Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Gratis

2
64
142
2 years ago
Preview
Full text

ANALISI YURIDIS TENTANG PENENTUAN UNSUR UNSUR TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY LAUNDERING) DALAM UU NO. 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN

  8Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, kedua , bagaimanakah proses pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uangdalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TindakPidana Pencucian Uang dan ketiga, bagaimanakah hambatan-hambatan pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentangPencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Penelitian ini menarik kesimpulan Perumusan unsur - unsur tindak pidana pencucian uang didasarkan pada Pasal 3,4,5,6,7,8.9 dan 10 UU No 8 Tahun 2010dapat mempermudah penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan Tindak Pidana Pencucian Uang karena perumusan perbuatan melawan hukum yang lebih sederhana.

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

  8Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, kedua , bagaimanakah proses pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uangdalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TindakPidana Pencucian Uang dan ketiga, bagaimanakah hambatan-hambatan pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentangPencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Penelitian ini menarik kesimpulan Perumusan unsur - unsur tindak pidana pencucian uang didasarkan pada Pasal 3,4,5,6,7,8.9 dan 10 UU No 8 Tahun 2010dapat mempermudah penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan Tindak Pidana Pencucian Uang karena perumusan perbuatan melawan hukum yang lebih sederhana.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan rahmat dan kasihNya, saya sebagai penulis dapat menyelesaikanpenulisan tesis yang berjudul Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur-UnsurTindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. Dengan segenap jiwa dan lembut kasih sayangnya yang telah mengimaniku dengan kasihNya, mengajarkanku setiap hal terbaik, memberiku sepatu terkuat danjiwa yang besar saatku jatuh lalu berdiri tegar, dan menuntunku menyongsong masa depan yang lebih baik.

RIWAYAT HIDUP

  8Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, kedua , bagaimanakah proses pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uangdalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TindakPidana Pencucian Uang dan ketiga, bagaimanakah hambatan-hambatan pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentangPencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Penelitian ini menarik kesimpulan Perumusan unsur - unsur tindak pidana pencucian uang didasarkan pada Pasal 3,4,5,6,7,8.9 dan 10 UU No 8 Tahun 2010dapat mempermudah penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan Tindak Pidana Pencucian Uang karena perumusan perbuatan melawan hukum yang lebih sederhana.

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beberapa tahun belakangan ini, kecenderungan perkembangan ekonomi

  makro Indonesia menunjukkan perkembangan ke arah perbaikan khususnya di bidang moneter yang ditandai dengan stabilnya nilai tukar rupiah dan penurunan tingkat sukubunga. Sebagian besar tindak pidana yang terjadi khususnya korupsi, illegal logging dan narkoba padadasarnya bermotifkan ekonomi.

1 Editorial Media Indonesia, “Kelonggaran Kredit”, http://opini.wordpress.com/tag/ekonomi. 2 Oktober 200

  1415 Ibid, hal 4 Annotated Money Laundering: Case Reports, (Jakarta : Pustaka Juanda Tigalima & ELSDAInstitute, 2008), hal 6 Materi muatan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 , 16 antara lain redefinisi pengertian hal yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang dan penyempurnaan kriminalisasi tindak pidana pencucian uang. Kesulitan polisi terutama untuk mencari bukti yang berkaitan dengan mens areal dalam tindak pidana pencucian uangterutama Pasal 3 dan Pasal 6 yaitu knowledge (mengetahui atau patut menduga) dan21 Dikualifikasikan sebagai “kejahatan serius” sesuai Pasal 2 huruf b Konvensi Palermo 2000 yang bunyinya sebagai berikut: “Serious crime shall mean conduct constituting an offence punishableby a maximum deprivation of liberty of at least four years or a more serious penalty ”.

22 Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana, Mandar Maju

  Masing – masing unsur berdiri sendiri dan harus dibuktikan, berdiri sendiri diartikan antara unsur yang satu dengan yang lain tidak ada yang sama, sejenis ataumempunyai pengertian yang mirip atau sama artinya sehingga tidak bisa dikelompokkan. Penelitian ini penting untuk dilakukan untuk dapat melakukan konstruksi hukum terhadap unsur unsur tindak pidana pencucian uang yang dirumuskan dalamUU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak PidanaPencucian Uang.

B. Permasalahan

  Bagaimanakah pengaturan unsur-unsur pokok tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor. Bagaimanakah proses pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan PemberantasanTindak Pidana Pencucian Uang ?

