Zulkifli Hasan : Kalau Mau Politik Kita Bagus, Tiru Muhammadiyah

Full text

(1)

Universitas Muhammadiyah Malang

Arsip Berita www.umm.ac.id

Zulkifli Hasan : Kalau Mau Politik Kita Bagus, Tiru Muhammadiyah

Tanggal: 2015-05-15

MOTIVASI KADER: Ketua MPR RI Dr (HC) Zulkifli Hasan saat menjadi Keynote Speaker dalam Seminar Nasional Perkaderan

Muhammadiyah, Jumat (15/5). Ia berpesan agar Kader Muhammadiyah punya kemampuan, kompetensi, dan relationship yang cukup.

“JIKA ingin demokrasi kita berhasil, demokrasi yang mementingkan etika dan moralitas, serta mengutamakan musyawarah mufakat juga gotong royong, maka tirulah

Muhammadiyah,” ungkap Ketua MPR RI, Dr (HC) Zulkifli Hasan, MM dalam Seminar Nasional Perkaderan Muhammadiyah, Jumat (15/5) di ruang Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam keynote speechnya, mantan Menteri Kehutanan yang saat ini jadi Ketua Umum PAN sempat bercerita mengenai kondisi saat kongres partainya dilaksanakan.

“Terjemahan politik kita itu satu orang satu suara. Kalau tidak satu suara tidak

demokratis. Semuanya ingin menang-menangan,” katanya. Sebenarnya, lanjut Zulkifli, demokrasi Indonesia terdiri dari empat konsensus dasar, yakni Pancasila, UUD 45, musyawarah mufakat, dan gotong royong. “Jangan lupakan aspek moral dan etika juga,” ujarnya.

Meski banyak fenomena politik yang melanda negara ini, namun kata Zulkifli Indonesia sudah berada di jalur yang benar. “Ini memang sesuatu yang harus kita lewati, walaupun sudah berada di jalan yang benar, tapi kita juga harus membenahi segala kekurangannya, supaya kedepan demokrasi kita bisa sesuai dengan budaya Indonesia,” jelasnya.

Agar hal tersebut terwujud, kader Muhammadiyah harus punya beberapa hal. “Kader harus mempunyai kemampuan, kompetensi, dan relationship yang cukup,” ucap Zulkifli menutup Keynote Speechnya yang bertema “Perkembangan Politik Indonesia”.

Sementara itu, Hajriyanto Y. Thohari, dalam seminar panel pertama bertema

“Perkembangan Politik Indonesia dan Tantangan Muhammadiyah” mengungkapkan, Indonesia adalah salahsatu negara yang berhasil melewati masa transisi menuju masa konsolidasi demokrasi. “Indonesia adalah negara yang beruntung. Jika melihat

negara-negara seperti Timur Tengah yang mengalami Arab Spring, banyak yang gagal dalam melewati masa transisinya,” ungkap Hajriyanto.

Indonesia, menurutnya, juga punya prasyarat yang cukup untuk jadi negara maju dan berjaya. “Syaratnya hanya satu, yakni Indonesia harus mampu menghancurkan feodalisme yang ada dalam pemerintahan dan masyarakat,” katanya. Demokrasi,

menurutnya, harus jadi alat untuk kesejahteraan rakyat. Saat ini, Indonesia tengah berada dalam era demokrasi partai atau politik kepartaian, kemudian sistem multi partai, serta politik berbiaya tinggi.

“Inilah yang akan menjadi tantangan Muhammadiyah. Indonesia ini mayoritas muslim, maka gengsi dan reputasi bangsa ini ada di pundak umat islam,” ujarnya.

(2)

Universitas Muhammadiyah Malang

Arsip Berita www.umm.ac.id

Muhammadiyah, lanjutnya harus berpikir alternatif. Berpolitik tidak perlu dari partai politik. “Menyiapkan kader bukan hanya untuk urusan politik, namun Muhammadiyah juga harus mencetak elit-elit strategis di bidang ilmu pengetahuan, intelektual, jurnalis, cendikiawan, mubaligh, dan bidang strategis lainnya. Kemudian lakukan intensifikasi kader melalui Ortom (Organisasi otonom), jangan memutar saja di Muhammadiyah. Yang terakhir yakni eksistensifikasi kader. Perguruan Tinggi adalah salahsatu bentuk dari eksistensifikasi kader,” jelasnya.

Selain Hajriyanto,Ketua Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah Asep Pernama Bahtiar, MSi juga menyampaikan materinya dalam panel yang sama dengan dimoderatori Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Dr Asep Nurjaman. Untuk di panel kedua, Rektor UMM Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, Prof Dr Syafiq A. Mughni, dan Dr Biyanto akan menjadi pembicara bertema “Pengembangan Jaringan dan Perkaderan Berbasis AUM” dengan moderator Pradana Boy ZTF, Ph.D.

Sedangkan di panel ketiga yang dilaksanakan Sabtu (16/5) bertema “Telaah atas Model Perkaderan Muhammadiyah: Perspektif Ideologis” akan disampaikan oleh Nur Cholis Huda, MSi, Dr Achmad Norma Permata, dan Dr Latipun dengan moderator Hidayatullah E, MSi. Untuk panel terakhir bertema “Success Story Enterpreunership”, akan

disampaikan oleh Ir Muhammad Najikh, H Marmin Siswojo, dan di moderator oleh Ir Iman Supriyono, MM.

Seminar Nasional ini dihadiri Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Orton

Muhammadiyah di seluruh Jawa Timur serta dibuka oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof Thohir Luth. (zul/nas)

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (2 pages)