Design strategy of Corporate Social Responsibility (CSR) in the economic empowerment of local communities and coastal resources management in Bontang (case study of PT Pupuk Kaltim)

 1  8  352  2017-05-18 15:17:16 Report infringing document
DESAIN STRATEGI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA PESISIR KOTA BONTANG (Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim) TAUFIK HASBULLAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Februari 2012 Taufik Hasbullah P 31600029 ABSTRACT TAUFIK HASBULLAH. Design Strategy of Corporate Social Responsibility (CSR) in the Economic Empowerment of Local Communities and Coastal Resources Management in Bontang (Case Study of PT Pupuk Kaltim). Under supervision of TRIDOYO KUSUMASTANTO, LUKY ADRIANTO and SUGENG BUDIHARSONO. The purpose of this study is to analyze the impact of PT Pupuk Kaltim and the presence of its industrial activity on the economic growth of Bontang. To analyze the role of company’s CSR activities towards the economic empowerment on local communities and management of coastal resources in Bontang. and to develop a design strategy to economically empower local communities and coastal resources management in Bontang. Location Quotient (LQ) methods and Shift Share to observe the influence of company’s industrial activity and its economic impact on Bontang. Importance Performance Analysis (IPA) to observe the effectiveness of company’s CSR activities. To assess the sustainability of coastal areas, a modified method by measuring dimensional aspects of sustainability which are ecological, economic, socio-cultural, infrastructure and technology, as well as legal and institutional. The results of LQ analysis indicates that Bontang economic growth is highly correlated with the presence of manufacturing sector. Based on the analysis, which covers oil and gas industry, this study exceptionally concludes the presence of gas industry does have a strong role with a value greater than 1 and, coefficient of determination of 1.582 to the regional economy. Meanwhile, the shift share analysis shows that the role of regional economic structures is large enough to reach 92%. The ratio is mainly contributed by the potential of regional economic which is 46%. The results of IPA analysis show the significance of company’s CSR activities is sufficient to meet the expectations of coastal communities. Overall, the analysis concludes that the level of sustainability of coastal area in multi-dimensional value is 53.73, which lays in category of fairly continuous. Based on the analysis the sustainability of individual criterion are fairly sustainability for ecology (50.43), infrastucture and technological (60.83), and legal and institutional (55.33). Furthermore, the dimension of economic and socio-cultural are weak sustainability. The design of coastal development strategy is intended to encourage the Bontang City development sectors based on renewable coastal resources so that it can be a driving force for coastal economic activity in the future. Whereas, in particular for the CSR design strategy is to build economic self-reliance of local communities, community capacity building in integrated coastal management and resource conservation in coastal of Bontang City. . Keywords: CSR, Empowerment, Coastal, LQ, Shift Share, IPA, Rapfish. RINGKASAN TAUFIK HASBULLAH. Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir di Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk Kaltim). Dibimbing oleh TRIDOYO KUSUMASTANTO, LUKY ADRIANTO dan SUGENG BUDIHARSONO. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang sangat menentukan keberlanjutan pembangunan Kota Bontang yang berada di wilayah pesisir, dimana di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi berskala besar yakni PT Pupuk Kaltim (PKT) dan PT Badak NGL (BADAK) yang perlu ditingkatkan perannya dalam pembangunan ekonomi maupun tanggung jawab sosial perusahaan, sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir di Kota Bontang. Penelitian ini dilakukan di seluruh kelurahan yang berbatasan langsung dengan pesisir Kota Bontang yaitu, Bontang Kuala, Bontang Baru, Lhok Tuan, Guntung, Berbas Pantai, Berbas Tengah, Tanjung Laut Indah, Tanjung Laut dan Kelurahan Belimbing. Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis keberadaan perusahaan industri pengolahan (PKT) terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Bontang, serta secara khusus menganalisis tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang, dengan mengambil studi kasus peran CSR di PKT, dimana selanjutnya menjadi acuan dalam menyusun desain strategi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir di Kota Bontang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Location Quotient (LQ) dan Shift Share untuk melihat pengaruh keberadaan perusahaan industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah. Peran dan efektifitas program CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan pesisir dianalisis menggunakan Importance Performance Analysis (IPA). Selanjutnya dalam mengkaji keberlanjutan wilayah pesisir digunakan metode Rapfish dengan mengukur lima dimensi keberlanjutan yakni, dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi infrastruktur dan teknologi, serta dimensi hukum dan kelembagaan. Hasil analisis tersebut diatas dirumuskan menjadi desain dan strategi pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir. Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Bontang sangat dipengaruhi oleh keberadaan sektor industri pengolahan. Dari hasil perhitungan LQ sektor industri pengolahan baik dengan migas maupun tanpa migas memiliki peranan kuat dengan nilai lebih besar dari 1, dengan koefisien determinasi sebesar 1,582 terhadap perekonomian daerah. Sedangkan analisis shift share menunjukkan bahwa peran struktur ekonomi daerah cukup besar yakni mencapai 92 %, rasio tersebut ditopang oleh kontribusi kekhususan potensi ekonomi daerah yakni 46 %. Hasil analisis efektifitas dengan metode IPA menunjukkan signifikansi CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, dimana secara umum menegaskan bahwa aktifitas CSR telah cukup memenuhi ekspektasi dari masyarakat pesisir. Hasil analisis keberlanjutan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang menunjukkan tingkat keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang secara multi dimensi sebesar sebesar 53,73 dan termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan, dimana diperoleh dari nilai dimensi ekologi sebesar 50,43, dimensi ekonomi 49,90, dimensi sosial budaya 48,18, dimensi infrastruktur dan tekhnologi sebesar 64,83 dan dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 55,33. Strategi pengembangan kawasan pesisir Kota Bontang secara umum yaitu dengan mendorong perkembangan sektor-sektor yang berbasis sumberdaya pesisir terbaharui sehingga dapat menjadi penggerak bagi kegiatan ekonomi pesisir. Sedangan secara khusus adalah dengan membangun kemandirian ekonomi masyarakat lokal, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. Kata Kunci : CSR, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, LQ, Shift Share, IPA, Rapfish © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencatumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB. DESAIN STRATEGI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA PESISIR KOTA BONTANG (Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim) TAUFIK HASBULLAH Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Dr. Ir. Agus Heri Purnomo 2. Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc. Penguji pada Ujian Terbuka : 1. Dr. Ir. Sigid Hariyadi, M.Sc. 2. Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M.Sc. Judul Disertasi : Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim) Nama : Taufik Hasbullah NIM : P31600029 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Disetujui : Komisi Pembimbing, Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto, MS Ketua Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc Anggota Dr. Ir. Sugeng Budiharsono Anggota Diketahui, Ketua Program Studi, Dekan Sekolah Pascasarjana, Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr Tanggal Ujian : 26 Januari 2012 Tanggal Lulus : PRAKATA Alhamdulillah dengan segala karuniaNya disertasi berjudul “Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk Kaltim)”, dapat diselesaikan. Disertasi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Seiring dengan selesainya disertasi ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sangat dalam kepada : 1. Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto, MS., sebagai Ketua Komisi Pembimbing, Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc., Dr. Ir. Sugeng Budiharsono dan Prof. Dr. Ir. Sarwono Hardjowigeno, M.Sc. (alm), sebagai anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, motivasi sejak awal penulisan proposal hingga penyelesaian disertasi ini. Ucapan terima kasih atas waktu dan masukan perbaikan disertasi disampaikan kepada Dr. Ir. Agus Heri Purnomo dan Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc. sebagai penguji pada ujian tertutup serta Dr. Ir. Sigid Hariyadi, M.Sc. dan Dr. Ir. M. Mukhlis Kamal, M.Sc. sebagai penguji pada ujian terbuka. 2. Rektor dan Dekan Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan S3 di Institut Pertanian Bogor. 3. Para Dosen Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan yang telah memberikan ilmu selama penulis menjadi mahasiswa. 4. Direksi dan mantan Direksi PT Pupuk Kaltim khususnya Bapak Ir. Bowo Kuntohadi, MM., yang telah memberikan izin sehingga penulis dapat mengikuti studi ini tanpa meninggalkan tugas dan tanggung jawab penulis selama masih aktif menjadi karyawan, demikian pula teman-teman para manajer di lingkungan PT Pupuk Kaltim yang telah banyak memberikan support kepada penulis selama penyelesaian studi S3 di IPB ini. 5. Teman-teman di Bappeda, BPS, DKP dan instansi pemerintah lainnya serta teman-teman LSM di Kota Bontang. Pak Dani Indrianto, Dosen dan Peneliti Universitas Trisakti dan Universitas Jayabaya Jakarta. 6. Rekan-rekan mahasiswa angkatan tahun 2000/ 2001 khususnya Dr. Ir. Abdul Rauf, M.Si., yang sejak awal memberikan support yang tidak sedikit kepada penulis. Demikian pula saudara saya Gigih Widya W Socria dan keluarganya di Bontang dan Samarinda, yang telah memberikan support tidak pernah lelah sampai selesainya disertasi ini. 7. Kedua orang tua tercinta H. Hasbullah (Alm) dan Hj. Khuzaimah (Alm) yang telah membesarkan, mendoakan, mendidik, tiada henti sampai akhir hayatnya. Demikian pula kepada Uni Hj. Mardiah, Uni Hj. Rasyidah (alm), Uni Hj. Fauziah dan Uda H. Lukman, Uda H. Mukhlis (alm) dan Uda H. Muslim yang amat besar jasanya. 8. Dukungan dan doa keluarga tercinta: Istri Hj. Siti Adansiana (alm) beserta ananda tercinta M. Naser serta Ocha dan cucuku Zoe dan Raj, M. Yasser dan Annisa, serta istri tercinta Hj. Sandyana Samantha dan anak-anak: Echa, Alghifari dan Alfarabi. 9. Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., yang sejak awal penulis masuk IPB sampai saat ini jika berjumpa senantiasa menyapa hangat dan memberikan wawasan dan motivasi yang sangat berharga. 10. Sahabatku Wakil Walikota Bontang, Bapak Isro Umargani, Ustadz. Harun Al Rasyid, SH serta Ustadz Nadif Ridwan, sahabatku Drs. Gunawan Ja’far yang senantiasa memberikan nasehat dan pencerahan. Demikian pula kepada sahabat dan teman-teman di lingkungan PT Daun Buah yaitu; Bapak Ir. Surya Madya, MM, Bapak Ir. Ezrinal Aziz, M.Sc., dan Bapak Ir. Rusli Burhan, M.Si., serta teman-teman lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 11. Guru kehidupan dan inspiratorku Ir. H. Jamil Azzaini, M.Sc. dan Ustadz KH. Arifin Ilham yang telah berkontribusi tak ternilai dalam kehidupan kami. Semoga disertasi ini dapat bermanfaat dalam pengembangan masyarakat pesisir dan kelestarian sumberdaya pesisir Kota Bontang. Bogor, Februari 2012 Taufik Hasbullah RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bukittinggi Sumatera Barat, pada tanggal 15 Februari 1953, merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari keluarga H. Hasbullah (alm) dan Hj. Khuzaimah (alm). Penulis menyelesaikan pendidikan sampai SMP di Bukittinggi dan di SMA Negeri 10 Jakarta, kemudian melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya selesai S1 pada tahun 1981. Selanjutnya menyelesaikan program Magister Manajemen (S2) di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 1991. Pada tahun 2001 memasuki program studi (S3) Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Institut Pertanian Bogor sampai saat ini. Tahun 1973 hingga 1979 penulis bekerja di PT Pupuk Sriwidjaja di bagian Import dan Shipping. Selanjutnya tahun 1979 sampai 2009 bekerja di PT Pupuk Kalimantan Timur dengan jabatan terakhir Direktur Utama Rumah Sakit Pupuk Kaltim di Bontang. Saat ini masih aktif (diperbantukan) mengelola unit usaha Yayasan Kesejahteraan Karyawan PT Pupuk Kaltim selaku Direktur PT Daun Buah yang bergerak dalam bidang Distributor Pupuk dan Jasa Konstruksi. Dan selaku pribadi memberikan jasa konsultasi manajamen Rumah Sakit, Kesehatan dan Lingkungan. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ................................................................................................. xxi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xxiii DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xxv 1. PENDAHULUAN........................................................................................... 1.1. Latar Belakang ....................................................................................... 1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah .................................................... 1.3. Tujuan Penelitian .................................................................................. 1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................. 1.5. Kerangka Pemikiran............................................................................... 1 1 4 7 7 7 2. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 2.1. Pengertian dan Batasan Wilayah Pesisir ............................................. 2.1.1. Pengertian Wilayah Pesisir ....................................................... 2.1.2. Batasan Wilayah Pesisir ........................................................... 2.1.3. Potensi Sumberdaya Wilayah Pesisir ...................................... 2.2. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu (PWPT)............................ 2.2.1. Prinsip Keterpaduan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir .......... 2.2.2. Perencanaan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir...................... 2.3. Strategi Pembangunan Berkelanjutan (Strategy of Development Sustainability) dalam Konteks Pengelolaan Sumberdaya Pesisir ....... 2.4. Konsep Pembangunan Wilayah Pesisir ............................................... 2.4.1. Efek Dualisme Ekonomi............................................................ 2.4.2. Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole Theory) .................... 2.4.3. Kajian-kajian Terkait Tentang Pemberdayaan Masyarakat Pesisir........................................................................................ 2.4.4. Konsep Pedesaan Wilayah Pesisir........................................... 2.5. Pembiayaan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Pesisir Terpadu........ 2.5.1. Anggaran Formal....................... ............................................... 2.5.2. Sektor Publik dan Kemitraan Swasta ....................................... 2.6. Konsep dan Teori CSR............................. ........................................... 2.6.1. Sejarah dan Evolusi Pemikiran CSR ........................................ 2.6.2. Konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (CSR) ................................................................... 2.7. Efek Dualisme Ekonomi Terhadap Pengembangan Wilayah Pesisir Terpadu ............................. .................................................................. 11 11 11 11 12 13 14 16 42 3. METODOLOGI PENELITIAN ....................................................................... 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ............................................................... 3.2. Metode Penelitian ................................................................................. 3.3. Tahapan Penelitian ............................................................................... 3.4. Jenis dan Sumber Data ........................................................................ 3.4.1. Data Lingkungan dan Sumber Daya Pesisir Kota Bontang ..... 3.4.2. Data Sosial Ekonomi................................................................. 3.5. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 45 45 46 46 47 48 49 49 xix 19 23 23 25 25 27 28 29 30 31 34 36 xx 3.6. Metode Analisis Data ........................................................................... 3.6.1. Analisis Kewilayahan Pesisir.................................................... 1) Analisis Biogeofisik Wilayah............................................... 2) Analisis Ekonomi Wilayah ................................................. 3.6.2. Analisis Keberlanjutan Pengelolaan Wilayah Pesisir .............. 3.6.3. Analisis Peran dan Efektifitas Program CSR Pesisir............... 50 50 50 50 54 57 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................... 4.1. Keadaan Wilayah Pesisir Kota Bontang .............................................. 4.1.1. Sistem Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang... 4.1.2. Sistem Sosial Ekonomi Pesisir Kota Bontang ......................... 4.1.3. Gambaran Umum PKT............................................................. 4.2. Analisis Ekonomi WilayahKota Bontang .............................................. 4.2.1. Analisis Location Quotient........................................................ 4.2.2. Analisis Pendapatan Jangka Pendek ...................................... 4.2.3. Analisis Shift Share .................................................................. 4.2.4. Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota Bontang .................................................................................... 4.3. Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir................................................ 4.3.1. Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi..................................... 4.3.2. Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi................................... 4.3.3. Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Budaya ......................... 4.3.4. Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi ..... 4.3.5. Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan ...... 4.3.6. Status Keberlanjutan Multidimensi........................................... 4.4. Analisis Desain Strategi CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir .................................................. 4.4.1. Analisis Peran dan Efektifitas Program CSR........................... 1) Analisis Kesenjangan (Gap Analysis)................................ 2) Importance Performance Analysis (IPA)............................ 4.4.2. Model Pelaksanaan CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi dan Pengelolaan Wilayah Pesisir ............................................ 1) Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir ......... 2) Model Program Pengelolaan Wilayah Pesisir.................... 4.4.3. Desain Strategi CSR Wilayah Pesisir ...................................... 4.4.4. Desain Strategi Pengembangan Wilayah Pesisir .................... 4.4.5. Desain Kebijakan CSR PKT..................................................... 59 59 59 77 88 99 99 101 101 102 104 104 106 108 110 112 114 117 117 117 122 124 124 127 129 130 132 5. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 133 5.1. Kesimpulan .......................................................................................... 133 5.2. Saran ................................................................................................... 134 DAFT AR PUSTAKA........................................................................................... 135 LAMPIRAN ........................................................................................................ 139 DAFTAR TABEL Halaman 1. Perbedaan -Persamaan CSR dan PKBL.................................................. 37 2. Lokasi Penelitian berdasarkan Jenis Wilayah .......................................... 46 3. Jenis dan Sumber Data Sekunder ............................................................ 48 4. Jenis dan Sumber Data Primer................................................................. 49 5. Jenis dan Sumber Data Sekunder ............................................................ 49 6. Matriks Ringkasan Konsep Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan………………………………………………… ....................... 54 Kategori Status Keberlanjutan wilayah pesisir berdasarkan Nilai Indeks Hasil Analisis MDS ........................................................................ 55 Kondisi Perikanan Berdasarkan Gross Tonage (GT) perahu, alat tangkap dan hasil tangkapan nelayan Kota Bontang ............................... 61 Asumsi dan Prediksi Hasil Tangkapan dengan Peningkatan UpayaTangkap (Fishing Effort) ................................................................. 62 Presentase Penutupan dan Jenis Seagrass di perairan sekitar Bontang Kuala dan Tanjung Limau .......................................................... 64 11. Potensi Lahan Budidaya Rumput Laut ..................................................... 65 12. Jenis dan Kondisi Mangrove di Sungai Guntung ..................................... 66 13. Jenis dan Kondisi Mangrove di Sungai Bontang Kuala ........................... 67 14. Percent Coverage Komponen Biotik dan Abiotik di Setiap Stasiun Terumbu Karang ....................................................................................... 69 15. Nilai r-k-s Berdasarkan Morfologi Karang................................................. 71 16. Kegiatan Pariwisata di Pesisir Kota Bontang ........................................... 74 17. Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan 2010 ........................ 78 18. Luas wilayah dan kepadatan penduduk Kecamatan 2010 ...................... 78 19. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan Migas atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (%) 2006-2009 ............... 81 Kontribusi Sub Sektor Perikanan dan Industri Migas Bagi PDRB atas Dasar Harga Konstan Kota Bontang Tahun 2006-2009 .......................... 81 Keadaan Prasarana dan Sarana Pendidikan tiap Kecamatan di Wilayah Kota Bontang............................................................................... 85 7. 8. 9. 10. 20. 21. xxi xxii 22. Keadaan Prasarana dan Sarana Kesehatan tiap Kecamatan di Wilayah Kota Bontang ............................................................................... 85 23. Keadaan Prasarana dan Sarana Peribadatan tiap Kecamatan di Wilayah Kota Bontang ............................................................................... 85 24. Keadaan Prasarana dan Sarana Transportasi di Wilayah Kota Bontang...................................................................................................... 86 25. Perkembangan Industri Pengolahan dan PDRB Bontang Periode 2005-2009 dengan Harga Konstan Tahun 2000 (dalam juta)................... 99 26. Perbandingan Hasil Perhitungan LQ Pada Industri Pengolahan Dengan Migas dan Tanpa Migas di Bontang Periode 2005-2009 ............ 100 27. Hasil Perhitungan Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Sektor Industri Pengolahan di Bontang Periode 2005-2009 (dalam juta)........... 101 28. Hasil Perhitungan Analisis Shift Share Bontang 2005-2009 (dalam juta) ............................................................................................................ 102 29. Nilai Stress dan Squared Correlation (RSQ) dari hasil analisis MDS ...... 116 DAFTAR GAMBAR 1. Halaman Kerangka Pemikiran Penelitian .................................................................. 9 2. Batasan Wilayah Pesisir (Pernetta dan Milliman, 1995) ............................ 12 3. Kerangka Kerja Strategi Pembangunan Berkelanjutan (PEMSEA, 2003) ........................................................................................................... 20 4. AcuanPelaksanaan CSR berdasarkan ISO 26000 .................................... 38 5. Scematic overview of ISO 26000 ............................................................... 39 6. Peta Lokasi Penelitian ................................................................................ 45 7. Tahapan Penelitian ..................................................................................... 47 8. Importance Performance Analysis.............................................................. 58 9. Peta StasiunTerumbu Karang .................................................................... 70 10. Bagan Struktur Organisasi PKT ................................................................. 91 11. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Ekologis Bontang .......................... 105 12. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Ekologis Bontang ................... 106 13. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Ekonomi Bontang .......................... 107 14. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Ekonomi Bontang................... 108 15. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Sosial Budaya Bontang................. 109 16. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Sosial Budaya Bontang.......... 109 17. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 111 18. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 111 19. Hasil Analisis MDS terhadap Dimensi Hukum dan Kelembagaan wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 113 20. Hasil Analisis Leverage terhadap Dimensi Hukum dan Kelembagaan wilayah pesisir Bontang .............................................................................. 113 21. Diagram Layang Perbandingan Hasil Analisis MDS terhadap tingkat keberlanjutan wilayah pesisir Bontang ....................................................... 115 22. Penilaian Masyarakat terhadap Kinerja Indikator CSR.............................. 120 23. Penilaian Masyarakat terhadap Indikator Kepentingan CSR..................... 121 24. Perbandingan indikator kinerja CSR terhadap harapan masyarakat ........ 122 25. Diagram Performance dan Importance indikator CSR............................... 123 xxiii xxiv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Bagan Struktur Organisasi PKT ................................................................. 141 2. Hasil Tabulasi Score Indikator Keberlanjutan Sumberdaya Wilayah Pesisir.......................................................................................................... 142 3. Hasil Tabulasi Responden tentang Persepsi Pelaksanaan CSR PKT ...... 144 4. Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Kinerja CSR PKT.............. 157 5. Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Tingkat Kepentingan CSR PKT ............................................................................... 158 6. Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja CSR PKT..................................................................................................... 159 7. Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Kinerja Program 160 CSR PKT..................................................................................................... 8. Hasil Tabulasi Persepsi Responden terhadap Tingkat Kepentingan Program CSR PKT ................................................................ 161 9. Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja Program CSR PKT..................................................................................................... 162 10. Tabulasi Keterkaitan Mitra Binaan (Program Kemitraan) .......................... 163 11. Daftar Mitra Binaan PKT di sektor Perikanan dan Kelautan ...................... 164 xxv xxvi 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mengembangkan ekonomi masyarakat pesisir memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar dibandingkan dengan kawasan pedalaman. Hal ini disebabkan karena kawasan pesisir memiliki karakteristik sumberdaya alam yang berbeda yang selanjutnya mempengaruhi tindakan dan aksi pelaku ekonominya. Jadi kondisi alam membuat perbedaan masyarakat dalam pandangan, sikap, dan tindakan mereka dalam hal mengembangkan wilayah pesisir. Perbedaan cara pandang inilah yang seharusnya dipahami pengambil keputusan yang terkait dengan pembangunan kawasan pesisir. Pemahaman ini sangat diperlukan supaya pembangunan ekonomi di kawasan pesisir tepat arah, sasaran, guna dan manfaat. Chua dan Pauly (1989) mengelompokkan degradasi dan marjinalisasi kawasan yang terjadi di Indonesia disebabkan (1) Sebagian besar sumberdaya hayati pesisir mengalami eksploitasi lebih dan ekosistem pesisir mengalami tekanan berat; (2) Terjadi degradasi lingkungan karena kerusakan dan polusi dari laut dan darat; (3) Sebagian besar penduduk hidup dalam kondisi miskin, sementara proses pemiskinan berlangsung terus dan di pihak lain makin terjadi ketimpangan pendapatan; (4) Instansi yang ada tidak dapat menjawab masalahmasalah yang muncul; (5) Penegakan hukum tidak berjalan dengan baik; (6) Sangat kurang apresiasi publik terhadap pengelolaan yang berkelanjutan; (7) Sangat kurang pelaksanaan pembangunan secara terintegrasi; (8) Sangat rendah kapasitas masyarakat, meskipun potensi yang ada cukup besar. Kota Bontang di Propinsi Kalimantan Timur memiliki luas wilayah 49.757 Ha, dimana sekitar 34.977 Ha (70,29%) diantaranya merupakan wilayah pesisir atau laut, sehingga karakteristik masyarakat Kota Bontang tentunya sangat dipengaruhi oleh kehidupan pesisir dan laut. Masyarakat Kota Bontang merupakan masyarakat heterogen yang terbentuk secara genekologis (perkawinan) dan teritorial (bersama menempati suatu wilayah dalam mencari 2 penghidupan) dari berbagai etnis. Tercatat hampir 60-70% penduduknya adalah pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan (etnis Bugis). Dengan dibukanya Kota Bontang sebagai kawasan industri yang digerakan oleh industri pengolahan gas alam cair PT. Badak NGL (BADAK) dan PT. Pupuk Kaltim (PKT) menjadi faktor pendorong bagi para pendatang untuk masuk wilayah ini dengan tujuan utama untuk mendapatkan pekerjaan. Pada umumnya para pendatang yang memiliki pendidikan dan ketrampilan yang cukup akan direspon pasar kerja dengan hasil yang lebihbaik. Kebutuhan tenaga kerja dengan spesifikasi keterampilan tertentu telah menjadi persoalan tersendiri di Kota Bontang. Kondisi ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja untuk industri pengilangan gas alam cair dan industri pupuk banyak menggunakan tenaga kerja dari luar Kota Bontang, dimana BADAK dan PKT mensyaratkan kualitas yang tinggi dalam penyerapan tenaga kerja yang belum dapat dipenuhi tenaga kerja lokal. Dalam lima tahun terakhir yakni tahun 2006 sampai 2010, tercatat hanya 427 orang yang diterima sebagai karyawan tetap PKT, terdiri dari 46% tenaga kerja lokal dan 54% berasal dari luar Kota Bontang, sementara rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 2,98% per tahun atau 3.120 jiwa per tahun. Dengan keberadaan dua perusahaan besar ini adalah wajar jika jumlah penduduk Kota Bontang senantiasa bertambah. Pembangunan kawasan industri dan kegiatan operasionalnya di wilayah pesisir Kota Bontang juga menyebabkan perubahan ekologis yang memberikan tekanan signifikan terhadap ekosistem wilayah pesisir, dimana pada akhirnya dapat mengubah struktur pemanfaatan ruang pesisir Kota Bontang. Tekanan terhadap sumberdaya pesisir sering diperberat oleh tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut serta rendahnya pemahaman akan upaya konservasi. Kemiskinan sering pula menjadi lingkaran setan (vicious circle) dimana penduduk yang miskin sering menjadi sebab rusaknya lingkungan pesisir. Namun penduduk miskin pula yang akan menanggung dampak dari kerusakan lingkungan. Salah satu aspek pengelolaan wilayah pesisir yang baik adalah dengan mencarikan alternatif pendapatan sehingga mengurangi tekanan penduduk terhadap pemanfaatan sumberdaya pesisir. 3 Kondisi ini menuntut agar Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) wajib lebih berperan dalam pembangunan di Kota Bontang, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat serta pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara terpadu di Kota Bontang. CSR adalah upaya yang wajib dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasionalnya terhadap pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), dimana konsep pembangunan berkelanjutan tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi (economic growth), kelestarian terhadap lingkungan (environmental protection), dan kesetaraan sosial (social equity). Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi semata (profit), melainkan juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Pelaksanaan CSR di Indonesia dipayungi oleh Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Didalam Undang-Undang ini pada pasal 74 dinyatakan bahwa semua Perseroan Terbatas wajib hukumnya melaksanakan tanggung jawab sosial (CSR), sehingga CSR menjadi bagian dari rencana penganggaran perusahaan. Sementara itu perusahaan negara berbentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki acuan pelaksanaan tanggung jawab sosial berdasarkan Undang-Undang BUMN Pasal 2 ayat (1) huruf e dan Pasal 88 ayat (1) UU No. 19 Tahun 2003 jo. Peraturan Menteri Negara BUMN No. PER-05/MBU/2007. Didalam ketentuan tersebut semua BUMN yang berada dibawah pengelolaan pemerintahan Indonesia wajib melaksanakan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), dimana dananya adalah alokasi dari sisa keuntungan perusahaan sebesar maksimal 2% untuk masing-masing kegiatan. Dengan dasar pemikiran seperti yang telah diterangkan diatas, maka perlu dilakukan suatu kajian tentang ”Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk Kaltim)”. 4 1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah Potensi yang begitu besar dimiliki Kota Bontang, baik sumberdaya alam yang dapat pulih maupun yang tidak dapat pulih, merupakan tumpuan pembangunan Kota Bontang dimasa yang akan datang, dimana segenap aktifitas serta permukimannya dengan derap pembangunan yang sangat intensif berada di kawasan pesisir. Kenyataan menunjukkan bahwa besarnya tekanan penduduk dengan dinamika sosial ekonomi dan tuntutan pemerintah daerah untuk memperoleh sumber dana bagi peningkatan akselerasi pembangunan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang menjadi modal pembangunan masa kini dan masa yang akan datang. Isu dan permasalahan di pesisir Kota Bontang tidak jauh beda dengan permasalahan kota-kota pesisir lainnya di Indonesia. Permasalahan yang ada berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya pesisir oleh manusia. Pemanfaatan sumberdaya ini selalu menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi fisik pesisir Kota Bontang. Kerusakan fisik lingkungan antara lain disebabkan oleh adanya aktivitas di darat dan aktivitas di laut. Kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas di darat adalah pencemaran akibat limbah buangan industri dan rumahtangga, sedangkan aktivitas di laut adalah adanya abrasi pantai, sedimentasi di dasar perairan pantai, dan kerusakan ekosistem terumbu karang serta ekosistem pesisir lainnya. Kerusakan fisik lingkungan ini tidak terlepas dari adanya konflik pemanfaatan ruang dari berbagai kegiatan yang ada di pesisir Kota Bontang. Di kawasan pesisir Kota Bontang, intensitas penggunaan atau pemanfaatan ruang cukup tinggi sehingga berpeluang timbulnya masalah yang berakibat negatif bagi keberlanjutan keberadaan sumberdaya alam pesisir Kota Bontang. Hasil penelitian UGM (2001), Sucofindo (2001), UNDIP (2002) dan IPB (2010) menunjukkan adanya pencemaran, erosi, degradasi fisik habitat potensial seperti mangrove dan terumbu karang, serta konflik penggunaan ruang dan sumberdaya di kawasan pesisir dan laut kota Bontang, yang pada akhirnya mengancam kelestarian lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan. 5 Diperkirakan sekitar 100 Ha lahan mangrove telah beralih fungsi menjadi kawasan pabrik industri PKT sejak tahun 1979, disamping itu dari pengamatan transect line terumbu karang sepanjang 32 km di areal pesisir PKT, hanya sekitar 5 km (15%) saja yang berada dalam kondisi normal, selebihnya 21 km (66%) dalam keadaan rusak dan 6 km (19%) dalam kondisi transisi, hal ini terjadi akibat aktivitas dredging dan dumping sekitar 247.000 m 3 pasir laut pada saat pembangunan dermaga dan pabrik PKT. Permasalahan yang berkembang di kawasanpesisirkotaBontang, antara lain (Sucofindo, 2001; UGM, 2001; UNDIP, 2002; IPB, 2010) :  Kawasan pesisir dan laut Kota Bontang saat ini dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yaitu industri (PKT, BADAK, PT. Indominco), kawasan lindung (Taman Nasional Kutai), permukiman, pertambakan, budidaya laut, alur pelayaran, pelabuhan, daerah penangkapan ikan dan pariwisata. Kaitannya dengan penggunaan ruang oleh industri besar yang ada diwilayah ini, belum ada kajian yang membahas tentang kontribusi industri terhadap masyarakat dan sumberdaya pesisir, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Terjadinya degradasi lingkungan di beberapa lokasi di Kota Bontang antara lain : kerusakan terumbu karang, abrasi laut yang menyebabkan pulau-pulau kecil menjadi berkurang luasannya, misalnya Pulau Beras Basah yang menjadi andalan pariwisata Kota Bontang, hutan mangrove yang dialihkan penggunaannya untuk pertambakan dan pemanfaatan lainnya.  Intensitas aktivitas industri yang terus meningkat di Kota Bontang terutama industri pengolahan berskala besar seperti PKTdanBADAK yang membuang residu/limbah pabrik ke laut, mengakibatkan terjadinya pencemaran di wilayah pesisir dan lautan.  Masih dominannya sektor industri migas yang mengandalkan eksploitasi sumberdaya tak terbaharui (non-renewable resources) sementara sektorsektor yang berkaitan dengan kawasan pesisir dan laut masih tertinggal.  Adanya rencana pengembangan Kota Bontang yaitu perluasan kawasan pesisir yang mencakup Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanegara, rencana penggunaan lahan di wilayah perluasan Kota Bontang, rencana pemanfaatan kawasan pesisir kota Bontang sampai tahun 2027 yang meliputi 6 kawasan lindung, kawasan budidaya, pariwisata, perikanan tangkap, industri, pemukiman. Rencana tersebut selama ini belum didukung dengan kajian ilmiah penetapan kawasan. Untuk itulah pemerintah Kota Bontang melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) bekerjasama dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang mengatur hal tersebut.  Masih tingginya tuntutan dan harapan masyarakat terhadap PKTterutama di wilayah bufferzone. Hal tersebut perlu direspon secara proporsional oleh perusahaan sehingga tercipta suasana kondusif. Suasana yang kondusif sangat diperlukan perusahaan untuk bisa melakukan kegiatan produksi yang berkelanjutan.  Adanya pergerseran kepemilikan dunia usaha, dari kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan publik. Secara tidak langsung hal ini bermakna perusahaan tidak lagi hanya sebatas institusi bisnis, tetapi telah bergeser menjadi institusi sosial. Dunia usaha tidak hanya bertugas mencari keuntungan, tetapi juga harus berperan menjadi institusi yang memiliki tanggungjawab sosial.  Kesadaran akan pentingnya CSR menjadi trend global seiring dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan dan produksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).  Trend global lainnya di bidang pasar modal adalah penerapan indeks yang memasukkan kategori saham-saham perusahaan yang telah mempraktikkan program CSR. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : 1) Bagaimanaperan PKTterhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir di Kota Bontang ? 2) Bagaimana tingkat keberlanjutan (sustainability) dalam pengelolaan wilayah pesisir di Kota Bontang ? 7 3) Bagaimana efektifitas dan keberlangsungan program CSR PKT di Kota Bontang ? 4) Bagaimana strategi CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang 1.3. Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan permasalahan yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Menganalisis peran PKT terhadap peningkatan perekonomian Kota Bontang 2) Menganalisis tingkat keberlanjutan (sustainability) dalam pengelolaan wilayah pesisir di Kota Bontang. 3) Merumuskan strategi CSR PKT dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang 1.4. Manfaat Penelitian 1) Masukan bagi pemerintah Kota Bontang, bagi proses perencanaan dan pengambil kebijakan dalam kaitannya kontribusi industri-industri besar yang ada di Kota Bontang terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir. 2) Masukan bagi pengambil kebijakan di lingkungan PKT, khususnya dalam implementasi program CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang. 1.5. Kerangka Pemikiran Kebijakan pemerintah Kota Bontang berdasarkan arahan pemanfaatan ruang khususnya di wilayah pesisir lebih diarahkan pada pengembangan industri khususnya pengembangan industri PKT.Karena perusahaan besar tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap terlaksananya pengelolaan wilayah pesisir terpadu, dan peningkatan perekonomian Kota Bontang. Saat ini dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Kota Bontang, persaingan pemanfaatan ruang semakin ketat terutama masyarakat 8 yang bermukim di wilayah pesisir termasuk yang mempunyai mata pencaharian nelayan maupun petani ikan. Disatu sisi, perusahaan besar semakin berkembang dan disisi lain masyarakat disekitarnya semakin termarginalkan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat pesisir dan semakin langkanya sumberdaya pesisir yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Oleh karena itu perlu upaya yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Kota Bontang. Kegiatan usaha PKT banyak bersinggungan dengan beragam stakeholders, khususnya masyarakat dan lingkungan di sekitar lokasi pabrik yaitu wilayah pesisir Kota Bontang. Terkait hal tersebut, perusahaan memandang dan sudah berkomitmen bahwa program CSR sebagai kegiatan yang sangat penting baik bagi kepentingan perusahaan, lingkungan maupun masyarakat itu sendiri. Untuk merealisasikan upaya tersebut perlu dilakukan analisis seberapa besar kontribusi ekonomi dan tehnis dari PKT terhadap pengelolaan wilayah pesisir terpadu, sehingga kedepan dapat dibuat suatu perencanaan CSR yang terpadu sehingga baik bantuan yang diberikan berupa hibah, modal kerja, pelatihan maupun fasilitas yang dibutuhkan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang dapat dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Program-program tersebut semuanya didasarkan pada potensi daerah serta kebijakan pemerintah Kota Bontang. Adapun kerangka pemikiran penelitian mengenai tanggung jawa bsosial (CSR) PKT dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang. Dalam kerangka pikir penelitian ini, diawali dengan mengidentifikasi kondisi potensi sumberdaya wilayah pesisir Kota Bontang, kemudian dilanjutkan melihat kondis iperusahaan yang ada (khususnya PKT). Dalam proses kegiatan perusahaan (PKT) kaitannya dengan sumberdaya wilayah pesisir akan dikaji baik dari aspek sumberdaya pesisirnya maupun dari aspek ekonominya sehingga diharapkan dari aspek ekonomi dapat memberikan kontribusi terhadap PAD, keuntungan bagi perusahaan dan secara sosial dapat mensejahterakan 9 masyarakat di sekitarnya serta dari aspek sumberdaya pesisir dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kajian dalam penelitian ini difokuskan pada bagaimana penerapan tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan (PKT) terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, sehingga diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat disekitarnya dan sumberdaya pesisir tetap terjaga kelestariannya. Untuk itu perlu merumuskan suatu desain strategi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir khususnya di Kota Bontang. Secara lengkap kerangka fikir penelitian ini disajikan pada Gambar 1. P OTE N SI S U MB E R D AY A WI L AY A H PE SI SI R K OTA B ON TA N G PE R U S A HA A N IN D U S TR I (P K T) A NA LI SI S BI OGE OFI S IK AS PE K S U MB E R D AY A PE SI SI R A NA LI SI S EK ON OM I R E GI ON AL AS PE K E K ON OM I WI L AY A H C OR P OR A TE S OC I AL R ES P ON SI BI LI TY (C S R ) EK ON OM I M AS YA R A KA T A NA LI SI S PE R S EP SI K ON D IS I LI N GK U N GA N DA N S U MB E R D A YA P ES IS I R K OTA B ON TA N G AI N TA S TR A NA LI SI S E D FEES K TIVI S A TE GI C S R D AL A M P E MB E R DA Y AA N EK ON OM I M AS YA R A KA T DA N S U MB E R D AY A PE SI SI R A NA LI SI S S US TAI N A BI LI TY PE N GE L OL AA N WI LA Y A H PE SI SI R SE C A R A TE RP A D U D A N BE R KE L A N JU TA N (P WP T) Gambar 1.Kerangka Pemikiran 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Batasan Wilayah Pesisir 2.1.1 Pengertian Wilayah Pesisir Definisi wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut; kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin; sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh prosesproses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan perencanaan (Soegiarto, 1976; Dahuri, 1996). 2.1.2 Batasan Wilayah Pesisir Dahuri (1996), mengemukakan bahwa pertanyaan yang seringkali muncul dalam pengelolaan kawasan pesisir adalah bagaimana menentukan batas-batas dari suatu wilayah pesisir (coastal zone). Sampai sekarang belum ada definisi wilayah pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara wilayah daratan dan laut. Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu : batas yang sejajar dengan garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). Berdasarkan kepentingan pengelolaan, batas ke arah darat dari suatu wilayah pesisir dapat ditetapkan sebanyak dua macam, yaitu batas untuk wilayah perencanaan (planning zone) dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan keseharian (day-to-day management). Wilayah perencanaan sebaiknya meliputi seluruh daerah daratan (hulu) apabila terdapat kegiatan manusia (pembangunan) yang dapat menimbulkan dampak secara nyata (significant) terhadap lingkungan dan sumberdaya di pesisir. Oleh karena itu, batas wilayah pesisir kearah darat untuk kepentingan perencanaan (Planning zone) dapat sangat jauh ke arah hulu, misalnya kota Bandung untuk kawasan 12 pesisir dari DAS Citarum. Jika suatu program pengelolaan wilayah pesisir menetapkan dua batasan pengelolaannya (wilayah perencanaan dan wilayah pengaturan), maka wilayah perencanaan selalu lebih luas dari pada wilayah pengaturan (Dahuri, 1996). Batas wilayah pesisir menurut Pernetta dan Milliman (1995) disajikan pada Gambar 2. Gambar 2. Batasan Wilayah Pesisir (Pernetta dan Milliman, 1995) 2.1.3 Potensi Sumberdaya Wilayah Pesisir Dengan garis pantai terpanjang kedua didunia setelah Kanada, yaitu 81.000 km serta wilayah laut yang luasnya mencapai 5,8 juta km 2, maka tidak mengherankan bahwa secara potensial, Indonesia memiliki sumberdaya alam pesisir dan lautan yang sangat besar. Secara garis besar, potensi pembangunan kelautan Indonesia tersebut dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar yaitu (1) sumberdaya dapat pulih (renewable resources), (2) sumberdaya tidak dapat pulih (non-renewable resources) dan (3) jasa-jasa lingkungan (evironmental services). Kelompok pertama, sumberdaya alam wilayah pesisir dan lautan dapat pulih mencakup ekosistem mangrove, wilayah pesisir, rumput laut dan padang lamun, serta sumberdaya perikanan, yang secara potensial sangat besar dan 13 beragam jenisnya. Sebagai ilustrasi, Indonesia memiliki luas ekosistem mangrove sebesar 2,4 juta km2 dan wilayah pesisir seluas 75.000 km2 (Dahuri, et.al., 1996). Sementara itu, di wilayah perairan Indonesia terdapat sedikitnya 7 marga dan 13 spesies lamun (seagrass) dengan sebaran mencakup di wilayah perairan Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, dan Irian jaya. Sedangkan untuk sumberdaya perikanan, negara kita sudah lama diakui sebagai salah satu negara yang memiliki potensi perikanan terbesar di dunia. Data terakhir menunjukkan bahwa potensi lestari sumberdaya perikanan nasional adalah 5,649 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan sebesar 40% (FAO, 1997). Berbagai jenis sumberdaya hayati laut beserta perairan pesisir yang luas sangat potensial untuk dikembangkan melalui usaha mariculture (budidaya laut). Usaha tersebut dapat digolongkan menjadi dua kegiatan, yaitu budidaya tambak (brackish water ponds) dan budidaya laut (mariculture). Kelompok kedua, sumberdaya alam yang tidak dapat pulih, yang meliputi seluruh jenis mineral dan gas, dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu Kelas A (Mineral Strategis ) seperti minyak bumi, gas alam dan batubara; Kelas B (Mineral Vital) seperti emas, timah, nikel, dan bauksit, dan kelas C (Mineral Industri) seperti granit, kaolin, pasir dan bahan pembangunan lainnya. Sebagai ilustrasi, Indonesia memiliki cadangan migas yang besar dan terbesar di kurang lebih 60 cekungan (basins) yang sebagian besar terdapat di wilayah pesisir dan lautan seperti Kepulauan Natuna, Selat Malaka, Pantai Selatan Jawa, Selat Makassar dan Celah Timor (Ditjen Migas, 1996) Selain kedua sumberdaya tersebut diatas, yang tidak kalah pentingnya adalah sumberdaya jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut, seperti pariwisata, perhubungan laut, pemukiman dan sebagainya. Potensi kawasan pesisir sebagai kawasan wisata bahari hampir tersebar di seluruh kawasan pesisir Indonesia. 2.2 Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu (PWPT) Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu (Integrated Coastal Zone Management atau disingkat ICM) merupakan kegiatan manusia didalam mengelola ruang, sumber daya, atau penggunaan yang terdapat pada suatu wilayah pesisir, yakni dengan melakukan pemanfaatan sumber daya alam dan 14 jasa jasa lingkungan (environmental services) yang terdapat di kawasan pesisir, dengan cara melakukan penilaian menyeluruh (comprehensive assessment) tentang kawasan pesisir beserta sumber daya alam dan jasa jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya; guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Proses pengelolaan ini dilaksanakan secara kontinyu dan dinamis dengan mempertimbangkan segenap aspek sosial ekonomi budaya dan aspirasi masyarakat pengguna kawasan pesisir (stakeholders) serta konflik kepentingan dan konflik pemanfaatan kawasan pesisir yang mungkin ada (Sorensen dan Mc Creary dalam Dahuri, 2006). 2.2.1. Prinsip Keterpaduan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu adalah suatu pendekatan pengelolaan wilayah pesisir yang melibatkan dua atau lebih ekosistem, sumber daya, dan kegiatan pemanfaatan (pembangunan) secara terpadu (integrated) guna mencapai pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan, dimana prinsip keterpaduan memastikan konsistensi dalam implementasi kebijakan terhadap tindakan pengelolaan. Dalam konteks ini Dahuri (2006) membagi keterpaduan (integration) dalam tiga dimensi : 1) Keterpaduan Sektoral Keterpaduan secara sektoral berarti bahwa perlu ada koordinasi tugas, wewenang dan tanggung jawab antar sektor atau instansi pemerintah pada tingkat pemerintah tertentu (horizontal integration); dan antar tingkat pemerintahan dari mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, sampai tingkat pusat (vertical integration). 2) Keterpaduan Bidang Ilmu Keterpaduan dari sudut pandang keilmuan mensyaratkan bahwa didalam pengelolaan wilayah pesisir hendaknya dilaksanakan atas dasar pendekatan interdisiplin ilmu (interdisciplinary approaches), yang melibatkan bidang ilmu: ekonomi, ekologi, teknik, sosiologi, hukum, dan lainnya yang relevan. Ini wajar 15 karena wilayah pesisir pada dasarnya terdiri dari sistem sosial yang terjalin secara kompleks dan dinamis. 3) Keterpaduan Keterkaitan Ekologis Keterkaitan ekologis (ecological linkages) sangat diperlukan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir secara Terpadu (PWPT) mengingat bahwa perubahan atau kerusakan yang menimpa satu ekosistem akan menimpa pula ekosistem lainnya. Seperti dipahami bersama bahwa wilayah pesisir pada dasarnya tersusun dari berbagai macam ekosistem (mangrove, terumbu karang, estuaria, pantai berpasir, dan lainnya) yang satu sama lain saling terkait, tidak berdiri sendiri. Disamping itu, wilayah pesisir juga dipengaruhi oleh berbagai macam kegiatan manusia maupun proses-proses alamiah yang terdapat di lahan atas (upland areas) maupun laut lepas (oceans) yang dapat mempengaruhi suatu wilayah pesisir. Chua (2006) membagi prinsip keterpaduan menjadi tiga kategori utama, yaitu keterpaduan sistem, fungsi dan kebijakan, dengan penjelasan sebagai berikut ; 1) Keterpaduan Sistem Keterpaduan sistem pada prinsipnya berupaya untuk menghubungkan dimensi spasial dan temporal dari sistem sumberdaya pesisir dalam hal fisik, seperti perubahan lingkungan, pola penggunaan sumberdaya dan sosial ekonomi. Keterpaduan sistem melihat permasalahan mana yang relevan dalam pengelolaan pesisir yang timbul dari lingkungan, hubungan sosial dan ekonomi. Misalnya, membangun sebuah profil lingkungan pesisir membutuhkan pengumpulan informasi yang cukup untuk mengintegrasikan berbagai elemen sistem sumberdaya di wilayah tersebut. 2) Keterpaduan Fungsional Keterpaduan fungsional merupakan keterpaduan dalam membagi peran diantara para terbangunnya pemangku keterpaduan kepentingan peran dapat (stakeholders) meminimalisir dimana tumpang dengan tindih (overlaping) dalam pengelolaan wilayah pesisir, dengan keterpaduan fungsional antar stakeholders juga dapat saling melengkapi. Skema zonasi pesisir yang mengalokasikan sumber daya alam untuk penggunaan spesifik adalah contoh 16 dari keterpaduan fungsional yang efektif. Skema ini menentukan jenis dan tingkat kegiatan yang diperbolehkan di zona masing-masing sesuai dengan sasaran dan tujuan ICM, dengan memberikan batasan yang ditetapkan untuk jenis-jenis kegiatan proyek dan program yang boleh diimplementasikan. Pengalaman menunjukkan bahwa keterpaduan fungsional dan koordinasi di tingkat lokal sangat penting dalam meminimalkan konflik dalam mencapai kesepahaman antar stakeholders. Namun, keterpaduan fungsional perlu dibarengi dengan alokasi sumberdaya keuangan, undang-undang, dan pengembangan strategi pengelolaan pesisir di tingkat lokal maupun nasional. 3) Keterpaduan Kebijakan Keterpaduan kebijakan bertujuan untuk mensinkronisasi antara kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Keterpaduan kebijakan membantu merasionalisasi dan mengkoordinasikan kegiatan antar lembaga publik dan dapat saling melengkapi antar program dan proyek. Keterpaduan Kebijakan membuka peluang bagi strategi pengelolaan pesisir dalam menghadapi tantangan perubahan, dengan tetap menyelaraskan terhadap tujuan pembangunan ekonomi nasional. 2.2.2. Perencanaan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Ditinjau dari perspektif manajemen, pada dasarnya ada empat unsur pertanyaan pokok yang harus dijawab secara tepat didalam proses perencanaan pengelolaan sumberdaya pesisir. Pertama, dimana berbagai macam kegiatan manusia (pembangunan) harus ditempatkan diwilayah pesisir. Kedua, bagaimana menentukan tingkat usaha yang optimal dari setiap kegiatan pembangunan tersebut. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan optimal adalah suatu tingkat usaha kegiatan pembangunan yang secara sosial ekonomi menguntungkan dan secara lingkungan (ekologis) masih dapat diterima. Ketiga, ”kapan” dan ”bagaimana” berbagai kegiatan pembangunan ini harus dilaksanakan. Keempat, ”siapa” yang sebaiknya bertanggung jawab atas pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta penegakan hukum dari program pengelolaan ini. Suatu perencanaan pada perinsipnya merupakan skenario yang sistematis dan rasional serta dimaksudkan untuk mencapai sasaran yang 17 diinginkan dan harus didefinisikan secara jelas dan tepat pada awal tahap perencanaan. Guna mendefinisikan secara proporsional, maka pendefinisian ini hendaknya berdasarkan pada permasalahan dan isu dari pengelolaan sumberdaya pesisir. Meskipun permasalahan ini secara rinci bervariasi dari satu wilayah pesisir kewilayah yang lainnya, namun secara garis besar setiap upaya pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia akan mengahadapi empat kelompok masalah berikut (1) degradasi ekosistem, (2) pencemaran, (3) konflik pemanfaatan sumberdaya, dan (4) ketidak efisienan pemanfaatan sumberdaya. Sudah barang tentu, akar dari keempat masalah pokok ini harus ditelaah secara cermat. Menghadapi permasalahan pokok ini, maka wajar bila tujuan pengelolaan wilayah pesisir adalah untuk mencapai alokasi sumberdaya secara optimal di antara berbagai penggunaan, serta untuk memelihara kapasitas keberlanjutan (sustainable capacity) dari ekosistem pesisir itu sendiri. Analisa permasalahan dan definisi tujuan tersebut menjadi landasan dan tolok ukur utama bagi tahapan berikutnya. Agar dapat menempatkan berbagai kegiatan pembangunan dilokasi yang secara ekologis sesuai, maka kelayakan biofisik (biophysical suitability) dari wilayah pesisir harus diidentifikasikan lebih dahulu. Pendugaan kelayakan biofisik ini dilakukan dengan cara mendefinisikan persyaratan biofisik (biophysical requirements) setiap kegiatan pembangunan, kemudian dipetakan (dibandingkan) dengan karakteristik biofisik wilayah pesisir itu sendiri. Dengan cara ini dapat ditentukan kesesuaian penggunaan setiap unit (lokasi) wilayah pesisir. Penempatan kegiatan pembangunan dilokasi yang sesuai, tidak saja menghindarkan kerusakan lingkungan tetapi juga menjamin keberhasilan (viability) ekonomi kegiatan dimaksud. Penentuan kelayakan biofisik ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) seperti Arc/Info dan Arc View (Kapetsky et al, 1987). Informasi dasar, biasanya tersedia dalam bentuk thematic maps, yang diperlukan untuk menyusun kelayakan biofisik ini tidak saja meliputi karakteristik daratan dan hidrometeorologi, tetapi juga oceanografi dan biologi perairan pesisir. 18 Apabila kelayakan biofisik ini dipetakan dengan informasi tentang tata guna ruang saat ini, maka ketersediaan biofisik (biophysical availability) wilayah pesisir pun dapat pula ditentukan. Selanjutnya, jika informasi tentang potensi penggunaan (the future uses) wilayah pesisir juga tersedia, maka tata ruang yang dinamis pun dapat disusun. Tahap selanjutnya adalah menentukan tingkat usaha optimal dari setiap kegiatan yang diplot pada lokasi yang sesuai menurut tata ruang tersebut di atas. Tahap ini merupakan tugas yang paling menantang bagi para perencana dan pengambil keputusan. Oleh karena tahap ini harus melibatkan paling sedikit 3 pertimbangan: berbagai tujuan yang mungkin saling bertentangan, timbal balik sektoral dan regional baik yang ada di sistem wilayah pesisir ataupun yang diluarnya, dan dinamika waktu. Untuk dapat menentukan kapan dan bagaimana berbagai kegiatan pembangunan dilaksanakan, diperlukan analisis antara lain mengenai: keadaan infrastruktur, potensi, vegetasi, potensi sumberdaya manusia, dan kemampuan administratif daerah menentukan siapa yang yang sedang harus dipertimbangkan. bertanggung jawab Sedangkan atas untuk pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi program yang sudah ditetapkan membutuhkan analisis tentang aspek kelembagaan dan hukum yang ada, baik yang formal maupun tidak formal. Dengan demikian, tahapan yang terakhir pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk menjamin terlaksananya segenap aktivitas yang sudah ditetapkan pada tahap sebelumnya. Analisis mengenai keadaan sosekbud dan aspek kelembagaan minimal meliputi : statistik kependudukan, pola mata pencaharian, aspirasi penduduk setempat tentang pembangunan wilayah pesisir dan kualitas lingkungan, pola hak pemilikan sumberdaya, dan manajemen sumberdaya tradisional yang sudah dianut masyarakat pesisir secara turun temurun. Informasi ini sangat berguna untuk menjamin bahwa penduduk setempat akan diuntungkan oleh setiap proyek pembangunan yang akan berlangsung di wilayahnya. Lebih jauh, hasil analisis ini juga dapat membantu para perencana dan pengambil keputusan dalam merancang dan membangun suatu perangkat kelembagaan (institutional arrangement) dan metode-metode tepat guna bagi pengelolaan sumberdaya pesisir. 19 Perencanaan pada prinsipnya merupakan suatu yang dinamis dan adaptif. Oleh karenanya, ia harus cukup luwes untuk dapat mengatasi berbagai ketidak menentuan dan perubahan baik yang terjadi didalam atau diluar sistem wilayah pesisir. Dalam konteks ini, suatu program pemantauan devaluasi yang teratur dapat meningkatkan keluwesan dan adaptifitas dari perencanaan pengelolaan sumberdaya pesisir, melalui mekanisme umpan balik (feedback mechanism). Melalui proses perencanaan dan pengelolaan semacam ini pembangunan sumberdaya wilayah pesisir berkelanjutan diharapkan dapat tercapai. 2.3 Strategi Pembangunan Berkelanjutan (Strategy of Development Sustainability) dalam Konteks Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (WCED, 1987). Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga syarat sebagai berikut (1) Untuk sumberdaya dapat pulih (renewable resources), laju pemanfaatan sumberdaya tidak melampaui laju regenerasi sumberdaya tersebut. (2) Untuk sumberdaya tidak dapat pulih (non renewable resources, laju pemanfaatan sumberdaya tidak melampaui laju penemuan inovasi baru atau substitusinya. (3) Adanya kemampuan mengekang implikasi kegiatan pemanfaatan, termasuk di dalamnya adalah kemampuan pengolahan limbah (Ginting, 2002). Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan pada dasarnya merupakan suatu strategi pembangunan yang memberikan semacam ambang batas (limit) pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah serta sumberdaya alam yang ada didalamnya. Ambang batas ini tidaklah bersifat mutlak (absolute), melainkan merupakan batas yang luwes (flexible) yang bergantung pada kondisi teknologi dan sosial ekonomi tentang pemanfaatan sumberdaya alam, serta kemampuan biosfir untuk menerima dampak kegiatan manusia. Dengan perkataan lain, pembangunan berkelanjutan adalah suatu strategi pemanfaatan ekosistem alamiah sedemikian rupa sehingga kapasitas fungsionalnya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia tidak rusak. Untuk dapat menterjemahkan konsep pembangunan berkelanjutan ke dalam praktek pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara tepat, maka baik 20 aspek ekologi maupun sosial, ekonomi dan budaya harus dipertimbangkan sejak tahap perencanaan dari suatu proses pengelolaan ini, harus diidentifikasi dan selanjutnya disinkronkan dengan kaidah-kaidah dari konsep pembangunan berkelanjutan. Kerangka strategi pembangunan berkelanjutan melalui pengelolaan IS Pemerintah an Kebijakan, Strategi dan Perencanaan Perangkat Kelembagaan Informasi dan Kepedulian Publik Legislasi Mekanisme Keuangan Pengembangan Kapasistas Policy and Functional, Sc ientific/ Expert Advice ICM Cycle Aspek Pemb angun an Berkelan jutan Natural and Manmade Hazard Prevention and Management Habitat Protection, Restoration and Management Water Use and Supply Management Food Security an Livelihood Management Pollution Reduction and Waste Management ICM Code ICM Cycle Project and P rogram State of Co asts Reporting MDGs WSSD Agenda 21 SDS-SEA ISO 14001 Partnerships (Public, Civil Society, Corporate and Other Stakeholders sumberdaya pesisir terpadu dapat terlihat dalam Gambar 3 berikut : Target Gambar 3. Kerangka kerja Strategi Pembangunan Berkelanjutan unt uk Wilayah Kelautan Timur Asia ( PEMSEA, 2003) Secara garis besar konsep pembangunan berkelanjutan memiliki empat dimensi : (1) Dimensi ekologis, (2) Dimensi Sosial-Ekonomi-Budaya, (3) Dimensi Sosial Politik, dan (4) Demensi Hukum dan Kelembagaan. 1) Dimensi Ekologis Pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir secara berkelanjutan berarti bagaimana mengelola segenap kegiatan pembangunan yang terdapat disuatu wilayah yang berhubungan dengan wilayah pesisir agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya. Setiap ekosistem alamiah, termasuk wilayah pesisir, memiliki 4 fungsi pokok bagi kehidupan manusia: (1) Jasa-jasa 21 pendukung kehidupan, (2) Jasa-jasa kenyamanan, (3) Penyedia sumberdaya alam, dan (4) Penerima limbah (Ortolano, 1984). Berdasarkan keempat fungsi ekosistem diatas, maka secara ekologis terdapat tiga prinsip yang dapat menjamin tercapainya pembangunan berkelanjutan, yaitu : (1) Keharmonisan spasial, (2) Kapasitas asimilasi, dan (3) Pemanfaatan berkelanjutan. Keberadaan zona konservasi dalam suatu wilayah pembangunan sangat penting dalam memelihara berbagai proses penunjang kehidupan, seperti siklus hidrologi dan unsur hara; membersihkan limbah secara alamiah; dan sumber keanekaragaman hayati (biodiversity). Bergantung pada kondisi alamnya, luas zona preservasi dan konservasi yang optimal dalam suatu kawasan pembangunan sebaiknya antara 30 - 50 % dari luas totalnya. Sementara itu, bila kita menganggap wilayah pesisir sebagai penyedia sumberdaya alam, maka kriteria pemanfaatan untuk sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) adalah bahwa laju ekstraksinya tidak boleh melebihi kemampuannya untuk memulihkan dari pada suatu periode tertentu (Clark, 1988). Sedangkan pemanfaatan sumberdaya pesisir yang tak dapat pulih (nonrenewable resources) harus dilakukan dengan cermat, sehingga efeknya tidak merusak lingkungan sekitarnya. Ketika kita memanfaatkan wilayah (perairan) pesisir sebagai tempat untuk pembuangan limbah, maka harus ada jaminan bahwa jumlah total dari limbah tersebut tidak boleh melebihi daya asimilasinya (assimilative capacity). Dalam hal ini, yang dimaksud dengan daya asimilasi adalah kemampuan suatu ekosistem pesisir untuk menerima suatu jumlah limbah tertentu sebelum ada indikasi terjadinya kerusakan lingkungan dan atau kesehatan yang tidak dapat ditoleransi (Krom, 1986 dalam Bengen, 2000). 2) Dimensi Sosial Ekonomi Secara sosial - ekonomi - budaya konsep pembangunan berkelanjutan mensyaratkan, bahwa manfaat (keuntungan) yang diperoleh dari kegiatan penggunaan suatu wilayah pesisir serta sumberdaya alamnya harus diprioritaskan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar kegiatan (proyek) tersebut, terutama mereka yang ekonomi lemah, guna menjamin 22 kelangsungan pertumbuhan ekonomi wilayah itu sendiri. Untuk negara berkembang, seperti Indonesia, prinsip ini sangat mendasar, karena banyak kerusakan lingkungan pantai misalnya penambangan batu karang, penebangan mangrove, penambangan pasir pantai dan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, berakar pada kemiskinan dan tingkat pengetahuan yang rendah dari para pelakunya. Keberhasilan Pemerintah Propinsi Bali dalam menanggulangi kasus penambangan batu karang, dengan menyediakan usaha budidaya rumput laut sebagai alternatif mata pencaharian bagi para pelakunya, adalah merupakan salah satu contoh betapa relevannya prinsip ini bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia. 3) Dimensi Sosial Politik Pada umumnya permasalahan (kerusakan) lingkungan bersifat eksternalitas. Artinya pihak yang menderita akibat kerusakan tersebut bukanlah si pembuat kerusakan, melainkan pihak lain, yang biasanya masyarakat miskin dan lemah. Misalnya, pendangkalan bendungan dan saluran irigasi serta peningkatan frekwensi dan magnitude banjir suatu sungai akibat penebangan hutan yang kurang bertanggung jawab didaerah hulu. Demikian juga dampak pemanasan global akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca diatmosfer yang sebagian besar disebabkan oleh negara-negara industri. Ciri khas lain dari dari kerusakan lingkungan adalah, bahwa akibat dari kerusakan ini biasanya muncul setelah beberapa waktu ada semacam time lag. Contohnya, pencemaran perairan Teluk Minamata di Jepang terjadi sejak tahun 1940-an. Tetapi penyakit minamata dan itai-itai baru timbul pada awal 1960-an (silent spring oleh Carson R, 1963). Mengingat karakteristik permasalahan lingkungan tersebut, maka pembangunan berkelanjutan hanya dapat dilaksanakan dalam sistem dan suasana politik yang demokratis dan transparan. Tanpa kondisi politik semacam ini, niscaya laju kerusakan lingkungan akan melangkah lebih cepat ketimbang upaya pencegahan dan penanggulangannya. 4) Dimensi Hukum dan Kelembagaan Pada akhirnya pelaksanaan pembangunan berkelanjutan mensyaratkan pengendalian diri dari setiap warga dunia untuk tidak merusak lingkungan. Dan 23 bagi kelompok the haves dapat berbagi kemampuan dan rasa dengan saudaranya yang masih belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, sembari mengurangi budaya konsumerismenya. Persyaratan yang bersifat personal ini dapat dipenuhi melalui penerapan sistem peraturan dan perundang-undangan yang berwibawa dan konsisten. Serta dibarengi dengan penanaman etika pembangunan berkelanjutan pada setiap warga dunia. Disinilah peran sentuhan nilai-nilai keagamaan akan sangat berperan. 2.4 Konsep Pembangunan Wilayah Pesisir Pembangunan berkelanjutan telah menjadi isu global yang harus dipahami dan diimplementasikan pada tingkat lokal. Pembangunan berkelanjutan sering dipahami hanya sebagai isu-isu lingkungan, lebih dari itu pembangunan berkelanjutan mencakup tiga hal kebijakan, yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan yang digambarkan oleh John Elkington dalam bagan triple bottom line sebagai penemuan dari tiga pilar pembangunan yaitu “profit, people, dan planet” yang merupakan tujuan pembangunan. Secara teoritis keterbatasan Negara berkembang dalam mengembangkan perekonomian dapat ditelaah melalui pendekatan teori-teori penghambat pembangunan. Implikakasi teoritis ini sangat berguna dalam menyusun kerangka berfikir dalam melihat persoalan pemberdayaan ekonomi masyarakat suatu daerah. Dari ketiga teori yang menghambat pembangunan, dalam persoalan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir di Kota Bontang. Pendekatan efek dualisme sosial dan teknologi merupakan pilihan dalam menjelaskan kasus ini. Pilihan ini dijatuhkan mengingat keterlibatan PKT sebagai perusahaan penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bontang yang cukup berpengaruh. Pendekatan teori yang menghambat pembangunan ini seperti PKT diharapkan sebagai kutub atau pusat pertumbuhan yang mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi daerah sekitarnya. 2.4.1 Efek Dualisme Ekonomi Salah satu dari ciri negara berkembang, perekonomiannya bersifat dualistis. Artinya, dalam perekonomian kegiatan ekonominya dapat dibedakan menjadi dua golongan: kegiatan ekonomi modern dan kegiatan ekonomi 24 tradisional. Pada dasarnya ciri perekonomian yang bersifat dualistis tersebut, terutama dualisme sosial dan teknologi, menimbulkan keadaan-keadaan yang menyebabkan mekanisme pasar tidak berfungsi dengan semestinya. Mekanisme pasar ini selanjutnya mengakibatkan sumberdaya yang tersedia tidak digunakan secara efisien. Disamping itu penggunaan teknologi yang terlalu tinggi di sektor modern menimbulkan kesulitan bagi negara untuk mempercepat perkembangan kesempatan kerja di sektor modern. Kondisi inilah yang menyebabkan masalah pengangguran yang dihadapi, dimana kesenjangan antara tingkat pendapatan di sektor-sektor ekonomi modern dengan sektor ekonomi tradisional. Berbagai hambatan yang timbul dari adanya dualisme dari perekonomian yang baru berkembang dari pengaruh sektor tradisional kepada kehidupan masyarakat dan kegiatan perekonomian. Sebagian kegiatan ekonomi yang bersifat dualisme, disatu sisinya menggunakan teknik-teknik yang sederhana dan cara berpikir yang juga sederhana. Konsekuensi penggunaan teknik sederhana menyebabkan produktifitas berbagai kegiatan produktif yang rendah. Dan konsekuensi dari cara berpikir yang sederhana menyebabkan usaha-usaha pembaharuan sangat terbatas. Disamping dualisme ekonomi, dualisme teknologi memiliki akibat yang cukup serius, yaitu: membatasi sektor modern untuk membuka kesempatan kerja. Sektor modern terdiri dari sektor industri dan dalam sektor ini teknik-teknik berproduksi bersifat padat modal. Dalam teknik produksi yang demikian sifatnya, proporsi antara faktor-faktor produksi relatif tetap. Makin tinggi tingkat teknologi makin terbatas kemampuannya untuk menyerap tenaga kerja dengan tingkat kompetensi yang rendah. Selain terjadinya implikasi buruk dari dualisme teknologi terhadap penciptaan kesempatan kerja, harus pula disadari bahwa teknologi modern mempercepat pertumbuhan ekonomi. Implikasi lainnya adalah kegiatan-kegiatan dalam sektor modern pada umumnya mengalami perkembangan yang jauh lebih pesat dari sektor tradisional. Hal ini berarti bahwa kesenjangan tingkat kesejahteraan antara kedua sektor itu makin lama makin bertambah lebar. 