23 Tb. Imran S, Hukum Pembuktian Pencucia Uang (Money Laundering), (Bandung : MQS

  Bersifat PraktisMengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan/diterapkan oleh pengambil kebijakan dan para pelaksana/penegak hukum , khususnyapenegakan hukum tindak pidana pencucian uang, dengan menerapkan konsep- konsep kebijakan hukum pidana dalam pemberantasan tindak pidanapencucian uang Keaslian Penelitian E. Berdasarkan hasil penelusuran di Program Pasca Sarjana USU terdapat 10 judul yang membahas tindak pidana pencucian uang, namun tidak ada yangmembahas unsur unsur tindak pidana pencucian uang .

F. Kerangka Teori dan Konsep

  Kerangka TeoriHukum merupakan suatu sistem yang dapat berperan dengan baik dan tidak pasif dimana hukum mampu dipakai di tengah masyarakat, jikainstrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan-kewenangan dalam 24 bidang penegakan hukum. Friedman, bahwa hukum tersusun dari sub sistem hukum yang berupa substansi hukum, struktur hukum, dan budayahukum.

25 R. Subekti, menjelaskan bahwa sistem hukum adalah suatu susunan

  Pandangan yang memisahkan antara perbuatan dan orang yang melakukan ini sering disebut pandangan dualisme, yang dianut pula oleh 31 :1) Pompe, yang merumuskan bahwa suatu straafbarfeit itu sebenarnya adalah tidak lain dari pada suatu” tindakan yang menurut suatu rumusanundang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.2) Vos, merumuskan straafbarfeit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh perturan perundang-undangan. Unsur akibat sebagai syarat pemberat pidana karena bukan merupakan unsur pokok tindak pidana, artinya jikasyarat ini tidak timbul, tidak terjadi percobaan, melainkan terjadi tindak pidana selesai, misalnya pada Pasal 288 KUHP jika akibat luka 3735 berat.36 Ibid, hal 8637 Ibid, hal 90 Ibid, hal 103 Unsur keadaaan yang menyertai ini merupakan unsur tindak pidana yang berupa semua keadaan yang ada dan berlaku dalam mana 38 perbuatan dilakukan.

2. Kerangka Konsepsional

  Penelitian ini akan menggunakan beberapa terminologi hukum pidana yang nantinya akan digunakan dalam uraian pembahasan. Definisikonsepsional ini untuk mempermudah dan mencegah terjadinya penafsiran yang berbeda terhadap pembahasan penelitian.

39 Ibid, hal 108

  Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang selanjutnya disingkat PPATK adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangkamencegah dan memberantas tindak pidana Pencucian Uang. Predicate crime adalah istilah yang digunakan untuk merujuk ke tindak pidana asal, baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsungyang digunakan untuk memperoleh hasil tindak pidana berupa harta kekayaan yang berjumlah Rp.

G. Metode Penelitian

1. Spesifikasi Penelitian

  Penelitian hukum normatif ini akan mengkaji terhadap sistematika hukum dan taraf singkronisasi vertikal dan horizontal yang bertujuan untukmenemukan aturan-aturan hukum pada tindak pidana pencucian uang yang dapat memberikan penjelasan dan analisis yuridis tentang penentuan unsurunsur tindak pidana pencucian uang. Bahan hukum tertier yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai badan hukum primer dan bahan hukum sekunder antara lain:(a) Kamus besar bahasa Indonesia(b) Ensiklopedi Indonesia(c) Berbagai masalah hukum yang berkaitan dengan Tindak Pidana Pencucian 42 uang.

3. Alat Pengumpulan Data

  Bahan pustaka dimaksud terdiri atas bahan hukum primer yaitu peraturanperundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang khususnya yang menyangkut unsur unsur tindak pidanan pencucian uang. Sesuai dengan tipologi penelitian hukum normatif, data sekunder dengan bahan hukum dimaksud merupakan bahan utama dalampenelitian ini Penelitian yang berkaitan dengan pendekatan yuridis normatif dimulai langkah awal adalah melakukan invetarisasi peraturan perundang-undangan dibidang tindak pencucian uang dan penentuan unsur unsur tindak pidana pencucian uang serta peraturan-peraturan lainnya.

