide-ide baru dan relasi-relasi baru. 17 Alat peraga untuk menerangkan konsep matematika itu dapat berupa benda nyata dan dapat pula berupa gambar atau diagramnya. Alat peraga yang berupa benda-benda real itu memiliki keuntungan dan kelemahan. Keuntungan benda-benda nyata itu dapat dipindah-pindahkan atau dimanipulasikan sedangkan kelemahannya tidak dapat disajikan dalam bentuk tulisan atau buku. Karenanya untuk bentuk tulisan kita buat gambarnya atau diagramnya tetapi tetap masih memiliki kelemahan karena tidak dapat dimanipulasikan berbeda dengan benda-benda nyatanya. D. Hakikat Pembelajaran Matematika Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. (BSNP, 2006:147) Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. 18 Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya. Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut (BSNP, 2006: 148) 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh 19 4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspekaspek sebagai berikut: 1. Bilangan 2. Geometri dan pengukuran 3. Pengolahan data. BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SDN 1 Kuta Dalom Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran dengan jumlah siswa 17 anak yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 1 Kuta Dalom, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran yang merupakan tempat tugas peneliti. 3. Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 selama 4 bulan. B. Sumber Data Data penelitian diperoleh melalui tes dan non tes yaitu hasil evaluasi siswa dan observasi. 21 C. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan selama kegiatan pelaksanaan tindakan, yaitu dengan menggunakan teknik tes dan non tes. 1. Teknik Tes Teknik tes merupakan salah satu alat, cara, dan langkah-langkah yang sistematik untuk digunakan dalam mengukur sejumlah perilaku tertentu siswa (Ruminiati, 2007:3.18). Dalam penelitian ini, teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data-data nilai siswa guna mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika menggunakan alat peraga pada siswa kelas IV SDN 1 Kuta dalom Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran. 2. Teknik Non tes Teknik non tes adalah alat penilaian yang prosedurnya tidak sistematis sebagaimana teknik tes. Akan tetapi, teknik non tes ini dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sikap, atau kepribadian siswa (Ruminiati, 2007:3.18). Teknik non tes dilakukan melalui observasi yang merupakan kegiatan melihat sesuatu secara cermat untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang sesuatu itu. Observasi ini digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung. D. Alat Pengumpul Data Untuk mempermudah penelitian dan memperoleh data yang akurat peneliti menggunakan alat bantu pengumpulan data antara lain: 22 1. Tes yang digunakan adalah tes tertulis berbentuk uraian untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika. 2. Lembar observasi yang digunakan oleh pengamat/observer untuk mengamati aktivitas siswa maupun peneliti pada saat pembelajaran berlangsung. E. Teknik Analisis Data Analisis data adalah upaya yang dilakukan oleh guru yang berperan sebagai peneliti untuk merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan dalam bentuk yang dapat dipercaya dan benar (Wardhani, 2009: 5.4). Analisis data yang dilakukan adalah: 1. Mengumpulkan semua data dari hasil pengamatan selama siklus I, baik data kuantitatif maupun kualitatif. 2. Menganalisa data dengan membuat tabulasi dan prosentase, serta disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. 3. Menguji keberhasilan penelitian dengan cara membandingkan hasil pengolahan data dengan indikator keberhasilan antara hasil tes siklus I dan siklus-siklus selanjutnya. F. Prosedur Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merupakan suatu bentuk penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan. 23 Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Hopkins, yang dinamakan Spiral Tindakan Kelas yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Siklus ini akan dihentikan jika hasil penelitian ini sudah memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan. Ilustrasi dari alur penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Diteruskan pada siklus berikutnya Gambar 1. Alur Siklus PTK (Zainal, 2006:30) 24 G. Langkah Tindakan Penelitian