Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba

 3  9  60  2017-05-15 22:24:42 Report infringing document
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BETERNAK DOMBA (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat) SKRIPSI RUSLI HAMBALI PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005 RINGKASAN RUSLI HAMBALI. DO3400004. 2005. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba (Kasus Peternak Domba di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat). Departemen Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Ir. H. Ismail Pulungan, MSc. Pembimbing Anggota : Ir. Burhanuddin, MM. Kelurahan Cimahpar merupakan salah satu kelurahan di Kota Bogor dengan jumlah kepala keluarga yang beternak domba sebanyak 17 persen (Buku Monografi Kelurahan Cimahpar, 2004). Potensi pengembangan ternak domba di Kelurahan Cimahpar cukup terbuka karena secara agroklimat dan sosial budaya masyarakat mendukung. Keberhasilan usahaternak domba di Kelurahan Cimahpar salah satunya ditentukan oleh motivasi para peternak. Motivasi menunjukkan dorongan peternak untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan. Motivasi muncul karena peternak mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik peternak domba, tingkat motivasi beternak domba, dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat motivasi beternak domba. Lokasi penelitian berada di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja karena kelurahan tersebut merupakan salah satu kelurahan di Kota Bogor yang memiliki jumlah peternak domba relatif lebih banyak dibandingkan kelurahan yang lain. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2005. Populasi penelitian adalah peternak domba di Kelurahan Cimahpar berjumlah 390 orang, dengan sampel terpilih sebanyak 63 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling). Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Analisis untuk menguji hubungan antara karaktersitik peternak dengan motivasi beternak menggunakan analisis korelasi rank Spearman (Siegel, 1994). Karakteristik peternak domba di Kelurahan Cimahpar cukup beragam. Umur peternak berkisar antara 23-90 tahun, dengan rata-rata 45 tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan peternak, 73 persen peternak adalah lulusan SD. Jumlah ternak yang dipelihara rata-rata sebanyak 8 ekor. Ternak domba yang dipelihara oleh peternak sebagian besar ada dalam kategori sedikit (57,1 persen). Peternak telah memelihara domba berkisar antara 1-30 tahun, dengan rata-rata 5,94 tahun, dan sebanyak 77,8 i persen terkategori telah beternak selama 1-5 tahun. Jumlah tanggungan keluarga peternak berkisar antara 2-12 orang, dengan rata-rata 5 orang. Sebanyak 85,7 persen jumlah tanggungan keluarga terkategori keluarga kecil. Peternak sebagian besar mengetahui tentang informasi pasar, namun sedikit dari peternak yang mampu menjangkau harga-harga sapronak. Peternak di Kelurahan Cimahpar berada dalam kategori termotivasi untuk berusaha ternak domba dan meningkatkan produktivitasnya. Hasil analisis korelasi rank Spearman menunjukkan bahwa kebutuhan keberadaan berhubungan nyata dengan jumlah tanggungan keluarga. Hal ini berarti semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka akan meningkatkan motivasi peternak untuk memenuhi kebutuhan keberadaan. pendapatan. Kebutuhan keberadaan dalam hal ini adalah tambahan Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan untuk berkembang dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan informasi pasar menunjukkan hubungan nyata. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan peternak dan pengetahuan informasi pasar maka semakin besar motivasi peternak untuk melakukan pengembangan usahaternaknya. Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan berhubungan dengan variabel umur menunjukkan hubungan nyata. Hal ini berarti bahwa semakin meningkat umur peternak maka peternak semakin termotivasi untuk memenuhi kebutuhan berhubungan, yakni diterima dalam lingkungan pergaulan tempat tinggal peternak. Kesimpulan penelitian adalah: (1) Tingkat motivasi peternak berada dalam kategori termotivasi untuk beternak domba. (2) Karakteristik peternak yang berhubungan dengan motivasi beternak adalah umur, jumlah tanggungan keluarga, pendidikan dan pengetahuan informasi pasar. Saran penelitian yaitu: para peternak perlu difasilitasi untuk membentuk kelompok peternak, selanjutnya dibentuk kelembagaan berorientasi ekonomi untuk memfasilitasi kebutuhan peternak, khususnya pemenuhan sarana produksi peternakan dan membantu pemasaran hasil ternak. ii ABSTRACT Factors that Influencing of Motivational Level of Sheep Farmers (Case of Sheep Farmers in Cimahpar Village, North Bogor Subdistrict, Bogor City, West Java) Hambali, R, I. Pulungan, and Burhanuddin Cimahpar’s Village represent one of a village in Bogor City which some of its society are sheep farmers. Motivation of sheep farmers is important aspect in livestock development. The research aims are needed the sheep farmer characteristics, motivational level of sheep farmers, and influencing of motivation level factors of sheep farmers in Cimahpar’s Village, Subdistrict of North Bogor, Bogor City, West Java. The research conducted on June-July 2005 at Cimahpar’s Village, Subdistrict of North Bogor, Bogor City, West Java. The total of sheep farmers as population are 390 farmers. Sample take by simple random sampling, totaly 63 farmers. The results indicated that the motivation of sheep farmers in Cimahpar’s Village categorized medium. It’s mean that sheep farmers in Cimahpar’s Village have motivation to manage sheep livestock, including to increase sheep productivity. Those motivation influencing by age, number of family members, education and knowledge of market information. This research recommended as follow. Sheep farmer need facilitate to build group farmer sheep that orientate to increase sheep farmer economic condition. The institute expected able to assist the sheep farmer in marketing and on farm aspect, including livestock produce accomplishment. All the activity will be more succeed if followed with the activity of empowerment of sheep farmer. Keywords : sheep farmers characteristics, motivation iii FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BETERNAK DOMBA (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat) RUSLI HAMBALI DO3400004 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005 iv FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BETERNAK DOMBA (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat) RUSLI HAMBALI DO3400004 Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan Komisi Ujian Lisan pada Tanggal 26 Oktober 2005 Pembimbing Utama Pembimbing Anggota Ir. H. Ismail Pulungan, MSc. Ir. Burhanuddin, MM. Dekan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Ketua Departemen Sosial Ekonomi dan Industri Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Ronny R. Noor, MRur.Sc. Ir. Burhanuddin, MM. v RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bekasi, Jawa Barat pada tanggal 10 September 1981 sebagai anak pertama dari empat bersaudara hasil pernikahan antara pasangan Bapak Agus Salim dan Ibu Homsah. Penulis memulai pendidikan di SDN Tegal Gede di Bekasi tahun 1989 dan lulus tahun 1994. Pada tahun 1994 sampai 1997 penulis menempuh pendidikan lanjutan pertama di SMP Insan Kamil Bogor, dan pada tahun 1997 penulis melanjutkan pendidikan SMA Insan Kamil Bogor, pada Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada tahun 2000 penulis diterima di Departemen Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) untuk jenjang S1. Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Peternakan, penulis melaksakan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat)”. vi KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Motivasi Beternak Domba (Kasus Peternak d Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat).” Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Ir. H. Ismail Pulungan, MSc. dan Ir. Burhanuddin, MM sebagai dosen pembimbing, yang telah memberikan pengarahan dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki kekurangan dan keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis nantikan. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat. Bogor, Desember 2005 Penulis vii DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN ................................................................................................... i ABSTRACT...................................................................................................... iii RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... vi KATA PENGANTAR ...................................................................................... vii DAFTAR ISI..................................................................................................... viii DAFTAR TABEL............................................................................................. x DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xii PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 Latar Belakang ...................................................................................... 1 Perumusan Masalah .............................................................................. 2 Tujuan Penelitian .................................................................................. 3 Kegunaan Penelitian ............................................................................. 3 KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................................. 4 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 6 Teori-Teori Motivasi............................................................................. 6 Teori Abraham H. Maslow ....................................................... 7 Teori Herzberg .......................................................................... 8 Teori Harapan ........................................................................... 9 Teori ERG ................................................................................. 9 Teori McClelland ...................................................................... 10 Motivasi Beternak Domba .................................................................... 11 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba........... 11 METODE PENELITIAN ................................................................................. 13 Lokasi dan Waktu ................................................................................. 13 Populasi dan Sampel ............................................................................. 13 Desain ................................................................................................... 13 Data dan Instrumentasi ......................................................................... 13 Pengumpulan Data ................................................................................ 