Feedback

Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Chironomus sp. pada Level Bahan Organik Berbeda dalam Skala Laboratorium

Informasi dokumen
1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu indikator biologi untuk kesehatan ekosistem perairan adalah larva chironomida (Carew et al. 2003). Chironomida atau yang biasa disebut „non-biting midges‟ adalah lalat kecil mirip nyamuk yang mempunyai panjang yang bervariasi yakni 2-18 mm bergantung pada spesies. Kumpulan chironomida ini dapat dilihat pada subuh atau petang hari di kawasan dekat pinggiran danau dan hampir di semua tempat yang berdekatan dengan perairan terbuka baik yang stagnan maupun mengalir. Perbedaan chironomida dengan nyamuk adalah chironomida tidak menggigit dan tidak menjadi pembawa penyakit (Bay 2003). Larva chironomida digunakan sebagai indikator lingkungan dan perubahan iklim karena sangat cepat merespon perubahan kondisi perairan (Walkel 2001 in Heinrich et al. 2006). Selain itu larva chironomida memiliki manfaat yang sangat besar pada jaring-jaring makanan di lingkungan akuatik, yakni sebagai pakan alami ikan dan membantu membongkar sedimen-sedimen organik (Bay 2003). Sementara itu, di Indonesia belum banyak penelitian yang dilakukan untuk mengembangkan potensi biota akuatik yang satu ini padahal insekta ini memiliki distribusi yang sangat luas di lingkungan air tawar. Chironomida dapat tumbuh dan berkembang pada perairan yang telah terkontaminasi misalnya kolam stabilisasi limbah di mana larva chironomida menjadi makroinvertebrata yang mendominasi (Winner et al. 1980 in Halpern et al. 2002). Chironomida telah digunakan untuk menjelaskan perubahan suhu, ketersediaan oksigen, nutrien, kedalaman, klorofil a, dan banjir baik yang terjadi pada masa sekarang maupun masa lampau (Velle & Larocque 2007). Selain itu, berdasarkan penelitian Lobinske et al. (2002) yang berlokasi di dua danau di Central Florida diketahui bahwa larva chironomida merupakan salah satu makanan alami dari ikan bluegill (Lepomis macrochirus). Pentingnya peranan larva chironomida secara ekologis maupun ekonomis menuntut penggalian informasi lebih lanjut mengenai siklus hidup biota akuatik ini. Akan tetapi, penelitian mengenai chironomida seringkali mengalami kesulitan dalam mengkuantifikasi biota ini di alam. Kebiasaan chironomida dewasa meletakkan 2 telur di permukaan air yang nantinya akan tenggelam ke dasar maupun tersangkut di bagian tumbuhan yang bersifat subemerged menjadi penyebab sulitnya kuantifikasi chironomida. Oleh karena itu, digunakan metode pengamatan skala laboratorium untuk mengatasi kesulitan tersebut. Pengetahuan ini dapat digunakan sebagai dasar kegiatan perbanyakan larva chironomida yang diharapkan dapat menguntungkan secara ekologis maupun ekonomis, yakni sebagai indikator lingkungan dan budidaya pakan alami. Kebutuhan informasi mengenai pola pertumbuhan dan perkembangan biota ini sebagai dasar dari penelitian-penelitian lain untuk mengembangkan potensi chironomida baik dengan tujuan ekologis maupun ekonomis melatarbelakangi penelitian yang dilakukan. 1.2. Perumusan Masalah Chironomida merupakan salah satu jenis serangga yang larvanya memiliki peranan penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Namun sayangnya penelitian mengenai biota ini masih sangat minim. Permasalahan keterbatasan informasi menjadi alasan mengapa potensi serangga ini belum dimanfaatkan secara optimal. Chironomida merupakan salah satu contoh biota yang melakukan metamorfosis. Siklus hidupnya dibagi menjadi empat fase, yakni telur, larva, pupa, dan dewasa. Hal yang menarik adalah bahwa chironomida mengalami fase larva dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan ketiga fase hidup lainnya. Penelitian mengenai perkembangan dan pertumbuhan larva chironomida ini diharapkan dapat melihat potensi yang ada pada chironomida dan kemungkinan pemanfaatan chironomida dari segi ekologi maupun ekonomi. 