Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Menggunakan Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior Jack) sebagai Pewarna

Gratis

192
689
72
2 years ago
Preview
Full text

FORMULASI SEDIAAN PEWARNA PIPI MENGGUNAKAN EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG (Etlingera elatior Jack) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI OLEH:

  Fat Aminah, M. NIP 195011171980022001 NIP 195111021977102001 Pembimbing II, Dra.

IWENI ARA NIM 091501038

  Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji SkripsiFakultas FarmasiUniversitas Sumatera Utara Pada Tanggal: 2 Mei 2014Pembimbing I, Panitia Penguji: Dra. NIP 195011171980022001 NIP 195111021977102001 Pembimbing II, Dra.

KATA PENGANTAR

  Formula pewarna pipi yang dibuatyaitu menggunakan zat warna kecombrang konsentrasi 15; 17,5; 20;22,5 dan25% dengan bahan talkum, kaolin, zink oksida, parfum, nipagin dan isopropil miristat; kemudian diamati warna yang dihasilkan. Formula pewarna pipi yang dibuatyaitu menggunakan zat warna kecombrang konsentrasi 15; 17,5; 20;22,5 dan25% dengan bahan talkum, kaolin, zink oksida, parfum, nipagin dan isopropil miristat; kemudian diamati warna yang dihasilkan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Dilakukan ekstraksi zatwarna bunga kecombrang yang kemudian dilanjutkan pada pembuatan sediaan pewarna pipi dengan menggunakan zat warna alami dari ekstrakbungakecombrang. Untuk membuat sediaan pewarna pipi dengan menggunakan zat warna yang diekstraksi dari bunga kecombrang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Bunga Kecombrang Kecombrangmerupakan tanaman asli pulau Sumatera dan Jawa

  Bunga dan buah dikumpulkan dari hutan, didekat pemukiman, di budidayakan di pekarangan yang tanpa persiapan penggarapan tanah terlebih dahulu atau tanpa pemeliharaan. Bungakecombrang sering ditambahkan pada masakan khas suku Batak, yaitu arsik ikan mas, masakan pucuk ubi tumbuk, dan juga digunakan sebagaiperedam bau amis pada ikan (Heyne,1987).

2.1.1 Sistematika bunga kecombrang

  2.1.3 Nama daerah Penyebaran kecombrang di Indonesia sangat luas dengan berbagai nama pada masing-masing daerah seperti kecombrang (Jawa), terpuk (Gayo),combrang (Sunda), kincung (Melayu), honje (Sunda), atimengo (Gorontalo),Puwar kijung (Minangkabau), Katimbang (Makasar), Salahawa (Seram) dan kantan (Malaysia). 2.1.5 Kandungan kecombrang Kandungan kimia yang terdapat di daun, batang, bunga, dan rimpang kecombrang adalah saponin dan flavonoid.

2.1.6 Manfaat kecombrang

  Rimpang kecombrang biasanya dimanfaatkan sebagai pewarna kuning untuk anyaman atau kerajinan tangan dan batang kecombrang sebagai bahandasar pembuatan kertas. Bunga digunakan sebagai pengganti buah asam dan untuk manisan (Heyne, 1987).

2.2 Antosianidin

  Pada beberapa buah-buahan dan sayuran serta bunga memperlihatkan warna-warna yangmenarik yang mereka miliki termasuk komponen warna yang bersifat larut dalam air dan terdapat dalam cairan sel tumbuhan (Fennema, 1996). Pada penelitian Saati (2002) untuk ekstraksi antosianin dari bunga pacar air dan penelitian Wijaya dkk (2001) tentang ekstraksi pigmendari kulit buah rambutan, pelarut yang paling baik digunakan adalah etanol 96%.

2.3 Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

  Dengan diketahuinya senyawa aktif yang terkandung dalamsimplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat(Ditjen POM, 2000). Ekstraksi Ekstraksi menggunakan pelarut yang sesuai didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran dimana pelarut polar akanmelarutkan solute yang polar dan pelarut nonpolar akan melarutkan solute yang non polar (Ketaren, 1986).

1. Cara Dingin a

  Maserasi adalah proses pengekstraksian simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan dan pendiaman pada temperaturruangan. Perkolasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan,serbuk simplisia yang akan diperkolasi tidak langsung dimasukkan kedalam bejana perkolator, tetapi dibasahi atau dimaserasi terlebihdahulu dengan cairan penyari sekurang-kurangnya 3 jam.

