BAB II GEREJA SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA STASI DALEM

Gratis

1
22
50
2 years ago
Preview
Full text
BAB II GEREJA SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA STASI DALEM 2.1 Profil Gereja (Nama Paroki) “Maria diangkat ke Surga” merupakan peristiwa iman. Melalui perayaan ini oleh Gereja, kita diajak merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman. Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda Putera-Nya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh diatas para malaekat dan orang-orang kudus. Dalam putera Maria, Allah telah menolong kita menurut janji-Nya kepada Abrahamdan keturunannya. Sebab Kristus telah mengalahkan dosa dan kematian, dan Ia Berjaya mulia di hadapan takhta Allah. Demikian pula setiap orang yang bersau dengan Kristus akan dibangkitkan dari alam maut dan berjaya bersama Kristus. Dalam Maria harapan ini telah dipenuhi, sebab dialah yang paling dekat pada Kristus. Ia bangkit ke dalam kemuliaan abadi dengan jiwa raganya, dan maut tidak lagi berkuasa atas dia. 2.2 Sejarah Gereja Santa Maria diangkat ke Surga Kompleks Gereja Santa Maria diangkat ke Surga 8 9 Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga terletak di Desa Dalem, Gantiwarno, Klaten Paroki ini berkembang pesat sejak tahun 1960. Kondisi tersebut mendorong Yayasan Gereja dan Papa Miskin di Wedi berupaya untuk mendapatkan tanah / lahan untuk mewujudkan tempat ibadah yang layak bagi umat di Dalem dengan membangun Gereja permanen. Berkat kerja keras dan ketekunan doa umat, gereja ini berhasil dibangun dan diberkati oleh Mgr. J. Darmojuwono Pr. Pada tanggal 23 Agustus 1964 dengan nama GEREJA ST MARIA DIANGKAT KE SURGA – Stasi Dalem. Gerejajugapernah di renovasi pada tahun 1969 oleh arsitek (alm) Romo YB. Mangunwijaya Pr. Saat peristiwa gempa bumi 27 Mei 2006 yang melanda sebagian besar wilayah Yogyakarta Selatan dan Klaten (Jawa Tengah), hampir semua bangunan dan rumah-rumah rakyat hancur. Tidak terkecuali, Gereja Stasi Dalemdan Pastoral mengalami kerusakan cukup parah, terutama gereja. Berdasarkan hasil archictectural assessment FT-UAJY, tanggal 5 Juni 2006, kondisi Gereja dan Pastoran dinyatakan rusak berat dan direkomendasikan untuk dirobohkan dan diganti bangunan yang baru. Dengan kondisi demikian maka pengurus Gereja segera menindaklanjuti situasi tersebut dengan membuat Gereja sementara dan merencanakan Gereja baru pada lokasi dan membentuk panitia pembangunan Gereja dan Pastoran. Untuk mengatasi keadaan darurat, maka dibangunlah tenda untukdapat menampung umat ketika ibadah hari Minggu sekaligus sebagai posko untuk bantuan social bagi masyarakat sekitar. Kondisi ini berjalan selama 4 bulan.Dan bertahan 2 tahun sampai Gereja Baru selesai dibangun. 10 Dalam perkembangannya, Gereja mendapat bantuan teknis dan bangunan dari ATMI Solo dan LSM, berupa Gerejasementara dan GSS, yang di tempatkan di sekitar bangunan lama.GSS difokuskan untuk pelayanan para korban gempa yang mengalami patah tulang, dengan kontrak selama 2 tahun. Setelah itu bangunan diserahkan kepada Gereja untuk digunakan sebagai sekretariat stasi. Karena telah ada Gereja darurat yang dapat dipakai untuk waktu cukup lama, panitia meminta bantuan PPKT FT-UAJY untuk perencanaan gedung Gereja dan Pastoran yang baru, dengan membuat Master Plan Kompleks Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga. Berdasarkan surat Wedi ke Universitas Atma Jaya Yogyakarta, maka dibentuklah tim perencanaan untuk menyusun Master Plan Kompleks Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga, Stasi Dalem, Paroki Wedi-Klaten. Perjalanan umat Katolik Stasi Dalem dimulai pada tahun 1932. Perjalanan tersebut bermulai dari pemandian atas Antonius Soenaryo,putera Bapak Wongso Sentono (Lurah Gayam tahun 1924-1946) tanggal 19 Maret 1932 di Muntilan. Pemandian juga diterimakan atas Yosephine Sukinah,puteri Wongso Diharjo,adik Bapak Wongso Sentono (Demang Kerten,Gantiwarno, Klaten) tanggal 4 Mei 1932 di Ambarawa. Beliau berdua akhirnya menjadi Soenaryo,SY dan Muder Yosepha di Pringsewu, Lampung. Tahun 1935 warta keselamatan yang diterima oleh kedua pendahulu tersebut ternyata benar-benar sampai kepada banyak orang. Hal itu terbukti dengan dipermandikannya sebanyak 95 orang umat Jali- Gayamprit di Gereja Wedi oleh romo D.Harjo Suwondo pada tanggal 23 Desember 1935. Mereka adalah Bapak Wongso Sentono, Bapak Wongso Diharjo, Bapak Kriyo Sonto, Bapak Atmowiguno bersama keluarga dan tetangga. Permandian massa 11 dengan jumlah yang cukup besar tersebut tidak lepas juga dari perjuanganromo D.Harjosuwondo dan romo J. Vershteeg dalam menyampaikan warta keselamatan kepada penduduk. Warta keselamatan ini diawali dengan dirintisnya STASI JALIGAYAMPRIT oleh kedua romo tersebut awal tahun 1935. Pelajaran agama Katolik dilaksanakan di Rumah Bp.Wongso Diharjo,Kerten, dan di rumah Bapak Surorejo,Garutan dengan kereta kuda sebagai alat transportasi. Stasi JaliGayamprit ini merupakan stasi dan bagian dari Paroki Klaten. Setelah Stasi Wedi berdiri sebagai Paroki,stasi ini berada dalam wilayah Paroki Wedi. Setelah pemandian 95 orang umat Jali-Gayamprit, perayaan Ekaristi dilaksanakan secara teratur setiap selapan (35) hari sekali. Perayaan ekaristi tersebut dilaksanakan setiap hari Selasa Kliwon di rumah Bp.Surorejo yang bertempat tinggal di Garutan,Sengon,Prambanan,Klaten. Permandian umat Katolik Jali-Gayamprit terus berlanjut. Tanggal 25 Desember 1936,sebanyak 40 orang dipermandikan oleh D.Harjo Suwondo,SY. Dengan air Sendang Sriningsih. Diantara mereka adalah Bp.Ig.Atmosuwito , Ibu Th. Dwijo Siswoyo dan Bapak Harjo Sukarto, Ngandong. Permandian terus berlanjut hingga tahun 1950 meski jumlahnya tidak sebanyak seperti tahun sebelumnya. Permandian dilaksanakan di Kapel Garutan di rumah Bapak Surorejo. Salah satu diantaranya adalah Bapak Ag. Sonarto. Setelah beberapa tahun dilaksanakan perayaan Ekaristi secara teratur, jumlah umat semakin bertambah. Umat yang semakin banyak