3 Kualitas air Larva Chironomus sp. Bahan organik - Perkembangan ukuran larva Chironomus sp. + Pola pertumbuhan dan perkembangan Chironomus sp. pada lingkungan buatan Gambar 1. Skema perumusan masalah mengenai pola pertumbuhan dan perkembangan larva Chironomus sp. skala laboratorium 1.3. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perkembangan dan pertumbuhan larva chironomida khususnya genus Chironomus sp. yang ditumbuhkan di laboratorium pada level bahan organik yang berbeda. 1.4. Manfaat Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai dinamika populasi larva Chironomus sp. yang mencakup pola perkembangan dan pertumbuhan pada lingkungan buatan. Selanjutnya hasil penelitian dapat dijadikan rujukan dan masukan bagi penelitian lain mengenai larva chironomida terkait dengan potensi pengembangan budidaya larva ini sebagai pakan alami ikan maupun pemanfaatan chironomida sebagai bioindikator dan aspek paleolimnologi. 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Chironomida Organisme akuatik yang seringkali mendominasi dan banyak ditemukan di lingkungan perairan adalah larva serangga air. Salah satu larva serangga air yang dapat ditemukan sebagai benthos adalah Ordo Diptera dari Famili Chironomidae. Kebanyakan spesies anggota chironomida ini memiliki kebiasaan hidup meliang pada sedimen yang lunak pada fase larva. Larva akan berkembang menjadi pupa setelah ± 1 bulan untuk daerah tropis. menjadi chironomida dewasa. Pupa selanjutnya akan berkembang Setelah melakukan pemijahan, chironomida dewasa akan meletakkan telurnya di permukaan air dalam bentuk gelatin yang kompleks. Telur-telur ini selanjutnya akan tenggelam dan menetap pada sedimen maupun tanaman air dan benda-benda lain yang tenggelam. Chironomida adalah serangga kecil yang mirip nyamuk, memiliki variasi panjang tubuh mulai dari 2 hingga 18 milimeter bergantung pada masing-masing spesies. Warnanya pun juga bervariasi sesuai spesies, berkisar dari yang benarbenar terang, hijau pucat hingga hampir mendekati hitam pekat. Ratusan spesies chironomida tersebar luas di dunia, dan spesies-spesies yang berbeda mendominasi populasi-populasi tertentu di tempat-tempat yang berdekatan dengan danau, kolam, atau aliran sungai. Tidak seperti larva nyamuk, yang sebagian besar hidupnya berada di permukaan air dengan tujuan untuk bernafas, larva chironomida hidup di dasar atau pada tanaman dan benda-benda tenggelam lainnya. Chironomida, seperti layaknya anggota diptera memiliki empat fase hidup, yaitu telur, larva, pupa, dan dewasa. Siklus hidup dari telur hingga dewasa berkisar dalam rentang waktu satu minggu hingga lebih dari satu tahun bergantung pada spesiesnya (Bay 2003). Larva adalah fase hidup yang paling lama, diperkirakan mencapai satu bulan untuk daerah tropis dan dapat mencapai satu tahun untuk daerah bermusim empat. Larva chironomida ini memiliki tipe dan cara makan yang bervariasi, ada yang bersifat detritivor yakni memakan organisme yang sudah mati, grazer yaitu memakan algae dan fitoplankton, dan ada pula yang bersifat predator atau memangsa avertebrata lain yang lebih kecil. 5 2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan suatu perairan (Boyd 1998). Karakteristik dari suatu perairan akan mempengaruhi ketahanan hidup, reproduksi, pertumbuhan, termasuk manajemen pengelolaan perikanan. Oleh karena itu, aspek kualitas air menjadi fokus perhatian sebelum dilakukan pemanfaatan dari perairan itu sendiri. Parameter fisika yang diamati pada penelitian ini adalah suhu sedangkan parameter kimia yang diamati adalah pH, oksigen terlarut, dan COD. 2.2.1. Suhu Suhu adalah suatu ukuran dari energi kinetik rata-rata dari molekulmolekul, dengan suhu yang lebih tinggi aksi molekul meningkatkan tekanan dan menyebabkan mengembangnya material (Odum 1992). Suhu menjadi parameter penting dalam perairan