25 2.4.2 Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole Theory) Ide awal tentang pusat pertumbuhan (growth pole) Fancois Perroux muncul sebagai reaksi terhadap pandangan ekonom pada waktu itu, seperti Casel (1927) dan Schumpeter (1951). Pemikiran ekonomi yang berkembang saat itu menyatakan bahwa transfer pertumbuhan antar wilayah berjalan lancar, sehingga perkembangan penduduk, produksi dan capital tidaklah selalu proporsional antar waktu. Perroux menemukan kenyataan yang berbeda dengan pendapat umum saat itu. Dimana transfer pertumbuhan ekonomi antar daerah umumnya tidak lancar, tetapi cenderung terkonsentrasi pada daerah-daerah tertentu yang memiliki keuntungan lokasi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi cenderung terkonsentrasi pada daerah tertentu yang didorong oleh adanya keuntungan aglomerasi yang timbul karena adanya konsentrasi kegiatan ekonomi ini. Adanya sekolompok kegiatan ekonomi terkonsentrasi pada suatu lokasi tertentu merupakan karakteristik awal dari sebuah pusat pertumbuhan. Karena kegiatan ekonomi tersebut terkonsentrasi pada lokasi tertentu, maka analisis tidak dapat dikaitkan untuk analisis ekonomi nasional, tetapi lebih pada analisis ekonomi regional. Biasanya pusat pertumbuhan ini berlokasi di daerah perkotaan, atau daerah tertentu yang mempunyai ekonomi spesifik seperti daerah pertambangan, pelabuhan, perkebunan, dan lain-lain. 2.4.3 Kajian-kajian Terkait Tentang Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Permasalahan utama yang sering terkait dengan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir adalah lemahnya keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan pengembangan kelautan dan wilayah pesisir. Munculnya masalah tersebut disebabkan oleh lemahnya sistem dan tata cara koordinasi antar stakeholder karena belum didukung dengan adanya sistem hukum yang mengatur kegiatan tesebut. Selain itu, lemahnya kualitas sumber daya manusia yang mempengaruhi proses partisipatif menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini sering berdampak pada munculnya ketidaksepahaman dan konflik penggunaan ruang antar stakeholder dalam rangka menjaga keseimbangan keberlanjutan sumberdaya alam yang berada di sekitar wilayah pesisir dan laut. Oleh karena itu, tekait dengan permasalahan- 26 permasalahan tersebut di atas pengkajian kebijakan kelautan secara partisipatif dengan stakeholder dalam rangka pemberdayaan masyarakat pesisir sangat diperlukan. Kajian Kebijakan Kelautan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir yang dilakukan Direktorat Kelautan Dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Bappenas (www.bappenas.go.id_index.php, 20 Juli 2008) dapat memberikan masukan yang cukup baik. Kajian ini bertujuan pertama mengidentifikasi karakteristik sumberdaya kelautan dan kondisi wilayah pesisir di beberapa wilayah Indonesia, kedua mengidentifikasi dan menelaah berbagai kendala dan permasalahan yang muncul sehubungan dengan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan wilayah pesisir, ketiga mengkaji dan menelaah langkah-langkah strategi kebijakan pengelolaan sumberdaya kelautan dan wilayah pesisir melalui proses partisipatif, dan keempat menyusun program dan rekomendasi dalam rangka pengembangan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan wilayah pesisir. Hasil Kajian ini menemukan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir dapat dilakukan dengan konsep pendekatan wilayah, yaitu dengan cara menentukan suatu wilayah di kawasan pesisir yang kondisi masyarakatnya miskin, telah terjadi degradasi sumberdaya alam dan lingkungan, kelebihan tangkap (over exploitation), penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan pencemaran. Strategi pendekatan pemberdayaan masyarakat dapat ditempuh melalui pendekatan 4 (empat) bina: (1) bina manusia, (2) bina sumberdaya, (3) bina lingkungan, dan (4) bina usaha, yang dirangkaikan dengan metode partisipatoris (participatory approach). Berdasarkan faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemberdayaan masyarakat pesisir, maka kebijakan pemberdayaan masyarakat pesisir sesuai dengan peringkatnya/ prioritasnya adalah sebagai berikut: (a) peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir; (b) peningkatan kualitas sumberdaya manusia; dan (3) konservasi dan perlindungan sumberdaya kelautan dan perikanan (SDKP). Persoalan yang muncul saat ini tidak terlepas dari ketidaktahuan pengambil kebijakan pada persoalan spasial. Dimana para penentu kebijakan sering mengarah preferensi yang bias ke wilayah perkotaan (urban biased). Kegagalan pembangunan di wilayah perdesaan sebagai misal, telah 27 menimbulkan derasnya proses migrasi penduduk yang berlebihan dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota besar. Keadaan ini menimbulkan persoalan di kota yang sudah terlalu padat, pencemaran udara, pemukiman kumuh, sanitasi yang kurang baik, dan lainnya yang pada akhirnya menurunkan produktivitas masyarakat kawasan perkotaan. 2.4.4 Konsep Pedesaan Wilayah Pesisir Secara teoritis, ekosistem Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Inner Indonesia terdiri dari Jawa, Madura dan Bali (JAMBAL); (2) Outer Indonesia terdiri dari pulau-pulau diluar JAMBAL, yang terdiri dari: Kawasan Barat luar Jawa, berorientasi ke daratan (continental) dan Kawasan Timur luar Jawa, memiliki karakteristik maritim. Berdasarkan karakteristik ekosistem makro ini, maka bentuk-bentuk kawasan perdesaan akan terbagi atas tiga mega struktur, yaitu: (1) Kawasan perdesaan inner Indonesia (JAMBAL) yang berorientasi pada basis pertumbuhan pertanian industri.Konsekuensi terhadap mata pencaharian dan bentuk lingkungan permukiman perdesaan pertanian industri cenderung berbentuk linier sepanjang jalan regional yang menghubungkan suatu noda (kota) dengan noda wilayah lainnya. (2) Kawasan Perdesaan Indonesia Barat yang berorientasi continental agro-estate. Konsekuensi terhadap mata pencaharian dan pola permukiman bervariasi berdasarkan kawasan hulu dan hilir aliran sungai. Kehidupan masyarakat desa-desa hulu sungai (daerah pedalaman) lebih berbentuk kluster (berkelompok), sedangkan pada hilir aliran sungai dan pantai cenderung tersebar. (3) Kawasan Perdesaan Indonesia Timur yang berorientasi maritim. Konsekuensi mata pencaharian dan pola permukiman yang berorientasi maritim, kawasan hutan pedalaman, dataran dan pesisir pantai sering terintegrasikan dalam satu kesatuan komunitas adat, tidak terpisah-pisah seperti pada kawasan continental. Setelah memahami konsep perdesaan, kembali ke tujuan awal. Keterlambatan pengambil kebijakan dalam meningkatkan kapabilitas dan kapasitasnya dalam mengantisipasi persoalan kewilayahan memiliki sumbangan yang cukup besar dalam menciptakan persoalan-persoalan baru. Implikasinya adalah hubungan kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi semakin kompleks 28 dan semakin sulit pemecahannya. Awalnya, berkembangnya kawasan perkotaan diharapkan menjadi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi wilayah keseluruhan yang memberikan tetesan ke wilayah perdesaan sekitarnya (trickle down). Faktanya adalah kegagalan pembangunan di wilayah perdesaan menyebabkan terjadinya urban biased dan mengalami kekurangan investasi modal, sehingga dampaknya telah menimbulkan kehilangan kesempatan kerja bagi masyarakat perdesaan. Dilain pihak lemahnya posisi tawar masyarakat perdesaan memperburuk situasi ini. Dengan terjadinya disparitas spatial, pembangunan kutub-kutub pertumbuhan di kota-kota besar (growth pole strategy) yang semula diramalkan bakal terjadi penetesan (trickle down effect) dari kutub pusat pertumbuhan ke wilayah hinterland-nya ternyata tidak terjadi. Bahkan yang terjadi adalah net effect-nya menimbulkan pengurasan yang besar yang besar (masive backwash effect) dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota. Dengan perkataan lain, melalui strategi kutub pertumbuhan yang urban biased, telah menyebabkan terjadinya transfer neto sumberdaya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besar-besaran. 2.5 Pembiayaan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Pesisir Terpadu Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan lingkungan pesisir dan laut, adalah untuk menghasilkan kelangsungan penyediaan dana untuk mendukung manajemen pengelolaan, pemeliharaan infrastruktur, perbaikan lingkungan, dan meningkatkan koordinasi serta menerapkan regulasi. Kurangnya dana sering mengakibatkan kegagalan dalam pelaksanaan program pengelolaan. Pihak yang berperan dalam pembangunan secara umum terdiri dari tiga bagian besar yaitu Pemerintah, Masyarakat, dan Pengusaha. Khusus untuk Kota Bontang Pemerintah kota sudah sangat terbantu karena terdapat dua perusahaan besar di Kota Bontang (PKT dan BADAK), disamping itu beberapa perusahaan swasta lainnya. Agar lebih sinergi kegiatan pembangunan di Kota Bontang seyogyanya ada koordinasi diantara pihak tersebut. Disamping itu, Pemerintah Daerah juga memerlukan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab secara proporsional yang diwujudkan dengan 29 pengaturan, pembagian dan pemanfataan sumberdaya nasional yang berkeadilan, perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Sumber-sumber pembiayaan pelaksanaan desentralisasi menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, dana perimbangan, pinjaman daerah dan nilai-nilai penerimaan yang sah. Sumber pendapatan asli daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dari dalam wilayah daerah yang bersangkutan. Pengelolaan sumberdaya pesisir perlu pendanaan yang proporsional sehingga Kabupaten/ Kota dapat memanfaatkan alokasi sumber-sumber pembiayaan dalam rangka disentralisasi. Apabila dalam pengelolaannya meliputi dua atau lebih wilayah kabupaten/ kota maka pembiayaannya melibatkan dana alokasi propinsi. Pelaksanaan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dapat optimal ditunjang dengan sumberdaya nasional (sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan). Mekanisme pembiayaan yang inovatif perlu dikembangkan untuk memastikan program pengelolaan masih dapat diterapkan secara berkelanjutan. Berikut adalah beberapa alternatif pilihan dalam pendanaan yang berkelanjutan. 2.5.1. Anggaran Formal 1) Anggaran Reguler Pemerintah Salahsatu pendekatan konvensional dalam pembiayaan berkelanjutan adalah dari alokasi anggaran pemerintah. Pemerintah umumnya akan melakukan penganggaran belanja rutin terhadap sektor-sektor prioritas dalam proses pembangunan wilayah, melalui instansi tekhnis terkait maupun melalui badan legislasi secara reguler setiap tahun anggaran. 2) Biaya dan Pajak Retribusi. Pendekatan lain yang dapat dilakukan dalam pembiayaan berkelanjutan adalah dengan memberikan beban biaya bagi penggunaan kawasan, biaya perizinan dan biaya layanan. Sistem biaya merupakan mekanisme yang berguna untuk menghasilkan pendapatan untuk pengelolaan lingkungan dan untuk mempertahankan penyediaan layanan secara profesional dan proyek-proyek perbaikan lingkungan lainnya. Namun, infrastruktur atau regulasi juga harus 30 disiapkan untuk menunjang pengelolaan serta penggunaan pendapatan yang dikumpulkan. Di Xiamen (Cina), sebuah sistem perizinan telah diadopsi untuk penggunaan perairan pesisir. Kota ini mengembangkan skema laut menggunakan zonasi yang mengalokasikan wilayah tertentu seperti penggunaan untuk galangan kapal, fasilitas rekreasi, memancing dan kegiatan lainnya yang menggunakan perairan pesisir memerlukan izin dari Biro Perikanan dan Kelautan Xiamen. Demikian juga, pelabuhan yang menyediakan fasilitas penerimaan limbah, dapat membebankan biaya yang sesuai. Biaya yang dikumpulkan dari pengolahan limbah bisa menghasilkan dana besar untuk pemeliharaan dan operasi. Di Bremen Port, biaya lingkungan yang dikenakan pada kapal-kapal di pelabuhan yang menggunakan fasilitas wilayah perairan. Biaya tambahan lingkungan juga dapat dipungut dari semua kargo yang dikelola oleh syahbandar pelabuhan, dengan memberikan kontribusi untuk biaya fasilitas penerimaan (Roos, 1997; Challis, 1997). Di Afrika Selatan, kargo perpajakan yang digunakan sebagai sarana untuk menghasilkan pendapatan untuk mendanai navigasi dan manajemen polusi. 2.5.2. Sektor Publik dan Kemitraan Swasta Kemitraan swasta adalah mekanisme pembiayaan yang dapat meningkatkan upaya publik dalam pengelolaan lingkungan. Sektor swasta secara keseluruhan memiliki sumberdaya keuangan dan keterampilan, untuk merancang, membangun dan transfer fasilitas dan layanan untuk memperbaiki lingkungan: misalnya, perencanaan dan operasionalisasi fasilitas pengolahan air limbah, menerapkan pelatihan khusus, dan melakukan survei sumberdaya alam dan lingkungan. Keterlibatan sektor swasta dapat dipercepat melalui penciptaan kebijakan yang dinamis dan lingkungan investasi yang adil sehingga peran sektor publik secara efektif dapat terpenuhi. Pada dasarnya, mengubah isu-isu lingkungan menjadi peluang investasi dapat difasilitasi oleh sektor publik melalui reformasi kebijakan yang mendorong investasi sektor swasta. Kerangka Integrated Coastal Management (ICM) memungkinkan prioritas masalah lingkungan yang memerlukan manajemen/ 31 intervensi teknologi untuk diidentifikasi. Proses ICM memungkinkan membangun kesepahaman antara stakeholder dalam membangun suatu kebijakan lingkungan sosial yang kondusif bagi swasta untuk berinvestasi. Adapun bentuk peran pihak perusahaan/ swasta diantaranya adalah ; 1) Hibah dan Bantuan Pembiayaan ICM dapat diperoleh dari dana hibah dan bantuan dengan menjalin kemitraan dengan pihak perusahaan/ swasta, namun alokasi dana ini bersifat temporal dan tidak berlangsung secara kontinyu/ berkelanjutan, karena hanya didasari oleh kedermawanan sosial (philantrophy) dan kesukarelaan (charity) dari pihak swasta, tanpa adanya aturan yang mengikat. 2) Corporate Social Responsibility (CSR) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan secara teoritis dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility atau CSR. CSR merupakan upaya yang wajib dilakukan oleh suatu perusahaan/ swasta untuk mempertangggung jawabkan dampak operasionalnya terhadap pembangunan berkelanjutan (sustainability development). Dalam hal ini CSR lebih dapat diharapkan dalam pembiayaan ICM secara berkesinambungan, karena sifatnya yang lebih menekankan pada kewajiban perusahaan/ swasta dalam membangun lingkungan dan relasi sosialnya sebagaimana diatur dalam aturan perundangundangan, sekaligus sebagai investasi sosial bagi perusahaan/ swasta dalam membangun pencitraan positif di masyarakat . 2.6 Konsep dan Teori CSR Konsep CSR yang sedang digandrungi saat ini belum memiliki definisi tunggal. Beragam definisi dari berbagai lembaga yang berpengaruh ikut mendefinisikan CSR sebagai berikut : 1) Bank Dunia CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development. 32 2) World Council for Sustainable Development Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life and the workforce and their families as well as of the local community and society at large 3) Uni Eropa CSR is a concept whereby companies integrate social and environmental concerns in their business operation and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis. Terdapat tiga pandangan yang perlu diperhatikan corporate dalam menilai urgensi penerapan CSR. Pertama, CSR merupakan strategi perusahaan yang pada akhirnya mendatangkan keuntungan. Kedua, sebagai compliance (kewajiban), karena akhirnya akan ada hukum yang menekan perusahaan. Ketiga, yang memandang CSR merupakan suatu yang penting karena perusahaan merasa sebagai bagian dari komunitas. Pentingnya CSR juga bisa dilihat dari kecenderungan pelaku bisnis dunia. CSR di pasar modal dunia kian menjadi faktor penentu yang penting. Umpamanya, New York Stock Exchange sekarang memiliki Dow Jones Sustainability (DJSI) untuk aneka saham perusahaan yang dikategorikan mempunyai nilai CSR yang baik. Sudah selayaknya perusahaan melaksanakan CSR dengan kesungguhan dan bukan semata demi menjaga image perusahaan atau sebagai reaksi terhadap tekanan. Saatnya perusahaan mulai menggeser paradigma berbisnisnya untuk lebih peduli dan memberikan nilai tambah terhadap lingkungan dan masayarakat. Kepedulian ini harus dilihat sebagai bagian dari strategi perusahaan meningkatkan daya saingnya. CSR pada dasarnya mempunyai tujuan akhir yakni sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini dengan memberikan kesempatan yang sama bagi generasi mendatang untuk mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Artinya, ketika terminologi CSR atau tanggung jawab sosial dan lingkungan dikemukakan, maka konsep 33 sustainability merupakan dasar berpijak dari apapun yang dilakukan. Dengan kata lain, silahkan anda berusaha dan silahkan anda mencari keuntungan, tapi tolong jangan korbankan generasi mendatang. Kesadaran berusaha dengan bertanggung jawab merupakan trend yang mendunia saat ini. Diesendorf (2000) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan menyangkut keberlangsungan ekologi (ecological sustainaibility), ekonomi (economic sustainaibility) dan sosial (social sustainaibility). Economic dan social sustainaibility, disatukan menjadi human sustainability. Keberlangsungan ekologi perlu diperhatikan berdasarkan kenyataan bahwa perekonomian dan masyarakat sangat tergantung pada integritas biosfir dan proses ekologi di dalamnya. Keberlangsungan kesejahteraan ekonomi manusia. menekankan pada peningkatan Keberlangsungan sosial mencakup kualitas kesamaan kesempatan dan kemampuan dari masyarakat untuk mengatasi persoalanpersoalan utama dalam hidupnya. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses perubahan yang dapat diukur secara kualitatif. Dalam hal ini yang berubah tidak hanya aspek ekonomi, akan tetapi juga aspek sosial dan lingkungan. Saat ini paradigma bahwa perusahaan melalui kegiatan bisnis berusaha mencari keuntungan semata sudah usang. Kini tujuan keberadaan bisnis adalah tidak hanya mencari keuntungan, tetapi melakukan sesuatu yang lebih baik dengan tujuan memaksimalkan nilai pemegang saham, juga memaksimalkan nilai bagi para pemangku kepentingan (stakeholders). Stakeholder perusahaan ada yang berada di dalam perusahaan (internal stakeholder) dan ada yang berada di luar perusahaan (eksternal stakeholders). Internal stakeholders terdiri dari para karyawan dan seluruh anggota perusahaan. Eksternal stekeholder terdiri dari pemasok, komunitas lokal, masyarakat luas, pesaing, pemerintah, perusahaan lain, dan masyarakat dunia. Tanggung jawab sosial terhadap internal stakeholder harus menjadi prioritas perusahaan sebelum memberikan perhatian kepada eksternal stakeholder. Karyawan harus dilihat sebagai aset dan mitra perusahaan yang harus dihargai dan dipelihara dengan baik serta ditingkatkan kesejahteraannya terlebih dahulu. 34 2.6.1 Sejarah dan Evolusi Pemikiran CSR Konsep CSR mulai dikenal sejak diterbitkannya buku karya Howard Bowen sebagai founding father CSR dengan judul ”Social Responsibility of Businessman” pada tahun 1953, konsep ini pun menjadi aktual pada tiga dasawarsa kemudian, tepatnya tahun 1987, dimana The World Commision on Environment and Development (WCED) dalam Bruntland Report, telah mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environtmental protection, dan social equity. Konsep sustainability development kian dikukuhkan melalui KTT Bumi di Rio De Janeiro pada tahun 1992 dimana pada forum tersebut ditegaskan bahwa konsep sustainability development yang didasarkan pada perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi dan sosial merupakan sesuatu yang mesti dilakukan oleh semua pihak, termasuk perusahaan. Konsep CSR kian populer pada tahun 1998, terutama setelah kehadiran buku ”Cannibals With forks; The Triple Bottom Line in 21st Century Business” (1998) karya John Elkington, dimana Elkington mengemas CSR dalam tiga fokus; 3P yang merupakan singkatan dari Profit, Planet dan People. Dan pada tahun 2002 hasil dari World Summit Sustainable Development (WSSD) di Yohannesburg memunculkan konsep Social Responsibility yang mengiringi dua konsep sebelumnya yaitu economic dan environtment sustainability, dari rumusan pertemuan inilah selanjutnya pada tahun 2010 berhasil diberlakukan ISO 26000 sebagai suatu standar operasi dan norma pelaksanaan tanggung jawab sosial dari organisasi-organisasi termasuk perusahaan yang terhimpun dalam Guidance on Social Responsibility. Loss Prevention Not Charity merupakan cara pandang baru guna mencari solusi yang bersifat win-win antara pihak perusahaan dan komunitas lokal. Selain isu-isu kontribusi perusahaan terhadap komunitas dan masyarakat, sebenarnya banyak isu lainnya dalam CSR. Seperti: isu tata kelola yang baik bagi organisasi (good corporate governance), isu tentang hak asasi manusia, isu tentang ketenagakerjaan, isu lingkungan, isu tentang menjalankan bisnis yang tidak curang, dan isu tentang konsumen. 35 Ada tiga hal utama yang merupakan esensi dari pemahaman CSR, yaitu: (1) CSR merupakan tindakan yang harus diambil perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak yang ditimbulkan akibat operasi perusahaan maupun kebijakan yang diambil terhadap lingkungan hidup, internal perusahaan dan eksternal perusahaan. (2) CSR harus beyond compliance to law, artinya: perusahaan harus dan wajib pertama kali mematuhi hukum dan peraturan yang ada. Setelah itu baru melakukan hal-hal baik kepada para stakeholders maupun lingkungan, diluar yang diwajibkan oleh hukum dan peraturan. Pra kondisi inilah yang harus tercipta, perusahaan harus dan wajib mematuhi hukum dan peraturan, sehingga barulah dapat dikategorikan sebagai kegiatan CSR. (3) CSR menuntut pengambil keputusan untuk turut bertanggung jawab juga. Dengan demikian CSR berkaitan erat dengan praktek corporate governance, atau jika pada organisasi, berarti organizational governance. Mengapa governance, karena dalam konsep governance, tanggung jawab dalam pengambilan keputusan (board) adalah hal yang paling utama. Board harus dapat diminta pertanggungjawabannya atas keputusan dan kebijakan yang diambil. Artinya, hal ini sangat terkait dengan akuntanbilitas. Board juga harus mengungkapkan hal-hal penting diketahui para pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal, seperti: laporan kinerja, laporan proses pengambilan keputusan, audit, laporan kegiatan CSR (melalui Sustainable Reporting), dan lain-lain. (Nindita, 2008). Dalam diskusi terbatas di CECT Universitas Trisakti dapat disimpulkan hubungan CSR, sustainability dan sustainable development. Sustainability adalah tujuan akhir yang harus dicapai oleh semua perusahaan. Tujuan akhir tersebut diantaranya adalah menyeimbangkan antara kinerja ekonomi, kesejahteraan sosial dan peremajaan serta pelestarian lingkungan hidup. Proses mencapai tujuan akhir disebut sebagai sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Sedangkan CSR adalah vehicle (kendaraan) untuk mencapai tujuan akhir tersebut, jadi CSR merupakan bagian dari kegiatan pembangunan yang berkelanjutan. 36 2.6.2 Konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (CSR) CSR mulai mengemuka dalam hasanah bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat ketika dunia internasional ramai membicarakan CSR ini, hingga CSR menjadi isu besar bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi dimanapun. Hingga pada akhirnya pelaksanaan CSR di Indonesia dipayungi oleh Undang-Undang No. 40 tahun 2007, Pasal 74 yaitu UndangUndang tentang Perseroan Terbatas. Didalam Undang-Undang ini pada pasal 74 dinyatakan bahwa semua Perseroan Terbatas wajib hukumnya melaksanakan CSR, sehingga tanggung sosial menjadi bagian dari rencana penganggaran perusahaan. Ada dua konteks politik ekonomi Indonesia dalam melihat peran BUMN kurun waktu 1998-2003, yaitu: (1) Kebijakan pemerintah melakukan penataan ulang (reformasi) BUMN yang ditandai dengan dua isu pokok, yakni restrukturisasi dan privatisasi. (2) Kebijakan pemerintah menjadikan usaha kecil sebagai tulang punggung ekonomi paska krisis. Dalam UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN, Bukan hanya dukungan pada keberadaan usaha kecil dan koperasi tetapi juga BUMN harus mendukung program-program sosial yang lain. Program Bina Lingkungan (BL) yang menjadi dasar praktik tanggung jawab sosial BUMN, merupakan kebijakan sosial BUMN yang menyatu dengan dukungan terhadap usaha kecil dan koperasi yang disebut Program Kemitraan (PK). Kedua aspek tersebut, baik program BL maupun PK, terwadahi dalam suatu ketentuan hukum yang sama, yakni: Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 dan Nomor : PER-05/MBU/2007, tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL). Serta surat edaran Menteri BUMN Nomor: SE-33/MBU/2003 dan SEN01/MBU.S/2009 yang merupakan petunjuk pelaksanaan dari Keputusan Menteri tersebut. Dalam surat edaran ini dijelaskan pula bahwa masing-masing BUMN membentuk unit sendiri yang khusus untuk melaksanakan PKBL. Ada tiga persoalan dalam menerapkan program PKBL. Pertama, Kepmen-236/MBU/2003 menyangkut pembatasan terhadap lima objek bantuan (pendidikan, kesehatan, sarana umum, sarana ibadah, dan bencana alam). Kedua, terkait dengan manajemen program ditingkat BUMN yang masih bersifat 37 top down dan memerlukan persetujuan dari manajemen pusat bagi BUMN. Ketiga, menyangkut minimnya blueprint atau cetak biru kebijakan. Tak jarang pelaksanaan tanggung jawab sosial BUMN hanya didasarkan pada keinginan baik dan dimensi etis, tetapi belum dirumuskan dalam suatu kebijakan tertulis oleh perusahaan BUMN. Adapun perbandingan CSR dan PKBL disajikan pada Tabel 1 berikut ; Tabel 1. Perbedaan - Persamaan CSR dan PKBL Aspek CSR PKBL Dasar Hukum • Ps. 74 UU No. 40 tahun 2007 • Peraturan Pemerintah (masih dalam Rancangan) • Ps.2 ayat (1) huruf e dan Ps.88 ayat (1) UU No.19 Tahun 2003 jo. Peraturan Meneg BUMN No.PER05/MBU/2007 Sasaran/ Tujuan • Menciptakan hubungan yang serasi, seimbang dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya setempat secara berkelanjutan (Penjelasan Ps.74 ayat (1) • Program Kemitraan : Untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri • Program Bina Lingkungan : Pemberdayaan kondisi sosial masyarakat Obyek Peraturan • Perusahaan (Perseroan Terbatas) yg • Persero (termasuk Persero Terbuka) menjalankan kegiatan usaha dibidang / dan Perum (Ps.2 ayat (1) dan (2) berkaitan dengan Sumberdaya Alam Peraturan Meneg BUMN No.PER(SDA) (Ps.74 ayat (1)) 05/MBU/2007) • Perusahaan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan SDA, tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumberdaya alam (Penjelasan Ps.7 ayat (1) Sifat Peraturan Memaksa (wajib dilaksanakan) bagi perusahaan yang terkait SDA dan/atau perusahaan yang usahanya berdampak pada fungsi kemampuan SDA, apabila tidak dilaksanakan, maka dapat dikenakan sanksi (Ps.74 ayat (3) Terhadap Persero dan Perum, sifat peraturan memaksa (wajib dilaksanakan) karena Program tersebut dijadikan salah satu indikator penilaian tingkat kesehatan Persero / Perum (Ps. 2 ayat (1) jo. Ps.30 ayat (1) Peraturan Meneg BUMN No.PER-05/MBU/2007) Lingkup Tanggung Jawab Terbatas di lingkungan/masyarakat di wilayah kegiatan usaha Perusahaan (Penjelasan Ps.7 ayat (1)) Lebih luas dari lingkup Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan berdasarkan UU No. 40 Tahun 2007 (tidak sebatas wilayah tempat kegiatan usaha Persero atau Perum) Perlakuan Anggaran Diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran (Ps.74 ayat (2) • Maksimal 2% (dua persen) dari laba bersih untuk Program Kemitraan • Maksimal 2% (dua persen) dari laba bersih untuk Program Bina Lingkungan. Sumber : CA RE LPPM IPB, 2011 (makalah paparan Awareness Internal PK T, “Organisasi PKT dalam Pengelolaan Pelaksanaan CSR dan PKBL”) 38 Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa secara konsep Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang dilaksanakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak jauh berbeda dengan best practices CSR yang dilakukan oleh perusahaan swasta sehingga dapat dikatakan bahwa PKBL merupakan praktek CSR yang dilakukan oleh BUMN. Permasalahan muncul bagi perusahaan milik negara, dikarenakan perusahaan ini ada yang berbentuk Perseroan Terbatas, lantas acuan mana yang harus diikuti dalam hal pelaksanaan tanggung sosialnya, sementara mereka sudah melaksanakan PKBL. Cakupan pelaksanaan PKBL - BUMN diharapkan mampu mendukung mewujudkan 3 pilar utama pembangunan nasional (triple tracks) yang telah dicanangkan pemerintah dan merupakan janji politik kepada masyarakat, yaitu: (1) pengurangan jumlah pengangguran; (2) pengurangan jumlah penduduk miskin; dan (3) peningkatan pertumbuhan ekonomi. Melalui PKBL diharapkan terjadi peningkatan partisipasi BUMN untuk memberdayakan potensi dan kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan masyarakat dengan fokus diarahkan pada pengembangan ekonomi kerakyatan untuk menciptakan pemerataan pembangunan. Sementara cakupan pelaksanaan CSR disamping mewujudkan 3 pilar tadi, juga berdimensi kepada pewujudan palaksanaan operasi perusahaan yang tidak melanggar HAM, praktek yang jujur, dan dimensi lain yang tercantum dalam ISO 2600, sebagaimana disajikan pada Gambar 4 berikut. The Environment Labour paractices Fair operating process Consumer issues Human rights Organizational governance Social Responsibility Social Development Gambar 4. Acuan Pelaksanaan CSR berdasarkan ISO 26000 39 Dengan disahkannya ISO 26000 maka pelaksanaan CSR di dunia harus mengacu kepada indikator-indikator tersebut, termasuk juga adalah perusahaan yang berada dibawah pengelolaan pemerintah Indonesia (BUMN). Sementara jika perusahaan BUMN telah melaksanakan program PKBL, maka sesungguhnya dia sudah melaksanakan bagian-bagian dimensi dari pelaksanaan CSR, tinggal melengkapi dimensi lainnya sesuai dengan ISO 26000. Two fundamental practices of social responsibility Clause 4 Accountability Transparency Social Responsibility Core subject Human rights Ethical Behaviour clause 6 Labour practices The Environ ment Fair operating practices Consumer issues Community involvement and development integrating social rersponsibility troughout an organization The relationship of an organizations characteristics to social responsibility Voluntary initiatives for social responsibility Understanding the social responsibility of the organization Practices for integrating social responsibility throughout an organization Reviewing and improving an organization actions and practices related to social responsibility clause 7 Sustaina ble deve lopment Related actions and expectations Respect for the rule of law Respect for human rights Stake holder identification and engagement Organizational governance Respect for stakeholder interests Respect for internationa l norms of behaviour clause 5 Recognizing social responsibility Seve n principles of social responsibility Communication on social responsibility Enhancing credibility regarding social responsibility Annex : Examples of voluntary initiatives and tools for social responsibility Gambar 5. Scematic overview of ISO 26000 Aplikasi CSR di dunia bisnis internasional telah dibangun dari mulai kegiatan yang bersifat promosi (Branding Image) kemudian bersifat sukarela (voluntary) sampai dengan kewajiban karena hukum (obligation). Pelaksanaan CSR Perusahaan multinasional dalam dunia bisnis lintas negara juga memliki variasi yang inovatif dari waktu kewaktu. Namun pada abad sekarang ini isu CSR internasional sangat didominasi oleh permasalahan pemanasan Global (Global 40 Warming). Meskipun banyak negara-negara di dunia yang belum memperkuat kedudukan CSR secara detail kedalam perangkat hukum masing-masing negara, tidak sedikit perusahaan multinasional yang melaksanakan CSR dan menjadikan CSR sebagai bagian dari bisnis mereka. Perusahaan multinasional yang berkedudukan di Amerika Serikat misalnya, seperti perusahaan minyak Exxon Mobile, perusahaan financial Citigroup, perusahaan industry retail Wal Mart, dan perusahaan computer IBM. Exxon Mobile memfokuskan kegiatan CSR-nya kedalam bidang pendidikan, pelayanan kesehatan yakni antara lain sebagai sponsor dari the United Nations Development Programme (UNDP), the United Nations Children's Fund (UNICEF) dalam pemberantasan malaria, lingkungan, HAM, dan kebijakan publik (www.exxonmobile.com). Wal Mart menitik-beratkan CSR-nya pada bidang pendidikan, kesehatan masyarakat seperti sebagai donatur pada American Cancer Society, the American Red Cross, olahraga, lingkungan, bantuan bencana, kegiatan amal, dan kesejahteraan anak (www.csrglobe.com). CSR IBM terfokus pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pengembangan (www.csrglobe.com). Sedangkan Citigroup, selain fokus pada masyarakat kepada bidang kesehatan, lingkungan, dan pengembangan masyarakat, Citigroup juga menaruh perhatian khusus pada bidang kredit usaha kecil (www.csrglobe.com). Bank HSBC yang berpusat di Inggris juga menfokuskan kegiatan CSRnya pada bidang pendidikan, lingkungan seperti sebagai sponsor pada Botanic Gardens Conservation International (BGCI), Earthwatch Institute and WWF , bantuan bencana, pembiayaan, dan kredit usaha kecil (www.hsbc.com). Perusahaan elektronik Toshiba pun berusaha untuk membuat CSR merupakan bagian integral dari operasi bisnis sehari-hari untuk masing masing divisi dan setiap bisnis dan karyawan. Berdasarkan prinsip-prinsip dasar menurut prioritas tertinggi bagi kehidupan manusia dan keselamatan dan kepatuhan hukum dalam semua kegiatan bisnis, Toshiba Group menitiberatkan CSR pada persoalan hak asasi manusia, pengelolaan lingkungan, peningkatan kepuasan pelanggan dan persoalan kewarganegaraan (www.toshiba.co.jp). 41 Perusahaan Kosmetik ternama L'Oréal memfokuskan kegiatan CSR-nya pada kegiatan pendidikan dan pelatihan The L'Oréal-Unesco Awards, The Unesco - L'Oréal Fellowships, dan The National Initiatives. Selain itu L'Oréal juga fokus pada program kesehatan dan lingkungan (www.csrglobe.com). Program CSR Perusahaan financial Jerman yakni Deutsche Bank AG juga memiliki kesamaan dengan industri perbankan lainnya yaitu berorientasi pada kredit usaha kecil seperti pada program Global Commercial Microfinance Consortium Ltd, dan Deutsche Bank Microcredit Development Fund. Kesenian, lingkungan, pengembangan masyarakat, dan pendidikan juga menjadi titik fokus program CSR oleh Deutsche Bank AG (www.deutsche-bank.de) . Pelaksanaan CSR di Indonesia memiliki domain yang tidak terlalu jauh berbeda satu sama lainnya, meskipun korporasi-korporasi yang melaksanakan CSR tersebut melaksanakan kegiatan bisnis yang berbeda-beda misalnya di sektor perbankan kegiataan CSR banyak difokuskan pada bidang pendidikan seperti yang dilaksanakan oleh Bank Mandiri dan Bank BNI. Beberapa program sosial BNI dalam membantu bidang pendidikan diantaranya pemberian beasiswa setiap tahun, bantuan sarana dan prasarana fisik dan alat tulis bagi sekolah/ kampus, renovasi sekolah, program kewirausahaan mahasiswa, sarana pendukung pendidikan nonformal dan program edukasi khusus bagi semua kalangan (www.beritasore.com). Pada bidang pendidikan, Bank Mandiri memiliki sejumlah sub kegiatan seperti beasiswa, pembelajaran mengenai perbankan kepada siswa di daerah terpencil, penyediaan sarana penunjang pendidikan, dan renovasi sekolahsekolah yang rusak. Bank Mandiri juga menaruh perhatian besar pada masalah yang dihadapi oleh masyarakat karena bencana alam. Pada tiga bencana besar yang belum lama terjadi di Indonesia yakni tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan tsunami di Pangandaran, Bank Mandiri dengan sigap segera mengulurkan bantuannya (www.jurutulis.com). Pada Sektor pertambangan seperti Pertamina, kegiatan CSR difokuskan pada 4 bagian besar yakni pendidikan, lingkungan, kesehatan dan kemitraan berkelanjutan (www.pertamina.com). Masih disektor yang sama perusahaan 42 pertambangan batubara yakni Bumi Resources menitiberatkan kegiatan CSRnya pada bidang pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat dibidang perikanan, pertanian, dan perkebunan serta pada bidang perbaikan infrasturktur dan pemeliharaan kesehatan (www.bumiresources.com). Tidak sedikit pula korporasi di Indonesia yang sangat memperhatikan implementasi CSR yakni dengan membentuk yayasan khusus untuk melaksanakan program CSR secara fokus dan berkelanjutan.Seperti PT. Unilever Indonesia Tbk melalui yayasan Unilever Indonesia yang sangat fokus pada pengembangan ekonomi masyarakat (www.ibl.or.id) dan PT. HM Sampoerna Tbk melalui Yayasan Sampoerna foundation yang fokus pada bidang pendidikan (www.sampoernafoundation.org). 2.7 Efek Dualisme Ekonomi Terhadap Pembangunan Wilayah Pesisir Terpadu Isu yang selalu mucul ketika membicarakan masyarakat pesisir adalah masyarakat yang marjinal, miskin dan menjadi sasaran eksploitasi penguasa baik secara ekonomi maupun politik, terutama nelayan yang digolongkan sebagai nelayan musiman nelayan yang hanya memiliki perahu tanpa motor atau nelayan buruh. Pada umumnya, 80% masyarakat pesisir masih dalam kondisi miskin dengan tingkat pendidikannya yang rendah. Kemiskinan yang selalu menjadi trade mark bagi masyarakat pesisir dalam beberapa hal dapat dibenarkan dengan beberapa fakta seperti kondisi pemukiman yang kumuh, tingkat pendapatan dan pendidikan yang rendah, rentannya mereka terhadap perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang melanda, dan ketidakberdayaan mereka terhadap intervensi pemodal, dan penguasa yang datang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor struktural yang menyebabkan terjadinya kemiskinan nelayan. Mubyarto et al (1984), Mubyarto dan Sutrisno (1988), Resusun (1985), Rizal (1985) dan Zulkifli (1989) menyatakan bahwa faktor struktural ini juga sering kali menjadi alasan untuk 43 timbulnya konflik pada masyarakat pesisir yaitu konflik nelayan tradisional terhadap pemilik alat tangkap moderen seperti pukat harimau. Konflik itu terjadi karena pukat harimau melakukan penangkapan ikan di zona penangkapan nelayan tradisional. Misalnya, salah satu penyebab konflik adalah adanya penabrakan nelayan oleh pukat harimau. Menurut catatan Suhendra (1998) ada sampai 37 kejadian nelayan ditabrak pukat harimau dengan korban meninggal 5 orang, hilang 31 orang, sejak tahun 1993 sampai Juli 1998. Keadaan dan kondisi di atas seringkali memicu terjadinya pengerusakan sumberdaya alam di sekitarnya. Secara umum, ada dua pendekatan yang dilakukan dalam menganalisis kemiskinan nelayan yaitu pendekatan struktural dan kultural. Beberapa tulisan mengenai masyarakat pesisir dengan pendekatan struktural yang menggambarkan tentang kemiskinan/ kondisi ekonominya. Hasil penelitian Mubyarto et al (1984) menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di daerah Jepara sebagian berasal dari golongan sedang, miskin, dan miskin sekali. Selanjutnya dinyatakan bahwa kemiskinan masyarakat pesisir pantai lebih banyak disebabkan oleh adanya tekanan struktur, di mana masyarakat pesisir terbagi atas kelompok kaya dan kaya sekali di satu pihak, miskin dan miskin sekali dilain pihak. Penelitian ini menunjukkan adanya dominasi/ eksploitasi dari masyarakat pesisir kaya terhadap nelayan miskin. Hampir sama atas dasar penelitian di atas Mubyarto dan Sutrisno (1988) juga melihat kemiskinan masyarakat pesisir di Kepulauan Riau. 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September 2010 sampai dengan Mei 2011, di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Secara geografis Kota Bontang terletak di garis lintang 0°01’ - 0°12’ Lintang Utara dan 117°23’ - 117°38’ Bujur Timur. Peta wilayah Kota Bontang dapat dilihat pada Gambar 6. L okas i Pe ne lit ia n Su m b er R T R W K ot a B o n ta ng Th. 20 1 0 O le h : T a uf ik H a s b ul la h P ro g ra m D ok t or P ro g ra m S t u d i S P L I nst it ut Pe rta ni a n B og or 2011 Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian meliputi seluruh kelurahan yang berbatasan langsung dengan pesisir yaitu Kelurahan Bontang Kuala, Kelurahan Bontang Baru, Kelurahan Lhok Tuan, Kelurahan Guntung, Kelurahan Berbas Pantai, Kelurahan Berbas Tengah, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kelurahan Tanjung Laut, dan Kelurahan Belimbing, seperti tersaji pada Tabel 2 berikut: 46 Tabel 2. Lokasi Penelitian Berdasar jenis Wilayah Kecamatan Jenis Wilayah Kelurahan Pesisir Bontang Utara Bontang Selatan Bontang Kuala Bontang Baru Berbas Tengah Berbas Pantai Lok Tuan Tanjung Laut Bontang Barat Belimbing Guntung Tanjung Laut Indah Kelurahan Non Pesisir Api-api Gunung Elai Satimpo Bontang Lestari Kanaan Telihan Jumlah 6 Kelurahan 6 Kelurahan 3 kelurahan Sumber : BPS, 2010 diolah 3.2. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Metode studi kasus adalah penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Max Field dalam Nazir, 1986). Kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah program CSR pada PKT Bontang, khususnya dalam kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang. 3.3. Tahapan Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yakni tahap persiapan, pengumpulan data dan tahap analisis data. Tahap persiapan meliputi pembuatan proposal penelitian, pengurusan surat izin penelitian dan studi literatur baik diperpustakaan, internet maupun pada instansi pemerintah dan swasta yang terkait dengan permasalahan yang akan di kaji. Pada tahap pengumpulan data, kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan semua data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini baik data primer maupun data sekunder. Data-data tersebut meliputi identifikasi potensi dan permasalahan di wilayah pesisir baik dari aspek ekonomi maupun aspek sumberdaya dan lingkungan pesisir. Aspek ekonomi seperti data PDRB Kota Bontang, pertumbuhan ekonomi, dan keterkaitan antar sektor. Aspek sumberdaya dan lingkungan pesisir seperti data ekosistem wilayah pesisir (mangrove, padang lamun, terumbu karang) dan data sumberdaya perikanan 47 dan kelautan. Dimensi keberlanjutan meliputi dimensi ekonomi, ekologi, sosial budaya, hukum dan kelembagaan. Indikator CSR seperti kemitraan, bina lingkungan dan bina wilayah. Pada tahap analisis data, semua data-data yang telah dikumpulkan diatas akan dianalisis dengan menggunakan berbagai metode analisis yang meliputi analisis ekonomi wilayah, analisis biogeofisik, analisis keberlanjutan wilayah dan analisis efektivitas dan presepsi. Alur tahapan penelitian tersaji pada Gambar 7 berikut ; TAHAP PERSIAPAN MULAI PERSIAPAN  S TUDI LITERA TUR  P ROP OS AL P ENE LITIAN  P DRB  P ERTUMB UHAN E K ONOMI  K ETERKA ITAN ANTA R SE KTOR A NA LIS IS EK ONOM I WILA YAH     M ANGROVE TE RUMB U KA RANG P ADA NG LAM UN P ERIKA NA N, KE LA UTAN, DLL A NA LIS IS B IOGE OFIS IK A SPEK S UM BERDA YA A LAM DAN LINGK UNGAN DIMENSI KEBERLANJUTAN : E K OLOGI, EK ONOM I, S OSIAL B UDAYA , TEK HNOLOGI, HUK UM K ELE MBA GA AN A NA LIS IS KEB ERLA NJ UTAN WILAYA H INDIKA TOR P ROGRA M CS R  K EM ITRA AN  B INA LINGK UNGA N  B INA WILA YA H A NA LIS IS E FEK TIFITAS DAN P ERS EPS I DESA IN S TRA TE GI CS R DALA M PEM BE RDA YAA N EK ONOM I DAN S UMB ERDAY A P ES IS IR B ONTA NG DESA IN S TRA TE GI P ENGE MBA NGA N WIL. PES IS IR DESA IN S TRA TE GI KEB IJA KA N CS R Gambar 7. Tahapan Penelitian 3.4. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, terdiri dari data lingkungan dan sumberdaya pesisir serta data sosial ekonomi Kota Bontang. Data primer dikumpulkan melalui metode survei lapang (visual recall) dan wawancara langsung di lokasi penelitian serta dengan menggunakan kuisioner. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui TAHAP ANALISIS DATA A SPEK E K ONOMI TAHAP PENGUMPULAN DATA IDENTIFIKASI POTENSI DAN MASALAH WILAYAH PESISIR 48 penelusuran berbagai pustaka yang ada di berbagai instansi yang terkait sesuai permasalahan yang dikaji. Secara lengkap jenis dan sumber data yang dikumpulkan meliputi : 3.4.1. Data Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir Data lingkungan dan sumberdaya alam pesisir diperoleh dengan berbasis pada data sekunder, berupa kondisi umum sumberdaya dapat pulih, sumberdaya tidak dapat pulih, dan Jasa-jasa lingkungan Kelautan di 9 kelurahan pesisir di Kota Bontang. Data diperoleh dari instansi terkait seperti Dinas Perikanan, Kelautan dan Pertanian Kota Bontang, seperti terlihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. Jenis dan sumber data sekunder No 1. Komponen Sumberdaya Pulih Dapat 2. Sumberdaya Dapat Pulih Tidak 3. Jasa-jasa Lingkungan Kelautan Jenis Data Sumber Data/Tahun 1.1. Perikanan 1.2. Padang Lamun dan Budi daya rumput laut 1.3. Terumbu Karang 1.4. Hutan Mangrove DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 2.1. Mineral 2.2. Minyak dan Gas Bumi DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 3.1. Pariwisat a 3.2. Pelabuhan DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 3.4.2. Data Sosial Ekonomi 1) Data Primer Data primer untuk komponen sosial ekonomi diperoleh dari hasil wawancara lapangan dengan berpedoman pada kuisioner yang telah dirancang dilakukan terhadap 90 orang responden, yang terdiri dari 10 orang karyawan PKT, 5 orang keluarga karyawan PKT, 30 orang mitra binaan PKT serta 45 orang masyarakat di 9 kelurahan pesisir. Responden karyawan PKT berasal dari delapan departemen yang berbeda yaitu Hubungan Masyarakat (Humas), Jasa Tekhnik, Kompartemen Hubungan Industri-Sumberdaya Manusia (KHI-SDM), Pelayanan dan Promosi, Keselamatan Kesehatan Kerja & Lingkungan Hidup (K3LH), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), Pengembangan Sumberdaya Manusia (PSDM), serta Pengadaan/ Teknik. Secara lengkap data primer yang dikumpulkan dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini : 49 Tabel 4. Jenis dan sumber data primer No Komponen 1. Penentuan Responden Masyarakat 2. Penentuan Responden Perusahaan 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Jenis Data Sumber Dat a Umur Pendidik an Pendapatan Persepsi/Pemahaman Profesi/Mata Pencaharian Sikap Partisipasi/Kesediaan Umur Pendidik an Persepsi/Pemahaman Sikap Partisipasi/Kesediaan In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ 2) Data Sekunder Data sekunder yang dikumpulkan berupa kondisi umum Sosial dan Ekonomi Masyarakat di 9 kelurahan pesisir yang ada di Kota Bontang. Secara lengkap data sekunder yang dikumpulkan tersaji pada Tabel 5 di bawah ini : Tabel 5. Jenis dan Sumber Data Sekunder No. 1. Komponen Sosial dan Masyarakat Ekonomi Jenis Data 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. Jumlah Penduduk Kondisi Demografi Mata Pencaharian Perekonomian Sumber Dat a/Tahun Profil Profil Profil Profil Kelurahan 2010 Kelurahan 2010 Kelurahan 2010 Kelurahan 2010 3.5. Metode Pengumpulan Data Di dalam pengumpulan data, digunakan teknik berupa metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan sebelum ke lapangan, dengan cara studi terhadap referensi yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian. Metode penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan di lapangan dilakukan melalui pengamatan (observational research) dan tanya jawab (survey research). Pertanyaan dikembangkan melalui kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penentuan responden adalah purposive sampling. Sampel di 9 Kelurahan pesisir di Kota Bontang yang menjadi mitra binaan atau masyarakat yang pernah mendapatkan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PKT diminta untuk mengikuti wawancara dan mengisi kuesioner. 50 3.6. Metode Analisis Data 3.6.1. Analisis Kewilayahan Pesisir 1) Analisis Biogeofisik Wilayah Analisis Biogeofisik Wilayah digunakan untuk menjelaskan kondisi ekologis wilayah pesisir Kota Bontang meliputi potensi perikanan, potensi budidaya rumput laut, kondisi padang lamun, mangrove dan terumbu karang, serta tipikal daratan dan perairan pesisir. Analisis data biofisik dilakukan dengan menggunakan tekhnik analisis data sekunder. 2) Analisis Ekonomi Wilayah Analisis ekonomi wilayah dilakukan untuk menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah serta terjadinya ketimpangan dalam pembangunan ekonomi suatu wilayah. Metode analisis ekonomi wilayah yang digunakan dalam penelitian ini adalah model basis ekspor, dimana menggunakan pendekatan Locations Quotient (LQ), Koefisien Multiplier dan Shift Share. Pemilihan metode ini sesungguhnya lebih pada pengelompokan metode basis ekspor (Richardson, 1979). a) Locations Quotient (LQ) Metode location quotient atau LQ merupakan perbandingan antara pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat wilayah terhadap pendapatan total wilayah dengan pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat nasional terhadap pendapatan nasional. Hal tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut (Budiharsono, 2001) : LQi = Dimana : vi = Nilai vt = Nilai Vi = Nilai Vt = Nilai vi vt PDRBi PDRBt atau LQi = ............................ (1) PDRBik PDRBtk Vi Vt produktifitas produktifitas produktifitas produktifitas sektor i di tingkat daerah seluruh sektor di tingkat daerah sektor i di tingkat pus at seluruh sektor di tingkat pusat Apabila LQ suatu sektor industri ≥ 1, maka sektor industri tersebut merupakan sektor basis. Jika LQ < 1, maka sektor industri tersebut non basis. Asumsi metode LQ ini adalah penduduk di wilayah yang bersangkutan 51 mempunyai pola permintaan wilayah sama dengan pola permintaan nasional. Asumsi lainnya adalah bahwa permintaan wilayah akan sesuatu barang akan dipenuhi terlebih dahulu oleh produksi wilayah, kekurangannya diimpor dari wilayah lain. Metode LQ disarankan digunakan dalam menentukan apakah sektor tersebut basis atau tidak. (Glasson, 1978 dalam Budiharsono, 2001). Teori ekonomi basis ini hanya mengklarifikasi seluruh kegiatan ekonomi ke dalam dua sektor (industri) yaitu sektor basis dan sektor non-basis. Jadi pendapatan sektor basis ditambah pendapatan sektor non basis sama dengan total pendapatan wilayah. b) Penaksiran Koefisien Multiplier Untuk melengkapi penerapan kerangka teori model basis eksport tersebut, diperlukan pengukuran besarnya pengaruh sektor basis terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah dengan melakukan penaksiran koefisien multiplier wilayah. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem regresi biasa (ordinary least square) (Sjafrizal, 2008) sebagai berikut: ∆Y = α + β ∆E + ε....................................................................... (2) dimana α dan β adalah koefisien regresi yang akan ditaksir dengan hipotesis sebagai berikut: Ho: β = 0 , Ha: β ≠ 0................................................................. (3) Karena persamaan diatas dalam bentuk linier, maka koefisien multiplier wilayah harus dihitung melalui: K = β (∆Yº/∆ Eº) , k > 0 ................................................................. (4) Dimana Yº dan Eº masing-masing adalah PDRB dan ekspor dari daerah yang bersangkutan, sedangkan∆ adalah tambahan jumlah masing -masing variabel dalam periode tertentu. c) Shift Share Analysis Pengukuran besarnya keuntungan komparatif daerah harus dilengkapi dengan analisis shift share, dengan formulasi sebagai berikut ; ∆ y i = [y i (Yt/Yo – 1)] + [yi (Yi t/Yi o ) - (Yt /Yo )] + [y i (y i /y io ) - (Yi t/Yi o )] (5) 52 Dimana : ∆ y i = perubahan nilai tambah sektor i o y i = nilai tambah sektor i di tingk at daerah pada awal tahun periode y i = nilai tambah sektor i di tingkat daerah pada akhir tahun periode o Y i = nilai tambah sektor i di tingk at nasional pada awal tahun periode t Y i = nilai tambah sektor i di tingk at nasional pada akhir tahun periode Dari persamaan tersebut dapat diuraikan (decompose) atas 3 bagian dan akan dapat diketahui komponen pertumbuhan mana yang telah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dengan uraian sebagai berikut ;  Regional Share [yi (Yt/Yo – 1)] Komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan faktor luar, yakni peningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebijakan nasional.  Proportionality Shift [yi (Y i t/Y i o ) - (Yt/Yo)] Komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh struktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhannya cepat seperti sektor industri  Differential Shift [yi (yi /yi o ) - (Y i t/Y i o )] Komponen pertumbuhan ekonomi daerah karena kondisi spesifik daerah yang bersifat kompetitif, unsur ini yang merupakan keuntungan kompetitif daerah yang dapat mendorong pertumbuhan eksport daerah d) Analisis Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota Bontang Penentuan pusat pertumbuhan dan pusat pembangunan dapat menggunakan formulasi sebagai berikut :  Pusat Pembangunan (Development Poles) Investasi pada pusat pembangunan (Development Poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah bersangkutan secara bervariasi. Pengaruh tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang semuanya unsur kemakmuran pada wilayah bersangkutan (Wr). Untuk kemudahannya, kemakmuran ini dapat diketahui dari tingkat pendapatan per kapita atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bila kemakmuran tersebut juga mencakup aspek sosial seperti pendidikan dan kesehatan, dengan formulasi sebagai berikut: wr = (∆Wr/Wr)/ (∆Iu/Iu), ........................................................... (6) 53 dimana u adalah pusat perkotaan dan r adalah daerah belakangnya. Atau jika formulasi ini di modifikasi untuk menentukan pusat pembangunan di Kota Bontang, dapat diuraikan sebagai berikut : wr = (∆IPM/IPM)/ (∆I/I) ............................................................ (7) dimana data IPM dan investasi menggunakan data IPM dan investasi Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan tahun 2005 sampai tahun 2009. Kendala yang dihadapi untuk menurunkan formulasi ini adalah kendala data, dimana data-data IPM dan investasi Kota Bontang masih data total, belum dipisahkan per kecamatan. Sehingga formulasi ini baru bisa berjalan jika uraian data per kecamatan dapat di munculkan. Investasi pada pusat pembangunan (Development poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah Kota Bontang secara bervariasi. Pengaruh tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang merupakan indikator kemakmuran di Kota Bontang.  Pusat Pertumbuhan (Growth Centre) Sejalan dengan formulasi diatas, maka daerah perkotaan dikatakan sebagai berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre) bilamana ; (∆Ir/Ir)/ (∆Iu/Iu) > 0 ................................................................... (8) Yaitu elastisitas investasi pada daerah hinterland r terhadap investasi di pusat kota u bersifat positif. Untuk menentukan antara Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan sebagai pusat pertumbuhan di Kota Bontang, maka data-data investasi yang ada harus dipilah, sehingga muncul data investasi di Kecamatan Bontang Utara dan data investasi di Kecamatan Bontang Selatan. Sejalan dengan dengan konsep pusat pembangunan, maka daerah perkotaan dikatakan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre), jika elastisitas investasi di Kecamatan Bontang Utara terhadap investasi di Kecamatan Bontang Barat dan Kecamatan Bontang selatan adalah positif, maka daerah tersebut dapat dikatakan propulsive region atau sebagai wilayah andalan. Jika dilihat angka elastisitas Kecamatan Bontang Utara terhadap Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat lebih besar dari 1. Maka dapat 54 dikatakan bahwa Bontang Utara sebagai wilayah utama yang kuat (strong propulsive region). Adapun matriks ringkasan konsep perhitungan pusat pembangunan dan pusat pertumbuhan dengan menggunakan metode pengukuran elastisitas kemakmuran dan elastisitas investasi beserta kendala dalam pola pengukuran disajikan dalam Tabel 6 berikut ; Tabel 6. Matriks Ringkasan Pertumbuhan Konsep Pusat Pembangunan dan Pusat Cara Mengukur Konsep dan Pesan Kendala Pusat Pembangunan Menggunakan elastisitas kemakmuran dihitung dengan mengukur perubahan pada kemakmuran dengan data indeks pembangunan manusia dibagi dengan perubahan pada investasi Jika: e > 1 berarti pusat pembangunan dominant; 0 1. maka daerah perkotaan tersebut dikat akan sebagai pusat pertumbuhan kuat; 0< e < 1, dikatakan sebagai pusat pertumbuhan lemah. Kesulitan memisahkan data elastisitas investasi, terutama perubahan-perubahan investasi di perkotaan dan didaerah hinterland. Ada kemungkinan pusat pertumbuhan muncul tidak di daerah perkotaan, tetapi di daerah pedesaan. Oleh karena itu muncul konsep sebagai wilayah andalan. Suatu daerah dikatakan sebagai wilayah andalan (propulsive region) bilamana elastisitas investasi di pusat kota u terhadap investasi di daerah hinterland, r adalah positif. 3.6.2. Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir Tingkat keberlanjutan wilayah pesisir Bontang dianalisis dengan menggunakan metode yang mengacu pada tekhnik RAPFISH (Rapid Appraisal 55 for Fisheries), yakni tekhnik yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Columbia Canada, merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability dari perikanan secara multidisipliner. RAPFISH didasarkan pada tekhnik ordinansi yaitu menempatkan sesuatu pada urutan attribut yang terukur dengan menggunakan Multi Dimensional Scaling (MDS), tekhnik ini selanjutnya dimodifikasi untuk dapat diterapkan dalam analisis keberlanjutan wilayah pesisir.. Analisis data dengan MDS, meliputi aspek keberlanjutan dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Selanjutnya, dilakukan pula analisis multidimensi dengan menggabungkan seluruh atribut dari lima dimensi keberlanjutan di atas. Analisis data dengan MDS dilakukan melalui beberapa tahapan. 1. Pertama, mereview atribut-atribut pada setiap dimensi keberlanjutan dan mendefenisikan atribut tersebut melalui pengamatan lapangan, serta kajian pustaka. Secara keseluruhan, terdapat 48 atribut yang dianalisis, masingmasing: 10 atribut dimensi ekologi, 10 atribut dimensi ekonomi, 9 atribut dimensi sosial dan budaya, 10 atribut dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 9 atribut dimensi hukum dan kelembagaan. 2. Kedua, pemberian skor yang didasarkan pada hasil pengamatan lapangan dan pendapat pakar sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Rentang skor berkisar antara 1 – 4, yang diartikan dari buruk sampai baik atau sebaliknya, tergantung kondisi masing- masing atribut. 3. Ketiga, hasil pemberian skor kemudian dianalisis, dengan menggunakan program MDS, untuk menentukan posisi status keberlanjutan pengelolaan kawasan pesisir pada setiap dimensi dan multidimensi yang dinyatakan dalam skala indeks keberlanjutan. Skala indeks keberlanjutan terletak antara 0 – 100, seperti pada Tabel 7. Tabel 7. Kategori Status Keberlanjutan berdasarkan Indeks Hasil Analisis MDS Nilai indeks Kategori 0,00 – 25,00 Buruk (tidak berkelanjutan) 25,01 – 50,00 Kurang (kurang berkelanjutan) 50,01 – 75,00 Cukup (cukup berkelanjutan) 75,01 – 100,00 Sumber : Fauzi (2002) Baik (sangat berkelanjutan) 56 Posisi status keberlanjutan sistem yang dikaji diproyeksikan pada garis mendatar dalam skala ordinasi yang berada diantara dua titik ekstrim, yaitu titik ekstrim buruk dan baik yang diberi nilai indeks antara 0 sampai 100 persen, Dalam analisis MDS dengan menggunakan sorftware RAPFISH yang telah dimodifikasi di komputer, sekaligus dilakukan analisis Leverage, analisis Monte Carlo , penentuan nilai Stress, dan nilai Koefisien Determinasi (R2) yang merupakan program satu paket dengan program MDS. Pertama, analisis Leverage digunakan untuk mengetahui atribut- atribut yang sensitif, ataupun intervensi yang dapat dilakukan terhadap atribut yang sensitif untuk meningkatkan status keberlanjutan wilayah pesisir. Penentuan atribut yang sensitif dilakukan berdasarkan urutan prioritasnya pada hasil analisis Leverage dengan melihat bentuk perubahan root mean square (RMS) ordinasi pada sumbu X. Semakin besar nilai perubahan RMS, maka semakin besar pula peranan atribut tersebut dalam peningkatan status keberlanjutan, atau dengan kata lain, semakin sensitif atribut tersebut dalam keberlanjutan pengelolaan wilayah pesisir di lokasi penelitian. Kedua, analisis Monte Carlo digunakan untuk menduga pengaruh kesalahan dalam proses analisis yang dilakukan, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil analisis dinyatakan dalam bentuk nilai indeks Monte Carlo, yang selanjutnya dibedakan dengan nilai indeks hasil analisis MDS. Apabila perbedaan kedua nilai indeks tersebut kecil, mengindikasikan bahwa : (a) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil, (b) variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil, (c) proses analisis yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, (d) kesalahan pemasukan data dan data yang hilang dapat dihindari. Ketiga, nilai stress dan koefisien determinasi (R2) berfungsi untuk menentukan perlu tidaknya penambahan atribut, untuk mencerminkan dimensi yang dikaji secara akurat (mendekati kondisi sebenarnya). Nilai ini diperoleh dari pemetaan terhadap dua titik yang berdekatan, dimana titik tersebut diupayakan sedekat mungkin terhadap titik asal dalam skala ordinasi. Teknik ordinasi (penentuan jarak) dalam MDS didasarkan pada Euclidian Distance yang dalam ruang berdimensi n (Fauzi, 2002) dengan persamaan : 57 ......................... (9) Titik tersebut kemudian diaproksimasi dengan meregresikan jarak euclidian (d ij) dari titik i ke titik j dengan titik asal ( d ij ) dengan persamaan : ; e adalah error ................................... (10) Dalam meregresikan persamaan di atas digunakan teknik least squared bergantian yang didasarkan pada akar dari Euclidian Distance (squared distance) atau disebut metode algoritma ASCAL. Metode ini mengoptimalisasi jarak kuadrat ( squared distance=d ijk ) terhadap data kuadrat (titik asal= o ijk ) yang dalam tiga dimensi ( i,j,k ) yang disebut S-stress dengan persamaan : .............................. (11) Menurut Kavanagh dan Pitcher (2004), nilai stress yang dapat diperbolehkan adalah apabila berada dibawah nilai 0,25 (menunjukkan hasil analisis sudah cukup baik). Sedangkan nilai R2 diharapkan mendekati nilai 1 (100%) yang berarti bahwa atribut-atribut yang terpilih saat ini dapat menjelaskan mendekati 100 persen dari model yang ada. 3.6.3. Analisis Efektifitas Program CSR Pesisir Tingkat efektifitas Program CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dapat diketahui dengan menggunakan Importance Performance Analysis (IPA). Metode IPA pertama kali diperkenalkan oleh Martilla dan James (1977), Analisis ini digunakan untuk melihat kesenjangan antara kinerja CSR dengan harapan masyarakat berdasarkan indikator-indikator yang di analisis. Disamping untuk menunjukkan sejauh mana terjadi kesenjangan antara kinerja dan harapan, IPA juga memberikan rekomendasi program apa yang perlu untuk dilanjutkan, serta program apa yang disarankan untuk ditinggalkan. Melalui analisis ini diidentifikasi program yang baik dan mana program yang tidak baik. 58 Penerapan teknik IPA dimulai dengan identifikasi atribut-atribut yang relevan terhadap situasi pilihan yang diamati. Daftar atribut-atribut dapat dikembangkan dengan mengacu kepada literatur-literatur, melakukan interview, dan menggunakan penilaian manajerial. Di lain pihak, sekumpulan atribut yang melekat kepada barang atau jasa dievaluasi berdasarkan seberapa penting masing-masing produk tersebut bagi responden dan bagaimana kinerja tersebut dipersepsikan oleh responden. Setelah menentukan atribut-atribut yang layak, responden ditanya dengan dua pertanyaan. Satu adalah atribut yang menonjol dan yang kedua adalah kinerja perusahaan yang menggunakan atribut tersebut. Dengan menggunakan mean, median atau pengukuran ranking, skor kepentingan dan kinerja atribut dikumpulkan dan diklasifikasikan ke dalam kategori tinggi atau rendah; kemudian dengan memasangkan kedua set rangking tersebut, masing-masing atribut ditempatkan ke dalam salah satu dari empat kuadran kepentingan kinerja (Crompton dan Duray, 1985). Skor mean kinerja dan kepentingan digunakan sebagai koordinat untuk memplotkan atribut-atribut individu pada matriks dua dimensi yang ditunjukkan pada gambar berikut: D A KUADRAN I PRIORITAS UTAMA KUADRAN II PERTAHANKAN PRESTASI KUADRAN III PRIORITAS RENDAH KUADRAN IV BERLEBIHAN GAP E Gambar 8. Importance Performance Analysis (Crompton dan Duray, 1985) Keterangan : A : Faktor yang akan dievaluasi AD : Apa yang diharapkan dari faktor A AE : Fakta-fakta mengenai A DE : Gap, yaitu perbedaan antara harapan (D) dan kenyataan (E) 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Wilayah Pesisir Kota Bontang 4.1.1 Sistem Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang Sumberdaya pesisir Kota Bontang dijumpai mulai dari yang berukuran mikro seperti fitoplankton maupun hewan makrobenthos yang sangat berperan dalam rantai makanan di wilayah pesisir dan laut. Sumberdaya dapat pulih yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir Bontang selama ini terdiri dari sumberdaya perikanan (budidaya dan penangkapan), ekosistem pesisir (terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun), dan rumput laut. Keberadaan sumberdaya hayati di pesisir dan laut sekitar PKT tidak lepas dari daya dukung kondisi lingkungan fisik dan kimiawi perairan terutama kandungan oksigen, kandungan fosfat, nitrat, CO 2 dan penetrasi sinar matahari ke perairan yang sangat dibutuhkan oleh produser primer di pesisir dan laut untuk fotosintesis seperti fitoplankton, rumput laut, lamun dan zooxanthelae pada karang. Organisme tersebut menentukan produktif atau tidaknya suatu perairan selain produksi detritus dan serasah daun yang dihasilkan oleh mangrove dan padang lamun. Sumber hayati pesisir dan laut tersebut tersebar luas di perairan Kota Bontang. Terumbu karang diperairan tersebut terdapat dan tersebar luas di daerah Karang Segajah, Bontang Kuala dan Pulau Agar-agar. Kondisi terumbu karang yang masih baik terdapat di Bontang Kuala dan Pulau Agar-Agar dengan persen penutupan yang relatif tinggi sehingga daerah tersebut memiliki potensi yang tinggi dalam mendukung perikanan tangkap, terutama sebagai daerah penangkapan ikan, daerah perlindungan bagi spawning dan pencarian makanan (feeding) berbagai jenis ikan karang yang ekonomis penting seperti karapu, kakap, ekor kuning dan lobster maupun berbagai hewan moluska. Sumberdaya lain yang dapat dimanfaatkan secara langsung adalah sumberdaya perikanan dan rumput laut. Sumberdaya rumput laut di perairan Kota Bontang belum dimanfaatkan secara optimal sehingga perlu upaya peningkatan secara budidaya maupun pengambilan langsung dari alam. 60 Sumberdaya hayati pesisir dan laut yang sangat penting peranannya dalam menjaga kesinambungan sumberdaya perikanan adalah sumberdaya mangrove, karang dan lamun (seagrass), karena diketiga ekosistem ini, sumberdaya perikanan dapat terjaga kelestariannya. Ketiga ekosistem tersebut merupakan daerah untuk reproduksi, mencari makan dan berlindung bagi ikan, udang, moluska sehingga keberadaanya sangat perlu dijaga dan dilestarikan. 1) Perikanan Sumberdaya perikanan laut di Kota Bontang terkonsentrasi sepanjang pesisir dan dapat dikatakan sebagai perikanan pantai (coastal fisheriesh). Hal ini terlihat dari sarana untuk menangkap ikan baik perahu maupun alat tangkap yang digunakan. Dilihat gross tonage perahu yang digunakan semuanya dibawah 20 GT. Alat tangkap hampir semuanya dioperasikan dengan tenaga manusia yang mencirikan model perikanan pantai. Dilihat dari jenis ikan yang didapat, semuanya mencirikan perikanan pantai yang menggunakan sebagian atau keseluruhan hidupnya tergantung pada ekosisitem pesisir (mangrove, lamun dan terumbu karang) kecuali ikan tongkol, tenggiri dan kembung yang merupakan ikan migran. Produksi ikan yang dihasilkan nelayan Kota Bontang semuanya adalah jenis pelagis kecil yang mempunyai ekonomis yang lebih rendah bila dibandingkan dengan ikan pelagis besar, udang, ikan karang, ikan demersal dan cumi-cumi. Produksi ikan jenis pelagis kecil masih sangat rendah, kemungkinan hal ini disebabkan oleh sarana tangkap yang bertonase kecil sehingga fishing trip-nya rendah serta masih rendahnya efektifitas alat tangkap yang digunakan. Perkiraan potensi lestari ikan pelagis kecil di perairan timur Kalimantan adalah 158.000 (ton/thn) dengan tingkat pemanfaatan hanya 18,1 %. Rendahnya pemanfaatan sumberdaya perikanan laut tersebut terlihat dari data Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang tahun 2010, yang hanya 2160,64 (ton/thn) dan juga terlihat dari jumlah perahu yang ada hanya 460 perahu dengan berbagai kelas ukuran, dengan jumlah terbesar pada ukuran 0-5 GT dengan jumlah 430 buah dan sisanya 30 buah untuk kelas 5-10 GT. Peluang terbesar untuk mencukupi kebutuhan ikan adalah dari perikanan laut dan sangat kecil kemungkinan dicukupi dari perikanan air tawar maupun 61 payau. Sampai saat ini luasan tambak yang ada di Kota Bontang hanya 150,5 ha dan kolam air tawar hanya 18,5 ha. Untuk mencukupi kebutuhan ikan di Kota Bontang yakni dengan melakukan peningkatan tonase perahu, fishing trip, kapasitas alat tangkap, jumlah kapal dan daerah penangkapan ikan diperluas. Dengan melihat jumlah penangkapan, jenis alat tangkap, jumlah dan ukuran perahu masih sangat memungkinkan untuk meningkatkan produksi perikanan laut Kota Bontang. Adapun jumlah Gross Tonage (GT) perahu, jenis alat tangkap dan besar produksi perikanan Kota Bontang tersaji pada Tabel 8 berikut ; Tabel 8. Kondisi Perikanan berdasarkan Gross Tonage (GT) Perahu, Alat Tangkap dan Hasil Tangkapan Nelayan Kota Bontang. Perahu (Gross Tonage) (unit) 0 –5 GT 6 – 10 GT 11 – 20 GT Jumlah Jenis Alat Tangkap (unit) Tramel Net Gill Net Hanyut Gill Net Tetap Pancing Tonda Pukat Bubu Jala Pancing Rawe Bagan Produksi Ikan Laut (Jenis Ikan) (ton) Kuro Kembung Kakap Bambangan Teri Tengiri Belanak Tongkol Ebi Tembang Gulamah Rucah Udang Jumlah Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 Jumlah 430 30 0 460 1275 1484 1202 3055 3259 15 73 4111 162 27 322,99 ton 321,06 ton 143,56 ton 139,31 ton 140,57 ton 76,66 ton 98 ton 137,32 ton 297,76 ton 235,08 ton 79,56 ton 150,67 ton 18,1 ton 2160,64 ton 62 Peningkatan hasil pengkapan ikan dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah atau tonase perahu, pengembangan jenis alat tangkap yang lebih efektif seperti mini purse seine, gill net hanyut atau pukat mini, daerah penangkapan diperluas, jumlah hari layar diperlama sesuai dengan daya dukung potensi wilayah. Untuk mengetahui efektifitas penangkapan dapat dilihat dari catrch per unit effort (CPUE) yang semakin membesar. Berikut ini adalah gambaran asumsi dan prediksi hasil tangkapan dengan upaya peningkatan fishisng effort dan fishing ship ; Tabel 9. No Asumsi dan Prediksi Hasil Tangkapan dengan Peningkatan Upaya Tangkap (Fishing Effort) Jumlah Perahu (Effort) Hasil Tangkapan (Catch) (ton) Catch/ Effort (CPUE) Keterangan 1 460 2160,64 4,7 Kondisi yang ada sekarang dengan jumlah perahu sebagian besar 0-5 GT dan alat tangkap sebagian besar kurang efektif dengan fishing trip sehari 2 460 4321,28 9,4 Jumlah kapal tetap namun ditingkatkan tonasenya menjadi 5-10 GT dengan fishing trip ditingkatkan menjadi 2 hari 28,2 Jumlah kapal meningkat dengan tonase 5-10 GT dengan fishing trip ditingkatkan menjadi 4 hari dan pengubahan alat tangkap yang efektif (dengan asumsi alat tangkap 3 kali lebih efektif) 28 Jumlah kapal meningkat dengan tonase 5-10 GT dengan fishing trip ditingkatkan menjadi 2 hari dan pengubahan alat tangkap yang efektif (dengan asumsi alat tangkap 3 kali lebih efektif) 56 Jumlah kapal dengan tonase 5-10 GT meningkat dan fishing trip ditingkatkan menjadi 4 hari dan pengubahan alat tangkap yang lebih efektif (dengan asumsi alat tangkap 3 kali lebih efektif) 3 4 5 460 500 500 12963,84 14000,95 28001,9 Sumber : Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 63 Dengan prediksi dan asumsi peningkatan fishing effort (FE) dan fishing trip maka peningkatan hasil tangkapan (Catch) dapat dilihat dari semakin besarnya Catch per unit effort (CPUE). Hasil perikanan Kota Bontang tidak hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Kota Bontang sebesar 10.800 ton/tahun namun juga masih mampu di jual ke luar daerah atau ekspor. 2) Padang Lamun dan Budi Daya Rumput Laut Secara ekonomis lamun belum mempunyai nilai ekonomis hingga saat ini. Fungsi terbesar yang diketahui hingga saat ini adalah sebagai fungsi ekologis bersama-sama dengan sistem mangrove dan terumbu karang. Fungsi ekologis utama adalah sebagai feeding ground bagi ikan-ikan kecil (larvae). Nurseri ground bagi ikan-ikan pelagis dan feeding ground bagi jenis udang dan ikan ekonomis penting seperti Baronang (Samandar sp), Udang putih (Metapenaeus sp) dan jenis ikan Kerapu (Grouper). Padang lamun juga berperan bagi penyedia detritus sebagai bahan makanan ikan dan udang dan sebagai pengikat sedimen yang lolos dari hutan mangrove. Dalam suatu ekosistem daerah padang lamun tetap dijaga kelestariannya karena mempunyai arti penting dalam siklus hidup biota laut dan mempunyai kemampuan dalam mengikat sedimen halus yang tidak terendapkan di daerah mangrove, dan sebagai sumber bahan organik untuk perairan. Salah satu pemanfaatan padang lamun (seagrass) oleh manusia adalah dengan mengambil bijinya sebagai bahan makanan seperti yang dilakukan masyarakat Kepulauan Seribu dan Teluk Banten terhadap Enhalus acoroides. Sedangkan Enhalus sendiri juga terdapat di perairan Kota Bontang sehingga kemungkinan besar sumberdaya ini dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan dimasa akan datang. Rumput laut adalah sumberdaya yang telah dimanfaatkan dan diusahakan oleh masyarakat nelayan Kota Bontang, namun sampai sekarang belum tercatat jumlah produksi yang ada baik produksi dari alam maupun hasil budidaya. Pengelolaan yang dilakukan hanya dalam bentuk pengeringan belum ada upaya dari instansi pemerintah untuk membina mereka sebagai bahan setengah jadi industri seperti keragenan atau tepung agar. Usaha budidaya sudah dilakukan meskipun dalam skala kecil dan belum menunjukkan usaha 64 yang intensif. Lokasi yang telah diusahakan untuk budidaya rumput laut adalah di sapa pasikan, Bontang Kuala, dan sekitar Pulau Agar-agar menggunakan rakit dengan metode terapung. Berikut adalah persentase tutupan dan jenis seagras di perairan sekitar Bontang Kula dan Tanjung Limau ; Tabel 10. Presentase Penutupan dan Jenis Seagrass di perairan sekitar Bontang Kuala dan Tanjung Limau Transek Persen Penutupan Jenis Dominan 1. 