membutuhkan tempat yang lebih memadai sehingga pada tahun 1950 perayaan Ekaristi dilaksanakan di rumah Rymundus Sastro Suparno, Gayamprit, Sawit, Gantiwarno, Klaten. Selang beberapa tahun, dibawah 12 bimbingan romo St. Danu Widjoyo, para umat berhasil membeli joglo dari Ngorean secara gotong royong. Joglo tersebut didirikan di pekarangan Bapak Ry.Sastro Suparno secara gotong royong pula.Mulai tahun 1950 permandian yang semula dilaksanakan di kapel Garutan beralih di kapel Gayamprit. Persatuan mereka ini kemudian diwujudkan dalam nama LEMBAGA KATOLIK STASI JALI-GAYAMPRIT,diketuai oleh Bapak Ry.Sastro Suparno dan Bapak Ig.Atmosuwito serta dibantu beberapa pengurus. Nama ini penuh makna sebab dari Jali Warta keselamatan diterimakan kepada Antonius Soenaryo sementara dari Gayamprit sekolah rakyat tumbuh kembang. Pada tanggal 1 Juni 1935, sekolah rakyat ini dipindahkan dari Gyamprit ke Kerten menempati rumah Bapak Wongso Diharjo untuk selanjutnya dipindahkan ke Gunung Wungkal (di rumah Bapak Y.Mangunrejo) dan akhirnya menempati sebuah lahan dan menjadi sekolah yang kita kenal sebagai SD Kanisius Kerten. Dengan berdirinya SMP Pius X di desa Dalem,Sawit,Gantiwarno,Klaten tahun 1957 perayaan Ekaristi dilaksankan di SMP Pius X (sekarang tempat ini digunakan susteran) karena tanah ini dibeli/ditukar guling dengan joglo pekarangan Bapak Ry. Sastro Suparno. Dan sejak saat itu Joglo menjadi milik Bapak Ry. Sastro Suparno.Tahun 1962 SMP Pius X berkembang pesat sehingga memerlukan banyak ruang.Atas kesepakatan bersama pelayanan Ekaristi kembali dipindah ke Gayamprit menempati bangunan baru di sebelah timur rumah utama Bapak Ry. Sastro Suparno. Pada tahun 1960,Yayasan Gereja dan Papa Miskin Wedi berusaha untuk memperoleh tanah untuk membangun gereja yang permanen.Romo Al. Wahyasudibyo,pr yang ada saat itu menjabat ketua PGPM, 13 dibantu oleh Bapak Endropwawoko, Bapak Ag. Soenarto dan Bapak Ig.Suharto berhasil mendapatkan tanah dengan status hak pakai yang terletak di Dalem dengan luas 7500 m2. Tanah tersebut merupakan tanah OG ( tanah milik Ondermening Ground pada zaman Belanda). Tanah ini merupakan anugerah yang luar biasa karena tanah ini dapat diperoleh dengan cukup mudah.Gereja mulai dibangun tanggal 15 Agustus 1963 setelah sertifikat tanah berhasil didapatkan. Gereja diberkati tanggal 23 Agustus 1964 dengan nama Gereja Dewi Maria Kapundhut dhateng swarga ( Santa Maria Diangkat Ke Surga) diberkati oleh Mgr. Y. Darmoyuwono,pr. Nama ini dipilih karena dimulai pembangunan gereja tanggal 15 Agustus 1964. Sejak saat itu tanggal 15 Agustus dijadikan pesta nama gereja ini. Bangunan Gereja dengan luas 8x25 m itu sangat sederhana dengan satu pintu menghadap ke timur. Tidak mengherankan jika almarhum Mgr.Leo Soekoto pernah berseloroh bahwa bangunan itu mirip kandang singa.Tercatat tanggal 23 Agustus 1964 umat Katolik Jali-Gayamprit berjumalh 582 orang. Sejak saat itu pemandian dilaksanakan di gereja ini.Pada tahun 1974 umat Katolik JaliGayamprit sudah tercatat sebnayak 2000 orang. Perkembangan umat yang luar biasa adalah hasil kegiatan sosial yang dilakukan pada tiap-tiap wilayah, Seblum tahun 1967,kesatuan wilayah yang disebut kelompok sejumlah 8 dikelola oleh pengurus kelompok. Tetapi sejak 1967 disesuaikan menjadi wilayah dengan pengurus wilayah sebagai pengelolanya. Sejak tahun 1950-an setiap kelompok memiliki Lembaga Sosial Kelompok yang modalnya diterima dari Lembaga Katolik Stasi. Lembaga ini bergerak di bidang sosial ekonomi untuk umat dan masyarakat sekitarnya sebagai sarana untuk mengajak mereka menjadi bagian dari 14 warta keselamatan. Kegiatan yang sangat sederhana ini berbuah pada perkembangan umat. Perkembangan umat yang luar biasa ini bukan hanya buah dari kegiatan social semata. Kerja keras guru agama dan umat mewartakan keselamatan. Lembaga Katolik Stasi ini kemudian diganti dengan nama DEWAN GEREJA DALEM, dengan susunan pengurus sebagai berikut : 1. Ketua/Wakil ketua : Romo Paroki / Romo Pembantu 2. Koordinator Umum : Bapak Ag. Soenarto 3. Koordinator Wilayah : Bapak F.Mulyadi 4. Koordinator Organisasi : Bapak Tc.Tugimin 5. Koordinator Agama : Bapak YB. Harjosudarmo 6. Sekretaris Koordinator : Bapak S.Kalijo-Bapak Al. Sunardi Kepengurusaan tersebut dilengkapi dengan bidang kegerejaan, social ekonomi, dan pendidikan yang masih dibagi menjadi 8 seksi. Pada 29 Mei 1967 Dewan paroki Wedi menjadi paroki federative di mana masingmasing stasi mempunyai otonom dan ketua dewan paroki merupakan ketua presidium dan dijabat secara bergiliran. Maka Dewan Gereja Dalem berubah nama menjadi Dewan Stasi Dalem dengan wilayah sebanyak 12 wilayah. Nama pelindung gereja yang semula mengambil nama latin Gereja Maria Assumpta 15 (bahkan sempat diselenggarakan Assumpta cup) akhirnya menjadi Gereja Santa Maria Di Angkat ke Surga. Tiga orang yang pernah menjadi ketua presidium Dewan Paroki ialah : 1. Bpk.Ag . Sunarto 2. Bpk. Mekto Suseno 3. Bpk. Mateus Ramelan Tahun 1969 perkembangan umat yang semakin banyak memerlukan perluasan tempat ibadat maka dipikirkan merehap gereja sehingga memadai jumlah umat yang semakin banyak. Akhirnya dirancang gereja yang lebih mengakomondasijumlah umat.Berdasarkan ide dan rancangan Rono YB. Mangun Wijoyo dIbuat gereja yang berbentuk huruf “L” dengan harapan bias dikembangkan menjadi huruf “T” dan altar ada di tengah (umat menghadap utara dan barat ). Adapun karakter dari bangunan Gereja pada saat itu : 1. 2. 3. 