dan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan di perairan. Suhu disebutkan memberikan pengaruh bagi proses kimia maupun biologi di perairan. Secara umum, tingkat reaksi kimia dan biologi meningkat menjadi dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 100C. Hal ini menunjukkan bahwa organisme akuatik menggunakan oksigen terlarut dua kali lebih banyak untuk suhu 30 ºC dibandingkan suhu 20 ºC, dan reaksi kimia menunjukkan kemajuan dua kali lebih cepat pada suhu 30 ºC dibandingkan suhu 20 ºC (Boyd 1998). Thompson (1942) dan Johnson et al. (1942) in Odum (1992) menunjukkan banyak proses dengan kurva respons terhadap suhu yang menyerupai bentuk punuk (hump-shaped). Berdasarkan hal tersebut, proses-proses mencapai maksimum pada suhu menengah. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba, dengan kata lain banyak proses yang berjalan maksimum saat suhu optimum. Kondisi suhu tidak dapat terlepas dari kehidupan chironomida. Beberapa faktor sangat krusial mempengaruhi keberadaan spesies maupun komposisi komunitas. Salah satu faktor kunci yang sangat berpengaruh adalah suhu. Pada beberapa kasus suhu air adalah faktor yang memiliki proporsi persentase besar dalam mempengaruhi variasi dari komposisi komunitas, walaupun faktor-faktor yang lain juga sama pentingnya (Rossaro 1991). Suhu diketahui berkorelasi 6 dengan oksigen terlarut yang merupakan faktor pembatas bagi kehidupan chironomida. 2.2.2. Oksigen terlarut Oksigen adalah salah satu elemen yang dapat ditemukan dalam banyak bentuk di lingkungan alami termasuk badan air. Bentuk pradominan di atmosfer adalah gas oksigen, yakni lebih kurang 21% dari keseluruhan gas-gas di atmosfer. Oksigen juga ditemukan berikatan dengan elemen-elemen lainnya. Oksigen sebagai komponen mayor bahan organik dan secara biologi relevan dengan komponen-komponen anorganik (Kodds 2002). Jumlah oksigen yang terlarut di perairan adalah fungsi dari banyak faktor, termasuk tingkat aktivitas metabolisme. Fotosintesis adalah salah satu sumber terbesar penghasil oksigen. Cahaya, suhu, dan nutrien adalah pengontrol proses fotosintesis. Sementara itu, aktivitas respirasi adalah salah satu pemakai terbesar dari oksigen di perairan. Volume dari oksigen terlarut di suatu perairan pada waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: suhu badan air, tekanan parsial gas di atmosfer yang berhubungan langsung dengan air, serta konsentrasi dari salinitas (garam-garaman), khusus untuk air laut. Oksigen terlarut adalah faktor pembatas yang sangat penting di habitat danau. Nilai dari oksigen terlarut ini berkaitan langsung dengan suhu karena tingkat atau persentase saturasi dari oksigen dipengaruhi oleh suhu perairan. Ketersediaan oksigen adalah salah satu variabel yang memiliki pengaruh langsung bagi distribusi larva chironomida (Jo ´nasson, 1972, 1984; Heinis & Davids, 1993; Hamburger 1998 in Brodersen et al. 2008). Hal ini membuktikan bahwa oksigen sangat berpengaruh dan menjadi salah satu faktor pembatas bagi kehidupan chironomida. 2.2.3. Chemical Oxygen Demand (COD) COD menggambarkan besarnya bahan organik yang dioksidasi dengan agen pengoksidasi kuat seperti K2Cr2O7 (Nemerow 1991). Perbedaan utama antara COD dengan BOD adalah COD menggambarkan tidak hanya bahan organik yang bisa terdekomposisi secara biologi (biodegradable) seperti halnya pada BOD namun juga bahan-bahan yang tidak bisa terdekomposisi secara biologi 7 melainkan secara kimia. Oleh karena itu, nilai COD besarnya sama atau lebih besar dari nilai BOD. Pengukuran COD untuk memperkirakan nilai oksigen ekuivalen dari bahan organik pada air yang dirasa tercemar yang dapat dioksidasi secara kimiawi dengan menggunakan dikromat dalam larutan asam (Metcalf & Eddy 2004). COD diukur dengan mengkonversi semua bahan organik pada air contoh menjadi karbondioksida dan air melalui proses oksidasi dengan melibatkan potassium dikromat dan asam sulfat (Boyd 1998). Sumber dari bahan organik ini biasanya berasal dari alam maupun aktivitas rumah tangga dan industri. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. 2.2.4. pH Konsentrasi ion hidrogen adalah salah satu parameter kualitas air yang sangat penting baik untuk perairan alami maupun air limbah. Definisi yang biasanya digunakan untuk menyatakan konsentrasi hidrogen adalah pH, yang didefinisikan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen. Kisaran konsentrasi pH bagi keberadaan hampir semua kehidupan biologi biasanya sangat sempit dan kritis (6-9) (Metcalf & Eddy 2004). Alat yang umumnya digunakan dalam pengukuran pH adalah pH-meter. Selain itu, juga ada berbagai variasi dari kertas pH dan larutan indikator yang mengalami perubahan warna untuk mengukur nilai pH suatu perairan. Pengukuran pH dilakukan dengan membandingkan warna dari kertas atau larutan dengan seri warna standar yang telah ditetapkan. 2.2.5. Bahan organik Seperti yang telah diketahui bahwa chironomida pada fase larva adalah pemakan bahan organik. Komponen organik itu sendiri secara normal tersusun dari ikatan-ikatan karbon, hidrogen, oksigen, dan terkadang bersama-sama dengan nitrogen (Metcalf & Eddy 2004). Secara umum analisis yang digunakan untuk memperkirakan jumlah bahan organik di suatu perairan adalah BOD dan COD. Bahan organik ini biasanya berbentuk terlarut maupun partikulat yang dapat dijumpai baik di perairan laut maupun tawar. Bahan organik di perairan biasanya 8 berasal dari tanaman maupun hewan yang sudah mati. Sumber bahan organik bisa berasal dari perairan itu sendiri (autochtonous) maupun dari ekosistem lain (allochtonous). Kebanyakan makroinvertebrata memanfaatkan bahan organik sebagai sumber makanan. Beberapa bersifat grazer, collector, maupun scavenger. Oleh karena itu, ketersediaan bahan organik di perairan sangat berpengaruh bagi pertumbuhan organisme akuatik yang memanfaatkannya. Bahan-bahan organik ini selanjutnya akan didekomposisi oleh bakteri dekomposer. Hasil dekomposisi ini adalah unsur-unsur hara yang bisa dimanfaatkan oleh organisme autotrof seperti tanaman air maupun fitoplankton. Oleh karena itu, bahan organik sering diasosiasikan dengan kesuburan perairan dan produktivitas primer. Oksigen yang merupakan salah satu faktor pembatas di perairan apabila tidak mencukupi jumlahnya akan mempengaruhi kehidupan biota akuatik. 9 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2011, berlokasi di Laboratorium Biologi Mikro I, Bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dan lingkungan yang terkontrol. Wadah plastik berukuran 34x26x7 cm3 digunakan sebagai tempat hidup larva chironomida yang menjadi objek penelitian. Pertimbangan penggunaan wadah plastik ini adalah untuk mempermudah pemeliharaan, kuantifikasi, maupun pengamatan larva chironomida itu sendiri. Massa telur chironomida diperoleh dari Danau Lido (Lampiran 1) yang terletak di Desa Watesjaya, Kecamatan Cigombong, 25 km dari arah Kota Bogor ke arah Sukabumi. 3.2. Tahapan Penelitian 3.2.1. Persiapan Tahap persiapan dilakukan dengan menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk mengambil larva chironomida dari Danau Lido. Pada tahap ini dibutuhkan wadah berupa botol sampel sebagai tempat untuk menampung massa telur chironomida. Jumlah botol yang dibutuhkan adalah sembilan buah sesuai dengan wadah pemeliharaan di laboratorium. Selanjutnya dilakukan pengambilan massa telur yang berlokasi di Danau Lido. Pengambilan telur dilakukan pada pagi hari. Massa telur yang diambil diusahakan dalam kuantitas yang sama untuk masing-masing botol sampel agar jumlah larva yang nantinya dipelihara untuk masing-masing wadah pemeliharaan jumlahnya seragam. Pengambilan massa telur dilakukan di sekitar Karamba Jaring Apung dengan menggunakan bantuan kuas (Lampiran 2). Selain massa telur, dilakukan pula pengambilan air dari Danau Lido tersebut sebagai media pemeliharaan larva chironomida di laboratorium. 