Penerapan model pembelajaran terbalik reciprocal teaching untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa : penelitian tindakan kelas di mts daarul hikmah pamulang

Gratis

0
14
265
2 years ago
Preview
Full text
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TERBALIK (RECIPROCAL TEACHING) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Penelitian Tindakan Kelas di MTs Daarul Hikmah Pamulang) Oleh: RIA SARDIYANTI NIM: 105017000475 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 ABSTRAK RIA SARDIYANTI (105017000475), ”Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa”. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Juni 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Apakah model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa, 2) Bagaimanakah respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada pelajaran matematika? 3) Apakah model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini dilakukan di MTs Daarul Hikmah Pamulang Kota Tangerang Selatan Tahun Ajaran 2009/2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas, jurnal harian siswa, wawancara, dan tes. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa, memberikan respon positif terhadap pembelajaran matematika dan meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Kata Kunci : Pembelajaran Terbalik dan Aktivitas Belajar i ABSTRACT RIA SARDIYANTI (105017000475), "Application of Reciprocal Teaching Model to Improve Student Mathematics Learning Activities." Thesis Department of Mathematics Education, Faculty of Science and Teacher Training Tarbiyah, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, June 2010. The purpose of this study is to study 1) Does reciprocal teaching model can enhance mathematics learning activities, 2) how the students' responses to the application of reciprocal teaching model in a math lesson 3) Does reciprocal teaching model can improve students' mathematics learning outcomes. This research was conducted in MTs Daarul Hikmah Pamulang South Tangerang city in academic Year 2009/2010. The method used in this study is the Classroom Action Research, which consists of four stages of planning, execution, observation, and reflection. The research instrument used is the observation sheet activities, the daily student journals, interview, and test questions. Research results revealed that the application of reciprocal teaching model can enhance mathematics learning activities, giving a positive response towards learning mathematics and mathematics to improve student learning outcomes. Keyword : Reciprocal Teaching and Active ii KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Disadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan pengetahuan penulis sangat terbatas, maka adanya bimbingan, pengarahan dan dukungan dari berbagai pihak sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, kepada yang terhormat : 1. Bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. 2. Ibu Dra. Maifalinda Fatra, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Matematika. 3. Bapak Otong Suhyanto, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika. 4. Bapak Dr. Kadir, M.Pd, selaku pembimbing I yang selalu memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini. 5. Bapak Abdul Muin, S.Si, M.Pd, selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini. 6. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Pendidikan Matematika. 7. Ibu Dra. Hj. Sri Uswati, selaku kepala MTs Daarul Hikmah Pamulang Kota Tangerang Selatan yang telah banyak membantu penulis selama penelitian berlangsung. 8. Bapak Rusli, A.Md, selaku guru pamong tempat penulis mengadakan penelitian. 9. Ayahanda (H. Sardi S.Pd) dan ibunda (Rokih) tercinta yang senantiasa memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. iii 10. Adik-adikku (Saifudin Zhuhri dan M. Arif Febrian) tercinta yang senantiasa memberikan motivasi, dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 11. Siswa dan siswi kelas VII-D MTs Daarul Hikmah Pamulang Kota Tangerang Selatan, yang telah bersikap kooperatif selama penulis mengadakan penelitian. 12. Sahabat-sahabat terbaikku Nita, Novi, Dewi, Cory, Eny, Ubay, Irna, serta seluruh teman-teman ku tercinta, mahasiswa dan mahasiswi jurusan pendidikan matematika angkatan 2005, khususnya kelas B, semoga kebersamaan kita menjadi kenangan terindah untuk menggapai kesuksesan dimasa mendatang. 13. Untuk masku yang selalu memberi support dan motivasi selama penulis menyelesaikan skripsi dan keluarga yang telah banyak mendoakan. 14. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan dan informasi serta pendapat yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT dapat menerima sebagai amal kebaikan atas jasa baik yang diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangankekurangan karena terbatasnya kemampuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi khasanah ilmu pengetahuan. Amin. Jakarta, Juni 2010 Penulis Ria Sardiyanti iv DAFTAR ISI ABSTRAK ...................................................................................................... i ABSTRACT ..................................................................................................... ii KATA PENGANTAR.................................................................................... iii DAFTAR ISI................................................................................................... v DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii DAFTAR GAMBAR...................................................................................... ix DAFTAR DIAGRAM .................................................................................... x DAFTAR BAGAN.......................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1 B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian ....................................... 6 C. Pembatasan Fokus Masalah ........................................................ 6 D. Perumusan Masalah Penelitian ................................................... 7 E. Tujuan Penelitian ........................................................................ 7 F. Manfaat Penelitian ...................................................................... 8 BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN .......................................................... 9 A. Kajian Teori ................................................................................ 9 1. Pembelajaran Matematika..................................................... 9 a. Pengertian Matematika.................................................... 9 b. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika ......... 11 2. Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching).......... 14 a. Pengertian Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)..................................................... v 15 b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)..................................................... 18 c. Teori Belajar yang Mendukung Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) ..................................... 21 d. Keunggulan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)..................................................... 24 e. Prinsip Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) ... 24 3. Aktivitas Belajar.................................................................... 26 a. Pengertian Aktivitas Belajar ........................................... 26 b. Jenis-Jenis Aktivitas dalam Belajar ................................ 27 c. Nilai Aktivitas dalam Pembelajaran................................ 32 B. Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan........................................... 33 C. Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan............................ 33 D. Hipotesis Tindakan ..................................................................... 34 BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 35 A. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... 35 B. Metode Penelitian dan Desain Intervensi Tindakan ................... 35 C. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan............................... 38 D. Subjek/Partisipasi yang Terlibat dalam Penelitian...................... 38 E. Peran dan posisi Peneliti dalam Penelitian.................................. 39 F. Tahapan Intervensi Tindakan...................................................... 39 G. Data dan Sumber Data ................................................................ 45 H. Teknik Pengumpulan Data.......................................................... 45 I. Instrumen-Instrumen Penelitian .................................................. 46 J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthinees) Study ........................................................................................... 47 K. Analisis Data ............................................................................... 49 L. Pengembangan Perencanaan Tindakan ....................................... 50 vi BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN ............................................................... 51 A. Deskripsi Data Hasil Pengamatan............................................... 51 1. Siklus I .................................................................................. 56 2. Siklus II ................................................................................. 83 B. Pemeriksaan Keabsahan Data ..................................................... 100 C. Analisis Data ............................................................................... 101 D. Pembahasan Temuan Penelitian.................................................. 108 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 110 A. Kesimpulan ................................................................................. 110 B. Saran............................................................................................ 111 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 112 LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 115 vii DAFTAR TABEL Tabel 1 Jadwal Penelitian............................................................................ Tabel 2 35 Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Pada Pembelajaran Siklus I..................................................................... 72 Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Siklus I..................... 75 Tabel 4 Rekapitulasi Respon Siswa Selama Siklus I .................................. 77 Tabel 5 Hasil Belajar Matematika pada Akhir Siklus I .............................. 80 Tabel 6 Refleksi Kegiatan Tindakan Siklus I ............................................. 82 Tabel 7 Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Pada Tabel 3 Pembelajaran Siklus II ................................................................... 95 Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Siklus II ................... 97 Tabel 9 Rekapitulasi Respon Siswa Selama Siklus II................................. 98 Tabel 10 Hasil Belajar Matematika pada Akhir Siklus II ............................. 99 Tabel 8 Tabel 11 Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Siklus I dan II ................................................................................ 102 Tabel 12 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Siklus I dan II ................................................................................. 104 Tabel 13 Statistik Deskriptif Peningkatan Hasil Belajar Siswa .................... 105 Tabel 14 Rekapitulasi Persentase Respon Siswa Siklus I dan II .................. 107 viii DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Aktivitas Mengerjakan Tugas pada Penelitian Pendahuluan ... 55 Gambar 2 Guru Sedang Memberi Pengarahan ......................................... 78 Gambar 3 Siswa yang Lebih Pintar (a) sedang memberi penjelasan Kepada siswa lain pada saat berdiskusi ................................... 79 Gambar 4 Aktivitas Siswa pada saat menjadi Guru Siswa ....................... 80 Gambar 5 Aktivitas Siswa Mengerjakan Tes Akhir Siklus I .................... 81 ix DAFTAR DIAGRAM Diagram 1 Diagram Lingkaran Jurnal Harian Siswa pada Pembelajaran Siklus I ..................................................................................... Diagram 2 77 Diagram Lingkaran Jurnal Harian Siswa pada Pembelajaran Siklus II .................................................................................... 99 Diagram 3 Diagram Batang Peningkatan Persentase Aktivitas Belajar..... 103 Diagram 4 Diagram Batang Peningkatan Persentase Aktivitas Belajar Kelompok ................................................................................ 105 Diagram 5 Diagram Batang Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa ........................................................................................ 106 Diagram 6 Diagram Garis Persentase Respon Siswa................................. 107 x DAFTAR BAGAN Bagan 1 Alur Prosedur Pelaksanaan PTK.............................................. 37 Bagan 2 Desain Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ............................ 39 xi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I.................... 115 Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II .................. 119 Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa (LKS) ........................................................ 123 Lampiran 4 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus I sebelum Uji Validitas …………………………………………. 184 Lampiran 5 Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus I sebelum Uji Validitas…………………………………………….............185 Lampiran 6 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus II sebelum Uji Validitas …………………………………………..189 Lampiran 7 Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus II sebelum Uji Validitas ………………………………………………………..190 Lampiran 8 Lembar Jurnal Harian Siswa …………………………………...195 Lampiran 9 Lembar Wawancara Pra Penelitian dengan Guru …………….. 196 Lampiran 10 Lembar Wawancara Pra Penelitian dengan Siswa ……………. 198 Lampiran 11 Lembar Wawancara setelah Penelitian dengan Guru …………..199 Lampiran 12 Lembar Wawancara setelah Peneltian dengan Siswa ………….200 Lampiran 13 Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus I ……………………………………..201 Lampiran 14 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus I setelah Uji Validitas ……………………………………………203 Lampiran 15 Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus I setelah Uji Validitas .......……………………………………………….204 Lampiran 16 Jawaban Tes Hasil Belajar Matematika Siklus I ……………….207 Lampiran 17 Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus II …………………………………... 208 Lampiran 18 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika Siklus II setelah Uji Validitas …………………………………………... 210 xii Lampiran 19 Tes Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus II setelah Uji Validitas....………………………………………………….201 Lampiran 20 Jawaban Tes Hasil Belajar Matematika Siklus II ………………215 Lampiran 21 Daftar Nilai Tes Siklus I dan Siklus II …………………………216 Lampiran 22 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar Matematika Siswa Pra Peneltian ……………………………………………………......217 Lampiran 23 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar Matematika Siswa …………………………………………... ...... ... ... ... ... 220 Lampiran 24 Rekapitulasi Komentar Observer Siklus I dan Siklus II... ... ... ..223 Lampiran 25 Hasil Lembar Observasi Aktivitas Belajar Kelompok ………………………………………………………227 Lampiran 26 Rekapitulasi Observasi Kelompok Siklus I dan Siklus II... ... ... 228 Lampiran 27 Respon Siswa terhadap Pembelajaran Selama Siklus I dan Siklus II …………………………...……………………….229 Lampiran 28 Rekapitulase Persentase Aktivitas Belajar Siklus I dan Siklus II... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... 231 Lampiran 29 Hasil Wawancara Pra Peneltian dengan Guru ………………….233 Lampiran 30 Hasil Wawancara Pra Penelitian dengan Siswa ………………..235 Lampiran 31 Hasil Wawancara setelah penelitian dengan Guru ……………..239 Lampiran 32 Hasil Wawancara setelah Penelitian dengan Siswa ……………240 Lampiran 33 Hasil Dokumentasi Penelitian ………………………………….243 xiii 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari apa yang perlu diketahui agar dapat berpikir cerdas dan bertindak cepat. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 1 UNESCO-APNIEVE SOURCE BOOK menetapkan empat pilar utama pendidikan untuk menghadapi abad ke-21, yaitu:(1) Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to be, (4) Learning to live together. 2 Learning to know artinya belajar tidak hanya berorientasi kepada hasil belajar, tetapi harus berorientasi kepada proses belajar. Learning to do artinya belajar bukan hanya mendengar dan melihat tetapi untuk berbuat dengan tujuan penguasaan kompetensi. Learning to be artinya membentuk manusia yang menjadi dirinya sendiri dan Learning to live together artinya belajar untuk bekerja sama. Pendidikan matematika di Indonesia memang belum menampakkan hasil yang diharapkan. Dari hasil studi TIMSS tahun 2007 untuk siswa kelas VIII, menempatkan siswa Indonesia pada urutan ke-36 dari 49 negara dengan nilai ratarata untuk kemampuan matematika secara umum adalah 397. Nilai tersebut masih jauh dari standard minimal nilai rata-rata kemampuan matematika yang ditetapkan TIMSS yaitu 500. Prestasi siswa Indonesia ini berada dibawah siswa Malaysia dan Singapura. Siswa Malaysia memperoleh nilai rata-rata 474 dan Singapura 1 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenanda Media Group, 2008), h.2 2 Ibid., 110 1 2 memperoleh nilai rata-rata 593. 3 Skala matematika TIMSS-Benchmark Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada peringkat bawah, Malaysia pada peringkat tengah, dan Singapura berada pada peringkat atas. Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 136 jam untuk kelas VIII, lebih banyak dibanding Malaysia yang hanya 123 jam dan Singapura 124 jam. 4 Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk mengantarkan peserta didik menuju perubahan-perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap, moral, maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai makhluk individu dan hidup bermasyarakat dengan baik sebagai makhluk sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut peserta didik berinteraksi dengan lingkungan belajar, dimana pada lingkungan belajar di sekolah interaksi ini diatur oleh guru. Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik di kelas melalui proses belajar mengajar. Seorang guru diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa secara langsung dan bertanggung jawab terhadap proses belajar itu sendiri. Selain faktor guru, siswa sebagai subyek dalam pembelajaran merupakan faktor yang harus mendapat perhatian cukup besar, hal ini dimaksudkan agar siswa lebih termotivasi untuk belajar. Pengajaran matematika menuntut siswa menunjukkan sikap yang aktif, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran matematika, belum tercapai sebagaimana yang diharapkan. Seringkali guru menemukan siswa tidak berani mengemukakan pendapat maupun bertanya. Dalam bekerja kelompok banyak dari anggota kelompok yang hanya mencantumkan nama saja tanpa ikut berpartisipasi dalam kelompok. Tanggung jawab siswa rendah baik terhadap dirinya sendiri, maupun terhadap kelompok. 3 Ina V.S. Mullis, dkk, “TIMSS 2007 International Mathematics Report”, dari http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009, h. 38. 4 Ibid., h. 195. 3 Berdasarkan pengamatan dalam penelitian PPKT bulan Maret Tahun 2009, peneliti menemukan bahwa siswa MTs Daarul Hikmah Pamulang Kelas VII seringkali kurang merespon terhadap pelajaran matematika, dan tidak disiplinnya siswa terhadap pelajaran matematika. Siswa tidak fokus mengikuti pembelajaran, beberapa siswa berbincang dengan siswa lainnya ketika guru menyampaikan materi, kurangnya rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari sehingga kemampuan bertanya mereka rendah, tugas-tugas atau PR yang tidak dikerjakan, rendahnya perhatian siswa terhadap pelajaran matematika dan hanya sebagian kecil siswa yang mampu menyelesaikan soal matematika. Siswa kurang diberikan kesempatan melakukan aktivitas belajar atau dengan kata lain peran guru dalam pembelajaran terlihat lebih dominan. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan belum optimal. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Sebab, hakekat mengajar bukanlah melakukan sesuatu bagi siswa tetapi lebih berupa menggerakkan siswa melakukan hal-hal yang dimaksudkan menjadi tujuan pendidikan. Tugas utama seorang guru bukanlah menerangkan hal-hal yang terdapat dalam buku-buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membimbing siswa dalam usaha mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama yang dapat mengaktifkan siswa. Mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis maupun bekerja sama sudah lama menjadi fokus dan perhatian pendidik matematika di kelas, karena hal itu berkaitan dengan sifat dan karakteristik keilmuan matematika. Teori pembelajaran kognitif memandang bahwa “Learning is much more than memory. For student to really understand and be able to apply knowledge, they must to solve problems, to discover things for themselves, to wrestle with 4 ideas” (Slavin 1994 : 224). 5 Intinya adalah agar pengetahuan menjadi bermakna bagi dirinya, siswa harus membangun pengetahuannya sendiri. Ini berarti, menurut teori pembelajaran kognitif pengetahuan adalah dibangun, bukan diperoleh secara pasif. Dengan demikian, dalam kegiatan belajar mengajar guru tidak hanya memberikan pengetahuan kedalam pikiran siswa, namun harus merencanakan pengajaran dengan berbagai kegiatan-kegiatan belajar yang melibatkan siswa aktif dalam membangun pengetahuannya tersebut. Dalam proses ini guru berperan memberikan dukungan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ide-ide mereka sendiri dan strategi mereka dalam belajar. Dalam belajar, aktivitas sangat diperlukan. Sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang penting dalam interaksi belajar-mengajar. Dalam pembelajaran, yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam pembentukan diri adalah anak itu sendiri, sedang pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan diperbuat oleh anak didik. Mengajarkan matematika memerlukan model dan pendekatan agar siswa lebih mudah memahami materi dan meyelesaikan masalah mengenai materi yang diajarkan. Model pembelajaran matematika harus mengubah situasi guru mengajar kepada situasi siswa belajar. Guru memberikan pengalamannya kepada siswa sebagai pengayom, sebagai sumber tempat bertanya, sebagai pengarah, sebagai pembimbing, sebagai fasilitator, dan sebagai organisator dalam belajar. Perkembangan model pembelajaran dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan. Model-model pembelajaran tradisional kini mulai ditinggalkan berganti dengan model yang lebih modern. Sejalan dengan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang kini banyak mendapat respon adalah Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan konsep baru dalam 5 Sri Hartati, Penerapan Pendekatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) (Pengajaran Berbalik) Sebagai Upaya peningkatan Kadar Keaktifan dan Kemampuan Kognitif Siswa Pada Pembelajaran IPA SLTP, (Jakarta: Laporan Penelitian LIPI,UNS, 2002) h.3 5 pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran juga dapat membantu memecahkan kebutuhan yang sering dihadapi dalam penggunaan model pembelajaran yang sudah usang. Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini merupakan model yang dirasa dapat membantu meningkatkan aktivitas, karena dengan menerapkan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) siswa diutamakan dapat menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu: menyimpulkan bahan ajar, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan apa selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa. 6 Manfaatnya adalah dapat meningkatkan antusias siswa dalam pembelajaran karena siswa dituntut untuk aktif berdiskusi dan menjelaskan hasil pekerjaannya dengan baik. Pada pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) siswa diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator aktivitas siswa. Artinya dalam pembelajaran ini kegiatan aktif dengan pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dan mereka bertanggung jawab atas pembelajarannya. Dalam kaitannya dengan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah untuk menilai aktivitas-aktivitas siswa, dan aktivitas yang dimasudkan adalah kegiatan siswa selama siswa bekerja dalam kelompoknya, yaitu (1) memperhatikan, (2) memberi penjelasan, (3) menanggapi penjelasan, (4) mengajukan pertanyaan, (5) membuat rangkuman, (6) memecahkan masalah, (7) memprediksi, (8) antusias dan senang dll. Oleh karena itu, dengan menerapkan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dirasa dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa. Guna membuktikan hal tersebut, maka diperlukan studi penelitian lebih lanjut, untuk itulah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai 6 Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Bilangan Berpangkat Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 2 Moramo, h. 2 dalam http://pendidikanmatematika.files.wordpress.com/2009/03/proposal_reciprocal_teaching_.doc. 6 penerapan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan mengangkatnya menjadi bahan kajian dalam skripsi yang berjudul: “Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa” B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian Dari latar belakang masalah di atas, dapat didefinisikan masalah-masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana cara menumbuhkan motivasi siswa terhadap pelajaran matematika? 