4. Arsitektur Jawa Tampilan sederhana Akses dan suasana terbuka Besar disudut (orientasi menyebar ) Bagai gayung bersambut pada saat yang bersamaan Bapak Ry. Sastro Suparno berniat mengembalikan joglo ke tangan gereja maka “eguh” Rm. Santo Seputro, pr joglo dibeli oleh paroki Boro. Hasil penjualan joglo tersebut digunakan untuk merehabilitasi Gereja Dalem. Pada saat gereja direhap, perayaan ekaristi kembali dilaksanakan di rumah Bapak Ry. Sastro Suparno.Setahun kemudian pasturan dibangun oleh Bapak Ry. Sastro Suparno . Perayaan ekaristi kembali ke Gereja 16 Dalem.Selanjutnya gereja Dalem diperluas 2 kali hingga akhirnya terguncang gempa pada tanggal 27 Mei 2006. Gempa Bumi yang terjadi pada 27 Mei 2006 berakibat pada rusaknya bangunan gereja Stasi Dalem . Bangunan gereja dinyatakan tidak layak digunakan dan perlu dirobohkan untuk direnovasi (demikian hasil rekomendasi architectural assessment universitas Atma jaya Yogyakarta ). Karena gereja tidak dapat dipergunakan untuk perayaan ekaristi , untuk sementara , perayaan ekaristi dilaksanakan di rumah Bapak St. Kalijo, Dalem hingga didirikan tenda di samping gereja. Selanjutnya, umat stasi Dalem bergotong royong membuat gereja sementara dengan didukung room paroki dan para donator. Menurut rencana awal, gereja sementara akan dIbuat dari bambu, namun dalam perjalanan mendapat bantuan dari ATMI Solo berupa bangunan dari Baja. Gereja sementara di berkati oleh Mgr . I. Suharyo bersamaan dengan penerimaan sakaramen krisma untuk melaksanakan kegiatan gerejawi lainnya antara lain kegiatan PIA/PIR, pertemuan pengurus gereja, rapat mudika dan kegiatan lainnya. Namun gereja sementara tidak bisa menampung umat dalam perayaan Ekaristi mingguan apalagi hari besar.Karena hal tersebut , Seluruh umat mendesak agar gereja yang rusak segera direnovasi. Untuk mewujudkan perenovasian gereja , pada tahun 2007 dibentuk panitia renovasi Gereja. Tanggal 25 Desember 2007 dilaksanakan peletakan batu pertama renovasi Gereja Maria Diangkat ke Surga oleh romo F.X Sumantara . Malam sebelum 17 peletakan batu pertama diadakan kenduri dengan masyarakat sekitar beserta pamong Desa Sawit , Kecamatan GantiWarno, dan Muspika Gantiwarno. Tanggal 7 April 2008 s.d 14 April 2008 pembongkaran gereja dan pasturan yang lama. Tanggal 20 April 2008 merupakan awal renovasi Gereja Maria Diangkat ke Surga. Namun, pekerjaan di hentikan sementara menunggu IMB turun, setelah IMB turun pada tanggal 25 januari 2009 dimulai pembangunan gereja secara fisik dengan pemberkatan batu utama pad soko guru , oleh Rm. Yohanes yanuar Ismadi. Adapun bangunan yang baru ini adalah rancangan Tim Pengabdi Masyarakat Fakultas Teknik Atma Jaya Yogyakarta. Karakter gereja yang baru ini adalah : 1. Arsitektur Jawa ( khas bentuk berupa bangunan rumah Jawa ) 2. Bangunan Gereja terkesan terbuka, namun tetap dapat ditutup (tanggap terhadap situasi 3. Orientasi Altar memusat (Altar di dalam area soko guru dibawah tumpangsari) Arsitektur Jawa, bangunan Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga Stasi Dalem Paroki Wedi bukanlah joglo murni, melainkan joglo modifikasi dengan karakter sebagai berikut : 1. Soko guru dan tumpangsari sebagai cirri khas joglo , diposisikan pada daerah altar, sebagai area utama 2. Altar di dalam area soko guru di bawah tumpangsari berada di bawah bangunan puncak yang mempunyai tiga sirip horizontal yang merupakan 18 filosofi Trinitas yang bermakna sebagai area yang dipayungi oleh berkat Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus . 3. Area di belakang altar lebih pendek dibandingkan dengan area di depan altar sebagai gambaran orang yang bersujud. Hal ini dalam rangka memaknai suatu filosofi bahwa gereja adalah tempat ibadah di mana umat dating kepada Tuhan Allah dari berbagai penjuru, kondisi, dan status sosial, tanpa memandang perbedaan, bersujud untuk berdoa 4. Gereja dengan pintu-pintu yang mudah dIbuka lebar dan dapat ditutup rapat mengesankan gereja yang terbuka namun tetap aman Proses pembangunan ini didampingi oleh Ir. Dwijo Susanto yang di tunjuk KAS untuk menjadi konsultan pembangunan gereja dan pasturan. Pada tanggal 25 Desember 2009, perayaan ekaristi sudah dapat dilaksanakan di gereja yang baru ini. Selanjutnya, Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga Stasi Dalem paroki Wedi beserta pasturan yang baru ini akan diberkati Mgr. Yohanes Pujo Sumarto , pr dan diresmikan oleh Bupati Klaten pada tanggal 15 Agustus 2011. Konsep rumah jawa ( bentuk joglo ) diwujudkan secara siluet , dengan tetap menghadirkan soko guru dan tumpangsarinya, sebagai cirri khas joglo. Disamping itu filosofi iman kristiani di wujudkan dengan menghadirkan konsep trinitas ( Bapa, Putra dan Roh kudus ). 2.3 Letak Geografis dan kondisi Gereja Santa Perawan Maria diangkat ke surga Stasi Dalem 19 1. Nama Gereja : Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga 2. Nama Stasi : Stasi Dalem 3. Alamat : Dalem,Sawit,Gantiwarno,Klaten Jl Sriningsih km 4,8 4. Batas-batas : 4.1 Sebelah Utara : Paroki Gondang Winangun 4.2 Sebelah Timur : Paroki Klaten 4.3 Sebelah Selatan : Paroki Wonosari Gunung Kidul 4.4 Sebelah Barat : Paroki Kalasan Kab.Sleman 5. Letak /Tempat Stasi Dalem berada di wilayah : 5.1 Kecamatan Gantiwarno sebelah Barat 5.2 Kecamatan Prambanan sebelah Timur 5.3 Kecamatan Gunung Kidul sebelah Utara 6.Letak Geografis : 6.1 Bagian Utara Dataran Rendah 6.2 Bagian Selatan Pegunungan Kapur 6.3 Tahun berdiri dan diberkati : Tgl 15 Agustus 1964 oleh Mgr. 20 Yulius Darmoyuono,SJ 7. Luas Tanah : 7500 M2 8.Jumlah Umat : kurang lebih 2125 jiwa 9. Perkerjaan atau mata pencaharian: 9.1 Pegawai :3% 9.2 Wirawasta : 3 % 9.3 Petani :12 % 9.4 Buruh : 57 % 9.5 Pelajar : 20 % 9.6 Balita :5% 10.Stasi terdiri dari : 25 Lingkungan 11. Kelembagaan yang ada : 11.1 Biara susteran FSGM 11.2.Karya Patoral khusus : 11.2.1 Peziarah Goa Maria Sendang Sriningsih 11.3 Sekolah sekolah Katolik yang ada : 11.3.1 TK Fransiskus Xaverius 21 11.3.2 SDK Kerten 11.3.3 SMP Pangudi Luhur 11.4 Kelompok Kategorial : 11.4.1 Paguyupan Ibu-Ibu Stasi 11.4.2 Paguyuban SSF 11.4.3 Paguyupan Ketua-Ketua Lingkungan 11.4.4 Paguyupan Persekutuan Doa SSF 11.4.5Paguyupan OMK 11.4.6 Paguyupan Paduan Suara Mapan 11.4.7 Paguyupan Santo Yusup 11.4.8 Paguyupan Legio Maria 11.4.9 Paguyupan Prodiakon 11.4.10 Paguyupan Wali Timbalan 12. Gereja / Kapel yang ada di Stasi Dalem : 12.1 Kapel Santa Maria Marganingsih Jali 12.2 Kapel Santo Petrus Dawung Serut Gedangsari Gunung Kidul 22 2.4 Gambaran umum umat paroki 2.4.1 Paguyuban Pia-Pir Stasi Dalem Paguyuban Pia-Pir Stasi Dalem mempunyai tujuan yaitu mendampingi anak-anak supaya lebih cinta dan lebih akrab dengan gereja. Kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan dalam setiap tahun adalah sekolah minggu setiap hari minggu, kegiatan paskah anak-anak, natal anak-anak, kunjungan, zairah dan koor di gereja.Paguyuban Pia-Pir Stasi Dalem mempunyai anggota 60 orang. 