5. Analisis Data

  Data sekunder yang diperoleh dari penelitian tersebut dianalisis dengan cara kualitatif, data yang diperoleh dari bahan hukum yang berasaldari peraturan perundang-undangan di bidang tindak pidana pencucian uang untuk memperoleh gambaran mengenai status peraturan di bidang tindakpidana pencucian uang. Data tersebut kemudian dianalisis secara juridis untuk memperoleh gambaran mengenai peraturan perundang-undangan dibidang tindak pidana pencucian uang dan dan unsur unsur unsur tindak pidana pencucian uang.

43 Ibid, halaman 281

BAB II. UNSUR UNSUR TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG BERDASARKAN UNDANG UNDANG NO 8 TAHUN 2010 A. Tindak Pidana Pencucian Uang Secara Umum

1. Pengertian Pencucian Uang

  Pada saat ini, lebih dari sebelumnya, pencucian uang atau yang dalam istilah bahasa Inggrisnya disebut money laundering, sudah merupakan fenomena dunia dan 44 merupakan tantangan bagi dunia internasional . Pihak penuntut dan lembaga penyidikan kejahatan, kalangan pengusaha dan perusahaan, institusi-institusi, organisasi-organisasi, negara-negara yang sudah maju, dan negara-negara dari dunia ketiga, maupun para ahlimasing-masing mempunyai definisi sendiri berdasarkan prioritasdan perspektif yang berbeda-beda.

44 US Government, Secretary of The Treasury and Attorney General. The National Money Maret 2000, hal.6

  “ money laundering is the concealment of the existence, nature or illegal source of illicit funds in such manner that the fund will appear legitimate 49if discovered” Dari beberapa definisi dan penjelasan mengenai apa yang dimaksudkan dengan money laundering adalah tindakan-tindakan yang bertujuan untukmenyamarkan uang hasil tindak pidana sehingga seolah-olah dihasilkan secara halal. Atau untuk pengertian lebih jelasnya, money laundering adalah rangkaian kegiatan yang merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi terhadap uangharam yaitu uang yang dihasilkan dari kejahatan, dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang tersebut dari pihak berwenangdengan cara memasukkan uang tersebut ke dalam sistem keuangan (financial system) sehingga kemudian uang tersebut dapat dikeluarkan dari sistem keuangan tersebutsebagai uang halal.

2. Sejarah Pencucian Uang

  Perusahaan ini dibeli oleh para mafia dan kriminal di Amerika Serikat dengan dana yang mereka peroleh dari kejahatannya.49 34 Pamela H. Sedangkan penggunaan istilah tersebut dalam konteks pengadilan atau hukum muncul untuk pertama kalinya pada tahun 1982 dalam perkara US vs $4,255,625.39(82) 551F Supp.314.

50 N.H.T. Siahaan, Pencucian Uang Dan Kejahatan Perbankan, cet.1, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002), hal.6

3. Latar Belakang Anti-Money Laundering

  Di Indonesia, istilah “money laundering” diterjemahkan dengan “pencucian uang,” terjemahan tersebut dapat dilihat dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (UUTPPU) yang kemudian direvisi menjadiUndang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 dan selanjutnya dicabut dan digantikan dengan UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak PidanaPencucian Uang, yang merupakan anti-money laundering di Indonesia. Ketiga , dengan dinyatakan money laundering sebagai tindak pidana dan dengan adanya sistem pelaporan transaksi dalam jumlah tertentu dan transaksi yang mencurigakan, maka hal ini lebih memudahkan bagi para penegak hukum untuk Anti-money laundering dengan ketentuan United Nation Convention on Against Illicit Trafic in Narcotic1988, yang lahir 19 Desember 1988.

4. Faktor-Faktor Pendorong Maraknya Pencucian Uang

  Keadaan demikian ada yang memang telah dikondisikan oleh undang-undang suatu negara, seperti halnya yang dianut Swiss,Austria, Karibia, negaranegara Amerika Latin dan negara-negara Asia Timur dengan perbankan yang berskala internasional. Praktek pencucian uang adalah merupakan salah satu kejahatan yang cepat berkembang, hal ini dikarenakan begitu banyaknya faktor-faktor yang menjadipendorong maraknya perkembangan kegiatan pencucian uang di berbagai negara.58 Siahaan, op.

e. Faktor kelima adalah munculnya jenis uang baru yaitu electronic money atau

  Faktor kedelapan adalah karena seringkali pemerintah yang bersangkutan tidak bersungguh-sungguh untuk memberantas praktek pencucian uang yangdilakukan melalui sistem perbankan negara tersebut.i. Dengan kata lain, negara yang bersangkutantidak memiliki undang-undang tentang pencucian uang yang menentukan perbuatan pencucian uang sebagai tindak pidana.