2. Apakah model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat diterapkan pada pelajaran matematika? 3. Bagaimana respon siswa terhadap pelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)? 4. Apakah penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa? 5. Apakah penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa? 6. Jenis-jenis aktivitas apakah yang dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching)? Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan di MTs Daarul Hikmah Pamulang. Adapun fokus penelitian adalah meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa melalui pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). C. Pembatasan Fokus Penelitian Setelah penulis mengemukakan latar belakang masalah di atas, dapatlah terlihat luasnya permasalahan yang di dapat. Karena adanya keterbatasan waktu dan pengetahuan yang penulis miliki serta untuk memperjelas dan memberikan arah yang tepat dalam pembahasan skripsi, maka penulis berusaha memberikan batasan sesuai dengan judul, yaitu sebagai berikut: 7 1. Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching): Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini merupakan model yang menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu: menyimpulkan materi yang dipelajari, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan/informasi yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan apa selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa. 2. Aktivitas belajar yang di observasi adalah jenis-jenis aktivitas belajar berdasarkan teori Paul D. Dierich. Penulis membatasi pada 5 jenis aktivitas belajar yaitu: a. Visual activities; memperhatikan penjelasan guru atau teman. b. Oral Activities; menjelaskan, bertanya, dan mengajukan pendapat. c. Writing Activities; merangkum bahan diskusi atau bahan ajar lain. d. Mental Activities; memecahkan soal, dan memprediksi. e. Emotional Activities; minat/antusias dan perasaan senang. 3. Siswa: Siswa yang dimaksud adalah siswa MTs, yaitu kelas VII. D. Perumusan Masalah Penelitian Berdasarkan pembatasan masalah dan fokus penelitian di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian, yaitu: 1. Apakah model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa? 2. Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada pelajaran matematika? 3. Apakah penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan alternatif metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk: 8 1. Mengetahui peningkatan aktivitas belajar matematika siswa melalui penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). 2. Mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). 3. Mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa melalui penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). F. Manfaat Penelitian 1. Bagi sekolah, dengan penelitian ini, diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membuat suatu kebijakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah 2. Bagi Guru, hasil penelitian memberikan manfaat untuk mengetahui strategi pembelajaran yang tepat dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar matematika siswa serta dapat meningkatkan prefesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas. 3. Bagi siswa, dengan diterapkannya pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) memberikan manfaat dalam membangun motivasi belajar siswa dalam pelajaran matematika serta meningkatkan aktivitas belajar siswa. 4. Bagi peneliti, sebagai umpan balik bagi peneliti dalam proses belajar mengajar bidang studi matematika, dan untuk menambah pengetahuan serta pengalaman. 5. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan bahan referensi untuk diadakan penelitian lebih lanjut. 6. Bagi perkembangna ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini dapat menambah informasi mengenai penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa. 9 9 BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN A. Kajian Teori 1. Pembelajaran Matematika Dalam kajian teori pembelajaran matematika, peneliti akan menguraikan 2 sub bab antara lain: pengertian matematika dan pengertian belajar dan pembelajaran matematika. Pengertian matematika, belajar dan pembelajaran matematika sangatlah penting untuk ditulis karena dapat digunakan sebagai bahan acuan teori dalam mengajar matematika. Dengan adanya teori tersebut peneliti dapat menghubungan bagaimana caranya menerapkan pembelajaran matematika di sekolah. a. Pengertian Matematika Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani, Mathematike, yang berarti “relating to learning“. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu. Perkataan mathematike berhubungan sangat erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir). 1 Matematika adalah cara atau metode berpikir dan bernalar. Matematika dapat digunakan untuk membuat keputusan apakah suatu ide itu benar atau salah atau paling tidak ada kemungkinan benar. Matematika adalah suatu eksplorasi dan penemuan, di situlah setiap hari ide-ide baru ditemukan. “Matematika adalah metode berpikir yang digunakan untuk memecahkan semua jenis permasalahan yang terdapat di dalam sains, pemerintahan, dan industri”. 2 James dan James (dalam Erman Suherman, 2001) dalam kamus matematikanya mengatakan “matematika adalah ilmu tentang logika mengenai 1 Erman Suherman,dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung : JICA-UPI.2001), h. 18 2 Sukardjono, dkk, Hakikat dan Sejarah Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), h. 1.3 9 10 bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri”. 3 Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa dalam pembelajaran matematika antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lain saling berkaitan. Matematika merupakan suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama, karena itu, matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapai perkembangan IPTEK sehingga matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik sejak SD, bahkan sejak TK. “Matematika yang diberikan di sekolah baik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) maupun pada jenjang pendidikan menengah (SMU dan SMK), disebut dengan matematika sekolah”. 4 Menurut Ismail ”matematika sekolah berfungsi sebagai tempat untuk meningkatkan ketajaman penalaran siswa yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupann sehari-hari, serta untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol”. 5 Sehingga dapat dikatakan bahwa matematika sekolah berfungsi untuk meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan komunikasi terhadap bilangan atau simbol yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dari berbagai pengertian yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan suatu ilmu mengenai bilangan-bilangan yang diperoleh dengan bernalar, terorganisasikan dengan baik, yang dapat diterapkan di sekolah untuk mengembangkan cara berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama baik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) maupun pada jenjang pendidikan menengah (SMU dan SMK) dan dapat digunakan sebagai pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 3 Erman Suherman,dkk, Loc.Cit Erman Suherman,dkk, Op.Cit., h. 55 5 Ismail.,dkk, Kapita Selekta Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2002), h.1.15 4 11 b. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika ”Belajar adalah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.” 6 Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya, sehingga ia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Beberapa pendapat yang mengemukakan tentang pengertian belajar. Ada yang berpendapat bahwa “Belajar adalah penambahan pengetahuan.” 7 “Belajar adalah usaha aktif seseorang artinya tanpa adanya usaha aktif tidak akan terjadi proses belajar pada diri seseorang”. 8 James O. Whittaker berpendapat bahwa “Belajar adalah proses di mana tingkah laku ditimbulkan.” 9 Sedangkan menurut pandangan konstruktivisme “Belajar merupakan hasil konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang. Pandangan ini memberi penekanan bahwa pengetahuan kita adalah bentukan kita sendiri”. 10 Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Gagne’, seperti yang dikutip oleh Meriana (1999: 25) menyatakan untuk terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru dan ditempatkannya bersama-sama. Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Sebagai hasil belajar (learning outcomes), Gagne’, seperti yang dikutip oleh Mariana 6 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 59 Udin S. Wiranataputra, dkk, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 1.2 8 Soedijanto Padmowihardjo, Psikologi belajar Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), h. 1.18 9 Wasty soemarto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 104 10 Triyanto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Prestasi pustaka, 2007), h. 28 7 12 (1999: 25) menyatakan dalam lima kelompok, yaitu intelektual skill, cognitive strategy, verbal information, motor skill, dan attitude. 11 Berdasarkan perbedaan-perbedaan pendapat mengenai belajar, penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Segala aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar hanya berbeda cara dan usaha pencapaiannya. Proses yang terjadi yang membuat seseorang melakukan proses belajar disebut pembelajaran. Undang-undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. 12 Istilah pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukkan kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya kita menggunakan istilah “proses belajar-mengajar” dan “pengajaran”. Menurut Gagne, Bringgs, dan Wager (1992), pembelajaran adalah “serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa”. 13 Pembelajaran lebih mengacu pada segala kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap proses belajar siswa. Kalau kita menggunakan kata “pengajaran”, kita membatasi diri hanya pada konteks tatap muka guru dan siswa di dalam kelas. Sedangkan dalam istilah pembelajaran, interaksi siswa tidak dibatasi oleh kehadiran guru secara fisik. Siswa dapat belajar melalui bahan ajar cetak, program radio, program televisi, atau media lainnya. Guru tetap memainkan peranan penting dalam merancang setiap kegiatan pembelajara. Dengan demikian pengajaran merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran. 11 Triyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 12 12 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, 2003 ), hal. 74 13 Udin S. Wiranataputra, dkk, Op.Cit., h. 1.6 13 Pembelajaran adalah adanya interaksi. Interaksi tersebut antara siswa yang belajar dengan lingkungan belajarnya, baik dengan guru, siswa lainnya, tutor, media, atau sumber lainnya. Ciri lain dari pembelajaran adalah “adanya komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lain dan komponenkomponen tersebut adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran”. 14 Prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme diantaranya bahwa “observasi, aktivitas, dan diskusi matematika siswa merupakan acuan dan petunjuk di dalam mengajar (Steffe dan Kieren dalam Suherman dan dikutip oleh Ismail,dkk: 2007)”. 15 Dalam konstruktivisme aktivitas matematika diwujudkan melalui pengajuan suatu masalah yang menantang, kerja dalam kelompok kecil, dan diskusi kelas. Jadi, proses pembelajaran menurut konstruktivis menggunakan pendekatan yang berpusat pada masalah. Pembelajaran matematika harus memberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika. Dari pengertian tersebut pembelajaran matematika meliputi guru, siswa, proses pembelajaran, dan materi matematika sekolah. Dan dapat dikatakan pembelajaran matematika sekolah merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Pada pembelajaran matematika prinsip belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. 16 Berbuat salah satunya menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang diperlukannya. Penemuan kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian secara informal dalam pembelajaran matematika di kelas. Walaupun penemuan tersebut sederhana dan bukan hal baru bagi orang yang telah mengetahui sebelumnya. Oleh karena itu, materi yang diberikan kepada siswa bukan dalam bentuk akhir dan tidak diberitahukan cara penyelesaiannya. Dalam pembelajaran ini, guru lebih banyak berperan sebagai pembimbing dibandingkan sebagai pemberi tahu. 14 Ibid Ismail, dkk, Pembaharuan dalam Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 7.13 16 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,2008), h. 95 15 14 Dalam pembelajaran matematika harus terdapat keterkaitan antara pengalaman siswa sebelumnya dengan konsep yang akan diajarkan. Pengaitan antara pelajaran yang sebelumnya dan yang akan dipelajari anak. Dalam matematika setiap konsep berkaitan dengan konsep yang lain. Oleh karena itu, siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melakukan keterkaitan tersebut. Penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang atau pelajar melaksanakan kegiatan belajar, dan proses tersebut dipandu oleh guru. Pembelajaran matematika harus memberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman dalam belajar matematika. Setelah membahas tentang belajar dan pembelajaran, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa proses belajar bersifat internal dalam diri siswa, maksudnya proses belajar merupakan peningkatan memori siswa itu sendiri sebagai hasil belajar terdahulu. Sedangkan, pembelajaran bersifat eksternal yaitu aspek atau benda yang sengaja direncanakan dan dirancang oleh guru dalam suatu pembelajaran. 2. Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan konsep baru dalam pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran juga dapat membantu memecahkan kebutuhan yang sering dihadapi dalam penggunaan model pembelajaran yang sudah usang. ”Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu: menyimpulkan bahan ajar, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan apa selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa”. 17 17 http://pendidikanmatematika.files.wordpress.com/2009/03/proposal_reciprocal_teachin g_.doc. Loc.Cit 15 a. Pengertian Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dikembangkan oleh Anne Marie Palinscar dari Universitas Michigan dan Ane Crown dari Universitas Illinois USA. Karekteristik dari pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah: A dialoge student and teacher, each taking a term in the role of dialogue leader :”reciprocal” interactions where me person acts in response to the other structured dialogue using four strategis: questioning, summarizing ,clarifying, predicting. Palinscar dan Brown. 18 Bila diterjemahkan berarti bahwa karakteristik dari pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah: 1 Dialog antara siswa dan guru, dimana masing-masing mendapat kesempatan dalam memimpin diskusi. 2 “Reciprocal” artinya suatu interaksi dimana seseorang bertindak untuk merespon dalam memimpin diskusi. 3 Dialog yang terstruktur dengan menggunakan empat strategi yaitu merangkum, membuat pertanyaan, mengklarifikasi (menjelaskan) dan memprediksi. Masing-masing strategi tersebut dapat membantu siswa membangun aktivitas dan pemikiran kreatif terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Menurut Resnick (dalam Hendriana,2002:25) “Pembelajaran terbalik adalah suatu kegiatan belajar yang telah dilakukan oleh siswa meliputi membaca bahan ajar yang disediakan, menyimpulkan, membuat pertanyaan, menjelaskan kembali dan menyusun prediksi”. 19 Khadijah (dalam Hendriana,2002:4) berpendapat bahwa salah satu alternatif yang biasa digunakan “strategi yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan analisis terhadap konsep yang dibacanya melakukan langkah-langkah berupa pemecahan masalah, menyusun pertanyaan 18 http://agungprudent.wordpress.com/2009/06/05/model-pembelajaran-reciprocalteaching/ Diterbitkan di: www.Pendidikanmatematika.com on Juni 5, 2009 at 8:08 h.1 19 Ibid 16 atau menjelaskan konsep pembelajaran terbalik”. yang dipelajarinya dan memprediksi adalah 20 Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) lebih menghendaki guru menjadi model dan pembantu daripada penyaji proses pembelajaran. Maksudnya adalah guru hanya sebagai fasilitator dan siswa yang lebih aktif dalam proses pembelajaran di kelas. Menurut Ann Brown (1982) dan Annemarie palincsar (1984) “guru mengajarkan siswa keterampilan-keterampilan kognitif penting dengan menciptakan pengalaman-pengalaman belajar, pada kesempatan itu mereka memodelkan perilaku tertentu dan kemudian membantu siswa mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut berkat upaya mereka sendiri dengan pemberian semangat, dukungan, dan suatu sistem scaffolding”. 21 Scaffolding adalah pemberian sejumlah besar bantuan seorang anak selama tahaptahap awal pembelajaran dan kemudian peserta didik tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Pembelajaran terbalik adalah pendekatan konstrukivis yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan. 22 Dengan Pembelajaran terbalik guru mengajarkan siswa keterampilan-keterampilan kognitif penting dalam menciptakan pengalaman belajar, melalui pemodelan prilaku tertentu dan kemudian membantu siswa mengembangkan keterampilan tersebut atas usaha mereka sendiri dengan pemberian semangat, dukungan dan suatu sistem scaffolding. Menurut Palinscar (Daniels, 1995:75) pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah suatu model pembelajaran yang dirancang untuk menjadi peserta didik dengan empat strategi kognitif yaitu: a. Merangkum artinya mengidentifikasi dan memparafrasekan topik utama dari suatu wacana. Bertujuan untuk menentukan intisari dari teks bacaan, memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengintegrasikan informasi yang paling penting dalam teks. 20 Ibid Mohammad Nur, Strategi-Strategi Belajar, (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2000), h. 48 22 Triyanto, Op.Cit., h. 96 21 17 b. Membuat pertanyaan mengenai informasi yang belum jelas yang terdapat dalam wacana. Strategi bertanya digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi sejauhmana pemahaman pembaca terhadap bahan bacaan, pembaca dalam hal ini siswa mengajukan pertanyaanpertanyaan pada dirinya sendiri. c. Menjelaskan artinya mengklarifikasi kata-kata kunci yang terdapat dalam wacana. Pada tahap menjelaskan siswa dapat menjelaskan hasil dari bacaan dan dapat menjadi guru dihadapan teman-temannya (guru siswa). d. Memprediksi artinya menyimpulkan apakah struktur dan inti dari wacana yang tersedia dapat diperluas atau dipersempit. Pada tahap ini pembaca diajak untuk melibatkan pengetahuan yang sudah diperolehnya dahulu untuk digabungkan dengan informasi yang diperoleh dari teks yang dibaca untuk kemudian digunakan dalam mengimajinasikan kemungkinan yang akan diungkapkan dan diduga berdasarkan atas informasi yang sudah dimilikinya. 23 Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) menuntut guru menjadi model dan pembantu siswa. Guru mengajarkan keterampilan-keterampilan kognitif yang penting pada peserta didik dengan cara menciptakan pengalaman-pengalaman belajar. Guru menciptakan tingah laku tertentu kemudian membantu siswa untuk membangun keterampilan-keterampilan itu sendiri dengan memberikan rangsangan, dukungan dan system system yang mendukung. Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah teknik membaca yang dikembangkan oleh Palincsar dan Brown (1984,1986). Adapun teknik tersebut adalah: Teknik ini meminta para siswa bekerja dalam kelompok untuk menggunakan beberapa strategi pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman bacaan. Siswa dibagi ke dalam empat kelompok. Seorang siswa kemudian bertindak sebagai pemimpin diskusi 23 Eti Sulandari, Sri Riyanti. Pengembangan Model Pembelajaran terbalik (Reciprocal Teaching) pada Mata Kuliah Perancangan Bahan dan Tebal Perkerasan dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Belajar Mahasiswa Teknik Sipil di Fakultas Teknik, Universitas Tanjung Pura, h. 6 18 dan, setelah merangkum pokok-pokok dari teks, siswa membuat pertanyaan yang lain tentang teks yang diajarkan, dapat menjelaskan setiap kesulitan, dan membuat prediksi tentang apa yang mungkin terjadi di bagian berikutnya dari teks . Kemudian di lanjutkan membaca anggota kelompok siswa yang kedua bertindak sebagai pemimpin diskusi. Siswa melanjutkan dengan cara ini sampai mereka telah membaca keseluruhan teks. Maksudnya adalah bahwa melalui praktik terang-terangan dan membimbing strategi membaca ini, siswa akan menginternalisasi mereka dan mulai menggunakan secara independen untuk tugas membaca lain. 24 Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah strategi belajar melalui kegiatan mengajarkan teman. Pada strategi ini siswa berperan sebagai “guru” menggantikan peran guru untuk mengajarkan teman-temannya. Pembelajaran terbalik terutama dikembangkan untuk membantu guru menggunakan dialogdialog belajar yang bersifat kerja sama untuk mengajarkan pemahamanpemahaman bacaan secara mandiri di kelas. Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yaitu pembelajaran yang mulamula guru memberi model-model pertanyaan, sedangkan siswa diminta oleh guru untuk membaca teks bacaan materi, kemudian siswa segera ditetapkan seolah-olah menjadi guru untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa yang lain. Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan model pembelajaran yang menekankan pada pemahaman mandiri siswa, sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep matematika. b. Langkah-Langkah Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Prosedur pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dilakukan dengan “guru menugaskan siswa membaca bacaan dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian guru memodelkan empat keterampilan kognitif, merangkum, mengajukan pertanyaan, menjelaskan, dan memprediksi.” 25 Selanjutnya guru menunjuk seorang siswa untuk menggantikan peranannya sebagai pemimpin 24 Anna Uhl Chamot, et.al, The Learning Strategies Handbook, (Newyork: Addison Wesley Longman, Inc, 1996), h. 106 25 Triyanto, Op.Cit., h.97 19 diskusi dalam kelompok tersebut, dan guru bertindak sebagai fasilitator, motivator, mediator, serta semangat bagi siswa. Langkah-langkah pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) menurut Palinscar dan Brown (1984) adalah sebagai berikut: 26 1 Pada tahap awal pembelajaran, guru bertanggung jawab memimpin tanya jawab dan melaksanakan keempat strategi pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yaitu merangkum, menyusun pertanyaan, menjelaskan kembali dan memprediksi. 2 Guru menerangkan bagaimana cara merangkum, menyusun pertanyaan, menjelaskan kembali dan memprediksi setelah membaca 3 Selama membimbing siswa melakukan latihan mengunakan empat strategi pembelajaran terbalik (reciprocal teaching), guru meminta siswa dalam menyelesaikan apa yang diminta dari tugas yang diberikan berdasarkan tugas kepada siswa. 4 Selanjutnya siswa belajar untuk memimpin tanya jawab dengan atau tanpa adanya guru. 5 Guru bertindak sebagai fasilitator dengan memberikan penilaian berkenaan dengan penampilan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam tanya jawab ke tingkat yang lebih tinggi. Proses pembelajaran merupakan suatu proses aktif siswa yang sedang belajar untuk membangun pengetahuannya sendiri dan guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk menyediakan suasana belajar yang mendukung proses konstruksi pengetahuan siswa. Berdasarkan pandangan konstruktivisme untuk lebih mengoptimalkan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. “Menurut Michael (Rahma, 2004:26) kelompok belajar adalah merupakan cara yang memadai, mendukung konstruksi pengetahuan individu dengan berbagai cara dari setiap anggota kelompok tersebut”. 27 Untuk mengelompokkan siswa kedalam beberapa kelompok dengan 26 http://agungprudent.wordpress.com/2009/06/05/model-pembelajaran-reciprocalteaching/, Loc.Cit 27 Ibid.,h. 3 20 berbagai pertimbangan individual sehingga terciptanya kelas yang bergairah dalam belajar. Berdasarkan uraian tersebut maka pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yang dimaksud penulis dalam penelitian ini adalah: a. Tahap pertama Guru mempersiapkan bahan diskusi (lampiran 3) yang akan digunakan pada setiap pertemuan. Bahan diskusi tersebut memuat tugas–tugas menyimpulkan (merangkum), menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya dan memprediksi suatu permasalahan. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil sekitar 4-5 orang. b. Tahap Kedua 1) Guru membagikan bahan diskusi yang akan dipergunakan pada pertemuan tersebut, kemudian siswa membaca bahan ajar lain (buku paket) yang mereka miliki sebagai penunjang untuk mengerjakan bahan diskusi. Bahan diskusi tersebut tersebut memuat langkah-langkah yang terdapat pada pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). 2) Selesai membaca siswa ditugaskan mengerjakan bahan diskusi dengan cara berdiskusi dengan teman sekelompoknya. 3) Guru memperagakan peran sebagai guru siswa dengan menjelaskan hasil rangkuman, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan hasil prediksi dari pertanyaan yang diajukan dari soal prediksi yang dibuat dalam bahan diskusi. 