2.4.2 Paguyuban Lektor Stasi Dalem Paguyuban lektor Stasi Dalem beranggotakan 43 orang dan dipimpin oleh Saudari Agatha Rini W dan Irinia Citra P. Paguyuban lektor Stasi Dalem mempunyai tujuan yaitu mewartakan sabda Tuhan.Pertemuan rutin biasa dilakukan setiap minggu ke IV. 2.4.3 Paguyuban Prodiakon Profil Paguyuban Prodiakon Stasi Dalem mempunyai anggota 37 orang. Para prodiakon Stasi Dalem ini terpilih dari tiap-tiap lingkungan dan dilantik pada bulan Januari 2011 dengan masa bakti 2010 sampai dengan 2012. Profil Paguyuban Prodiakon mempunyai tujuan pengabdian, kerukunan, tanggungjawab, dan melayani dengan sepenuh hati. 23 Pofil Paguyuban Prodiakon mempunyai kegiatan rutin yaitu melakukan pelayanan gereja dan lingkungan, pertemuan anggota tiap bulan minggu ke III dan pertemuan kevikepan. 2.4.4 Paguyuban Bina Panggilan Setiap tahun mengadakan bina panggilan peserta yang diikuti oleh PIA- PIR, putra altar, dan OMK Stasi Dalem. Kegiatan ini diadakan oleh Wali panggilan wilayah Gayamharjo Stasi Dalem di gereja Santa Maria Marganingsih.Kegiatan yang pernah berlangsung diantaranya adalah pada awal bulan Juli 2010 yang dilanjutkan misa dengan para romo dan suster yang berasal dari Gayamharjo yang sedang mengadakan reuni. Kegiatan yang lain dilakukan pada akhir Mei 2011 diadakan misa panggilan bersama 27 romo diosesan Sekeuskupan Bogor. 2.4.5 Paguyuban Team Adorasi Paguyuban Team Adorasi Stasi Dalem mmpunyai tujuan: 1. Mengembangkan rasa solidaritas umat dengan Allah dan yang menderita. 2. Penghormatan kepada sakramen Maha Kudus. 3. Agar umat selalu dekat dengan Yesus Kristus Sang Penebus. 4. Meningkatkan rasa paguyuban dengan sesama umat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Paguyuban Adorasi Stasi Dalem diantaranya: 24 1. Mengadakan adorasi setiap Jumat pertama bergiliran dari umat lingkungan. 2. Mengadakan seminar adorasi yang diikuti oleh pengurus dewan, ketua lingkungan, tokoh umat dan umat. 3. Mengadakan adorasi Kamis malam Jumat hingga pagi hari dengan bergilir tiap-tiap lingkungan se-Stasi Dalem. 2.4.6 Paguyuban Susteran Santo Fransiskus Dalem Profil Paguyuban Susteran Santo Fransiskus Dalem dipimpin oleh Sr. M. Imelda dan beranggotakan 4 orang yaitu Sr. M. Imelda FSGM, Sr. M. Herma FSGM, Sr.M. Huberta FSGM, Sr.M.Krispina FSGM. Paguyuban Susteran Santo Fransiskus Dalem pada awal karya misinya dimulai oleh Sr.M. Marta dan Sr. M. Hermien yang datang dari Lampung tanggal 11 Juli 1979 dengan tujuan untuk membantu masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Para suster ini datang Ke Stasi Dalem diantar oleh Rm. Sugiarto, SJ.Kemudian pada tanggal 18 Juli 1979 dIbukalah TK Fransiskus sebagai realisasi misi dalam dunia pendidikan. Kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan para suster FSSGM selain dalam dunia pendidikan adalah melakukan kunjungan-kunjungan, mendampingi PIA-PIR, SSV, OFS, terlibat dalam kepengurusan Dewan harian Stasi dan Sendang Sriningsih, dll. 2.4.7 Paguyuban Ordo Fransiskan Sekuler (OFS) 25 Paguyuban Ordo Fransiskan Sekuler (OFS) pada awal berdirinya dimulai oleh Sr.M. Katarina FSGM dan Sr.M. Agusta FSGM yang berinisiatif untuk mengumpulkan kaum awam yang tertarik pada spiritualitas Santo Fransiskus Asisi. Maka sejak Agustus 2009, kelompok ini mulai dikumulkan dengan pendamping Romo OFM dari yogyakarta. Kegiatan yang rutin dilakukan oleh paguyuban OFS ini adalah doa bersama (brevier) pada minngku ke-2, pelajaran dari rommo pendamping pada minggu ke-4 dan mengikuti program Keluarga Fransiskan Fransiskanes Yogyakarta (KEKANTA). 2.4.8 Paguyuban Putra Putri Altar Hati Kudus Yesus Paguyuban Putra Putri Altar Hati Kudus Yesus mempunyai visi dan misi yaitu melayani romo dalam perayaan ekaristi.Paguyuban Putra Putri Altar Hati Kudus Yesus Stasi Dalem berdiri sejak berdirinya gereja tahun 1964.Kegiatankegiatan yang rutin dilakukan adalah pada minggu ke-1 yaitu olahrag, minggu ke-2 hari belajar (Hajar), minggu ke-3 latihan koor, minggu ke-4 perayaan ulah tahun anggota, dan rekoleksi serta ziarah. 2.4.9 Paguyuban Bidang Pewartaan Bidang pewartaan merupakan salah satu usaha bina iman umat agar umat semakin sadar akan tanggung jawab atas iman yang telah mereka pilih. Dalam pembinaan iman umat itulah dIbutuhkan seorang katekis dalam mendampingi umat dalam menghayati imannnya kepada Allah. 26 Bidang pewartaan Gereja Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga Stasi Dalem Paroki Wedi terfokus pada pelayanan sakramen-sakramen, pendampingan iman anak dan remaja, kerasulan kitab suci. Bidang pewartaan Stasi dalem ditangani oleh 19 orang dalam pendampingan baik di gereja maupun di lingkungan-lingkungan.Berikut adalah jadwal kegiatan bidang pewartaan Stasi Dalem tahun 2010 s/d 2011. 