2. Cara Panas a

  Refluks adalah ekstraksi menggunakan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatifkonstan dengan adanya pendingin balik. Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru, umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksiberkelanjutan dan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

2.4 Kosmetik

  Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan padabagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir danorgan genital bagianluar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan,mewangikan,mengubah penampilan dan/atau memperbaiki baubadan atau melindungi ataumemelihara tubuh pada kondisi baik (Menkes RI, 2010). Usaha tersebutdapat dilakukan dengan cara merias setiap bagian tubuh yang terpapar oleh pandangan sehingga terlihat lebih menarik dan sekaligus juga menutupikekurangan (cacat) yang ada(Wasitaatmadja, 1997).

2.5 Pewarna Pipi

  Pewarna pipi adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai pipi dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tatarias wajah. Sedangkan untuk warna kulit sawo matang akan lebih cocokmenggunakan pewarna pipi dengan warna merah mudah yang lebih tua (Muliyawan dan Suriana, 2013).

2.6 Komponen Utama dalam Sediaan Pewarna Pipi

  TalkumTalkum merupakan bahan dasar dari sediaan pewarna pipi yang bersifat mudah menyebar dan kekuatan menutupi yang rendah. Tidak semua aluminium silikat dapat diklasifikasikan sebagai kaolin, namun 3 kelompok di bawah ini secara khusus memiliki formula yang sama(Al O .2SiO .2H O) dan dapat disebut kaolin: nacrite, dickite, dan kaolinite.

2 Karena kaolin higroskopis penggunaannya pada pewarna pipi umumnya tidak melebihi 5%

  Kadang-kadang digunakan pada tingkat cukup rendah dalam pewarna pipi karena memiliki kekuatan yang cukup baik. Minyak mineral, lemak ester dari segala tipe dan turunan lanolin, dapat digunakan dan dicampur dengan jumlah yang baik dari air untuk membantupembentukan pewarna pipi yang halus dan kompak.

5. Pengikat emulsi

  Emulsi menghasilkan distribusi yang seragam, baik pada fase minyak maupun fase air, yang penting dalam pengempaan serbuk. PengawetTujuan penggunaan pengawet adalah untuk menjaga kontaminasi produk selama pembuatan dan juga selama digunakan oleh konsumen, dimanamikroorganisme dapat mengkontaminasi produk setiap kali penggunaannya, baik dari tangannya atau dari alat yang digunakan.

2.7 Kulit

  Kulit adalah organ yang memiliki berbagai fungsi penting: Serat elastis dari dermis dan jaringan lemak subkutan berfungsi untuk mencegah gangguan mekanis eksternal diteruskan secara langsung ke bagiandalam tubuh. Kulit mengatur suhu tubuh dengan mengubah jumlah aliran darah melalui kulit dengan dilatasi dan kontriksi kapiler darah kulit dan denganpenguapan uap air (Mitsui, 1997).

BAB II I METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian meliputi

penyiapan sampel, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan, pemeriksaan mutu fisik sediaan, uji cemaran mikroba,uji iritasi,uji kesukaan danuji stabilitasterhadap sediaan yang dibuat.

3.1 Alat dan Bahan

  3.1.1 Alat Alat-alat yang digunakan antara lain: alat-alat gelas laboratorium, blender, cawan penguap, freeze dryer, lemari pengering, kertas saring, lumpang dan alu porselen, neraca analitis (Mettler Toledo), rotary evaporator,hardness tester(Copley), penangasair, batang pengaduk, aluminium voil, pipet tetes, kertas perkamen, gunting, ayakan (mesh 100, 60), spatula dan sudip. 3.1.2 Bahan Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga kecombrang(Etlingera elatior Jack).

3.2 Pengumpulan dan Pengolahan Tumbuhan

3.2.1 Pengumpulantumbuhan

  Tumbuhan yang digunakan adalah bungakecombrang berumur 2 bulan yang tumbuh di Desa Lumut, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam. Hasil sortir ini dicuci dengan air bersih, ditiriskan,kemudian bunga kecombrang dihaluskan dengan blender.

3.3 Pembuatan Ekstrak Bunga Kecombrang

  Kecombrang sebanyak 1 kg yang telahdihaluskan dimaserasi dengan pelarut 7,5 liter etanol 96% yang telah dicampur dengan asam sitrat 5%, ditutup, dan dibiarkan selama 5 hari terlindung daricahaya, sambil berulang-ulang di aduk. ofreeze dryer pada suhu -40 C dengan tekanan 2 atm sehingga diperoleh ekstrak kecombrang yang kering.