90 Enhalus dan Thalasia 2. 100 Enhalus dan Thalasia 3. 80 Enhalus dan Thalasia 4. 50 Enhalus dan Thalasia 5. 50 Enhalus 6. 70 Enhalus dan Thalasia 7. 70 Enhalus dan Thalasia 8. 70 Enhalus dan Thalasia 9. 80 Enhalus dan Thalasia 10. 90 Enhalus dan Thalasia 11. 50 Enhalus dan Thalasia 12. 50 Enhalus dan Thalasia 13. 80 Enhalus dan Thalasia 14. 80 Enhalus dan Thalasia 15. 100 Enhalus dan Thalasia 16. 100 Enhalus dan Thalasia 17. 70 Enhalus dan Thalasia 18. 90 Enhalus dan Thalasia 19. 70 Enhalus dan Thalasia 20. 60 Enhalus dan Thalasia Rerata 70 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 65 Sebenarnya usaha budidaya rumput laut dapat ditingkatkan, hal ini bisa dilihat dari kondisi laut di Kota Bontang yang baik untuk syarat budidaya laut seperti : jernihnya air, salinitas yang tinggi, rendahnya sedimentasi, cahaya matahari yang memancar sepanjang hari dan terlindungnya perairan dari gelombang besar. Potensi lahan budidaya di Kota Bontang tersaji pada Tabel 11 berikut ; Tabel 11. Potensi Lahan Budidaya Rumput Laut No Potensi Lokasi Lahan Produktif Luas (Ha) Lokasi Luas (Ha) 1 Pulau Karang Kimapau 123,1 Pulau Lok Kalepe 16 2 Pulau Panjang 251,8 Pulau Tihik-Tihik 10 3 Pulau Manuk-Manukan 9,5 Pulau Ager-ager 14 4 Pulau Tanjung Kuya 10.6 5 Pulau Beras Basah 2,7 6 Kep. Malahing 536.6 7 Kep. Kedindingan 142.0 8 Kep. Badak-badak 66,7 9 Pulau Gosong Segajah Jumlah Pulau Karang Buku 5 3.6 1146.7 Jumlah 45 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 Daerah perairan Kota Bontang sangat sesuai untuk budidaya rumput laut. Potensi yang dimiliki Kota Bontang dalam luasan maupun produksi perairan diprediksi sekitar 564 ton/tahun. Bila dikembangkan maka perairan Kota Bontang memiliki areal yang baik dilihat dari sirkulasi arus, salinitas, kecerahan, terlindungi dari gelombang dan tingginya konsentrasi N dan P dalam perairan terutama masukan debu urea PKT. Potensi yang kemungkinan besar dikembangkan adalah rumput laut untuk bahan makanan seperti Euchema dan Gracilaria yang telah diusahakan selama ini dan jenis-jenis yang selama ini yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar industri seperti Gelidium, Gracilaria dan Hynea sebagai penghasil keregenan sedangkan sargasum sebagai bahan algin banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi dan kosmetika. 66 3) Mangrove Potensi sumberdaya mangrove secara umum masih menunjukkan kondisi yang baik, namun kondisi mangrove sepanjang sungai Kota Bontang Kuala menunjukkan kondisi yang buruk akibat penebangan dan alih fungsi lahan untuk tambak dan pemukiman. Berikut ini disajikan gambaran tentang keadaan hutan mangrove di daerah sungai Guntung Tabel 12. Jenis dan Kondisi Mangrove di Daerah Sungai Guntung Stasiun S03 Jenis Mangrove Kondisi Rhizophora, Ceriop, Kerapatan rendah dan Lahan sebagian Avecinea, Nipa dan diameter pohon di bawah besar sudah Acrostidium sp (asosiate 20 cm berubah menjadi mangrove) S04 S05 Keterangan kebun dan rumah Ceriop, Rhizophora dan Kerapatan rendah dan Lahan sebagian di Acrostidium sp (asosiate diamater pohon lebih 20 buka unt uk mangrove) cm tambak Ceriop, Rhyz ophora dan Baik, kerapatan tinggi dan Hutan Mangrove Xylocarpus diameter pohon lebih dari 20 cm S06 Ceriop, Rhyz ophora dan Baik, kerapatan tinggi dan Xylocarpus diameter pohon lebih dari Hutan Mangrove 20 cm S07 Ceriop, Rhyz ophora dan Xylocarpus. Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 Dilihat dari sebarannya menunjukkan kondisi yang sangat berbeda. Mangrove yang terdapat pada S05 dan S06 kondisinya sangat baik bila dibandingkan dengan di daerah lain yang disebabkan telah dibukanya mangrove untuk keperluan tambak, kebun dan permukiman. Secara alami juga terlihat bahwa daerah mangrove yang telah dirusak biasanya akan ditumbuhi oleh Acrostidium sp yang merupakan Mangrove Assosiate. Pengamatan lebih rinci terhadap jenis mangrove yang terdapat di sepanjang Sungai Bontang Kuala menunjukkan kondisi yang buruk terutama bila dilihat dari kerapatan pohon yang rendah. 67 Dilihat dari sebaran mangrove sepanjang sungai Bontang Kuala lahan mangrove telah berubah menjadi tambak dan permukiman. Kerapatan mangrove sangat rendah dan jenisnya hanya didominasi oleh Rhyzophora dan hanya terdapat di samping sungai. Kondisi ini sangat berbeda antara Bontang Kuala dan Tanjung Limau dimana mangrove yang menghadap kelaut masih tumbuh dengan baik dan kerapatan yang tinggi namun hanya didominasi oleh Avecinia dan Rhyzophora. Tabel 13. Jenis dan Kondisi Mangrove di Daerah Sungai Bontang Kuala Stasiun S09 S10 S11 S12 S07 Jenis Mangrove Rhizophora Kondisi Keterangan Kerapatan rendah dan Lahan sebagian bes ar diameter pohon di bawah digunakan untuk 20 cm perkampungan Ceriop, Rhizophora, Kerapatan rendah dan Lahan sebagian bes ar xylocarpus dan Nipa diamater pohon lebih 20 digunakan untuk cm perkampungan Ceriop, Rhyz ophora, Kerapatan rendah, hany a Lahan sebagian bes ar xylocarpus, Brugeria diameter pohon lebih dari digunakan untuk dan Nipa 20 cm perkampungan Rhyzophora Kerapatan rendah, hany a Lahan sebagian satu jenis pohon diameter dimanfaatkan untuk pohon lebih 20 cm rumah nelayan Hany a satu jenis pohon Lahan sebagian diameter pohon lebih 20 dimanfaatkan untuk cm rumah nelayan Rhyzophora Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 4) Terumbu Karang Kondisi terumbu karang diperairan sekitar PKT cenderung semakin kecil atau berada pada kondisi yang buruk dengan semakin dekatnya lokasi pabrik. Secara keseluruhan persentasi penutupan karang hidup berkisar antara 0 – 48,64 %, hanya tujuh dari dua puluh tiga stasiun pengamatan yang termasuk dalam kategori sedang (25% >percent cover)sebanyak 50%, selebihnya dalam 68 kondisi buruk atau rusak (percent cover< 25%). Percent cover karang hidup tertinggi terdapat di stasiun 23 yaitu di daerah Karang Agar, selanjutnya terumbu karang di sekitar perairan Karang Segajah dan Bontang Kuala yang masih dalam kondisi sedang. Substrat dasar daerah terumbu karang yang dalam kondisi buruk adalah stasiun 1,2,13 dan 14. Pulau Gusung (stasiun 15, 16) didominasi oleh pasir atau pasir lumpur, sedangkan di stasiun-stasiun yang jauh dari lokasi pabrik PKT, mempunyai substrat dasar (komponen abiotik) berupa pecahan karang (Rubble, (R)) dan karang mati (Dead Coral, (DC) atau Dead Coral with Algae(DCA)) didominasi oleh substrat pasir. Rata-rata karang dengan bentuk pertumbuhan bercabang (Coral Branching/CB) selain jenis Acropora (ACB) adalah yang paling banyak terdapat di perairan sekitar PKT, paling sedikit adalah karang merayap atau Coral Encrusting (CE), sedangkan subsutrat yang paling banyak di jumpai yaitu substrat pasir. Karang mati yang telah ditumbuhi algae juga mendominasi perairan, hal ini menunjukkan bahwa kematian karang tersebut sudah lama terjadi disebabkan adalah pecahnya karang/rubble (RB), pecahan karang yang mendominasi di perairan tersebut mengindikasikan bahwa kehancuran karang terjadi karena faktor manusia, seperti pengeboman, pengerukan, jangkar kapal atau karena terinjak-injak. Indeks keanekaragaman dan indeks dominasi digunakan untuk menganalisa kondisi hubungan antara kelimpahan jenis karang dengan tekanan lingkungan. Indeks keanekaragaman <1 menunjukkan keanekaragaman kecil dan tekanan lingkungan kuat. Semakin besar nilai H, maka keanekaragaman makin tinggi. Serta terjadi keseimbangan antara kelimpahan jenis dengan tekanan lingkungan. Ada kecenderungan bahwa stasiun yang mempunyai percent cover tinggi, juga mempunyai keanekaragaman yang besar pula. Peta dan Kondisi persentase penutupan (Percent Cover) terumbu karang pada masing-masing stasiun tersaji pada Tabel 14 dan Gambar 9 berikut ; Tabel 14. Stasiun 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Rerata Percent Coverage Komponen Biotik dan Abiotik di Setiap Stasiun Terumbu Karang. Acropora CB 0 0 0.22 0.30 0.60 0.30 0 0.20 0 0 0.94 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.2 9.84 3.76 0.79 8.50 28.36 2.74 15.10 6.06 22.16 0 4.18 0.70 0 0 0 0.14 0.14 0 0 0.40 3.76 0.48 10.28 18.8 5.54 Dinas CF CS CMR Non CE 0 0 0.74 0.90 4.76 2.10 1.50 1.82 0 1.54 2.06 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.4 2.32 0.8 Acropora Dead CF CS CMR CME Coral 0 0 0 0 9.40 0 0 0 0 0 6.96 1.58 8.40 0.24 8.36 1.70 1.36 3.94 1.00 9.70 3.92 0.54 14.6 1.98 3.90 10.28 2.96 6.74 0.44 13.80 3.24 0.58 16.38 4.20 27.08 9.38 0.66 5.02 8.36 3.38 0 0.38 0 0 15.60 0.58 2.88 12.14 0 11.16 0.24 0 1.60 0 13.38 0 0 0 0 0.78 0 0 0 0 0.84 0 0 0 0 3.35 0 0 0 0 1.40 0 0 0 0 2.50 0 0 0 0 1.90 0 0.34 0 0 0.40 0 0 0 0 2.80 0 0 3.32 0 2.20 4.28 9,.64 0.24 0 0 0.8 4.0 0.6 3.32 12.28 12.28 3.08 3.52 1.04 12.48 2.24 1.17 3.19 0.86 6.27 Perikanan dan Kelautan Kot a Bontang 2010 : Coral Follose CME : Coral Milepora : Coral Submasive MA : Macroo Algae : Coral Mushroom CA : Coraline Algae Algae CA+MA 0 0 21.98 0 8.88 0.70 7 0 5.32 5.56 18.04 3.52 4.24 12.64 15.34 23.30 2.2 0.40 5.28 3.44 19.32 5.60 2.92 0 0 0 0 0 1.28 0 0.7 0 2.6 0 0.68 0.66 1.4 0 0 0 9.92 2.36 6.8 0 15.84 0 6.24 2.42 SP SC OT TA Biota Lain SP SC OT 2.54 0 0 0 0 0 8.46 0 1.54 4.9 0 4.16 3.34 2.34 7.02 5.18 0 6.76 0.28 0 3.80 0.10 0.28 0.08 4.52 42.14 2.26 9.12 0 0.58 4.56 0 0.66 0 0 0.96 0 0 2.20 0 0 0.15 0 0 2.80 0 0 0.86 0.64 0 1.32 0.30 0 1.14 0 0 1.20 0.60 0 0.60 2.72 0 4.8 1.2 13.36 0.12 6.24 0 0.56 2.28 2.42 1.82 Abiotik S RB 88.00 0 78.00 0 23.84 19.42 22.66 9.22 31.38 5.84 8.76 2.82 13.34 5.40 0.50 6.88 20.40 9.36 33.40 5.08 45.24 1.10 94.64 0.70 90.02 6.92 96.50 0 90.02 4.00 86.64 8.10 85.96 7.50 93.14 1.58 61.92 30.16 59.68 16.52 9.26 43.56 0 26.48 0 16.24 47.22 9.45 : Sponge S : Sand : Soft Coral RB : Rubble : Other Fauna ( Bulu babi, dsb) 69 Keterangan : Stasiun 1-23 : CB : Coral Barnching CM : Coral Massive CE : Encuristiing Coral CM 0.06 0.02 2.16 4.80 6.16 3.20 1.26 2.54 2.74 10.62 4.60 0 0.02 0 0.36 1.06 0.08 1.76 2.12 13.32 11.52 9.52 0.36 3.26 70 Gambar 9. Peta Stasiun Terumbu Karang 71 Terumbu karang dapat diklasifikasi dari taksonomi secara independen berdasarkan morfologinya untuk menentukan nilai kelas konservasi dengan membandingkan nilai antara ruderal-kompetitor-stres-tolerator (R-K-S), metode ini digunakan untuk mengetahui dominasi suatu jenis karang dengan memperhitungkan prinsip biodiversitasruderal (gangguan), Kompetitor (pesaing), Stress-tolerator (toleransi), yang biasa digunakan untuk memprediksi nilai kondisi terumbu karang yang telah atau belum mengalami gangguan akibat oleh faktorfaktor internal maupun eksternal untuk maksud konservasi. Kelompok ruderal apabila kondisi karang didominasi oleh acropora cabang dan tabulata, kelompok kompetitor apabila karang didominasi oleh monospesifik jenis karang follose dan karang cabang non acropora, sedangkan kelompok stress tolerator apabila kondisi terumbu karang dekat dengan pantai yang terpolusi, dimana didominasi karang massive dan sub-massive. Skor nilai kelas konservasi dari 23 stasiun yang diamati tersaji pada Tabel 15 berikut ; Tabel 15. Nilai R-K-S berdasarkan morfologi karang STASIUN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. R K 0 0 1,1 0,8 4,3 0,9 2,6 0,9 0 1,6 14,5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4,4 28,6 13,3 0 0 79,6 82,3 47,7 79,7 81,3 90,0 0 25,6 14,5 0 0 0 28,0 11,7 0 0 3,5 22,0 17,4 32,2 74,6 S 100 100 19,3 16,9 48,0 19,3 16,1 9,1 100,0 72,7 71,0 100 100 0 72,0 88,3 100 100 96,5 78,0 78,2 39,2 12,1 Sumber : Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 Dari Tabel 15 tersebut terlihat bahwa sebagian besar stasiun mempunyai nilai s lebih besar dibandingkan kedua fakta (r dan k), yang berarti bahwa 72 sebagian besar stasiun mempunyai jenis karang berbentuk massive dan submassive yang diakibatkan oleh pengaruh stress tolerators dari lingkungan. Berdasarkan nilai r-k-s tersebut maka kelas konservasi terumbu karang di perairan Kota Bontang tegolong rendah 5) Daratan Pesisir Berdasarkan pengamatan lapangan dan peta topografi daerah sekitar PKT terlihat bahwa garis pantai daerah tersebut berliku liku yang dibentuk oleh dataran dengan kelerangan kurang dari 2° dan ditumbuhi hutan-hutan mangrove. Material dasar perairan sebagian besar berupa lumpur yang kaya akan bahan organik. Bentang alam demikian dijumpai melebar sepanjang pantai daerah muara Sungai Guntung, muara Sungai Kanibungan, Teluk Sekatup, hingga sekitar Tanjung Limau dan daerah Bontang Kuala. Morfologi dataran ini masih sering tergenang air pada saat air laut pasang. Potensi alam ini sangat bermanfaat dalam melindungi pantai dari abrasi dan sebagai filter sedimen juga darat sehingga mengurangi sedimen masuk kedalam laut. Selain itu juga bermanfaat bagi tempat perkembangbiakan berbagai biota. Di daerah Guntung, Teluk Sekatup, Lhok Tuan, dan Bontang Kuala, daerah dataran ini dimanfaatkan sebagai pemukiman di atas air, sedang usaha tambak dilakukan pada morfologi ini di daerah Bontang Kuala dan Guntung. Kearah darat, morfologi dataran ini berbatasan dengan perbukitan bergelombang dengan kelerengan 13-17° didaerah Sekatup, dan berbatasan dengan dataran bergelombang pada daerah lain dimana kelerengan berkisar 25°. Kedua morfologi terakhir dibentuk oleh satuan batupasir dengan sisipan batulanau dan batubara. Pelapukan litologi ini membentuk tanah pucuk berwarna merah kekuningan yang tipis, peka terhadap erosi dan miskin akan unsur hara, sehingga kurang subur untuk usaha pertanian. Beberapa bagian dari morfologi ini digunakan sebagai hutan lindung yang dijumpai di barat laut hingga utara Guntung, sebagian besar merupakan daerah industri dan pemukiman. Secara stragrafis batuan yang terdapat di kawasan sekitar Bontang terdiri dari tiga satuan yaitu : a) Formasi Balikpapan yang tersusun oleh batupasir berseling dengan batu lempung lanauan, serpih dengan sisipan napal, batugamping, dan batubara 73 b) Formasi kampung baru, terdiri atas perselang-selingan antara serpih lempung, batulanau, pasir dan batubara c) Endapan aluvial yang tersusun oleh lempung, lanau, pasir, kerikil dan sisa tetumbuhan. Potensi air tanah pada akuifer dangkal maupun akuifer dalam. Air tanah pada akuifer dangkal di daerah dataran bekas rawa pantai semuanya payau dan berada antara 0,3-0,5 m di bawah muka tanah, sedangkan pada daerah perbukitan dan dataran bergelombang airtanah berada antara 0,7-16 m di bawah permukaan tanah. Konduktifitas air tanah didaerah ini lebih rendah dari 700 mikro-mhos sehingga termasuk dalam kondisi air tawar. Hasil analisa sampel air tanah dari akuifer ini menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur kimianya memenuhi syarat untuk pasokan air bersih. Mengingat recharge area-nya terbatas, maka jumlahnya juga terbatas dan hanya dijumpai pada daerah-daerah tekuk lereng yang merupakan batas antara morfologi dataran dan morfologi bergelombang lemah. Penurunan air tanah ini untuk konsumsi penduduk setempat dijumpai di Guntung, Tanjung Limau, Lhoktuan dan Sidrap. Airtanah akuifer dalam dijumpai pada pada formasi Kampung Baru dan formasi Balikpapan. Sumur yang dibuat menembus formasi ini menjadi tumpuan pasokan air bersih bagi PKT dan masyarakat sekitarnya. Sungai-sungai yang mengalir ke perairan disekitar PKT adalah sungai Kanibungan, Sungai Guntung dan Sungai Bontang Kuala. Ketiga sungai mempunyai kelerengan memanjang kurang dari 2°, sehingga potongan melintang sungai berbentuk U. Karena adanya pasokan airtawar dari darat maka pada muara sungai salinitas dan suhu air sedikit lebih rendah dibanding daerah laut sedangkan airnya dalam keadaan sangat keruh yang mengindikasikan tingginya material sedimen yang dibawa dalam bentuk muatan padatan tersuspensi. 6) Perairan Pesisir Sumberdaya alam perairan pesisir adalah tubuh laut itu sendiri, selain material dasar perairan yang dapat dimanfaatkan sebagai material urug. Karena banyak dijumpai karang, maka pengambilan material urug sebaiknya hanya dialur pelayaran. Kondisi kualitas perairan sekitar PKT sangat bervariasi karena terkait dengan lingkungan darat disekitar dan di daerah hinterland. 74 Beberapa parameter oseanografi di pesisir perairan sekitar PKT telah dipetakan dan diharapkan dapat mendukung analisis kondisi ekosistem perairan tersebut. Kondisi oseanografi secara langsung maupun tidak secara langsung berpengaruh terhadap kehidupan biota suatu perairan sehingga untuk mendukung pembahasan kondisi biota di perairan dan laut perlu dilakukan terhadap kondisi biota tersebut. Suhu air berkisar 29,1°C hingga 29,8°C di daerah laut, 26 – 29°C di sungai dan muara sungai dan suhu yang cukup tinggi mencapai 38°C dijumpai pada perairan sekitar outfall PKT (pabrik Kaltim 1 dan pabrik Kaltim 3). Pada daerah laut dan muara sungai suhu terlihat tergantung pada waktu pengukuran, semakin siang suhu semakin tinggi dan cenderung meningkat pada perairan menuju laut lepas. Secara teoritis kenaikan suhu akan meningkatkan aktifitas biologis, sehingga konsumsi oksigen meningkat yang berakibat pada menurunnya oksigen terlarut/ Dissolve Oxygen (DO). 7) Pariwisata Kegiatan pariwisata masih memungkinkan di kawasan pesisir laut Kota Bontang tidak menyebabkan kerusakan terhadap sumberdaya yang dilindungi, yaitu terumbu karang, padang lamun, hutan bakau dan lain-lain. Diperlukan adanya peraturan dan penegakan hukum (law enforcement) yang ketat terhadap kemungkinan pelanggaran. Tabel 16. Kegiatan Pariwisata di Pesisir Kota Bontang No Kawasan Lindung B eras Aktivitas Pariwisata 1. Bontang Kuala, Selangan Basah, 2. Terumbu K arang Gosong Segajah ( di Kep. Badak -badak ) 3. Kepulauan K edindingan, Melahing, Tihik-tihik, Selangan Wisata laut (berenang, naik perahu), wisata masyarakat nelayan, wisata alam, dan wisata makanan. Arena menyelam, berperahu dan aktifitas wisata laut lainnya. Berenang, naik perahu, pemandangan pantai dan bakau, memancing Berenang, naik perahu, pemandangan pantai, wisat a budaya Sumber :Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 Pengembangan pariwisata yang mengandalkan lingkungan yang indah dan nyaman seperti di kawasan pesisir Kota Bontang menunjukkan adanya saling keterkaitan pemanfaatan ruang antara pengembangan pariwisata dengan 75 upaya menjaga kelestarian lingkungan termasuk yang terdapat dikawasan lindung. Kerusakan lingkungan kawasan pesisir dan laut akan mengganggu dan menurunkan kegiatan pariwisata. Untuk kawasan pariwisata kriteria yang diperlukan adalah :  Berjarak aman dari kawasan perikanan dan pertambangan, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan tersebut tidak menyebar dan mencapai kawasan pariwisata dan sebaliknya.  Berjarak aman dari kawasan lindung, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan di kawasan industri tidak menyebar dan mencapai kawasan lindung.  Pembangunan Prasarana dan Sarana pariwisata yang tidak mengubah kondisi pantai, sehingga proses erosi atau sedimentasi dapat dihindari. Kawasan pariwisata yang dapat dikembangkan di pesisir Kota Bontang Adalah Pulau Beras Basah, Bumi Tenda Cibodas, Teluk Sekangat, Pemukiman Nelayan Bontang Kuala, Pulau Gusung, Bumi Perkemahan Gladi Mandiri, Tugu Pengabdian PKT, Pantai Marina, Pantai Marina Ujung, Danau dan Makam Rakyat Toraja dan Terumbu Karang Segajah. Intensitas aktifitas industri yang terus meningkat di Kota Bontang terutama industri pengelolaan dan pertambangan berskala besar seperti PKT, BADAK dan Indominco, berpotensi membuang limbah ke laut. Kerusakan fisik lainnya adalah semakin berkurangnya lahan hutan mangrove karena penebangan liar untuk kayu bakar, konversi lahan untuk tambak, perumahan dan industri. Fakta ini terjadi di Bontang Kuala, Loktuan dan Tanjung Limau. a) Eksploitasi Sumberdaya Ikan Eksploitasi sumberdaya ikan secara berlebih di wilayah laut Kota Bontang diduga menyebabkan terjadinya kelangkaan jenis ikan tertentu. Kekhawatiran ini cukup beralasan, karena eksploitasi sumberdaya laut ini terutama terlihat dari sistem penangkapan ikan oleh nelayan yang menggunakan peralatan tangkap ikan dan udang dengan jaring trawl (pukat harimau), bagan apung dan bahan peledak. Cara penangkapan ikan ini tidak selektif dan berakibat terjadinya perusakan siklus perkembangan ikan yang tidak lestari. Penangkapan ikan secara destruksi yang tidak ramah lingkungan seperti 76 pengeboman, atau menggunakan pukat harimau akan merusak terumbu karang sebagai habitat ikan. b) Sedimentasi Sumber sedimentasi berasal dari penambangan atau pengerukan pasir laut yang ada di pesisir Kota Bontang seperti Kelurahan Satimpo. Kegiatan penambangan ini juga berpotensi menyebabkan rusaknya terumbu karang, padang lamun, rumput laut dan biota lain. Selain penambangan pasir kegiatan industri juga menyebabkan meningkatnya sedimentasi diperairan Kota Bontang. Sedimentasi ini juga berpeluang ditimbulkan dari adanya pelayaran kapal bertonase besar sebab baling-baling kapal yang melalui perairan akan mengaduk sedimen dasar perairan sehingga mengakibatkan tingkat kecerahan air. c) Pencemaran Sampah Pencemaran sampah berupa sampah plastik yang mencemari perairan Kota Bontang berasal dari limbah industri dan pemukiman. Pencemaran ini terutama dapat dilihat di Sungai Guntung, Kelurahan Belimbing yang menyebabkan air sungai berwarna hitam dan berbau tidak sedap. Pencemaran ini langsung atau tidak langsung menyebabkan kerusakan habitat dan mempengaruhi lingkungan perairan. Pemukiman nelayan diatas yang membentang mulai dari batas garis pantai dan menjorok keluar ke laut dengan kelerengan tanah yang datar menimbulkan permasalahan sampah karena sampah tidak terkonsentrasi di suatu tempat pembuangan sampah. Jika terjadi pasang surut, sampahsampah tersebut akan mengalir ke laut sehingga akan mengotori kawasan perairan Kota Bontang. Pemukiman nelayan ini dapat dijumpai di Kelurahan Bontang Kuala, Kelurahan Berbas Pantai Kelurahan Loktuan. Di Kelurahan Bontang Kuala pemukiman nelayan sudah tersusun dengan rapi dan telah menjadi salah satu objek wisata. Keberadaan restoran apung dengan makanan khas laut dapat dijumpai disana. d) Abrasi dan Akresi Abrasi pantai dapat disebabkan secara alami atau karena aktifitas manusia. Abrasi dikawasan pesisir Kota Bontang terjadi di sekitar Pantai Marina, yang 77 dahulunya adalah hamparan terumbu karang yang kemudian berubah fungsi menjadi pulau-pulau kecil dan merupakan bagian dari kawasan industri BADAK. Kegiatan reklamasi pantai untuk memperluas wilayah pantai juga berpotensi memindahkan lokasi abrasi dan akresi pantai. Permasalahan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang tidak terlepas dari rendahnya pemahaman masyarakat tentang nilai yang sebenarnya dari sumberdaya pesisir secara keseluruhan. Selama ini, pemahaman masyarakat terhadap nilai sumberdaya pesisir seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove dan sebagainya lebih kepada penilaian sumber daya tersebut untuk memanfaatkan konsumsi langsung. Sedikit sekali masyarakat pesisir yang memahami pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan non-konsumtif seperti penahan abrasi, pengendalian banjir, estetika, pemanfaatan untuk obat-obatan dan sebagainya yang terkadang nilai moneter non-konsumtifnya lebih besar dari nilai konsumtif. Masyarakat desa Bontang Baru, Bontang Kuala dan Loktuan yang semula produksinya untuk memenuhi kebutuhan lokal, Kaltim bahkan hingga Surabaya, tetapi kini produksi sudah tidak dapat dilakukan lagi. Kegagalan budidaya rumput laut dimungkinkan dapat terjadi karena diterjang ombak ketika kapal-kapal besar sedang lewat dan karena pencemaran. 4.1.2 Sistem Sosial Ekonomi Pesisir Kota Bontang Kota Bontang awalnya merupakan kota administratif sebagai bagian dari Kabupaten Kutai. Kota Bontang, menjadi Daerah Otonom berdasarkan UndangUndang No. 47 Tahun 1999 tentang pemekaran Propinsi dan Kabupaten, bersama-sama dengan Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kertanegara. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bontang No. 17 Tahun 2002, Kota Bontang terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu: Kecamatan Bontang Selatan, Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Barat. 1) Kondisi Sosial Ekonomi a) Kependudukan Jumlah penduduk Kota Bontang pada tahun 2010 mencapai 140.787 jiwa dengan komposisi 72.384 jiwa jumlah penduduk pria dan 67.953 jiwa jumlah 78 penduduk wanita. Pertumbuhan penduduk Kota Bontang rata-rata sebesar 2,98 % per tahun. Penduduk Kota Bontang tersebar merata di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan. Sementara distribusi penduduk di Kecamatan Bontang Barat relatif tidak merata jika dibandingkan dengan kedua kecamatan lainnya, yaitu hanya dihuni 18,3% dari total penduduk Kota Bontang, hal tersebut terlihat dari Tabel 17 berikut ; Tabel 17.Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan2010 Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Bontang Selatan 29.842 27.205 57.047 Bontang Utara 29.921 28.908 58.829 Bontang Barat 13.071 11.840 24.911 Total 72.834 67.953 140.787 Sumber :Badan Pusat Statistik Kota Bontang Kepadatan penduduk yang dihitung dalam subbab ini adalah kepadatan penduduk bruto yaitu kepadatan penduduk yang dihitung berdasarkan luas wilayah secara keseluruhan. Pendekatan lain, adalah kepadatan penduduk netto yaitu kepadatan penduduk yang dihitung berdasarkan luas kawasan permukiman yang terdapat di dalam suatu wilayah. Tabel 18.Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Menurut Kecamatan 2010 Luas wilayah (ha) Penduduk (jiwa) Kepadatan 2 (/km ) 104,40 57.047 546 Bontang Utara 26,20 58.829 2.245 Bontang Barat 19,20 24.911 1.297 140.787 940 Kecamatan Bontang Selatan Total 149,80 Sumber :Badan Pusat Statistik Kota Bontang b) Sosial Budaya Masyarakat Penduduk Kota Bontang mayoritas menganut agama Islam yaitu 143.046 jiwa (BPS Kota Bontang, 2009) atau 88,67% dari total penduduk Kota Bontang. Penganut Protestan mencapai 9,38 % dari total penduduk atau sebanyak 15.128 jiwa. Dominasi penduduk yang menganut agama Islam memberi pengaruh 79 kepada pola permukiman penduduk yang mengelompok. Pada umumnya, sejarah pembentukan permukiman bisa dilihat dari munculnya Mesjid/ Surau sebagai pusat perkembangan permukiman. Dominasi penduduk beragama Islam ini pun akan berpengaruh terhadap pemenuhan sarana peribadatan. Mayoritas penduduk Kota Bontang adalah pendatang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa, Sulawesi, Timor Leste, dan Sumatera. Sisanya adalah penduduk setempat. Etnis yang menempati pesisir Kota Bontang antara lain suku Jawa, Batak, Bajo, Bugis, Melayu, Arab, dan Banjar. Etnis-etnis tersebut membentuk satu kesatuan penduduk Pesisir Kota Bontang. Adat istiadat yang berkembang sangat dipengaruhi oleh transformasi budaya Bugis, Banjar, Kutai dan Jawa. Penduduk Kota Bontang yang berinteraksi dengan pesisir/laut sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Beberapa kelurahan yang memiliki interaksi yang besar dengan pesisir antara lain kelurahan Loktuan, Bontang Kuala, Tanjung Laut, Berbas Pantai, dan Berbas Tengah. Sedangkan kelurahan Belimbing, Satimpo, Bontang Baru dan Sekambing memiliki interaksi yang relatif lebih kecil dengan pesisir. Indikator tingkat interaksi tersebut antara lain dilihat dari besarnya penduduk yang tinggal di pesisir laut (di atas air) jumlah penduduk nelayan dan besar produksi perikanan. Kelurahan Bontang Kuala memiliki interaksi yang sangat besar dengan pesisir/laut karena tingginya jumlah penduduk yang tinggal di pesisir. Bontang Kuala (13 RT) merupakan desa nelayan tertua di Kota Bontang yang hampir 65% dari total penduduknya bekerja sebagai nelayan. Selain di sektor perikanan,di Kelurahan Bontang Kuala berkembang pula sektor wisata pantai, sehingga sebagian besar penduduk bekerja disektor wisata maupun disektor pendukung pariwisata. Karena pengembangan potensi wisata pantai tersebut, permukiman penduduk di atas air di Bontang Kuala relatif bersih dan teratur dibandingkan dengan permukiman-permukiman di atas air yang terdapat di kelurahan lain. Di kelurahan ini pun dilaksanakan upacara adat pesta laut yang diadakan setahun sekali.Sepanjang jalan utama menuju Bontang Kuala terdapat hutan mangrove sepanjang 800 meter dengan pedestrian merupakan sarana wisata yang cukup menarik, hanya saja Pemerintah Kota mulai mengizinkan pembangunan perumahan, pertokoan dan sekolah, sehingga mengurangi nilai daerah wisata. 80 Selain bekerja pada sektor perikanan, sebagian besar penduduk Kota Bontang secara keseluruhan bekerja padasektor pertambangan dan energi, serta sektor angkutan dan komunikasi. Tingginya penduduk Kota Bontang yang bekerja pada sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa sektor perekonomian sekunder lebih mendominasi penyediaan lapangan kerja di Kota Bontang. Hal ini menunjukkan bahwa Bontang telah layak untuk disebut sebagai kota karena pergerakan dan perputaran ekonomi yang ada sudah berada dalam tahapan sektor sekunder yang lebih banyak memberikan value added bagi daerah. Karakteristik masyarakat pesisir Kota Bontangyang heterogen ternyata memunculkan masalah kesenjangan antara masyarakat yang bekerja disektor industri dengan masyarakat yang bekerja disektor informal. Hal tersebut terlihat jelas dari pengelompokan permukiman dan sarana pendukungnya. Permukiman di kawasan industri (PKT dan BADAK) tertata dengan baik dengan sarana dan prasaran yang sangat memadai sementara permukiman masyarakat di luar kawasan industri merupakan perkampungan yang belum tertata dengan baik dan belum dicukupi dengan sarana dan prasaran yang memadai. Kesenjangan antara penduduk yang bekerja di sektor industri dan sektor lain umumnya juga dipengaruhi oleh kesenjangan pendidikan, keterampilan dan keahlian yang dimiliki. c) Kegiatan Ekonomi Wilayah Laju pertumbuhan ekonomi diukur dari laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan PDRB dengan migas Kota Bontang berdasarkan harga konstan tahun2006-2009 adalah positif 2,41 %. Kondisi ini disebabkan oleh perekonomian masyarakat membaik walau produksi migas menurun 2 tahun terakhir. Dalam jangka waktu 2006-2009 laju pertumbuhan PDRB dengan migas terus mengalami penurunan seperti yang terlihat pada Tabel 19. Penurunan ini tidak terlepas dari penurunan produksi Gas Alam Cair/LNG. Sedangkan laju pertumbuhan PDRB non migas cenderung fluktuatif yang berarti sektor-sektor lain selain migas mengalami perkembangan yang stabil. Sektor pertanian, peternakan dan perikanan memiliki memiliki laju pertumbuhan sebesar -1,31 % pada tahun 2009. Jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan pada tahun-tahun sebelumnya, laju sektor pertanian, peternakan 81 dan perikanan memiliki kecenderungan menurun walaupun pada tahun 2007, terjadi peningkatan laju pertumbuhan sampai ke angka 2,32 %. Tabel 19. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto denganMigas Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (dalam %) 2006 – 2009 Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009 -1.31 -2.96 1. 2. Pertanian, Peternakan & Perikanan Pertambangan dan Penggalian -5.85 7.59 2.32 -0.02 1.86 0.35 3. Industri Pengolahan -3.34 -4.84 0.58 -3.74 4. 5. Listrilk, Gas dan Air Bersih Bangunan 9.34 5.63 9.67 5.78 3.07 4.53 10.80 4.70 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 0.84 2.15 5.01 3.09 7. Pengangk utan dan Komunikasi 5.31 4.24 3.06 5.13 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa 2.14 7.65 3.55 4.61 9. Jasa Jasa 3.90 3.37 2.71 4.94 PDRB Dengan Migas 4.68 4.81 10.36 2.41 PDRB Tanpa Migas -2.94 -4.26 0.84 -3.20 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bontang, 2010 Sektor perikanan yang diasumsikan memberikan masukan yang besar pada kenyataannya hanya berkontribusi kecil bagi PDRB Kota Bontang. Dalam kurun waktu tahun 2006 sampai 2009, sub sektor perikanan hanya berkontribusi sebesar 0,03% dari total PDRB Kota Bontang. Walaupun menunjukkan kecenderungan menurun, sub sektor industri migas masih memberikan kontribusi paling besar bagi PDRB Kota Bontang Sejak tahun 2006 hingga 2009, kontribusi sub sektor industri migas selalu di atas 88%. Tabel 20. Kontribusi Sub Sektor Perikanan dan Industri Migas dan Non Migas PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kota Bontang Tahun 2006 – 2009 (dalam %) Sektor/Sub Sektor Sub Sektor Perik anan Sub Sektor Industri Migas Sektor Non Migas Sumb er : Hasil Analisis, 2010 2006 2007 2008 2009 0,027 0,029 0,030 0,032 91,096 90,393 88,989 88,350 8,877 9,578 10,981 11,618 82 Walaupun memiliki kontribusi yang relatif kecil, sektor perikanan merupakan sektor yang diandalkan di masa yang akan datang ketika sektor migas mengalami stagnasi, Perkembangan sektor perikanan tangkap di wilayah pesisir kota Bontang (Bontang Utara dan Bontang Selatan) sudah cukup berkembang, hal ini dapat dilihat dari perkembangan jumlah armada yang cukup pesat dan mulai meningkatnya jumlah armada tangkap yang berukuran relatif besar, Arah pengembangan usaha penangkapan ikan ke depan lebih diprioritaskan ke perairan lepas pantai dengan armada kapal yang berukuran lebih besar sehingga mampu menjangkau wilayah penangkapan di sekitar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Sulawesi atau Selat Makassar. Hal ini juga dimaksudkan untuk mengurangi konsentrasi usaha penangkapan ikan di perairan pantai, mempertahankan sumberdaya perikann melalui pengalihan lokasi penangkapan, dan menghindarkan adanya over fishing. Perkembangan di tahun-tahun mendatang, laju pembangunan di wilayah pesisir dan lautan perairan Indonesia akan semakin pesat, mengingat lahan usaha di wilayah daratan dewasa ini sudah semakin menyempit dan semakin mahal nilainya. Wilayah pesisir dan lautan yang meliputi daratan dan perairan pesisir kaya akan sumber pangan yang diusahakan melalui kegiatan kehutanan, pertanian, perikanan, pertambangan dan lain-lain. Wilayah tersebut juga merupakan pengembangan usaha jasa lingkungan seperti wisata bahari yang indah, transportasi perhubungan laut ataupun konservasi taman laut nasional (Dahuri et al, 1996). Pengembangan sektor kelautan di wilayah Kota Bontang yang potensial dan saat ini cukup berkembang baik adalah budidaya laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) khususnya untuk komoditas ikan kerapu, kakap, kuwe, lobster ataupun teripang serta rumput laut. Sedangkan pada daerah pesisirnya masih memungkinkan untuk pengembangan budidaya tambak (bandeng dan udang) khususnya di Kelurahan Guntung, Bontang Kuala, dan wilayah pantai Sekangat. Pada muara sungai daerah berhutan bakau yaitu di sempadan muara sungai Sangatta, Api-api dan Santan maupun Sekangat (wilayah Bontang Tengah dan Selatan) cukup potensial dikembangkan budidaya tambak, mengingat wilayah tersebut merupakan daerah rawa pasang surut, kendati harus 83 dihitung dengan sungguh-sungguh daya dukung dan daya tampungnya. Salah satu masalah sosial yang dominan di wilayah pesisir adalah masalah kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan. Fenomena ini hampir terjadi pada semua keluarga nelayan kelurahan, Loktuan, Bontang Baru, dan Bontang Kuala yang mayoritas hanya berpendidikan sekolah dasar dan hidup dalam kondisi pra sejahtera. Kondisi ini perlu menjadi perhatian mengingat ada keterkaitan erat antara kemiskinan dan rendahnya pendidikan dengan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan laut di Kota Bontang. Tekanan terhadap sumberdaya pesisir sering diperberat oleh tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut serta rendahnya pemahaman akan upaya konservasi, Kemiskinan sering pula menjadi lingkaran setan (vicious circle) dimana penduduk yang miskin sering menjadi sebab rusaknya lingkungan pesisir. Namun penduduk miskin pula yang akan menanggung dampak dari kerusakan lingkungan. Salah satu aspek pengelolaan wilayah pesisir yang baik adalah bagaimana mencarikan alternative pendapatan sehingga mengurangi tekanan penduduk terhadap pemanfaatan sumberdaya pesisir. Dari hasil kajian dapat disarikan bahwa secara umum kondisi sosial ekonomi kelurahan Loktuan, Bontang Baru dan Bontang Kuala dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Tingkat pendapatan rata-rata perbulan untuk setiap kepala keluarga berkisar Rp. 600.000-Rp. 800.000 dengan jumlah keluarga ratarata 4-6 orang, maka cukup banyak nelayan yang hidup miskin, Sementara banyak dijumpai anak usia sekolah tidak bersekolah karena ikut bekerja orang tua melaut. Tingkat investasi rumah tangga juga rendah lebih rendah dibandingkan Upah Minimum Regional (UMR) Kaltim sebesar Rp. 1.200.000/bulan atau lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan tukang kayu dan tukang batu yang rata-rata Rp. 1.300.000-Rp.1.500.000 per bulan. Dengan kondisi pendapatan penduduk pesisir yang masih dibawah garis kemiskinan tersebut, tidaklah mengherankan jika praktek perikanan yang merusak (Destructive Fishing Practice) masih sering terjadi diwilayah pesisir dan laut Kota Bontang karena pendapatan dari kegiatan pengeboman dan penangkapan ikan karang dengan cyanide masih lebih besar dari pada 84 pendapatan mereka sebagai nelayan. Sebagai contoh pendapatan dari menjual ikan karang berkisar antara Rp. 900.000 sampai Rp.1.000.000 perbulan. Dengan demikian upaya pengelolaan wilayah pesisir laut Kota Bontang akan sukar di wujudkan tanpa memecahkan masalah kemiskinan yang terjadi di wilayah pesisir itu sendiri. Permasalahan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang tidak terlepas dari rendahnya pemahaman masyarakat tentang nilai yang sebenarnya dari sumberdaya pesisir secara keseluruhan. Selama ini, pemahaman masyarakat terhadap nilai sumberdaya pesisir seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove dan sebagainya lebih kepada penelitian sumberdaya tersebut untuk pemanfaatan konsumsi langsung. Sedikit sekali masyarakat pesisir yang memahami pemanfaatan konsumsi langsung. Sedikit pula masyarakat pesisir yang memahami pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan non-konsumtif seperti penahan abrasi, pengendalian banjir, estetika, pemanfaatan untuk obat-obatan dan sebagainya yang terkadang nilai moneter non-konsumtifnya lebih besar dari nilai konsumtif. 2) Kondisi Prasarana dan Sarana Keadaan Prasarana dan Sarana yang meliputi Prasarana dan Sarana pendidikan, kesehatan, peribadatan dan tranportasi di wilayah Kota Bontang apabila dilihat dari segi jumlah secara umum sudah memadai. Tetapi apabila ditinjau berdasarkan kebutuhan penduduk terhadap Prasarana dan Sarana tersebut masih kurang dan belum merata. Ketersediaaan Prasarana dan Sarana pada beberapa desa atau kelurahan belum ada. Keadaan Prasarana dan Sarana di wilayah Kota Bontang secara umum tahun 2010 dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Pendidikan Prasarana dan Sarana pendidikan di wilayah Kota Bontang meliputi: bangunan sekolah dari TK, SD, SMP, SMU serta jumlah guru dan murid di perlihatkan pada Tabel 21; 85 Tabel 21. Keadaan Prasarana dan Sarana Pendidikan tiap Kecamatan di wilayah Kota Bontang Jumlah (unit) No, 1. 2. Kecamatan Bontang Selatan Bontang Utara TK SD SMP SMU Jumlah Murid (orang) 19 19 28 20 10 13 4 10 13.424 14.184 769 883 10 7 3 9.255 591 3. Bontang Barat 9 Sumber: Bontang dalam Angka, 2010 Jumlah Guru (orang) b) Kesehatan Prasarana dan Sarana kesehatan di wilayah Kota Bontang meliputi: bangunan rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), puskesmas pembantu, poliklinik (rumah bersalin, klinik), tenaga dokter diperlihatkan pada Tabel 22 berikut ; Tabel 22. Keadaan Prasarana dan Sarana Kesehatan tiap Kecamatan di wilayah Kota Bontang Jumlah (unit) No, RS Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Jumlah Dokter (orang) Kecamatan 1 Bontang Selatan 1 1 1 2 21 2 3 Bontang Utara Bontang Barat 2 1 1 1 1 1 28 12 Sumber: Bontang dalam Angka, 2010 c) Peribadatan Prasarana dan Sarana peribadatan di wilayah Kota Bontang meliputi: bangunan mesjid, gereja katolik, gereja protestan, pura dan vihara diperlihatkan pada Tabel 23 Tabel 23. Keadaan Prasarana dan Sarana Peribadatan tiap Kecamatan di wilayah Kota Bontang No, Kecamatan Jumlah (unit) Gereja Protestan 11 Pura Vihara Jumlah Total - - 38 1 Bontang Selatan 26 Gereja Katolik 1 2 Bontang Utara 35 2 16 1 - 54 3 Bontang Barat 12 1 8 - - 21 Mesjid Sumber: Bontang dalam Angka 2010 86 d) Transportasi Prasarana dan Sarana tranportasi di wilayah Kota Bontang meliputi kondisi jalan negara, provinsi dan kota diperlihatkan pada Tabel 24. Tabel 24. Keadaan Prasarana dan Sarana tranportasi di wilayah Kota Bontang Kondisi jalan Negara (meter) Panjang Jalan Provinsi (meter) Kota (meter) Baik - 33.729.00 141.114.92 Sedang Rusak - - 10.000.00 29.680.00 Rusak berat - - 22.916.00 Jumlah - 33.729.00 203.710.92 Sumber: Bontang dalam Angka 2010 Sistem transportasi laut mencakup sarana maupun prasarana yang berkaitan dengan pelayaran yaitu pelabuhan laut dan alur pelayaran pendukungnya yang berfungsi untuk mengatur lalu-lintas kapal yang melintasi suatu perairan. Komoditi migas masih merupakan komoditas andalan baik bagi daerah, propinsi maupun nasional. Perkembangan ekspor migas di Kota Bontang untuk tahun 2006 mengalami kenaikan 13% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan nilai ekspor non migas mengalami penurunan sebesar 0,47 %. (BPS Kota Bontang , 2007). Sementara nilai impor Kota Bontang baik migas maupun non migas sangat bervariasi. Namun pada tahun 2006 nilai impor migas maupun non migas mengalami kenaikan. Hingga saat ini sub sektor migas masih merupakan andalan bagi pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bontang, dengan kontribusi sebesar 96,16 %. Pada tahun 2006 laju pertumbuhan PDRB minus 2,87 % (dengan migas), sedangkan tanpa migas pertumbuhan sebesar 5,81 %. Hal ini terjadi disebabkan terjadinya penurunan produksi gas yang diolah oleh BADAK. Struktur ekonomi Kota Bontang masih didominasi oleh industri pengolahan gas alam cair dengan kecenderungan yang menurun. Sektor industri gas alam cair memberikan kontribusi 74,20 %. Sumbangan terbesar kedua adalah sektor industri pengolahan non migas sebesar 12,29 %, terutama PKT. 87 Produksi utama PKT adalah pupuk urea dan amoniak yang ditujukan untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Perubahan status kota administratif Bontang menjadi Kota Bontang yang sebagian luas wilayahnya terdiri dari perairan, diikuti peningkatan berbagai aktifitas di daerah pesisir dan laut Kota Bontang. Letak Kota Bontang yang berbatasan dengan Taman Nasional Kutai dan adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menimbulkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut seiring dengan peningkatan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut, Kawasan pesisir dan laut Kota Bontang saat ini dimanfaatkan berbagai pihak seperti PKT, BADAK, PT Indominco, Taman Nasional, pemukiman, pertambakan, budidaya, pelayaran, pelabuhan dan penangkapan ikan. Bila tidak ada sinkronisasi kegiatan akan timbul persoalan pemanfaatan ruang dan meningkatkan gangguan terhadap ekosistem pesisir dan laut. Keberadaan PKT menjadi sangat strategis, karena hal-hal sebagai berikut:  Kawasan pesisir dan laut PKT merupakan zona taman nasional dan zona budidaya dengan intensitas pertambahan yang relatif tinggi karena lokasi dan sumberdaya alamnya yang potensial dan strategis.  Kegiatan PKT yang memanfaatkan ruang pesisir dan laut Kota Bontang mencakup kegiatan industri, pelabuhan, reklamasi, dan pemukiman, sementara di perairan sekitarnya terdapat kegiatan perikanan dan pertambakan masyarakat.  Kegiatan operasional PKT mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah yang ada di sekitarnya, terutama dalam perekonomian Kota Bontang.  Penataan kawasan pesisir dan laut di sekitar PKT dapat dijadikan faktor pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika hal ini dikaitkan program CSR dapat ditelaah apakah program yang dirancang mengarah pada pemberdayaan masyarakat pesisir. 88 4.1.3 1) Gambaran Umum PKT Sejarah Perusahaan PKT terletak di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Propinsi Kalimantan Timur, terletak sejarak 110 km di sebelah utara Kota Samarinda atau 235 km di sebelah utara Kota Balikpapan. Didirikan dengan Akte Notaris Yanuar Hamid, SH. Nomor 15 Tanggal 7 Desember 1977 di Jakarta, dengan pengesahan Menteri Kehakiman No.Y.A. 5/5/11 Tanggal 16 Januari 1979. PKT merupakan anak perusahaan dari PT Pusri (Persero) sebagai holding company, dan saat ini mempunyai kapasitas produksi urea 2,98 juta ton per tahun serta amoniak sebanyak 1,85 juta ton per tahun. Hal ini menjadikan PKT sebagai produsen urea terbesar di tanah air. Selain itu, PKT juga menghasilkan pupuk NPK dan pupuk organik, dengan kapasitas produksi NPK total 550 ribu ton, terdiri dari 350 ribu ton NPK simple blending dan 200 ribu ton NPK fusion, Sedangkan kapasitas produksi pupuk organik adalah 45.000 ton. PKT berawal dari rencana pemerintah melalui Pertamina untuk membangun proyek pabrik pupuk terapung di atas kapal. Namun karena pertimbangan teknis, maka berdasarkan Keppres No. 43/1975 proyek tersebut dialihkan ke darat dan melalui Keppres No. 39/1976. Pertamina menyerahkan pengelolaan proyek kepada Departemen Perindustrian. Lokasi yang dipilih adalah Bontang, Kalimantan Timur.Lahan seluas 493 hektar disiapkan untuk membangun proyek pabrik pupuk tersebut. Gas bumi sebagai bahan baku utama bersumber dari Muara Badak yang disalurkan melalui pipa sepanjang 60 km. Kalimantan Timur mempunyai cadangan proven gas bumi yang cukup besar mencapai 37,003 TSCF, saat ini sebanyak 4000 mmscfd dijadikan LNG dan sebanyak 450 mmscfd digunakan untuk pengembangan industri pupuk dan industri kimia/ petrokimia di kawasan industri Kota Bontang. Pembangunan pabrik Kaltim-1 dimulai tahun 1979 dan mulai beroperasi komersial tahun 1987.Sedangkan pabrik Kaltim-2 mulai dibangun tahun 1982. Kedua pabrik tersebut diresmikan bersamaan pada 28 Oktober 1984. Pabrik Kaltim-3 mulai dibangun dua tahun setelah peresmian pabrik Kaltim-1 dan 2 dan diresmikan pada 4 April 1989. Pada 20 November 1996, mulai dibangun pabrik urea unit 4 yang disebut juga dengan Proyek Optimasi Kaltim atau POPKA, 89 Pabrik ini adalah pabrik urea granul pertama di Indonesia dan diresmikan pada 6 Juli 2000 bersamaan dengan pemancangan tiang pertama Pabrik Kaltim-4, Pabrik Kaltim-4 juga memproduksi Urea Granule. Unit urea pabrik tersebut diresmikan pada 3 Juli 2002 sedangkan unit amoniak diresmikan pada 28 Juni 2004 oleh Presiden. Mulai tahun 2004, seiring dengan keluarnya SK Menperindag, PKT bertanggung jawab atas distribusi urea bersubsidi di Kawasan Timur Indonesia. Sejak saat itu PKT telah membangun jaringan pemasaran di berbagai wilayah Indonesia dan saat ini, wilayah tanggung jawab PKT meliputi Kawasan Timur Indonesia dan sebagian besar Jawa Timur dan Kalimantan kecuali Kalimantan Barat. Dengan kemampuan produksi yang cukup besar, PKT tidak hanya menjadi produsen pupuk dalam lingkup nasional, Jangkauan pasar PKT telah berkembang hingga wilayah Asia-Pasifik (Korea, Taiwan, Filipina, India, Jepang), Amerika Utara dan Amerika Selatan, Pada tahun 2008, ekspor pupuk oleh PKT mencapai 174,740 ton. Meskipun peluang pangsa pasar ekspor relatif tinggi, besarnya volume ekspor yang dilakukan PKT harus disesuaikan dengan izin dan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah.Hal ini dikarenakan adanya kebijakan dimana permintaan pupuk nasional harus menjadi prioritas utama dibandingkan permintaan pupuk luar negeri. Dalam menjalankan aktivitas pemasaran, PKT menerapkan program pemasaran terpadu (integrated marketing). Melalui program pemasaran inilah PKT berupaya memberikan pelayanan yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat tempat, tepat mutu dan tepat harga bagi para konsumen. Selain program pemasaran, PKT turut pula melakukan diversifikasi produk ke dalam dua kelompok yakni pupuk bersubsidi dan pupuk non subsidi. Terkait aktivitas produksi pupuk tersebut, PKT menjalankan program pengendalian mutu, pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja, serta pelestraian lingkungan. Melalui ketiga program tersebut, PKT berhasil memperoleh sertifikat ISO 9002 (mutu), bendera emas SMK3 (K3), dan sertifikat ISO 14001 (lingkungan). 90 2) Visi dan Misi Perusahaan PKT memiliki visi strategis yakni ; “Menjadi perusahaan agro-kimia yang memiliki reputasi prima Visi di kawasan Asia”, dimana istilah “reputasi prima” dimaknai sebagai ; 1. Termasuk salah satu perusahaan Indonesia yang ada dalam daftar 500 perusahaan besar di Asia. 2. Terciptanya produk dan jasa dengan merek-merek global dengan pelanggan yang fanatik (cult brands). 3. Menyandang predikat korporasi best practice dan konsisten sebagai “good governed company”. Sedangkan misi PKT adalah sebagai berikut : 1. Menyediakan produk-produk pupuk, kimia, agro dan jasa pelayanan pabrik serta perdagangan yang berdaya saing tinggi; 2. Memaksimalkan nilai perusahaan melalui pengembangan sumber daya manusia dan menerapkan teknologi mutakhir; 3. Menunjang program ketahanan pangan nasional dengan penyediaan pupuk secara tepat; 4. Memberikan manfaat bagi pemegang saham, karyawan dan masyarakat serta peduli pada lingkungan. Dalam rangka mencapai visi misi di atas, perusahaan menetapkan sasaran yang ditetapkan dalam corporate plan 2008-2027 yang dirinci dalam sasaran 5 tahunan. Sasaran perusahaan tahun 2008-2012 adalah “menjadi industri kimia paling kompetitif di Indonesia”. Pencapaian sasaran ini diukur berdasarkan indikator keberhasilan kunci, yakni : 1. Industri pupuk kimia dengan predikat best quality, cost competitive, shortest lead time, best safety, high moral dan enviromental friendly. 2. Tersedianya pasokan pupuk secara berkesinambungan dengan prinsip "6 Tepat", yakni : Jumlah, Jenis, Waktu, Mutu, Tempat, dan Harga. 3. Jaringan distribusi menjangkau seluruh wilayah nasional. 91 4. Mencapai kriteria standar kinerja internasional yang setara dengan IQA (Indonesia Quality Award) di atas 500. 3) Struktur Organisasi PKT Struktur organisasi PKT tersusun atas 4 hierarki struktural, dimana struktur level pertama terdiri dari jajaran Direksi, pada struktur level kedua terdapat Kompartemen setingkat General Manager yang membawahi struktur level ketiga yakni Departemen dan Biro, sedangkan pada struktur level ke empat terdapat unit kerja tingkat bagian yang dipimpin oleh seorang Kepala Bagian. Secara rinci Bagan Struktur Organisasi PKT disajikan pada Lampiran 1. Program PKBL PKT dilaksanakan oleh unit kerja yang berada pada level ketiga setingkat Departemen dengan nama Biro PKBL, yang bertanggung jawab kepada Direktur SDM dan Umum selaku pembina unit kerja, dengan berkoordinasi kepada Kompartemen Umum. Sebagaimana tersaji pada Gambar Bagan Struktur Organisasi berikut ; PRESIDENT DIRECTOR HR & GENERAL DIRECTOR COMMERCI AL DIRECTOR GM OF GENERAL AFFAIRS GM OF HUMAN RESOURCES MANAGER OF PKBL MANAGER SECURITY PRODUCTION DIRECTOR INTERNAL AUDITOR CORPORATE SECRETARY MANAGER OF GENERAL AFFAIR Gambar10. Bagan Struktur Organisasi PKT TECHNICAL & DEVELOPMENT DIRECTOR 92 4) Bentuk CSR PKT PKT telah menjalankan program Corporate Social Responsibility(CSR), baik secara langsung maupun tidaklangsung dalam bentuk program PKBL. Program Kemitraan (PK) PKT di tahun 2010 telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp. 27,28 miliar. Sedangkan melalui Bina Lingkungan (BL), perusahaan menyalurkan dana Rp. 5,4 miliar.Program CSR PKT tersebut diuraikan dengan deskripsi masing-masing program sebagai berikut ; a) Program Kemitraan (PK) Aktivitas program kemitraan dilakukan melalui penyaluran laba bersih perusahaan sebesar maksimal dua persen kepada sejumlah UMKM (Usaha Kecil, Mikro dan Menengah). Laba bersih tersebut berfungsi sebagai pinjaman lunak bagi aktivitas operasional dan pengembangan usaha UMKM. Pada waktu yang telah ditentukan, UKMK tersebut berkewajiban untuk mengembalikan pinjaman dana kepada PKT. Hasil pengembalian dana tersebut kemudian akan digulirkan kembali oleh PKT kepada sejumlah UMKM yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan pinjaman. Rincian aktivitas penyaluran dana pada program kemitraan PKT adalah sebagai berikut: (1) Penyaluran Pinjaman Sasaran penyaluran pinjaman PKT adalah UMKM yang dinilai belum layak untuk mendapatkan pinjaman dari pihak perbankan. Berikut ini merupakan jenis pinjaman yang disalurkan oleh PKT melalui program kemitraan: (a) Pinjaman Langsung Pinjaman Langsung merupakan pinjaman yang secara langsung diberikan oleh PKT kepada UMKM yang menjadi mitra binaan PKT. Selain di wilayah Bontang, mitra binaan PKT juga terdapat di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Bagi pinjaman yang disalurkan setelah tahun 2003 diberlakukan jasa administrasi sebesar 6% per tahun. Besarnya jasa administrasi tersebut bersifat tetap, sedangkan bagi pinjaman yang disalurkan sebelum tahun 2003 diberlakukan nilai jasa 93 administrasi yang bervariasi dengan sistem perhitungan bunga tetap dan saldo menurun. (b) Pinjaman Tidak Langsung (pinjaman melalui lembaga penyalur) Pinjaman tidak langsung disalurkan kepada mitra binaan melalui lembaga penyalur yang bekerjasama dengan PKT. Saat ini pinjaman tidak langsung tidak diberlakukan. Hal ini dikarenakan berakhirnya masa perjanjian kerjasama antara PKT dengan perbankan yang menjabat sebagai lembaga penyalur. Sebelumnya posisi lembaga penyalur dipegang oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD), baik yang terdapat di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat. Dalam penerapannya, pihak BPD bertindak sebagai suplier produk perbankan dan kredit bagi mitra binaan PKT. Atas pinjaman tersebut PKT memberikan jaminan berupa deposito berjangka kepada pihak BPD. (c) Pinjaman Khusus Pinjaman khusus merupakan jenis pinjaman jangka pendek yang diberikan PKT kepada mitra binaan. Pinjaman tersebut bertujuan untuk membantu kondisi finansial mitra binaan dalam memenuhi permintaan konsumennya. PKT menyediakan alokasi pinjaman khusus bagi para kontraktor, pemasok, maupun mitra binaan yang mendapat pesanan khusus. Besarnya bunga pinjaman yang diberlakukan pada pinjaman ini adalah sebesar 12% per tahun, sedangkan sistem perhitungan yang diterapkan adalah sistem perhitungan bunga menurun. (2) Pemberian Hibah Pemberian hibah dilakukan oleh PKT dalam rangka pengembangan dan peningkatan kemampuan mitra binaan. Besarnya dana hibah yang dialokasikan oleh PKT adalah sebesar maksimal 20% dari dana Program Kemitraan yang disalurkan pada tahun berjalan. Dana hibah tersebut digunakan dalam aktivitas pendidikan, pelatihan, penelitian, magang, pemasaran, promosi dan lain-lain. 94 b) Program Bina Lingkungan (BL) Program bina lingkungan merupakan penyelenggaraan kegiatan Community Development, dimana dana kegiatan bersumber dari laba bersih perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan tersebut, sesuai dengan Peraturan Menteri Negara BUMN No: Per-05/MBU/2007, perusahaan mengalokasikan dana sebesar 2% dari perolehan laba bersih. Bentuk kegiatan dalam program bina lingkungan antara lainbantuan bencana alam, pendidikan, kesehatan, sarana umum, sarana peribadatan, serta olahraga dan seni.Berikut ini merupakan penjelasan mengenai program bina lingkungan yang diselenggarakan oleh PKT : (1) BUMN Peduli Penyaluran dana BUMN Peduli hanya dapat dilaksanakan berdasarkan surat/perintah dari Kementerian BUMN, yang biasanya untuk kejadian bersifat nasional. Pada tahun 2010 bentuk bantuan dana BUMN Peduli yang dilaksanakan PKT adalah bantuan Bencana Alam Banjir Wasior, Merapi Yogyakarta, dan Gempa Mentawai. (2) Bantuan korban bencana alam Bentuk bantuan untuk korban bencana alam yang disalurkan antara lain bantuan untuk korban musibah kebakaran di Kelurahan Guntung, Kutai Kartanegara, Balikpapan dan korban banjir di Samarinda. (3) Bantuan pendidikan dan atau pelatihan Contoh program pendidikan yang di selenggarakan oleh PKBL PKT antara lain Program Peduli Pendidikan, program ini memberikan kesempatan kepada siswa-siswi SMU/ sederajat di Kota Bontang dan sekitar yang notabene berasal dari golongan ekonomi lemah untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi favorit di Indonesia. Selain pemberian beasiswa, kegiatan lain dibidang pendidikan adalah pelatihan enterpreneurship, bantuan komputer untuk instansiinstansi kelurahan dan kecamatan di Kota Bontang. (4) Bantuan peningkatan kesehatan Bantuan di bidang kesehatan meliputi bantuan biaya keringanan berobat di Rumah Sakit Pupuk Kaltim (RSPKT). 95 (5) Bantuan pengembangan prasarana dan atau sarana umum Bantuan yang disalurkan antara lain bantuan pembangunan gedung dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah dan sarana panti asuhan Nurul Hidayah Lhoktuan. (6) Bantuan sarana ibadah Untuk sektor peribadatan, PKBL PKT memberikan bantuan pembangunan masjid, mushola serta bantuan pemberian sarung, baju muslim untuk santri dari pondok pesantren se Kota Bontang. (7) Bantuan pelestarian alam Komitmen Perusahaan di bidang lingkungan hidup diwujudkan melalui penerapan Sistem Manajemen Lingkungan berdasarkan ISO 14001:2004 secara efektif dan konsisten. Selama tahun 2010 PKT telah berhasil menjalankan kegiatan operasional yang ramah lingkungan yakni dengan memenuhi seluruh standar baku mutu lingkungan seperti, limbah cair, padat dan emisi gas sesuai yang disyaratkan oleh undang-undang dan peraturan pemerintah. Kesungguhan perusahaan dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan juga ditunjukkan melalui program taman penghijauan Wanatirta, yaitu penghijauan dan pelestarian tanaman langka, khas Kalimantan. Penghijauan ini disiapkan di atas lahan seluas 315 Ha di sekitar perusahaan dengan populasi pohon langka yang sudah ditanam mencapai 55.631 pohon. Bantuan pelestarian alam dilakukan dengan pelaksanaan program penanaman pohon pelindung, penanaman mangrove dan terumbu karang di sekitar kawasan pesisir Kota Bontang. Dimana perusahaan telah melakukan penanaman 256 terumbu buatan pada tahun 2009 di sekitar perairan Kota Bontang yakni di area Karang Segajah dan Tebok Batang. Kegiatan serupa direncanakan menjadi agenda tahunan dengan kebijakan penanaman 500 terumbu buatan setiap tahunnya sejak 2011 hingga 10 tahun mendatang di perairan pesisir Kota Bontang. Dalam melakukan konservasi kawasan pesisir Kota Bontang, melindungi wilayah pesisir dari abrasi, PKT juga telah melakukan penanaman mangrove 96 sekitar 7500 pohon di tahun 2011 terletak di area Hak Guna Bangunan (HGB) 63 (area Sekatup Kelurahan Bontang Baru) sebanyak 3750 pohon dan HGB 65 (area Bukit Sintuk Kelurahan Belimbing) sebanyak 3750 pohon. Kegiatan penanaman pohon mangrove ini juga akan menjadi agenda kegiatan tahunan perusahaan, dengan melakukan penanaman minimal 10.000 pohon mangrove per tahunnya hingga 10 tahun kedepan. Dalam rangka Program Penilaian Peringkat Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (Proper), PKT memperoleh predikat “HIJAU” dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan predikat ”BIRU” dari Kementerian Lingkungan Hidup.Untuk dapat meningkatkan predikat tersebut, salah satu aspek yang menjadi kategori penilaian adalah bentuk implementasi CSR yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan seperti ISO 26000, sehingga PKT harus terlebih dahulu melaksanakan konsep CSR dengan baik. c) Program Pembinaan Wilayah (Binwil) Program Pembinaan Wilayah merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap pengembangan masyarakat dan lingkungan. Pendanaan program Binwil bersumber dari dana operasional perusahaan yang telah disesuaikan dengan kebijakan perusahaan. Penyelenggaraan program Binwil bertujuan untuk mendorong pengembangan wilayah, dengan fokus pembinaan meliputi bidang sosial, keagamaan, pendidikan serta bidang kesehatan masyarakat. d) Program CSR Tak Langsung PKT memiliki program CSR yang merupakan swadaya karyawan PKT. Program CSR tersebut turut pula berperan dalam pemberdayaan dan pengembangan masyarakat di sekitar perusahaan.Beberapa jenis program yang telah terlaksana adalah Marching Band Bontang-PKT, diklat sepak bola Mandau, seni dan tari, Yayasan PKT, serta kegiatan olahraga profesional dan amatir. (1) Kegiatan Pengembangan Olahraga Kegiatan pengembangan olahraga telah dilaksanakan PKT sejak lama. Pada tahun 1988 PKT mendirikan klub sepakbola PS PKT. Sejak memasuki Kompetisi Liga Bank Mandiri ke 8 tahun 2002, PS PKT berubah nama menjadi 97 PS Bontang PKT. Selain bidang sepak bola, kegiatan pengembangan olahraga juga dilakukan pada bidang olahraga voli, tenis meja, tenis lapangan, renang, soft ball, catur, bridge, dan golf. (2) Kegiatan Seni dan Budaya Kegiatan seni dan budaya yang secara rutin diselenggrakan oleh PKT antara lain pagelaran wayang kulit, pentas seni tari, ketoprak, dan fashion show. Selain kegiatan tersebut, PKT turut pula mendorong berkembangnya potensi seni generasi muda melalui kegiatan marching band, Anggota Marching Band Bontang-PKT (MB Bontang-PKT) terdiri dari karyawan, keluarga karyawan, dan masyarakat yang pada umumnya adalah generasi muda Kota Bontang di luar keluarga besar PKT. Salah satu prestasi membanggakan yang telah diukir oleh MB Bontang-PKT adalah juara Grand Prix Marching Band Nasional selama sembilan kali berturut-turut. (3) Yayasan Baiturrahman Yayasan Baiturrahman mengelola Masjid Raya Baiturrahman PKT, pengumpulan dana zakat dari karyawan PKT. Dana hasil pengumpulan tersebut disalurkan dalam bentuk zakat fitrah, sedekah, bantuan beasiswa, bantuan bencana alam, dan bantuan modal bagi usaha kecil. Untuk mendukung aktivitasnya dalam menyalurkan dana bagi kegiatan perekonomian sektor informal, pada tahun 1995 Yayasan Baiturrahman mendirikan BMT (Baitul Mal wat Tanwil). (4) Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) Yayasan Pupuk Kaltim memiliki fokus pada bidang pendidikan. Program utama yang diusung oleh yayasan ini adalah program Maju Bersama YPK yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan kualitas pendidikan di Kota Bontang. Penyelenggaraan program tersebut berhasil meningkatkan NEM rata-rata siswa-siswa lulusan SD di Kota Bontang. Selain program tersebut, YPK juga melaksanakan try out (TO) untuk siswa SMP dan SMU se-Bontang, ESQ gratis untuk siswa sekolah, kejuaraan atletik se-Kaltim, kejuaraan bola basket antar pelajar se-Bontang, takmir masjid serta pelatihan kurikulum dan 98 pengenalan berbagai universitas negeri (Unair, ITB, ITS, Unpad, Undip, UGM) bagi para guru dan siswa SMU di Kota Bontang. (5) Yayasan Rumah Sakit Salah satu program peningkatan kesehatan masyarakat Bontang yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Sakit Pupuk Kaltim adalah bantuan keringanan biaya berobat dengan nilai rata-rata mencapai Rp. 150 juta per tahun. (6) Publik Katulistiwa Televisi (PK-TV) Terkait bidang media penyiaran, PKT mendirikan PKTV (Publik Katulistiwa TV) dengan bekerjasama dengan Yayasan Baiturrahman, Yayasan Pupuk Kaltim dan Yayasan Bina Insan Mandiri.Stasium TV lokal yang resmi berdiri pada tahun 1998 tersebut menayangkan informasi program pengembangan masyarakat serta peristiwa aktual yang terjadi di Kota Bontang. Dengan berlokasi di kompleks Gedung Sarana Pertemuan (GOR) PKT, PKTV mengudara setiap hari dimulai pada pukul 18.00 hingga pukul 22.00. (7) Program Pemberdayaan Pengusaha Lokal PKT turut pula memiliki kepedulian dalam pengembangan ekonomi masyarakat lokal. Bentuk kepedulian tersebut diwujudkan dengan melakukan pemberdayaan pengusaha lokal melalui pemberian prioritas kepada vendor atau pengusaha lokal Bontang dalam proses pengadaan barang dan jasa serta pekerjaan konstruksi tertentu di PKT. (8) Pengembangan kawasan Hutan Kota Wanatirta Pengembangan kawasan Hutan Kota Wanatirta merupakan program pelestarian lingkungan yang dilakukan dengan menjaga fungsi hutan seluas 315,6 Ha tersebut dalam memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika, memperbaiki resapan air, serta perlindungan terhadap aquifer dan aquiclude. Upaya pelestarian tersebut bertujuan untuk menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota, mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, serta mengembangkan hutan sebagai lokasi penelitian dan wisata. 99 4.2 Analisis Ekonomi Wilayah Kota Bontang 4.2.1 Analisis Location Quotient Analisis tentang faktor penentu pertumbuhan ekonomi daerah diperlukan sebagai dasar utama untuk perumusan pola kebijakan pembangunan ekonomi daerah dimasa mendatang. Untuk mengetahui peran industri pengolahan dalam menopang pertumbuhan ekonomi, dapat dilakukan dua pendekatan perhitungan, yaitu: metode basis ekspor yang merupakan bagian dari teori pertumbuhan regional dan metode basis ekonomi dengan pendekatan Location Quotient atau LQ. Sebelumnya ada baiknya ditelaah kembali indikator yang menjadi kekuatan pertumbuhan ekonomi Kota Bontang. Perkembangan kondisi perekonomian dapat ditunjukan dengan pertumbuhan ekonomi yang diukur melalui PDRB. Khusus untuk Kota Bontang struktur PDRB didominasi oleh industri pengolahan yaitu hingga 94 persen. Data statistik menunjukan bahwa sumbangan industri pengolahan cukup besar terhadap pembentukan PDRB Kota Bontang, sebagaimana disajikan dalam Tabel 25 berikut ; Tabel 25. Perkembangan Industri Pengolahan dan PDRB Bontang Periode 20052009 dengan Harga Konstan Tahun 2000 (dalam juta) Dengan Migas Tahun Industri Pengolahan PDRB Tanpa Migas Industri Pengolahan PDRB 2005 24.652.692,75 26.161.109,08 712.390,30 2.218. 549,53 2006 24.652.692,75 26.161.109,08 769.172,00 2.334. 304,64 2007 23.830.231,76 25.398.233,40 810.273,90 2.446. 536,17 2008 22.808.665,43 24.516.714,71 992.102,38 2.699. 898,56 2009 21.955.567,10 23.735.296,07 988.364,14 2.765. 071,61 Sumber : BPS 2010, Bontang Dalam Angka 2010 Perhitungan LQ berdasarkan pendapatan terlihat bahwa selama periode analisis antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, nilai-nilai LQ Kota Bontang menunjukan angka lebih besar dari 1. Dari hasil identifikasi ini dapat 100 disimpulkan bahwa industri pengolahan Kota Bontang antara tahun 2005 sampai dengan 2009 merupakan sektor basis, seperti disajikan pada Tabel 26; Tabel 26.Perbandingan Hasil Perhitungan LQ Pada Industri Pengolahan Dengan Migas dan Tanpa Migas di Kota Bontang Periode 2005-2009 LQ dengan Migas LQ Tanpa Migas Tahun vi/vt Vi/Vt 2005 0,94234127 0,32470245 2006 0,94234127 2007 LQ vi/vt Vi/Vt LQ NM 2,9021686 0,32110633 0,09999888 3,21109924 0,34395157 2,7397498 0,32950797 0,10437771 3,15688067 0,93826336 0,32470245 2,8896097 0,33119228 0,09999888 3,31195988 2008 0,93033123 0,31983581 2,9087775 0,36745913 0,09944345 3,69515661 2009 0,92501762 0,29810031 3,1030414 0,35744612 0,09489565 3,76672827 Sumber : BPS 2010, diolah Jika data industri pengolahan Kota Bontang dipisahkan antara migas dan non migas, maka akan didapat hasil nilai LQ masih diatas 1 antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Hasil ini menunjukan bahwa industri pengolahan non migas Kota Bontang merupakan sektor basis. Pembedaan antara sektor migas dan non migas sesungguhnya untuk melihat peran dua industri besar di Kota Bontang. Sektor Migas pada industri pengolahan digunakan untuk mengamati peran BADAK dan sektor non migas digunakan untuk mengamati peran PKT. Dari hasil perhitungan yang ada, dapat disimpulkan bahwa peran kedua perusahaan ini sangat besar dalam membentuk sektor basis di Kota Bontang. Selanjutnya untuk mengetahui nilai peran industri pengolahan non migas (PKT) sebagai sektor basis terhadap pembangunan ekonomi dalam menciptakan multiplier effect dapat diukur dengan Analisis Regresi sederhana OLS (Ordinary Least Square), dimana variabel yang digunakan adalah time series PDRB 2005 – 2009, sehingga diperoleh persamaan ; ∆Y = 1164765.38 + 1.582 ∆B Hasil ini menunjukkan bahwa koefisien determinasi sektor basis berpengaruh sebesar 1,582 terhadap PDRB Kota Bontang dengan tingkat 101 signifikansi (R square) 95,5%, nilai tersebut akan semakin terlihat jelas ketika kita bandingkan dengan nilai sirkulasi arus modal rata-rata PKT yang mencapai Rp.7,52 Trilyun pertahun, dimana 97,5% diantaranya dikeluarkan di Kota Bontang, meliputi biaya operasional produksi 76%, kontribusi langsung terhadap Pemerintah 15% dan investasi sebesar 9%. 4.2.2 Analisis Pendapatan Jangka Pendek Sementara analisa data rasio PDRB Non Basis terhadap total PDRB (YN/Y) menggambarkan proporsi dari total pendapatan yang dihasilkan oleh aktivitas lokal atau aktivitas penduduk dalam perekonomian wilayah. Pada tahun 2009 rasio YN/Y menunjukan angka 0,0749. Artinya, setiap Rp. 1 pendapatan total Kota Bontang, sumbangan aktivitas lokal sebesar 0,0749. Perhitungan ini menunjukan bahwa aktivitas lokal atau aktivitas penduduk dalam perekonomian Kota Bontang hanya berperan sebesar 7,49 %, sebagaimana disajikan pada Tabel 27: Tabel 27. Hasil Perhitungan Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Sektor Industri Pengolahan di Bontang Periode 2005-2009 (dalam juta) Y YB YN M YN/Y 2005 2006 2007 2008 2009 26.161.109,08 26.216.799,14 25.466.494,03 24.519.392,21 23.735.296,07 24.652.692,75 24.652.692,75 23.830.231,76 22.808.665,43 21.955.567,10 1.508.416,33 1.564.106,39 1.636.262,27 1.710.726,78 1.779.728,97 1,061186676 1,063445661 1,068663297 1,075003370 1,081060487 0,057658730 0,059660464 0,064251572 0,069770358 0,074982379 Sumber : BPS 2010, diolah 4.2.3 Analisis Shift Share Dari hasil analisis shift share menunjukkan kontribusi nasional terhadap perekonomian daerah hanya sebesar 9%, sementara peran struktur ekonomi daerah cukup besar mencapai 92 %, rasio tersebut ditopang oleh kontribusi kekhususan potensi ekonomi daerah yakni 46 %, sebagaimana tersaji pada Tabel 28 berikut : 102 Tabel 28. Hasil Perhitungan Analisis Shift Share Kota Bontang Tahun 2005-2009 (dalam juta) Sektor Ekonomi Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air RS PS DS VA 6.812, 43 29.086,76 27.013,23 62.912,42 12.398,17 68.749,17 52.502,12 133.649,46 241.362,86 1.118. 012,77 1.371. 246,73 2.730. 622,36 3.263, 81 15.652,77 18.301,83 37.218,40 Bangunan dan Konstruksi 230.508,92 1.241. 429,88 1.154. 090,36 2.626. 029,17 Perdagangan, Restoran dan Hotel 105.003,76 510.886,47 479.640,27 1.095. 530,49 Pengangk utan dan Komunikasi 25.542,44 131.687,17 125.635,69 282.865,30 Keuangan, Persewaan dan Jasa 28.106,54 158.022,46 139.068,83 325.197,84 Jasa-Jasa Lainnya 22.243,70 107.994,24 105.440,17 235.678,11 JUMLAH PERS ENTASE 675.242,63 3.440. 313,00 3.446. 223,83 7.529. 703,56 8.97% 45.69% 45.77% 100% Sumber : BPS 2010, diolah Keterangan : RS : Regional Share PS : Propotionality Shift 4.2.4 DS VA : Differential Shift : Value Added Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota Bontang Kota Bontang terletak 150 km di utara Kota Samarinda, dengan wilayah yang relatif kecil dibandingkan kabupaten lainnya di Propinsi Kalimantan Timur (406,70 km²), Kota Bontang memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan Kaltim maupun nasional. Karena di kota yang berpenduduk sekitar 140.000 jiwa ini, terdapat dua perusahaan raksasa internasional yaitu BADAK di Kecamatan Bontang Selatan dan PKT di Kecamatan Bontang Utara. Secara Administrasi, semula Kota Bontang merupakan Kota Administratif sebagai bagian dari Kabupaten Kutai dan menjadi Daerah Otonom berdasarkan Undang-Undang No. 47 Tahun 1999 tentang pemekaran Propinsi dan Kabupaten, bersama-sama dengan Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai 103 Kertanegara. Dan sejak disahkannya Peraturan Daerah Kota Bontang No. 17 tahun 2002 tentang Pembentukan Organisasi Kecamatan Bontang Barat, pada tanggal 16 Agustus 2002, Kota Bontang terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Bontang Selatan, Kecamatan Bontang Utara, dan Kecamatan Bontang Barat. Kecamatan Bontang Selatan memiliki wilayah daratan paling luas (104,40 2 km ), disusul Kecamatan Bontang Utara (26,20 km 2) dan Kecamatan Bontang Barat (17,20 km 2) Kota Bontang memiliki letak yang cukup strategis yaitu terletak pada jalan trans Kaltim dan berbatasan langsung dengan Selat Makassar sehingga menguntungkan dalam mendukung interaksi wilayah Kota Bontang dengan wilayah lain di luar Kota Bontang. Gas alam cair merupakan komoditi utama yang menopang perekonomian Kota Bontang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 produksi LNG, yang dikelola oleh BADAK, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2007. Tercatat produksi total LNG pada tahun 2008 sebesar 39.701.552 m 3 dengan produksinya tertinggi sebesar 3.563.438 m3 pada bulan Januari 2008. Untuk nilai ekspor LNG tertinggi juga terjadi pada bulan Januari 2008 sebesar 3.623.854 m3 dengan total ekspor sebesar 39.698.248 m 3 Komoditi unggulan di Kota Bontang setelah gas alam cair adalah pupuk. Pada tahun 2008, produksi amoniak PKT tercatat sebanyak 246.504 ton, sedangkan produksi urea curah dan urea kantong tercatat sebanyak 350.515 ton dan 2.201.497 ton. Sedangkan untuk distribusi amoniak sebanyak 138.850 ton ke dalam negeri dan 78.810 ton ke luar negeri. Sedangkan urea curah dan urea kantong hanya didistribusikan ke dalam negeri yaitu sebanyak 159.350 ton dan 1.709.389 ton. Dengan adanya dua perusahaan besar di Kota Bontang, yaitu: BADAK di Kecamatan Bontang Selatan dan PKT di Kecamatan Bontang Utara, maka diperkirakan pusat pertumbuhan dan pusat pembangunan Kota Bontang berada di Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan. a. Pusat Pembangunan Investasi pada pusat pembangunan (Development poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah Kota Bontang secara bervariasi. Pengaruh 104 tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang merupakan indikator kemakmuran di Kota Bontang. Pusat pembangunan di Kota Bontang, ternyata terletak di Kecamatan Bontang Utara. Indikasi ini terlihat dari elastisitas investasi pada pada Kecamatan Bontang Utara terhadap kemakmuran wilayah Kota Bontang menujukan angka positip. Elastisitas kemakmuran (Wr) menunjukan angka 0,327, elastisitas positif dan berada diantara angka 0 dan 1. Artinya pusat pembangunan bersifat sub dominan. Pertumbuhan bersifat sub dominan bermakna bilamana ada investasi sebesar 10 persen di Kecamatan Bontang Utara, akan menghasilkan pendapatan kurang dari 10 persen. b. Pusat Pertumbuhan Sejalan dengan konsep pusat pembangunan, maka daerah perkotaan dikatakan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre), jika elastisitas investasi di Kecamatan Bontang Utara terhadap investasi di Kecamatan Bontang Barat dan Kecamatan Bontang selatan adalah positif, maka daerah tersebut dapat dikatakan propulsive region atau sebagai wilayah andalan. Jika dilihat angka elastisitas Kecamatan Bontang Utara terhadap Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat lebih besar dari 1. Maka dapat dikatakan bahwa Kecamatan Bontang Utara sebagai wilayah utama yang kuat (strong propulsive region). 