2.4.10 OMK St. Joseph Stasi Dalem Banyak hal yang terjadi di OMK St. Joseph Dalem ini. Sejarah dari awal terbentuknyasampai sat ini. Tetapi yang akan dikisahkan adalah pada saat setelah bencana gempa bumu terjadi, karena itulah yang menjadi ingatan klam bagi OMK. Pada saat bencana alam gempa bumi yang terjadi 27 Mei 2006 sangat berdampak sekali pada kegiatan OMK.Kegiatan OMK menjadi benarbenar vakum. OMK terasa mati dan tidak ada sama sekali Baru pada tahun 2008 semangat OMK tumbuh lagi untuk membangun kehidupan OMK yang selama ini mati.. Lewat Gabriel Galing, Timur Santanu Aji, dan Yulius Dwiyon, serta anggota OMK St. Joseph yang peduli dan tidakdapat disebutkan satu-persatu door to door mengumpulkan anggota kembali yang berumur 18-30 tahun dan belum menikah. Latihan Koor menjadi acara pertama kali yang dIbuat untuk mengumpulkan kembali anggota-anggotanya.Dari latihan koor ini pula ikatan anggota mulai terjalin menjadikan rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang lebih dalam.Setelah OMK dianggap cukup siap untuk menjadi suatu organisasi yang terstruktur 27 maka dibentuklah kepengurusan tahun 2008-2011. Melalui berbagai proses akhirnya terpilih sdr. Yohanes Dhanang Priyambodo dan sdri.Anna Rossaline Octaviani sebagai koordinator OMKperiode 2008-2010 dari sinilah OMK mulai menjadi organisasi yang solid. Per Desember 2010 masa jabatan pengurus periode 2008-2010 telah habis agar tidak terjadi kevakuman lagi dibentuk kepengurusan baru.Selama masa transisi ini terjadi banyak gejolak di dalam tubuh OMK itusendiri, bahkan koordinator sementara sempat diisi G. Arry Septian dan Fanny Susilo.Karena masa jabatan pengurus lama sudah habis sedangkan pengurus baru belum dibentuk. Melalui proses yang panjang dan berbagai rintangan akhirnya dibentuklah kepengurusan OMK periode 2011-2012 dengan Daniel Bramaji dan Agathon Charis sebaga koordinator OMK. Kegiatan-kegiatan diadakan oleh OMK St. Joseph tahun Dalem 2008-2011 antara lain: Pembekalan pengurus, Pembuatan AD/ART, tugas koor, rapat pleno, pengadaan buletin bulanan Yoseph Menyapa, kegiatan bersih-bersih disendang Sriningsih, camping rohani, tugas koor pernikahan, anjangsana dengan OMK St. Bernadus Prambanan, Paskahan, dan ziarah. 2.4.11 Paguyuban Wali Timbalan Paguyuban yang diketuai oleh FX.Suparno sebagai ketua I dan Cahyo Binuko ini berdiri pada tahun 1990 ini dibentuk dalam rangka menghidupkan kegiatan dan perkembangan biarawan/biarawati.Visi, Misi/ Tujuan paguyuban ini adalah mengkoordinasi orang tua/wali biarawan-biarawati untuk saling 28 mengenal.Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah pertemuan 2 bulan sekali minggku ke 4. Kegiatan lain paguyuban wali timbalan berupa doa bersama dan sharing kehidupan suka duka dalam mendampingi keluarga yang menjad ibiarawan-biarawati, diharapkan dengan adanya paguyuban ini juga membuka kesempatan kepada keluarga-keluarga lain yang anggota keluarganya ingin menjadi biarawan-biarawati untuk dibimbing oleh anggota-anggota paguyuban ini. 2.4.12 Paguyuban Tim Kesehatan Tim kesehatan Gereja Katholik Santa Perawan Maria DIangkat Ke Surga bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi umat yang sakit.Saat ini, tim kesehatan dikoordinir oleh Ibu Ch. Suryati, Bapak sigit,Ibu maryati, Ibu ag.martini, danBapak handoko. Tim ini telah ada sejak lembaga katolik jatigayampritya itu sekitar tahun 1950-an. Kegiatannya antara lain, menyediakan alatalat kesehatan menyelenggarakan pengobatan gratis pada umat danmasyarakat umum, serta menyelenggarakan pemeriksaan golongan darah. 2.4.13 Koor OMK St.Joseph Koor OMK St.Joseph dikoordinir oleh Aji dibantu oleh Nita dan Galuh sebagai tim teks. Keberadaan Koor OMK ini berawal dari usaha untuk mengumpulkan kembali anggota OMK secara door to door. Awalnya dibimbing oleh Ibu Tanti ini awalnya bertujuan untukuntuk mewadahi anggota OMK. Kegiatannya antara lain koor di gereja, tugas koor pernikahan, maupun tugas koorhariraya. Rekreasi juga dilakukan bersama untuk penyegaran dan pemberian semangat bagi anggota. 29 2.4.14 PaguyubanIbu-Ibu Stasi Paguyuban Ibu-Ibu Stasi ST.Mariaini diketuai oleh Ibu Anastasia Srimaryani ini pada awalnya dibawah naungan wanita katolik, namun sekarang sudah tidak ada kaitan dengan WK, kini berdiri sebagai paguyuban Ibu stasi. Visi, misi/tujuan dari paguyuban ini adalah ikut ambil bagian dalam pelayanan gereja. Kegiatankegiatan yang dilakukan antara lain pertemuan rutin sebulansekali, kunjungan social, kunjungan kekeluarga room yang pernah berkarya di parkoi Wedi, mengurus ‘’Rumah Tangga Pasturan’’. Tugas tata laksana dan koor di Gereja, dan kegiatan lain berupa rekoleksi. 2.4.15 Legio Maria Legio Maria Presidium Benteng Gading terletak di wilayah Bendo, Gayamharjo, Prambanan. Legio Maria yang diketuai olehRindi Antika dan Ag.Purnomo ini berdiri pada tanggal 3 mei 1976. Pada awal berdiri, Legio Maria memiliki 10 anggota. Melalui kegiatan doa yang dilaksanakan setiap sabtu malam, Legio Maria bertujuan untuk menguduskan anggota-anggota dan memancarkan kesucian ke jiwa-jiwa di dunia. 2.4.16 Paguyuban Santo Yusup Stasi Dalem Pengurusperiode 2007-2012 Ketua : HR. Sumadi Sekretaris : T. Budaya 30 Bendahara : F.Mulyadi UrusanSosial : R.HeruKrisna UrusanArisan : T.Sugito UrusanHumas : F.X. Suparno Paguyuban santo Yusup Stasi Dalem yang berdiri tahun 1990, semula bergabung dengan Stasi Wedi dan Stasi Bayat.Kemudian masing-masing stasi menjadi paguyuban mandiri. Tujuan utama paguyuban adalah menabung untuk biaya pendidikan. Setiap anggota menyimpan simpanan wajib sebesar Rp. 100.000 dan setiap bulan menabung minimal Rp. 5.000/anggota.Setiap tahun diselenggarakan RAT pada bulan april dan pada RAT tersebut jumlah tabungan tiap anggota diseragamkan. Bagi anggota yang kurang dari tabungan yang ditentukan wajib menambah, sedangkan bagi yang kelebihan uang, kelebihannya dikembalikan. Paguyuban mengadakan pertemuan satu bulan sekali di rumah anggota secara bergilir dalam acara rutin : 1. Doa Pembuka 2. BinaIman 3. Tabungan dan Arisan serta simpan pinjam Pinjaman diangsur 10 kali dengan bunga 1%/bulan.Kini jumlah anggota ada 21 orang. 