Feedback

Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran Akibat Bencana Tsunami.

Informasi dokumen
ABSTRACT SEANDY FIRMANSYAH. Pangandaran Beach Vulnerability Index Due to Tsunami Disaster Impact. Guided by MULIA PURBA and VELLY ASVALIANTINA. In year 2006 an earthquake took place in coast of southern West Java, which was followed by a tsunami attacking the coast of Pangandaran. Pangandaran is one of the most probable are which can be attack by huge tsunami wave. The similar phenomenon can happen in the coasts of other southern part of West Java Province include Pangandaran, so it needs the awareness in order to minimize the tsunami risk. The purposes of this research are to discus determine the vulnerability index coast of o Pangandaran due to tsunami disaster impact. Boundary location of research in 7,75 S – 7,65oS and 108,55oE– 108,70oE. These research cover identifying characteristics coast of Pangandaran, seismic identification, tsunami modeling, and determination the vulnerability index. Seismic identification is determined by fractal method, tsunami numerical modeling is done through Imamura (1994) by wearing a long wave hydrodynamics mathematical equations, while determining the vulnerability index is determined by the method of Cell Based Modelling (CBM). The Pangandaran coasts have five zone of tsunami vulnerability, i.e. very high includes the coast of Babakan and Pangandaran Village (Pangandaran Subdistrict) then the coast of Cikembulan Village (Sidamulih Subdistrict). The high tsunami vulnerability zone includes the coast of Sukaresik Village (Sidamulih Subdistrict) and the coast of Pananjung Village (Pangandaran Subdistrict). The moderate tsunami vulnerability zone include the coast of Wonoharjo Village (Pangandaran Subdistrict). Zone of low and very low vulnerability are far enough away from the coastline, where its territory not bordering the sea. This zone includes the villages of Sidamulih, Cikalong, Pejanten, Purbahayu, Sidomulyo and Sukahurip. the village of Pangandaran located on the mainland which connects the mainland island of Java with Cape Pangandaran (isthmus) in place as the most dangerous zones. This is because the characteristics of the area provide a great influence to the hazard vulnerability tsunami. Keywords : Tsunami vulnerability zone factor, Tsunami prone zonation, Coastal characteristics 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Pangandaran merupakan satu sistem rangkaian sisi selatan Busur Sunda (Sunda Arc). Daerah ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Di bawah dasar laut Samudera Hindia terdapat daerah pertemuan antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Daerah tersebut merupakan salah satu zona utama tumbukan lempeng tektonik bumi (zona subduksi) yang dapat berkembang menjadi bencana alam, khususnya bencana gempa bumi dan tsunami (Rahardjo, 2003). Wilayah pesisir Pangandaran merupakan daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya tsunami. Hal ini terjadi karena dekatnya jarak ke zona subduksi (Mardiantno, 2006). Pangandaran telah mengalami gempa bumi disertai tsunami beberapa tahun yang lalu. Pada tanggal 17 Juli 2006, perairan selatan Jawa Barat diguncang gempa dangkal dengan kekuatan 7,7 Skala Magnitude (SM). Gempa ini berpusat di Samudera Hindia, tepatnya pada koordinat 9,295o LS – 107,347o BT (NEIC-USGS, 2006a). PSG (2006) menambahkan bahwa gempa ini terjadi di sekitar zona subduksi pada lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Gempa ini menimbulkan tsunami yang memporak-porandakan pantai Pangandaran dan sekitarnya. Bencana tsunami ini secara keseluruhan melanda sepanjang pantai selatan Jawa Barat hingga Yogyakarta dan menelan korban jiwa sekitar 700 orang. Dekatnya jarak pantai terhadap zona subduksi dan sejarah gempa serta tsunami menjadi ancaman daerah ini terhadap bencana tsunami. Kejadian gempa bumi yang disertai tsunami di wilayah pesisir Pangandaran dan sekitarnya pada tahun 2006 yang lalu, menjadikan kewaspadaan 1 2 wilayah pesisir selatan Jawa Barat, khususnya Pangandaran dalam menghadapi bencana tsunami. Bencana tsunami di Pangandaran dan wilayah di sekitar pesisir selatan Jawa kemungkinan bisa saja terulang. Natawidjaja (2007) menjelaskan bahwa zona subduksi Jawa merupakan daerah yang berpeluang menghasilkan gempagempa besar. Segmen zona subduksi Jawa yang belum melepaskan akumulasi regangan tektoniknya merupakan sumber gempa dan tsunami yang potensial di masa datang. Kejadian gempa bumi yang diikuti tsunami di Pangandaran serta beberapa bagian wilayah Indonesia telah menyadarkan sebagian besar penduduk Indonesia akan bencana tsunami. Rencana terpadu mitigasi bencana tsunami sudah selayaknya dilakukan. Unsur kunci pendukung yang menjadi dasar dalam perencanaan mitigasi bencana tsunami yaitu melakukan penelitian yang terkait. Penentuan indeks kerentanan pantai merupakan salah satu langkah awal yang dapat dijadikan informasi dasar dalam perencanaan mitigasi bencana tsunami. Penelitian mengenai indeks kerentanan pantai merupakan bagian dari analisis risiko bahaya tsunami yang penting dalam kerangka mitigasi bencana alam. Langkah mitigasi baru akan diambil setelah diketahui tingkat risikonya. Wilayah pantai dan pesisir Pangandaran memiliki berbagai aktivitas kepesisiran mulai dari permukiman, perdagangan, pariwisata, pengembangan sektor industri dan berbagai sektor lainnya. Dekatnya jarak pantai terhadap zona subduksi dan sejarah gempa serta tsunami menjadi ancaman kawasan ini terhadap bencana tsunami. Maka dari itu wilayah pesisir Pangandaran merupakan suatu kawasan yang penting dalam kegiatan mitigasi bencana alam pesisir. 3 1. 2 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengkaji karakteristik pantai dan pesisir Pangandaran sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi intensitas bencana tsunami dan risiko yang mungkin ditimbulkan 2) Menelaah penjalaran gelombang tsunami menuju pantai dan memprediksi capaian run-up tsunami yang mencapai daratan Pangandaran 3) Menentukan indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami berdasarkan parameter karakteristik pesisir Pangandaran, lereng dasar perairan dan karakter gelombang tsunami. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Geografis wilayah Kabupaten Ciamis berada pada 108°2’0” – 108°40’0” Bujur Timur dan 7°40’20” – 7°41’20’’ Lintang Selatan. Wilayah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, sebelah barat dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, sebelah timur dengan Kota Banjar dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah), dan sebelah selatan dengan Samudera Hindia. Luas wilayah Kabupaten Ciamis secara keseluruhan mencapai 244.479 Ha (Bappeda Kabupaten Ciamis, 2009). Wilayah selatan Kabupaten Ciamis berbatasan langsung dengan garis pantai Samudera Hindia yang membentang di enam kecamatan dengan panjang garis pantai mencapai 91 km. Kabupaten Ciamis memiliki wilayah laut seluas 67.340 Ha. Kabupaten Ciamis memiliki pantai Pangandaran yang sangat indah sehingga menjadi primadona wisatawan domestik dan mancanegara (Bappeda Kabupaten Ciamis, 2009). Pangandaran merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kecamatan ini terletak di bagian paling selatan Kabupaten Ciamis dan merupakan daerah wisata utama di Ciamis. Kecamatan Pangandaran secara geografis terletak pada 7o34’50’’ – 7o44’00’’ LS dan 108o36’26’’ – 108o42’10’’ BT dengan luas wilayah 687,22 Ha (Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis, 2004). Kecamatan Pangandaran berbatasan di sebelah timur dengan Kecamatan Kalipucang, di sebelah barat dengan Kecamatan Sidamulih, di sebelah utara 4 5 dengan Kecamatan Padaherang dan di sebelah selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia (Bappeda Kabupaten Ciamis, 2009). Pantai Pangandaran terletak pada peninsular atau tanjung yang masuk ke Samudera Hindia. Bagian ujung selatan tanjung merupakan Cagar Alam berbentuk air mata (teardrop). Daerah ini adalah hutan lindung yang terdiri dari lahan perbukitan dan lahan daratan, sedangkan sekitar 142,87 Ha lahan yang lain di wilayah ini adalah dataran yang secara geologi dapat disebut beach ridge dan berbentuk genting tanah (isthmus) yang menghubungkan Tanjung Pangandaran dengan Pulau Jawa (Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis, 2004). 2.2. Gelombang Tsunami 2.2.1 Karakteristik gelombang tsunami Istilah Tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti “pelabuhan” dan nami berarti “gelombang,” secara harafiah berarti gelombang pelabuhan. Pengertian tsunami menurut NTHMP (2001) didefinisikan sebagai serangkaian gelombang tinggi yang disebabkan oleh perpindahan sejumlah besar air laut secara tiba-tiba. Tsunami merupakan sebuah gelombang yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, meletusnya gunung berapi, longsoran atau hantaman meteor yang semuanya terjadi di laut. Tsunami memiliki karakteristik yang berbeda dengan gelombang pasang (tidal wave) atau gelombang permukaan (surface wave) yang biasa dijumpai di pantai (Diposaptono dan Budiman, 2006). Tsunami bersifat transient dan implusif, artinya semakin melemah dengan bertambahnya waktu dan mempunyai umur sesaat (Mudhari, 2009). Gelombang permukaan bersifat kontinyu dan berlangsung 6 dalam waktu yang lama dengan periode gelombang hanya beberapa detik (Marchuk dan Kagan, 1989). Mudhari (2009) menambahkan bahwa perbedaan gelombang tsunami dengan gelombang yang dibangkitkan oleh angin adalah terletak pada gerakan airnya. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin hanya menggerakan partikel air laut di permukaan air laut bagian atas, namun pada gelombang tsunami menggerakan seluruh kolom air dari permukaan sampai mencapai dasar laut. Tsunami diklasifikasikan sebagai gelombang perairan dangkal (gelombang panjang), karena panjang gelombangnya lebih besar daripada kedalaman perairannya. Gelombang ini merambat dengan kecepatan yang berbanding lurus dengan akar kedalaman perairan. Kecepatan gelombang tsunami akan berkurang seiring dengan semakin dangkalnya kedalaman air (Marchuk dan Kagan, 1989). C gd .................................................................................................. (1) keterangan : C : kecepatan gelombang perairan dangkal (m2/detik) g : percepatan gravitasi (m/detik2) = 9,8 m/detik2 d : kedalaman perairan (m) Menurut Yalciner et al. (2006), ketika gelombang tsunami mendekati pantai maka ketinggian gelombang membesar yang diikuti dengan melambatnya kecepatan rambat gelombang. Hal ini terjadi karena pengaruh dasar laut yang semakin mendangkal (shoaling). Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut sehingga gelombang tersebut mengalami percepatan atau perlambatan ketika melintasi kedalaman yang berbeda-beda. Ketika memasuki perairan pantai (perairan dangkal), tsunami akan mengalami perlambatan. Berkurangnya kecepatan tsunami disebabkan karena adanya topografi pantai yang 7 mendangkal dan gesekan dasar laut. Gelombang yang tertahan karena perlambatan ini akan menumpuk dengan gelombang-gelombang yang datang berikutnya, sehingga tinggi gelombang bertambah tinggi. Gambaran mengenai perubahan ketinggian gelombang tsunami dari laut dalam menuju laut dangkal diperlihatkan pada Gambar 1. Gambar 1. Karakteristik umum perubahan ketinggian gelombang tsunami (UNESCO-IOC, 2006) Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat merambat menyeberangi samudera tanpa banyak kehilangan energi. Energi dari tsunami merupakan perkalian antara tinggi gelombang dengan kecepatannya. Nilai energi ini selalu konstan, yang berarti tinggi tsunami berbanding terbalik terhadap kecepatannya. Energi yang dikandung gelombang tsunami tidak berkurang banyak. Hal ini sesuai dengan hubungan laju energi yang hilang pada gelombang berjalan berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya, dengan kata lain semakin besar panjang gelombang maka semakin sedikit energi yang yang hilang, sehingga energi tsunami bisa dianggap konstan (Wiegel, 1970). 8 Gelombang akan pecah apabila puncak gelombang membentuk sudut 120o atau pada saat kecepatan partikel pada bagian puncak lebih besar daripada kecepatan gelombang sehingga gelombang menjadi tidak stabil dan pecah. Gelombang tsunami yang pecah akan menghamburkan energinya ke atas permukaan pantai. Pecahan gelombang tergantung pada derajat kemiringan dasar laut (Gross, 1990). UNESCO-IOC (2006) mengelompokan tipe pecah gelombang tsunami menjadi tiga macam yaitu : a) Pecahan tumpah (di atas dasar laut yang hampir rata) yang membentuk suatu petak berbuih pada puncak dan berangsurangsur pecah berserakan cukup jauh; b) Pecahan hunjam (di atas dasar laut yang agak curam) yang memuncak, meliuk bagai payung raksasa terkembang kemudian pecah bagai piring kaca jatuh ke lantai; c) Pecahan gulung (di atas dasar laut sangat curam) yang tidak pecah atau menghunjam melainkan mengombak bergulung-gulung ke muka pantai. Gelombang-gelombang juga pecah dalam perairan yang dalam jika gelombang menjulang terlalu tinggi karena disebabkan oleh angin, tetapi gelombang itu biasanya berpuncak rendah dan dinamai gelombang jambul putih berbuih atau pecah-pecah. 2.2.2 Pembangkit gelombang tsunami Pada umumnya kejadian tsunami di dunia dominan disebabkan oleh kejadian gempa bumi di dasar laut. Mardiatno (2006) menyatakan bahwa berdasarkan katalog gempa (1629 – 2002) di Indonesia pernah terjadi tsunami sebanyak 109 kali dengan perincian yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik. Latief (2007) 9 menambahkan bahwa lebih dari 90 % tsunami di dunia disebabkan oleh gempa tektonik di dasar laut. Tsunami disebabkan oleh gempa bumi di pusat yang dangkal sepanjang daerah subduksi (Gambar 2). Gempa bumi tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran lempeng tektonik. Lempeng kerak bumi (crustal blocks) memberi energi potensial pada massa air ke atas dan ke bawah. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan drastis pada permukaan air laut di daerah tersebut. Energi yang dilepas ke dalam massa air tersebut menyebabkan timbulnya tsunami (UNESCO-IOC, 2006). Gambar 2. Posisi daerah sumber gempa tektonik (UNESCO-IOC, 2006) UNESCO-IOC (2006) menjelaskan bahwa pergerakan lempeng samudera yang slip di bawah lempeng benua akan melambat akibat gesekan yang semakin membesar. Suatu saat pergerakan kedua lempeng tersebut akan berhenti (tertahan) dan terdapat akumulasi energi di daerah pertemuan kedua lempeng. Ketika daerah tertahan (stuck) kedua lempeng tersebut sudah tidak kuat lagi menahan energi 10 tersebut maka akhirnya lempeng menjadi patah dan terlepas. Keadaan ini mengakibatkan deformasi dasar laut. Deformasi ini akan menaikan dan menurunkan air laut dalam skala besar mulai dari lantai samudera sampai ke permukaan. Massa air di atasnya mengikuti bentuk deformasi lantai samudera untuk mencapai setimbang, dengan begitu maka terjadi pergerakan gelombang yang membawa energi merambat ke perairan pantai (Gambar 3). Gambar 3. Mekanisme terjadinya tsunami akibat gempa tektonik di dasar laut (UNESCCO-IOC, 2006) Bila lempeng samudra bergerak turun atau naik, di wilayah pantai air laut akan surut sebelum datangnya tsunami. Selanjutnya gelombang tsunami akan datang menerjang pantai (Slawson dan Savage, 1979). Meskipun sebagian besar tsunami disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di bawah laut, namun tidak setiap gempa bumi di bawah laut bisa menyebabkan terjadinya tsunami. Menurut Shuto (1993) syarat terjadinya tsunami adalah magnitude gempa harus lebih besar dari 6 Skala Richter (SR) dan kedalaman pusat gempa (hiposentrum) kurang dari 11 33 km (< 48 km versi USGS) serta gempa dengan pola mekanisme dominan adalah sesar naik (thrust) atau sesar turun (normal). 2.3. Faktor-faktor Kerentanan Pantai Terhadap Tsunami 2.3.1 Morfologi dasar laut Tsunami yang menjalar ke pantai (perairan dangkal) akan megalami beberapa perubahan ketinggian gelombang sebagai akibat dari proses pendangkalan (shoaling), refraksi, difraksi, dan refleksi sebelum akhirnya gelombang tersebut pecah. Proses shoaling sebagai proses berkuranganya tinggi gelombang untuk pertama kalinya sewaktu memasuki perairan yang dangkal, kemudian secara bertahap akan meningkat kembali dengan bagian muka (front) gelombang tetap simetris (Horikawa, 1998). Horikawa (1998) menjelaskan kedalaman perairan yang semakin berkurang menyebabkan tinggi gelombang bertambah kembali secara cepat sehingga mengakibatkan profil gelombang menjadi tidak simetris dan pada akhirnya pecah. Kecepatan gerak gelombang juga berkurang dengan berkurangnya kedalaman dasar laut, sehingga menyebabkan puncak gelombang pada daerah yang lebih dangkal bergerak lebih lambat daripada puncak pada perairan yang lebih dalam. Selanjutnya tejadi pembelokan arah gerak puncak gelombang mengikuti bentuk kontur kedalaman laut (refraksi). Shoaling dan refraksi disebabkan oleh proses pendangkalan perairan. Shoaling lebih ditekankan pada perubahan tinggi gelombang secara langsung akibat kedalaman perairan yang semakin berkurang, sedangkan refraksi 12 ditekankan pada pembelokan arah puncak gelombang. Refraksi dapat terjadi pada perairan transisi ataupun perairan dangkal (USACE, 1984). Ketinggian tsunami sepanjang pantai berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini bergantung pada morfologi, batimetri, dan topografi pantai, sehingga indikator kelerengan pantai dan dasar perairan pantai memiliki peranan penting dalam menentukan besar-kecilnya tsunami di suatu wilayah (Oktariadi, 2009a). Menurut Oktariadi (2009b) kondisi lereng pantai yang landai akan menyebabkan jarak daerah pecah gelombang dengan pantai semakin jauh. Sedangkan bila kondisi lereng pantai curam maka jarak daerah pecah gelombang dengan pantai menjadi semakin dekat (Gambar 4). Gambar 4. Hubungan antara ketinggian tsunami dengan geometri pantai : (a) Kelerengan pantai landai dan (b) Kelerengan pantai curam (UNESCO-IOC, 2006) 13 2.3.2 Morfometri pantai Morfometri pantai menunjukkan bentuk garis pantai. Morfometri pantai merupakan parameter yang sangat penting untuk dikaji karena menentukan daerah pemusatan atau penyebaran energi gelombang tsunami. Menurut USACE (1984) perubahan arah gelombang karena proses refraksi akan menghasilkan suatu daerah energi gelombang penguncupan (konvergen) dan penyebaran (divergen) yang berpengaruh tehadap struktur pantai yaitu morfometri pantai. Morfometri pantai sangat berpengaruh besar terhadap tingkat energi gelombang yang akan menghempas ke daratan. Bentuk garis pantai (shore line) dapat memberikan berbagai pengaruh ketika gelombang tsunami mencapai daratan. Teluk, tanjung, inlet dan muara sungai dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Daerah-daerah pantai yang cekung menghadap ke laut seperti selat dan teluk akan menyebabkan gelombang mengalami refleksi. Energi gelombang tsunami menjadi terfokus pada wilayah cekungan dan pada akhirnya mampu meningkatkan ketinggian gelombang tsunami yang sampai di pantai (NTHMP, 2001). Perubahan ketinggian tersebut sebagaimana dijelaskan Diposaptono dan Budiman (2005) bahwa tsunami akan mengalami peningkatan ketinggian ketika melewati pantai yang menyempit dan dangkal. Lebih lanjut Diposaptono dan Budiman (2006) menjelaskan bahwa secara umum wilayah pesisir Indonesia memiliki teluk yang berasosiasi dengan tanjung dan muara sungai yang sangat banyak dan berderet satu dengan yang lainnya sehingga menyerupai gigi gergaji (sawtooth). Pantai dengan bentuk menyerupai gigi gergaji dapat dijumpai seperti di pantai barat Pulau Sumatera dan daerah 14 selatan Banyuwangi (Jawa Timur) sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 5. Morfometri pantai yang berbentuk demikian akan mempengaruhi refraksi gelombang dan menyebabkan gelombang tsunami tidak dapat keluar lagi karena sebagian atau seluruh gelombang tersebut dipantulkan oleh dinding teluk. Akibatnya gelombang tsunami akan meningkat dan interaksi gelombang tersebut berlangsung dalam waktu yang lama. Kondisi tersebut dapat menjadikan wilayah pesisir tersebut mempunyai tingkat kerusakan yang lebih parah jika terjadi bencana tsunami. a) b) Gambar 5. Pantai dengan bentuk menyerupai gigi gergaji (sawtooth) : a) Pantai barat Sumatera dan b) Pantai selatan Jawa Timur (Subandono, 2007) 2.3.3 Topografi dan kemiringan daratan pantai dan pesisir Menurut Oktariadi (2009b) jarak jangkauan tsunami ke daratan sangat ditentukan oleh tinggi dan rendahnya suatu daratan. Terjal atau landainya morfologi pantai juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap jangkauan 15 gelombang tsunami. Semakin tinggi letak suatu daerah maka semakin aman dari terpaan gelombang tsunami. Pada daratan pantai yang terjal, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai. Sementara di daratan pantai yang landai, landaan tsunami dapat menerjang sampai beberapa kilometer masuk ke daratan. Keadaan ini seperti yang terjadi di Banda Aceh. Pada saat tsunami melanda Banda Aceh gelombang dapat menerjang masuk sejauh 5 km dari garis pantai (Oktariadi, 2009b). Berdasarkan pemahaman tersebut, maka kelerengan pantai menurut USDA-NRCS (1986) dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Indikator kelerengan pantai (USDA-NRCS, 1986) No 1 2 3 4 5 2.3.4 Jenis Kelerengan Pantai Datar Landai Agak curam Curam Sangat curam Kepekaan Terhadap Tsunami Sangat peka Peka Agak peka Kurang peka Tidak peka Sungai-sungai dan kanal pengendali banjir Sungai-sungai dan kanal pengendali banjir dapat memberikan berbagai pengaruh terhadap rambatan gelombang tsunami. Tsunami yang merambat melalui sungai atau kanal dapat menimbulkan kerusakan yang lebih hebat dari yang diperkirakan. Keadaan ini terjadi karena dengan adanya sungai atau kanal maka akan semakin mendorong tsunami untuk melintas lebih jauh ke daratan. Sebagai contoh, bahwa tsunami yang memasuki California lewat sungai dan kanal-kanal pengendali banjir dapat memasuki daratan sejauh satu mil (1,609 km) 16 atau lebih, terutama jika terjadi pada saat pasang (NTHMP, 2001). Klasifikasi daerah terhadap jarak dari sungai adalah membagi daerah kedalam kelas-kelas berdasarkan jarak dari sungai. Klasifikasi tersebut menjelaskan tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami berdasarkan jauh dekatnya daerah tersebut dari sungai. 2.3.5 Ekosistem pesisir Ekosistem pesisir terutama mangrove dan hutan pantai memegang peranan sebagai greenbelt pelindung pantai dalam mereduksi energi gelombang tsunami. Mangrove dan hutan pantai mempunyai sistem perakaran yang dapat meredam ombak, arus serta menahan sedimentasi. Hutan pantai sangat efektif dalam meredam energi gelombang tsunami seperti yang dilaporkan Harada dan Imamura (2003). Hasil penelitian yang dilakukan Harada dan Imamura disajikan pada Tabel 2. Tabel 2.Efektivitas peredaman tsunami oleh hutan pantai (Harada dan Immura, 2003) Parameter Jarak run-up Tinggi genangan Arus Lebar hutan 50 m 100 m 200 m 400 m 50 m 100 m 200 m 400 m 50 m 100 m 200 m 400 m Ketinggian tsunami 1m 2m 3m 98% 86% 81% 83% 80% 71% 79% 71% 64% 78% 65% 57% 86% 86% 82% 76% 74% 66% 46% 55% 50% 11% 18% 71% 58% 54% 57% 47% 44% 56% 39% 34% 31% 24% 17 Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa semakin lebar hutan (kondisi kerapatan konstan) maka tingkat peredaman energi gelombang tsunami semakin besar. Contohnya gelombang tsunami setinggi 3 m yang melanda hutan pantai yang memiliki lebar 50 m menghasilkan jarak run-up ke daratan tinggal 81% dengan tinggi genangan tinggal 82%. Berbeda halnya apabila lebar hutan pantainya mencapai 400 m, maka jarak run-up ke daratan tinggal 57% dengan tinggi genangan tinggal 18%. Keberadaan terumbu karang di wilayah pantai juga sangat penting. Pada dasarnya selain mempunyai fungsi ekologis, terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan gelombang dan arus kuat yang berasal dari laut (Diposaptono dan Budiman, 2006). Gelombang yang datang pada daerah yang terdapat terubu karang energinya akan melemah. Hal ini disebabkan gelombang tertahan oleh adanya terumbu karang sehingga gaya hidrolis gelombang semakin mengecil (Kotani et al., 1998). 2.4. Sejarah Tsunami Pangandaran Pada tanggal 17 Juli 2006, terjadi sebuah gempa bumi pada pukul 08:19:28 Universal Time Coordinate (UTC) atau sekitar pukul 15:19:28 WIB di pantai selatan Jawa Barat, Indonesia. Menurut Harvard Centroid Moment Tensor (Harvard CMT) gempa tersebut memiliki kekuatan 7,7 SM atau 4,0 x 1027 dyne.cm dengan pola mekanisme sesar naik. USGS menjelaskan posisi pusat gempa berada pada koordinat 9,295o LS dan 107,347o BT dengan kedalaman pusat gempa 6 km. Gempa ini mengakibatkan tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa, khususnya dari Pantai Pameungpeuk (Garut), Pantai Pangandaran (Ciamis), 18 Pantai Cilacap, Pantai Kebumen dan sampai ke Pantai Parangtritis (NEIC-USGS, 2006a). Hasil survei yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Dinamika Pantai (DPDP-BPPT) bersama ITS menjelaskan bahwa gelombang tsunami pada saat tsunami Pangandaran 2006 memiliki ketinggian run-up maksimum sebesar 4,6 m. Ketinggian run-up maksimum terjadi di pesisir Cilacap yaitu tepatnya di daerah Widarapayung. Ketinggian run-up tsunami terendah adalah 1,1 m, dimana terletak di pantai Suwuk (Kebumen). Daerah pesisir Pangandaran yang menjadi kajian dalam penelitian ini memiliki ketinggian run-up tsunami sebesar 2,7 m – 2,9 m dan di daerah Cikembulan (Pangandaran sebelah barat) mencapai 3,1 – 3,6 m (Kongko et al., 2006). Peta ketinggian run-up tsunami hasil pengukuran lapang tim DPDP-BPPT bersama ITS disajikan pada Gambar 6. Gambar 6. Ketinggian run-up tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 di berbagai lokasi pesisir selatan Jawa (IOC-ITIC, 2006) 19 Berbeda halnya dengan hasil survei yang dilakukan oleh tim Pusat Survei Geologi, ketinggian run-up maksimum yang terukur mencapai 3,3 m. Adanya perbedaan ketinggian run-up tsunami dari hasil pengukuran tersebut disebabkan oleh faktor waktu pelaksanaan pengukuran. Pada dasarnya metode pengukuran ketinggian run-up tsunami diukur menurut tanda dari ketinggian air yang membekas di pepohonan atau di dinding bangunan-bangunan lainnya. Adanya perbedaan pelaksanaan waktu pengukuran antar lembaga terkait mengakibatkan hasil pengukuran yang berbeda. Hal ini mengingat tanda dari ketinggian air yang membekas akan semakin pudar seiring dengan bertambahnya waktu (Lavigne et al., 2007). Pada kejadian tsunami Pangandaran 2006, wilayah yang paling luas terkena limpasan tsunami adalah Desa Cikembulan dan Desa Pangandaran. Menurut hasil pengukuran lapang diketaui bahwa jarak limpasan tsunami ke daratan mencapai 300 – 500 m (Kongko et al., 2006). 2.5. Persamaan Gerak Gelombang Tsunami Gerak gelombang tsunami didekati dengan teori perairan dangkal. Teori ini mengasumsikan kedalaman perairan relatif kecil dibandingkan panjang gelombang (Imamura, 1994). Dalam teori ini percepatan vertikal partikel air dapat diabaikan karena besarnya jauh lebih kecil dari percepatan gravitasi. Berdasarkan pendekatan ini, gerak gelombang tsunami diekspresikan dengan teori gelombang perairan dangkal. Simulasi penjalaran gelombang tsunami menggunakan model hidrodinamika dua dimensi dari persamaan gerak gelombang linier. Persamaan penjalaran gelombang suku linier diperlihatkan pada persamaan (2) di bawah ini (Imamura, 1994) : 20 t M M N x y 0 gh t N 0 x 0 gh t y ....................................................................................... (2) Simulasi limpasan tsunami (run-up) menggunakan teori perairan dangkal linier dan non-linier. Persamaan di bawah ini merupakan persamaan yang menjadi dasar untuk model saat ini (Imamura, 1994) : t M N x y M M t x N 0 2 D MN y D MN t x D udz u h 2 N y x gD A x x 2 2 y gD D y A 2 M 2 M y N 2 N 2 y 2 x 2 ............. (3) dimana, M uD ........................................................................ (4) h N vdz v h vD ......................................................................... (5) h Keterangan : : elevasi permukaan air terhadap Mean Sea Level (m) h t g A M N D : kedalaman air dari dasar sampai Mean Sea Level (m) : waktu (detik) : percepatan gravitasi bumi (m/detik2) : Viskositas Eddy horizontal (diasumsikan konstan terhadap ruang) : debit dalam arah x- (m3/detik) : debit dalam arah y- (m3/detik) : kedalaman total perairan yang diberikan oleh h (m) : densitas (kg/m3) : kecepatan partikel dalam arah x- dan y- u,v x , y : gesekan dasar pada arah x- dan y- x , y , z : sistem koordinat tiga dimensi 21 2.6. Deformasi Dasar Laut Pemodelan sumber tsunami yang ditimbulkan oleh deformasi dasar laut akibat gempa menggunakan metode Mansinha dan Smylie (1971) dengan masukan parameter gempa seperti pada Gambar 7. Parameter gempa berupa patahan dalam hubungannya terhadap pembentukan tsunami terdiri dari : momen seismik (Mo), lokasi dan kedalaman pusat gempa (episentrum dan hiposentrum), panjang patahan (L), lebar patahan (W), dislokasi (D), dan geometri sesesar (Dip, Strike, Slip). Dip ( ) adalah sudut yang menjelaskan kemiringan dari permukaan patahan. Strike ( ) merupakan sudut yang digunakan untuk menjelaskan patahan dan dihitung searah jarum jam dari utara, sedangkan Slip ( ) adalah parameter yang menjelaskan pergerakan dari satu sisi ke sisi lainnya. Gambar 7. Desain parameter sesar (Imamura et al., 2006) Hanks dan Kanamori (1979) dalam Latief (2000) menjelaskan bahwa deformasi dasar laut dapat dihasilkan apabila mempunyai momen seismik (Mo) yang besar. Momen seismik digunakan untuk menentukan momen magnitude (Mw). Penentuan momen magnitude adalah sebagai berikut : 22 M 2 w (log 3 Mo 10 16 ,1) ........................................................................ (6) Jika momen seismik gempa telah diketahui dan dibuat sebagai suatu skenario yang mungkin dapat terjadi dengan episentrum di masing-masing daerah studi, maka parameter yang lain seperti panjang dan lebar patahan serta dislokasi (deformasi) patahan dapat diperhitungkan dengan formula Emile A. Okal sebagai berikut (Mansinha dan Smylie, 1971) : 1 Mo L 3 1, 935 x10 ........................................................................................ (7) 7 1 3 Mo W 13 ,87 x10 7 ....................................................................................... (8) 1 Mo D 3 6 , 68 x10 8 ......................................................................................... (9) dimana, Mw Mo L W D 2.7. = = = = momen magnitude (Skala Magnitude/SM) momen seismik gempa (dyne.cm) panjang patahan (km) lebar patahan (km) dislokasi atau deformasi (m) Kajian Risiko Bencana Tsunami Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang berlangsung secara perlahan. Beberapa bencana seperti gempa bumi dan tsunami hampir tidak mungkin diperkirakan secara akurat mengenai waktu dan seberapa besar kekuatannya. Kejadian bencana selalu memberikan dampak kejutan dan menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materil. Kejutan tersebut terjadi karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi ancaman bahaya. Menurut GTZ-SEQIP (2008), pada dasarnya disiplin penanganan bencana 23 adalah interaksi antara kerentanan daerah dengan ancaman bahaya yang ada. Kerentanan merupakan aspek yang relatif dapat dilakukan perubahan. Tingkat kerentanan daerah dapat dikurangi, sehingga kemampuan dalam menghadapi ancaman tersebut semakin meningkat. Secara umum risiko dapat dirumuskan sebagai berikut (GTZ SEQIP, 2008) : Risk = Hazard x vulnerability ............................................................ (10) Pengurangan risiko bencana adalah suatu konsep dalam mengurangi risiko bencana melalui kegiatan dalam mengelola faktor-faktor penyebab dari bencana (Mudhari, 2009). Tingkat kerentanan adalah suatu hal yang penting untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya bencana. Hal ini dikarenakan bencana baru akan terjadi bila bahaya terjadi pada kondisi yang rentan. Tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur), sosial kependudukan dan ekonomi (Latief, 2007). 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian terletak di wilayah pantai dan pesisir Pangandaran Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Batas koordinat wilayah penelitian berada pada 7,75o – 7,65o LS dan 108,55o – 108,70o BT. Wilayah Pangandaran dalam penelitian ini mencakup pantai dan pesisir di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih. Daerah yang difokuskan dalam penelitian ini adalah kedua kecamatan tersebut. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 8. Gambar 8. Peta lokasi penelitian (Kecamatan Pangandaran sampai Kecamatan Sidamulih) Kegiatan penelitian dilaksanakan pada awal bulan Mei 2011 sampai Agustus 2011 yang bertempat di Laboratorium Data Processing Oseanografi, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 48 25 Institut Pertanian Bogor dan di Laboratorium Balai Pengkajian Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta Pusat. 3.2. Alat Penelitian Peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri dari berbagai macam perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penelitian ini merupakan model penelitian laboratorium menggunakan model komputasi. Perangkat keras berupa Personal Computer (PC) merupakan komponen utama dalam penelitian ini, dimana beberapa perangkat lunak (software) sebagai penunjang terpasang di dalamnya. Secara rinci alat penelitian dalam penelitian ini ditabulasikan pada Tabel 3 beriku ini : Tabel 3. Spesifikasi peralatan penelitian (perangkat lunak dan perangkat keras) No Peralatan penelitian 1 Personal Computer (PC) 2 ER Mapper v.7.0 3 Global Mapper v.9.0 Map Source v.3.2 Surfer v.9.0 Transform v.3.3 Textpad v.4.6.2 Turmina interface 4 5 6 7 8 Perusahaan pembuat Zyrex Corp. Earth Resource Mapping Inc. Global Mapper Ltd. Garmin Corp. Golden Software Inc. Forther Research Inc. Wintertree Inc. BPPT Keterangan Sistem operasi Windows dan Java, Intel Pentium T5550 CPU 1,83 GHz Data processing Data processing 9 10 11 ArcGIS 9.3 Xview GPS Garmin 60i handheld ESRI Inc. Garmin Corp. Data processing Data processing Data processing Data processing Sistem operasi Java Data processing Data processing Data processing Ketelitian 5 – 15 m 12 Sony Digital Camera Sony Corp. Resolusi 10 Mega Pixel 26 Personal Computer (PC) yang dilengkapi dengan berbagai macam perangkat lunak digunakan untuk memproses data-data. Global Positioning System (GPS) digunakan sebagai alat navigasi dan penanda titik sampling di lapangan, sedangkan kamera digital digunakan sebagai alat dokumentasi pada saat survei lapangan. 3.3. Data Penelitian Data yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini mencakup beberapa kelompok data sebagai berikut : 1) Citra Landsat wilayah Pangandaran Citra Landsat yang digunakan merupakan Landsat TM path/row 121/65 (resolusi 30 m) yang direkam pada bulan Juni 2003, Oktober 2006 dan Maret 2009 2) Data batimetri Data batimetri yang digunakan adalah ETOPO 1. Data ini memiliki resolusi satu menit per satu grid dengan luasan 1,85 km. Data ini di unduh dari : http://www.ngdc.noaa.gov/mgg/gdas/gd_designagrid.html pada bulan Maret 2011 3) Peta dasar untuk bahaya tsunami Kabupaten Ciamis dari German Indonesia Tsunami Early Warning System (GITEWS) skala 1 : 25.000 tahun 2010 4) Peta penutupan/penggunaan lahan Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih skala 1 : 25.000 tahun 2004 dari Bappeda Kabupaten Ciamis 5) Peta batimetri Dishidros TNI-AL skala 1 : 500.000 nomor peta 69 tahun 2004 6) Data spasial Kabupaten Ciamis dari Bappeda Kabupaten Ciamis tahun 2009 27 7) Data kegempaan dan historis kejadian tsunami Data ini diperoleh dari Nasional Earthquake Information Center – United States Geological Survei (NEIC-USGS). Data ini di unduh dari : http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqarchives/epic/epic_rect.php pada bulan Maret 2011 3.4. Survei Lapang Survei lapang dilakukan pada bulan Juli 2011 bertempat di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih. Survei lapang dilakukan untuk mengetahui kondisi daerah penelitian secara langsung sekaligus verifikasi dan validasi data. Hasil pengolahan geomorfologi pesisir dari citra satelit, peta penutupan/penggunaan lahan serta data pendukung lainnya divalidasi dengan kenampakan yang sebenarnya di lapangan. Survei dilakukan pada 20 titik observasi mulai dari barat sampai ke timur. Pengambilan titik observasi menggunakan teknik Random Sampling, yaitu pengambilan titik sampling secara acak terhadap kategori-kategori penutupan lahan yang sudah disesuaikan dengan kategori pada citra hasil klasifikasi dan peta penutupan lahan yang tersedia. Data ini digunakan sebagai referensi lapang untuk menentukan akurasi citra dari hasil kasifikasi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada peta penutupan lahan tahun 2004. Posisi koordinat titik observasi disajikan pada Lampiran 1. Pelaksanaan survei lapang dilakukan dengan menyusuri sepanjang wilayah pantai dan pesisir dengan cara sejajar garis pantai. Data yang dihimpun meliputi kenampakan fitur pantai dan pesisir. Pengamatan fitur pantai dan pesisir dilakukan 28 secara visual di sepanjang daerah penelitian dengan mengamati antara lain bentuk garis pantai, vegetasi penutup, tata guna lahan/penutupan lahan, keberadaan proteksi pantai baik alami maupun buatan. Pengukuran jarak dari pantai terhadap permukiman dan bangunan-bangunan lainnya dilakukan dengan pengukuran secara horizontal dari garis pantai menuju daratan dengan menggunakan roll meter. Parameter yang diamati dalam kegiatan survei lapang selengkapnya diperlihatkan pada Lampiran 2. 3.5. Metode Pengolahan Data Pada penelitian ini dilakukan pengintegrasian data penginderaan jauh dengan model tsunami. Alur penelitian ini meliputi input data (data citra dan peta, survei lapang dan data sekunder yang terkumpul), pemrosesan dan analisis. Adapun alur pengolahan atau pemrosesan data penelitian ini meliputi beberapa tahapan yaitu : (1) pemetaan karakteristik pantai dan pesisir, (2) identifikasi seismisitas, (3) pemodelan tsunami, (4) penentuan indeks kerentanan pantai. Analisis data untuk menentukan tingkat kelas kerentanan pantai akibat bencana tsunami ditentukan dengan menggunakan metode Cell Based Modelling. Alur proses penelitian selengkapnya disajikan pada Gambar 9. Citra Landsat TM 121/65 tahun 2003, 2006, 2009 Data batimetri ETOPO 1 - Peta dasar untuk bahaya tsunami - Peta penutupan lahan - Peta topografi - Peta batimetri Data historis kegempaan dan sejarah tsunami Parameter gempa Cropping citra Digitasi Gridding Komposit citra Gabung data Ekstraksi data citra : - Penggunaan lahan - Jaringan sungai - Morfometri pantai - Ekosistem pesisir Indektifikasi seismisitas Tsunami Inundation Modelling Data numerik genangan tsunami Verifikasi dan editing Daerah prediksi genangan Overlay : - Topografi - Kemiringan (Slope) - Jarak dari garis pantai - Jarak dari sungai - Penutupan lahan Konsultasi pakar Basis data spasial Parameter risiko tsunami Pemodelan spasial Cell Based Modelling Indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami Gambar 9. Bagan alir penelitian 29 48 30 3.5.1 Identifikasi karakteristik pantai dan pesisir Struktur kajian dalam identifikasi karakteristik pantai meliputi kajian tipologi pesisir, mencakup liputan lahan dan bentuk lahan. Tipologi pesisir menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi bencana tsunami. Kajian tipologi pesisir menurut Suprajaka et al. (2005) ditetapkan dengan menggunakan tiga komponen yaitu abiotik (fisik), biotik (hayati) dan kultural (sosial-ekonomi). Identifikasi karakteristik pantai dilakukan dengan melakukan ekstraksi data spasial dari hasil interpretasi citra penginderaan jaut (Landsat TM), peta-peta dan data-data pendukung lainnya serta melakukan survei lapang. Ekstraksi data tersebut berupa pemetaan karakteristik daerah pantai dan pesisir Pangandaran yang meliputi : 1) Pemetaan topografi Pemetaan topografi dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data hasil survei lapang tim pemetaan Kabupaten Ciamis bersama GITEWS yang dituangkan pada peta dasar untuk bencana tsunami Kabupaten Ciamis. Data ini dikompilasikan dengan data topografi dari peta-peta yang tersedia. Identifikasi kenampakan topografi dimulai dengan melakukan proses digitasi. Langkah ini merupakan proses perubahan data ke dalam bentuk digital. Data hasil digitasi kemudian diinterpolasi (gridding) dengan interval 30 meter. 2) Pemetaan batimetri Pemetaan batimetri menggunakan dua buah kelompok data yaitu peta batimetri Dishidros TNI-AL dan data batimetri ETOPO 1. Peta batimetri Dishidros TNI-AL digunakan untuk menggambarkan keadaan batimetri Pangandaran, sedangkan data batimetri ETOPO 1 digunakan untuk 31 menggambarkan keadaan batimetri perairan lepas pantai selatan Jawa. Pengolahan data batimetri Dishidros TNI-AL dilakukan dengan proses digitasi kemudian dilakukan interpolasi dengan interval 30 meter. Pengolahan data batimetri dari ETOPO 1 tidak dilakukan digitasi terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan data batimetri ETOPO 1 sudah berbentuk data numerik dalam format digital sehingga dapat langsung dilakukan interpolasi. Data batimetri ETOPO 1 diinterpolasi dengan interval 810 meter. 3) Pemetaan kemiringan daratan (slope) Pemetaan kemiringan daratan (slope) dilakukan berdasarkan data topografi. Data kemiringan daratan merupakan data yang diturunkan dari data topografi. Penurunan data topografi dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ArcGIS 9.3. Fungsi yang digunakan adalah surface analyst pada menu spatial analyst. Data topografi dijadikan masukan dalam algoritma matematis pada waktu processing data. Algoritma tersebut dapat mengubah setiap nilai topografi menjadi sebuah nilai baru. Nilai baru inilah yang menggambarkan kemiringan lahan daratan. Satuan kemiringan daratan yang digunakan pada penelitian ini adalah dalam persentase (%). 4) Pemetaan jarak dari garis pantai dan jarak dari sungai Pemetaan jarak dari garis pantai dan jarak dari sungai dilakukan dengan melakukan proses buffering melalui perangkat lunak ArcGIS 9.3. Proses buffering dilakukan dengan menggunakan data spasial garis pantai dan kemudian diklasifikasikan berdasarkan matriks risiko tsunami. Data spasial garis pantai didapatkan dengan melakukan digitasi (digitize on screen) pada peta dasar Pangandaran. Pada penelitian ini pemetaan jarak dari pantai dilakukan dengan 32 teknik buffering sejauh 3000 m dari garis pantai sedangkan untuk pemetaan jarak dari sungai teknik buffering dilakukan sejauh 500 m dari sungai. 5) Pemetaan tata guna lahan dan ekosistem pesisir Pemetaan tata guna lahan dan ekosistem pesisir dilakukan berdasarkan analisis melalui interpretasi citra satelit Landsat dan peta penutupan lahan dari Bappeda Kab. Ciamis. Pada penelitian ini dilakukan proses digitasi terhadap peta penutupan lahan untuk mendapatkan data digital penggunaan lahan serta ekosistem pesisir. Hasil digitasi dari peta penutupan lahan tersebut kemudian di lengkapi dengan data hasil interpretasi citra satelit dan foto udara dari Google Earth. Keseluruhan hasil pengolahan tersebut kemudian divalidasi dengan datadata hasil survei lapang. Hal ini dilakukan untuk memastikan data hasil pengolahan sesuai dengan kenampakan yang sebenarnya di lapangan. Identifikasi ekosistem pantai dan pesisir difokuskan pada ekosistem yang berpengaruh terhadap limpasan gelombang tsunami. Ekosistem tersebut yaitu ekosistem mangrove dan terumbu karang. Kedua ekosistem ini dianalisis berdasarkan citra satelit Landsat dengan proses penajaman citra (Image Enhancement). Pengolahan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ER Mapper v.7.0. Metode yang digunakan dalam kajian vegatasi mangrove menggunakan komposit warna 453. Pada komposit tersebut mangrove akan teridentifikasi sebagai lahan yang berwarna merah tua. Hal ini karena klorofil dalam daun mengrove menyerap dengan kuat sinar merah dan memantulkan kuat sinar inframerah (Earth Observatory, 2007). Identifikasi terumbu karang dilakukan dengan pendekatan algoritma Lyzenga (1978). Algoritma ini menggunakan band 1 dan band 2 karena kedua 33 band ini diasumsikan memiliki penentrasi yang baik terhadap kolom air. Persamaan algoritma Lyzenga dirumuskan sebagai berikut (Siregar et al., 1995) : Y ln TM ki 1 kj ln TM 2 ......................................................................... (11) dimana, Y = citra hasil ekstraksi; TM1 = band 1 Landsat TM; TM2 = band 1 Landsat TM; dan ki/kj = koefisien antenuasi (a) yang diperoleh dari : a a 2 1 dengan, a var TM 2 1 var TM cov ar TM 1 TM 2 ................................... (12) 2 3.5.2 Identifikasi seismisitas Kaitan kajian gempa bumi pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi gempa bumi sebagai pemicu terjadinya tsunami di wilayah penelitian (zona tsunamigenik). Menurut Galih dan Handayani (2007) aktifitas gempa bumi bisa ditinjau dari bermacam cara, diantaranya adalah dengan peta distribusi gempa bumi (peta seismisitas). Setiap gempa bumi melepaskan energi gelombang seismik, sehingga kumpulan gempa bumi pada periode tertentu di suatu area merupakan suatu cara untuk menggambarkan konsentrasi aktifitas gempa bumi. Identifikasi seismisitas pada penelitian ini dibangun berdasarkan katalog NEIC-USGS. Wilayah kajian identifikasi seismisitas di batasi pada koordinat 8o – 11o LS dan 107o – 110o BT. Data catatan gempa bumi meliputi semua gempa di kedalaman kurang dari 40 km (gempa dangkal) yang terjadi di daerah penelitian selama kurun waktu 1974 – Mei 2011. Pendeskripsian wilayah tsunamigenik ditentukan dengan metode fraktal (Galih dan Handayani, 2007) dan analisis seimotektonik dari Guternberg dan 34 Richter (Rohadi, 2006). Metode ini mengelompokan daerah studi menjadi tiga bagian yang lebih kecil dengan increment 1o (1o x 1o). Metode fraktal ditentukan berdasarkan hubungan antara jumlah kejadian gempa (N) dengan magnitude gempanya (m). Hubungan ini dijelaskan oleh persamaan yang dirumuskan oleh Guternberg dan Richter sebagai berikut (Rohadi, 2006) : log( N ) b .m a .................................................................................. (13) dimana a dan b adalah parameter seismotektonik dan N adalah jumlah gempa bumi dengan magnitude lebih besar dari m. Setelah itu digunakan metode grafik dari Turcotte. Turcotte melakukan penurunan rumus sederhana sehingga didapat besaran dimensi fraktal (D) sebagai berikut (Galih dan Handayani, 2007) : D 2 .b .................................................................................................... (14) dimana b adalah parameter tektonik yang didapat dari hukum Guternberg dan Richter (Rohadi, 2006). Analisis seismisitas dengan menggunakan metode fraktal akan membawa pada wilayah tsunamigenik sebagai zona yang berpotensi sebagai sumber tsunami. 