4.3 Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir 4.3.1 Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi Atribut yang dipertimbangkan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekologi terdiri dari sepuluh atribut : (1) Kondisi Ekosistem Mangrove (2) Kondisi Ekosistem Padang lamun dan Seagrass (3) Kondisi Ekosistem Terumbu Karang (4) Tingkat Kerentanan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (5) Tingkat Biodiversity/ Keanekaragaman hayati wilayah pesisir dan lautan (6) Tingkat perubahan spesies (dalam 10 tahun) (7) Intensitas 105 Pencemaran/ Kerusakan Lingkungan (8) Tingkat eksploitasi Sumberdaya Pesisir dan Lautan (9) Tingkat Konservasi Ekologis yang dilakukan (10) Limbah produksi Berdasarkan hasil analisis Multi Dimensional Scaling (MDS), diketahui nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi wilayah pesisir Kota Bontang per kecamatan yakni; Kecamatan Bontang Utara sebesar 44,46 (kurang berkelanjutan) dan Kecamatan Bontang Selatan sebesar 47,12 (kurang berkelanjutan), sementara Kecamatan Bontang Barat memiliki kondisi ekologi yang cukup berkelanjutan dengan nilai sebesar 59,72. Hasil analisis MDS seperti tersaji pada Gambar 11 berikut ; 60 Up Other Distingishing Features 40 20 0 0 59,72 44,46 Bad 20 40 Kondisi Wilayah Good 60 47,12 80 100 120 Reference anchors Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 11. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Ekologis Bontang Sedangkan, hasil analisis Leverage terdapat empat atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi: (1) Ekositem terumbu karang, (2) Tingkat Biodiversity (3) Tingkat perubahan spesies, dan (4) Intensitas pencemaran. Adapun hasil analisis Leverage terlihat seperti pada Gambar 12 berikut ; 106 Limbah produksi Ekosistem Mangrove Ekosistem Padang lamun dan seagrass Attribute Ekosistem Terumbu Karang Tingkat kerentanan ekologis Tingkat Biodiversity Tingkat perubahan spesies Intensitas pencemaran Tingkat eksploitasi Tingkat Konservasi ekologis 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 Gambar 12. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Ekologis Bontang Munculnya atribut yang sensitif, berupa menurunnya keanekaragaman hayati biota laut serta perubahan spesies di wilayah pesisir tentunya merupakan dampak dari rusaknya ekosistem terumbu karang akibat pembangunan industri di wilayah pesisir Kota Bontang, hal ini diperparah dengan intensitas pencemaran yang tinggi akibat limbah operasional industri serta limbah rumah tangga di wilayah pesisir akibat tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. 4.3.2 Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi terdiri dari sepuluh atribut, antara lain : (1) Pangsa pasar produk kelautan, (2) Indeks kemiskinan masyarakat, (3) Jumlah tenaga kerja yang aktif di sektor pesisir, (4) Kelayakan usaha produksi pesisir, (5) kontribusi sektor pesisir terhadap PDRB, (6) Ketergantungan konsumen terhadap hasil kelautan, (7) Peningkatan atas keuntungan usaha, (8) Peluang dan alternatif dalam memperoleh pendapatan usaha lain, (9) Kesetaraan dalam pendapatan (gini ratio), dan (10) Subsidi pemerintah. 107 Analisis MDS menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi wilayah pesisir Kota Bontang per Kecamatan masing-masing sebesar 56,45 (cukup berkelanjutan) berkelanjutan) untuk untuk Kecamatan Bontang Kecamatan Bontang Selatan Utara, dan 55,27 (cukup 37,97 (kurang berkelanjutan) untuk Kecamatan Bontang Barat. Perbedaan signifikan antara Kecamatan Bontang Utara, Bontang Selatan dengan Bontang Barat karena wilayah Bontang Barat merupakan wilayah pemekaran baru di Kota Bontang sehingga aktifitas ekonomi relatif masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya, disamping itu wilayah Bontang Barat yang bersentuhan langsung dengan wilayah pesisir juga relatif kecil. Nilai indeks keberlanjutan i tersaji pada Gambar 13 berikut ini. 60 Up Other Distingishing Features 40 20 56,45 55,27 Bad 0 0 Kondisi Wilayah Good 37,97 20 40 60 80 100 120 Reference anchors Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 13. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Ekonomi Bontang Hasil analisis Leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi : (1) Kelayakan usaha, (2) Kontribusi terhadap PDRB, dan (3) Ketergantungan konsumen terhadap produk kelautan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan dimensi ekonomi dimasa yang akan datang, atribut-atribut tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik. Adapun atribut yang sensitif hasil analisis Leverage seperti tersaji pada Gambar 14 berikut ini. 108 Pangsa pasar produk Persentase penduduk miskin Tenaga kerja sektoral Attribute Kelayakan Usaha Kontribusi terhadap PDRB Ketergantungan konsumen Peningkatan keuntungan usaha Peluang dan alternatif pekerjaan lain Kesetaraan pendapatan Subsidi pemerintah 0 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 14. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Ekonomi Bontang 4.3.3 Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Budaya Atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial-budaya terdiri dari sembilan atribut: (1) Tingkat pendidikan formal masyarakat, (2) Tingkat pengetahuan kelestarian lingkungan masyarakat, (3) Tingkat penyerapan tenaga kerja sektoral, (4) Pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pesisir, (5) Jumlah desa dengan penduduk yang bekerja di sektor pesisir, (6) Prilaku masyarakat terhadap keberlanjutan, (7) Peran masyarakat adat/ lokal dalam kegiatan pesisir, (8) Konflik kepentingan dan pemanfaatan ruang pesisir, dan (9) Perubahan perilaku masyarakat dalam praktek pengelolaaan pesisir. Hasil analisis MDS diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial-budaya di wilayah pesisir Bontang sebesar 50,70 (cukup berkelanjutan) di Kecamatan Bontang Utara, 46,89 (kurang berkelanjutan) di Kecamatan Bontang Selatan dan 46,92 (kurang berkelanjutan) di wilayah Kecamatan Bontang Barat. Sementara hasil analisis laverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya : (1) Jumlah desa dengan penduduk bekerja di sektor pesisir, (2) Peran masyarakat adat / lokal. Nilai 109 keberlanjutan dan hasil analisis leverage tersaji pada Gambar 15 dan Gambar 16 berikut ; 60 Up Other Distingishing Features 40 20 0 Bad 0 20 40 46,92 46,90 60 50,71 Kondisi Wilayah Good 80 100 Reference anchors 120 Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 15. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Sosial Budaya Kota Bontang Tingkat pendidikan formal Pengetahuan kelestarian lingkungan Attribute Tingkat penyerapan tenaga kerja sektoral Pemberdayaan masyarakat Jumlah desa Pesisir Prilaku masyarakat terhadap keberlanjutan Peran masyarakat adat/ lokal Konflik kepentingan dan pemanfaatan ruang Perubahan dalam praktek pengelolaan 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 Gambar 16. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Sosial Budaya Kota Bontang 110 Munculnya atribut sensitif, seperti disebutkan di atas, karena hampir seluruh wilayah di Bontang berbatasan dengan pesisir lautan, namun demikian perilaku masyarakat terhadap keberlanjutan wilayah pesisir relatif masih kurang, akibat tingkat heterogenitas penduduk yang tinggi sehingga peran masyarakat setempat juga dirasakan masih tergolong rendah 4.3.4 Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastruktur dan teknologi terdiri dari sepuluh atribut, antara lain: (1) Perubahan tekhnologi, (2) Selektif dalam memilih peralatan yang ramah lingkungan, (3) Penggunaan mesin dalam proses produksi, (4) Dampak penggunaan tekhnologi, (5) Ketersediaan teknologi informasi, (6) Ketersediaan industri pengolahan lanjutan tingkat penggunaan alat dan mesin, (7) Standardisasi dan sertifikasi mutu produk, (8) Stabilitas pemanfaatan tekhnologi (9) Infrastuktur fasilitas umum pendukung, dan (10) Infrastruktur transportasi dan distribusi. Hasil analisis MDS menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi wilayah pesisir Bontang relatif tinggi jika dibandingkan dengan nilai indeks dimensi lainnya, hal ini dapat terlihat dari indeks Kecamatan Bontang utara yang mencapai nilai 74,77 (cukup berkelanjutan) diikuti dengan indeks Kecamatan Bontang Selatan sebesar 65,49 (cukup berkelanjutan) serta Kecamatan Bontang Barat yang memperoleh nilai 54,20 (cukup berkelanjutan). Sementara hasil analisis leverage diperoleh lima atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi : (1) Ketersediaan tekhnologi informasi, (2) Industri pengolahan lanjutan, (3) Stabilitas pemanfaatan tekhnologi, (4) Dampak penggunaan tekhnologi, dan (5) Standarisasi dan sertifikasi mutu produk. Adapun nilai keberlanjutan hasil analisis MDS dan nilai atribut yang sensitif hasil analisis leverage tersaji pada Gambar 17 dan Gambar 18 berikut ; 111 60 Up Other Distingishing Features 40 20 74.77 65.50 Kondisi Wilayah Bad 0 0 Good 20 40 60 54.21 80 100 Reference anchors 120 Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 17. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi wilayah pesisir Kota Bontang Perubahan tekhnologi Selektif dalam peralatan (ramah lingkungan) Penggunaan mesin produksi Attribute Dampak penggunaan tekhnologi Ketersediaan tekhnologi informasi Industri pengolahan lanjutan Standarisasi dan sertifikasi mutu produk Stabilitas pemanfaatan Infrastruktur fasilitas umum pendukung Infrastruktur transportasi dan distribusi 0 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 18. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi wilayah pesisir Kota Bontang 112 Munculnya atribut yang sensitif kelompok pertama, seperti industri pengolahan lanjutan dan standardisasi mutu produk, lebih disebabkan karena di wilayah Bontang belum banyak dijumpai industri pengolahan hasil kelautan, sehingga standardisasi mutu dan sertifikasi bagi produk kelautan yang akan dijual ke pasaran masih bersifat tradisional. Munculnya atribut lain yang sensitif, seperti keberadaan teknologi informasi belum tersedia dan berjalan secara optimal, stabilitas pemanfaatan tekhnologi serta dampaknya dalam peningkatan produksi, hal ini muncul karena pada umumnya masyarakat Kota Bontang belum menggunakan peralatan yang memadai, melainkan lebih banyak yang menggunakan perlatan secara tradisional. Demikian pula dengan teknologi informasi di wilayah ini. Sarana tersebut belum digunakan secara optimal. Berbagai informasi yang berkaitan dengan perkembangan teknologi lebih banyak diperoleh melalui kegiatankegiatan penyuluhan yang disampaikan oleh petugas setempat. 4.3.5 Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari sembilan atribut, antara lain: (1) Kesetaraan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir, (2) Penjangkauan penyuluhan dan pembinaan, (3) Keberadaan kelembagaan penyuluhan sosial, (4) Keberadaan organisasi masyarakat sipil (OMS), (5) Mekanisme tekhnis pengelolaan kawasan pesisir, (6) Sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, (7) Ketersediaan perangkat hukum/ regulasi setempat, (8) Tatakelola pemerintahan yang baik, dan (9) Hubungan antar stakeholders. Hasil analisis MDS diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi hukum dan kelembagaan wilayah pesisir Bontang untuk Kecamatan Bontang Utara sebesar 60,00 (cukup berkelanjutan), Kecamatan Bontang Selatan sebesar 55, 01 (cukup berkelanjutan), dan Kecamatan Bontang Barat sebesar 50,98 (kurang berkelanjutan). Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh empat atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan : (1) Penjangkauan penyuluhan dan pembinaan, (2) Keberadaan kelembagaan 113 penyuluh sosial, (3) Sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, (4) Ketersediaan perangkat hukum/ regulasi lokal setempat. Adapun nilai indeks keberlanjutan dan atribut yang sensitif hasil analisis leverage, seperti tersaji pada Gambar 19 dan Gambar 20 berikut ; 60 Other Distingishing Features Up 40 20 0 Bad 0 20 40 60,01 55,01 60 80 50,98 Kondisi Wilayah Good 100 Reference anchors 120 Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 19. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Hukum dan Kelembagaan wilayah pesisir Kota Bontang Kesetaraan pemanfaatan ruang Penjangkauan penyuluhan dan … Attribute Kelembagaan penyuluh sosial Organisasi masyarakat sipil Mekanisme tekhnis Sinkronisasi kebijakan Pusat - Daerah Regulasi lokal Tatakelola pemerintahan Hubungan antar stakeholder 0 Gambar 20. 1 2 3 4 5 6 Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Hukum Kelembagaan wilayah pesisir Kota Bontang dan 114 Munculnya atribut sensitif pertama, berupa sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, dan regulasi kebijakan ditingkat lokal, hal disebabkan karena masalah pesisir belum tercover sepenuhnya oleh kebijakan pengembangan pesisirsecara terpadu, kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih bersifat umum dan biasanya ditentukan secara top down , dan belum terintegrasi sampai level grassroot, sementara kondisi dan permasalahan yang dialami setiap daerah berbeda-beda, sehingga kebijakan tersebut terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan di daerah. Dalam rangka pengembangan kawasan pesisir, seharusnya diusulkan secara bottom up yang berasal dari kalangan grassroot yang mengetahui persis kondisi dan permasalahan daerahnya. Munculnya atribut sensitif kedua, yaitu terkait dengan keberadaan lembaga penyuluh sosial dan penjangkauan kegiatan dari lembaga tersebut, keberadaan kelembagaan sosial sangat penting dalam memberikan pemahanan pada masyarakat guna menciptakan pengelolaan wilayah yang berkelanjutan, aktivitas eksploitasi sumberdaya pesisir tidak hanya mengedepankan sisi keuntungan saat ini semata terapi bagaimana potensi tersebut dapat dikelola hingga lintas generasi, sehingga lembaga penyuluhan sosial dapat lebih berperan sesuai dengan fungsinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat setempat. 4.3.6 Status Keberlanjutan Multidimensi Secara multidimensi, nilai indeks keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang saat ini (existing condition), sebesar 53,73 dan termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Ini berarti bahwa jika dilihat dari sisi weak sustainability , maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori berkelanjutan. Sebaliknya, jika dilihat dari sisi strength sustainability, maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori belum berkelanjutan, karena masih ada dimensi keberlanjutan yang berada pada kategori kurang atau tidak berkelanjutan, yaitu dimensi ekonomi serta dimensi sosial budaya. Nilai ini diperoleh berdasarkan penilaian terhadap 48 atribut dari lima dimensi keberlanjutan. Dari 48 atribut yang dianalisis, terdapat 19 atribut yang sensitif berpengaruh atau perlu diintervensi untuk meningkatkan status keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang. 115 Adapun perbandingan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan di tiap Kecamatan Kota Bontang, seperti pada Gambar 21 berikut. EKOLOGI 100,00 75,00 HUKUM DAN KELEMBAGAAN 50,00 25,00 EKONOMI 0,00 INFRASTRUKTUR DAN TEKHNOLOGI BONTANG UTARA SOSIAL BUDAYA BONTANG SELATAN BONTANG BARAT Gambar 21. Diagram Layang Perbandingan Hasil Analisis MDS Terhadap Tingkat Keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang Tingkat kesalahan dalam analisis MDS dapat dilihat dengan melakukan analisis Monte Carlo. Analisis ini dilakukan pada tingkat kepercayaan sekitar 95 persen. Berdasarkan hasil analisis Monte Carlo, menunjukkan bahwa kesalahan dalam analisis MDS dapat diperkecil. Ini terlihat dari nilai indeks keberlanjutan pada analisis MDS tidak banyak berbeda dengan nilai indeks pada analisis Monte Carlo. Ini berarti, kesalahan dalam proses analisis dapat diperkecil, baik dalam hal pembuatan skoring setiap atribut, variasi pemberian skoring karena perbedaan opini relatif kecil, dan proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, serta kesalahan dalam menginput data dan data hilang, dapat dihindari. Dalam rangka mengetahui apakah atribut-atribut yang dikaji dalam analisis MDS dilakukan cukup akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dilihat dari nilai stress dan nilai Squared Correlation (RSQ). Nilai ini 116 diperoleh secara otomatis dalam analisis MDS dengan menggunakan software Rapfish yang telah dimodifikasi. Hasil analisis dianggap cukup akurat dan dapat dipertanggung-jawabkan apabila memiliki nilai stress lebih kecil dari 0,25 atau 25 persen dan nilai Squared Correlation (RSQ) mendekati nilai 1,0 atau 100 persen (Kavanagh dan Pitcher, 2004). Dari hasil analisis MDS diperoleh nilai stress tiap attribut yaitu ; dimensi ekologi memiliki nilai stress sebesar 0,15 dengan tingkat kepercayaan 95%, dimensi ekonomi dengan nilai stress sebesar 0,14 dan tingkat kepercayaan 95%, dimensi sosial budaya memiliki nilai stress tertinggi yakni 0,17 dengan tingkat kepercayaan terendah hanya 91%, sedangkan dimensi infrastruktur dan tekhnologi serta hukum dan kelembagaan memiliki nilai stress yang sama yakni 0,14 dengan tingkat kepercayaan masing-masing sebesar 95% dan 94%, Adapun nilai stress dan Squared Correlation (RSQ) tersaji secara lengkap pada Tabel 29 berikut. Tabel 29. Nilai Stress dan Squared Correlation (RSQ) dari hasil Analisis MDS Stress Squared Correlation (RSQ) (%) Dimensi Ekologi 0.15 95% Dimensi Ekonomi 0.14 95% Dimensi Sosial Budaya 0.17 91% Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi 0.14 95% Dimensi Hukum dan Kelembagaan 0.14 94% Attribut Sumber : data diolah Dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji, cukup akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, terlihat dari nilai stress yang yang bernilai lebih kecil dari 0,25 dimana hanya berkisar antara 0,14 sampai 0,17 dengan nilai Squared Correlation (RSQ) yang diperoleh berkisar antara 91% sampai 95%, artinya hasil analisis sudah cukup baik dimana variabel atribut yang dipilih untuk dinilai telah mampu menjelaskan mendekati 100% dari kondisi realitas model yang ada. Hasil tabulasi skor indikator keberlanjutan sumberdaya wilayah pesisir disajikan pada Lampiran 2. 117 4.4 Analisis Desain Strategi CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Berdasarkan analisis ekonomi wilayah pesisir dan keberlanjutan wilayah pesisir, terlihat bahwa peran ekonomi yang besar dari perusahaan pengolahan termasuk PKT ternyata belum dapat mendukung keberlanjutan pembangunan wilayah pesisir Kota Bontang. Dengan demikian maka peran PKT harus lebih ditingkatkan dan diarahkan pada pengembangan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang. Oleh karena itu sangat penting dilakukan analisis desain strategi dalam pemberdayaan ekonomi dan sumberdaya pesisir di Kota Bontang. Dalam rangka analisis tersebut dilakukan wawancara dengan berbagai stakeholders terhadap program CSR PKT, secara rinci hasil wawancara ditabulasikan dan disajikan pada Lampiran 2 sampai Lampiran 11. Hasil analisis desain strategi CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir adalah sebagai berikut ; 4.4.1 Analisis Peran dan Efektifitas Program CSR Peran dan efektifitas pelaksanaan program CSR dapat terlihat dengan melakukan Analisis Kesenjangan (Gap Analysis) dan Importance Performance Analysis (IPA). Analisis Kesenjangan digunakan untuk mengetahui kesenjangan antara harapan masyarakat sebagai penerima manfaat program CSR PKT dengan kinerja yang dicapai juga menurut masyarakat tersebut. Analisis selanjutnya adalah Importance Performance Analysis (IPA), dimana dalam analisis ini dapat terlihat posisi masing-masing indikator dalam diagram kartesian. Penempatan posisi masing-masing indikator tersebut menentukan rekomendasi terhadap indikator tersebut. 1) Analisis Kesenjangan (Gap Analysis) Mayoritas responden masyarakat menyatakan bahwa program CSR telah tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tingkat persetujuan masyarakat terhadap ketepatan sasaran dan kesesuaian program masingmasing sebesar 77,5% dan 82,5% responden masyarakat menyatakan bahwa program CSR telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Opini positif 118 responden masyarakat tersebut senada dengan opini yang dikeluarkan oleh responden keluarga karyawan dan mitra binaan. Data kuesioner menunjukkan bahwa keseluruhan responden keluarga karyawan dan mitra binaan menyatakan penilaian positif terhadap ketepatan sasaran dan kesesuaian program terhadap kebutuhan mereka. Lebih lanjut keseluruhan responden pada kelompok mitra binaan menyatakan bahwa perlu adanya keberlanjutan pelaksanaan program CSR PKT. Terkait besarnya kebutuhan masyarakat terhadap bidang pelaksanaan program, keseluruhan responden menyatakan bahwa program di bidang olahraga sangat dibutuhkan. Bidang olahraga menjadi satu-satunya bidang yang mendapat seluruh suara responden. Di sisi lain sebanyak 27,5% responden menyatakan belum terdapat program CSR bidang olahraga. Data tersebut memberikan gambaran bahwa masih terdapat sebagian masyarakat yang belum dapat merasakan atau belum mengetahui adanya pelaksanaan program CSR pada bidang olahraga. Tingkat kebutuhan responden masyarakat pada bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, kesenian, dan bencana masing-masing sebesar 85%, 95%, 95%, 90% dan 80%. Sedangkan tingkat keberadaan program pada masingmasing bidang tersebut adalah sebesar 52,5%; 75%; 82,5%; 57,5% dan 57,5%. Pada bidang kesehatan, kesenian dan bencana terlihat adanya gap yang cukup jauh antara tingkat kebutuhan dan keberadaan program. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa harapan masyarakat tentang adanya pelaksanaan program CSR pada ketiga bidang tersebut belum dapat terpenuhi dengan baik. Kesenjangan antara kebutuhan dan keberadaan program pada bidang pendidikan dan ekonomi tidak terlalu jauh, dengan demikian keberadaan program pada kedua bidang tersebut telah cukup baik memenuhi kebutuhan yang dirasakan masyarakat. Semakin besarnya kesenjangan yang terjadi mengindikasikan semakin besarnya kebutuhan masyarakat yang belum dapat dipenuhi oleh program CSR. Pada kelompok responden keluarga masyarakat, gap antara keberadaan dan kebutuhan program pada bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, kesenian, olahraga dan bencana masing-masing sebesar 32,5%; 20%; 12,5%; 32,5%; 30% 119 dan 22,5%. Gap terkecil terjadi pada bidang ekonomi, sedangkan gap terbesar terjadi pada bidang kesehatan dan kesenian. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa kebutuhan keluarga karyawan pada bidang ekonomi merupakan kebutuhan yang paling dapat dipenuhi oleh kegiatan CSR PKT, sedangkan kebutuhan karyawan pada bidang kesehatan dan kesenian merupakan kebutuhan yang paling belum dapat dipenuhi oleh kegiatan CSR PKT. Tidak terpenuhinya kebutuhan responden oleh kegiatan CSR dapat disebabkan oleh dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah belum tersedianya program CSR yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sedangkan kemungkinan kedua adalah belum diketahuinya keberadaan program oleh kelompok responden. Dalam hal keterlibatan, persentase responden keluarga karyawan dan responden masyarakat yang merasa dilibatkan dalam proses perencanaan program CSR masing-masing sebanyak 66,67% dan 52,50%. Besarnya persentase responden keluarga karyawan yang merasa dilibatkan pada proses persiapan program perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, dan pemanfaatan masing-masing mencapai 66,67%; 83,33%; 50% dan 83,33% Sedangkan besarnya persentase responden yang merasa dilibatkan pada keempat tahapan program CSR tersebut masing-masing adalah 50%; 57,5%; 12,5% dan 65%. Berdasarkan data tersebut maka dapat terlihat bahwa persentase keluarga karyawan yang merasa dilibatkan pada penyelenggaraan kegiatan CSR PKT cenderung lebih besar dibandingkan dengan persentase masyarakat yang merasa dilibatkan pada penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kelompok responden keluarga karyawan mayoritas dilibatkan pada tahapan pelaksanaan dan pemanfaatan, demikian pula dengan kelompok responden masyarakat. Tahapan kegiatan CSR yang paling sedikit melibatkan kelompok keluarga karyawan dan masyarakat adalah monitoring dan evaluasi. Analisis terhadap kinerja berbagai indikator menunjukkan bahwa beberapa diantaranya memberikan point yang kurang bagus, dari sudut pandang masyarakat. Beberapa indikator yang menunjukkan kinerja kurang baik ditunjukkan oleh persepsi TB (Tidak baik) dan KB (kurang baik) yang dominan diberikan oleh masyarakat. Sementara untuk indikator yang menunjukkan kinerja 120 baik, dimana ditunjukkan oleh SB (sangat baik) dan B (baik) yang dominan diberikan oleh masyarakat, adalah indikator jumlah penerima saran, jumlah dana program, secara keseluruhan penilaian indikator tersebut tersaji pada Gambar 22 berikut ; Pendampingan Program Keterlibatan Stakeholders Mekanisme Pelaksanaan Program Pengaruh Program terhadap Masyarakat Tingkat Keberlanjutan Program Jumlah Dana Program Kuantitas Penerima Manfaat Ketepatan Sasaran Program Bina Lingkungan Program Kemitraan 0 Tidak Baik Kurang Baik 10 Cukup Baik 20 30 40 Baik Sangat Baik 50 Gambar 22. Penilaian Masyarakat Terhadap Kinerja Indikator CSR Sementara harapan masyarakat terhadap masing-masing indikator yang sama menunjukkan hasil sebagai berikut : indikator yang dianggap sangat penting oleh masyarakat dimana ditunjukkan oleh dominasi SP (sangat penting) dan P (penting) diberikan masyarakat, diantaranya adalah indikator ketepatan sasaran, jumlah penerima manfaat, kontiunitas program, dampak program terhadap masyarakat, perencanaan program, koordinasi program, dan pendampingan masyarakat yang melekat dalam program tersebut. Sementara indikator lainnya menunjukkan persepsi yang cukup penting. Penilaian masyarakat atas tingkat kepentingan indikator CSR tersaji pada Gambar 23 berikut ; 121 Pendampingan Program Keterlibatan Stakeholders Mekanisme Pelaksanaan Program Pengaruh Program terhadap Masyarakat Tingkat Keberlanjutan Program Jumlah Dana Program Kuantitas Penerima Manfaat Ketepatan Sasaran Program Bina Lingkungan Program Kemitraan 0 Tidak Penting Kurang Penting 10 20 30 Cukup Penting 40 50 Penting 60 70 80 90 Sangat Penting Gambar 23. Penilaian Masyarakat Terhadap Indikator Kepentingan CSR. Hasil kombinasi antara kinerja dan harapan masyarakat terhadap masingmasing indikator tersebut menggambarkan kesenjangan yang terjadi antara harapan dan kenyataan. Kesenjangan antara harapan stakeholder terhadap program CSR dan kinerja yang ditunjukkan selama ini merupakan sekat yang harus diperhatikan. Hal ini bisa terjadi karena dua hal yaitu estimasi masyarakat yang terlampau tinggi terhadap program yang akan dilaksanakan dan yang kedua dikarenakan performance terhadap indikator yang dianalisis memberikan hasil bahwa kinerja harus ditingkatkan, dari hasil analisis terlihat bahwa indikator jumlah dana program, program kemitraan dan program bina lingkungan serta kuaantitas penerima manfaat memiliki tingkat kesesuaian yang relatif lebih tinggi dibandingakn dengan indikator CSR lainnya. Pencapaian kinerja terhadap ekspektasi masyarakat tersaji pada Gambar berikut : 122 Pendampingan Program Keterlibatan Stakeholders Mekanisme Pelaksanaan Program Pengaruh Program terhadap Masyarakat Tingkat Keberlanjutan Program Jumlah Dana Program Kuantitas Penerima Manfaat Ketepatan Sasaran Program Bina Lingkungan Program Kemitraan 0% Gambar 24. Perbandingan Masyarakat. 2) Indikator 20% Kinerja 40% 60% 80% CSR Terhadap 100% Harapan Importance Performance Analysis (IPA) Dalam IPA, dimana mengkombinasikan antara indikator performance dan indikator importance, terlihat bahwa seluruh atribut indikator CSR memiliki nilai penting bagi responden, hal ini tergambar dari letak atibut indikator CSR seluruhnya berada pada wilayah kuadran I dan II. Di posisi kuadaran II dengan indikasi bahwa indikator dan program yang termasuk dalam kuadran ini sudah sesuai antara kinerja dan harapan masyarakat. Terdapat 5 atribut indikator CSR, yakni ; jumlah dana program, program kemitraan, program bina lingkungan, kuantitas penerima manfaat serta pengaruh program terhadap masyarakat yang masuk dalam kuadran ini, oleh karena itu rekomendasi yang tepat adalah mempertahankan prestasi yang sudah dicapai, sehingga kedepan bisa diraih prestasi yang lebih baik lagi. Posisi kuadran terlihat pada gambar berikut ; 123 100 8 90 10 6 37 4 9 80 2 IMPORTANCE 70 5 1 KUADRAN I KUADRAN II KUADRAN III KUADRAN IV 60 50 40 30 20 10 0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 PERFORMANCE Gambar 25. Diagram Performance dan Importance Indikator CSR. Keterangan : 1. Program Kemitraan 2. Program Bina Lingk ungan 3. Ketepatan Sasaran 4. Kuantitas Penerima Manfaat 5. Jumlah Dana Program 6. Tingkat Keberlanjutan Program 7. Pengaruh Program terhadap Masyarakat 8. Mekanisme Pelaksanaan Program 9. Keterlibatan Stakeholders 10. Pendampingan Program Dari gambar tersebut terlihat bahwa aspek yang termasuk dalam kuadran I adalah mekanisme pelaksanaan program, pendampingan program, tingkat keberlanjutan program, keterlibatan stakeholders dan ketepatan sasaran diindikasikan bahwa kinerja aspek indikator tersebut belum sesuai dengan harapan yang di ekspektasikan oleh masyarakat. Bisa disebabkan oleh dua hal yaitu ekspektasi yang terlalu tinggi atau kinerjanya memang rendah sehingga belum memenuhi ekspektasi tersebut. Program dan indikator yang termasuk kedalam kuadran ini harus menjadi perhatian yang serius bagi para pelaksana 124 dan perencana CSR di lapangan. Oleh karena itu rekomendasinya adalah prioritas untuk diperhatikan dan ditingkatkan kinerjanya. Indikator dan program yang termasuk kedalam kuadran ini adalah aspek kontinuitas program, perencanaan program, koordinasi program dan pendampingan masyarakat. Tiga dari lima aspek yang termasuk kedalam kuadran ini dan direkomendasikan untuk diperhatikan adalah variabel dalam mekanisme pelaksanaan program sehingga implementasi dalam rangka meningkatkan kinerjanya sangat bertumpu kepada kemampuan organisasi dan tata kelola organisasi dalam rangka memprogram CSR menjadi lebih baik. Sementara satu aspek yang juga direkomenasikan penting untuk diperhatikan adalah variabel teknis dimana sangat berperan dalam keberhasilan pemberdayaan masyarakat yaitu aspek pendampingan program, disadari atau tidak disadari aspek ini memang merupakan salah satu kelemahan dalam pelaksanaan CSR PKT selama ini. 4.4.2 1) Model Pelaksanaan CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Pemberdayaan masyarakat pesisir dirancang selain untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi, juga dapat menjadi media pelestarian nilai-nilai lokal yang adaptif terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup. Usaha ekonomi yang dikembangkan merupakan usaha yang sesuai dengan potensi sumberdaya (sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan) setempat, yang memiliki prospek pemasaran produk hasil pemberdayaan ini baik dilingkungan setempat maupun dalam jaringan pasar yang lebih luas. Selain memperhatikan keberadaan kondisi masyarakat dan sumberdaya alam setempat serta aspek prospek pemasaran yang lebih luas, seyogyanya juga mempertimbangkan core business PKT, yaitu terkait dengan keberadaan PKT itu tidak membahayakan lingkungan. Sebaliknya, justru dengan keberadaan masyarakat pesisir yang diberdayakan tersebut membuktikan secara visual bahwa PKT telah berperan nyata bagi kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat di sekitarnya sedemikian rupa sehingga tidak sekedar penyaluran 125 dana CSR, tetapi ada misi membangun model yang dapat menjadi contoh bagi pemberdayaan masyarakat ditempat lain oleh pihak lain yang berkepentingan. Lokasi pemberdayaan masyarakat (komunitas pesisir) ini dikawasan buffer zone. Selain lebih bermanfaat untuk membuktikan bahwa secara nyata PKT telah berperan nyata bagi kehidupan sekitarnya secara selaras dan serasi. Indikasi kesiapan masyarakat menuju kemandiriaannya adalah berfungsinya kelembagaan mayarakat yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat, misalnya permodalan usaha dan pemasaran hasil produksi masyarakat yang diberdayakan. Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) yang menjadi dasar praktek tanggung jawab sosial BUMN, merupakan kebijakan sosial BUMN yang menyatu dengan dukungan terhadap usaha kecil dan koperasi yang disebut program kemitraan (PK). Kedua aspek tersebut baik program BL maupun PK, terwadahi dalam suatu ketentuan hukum yang sama. Ada tiga persoalan dalam menerapkan program PKBL, pertama Kepmen235/MBU/2003 menyangkut pembatasan terhadap lima objek bantuan (pendidikan, kesehatan sarana umum, sarana ibadah dan bencana alam). Kedua, terkait dengan manajemen program ditingkat BUMN yang masih bersifat top down dan memerlukan persetujuan dari manajemen pusat bagi BUMN. Ketiga, menyangkut minimnya blue print (cetak biru kebijakan). Tak jarang pelaksanaan tanggung jawab sosial BUMN hanya didasarkan pada keinginan baik dan dimensi etis, tetapi belum dirumuskan dalam suatu kebijakan tertulis oleh perusahaan BUMN. a. Deskripsi Peserta Program Kemitraan dan Non Program Kemitraan Sebagaian besar peserta program kemitraan PKT tinggal di Kelurahan Lhoktuan, tepatnya 64, 3 % dan 35,7 % lainnya bukan peserta kemitraan PKT dan mereka tersebar di tiga desa 14, 3 % di Kelurahan Lhoktuan,1 % di Kelurahan Belimbing. Jika diamati pendidikan dari peserta program kemitraan akan didapat variasi sebagai berikut : 10 % tidak tamat SD, 30 % tamat SMP dan 5 % tamat SMA. Selain tingkat pendidikan, ternyata sebagian besar 126 peserta program kemitraan PKT 35% nya memiliki pekerjaan utama sebagai pedagang dan sisanya 10% sebagai nelayan. b. Perkembangan Responden. Penduduk Kota Bontang Berdasarkan Persepsi Seluruh responden menyatakan bahwa pendapatan mereka meningkat atau mereka memiliki sumber pendapatan tambahan saat ini. Begitupula dengan tingkat pendidikan formal dikeluarga saat ini 70 % responden lebih baik saat ini. Persepsi ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan dan pendidikan semakin baik. c. Dampak langsung, dampak tidak langsung dan pemicu Sebagian besar responden atau tepatnya 65 % menyatakan bahwa PKT tidak memberikan manfaat langsung. Artinya sebagian besar responden sebagai penduduk Kota Bontang tidak dapat diterima sebagai karyawan atau pegawai. Persepsi ini perlu dipahami jika dikaitkan dengan kebutuhan, tingkat pendidikan masyarakat, sehingga PKT harus juga turut memikirkan manfaat langsung yang dapat dirasakan masyarakat Kota Bontang sesuai dengan kemampuan mereka. Dampak tidak langsung dari keberadaan PKT juga dirasakan juga kurang berperan bagi masyarakat hal ini diindikasikan dari 61,1% masyarakat yang menyatakan tidak ada dampak ekonomi atau peluang usaha keberadaan PKT. Menariknya lagi dari data ini adalah semua peserta program kemitraan (PK) PKT menyatakan tidak menerima manfaat dari dampak tidak langsung ini. Artinya ada kecenderungan bahwa peserta program kemitraan (PK) PKT tidak integrasi dengan peluang bisnis yang ada perusahaan tersebut. Dampak pemicu lainnya seperti berkembangnya infrastruktur jalan, listrik, ternyata memberikan mafaat yang cukup besar bagi responden. Secara validasi angka dapat dikatakan lebih dari 88% responden menyatakan berkembangnya infrastruktur memberikan mafaat yang sangat besar bagi perkembangan ekonomi. Jika dikaitkan dengan pertumbuhan tenaga kerja, ternyata hanya 27,8% responden yang menyatakan adanya pertambahan tenaga kerja atau karyawan. Dari data ini ternyata dampak pemicu sebagai instrumen yang mampu menyerap tenaga kerja cukup besar lebih dari 127 seperempatnya dari total 88% responden yang merasa terbantu secara ekonomi. Artinya peran dampak pemicu dalam menciptakan lapangan kerja baru, memiliki posisi lebih dari 20%. Terkait pengetahuan responden terhadap program PKBL PKT serta seberapa besar program tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat dapat terlihat dari uraian sebagai berikut : 1. Bantuan pendidikan 52,6 % responden mengetahuinya tetapi hanya 55 % responden yang menikmatinya. 2. Bantuan kesehatan 52,6% mengetahui tetapi hanya 33,3% yang menikmatinya. 3. Bantuan sarana umum 100% responden mengetahuinya, dan semua responden menikmati bantuan ini. 4. Bantuan sarana ibadah, 100% responden mengetahuinya, 94,4% responden yang menikmatinya. 5. Bantuan bencana alam 52,6% mengetahuinya, hanya 50% yang menikmati. 6. Bantuan kemitraan usaha, 100% mengetahuinya dan semua responden menikmati. Dari informasi ini di dapatkan fakta yang cukup menarik menyangkut bantuan kemitraan usaha dari 100% bantuan kemitraan usaha ternyata responden mengetahui dan menikmati jenis bantuan ini. Artinya responden sebagai peserta program kemitraan dan peserta non program kemitraan ternyata mampu mengakses dan memanfaatkan dana program kemitraan PKT ini. Jika diamati sebagian besar bantuan yang diberikan kepada masyarakat berupa pelatihan bantuan peralatan dan pemberian kredit. 2) Model Program Pengelolaan Wilayah Pesisir Program CSR PKT saat ini terlihat masih belum terfokus pada upaya pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu, hal ini terindikasi dari pelaksanaan program pesisir yang relatif masih baru dilakukan dan terkesan belum menjadi prioritas dalam penganggaran program CSR PKT. Beberapa program yang termasuk secara khusus dalam pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisisr secara 128 terpadu diantaranya adalah program revitalisasi terumbu karang dan penanaman mangrove di sekitar kawasan pesisir Kota Bontang. Program revitalisasi terumbu karang dilakukan dengan menanam concreteblock dengan pipa paralon tempat penyemaian bibit karang di kawasan perairan yang kondisi vegetasi terumbu karangnya telah rusak. Dari penyemaian ini diharapkan dapat memulihkan kembali kondisi ekosistem terumbu karang, yang menjadi tempat hidup bagi aneka biota laut, sehingga mampu meningkatkan produktifitas dan nilai ekonomis dari wilayah pesisir. Sementara pelaksanaan program penanaman mangrove yang telah dilaksanakan sejak tahun 2009, relatif menunjukkan hasil yang lebih baik. Dari sekitar 7500 bibit pohon yang ditanam, kini telah tumbuh menjadi tegakan mangrove setinggi 2 meter di kawasan HGB 63 (area Sekatup Kelurahan Bontang Baru) dan HGB 65 (area Bukit Sintuk Kelurahan Belimbing). Diperkirakan dengan upaya penanaman 10.000 pohon per tahun akan mampu merekondisi wilayah pesisir Kota Bontang menjadi lebih baik. Bila dilihat dari besar nilai anggaran, program penanaman terumbu karang buatan satuannya diperkirakan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 420.000 per unit, harga ini terdiri dari Rp. 230.000 untuk biaya pembuatan concreteblok penyemaian dan Rp. 190.000 untuk biaya angkutan dan penanaman di lokasi. Sehingga jika dikalkulasi anggaran rencana kebijakan penanaman 500 terumbu buatan mencapai sekitar Rp. 210.000.000 setiap tahunnya. Sementara program penanaman mangrove mencapai nilai Rp. 90.000.000 setiap tahun, jika diasumsikan biaya pembuatan dan penanaman berkisar Rp. 9.000 per pohon. Nilai tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total anggaran CSR PKT yang mencapai 20 milyar rupiah per tahunnya, atau jika kita hitung nilai manfaat relatif yang diperoleh dengan dampak ekologis yang ditimbulkan oleh perusahaan masih belum sebanding, sehingga nilai anggaran untuk pengelolaan wilayah pesisir haruslah proporsional, apalagi menurut perhitungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bontang, bahwa untuk mendapatkan hasil yang 129 optimal dari konservasi wilayah pesisir, maka jumlah minimal terumbu yang ditanam semestinya sebanyak 1000 buah setiap tahunnya. Disisi lain, dalam mendukung pelaksanaan program pengelolaan wilayah pesisir tersebut, tentunya sangat diperlukan peran dan pemahaman dari masyarakat luas, dari hasil survey menunjukkan bahwa sebanyak 65 % responden menyatakan masyarakat dilingkungan mereka memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang lebih baik dalam menjaga serta memelihara sumberdaya alam. Namun 52,6 % responden juga menganggap bahwa peranan masyarakat dalam mengikuti pengelolaan sumberdaya alam tersebut ternyata relatif tidak meningkat. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran masyarakat cukup baik walaupun peranan meraka dalam pengelolaan sumberdaya alam relatif tetap. Artinya kesadaran yang cukup baik ini harus ditingkatkan dalam bentuk kegiatan nyata atau agenda aksinya. Jika dikaitkan dengan program kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan perusahan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, 55 % responden menyatakan tidak ada keterpaduan antar unsur tersebut. Artinya, ada potensi pemanfaatan program kemitraan dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melibatkan masyarakat, pemerintah dan perusahaan guna mendorong peranan masyarakat harus dapat lebih aktif lagi. Sehingga kesadaran yang ada dapat diubah menjadi kegiatan nyata. Arahan dan bimbingan pemerintah dan perusahaan masih memiliki peluang untuk hal ini. 4.4.3 Desain Strategi CSR Wilayah Pesisir. Dari hasil analisis sebelumnya dapat dirumuskan permasalah utama yang dihadapi oleh kawasan pesisir Kota Bontang adalah belum terintegrasinya perencanaan kawasan pesisir yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan dan sekaligus memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan yang berkaitan dengan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut : 1) Masih dominannya sektor industri migas mengandalkan eksploitasi sumberdaya tak terbaharui (non-renewable resources) sementara sektor yang berkaitan dengan kawasan pesisir justru tertinggal jauh dibelakang. 130 2) Dinamika kegiatan penduduk kawasan pesisir yang besar menimbulkan akses-akses negatif terhadap lingkungan fisik kawasan pesisir misalnya kerusakan mangrove, terumbu karang, dan pencemaran terhadap perairan. Hal ini pada akhirnya berdampak pada menurunnya produktifitas sektor perikanan. Kegiatan perkotaan yang berdampak besar adalah Industri (PKT, BADAK) dan aktifitas penduduk yang menghasilkan limbah dan sampah. 3) Tingginya ketergantungan kawasan pesisir terhadap wilayah luar (Balikpapan dan Samarinda) dalam produk konsumsi akibat status kelayakan usaha dan produktifitas sektor perikanan yang masih rendah dalam menunjang pendapatan daerah. 4) Rendahnya keterkaitan antar sektor karena tidak didukung sarana prasarana, modal dan teknologi. Hal ini menyebabkan terputusnya rantai ekonomi sektor-sektor sehingga tidak menciptakan nilai tambah yang dapat meningkatkan pengembangan kawasan pesisir. 5) Konflik pemanfaatan dan kewenangan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil pada umumnya disebabkan adanya masalah ketidakpastian hukum yang bersumber dari ketidakselarasan antara peraturan perundangundangan, serta lemahnya pembinaan dari pemerintah. 6) Peran CSR PKT terhadap kawasan pesisir cenderung masih lemah dan bersifat sporadis, hal ini terlihat dari kinerja sebagian besar program CSR PKT yang dinilai belum cukup memenuhi harapan masyarakat dan kurang berfokus pada upaya pengelolaan kawasan pesisir terpadu. 7) Belum terbangunnya sebuah visi dan misi CSR yang berlandaskan pada sustainable development, dimana dalam implementasi program hanya dilaksanakan oleh organisasi pada level Departement, yang kurang memiliki pengaruh dalam menentukan arah kebijakan perusahaan. 4.4.4 Desain Strategi Pengembangan Wilayah Pesisir Dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang perlu dirumuskan beberapa strategi pengembangan kawasan yang pada intinya memberikan 131 akselerasi untuk memacu perkembangan kawasan pesisir dengan tetap memperhatikan aspek-aspek fisik lingkungan. Strategi pengembangan kawasan pesisir Kota Bontang terbagi menjadi strategi pengembangan secara umum dan strategi pengembangan khusus. Arahan umum adalah dengan mendorong perkembangan sektor-sektor yang berbasis sumberdaya pesisir terbaharui sehingga dapat menjadi penggerak bagi kegiatan ekonomi pesisir. Sementara strategi pengembangan secara khusus adalah dengan membangun kemandirian ekonomi masyarakat lokal, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. Dari pembahasan sebelumnya terlihat bahwa sektor perikanan tangkap masih belum teroptimalkan dengan baik begitu pula dengan budidaya rumput laut yang memiliki potensi yang sangat besar, sementara permintaan konsumsi daerah maupun luar daerah masih relatif tinggi, peluang ini dapat ditindaklanjuti dengan pemberian insentif permodalan secara tepat, pembinaan melalui upaya peningkatan kapasitas dan transfer tekhnologi dalam proses pengelolaan produksi lanjutan serta pembangunan infrastruktur dan distribusi tentunya akan mampu menjadikan semberdaya pesisir menjadi salah satu sektor unggulan di Kota Bontang. Perencanaan dan peruntukan kawasan konservasi mangrove dan terumbu karang hendaknya dapat difokuskan di wilayah Kelurahan Bontang Kuala. Hal tersebut setidaknya akan mampu menjadikan Bontang Kuala sebagai salah satu ikon wisata bahari Kota Bontang. Disamping itu, potensi wisata perumahan masyarakat di atas laut ini harus dibarengi dengan fasilitas infrastruktur transportasi dan akomodasi secara memadai dengan penataan lingkungan yang baik, konsep tersebut dapat disinergikan dengan menciptakan pemahaman dan nilai kearifan lokal dalam membangun daerah wisata yang berwawasan lingkungan. Dengan demikian potensi sektor perikanan dan kelautan dapat lebih teroptimalkan dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat dengan tetap 132 mempertahankan potensi keberlanjutan wilayah dengan konsep pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. 4.4.5 Desain Kebijakan CSR PKT Strategi pelaksanaan ini mencoba untuk menempatkan persoalan yang dihadapi oleh kawasan pesisir Kota Bontang dalam wadah solusi yang terbaik dan memunculkan banyak alternatif yang dapat dikembangkan melalui perumusaan arah kebijakan CSR PKT, sebagai berikut ; 1) Membangun Visi dan Misi CSR PKT yang berorientasi pada upaya peningkatan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang, dengan fokus utama yaitu ; berupaya memperbaiki kondisi ekosistem pesisir sehingga mampu meningkatkan status kelayakan usaha dan produktifitas di sektor perikanan, peningkatan sarana prasarana, modal dan tekhnologi yang mampu meningkatkan keterkaitan antar sektor. 2) Bersama stakeholders lainnya membangun forum CSR dengan pemerintah Kota Bontang yang lebih berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan secara terpadu, yang pada akhirnya dapat meminimalisir konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir. 3) Menempatkan penanggung jawab CSR PKT pada level yang lebih tinggi yaitu Direksi sebagai wujud komitmen perusahaan terhadap implementasi CSR, agar terbangun program CSR yang lebih ”built in” dalam kebijakan dan praktek perusahaan. 4) Membangun masterplan panduan pelaksanaan CSR di PKT secara terintegrasi antar unit kerja yang terkait dengan program CSR secara menyeluruh. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan disertasi ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Sektor basis di Kota Bontang didominasi oleh industri pengolahan, dengan nilai LQ > 1. Keberadaan industri pengolahan (PKT) signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Bontang dengan nilai koefisien multiplier sebesar 1,582 terhadap PDRB, namun tidak memberikan kontribusi secara langsung pada penciptaan kesempatan kerja, pembukaan peluang usaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat lokal. 2. Secara multidimensi, nilai indeks keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang saat ini (existing condition), sebesar 53,73 dimana termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Ini berarti bahwa jika dilihat dari sisi weak sustainability , maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori berkelanjutan. Sebaliknya, jika dilihat dari sisi strength sustainability, maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori belum berkelanjutan, karena masih ada dimensi keberlanjutan yang berada pada kategori kurang atau tidak berkelanjutan, yaitu dimensi ekonomi serta dimensi sosial budaya. 3. Berdasarkan analisis ekonomi dan keberlanjutan wilayah, terlihat bahwa peran ekonomi yang besar dari industri pengolahan termasuk PKT ternyata belum dapat mendukung keberlanjutan pembangunan wilayah pesisir Kota Bontang, sehingga peran industri pengolahan perlu ditingkatkan dan diarahkan pada pengembangan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang. Peran perusahaan industri pengolahan (PKT) terhadap pengeloaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang terimplementasi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). 4. Tingkat efektifitas program PKBL PKT secara umum cukup efektif dalam memenuhi ekspektasi masyarakat, walaupun diperlukan optimalisasi kinerja 134 dibeberapa aspek, yaitu aspek perencanaan, koordinasi dan keberlanjutan program serta pendampingan masyarakat. 5. Arah strategi CSR dalam pengembangan kawasan pesisir hendaknya difokuskan pada upaya memberikan akselerasi dalam mendorong perkembangan sektor-sektor yang berbasis sumberdaya pesisir selain sektor industri migas sehingga dapat menjadi penggerak bagi kegiatan ekonomi masyarakat pesisir melalui kemandirian ekonomi masyarakat lokal, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. 5.2. Saran 1. Perlu kajian secara konprehensif tentang peran perusahan industri pengolahan (PKT), bukan hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Bontang akan tetapi juga memberikan kontribusi secara langsung pada penciptaan kesempatan kerja dan pembukaan peluang usaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat lokal. 2. Peran perusahaan industri pengolahan (PKT) terhadap pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang diharapkan bukan hanya diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisirnya saja, akan tetapi juga secara langsung pada lingkungan wilayah pesisir, laut dan pulaupulau kecilnya termasuk peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. 3. Pengembangan strategi program CSR hendaknya difokuskan pada atributdimensi yang sensitif terhadap tingkat keberlanjutan (sustainability) pengelolaan sumberdaya pesisir. 4. Beberapa indikator yang perlu mendapat perhatian dalam rangka peningkatan kinerja CSR PKT diantaranya adalah aspek kekonsistenan manajemen dalam perencanaan, koordinasi dan keberlanjutan program serta pendampingan masyarakat. 5. Setiap pelaksanaan CSR hendaknya memiliki parameter kinerja yang bisa dikaitkan dengan ISO 26000, WSSD, MDG’s, Peraturan-peraturan yang berlaku di dalam dan luar negeri serta Visi Misi baik PKT sendiri maupun unit kerja PKBL/ CSR PKT. DAFTAR PUSTAKA Abelson P. 1979. Cost Benefit Analysis and Environmental Problems. New South Wales: Macquarie University. Adrianto L. 2005. Kebijakan Pengelolaan Perikanan dan Wilayah Pesisir. Kumpulan Working Paper Tahun 2005. Bogor: PKSPL IPB. Anwar A. 2005. Ketimpangan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Bogor: P4W press. Azheri B. 2011. Corporate Social Responsibility. Dari Voluntary menjadi Mandatory. Jakarta: Rajawali Press. Azis E. 1995. Assesment of Marine Environmental Impacts from a Fertilizer Plant ; PT Pupuk Kalimantan Timur Bontang in Indonesia [Thesis]. Bangkok: Asian Institute of Technology. [BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2007. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bontang Tahun 2006-2011. Bontang: Pemerintah Kota Bontang. Bengen GD. 2002. Metodologi Riset Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Materi Kuliah PS-SPL. Bogor: IPB. Bengen DG. 2000. Prosiding Pelatihan untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Bogor: PKSPL-IPB. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Bontang Dalam Angka 2010. Bontang: Kantor Badan Pusat Statistik Kota Bontang. [BPS] Badan Pusat Statistik. Kalimantan Timur Dalam Angka 2010. Samarinda: BPS Kaltim. Budiharsono S. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah. Jakarta: Pradnya Pratama. Bohari R, B Pramudya, HS Alikodra, S Budiharsono. 2008. Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir Pantai Makassar Sulawesi Selatan. Jurnal Torani. Vol. 18. No. 4. Desember 2008. 314-324. [Care IPB] Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment, Institut Pertanian Bogor. 2011. Laporan Akhir Penyusunan Masterplan CSR PT.Pupuk Kaltim. Bontang: PKT. Carson R. 1963. Silent Spring. Boston: Houghton Mifflin. Carter JA. 1996. Introductory Course on Integrated Coastal Zone Management (Training Manual). Jakarta: Dalhousie University, Environmental Studies Centers Development in Indonesia Project. Chua T. 2006. The Dynamics of Integrated Coastal Management. Practical Applications in the Sustainability Coastal Development in East Asia. Quezone City: GEF/UNDP/IMO Regional Programme on Building PEMSEA. 136 Clark JR. 1996. Coastal Zone Management. Hand Book. New York: CRC Press. Dacles T, M Beger, GL Ledesma. 2000. Sounthern Negros Coastal Development Programme Recommendations for Location and Level of Protection of Marine Protected Areas in The Municipality of Sipalay. Manila: Philippine Reef and Rainforest Conservation Foundation Inc and Coral Cay Conservation Ltd. Dahuri R, J Rais, SP Ginting, MJ Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT Pradya Paramita. Dahuri R. 1999. Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Berkelanjutan. Kumpulan Makalah. Pelatihan untuk Pelatih Bidang Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir. Diesendorf M. 2000. Sustainability and Sustainable Development. Sidney: Allen & Unwin. [Ditjen Migas] Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 1996. Data dan Informasi Minyak, Gas dan Panas Bumi. Jakarta: Direktorat Minyak dan Gas Bumi. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2001. Naskah Akademik Pengelolaan Wilayah Pesisir. Jakarta: Direktur Pesisir dan Pantai. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Fauzi A, S Anna. 2002. Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan Perikanan: Aplikasi Pendekatan Rapfish (Studi Kasus Perairan Pesisir DKI Jakarta), Jurnal Pesisir dan Lautan. Vol. 4. No.2 Tahun 2002. Fauzi A. 2002. Penilaian Depresiasi Sumberdaya Perikanan Sebagai Bahan Pertimbangan Penentuan Kebijakan Pembangunan Perikanan. Jurnal Pesisir dan Lautan. Vol. 4. No. 2. 35-49. Hak T, M Bedrich, LD Arthur. 2007. Sustainability Indicators; a Scientific Assessment. Washington DC: SCOPE. Hidayanto M, S Supiandi, S Yahya, LI Amien. 2009. Analisis Keberlanjutan Perkebunan Kakao Rakyat di Kawasan Perbatasan Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur. Jurnal Agro Ekonomi. Vol. 27. No. 2. Oktober 2009. 213-229. Kavanagh P, TJ Pitcher. 2004. Implementing Microsoft Excel Software for Rapfish: a Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status, Fisheries Centre Research Reports, Vancouver BC: The Fisheries Centre, University Of British Columbia. Kay R, J Alder. 1999. Coastal Planning and Management. London: E & FN Spon. Kusumastanto T. 2000. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Materi Kuliah. Bogor: PS SPL IPB. Kusumastanto T. 2003. Ocean Policy dalam Membangun Negeri Bahari di Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT Gramedia. 137 [Kepmen] Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 dan Nomor : PER-05/MBU/2007, tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL). Lako A. 2011. Dekonstruksi CSR dan Reformasi Paradigma Bisnis & Akuntansi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Nursahid F. 2006. Praktik Kedermawanan Sosial BUMN: Analisis terhadap model kedermawanan PT. Krakatau Steel, PT. Pertamina dan PT. Telekomunikasi Indonesia. Jurnal Filantropi dan Masyarakat Madani. Vol 1 No. 2 Januari 2006. Nababan BO, YD Sari, M Hermawan. 2007. Analisis Keberlanjutan Perikanan Tangkap Skala Kecil di Kabupaten Tegal Jawa Tengah (Tekhnik Pendekatan Rapfish). Jurnal Bijak dan Riset Sosek KP. Vol. 2 No. 2. 2007. 137-158. Nazir M. 1986. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Notohadikusumo T. 2005. Implikasi Etika dalam Kebijakan Pembangunan Kawasan. Jurnal Forum Perencanaan Pembangunan.Edisi Khusus. Januari 2005. Pernetta JC, JD Milliman. 1995. Land-Ocean Interactions in The Coastal Zone; Implementation Plan. Stockholm: The International Geosphere-Biosphere Programme. Pomeroy RS, MJ Williams. 1994. Fisheries Co-Management and Small-Scale Fisheries : A Policy Brief. Manila: ICLARM. Prastowo J, M Huda. 2011. Corporate Social Responsibility, Kunci Meraih Kemuliaan Bisnis, Yogyakarta: Samudra Biru. [PKSPL IPB] Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. 1998. Penyusunan Konsep Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan yang Berakar Pada Masyarakat. Bogor: Dirjen PD Depdagri dan PKSPL IPB. [PKSPL IPB]. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. 2011. Kajian Akademik Tata Ruang Bontang. Bontang: Pemkot Bontang. [P4N UGM] Pusat Penelitian Perencanaan Pembangunan Nasional, Universitas Gadjah Mada. 2001. Penyusunan Rencana Strategis Pemerintah Kota Bontang Tahun Anggaran 2001. Bontang: Pemkot Bontang. [PPLH UNDIP] Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Diponegoro. 2002. Penyusunan Master Plan Tata Ruang Kawasan Pantai dan Laut Sekitar PT. Pupuk Kaltim, Tbk. Kota Bontang Propinsi Kalimantan Timur. Bontang: PKT. Rachman NM, A Efendi, E Wicaksana. 2011. Panduan Lengkap Perencanaan CSR. Jakarta: Penebar Swadaya. Radyati, MR Nindita. 2008. CSR Untuk Pemberdayaan Ekonomi Lokal. Indonesian Business Links. Jakarta. 138 Rahmatullah, K Trianita. 2011. Panduan Praktis Pengelolaan CSR. Yogyakarta: Samudra Biru. Richardson, W Harry. 1979. Regional Economic. Illinois: University Of Illinois Press. Rustiadi E, S Panuju. 2006. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Bogor: Fakultas Pertanian IPB. Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Padang: Baduose Media. [SUCOFINDO] Superintending Company of Indonesia. 2001. Penyusunan Master Plan Kawasan Pesisir Kota Bontang (Rencana). Bontang: BAPPEDA Kota Bontang. Suharto E. 2010. CSR & Comdev. Investasi Kreatif Perusahaan di Era Globalisasi. Bandung: Alfabeta. Sukada S et al. 2006. Membumikan Bisnis Berkelanjutan: Memahami konsep dan praktik tanggung jawab sosial perusahaan. Indonesian Business Links. Jakarta. Ross WG, MF Easley. 2002. Technical Manual for Coastal Land Use Planning. Division of Coastal Management, State of North Carolina: [penerbit tidak diketahui]. Soegiarto A. 1976. Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir. Jakarta: Lembaga Oceanologi Nasional. Supriharyono. 2000. Djambatan. Pengelolaan Ekosistem Wilayah pesisir. Jakarta: Thamrin, SH Sutjahjo, C Herison, S Sabilham. 2007. Analisis Keberlanjutan Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia untuk Pengembangan Kawasan Agropolitan (Studi Kasus Kecamatan Dekat Perbatasan Kabupaten Bengkayang). Jurnal Agro Ekonomi.Vol. 25 No.2. Oktober 2007. 103-124. [UU] Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. [UU] Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan. [UU] Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. [UU] Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Wang X. 2009. Performance Analysis for Public and Nonprofit Organizations. Florida: Department of Public Administration University of Central Florida. [WCED] World Committee for Economic Development. 1987. Our Common Future. New York: Oxford Univ Press. Zamani NP, Darmawan. 2000. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu Berbasis Masyarakat. Prosiding Pelatihan Untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Bogor: PKSPL IPB dan Proyek Pesisir – Coastal Resources Management Project, Coastal Resources Center-University of Rhode Island. 141 Lampiran 1 Bagan Struktur Organisasi PT Pupuk Kalimantan Timur 142 Lampiran 2 Hasil Tabulasi Score Indikator Keberlanjutan Sumberdaya Wilayah Pesisir DIMENSI ATTRIBUT SCORE PER KECAMATAN DI BONTANG UTARA SELATAN BARAT DIMENSI EKOLOGI Tingkat Konservasi ekologis Tingkat eksploitasi Intensitas pencemaran Tingkat perubahan spesies Tingkat Biodiversity Tingkat kerentanan ekologis Ekosistem Terumbu Karang Ekosistem Padang lamun dan seagrass Ekosistem Mangrove Limbah produksi 3 2 2 0 1 1 2 1 1 1 3 2 2 0 1 1 1.5 1 1 1 3 2 1 0 0 0 1 0 1 1 DIMENSI EKONOMI Subsidi pemerintah Kesetaraan pendapatan Peluang dan alternatif pekerjaan lain Peningkatan keuntungan usaha Ketergantungan konsumen Kontribusi terhadap PDRB Kelayakan Usaha Tenaga kerja sektoral Persentase penduduk miskin Pangsa pasar produk 0 2 3 3 2 3 2 1 0.5 1 1 2 3 2 2 3 1 2 2 1 1 1 1 1 2 3 1 2 2 1 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 3 2 0.5 2 1 1 0.5 3 1 1 1 1.5 0 0.5 1 DIMENSI SOSIAL BUDAYA Perubahan dalam praktek pengelolaan Konflik kepentingan dan pemanfaatan ruang Peran masyarakat adat/ lokal Prilaku masyarakat terhadap keberlanjutan Jumlah desa Pesisir Pemberdayaan masyarakat Tingkat penyerapan tenaga kerja sektoral Pengetahuan kelestarian lingkungan Tingkat pendidikan formal 143 Lampiran 2 (lanjutan) DIMENSI ATTRIBUT DIMENSI TEKHNOLOGI Infrastruktur transportasi dan distribusi Infrastruktur fasilitas umum pendukung Stabilitas pemanfaatan Standarisasi dan sertifikasi mutu produk Industri pengolahan lanjutan Ketersediaan tekhnologi informasi Dampak penggunaan tekhnologi Penggunaan mesin produksi Selektif dalam peralatan (ramah lingkungan) Perubahan tekhnologi DIMENSI HUKUM DAN KELEMBAGAAN Hubungan antar stakeholder Tatakelola pemerintahan Regulasi lokal Sinkronisasi kebijakan Pusat - Daerah Mekanisme tekhnis Organisasi masyarakat sipil Kelembagaan penyuluh sosial Penjangkauan penyuluhan dan pembinaan Kesetaraan pemanfaatan ruang SCORE PER KECAMATAN DI BONTANG UTARA SELATAN BARAT 0 0 2 2 0 1 0 1 1 0 2 2 0 1 0.5 1 3 2 1 1 1 0 0.5 3 1 1 2 1 1 2 2 2 1 1 2 3 4 0 2 3 2 0 1 2 3 3 0 1 2 2 0 1 1 2 2 2 1 144 Lampiran 3 Tabulasi Hasil Responden Tentang Persepsi Pelaksanaan CSR PKT 1.1 jenis kelamin Valid Missing Total laki-laki System Frequency 36 4 40 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 1.4 tempat tinggal Valid Missing Total lok tuan belimbing bontang barat Total System Frequency 22 2 4 28 12 40 Percent 55.0 5.0 10.0 70.0 30.0 100.0 Valid Percent 78.6 7.1 14.3 100.0 Cumulative Percent 78.6 85.7 100.0 1.5 sta tus responden Valid Frequency masyarakat biasa 12 tok oh mas yarakat 6 peserta program 18 kemitraan karyawan P T. 4 Pupuk Kalt im Total 40 Percent 30.0 15.0 Valid P ercent 30.0 15.0 Cumulative Percent 30.0 45.0 45.0 45.0 90.0 10.0 10.0 100.0 100.0 100.0 1.6 pendidikan terakhir Valid tidak tamat SD tamat SD tamat SMP Akademi/Universitas lainnya Total Frequency 4 12 16 4 4 40 Percent 10.0 30.0 40.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 30.0 40.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 40.0 80.0 90.0 100.0 145 Lampiran 3 (lanjutan) 1.7 pe kerj aan uta ma Valid Frequency 14 22 4 40 nelayan pedagang/wiras was ta lainnya Total Percent 35.0 55.0 10.0 100.0 Valid P ercent 35.0 55.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 35.0 90.0 100.0 1.8 pekerjaan sampingan Valid Missing Total Frequency 2 10 22 2 36 4 40 petani pemilik nelayan pedagang/wiras was ta lainnya Total System Percent 5.0 25.0 55.0 5.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 5.6 27.8 61.1 5.6 100.0 Cumulative Percent 5.6 33.3 94.4 100.0 1.9 suku bangsa Valid jawa bugis Total Frequency 4 36 40 Percent 10.0 90.0 100.0 Valid Percent 10.0 90.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 100.0 2.1 Apakah pendapatan anda meningkat atau memiliki sumber pendapatan tambahan saat ini? Valid ya Frequency 40 Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 146 Lampiran 3 (lanjutan) 2.2 Apaka h pendi dika n forma l di keluarga anda menjadi lebih baik ini ? Valid ya tidak Total Frequency 28 12 40 Percent 70.0 30.0 100.0 Valid P ercent 70.0 30.0 100.0 Cumulative Percent 70.0 100.0 2.3 Apakah masyarakat di lingkungan anda memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang lebih baik dalam menjaga serta memelihara sumber daya alam? Valid ya tidak Total Frequency 26 14 40 Percent 65.0 35.0 100.0 Valid Percent 65.0 35.0 100.0 Cumulative Percent 65.0 100.0 2.4 Apaka h sa at i ni m asyarakat telah me ningkatkan pem anfaata sumbe r al am lesta ri dengan berbaga i be ntuk ata u ca ra? Valid ya tidak Total Frequency 22 18 40 Percent 55.0 45.0 100.0 Valid P ercent 55.0 45.0 100.0 Cumulative Percent 55.0 100.0 2.5 Apakah peranan masyarakat semakin meningkat dalam mengikuti pengelolaan sumber daya alam? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 18 20 38 2 40 Percent 45.0 50.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 47.4 52.6 100.0 Cumulative Percent 47.4 100.0 147 Lampiran 3 (lanjutan) 2.6 Apakah hukum tradisional dan kemampuan masyarakat lokal diakui dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 14 24 38 2 40 Percent 35.0 60.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 36.8 63.2 100.0 Cumulative Percent 36.8 100.0 2.7 Apakah masyarakat memiliki program kemitraan dengan pemerintah atau perusahaan dalam pemanfaatan sumber daya alam? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 16 22 38 2 40 Percent 40.0 55.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 42.1 57.9 100.0 Cumulative Percent 42.1 100.0 2.8 Dampak Langsung, Dampak Tidak Langsung dan Dampak Pemicu Missing System Frequency 40 Percent 100.0 2.8a Apakah kelua rga anda se bagai penduduk Kota Bontang, ada ya me nerima ma nfaa t la ngsung dari kebera daa n PT. Pupuk Ka ltim seba ka ryaw an atau pe gaw ai Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 12 26 38 2 40 Percent 30.0 65.0 95.0 5.0 100.0 Valid P ercent 31.6 68.4 100.0 Cumulative Percent 31.6 100.0 148 Lampiran 3 (lanjutan) 2.8b Apakah a nda me rasa kan dam pa k ekonomi/ terbuka nya peluang u da ri ke berada an P T. P upuk Kaltim di Kota Bonta ng. Sebaga i Misal: an se bagai pema sok kebutuhan PT. Pupuk Kalti m Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 14 22 36 4 40 Percent 35.0 55.0 90.0 10.0 100.0 Valid P ercent 38.9 61.1 100.0 Cumulative Percent 38.9 100.0 2.8c Jika jawaban anda ya (untuk pertanyaan b), apakah tenaga kerja atau karyawan anda bertambah? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 12 24 36 4 40 Percent 30.0 60.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 Cumulative Percent 33.3 100.0 2.8d Apakah a nda me rasa kan berkem bangnya infrastruktur sepe rti ja l listrik, dll mem berikan ma nfa at bagi berkembangnya usa ha yang an tekuni ata u m embuka usa ha baru Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 32 4 36 4 40 Percent 80.0 10.0 90.0 10.0 100.0 Valid P ercent 88.9 11.1 100.0 Cumulative Percent 88.9 100.0 149 Lampiran 3 (lanjutan) 2.8e Jika jawaban anda ya (untuk pertanyaan d), apakah tenaga kerja atau karyawan anda bertambah? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 10 26 36 4 40 Percent 25.0 65.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 27.8 72.2 100.0 Cumulative Percent 27.8 100.0 2.9 Ha mbata n-ha mbatan da lam me nggala ng kem itra Missing Sy stem Frequency 40 Percent 100.0 2.9a Terjadinya kesenjangan antar pihak. Terjadinya krisis kepercayaan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 14 24 38 2 40 Percent 35.0 60.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 36.8 63.2 100.0 Cumulative Percent 36.8 100.0 2.9b Ada satu pihak yang terlalu dominan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 8 28 36 4 40 Percent 20.0 70.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 22.2 77.8 100.0 Cumulative Percent 22.2 100.0 150 Lampiran 3 (lanjutan) 2.9c Keterbata san wa ktu dan sum ber daya, irama be kerj a de nga n w a komunitas tida k dapa t dibatasi ol eh w aktu se perti di kantor, kadang wa di luar jam ka ntor dia nggap l ebih efe ktif bagi kom unitas Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 28 6 34 6 40 Percent 70.0 15.0 85.0 15.0 100.0 Valid P ercent 82.4 17.6 100.0 Cumulative Percent 82.4 100.0 2.9d Rendahnya partisipasi masyarakat Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 22 14 36 4 40 Percent 55.0 35.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 61.1 38.9 100.0 Cumulative Percent 61.1 100.0 2.9e Sulitnya mempertemukan kepentingan dalam proses kemitraan yang masing-masing memiliki kegiatan utama, khususnya bagi korporasi Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 12 24 36 4 40 Percent 30.0 60.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 2.10 Bagaimana pendapat anda mengenai hubungan antara tokoh masyarakat di Kota Bontang dengan perusahaan PT. Pupuk Kaltim Missing System Frequency 40 Percent 100.0 Cumulative Percent 33.3 100.0 151 Lampiran 3 (lanjutan) 2.10a PT. Pupuk Kaltim tidak mempedulikan tokoh masyarakat Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 2 36 38 2 40 Percent 5.0 90.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 5.3 94.7 100.0 Cumulative Percent 5.3 100.0 2.10b PT. Pupuk Kaltim berhubungan dengan tokoh masyarakat hanya terjadi dalam keadaan terpaksa melakukannya dan dalam suasana yang sifatnya hanya sekedar pertemuan Valid Mis sing Total tidak System Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.10c PT. Pupuk Kaltim berhubungan dengan tokoh masyarakat sudah melalui proses kesadaran guna mengantisipasi berbagai kepentingan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 30 2 32 8 40 Percent 75.0 5.0 80.0 20.0 100.0 Valid Percent 93.8 6.3 100.0 Cumulative Percent 93.8 100.0 152 Lampiran 3 (lanjutan) 2.10d PT. Pupuk Kaltim be rhubungan dengan tokoh m asyara kat seca be rkal a da n dalam suasa na yang sali ng m enghorma ti, te rbuka dan sa pe rcaya Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 36 2 38 2 40 Percent 90.0 5.0 95.0 5.0 100.0 Valid P ercent 94.7 5.3 100.0 Cumulative Percent 94.7 100.0 2.11 Bantuan yang diberikan PT. Pupuk Kaltim kepada masyarakat Kota Bontang yang anda ketahui? Mis sing System Frequency 40 Percent 100.0 2.11a Bantuan Pendidikan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 20 18 38 2 40 Percent 50.0 45.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 52.6 47.4 100.0 Cumulative Percent 52.6 100.0 2.11b Bantuan Bidang Kesehatan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 20 18 38 2 40 Percent 50.0 45.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 52.6 47.4 100.0 Cumulative Percent 52.6 100.0 153 Lampiran 3 (lanjutan) 2.11c Bantuan untuk Sarana Umum Valid Mis sing Total ya System Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.11d Bantuan untuk Sarana Ibadah Valid Mis sing Total ya System Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.11e Bantuan untuk Bencana Alam Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 20 18 38 2 40 Percent 50.0 45.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 52.6 47.4 100.0 2.12 Bantuan yang diberikan PT. Pupuk Kaltim kepada masyarakat Kota Bontang yang pernah anda nikmati? Missing System Frequency 40 Percent 100.0 Cumulative Percent 52.6 100.0 154 Lampiran 3 (lanjutan) 2.12a Bantuan Pendidikan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 18 18 36 4 40 Percent 45.0 45.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 50.0 50.0 100.0 Cumulative Percent 50.0 100.0 2.12d Bantuan untuk Sarana Ibadah Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 34 2 36 4 40 Percent 85.0 5.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 94.4 5.6 100.0 Cumulative Percent 94.4 100.0 2.12b Bantuan Bidang Kesehatan Valid Mis sing Total ya tidak 22.00 Total System Frequency 12 22 2 36 4 40 Percent 30.0 55.0 5.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 33.3 61.1 5.6 100.0 Cumulative Percent 33.3 94.4 100.0 2.12c Bantuan untuk Sarana Umum Valid Mis sing Total ya System Frequency 36 4 40 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 155 Lampiran 3 (lanjutan) 2.12e Bantuan untuk Bencana Alam Valid Mis sing Total Frequency 18 18 36 4 40 ya tidak Total System Percent 45.0 45.