Penelitian ini dilakukan sampai berhasil dengan berbagai kemungkinan perubahan yang dianggap perlu, Setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Tahap-tahap dari siklus tersebut diuraikan sebagai berikut: Siklus I a. Perencanaan Kegiatan perencanaan meliputi : a. Menentukan Kompetensi “Melakukan operasi Dasar yang perkalian akan dan dicapai, yakni pembagian” dan mengembangkan KD menjadi indikator. b. Membuat rencana pembelajaran termasuk membuat skenario pembelajaran menggunakan alat peraga c. Mempersiapkan alat peraga yang akan digunakan dalam pembelajaran d. Membuat instrumen evaluasi untuk mengetahui keberhasilan siswa. e. Menyiapkan instrumen observasi baik untuk guru maupun siswa f. Mempersiapkan lembar observasi aktivitas siswa, kinerja guru dan catatan lapangan g. Mempersiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) b. Tindakan Penyampaian materi pelajaran secara garis besar akan dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 25 Pertemuan ke-1 1) Siswa dibagi menjadi empat kelompok 2) Masing-masing kelompok diminta untuk mengumpulkan batu kerikil sebanyak (5, 6, 7, 8, 9, 10) tiap anggota kelompok. 3) Anggota kelompok menghitung batu kerikil yang dikumpulkan dan menuliskan ke dalam tabel yang disediakan. Kelompok I II III IV A B C D E Jumlah Pertemuan ke-2 1) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi sebagai apersepsi untuk membimbing pemikiran dan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran tentang operasi pembagian. 2) Masing-masing kelompok menghitung batu kerikil yang telah dikumpulkan pada pertemuan terdahulu pada tabel/LKS. 3) Batu yang dikumpulkan kemudian dibagi kepada semua anggota kelompok dengan jumlah yang sama dalam kelompok masingmasing. 4) Menghitung jumlah anggota dalam kelompok tersebut. 5) Masing-masing kelompok menghitung dengan cara yang sama pada kelompok lain. 6) Siswa membuat kesimpulan tentang kegiatan yang telah dilakukan 26 7) Guru melakukan evaluasi melalui tes tertulis untuk mengetahui pemahaman peserta didik mengenai materi perkalian dan pembagian yang telah dipelajari yang dikerjakan secara individu. c. Pengamatan Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru/peneliti. Pengamatan dilakukan oleh guru mitra yang diminta menjadi observer. Pengamatan ditujukan pada aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa yang masing-masing dicatat melalui lembar observasi (pengamatan) yang telah disediakan. d. Refleksi Refleksi meliputi kegiatan menganalisis, memahami, dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran. Dengan melihat hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa ditarik kesimpulan tentang perkembangan, kemajuan, dan kelemahan serta kekurangan yang terjadi. Dari refleksi ini selanjutnya dijadikan dasar untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Kegiatan yang dilakukan dalam refleksi meliputi analisis data yang telah diperoleh untuk menentukan langkah tindakan yang lebih baik pada pembelajaran selanjutnya, mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa, mengevaluasi aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar. 27 Siklus II 1. Perencanaan a. Menentukan Kompetensi Dasar yang akan dicapai, yakni “Melakukan operasi hitung campuran” dan mengembangkan KD menjadi indikator. b. Membuat rencana pembelajaran termasuk membuat skenario pembelajaran menggunakan alat peraga c. Mempersiapkan alat peraga yang akan digunakan dalam pembelajaran d. Membuat instrumen evaluasi untuk mengetahui keberhasilan siswa. e. Menyiapkan instrumen observasi baik untuk guru maupun siswa f. Mempersiapkan lembar observasi aktivitas siswa, kinerja guru dan catatan lapangan g. Mempersiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) 2. Tindakan Menerapkan tindakan dengan mengacu pada perencanaan tindakan yang telah ditetapkan dengan tahap-tahap pembelajaran menggunakan alat peraga yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengingatkan kembali tentang operasi perkalian dan pembagian yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya 2) Siswa dibagi menjadi enam kelompok 3) Guru membagikan LKS kepada tiap kelompok 4) Guru membagikan lidi yang telah disiapkan kepada semua kelompok 28 5) Masing-masing kelompok membagikan lidi kepada masing-masing anggotanya dengan jumlah yang sama 6) Masing-masing anggota kelompok memotong lidi yang diterimanya