14 viii Analisis Data ......................................................................................... 14 Definisi Istilah....................................................................................... 15 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................................................. 17 HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 18 Pengelolaan Usahaternak Domba ......................................................... 18 Aspek Budidaya ........................................................................ 18 Aspek Pemasaran ...................................................................... 20 Aspek Kelembagaan ................................................................. 20 Karakteristik Peternak Domba .............................................................. 21 Umur ......................................................................................... 21 Pendidikan ................................................................................ 21 Pekerjaan ................................................................................... 22 Jumlah Ternak yang Dipelihara ................................................ 23 Lama Beternak .......................................................................... 23 Jumlah Tanggungan Keluarga .................................................. 24 Pengetahuan Peternak tentang Informasi Pasar ........................ 24 Motivasi Beternak Domba .................................................................... 26 Hubungan Karakteristik Peternak dengan ............................................ 28 Motivasi Beternak Domba .................................................................... 28 KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 31 Kesimpulan ........................................................................................... 31 Saran ..................................................................................................... 31 UCAPAN TERIMAKASIH ............................................................................. 32 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 33 LAMPIRAN...................................................................................................... 34 ix FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BETERNAK DOMBA (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat) SKRIPSI RUSLI HAMBALI PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005 RINGKASAN RUSLI HAMBALI. DO3400004. 2005. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba (Kasus Peternak Domba di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat). Departemen Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Ir. H. Ismail Pulungan, MSc. Pembimbing Anggota : Ir. Burhanuddin, MM. Kelurahan Cimahpar merupakan salah satu kelurahan di Kota Bogor dengan jumlah kepala keluarga yang beternak domba sebanyak 17 persen (Buku Monografi Kelurahan Cimahpar, 2004). Potensi pengembangan ternak domba di Kelurahan Cimahpar cukup terbuka karena secara agroklimat dan sosial budaya masyarakat mendukung. Keberhasilan usahaternak domba di Kelurahan Cimahpar salah satunya ditentukan oleh motivasi para peternak. Motivasi menunjukkan dorongan peternak untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan. Motivasi muncul karena peternak mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik peternak domba, tingkat motivasi beternak domba, dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat motivasi beternak domba. Lokasi penelitian berada di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja karena kelurahan tersebut merupakan salah satu kelurahan di Kota Bogor yang memiliki jumlah peternak domba relatif lebih banyak dibandingkan kelurahan yang lain. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2005. Populasi penelitian adalah peternak domba di Kelurahan Cimahpar berjumlah 390 orang, dengan sampel terpilih sebanyak 63 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling). Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Analisis untuk menguji hubungan antara karaktersitik peternak dengan motivasi beternak menggunakan analisis korelasi rank Spearman (Siegel, 1994). Karakteristik peternak domba di Kelurahan Cimahpar cukup beragam. Umur peternak berkisar antara 23-90 tahun, dengan rata-rata 45 tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan peternak, 73 persen peternak adalah lulusan SD. Jumlah ternak yang dipelihara rata-rata sebanyak 8 ekor. Ternak domba yang dipelihara oleh peternak sebagian besar ada dalam kategori sedikit (57,1 persen). Peternak telah memelihara domba berkisar antara 1-30 tahun, dengan rata-rata 5,94 tahun, dan sebanyak 77,8 i persen terkategori telah beternak selama 1-5 tahun. Jumlah tanggungan keluarga peternak berkisar antara 2-12 orang, dengan rata-rata 5 orang. Sebanyak 85,7 persen jumlah tanggungan keluarga terkategori keluarga kecil. Peternak sebagian besar mengetahui tentang informasi pasar, namun sedikit dari peternak yang mampu menjangkau harga-harga sapronak. Peternak di Kelurahan Cimahpar berada dalam kategori termotivasi untuk berusaha ternak domba dan meningkatkan produktivitasnya. Hasil analisis korelasi rank Spearman menunjukkan bahwa kebutuhan keberadaan berhubungan nyata dengan jumlah tanggungan keluarga. Hal ini berarti semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka akan meningkatkan motivasi peternak untuk memenuhi kebutuhan keberadaan. pendapatan. Kebutuhan keberadaan dalam hal ini adalah tambahan Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan untuk berkembang dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan informasi pasar menunjukkan hubungan nyata. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan peternak dan pengetahuan informasi pasar maka semakin besar motivasi peternak untuk melakukan pengembangan usahaternaknya. Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan berhubungan dengan variabel umur menunjukkan hubungan nyata. Hal ini berarti bahwa semakin meningkat umur peternak maka peternak semakin termotivasi untuk memenuhi kebutuhan berhubungan, yakni diterima dalam lingkungan pergaulan tempat tinggal peternak. Kesimpulan penelitian adalah: (1) Tingkat motivasi peternak berada dalam kategori termotivasi untuk beternak domba. (2) Karakteristik peternak yang berhubungan dengan motivasi beternak adalah umur, jumlah tanggungan keluarga, pendidikan dan pengetahuan informasi pasar. Saran penelitian yaitu: para peternak perlu difasilitasi untuk membentuk kelompok peternak, selanjutnya dibentuk kelembagaan berorientasi ekonomi untuk memfasilitasi kebutuhan peternak, khususnya pemenuhan sarana produksi peternakan dan membantu pemasaran hasil ternak. ii ABSTRACT Factors that Influencing of Motivational Level of Sheep Farmers (Case of Sheep Farmers in Cimahpar Village, North Bogor Subdistrict, Bogor City, West Java) Hambali, R, I. Pulungan, and Burhanuddin Cimahpar’s Village represent one of a village in Bogor City which some of its society are sheep farmers. Motivation of sheep farmers is important aspect in livestock development. The research aims are needed the sheep farmer characteristics, motivational level of sheep farmers, and influencing of motivation level factors of sheep farmers in Cimahpar’s Village, Subdistrict of North Bogor, Bogor City, West Java. The research conducted on June-July 2005 at Cimahpar’s Village, Subdistrict of North Bogor, Bogor City, West Java. The total of sheep farmers as population are 390 farmers. Sample take by simple random sampling, totaly 63 farmers. The results indicated that the motivation of sheep farmers in Cimahpar’s Village categorized medium. It’s mean that sheep farmers in Cimahpar’s Village have motivation to manage sheep livestock, including to increase sheep productivity. Those motivation influencing by age, number of family members, education and knowledge of market information. This research recommended as follow. Sheep farmer need facilitate to build group farmer sheep that orientate to increase sheep farmer economic condition. The institute expected able to assist the sheep farmer in marketing and on farm aspect, including livestock produce accomplishment. All the activity will be more succeed if followed with the activity of empowerment of sheep farmer. Keywords : sheep farmers characteristics, motivation iii FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BETERNAK DOMBA (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat) RUSLI HAMBALI DO3400004 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005 iv FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BETERNAK DOMBA (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat) RUSLI HAMBALI DO3400004 Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan Komisi Ujian Lisan pada Tanggal 26 Oktober 2005 Pembimbing Utama Pembimbing Anggota Ir. H. Ismail Pulungan, MSc. Ir. Burhanuddin, MM. Dekan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Ketua Departemen Sosial Ekonomi dan Industri Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Ronny R. Noor, MRur.Sc. Ir. Burhanuddin, MM. v RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bekasi, Jawa Barat pada tanggal 10 September 1981 sebagai anak pertama dari empat bersaudara hasil pernikahan antara pasangan Bapak Agus Salim dan Ibu Homsah. Penulis memulai pendidikan di SDN Tegal Gede di Bekasi tahun 1989 dan lulus tahun 1994. Pada tahun 1994 sampai 1997 penulis menempuh pendidikan lanjutan pertama di SMP Insan Kamil Bogor, dan pada tahun 1997 penulis melanjutkan pendidikan SMA Insan Kamil Bogor, pada Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada tahun 2000 penulis diterima di Departemen Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) untuk jenjang S1. Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Peternakan, penulis melaksakan penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba (Kasus Peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat)”. vi KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Motivasi Beternak Domba (Kasus Peternak d Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat).” Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Ir. H. Ismail Pulungan, MSc. dan Ir. Burhanuddin, MM sebagai dosen pembimbing, yang telah memberikan pengarahan dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki kekurangan dan keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis nantikan. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat. Bogor, Desember 2005 Penulis vii DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN ................................................................................................... i ABSTRACT...................................................................................................... iii RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... vi KATA PENGANTAR ...................................................................................... vii DAFTAR ISI..................................................................................................... viii DAFTAR TABEL............................................................................................. x DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xii PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 Latar Belakang ...................................................................................... 