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 50.0 50.0 100.0 Cumulative Percent 50.0 100.0 2.12f Bantuan untuk kemitraan Usaha Valid Mis sing Total ya System Frequency 36 4 40 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.14 Apaka h P T. P upuk Ka ltim me mberikan bantuan untuk pengemban ke mitraan usa ha bagi pengem ba nga n UKM di Kota Bontang Valid Missing Total ya Sy stem Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid P ercent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.15 Apakah pemberian bantuan pengembangan kemitraan usaha bagi UKM tepat sasaran? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 36 2 38 2 40 Percent 90.0 5.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 94.7 5.3 100.0 Cumulative Percent 94.7 100.0 156 Lampiran 3 (lanjutan) 2.18 Apaka h te lah terj adi kese nja nga n ya ng dise babkan konflik a nta r nil ai-nilai budaya industri seperti yang te rlibhat dala m ca ra mem anda ua ng, waktu dan teknik pada masyarakat Kota Bonta ng Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 12 22 34 6 40 Percent 30.0 55.0 85.0 15.0 100.0 Valid P ercent 35.3 64.7 100.0 Cumulative Percent 35.3 100.0 2.19 Apakah telah terjadi bantuan pelatihan yang tepat sasaran? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 2 34 36 4 40 Percent 5.0 85.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 5.6 94.4 100.0 Cumulative Percent 5.6 100.0 2.20 Apakah program kemitraan yang ditawarkan PT. Pupuk Kaltim tidak didasarkan pada kebutuhan yang konkrit dalam kegiatan UKM? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 4 32 36 4 40 Percent 10.0 80.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 11.1 88.9 100.0 Cumulative Percent 11.1 100.0 157 Lampiran 4 Hasil tabulasi persepsi masyarakat terhadap kinerja CSR PKT NO INDIKATOR RESPON DEN SANGAT BAIK BAIK CUKUP BAIK KURANG BAIK TIDAK BAIK 1 Program Kemitraan 90 3 37 40 9 1 2 Program Bina Lingkungan 90 5 30 32 22 1 3 Ketepatan Sasaran 90 3 25 26 32 4 4 Kuantitas Penerima Manfaat 90 5 37 13 32 3 5 Jumlah Dana Program 90 38 27 14 6 5 6 Tingkat Keberlanjutan Program 90 10 8 24 42 6 7 Pengaruh Program terhadap Masyarakat 90 5 16 46 18 5 8 Mekanisme Pelaksanaan Program 90 2 3 20 33 32 9 Keterlibatan Stakeholders 90 8 12 36 30 4 10 Pendampingan Program 90 3 4 31 38 14 158 Lampiran 5 Hasil Tabulasi Persepsi Masyarakat Terhadap Tingkat Kepentingan CSR PKT NO INDIKATOR RESPON DEN SANGAT CUKUP KURANG TIDAK PENTING PENTING PENTING PENTING PENTING 1 Program Kemitraan 90 31 35 24 0 0 2 Program Bina Lingkungan 90 38 34 18 0 0 3 Ketepatan Sasaran 90 80 8 2 0 0 4 Kuantitas Penerima Manfaat 90 81 9 0 0 0 5 Jumlah Dana Program 90 47 17 26 0 0 6 Tingkat Keberlanjutan Program 90 83 6 1 0 0 7 Pengaruh Program terhadap Masyarakat 90 82 6 2 0 0 8 Mekanisme Pelaksanaan Program 90 84 6 0 0 0 9 Keterlibatan Stakeholders 90 75 9 6 0 0 10 Pendampingan Program 90 70 15 5 0 0 159 Lampiran 6 Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja CSR PKT NO. INDIKATOR RESPONDEN PERFORMANCE IMPORTANCE KESESUAIAN 1 Program Kemitraan 90 59 77 77% 2 Program Bina Lingkungan 90 54 81 68% 3 Ketepatan Sasaran 90 48 97 49% 4 Kuantitas Penerima Manfaat 90 53 98 54% 5 Jumlah Dana Program 90 74 81 92% 6 Tingkat Keberlanjutan Program 90 43 98 44% 7 Pengaruh Program terhadap Masyarakat 90 49 97 51% 8 Mekanisme Pelaksanaan Program 90 25 98 25% 9 Keterlibatan Stakeholders 90 47 94 50% 10 Pendampingan Program 90 34 93 37% 160 Lampiran 7 Hasil Tabulasi Persepsi Masyarakat Terhadap Kinerja Program CSR PKT INDIKATOR RESPON DEN SANGAT BAIK BAIK CUKUP BAIK KURANG BAIK TIDAK BAIK 1 Pembinaan olahraga dan seni budaya 90 5 12 33 38 2 2 Bantuan Pinjaman Kredit/ Modal kerja 90 11 42 24 12 1 3 Pelatihan dan pengembangan kewirausahaan 90 3 25 26 32 4 4 Bantuan pengembangan fasilitas usaha 90 5 37 13 32 3 5 Bantuan Korban bencana alam 90 12 27 25 21 5 6 Pendidikan masyarakat/ beasiswa 90 4 8 24 42 12 7 Kesehatan masyarakat 90 5 16 46 18 5 8 Peningkatan Sarana dan prasarana umum 90 2 3 20 33 32 9 Bantuan sarana ibadah 90 5 6 40 35 4 90 3 4 31 38 14 NO 10 Pelestarian alam 161 Lampiran 8 Hasil Tabulasi Persepsi Masyarakat Terhadap Tingkat Kepentingan Program CSR PKT NO. INDIKATOR RESPON SANGAT CUKUP KURANG TIDAK PENTING DEN PENTING PENTING PENTING PENTING 1 Pembinaan olahraga dan seni budaya 90 7 15 22 43 3 2 Bantuan Pinjaman Kredit/ Modal kerja 90 24 29 22 14 1 3 Pelatihan dan pengembangan kewirausahaan 90 21 30 25 13 1 4 Bantuan pengembangan fasilitas usaha 90 28 28 26 6 2 5 Bantuan Korban bencana alam 90 12 18 24 30 6 6 Pendidikan masyarakat/ beasiswa 90 6 22 29 25 8 7 Kesehatan masyarakat 90 8 26 28 23 5 8 Peningkatan Sarana dan prasarana umum 90 9 18 25 32 6 9 Bantuan sarana ibadah 90 11 23 38 16 2 90 12 28 35 12 3 10 Pelestarian alam 162 Lampiran 9 Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja Program CSR PKT NO. INDIKATOR RESPONDEN PERFORMANCE IMPORTANCE KESESUAIAN 1 Pembinaan olahraga dan seni budaya 90 44 44 100% 2 Bantuan Pinjaman Kredit/ Modal kerja 90 64 67 95% 3 Pelatihan dan pengembangan kewirausahaan 90 48 66 72% 4 Bantuan pengembangan fasilitas usaha 90 53 71 74% 5 Bantuan Korban bencana alam 90 56 50 111% 6 Pendidikan masyarakat/ beasiswa 90 36 48 75% 7 Kesehatan masyarakat 90 49 53 94% 8 Peningkatan Sarana dan prasarana umum 90 25 48 52% 9 Bantuan sarana ibadah 90 43 57 75% 90 34 59 58% 10 Pelestarian alam 163 Lampiran 10 Tabulasi Keterkaitan Mitra Binaan (Program Kemitraan) No URAI A N Ya Tidak 80 20 1. Apakah perusahaan/usaha anda menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan atau pihak lain? 2. Apakah perusahaan/usaha anda hanya menjalin kerjasama dalam bidang pemasaran dan distribusi dengan perusahaan atau pihak lainnya? 66,7 33,3 3. Apakah perusahaan/usaha anda merupakan bagian dari mata rantai produksi perusahaan besar atau pihak lainnya? 33,9 66,1 4. Apakah perusahaan/usaha anda seolah-olah merupakan bagian dari perusahaan besar sehingga menjadi bagian dari unit organisasi perusahaan lain? 31,6 68,4 5. Apakah usaha anda mendapatkan order atau pesanan dari perusahaan atau pihak lainnya? 89,8 10,2 6. Apakah usaha anda mendapatkan pasokan bahan baku dari perusahaan atau pihak lainnya? 62,7 37,3 7. Apakah usaha anda mendapatkan modal kerja dari perusahaan atau pihak lainnya? 44,6 55,4 8. Apakah hasil usaha anda ditampung pada perusahaan atau pihak lain yang telah memberikan bantuan modal kerja? 32,2 67,8 9. Apakah dalam menjalankan usaha, anda bekerjasama dengan pihak luar negeri? 28,1 71,9 Ya Tidak Tabulasi Keterkaitan Horisontal No URAI A N 1 Apakah perusahaan/usaha anda memiliki kerjasama dengan pengusaha kecil/menengah lainnya? 90,6 9,4 2 Bentuk kerjasama antara pengusaha kecil yang biasa dilakukan? 100 -  Pembelian bahan baku 59 -   Penjualan produk bersama 31 Lain-lain 9 - 164 Lampiran 11 Daftar Nama Mitra Binaan PKT Dissektor Perikanan dan Kelautan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 NAMA MITRA DG.PARANRENG,H SAHA PATAHUDDDIN MASDAR SAMSU JUDDING,H RANTO BEDDUHALING,H BURHANUDDIN PIRMAN,H CORING BURHANSABIR AHMAD SIRAYU HABA TANASE BADARUDDIN RUSTAM ISMAILNASARUDDIN AHMADT TASRI ABDULMALIK ISMAIL RUSTAN MUKHTAR HATTABETA RUSTAMSINRING HARIANI JACOBPAMASI KASTANBETTA AZIS MUHAMMADNASIR MURSALIM KODE MB 2010D002 2009S145 2009P014 2009M100 2009S144 2009J028 2009R043 2010B008 2010B007 2009P015 2010C001 2010B006 2010A018 2010S029 2010H007 2010T002 2010B012 2010R006 2010I012 2010A04 2010T008 2010A039 2010I013 2010R008 2010M030 2010H013 2010R007 2010H020 2009Y013 2010K011 2010A023 2010M027 2010M045 JENIS USAHA TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK BELATKERAMBA KERAMBA TANITAMBAK NELAYAN NELAYAN PRASARANANELAYAN NELAYAN NELAYAN TANITAMBAK KELOMPOKNELAYAN KELOMPOKNELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN PEDAGANGIKAN NELAYAN NELAYAN KERAMBA TANITAMBAK NELAYAN TANITAMBAK KOLAMBUDIDAYA TANITAMBAK KERAMBA NELAYAN KOLAMBUDIDAYA NILAI PENYALURAN 14,000,000 15,000,000 16,000,000 16,000,000 15,000,000 16,000,000 15,000,000 50,000,000 35,000,000 15,000,000 7,500,000 20,000,000 25,000,000 10,000,000 7,000,000 10,000,000 25,000,000 24,000,000 7,000,000 13,000,000 4,000,000 40,000,000 4,000,000 25,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 16,000,000 65,000,000 30,000,000 35,000,000 1,700,000 37,000,000 165 Lampiran 11 (lanjutan) NO NAMA MITRA 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 HASAN RAMLIRAZAK,H MUHAMMADTHAHIR AMINNUR ALFIAN NAJEMUDDIN HERMAN LATIF MAKMUR,H SUPRIANTO JAYA BASRI HASAN MAHIR SYARIFUDDIN ARIS PARNOSUJARNO,H BAHARUDDIN NASRUDDIN JUFRIADI IDHAN USMAN WARDLHAN SADIKE HAERUDDIN,SE SYAMSURI DENNYWAHYUDI HAMSAH KODE MB 2010H027 2010R016 2010M045 2010A057 2010A053 2010N029 2010H019 2010L004 2010M068 2010S086 2010J010 2010B018 2010H035 2010M077 2010S113 2010A071 2010P018 2010B022 2010N041 2010J016 2010I047 2011U001 2010W010 2011S016 2011H012 2011S022 2011D005 2011H008 JENIS USAHA NELAYAN NELAYAN NELAYAN PRASARANANELAYAN KELOMPOKNELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN TANITAMBAK NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN TANITAMBAK NELAYAN PEDAGANGIKAN PEDAGANGIKAN PEDAGANGIKAN NELAYAN PRASARANANELAYAN NELAYAN KOLAMBUDIDAYA KELOMPOKNELAYAN NELAYAN KERAMBA NILAI PENYALURAN 15,000,000 28,000,000 10,000,000 15,000,000 35,000,000 10,000,000 10,000,000 30,000,000 95,000,000 8,000,000 15,000,000 15,000,000 30,000,000 25,000,000 10,000,000 5,000,000 60,000,000 7,000,000 25,000,000 15,000,000 15,000,000 10,000,000 20,000,000 50,000,000 35,000,000 35,000,000 20,000,000 7,500,000 LAMPIRAN ABSTRACT TAUFIK HASBULLAH. Design Strategy of Corporate Social Responsibility (CSR) in the Economic Empowerment of Local Communities and Coastal Resources Management in Bontang (Case Study of PT Pupuk Kaltim). Under supervision of TRIDOYO KUSUMASTANTO, LUKY ADRIANTO and SUGENG BUDIHARSONO. The purpose of this study is to analyze the impact of PT Pupuk Kaltim and the presence of its industrial activity on the economic growth of Bontang. To analyze the role of company’s CSR activities towards the economic empowerment on local communities and management of coastal resources in Bontang. and to develop a design strategy to economically empower local communities and coastal resources management in Bontang. Location Quotient (LQ) methods and Shift Share to observe the influence of company’s industrial activity and its economic impact on Bontang. Importance Performance Analysis (IPA) to observe the effectiveness of company’s CSR activities. To assess the sustainability of coastal areas, a modified method by measuring dimensional aspects of sustainability which are ecological, economic, socio-cultural, infrastructure and technology, as well as legal and institutional. The results of LQ analysis indicates that Bontang economic growth is highly correlated with the presence of manufacturing sector. Based on the analysis, which covers oil and gas industry, this study exceptionally concludes the presence of gas industry does have a strong role with a value greater than 1 and, coefficient of determination of 1.582 to the regional economy. Meanwhile, the shift share analysis shows that the role of regional economic structures is large enough to reach 92%. The ratio is mainly contributed by the potential of regional economic which is 46%. The results of IPA analysis show the significance of company’s CSR activities is sufficient to meet the expectations of coastal communities. Overall, the analysis concludes that the level of sustainability of coastal area in multi-dimensional value is 53.73, which lays in category of fairly continuous. Based on the analysis the sustainability of individual criterion are fairly sustainability for ecology (50.43), infrastucture and technological (60.83), and legal and institutional (55.33). Furthermore, the dimension of economic and socio-cultural are weak sustainability. The design of coastal development strategy is intended to encourage the Bontang City development sectors based on renewable coastal resources so that it can be a driving force for coastal economic activity in the future. Whereas, in particular for the CSR design strategy is to build economic self-reliance of local communities, community capacity building in integrated coastal management and resource conservation in coastal of Bontang City. . Keywords: CSR, Empowerment, Coastal, LQ, Shift Share, IPA, Rapfish. RINGKASAN TAUFIK HASBULLAH. Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir di Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk Kaltim). Dibimbing oleh TRIDOYO KUSUMASTANTO, LUKY ADRIANTO dan SUGENG BUDIHARSONO. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang sangat menentukan keberlanjutan pembangunan Kota Bontang yang berada di wilayah pesisir, dimana di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi berskala besar yakni PT Pupuk Kaltim (PKT) dan PT Badak NGL (BADAK) yang perlu ditingkatkan perannya dalam pembangunan ekonomi maupun tanggung jawab sosial perusahaan, sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir di Kota Bontang. Penelitian ini dilakukan di seluruh kelurahan yang berbatasan langsung dengan pesisir Kota Bontang yaitu, Bontang Kuala, Bontang Baru, Lhok Tuan, Guntung, Berbas Pantai, Berbas Tengah, Tanjung Laut Indah, Tanjung Laut dan Kelurahan Belimbing. Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis keberadaan perusahaan industri pengolahan (PKT) terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Bontang, serta secara khusus menganalisis tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang, dengan mengambil studi kasus peran CSR di PKT, dimana selanjutnya menjadi acuan dalam menyusun desain strategi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir di Kota Bontang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Location Quotient (LQ) dan Shift Share untuk melihat pengaruh keberadaan perusahaan industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah. Peran dan efektifitas program CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan pesisir dianalisis menggunakan Importance Performance Analysis (IPA). Selanjutnya dalam mengkaji keberlanjutan wilayah pesisir digunakan metode Rapfish dengan mengukur lima dimensi keberlanjutan yakni, dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi infrastruktur dan teknologi, serta dimensi hukum dan kelembagaan. Hasil analisis tersebut diatas dirumuskan menjadi desain dan strategi pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir. Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Bontang sangat dipengaruhi oleh keberadaan sektor industri pengolahan. Dari hasil perhitungan LQ sektor industri pengolahan baik dengan migas maupun tanpa migas memiliki peranan kuat dengan nilai lebih besar dari 1, dengan koefisien determinasi sebesar 1,582 terhadap perekonomian daerah. Sedangkan analisis shift share menunjukkan bahwa peran struktur ekonomi daerah cukup besar yakni mencapai 92 %, rasio tersebut ditopang oleh kontribusi kekhususan potensi ekonomi daerah yakni 46 %. Hasil analisis efektifitas dengan metode IPA menunjukkan signifikansi CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, dimana secara umum menegaskan bahwa aktifitas CSR telah cukup memenuhi ekspektasi dari masyarakat pesisir. Hasil analisis keberlanjutan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang menunjukkan tingkat keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang secara multi dimensi sebesar sebesar 53,73 dan termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan, dimana diperoleh dari nilai dimensi ekologi sebesar 50,43, dimensi ekonomi 49,90, dimensi sosial budaya 48,18, dimensi infrastruktur dan tekhnologi sebesar 64,83 dan dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 55,33. Strategi pengembangan kawasan pesisir Kota Bontang secara umum yaitu dengan mendorong perkembangan sektor-sektor yang berbasis sumberdaya pesisir terbaharui sehingga dapat menjadi penggerak bagi kegiatan ekonomi pesisir. Sedangan secara khusus adalah dengan membangun kemandirian ekonomi masyarakat lokal, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. Kata Kunci : CSR, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, LQ, Shift Share, IPA, Rapfish 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mengembangkan ekonomi masyarakat pesisir memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar dibandingkan dengan kawasan pedalaman. Hal ini disebabkan karena kawasan pesisir memiliki karakteristik sumberdaya alam yang berbeda yang selanjutnya mempengaruhi tindakan dan aksi pelaku ekonominya. Jadi kondisi alam membuat perbedaan masyarakat dalam pandangan, sikap, dan tindakan mereka dalam hal mengembangkan wilayah pesisir. Perbedaan cara pandang inilah yang seharusnya dipahami pengambil keputusan yang terkait dengan pembangunan kawasan pesisir. Pemahaman ini sangat diperlukan supaya pembangunan ekonomi di kawasan pesisir tepat arah, sasaran, guna dan manfaat. Chua dan Pauly (1989) mengelompokkan degradasi dan marjinalisasi kawasan yang terjadi di Indonesia disebabkan (1) Sebagian besar sumberdaya hayati pesisir mengalami eksploitasi lebih dan ekosistem pesisir mengalami tekanan berat; (2) Terjadi degradasi lingkungan karena kerusakan dan polusi dari laut dan darat; (3) Sebagian besar penduduk hidup dalam kondisi miskin, sementara proses pemiskinan berlangsung terus dan di pihak lain makin terjadi ketimpangan pendapatan; (4) Instansi yang ada tidak dapat menjawab masalahmasalah yang muncul; (5) Penegakan hukum tidak berjalan dengan baik; (6) Sangat kurang apresiasi publik terhadap pengelolaan yang berkelanjutan; (7) Sangat kurang pelaksanaan pembangunan secara terintegrasi; (8) Sangat rendah kapasitas masyarakat, meskipun potensi yang ada cukup besar. Kota Bontang di Propinsi Kalimantan Timur memiliki luas wilayah 49.757 Ha, dimana sekitar 34.977 Ha (70,29%) diantaranya merupakan wilayah pesisir atau laut, sehingga karakteristik masyarakat Kota Bontang tentunya sangat dipengaruhi oleh kehidupan pesisir dan laut. Masyarakat Kota Bontang merupakan masyarakat heterogen yang terbentuk secara genekologis (perkawinan) dan teritorial (bersama menempati suatu wilayah dalam mencari 2 penghidupan) dari berbagai etnis. Tercatat hampir 60-70% penduduknya adalah pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan (etnis Bugis). Dengan dibukanya Kota Bontang sebagai kawasan industri yang digerakan oleh industri pengolahan gas alam cair PT. Badak NGL (BADAK) dan PT. Pupuk Kaltim (PKT) menjadi faktor pendorong bagi para pendatang untuk masuk wilayah ini dengan tujuan utama untuk mendapatkan pekerjaan. Pada umumnya para pendatang yang memiliki pendidikan dan ketrampilan yang cukup akan direspon pasar kerja dengan hasil yang lebihbaik. Kebutuhan tenaga kerja dengan spesifikasi keterampilan tertentu telah menjadi persoalan tersendiri di Kota Bontang. Kondisi ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja untuk industri pengilangan gas alam cair dan industri pupuk banyak menggunakan tenaga kerja dari luar Kota Bontang, dimana BADAK dan PKT mensyaratkan kualitas yang tinggi dalam penyerapan tenaga kerja yang belum dapat dipenuhi tenaga kerja lokal. Dalam lima tahun terakhir yakni tahun 2006 sampai 2010, tercatat hanya 427 orang yang diterima sebagai karyawan tetap PKT, terdiri dari 46% tenaga kerja lokal dan 54% berasal dari luar Kota Bontang, sementara rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 2,98% per tahun atau 3.120 jiwa per tahun. Dengan keberadaan dua perusahaan besar ini adalah wajar jika jumlah penduduk Kota Bontang senantiasa bertambah. Pembangunan kawasan industri dan kegiatan operasionalnya di wilayah pesisir Kota Bontang juga menyebabkan perubahan ekologis yang memberikan tekanan signifikan terhadap ekosistem wilayah pesisir, dimana pada akhirnya dapat mengubah struktur pemanfaatan ruang pesisir Kota Bontang. Tekanan terhadap sumberdaya pesisir sering diperberat oleh tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut serta rendahnya pemahaman akan upaya konservasi. Kemiskinan sering pula menjadi lingkaran setan (vicious circle) dimana penduduk yang miskin sering menjadi sebab rusaknya lingkungan pesisir. Namun penduduk miskin pula yang akan menanggung dampak dari kerusakan lingkungan. Salah satu aspek pengelolaan wilayah pesisir yang baik adalah dengan mencarikan alternatif pendapatan sehingga mengurangi tekanan penduduk terhadap pemanfaatan sumberdaya pesisir. 3 Kondisi ini menuntut agar Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) wajib lebih berperan dalam pembangunan di Kota Bontang, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat serta pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara terpadu di Kota Bontang. CSR adalah upaya yang wajib dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasionalnya terhadap pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), dimana konsep pembangunan berkelanjutan tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi (economic growth), kelestarian terhadap lingkungan (environmental protection), dan kesetaraan sosial (social equity). Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi semata (profit), melainkan juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people). Pelaksanaan CSR di Indonesia dipayungi oleh Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Didalam Undang-Undang ini pada pasal 74 dinyatakan bahwa semua Perseroan Terbatas wajib hukumnya melaksanakan tanggung jawab sosial (CSR), sehingga CSR menjadi bagian dari rencana penganggaran perusahaan. Sementara itu perusahaan negara berbentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki acuan pelaksanaan tanggung jawab sosial berdasarkan Undang-Undang BUMN Pasal 2 ayat (1) huruf e dan Pasal 88 ayat (1) UU No. 19 Tahun 2003 jo. Peraturan Menteri Negara BUMN No. PER-05/MBU/2007. Didalam ketentuan tersebut semua BUMN yang berada dibawah pengelolaan pemerintahan Indonesia wajib melaksanakan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), dimana dananya adalah alokasi dari sisa keuntungan perusahaan sebesar maksimal 2% untuk masing-masing kegiatan. Dengan dasar pemikiran seperti yang telah diterangkan diatas, maka perlu dilakukan suatu kajian tentang ”Desain Strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang (Studi Kasus PT Pupuk Kaltim)”. 4 1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah Potensi yang begitu besar dimiliki Kota Bontang, baik sumberdaya alam yang dapat pulih maupun yang tidak dapat pulih, merupakan tumpuan pembangunan Kota Bontang dimasa yang akan datang, dimana segenap aktifitas serta permukimannya dengan derap pembangunan yang sangat intensif berada di kawasan pesisir. Kenyataan menunjukkan bahwa besarnya tekanan penduduk dengan dinamika sosial ekonomi dan tuntutan pemerintah daerah untuk memperoleh sumber dana bagi peningkatan akselerasi pembangunan telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang menjadi modal pembangunan masa kini dan masa yang akan datang. Isu dan permasalahan di pesisir Kota Bontang tidak jauh beda dengan permasalahan kota-kota pesisir lainnya di Indonesia. Permasalahan yang ada berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya pesisir oleh manusia. Pemanfaatan sumberdaya ini selalu menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi fisik pesisir Kota Bontang. Kerusakan fisik lingkungan antara lain disebabkan oleh adanya aktivitas di darat dan aktivitas di laut. Kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas di darat adalah pencemaran akibat limbah buangan industri dan rumahtangga, sedangkan aktivitas di laut adalah adanya abrasi pantai, sedimentasi di dasar perairan pantai, dan kerusakan ekosistem terumbu karang serta ekosistem pesisir lainnya. Kerusakan fisik lingkungan ini tidak terlepas dari adanya konflik pemanfaatan ruang dari berbagai kegiatan yang ada di pesisir Kota Bontang. Di kawasan pesisir Kota Bontang, intensitas penggunaan atau pemanfaatan ruang cukup tinggi sehingga berpeluang timbulnya masalah yang berakibat negatif bagi keberlanjutan keberadaan sumberdaya alam pesisir Kota Bontang. Hasil penelitian UGM (2001), Sucofindo (2001), UNDIP (2002) dan IPB (2010) menunjukkan adanya pencemaran, erosi, degradasi fisik habitat potensial seperti mangrove dan terumbu karang, serta konflik penggunaan ruang dan sumberdaya di kawasan pesisir dan laut kota Bontang, yang pada akhirnya mengancam kelestarian lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan. 5 Diperkirakan sekitar 100 Ha lahan mangrove telah beralih fungsi menjadi kawasan pabrik industri PKT sejak tahun 1979, disamping itu dari pengamatan transect line terumbu karang sepanjang 32 km di areal pesisir PKT, hanya sekitar 5 km (15%) saja yang berada dalam kondisi normal, selebihnya 21 km (66%) dalam keadaan rusak dan 6 km (19%) dalam kondisi transisi, hal ini terjadi akibat aktivitas dredging dan dumping sekitar 247.000 m 3 pasir laut pada saat pembangunan dermaga dan pabrik PKT. Permasalahan yang berkembang di kawasanpesisirkotaBontang, antara lain (Sucofindo, 2001; UGM, 2001; UNDIP, 2002; IPB, 2010) :  Kawasan pesisir dan laut Kota Bontang saat ini dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yaitu industri (PKT, BADAK, PT. Indominco), kawasan lindung (Taman Nasional Kutai), permukiman, pertambakan, budidaya laut, alur pelayaran, pelabuhan, daerah penangkapan ikan dan pariwisata. Kaitannya dengan penggunaan ruang oleh industri besar yang ada diwilayah ini, belum ada kajian yang membahas tentang kontribusi industri terhadap masyarakat dan sumberdaya pesisir, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Terjadinya degradasi lingkungan di beberapa lokasi di Kota Bontang antara lain : kerusakan terumbu karang, abrasi laut yang menyebabkan pulau-pulau kecil menjadi berkurang luasannya, misalnya Pulau Beras Basah yang menjadi andalan pariwisata Kota Bontang, hutan mangrove yang dialihkan penggunaannya untuk pertambakan dan pemanfaatan lainnya.  Intensitas aktivitas industri yang terus meningkat di Kota Bontang terutama industri pengolahan berskala besar seperti PKTdanBADAK yang membuang residu/limbah pabrik ke laut, mengakibatkan terjadinya pencemaran di wilayah pesisir dan lautan.  Masih dominannya sektor industri migas yang mengandalkan eksploitasi sumberdaya tak terbaharui (non-renewable resources) sementara sektorsektor yang berkaitan dengan kawasan pesisir dan laut masih tertinggal.  Adanya rencana pengembangan Kota Bontang yaitu perluasan kawasan pesisir yang mencakup Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanegara, rencana penggunaan lahan di wilayah perluasan Kota Bontang, rencana pemanfaatan kawasan pesisir kota Bontang sampai tahun 2027 yang meliputi 6 kawasan lindung, kawasan budidaya, pariwisata, perikanan tangkap, industri, pemukiman. Rencana tersebut selama ini belum didukung dengan kajian ilmiah penetapan kawasan. Untuk itulah pemerintah Kota Bontang melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) bekerjasama dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang mengatur hal tersebut.  Masih tingginya tuntutan dan harapan masyarakat terhadap PKTterutama di wilayah bufferzone. Hal tersebut perlu direspon secara proporsional oleh perusahaan sehingga tercipta suasana kondusif. Suasana yang kondusif sangat diperlukan perusahaan untuk bisa melakukan kegiatan produksi yang berkelanjutan.  Adanya pergerseran kepemilikan dunia usaha, dari kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan publik. Secara tidak langsung hal ini bermakna perusahaan tidak lagi hanya sebatas institusi bisnis, tetapi telah bergeser menjadi institusi sosial. Dunia usaha tidak hanya bertugas mencari keuntungan, tetapi juga harus berperan menjadi institusi yang memiliki tanggungjawab sosial.  Kesadaran akan pentingnya CSR menjadi trend global seiring dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan dan produksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).  Trend global lainnya di bidang pasar modal adalah penerapan indeks yang memasukkan kategori saham-saham perusahaan yang telah mempraktikkan program CSR. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : 1) Bagaimanaperan PKTterhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir di Kota Bontang ? 2) Bagaimana tingkat keberlanjutan (sustainability) dalam pengelolaan wilayah pesisir di Kota Bontang ? 7 3) Bagaimana efektifitas dan keberlangsungan program CSR PKT di Kota Bontang ? 4) Bagaimana strategi CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang 1.3. Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan permasalahan yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Menganalisis peran PKT terhadap peningkatan perekonomian Kota Bontang 2) Menganalisis tingkat keberlanjutan (sustainability) dalam pengelolaan wilayah pesisir di Kota Bontang. 3) Merumuskan strategi CSR PKT dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang 1.4. Manfaat Penelitian 1) Masukan bagi pemerintah Kota Bontang, bagi proses perencanaan dan pengambil kebijakan dalam kaitannya kontribusi industri-industri besar yang ada di Kota Bontang terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir. 2) Masukan bagi pengambil kebijakan di lingkungan PKT, khususnya dalam implementasi program CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang. 1.5. Kerangka Pemikiran Kebijakan pemerintah Kota Bontang berdasarkan arahan pemanfaatan ruang khususnya di wilayah pesisir lebih diarahkan pada pengembangan industri khususnya pengembangan industri PKT.Karena perusahaan besar tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap terlaksananya pengelolaan wilayah pesisir terpadu, dan peningkatan perekonomian Kota Bontang. Saat ini dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Kota Bontang, persaingan pemanfaatan ruang semakin ketat terutama masyarakat 8 yang bermukim di wilayah pesisir termasuk yang mempunyai mata pencaharian nelayan maupun petani ikan. Disatu sisi, perusahaan besar semakin berkembang dan disisi lain masyarakat disekitarnya semakin termarginalkan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat pesisir dan semakin langkanya sumberdaya pesisir yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Oleh karena itu perlu upaya yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Kota Bontang. Kegiatan usaha PKT banyak bersinggungan dengan beragam stakeholders, khususnya masyarakat dan lingkungan di sekitar lokasi pabrik yaitu wilayah pesisir Kota Bontang. Terkait hal tersebut, perusahaan memandang dan sudah berkomitmen bahwa program CSR sebagai kegiatan yang sangat penting baik bagi kepentingan perusahaan, lingkungan maupun masyarakat itu sendiri. Untuk merealisasikan upaya tersebut perlu dilakukan analisis seberapa besar kontribusi ekonomi dan tehnis dari PKT terhadap pengelolaan wilayah pesisir terpadu, sehingga kedepan dapat dibuat suatu perencanaan CSR yang terpadu sehingga baik bantuan yang diberikan berupa hibah, modal kerja, pelatihan maupun fasilitas yang dibutuhkan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang dapat dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Program-program tersebut semuanya didasarkan pada potensi daerah serta kebijakan pemerintah Kota Bontang. Adapun kerangka pemikiran penelitian mengenai tanggung jawa bsosial (CSR) PKT dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang. Dalam kerangka pikir penelitian ini, diawali dengan mengidentifikasi kondisi potensi sumberdaya wilayah pesisir Kota Bontang, kemudian dilanjutkan melihat kondis iperusahaan yang ada (khususnya PKT). Dalam proses kegiatan perusahaan (PKT) kaitannya dengan sumberdaya wilayah pesisir akan dikaji baik dari aspek sumberdaya pesisirnya maupun dari aspek ekonominya sehingga diharapkan dari aspek ekonomi dapat memberikan kontribusi terhadap PAD, keuntungan bagi perusahaan dan secara sosial dapat mensejahterakan 9 masyarakat di sekitarnya serta dari aspek sumberdaya pesisir dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kajian dalam penelitian ini difokuskan pada bagaimana penerapan tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan (PKT) terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, sehingga diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat disekitarnya dan sumberdaya pesisir tetap terjaga kelestariannya. Untuk itu perlu merumuskan suatu desain strategi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir khususnya di Kota Bontang. Secara lengkap kerangka fikir penelitian ini disajikan pada Gambar 1. P OTE N SI S U MB E R D AY A WI L AY A H PE SI SI R K OTA B ON TA N G PE R U S A HA A N IN D U S TR I (P K T) A NA LI SI S BI OGE OFI S IK AS PE K S U MB E R D AY A PE SI SI R A NA LI SI S EK ON OM I R E GI ON AL AS PE K E K ON OM I WI L AY A H C OR P OR A TE S OC I AL R ES P ON SI BI LI TY (C S R ) EK ON OM I M AS YA R A KA T A NA LI SI S PE R S EP SI K ON D IS I LI N GK U N GA N DA N S U MB E R D A YA P ES IS I R K OTA B ON TA N G AI N TA S TR A NA LI SI S E D FEES K TIVI S A TE GI C S R D AL A M P E MB E R DA Y AA N EK ON OM I M AS YA R A KA T DA N S U MB E R D AY A PE SI SI R A NA LI SI S S US TAI N A BI LI TY PE N GE L OL AA N WI LA Y A H PE SI SI R SE C A R A TE RP A D U D A N BE R KE L A N JU TA N (P WP T) Gambar 1.Kerangka Pemikiran 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Batasan Wilayah Pesisir 2.1.1 Pengertian Wilayah Pesisir Definisi wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut; kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin; sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh prosesproses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan perencanaan (Soegiarto, 1976; Dahuri, 1996). 2.1.2 Batasan Wilayah Pesisir Dahuri (1996), mengemukakan bahwa pertanyaan yang seringkali muncul dalam pengelolaan kawasan pesisir adalah bagaimana menentukan batas-batas dari suatu wilayah pesisir (coastal zone). Sampai sekarang belum ada definisi wilayah pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara wilayah daratan dan laut. Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu : batas yang sejajar dengan garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). Berdasarkan kepentingan pengelolaan, batas ke arah darat dari suatu wilayah pesisir dapat ditetapkan sebanyak dua macam, yaitu batas untuk wilayah perencanaan (planning zone) dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan keseharian (day-to-day management). Wilayah perencanaan sebaiknya meliputi seluruh daerah daratan (hulu) apabila terdapat kegiatan manusia (pembangunan) yang dapat menimbulkan dampak secara nyata (significant) terhadap lingkungan dan sumberdaya di pesisir. Oleh karena itu, batas wilayah pesisir kearah darat untuk kepentingan perencanaan (Planning zone) dapat sangat jauh ke arah hulu, misalnya kota Bandung untuk kawasan 12 pesisir dari DAS Citarum. Jika suatu program pengelolaan wilayah pesisir menetapkan dua batasan pengelolaannya (wilayah perencanaan dan wilayah pengaturan), maka wilayah perencanaan selalu lebih luas dari pada wilayah pengaturan (Dahuri, 1996). Batas wilayah pesisir menurut Pernetta dan Milliman (1995) disajikan pada Gambar 2. Gambar 2. Batasan Wilayah Pesisir (Pernetta dan Milliman, 1995) 2.1.3 Potensi Sumberdaya Wilayah Pesisir Dengan garis pantai terpanjang kedua didunia setelah Kanada, yaitu 81.000 km serta wilayah laut yang luasnya mencapai 5,8 juta km 2, maka tidak mengherankan bahwa secara potensial, Indonesia memiliki sumberdaya alam pesisir dan lautan yang sangat besar. Secara garis besar, potensi pembangunan kelautan Indonesia tersebut dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar yaitu (1) sumberdaya dapat pulih (renewable resources), (2) sumberdaya tidak dapat pulih (non-renewable resources) dan (3) jasa-jasa lingkungan (evironmental services). Kelompok pertama, sumberdaya alam wilayah pesisir dan lautan dapat pulih mencakup ekosistem mangrove, wilayah pesisir, rumput laut dan padang lamun, serta sumberdaya perikanan, yang secara potensial sangat besar dan 13 beragam jenisnya. Sebagai ilustrasi, Indonesia memiliki luas ekosistem mangrove sebesar 2,4 juta km2 dan wilayah pesisir seluas 75.000 km2 (Dahuri, et.al., 1996). Sementara itu, di wilayah perairan Indonesia terdapat sedikitnya 7 marga dan 13 spesies lamun (seagrass) dengan sebaran mencakup di wilayah perairan Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, dan Irian jaya. Sedangkan untuk sumberdaya perikanan, negara kita sudah lama diakui sebagai salah satu negara yang memiliki potensi perikanan terbesar di dunia. Data terakhir menunjukkan bahwa potensi lestari sumberdaya perikanan nasional adalah 5,649 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan sebesar 40% (FAO, 1997). Berbagai jenis sumberdaya hayati laut beserta perairan pesisir yang luas sangat potensial untuk dikembangkan melalui usaha mariculture (budidaya laut). Usaha tersebut dapat digolongkan menjadi dua kegiatan, yaitu budidaya tambak (brackish water ponds) dan budidaya laut (mariculture). Kelompok kedua, sumberdaya alam yang tidak dapat pulih, yang meliputi seluruh jenis mineral dan gas, dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu Kelas A (Mineral Strategis ) seperti minyak bumi, gas alam dan batubara; Kelas B (Mineral Vital) seperti emas, timah, nikel, dan bauksit, dan kelas C (Mineral Industri) seperti granit, kaolin, pasir dan bahan pembangunan lainnya. Sebagai ilustrasi, Indonesia memiliki cadangan migas yang besar dan terbesar di kurang lebih 60 cekungan (basins) yang sebagian besar terdapat di wilayah pesisir dan lautan seperti Kepulauan Natuna, Selat Malaka, Pantai Selatan Jawa, Selat Makassar dan Celah Timor (Ditjen Migas, 1996) Selain kedua sumberdaya tersebut diatas, yang tidak kalah pentingnya adalah sumberdaya jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut, seperti pariwisata, perhubungan laut, pemukiman dan sebagainya. Potensi kawasan pesisir sebagai kawasan wisata bahari hampir tersebar di seluruh kawasan pesisir Indonesia. 2.2 Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu (PWPT) Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu (Integrated Coastal Zone Management atau disingkat ICM) merupakan kegiatan manusia didalam mengelola ruang, sumber daya, atau penggunaan yang terdapat pada suatu wilayah pesisir, yakni dengan melakukan pemanfaatan sumber daya alam dan 14 jasa jasa lingkungan (environmental services) yang terdapat di kawasan pesisir, dengan cara melakukan penilaian menyeluruh (comprehensive assessment) tentang kawasan pesisir beserta sumber daya alam dan jasa jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya; guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Proses pengelolaan ini dilaksanakan secara kontinyu dan dinamis dengan mempertimbangkan segenap aspek sosial ekonomi budaya dan aspirasi masyarakat pengguna kawasan pesisir (stakeholders) serta konflik kepentingan dan konflik pemanfaatan kawasan pesisir yang mungkin ada (Sorensen dan Mc Creary dalam Dahuri, 2006). 2.2.1. Prinsip Keterpaduan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu adalah suatu pendekatan pengelolaan wilayah pesisir yang melibatkan dua atau lebih ekosistem, sumber daya, dan kegiatan pemanfaatan (pembangunan) secara terpadu (integrated) guna mencapai pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan, dimana prinsip keterpaduan memastikan konsistensi dalam implementasi kebijakan terhadap tindakan pengelolaan. Dalam konteks ini Dahuri (2006) membagi keterpaduan (integration) dalam tiga dimensi : 1) Keterpaduan Sektoral Keterpaduan secara sektoral berarti bahwa perlu ada koordinasi tugas, wewenang dan tanggung jawab antar sektor atau instansi pemerintah pada tingkat pemerintah tertentu (horizontal integration); dan antar tingkat pemerintahan dari mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, sampai tingkat pusat (vertical integration). 2) Keterpaduan Bidang Ilmu Keterpaduan dari sudut pandang keilmuan mensyaratkan bahwa didalam pengelolaan wilayah pesisir hendaknya dilaksanakan atas dasar pendekatan interdisiplin ilmu (interdisciplinary approaches), yang melibatkan bidang ilmu: ekonomi, ekologi, teknik, sosiologi, hukum, dan lainnya yang relevan. Ini wajar 15 karena wilayah pesisir pada dasarnya terdiri dari sistem sosial yang terjalin secara kompleks dan dinamis. 3) Keterpaduan Keterkaitan Ekologis Keterkaitan ekologis (ecological linkages) sangat diperlukan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir secara Terpadu (PWPT) mengingat bahwa perubahan atau kerusakan yang menimpa satu ekosistem akan menimpa pula ekosistem lainnya. Seperti dipahami bersama bahwa wilayah pesisir pada dasarnya tersusun dari berbagai macam ekosistem (mangrove, terumbu karang, estuaria, pantai berpasir, dan lainnya) yang satu sama lain saling terkait, tidak berdiri sendiri. Disamping itu, wilayah pesisir juga dipengaruhi oleh berbagai macam kegiatan manusia maupun proses-proses alamiah yang terdapat di lahan atas (upland areas) maupun laut lepas (oceans) yang dapat mempengaruhi suatu wilayah pesisir. Chua (2006) membagi prinsip keterpaduan menjadi tiga kategori utama, yaitu keterpaduan sistem, fungsi dan kebijakan, dengan penjelasan sebagai berikut ; 1) Keterpaduan Sistem Keterpaduan sistem pada prinsipnya berupaya untuk menghubungkan dimensi spasial dan temporal dari sistem sumberdaya pesisir dalam hal fisik, seperti perubahan lingkungan, pola penggunaan sumberdaya dan sosial ekonomi. Keterpaduan sistem melihat permasalahan mana yang relevan dalam pengelolaan pesisir yang timbul dari lingkungan, hubungan sosial dan ekonomi. Misalnya, membangun sebuah profil lingkungan pesisir membutuhkan pengumpulan informasi yang cukup untuk mengintegrasikan berbagai elemen sistem sumberdaya di wilayah tersebut. 2) Keterpaduan Fungsional Keterpaduan fungsional merupakan keterpaduan dalam membagi peran diantara para terbangunnya pemangku keterpaduan kepentingan peran dapat (stakeholders) meminimalisir dimana tumpang dengan tindih (overlaping) dalam pengelolaan wilayah pesisir, dengan keterpaduan fungsional antar stakeholders juga dapat saling melengkapi. Skema zonasi pesisir yang mengalokasikan sumber daya alam untuk penggunaan spesifik adalah contoh 16 dari keterpaduan fungsional yang efektif. Skema ini menentukan jenis dan tingkat kegiatan yang diperbolehkan di zona masing-masing sesuai dengan sasaran dan tujuan ICM, dengan memberikan batasan yang ditetapkan untuk jenis-jenis kegiatan proyek dan program yang boleh diimplementasikan. Pengalaman menunjukkan bahwa keterpaduan fungsional dan koordinasi di tingkat lokal sangat penting dalam meminimalkan konflik dalam mencapai kesepahaman antar stakeholders. Namun, keterpaduan fungsional perlu dibarengi dengan alokasi sumberdaya keuangan, undang-undang, dan pengembangan strategi pengelolaan pesisir di tingkat lokal maupun nasional. 3) Keterpaduan Kebijakan Keterpaduan kebijakan bertujuan untuk mensinkronisasi antara kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Keterpaduan kebijakan membantu merasionalisasi dan mengkoordinasikan kegiatan antar lembaga publik dan dapat saling melengkapi antar program dan proyek. Keterpaduan Kebijakan membuka peluang bagi strategi pengelolaan pesisir dalam menghadapi tantangan perubahan, dengan tetap menyelaraskan terhadap tujuan pembangunan ekonomi nasional. 2.2.2. Perencanaan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Ditinjau dari perspektif manajemen, pada dasarnya ada empat unsur pertanyaan pokok yang harus dijawab secara tepat didalam proses perencanaan pengelolaan sumberdaya pesisir. Pertama, dimana berbagai macam kegiatan manusia (pembangunan) harus ditempatkan diwilayah pesisir. Kedua, bagaimana menentukan tingkat usaha yang optimal dari setiap kegiatan pembangunan tersebut. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan optimal adalah suatu tingkat usaha kegiatan pembangunan yang secara sosial ekonomi menguntungkan dan secara lingkungan (ekologis) masih dapat diterima. Ketiga, ”kapan” dan ”bagaimana” berbagai kegiatan pembangunan ini harus dilaksanakan. Keempat, ”siapa” yang sebaiknya bertanggung jawab atas pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta penegakan hukum dari program pengelolaan ini. Suatu perencanaan pada perinsipnya merupakan skenario yang sistematis dan rasional serta dimaksudkan untuk mencapai sasaran yang 17 diinginkan dan harus didefinisikan secara jelas dan tepat pada awal tahap perencanaan. Guna mendefinisikan secara proporsional, maka pendefinisian ini hendaknya berdasarkan pada permasalahan dan isu dari pengelolaan sumberdaya pesisir. Meskipun permasalahan ini secara rinci bervariasi dari satu wilayah pesisir kewilayah yang lainnya, namun secara garis besar setiap upaya pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia akan mengahadapi empat kelompok masalah berikut (1) degradasi ekosistem, (2) pencemaran, (3) konflik pemanfaatan sumberdaya, dan (4) ketidak efisienan pemanfaatan sumberdaya. Sudah barang tentu, akar dari keempat masalah pokok ini harus ditelaah secara cermat. Menghadapi permasalahan pokok ini, maka wajar bila tujuan pengelolaan wilayah pesisir adalah untuk mencapai alokasi sumberdaya secara optimal di antara berbagai penggunaan, serta untuk memelihara kapasitas keberlanjutan (sustainable capacity) dari ekosistem pesisir itu sendiri. Analisa permasalahan dan definisi tujuan tersebut menjadi landasan dan tolok ukur utama bagi tahapan berikutnya. Agar dapat menempatkan berbagai kegiatan pembangunan dilokasi yang secara ekologis sesuai, maka kelayakan biofisik (biophysical suitability) dari wilayah pesisir harus diidentifikasikan lebih dahulu. Pendugaan kelayakan biofisik ini dilakukan dengan cara mendefinisikan persyaratan biofisik (biophysical requirements) setiap kegiatan pembangunan, kemudian dipetakan (dibandingkan) dengan karakteristik biofisik wilayah pesisir itu sendiri. Dengan cara ini dapat ditentukan kesesuaian penggunaan setiap unit (lokasi) wilayah pesisir. Penempatan kegiatan pembangunan dilokasi yang sesuai, tidak saja menghindarkan kerusakan lingkungan tetapi juga menjamin keberhasilan (viability) ekonomi kegiatan dimaksud. Penentuan kelayakan biofisik ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) seperti Arc/Info dan Arc View (Kapetsky et al, 1987). Informasi dasar, biasanya tersedia dalam bentuk thematic maps, yang diperlukan untuk menyusun kelayakan biofisik ini tidak saja meliputi karakteristik daratan dan hidrometeorologi, tetapi juga oceanografi dan biologi perairan pesisir. 18 Apabila kelayakan biofisik ini dipetakan dengan informasi tentang tata guna ruang saat ini, maka ketersediaan biofisik (biophysical availability) wilayah pesisir pun dapat pula ditentukan. Selanjutnya, jika informasi tentang potensi penggunaan (the future uses) wilayah pesisir juga tersedia, maka tata ruang yang dinamis pun dapat disusun. Tahap selanjutnya adalah menentukan tingkat usaha optimal dari setiap kegiatan yang diplot pada lokasi yang sesuai menurut tata ruang tersebut di atas. Tahap ini merupakan tugas yang paling menantang bagi para perencana dan pengambil keputusan. Oleh karena tahap ini harus melibatkan paling sedikit 3 pertimbangan: berbagai tujuan yang mungkin saling bertentangan, timbal balik sektoral dan regional baik yang ada di sistem wilayah pesisir ataupun yang diluarnya, dan dinamika waktu. Untuk dapat menentukan kapan dan bagaimana berbagai kegiatan pembangunan dilaksanakan, diperlukan analisis antara lain mengenai: keadaan infrastruktur, potensi, vegetasi, potensi sumberdaya manusia, dan kemampuan administratif daerah menentukan siapa yang yang sedang harus dipertimbangkan. bertanggung jawab Sedangkan atas untuk pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi program yang sudah ditetapkan membutuhkan analisis tentang aspek kelembagaan dan hukum yang ada, baik yang formal maupun tidak formal. Dengan demikian, tahapan yang terakhir pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk menjamin terlaksananya segenap aktivitas yang sudah ditetapkan pada tahap sebelumnya. Analisis mengenai keadaan sosekbud dan aspek kelembagaan minimal meliputi : statistik kependudukan, pola mata pencaharian, aspirasi penduduk setempat tentang pembangunan wilayah pesisir dan kualitas lingkungan, pola hak pemilikan sumberdaya, dan manajemen sumberdaya tradisional yang sudah dianut masyarakat pesisir secara turun temurun. Informasi ini sangat berguna untuk menjamin bahwa penduduk setempat akan diuntungkan oleh setiap proyek pembangunan yang akan berlangsung di wilayahnya. Lebih jauh, hasil analisis ini juga dapat membantu para perencana dan pengambil keputusan dalam merancang dan membangun suatu perangkat kelembagaan (institutional arrangement) dan metode-metode tepat guna bagi pengelolaan sumberdaya pesisir. 19 Perencanaan pada prinsipnya merupakan suatu yang dinamis dan adaptif. Oleh karenanya, ia harus cukup luwes untuk dapat mengatasi berbagai ketidak menentuan dan perubahan baik yang terjadi didalam atau diluar sistem wilayah pesisir. Dalam konteks ini, suatu program pemantauan devaluasi yang teratur dapat meningkatkan keluwesan dan adaptifitas dari perencanaan pengelolaan sumberdaya pesisir, melalui mekanisme umpan balik (feedback mechanism). Melalui proses perencanaan dan pengelolaan semacam ini pembangunan sumberdaya wilayah pesisir berkelanjutan diharapkan dapat tercapai. 2.3 Strategi Pembangunan Berkelanjutan (Strategy of Development Sustainability) dalam Konteks Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (WCED, 1987). Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga syarat sebagai berikut (1) Untuk sumberdaya dapat pulih (renewable resources), laju pemanfaatan sumberdaya tidak melampaui laju regenerasi sumberdaya tersebut. (2) Untuk sumberdaya tidak dapat pulih (non renewable resources, laju pemanfaatan sumberdaya tidak melampaui laju penemuan inovasi baru atau substitusinya. (3) Adanya kemampuan mengekang implikasi kegiatan pemanfaatan, termasuk di dalamnya adalah kemampuan pengolahan limbah (Ginting, 2002). Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan pada dasarnya merupakan suatu strategi pembangunan yang memberikan semacam ambang batas (limit) pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah serta sumberdaya alam yang ada didalamnya. Ambang batas ini tidaklah bersifat mutlak (absolute), melainkan merupakan batas yang luwes (flexible) yang bergantung pada kondisi teknologi dan sosial ekonomi tentang pemanfaatan sumberdaya alam, serta kemampuan biosfir untuk menerima dampak kegiatan manusia. Dengan perkataan lain, pembangunan berkelanjutan adalah suatu strategi pemanfaatan ekosistem alamiah sedemikian rupa sehingga kapasitas fungsionalnya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia tidak rusak. Untuk dapat menterjemahkan konsep pembangunan berkelanjutan ke dalam praktek pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara tepat, maka baik 20 aspek ekologi maupun sosial, ekonomi dan budaya harus dipertimbangkan sejak tahap perencanaan dari suatu proses pengelolaan ini, harus diidentifikasi dan selanjutnya disinkronkan dengan kaidah-kaidah dari konsep pembangunan berkelanjutan. Kerangka strategi pembangunan berkelanjutan melalui pengelolaan IS Pemerintah an Kebijakan, Strategi dan Perencanaan Perangkat Kelembagaan Informasi dan Kepedulian Publik Legislasi Mekanisme Keuangan Pengembangan Kapasistas Policy and Functional, Sc ientific/ Expert Advice ICM Cycle Aspek Pemb angun an Berkelan jutan Natural and Manmade Hazard Prevention and Management Habitat Protection, Restoration and Management Water Use and Supply Management Food Security an Livelihood Management Pollution Reduction and Waste Management ICM Code ICM Cycle Project and P rogram State of Co asts Reporting MDGs WSSD Agenda 21 SDS-SEA ISO 14001 Partnerships (Public, Civil Society, Corporate and Other Stakeholders sumberdaya pesisir terpadu dapat terlihat dalam Gambar 3 berikut : Target Gambar 3. Kerangka kerja Strategi Pembangunan Berkelanjutan unt uk Wilayah Kelautan Timur Asia ( PEMSEA, 2003) Secara garis besar konsep pembangunan berkelanjutan memiliki empat dimensi : (1) Dimensi ekologis, (2) Dimensi Sosial-Ekonomi-Budaya, (3) Dimensi Sosial Politik, dan (4) Demensi Hukum dan Kelembagaan. 1) Dimensi Ekologis Pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir secara berkelanjutan berarti bagaimana mengelola segenap kegiatan pembangunan yang terdapat disuatu wilayah yang berhubungan dengan wilayah pesisir agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya. Setiap ekosistem alamiah, termasuk wilayah pesisir, memiliki 4 fungsi pokok bagi kehidupan manusia: (1) Jasa-jasa 21 pendukung kehidupan, (2) Jasa-jasa kenyamanan, (3) Penyedia sumberdaya alam, dan (4) Penerima limbah (Ortolano, 1984). Berdasarkan keempat fungsi ekosistem diatas, maka secara ekologis terdapat tiga prinsip yang dapat menjamin tercapainya pembangunan berkelanjutan, yaitu : (1) Keharmonisan spasial, (2) Kapasitas asimilasi, dan (3) Pemanfaatan berkelanjutan. Keberadaan zona konservasi dalam suatu wilayah pembangunan sangat penting dalam memelihara berbagai proses penunjang kehidupan, seperti siklus hidrologi dan unsur hara; membersihkan limbah secara alamiah; dan sumber keanekaragaman hayati (biodiversity). Bergantung pada kondisi alamnya, luas zona preservasi dan konservasi yang optimal dalam suatu kawasan pembangunan sebaiknya antara 30 - 50 % dari luas totalnya. Sementara itu, bila kita menganggap wilayah pesisir sebagai penyedia sumberdaya alam, maka kriteria pemanfaatan untuk sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) adalah bahwa laju ekstraksinya tidak boleh melebihi kemampuannya untuk memulihkan dari pada suatu periode tertentu (Clark, 1988). Sedangkan pemanfaatan sumberdaya pesisir yang tak dapat pulih (nonrenewable resources) harus dilakukan dengan cermat, sehingga efeknya tidak merusak lingkungan sekitarnya. Ketika kita memanfaatkan wilayah (perairan) pesisir sebagai tempat untuk pembuangan limbah, maka harus ada jaminan bahwa jumlah total dari limbah tersebut tidak boleh melebihi daya asimilasinya (assimilative capacity). Dalam hal ini, yang dimaksud dengan daya asimilasi adalah kemampuan suatu ekosistem pesisir untuk menerima suatu jumlah limbah tertentu sebelum ada indikasi terjadinya kerusakan lingkungan dan atau kesehatan yang tidak dapat ditoleransi (Krom, 1986 dalam Bengen, 2000). 2) Dimensi Sosial Ekonomi Secara sosial - ekonomi - budaya konsep pembangunan berkelanjutan mensyaratkan, bahwa manfaat (keuntungan) yang diperoleh dari kegiatan penggunaan suatu wilayah pesisir serta sumberdaya alamnya harus diprioritaskan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar kegiatan (proyek) tersebut, terutama mereka yang ekonomi lemah, guna menjamin 22 kelangsungan pertumbuhan ekonomi wilayah itu sendiri. Untuk negara berkembang, seperti Indonesia, prinsip ini sangat mendasar, karena banyak kerusakan lingkungan pantai misalnya penambangan batu karang, penebangan mangrove, penambangan pasir pantai dan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, berakar pada kemiskinan dan tingkat pengetahuan yang rendah dari para pelakunya. Keberhasilan Pemerintah Propinsi Bali dalam menanggulangi kasus penambangan batu karang, dengan menyediakan usaha budidaya rumput laut sebagai alternatif mata pencaharian bagi para pelakunya, adalah merupakan salah satu contoh betapa relevannya prinsip ini bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia. 3) Dimensi Sosial Politik Pada umumnya permasalahan (kerusakan) lingkungan bersifat eksternalitas. Artinya pihak yang menderita akibat kerusakan tersebut bukanlah si pembuat kerusakan, melainkan pihak lain, yang biasanya masyarakat miskin dan lemah. Misalnya, pendangkalan bendungan dan saluran irigasi serta peningkatan frekwensi dan magnitude banjir suatu sungai akibat penebangan hutan yang kurang bertanggung jawab didaerah hulu. Demikian juga dampak pemanasan global akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca diatmosfer yang sebagian besar disebabkan oleh negara-negara industri. Ciri khas lain dari dari kerusakan lingkungan adalah, bahwa akibat dari kerusakan ini biasanya muncul setelah beberapa waktu ada semacam time lag. Contohnya, pencemaran perairan Teluk Minamata di Jepang terjadi sejak tahun 1940-an. Tetapi penyakit minamata dan itai-itai baru timbul pada awal 1960-an (silent spring oleh Carson R, 1963). Mengingat karakteristik permasalahan lingkungan tersebut, maka pembangunan berkelanjutan hanya dapat dilaksanakan dalam sistem dan suasana politik yang demokratis dan transparan. Tanpa kondisi politik semacam ini, niscaya laju kerusakan lingkungan akan melangkah lebih cepat ketimbang upaya pencegahan dan penanggulangannya. 4) Dimensi Hukum dan Kelembagaan Pada akhirnya pelaksanaan pembangunan berkelanjutan mensyaratkan pengendalian diri dari setiap warga dunia untuk tidak merusak lingkungan. Dan 23 bagi kelompok the haves dapat berbagi kemampuan dan rasa dengan saudaranya yang masih belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, sembari mengurangi budaya konsumerismenya. Persyaratan yang bersifat personal ini dapat dipenuhi melalui penerapan sistem peraturan dan perundang-undangan yang berwibawa dan konsisten. Serta dibarengi dengan penanaman etika pembangunan berkelanjutan pada setiap warga dunia. Disinilah peran sentuhan nilai-nilai keagamaan akan sangat berperan. 2.4 Konsep Pembangunan Wilayah Pesisir Pembangunan berkelanjutan telah menjadi isu global yang harus dipahami dan diimplementasikan pada tingkat lokal. Pembangunan berkelanjutan sering dipahami hanya sebagai isu-isu lingkungan, lebih dari itu pembangunan berkelanjutan mencakup tiga hal kebijakan, yaitu pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan perlindungan lingkungan yang digambarkan oleh John Elkington dalam bagan triple bottom line sebagai penemuan dari tiga pilar pembangunan yaitu “profit, people, dan planet” yang merupakan tujuan pembangunan. Secara teoritis keterbatasan Negara berkembang dalam mengembangkan perekonomian dapat ditelaah melalui pendekatan teori-teori penghambat pembangunan. Implikakasi teoritis ini sangat berguna dalam menyusun kerangka berfikir dalam melihat persoalan pemberdayaan ekonomi masyarakat suatu daerah. Dari ketiga teori yang menghambat pembangunan, dalam persoalan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir di Kota Bontang. Pendekatan efek dualisme sosial dan teknologi merupakan pilihan dalam menjelaskan kasus ini. Pilihan ini dijatuhkan mengingat keterlibatan PKT sebagai perusahaan penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bontang yang cukup berpengaruh. Pendekatan teori yang menghambat pembangunan ini seperti PKT diharapkan sebagai kutub atau pusat pertumbuhan yang mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi daerah sekitarnya. 2.4.1 Efek Dualisme Ekonomi Salah satu dari ciri negara berkembang, perekonomiannya bersifat dualistis. Artinya, dalam perekonomian kegiatan ekonominya dapat dibedakan menjadi dua golongan: kegiatan ekonomi modern dan kegiatan ekonomi 24 tradisional. Pada dasarnya ciri perekonomian yang bersifat dualistis tersebut, terutama dualisme sosial dan teknologi, menimbulkan keadaan-keadaan yang menyebabkan mekanisme pasar tidak berfungsi dengan semestinya. Mekanisme pasar ini selanjutnya mengakibatkan sumberdaya yang tersedia tidak digunakan secara efisien. Disamping itu penggunaan teknologi yang terlalu tinggi di sektor modern menimbulkan kesulitan bagi negara untuk mempercepat perkembangan kesempatan kerja di sektor modern. Kondisi inilah yang menyebabkan masalah pengangguran yang dihadapi, dimana kesenjangan antara tingkat pendapatan di sektor-sektor ekonomi modern dengan sektor ekonomi tradisional. Berbagai hambatan yang timbul dari adanya dualisme dari perekonomian yang baru berkembang dari pengaruh sektor tradisional kepada kehidupan masyarakat dan kegiatan perekonomian. Sebagian kegiatan ekonomi yang bersifat dualisme, disatu sisinya menggunakan teknik-teknik yang sederhana dan cara berpikir yang juga sederhana. Konsekuensi penggunaan teknik sederhana menyebabkan produktifitas berbagai kegiatan produktif yang rendah. Dan konsekuensi dari cara berpikir yang sederhana menyebabkan usaha-usaha pembaharuan sangat terbatas. Disamping dualisme ekonomi, dualisme teknologi memiliki akibat yang cukup serius, yaitu: membatasi sektor modern untuk membuka kesempatan kerja. Sektor modern terdiri dari sektor industri dan dalam sektor ini teknik-teknik berproduksi bersifat padat modal. Dalam teknik produksi yang demikian sifatnya, proporsi antara faktor-faktor produksi relatif tetap. Makin tinggi tingkat teknologi makin terbatas kemampuannya untuk menyerap tenaga kerja dengan tingkat kompetensi yang rendah. Selain terjadinya implikasi buruk dari dualisme teknologi terhadap penciptaan kesempatan kerja, harus pula disadari bahwa teknologi modern mempercepat pertumbuhan ekonomi. Implikasi lainnya adalah kegiatan-kegiatan dalam sektor modern pada umumnya mengalami perkembangan yang jauh lebih pesat dari sektor tradisional. Hal ini berarti bahwa kesenjangan tingkat kesejahteraan antara kedua sektor itu makin lama makin bertambah lebar. 25 2.4.2 Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole Theory) Ide awal tentang pusat pertumbuhan (growth pole) Fancois Perroux muncul sebagai reaksi terhadap pandangan ekonom pada waktu itu, seperti Casel (1927) dan Schumpeter (1951). Pemikiran ekonomi yang berkembang saat itu menyatakan bahwa transfer pertumbuhan antar wilayah berjalan lancar, sehingga perkembangan penduduk, produksi dan capital tidaklah selalu proporsional antar waktu. Perroux menemukan kenyataan yang berbeda dengan pendapat umum saat itu. Dimana transfer pertumbuhan ekonomi antar daerah umumnya tidak lancar, tetapi cenderung terkonsentrasi pada daerah-daerah tertentu yang memiliki keuntungan lokasi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi cenderung terkonsentrasi pada daerah tertentu yang didorong oleh adanya keuntungan aglomerasi yang timbul karena adanya konsentrasi kegiatan ekonomi ini. Adanya sekolompok kegiatan ekonomi terkonsentrasi pada suatu lokasi tertentu merupakan karakteristik awal dari sebuah pusat pertumbuhan. Karena kegiatan ekonomi tersebut terkonsentrasi pada lokasi tertentu, maka analisis tidak dapat dikaitkan untuk analisis ekonomi nasional, tetapi lebih pada analisis ekonomi regional. Biasanya pusat pertumbuhan ini berlokasi di daerah perkotaan, atau daerah tertentu yang mempunyai ekonomi spesifik seperti daerah pertambangan, pelabuhan, perkebunan, dan lain-lain. 2.4.3 Kajian-kajian Terkait Tentang Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Permasalahan utama yang sering terkait dengan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir adalah lemahnya keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan pengembangan kelautan dan wilayah pesisir. Munculnya masalah tersebut disebabkan oleh lemahnya sistem dan tata cara koordinasi antar stakeholder karena belum didukung dengan adanya sistem hukum yang mengatur kegiatan tesebut. Selain itu, lemahnya kualitas sumber daya manusia yang mempengaruhi proses partisipatif menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini sering berdampak pada munculnya ketidaksepahaman dan konflik penggunaan ruang antar stakeholder dalam rangka menjaga keseimbangan keberlanjutan sumberdaya alam yang berada di sekitar wilayah pesisir dan laut. Oleh karena itu, tekait dengan permasalahan- 26 permasalahan tersebut di atas pengkajian kebijakan kelautan secara partisipatif dengan stakeholder dalam rangka pemberdayaan masyarakat pesisir sangat diperlukan. Kajian Kebijakan Kelautan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir yang dilakukan Direktorat Kelautan Dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Bappenas (www.bappenas.go.id_index.php, 20 Juli 2008) dapat memberikan masukan yang cukup baik. Kajian ini bertujuan pertama mengidentifikasi karakteristik sumberdaya kelautan dan kondisi wilayah pesisir di beberapa wilayah Indonesia, kedua mengidentifikasi dan menelaah berbagai kendala dan permasalahan yang muncul sehubungan dengan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan wilayah pesisir, ketiga mengkaji dan menelaah langkah-langkah strategi kebijakan pengelolaan sumberdaya kelautan dan wilayah pesisir melalui proses partisipatif, dan keempat menyusun program dan rekomendasi dalam rangka pengembangan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan wilayah pesisir. Hasil Kajian ini menemukan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir dapat dilakukan dengan konsep pendekatan wilayah, yaitu dengan cara menentukan suatu wilayah di kawasan pesisir yang kondisi masyarakatnya miskin, telah terjadi degradasi sumberdaya alam dan lingkungan, kelebihan tangkap (over exploitation), penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan pencemaran. Strategi pendekatan pemberdayaan masyarakat dapat ditempuh melalui pendekatan 4 (empat) bina: (1) bina manusia, (2) bina sumberdaya, (3) bina lingkungan, dan (4) bina usaha, yang dirangkaikan dengan metode partisipatoris (participatory approach). Berdasarkan faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemberdayaan masyarakat pesisir, maka kebijakan pemberdayaan masyarakat pesisir sesuai dengan peringkatnya/ prioritasnya adalah sebagai berikut: (a) peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir; (b) peningkatan kualitas sumberdaya manusia; dan (3) konservasi dan perlindungan sumberdaya kelautan dan perikanan (SDKP). Persoalan yang muncul saat ini tidak terlepas dari ketidaktahuan pengambil kebijakan pada persoalan spasial. Dimana para penentu kebijakan sering mengarah preferensi yang bias ke wilayah perkotaan (urban biased). Kegagalan pembangunan di wilayah perdesaan sebagai misal, telah 27 menimbulkan derasnya proses migrasi penduduk yang berlebihan dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota besar. Keadaan ini menimbulkan persoalan di kota yang sudah terlalu padat, pencemaran udara, pemukiman kumuh, sanitasi yang kurang baik, dan lainnya yang pada akhirnya menurunkan produktivitas masyarakat kawasan perkotaan. 2.4.4 Konsep Pedesaan Wilayah Pesisir Secara teoritis, ekosistem Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Inner Indonesia terdiri dari Jawa, Madura dan Bali (JAMBAL); (2) Outer Indonesia terdiri dari pulau-pulau diluar JAMBAL, yang terdiri dari: Kawasan Barat luar Jawa, berorientasi ke daratan (continental) dan Kawasan Timur luar Jawa, memiliki karakteristik maritim. Berdasarkan karakteristik ekosistem makro ini, maka bentuk-bentuk kawasan perdesaan akan terbagi atas tiga mega struktur, yaitu: (1) Kawasan perdesaan inner Indonesia (JAMBAL) yang berorientasi pada basis pertumbuhan pertanian industri.Konsekuensi terhadap mata pencaharian dan bentuk lingkungan permukiman perdesaan pertanian industri cenderung berbentuk linier sepanjang jalan regional yang menghubungkan suatu noda (kota) dengan noda wilayah lainnya. (2) Kawasan Perdesaan Indonesia Barat yang berorientasi continental agro-estate. Konsekuensi terhadap mata pencaharian dan pola permukiman bervariasi berdasarkan kawasan hulu dan hilir aliran sungai. Kehidupan masyarakat desa-desa hulu sungai (daerah pedalaman) lebih berbentuk kluster (berkelompok), sedangkan pada hilir aliran sungai dan pantai cenderung tersebar. (3) Kawasan Perdesaan Indonesia Timur yang berorientasi maritim. Konsekuensi mata pencaharian dan pola permukiman yang berorientasi maritim, kawasan hutan pedalaman, dataran dan pesisir pantai sering terintegrasikan dalam satu kesatuan komunitas adat, tidak terpisah-pisah seperti pada kawasan continental. Setelah memahami konsep perdesaan, kembali ke tujuan awal. Keterlambatan pengambil kebijakan dalam meningkatkan kapabilitas dan kapasitasnya dalam mengantisipasi persoalan kewilayahan memiliki sumbangan yang cukup besar dalam menciptakan persoalan-persoalan baru. Implikasinya adalah hubungan kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi semakin kompleks 28 dan semakin sulit pemecahannya. Awalnya, berkembangnya kawasan perkotaan diharapkan menjadi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi wilayah keseluruhan yang memberikan tetesan ke wilayah perdesaan sekitarnya (trickle down). Faktanya adalah kegagalan pembangunan di wilayah perdesaan menyebabkan terjadinya urban biased dan mengalami kekurangan investasi modal, sehingga dampaknya telah menimbulkan kehilangan kesempatan kerja bagi masyarakat perdesaan. Dilain pihak lemahnya posisi tawar masyarakat perdesaan memperburuk situasi ini. Dengan terjadinya disparitas spatial, pembangunan kutub-kutub pertumbuhan di kota-kota besar (growth pole strategy) yang semula diramalkan bakal terjadi penetesan (trickle down effect) dari kutub pusat pertumbuhan ke wilayah hinterland-nya ternyata tidak terjadi. Bahkan yang terjadi adalah net effect-nya menimbulkan pengurasan yang besar yang besar (masive backwash effect) dari wilayah perdesaan ke kawasan kota-kota. Dengan perkataan lain, melalui strategi kutub pertumbuhan yang urban biased, telah menyebabkan terjadinya transfer neto sumberdaya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan secara besar-besaran. 2.5 Pembiayaan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Pesisir Terpadu Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan lingkungan pesisir dan laut, adalah untuk menghasilkan kelangsungan penyediaan dana untuk mendukung manajemen pengelolaan, pemeliharaan infrastruktur, perbaikan lingkungan, dan meningkatkan koordinasi serta menerapkan regulasi. Kurangnya dana sering mengakibatkan kegagalan dalam pelaksanaan program pengelolaan. Pihak yang berperan dalam pembangunan secara umum terdiri dari tiga bagian besar yaitu Pemerintah, Masyarakat, dan Pengusaha. Khusus untuk Kota Bontang Pemerintah kota sudah sangat terbantu karena terdapat dua perusahaan besar di Kota Bontang (PKT dan BADAK), disamping itu beberapa perusahaan swasta lainnya. Agar lebih sinergi kegiatan pembangunan di Kota Bontang seyogyanya ada koordinasi diantara pihak tersebut. Disamping itu, Pemerintah Daerah juga memerlukan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab secara proporsional yang diwujudkan dengan 29 pengaturan, pembagian dan pemanfataan sumberdaya nasional yang berkeadilan, perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Sumber-sumber pembiayaan pelaksanaan desentralisasi menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, dana perimbangan, pinjaman daerah dan nilai-nilai penerimaan yang sah. Sumber pendapatan asli daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dari dalam wilayah daerah yang bersangkutan. Pengelolaan sumberdaya pesisir perlu pendanaan yang proporsional sehingga Kabupaten/ Kota dapat memanfaatkan alokasi sumber-sumber pembiayaan dalam rangka disentralisasi. Apabila dalam pengelolaannya meliputi dua atau lebih wilayah kabupaten/ kota maka pembiayaannya melibatkan dana alokasi propinsi. Pelaksanaan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dapat optimal ditunjang dengan sumberdaya nasional (sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan). Mekanisme pembiayaan yang inovatif perlu dikembangkan untuk memastikan program pengelolaan masih dapat diterapkan secara berkelanjutan. Berikut adalah beberapa alternatif pilihan dalam pendanaan yang berkelanjutan. 2.5.1. Anggaran Formal 1) Anggaran Reguler Pemerintah Salahsatu pendekatan konvensional dalam pembiayaan berkelanjutan adalah dari alokasi anggaran pemerintah. Pemerintah umumnya akan melakukan penganggaran belanja rutin terhadap sektor-sektor prioritas dalam proses pembangunan wilayah, melalui instansi tekhnis terkait maupun melalui badan legislasi secara reguler setiap tahun anggaran. 2) Biaya dan Pajak Retribusi. Pendekatan lain yang dapat dilakukan dalam pembiayaan berkelanjutan adalah dengan memberikan beban biaya bagi penggunaan kawasan, biaya perizinan dan biaya layanan. Sistem biaya merupakan mekanisme yang berguna untuk menghasilkan pendapatan untuk pengelolaan lingkungan dan untuk mempertahankan penyediaan layanan secara profesional dan proyek-proyek perbaikan lingkungan lainnya. Namun, infrastruktur atau regulasi juga harus 30 disiapkan untuk menunjang pengelolaan serta penggunaan pendapatan yang dikumpulkan. Di Xiamen (Cina), sebuah sistem perizinan telah diadopsi untuk penggunaan perairan pesisir. Kota ini mengembangkan skema laut menggunakan zonasi yang mengalokasikan wilayah tertentu seperti penggunaan untuk galangan kapal, fasilitas rekreasi, memancing dan kegiatan lainnya yang menggunakan perairan pesisir memerlukan izin dari Biro Perikanan dan Kelautan Xiamen. Demikian juga, pelabuhan yang menyediakan fasilitas penerimaan limbah, dapat membebankan biaya yang sesuai. Biaya yang dikumpulkan dari pengolahan limbah bisa menghasilkan dana besar untuk pemeliharaan dan operasi. Di Bremen Port, biaya lingkungan yang dikenakan pada kapal-kapal di pelabuhan yang menggunakan fasilitas wilayah perairan. Biaya tambahan lingkungan juga dapat dipungut dari semua kargo yang dikelola oleh syahbandar pelabuhan, dengan memberikan kontribusi untuk biaya fasilitas penerimaan (Roos, 1997; Challis, 1997). Di Afrika Selatan, kargo perpajakan yang digunakan sebagai sarana untuk menghasilkan pendapatan untuk mendanai navigasi dan manajemen polusi. 