10 3.2.2. Pelaksanaan Larva chironomida yang ditumbuhkan di laboratorium diambil dalam bentuk massa telur yang berasal dari Danau Lido. Massa telur ditetaskan pada cawan petri yang berbeda untuk masing-masing wadah. Pengamatan selama lebih kurang 24 jam pertama sejak telur diambil dari alam dilakukan setiap 4 jam dengan kamera yang dihubungkan dengan mikroskop. Setelah telur menetas menjadi larva, larva kemudian dipindahkan ke wadah plastik pemeliharaan berukuran 34x26x7 cm3 yang diisi air Danau Lido setinggi 4 cm. Wadah pemeliharan (Lampiran 3) ini dilengkapi dengan penutup yang dibuat dari kain kassa nyamuk (Gambar 2). Hal ini dilakukan untuk menghindari insekta lain yang berpotensi menjadi predator bagi larva chironomida. Media kultur massa telur yang dipelihara di dalam wadah pemeliharaan adalah air yang diberi tambahan bahan organik berupa kotoran kuda. Pertimbangan penambahan bahan organik didasarkan pada teknik kultur chironomida oleh Mc Larney et al. (2003). Teknik kultur dilakukan dengan menumbuhkan chironomida pada kolam berukuran 2 m x 1 m x 0.5 m. Bahan organik yang digunakan adalah kotoran kuda dengan konsentrasi 1,0 mg/l. Penelitian dilakukan dengan menerapkan dua perlakuan. Wadah pertama adalah kontrol berupa media air dari Danau Lido tanpa penambahan bahan organik, perlakuan kedua ditambahkan bahan organik dengan konsentrasi 0,5 mg/l, dan perlakuan ketiga dengan konsentrasi 1 mg/l. Penelitian pendahuluan yang dilakukan dengan mencobakan bahan organik konsentrasi 1 mg/l dan 2 mg/l menyebabkan massa telur chironomida membusuk. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan konsentrasi bahan organik 0,5 mg/l dan 1,0 mg/l. Bahan organik yang digunakan dibungkus dengan kain kassa dan diletakkan di masing-masing sudut wadah pemeliharaan (Gambar 3). Kotoran kuda yang sudah dikeringkan diayak hingga diperoleh bagian yang halus (Lampiran 3). Bagian inilah yang digunakan sebagai sumber bahan organik dalam wadah pemeliharaan. Masing-masing variasi perlakuan dicobakan dalam 3 ulangan sehingga wadah pemeliharaan yang digunakan terdiri dari 9 wadah. Ketika massa telur yang dipelihara menetas menjadi larva chironomida, larva dipindahkan ke wadah plastik. Pengamatan terhadap pertumbuhan larva chironomida dilakukan setiap 11 hari. Pengukuran kualitas air berupa suhu, DO, dan COD dilakukan setiap tiga hari sekali, sedangkan pengukuran pH dilakukan setiap satu minggu sekali. Suhu dan DO diukur dengan menggunakan DO meter sedangkan pH diukur dengan pH meter. Parameter in situ langsung dilakukan di ruang pemeliharaan sementara untuk parameter ex situ yakni COD dilakukan di Laboratorium Fisika Kimia Perairan bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor (Lampiran 4). A2 A1 A3 X B1 C1 B2 C2 B3 C3 Keterangan: X: Penutup dari kassa nyamuk A1,A2,A3: Kontrol (tanpa penambahan bahan organik) B1,B2,B3: Penambahan bahan organik konsentrasi 0,5 mg/l C1,C2,C3: Penambahan bahan organik konsentrasi 1 mg/l Gambar 2. Wadah pemeliharaan larva chironomida skala laboratorium Bahan Organik Wadah Pemeliharaan Gambar 3. Tampak atas posisi peletakkan kantung bahan organik pada wadah pemeliharaan 12 3.2.3. Pengambilan contoh Metode pengambilan contoh yang digunakan dalam pengambilan massa telur dari Danau Lido untuk kemudian dipelihara di laboratorium adalah metode purposive sampling yaitu metode pengambilan contoh dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang sudah ada. Pengambilan larva dilakukan pada lokasi Karamba Jaring Apung (KJA), dengan pertimbangan bahwa chironomida dewasa diketahui lebih menyukai KJA sebagai tempat meletakkan massa telurnya. Pengambilan dilakukan dengan menggunakan bantuan kuas dan disimpan dalam botol sampel dengan jumlah sama dengan jumlah wadah pemeliharaan dan kuantitas telur untuk masing-masing