1 Perumusan Masalah .............................................................................. 2 Tujuan Penelitian .................................................................................. 3 Kegunaan Penelitian ............................................................................. 3 KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................................. 4 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 6 Teori-Teori Motivasi............................................................................. 6 Teori Abraham H. Maslow ....................................................... 7 Teori Herzberg .......................................................................... 8 Teori Harapan ........................................................................... 9 Teori ERG ................................................................................. 9 Teori McClelland ...................................................................... 10 Motivasi Beternak Domba .................................................................... 11 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba........... 11 METODE PENELITIAN ................................................................................. 13 Lokasi dan Waktu ................................................................................. 13 Populasi dan Sampel ............................................................................. 13 Desain ................................................................................................... 13 Data dan Instrumentasi ......................................................................... 13 Pengumpulan Data ................................................................................ 14 viii Analisis Data ......................................................................................... 14 Definisi Istilah....................................................................................... 15 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................................................. 17 HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 18 Pengelolaan Usahaternak Domba ......................................................... 18 Aspek Budidaya ........................................................................ 18 Aspek Pemasaran ...................................................................... 20 Aspek Kelembagaan ................................................................. 20 Karakteristik Peternak Domba .............................................................. 21 Umur ......................................................................................... 21 Pendidikan ................................................................................ 21 Pekerjaan ................................................................................... 22 Jumlah Ternak yang Dipelihara ................................................ 23 Lama Beternak .......................................................................... 23 Jumlah Tanggungan Keluarga .................................................. 24 Pengetahuan Peternak tentang Informasi Pasar ........................ 24 Motivasi Beternak Domba .................................................................... 26 Hubungan Karakteristik Peternak dengan ............................................ 28 Motivasi Beternak Domba .................................................................... 28 KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 31 Kesimpulan ........................................................................................... 31 Saran ..................................................................................................... 31 UCAPAN TERIMAKASIH ............................................................................. 32 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 33 LAMPIRAN...................................................................................................... 34 ix DAFTAR TABEL Nomor 1. Halaman Distribusi Umur Peternak Berdasarkan Usia Produktif dan Non Produktif Dihubungkan dengan Skor Motivasi ................................. 21 Distribusi Peternak Berdasarkan Kategori Pendidikan Dihubungkan dengan Skor Motivasi ........................................................................ 22 Distribusi Peternak Berdasarkan Pekerjaan Dihubungkan dengan Skor Motivasi ..................................................................................... 22 Distribusi Peternak Berdasarkan Jumlah Ternak yang Dipelihara Dihubungkan dengan Skor Motivasi ................................................. 23 5. Distribusi Peternak Berdasarkan Lama Beternak ............................. 24 6. Distribusi Peternak Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga Dihubungkan dengan Skor Motivasi ................................................. 24 Distribusi Peternak Berdasarkan Pengetahuan peternak tentang Informasi Pasar ternak Dihubungkan dengan Skor Motivasi ............ 25 Distribusi Peternak Berdasarkan Keterjangkauan Sapronak Dihubungkan dengan Skor Motivasi ................................................. 26 Rataan Jumlah Skor Motivasi Beternak Domba menurut Indikator Motivasi ............................................................................................. 26 10. Koefisien Korelasi Karakteristik Peternak dengan Motivasi Beternak Domba ................................................................................ 28 2. 3. 4. 7. 8. 9. x DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Kerangka Pemikiran Penelitian ...................................................... 5 2. Motivasi Sebagai Proses Psikologis (Wahdjosumidjo, 1987) ........ 7 3. Hierarki Kebutuhan Maslow ........................................................... 8 xi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Data Identitas Responden .............................................................. 35 2. Nilai Skor Pengetahuan Pasar dan Keterjangkauan Sapronak ....... 36 3. Nilai Skor Motivasi ........................................................................ 38 4. Hasil Analisis Korelasi Rank Spearman ........................................ 40 xii PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor pertanian, khususnya sub-sektor peternakan, akan menghadapi tantangan yang besar seiring dengan diberlakukannya sistem pasar bebas. Untuk menghadapi tantangan tersebut maka produk hasil peternakan dimasa mendatang harus dihasilkan secara efisien, terjamin kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya. Untuk itu, penanganan sistem agribisnis peternakan perlu terintegrasi dan terkoordinasi dari tingkat usaha budidaya (on farm business) hingga ke tingkat pengolahan (off farm business). Hal ini tentunya membutuhkan sumberdaya manusia (peternak) yang profesional dalam mengelola ternak. Salah satu komoditas peternakan penting di Indonesia adalah ternak domba. Ternak domba merupakan komoditas peternakan yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat di pedesaan yang umumnya dipelihara oleh peternak sebagai usaha sambilan. Walaupun sistem usaha ini kurang memperhatikan tantangan pasar yang dihadapi namun usaha ini diyakini telah memberikan kontribusi dalam perekonomian masyarakat yang cukup besar. Kelurahan Cimahpar merupakan salah satu kelurahan di Kota Bogor dengan jumlah kepala keluarga yang beternak domba sebanyak 17 persen. Seperti halnya di wilayah lain di Indonesia, ternak domba di daerah ini pada umumnya diusahakan sebagai usaha sambilan dan belum berorientasi komersial/bisnis. Potensi pengembangan jenis ternak tersebut di daerah ini masih cukup besar. Selain secara agroklimat cukup mendukung, juga secara sosial budaya, masyarakat di wilayah ini sudah cukup akrab dengan pemeliharaan jenis ternak ini. Keberhasilan pembangunan peternakan di wilayah ini salah satunya ditentukan oleh adanya partisipasi para peternak dalam mengusahakan ternaknya. Partisipasi peternak dalam pembangunan peternakan bukan hanya ditujukkan untuk meningkatkan jumlah produksi saja, tetapi juga untuk menghasilkan produk yang berkualitas serta variasi yang beragam dan murah harganya, sehingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Bentuk partisipasi peternak dalam kegiatan pembangunan agribisnis peternakan dapat dilihat berdasarkan beberapa aspek, yaitu: (1) keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, 1 (2) keikutsertaan dalam pelaksanaan, (3) keikutsertaan dalam menikmati hasil, (4) keikutsertaan dalam evaluasi (Asngari , 2001). Partisipasi peternak yang diwujudkan dalam kegiatan beternak sangat erat kaitannya dengan motivasi para peternak itu sendiri. Motivasi menunjukkan dorongan aktif dalam diri peternak untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Motivasi ini muncul karena peternak tersebut mempunyai kebutuhan dan kepentingan yang harus dipenuhi. Perumusan Masalah Suksesnya pembangunan peternakan, khususnya di Kelurahan Cimahpar, bukan hanya ditentukan oleh tersedianya fasilitas/sarana prasarana, barang modal dan alat bantu lainnya, tetapi juga motivasi para peternak untuk berperan secara aktif dan produktif. Hal ini merupakan salah satu tantangan berat yang sering dijumpai oleh para petugas (penyuluh) peternakan di lapangan. Tidaklah mudah menggerakkan para peternak agar senantiasa mau dan bersedia untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk membangun agribisnis peternakan yang notabene untuk kepentingan dirinya sendiri. Kenyataannya, kondisi peternakan domba di Kelurahan Cimahpar pada saat ini masih banyak dijumpai domba yang tidak terurus, kandang yang tidak bersih dan yang tidak kalah penting adalah tidak berkembangnya skala usaha ternak domba. Kondisi seperti ini diduga merupakan indikasi motivasi para peternak domba untuk meningkatkan produktifitasnya masih rendah. Motivasi ini akan berimplikasi pada prilaku kerja para peternak, seperti timbulnya ketidakdisiplinan serta kurangnya kreativitas dan inisiatif para peternak sehingga produktivitas usaha ternak dombanya relatif rendah. Berdasarkan uraian di atas, masalah umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar. Selanjutnya secara khusus permasalahan tersebut dapat diuraikan dalam butir-butir pertanyaan sebagai berikut : 1. Bagaimana karakteristik peternak domba di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara ? 2. Bagaimana tingkat motivasi beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara ? 