5. Tahapan Dan Teknik Pencucian Uang Praktek pencucian uang merupakan tindak pidana yang amat sulit dibuktikan

  Hal ini dikarenakan kegiatannya yang amat kompleks dan beragam, akan tetapi para pakar telah berhasil menggolongkan proses pencucian uang ini ke dalam tiga tahapyang masing-masing berdiri sendiri tetapi seringkali juga dilakukan secara bersama- 60 sama yaitu placement, layering dan integration . Jadi misalnya melalui penyeludupan, ada penempatan uangtunai dari suatu negara ke negara lain, menggabungkan uang yang didapat dari tindak pidana dengan uang yang diperoleh secara halal.

62 Husein, op.cit.,hal.4

  Disini uang hasil kejahatan yang telah melalui tahap placement maupun layering dialihkan atau digunakan ke dalamkegiatan-kegiatan resmi sehingga tampak tidak berhubungan sama sekali dengan aktivitas kejahatan yang menjadi sumber uang tersebut. Pada tahap integration ini,uang yang telah diputihkan dimasukkan kembali ke dalam sirkulasi dengan bentuk yang sejalan dengan ketentuan hukum.

6. Metode Praktek Pencucian Uang Terdapat bermacam-macam cara dalam melakukan kegiatan pencucian uang

  Sebagai contoh adalah real estate atau aset lainnya yang dapat dibeli dan dijual kepada co-conspirator yang menyetujui untuk membeli atau membeli dengan hargayang lebih tinggi dari harga yang sebenarnya dengan tujuan untuk memperoleh fees atau discount. Berdasarkan uraian tiga metode pencucian uang di atas maka dapat dilihat bahwa tiap transaksi yang dilakukan baik oleh pribadi atau perusahaan, setiap bentukkegiatan usaha maupun rekening yang terdapat di bank-bank dapat dipergunakan sebagai sarana untuk melakukan kegiatan pencucian uang.

7. Dampak Dan Kerugian Pencucian Uang

  Alasannya adalah karena pelarangan pencucian uang di suatu wilayah hanya akan menghambatpenanaman modal asing yang sangat diperlukan bagi pembangunan negara, atau dengan kata lainnya praktek pencucian uang justru menjadi salah satu sumberpembiayaan pembangunan dan pemasukan negara. Pencucian uang mengurangi pendapatan pemerintah dari pajak dan secara tidak langsung merugikan para pembayar pajak yang jujur dan mengurangikesempatan kerja yang sah.

70 Siahaan, op. cit., hal.1

  Kepercayaan dunia akan terkikis karena kegiatan-kegiatan pencucianuang dan kejahatan-kejahatan di bidang keuangan yang dilakukan di negara bersangkutan, dan rusaknya reputasi akan mengakibatkan negara tersebutkehilangan kesempatan global yang sah sehingga hal tersebut dapat mengganggu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Selain dua negara-negara anggota FATF, masih terdapat beberapa negara lain yang menyatakan perang terhadap pencucianuang dengan mengeluarkan peraturan perudangan yang mengkriminalisasi pencucian uang, dan menyatakan pencucian uang sebagai tindak pidana yangdilarang untuk dilakukan.

B. Perkembangan Pengaturan Anti-Money Laundering Di Indonesia

  Pengaturan anti-money laundering di Indonesia berkaitan dengan keputusanFATF yang merupakan satgas dari Organization for Economic Cooperation and (OECD) tanggal 22 Juni 2001, dimana dalam keputusan tersebut Development Indonesia dimasukkan sebagai salah satu negara diantara 15 negara yang dianggap tidak kooperatif (non-cooperative countries and teritories) untuk memberantasPraktik money laundering. Kendala legislasi tersebut mengakibatkan tidak maksimalnya pendekatan anti pencucian uang dalam mendukung dan membantu upaya penegakan hukum atas73 Yunus Husein,op.cit hal 4 Pada tahun 2010 pemerintah mengeluarkan UU No 8 Tahun 2010 TentangPencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