3.5.3 Pemodelan tsunami Pemodelan tsunami pada penelitian ini diselesaikan dengan menggunakan perangkat lunak Turmina Iterface yang terdiri dari Earthquake Analysis dan Tsunami Run-up Modelling. Perangkat lunak ini dapat menyelesaikan persamaan numerik pemodelan tsunami sehingga menghasilkan keluaran berupa waktu tempuh penjalaran tsunami, tinggi tsunami serta run-up tsunami. Perangkat lunak ini merupakan hasil pengembangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 35 (BPPT). Langkah-langkah yang dilakukan dalam menjalankan program simulasi pemodelan tsunami adalah sebagai berikut : 1) Desain model simulasi tsunami Desain simulasi penjalaran gelombang tsunami didesain sebagai model bersarang (nested model). Metode ini digunakan atas pertimbangan efisiensi waktu pada saat running model. Metode model bersarang ini menggunakan empat tipe desain grid spasial yang berbeda dimana terdiri dari domain A, domain B, domain C dan domain D. Domain A merupakan domain yang paling besar dan memiliki batas koordinat 104,75o E – 112,50o E dan 11,00o S – 7,00o S. Domain B dan C adalah area yang lebih kecil dari area domain A dan berada pada domain A. Domain B memiliki batas 108,05o E – 109,20o E dan 8,30o S – 7,55o S, sedangkan domain C memiliki batas 108,35o E – 108,90o E dan 7,95o S – 7,60o S. Domain D merupakan daerah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini (Pangandaran), dimana memiliki batas 108,55o E – 108,70o E dan 7,75o S – 7,65o S. Desain model bersarang diperlihatkan pada Gambar 10. Gambar 10. Domain model bersarang (nested model) : a) domain A; b) domain B; c) domain C dan d) domain D 36 Penentuan domain A harus mengikutsertakan domain B, domain C dan domain D, sehingga domain A merupakan domain terbesar yang mengandung keseluruhan domain. Sumber gempa yang menjadi pemicu tsunami harus berada pada wilayah domain sehingga penjalarannya dapat diperhitungkan. Setiap domain memiliki karakteristik grid yang berbeda. Grid untuk Domain A sampai D memiliki ukuran grid yang semakin mengecil. Domain D merupakan domain yang memiliki resolusi grid paling halus (jarak grid lebih kecil). Keterangan selengkapnya mengenai ukuran spasial (ukuran grid dan jarak grid) dari setiap domain yang dibangun disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Karakteristik ukuran spasial dalam model bersarang Domain Jarak Grid dx=dy Ukuran Grid A 810 m 1057 x 546 B 270 m 471 x 308 C 90 m 678 x 431 D 30 m 553 x 369 Koordinat 104,75o E – 112,50o E 7,00o S 108,05o E – 109,20o E 7,55o S 108,35o E – 108,90o E 7,60o S 108,55o E – 108,70o E 7,65o S 11,0o S – 8,30o S – 7,95o S – 7,75o S – 2) Desain skenario model pembangkit tsunami Penghitungan besarnya tsunami yang dapat terjadi dilakukan dengan membuat skenario sumber gempa. Model sumber pembangkit tsunami dalam penelitian ini hanya dibangkitkan oleh pergerakan dasar laut akibat gempa tektonik. Solusi mekanisme sumber gempa sebagai pembangkit tsunami menggunakan data historis kejadian tsunami di Pangandaran (2006) dan Banyuwangi (1994), selain itu di tentukan berdasarkan analisis peneliti terhadap tingkat seismisitas di wilayah penelitian. Kejadian tsunami di Pangandaran dan Banyuwangi mempunyai parameter gempa seperti diuraikan dalam Lampian 3. 37 3) Pre-processing modelling Tahap ini merupakan persiapan data-data masukan untuk model tsunami yang akan dibangun. Data yang diperlukan adalah data batimetri dan data topografi. Data ini merupakan data dasar dalam model yang akan dibangun. Data batimetri dan topografi mencakup domain A, domain B, domain C dan domain D. Pembuatan input domain D dibangun dengan menggunakan data batimetri Dishidros TNI-AL dan data topografi hasil kompilasi beberapa sumber. Data topografi dan batimetri hasil digitasi kemudian digabungkan dan diinterpolasi dengan interval 30 meter. Keseluruhan data disimpan dalam bentuk ekstensi *.dat, kemudian dilakukan pengolahan lebih lanjut di perangkat lunak Transform v.3.3 sehingga input domain D menjadi susunan matriks. Agar data input domain D dalam bentuk matriks dapat terbaca pada saat perhitungan numerik di Turmina Interface, maka data masukan domain D dikonversi kedalam bentuk ASCII dengan menggunakan Textpad v.4.6.2. Proses pembuatan masukan untuk domain A, domain B dan domain C proses pengolahannya hampir sama seperti domain D. Perbedaanya terletak pada sumber data, dimana pada ketiga domain tersebut hanya menggunakan data batimetri dari ETOPO 1 sebagai data dasar. Ketiga domain yang dibangun dari data tersebut diinterpolasi dengan interval masing-masing adalah 90 meter, 270 meter dan 810 meter. Data-data tersebut bukan merupakan input model, untuk membangun input model domain C, B dan A maka untuk input domain C adalah gabungan antara input domain D dan domain C. Pada posisi koordinat domain D di domain C, diisi dengan semua data pada domain D. Input domain A dan domain B dibangun dengan cara yang sama seperti pada domain C. 38 4) Processing modelling Tahap processing merupakan tahap pacu model. Tahap ini adalah proses running simulasi tsunami berdasarkan masukan parameter gempa, batimetri dan topografi. Metode yang digunakan dalam pemodelan tsunami ini diselesaikan dengan menggunakan aplikasi Turmina interface. Tumina interface terbagi menjadi dua aplikasi yaitu Earthquake Analysis dan Tsunami Run-up Modelling. Earthquake Analysis digunakan untuk memproses data gempa sebagai sumber tsunami. Keluaran dari perangkat lunak ini berupa nilai numerik yang menggambarkan inisialisasi gelombang tsunami awal (elevasi muka air laut awal). Parameter-parameter yang digunakan untuk simulasi awal gelombang tsunami terdiri dari posisi sumber gempa, pajang dan lebar patahan, dislokasi (deformasi), kedalaman pusat gempa (hiposentrum) dan geometri patahan (dip, strike, slip). Inisialisasi gelombang tsunami awal diperoleh dengan menghitung perpindahan vertikal kolom air laut di atas dasar samudera akibat gempa. Menurut Latief (2007) sumber tsunami dalam simulasi tsunami diasumsikan sama dengan perubahan deformasi bawah laut, seperti terlihat pada Gambar 11. Tanda plus (+) menyatakan terjadi kenaikan muka air laut, sedangkan tanda minus (-) menunjukan terjadinya penurunan muka air laut. Gambar 11. Pencerminan lantai samudera oleh muka laut (Latief, 2007) 39 Tsunami Run-up Modelling memproses data keluaran yang dihasilkan oleh aplikasi Earthquake Analysis menjadi simulasi penjalaran gelombang tsunami. Keluaran model berupa data numerik tiap langkah waktu yang menggambarkan proses penjalaran dan ketinggian gelombang tsunami di sepanjang daerah yang dimodelkan. Model tsunami dalam penelitian ini berjenis Near Field Tsunami dimana jarak antara pembangkit tsunami dengan pantai cukup dekat yaitu kurang dari 1000 km. Persamaan penjalaran gelombang tsunami ini dikembangkan dari persamaan gerak gelombang linier yaitu gelombang periaran dangkal, dengan mengabaikan suku gesekan dasar laut. Sedangkan untuk pemodelan run-up tsunami digunakan persamaan linier dan non-linier, dimana dalam hal ini pengaruh gesekan dasar diperhitungkan (Imamura, 1994). Data input yang digunakan untuk simulasi penjalaran gelombang tsunami adalah data batimetri dan topografi dalam bentuk kedalaman setiap grid dan data hasil simulasi awal gelombang tsunami. 5) Post-processing modelling Hasil pemodelan tsunami disajikan dalam bentuk gambar peta yang informatif. Hasil pemodelan yang diinterpretasikan hanya pada domain D. Domain di luar domain D tidak diinterpetasikan karena di luar daerah kajian. Perangkat lunak ArcGIS 9.3 dan Xview digunakan sebagai sarana penyajian visualisasi model tsunami. Hasil model kemudian di analisis dengan menggunakan tools pada ArcGIS 9.3. Analisis dilakukan melalui proses pengklasifikasian kedalaman rendamana tsunami (flowdepth) dan limpasan tsunami (run-up) yang dihasilkan dari pemodelan tsunami. Hal ini bertujuan untuk 40 mendapatkan informasi tingkat kerawanan tsunami dari setiap skenario yang telah dibangun. Klasifikasi flowdepth mengacu pada klasifikasi BMKG dan GITEWS (2010). Berdasarkan hal tersebut maka pada penelitian ini ketinggian rendaman tsunami diklasifikasikan menjadi lima kelas yaitu : kelas kerawanan sangat rendah (< 0,5 m), kelas kerawanan rendah (0,5 – 1,5 m), kelas kerawanan sedang (1,5 – 2,5 m), kelas kerawanan tinggi (2,5 – 5 m) dan kelas kerawanan sangat tinggi (> 5 m). Proses ini seluruhnya dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS. Hasil klasifikasi model tsunami ini merupakan parameter yang menjadi dasar dalam menentukan indeks kerentanan pantai. 3.5.4 Penentuan tingkat risiko tsunami Analisis kerentanan yang dikaji pada penelitian ini adalah kerentanan lingkungan pantai dan pesisir terhadap limpasan tsunami (run-up) dan ketinggian genangan tsunami (flow depth). Parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerentanan lingkungan pantai dan pesisir terhadap tsunami adalah : elevasi daratan (topografi), kemiringan daratan (slope), tata guna lahan/penutupan lahan, jarak dari garis pantai, jarak dari sungai dan model tsunami. Dasar pengambilan parameter tersebut ditentukan berdasarkan penelitian sebelumnya dengan melihat parameter penentu tingkat kerentanan di suatu wilayah yang kemudian di modifikasi sesuai dengan konsultasi pakar dan pembimbing berdasarkan kondisi di daerah penelitian. Beberapa hasil penelitian terdahulu yang dijadikan acuan yaitu penelitian yang pernah dilakukan oleh 41 GITEWS (2010), Oktariadi (2009a), Oktariadi (2009b), Sengaji (2009), Hajar (2006) dan Diposaptono dan Budiman (2006). Setiap parameter memiliki kontribusi yang berbeda terhadap tingkat kerentanan dan risiko bencana tsunami. Pemberian skor dimaksudkan untuk menilai faktor pembatas pada setiap parameter, sedangkan pembobot setiap parameter didasarkan pada dominannya suatu parameter terhadap tingkat risiko tsunami. Penentuan bobot dan skor untuk masing-masing parameter dilakukan untuk mengetahui parameter yang dianggap memiliki pengaruh paling besar terhadap tingkat kerentanan pantai. Semakin besar bobot parameter kerentanan pantai terhadap bencana tsunami maka semakin besar kontribusinya terhadap risiko bencana tsunami dan begitupula sebaliknya. Bobot dan skor yang diberikan untuk setiap parameter mengacu pada konsultasi dengan pakar dan penelitian terdahulu. Penjelasan masing-masing parameter dalam menentukan indeks kerentanan pantai adalah sebagai berikut : 1) Model run-up dan flowdepth tsunami Model tsunami merupakan parameter penting dalam analisis risiko bencana tsunami karena dijadikan sebagai masukan utama dalam parameter kerawanan dan kerentanan pantai terhadap bencana tsunami. Berdasarkan hal tersebut maka bobot parameter ini dalam penentuan indeks kerentanan pantai memiliki bobot yang paling besar yaitu 25% (Sengaji, 2009). Model tsunami yang digunakan untuk menentukan indeks kerentanan pantai adalah model tsunami pada skenario ke-4. Hal ini dikarenakan model skenario ke-4 meupakan model yang dibangun bedasarkan prediksi kejadian kasus terburuk yang kemungkinan terjadi 42 2) Elevasi daratan (topografi) Kelas ketinggian daratan menurut Bappeda Kabupaten Ciamis (2004) adalah 0 – 25 m, 25 – 100 m, 100 – 500 m, 500 – 1000 m, dan > 1000 m. Kelas ketinggian tersebut tidak digunakan dalam penelitian ini, sehingga dilakukan klasifikasi ulang menjadi sebagai berikut : < 10 m; 10 – 25 m; 25 – 50 m; 50 – 100 m dan > 100 m. Elevasi daratan pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 20% (Hajar, 2006). 3) Kemiringan daratan (slope) Pengkelasan serta pembobotan kemiringan pantai dalam penelitian ini mengacu pada pembagian kemiringan wilayah Pangandaran oleh Bappeda Kabupaten Ciamis (2004) yang dimodifikasi yaitu < 2%; 2 – 10%; 10 – 15%; 15 – 40% dan > 40%. Kemiringan daratan pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 20% (Sengaji, 2009). Satuan kemiringan daratan yang digunakan pada penelitian ini adalah dalam persentase (%). Menurut Earth Resource Mapping (2010), nilai kemiringan 0% megindikasikan daratan berbentuk datar, nilai kemiringan 100% mengindikasikan kemiringan daratan 45o dan nilai kemiringan 200% mengindikasikan kemiringan daratan berupa vertikal slope. 4) Jarak dari garis pantai Tsunami merupakan fenomena alam yang bersifat merusak, sehingga perlu memperhatikan adanya kawasan penyangga (buffer zone). Pembangunan kawasan untuk permukimam dan pusat-pusat kegiatan penting tentunya harus memperhatikan jarak dari garis pantai guna mengurangi risiko tsunami. Acuan dasar untuk pembuatan jarak (buffer) merujuk pada UU RI No. 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yaitu sempadan pantai 43 (Sengaji, 2009). Selain itu klasifikasi parameter ini merujuk juga pada klasifikasi yang dilakukan oleh GITEWS (2010) dalam membangun peta dasar bahaya tsunami untuk wilayah Pangandaran (Kab. Ciamis). Pada penelitian ini jarak dari garis pantai diklasifikasikan menjadi lima kelas yaitu 500 m; 500 – 1000 m; 1000 – 1500 m; 1500 – 3000 m dan > 3000 m. Jarak dari garis pantai pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 15%. 5) Jarak dari sungai Jarak dari sungai merupakan parameter yang mempengaruhi tingkat risiko tsunami. Tsunami yang memasuki kanal banjir/sungai akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar karena adanya pemusatan energi tsunami sehingga semakin mendorong tsunami masuk lebih jauh ke daratan. Merujuk pada permasalahan tersebut maka perlu dilakukan buffer dari sungai. Pada penelitian ini buffer dari sungai dilakukan pada jarak 100 m; 200 – 300 m; 300 – 500 m dan > 500 m. Jarak dari sungai pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 10% (Hajar, 2006). 6) Bentuk pemanfaatan lahan Tsunami dapat menyebabkan perubahan tata guna lahan, oleh karena itu perlu penataan ruang dengan baik dalam rangka mengurangi risiko tsunami. Acuan penggunaan lahan pada penelitian ini dibagi berdasarkan klasifikasi Oktariadi (2009a) serta Diposaptono dan Budiman (2006). Bentuk pemanfaatan lahan pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 10% (Sengaji, 2009). Lima kelas yang diklasifikasikan pada peneletian ini selengkapnya disajikan pada Tabel 5. 44 Tabel 5. Matriks risiko bencana tsunami No Kriteria 1 Model run-up dan flowdepth tsunami skenario ke-4 2 Elevasi daratan (Topografi) 3 Kemiringan daratan (Slope) 4 Jarak dari garis pantai 5 Tata guna lahan 6 Jarak dari sungai Kelas Kerawanan sangat rendah Kerawanan rendah Kerawanan sedang Kerawanan tinggi Kerawanan sangat tinggi > 100 m 50 – 100 m 25 – 50 m 10 – 25 m < 10 m > 45% 15 – 40% 10 – 15% 2 – 10% < 2% > 3000 m 1500 – 3000 m 1000 – 1500 m 500 – 1000 m < 500 m Vegetasi darat/Hutan Semak belukar, Lahan kosong Ladang/Teggalan Perkebunan, Empang/Tambak, Danau Permukiman/Lahan terbangun dan Sawah > 500 m 300 – 500 m 200 – 300 m 100 – 200 m < 100 m Bobot 25 20 20 15 10 Skor 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 10 1 2 3 4 5 Sumber : Bappeda Kab. Ciamis (2004); Diposaptono dan Budiman (2006); GITEWS (2010); Hajar (2006); Oktariadi (2009a); Oktariadi (2009b); Sengaji (2009); UU RI No.27 Tahun 2007 Parameter-parameter yang telah di jelaskan di atas merupakan parameter utama dalam kaitannya terhadap tingkat kerentanan bencana tsunami di wilayah pesisir. Selain parameter tersebut, terdapat parameter lain yang tentunya 45 mempengaruhi tingkat risiko tsunami seperi kemiringan dasar perairan dan morfometri pantai. Kedua parameter tersebut tidak dibobotkan dalam matriks sehingga tidak dioverlay pada pemodelan spasial tingkat risiko tsunami. Pada penelitian ini kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan tidak dibobotkan kedalam matriks risiko tsunami. Hal ini dikarenakan parameter tersebut sudah terintegrasi di dalam hasil model. Pada dasarnya model tsunami yang dibangun sudah memperhitungkan kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan sehingga proses pembobotanya dilakukan terhadap hasil model. 3.5.5 Analisis tingkat kerentanan pantai Indeks kerentanan pantai terhadap bencana tsunami ditentukan melalui fungsi analisis dengan menggunakan metode Cell Base Modeling (CBM). Metode CBM didasarkan pada proses individu dari tiap sel yang digunakan sebagai sarana untuk menganalisis obyek di atas permukaan bumi. Setiap sel tersebut memuat parameter dan memiliki format data grid. Setiap sel yang dimaksud memiliki nilai tertentu yang besarnya tergantung dari besarnya nilai masing-masing parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan bencana tsunami. Hasil pemodelan tsunami dan parameter-parameter kerentanan lingkungan yang sudah dijabarkan sebelumnya harus dikonversi ke dalam bentuk raster. Setiap parameter yang sudah berfomat raster direklasifikasi menjadi kelas kerawanan dan kerentanan. Pengelompokan setiap parameter tersebut mengikuti zonal fuction karena setiap parameter akan mengelompok berdasarkan kesamaan sel tersebut. Sel akan dikodekan berdasarkan kriteria yang membentuk suatu zona. Setiap zona akan memiliki kisaran nilai parameter sebagaimana yang terdapat 46 pada Tabel 5 di atas. Pengkodean sel (calculation) dilakukan secara otomatis oleh perangkat lunak ArcGIS. Pada penelitian ini akan dikelompokan berdasarkan lima kelas (zona) yakni kelas kerentanan sangat tinggi, kerentanan tinggi, kerentanan sedang, kerentanan rendah dan kerentanan sangat rendah. Nilai tiap-tiap kelas didasarkan pada perhitungan dengan rumus model sebagai berikut (Pasek, 2007) : N Bi Si ........................................................................................ (15) dimana, N = total bobot nilai; Bi = bobot pada tiap kriteria dan Si = skor pada tiap kriteria. Selang tiap-tiap kelas diperoleh dari jumlah perkalian nilai maksimum dari tiap bobot dan skor dikurangi jumlah perkalian nilai minimumnya, kemudian dibagi dengan jumlah parameter yang digunakan. Secara matematis selang kelas dituliskan dengan rumus sebagai berikut (Pasek, 2007) : L Bi S i Bi S i max n min ............................................................. (16) dimana, L = lebar selang kelas; Bi = bobot pada tiap kriteria; Si = skor pada tiap kriteria (Tabel 5) dan n = jumlah kelas. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus di atas, dihasilkan lebar selang kelas tingkat risiko tsunami sebesar 0,800 dengan nilai Nminimum sebesar 1 dan nilai Nmaksimum sebesar 5. Nilai tersebut kemudian digunakan dalam penentukan kelas kerentanan pantai akibat bencana tsunami. Kelas kerentanan sangat rendah (K1) didapat dari 1 ditambah dengan 0,800. Nilai kelas kerentanan rendah (K2) didapat dari selang kelas maksimum K1 yaitu 1,800 ditambah 0,800. Nilai selang kelas kerentanan sedang (K3) didapatkan dari selang maksimum K2 yaitu 2,600 ditambah dengan 0,800. Nilai selang kelas kerentanan tinggi (K4) 47 didapatkan dari selang maksimum K3 yaitu 3,400 ditambah dengan 0,800. Nilai selang kelas kerentanan sangat tinggi (K5) didapatkan dari selang maksimum K4 yaitu 4,200 ditambah dengan 0,800. Secara singkat selang kelas masing-masing kelas risiko dapat ditetapkan sebagai berikut (Tabel 5) : Kelas kerentanan sangat rendah (K1) : jika 1,000 ≤ N ≤ 1,800 Kelas kerentanan rendah (K2) : jika 1,801 ≤ N ≤ 2,600 Kelas kerentanan sedang (K3) : jika 2,601 ≤ N ≤ 3,400 Kelas kerentanan tinggi (K4) : jika 3,401 ≤ N ≤ 4,200 Kelas kerentanan sangat tinggi (K5) : jika 4,201 ≤ N ≤ 5,000 Nilai-nilai pada masing-masing kelas seperti yang sudah dijabarkan di atas akan dideskripsikan secara otomatis berupa klasifikasi wilayah pantai dan pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami. Hasil model yang berhasil dibangun, baik itu model penjalaran gelombang tsunami ataupun model klasifikasi tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami untuk wilayah pantai dan pesisir Pangandaran dapat dibuat peta tematiknya. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Pantai dan Pesisir Pangandaran 4.1.1 Elevasi daratan (Topografi) Hasil pemetaan topografi daratan menunjukan bawa kondisi topografi pesisir Pangandaran terdiri dari dataran rendah yang luas di sepanjang pantai dan pesisir. Dataran rendah nampak mulai dari Desa Sukaresik sampai Desa Babakan. Hal ini ditandai dengan warna ketinggian rendah yang hampir homogen disepanjang pesisir daerah tersebut. Dataran rendah pada umumnya membentang dalam radius 1500 m dari garis pantai. Daerah perbukitan berada di bagian selatan Desa Pangandaran dan menghadap langsung dengan Samudera Hindia. Pada jarak 500 m dari garis pantai wilayah ini didominasi oleh ketinggian 25 – 50 m, sedangkan pada jarak 1000 m dari garis pantai kondisi topografi didominasi oleh ketinggian 50 – 100 m. Perbukitan yang membentuk tanjung ini merupakan kawasan Cagar Alam. Berdasarkan survei lapang, perbukitan ini merupakan daerah kars (gamping/kapur). Di area ini banyak ditemukan cekungan-cekungan dan memiliki ketinggian lebih dari 100 m, selain itu daerah ini merupakan pantai berbatu/tebing batu. Wilayah pantai dan pesisir Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih memiliki topografi yang kompleks mulai dari dataran rendah sampai dengan dataran tinggi. Wilayah bagian utara-timur Pangandaran merupakan wilayah berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Klasifikasi topografi daratan di wilayah penelitian disajikan pada Gambar 12. 48 49 Gambar 12. Kelas elevasi daratan (topografi) wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami Berdasakan hasil pemetaan klasifikasi elevasi daratan menurut matriks risiko tsunami, dapat diketahui bahwa daerah dengan ketinggian daratan kurang dari 10 m memiliki jarak yang sangat dekat dengan laut. Luas area untuk kelas ini memiliki luas 3.044,92 Ha. Wilayah dengan ketinggian 10 – 25 m memiliki luas 1.979,02 Ha, daerah dengan ketinggian tersebut masih dominan berada di bagian utara Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih (Tabel 6). Daerah yang memiliki topografi lebih tinggi berada pada jarak yang lebih jauh dari garis pantai. Tabel 6. Luas daerah kelas elevasi daratan (topografi) No 1 2 3 4 5 Tingkat kerentanan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Total Kelas elevasi 0 – 10 m 10 – 25 m 25 – 50 m 50 – 100 m > 100 m Luas (Ha) 3.044,92 1.979,02 657,34 305,15 244,35 6.230,78 50 Mengacu pada Tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa pada umumnya topografi pangandaran memiliki ketinggian kurang dari 10 m. Luas area untuk kelas ini lebih besar dari kelas-kelas yang lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah pantai dan pesisir di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih memiliki tingkat kerentanan tsunami yang sangat tinggi apabila dilihat dari segi elevasi daratannya. Elevasi daratan yang relatif rendah merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan yang sangat tinggi. Hal ini menurut Oktariadi (2009b) akan lebih berpotensi untuk terkena limpasan tsunami dalam skala luas di bandingkan daerah yang memiliki topografi lebih tinggi. Rendahnya topografi daratan mempengaruhi seberapa luas masuknya tsunami ke daratan. 4.1.2 Kemiringan daratan (Slope) Kondisi kemiringan daratan pesisir Pangandaran terdiri dari dataran landai yang luas di sepanjang pantai dan pesisir. Sebaran dataran yang landai tersebut terlihat sama seperti sebaran topografi dimana dataran landai nampak mulai dari Desa Sukaresik sampai Desa Babakan. Daerah dengan kondisi kemiringan daratan yang landai pada umumnya membentang dalam radius 3000 m dari garis pantai. Daerah yang memiliki kemiringan daratan di atas 2% cenderung dominan di bagian utara mulai dari sebelah timur Desa Sukahurip sampai bagian barat Desa Cikalong. Daratan di atas 2% juga ditemukan di bagian selatan Desa Pangandaran (Tanjung Pangandaran). Daratan yang memiliki kemiringan di atas 2% berada pada jarak lebih dari 3000 m dari garis pantai kecuali untuk bagian selatan Desa 51 Pangandaran, kemiringan daratan di atas 2% berada pada jarak 500 – 1000 m (Gambar 13). Kemiringan daratan di lokasi penelitian didominasi oleh kelas kurang dari 2 % dengan luas mencapai 4.155,45 Ha. Kelas kemiringan daratan paling rendah berada pada kelas kemiringan daratan lebih besar 40 % dengan luas area hanya 293,78 Ha (Tabel 7). Berdasarkan hal tersebut maka jelas bahwa wilayah pantai dan pesisir di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap bencana tsunami apabila dilihat dari segi kemiringan daratannya. Daerah yang memiliki kemiringan landai akan berpotensi mengalami genangan gelombang tsunami lebih jauh ke arah darat. Pada pantai yang terjal atau curam, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai (Oktariadi, 2009a). Gambar 13. Kelas kemiringan daratan (slope) wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami 52 Tabel 7. Luas daerah kelas kemiringan daratan (slope) No 1 2 3 4 5 4.1.3 Tingkat kerentanan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Total Kelas slope 0 – 2% 2 – 10% 10 – 15% 15 – 40% > 40% Luas (Ha) 4.155,45 912,50 520,65 348,50 293,68 6.230,78 Jarak dari garis pantai Berdasarkan pengamatan di lapangan pada umumnya sarana-sarana penting seperti permukiman di lokasi penelitian memiliki jarak yang relatif dekat dengan garis pantai. Desa Pangandaran digolongkan sebagai daerah yang paling rentan karena berada pada dataran sempit diantara dua sisi teluk yang saling berhadapan (tanah genting). Desa Pangandaran merupakan lokasi wisata yang terkenal di Kabupaten Ciamis, sehingga tidak heran karena potensi daerahnya tersebut maka daerah ini menjadi kawasan padat penduduk. Masyarakat umumnya menempati bangunan yang sangat dekat dengan garis pantai, yaitu dalam jarak antara 100 m hingga 200 m dari garis pantai. Keadaan ini menjadikan permukiman di Desa Pangandaran tergolong sangat rentan terkena gelombang tsunami. Areal permukiman di daerah pesisir Pangandaran semakin lama semakin bertambah banyak dan semakin menjorok ke laut. Berdasarkan hal tersebut maka sangat penting sekali menerapkan penataan ruang yang baik untuk mengurangi risiko tsunami, khususnya di daerah pesisir. Jarak dari garis pantai menunjukan informasi jauh dekatnya suatu wilayah terhadap laut. Daerah yang berada pada jarak kurang dari 500 m dari garis pantai menunjukan daerah yang paling rentan 53 terhadap tsunami. Semakin dekat suatu wilayah terhadap laut maka semakin tinggi tingkat kerentanan dan risiko wilayah tersebut terkena dampak tsunami (NTHMP, 2001). Kelas jarak dari garis pantai wilayah pesisir Pangandaran diperlihatkan pada Gambar 14. Gambar 14. Kelas jarak dari garis pantai wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami 4.1.4 Jarak dari sungai Wilayah Pangandaran yang mencakup Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih merupakan wilayah yang memiliki sungai-sungai besar yang sangat dekat dengan muaranya. Berdasarkan survei lapang dan analisis dari citra satelit Landsat TM diketahui setidaknya terdapat empat buah sungai besar yang melintasi wilayah penelitian. Sungai tersebut adalah Sungai Cikidang bagian barat, Sungai Cikidang bagian timur, Sungai Cikambulan dan Sungai Ciambulungan. 54 Sungai Cikidang terletak di sebelah barat dan timur Desa Babakan (Kecamatan Pangandaran) dan bermuara di muara Cikidang. Sungai Cikidang melewati beberapa desa mulai dari Desa Sukahurip, Desa Babakan, bagian utara Desa Wonoharjo, Desa Pananjung dan Desa Pangandaran. Sungai Cikambulan berada di sebelah timur Desa Cikembulan dan Sungai Ciambulungan berada di Desa Sukaresik, kedua sungai ini bermuara di muara Citonjong yang berada di Desa Sukaresik. Desa Sukaresik, Desa Cikembulan dan bagian timur Desa Pangandaran serta Desa Babakan dapat diklasifikasikan sebagai daerah yang memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi karena di daerah-daerah tersebut terlihat adanya sungai-sungai besar yang dekat dengan muaranya. Sungai-sungai tersebut saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya. Kondisi sungai yang demikian akan menyebabkan daerah yang terletak di antara sungai tersebut akan mempunyai tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap bencana tsunami. Tsunami yang merambat melalui sungai dapat menimbulkan kerusakan yang lebih hebat dari yang diperkirakan. Keadaan ini terjadi karena dengan adanya sungai maka akan semakin mendorong tsunami untuk melintas lebih jauh ke daratan. Pada daerah yang menyempit seperti sungai dan kanal pengendali banjir akan terjadi peningkatan kecepatan dan ketinggian muka air. Hal ini disebabkan debit massa air yang sama harus menjalar melalui celah yang sempit (NTHMP, 2001). Berdasarkan hal tersebut maka penempatan daerah aman harus berada jauh dari sungai yang dekat dengan muarannya. Klasifikasi jarak dari sungai di wilayah penelitian diperlihatka pada Gambar 15. 55 Gambar 15. 4.1.5 Kelas jarak dari sungai wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami Penggunaan lahan (Landuse) Wilayah pesisir termasuk dalam kerentanan yang tinggi terhadap bencana tsunami. Konsep penggunaan lahan harus melihat jarak dari garis pantai agar dapat melindungi daratan dari hantaman gelombang tsunami. Wilayah yang bisa dikategorikan rentan tsunami yaitu berdasarkan penggunaan lahannya bagi kepentingan masyarakat yang menempati wilayah tersebut. Berdasarkan hasil pemetaan dapat diketahui bahwa tipe penggunaan lahan di wilayah penelitian didominasi oleh vegetasi darat/hutan dan area permukiman. Penggunaan lahan berupa permukiman terlihat berada cukup padat di wilayah pesisir Kecamatan Pangandaran, khususnya Desa Pangandaran dan Desa Babakan (Gambar 16). Hasil survei lapang menunjukan bahwa jenis penutupan lahan untuk wilayah pesisir Pangandaran tidak mengalami banyak perubahan bila 56 dibandingkan dengan kondisi yang tergambar pada peta penutupan lahan pesisir Pangandaran dari Bappeda tahun 2004. Jenis penggunaan lahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti permukiman,perkebunan dan sawah memiliki luas area yang cukup luas. Hal ini akan berdampak pada kerugian yang besar apabila gelombang tsunami melanda daerah tersebut. Luas area permukiman mencapai 1.285,50 Ha, keadaan ini menandakan bahwa wilayah pesisir Pangandaran tergolong daerah padat penduduk. Permukiman penduduk menggambarkan tingkat kepadatan penduduk dan sebaran tempat hunian yang akan mempengaruhi tingkat kerugian jiwa maupun harta benda. Luasan dari masing-masing penggunaan lahan disajikan pada Tabel 8. Gambar 16. Kelas jenis penggunaan lahan wilayah pesisir Pangandaran 57 Tabel 8. Luasan jenis penggunaan lahan (landuse) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis penggunaan lahan Danau Empang/Tambak Ladang/Teggalan Lahan kosong Perkebunan Permukiman Sawah Semak belukar Vegetasi darat/Hutan Total Luas (Ha) 14,71 135,64 90,55 325,20 785,65 1.285,50 480,50 521,55 2.584,45 6.230,78 Bencana tsunami dapat menyebabkan terjadinya perubahan lahan, oleh karena itu perlu dilihat tingkat kerentanan penggunaan lahan terhadap tsunami. Acuan klasifikasi tingkat penggunaan lahan terhadap tsunami pada penelitian ini dibagi berdasarkan klasifikasi Oktariadi (2009a) serta Diposaptono dan Budiman (2006). Selain itu pengklasifikasian parameter penggunaan lahan ini didasarkan dari hasil konsultasi pakar dan penelitian yang sebelumnya pernah dilakukan. Hasil klasifikasi jenis penggunaan lahan berdasarkan matriks risiko tsunami menunjukan daerah yang memiliki kerentanan sangat tinggi di Kecamatan Pangandaran dominan berada di Desa Pangandaran dan Desa Babakan. Sedangkan untuk Kecamatan Sidamulih daerah yang paling dominan memiliki kerentanan yang sangat tinggi berada di Desa Cikembulan. Hal ini disebabkan karena di daerah tersebut banyak dimanfaatkan sebagai area permukiman dan lahan-lahan terbangun yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Peta kerentanan penggunaan lahan di wilayah kajian selengkapnya disajikan pada Gambar 17. 58 Gambar 17. Kelas kerentanan penggunaan lahan wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami Pada umumnya tingkat kerentanan penggunaan lahan terhadap bencana tsunami paling luas berada pada kelas dengan kerentanan sangat rendah dan sangat tinggi. Luas area dengan tingkat kerentanan penggunaan lahan sangat rendah mencapai 2.580,45 Ha. Sedangkan luas area dengan tingkat kerentanan penggunaan lahan sangat tinggi mencapai 1.773,03 Ha (Tabel 9). Kajian risiko tsunami dalam hal ini mengedepankan area permukiman sebagai area paling rentan. Sebagian besar daerah permukiman terletak di daerah pesisir dan dekat dengan laut sehingga berpotensi besar terhadap bahaya tsunami. Penggunaan lahan yang tidak banyak melibatkan manusia seperti lahan kosong, semak belukar dan vegetasi darat/hutan berada pada daerah yang aman. Atas dasar tersebut maka penggunaan lahan di wilayah pesisir harus memperlihatkan konsep penataan ruang yang berbasis bencana alam. 59 Tabel 9. Luas daerah tingkat kerentanan penggunaan lahan No 1 2 3 4 5 4.1.6 Tingkat kerentanan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Tipe Penggunaan lahan Permukiman dan Sawah Perkebunan, Empang/Tambak, Danau Ladang/Teggalan Semak belukar, Lahan kosong Vegetasi darat/Hutan Total Luas (Ha) 1.773,03 936,00 90,55 846,75 2.580,45 6.230,78 Kondisi batimetri wilayah pantai dan lepas pantai Kondisi batimetri wilayah lepas pantai (domain A) digambarkan dengan menggunakan data batimetri ETOPO 1. Data batimetri ini dikeluarkan oleh British Oceanographic Data Center. Data ETOPO 1 diperoleh dari hasil data satelit altimetri TOPEX. Berdasarkan pengolahan tiga dimensi dengan menggunakan perangkat lunak Global Mapper diketahui bahwa di dasar Samudera Hindia sebelah selatan Pulau Jawa terdapat palung yang sangat curam dengan kedalaman lereng lebih dari 7.500 meter. Palung ini memanjang dari ujung Pulau Sumatera sampai bagian timur Pulau Jawa. Keadaan tersebut menjadikan daerah di sepanjang palung memiliki risiko yang tinggi sebagai sumber tsunami. Hal ini dikarenakan bila terjadi gempa di daerah palung, maka ada kemungkinan hal itu mengganggu kestabilan lereng dan bila sampai roboh akan menimbulkan tsunami besar. Bagian selatan palung terlihat kondisi dasar laut yang hampir homogen membentuk basin dengan kedalaman yang besar. Hal ini akan megakibatkan gelombang tsunami akan mempunyai kecepatan tinggi apabila melitas di daerah tersebut. Kondisi batimetri di wilayah lepas pantai Pangandaran diperlihatkan pada Gambar 18. 60 Gambar 18. Profil tiga dimensi batimetri wilayah lepas pantai Pangandaran Profil batimetri untuk wilayah penelitian (Pangandaran) mengacu pada peta batimetri Dishidros TNI-AL. Hasil pemetaan batimetri wilayah penelitian menunjukan bahwa kedalaman dekat pantai umumnya dangkal dan semakin ke tengah laut kedalaman perairan semakin bertambah (Gambar 19). Gambar 19. Profil tiga dimensi batimetri wilayah pantai Pangandaran 61 Kondisi batimetri perairan Pangandaran memperlihatkan bahwa semakin mendekati pantai maka kondisi batimetri semakin dangkal dan hampir homogen. Kisaran kedalaman perairan di wilayah penelitian berkisar 0 – 40 m sehingga kondisi batimetri tergolong dangkal. Kondisi batimetri di sebelah barat (Desa Sukaresik dan Desa Cikembulan) relatif lebih dangkal. Keadaan ini terjadi karena di daerah tersebut terdapat muara Citonjong sehingga banyak terendapkan material sungai. Kondisi batimeti yang serupa berada di bagian timur Pangandaran (Desa Sukaresik), dimana di wilayah tersebut terdapat muara Cikidang. Kondisi batimetri yang dangkal menurut Yalciner et al. (2006) akan mempengaruhi kecepatan transportasi energi di laut yang lebih dalam sehingga kecepatan tsunami di laut yang lebih dalam akan lebih tinggi daripada kecepatan tsunami di laut yang lebih dangkal. Kondisi kemiringan dasar perairan di wilayah perairan Pangandaran didominasi oleh kemiringan dasar yang landai. Keadaan ini diketahui berdasarkan analisis profil batimetri dengan menggunakan menu 3D Path Profile/Line of Sight Tool pada perangkat lunak Global Mapper. Profil kemiringan dasar laut untuk setiap titik observasi disajikan pada Lampiran 4. Hasil identifikasi tersebut menunjukan bahwa kemiringan dasar perairan wilayah perairan Pangandaran berkisar antara 0,52o – 1,93o. Kemiringan dasar perairan cenderung menurun mulai dari bagian barat perairan Desa Sukaresik sampai wilayah barat perairan Desa Pangandaran. Keadaan berbeda diperlihatkan pada wilayah perairan sebelah timur tepatnya di perairan Desa Sukaresik. Wilayah perairan ini memiliki kemiringan yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah 62 perairan disekitarnya. Berikut ini disajikan kemiringan dasar perairan di wilayah kajian untuk setiap titik observasi pada Tabel 10. Tabel 10. Kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi Koordinat (o) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 From Pos To Pos 108,567 E – 7,687 S 108,581 E – 7,685 S 108,593 E – 7,684 S 108,599 E – 7,683 S 108,606 E – 7,684 S 108,618 E – 7,685 S 108,626 E – 7,685 S 108,634 E – 7,687 S 108,638 E – 7,687 S 108,642 E – 7,688 S 108,649 E – 7,693 S 108,655 E – 7,702 S 108,659 E – 7,701 S 108,664 E – 7,692 S 108,672 E – 7,686 S 108,681 E – 7,681 S 108,696 E – 7,677 S 108,567 E – 7,692 S 108,581 E – 7,689 S 108,593 E – 7,689 S 108,599 E – 7,688 S 108,606 E – 7,689 S 108,618 E – 7,689 S 108,626 E – 7,689 S 108,634 E – 7,691 S 108,638 E – 7,692 S 108,642 E – 7,692 S 108,649 E – 7,696 S 108,651 E – 7,702 S 108,664 E – 7,701 S 108,667 E – 7,696 S 108,675 E – 7,689 S 108,683 E – 7,684 S 108,696 E – 7,681 S Desa Kemiringan dasar perairan (o) Sukaresik Sukaresik Sukaresik Cikembulan Cikembulan Cikembulan Wonoharjo Wonoharjo Wonoharjo Pananjung Pananjung Pangandaran Pangandaran Pangandaran Babakan Babakan Babakan 1,14 0,89 0,83 0,77 0,70 0,78 0,76 0,74 0,66 0,59 0,55 0,52 0,66 0,83 1,29 1,93 1,02 Berdasarkan karakteristik batimetri dan kemiringan dasar perairan yang telah diuraikan di atas, maka gelombang tsunami akan lebih dulu tiba di wilayah pantai sebelah barat (Desa Sukaresik) dan disebelah timur (Desa babakan). Hal ini dikarenakan kedalaman perairan dan kemiringan dasar perairan di kedua wilayah tersebut cenderung lebih besar dibandingkan dengan wilayah lainnya. Keadaan ini sesuai seperti yang dikemukan oleh Yudhicara (2008) dimana gelombang tsunami akan memiliki kecepatan lebih besar dan lebih dulu tiba di lokasi yang memiliki kontur batimetri yang lebih dalam. Menurut Mudhari (2009) kondisi 63 batimetri demikian akan mengakibatkan jarak daerah pecah gelombang dengan pantai menjadi semakin kecil. Pada penelitian ini kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan tidak dibobotkan kedalam matriks risiko tsunami. Hal ini dikarenakan parameter tersebut sudah terintegrasi di dalam hasil model. Pada dasarnya model tsunami yang dibangun sudah memperhitungkan kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan sehingga proses pembobotannya dilakukan terhadap hasil modelnya saja. 4.1.7 Morfometri pantai Pada penelitian ini bentuk morfometri pantai tidak digunakan dalam penentuan indeks kerentanan pantai. Hal ini dikarenakan bentuk morfometri pantai cenderung homogen, mengingat daerah yang diidentifikasi masih dalam skala kecil (skala kecamatan). Wilayah pesisir Pangandaran memiliki bentuk morfometri yang unik dan khas. Bentuk garis pantai Pangandaran membentuk air mata (teardrop) yang masuk ke Samudera Hindia. Bentuk seperti ini mengakibatkan garis pantai Pangandaran membentuk tanjung yang diapit dua sisi teluk yang hampir simetris. Teluk ini adalah Teluk Parigi di sisi sebalah barat dan Teluk Pangandaran di sisi sebelah timur Desa Pangandaran. Pangandaran merupakan daerah berteluk, pada dasarnya bentuk pantai berteluk akan memfokuskan gelombang tsunami yang sedang berjalan ke arahnya, sehingga energi gelombang tersebut terakumulasi pada cekungan tersebut dan mampu meningkatkan ketinggian gelombang tsunami yang sampai di pantai (Diposaptono dan Budiman, 2005). 64 4.1.8 Ekosistem pantai dan pesisir Pendugaan awal ekosistem pesisir dilakukan dengan penajaman citra. Penajaman citra untuk terumbu karang adalah komposit RGB 421, sedangkan untuk mangrove adalah komposit RGB 453. Berdasarkan penajaman dengan komposit RGB 421, keberadaan ekosistem terumbu karang tidak terdeteksi dalam citra Landsat TM tahun 2003, 2006 dan 2009. Hasil survei lapang memberikan penjelasan lain, dimana diketahui bahwa di perairan Pangandaran terdapat ekosistem terumbu karang. Berdasarkan hasil penelitian Wulandari (2002), diketahui terumbu karang dapat ditemukan pada kawasan Cagar Alam laut di pantai timur (Batu Nunggul dan Batu Layar) dan pantai barat Desa Pangandaran (Batu Mandi dan Pasir Putih). Tipe terumbu karang berupa karang tepi (fringing reef) yang mempunyai panjang 1,5 km dengan lebar hanya 50 m. Hasil penelitian Wulandari (2002) menunjukan bahwa persentasi penutupan karang hidup di Pangandaran secara keseluruhan termasuk dalam kategori buruk. Substrat dasar perairan sebagian besar ditutupi oleh rubble. Pengamatan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa sebagian besar terumbu karang di Pangandaran dalam kondisi rusak (Wulandari, 2002). Survei lebih lanjut pada tahun 2005 memperlihatkan kerusakan terjadi semakin parah. Pengamatan terakhir pada tahun 2008 menunjukkan hasil tidak berbeda jauh. Tutupan karang hidup di pantai barat hanya sekitar 11,48 % , sedangkan di pantai timur 18,21 % sehingga dikategorikan rusak menurut kriteria baku Kementerian Lingkungan Hidup (Wulandari, 2002). 65 Kerusakan ini disebabkan baik oleh aktifitas penangkapan ikan maupun pariwisata seperti menginjak karang, mengambil karang, penangkapan ikan berlebih atau dengan racun, sampah, tertabrak perahu atau putaran baling baling mesin kapal yang mengaduk sedimen. Selain itu erosi di daerah sepanjang aliran sungai sungai bermuara di perairan Pangandaran menyebabkan tingginya tingkat sedimentasi dan dapat merusak kehidupan terumbu karang. Berdasarkan hal tersebut dapat terlihat bahwa keberadaan ekosistem terumbu karang tidak memberikan pengaruh yang signifikan untuk menurunkan tingkat kerawanan bencana tsunami di Pangandaran. Hal ini disebabkan karena sebaran terumbu karang bersifat lokal dan sempit. Ekosistem mangrove ditemukan di kawasan penelitian dalam skala yang sangat kecil. Berdasarkan data spasial Bappeda Kab. Ciamis (2009) kemungkinan besar dahulu terdapat hutan mangrove di Pangandaran. Hal ini dapat dilihat dengan terdapatnya muara muara sungai cukup lebar, tempat yang ideal bagi tumbuhan mangrove. Namun kini hanya sedikit yang tersisa, tinggal berupa deretan pohon nipah (Nypa fruticans) di sepanjang pinggiran sungai. Jenis jenis tumbuhan mangrove lainnya boleh dibilang telah hilang. Hal ini sangat disayangkan mengingat hutan ini memiliki manfaat sangat besar bagi kehidupan diantaranya sebagai pelindung pantai dari pukulan ombak dan menahan lumpur yang dibawa sungai atau abrasi akibat gelombang laut. Keadaan ini menjadikan ekosistem mangrove di kawasan penelitian tidak memberikan pengaruh yang signifikan untuk menurunkan risiko bencana tsunami. 66 4.2. Kejadian Gempa Tektonik Berdasarkan catatan sejarah yang terangkum dalam katalog NEIC-USGS selama kurun waktu 1974 – Mei 2011 diketahui bahwa di wilayah lepas pantai Pangandaran umumnya terjadi gempa bumi berkekuatan 5 – 6 SM, gempa dengan kekuatan lebih kecil dari 5 SM lebih sering terjadi. Gempa terbesar yang pernah terjadi berkekuatan 7,7 SM. Gempa tersebut menimbulkan bencana tsunami yang melanda kawasan Pangandaran dan wilayah pesisir sekitarnya pada tahun 2006. Jumlah kejadian gempa yang terekam di wilayah penelitian pada rentang tahun 1974 – Mei 2011 terjadi sebanyak 683 kejadian dengan rentang kekuatan 3 – 7,7 SM. Pada rentang tahun ini gempa dengan kekuatan lebih kecil dari 5 SM terjadi sebanyak 585 kali, gempa berkekuatan 5,1 – 6 SM terjadi 94 kali, gempa berkekuatan 6,1 – 7 SM terjadi sebanyak 3 kali dan gempa dengan kekuatan di atas 7 SM hanya terjadi sekali. Bedasarkan hasil pemetaan pusat-pusat gempa (episentrum) yang terjadi di lepas pantai Pangandaran diketahui tipe sebaran pusat gempa-gempa dangkal terlihat rapat dan berkumpul di sekitar pusat gempa Pangandaran. Episentrum tersebut berada hampir tegak lurus dengan kawasan pesisir Pangandaran. Wilayah sebelah barat dari pusat gempa pangandaran memiliki frekuensi kegempaan yang lebih tinggi. Wilayah lepas pantai sebelah timur Pangandaran terlihat intensitas kegempaanya jauh lebih sedikit. Menurut Natawidjaja (2007) wilayah tersebut merupakan zona seismic gap yang membentang sepanjang 400 km. Seismic gap merupakan kawasan sepi gempa yang sangat berpotensi menjadi sumber gempa kuat/besar dan tsunami dimasa yang akan datang. Peta seismisitas di wilayah kajian diperlihatkan oleh Gambar 20. 67 Gambar 20. Tingkat seismisitas di wilayah kajian selang waktu 1974 – Mei 2011 (NEIC-USGS, 2011) Gempa-gempa yang terlihat pada peta seismisitas di atas merupakan gempa-gempa dangkal (≤ 40 km) yang terjadi di wilayah lepas pantai Pangandaran. Pusat gempa di perairan tersebut walaupun tergolong gempa-gempa dangkal belum tentu menjadi sumber pembangkit tsunami. Menurut Shuto (1993) tsunami akan terbentuk apabila terjadi gempa dangkal dengan kedalaman pusat gempa kurang dari 33 km (versi USGS < 48 km), magnitude gempa harus lebih besar dari 6 SR dan dan gempa menghasilkan deformasi vertikal yang besar di dasar laut, sehingga patahan sumber gempa berupa patahan naik (thrust fault) atau patahan turun (normal fault). Gempa Pangandaran serta gempa-gempa yang sering terjadi di selatan Jawa pada umumnya terjadi pada zona subduksi Jawa. Zona subduksi ini secara 68 kasat mata nampak sebagai palung Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Natawidjaja (2007) menjelaskan bahwa subduksi Jawa memiliki umur cukup tua yakni lebih dari 150 juta tahun sehingga sempat dianggap bersifat aseismik atau tidak menghasilkan gempa. Adanya peristiwa gempa Pancer (1994) dan Pangandaran (2006) dimana keduanya sama-sama memiliki momen magnitude lebih besar 7 SM, menunjukkan subduksi ini tetap harus diperhitungkan sebagai sumber potensial gempa besar di masa yang akan datang. Proses subduksi ini akan terus berlangsung dan terus menekan sehingga mengakibatkan terakumulasinya energi tekanan di daerah ini. Apabila batuan sedimen yang tertekan di wilayah tersebut sudah tidak kuat lagi menahan energi, maka energi tersebut akan dilepaskan berupa kejadian gempa bumi. Analisis parameter seismik pada penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk menentukan zona tsunamigenik (sumber tsunami). Selain itu parameter seismik merupakan hal yang penting karena perubahan tingkat seimisitas suatu wilayah berhubungan erat dengan perubahan stress dan tekanan di bawah permukaan wilayah tersebut (Soehaimi, 2008). Hubungan antara jumlah kejadian gempa dan magnitude gempa untuk setiap wilayah kajian ditampilkan pada Gambar 21. Hasil analisis regresi linier menunjukan bahwa frekuensi kejadian gempa menurun secara eksponensial dengan meningkatnya kekuatan gempa. Berdasarkan hasil pengolahan regresi linier maka diperoleh nilai-b yang akan menentukan angka dimensi fraktal. Angka dimensi fraktal digunakan untuk melihat tingkat stress dan tekanan di bawah permukaan yang terjadi disuatu wilayah (Galih dan Handayani, 2007). 