2 3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat motivasi beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara ? Tujuan Penelitian Penelitian ini akan diarahkan untuk mendapatkan jawaban dari beberapa permasalahan seperti disampaikan di atas yaitu : 1. Mengetahui karakteristik individu peternak domba di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara. 2. Mengetahui tingkat motivasi beternak domba pada para petermak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara. 3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat motivasi beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk : 1. Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pemberdayaan peternak. 2. Memberikan input bagi penelitian sejenis. 3 KERANGKA PEMIKIRAN Motivasi merupakan kunci pendorong moral, kedisiplinan dan prestasi kerja dalam beternak domba. Tingkat motivasi diantara peternak berbeda-beda. Peternak dengan motivasi tinggi diharapkan akan mengutamakan pekerjaannya dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan bertangung jawab. Untuk menerangkan motivasi beternak domba akan digunakan teori ERG. Kebutuhankebutuhan tersebut adalah : (1) kebutuhan akan keberadaan (existence), (2) kebutuhan berhubungan (relatedness), dan (3) kebutuhan untuk berkembang (growth need). Seorang peternak akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan mana saja yang bersifat prepoten atau yang paling kuat, pada saat tertentu. Prepotensi suatu kebutuhan tergantung pada situasi individual yang berlaku dan pengalamanpengalaman yang baru saja dialami. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dianggap sebagai alat untuk mengenergi, atau pemicu-pemicu yang menyebabkan timbulnya reaksi-reaksi perilaku. Faktor yang mempengaruhi motivasi beternak domba (variabel independen) dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari : umur, pendidikan, pengalaman beternak domba, dan jumlah tanggungan keluarga. Adapun faktor eksternal meliputi : keterjangkauan harga sapronak domba dan pengetahuan informasi permintaan pasar domba. Variabel dependen (bebas) adalah motivasi beternak domba. Keterkaitan antara variabel independen dan variabel dependen disajikan dalam bagan kerangka pemikiran pada Gambar 1. 4 Karakteristik Individu Peternak Faktor Internal : - Umur Pendidikan Pengalaman Beternak Jumlah Tanggungan Keluarga MOTIVASI PETERNAK : Didorong oleh kebutuhan : (1) Keberadaan (2) Hubungan (3) Berkembang Faktor Eksternal : - Keterjangkauan harga sapronak domba Pengetahuan informasi permintaan pasar domba PERILAKU BETERNAK DOMBA Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian 5 TINJAUAN PUSTAKA Teori-Teori Motivasi Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau daya penggerak (Hasibuan, 1999). Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja seseorang, agar mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu. Motivasi menjadi penting karena dengan motivasi ini diharapkan seseorang mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas yang tinggi. Stevenson (2001) mendefinisikan motivasi sebagai insentif, dorongan, atau stimulus untuk bertindak. Motivasi adalah semua hal – verbal, fisik atau psikologis – yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respon. Wahjosumidjo (1987) menyatakan bahwa motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis timbul diakibatkan oleh faktor dari dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsik atau faktor di luar diri yang disebut ekstrinsik. Gambaran mengenai motivasi sebagai proses psikologis disajikan dalam Gambar 2. Menurut Thoha (1998), motivasi seseorang tergantung pada kekuatan dari motivasi itu sendiri. Dorongan ini yang menyebabkan mengapa seseorang itu berusaha mencapai tujuan-tujuan, baik sadar ataupun tidak sadar. Dorongan ini pula yang menyebabkan seseorang berprilaku, yang dapat mengendalikan dan memelihara kegiatan-kegiatan, dan yang menetapkan arah umum yang harus ditempuh oleh seseorang tersebut. Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang yang melaksanakan upaya substansial, guna mendukung tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya, dan tempat ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi, hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi merupakan sebuah konsep penting dalam studi tentang kinerja individual (Winardi, 2002). 6 SESEORANG DENGAN DORONGAN RANGSANGAN FAKTOR INTRINSIK FAKTOR EKSTRINSIK ALTERNATIF PERILAKU PENENTUAN PERILAKU PERILAKU Gambar 2. Motivasi sebagai Proses Psikologis (Wahjosumidjo, 1987) Teori Abraham H. Maslow Maslow berpendapat bahwa terdapat kebutuhan-kebutuhan yang bersifat hierarkis yang memotivasi individu untuk berupaya memenuhi atau memuaskan kebutuhan tersebut. Seseorang akan termotivasi selama kebutuhan-kebutuhan tersebut belum terpenuhi. Rakhmat (2000) mengutip pendapat Abraham Maslow menyebutkan lima kelompok kebutuhan yang disusun dalam tangga hirarkhis dari kebutuhan fisiologis sampai kebutuhan pemenuhan diri (Gambar 3). Kebutuhankebutuhan tersebut adalah : fisiologis, rasa aman, sosial atau afiliasi, prestasi, atau rasa dihargai dan aktualisasi diri. 7 Kebutuhan akan Aktualisasi Diri Kebutuhan akan Harga Diri Kebutuhan Sosial Kebutuhan akan Rasa Aman Kebutuhan Fisiologis Gambar 3. Hierarki Kebutuhan Maslow (Panuju, 2000) Teori Herzberg Teori Herzberg dikenal dengan “model dua faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor higiene atau “pemeliharaan”. Faktor motivasional merupakan hal-hal pendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dari dalam diri seseorang. Faktor higiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri seseorang, misalnya dari organisasi, tetapi turut menentukan prilaku seseorang dalam kehidupan kekaryaannya (Siagian , 2001). Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam berkarier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor higiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seseorang dengan karyawan dan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang dilakukan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Selanjutnya dijelaskan bahwa salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan kekaryaan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik (Siagian, 2001). 8 Teori Harapan Teori ini dikemukakan oleh Victor H. Vroom. Berdasarkan teori ini, motivasi seseorang ke arah suatu tindakan pada suatu waktu tertentu ditentukan oleh antisipasinya terhadap nilai dari hasil tindakan itu (baik negatif maupun positif) yang digandakan oleh harapan orang yang bersangkutan bahwa hasil tersebut akan mewujudkan tujuan yang diinginkan (Koonz, et al., 1989). Teori Vroom dapat dinyatakan sebagai berikut : Daya = valensi x ekspektansi Daya adalah kekuatan motivasi seseorang, valensi adalah kekuatan preferensi seseorang akan suatu hasil, dan ekspektansi adalah tingkat kemungkinan bahwa tindakan tertentu akan mengarah pada hasil yang diinginkan. Valensi nihil terjadi apabila seseorang tidak peduli akan pencapaian tujuan tertentu, dan terdapat suatu valensi negatif apabila orang yang bersangkutan lebih suka tidak mencapai tujuan tersebut (tidak ada motivasi). Demikian juga halnya, seseorang tidak akan memiliki motivasi untuk mencapai tujuan apabila ekspektansinya adalah nihil atau negatif. Vroom menyebutkan, produktivitas atau hasil yang dapat dicapai merupakan alat pemuasan bagi seseorang. Produktivitas adalah alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Keinginan seseoang untuk menghasilkan (berproduksi) sangat tergantung atas tujuan khusus yang ingin dicapainya dan persepsinya atas tindakantindakan untuk mencapai tujuan tersebut (Wahdjosumidjo, 1987). Teori ERG Teori motivasi ERG dimunculkan oleh Clayton Alderfer. Menurut Alderfer, sama halnya dengan teori Maslow, kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hirarki berjenjang. Perbedaannya adalah jenjang tersebut tidak bersifat kaku sehingga unsur keterkaitan akan selalu dominan dalam mengerahkan individu untuk selalu memenuhi kebutuhannya, baik yang sudah terpenuhi maupun yang terhambat pemenuhannya (Mosher, 1991). Jenjang kebutuhan manusia menurut Alderfer adalah sebagai berikut : 1. Eksistensi, merupakan bentuk kebutuhan manusia yang dapat terpuasi oleh ketersediaan kebutuhan dasar, seperti makanan, air, upah, dan kondisi kerja. 9 2. Hubungan, merupakan bentuk kebutuhan manusia yang terpuasi oleh hubungan antara individu dan lingkungan sosial yang bermanfaat. 3. Pertumbuhan, adalah bentuk kebutuhan manusia yang terpuasi dengan cara melakukan peran atau kontribusi yang kreatif dan produktif. Teori McClelland David C. McClelland memberikan kontribusi bagi pemahaman motivasi dengan mengidentifikasi tiga jenis kebutuhan dasar, yakni kebutuhan untuk berkuasa, kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk berprestasi (Koontz, et al., 1989). Ketiga kebutuhan dasar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Kebutuhan akan kekuasaan. Orang-orang yang memiliki kebutuhan yang tinggi untuk berkuasa menaruh perhatian besar untuk dapat mempengaruhi dan mengendalikan. Orang-orang seperti ini pada umumnya berusaha mencari posisi pimpinan; mereka penuh daya, keras kepala, dan sangat menuntut; serta senang mengajar dan berbicara di depan umum. 2. Kebutuhan berafiliasi. Orang-orang yang memiliki kebutuhan yang tinggi untuk berafiliasi biasanya memperoleh kesenangan dari kasih sayang dan cenderung menghindari kekecewaan karena ditolak oleh suatu kelompok sosial. 3. Kebutuhan berprestasi. Orang-orang dengan kebutuhan yang tinggi untuk berprestasi memilki keinginan besar untuk berhasil dan juga memiliki rasa khawatir akan kegagalan. Mereka ingin ditantang, menetapkan tujuan yang cukup sulit, tetapi masih mungkin dicapai bagi diri mereka sendiri, melakukan pendekatan yang realistis terhadap resiko (menganalisis dan menilai masalah), menyukai umpan balik yang spesifik dan segera atas prestasi mereka, cenderung gelisah, suka bekerja hingga larut malam, sama sekali tidak khawatir gagal, dan cenderung untuk melakukan semuanya seorang diri. Berbagai kebutuhan, keinginan, dan harapan yang terdapat di dalam diri seseorang dapat membentuk motivasi intrinsik. Sedangkan pembentuk motivasi ekstrinsik dapat berupa insentif, perolehan keuntungan dari suatu program/kegiatan, pembagian hasil, tersedianya barang dan jasa yang ingin dibeli, dan penghargaan 10 masyarakat terhadap prestasi dapat mendorong bagi petani/peternak untuk meningkatkan produksi dan produktivitasnya (Mosher, 1991). Motivasi Beternak Domba Terdapat sejumlah kebutuhan yang mendorong peternak untuk beternak domba. (1) Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut Clayton Alderfer kebutuhan akan keberadaan (existence), (2) kebutuhan adalah : berhubungan (relatedness), dan (3) kebutuhan untuk berkembang (growth need) (Mosher, 1991). Tiga kebutuhan tersebut dikenal dengan teori ERG. (1) Kebutuhan akan keberadaan (existence), yaitu kebutuhan peternak untuk memperoleh tambahan pendapatan dari beternak domba. (2) Kebutuhan berhubungan (relatedness), yaitu kebutuhan peternak untuk diterima dalam pergaulan di lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal. (3) Kebutuhan untuk berkembang (growth need), yaitu kebutuhan peternak untuk meningkatkan skala usaha ternak, memperoleh penghargaan dan pengakuan dari masyarakat terhadap keberhasilan usaha ternaknya. Masing-masing kebutuhan tersebut tidak sama kekuatan tuntutan-tuntutan pemenuhannya. Tumbuhnya kekuatan itu satu sama lain juga berbeda-beda waktunya. Seluruh kebutuhan tidak timbul dalam waktu yang bersamaan. Walaupun kadang-kadang beberapa kebutuhan dapat muncul sekaligus, sehingga seorang peternak harus menentukan pilihannya yang mana yang harus dipenuhinya terlebih dahulu. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Beternak Domba Porter dan Miles berpendapat terdapat tiga variabel penting yang dapat mempengaruhi motivasi seseorang, yaitu (1) karaktersitik individu (individual characteristics), (2) karakteristik pekerjaan (job characteristics), dan (3) karakteristik situasi kerja (work situation characteristics) (Wahjosumidjo, 1987). Salah satu faktor yang memotivasi peternak adalah karakteristik individu. Sebagai seorang individu, setiap peternak memiliki hal-hal khusus mengenai sikap, tabiat, dan kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan dibentuk oleh keadaan lingkungan dan pengalaman yang khusus pula. Hal ini akan menyebabkan para peternak tersebut 11 memiliki motivasi kerja yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Mereka membawa harapan, kepercayaan, keinginan, dan kebutuhan personalnya kedalam lingkungan kerja mereka sehingga memungkinkan mereka untuk berupaya memenuhinya melalui beternak domba. Karakteristik individu adalah sifat atau ciri-ciri yang dimiliki seseorang. Karakteristik terbentuk oleh faktor-faktor biologis dan faktor sosiopsikologis (Suprayitno, 2004). Faktor biologis mencakup genetik, sistem syaraf dan sistem hormonal. Sedangkan faktor sosiopsikologis terdiri dari komponen-komponen kognitif (intelektual), konatif yang berhubungan dengan kebiasaan dan afektif (faktor emosional). Karakteristik individu yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah umur, pendidikan, lama beternak domba, pekerjaan pokok, jumlah tanggungan keluarga (faktor internal), keterjangkauan harga sapronak dan pengetahuan akan informasi pasar domba. Beberapa penelitian sebelumnya telah menyimpulkan bahwa ada keterkaitan antara karakteristik individu dengan motivasi. Winardi (2002) mengatakan bahwa ada sejumlah variabel penting dan menarik yang digunakan orang untuk menerangkan perbedaan-perbedaan motivasi, antara lain : umur, pendidikan dan latar belakang keluarga. Prihatini (2000) yang meneliti tingkat motivasi kerja anggota Prokesra UPPKS di Kota Madya Bogor, memberikan hasil bahwa karakteristik individu mempengaruhi motivasi kerja seseorang. Prihatini menyimpulkan bahwa umur, pendidikan, tanggungan keluarga mempunyai korelasi yang positif dan signifikan dengan motivasi kerja. Dwiyanti (2003) meneliti tentang motivasi peternak dalam kegiatan berusaha ternak domba di Desa Saganten Cianjur, Jawa Barat. Dalam kesimpulannya, Dwiyanti menyebutkan bahwa variabel umur, pendidikan, jenis kelamin dan pekerjaan pokok peternak berhubungan dengan motivasi. 12 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Lokasi penelitian berada di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan alasan Kelurahan Cimahpar merupakan salah satu kelurahan di Kota Bogor yang memiliki jumlah peternak domba relatif lebih banyak dibandingkan kelurahan yang lain. Waktu penelitian lapangan dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2005. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah peternak domba yang berada di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor yang berjumlah 390 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini akan dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling). Sampel peternak dipilih sebanyak 63 orang dari populasi tersebut. Desain Penelitian ini didesain sebagai suatu survei yang bersifat deskriptif korelasional. Peubah pengaruh adalah karakteristik peternak dan peubah terpengaruh adalah motivasi beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar. Data dan Instrumentasi Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan responden, berdasarkan kuesioner, sedangkan data sekunder berupa kondisi umum wilayah penelitian serta data pendukung lainnya yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Cimahpar dan instansi-instansi terkait lainnya. Untuk keperluan pengumpulan data disusun sebuah instrumen berupa kuesioner yang berisi pertanyaan bagi responden. Kuesioner terbagi menjadi dua bagian yaitu : (1) bagian yang berisi pertanyaan untuk mengukur karakteristik peternak; dan (2) bagian yang berisi pertanyaan untuk mengukur motivasi beternak domba. 13 Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Di samping itu, dilakukan wawancara secara mendalam terhadap beberapa informan, dan observasi langsung di lapangan. Data sekunder dikumpulkan dari Kantor Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara. Analisis Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini akan diolah dan dianalisis dengan dua macam metode analisis statistik, yaitu : 1. Analisis rataan dan sebaran pada karakteristik peternak dan tingkat motivasi peternak. 2. Analisis hubungan (korelasi), untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu dengan motivasi peternak akan digunakan korelasi rank Spearman dan khi-kuadrat (Siegel, 1994). Rumus Rank Spearman N rs = 1 − 6 ∑ d i2 N i =1 3 − N Dimana : rs = nilai korelasi antara beberapa karakteristik individu dengan motivasi peternak domba. di = selisih nilai peringkat ke-i antara variabel karakteristik individu dengan variabel tingkat motivasi. N = jumlah sampel peternak. Semua perhitungan di atas dilakukan dengan bantuan program komputer, yaitu program statistik SPSS versi 11.0. 14 Definisi Istilah 1) Umur adalah usia peternak pada saat penelitian dilakukan yang diukur berdasarkan skala rasio dengan pembulatan ke tanggal ulang tahun terdekat, dinyatakan dalam satuan tahun. 2) Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal tertinggi yang pernah dicapai oleh peternak. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal, dibedakan menjadi lima kategori, yaitu : tidak lulus Sekolah Dasar (SD) atau sederajat, lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat, lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat. 3) Lama beternak adalah lamanya responden melakukan kegiatan beternak yang diukur berdasarkan skala ordinal dengan satuan tahun, pengkategoriannya dilakukan dengan mencari nilai rata-rata. Selanjutnya berdasarkan nilai ratarata dikelompokkan menjadi kategori lama beternak 1-5 tahun dan 6-30 tahun. 4) Pekerjaan pokok adalah pekerjaan utama responden, yaitu PNS, Pedagang, TNI/POLRI, Karyawan Swasta, Petani, Peternak dan lainnya. 5) Jumlah tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan responden yang diukur dalam jumlah orang, pengkategoriannya dilakukan dengan mencari nilai rata-rata. Selanjutnya berdasarkan nilai ratarata dikelompokkan menjadi kategori kecil (2-5 orang) dan besar (6-12 orang). 6) Keterjangkauan harga sapronak adalah terjangkau atau tidaknya sarana produksi untuk ternak domba, baik dari sisi kemudahan mendapatkan maupun harganya. Pengukurannya dilakukan dengan cara skoring, kemudian berdasarkan sebaran total skor, dikategorikan menjadi tiga kelompok, sangat terjangkau, cukup terjangkau dan tidak terjangkau. 7) Pengetahuan informasi pasar domba adalah pengetahuan para peternak bahwa permintaan pasar hasil ternak domba maupun olahan masih tinggi. Pengukurannya dilakukan dengan cara skoring, kemudian berdasarkan sebaran total skor, dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu sangat mengetahui, cukup mengetahui, dan tidak mengetahui. 15 8) Motivasi peternak adalah sejumlah kekuatan yang ada pada diri peternak yang mendorong untuk beternak domba. Kekuatan tersebut berupa keinginan untuk memenuhi kebutuhan (1) kebutuhan akan keberadaan (existence), (2) kebutuhan berhubungan (relatedness), dan (3) kebutuhan untuk berkembang (growth need). Motivasi beternak domba diukur dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait tiga kebutuhan di atas. Tingkat motivasi peternak dibagi menjadi tiga kategori, yaitu termotivasi (141-180), cukup termotivasi (total skor 101-140) dan kurang termotivasi (total skor 60-100). 9) Kebutuhan keberadaan (existence), yaitu kebutuhan peternak untuk memperoleh tambahan pendapatan dari beternak domba. Indikator ini dibagi menjadi tiga kategori, yaitu termotivasi (total skor 48-60), cukup termotivasi (total skor 34-47) dan kurang termotivasi (total skor 20-33). 10) Kebutuhan berhubungan (relatedness), yaitu kebutuhan peternak untuk diterima dalam pergaulan di lingkungan masyarakat tempat peternak tinggal. Indikator ini dibagi menjadi tiga kategori, yaitu termotivasi (total skor 4860), cukup termotivasi (total skor 34-47) dan kurang termotivasi (total skor 20-33). 11) Kebutuhan untuk berkembang (growth need), yaitu kebutuhan peternak untuk meningkatkan skala usaha ternak, memperoleh penghargaan dan pengakuan dari masyarakat terhadap keberhasilan usaha ternaknya. Indikator Indikator ini dibagi menjadi tiga kategori, yaitu termotivasi (total skor 48-60), cukup termotivasi (total skor 34-47) dan kurang termotivasi (total skor 20-33). 16 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Secara administratif, Kelurahan Cimahpar termasuk dalam wilayah Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Kelurahan Cimahpar mempunyai luas 441,669 ha dengan jumlah penduduk sebanyak 11.076 orang atau 2.277 KK yang terdiri dari 15 RW (Buku Monografi Kelurahan Cimahpar Tahun 2004). Batas-batas Kelurahan Cimahpar : Sebelah utara : Kelurahan Ciluar Sebelah selatan : Kelurahan Katulampa Sebelah Barat : Kelurahan Tanah Baru Sebelah Timur : Desa Sukaraja Kelurahan Cimahpar berada pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu berkisar antara 23-32oC dan curah hujan antara 3500-4000 mm. Keadaan ini cukup sesuai untuk pemeliharaan ternak domba. Mayoritas mata pencaharian penduduk adalah buruh dan wiraswasta/ berdagang, sedangkan usaha peternakan sebagai usaha sambilan. Usaha peternakan yang dominan di Kelurahan Cimahpar adalah peternakan ayam ras serta ternak domba dan kambing. Berdasarkan data monografi Kelurahan Cimahpar tahun 2004 tercatat jumlah ternak domba dan kambing sebanyak 1200 ekor, sedangkan jumlah peternak domba tercatat 390 orang dan jumlah peternak kambing sebanyak 40 orang. 