C. Dasar Yuridis Pembentukan UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

  Dalam upaya mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang, maka perlu adanya kepastian hukum dan penegakanhukum yang berkeadilan yang harus dilaksanakan secara konsisten dan 75 berkelanjutan. FATF merupakan intergovernmental body sekaligus suatu policy-making body yang berisikan para pakar di bidang hukum, keuangan dan penegakan hukum yang membantu yurisdiksi negara dalam Salah satu dari 40 rekomendasi tersebut, adalah perlunya memperluas lingkup pihak pelapor (reporting parties) yang wajib menyampaikan laporan transaksikeuangan mencurigakan (LTKM) atau Suspicious Transaction Report (STR) kepada FIU seperti PPATK.

77 LTKM/STR

  Kejahatan-kejahatan tersebut dapatmelibatkan atau menghasilkan uang atau aset (proceeds of crime) yang jumlahnya 79 sangat besar.78 Kemunculan internet dalam “dunia maya” (cyber space) secara nyata memperlihatkanperkembangan kemajuan yang luar biasa di bidang teknologi-informasi, sehingga batas-batas negara menjadi hilang, dan sekarang, dunia telah menjadi satu kesatuan tanpa batas. Selain itu,pencucian uang dapat pula menimbulkan dampak negatif terhadap nilai mata uang dan tingkat suku bunga karena uang haram yang telah diinvestasikan secara cepat ditarik untuk ditempatkan kembali di negara-negara yang tingkatkeamanan atau kerahasiaannya cukup ketat.

82 APG, “History and Background”, http://www.apgml.org/content/history and backgroud

  yang mengemukakan bahwa pendekatan anti-pencucian uang adalah mengejar uang atau harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan (follow the money)dengan alasan, antara lain: (i) mengejar pelakunya relatif lebih sulit dan berisiko; (ii) relatif lebih mudah dengan mengejar hasil dari kejahatan dibandingkan dengan mengejar pelakunya; dan (iii) hasilkejahatan merupakan darah yang menghidupi tindak pidana itu sendiri (live bloods of the crime). Dengan penegakan hukum TPPU yang konsisten,maka akan dapat diperoleh harta kekayaan hasil tindak pidana yang disita oleh negara, sehingga negara memperoleh tambahan pendapatan yang cukup berarti untukkegiatan yang bermanfaat.

1. Pokok-Pokok UU Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2010

a. Substansi Pengaturan

  Penyedia Jasa Keuangan diartikan sebagai penyediajasa dalam bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada bank, lembaga pembiayaan, perusahaan efek, pengelolareksa dana, kustodian, wali amanat, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, 86 pedagang valuta asing, dana pensiun, perusahaan asuransi dan kantor pos . Kemudian banyak sistem penanganan kejahatan dalam UU ini yang diproses dengan hukum acara pidana yang bersifat khusus, karena memang asas-asas hukumnyabersifat lex specialis.

b. UU No. 8 Tahun 2010 sebagai Lex Specialis

  Daripengaturan ini tampak bahwa para pembuat UU menginginkan UUTPPU ini lebih banyak disesuaikan dengan sifat perkembangan masalah kejahatan pencucian uang86 Indonesia (C), Undang-undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No. Dengan demikian tampak bahwa UU ini memanglah memiliki sifat lex specialis dan prinsip-prinsip dalam UU ini bisa menjadipengecualian terhadap ketentuan-ketentuan UU lain berdasarkan prinsip lex specialis derogate legi lex generalis.

c. Kualifikasi Perbuatan Pidana dan Ancaman Hukuman

  Pidana yang diancamkan kepada yang melakukan percobaan, pembantuan atau permufakatan jahat dalam pencucian uang disamaratakan dengan ancamanpidana terhadap pelaku pidana yang telah selesai dilakukan sebagaimana diatur dalam pasal 3, pasal 4, dan pasal 5 UUTPPU. Pengaturan dalam pasal 10 UUTPPU ini berbeda atau menyimpang secara prinsipil dengan ketentuan dalam KUHP, karena pada pasal 53 dan 57 KUHPmenentukan bahwa kualifikasi percobaan, pembantuan atau permufakatan jahat dibedakan kualifikasinya dengan perbuatan pidana yang telah selesai dilakukan.