2.5.2. Sektor Publik dan Kemitraan Swasta Kemitraan swasta adalah mekanisme pembiayaan yang dapat meningkatkan upaya publik dalam pengelolaan lingkungan. Sektor swasta secara keseluruhan memiliki sumberdaya keuangan dan keterampilan, untuk merancang, membangun dan transfer fasilitas dan layanan untuk memperbaiki lingkungan: misalnya, perencanaan dan operasionalisasi fasilitas pengolahan air limbah, menerapkan pelatihan khusus, dan melakukan survei sumberdaya alam dan lingkungan. Keterlibatan sektor swasta dapat dipercepat melalui penciptaan kebijakan yang dinamis dan lingkungan investasi yang adil sehingga peran sektor publik secara efektif dapat terpenuhi. Pada dasarnya, mengubah isu-isu lingkungan menjadi peluang investasi dapat difasilitasi oleh sektor publik melalui reformasi kebijakan yang mendorong investasi sektor swasta. Kerangka Integrated Coastal Management (ICM) memungkinkan prioritas masalah lingkungan yang memerlukan manajemen/ 31 intervensi teknologi untuk diidentifikasi. Proses ICM memungkinkan membangun kesepahaman antara stakeholder dalam membangun suatu kebijakan lingkungan sosial yang kondusif bagi swasta untuk berinvestasi. Adapun bentuk peran pihak perusahaan/ swasta diantaranya adalah ; 1) Hibah dan Bantuan Pembiayaan ICM dapat diperoleh dari dana hibah dan bantuan dengan menjalin kemitraan dengan pihak perusahaan/ swasta, namun alokasi dana ini bersifat temporal dan tidak berlangsung secara kontinyu/ berkelanjutan, karena hanya didasari oleh kedermawanan sosial (philantrophy) dan kesukarelaan (charity) dari pihak swasta, tanpa adanya aturan yang mengikat. 2) Corporate Social Responsibility (CSR) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan secara teoritis dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility atau CSR. CSR merupakan upaya yang wajib dilakukan oleh suatu perusahaan/ swasta untuk mempertangggung jawabkan dampak operasionalnya terhadap pembangunan berkelanjutan (sustainability development). Dalam hal ini CSR lebih dapat diharapkan dalam pembiayaan ICM secara berkesinambungan, karena sifatnya yang lebih menekankan pada kewajiban perusahaan/ swasta dalam membangun lingkungan dan relasi sosialnya sebagaimana diatur dalam aturan perundangundangan, sekaligus sebagai investasi sosial bagi perusahaan/ swasta dalam membangun pencitraan positif di masyarakat . 2.6 Konsep dan Teori CSR Konsep CSR yang sedang digandrungi saat ini belum memiliki definisi tunggal. Beragam definisi dari berbagai lembaga yang berpengaruh ikut mendefinisikan CSR sebagai berikut : 1) Bank Dunia CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development. 32 2) World Council for Sustainable Development Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life and the workforce and their families as well as of the local community and society at large 3) Uni Eropa CSR is a concept whereby companies integrate social and environmental concerns in their business operation and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basis. Terdapat tiga pandangan yang perlu diperhatikan corporate dalam menilai urgensi penerapan CSR. Pertama, CSR merupakan strategi perusahaan yang pada akhirnya mendatangkan keuntungan. Kedua, sebagai compliance (kewajiban), karena akhirnya akan ada hukum yang menekan perusahaan. Ketiga, yang memandang CSR merupakan suatu yang penting karena perusahaan merasa sebagai bagian dari komunitas. Pentingnya CSR juga bisa dilihat dari kecenderungan pelaku bisnis dunia. CSR di pasar modal dunia kian menjadi faktor penentu yang penting. Umpamanya, New York Stock Exchange sekarang memiliki Dow Jones Sustainability (DJSI) untuk aneka saham perusahaan yang dikategorikan mempunyai nilai CSR yang baik. Sudah selayaknya perusahaan melaksanakan CSR dengan kesungguhan dan bukan semata demi menjaga image perusahaan atau sebagai reaksi terhadap tekanan. Saatnya perusahaan mulai menggeser paradigma berbisnisnya untuk lebih peduli dan memberikan nilai tambah terhadap lingkungan dan masayarakat. Kepedulian ini harus dilihat sebagai bagian dari strategi perusahaan meningkatkan daya saingnya. CSR pada dasarnya mempunyai tujuan akhir yakni sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini dengan memberikan kesempatan yang sama bagi generasi mendatang untuk mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Artinya, ketika terminologi CSR atau tanggung jawab sosial dan lingkungan dikemukakan, maka konsep 33 sustainability merupakan dasar berpijak dari apapun yang dilakukan. Dengan kata lain, silahkan anda berusaha dan silahkan anda mencari keuntungan, tapi tolong jangan korbankan generasi mendatang. Kesadaran berusaha dengan bertanggung jawab merupakan trend yang mendunia saat ini. Diesendorf (2000) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan menyangkut keberlangsungan ekologi (ecological sustainaibility), ekonomi (economic sustainaibility) dan sosial (social sustainaibility). Economic dan social sustainaibility, disatukan menjadi human sustainability. Keberlangsungan ekologi perlu diperhatikan berdasarkan kenyataan bahwa perekonomian dan masyarakat sangat tergantung pada integritas biosfir dan proses ekologi di dalamnya. Keberlangsungan kesejahteraan ekonomi manusia. menekankan pada peningkatan Keberlangsungan sosial mencakup kualitas kesamaan kesempatan dan kemampuan dari masyarakat untuk mengatasi persoalanpersoalan utama dalam hidupnya. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses perubahan yang dapat diukur secara kualitatif. Dalam hal ini yang berubah tidak hanya aspek ekonomi, akan tetapi juga aspek sosial dan lingkungan. Saat ini paradigma bahwa perusahaan melalui kegiatan bisnis berusaha mencari keuntungan semata sudah usang. Kini tujuan keberadaan bisnis adalah tidak hanya mencari keuntungan, tetapi melakukan sesuatu yang lebih baik dengan tujuan memaksimalkan nilai pemegang saham, juga memaksimalkan nilai bagi para pemangku kepentingan (stakeholders). Stakeholder perusahaan ada yang berada di dalam perusahaan (internal stakeholder) dan ada yang berada di luar perusahaan (eksternal stakeholders). Internal stakeholders terdiri dari para karyawan dan seluruh anggota perusahaan. Eksternal stekeholder terdiri dari pemasok, komunitas lokal, masyarakat luas, pesaing, pemerintah, perusahaan lain, dan masyarakat dunia. Tanggung jawab sosial terhadap internal stakeholder harus menjadi prioritas perusahaan sebelum memberikan perhatian kepada eksternal stakeholder. Karyawan harus dilihat sebagai aset dan mitra perusahaan yang harus dihargai dan dipelihara dengan baik serta ditingkatkan kesejahteraannya terlebih dahulu. 34 2.6.1 Sejarah dan Evolusi Pemikiran CSR Konsep CSR mulai dikenal sejak diterbitkannya buku karya Howard Bowen sebagai founding father CSR dengan judul ”Social Responsibility of Businessman” pada tahun 1953, konsep ini pun menjadi aktual pada tiga dasawarsa kemudian, tepatnya tahun 1987, dimana The World Commision on Environment and Development (WCED) dalam Bruntland Report, telah mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environtmental protection, dan social equity. Konsep sustainability development kian dikukuhkan melalui KTT Bumi di Rio De Janeiro pada tahun 1992 dimana pada forum tersebut ditegaskan bahwa konsep sustainability development yang didasarkan pada perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi dan sosial merupakan sesuatu yang mesti dilakukan oleh semua pihak, termasuk perusahaan. Konsep CSR kian populer pada tahun 1998, terutama setelah kehadiran buku ”Cannibals With forks; The Triple Bottom Line in 21st Century Business” (1998) karya John Elkington, dimana Elkington mengemas CSR dalam tiga fokus; 3P yang merupakan singkatan dari Profit, Planet dan People. Dan pada tahun 2002 hasil dari World Summit Sustainable Development (WSSD) di Yohannesburg memunculkan konsep Social Responsibility yang mengiringi dua konsep sebelumnya yaitu economic dan environtment sustainability, dari rumusan pertemuan inilah selanjutnya pada tahun 2010 berhasil diberlakukan ISO 26000 sebagai suatu standar operasi dan norma pelaksanaan tanggung jawab sosial dari organisasi-organisasi termasuk perusahaan yang terhimpun dalam Guidance on Social Responsibility. Loss Prevention Not Charity merupakan cara pandang baru guna mencari solusi yang bersifat win-win antara pihak perusahaan dan komunitas lokal. Selain isu-isu kontribusi perusahaan terhadap komunitas dan masyarakat, sebenarnya banyak isu lainnya dalam CSR. Seperti: isu tata kelola yang baik bagi organisasi (good corporate governance), isu tentang hak asasi manusia, isu tentang ketenagakerjaan, isu lingkungan, isu tentang menjalankan bisnis yang tidak curang, dan isu tentang konsumen. 35 Ada tiga hal utama yang merupakan esensi dari pemahaman CSR, yaitu: (1) CSR merupakan tindakan yang harus diambil perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak yang ditimbulkan akibat operasi perusahaan maupun kebijakan yang diambil terhadap lingkungan hidup, internal perusahaan dan eksternal perusahaan. (2) CSR harus beyond compliance to law, artinya: perusahaan harus dan wajib pertama kali mematuhi hukum dan peraturan yang ada. Setelah itu baru melakukan hal-hal baik kepada para stakeholders maupun lingkungan, diluar yang diwajibkan oleh hukum dan peraturan. Pra kondisi inilah yang harus tercipta, perusahaan harus dan wajib mematuhi hukum dan peraturan, sehingga barulah dapat dikategorikan sebagai kegiatan CSR. (3) CSR menuntut pengambil keputusan untuk turut bertanggung jawab juga. Dengan demikian CSR berkaitan erat dengan praktek corporate governance, atau jika pada organisasi, berarti organizational governance. Mengapa governance, karena dalam konsep governance, tanggung jawab dalam pengambilan keputusan (board) adalah hal yang paling utama. Board harus dapat diminta pertanggungjawabannya atas keputusan dan kebijakan yang diambil. Artinya, hal ini sangat terkait dengan akuntanbilitas. Board juga harus mengungkapkan hal-hal penting diketahui para pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal, seperti: laporan kinerja, laporan proses pengambilan keputusan, audit, laporan kegiatan CSR (melalui Sustainable Reporting), dan lain-lain. (Nindita, 2008). Dalam diskusi terbatas di CECT Universitas Trisakti dapat disimpulkan hubungan CSR, sustainability dan sustainable development. Sustainability adalah tujuan akhir yang harus dicapai oleh semua perusahaan. Tujuan akhir tersebut diantaranya adalah menyeimbangkan antara kinerja ekonomi, kesejahteraan sosial dan peremajaan serta pelestarian lingkungan hidup. Proses mencapai tujuan akhir disebut sebagai sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Sedangkan CSR adalah vehicle (kendaraan) untuk mencapai tujuan akhir tersebut, jadi CSR merupakan bagian dari kegiatan pembangunan yang berkelanjutan. 36 2.6.2 Konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (CSR) CSR mulai mengemuka dalam hasanah bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat ketika dunia internasional ramai membicarakan CSR ini, hingga CSR menjadi isu besar bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi dimanapun. Hingga pada akhirnya pelaksanaan CSR di Indonesia dipayungi oleh Undang-Undang No. 40 tahun 2007, Pasal 74 yaitu UndangUndang tentang Perseroan Terbatas. Didalam Undang-Undang ini pada pasal 74 dinyatakan bahwa semua Perseroan Terbatas wajib hukumnya melaksanakan CSR, sehingga tanggung sosial menjadi bagian dari rencana penganggaran perusahaan. Ada dua konteks politik ekonomi Indonesia dalam melihat peran BUMN kurun waktu 1998-2003, yaitu: (1) Kebijakan pemerintah melakukan penataan ulang (reformasi) BUMN yang ditandai dengan dua isu pokok, yakni restrukturisasi dan privatisasi. (2) Kebijakan pemerintah menjadikan usaha kecil sebagai tulang punggung ekonomi paska krisis. Dalam UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN, Bukan hanya dukungan pada keberadaan usaha kecil dan koperasi tetapi juga BUMN harus mendukung program-program sosial yang lain. Program Bina Lingkungan (BL) yang menjadi dasar praktik tanggung jawab sosial BUMN, merupakan kebijakan sosial BUMN yang menyatu dengan dukungan terhadap usaha kecil dan koperasi yang disebut Program Kemitraan (PK). Kedua aspek tersebut, baik program BL maupun PK, terwadahi dalam suatu ketentuan hukum yang sama, yakni: Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 dan Nomor : PER-05/MBU/2007, tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL). Serta surat edaran Menteri BUMN Nomor: SE-33/MBU/2003 dan SEN01/MBU.S/2009 yang merupakan petunjuk pelaksanaan dari Keputusan Menteri tersebut. Dalam surat edaran ini dijelaskan pula bahwa masing-masing BUMN membentuk unit sendiri yang khusus untuk melaksanakan PKBL. Ada tiga persoalan dalam menerapkan program PKBL. Pertama, Kepmen-236/MBU/2003 menyangkut pembatasan terhadap lima objek bantuan (pendidikan, kesehatan, sarana umum, sarana ibadah, dan bencana alam). Kedua, terkait dengan manajemen program ditingkat BUMN yang masih bersifat 37 top down dan memerlukan persetujuan dari manajemen pusat bagi BUMN. Ketiga, menyangkut minimnya blueprint atau cetak biru kebijakan. Tak jarang pelaksanaan tanggung jawab sosial BUMN hanya didasarkan pada keinginan baik dan dimensi etis, tetapi belum dirumuskan dalam suatu kebijakan tertulis oleh perusahaan BUMN. Adapun perbandingan CSR dan PKBL disajikan pada Tabel 1 berikut ; Tabel 1. Perbedaan - Persamaan CSR dan PKBL Aspek CSR PKBL Dasar Hukum • Ps. 74 UU No. 40 tahun 2007 • Peraturan Pemerintah (masih dalam Rancangan) • Ps.2 ayat (1) huruf e dan Ps.88 ayat (1) UU No.19 Tahun 2003 jo. Peraturan Meneg BUMN No.PER05/MBU/2007 Sasaran/ Tujuan • Menciptakan hubungan yang serasi, seimbang dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya setempat secara berkelanjutan (Penjelasan Ps.74 ayat (1) • Program Kemitraan : Untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri • Program Bina Lingkungan : Pemberdayaan kondisi sosial masyarakat Obyek Peraturan • Perusahaan (Perseroan Terbatas) yg • Persero (termasuk Persero Terbuka) menjalankan kegiatan usaha dibidang / dan Perum (Ps.2 ayat (1) dan (2) berkaitan dengan Sumberdaya Alam Peraturan Meneg BUMN No.PER(SDA) (Ps.74 ayat (1)) 05/MBU/2007) • Perusahaan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan SDA, tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumberdaya alam (Penjelasan Ps.7 ayat (1) Sifat Peraturan Memaksa (wajib dilaksanakan) bagi perusahaan yang terkait SDA dan/atau perusahaan yang usahanya berdampak pada fungsi kemampuan SDA, apabila tidak dilaksanakan, maka dapat dikenakan sanksi (Ps.74 ayat (3) Terhadap Persero dan Perum, sifat peraturan memaksa (wajib dilaksanakan) karena Program tersebut dijadikan salah satu indikator penilaian tingkat kesehatan Persero / Perum (Ps. 2 ayat (1) jo. Ps.30 ayat (1) Peraturan Meneg BUMN No.PER-05/MBU/2007) Lingkup Tanggung Jawab Terbatas di lingkungan/masyarakat di wilayah kegiatan usaha Perusahaan (Penjelasan Ps.7 ayat (1)) Lebih luas dari lingkup Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan berdasarkan UU No. 40 Tahun 2007 (tidak sebatas wilayah tempat kegiatan usaha Persero atau Perum) Perlakuan Anggaran Diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran (Ps.74 ayat (2) • Maksimal 2% (dua persen) dari laba bersih untuk Program Kemitraan • Maksimal 2% (dua persen) dari laba bersih untuk Program Bina Lingkungan. Sumber : CA RE LPPM IPB, 2011 (makalah paparan Awareness Internal PK T, “Organisasi PKT dalam Pengelolaan Pelaksanaan CSR dan PKBL”) 38 Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa secara konsep Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang dilaksanakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak jauh berbeda dengan best practices CSR yang dilakukan oleh perusahaan swasta sehingga dapat dikatakan bahwa PKBL merupakan praktek CSR yang dilakukan oleh BUMN. Permasalahan muncul bagi perusahaan milik negara, dikarenakan perusahaan ini ada yang berbentuk Perseroan Terbatas, lantas acuan mana yang harus diikuti dalam hal pelaksanaan tanggung sosialnya, sementara mereka sudah melaksanakan PKBL. Cakupan pelaksanaan PKBL - BUMN diharapkan mampu mendukung mewujudkan 3 pilar utama pembangunan nasional (triple tracks) yang telah dicanangkan pemerintah dan merupakan janji politik kepada masyarakat, yaitu: (1) pengurangan jumlah pengangguran; (2) pengurangan jumlah penduduk miskin; dan (3) peningkatan pertumbuhan ekonomi. Melalui PKBL diharapkan terjadi peningkatan partisipasi BUMN untuk memberdayakan potensi dan kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan masyarakat dengan fokus diarahkan pada pengembangan ekonomi kerakyatan untuk menciptakan pemerataan pembangunan. Sementara cakupan pelaksanaan CSR disamping mewujudkan 3 pilar tadi, juga berdimensi kepada pewujudan palaksanaan operasi perusahaan yang tidak melanggar HAM, praktek yang jujur, dan dimensi lain yang tercantum dalam ISO 2600, sebagaimana disajikan pada Gambar 4 berikut. The Environment Labour paractices Fair operating process Consumer issues Human rights Organizational governance Social Responsibility Social Development Gambar 4. Acuan Pelaksanaan CSR berdasarkan ISO 26000 39 Dengan disahkannya ISO 26000 maka pelaksanaan CSR di dunia harus mengacu kepada indikator-indikator tersebut, termasuk juga adalah perusahaan yang berada dibawah pengelolaan pemerintah Indonesia (BUMN). Sementara jika perusahaan BUMN telah melaksanakan program PKBL, maka sesungguhnya dia sudah melaksanakan bagian-bagian dimensi dari pelaksanaan CSR, tinggal melengkapi dimensi lainnya sesuai dengan ISO 26000. Two fundamental practices of social responsibility Clause 4 Accountability Transparency Social Responsibility Core subject Human rights Ethical Behaviour clause 6 Labour practices The Environ ment Fair operating practices Consumer issues Community involvement and development integrating social rersponsibility troughout an organization The relationship of an organizations characteristics to social responsibility Voluntary initiatives for social responsibility Understanding the social responsibility of the organization Practices for integrating social responsibility throughout an organization Reviewing and improving an organization actions and practices related to social responsibility clause 7 Sustaina ble deve lopment Related actions and expectations Respect for the rule of law Respect for human rights Stake holder identification and engagement Organizational governance Respect for stakeholder interests Respect for internationa l norms of behaviour clause 5 Recognizing social responsibility Seve n principles of social responsibility Communication on social responsibility Enhancing credibility regarding social responsibility Annex : Examples of voluntary initiatives and tools for social responsibility Gambar 5. Scematic overview of ISO 26000 Aplikasi CSR di dunia bisnis internasional telah dibangun dari mulai kegiatan yang bersifat promosi (Branding Image) kemudian bersifat sukarela (voluntary) sampai dengan kewajiban karena hukum (obligation). Pelaksanaan CSR Perusahaan multinasional dalam dunia bisnis lintas negara juga memliki variasi yang inovatif dari waktu kewaktu. Namun pada abad sekarang ini isu CSR internasional sangat didominasi oleh permasalahan pemanasan Global (Global 40 Warming). Meskipun banyak negara-negara di dunia yang belum memperkuat kedudukan CSR secara detail kedalam perangkat hukum masing-masing negara, tidak sedikit perusahaan multinasional yang melaksanakan CSR dan menjadikan CSR sebagai bagian dari bisnis mereka. Perusahaan multinasional yang berkedudukan di Amerika Serikat misalnya, seperti perusahaan minyak Exxon Mobile, perusahaan financial Citigroup, perusahaan industry retail Wal Mart, dan perusahaan computer IBM. Exxon Mobile memfokuskan kegiatan CSR-nya kedalam bidang pendidikan, pelayanan kesehatan yakni antara lain sebagai sponsor dari the United Nations Development Programme (UNDP), the United Nations Children's Fund (UNICEF) dalam pemberantasan malaria, lingkungan, HAM, dan kebijakan publik (www.exxonmobile.com). Wal Mart menitik-beratkan CSR-nya pada bidang pendidikan, kesehatan masyarakat seperti sebagai donatur pada American Cancer Society, the American Red Cross, olahraga, lingkungan, bantuan bencana, kegiatan amal, dan kesejahteraan anak (www.csrglobe.com). CSR IBM terfokus pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pengembangan (www.csrglobe.com). Sedangkan Citigroup, selain fokus pada masyarakat kepada bidang kesehatan, lingkungan, dan pengembangan masyarakat, Citigroup juga menaruh perhatian khusus pada bidang kredit usaha kecil (www.csrglobe.com). Bank HSBC yang berpusat di Inggris juga menfokuskan kegiatan CSRnya pada bidang pendidikan, lingkungan seperti sebagai sponsor pada Botanic Gardens Conservation International (BGCI), Earthwatch Institute and WWF , bantuan bencana, pembiayaan, dan kredit usaha kecil (www.hsbc.com). Perusahaan elektronik Toshiba pun berusaha untuk membuat CSR merupakan bagian integral dari operasi bisnis sehari-hari untuk masing masing divisi dan setiap bisnis dan karyawan. Berdasarkan prinsip-prinsip dasar menurut prioritas tertinggi bagi kehidupan manusia dan keselamatan dan kepatuhan hukum dalam semua kegiatan bisnis, Toshiba Group menitiberatkan CSR pada persoalan hak asasi manusia, pengelolaan lingkungan, peningkatan kepuasan pelanggan dan persoalan kewarganegaraan (www.toshiba.co.jp). 41 Perusahaan Kosmetik ternama L'Oréal memfokuskan kegiatan CSR-nya pada kegiatan pendidikan dan pelatihan The L'Oréal-Unesco Awards, The Unesco - L'Oréal Fellowships, dan The National Initiatives. Selain itu L'Oréal juga fokus pada program kesehatan dan lingkungan (www.csrglobe.com). Program CSR Perusahaan financial Jerman yakni Deutsche Bank AG juga memiliki kesamaan dengan industri perbankan lainnya yaitu berorientasi pada kredit usaha kecil seperti pada program Global Commercial Microfinance Consortium Ltd, dan Deutsche Bank Microcredit Development Fund. Kesenian, lingkungan, pengembangan masyarakat, dan pendidikan juga menjadi titik fokus program CSR oleh Deutsche Bank AG (www.deutsche-bank.de) . Pelaksanaan CSR di Indonesia memiliki domain yang tidak terlalu jauh berbeda satu sama lainnya, meskipun korporasi-korporasi yang melaksanakan CSR tersebut melaksanakan kegiatan bisnis yang berbeda-beda misalnya di sektor perbankan kegiataan CSR banyak difokuskan pada bidang pendidikan seperti yang dilaksanakan oleh Bank Mandiri dan Bank BNI. Beberapa program sosial BNI dalam membantu bidang pendidikan diantaranya pemberian beasiswa setiap tahun, bantuan sarana dan prasarana fisik dan alat tulis bagi sekolah/ kampus, renovasi sekolah, program kewirausahaan mahasiswa, sarana pendukung pendidikan nonformal dan program edukasi khusus bagi semua kalangan (www.beritasore.com). Pada bidang pendidikan, Bank Mandiri memiliki sejumlah sub kegiatan seperti beasiswa, pembelajaran mengenai perbankan kepada siswa di daerah terpencil, penyediaan sarana penunjang pendidikan, dan renovasi sekolahsekolah yang rusak. Bank Mandiri juga menaruh perhatian besar pada masalah yang dihadapi oleh masyarakat karena bencana alam. Pada tiga bencana besar yang belum lama terjadi di Indonesia yakni tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan tsunami di Pangandaran, Bank Mandiri dengan sigap segera mengulurkan bantuannya (www.jurutulis.com). Pada Sektor pertambangan seperti Pertamina, kegiatan CSR difokuskan pada 4 bagian besar yakni pendidikan, lingkungan, kesehatan dan kemitraan berkelanjutan (www.pertamina.com). Masih disektor yang sama perusahaan 42 pertambangan batubara yakni Bumi Resources menitiberatkan kegiatan CSRnya pada bidang pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat dibidang perikanan, pertanian, dan perkebunan serta pada bidang perbaikan infrasturktur dan pemeliharaan kesehatan (www.bumiresources.com). Tidak sedikit pula korporasi di Indonesia yang sangat memperhatikan implementasi CSR yakni dengan membentuk yayasan khusus untuk melaksanakan program CSR secara fokus dan berkelanjutan.Seperti PT. Unilever Indonesia Tbk melalui yayasan Unilever Indonesia yang sangat fokus pada pengembangan ekonomi masyarakat (www.ibl.or.id) dan PT. HM Sampoerna Tbk melalui Yayasan Sampoerna foundation yang fokus pada bidang pendidikan (www.sampoernafoundation.org). 2.7 Efek Dualisme Ekonomi Terhadap Pembangunan Wilayah Pesisir Terpadu Isu yang selalu mucul ketika membicarakan masyarakat pesisir adalah masyarakat yang marjinal, miskin dan menjadi sasaran eksploitasi penguasa baik secara ekonomi maupun politik, terutama nelayan yang digolongkan sebagai nelayan musiman nelayan yang hanya memiliki perahu tanpa motor atau nelayan buruh. Pada umumnya, 80% masyarakat pesisir masih dalam kondisi miskin dengan tingkat pendidikannya yang rendah. Kemiskinan yang selalu menjadi trade mark bagi masyarakat pesisir dalam beberapa hal dapat dibenarkan dengan beberapa fakta seperti kondisi pemukiman yang kumuh, tingkat pendapatan dan pendidikan yang rendah, rentannya mereka terhadap perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang melanda, dan ketidakberdayaan mereka terhadap intervensi pemodal, dan penguasa yang datang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor struktural yang menyebabkan terjadinya kemiskinan nelayan. Mubyarto et al (1984), Mubyarto dan Sutrisno (1988), Resusun (1985), Rizal (1985) dan Zulkifli (1989) menyatakan bahwa faktor struktural ini juga sering kali menjadi alasan untuk 43 timbulnya konflik pada masyarakat pesisir yaitu konflik nelayan tradisional terhadap pemilik alat tangkap moderen seperti pukat harimau. Konflik itu terjadi karena pukat harimau melakukan penangkapan ikan di zona penangkapan nelayan tradisional. Misalnya, salah satu penyebab konflik adalah adanya penabrakan nelayan oleh pukat harimau. Menurut catatan Suhendra (1998) ada sampai 37 kejadian nelayan ditabrak pukat harimau dengan korban meninggal 5 orang, hilang 31 orang, sejak tahun 1993 sampai Juli 1998. Keadaan dan kondisi di atas seringkali memicu terjadinya pengerusakan sumberdaya alam di sekitarnya. Secara umum, ada dua pendekatan yang dilakukan dalam menganalisis kemiskinan nelayan yaitu pendekatan struktural dan kultural. Beberapa tulisan mengenai masyarakat pesisir dengan pendekatan struktural yang menggambarkan tentang kemiskinan/ kondisi ekonominya. Hasil penelitian Mubyarto et al (1984) menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di daerah Jepara sebagian berasal dari golongan sedang, miskin, dan miskin sekali. Selanjutnya dinyatakan bahwa kemiskinan masyarakat pesisir pantai lebih banyak disebabkan oleh adanya tekanan struktur, di mana masyarakat pesisir terbagi atas kelompok kaya dan kaya sekali di satu pihak, miskin dan miskin sekali dilain pihak. Penelitian ini menunjukkan adanya dominasi/ eksploitasi dari masyarakat pesisir kaya terhadap nelayan miskin. Hampir sama atas dasar penelitian di atas Mubyarto dan Sutrisno (1988) juga melihat kemiskinan masyarakat pesisir di Kepulauan Riau. 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September 2010 sampai dengan Mei 2011, di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Secara geografis Kota Bontang terletak di garis lintang 0°01’ - 0°12’ Lintang Utara dan 117°23’ - 117°38’ Bujur Timur. Peta wilayah Kota Bontang dapat dilihat pada Gambar 6. L okas i Pe ne lit ia n Su m b er R T R W K ot a B o n ta ng Th. 20 1 0 O le h : T a uf ik H a s b ul la h P ro g ra m D ok t or P ro g ra m S t u d i S P L I nst it ut Pe rta ni a n B og or 2011 Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian meliputi seluruh kelurahan yang berbatasan langsung dengan pesisir yaitu Kelurahan Bontang Kuala, Kelurahan Bontang Baru, Kelurahan Lhok Tuan, Kelurahan Guntung, Kelurahan Berbas Pantai, Kelurahan Berbas Tengah, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kelurahan Tanjung Laut, dan Kelurahan Belimbing, seperti tersaji pada Tabel 2 berikut: 46 Tabel 2. Lokasi Penelitian Berdasar jenis Wilayah Kecamatan Jenis Wilayah Kelurahan Pesisir Bontang Utara Bontang Selatan Bontang Kuala Bontang Baru Berbas Tengah Berbas Pantai Lok Tuan Tanjung Laut Bontang Barat Belimbing Guntung Tanjung Laut Indah Kelurahan Non Pesisir Api-api Gunung Elai Satimpo Bontang Lestari Kanaan Telihan Jumlah 6 Kelurahan 6 Kelurahan 3 kelurahan Sumber : BPS, 2010 diolah 3.2. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Metode studi kasus adalah penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Max Field dalam Nazir, 1986). Kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah program CSR pada PKT Bontang, khususnya dalam kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan wilayah pesisir Kota Bontang. 3.3. Tahapan Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yakni tahap persiapan, pengumpulan data dan tahap analisis data. Tahap persiapan meliputi pembuatan proposal penelitian, pengurusan surat izin penelitian dan studi literatur baik diperpustakaan, internet maupun pada instansi pemerintah dan swasta yang terkait dengan permasalahan yang akan di kaji. Pada tahap pengumpulan data, kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan semua data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini baik data primer maupun data sekunder. Data-data tersebut meliputi identifikasi potensi dan permasalahan di wilayah pesisir baik dari aspek ekonomi maupun aspek sumberdaya dan lingkungan pesisir. Aspek ekonomi seperti data PDRB Kota Bontang, pertumbuhan ekonomi, dan keterkaitan antar sektor. Aspek sumberdaya dan lingkungan pesisir seperti data ekosistem wilayah pesisir (mangrove, padang lamun, terumbu karang) dan data sumberdaya perikanan 47 dan kelautan. Dimensi keberlanjutan meliputi dimensi ekonomi, ekologi, sosial budaya, hukum dan kelembagaan. Indikator CSR seperti kemitraan, bina lingkungan dan bina wilayah. Pada tahap analisis data, semua data-data yang telah dikumpulkan diatas akan dianalisis dengan menggunakan berbagai metode analisis yang meliputi analisis ekonomi wilayah, analisis biogeofisik, analisis keberlanjutan wilayah dan analisis efektivitas dan presepsi. Alur tahapan penelitian tersaji pada Gambar 7 berikut ; TAHAP PERSIAPAN MULAI PERSIAPAN  S TUDI LITERA TUR  P ROP OS AL P ENE LITIAN  P DRB  P ERTUMB UHAN E K ONOMI  K ETERKA ITAN ANTA R SE KTOR A NA LIS IS EK ONOM I WILA YAH     M ANGROVE TE RUMB U KA RANG P ADA NG LAM UN P ERIKA NA N, KE LA UTAN, DLL A NA LIS IS B IOGE OFIS IK A SPEK S UM BERDA YA A LAM DAN LINGK UNGAN DIMENSI KEBERLANJUTAN : E K OLOGI, EK ONOM I, S OSIAL B UDAYA , TEK HNOLOGI, HUK UM K ELE MBA GA AN A NA LIS IS KEB ERLA NJ UTAN WILAYA H INDIKA TOR P ROGRA M CS R  K EM ITRA AN  B INA LINGK UNGA N  B INA WILA YA H A NA LIS IS E FEK TIFITAS DAN P ERS EPS I DESA IN S TRA TE GI CS R DALA M PEM BE RDA YAA N EK ONOM I DAN S UMB ERDAY A P ES IS IR B ONTA NG DESA IN S TRA TE GI P ENGE MBA NGA N WIL. PES IS IR DESA IN S TRA TE GI KEB IJA KA N CS R Gambar 7. Tahapan Penelitian 3.4. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, terdiri dari data lingkungan dan sumberdaya pesisir serta data sosial ekonomi Kota Bontang. Data primer dikumpulkan melalui metode survei lapang (visual recall) dan wawancara langsung di lokasi penelitian serta dengan menggunakan kuisioner. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui TAHAP ANALISIS DATA A SPEK E K ONOMI TAHAP PENGUMPULAN DATA IDENTIFIKASI POTENSI DAN MASALAH WILAYAH PESISIR 48 penelusuran berbagai pustaka yang ada di berbagai instansi yang terkait sesuai permasalahan yang dikaji. Secara lengkap jenis dan sumber data yang dikumpulkan meliputi : 3.4.1. Data Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir Data lingkungan dan sumberdaya alam pesisir diperoleh dengan berbasis pada data sekunder, berupa kondisi umum sumberdaya dapat pulih, sumberdaya tidak dapat pulih, dan Jasa-jasa lingkungan Kelautan di 9 kelurahan pesisir di Kota Bontang. Data diperoleh dari instansi terkait seperti Dinas Perikanan, Kelautan dan Pertanian Kota Bontang, seperti terlihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. Jenis dan sumber data sekunder No 1. Komponen Sumberdaya Pulih Dapat 2. Sumberdaya Dapat Pulih Tidak 3. Jasa-jasa Lingkungan Kelautan Jenis Data Sumber Data/Tahun 1.1. Perikanan 1.2. Padang Lamun dan Budi daya rumput laut 1.3. Terumbu Karang 1.4. Hutan Mangrove DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 2.1. Mineral 2.2. Minyak dan Gas Bumi DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 3.1. Pariwisat a 3.2. Pelabuhan DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 DPK Kota Bontang/ 2010 3.4.2. Data Sosial Ekonomi 1) Data Primer Data primer untuk komponen sosial ekonomi diperoleh dari hasil wawancara lapangan dengan berpedoman pada kuisioner yang telah dirancang dilakukan terhadap 90 orang responden, yang terdiri dari 10 orang karyawan PKT, 5 orang keluarga karyawan PKT, 30 orang mitra binaan PKT serta 45 orang masyarakat di 9 kelurahan pesisir. Responden karyawan PKT berasal dari delapan departemen yang berbeda yaitu Hubungan Masyarakat (Humas), Jasa Tekhnik, Kompartemen Hubungan Industri-Sumberdaya Manusia (KHI-SDM), Pelayanan dan Promosi, Keselamatan Kesehatan Kerja & Lingkungan Hidup (K3LH), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), Pengembangan Sumberdaya Manusia (PSDM), serta Pengadaan/ Teknik. Secara lengkap data primer yang dikumpulkan dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini : 49 Tabel 4. Jenis dan sumber data primer No Komponen 1. Penentuan Responden Masyarakat 2. Penentuan Responden Perusahaan 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Jenis Data Sumber Dat a Umur Pendidik an Pendapatan Persepsi/Pemahaman Profesi/Mata Pencaharian Sikap Partisipasi/Kesediaan Umur Pendidik an Persepsi/Pemahaman Sikap Partisipasi/Kesediaan In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ 2) Data Sekunder Data sekunder yang dikumpulkan berupa kondisi umum Sosial dan Ekonomi Masyarakat di 9 kelurahan pesisir yang ada di Kota Bontang. Secara lengkap data sekunder yang dikumpulkan tersaji pada Tabel 5 di bawah ini : Tabel 5. Jenis dan Sumber Data Sekunder No. 1. Komponen Sosial dan Masyarakat Ekonomi Jenis Data 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. Jumlah Penduduk Kondisi Demografi Mata Pencaharian Perekonomian Sumber Dat a/Tahun Profil Profil Profil Profil Kelurahan 2010 Kelurahan 2010 Kelurahan 2010 Kelurahan 2010 3.5. Metode Pengumpulan Data Di dalam pengumpulan data, digunakan teknik berupa metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan sebelum ke lapangan, dengan cara studi terhadap referensi yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian. Metode penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan di lapangan dilakukan melalui pengamatan (observational research) dan tanya jawab (survey research). Pertanyaan dikembangkan melalui kuesioner. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penentuan responden adalah purposive sampling. Sampel di 9 Kelurahan pesisir di Kota Bontang yang menjadi mitra binaan atau masyarakat yang pernah mendapatkan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PKT diminta untuk mengikuti wawancara dan mengisi kuesioner. 50 3.6. Metode Analisis Data 3.6.1. Analisis Kewilayahan Pesisir 1) Analisis Biogeofisik Wilayah Analisis Biogeofisik Wilayah digunakan untuk menjelaskan kondisi ekologis wilayah pesisir Kota Bontang meliputi potensi perikanan, potensi budidaya rumput laut, kondisi padang lamun, mangrove dan terumbu karang, serta tipikal daratan dan perairan pesisir. Analisis data biofisik dilakukan dengan menggunakan tekhnik analisis data sekunder. 2) Analisis Ekonomi Wilayah Analisis ekonomi wilayah dilakukan untuk menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah serta terjadinya ketimpangan dalam pembangunan ekonomi suatu wilayah. Metode analisis ekonomi wilayah yang digunakan dalam penelitian ini adalah model basis ekspor, dimana menggunakan pendekatan Locations Quotient (LQ), Koefisien Multiplier dan Shift Share. Pemilihan metode ini sesungguhnya lebih pada pengelompokan metode basis ekspor (Richardson, 1979). a) Locations Quotient (LQ) Metode location quotient atau LQ merupakan perbandingan antara pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat wilayah terhadap pendapatan total wilayah dengan pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat nasional terhadap pendapatan nasional. Hal tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut (Budiharsono, 2001) : LQi = Dimana : vi = Nilai vt = Nilai Vi = Nilai Vt = Nilai vi vt PDRBi PDRBt atau LQi = ............................ (1) PDRBik PDRBtk Vi Vt produktifitas produktifitas produktifitas produktifitas sektor i di tingkat daerah seluruh sektor di tingkat daerah sektor i di tingkat pus at seluruh sektor di tingkat pusat Apabila LQ suatu sektor industri ≥ 1, maka sektor industri tersebut merupakan sektor basis. Jika LQ < 1, maka sektor industri tersebut non basis. Asumsi metode LQ ini adalah penduduk di wilayah yang bersangkutan 51 mempunyai pola permintaan wilayah sama dengan pola permintaan nasional. Asumsi lainnya adalah bahwa permintaan wilayah akan sesuatu barang akan dipenuhi terlebih dahulu oleh produksi wilayah, kekurangannya diimpor dari wilayah lain. Metode LQ disarankan digunakan dalam menentukan apakah sektor tersebut basis atau tidak. (Glasson, 1978 dalam Budiharsono, 2001). Teori ekonomi basis ini hanya mengklarifikasi seluruh kegiatan ekonomi ke dalam dua sektor (industri) yaitu sektor basis dan sektor non-basis. Jadi pendapatan sektor basis ditambah pendapatan sektor non basis sama dengan total pendapatan wilayah. b) Penaksiran Koefisien Multiplier Untuk melengkapi penerapan kerangka teori model basis eksport tersebut, diperlukan pengukuran besarnya pengaruh sektor basis terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah dengan melakukan penaksiran koefisien multiplier wilayah. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem regresi biasa (ordinary least square) (Sjafrizal, 2008) sebagai berikut: ∆Y = α + β ∆E + ε....................................................................... (2) dimana α dan β adalah koefisien regresi yang akan ditaksir dengan hipotesis sebagai berikut: Ho: β = 0 , Ha: β ≠ 0................................................................. (3) Karena persamaan diatas dalam bentuk linier, maka koefisien multiplier wilayah harus dihitung melalui: K = β (∆Yº/∆ Eº) , k > 0 ................................................................. (4) Dimana Yº dan Eº masing-masing adalah PDRB dan ekspor dari daerah yang bersangkutan, sedangkan∆ adalah tambahan jumlah masing -masing variabel dalam periode tertentu. c) Shift Share Analysis Pengukuran besarnya keuntungan komparatif daerah harus dilengkapi dengan analisis shift share, dengan formulasi sebagai berikut ; ∆ y i = [y i (Yt/Yo – 1)] + [yi (Yi t/Yi o ) - (Yt /Yo )] + [y i (y i /y io ) - (Yi t/Yi o )] (5) 52 Dimana : ∆ y i = perubahan nilai tambah sektor i o y i = nilai tambah sektor i di tingk at daerah pada awal tahun periode y i = nilai tambah sektor i di tingkat daerah pada akhir tahun periode o Y i = nilai tambah sektor i di tingk at nasional pada awal tahun periode t Y i = nilai tambah sektor i di tingk at nasional pada akhir tahun periode Dari persamaan tersebut dapat diuraikan (decompose) atas 3 bagian dan akan dapat diketahui komponen pertumbuhan mana yang telah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dengan uraian sebagai berikut ;  Regional Share [yi (Yt/Yo – 1)] Komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan faktor luar, yakni peningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebijakan nasional.  Proportionality Shift [yi (Y i t/Y i o ) - (Yt/Yo)] Komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh struktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhannya cepat seperti sektor industri  Differential Shift [yi (yi /yi o ) - (Y i t/Y i o )] Komponen pertumbuhan ekonomi daerah karena kondisi spesifik daerah yang bersifat kompetitif, unsur ini yang merupakan keuntungan kompetitif daerah yang dapat mendorong pertumbuhan eksport daerah d) Analisis Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota Bontang Penentuan pusat pertumbuhan dan pusat pembangunan dapat menggunakan formulasi sebagai berikut :  Pusat Pembangunan (Development Poles) Investasi pada pusat pembangunan (Development Poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah bersangkutan secara bervariasi. Pengaruh tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang semuanya unsur kemakmuran pada wilayah bersangkutan (Wr). Untuk kemudahannya, kemakmuran ini dapat diketahui dari tingkat pendapatan per kapita atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bila kemakmuran tersebut juga mencakup aspek sosial seperti pendidikan dan kesehatan, dengan formulasi sebagai berikut: wr = (∆Wr/Wr)/ (∆Iu/Iu), ........................................................... (6) 53 dimana u adalah pusat perkotaan dan r adalah daerah belakangnya. Atau jika formulasi ini di modifikasi untuk menentukan pusat pembangunan di Kota Bontang, dapat diuraikan sebagai berikut : wr = (∆IPM/IPM)/ (∆I/I) ............................................................ (7) dimana data IPM dan investasi menggunakan data IPM dan investasi Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan tahun 2005 sampai tahun 2009. Kendala yang dihadapi untuk menurunkan formulasi ini adalah kendala data, dimana data-data IPM dan investasi Kota Bontang masih data total, belum dipisahkan per kecamatan. Sehingga formulasi ini baru bisa berjalan jika uraian data per kecamatan dapat di munculkan. Investasi pada pusat pembangunan (Development poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah Kota Bontang secara bervariasi. Pengaruh tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang merupakan indikator kemakmuran di Kota Bontang.  Pusat Pertumbuhan (Growth Centre) Sejalan dengan formulasi diatas, maka daerah perkotaan dikatakan sebagai berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre) bilamana ; (∆Ir/Ir)/ (∆Iu/Iu) > 0 ................................................................... (8) Yaitu elastisitas investasi pada daerah hinterland r terhadap investasi di pusat kota u bersifat positif. Untuk menentukan antara Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan sebagai pusat pertumbuhan di Kota Bontang, maka data-data investasi yang ada harus dipilah, sehingga muncul data investasi di Kecamatan Bontang Utara dan data investasi di Kecamatan Bontang Selatan. Sejalan dengan dengan konsep pusat pembangunan, maka daerah perkotaan dikatakan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre), jika elastisitas investasi di Kecamatan Bontang Utara terhadap investasi di Kecamatan Bontang Barat dan Kecamatan Bontang selatan adalah positif, maka daerah tersebut dapat dikatakan propulsive region atau sebagai wilayah andalan. Jika dilihat angka elastisitas Kecamatan Bontang Utara terhadap Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat lebih besar dari 1. Maka dapat 54 dikatakan bahwa Bontang Utara sebagai wilayah utama yang kuat (strong propulsive region). Adapun matriks ringkasan konsep perhitungan pusat pembangunan dan pusat pertumbuhan dengan menggunakan metode pengukuran elastisitas kemakmuran dan elastisitas investasi beserta kendala dalam pola pengukuran disajikan dalam Tabel 6 berikut ; Tabel 6. Matriks Ringkasan Pertumbuhan Konsep Pusat Pembangunan dan Pusat Cara Mengukur Konsep dan Pesan Kendala Pusat Pembangunan Menggunakan elastisitas kemakmuran dihitung dengan mengukur perubahan pada kemakmuran dengan data indeks pembangunan manusia dibagi dengan perubahan pada investasi Jika: e > 1 berarti pusat pembangunan dominant; 0 1. maka daerah perkotaan tersebut dikat akan sebagai pusat pertumbuhan kuat; 0< e < 1, dikatakan sebagai pusat pertumbuhan lemah. Kesulitan memisahkan data elastisitas investasi, terutama perubahan-perubahan investasi di perkotaan dan didaerah hinterland. Ada kemungkinan pusat pertumbuhan muncul tidak di daerah perkotaan, tetapi di daerah pedesaan. Oleh karena itu muncul konsep sebagai wilayah andalan. Suatu daerah dikatakan sebagai wilayah andalan (propulsive region) bilamana elastisitas investasi di pusat kota u terhadap investasi di daerah hinterland, r adalah positif. 3.6.2. Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir Tingkat keberlanjutan wilayah pesisir Bontang dianalisis dengan menggunakan metode yang mengacu pada tekhnik RAPFISH (Rapid Appraisal 55 for Fisheries), yakni tekhnik yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Columbia Canada, merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability dari perikanan secara multidisipliner. RAPFISH didasarkan pada tekhnik ordinansi yaitu menempatkan sesuatu pada urutan attribut yang terukur dengan menggunakan Multi Dimensional Scaling (MDS), tekhnik ini selanjutnya dimodifikasi untuk dapat diterapkan dalam analisis keberlanjutan wilayah pesisir.. Analisis data dengan MDS, meliputi aspek keberlanjutan dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Selanjutnya, dilakukan pula analisis multidimensi dengan menggabungkan seluruh atribut dari lima dimensi keberlanjutan di atas. Analisis data dengan MDS dilakukan melalui beberapa tahapan. 1. Pertama, mereview atribut-atribut pada setiap dimensi keberlanjutan dan mendefenisikan atribut tersebut melalui pengamatan lapangan, serta kajian pustaka. Secara keseluruhan, terdapat 48 atribut yang dianalisis, masingmasing: 10 atribut dimensi ekologi, 10 atribut dimensi ekonomi, 9 atribut dimensi sosial dan budaya, 10 atribut dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 9 atribut dimensi hukum dan kelembagaan. 2. Kedua, pemberian skor yang didasarkan pada hasil pengamatan lapangan dan pendapat pakar sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Rentang skor berkisar antara 1 – 4, yang diartikan dari buruk sampai baik atau sebaliknya, tergantung kondisi masing- masing atribut. 3. Ketiga, hasil pemberian skor kemudian dianalisis, dengan menggunakan program MDS, untuk menentukan posisi status keberlanjutan pengelolaan kawasan pesisir pada setiap dimensi dan multidimensi yang dinyatakan dalam skala indeks keberlanjutan. Skala indeks keberlanjutan terletak antara 0 – 100, seperti pada Tabel 7. Tabel 7. Kategori Status Keberlanjutan berdasarkan Indeks Hasil Analisis MDS Nilai indeks Kategori 0,00 – 25,00 Buruk (tidak berkelanjutan) 25,01 – 50,00 Kurang (kurang berkelanjutan) 50,01 – 75,00 Cukup (cukup berkelanjutan) 75,01 – 100,00 Sumber : Fauzi (2002) Baik (sangat berkelanjutan) 56 Posisi status keberlanjutan sistem yang dikaji diproyeksikan pada garis mendatar dalam skala ordinasi yang berada diantara dua titik ekstrim, yaitu titik ekstrim buruk dan baik yang diberi nilai indeks antara 0 sampai 100 persen, Dalam analisis MDS dengan menggunakan sorftware RAPFISH yang telah dimodifikasi di komputer, sekaligus dilakukan analisis Leverage, analisis Monte Carlo , penentuan nilai Stress, dan nilai Koefisien Determinasi (R2) yang merupakan program satu paket dengan program MDS. Pertama, analisis Leverage digunakan untuk mengetahui atribut- atribut yang sensitif, ataupun intervensi yang dapat dilakukan terhadap atribut yang sensitif untuk meningkatkan status keberlanjutan wilayah pesisir. Penentuan atribut yang sensitif dilakukan berdasarkan urutan prioritasnya pada hasil analisis Leverage dengan melihat bentuk perubahan root mean square (RMS) ordinasi pada sumbu X. Semakin besar nilai perubahan RMS, maka semakin besar pula peranan atribut tersebut dalam peningkatan status keberlanjutan, atau dengan kata lain, semakin sensitif atribut tersebut dalam keberlanjutan pengelolaan wilayah pesisir di lokasi penelitian. Kedua, analisis Monte Carlo digunakan untuk menduga pengaruh kesalahan dalam proses analisis yang dilakukan, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil analisis dinyatakan dalam bentuk nilai indeks Monte Carlo, yang selanjutnya dibedakan dengan nilai indeks hasil analisis MDS. Apabila perbedaan kedua nilai indeks tersebut kecil, mengindikasikan bahwa : (a) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil, (b) variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil, (c) proses analisis yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, (d) kesalahan pemasukan data dan data yang hilang dapat dihindari. Ketiga, nilai stress dan koefisien determinasi (R2) berfungsi untuk menentukan perlu tidaknya penambahan atribut, untuk mencerminkan dimensi yang dikaji secara akurat (mendekati kondisi sebenarnya). Nilai ini diperoleh dari pemetaan terhadap dua titik yang berdekatan, dimana titik tersebut diupayakan sedekat mungkin terhadap titik asal dalam skala ordinasi. Teknik ordinasi (penentuan jarak) dalam MDS didasarkan pada Euclidian Distance yang dalam ruang berdimensi n (Fauzi, 2002) dengan persamaan : 57 ......................... (9) Titik tersebut kemudian diaproksimasi dengan meregresikan jarak euclidian (d ij) dari titik i ke titik j dengan titik asal ( d ij ) dengan persamaan : ; e adalah error ................................... (10) Dalam meregresikan persamaan di atas digunakan teknik least squared bergantian yang didasarkan pada akar dari Euclidian Distance (squared distance) atau disebut metode algoritma ASCAL. Metode ini mengoptimalisasi jarak kuadrat ( squared distance=d ijk ) terhadap data kuadrat (titik asal= o ijk ) yang dalam tiga dimensi ( i,j,k ) yang disebut S-stress dengan persamaan : .............................. (11) Menurut Kavanagh dan Pitcher (2004), nilai stress yang dapat diperbolehkan adalah apabila berada dibawah nilai 0,25 (menunjukkan hasil analisis sudah cukup baik). Sedangkan nilai R2 diharapkan mendekati nilai 1 (100%) yang berarti bahwa atribut-atribut yang terpilih saat ini dapat menjelaskan mendekati 100 persen dari model yang ada. 3.6.3. Analisis Efektifitas Program CSR Pesisir Tingkat efektifitas Program CSR terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dapat diketahui dengan menggunakan Importance Performance Analysis (IPA). Metode IPA pertama kali diperkenalkan oleh Martilla dan James (1977), Analisis ini digunakan untuk melihat kesenjangan antara kinerja CSR dengan harapan masyarakat berdasarkan indikator-indikator yang di analisis. Disamping untuk menunjukkan sejauh mana terjadi kesenjangan antara kinerja dan harapan, IPA juga memberikan rekomendasi program apa yang perlu untuk dilanjutkan, serta program apa yang disarankan untuk ditinggalkan. Melalui analisis ini diidentifikasi program yang baik dan mana program yang tidak baik. 58 Penerapan teknik IPA dimulai dengan identifikasi atribut-atribut yang relevan terhadap situasi pilihan yang diamati. Daftar atribut-atribut dapat dikembangkan dengan mengacu kepada literatur-literatur, melakukan interview, dan menggunakan penilaian manajerial. Di lain pihak, sekumpulan atribut yang melekat kepada barang atau jasa dievaluasi berdasarkan seberapa penting masing-masing produk tersebut bagi responden dan bagaimana kinerja tersebut dipersepsikan oleh responden. Setelah menentukan atribut-atribut yang layak, responden ditanya dengan dua pertanyaan. Satu adalah atribut yang menonjol dan yang kedua adalah kinerja perusahaan yang menggunakan atribut tersebut. Dengan menggunakan mean, median atau pengukuran ranking, skor kepentingan dan kinerja atribut dikumpulkan dan diklasifikasikan ke dalam kategori tinggi atau rendah; kemudian dengan memasangkan kedua set rangking tersebut, masing-masing atribut ditempatkan ke dalam salah satu dari empat kuadran kepentingan kinerja (Crompton dan Duray, 1985). Skor mean kinerja dan kepentingan digunakan sebagai koordinat untuk memplotkan atribut-atribut individu pada matriks dua dimensi yang ditunjukkan pada gambar berikut: D A KUADRAN I PRIORITAS UTAMA KUADRAN II PERTAHANKAN PRESTASI KUADRAN III PRIORITAS RENDAH KUADRAN IV BERLEBIHAN GAP E Gambar 8. Importance Performance Analysis (Crompton dan Duray, 1985) Keterangan : A : Faktor yang akan dievaluasi AD : Apa yang diharapkan dari faktor A AE : Fakta-fakta mengenai A DE : Gap, yaitu perbedaan antara harapan (D) dan kenyataan (E) 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Wilayah Pesisir Kota Bontang 4.1.1 Sistem Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir Kota Bontang Sumberdaya pesisir Kota Bontang dijumpai mulai dari yang berukuran mikro seperti fitoplankton maupun hewan makrobenthos yang sangat berperan dalam rantai makanan di wilayah pesisir dan laut. Sumberdaya dapat pulih yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir Bontang selama ini terdiri dari sumberdaya perikanan (budidaya dan penangkapan), ekosistem pesisir (terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun), dan rumput laut. Keberadaan sumberdaya hayati di pesisir dan laut sekitar PKT tidak lepas dari daya dukung kondisi lingkungan fisik dan kimiawi perairan terutama kandungan oksigen, kandungan fosfat, nitrat, CO 2 dan penetrasi sinar matahari ke perairan yang sangat dibutuhkan oleh produser primer di pesisir dan laut untuk fotosintesis seperti fitoplankton, rumput laut, lamun dan zooxanthelae pada karang. Organisme tersebut menentukan produktif atau tidaknya suatu perairan selain produksi detritus dan serasah daun yang dihasilkan oleh mangrove dan padang lamun. Sumber hayati pesisir dan laut tersebut tersebar luas di perairan Kota Bontang. Terumbu karang diperairan tersebut terdapat dan tersebar luas di daerah Karang Segajah, Bontang Kuala dan Pulau Agar-agar. Kondisi terumbu karang yang masih baik terdapat di Bontang Kuala dan Pulau Agar-Agar dengan persen penutupan yang relatif tinggi sehingga daerah tersebut memiliki potensi yang tinggi dalam mendukung perikanan tangkap, terutama sebagai daerah penangkapan ikan, daerah perlindungan bagi spawning dan pencarian makanan (feeding) berbagai jenis ikan karang yang ekonomis penting seperti karapu, kakap, ekor kuning dan lobster maupun berbagai hewan moluska. Sumberdaya lain yang dapat dimanfaatkan secara langsung adalah sumberdaya perikanan dan rumput laut. Sumberdaya rumput laut di perairan Kota Bontang belum dimanfaatkan secara optimal sehingga perlu upaya peningkatan secara budidaya maupun pengambilan langsung dari alam. 60 Sumberdaya hayati pesisir dan laut yang sangat penting peranannya dalam menjaga kesinambungan sumberdaya perikanan adalah sumberdaya mangrove, karang dan lamun (seagrass), karena diketiga ekosistem ini, sumberdaya perikanan dapat terjaga kelestariannya. Ketiga ekosistem tersebut merupakan daerah untuk reproduksi, mencari makan dan berlindung bagi ikan, udang, moluska sehingga keberadaanya sangat perlu dijaga dan dilestarikan. 1) Perikanan Sumberdaya perikanan laut di Kota Bontang terkonsentrasi sepanjang pesisir dan dapat dikatakan sebagai perikanan pantai (coastal fisheriesh). Hal ini terlihat dari sarana untuk menangkap ikan baik perahu maupun alat tangkap yang digunakan. Dilihat gross tonage perahu yang digunakan semuanya dibawah 20 GT. Alat tangkap hampir semuanya dioperasikan dengan tenaga manusia yang mencirikan model perikanan pantai. Dilihat dari jenis ikan yang didapat, semuanya mencirikan perikanan pantai yang menggunakan sebagian atau keseluruhan hidupnya tergantung pada ekosisitem pesisir (mangrove, lamun dan terumbu karang) kecuali ikan tongkol, tenggiri dan kembung yang merupakan ikan migran. Produksi ikan yang dihasilkan nelayan Kota Bontang semuanya adalah jenis pelagis kecil yang mempunyai ekonomis yang lebih rendah bila dibandingkan dengan ikan pelagis besar, udang, ikan karang, ikan demersal dan cumi-cumi. Produksi ikan jenis pelagis kecil masih sangat rendah, kemungkinan hal ini disebabkan oleh sarana tangkap yang bertonase kecil sehingga fishing trip-nya rendah serta masih rendahnya efektifitas alat tangkap yang digunakan. Perkiraan potensi lestari ikan pelagis kecil di perairan timur Kalimantan adalah 158.000 (ton/thn) dengan tingkat pemanfaatan hanya 18,1 %. Rendahnya pemanfaatan sumberdaya perikanan laut tersebut terlihat dari data Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang tahun 2010, yang hanya 2160,64 (ton/thn) dan juga terlihat dari jumlah perahu yang ada hanya 460 perahu dengan berbagai kelas ukuran, dengan jumlah terbesar pada ukuran 0-5 GT dengan jumlah 430 buah dan sisanya 30 buah untuk kelas 5-10 GT. Peluang terbesar untuk mencukupi kebutuhan ikan adalah dari perikanan laut dan sangat kecil kemungkinan dicukupi dari perikanan air tawar maupun 61 payau. Sampai saat ini luasan tambak yang ada di Kota Bontang hanya 150,5 ha dan kolam air tawar hanya 18,5 ha. Untuk mencukupi kebutuhan ikan di Kota Bontang yakni dengan melakukan peningkatan tonase perahu, fishing trip, kapasitas alat tangkap, jumlah kapal dan daerah penangkapan ikan diperluas. Dengan melihat jumlah penangkapan, jenis alat tangkap, jumlah dan ukuran perahu masih sangat memungkinkan untuk meningkatkan produksi perikanan laut Kota Bontang. Adapun jumlah Gross Tonage (GT) perahu, jenis alat tangkap dan besar produksi perikanan Kota Bontang tersaji pada Tabel 8 berikut ; Tabel 8. Kondisi Perikanan berdasarkan Gross Tonage (GT) Perahu, Alat Tangkap dan Hasil Tangkapan Nelayan Kota Bontang. Perahu (Gross Tonage) (unit) 0 –5 GT 6 – 10 GT 11 – 20 GT Jumlah Jenis Alat Tangkap (unit) Tramel Net Gill Net Hanyut Gill Net Tetap Pancing Tonda Pukat Bubu Jala Pancing Rawe Bagan Produksi Ikan Laut (Jenis Ikan) (ton) Kuro Kembung Kakap Bambangan Teri Tengiri Belanak Tongkol Ebi Tembang Gulamah Rucah Udang Jumlah Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 Jumlah 430 30 0 460 1275 1484 1202 3055 3259 15 73 4111 162 27 322,99 ton 321,06 ton 143,56 ton 139,31 ton 140,57 ton 76,66 ton 98 ton 137,32 ton 297,76 ton 235,08 ton 79,56 ton 150,67 ton 18,1 ton 2160,64 ton 62 Peningkatan hasil pengkapan ikan dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah atau tonase perahu, pengembangan jenis alat tangkap yang lebih efektif seperti mini purse seine, gill net hanyut atau pukat mini, daerah penangkapan diperluas, jumlah hari layar diperlama sesuai dengan daya dukung potensi wilayah. Untuk mengetahui efektifitas penangkapan dapat dilihat dari catrch per unit effort (CPUE) yang semakin membesar. Berikut ini adalah gambaran asumsi dan prediksi hasil tangkapan dengan upaya peningkatan fishisng effort dan fishing ship ; Tabel 9. No Asumsi dan Prediksi Hasil Tangkapan dengan Peningkatan Upaya Tangkap (Fishing Effort) Jumlah Perahu (Effort) Hasil Tangkapan (Catch) (ton) Catch/ Effort (CPUE) Keterangan 1 460 2160,64 4,7 Kondisi yang ada sekarang dengan jumlah perahu sebagian besar 0-5 GT dan alat tangkap sebagian besar kurang efektif dengan fishing trip sehari 2 460 4321,28 9,4 Jumlah kapal tetap namun ditingkatkan tonasenya menjadi 5-10 GT dengan fishing trip ditingkatkan menjadi 2 hari 28,2 Jumlah kapal meningkat dengan tonase 5-10 GT dengan fishing trip ditingkatkan menjadi 4 hari dan pengubahan alat tangkap yang efektif (dengan asumsi alat tangkap 3 kali lebih efektif) 28 Jumlah kapal meningkat dengan tonase 5-10 GT dengan fishing trip ditingkatkan menjadi 2 hari dan pengubahan alat tangkap yang efektif (dengan asumsi alat tangkap 3 kali lebih efektif) 56 Jumlah kapal dengan tonase 5-10 GT meningkat dan fishing trip ditingkatkan menjadi 4 hari dan pengubahan alat tangkap yang lebih efektif (dengan asumsi alat tangkap 3 kali lebih efektif) 3 4 5 460 500 500 12963,84 14000,95 28001,9 Sumber : Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 63 Dengan prediksi dan asumsi peningkatan fishing effort (FE) dan fishing trip maka peningkatan hasil tangkapan (Catch) dapat dilihat dari semakin besarnya Catch per unit effort (CPUE). Hasil perikanan Kota Bontang tidak hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Kota Bontang sebesar 10.800 ton/tahun namun juga masih mampu di jual ke luar daerah atau ekspor. 2) Padang Lamun dan Budi Daya Rumput Laut Secara ekonomis lamun belum mempunyai nilai ekonomis hingga saat ini. Fungsi terbesar yang diketahui hingga saat ini adalah sebagai fungsi ekologis bersama-sama dengan sistem mangrove dan terumbu karang. Fungsi ekologis utama adalah sebagai feeding ground bagi ikan-ikan kecil (larvae). Nurseri ground bagi ikan-ikan pelagis dan feeding ground bagi jenis udang dan ikan ekonomis penting seperti Baronang (Samandar sp), Udang putih (Metapenaeus sp) dan jenis ikan Kerapu (Grouper). Padang lamun juga berperan bagi penyedia detritus sebagai bahan makanan ikan dan udang dan sebagai pengikat sedimen yang lolos dari hutan mangrove. Dalam suatu ekosistem daerah padang lamun tetap dijaga kelestariannya karena mempunyai arti penting dalam siklus hidup biota laut dan mempunyai kemampuan dalam mengikat sedimen halus yang tidak terendapkan di daerah mangrove, dan sebagai sumber bahan organik untuk perairan. Salah satu pemanfaatan padang lamun (seagrass) oleh manusia adalah dengan mengambil bijinya sebagai bahan makanan seperti yang dilakukan masyarakat Kepulauan Seribu dan Teluk Banten terhadap Enhalus acoroides. Sedangkan Enhalus sendiri juga terdapat di perairan Kota Bontang sehingga kemungkinan besar sumberdaya ini dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan dimasa akan datang. Rumput laut adalah sumberdaya yang telah dimanfaatkan dan diusahakan oleh masyarakat nelayan Kota Bontang, namun sampai sekarang belum tercatat jumlah produksi yang ada baik produksi dari alam maupun hasil budidaya. Pengelolaan yang dilakukan hanya dalam bentuk pengeringan belum ada upaya dari instansi pemerintah untuk membina mereka sebagai bahan setengah jadi industri seperti keragenan atau tepung agar. Usaha budidaya sudah dilakukan meskipun dalam skala kecil dan belum menunjukkan usaha 64 yang intensif. Lokasi yang telah diusahakan untuk budidaya rumput laut adalah di sapa pasikan, Bontang Kuala, dan sekitar Pulau Agar-agar menggunakan rakit dengan metode terapung. Berikut adalah persentase tutupan dan jenis seagras di perairan sekitar Bontang Kula dan Tanjung Limau ; Tabel 10. Presentase Penutupan dan Jenis Seagrass di perairan sekitar Bontang Kuala dan Tanjung Limau Transek Persen Penutupan Jenis Dominan 1. 90 Enhalus dan Thalasia 2. 100 Enhalus dan Thalasia 3. 80 Enhalus dan Thalasia 4. 50 Enhalus dan Thalasia 5. 50 Enhalus 6. 70 Enhalus dan Thalasia 7. 70 Enhalus dan Thalasia 8. 70 Enhalus dan Thalasia 9. 80 Enhalus dan Thalasia 10. 90 Enhalus dan Thalasia 11. 50 Enhalus dan Thalasia 12. 50 Enhalus dan Thalasia 13. 80 Enhalus dan Thalasia 14. 80 Enhalus dan Thalasia 15. 100 Enhalus dan Thalasia 16. 100 Enhalus dan Thalasia 17. 70 Enhalus dan Thalasia 18. 90 Enhalus dan Thalasia 19. 70 Enhalus dan Thalasia 20. 60 Enhalus dan Thalasia Rerata 70 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 65 Sebenarnya usaha budidaya rumput laut dapat ditingkatkan, hal ini bisa dilihat dari kondisi laut di Kota Bontang yang baik untuk syarat budidaya laut seperti : jernihnya air, salinitas yang tinggi, rendahnya sedimentasi, cahaya matahari yang memancar sepanjang hari dan terlindungnya perairan dari gelombang besar. Potensi lahan budidaya di Kota Bontang tersaji pada Tabel 11 berikut ; Tabel 11. Potensi Lahan Budidaya Rumput Laut No Potensi Lokasi Lahan Produktif Luas (Ha) Lokasi Luas (Ha) 1 Pulau Karang Kimapau 123,1 Pulau Lok Kalepe 16 2 Pulau Panjang 251,8 Pulau Tihik-Tihik 10 3 Pulau Manuk-Manukan 9,5 Pulau Ager-ager 14 4 Pulau Tanjung Kuya 10.6 5 Pulau Beras Basah 2,7 6 Kep. Malahing 536.6 7 Kep. Kedindingan 142.0 8 Kep. Badak-badak 66,7 9 Pulau Gosong Segajah Jumlah Pulau Karang Buku 5 3.6 1146.7 Jumlah 45 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 Daerah perairan Kota Bontang sangat sesuai untuk budidaya rumput laut. Potensi yang dimiliki Kota Bontang dalam luasan maupun produksi perairan diprediksi sekitar 564 ton/tahun. Bila dikembangkan maka perairan Kota Bontang memiliki areal yang baik dilihat dari sirkulasi arus, salinitas, kecerahan, terlindungi dari gelombang dan tingginya konsentrasi N dan P dalam perairan terutama masukan debu urea PKT. Potensi yang kemungkinan besar dikembangkan adalah rumput laut untuk bahan makanan seperti Euchema dan Gracilaria yang telah diusahakan selama ini dan jenis-jenis yang selama ini yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar industri seperti Gelidium, Gracilaria dan Hynea sebagai penghasil keregenan sedangkan sargasum sebagai bahan algin banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi dan kosmetika. 66 3) Mangrove Potensi sumberdaya mangrove secara umum masih menunjukkan kondisi yang baik, namun kondisi mangrove sepanjang sungai Kota Bontang Kuala menunjukkan kondisi yang buruk akibat penebangan dan alih fungsi lahan untuk tambak dan pemukiman. Berikut ini disajikan gambaran tentang keadaan hutan mangrove di daerah sungai Guntung Tabel 12. Jenis dan Kondisi Mangrove di Daerah Sungai Guntung Stasiun S03 Jenis Mangrove Kondisi Rhizophora, Ceriop, Kerapatan rendah dan Lahan sebagian Avecinea, Nipa dan diameter pohon di bawah besar sudah Acrostidium sp (asosiate 20 cm berubah menjadi mangrove) S04 S05 Keterangan kebun dan rumah Ceriop, Rhizophora dan Kerapatan rendah dan Lahan sebagian di Acrostidium sp (asosiate diamater pohon lebih 20 buka unt uk mangrove) cm tambak Ceriop, Rhyz ophora dan Baik, kerapatan tinggi dan Hutan Mangrove Xylocarpus diameter pohon lebih dari 20 cm S06 Ceriop, Rhyz ophora dan Baik, kerapatan tinggi dan Xylocarpus diameter pohon lebih dari Hutan Mangrove 20 cm S07 Ceriop, Rhyz ophora dan Xylocarpus. Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 Dilihat dari sebarannya menunjukkan kondisi yang sangat berbeda. Mangrove yang terdapat pada S05 dan S06 kondisinya sangat baik bila dibandingkan dengan di daerah lain yang disebabkan telah dibukanya mangrove untuk keperluan tambak, kebun dan permukiman. Secara alami juga terlihat bahwa daerah mangrove yang telah dirusak biasanya akan ditumbuhi oleh Acrostidium sp yang merupakan Mangrove Assosiate. Pengamatan lebih rinci terhadap jenis mangrove yang terdapat di sepanjang Sungai Bontang Kuala menunjukkan kondisi yang buruk terutama bila dilihat dari kerapatan pohon yang rendah. 67 Dilihat dari sebaran mangrove sepanjang sungai Bontang Kuala lahan mangrove telah berubah menjadi tambak dan permukiman. Kerapatan mangrove sangat rendah dan jenisnya hanya didominasi oleh Rhyzophora dan hanya terdapat di samping sungai. Kondisi ini sangat berbeda antara Bontang Kuala dan Tanjung Limau dimana mangrove yang menghadap kelaut masih tumbuh dengan baik dan kerapatan yang tinggi namun hanya didominasi oleh Avecinia dan Rhyzophora. Tabel 13. Jenis dan Kondisi Mangrove di Daerah Sungai Bontang Kuala Stasiun S09 S10 S11 S12 S07 Jenis Mangrove Rhizophora Kondisi Keterangan Kerapatan rendah dan Lahan sebagian bes ar diameter pohon di bawah digunakan untuk 20 cm perkampungan Ceriop, Rhizophora, Kerapatan rendah dan Lahan sebagian bes ar xylocarpus dan Nipa diamater pohon lebih 20 digunakan untuk cm perkampungan Ceriop, Rhyz ophora, Kerapatan rendah, hany a Lahan sebagian bes ar xylocarpus, Brugeria diameter pohon lebih dari digunakan untuk dan Nipa 20 cm perkampungan Rhyzophora Kerapatan rendah, hany a Lahan sebagian satu jenis pohon diameter dimanfaatkan untuk pohon lebih 20 cm rumah nelayan Hany a satu jenis pohon Lahan sebagian diameter pohon lebih 20 dimanfaatkan untuk cm rumah nelayan Rhyzophora Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bontang 2010 4) Terumbu Karang Kondisi terumbu karang diperairan sekitar PKT cenderung semakin kecil atau berada pada kondisi yang buruk dengan semakin dekatnya lokasi pabrik. Secara keseluruhan persentasi penutupan karang hidup berkisar antara 0 – 48,64 %, hanya tujuh dari dua puluh tiga stasiun pengamatan yang termasuk dalam kategori sedang (25% >percent cover)sebanyak 50%, selebihnya dalam 68 kondisi buruk atau rusak (percent cover< 25%). Percent cover karang hidup tertinggi terdapat di stasiun 23 yaitu di daerah Karang Agar, selanjutnya terumbu karang di sekitar perairan Karang Segajah dan Bontang Kuala yang masih dalam kondisi sedang. Substrat dasar daerah terumbu karang yang dalam kondisi buruk adalah stasiun 1,2,13 dan 14. Pulau Gusung (stasiun 15, 16) didominasi oleh pasir atau pasir lumpur, sedangkan di stasiun-stasiun yang jauh dari lokasi pabrik PKT, mempunyai substrat dasar (komponen abiotik) berupa pecahan karang (Rubble, (R)) dan karang mati (Dead Coral, (DC) atau Dead Coral with Algae(DCA)) didominasi oleh substrat pasir. Rata-rata karang dengan bentuk pertumbuhan bercabang (Coral Branching/CB) selain jenis Acropora (ACB) adalah yang paling banyak terdapat di perairan sekitar PKT, paling sedikit adalah karang merayap atau Coral Encrusting (CE), sedangkan subsutrat yang paling banyak di jumpai yaitu substrat pasir. Karang mati yang telah ditumbuhi algae juga mendominasi perairan, hal ini menunjukkan bahwa kematian karang tersebut sudah lama terjadi disebabkan adalah pecahnya karang/rubble (RB), pecahan karang yang mendominasi di perairan tersebut mengindikasikan bahwa kehancuran karang terjadi karena faktor manusia, seperti pengeboman, pengerukan, jangkar kapal atau karena terinjak-injak. Indeks keanekaragaman dan indeks dominasi digunakan untuk menganalisa kondisi hubungan antara kelimpahan jenis karang dengan tekanan lingkungan. Indeks keanekaragaman <1 menunjukkan keanekaragaman kecil dan tekanan lingkungan kuat. Semakin besar nilai H, maka keanekaragaman makin tinggi. Serta terjadi keseimbangan antara kelimpahan jenis dengan tekanan lingkungan. Ada kecenderungan bahwa stasiun yang mempunyai percent cover tinggi, juga mempunyai keanekaragaman yang besar pula. Peta dan Kondisi persentase penutupan (Percent Cover) terumbu karang pada masing-masing stasiun tersaji pada Tabel 14 dan Gambar 9 berikut ; Tabel 14. Stasiun 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Rerata Percent Coverage Komponen Biotik dan Abiotik di Setiap Stasiun Terumbu Karang. Acropora CB 0 0 0.22 0.30 0.60 0.30 0 0.20 0 0 0.94 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.2 9.84 3.76 0.79 8.50 28.36 2.74 15.10 6.06 22.16 0 4.18 0.70 0 0 0 0.14 0.14 0 0 0.40 3.76 0.48 10.28 18.8 5.54 Dinas CF CS CMR Non CE 0 0 0.74 0.90 4.76 2.10 1.50 1.82 0 1.54 2.06 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1.4 2.32 0.8 Acropora Dead CF CS CMR CME Coral 0 0 0 0 9.40 0 0 0 0 0 6.96 1.58 8.40 0.24 8.36 1.70 1.36 3.94 1.00 9.70 3.92 0.54 14.6 1.98 3.90 10.28 2.96 6.74 0.44 13.80 3.24 0.58 16.38 4.20 27.08 9.38 0.66 5.02 8.36 3.38 0 0.38 0 0 15.60 0.58 2.88 12.14 0 11.16 0.24 0 1.60 0 13.38 0 0 0 0 0.78 0 0 0 0 0.84 0 0 0 0 3.35 0 0 0 0 1.40 0 0 0 0 2.50 0 0 0 0 1.90 0 0.34 0 0 0.40 0 0 0 0 2.80 0 0 3.32 0 2.20 4.28 9,.64 0.24 0 0 0.8 4.0 0.6 3.32 12.28 12.28 3.08 3.52 1.04 12.48 2.24 1.17 3.19 0.86 6.27 Perikanan dan Kelautan Kot a Bontang 2010 : Coral Follose CME : Coral Milepora : Coral Submasive MA : Macroo Algae : Coral Mushroom CA : Coraline Algae Algae CA+MA 0 0 21.98 0 8.88 0.70 7 0 5.32 5.56 18.04 3.52 4.24 12.64 15.34 23.30 2.2 0.40 5.28 3.44 19.32 5.60 2.92 0 0 0 0 0 1.28 0 0.7 0 2.6 0 0.68 0.66 1.4 0 0 0 9.92 2.36 6.8 0 15.84 0 6.24 2.42 SP SC OT TA Biota Lain SP SC OT 2.54 0 0 0 0 0 8.46 0 1.54 4.9 0 4.16 3.34 2.34 7.02 5.18 0 6.76 0.28 0 3.80 0.10 0.28 0.08 4.52 42.14 2.26 9.12 0 0.58 4.56 0 0.66 0 0 0.96 0 0 2.20 0 0 0.15 0 0 2.80 0 0 0.86 0.64 0 1.32 0.30 0 1.14 0 0 1.20 0.60 0 0.60 2.72 0 4.8 1.2 13.36 0.12 6.24 0 0.56 2.28 2.42 1.82 Abiotik S RB 88.00 0 78.00 0 23.84 19.42 22.66 9.22 31.38 5.84 8.76 2.82 13.34 5.40 0.50 6.88 20.40 9.36 33.40 5.08 45.24 1.10 94.64 0.70 90.02 6.92 96.50 0 90.02 4.00 86.64 8.10 85.96 7.50 93.14 1.58 61.92 30.16 59.68 16.52 9.26 43.56 0 26.48 0 16.24 47.22 9.45 : Sponge S : Sand : Soft Coral RB : Rubble : Other Fauna ( Bulu babi, dsb) 69 Keterangan : Stasiun 1-23 : CB : Coral Barnching CM : Coral Massive CE : Encuristiing Coral CM 0.06 0.02 2.16 4.80 6.16 3.20 1.26 2.54 2.74 10.62 4.60 0 0.02 0 0.36 1.06 0.08 1.76 2.12 13.32 11.52 9.52 0.36 3.26 70 Gambar 9. Peta Stasiun Terumbu Karang 71 Terumbu karang dapat diklasifikasi dari taksonomi secara independen berdasarkan morfologinya untuk menentukan nilai kelas konservasi dengan membandingkan nilai antara ruderal-kompetitor-stres-tolerator (R-K-S), metode ini digunakan untuk mengetahui dominasi suatu jenis karang dengan memperhitungkan prinsip biodiversitasruderal (gangguan), Kompetitor (pesaing), Stress-tolerator (toleransi), yang biasa digunakan untuk memprediksi nilai kondisi terumbu karang yang telah atau belum mengalami gangguan akibat oleh faktorfaktor internal maupun eksternal untuk maksud konservasi. Kelompok ruderal apabila kondisi karang didominasi oleh acropora cabang dan tabulata, kelompok kompetitor apabila karang didominasi oleh monospesifik jenis karang follose dan karang cabang non acropora, sedangkan kelompok stress tolerator apabila kondisi terumbu karang dekat dengan pantai yang terpolusi, dimana didominasi karang massive dan sub-massive. Skor nilai kelas konservasi dari 23 stasiun yang diamati tersaji pada Tabel 15 berikut ; Tabel 15. Nilai R-K-S berdasarkan morfologi karang STASIUN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. R K 0 0 1,1 0,8 4,3 0,9 2,6 0,9 0 1,6 14,5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4,4 28,6 13,3 0 0 79,6 82,3 47,7 79,7 81,3 90,0 0 25,6 14,5 0 0 0 28,0 11,7 0 0 3,5 22,0 17,4 32,2 74,6 S 100 100 19,3 16,9 48,0 19,3 16,1 9,1 100,0 72,7 71,0 100 100 0 72,0 88,3 100 100 96,5 78,0 78,2 39,2 12,1 Sumber : Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 Dari Tabel 15 tersebut terlihat bahwa sebagian besar stasiun mempunyai nilai s lebih besar dibandingkan kedua fakta (r dan k), yang berarti bahwa 72 sebagian besar stasiun mempunyai jenis karang berbentuk massive dan submassive yang diakibatkan oleh pengaruh stress tolerators dari lingkungan. Berdasarkan nilai r-k-s tersebut maka kelas konservasi terumbu karang di perairan Kota Bontang tegolong rendah 5) Daratan Pesisir Berdasarkan pengamatan lapangan dan peta topografi daerah sekitar PKT terlihat bahwa garis pantai daerah tersebut berliku liku yang dibentuk oleh dataran dengan kelerangan kurang dari 2° dan ditumbuhi hutan-hutan mangrove. Material dasar perairan sebagian besar berupa lumpur yang kaya akan bahan organik. Bentang alam demikian dijumpai melebar sepanjang pantai daerah muara Sungai Guntung, muara Sungai Kanibungan, Teluk Sekatup, hingga sekitar Tanjung Limau dan daerah Bontang Kuala. Morfologi dataran ini masih sering tergenang air pada saat air laut pasang. Potensi alam ini sangat bermanfaat dalam melindungi pantai dari abrasi dan sebagai filter sedimen juga darat sehingga mengurangi sedimen masuk kedalam laut. Selain itu juga bermanfaat bagi tempat perkembangbiakan berbagai biota. Di daerah Guntung, Teluk Sekatup, Lhok Tuan, dan Bontang Kuala, daerah dataran ini dimanfaatkan sebagai pemukiman di atas air, sedang usaha tambak dilakukan pada morfologi ini di daerah Bontang Kuala dan Guntung. Kearah darat, morfologi dataran ini berbatasan dengan perbukitan bergelombang dengan kelerengan 13-17° didaerah Sekatup, dan berbatasan dengan dataran bergelombang pada daerah lain dimana kelerengan berkisar 25°. Kedua morfologi terakhir dibentuk oleh satuan batupasir dengan sisipan batulanau dan batubara. Pelapukan litologi ini membentuk tanah pucuk berwarna merah kekuningan yang tipis, peka terhadap erosi dan miskin akan unsur hara, sehingga kurang subur untuk usaha pertanian. Beberapa bagian dari morfologi ini digunakan sebagai hutan lindung yang dijumpai di barat laut hingga utara Guntung, sebagian besar merupakan daerah industri dan pemukiman. Secara stragrafis batuan yang terdapat di kawasan sekitar Bontang terdiri dari tiga satuan yaitu : a) Formasi Balikpapan yang tersusun oleh batupasir berseling dengan batu lempung lanauan, serpih dengan sisipan napal, batugamping, dan batubara 73 b) Formasi kampung baru, terdiri atas perselang-selingan antara serpih lempung, batulanau, pasir dan batubara c) Endapan aluvial yang tersusun oleh lempung, lanau, pasir, kerikil dan sisa tetumbuhan. Potensi air tanah pada akuifer dangkal maupun akuifer dalam. Air tanah pada akuifer dangkal di daerah dataran bekas rawa pantai semuanya payau dan berada antara 0,3-0,5 m di bawah muka tanah, sedangkan pada daerah perbukitan dan dataran bergelombang airtanah berada antara 0,7-16 m di bawah permukaan tanah. Konduktifitas air tanah didaerah ini lebih rendah dari 700 mikro-mhos sehingga termasuk dalam kondisi air tawar. Hasil analisa sampel air tanah dari akuifer ini menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur kimianya memenuhi syarat untuk pasokan air bersih. Mengingat recharge area-nya terbatas, maka jumlahnya juga terbatas dan hanya dijumpai pada daerah-daerah tekuk lereng yang merupakan batas antara morfologi dataran dan morfologi bergelombang lemah. Penurunan air tanah ini untuk konsumsi penduduk setempat dijumpai di Guntung, Tanjung Limau, Lhoktuan dan Sidrap. Airtanah akuifer dalam dijumpai pada pada formasi Kampung Baru dan formasi Balikpapan. Sumur yang dibuat menembus formasi ini menjadi tumpuan pasokan air bersih bagi PKT dan masyarakat sekitarnya. Sungai-sungai yang mengalir ke perairan disekitar PKT adalah sungai Kanibungan, Sungai Guntung dan Sungai Bontang Kuala. Ketiga sungai mempunyai kelerengan memanjang kurang dari 2°, sehingga potongan melintang sungai berbentuk U. Karena adanya pasokan airtawar dari darat maka pada muara sungai salinitas dan suhu air sedikit lebih rendah dibanding daerah laut sedangkan airnya dalam keadaan sangat keruh yang mengindikasikan tingginya material sedimen yang dibawa dalam bentuk muatan padatan tersuspensi. 