menjadi 2 bagian yang sama panjang 7) Lidi yang sudah dipotong-potong dikumpulkan menjadi satu. 8) Kelompok membagi potongan lidi tersebut kepada semua anggotanya 9) Kelompok menghitung jumlah potongan lidi yang diterima oleh masingmasing anggota 10) Siswa membuat model penghitungan dari kegiatan yang dilakukan 11) Siswa menentukan aturan operasi penghitungan campuran dari kegiatan tersebut 12) Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil penghitungannya 13) Bersama-sama membahas dan membuat kesimpulan tentang kegiatan yang telah dilakukan 14) Guru melakukan evaluasi melalui tes tertulis untuk mengetahui pemahaman peserta didik mengenai materi perkalian dan pembagian yang telah dipelajari yang dikerjakan secara individu. 15) Guru meminta peserta didik merefleksikan hal-hal yang telah dipelajari 16) Guru memberikan tugas pengayaan untuk membaca dan memahami tentang materi pelajaran yang ada di buku Matematika, serta menginformasikan selanjutnya. 3. Pengamatan materi yang akan dipelajari pada pertemuan 29 Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru/peneliti. Pengamatan dilakukan oleh guru mitra yang diminta menjadi observer. Pengamatan ditujukan pada aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa yang masing-masing dicatat melalui lembar observasi (pengamatan) yang telah disediakan. 4. Refleksi Refleksi meliputi kegiatan menganalisis, memahami, dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran. Dengan melihat hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa ditarik kesimpulan tentang perkembangan, kemajuan, dan kelemahan serta kekurangan yang terjadi. Dari refleksi ini selanjutnya dijadikan dasar untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Kegiatan yang dilakukan dalam refleksi meliputi analisis data yang telah diperoleh untuk menentukan langkah tindakan yang lebih baik pada pembelajaran selanjutnya, mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa, mengevaluasi aktivitas guru dalam kegiatan belajar mangajar. Siklus III Hasil penelitian yang diperoleh pada siklus II belum memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan, maka penelitian dilanjutkan pada siklus III. Siklus III dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 30 1. Perencanaan a. Menentukan Kompetensi Dasar yang akan dicapai, yakni “Melakukan penaksiran dan pembulatan” dan mengembangkan KD menjadi indikator. b. Membuat rencana pembelajaran termasuk membuat skenario pembelajaran menggunakan alat peraga c. Mempersiapkan alat peraga yang akan digunakan dalam pembelajaran d. Membuat instrumen evaluasi untuk mengetahui keberhasilan siswa. e. Menyiapkan instrumen observasi baik untuk guru maupun siswa f. Mempersiapkan lembar observasi aktivitas siswa, kinerja guru dan catatan lapangan g. Mempersiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) 2. Tindakan Menerapkan tindakan dengan mengacu pada perencanaan tindakan yang telah ditetapkan dengan tahap-tahap pembelajaran menggunakan alat peraga yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. Guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengingatkan kembali tentang operasi hitung yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya b. Siswa dibagi menjadi enam kelompok c. Guru membagikan LKS kepada tiap kelompok d. Guru membagikan manik-manik kepada semua kelompok e. Kelompok membagi manik-manik menjadi sepuluh-sepuluh 31 f. Masing-masing kelompok menghitung sisa manik-manik setelah dibagi menjadi sepuluh-sepuluh g. Masing-masing kelompok menentukan hasil pembulatan dengan aturan jika sisa manik-manik kurang dari 5 (1, 2, 3, 4) maka manik-manik tersebut dihilangkan, jika sisa manik-manik paling sedikit 5 (5, 6, 7, 8, 9) maka manik-manik tersebut dianggap berjumlah sepuluh.. h. Kelompok menghitung hasil pembulatan pada lembar kerja. i. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil penghitungannya j. Bersama-sama membahas dan membuat kesimpulan tentang kegiatan yang telah dilakukan k. Siswa mengerjakan tes formatif untuk dikerjakan secara individu l. Guru meminta peserta didik merefleksikan hal-hal yang telah dipelajari m. Guru memberikan tugas pengayaan untuk membaca dan memahami tentang materi pelajaran yang ada di buku Matematika, serta menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya. 3. Pengamatan Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru/peneliti. Pengamatan dilakukan oleh guru mitra yang diminta menjadi observer. Pengamatan ditujukan pada aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa yang masing-masing dicatat melalui lembar observasi (pengamatan) yang telah disediakan. 