87 Siahaan, op. cit.,hal.48

  Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana lain. Pasal 71 UUTPPU menentukan bahwa penyidik, penuntut umum dan hakim berwenang untuk memerintahkan Penyedia Jasa Keuangan untuk melakukanpemblokiran terhadap harta kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil suatu tindakpidana.

g. Alat Bukti dan Cyberlaundering

  8 Tahun 2010 adalah:“Dokumen adalah data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yangtertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tapi tidak terbatas pada:a. huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.”Alat bukti yang dipergunakan dalam pemeriksaan suatu tindak pidana pencucian uang menurut pasal 73 UU No.

i. Penentuan Pidana Minimum dan Maksimum

  Hal ini dapat kita lihat antara lain pada pasal 3, pasal 4, pasal 5, danpasal 7 UU ini yang menentukan ancaman pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. Harta Terdakwa Yang Meninggal Sebelum Putusan Hakim Dalam pasal 79 ayat (4) UU No.8 Tahun 2010 ini dinyatakan bahwa jika seorang terdakwa meninggal dunia sebelum putusan hakim dijatuhkan, dimana terdapat bukti-bukti meyakinkan bahwa terdakwa melakukan tindak pidana tersebut, maka hakim dapat membuat penetapan tentang harta terdakwa yang sudah disita untuk dirampasdan dimiliki oleh negara.

2. Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Asal

  Pasal 3: Perbuatan yang dengan sengaja menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan,membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas kekayaan yang diketahuinya ataupatut diduganya merupakan hasil hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkanasal usul Harta Kekayaan. Di luar pengaturan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 terdapat pasal-pasal lain yang mengatur mengenai tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang.

3. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan

  Dengan dibentuknya PPATK ini, maka Indonesia telah memenuhi salah satu dari The Forty Recommendations yang diusulkan oleh Financial Action Task Force(FATF), dalam usaha pemberantasan tindak pidana pencucian On Money Laundering 91 uang di Indonesia . Dalam pasal ke 16 The Forty Recommendations dari FATF disebutkan mengenai pembentukan Financial Intelligent Unit yang secara umumbertugas menganalisis transaksi-transaksi keuangan untuk mencegah adanya transaksi yang merupakan kegiatan pencucian uang, dan lembaga yang memiliki kewenangan 92 seperti Financial Intelligent Unit di Indonesia ini adalah PPATK .

91 Penyebutan PPATK secara internasional adalah INTRAC (Indonesian Transaction Report

  Meminta keterangan kepada pihak pelapor dan pihak lain yang terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang; Dari tugas dan wewenang yang di atur dalam ketentuan tersebut di atas, terdapat dua tugas PPATK yang sangat menonjol dalam kaitannya dengan usahapencegahan dan pemberantasan pencucian uang di Indonesia. Tugas pertama adalah untuk mendeteksi terjadinya tindak pidana pencucian uang, dan yang kedua adalahtugas untuk membantu penegakan hukum yang berkaitan dengan kegiatan pencucian uang dan juga tindak pidana yang melahirkannya (predicate crimes).

E. Unsur Unsur Pokok Tindak Pidana Pencucian Uang Dalam UU NO 8 Tahun 2010

  Pasal 4 UU No 8 Tahun 2010 berbunyi : Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas HartaKekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidanaPencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Pasal 10 UU No 8 Tahun 2010 berbunyi : Setiap Orang yang berada di dalam atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang turut serta melakukan percobaan, pembantuan, atau Permufakatan Jahat untuk melakukan tindak pidana Pencucian Uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5.

BAB II I PROSES PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DALAM UU NO 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG A. Sistem Pembuktian Sistem pembuktian adalah pengaturan tentang macam-macam alat bukti yang boleh

  Bagi hakim, atas dasar pembuktian tersebut yakni dengan adanya alat-alat bukti yang ada dalam persidangan baik yang berasal dari penuntut umum atau penasihathukum/ terdakwa dibuat dasar untuk membuat keputusan. Apabila dalam hal membuktikan telah sesuai dengan apa yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam undang-undang, baik mengenai alat-alat buktinyamaupun cara-cara mempergunakannya, maka hakim harus menarik kesimpulan bahwa kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana telah terbukti.

98 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia. Sinar Grafika, Jakarta, 2005, Hal. 247 (buku

  Sistem pembuktian ini menyandarkan diri pada alat bukti saja, yakni alat bukti yang telah ditentukan oleh undang-undang. Sistem ini yang dicari adalah kebenaran formal, sehingga sistem ini dipergunakan dalam hukum acara perdata.

2. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Melulu

  Sebagaimana manusia biasa, hakim bisa salah keyakinan yang telah dibentuknya, berhubung tidak ada kriteria,alat-alat bukti tertentu yang harus dipergunakan dan syarat serta cara-cara hakim dalam membentuk keyakinanya itu. Hakim menyatakan telah terbukti kesalahan terdakwa melakukan tindak pidana yangdidakwakan dengan didasarkan keyakinannya saja, dan tidak perlu mempertimbangkan dari mana (alat bukti) dia memperoleh dan alasan-alasan yangdipergunakan serta bagaimana caranya dalam membentuk keyakinannya tersebut.

3. Sistem atau Teori Pembuktian Berdasar Keyakinan Hakim Atas Alasan Yang Laconviction Raisonnee). Logis (

  Sebagai jalan tengah, muncul sistem atau teori yang disebut pembuktian yang berdasar keyakinan hakim sampai batas tertentu (laconviction raisonnee) Menurutteori ini, hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasar keyakinannya, keyakinan yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian disertai dengan satukesimpulan (conclusie) yang berlandaskan kepada peraturan-peraturan pembuktian 106 tertentu. yang berbunyi:“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang, kecuali apabila dengan sekurang- kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakpidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah 109melakukannya.” Dari kalimat tersebut nyata bahwa pembuktian harus didasarkan kepada undang-undang (KUHAP), yaitu alat bukti yang sah tersebut dalam pasal 184KUHAP, disertai dengan keyakinan hakim yang diperoleh dari alat-alat bukti tersebut.

44 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Titik Terang. Hal. 86

Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman

B. Sistem Pembuktian di dalam KUHAP

  Pasal 183 menyatakan: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatutindak pidana benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah 112melakukannya.” Sedangkan mengenai ketentuan alat bukti yang sah diatur dalam Pasal 184 113 KUHAP, yang berbunyi: 1. Alat bukti petunjuk tidak mungkin berdiri sendiri,tetapi bergantung pada alat-alat bukti lain yang telah dipergunakan atau diajukan oleh jaksa penuntut umum dan penasehat hukun.

C. Pengaturan Pembuktian Terbalik Dalam KUHAP

  Didalam pasal tersebut dinyatakan:“ketentuan dari delapan bab yang pertama dari buku ini berlaku juga terhadap perbuatan yang dapat dihukum menurut peraturan undang-undang lain, kecuali kalauada undang-undang (wet) tindakan umum pemerintahan (algemene maatregelen van 114 bestuur) atau ordonansi menentukan peraturan lain. Jadi, dalam hal ketentuan dalam peraturan perundang-undangan mengatur lain daripada yang telah diatur di dalam KUHP, dapat diartikan bahwa suatu bentukaturan khusus telah mengesampingkan aturan umum (Lex specialis derogate Legi ).

Pasal 10 3 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), R. Soesilo, Politeia, Bandung

  Terdakwa membuktikan bahwa Harta Kekayaan yang terkait dengn perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat(1) dengan cara mengajukan alat bukti yang cukup. Walaupun merupakan kejahatan yang lahir darikejahatan asalnya, misalnya korupsi, namun rezim anti pencucian uang di hampir seluruh negara menempatkan pencucian uang sebagai suatu kejahatan yang tidakbergantung pada kejahatan asalnya dalam hal akan dilakukannya proses penyidikan 120 pencucian uang.

E. Proses Pembuktian Terbalik Dalam UU No 8 tahun 2010

  Dalam Pasal 78 diatur mengenai proses pembuktian terbalik oleh terdakwa yang dilakukan pada proses pemeriksaan di Sidang Pengadilan, yaitu dalam ayat (1)Dalam pemeriksaan di sidang pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77, hakim memerintahkan terdakwa agar membuktikan bahwa Harta Kekayaan yangterkait dengan perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Dalam ayat (2) deatur mengenai cara terdakwa dalam membuktikan bahwa hartanya kekayaan terkait bukan berasal dari predicate crime, yaitu Terdakwamembuktikan bahwa Harta Kekayaan yang terkait dengan perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengancara mengajukan alat bukti yang cukup.