6) Perairan Pesisir Sumberdaya alam perairan pesisir adalah tubuh laut itu sendiri, selain material dasar perairan yang dapat dimanfaatkan sebagai material urug. Karena banyak dijumpai karang, maka pengambilan material urug sebaiknya hanya dialur pelayaran. Kondisi kualitas perairan sekitar PKT sangat bervariasi karena terkait dengan lingkungan darat disekitar dan di daerah hinterland. 74 Beberapa parameter oseanografi di pesisir perairan sekitar PKT telah dipetakan dan diharapkan dapat mendukung analisis kondisi ekosistem perairan tersebut. Kondisi oseanografi secara langsung maupun tidak secara langsung berpengaruh terhadap kehidupan biota suatu perairan sehingga untuk mendukung pembahasan kondisi biota di perairan dan laut perlu dilakukan terhadap kondisi biota tersebut. Suhu air berkisar 29,1°C hingga 29,8°C di daerah laut, 26 – 29°C di sungai dan muara sungai dan suhu yang cukup tinggi mencapai 38°C dijumpai pada perairan sekitar outfall PKT (pabrik Kaltim 1 dan pabrik Kaltim 3). Pada daerah laut dan muara sungai suhu terlihat tergantung pada waktu pengukuran, semakin siang suhu semakin tinggi dan cenderung meningkat pada perairan menuju laut lepas. Secara teoritis kenaikan suhu akan meningkatkan aktifitas biologis, sehingga konsumsi oksigen meningkat yang berakibat pada menurunnya oksigen terlarut/ Dissolve Oxygen (DO). 7) Pariwisata Kegiatan pariwisata masih memungkinkan di kawasan pesisir laut Kota Bontang tidak menyebabkan kerusakan terhadap sumberdaya yang dilindungi, yaitu terumbu karang, padang lamun, hutan bakau dan lain-lain. Diperlukan adanya peraturan dan penegakan hukum (law enforcement) yang ketat terhadap kemungkinan pelanggaran. Tabel 16. Kegiatan Pariwisata di Pesisir Kota Bontang No Kawasan Lindung B eras Aktivitas Pariwisata 1. Bontang Kuala, Selangan Basah, 2. Terumbu K arang Gosong Segajah ( di Kep. Badak -badak ) 3. Kepulauan K edindingan, Melahing, Tihik-tihik, Selangan Wisata laut (berenang, naik perahu), wisata masyarakat nelayan, wisata alam, dan wisata makanan. Arena menyelam, berperahu dan aktifitas wisata laut lainnya. Berenang, naik perahu, pemandangan pantai dan bakau, memancing Berenang, naik perahu, pemandangan pantai, wisat a budaya Sumber :Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bontang Tahun 2010 Pengembangan pariwisata yang mengandalkan lingkungan yang indah dan nyaman seperti di kawasan pesisir Kota Bontang menunjukkan adanya saling keterkaitan pemanfaatan ruang antara pengembangan pariwisata dengan 75 upaya menjaga kelestarian lingkungan termasuk yang terdapat dikawasan lindung. Kerusakan lingkungan kawasan pesisir dan laut akan mengganggu dan menurunkan kegiatan pariwisata. Untuk kawasan pariwisata kriteria yang diperlukan adalah :  Berjarak aman dari kawasan perikanan dan pertambangan, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan tersebut tidak menyebar dan mencapai kawasan pariwisata dan sebaliknya.  Berjarak aman dari kawasan lindung, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan di kawasan industri tidak menyebar dan mencapai kawasan lindung.  Pembangunan Prasarana dan Sarana pariwisata yang tidak mengubah kondisi pantai, sehingga proses erosi atau sedimentasi dapat dihindari. Kawasan pariwisata yang dapat dikembangkan di pesisir Kota Bontang Adalah Pulau Beras Basah, Bumi Tenda Cibodas, Teluk Sekangat, Pemukiman Nelayan Bontang Kuala, Pulau Gusung, Bumi Perkemahan Gladi Mandiri, Tugu Pengabdian PKT, Pantai Marina, Pantai Marina Ujung, Danau dan Makam Rakyat Toraja dan Terumbu Karang Segajah. Intensitas aktifitas industri yang terus meningkat di Kota Bontang terutama industri pengelolaan dan pertambangan berskala besar seperti PKT, BADAK dan Indominco, berpotensi membuang limbah ke laut. Kerusakan fisik lainnya adalah semakin berkurangnya lahan hutan mangrove karena penebangan liar untuk kayu bakar, konversi lahan untuk tambak, perumahan dan industri. Fakta ini terjadi di Bontang Kuala, Loktuan dan Tanjung Limau. a) Eksploitasi Sumberdaya Ikan Eksploitasi sumberdaya ikan secara berlebih di wilayah laut Kota Bontang diduga menyebabkan terjadinya kelangkaan jenis ikan tertentu. Kekhawatiran ini cukup beralasan, karena eksploitasi sumberdaya laut ini terutama terlihat dari sistem penangkapan ikan oleh nelayan yang menggunakan peralatan tangkap ikan dan udang dengan jaring trawl (pukat harimau), bagan apung dan bahan peledak. Cara penangkapan ikan ini tidak selektif dan berakibat terjadinya perusakan siklus perkembangan ikan yang tidak lestari. Penangkapan ikan secara destruksi yang tidak ramah lingkungan seperti 76 pengeboman, atau menggunakan pukat harimau akan merusak terumbu karang sebagai habitat ikan. b) Sedimentasi Sumber sedimentasi berasal dari penambangan atau pengerukan pasir laut yang ada di pesisir Kota Bontang seperti Kelurahan Satimpo. Kegiatan penambangan ini juga berpotensi menyebabkan rusaknya terumbu karang, padang lamun, rumput laut dan biota lain. Selain penambangan pasir kegiatan industri juga menyebabkan meningkatnya sedimentasi diperairan Kota Bontang. Sedimentasi ini juga berpeluang ditimbulkan dari adanya pelayaran kapal bertonase besar sebab baling-baling kapal yang melalui perairan akan mengaduk sedimen dasar perairan sehingga mengakibatkan tingkat kecerahan air. c) Pencemaran Sampah Pencemaran sampah berupa sampah plastik yang mencemari perairan Kota Bontang berasal dari limbah industri dan pemukiman. Pencemaran ini terutama dapat dilihat di Sungai Guntung, Kelurahan Belimbing yang menyebabkan air sungai berwarna hitam dan berbau tidak sedap. Pencemaran ini langsung atau tidak langsung menyebabkan kerusakan habitat dan mempengaruhi lingkungan perairan. Pemukiman nelayan diatas yang membentang mulai dari batas garis pantai dan menjorok keluar ke laut dengan kelerengan tanah yang datar menimbulkan permasalahan sampah karena sampah tidak terkonsentrasi di suatu tempat pembuangan sampah. Jika terjadi pasang surut, sampahsampah tersebut akan mengalir ke laut sehingga akan mengotori kawasan perairan Kota Bontang. Pemukiman nelayan ini dapat dijumpai di Kelurahan Bontang Kuala, Kelurahan Berbas Pantai Kelurahan Loktuan. Di Kelurahan Bontang Kuala pemukiman nelayan sudah tersusun dengan rapi dan telah menjadi salah satu objek wisata. Keberadaan restoran apung dengan makanan khas laut dapat dijumpai disana. d) Abrasi dan Akresi Abrasi pantai dapat disebabkan secara alami atau karena aktifitas manusia. Abrasi dikawasan pesisir Kota Bontang terjadi di sekitar Pantai Marina, yang 77 dahulunya adalah hamparan terumbu karang yang kemudian berubah fungsi menjadi pulau-pulau kecil dan merupakan bagian dari kawasan industri BADAK. Kegiatan reklamasi pantai untuk memperluas wilayah pantai juga berpotensi memindahkan lokasi abrasi dan akresi pantai. Permasalahan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang tidak terlepas dari rendahnya pemahaman masyarakat tentang nilai yang sebenarnya dari sumberdaya pesisir secara keseluruhan. Selama ini, pemahaman masyarakat terhadap nilai sumberdaya pesisir seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove dan sebagainya lebih kepada penilaian sumber daya tersebut untuk memanfaatkan konsumsi langsung. Sedikit sekali masyarakat pesisir yang memahami pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan non-konsumtif seperti penahan abrasi, pengendalian banjir, estetika, pemanfaatan untuk obat-obatan dan sebagainya yang terkadang nilai moneter non-konsumtifnya lebih besar dari nilai konsumtif. Masyarakat desa Bontang Baru, Bontang Kuala dan Loktuan yang semula produksinya untuk memenuhi kebutuhan lokal, Kaltim bahkan hingga Surabaya, tetapi kini produksi sudah tidak dapat dilakukan lagi. Kegagalan budidaya rumput laut dimungkinkan dapat terjadi karena diterjang ombak ketika kapal-kapal besar sedang lewat dan karena pencemaran. 4.1.2 Sistem Sosial Ekonomi Pesisir Kota Bontang Kota Bontang awalnya merupakan kota administratif sebagai bagian dari Kabupaten Kutai. Kota Bontang, menjadi Daerah Otonom berdasarkan UndangUndang No. 47 Tahun 1999 tentang pemekaran Propinsi dan Kabupaten, bersama-sama dengan Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kertanegara. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bontang No. 17 Tahun 2002, Kota Bontang terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu: Kecamatan Bontang Selatan, Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Barat. 1) Kondisi Sosial Ekonomi a) Kependudukan Jumlah penduduk Kota Bontang pada tahun 2010 mencapai 140.787 jiwa dengan komposisi 72.384 jiwa jumlah penduduk pria dan 67.953 jiwa jumlah 78 penduduk wanita. Pertumbuhan penduduk Kota Bontang rata-rata sebesar 2,98 % per tahun. Penduduk Kota Bontang tersebar merata di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan. Sementara distribusi penduduk di Kecamatan Bontang Barat relatif tidak merata jika dibandingkan dengan kedua kecamatan lainnya, yaitu hanya dihuni 18,3% dari total penduduk Kota Bontang, hal tersebut terlihat dari Tabel 17 berikut ; Tabel 17.Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan2010 Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Bontang Selatan 29.842 27.205 57.047 Bontang Utara 29.921 28.908 58.829 Bontang Barat 13.071 11.840 24.911 Total 72.834 67.953 140.787 Sumber :Badan Pusat Statistik Kota Bontang Kepadatan penduduk yang dihitung dalam subbab ini adalah kepadatan penduduk bruto yaitu kepadatan penduduk yang dihitung berdasarkan luas wilayah secara keseluruhan. Pendekatan lain, adalah kepadatan penduduk netto yaitu kepadatan penduduk yang dihitung berdasarkan luas kawasan permukiman yang terdapat di dalam suatu wilayah. Tabel 18.Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Menurut Kecamatan 2010 Luas wilayah (ha) Penduduk (jiwa) Kepadatan 2 (/km ) 104,40 57.047 546 Bontang Utara 26,20 58.829 2.245 Bontang Barat 19,20 24.911 1.297 140.787 940 Kecamatan Bontang Selatan Total 149,80 Sumber :Badan Pusat Statistik Kota Bontang b) Sosial Budaya Masyarakat Penduduk Kota Bontang mayoritas menganut agama Islam yaitu 143.046 jiwa (BPS Kota Bontang, 2009) atau 88,67% dari total penduduk Kota Bontang. Penganut Protestan mencapai 9,38 % dari total penduduk atau sebanyak 15.128 jiwa. Dominasi penduduk yang menganut agama Islam memberi pengaruh 79 kepada pola permukiman penduduk yang mengelompok. Pada umumnya, sejarah pembentukan permukiman bisa dilihat dari munculnya Mesjid/ Surau sebagai pusat perkembangan permukiman. Dominasi penduduk beragama Islam ini pun akan berpengaruh terhadap pemenuhan sarana peribadatan. Mayoritas penduduk Kota Bontang adalah pendatang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa, Sulawesi, Timor Leste, dan Sumatera. Sisanya adalah penduduk setempat. Etnis yang menempati pesisir Kota Bontang antara lain suku Jawa, Batak, Bajo, Bugis, Melayu, Arab, dan Banjar. Etnis-etnis tersebut membentuk satu kesatuan penduduk Pesisir Kota Bontang. Adat istiadat yang berkembang sangat dipengaruhi oleh transformasi budaya Bugis, Banjar, Kutai dan Jawa. Penduduk Kota Bontang yang berinteraksi dengan pesisir/laut sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Beberapa kelurahan yang memiliki interaksi yang besar dengan pesisir antara lain kelurahan Loktuan, Bontang Kuala, Tanjung Laut, Berbas Pantai, dan Berbas Tengah. Sedangkan kelurahan Belimbing, Satimpo, Bontang Baru dan Sekambing memiliki interaksi yang relatif lebih kecil dengan pesisir. Indikator tingkat interaksi tersebut antara lain dilihat dari besarnya penduduk yang tinggal di pesisir laut (di atas air) jumlah penduduk nelayan dan besar produksi perikanan. Kelurahan Bontang Kuala memiliki interaksi yang sangat besar dengan pesisir/laut karena tingginya jumlah penduduk yang tinggal di pesisir. Bontang Kuala (13 RT) merupakan desa nelayan tertua di Kota Bontang yang hampir 65% dari total penduduknya bekerja sebagai nelayan. Selain di sektor perikanan,di Kelurahan Bontang Kuala berkembang pula sektor wisata pantai, sehingga sebagian besar penduduk bekerja disektor wisata maupun disektor pendukung pariwisata. Karena pengembangan potensi wisata pantai tersebut, permukiman penduduk di atas air di Bontang Kuala relatif bersih dan teratur dibandingkan dengan permukiman-permukiman di atas air yang terdapat di kelurahan lain. Di kelurahan ini pun dilaksanakan upacara adat pesta laut yang diadakan setahun sekali.Sepanjang jalan utama menuju Bontang Kuala terdapat hutan mangrove sepanjang 800 meter dengan pedestrian merupakan sarana wisata yang cukup menarik, hanya saja Pemerintah Kota mulai mengizinkan pembangunan perumahan, pertokoan dan sekolah, sehingga mengurangi nilai daerah wisata. 80 Selain bekerja pada sektor perikanan, sebagian besar penduduk Kota Bontang secara keseluruhan bekerja padasektor pertambangan dan energi, serta sektor angkutan dan komunikasi. Tingginya penduduk Kota Bontang yang bekerja pada sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa sektor perekonomian sekunder lebih mendominasi penyediaan lapangan kerja di Kota Bontang. Hal ini menunjukkan bahwa Bontang telah layak untuk disebut sebagai kota karena pergerakan dan perputaran ekonomi yang ada sudah berada dalam tahapan sektor sekunder yang lebih banyak memberikan value added bagi daerah. Karakteristik masyarakat pesisir Kota Bontangyang heterogen ternyata memunculkan masalah kesenjangan antara masyarakat yang bekerja disektor industri dengan masyarakat yang bekerja disektor informal. Hal tersebut terlihat jelas dari pengelompokan permukiman dan sarana pendukungnya. Permukiman di kawasan industri (PKT dan BADAK) tertata dengan baik dengan sarana dan prasaran yang sangat memadai sementara permukiman masyarakat di luar kawasan industri merupakan perkampungan yang belum tertata dengan baik dan belum dicukupi dengan sarana dan prasaran yang memadai. Kesenjangan antara penduduk yang bekerja di sektor industri dan sektor lain umumnya juga dipengaruhi oleh kesenjangan pendidikan, keterampilan dan keahlian yang dimiliki. c) Kegiatan Ekonomi Wilayah Laju pertumbuhan ekonomi diukur dari laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan PDRB dengan migas Kota Bontang berdasarkan harga konstan tahun2006-2009 adalah positif 2,41 %. Kondisi ini disebabkan oleh perekonomian masyarakat membaik walau produksi migas menurun 2 tahun terakhir. Dalam jangka waktu 2006-2009 laju pertumbuhan PDRB dengan migas terus mengalami penurunan seperti yang terlihat pada Tabel 19. Penurunan ini tidak terlepas dari penurunan produksi Gas Alam Cair/LNG. Sedangkan laju pertumbuhan PDRB non migas cenderung fluktuatif yang berarti sektor-sektor lain selain migas mengalami perkembangan yang stabil. Sektor pertanian, peternakan dan perikanan memiliki memiliki laju pertumbuhan sebesar -1,31 % pada tahun 2009. Jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan pada tahun-tahun sebelumnya, laju sektor pertanian, peternakan 81 dan perikanan memiliki kecenderungan menurun walaupun pada tahun 2007, terjadi peningkatan laju pertumbuhan sampai ke angka 2,32 %. Tabel 19. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto denganMigas Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (dalam %) 2006 – 2009 Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009 -1.31 -2.96 1. 2. Pertanian, Peternakan & Perikanan Pertambangan dan Penggalian -5.85 7.59 2.32 -0.02 1.86 0.35 3. Industri Pengolahan -3.34 -4.84 0.58 -3.74 4. 5. Listrilk, Gas dan Air Bersih Bangunan 9.34 5.63 9.67 5.78 3.07 4.53 10.80 4.70 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 0.84 2.15 5.01 3.09 7. Pengangk utan dan Komunikasi 5.31 4.24 3.06 5.13 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa 2.14 7.65 3.55 4.61 9. Jasa Jasa 3.90 3.37 2.71 4.94 PDRB Dengan Migas 4.68 4.81 10.36 2.41 PDRB Tanpa Migas -2.94 -4.26 0.84 -3.20 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bontang, 2010 Sektor perikanan yang diasumsikan memberikan masukan yang besar pada kenyataannya hanya berkontribusi kecil bagi PDRB Kota Bontang. Dalam kurun waktu tahun 2006 sampai 2009, sub sektor perikanan hanya berkontribusi sebesar 0,03% dari total PDRB Kota Bontang. Walaupun menunjukkan kecenderungan menurun, sub sektor industri migas masih memberikan kontribusi paling besar bagi PDRB Kota Bontang Sejak tahun 2006 hingga 2009, kontribusi sub sektor industri migas selalu di atas 88%. Tabel 20. Kontribusi Sub Sektor Perikanan dan Industri Migas dan Non Migas PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kota Bontang Tahun 2006 – 2009 (dalam %) Sektor/Sub Sektor Sub Sektor Perik anan Sub Sektor Industri Migas Sektor Non Migas Sumb er : Hasil Analisis, 2010 2006 2007 2008 2009 0,027 0,029 0,030 0,032 91,096 90,393 88,989 88,350 8,877 9,578 10,981 11,618 82 Walaupun memiliki kontribusi yang relatif kecil, sektor perikanan merupakan sektor yang diandalkan di masa yang akan datang ketika sektor migas mengalami stagnasi, Perkembangan sektor perikanan tangkap di wilayah pesisir kota Bontang (Bontang Utara dan Bontang Selatan) sudah cukup berkembang, hal ini dapat dilihat dari perkembangan jumlah armada yang cukup pesat dan mulai meningkatnya jumlah armada tangkap yang berukuran relatif besar, Arah pengembangan usaha penangkapan ikan ke depan lebih diprioritaskan ke perairan lepas pantai dengan armada kapal yang berukuran lebih besar sehingga mampu menjangkau wilayah penangkapan di sekitar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Sulawesi atau Selat Makassar. Hal ini juga dimaksudkan untuk mengurangi konsentrasi usaha penangkapan ikan di perairan pantai, mempertahankan sumberdaya perikann melalui pengalihan lokasi penangkapan, dan menghindarkan adanya over fishing. Perkembangan di tahun-tahun mendatang, laju pembangunan di wilayah pesisir dan lautan perairan Indonesia akan semakin pesat, mengingat lahan usaha di wilayah daratan dewasa ini sudah semakin menyempit dan semakin mahal nilainya. Wilayah pesisir dan lautan yang meliputi daratan dan perairan pesisir kaya akan sumber pangan yang diusahakan melalui kegiatan kehutanan, pertanian, perikanan, pertambangan dan lain-lain. Wilayah tersebut juga merupakan pengembangan usaha jasa lingkungan seperti wisata bahari yang indah, transportasi perhubungan laut ataupun konservasi taman laut nasional (Dahuri et al, 1996). Pengembangan sektor kelautan di wilayah Kota Bontang yang potensial dan saat ini cukup berkembang baik adalah budidaya laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) khususnya untuk komoditas ikan kerapu, kakap, kuwe, lobster ataupun teripang serta rumput laut. Sedangkan pada daerah pesisirnya masih memungkinkan untuk pengembangan budidaya tambak (bandeng dan udang) khususnya di Kelurahan Guntung, Bontang Kuala, dan wilayah pantai Sekangat. Pada muara sungai daerah berhutan bakau yaitu di sempadan muara sungai Sangatta, Api-api dan Santan maupun Sekangat (wilayah Bontang Tengah dan Selatan) cukup potensial dikembangkan budidaya tambak, mengingat wilayah tersebut merupakan daerah rawa pasang surut, kendati harus 83 dihitung dengan sungguh-sungguh daya dukung dan daya tampungnya. Salah satu masalah sosial yang dominan di wilayah pesisir adalah masalah kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan. Fenomena ini hampir terjadi pada semua keluarga nelayan kelurahan, Loktuan, Bontang Baru, dan Bontang Kuala yang mayoritas hanya berpendidikan sekolah dasar dan hidup dalam kondisi pra sejahtera. Kondisi ini perlu menjadi perhatian mengingat ada keterkaitan erat antara kemiskinan dan rendahnya pendidikan dengan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan laut di Kota Bontang. Tekanan terhadap sumberdaya pesisir sering diperberat oleh tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut serta rendahnya pemahaman akan upaya konservasi, Kemiskinan sering pula menjadi lingkaran setan (vicious circle) dimana penduduk yang miskin sering menjadi sebab rusaknya lingkungan pesisir. Namun penduduk miskin pula yang akan menanggung dampak dari kerusakan lingkungan. Salah satu aspek pengelolaan wilayah pesisir yang baik adalah bagaimana mencarikan alternative pendapatan sehingga mengurangi tekanan penduduk terhadap pemanfaatan sumberdaya pesisir. Dari hasil kajian dapat disarikan bahwa secara umum kondisi sosial ekonomi kelurahan Loktuan, Bontang Baru dan Bontang Kuala dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Tingkat pendapatan rata-rata perbulan untuk setiap kepala keluarga berkisar Rp. 600.000-Rp. 800.000 dengan jumlah keluarga ratarata 4-6 orang, maka cukup banyak nelayan yang hidup miskin, Sementara banyak dijumpai anak usia sekolah tidak bersekolah karena ikut bekerja orang tua melaut. Tingkat investasi rumah tangga juga rendah lebih rendah dibandingkan Upah Minimum Regional (UMR) Kaltim sebesar Rp. 1.200.000/bulan atau lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan tukang kayu dan tukang batu yang rata-rata Rp. 1.300.000-Rp.1.500.000 per bulan. Dengan kondisi pendapatan penduduk pesisir yang masih dibawah garis kemiskinan tersebut, tidaklah mengherankan jika praktek perikanan yang merusak (Destructive Fishing Practice) masih sering terjadi diwilayah pesisir dan laut Kota Bontang karena pendapatan dari kegiatan pengeboman dan penangkapan ikan karang dengan cyanide masih lebih besar dari pada 84 pendapatan mereka sebagai nelayan. Sebagai contoh pendapatan dari menjual ikan karang berkisar antara Rp. 900.000 sampai Rp.1.000.000 perbulan. Dengan demikian upaya pengelolaan wilayah pesisir laut Kota Bontang akan sukar di wujudkan tanpa memecahkan masalah kemiskinan yang terjadi di wilayah pesisir itu sendiri. Permasalahan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang tidak terlepas dari rendahnya pemahaman masyarakat tentang nilai yang sebenarnya dari sumberdaya pesisir secara keseluruhan. Selama ini, pemahaman masyarakat terhadap nilai sumberdaya pesisir seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove dan sebagainya lebih kepada penelitian sumberdaya tersebut untuk pemanfaatan konsumsi langsung. Sedikit sekali masyarakat pesisir yang memahami pemanfaatan konsumsi langsung. Sedikit pula masyarakat pesisir yang memahami pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan non-konsumtif seperti penahan abrasi, pengendalian banjir, estetika, pemanfaatan untuk obat-obatan dan sebagainya yang terkadang nilai moneter non-konsumtifnya lebih besar dari nilai konsumtif. 2) Kondisi Prasarana dan Sarana Keadaan Prasarana dan Sarana yang meliputi Prasarana dan Sarana pendidikan, kesehatan, peribadatan dan tranportasi di wilayah Kota Bontang apabila dilihat dari segi jumlah secara umum sudah memadai. Tetapi apabila ditinjau berdasarkan kebutuhan penduduk terhadap Prasarana dan Sarana tersebut masih kurang dan belum merata. Ketersediaaan Prasarana dan Sarana pada beberapa desa atau kelurahan belum ada. Keadaan Prasarana dan Sarana di wilayah Kota Bontang secara umum tahun 2010 dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Pendidikan Prasarana dan Sarana pendidikan di wilayah Kota Bontang meliputi: bangunan sekolah dari TK, SD, SMP, SMU serta jumlah guru dan murid di perlihatkan pada Tabel 21; 85 Tabel 21. Keadaan Prasarana dan Sarana Pendidikan tiap Kecamatan di wilayah Kota Bontang Jumlah (unit) No, 1. 2. Kecamatan Bontang Selatan Bontang Utara TK SD SMP SMU Jumlah Murid (orang) 19 19 28 20 10 13 4 10 13.424 14.184 769 883 10 7 3 9.255 591 3. Bontang Barat 9 Sumber: Bontang dalam Angka, 2010 Jumlah Guru (orang) b) Kesehatan Prasarana dan Sarana kesehatan di wilayah Kota Bontang meliputi: bangunan rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), puskesmas pembantu, poliklinik (rumah bersalin, klinik), tenaga dokter diperlihatkan pada Tabel 22 berikut ; Tabel 22. Keadaan Prasarana dan Sarana Kesehatan tiap Kecamatan di wilayah Kota Bontang Jumlah (unit) No, RS Puskesmas Puskesmas Pembantu Poliklinik Jumlah Dokter (orang) Kecamatan 1 Bontang Selatan 1 1 1 2 21 2 3 Bontang Utara Bontang Barat 2 1 1 1 1 1 28 12 Sumber: Bontang dalam Angka, 2010 c) Peribadatan Prasarana dan Sarana peribadatan di wilayah Kota Bontang meliputi: bangunan mesjid, gereja katolik, gereja protestan, pura dan vihara diperlihatkan pada Tabel 23 Tabel 23. Keadaan Prasarana dan Sarana Peribadatan tiap Kecamatan di wilayah Kota Bontang No, Kecamatan Jumlah (unit) Gereja Protestan 11 Pura Vihara Jumlah Total - - 38 1 Bontang Selatan 26 Gereja Katolik 1 2 Bontang Utara 35 2 16 1 - 54 3 Bontang Barat 12 1 8 - - 21 Mesjid Sumber: Bontang dalam Angka 2010 86 d) Transportasi Prasarana dan Sarana tranportasi di wilayah Kota Bontang meliputi kondisi jalan negara, provinsi dan kota diperlihatkan pada Tabel 24. Tabel 24. Keadaan Prasarana dan Sarana tranportasi di wilayah Kota Bontang Kondisi jalan Negara (meter) Panjang Jalan Provinsi (meter) Kota (meter) Baik - 33.729.00 141.114.92 Sedang Rusak - - 10.000.00 29.680.00 Rusak berat - - 22.916.00 Jumlah - 33.729.00 203.710.92 Sumber: Bontang dalam Angka 2010 Sistem transportasi laut mencakup sarana maupun prasarana yang berkaitan dengan pelayaran yaitu pelabuhan laut dan alur pelayaran pendukungnya yang berfungsi untuk mengatur lalu-lintas kapal yang melintasi suatu perairan. Komoditi migas masih merupakan komoditas andalan baik bagi daerah, propinsi maupun nasional. Perkembangan ekspor migas di Kota Bontang untuk tahun 2006 mengalami kenaikan 13% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan nilai ekspor non migas mengalami penurunan sebesar 0,47 %. (BPS Kota Bontang , 2007). Sementara nilai impor Kota Bontang baik migas maupun non migas sangat bervariasi. Namun pada tahun 2006 nilai impor migas maupun non migas mengalami kenaikan. Hingga saat ini sub sektor migas masih merupakan andalan bagi pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bontang, dengan kontribusi sebesar 96,16 %. Pada tahun 2006 laju pertumbuhan PDRB minus 2,87 % (dengan migas), sedangkan tanpa migas pertumbuhan sebesar 5,81 %. Hal ini terjadi disebabkan terjadinya penurunan produksi gas yang diolah oleh BADAK. Struktur ekonomi Kota Bontang masih didominasi oleh industri pengolahan gas alam cair dengan kecenderungan yang menurun. Sektor industri gas alam cair memberikan kontribusi 74,20 %. Sumbangan terbesar kedua adalah sektor industri pengolahan non migas sebesar 12,29 %, terutama PKT. 87 Produksi utama PKT adalah pupuk urea dan amoniak yang ditujukan untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Perubahan status kota administratif Bontang menjadi Kota Bontang yang sebagian luas wilayahnya terdiri dari perairan, diikuti peningkatan berbagai aktifitas di daerah pesisir dan laut Kota Bontang. Letak Kota Bontang yang berbatasan dengan Taman Nasional Kutai dan adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menimbulkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut seiring dengan peningkatan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut, Kawasan pesisir dan laut Kota Bontang saat ini dimanfaatkan berbagai pihak seperti PKT, BADAK, PT Indominco, Taman Nasional, pemukiman, pertambakan, budidaya, pelayaran, pelabuhan dan penangkapan ikan. Bila tidak ada sinkronisasi kegiatan akan timbul persoalan pemanfaatan ruang dan meningkatkan gangguan terhadap ekosistem pesisir dan laut. Keberadaan PKT menjadi sangat strategis, karena hal-hal sebagai berikut:  Kawasan pesisir dan laut PKT merupakan zona taman nasional dan zona budidaya dengan intensitas pertambahan yang relatif tinggi karena lokasi dan sumberdaya alamnya yang potensial dan strategis.  Kegiatan PKT yang memanfaatkan ruang pesisir dan laut Kota Bontang mencakup kegiatan industri, pelabuhan, reklamasi, dan pemukiman, sementara di perairan sekitarnya terdapat kegiatan perikanan dan pertambakan masyarakat.  Kegiatan operasional PKT mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah yang ada di sekitarnya, terutama dalam perekonomian Kota Bontang.  Penataan kawasan pesisir dan laut di sekitar PKT dapat dijadikan faktor pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika hal ini dikaitkan program CSR dapat ditelaah apakah program yang dirancang mengarah pada pemberdayaan masyarakat pesisir. 88 4.1.3 1) Gambaran Umum PKT Sejarah Perusahaan PKT terletak di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Propinsi Kalimantan Timur, terletak sejarak 110 km di sebelah utara Kota Samarinda atau 235 km di sebelah utara Kota Balikpapan. Didirikan dengan Akte Notaris Yanuar Hamid, SH. Nomor 15 Tanggal 7 Desember 1977 di Jakarta, dengan pengesahan Menteri Kehakiman No.Y.A. 5/5/11 Tanggal 16 Januari 1979. PKT merupakan anak perusahaan dari PT Pusri (Persero) sebagai holding company, dan saat ini mempunyai kapasitas produksi urea 2,98 juta ton per tahun serta amoniak sebanyak 1,85 juta ton per tahun. Hal ini menjadikan PKT sebagai produsen urea terbesar di tanah air. Selain itu, PKT juga menghasilkan pupuk NPK dan pupuk organik, dengan kapasitas produksi NPK total 550 ribu ton, terdiri dari 350 ribu ton NPK simple blending dan 200 ribu ton NPK fusion, Sedangkan kapasitas produksi pupuk organik adalah 45.000 ton. PKT berawal dari rencana pemerintah melalui Pertamina untuk membangun proyek pabrik pupuk terapung di atas kapal. Namun karena pertimbangan teknis, maka berdasarkan Keppres No. 43/1975 proyek tersebut dialihkan ke darat dan melalui Keppres No. 39/1976. Pertamina menyerahkan pengelolaan proyek kepada Departemen Perindustrian. Lokasi yang dipilih adalah Bontang, Kalimantan Timur.Lahan seluas 493 hektar disiapkan untuk membangun proyek pabrik pupuk tersebut. Gas bumi sebagai bahan baku utama bersumber dari Muara Badak yang disalurkan melalui pipa sepanjang 60 km. Kalimantan Timur mempunyai cadangan proven gas bumi yang cukup besar mencapai 37,003 TSCF, saat ini sebanyak 4000 mmscfd dijadikan LNG dan sebanyak 450 mmscfd digunakan untuk pengembangan industri pupuk dan industri kimia/ petrokimia di kawasan industri Kota Bontang. Pembangunan pabrik Kaltim-1 dimulai tahun 1979 dan mulai beroperasi komersial tahun 1987.Sedangkan pabrik Kaltim-2 mulai dibangun tahun 1982. Kedua pabrik tersebut diresmikan bersamaan pada 28 Oktober 1984. Pabrik Kaltim-3 mulai dibangun dua tahun setelah peresmian pabrik Kaltim-1 dan 2 dan diresmikan pada 4 April 1989. Pada 20 November 1996, mulai dibangun pabrik urea unit 4 yang disebut juga dengan Proyek Optimasi Kaltim atau POPKA, 89 Pabrik ini adalah pabrik urea granul pertama di Indonesia dan diresmikan pada 6 Juli 2000 bersamaan dengan pemancangan tiang pertama Pabrik Kaltim-4, Pabrik Kaltim-4 juga memproduksi Urea Granule. Unit urea pabrik tersebut diresmikan pada 3 Juli 2002 sedangkan unit amoniak diresmikan pada 28 Juni 2004 oleh Presiden. Mulai tahun 2004, seiring dengan keluarnya SK Menperindag, PKT bertanggung jawab atas distribusi urea bersubsidi di Kawasan Timur Indonesia. Sejak saat itu PKT telah membangun jaringan pemasaran di berbagai wilayah Indonesia dan saat ini, wilayah tanggung jawab PKT meliputi Kawasan Timur Indonesia dan sebagian besar Jawa Timur dan Kalimantan kecuali Kalimantan Barat. Dengan kemampuan produksi yang cukup besar, PKT tidak hanya menjadi produsen pupuk dalam lingkup nasional, Jangkauan pasar PKT telah berkembang hingga wilayah Asia-Pasifik (Korea, Taiwan, Filipina, India, Jepang), Amerika Utara dan Amerika Selatan, Pada tahun 2008, ekspor pupuk oleh PKT mencapai 174,740 ton. Meskipun peluang pangsa pasar ekspor relatif tinggi, besarnya volume ekspor yang dilakukan PKT harus disesuaikan dengan izin dan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah.Hal ini dikarenakan adanya kebijakan dimana permintaan pupuk nasional harus menjadi prioritas utama dibandingkan permintaan pupuk luar negeri. Dalam menjalankan aktivitas pemasaran, PKT menerapkan program pemasaran terpadu (integrated marketing). Melalui program pemasaran inilah PKT berupaya memberikan pelayanan yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat tempat, tepat mutu dan tepat harga bagi para konsumen. Selain program pemasaran, PKT turut pula melakukan diversifikasi produk ke dalam dua kelompok yakni pupuk bersubsidi dan pupuk non subsidi. Terkait aktivitas produksi pupuk tersebut, PKT menjalankan program pengendalian mutu, pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja, serta pelestraian lingkungan. Melalui ketiga program tersebut, PKT berhasil memperoleh sertifikat ISO 9002 (mutu), bendera emas SMK3 (K3), dan sertifikat ISO 14001 (lingkungan). 90 2) Visi dan Misi Perusahaan PKT memiliki visi strategis yakni ; “Menjadi perusahaan agro-kimia yang memiliki reputasi prima Visi di kawasan Asia”, dimana istilah “reputasi prima” dimaknai sebagai ; 1. Termasuk salah satu perusahaan Indonesia yang ada dalam daftar 500 perusahaan besar di Asia. 2. Terciptanya produk dan jasa dengan merek-merek global dengan pelanggan yang fanatik (cult brands). 3. Menyandang predikat korporasi best practice dan konsisten sebagai “good governed company”. Sedangkan misi PKT adalah sebagai berikut : 1. Menyediakan produk-produk pupuk, kimia, agro dan jasa pelayanan pabrik serta perdagangan yang berdaya saing tinggi; 2. Memaksimalkan nilai perusahaan melalui pengembangan sumber daya manusia dan menerapkan teknologi mutakhir; 3. Menunjang program ketahanan pangan nasional dengan penyediaan pupuk secara tepat; 4. Memberikan manfaat bagi pemegang saham, karyawan dan masyarakat serta peduli pada lingkungan. Dalam rangka mencapai visi misi di atas, perusahaan menetapkan sasaran yang ditetapkan dalam corporate plan 2008-2027 yang dirinci dalam sasaran 5 tahunan. Sasaran perusahaan tahun 2008-2012 adalah “menjadi industri kimia paling kompetitif di Indonesia”. Pencapaian sasaran ini diukur berdasarkan indikator keberhasilan kunci, yakni : 1. Industri pupuk kimia dengan predikat best quality, cost competitive, shortest lead time, best safety, high moral dan enviromental friendly. 2. Tersedianya pasokan pupuk secara berkesinambungan dengan prinsip "6 Tepat", yakni : Jumlah, Jenis, Waktu, Mutu, Tempat, dan Harga. 3. Jaringan distribusi menjangkau seluruh wilayah nasional. 91 4. Mencapai kriteria standar kinerja internasional yang setara dengan IQA (Indonesia Quality Award) di atas 500. 3) Struktur Organisasi PKT Struktur organisasi PKT tersusun atas 4 hierarki struktural, dimana struktur level pertama terdiri dari jajaran Direksi, pada struktur level kedua terdapat Kompartemen setingkat General Manager yang membawahi struktur level ketiga yakni Departemen dan Biro, sedangkan pada struktur level ke empat terdapat unit kerja tingkat bagian yang dipimpin oleh seorang Kepala Bagian. Secara rinci Bagan Struktur Organisasi PKT disajikan pada Lampiran 1. Program PKBL PKT dilaksanakan oleh unit kerja yang berada pada level ketiga setingkat Departemen dengan nama Biro PKBL, yang bertanggung jawab kepada Direktur SDM dan Umum selaku pembina unit kerja, dengan berkoordinasi kepada Kompartemen Umum. Sebagaimana tersaji pada Gambar Bagan Struktur Organisasi berikut ; PRESIDENT DIRECTOR HR & GENERAL DIRECTOR COMMERCI AL DIRECTOR GM OF GENERAL AFFAIRS GM OF HUMAN RESOURCES MANAGER OF PKBL MANAGER SECURITY PRODUCTION DIRECTOR INTERNAL AUDITOR CORPORATE SECRETARY MANAGER OF GENERAL AFFAIR Gambar10. Bagan Struktur Organisasi PKT TECHNICAL & DEVELOPMENT DIRECTOR 92 4) Bentuk CSR PKT PKT telah menjalankan program Corporate Social Responsibility(CSR), baik secara langsung maupun tidaklangsung dalam bentuk program PKBL. Program Kemitraan (PK) PKT di tahun 2010 telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp. 27,28 miliar. Sedangkan melalui Bina Lingkungan (BL), perusahaan menyalurkan dana Rp. 5,4 miliar.Program CSR PKT tersebut diuraikan dengan deskripsi masing-masing program sebagai berikut ; a) Program Kemitraan (PK) Aktivitas program kemitraan dilakukan melalui penyaluran laba bersih perusahaan sebesar maksimal dua persen kepada sejumlah UMKM (Usaha Kecil, Mikro dan Menengah). Laba bersih tersebut berfungsi sebagai pinjaman lunak bagi aktivitas operasional dan pengembangan usaha UMKM. Pada waktu yang telah ditentukan, UKMK tersebut berkewajiban untuk mengembalikan pinjaman dana kepada PKT. Hasil pengembalian dana tersebut kemudian akan digulirkan kembali oleh PKT kepada sejumlah UMKM yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan pinjaman. Rincian aktivitas penyaluran dana pada program kemitraan PKT adalah sebagai berikut: (1) Penyaluran Pinjaman Sasaran penyaluran pinjaman PKT adalah UMKM yang dinilai belum layak untuk mendapatkan pinjaman dari pihak perbankan. Berikut ini merupakan jenis pinjaman yang disalurkan oleh PKT melalui program kemitraan: (a) Pinjaman Langsung Pinjaman Langsung merupakan pinjaman yang secara langsung diberikan oleh PKT kepada UMKM yang menjadi mitra binaan PKT. Selain di wilayah Bontang, mitra binaan PKT juga terdapat di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Bagi pinjaman yang disalurkan setelah tahun 2003 diberlakukan jasa administrasi sebesar 6% per tahun. Besarnya jasa administrasi tersebut bersifat tetap, sedangkan bagi pinjaman yang disalurkan sebelum tahun 2003 diberlakukan nilai jasa 93 administrasi yang bervariasi dengan sistem perhitungan bunga tetap dan saldo menurun. (b) Pinjaman Tidak Langsung (pinjaman melalui lembaga penyalur) Pinjaman tidak langsung disalurkan kepada mitra binaan melalui lembaga penyalur yang bekerjasama dengan PKT. Saat ini pinjaman tidak langsung tidak diberlakukan. Hal ini dikarenakan berakhirnya masa perjanjian kerjasama antara PKT dengan perbankan yang menjabat sebagai lembaga penyalur. Sebelumnya posisi lembaga penyalur dipegang oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD), baik yang terdapat di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Barat. Dalam penerapannya, pihak BPD bertindak sebagai suplier produk perbankan dan kredit bagi mitra binaan PKT. Atas pinjaman tersebut PKT memberikan jaminan berupa deposito berjangka kepada pihak BPD. (c) Pinjaman Khusus Pinjaman khusus merupakan jenis pinjaman jangka pendek yang diberikan PKT kepada mitra binaan. Pinjaman tersebut bertujuan untuk membantu kondisi finansial mitra binaan dalam memenuhi permintaan konsumennya. PKT menyediakan alokasi pinjaman khusus bagi para kontraktor, pemasok, maupun mitra binaan yang mendapat pesanan khusus. Besarnya bunga pinjaman yang diberlakukan pada pinjaman ini adalah sebesar 12% per tahun, sedangkan sistem perhitungan yang diterapkan adalah sistem perhitungan bunga menurun. (2) Pemberian Hibah Pemberian hibah dilakukan oleh PKT dalam rangka pengembangan dan peningkatan kemampuan mitra binaan. Besarnya dana hibah yang dialokasikan oleh PKT adalah sebesar maksimal 20% dari dana Program Kemitraan yang disalurkan pada tahun berjalan. Dana hibah tersebut digunakan dalam aktivitas pendidikan, pelatihan, penelitian, magang, pemasaran, promosi dan lain-lain. 94 b) Program Bina Lingkungan (BL) Program bina lingkungan merupakan penyelenggaraan kegiatan Community Development, dimana dana kegiatan bersumber dari laba bersih perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan tersebut, sesuai dengan Peraturan Menteri Negara BUMN No: Per-05/MBU/2007, perusahaan mengalokasikan dana sebesar 2% dari perolehan laba bersih. Bentuk kegiatan dalam program bina lingkungan antara lainbantuan bencana alam, pendidikan, kesehatan, sarana umum, sarana peribadatan, serta olahraga dan seni.Berikut ini merupakan penjelasan mengenai program bina lingkungan yang diselenggarakan oleh PKT : (1) BUMN Peduli Penyaluran dana BUMN Peduli hanya dapat dilaksanakan berdasarkan surat/perintah dari Kementerian BUMN, yang biasanya untuk kejadian bersifat nasional. Pada tahun 2010 bentuk bantuan dana BUMN Peduli yang dilaksanakan PKT adalah bantuan Bencana Alam Banjir Wasior, Merapi Yogyakarta, dan Gempa Mentawai. (2) Bantuan korban bencana alam Bentuk bantuan untuk korban bencana alam yang disalurkan antara lain bantuan untuk korban musibah kebakaran di Kelurahan Guntung, Kutai Kartanegara, Balikpapan dan korban banjir di Samarinda. (3) Bantuan pendidikan dan atau pelatihan Contoh program pendidikan yang di selenggarakan oleh PKBL PKT antara lain Program Peduli Pendidikan, program ini memberikan kesempatan kepada siswa-siswi SMU/ sederajat di Kota Bontang dan sekitar yang notabene berasal dari golongan ekonomi lemah untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi favorit di Indonesia. Selain pemberian beasiswa, kegiatan lain dibidang pendidikan adalah pelatihan enterpreneurship, bantuan komputer untuk instansiinstansi kelurahan dan kecamatan di Kota Bontang. (4) Bantuan peningkatan kesehatan Bantuan di bidang kesehatan meliputi bantuan biaya keringanan berobat di Rumah Sakit Pupuk Kaltim (RSPKT). 95 (5) Bantuan pengembangan prasarana dan atau sarana umum Bantuan yang disalurkan antara lain bantuan pembangunan gedung dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah dan sarana panti asuhan Nurul Hidayah Lhoktuan. (6) Bantuan sarana ibadah Untuk sektor peribadatan, PKBL PKT memberikan bantuan pembangunan masjid, mushola serta bantuan pemberian sarung, baju muslim untuk santri dari pondok pesantren se Kota Bontang. (7) Bantuan pelestarian alam Komitmen Perusahaan di bidang lingkungan hidup diwujudkan melalui penerapan Sistem Manajemen Lingkungan berdasarkan ISO 14001:2004 secara efektif dan konsisten. Selama tahun 2010 PKT telah berhasil menjalankan kegiatan operasional yang ramah lingkungan yakni dengan memenuhi seluruh standar baku mutu lingkungan seperti, limbah cair, padat dan emisi gas sesuai yang disyaratkan oleh undang-undang dan peraturan pemerintah. Kesungguhan perusahaan dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan juga ditunjukkan melalui program taman penghijauan Wanatirta, yaitu penghijauan dan pelestarian tanaman langka, khas Kalimantan. Penghijauan ini disiapkan di atas lahan seluas 315 Ha di sekitar perusahaan dengan populasi pohon langka yang sudah ditanam mencapai 55.631 pohon. Bantuan pelestarian alam dilakukan dengan pelaksanaan program penanaman pohon pelindung, penanaman mangrove dan terumbu karang di sekitar kawasan pesisir Kota Bontang. Dimana perusahaan telah melakukan penanaman 256 terumbu buatan pada tahun 2009 di sekitar perairan Kota Bontang yakni di area Karang Segajah dan Tebok Batang. Kegiatan serupa direncanakan menjadi agenda tahunan dengan kebijakan penanaman 500 terumbu buatan setiap tahunnya sejak 2011 hingga 10 tahun mendatang di perairan pesisir Kota Bontang. Dalam melakukan konservasi kawasan pesisir Kota Bontang, melindungi wilayah pesisir dari abrasi, PKT juga telah melakukan penanaman mangrove 96 sekitar 7500 pohon di tahun 2011 terletak di area Hak Guna Bangunan (HGB) 63 (area Sekatup Kelurahan Bontang Baru) sebanyak 3750 pohon dan HGB 65 (area Bukit Sintuk Kelurahan Belimbing) sebanyak 3750 pohon. Kegiatan penanaman pohon mangrove ini juga akan menjadi agenda kegiatan tahunan perusahaan, dengan melakukan penanaman minimal 10.000 pohon mangrove per tahunnya hingga 10 tahun kedepan. Dalam rangka Program Penilaian Peringkat Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (Proper), PKT memperoleh predikat “HIJAU” dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan predikat ”BIRU” dari Kementerian Lingkungan Hidup.Untuk dapat meningkatkan predikat tersebut, salah satu aspek yang menjadi kategori penilaian adalah bentuk implementasi CSR yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan seperti ISO 26000, sehingga PKT harus terlebih dahulu melaksanakan konsep CSR dengan baik. c) Program Pembinaan Wilayah (Binwil) Program Pembinaan Wilayah merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap pengembangan masyarakat dan lingkungan. Pendanaan program Binwil bersumber dari dana operasional perusahaan yang telah disesuaikan dengan kebijakan perusahaan. Penyelenggaraan program Binwil bertujuan untuk mendorong pengembangan wilayah, dengan fokus pembinaan meliputi bidang sosial, keagamaan, pendidikan serta bidang kesehatan masyarakat. d) Program CSR Tak Langsung PKT memiliki program CSR yang merupakan swadaya karyawan PKT. Program CSR tersebut turut pula berperan dalam pemberdayaan dan pengembangan masyarakat di sekitar perusahaan.Beberapa jenis program yang telah terlaksana adalah Marching Band Bontang-PKT, diklat sepak bola Mandau, seni dan tari, Yayasan PKT, serta kegiatan olahraga profesional dan amatir. (1) Kegiatan Pengembangan Olahraga Kegiatan pengembangan olahraga telah dilaksanakan PKT sejak lama. Pada tahun 1988 PKT mendirikan klub sepakbola PS PKT. Sejak memasuki Kompetisi Liga Bank Mandiri ke 8 tahun 2002, PS PKT berubah nama menjadi 97 PS Bontang PKT. Selain bidang sepak bola, kegiatan pengembangan olahraga juga dilakukan pada bidang olahraga voli, tenis meja, tenis lapangan, renang, soft ball, catur, bridge, dan golf. (2) Kegiatan Seni dan Budaya Kegiatan seni dan budaya yang secara rutin diselenggrakan oleh PKT antara lain pagelaran wayang kulit, pentas seni tari, ketoprak, dan fashion show. Selain kegiatan tersebut, PKT turut pula mendorong berkembangnya potensi seni generasi muda melalui kegiatan marching band, Anggota Marching Band Bontang-PKT (MB Bontang-PKT) terdiri dari karyawan, keluarga karyawan, dan masyarakat yang pada umumnya adalah generasi muda Kota Bontang di luar keluarga besar PKT. Salah satu prestasi membanggakan yang telah diukir oleh MB Bontang-PKT adalah juara Grand Prix Marching Band Nasional selama sembilan kali berturut-turut. (3) Yayasan Baiturrahman Yayasan Baiturrahman mengelola Masjid Raya Baiturrahman PKT, pengumpulan dana zakat dari karyawan PKT. Dana hasil pengumpulan tersebut disalurkan dalam bentuk zakat fitrah, sedekah, bantuan beasiswa, bantuan bencana alam, dan bantuan modal bagi usaha kecil. Untuk mendukung aktivitasnya dalam menyalurkan dana bagi kegiatan perekonomian sektor informal, pada tahun 1995 Yayasan Baiturrahman mendirikan BMT (Baitul Mal wat Tanwil). (4) Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) Yayasan Pupuk Kaltim memiliki fokus pada bidang pendidikan. Program utama yang diusung oleh yayasan ini adalah program Maju Bersama YPK yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan kualitas pendidikan di Kota Bontang. Penyelenggaraan program tersebut berhasil meningkatkan NEM rata-rata siswa-siswa lulusan SD di Kota Bontang. Selain program tersebut, YPK juga melaksanakan try out (TO) untuk siswa SMP dan SMU se-Bontang, ESQ gratis untuk siswa sekolah, kejuaraan atletik se-Kaltim, kejuaraan bola basket antar pelajar se-Bontang, takmir masjid serta pelatihan kurikulum dan 98 pengenalan berbagai universitas negeri (Unair, ITB, ITS, Unpad, Undip, UGM) bagi para guru dan siswa SMU di Kota Bontang. (5) Yayasan Rumah Sakit Salah satu program peningkatan kesehatan masyarakat Bontang yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Sakit Pupuk Kaltim adalah bantuan keringanan biaya berobat dengan nilai rata-rata mencapai Rp. 150 juta per tahun. (6) Publik Katulistiwa Televisi (PK-TV) Terkait bidang media penyiaran, PKT mendirikan PKTV (Publik Katulistiwa TV) dengan bekerjasama dengan Yayasan Baiturrahman, Yayasan Pupuk Kaltim dan Yayasan Bina Insan Mandiri.Stasium TV lokal yang resmi berdiri pada tahun 1998 tersebut menayangkan informasi program pengembangan masyarakat serta peristiwa aktual yang terjadi di Kota Bontang. Dengan berlokasi di kompleks Gedung Sarana Pertemuan (GOR) PKT, PKTV mengudara setiap hari dimulai pada pukul 18.00 hingga pukul 22.00. (7) Program Pemberdayaan Pengusaha Lokal PKT turut pula memiliki kepedulian dalam pengembangan ekonomi masyarakat lokal. Bentuk kepedulian tersebut diwujudkan dengan melakukan pemberdayaan pengusaha lokal melalui pemberian prioritas kepada vendor atau pengusaha lokal Bontang dalam proses pengadaan barang dan jasa serta pekerjaan konstruksi tertentu di PKT. (8) Pengembangan kawasan Hutan Kota Wanatirta Pengembangan kawasan Hutan Kota Wanatirta merupakan program pelestarian lingkungan yang dilakukan dengan menjaga fungsi hutan seluas 315,6 Ha tersebut dalam memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika, memperbaiki resapan air, serta perlindungan terhadap aquifer dan aquiclude. Upaya pelestarian tersebut bertujuan untuk menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota, mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, serta mengembangkan hutan sebagai lokasi penelitian dan wisata. 99 4.2 Analisis Ekonomi Wilayah Kota Bontang 4.2.1 Analisis Location Quotient Analisis tentang faktor penentu pertumbuhan ekonomi daerah diperlukan sebagai dasar utama untuk perumusan pola kebijakan pembangunan ekonomi daerah dimasa mendatang. Untuk mengetahui peran industri pengolahan dalam menopang pertumbuhan ekonomi, dapat dilakukan dua pendekatan perhitungan, yaitu: metode basis ekspor yang merupakan bagian dari teori pertumbuhan regional dan metode basis ekonomi dengan pendekatan Location Quotient atau LQ. Sebelumnya ada baiknya ditelaah kembali indikator yang menjadi kekuatan pertumbuhan ekonomi Kota Bontang. Perkembangan kondisi perekonomian dapat ditunjukan dengan pertumbuhan ekonomi yang diukur melalui PDRB. Khusus untuk Kota Bontang struktur PDRB didominasi oleh industri pengolahan yaitu hingga 94 persen. Data statistik menunjukan bahwa sumbangan industri pengolahan cukup besar terhadap pembentukan PDRB Kota Bontang, sebagaimana disajikan dalam Tabel 25 berikut ; Tabel 25. Perkembangan Industri Pengolahan dan PDRB Bontang Periode 20052009 dengan Harga Konstan Tahun 2000 (dalam juta) Dengan Migas Tahun Industri Pengolahan PDRB Tanpa Migas Industri Pengolahan PDRB 2005 24.652.692,75 26.161.109,08 712.390,30 2.218. 549,53 2006 24.652.692,75 26.161.109,08 769.172,00 2.334. 304,64 2007 23.830.231,76 25.398.233,40 810.273,90 2.446. 536,17 2008 22.808.665,43 24.516.714,71 992.102,38 2.699. 898,56 2009 21.955.567,10 23.735.296,07 988.364,14 2.765. 071,61 Sumber : BPS 2010, Bontang Dalam Angka 2010 Perhitungan LQ berdasarkan pendapatan terlihat bahwa selama periode analisis antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, nilai-nilai LQ Kota Bontang menunjukan angka lebih besar dari 1. Dari hasil identifikasi ini dapat 100 disimpulkan bahwa industri pengolahan Kota Bontang antara tahun 2005 sampai dengan 2009 merupakan sektor basis, seperti disajikan pada Tabel 26; Tabel 26.Perbandingan Hasil Perhitungan LQ Pada Industri Pengolahan Dengan Migas dan Tanpa Migas di Kota Bontang Periode 2005-2009 LQ dengan Migas LQ Tanpa Migas Tahun vi/vt Vi/Vt 2005 0,94234127 0,32470245 2006 0,94234127 2007 LQ vi/vt Vi/Vt LQ NM 2,9021686 0,32110633 0,09999888 3,21109924 0,34395157 2,7397498 0,32950797 0,10437771 3,15688067 0,93826336 0,32470245 2,8896097 0,33119228 0,09999888 3,31195988 2008 0,93033123 0,31983581 2,9087775 0,36745913 0,09944345 3,69515661 2009 0,92501762 0,29810031 3,1030414 0,35744612 0,09489565 3,76672827 Sumber : BPS 2010, diolah Jika data industri pengolahan Kota Bontang dipisahkan antara migas dan non migas, maka akan didapat hasil nilai LQ masih diatas 1 antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Hasil ini menunjukan bahwa industri pengolahan non migas Kota Bontang merupakan sektor basis. Pembedaan antara sektor migas dan non migas sesungguhnya untuk melihat peran dua industri besar di Kota Bontang. Sektor Migas pada industri pengolahan digunakan untuk mengamati peran BADAK dan sektor non migas digunakan untuk mengamati peran PKT. Dari hasil perhitungan yang ada, dapat disimpulkan bahwa peran kedua perusahaan ini sangat besar dalam membentuk sektor basis di Kota Bontang. Selanjutnya untuk mengetahui nilai peran industri pengolahan non migas (PKT) sebagai sektor basis terhadap pembangunan ekonomi dalam menciptakan multiplier effect dapat diukur dengan Analisis Regresi sederhana OLS (Ordinary Least Square), dimana variabel yang digunakan adalah time series PDRB 2005 – 2009, sehingga diperoleh persamaan ; ∆Y = 1164765.38 + 1.582 ∆B Hasil ini menunjukkan bahwa koefisien determinasi sektor basis berpengaruh sebesar 1,582 terhadap PDRB Kota Bontang dengan tingkat 101 signifikansi (R square) 95,5%, nilai tersebut akan semakin terlihat jelas ketika kita bandingkan dengan nilai sirkulasi arus modal rata-rata PKT yang mencapai Rp.7,52 Trilyun pertahun, dimana 97,5% diantaranya dikeluarkan di Kota Bontang, meliputi biaya operasional produksi 76%, kontribusi langsung terhadap Pemerintah 15% dan investasi sebesar 9%. 4.2.2 Analisis Pendapatan Jangka Pendek Sementara analisa data rasio PDRB Non Basis terhadap total PDRB (YN/Y) menggambarkan proporsi dari total pendapatan yang dihasilkan oleh aktivitas lokal atau aktivitas penduduk dalam perekonomian wilayah. Pada tahun 2009 rasio YN/Y menunjukan angka 0,0749. Artinya, setiap Rp. 1 pendapatan total Kota Bontang, sumbangan aktivitas lokal sebesar 0,0749. Perhitungan ini menunjukan bahwa aktivitas lokal atau aktivitas penduduk dalam perekonomian Kota Bontang hanya berperan sebesar 7,49 %, sebagaimana disajikan pada Tabel 27: Tabel 27. Hasil Perhitungan Pengganda Pendapatan Jangka Pendek Sektor Industri Pengolahan di Bontang Periode 2005-2009 (dalam juta) Y YB YN M YN/Y 2005 2006 2007 2008 2009 26.161.109,08 26.216.799,14 25.466.494,03 24.519.392,21 23.735.296,07 24.652.692,75 24.652.692,75 23.830.231,76 22.808.665,43 21.955.567,10 1.508.416,33 1.564.106,39 1.636.262,27 1.710.726,78 1.779.728,97 1,061186676 1,063445661 1,068663297 1,075003370 1,081060487 0,057658730 0,059660464 0,064251572 0,069770358 0,074982379 Sumber : BPS 2010, diolah 4.2.3 Analisis Shift Share Dari hasil analisis shift share menunjukkan kontribusi nasional terhadap perekonomian daerah hanya sebesar 9%, sementara peran struktur ekonomi daerah cukup besar mencapai 92 %, rasio tersebut ditopang oleh kontribusi kekhususan potensi ekonomi daerah yakni 46 %, sebagaimana tersaji pada Tabel 28 berikut : 102 Tabel 28. Hasil Perhitungan Analisis Shift Share Kota Bontang Tahun 2005-2009 (dalam juta) Sektor Ekonomi Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air RS PS DS VA 6.812, 43 29.086,76 27.013,23 62.912,42 12.398,17 68.749,17 52.502,12 133.649,46 241.362,86 1.118. 012,77 1.371. 246,73 2.730. 622,36 3.263, 81 15.652,77 18.301,83 37.218,40 Bangunan dan Konstruksi 230.508,92 1.241. 429,88 1.154. 090,36 2.626. 029,17 Perdagangan, Restoran dan Hotel 105.003,76 510.886,47 479.640,27 1.095. 530,49 Pengangk utan dan Komunikasi 25.542,44 131.687,17 125.635,69 282.865,30 Keuangan, Persewaan dan Jasa 28.106,54 158.022,46 139.068,83 325.197,84 Jasa-Jasa Lainnya 22.243,70 107.994,24 105.440,17 235.678,11 JUMLAH PERS ENTASE 675.242,63 3.440. 313,00 3.446. 223,83 7.529. 703,56 8.97% 45.69% 45.77% 100% Sumber : BPS 2010, diolah Keterangan : RS : Regional Share PS : Propotionality Shift 4.2.4 DS VA : Differential Shift : Value Added Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota Bontang Kota Bontang terletak 150 km di utara Kota Samarinda, dengan wilayah yang relatif kecil dibandingkan kabupaten lainnya di Propinsi Kalimantan Timur (406,70 km²), Kota Bontang memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan Kaltim maupun nasional. Karena di kota yang berpenduduk sekitar 140.000 jiwa ini, terdapat dua perusahaan raksasa internasional yaitu BADAK di Kecamatan Bontang Selatan dan PKT di Kecamatan Bontang Utara. Secara Administrasi, semula Kota Bontang merupakan Kota Administratif sebagai bagian dari Kabupaten Kutai dan menjadi Daerah Otonom berdasarkan Undang-Undang No. 47 Tahun 1999 tentang pemekaran Propinsi dan Kabupaten, bersama-sama dengan Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai 103 Kertanegara. Dan sejak disahkannya Peraturan Daerah Kota Bontang No. 17 tahun 2002 tentang Pembentukan Organisasi Kecamatan Bontang Barat, pada tanggal 16 Agustus 2002, Kota Bontang terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Bontang Selatan, Kecamatan Bontang Utara, dan Kecamatan Bontang Barat. Kecamatan Bontang Selatan memiliki wilayah daratan paling luas (104,40 2 km ), disusul Kecamatan Bontang Utara (26,20 km 2) dan Kecamatan Bontang Barat (17,20 km 2) Kota Bontang memiliki letak yang cukup strategis yaitu terletak pada jalan trans Kaltim dan berbatasan langsung dengan Selat Makassar sehingga menguntungkan dalam mendukung interaksi wilayah Kota Bontang dengan wilayah lain di luar Kota Bontang. Gas alam cair merupakan komoditi utama yang menopang perekonomian Kota Bontang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 produksi LNG, yang dikelola oleh BADAK, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2007. Tercatat produksi total LNG pada tahun 2008 sebesar 39.701.552 m 3 dengan produksinya tertinggi sebesar 3.563.438 m3 pada bulan Januari 2008. Untuk nilai ekspor LNG tertinggi juga terjadi pada bulan Januari 2008 sebesar 3.623.854 m3 dengan total ekspor sebesar 39.698.248 m 3 Komoditi unggulan di Kota Bontang setelah gas alam cair adalah pupuk. Pada tahun 2008, produksi amoniak PKT tercatat sebanyak 246.504 ton, sedangkan produksi urea curah dan urea kantong tercatat sebanyak 350.515 ton dan 2.201.497 ton. Sedangkan untuk distribusi amoniak sebanyak 138.850 ton ke dalam negeri dan 78.810 ton ke luar negeri. Sedangkan urea curah dan urea kantong hanya didistribusikan ke dalam negeri yaitu sebanyak 159.350 ton dan 1.709.389 ton. Dengan adanya dua perusahaan besar di Kota Bontang, yaitu: BADAK di Kecamatan Bontang Selatan dan PKT di Kecamatan Bontang Utara, maka diperkirakan pusat pertumbuhan dan pusat pembangunan Kota Bontang berada di Kecamatan Bontang Utara dan Kecamatan Bontang Selatan. a. Pusat Pembangunan Investasi pada pusat pembangunan (Development poles) mempengaruhi pertumbuhan kota pada daerah Kota Bontang secara bervariasi. Pengaruh 104 tersebut dapat muncul dalam bentuk peningkatan investasi, penyediaan lapangan kerja, pendapatan dan kemajuan teknologi yang merupakan indikator kemakmuran di Kota Bontang. Pusat pembangunan di Kota Bontang, ternyata terletak di Kecamatan Bontang Utara. Indikasi ini terlihat dari elastisitas investasi pada pada Kecamatan Bontang Utara terhadap kemakmuran wilayah Kota Bontang menujukan angka positip. Elastisitas kemakmuran (Wr) menunjukan angka 0,327, elastisitas positif dan berada diantara angka 0 dan 1. Artinya pusat pembangunan bersifat sub dominan. Pertumbuhan bersifat sub dominan bermakna bilamana ada investasi sebesar 10 persen di Kecamatan Bontang Utara, akan menghasilkan pendapatan kurang dari 10 persen. b. Pusat Pertumbuhan Sejalan dengan konsep pusat pembangunan, maka daerah perkotaan dikatakan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan (Growth Centre), jika elastisitas investasi di Kecamatan Bontang Utara terhadap investasi di Kecamatan Bontang Barat dan Kecamatan Bontang selatan adalah positif, maka daerah tersebut dapat dikatakan propulsive region atau sebagai wilayah andalan. Jika dilihat angka elastisitas Kecamatan Bontang Utara terhadap Kecamatan Bontang Selatan dan Kecamatan Bontang Barat lebih besar dari 1. Maka dapat dikatakan bahwa Kecamatan Bontang Utara sebagai wilayah utama yang kuat (strong propulsive region). 4.3 Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir 4.3.1 Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi Atribut yang dipertimbangkan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekologi terdiri dari sepuluh atribut : (1) Kondisi Ekosistem Mangrove (2) Kondisi Ekosistem Padang lamun dan Seagrass (3) Kondisi Ekosistem Terumbu Karang (4) Tingkat Kerentanan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (5) Tingkat Biodiversity/ Keanekaragaman hayati wilayah pesisir dan lautan (6) Tingkat perubahan spesies (dalam 10 tahun) (7) Intensitas 105 Pencemaran/ Kerusakan Lingkungan (8) Tingkat eksploitasi Sumberdaya Pesisir dan Lautan (9) Tingkat Konservasi Ekologis yang dilakukan (10) Limbah produksi Berdasarkan hasil analisis Multi Dimensional Scaling (MDS), diketahui nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi wilayah pesisir Kota Bontang per kecamatan yakni; Kecamatan Bontang Utara sebesar 44,46 (kurang berkelanjutan) dan Kecamatan Bontang Selatan sebesar 47,12 (kurang berkelanjutan), sementara Kecamatan Bontang Barat memiliki kondisi ekologi yang cukup berkelanjutan dengan nilai sebesar 59,72. Hasil analisis MDS seperti tersaji pada Gambar 11 berikut ; 60 Up Other Distingishing Features 40 20 0 0 59,72 44,46 Bad 20 40 Kondisi Wilayah Good 60 47,12 80 100 120 Reference anchors Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 11. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Ekologis Bontang Sedangkan, hasil analisis Leverage terdapat empat atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi: (1) Ekositem terumbu karang, (2) Tingkat Biodiversity (3) Tingkat perubahan spesies, dan (4) Intensitas pencemaran. Adapun hasil analisis Leverage terlihat seperti pada Gambar 12 berikut ; 106 Limbah produksi Ekosistem Mangrove Ekosistem Padang lamun dan seagrass Attribute Ekosistem Terumbu Karang Tingkat kerentanan ekologis Tingkat Biodiversity Tingkat perubahan spesies Intensitas pencemaran Tingkat eksploitasi Tingkat Konservasi ekologis 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 Gambar 12. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Ekologis Bontang Munculnya atribut yang sensitif, berupa menurunnya keanekaragaman hayati biota laut serta perubahan spesies di wilayah pesisir tentunya merupakan dampak dari rusaknya ekosistem terumbu karang akibat pembangunan industri di wilayah pesisir Kota Bontang, hal ini diperparah dengan intensitas pencemaran yang tinggi akibat limbah operasional industri serta limbah rumah tangga di wilayah pesisir akibat tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. 4.3.2 Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi terdiri dari sepuluh atribut, antara lain : (1) Pangsa pasar produk kelautan, (2) Indeks kemiskinan masyarakat, (3) Jumlah tenaga kerja yang aktif di sektor pesisir, (4) Kelayakan usaha produksi pesisir, (5) kontribusi sektor pesisir terhadap PDRB, (6) Ketergantungan konsumen terhadap hasil kelautan, (7) Peningkatan atas keuntungan usaha, (8) Peluang dan alternatif dalam memperoleh pendapatan usaha lain, (9) Kesetaraan dalam pendapatan (gini ratio), dan (10) Subsidi pemerintah. 107 Analisis MDS menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi wilayah pesisir Kota Bontang per Kecamatan masing-masing sebesar 56,45 (cukup berkelanjutan) berkelanjutan) untuk untuk Kecamatan Bontang Kecamatan Bontang Selatan Utara, dan 55,27 (cukup 37,97 (kurang berkelanjutan) untuk Kecamatan Bontang Barat. Perbedaan signifikan antara Kecamatan Bontang Utara, Bontang Selatan dengan Bontang Barat karena wilayah Bontang Barat merupakan wilayah pemekaran baru di Kota Bontang sehingga aktifitas ekonomi relatif masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya, disamping itu wilayah Bontang Barat yang bersentuhan langsung dengan wilayah pesisir juga relatif kecil. Nilai indeks keberlanjutan i tersaji pada Gambar 13 berikut ini. 60 Up Other Distingishing Features 40 20 56,45 55,27 Bad 0 0 Kondisi Wilayah Good 37,97 20 40 60 80 100 120 Reference anchors Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 13. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Ekonomi Bontang Hasil analisis Leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi : (1) Kelayakan usaha, (2) Kontribusi terhadap PDRB, dan (3) Ketergantungan konsumen terhadap produk kelautan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan dimensi ekonomi dimasa yang akan datang, atribut-atribut tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan baik. Adapun atribut yang sensitif hasil analisis Leverage seperti tersaji pada Gambar 14 berikut ini. 108 Pangsa pasar produk Persentase penduduk miskin Tenaga kerja sektoral Attribute Kelayakan Usaha Kontribusi terhadap PDRB Ketergantungan konsumen Peningkatan keuntungan usaha Peluang dan alternatif pekerjaan lain Kesetaraan pendapatan Subsidi pemerintah 0 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 14. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Ekonomi Bontang 4.3.3 Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Budaya Atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial-budaya terdiri dari sembilan atribut: (1) Tingkat pendidikan formal masyarakat, (2) Tingkat pengetahuan kelestarian lingkungan masyarakat, (3) Tingkat penyerapan tenaga kerja sektoral, (4) Pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pesisir, (5) Jumlah desa dengan penduduk yang bekerja di sektor pesisir, (6) Prilaku masyarakat terhadap keberlanjutan, (7) Peran masyarakat adat/ lokal dalam kegiatan pesisir, (8) Konflik kepentingan dan pemanfaatan ruang pesisir, dan (9) Perubahan perilaku masyarakat dalam praktek pengelolaaan pesisir. Hasil analisis MDS diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial-budaya di wilayah pesisir Bontang sebesar 50,70 (cukup berkelanjutan) di Kecamatan Bontang Utara, 46,89 (kurang berkelanjutan) di Kecamatan Bontang Selatan dan 46,92 (kurang berkelanjutan) di wilayah Kecamatan Bontang Barat. Sementara hasil analisis laverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya : (1) Jumlah desa dengan penduduk bekerja di sektor pesisir, (2) Peran masyarakat adat / lokal. Nilai 109 keberlanjutan dan hasil analisis leverage tersaji pada Gambar 15 dan Gambar 16 berikut ; 60 Up Other Distingishing Features 40 20 0 Bad 0 20 40 46,92 46,90 60 50,71 Kondisi Wilayah Good 80 100 Reference anchors 120 Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 15. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Sosial Budaya Kota Bontang Tingkat pendidikan formal Pengetahuan kelestarian lingkungan Attribute Tingkat penyerapan tenaga kerja sektoral Pemberdayaan masyarakat Jumlah desa Pesisir Prilaku masyarakat terhadap keberlanjutan Peran masyarakat adat/ lokal Konflik kepentingan dan pemanfaatan ruang Perubahan dalam praktek pengelolaan 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 Gambar 16. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Sosial Budaya Kota Bontang 110 Munculnya atribut sensitif, seperti disebutkan di atas, karena hampir seluruh wilayah di Bontang berbatasan dengan pesisir lautan, namun demikian perilaku masyarakat terhadap keberlanjutan wilayah pesisir relatif masih kurang, akibat tingkat heterogenitas penduduk yang tinggi sehingga peran masyarakat setempat juga dirasakan masih tergolong rendah 4.3.4 Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastruktur dan teknologi terdiri dari sepuluh atribut, antara lain: (1) Perubahan tekhnologi, (2) Selektif dalam memilih peralatan yang ramah lingkungan, (3) Penggunaan mesin dalam proses produksi, (4) Dampak penggunaan tekhnologi, (5) Ketersediaan teknologi informasi, (6) Ketersediaan industri pengolahan lanjutan tingkat penggunaan alat dan mesin, (7) Standardisasi dan sertifikasi mutu produk, (8) Stabilitas pemanfaatan tekhnologi (9) Infrastuktur fasilitas umum pendukung, dan (10) Infrastruktur transportasi dan distribusi. Hasil analisis MDS menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi wilayah pesisir Bontang relatif tinggi jika dibandingkan dengan nilai indeks dimensi lainnya, hal ini dapat terlihat dari indeks Kecamatan Bontang utara yang mencapai nilai 74,77 (cukup berkelanjutan) diikuti dengan indeks Kecamatan Bontang Selatan sebesar 65,49 (cukup berkelanjutan) serta Kecamatan Bontang Barat yang memperoleh nilai 54,20 (cukup berkelanjutan). Sementara hasil analisis leverage diperoleh lima atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi : (1) Ketersediaan tekhnologi informasi, (2) Industri pengolahan lanjutan, (3) Stabilitas pemanfaatan tekhnologi, (4) Dampak penggunaan tekhnologi, dan (5) Standarisasi dan sertifikasi mutu produk. Adapun nilai keberlanjutan hasil analisis MDS dan nilai atribut yang sensitif hasil analisis leverage tersaji pada Gambar 17 dan Gambar 18 berikut ; 111 60 Up Other Distingishing Features 40 20 74.77 65.50 Kondisi Wilayah Bad 0 0 Good 20 40 60 54.21 80 100 Reference anchors 120 Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 17. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi wilayah pesisir Kota Bontang Perubahan tekhnologi Selektif dalam peralatan (ramah lingkungan) Penggunaan mesin produksi Attribute Dampak penggunaan tekhnologi Ketersediaan tekhnologi informasi Industri pengolahan lanjutan Standarisasi dan sertifikasi mutu produk Stabilitas pemanfaatan Infrastruktur fasilitas umum pendukung Infrastruktur transportasi dan distribusi 0 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 18. Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi wilayah pesisir Kota Bontang 112 Munculnya atribut yang sensitif kelompok pertama, seperti industri pengolahan lanjutan dan standardisasi mutu produk, lebih disebabkan karena di wilayah Bontang belum banyak dijumpai industri pengolahan hasil kelautan, sehingga standardisasi mutu dan sertifikasi bagi produk kelautan yang akan dijual ke pasaran masih bersifat tradisional. Munculnya atribut lain yang sensitif, seperti keberadaan teknologi informasi belum tersedia dan berjalan secara optimal, stabilitas pemanfaatan tekhnologi serta dampaknya dalam peningkatan produksi, hal ini muncul karena pada umumnya masyarakat Kota Bontang belum menggunakan peralatan yang memadai, melainkan lebih banyak yang menggunakan perlatan secara tradisional. Demikian pula dengan teknologi informasi di wilayah ini. Sarana tersebut belum digunakan secara optimal. Berbagai informasi yang berkaitan dengan perkembangan teknologi lebih banyak diperoleh melalui kegiatankegiatan penyuluhan yang disampaikan oleh petugas setempat. 