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan Usahaternak Domba Kegiatan beternak domba oleh para peternak di Kelurahan Cimahpar merupakan usaha sambilan. Pengelolaan usahaternak tersebut masih dijalankan secara tradisional artinya pengelolaan seadanya mengikuti kebiasaan setempat dan orang tua terdahulu. Tingkat penerapan teknologi pada usaha peternakan domba masih terbatas, hal ini dikarenakan usaha ternak domba dilakukan hanya sebagai usaha sambilan. Sebagian besar peternak kurang mengetahui tentang manfaat dan cara-cara melakukan kawin suntik, kastrasi (pengebirian), serta pembuatan silase (rumput yang dikeringkan). Aspek Budidaya Kandang domba terdiri dari dua tipe, yaitu kandang panggung dan kandang lemprak. Tipe kandang yang digunakan para peternak di Kelurahan Cimahpar adalah tipe panggung, yaitu tipe kandang yang memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah sehingga kotoran dan air kencing ternak domba tidak berceceran. Alas kandang terbuat dari kayu/bambu dengan tinggi panggung dari tanah sekitar 50 cm. Sebagian peternak sudah memisahkan beberapa bagian kandang sesuai dengan fungsinya, yaitu kandang induk, anak serta pejantan. Para peternak umumnya telah melakukan pemeliharaan kandang, yang meliputi pembersihan kotoran domba, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah, dan membersihkan alas; yang dilaksanakan para peternak secara rutin setiap minggu. Bibit domba yang umumnya digunakan oleh peternak adalah bibit lokal (domba kampung). Domba kampung memiliki ciri-ciri: tubuh kecil, lambat dewasa, warna bulunya maupun karakteristiknya tidak seragam dan hasil dagingnya relatif lebih sedikit. Ternak domba yang dipelihara berasal dari anak domba yang dilahirkan induknya atau dibeli dari peternak lain. Bibit tersebut diperoleh dari anak lahiran atau hasil pembelian dari sesama peternak. Kegiatan pemeliharaan memandikan ternak. ternak domba tersebut meliputi: Pertama, Para peternak di Kelurahan Cimahpar umumnya sudah mengetahui bahwa domba perlu dimandikan. Kegiatan memandikan domba 18 dilakukan seminggu sekali pada pagi hari dengan menggunakan sikat dan sabun. Setelah dimandikan, selanjutnya domba dijemur di bawah sinar matahari pagi. Kedua, mencukur bulu. Para peternak umunya telah melakukan kegiatan pencukuran bulu domba. Pencukuran bulu domba dilakukan dengan menggunakan gunting. Peternak biasanya melakukan pencukuran bulu domba enam bulan sekali. Ketiga, merawat dan memotong kuku. Pemotongan kuku domba sebaiknya dilakukan empat bulan sekali dengan golok, pahat kayu, pisau kuku atau gunting. Para peternak sebagian tidak melakukan pemotongan kuku, namun ada sebagian kecil peternak melakukan pemotongan kuku saat lahir. Bahan makanan yang diberikan oleh para peternak di Kelurahan Cimahpar umumnya adalah pakan hijauan dan konsentrat. Pakan hijau merupakan makanan kasar yang berupa rumput lapangan, limbah hasil pertanian dan rumput unggul dan berbagai jenis leguminosa. Hijauan pakan merupakan makanan utama bagi domba yang tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut, tetapi juga sebagai sumber gizi protein, vitamin dan mineral. Jenis rumput yang diberikan adalah rumput raja, rumput gajah yang ditanam di atas lahan dengan curah hujan tinggi dan rumput benggala serta rumput setaria dan lahan kering. lamtoro, jayanti, kaliandra dan turi. Jenis leguminosa antara lain Selain hijauan, peternak juga memberikan konsentrat. Konsentrat merupakan makanan ternak penguat yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung, bekatul dan bungkil-bungkilan. Konsentrat digunakan terutama pada saat pertumbuhan, pada masa kebuntingan maupun saat menyusui bagi induknya. Peternak di Kelurahan Cimahpar sebagian besar telah memahami bahwa ternak domba perlu diberikan vaksin. Namun demikan, dalam prakteknya masih ada peternak yang tidak memberikannya. Terdapat berbagai alasan peternak sehingga peternak tidak memberikan vaksin sebagaimana yang seharusnya. Alasan tersebut antara lain: peternak tidak mampu membeli dan sebagian peternak yang lain masih merasa aman dengan antibodi yang dimiliki domba itu sendiri. Vaksinasi mulai diberikan pada anak domba (cempe) yang berusia satu bulan, selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Jenis vaksin yang biasa diberikan adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), serum anti anthrax, vaksin AE, dan vaksin SE (Septichaemia Epizootica). 19 Penyakit yang banyak dikeluhkan oleh para peternak adalah penyakit kudis. Penyakit kudis merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba. Penyebab penyakit ini adalah parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis. Gejalagejalanya adalah tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor. Pengendalian dilakukan dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%. Aspek Pemasaran Ternak domba mencapai berat badan optimal pada umur 18 bulan, sehingga pada umur tersebut domba mulai dijual. Domba muda berumur di bawah 6 bulan biasanya jarang dijual karena harganya rendah. Penjualan domba hidup oleh para peternak di Kelurahan Cimahpar pada umumnya dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) menjual langsung kepada pembeli, (2) menjual di pasar ternak, dan (3) menjual melalui pedagang perantara. Sebagian besar peternak domba di Kelurahan Cimahpar menjual langsung kepada pembeli. Umumnya peternak di Kelurahan Cimahpar tidak kesulitan menjual ternak domba. Bahkan pada saat Idul Adha ternak yang ditawarkan masih perlu ditingkatkan. Hal yang banyak dikeluhkan dari sisi pemasaran adalah harga domba yang mereka terima cenderung rendah. Aspek Kelembagaan Pengembangan ternak domba memerlukan kelembagaan peternakan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para peternak di Kelurahan Cimahpar tidak terdapat kelompok peternak, KUD atau semacamnya. Kegiatan penyuluhan peternakan pun menurut beberapa peternak tidak pernah dilakukan di kelurahan ini. Ketiadaan kelembagaan (ekonomi) yang khusus menjadi wadah peternak di Kelurahan Cimahpar menyebabkan peternak merasa kesulitan dalam melakukan penjualan ternaknya. Oleh sebab itu banyak diantara peternak yang menjual ternaknya ke tengkulak yang tentu saja dengan harga di bawah harga pasar. Sebagian dari peternak juga menjual langsung kepada konsumen. 20 Karakteristik Peternak Domba Peternak domba adalah individu yang berbeda-beda antara peternak yang satu dengan peternak yang lain. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakteristik yang melekat pada diri peternak. Karakteristik peternak domba yang dideskripsikan pada penelitian ini adalah umur, pendidikan, pekerjaan, lama beternak, jumlah ternak yang dipelihara dan jumlah tanggungan keluarga. Umur Umur peternak domba di Kelurahan Cimahpar berkisar antara 23-90 tahun, dengan rata-rata 45 tahun. Apabila umur responden dibedakan berdasarkan usia produktif (15-64 tahun) dan non produktif (65-90 tahun), maka dapat diketahui bahwa 85,7 % para peternak terkategori usia produktif. (Tabel 1). Dengan demikian dilihat dari usia peternak, maka pengembangan usahaternak di Kelurahan Cimahpar masih sangat potensial mengingat sebagian besar peternaknya berusia produktif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa usahaternak domba masih memiliki daya tarik di kalangan usia produktif. Tabel 1. Distribusi Umur Peternak Berdasarkan Usia Produktif dan Non Produktif Dihubungkan dengan Skor Motivasi No. Kategori 1. Produktif (15-64 tahun) Non Produktif (65-90 tahun) Jumlah 2. Kurang Termotivasi Jml % - Motivasi Cukup Termotivasi Jml % 20 31,17 Total Termotivasi Jml 34 % 54 Jml 54 % 85,7 - - 3 4,8 6 9,5 9 14,3 - - 23 36,5 40 63,5 63 100 Pendidikan Ditinjau dari segi pendidikan, peternak domba di Kelurahan Cimahpar bervariasi mulai dari tidak lulus SD sampai tingkat sekolah menengah atas (SMA). Berdasarkan kategori pendidikan, dapat diketahui bahwa umumnya peternak di Kelurahan Cimahpar berpendidikan rendah, yang ditunjukkan dengan persentase peternak yang tidak lulus dan hanya lulus SD berjumlah 95 persen (Tabel 2). Banyaknya peternak yang berpendidikan rendah disebabkan minat untuk melanjutkan sekolah masih rendah. Selain itu, kemampuan orang tua untuk 21 membiayai anaknya sekolah juga rendah yang hal ini terkait dengan rendahnya pendapatan keluarga. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan pengetahuan melalui pendidikan informal. Tabel 2. Distribusi Peternak Berdasarkan Kategori Pendidikan Dihubungkan dengan Skor Motivasi No. 1. 2. 3. 4. Kategori Tidak lulus SD Lulus SD Lulus SLTP Lulus SLTA Jumlah Kurang Termotivasi Jml % - Motivasi Cukup Termotivasi Jml % 6 9,5 16 25,4 1 1,6 23 36,5 Termotivasi Jml 8 30 1 1 40 % 12,7 47,6 1,6 1,6 63,5 Total Jml 14 46 2 1 63 % 22,2 73,0 3,2 1,6 100 Pekerjaan Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa beternak domba merupakan pekerjaan sambilan semua peternak. Hal tersebut akan memberikan pengaruh negatif bila dikaitkan dengan pengembangan peternakan masa depan dikarenakan jika usahaternak dilakukan sebagai pekerjaan sambilan maka hasil usaha tidak optimal sehingga secara otomatis kemajuan peternakan mengalami stagnasi. Berdasarkan kategori pekerjaan dapat diketahui bahwa sebagian besar (79,4 %) bekerja sebagai buruh, baik yang merupakan buruh tani maupun buruh bangunan (Tabel 3). Banyaknya peternak yang bekerja sebagai buruh disebabkan rendahnya pendidikan peternak sehingga tidak bisa diterima di sektor formal. Tabel 3. Distribusi Peternak Berdasarkan Pekerjaan Dihubungkan dengan Skor Motivasi No. Kategori 1. 2. 3. Buruh Petani Karyawan Perusahaan Swasta Wiraswasta/Dagang Jumlah 4. Motivasi Kurang Cukup Termotivasi Termotivasi Jml % Jml % 20 31,7 2 3,2 1 1,6 - - 23 36,5 Termotivasi Total Jml 30 8 - % 47,6 9,5 - Jml 50 8 1 % 79,4 12,7 1,6 4 40 6,3 63,5 4 63 6,3 100 22 Jumlah Ternak yang Dipelihara Jumlah ternak yang dipelihara oleh peternak domba mempunyai kisaran antara 1-26 ekor, dengan rata-rata 8 ekor. Angka rata-rata pemeliharaan 8 ekor ternak termasuk relatif tinggi dan secara ekonomi sudah mendekati skala usaha ternak domba yang optimal. Relatif tingginya angka rata-rata pemeliharaan ini karena selain peternak memelihara ternak miliknya sendiri, juga memelihara ternak milik orang lain. Umumnya peternak menggunakan sistem paro. Sistem paro dimaksud adalah jika sesorang meminta seorang peternak memelihara induk, dan kemudian induk tersebut melahirkan dua cempe (anak domba), maka salah satu anaknya menjadi milik peternak, dan lainnya milik pemilik induk. Berdasarkan rataratanya, jumlah ternak yang dipelihara dibagi menjadi dua kategori, yakni sedikit (< 8 ekor) dan banyak (9-26 ekor). Berdasarkan kategori jumlah ternak yang dipelihara, umumnya peternak terkategori sedikit (57,1 persen) memelihara ternak domba (Tabel 4). Tabel 4. Distribusi Peternak Berdasarkan Jumlah Ternak yang Dipelihara Dihubungkan dengan Skor Motivasi No. Kategori 1. 2. Sedikit (< 8 ekor) Banyak (9-26 ekor) Jumlah Kurang Termotivasi Jml % - - Motivasi Cukup Termotivasi Jml % 13 20,6 10 15,9 23 36,5 Termotivasi Total Jml 23 17 % 36,5 27,0 Jml 36 27 % 57,1 42,9 40 63,5 63 100 Lama Beternak Lama beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar mempunyai kisaran antara 1-30 tahun, dengan rata-rata 5,94 tahun. Berdasarkan rata-ratanya, kategori lama beternak para peternak dibagi menjadi dua kategori, yakni lama beternak antara 1 -5 tahun dan 6-30 tahun. Berdasarkan kategori lama beternak dapat diketahui bahwa sebanyak 77,8 % peternak telah beternak antara 1-5 tahun. (Tabel 5). Banyaknya para peternak yang terkategori lama beternak 1-5 tahun karena ada beberapa responden peternak yang baru memulai berusaha ternak domba. 