4) Pada pertemuan selanjutnya yang menjadi guru siswa adalah salah satu kelompok dalam kelas yang dipilih secara acak, sehingga seluruh kelompok siswa dalam kelas harus siap. c. Tahap Ketiga Sebagaimana pertemuan sebelumnya, guru membagikan bahan diskusi dan siswa mengerjakan secara diskusi kelompok. Dipilih salah satu 21 kelompok untuk menjadi guru siswa yang berperan aktif bersama teman-temannya membahas bahan diskusi. c. Teori Belajar yang Mendukung Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini didukung oleh beberapa teori, karena teori ini membantu pengajar dalam menjelaskan strategi pembelajaran yang akan digunakan. Adapun teori-teori yang mendukung pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah: 28 1. Teori Piaget Penerapan teori Piaget dalam pengajaran yaitu menggunakan demonstasi dan mempresentasikan ide-ide secara fisik. Teori Piaget dalam pembelajaran diterapkan dalam program yang menekankan: a) Pembelajaran melalui penemuan dan pengalaman-pengalaman nyata dan memanipulasi langsung alat bahan atau media belajar. b) Peranan pengajar sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh berbagai pengalaman belajar yang luas. Berdasarkan Teori Piaget pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini sangat cocok sekali dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) memusatkan kepada berpikir atau proses mental peserta didik, tidak hanya hasil yang diperoleh. Selain itu pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penerapan teori Piaget dalam pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah “tutor teman sebaya” dimana peserta didik dapat mempresentasikan ide-ide secara lebih jelas. 28 Eti Sulandari, Sri Riyanti, Op.Cit., h. 8-10 22 2. Teori Vygotsky Teori Vygotsky adalah menekankan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran, yang berlangsung ketika siswa bekerja dalam Zone of proximal depelopment adalah tingkat perkembangan sedikit diatas tingkat perkembangan seorang anak saat ini. Ide penting lain dari Teori Vygotsky adalah Scaffolding. Scaffolding berarti pemberian sejumlah besar bantuan seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian peserta didik tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk peningkatan, dorongan, menguraikan masalah kedalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, ataupun yang lainnya yang memungkinkan peserta didik untuk tumbuh mandiri. Dalam pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) peran pengajar adalah membantu “tutor teman sebaya” jika mengalami kesulitan dengan memberikan Scaffolding atau memberikan bantuan kepada peserta didik berupa petunjuk, peringatan dan dorongan untuk meyakinkan peserta didik tumbuh mandiri. 3. Teori Kekuatan Mental Teori kekuatan mental berasal dari Jean. J. resseau yang mengungkapkan bahwa anak memiliki potensi atau kekuatan yang masih terpendam, yaitu potensi berpikir, berperasaan, berkemauan, keterampilan berkembang, mencari dan menemukan sendiri apa yang diperlukannya. Anda tidak usah terlalu banyak mengatur dan memberi. Biarkan mereka mencari dan menemukan dirinya sendiri agar anak dapat berkembang sendiri. Tugas guru adalah menyediakan bahan pelajaran yang menarik perhatian dan minat anak, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangannya. Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memberikan motivasi dan bimbingan sesuai dengan sifat dan kebutuhan anak. Apabila dihubungkan dengan pembelajaran terbalik (reciprocal 23 teaching), teori ini sangan mendukung, dimana pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini memberikan keempat keterampilan kognitif. Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) mengutamakan peran aktif siswa dalam pembelajaran untuk membangun proses berfikir siswa sehingga siswa dapat lebih berfikir kreatif. Hal itu sejalan dengan prinsip dasar konstruktivisme. Menurut Supomo (dalam Nuryani, 2003:22) prinsip konstruktivisme adalah sebagai berikut: a) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses berpikir untuk pembentukan pengetahuan. b) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. c) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya inetraksi dan kerjasama antara siswa, guru dan siswa. d) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. e) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa rajin belajar. 29 Menurut Claire Weinstein (Hamzah, 2006) “pengajaran yang baik adalah pengajaran yang meliputi mengajar siswa tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, bagaimana memotivasi diri sendiri”. 30 Ini berarti yang menjadi pusat perhatian adalah siswa, siswa termotivasi untuk aktif dan belajar mandiri dalam memahami suatu konsep. Dalam hal ini peranan guru adalah sebagai fasilitator dan motivator yang mengarahkan siswa untuk membangun pengetahuan matematika secara mandiri. Siswa akan terbiasa untuk 29 Nuryani, Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMP Melalui Model Pembelajaran terbalik (Pembelajaran terbalik (Reciprocal Teaching)). Bandung: SKRIPSI UPI (tidak diterbitkan), 2003. dalam http://agungprudent.wordpress.com/2009/06/05/model-pembelajaran-reciprocal-teaching/, 30 Mohammad Nur, Op.Cit.,h.49 24 memahami dan mengerti apa yang dibahas pada materi yang sedang dipelajari tanpa dibahas terlebih dahulu oleh guru. Siswa dapat memahaminya dengan cara mereka bekerja secara kelompok dengan terjadinya interaksi antara siswa yang lebih pandai dengan siswa yang kurang pandai sehingga dapat saling membantu satu dengan yang lainnya. d. Keunggulan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) selain dapat menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata yang mendorong siswa untuk berpikir dan berpikir ulang lalu mendemonstrasikan. Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) juga dapat mengaktifkan siswa, dan memiliki beberapa kelebihan yang yang dapat dijadikan suatu motivasi agar anak mau belajar. Adapun keunggulan-keunggulannya adalah: 1. Dapat memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri 2. Peserta didik belajar dengan pemahaman sehingga tidak mudah lupa dan lebih bermakna. 3. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri. 4 Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap. 5. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. e. Prinsip Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Pembelajaran terbalik adalah suatu pendekatan konstruktivistik yang berdasarkan pada prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan. Dengan pembelajaran terbalik dapat menciptakan pengalaman belajar yang membantu siswa mengembangkan keterampilan kognitif. 25 Adapun prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dalam pendekatan konstuktivistik adalah sebagai berikut: 31 Pertama : Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa. Artinya, dengan bantuan prinsip-prinsip pedagogi yang konstruktivis yaitu relevasinya tidak harus berkitan dengan kehidupan atau keberadaan siswa terdahulu tetapi siswa harus memiliki minat terhadap subjek tertentu sehingga memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tertentu. Modal yang besar terhadap sesuatu merupakan suatu modal besar artinya untuk mencapai/memperoleh benda atau tujuan yang diminati Kedua : Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan. Artinya, guru konstruktivistik mengorganisasi informasi sekitar problematika konsep, pertanyaan dan situasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Karena siswa merasa disibukan dengan ide-ide atau problem yang dipresentasikan secara sulit/tidak dimengerti. Ketiga : Mencari dan menilai pendapat siswa. Artinya, dalam proses belajar mengajar karakteristik para siswa sangat diperhitungkan karena mempengaruhi jalannya proses dan hasil pembelaan siswa yang bersangkutan. Maksudnya yaitu siswa akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam menggiatkan prestasinya. Pemahaman dan karakteristik siswa ini sangat membantu dalam mencari dan menilai pendapat siswa. Keempat : Menyesuaikan kurkulum untuk menanggapi anggapan siswa. Artinya belajar menjadi lebih baik jika tuntutan kognitif, sosial dan emosional dari kurikulum dapat dicapai oleh para siswa. Kelima : Guru harus mampu memberikan pertanyaan yang luas agar siswa dapat mengugkapan ide-ide yang mereka miliki tanpa harus terfokus 31 Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 147-154 26 terhadap satu jawaban saja. Guru harus mempunyai kemamuan kepribadian dan keterampilan kemasyarakatan dalam proses pembelajaran (profesional). Guru perlu berupaya untuk menigkatkan kemampuan-kemampuan pembelajaran siswa. 3. Aktivitas Belajar Di dalam menerapkan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching), aktivitas menjadi tujuan utama dalam penilaian peneliti. Dengan diterapkannya pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) siswa harus mampu menemukan ideidenya sendiri dengan cara berdiskusi di dalam kelompok-kelompok kecil. Peneliti dapat menilai bagaimana siswa berinteraksi dengan siswa lainnya, untuk itu diperlukan kajian teori tentang aktivitas agar dapat mendukung proses pembelajaran di kelas. a. Pengertian Aktivitas Belajar ”Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas.” 32 Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar-mengajar. Dengan adanya aktivitas dapat mewujudkan siswa yang aktif dan bukan siswa yang pasif. Belajar pada hakekatnya dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Baik itu dilakukan di sekolah secara formal maupun dilakukan di alam sekitar. Lain halnya dengan Sardiman AM, yang mengganggap bahwa ”sekolah adalah salah satunya pusat kegiatan belajar karena mengembangkan aktivitas.” sekolah merupakan arena untuk 33 Menurut Mulyono Aktivitas artinya “kegiatan/keaktifan”. Segala kegiatankegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. 34 Aktivitas dalam belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sehari-hari di 32 Sardiman, Loc.Cit Sardiman, Op.Cit., h. 100 34 Anton M. Mulyono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2000), 33 h.. 26 27 dalam kelas atau dalam istilah kata proses belajar mengajar. Aktivitas dalam belajar dilakukan bila keduanya hadir, adanya guru dan siswa. Aktivitas itu sendiri berupa: kehadiran, pembahasan materi pelajaran, adanya diskusi antara guru dan siswa, dan lain sebagainya. Dalam proses pembelajaran terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik. Interaksi tersebut menimbulkan aktivitas. Beberapa pandangan mengenai konsep aktivitas belajar antara lain: 35 1. Siswa adalah suatu organisme yang hidup, di dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan dan potensi yang hidup yang sedang berkembang. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif inilah yang mengendalikan tingkah laku siswa. 2. Setiap siswa memiliki berbagai kebutuhan, meliputi kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial. Kebutuhan menimbulkan dorongan untuk berbuat. Setiap saat kebutuhan dapat berubah dan bertambah, sehingga variasinya semakin banyak dan beraneka ragam pula. Dari pengertian aktivitas di atas, penulis menyimpulkan bahwa aktivitas merupakan inti dari suatu proses belajar, karena belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang. Dapat dikatakan bahwa aktivitas merupakan asas yang terpenting karena belajar merupakan suatu kegiatan. Tanpa kegiatan atau bergerak tak mungkin seorang dikatakan belajar. Aktivitas belajar itu adalah aktivitas yang bersifat fisik/jasmani maupun mental/rohani. Kaitan antara keduanya akan menimbulkan aktivitas belajar yang optimal. b. Jenis-Jenis Aktivitas dalam Belajar Sekolah adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas (Sardiman A.M, 2008:100). Oleh sebab itu, banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional. Paul B. Diedrich membuat 35 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, Cet. Ke-2, 2003), h. 170 28 suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut: 36 1. Visual activities Membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pendapat orang lain. 2. Oral activities Menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi. 3. Listening activities, Mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato. 4. Writing activities, Menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin. 5. Drawing activities, Menggambar, membuat grafik, chart, diagram, dan pola. 6. Motor activities, Melakukan percobaan, melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, berternak. 7. Mental activities, Menanggapi, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan. 8. Emotional activities, Minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup. Jadi dengan klarifikasi aktivitas seperti diuraikan di atas, menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal. Sedangkan secara lebih sederhana, contoh berbagai aktivitas belajar yaitu: 37 36 Sardiman, Op.Cit., h. 101 29 1) Mendengarkan Mendengarkan adalah salah satu aktivitas belajar. Setiap orang yang belajar di sekolah pasti ada aktivitas mendengarkan. 2) Memandang Memandang adalah mengarahkan penglihatan ke suatu objek. Aktivitas memandang berhubungan erat dengan mata. Karena dalam memandang itu matalah yang memegang peranan penting. 3) Meraba, membau, mencicipi/mengecap. Aktivitas meraba, membau, mencicipi adalah indra manusia yang dapat dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar. 4) Menulis atau mencatat Menulis atau mencatat merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. 5) Membaca Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan selama belajar di sekolah. 6). Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi Ikhtisar atau ringkasan memang dapat membantu dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang. 7) Mengamati tabel-tabel, diagaram-diagram dan bagan-bagan Aktivitas mengamati tabel-tabel, diagaram-diagram dan bagan-bagan jangan diabaikan untuk diamati, karena ada hal-hal tertentu yang tidak termasuk dalam penjelasan melalui tulisan. 8) Menyusun paper atau kertas kerja Dalam penyusunan paper tidak bisa sembarangan, tetapi harus metodologis dan sistematis. 37 38-45 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2002), cet 1, h. 30 9) Mengingat Mengingat merupakan gejala psikologis. Perbuatan mengingat dilakukan bila seseorang sedang mengingat-ingat kesan yang telah dipunyai. 10) Berpikir Berpikir termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antara sesuatu. 11) Latihan atau praktek Latihan merupakan cara yang baik untuk memperkuat ingatan. Dengan banyak latihan kesan-kesan yang diterima lebih fungsional. Dengan demikian, aktivitas latihan dapat mendukung belajar yang optimal. Dari contoh-contoh di atas, perlu diperhatikan bahwa peserta didik belajar dengan gaya mereka masing-masing. Sehingga kepekaan dan keahlian guru dalam menentukan strategi pembelajaran sangat penting agar aktivitas belajar siswa dapat optimal. Prinsip aktivitas yang diuraikan di atas didasarkan pada pandangan psikologis bahwa segala pengetahuan harus diperoleh melalui pengamatan (mendengar, melihat, dan sebagainya) sendiri dan pengalaman sendiri. Jenis-jenis aktivitas yang akan diamati peneliti dalam menerapkan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) antara lain: a) Visual activities Memperhatikan. Aktivitas siswa dikelompokkan ke dalam kategori ini, jika siswa di dalam diskusi kelompok turut berpartisipasi baik selama menjadi guru siswa ataupun siswa lainnya, karena di dalam pembelajaran terbalik terdapat tahapan memperhatikan yaitu siswa diharuskan memperhatikan guru siswa pada saat diskusi berlangsung ataupun memperhatikan apa yang sedang didiskusikan teman lainnya. b) Oral activities Memberi penjelasan. Aktivitas siswa dikelompokkan ke dalam kategori ini, jika siswa secara lisan menjawab pertanyaan guru atau pertanyaan siswa lain atau menyarankan suatu penyelesaian masalah karena di dalam proses 31 pembelajaran terbalik pada saat guru siswa mempresentasikan hasil dari bahan diskusinya, kelompok guru siswa diharuskan memberi penjelasan kepada kelompok yang lain. Demikian juga, jika siswa memberi penjelasan lisan maupun tertulis atas contoh pekerjaannya terhadap suatu masalah yang telah mereka selesaikan. Mengajukan pertanyaan. Aktivitas siswa yang dikelompokan ke dalam kelompok ini, jika siswa mengajukan pertanyaan tentang materi ajar atau mencari bantuan untuk memecahkan suatu masalah karena dalam pembelajaran terbalik terdapa tahapan mengajukan pertanyaan. Menanggapi. Aktivitas siswa dikelompokkan ke dalam kategori ini, jka siswa dapat berpartisipasi aktif di dalam diskusi kelompok. Pada pembelajaran terbalik pada saat guru siswa atau teman lain menjelaskan maka siswa lain bisa menanggapi apa yang dijelaskan oleh guru siswa atau siswa lain. c) Writing activities Membuat catatan tertulis (membuat rangkuman). Aktivitas siswa dikelompokkan ke dalam kategori ini, jika siswa mampu membuat rangkuman dari lembar kerja siswa yang diberikan guru tentang materi ajar yang sedang dipelajari dengan mencatat hal-hal yang penting dalam bahan diskusi. Pada pembelajaran terbalik terdapat tahapan merangkum, oleh krena itu peneliti mengamati rangkuman yang dibuat siswa. d) Mental activities. Memecahkan masalah. Aktivitas siswa masuk pada kategori ini, jika mereka secara nyata terlibat dalam menulis penyelesaian suatu masalah yang mereka pecahkan sendiri, itu berarti siswa telah dapat melakukan aktivitas oral yang kemudian secara langsung akan diamati peneliti. Pembelajaran terbalik menuntut siswa dapat memecahkan masalah yang terdapat dalam bahan diskusi atau dari pertanyaan teman yang lain. Memprediksi. Aktivitas siswa dikelompokkan ke dalam kategori ini, jika siswa berusaha mengungkapkan ide atau jawabannya dari soal memprediksi yang telah dibuat dalam bahan diskusi. Pambelajaran terbalik terdapat tahapan 32 dimana siswa harus memprediksi jawaban dari pertanyaan yang telah dibuat peneliti di dalam bahan diskusi. e) Emotional activities. Minat dan Antusias. Jika siswa ada kemauan dalam mengikuti pelajaran matematika dan sangat bersemangat ketika sedang melaksanakan diskusi. Senang. Aktivitas siswa dikelompokkan ke dalam kategori ini, jika siswa dalam mengikuti pelajaran dapat memberikan respon yang baik atau sebaliknya. Dengan adanya pembelajaran terbalik dapat mengetahui antusias siswa dan rasa senang siswa terhadap pembelajaran matematika. c. Nilai Aktivitas dalam Pengajaran Aktivitas belajar siswa merupakan salah satu aspek yang penting diperhatikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada proses pembelajaran. Sehingga, suatu aktivitas memiliki nilai bagi pengajaran dikarenakan: 38 1) Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri. 2) Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral. 3) Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa. 4) Para siswa bekerja menuntut minat dan kemampuan sendiri. 5) Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis. 6) Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antar orang tua dan guru. 7) Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret. 8) Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat. Nilai-nilai aktivitas tersebut di atas menegaskan kembali bahwa pembelajaran tidak berpusat pada guru saja melainkan siswa dituntut aktif dalam proses belajar dengan menggunakan seluruh alat inderanya. Dengan demikian, 38 Prof.Dr.Oemar Hamalik, Op.Cit., h. 175 33 pengajaran yang menjadikan aktivitas sebagai acuannya sapat berdampak positif bagi hasil belajar siswa. B. Hasil-hasil Penelitian yang Relevan 1. Nanang Priyatna, dalam penelitiannya yang berjudul “Pendekatan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada Pembelajaran Matematika SD”, memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SD dan dapat meningkatkan aktivitas siswa dan juga membiasakan siswa untuk selalu berpikir cermat dan kritis. 2. Rani, Dwina, Amalia. “Pengaruh Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Model Reciprocal Teaching Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa Smp (Studi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas Viii Smp Negeri 12 Bandung)”, memberi kesimpulan bahwa model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan berpikir kreatif matematika siswa SMP Negeri 12 Bandung dan dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa dan dapat memberikan respon yang baik terhadap siswa. 4. Ramdani Miftah, dalam penelitiannya yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)”, memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran terbalik dapat meningkatkan komunikasi matematika siswa dan dapat memberikan respon positif bagi siswa. C. Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan Kegagalan/keberhasilan belajar sangat bergantung pada peserta didik misalnya saja, bagaimana kemampuan dan kesiapan peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar matematika, bagaimana sikap, minat dan aktivitas peserta didik terhadap pelajaran matematika. 34 Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) adalah suatu prosedur pengajaran atau pembelajaran yang dirancang untuk mengajar siswa strategistrategi kognitif serta untuk membantu mereka memahami bacaan dengan baik. Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) mengacu kepada sekumpulan kondisi belajar dimana siswa pertama-tama mengalami sekumpulan kegiatan kognitif tertenti dan perlahan-lahan baru melakukan fungsi-fungsi itu sendiri. Pembelajaran ini menuntut guru menjadi model dan pembantu siswa. Guru mengajarkan keterampilan-keterampilan kognitif yang penting pada peserta didik dengan cara menciptakan pengalaman-pengalaman belajar. Guru mencontohkan tingkah laku tertentu kemudian membantu siswa untuk membangun keterampilanketerampilan diri sendiri dengan memberikan rangsangan, dukungan dan sistemsistem yang mendukung. Keterampilan-keterampilan kognitif siswa perlu dilatih dan dikembangkan. Pembelajaran terbalik merupakan salah satu cara yang dapat menjadikan siswa lebih aktif dengan mengukur beberapa indikator-indikator dari aktivitas sehingga dapat diduga dengan menerapkan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) selain dapat meningkatkan hasil belajar juga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. D. Hipotesis Tindakan Berdasarkan teori yang telah diuraikan maka peneliti mengajukan hipotesis tindakan sebagai berikut: Diduga penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada pelajaran matematika dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa. 35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap Tahun Pelajaran 2009/2010, yaitu pada bulan Februari – Mei 2010 di MTs Daarul Hikmah Pamulang yang beralamat di Jl. Surya Kencana pamulang timur , dengan perincian sebagai berikut: Tabel 1 Jadwal Penelitian No Kegiatan 1 Persiapan dan perencanaan 2 Observasi (Studi lapangan) Februari Maret April Mei √ √ √ √ 3 Pelaksanaan Pembelajaran 4 Analisis Data √ 5 Laporan penelitian √ B. Metode Penelitian dan Desain Intervensi Tindakan Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau yang lebih dikenal dengan Classroom Action Research. yaitu suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut dilakukan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. 1 Tujuan utama dari penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan professionalisme pendidik dalam menangani proses pembelajaran. Dengan memahami dan mencoba melaksanakan penelitian tindakan kelas, diharapkan kemampuan pendidik dan proses pembelajaran semakin meningkat kualitasnya dan sekaligus akan meningkatkan kualitas pendidikan. 1 Suharsimi Arikunto, Peneltian Tindakan Kelas, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007) Cet ke-4, h.3 35 36 Penelitian ini diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan (pra penelitian) dan akan dilanjutkan dengan dua siklus. Dalam hal ini, yang dimaksud siklus adalah satu putaran kegiatan beruntun yang kembali ke langkah semula, 2 dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: a. Perencanaan (Planning) Pada tahap perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrument pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tin dakan berlangsung. Dalam tahap ini peneliti menentukan titik fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian bekerja sama dengan kolaborator (guru kelas) membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan disajikan dalam proses pembelajaran di kelas. Pada tahap ini juga peneliti membuat instrumen penelitian yang terdiri dari lembar observasi, jurnal harian, lembar wawancara dan soal tes untuk akhir silkus. b. Pelaksanaan Tindakan (Acting) Pada tahap ini, adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan yang telah dibuat, yaitu melaksanakan tindakan kelas. c. Pengamatan (Observing) Dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan untuk memperoleh data yang akurat untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Observasi dimaksudkan sebagai kegiatan mengamati, menggali, dan mendokumentasikan semua gejala indikator yang terjadi selama proses penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan dengan dibantu oleh guru kelas yang bertugas sebagai observer dan kolaborator. Sebagai observer yaitu mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan memberi penilaian terhadap peneliti dalam menerapkan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). 