4.3.5 Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari sembilan atribut, antara lain: (1) Kesetaraan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir, (2) Penjangkauan penyuluhan dan pembinaan, (3) Keberadaan kelembagaan penyuluhan sosial, (4) Keberadaan organisasi masyarakat sipil (OMS), (5) Mekanisme tekhnis pengelolaan kawasan pesisir, (6) Sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, (7) Ketersediaan perangkat hukum/ regulasi setempat, (8) Tatakelola pemerintahan yang baik, dan (9) Hubungan antar stakeholders. Hasil analisis MDS diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi hukum dan kelembagaan wilayah pesisir Bontang untuk Kecamatan Bontang Utara sebesar 60,00 (cukup berkelanjutan), Kecamatan Bontang Selatan sebesar 55, 01 (cukup berkelanjutan), dan Kecamatan Bontang Barat sebesar 50,98 (kurang berkelanjutan). Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh empat atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan : (1) Penjangkauan penyuluhan dan pembinaan, (2) Keberadaan kelembagaan 113 penyuluh sosial, (3) Sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, (4) Ketersediaan perangkat hukum/ regulasi lokal setempat. Adapun nilai indeks keberlanjutan dan atribut yang sensitif hasil analisis leverage, seperti tersaji pada Gambar 19 dan Gambar 20 berikut ; 60 Other Distingishing Features Up 40 20 0 Bad 0 20 40 60,01 55,01 60 80 50,98 Kondisi Wilayah Good 100 Reference anchors 120 Anchors -20 -40 Down -60 Status Keberlanjutan Wilayah Gambar 19. Hasil Analisis MDS Terhadap Dimensi Hukum dan Kelembagaan wilayah pesisir Kota Bontang Kesetaraan pemanfaatan ruang Penjangkauan penyuluhan dan … Attribute Kelembagaan penyuluh sosial Organisasi masyarakat sipil Mekanisme tekhnis Sinkronisasi kebijakan Pusat - Daerah Regulasi lokal Tatakelola pemerintahan Hubungan antar stakeholder 0 Gambar 20. 1 2 3 4 5 6 Hasil Analisis Leverage Terhadap Dimensi Hukum Kelembagaan wilayah pesisir Kota Bontang dan 114 Munculnya atribut sensitif pertama, berupa sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, dan regulasi kebijakan ditingkat lokal, hal disebabkan karena masalah pesisir belum tercover sepenuhnya oleh kebijakan pengembangan pesisirsecara terpadu, kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih bersifat umum dan biasanya ditentukan secara top down , dan belum terintegrasi sampai level grassroot, sementara kondisi dan permasalahan yang dialami setiap daerah berbeda-beda, sehingga kebijakan tersebut terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan di daerah. Dalam rangka pengembangan kawasan pesisir, seharusnya diusulkan secara bottom up yang berasal dari kalangan grassroot yang mengetahui persis kondisi dan permasalahan daerahnya. Munculnya atribut sensitif kedua, yaitu terkait dengan keberadaan lembaga penyuluh sosial dan penjangkauan kegiatan dari lembaga tersebut, keberadaan kelembagaan sosial sangat penting dalam memberikan pemahanan pada masyarakat guna menciptakan pengelolaan wilayah yang berkelanjutan, aktivitas eksploitasi sumberdaya pesisir tidak hanya mengedepankan sisi keuntungan saat ini semata terapi bagaimana potensi tersebut dapat dikelola hingga lintas generasi, sehingga lembaga penyuluhan sosial dapat lebih berperan sesuai dengan fungsinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat setempat. 4.3.6 Status Keberlanjutan Multidimensi Secara multidimensi, nilai indeks keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang saat ini (existing condition), sebesar 53,73 dan termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Ini berarti bahwa jika dilihat dari sisi weak sustainability , maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori berkelanjutan. Sebaliknya, jika dilihat dari sisi strength sustainability, maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori belum berkelanjutan, karena masih ada dimensi keberlanjutan yang berada pada kategori kurang atau tidak berkelanjutan, yaitu dimensi ekonomi serta dimensi sosial budaya. Nilai ini diperoleh berdasarkan penilaian terhadap 48 atribut dari lima dimensi keberlanjutan. Dari 48 atribut yang dianalisis, terdapat 19 atribut yang sensitif berpengaruh atau perlu diintervensi untuk meningkatkan status keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang. 115 Adapun perbandingan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan di tiap Kecamatan Kota Bontang, seperti pada Gambar 21 berikut. EKOLOGI 100,00 75,00 HUKUM DAN KELEMBAGAAN 50,00 25,00 EKONOMI 0,00 INFRASTRUKTUR DAN TEKHNOLOGI BONTANG UTARA SOSIAL BUDAYA BONTANG SELATAN BONTANG BARAT Gambar 21. Diagram Layang Perbandingan Hasil Analisis MDS Terhadap Tingkat Keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang Tingkat kesalahan dalam analisis MDS dapat dilihat dengan melakukan analisis Monte Carlo. Analisis ini dilakukan pada tingkat kepercayaan sekitar 95 persen. Berdasarkan hasil analisis Monte Carlo, menunjukkan bahwa kesalahan dalam analisis MDS dapat diperkecil. Ini terlihat dari nilai indeks keberlanjutan pada analisis MDS tidak banyak berbeda dengan nilai indeks pada analisis Monte Carlo. Ini berarti, kesalahan dalam proses analisis dapat diperkecil, baik dalam hal pembuatan skoring setiap atribut, variasi pemberian skoring karena perbedaan opini relatif kecil, dan proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, serta kesalahan dalam menginput data dan data hilang, dapat dihindari. Dalam rangka mengetahui apakah atribut-atribut yang dikaji dalam analisis MDS dilakukan cukup akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dilihat dari nilai stress dan nilai Squared Correlation (RSQ). Nilai ini 116 diperoleh secara otomatis dalam analisis MDS dengan menggunakan software Rapfish yang telah dimodifikasi. Hasil analisis dianggap cukup akurat dan dapat dipertanggung-jawabkan apabila memiliki nilai stress lebih kecil dari 0,25 atau 25 persen dan nilai Squared Correlation (RSQ) mendekati nilai 1,0 atau 100 persen (Kavanagh dan Pitcher, 2004). Dari hasil analisis MDS diperoleh nilai stress tiap attribut yaitu ; dimensi ekologi memiliki nilai stress sebesar 0,15 dengan tingkat kepercayaan 95%, dimensi ekonomi dengan nilai stress sebesar 0,14 dan tingkat kepercayaan 95%, dimensi sosial budaya memiliki nilai stress tertinggi yakni 0,17 dengan tingkat kepercayaan terendah hanya 91%, sedangkan dimensi infrastruktur dan tekhnologi serta hukum dan kelembagaan memiliki nilai stress yang sama yakni 0,14 dengan tingkat kepercayaan masing-masing sebesar 95% dan 94%, Adapun nilai stress dan Squared Correlation (RSQ) tersaji secara lengkap pada Tabel 29 berikut. Tabel 29. Nilai Stress dan Squared Correlation (RSQ) dari hasil Analisis MDS Stress Squared Correlation (RSQ) (%) Dimensi Ekologi 0.15 95% Dimensi Ekonomi 0.14 95% Dimensi Sosial Budaya 0.17 91% Dimensi Infrastruktur dan Tekhnologi 0.14 95% Dimensi Hukum dan Kelembagaan 0.14 94% Attribut Sumber : data diolah Dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji, cukup akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, terlihat dari nilai stress yang yang bernilai lebih kecil dari 0,25 dimana hanya berkisar antara 0,14 sampai 0,17 dengan nilai Squared Correlation (RSQ) yang diperoleh berkisar antara 91% sampai 95%, artinya hasil analisis sudah cukup baik dimana variabel atribut yang dipilih untuk dinilai telah mampu menjelaskan mendekati 100% dari kondisi realitas model yang ada. Hasil tabulasi skor indikator keberlanjutan sumberdaya wilayah pesisir disajikan pada Lampiran 2. 117 4.4 Analisis Desain Strategi CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Sumberdaya Pesisir Berdasarkan analisis ekonomi wilayah pesisir dan keberlanjutan wilayah pesisir, terlihat bahwa peran ekonomi yang besar dari perusahaan pengolahan termasuk PKT ternyata belum dapat mendukung keberlanjutan pembangunan wilayah pesisir Kota Bontang. Dengan demikian maka peran PKT harus lebih ditingkatkan dan diarahkan pada pengembangan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang. Oleh karena itu sangat penting dilakukan analisis desain strategi dalam pemberdayaan ekonomi dan sumberdaya pesisir di Kota Bontang. Dalam rangka analisis tersebut dilakukan wawancara dengan berbagai stakeholders terhadap program CSR PKT, secara rinci hasil wawancara ditabulasikan dan disajikan pada Lampiran 2 sampai Lampiran 11. Hasil analisis desain strategi CSR dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir adalah sebagai berikut ; 4.4.1 Analisis Peran dan Efektifitas Program CSR Peran dan efektifitas pelaksanaan program CSR dapat terlihat dengan melakukan Analisis Kesenjangan (Gap Analysis) dan Importance Performance Analysis (IPA). Analisis Kesenjangan digunakan untuk mengetahui kesenjangan antara harapan masyarakat sebagai penerima manfaat program CSR PKT dengan kinerja yang dicapai juga menurut masyarakat tersebut. Analisis selanjutnya adalah Importance Performance Analysis (IPA), dimana dalam analisis ini dapat terlihat posisi masing-masing indikator dalam diagram kartesian. Penempatan posisi masing-masing indikator tersebut menentukan rekomendasi terhadap indikator tersebut. 1) Analisis Kesenjangan (Gap Analysis) Mayoritas responden masyarakat menyatakan bahwa program CSR telah tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tingkat persetujuan masyarakat terhadap ketepatan sasaran dan kesesuaian program masingmasing sebesar 77,5% dan 82,5% responden masyarakat menyatakan bahwa program CSR telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Opini positif 118 responden masyarakat tersebut senada dengan opini yang dikeluarkan oleh responden keluarga karyawan dan mitra binaan. Data kuesioner menunjukkan bahwa keseluruhan responden keluarga karyawan dan mitra binaan menyatakan penilaian positif terhadap ketepatan sasaran dan kesesuaian program terhadap kebutuhan mereka. Lebih lanjut keseluruhan responden pada kelompok mitra binaan menyatakan bahwa perlu adanya keberlanjutan pelaksanaan program CSR PKT. Terkait besarnya kebutuhan masyarakat terhadap bidang pelaksanaan program, keseluruhan responden menyatakan bahwa program di bidang olahraga sangat dibutuhkan. Bidang olahraga menjadi satu-satunya bidang yang mendapat seluruh suara responden. Di sisi lain sebanyak 27,5% responden menyatakan belum terdapat program CSR bidang olahraga. Data tersebut memberikan gambaran bahwa masih terdapat sebagian masyarakat yang belum dapat merasakan atau belum mengetahui adanya pelaksanaan program CSR pada bidang olahraga. Tingkat kebutuhan responden masyarakat pada bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, kesenian, dan bencana masing-masing sebesar 85%, 95%, 95%, 90% dan 80%. Sedangkan tingkat keberadaan program pada masingmasing bidang tersebut adalah sebesar 52,5%; 75%; 82,5%; 57,5% dan 57,5%. Pada bidang kesehatan, kesenian dan bencana terlihat adanya gap yang cukup jauh antara tingkat kebutuhan dan keberadaan program. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa harapan masyarakat tentang adanya pelaksanaan program CSR pada ketiga bidang tersebut belum dapat terpenuhi dengan baik. Kesenjangan antara kebutuhan dan keberadaan program pada bidang pendidikan dan ekonomi tidak terlalu jauh, dengan demikian keberadaan program pada kedua bidang tersebut telah cukup baik memenuhi kebutuhan yang dirasakan masyarakat. Semakin besarnya kesenjangan yang terjadi mengindikasikan semakin besarnya kebutuhan masyarakat yang belum dapat dipenuhi oleh program CSR. Pada kelompok responden keluarga masyarakat, gap antara keberadaan dan kebutuhan program pada bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, kesenian, olahraga dan bencana masing-masing sebesar 32,5%; 20%; 12,5%; 32,5%; 30% 119 dan 22,5%. Gap terkecil terjadi pada bidang ekonomi, sedangkan gap terbesar terjadi pada bidang kesehatan dan kesenian. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa kebutuhan keluarga karyawan pada bidang ekonomi merupakan kebutuhan yang paling dapat dipenuhi oleh kegiatan CSR PKT, sedangkan kebutuhan karyawan pada bidang kesehatan dan kesenian merupakan kebutuhan yang paling belum dapat dipenuhi oleh kegiatan CSR PKT. Tidak terpenuhinya kebutuhan responden oleh kegiatan CSR dapat disebabkan oleh dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah belum tersedianya program CSR yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sedangkan kemungkinan kedua adalah belum diketahuinya keberadaan program oleh kelompok responden. Dalam hal keterlibatan, persentase responden keluarga karyawan dan responden masyarakat yang merasa dilibatkan dalam proses perencanaan program CSR masing-masing sebanyak 66,67% dan 52,50%. Besarnya persentase responden keluarga karyawan yang merasa dilibatkan pada proses persiapan program perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, dan pemanfaatan masing-masing mencapai 66,67%; 83,33%; 50% dan 83,33% Sedangkan besarnya persentase responden yang merasa dilibatkan pada keempat tahapan program CSR tersebut masing-masing adalah 50%; 57,5%; 12,5% dan 65%. Berdasarkan data tersebut maka dapat terlihat bahwa persentase keluarga karyawan yang merasa dilibatkan pada penyelenggaraan kegiatan CSR PKT cenderung lebih besar dibandingkan dengan persentase masyarakat yang merasa dilibatkan pada penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kelompok responden keluarga karyawan mayoritas dilibatkan pada tahapan pelaksanaan dan pemanfaatan, demikian pula dengan kelompok responden masyarakat. Tahapan kegiatan CSR yang paling sedikit melibatkan kelompok keluarga karyawan dan masyarakat adalah monitoring dan evaluasi. Analisis terhadap kinerja berbagai indikator menunjukkan bahwa beberapa diantaranya memberikan point yang kurang bagus, dari sudut pandang masyarakat. Beberapa indikator yang menunjukkan kinerja kurang baik ditunjukkan oleh persepsi TB (Tidak baik) dan KB (kurang baik) yang dominan diberikan oleh masyarakat. Sementara untuk indikator yang menunjukkan kinerja 120 baik, dimana ditunjukkan oleh SB (sangat baik) dan B (baik) yang dominan diberikan oleh masyarakat, adalah indikator jumlah penerima saran, jumlah dana program, secara keseluruhan penilaian indikator tersebut tersaji pada Gambar 22 berikut ; Pendampingan Program Keterlibatan Stakeholders Mekanisme Pelaksanaan Program Pengaruh Program terhadap Masyarakat Tingkat Keberlanjutan Program Jumlah Dana Program Kuantitas Penerima Manfaat Ketepatan Sasaran Program Bina Lingkungan Program Kemitraan 0 Tidak Baik Kurang Baik 10 Cukup Baik 20 30 40 Baik Sangat Baik 50 Gambar 22. Penilaian Masyarakat Terhadap Kinerja Indikator CSR Sementara harapan masyarakat terhadap masing-masing indikator yang sama menunjukkan hasil sebagai berikut : indikator yang dianggap sangat penting oleh masyarakat dimana ditunjukkan oleh dominasi SP (sangat penting) dan P (penting) diberikan masyarakat, diantaranya adalah indikator ketepatan sasaran, jumlah penerima manfaat, kontiunitas program, dampak program terhadap masyarakat, perencanaan program, koordinasi program, dan pendampingan masyarakat yang melekat dalam program tersebut. Sementara indikator lainnya menunjukkan persepsi yang cukup penting. Penilaian masyarakat atas tingkat kepentingan indikator CSR tersaji pada Gambar 23 berikut ; 121 Pendampingan Program Keterlibatan Stakeholders Mekanisme Pelaksanaan Program Pengaruh Program terhadap Masyarakat Tingkat Keberlanjutan Program Jumlah Dana Program Kuantitas Penerima Manfaat Ketepatan Sasaran Program Bina Lingkungan Program Kemitraan 0 Tidak Penting Kurang Penting 10 20 30 Cukup Penting 40 50 Penting 60 70 80 90 Sangat Penting Gambar 23. Penilaian Masyarakat Terhadap Indikator Kepentingan CSR. Hasil kombinasi antara kinerja dan harapan masyarakat terhadap masingmasing indikator tersebut menggambarkan kesenjangan yang terjadi antara harapan dan kenyataan. Kesenjangan antara harapan stakeholder terhadap program CSR dan kinerja yang ditunjukkan selama ini merupakan sekat yang harus diperhatikan. Hal ini bisa terjadi karena dua hal yaitu estimasi masyarakat yang terlampau tinggi terhadap program yang akan dilaksanakan dan yang kedua dikarenakan performance terhadap indikator yang dianalisis memberikan hasil bahwa kinerja harus ditingkatkan, dari hasil analisis terlihat bahwa indikator jumlah dana program, program kemitraan dan program bina lingkungan serta kuaantitas penerima manfaat memiliki tingkat kesesuaian yang relatif lebih tinggi dibandingakn dengan indikator CSR lainnya. Pencapaian kinerja terhadap ekspektasi masyarakat tersaji pada Gambar berikut : 122 Pendampingan Program Keterlibatan Stakeholders Mekanisme Pelaksanaan Program Pengaruh Program terhadap Masyarakat Tingkat Keberlanjutan Program Jumlah Dana Program Kuantitas Penerima Manfaat Ketepatan Sasaran Program Bina Lingkungan Program Kemitraan 0% Gambar 24. Perbandingan Masyarakat. 2) Indikator 20% Kinerja 40% 60% 80% CSR Terhadap 100% Harapan Importance Performance Analysis (IPA) Dalam IPA, dimana mengkombinasikan antara indikator performance dan indikator importance, terlihat bahwa seluruh atribut indikator CSR memiliki nilai penting bagi responden, hal ini tergambar dari letak atibut indikator CSR seluruhnya berada pada wilayah kuadran I dan II. Di posisi kuadaran II dengan indikasi bahwa indikator dan program yang termasuk dalam kuadran ini sudah sesuai antara kinerja dan harapan masyarakat. Terdapat 5 atribut indikator CSR, yakni ; jumlah dana program, program kemitraan, program bina lingkungan, kuantitas penerima manfaat serta pengaruh program terhadap masyarakat yang masuk dalam kuadran ini, oleh karena itu rekomendasi yang tepat adalah mempertahankan prestasi yang sudah dicapai, sehingga kedepan bisa diraih prestasi yang lebih baik lagi. Posisi kuadran terlihat pada gambar berikut ; 123 100 8 90 10 6 37 4 9 80 2 IMPORTANCE 70 5 1 KUADRAN I KUADRAN II KUADRAN III KUADRAN IV 60 50 40 30 20 10 0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 PERFORMANCE Gambar 25. Diagram Performance dan Importance Indikator CSR. Keterangan : 1. Program Kemitraan 2. Program Bina Lingk ungan 3. Ketepatan Sasaran 4. Kuantitas Penerima Manfaat 5. Jumlah Dana Program 6. Tingkat Keberlanjutan Program 7. Pengaruh Program terhadap Masyarakat 8. Mekanisme Pelaksanaan Program 9. Keterlibatan Stakeholders 10. Pendampingan Program Dari gambar tersebut terlihat bahwa aspek yang termasuk dalam kuadran I adalah mekanisme pelaksanaan program, pendampingan program, tingkat keberlanjutan program, keterlibatan stakeholders dan ketepatan sasaran diindikasikan bahwa kinerja aspek indikator tersebut belum sesuai dengan harapan yang di ekspektasikan oleh masyarakat. Bisa disebabkan oleh dua hal yaitu ekspektasi yang terlalu tinggi atau kinerjanya memang rendah sehingga belum memenuhi ekspektasi tersebut. Program dan indikator yang termasuk kedalam kuadran ini harus menjadi perhatian yang serius bagi para pelaksana 124 dan perencana CSR di lapangan. Oleh karena itu rekomendasinya adalah prioritas untuk diperhatikan dan ditingkatkan kinerjanya. Indikator dan program yang termasuk kedalam kuadran ini adalah aspek kontinuitas program, perencanaan program, koordinasi program dan pendampingan masyarakat. Tiga dari lima aspek yang termasuk kedalam kuadran ini dan direkomendasikan untuk diperhatikan adalah variabel dalam mekanisme pelaksanaan program sehingga implementasi dalam rangka meningkatkan kinerjanya sangat bertumpu kepada kemampuan organisasi dan tata kelola organisasi dalam rangka memprogram CSR menjadi lebih baik. Sementara satu aspek yang juga direkomenasikan penting untuk diperhatikan adalah variabel teknis dimana sangat berperan dalam keberhasilan pemberdayaan masyarakat yaitu aspek pendampingan program, disadari atau tidak disadari aspek ini memang merupakan salah satu kelemahan dalam pelaksanaan CSR PKT selama ini. 4.4.2 1) Model Pelaksanaan CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Pemberdayaan masyarakat pesisir dirancang selain untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi, juga dapat menjadi media pelestarian nilai-nilai lokal yang adaptif terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup. Usaha ekonomi yang dikembangkan merupakan usaha yang sesuai dengan potensi sumberdaya (sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan) setempat, yang memiliki prospek pemasaran produk hasil pemberdayaan ini baik dilingkungan setempat maupun dalam jaringan pasar yang lebih luas. Selain memperhatikan keberadaan kondisi masyarakat dan sumberdaya alam setempat serta aspek prospek pemasaran yang lebih luas, seyogyanya juga mempertimbangkan core business PKT, yaitu terkait dengan keberadaan PKT itu tidak membahayakan lingkungan. Sebaliknya, justru dengan keberadaan masyarakat pesisir yang diberdayakan tersebut membuktikan secara visual bahwa PKT telah berperan nyata bagi kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat di sekitarnya sedemikian rupa sehingga tidak sekedar penyaluran 125 dana CSR, tetapi ada misi membangun model yang dapat menjadi contoh bagi pemberdayaan masyarakat ditempat lain oleh pihak lain yang berkepentingan. Lokasi pemberdayaan masyarakat (komunitas pesisir) ini dikawasan buffer zone. Selain lebih bermanfaat untuk membuktikan bahwa secara nyata PKT telah berperan nyata bagi kehidupan sekitarnya secara selaras dan serasi. Indikasi kesiapan masyarakat menuju kemandiriaannya adalah berfungsinya kelembagaan mayarakat yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat, misalnya permodalan usaha dan pemasaran hasil produksi masyarakat yang diberdayakan. Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) yang menjadi dasar praktek tanggung jawab sosial BUMN, merupakan kebijakan sosial BUMN yang menyatu dengan dukungan terhadap usaha kecil dan koperasi yang disebut program kemitraan (PK). Kedua aspek tersebut baik program BL maupun PK, terwadahi dalam suatu ketentuan hukum yang sama. Ada tiga persoalan dalam menerapkan program PKBL, pertama Kepmen235/MBU/2003 menyangkut pembatasan terhadap lima objek bantuan (pendidikan, kesehatan sarana umum, sarana ibadah dan bencana alam). Kedua, terkait dengan manajemen program ditingkat BUMN yang masih bersifat top down dan memerlukan persetujuan dari manajemen pusat bagi BUMN. Ketiga, menyangkut minimnya blue print (cetak biru kebijakan). Tak jarang pelaksanaan tanggung jawab sosial BUMN hanya didasarkan pada keinginan baik dan dimensi etis, tetapi belum dirumuskan dalam suatu kebijakan tertulis oleh perusahaan BUMN. a. Deskripsi Peserta Program Kemitraan dan Non Program Kemitraan Sebagaian besar peserta program kemitraan PKT tinggal di Kelurahan Lhoktuan, tepatnya 64, 3 % dan 35,7 % lainnya bukan peserta kemitraan PKT dan mereka tersebar di tiga desa 14, 3 % di Kelurahan Lhoktuan,1 % di Kelurahan Belimbing. Jika diamati pendidikan dari peserta program kemitraan akan didapat variasi sebagai berikut : 10 % tidak tamat SD, 30 % tamat SMP dan 5 % tamat SMA. Selain tingkat pendidikan, ternyata sebagian besar 126 peserta program kemitraan PKT 35% nya memiliki pekerjaan utama sebagai pedagang dan sisanya 10% sebagai nelayan. b. Perkembangan Responden. Penduduk Kota Bontang Berdasarkan Persepsi Seluruh responden menyatakan bahwa pendapatan mereka meningkat atau mereka memiliki sumber pendapatan tambahan saat ini. Begitupula dengan tingkat pendidikan formal dikeluarga saat ini 70 % responden lebih baik saat ini. Persepsi ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan dan pendidikan semakin baik. c. Dampak langsung, dampak tidak langsung dan pemicu Sebagian besar responden atau tepatnya 65 % menyatakan bahwa PKT tidak memberikan manfaat langsung. Artinya sebagian besar responden sebagai penduduk Kota Bontang tidak dapat diterima sebagai karyawan atau pegawai. Persepsi ini perlu dipahami jika dikaitkan dengan kebutuhan, tingkat pendidikan masyarakat, sehingga PKT harus juga turut memikirkan manfaat langsung yang dapat dirasakan masyarakat Kota Bontang sesuai dengan kemampuan mereka. Dampak tidak langsung dari keberadaan PKT juga dirasakan juga kurang berperan bagi masyarakat hal ini diindikasikan dari 61,1% masyarakat yang menyatakan tidak ada dampak ekonomi atau peluang usaha keberadaan PKT. Menariknya lagi dari data ini adalah semua peserta program kemitraan (PK) PKT menyatakan tidak menerima manfaat dari dampak tidak langsung ini. Artinya ada kecenderungan bahwa peserta program kemitraan (PK) PKT tidak integrasi dengan peluang bisnis yang ada perusahaan tersebut. Dampak pemicu lainnya seperti berkembangnya infrastruktur jalan, listrik, ternyata memberikan mafaat yang cukup besar bagi responden. Secara validasi angka dapat dikatakan lebih dari 88% responden menyatakan berkembangnya infrastruktur memberikan mafaat yang sangat besar bagi perkembangan ekonomi. Jika dikaitkan dengan pertumbuhan tenaga kerja, ternyata hanya 27,8% responden yang menyatakan adanya pertambahan tenaga kerja atau karyawan. Dari data ini ternyata dampak pemicu sebagai instrumen yang mampu menyerap tenaga kerja cukup besar lebih dari 127 seperempatnya dari total 88% responden yang merasa terbantu secara ekonomi. Artinya peran dampak pemicu dalam menciptakan lapangan kerja baru, memiliki posisi lebih dari 20%. Terkait pengetahuan responden terhadap program PKBL PKT serta seberapa besar program tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat dapat terlihat dari uraian sebagai berikut : 1. Bantuan pendidikan 52,6 % responden mengetahuinya tetapi hanya 55 % responden yang menikmatinya. 2. Bantuan kesehatan 52,6% mengetahui tetapi hanya 33,3% yang menikmatinya. 3. Bantuan sarana umum 100% responden mengetahuinya, dan semua responden menikmati bantuan ini. 4. Bantuan sarana ibadah, 100% responden mengetahuinya, 94,4% responden yang menikmatinya. 5. Bantuan bencana alam 52,6% mengetahuinya, hanya 50% yang menikmati. 6. Bantuan kemitraan usaha, 100% mengetahuinya dan semua responden menikmati. Dari informasi ini di dapatkan fakta yang cukup menarik menyangkut bantuan kemitraan usaha dari 100% bantuan kemitraan usaha ternyata responden mengetahui dan menikmati jenis bantuan ini. Artinya responden sebagai peserta program kemitraan dan peserta non program kemitraan ternyata mampu mengakses dan memanfaatkan dana program kemitraan PKT ini. Jika diamati sebagian besar bantuan yang diberikan kepada masyarakat berupa pelatihan bantuan peralatan dan pemberian kredit. 2) Model Program Pengelolaan Wilayah Pesisir Program CSR PKT saat ini terlihat masih belum terfokus pada upaya pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu, hal ini terindikasi dari pelaksanaan program pesisir yang relatif masih baru dilakukan dan terkesan belum menjadi prioritas dalam penganggaran program CSR PKT. Beberapa program yang termasuk secara khusus dalam pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisisr secara 128 terpadu diantaranya adalah program revitalisasi terumbu karang dan penanaman mangrove di sekitar kawasan pesisir Kota Bontang. Program revitalisasi terumbu karang dilakukan dengan menanam concreteblock dengan pipa paralon tempat penyemaian bibit karang di kawasan perairan yang kondisi vegetasi terumbu karangnya telah rusak. Dari penyemaian ini diharapkan dapat memulihkan kembali kondisi ekosistem terumbu karang, yang menjadi tempat hidup bagi aneka biota laut, sehingga mampu meningkatkan produktifitas dan nilai ekonomis dari wilayah pesisir. Sementara pelaksanaan program penanaman mangrove yang telah dilaksanakan sejak tahun 2009, relatif menunjukkan hasil yang lebih baik. Dari sekitar 7500 bibit pohon yang ditanam, kini telah tumbuh menjadi tegakan mangrove setinggi 2 meter di kawasan HGB 63 (area Sekatup Kelurahan Bontang Baru) dan HGB 65 (area Bukit Sintuk Kelurahan Belimbing). Diperkirakan dengan upaya penanaman 10.000 pohon per tahun akan mampu merekondisi wilayah pesisir Kota Bontang menjadi lebih baik. Bila dilihat dari besar nilai anggaran, program penanaman terumbu karang buatan satuannya diperkirakan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 420.000 per unit, harga ini terdiri dari Rp. 230.000 untuk biaya pembuatan concreteblok penyemaian dan Rp. 190.000 untuk biaya angkutan dan penanaman di lokasi. Sehingga jika dikalkulasi anggaran rencana kebijakan penanaman 500 terumbu buatan mencapai sekitar Rp. 210.000.000 setiap tahunnya. Sementara program penanaman mangrove mencapai nilai Rp. 90.000.000 setiap tahun, jika diasumsikan biaya pembuatan dan penanaman berkisar Rp. 9.000 per pohon. Nilai tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total anggaran CSR PKT yang mencapai 20 milyar rupiah per tahunnya, atau jika kita hitung nilai manfaat relatif yang diperoleh dengan dampak ekologis yang ditimbulkan oleh perusahaan masih belum sebanding, sehingga nilai anggaran untuk pengelolaan wilayah pesisir haruslah proporsional, apalagi menurut perhitungan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bontang, bahwa untuk mendapatkan hasil yang 129 optimal dari konservasi wilayah pesisir, maka jumlah minimal terumbu yang ditanam semestinya sebanyak 1000 buah setiap tahunnya. Disisi lain, dalam mendukung pelaksanaan program pengelolaan wilayah pesisir tersebut, tentunya sangat diperlukan peran dan pemahaman dari masyarakat luas, dari hasil survey menunjukkan bahwa sebanyak 65 % responden menyatakan masyarakat dilingkungan mereka memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang lebih baik dalam menjaga serta memelihara sumberdaya alam. Namun 52,6 % responden juga menganggap bahwa peranan masyarakat dalam mengikuti pengelolaan sumberdaya alam tersebut ternyata relatif tidak meningkat. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran masyarakat cukup baik walaupun peranan meraka dalam pengelolaan sumberdaya alam relatif tetap. Artinya kesadaran yang cukup baik ini harus ditingkatkan dalam bentuk kegiatan nyata atau agenda aksinya. Jika dikaitkan dengan program kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan perusahan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, 55 % responden menyatakan tidak ada keterpaduan antar unsur tersebut. Artinya, ada potensi pemanfaatan program kemitraan dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melibatkan masyarakat, pemerintah dan perusahaan guna mendorong peranan masyarakat harus dapat lebih aktif lagi. Sehingga kesadaran yang ada dapat diubah menjadi kegiatan nyata. Arahan dan bimbingan pemerintah dan perusahaan masih memiliki peluang untuk hal ini. 4.4.3 Desain Strategi CSR Wilayah Pesisir. Dari hasil analisis sebelumnya dapat dirumuskan permasalah utama yang dihadapi oleh kawasan pesisir Kota Bontang adalah belum terintegrasinya perencanaan kawasan pesisir yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan dan sekaligus memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan yang berkaitan dengan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut : 1) Masih dominannya sektor industri migas mengandalkan eksploitasi sumberdaya tak terbaharui (non-renewable resources) sementara sektor yang berkaitan dengan kawasan pesisir justru tertinggal jauh dibelakang. 130 2) Dinamika kegiatan penduduk kawasan pesisir yang besar menimbulkan akses-akses negatif terhadap lingkungan fisik kawasan pesisir misalnya kerusakan mangrove, terumbu karang, dan pencemaran terhadap perairan. Hal ini pada akhirnya berdampak pada menurunnya produktifitas sektor perikanan. Kegiatan perkotaan yang berdampak besar adalah Industri (PKT, BADAK) dan aktifitas penduduk yang menghasilkan limbah dan sampah. 3) Tingginya ketergantungan kawasan pesisir terhadap wilayah luar (Balikpapan dan Samarinda) dalam produk konsumsi akibat status kelayakan usaha dan produktifitas sektor perikanan yang masih rendah dalam menunjang pendapatan daerah. 4) Rendahnya keterkaitan antar sektor karena tidak didukung sarana prasarana, modal dan teknologi. Hal ini menyebabkan terputusnya rantai ekonomi sektor-sektor sehingga tidak menciptakan nilai tambah yang dapat meningkatkan pengembangan kawasan pesisir. 5) Konflik pemanfaatan dan kewenangan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil pada umumnya disebabkan adanya masalah ketidakpastian hukum yang bersumber dari ketidakselarasan antara peraturan perundangundangan, serta lemahnya pembinaan dari pemerintah. 6) Peran CSR PKT terhadap kawasan pesisir cenderung masih lemah dan bersifat sporadis, hal ini terlihat dari kinerja sebagian besar program CSR PKT yang dinilai belum cukup memenuhi harapan masyarakat dan kurang berfokus pada upaya pengelolaan kawasan pesisir terpadu. 7) Belum terbangunnya sebuah visi dan misi CSR yang berlandaskan pada sustainable development, dimana dalam implementasi program hanya dilaksanakan oleh organisasi pada level Departement, yang kurang memiliki pengaruh dalam menentukan arah kebijakan perusahaan. 4.4.4 Desain Strategi Pengembangan Wilayah Pesisir Dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang perlu dirumuskan beberapa strategi pengembangan kawasan yang pada intinya memberikan 131 akselerasi untuk memacu perkembangan kawasan pesisir dengan tetap memperhatikan aspek-aspek fisik lingkungan. Strategi pengembangan kawasan pesisir Kota Bontang terbagi menjadi strategi pengembangan secara umum dan strategi pengembangan khusus. Arahan umum adalah dengan mendorong perkembangan sektor-sektor yang berbasis sumberdaya pesisir terbaharui sehingga dapat menjadi penggerak bagi kegiatan ekonomi pesisir. Sementara strategi pengembangan secara khusus adalah dengan membangun kemandirian ekonomi masyarakat lokal, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. Dari pembahasan sebelumnya terlihat bahwa sektor perikanan tangkap masih belum teroptimalkan dengan baik begitu pula dengan budidaya rumput laut yang memiliki potensi yang sangat besar, sementara permintaan konsumsi daerah maupun luar daerah masih relatif tinggi, peluang ini dapat ditindaklanjuti dengan pemberian insentif permodalan secara tepat, pembinaan melalui upaya peningkatan kapasitas dan transfer tekhnologi dalam proses pengelolaan produksi lanjutan serta pembangunan infrastruktur dan distribusi tentunya akan mampu menjadikan semberdaya pesisir menjadi salah satu sektor unggulan di Kota Bontang. Perencanaan dan peruntukan kawasan konservasi mangrove dan terumbu karang hendaknya dapat difokuskan di wilayah Kelurahan Bontang Kuala. Hal tersebut setidaknya akan mampu menjadikan Bontang Kuala sebagai salah satu ikon wisata bahari Kota Bontang. Disamping itu, potensi wisata perumahan masyarakat di atas laut ini harus dibarengi dengan fasilitas infrastruktur transportasi dan akomodasi secara memadai dengan penataan lingkungan yang baik, konsep tersebut dapat disinergikan dengan menciptakan pemahaman dan nilai kearifan lokal dalam membangun daerah wisata yang berwawasan lingkungan. Dengan demikian potensi sektor perikanan dan kelautan dapat lebih teroptimalkan dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat dengan tetap 132 mempertahankan potensi keberlanjutan wilayah dengan konsep pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. 4.4.5 Desain Kebijakan CSR PKT Strategi pelaksanaan ini mencoba untuk menempatkan persoalan yang dihadapi oleh kawasan pesisir Kota Bontang dalam wadah solusi yang terbaik dan memunculkan banyak alternatif yang dapat dikembangkan melalui perumusaan arah kebijakan CSR PKT, sebagai berikut ; 1) Membangun Visi dan Misi CSR PKT yang berorientasi pada upaya peningkatan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir Kota Bontang, dengan fokus utama yaitu ; berupaya memperbaiki kondisi ekosistem pesisir sehingga mampu meningkatkan status kelayakan usaha dan produktifitas di sektor perikanan, peningkatan sarana prasarana, modal dan tekhnologi yang mampu meningkatkan keterkaitan antar sektor. 2) Bersama stakeholders lainnya membangun forum CSR dengan pemerintah Kota Bontang yang lebih berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat dan sumberdaya pesisir dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan secara terpadu, yang pada akhirnya dapat meminimalisir konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir. 3) Menempatkan penanggung jawab CSR PKT pada level yang lebih tinggi yaitu Direksi sebagai wujud komitmen perusahaan terhadap implementasi CSR, agar terbangun program CSR yang lebih ”built in” dalam kebijakan dan praktek perusahaan. 4) Membangun masterplan panduan pelaksanaan CSR di PKT secara terintegrasi antar unit kerja yang terkait dengan program CSR secara menyeluruh. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan disertasi ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Sektor basis di Kota Bontang didominasi oleh industri pengolahan, dengan nilai LQ > 1. Keberadaan industri pengolahan (PKT) signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Bontang dengan nilai koefisien multiplier sebesar 1,582 terhadap PDRB, namun tidak memberikan kontribusi secara langsung pada penciptaan kesempatan kerja, pembukaan peluang usaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat lokal. 2. Secara multidimensi, nilai indeks keberlanjutan wilayah pesisir Kota Bontang saat ini (existing condition), sebesar 53,73 dimana termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Ini berarti bahwa jika dilihat dari sisi weak sustainability , maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori berkelanjutan. Sebaliknya, jika dilihat dari sisi strength sustainability, maka dapat dikatakan bahwa wilayah pesisir Kota Bontang termasuk dalam kategori belum berkelanjutan, karena masih ada dimensi keberlanjutan yang berada pada kategori kurang atau tidak berkelanjutan, yaitu dimensi ekonomi serta dimensi sosial budaya. 3. Berdasarkan analisis ekonomi dan keberlanjutan wilayah, terlihat bahwa peran ekonomi yang besar dari industri pengolahan termasuk PKT ternyata belum dapat mendukung keberlanjutan pembangunan wilayah pesisir Kota Bontang, sehingga peran industri pengolahan perlu ditingkatkan dan diarahkan pada pengembangan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumberdaya pesisir Kota Bontang. Peran perusahaan industri pengolahan (PKT) terhadap pengeloaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang terimplementasi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). 4. Tingkat efektifitas program PKBL PKT secara umum cukup efektif dalam memenuhi ekspektasi masyarakat, walaupun diperlukan optimalisasi kinerja 134 dibeberapa aspek, yaitu aspek perencanaan, koordinasi dan keberlanjutan program serta pendampingan masyarakat. 5. Arah strategi CSR dalam pengembangan kawasan pesisir hendaknya difokuskan pada upaya memberikan akselerasi dalam mendorong perkembangan sektor-sektor yang berbasis sumberdaya pesisir selain sektor industri migas sehingga dapat menjadi penggerak bagi kegiatan ekonomi masyarakat pesisir melalui kemandirian ekonomi masyarakat lokal, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. 5.2. Saran 1. Perlu kajian secara konprehensif tentang peran perusahan industri pengolahan (PKT), bukan hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Bontang akan tetapi juga memberikan kontribusi secara langsung pada penciptaan kesempatan kerja dan pembukaan peluang usaha dan pemerataan pendapatan bagi masyarakat lokal. 2. Peran perusahaan industri pengolahan (PKT) terhadap pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Kota Bontang diharapkan bukan hanya diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisirnya saja, akan tetapi juga secara langsung pada lingkungan wilayah pesisir, laut dan pulaupulau kecilnya termasuk peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pesisir terpadu dan upaya pelestarian sumberdaya di wilayah pesisir Kota Bontang. 3. Pengembangan strategi program CSR hendaknya difokuskan pada atributdimensi yang sensitif terhadap tingkat keberlanjutan (sustainability) pengelolaan sumberdaya pesisir. 4. Beberapa indikator yang perlu mendapat perhatian dalam rangka peningkatan kinerja CSR PKT diantaranya adalah aspek kekonsistenan manajemen dalam perencanaan, koordinasi dan keberlanjutan program serta pendampingan masyarakat. 5. Setiap pelaksanaan CSR hendaknya memiliki parameter kinerja yang bisa dikaitkan dengan ISO 26000, WSSD, MDG’s, Peraturan-peraturan yang berlaku di dalam dan luar negeri serta Visi Misi baik PKT sendiri maupun unit kerja PKBL/ CSR PKT. DESAIN STRATEGI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA PESISIR KOTA BONTANG (Studi Kasus PT. Pupuk Kaltim) TAUFIK HASBULLAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Abelson P. 1979. Cost Benefit Analysis and Environmental Problems. New South Wales: Macquarie University. Adrianto L. 2005. Kebijakan Pengelolaan Perikanan dan Wilayah Pesisir. Kumpulan Working Paper Tahun 2005. Bogor: PKSPL IPB. Anwar A. 2005. Ketimpangan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Bogor: P4W press. Azheri B. 2011. Corporate Social Responsibility. Dari Voluntary menjadi Mandatory. Jakarta: Rajawali Press. Azis E. 1995. Assesment of Marine Environmental Impacts from a Fertilizer Plant ; PT Pupuk Kalimantan Timur Bontang in Indonesia [Thesis]. Bangkok: Asian Institute of Technology. [BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2007. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bontang Tahun 2006-2011. Bontang: Pemerintah Kota Bontang. Bengen GD. 2002. Metodologi Riset Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Materi Kuliah PS-SPL. Bogor: IPB. Bengen DG. 2000. Prosiding Pelatihan untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Bogor: PKSPL-IPB. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Bontang Dalam Angka 2010. Bontang: Kantor Badan Pusat Statistik Kota Bontang. [BPS] Badan Pusat Statistik. Kalimantan Timur Dalam Angka 2010. Samarinda: BPS Kaltim. Budiharsono S. 2001. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah. Jakarta: Pradnya Pratama. Bohari R, B Pramudya, HS Alikodra, S Budiharsono. 2008. Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir Pantai Makassar Sulawesi Selatan. Jurnal Torani. Vol. 18. No. 4. Desember 2008. 314-324. [Care IPB] Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment, Institut Pertanian Bogor. 2011. Laporan Akhir Penyusunan Masterplan CSR PT.Pupuk Kaltim. Bontang: PKT. Carson R. 1963. Silent Spring. Boston: Houghton Mifflin. Carter JA. 1996. Introductory Course on Integrated Coastal Zone Management (Training Manual). Jakarta: Dalhousie University, Environmental Studies Centers Development in Indonesia Project. Chua T. 2006. The Dynamics of Integrated Coastal Management. Practical Applications in the Sustainability Coastal Development in East Asia. Quezone City: GEF/UNDP/IMO Regional Programme on Building PEMSEA. 136 Clark JR. 1996. Coastal Zone Management. Hand Book. New York: CRC Press. Dacles T, M Beger, GL Ledesma. 2000. Sounthern Negros Coastal Development Programme Recommendations for Location and Level of Protection of Marine Protected Areas in The Municipality of Sipalay. Manila: Philippine Reef and Rainforest Conservation Foundation Inc and Coral Cay Conservation Ltd. Dahuri R, J Rais, SP Ginting, MJ Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT Pradya Paramita. Dahuri R. 1999. Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Berkelanjutan. Kumpulan Makalah. Pelatihan untuk Pelatih Bidang Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir. Diesendorf M. 2000. Sustainability and Sustainable Development. Sidney: Allen & Unwin. [Ditjen Migas] Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 1996. Data dan Informasi Minyak, Gas dan Panas Bumi. Jakarta: Direktorat Minyak dan Gas Bumi. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2001. Naskah Akademik Pengelolaan Wilayah Pesisir. Jakarta: Direktur Pesisir dan Pantai. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Fauzi A, S Anna. 2002. Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan Perikanan: Aplikasi Pendekatan Rapfish (Studi Kasus Perairan Pesisir DKI Jakarta), Jurnal Pesisir dan Lautan. Vol. 4. No.2 Tahun 2002. Fauzi A. 2002. Penilaian Depresiasi Sumberdaya Perikanan Sebagai Bahan Pertimbangan Penentuan Kebijakan Pembangunan Perikanan. Jurnal Pesisir dan Lautan. Vol. 4. No. 2. 35-49. Hak T, M Bedrich, LD Arthur. 2007. Sustainability Indicators; a Scientific Assessment. Washington DC: SCOPE. Hidayanto M, S Supiandi, S Yahya, LI Amien. 2009. Analisis Keberlanjutan Perkebunan Kakao Rakyat di Kawasan Perbatasan Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur. Jurnal Agro Ekonomi. Vol. 27. No. 2. Oktober 2009. 213-229. Kavanagh P, TJ Pitcher. 2004. Implementing Microsoft Excel Software for Rapfish: a Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status, Fisheries Centre Research Reports, Vancouver BC: The Fisheries Centre, University Of British Columbia. Kay R, J Alder. 1999. Coastal Planning and Management. London: E & FN Spon. Kusumastanto T. 2000. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Materi Kuliah. Bogor: PS SPL IPB. Kusumastanto T. 2003. Ocean Policy dalam Membangun Negeri Bahari di Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT Gramedia. 137 [Kepmen] Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 dan Nomor : PER-05/MBU/2007, tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL). Lako A. 2011. Dekonstruksi CSR dan Reformasi Paradigma Bisnis & Akuntansi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Nursahid F. 2006. Praktik Kedermawanan Sosial BUMN: Analisis terhadap model kedermawanan PT. Krakatau Steel, PT. Pertamina dan PT. Telekomunikasi Indonesia. Jurnal Filantropi dan Masyarakat Madani. Vol 1 No. 2 Januari 2006. Nababan BO, YD Sari, M Hermawan. 2007. Analisis Keberlanjutan Perikanan Tangkap Skala Kecil di Kabupaten Tegal Jawa Tengah (Tekhnik Pendekatan Rapfish). Jurnal Bijak dan Riset Sosek KP. Vol. 2 No. 2. 2007. 137-158. Nazir M. 1986. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Notohadikusumo T. 2005. Implikasi Etika dalam Kebijakan Pembangunan Kawasan. Jurnal Forum Perencanaan Pembangunan.Edisi Khusus. Januari 2005. Pernetta JC, JD Milliman. 1995. Land-Ocean Interactions in The Coastal Zone; Implementation Plan. Stockholm: The International Geosphere-Biosphere Programme. Pomeroy RS, MJ Williams. 1994. Fisheries Co-Management and Small-Scale Fisheries : A Policy Brief. Manila: ICLARM. Prastowo J, M Huda. 2011. Corporate Social Responsibility, Kunci Meraih Kemuliaan Bisnis, Yogyakarta: Samudra Biru. [PKSPL IPB] Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. 1998. Penyusunan Konsep Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan yang Berakar Pada Masyarakat. Bogor: Dirjen PD Depdagri dan PKSPL IPB. [PKSPL IPB]. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. 2011. Kajian Akademik Tata Ruang Bontang. Bontang: Pemkot Bontang. [P4N UGM] Pusat Penelitian Perencanaan Pembangunan Nasional, Universitas Gadjah Mada. 2001. Penyusunan Rencana Strategis Pemerintah Kota Bontang Tahun Anggaran 2001. Bontang: Pemkot Bontang. [PPLH UNDIP] Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Diponegoro. 2002. Penyusunan Master Plan Tata Ruang Kawasan Pantai dan Laut Sekitar PT. Pupuk Kaltim, Tbk. Kota Bontang Propinsi Kalimantan Timur. Bontang: PKT. Rachman NM, A Efendi, E Wicaksana. 2011. Panduan Lengkap Perencanaan CSR. Jakarta: Penebar Swadaya. Radyati, MR Nindita. 2008. CSR Untuk Pemberdayaan Ekonomi Lokal. Indonesian Business Links. Jakarta. 138 Rahmatullah, K Trianita. 2011. Panduan Praktis Pengelolaan CSR. Yogyakarta: Samudra Biru. Richardson, W Harry. 1979. Regional Economic. Illinois: University Of Illinois Press. Rustiadi E, S Panuju. 2006. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Bogor: Fakultas Pertanian IPB. Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Padang: Baduose Media. [SUCOFINDO] Superintending Company of Indonesia. 2001. Penyusunan Master Plan Kawasan Pesisir Kota Bontang (Rencana). Bontang: BAPPEDA Kota Bontang. Suharto E. 2010. CSR & Comdev. Investasi Kreatif Perusahaan di Era Globalisasi. Bandung: Alfabeta. Sukada S et al. 2006. Membumikan Bisnis Berkelanjutan: Memahami konsep dan praktik tanggung jawab sosial perusahaan. Indonesian Business Links. Jakarta. Ross WG, MF Easley. 2002. Technical Manual for Coastal Land Use Planning. Division of Coastal Management, State of North Carolina: [penerbit tidak diketahui]. Soegiarto A. 1976. Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir. Jakarta: Lembaga Oceanologi Nasional. Supriharyono. 2000. Djambatan. Pengelolaan Ekosistem Wilayah pesisir. Jakarta: Thamrin, SH Sutjahjo, C Herison, S Sabilham. 2007. Analisis Keberlanjutan Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia untuk Pengembangan Kawasan Agropolitan (Studi Kasus Kecamatan Dekat Perbatasan Kabupaten Bengkayang). Jurnal Agro Ekonomi.Vol. 25 No.2. Oktober 2007. 103-124. [UU] Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. [UU] Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan. [UU] Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. [UU] Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Wang X. 2009. Performance Analysis for Public and Nonprofit Organizations. Florida: Department of Public Administration University of Central Florida. [WCED] World Committee for Economic Development. 1987. Our Common Future. New York: Oxford Univ Press. Zamani NP, Darmawan. 2000. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu Berbasis Masyarakat. Prosiding Pelatihan Untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Bogor: PKSPL IPB dan Proyek Pesisir – Coastal Resources Management Project, Coastal Resources Center-University of Rhode Island. 141 Lampiran 1 Bagan Struktur Organisasi PT Pupuk Kalimantan Timur 142 Lampiran 2 Hasil Tabulasi Score Indikator Keberlanjutan Sumberdaya Wilayah Pesisir DIMENSI ATTRIBUT SCORE PER KECAMATAN DI BONTANG UTARA SELATAN BARAT DIMENSI EKOLOGI Tingkat Konservasi ekologis Tingkat eksploitasi Intensitas pencemaran Tingkat perubahan spesies Tingkat Biodiversity Tingkat kerentanan ekologis Ekosistem Terumbu Karang Ekosistem Padang lamun dan seagrass Ekosistem Mangrove Limbah produksi 3 2 2 0 1 1 2 1 1 1 3 2 2 0 1 1 1.5 1 1 1 3 2 1 0 0 0 1 0 1 1 DIMENSI EKONOMI Subsidi pemerintah Kesetaraan pendapatan Peluang dan alternatif pekerjaan lain Peningkatan keuntungan usaha Ketergantungan konsumen Kontribusi terhadap PDRB Kelayakan Usaha Tenaga kerja sektoral Persentase penduduk miskin Pangsa pasar produk 0 2 3 3 2 3 2 1 0.5 1 1 2 3 2 2 3 1 2 2 1 1 1 1 1 2 3 1 2 2 1 1 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 1 3 2 0.5 2 1 1 0.5 3 1 1 1 1.5 0 0.5 1 DIMENSI SOSIAL BUDAYA Perubahan dalam praktek pengelolaan Konflik kepentingan dan pemanfaatan ruang Peran masyarakat adat/ lokal Prilaku masyarakat terhadap keberlanjutan Jumlah desa Pesisir Pemberdayaan masyarakat Tingkat penyerapan tenaga kerja sektoral Pengetahuan kelestarian lingkungan Tingkat pendidikan formal 143 Lampiran 2 (lanjutan) DIMENSI ATTRIBUT DIMENSI TEKHNOLOGI Infrastruktur transportasi dan distribusi Infrastruktur fasilitas umum pendukung Stabilitas pemanfaatan Standarisasi dan sertifikasi mutu produk Industri pengolahan lanjutan Ketersediaan tekhnologi informasi Dampak penggunaan tekhnologi Penggunaan mesin produksi Selektif dalam peralatan (ramah lingkungan) Perubahan tekhnologi DIMENSI HUKUM DAN KELEMBAGAAN Hubungan antar stakeholder Tatakelola pemerintahan Regulasi lokal Sinkronisasi kebijakan Pusat - Daerah Mekanisme tekhnis Organisasi masyarakat sipil Kelembagaan penyuluh sosial Penjangkauan penyuluhan dan pembinaan Kesetaraan pemanfaatan ruang SCORE PER KECAMATAN DI BONTANG UTARA SELATAN BARAT 0 0 2 2 0 1 0 1 1 0 2 2 0 1 0.5 1 3 2 1 1 1 0 0.5 3 1 1 2 1 1 2 2 2 1 1 2 3 4 0 2 3 2 0 1 2 3 3 0 1 2 2 0 1 1 2 2 2 1 144 Lampiran 3 Tabulasi Hasil Responden Tentang Persepsi Pelaksanaan CSR PKT 1.1 jenis kelamin Valid Missing Total laki-laki System Frequency 36 4 40 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 1.4 tempat tinggal Valid Missing Total lok tuan belimbing bontang barat Total System Frequency 22 2 4 28 12 40 Percent 55.0 5.0 10.0 70.0 30.0 100.0 Valid Percent 78.6 7.1 14.3 100.0 Cumulative Percent 78.6 85.7 100.0 1.5 sta tus responden Valid Frequency masyarakat biasa 12 tok oh mas yarakat 6 peserta program 18 kemitraan karyawan P T. 4 Pupuk Kalt im Total 40 Percent 30.0 15.0 Valid P ercent 30.0 15.0 Cumulative Percent 30.0 45.0 45.0 45.0 90.0 10.0 10.0 100.0 100.0 100.0 1.6 pendidikan terakhir Valid tidak tamat SD tamat SD tamat SMP Akademi/Universitas lainnya Total Frequency 4 12 16 4 4 40 Percent 10.0 30.0 40.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 30.0 40.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 40.0 80.0 90.0 100.0 145 Lampiran 3 (lanjutan) 1.7 pe kerj aan uta ma Valid Frequency 14 22 4 40 nelayan pedagang/wiras was ta lainnya Total Percent 35.0 55.0 10.0 100.0 Valid P ercent 35.0 55.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 35.0 90.0 100.0 1.8 pekerjaan sampingan Valid Missing Total Frequency 2 10 22 2 36 4 40 petani pemilik nelayan pedagang/wiras was ta lainnya Total System Percent 5.0 25.0 55.0 5.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 5.6 27.8 61.1 5.6 100.0 Cumulative Percent 5.6 33.3 94.4 100.0 1.9 suku bangsa Valid jawa bugis Total Frequency 4 36 40 Percent 10.0 90.0 100.0 Valid Percent 10.0 90.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 100.0 2.1 Apakah pendapatan anda meningkat atau memiliki sumber pendapatan tambahan saat ini? Valid ya Frequency 40 Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 146 Lampiran 3 (lanjutan) 2.2 Apaka h pendi dika n forma l di keluarga anda menjadi lebih baik ini ? Valid ya tidak Total Frequency 28 12 40 Percent 70.0 30.0 100.0 Valid P ercent 70.0 30.0 100.0 Cumulative Percent 70.0 100.0 2.3 Apakah masyarakat di lingkungan anda memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang lebih baik dalam menjaga serta memelihara sumber daya alam? Valid ya tidak Total Frequency 26 14 40 Percent 65.0 35.0 100.0 Valid Percent 65.0 35.0 100.0 Cumulative Percent 65.0 100.0 2.4 Apaka h sa at i ni m asyarakat telah me ningkatkan pem anfaata sumbe r al am lesta ri dengan berbaga i be ntuk ata u ca ra? Valid ya tidak Total Frequency 22 18 40 Percent 55.0 45.0 100.0 Valid P ercent 55.0 45.0 100.0 Cumulative Percent 55.0 100.0 2.5 Apakah peranan masyarakat semakin meningkat dalam mengikuti pengelolaan sumber daya alam? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 18 20 38 2 40 Percent 45.0 50.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 47.4 52.6 100.0 Cumulative Percent 47.4 100.0 147 Lampiran 3 (lanjutan) 2.6 Apakah hukum tradisional dan kemampuan masyarakat lokal diakui dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 14 24 38 2 40 Percent 35.0 60.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 36.8 63.2 100.0 Cumulative Percent 36.8 100.0 2.7 Apakah masyarakat memiliki program kemitraan dengan pemerintah atau perusahaan dalam pemanfaatan sumber daya alam? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 16 22 38 2 40 Percent 40.0 55.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 42.1 57.9 100.0 Cumulative Percent 42.1 100.0 2.8 Dampak Langsung, Dampak Tidak Langsung dan Dampak Pemicu Missing System Frequency 40 Percent 100.0 2.8a Apakah kelua rga anda se bagai penduduk Kota Bontang, ada ya me nerima ma nfaa t la ngsung dari kebera daa n PT. Pupuk Ka ltim seba ka ryaw an atau pe gaw ai Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 12 26 38 2 40 Percent 30.0 65.0 95.0 5.0 100.0 Valid P ercent 31.6 68.4 100.0 Cumulative Percent 31.6 100.0 148 Lampiran 3 (lanjutan) 2.8b Apakah a nda me rasa kan dam pa k ekonomi/ terbuka nya peluang u da ri ke berada an P T. P upuk Kaltim di Kota Bonta ng. Sebaga i Misal: an se bagai pema sok kebutuhan PT. Pupuk Kalti m Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 14 22 36 4 40 Percent 35.0 55.0 90.0 10.0 100.0 Valid P ercent 38.9 61.1 100.0 Cumulative Percent 38.9 100.0 2.8c Jika jawaban anda ya (untuk pertanyaan b), apakah tenaga kerja atau karyawan anda bertambah? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 12 24 36 4 40 Percent 30.0 60.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 Cumulative Percent 33.3 100.0 2.8d Apakah a nda me rasa kan berkem bangnya infrastruktur sepe rti ja l listrik, dll mem berikan ma nfa at bagi berkembangnya usa ha yang an tekuni ata u m embuka usa ha baru Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 32 4 36 4 40 Percent 80.0 10.0 90.0 10.0 100.0 Valid P ercent 88.9 11.1 100.0 Cumulative Percent 88.9 100.0 149 Lampiran 3 (lanjutan) 2.8e Jika jawaban anda ya (untuk pertanyaan d), apakah tenaga kerja atau karyawan anda bertambah? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 10 26 36 4 40 Percent 25.0 65.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 27.8 72.2 100.0 Cumulative Percent 27.8 100.0 2.9 Ha mbata n-ha mbatan da lam me nggala ng kem itra Missing Sy stem Frequency 40 Percent 100.0 2.9a Terjadinya kesenjangan antar pihak. Terjadinya krisis kepercayaan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 14 24 38 2 40 Percent 35.0 60.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 36.8 63.2 100.0 Cumulative Percent 36.8 100.0 2.9b Ada satu pihak yang terlalu dominan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 8 28 36 4 40 Percent 20.0 70.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 22.2 77.8 100.0 Cumulative Percent 22.2 100.0 150 Lampiran 3 (lanjutan) 2.9c Keterbata san wa ktu dan sum ber daya, irama be kerj a de nga n w a komunitas tida k dapa t dibatasi ol eh w aktu se perti di kantor, kadang wa di luar jam ka ntor dia nggap l ebih efe ktif bagi kom unitas Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 28 6 34 6 40 Percent 70.0 15.0 85.0 15.0 100.0 Valid P ercent 82.4 17.6 100.0 Cumulative Percent 82.4 100.0 2.9d Rendahnya partisipasi masyarakat Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 22 14 36 4 40 Percent 55.0 35.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 61.1 38.9 100.0 Cumulative Percent 61.1 100.0 2.9e Sulitnya mempertemukan kepentingan dalam proses kemitraan yang masing-masing memiliki kegiatan utama, khususnya bagi korporasi Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 12 24 36 4 40 Percent 30.0 60.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 33.3 66.7 100.0 2.10 Bagaimana pendapat anda mengenai hubungan antara tokoh masyarakat di Kota Bontang dengan perusahaan PT. Pupuk Kaltim Missing System Frequency 40 Percent 100.0 Cumulative Percent 33.3 100.0 151 Lampiran 3 (lanjutan) 2.10a PT. Pupuk Kaltim tidak mempedulikan tokoh masyarakat Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 2 36 38 2 40 Percent 5.0 90.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 5.3 94.7 100.0 Cumulative Percent 5.3 100.0 2.10b PT. Pupuk Kaltim berhubungan dengan tokoh masyarakat hanya terjadi dalam keadaan terpaksa melakukannya dan dalam suasana yang sifatnya hanya sekedar pertemuan Valid Mis sing Total tidak System Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.10c PT. Pupuk Kaltim berhubungan dengan tokoh masyarakat sudah melalui proses kesadaran guna mengantisipasi berbagai kepentingan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 30 2 32 8 40 Percent 75.0 5.0 80.0 20.0 100.0 Valid Percent 93.8 6.3 100.0 Cumulative Percent 93.8 100.0 152 Lampiran 3 (lanjutan) 2.10d PT. Pupuk Kaltim be rhubungan dengan tokoh m asyara kat seca be rkal a da n dalam suasa na yang sali ng m enghorma ti, te rbuka dan sa pe rcaya Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 36 2 38 2 40 Percent 90.0 5.0 95.0 5.0 100.0 Valid P ercent 94.7 5.3 100.0 Cumulative Percent 94.7 100.0 2.11 Bantuan yang diberikan PT. Pupuk Kaltim kepada masyarakat Kota Bontang yang anda ketahui? Mis sing System Frequency 40 Percent 100.0 2.11a Bantuan Pendidikan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 20 18 38 2 40 Percent 50.0 45.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 52.6 47.4 100.0 Cumulative Percent 52.6 100.0 2.11b Bantuan Bidang Kesehatan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 20 18 38 2 40 Percent 50.0 45.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 52.6 47.4 100.0 Cumulative Percent 52.6 100.0 153 Lampiran 3 (lanjutan) 2.11c Bantuan untuk Sarana Umum Valid Mis sing Total ya System Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.11d Bantuan untuk Sarana Ibadah Valid Mis sing Total ya System Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.11e Bantuan untuk Bencana Alam Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 20 18 38 2 40 Percent 50.0 45.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 52.6 47.4 100.0 2.12 Bantuan yang diberikan PT. Pupuk Kaltim kepada masyarakat Kota Bontang yang pernah anda nikmati? Missing System Frequency 40 Percent 100.0 Cumulative Percent 52.6 100.0 154 Lampiran 3 (lanjutan) 2.12a Bantuan Pendidikan Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 18 18 36 4 40 Percent 45.0 45.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 50.0 50.0 100.0 Cumulative Percent 50.0 100.0 2.12d Bantuan untuk Sarana Ibadah Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 34 2 36 4 40 Percent 85.0 5.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 94.4 5.6 100.0 Cumulative Percent 94.4 100.0 2.12b Bantuan Bidang Kesehatan Valid Mis sing Total ya tidak 22.00 Total System Frequency 12 22 2 36 4 40 Percent 30.0 55.0 5.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 33.3 61.1 5.6 100.0 Cumulative Percent 33.3 94.4 100.0 2.12c Bantuan untuk Sarana Umum Valid Mis sing Total ya System Frequency 36 4 40 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 155 Lampiran 3 (lanjutan) 2.12e Bantuan untuk Bencana Alam Valid Mis sing Total Frequency 18 18 36 4 40 ya tidak Total System Percent 45.0 45.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 50.0 50.0 100.0 Cumulative Percent 50.0 100.0 2.12f Bantuan untuk kemitraan Usaha Valid Mis sing Total ya System Frequency 36 4 40 Percent 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.14 Apaka h P T. P upuk Ka ltim me mberikan bantuan untuk pengemban ke mitraan usa ha bagi pengem ba nga n UKM di Kota Bontang Valid Missing Total ya Sy stem Frequency 38 2 40 Percent 95.0 5.0 100.0 Valid P ercent 100.0 Cumulative Percent 100.0 2.15 Apakah pemberian bantuan pengembangan kemitraan usaha bagi UKM tepat sasaran? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 36 2 38 2 40 Percent 90.0 5.0 95.0 5.0 100.0 Valid Percent 94.7 5.3 100.0 Cumulative Percent 94.7 100.0 156 Lampiran 3 (lanjutan) 2.18 Apaka h te lah terj adi kese nja nga n ya ng dise babkan konflik a nta r nil ai-nilai budaya industri seperti yang te rlibhat dala m ca ra mem anda ua ng, waktu dan teknik pada masyarakat Kota Bonta ng Valid Missing Total ya tidak Total Sy stem Frequency 12 22 34 6 40 Percent 30.0 55.0 85.0 15.0 100.0 Valid P ercent 35.3 64.7 100.0 Cumulative Percent 35.3 100.0 2.19 Apakah telah terjadi bantuan pelatihan yang tepat sasaran? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 2 34 36 4 40 Percent 5.0 85.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 5.6 94.4 100.0 Cumulative Percent 5.6 100.0 2.20 Apakah program kemitraan yang ditawarkan PT. Pupuk Kaltim tidak didasarkan pada kebutuhan yang konkrit dalam kegiatan UKM? Valid Mis sing Total ya tidak Total System Frequency 4 32 36 4 40 Percent 10.0 80.0 90.0 10.0 100.0 Valid Percent 11.1 88.9 100.0 Cumulative Percent 11.1 100.0 157 Lampiran 4 Hasil tabulasi persepsi masyarakat terhadap kinerja CSR PKT NO INDIKATOR RESPON DEN SANGAT BAIK BAIK CUKUP BAIK KURANG BAIK TIDAK BAIK 1 Program Kemitraan 90 3 37 40 9 1 2 Program Bina Lingkungan 90 5 30 32 22 1 3 Ketepatan Sasaran 90 3 25 26 32 4 4 Kuantitas Penerima Manfaat 90 5 37 13 32 3 5 Jumlah Dana Program 90 38 27 14 6 5 6 Tingkat Keberlanjutan Program 90 10 8 24 42 6 7 Pengaruh Program terhadap Masyarakat 90 5 16 46 18 5 8 Mekanisme Pelaksanaan Program 90 2 3 20 33 32 9 Keterlibatan Stakeholders 90 8 12 36 30 4 10 Pendampingan Program 90 3 4 31 38 14 158 Lampiran 5 Hasil Tabulasi Persepsi Masyarakat Terhadap Tingkat Kepentingan CSR PKT NO INDIKATOR RESPON DEN SANGAT CUKUP KURANG TIDAK PENTING PENTING PENTING PENTING PENTING 1 Program Kemitraan 90 31 35 24 0 0 2 Program Bina Lingkungan 90 38 34 18 0 0 3 Ketepatan Sasaran 90 80 8 2 0 0 4 Kuantitas Penerima Manfaat 90 81 9 0 0 0 5 Jumlah Dana Program 90 47 17 26 0 0 6 Tingkat Keberlanjutan Program 90 83 6 1 0 0 7 Pengaruh Program terhadap Masyarakat 90 82 6 2 0 0 8 Mekanisme Pelaksanaan Program 90 84 6 0 0 0 9 Keterlibatan Stakeholders 90 75 9 6 0 0 10 Pendampingan Program 90 70 15 5 0 0 159 Lampiran 6 Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja CSR PKT NO. INDIKATOR RESPONDEN PERFORMANCE IMPORTANCE KESESUAIAN 1 Program Kemitraan 90 59 77 77% 2 Program Bina Lingkungan 90 54 81 68% 3 Ketepatan Sasaran 90 48 97 49% 4 Kuantitas Penerima Manfaat 90 53 98 54% 5 Jumlah Dana Program 90 74 81 92% 6 Tingkat Keberlanjutan Program 90 43 98 44% 7 Pengaruh Program terhadap Masyarakat 90 49 97 51% 8 Mekanisme Pelaksanaan Program 90 25 98 25% 9 Keterlibatan Stakeholders 90 47 94 50% 10 Pendampingan Program 90 34 93 37% 160 Lampiran 7 Hasil Tabulasi Persepsi Masyarakat Terhadap Kinerja Program CSR PKT INDIKATOR RESPON DEN SANGAT BAIK BAIK CUKUP BAIK KURANG BAIK TIDAK BAIK 1 Pembinaan olahraga dan seni budaya 90 5 12 33 38 2 2 Bantuan Pinjaman Kredit/ Modal kerja 90 11 42 24 12 1 3 Pelatihan dan pengembangan kewirausahaan 90 3 25 26 32 4 4 Bantuan pengembangan fasilitas usaha 90 5 37 13 32 3 5 Bantuan Korban bencana alam 90 12 27 25 21 5 6 Pendidikan masyarakat/ beasiswa 90 4 8 24 42 12 7 Kesehatan masyarakat 90 5 16 46 18 5 8 Peningkatan Sarana dan prasarana umum 90 2 3 20 33 32 9 Bantuan sarana ibadah 90 5 6 40 35 4 90 3 4 31 38 14 NO 10 Pelestarian alam 161 Lampiran 8 Hasil Tabulasi Persepsi Masyarakat Terhadap Tingkat Kepentingan Program CSR PKT NO. INDIKATOR RESPON SANGAT CUKUP KURANG TIDAK PENTING DEN PENTING PENTING PENTING PENTING 1 Pembinaan olahraga dan seni budaya 90 7 15 22 43 3 2 Bantuan Pinjaman Kredit/ Modal kerja 90 24 29 22 14 1 3 Pelatihan dan pengembangan kewirausahaan 90 21 30 25 13 1 4 Bantuan pengembangan fasilitas usaha 90 28 28 26 6 2 5 Bantuan Korban bencana alam 90 12 18 24 30 6 6 Pendidikan masyarakat/ beasiswa 90 6 22 29 25 8 7 Kesehatan masyarakat 90 8 26 28 23 5 8 Peningkatan Sarana dan prasarana umum 90 9 18 25 32 6 9 Bantuan sarana ibadah 90 11 23 38 16 2 90 12 28 35 12 3 10 Pelestarian alam 162 Lampiran 9 Hasil Perbandingan Harapan Masyarakat Terhadap Kinerja Program CSR PKT NO. INDIKATOR RESPONDEN PERFORMANCE IMPORTANCE KESESUAIAN 1 Pembinaan olahraga dan seni budaya 90 44 44 100% 2 Bantuan Pinjaman Kredit/ Modal kerja 90 64 67 95% 3 Pelatihan dan pengembangan kewirausahaan 90 48 66 72% 4 Bantuan pengembangan fasilitas usaha 90 53 71 74% 5 Bantuan Korban bencana alam 90 56 50 111% 6 Pendidikan masyarakat/ beasiswa 90 36 48 75% 7 Kesehatan masyarakat 90 49 53 94% 8 Peningkatan Sarana dan prasarana umum 90 25 48 52% 9 Bantuan sarana ibadah 90 43 57 75% 90 34 59 58% 10 Pelestarian alam 163 Lampiran 10 Tabulasi Keterkaitan Mitra Binaan (Program Kemitraan) No URAI A N Ya Tidak 80 20 1. Apakah perusahaan/usaha anda menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan atau pihak lain? 2. Apakah perusahaan/usaha anda hanya menjalin kerjasama dalam bidang pemasaran dan distribusi dengan perusahaan atau pihak lainnya? 66,7 33,3 3. Apakah perusahaan/usaha anda merupakan bagian dari mata rantai produksi perusahaan besar atau pihak lainnya? 33,9 66,1 4. Apakah perusahaan/usaha anda seolah-olah merupakan bagian dari perusahaan besar sehingga menjadi bagian dari unit organisasi perusahaan lain? 31,6 68,4 5. Apakah usaha anda mendapatkan order atau pesanan dari perusahaan atau pihak lainnya? 89,8 10,2 6. Apakah usaha anda mendapatkan pasokan bahan baku dari perusahaan atau pihak lainnya? 62,7 37,3 7. Apakah usaha anda mendapatkan modal kerja dari perusahaan atau pihak lainnya? 44,6 55,4 8. Apakah hasil usaha anda ditampung pada perusahaan atau pihak lain yang telah memberikan bantuan modal kerja? 32,2 67,8 9. Apakah dalam menjalankan usaha, anda bekerjasama dengan pihak luar negeri? 28,1 71,9 Ya Tidak Tabulasi Keterkaitan Horisontal No URAI A N 1 Apakah perusahaan/usaha anda memiliki kerjasama dengan pengusaha kecil/menengah lainnya? 90,6 9,4 2 Bentuk kerjasama antara pengusaha kecil yang biasa dilakukan? 100 -  Pembelian bahan baku 59 -   Penjualan produk bersama 31 Lain-lain 9 - 164 Lampiran 11 Daftar Nama Mitra Binaan PKT Dissektor Perikanan dan Kelautan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 NAMA MITRA DG.PARANRENG,H SAHA PATAHUDDDIN MASDAR SAMSU JUDDING,H RANTO BEDDUHALING,H BURHANUDDIN PIRMAN,H CORING BURHANSABIR AHMAD SIRAYU HABA TANASE BADARUDDIN RUSTAM ISMAILNASARUDDIN AHMADT TASRI ABDULMALIK ISMAIL RUSTAN MUKHTAR HATTABETA RUSTAMSINRING HARIANI JACOBPAMASI KASTANBETTA AZIS MUHAMMADNASIR MURSALIM KODE MB 2010D002 2009S145 2009P014 2009M100 2009S144 2009J028 2009R043 2010B008 2010B007 2009P015 2010C001 2010B006 2010A018 2010S029 2010H007 2010T002 2010B012 2010R006 2010I012 2010A04 2010T008 2010A039 2010I013 2010R008 2010M030 2010H013 2010R007 2010H020 2009Y013 2010K011 2010A023 2010M027 2010M045 JENIS USAHA TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK TANITAMBAK BELATKERAMBA KERAMBA TANITAMBAK NELAYAN NELAYAN PRASARANANELAYAN NELAYAN NELAYAN TANITAMBAK KELOMPOKNELAYAN KELOMPOKNELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN PEDAGANGIKAN NELAYAN NELAYAN KERAMBA TANITAMBAK NELAYAN TANITAMBAK KOLAMBUDIDAYA TANITAMBAK KERAMBA NELAYAN KOLAMBUDIDAYA NILAI PENYALURAN 14,000,000 15,000,000 16,000,000 16,000,000 15,000,000 16,000,000 15,000,000 50,000,000 35,000,000 15,000,000 7,500,000 20,000,000 25,000,000 10,000,000 7,000,000 10,000,000 25,000,000 24,000,000 7,000,000 13,000,000 4,000,000 40,000,000 4,000,000 25,000,000 30,000,000 20,000,000 10,000,000 16,000,000 65,000,000 30,000,000 35,000,000 1,700,000 37,000,000 165 Lampiran 11 (lanjutan) NO NAMA MITRA 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 HASAN RAMLIRAZAK,H MUHAMMADTHAHIR AMINNUR ALFIAN NAJEMUDDIN HERMAN LATIF MAKMUR,H SUPRIANTO JAYA BASRI HASAN MAHIR SYARIFUDDIN ARIS PARNOSUJARNO,H BAHARUDDIN NASRUDDIN JUFRIADI IDHAN USMAN WARDLHAN SADIKE HAERUDDIN,SE SYAMSURI DENNYWAHYUDI HAMSAH KODE MB 2010H027 2010R016 2010M045 2010A057 2010A053 2010N029 2010H019 2010L004 2010M068 2010S086 2010J010 2010B018 2010H035 2010M077 2010S113 2010A071 2010P018 2010B022 2010N041 2010J016 2010I047 2011U001 2010W010 2011S016 2011H012 2011S022 2011D005 2011H008 JENIS USAHA NELAYAN NELAYAN NELAYAN PRASARANANELAYAN KELOMPOKNELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN TANITAMBAK NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN NELAYAN TANITAMBAK NELAYAN PEDAGANGIKAN PEDAGANGIKAN PEDAGANGIKAN NELAYAN PRASARANANELAYAN NELAYAN KOLAMBUDIDAYA KELOMPOKNELAYAN NELAYAN KERAMBA NILAI PENYALURAN 15,000,000 28,000,000 10,000,000 15,000,000 35,000,000 10,000,000 10,000,000 30,000,000 95,000,000 8,000,000 15,000,000 15,000,000 30,000,000 25,000,000 10,000,000 5,000,000 60,000,000 7,000,000 25,000,000 15,000,000 15,000,000 10,000,000 20,000,000 50,000,000 35,000,000 35,000,000 20,000,000 7,500,000
Informasi dokumen
Design strategy of Corporate Social Responsibility (CSR) in the economic empowerment of local communities and coastal resources management in Bontang (case study of PT Pupuk Kaltim) Analisis Efektifitas Program CSR Pesisir Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir Analisis Kewilayahan Pesisir 1 Analisis Biogeofisik Wilayah Analisis Pendapatan Jangka Pendek Analisis Shift Share Analisis Peran dan Efektifitas Program CSR Anggaran Formal Pembiayaan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Pesisir Terpadu Apakah pemberian bantuan pengembangan kemitraan usaha bagi UKM tepat sasaran? Apakah telah terjadi bantuan pelatihan yang tepat sasaran? Apakah peranan masyarakat semakin meningkat dalam mengikuti pengelolaan sumber daya alam? Dampak Langsung, Dampak Tidak Langsung dan Dampak Pemicu Bantuan yang diberikan PT. Pupuk Kaltim kepada masyarakat Kota Bontang yang anda ketahui? Batasan Wilayah Pesisir Pengertian dan Batasan Wilayah Pesisir .1 Pengertian Wilayah Pesisir Data Lingkungan dan Sumberdaya Pesisir Data Sosial Ekonomi 1 Data Primer Desain Kebijakan CSR PKT Desain Strategi CSR Wilayah Pesisir. Desain Strategi Pengembangan Wilayah Pesisir Efek Dualisme Ekonomi Konsep Pembangunan Wilayah Pesisir Efek Dualisme Ekonomi Terhadap Pembangunan Wilayah Pesisir Terpadu Gambaran Umum PKT 1 Sejarah Perusahaan Ha mbata n-ha mbatan da lam me nggala ng kem itra Bagaimana pendapat anda mengenai hubungan antara tokoh masyarakat di Kota Identifikasi dan Perumusan Masalah Kajian-kajian Terkait Tentang Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Konsep Pedesaan Wilayah Pesisir Konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan CSR Model Pelaksanaan CSR dalam Pemberdayaan Ekonomi dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Perencanaan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Potensi Sumberdaya Wilayah Pesisir Prinsip Keterpaduan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Pusat Pembangunan dan Pusat Pertumbuhan Kota Bontang Pusat Pertumbuhan Deskripsi Peserta Program Kemitraan dan Non Program Kemitraan Saran KESIMPULAN DAN SARAN Sejarah dan Evolusi Pemikiran CSR Sektor Publik dan Kemitraan Swasta Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi Status Keberlanjutan Multidimensi Analisis Keberlanjutan Wilayah Pesisir .1 Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi Teori Kutub Pertumbuhan Growth Pole Theory Waktu dan Lokasi Penelitian
Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Design strategy of Corporate Social Responsib..

Gratis

Feedback