69 107o に 108o BT dan 8o に 11o LS (a) 1 y = -0,898x + 4,367 R² = 0,893 0,5 Log (N) 0 -0,5 0 2 4 6 8 6 8 -1 -1,5 -2 -2,5 Magnitude (SM) 108o に 109o BT dan 8o に 11o LS (b) 1 0,5 y = -0,858x + 4,206 R² = 0,952 Log (N) 0 -0,5 0 2 4 -1 -1,5 -2 -2,5 Magnitude (SM) 109o に 110o BT dan 8o に 11o LS (c) 1 0,5 y = -0,579x + 2,185 R² = 0,866 Log (N) 0 -0,5 0 2 4 6 8 -1 -1,5 -2 -2,5 Magnitude (SM) Gambar 21. Hubungan jumlah kejadian gempa dan magnitude gempa: (a) 107o – 108o BT dan 8o – 11o LS; (b) 108o – 109o BT dan 8o – 11o LS; (c) 109o – 110o BT dan 8o – 11o LS 70 Wilayah sebelah barat lepas pantai Pangandaran (107o – 108o BT dan 8o – 11o LS) memiliki angka dimensi fraktal sebesar 1,79. Nilai tersebut masih lebih besar apabila dibandingkan dengan angka dimensi fraktal untuk wilayah di bagian tengah (108o – 109o BT dan 8o – 11o LS) dan timur lepas pantai Pangandaran (109o – 110o BT dan 8o – 11o LS ) dimana nilainya masing-masing adalah 1,71 dan 1,15. Perairan sebelah barat lepas pantai Pangandaran memiliki angka dimensi fraktal paling besar. Keadaan ini menjelaskan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah paling aktif gempa dibandingkan wilayah kajian lainnya. Hal ini sesuai dengan tingginya kejadian gempa di wilayah tersebut. Intensitas kejadian gempa yang rendah berada di bagian timur lepas pantai Pangandaran. Rohadi (2006) menyatakan bahwa bagian wilayah dengan intensitas gempa yang rendah biasanya berkorelasi dengan tingkat stress yang tinggi. Hal ini berarti bahwa wilayah tersebut berpotensi lebih besar terjadi gempa bumi berkekuatan tinggi. Berdasarkan asumsi tersebut maka di sebelah timur lepas pantai Pangandaran pada saat ini tengah mengakumulasi energi tegangan akibat proses subduksi yang sewaktu-waktu akan dilepaskan berupa gempa bumi berkekuatan besar. 4.3. Hasil Pemodelan Tsunami 4.3.1 Skenario simulasi model Skenario simulasi pada pemodelan ini dilakukan dengan membuat sejumlah skenario yang dianggap paling sesuai dan paling mungkin terjadi. Pada penelitian ini dibangun empat buah skenario yang menjadi dasar dalam pemodelan tsunami. 71 Skenario pertama dibangkitkan oleh gempa bumi yang mengakibatkan tsunami di Pangandaran. Menurut Harvard CMT gempa tersebut memiliki kekuatan 7,7 SM atau 4,0 x 1027 dyne.cm. USGS menjelaskan posisi pusat gempa berada pada koordinat 9,295o LS dan 107,347o BT dengan kedalaman pusat gempa 6 km. Pusat gempa yang pernah terjadi pada tahun 2006 tersebut berada pada jarak 230 km dari arah utara Pulau Christmas, 235 km dari arah barat Tasikmalaya, 260 km dari arah selatan Bandung dan 355 km dari arah utara Jakarta (NEIC-USGS, 2006a). Skenario model ke-2 dibangun pada posisi episetrum gempa yang sama seperti pada skenario pertama. Besar gempa yang diterapkan pada skenario ke-2 adalah 8,5 SM. Pemilihan skenario ini dipilih sebagai pembanding pengaruh besarnya kekuatan gempa pada daerah/posisi pusat gempa yang sama. Posisi sumber tsunami untuk skenario ke-3 dan skenario ke-4 ditentukan berdasarkan analisis dari segi parameter seismik. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, diketahui bahwa wilayah sebelah timur dari pusat gempa Pangandaran memiliki frekuensi kegempaan yang lebih sepi dibandingkan dengan di wilayah sebelah baratnya. Berdasarkan hal tersebut, maka model sumber tsunami untuk skenario ke-3 dan skenario ke-4 posisi episentrumnya berada pada batas tersebut. Daerah ini digunakan sebagai sumber tsunami walaupun kejadian gempa relatif sepi. Menurut Natawidjaja (2007) daerah yang relatif sepi gempa bukan berarti daerah tersebut aseismik (tidak aktif), justru hal ini mengindikasikan bahwa wilayah tersebut sedang menimbun energi karena belum mengalami 72 pematahan. Pelepasan energi berupa gempa kuat disertai tsunami mendatang yang akan menerpa pesisir selatan Jawa berpotensi bersumber dari sini. Skenario ke-3 dibangkitkan oleh gempa bumi yang berada pada posisi 9,195o LS dan 108,500o BT. Pusat gempa tersebut memiliki jarak yang lebih dekat dengan Pangandaran yaitu sekitar 165 km dari arah selatan Pangandaran. Posisi episetrum pada skenario ke-4 posisinya lebih bergerak ke sebelah timur dari pusat gempa Pangandaran, yakni pada koordinat 10,280o LS dan 109,800o BT. Skenario ke-4 menggunakan parameter gempa Pancer. Hal ini untuk menyesuaikan arah tujaman (strike) dengan keadaan sebenarnya. Menurut Handayani dan Harjono (2008) semakin ke arah timur jalur konvergensi antara lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia, arah tujaman semakin menujam dengan arah normal. Secara ringkas parameter-parameter yang menjadi dasar model pembangkit tsunami disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Parameter masukan untuk masing-masing skenario yang dibangun (NEIC-USGS, 2009b) Parameter Gempa o Lintang ( ) o Bujur( ) Hiposentrum (km) o Strike ( ) Dip (o) o Slip ( ) Momen Magnitude (Mw) Momen Seismik (dyne.cm) Skenario Gempa 1 2 3 4 -9,295 -9,295 -9,195 -10,280 107,347 107,347 108,500 109,800 6,0 6,0 6,0 6,0 289,0 289,0 289,0 276,0 10,0 10,0 10,0 89,0 95,0 95,0 95,0 79,0 7,7 8,5 8,5 8,9 27 28 28 2,4 x 1029 4 x 10 7 x 10 7 x 10 Panjang Patahan (km) 82,0 214,0 214,0 314,0 Lebar Patahan (km) 41,0 107,0 107,0 157,0 2,4 6,2 6,2 8,8 Dislokasi/Defomasi (m) 73 4.3.2 Simulasi gelombang tsunami awal Besar gempa yang diterapkan pada skenario ke-1 adalah 7,7 SM. Berdasarkan kekuatan gempa tersebut maka dengan formula empiris Emile A. Okal diperoleh panjang patahan sejauh 82 km, lebar patahan 41 km dan dislokasi atau pergeseran bidang patahan (deformasi) sebesar 2,4 m. Hal yang hampir serupa disampaikan oleh NEIC-USGS (2006a), dalam laporannya menyatakan bahwa lokasi patahan penyebab tsunami Pangandaran yang berjarak sekitar 50 km dari palung Jawa memiliki luas patahan seluas 5.600 km2 (80 x 70 m) dan pergeseran total (dislokasi) yang terjadi dalam patahan ini mencapai 1,97 meter. Gempa sebesar 8,5 SM yang diterapkan pada skenario ke-2 menghasilkan panjang patahan sepanjang 214 km dengan lebar patahan 107 km dan dislokasi 6,2 m. Skenario model ke-3 dan ke- 4 dibangun dengan kekuatan gempa sebesar 8,5 SM dan 8,9 SM. Bidang patahan yang terbentuk untuk kasus pada skenario ke-3 karakteristiknya sama seperti pada kasus skenario ke-2. Hal ini disebabkan besar kekuatan gempa yang digunakan memiliki energi yang sama yaitu sebesar 8,5 SM. Bidang patahan untuk kasus skenario ke-4 memiliki magnitude paling besar dan ekstrim. Pada skenario ke-4 diperoleh panjang patahan sepanjang 314 km dengan lebar 157 km dan dislokasi sebesar 8,8 m. Deformasi patahan di dasar laut merupakan efek dari kekuatan gempa. Hal ini akan menjadikan medan gelombang tsunami awal atau disebut juga sebagai gelombang tsunami awal. Hasil simulasi menunjukan adanya perubahan ketinggian muka air positif dan negatif. Muka air yang bernilai negatif atau lembah gelombang menghadap ke daerah pantai selatan Jawa Barat, tepatnya tegak lurus terhadap pesisir Pangandaran. Gelombang negatif ini menurut 74 Slawson dan Savage (1979) mengindikasikan sebagai pemicu terjadinya surutnya air laut di pantai sebelum gelombang tsunami tiba. Keadaan ini telah terbukti ketika terjadi tsunami di Pangandaran pada tahun 2006. Berdasarkan kesaksian saksi mata, air laut mengalami surut sekitar 50 sampai dengan 100 meter sampai akhirnya tsunami datang di kawasan pantai. Hasil simulasi di daerah pembangkitan gelombang tsunami diperlihatkan oleh Gambar 22. (a) 7,7 SM (b) 8,5 SM (c) 8,5 SM (d) 8,9 SM Elevasi (m) Gambar 22. Ketinggian muka air laut awal sesaat setelah terjadi gempa di dasar laut : (a) Skenario ke-1; (b) Skenario ke-2; (c) Skenario ke-3; dan (d) Skenario ke-4 Besarnya pergerakan yang terjadi dan luas atau panjangnya zona patahan gempa sebanding dengan besar magnitude gempanya. Semakin besar kekuatan gempa maka semakin besar pula pergerakan dan luas wilayah patahannya. 75 Keadaan ini seperti dikemukan Latief (2007) yang menyatakan bahwa parameter kekuatan gempa akan menentukan bidang patahan seperti panjang patahan, lebar patahan dan dislokasi. Semakin besar kekuatan gempa maka semakin luas bidang patahan yang terbentuk, selain itu sumber tsunami juga semakin luas. Hasil simulasi di daerah pembangkit gelombang tsunami menunjukan perubahan ketinggian muka air positif dan negatif. Bila dilakukan pemotongan melintang pada daerah sumber pembangkit tsunami sebagaimana garis A – A’, dapat dilihat dengan jelas profil muka air laut di daerah pembangkit. Potongan melintang perubahan elevasi muka air laut ditunjukan pada Gambar 23. -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,1 -8,4 -8,7 -9 -9,3 -9,6 -9,9 -10,1 -10,4 -10,7 Elevasi (m) A-A' (Skenario 2) 6 4 2 0 -2 -4 -6 -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,2 -8,5 -8,8 -9,2 -9,5 -9,8 -10,1 -10,4 -10,7 Koordinat (oLS) Koordinat (oLS) a) 7,7 SM b) 8,5 SM Elevasi (m) -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,1 -8,4 -8,7 -9 -9,3 -9,6 -9,9 -10,1 -10,4 -10,7 Elevasi (m) A-A' (Skenario 3) 6 4 2 0 -2 -4 -6 Koordinat (oLS) c) 8,5 SM 6 4 2 0 -2 -4 -6 A-A' (Skenario 4) -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,1 -8,4 -8,7 -9 -9,3 -9,6 -9,9 -10,1 -10,4 -10,7 Elevasi (m) A-A' (Skenario 1) 6 4 2 0 -2 -4 -6 Koordinat (oLS) d) 8,9 SM Gambar 23. Potongan melintang elevasi muka air laut : (a) Skenario 1; (b) Skenario 2; (c) Skenario 3; dan (d) Skenario 4 Perubahan ketinggian muka air positif dan negatif pada skenario ke-1 adalah kurang dari 1 m. Pada kasus skenario ke-2 dan skenario ke-3 perubahan 76 muka air laut sekitar 3 m, sedangkan untuk kasus terburuk yang diterapkan pada skenario ke-4 perubahan muka air adalah sekitar 4 m. Keadaan ini menjelaskan bahwa patahan naik dengan bidang patahan yang panjang akan menyebabkan volume kosong yang lebih besar, kemudian akan segera diisi oleh massa air laut secara sporadis sehingga gerakan balik dari massa air laut ini akan menyebabkan tsunami. 4.3.3 Waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami Model penjalaran tsunami disimulasikan dengan hasil estimasi tinggi gelombang tsunami awal yang dibangkitkan oleh deformasi dasar laut akibat gempa tektonik. Simulasi ini dimulai dari sumber pembangkit hingga sampai sepanjang garis pantai yang terkena tsunami. Hasil simulasi berupa data matrik ketinggian muka air laut untuk setiap langkah waktu yang telah ditentukan besarannya. Simulasi yang diterapkan pada skenario pertama merupakan model penjalaran gelombang tsunami berdasarkan sejarah tsunami yang terjadi di Pangandaran. Kekuatan gempa dan posisi patahan yang disimulasikan sudah disesuaikan dengan kondisi pada waktu tsunami di Pangandaran. Gelombang tsunami yang dibangkitkan oleh deformasi dasar laut akibat gempa berkekuatan 7,7 SM menjalar dan sampai pertama kali di pesisir selatan Pangandaran (Tanjung Pangandaran) pada waktu ke-2600 detik (43 menit). Gelombang tsunami terus menjalar dan sampai di sisi sebelah barat (Teluk Parigi) serta sisi sebelah timur (Teluk Pangandaran) pada waktu ke-3080 detik (51 menit). Gelombang tsunami kemudian terrefleksikan sehingga gelombang muncul dari arah barat daya dan tenggara. Pada waktu ke-3360 detik (55 menit) 77 gelombang tsunami tiba di daratan pantai bagian barat Pangadaran (Desa Sukaresik dan Desa Cikembulan) dan daratan pantai timur Pangandaran (Desa Babakan). Hasil model penjalaran gelombang tsunami di wilayah pesisir Pangandaran (domain D) untuk skenario ke-1 diperlihatkan pada Gambar 24. 2600 detik 3080 detik 3360 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 24. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-1 Berdasarkan catatan sejarah yang dilaporkan oleh IOC-ITIC (2006) dalam Summary of Event Information Timeline : July 17, 2006 Java, Indonesia Earthquake and Tsunami disampaikan bahwa pada menit ke-55 setelah terjadinya gempa, tsunami datang pertama kali dari arah sebelah barat daya. Hal ini memiliki kemiripan dengan model penjalaran tsunami yang telah dibangun. 78 Gelombang tsunami sudah tiba di sepanjang pantai Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih pada waktu kurang dari satu jam. Gelombang tsunami ini merendam sebagian kecil kawasan di sepanjang pantai. Waktu yang dibutuhkan oleh gelombang tsunami tersebut menjalar dari pusat gempa ke pantai secara keseluruhan membutuhkan waktu kurang dari satu jam setelah terjadinya gempa. Berdasarkan skenario yang dibangun dengan kekuatan gempa lebih besar dan posisi episentrum yang sama, maka dapat dilihat pada skenario ke-2 gelombang tsunami membutuhkan waktu 2480 detik (41 menit) untuk tiba pertama kali di bagian selatan Pangandaran. Gelombang tsunami kemudian datang dari arah barat daya dan tiba di pantai sebelah barat Pangandaran tepatnya di Desa Sukaresi pada detik ke-2840 (47 menit). Pada detik ke-3160 (52 menit) gelombang tsunami tiba di pesisir Desa Cikembulan, Desa Wonoharjo dan Desa Babakan serta terus merambat dari bagian barat daya Teluk Parigi sampai bagian tenggara Teluk Pangandaran. Gelombang tsunami tiba di Desa Pananjung dan Desa Pangandaran pada detik ke-3240 (54 menit). Pada waktu ke-3600 detik (60 menit) gelombang tsunami sudah menerjang seluruh pantai di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih dan meredam lebih luas ke daratan disekitarnya. Pada skenario ke-2 ini waktu tempuh gelombang tsunami 2 – 3 menit lebih cepat dibandingkan gempa dengan kekuatan 7,7 SM. Keadaan ini menjelaskan bahwa pada posisi pusat gempa yang sama dengan kekuatan gempa yang berbeda, maka waktu tempuh gelombang tsunami mencapai ke pantai akan berbeda. Hal ini telah membuktikan bahwa semakin besar kekuatan gempa maka 79 waktu tempuh penjalaran tsunami untuk tiba di pantai akan semakin cepat. Semakin besar kekuatan gempa maka gelombang tsunami yang ditimbulkan akan semakin besar. Penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario ke-2 diperlihatkan pada Gambar 25. 2480 detik 2840 detik 3160 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 25. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-2 Model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus pada skenario ke-3 menggunakan posisi sumber gempa yang berjarak lebih dekat terhadap pantai selatan Pangandaran. Jarak sumber tsunami terhadap pantai sekitar 165 km. Hasil model penjalaran tsunami yang dibangun memperlihatkan bahwa gelombang tsunami tiba pertama kali di selatan Pangandaran pada detik ke-2320 (39 menit). 80 Pada detik ke-2720 (45 menit) gelombang tsunami tiba di bagian barat Desa Sukaresik dan di bagian timur Desa Babakan. Gelombang tsunami kemudian bergerak ke timur dan tiba di Desa Cikembulan, Desa Wonoharjo dan bagian barat Desa Babakan pada detik ke-2960 (49 menit). Gelombang tsunami tiba di Desa Pananjung dan Desa Pangandaran pada detik ke-3040 (50 menit). Pada detik ke3600 (60 menit) gelombang tsunami sudah menyebar keseluruh pantai di sepanjang garis pantai sebelah barat sampai ke timur. Model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario ke-3 ini dapat dilihat pada Gambar 26. 2320 detik 2720 detik 2960 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 26. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-3 Gelombang tsunami pada skenario ke-3 ini memiliki kecepatan 2 – 3 menit lebih cepat dibandingkan dengan gempa yang dibangkitkan pada skenario 81 ke-2. Keadaan ini disebabkan oleh posisi sumber gempa yang cenderung lebih dekat. Hal ini menjelaskan bahwa semakin dekat sumber gempa terhadap pantai maka waktu tempuh gelombang tsunami mencapai pantai akan semakin cepat. Berdasarkan hal tersebut maka daerah pantai yang mempunyai jarak yang semakin dekat dari sumber pembangkit tsunami akan menyebabkan daerah tersebut mempunyai tingkat kerawanan bahaya tsunami yang tinggi, keadaan sebaliknya terjadi apabila daerah pantai memiliki jarak yang jauh terhadap sumber tsunami. Penjalaran gelombang tsunami untuk kasus terburuk dibangun pada skenario ke-4. Kasus terburuk yang dibangun pada model ini adalah kasus tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 8,9 SM. Kekuatan gempa 8,9 SM merupakan kekuatan gempa yang pernah terjadi di Indonesia, gempa ini sekaligus merupakan peristiwa paling dasyat dan mengerikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Posisi pusat gempa pada skenario ke-4 berada di sebelah timur pusat gempa Pangandaran dengan jarak kurang lebih 310 km dari bagian selatan pantai Pangandaran. Skenario ini dibangun berdasarkan karakteristik gempa yang menimbulkan tsunami di Pancer (Banyuwangi) pada tahun 1994. Parameter sesar yang digunakan (dip, strike, slip) telah disesuaikan dengan keadaan sewaktu kejadian tsunami di Pancer, akan tetapi besarnya kekuatan gempa dan geomertri patahan dimodifikasi untuk mendapatkan keadaan yang lebih ekstrim. Penjalaran gelombang tsunami pada skenario ke-4 mengakibatkan gelombang tsunami menjalar dan mencapai bagian selatan Pangandaran pada waktu 2600 detik (43 menit). Gelombang tsunami kemudian tiba di bagian barat 82 Desa Sukaresik dan Bagian timur Desa Babakan pada detik ke-3000 (50 menit). Pada detik ke-3280 (55 menit) gelombang tsunami tiba di Desa Sukaresik, Wonoharjo dan bagian barat Desa Babakan. Satu jam setelah terjadi gempa, gelombang tsunami sudah menggenangi lebih jauh ke daratan. Model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario ke-4 disajikan pada Gambar 27. 2600 detik 3000 detik 3280 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 27. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-4 Hasil model dari tiap skenario yang telah dibangun memperlihatkan bahwa gelombang tsunami awal akibat gempa bumi akan menjalar keseluruh arah. Perbedaan kontur kedalaman mengakibatkan gelombang tsunami mengalami pembelokan arah dan tinggi gelombang (refraksi). Arah datangnya tsunami di 83 daerah studi pertama kali datang dari arah selatan. Gelombang tsunami kemudian memasuki Teluk Pangandaran dari sisi barat daya dan Teluk Parigi dari sisi tenggara. Ketika memasuki Teluk Pangandaran dan Teluk Parigi gelombang tsunami menjadi terkurung karena memasuki wilayah berteluk, kemudian gelombang tsunami terefleksikan. Hal ini menyebabkan arah gelombang tsunami menyebar dan datang dari arah barat dan selatan serta timur perairan Pangandaran. Pada umumnya daerah yang pertama kali terkena limpasan gelombang tsunami adalah Tanjung Pangandaran yang letaknya di bagian selatan. Hal ini disebabkan daerah tersebut merupakan daerah yang paling depan dan menjorok ke laut lepas. Daerah yang selanjutnya paling awal terkena gelombang tsunami adalah pesisir barat Pangandaran (Desa Sukaresik) serta pesisir timur Pangandaran (Desa Babakan). Hal ini disebabkan perairan yang berbatasan dengan daerah tersebut memiliki kedalaman yang lebih besar dengan kelerengan dasar yang lebih curam jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Menurut Yudhicara (2008) karakteristik kontur batimetri demikian mengakibatkan gelombang tsunami akan memiliki kecepatan lebih besar dan lebih dulu tiba di lokasi tersebut. 4.3.4 Limpasan gelombang tsunami (run-up) Limpasan gelombang tsunami yang dihasilkan dari pemodelan tsunami untuk kasus skenario ke-1 pada umumnya masih dalam skala yang tidak terlalu luas. Hasil analisis berdasarkan measure tool pada perangkat lunak ArcGIS diketahui jarak limpasan gelombang tsunami yang masuk ke daratan Pangandaran berkisar antara 100 – 200 m dari garis pantai. Jarak limpasan maksimum gelombang tsunami ke daratan mencapai 200 m, dimana berada di Desa 84 Cikembulan. Hal ini berkolerasi dengan energi gelombang tsunami yang dibangkitkan pada skenario ini lebih kecil (7,7 SM). Keadaan ini menyebabkan penetrasi gelombang tsunami tidak cukup kuat untuk masuk lebih jauh ke daratan. Peta area limpasan tsunami untuk kasus skenario ke-1 disajikan pada Gambar 28. Gambar 28. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-1 Berdasarkan model yang dibangun pada skenario ke-1 total luas area yang tergenang tsunami untuk Kecamatan Pangandaran mencapai 225,60 Ha sedangkan untuk Kecamatan Sidamulih mencapai 105,68 Ha. Desa yang paling luas terkena limpasan gelombang tsunami adalah Desa Pangandaran. Luas area limpasan di Desa Pangandaran adalah 115,34 Ha. Limpasan tsunami yang menggenangi Desa Pangandaran mencapai 16,78% dari luas total daratannya. Hal ini dikarenakan kondisi daratan dan kemiringan daratannya sangat rendah sehingga dengan demikian penetrasi gelombang tsunami lebih mudah masuk sampai ke daratan. Desa Wonoharjo merupakan desa yang memperoleh limpasan paling rendah yaitu 85 hanya 5,43% dari keseluruhan daratannya. Luas area limpasan gelombang tsunami untuk setiap desa di wilayah penelitian selengkapnya disajikan pada Tabel 12. Tabel 12. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-1 Luas Luas Persentase daratan limpasan limpasan No Kecamatan Desa (Ha) (Ha) (%) 1 Pangandaran Babakan 638,58 56,64 8,87 2 Pangandaran Pananjung 360,47 21,08 5,85 3 Pangandaran Pangandaran 687,22 115,34 16,78 4 Pangandaran Wonoharjo 599,54 32,54 5,43 5 Sidamulih Sukaresik 844,51 68,73 8,14 6 Sidamulih Cikembulan 495,03 36,95 7,46 Pada kejadian tsunami Pangandaran 2006, wilayah yang paling luas terkena limpasan tsunami adalah Desa Cikembulan dan Desa Pangandaran (Kongko et al., 2006). Hasil model yang telah dibangun memperlihatkan hal yang serupa dengan kejadian sebenarnya. Keadaan yang berbeda terlihat pada jarak limpasan tsunami ke daratan. Menurut hasil pengukuran lapang diketaui bahwa jarak limpasan tsunami ke daratan mencapai 300 – 500 m (Kongko et al., 2006). Hasil model pada umumnya menghasilkan jarak limpasan yang lebih kecil dari kejadian yang sebenarnya. Pebedaan tersebut disebabkan karena tsunami Pangandaran termasuk kedalam jenis Tsunami Earthquake atau beberapa ilmuwan menyebutnya Slow Earthquake. Gempa tersebut hampir tidak terasa getarannya, tetapi tsunami yang dihasilkan jauh lebih besar seperti dibangkitkan oleh gempa yang lebih besar dari kekuatan gempa yang terukur saat itu (Ginanjar, 2010). Berdasarkan wawancara penulis dengan penduduk, mulai dari kawasan Cikembulan sampai Pananjung banyak penduduk yang sama sekali tidak merasakan getaran gempa sebelum terjadinya tsunami di Pangandaran tahun 2006 lalu, sehingga banyak yang tidak menyangka akan terjadi tsunami. Menurut 86 Ginanjar (2010), Tsunami Earthquake atau Slow Earthquake memiliki karakteristik getaran gempa yang lambat (slow shaking) yang dapat menimbulkan tsunami. Sifat slow shaking ini memberikan respon terhadap dinamika air yang lebih besar daripada getaran yang cepat (fast shaking). Respon besar inilah yang dapat membangkitkan gelombang tsunami. Getaran yang lambat ini salah satunya dapat disebabkan oleh tebalnya sedimen di sekitar pusat gempa di laut yang memberikan efek lubrikasi ketika gempa terjadi. Selain hal yang disebutkan di atas, perbedaan jarak limpasan tsunami diakibatkan pula oleh adanya arrival time yang dihasilkan model hanya didasarkan atas waktu pacu model selama 3 jam. Hal ini disebabkan tidak adanya data historis tsunami yang mencatat tsunami run-down (surutnya kembali gelombang tsunami) ketika kejadian tsunami di Pangandaran. Pada dasarnya model tsunami Tohoku University yang digunakan pada penelitian ini memiliki akurasi yang baik. Hal ini telah dibuktikan dengan pengukuran data tide gauge oleh peneliti BMG yang kemudian dibandingkan dengan hasil model. Hasil penelitian tersebut menghasilkan akurasi yang mencapai +1 (100%) (Gunawan, 2007). Salah satu kelemahan model tsunami ini adalah belum mampu memperhitungkan model tsunami dengan tipe Tsunami Earthquake. Gempa berkekuatan lebih besar (8,5 SM) yang diterapkan pada skenario ke-2 menghasilkan jarak limpasan tsunami yang lebih luas dibandingkan gempa berkekuatan 7,7 SM pada posisi pusat gempa yang sama. Jarak limpasan gelombang tsunami yang masuk ke daratan Pangandaran pada umumnya berkisar antara 400 – 1000 m dari garis pantai. Jarak limpasan maksimum gelombang 87 tsunami mencapai daratan adalah 1550 m dari garis pantai, sedangkan jarak limpasan minimum gelombang tsunami adalah 400 m (Gambar 29). Daerah yang paling jauh terkena limpasan dan genangan gelombang tsunami adalah Desa Sukaresik dan Desa Babakan. Penetrasi gelombang tsunami terjauh di Desa Sukaresik mencapai 1000 m, sedangkan di Desa Babakan jarak limpasan terjauh gelombang tsunami adalah 1550 m. Dampak tsunami pada skenario ke-2 yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 8,5 SM menghasilkan area genangan yang lebih luas. Gambar 29. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-2 Total luas area yang tergenang gelombang tsunami di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih masing-masing adalah 907,34 Ha dan 452,45 Ha. Luas area genangan tsunami terbesar pada skenario ke-2 terletak di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran. Gelombang tsunami di desa ini menggenangi setengah dari total luas daratannya. Desa Babakan merupakan daerah pesisir yang berada di bagian sebelah timur. Berdasarkan model yang 88 dibangun, ketinggian tsunami di bagian timur Pangandaran sangat tinggi, sehingga penetrasi gelombang tsunami cukup kuat untuk masuk lebih jauh ke daratan. Desa Sukaresik dan Cikembulan yang berada di bagian barat Pangandaran mengalami hal serupa. Ketinggian tsunami di lokasi ini maksimum sehingga luas area genangan di kedua desa ini juga sangat besar. Daratan Desa Cikembulan tergenang gelombang tsunami dengan persentase 34,84% dari total luas daratannya. Keadaan ini menyebabkan Desa Cikembulan menjadi daerah yang paling luas terkena limpasan gelombang tsunami untuk Kecamatan Sidamulih. Informasi selengkapnya mengenai luas limpasan tsunami pada skenario ke-2 disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-2 Luas Luas Persentase No Kecamatan Desa daratan limpasan limpasan (Ha) (Ha) (%) 1 Pangandaran Babakan 638,58 363,15 56,87 2 Pangandaran Pananjung 360,47 108,20 30,02 3 Pangandaran Pangandaran 687,22 323,75 47,11 4 Pangandaran Wonoharjo 599,54 112,24 18,72 5 Sidamulih Sukaresik 844,51 279,97 33,15 6 Sidamulih Cikembulan 495,03 172,48 34,84 Penjalaran gelombang tsunami akibat gempa yang dibangun pada skenario ke-3 menjalar ke daerah pesisir yang lebih luas jika dibandingkan dengan dua skenario sebelumnya. Jarak limpasan gelombang tsunami yang masuk ke daratan Pangandaran pada umumnya berkisar antara 450 – 1000 m dari garis pantai. Jarak limpasan maksimum gelombang tsunami mencapai daratan adalah 1800 m dimana terjadi di Desa Babakan. 89 Daratan di Desa Pangandaran hampir seluruhnya terkena genangan akibat limpasan gelombang tsunami. Hal ini di sebebabkan karena topografi daratannya yang datar dan landai. Selain itu juga disebakan oleh adanya hempasan gelombang dari dua arah yang berbeda, yakni gelombang tsunami yang datang dari bagian barat dan timur. Kawasan selatan Pangandaran yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia mengalami limpasan yang tidak begitu luas karena faktor topografi wilayah tersebut yang berbukit. Kondisi daratan berbukit akan meminimalisir jangkauan tsunami ke daratan. Peta area limpasan tsunami untuk kasus skenario ke-3 disajikan pada Gambar 30. Gambar 30. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-3 Daerah yang paling luas terlanda gelombang tsunami untuk kasus pada skenario ke-3 masih sama seperti skenario-skenario sebelumnya yaitu Desa Babakan. Pada kasus skenario ke-3 yang dibangun oleh pusat gempa yang paling dekat dengan pantai mengakibatkan luas daerah genangan tsunami di Desa Babakan bertambah sebesar 95,14 Ha sehingga total luas genangannya menjadi 90 458,9 Ha. Keadaan yang serupa terjadi di desa-desa yang lainnya, seluruhnya mengalami peningkatan luas area genangan. Hal tersebut menggambarkan bahwa faktor jarak sumber gempa terhadap daratan sangat mempengaruhi besarnya tsunami yang dihasilkan. Informasi luasan limpasan gelombang tsunami untuk skenario ke-3 dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-3 Luas Luas Persentase No Kecamatan Desa daratan limpasan limpasan (Ha) (Ha) (%) 1 Pangandaran Babakan 638,58 458,29 71,77 2 Pangandaran Pananjung 360,47 139,13 38,60 3 Pangandaran Pangandaran 687,22 343,88 50,04 4 Pangandaran Wonoharjo 599,54 158,56 26,45 5 Sidamulih Sukaresik 844,51 327,65 38,80 6 Sidamulih Cikembulan 495,03 215,65 43,56 Penjalaran gelombang tsunami akibat gempa berkekuatan 8,9 SM mampu menggenangi kawasan pesisir Pangandaran sampai beratus-ratus meter jauhnya dari garis pantai. Keadaan ini mengindikasikan bahwa gelombang tsunami yang yang dibangkitkan oleh kekuatan lebih besar akan lebih jauh menjalar sampai daratan pesisir yang lebih luas. Jarak limpasan gelombang tsunami terjauh pada skenario ke-4 adalah 2550 m. Daerah yang terlanda dengan jarak jangkauan tsunami tersebut adalah Desa Cikembulan dan Desa Babakan. Pada umumnya jarak limpasan gelombang tsunami ke daratan mencapai 1500 m di sepanjang wilayah yang dimodelkan. Beberapa daerah seperti Desa Pangandaran, Pananjung dan Babakan merupakan desa-desa yang hampir seluruh daratannya tergenang gelombang tsunami. Peta area genangan tsunami untuk kasus skenario ke-4 disajikan pada Gambar 31. 91 Gambar 31. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-4 Total luas area genangan tsunami untuk Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih pada skenario ini masing-masing seluas 1.690,04 Ha dan 883,48 Ha (Tabel 14). Jangkauan limpasan tsunami yang dibangkitkan gempa berkekuatan 8,9 SM ini meluas hingga ke beberapa desa. Beberapa desa yang sebelumnya tidak terkena limpasan tsunami seperti Desa Pejanten, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip pada skenario ini daerah-daerah tersebut ikut terkena dampak limpasan gelombang tsunami. Desa Babakan dan Desa Pananjung merupakan daerah yang paling luas terkena limpasan tsunami yaitu sekitar 94,56% dari total luas daratan Desa Babakan dan 96,17% dari total luas daratan Desa Pananjung. Kedua Desa ini hampir seluruh daratannya tergenang gelombang tsunami. Hal yang serupa dialami pada Desa Pangandaran, daratan yang menghubungkan daratan pulau jawa dengan tanjung Pangandaran (tanah genting) seluruhnya tergenang gelombang tsunami. 92 Pada umumnya desa-desa yang langsung berbatasan dengan laut hampir seluruhnya terkena limpasan gelombang tsunami yang paling tinggi. Desa-desa yang tidak berbatasan secara langsung dengan laut seperti Desa Pejanten, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip terkena limpasan dalam skala kecil. Informasi selengkapanya disajikan pada Tabel 15. Tabel 15. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Pangandaran Pangandaran Pangandaran Pangandaran Pangandaran Pangandaran Sidamulih Sidamulih Sidamulih Desa Babakan Pananjung Pangandaran Purbahayu Sukahurip Wonoharjo Cikembulan Pejanten Sukaresik Luas daratan (Ha) 638,58 360,47 687,22 1.012,32 1.433,05 599,54 495,03 606,73 1.433,05 Luas Persentase limpasan limpasan (Ha) (%) 603,82 94,56 346,66 96,17 375,20 54,60 4,77 0,47 11,25 0,79 348,34 58,10 396,80 80,16 52,70 8,69 433,98 30,29 Setiap wilayah memiliki jarak jangkauan dan luas genangan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan di masing-masing wilayah tersebut serta besarnya kekuatan gempa yang menjadi sumber tsunami. Jika kerentanan lingkunganya tinggi, maka akan mudah untuk terpapar tsunami sehingga risikonya akan lebih besar. Desa-desa yang berada di sepanjang pantai dan pesisir Kecamatan Pangandaran serta Kecamatan Sidamulih pada umumnya didominasi oleh topografi dan kemiringan daratan yang rendah dan landai, dengan keadaan morfologi seperti itu maka jelas daerah-daerah tersebut terkena dampak yang paling parah dibandingkan daerahdaerah yang lainnya. 93 4.3.5 Ketinggian rendaman tsunami (Flowdepth) Klasifikasi kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) dibangun untuk melihat tingkat bahayanya. Pada kasus skenario ke-1 ketinggian rendaman tsunami berkisar antara 0,5 – 2,7 m. Ketinggian rendaman tsunami cenderung lebih besar di daerah yang berbatasan langsung dengan laut. Keadaan ini dikarenakan daerah tersebut mengalami dampak gelombang tsunami secara langsung. Berdasarkan hasil klasifikasi tingkat kerawanan terhadap ketinggian rendaman tsunami diketahui bahwa ketinggian rendaman tsunami pada skenario ke-1 menghasilkan tingkat kerawanan tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Peta kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 7,7 SM disajikan pada Gambar 32. Gambar 32. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-1 Daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi berada di sepanjang pantai Kecamatan Sidamuli dan Kecamatan Pangandaran. Pada umumnya sebagian besar 94 tinggi rendaman tsunami yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 7,7 SM tergolong sangat rendah, dimana ketinggian rendamanya rata-rata lebih kecil dari 0,5 m. Hal ini dapat diketahui dari luasan rendaman tsunami dengan kelas ketinggian rendaman 0 – 0,5 m memiliki luas area yang paling besar (Tabel 16). Keadaan ini menandakan bahwa tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 7,7 SM tidak begitu membahayakan, dengan kata lain tingkat kerawanan pantai sangat rendah sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap kerusakan di wilayah pesisir Pangandaran. Secara lengkap mengenai luasan kelas ketinggian rendaman tsunami untuk setiap desa di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih disajikan pada Tabel 16. Tabel 16. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-1 Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) Nama Desa 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 2,7 m > 2,7 m Babakan 38,62 18,02 0 0 0 Pananjung 14,97 6,11 0 0 0 Pangandaran 53,40 57,32 3,68 0,94 0 Wonoharjo 20,11 12,43 0 0 Sukaresik 41,10 27,63 0 0 0 Cikembulan 21,87 15,08 0 0 0 Total 190,07 136,59 3,68 0,94 0 Hasil model yang dibangun pada skenario ke-2 menghasilkan ketinggian rendaman tsunami yang lebih besar dibandingkan skenario sebelumnya. Pada kasus skenario ke-1 ketinggian rendaman tsunami berkisar antara 0,5 – 7 m. Ketinggian rendaman tsunami cenderung maksimum pada jarak 100 m dari garis pantai menuju daratan (Gambar 33). Ketinggian rendaman tsunami semakin menurun seiring semakin jauh dari garis pantai menuju daratan. Keadaan ini disebabkan keadaan topografi daratan yang semakin meningkat. 95 Pada umumnya sebagian besar tinggi rendaman tsunami untuk kasus tsunami pada skenario ke-2 didominasi oleh kelas ketinggian redaman 2,5 – 5 m. Luasan rendaman tsunami dengan kelas ketinggian rendaman 2,5 – 5 m mencapai 452,82 Ha. Hal ini mengindikasikan bahwa besarnya ketinggian rendaman tsunami tergolong tinggi. Keadaan ini mengakibatkan wilayah pesisir Pangandaran memiliki tingkat kerawanan yang tinggi apabila terjadi tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 8,5 SM. Kelas kerawanan tinggi merupakan daerah yang berisiko tinggi terhadap tsunami dan menjadi zona berbahaya untuk dijadikan kawasan permukiman ataupun aktivitas kependudukan. Gambar 33. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-2 Desa Pangandaran dan Desa Sukaresik merupakan daerah yang paling luas digenangi tsunami dengan kelas ketinggian rendaman 2,5 – 5 m, sehingga kedua desa ini tergolong memiliki tingkat kerawanan tinggi. Ketinggian limpasan 96 tsunami untuk daerah di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih dominan digenangi tsunami dengan ketinggian 2,5 – 5 m, sedangkan ketinggian genangan tsunami > 5 m (tingkat kerawanan tsunami sangat tinggi) paling sedikit menggenangi lokasi kajian (Tabel 17). Tabel 17. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-2 Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) Nama Desa 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 5 m >5m Babakan 52,35 120,56 90,57 99,42 0,25 Pananjung 20,61 43,73 25,93 17,93 0 Pangandaran 13,85 51,09 69,76 138,28 50,77 Wonoharjo 19,70 27,59 34,56 30,39 0 Sukaresik 35,69 76,50 48,87 105,32 13,59 Cikembulan 25,53 40,75 44,10 61,48 0,62 Total 167,73 360,22 313,79 452,82 65,23 Hasil analisis dari model yang dibangun pada skenario ke-3 memperlihatkan ketinggian rendaman tsunami di setiap daerah mengalami peningkatan. Pada umumnya desa-desa di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih paling luas tergenangi gelombang tsunami dengan ketinggian 2,5 – 5 m. Hal ini menjadikan wilayah tersebut terggolong kedalam kelas yang memiliki kerawanan yang tinggi terhadap bencana tsunami. Pada umumnya daerah yang digenangi tsunami dengan ketinggian paling tinggi berada di sepanjang pantai Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran. Semakin jauh dari arah pantai ketinggian rendaman tsunami berangsur-angsur mengalami penurunan. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami untuk skenario ke-3 diperihatkan pada Gambar 34. Desa Pangandaran merupakan daerah yang paling luas tergenang gelombang tsunami dengan ketinggian 2,5 – 5 m. Luas area di daerah tersebut yang digenangi dengan ketinggian 2,5 – 5 m mencapai 156,56 Ha. Selain itu Desa 97 Pangandaran digenangi tsunami dengan ketinggian lebih besar dari 5 m, dimana luasnya mencapai 118,39 Ha. Keadaan ini menjadikan Desa Pangandaran memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi mengingat daerah tersebut memiliki populasi yang tinggi. Gambar 34. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-3 Hasil analisis terhadap ketinggian genangan tsunami memperlihatkan kelas yang memiliki tingkat kerawanan sangat tinggi memiliki cakupan yang lebih luas. Tempat kedua yang memiliki cakupan paling luas adalah tingkat kerawanan sedang, disusul tingkat kerawanan rendah dan terakhir adalah tingkat kerawanan sangat tinggi dan sangat rendah. Tsunami yang diakibat gempa berkekuatan 8,5 SM dan memiliki episentrum paling dekat dengan daratan mengakibatkan wilayah di Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran tergolong kedalam kelas dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Informasi mengenai luasan kelas 98 ketinggian rendaman tsunami untuk setiap desa di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih secara lengkap disajikan pada Tabel 18. Tabel 18. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-3 Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) Nama Desa 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 5 m >5m Babakan 60,57 99,26 133,85 147,06 17,55 Pananjung 17,02 40,04 40,05 42,02 0 Pangandaran 8,79 21,67 38,47 156,56 118,39 Wonoharjo 23,02 47,05 31,08 55,92 1,49 Sukaresik 32,13 69,02 71,76 109,39 45,35 Cikembulan 25,92 53,46 44,33 81,77 10,17 Total 167,45 330,50 359,72 592,72 192,95 Prediksi tsunami yang dibangkitkkan oleh gempa yang berkekuatan 8,9 SM menunjukan tingkat kerawanan yang jauh lebih besar. Dapat dilihat bahwa daerah berwarna merah yang menunjukan daerak dengan tingkat kerawanan sangat tinggi meluas dari skenario-skenario sebelumnya. Semakin tinggi dan luas rendaman tsunami di daratan, maka tingkat kerentanan terhadap bahaya tsunami semakin besar. Semakin besar tingkat kerentanan, maka semakin besar risikonya dan sebaliknya. Terjadinya bencana tsunami akibat gempa tersebut menjadikan kawasan di Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi. Luas limpasan tsunami tertinggi yang dibangun pada skenario ke-4 berada pada kelas ketinggian rendaman tsunami lebih besar dari 5 m. Tempat kedua berada pada kelas ketinggian rendaman tsunami 2,5 – 5 m, sedangkan luas limpasan tsunami paling rendah berada pada kelas ketinggian redaman tsunami kurang dari 0,5 m. Besarnya kekuatan gempa yang menjadi sumber tsunami mempengaruhi ketinggian rendaman tsunami di daratan. Kelas ketinggian rendaman tsunami di wilayah kajian untuk skenario ini disajikan pada Gambar 35. 99 Gambar 35. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-4 Mengacu pada Tabel 18 diketahui bahwa daerah di Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran secara umum memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi apabila terjadi tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 8,9 SM. Desa yang tergolong memiliki tingkat kerawanan sangat tinggi terbesar berada di Desa Pangandaran, Desa Babakan, Desa Cikembulan dan Desa Sukaresik. Pada umumnya daerah yang memiliki tingkat kerawanan sangat tinggi berada pada jarak 500 m dari arah pantai sedangkan daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi berada pada jarak 100 m dari arah pantai. Secara keseluruhan, tsunami yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 8,9 SM akan mengakibatkan kerawanan yang sangat tinggi untuk daerah-daerah yang berada di sekitar pantai dan pesisir Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran. Luas kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 ini secara lengkap disajikan pada Tabel 19. 100 Tabel 19. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 Nama Desa Babakan Pananjung Pangandaran Purbahayu Sukahurip Wonoharjo Cikembulan Pejanten Sukaresik Total 4.4. Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 5 m >5m 8,68 30,35 56,30 229,00 279,49 15,82 52,97 73,43 126,88 77,56 6,93 9,72 8,89 39,84 309,82 1,66 2,78 0,33 0 0 4,04 7,01 0,20 0 0 45,36 58,98 62,81 120,66 60,53 14,43 30,67 54,27 170,90 126,53 25,55 26,03 1,12 0 0 22,75 60,15 73,60 145,05 132,43 145,22 278,66 330,95 832,33 986,36 Integrasi (Overlay) Morfologi Pantai dengan Model Tsunami Topografi yang relatif rendah merupakan wilayah dengan kelas kerentanan yang sangat tinggi. Hal ini akan lebih berpotensi untuk digenangi tsunami dalam skala luas di bandingkan daerah yang memiliki topografi lebih tinggi. Rendahnya topografi daratan mempengaruhi seberapa luas masuknya tsunami ke daratan. Keadaan ini telah terbukti, dimana berdasarkan hasil pemodelan diketahui daerah limpasan tsunami paling luas berada di daerah yang bertopografi rendah. Hasil overlay elevasi daratan (topografi) dengan model limpasan tsunami menunjukan bahwa pengaruh topografi terhadap luasan limpasan tsunami dapat dilihat pada Tabel 20. Berdasarkan Tabel 20, diketahui model yang dibangun baik pada skenario ke-1 sampai skenario ke-4 menunjukan kelas ketinggian daratan kurang dari 10 m adalah kelas yang paling banyak terkena limpasan gelombang tsunami. Topografi rendah memberikan limpasan tsunami dengan mudah sehingga mencapai ratusan meter. Hal ini menunjukan bahwa daerah yang memiliki topografi yang relatif rendah lebih berpotensi untuk digenangi tsunami lebih luas dibandingkan daerah 101 yang memiliki topografi lebih tinggi. Kelas elevasi daratan lebih besar dari 50 m sama sekali tidak terkena limpasan gelombang tsunami. Hal tersebut mengindikasikan bahwa daerah yang memiliki elevasi daratan lebih besar dari 50 m merupakan kawasan yang aman dari terjangan gelombang tsunami. Tabel 20. Luas area limpasan tsunami pada kelas elevasi daratan (topografi) Luas area limpasan tsunami (Ha) Kelas elevasi (m) Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 < 10 331,28 1.329,64 1.580,00 2.488,83 10 – 25 0 30,15 61,66 82,57 25 – 50 0 0 1,50 2,12 50 – 100 0 0 0 0 > 100 0 0 0 0 Total 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 Hasil overlay antara kemiringan daratan dengan model limpasan tsunami menghasilkan informasi bahwa limpasan tsunami terluas berada pada kelas kemiringan daratan kurang dari 2%. Luas limpasan tsunami terluas kedua berada pada kelas kemiringan daratan 2 – 10 % (Tabel 21). Hal tersebut membuktikan bahwa limpasan gelombang tsunami akan lebih luas merendam daratan pada daerah dengan kemiringan landai atau datar. Daerah tersebut akan berpotensi mengalami genangan gelombang tsunami lebih jauh ke arah darat. Pada pantai yang terjal atau curam, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai (Oktariadi, 2009b). Tabel 21. Luas area limpasan tsunami pada kelas kemiringan daratan (slope) Luas area limpasan tsunami (Ha) Kelas slope (%) Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 40 0 0 0 0 Total 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 102 Tabel 22 menyajikan luasan limpasan gelombang tsunami pada kelas jarak dari pantai. Berdasarkan tabel tersebut diketahui daerah yang berada dalam jarak 500 meter merupakan daerah yang paling luas terkena limpasan gelombang tsunami. Daerah yang semakin dekat dengan pantai merupakan daerah yang paling rentan dan begitu pula sebaliknya. Daerah yang terdekat dengan pantai akan mendapatkan dampak secara langsung dari gelombang tsunami. Hasil pemodelan yang dibangun dengan skenario paling ekstrim menghasilkan jarak limpasan tsunami di Pangandaran sejauh ± 3000 m. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah yang berda dalam jarak kurang dari 3000 m dari garis pantai merupakan daerah yang masih mendapat pengaruh dari limpasan gelombang tsunami. Daerah yang aman merupakan daerah yang terletak dalam jarak lebih dari 3000 m dari garis pantai. Tabel 22. Luas area limpasan tsunami pada kelas jarak dari garis pantai Kelas jarak Luas area limpasan tsunami (Ha) dari pantai Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 (m) 500 390,24 1.044,34 1.018,55 1.520,09 500 – 1000 0 227,37 450,26 550,26 1000 – 1500 0 53,34 166,46 168,45 1500 – 3000 0 1,08 7,89 334,72 > 3000 0 0 0 0 Total 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 Dampak yang ditimbulkan oleh bencana tsunami terhadap masing-masih penggunaan lahan tidak sama. Hal ini karena masing-masing jenis penggunaan lahan memiliki tingkat reduksi tertentu saat terkena gelombang tsunami. Tabel 23 menunjukan hubungan kelas penggunaan lahan yang terkena limpasan tsunami dengan kelas luasan genangan tsunami. Kelas permukiman menjadi kelas pertama dalam penentuan area rawan tsunami. Hal ini disebabkan karena area permukiman 103 merupakan lahan yang paling penting dan akan menjadi rawan tsunami apabila area tersebut terkena tsunami. Tabel 23. Luas area limpasan tsunami pada kelas penggunaan lahan Jenis penggunaan lahan Danau Empang/Tambak Ladang/Teggalan Lahan kosong Perkebunan Permukiman Sawah Semak belukar Vegetasi darat Total Luas area limpasan tsunami (Ha) Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 0 0 0 2,78 0 15,57 30,17 85,73 0 10,80 12,14 23,48 50,89 103,06 142,84 212,31 16,80 212,51 259,09 344,12 85,60 376,55 466,98 713,23 0 51,2 101,85 230,77 110,20 286,62 315,54 350,92 62,93 298,40 303,69 605,32 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 Kelas penggunaan lahan yang paling luas terkena gelombang tsunami adalah kelas permukiman. Luas genangan tsunami terhadap permukiman untuk kasus skenario ke-1 sampai skenario ke-4 berturut-turut luasnya adalah 85,60 Ha, 376,55 Ha, 466,98 Ha dan 713,23 Ha. Keadaan ini mengindikasikan bahwa permukiman yang berada di wilayah Pangandaran sangat rawan dan rentan terkena hempasan gelombang tsunami. Jenis penggunaan lahan yang sangat vital terkena limpasan gelombang tsunami selain permukiman adalah empang/tambak dan sawah. Hal ini mengingat kedua jenis penggunaan lahan tersebut memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Pada dasarnya empang/tambak dan sawah merupakan bagian dari aset dan aktivitas penduduk di wilayah Pangandaran dalam menunjang kehidupan penduduk sekitar sehingga apabila kedua jenis penggunaan lahan ini terkena tsunami akan sangat merugikan. Kebun atau perkebunan di wilayah Pangandaran juga tak lepas dari limpasan gelombang tsunami. Hal ini menunjukan bahwa 104 perkebunan di wilayah pangandaran berada di area yang memiliki topografi yang rendah. Pada umumnya perkebunan di wilayah Pangandaran di dominasi oleh perkebunan kelapa. 4.5. Indeks Kerentanan Pantai Akibat Bencana Tsunami Klasifikasi tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami membagi daerah menjadi lima kelas berdasakan tingkat kerentanan pantainya. Klasifikasi tersebut terdiri dari kelas kerentanan sangat rendah, kelas kerentanan rendah, kelas kerentanan sedang, kelas kerentanan tinggi dan kelas kerentanan sangat tinggi. Kelas kerentanan sangat rendah dan kelas kerentanan rendah dominan berada di bagian utara Pangandaran. Kedua kelas ini juga ditemukan berada di bagian selatan Pangandaran tepatnya di bagian Tanjung Pangandaran (Cagar Alam). Kelas kerentanan sedang dominan berada di bagian tengah wilayah penelitian. Zona ini berada pada jarak 3000 m dari garis pantai. Kelas kerentanan tinggi dan kelas kerentanan sangat tinggi umumnya berada di wilayah selatan Pangandaran. Zona ini berbatasan langsung dengan laut dimana jarak daratan sangat dekat dengan laut. Hal tersebut berdampak pada pengaruh langsung terhadap gelombang tsunami. Gradasi warna merah menunjukan daerah-daerah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi dan sangat tinggi, sedangkan gradasi warna jingga menjelaskan zona kerentanan sedang, rendah dan sangat rendah. Zona kerentanan sangat tinggi merupakan daerah yang berpotensi paling besar dalam hal kerusakan atau kehancuran aset yang ditimbulkan apabila terlanda tsunami serta memiliki ancaman teradap risiko keselamatan penduduk yang lebih parah. Karakteristik 105 pantai dan pesisir di zona ini di tandai oleh dataran rendah yang landai dengan jarak dari pantai yang sangat dekat, berbatasan dengan sungai-sungai besar yang dekat dengan muaranya, selain itu ditambah dengan bentuk penggunaan lahan berupa permukiman dengan penduduk yang cukup padat. Sebaran spasial klasifikasi tingkat kerentanan wilayah Pangandaran diperlihatkan pada Gambar 36. Gambar 36. Sebaran spasial tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami di Pangandaran Zona kerentanan tinggi dan sangat tinggi umumnya berbatasan langsung dengan laut. Kedua kelas tersebut tergolong zona berbahaya terhadap limpasan gelombang tsunami. Zona kerentanan tinggi dan sangat tinggi pada umumnya berada pada jarak 1000 m dari garis pantai kecuali di bagian Tanjung Pangandaran. Wilayah Tanjung Pangandaran berbatasan secara langsung dengan laut dan berada dalam raidius 1000 m dari garis pantai, akan tetapi tingkat kerentanan di wilayah tersebut di dominasi oleh kelas kerentanan sangat rendah 106 dan kelas kerentanan rendah. Keadaan ini disebabkan morfologi wilayahnya yang betopogafi tinggi dengan slope yang besar dan tipe penggunaan lahan berupa vegetasi darat (hutan). Zona kerentanan sangat rendah merupakan daerah daerah paling aman atau sangat tahan terhadap bencana tsunami. Zona kerentanan sangat rendah ditandai oleh dataran tinggi atau berbukit dimana memiliki jarak yang paling jauh dari garis pantai serta tipe penggunaan lahan tidak banyak melibatkan manusia seperti lahan kosong, semak belukar dan vegetasi darat/hutan berada pada daerah yang aman. Desa Babakan, Desa Pangandaran dan Desa Cikembulan merupakan wilayah yang di dominasi oleh kelas kerentanan sangat tinggi. Wilayah-wilayah tersebut digolongkan sebagai wilayah yang paling berbahaya terhadap limpasan gelombang tsunami. Bentuk morfologi daerah pantai dan pesisirnya memberikan pengaruh yang tinggi terhadap risiko bencana sunami. Hal ini akan berdampak pada tingkat kerusakan yang lebih tinggi di wilayah-wilayah tersebut (Zona Bahaya Tsunami I). Desa Sukaresik dan Desa Pananjung di dominasi oleh tingkat kerentanan tinggi. Desa-desa ini menjadi daerah dengan peringkat kedua yang memiliki risiko kerusakan tertinggi (Zona Bahaya Tsunami II). Desa Wonoharjo di dominasi oleh tingkat kerentanan sedang sehingga Desa Wonoharjo digolongkan kedalam Zona Bahaya Tsunami III. Wilayah yang letaknya tidak berbatasan langsung dengan laut cenderung memiliki kerentanan yang rendah dan sangat rendah. Desa-desa yang tergolong dalam kelas tersebut antara lain Desa Cikalong, Sidamulih, Pejanten, Sidomulyo, Purbahayu, Sukahurip. Daerah ini berada dalam jangkauan lebih dari 3000 m dari garis pantai, sehingga penetrasi 107 gelombang tsunami tidak cukup kuat untuk masuk kedaratan sejauh itu (Gambar 36). Topografi di daerah tersebut juga memberikan pengaruh teradap penjalaran gelombang tsunami, topografi di daerah ini cenderung lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa terjal dan landainya morfologi pantai akan mempengaruhi jangkauan tsunami yang menghempasnya. Luas masing-masing kelas kerentanan di setiap wilayah disajikan pada Tabel 24. Tabel 24. Luas tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami di setiap desa Luas area tingkat kerentanan (Ha) Nama Desa Sangat Sangat Tinggi Sedang Rendah tinggi rendah Babakan 335,55 284,39 45,38 12,93 0 Cikalong 0 0 59,65 276,18 4,05 Cikembulan 227,22 135,67 104,34 155,59 0 Pananjung 106,13 203,36 50,92 10,61 0 Pangandaran 203,11 133,19 36,23 166,58 299,31 Pejanten 0 7,60 134,64 484,45 3,57 Purbahayu 0 0,33 60,10 296,03 200,76 Sidamulih 0 0 0 0,53 10,40 Sidomulyo 0 0 81,84 246,51 13,34 Sukahurip 0 2,60 14,25 190,22 201,70 Sukaresik 174,62 243,00 178,09 226,68 0 Wonoharjo 114,72 183,42 252,05 58,92 0 Total 1.161,35 1.193,56 1.017,49 2.125,23 733,15 Secara keluruhan, Desa Pangandaran yang terletak di bagian daratan yang menghubungkan daratan pulau jawa dengan tanjung Pangandaran (tanah genting) di tempatkan sebagai zona yang paling berbahaya karena merupakan daerah dengan permukiman terpadat. Sebaran dan kepadatan permukiman menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi risiko bencana tsunami yang akan terjadi. Permukiman penduduk menggambarkan tingkat kepadatan penduduk dan sebaran tempat hunian yang akan mempengaruhi tingkat keugian jiwa maupun harta benda. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pesisir Pangandaran merupakan wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya tsunami. Selain dekat dengan zona subduksi yang merupakan zona sumber tsunami, wilayah pesisir Pangandaran memiliki karakteristik pantai yang sangat rentan terhadap limpasan gelombang tsunami. Pada umumnya faktor kerentanan yang dimiliki antara lain kondisi topografi rendah dan landai yang luas dan membentang dalam jarak 1500 m dari garis pantai, jenis penggunaan lahan berupa permukiman dominan berada dekat dengan laut serta berada diantara sungai-sungai besar (Sungai Ciambulungan, Sungai Cikidang dan Sungai Citonjong). Hasil model penjalaran gelombang tsunami memperlihatkan bahwa waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami untuk mencapai daratan Pangandaran memerlukan waktu kurang dari satu jam setelah terjadinya gempa. Semakin dekat sumber gempa terhadap daratan maka waktu tempuh gelombang tsunami semakin cepat, selain itu semakin besar kekuatan gempa maka tsunami yang dihasilkan semakin besar. Hasil model limpasan (run-up) gelombang tsunami memperlihatkan bahwa setiap wilayah memiliki luas limpasan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Pada umunya desa-desa yang berada di sepanjang pesisir Kecamatan Pangandaran bagian selatan (Babakan, Pangandaran, Pananjung dan Wonoharjo) serta pesisir Kecamatan Sidamulih bagian selatan (Cikembulan dan Sukaresik) terkena dampak yang paling parah dibandingkan daerah-daerah yang lainnya. Hal ini disebabkan keadaan topografi dan kemiringan daratannya rendah dan landai. 108 109 Berdasarkan analisis kerentanan pantai akibat bencana tsunami diketahui zona kerentanan sangat tinggi mencakup Desa Babakan, Desa Pangandaran dan Desa Cikembulan. Zona kerentanan tinggi meliputi Desa Sukaresik dan Desa Pananjung. Zona kerentanan sedang berada di Desa Wonoharjo. Zona kerentanan rendah dan sangat rendah berada cukup jauh dari garis pantai, dimana wilayahnya tidak berbatasan langsung dengan laut. Zona ini meliputi Desa Cikalong, Desa Sidamulih, Desa Pejanten, Desa Sidomulyo, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip. Secara keluruhan, Desa Pangandaran yang terletak di bagian daratan yang menghubungkan daratan pulau jawa dengan tanjung Pangandaran (tanah genting) di tempatkan sebagai zona yang paling berbahaya. Hal ini disebabkan karena karakteristik daerah tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap kerentanan bahaya tsunami mulai dari daerah dengan permukiman terpadat, daera yang sangat dekat dengan laut dan kondisi topografinya rendah dan landai. 5. 2 Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemodelan tsunami dengan multi skenario sehingga dapat memberikan data yang lebih akurat dalam menentukan tingkat kerentanan terhadap bencana tsunami. Selain itu pada dasarnya kajian ini merupakan studi yang sifatnya umum dan asumsi-asumsi yang digunakan masih bersifat umum sehingga sangat membatasi keakuratan hasil studi. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan banyak variabel yang berpengaruh terhadap penjalaran dan limpasan gelombang tsunami. INDEKS KERENTANAN PANTAI PANGANDARAN AKIBAT BENCANA TSUNAMI SEANDY FIRMANSYAH SKRIPSI DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul: INDEKS KERENTANAN PANTAI PANGANDARAN AKIBAT BENCANA TSUNAMI adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir Skripsi ini. Bogor, Februari 2012 SEANDY FIRMANSYAH C054070051 ABSTRACT SEANDY FIRMANSYAH. Pangandaran Beach Vulnerability Index Due to Tsunami Disaster Impact. Guided by MULIA PURBA and VELLY ASVALIANTINA. In year 2006 an earthquake took place in coast of southern West Java, which was followed by a tsunami attacking the coast of Pangandaran. Pangandaran is one of the most probable are which can be attack by huge tsunami wave. The similar phenomenon can happen in the coasts of other southern part of West Java Province include Pangandaran, so it needs the awareness in order to minimize the tsunami risk. The purposes of this research are to discus determine the vulnerability index coast of o Pangandaran due to tsunami disaster impact. Boundary location of research in 7,75 S – 7,65oS and 108,55oE– 108,70oE. These research cover identifying characteristics coast of Pangandaran, seismic identification, tsunami modeling, and determination the vulnerability index. Seismic identification is determined by fractal method, tsunami numerical modeling is done through Imamura (1994) by wearing a long wave hydrodynamics mathematical equations, while determining the vulnerability index is determined by the method of Cell Based Modelling (CBM). The Pangandaran coasts have five zone of tsunami vulnerability, i.e. very high includes the coast of Babakan and Pangandaran Village (Pangandaran Subdistrict) then the coast of Cikembulan Village (Sidamulih Subdistrict). The high tsunami vulnerability zone includes the coast of Sukaresik Village (Sidamulih Subdistrict) and the coast of Pananjung Village (Pangandaran Subdistrict). The moderate tsunami vulnerability zone include the coast of Wonoharjo Village (Pangandaran Subdistrict). Zone of low and very low vulnerability are far enough away from the coastline, where its territory not bordering the sea. This zone includes the villages of Sidamulih, Cikalong, Pejanten, Purbahayu, Sidomulyo and Sukahurip. the village of Pangandaran located on the mainland which connects the mainland island of Java with Cape Pangandaran (isthmus) in place as the most dangerous zones. This is because the characteristics of the area provide a great influence to the hazard vulnerability tsunami. Keywords : Tsunami vulnerability zone factor, Tsunami prone zonation, Coastal characteristics RINGKASAN SEANDY FIRMANSYAH. Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran Akibat Bencana Tsunami. Dibimbing oleh MULIA PURBA dan VELLY ASVALIANTINA. Wilayah pesisir Pangandaran dikelompokan sebagai daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya tsunami. Dekatnya jarak pantai terhadap zona Subduksi Jawa (zona pertemuan lempeng tektonik bumi yaitu lempeng IndoAustralia dengan lempeng Eurasia) dan sejarah tsunami menjadi ancaman kawasan ini terhadap bencana tsunami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji karakteristik pantai dan pesisir Pangandara, menelaah penjalaran gelombang tsunami menuju pantai dan memprediksi capaian run-up tsunami yang mencapai daratan Pangandaran serta menentukan indeks kerentanan pantai Pangandaran terhadap bencana tsunami. Lokasi penelitian terletak di wilayah pantai dan pesisir Pangandaran Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, batas koordinat berada pada 7,75o – 7,65o LS dan 108,55o – 108,70o BT. Penelitian ini meliputi identifikasi karakteristik pantai dan pesisir, identifikasi seismisitas, pemodelan tsunami, dan penentuan indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami. Identifikasi seismisitas ditentukan dengan metode fraktal, pemodelan tsunami dilakukan melalui pemodelan numerik Imamura (1994) yaitu dengan memakai persamaan matematika hidrodinamika gelombang panjang, sedangkan penentuan indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami ditentukan dengan metode Cell Based Modelling (CBM). Secara umum pesisir Pangandaran memiliki karakteristik pantai dan pesisir yang rentan terhadap limpasan gelombang tsunami. Faktor kerentanan yang dimiliki antara lain kondisi topografi rendah dan landai yang luas dan membentang pada jarak 1500 m dari garis pantai, jenis penggunaan lahan berupa permukiman dominan berada dekat dengan laut serta berada diantara sungaisungai besar (Sungai Ciambulungan, Sungai Cikidang, Sungai Citonjong). Hasil identifikasi seismisitas menunjukan bahwa wilayah bagian timur lepas pantai Pangandaran (koordinat 109o – 110o BT dan 8o – 11o LS) memiliki intensitas kegempaan yang rendah dibandingkan dengan wilayah bagian barat. Keadaan tersebut menjelaskan bahwa wilayah dengan intensitas gempa yang rendah memiliki tingkat stress yang tinggi. Hal ini berarti bahwa wilayah tersebut berpotensi lebih besar terjadi gempa bumi berkekuatan tinggi. Hasil model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario 1 sampai skenario 4 memperlihatkan bahwa waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami untuk mencapai daratan Pangandaran memerlukan waktu kurang dari satu jam setelah terjadinya gempa. Semakin dekat sumber gempa terhadap daratan maka waktu tempuh gelombang tsunami semakin cepat. Pada umumnya daerah yang pertama kali terkena limpasan gelombang tsunami adalah Tanjung Pangandaran yang letaknya di bagian paling selatan Pangandaran. Hal ini disebabkan daerah tersebut merupakan daerah yang paling depan dan menjorok ke laut lepas. Daerah yang selanjutnya paling awal terkena gelombang tsunami adalah pesisir barat Pangandaran (Desa Sukaresik) serta pesisir timur Pangandaran (Desa Babakan). Hal ini disebabkan perairan yang berbatasan dengan daerah tersebut memiliki kedalaman yang lebih besar dengan kelerengan dasar yang lebih curam jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Hasil model limpasan (run-up) gelombang tsunami untuk kasus skenario 1 sampai skenario 4 memperlihatkan bahwa besarnya kekuatan gempa menghasilkan limpasan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Jarak limpasan tsunami untuk skenario 1 (7,7 SM) berkisar antara 100 – 200 m dari garis pantai, untuk skenario 2 dan 3 (8,5 SM) limpasan tsunami berkisar antara 1000 – 1500 m dari garis pantai, sedangka pada skenario ke 4 (8,9 SM) limpasan tsunami berkisar antara 2000 – 2500 m dari garis pantai. Setiap wilayah memiliki luas limpasan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Pada umunya desa-desa yang berada di sepanjang pesisir Kecamatan Pangandaran (Babakan, Pangandaran, Pananjung dan Wonoharjo) serta pesisir Kecamatan Sidamulih (Cikembulan dan Sukaresik) terkena dampak yang paling parah dibandingkan daerah-daerah yang lainnya. Hal ini disebabkan keadaan topografi dan kemiringan daratannya rendah dan landai. Berdasarkan analisis kerentanan pantai akibat bencana tsunami diketahui zona kerentanan sangat tinggi mencakup Desa Babakan dan Desa Pangandaran (Kecamatan Pangandaran selatan bagian timur) serta Desa Cikembulan (Kecamatan Sidamulih selatan bagian timur). Zona kerentanan tinggi meliputi Desa Sukaresik (Kecamatan Sidamulih selatan bagian barat) dan Desa Pananjung (Kecamatan Pangandaran selatan bagian barat). Zona kerentanan sedang berada di Desa Wonoharjo (Kecamatan Pangandaran selatan bagian barat). Zona kerentanan rendah dan sangat rendah berada cukup jauh dari garis pantai, dimana wilayahnya tidak berbatasan langsung dengan laut. Zona ini meliputi Desa Cikalong, Desa Sidamulih, Desa Pejanten, Desa Sidomulyo, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip. Secara keluruhan, Desa Pangandaran yang terletak di bagian daratan yang menghubungkan daratan Pulau Jawa dengan Tanjung Pangandaran (tanah genting) di tempatkan sebagai zona yang paling berbahaya. Hal ini disebabkan karena karakteristik daerah tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap kerentanan bahaya tsunami mulai dari daerah dengan permukiman terpadat, daerah yang sangat dekat dengan laut dan kondisi topografinya rendah dan landai. © Hak cipta milik Seandy Firmansyah, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun, baik cetak, fotokopi, microfilm, dan sebagainya INDEKS KERENTANAN PANTAI PANGANDARAN AKIBAT BENCANA TSUNAMI Oleh : SEANDY FIRMANSYAH Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor SKRIPSI DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 LEMBAR PENGESAHAN Judul Skripsi : INDEKS KERENTANAN PANTAI PANGANDARAN AKIBAT BENCANA TSUNAMI Nama Mahasiswa : Seandy Firmansyah Nomor Pokok : C54070051 Departemen : Ilmu dan Teknologi Kelautan Menyetujui, . Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Dr. Ir. Mulia Purba, M.Sc NIP. 19470818 197301 1 001 Ir. Velly Asvaliantina, M.Eng. Sc. NIP. 19691023 199501 2 001 Mengetahui, Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc. NIP. 19580909 198303 1 003 Tanggal Lulus : KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim, Segala puji bagi Allah Subhanawata’alla, shalawat dan salam semoga tercurah kepada sang utusan Allah, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini yang disusun untuk menyumbangkan pengetahuan dan memenuhi syarat kurikuler dalam menempuh program sarjana di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada : 1. Kedua orang tua penulis, Dadang Sudrajat, S.Pd dan Lilis Kusmawati, S.Pd yang telah mencurahkan kasih sayangnya dan do’a yang tidak pernah terputus 2. Prof. Dr. Ir. Mulia Purba, M.Sc dan Ir.Velly Asvaliantina, M.Eng. Sc. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam menyelesaikan Skripsi ini 3. Seluruh staf Balai Pengkajian Dinamikan Pantai – BPPT atas kemudahan dan kerjasamanya selama pengerjaan Skripsi ini 4. Bapak/ibu dosen dan staf penunjang Departemen ITK atas bantuannya selama penulis menyelesaikan studi di IPB 5. Ami Saloo Lubis yang tidak pernah lelah memberikan semangat dan do’a selama penulis menyelesaikan tugas akhir ini 6. Seluruh sahabat seperjuangan ITK 44, tawa dan tangis yang tidak akan pernah terlupakan. Semoga Allah SWT menjadikan penulisan Skripsi ini sebagai suatu amal shaleh yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan, Amin. Akhir kata penulis menyadari bahwa penulisan Skripsi ini belum sampai pada kata sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan dan pengembangan lebih lanjut dari Skripsi ini. Bogor, Februari 2012 Seandy Firmansyah DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ..................................................................................................... i DAFTAR TABEL ............................................................................................. iii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ iv DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... vi 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ...................................................................................... 1.2. Tujuan .................................................................................................... 1 3 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian ......................................................... 2.2. Gelombang Tsunami ............................................................................. 2.2.1. Karakteristik gelombang tsunami ............................................... 2.2.2. Pembangkit gelombang tsunami ................................................ 2.3. Faktor-faktor Kerentanan Pantai Terhadap Tsunami ............................ 2.3.1. Morfologi dasar laut ................................................................... 2.3.2. Morfometri pantai ....................................................................... 2.3.3. Topografi dan kemiringan daratan pantai dan pesisir ................ 2.3.4. Sungai-sungai dan kanal pengendali banjir ................................ 2.3.5. Ekosistem pesisir ........................................................................ 2.4. Sejarah Tsunami Pangandaran .............................................................. 2.5. Persamaan Gerak Gelombang Tsunami ................................................ 2.6. Deformasi DasarLaut ............................................................................ 2.7. Kajian Risiko Bencana Tsunami ........................................................... 4 5 5 8 11 11 13 14 15 16 17 19 21 22 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................. 3.2. Alat Penelitian ....................................................................................... 3.3. Data Penelitian ...................................................................................... 3.4. Survei Lapang ........................................................................................ 3.5. Metode Pengolahan Data ....................................................................... 3.5.1. Identifikasi karakteristik pantai dan pesisir ................................ 3.5.2. Identifikasi seismisitas ............................................................... 3.5.3. Pemodelan tsunami .................................................................... 3.5.4. Penentuan tingkat risiko tsunami ............................................... 3.5.5. Analisis tingkat kerentanan pantai ............................................. 24 25 26 27 28 30 33 34 40 45 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Pantai dan Pesisir Pangandaran ....................................... 4.1.1. Elevasi daratan (Topografi) ........................................................ 4.1.2. Kemiringan daratan (Slope) ........................................................ 4.1.3. Jarak dari garis pantai ................................................................. 4.1.4. Jarak dari sungai ......................................................................... 4.1.5. Penggunaan lahan (Landuse) ...................................................... 48 48 50 52 53 55 i 4.1.6. Kondisi batimetri wilayah pantai dan lepas pantai ..................... 4.1.7. Morfometri pantai ....................................................................... 4.1.8. Ekosistem pantai dan pesisir ...................................................... Kejadian Gempa Tektonik ..................................................................... Hasil Pemodelan Tsunami ..................................................................... 4.3.1. Skenario simulasi model ............................................................ 4.3.2. Simulasi gelombang tsunami awal ............................................. 4.3.3. Waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami .......................... 4.3.4. Limpasan gelombang tsunami (run-up) ..................................... 4.3.5. Ketinggian rendaman tsunami (Flowdepth) ............................... Integrasi (Overlay) Morfologi Pantai dengan Model Tsunami ............. Indeks Kerentanan Pantai Akibat Bencana Tsunami ............................ 59 63 64 66 70 70 73 76 83 93 100 104 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ............................................................................................ 5.2. Saran ...................................................................................................... 108 109 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 110 LAMPIRAN ....................................................................................................... 115 4.2. 4.3. 4.4. 4.5. DAFTAR TABEL Halaman 1. Indikator kelerengan pantai .......................................................................... 15 2. Efektivitas peredaman tsunami oleh hutan pantai ........................................ 16 3. Spesifikasi peralatan penelitian (perangkat lunak dan perangkat keras) ...... 25 4. Karakteristik ukuran spasial dalam model bersarang ................................... 36 5. Matriks risiko bencana tsunami ................................................................... 44 6. Luas daerah kelas elevasi daratan (topografi) ............................................. 49 7. Luas daerah kelas kemiringan daratan (slope) ............................................ 52 8. Luas jenis penggunaan lahan (landuse) ....................................................... 57 9. Luas daerah tingkat kerentanan penggunaan lahan 59 .................................... 10. Kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi ........ 62 11. Parameter masukan untuk masing-masing skenario yang dibangun ........... 72 12. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-1 ................... 85 13. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-2 ................... 88 14. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-3 ................... 90 15. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 ................... 92 16. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-1 ................................................................................................ 94 17. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-2 ................................................................................................. 96 18. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-3 ................................................................................................. 98 19. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 ................................................................................................. 100 20. Luas area limpasan tsunami pada kelas elevasi daratan (topografi) ............ 101 21. Luas area limpasan tsunami pada kelas kemiringan daratan (slope) ........... 101 22. Luas area limpasan tsunami pada kelas jarak dari garis pantai ................... 102 23. Luas area limpasan tsunami pada kelas penggunaan lahan ......................... 103 24. Luas tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami di setiap desa ... 107 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Karakteristik umum perubahan ketinggian gelombang tsunami ................. 7 2. Posisi daerah sumber gempa tektonik ......................................................... 9 3. Mekanisme terjadinya tsunami akibat gempa tektonik di dasar laut ........... 10 4. Hubungan antara ketinggian tsunami dengan geometri pantai : (a) Kelerengan pantai landai dan (b) Kelerengan pantai curam .................. 12 5. Pantai dengan bentuk menyerupai gigi gergaji (sawtooth) : a) Pantai barat Sumatera dan b) Pantai selatan Jawa Timur ................................................ 14 6. Ketinggian run-up tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 di berbagai lokasi pesisir selatan Jawa ...................................................................................... 18 7. Desain parameter sesar ................................................................................ 21 8. Peta lokasi penenlitian (Kecamatan Pangandaran sampai Kecamatan Sidamulih) ................................................................................................... 24 9. Bagan alir penelitian .................................................................................... 29 10. Domain model bersarang (nested model) : a) domain A; b) domain B c) domain C dan d) domain D ..................................................................... 35 11. Pencerminan lantai samudera oleh muka air laut ........................................ 38 12. Kelas elevasi daratan (topografi) wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami ....................................... 49 13. Kelas kemiringan daratan (slope) wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami ....................................... 51 14. Kelas jarak dari garis pantai wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami ....................................... 53 15. Kelas jarak dari sungai wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami ................................................... 55 16. Kelas jenis penggunaan lahan wilayah pesisir Pangandaran ....................... 56 17. Kelas kerentanan penggunaan lahan wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami ................... 58 18. Profil tiga dimensi batimetri wilayah lepas pantai Pangandaran ................ 60 ......................... 60 20. Tingkat seismisitas di wilayah kajian selang waktu 1974 – Mei 2011 ....... 67 19. Profil tiga dimensi batimetri wilayah pantai Pangandaran 21. Hubungan jumlah kejadian gempa dan magnitude gempa : (a) 107o – 108o BT dan 8o – 11o LS; (b) 108o – 109o dan 8o – 11o LS; (c) 109o – 110o BT dan 8o – 11o LS ...................................................................................... 69 22. Ketinggian muka air laut awal sesaat setelah gempa : (a) Skenario ke-1; (b) Skenario ke-2; (c) Skenario ke-3 dan (d) Skenario ke-4 ........................ 74 23. Potongan melintang elevasi muka air : (a) Skenario ke-1; (b) Skenario ke-2 (c) Skenario ke-3 dan (d) Skenario ke-4 ...................................................... 75 24. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaan (domain D) pada skenario ke-1 ...................................................................................... 77 25. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaan (domain D) pada skenario ke-2 ...................................................................................... 79 26. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaan (domain D) pada skenario ke-3 ...................................................................................... 80 27. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaan (domain D) pada skenario ke-4 ...................................................................................... 82 28. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-1 ....................................................................................... 84 29. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-2 ....................................................................................... 87 30. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-3 ....................................................................................... 89 31. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-4 ....................................................................................... 91 32. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-1 ........................................... 93 33. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-2 ........................................... 95 34. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-3 ........................................... 97 35. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-4 ........................................... 99 36. Sebaran spasial tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami di Pangandaran ................................................................................................. 105 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Posisi pengamatan di lapangan .................................................................... 115 2. Lembar survei lapang .................................................................................. 116 3. Parameter gempa ......................................................................................... 135 4. Profil kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi ...................................................................................................... 136 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Pangandaran merupakan satu sistem rangkaian sisi selatan Busur Sunda (Sunda Arc). Daerah ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Di bawah dasar laut Samudera Hindia terdapat daerah pertemuan antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Daerah tersebut merupakan salah satu zona utama tumbukan lempeng tektonik bumi (zona subduksi) yang dapat berkembang menjadi bencana alam, khususnya bencana gempa bumi dan tsunami (Rahardjo, 2003). Wilayah pesisir Pangandaran merupakan daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya tsunami. Hal ini terjadi karena dekatnya jarak ke zona subduksi (Mardiantno, 2006). Pangandaran telah mengalami gempa bumi disertai tsunami beberapa tahun yang lalu. Pada tanggal 17 Juli 2006, perairan selatan Jawa Barat diguncang gempa dangkal dengan kekuatan 7,7 Skala Magnitude (SM). Gempa ini berpusat di Samudera Hindia, tepatnya pada koordinat 9,295o LS – 107,347o BT (NEIC-USGS, 2006a). PSG (2006) menambahkan bahwa gempa ini terjadi di sekitar zona subduksi pada lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Gempa ini menimbulkan tsunami yang memporak-porandakan pantai Pangandaran dan sekitarnya. Bencana tsunami ini secara keseluruhan melanda sepanjang pantai selatan Jawa Barat hingga Yogyakarta dan menelan korban jiwa sekitar 700 orang. Dekatnya jarak pantai terhadap zona subduksi dan sejarah gempa serta tsunami menjadi ancaman daerah ini terhadap bencana tsunami. Kejadian gempa bumi yang disertai tsunami di wilayah pesisir Pangandaran dan sekitarnya pada tahun 2006 yang lalu, menjadikan kewaspadaan 1 2 wilayah pesisir selatan Jawa Barat, khususnya Pangandaran dalam menghadapi bencana tsunami. Bencana tsunami di Pangandaran dan wilayah di sekitar pesisir selatan Jawa kemungkinan bisa saja terulang. Natawidjaja (2007) menjelaskan bahwa zona subduksi Jawa merupakan daerah yang berpeluang menghasilkan gempagempa besar. Segmen zona subduksi Jawa yang belum melepaskan akumulasi regangan tektoniknya merupakan sumber gempa dan tsunami yang potensial di masa datang. Kejadian gempa bumi yang diikuti tsunami di Pangandaran serta beberapa bagian wilayah Indonesia telah menyadarkan sebagian besar penduduk Indonesia akan bencana tsunami. Rencana terpadu mitigasi bencana tsunami sudah selayaknya dilakukan. Unsur kunci pendukung yang menjadi dasar dalam perencanaan mitigasi bencana tsunami yaitu melakukan penelitian yang terkait. Penentuan indeks kerentanan pantai merupakan salah satu langkah awal yang dapat dijadikan informasi dasar dalam perencanaan mitigasi bencana tsunami. Penelitian mengenai indeks kerentanan pantai merupakan bagian dari analisis risiko bahaya tsunami yang penting dalam kerangka mitigasi bencana alam. Langkah mitigasi baru akan diambil setelah diketahui tingkat risikonya. Wilayah pantai dan pesisir Pangandaran memiliki berbagai aktivitas kepesisiran mulai dari permukiman, perdagangan, pariwisata, pengembangan sektor industri dan berbagai sektor lainnya. Dekatnya jarak pantai terhadap zona subduksi dan sejarah gempa serta tsunami menjadi ancaman kawasan ini terhadap bencana tsunami. Maka dari itu wilayah pesisir Pangandaran merupakan suatu kawasan yang penting dalam kegiatan mitigasi bencana alam pesisir. 3 1. 2 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengkaji karakteristik pantai dan pesisir Pangandaran sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi intensitas bencana tsunami dan risiko yang mungkin ditimbulkan 2) Menelaah penjalaran gelombang tsunami menuju pantai dan memprediksi capaian run-up tsunami yang mencapai daratan Pangandaran 3) Menentukan indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami berdasarkan parameter karakteristik pesisir Pangandaran, lereng dasar perairan dan karakter gelombang tsunami. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Geografis wilayah Kabupaten Ciamis berada pada 108°2’0” – 108°40’0” Bujur Timur dan 7°40’20” – 7°41’20’’ Lintang Selatan. Wilayah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, sebelah barat dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, sebelah timur dengan Kota Banjar dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah), dan sebelah selatan dengan Samudera Hindia. Luas wilayah Kabupaten Ciamis secara keseluruhan mencapai 244.479 Ha (Bappeda Kabupaten Ciamis, 2009). Wilayah selatan Kabupaten Ciamis berbatasan langsung dengan garis pantai Samudera Hindia yang membentang di enam kecamatan dengan panjang garis pantai mencapai 91 km. Kabupaten Ciamis memiliki wilayah laut seluas 67.340 Ha. Kabupaten Ciamis memiliki pantai Pangandaran yang sangat indah sehingga menjadi primadona wisatawan domestik dan mancanegara (Bappeda Kabupaten Ciamis, 2009). Pangandaran merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kecamatan ini terletak di bagian paling selatan Kabupaten Ciamis dan merupakan daerah wisata utama di Ciamis. Kecamatan Pangandaran secara geografis terletak pada 7o34’50’’ – 7o44’00’’ LS dan 108o36’26’’ – 108o42’10’’ BT dengan luas wilayah 687,22 Ha (Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis, 2004). Kecamatan Pangandaran berbatasan di sebelah timur dengan Kecamatan Kalipucang, di sebelah barat dengan Kecamatan Sidamulih, di sebelah utara 4 5 dengan Kecamatan Padaherang dan di sebelah selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia (Bappeda Kabupaten Ciamis, 2009). Pantai Pangandaran terletak pada peninsular atau tanjung yang masuk ke Samudera Hindia. Bagian ujung selatan tanjung merupakan Cagar Alam berbentuk air mata (teardrop). Daerah ini adalah hutan lindung yang terdiri dari lahan perbukitan dan lahan daratan, sedangkan sekitar 142,87 Ha lahan yang lain di wilayah ini adalah dataran yang secara geologi dapat disebut beach ridge dan berbentuk genting tanah (isthmus) yang menghubungkan Tanjung Pangandaran dengan Pulau Jawa (Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis, 2004). 2.2. Gelombang Tsunami 2.2.1 Karakteristik gelombang tsunami Istilah Tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti “pelabuhan” dan nami berarti “gelombang,” secara harafiah berarti gelombang pelabuhan. Pengertian tsunami menurut NTHMP (2001) didefinisikan sebagai serangkaian gelombang tinggi yang disebabkan oleh perpindahan sejumlah besar air laut secara tiba-tiba. Tsunami merupakan sebuah gelombang yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, meletusnya gunung berapi, longsoran atau hantaman meteor yang semuanya terjadi di laut. Tsunami memiliki karakteristik yang berbeda dengan gelombang pasang (tidal wave) atau gelombang permukaan (surface wave) yang biasa dijumpai di pantai (Diposaptono dan Budiman, 2006). Tsunami bersifat transient dan implusif, artinya semakin melemah dengan bertambahnya waktu dan mempunyai umur sesaat (Mudhari, 2009). Gelombang permukaan bersifat kontinyu dan berlangsung 6 dalam waktu yang lama dengan periode gelombang hanya beberapa detik (Marchuk dan Kagan, 1989). Mudhari (2009) menambahkan bahwa perbedaan gelombang tsunami dengan gelombang yang dibangkitkan oleh angin adalah terletak pada gerakan airnya. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin hanya menggerakan partikel air laut di permukaan air laut bagian atas, namun pada gelombang tsunami menggerakan seluruh kolom air dari permukaan sampai mencapai dasar laut. Tsunami diklasifikasikan sebagai gelombang perairan dangkal (gelombang panjang), karena panjang gelombangnya lebih besar daripada kedalaman perairannya. Gelombang ini merambat dengan kecepatan yang berbanding lurus dengan akar kedalaman perairan. Kecepatan gelombang tsunami akan berkurang seiring dengan semakin dangkalnya kedalaman air (Marchuk dan Kagan, 1989). C gd .................................................................................................. (1) keterangan : C : kecepatan gelombang perairan dangkal (m2/detik) g : percepatan gravitasi (m/detik2) = 9,8 m/detik2 d : kedalaman perairan (m) Menurut Yalciner et al. (2006), ketika gelombang tsunami mendekati pantai maka ketinggian gelombang membesar yang diikuti dengan melambatnya kecepatan rambat gelombang. Hal ini terjadi karena pengaruh dasar laut yang semakin mendangkal (shoaling). Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut sehingga gelombang tersebut mengalami percepatan atau perlambatan ketika melintasi kedalaman yang berbeda-beda. Ketika memasuki perairan pantai (perairan dangkal), tsunami akan mengalami perlambatan. Berkurangnya kecepatan tsunami disebabkan karena adanya topografi pantai yang 7 mendangkal dan gesekan dasar laut. Gelombang yang tertahan karena perlambatan ini akan menumpuk dengan gelombang-gelombang yang datang berikutnya, sehingga tinggi gelombang bertambah tinggi. Gambaran mengenai perubahan ketinggian gelombang tsunami dari laut dalam menuju laut dangkal diperlihatkan pada Gambar 1. Gambar 1. Karakteristik umum perubahan ketinggian gelombang tsunami (UNESCO-IOC, 2006) Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat merambat menyeberangi samudera tanpa banyak kehilangan energi. Energi dari tsunami merupakan perkalian antara tinggi gelombang dengan kecepatannya. Nilai energi ini selalu konstan, yang berarti tinggi tsunami berbanding terbalik terhadap kecepatannya. Energi yang dikandung gelombang tsunami tidak berkurang banyak. Hal ini sesuai dengan hubungan laju energi yang hilang pada gelombang berjalan berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya, dengan kata lain semakin besar panjang gelombang maka semakin sedikit energi yang yang hilang, sehingga energi tsunami bisa dianggap konstan (Wiegel, 1970). 8 Gelombang akan pecah apabila puncak gelombang membentuk sudut 120o atau pada saat kecepatan partikel pada bagian puncak lebih besar daripada kecepatan gelombang sehingga gelombang menjadi tidak stabil dan pecah. Gelombang tsunami yang pecah akan menghamburkan energinya ke atas permukaan pantai. Pecahan gelombang tergantung pada derajat kemiringan dasar laut (Gross, 1990). UNESCO-IOC (2006) mengelompokan tipe pecah gelombang tsunami menjadi tiga macam yaitu : a) Pecahan tumpah (di atas dasar laut yang hampir rata) yang membentuk suatu petak berbuih pada puncak dan berangsurangsur pecah berserakan cukup jauh; b) Pecahan hunjam (di atas dasar laut yang agak curam) yang memuncak, meliuk bagai payung raksasa terkembang kemudian pecah bagai piring kaca jatuh ke lantai; c) Pecahan gulung (di atas dasar laut sangat curam) yang tidak pecah atau menghunjam melainkan mengombak bergulung-gulung ke muka pantai. Gelombang-gelombang juga pecah dalam perairan yang dalam jika gelombang menjulang terlalu tinggi karena disebabkan oleh angin, tetapi gelombang itu biasanya berpuncak rendah dan dinamai gelombang jambul putih berbuih atau pecah-pecah. 2.2.2 Pembangkit gelombang tsunami Pada umumnya kejadian tsunami di dunia dominan disebabkan oleh kejadian gempa bumi di dasar laut. Mardiatno (2006) menyatakan bahwa berdasarkan katalog gempa (1629 – 2002) di Indonesia pernah terjadi tsunami sebanyak 109 kali dengan perincian yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik. Latief (2007) 9 menambahkan bahwa lebih dari 90 % tsunami di dunia disebabkan oleh gempa tektonik di dasar laut. Tsunami disebabkan oleh gempa bumi di pusat yang dangkal sepanjang daerah subduksi (Gambar 2). Gempa bumi tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran lempeng tektonik. Lempeng kerak bumi (crustal blocks) memberi energi potensial pada massa air ke atas dan ke bawah. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan drastis pada permukaan air laut di daerah tersebut. Energi yang dilepas ke dalam massa air tersebut menyebabkan timbulnya tsunami (UNESCO-IOC, 2006). Gambar 2. Posisi daerah sumber gempa tektonik (UNESCO-IOC, 2006) UNESCO-IOC (2006) menjelaskan bahwa pergerakan lempeng samudera yang slip di bawah lempeng benua akan melambat akibat gesekan yang semakin membesar. Suatu saat pergerakan kedua lempeng tersebut akan berhenti (tertahan) dan terdapat akumulasi energi di daerah pertemuan kedua lempeng. Ketika daerah tertahan (stuck) kedua lempeng tersebut sudah tidak kuat lagi menahan energi 10 tersebut maka akhirnya lempeng menjadi patah dan terlepas. Keadaan ini mengakibatkan deformasi dasar laut. Deformasi ini akan menaikan dan menurunkan air laut dalam skala besar mulai dari lantai samudera sampai ke permukaan. Massa air di atasnya mengikuti bentuk deformasi lantai samudera untuk mencapai setimbang, dengan begitu maka terjadi pergerakan gelombang yang membawa energi merambat ke perairan pantai (Gambar 3). Gambar 3. Mekanisme terjadinya tsunami akibat gempa tektonik di dasar laut (UNESCCO-IOC, 2006) Bila lempeng samudra bergerak turun atau naik, di wilayah pantai air laut akan surut sebelum datangnya tsunami. Selanjutnya gelombang tsunami akan datang menerjang pantai (Slawson dan Savage, 1979). Meskipun sebagian besar tsunami disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di bawah laut, namun tidak setiap gempa bumi di bawah laut bisa menyebabkan terjadinya tsunami. Menurut Shuto (1993) syarat terjadinya tsunami adalah magnitude gempa harus lebih besar dari 6 Skala Richter (SR) dan kedalaman pusat gempa (hiposentrum) kurang dari 11 33 km (< 48 km versi USGS) serta gempa dengan pola mekanisme dominan adalah sesar naik (thrust) atau sesar turun (normal). 2.3. Faktor-faktor Kerentanan Pantai Terhadap Tsunami 2.3.1 Morfologi dasar laut Tsunami yang menjalar ke pantai (perairan dangkal) akan megalami beberapa perubahan ketinggian gelombang sebagai akibat dari proses pendangkalan (shoaling), refraksi, difraksi, dan refleksi sebelum akhirnya gelombang tersebut pecah. Proses shoaling sebagai proses berkuranganya tinggi gelombang untuk pertama kalinya sewaktu memasuki perairan yang dangkal, kemudian secara bertahap akan meningkat kembali dengan bagian muka (front) gelombang tetap simetris (Horikawa, 1998). Horikawa (1998) menjelaskan kedalaman perairan yang semakin berkurang menyebabkan tinggi gelombang bertambah kembali secara cepat sehingga mengakibatkan profil gelombang menjadi tidak simetris dan pada akhirnya pecah. Kecepatan gerak gelombang juga berkurang dengan berkurangnya kedalaman dasar laut, sehingga menyebabkan puncak gelombang pada daerah yang lebih dangkal bergerak lebih lambat daripada puncak pada perairan yang lebih dalam. Selanjutnya tejadi pembelokan arah gerak puncak gelombang mengikuti bentuk kontur kedalaman laut (refraksi). Shoaling dan refraksi disebabkan oleh proses pendangkalan perairan. Shoaling lebih ditekankan pada perubahan tinggi gelombang secara langsung akibat kedalaman perairan yang semakin berkurang, sedangkan refraksi 12 ditekankan pada pembelokan arah puncak gelombang. Refraksi dapat terjadi pada perairan transisi ataupun perairan dangkal (USACE, 1984). Ketinggian tsunami sepanjang pantai berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini bergantung pada morfologi, batimetri, dan topografi pantai, sehingga indikator kelerengan pantai dan dasar perairan pantai memiliki peranan penting dalam menentukan besar-kecilnya tsunami di suatu wilayah (Oktariadi, 2009a). Menurut Oktariadi (2009b) kondisi lereng pantai yang landai akan menyebabkan jarak daerah pecah gelombang dengan pantai semakin jauh. Sedangkan bila kondisi lereng pantai curam maka jarak daerah pecah gelombang dengan pantai menjadi semakin dekat (Gambar 4). Gambar 4. Hubungan antara ketinggian tsunami dengan geometri pantai : (a) Kelerengan pantai landai dan (b) Kelerengan pantai curam (UNESCO-IOC, 2006) 13 2.3.2 Morfometri pantai Morfometri pantai menunjukkan bentuk garis pantai. Morfometri pantai merupakan parameter yang sangat penting untuk dikaji karena menentukan daerah pemusatan atau penyebaran energi gelombang tsunami. Menurut USACE (1984) perubahan arah gelombang karena proses refraksi akan menghasilkan suatu daerah energi gelombang penguncupan (konvergen) dan penyebaran (divergen) yang berpengaruh tehadap struktur pantai yaitu morfometri pantai. Morfometri pantai sangat berpengaruh besar terhadap tingkat energi gelombang yang akan menghempas ke daratan. Bentuk garis pantai (shore line) dapat memberikan berbagai pengaruh ketika gelombang tsunami mencapai daratan. Teluk, tanjung, inlet dan muara sungai dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Daerah-daerah pantai yang cekung menghadap ke laut seperti selat dan teluk akan menyebabkan gelombang mengalami refleksi. Energi gelombang tsunami menjadi terfokus pada wilayah cekungan dan pada akhirnya mampu meningkatkan ketinggian gelombang tsunami yang sampai di pantai (NTHMP, 2001). Perubahan ketinggian tersebut sebagaimana dijelaskan Diposaptono dan Budiman (2005) bahwa tsunami akan mengalami peningkatan ketinggian ketika melewati pantai yang menyempit dan dangkal. Lebih lanjut Diposaptono dan Budiman (2006) menjelaskan bahwa secara umum wilayah pesisir Indonesia memiliki teluk yang berasosiasi dengan tanjung dan muara sungai yang sangat banyak dan berderet satu dengan yang lainnya sehingga menyerupai gigi gergaji (sawtooth). Pantai dengan bentuk menyerupai gigi gergaji dapat dijumpai seperti di pantai barat Pulau Sumatera dan daerah 14 selatan Banyuwangi (Jawa Timur) sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 5. Morfometri pantai yang berbentuk demikian akan mempengaruhi refraksi gelombang dan menyebabkan gelombang tsunami tidak dapat keluar lagi karena sebagian atau seluruh gelombang tersebut dipantulkan oleh dinding teluk. Akibatnya gelombang tsunami akan meningkat dan interaksi gelombang tersebut berlangsung dalam waktu yang lama. Kondisi tersebut dapat menjadikan wilayah pesisir tersebut mempunyai tingkat kerusakan yang lebih parah jika terjadi bencana tsunami. a) b) Gambar 5. Pantai dengan bentuk menyerupai gigi gergaji (sawtooth) : a) Pantai barat Sumatera dan b) Pantai selatan Jawa Timur (Subandono, 2007) 2.3.3 Topografi dan kemiringan daratan pantai dan pesisir Menurut Oktariadi (2009b) jarak jangkauan tsunami ke daratan sangat ditentukan oleh tinggi dan rendahnya suatu daratan. Terjal atau landainya morfologi pantai juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap jangkauan 15 gelombang tsunami. Semakin tinggi letak suatu daerah maka semakin aman dari terpaan gelombang tsunami. Pada daratan pantai yang terjal, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai. Sementara di daratan pantai yang landai, landaan tsunami dapat menerjang sampai beberapa kilometer masuk ke daratan. Keadaan ini seperti yang terjadi di Banda Aceh. Pada saat tsunami melanda Banda Aceh gelombang dapat menerjang masuk sejauh 5 km dari garis pantai (Oktariadi, 2009b). Berdasarkan pemahaman tersebut, maka kelerengan pantai menurut USDA-NRCS (1986) dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Indikator kelerengan pantai (USDA-NRCS, 1986) No 1 2 3 4 5 2.3.4 Jenis Kelerengan Pantai Datar Landai Agak curam Curam Sangat curam Kepekaan Terhadap Tsunami Sangat peka Peka Agak peka Kurang peka Tidak peka Sungai-sungai dan kanal pengendali banjir Sungai-sungai dan kanal pengendali banjir dapat memberikan berbagai pengaruh terhadap rambatan gelombang tsunami. Tsunami yang merambat melalui sungai atau kanal dapat menimbulkan kerusakan yang lebih hebat dari yang diperkirakan. Keadaan ini terjadi karena dengan adanya sungai atau kanal maka akan semakin mendorong tsunami untuk melintas lebih jauh ke daratan. Sebagai contoh, bahwa tsunami yang memasuki California lewat sungai dan kanal-kanal pengendali banjir dapat memasuki daratan sejauh satu mil (1,609 km) 16 atau lebih, terutama jika terjadi pada saat pasang (NTHMP, 2001). Klasifikasi daerah terhadap jarak dari sungai adalah membagi daerah kedalam kelas-kelas berdasarkan jarak dari sungai. Klasifikasi tersebut menjelaskan tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami berdasarkan jauh dekatnya daerah tersebut dari sungai. 2.3.5 Ekosistem pesisir Ekosistem pesisir terutama mangrove dan hutan pantai memegang peranan sebagai greenbelt pelindung pantai dalam mereduksi energi gelombang tsunami. Mangrove dan hutan pantai mempunyai sistem perakaran yang dapat meredam ombak, arus serta menahan sedimentasi. Hutan pantai sangat efektif dalam meredam energi gelombang tsunami seperti yang dilaporkan Harada dan Imamura (2003). Hasil penelitian yang dilakukan Harada dan Imamura disajikan pada Tabel 2. Tabel 2.Efektivitas peredaman tsunami oleh hutan pantai (Harada dan Immura, 2003) Parameter Jarak run-up Tinggi genangan Arus Lebar hutan 50 m 100 m 200 m 400 m 50 m 100 m 200 m 400 m 50 m 100 m 200 m 400 m Ketinggian tsunami 1m 2m 3m 98% 86% 81% 83% 80% 71% 79% 71% 64% 78% 65% 57% 86% 86% 82% 76% 74% 66% 46% 55% 50% 11% 18% 71% 58% 54% 57% 47% 44% 56% 39% 34% 31% 24% 17 Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa semakin lebar hutan (kondisi kerapatan konstan) maka tingkat peredaman energi gelombang tsunami semakin besar. Contohnya gelombang tsunami setinggi 3 m yang melanda hutan pantai yang memiliki lebar 50 m menghasilkan jarak run-up ke daratan tinggal 81% dengan tinggi genangan tinggal 82%. Berbeda halnya apabila lebar hutan pantainya mencapai 400 m, maka jarak run-up ke daratan tinggal 57% dengan tinggi genangan tinggal 18%. Keberadaan terumbu karang di wilayah pantai juga sangat penting. Pada dasarnya selain mempunyai fungsi ekologis, terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan gelombang dan arus kuat yang berasal dari laut (Diposaptono dan Budiman, 2006). Gelombang yang datang pada daerah yang terdapat terubu karang energinya akan melemah. Hal ini disebabkan gelombang tertahan oleh adanya terumbu karang sehingga gaya hidrolis gelombang semakin mengecil (Kotani et al., 1998). 2.4. Sejarah Tsunami Pangandaran Pada tanggal 17 Juli 2006, terjadi sebuah gempa bumi pada pukul 08:19:28 Universal Time Coordinate (UTC) atau sekitar pukul 15:19:28 WIB di pantai selatan Jawa Barat, Indonesia. Menurut Harvard Centroid Moment Tensor (Harvard CMT) gempa tersebut memiliki kekuatan 7,7 SM atau 4,0 x 1027 dyne.cm dengan pola mekanisme sesar naik. USGS menjelaskan posisi pusat gempa berada pada koordinat 9,295o LS dan 107,347o BT dengan kedalaman pusat gempa 6 km. Gempa ini mengakibatkan tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa, khususnya dari Pantai Pameungpeuk (Garut), Pantai Pangandaran (Ciamis), 18 Pantai Cilacap, Pantai Kebumen dan sampai ke Pantai Parangtritis (NEIC-USGS, 2006a). Hasil survei yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Dinamika Pantai (DPDP-BPPT) bersama ITS menjelaskan bahwa gelombang tsunami pada saat tsunami Pangandaran 2006 memiliki ketinggian run-up maksimum sebesar 4,6 m. Ketinggian run-up maksimum terjadi di pesisir Cilacap yaitu tepatnya di daerah Widarapayung. Ketinggian run-up tsunami terendah adalah 1,1 m, dimana terletak di pantai Suwuk (Kebumen). Daerah pesisir Pangandaran yang menjadi kajian dalam penelitian ini memiliki ketinggian run-up tsunami sebesar 2,7 m – 2,9 m dan di daerah Cikembulan (Pangandaran sebelah barat) mencapai 3,1 – 3,6 m (Kongko et al., 2006). Peta ketinggian run-up tsunami hasil pengukuran lapang tim DPDP-BPPT bersama ITS disajikan pada Gambar 6. Gambar 6. Ketinggian run-up tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 di berbagai lokasi pesisir selatan Jawa (IOC-ITIC, 2006) 19 Berbeda halnya dengan hasil survei yang dilakukan oleh tim Pusat Survei Geologi, ketinggian run-up maksimum yang terukur mencapai 3,3 m. Adanya perbedaan ketinggian run-up tsunami dari hasil pengukuran tersebut disebabkan oleh faktor waktu pelaksanaan pengukuran. Pada dasarnya metode pengukuran ketinggian run-up tsunami diukur menurut tanda dari ketinggian air yang membekas di pepohonan atau di dinding bangunan-bangunan lainnya. Adanya perbedaan pelaksanaan waktu pengukuran antar lembaga terkait mengakibatkan hasil pengukuran yang berbeda. Hal ini mengingat tanda dari ketinggian air yang membekas akan semakin pudar seiring dengan bertambahnya waktu (Lavigne et al., 2007). Pada kejadian tsunami Pangandaran 2006, wilayah yang paling luas terkena limpasan tsunami adalah Desa Cikembulan dan Desa Pangandaran. Menurut hasil pengukuran lapang diketaui bahwa jarak limpasan tsunami ke daratan mencapai 300 – 500 m (Kongko et al., 2006). 2.5. Persamaan Gerak Gelombang Tsunami Gerak gelombang tsunami didekati dengan teori perairan dangkal. Teori ini mengasumsikan kedalaman perairan relatif kecil dibandingkan panjang gelombang (Imamura, 1994). Dalam teori ini percepatan vertikal partikel air dapat diabaikan karena besarnya jauh lebih kecil dari percepatan gravitasi. Berdasarkan pendekatan ini, gerak gelombang tsunami diekspresikan dengan teori gelombang perairan dangkal. Simulasi penjalaran gelombang tsunami menggunakan model hidrodinamika dua dimensi dari persamaan gerak gelombang linier. Persamaan penjalaran gelombang suku linier diperlihatkan pada persamaan (2) di bawah ini (Imamura, 1994) : 20 t M M N x y 0 gh t N 0 x 0 gh t y ....................................................................................... (2) Simulasi limpasan tsunami (run-up) menggunakan teori perairan dangkal linier dan non-linier. Persamaan di bawah ini merupakan persamaan yang menjadi dasar untuk model saat ini (Imamura, 1994) : t M N x y M M t x N 0 2 D MN y D MN t x D udz u h 2 N y x gD A x x 2 2 y gD D y A 2 M 2 M y N 2 N 2 y 2 x 2 ............. (3) dimana, M uD ........................................................................ (4) h N vdz v h vD ......................................................................... (5) h Keterangan : : elevasi permukaan air terhadap Mean Sea Level (m) h t g A M N D : kedalaman air dari dasar sampai Mean Sea Level (m) : waktu (detik) : percepatan gravitasi bumi (m/detik2) : Viskositas Eddy horizontal (diasumsikan konstan terhadap ruang) : debit dalam arah x- (m3/detik) : debit dalam arah y- (m3/detik) : kedalaman total perairan yang diberikan oleh h (m) : densitas (kg/m3) : kecepatan partikel dalam arah x- dan y- u,v x , y : gesekan dasar pada arah x- dan y- x , y , z : sistem koordinat tiga dimensi 21 2.6. Deformasi Dasar Laut Pemodelan sumber tsunami yang ditimbulkan oleh deformasi dasar laut akibat gempa menggunakan metode Mansinha dan Smylie (1971) dengan masukan parameter gempa seperti pada Gambar 7. Parameter gempa berupa patahan dalam hubungannya terhadap pembentukan tsunami terdiri dari : momen seismik (Mo), lokasi dan kedalaman pusat gempa (episentrum dan hiposentrum), panjang patahan (L), lebar patahan (W), dislokasi (D), dan geometri sesesar (Dip, Strike, Slip). Dip ( ) adalah sudut yang menjelaskan kemiringan dari permukaan patahan. Strike ( ) merupakan sudut yang digunakan untuk menjelaskan patahan dan dihitung searah jarum jam dari utara, sedangkan Slip ( ) adalah parameter yang menjelaskan pergerakan dari satu sisi ke sisi lainnya. Gambar 7. Desain parameter sesar (Imamura et al., 2006) Hanks dan Kanamori (1979) dalam Latief (2000) menjelaskan bahwa deformasi dasar laut dapat dihasilkan apabila mempunyai momen seismik (Mo) yang besar. Momen seismik digunakan untuk menentukan momen magnitude (Mw). Penentuan momen magnitude adalah sebagai berikut : 22 M 2 w (log 3 Mo 10 16 ,1) ........................................................................ (6) Jika momen seismik gempa telah diketahui dan dibuat sebagai suatu skenario yang mungkin dapat terjadi dengan episentrum di masing-masing daerah studi, maka parameter yang lain seperti panjang dan lebar patahan serta dislokasi (deformasi) patahan dapat diperhitungkan dengan formula Emile A. Okal sebagai berikut (Mansinha dan Smylie, 1971) : 1 Mo L 3 1, 935 x10 ........................................................................................ (7) 7 1 3 Mo W 13 ,87 x10 7 ....................................................................................... (8) 1 Mo D 3 6 , 68 x10 8 ......................................................................................... (9) dimana, Mw Mo L W D 2.7. = = = = momen magnitude (Skala Magnitude/SM) momen seismik gempa (dyne.cm) panjang patahan (km) lebar patahan (km) dislokasi atau deformasi (m) Kajian Risiko Bencana Tsunami Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang berlangsung secara perlahan. Beberapa bencana seperti gempa bumi dan tsunami hampir tidak mungkin diperkirakan secara akurat mengenai waktu dan seberapa besar kekuatannya. Kejadian bencana selalu memberikan dampak kejutan dan menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materil. Kejutan tersebut terjadi karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi ancaman bahaya. Menurut GTZ-SEQIP (2008), pada dasarnya disiplin penanganan bencana 23 adalah interaksi antara kerentanan daerah dengan ancaman bahaya yang ada. Kerentanan merupakan aspek yang relatif dapat dilakukan perubahan. Tingkat kerentanan daerah dapat dikurangi, sehingga kemampuan dalam menghadapi ancaman tersebut semakin meningkat. Secara umum risiko dapat dirumuskan sebagai berikut (GTZ SEQIP, 2008) : Risk = Hazard x vulnerability ............................................................ (10) Pengurangan risiko bencana adalah suatu konsep dalam mengurangi risiko bencana melalui kegiatan dalam mengelola faktor-faktor penyebab dari bencana (Mudhari, 2009). Tingkat kerentanan adalah suatu hal yang penting untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya bencana. Hal ini dikarenakan bencana baru akan terjadi bila bahaya terjadi pada kondisi yang rentan. Tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur), sosial kependudukan dan ekonomi (Latief, 2007). 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian terletak di wilayah pantai dan pesisir Pangandaran Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Batas koordinat wilayah penelitian berada pada 7,75o – 7,65o LS dan 108,55o – 108,70o BT. Wilayah Pangandaran dalam penelitian ini mencakup pantai dan pesisir di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih. Daerah yang difokuskan dalam penelitian ini adalah kedua kecamatan tersebut. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 8. Gambar 8. Peta lokasi penelitian (Kecamatan Pangandaran sampai Kecamatan Sidamulih) Kegiatan penelitian dilaksanakan pada awal bulan Mei 2011 sampai Agustus 2011 yang bertempat di Laboratorium Data Processing Oseanografi, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, 48 25 Institut Pertanian Bogor dan di Laboratorium Balai Pengkajian Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta Pusat. 3.2. Alat Penelitian Peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri dari berbagai macam perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penelitian ini merupakan model penelitian laboratorium menggunakan model komputasi. Perangkat keras berupa Personal Computer (PC) merupakan komponen utama dalam penelitian ini, dimana beberapa perangkat lunak (software) sebagai penunjang terpasang di dalamnya. Secara rinci alat penelitian dalam penelitian ini ditabulasikan pada Tabel 3 beriku ini : Tabel 3. Spesifikasi peralatan penelitian (perangkat lunak dan perangkat keras) No Peralatan penelitian 1 Personal Computer (PC) 2 ER Mapper v.7.0 3 Global Mapper v.9.0 Map Source v.3.2 Surfer v.9.0 Transform v.3.3 Textpad v.4.6.2 Turmina interface 4 5 6 7 8 Perusahaan pembuat Zyrex Corp. Earth Resource Mapping Inc. Global Mapper Ltd. Garmin Corp. Golden Software Inc. Forther Research Inc. Wintertree Inc. BPPT Keterangan Sistem operasi Windows dan Java, Intel Pentium T5550 CPU 1,83 GHz Data processing Data processing 9 10 11 ArcGIS 9.3 Xview GPS Garmin 60i handheld ESRI Inc. Garmin Corp. Data processing Data processing Data processing Data processing Sistem operasi Java Data processing Data processing Data processing Ketelitian 5 – 15 m 12 Sony Digital Camera Sony Corp. Resolusi 10 Mega Pixel 26 Personal Computer (PC) yang dilengkapi dengan berbagai macam perangkat lunak digunakan untuk memproses data-data. Global Positioning System (GPS) digunakan sebagai alat navigasi dan penanda titik sampling di lapangan, sedangkan kamera digital digunakan sebagai alat dokumentasi pada saat survei lapangan. 3.3. Data Penelitian Data yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini mencakup beberapa kelompok data sebagai berikut : 1) Citra Landsat wilayah Pangandaran Citra Landsat yang digunakan merupakan Landsat TM path/row 121/65 (resolusi 30 m) yang direkam pada bulan Juni 2003, Oktober 2006 dan Maret 2009 2) Data batimetri Data batimetri yang digunakan adalah ETOPO 1. Data ini memiliki resolusi satu menit per satu grid dengan luasan 1,85 km. Data ini di unduh dari : http://www.ngdc.noaa.gov/mgg/gdas/gd_designagrid.html pada bulan Maret 2011 3) Peta dasar untuk bahaya tsunami Kabupaten Ciamis dari German Indonesia Tsunami Early Warning System (GITEWS) skala 1 : 25.000 tahun 2010 4) Peta penutupan/penggunaan lahan Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih skala 1 : 25.000 tahun 2004 dari Bappeda Kabupaten Ciamis 5) Peta batimetri Dishidros TNI-AL skala 1 : 500.000 nomor peta 69 tahun 2004 6) Data spasial Kabupaten Ciamis dari Bappeda Kabupaten Ciamis tahun 2009 27 7) Data kegempaan dan historis kejadian tsunami Data ini diperoleh dari Nasional Earthquake Information Center – United States Geological Survei (NEIC-USGS). Data ini di unduh dari : http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqarchives/epic/epic_rect.php pada bulan Maret 2011 3.4. Survei Lapang Survei lapang dilakukan pada bulan Juli 2011 bertempat di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih. Survei lapang dilakukan untuk mengetahui kondisi daerah penelitian secara langsung sekaligus verifikasi dan validasi data. Hasil pengolahan geomorfologi pesisir dari citra satelit, peta penutupan/penggunaan lahan serta data pendukung lainnya divalidasi dengan kenampakan yang sebenarnya di lapangan. Survei dilakukan pada 20 titik observasi mulai dari barat sampai ke timur. Pengambilan titik observasi menggunakan teknik Random Sampling, yaitu pengambilan titik sampling secara acak terhadap kategori-kategori penutupan lahan yang sudah disesuaikan dengan kategori pada citra hasil klasifikasi dan peta penutupan lahan yang tersedia. Data ini digunakan sebagai referensi lapang untuk menentukan akurasi citra dari hasil kasifikasi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada peta penutupan lahan tahun 2004. Posisi koordinat titik observasi disajikan pada Lampiran 1. Pelaksanaan survei lapang dilakukan dengan menyusuri sepanjang wilayah pantai dan pesisir dengan cara sejajar garis pantai. Data yang dihimpun meliputi kenampakan fitur pantai dan pesisir. Pengamatan fitur pantai dan pesisir dilakukan 28 secara visual di sepanjang daerah penelitian dengan mengamati antara lain bentuk garis pantai, vegetasi penutup, tata guna lahan/penutupan lahan, keberadaan proteksi pantai baik alami maupun buatan. Pengukuran jarak dari pantai terhadap permukiman dan bangunan-bangunan lainnya dilakukan dengan pengukuran secara horizontal dari garis pantai menuju daratan dengan menggunakan roll meter. Parameter yang diamati dalam kegiatan survei lapang selengkapnya diperlihatkan pada Lampiran 2. 3.5. Metode Pengolahan Data Pada penelitian ini dilakukan pengintegrasian data penginderaan jauh dengan model tsunami. Alur penelitian ini meliputi input data (data citra dan peta, survei lapang dan data sekunder yang terkumpul), pemrosesan dan analisis. Adapun alur pengolahan atau pemrosesan data penelitian ini meliputi beberapa tahapan yaitu : (1) pemetaan karakteristik pantai dan pesisir, (2) identifikasi seismisitas, (3) pemodelan tsunami, (4) penentuan indeks kerentanan pantai. Analisis data untuk menentukan tingkat kelas kerentanan pantai akibat bencana tsunami ditentukan dengan menggunakan metode Cell Based Modelling. Alur proses penelitian selengkapnya disajikan pada Gambar 9. Citra Landsat TM 121/65 tahun 2003, 2006, 2009 Data batimetri ETOPO 1 - Peta dasar untuk bahaya tsunami - Peta penutupan lahan - Peta topografi - Peta batimetri Data historis kegempaan dan sejarah tsunami Parameter gempa Cropping citra Digitasi Gridding Komposit citra Gabung data Ekstraksi data citra : - Penggunaan lahan - Jaringan sungai - Morfometri pantai - Ekosistem pesisir Indektifikasi seismisitas Tsunami Inundation Modelling Data numerik genangan tsunami Verifikasi dan editing Daerah prediksi genangan Overlay : - Topografi - Kemiringan (Slope) - Jarak dari garis pantai - Jarak dari sungai - Penutupan lahan Konsultasi pakar Basis data spasial Parameter risiko tsunami Pemodelan spasial Cell Based Modelling Indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami Gambar 9. Bagan alir penelitian 29 48 30 3.5.1 Identifikasi karakteristik pantai dan pesisir Struktur kajian dalam identifikasi karakteristik pantai meliputi kajian tipologi pesisir, mencakup liputan lahan dan bentuk lahan. Tipologi pesisir menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi bencana tsunami. Kajian tipologi pesisir menurut Suprajaka et al. (2005) ditetapkan dengan menggunakan tiga komponen yaitu abiotik (fisik), biotik (hayati) dan kultural (sosial-ekonomi). Identifikasi karakteristik pantai dilakukan dengan melakukan ekstraksi data spasial dari hasil interpretasi citra penginderaan jaut (Landsat TM), peta-peta dan data-data pendukung lainnya serta melakukan survei lapang. Ekstraksi data tersebut berupa pemetaan karakteristik daerah pantai dan pesisir Pangandaran yang meliputi : 1) Pemetaan topografi Pemetaan topografi dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data hasil survei lapang tim pemetaan Kabupaten Ciamis bersama GITEWS yang dituangkan pada peta dasar untuk bencana tsunami Kabupaten Ciamis. Data ini dikompilasikan dengan data topografi dari peta-peta yang tersedia. Identifikasi kenampakan topografi dimulai dengan melakukan proses digitasi. Langkah ini merupakan proses perubahan data ke dalam bentuk digital. Data hasil digitasi kemudian diinterpolasi (gridding) dengan interval 30 meter. 2) Pemetaan batimetri Pemetaan batimetri menggunakan dua buah kelompok data yaitu peta batimetri Dishidros TNI-AL dan data batimetri ETOPO 1. Peta batimetri Dishidros TNI-AL digunakan untuk menggambarkan keadaan batimetri Pangandaran, sedangkan data batimetri ETOPO 1 digunakan untuk 31 menggambarkan keadaan batimetri perairan lepas pantai selatan Jawa. Pengolahan data batimetri Dishidros TNI-AL dilakukan dengan proses digitasi kemudian dilakukan interpolasi dengan interval 30 meter. Pengolahan data batimetri dari ETOPO 1 tidak dilakukan digitasi terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan data batimetri ETOPO 1 sudah berbentuk data numerik dalam format digital sehingga dapat langsung dilakukan interpolasi. Data batimetri ETOPO 1 diinterpolasi dengan interval 810 meter. 3) Pemetaan kemiringan daratan (slope) Pemetaan kemiringan daratan (slope) dilakukan berdasarkan data topografi. Data kemiringan daratan merupakan data yang diturunkan dari data topografi. Penurunan data topografi dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ArcGIS 9.3. Fungsi yang digunakan adalah surface analyst pada menu spatial analyst. Data topografi dijadikan masukan dalam algoritma matematis pada waktu processing data. Algoritma tersebut dapat mengubah setiap nilai topografi menjadi sebuah nilai baru. Nilai baru inilah yang menggambarkan kemiringan lahan daratan. Satuan kemiringan daratan yang digunakan pada penelitian ini adalah dalam persentase (%). 4) Pemetaan jarak dari garis pantai dan jarak dari sungai Pemetaan jarak dari garis pantai dan jarak dari sungai dilakukan dengan melakukan proses buffering melalui perangkat lunak ArcGIS 9.3. Proses buffering dilakukan dengan menggunakan data spasial garis pantai dan kemudian diklasifikasikan berdasarkan matriks risiko tsunami. Data spasial garis pantai didapatkan dengan melakukan digitasi (digitize on screen) pada peta dasar Pangandaran. Pada penelitian ini pemetaan jarak dari pantai dilakukan dengan 32 teknik buffering sejauh 3000 m dari garis pantai sedangkan untuk pemetaan jarak dari sungai teknik buffering dilakukan sejauh 500 m dari sungai. 5) Pemetaan tata guna lahan dan ekosistem pesisir Pemetaan tata guna lahan dan ekosistem pesisir dilakukan berdasarkan analisis melalui interpretasi citra satelit Landsat dan peta penutupan lahan dari Bappeda Kab. Ciamis. Pada penelitian ini dilakukan proses digitasi terhadap peta penutupan lahan untuk mendapatkan data digital penggunaan lahan serta ekosistem pesisir. Hasil digitasi dari peta penutupan lahan tersebut kemudian di lengkapi dengan data hasil interpretasi citra satelit dan foto udara dari Google Earth. Keseluruhan hasil pengolahan tersebut kemudian divalidasi dengan datadata hasil survei lapang. Hal ini dilakukan untuk memastikan data hasil pengolahan sesuai dengan kenampakan yang sebenarnya di lapangan. Identifikasi ekosistem pantai dan pesisir difokuskan pada ekosistem yang berpengaruh terhadap limpasan gelombang tsunami. Ekosistem tersebut yaitu ekosistem mangrove dan terumbu karang. Kedua ekosistem ini dianalisis berdasarkan citra satelit Landsat dengan proses penajaman citra (Image Enhancement). Pengolahan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak ER Mapper v.7.0. Metode yang digunakan dalam kajian vegatasi mangrove menggunakan komposit warna 453. Pada komposit tersebut mangrove akan teridentifikasi sebagai lahan yang berwarna merah tua. Hal ini karena klorofil dalam daun mengrove menyerap dengan kuat sinar merah dan memantulkan kuat sinar inframerah (Earth Observatory, 2007). Identifikasi terumbu karang dilakukan dengan pendekatan algoritma Lyzenga (1978). Algoritma ini menggunakan band 1 dan band 2 karena kedua 33 band ini diasumsikan memiliki penentrasi yang baik terhadap kolom air. Persamaan algoritma Lyzenga dirumuskan sebagai berikut (Siregar et al., 1995) : Y ln TM ki 1 kj ln TM 2 ......................................................................... (11) dimana, Y = citra hasil ekstraksi; TM1 = band 1 Landsat TM; TM2 = band 1 Landsat TM; dan ki/kj = koefisien antenuasi (a) yang diperoleh dari : a a 2 1 dengan, a var TM 2 1 var TM cov ar TM 1 TM 2 ................................... (12) 2 3.5.2 Identifikasi seismisitas Kaitan kajian gempa bumi pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi gempa bumi sebagai pemicu terjadinya tsunami di wilayah penelitian (zona tsunamigenik). Menurut Galih dan Handayani (2007) aktifitas gempa bumi bisa ditinjau dari bermacam cara, diantaranya adalah dengan peta distribusi gempa bumi (peta seismisitas). Setiap gempa bumi melepaskan energi gelombang seismik, sehingga kumpulan gempa bumi pada periode tertentu di suatu area merupakan suatu cara untuk menggambarkan konsentrasi aktifitas gempa bumi. Identifikasi seismisitas pada penelitian ini dibangun berdasarkan katalog NEIC-USGS. Wilayah kajian identifikasi seismisitas di batasi pada koordinat 8o – 11o LS dan 107o – 110o BT. Data catatan gempa bumi meliputi semua gempa di kedalaman kurang dari 40 km (gempa dangkal) yang terjadi di daerah penelitian selama kurun waktu 1974 – Mei 2011. Pendeskripsian wilayah tsunamigenik ditentukan dengan metode fraktal (Galih dan Handayani, 2007) dan analisis seimotektonik dari Guternberg dan 34 Richter (Rohadi, 2006). Metode ini mengelompokan daerah studi menjadi tiga bagian yang lebih kecil dengan increment 1o (1o x 1o). Metode fraktal ditentukan berdasarkan hubungan antara jumlah kejadian gempa (N) dengan magnitude gempanya (m). Hubungan ini dijelaskan oleh persamaan yang dirumuskan oleh Guternberg dan Richter sebagai berikut (Rohadi, 2006) : log( N ) b .m a .................................................................................. (13) dimana a dan b adalah parameter seismotektonik dan N adalah jumlah gempa bumi dengan magnitude lebih besar dari m. Setelah itu digunakan metode grafik dari Turcotte. Turcotte melakukan penurunan rumus sederhana sehingga didapat besaran dimensi fraktal (D) sebagai berikut (Galih dan Handayani, 2007) : D 2 .b .................................................................................................... (14) dimana b adalah parameter tektonik yang didapat dari hukum Guternberg dan Richter (Rohadi, 2006). Analisis seismisitas dengan menggunakan metode fraktal akan membawa pada wilayah tsunamigenik sebagai zona yang berpotensi sebagai sumber tsunami. 3.5.3 Pemodelan tsunami Pemodelan tsunami pada penelitian ini diselesaikan dengan menggunakan perangkat lunak Turmina Iterface yang terdiri dari Earthquake Analysis dan Tsunami Run-up Modelling. Perangkat lunak ini dapat menyelesaikan persamaan numerik pemodelan tsunami sehingga menghasilkan keluaran berupa waktu tempuh penjalaran tsunami, tinggi tsunami serta run-up tsunami. Perangkat lunak ini merupakan hasil pengembangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 35 (BPPT). Langkah-langkah yang dilakukan dalam menjalankan program simulasi pemodelan tsunami adalah sebagai berikut : 1) Desain model simulasi tsunami Desain simulasi penjalaran gelombang tsunami didesain sebagai model bersarang (nested model). Metode ini digunakan atas pertimbangan efisiensi waktu pada saat running model. Metode model bersarang ini menggunakan empat tipe desain grid spasial yang berbeda dimana terdiri dari domain A, domain B, domain C dan domain D. Domain A merupakan domain yang paling besar dan memiliki batas koordinat 104,75o E – 112,50o E dan 11,00o S – 7,00o S. Domain B dan C adalah area yang lebih kecil dari area domain A dan berada pada domain A. Domain B memiliki batas 108,05o E – 109,20o E dan 8,30o S – 7,55o S, sedangkan domain C memiliki batas 108,35o E – 108,90o E dan 7,95o S – 7,60o S. Domain D merupakan daerah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini (Pangandaran), dimana memiliki batas 108,55o E – 108,70o E dan 7,75o S – 7,65o S. Desain model bersarang diperlihatkan pada Gambar 10. Gambar 10. Domain model bersarang (nested model) : a) domain A; b) domain B; c) domain C dan d) domain D 36 Penentuan domain A harus mengikutsertakan domain B, domain C dan domain D, sehingga domain A merupakan domain terbesar yang mengandung keseluruhan domain. Sumber gempa yang menjadi pemicu tsunami harus berada pada wilayah domain sehingga penjalarannya dapat diperhitungkan. Setiap domain memiliki karakteristik grid yang berbeda. Grid untuk Domain A sampai D memiliki ukuran grid yang semakin mengecil. Domain D merupakan domain yang memiliki resolusi grid paling halus (jarak grid lebih kecil). Keterangan selengkapnya mengenai ukuran spasial (ukuran grid dan jarak grid) dari setiap domain yang dibangun disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Karakteristik ukuran spasial dalam model bersarang Domain Jarak Grid dx=dy Ukuran Grid A 810 m 1057 x 546 B 270 m 471 x 308 C 90 m 678 x 431 D 30 m 553 x 369 Koordinat 104,75o E – 112,50o E 7,00o S 108,05o E – 109,20o E 7,55o S 108,35o E – 108,90o E 7,60o S 108,55o E – 108,70o E 7,65o S 11,0o S – 8,30o S – 7,95o S – 7,75o S – 2) Desain skenario model pembangkit tsunami Penghitungan besarnya tsunami yang dapat terjadi dilakukan dengan membuat skenario sumber gempa. Model sumber pembangkit tsunami dalam penelitian ini hanya dibangkitkan oleh pergerakan dasar laut akibat gempa tektonik. Solusi mekanisme sumber gempa sebagai pembangkit tsunami menggunakan data historis kejadian tsunami di Pangandaran (2006) dan Banyuwangi (1994), selain itu di tentukan berdasarkan analisis peneliti terhadap tingkat seismisitas di wilayah penelitian. Kejadian tsunami di Pangandaran dan Banyuwangi mempunyai parameter gempa seperti diuraikan dalam Lampian 3. 37 3) Pre-processing modelling Tahap ini merupakan persiapan data-data masukan untuk model tsunami yang akan dibangun. Data yang diperlukan adalah data batimetri dan data topografi. Data ini merupakan data dasar dalam model yang akan dibangun. Data batimetri dan topografi mencakup domain A, domain B, domain C dan domain D. Pembuatan input domain D dibangun dengan menggunakan data batimetri Dishidros TNI-AL dan data topografi hasil kompilasi beberapa sumber. Data topografi dan batimetri hasil digitasi kemudian digabungkan dan diinterpolasi dengan interval 30 meter. Keseluruhan data disimpan dalam bentuk ekstensi *.dat, kemudian dilakukan pengolahan lebih lanjut di perangkat lunak Transform v.3.3 sehingga input domain D menjadi susunan matriks. Agar data input domain D dalam bentuk matriks dapat terbaca pada saat perhitungan numerik di Turmina Interface, maka data masukan domain D dikonversi kedalam bentuk ASCII dengan menggunakan Textpad v.4.6.2. Proses pembuatan masukan untuk domain A, domain B dan domain C proses pengolahannya hampir sama seperti domain D. Perbedaanya terletak pada sumber data, dimana pada ketiga domain tersebut hanya menggunakan data batimetri dari ETOPO 1 sebagai data dasar. Ketiga domain yang dibangun dari data tersebut diinterpolasi dengan interval masing-masing adalah 90 meter, 270 meter dan 810 meter. Data-data tersebut bukan merupakan input model, untuk membangun input model domain C, B dan A maka untuk input domain C adalah gabungan antara input domain D dan domain C. Pada posisi koordinat domain D di domain C, diisi dengan semua data pada domain D. Input domain A dan domain B dibangun dengan cara yang sama seperti pada domain C. 38 4) Processing modelling Tahap processing merupakan tahap pacu model. Tahap ini adalah proses running simulasi tsunami berdasarkan masukan parameter gempa, batimetri dan topografi. Metode yang digunakan dalam pemodelan tsunami ini diselesaikan dengan menggunakan aplikasi Turmina interface. Tumina interface terbagi menjadi dua aplikasi yaitu Earthquake Analysis dan Tsunami Run-up Modelling. Earthquake Analysis digunakan untuk memproses data gempa sebagai sumber tsunami. Keluaran dari perangkat lunak ini berupa nilai numerik yang menggambarkan inisialisasi gelombang tsunami awal (elevasi muka air laut awal). Parameter-parameter yang digunakan untuk simulasi awal gelombang tsunami terdiri dari posisi sumber gempa, pajang dan lebar patahan, dislokasi (deformasi), kedalaman pusat gempa (hiposentrum) dan geometri patahan (dip, strike, slip). Inisialisasi gelombang tsunami awal diperoleh dengan menghitung perpindahan vertikal kolom air laut di atas dasar samudera akibat gempa. Menurut Latief (2007) sumber tsunami dalam simulasi tsunami diasumsikan sama dengan perubahan deformasi bawah laut, seperti terlihat pada Gambar 11. Tanda plus (+) menyatakan terjadi kenaikan muka air laut, sedangkan tanda minus (-) menunjukan terjadinya penurunan muka air laut. Gambar 11. Pencerminan lantai samudera oleh muka laut (Latief, 2007) 39 Tsunami Run-up Modelling memproses data keluaran yang dihasilkan oleh aplikasi Earthquake Analysis menjadi simulasi penjalaran gelombang tsunami. Keluaran model berupa data numerik tiap langkah waktu yang menggambarkan proses penjalaran dan ketinggian gelombang tsunami di sepanjang daerah yang dimodelkan. Model tsunami dalam penelitian ini berjenis Near Field Tsunami dimana jarak antara pembangkit tsunami dengan pantai cukup dekat yaitu kurang dari 1000 km. Persamaan penjalaran gelombang tsunami ini dikembangkan dari persamaan gerak gelombang linier yaitu gelombang periaran dangkal, dengan mengabaikan suku gesekan dasar laut. Sedangkan untuk pemodelan run-up tsunami digunakan persamaan linier dan non-linier, dimana dalam hal ini pengaruh gesekan dasar diperhitungkan (Imamura, 1994). Data input yang digunakan untuk simulasi penjalaran gelombang tsunami adalah data batimetri dan topografi dalam bentuk kedalaman setiap grid dan data hasil simulasi awal gelombang tsunami. 5) Post-processing modelling Hasil pemodelan tsunami disajikan dalam bentuk gambar peta yang informatif. Hasil pemodelan yang diinterpretasikan hanya pada domain D. Domain di luar domain D tidak diinterpetasikan karena di luar daerah kajian. Perangkat lunak ArcGIS 9.3 dan Xview digunakan sebagai sarana penyajian visualisasi model tsunami. Hasil model kemudian di analisis dengan menggunakan tools pada ArcGIS 9.3. Analisis dilakukan melalui proses pengklasifikasian kedalaman rendamana tsunami (flowdepth) dan limpasan tsunami (run-up) yang dihasilkan dari pemodelan tsunami. Hal ini bertujuan untuk 40 mendapatkan informasi tingkat kerawanan tsunami dari setiap skenario yang telah dibangun. Klasifikasi flowdepth mengacu pada klasifikasi BMKG dan GITEWS (2010). Berdasarkan hal tersebut maka pada penelitian ini ketinggian rendaman tsunami diklasifikasikan menjadi lima kelas yaitu : kelas kerawanan sangat rendah (< 0,5 m), kelas kerawanan rendah (0,5 – 1,5 m), kelas kerawanan sedang (1,5 – 2,5 m), kelas kerawanan tinggi (2,5 – 5 m) dan kelas kerawanan sangat tinggi (> 5 m). Proses ini seluruhnya dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS. Hasil klasifikasi model tsunami ini merupakan parameter yang menjadi dasar dalam menentukan indeks kerentanan pantai. 3.5.4 Penentuan tingkat risiko tsunami Analisis kerentanan yang dikaji pada penelitian ini adalah kerentanan lingkungan pantai dan pesisir terhadap limpasan tsunami (run-up) dan ketinggian genangan tsunami (flow depth). Parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerentanan lingkungan pantai dan pesisir terhadap tsunami adalah : elevasi daratan (topografi), kemiringan daratan (slope), tata guna lahan/penutupan lahan, jarak dari garis pantai, jarak dari sungai dan model tsunami. Dasar pengambilan parameter tersebut ditentukan berdasarkan penelitian sebelumnya dengan melihat parameter penentu tingkat kerentanan di suatu wilayah yang kemudian di modifikasi sesuai dengan konsultasi pakar dan pembimbing berdasarkan kondisi di daerah penelitian. Beberapa hasil penelitian terdahulu yang dijadikan acuan yaitu penelitian yang pernah dilakukan oleh 41 GITEWS (2010), Oktariadi (2009a), Oktariadi (2009b), Sengaji (2009), Hajar (2006) dan Diposaptono dan Budiman (2006). Setiap parameter memiliki kontribusi yang berbeda terhadap tingkat kerentanan dan risiko bencana tsunami. Pemberian skor dimaksudkan untuk menilai faktor pembatas pada setiap parameter, sedangkan pembobot setiap parameter didasarkan pada dominannya suatu parameter terhadap tingkat risiko tsunami. Penentuan bobot dan skor untuk masing-masing parameter dilakukan untuk mengetahui parameter yang dianggap memiliki pengaruh paling besar terhadap tingkat kerentanan pantai. Semakin besar bobot parameter kerentanan pantai terhadap bencana tsunami maka semakin besar kontribusinya terhadap risiko bencana tsunami dan begitupula sebaliknya. Bobot dan skor yang diberikan untuk setiap parameter mengacu pada konsultasi dengan pakar dan penelitian terdahulu. Penjelasan masing-masing parameter dalam menentukan indeks kerentanan pantai adalah sebagai berikut : 1) Model run-up dan flowdepth tsunami Model tsunami merupakan parameter penting dalam analisis risiko bencana tsunami karena dijadikan sebagai masukan utama dalam parameter kerawanan dan kerentanan pantai terhadap bencana tsunami. Berdasarkan hal tersebut maka bobot parameter ini dalam penentuan indeks kerentanan pantai memiliki bobot yang paling besar yaitu 25% (Sengaji, 2009). Model tsunami yang digunakan untuk menentukan indeks kerentanan pantai adalah model tsunami pada skenario ke-4. Hal ini dikarenakan model skenario ke-4 meupakan model yang dibangun bedasarkan prediksi kejadian kasus terburuk yang kemungkinan terjadi 42 2) Elevasi daratan (topografi) Kelas ketinggian daratan menurut Bappeda Kabupaten Ciamis (2004) adalah 0 – 25 m, 25 – 100 m, 100 – 500 m, 500 – 1000 m, dan > 1000 m. Kelas ketinggian tersebut tidak digunakan dalam penelitian ini, sehingga dilakukan klasifikasi ulang menjadi sebagai berikut : < 10 m; 10 – 25 m; 25 – 50 m; 50 – 100 m dan > 100 m. Elevasi daratan pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 20% (Hajar, 2006). 3) Kemiringan daratan (slope) Pengkelasan serta pembobotan kemiringan pantai dalam penelitian ini mengacu pada pembagian kemiringan wilayah Pangandaran oleh Bappeda Kabupaten Ciamis (2004) yang dimodifikasi yaitu < 2%; 2 – 10%; 10 – 15%; 15 – 40% dan > 40%. Kemiringan daratan pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 20% (Sengaji, 2009). Satuan kemiringan daratan yang digunakan pada penelitian ini adalah dalam persentase (%). Menurut Earth Resource Mapping (2010), nilai kemiringan 0% megindikasikan daratan berbentuk datar, nilai kemiringan 100% mengindikasikan kemiringan daratan 45o dan nilai kemiringan 200% mengindikasikan kemiringan daratan berupa vertikal slope. 4) Jarak dari garis pantai Tsunami merupakan fenomena alam yang bersifat merusak, sehingga perlu memperhatikan adanya kawasan penyangga (buffer zone). Pembangunan kawasan untuk permukimam dan pusat-pusat kegiatan penting tentunya harus memperhatikan jarak dari garis pantai guna mengurangi risiko tsunami. Acuan dasar untuk pembuatan jarak (buffer) merujuk pada UU RI No. 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yaitu sempadan pantai 43 (Sengaji, 2009). Selain itu klasifikasi parameter ini merujuk juga pada klasifikasi yang dilakukan oleh GITEWS (2010) dalam membangun peta dasar bahaya tsunami untuk wilayah Pangandaran (Kab. Ciamis). Pada penelitian ini jarak dari garis pantai diklasifikasikan menjadi lima kelas yaitu 500 m; 500 – 1000 m; 1000 – 1500 m; 1500 – 3000 m dan > 3000 m. Jarak dari garis pantai pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 15%. 5) Jarak dari sungai Jarak dari sungai merupakan parameter yang mempengaruhi tingkat risiko tsunami. Tsunami yang memasuki kanal banjir/sungai akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar karena adanya pemusatan energi tsunami sehingga semakin mendorong tsunami masuk lebih jauh ke daratan. Merujuk pada permasalahan tersebut maka perlu dilakukan buffer dari sungai. Pada penelitian ini buffer dari sungai dilakukan pada jarak 100 m; 200 – 300 m; 300 – 500 m dan > 500 m. Jarak dari sungai pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 10% (Hajar, 2006). 6) Bentuk pemanfaatan lahan Tsunami dapat menyebabkan perubahan tata guna lahan, oleh karena itu perlu penataan ruang dengan baik dalam rangka mengurangi risiko tsunami. Acuan penggunaan lahan pada penelitian ini dibagi berdasarkan klasifikasi Oktariadi (2009a) serta Diposaptono dan Budiman (2006). Bentuk pemanfaatan lahan pada penelitian ini diberikan bobot sebesar 10% (Sengaji, 2009). Lima kelas yang diklasifikasikan pada peneletian ini selengkapnya disajikan pada Tabel 5. 