3.4 Pembuatan Formula Pewarna Pipi Dengan Ekstrak Bunga Kecombrang Sebagai Pewarna dalam Berbagai Konsentrasi

  3.4.1 Formula Formula yang dipilih berdasarkan formula standar yang terdapat padaNew Cosmetis Science (Mitsui, 1998)R/ Talkum 80 Kaolin 9 Zink Miristat 5 Pigmen 3 Parafin liq 3 Parfum secukupnyaPengawet secukupnya 3.4.2 Modifikasiformula Pada penelitian ini, dilakukan orientasi terhadap formula di atas untuk mendapat hasil yang sesuai dengan menggunakan zat warna ekstrak bungakecombrang yang dibuat dalam formulasi sediaan pewarna pipi dengan berbagai konsentrasi. Formula sediaan pewarna pipi dari ekstrak bunga kecombrangdapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 3.1 Formula sediaan pewarna pipi dari ekstrak bunga kecombrang Sediaan Komposisi (gram) 1 2 3 4 5 6 Talkum 36, 893 35,808 34,723 33,638 33,638 43,404 Kaolin 4,150 4,028 3,906 3,784 3,662 4,883Zink Oksida 2,306 2,238 2,170 2,102 2,034 2,713Eks.

3.4.3 Prosedur pembuatan pewarna pipi

  Ekstrak bungakecombrang digerus dalam lumpang yang lain dan ditambahkan talkum sedikit demi sedikit digerus hingga homogen dan dicampurkan ke dalam campuran diatas, kemudian digerus lagi hingga homogen. Ditambahkan zat pengikat isopropil miristat dan lanolin yang sebelumnya telah dipanaskan sampaimencair dan campuran digerus hingga diperoleh massa yang homogen, kemudian ditambahkan parfum lalu diayak dengan pengayak mesh 60, lalu o dikeringkan dalam lemari pengering selama ±20 menit pada suhu ±50 C.

3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Pewarna Pipi

  3.5.1 Uji dispersi warna Dispersi warna diuji dengan menebarkan serbuk pada permukaan kertas berwarna putih dan tidak boleh ada warna yang tercoreng atau tidakmerata(Butler, 2000). Sediaan diletakkan diantara anvil dan punch,ditekan knob sampai sediaan retak dan pecah, kemudian dibaca bilangan yang menunjukkan kekerasan pada layar (Soekemi, dkk., 1987).

3.7.1 Uji iritasi

  Uji iritasi dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat Teknik yang dilakukan pada uji iritasi ini adalah uji tempel terbuka(Open Test) pada kulit belakang telinga terhadap 10 orang panelis yang bersedia dan mengisi surat pernyataan. Uji tempel terbuka dilakukan denganmengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2,5 x2,5 cm), dibiarkan terbukadan diamati apa yang terjadi.

1. Tidak ada reaksi 2

  Edema dan vesikula 4 Kriteria panelis uji iritasi (Ditjen POM, 1985): 1. Contoh surat pernyataan dapat dilihat pada Lampiran 3.

3.7.2 Uji kesukaan (Hedonic test)

  Uji kesukaan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap sediaan yang dibuat. Panelis yang digunakan adalah panelis yang tidak terlatih yang diambil secara acak.

3.8 Uji Stabilitas

  Pengamatan yang dilakukan meliputi adanya perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan pewarna pipi yang dilakukan terhadap masing-masingsediaan selama penyimpanan pada suhu kamar. Waktu penyimpananadalah sembilan puluh hari (National Health Surveillance Agency, 2005).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  4.2 Hasil Ekstraksi Bunga Kecombrang Hasil maserasi dari 1 kg bunga kecombrang diperoleh 500 ml maserat o kemudian dikering-bekukanselama 72 jam pada suhu -40 C dengan tekanan 2 atm menghasilkan 189,7 gram ekstrak kental. Sediaan dengan konsentrasi 15% menghasilkan warna krem; sediaan dengan konsentrasi 17,5 dan 20% menghasilkan merah jambu;sediaan dengan konsentrasi 22,5% menghasilkan warna merah muda dan 25% menghasilkan warna merah.

4.4 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan Pewarna Pipi

  4.4.1 Uji dispersi warna (Homogenitas) Hasil pemeriksaan dispersi warna menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat terdispersi merata dan tidak ada warna yang berbeda atau tidak meratapada saat ditaburkan pada kertas putih. 4.4.2Uji poles Berdasarkan uji poles diperoleh hasil bahwa sediaan yang menghasilkan pemolesan yang baik adalah sediaan pada konsentrasi 15; 17,5 dan 20%.

4.4.4 Uji keretakan

  Uji keretakan yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa semua sediaan yang dibuat tidak pecah saat dijatuhkan pada permukaan kayu denganketinggian 8-10 inci sebanyak 3 kali. Hasil uji keretakan dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini.

4.5 Uji Cemaran Mikroba

  Sedangkan sediaan dengan konsentrasi ekstrak bunga kecombrang 15; 5 17,5; 20; 22,5 dan 25%, memiliki jumlah mikroba lebih dari 10 . Besarnya jumlah mikroba ini dapat terjadi karena prosedur kerja yang tidak aseptis danterkontaminasinya tumbuhan selama proses penanaman sehingga dapat mencemari sediaan pewarna pipi (Pratiwi, 2008).