wadah diseragamkan secara visual. Massa telur selanjutnya dimasukkan ke dalam botol kaca berukuran sedang. Botol kaca tersebut sebelumnya telah diisi dengan air yang berasal dari Danau Lido. Kemudian massa telur dibawa ke Laboratorium Biologi Mikro I dan ditetaskan di cawan petri. Pengamatan dilakukan setiap 4 jam sekali dengan mikroskop majemuk yang dihubungkan dengan kamera dan program video Quickcam. Setelah seluruh telur menetas, larva dipindahkan ke wadah plastik yang diletakkan di ruangan tertutup dengan kisaran suhu 26,1-27,4 0C. Wadah plastik diletakkan pada bagian ruangan yang tidak terkena sinar matahari secara langsung untuk menekan pertumbuhan alga yang diperkirakan dapat mengganggu pertumbuhan larva chironomida. Pengambilan contoh yang dilakukan di laboratorium, yaitu pengambilan contoh larva yang dilakukan secara acak (randomize sampling) setiap hari selama 21 hari. Sampel larva diambil dengan menggunakan pipet drop. Larva yang diambil setiap pengambilan contoh berjumlah 10 ekor dari masing-masing wadah pemeliharaan. Jumlah pengambilan disesuaikan dengan perkiraan jumlah telur yang ditetaskan. Sampel selanjutnya dimasukkan ke dalam botol film dan diberi alkohol sebagai usaha preservasi atau pengawetan. Tahapan berikutnya, sampel dianalisis di laboratorium. Kualitas air di wadah pemeliharaan dipantau untuk memastikan kehomogenan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan. Parameter yang diukur meliputi suhu, pH, dan COD dapat dilihat pada Tabel 1. Pengambilan sampel air dilakukan pada semua wadah pemeliharaan yang selanjutnya dianalisis di laboratorium. 13 Tabel 1. Metode dan alat yang digunakan pada pengukuran parameter fisikakimia perairan. Parameter Unit Alat Metode Pustaka Acuan FISIKA 1. Suhu o C DO meter mg/l mg/l pH meter DO meter - - APHA 1995 KIMIA 1. pH 2. DO 3. COD Heat Dillution Method APHA 1995 APHA 1995 Boyd 1998 3.2.4. Analisis laboratorium Analisis sampel larva chironomida dilakukan di Laboratorium Biologi Mikro I, Bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor. Sampel larva chironomida yang telah diambil dari wadah pemeliharaan dan diawetkan dengan alkohol 70% dipindahkan ke dalam botol kaca yang telah diberi KOH 10%. Pemberian KOH dilakukan untuk membersihkan jaringan-jaringan internal chironomida untuk mempermudah proses identifikasi. Perendaman dengan KOH disesuaikan dengan ukuran chironomida. Setelah dirasa cukup bersih, chironomida disusun di atas kaca preparat dengan bantuan mikroskop bedah lalu diangin-anginkan hingga kering. Selanjutnya diberi Entellan® dan ditutup dengan menggunakan kaca penutup. Preparat inilah yang akan diidentifikasi dan dihitung ukuran tubuh yang terdiri dari panjang total, lebar badan, panjang kepala, dan lebar kepala. Proses identifikasi sekaligus pengukuran dilakukan dengan bantuan mikroskop majemuk yang terhubung dengan kamera optilab dan dilengkapi program Image Raster (Lampiran 7). Pengukuran panjang total dilakukan dengan menarik garis lurus mulai dari ujung kepala hingga ujung bagian ekor larva chironomida. Pengukuran lebar badan dilakukan pada segmen kelima tubuh dihitung dari segmen sesudah kepala. Sedangkan pengukuran panjang kapsul kepala dilakukan dengan menarik garis lurus mulai dari ujung terdepan hingga sebelum segmen pertama. Lebar kepala diukur dengan menarik garis tegak lurus panjang kepala. 