44 Tabel 5. Matriks risiko bencana tsunami No Kriteria 1 Model run-up dan flowdepth tsunami skenario ke-4 2 Elevasi daratan (Topografi) 3 Kemiringan daratan (Slope) 4 Jarak dari garis pantai 5 Tata guna lahan 6 Jarak dari sungai Kelas Kerawanan sangat rendah Kerawanan rendah Kerawanan sedang Kerawanan tinggi Kerawanan sangat tinggi > 100 m 50 – 100 m 25 – 50 m 10 – 25 m < 10 m > 45% 15 – 40% 10 – 15% 2 – 10% < 2% > 3000 m 1500 – 3000 m 1000 – 1500 m 500 – 1000 m < 500 m Vegetasi darat/Hutan Semak belukar, Lahan kosong Ladang/Teggalan Perkebunan, Empang/Tambak, Danau Permukiman/Lahan terbangun dan Sawah > 500 m 300 – 500 m 200 – 300 m 100 – 200 m < 100 m Bobot 25 20 20 15 10 Skor 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 10 1 2 3 4 5 Sumber : Bappeda Kab. Ciamis (2004); Diposaptono dan Budiman (2006); GITEWS (2010); Hajar (2006); Oktariadi (2009a); Oktariadi (2009b); Sengaji (2009); UU RI No.27 Tahun 2007 Parameter-parameter yang telah di jelaskan di atas merupakan parameter utama dalam kaitannya terhadap tingkat kerentanan bencana tsunami di wilayah pesisir. Selain parameter tersebut, terdapat parameter lain yang tentunya 45 mempengaruhi tingkat risiko tsunami seperi kemiringan dasar perairan dan morfometri pantai. Kedua parameter tersebut tidak dibobotkan dalam matriks sehingga tidak dioverlay pada pemodelan spasial tingkat risiko tsunami. Pada penelitian ini kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan tidak dibobotkan kedalam matriks risiko tsunami. Hal ini dikarenakan parameter tersebut sudah terintegrasi di dalam hasil model. Pada dasarnya model tsunami yang dibangun sudah memperhitungkan kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan sehingga proses pembobotanya dilakukan terhadap hasil model. 3.5.5 Analisis tingkat kerentanan pantai Indeks kerentanan pantai terhadap bencana tsunami ditentukan melalui fungsi analisis dengan menggunakan metode Cell Base Modeling (CBM). Metode CBM didasarkan pada proses individu dari tiap sel yang digunakan sebagai sarana untuk menganalisis obyek di atas permukaan bumi. Setiap sel tersebut memuat parameter dan memiliki format data grid. Setiap sel yang dimaksud memiliki nilai tertentu yang besarnya tergantung dari besarnya nilai masing-masing parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan bencana tsunami. Hasil pemodelan tsunami dan parameter-parameter kerentanan lingkungan yang sudah dijabarkan sebelumnya harus dikonversi ke dalam bentuk raster. Setiap parameter yang sudah berfomat raster direklasifikasi menjadi kelas kerawanan dan kerentanan. Pengelompokan setiap parameter tersebut mengikuti zonal fuction karena setiap parameter akan mengelompok berdasarkan kesamaan sel tersebut. Sel akan dikodekan berdasarkan kriteria yang membentuk suatu zona. Setiap zona akan memiliki kisaran nilai parameter sebagaimana yang terdapat 46 pada Tabel 5 di atas. Pengkodean sel (calculation) dilakukan secara otomatis oleh perangkat lunak ArcGIS. Pada penelitian ini akan dikelompokan berdasarkan lima kelas (zona) yakni kelas kerentanan sangat tinggi, kerentanan tinggi, kerentanan sedang, kerentanan rendah dan kerentanan sangat rendah. Nilai tiap-tiap kelas didasarkan pada perhitungan dengan rumus model sebagai berikut (Pasek, 2007) : N Bi Si ........................................................................................ (15) dimana, N = total bobot nilai; Bi = bobot pada tiap kriteria dan Si = skor pada tiap kriteria. Selang tiap-tiap kelas diperoleh dari jumlah perkalian nilai maksimum dari tiap bobot dan skor dikurangi jumlah perkalian nilai minimumnya, kemudian dibagi dengan jumlah parameter yang digunakan. Secara matematis selang kelas dituliskan dengan rumus sebagai berikut (Pasek, 2007) : L Bi S i Bi S i max n min ............................................................. (16) dimana, L = lebar selang kelas; Bi = bobot pada tiap kriteria; Si = skor pada tiap kriteria (Tabel 5) dan n = jumlah kelas. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus di atas, dihasilkan lebar selang kelas tingkat risiko tsunami sebesar 0,800 dengan nilai Nminimum sebesar 1 dan nilai Nmaksimum sebesar 5. Nilai tersebut kemudian digunakan dalam penentukan kelas kerentanan pantai akibat bencana tsunami. Kelas kerentanan sangat rendah (K1) didapat dari 1 ditambah dengan 0,800. Nilai kelas kerentanan rendah (K2) didapat dari selang kelas maksimum K1 yaitu 1,800 ditambah 0,800. Nilai selang kelas kerentanan sedang (K3) didapatkan dari selang maksimum K2 yaitu 2,600 ditambah dengan 0,800. Nilai selang kelas kerentanan tinggi (K4) 47 didapatkan dari selang maksimum K3 yaitu 3,400 ditambah dengan 0,800. Nilai selang kelas kerentanan sangat tinggi (K5) didapatkan dari selang maksimum K4 yaitu 4,200 ditambah dengan 0,800. Secara singkat selang kelas masing-masing kelas risiko dapat ditetapkan sebagai berikut (Tabel 5) : Kelas kerentanan sangat rendah (K1) : jika 1,000 ≤ N ≤ 1,800 Kelas kerentanan rendah (K2) : jika 1,801 ≤ N ≤ 2,600 Kelas kerentanan sedang (K3) : jika 2,601 ≤ N ≤ 3,400 Kelas kerentanan tinggi (K4) : jika 3,401 ≤ N ≤ 4,200 Kelas kerentanan sangat tinggi (K5) : jika 4,201 ≤ N ≤ 5,000 Nilai-nilai pada masing-masing kelas seperti yang sudah dijabarkan di atas akan dideskripsikan secara otomatis berupa klasifikasi wilayah pantai dan pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami. Hasil model yang berhasil dibangun, baik itu model penjalaran gelombang tsunami ataupun model klasifikasi tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami untuk wilayah pantai dan pesisir Pangandaran dapat dibuat peta tematiknya. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Pantai dan Pesisir Pangandaran 4.1.1 Elevasi daratan (Topografi) Hasil pemetaan topografi daratan menunjukan bawa kondisi topografi pesisir Pangandaran terdiri dari dataran rendah yang luas di sepanjang pantai dan pesisir. Dataran rendah nampak mulai dari Desa Sukaresik sampai Desa Babakan. Hal ini ditandai dengan warna ketinggian rendah yang hampir homogen disepanjang pesisir daerah tersebut. Dataran rendah pada umumnya membentang dalam radius 1500 m dari garis pantai. Daerah perbukitan berada di bagian selatan Desa Pangandaran dan menghadap langsung dengan Samudera Hindia. Pada jarak 500 m dari garis pantai wilayah ini didominasi oleh ketinggian 25 – 50 m, sedangkan pada jarak 1000 m dari garis pantai kondisi topografi didominasi oleh ketinggian 50 – 100 m. Perbukitan yang membentuk tanjung ini merupakan kawasan Cagar Alam. Berdasarkan survei lapang, perbukitan ini merupakan daerah kars (gamping/kapur). Di area ini banyak ditemukan cekungan-cekungan dan memiliki ketinggian lebih dari 100 m, selain itu daerah ini merupakan pantai berbatu/tebing batu. Wilayah pantai dan pesisir Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih memiliki topografi yang kompleks mulai dari dataran rendah sampai dengan dataran tinggi. Wilayah bagian utara-timur Pangandaran merupakan wilayah berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Klasifikasi topografi daratan di wilayah penelitian disajikan pada Gambar 12. 48 49 Gambar 12. Kelas elevasi daratan (topografi) wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami Berdasakan hasil pemetaan klasifikasi elevasi daratan menurut matriks risiko tsunami, dapat diketahui bahwa daerah dengan ketinggian daratan kurang dari 10 m memiliki jarak yang sangat dekat dengan laut. Luas area untuk kelas ini memiliki luas 3.044,92 Ha. Wilayah dengan ketinggian 10 – 25 m memiliki luas 1.979,02 Ha, daerah dengan ketinggian tersebut masih dominan berada di bagian utara Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih (Tabel 6). Daerah yang memiliki topografi lebih tinggi berada pada jarak yang lebih jauh dari garis pantai. Tabel 6. Luas daerah kelas elevasi daratan (topografi) No 1 2 3 4 5 Tingkat kerentanan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Total Kelas elevasi 0 – 10 m 10 – 25 m 25 – 50 m 50 – 100 m > 100 m Luas (Ha) 3.044,92 1.979,02 657,34 305,15 244,35 6.230,78 50 Mengacu pada Tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa pada umumnya topografi pangandaran memiliki ketinggian kurang dari 10 m. Luas area untuk kelas ini lebih besar dari kelas-kelas yang lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah pantai dan pesisir di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih memiliki tingkat kerentanan tsunami yang sangat tinggi apabila dilihat dari segi elevasi daratannya. Elevasi daratan yang relatif rendah merupakan wilayah dengan tingkat kerentanan yang sangat tinggi. Hal ini menurut Oktariadi (2009b) akan lebih berpotensi untuk terkena limpasan tsunami dalam skala luas di bandingkan daerah yang memiliki topografi lebih tinggi. Rendahnya topografi daratan mempengaruhi seberapa luas masuknya tsunami ke daratan. 4.1.2 Kemiringan daratan (Slope) Kondisi kemiringan daratan pesisir Pangandaran terdiri dari dataran landai yang luas di sepanjang pantai dan pesisir. Sebaran dataran yang landai tersebut terlihat sama seperti sebaran topografi dimana dataran landai nampak mulai dari Desa Sukaresik sampai Desa Babakan. Daerah dengan kondisi kemiringan daratan yang landai pada umumnya membentang dalam radius 3000 m dari garis pantai. Daerah yang memiliki kemiringan daratan di atas 2% cenderung dominan di bagian utara mulai dari sebelah timur Desa Sukahurip sampai bagian barat Desa Cikalong. Daratan di atas 2% juga ditemukan di bagian selatan Desa Pangandaran (Tanjung Pangandaran). Daratan yang memiliki kemiringan di atas 2% berada pada jarak lebih dari 3000 m dari garis pantai kecuali untuk bagian selatan Desa 51 Pangandaran, kemiringan daratan di atas 2% berada pada jarak 500 – 1000 m (Gambar 13). Kemiringan daratan di lokasi penelitian didominasi oleh kelas kurang dari 2 % dengan luas mencapai 4.155,45 Ha. Kelas kemiringan daratan paling rendah berada pada kelas kemiringan daratan lebih besar 40 % dengan luas area hanya 293,78 Ha (Tabel 7). Berdasarkan hal tersebut maka jelas bahwa wilayah pantai dan pesisir di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap bencana tsunami apabila dilihat dari segi kemiringan daratannya. Daerah yang memiliki kemiringan landai akan berpotensi mengalami genangan gelombang tsunami lebih jauh ke arah darat. Pada pantai yang terjal atau curam, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai (Oktariadi, 2009a). Gambar 13. Kelas kemiringan daratan (slope) wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami 52 Tabel 7. Luas daerah kelas kemiringan daratan (slope) No 1 2 3 4 5 4.1.3 Tingkat kerentanan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Total Kelas slope 0 – 2% 2 – 10% 10 – 15% 15 – 40% > 40% Luas (Ha) 4.155,45 912,50 520,65 348,50 293,68 6.230,78 Jarak dari garis pantai Berdasarkan pengamatan di lapangan pada umumnya sarana-sarana penting seperti permukiman di lokasi penelitian memiliki jarak yang relatif dekat dengan garis pantai. Desa Pangandaran digolongkan sebagai daerah yang paling rentan karena berada pada dataran sempit diantara dua sisi teluk yang saling berhadapan (tanah genting). Desa Pangandaran merupakan lokasi wisata yang terkenal di Kabupaten Ciamis, sehingga tidak heran karena potensi daerahnya tersebut maka daerah ini menjadi kawasan padat penduduk. Masyarakat umumnya menempati bangunan yang sangat dekat dengan garis pantai, yaitu dalam jarak antara 100 m hingga 200 m dari garis pantai. Keadaan ini menjadikan permukiman di Desa Pangandaran tergolong sangat rentan terkena gelombang tsunami. Areal permukiman di daerah pesisir Pangandaran semakin lama semakin bertambah banyak dan semakin menjorok ke laut. Berdasarkan hal tersebut maka sangat penting sekali menerapkan penataan ruang yang baik untuk mengurangi risiko tsunami, khususnya di daerah pesisir. Jarak dari garis pantai menunjukan informasi jauh dekatnya suatu wilayah terhadap laut. Daerah yang berada pada jarak kurang dari 500 m dari garis pantai menunjukan daerah yang paling rentan 53 terhadap tsunami. Semakin dekat suatu wilayah terhadap laut maka semakin tinggi tingkat kerentanan dan risiko wilayah tersebut terkena dampak tsunami (NTHMP, 2001). Kelas jarak dari garis pantai wilayah pesisir Pangandaran diperlihatkan pada Gambar 14. Gambar 14. Kelas jarak dari garis pantai wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami 4.1.4 Jarak dari sungai Wilayah Pangandaran yang mencakup Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih merupakan wilayah yang memiliki sungai-sungai besar yang sangat dekat dengan muaranya. Berdasarkan survei lapang dan analisis dari citra satelit Landsat TM diketahui setidaknya terdapat empat buah sungai besar yang melintasi wilayah penelitian. Sungai tersebut adalah Sungai Cikidang bagian barat, Sungai Cikidang bagian timur, Sungai Cikambulan dan Sungai Ciambulungan. 54 Sungai Cikidang terletak di sebelah barat dan timur Desa Babakan (Kecamatan Pangandaran) dan bermuara di muara Cikidang. Sungai Cikidang melewati beberapa desa mulai dari Desa Sukahurip, Desa Babakan, bagian utara Desa Wonoharjo, Desa Pananjung dan Desa Pangandaran. Sungai Cikambulan berada di sebelah timur Desa Cikembulan dan Sungai Ciambulungan berada di Desa Sukaresik, kedua sungai ini bermuara di muara Citonjong yang berada di Desa Sukaresik. Desa Sukaresik, Desa Cikembulan dan bagian timur Desa Pangandaran serta Desa Babakan dapat diklasifikasikan sebagai daerah yang memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi karena di daerah-daerah tersebut terlihat adanya sungai-sungai besar yang dekat dengan muaranya. Sungai-sungai tersebut saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya. Kondisi sungai yang demikian akan menyebabkan daerah yang terletak di antara sungai tersebut akan mempunyai tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap bencana tsunami. Tsunami yang merambat melalui sungai dapat menimbulkan kerusakan yang lebih hebat dari yang diperkirakan. Keadaan ini terjadi karena dengan adanya sungai maka akan semakin mendorong tsunami untuk melintas lebih jauh ke daratan. Pada daerah yang menyempit seperti sungai dan kanal pengendali banjir akan terjadi peningkatan kecepatan dan ketinggian muka air. Hal ini disebabkan debit massa air yang sama harus menjalar melalui celah yang sempit (NTHMP, 2001). Berdasarkan hal tersebut maka penempatan daerah aman harus berada jauh dari sungai yang dekat dengan muarannya. Klasifikasi jarak dari sungai di wilayah penelitian diperlihatka pada Gambar 15. 55 Gambar 15. 4.1.5 Kelas jarak dari sungai wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami Penggunaan lahan (Landuse) Wilayah pesisir termasuk dalam kerentanan yang tinggi terhadap bencana tsunami. Konsep penggunaan lahan harus melihat jarak dari garis pantai agar dapat melindungi daratan dari hantaman gelombang tsunami. Wilayah yang bisa dikategorikan rentan tsunami yaitu berdasarkan penggunaan lahannya bagi kepentingan masyarakat yang menempati wilayah tersebut. Berdasarkan hasil pemetaan dapat diketahui bahwa tipe penggunaan lahan di wilayah penelitian didominasi oleh vegetasi darat/hutan dan area permukiman. Penggunaan lahan berupa permukiman terlihat berada cukup padat di wilayah pesisir Kecamatan Pangandaran, khususnya Desa Pangandaran dan Desa Babakan (Gambar 16). Hasil survei lapang menunjukan bahwa jenis penutupan lahan untuk wilayah pesisir Pangandaran tidak mengalami banyak perubahan bila 56 dibandingkan dengan kondisi yang tergambar pada peta penutupan lahan pesisir Pangandaran dari Bappeda tahun 2004. Jenis penggunaan lahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti permukiman,perkebunan dan sawah memiliki luas area yang cukup luas. Hal ini akan berdampak pada kerugian yang besar apabila gelombang tsunami melanda daerah tersebut. Luas area permukiman mencapai 1.285,50 Ha, keadaan ini menandakan bahwa wilayah pesisir Pangandaran tergolong daerah padat penduduk. Permukiman penduduk menggambarkan tingkat kepadatan penduduk dan sebaran tempat hunian yang akan mempengaruhi tingkat kerugian jiwa maupun harta benda. Luasan dari masing-masing penggunaan lahan disajikan pada Tabel 8. Gambar 16. Kelas jenis penggunaan lahan wilayah pesisir Pangandaran 57 Tabel 8. Luasan jenis penggunaan lahan (landuse) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis penggunaan lahan Danau Empang/Tambak Ladang/Teggalan Lahan kosong Perkebunan Permukiman Sawah Semak belukar Vegetasi darat/Hutan Total Luas (Ha) 14,71 135,64 90,55 325,20 785,65 1.285,50 480,50 521,55 2.584,45 6.230,78 Bencana tsunami dapat menyebabkan terjadinya perubahan lahan, oleh karena itu perlu dilihat tingkat kerentanan penggunaan lahan terhadap tsunami. Acuan klasifikasi tingkat penggunaan lahan terhadap tsunami pada penelitian ini dibagi berdasarkan klasifikasi Oktariadi (2009a) serta Diposaptono dan Budiman (2006). Selain itu pengklasifikasian parameter penggunaan lahan ini didasarkan dari hasil konsultasi pakar dan penelitian yang sebelumnya pernah dilakukan. Hasil klasifikasi jenis penggunaan lahan berdasarkan matriks risiko tsunami menunjukan daerah yang memiliki kerentanan sangat tinggi di Kecamatan Pangandaran dominan berada di Desa Pangandaran dan Desa Babakan. Sedangkan untuk Kecamatan Sidamulih daerah yang paling dominan memiliki kerentanan yang sangat tinggi berada di Desa Cikembulan. Hal ini disebabkan karena di daerah tersebut banyak dimanfaatkan sebagai area permukiman dan lahan-lahan terbangun yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Peta kerentanan penggunaan lahan di wilayah kajian selengkapnya disajikan pada Gambar 17. 58 Gambar 17. Kelas kerentanan penggunaan lahan wilayah pesisir Pangandaran berdasarkan tingkat kerentanannya terhadap bencana tsunami Pada umumnya tingkat kerentanan penggunaan lahan terhadap bencana tsunami paling luas berada pada kelas dengan kerentanan sangat rendah dan sangat tinggi. Luas area dengan tingkat kerentanan penggunaan lahan sangat rendah mencapai 2.580,45 Ha. Sedangkan luas area dengan tingkat kerentanan penggunaan lahan sangat tinggi mencapai 1.773,03 Ha (Tabel 9). Kajian risiko tsunami dalam hal ini mengedepankan area permukiman sebagai area paling rentan. Sebagian besar daerah permukiman terletak di daerah pesisir dan dekat dengan laut sehingga berpotensi besar terhadap bahaya tsunami. Penggunaan lahan yang tidak banyak melibatkan manusia seperti lahan kosong, semak belukar dan vegetasi darat/hutan berada pada daerah yang aman. Atas dasar tersebut maka penggunaan lahan di wilayah pesisir harus memperlihatkan konsep penataan ruang yang berbasis bencana alam. 59 Tabel 9. Luas daerah tingkat kerentanan penggunaan lahan No 1 2 3 4 5 4.1.6 Tingkat kerentanan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Tipe Penggunaan lahan Permukiman dan Sawah Perkebunan, Empang/Tambak, Danau Ladang/Teggalan Semak belukar, Lahan kosong Vegetasi darat/Hutan Total Luas (Ha) 1.773,03 936,00 90,55 846,75 2.580,45 6.230,78 Kondisi batimetri wilayah pantai dan lepas pantai Kondisi batimetri wilayah lepas pantai (domain A) digambarkan dengan menggunakan data batimetri ETOPO 1. Data batimetri ini dikeluarkan oleh British Oceanographic Data Center. Data ETOPO 1 diperoleh dari hasil data satelit altimetri TOPEX. Berdasarkan pengolahan tiga dimensi dengan menggunakan perangkat lunak Global Mapper diketahui bahwa di dasar Samudera Hindia sebelah selatan Pulau Jawa terdapat palung yang sangat curam dengan kedalaman lereng lebih dari 7.500 meter. Palung ini memanjang dari ujung Pulau Sumatera sampai bagian timur Pulau Jawa. Keadaan tersebut menjadikan daerah di sepanjang palung memiliki risiko yang tinggi sebagai sumber tsunami. Hal ini dikarenakan bila terjadi gempa di daerah palung, maka ada kemungkinan hal itu mengganggu kestabilan lereng dan bila sampai roboh akan menimbulkan tsunami besar. Bagian selatan palung terlihat kondisi dasar laut yang hampir homogen membentuk basin dengan kedalaman yang besar. Hal ini akan megakibatkan gelombang tsunami akan mempunyai kecepatan tinggi apabila melitas di daerah tersebut. Kondisi batimetri di wilayah lepas pantai Pangandaran diperlihatkan pada Gambar 18. 60 Gambar 18. Profil tiga dimensi batimetri wilayah lepas pantai Pangandaran Profil batimetri untuk wilayah penelitian (Pangandaran) mengacu pada peta batimetri Dishidros TNI-AL. Hasil pemetaan batimetri wilayah penelitian menunjukan bahwa kedalaman dekat pantai umumnya dangkal dan semakin ke tengah laut kedalaman perairan semakin bertambah (Gambar 19). Gambar 19. Profil tiga dimensi batimetri wilayah pantai Pangandaran 61 Kondisi batimetri perairan Pangandaran memperlihatkan bahwa semakin mendekati pantai maka kondisi batimetri semakin dangkal dan hampir homogen. Kisaran kedalaman perairan di wilayah penelitian berkisar 0 – 40 m sehingga kondisi batimetri tergolong dangkal. Kondisi batimetri di sebelah barat (Desa Sukaresik dan Desa Cikembulan) relatif lebih dangkal. Keadaan ini terjadi karena di daerah tersebut terdapat muara Citonjong sehingga banyak terendapkan material sungai. Kondisi batimeti yang serupa berada di bagian timur Pangandaran (Desa Sukaresik), dimana di wilayah tersebut terdapat muara Cikidang. Kondisi batimetri yang dangkal menurut Yalciner et al. (2006) akan mempengaruhi kecepatan transportasi energi di laut yang lebih dalam sehingga kecepatan tsunami di laut yang lebih dalam akan lebih tinggi daripada kecepatan tsunami di laut yang lebih dangkal. Kondisi kemiringan dasar perairan di wilayah perairan Pangandaran didominasi oleh kemiringan dasar yang landai. Keadaan ini diketahui berdasarkan analisis profil batimetri dengan menggunakan menu 3D Path Profile/Line of Sight Tool pada perangkat lunak Global Mapper. Profil kemiringan dasar laut untuk setiap titik observasi disajikan pada Lampiran 4. Hasil identifikasi tersebut menunjukan bahwa kemiringan dasar perairan wilayah perairan Pangandaran berkisar antara 0,52o – 1,93o. Kemiringan dasar perairan cenderung menurun mulai dari bagian barat perairan Desa Sukaresik sampai wilayah barat perairan Desa Pangandaran. Keadaan berbeda diperlihatkan pada wilayah perairan sebelah timur tepatnya di perairan Desa Sukaresik. Wilayah perairan ini memiliki kemiringan yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah 62 perairan disekitarnya. Berikut ini disajikan kemiringan dasar perairan di wilayah kajian untuk setiap titik observasi pada Tabel 10. Tabel 10. Kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi Koordinat (o) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 From Pos To Pos 108,567 E – 7,687 S 108,581 E – 7,685 S 108,593 E – 7,684 S 108,599 E – 7,683 S 108,606 E – 7,684 S 108,618 E – 7,685 S 108,626 E – 7,685 S 108,634 E – 7,687 S 108,638 E – 7,687 S 108,642 E – 7,688 S 108,649 E – 7,693 S 108,655 E – 7,702 S 108,659 E – 7,701 S 108,664 E – 7,692 S 108,672 E – 7,686 S 108,681 E – 7,681 S 108,696 E – 7,677 S 108,567 E – 7,692 S 108,581 E – 7,689 S 108,593 E – 7,689 S 108,599 E – 7,688 S 108,606 E – 7,689 S 108,618 E – 7,689 S 108,626 E – 7,689 S 108,634 E – 7,691 S 108,638 E – 7,692 S 108,642 E – 7,692 S 108,649 E – 7,696 S 108,651 E – 7,702 S 108,664 E – 7,701 S 108,667 E – 7,696 S 108,675 E – 7,689 S 108,683 E – 7,684 S 108,696 E – 7,681 S Desa Kemiringan dasar perairan (o) Sukaresik Sukaresik Sukaresik Cikembulan Cikembulan Cikembulan Wonoharjo Wonoharjo Wonoharjo Pananjung Pananjung Pangandaran Pangandaran Pangandaran Babakan Babakan Babakan 1,14 0,89 0,83 0,77 0,70 0,78 0,76 0,74 0,66 0,59 0,55 0,52 0,66 0,83 1,29 1,93 1,02 Berdasarkan karakteristik batimetri dan kemiringan dasar perairan yang telah diuraikan di atas, maka gelombang tsunami akan lebih dulu tiba di wilayah pantai sebelah barat (Desa Sukaresik) dan disebelah timur (Desa babakan). Hal ini dikarenakan kedalaman perairan dan kemiringan dasar perairan di kedua wilayah tersebut cenderung lebih besar dibandingkan dengan wilayah lainnya. Keadaan ini sesuai seperti yang dikemukan oleh Yudhicara (2008) dimana gelombang tsunami akan memiliki kecepatan lebih besar dan lebih dulu tiba di lokasi yang memiliki kontur batimetri yang lebih dalam. Menurut Mudhari (2009) kondisi 63 batimetri demikian akan mengakibatkan jarak daerah pecah gelombang dengan pantai menjadi semakin kecil. Pada penelitian ini kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan tidak dibobotkan kedalam matriks risiko tsunami. Hal ini dikarenakan parameter tersebut sudah terintegrasi di dalam hasil model. Pada dasarnya model tsunami yang dibangun sudah memperhitungkan kondisi batimetri dan kemiringan dasar perairan sehingga proses pembobotannya dilakukan terhadap hasil modelnya saja. 4.1.7 Morfometri pantai Pada penelitian ini bentuk morfometri pantai tidak digunakan dalam penentuan indeks kerentanan pantai. Hal ini dikarenakan bentuk morfometri pantai cenderung homogen, mengingat daerah yang diidentifikasi masih dalam skala kecil (skala kecamatan). Wilayah pesisir Pangandaran memiliki bentuk morfometri yang unik dan khas. Bentuk garis pantai Pangandaran membentuk air mata (teardrop) yang masuk ke Samudera Hindia. Bentuk seperti ini mengakibatkan garis pantai Pangandaran membentuk tanjung yang diapit dua sisi teluk yang hampir simetris. Teluk ini adalah Teluk Parigi di sisi sebalah barat dan Teluk Pangandaran di sisi sebelah timur Desa Pangandaran. Pangandaran merupakan daerah berteluk, pada dasarnya bentuk pantai berteluk akan memfokuskan gelombang tsunami yang sedang berjalan ke arahnya, sehingga energi gelombang tersebut terakumulasi pada cekungan tersebut dan mampu meningkatkan ketinggian gelombang tsunami yang sampai di pantai (Diposaptono dan Budiman, 2005). 64 4.1.8 Ekosistem pantai dan pesisir Pendugaan awal ekosistem pesisir dilakukan dengan penajaman citra. Penajaman citra untuk terumbu karang adalah komposit RGB 421, sedangkan untuk mangrove adalah komposit RGB 453. Berdasarkan penajaman dengan komposit RGB 421, keberadaan ekosistem terumbu karang tidak terdeteksi dalam citra Landsat TM tahun 2003, 2006 dan 2009. Hasil survei lapang memberikan penjelasan lain, dimana diketahui bahwa di perairan Pangandaran terdapat ekosistem terumbu karang. Berdasarkan hasil penelitian Wulandari (2002), diketahui terumbu karang dapat ditemukan pada kawasan Cagar Alam laut di pantai timur (Batu Nunggul dan Batu Layar) dan pantai barat Desa Pangandaran (Batu Mandi dan Pasir Putih). Tipe terumbu karang berupa karang tepi (fringing reef) yang mempunyai panjang 1,5 km dengan lebar hanya 50 m. Hasil penelitian Wulandari (2002) menunjukan bahwa persentasi penutupan karang hidup di Pangandaran secara keseluruhan termasuk dalam kategori buruk. Substrat dasar perairan sebagian besar ditutupi oleh rubble. Pengamatan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa sebagian besar terumbu karang di Pangandaran dalam kondisi rusak (Wulandari, 2002). Survei lebih lanjut pada tahun 2005 memperlihatkan kerusakan terjadi semakin parah. Pengamatan terakhir pada tahun 2008 menunjukkan hasil tidak berbeda jauh. Tutupan karang hidup di pantai barat hanya sekitar 11,48 % , sedangkan di pantai timur 18,21 % sehingga dikategorikan rusak menurut kriteria baku Kementerian Lingkungan Hidup (Wulandari, 2002). 65 Kerusakan ini disebabkan baik oleh aktifitas penangkapan ikan maupun pariwisata seperti menginjak karang, mengambil karang, penangkapan ikan berlebih atau dengan racun, sampah, tertabrak perahu atau putaran baling baling mesin kapal yang mengaduk sedimen. Selain itu erosi di daerah sepanjang aliran sungai sungai bermuara di perairan Pangandaran menyebabkan tingginya tingkat sedimentasi dan dapat merusak kehidupan terumbu karang. Berdasarkan hal tersebut dapat terlihat bahwa keberadaan ekosistem terumbu karang tidak memberikan pengaruh yang signifikan untuk menurunkan tingkat kerawanan bencana tsunami di Pangandaran. Hal ini disebabkan karena sebaran terumbu karang bersifat lokal dan sempit. Ekosistem mangrove ditemukan di kawasan penelitian dalam skala yang sangat kecil. Berdasarkan data spasial Bappeda Kab. Ciamis (2009) kemungkinan besar dahulu terdapat hutan mangrove di Pangandaran. Hal ini dapat dilihat dengan terdapatnya muara muara sungai cukup lebar, tempat yang ideal bagi tumbuhan mangrove. Namun kini hanya sedikit yang tersisa, tinggal berupa deretan pohon nipah (Nypa fruticans) di sepanjang pinggiran sungai. Jenis jenis tumbuhan mangrove lainnya boleh dibilang telah hilang. Hal ini sangat disayangkan mengingat hutan ini memiliki manfaat sangat besar bagi kehidupan diantaranya sebagai pelindung pantai dari pukulan ombak dan menahan lumpur yang dibawa sungai atau abrasi akibat gelombang laut. Keadaan ini menjadikan ekosistem mangrove di kawasan penelitian tidak memberikan pengaruh yang signifikan untuk menurunkan risiko bencana tsunami. 66 4.2. Kejadian Gempa Tektonik Berdasarkan catatan sejarah yang terangkum dalam katalog NEIC-USGS selama kurun waktu 1974 – Mei 2011 diketahui bahwa di wilayah lepas pantai Pangandaran umumnya terjadi gempa bumi berkekuatan 5 – 6 SM, gempa dengan kekuatan lebih kecil dari 5 SM lebih sering terjadi. Gempa terbesar yang pernah terjadi berkekuatan 7,7 SM. Gempa tersebut menimbulkan bencana tsunami yang melanda kawasan Pangandaran dan wilayah pesisir sekitarnya pada tahun 2006. Jumlah kejadian gempa yang terekam di wilayah penelitian pada rentang tahun 1974 – Mei 2011 terjadi sebanyak 683 kejadian dengan rentang kekuatan 3 – 7,7 SM. Pada rentang tahun ini gempa dengan kekuatan lebih kecil dari 5 SM terjadi sebanyak 585 kali, gempa berkekuatan 5,1 – 6 SM terjadi 94 kali, gempa berkekuatan 6,1 – 7 SM terjadi sebanyak 3 kali dan gempa dengan kekuatan di atas 7 SM hanya terjadi sekali. Bedasarkan hasil pemetaan pusat-pusat gempa (episentrum) yang terjadi di lepas pantai Pangandaran diketahui tipe sebaran pusat gempa-gempa dangkal terlihat rapat dan berkumpul di sekitar pusat gempa Pangandaran. Episentrum tersebut berada hampir tegak lurus dengan kawasan pesisir Pangandaran. Wilayah sebelah barat dari pusat gempa pangandaran memiliki frekuensi kegempaan yang lebih tinggi. Wilayah lepas pantai sebelah timur Pangandaran terlihat intensitas kegempaanya jauh lebih sedikit. Menurut Natawidjaja (2007) wilayah tersebut merupakan zona seismic gap yang membentang sepanjang 400 km. Seismic gap merupakan kawasan sepi gempa yang sangat berpotensi menjadi sumber gempa kuat/besar dan tsunami dimasa yang akan datang. Peta seismisitas di wilayah kajian diperlihatkan oleh Gambar 20. 67 Gambar 20. Tingkat seismisitas di wilayah kajian selang waktu 1974 – Mei 2011 (NEIC-USGS, 2011) Gempa-gempa yang terlihat pada peta seismisitas di atas merupakan gempa-gempa dangkal (≤ 40 km) yang terjadi di wilayah lepas pantai Pangandaran. Pusat gempa di perairan tersebut walaupun tergolong gempa-gempa dangkal belum tentu menjadi sumber pembangkit tsunami. Menurut Shuto (1993) tsunami akan terbentuk apabila terjadi gempa dangkal dengan kedalaman pusat gempa kurang dari 33 km (versi USGS < 48 km), magnitude gempa harus lebih besar dari 6 SR dan dan gempa menghasilkan deformasi vertikal yang besar di dasar laut, sehingga patahan sumber gempa berupa patahan naik (thrust fault) atau patahan turun (normal fault). Gempa Pangandaran serta gempa-gempa yang sering terjadi di selatan Jawa pada umumnya terjadi pada zona subduksi Jawa. Zona subduksi ini secara 68 kasat mata nampak sebagai palung Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Natawidjaja (2007) menjelaskan bahwa subduksi Jawa memiliki umur cukup tua yakni lebih dari 150 juta tahun sehingga sempat dianggap bersifat aseismik atau tidak menghasilkan gempa. Adanya peristiwa gempa Pancer (1994) dan Pangandaran (2006) dimana keduanya sama-sama memiliki momen magnitude lebih besar 7 SM, menunjukkan subduksi ini tetap harus diperhitungkan sebagai sumber potensial gempa besar di masa yang akan datang. Proses subduksi ini akan terus berlangsung dan terus menekan sehingga mengakibatkan terakumulasinya energi tekanan di daerah ini. Apabila batuan sedimen yang tertekan di wilayah tersebut sudah tidak kuat lagi menahan energi, maka energi tersebut akan dilepaskan berupa kejadian gempa bumi. Analisis parameter seismik pada penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk menentukan zona tsunamigenik (sumber tsunami). Selain itu parameter seismik merupakan hal yang penting karena perubahan tingkat seimisitas suatu wilayah berhubungan erat dengan perubahan stress dan tekanan di bawah permukaan wilayah tersebut (Soehaimi, 2008). Hubungan antara jumlah kejadian gempa dan magnitude gempa untuk setiap wilayah kajian ditampilkan pada Gambar 21. Hasil analisis regresi linier menunjukan bahwa frekuensi kejadian gempa menurun secara eksponensial dengan meningkatnya kekuatan gempa. Berdasarkan hasil pengolahan regresi linier maka diperoleh nilai-b yang akan menentukan angka dimensi fraktal. Angka dimensi fraktal digunakan untuk melihat tingkat stress dan tekanan di bawah permukaan yang terjadi disuatu wilayah (Galih dan Handayani, 2007). 69 107o に 108o BT dan 8o に 11o LS (a) 1 y = -0,898x + 4,367 R² = 0,893 0,5 Log (N) 0 -0,5 0 2 4 6 8 6 8 -1 -1,5 -2 -2,5 Magnitude (SM) 108o に 109o BT dan 8o に 11o LS (b) 1 0,5 y = -0,858x + 4,206 R² = 0,952 Log (N) 0 -0,5 0 2 4 -1 -1,5 -2 -2,5 Magnitude (SM) 109o に 110o BT dan 8o に 11o LS (c) 1 0,5 y = -0,579x + 2,185 R² = 0,866 Log (N) 0 -0,5 0 2 4 6 8 -1 -1,5 -2 -2,5 Magnitude (SM) Gambar 21. Hubungan jumlah kejadian gempa dan magnitude gempa: (a) 107o – 108o BT dan 8o – 11o LS; (b) 108o – 109o BT dan 8o – 11o LS; (c) 109o – 110o BT dan 8o – 11o LS 70 Wilayah sebelah barat lepas pantai Pangandaran (107o – 108o BT dan 8o – 11o LS) memiliki angka dimensi fraktal sebesar 1,79. Nilai tersebut masih lebih besar apabila dibandingkan dengan angka dimensi fraktal untuk wilayah di bagian tengah (108o – 109o BT dan 8o – 11o LS) dan timur lepas pantai Pangandaran (109o – 110o BT dan 8o – 11o LS ) dimana nilainya masing-masing adalah 1,71 dan 1,15. Perairan sebelah barat lepas pantai Pangandaran memiliki angka dimensi fraktal paling besar. Keadaan ini menjelaskan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah paling aktif gempa dibandingkan wilayah kajian lainnya. Hal ini sesuai dengan tingginya kejadian gempa di wilayah tersebut. Intensitas kejadian gempa yang rendah berada di bagian timur lepas pantai Pangandaran. Rohadi (2006) menyatakan bahwa bagian wilayah dengan intensitas gempa yang rendah biasanya berkorelasi dengan tingkat stress yang tinggi. Hal ini berarti bahwa wilayah tersebut berpotensi lebih besar terjadi gempa bumi berkekuatan tinggi. Berdasarkan asumsi tersebut maka di sebelah timur lepas pantai Pangandaran pada saat ini tengah mengakumulasi energi tegangan akibat proses subduksi yang sewaktu-waktu akan dilepaskan berupa gempa bumi berkekuatan besar. 4.3. Hasil Pemodelan Tsunami 4.3.1 Skenario simulasi model Skenario simulasi pada pemodelan ini dilakukan dengan membuat sejumlah skenario yang dianggap paling sesuai dan paling mungkin terjadi. Pada penelitian ini dibangun empat buah skenario yang menjadi dasar dalam pemodelan tsunami. 71 Skenario pertama dibangkitkan oleh gempa bumi yang mengakibatkan tsunami di Pangandaran. Menurut Harvard CMT gempa tersebut memiliki kekuatan 7,7 SM atau 4,0 x 1027 dyne.cm. USGS menjelaskan posisi pusat gempa berada pada koordinat 9,295o LS dan 107,347o BT dengan kedalaman pusat gempa 6 km. Pusat gempa yang pernah terjadi pada tahun 2006 tersebut berada pada jarak 230 km dari arah utara Pulau Christmas, 235 km dari arah barat Tasikmalaya, 260 km dari arah selatan Bandung dan 355 km dari arah utara Jakarta (NEIC-USGS, 2006a). Skenario model ke-2 dibangun pada posisi episetrum gempa yang sama seperti pada skenario pertama. Besar gempa yang diterapkan pada skenario ke-2 adalah 8,5 SM. Pemilihan skenario ini dipilih sebagai pembanding pengaruh besarnya kekuatan gempa pada daerah/posisi pusat gempa yang sama. Posisi sumber tsunami untuk skenario ke-3 dan skenario ke-4 ditentukan berdasarkan analisis dari segi parameter seismik. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, diketahui bahwa wilayah sebelah timur dari pusat gempa Pangandaran memiliki frekuensi kegempaan yang lebih sepi dibandingkan dengan di wilayah sebelah baratnya. Berdasarkan hal tersebut, maka model sumber tsunami untuk skenario ke-3 dan skenario ke-4 posisi episentrumnya berada pada batas tersebut. Daerah ini digunakan sebagai sumber tsunami walaupun kejadian gempa relatif sepi. Menurut Natawidjaja (2007) daerah yang relatif sepi gempa bukan berarti daerah tersebut aseismik (tidak aktif), justru hal ini mengindikasikan bahwa wilayah tersebut sedang menimbun energi karena belum mengalami 72 pematahan. Pelepasan energi berupa gempa kuat disertai tsunami mendatang yang akan menerpa pesisir selatan Jawa berpotensi bersumber dari sini. Skenario ke-3 dibangkitkan oleh gempa bumi yang berada pada posisi 9,195o LS dan 108,500o BT. Pusat gempa tersebut memiliki jarak yang lebih dekat dengan Pangandaran yaitu sekitar 165 km dari arah selatan Pangandaran. Posisi episetrum pada skenario ke-4 posisinya lebih bergerak ke sebelah timur dari pusat gempa Pangandaran, yakni pada koordinat 10,280o LS dan 109,800o BT. Skenario ke-4 menggunakan parameter gempa Pancer. Hal ini untuk menyesuaikan arah tujaman (strike) dengan keadaan sebenarnya. Menurut Handayani dan Harjono (2008) semakin ke arah timur jalur konvergensi antara lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia, arah tujaman semakin menujam dengan arah normal. Secara ringkas parameter-parameter yang menjadi dasar model pembangkit tsunami disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Parameter masukan untuk masing-masing skenario yang dibangun (NEIC-USGS, 2009b) Parameter Gempa o Lintang ( ) o Bujur( ) Hiposentrum (km) o Strike ( ) Dip (o) o Slip ( ) Momen Magnitude (Mw) Momen Seismik (dyne.cm) Skenario Gempa 1 2 3 4 -9,295 -9,295 -9,195 -10,280 107,347 107,347 108,500 109,800 6,0 6,0 6,0 6,0 289,0 289,0 289,0 276,0 10,0 10,0 10,0 89,0 95,0 95,0 95,0 79,0 7,7 8,5 8,5 8,9 27 28 28 2,4 x 1029 4 x 10 7 x 10 7 x 10 Panjang Patahan (km) 82,0 214,0 214,0 314,0 Lebar Patahan (km) 41,0 107,0 107,0 157,0 2,4 6,2 6,2 8,8 Dislokasi/Defomasi (m) 73 4.3.2 Simulasi gelombang tsunami awal Besar gempa yang diterapkan pada skenario ke-1 adalah 7,7 SM. Berdasarkan kekuatan gempa tersebut maka dengan formula empiris Emile A. Okal diperoleh panjang patahan sejauh 82 km, lebar patahan 41 km dan dislokasi atau pergeseran bidang patahan (deformasi) sebesar 2,4 m. Hal yang hampir serupa disampaikan oleh NEIC-USGS (2006a), dalam laporannya menyatakan bahwa lokasi patahan penyebab tsunami Pangandaran yang berjarak sekitar 50 km dari palung Jawa memiliki luas patahan seluas 5.600 km2 (80 x 70 m) dan pergeseran total (dislokasi) yang terjadi dalam patahan ini mencapai 1,97 meter. Gempa sebesar 8,5 SM yang diterapkan pada skenario ke-2 menghasilkan panjang patahan sepanjang 214 km dengan lebar patahan 107 km dan dislokasi 6,2 m. Skenario model ke-3 dan ke- 4 dibangun dengan kekuatan gempa sebesar 8,5 SM dan 8,9 SM. Bidang patahan yang terbentuk untuk kasus pada skenario ke-3 karakteristiknya sama seperti pada kasus skenario ke-2. Hal ini disebabkan besar kekuatan gempa yang digunakan memiliki energi yang sama yaitu sebesar 8,5 SM. Bidang patahan untuk kasus skenario ke-4 memiliki magnitude paling besar dan ekstrim. Pada skenario ke-4 diperoleh panjang patahan sepanjang 314 km dengan lebar 157 km dan dislokasi sebesar 8,8 m. Deformasi patahan di dasar laut merupakan efek dari kekuatan gempa. Hal ini akan menjadikan medan gelombang tsunami awal atau disebut juga sebagai gelombang tsunami awal. Hasil simulasi menunjukan adanya perubahan ketinggian muka air positif dan negatif. Muka air yang bernilai negatif atau lembah gelombang menghadap ke daerah pantai selatan Jawa Barat, tepatnya tegak lurus terhadap pesisir Pangandaran. Gelombang negatif ini menurut 74 Slawson dan Savage (1979) mengindikasikan sebagai pemicu terjadinya surutnya air laut di pantai sebelum gelombang tsunami tiba. Keadaan ini telah terbukti ketika terjadi tsunami di Pangandaran pada tahun 2006. Berdasarkan kesaksian saksi mata, air laut mengalami surut sekitar 50 sampai dengan 100 meter sampai akhirnya tsunami datang di kawasan pantai. Hasil simulasi di daerah pembangkitan gelombang tsunami diperlihatkan oleh Gambar 22. (a) 7,7 SM (b) 8,5 SM (c) 8,5 SM (d) 8,9 SM Elevasi (m) Gambar 22. Ketinggian muka air laut awal sesaat setelah terjadi gempa di dasar laut : (a) Skenario ke-1; (b) Skenario ke-2; (c) Skenario ke-3; dan (d) Skenario ke-4 Besarnya pergerakan yang terjadi dan luas atau panjangnya zona patahan gempa sebanding dengan besar magnitude gempanya. Semakin besar kekuatan gempa maka semakin besar pula pergerakan dan luas wilayah patahannya. 75 Keadaan ini seperti dikemukan Latief (2007) yang menyatakan bahwa parameter kekuatan gempa akan menentukan bidang patahan seperti panjang patahan, lebar patahan dan dislokasi. Semakin besar kekuatan gempa maka semakin luas bidang patahan yang terbentuk, selain itu sumber tsunami juga semakin luas. Hasil simulasi di daerah pembangkit gelombang tsunami menunjukan perubahan ketinggian muka air positif dan negatif. Bila dilakukan pemotongan melintang pada daerah sumber pembangkit tsunami sebagaimana garis A – A’, dapat dilihat dengan jelas profil muka air laut di daerah pembangkit. Potongan melintang perubahan elevasi muka air laut ditunjukan pada Gambar 23. -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,1 -8,4 -8,7 -9 -9,3 -9,6 -9,9 -10,1 -10,4 -10,7 Elevasi (m) A-A' (Skenario 2) 6 4 2 0 -2 -4 -6 -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,2 -8,5 -8,8 -9,2 -9,5 -9,8 -10,1 -10,4 -10,7 Koordinat (oLS) Koordinat (oLS) a) 7,7 SM b) 8,5 SM Elevasi (m) -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,1 -8,4 -8,7 -9 -9,3 -9,6 -9,9 -10,1 -10,4 -10,7 Elevasi (m) A-A' (Skenario 3) 6 4 2 0 -2 -4 -6 Koordinat (oLS) c) 8,5 SM 6 4 2 0 -2 -4 -6 A-A' (Skenario 4) -7 -7,3 -7,6 -7,9 -8,1 -8,4 -8,7 -9 -9,3 -9,6 -9,9 -10,1 -10,4 -10,7 Elevasi (m) A-A' (Skenario 1) 6 4 2 0 -2 -4 -6 Koordinat (oLS) d) 8,9 SM Gambar 23. Potongan melintang elevasi muka air laut : (a) Skenario 1; (b) Skenario 2; (c) Skenario 3; dan (d) Skenario 4 Perubahan ketinggian muka air positif dan negatif pada skenario ke-1 adalah kurang dari 1 m. Pada kasus skenario ke-2 dan skenario ke-3 perubahan 76 muka air laut sekitar 3 m, sedangkan untuk kasus terburuk yang diterapkan pada skenario ke-4 perubahan muka air adalah sekitar 4 m. Keadaan ini menjelaskan bahwa patahan naik dengan bidang patahan yang panjang akan menyebabkan volume kosong yang lebih besar, kemudian akan segera diisi oleh massa air laut secara sporadis sehingga gerakan balik dari massa air laut ini akan menyebabkan tsunami. 4.3.3 Waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami Model penjalaran tsunami disimulasikan dengan hasil estimasi tinggi gelombang tsunami awal yang dibangkitkan oleh deformasi dasar laut akibat gempa tektonik. Simulasi ini dimulai dari sumber pembangkit hingga sampai sepanjang garis pantai yang terkena tsunami. Hasil simulasi berupa data matrik ketinggian muka air laut untuk setiap langkah waktu yang telah ditentukan besarannya. Simulasi yang diterapkan pada skenario pertama merupakan model penjalaran gelombang tsunami berdasarkan sejarah tsunami yang terjadi di Pangandaran. Kekuatan gempa dan posisi patahan yang disimulasikan sudah disesuaikan dengan kondisi pada waktu tsunami di Pangandaran. Gelombang tsunami yang dibangkitkan oleh deformasi dasar laut akibat gempa berkekuatan 7,7 SM menjalar dan sampai pertama kali di pesisir selatan Pangandaran (Tanjung Pangandaran) pada waktu ke-2600 detik (43 menit). Gelombang tsunami terus menjalar dan sampai di sisi sebelah barat (Teluk Parigi) serta sisi sebelah timur (Teluk Pangandaran) pada waktu ke-3080 detik (51 menit). Gelombang tsunami kemudian terrefleksikan sehingga gelombang muncul dari arah barat daya dan tenggara. Pada waktu ke-3360 detik (55 menit) 77 gelombang tsunami tiba di daratan pantai bagian barat Pangadaran (Desa Sukaresik dan Desa Cikembulan) dan daratan pantai timur Pangandaran (Desa Babakan). Hasil model penjalaran gelombang tsunami di wilayah pesisir Pangandaran (domain D) untuk skenario ke-1 diperlihatkan pada Gambar 24. 2600 detik 3080 detik 3360 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 24. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-1 Berdasarkan catatan sejarah yang dilaporkan oleh IOC-ITIC (2006) dalam Summary of Event Information Timeline : July 17, 2006 Java, Indonesia Earthquake and Tsunami disampaikan bahwa pada menit ke-55 setelah terjadinya gempa, tsunami datang pertama kali dari arah sebelah barat daya. Hal ini memiliki kemiripan dengan model penjalaran tsunami yang telah dibangun. 78 Gelombang tsunami sudah tiba di sepanjang pantai Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih pada waktu kurang dari satu jam. Gelombang tsunami ini merendam sebagian kecil kawasan di sepanjang pantai. Waktu yang dibutuhkan oleh gelombang tsunami tersebut menjalar dari pusat gempa ke pantai secara keseluruhan membutuhkan waktu kurang dari satu jam setelah terjadinya gempa. Berdasarkan skenario yang dibangun dengan kekuatan gempa lebih besar dan posisi episentrum yang sama, maka dapat dilihat pada skenario ke-2 gelombang tsunami membutuhkan waktu 2480 detik (41 menit) untuk tiba pertama kali di bagian selatan Pangandaran. Gelombang tsunami kemudian datang dari arah barat daya dan tiba di pantai sebelah barat Pangandaran tepatnya di Desa Sukaresi pada detik ke-2840 (47 menit). Pada detik ke-3160 (52 menit) gelombang tsunami tiba di pesisir Desa Cikembulan, Desa Wonoharjo dan Desa Babakan serta terus merambat dari bagian barat daya Teluk Parigi sampai bagian tenggara Teluk Pangandaran. Gelombang tsunami tiba di Desa Pananjung dan Desa Pangandaran pada detik ke-3240 (54 menit). Pada waktu ke-3600 detik (60 menit) gelombang tsunami sudah menerjang seluruh pantai di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih dan meredam lebih luas ke daratan disekitarnya. Pada skenario ke-2 ini waktu tempuh gelombang tsunami 2 – 3 menit lebih cepat dibandingkan gempa dengan kekuatan 7,7 SM. Keadaan ini menjelaskan bahwa pada posisi pusat gempa yang sama dengan kekuatan gempa yang berbeda, maka waktu tempuh gelombang tsunami mencapai ke pantai akan berbeda. Hal ini telah membuktikan bahwa semakin besar kekuatan gempa maka 79 waktu tempuh penjalaran tsunami untuk tiba di pantai akan semakin cepat. Semakin besar kekuatan gempa maka gelombang tsunami yang ditimbulkan akan semakin besar. Penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario ke-2 diperlihatkan pada Gambar 25. 