32 4. Refleksi Refleksi meliputi kegiatan menganalisis, memahami, dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran. Dengan melihat hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa ditarik kesimpulan tentang perkembangan, kemajuan, dan kelemahan serta kekurangan yang terjadi. Dari hasil penelitian indikator penelitian sudah tercapai, sehingga penelitian hanya sampai pada siklus III. Kegiatan yang dilakukan dalam refleksi meliputi analisis data yang telah diperoleh untuk menentukan langkah tindakan yang lebih baik pada pembelajaran selanjutnya, mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa, mengevaluasi aktivitas guru dalam kegiatan belajar mangajar. H. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan yang diharapkan pada penelitian tindakan kelas ini adalah adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika, yakni penelitian ini dikatakan berhasil jika minimal 75% siswa telah mencapai kriteria ketuntasan minimal/tuntas. Kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 60. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Pembelajaran melalui penggunaan alat peraga dapat meningkatkan aktivitas belajar Matematika pada siswa kelas IV SDN 1 Kutadalom tahun pelajaran 2013/2014. 2. Pembelajaran melalui penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada siswa kelas IV SDN 1 Kutadalom tahun pelajaran 2013/2014. 3. Penerapan pembelajaran melalui penggunaan alat peraga dapat mengoptimalkan proses pembelajaran Matematika pada siswa kelas IV SDN 1 Kutadalom. B. Saran Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka saran yang diajukan adalah: 1. Saran untuk guru Guru hendaknya lebih mengoptimalkan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika. 53 2. Saran untuk sekolah a. Hendaknya ada sosialisasi kepada guru untuk mau dan mampu menggunakan alat peraga dalam setiap pembelajaran demi untuk meningkatkan hasil belajar b. Memberikan kesempatan kepada guru untuk memfasilitasi dalam membuat dan mengembangkan alat peraga pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran di kelasnya, khususnya matematika. 54 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Aisyah, Nyimas, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Daryanto. 2009. Panduan Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif. Jakarta: Publisher Hamalik, Oemar. 2002. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara Muchith, M. Saekhan. 2008. Pembelajaran Kontekstual. Semarang: RaSAIL Media Group. Ruminiati. 2007. Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan SD. Jakarta: Depdiknas Sudjana, Nana. 2002. Dasar-Dasar Proses Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru Algosindo Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Fokus Media. Wardhani, I.G.A.K., dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka Winataputra, Udin S. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka Zainal, Aqip. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya 55 Lampiran 1: RPP siklus I RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SIKLUS I Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Aspek Alokasi Waktu : : : : : SDN 1 Kuta Dalom Matematika IV / 1 Bilangan 6 x 35 menit (2 kali pertemuan) A. Standar Kompetensi : 1. Memahami dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah B. Kompetensi Dasar : 1.3 Melakukan operasi perkalian dan pembagian C. Indikator : 1. Mengalikan bilangan sampai dengan dua angka 2. Mengalikan bilangan sampai dengan tiga angka 3. Mengalikan bilangan sepuluh secara berulang 4. Mengalikan bilangan kelipatan sepuluh 5. Melakukan pembagian tanpa sisa 6. Melakukan pembagian bersisa I. Tujuan Pembelajaran : Setelah mengikuti pembelajaran menggunakan alat peraga: 1. Secara mandiri siswa dapat mengalikan bilangan satu angka dengan dua angka 2. Secara mandiri siswa dapat mengalikan bilangan satu angka dengan tiga angka 3. Secara mandiri siswa dapat mengalikan bilangan sepuluh secara berulang 4. Secara mandiri siswa dapat mengalikan bilangan kelipatan sepuluh 5. Secara mandiri siswa dapat melakukan pembagian tanpa siswa 6. Secara mandiri siswa melakukan pembagian bersisa II. Materi Ajar (Materi Pokok) : Operasi hitung perkalian dan pembagian III. Metode Pembelajaran : Ceramah, tanya jawab, penugasan IV. Langkah-langkah Pembelajaran : Pertemuan ke-1 A. Kegiatan Awal (10 menit) 1. Mengucapkan salam kepada siswa 2. Absensi siswa 3. Membagi siswa menjadi empat kelompok 56 B. Kegiatan Inti (85 menit) 1. Guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa: - Berapakah jumlah siswa di kelas IV ? - Jika kita akan sudah membagi menjadi tiga kelompok, berapa jumlah anggota masing-masing kelompok? - Berapakah sisanya? 