14 3.3. Pengolahan Data 3.3.1. Penentuan kohort melalui analisis distribusi frekuensi panjang larva chironomida Data yang diperoleh selama pengamatan berlangsung akan diolah untuk menghasilkan penjelasan secara deskriptif. Ciri-ciri penting sejumlah besar data dengan segera dapat diketahui melalui pengelompokan data tersebut ke dalam beberapa kelas dan kemudian dihitung banyaknya pengamatan yang masuk ke dalam tiap kelas. Susunan dari data ini biasanya disajikan dalam bentuk tabel yang disebut sebaran frekuensi (Walpole 1992). Data yang disajikan dibuat dalam bentuk kelompok untuk memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai populasi yang sedang diamati. Penentuan selang kelas berdasarkan Walpole (1992) adalah dengan menentukan banyaknya kelas yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, dengan n sebagai jumlah data panjang: Kemudian ditentukan wilayah dengan mengurangi nilai maksimum dengan minimum data keseluruhan. Selanjutnya adalah penentuan lebar kelas sesuai dengan rumus: Langkah selanjutnya adalah mendaftar selang kelas atas dan selang kelas bawah dengan data terkecil sebagai permulaan selang kelas bawah. Sedangkan batas kelas diperoleh dengan menambah atau mengurangi selang kelas dengan ½ kali nilai satuan terkecil. Nilai tengah didapat dengan merata-ratakan batas kelas atas dan batas kelas bawah. Selanjutnya nilai frekuensi ditentukan pada masingmasing kelas dan yang terakhir adalah pengecekan jumlah kolom frekuensi memiliki jumlah yang sama terhadap banyaknya total pengamatan. Penentuan kohort larva chironomida dilakukan dengan menggunakan data yang sudah terdistribusi pada selang kelas tertentu. Kohort merupakan gambaran mengenai organisme yang memiliki umur yang sama dan berada pada kondisi lingkungan perairan yang sama (Battacharya 1967 in Spare & Venema 1999). Penentuan nilai kohort pada larva chironomida dapat menjelaskan mengenai kelompok ukuran larva chironomida pada setiap waktu pengamatan. Penentuan 15 kohort dan sebaran distribusinya per minggu dilakukan dengan metode NORMSEP (Normal Separation) dan bantuan program FISAT II. 3.3.2. Rancangan acak lengkap Rancangan acak lengkap adalah salah satu rancangan percobaan yang paling sederhana. Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah perlakuan bahan organik yang berbeda mempengaruhi perubahan ukuran larva chironomida. Rancangan ini digunakan apabila bahan maupun kondisi percobaan bersifat homogen. Rancangan ini digunakan karena relatif lebih mudah dan analisis statistiknya sederhana. Penelitian kali ini menggunakan perlakuan yang dibedakan berdasarkan konsentrasi bahan organik yang digunakan. Hipotesis yang digunakan yaitu sebagai berikut: H0 : semua αi = 0 (atau tidak ada pengaruh perlakuan bahan organik terhadap pertumbuhan larva chironomida) H1 : minimal ada satu αi ≠ 0 (atau minimal ada satu perlakuan bahan organik yang mempengaruhi pertumbuhan larva chironomida) Jika Ftabel>Fhitung maka keputusan yang diperoleh adalah terima H0 sedangkan jika FtabelFtabel. Keputusan yang diperoleh adalah tolak H0 yang artinya perlakuan mempengaruhi nilai modus yang diperoleh berdasarkan waktu. Hal ini menggambarkan bahwa penambahan bahan organik memberikan pengaruh bagi pertumbuhan panjang total larva chironomida. 4.1.7. Pengaruh perbedaan perlakuan bahan organik terhadap berbagai parameter pertumbuhan Pertumbuhan adalah salah satu ciri mahluk hidup yang membedakannya dari mahluk tak hidup. Secara teoritis pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan dimensi (panjang, berat, ukuran, volume, dan jumlah) per satuan waktu baik individu, stok maupun komunitas. Pertumbuhan banyak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. kelamin, umur, ketahanan Faktor internal meliputi faktor keturunan, jenis terhadap penyakit, dan kemampuan dalam memanfaatkan makanan. Sedangkan faktor eksternal meliputi jumlah makanan yang tersedia di perairan, ukuran makanan, kandungan gizi makanan, dan faktor lingkungan. Pertumbuhan ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Pertumbuhan positif ditandai oleh selisih yang nilainya positif, sedangkan pertumbuhan negatif ditandai oleh selisih yang nilainya negatif atau dengan kata lain mengalami penurunan. Berdasarkan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, penelitian ini mengambil aspek bahan organik yang dalam kehidupan larva chironomida berperan sebagai sumber makanan dan bahan pembuatan tubes. Tiga perlakuan bahan organik diamati pengaruhnya bagi pertumbuhan larva Chironomus sp. Berdasarkan data yang diambil setiap hari selama tiga minggu pada fase larva, diperoleh empat parameter pertumbuhan yakni panjang total, lebar badan, serta panjang dan lebar kapsul kepala. Dalam rangka mengetahui pengaruh penambahan bahan organik terhadap pertumbuhan larva Chironomus sp, maka data parameter pertumbuhan tersebut 34 dimasukkan ke dalam tabel rancangan acak lengkap. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tabel ‟Anova: single factor‟ pada perangkat lunak Ms. Excell. Berdasarkan tabel hasil pengujian rancangan acak lengkap untuk keempat parameter, yakni panjang total, lebar badan, serta panjang dan lebar kapsul kepala diperoleh nilai FtabelFhitung maka keputusan yang diperoleh adalah terima H0 sedangkan jika FtabelFtabel. Keputusan yang diperoleh adalah tolak H0 yang artinya perlakuan mempengaruhi nilai modus yang diperoleh berdasarkan waktu. Hal ini menggambarkan bahwa penambahan bahan organik memberikan pengaruh bagi pertumbuhan panjang total larva chironomida. 4.1.7. Pengaruh perbedaan perlakuan bahan organik terhadap berbagai parameter pertumbuhan Pertumbuhan adalah salah satu ciri mahluk hidup yang membedakannya dari mahluk tak hidup. Secara teoritis pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan dimensi (panjang, berat, ukuran, volume, dan jumlah) per satuan waktu baik individu, stok maupun komunitas. Pertumbuhan banyak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. kelamin, umur, ketahanan Faktor internal meliputi faktor keturunan, jenis terhadap penyakit, dan kemampuan dalam memanfaatkan makanan. Sedangkan faktor eksternal meliputi jumlah makanan yang tersedia di perairan, ukuran makanan, kandungan gizi makanan, dan faktor lingkungan. Pertumbuhan ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Pertumbuhan positif ditandai oleh selisih yang nilainya positif, sedangkan pertumbuhan negatif ditandai oleh selisih yang nilainya negatif atau dengan kata lain mengalami penurunan. Berdasarkan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, penelitian ini mengambil aspek bahan organik yang dalam kehidupan larva chironomida berperan sebagai sumber makanan dan bahan pembuatan tubes. Tiga perlakuan bahan organik diamati pengaruhnya bagi pertumbuhan larva Chironomus sp. Berdasarkan data yang diambil setiap hari selama tiga minggu pada fase larva, diperoleh empat parameter pertumbuhan yakni panjang total, lebar badan, serta panjang dan lebar kapsul kepala. Dalam rangka mengetahui pengaruh penambahan bahan organik terhadap pertumbuhan larva Chironomus sp, maka data parameter pertumbuhan tersebut 34 dimasukkan ke dalam tabel rancangan acak lengkap. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tabel ‟Anova: single factor‟ pada perangkat lunak Ms. Excell. Berdasarkan tabel hasil pengujian rancangan acak lengkap untuk keempat parameter, yakni panjang total, lebar badan, serta panjang dan lebar kapsul kepala diperoleh nilai Ftabel
Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Chironomus sp. pada Level Bahan Organik Berbeda dalam Skala Laboratorium Analisis kelompok Pengolahan Data Deskripsi lokasi pengambilan massa telur Pembahasan HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan kohort melalui analisis distribusi frekuensi panjang larva chironomida Pengambilan contoh Tahapan Penelitian Pengaruh perbedaan perlakuan bahan organik terhadap berbagai parameter pertumbuhan Pengelompokan larva chironomida berdasarkan instar Perkembangan larva Chironomus sp. Persiapan Pelaksanaan Tahapan Penelitian pH Bahan organik Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Suhu Oksigen terlarut Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Pertumbuhan dan Perkembangan Larva Chironomus sp. pada Level Bahan Organik Berbeda dalam Skala Laboratorium

Gratis