2480 detik 2840 detik 3160 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 25. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-2 Model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus pada skenario ke-3 menggunakan posisi sumber gempa yang berjarak lebih dekat terhadap pantai selatan Pangandaran. Jarak sumber tsunami terhadap pantai sekitar 165 km. Hasil model penjalaran tsunami yang dibangun memperlihatkan bahwa gelombang tsunami tiba pertama kali di selatan Pangandaran pada detik ke-2320 (39 menit). 80 Pada detik ke-2720 (45 menit) gelombang tsunami tiba di bagian barat Desa Sukaresik dan di bagian timur Desa Babakan. Gelombang tsunami kemudian bergerak ke timur dan tiba di Desa Cikembulan, Desa Wonoharjo dan bagian barat Desa Babakan pada detik ke-2960 (49 menit). Gelombang tsunami tiba di Desa Pananjung dan Desa Pangandaran pada detik ke-3040 (50 menit). Pada detik ke3600 (60 menit) gelombang tsunami sudah menyebar keseluruh pantai di sepanjang garis pantai sebelah barat sampai ke timur. Model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario ke-3 ini dapat dilihat pada Gambar 26. 2320 detik 2720 detik 2960 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 26. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-3 Gelombang tsunami pada skenario ke-3 ini memiliki kecepatan 2 – 3 menit lebih cepat dibandingkan dengan gempa yang dibangkitkan pada skenario 81 ke-2. Keadaan ini disebabkan oleh posisi sumber gempa yang cenderung lebih dekat. Hal ini menjelaskan bahwa semakin dekat sumber gempa terhadap pantai maka waktu tempuh gelombang tsunami mencapai pantai akan semakin cepat. Berdasarkan hal tersebut maka daerah pantai yang mempunyai jarak yang semakin dekat dari sumber pembangkit tsunami akan menyebabkan daerah tersebut mempunyai tingkat kerawanan bahaya tsunami yang tinggi, keadaan sebaliknya terjadi apabila daerah pantai memiliki jarak yang jauh terhadap sumber tsunami. Penjalaran gelombang tsunami untuk kasus terburuk dibangun pada skenario ke-4. Kasus terburuk yang dibangun pada model ini adalah kasus tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 8,9 SM. Kekuatan gempa 8,9 SM merupakan kekuatan gempa yang pernah terjadi di Indonesia, gempa ini sekaligus merupakan peristiwa paling dasyat dan mengerikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Posisi pusat gempa pada skenario ke-4 berada di sebelah timur pusat gempa Pangandaran dengan jarak kurang lebih 310 km dari bagian selatan pantai Pangandaran. Skenario ini dibangun berdasarkan karakteristik gempa yang menimbulkan tsunami di Pancer (Banyuwangi) pada tahun 1994. Parameter sesar yang digunakan (dip, strike, slip) telah disesuaikan dengan keadaan sewaktu kejadian tsunami di Pancer, akan tetapi besarnya kekuatan gempa dan geomertri patahan dimodifikasi untuk mendapatkan keadaan yang lebih ekstrim. Penjalaran gelombang tsunami pada skenario ke-4 mengakibatkan gelombang tsunami menjalar dan mencapai bagian selatan Pangandaran pada waktu 2600 detik (43 menit). Gelombang tsunami kemudian tiba di bagian barat 82 Desa Sukaresik dan Bagian timur Desa Babakan pada detik ke-3000 (50 menit). Pada detik ke-3280 (55 menit) gelombang tsunami tiba di Desa Sukaresik, Wonoharjo dan bagian barat Desa Babakan. Satu jam setelah terjadi gempa, gelombang tsunami sudah menggenangi lebih jauh ke daratan. Model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario ke-4 disajikan pada Gambar 27. 2600 detik 3000 detik 3280 detik 3600 detik Elevasi (m) Gambar 27. Simulasi penjalaran gelombang tsunami di pesisir Pangandaran (domain D) pada skenario ke-4 Hasil model dari tiap skenario yang telah dibangun memperlihatkan bahwa gelombang tsunami awal akibat gempa bumi akan menjalar keseluruh arah. Perbedaan kontur kedalaman mengakibatkan gelombang tsunami mengalami pembelokan arah dan tinggi gelombang (refraksi). Arah datangnya tsunami di 83 daerah studi pertama kali datang dari arah selatan. Gelombang tsunami kemudian memasuki Teluk Pangandaran dari sisi barat daya dan Teluk Parigi dari sisi tenggara. Ketika memasuki Teluk Pangandaran dan Teluk Parigi gelombang tsunami menjadi terkurung karena memasuki wilayah berteluk, kemudian gelombang tsunami terefleksikan. Hal ini menyebabkan arah gelombang tsunami menyebar dan datang dari arah barat dan selatan serta timur perairan Pangandaran. Pada umumnya daerah yang pertama kali terkena limpasan gelombang tsunami adalah Tanjung Pangandaran yang letaknya di bagian selatan. Hal ini disebabkan daerah tersebut merupakan daerah yang paling depan dan menjorok ke laut lepas. Daerah yang selanjutnya paling awal terkena gelombang tsunami adalah pesisir barat Pangandaran (Desa Sukaresik) serta pesisir timur Pangandaran (Desa Babakan). Hal ini disebabkan perairan yang berbatasan dengan daerah tersebut memiliki kedalaman yang lebih besar dengan kelerengan dasar yang lebih curam jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Menurut Yudhicara (2008) karakteristik kontur batimetri demikian mengakibatkan gelombang tsunami akan memiliki kecepatan lebih besar dan lebih dulu tiba di lokasi tersebut. 4.3.4 Limpasan gelombang tsunami (run-up) Limpasan gelombang tsunami yang dihasilkan dari pemodelan tsunami untuk kasus skenario ke-1 pada umumnya masih dalam skala yang tidak terlalu luas. Hasil analisis berdasarkan measure tool pada perangkat lunak ArcGIS diketahui jarak limpasan gelombang tsunami yang masuk ke daratan Pangandaran berkisar antara 100 – 200 m dari garis pantai. Jarak limpasan maksimum gelombang tsunami ke daratan mencapai 200 m, dimana berada di Desa 84 Cikembulan. Hal ini berkolerasi dengan energi gelombang tsunami yang dibangkitkan pada skenario ini lebih kecil (7,7 SM). Keadaan ini menyebabkan penetrasi gelombang tsunami tidak cukup kuat untuk masuk lebih jauh ke daratan. Peta area limpasan tsunami untuk kasus skenario ke-1 disajikan pada Gambar 28. Gambar 28. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-1 Berdasarkan model yang dibangun pada skenario ke-1 total luas area yang tergenang tsunami untuk Kecamatan Pangandaran mencapai 225,60 Ha sedangkan untuk Kecamatan Sidamulih mencapai 105,68 Ha. Desa yang paling luas terkena limpasan gelombang tsunami adalah Desa Pangandaran. Luas area limpasan di Desa Pangandaran adalah 115,34 Ha. Limpasan tsunami yang menggenangi Desa Pangandaran mencapai 16,78% dari luas total daratannya. Hal ini dikarenakan kondisi daratan dan kemiringan daratannya sangat rendah sehingga dengan demikian penetrasi gelombang tsunami lebih mudah masuk sampai ke daratan. Desa Wonoharjo merupakan desa yang memperoleh limpasan paling rendah yaitu 85 hanya 5,43% dari keseluruhan daratannya. Luas area limpasan gelombang tsunami untuk setiap desa di wilayah penelitian selengkapnya disajikan pada Tabel 12. Tabel 12. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-1 Luas Luas Persentase daratan limpasan limpasan No Kecamatan Desa (Ha) (Ha) (%) 1 Pangandaran Babakan 638,58 56,64 8,87 2 Pangandaran Pananjung 360,47 21,08 5,85 3 Pangandaran Pangandaran 687,22 115,34 16,78 4 Pangandaran Wonoharjo 599,54 32,54 5,43 5 Sidamulih Sukaresik 844,51 68,73 8,14 6 Sidamulih Cikembulan 495,03 36,95 7,46 Pada kejadian tsunami Pangandaran 2006, wilayah yang paling luas terkena limpasan tsunami adalah Desa Cikembulan dan Desa Pangandaran (Kongko et al., 2006). Hasil model yang telah dibangun memperlihatkan hal yang serupa dengan kejadian sebenarnya. Keadaan yang berbeda terlihat pada jarak limpasan tsunami ke daratan. Menurut hasil pengukuran lapang diketaui bahwa jarak limpasan tsunami ke daratan mencapai 300 – 500 m (Kongko et al., 2006). Hasil model pada umumnya menghasilkan jarak limpasan yang lebih kecil dari kejadian yang sebenarnya. Pebedaan tersebut disebabkan karena tsunami Pangandaran termasuk kedalam jenis Tsunami Earthquake atau beberapa ilmuwan menyebutnya Slow Earthquake. Gempa tersebut hampir tidak terasa getarannya, tetapi tsunami yang dihasilkan jauh lebih besar seperti dibangkitkan oleh gempa yang lebih besar dari kekuatan gempa yang terukur saat itu (Ginanjar, 2010). Berdasarkan wawancara penulis dengan penduduk, mulai dari kawasan Cikembulan sampai Pananjung banyak penduduk yang sama sekali tidak merasakan getaran gempa sebelum terjadinya tsunami di Pangandaran tahun 2006 lalu, sehingga banyak yang tidak menyangka akan terjadi tsunami. Menurut 86 Ginanjar (2010), Tsunami Earthquake atau Slow Earthquake memiliki karakteristik getaran gempa yang lambat (slow shaking) yang dapat menimbulkan tsunami. Sifat slow shaking ini memberikan respon terhadap dinamika air yang lebih besar daripada getaran yang cepat (fast shaking). Respon besar inilah yang dapat membangkitkan gelombang tsunami. Getaran yang lambat ini salah satunya dapat disebabkan oleh tebalnya sedimen di sekitar pusat gempa di laut yang memberikan efek lubrikasi ketika gempa terjadi. Selain hal yang disebutkan di atas, perbedaan jarak limpasan tsunami diakibatkan pula oleh adanya arrival time yang dihasilkan model hanya didasarkan atas waktu pacu model selama 3 jam. Hal ini disebabkan tidak adanya data historis tsunami yang mencatat tsunami run-down (surutnya kembali gelombang tsunami) ketika kejadian tsunami di Pangandaran. Pada dasarnya model tsunami Tohoku University yang digunakan pada penelitian ini memiliki akurasi yang baik. Hal ini telah dibuktikan dengan pengukuran data tide gauge oleh peneliti BMG yang kemudian dibandingkan dengan hasil model. Hasil penelitian tersebut menghasilkan akurasi yang mencapai +1 (100%) (Gunawan, 2007). Salah satu kelemahan model tsunami ini adalah belum mampu memperhitungkan model tsunami dengan tipe Tsunami Earthquake. Gempa berkekuatan lebih besar (8,5 SM) yang diterapkan pada skenario ke-2 menghasilkan jarak limpasan tsunami yang lebih luas dibandingkan gempa berkekuatan 7,7 SM pada posisi pusat gempa yang sama. Jarak limpasan gelombang tsunami yang masuk ke daratan Pangandaran pada umumnya berkisar antara 400 – 1000 m dari garis pantai. Jarak limpasan maksimum gelombang 87 tsunami mencapai daratan adalah 1550 m dari garis pantai, sedangkan jarak limpasan minimum gelombang tsunami adalah 400 m (Gambar 29). Daerah yang paling jauh terkena limpasan dan genangan gelombang tsunami adalah Desa Sukaresik dan Desa Babakan. Penetrasi gelombang tsunami terjauh di Desa Sukaresik mencapai 1000 m, sedangkan di Desa Babakan jarak limpasan terjauh gelombang tsunami adalah 1550 m. Dampak tsunami pada skenario ke-2 yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 8,5 SM menghasilkan area genangan yang lebih luas. Gambar 29. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-2 Total luas area yang tergenang gelombang tsunami di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih masing-masing adalah 907,34 Ha dan 452,45 Ha. Luas area genangan tsunami terbesar pada skenario ke-2 terletak di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran. Gelombang tsunami di desa ini menggenangi setengah dari total luas daratannya. Desa Babakan merupakan daerah pesisir yang berada di bagian sebelah timur. Berdasarkan model yang 88 dibangun, ketinggian tsunami di bagian timur Pangandaran sangat tinggi, sehingga penetrasi gelombang tsunami cukup kuat untuk masuk lebih jauh ke daratan. Desa Sukaresik dan Cikembulan yang berada di bagian barat Pangandaran mengalami hal serupa. Ketinggian tsunami di lokasi ini maksimum sehingga luas area genangan di kedua desa ini juga sangat besar. Daratan Desa Cikembulan tergenang gelombang tsunami dengan persentase 34,84% dari total luas daratannya. Keadaan ini menyebabkan Desa Cikembulan menjadi daerah yang paling luas terkena limpasan gelombang tsunami untuk Kecamatan Sidamulih. Informasi selengkapnya mengenai luas limpasan tsunami pada skenario ke-2 disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-2 Luas Luas Persentase No Kecamatan Desa daratan limpasan limpasan (Ha) (Ha) (%) 1 Pangandaran Babakan 638,58 363,15 56,87 2 Pangandaran Pananjung 360,47 108,20 30,02 3 Pangandaran Pangandaran 687,22 323,75 47,11 4 Pangandaran Wonoharjo 599,54 112,24 18,72 5 Sidamulih Sukaresik 844,51 279,97 33,15 6 Sidamulih Cikembulan 495,03 172,48 34,84 Penjalaran gelombang tsunami akibat gempa yang dibangun pada skenario ke-3 menjalar ke daerah pesisir yang lebih luas jika dibandingkan dengan dua skenario sebelumnya. Jarak limpasan gelombang tsunami yang masuk ke daratan Pangandaran pada umumnya berkisar antara 450 – 1000 m dari garis pantai. Jarak limpasan maksimum gelombang tsunami mencapai daratan adalah 1800 m dimana terjadi di Desa Babakan. 89 Daratan di Desa Pangandaran hampir seluruhnya terkena genangan akibat limpasan gelombang tsunami. Hal ini di sebebabkan karena topografi daratannya yang datar dan landai. Selain itu juga disebakan oleh adanya hempasan gelombang dari dua arah yang berbeda, yakni gelombang tsunami yang datang dari bagian barat dan timur. Kawasan selatan Pangandaran yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia mengalami limpasan yang tidak begitu luas karena faktor topografi wilayah tersebut yang berbukit. Kondisi daratan berbukit akan meminimalisir jangkauan tsunami ke daratan. Peta area limpasan tsunami untuk kasus skenario ke-3 disajikan pada Gambar 30. Gambar 30. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-3 Daerah yang paling luas terlanda gelombang tsunami untuk kasus pada skenario ke-3 masih sama seperti skenario-skenario sebelumnya yaitu Desa Babakan. Pada kasus skenario ke-3 yang dibangun oleh pusat gempa yang paling dekat dengan pantai mengakibatkan luas daerah genangan tsunami di Desa Babakan bertambah sebesar 95,14 Ha sehingga total luas genangannya menjadi 90 458,9 Ha. Keadaan yang serupa terjadi di desa-desa yang lainnya, seluruhnya mengalami peningkatan luas area genangan. Hal tersebut menggambarkan bahwa faktor jarak sumber gempa terhadap daratan sangat mempengaruhi besarnya tsunami yang dihasilkan. Informasi luasan limpasan gelombang tsunami untuk skenario ke-3 dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-3 Luas Luas Persentase No Kecamatan Desa daratan limpasan limpasan (Ha) (Ha) (%) 1 Pangandaran Babakan 638,58 458,29 71,77 2 Pangandaran Pananjung 360,47 139,13 38,60 3 Pangandaran Pangandaran 687,22 343,88 50,04 4 Pangandaran Wonoharjo 599,54 158,56 26,45 5 Sidamulih Sukaresik 844,51 327,65 38,80 6 Sidamulih Cikembulan 495,03 215,65 43,56 Penjalaran gelombang tsunami akibat gempa berkekuatan 8,9 SM mampu menggenangi kawasan pesisir Pangandaran sampai beratus-ratus meter jauhnya dari garis pantai. Keadaan ini mengindikasikan bahwa gelombang tsunami yang yang dibangkitkan oleh kekuatan lebih besar akan lebih jauh menjalar sampai daratan pesisir yang lebih luas. Jarak limpasan gelombang tsunami terjauh pada skenario ke-4 adalah 2550 m. Daerah yang terlanda dengan jarak jangkauan tsunami tersebut adalah Desa Cikembulan dan Desa Babakan. Pada umumnya jarak limpasan gelombang tsunami ke daratan mencapai 1500 m di sepanjang wilayah yang dimodelkan. Beberapa daerah seperti Desa Pangandaran, Pananjung dan Babakan merupakan desa-desa yang hampir seluruh daratannya tergenang gelombang tsunami. Peta area genangan tsunami untuk kasus skenario ke-4 disajikan pada Gambar 31. 91 Gambar 31. Limpasan gelombang tsunami di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-4 Total luas area genangan tsunami untuk Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih pada skenario ini masing-masing seluas 1.690,04 Ha dan 883,48 Ha (Tabel 14). Jangkauan limpasan tsunami yang dibangkitkan gempa berkekuatan 8,9 SM ini meluas hingga ke beberapa desa. Beberapa desa yang sebelumnya tidak terkena limpasan tsunami seperti Desa Pejanten, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip pada skenario ini daerah-daerah tersebut ikut terkena dampak limpasan gelombang tsunami. Desa Babakan dan Desa Pananjung merupakan daerah yang paling luas terkena limpasan tsunami yaitu sekitar 94,56% dari total luas daratan Desa Babakan dan 96,17% dari total luas daratan Desa Pananjung. Kedua Desa ini hampir seluruh daratannya tergenang gelombang tsunami. Hal yang serupa dialami pada Desa Pangandaran, daratan yang menghubungkan daratan pulau jawa dengan tanjung Pangandaran (tanah genting) seluruhnya tergenang gelombang tsunami. 92 Pada umumnya desa-desa yang langsung berbatasan dengan laut hampir seluruhnya terkena limpasan gelombang tsunami yang paling tinggi. Desa-desa yang tidak berbatasan secara langsung dengan laut seperti Desa Pejanten, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip terkena limpasan dalam skala kecil. Informasi selengkapanya disajikan pada Tabel 15. Tabel 15. Luas area limpasan tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Pangandaran Pangandaran Pangandaran Pangandaran Pangandaran Pangandaran Sidamulih Sidamulih Sidamulih Desa Babakan Pananjung Pangandaran Purbahayu Sukahurip Wonoharjo Cikembulan Pejanten Sukaresik Luas daratan (Ha) 638,58 360,47 687,22 1.012,32 1.433,05 599,54 495,03 606,73 1.433,05 Luas Persentase limpasan limpasan (Ha) (%) 603,82 94,56 346,66 96,17 375,20 54,60 4,77 0,47 11,25 0,79 348,34 58,10 396,80 80,16 52,70 8,69 433,98 30,29 Setiap wilayah memiliki jarak jangkauan dan luas genangan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan di masing-masing wilayah tersebut serta besarnya kekuatan gempa yang menjadi sumber tsunami. Jika kerentanan lingkunganya tinggi, maka akan mudah untuk terpapar tsunami sehingga risikonya akan lebih besar. Desa-desa yang berada di sepanjang pantai dan pesisir Kecamatan Pangandaran serta Kecamatan Sidamulih pada umumnya didominasi oleh topografi dan kemiringan daratan yang rendah dan landai, dengan keadaan morfologi seperti itu maka jelas daerah-daerah tersebut terkena dampak yang paling parah dibandingkan daerahdaerah yang lainnya. 93 4.3.5 Ketinggian rendaman tsunami (Flowdepth) Klasifikasi kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) dibangun untuk melihat tingkat bahayanya. Pada kasus skenario ke-1 ketinggian rendaman tsunami berkisar antara 0,5 – 2,7 m. Ketinggian rendaman tsunami cenderung lebih besar di daerah yang berbatasan langsung dengan laut. Keadaan ini dikarenakan daerah tersebut mengalami dampak gelombang tsunami secara langsung. Berdasarkan hasil klasifikasi tingkat kerawanan terhadap ketinggian rendaman tsunami diketahui bahwa ketinggian rendaman tsunami pada skenario ke-1 menghasilkan tingkat kerawanan tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Peta kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 7,7 SM disajikan pada Gambar 32. Gambar 32. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-1 Daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi berada di sepanjang pantai Kecamatan Sidamuli dan Kecamatan Pangandaran. Pada umumnya sebagian besar 94 tinggi rendaman tsunami yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 7,7 SM tergolong sangat rendah, dimana ketinggian rendamanya rata-rata lebih kecil dari 0,5 m. Hal ini dapat diketahui dari luasan rendaman tsunami dengan kelas ketinggian rendaman 0 – 0,5 m memiliki luas area yang paling besar (Tabel 16). Keadaan ini menandakan bahwa tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 7,7 SM tidak begitu membahayakan, dengan kata lain tingkat kerawanan pantai sangat rendah sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap kerusakan di wilayah pesisir Pangandaran. Secara lengkap mengenai luasan kelas ketinggian rendaman tsunami untuk setiap desa di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih disajikan pada Tabel 16. Tabel 16. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-1 Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) Nama Desa 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 2,7 m > 2,7 m Babakan 38,62 18,02 0 0 0 Pananjung 14,97 6,11 0 0 0 Pangandaran 53,40 57,32 3,68 0,94 0 Wonoharjo 20,11 12,43 0 0 Sukaresik 41,10 27,63 0 0 0 Cikembulan 21,87 15,08 0 0 0 Total 190,07 136,59 3,68 0,94 0 Hasil model yang dibangun pada skenario ke-2 menghasilkan ketinggian rendaman tsunami yang lebih besar dibandingkan skenario sebelumnya. Pada kasus skenario ke-1 ketinggian rendaman tsunami berkisar antara 0,5 – 7 m. Ketinggian rendaman tsunami cenderung maksimum pada jarak 100 m dari garis pantai menuju daratan (Gambar 33). Ketinggian rendaman tsunami semakin menurun seiring semakin jauh dari garis pantai menuju daratan. Keadaan ini disebabkan keadaan topografi daratan yang semakin meningkat. 95 Pada umumnya sebagian besar tinggi rendaman tsunami untuk kasus tsunami pada skenario ke-2 didominasi oleh kelas ketinggian redaman 2,5 – 5 m. Luasan rendaman tsunami dengan kelas ketinggian rendaman 2,5 – 5 m mencapai 452,82 Ha. Hal ini mengindikasikan bahwa besarnya ketinggian rendaman tsunami tergolong tinggi. Keadaan ini mengakibatkan wilayah pesisir Pangandaran memiliki tingkat kerawanan yang tinggi apabila terjadi tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 8,5 SM. Kelas kerawanan tinggi merupakan daerah yang berisiko tinggi terhadap tsunami dan menjadi zona berbahaya untuk dijadikan kawasan permukiman ataupun aktivitas kependudukan. Gambar 33. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-2 Desa Pangandaran dan Desa Sukaresik merupakan daerah yang paling luas digenangi tsunami dengan kelas ketinggian rendaman 2,5 – 5 m, sehingga kedua desa ini tergolong memiliki tingkat kerawanan tinggi. Ketinggian limpasan 96 tsunami untuk daerah di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih dominan digenangi tsunami dengan ketinggian 2,5 – 5 m, sedangkan ketinggian genangan tsunami > 5 m (tingkat kerawanan tsunami sangat tinggi) paling sedikit menggenangi lokasi kajian (Tabel 17). Tabel 17. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-2 Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) Nama Desa 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 5 m >5m Babakan 52,35 120,56 90,57 99,42 0,25 Pananjung 20,61 43,73 25,93 17,93 0 Pangandaran 13,85 51,09 69,76 138,28 50,77 Wonoharjo 19,70 27,59 34,56 30,39 0 Sukaresik 35,69 76,50 48,87 105,32 13,59 Cikembulan 25,53 40,75 44,10 61,48 0,62 Total 167,73 360,22 313,79 452,82 65,23 Hasil analisis dari model yang dibangun pada skenario ke-3 memperlihatkan ketinggian rendaman tsunami di setiap daerah mengalami peningkatan. Pada umumnya desa-desa di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih paling luas tergenangi gelombang tsunami dengan ketinggian 2,5 – 5 m. Hal ini menjadikan wilayah tersebut terggolong kedalam kelas yang memiliki kerawanan yang tinggi terhadap bencana tsunami. Pada umumnya daerah yang digenangi tsunami dengan ketinggian paling tinggi berada di sepanjang pantai Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran. Semakin jauh dari arah pantai ketinggian rendaman tsunami berangsur-angsur mengalami penurunan. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami untuk skenario ke-3 diperihatkan pada Gambar 34. Desa Pangandaran merupakan daerah yang paling luas tergenang gelombang tsunami dengan ketinggian 2,5 – 5 m. Luas area di daerah tersebut yang digenangi dengan ketinggian 2,5 – 5 m mencapai 156,56 Ha. Selain itu Desa 97 Pangandaran digenangi tsunami dengan ketinggian lebih besar dari 5 m, dimana luasnya mencapai 118,39 Ha. Keadaan ini menjadikan Desa Pangandaran memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi mengingat daerah tersebut memiliki populasi yang tinggi. Gambar 34. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-3 Hasil analisis terhadap ketinggian genangan tsunami memperlihatkan kelas yang memiliki tingkat kerawanan sangat tinggi memiliki cakupan yang lebih luas. Tempat kedua yang memiliki cakupan paling luas adalah tingkat kerawanan sedang, disusul tingkat kerawanan rendah dan terakhir adalah tingkat kerawanan sangat tinggi dan sangat rendah. Tsunami yang diakibat gempa berkekuatan 8,5 SM dan memiliki episentrum paling dekat dengan daratan mengakibatkan wilayah di Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran tergolong kedalam kelas dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Informasi mengenai luasan kelas 98 ketinggian rendaman tsunami untuk setiap desa di Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih secara lengkap disajikan pada Tabel 18. Tabel 18. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-3 Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) Nama Desa 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 5 m >5m Babakan 60,57 99,26 133,85 147,06 17,55 Pananjung 17,02 40,04 40,05 42,02 0 Pangandaran 8,79 21,67 38,47 156,56 118,39 Wonoharjo 23,02 47,05 31,08 55,92 1,49 Sukaresik 32,13 69,02 71,76 109,39 45,35 Cikembulan 25,92 53,46 44,33 81,77 10,17 Total 167,45 330,50 359,72 592,72 192,95 Prediksi tsunami yang dibangkitkkan oleh gempa yang berkekuatan 8,9 SM menunjukan tingkat kerawanan yang jauh lebih besar. Dapat dilihat bahwa daerah berwarna merah yang menunjukan daerak dengan tingkat kerawanan sangat tinggi meluas dari skenario-skenario sebelumnya. Semakin tinggi dan luas rendaman tsunami di daratan, maka tingkat kerentanan terhadap bahaya tsunami semakin besar. Semakin besar tingkat kerentanan, maka semakin besar risikonya dan sebaliknya. Terjadinya bencana tsunami akibat gempa tersebut menjadikan kawasan di Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi. Luas limpasan tsunami tertinggi yang dibangun pada skenario ke-4 berada pada kelas ketinggian rendaman tsunami lebih besar dari 5 m. Tempat kedua berada pada kelas ketinggian rendaman tsunami 2,5 – 5 m, sedangkan luas limpasan tsunami paling rendah berada pada kelas ketinggian redaman tsunami kurang dari 0,5 m. Besarnya kekuatan gempa yang menjadi sumber tsunami mempengaruhi ketinggian rendaman tsunami di daratan. Kelas ketinggian rendaman tsunami di wilayah kajian untuk skenario ini disajikan pada Gambar 35. 99 Gambar 35. Kelas ketinggian rendaman gelombang tsunami (flowdepth) di berbagai lokasi pesisir Pangandaran pada skenario ke-4 Mengacu pada Tabel 18 diketahui bahwa daerah di Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran secara umum memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi apabila terjadi tsunami yang diakibatkan gempa berkekuatan 8,9 SM. Desa yang tergolong memiliki tingkat kerawanan sangat tinggi terbesar berada di Desa Pangandaran, Desa Babakan, Desa Cikembulan dan Desa Sukaresik. Pada umumnya daerah yang memiliki tingkat kerawanan sangat tinggi berada pada jarak 500 m dari arah pantai sedangkan daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi berada pada jarak 100 m dari arah pantai. Secara keseluruhan, tsunami yang dibangkitkan oleh gempa berkekuatan 8,9 SM akan mengakibatkan kerawanan yang sangat tinggi untuk daerah-daerah yang berada di sekitar pantai dan pesisir Kecamatan Sidamulih dan Kecamatan Pangandaran. Luas kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 ini secara lengkap disajikan pada Tabel 19. 100 Tabel 19. Luasan kelas ketinggian rendaman tsunami di setiap desa pada skenario ke-4 Nama Desa Babakan Pananjung Pangandaran Purbahayu Sukahurip Wonoharjo Cikembulan Pejanten Sukaresik Total 4.4. Luas area kelas ketinggian rendaman tsunami (Ha) 0 – 0,5 m 0,5 – 1,5 m 1,5 – 2,5 m 2,5 – 5 m >5m 8,68 30,35 56,30 229,00 279,49 15,82 52,97 73,43 126,88 77,56 6,93 9,72 8,89 39,84 309,82 1,66 2,78 0,33 0 0 4,04 7,01 0,20 0 0 45,36 58,98 62,81 120,66 60,53 14,43 30,67 54,27 170,90 126,53 25,55 26,03 1,12 0 0 22,75 60,15 73,60 145,05 132,43 145,22 278,66 330,95 832,33 986,36 Integrasi (Overlay) Morfologi Pantai dengan Model Tsunami Topografi yang relatif rendah merupakan wilayah dengan kelas kerentanan yang sangat tinggi. Hal ini akan lebih berpotensi untuk digenangi tsunami dalam skala luas di bandingkan daerah yang memiliki topografi lebih tinggi. Rendahnya topografi daratan mempengaruhi seberapa luas masuknya tsunami ke daratan. Keadaan ini telah terbukti, dimana berdasarkan hasil pemodelan diketahui daerah limpasan tsunami paling luas berada di daerah yang bertopografi rendah. Hasil overlay elevasi daratan (topografi) dengan model limpasan tsunami menunjukan bahwa pengaruh topografi terhadap luasan limpasan tsunami dapat dilihat pada Tabel 20. Berdasarkan Tabel 20, diketahui model yang dibangun baik pada skenario ke-1 sampai skenario ke-4 menunjukan kelas ketinggian daratan kurang dari 10 m adalah kelas yang paling banyak terkena limpasan gelombang tsunami. Topografi rendah memberikan limpasan tsunami dengan mudah sehingga mencapai ratusan meter. Hal ini menunjukan bahwa daerah yang memiliki topografi yang relatif rendah lebih berpotensi untuk digenangi tsunami lebih luas dibandingkan daerah 101 yang memiliki topografi lebih tinggi. Kelas elevasi daratan lebih besar dari 50 m sama sekali tidak terkena limpasan gelombang tsunami. Hal tersebut mengindikasikan bahwa daerah yang memiliki elevasi daratan lebih besar dari 50 m merupakan kawasan yang aman dari terjangan gelombang tsunami. Tabel 20. Luas area limpasan tsunami pada kelas elevasi daratan (topografi) Luas area limpasan tsunami (Ha) Kelas elevasi (m) Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 < 10 331,28 1.329,64 1.580,00 2.488,83 10 – 25 0 30,15 61,66 82,57 25 – 50 0 0 1,50 2,12 50 – 100 0 0 0 0 > 100 0 0 0 0 Total 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 Hasil overlay antara kemiringan daratan dengan model limpasan tsunami menghasilkan informasi bahwa limpasan tsunami terluas berada pada kelas kemiringan daratan kurang dari 2%. Luas limpasan tsunami terluas kedua berada pada kelas kemiringan daratan 2 – 10 % (Tabel 21). Hal tersebut membuktikan bahwa limpasan gelombang tsunami akan lebih luas merendam daratan pada daerah dengan kemiringan landai atau datar. Daerah tersebut akan berpotensi mengalami genangan gelombang tsunami lebih jauh ke arah darat. Pada pantai yang terjal atau curam, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai (Oktariadi, 2009b). Tabel 21. Luas area limpasan tsunami pada kelas kemiringan daratan (slope) Luas area limpasan tsunami (Ha) Kelas slope (%) Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 40 0 0 0 0 Total 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 102 Tabel 22 menyajikan luasan limpasan gelombang tsunami pada kelas jarak dari pantai. Berdasarkan tabel tersebut diketahui daerah yang berada dalam jarak 500 meter merupakan daerah yang paling luas terkena limpasan gelombang tsunami. Daerah yang semakin dekat dengan pantai merupakan daerah yang paling rentan dan begitu pula sebaliknya. Daerah yang terdekat dengan pantai akan mendapatkan dampak secara langsung dari gelombang tsunami. Hasil pemodelan yang dibangun dengan skenario paling ekstrim menghasilkan jarak limpasan tsunami di Pangandaran sejauh ± 3000 m. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah yang berda dalam jarak kurang dari 3000 m dari garis pantai merupakan daerah yang masih mendapat pengaruh dari limpasan gelombang tsunami. Daerah yang aman merupakan daerah yang terletak dalam jarak lebih dari 3000 m dari garis pantai. Tabel 22. Luas area limpasan tsunami pada kelas jarak dari garis pantai Kelas jarak Luas area limpasan tsunami (Ha) dari pantai Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 (m) 500 390,24 1.044,34 1.018,55 1.520,09 500 – 1000 0 227,37 450,26 550,26 1000 – 1500 0 53,34 166,46 168,45 1500 – 3000 0 1,08 7,89 334,72 > 3000 0 0 0 0 Total 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 Dampak yang ditimbulkan oleh bencana tsunami terhadap masing-masih penggunaan lahan tidak sama. Hal ini karena masing-masing jenis penggunaan lahan memiliki tingkat reduksi tertentu saat terkena gelombang tsunami. Tabel 23 menunjukan hubungan kelas penggunaan lahan yang terkena limpasan tsunami dengan kelas luasan genangan tsunami. Kelas permukiman menjadi kelas pertama dalam penentuan area rawan tsunami. Hal ini disebabkan karena area permukiman 103 merupakan lahan yang paling penting dan akan menjadi rawan tsunami apabila area tersebut terkena tsunami. Tabel 23. Luas area limpasan tsunami pada kelas penggunaan lahan Jenis penggunaan lahan Danau Empang/Tambak Ladang/Teggalan Lahan kosong Perkebunan Permukiman Sawah Semak belukar Vegetasi darat Total Luas area limpasan tsunami (Ha) Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 0 0 0 2,78 0 15,57 30,17 85,73 0 10,80 12,14 23,48 50,89 103,06 142,84 212,31 16,80 212,51 259,09 344,12 85,60 376,55 466,98 713,23 0 51,2 101,85 230,77 110,20 286,62 315,54 350,92 62,93 298,40 303,69 605,32 331,28 1.359,79 1.643,16 2.573,52 Kelas penggunaan lahan yang paling luas terkena gelombang tsunami adalah kelas permukiman. Luas genangan tsunami terhadap permukiman untuk kasus skenario ke-1 sampai skenario ke-4 berturut-turut luasnya adalah 85,60 Ha, 376,55 Ha, 466,98 Ha dan 713,23 Ha. Keadaan ini mengindikasikan bahwa permukiman yang berada di wilayah Pangandaran sangat rawan dan rentan terkena hempasan gelombang tsunami. Jenis penggunaan lahan yang sangat vital terkena limpasan gelombang tsunami selain permukiman adalah empang/tambak dan sawah. Hal ini mengingat kedua jenis penggunaan lahan tersebut memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Pada dasarnya empang/tambak dan sawah merupakan bagian dari aset dan aktivitas penduduk di wilayah Pangandaran dalam menunjang kehidupan penduduk sekitar sehingga apabila kedua jenis penggunaan lahan ini terkena tsunami akan sangat merugikan. Kebun atau perkebunan di wilayah Pangandaran juga tak lepas dari limpasan gelombang tsunami. Hal ini menunjukan bahwa 104 perkebunan di wilayah pangandaran berada di area yang memiliki topografi yang rendah. Pada umumnya perkebunan di wilayah Pangandaran di dominasi oleh perkebunan kelapa. 4.5. Indeks Kerentanan Pantai Akibat Bencana Tsunami Klasifikasi tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami membagi daerah menjadi lima kelas berdasakan tingkat kerentanan pantainya. Klasifikasi tersebut terdiri dari kelas kerentanan sangat rendah, kelas kerentanan rendah, kelas kerentanan sedang, kelas kerentanan tinggi dan kelas kerentanan sangat tinggi. Kelas kerentanan sangat rendah dan kelas kerentanan rendah dominan berada di bagian utara Pangandaran. Kedua kelas ini juga ditemukan berada di bagian selatan Pangandaran tepatnya di bagian Tanjung Pangandaran (Cagar Alam). Kelas kerentanan sedang dominan berada di bagian tengah wilayah penelitian. Zona ini berada pada jarak 3000 m dari garis pantai. Kelas kerentanan tinggi dan kelas kerentanan sangat tinggi umumnya berada di wilayah selatan Pangandaran. Zona ini berbatasan langsung dengan laut dimana jarak daratan sangat dekat dengan laut. Hal tersebut berdampak pada pengaruh langsung terhadap gelombang tsunami. Gradasi warna merah menunjukan daerah-daerah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi dan sangat tinggi, sedangkan gradasi warna jingga menjelaskan zona kerentanan sedang, rendah dan sangat rendah. Zona kerentanan sangat tinggi merupakan daerah yang berpotensi paling besar dalam hal kerusakan atau kehancuran aset yang ditimbulkan apabila terlanda tsunami serta memiliki ancaman teradap risiko keselamatan penduduk yang lebih parah. Karakteristik 105 pantai dan pesisir di zona ini di tandai oleh dataran rendah yang landai dengan jarak dari pantai yang sangat dekat, berbatasan dengan sungai-sungai besar yang dekat dengan muaranya, selain itu ditambah dengan bentuk penggunaan lahan berupa permukiman dengan penduduk yang cukup padat. Sebaran spasial klasifikasi tingkat kerentanan wilayah Pangandaran diperlihatkan pada Gambar 36. Gambar 36. Sebaran spasial tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami di Pangandaran Zona kerentanan tinggi dan sangat tinggi umumnya berbatasan langsung dengan laut. Kedua kelas tersebut tergolong zona berbahaya terhadap limpasan gelombang tsunami. Zona kerentanan tinggi dan sangat tinggi pada umumnya berada pada jarak 1000 m dari garis pantai kecuali di bagian Tanjung Pangandaran. Wilayah Tanjung Pangandaran berbatasan secara langsung dengan laut dan berada dalam raidius 1000 m dari garis pantai, akan tetapi tingkat kerentanan di wilayah tersebut di dominasi oleh kelas kerentanan sangat rendah 106 dan kelas kerentanan rendah. Keadaan ini disebabkan morfologi wilayahnya yang betopogafi tinggi dengan slope yang besar dan tipe penggunaan lahan berupa vegetasi darat (hutan). Zona kerentanan sangat rendah merupakan daerah daerah paling aman atau sangat tahan terhadap bencana tsunami. Zona kerentanan sangat rendah ditandai oleh dataran tinggi atau berbukit dimana memiliki jarak yang paling jauh dari garis pantai serta tipe penggunaan lahan tidak banyak melibatkan manusia seperti lahan kosong, semak belukar dan vegetasi darat/hutan berada pada daerah yang aman. Desa Babakan, Desa Pangandaran dan Desa Cikembulan merupakan wilayah yang di dominasi oleh kelas kerentanan sangat tinggi. Wilayah-wilayah tersebut digolongkan sebagai wilayah yang paling berbahaya terhadap limpasan gelombang tsunami. Bentuk morfologi daerah pantai dan pesisirnya memberikan pengaruh yang tinggi terhadap risiko bencana sunami. Hal ini akan berdampak pada tingkat kerusakan yang lebih tinggi di wilayah-wilayah tersebut (Zona Bahaya Tsunami I). Desa Sukaresik dan Desa Pananjung di dominasi oleh tingkat kerentanan tinggi. Desa-desa ini menjadi daerah dengan peringkat kedua yang memiliki risiko kerusakan tertinggi (Zona Bahaya Tsunami II). Desa Wonoharjo di dominasi oleh tingkat kerentanan sedang sehingga Desa Wonoharjo digolongkan kedalam Zona Bahaya Tsunami III. Wilayah yang letaknya tidak berbatasan langsung dengan laut cenderung memiliki kerentanan yang rendah dan sangat rendah. Desa-desa yang tergolong dalam kelas tersebut antara lain Desa Cikalong, Sidamulih, Pejanten, Sidomulyo, Purbahayu, Sukahurip. Daerah ini berada dalam jangkauan lebih dari 3000 m dari garis pantai, sehingga penetrasi 107 gelombang tsunami tidak cukup kuat untuk masuk kedaratan sejauh itu (Gambar 36). Topografi di daerah tersebut juga memberikan pengaruh teradap penjalaran gelombang tsunami, topografi di daerah ini cenderung lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa terjal dan landainya morfologi pantai akan mempengaruhi jangkauan tsunami yang menghempasnya. Luas masing-masing kelas kerentanan di setiap wilayah disajikan pada Tabel 24. Tabel 24. Luas tingkat kerentanan pantai terhadap bencana tsunami di setiap desa Luas area tingkat kerentanan (Ha) Nama Desa Sangat Sangat Tinggi Sedang Rendah tinggi rendah Babakan 335,55 284,39 45,38 12,93 0 Cikalong 0 0 59,65 276,18 4,05 Cikembulan 227,22 135,67 104,34 155,59 0 Pananjung 106,13 203,36 50,92 10,61 0 Pangandaran 203,11 133,19 36,23 166,58 299,31 Pejanten 0 7,60 134,64 484,45 3,57 Purbahayu 0 0,33 60,10 296,03 200,76 Sidamulih 0 0 0 0,53 10,40 Sidomulyo 0 0 81,84 246,51 13,34 Sukahurip 0 2,60 14,25 190,22 201,70 Sukaresik 174,62 243,00 178,09 226,68 0 Wonoharjo 114,72 183,42 252,05 58,92 0 Total 1.161,35 1.193,56 1.017,49 2.125,23 733,15 Secara keluruhan, Desa Pangandaran yang terletak di bagian daratan yang menghubungkan daratan pulau jawa dengan tanjung Pangandaran (tanah genting) di tempatkan sebagai zona yang paling berbahaya karena merupakan daerah dengan permukiman terpadat. Sebaran dan kepadatan permukiman menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi risiko bencana tsunami yang akan terjadi. Permukiman penduduk menggambarkan tingkat kepadatan penduduk dan sebaran tempat hunian yang akan mempengaruhi tingkat keugian jiwa maupun harta benda. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pesisir Pangandaran merupakan wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya tsunami. Selain dekat dengan zona subduksi yang merupakan zona sumber tsunami, wilayah pesisir Pangandaran memiliki karakteristik pantai yang sangat rentan terhadap limpasan gelombang tsunami. Pada umumnya faktor kerentanan yang dimiliki antara lain kondisi topografi rendah dan landai yang luas dan membentang dalam jarak 1500 m dari garis pantai, jenis penggunaan lahan berupa permukiman dominan berada dekat dengan laut serta berada diantara sungai-sungai besar (Sungai Ciambulungan, Sungai Cikidang dan Sungai Citonjong). Hasil model penjalaran gelombang tsunami memperlihatkan bahwa waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami untuk mencapai daratan Pangandaran memerlukan waktu kurang dari satu jam setelah terjadinya gempa. Semakin dekat sumber gempa terhadap daratan maka waktu tempuh gelombang tsunami semakin cepat, selain itu semakin besar kekuatan gempa maka tsunami yang dihasilkan semakin besar. Hasil model limpasan (run-up) gelombang tsunami memperlihatkan bahwa setiap wilayah memiliki luas limpasan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Pada umunya desa-desa yang berada di sepanjang pesisir Kecamatan Pangandaran bagian selatan (Babakan, Pangandaran, Pananjung dan Wonoharjo) serta pesisir Kecamatan Sidamulih bagian selatan (Cikembulan dan Sukaresik) terkena dampak yang paling parah dibandingkan daerah-daerah yang lainnya. Hal ini disebabkan keadaan topografi dan kemiringan daratannya rendah dan landai. 108 109 Berdasarkan analisis kerentanan pantai akibat bencana tsunami diketahui zona kerentanan sangat tinggi mencakup Desa Babakan, Desa Pangandaran dan Desa Cikembulan. Zona kerentanan tinggi meliputi Desa Sukaresik dan Desa Pananjung. Zona kerentanan sedang berada di Desa Wonoharjo. Zona kerentanan rendah dan sangat rendah berada cukup jauh dari garis pantai, dimana wilayahnya tidak berbatasan langsung dengan laut. Zona ini meliputi Desa Cikalong, Desa Sidamulih, Desa Pejanten, Desa Sidomulyo, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip. Secara keluruhan, Desa Pangandaran yang terletak di bagian daratan yang menghubungkan daratan pulau jawa dengan tanjung Pangandaran (tanah genting) di tempatkan sebagai zona yang paling berbahaya. Hal ini disebabkan karena karakteristik daerah tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap kerentanan bahaya tsunami mulai dari daerah dengan permukiman terpadat, daera yang sangat dekat dengan laut dan kondisi topografinya rendah dan landai. 5. 2 Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemodelan tsunami dengan multi skenario sehingga dapat memberikan data yang lebih akurat dalam menentukan tingkat kerentanan terhadap bencana tsunami. Selain itu pada dasarnya kajian ini merupakan studi yang sifatnya umum dan asumsi-asumsi yang digunakan masih bersifat umum sehingga sangat membatasi keakuratan hasil studi. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan banyak variabel yang berpengaruh terhadap penjalaran dan limpasan gelombang tsunami. DAFTAR PUSTAKA Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ciamis. 2009. Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2009. Bappeda Kabupaten Ciamis. Ciamis, Jawa Barat. Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis. 2004. Kecamatan Pangandaran. Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis. Ciamis, Jawa Barat. Diposaptono, S dan Budiman. 2006. Tsunami. Buku Ilmiah Populer. Bogor. Earth Observatory. 2007. Measuring Vegetation : Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). http://eo-contact.eodomo.gsfc.nasa.gov [ 20 Februari 2011]. Eart Resource Mapping Inc. 2010. User Guide : Slope. http://www.ermapper.com [8 Desember 2010]. Galih, D. R dan L. Handayani. 2007. Pemetaan Pola Terjadinya Gempa Bumi di Indonesia Dengan Metode Fraktal. Riset Geologi dan Pertambangan. 17(2): 51 – 56. Ginanjar, G. 2010. Tsunami Earthquake di Indonesia. Paper. http://www.bmg.go.id/data.bmkg?Jenis=Teks&IDS=870439471671649970 [21 Januari 2011]. Gross, M. G. 1990. Oceanography: A View of Earth. Prentice Hall, Englewood Cliffs. New Jersey. GTZ-Science Education Quality Improvementt Project (GTZ-SEQIP). 2008. Disaster Awareness in Primary School. German – Indonesian Cooperation for Tsunami Early Warning System. Jakarta. Gunawan, I dan Fachrizal. 2006. Tsunami Propagation and Inundation Modeling Using ComMit Interface. Badan Meteorologi dan Geofisika. Jakarta. Hajar, M. 2006. Penentuan Kawasan Rawan Bencana Tsunami di Kota Padang, Sumatera Barat. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Handayani, L. dan H. Harjono. 2008. Perekembangan Tektonik Daerah Bususr Muka Selatan Sunda dan Hubungnanya dengan Zona Sesar Sumatera. Riset Geologi dan Pertambangan. 18(2): 31 – 40. 110 111 Harada, K dan F. Imamura. 2003. Study on The Evaluation of Tsunami Reducing by Coastal Control Forest for Actual Conditions. Report of the Port and Airport Research Institute. 42(2): 18 – 19. Horikawa, K. 1998. Nearshore Dynamics and Coastal Pocessed: Theory, Measurement, and predictive Model. University of Tokyo Press. Tokyo. Imamura, F. 1994. Tsunami Numerical Simulation with the Staggered Leapfrog Scheme (Numerical Code of TUNAMI-N2). Disaster Control Research Center, Tohoku University. Sendai. Imamura, F, A. C. Yalciner, G. Ozyurt. 2006. Tsunami Modelling Manual (TUNAMI model). United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Paris. IOC-ITIC. 2006. Summary of Event Information Timeline : July 17, 2006 Java, Indonesia Earthquake and Tsunami. http://ioc3.unesco.org/itic/contents.php?id=355.pdf. [11 Juni 2011]. Kongko, W., Suranto, Chaeroni, Aprijanto, Zikra dan Sujantoko. 2006. Rapid Survey on Java Tsunami 17 July 2006. Balai Pengkajian Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Kotani, M., Imamura F. and N. Shuto. 1998. Tsunami run-up simulation and damage estimation by using GIS. Proc. of coastal eng., JSCE. 45(1): 356 – 360. Latief, H., N. T. Puspito and F. Imamura. 2000. Tsunami Catalog and Zoning in Indonesia. Natural Disaster Sciences. 22(1) : 25 – 43. Latief, H. 2007. Mengenal Bahaya Tsunami dan Upaya Mitigasinya. Prosiding Workshop Pemodelan Tsunami, 21 Agustus 2007. Kementrian Negara Riset dan Teknologi – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Lavigne, F., C. Gomez, M. Giffo, P. Wassmer, C. Hoebreck, D. Mardiatno, J. Prioyono and R. Paris. 2007. Field obesrvations of the 17 July 2006 Tsunami in Java. Natural Hazards and Earth System Sciences. Sci-7:177 – 183. Mansinha, L. and Smylie D. E. 1971. The displacement Field of inclined Faults. Seismological Society of America. 61(45): 1443 – 1440. Marchuk, G. I. and B. A. Kagan. 1989. Dynamics of Ocean Tides. Kluwer Academic Publishers, Netherlands. Kluwer. Mardiatno, D. 2006. Risiko Tsunami di Pantai Selatan Jawa : Belajar dari Kejadian Tsunami di Banyuwangi pada Tahun 1994 dan di Pangandaran pada Tahun 2006. Kebencanaan Indonesia. Halaman 23 – 27. 