2 Suharsimi Arikunto, Op.Cit., h. 20 37 d. Refleksi (Reflecting) Tahap ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Hasil yang diperoleh dari pengamatan dikumpulkan dan dianalisis bersama peneliti dan observer, sehingga dapat diketahui apakah kegiatan yang telah dilaksanakan mencapai tujuan yang diharapkan atau masih perlu adanya perbaikan. Tahap ini dilaksanakan dengan maksud untuk memperbaiki kegiatan penelitian sebelumnya, yang akan diterapkan pada penelitian berikutnya. Secara lebih rinci prosedur pelaksanaan PTK itu dapat digambarkan dengan alur sebagai berikut. Bagan 1. Alur Prosedur Pelaksanaan PTK Permasalahan Alternatif pemecahan (Rencana Tindakan) Pelaksanaan Tindakan Selesai ? Siklus I Refleksi Masalah belum selesai AnaslisisPerencanaan Data Alternatif pemecahan Pengamatan dan (Rencana Tindakan) pengumpulan data Observasi Pelaksanaan Tindakan Selesai ? Siklus II Perencanaan II Refleksi Anaslisis Data Masalah belum selesai Observasi Siklus selanjutnya 38 Setelah melakukan analisis dan refleksi pada siklus I, penelitian akan dilanjutkan dengan siklus II. Apabila dengan hasil dari siklus II sudah menunjukkan bahwa indikator keberhasilan telah dicapai, maka penelitian dihentikan. Tetapi apabila indikator keberhasilan belum dicapai, maka penelitian dilanjutkan ke siklus III, dengan hasil refleksi siklus II sebagai acuannya. C. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan Hasil penelitian yang diharapkan adalah dengan indikator keberhasilan sebagai berikut: 1. Hasil pengamatan melalui lembar observasi aktivitas belajar matematika siswa menunjukkan peningkatan aktivitas belajar matematika siswa. Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil persentase seluruh indikator aktivitas mencapai rata-rata 70%. 2. Rata-rata persentase respon positif siswa dapat mencapai minimal 70%. 3. Rata-rata tes hasil belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap akhir siklus harus mencapai lebih dari atau sama dengan 70 dan tidak ada siswa yang mendapat nilai kurang dari 60. D. Subjek / Partisipan yang terlibat dalam Penelitian Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII-D MTs Daarul Hikmah Pamulang yang berjumlah. satu orang observer terlibat dalam penelitian ini yaitu guru matematika kelas VII-D sebagai pengamat jalannya penelitian. Pada saat pelaksanaan tindakan guru matematika kelas membantu peneliti mengamati aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Selain itu guru matematika juga melakukan observasi dan penilaian terhadap peneliti pada saat melakukan tindakan. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kualits pengajaran yang dilakukan oleh peneliti pada saat melakukan tindakan dan untuk mendapatkan informasi dalam rangka perbaikan pada pelaksanaan tindakan berikutnya. 39 E. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pelaku penelitian. Peneliti bekerja sama dengan guru matematika kelas sebagai kolaborator dan observer. Sebagai kolaborator yaitu bekerja dalam hal membuat rancangan pembelajaran, melakukan refleksi dan menentukan tindakan-tindakan pada siklus selanjutnya. Sebagai observer yaitu memberi penilaian terhadap peneliti dalam mengajar dengan menerapkan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan mengamati aktivitas belajar matematika siswa selama proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan tindakan di dalam kelas, maka kerja sama antara guru matematika kelas dan peneliti menjadi hal yang sangat penting dan memiliki kedudukan yang setara, dalam arti masing-masing mempunyai peran dan tanggung jawab yang saling membutuhkan dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan. 3 F. Tahapan Interversi Tindakan Tahap penelitian ini diawali dengan dilakukannya prapenelitian atau penelitian pendahuluan dan akan dilanjutkan dengan tindakan yang berupa siklus, terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta analisis dan refleksi. Setelah melakukan analisis dan refleksi pada tindakan I, penelitian akan dilanjutkan dengan tindakan II, jika data yang diperoleh memerlukan penyempurnaan akan dilanjutkan kembali pada tindakan III, dan seterusnya. Bagan kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut: Kegiatan Pendahuluan 1. Observasi proses pembelajaran di kelas. 2. Observasi tingkat aktivitas belajar siswa. 3. Wawancara dengan guru kelas. 4. Wawancara dengan siswa. 3 Suharsimi Arikunto, dkk, Op.Cit., h. 63 40 SIKLUS I a. b. c. d. e. f. 1. Tahap Perencanaan Membuat RPP dengan mengintegrasikan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) Membuat pedoman observasi Membuat pedoman wawancara Membuat jurnal harian Membuat soal tes Siklus I untuk siswa Mempersiapkan tolak ukur efektivitas Tindakan 2. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar metematika dengan menerapkan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching), kemudian dilanjutkan dengan pemberian tes Siklus 3. Tahap Observasi a. Kolaborator mengobservasi proses pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). b. Kolaborator mengamati aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran. c. Mendokumentasikan kegiatan pembelajaran dan aktivitas siswa. 4. Tahap Refleksi Peneliti bersama kolaborator mengevalusi proses pembelajaran silkus I. Hasil penelitian siklus I dibandingkan dengan indikator keberhasilan. Apabila indikator keberhasilan belum tercapai, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II dengan hasil evaluasi siklus I digunakan sebagai acuannya. Siklus II 41 Siklus II a. b. c. d. e. 1. Tahap Perencanaan Membuat RPP dengan mengintegrasikan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) berdasarkan hasil refleksi siklus 1 Menyiapkan pedoman observasi Menyiapkan pedoman wawancara Menyiapkan lembar jurnal harian siswa Membuat soal tes Siklus II untuk siswa 2. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar matematika dengan menerapkan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching), kemudian dilanjutkan dengan pemberian tes Siklus II. 3. Tahap Observasi a. Kolaborator mengobservasi proses pembelajaran terbalik. b. Kolaborator mengamati aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran. c. Mendokumentasikan kegiatan pembelajaran dan aktivitas siswa. 4. Tahap Refleksi Mengevalusi proses pembelajaran Siklus II. Apabila indikator keberhasilan telah dicapai, maka penelitian dihentikan. Tetapi apabila indikator keberhasilan belum dicapai, maka penelitian dilanjutkan ke siklus III, dengan hasil refleksi siklus II sebagai acuannya. Bagan 2 Desain Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas 42 Adapun uraian rencana kegiatan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Pra penelitian a) Pengamatan keadaan kelas Waktu pelaksanaan : 18, 19, 25 februari 2010 Pada kegiatan ini peneliti mengadakan pengamatan awal terhadap proses pembelajaran di kelas VII-D MTs Daarul Hikmah Pamulang. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran matematika dan aktivitas belajar matematika siswa. b) Wawancara Waktu pelaksanaan : 17 februari 2010 Wawancara dilaksanakan terhadap guru kelas untuk mengetahui minat siswa terhadap pelajaran matematika, aktivitas belajar siswa, dan permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika di kelas tersebut. c) Analisis dan refleksi Waktu pelaksanaan : 30 februari 2010 Analisis dan refleksi dari kegiatan pra penelitian (pendahuluan) ini dilakukan menganalisa data yang diperoleh pada pra penelitian dan kemudian dilakukan refleksi untuk memperoleh cara yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang muncul sehinggga dapat diberikan tindakan yang tepat pada tahap pelaksanaan pembelajaran nanti. 2. Siklus I a) Tahap perencanaan Waktu Pelaksanaan : 11,12,15 februari 2010 Pada tahap ini peneliti mempersiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan membuat instrumen-instrumen penelitian, yaitu lembar observasi aktivitas belajar siswa, lembar jurnal harian siswa, pedoman wawancara 43 untuk guru, serta lembar pertanyaan untuk siswa, dan soal untuk tes pada akhir siklus I ini. b) Tahap pelaksanaan Waktu pelaksanaan : 4,5,11,12,18 dan 19 maret 2010 Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah pelaksanaan skenario dan rencana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yang telah dibuat sebelumnya. Dalam tahap ini, peneliti yang dalam hal ini sebagai pelaksana tindakan menyampaikan materi kemudian memperagakan bagaimana menjadi guru siswa dengan menerapkan 4 keterampilan kognitif, kemudian siswa dibuat menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang. Guru memberikan LKS kepada siswa yang di dalamnya berisi perintah merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi. Setelah selesai di kerjakan salah satu kelompok diminta menjadi guru siswa di depan kelas yang dipilih secara di kocok. c) Tahap observasi Waktu pelaksanaan : 4,5,18 maret 2010 Pada tahap ini guru matematika kelas (observer) melakukan pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. d) Tahap analisis dan refleksi Waktu pelaksanaan : 3 april 2010 Pada tahap ini peneliti dan observer melakukan analisis terhadap hasil pengamatan observer untuk seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran pada Siklus I, kemudian hasil refleksi digunakan untuk perbaikan pada tahap perencanaan Siklus II. 3. Siklus II a. Tahap perencanaan Waktu Pelaksanaan : 5,6,10,11 april 2010 44 Pada tahap ini peneliti membuat skenario dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus II. Pada kegiatan ini peneliti mempersiapkan hal-hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan siklus II sesuai dengan hasil refleksi pada siklus I . b. Tahap pelaksanaan Waktu pelaksanaan : 15,16,22,23,dan 29 april 2010 Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah pelaksanaan skenario dan rencana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yang telah dibuat sebelumnya. Dalam tahap ini, peneliti bermaksud meningktkan aktivitas yang kurang pada siklus 1, kemudian siswa dibuat kembali menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang. Guru memberikan bahan diskusi kepada siswa yang di dalamnya berisi perintah merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi. Hanya saja aktivtas yang lebih ditekankan berbeda sesuai dengan aktivitas yang kurang pada siklus 1. Setelah selesai di kerjakan salah satu kelompok diminta kembali menjadi guru siswa di depan kelas yang dipilih secara di kocok. c. Tahap observasi Waktu pelaksanaan : 15,22,23,29 april 2010 Pada tahap ini guru matematika kelas (observer) melakukan pengamatan tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model reciprocal teaching dan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. d. Tahap analisis dan refleksi Waktu pelaksanaan : 30 april dan 3,4 mei 2010 Pada tahap ini peneliti dan observer melakukan analisis terhadap hasil pengamatan observer untuk seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran pada siklus II. Apabila dengan hasil dari siklus II sudah menunjukkan bahwa indikator keberhasilan tercapai, maka penelitian dihentikan. Tetapi apabila indikator keberhasilan belum tercapai, maka penelitian dilanjutkan ke siklus III, dengan hasil refleksi siklus II sebagai acuannya. 45 G. Data dan Sumber Data Data dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu data kualitataif dan data kuantitatif. 1. Data kualitatif : hasil observasi proses pembelajaran, hasil observasi aktivitas belajar matematika siswa, lembar jurnal harian siswa, hasil wawancara terhadap guru dan siswa, dan hasil dokumentasi (berupa foto dan video kegiatan pembelajaran). 2. Data kuantitatif : nilai hasil tes tiap siklus. Sumber data : sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, guru, dan peneliti. H. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Observasi aktivitas belajar matematika siswa; diperoleh dari lembar observasi aktivitas yang diisi oleh observer pada setiap pertemuan. 2. Jurnal harian siswa; digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran terbalik. 3. Nilai hasil belajar diperoleh dari tes akhir siswa yang dilakukan pada setiap akhir siklus. 4. Wawancara; peneliti melakukan wawancara terhadap guru kelas dan siswa pada tahap pra penelitian dan pada akhir siklus. 5. Dokumentasi; dokumentasi yang dimaksud adalah berupa foto-foto yang diambil pada saat proses pembelajaran yang diperoleh dari setiap siklus. Setelah semua data terkumpul, peneliti bersama guru kolaborator melakukan analisis dan evaluasi data untuk mengambil kesimpulan tentang perkembangan aktivitas belajar matematika siswa, tentang kelebihan dan kekurangan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan. 46 I. Instrumen – instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu: 1. Instrumen Tes Untuk tes digunakan tes formatif yaitu tes yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus, dan tes subsumatif yang diberikan pada akhir pembelajaran, tes ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan hasil belajar matematika siswa dan ketuntasan belajar siswa terhadap seluruh materi yang telah diberikan pada kedua siklus sebagai implikasi dari PTK. 2. Instrumen Non Tes Dalam instrumen non tes ini digunakan instrumen sebagai berikut: a. Lembar observasi aktivitas belajar matematika siswa Lembar observasi aktivitas belajar matematika siswa digunakan untuk mengetahui tingkat aktivitas belajar matematika siswa. Lembar observasi ini juga digunakan untuk menganalisa dan merefleksi setiap siklus untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus berikutnya. b. Lembar observasi kelompok siswa Lembar observasi kelompok siswa digunakan untuk mengetahui bagaimana peningkatan kelompok siswa selama pembelajaran dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). c. Lembar jurnal harian siswa Lembar jurnal harian siswa digunakan untuk mengetahui respon siswa dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik. d. Lembar wawancara Peneliti mewawancarai guru dan siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi siswa serta untuk mengetahui gambaran umum mengenai pelaksanaan pembelajaran dan masalahmasalah yang dihadapi di kelas. 47 J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthiness) study Untuk memperoleh data yang valid digunakan teknik triangulasi yaitu : 1. Menggali data dari sumber yang sama dengan menggunakan cara yang berbeda. Dalam penelitian ini, untuk memperoleh informasi tentang aktivitas siswa dilakukan dengan mengobservasi siswa, wawancara siswa, dan memeriksa hasil kerja siswa dalam mengerjakan soal. 2. Menggali data dari sumber yang berbeda untuk informasi tentang hal yang sama. Untuk memperoleh informasi tentang pemahaman siswa dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan siswa dan mengandakan wawancara dengan guru. 3. Memeriksa kembali data-data yang terkumpul, baik tentang kejanggalankejanggalan, keaslian maupun kelengkapannya. 4. Mengulang pengolahan dan analisis data yang sudah terkumpul. Berdasarkan hasil triangulasi diperoleh kesimpulan bahwa pada saat siswa diwawancara dengan pertanyaan apakah siswa merangkum rata-rata siswa menjawab dapat menjelaskan teman-temannya baik pada saat menjadi guru siswa ataupun pada saat menjelaskan kelompok yang bertanya. Berdasarkan pengamatan observasi selama pembelajaran terbukti bahwa siswa dapat menjelaskan dengan baik selama siswa menjadi guru siswa walaupun masih terlihat malu-malu dan dari data hasil diskusi yang dibagikan rata-rata siswa dapat menjelaskan latihan soal secara tertulis. Kesimpulan diperoleh bahwa teknik triangulasi menunjukkan keseragaman bahwa baik melalui wawancara, melalui observasi dan melalui soal dapat terbukti bahwa rata-rata siswa dapat menjelaskan hasil pekerjaannya. Agar dapat diperoleh data yang valid sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen tes hasil belajar terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas Validitas adalah salah satu ciri yang menandai tes hasil belajar yang baik. Sebuah item tes dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa sebuah item memiliki validitas yang tinggi jika pada skor item mempunyai kesejajaran 48 dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi, sehingga untuk mengetahui validitas item digunkan rumus korelasi. Dalam menghitung validitas instrumen tes hasil belajar peneliti menggunkana rumus korelasi point biserial: 4 γ bis = M p − Mt St p q Keterangan: γ bis = Koefisien korelasi biserial Mp = Rerata skor dari subjek yang menjawab benar bagi item yang dicari validitasnya Mt = Rerata skor total St = Standar deviasi dari skor total P = Proporsi siswa yang menjawab benar q = Proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 – p) Hasil validitas/hasil uji coba menyimpulkan siklus I yang terdiri dari 20 butir soal (lampiran 4) terdapat 15 butir soal yang valid (lampiran 14) dan 5 tidak valid. Butir tidak valid adalah no 4, 7, 9, 13, dan 20. pada siklus II yang terdiri dari 30 butir soal (lampiran 6) terdapat 25 butir soal yang valid (lampiran 18) dan 5 tidak valid. Butir tidak valid adalah no 4, 13, 24, 27, dan 28. Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan hasil tes. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Untuk menghitung besarnya reliabilitas instrumen hasil belajar peneliti menggunakan rumus Kuder Richardson (K-R. 20) sebagai berikut: 5 4 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 5 Suharsimi Arikunto , Op.Cit., h. 100 h. 79 49 2 ⎡ k ⎤ ⎡ S t − ∑ pq ⎤ r11 = ⎢ ⎢ ⎥ 2 St ⎣ k − 1⎥⎦ ⎢⎣ ⎥⎦ Keterangan: r11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan k = Banyaknya item p = Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1 – p) ∑ pq = Jumlah perkalian antara p dan q St 2 = Varians tes Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien reliabilitas siklus I adalah 0,37 (lampiran 13) dan nilai koefisien reliabilitas siklus II adalah 0,84 (lampiran 17). K. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis Sebelum melakukan analisis data, peneliti memeriksa kembali kelengkapan data dari berbagai sumber. Kemudian analisis data dilakukan pada semua data yang sudah terkumpul, yaitu berupa hasil wawancara, hasil observasi, hasil jurnal harian siswaa, hasil tes siswa dan catatan komentar observer pada lembar observasi. Semua data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Menganalisis hasil observasi proses pembelajaran yaitu hasil observasi terhadap tindakan pembelajaran peneliti dan hasil observasi terhadap proses aktivitas belajar siswa. Setiap kategori pengamatan diinterpretasikan dengan sangat baik (5), baik (4), sedang (3), kurang (2), buruk (1). Menganalisis jurnal harian dengan mengelompokkan respon siswa ke dalam kelompok berkomentar positif, negatif, netral dan tidak berkomentar kemudian dihitung persentasenya. Apabila persentase respon positif mencapai minimal 70% maka penelitian dihentikan. Tahap analisis data dimulai dengan menyajikan keseluruhan data yang diperoleh dari berbagai sumber, membaca data, kemudian mengadakan 50 rekapitulasi data dan menyimpulkannya. Data yang diperoleh berupa kalimatkalimat dan skala penilaian aktivitas siswa diubah menjadi kalimat yang bermakna. L. Tindak Lanjut atau Pengembangan Perencanaan Tindakan Setelah tindakan pertama (siklus I) selesai dilakukan dan hasil yang diharapkan belum mencapai kriteria keberhasilan yaitu peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika maka akan ditindak lanjuti untuk melakukan tindakan selanjutnya sebagai rencana perbaikan pembelajaran. Siklus ini terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanakan tindakan, observasi, serta analisis dan refleksi. Setelah melakukan analisis dan refleksi pada siklus I, apabila indikator keberhasilan belum tercapai maka penelitian akan dilanjutkan dengan siklus II. Penelitian ini berakhir, apabila peneliti menyadari bahwa penelitian ini telah berhasil menguji penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dalam meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa. Kegiatan penelitian yang penulis akan lakukan memerlukan perencanaan dan persiapan yang cukup panjang, adapun perencanaan tindakannya adalah peneliti mempersiapkan instrumen penelitian seperti lembar observasi aktivitas kelompok, observasi aktivitas belajar matematika siswa, lembar jurnal harian siswa, soal-soal yang dipergunakan untuk latihan dan soal-soal tes formatif untuk menilai hasil belajar matematika siswa. Peneliti juga dapat menggunakan lembar kerja siswa yang dibuat oleh peneliti sendiri atau yang dianjurkan oleh sekolah. Dalam melakukan penelitian, guru bidang studi dapat berkolaborasi dengan observer yang dalam hal ini adalah teman seprofesi untuk membantu kelancaran penelitian dan dapat juga sebagai kolaborator untuk berdiskusi membicarakan kegiatan pada siklus selanjutnya. 51 BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN A. Deskripsi Data Hasil Pengamatan 1. Penelitian Pendahuluan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dimulai dengan melakukan penelitian pendahuluan yang dilakukan dengan observasi pembelajaran serta wawancara terhadap guru dan siswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15,17,18,19,25 ferbruari dan 2, 3 maret di MTs Daarul Hikmah Pamulang. Pada tanggal 15 februari 2010 peneliti menemui kepala sekolah untuk menjelaskan tujuan kedatangan peneliti ke MTs Daarul Hikmah Pamulang dan untuk menanyakan apakah pada mata pelajaran matematika di MTs Daarul Hikmah sudah atau pernah menerapkan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Sebelumnya kepala sekolah menanyakan apa itu model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan bagaimana cara penerapannya? Kemudian peneliti menjelaskan pengertian dari pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan menjelaskan langkah-langkah pembelajarannya.. Berdasarkan penjelasan dari kepala sekolah, diperoleh informasi bahwa model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) belum pernah diterapkan di MTs Daarul Hikmah karena biasanya guru matematika menerapkan pembelajaran konvensional dan belum pernah menerapkan pembelajaran berkelompok seperti pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Setelah peneliti mendapatkan izin untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut, kepala sekolah menentukan kelas yang dapat dijadikan objek penelitian yaitu kelas VII-D. Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini sangat tepat untuk diterapkan di kelas VII-D karena berdasarkan pengamatan bidang kurikulum kelas ini termasuk kategori kelas yang prestasi belajarnya sedang, bukan yang terbaik ataupun terburuk diantara 7 kelas lainnya. Kepala sekolah meminta peneliti menemui guru bidang studi matematika yang mengajar di kelas VII-D tersebut. 51 52 Pada tanggal 17 februari 2010 peneliti menemui guru bidang studi matematika kelas VII-D untuk melakukan wawancara. Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui tingkat aktivitas belajar matematika siswa, tanggapan guru tentang model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika di kelas tersebut. Berdasarkan wawancara dengan guru diperoleh informasi sebagai berikut: 1. Tingkat kemampuan siswa pada mata pelajaran matematika kelas VII.D rata-rata sama, hal itu disebabkan karena siswa kurang memahami pelajaran matematika. 2. Metode yang sering digunakan guru adalah konvensional, ceramah, tanya jawab, penugasan dan belum pernah menerapkan pembelajaran berkelompok. 3. Umumnya siswa memperhatikan penjelasan guru, tetapi terkadang masih ada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, tergantung kondisi guru tersebut. 4. Siswa tidak berdiskusi dahulu dengan temannya tetapi siswa langsung bertanya kepada guru itupun masih malu-malu. 5. Siswa hanya akan menjawab atau mengajukan pendapatnya tentang materi yang disampaikan guru jika ada pertanyaan dari guru saja. Jika tidak ada pertanyaan, maka tidak ada yang berinisiatif mengajukan pendapatnya. 6. Beberapa siswa masih takut bertanya kepada guru, jika tidak diberi motivasi maka tidak ada siswa yang bertanya kebanyakan dari mereka hanya diam saja. Apabila ada siswa yang bertanya kebanyakan siswa yang lain tidak menanggapi dan tidak mendengarkan 7. Respon siswa dalam proses pembelajaran biasa-biasa saja tidak ada yang aktif mengemukakan pendapat, malah kebanyakan siswa acuh tak acuh terhadap pelajaran matematika. 8. Seluruh siswa mengerjakan setiap tugas yang diberikan guru. Namun ada beberapa siswa yang tidak semangat dalam mengerjakan tugas sehingga lamban. 53 9. Guru selalu memberi catatan tertulis kepada siswa dan jarang menyuruh siswa untuk membuat sendiri catatan dengan bahasa mereka sendiri. 10. Siswa yang terlihat mampu mengingat materi sebelumnya biasanya hanya siswa yang pintar saja. Kalau siswa yang agak kurang kemampuan mengingatnya, jangankan materi pada pertemuan sebelumnya, materi yang baru saja diajarkan pun terkadang sudah tidak ingat. 11. Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika berbeda-beda. Siswa yang pintar dapat menyelesaikan soal dengan baik dan benar, siswa yang sedang terbilang cukup baik karena kurang teliti, sementara siswa yang kurang biasanya mendapat nilai di bawah KKM. 12. Ekspresi siswa berbeda-beda saat belajar matematika, ada yang terlihat kurang bersemangat, ada juga yang terlihat santai 13. Kendala yang dialami guru saat mengajar adalah jika menjelaskan rumus matematika yang sulit bagi siswa, walaupun berkali-kali dijelaskan tetap saja siswa belum mengerti. Kendala lain adalah ketika menghadapi siswa yang sulit diatur dan siswa yang sering tidak masuk sekolah, karena siswa yang sering mengikuti pelajaran matematika saja belum tentu mengerti apalagi siswa yang jarang hadir di kelas. Fasilitas, media pembelajaran yang ada di MTs Daarul Hikmah Pamulang sangat terbatas. Jam belajar matematika masih kurang banyak. Pada tanggal 18, 19, 25 februari 2010 peneliti melakukan observasi pembelajaran matematika di kelas VII-D. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran matematika di kelas tersebut dan aktivitas belajar matematika siswa. Adapun hasil observasi pembelajaran di kelas adalah sebagai berikut: 54 a) Metode yang digunakan guru adalah ekspositori, ceramah, simulasi dan penugasan. Guru menjelaskan materi, memberika sedikit simulasi dan waktu lebih banyak dipergunakan untuk pemberian tugas (soal latihan). b) Selama proses pembelajaran matematika, siswa terlihat kurang mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, kebanyakan siswa malah mengobrol dengan teman sebangku atau teman belakang tempat duduknya. c) Siswa masih merasa takut untuk bertanya dan mengajukan pendapat tentang materi pelajaran yang tidak dipahami atau belum dipahami dan banyak yang hanya diam saja. d) Kemampuan dalam menjawab pertanyaan guru yang berkaitan dengan materi bagi beberapa siswa sudah cukup baik. e) Pada saat guru meminta siswa bertanya siswa malah diam saja dan terlihat menunduk karena takut dan tegang. f) 40% siswa mencatat materi yang disampaikan guru tetapi 60% catatan mereka tida lengkap. g) Kemampuan siswa dalam mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya dianggap kurang, karena tidak merata ke semua siswa. h) Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika masih dibawah rata-rata itu terjadi karena banyak siswa yang tidak mengerti cara mengerjakannya. i) Setiap pertemuan selama pembelajaran berlangsung, beberapa siswa izin untuk keluar kelas secara bergantian. Hal ini dapat berdampak kurang baik bagi siswa tersebut karena tidak mendengarkan penjelasan guru secara keseluruhan. j) Siswa yang duduk di barisan depan terlihat antusias, sementara ekspresi sebagian besar siswa terlihat biasa saja. k) Hasil persentase aktivitas belajar siswa, rata-ratannya hanya mencapai 47,5% (lampiran 24). 55 Dokumentasi aktivitas siswa mengerjakan tugas pada penelitian pendahuluan ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini Gambar 1 Aktivitas Mengerjakan Tugas pada Penelitian Pendahuluan Pada tanggal 02 dan 03 maret 2010 peneliti melakukan wawancara dengan 6 orang siswa kelas VII-D. Keenam siswa ini terdiri dari 2 orang siswa yang aktif, 2 orang siswa yang cukup aktif, dan 2 orang siswa yang pasif. Ketentuan ini berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap aktivitas belajar siswa pada pelajaran matematika sebelumnya. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui respon dan minat siswa terhadap pelajaran matematika serta aktivitas belajar matematika siswa. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi sebagai berikut: 1. Sebagian siswa memperhatikan materi yang guru sampaikan, sementara sebagian lagi tidak memperhatikan jika materi yang guru sampaikan sulit. 2. Guru matematika tidak pernah menerapkan pembelajaran berkelompok yang sering dilakukan menerangkan materi. 3. Sebagian siswa tidak pernah berdiskusi dengan siswa lainnya, ada siswa yang lebih memilih untuk bertanya langsung ke guru daripada bertanya ke temannya. 4. Siswa tidak pernah mengajukan pendapatnya tentang materi yang disampaikan guru. 56 5. Sebagian siswa terkadang bertanya kepada guru jika ada materi yang kurang dimengerti. Ada siswa yang lebih sering bertanya ke temannya daripada ke guru. 6. Jika ada teman yang bertanya siswa menjawab jarang memperhatikan karena bertanyanya di tempat guru jadi tidak kedengaran. 7. Beberapa siswa menjawab tidak pernah menjawab pertanyaan guru karena takut jawaban yang diberikan salah. 8. Sebagian siswa tidak tahu bagaimana cara mereka mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya misalnya dengan mencatat, sebagian lagi mengingatnya dengan belajar di rumah. 9. Hampir semua siswa cukup mampu mengerjakan soal-soal matematika, namun tergantung tipe soalnya. Soal yang sulit biasanya tidak bisa mereka selesaikan. 10. Siswa tidak pernah menentukan atau mendapatkan rumus matematika dengan cara mereka sendiri. 11. Rata-rata siswa senang belajar matematika jika materi yang dipelajari mudah bagi mereka. Hasil observasi pembelajaran matematika di kelas dan wawancara tersebut digunakan sebagai bahan untuk merencanakan tindakan pada siklus I nanti. 2. Tindakan Pembelajaran Siklus I Tindakan pembelajaran siklus I merupakan tindakan awal yang sangat penting, hal ini dikarenakan analisis dari hasil tindakan pembelajaran ini akan dijadikan sebagai refleksi bagi peneliti pada tindakan pembelajaran selanjutnya. Pada pembelajaran siklus I sub pokok bahasan yang disampaikan yaitu mengenai pengertian dan jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga istimewa, jumlah sudut segitiga 1800, hubungan sudut dalam dan sudut luar segitiga, dan menjelaskan hubungan sisi dan sudut pada segitiga. a) Tahap perencanaan Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah peneliti telah mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Peneliti juga 57 membuat instrumen-instrumen penelitian, yaitu lembar observasi aktivitas belajar siswa, lembar observasi kelompok siswa, jurnal harian siswa, alat dokumentasi, pedoman wawancara untuk guru dan siswa, serta membuat bahan diskusi untuk tiap pertemuan dan soal tes untuk akhir siklus I ini. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dibuat dan didiskusikan bersama guru kolaborator agar rencana pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan di MTs Daarul Hikmah Pamulang (terlampir). Bahan diskusi dibuat sendiri oleh peneliti sebagai alat bantu proses pembelajaran yang didalamnya memuat empat strategi dalam pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yaitu kegiatan merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi (terlampir). Lembar soal tes siklus I dibuat untuk mengetahui perkembangan kemampuan mengerjakan soal matematika. Lembar observasi digunakan untuk mencatat aspek-aspek aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung yang menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Jurnal harian siswa digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap proses pembelajaran matematika yang dilakukan pada setiap pertemuan pembelajaran. Pada siklus I ini peneliti ingin mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran terbalil (reciprocal teaching) ini dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa, target yang ingin dicapai pada siklus 1 ini yaitu siswa mengalami peningkatan aktivitas belajar, dan siswa memiliki respon yang positif terhadap proses pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). b) Tahap Pelaksanaan Tindakan pembelajaran siklus I dilaksanakan dalam enam pertemuan dengan alokasi waktu (2x40 menit) tiap pertemuannya. Rencana Pelaksanaan siklus I dapat dilihat pada lampiran 1. 1) Pertemuan pertama (Kamis, 04 Maret 2010) Pertemuan pertama berlangsung selama 2x40 menit (2 jam pelajaran) yang dimulai dari pukul 14.30 sampai dengan 15.50 WIB, pokok bahasan yang dibahas 58 adalah pengertian dan jenis-jenis segitiga. Kegiatan ini diawali dengan membuka kegiatan pembelajaran dan apersepsi. Pada pertemuan pertama ini terdapat 2 orang siswa yang tidak hadir diantaranya 1 orang sakit dan 1 orang tanpa keterangan. Guru mata pelajaran hadir sebagai observer untuk mengamati dan memberikan penilaian ketika proses pembelajaran berlangsung kemudian dicatat pada lembar observasi. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi bagi perbaikan pengajaran pada pertemuan selanjutnya. Kegiatan pembelajaran selanjutnya peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan penjelasan mengenai penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching), dan memperagakan bagaimana cara merangkum, membuat pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi. Dan menjelaskan bahwa setiap pembelajaran menggunakan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dalam kelompok-kelompok belajar yang telah ditentukan sebelumnya. peneliti memberi penjelasan bahwa setiap kelompoknya akan diberikan bahan diskusi yang di dalamnya terdapat perintah pembelajaran terbalik (reciprocal teaching), setelah siswa mengerjakan seluruh perintah dalam bahan diskusi kemudian salah satu kelompok diminta untuk maju ke depan untuk menjadi guru siswa menjelaskan hasil bahan diskusi kelompok tersebut dan kelompok lain ikut menanggapi. Pembagian kelompok sudah dilaksanakan pada pertemuan sebelumnya yaitu pada saat peneliti melakukan pra penelitian, peneliti bersama guru matematika kelas membagi kelompok menjadi 8 kelompok dari 40 siswa yaitu 20 perempuan dan 20 laki-laki, karena jumlah siswa genap maka peneliti bersama guru matematika kelas tidak kesulitan dalam menentukan kelompok. Masingmasing kelompok terdiri dari 5 orang siswa. Pada awalnya peneliti bersama observer ingin menentukan setiap kelompoknya ada laki-laki dan ada perempuan tetapi siswa banyak siswa yang menolak untuk disatukan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, setiap kelompoknya terdiri dari masing-masing perempuan dan masing-masing laki-laki. Sesuai perintah siswa sudah duduk bersama kelompok yang telah ditentukan. Kemudian peneliti di bantu observer membgikan bahan diskusi (1) 59 kepada masing-masing kelompok siswa yang berisi materi pengertian dan jenisjenis segitiga. Peneliti meminta kepada setiap siswa untuk aktif dalam mengerjakan tugas dalam bahan diskusi (1) tanpa harus mengandakan salah satu siswa atau siswa yang pintar saja. selama siswa mengerjakan bahan diskusi (1), peneliti bersama observer berkeliling memantau aktivitas siswa dari satu kelompok ke kelompok lain untuk memberikan pengarahan jika ada kelompok yang kurang mengerti dan pada saat itu pula peneliti bersama observer melakukan observasi pembelajaran terhadap aktivitas belajar matematika siswa dengan lembar yang sudah dipegang. Pada saat mengerjakan sebagian besar siswa terihat kurang memperhatikan apa yang diperintahkan peneliti, dan masih terlihat belum kompak dalam bekerja sama. Suasana kelas menjadi ribut karena ada beberapa siswa yang membuat onar di dalam kelas, tetapi observer berusaha menegur mereka dan menyuruh siswa bekerja kembali. Pada saat diskusi kelompok terlihat siwa yang pintar masih mendominasi kegiatan diskusi, siswa yang diam cenderung diam dan mencoba bertanya kepada siswa yang pintar. Dan banyak sekali siswa yang aktif bertanya kepada guru karena mereka memang belum begitu paham dengan tugas-tugas mereka. setelah siswa menyelesaikan bahan diskusi (1) dalam waktu kurang lebih 40 menit. Kemudian peneliti memberika contoh bagaimana menjadi guru siswa di depan kelas, peneliti mencontohkan menjadi guru siswa dengan menggunakan hasil bahan diskusi (1) dari kelompok 2 karena menurut observer kelompok 2 terdapat 2 orang siswa yang pandai. Berikut ini contoh yang dilakukan peneliti dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan pertama beserta analisis deskripsinya. (1). Merangkum Dari berbagai hasil bahan diskusi siswa yang terdiri dari 38 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, masih banyak sekali siswa yang bingung bagaimana cara merangkum yang benar dari materi pengertian dan jenis-jenis segitiga. Berikut penjelasan hasil dari rangkuman bahan diskusi (1) kelompok 2 : 1. Pengertian segitiga adalah bangun datar yang dibatasi oleh tiga buah sisi dan mempunyai tiga buah titik sudut. 60 Alas segitiga merupakan salah satu sisi dari suatu segitiga, sedangkan tingginya adalah garis yang tegak lurus dengan sisi alas dan melalui titik sudut yang berhadapan dengan sisi alas. 2. Jenis-jenis segitiga Jenis-jenis suatu segitiga dapat ditinjau berdasarkan a) Panjang sisi-sisinya. b) Besar sudut- sudutnya. c) Panjang sisi dan besar sudutnya. Rangkuman tersebut dibacakan oleh peneliti kepada seluruh siswa dan menanyakan kepada seluruh siswa apakah dari rangkuman yang sudah dibacakan peneliti dari hasil bahan diskusi (1) kelompok 2 ada yang belum jelas? Kemudian semua siswa menjawab tidak ada. Selanjutnya peneliti memberikan penjelasan bahwa untuk pertemuan berikutnya rangkuman siswa dibacakan seperti contoh peragaan peneliti dengan maksud siswa dapat mengerti materi yang mereka rangkum dan dapat menjelaskan kepada teman-temannya di depan kelas (2). Menyusun pertanyaan Peneiti memberikan contoh bagaimana cara menjelaskan menyusun pertanyaan dari perintah bahan diskusi (1) tahap 2. Seperti menjadi guru siswa peneliti bertanya kepada kelompok lain apa saja materi yang belum dipahami dari pengertian dan jenis-jenis segitiga tersebut. Ketika peneliti bertanya kelompok siswa merasa ketakutan tetapi, peneliti berusaha membuat kelas menjadi rileks. Karena tidak ada kelompok siswa yang berani mengajukan pertanyaan hasil dari bahan diskusi (1) mereka. Peneliti menunjuk kelompok 3 untuk membacakan pertanyaan yang mereka ingin tanyakan. Adapun pertanyaan yang dibuat salah satu siswa dari kelompok 3 adalah: Apa yang di maksud segitiga sama sisi? Kalau dari kelompok 2 (contoh peneliti) bisa menjawab pertanyaan tersebut maka yang menjawab pertanyaan adalah kelompok 2 (contoh peneliti), tetapi kalau kelompok 2 (contoh peneliti) tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut maka pertanyaan tersebut dapat dilempar dengan kelompok lain. Peneliti meminta 61 kelompok 4 untuk menjawab pertanyaan dari kelompok 3 karena peneliti misalnya tidak bisa menjawab. Dan jawaban dari kelompok 3 adalah: Segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki tiga buah sisi yang sama panjang dan tiga buah sudut yang sama besar 3. Menjelaskan jawaban dari soal yang ada pada bahan diskusi (1) tahap 3 Peneliti memberi contoh bagaimana cara menerangkan jawaban di depan kelas dan siswa memperhatikan. Peneliti menjelaskan hasil jawaban dari kelompok 2 dan jawabannya masih banyak yang salah. Kelompok 2 hanya bisa menjawab 7 pertanyaan dari 12 pertanyaan dalam bahan diskusi (1). Dan untuk pertemuan selanjutnya dilakukan seperti itu. 4. Memprediksi Setelah siswa memahami pengertian dan jenis-jenis segitiga dan dapat memecahkan soal-soal, siswa diminta untuk memprediksikan: Tebaklah aku! Aku mempunyai 3 buah sisi. 2 sisiku sama panjang, salah satu sudutku 900. segitiga apakah aku? Buatlah gambarku! Jawaban kelompok 2: Segitiga siku-siku sama kaki Jawaban dari soal memprediksi bahan diskusi(1) dapat di jawab dengan benar oleh kelompok 2. untuk kelompok yang lain belum tepat menjawabnya. Karena waktu pembelajaran sudah habis maka proses pembelajaran menjadi guru siswa dapat dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya seperti apa yang telah diperagakan dan dicontohkan peneliti. Selama pembelajaran berlangsung, peneliti bersama observer selain mengisi lembar observasi aktivitas siswa juga memberikan lembar jurnal harian siswa sebelum pembelajaran untuk mengetahui respon siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan. 62 2) Pertemuan kedua (Jum’at, 05 Maret 2010) Pertemuan kedua berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran) yan dimulai 16.00 – 17.20. Peneliti mengawali pembelajaran dengan menanyakan kabar siswa dan menanyakan kabar siswa yang tidak masuk hari ini. Tercatat seluruh siswa hadir semua. Pada pertemuan kedua ini sesuai perintah guru para siswalangsung duduk berkumpul dengan kelompok belajarnya sama seperti pertemuan sebelumnya. Sesuai dengan perjanjian pertemuan sebelumnya bahwa pada pertemuan kedua ini peneliti mengocok kelompok mana yang menjadi guru siswa untuk bahan diskusi (1) sebagaimana contoh yang telah diperagakan peneliti pada pertemuan sebelumnya. Terpilih kelompok 1 untuk mempresentasikan serta menjelaskan hasi pengerjaannya pada bahan diskusi (1) di depan kelas. Awalnya kelompok 1 tidak mau karena merasa mau dengan teman-temannya yang lain, tetapi dengan semangat yang di berikan peneliti maka kelompok 1 mau maju ke depan kelas. Pemilihan kelompok secara acak ini dimaksudkan agar siswa terbiasa selalu siap dan bertanggung jawab dengan tugas menjelaskan kembali sehingga mereka di latih keberanian dan keaktifan pada saat menjadi guru siswa di depan kelas. Menurut observer di kelompok 1 terdapat 1 orang siswa yang pandai matematika, siswa yang pandai bertanya : Bu, apakah dalam menjelaskan kita selain membaca dan menjelaskan ke teman-teman juga menuliskan hasil kita di papan tulis? Dan penelitipun menjawab kalau memang ada yang harus ditulis maka ditulis tetapi kalau tidak perlu ditulis maka tidak usah ditulis. Ketika guru siswa mempresentasikan hasil pengerjaannya, peneliti berusaha memotivas siswa agar siswa lain aktif dalam mengikuti diskusi tersebut dengan cara menanggapi, mengajukan pertanyaan, menyanggah dari apa yang dipresentasikan oleh kelompok 1 di depan kelas. Kondisi kelas masih sangat rebut karena tidak biasa beberapa siswa tampil untuk menjadi guru siswa di depan kelas. Karena di dalam kelas berisik maka suara kelompok 1 pun kurang kedengaran dan siswa yang ingin mengerti tentang materi yang dijelaskan merasa kesal dengan siswa yang berisik. Observer duduk diantara siswa-siswa yang membuat keributan di kelas dan akhirnya siswa-siswa tersebut menjadi diam. 63 Dari penjelasan kelompok 1 terdapat 2 kelompok siswa yang bertanya, yaitu dari kelompok 5 dan kelompok 2. untuk pertanyaan kelompok 5 kelompok 1 dapat menjawabnya tetapi untuk pertanyaan dari kelompok 2 kelompok 1 idak dapat menjawabnya. Lalu peneliti melempar pertanyaan darikelompok 1 kepada kelompok 6 tetapi kelompok 6 tidak bisa menjawab. Peneliti meminta kelompok siapa saja yang bisa menjawab tetapi tidak ada kelompok yang mau menjawabnya, mereka terlihat masih kaku dan masih kelihatan malu karena takut jawaban dari mereka salah. Akirnya, karena tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan dari kelompok 2 tersebut, peneliti membantu dengan menjawabnya, dan siswa mulai paham. Kelompok 1 pun selesai menjadi guru siswa, kemudian peneliti membagikan bahan diskusi (2) kepada masing-masing kelompok untuk dikerjakan kembali seperti pertemuan sebelumnya. Selama kelompok siswa sibuk membagibagikan tuga kepada teman-temannya sambil mengerjakan tugas-tugas yang ada pada bahan diskusi (2) peneliti bersama observer melakukan observasi bagaimana aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran terbalik. Peneliti melihat masih banyak siswa yang mengalami kesulitan pada saat mengerjakan tugas, karena belum terbiasa dengan tugas-tugas yang ada dalam pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Peneliti sambil keliling memberikan arahan kepada kelompok-kelompok yang masih kesulitan. Karena waktu pembelajaran sudah habis maka tidak ada siswa yang menjadi guru siswa, peneliti meminta bahan diskusi (2) di kumpulkan untuk diberikan penilaian. Peneliti menyimpulkan apa yang telah dilaksanakan siswa dan memberi saran agar pertemuan selanjutnya siswa lebih baik lagi dan lebih cepat lagi pembelajaran dalam mengerjakan terbalik (reciprocal bahan diskusi teaching). dengan Sebagai langkah-langkah penutup peneliti memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi tentang cara menghitung besar salah satu sudut apabila sudut lainnya diketahui. Karena untuk pertemuan selanjutnya bahan diskusi (3) akan membahas tentang materi tersebut. 64 3) Pertemuan ketiga (Kamis, 11 Maret 2010) Pada pertemuan ketiga sama halnya dengan pertemuan sebelumnya berlangung selama 2x40 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka kegiatan pembelajaran dengan cara mengulang sedikit materi sebelumnya, pada pertemuan ketiga ini terapat 5 orang diantaranya tidak hadir 3 orang sakit dan 2 tanpa keterangan dan observer sudah hadir untuk memberikan penilaian aktivitas siswa di dalam diskusi. Siswa sudah mulai mengerti bahwa pada setiap pembelajaran harus sudah duduk dengan kelompoknya masing-masing. Seperti biasa guru memberikan bahan diskusi (3) kepada masing-masing kelompok yang berisi materi “jumlah sudut-sudut segitiga adalah 1800” serta menghitung besar salah satu sudut segitiga apabila sudut lainnya diketahui. Siswa terlihat sibuk membagi tugas kepada teman-teman dalam kelompoknya dan pada saat mengerjakan siswa menggunakan bantuan buku paket dari sekolah dan bahan diskusi dari sekolah. Selama mengerjakan bahan diskusi (3), peneliti bersama observer berkeliling seperti sebelumnya untuk memantau pekerjaan siswa dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Siswa masih sangat ribut ketika mengerjakan bahan diskusi (3) dan peneliti senang karena antusias siswa mulai kelihatan meningkat dan siswa mulai aktif bertanya kepada peneliti apa-apa yang mereka tidak mengerti walaupun kelas menjadi berisik. Observer berusaha menenangkan siswa untuk tidak berisik dalam mengerjakan tugas-tugas dalam bahan diskusi (3). Dan siswa terlihat lebih tenang. Pada saat kelompok siswa bertanya kepada peneliti, peneiti berusaha mengarahkan dan memberi petunjuk kepada kelompok tersebut agar mereka menjadi paham. Kelompok siswa sudah ada yang mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang ada dalam bahan diskusi (3), sehingga sebagian siswa sudah mampu membuat rangkuman, pertanyaan, menjelaskan soal yang ada dalam bahan diskusi (3) dan memprediksi dengan menuliskan masing-masing ke dalam kertas selembar yang dibuatnya secara bersama-sama dengan membagi-bagikan tugas kepada masingmasing kelompok. Tetapi masih ada juga beberapa kelompok yang hanya mengobrol dan mengganggu siswa yang lain, walaupun sudah ditegur berulang- 65 ulang mereka hanya bisa diam sejenak. Dan observer mengambil tindakan yang lebih tegas dengan cara meminta siswa yang berisik untuk berdiri di depan kelas. Setelah waktu habis untuk menyelesaikan bahan diskusi (3), masih ada beberapa kelompok yang hanya mengerjakan sebagian saja dan belum menyempurnakannya. Karena waktu mengerjakan bahan diskusi (3) sudah habis, siswa tidak ada yang boleh melanjutkan lagi. Pemilihan kelompok guru siswa secara acak yaitu kelompok 4 yaitu kelompok 4 yang terpilih. Kelompok 4 tampak malu-malu ketika diminta maju ke depan kelas salah satu siswa dalam kelompok 4 ada yang tidak hadir jadi mereka hanya berempatlah yang maju ke depan. Ketika guru siswa menjelaskan hasil pengerjaannya, peneliti berusaha memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam diskusi tersebut, peneliti meminta siswa tidak lagi malu untuk bertanya kepada kelompok yang sedang mempresentasikan hasil pengerjaan temannya di depan kelas. Kondisi kelas cukup tertib tidak terlalu gaduh seperti sebelumnya. Berikut ini petikan dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan ketiga beserta analisis deskriptifnya. 1. Merangkum Dari 35 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, sebagian besar siswa membuat rangkuman dengan baik walaupun belum sepenuhnya sempurna. Diskusi kelompok 4 selama mengerjakan rangkuman kesimpulan sebagai berikut: Jumlah sudut-sudut suatu segitiga membentuk sudut lurus, yaitu sudut yang besarnya 1800 Diketahui pada Δ PQR, besar ∠P =48o dan ∠Q = 72o.Hitunglah besar ∠R. Penyelesaian: Diketahui ∠P = 48o dan ∠Q = 72o. Pada Δ PQR, berlaku ∠P + ∠Q + ∠ R = 180o , sehingga 48o + 72o + ∠R = 180o 120o + ∠R = 180o ∠R = 180 - 120o 66 2. Menyusun pertanyaan Kelompok 4 bertanya kepada siswa lain apakah ada yang mau ditanyakan? Kemudian kelompok 6 yang bertanya adapun pertanyaannya adalah: Apakah setiap mencari besar salah satu sudut segitiga harus di jumlahkan menjadi 1800? Kenapa? Jawaban dari kelompok 2 karena kelompok 4 tidak bisa menjawab: Iya, karena jumlah sudut segitiga adalah 1800 jadi, jika ketiga sudut segitiga bila dijumlahkan tidak 1800 maka jawaban itu salah. Maka dari itu dalam mengerjakan soal harus selalu dijumahkan menjadi 1800 3. Menjelaskan jawaban dari soal bahan diskusi(3) Dari 10 pertanyaan yang terdapat dalam bahan diskusi (3) hanya 6 pertanyaan yang dapat diselesaikan kelompok 4. 1 pertanyaan lain di Bantu kelompok 7 untuk menjawab dan untuk 3 pertanyaan peneliti yang menjelaskannya. 4. Memprediksi Kelompok 4 belum sempurna dalam menjawab soal memprediksi, dari 8 gambar yang diminta hanya 5 yang dapat dikerjakan. Siswa masih salah dalam menggambar layang-layang, jajargenjang dan segi lima beraturan. Selanjutnya, peneliti bersama observer memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah berlangsung, dan peneliti menympulkan apa yang sudah di jelaskan oleh kelompok 4. peneliti mengharapkan untuk pertemuan selanjutnya siswa lebih aktif lagi dalam menjawab maupun pada saat diskusi di depan kelas. Dan terakhir guru memberikan jurnal harian untuk diisi oleh siswa. 4) Pertemuan keempat (Jum’at 12 Maret 2010) Pertemuan 4 berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka pembelajaran dan apersepsi, pada pertemuan keempat ini semua siswa hadir. Kelas sudah mulai rapih karena siswa sudah duduk dengan masing-masing kelompoknya, dan sudah kelihatan bersemangat untuk memulai pertemuan kali ini. pada pertemuan keempat ini terdapat 1 orang yang tidak hadir karena sakit. 67 Peneliti bersama observer membagikan bahan diskusi (4) dengan materi “hubungan sudut dalam dan sudut luar pada segitiga” kepada setiap kelompok. Siswa sudah mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang ada di dalam bahan diskusi tanpa perintah peneliti terlebih dahulu masing-masing kelompok sudah sibuk membagi tugas kepada teman-teman kelompoknya. Aktivitas siswa mulai terlihat membaik ketika mengerjakan bahan diskusi (4) walaupun siswa pandai masih lebih mendominasi dalam kelompok tetapi siswa lain berusaha untuk mengerti juga. Peneliti bersama observer berkeliling seperti biasa memantau siswa dalam mengerjakan bahan diskusi (4), pada proses pembelajaran terbalik di pertemuan 4 peneliti sudah merasakan keringanan ketika berkeliling karena keompokkelompok sudah terlihat lebih rapih dan teratur, siswa yang sering membuat onarpun sudah mau mengerjakan bahan diskusi walaupun belum sepenuhnya mengerti dan peneliti berusaha memberi pengarahan dan penjelasan kepada siswa tersebut. Setelah selesai mengerjakan bahan diskusi (4), dengan cara acak memilih siswa yang akan menjadi guru siswa dan terpilihlah kelompok 7 untuk mempresentasikan hasil pengerjaannya di depan kelas. Berikut ini petikan dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan keempat beserta analisis deskripsinya. 