4.6 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test)

  4.6.1 Uji iritasi Hasil uji iritasi yang dilakukan pada 10 orang panelis menunjukkan bahwa sediaan pewarna pipi tidak menyebabkan iritasi. Tabel 4.4 Data hasiluji iritasi sediaan pewarna pipi dari ekstrak bunga kecombrang terhadap kulit relawan Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Reaksi KeteranganTidak ada reaksiEritema 1 Eritema dan papula 2 Eritema, papula dan vesikula 3 Edema dan vesikula 4 4.6.2 Uji kesukaan (Hedonic test) Berdasarkan uji kesukaan yang dilakukan terhadap 30 orang panelis, didapat hasil penilaian yang bervariasi terhadap sediaan pewarna pipi yangdibuat.

4.7 Stabilitas Pewarna Pipi

  Berdasarkan pengamatan uji stabilitas yang dilakukan selama 90, diperoleh hasil yang tertera pada Tabel 4.6 dibawah ini. Selain oksidasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi stabilitasantosianin, misalnya suhu, cahaya dan pH.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 1

  Ekstrak bunga kecombrang dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi sediaan pewarna pipi. Sediaan dengan konsentrasi 15%menghasilkan warna krem; konsentrasi 17,5 dan 20% menghasilkan warna merah jambu; konsentrasi 22,5% menghasilkan warna merahmuda dan 25% menghasilkan warna merah.

3. Hasil uji iritasi menunjukkan bahwa sediaan pewarna pipi yang dibuat tidak menyebabkan iritasi

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan isolasi pigmen antosianidin agar didapat senyawa antosianidin murni.

DAFTAR PUSTAKA

  Ekstraksi Antosianin dari Buah Kiara Payung (Filicum decipiens) dengan Menggunakan Pelarut yang Diasamkan (Kajian jenis Pelarut dan Lama Ekstraksi). Ekstraksi dan Identifikasi Pigmen Antosianin Bunga Pacar Air (Impatien balsanina Linn).

51 Parfum (oleum rosae) = 0,15 ml ×

  Surat pernyataan uji iritasi SURAT PERNYATAANSaya yang bertanda tangan di bawah ini:Nama :Umur :Jenis Kelamin :Alamat : Menyatakan bersedia menjadi panelis untuk uji iritasi dalam penelitian Iweni Ara dengan judul penelitian Formulasi Sediaan PewarnaPipi Menggunakan Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior Jack) sebagai Pewarna, yang memenuhi kriteria sebagai panelis uji iritasi sebagaiberikut (Ditjen POM, 1985): 1. Gambar sediaan pewarna pipi yang dibuat dalam berbagai konsentrasi a b cd e Keterangan: a = sediaan 15%b = sediaan 17,5% c = sediaan 20%d = sediaan 22,5% e = sediaan 25% Lampiran 8.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Formulasi Lipstik Menggunakan Ekstrak Bunga Tasbih (Canna hybrida L) Sebagai Pewarna
12
149
77
Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Menggunakan Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior Jack) sebagai Pewarna
192
689
72
Formulasi Sediaan Bubuk Kompak Menggunakan Ekstrak Angkak Sebagai Pewarna
45
200
71
Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Dalam Bentuk Padat Menggunakan Ekstrak Bunga Kana Merah (Canna indica L.) sebagai Pewarna
80
284
86
Pengaruh Pemberian Variasi Konsentrasi Maserat Bunga Kecombrang (Etlingera elatior Jack R. M. Sm) sebagai Bioinsektisida terhadap Nyamuk Aedes spp
2
53
57
Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Dalam Bentuk Padat Dengan Menggunakan Ekstrak Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa)
78
241
71
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Angkak (Monascus Purpureus) Sebagai Pewarna
30
150
71
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Buah Rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) Sebagai Pewarna
41
204
73
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Daun Jati (Tectona grandis L.f.) Sebagai Pewarna
84
326
65
Formulasi Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Sebagai Pewarna
78
323
74
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Bunga Kecombrang - Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Menggunakan Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior Jack) sebagai Pewarna
0
1
15
Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Menggunakan Ekstrak Bunga Kecombrang (Etlingera elatior Jack) sebagai Pewarna
0
1
13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Bunga Kana Merah - Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Dalam Bentuk Padat Menggunakan Ekstrak Bunga Kana Merah (Canna indica L.) sebagai Pewarna
0
2
15
BAB II - Formulasi Sediaan Pewarna Pipi Dalam Bentuk Padat Dengan Menggunakan Ekstrak Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa)
0
1
11
1.5 Manfaat Penelitian - Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Angkak (Monascus Purpureus) Sebagai Pewarna
2
1
15
Show more