112 Mudhari, M. S. 2009. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami. Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SCDRR). Jakarta. Natawidjaja, D. H. 2007. Tectonic Setting Indonesia dan Pemodelan Sumber Gempa dan Tsunami. Prosiding Pelatihan Pemodelan Run-up Tsunami 20 – 24 Agustus 2007. Geoteknologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. NTHMP. 2001. Menghadapi Tsunami : Tujuh Prinsip Perencanaan dan Perancangan. Alih bahasa : Rahman, Augusta, Juniarto, Gedsir, Linggar dan Supartono; Lisabona (penyunting). PT Kompas Media Nusantara. Jakarta. NEIC-USGS. 2006a. Historis USGS Moment Tensor Solution : Magnitude 7.7 Mw - South Of Java, Indonesia (Monday, July 17, 2006 at 08:19:28 UTC). http://neic.usgs.gov/neis/eq_depot/2006/eq_060717_qgaf/neic_qgaf_m.html. [9 Desember 2010]. NEIC-USGS. 2006b. Harvard Moment Tensor Solution : Magnitude 7.7 Mw South Of Java, Indonesia (Monday, July 17, 2006 at 08:19:28 UTC). http://neic.usgs.gov/neis/eq_depot/2006/eq_060717_qgaf/neic_qgaf_q.html. [9 Desember 2010]. NEIC-USGS. 2009. Historic USGS Moment Tensor Solutions : Magnitude 7.0 Java, Indonesia. http://neic.usgs.gov/neis/eq_depot/2009/eq_090902_ lbat/neic_lbat_m.html. [10 Desember 2010]. Oktariadi, O. 2009a. Penentuan Peringkat Bahaya Tsunami dengan Metode Analytical Hierarchy Process (Studi kasus : Wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi). Geologi Indonesia. 4(2): 103 – 116. Oktariadi, O. 2009b. Peran Kapasitas Bentang Alam dalam Upaya Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Tsunami Wilayah Pesisir Sukabumi, Jawa Barat. Buletin Geologi Tata Lingkungan. 19(1): 39 – 49. Pasek, I. M. R. S. 2007. Penentuan Zona Potensial Budidaya Mutiara (Pinctada spp.) dengan Cell Based Modelling : Studi Kasus Perairan Sekotong, Lombok Barat, NTB. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. PSG. 2006. Gempa Bumi dan Tsunami Pangandaran, Ciamis. http://psg.bgl.esdm.go.id/informasi/berita/107-gempabumi-dan-tsunamipangandaran-ciamis. [9 Januari 2011]. Rahardjo, N. 2003. Sebaran Tipe Pantai dan Karakteristik Pantai Selatan Jawa Barat. Geografi Indonesia. 17(2): 129 – 145. 113 Rohadi, S. 2006. Distribusi Spasial dan Temporal Sesimotektonik Wilayah Subduksi Jawa. Megasains. 1(4): 180 – 188. Sengaji, E. 2009. Pemetaan Tingkat Risiko Tsunami Di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Shuto, N. 1993. Tsunami Intensity and Disasters. Kluwer Academic Publishers, Netherlands, h. 197 – 216. Kluwer. Siregar, V., D. Soedharma dan J. L. Gaol. 1995. Pemetaan Tematik Terumbu Karang dengan Menggunakan Data Landsat TM. Fakultas Perikanan IPB. Bogor. Bogor. Slawson, W. F. dan J. C. Savage, 1979. Geodetic Deformation Associated With The 1946 Vancouver Island, Canada, Earthquake. Seismological Society of America. 69(5): 1487 – 1496. Soehaimi, A. 2008. Seismotektonik dan Potensi Kegempaan Wilayah Jawa. Geologi Indonesia. 3(4): 227 – 240. Subandono. 2007. Mitigasi Tsunami. Prosiding Workshop Pemodelan Tsunami, 21 Agustus 2007. Kementrian Negara Riset dan Teknologi – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Sudrajat, A. 1997. Zona Rawan Bencana Tsunami dalam Ilustrasi Geologi. PT Grafimatra Tatamedia. Jakarta. Suprajaka, A.Poniman, dan Hartono. 2005. Konsep dan Model Penyusunan Tipologi Pesisir Indonesia Menggunakan Teknologi Sistem Informasi Geografi. Geografika Malaysia. 1(1): 76 – 84. Taqwim, S. 2009. Pemodelan Penjalaran dan Transformasi Gelombang Laut di Perairan dengan Kemiringan Dasar Konstan. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Oseanografi. Institut Teknologi Bandung. Bandung. UNESCO-IOC. 2006. Rangkuman Istilah Tsunami. Alih bahasa : Jakarta Tsunami Information Center (JTIC). Informasi dokumen IOC No.1221. Jakarta. USACE 1984. Shore of Nearshore Wave. Volume 1. 4th ed. Coastal Engineering Research Center (CERC). U. S. Army Corps of Engineers. Washington DC. USDA-NRCS, 1986. Urban Hydrology for small watersheds. Tech Release TR55. Natural Resource Conservation. Washington DC. Wiegel, R. L. 1970. Tsunami Earhquake Engineering. Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs. New Jersey. 114 Wulandari, R. 2002. Analisis Preferensi Spesies-spesies Ikan Terhadap Habitat Pada Ekosistem Terumbu Karang Di Perairan Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Yalciner, A. C., Karakus H. Ozer dan C. Ozyurt G. 2006. Understanding the Generation, Propagation, Near-Field and Far-Field Impacts of TSUNAMIS and Planning Strategies to Prepare for Future Events. Prosiding UNESCO Training in IODE, June 6 – 16, 2006. Ocean Engineering Research Center. 14 h. Kuala Lumpur. Yudhicara. 2008. Kaitan antara karakteristik pantai Provinsi Sumatera Barat dengan potensi kerawanan tsunami. Geologi Indonesia. 3(2): 95-106. LAMPIRAN 110 Lampiran 1. Posisi pengamatan di lapang Waypoint Longitude Latitude Elevasi 1 108,572o E 7,684o S 2,45 2 108,584o E 7,676o S 4,31 3 108,593o E 7,682o S 1,24 4 108,607o E 7,677o S 2,78 5 108,620o E 7,683o S 1,32 6 108,628o E 7,678o S 5,12 7 108,633o E 7,685o S 2,84 8 108,641o E 7,688o S 1,54 9 108,651o E 7,693o S 1,30 10 108,652o E 7,687o S 1,12 11 108,657o E 7,694o S 1,33 12 108,656o E 7,701o S 6,62 13 108,652o E 7,707o S 1,14 14 108,658o E 7,705o S 2,18 15 108,658o E 7,700o S 2,22 16 108,660o E 7,690o S 3,02 17 108,670o E 7,686o S 1,22 18 108,672o E 7,679o S 3,24 19 108,678o E 7,674o S 3,57 20 108,693o E 7,676o S 1,21 115 116 Lampiran 2. Lembar survei lapang Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 1 Senin, 25 Juli 2011 09.20 WIB 108,572o E dan 7,684o S Sukaresik Sidamulih Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m ±500 m Lurus Tidak terlindung Bergelombang Bukti kerusakan bangunan akibat kejadian tsunami Pangandaran tahun 2006 yang masih tertinggal Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi daerah berupa pedataran luas terbuka Tidak ditempati sebagai permukiman Daerah yang kurang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat 117 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 2 Senin, 25 Juli 2011 13.15 WIB 108,584o E dan 7,676o S Sukaresik Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±500 m ±300 m Tidak terlindung Bergelombang Contoh fitur dataran berupa semak belukar dan kebun campuran Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi daerah berupa pedataran luas terbuka Jumlah permukiman relatif sedikit Kondisi daratan kea rah pantai cendeung didominasi semak belukar 118 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 3 Selasa, 26 Juli 2011 09.45 WIB 108,593o E dan 7,682o S Sukaresik Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±100 m ±50 m Bermuara Tidak terlindung Datar Contoh fitur muara sungai Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai yang sangat dekat dengan muara Kondisi daratan cendeung didominasi semak belukar dan vegetasi darat Tidak ditemukan ekosistem mangrove Muara cenderung digunakan sebagai lahan budidaya dan bagan tancap 119 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 4 Selasa, 26 Juli 2011 14.05 WIB 108,607o E dan 7,677o S Cikembulan Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±250 m ±500 m Tidak telindung Datar Contoh fitur permukiman pesisir jenis semipermanen dan permanen Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Jumlah permukiman relatif sedikit dan menyebar Tipe permukiman terdiri dari permukiman permanen dan semi permanen Kondisi daratan cendeung didominasi perkebunan kelapa 120 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 5 Rabu, 27 Juli 2011 10.10 WIB 108,620o E dan 7,683o S Cikembulan Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m > 500 m Lurus Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai dengan tipe penutupan lahan berupa semak belukar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Daratan pantai didominasi semak belukar Kondisi gelombang besar Tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Merupakan zona dampak langsung tsunami pada saat kejadian tsunami Pangandaran taun 2006 yang lalu 121 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 6 Rabu, 28 Juli 2011 12.15 WIB 108,628o E dan 7,678o S Wonoharjo Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±300 m > 500 m Tidak terlindung Datar Contoh fitur daratan pesisir dengan tipe penutupan lahan berupa semak belukar dan lahan kosong Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Merupakan dataran rendah yang luas Kondisi permukiman cukup jauh dari laut Lahan banyak dimanfaatkan sebagai kebun campuran dan tempat ternak 122 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 7 Kamis, 29 Juli 2011 09.20 WIB 108,633o E dan 7,685o S Wonoharjo Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±100 m > 500 m Lurus Tidak terlindung datar Kondisi permukiman dan jalan raya yang memiliki jarak sangat dekat dengan laut Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Merupakan dataran rendah yang luas Kondisi permukiman dan fasilitas umum cenderung sangat dekat dengan pantai 123 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 8 Kamis, 29 Juli 2011 13.00 WIB 108,641o E dan 7,688o S Pananjung Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m >500 m Lurus Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai dengan tipe penutupan lahan berupa semak belukar dengan pedataran yang luas Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai yang cenderung datar Jarak 100 m dari pantai merupakan kawasan permukiman Jaringan jalan yang dekat dengan pantai 124 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 9 Jumat, 30 Juli 2011 14.05 WIB 108,651o E dan 7,693o S Pananjung Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m > 500 m Berteluk Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai yang cenderung datar yang banyak dimanfaatkan sebagai café dan tempattempat terbangun lainnya Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai dengan kemiringan yang sangat landai 100 m dari arah pantai merupakan kawasan perhotelan dan permukiman Memiliki aktivitas yang cukup padat, terutama oleh wisatawan 125 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 10 Senin, 1 Agustus 2011 10.20 WIB 108,652o E dan 7,687o S Pananjung Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±250 m >500 m Tidak terlindung datar Contoh fitur pesisir berupa permukiman yang cukup padat Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Daerah dalam radius 500 m masih merupakan pedataran yang luas Daerah ini merpakan pusat permukiman penduduk Fasilitas-fasilitas yang penting seperti sekolah, klinik dan lain sebagainya berpusat disini 126 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 11 Senin, 1 Agustus 2011 13.10 WIB 108,657o E dan 7,694o S Pangandaran Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±250 m >500 m T idak terlindung Datar Contoh bangunan penting yang berada dalam radius 200 m dari garis pantai Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Daerah dalam radius 500 m masih merupakan pedataran yang luas Daerah ini merpakan pusat permukiman penduduk dan banyak dibangun pehotelan serta restoran 127 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 12 Senin, 1 Agustus 2011 14.20 WIB 108,656o E dan 7,701o S Pangandaran (Pantai Barat) Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m >500 m Berteluk Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai sebagai pusat pariwisata Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai dengan kemiringan yang sangat landai 100 m dari arah pantai merupakan pusat perhotelan dan resot Memiliki aktivitas yang sangat padat, terutama oleh wisatawan Daerah pantai yang dijadikan kawasan berenang untuk wisatawan 128 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : 13 : Selasa, 2 Agustus 2011 : 10.00 WIB : 108,652o E dan 7,707o S : Pangandaran (Batu Mandi) : Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : Foto lokasi : Hamparan reeffrom sejauh 100 m ±50 m > 500 Berteluk Terlindung terumbu karang Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi terumbu karang cendeung rusak an tipe substrat didominasi oleh rubble Meupakan daerah pantai yang sempit 100 m dari arah pantai merupakan kawasan hutan atau Cagar Alam Panganaran 129 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 14 Selasa, 2 Agustus 2011 12.10 WIB 108,658o E dan 7,705o S Pangandaran (Cagar Alam) Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±300 m >500 m Telindung perbukitan Berbukit Contoh fitur pesisir dengan tipe penutupan lahan berupa vegetasi darat Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi daratan yang paling tinggi di Pangandaran Merupakan kawasan hutan lindung (Cagar Alam Pangandaran) Merupakan salah satu tempat evakuasi bencana tsunami 130 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 15 Selasa, 2 Agustus 2011 14.10 WIB 108,658o E dan 7,700o S Pangandaran (Pantai Timur) Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m >500 m Berteluk Terlindung breakwater Datar Wilaya pantai timur di Desa Pangandaran terlindung breakwater yang membentang sepanjang pantai Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai sempit 100 m dari arah pantai merupakan pusat perhotelan dan resot 50 m dari arah pantai banyak dibangun bangunan semi-permanen sebagai pedagang kaki lima 131 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 16 Rabu, 3 Agustus 2011 09.00 WIB 108,660o E dan 7,690o S Pangandaran Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±150 m 200 m Datar Daerah dengan bentuk penggunaan lahan berupa lahan terbangun seperti permukiman dan hotelhotel Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai dengan kemiringan yang sangat landai 100 m dari arah pantai merupakan perkampungan nelayan dan perhotelan Memiliki aktivitas yang sangat padat, terutama oleh wisatawan 132 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 17 Rabu, 3 Agustus 2011 11.00 WIB 108,670o E dan 7,686o S Pangandaran Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±50 m 100 m Lurus Terlindung breakwater Datar Foto lokasi : Kawasan permukiman nelayan di pantai timur Desa Pangandaran cenderung dekat dengan laut Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi gelombang besar 100 m dari arah pantai merupakan perkampungan nelayan 133 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 18 Rabu, 3 Agustus 2011 14.00 WIB 108,672o E dan 7,679o S Babakan Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±200 m >500 m Tidak terlindung Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 19 Rabu, 3 Agustus 2011 15.30 WIB 108,678o E dan 7,674o S Babakan Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±250 m >500 m Tidak terlindung Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman 134 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 20 Rabu, 3 Agustus 2011 16.00 WIB 108,693o E dan 7,676o S Babakan Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±50 m 100 m Berteluk Tidak terlindung Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman 135 Lampiran 3. Parameter gempa Harvard Moment Tensor Solution Magnitude 7.7 SOUTH OF JAVA, INDONESIA Monday, July 17, 2006 at 08:19:28 UTC July 17, 2006, SOUTH OF JAVA, INDONESIA, MW=7.7 [This earthquake has a larger moment and centroid-time shift than would have been predicted from initial reported magnitudes. Its source mechanism may be similar to that of the September 1992, Nicaragua, tsunami earthquake.] CENTROID, MOMENT TENSOR SOLUTION HARVARD EVENT-FILE NAME M071706A DATA USED: GSN MANTLE WAVES: 73S,194C, T=150 CENTROID LOCATION: ORIGIN TIME 08:20:39.1 0.2 Epicenter: -9.295 107.347 DEP 20.4 0.7;HALF-DURATION 50.0 MOMENT TENSOR; SCALE 10**27 D-CM MRR= 1.49 0.01; MTT=-1.21 0.01 MPP=-0.28 0.01; MRT= 3.60 0.14 MRP=-0.90 0.07; MTP= 0.32 0.01 PRINCIPAL AXES: 1.(T) VAL= 4.06;PLG=55;AZM= 13 2.(N) -0.19; 1; 104 3.(P) -3.87; 35; 195 BEST DOUBLE COUPLE:M0=4.0*10**27 NP1:STRIKE=289;DIP=10;SLIP= 95 NP2:STRIKE=104;DIP=80;SLIP= 89 USGS Fast Moment Tensor Solution 06/07/17 08:19:30.73 SOUTH OF JAVA, INDONESIA Epicenter: -9.295 107.347 MW 7.2 USGS MOMENT TENSOR SOLUTION Depth 6 No. of sta: 34 Moment Tensor; Scale 10**19 Nm Mrr= 1.30 Mtt=-1.54 Mpp= 0.23 Mrt= 7.27 Mrp=-3.14 Mtp= 1.01 Principal axes: T Val= 7.74 Plg=51 Azm= 23 N 0.69 0 113 P -8.43 39 204 Best Double Couple:Mo=8.1*10**19 NP1:Strike=297 Dip= 6 Slip= 93 NP2: 113 84 90 136 Lampiran 4. Profil kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi a) Sukaresik Pos 1 Pos 2 Pos 3 b) Cikembulan Pos 1 Pos 2 Pos 3 137 Lampiran 4. Profil kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi (Lanjutan) c) Wonoharjo Pos 1 Pos 2 Pos 3 d) Pangandaran Pos 1 Pos 2 Pos 3 138 Lampiran 4. Profil kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi (Lanjutan) e) Pananjung Pos 1 Pos 2 f) Babakan Pos 1 Pos 2 Pos 3 129 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 9 Maret 1989. Penulis adalah anak pertama dari pasangan Bapak Dadang Sudrajat, S.Pd dan Ibu Lilis Kusmawati, S.Pd. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pada tahun 2001 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 05 Rajapolah. Jenjang pendidikan dilanjutkan di SMP Negeri 1 Rajapolah dan lulus pada tahun 2004. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 6 Tasikmalaya dan lulus tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada program studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan melalui jalur Undangan Seleksi Masuk (USMI) IPB. Selama mengikuti perkuliahan penulis pernah menjadi asisten beberapa mata kuliah, seperti asisten mata kuliah Dasar-dasar Intrumentasi Kelautan periode 2009/2010, asisten Biologi Laut periode 2009/2010 dan 2010/2011, dan asisten Oseanografi Umum periode 2010/2011. Selain itu penulis juga aktif dalam kegiatan organisasi di antaranya sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (HIMITEKA) periode 2010/2011, serta aktif dalam berbagai kepanitiaan. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan pada Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul ”Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran Akibat Bencana Tsunami”. INDEKS KERENTANAN PANTAI PANGANDARAN AKIBAT BENCANA TSUNAMI SEANDY FIRMANSYAH SKRIPSI DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Ciamis. 2009. Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2009. Bappeda Kabupaten Ciamis. Ciamis, Jawa Barat. Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis. 2004. Kecamatan Pangandaran. Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Ciamis. Ciamis, Jawa Barat. Diposaptono, S dan Budiman. 2006. Tsunami. Buku Ilmiah Populer. Bogor. Earth Observatory. 2007. Measuring Vegetation : Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). http://eo-contact.eodomo.gsfc.nasa.gov [ 20 Februari 2011]. Eart Resource Mapping Inc. 2010. User Guide : Slope. http://www.ermapper.com [8 Desember 2010]. Galih, D. R dan L. Handayani. 2007. Pemetaan Pola Terjadinya Gempa Bumi di Indonesia Dengan Metode Fraktal. Riset Geologi dan Pertambangan. 17(2): 51 – 56. Ginanjar, G. 2010. Tsunami Earthquake di Indonesia. Paper. http://www.bmg.go.id/data.bmkg?Jenis=Teks&IDS=870439471671649970 [21 Januari 2011]. Gross, M. G. 1990. Oceanography: A View of Earth. Prentice Hall, Englewood Cliffs. New Jersey. GTZ-Science Education Quality Improvementt Project (GTZ-SEQIP). 2008. Disaster Awareness in Primary School. German – Indonesian Cooperation for Tsunami Early Warning System. Jakarta. Gunawan, I dan Fachrizal. 2006. Tsunami Propagation and Inundation Modeling Using ComMit Interface. Badan Meteorologi dan Geofisika. Jakarta. Hajar, M. 2006. Penentuan Kawasan Rawan Bencana Tsunami di Kota Padang, Sumatera Barat. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Handayani, L. dan H. Harjono. 2008. Perekembangan Tektonik Daerah Bususr Muka Selatan Sunda dan Hubungnanya dengan Zona Sesar Sumatera. Riset Geologi dan Pertambangan. 18(2): 31 – 40. 110 111 Harada, K dan F. Imamura. 2003. Study on The Evaluation of Tsunami Reducing by Coastal Control Forest for Actual Conditions. Report of the Port and Airport Research Institute. 42(2): 18 – 19. Horikawa, K. 1998. Nearshore Dynamics and Coastal Pocessed: Theory, Measurement, and predictive Model. University of Tokyo Press. Tokyo. Imamura, F. 1994. Tsunami Numerical Simulation with the Staggered Leapfrog Scheme (Numerical Code of TUNAMI-N2). Disaster Control Research Center, Tohoku University. Sendai. Imamura, F, A. C. Yalciner, G. Ozyurt. 2006. Tsunami Modelling Manual (TUNAMI model). United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Paris. IOC-ITIC. 2006. Summary of Event Information Timeline : July 17, 2006 Java, Indonesia Earthquake and Tsunami. http://ioc3.unesco.org/itic/contents.php?id=355.pdf. [11 Juni 2011]. Kongko, W., Suranto, Chaeroni, Aprijanto, Zikra dan Sujantoko. 2006. Rapid Survey on Java Tsunami 17 July 2006. Balai Pengkajian Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Kotani, M., Imamura F. and N. Shuto. 1998. Tsunami run-up simulation and damage estimation by using GIS. Proc. of coastal eng., JSCE. 45(1): 356 – 360. Latief, H., N. T. Puspito and F. Imamura. 2000. Tsunami Catalog and Zoning in Indonesia. Natural Disaster Sciences. 22(1) : 25 – 43. Latief, H. 2007. Mengenal Bahaya Tsunami dan Upaya Mitigasinya. Prosiding Workshop Pemodelan Tsunami, 21 Agustus 2007. Kementrian Negara Riset dan Teknologi – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Lavigne, F., C. Gomez, M. Giffo, P. Wassmer, C. Hoebreck, D. Mardiatno, J. Prioyono and R. Paris. 2007. Field obesrvations of the 17 July 2006 Tsunami in Java. Natural Hazards and Earth System Sciences. Sci-7:177 – 183. Mansinha, L. and Smylie D. E. 1971. The displacement Field of inclined Faults. Seismological Society of America. 61(45): 1443 – 1440. Marchuk, G. I. and B. A. Kagan. 1989. Dynamics of Ocean Tides. Kluwer Academic Publishers, Netherlands. Kluwer. Mardiatno, D. 2006. Risiko Tsunami di Pantai Selatan Jawa : Belajar dari Kejadian Tsunami di Banyuwangi pada Tahun 1994 dan di Pangandaran pada Tahun 2006. Kebencanaan Indonesia. Halaman 23 – 27. 112 Mudhari, M. S. 2009. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami. Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SCDRR). Jakarta. Natawidjaja, D. H. 2007. Tectonic Setting Indonesia dan Pemodelan Sumber Gempa dan Tsunami. Prosiding Pelatihan Pemodelan Run-up Tsunami 20 – 24 Agustus 2007. Geoteknologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. NTHMP. 2001. Menghadapi Tsunami : Tujuh Prinsip Perencanaan dan Perancangan. Alih bahasa : Rahman, Augusta, Juniarto, Gedsir, Linggar dan Supartono; Lisabona (penyunting). PT Kompas Media Nusantara. Jakarta. NEIC-USGS. 2006a. Historis USGS Moment Tensor Solution : Magnitude 7.7 Mw - South Of Java, Indonesia (Monday, July 17, 2006 at 08:19:28 UTC). http://neic.usgs.gov/neis/eq_depot/2006/eq_060717_qgaf/neic_qgaf_m.html. [9 Desember 2010]. NEIC-USGS. 2006b. Harvard Moment Tensor Solution : Magnitude 7.7 Mw South Of Java, Indonesia (Monday, July 17, 2006 at 08:19:28 UTC). http://neic.usgs.gov/neis/eq_depot/2006/eq_060717_qgaf/neic_qgaf_q.html. [9 Desember 2010]. NEIC-USGS. 2009. Historic USGS Moment Tensor Solutions : Magnitude 7.0 Java, Indonesia. http://neic.usgs.gov/neis/eq_depot/2009/eq_090902_ lbat/neic_lbat_m.html. [10 Desember 2010]. Oktariadi, O. 2009a. Penentuan Peringkat Bahaya Tsunami dengan Metode Analytical Hierarchy Process (Studi kasus : Wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi). Geologi Indonesia. 4(2): 103 – 116. Oktariadi, O. 2009b. Peran Kapasitas Bentang Alam dalam Upaya Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Tsunami Wilayah Pesisir Sukabumi, Jawa Barat. Buletin Geologi Tata Lingkungan. 19(1): 39 – 49. Pasek, I. M. R. S. 2007. Penentuan Zona Potensial Budidaya Mutiara (Pinctada spp.) dengan Cell Based Modelling : Studi Kasus Perairan Sekotong, Lombok Barat, NTB. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. PSG. 2006. Gempa Bumi dan Tsunami Pangandaran, Ciamis. http://psg.bgl.esdm.go.id/informasi/berita/107-gempabumi-dan-tsunamipangandaran-ciamis. [9 Januari 2011]. Rahardjo, N. 2003. Sebaran Tipe Pantai dan Karakteristik Pantai Selatan Jawa Barat. Geografi Indonesia. 17(2): 129 – 145. 113 Rohadi, S. 2006. Distribusi Spasial dan Temporal Sesimotektonik Wilayah Subduksi Jawa. Megasains. 1(4): 180 – 188. Sengaji, E. 2009. Pemetaan Tingkat Risiko Tsunami Di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Shuto, N. 1993. Tsunami Intensity and Disasters. Kluwer Academic Publishers, Netherlands, h. 197 – 216. Kluwer. Siregar, V., D. Soedharma dan J. L. Gaol. 1995. Pemetaan Tematik Terumbu Karang dengan Menggunakan Data Landsat TM. Fakultas Perikanan IPB. Bogor. Bogor. Slawson, W. F. dan J. C. Savage, 1979. Geodetic Deformation Associated With The 1946 Vancouver Island, Canada, Earthquake. Seismological Society of America. 69(5): 1487 – 1496. Soehaimi, A. 2008. Seismotektonik dan Potensi Kegempaan Wilayah Jawa. Geologi Indonesia. 3(4): 227 – 240. Subandono. 2007. Mitigasi Tsunami. Prosiding Workshop Pemodelan Tsunami, 21 Agustus 2007. Kementrian Negara Riset dan Teknologi – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta. Sudrajat, A. 1997. Zona Rawan Bencana Tsunami dalam Ilustrasi Geologi. PT Grafimatra Tatamedia. Jakarta. Suprajaka, A.Poniman, dan Hartono. 2005. Konsep dan Model Penyusunan Tipologi Pesisir Indonesia Menggunakan Teknologi Sistem Informasi Geografi. Geografika Malaysia. 1(1): 76 – 84. Taqwim, S. 2009. Pemodelan Penjalaran dan Transformasi Gelombang Laut di Perairan dengan Kemiringan Dasar Konstan. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Oseanografi. Institut Teknologi Bandung. Bandung. UNESCO-IOC. 2006. Rangkuman Istilah Tsunami. Alih bahasa : Jakarta Tsunami Information Center (JTIC). Informasi dokumen IOC No.1221. Jakarta. USACE 1984. Shore of Nearshore Wave. Volume 1. 4th ed. Coastal Engineering Research Center (CERC). U. S. Army Corps of Engineers. Washington DC. USDA-NRCS, 1986. Urban Hydrology for small watersheds. Tech Release TR55. Natural Resource Conservation. Washington DC. Wiegel, R. L. 1970. Tsunami Earhquake Engineering. Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs. New Jersey. 114 Wulandari, R. 2002. Analisis Preferensi Spesies-spesies Ikan Terhadap Habitat Pada Ekosistem Terumbu Karang Di Perairan Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Yalciner, A. C., Karakus H. Ozer dan C. Ozyurt G. 2006. Understanding the Generation, Propagation, Near-Field and Far-Field Impacts of TSUNAMIS and Planning Strategies to Prepare for Future Events. Prosiding UNESCO Training in IODE, June 6 – 16, 2006. Ocean Engineering Research Center. 14 h. Kuala Lumpur. Yudhicara. 2008. Kaitan antara karakteristik pantai Provinsi Sumatera Barat dengan potensi kerawanan tsunami. Geologi Indonesia. 3(2): 95-106. LAMPIRAN 110 Lampiran 1. Posisi pengamatan di lapang Waypoint Longitude Latitude Elevasi 1 108,572o E 7,684o S 2,45 2 108,584o E 7,676o S 4,31 3 108,593o E 7,682o S 1,24 4 108,607o E 7,677o S 2,78 5 108,620o E 7,683o S 1,32 6 108,628o E 7,678o S 5,12 7 108,633o E 7,685o S 2,84 8 108,641o E 7,688o S 1,54 9 108,651o E 7,693o S 1,30 10 108,652o E 7,687o S 1,12 11 108,657o E 7,694o S 1,33 12 108,656o E 7,701o S 6,62 13 108,652o E 7,707o S 1,14 14 108,658o E 7,705o S 2,18 15 108,658o E 7,700o S 2,22 16 108,660o E 7,690o S 3,02 17 108,670o E 7,686o S 1,22 18 108,672o E 7,679o S 3,24 19 108,678o E 7,674o S 3,57 20 108,693o E 7,676o S 1,21 115 116 Lampiran 2. Lembar survei lapang Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 1 Senin, 25 Juli 2011 09.20 WIB 108,572o E dan 7,684o S Sukaresik Sidamulih Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m ±500 m Lurus Tidak terlindung Bergelombang Bukti kerusakan bangunan akibat kejadian tsunami Pangandaran tahun 2006 yang masih tertinggal Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi daerah berupa pedataran luas terbuka Tidak ditempati sebagai permukiman Daerah yang kurang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat 117 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 2 Senin, 25 Juli 2011 13.15 WIB 108,584o E dan 7,676o S Sukaresik Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±500 m ±300 m Tidak terlindung Bergelombang Contoh fitur dataran berupa semak belukar dan kebun campuran Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi daerah berupa pedataran luas terbuka Jumlah permukiman relatif sedikit Kondisi daratan kea rah pantai cendeung didominasi semak belukar 118 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 3 Selasa, 26 Juli 2011 09.45 WIB 108,593o E dan 7,682o S Sukaresik Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±100 m ±50 m Bermuara Tidak terlindung Datar Contoh fitur muara sungai Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai yang sangat dekat dengan muara Kondisi daratan cendeung didominasi semak belukar dan vegetasi darat Tidak ditemukan ekosistem mangrove Muara cenderung digunakan sebagai lahan budidaya dan bagan tancap 119 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 4 Selasa, 26 Juli 2011 14.05 WIB 108,607o E dan 7,677o S Cikembulan Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±250 m ±500 m Tidak telindung Datar Contoh fitur permukiman pesisir jenis semipermanen dan permanen Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Jumlah permukiman relatif sedikit dan menyebar Tipe permukiman terdiri dari permukiman permanen dan semi permanen Kondisi daratan cendeung didominasi perkebunan kelapa 120 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 5 Rabu, 27 Juli 2011 10.10 WIB 108,620o E dan 7,683o S Cikembulan Sidamulih Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m > 500 m Lurus Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai dengan tipe penutupan lahan berupa semak belukar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Daratan pantai didominasi semak belukar Kondisi gelombang besar Tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Merupakan zona dampak langsung tsunami pada saat kejadian tsunami Pangandaran taun 2006 yang lalu 121 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 6 Rabu, 28 Juli 2011 12.15 WIB 108,628o E dan 7,678o S Wonoharjo Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±300 m > 500 m Tidak terlindung Datar Contoh fitur daratan pesisir dengan tipe penutupan lahan berupa semak belukar dan lahan kosong Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Merupakan dataran rendah yang luas Kondisi permukiman cukup jauh dari laut Lahan banyak dimanfaatkan sebagai kebun campuran dan tempat ternak 122 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 7 Kamis, 29 Juli 2011 09.20 WIB 108,633o E dan 7,685o S Wonoharjo Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±100 m > 500 m Lurus Tidak terlindung datar Kondisi permukiman dan jalan raya yang memiliki jarak sangat dekat dengan laut Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Merupakan dataran rendah yang luas Kondisi permukiman dan fasilitas umum cenderung sangat dekat dengan pantai 123 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 8 Kamis, 29 Juli 2011 13.00 WIB 108,641o E dan 7,688o S Pananjung Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m >500 m Lurus Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai dengan tipe penutupan lahan berupa semak belukar dengan pedataran yang luas Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai yang cenderung datar Jarak 100 m dari pantai merupakan kawasan permukiman Jaringan jalan yang dekat dengan pantai 124 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 9 Jumat, 30 Juli 2011 14.05 WIB 108,651o E dan 7,693o S Pananjung Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m > 500 m Berteluk Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai yang cenderung datar yang banyak dimanfaatkan sebagai café dan tempattempat terbangun lainnya Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai dengan kemiringan yang sangat landai 100 m dari arah pantai merupakan kawasan perhotelan dan permukiman Memiliki aktivitas yang cukup padat, terutama oleh wisatawan 125 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 10 Senin, 1 Agustus 2011 10.20 WIB 108,652o E dan 7,687o S Pananjung Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±250 m >500 m Tidak terlindung datar Contoh fitur pesisir berupa permukiman yang cukup padat Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Daerah dalam radius 500 m masih merupakan pedataran yang luas Daerah ini merpakan pusat permukiman penduduk Fasilitas-fasilitas yang penting seperti sekolah, klinik dan lain sebagainya berpusat disini 126 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 11 Senin, 1 Agustus 2011 13.10 WIB 108,657o E dan 7,694o S Pangandaran Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±250 m >500 m T idak terlindung Datar Contoh bangunan penting yang berada dalam radius 200 m dari garis pantai Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Daerah dalam radius 500 m masih merupakan pedataran yang luas Daerah ini merpakan pusat permukiman penduduk dan banyak dibangun pehotelan serta restoran 127 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 12 Senin, 1 Agustus 2011 14.20 WIB 108,656o E dan 7,701o S Pangandaran (Pantai Barat) Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m >500 m Berteluk Tidak terlindung Datar Contoh fitur pantai sebagai pusat pariwisata Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai dengan kemiringan yang sangat landai 100 m dari arah pantai merupakan pusat perhotelan dan resot Memiliki aktivitas yang sangat padat, terutama oleh wisatawan Daerah pantai yang dijadikan kawasan berenang untuk wisatawan 128 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : 13 : Selasa, 2 Agustus 2011 : 10.00 WIB : 108,652o E dan 7,707o S : Pangandaran (Batu Mandi) : Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : Foto lokasi : Hamparan reeffrom sejauh 100 m ±50 m > 500 Berteluk Terlindung terumbu karang Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi terumbu karang cendeung rusak an tipe substrat didominasi oleh rubble Meupakan daerah pantai yang sempit 100 m dari arah pantai merupakan kawasan hutan atau Cagar Alam Panganaran 129 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 14 Selasa, 2 Agustus 2011 12.10 WIB 108,658o E dan 7,705o S Pangandaran (Cagar Alam) Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±300 m >500 m Telindung perbukitan Berbukit Contoh fitur pesisir dengan tipe penutupan lahan berupa vegetasi darat Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi daratan yang paling tinggi di Pangandaran Merupakan kawasan hutan lindung (Cagar Alam Pangandaran) Merupakan salah satu tempat evakuasi bencana tsunami 130 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 15 Selasa, 2 Agustus 2011 14.10 WIB 108,658o E dan 7,700o S Pangandaran (Pantai Timur) Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±50 m >500 m Berteluk Terlindung breakwater Datar Wilaya pantai timur di Desa Pangandaran terlindung breakwater yang membentang sepanjang pantai Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai sempit 100 m dari arah pantai merupakan pusat perhotelan dan resot 50 m dari arah pantai banyak dibangun bangunan semi-permanen sebagai pedagang kaki lima 131 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 16 Rabu, 3 Agustus 2011 09.00 WIB 108,660o E dan 7,690o S Pangandaran Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan Foto lokasi : : : : : : ±150 m 200 m Datar Daerah dengan bentuk penggunaan lahan berupa lahan terbangun seperti permukiman dan hotelhotel Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi pantai dengan kemiringan yang sangat landai 100 m dari arah pantai merupakan perkampungan nelayan dan perhotelan Memiliki aktivitas yang sangat padat, terutama oleh wisatawan 132 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 17 Rabu, 3 Agustus 2011 11.00 WIB 108,670o E dan 7,686o S Pangandaran Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±50 m 100 m Lurus Terlindung breakwater Datar Foto lokasi : Kawasan permukiman nelayan di pantai timur Desa Pangandaran cenderung dekat dengan laut Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat b. Kebun campuran c. Lahan kosong d. Semak belukar e. Sawah f. Permukiman Keterangan : Kondisi gelombang besar 100 m dari arah pantai merupakan perkampungan nelayan 133 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 18 Rabu, 3 Agustus 2011 14.00 WIB 108,672o E dan 7,679o S Babakan Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±200 m >500 m Tidak terlindung Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 19 Rabu, 3 Agustus 2011 15.30 WIB 108,678o E dan 7,674o S Babakan Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±250 m >500 m Tidak terlindung Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman 134 Lampiran 2. Lembar survei lapang (Lanjutan) Waypoint Waktu survei Jam survei Posisi geografi di lapangan Desa Kecamatan : : : : : : 20 Rabu, 3 Agustus 2011 16.00 WIB 108,693o E dan 7,676o S Babakan Pangandaran Keterangan Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Bentuk garis pantai Keterlindungan daratan Topografi/elevasi daratan : : : : : ±50 m 100 m Berteluk Tidak terlindung Datar Bentuk penggunaan lahan pada peta hasil interpretasi : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman Bentuk penggunaan lahan hasil survei lapang : a. Hutan/vegetasi darat d. Semak belukar b. Kebun campuran e. Sawah c. Lahan kosong f. Permukiman 135 Lampiran 3. Parameter gempa Harvard Moment Tensor Solution Magnitude 7.7 SOUTH OF JAVA, INDONESIA Monday, July 17, 2006 at 08:19:28 UTC July 17, 2006, SOUTH OF JAVA, INDONESIA, MW=7.7 [This earthquake has a larger moment and centroid-time shift than would have been predicted from initial reported magnitudes. Its source mechanism may be similar to that of the September 1992, Nicaragua, tsunami earthquake.] CENTROID, MOMENT TENSOR SOLUTION HARVARD EVENT-FILE NAME M071706A DATA USED: GSN MANTLE WAVES: 73S,194C, T=150 CENTROID LOCATION: ORIGIN TIME 08:20:39.1 0.2 Epicenter: -9.295 107.347 DEP 20.4 0.7;HALF-DURATION 50.0 MOMENT TENSOR; SCALE 10**27 D-CM MRR= 1.49 0.01; MTT=-1.21 0.01 MPP=-0.28 0.01; MRT= 3.60 0.14 MRP=-0.90 0.07; MTP= 0.32 0.01 PRINCIPAL AXES: 1.(T) VAL= 4.06;PLG=55;AZM= 13 2.(N) -0.19; 1; 104 3.(P) -3.87; 35; 195 BEST DOUBLE COUPLE:M0=4.0*10**27 NP1:STRIKE=289;DIP=10;SLIP= 95 NP2:STRIKE=104;DIP=80;SLIP= 89 USGS Fast Moment Tensor Solution 06/07/17 08:19:30.73 SOUTH OF JAVA, INDONESIA Epicenter: -9.295 107.347 MW 7.2 USGS MOMENT TENSOR SOLUTION Depth 6 No. of sta: 34 Moment Tensor; Scale 10**19 Nm Mrr= 1.30 Mtt=-1.54 Mpp= 0.23 Mrt= 7.27 Mrp=-3.14 Mtp= 1.01 Principal axes: T Val= 7.74 Plg=51 Azm= 23 N 0.69 0 113 P -8.43 39 204 Best Double Couple:Mo=8.1*10**19 NP1:Strike=297 Dip= 6 Slip= 93 NP2: 113 84 90 136 Lampiran 4. Profil kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi a) Sukaresik Pos 1 Pos 2 Pos 3 b) Cikembulan Pos 1 Pos 2 Pos 3 137 Lampiran 4. Profil kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi (Lanjutan) c) Wonoharjo Pos 1 Pos 2 Pos 3 d) Pangandaran Pos 1 Pos 2 Pos 3 138 Lampiran 4. Profil kemiringan dasar perairan Pangandaran untuk setiap titik observasi (Lanjutan) e) Pananjung Pos 1 Pos 2 f) Babakan Pos 1 Pos 2 Pos 3 RINGKASAN SEANDY FIRMANSYAH. Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran Akibat Bencana Tsunami. Dibimbing oleh MULIA PURBA dan VELLY ASVALIANTINA. Wilayah pesisir Pangandaran dikelompokan sebagai daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya tsunami. Dekatnya jarak pantai terhadap zona Subduksi Jawa (zona pertemuan lempeng tektonik bumi yaitu lempeng IndoAustralia dengan lempeng Eurasia) dan sejarah tsunami menjadi ancaman kawasan ini terhadap bencana tsunami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji karakteristik pantai dan pesisir Pangandara, menelaah penjalaran gelombang tsunami menuju pantai dan memprediksi capaian run-up tsunami yang mencapai daratan Pangandaran serta menentukan indeks kerentanan pantai Pangandaran terhadap bencana tsunami. Lokasi penelitian terletak di wilayah pantai dan pesisir Pangandaran Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, batas koordinat berada pada 7,75o – 7,65o LS dan 108,55o – 108,70o BT. Penelitian ini meliputi identifikasi karakteristik pantai dan pesisir, identifikasi seismisitas, pemodelan tsunami, dan penentuan indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami. Identifikasi seismisitas ditentukan dengan metode fraktal, pemodelan tsunami dilakukan melalui pemodelan numerik Imamura (1994) yaitu dengan memakai persamaan matematika hidrodinamika gelombang panjang, sedangkan penentuan indeks kerentanan pantai akibat bencana tsunami ditentukan dengan metode Cell Based Modelling (CBM). Secara umum pesisir Pangandaran memiliki karakteristik pantai dan pesisir yang rentan terhadap limpasan gelombang tsunami. Faktor kerentanan yang dimiliki antara lain kondisi topografi rendah dan landai yang luas dan membentang pada jarak 1500 m dari garis pantai, jenis penggunaan lahan berupa permukiman dominan berada dekat dengan laut serta berada diantara sungaisungai besar (Sungai Ciambulungan, Sungai Cikidang, Sungai Citonjong). Hasil identifikasi seismisitas menunjukan bahwa wilayah bagian timur lepas pantai Pangandaran (koordinat 109o – 110o BT dan 8o – 11o LS) memiliki intensitas kegempaan yang rendah dibandingkan dengan wilayah bagian barat. Keadaan tersebut menjelaskan bahwa wilayah dengan intensitas gempa yang rendah memiliki tingkat stress yang tinggi. Hal ini berarti bahwa wilayah tersebut berpotensi lebih besar terjadi gempa bumi berkekuatan tinggi. Hasil model penjalaran gelombang tsunami untuk kasus skenario 1 sampai skenario 4 memperlihatkan bahwa waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami untuk mencapai daratan Pangandaran memerlukan waktu kurang dari satu jam setelah terjadinya gempa. Semakin dekat sumber gempa terhadap daratan maka waktu tempuh gelombang tsunami semakin cepat. Pada umumnya daerah yang pertama kali terkena limpasan gelombang tsunami adalah Tanjung Pangandaran yang letaknya di bagian paling selatan Pangandaran. Hal ini disebabkan daerah tersebut merupakan daerah yang paling depan dan menjorok ke laut lepas. Daerah yang selanjutnya paling awal terkena gelombang tsunami adalah pesisir barat Pangandaran (Desa Sukaresik) serta pesisir timur Pangandaran (Desa Babakan). Hal ini disebabkan perairan yang berbatasan dengan daerah tersebut memiliki kedalaman yang lebih besar dengan kelerengan dasar yang lebih curam jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Hasil model limpasan (run-up) gelombang tsunami untuk kasus skenario 1 sampai skenario 4 memperlihatkan bahwa besarnya kekuatan gempa menghasilkan limpasan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Jarak limpasan tsunami untuk skenario 1 (7,7 SM) berkisar antara 100 – 200 m dari garis pantai, untuk skenario 2 dan 3 (8,5 SM) limpasan tsunami berkisar antara 1000 – 1500 m dari garis pantai, sedangka pada skenario ke 4 (8,9 SM) limpasan tsunami berkisar antara 2000 – 2500 m dari garis pantai. Setiap wilayah memiliki luas limpasan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Pada umunya desa-desa yang berada di sepanjang pesisir Kecamatan Pangandaran (Babakan, Pangandaran, Pananjung dan Wonoharjo) serta pesisir Kecamatan Sidamulih (Cikembulan dan Sukaresik) terkena dampak yang paling parah dibandingkan daerah-daerah yang lainnya. Hal ini disebabkan keadaan topografi dan kemiringan daratannya rendah dan landai. Berdasarkan analisis kerentanan pantai akibat bencana tsunami diketahui zona kerentanan sangat tinggi mencakup Desa Babakan dan Desa Pangandaran (Kecamatan Pangandaran selatan bagian timur) serta Desa Cikembulan (Kecamatan Sidamulih selatan bagian timur). Zona kerentanan tinggi meliputi Desa Sukaresik (Kecamatan Sidamulih selatan bagian barat) dan Desa Pananjung (Kecamatan Pangandaran selatan bagian barat). Zona kerentanan sedang berada di Desa Wonoharjo (Kecamatan Pangandaran selatan bagian barat). Zona kerentanan rendah dan sangat rendah berada cukup jauh dari garis pantai, dimana wilayahnya tidak berbatasan langsung dengan laut. Zona ini meliputi Desa Cikalong, Desa Sidamulih, Desa Pejanten, Desa Sidomulyo, Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip. Secara keluruhan, Desa Pangandaran yang terletak di bagian daratan yang menghubungkan daratan Pulau Jawa dengan Tanjung Pangandaran (tanah genting) di tempatkan sebagai zona yang paling berbahaya. Hal ini disebabkan karena karakteristik daerah tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap kerentanan bahaya tsunami mulai dari daerah dengan permukiman terpadat, daerah yang sangat dekat dengan laut dan kondisi topografinya rendah dan landai.
Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran Akibat Bencana Tsunami. Analisis tingkat kerentanan pantai Data Penelitian Survei Lapang Elevasi daratan Topografi Karakteristik Pantai dan Pesisir Pangandaran Identifikasi karakteristik pantai dan pesisir Identifikasi seismisitas Metode Pengolahan Data Indeks Kerentanan Pantai Akibat Bencana Tsunami Integrasi Overlay Morfologi Pantai dengan Model Tsunami Jarak dari garis pantai Jarak dari sungai Kajian Risiko Bencana Tsunami Karakteristik gelombang tsunami Gelombang Tsunami Kejadian Gempa Tektonik HASIL DAN PEMBAHASAN Kemiringan daratan Slope Karakteristik Pantai dan Pesisir Pangandaran Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Ketinggian rendaman tsunami Flowdepth Kondisi batimetri wilayah pantai dan lepas pantai Kondisi Umum Lokasi Penelitian Limpasan gelombang tsunami run-up Lokasi dan Waktu Penelitian Alat Penelitian Morfologi dasar laut Faktor-faktor Kerentanan Pantai Terhadap Tsunami Morfometri pantai Ekosistem pantai dan pesisir Morfometri pantai Faktor-faktor Kerentanan Pantai Terhadap Tsunami Pembangkit gelombang tsunami Gelombang Tsunami Pemodelan tsunami Metode Pengolahan Data Penentuan tingkat risiko tsunami Penggunaan lahan Landuse Karakteristik Pantai dan Pesisir Pangandaran Sejarah Tsunami Pangandaran TINJAUAN PUSTAKA Simulasi gelombang tsunami awal Skenario simulasi model Hasil Pemodelan Tsunami Topografi dan kemiringan daratan pantai dan pesisir Sungai-sungai dan kanal pengendali banjir Waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran Akibat Bencana Tsunami
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Indeks Kerentanan Pantai Pangandaran Akibat Bencana Tsunami.

Gratis