BAB IV HAMBATAN PEMBUKTIAN UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG HAMBATAN PERTENTANGAN ASAS PEMBUKTIAN TERBALIK A. DENGAN ASA PRADUGA TIDAK BERSALAH Pembuktian terbalik sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya

  Terlebih jika hal tersebut dikaitkan dengan asas presumption of 121 http://www.herdiansyah.net/hukum-dan-korupsi/86-pembuktian-terbalik-vs- praduga-tak-bersalah.html , diakses tanggal 20 Mei 2010 (ICCPR) , yang telah diratifikasi melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005. Ketiga , adanya problematika hukum, yakni meski celah untuk memberlakukan asas pembuktian terbalik, terdapat pada sejumlah klausul Undang-undang kita, namun secara universal berlaku asas hukum “lex superior derogat legi inferiori” atauperaturan hukum yang tingkatannya lebih rendah, harus tunduk kepada peraturan hukum yang lebih tinggi.

B. Aspek Pembenaran Pemberlakukan Sistem Pembuktian Terbalik

  Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana pencucian uang, maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan 123 ibid Pasal 78 ayat (1) dalam pemeriksaan di sidang pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77, hakim memerintahkan terdakwaagar membuktikan bahwa Harta Kekayaan yang terkait dengan perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana sebagaimana dimaksuddalam Pasal 2 ayat (1). Dalam ketentuan Tindak Pidana Korupsi dapat dijadikan pembanding Di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang dianggap perlu, selain meminta bukti kepemilikan sebagian atau Seluruh harta kekayaan Penyelenggara Negara yang diduga diperoleh dari Korupsi, kolusi, ataunepotisme selama menjabat sebagai Penyelenggara Negara, juga meminta pejabat yang berwenang membuktikan dugaan tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan 124 ” perundang-undangan yang berlakuC.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

  Proses pembuktian yang digunakan dalam UU No 8 Tahun 2010 TentangPencucian Uang adalah sistem pembuktian terbalik dimana terdakwa diperintahkan oleh hakim dalam proses persidangan untuk membuktikanbahwa harta kekayaan yang terkait bukan dari hasil kejahatan. Sosialisasi dan kursus kepada aparat penegak hukum mengenai materi terkait pembuktian terbalik dalam tindak pidana pencucian uang yangdikerjasamakan dengan lembaga penelitian dan pengembangan Hukum baik berkerjasama dengan Perguruan Tinggi maupun Lembaga SwadayaMasyarakat dalam mempertegas pemberatasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

  R, Tracing Illegal Proceeds Work Book, Investigation Training Institute, 2001Croal , Hazzel (1992), White Collar Crime, dikutip oleh Harkristuti Harkrisnowo, Kriminalisasi Pemutihan Uang (Money Laundering) sebagai bagian dari White Collar Crime , Makalah disampaikan pada seminar Money Laundering (Pencucian Uang) Ditinjau dari Perspektif Hukum dan Ekonomi, Jakarta, 23 Agustus 2001. The National Money Laundering Strategy 2000, Maret 2000 UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak PidanaPencucian Uang Vito Tanzi, ”Money Laundering and the International Finance System”, IMFWorking Paper No.

B. Makalah Billy @ Laundryman. U-net.com, 5 August 1998, Bil – 3/27

Yunus Husein, Urgensi Pengesahan Rancangan Undang-Undang TentangPencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang PPATK,2010 Statistik Kepatuhan dan Hasil Analisis , PPATK, April 2010 Undang Undang C. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Dokumen baru

Download (142 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Tinjauan Yuridis Mengenai Peranan Perbankan Dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)
0
91
94
Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
2
64
142
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perpajakan Melalui Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1
67
151
Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
2
77
117
Perjanjian Ekstradisi Dalam Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencucian Uang
1
78
83
Pembuktian Terbalik Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang
3
64
102
Prinsip Akuntabilitas dan Transparansi Yayasan Dalam Rangka Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)
1
48
103
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Ditinjau Dari Sistem Pembuktian
3
54
131
Penanggulangan Kejahatan Trafficking Melalui Undang-Undang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
1
54
130
Kegagalan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Di Indonesia Ditinjau Dari Sistem Pembuktian
0
33
119
Analisis Yuridis Peran Criminal Justice System Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Pencucian Uang
2
32
4
Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang
0
4
87
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG - Tinjauan Yuridis Mengenai Peranan Perbankan Dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)
0
0
25
BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
0
0
35
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
0
0
15
Show more