2. Masing-masing kelompok diminta untuk mengumpulkan batu kerikil sebanyak (5, 6, 7, 8, 9, 10) tiap anggota kelompok 3. Anggota kelompok menghitung batu kerikil yang dikumpulkan dan menuliskan ke dalam tabel yang disediakan 4. Siswa membuat kesimpulan tentang kegiatan yang telah dilakukan C. Kegiatan Akhir (10 menit) 1. Guru meminta peserta didik merefleksikan hal-hal yang telah dipelajari 2. Guru memberikan tugas pengayaan untuk membaca dan memahami tentang materi pelajaran yang ada di buku Matematika, serta menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya. Pertemuan ke-2 A. Kegiatan Awal (10 menit) 1. Mengucapkan salam kepada siswa 2. Absensi siswa 3. Membagi siswa menjadi lima kelompok B. Kegiatan Inti (85 menit) 1. Guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa: - Berapakah batu kerikil yang diperoleh oleh kelompok I? - Berapakah jumlah anggota dari kelompok I? - Jadi, berapakah jumlah batu kerikil yang dikumpulkan oleh masing-masing anggota kelompok tersebut? 2. Masing-masing kelompok menghitung batu kerikil yang telah dikumpulkan pada pertemuan terdahulu pada tabel/LKS. 3. Membagi dengan jumlah yang sama kepada semua anggota dalam kelompok masing-masing. 4. Menghitung jumlah anggota dalam kelompok tersebut. 5. Masing-masing kelompok menghitung dengan cara yang sama pada kelompok lain. 6. Siswa membuat kesimpulan tentang kegiatan yang telah dilakukan 9. Guru melakukan evaluasi melalui tes tertulis untuk mengetahui pemahaman peserta didik mengenai materi perkalian dan pembagian yang telah dipelajari yang dikerjakan secara individu. 57 Kegiatan Akhir (10 menit) 1. Guru meminta peserta didik merefleksikan hal-hal yang telah dipelajari 2. Guru merencakan tindak lanjut yang mungkin dapat dilakukan dalam bentuk remi

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS IV SDN 4 WAYHARONG WAY LIMA PESAWARAN
0
11
35
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA KELAS IV DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA MINIATUR PADA POKOK BAHASAN BANGUN DATAR DI SDN 1 KUTOARJO KECAMATAN GEDONGTATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
21
55
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ASLI PADA SISWA KELAS IV SDN 1 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP 2011/2012
0
21
55
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
23
108
52
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
5
53
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA BAGI SISWA KELAS IV SDN 1 KUTA DALOM KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
6
76
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN MEDIA KARTU SOAL PADA SISWA KELAS V SDN 2 SUKADADI KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
8
66
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS VIII G DI SMP NEGERI 1 WAY LIMA TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
13
74
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS 5 SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
3
20
82
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS 5 SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
10
82
JUDUL: MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
7
43
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KIT MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SDN 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
9
10
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE EKSPERIMEN BAGI SISWA KELAS V SDN 4 CIMANUK KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN
1
11
53
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SDN 3 WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
7
32
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF PADA SISWA KELAS V SDN BATURAJA KECAMATAN WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
3
64
Show more