31 2.4.17 SSV Tahun 1830an, setelah runtuhnya monarki Bourbon di Perancis, agama mulai ditinggalkan orang.Sebaliknya paham ateisme semakin meningkat.Frederic Ozanam yang pada saat itu berusia 20 tahun mengajak teman-temannya untuk berdiskusi dan akhirnya memutuskan apa yang bisa mereka perbuat bagi orang miskin. Pada tanggal 23 april 1833 terbentuklah konferensi cinta kasih dengan anggota Frederic Ozanam bersama 6 orang temannya dan guru Frederic bernama Emmanuel Bailly. Konferensi ini didirikan untuk menghayati iman katolik dengan lebih kokoh lewat persahabatan dan karya nyata bagi orang miskin serta sebagai jawaban atas serangan mahasiswa beraliran “kiri” yang menanyakan apa yang bisa dilakukan gereja katolik untuk masyarakat. Ozanam danrekan-rekannya menyadari bahwa bicara saja tidak akan pernah member ikesaksian penuh tentang kebenaran iman mereka. Aksi pertama mereka adalah mengumpulkan uang yang mereka miliki dan membeli kayu bakar untuk diberikan kepada seorang janda miskin. Tahun 1855 secara resmi kelompok kecil itu memutuskan untuk memberi nama Serikat Santo Vincentius (SSV) sesuai dengan nama santo pelindungkarya social. Atau sering dikenal sebagai St. Vincentius de Paul Society yang tersebar di lebih dari 140 negara termasuk Indonesia. Di stasi dalem banyak umat yang mengikuti kegiatan SSV di bawah koordinasi SSV dewan daerah dalem yang termasuk dalam SSV Dewan wilayah Klaten. 32 Konferensi Don Bosco Jalia dalah konferensi pertama yang berdiri tahun 1974, kemudian mendapat pengakuan dari Paris tahun 1975.Bapak St. Kalija merupakan ketua konferensi yang pada awalnya bergabung dengan Dewan Daerah Madiunini. Kemudian Konferensi Don Bosco menjadi pelopor SSV di Dalem. Konferensi remaja pertama di DD Dalem adalah Konf. St. Maria Sendang Srinningsih. Konferensi ini mengajak anggotanya yang masih muda untuk peduli dan memperhatikan orang lain. Kegiatannya meliputi kunjungan orang sakit, kunjungan keluarga danlansia, kegiatan kunjungan tidak hanya berkutat membawa bantuan tetapi lebih pada pemberitaan sapaan pada orang lain terutama pada simbah-simbah yang jauh dari anak dan cucu. Demikian cerita singkat SSV yang ingin turut serta dalam karya pelayanan terhadap sesama meneladan Beato Frederic Ozanam dan Santo Vincentius. 2.4.18 Koor Mapan Koor MAPAN adalah kelompok koor dari Jali, Gayamharjo, beranggotakan 27 orang, didirikan untuk melaksanakan tugas mengiringiTugas Liturgi di Gereja, perkawinan dan keperluan lainnya. Koor ini memilik ivisi : demi pelayanan dalam gereja dan liturgi. Latihan rutin diadakan setiap hari Rabu dan Minggu malam.Koor ini diketuai oleh M. Ramelan, sekretaris E. DhetaA.W, bendahara Betty dan humas Y. Lasyanto. 2.5 Profil wilayah 2.5.1 VISI : 33 Umat Allah Stasi Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga dengan bantuan Allah dan teladan Santa Maria berupaya untuk hidup guyup rukun, suci ,dan setia, berkembang dan bersama Yesus Kristus mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan. 2.5.2 MISI : 1.) Menumbuhkan Gereja dengan hidup dalam persekutuan paguyupanpaguyupan murid-murid Yesus Kristus yang hidup rukun baik antar umat maupun dalam bermasyarakat. 2.) Mengupayakan tata penggembalaan yang menyapa dan memberdayakan umat. 3.) Duduk, berbicara, berpikir dan berkeputusan bersama serta melaksanakan secara bertanggung jawab. 4.) Mengembangkan dan mendewasakan iman akan Kristus baik secara pribadi, keluarga (doa, novena, dan devosi) maupun bersama sama ( ekaristi,adorasi ,ibadat lingkungan) sehingga umat semakin setia mengikuti Kristus dan semakin suci hidupnya. 5.) Bersama-sama dengan umat Allah keuskupan Agung Semarang berusaha untuk melestarikan hidup. Keterangan : 1. Hidup guyup rukun : banyaknya perbedaan tidak dijadikan alasan untuk terjadinya pengkotak-kotakan tetapi sebagai kekayaan Stasi yang semakin memperkaya satu sama lain. Oleh karena itu sikap rendah hati dan solider sangat dIbutuhkan (bdk Luk 2:41-52) 2. Setia beriman : semakin mengenal dan mendekatkan diri kepada Yesus Kristus sehingga umat semakin kuat ,mantap dan handal. 34 Tidak melepas imannya meskipun banyak tantangan dan hambatan hidup (bdk.Luk 1:38) 3. Berkembang : potensi- potensi yang ada dalam Stasi Dalem jika dikelola dan dikembangkan akan membuat Stasi semakin tumbuh dan maju. 4. Mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan berarti bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia dan melestarikan keutuhan ciptaan. 2.6 Lingkungan di paroki 2.6.1 Lingkungan Santo Agustinus Tirto Lingkungan Santo Agustinus Tirto ini mayoritas umatnya adalah petani.Lingkungan Santo Agustinus Tirto yang telah berjalan selama 5 tahun ini saat ini diketuai oleh Bpk.T.Sukadi. Lingkungan ini adalah lingkungan yang istimewa karena ada beberapa room, suster, frater yang berasal dari lingkungan ini seperti Romo Yohanes Driyanto, Pr,Romo Antonius Sumardi,SCJ, Romo Agustinus Sunarto, Pr, Suster Evarista,FSGM, dan Frater Suryanto. Harapannya kedepan semakin banyak romo, suster, bruder lebih banyak lagi berasal dari lingkungan ini. 2.6.2 Lingkungan Santo Aloysius Jali Lor Lingkungan St. Aloysiuus Jali Lor terletak di Dusun Jali, Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman.Bapak Ngatman adalah ketua lingkungan St. Aloysius.Banyak toko umat yang berasal dari lingkungan ini diantaranya Bapak 35 G. Sudarno yang juga tokoh penting bagi SD K Kerten.Tokoh umat lainnya adalah Bapak P. Suarno dan Bapak Y. Yotoharjana.St.Aloysius juga merupakan lading subur bagi panggilan tuhan. Sr Yasinta, Sr.Irene,CB, Sr. Florentina adalah biarawati yang berasal dari lingkungan ini. 2.6.3 Lingkungan Santo Andreas Sendang Gayamharjo Lingkungan Santo Andreas Sendang Gayamharjo saat ini diketuai oleh Bapak Y. Wantoyo Miharjo dengan jumlah KK 12 dan umatnya berjumlah 27 orang.Hal yang menggembirakan dari lingkungan Santo Andreas Sendang Gayamharjo adalah telah ada 2 orang suster yang bekarya melayani tuhan yang berasal dari lingkungan Santo Andreas Sendang Gayamharjo. 2.6.4 Lingkungan Santa Anna Garutan Profil Lingkungan Santa Anna Garutan periode 2010-2012 ini diketuai oleh Bapak Robertus Sandy Anggoro Sulistioko dan Bapak Benedictus Arnen W. 2.6.5 Lingkungan Santo Athanasius Bendo Lingkungan Santo Athanasius Bendo saatini diketuai oleh Bapak Y. Kardino.Lingkungan ini terletak di wilayah paling selatan Stasi Dalem. Tokoh umat dari lingkungan ini adalah Bapak Hadi Suparman yang pernah menjadi ketua wilayah dan guru agama.Romo Athanasius Subarjo, Sr. L. Istuti, Sr Martini adalah biarawan-biarawati dari lingkungan St.Athanasius Bendo. 