23 Tabel 5. Distribusi Peternak Berdasarkan Lama Beternak No. Kategori Kurang Termotivasi Jml % 0 Motivasi Cukup Termotivasi Jml % 18 28,6 Termotivasi Total Jml 31 % 49,2 Jml 49 % 77,8 1. 1 - 5 tahun 2. 6 - 30 tahun - 0 5 7,9 9 14,3 14 22,2 Jumlah - 0 23 36,5 40 63,5 63 100 Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah tanggungan keluarga para peternak berkisar antara 2-12 orang, dengan rata-rata 5 orang. Jumlah tanggungan keluarga peternak dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kecil (2-5 orang) dan besar (6-12 orang). Pengelompokkan ini didasarkan pada nilai rata-rata jumlah tanggungan keluarga. Peternak yang memiliki jumlah anggota keluarga kecil sebanyak 76,2 %, sedangkan peternak yang terkategori jumlah tanggungan keluarga besar sebanyak 23,8 % (Tabel 6). Lebih banyaknya peternak yang terkategori jumlah tanggungan keluarga kecil berarti bahwa program KB di Kelurahan Cimahpar pada masa lalu cukup berhasil, walaupun belum mencapai angka jumlah anggota keluarga ideal (empat orang; ayah, ibu dan dua orang anak) Tabel 6. No. Distribusi Peternak Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga Dihubungkan dengan Skor Motivasi Kategori Kurang Termotivasi Jml % - Motivasi Cukup Termotivasi Jml % 17 27,0 Termotivasi Total Jml 31 % 49,2 Jml 48 % 76,2 1. 2-5 orang 2. 6-12 - - 6 9,5 9 14,3 15 23,8 Jumlah - - 23 36,5 40 63,5 63 100 Pengetahuan Peternak tentang Informasi Pasar Pengetahuan peternak tentang informasi pasar ternak dalam penelitian ini adalah sejauh mana para peternak mengetahui besarnya permintaan hasil ternak domba, tempat-tempat dimana peternak bisa menjual domba dan harga pasar ternak. Berdasarkan sebaran total skor pengetahuan peternak tentang informasi pasar ternak, 24 peternak dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu tidak mengetahui, cukup mengetahui dan sangat mengetahui. Peternak yang sangat mengetahui informasi pasar sebanyak 12,7 %, peternak yang cukup mengetahui informasi pasar sebanyak 74,6 % dan peternak yang tidak mengetahui informasi pasar sebanyak 12,7 % (Tabel 7). Berdasarkan persentase tersebut peternak di Kelurahan Cimahpar cukup mengetahui informasi pasar ternak. Hal ini disebabkan karena akses informasi di Kelurahan Cimahpar cukup terbuka, termasuk informasi pasar ternak. Tabel 7. Distribusi Peternak Berdasarkan Pengetahuan Peternak tentang Informasi Pasar Ternak Dihubungkan dengan Skor Motivasi No. Kategori 1. Kurang Mengetahui Cukup Mengetahui Sangat Mengetahui Jumlah 2. 3. Kurang Termotivasi Jml % - - - - Motivasi Cukup Termotivasi Jml % 10 13 23 Termotivasi Total Jml - % - Jml - % - 22 18 40 34,9 28,6 63,5 32 31 63 50,8 49,2 100 15,9 20,6 36,5 Keterjangkauan terhadap Sarana Produksi Peternakan Keterjangkauan terhadap Sapronak dalam penelitian ini adalah sejauh mana para peternak di Kelurahan Cimahpar mampu memenuhi kebutuhan sapronak yang meliputi pakan dan obat-obatan ternak. Berdasarkan sebaran total skor keterjangkauan terhadap Sapronak, peternak dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu sangat terjangkau, cukup terjangkau, dan tidak terjangkau. Peternak yang sangat terjangkau akan sapronak sebanyak 14,3 %, peternak yang cukup terjangkau akan saponak sebanyak 23,8 % dan peternak yang tidak terjangkau akan sapronak sebanyak 61,9 %. Berdasarkan persentase keterjangkauan sapronak tersebut dapat diketahui umumnya para peternak di Kelurahan Cimahpar tidak mampu menjangkau sapronak. Menurut para peternak di Kelurahan Cimahpar saat ini rumput agak sulit dicari mengingat banyak konversi lahan dari kebun menjadi perumahan, sedangkan harga obat-obatan semakin mahal seiring dengan adanya kenaikan harga BBM. Distribusi peternak berdasarkan keterjangkauan sapronak ditampilkan pada Tabel 8. 25 Tabel 8. Distribusi Peternak Berdasarkan Keterjangkauan Sapronak Dihubungkan dengan Skor Motivasi No. Kategori 1. Kurang Terjangkau Cukup Terjangkau Sangat Terjangkau Jumlah 2. 3. Kurang Termotivasi Jml % - - Motivasi Cukup Termotivasi Jml % 19 4 23 30,2 6,3 36,5 Total Termotivasi Jml - % - Jml - % - 34 6 40 54,0 9,5 63,5 53 10 63 84,1 15,9 100 Motivasi Beternak Domba Motivasi beternak domba para peternak di Kelurahan Cimahpar secara umum terkategori sedang yang hal ini dilihat dari rataan skor seluruh indikator motivasi. Tiga indikator untuk melihat motivasi beternak domba adalah kebutuhan keberadaan, kebutuhan berhubungan dan kebutuhan untuk berkembang. Tabel 9 menyajikan tingkat motivasi beternak domba berdasarkan hasil rataan skor motivasi menurut indikator motivasi. Tabel 9. No. Rataan Jumlah Skor Motivasi Beternak Domba menurut Indikator Motivasi Indikator Motivasi Rataan Skor Kategori*) 1. Kebutuhan Keberadaan 50,6 Termotivasi 2. Kebutuhan Berhubungan 46,6 Cukup Termotivasi 3. Kebutuhan untuk Berkembang 48,0 Termotivasi Total Rataan Skor 48,42 Termotivasi Keterangan : *) Penentuan kategori skor: Kurang Termotivasi Cukup Termotivasi Termotivasi 20-33 34-47 48-60 Berdasarkan tiga indikator motivasi tersebut, petani termotivasi untuk memenuhi kebutuhan keberadaan dan kebutuhan untuk berkembang, sedangkan untuk kebutuhan berhubungan, petani terkategori cukup termotivasi. Secara keseluruhan (berdasarkan nilai rata-rata), maka dapat diketahui bahwa peternak termotivasi untuk beternak domba dalam rangka memenuhi tiga kebutuhan di atas. 26 Motivasi peternak domba untuk memenuhi kebutuhan keberadaan, yaitu kepuasan peternak terhadap pendapatan yang diperoleh sebagai hasil dari usahaternak. Rataan jumlah skor motivasi kebutuhan keberadaan adalah 50,6, sehingga berdasarkan sebaran total skor, terkategori termotivasi. Hal ini menunjukkan pendapatan dari beternak domba cukup memuaskan dan memberikan kontibusi terhadap pendapatan keluarga secara keseluruhan sehingga cukup memotivasi peternak untuk beternak domba. Menurut para peternak, walaupun pendapatan dari usahaternak ini tidak rutin didapatkan setiap bulannya, tetapi mampu membantu menanggulangi kebutuhan-kebutuhan yang mendadak. Misalnya ada keluarga yang sakit, maka ternak domba dapat dijadikan andalan dan dengan mudah dapat menjualnya, walaupun penjualan dalam keadaan seperti itu lebih murah dibandingkan dengan penjualan pada Bulan Haji. Indikator motivasi kebutuhan berhubungan, yaitu kebutuhan peternak untuk diterima dalam pergaulan di lingkungan masyarakat tempat peternak tinggal. Berdasarkan indikator motivasi kebutuhan berhubungan, peternak terkategori cukup termotivasi untuk memenuhi kebutuhan ini. Hal ini menunjukkan kebutuhan berhubungan cukup memotivasi peternak untuk beternak domba. Peternak menjaga keharmonisan dalam berinteraksi dengan masyarakat termasuk dalam beternak domba. Para peternak saling bertukar informasi atau pengalaman dalam beternak domba, saling memberitahu jika ada kesulitan terhadap suatu penyakit ternak. Saling bertukar informasi dan pengalaman menurut para peternak sangat penting mengingat peran instansi teknis, khususnya kegiatan penyuluhan peternakan di Kelurahan Cimahpar, hampir tidak pernah ada. Motivasi peternak dalam memenuhi kebutuhan untuk berkembang, yaitu kebutuhan peternak untuk meningkatkan skala usahaternak, memperoleh penghargaan dan pengakuan dari masyarakat terhadap keberhasilan usaha ternaknya. Berdasarkan indikator kebutuhan keberadaan, peternak termotivasi untuk memenuhi kebutuhan ini. Umumnya para peternak berkeinginan untuk meningkatkan skala usahaternak saat ini. Para peternak sangat berharap agar pemerintah membantu dalam hal pendanaan, misalnya program perguliran ternak domba. Selain itu, para peternak juga berharap bantuan pendanaan disertai dengan bimbingan teknis budidaya ternak dan manajemen pemasaran, melalui kegiatan pendampingan, 27 pelatihan maupun penyuluhan tanpa biaya. Di sisi lain adanya penghargaan terhadap para petani yang berhasil juga memacu peternak domba untuk lebih berkembang. Sejauh ini pemerintah tidak pernah memberikan penghargaan secara formal terhadap peternak yang berhasil. Umumnya penghargaan yang didapatkan selama ini adalah non materi dalam bentuk pengakuan terhadap peternak yang berhasil, misalnya jumlah ternak yang banyak dan kondisi ternak yang terpelihara. Hubungan Karakteristik Peternak dengan Motivasi Beternak Domba Karakterisitik peternak yang diduga berhubungan dengan motivasi beternak domba adalah umur, pendidikan, lama beternak dan jumlah tanggungan, pengetahuan peternak tentang informasi pasar (permintaan domba) dan keterjangkauan peternak untuk memenuhi sarana produksi peternakan (sapronak), seperti pakan dan obatobatan. Analisis hubungan antara karakterisitk peternak dengan motivasi beternak diolah dengan menggunakan analisis rank Spearman. Hasil analisis korelasi rank Spearman ditampilkan pada Tabel 10 berikut ini. Tabel 10. Koefisien Korelasi Karakteristik Peternak dengan Motivasi Beternak Domba Karakteristik Peternak Motivasi UMR Kebutuhan Keberadaan Kebutuhan untuk Berkembang Kebutuhan Berhubungan -0.010 PEND JTK 0.101 0.309* LAMA -0.101 -0.245 0.301* 0.040 -0.022 0.296* -0.064 0.010 0.064 SAPRO 0.049 PSR 0.171 -0.206 0.375** 0.236 0.040 Keterangan : * ** UMR PEND JTK LAMA SAPRO PSR = = = = = = = = Berhubungan nyata dengan taraf signifikan α = 0,05 Berhubungan nyata dengan taraf signifikan α = 0,01 Umur Peternak Tingkat Pendidikan Peternak Jumlah Tanggungan Keluarga Lama Beternak Ketersediaan dan Keterjangkauan Sapronak Pengetahuan Informasi Pasar Hasil analisis korelasi rank Spearman seperti ditampilkan pada Tabel 10 menunjukkan bahwa kebutuhan keberadaan berhubungan nyata dengan jumlah 28 tanggungan keluarga (P < 0,05; rs = 0,309). Hal ini berarti bahwa semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka akan meningkatkan motivasi peternak untuk memenuhi kebutuhan keberadaan. Kebutuhan keberadaan dalam hal ini adalah tambahan pendapatan. Rumah tangga yang memiliki anggota cukup banyak maka kebutuhannya pun semakin besar, sehingga diperlukan sumber-sumber tambahan pendapatan. Dengan demikian, usaha beternak domba menjadi alternatif sumber tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga para peternak di Kelurahan Cimahpar. Hal ini sesuai dengan pendapat sebagian besar peternak bahwa berusaha ternak domba memberikan tambahan pendapatan yang cukup lumayan, selain cukup menguntungkan juga usahaternak domba sebagai usaha sambilan mudah dilakukan dan tidak menyita banyak waktu. Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan berkembang dengan tingkat pendidikan peternak menunjukkan hubungan nyata (P < 0,05; rs = 0,301). Peternak dengan pendidikan tinggi semakin besar keinginannya untuk melakukan pengembangan usahaternak. Para peternak sangat memahami bahwa pengembangan usahaternak melalui peningkatan skala usaha akan semakin memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan. Peternak dengan pendidikan tinggi lebih memahami dan merasa perlu bahwa usahaternak yang dikelola pada saat ini harus ada peningkatan di masa mendatang. Para peternak yang berpendidikan SLTP dan SLTA umumnya bercita-cita suatu saat dapat menjadi pengusaha peternakan besar, dan menjadikan usahaternak domba sebagai mata pencaharian utama. Kondisi ini berbeda dengan peternak yang lain yang berpendidikan rendah (tidak lulus SD), yang umumnya berpendapat bahwa usahaternak yang dijalankan pada saat ini sudah cukup, dan tidak berkeinginan untuk menambah skala usahanya, tidak juga bercitacita menjadi seoarang pengusaha peternakan besar. Pengetahuan informasi pasar (permintaan domba) juga berhubungan nyata dengan motivasi untuk memenuhi kebutuhan untuk berkembang (P < 0,01; rs = 0,375). Peternak yang memiliki informasi bahwa ternak domba masih banyak dibutuhkan sangat memotivasi peternak untuk melakukan pengembangan usahaternaknya. Para peternak di Kelurahan Cimahpar umumnya mengetahui pasar domba di wilayah Bogor diantaranya terdapat di dekat Komplek Good Year dan di jalan baru. Tempat-tempat tersebut ramai terutama pada Bulan Haji, karena pada 29 bulan tersebut permintaan domba sedang meningkat. Informasi-informasi pasar tersebut cukup menggugah semangat para peternak untuk beternak domba. Hubungan antara motivasi untuk memenuhi kebutuhan berhubungan, yaitu kebutuhan peternak untuk diterima dalam pergaulan di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya, dengan variabel umur menunjukkan hubungan yang nyata (P < 0,05; rs = 0,296). Hal ini berarti bahwa semakin meningkat umur peternak maka peternak tersebut semakin memerlukan pemenuhan kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan tempat tinggalnya. Hal ini dapat dipahami mengingat semakin tua umur seseorang maka semakin peternak tersebut menyadari bahwa hidup itu tidak bisa sendiri, membutuhkan serta dibutuhkan oleh orang lain, terutama orangorang di sekitar tempat tinggalnya (tetangga). Beberapa peternak di Kelurahan Cimahpar yang berusia tua mengakui merasa lebih dekat dengan tetangga yang juga sama-sama peternak domba. Rasa kedekatan tersebut muncul mengingat para peternak seringkali melakukan aktivitas dan rutinitas yang sama, misalnya ketika bersama-sama mencari rumput, berdiskusi tentang jenis penyakit ternak yang sulit diatasi dan bersama-sama ketika akan menjual domba di Bulan Haji. 30 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Peternak di Kelurahan Cimahpar sebagian besar termasuk usia produktif, dengan tingkat pendidikan umumnya rendah, yakni tidak lulus SD dan lulus SD. Mayoritas peternak bekerja sebagai buruh, baik buruh tani maupun buruh bangunan. Jumlah ternak yang dipelihara rata-rata sebanyak delapan ekor. Peternak sebagian besar telah memelihara domba selama lima tahun. Keluarga peternak di Kelurahan Cimahpar umumnya adalah keluarga sedang, yakni satu keluarga rata-rata berjumlah lima orang. Peternak di Kelurahan Cimahpar sebagian besar mengetahui tentang informasi pasar, namun hanya sedikit dari peternak yang mampu menjangkau harga-harga sarana produksi ternak. 2. Tingkat motivasi para peternak domba berada dalam kategori termotivasi untuk beternak domba. 3. Karakteristik peternak yang berhubungan dengan motivasi beternak domba adalah umur, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga dan pengetahuan informasi pasar ternak domba. Saran 1. Para peternak perlu difasilitasi untuk membentuk kelompok peternak, selanjutnya dibentuk kelembagaan ekonomi, untuk memfasilitasi kebutuhan peternak, khususnya pemenuhan sarana produksi peternakan dan membantu pemasaran hasil ternak. Kegiatan-kegiatan memfasilitasi peternak tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan pendampingan/ pemberdayaan peternak. 2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan, khususnya mengenai analisis kelayakan usahaternak domba di Kelurahan Cimahpar, Kota Bogor dan strategi pengembangan usahaternak dan pemberdayaan peternak. 31 UCAPAN TERIMAKASIH Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT dengan karunia dan rahmat-Nya yang telah melimpahkan nikmat tak terhingga dan hanya dengan pertolongan-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua yang telah banyak membantu, baik materi, motivasi, serta kasih sayang yang tiada henti diberikannya. Tak lupa pula kepada Ir. H. Ismail Pulungan, MSc. Dan Ir. Burhanuddin, MM. yang telah membimbing, mengarahkan dan membantu penyusunan usulan proposal hingga tahap akhir penulisan skripsi. Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada Ir. Hadiyanto, MS. dan Dr. Ir. Rachyan Gunasah Pratas, MSc. Yang telah bersedia menjadi penguji dalam sidang skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman SEIP angkatan 37 dan pihak-pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu selesainya skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi yang membacanya. Bogor, Desember 2005 Penulis 32 DAFTAR PUSTAKA Asngari, P.S. 2001. Peranan Agen Pembaharuan atau Penyuluhan dalam Usaha Memberdayakan (Empowerment) Sumberdaya Manusia Pengelola Agribisnis. Orasi Ilmiah. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ditjen Peternakan. 2002. Pengembangan Model Pembiayaan Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta. Dwiyanti, 2003. Motivasi Peternak dalam Kegiatan Berusaha Ternak Domba di Desa Saganten Cianjur, Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Ernawati, E. 2000. Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi dan Kebutuhan Informasi Peternak Domba di Desa Pasawahan Kecamatan Takokak Kabupaten Cianjur. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hasibuan MSP. 1999. Organisasi dan Motivasi : Dasar Peningkatan Produktivitas. Bumi Aksara, Jakarta. Koontz, H., C. O’Donnel dan H. Weilhrich. 1989. Manajemen. Erlangga, Jakarta. Mosher, A.T. 1991. Menggerakkan dan Membangun Pertanian : Syarat-syarat Pokok Pembangunan dan Modernisasi. Cetakan ke-13. Terjemahan: Krisnandhi dan Bahrin Samad (Ed). Yasaguna, Jakarta. Panuju, R. 2000. Komunikasi Bisnis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Prihatini, R.L. 2000. Tingkat Motivasi Kerja Anggota Kelompok Produksi Keluarga Sejahtera (Prokesra) Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS). Tesis. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rakhmat, J. 2000. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Remaja Rosdakarya, Bandung. Ruskendah. 2000. Hubungan Faktor Personal dengan Tingkat Partisipasi Peternak Anggota Koperasi Produksi Susu dan Usaha Peternakan. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Siagian, S.P. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara, Jakarta. Siegel, S. 1985. Statistik Non-parametrik untuk Ilmu–Ilmu Sosial. Gramedia, Jakarta. Singarimbun, M. dan S. Efendi. 1989. Metode Penelitian Survey. LP3ES, Jakarta. Stevenson, N. 2001. Seni Memotivasi. ANDI, Yogyakarta. 33 Suprayitno, A.R. 2004. Hubungan Karakteristik Individu dan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Motivasi Kerja Pegawai di Balai Pendidikan dan Latihan Kehutanan Makassar. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Thoha, M. 1998. Perilaku Organisasi : Konsep Dasar dan Aplikasinya. Raja Grafindo, Jakarta. Trijoko, R. 1991. Persepsi Petani Peternak Sapi Perah Tentang Partisipasinya dalam Pengembangan Program Penyuluhan. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Wahjosumidjo. 1987. Kepemimpinan dan Motivasi. Ghalia Indonesia, Jakarta. Winardi, J. 2002. Motivasi & Pemotivasian dalam Manajemen. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 34 LAMPIRAN 34 Lampiran 1. Data Identitas Responden NO NAMA ALAMAT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 Idus Boih Dadang Muhtar Udin Sumarno Duloh Jaenudin Dadi Obeng Ija Encep Amin Rasid Unuh Husen Sanif Soleh Misbahudin Madi Sidik Abdul Salam R. Abdurahman Badi Zakaria Adeng Jaenudin Utang Wiji Idi Engkos Anda Abas Yanto Odo Amir Ajil Munip Ahmad Sofian Yadi Ali Mudin Amin Ikal Awan Mamin Keneng Atmawijaya Muih Ustad Adung Misja Agus Idim Ahmad Andi Madi Ujang Encim Jajang Ajuk Udem Amir Ajat Ujang Eos Rata-rata RT/RW 02/04 RT/RW 03/04 RT/RW 03/04 RT/RW 02/04 RT/RW 01/04 RT/RW 03/04 RT/RW 03/04 RT/RW 03/04 RT/RW 02/04 RT/RW 03/04 RT/RW 01/04 RT/RW 01/04 RT/RW 01/04 RT/RW 03/04 RT/RW 03/04 RT/RW 03/04 RT/RW 02/12 RT/RW 03/04 RT/RW 03/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 02/04 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 02/02 RT/RW 01/02 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 01/02 RT/RW 02/02 RT/RW 01/01 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 02/04 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 01/01 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 02/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 01/02 RT/RW 02/02 UMUR 32 70 39 37 50 40 65 35 77 90 30 40 45 60 45 50 75 45 25 37 40 80 52 52 34 30 40 32 54 60 54 55 35 29 70 40 45 55 24 23 50 75 50 29 35 35 25 67 35 50 25 50 45 30 45 54 33 55 40 32 30 45 40 45,49 PENDIDIKAN Lulus SD Lulus SD Lulus SMA Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SLTP Tidak Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SLTP Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SD Tidak Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD Lulus SD PEKERJAAN LAMA BETERNAK JUMLAH ANGGOTA UTAMA (TAHUN) KELUARGA (ORANG) Buruh 1 6 Buruh 3 4 Wiraswasta 2 4 Wiraswasta 2 3 Buruh 10 12 Wiraswasta 15 5 Buruh 2 5 Buruh 3 4 Buruh 5 2 Buruh 20 2 Buruh 3 3 Buruh 3 7 Buruh 3 2 Buruh 4 4 Buruh 2 7 Wiraswasta 1 4 Buruh 2 2 Karyawan Swasta 4 5 Wiraswasta 3 3 Buruh 4 4 Buruh 2 6 Petani 5 5 Buruh 1 6 Buruh 1 6 Buruh 2 4 Buruh 5 4 Buruh 1 7 Buruh 4 2 Petani 2 12 Buruh 5 3 Wiraswasta 5 2 Petani 7 3 Buruh 1 9 Buruh 1 3 Buruh 30 4 Buruh 1 4 Buruh 3 7 Buruh 2 3 Buruh 3 5 Buruh 1 3 Buruh 20 4 Buruh 25 3 Buruh 3 4 Buruh 3 2 Buruh 20 4 Buruh 2 3 Buruh 1 3 Buruh 4 5 Buruh 1 4 Buruh 30 2 Buruh 1 3 Buruh 10 10 Buruh 1 9 Buruh 3 4 Buruh 4 4 Buruh 6 4 Wiraswasta 25 3 Buruh 5 3 Petani 3 6 Buruh 1 4 Buruh 5 3 Wiraswasta 20 6 Buruh 7 5 5,94 4,51 JML TERNAK DIPELIHARA 2 8 4 6 6 4 10 6 14 4 6 4 2 9 10 2 3 4 13 15 10 23 7 2 10 5 10 10 2 8 9 10 4 8 13 6 3 17 1 7 3 13 7 8 14 10 3 17 2 26 4 17 3 14 23 17 6 10 3 9 12 3 4 8,33 Lampiran 4. Hasil Analisis Korelasi rank Spearman UMUR Spearman's rho Kebutuhan akan Correlation Coefficient Keberadaan Sig. (2-tailed) N Kebutuhan akan Correlation Coefficient Berkembang Sig. (2-tailed) N Kebutuhan akan Correlation Coefficient Hubungan Sig. (2-tailed) N ** Correlation is significant at the .01 level (2-tailed). * Correlation is significant at the .05 level (2-tailed). Ket : JTK = Jumlah Tanggungan Keluarga PEND = Tingkat Pendidikan PEND JTK LAMA SAPRONAK PASAR -0.010 0.101 0.309* -0.101 0.049 0.171 0.941 0.432 0.014 0.429 0.705 0.180 63 63 63 63 63 63 -0.245 0.301* 0.040 -0.022 0.053 0.016 0.758 0.861 0.105 0.002 63 63 63 63 63 63 0.296* -0.064 0.010 0.064 0.236 0.040 0.019 0.617 0.935 0.617 0.062 0.757 63 63 63 63 63 63 -0.206 0.375**
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Bete..

Gratis

Feedback