1. Merangkum Dari 40 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, sebagian besar siswa membuat rangkuman dengan baik walaupun belum sepenuhnya sempurna. Dari diskusi kelompok 7 selama mengerjakan rangkuman diperoleh kesimpulan rangkuman siswa dalam kelompok 7 adalah sebagai berikut: Besar sudut luar suatu segitiga sama dengan jumlah dua sudut dalam yang tidak berpelurus dengan sudut luar tersebut. 68 C 600 800 x y B A Penyelesaian: 80o + 60o + xo = 180o (sudut dalam segitiga) 140o + xo = 180o xo = 180o - 140o xo = 40o xo + yo = 180o (berpelurus) 40o + yo = 180o yo = 180o - 40o yo = 140o Jadi, nilai xo = 40o dan yo = 140o. 2. Menyusun pertanyaan Kelompok 3 bertanya: C r0 890 q0 440 470 p0 A Kelompok 7 menjawab B Penyelesaian: p0 = ∠BAC + ∠ACB = 440 + 890 = 1330 atau p0 = 1800 – 470 = 1330 q0 = ∠ABC + ∠ACB = 470 + 890 = 1360 atau q0 = 1800 – 440 = 1360 r0 = ∠BAC + ∠ABC = 440 + 470 = 910 atau r0 = 1800 – 890 = 910 3. Menjelaskan jawaban dari soal bahan diskusi (4) Dari 6 pertanyaan yang terdapat dalam bahan diskusi (4) hanya 3 pertanyaan yang dapat diselesaikan kelompok 7. 1 pertanyaan lain di Bantu 69 kelompok 1 yang menjawab dan untuk 2 pertanyaan peneliti yang menjelaskannya. 4. Memprediksi Dari soal memprediksi bahan diskusi (4) kelompok 7 kesulitan memindahkan 3 buah batang korek api tersebut, tetapi dengan bantuan peneliti maka kelompok 7 dapat menjawab dan menggambarkannya di papan tulis. 5) Pertemuan kelima (Kamis, 18 Maret 2010) Pertemuan 5 berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka pembelajaran dan apersepsi, pada pertemuan kelima ini terdapat 2 orang siswa yang tidak hadir 1 orang sakit dan yang satunya tanpa keterangan. Peneliti meriview pembelajaran pada pertemuan sebelumnya untuk mengingatkan siswa agar tidak lupa. Kelas sudah mulai rapih karena siswa sudah duduk dengan masing-masing kelompoknya, dan sudah kelihatan bersemangat untuk memulai pertemuan kali ini. Peneliti bersama observer membagikan bahan diskusi (5) yang berisi materi “hubungan panjang sisi dan besar sudut” kepada setiap kelompok. Siswa sudah mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang ada di dalam bahan diskusi tanpa perintah peneliti terlebih dahulu masing-masing kelompok sudah sibuk membagi tugas kepada teman-teman kelompoknya. Aktivitas siswa mulai terlihat membaik ketika mengerjakan bahan diskusi (5) walaupun siswa pandai masih lebih mendominasi dalam kelompok tetapi siswa lain berusaha untuk mengerti juga. Peneliti bersama observer berkeliling seperti biasa memantau siswa dalam mengerjakan bahan diskusi (5), pada proses pembelajaran terbalik di pertemuan 5 kelompok-kelompok sudah mulai kompak dan akrab. Siswa sudah mulai terbiasa dengan pertanyaan dan perintah-perintah yang terdapat dalam bahan diskusi, sehingga proses menyelesaikan bahan diskusi (5) dapat diselesaikan tepat waktu. Walaupun masih terlihat ada 3 kelompok yang belum aktif dalam mengerjakan bahan diskusi (5). 70 Setelah selesai mengerjakan bahan diskusi (5), dengan cara acak memilih siswa yang akan menjadi guru siswa dan terpilihlah kelompok 5 untuk mempresentasikan hasil pengerjaannya di depan kelas. Berikut ini petikan dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan keempat beserta analisis deskripsinya. 1. Merangkum Dari 38 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, sebagian besar siswa membuat rangkuman dengan baik walaupun belum sepenuhnya sempurna. Dari diskusi kelompok 5 selama mengerjakan rangkuman diperoleh kesimpulan rangkuman siswa dalam kelompok 5 adalah sebagai berikut: Pada setiap segitiga berlaku sudut terbesar terletak berhadapan dengan sisi terpanjang sedangkan sudut terkecil terletak berhadapan dengan sisi terpendek Dalam ΔABC diketahui perbandingan antar sudut-sudutnya adalah sebagai berikut: ∠A : ∠B : ∠C = 3 : 5 : 2. a. Tentukan besar masing-masing sudut pada ΔABC tersebut! b. Sisi manakah yang terpanjang dan yang terpendek? Penyelesaian: Diketahui ∠A : ∠B : ∠C = 3 : 5 : 2 dan ∠A + ∠B + ∠C = 1800 maka a. ∠A = 3 3 x180 0 = x180 0 = 54 0 10 3+5+ 2 ∠B = 5 5 x180 0 = x180 0 = 90 0 10 3+5+ 2 ∠C = 2 2 2 x180 0 = x180 0 = x180 0 = 36 0 3+5+ 2 10 10 b. Karena dalam ΔABC diketahui ∠C < ∠A < ∠B , maka sisi c < a < b, Jadi, sisi terpanjang adalah sisi b atau sisi AC dan sisi terpendek adalah sisi c atau sisi AB. 2. Menyusun pertanyaan Pertanyaan kelompok 8: Apakah dalam setiap segitiga sudut yang terbesar selalu berhadapan dengan sisi yang paling panjang? Jawab: (kelompok 5) 71 Iya benar, karena sudut yang paling besar maka panjang sisit yang berada di hadapannya selalu lebih panjang dibandingkan dengan sisi yang lainnya . 3. Menjelaskan jawaban dari soal-soal bahan diskusi (5) Dari 4 pertanyaan yang terdapat dalam bahan diskusi (5) hanya 2 pertanyaan yang dapat diselesaikan kelompok 5. 4. Memprediksi Dari soal memprediksi kelompok 4 memilih gambar e dan menjawabnya C bahwa sudut terbesar C yang berada di e hadapan sisi AB (terpanjang ) sudut terkecil B yang berada di hadapan sisi AC (terpendek) A Selanjutnya, peneliti bersama observer memberikan A penilaian terhadap pembelajaran. peneliti mengharapkan untuk pertemuan selanjutnya siswa lebih aktif lagi dalam menjawab maupun pada saat diskusi di depan kelas. 6) Pertemuan keenam (Jum’at, 19 maret 2010) Pertemuan keenam sama halnya dengan pertemuan sebelumnya berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran) yang dimulai dari pukul 14.30-15.50. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan membuka pembelajaran dan memeriksa absensi siswa, dan semua siswa hadir. Pertemuan ini tidak dibagi kelompok karena akan dilaksanakan tes akhir siklus 1. Tes ini berbentuk soal pilihan ganda yang telah di uji validitas dan reliabilitas soal, soal berjumlah 15 yang terdiri dari menjelaskan pengertian dan jenis-jenis segitiga, menjelaskan sifat-sifat segitiga, menghitung besar salah satu sudut segitiga apabila sudut lainnya diketahui, menjelaskan hubungan sudut dalam dan luar pada segitiga, menjelaskan hubungan sisi dan sudut pada segitiga. Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat hasil belajar matematika siswa terhadap materi yang telah diajarkan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Sebelum dilaksanakan tes, 10 menit dilakukan review sekilas materi yang sudah diajarkan dan membahas kesulitan-kesulitan yang masih ada. Tes ini dilaksanakan selama 60 menit. Selama proses berlangsung, suasanapun menjadi sepi dan hening namun masih ada beberapa siswa yang masih menyontek dengan B 72 teman sebangkunya dan peneliti segera menegurnya. Setelah waktu habis siswa segera mengumpulkan lembar jawaban tes dan pada pertemuan ini siswa tidak diberikan lembar jurnal harian siswa. c) Tahap Observasi dan analisis Tahap observasi berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Guru kelas (observer) melakukan pengamatan langsung tentang pelaksanaan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran. Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa melalui lembar observasi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2 Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Pada Pembelajaran Siklus I No Indikator yang Rata- Pert.1 Pert.2 Pert.3 Pert.4 Pert.5 40% 46,67% 60% 50% 60% 46,67% 60% 50% 60% 53,33% 60% 70% 80% 60% 60% 60% 60% 73,33% 80% 70% 60% 56% 64% 60% 60% 80% 80% 62% rata diamati 1 2 3 4 5 Aktivitas visual Aktivitas oral Aktivitas menulis Aktivitas mental Aktivitas emosional 40% Rata-rata aktivitas total 50% 60,40% Berdasarkan tabel di atas, diperoleh informasi bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah sebagai berikut: 1) Visual activities Visual activities terdiri atas akitivitas memperhatikan pada saat guru menjelaskan materi dan pada saat diskusi Rata-rata persentase siswa yang memperhatikan penjelasan guru atau teman pada saat diskusi sebanyak 60 %. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang memperhatikan guru atau teman pada saat diskusi berlangsung sudah cukup banyak, akan tetapi tidak semua siswa memperhatikan penjelasan guru atau teman pada saat menjadi guru siswa dengan 73 sungguh-sungguh. Masih banyak siswa yang bercanda dengan teman sebangkunya dan mengobrol dengan teman lainnya ketika temannya menjadi guru siswa di depan kelas. Hal ini dapat dikatakan belum baik sehingga perlu adanya perbaikan pada siklus II. 2) Oral activities Oral activities terdiri atas memberi penjelasan pada saat diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi penjelasan guru atau teman pada saat diskusi berlangsung. Rata-rata persentase aktivitas oral mencapai 56%. Siswa pada aktivitas memberi penjelasan pada saat diskusi kelompok berlangsung hanya sebanyak 56%. Persentase ini terbilang masih kurang, karena pada saat siswa menjadi guru siswa masih terlihat kaku dan belum menguasai materi yang akan dijelaskan guru siswa kepada kelompok lainnya. Rata-rata persentase siswa mengajukan pertanyaan sebanyak 56%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat diskusi berlangsung masih terbilang kurang, karena masih banyak siswa yang tidak berani bertanya kepada guru siswa pada saat diskusi berlangsung, walaupun terkadang masih ada beberapa siswa yang berani bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan temannya. Rata-rata menanggapi penjelasan guru/teman pada saat diskusi sebanyak 56%. Hal ini menunjukan bahwa pada saat memberi penjelasan siswa masih kurang, karena kebanyakan guru siswa belum percaya diri apa yang mereka jelaskan dan beum sepenuhnya memahami materi. Untuk itu pada saat memberi penjelasan peneliti banyak memberi arahan dan masukan. Berdasarkan penilaian observer siswa masih banyak yang takut pada saat mengemukakan pendapatnya jadi masih banyak siswa yang hanya diam saja. Untuk itu perlu diadakan perbaikan pada siklus dua dengan membuat suasana belajar yang lebih menyenangkan dan peneliti memberikan motivasi yang lebih baik lagi. Contohnya dengan menambahkan alat peraga. 3) Writing activities Writing activities yang dinilai peneliti adalah membuat rangkuman materi dari bahan diskusi yang diberikan kepada masing-masing kelompok. Ratarata membuat rangkuman sebanyak 64%. Dalam membuat rangkuman siswa dinyatakan cukup baik karena siswa tidak hanya menulis apa yang ada dalam 74 bahan diskusi tetapi siswa melihat dari sumber lain misalnya buku cetak yang diberikan dari sekolah. Rangkuman siswa sudah cukup rapih walaupun masih banyak juga siswa yang hanya membuat rangkuman dari bahan diskusi saja tanpa menambahkan dari sumber acaan lainnya. 4) Mental activities Untuk mental activities yaitu aktivitas memecahkan soal dalam bahan diskusi dan memprediksi, rata-rata persentase aktivitas mental mencapai 60% dengan persentase aktivitas siswa memecahkan masalah masih kurang karena hanya mencapai 52% saja, hal ini disebabkan soal yang ada di dalam bahan diskusi terlalu banyak sehingga waktu yang memungkinkan siswa untuk mengerjakan semua soal tidak cukup dan soal terbilang susah menurut siswa. Untuk aktivitas memprediksi sudah cukup baik mencapai 68%, dalam bahan diskusi soal memprediksi sudah dinilai cukup jelasoleh observer karena soalnya mengarahkan siswa untuk berpikir kreatif dalam menjawab soal dan soal-soal yang adapun menarik menurut observer. 5) Emotional activities Rata-rata aktivitas emosional siswa mencapai 62% diantaranya minat siswa dengan pembelajaran terbalik mencapai 60%, menurut observer siswa terlihat antusias dan bersemangat pada saat mengerjakan tuga-tugas yang ada di bahan diskusi karena menurut siswa pembelajaran yang diterapkan sangat menarik, siswa dilatih untuk memahami materi sendiri dan belajar menjadi guru siswa. Siswa cukup senang dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik dengan persentase yang diperoleh 64%. Walaupun masih banyak siswa yang terlihat mengantuk dan bosan dengan diterapkannya pembelajaran terbalik karena bingung mengerjakannya. Tetapi karena setiap kelompok terdapat siswa yang pandai jadi siswa yang kurang pandai jadi bersemangat karena dibantu siswa yang lebih pandai. Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada saat pembelajaran siklus I rata-rata aktivitas yang diperoleh sebesar 60,40%. Rata-rata aktivitas siswa pada siklus I ini meningkat dibandingkan pada saat pra penelitian yang hanya mencapai 47,5% tetapi rata-rata aktivitas siswa pada siklus I masih banyak 75 yang kurang yaitu dalam bekerja sama dengan anggota kelomponya masingmasing, kualitas menjelaskan kembali hasil pengisian bahan diskusi, kualitas memimpin diskusi, keaktifan bertanya dan menanggapi teman. Hal ini perlu diperhatikan sebagai bahan perbaikan pada siklus II. Pembelajaran masih harus dilanjutkan karena aktivitas belajar siswa belum mencapai 70%. Lembar aktivitas kelompok siswa juga dinilai oleh observer untuk mengetahui sejauh mana kekompakan dan keseriusan siswa dalam mengerjakan tugas. Lembar ini terdiri dari 10 aspek yang diukur dengan skor penilaian 4 (baik sekali), 3 (baik), 2 (cukup), dan 1 (kurang). Hasil pengamatan aktivitas kelompok siswa melalui lembar observasi dapat dilihat pada tabel 3 berikut: Tabel 3 Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Siklus I Kelompok Jumlah Skor Persentase Keterangan 1 25 63% Tercapai 2 18 45% Tidak tercapai 3 21 53% Tidak tercapai 4 23 58% Tidak tercapai 5 25 63% Tercapai 6 26 65% Tercapai 7 20 50% Tidak tercapai 8 26 65% Tercapai Rata-rata 23 57,75% Tidak tercapai Keterangan: 1. Skor aktivitas kelompok siswa: a. Skor maksimum = 40 b. Skor minimum = 10 c. Skor rata-rata = 25 atau 63% 2. Skor rata-rata 25 atau 63% dijadikan sebagai patokan ketercapaian. 76 Berdasarkan tabel 3 di atas dapat dilihat aktivitas kelompok 2, 7 masih cukup jauh dari atandar ketercapaian, hal ini dapat dilihat dari persentase yang didapatkan kurang dari 63% yaitu 45% dan 50% sehingga hampir seluruh aspek ini perlu ditingkatkan lagi. Kelompok 3 lebih baik dari kelompok 2, 7 karena persentase yang diperoleh 53%, ada beberapa aspek yang perlu ditingkatkan lagi seperti bekerja sama dalam kelompok, kualitas menjelaskan, kualitas memimpin diskusi dan keaktifan bertanya. Kelompok 4 sudah cukup baik dari kelompok 2,3,7, hal ini terlihat dari persentase yang diperoleh oleh kelompok 4 yaitu 58%, namun ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan lagi seperti kualitas menjelaskan hasil bahan diskusi, kualitas memimpin diskusi dan bekerjasama dalam kelompok. Perolehan persentase terbesar didapatkan oleh kelompok 6 dan 8 sebesar 65%, siswa terihat lebih siap mengikuti pelajaran dan aktivitas mengikuti metode pembelajaran. Kualitas bertanya dan menjelaskan sudah cukup baik, namun masih ada perlu peningkatan dalam hal ketertiban suasana kelompok diskusi dan kualias memimpin diskusi. Berdasarkan hasil observasi dari seluruh kelompok pada saat pembelajaran siklus I didapatkan bahwa rata-rata aktivitas kelompok siswa masih kurang dalam beerjasama dengan anggot kelompoknya masing-masing, kualitas menjelaskan hasi pengerjaan bahan diskusi, kualitas memimpin diskusi, keaktifan bertanya dan menjawab pertanyaan. Hal inilah yang perlu diperhatikan sebagai bahan perbaikan pada siklus II. Pembelajaran harus dilanjutkan karena baru empat kelompok yang dapat dikatakan baik aktivitasnya. Sedangkan kelompok lain masih perlu ditingkatkan agar aktivitas kelompok pada siklus II lebih baik lagi. Selain lembar observasi, peneliti menggunakan jurnal harian siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) pada siklus I ini. Berdasarkan hasil perhitungan, siswa yang memberi respon positif 59,46%, siswa yang memberi respon negatif 29, 47%, siswa yang bersikap netral 10%, dan siswa yang tidak berkomentar sebanyak 5,26%: Rekapitulasi persentase respon siswa terhadap pembelajaran selama siklus I dapat dilihat pada Tabel 4 berikut: 77 Tabel 4 Rekapitulasi Respon Siswa Selama Siklus I No Kategori 1 Persentase pada Pertemuan Ke- Rata-rata 1 (%) 2 (%) 3 (%) 4 (%) 5 (%) (%) Positif 47,36 55 68,57 71,79 78,94 64,33 2 Netral 13,15 12,5 8,57 5,12 2,63 8,40 3 Negatif 34,21 32,5 22,85 23,07 18,42 26,21 4 Tidak Berkomentar 5,26 5,26 Data Hasil jurnal harian siswa di atas jika diubah ke dalam diagram lingkaran seprti pada Diagram 1 berikut: 5,26% 26,21% 8,40% 64,33% 1 Positif 2 Netral 3 Negatif 4 Tidak Berkomentar Diagram 1 Persentase Jurnal Harian Siswa pada Pembelajaran Siklus I Dilihat dari diagram 1 bahwa respon positif siswa terhadap pembelajaran siklus I lebih besar dibandingkan dengan respon yang negatif, netral maupun yang tidak berkomentar. Ini artinya bahwa sebagian besar siswa menyatakan respon yang positif terhadap pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Pendapat-pendapat siswa tersebut baik yang positif, negatif, netral maupun yang tidak berkomentar akan dijadikan bahan releksi untuk tindakan pembelajaran selanjutnya. 78 Berdasarkan lembar observasi aktivitas yang diperoleh pada pembelajaran siklus I aktivitas siwa memperoleh hasil yang cukup baik, hanya saja kendalanya adalah kurangnya waktu untuk menyelesaikan bahan diskusi, soal-soalnya masih terlalu sulit dan terlalu banyak dan belum terbiasanya siswa mengerjakan secara berkelompok. Dan masih banyak juga siswa yang hanya mengandalkan teman yang pintar saja. Selama proses diskusi, peneliti mengamati aktivitas belajar di dalam kelompok siswa sebagaimana pada gambar berikut: Gambar 2 Guru Sedang Memberi Pengarahan Gambar 2 menunjukkan guru sedang membimbing siswa dalam kelompok belajarnya. Hal ini agar siswa lebih terarah dan lebih mengerti apa yang harus mereka kerjakan dari penjelasan peneliti. 79 a Gambar 3 Siswa yang Lebih Pintar (a) sedang Memberi Penjelasan kepada Siswa Lain pada Saat Berdiskusi Gambar 3 menunjukkan pada saat siswa berdiskusi terlihat serius dan tampak pada gambar kalau siswa yang lebih pintar berusaha menjelaskan kepada teman-teman yang lain dan teman yang lainpun terlihat serius memperhatikan teman yang lebih pintar. Kelompok siswa berusaha memberikan yang terbaik dan berusaha mengerti materi yang terdapat dalam bahan diskusi dan apabila mereka tidak mengerti mereka akan menanyakan hal tersebut kepada peneliti. Kelompok tersebut terlihat serius dalam mengerjakannya karena jika kelompok mereka yang akan terpilih mereka sudah siap untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Pada awal-awal proses pembelajaran berlangsung, aktivitas siswa dalam menerapkan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) masih terlihat kaku karena sebelumnya belum perna siswa diajarkan secara berkelompok apalagi manjadi guru siswa di depan kelas dan berusaha menjelakan kepada teman yang lain. Pada gambar d bawah ini terlihat siswa ketika menjadi guru siswa di depan kelas, siswa masih tampak malu-malu untuk tampil di depan kelas. 80 Gambar 4 Aktivitas Siswa pada Saat Menjadi Guru Siswa Hasil belajar selama siklus I diperoleh dari nilai tes akhir siklus I pada pertemuan keenam. Hasil tes akhir siklus I tersebut dapat dilihat pada tabel 5 berikut: Tabel 5 Hasil Belajar Matematika pada Akhir Siklus I f relatif kumulatif ≥ Interval F f 35-43 3 7,5% 100% 44-52 5 12,5% 92,5% 53-61 8 20% 80% 62-70 12 30% 60% 71-79 4 10% 30% 80-88 2 5% 20% 89-97 6 15% 15% relatif Keterangan: Nilai tertinggi = 95 Jumlah siswa = 40 Nilai terendah = 35 Rata-rata = 66,87 81 Berdasarkan tabel 5 terlihat bahwa hasil belajar siswa pada siklus I ini mencapai rata-rata 66,87. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I ini cukup baik, namun masih ada 8 orang siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Gambar 5 Aktivitas Siswa Mengerjakan Tes Akhir Siklus I Gambar 5 menunjukkan siswa sedang mengerjakan tes siklus I, suasana cukup tenang dan penuh konsentrasi tidak ada lagi siswa yang berisik pada saat mengerjakan soal siklus I. Soal siklus I terdiri dari 15 butir soal yang sudah di uji validitas dan reliabelitasnya akan tetapi, tetap saja masih ada beberapa sswa yang masih melihat pekerjaan teman sebangkunya atau bekerja sama dengan teman teman sebangku. d) Tahap refleksi Berdasarkan hasil jurnal harian, lembar observasi aktivitas siswa dan wawancara dengan guru terhadap hasil dari analisis dan seluruh pelaksanaan pembelajaran siklus I, adapun hasil refleksi tersebut adalah sebagai berikut: 82 Tabel 6 Refleksi Kegiatan Tindakan Siklus I No Aspek 1 Penerapan Model Pembelajaran Terbalik Temuan - - 2 Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Terbalik - - Peneliti Pengaturan waktu tidak sesuai apa yang direncanakan sebelumnya Soal tes yang diberikan peneliti masih terlalu banyak dan kategori soal masih terbilang sulit sehingga jarang sekali siswa yang mengerjakan tepat waktu - - Siswa Siswa masih sedikit kesulitan dalam menjalankan strategi pembelajaran terbalik Siswa masih sedikit bingung pada saat mengerjakan bahan diskusi Rencana Perbaikan - - - Masih kesulitan dalam membimbing siswa karena siswa masih sering teriak- teriak jika memanggil guru Belum maksimal dalam mengkondisikan kelas - - Siswa masih belum kompak pada saat diskusi kelompok Suasana kelas menjadi sangat ribut Siswa masih kurang jelas memberi penjelasan pada saat menjadi guru siswa Keaktifan siswa dalam bertanya masih kurang Masih banyak yang salah pada saat menjelaskan soalsoal dalam bahan diskusi - - - - Mengoptimalkan waktu untuk mengerjakan bahan diskusi dan ketika siswa menjadi guru siswa Mengurangi jumlah soal dalam bahan diskusi dan memberikan soal yang bervariatif mulai dari yang mudah dan tidak memberikan soal yang tingkatannya sangat sulit bagi siswa Peneliti memberikan waktu pada setiap tahapantahapan pembelajaran terbalik sehingga waktu yang digunakan bisa lebih optimal Aktivitas siswa ditngkatkan dengan cara memberi motivasi dan dorongan pada siswa untuk melakukan diskusi kelompok Memberikan suasana kelas lebih santai agar siswa tidak tegang dan takut Guru lebih tegas lagi dalam menghadapi siswa yang ribut Guru memberi motivasi agar kelompok yang mendapat giliran lebih berani dan lebih semangat lagi 83 3. Tindakan Pembelajaran Siklus II a) Tahapan Perencanaan Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), menyiapkan bahan diskusi, menyiapkan lembar observasi aktivitas belajar siswa, jurnal harian siswa, pedoman wawancara untuk guru dan siswa dan keperluan pembelajaran lainnya. Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I, pada siklus II ini proses pemelajaran harus lebih diarahkan. Peneliti harus mampu mengoptimalkan waktu yang digunakan agar seluruh tahapan pembelajaran terbalik dapat selesai sesuai waktu yang diinginkan seperti alokasi waktu untuk mengerjakan bahan diskusi ditambah menjadi 40 menit dari sebelumnya 30 menit agar siswa dapat menyelesaikannya secara maksimal. Peneliti memperbaiki soal-soal pada tahap menjelaskan agar soal tidak terlalu banyak dan tidak terlalu susah. Peneliti harus lebih tegas dalam mengkondisikan kelas, memberikan pengarahan kepada siswa secara detai dan dapat menjadikan suasana kelas menjadi santai, tidak tegang dan tidak terburu-buru. Memberikan reward kepada kelompok siswa yang mampu mempresentasikan bahan diskusi dengan baik dan siswa yang turut aktif dalam proses diskusi agar siswa termotivasi baik keaktifannya maupun prestasinya. Materi yang dibahas pada siklus II ini adalah menemukan rumus dan menghitung keliling segitiga, menemukan rumus dan menghitung luas segitiga, menjelaskan pengertian dan sifat-sifat persegi panjang, menemukan rumus dan menghitung keliling dan luas persegi panjang. Target pada siklus II ini siswa semakin baik dalam menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan aktivitas siswa semakin meningkat melalui lembar observasi dibandingkan dengan siklus I dimana rata-rata persentase aktivitas belajar siswa harus mencapai 70%. Tes hasil belajar siswa semakin meningkat dengan target pencapaian peneliti dimana rata-rata tes hasil belajar siswa mencapai nilai 70 dan tidak ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yaitu 55. 84 b) Tahap Pelaksanaan Tindakan pembelajaran siklus II dilaksanakan lima pertemuan dengan alokasi waktu (2x40 menit) tiap pertemuannya. RPP siklus II dapat dilihat pada lampiran. 1) Pertemuan ketujuh (Kamis, 15 April 2010) Pertemuan 7 berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka pembelajaran dan apersepsi, pada pertemuan kelima ini siswa hadir seluruhnya. Peneliti merivew soal tes yang belum dimengerti siswa untuk mengingatkan siswa agar menjadi paham. Peneliti mengkondisikan kelas dengan lebih tegas agar siswa lebih disiplin. Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dari materi siklus II dan memberika penjelasan dan pengarahan agar proses pembelajaran lebih baik lagi dan siswa semakin aktif dalam menerapkan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) yaitu dalam merangkum, menyusun pertanyaan, menjelaskan soal yang terdapat dalam bahan diskusi, dan memprediksi jawaban dari soal yang telah disediakan. Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, siswa langsung diperintahkan untuk duduk bersama kelompok sebelumnya. Peneliti bersama observer membagikan bahan diskusi (6) yang berisi materi “menemukan rumus dan menghitung keliling segitiga” kepada setiap kelompok. Siswa sudah mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang ada di dalam bahan diskusi tanpa perintah peneliti terlebih dahulu masing-masing kelompok sudah sibuk membagi tugas kepada teman-teman kelompoknya. Aktivitas siswa mulai terlihat membaik ketika mengerjakan bahan diskusi (6) walaupun siswa pandai masih lebih mendominasi dalam kelompok tetapi siswa lain berusaha untuk mengerti juga. Peneliti bersama observer berkeliling seperti biasa memantau siswa dalam mengerjakan bahan diskusi (6), pada proses pembelajaran terbalik di pertemuan 6 sudah terlihat mengalami banyak peningkatan, walaupun masih ada saja dalam kelompok siswa yang hanya diam saja. Peneliti menegur siswa tersebut dengan memberi pengertian kalau siswa yang tidk ikut mengerjakan akan dikeluarkan dari kelas dan tidak mendapatkan nilai. bahan diskusi (6) dapat diselesaikan sesuai 85 waktu yang diinginkan walaupun masih ada 3 kelompok yang belum tuntas tetapi peneliti harus menutup sesi mengerjakan bahan diskusi sesuai perjanjian. Setelah selesai mengerjakan bahan diskusi (6), dengan cara acak memilih siswa yang akan menjadi guru siswa dan terpilihlah kelompok 6 untuk mempresentasikan hasil pengerjaannya di depan kelas. Kelompok sudah mulai berani dan percaya diri untuk maju ke depan. Berikut ini petikan dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan keempat beserta analisis deskripsinya. 1 Merangkum Dari 40 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, sebagian besar siswa membuat rangkuman dengan baik walaupun belum sepenuhnya sempurna. Dari diskusi kelompok 6 selama mengerjakan rangkuman diperoleh kesimpulan rangkuman siswa dalam kelompok 6 yang di jelaskan kepada kelompok lain adalah sebagai berikut: Dengan menuliskan di papan tulis hasil kelompok (6) Sebuah segitiga mempunyai tiga sisi dan tiga sudut. Sisi yang terletak di bawah disebut alas. Sudut yang berhadapan dengan alas disebut sudut puncak, dan titik sudut puncak disebut titik puncak. Jarak terdekat antara titik puncak dengan alas disebut tinggi segitiga. Keliling segitiga adalah jumlah panjang ketiga sisinya. ditulis: Keliling (K) = a + b + c Dan berusaha memberikan contoh kepada kelompok lain Hitunglah keliling segitiga yang panjang sisi-sisinya 8 cm, 16 cm dan 12 cm. Jawab: K = 8 cm + 16 cm + 12 cm = 36 cm Jadi, keliling segitiga tersebut adalah 36 cm. Pada saat kelompok (6) menjelaskan hasil rangkumannya terdapat 2 orang siswa yang mengajukan pendapatnya dengan membetulkan dari kesalahan kelompok (6). 86 2 Menyusun pertanyaan Pertanyaan kelompok 3: - Bagaimana jika yang diketahui terlebih dahulu kelilingnya, apakah bisa di cari sisi-sisi segitiganya? Jawab: (kelompok 6) Bisa saja tinggal mengurangkan keliling dengan sisi yang diketahui. - Dalam mengerjakan soal kelilng segitiga apakah yang dimaksud dengan variable? Jawab: (kelompok 1 menanggapi) Variable itu adalah pengganti angka yang belum diketahui, cara mencarinya dengan membagi keliling dengan konstantanya. 3 Menjelaskan jawaban dari soal-soal bahan diskusi (6) Dari 3 pertanyaan yang terdapat dalam bahan diskusi (6) hanya2 pertanyaan yang dapat diselesaikan kelompok 6. 1 pertanyaan dapat diselaikan oleh kelompok 4 yang bisa menjawabnya. 4 Memprediksi Gambar bintang di samping ini terbentuk dari 12 buah segitiga sama sisi dengan panjang sisi = 6 cm. tentukan keliling gambar bintang tersebut? Dapat dijawab hampir semua kelompok dengan menjawabnya 6cm x 12 = 72 cm Selanjutnya, peneliti bersama observer memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah berlangsung, dan peneliti menyimpulkan apa yang sudah di jelaskan oleh kelompok 6. peneliti mengharapkan untuk pertemuan selanjutnya siswa lebih aktif lagi dalam menjawab maupun pada saat diskusi di depan kelas. Dan terakhir guru memberikan jurnal harian untuk diisi oleh siswa. 87 2) Pertemuan kedelapan (Jum’at, 16 April 2010) Pertemuan 8 berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka pembelajaran dan apersepsi, pada pertemuan kedelapann ini terdapat 1 orang yang tidak hadir karena sakit. Kelas sudah mulai rapih karena siswa sudah duduk dengan masing-masing kelompoknya, dan sudah kelihatan bersemangat untuk memulai pertemuan kali ini. Peneliti bersama observer membagikan bahan diskusi (7) yang berisi materi “menemukan rumus dan menghitung luas segitiga” kepada setiap kelompok. Siswa sudah mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang ada di dalam bahan diskusi tanpa perintah peneliti terlebih dahulu masing-masing kelompok sudah sibuk membagi tugas kepada teman-teman kelompoknya. Aktivitas siswa mulai terlihat membaik ketika mengerjakan bahan diskusi (7) walaupun siswa pandai masih lebih mendominasi dalam kelompok tetapi siswa lain berusaha untuk mengerti juga. Peneliti bersama observer berkeliling seperti biasa memantau siswa dalam mengerjakan bahan diskusi (7), pada proses pembelajaran terbalik di pertemuan 7 sudah terlihat mengalami banyak peningkatan, walaupun masih ada saja dalam kelompok siswa yang hanya diam saja. Siswa sudah tidak begitu ribut dan peran penelitipun suda mulai berkurang karena siswa sudah paham dengan sendirinya. bahan diskusi (7) dapat diselesaikan sesuai waktu yang diinginkan walaupun masih ada 2 kelompok yang belum tuntas tetapi peneliti harus menutup sesi mengerjakan bahan diskusi sesuai perjanjian. Setelah selesai mengerjakan bahan diskusi (7), dengan cara acak memilih siswa yang akan menjadi guru siswa dan terpilihlah kelompok 3 untuk mempresentasikan hasil pengerjaannya di depan kelas karena memang belum terpilih. Kelompok sudah mulai berani dan percaya diri untuk maju ke depan. Berikut ini petikan dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan keempat beserta analisis deskripsinya. 88 1 Merangkum Dari 39 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, sebagian besar siswa membuat rangkuman dengan baik walaupun belum sepenuhnya sempurna. Dari diskusi kelompok 3 selama mengerjakan rangkuman diperoleh kesimpulan rangkuman siswa dalam kelompok 3 yang di jelaskan kepada kelompok lain adalah sebagai berikut: Dengan menuliskan di papan tulis hasil kelompok (3) AB adalah alas segitiga, C adalah titik puncak, dan CD adalah tinggi segitiga ABC. Persegi panjang ABEF mempunyai panjang AB atau EF sama dengan p, dan lebar AF atau BE sama dengan l, maka luas persegi panjang ABEF = p x l. Luas ABEF = luas Δ ADC + luas Δ AFC + luas Δ BDC + luas Δ BEC. Karena Δ ADC kongruen dengan Δ AFC dan Δ BDC kongruen dengan Δ BEC Luas ABEF = 2 x luas Δ ADC + 2 x luas Δ BDC = 2 x (luas Δ ADC + luas Δ BDC) = 2 x luas Δ ABC maka luas Δ ABC = 1 1 x luas persegi panjang ABEF = x p x l. 2 2 Karena p = AB = alas segitiga ABC dan l = BE = CD = tinggi segitiga ABC, maka luas Δ ABC = Luas segitiga = 1 x alas x tinggi atau ditulis: 2 1 x alas x tinggi. 2 Kelompok 3 merangkum contoh beberapa contoh soal juga dan menjelaskan dengan cara menuliskannya di papan tulis. Pada saat kelompok 3 menjelaskan hasil rangkumannya terdapat 3 orang siswa yang mengajukan pendapatnya dengan membetulkan dari kesalahan kelompok 3. 89 2 Menyusun pertanyaan Pertanyaan kelompok 2: - Bagaimana jika yang diketahui terlebih dahulu luasnya, apakah bisa di cari tinggi segitiganya? Jawab: (kelompok 3) Bisa saja tinggal membagi luas dengan setengah alas yang diketahui. - Bagaimana mencari tinggi segitiga, jika yang diketahui hanya sisi-sisinya saja? Jawab: (kelompok 8 menanggapi) Dapat dicari dengan rumus pytagoras yaitu mencari akar dengan mengurangkan sisi miring kuadrat dikurangi sisi siku kuadrat, maka akan didapat tinggi segitiganya. 3 Menjelaskan jawaban dari soal-soal bahan diskusi (7) Dari 3 pertanyaan yang terdapat dalam bahan diskusi (7) seluruh pertanyaan dapat diselesaikan kelompok 3 dan kelompok 3 daat menjelaskan dengan lancar kepada kelompok lain karena di kelompok 3 terdapat 2 anak yang pintar. 4 Memprediksi Dari gambar di atas, luas sebuah segitiga jika digabungkan dengan luas segitiga yang satunya akan menghasilkan luas bangun datar apa? Kelompok 3 dapat menjawabnya dengan benar: yaitu luas persegi dan luas belah ketupat. Selanjutnya, peneliti bersama observer memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah berlangsung, dan peneliti menyimpulkan apa yang sudah di jelaskan oleh kelompok 6. peneliti mengharapkan untuk pertemuan selanjutnya siswa lebih aktif lagi dalam menjawab maupun pada saat diskusi di depan kelas. Dan terakhir guru memberikan jurnal harian untuk diisi oleh siswa. 90 3) Pertemuan kesembilan (Kamis, 22 April 2010) Pertemuan 9 berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka pembelajaran dan apersepsi, pada pertemuan kesembilan ini terdapat 2 orang yang tidak hadir karena sakit. Kelas sudah mulai rapih karena siswa sudah duduk dengan masing-masing kelompoknya, dan sudah kelihatan bersemangat untuk memulai pertemuan kali ini. Peneliti bersama observer membagikan bahan diskusi (8) yang berisi materi “menjelaskan pengertian dan sifat-sifat persegi panjang” kepada setiap kelompok. Siswa sudah mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang ada di dalam bahan diskusi tanpa perintah peneliti terlebih dahulu masing-masing kelompok sudah sibuk membagi tugas kepada teman-teman kelompoknya. Aktivitas siswa sudah membaik tidak ada lagi siswa yang tidak mengerjakan tugas dengan kelompoknya.. Peneliti bersama observer berkeliling seperti biasa memantau siswa dalam mengerjakan bahan diskusi (8), pada proses pembelajaran terbalik di pertemuan 9 sudah terlihat mengalami banyak peningkatan. Siswa sudah tidak begitu ribut dan peran penelitipun suda mulai berkurang karena siswa sudah paham dengan sendirinya. bahan diskusi (8) dapat diselesaikan sesuai waktu yang diinginkan semua kelompok dapat mengerjakan bahan diskusi dengan tuntas sesuai waktu yang diperintahkan. Setelah selesai mengerjakan bahan diskusi (8), dengan cara acak memilih siswa yang akan menjadi guru siswa dan terpilihlah kelompok 8 karena memang kelompok 8 yang belum pernah maju di setiap pertemuan sebelumnya. Berikut ini petikan dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan keempat beserta analisis deskripsinya. 1 Merangkum Dari 38 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, sebagian besar siswa membuat rangkuman dengan baik walaupun belum sepenuhnya sempurna. Dari diskusi kelompok 8 selama mengerjakan rangkuman diperoleh kesimpulan 91 rangkuman siswa dalam kelompok 8 yang di jelaskan kepada kelompok lain adalah sebagai berikut: Dengan menuliskan di papan tulis hasil kelompok (8) Pengertian persegi panjang: Persegi panjang adalah bangun datar segi empat yang memiliki dua pasang sisi sejajar dan memiliki empat sudut siku-siku. Sifat-sifat persegi panjang antara lain: - Sisi-sisi yang berhadapan dari suatu persegi panjang sama panjang dan sejajar. - Diagonal-diagonal dari suatu persegi panjang adalah sama pan- jang dan saling membagi dua sama besar. - Setiap sudut persegi panjang adalah sama besar dan merupakan sudut siku-siku (90o). 2 Menyusun pertanyaan Pertanyaan kelompok 1: - Apakah yang dimaksud dengan diagonal? Jawab: (kelompok 8) Diagonal adalah garis yang menghubungkan sudut dari panjang dan lebar persegi panjang dan saling membagi dua sama besar. - Apakah bisa mencari panjang diagonal dengan diketahui panjang dan lebarnya? Jawab: (kelompok 4 menanggapi) Dapat dicari dengan rumus pytagoras yaitu mencari akar dengan menjumlahkan panjang kuadrat ditambah sisi siku kuadrat, maka akan didapat panjang diagonal persegi panjang. 3 Menjelaskan jawaban dari soal-soal bahan diskusi (8) Dari 5 pertanyaan yang terdapat dalam bahan diskusi (7) seluruh pertanyaan dapat diselesaikan kelompok 8 dan kelompok 8 daat menjelaskan dengan lancar kepada kelompok lain. 4 Memprediksi Tebaklah aku! Aku adalah benda yang mempunyai dua pasang buah sisi, sisi yang satu biasanya disebut sisi panjang dan yang satunya lagi biasa disebut lebar. 92 Ukuranku macam-macam, ada yang 1 meter, 50 cm, 30 cm, dll. Selain itu, aku juga terbentuk dari kayu, plastic bahkan besi! Apakah aku? Penggaris Apa fungsiku? Untuk mengukur benda Selanjutnya, peneliti bersama observer memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah berlangsung, dan peneliti menyimpulkan apa yang sudah di jelaskan oleh kelompok 8. hasilnya sudah membaik siswa sudh banyak yang aktif dan sudah percaya diri untuk menjadi guru siswa. Dan terakhir guru memberikan jurnal harian untuk diisi oleh siswa. 4) Pertemuan kesepuluh (Jum’at, 23 April 2010) Pertemuan 10 berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran). Kegiatan pembelajaran diawali dengan membuka pembelajaran dan apersepsi, pada pertemuan kesembilan ini terdapat 2 orang yang tidak hadir karena sakit. Kelas sudah mulai rapih karena siswa sudah duduk dengan masing-masing kelompoknya, dan sudah kelihatan bersemangat untuk memulai pertemuan kali ini. Peneliti bersama observer membagikan bahan diskusi (9) yang berisi materi “menemukan dan menghitung keliling dan luas persegi panjang” kepada setiap kelompok. Siswa sudah mulai terbiasa dengan tugas-tugas yang ada di dalam bahan diskusi tanpa perintah peneliti terlebih dahulu masing-masing kelompok sudah sibuk membagi tugas kepada teman-teman kelompoknya. Aktivitas siswa sudah sangat membaik tidak ada lagi siswa yang tidak mengerjakan tugas dengan kelompoknya.. Peneliti bersama observer hanya memantau dari depan tidak lagi berkeliling seperti biasanya karena semua siswa sudah sangat mengerti akan tugasnya. pada proses pembelajaran terbalik di pertemuan 10 sudah terlihat mengalami banyak peningkatan. 93 Setelah selesai mengerjakan bahan diskusi (9), karena semua kelompok sudah merasakan maju ke depan akhirnya peneliti yang menentukan bahwa kelompok 4 lah yang akan menjadi guru siswa. Berikut ini petikan dari proses pembelajaran terbalik yang dilakukan siswa pada pertemuan keempat beserta analisis deskripsinya. 1 Merangkum Dari 38 siswa yang mengikuti pembelajaran terbalik, sebagian besar siswa membuat rangkuman dengan baik walaupun belum sepenuhnya sempurna. Dari diskusi kelompok 4 selama mengerjakan rangkuman diperoleh kesimpulan rangkuman siswa dalam kelompok 4 yang di jelaskan kepada kelompok lain adalah sebagai berikut: Dengan menuliskan di papan tulis hasil kelompok (4) Keliling suatu bangun datar adalah jumlah panjang sisi-sisi bangun tersebut. p + p +l + l = 2(p +l) Luas daerah persegi panjang adalah hasil perkalian dari ukuran panjang dan lebar persegi panjang tersebut. Secara aljabar ditulis L = p x l Kelompok 4 merangkum contoh beberapa contoh soal juga dan menjelaskan dengan cara menuliskannya di papan tulis. 2 Menyusun pertanyaan - Bagaimana jika yang diketahui terlebih dahulu luas dan lebarnya, apakah bisa di cari panjangnya? Jawab: (kelompok 3) Bisa saja tinggal mengurangi keliling dengan lebar persegi panjang. - Bagaimana mencari lebar persegi panjang, jika yang diketahui luas dan panjangnya? Jawab: (kelompok 8 menanggapi) Dapat dicari dengan mengurangkan keliling dengan dua kali panjangnya kemudian hasilnya dibagi dua, maka akan ketemu lebarnya. 94 3 Menjelaskan jawaban dari soal-soal bahan diskusi (9) Dari 2 pertanyaan yang terdapat dalam bahan diskusi (9) seluruh pertanyaan dapat diselesaikan kelompok 4 dan kelompok 4 daat menjelaskan dengan lancar kepada kelompok lain. 4 Memprediksi Masing-masing kelompok menggambar macam-macam ada yang menggambar rumah, menggambar pak tani dll. Kelompok 4, 1, 3 dan 5 menggambar pak tani dan memiliki 9 satuan luas segitiga. 5) Pertemuan kesebelas (Kamis, 29 April 2010) Pertemuan kesebelas sama halnya dengan pertemuan sebelumnya berlangsung 2x40 menit (2 jam pelajaran) yang dimulai dari pukul 14.30-15.50. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan membuka pembelajaran dan memeriksa absensi siswa, dan semua siswa hadir. Pertemuan ini tidak dibagi kelompok karena akan dilaksanakan tes akhir siklus 1. Tes ini berbentuk soal pilihan ganda yang telah di uji validitas dan reliabilitas soal, soal berjumlah 25 yang terdiri dari menemukan rumus dan menghitung keliling segitiga, menemukan rumus dan menghitung luas segitiga, menjelaskan pengertian dan sifat-sifat persegi panjang, menemukan rumus dan menghitung keliling dan luas persegi panjang. Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat hasil belajar matematika siswa terhadap materi yang telah diajarkan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Sebelum dilaksanakan tes, 10 menit dilakukan review sekilas materi yang sudah diajarkan dan membahas kesulitan-kesulitan yang masih ada. Tes ini dilaksanakan selama 60 menit. Selama proses berlangsung, suasanapun menjadi sepi dan hening namun masih ada beberapa siswa yang masih menyontek dengan teman sebangkunya dan peneliti segera menegurnya. Setelah waktu habis siswa segera mengumpulkan lembar jawaban tes dan pada pertemuan ini siswa tidak diberikan lembar jurnal harian siswa. 95 c) Tahap Observasi dan analisis Tahap observasi berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Guru kelas (observer) melakukan pengamatan langsung tentang pelaksanaan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran. Hasil pengamatan aktivitas belajar siswa melalui lembar observasi dapat dilihat pada tabel 7 berikut: Tabel 7 Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Pada Pembelajaran Siklus II Indikator yang No diamati 1 2 3 4 Aktivitas visual Aktivitas oral Aktivitas menulis Aktivitas mental Aktivitas emosional 5 Pert.7 Pert.8 Pert.9 Pert.10 Rata-rata 80% 60% 60% 70% 80% 66,67% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 71,67% 75% 77,5% 80% 80% 80% 80% 80% Rata-rata aktivitas total 76,83% Berdasarkan tabel di atas, diperoleh informasi bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus II adalah sebagai berikut: 1) Visual activities Rata-rata persentase siswa yang memperhatikan penjelasan guru atau teman pada saat diskusi sebanyak 80 %. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang memperhatikan guru atau teman pada saat diskusi berlangsung sudah cukup banyak dan memperoleh nilai baik, akan tetapi masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru atau teman pada saat diskusi. aspek ini sudah menunjukkan adanya peningkatan yang sangat baik bila dibandingkan dengan hasil persentase pada siklus I. 96 2) Oral activities Rata-rata persentase aktivitas oral mencapai 71,67%. Siswa pada aktivitas memberi penjelasan pada saat diskusi kelompok berlangsung mencapai 75%. Persentase ini terbilang sudah cukup baik karena siswa sudah mulai terbiasa menjadi guru. Rata-rata persentase siswa mengajukan pertanyaan sebanyak 70%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat diskusi berlangsung sudah terbilang cukup, karena sudah banyak siswa yang berani bertanya kepada guru siswa pada saat diskusi berlangsung, walaupun terkadang siswa masih ada beberapa siswa yang berani bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan temannya. Rata-rata menanggapi penjelasan guru/teman pada saat diskusi sebanyak 70%. Hal ini menunjukan bahwa pada saat memberi penjelasan siswa sudah berani mengemukakan pendapatnya dan percaya diri akan pendapatnya. Ketiga aspek ini sudah menunjukkan adanya peningkatan yang sangat baik bila dibandingkan dengan hasil persentase pada siklus I 3) Writing activities Writing activities yang dinilai peneliti adalah membuat rangkuman materi dari bahan diskusi yang diberikan kepada masing-masing siswa dalam kelompok. Rata-rata membuat rangkuman sebanyak 75%. Dalam membuat rangkuman siswa dinyatakan sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I karena rangkuman sudah dibuat persiswa. 4) Mental activities Untuk mental activities yaitu aktivitas memecahkan soal dalam bahan diskusi dan memprediksi, rata-rata persentase aktivitas mental mencapai 77,5% dengan persentase aktivitas siswa memecahkan masalah mencapai 75%, siswa sudah mampu mengerjakan soal-soal dengan kelompoknya karena tingkatan soal sudah dibuat bervariasi. Untuk aktivitas memprediksi sudah cukup baik mencapai 80%, dalam bahan diskusi soal memprediksi sudah dinilai cukup jelas oleh observer karena soalnya mengarahkan siswa untuk berpikir kreatif dalam menjawab soal dan soal-soal yang adapun menarik menurut observer. Kedua aspek ini sudah menunjukkan adanya peningkatan yang sangat baik bila dibandingkan dengan hasil persentase pada siklus I. 97 5) Emotional activities Rata-rata aktivitas emosional siswa mencapai 80% diantaranya minat siswa dengan pembelajaran terbalik mencapai 80%, menurut observer siswa terlihat antusias dan bersemangat pada saat mengerjakan tugas-tugas yang ada di bahan diskusi karena menurut siswa pembelajaran yang diterapkan sangat menarik, siswa dilatih untuk memahami materi sendiri dan belajar menjadi guru siswa. Siswa cukup senang dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik dengan persentase yang diperoleh 80%. Kedua aspek ini sudah menunjukkan adanya peningkatan yang sangat baik bila dibandingkan dengan hasil persentase pada siklus I. Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada saat pembelajaran siklus II rata-rata aktivitas yang diperoleh sebesar 76,83%. Rata-rata aktivitas siswa pada siklus II ini meningkat dibandingkan pada siklus I yang hanya mencapai 60,40%. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa ketika proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran terbalik sudah cukup baik. Hasil pengamatan aktivitas kelompok siswa melalui lembar observasi dapat dilihat pada tabel 8 berikut: Tabel 8 Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Siklus II Kelompok Jumlah Skor Persentase Keterangan 1 30 75% Tercapai 2 23 58% Tidak tercapai 3 27 68% Tercapai 4 29 73% Tercapai 5 30 75% Tercapai 6 32 80% Tercapai 7 24 60% Tidak tercapai 8 32 80% Tercapai Rata-rata 29,5 71,12% Tercapai 98 Berdasarkan tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa aktivitas kelompok 2 mengalami peningkatan sebesar 13% apabila dibandingkan dengan aktivitas pada siklus I yaitu 45% pada siklus II ini menjadi 58%. Aktivitas kelompok 3 juga mengalami peningkatan sebesar 15% bila dibandingkan dengan siklus I, persentase aktivitas kelompok ini pada siklus II mencpai 68% sedangkan pada siklus I sebesar 53%. Persentase aktivitas kelompok 4 pada siklus I sebesar 58% sedangkan persentase pada siklus II sebesar 73%. Persentase tersebut memperlihakan kenaikan aktivitas siswa sebesar 15%. Persentase aktivitas belajar matematika kelompok 7 pada siklus I sebesar 50% sedangkan pada siklus II sebesar 60%, hal ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 10%. Perolehan persentase aktivitas belajar kelompok 6 dan 8 masih menunjukkan persentase paling tinggi dibandingkan dengan kelompok lain yaitu sebesar 80%. Persentase kelompok ini pada siklus I sebesar 65% sehingga kelompok ini mengalami peningkatan 15%. Aktivitas kelompok 1 dan 5 meningkat bila dibandingkan dengan aktivitas kelompok pada siklus I, hal ini dapat dilihat dari perbandingan persentase aktivitas kelompok siklus I yaitu sebesar 63% menjadi 75%. Selain lembar observasi, peneliti menggunaan jurnal harian siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Beberapa respon siswa terhadap tindakan pembelajaran pada setiap pertemuan siklus II yang diperoleh dari jurnal harian siswa dapat dilihat pada tabel 9 berikut: Tabel 9 Rekapitulasi Respon Siswa Siklus II No Persentase Pada Pertemuan Ke- Kategori Rata-rata 7 (%) 8 (%) 9 (%) 10 (%) (%) 1 Positif 72,5 74,35 77,5 80 76,08 2 Netral 0 0 0 0 0 3 Negatif 27,5 25,64 22,5 20 23,91 0 0 0 0 0 4 Tidak Berkomentar 99 Data hasil jurnal harian siswa di atas jika diubah ke dalam diagram lingkaran seperti pada Diagram 2 berikut: 23,91% 0,00% 0,00% 76,08% 1 Positif 2 Netral 3 Negatif 4 Tidak Berkomentar Dilihat dari diagram 2 respon positif siswa terhadap pembelajaran siklus II lebih besar dibandingkan dengan respon yang negatif. Ini artinya bahwa sebagian besar siswa menyenangi pembelajaran matematika dengan penggunaan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Hasil belajar selama siklus II diperoleh dari tes akhir siklus II pada pertemuan kesembilan. Hasil tes akhir siklus II tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10 Hasil Belajar Matematika pada Akhir Siklus II Interval Frekuensi frelatif frelatif Kumulatif ≥ 60 – 66 5 0,122 100% 67 – 73 10 0,2439 87,8% 74 – 80 11 0,2683 63,41% 81 – 87 6 0,1463 36,58% 88 – 94 5 0,122 21,95% 95 – 101 4 0,0975 9,75% Keterangan : Xmin = 60 Jumlah siswa = 40 Xmax = 100 Rata-rata = 78,3 100 d) Tahap Refleksi Dalam pelaksanaan proses pembelajaran metode yang digunakan oleh peneliti pada setiap tindakan pembelajaran telah sesuai yaitu model pembelajaran terbalik walaupun dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan tetapi hal tersebut dapat diatasi pada tindakan pembelajaran selanjutnya dengan adanya kegiatan refleksi pada setiap akhir pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi diperoleh rata-rata persentase aktivitas belajar siswa mencapai 76,33%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata persentase aktivitas belajar siswa pada siklus II telah mencapai indikator keberhasilan penelitian ini, dimana rata-rata persentase aktivitas belajar siswa harus mencapai 70%. Berdasarkan tes hasil belajar matematika yaitu tes akhir siklus II ini mencapai rata-rata 78,3 dengan nilai terendah 60. Hal ini juga menunjukkan bahwa tes hasil belajar siswa pada siklus II telah mencapai indikator keberhasilan penelitian ini, dimana rata-rata tes hasil belajar siswa mencapai nilai 70 dan tidak ada siswa yang mendapat nilai dibawah KKM yaitu 55. Adapun hasil wawancara terhadap guru dan siswa memberikan informasi bahwa siswa sangat merespon baik model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini dan guru kelas