2.6.6 Lingkungan Santo Benediktus Bometen 36 Panggilan Tuhan pun bersemi di lingkungan ini. Sr.Chatarina, Fs.Gm. Dan Sr.Bertania, Fs. Gm adalah suster yang berasal dari lingkungan ini 2.6.7 Lingkungan Santo Daniel Ledhoklk Lingkungan Santo Daniel Ledhok berjumlah 48 jiwa.Saat ini diketuai oleh Bapak Antonius Murtadi.Lingkungan ini terletak di dusun Ledok, Gayamharjo, Prambanan, Sleman.Romo D.Adi Tejo Seputro dan Sr.Florentina adalah biarawanbiarawati dari lingkungan St.Daniel. 2.6.8 Lingkungan Santa Elisabeth Dadapsari Lingkungan Santa Elisabeh Dadipsari diketuai oleh Bapak Metheus Ramelan.Lingkungan ini mempunyai umat dengan jumlah KK 18.Dari lingkungan ini telah banyak lahir benih panggilan untuk melayani umat Tuhan yaitu Romo V.Istanto Pramudja, SJ. 2.6.9 Lingkungan Santo Fransiskus Pangkah Lingkungan Santo Fransiskus Pangkah terletak di desa Gayamharjo, diketuai oleh Bapak Ig.Susanto dan Bapak Yakobus Hardi Suwinto. Lingkungan Santo Fransiskus Pangkah adalah Lingkungan yang terletak paling selatan dengan umat yang kebanyakan bekerja sebagai petani.Keadaan geografis dari lingkungan ini adalah pegunungan dan bebatuan.Walaupun begitu semangat menggereja umat 37 lingkungan ini tetap bagus walaupun jauh umat lingkungan ini tetap rajin ke gereja setiap minggu dengan bejalan kaki. 2.6.10 Lingkungan Santa Maria Imaculata Jali Kulon Lingkungan Maria Immaculata terletak di selatan Kapel St. Maria Marganingsih Jali dengan ketua lingkungan Bapak Agus.Lingkungan ini juga memiliki puta yang bekerja di ladang Tuhan, beliau adalah Romo T. Siswanto MSC.Mata pencaharian utama dari umat adalah bercocok tanam dengan keadaan tanah yang sedikit tandus.Saat ini sendang dikembangkan peternakan kambing. Kegiatan umat dilingkungan ini adalah doa bergilir dan doa Rosario di bulan mei dan oktober. 2.6.11 Lingkungan Santo Markus Kerten Lingkungan Santo Markus Kerten saat ini diketuai oleh Bapak Ig.Sunardi dan Bapak M.Agus Sutrisno. Rm.Suwiro Swibaktata, MSC, Rm.Kiswadi,MSC, Sr.Therisia,Fs.Gm, Sr.Yosepha,Fs.Gm, Sr.Yudhit,Fs.Gm, Sr.Benedheta, Sr.Lidia berasal dari lingkungan ini. 2.6.12 Lingkungan Santa Patricia Jali Kidul Lingkungan Santa Petricia Jali Kidul saat ini diketuai oleh Bapak Y.Lasyanto. Nama lingkungan Patricia sudah lama dikenal sejak lama karena beberapa tokoh umat katholik berasal dari lingkungan patricia diantaranya Romo Antonius Soenarjo,SJ dan MGR.leo Soekoto,Sj. Tokoh umat yang lama seperti 38 Bpk.Ig.Atmo Suwito sebagai tokoh pendiri gereja stasi dalem dan gedung gereha dan Bpk.AG.Soenarto sebagai dewan stasi dalem. Banyak biarawan-biarawati juga berasal dari lingkungan ini seperti Rm.A.Sapto Dwi Handoko,SCY, RM.Triwidianto,pr, Sr.Domonica, Sr.Renata, Sr.Fidelis, Sr.Chatarina. 2.6.13 Lingkungan Santo Paulus Mlese 2 Lingkungan Santo Paulus Mlese2 diketuai oleh Bpk.Nobertus Wagiman.Lingkungan ini juga hasil pemekaran dari Wilayah Mlese 2.Di lingkungan inilah terdapat kelompok karawitan anak-anak “Sukma Laras” yang dipimpin oleh Bpk.ST.Maryanto.Bersama kelompok ini lingkungan Mlese 2 telah berperan aktif pada kegiatan stasi terutama pelaksaan tugas koor hari raya, krisma dan lain-lain. 2.6.14 Lingkungan Santo Paulus Gebluk Lingkungan Santo Paulus Gebluk terletak tepat disebelah selatan Gua Maria Sendang Sriningsih,Gayamharjo,Prambanan,Sleman. Bpk. Mardi Saptayana adalah ketua lingkungan Santo Paulus.Umat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagia petani ini berjumlah 61 jiwa.Rm.P.Sugino, Sr.Renata, Sr.Yulita dan Sr.Martina mengikuti panggilan tuhan untuk berkarya melayani umat. 2.6.15 Lingkungan Santo Petrus Cabakan 39 Lingkungan Santo Petrus Cabakan berada di wilayah Cabakan, Sebgon, Prambanan, Klaten ini diketuai oleh Bapak Pontianus Suwarjo. Dalam menghayati hidup menggereja, lingkungan ini mempunyai jadwal kegiatan yang rutin dan bervariasi seperti doa bergilir setiap malam Selasa Legi dan Selasa Kliwon. Pertemuan Bapak-Bapak setiap tanggal 10, pertemuan Ibu-Ibu setiap minggu diawal bulan, latihan karawitan kelompok Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak, aksi social dan juga rengan serta doa rutin selama masa adven, prapaskah, bulan kitab suci dan bulan Rosario. Begitulah paguyuban Santo Petrus ini dalam menjalani hari-harinya dalam kelompok masyarakat kecil.Maka tak mengherankan bila kemudian kita dapat menemukan ada benih-benih panggilan yang muncul dari lingkungan ini seperti Romo B. Hanjar Krisnawan, Pr, Suster M. Anna Hudiyantari, OSF. 2.6.16 Lingkungan Santo Petrus Ngandong Lingkungan Santo Petrus Ngandong berada di Ngandong, Kerten, Gantiwarno dengan jumlah seluruh umat ada 108 orang.Lingkungan ini diketuai oleh Bapak FD.Sudiman.Umat yang pertama kali dibaptis adalah Bapak FX.Slamet Harjo Sukarto pada tahun 1933.Dari lingkungan ini muncul benih timbalan yaitu Frater Bernadus Christian Tri Yudo Prastowo.Kita doakan bersama semoga frater ini nantinya dapat menjadi pelayan Kristus yang setia dalam membantu menjaga domba-domba Allah. 2.6.17 Lingkungan Santo Petrus Serut 40 Lingkungan Santo Petrus Serut adalah lingkungan yang berada di wilayah Desa Serut Kecamatn Gedang Sari, Kabupaten Gunung Kidul.Lingkungan ini berada di daerah pegunungan dan perbukitan yang penuh dengan rintangan.Jalan yang naik turun gunung serta berbatu-batu. Walaupun begitu umat di Lingkungan Santo Petrus Serut adalah umat yang bersemangat dalam menghayati iman di dalam Yesus Kristus, terlihat dari jumlah umat yaitu 328 terdiri dari 113 KK dan macam-macam kegiatan yang rutin dilakukan oleh umat Lingkungan Santo Petrus Serut seperti pertemuan pengurus lingkungan setiap tanggal 1, pertemuan Ibu-Ibu setiap Rabu Paing, pertemuan areka, pria setiap minggu, dll. Semoga Lingkungan Santo Petrus Serut yang diketuai oleh Bapak Yohanes Sumardi ini akan semakin maju dimasa-masa yang akan datang. 2.6.18 Lingkungan Santo Stefanus Peleman Magol Lingkungan yang terletak di desa Gayamharjo, terdiri dari 2 dusun, dusun Mangol dan dusun Paleman dan terletak di lereng perbuktian yang tandus disebelah selatan Sendang Sriningsih. Ketua lingkungan saat ini adalah Bapak Ratno Saputro dengan tokoh umat Y. Susilo.Pada dasarnya umat yang giat dan sederhana banyak generasi muda yang berhasil menyelesaikan sekolah/kuliahnya dan merantau ke luar daerah. Kegiatan lingkungan ini antara lain doa Rosario, arisan dan simpan pinjam. 