juga menganggap bahwa penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini telah dilaksanakan dengan sangat baik sehingga dapat dikatakan berhasil. Berdasarkan hasil refleksi siklus II ini, yaitu bahwa kedua indikator keberhasilan telah tercapai maka penelitian tindakan kelas ini dihentikan sampai dengan siklus II. B. Pemeriksaan Keabsahan Data Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri atas instrument tes dan non tes. Untuk tes digunakan tes formatif yaitu tes yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus, dan tes subsumatif yang diberikan pada akhir pembelajaran yaitu berupa soal latihan pada bahan diskusi. Tes ini 101 bertujuan untuk menganalisis peningkatan hasil belajar matematika siswa pada tiap siklus sebagai implikasi dari PTK. Sedangkan instrumen non tes berupa lembar observasi, jurnal harian dan wawancara yang ditujukan untuk guru dan siswa. Lembar observasi diisi pada setiap pertemuan sedangkan wawancara dilakukan pada akhir siklus II. Untuk mengetahui apakah data yang diperoleh valid dan memiliki tingkat keterpercayaan yang tinggi, dilakukan member check. Kegiatan ini meliputi memeriksa kembali keterangan atau informasi yang diperoleh selama observasi dari narasumber, memeriksa apakah data tersebut tetap sifatnya dan dapat dipastikan kebenaran data. Selain melakukan member check, untuk mendapatkan data yang absah dilakukan pula teknik triangulasi melalui pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa apakah menunjukkan peningkatan dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik. Hal ini bertujuan untuk menggali data dari sumber yang sama yaitu siswa, dengan menggunakan cara yang berbeda. Peneliti juga secara rutin melakukan diskusi dengan guru kolaborator mengenai hasil observasi yang diperoleh, dibaca berulang-ulang, dan menghilangkan data yang tidak relevan dengan fokus penelitian. Hal ini bertujuan agar data yang diperoleh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk mengetahui apakah hasil wawancara dengan siswa tentang persepsi siswa terhadap penerapan model pembelajaran terbalik, bagaimana aktivitas belajar siswa dan dampaknya terhadap hasil belajar siswa didapat informasi dari keadaan yang sebenarnya, wawancara dilakukan kepada 6 siswa yang diambil berdasarkan prestasi belajarnya yang rendah, sedang dan tinggi. Hal ini bertujuan agar informasi yang diperoleh dapat mewakili siswa dalam kelas secara keseluruhan. C. Analisis Data Tahap analisis dimulai dengan membaca keseluruhan data yang ada, yang diperoleh dari berbagai sumber. Diantaranya sebagai berikut: 102 1. Hasil Pengamatan Lembar observasi terdiri dari dua macam yaitu lembar observasi guru pada KBM untuk menilai kualitas guru dalam penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dan lembar observasi aktivitas belajar matematika siswa untuk mengetahui persentase aktivitas belajar siswa. Lembar observasi juga digunakan untuk menganalisis dan merefleksi setiap siklus. Adapun hasil observasi aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11 Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Jenis No aktivitas Indikator yang diamati Memperhatikan penjelasan materi guru/teman Rata-rata visual activities Memberikan penjelasan pada saat diskusi kelompok Oral 2 Mengajukan pertanyaan activities Menanggapi penjelasan guru/teman pada saat diskusi Rata-rata oral activities Membuat rangkuman dari Writing 3 activities materi yang akan dijelaskan Rata-rata writing activities Memecahkan masalah dalam BAHAN DISKUSI Mental Memprediksi jawaban dari 4 activities pertanyaan yang diberikan dalam BAHAN DISKUSI Rata-rata mental activities Minat/antusias siswa selama Emotional belajar 5 activities Senang selama belajar Rata-rata emotional activities Rata-rata aktivitas total 1 Visual activities Siklus Siklus I II (60%) (80%) 60% 80% (56%) (75%) (56%) (70%) (56%) (70%) 56% 71,67% (64%) (75%) 64% 75% (52%) (75%) (68%) (80%) 60% 77,5% (60%) (80%) (64)% (80%) 62% 80% 60,40% 76,83% 103 Berdasarkan tabel di atas diperoleh informasi bahwa rata-rata persentase aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan 16,43%. Data pada tabel tersebut juga menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan pada siklus II telah dapat memperbaiki/meningkatkan sebagian besar aspek aktivitas yang masih rendah pada siklus I, seperti aktivitas memperhatikan penjelasan guru/teman, memberikan penjelasan materi, mengajukan pertanyaan, menanggapi penjelasan guru siswa, memecahkan masalah, dan antusias siswa. Perbandingan persentase aktivitas belajar siswa pada siklus I dan siklus II disajikan dalam diagram sebagai berikut: Diagram 3 persentase Diagram Batang Peningkatan Persentase Aktivitas Belajar 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Siklus I Siklus II 1 2 3 4 5 Aspek Aktivitas Ket: Aspek 1. Visual Activities 2. Oral Activities 3. Writing Aactivities 4. Mental Activities 5. Emotional Activities Dari kelima aspek indikator tersebut terlihat bahwa peningkatan setiap aspeknya memiliki rata-rata kenaikan hampir sama, dan aspek peningkatan tertinggi terjadi pada indikator visual activities yaitu memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru/teman dan indikator emotional activities yaitu 104 antusias dan senang selama belajar matematika yang meningkat sampai 80%. Peningkatan aspek aktivitas yang belum maksimal terjadi pada oral activities yaitu masih kurangnya siswa pada saat mengajukan pertanyaan dan menanggapi penjelasan guru siswa pada saat diskusi, hal ini terjadi karena siswa masih malumalu dalam mengungkapkan pendapatnya tetapi siswa sudah terlihat maksimal walaupun belum sepenuhnya maksimal. Seluruh indikator sudah mengalami ketercapaian penelitian yaitu aktivitas siswa mencapai 76,83% dan sudah melebihi batas ketercapaian 70%. Tabel 12 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Kelompok Siswa Nama Siklus I Siklus II Kelompok skor % Keterangan skor % Keterangan 1 25 63% Tercapai 30 75% Tercapai 2 18 45% Tidak tercapai 23 58% Tidak tercapai 3 21 53% Tidak tercapai 27 68% Tercapai 4 23 58% Tidak tercapai 29 73% Tercapai 5 25 63% Tercapai 30 75% Tercapai 6 26 65% Tercapai 32 80% Tercapai 7 20 50% Tidak tercapai 24 60% Tidak tercapai 8 26 65% Tercapai 32 80% Tercapai Rata-rata 23 57,75% Tidak tercapai 28,4 71,12% Tercapai Berdasarkan tabel 12 peningkatan persentase aktivitas kelompok mengalami peningkatan 13,37% karena terjadi peningkatan pada setiap kelompoknya, walaupun masih ada 2 kelompok yang belum mencapai ketercapaian karena masih di bawah kriteria ketuntasan yaitu 63% atau skor minimum 25, tetapi semua kelompok sudah menunjukkan peningkatan pada setiap pertemuannya. kelompok yang paling meningkat terjadi pada kelompok 6 dan 8 hal itu terjadi karena kelompok tersebut merupakan kelompok yang paling aktif dalam berdiskusi maupun dalam mengerjakan bahan diskusi. 105 Diagram 4 Diagram Batang Peningkatan Persentase Aktivitas Belajar Kelompok 100 90 Persentase 80 70 Siklus 1 Siklus 2 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Kelompok 2. Hasil Belajar Matematika Untuk tes hasil belajar digunakan tes formatif yaitu tes yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus, dan tes subsumatif yang diberikan pada akhir pembelajaran yaitu berupa soal latihan pada bahan diskusi. Adapun hasil tes tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 13 Statistik Deskriptif Peningkatan Hasil Belajar Siswa Statistik Siklus I Siklus II Nilai tertinggi 95 100 Nilai terendah 35 60 Rata-rata 66,87 78,3 Standar deviasi 15,21 10,4 Berdasarkan tabel 13 tersebut diperoleh informasi bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yaitu sudah di atas KKM. Rata-rata nilai pada siklus II 106 mengalami peningkatan 11,43 yaitu dari yang sebelumnya 66,87 menjadi 78,3. Pada siklus I masih ada siswa yang mendapat nilai dibawah KKM yaitu 35, namun pada siklus II nilai terendahnya adalah 60 dan sudah tidak ada lagi siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Peningkatan hasil belajar jika disajikan dalam diagram batang adalah sebagai berikut: Diagram 5 Diagram Batang Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa 80 Nilai Rata-rata 70 60 50 40 30 20 10 0 Siklus I Siklus II Tes Hasil Belajar 3. Respon Siswa terhadap Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) Respon siswa terhadap pembelajaran dalam setiap tindakan penting untuk disajikan sebuah pertimbangan ataupun perbaikan bagi penyusunan rencana pembelajaran berikutnya. Respon siswa tersebut disusun dalam jurnal harian siswa yang diberikan kepada siswa pada akhir tindakan pembelajaran. Respon yang dikemukakan siswa beragam, ada yang berkomentar positif, komentar negatif, komentar netral bahkan ada yang tidak berkomentar. Jurnal harian yang telah disusun kemudian dihitung persentase jenis pendapatnya dan hasilnya dirangkum pada tabel 14 berikut: 107 Tabel 14 Rekapitulasi Persentase Respon Siswa siklus I dan II Kategori Rata-rata Persentase Pada Siklus ke- Rata-rata(%) I(%) II(%) Positif 64,33 76,08 70,20 Netral 8,40 0 8,40 Negatif 26,21 23,91 25,06 5,26 0 5,26 Tidak Berkomentar Berdasarkan tabel 14 persentase rata-rata dikonversikan dalam diagram 5: Persentase Respon Siswa 80 Persentase 60 76,08 64,33 Positif Netral 40 Negatif 26,21 20 0 8,4 5,26 Siklus I 23,91 Tidak Berkomentar 0 Siklus II Diagram 6 Persentase Respon Siswa 4. Hasil Wawancara Selain data yang diperoleh dari lembar observasi, jurnal harian dan tes hasil belajar, penelitian ini juga diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada guru dan siswa. Wawancara dilakukan sebelum tindakan dan setelah tindakan. Pada wawancara yang dilakukan pada guru sebelum tindakan (penelitian pendahuluan) diperoleh informasi bahwa tingkat kemampuan siswa kelas VII-D rata-rata masih di bawah KKM, metode yang selama ini digunakan guru adalah ceramah, siswa jarang sekali bertanya, kemampuan siswa dalam mengerjakan soal rendah tentang materi pelajaran dan masih ada sebagian kecil siswa yang sering 108 acuh saat guru menjelaskan ataupun memberi pertanyaan. Para siswa juga kadang merasa bosan saat belajar matematika yang selalu mengerjakan soal. Adapun hasil wawancara dengan guru dan siswa pada siklus II memberikan informasi bahwa siswa sangat merespon baik model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini dan guru kelas juga menganggap bahwa penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) ini telah dilaksanakan dengan sangat baik karena siswa dituntut untuk menggali kemampuannya dalam belajar dan aktivitas siswa menjadi meningkat, sehingga dapat dikatakan berhasil. D. Pembahasan Temuan Penelitian 1. Penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa Penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas siswa karena prinsip pembelajaran ini adalah sebuah pembelajaran yang menerapkan empat strategi kognitif yang mengarahkan siswa untuk mandiri, aktif dalam memahami suatu materi. Jadi dalam setiap pembelajaran yang lebih berperan aktif adalah siswa. Peningkatan aktivitas belajar matematika pada penelitian pendahuluan diperoleh rata-rata skor aktivitas siswa yaitu 47,5%. Dan setelah tindakan siklus I diperoleh skor rata-rata aktivitas siswa sebesar 60,40% sedangkan setelah tindakan dengan siklus II diperoleh skor rata-rata aktivitas belajar matematika siswa sebesar 76,83% ini artinya terjadi peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika, hal ini terjadi karena pada siklus II siswa sudah mulai berani dalam mengemukakan pendapatnya, siswa juga sudah pintar dalam membuat pertanyaan maupun menjadi guru siswa. Sedangkan melaui lembar observasi aktivitas kelompok siswa pada siklus I mendapat skor dengan rata-rata 57,75% sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 71,12% dan sudah mencapai rata-rata skor ketercapaian yaitu 63% atau skor 25. Pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) memberikan pengaruh yang besar terhadap aktivitas belajar matematika siswa. 109 2. Siswa memiliki respon positif terhadap pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) Pada siklus I dari hasil pengamatan menunjukkan siswa cukup senang dan semangat belajar dengan diterapkannya model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Dengan adanya antusias dan semangat siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat menginformasikan bahwa model pembelajaran ini dapat menciptakan respon positif siswa terhadap pelajaran matematika. Siswa juga terlihat semakin pandai dan berani dalam menerapkan model pembelajaran terbalik. Jurnal harian siswa melengkapi data yang sudah ada tujuannya agar data yang diperoleh kuat keberadaannya yaitu untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran terbalik. Berdasarkan hasil jurnal harian diperoleh respon positif siswa dari siklus I sebesar 64,33% menjadi 76,08% pada siklus II. Sehingga mengalami peningkatan sebesar 11,75% dengan rata-rata keseluruhan siswa yang memberikan respon positif pada siklus I dan siklus II sebesar 70,20%, sedangkan rata-rata siswa yang memberikan respon yang negatif pada siklus I dan siklus II sebesar 25,06%, ini artinya sebagian besar siswa memiliki respon yang positif terhadap proses pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). 3. Penerapan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa Seiring dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran tematik maka hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar matematika siswa yang diperoleh dari nilai tes akhir siklus I menunjukkan rata-rata yang cukup baik yaitu mencapai 66,67%. Rata-rata nilai pada siklus II mengalami peningkatan 11,43 yaitu dari yang sebelumnya 66,67% menjadi 78,30%. Pada siklus I masih ada 8 orang siswa yang mendapat nilai dibawah KKM yaitu 55, namun pada siklus II nilai terendahnya adalah 60 dan sudah tidak ada lagi siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. 110 111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan deskripsi data dan pembahasan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa. Peningkatan aktivitas belajar matematika siswa ini dapat terlihat dari hasil observasi yang menunjukkan bahwa rata-rata persentase aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 60,40% dan setelah dilakukan perbaikan selama pembelajaran pada siklus II rata-rata persentase aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 76,83%. Penelitian ini dihentikan karena sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu 70%. Rata-rata aktivitas kelompok siswa pada siklus I sebesar 57,75% dan meningkat pada siklus II menjadi 71,12%. Aspek yang dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran terbalik yaitu aktivitas memperhatikan penjelasan materi guru/teman, memberi penjelasan pada saat diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan, menanggapi penjelasan guru/teman pada saat diskusi, membuat rangkuman, memecahkan masalah dalam LKS, memprediksi, antusias dan senang selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran terbalik. 2. Siswa memiliki respon yang positif terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching). Hal ini terlihat dari meningkatnya respon positif siswa dari siklus I sebesar 64,33% menjadi 76,08% pada siklus II. Sehingga mengalami peningkatan sebesar 11,75%. 3. Model pembelajaran terbalik dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan rata-rata nilai tes hasil belajar yang diberikan pada setiap akhir siklus. Pada siklus I nilai rata-ratanya sebesar 66,87 dan pada siklus II meningkat menjadi 78,30 serta tidak ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yaitu 55. 110 111 B. Saran 1. Apabila pembelajaran ini akan dilakukan maka guru perlu melakukan persiapan yang matang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan beberapa hal diantaranya: a. Mempersiapkan RPP, soal latihan, lembar observasi aktivitas siswa, jurnal harian untuk mengetahui respon siswa tersebut. b. Mempersiapkan LKS yang menarik dan memuat 4 strategi pembelajaran terbalik yaitu membuat rangkuman, mengajukan pertanyaan, menjelaskan dan memprediksi sebagai panduan agar terlaksana semua strategi dalam proses pembelajaran. c. Dalam membuat kelompok siswa sebaiknya terdapat siswa yang lebih pintar pada setiap kelompoknya untuk mempermudah dalam diskusi. 2. Siswa sebaiknya bisa dilibatkan dalam merumuskan kegiatan pembelajaran pada siklus berikutnya agar peneliti mengetahui keinginan siswa sebagai bahan pertimbangan perencanaan yang akan dipakai. 3. Model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan kemampuan dalam belajar matematika terutama dari segi keaktifan siswa. 4. Bagi para peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti keterkaitan antara penerapan model pembelajaran terbalik delam pembelajaran matematika terhadap kemampuan-kemampuan matematika yang lain seperti koneksi, penalaran, pemecahan masalah, berpikir kreatif dan penalaran. Jika membuat rangkuman diharapkan siswa dapat mengambil dari bahan diskusi yang dibuat peneliti atau bahan lain. 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI Skripsi berjudul ”Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa”, disusun oleh Ria Sardiyanti, Nomor Induk Mahasiswa 105017000475, Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas. Jakarta, Juni 2010 Yang Mengesahkan Pembimbing I Pembimbing II Dr. Kadir, M.Pd Abdul Muin,S.Si, M.Pd NIP. 19670812 199402 1 001 NIP.150 378 019 SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI Yang bertandatangan di bawah ini Nama : Ria Sardiyanti NIM : 105017000475 Jurusan : Pendidikan Matematika Angkatan Tahun : 2005 Alamat : Jl. Oscar II No.17 RT 001/ RW 002, BambuApus- Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, 15415. MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA Bahwa skripsi yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan dosen: 1. Nama NIP : Dr. Kadir, M.Pd : 19670812 199402 1 001 Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika 2. Nama NIP : Abdul Muin, S.Si, M.Pd : 19751201 200604 1 003 Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya sendiri. Jakarta, Juni 2010 Yang Menyatakan Ria Sardiyanti LEMBAR UJI REFERENSI Nama : Ria Sardiyanti Nim : 105017000475 Jurusan : Pendidikan Matematika Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa No 1. Referensi Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenanda Media Group, 2008), h.2 2. Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenanda Media Group, 2008), h.110 3. Ina V.S. Mullis, dkk, “TIMSS 2007 International Mathematics Report”, dari http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009, h. 38. 4. Ina V.S. Mullis, dkk, “TIMSS 2007 International Mathematics Report”, dari http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009, h. 195. 5. Sri Hartati, Penerapan Pendekatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) (Pengajaran Berbalik) Sebagai Upaya peningkatan Kadar Keaktifan dan Kemampuan Kognitif Siswa Pada Pembelajaran IPA SLTP, (Jakarta: Laporan Penelitian LIPI,UNS, 2002) h.3 Pembimbing Pembimbing I II 6. Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching) untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Bilangan Berpangkat Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 2 Moramo, h. 2 dalam http://pendidikanmatematika.files.wordpress.com/2009/03/ proposal_reciprocal_teaching_.doc. 7. Erman Suherman,dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung : JICA-UPI.2001), h. 18 8. Sukardjono, dkk, Hakikat dan Sejarah Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), h. 1.3 9. Erman Suherman,dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung : JICA-UPI.2001), h. 55 10. Ismail.,dkk, Kapita Selekta Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2002), h.1.15 11. Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 59 12. Prof. Dr. Udin S. Wiranataputra, dkk, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 1.2 13. Prof. Dr. Ir. Soedijanto Padmowihardjo, Psikologi belajar Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), h. 1.18 14. Wasty soemarto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 104 15. Triyanto, Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: Prestasi pustaka, 2007), h. 28 16. Triyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 12 17. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, 2003 ), hal. 4 18. Prof. Dr. Udin S. Wiranataputra, dkk, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 1.6 19. Ismail, dkk, Pembaharuan dalam Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 7.13 20. Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,2008), h. 96 21. http://agungprudent.wordpress.com/2009/06/05/modelpembelajaran-reciprocal-teaching/ Diterbitkan di: Pendidikan on Juni 5, 2009 at 8:08 h.1 22. Dr. Mohammad Nur, Strategi-Strategi Belajar, (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2000), h. 48 23. Triyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 96 24. Eti Sulandari, Sri Pembelajaran terbalik Riyanti. Pengembangan Model (Reciprocal Teaching) pada Mata Kuliah Perancangan Bahan dan Tebal Perkerasan dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Belajar Mahasiswa Teknik Sipil di Fakultas Teknik, (Jakarta: Laporan Penelitian LIPI,Universitas Tanjung Pura, 2002) h. 6 25. Anna Uhl Chamot, et.al, The Learning Strategies Handbook, (Newyork: Addison Wesley Longman, Inc, 1996), h. 106 26. Triyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), h. 97 27. http://agungprudent.wordpress.com/2009/06/05/modelpembelajaran-reciprocal-teaching/ Diterbitkan di: Pendidikan on Juni 5, 2009 at 8:08 h.3 28. Eti Sulandari, Sri Pembelajaran terbalik Riyanti. Pengembangan Model (Reciprocal Teaching) pada Mata Kuliah Perancangan Bahan dan Tebal Perkerasan dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Belajar Mahasiswa Teknik Sipil di Fakultas Teknik, (Jakarta: Laporan Penelitian LIPI,Universitas Tanjung Pura, 2002) h. 8-10 29. Dr. Mohammad Nur, Strategi-Strategi Belajar, (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2000), h. 49 30. Prof.Dr.H. Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 147-154 31. Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,2008), h. 100 32. Anton M. Mulyono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2000), h. 26 33. Prof. Dr. Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, Cet. Ke-2, 2003), h. 170 34. Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,2008), h. 101 35. Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2002), cet 1, h. 38-45 36. Prof. Dr. Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, Cet. Ke-2, 2003), h. 175 37. Suharsimi Arikunto, Peneltian Tindakan Kelas, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007) Cet ke-4, h.3 38. Suharsimi Arikunto, Peneltian Tindakan Kelas, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007) Cet ke-4, h.20 39. Suharsimi Arikunto, Peneltian Tindakan Kelas, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007) Cet ke-4, h.63 40. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 79 41. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 100 Mengetahui Pembimbing I Pembimbing II Dr. Kadir, M.Pd Abdul Muin,S.Si, M.Pd NIP. 19670812 199402 1 001 NIP.150 378 019

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Penerapan model pembelajaran terpadu tipe connected untuk meningkatkan konsep diri siswa dalam belajar matematika (penelitian tindakan klas di madrasah tsanawiyah pembangunan UIN Jakarta
0
7
373
Penerapan strategi pembelajaran aktif the power of two untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa
1
5
212
Penerapan model cooperative learning teknik numbered heads together untuk meningkatkan hasil belajar akutansi siswa ( penelitian tindakan kelas di MAN 11 jakarta )
0
6
319
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor terstruktur untuk meningkatkan aktivitas belajar matemetika siswa (penelitian tindakan kelas di SMP Islam al-Ikhlas Cipete)
1
7
47
Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa
2
8
120
Penerapan metode pembelajaran SQ3R untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa
0
7
241
Penerapan penilaian autentik untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa (sebuah studi penelitian tindakan kelas di SD Negeri III Jati Asih Bekasi)
0
6
212
peranan model pembelajaran arias (Assurance, relavance, interest, assessment dan satisfaction untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa; penelitian tindakan kelas di MTs. Sa'aadatul mahabbah Pondok Cabe
0
6
202
Penerapan pembelajaran aktif metode permainan bingo untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas III SDN Tunas Mekar
2
15
171
Penerapan model pembelajaran terbalik reciprocal teaching untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa : penelitian tindakan kelas di mts daarul hikmah pamulang
0
14
265
Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipi Inside-outside circle untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa (penelitian tindakan kelas di MTSN Tangerang 11 Pamulang)
4
19
61
Upaya meningkatkan motivasi belajar matematika melalui pemberian kartu skor partisipasi siswa : penelitian tindakan kelas di SMP Islamiyah Ciputat
0
8
181
Meningkatkan minat belajar metematika siswa melalui penerapan model pembelajaran quantum teaching dengan tahapan belajar tandur: penelitian tindakan kelas di MTs Al- Islamiyah Ciledug Tangerang
1
7
227
Penggunaan metode resitasi untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa : penelitian tindakan kelas di sman 5 bekasi
2
11
200
Penerapan model pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SD Negeri Ciherang 01: penelitian tindakan kelas
1
8
0
Show more