2.6.19 Lingkungan Santo Yakobus Jali Gampeng 41 Lingkungan Santo Yakobus Jaligampeng merupakan pengembangan wilayah Ngekong di sebelah selatan dengan umat berjumlah 50 jiwa.Mayoritas umat bermata pencaharian sebagai petani.Bapak Yohanes Widyo Waryanto adalah ketua lingkungan saat ini.Romo Y. Warsito adalah biarawan yang berasal dari lingkungan ini. 2.6.20 Lingkungan Santo Yohanes Ngekong Lingkungan Santo Yakobus Jaligampeng merupakan pengembangan wilayah Ngekong di sebelah selatan dengan umat berjumlah 50 jiwa. Mayoritas umat bermata pencaharian sebagai petani.Bapak Yohanes Widyo Waryanto adalah ketua lingkungan saat ini.Romo Y. Warsito adalah biarawan yang berasal dari lingkungan ini. 2.6.21 Lingkungan Santo Yohanes Pandan Simping Lingkungan Santo Yohanes Pandan Simping berada di tepi jalan raya Jogja Solo.Lingkungan yang diketuai oleh Bapak Ignatius Agus Sutrisno ini mempunyai berapa kegiatan rutin diantaranya adalah pertemuan umat setiap bulan, pertemuan pengurus lingkungan setiap tiga bulan, dan kunjungan ke rumah umat yang sedang sakit menambah semakin guyupnya lingkungan ini. 2.6.22 Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis Gunung Wungkal Umat pertama yang dipermandikan di lingkungan ini adalah Bapak Yohanes Mangunrejo pada tahun 1942.Umat semakin berkembang dan seiring dengan perkembangan umat, rumah Bapak Yohanes Mangunrejo digunakan untuk menampung pendidikan SR. Dan sampai sekarang lingkungan ini menjadi tempat benih timbalan dasar dengan adanya SD Kanisius.Kemudian lahirlah gembala-gembala umat Allah seperti Romo Antonius Widodo dan 42 Bruder Heribertus Suparno.Lingkungan ini diketuai oleh Bapak AL. Sri Muryadi. 2.6.23 Lingkungan Santo Yusup Gayam Lingkungan Santo Yusup Gayam terletak di ujung sebelah paling selatan dari Stasi Dalem.Wilayah sekitar berupa perbukitan yang cukup tandus sehingga pengadaan air menjadi masalah pada musim kemarau.Umat memiliki semangat menggereja yang tinggi.Budaya gotong royong juga masih terlaksana dengan baik.Umat lingkungan ini berjumlah 76 jiwa namun banyak generasi muda yang merantau untuk bekerja.Bapak Fx. Murdisuwito diberi kepercayaan oleh umat untuk menjadi ketua lingkungan. 2.6.24 Lingkungan Santo Yusup Mlese 1 Lingkungan Santo Yusup Mlese 1 mempunyai 4 kring yaitu Kring Bernadetha Birin, Kring Prajenan, Kring Baturan, dan Kring Cethok. Lingkungan Santo Yusup Mlese 1 diketuai oleh Bapak FX.Sunarto dan Bapak An. Sudadi Wiranto. Kegiatan yang rutin dilakukan oleh umat lingkungan Mlese 1 adalah doa bergilir, pertemuan Ibu-Ibu setiap minggu ke-3, menjenguk saudara yang sakit, doa Rosario, renungan adven dan prapaskah. 2.6.25 Lingkungan Santo Yusup Panggil Lingkungan Santo Yusup Panggil adalah lingkungan yang berada paling dekat dengan gereja Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga.Lingkungan ini diketuai oleh Bapak M. Sukoto.Umat di lingkungan ini berjumlah KK 30. Kegiatan yang 43 rutin dilakukan oleh lingkungan Santo Yusup Panggil adalah doa ubengan, pendalaman iman, pertemuan SSV, dan OFS. 2.7 Potensi dan Permasalahan 2.7.1 Potensi Gereja St. Maria Diangkat ke Surga, Stasi Dalem Paroki Wedi – Klaten, dari perjalanan sejarahnya memperlihatkan wujud bangunan yang unik.Bangunan diperkuat dengan pilar pilar batu, dengan konstruksi membesar ke bawah seperti talut.Perkembangan tata ruang gereja juga berpengaruh pada bentuk yang terjadi. Beberapa catatan yang dapat dipakai sebagai ciri khas bangunan lama, dan mungkin dapat dipakai sebagai acuan, antara lain : 1. Karakter bangunan – arsitektur jawa (kampung) 2. Tampilan sederhana 3. Kesan terbuka (akses dan suasana) 4. Altar divergen (arah Orientasi menyebar) Disamping bentuk bangunannya, beberapa vegetasi juga menambah suasana rindang halaman komplek gereja, sehingga keberadaannya perlu untuk dipertahankan. Beberapa bangunan dalam kompleks gereja berpotensi untuk dipertahankan diantaranya adalah : Rumah Koster, Bangunan gereja sementara, dan poliklinik GSS, yang masih baru dan akan dialihfungsikan jika bangunan gereja dan pastoran yang baru sudah jadi. 44 Gereja St. Maria Diangkat ke Surga, Stasi Dalem Paroki Wedi – Klaten, menjadi satu kawasan dengan SLTP Pangudi Luhur yang berlokasi dibelakang gereja ( tanah adalah milik gereja), Susteran, dan TK. Tempat parkir di SLTP Pangudi Luhur pada hari minggu dipakai untuk menampung parkir umat yang beribadah di gereja.Sehingga dari SLTP pangudi luhur dan susteran terdapat jalur masuk/sirkulasi untuk umat. Disamping itu pada halaman depan sisi kanan, terdapat lapangan bola basket SLTP pangudi Luhur, dan juga berfungsi sebagai area publik (taman bermain anak-anak kampung di sekitar Gereja pada waktu sore hari). Dengan demikian kompleks Gereja juga dapat berfungsi sebagai sarana lingkungan yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama, dalam waktu yang berbeda. Sehingga peran Gereja akan menjadi inklusif dan keberadaannya menjadi bagian dari lingkungan yang benar benar membumi. 2.7.2 Permasalahan Permasalahan utama dalam perencanaan master plan Gereja Dalem adalah mempertahankan komunitas lingkungan terbangun yang ada dan sirkulasi pengunjung.Dalam hal ini adalah hubungan dengan wilayah SLTP Pangudi Luhur, dimana parkir sekolah pada saat hari Minggu dipakai untuk parkir umat yang beribadah di Gereja Dalem. Hal berikut yang menjadi masalah adalah bagaimana mempertahankan keberadaan fisik bangunan Gerjea sementara dan poliklinik GSS, dengan memberi fungsi baru untuk kegiatan umat, pada masa yang akan datang. Gereja sementara 45 diusulkan untuk dijadikan sebagai ruang serbaguna, rapat, atau pertemuan, sekaligus untuk perluasan daya tampung umat pada saat hari raya (Natal dan Paskah) dimana jumlah pengunjung mencapai 1500 umat.Oleh karena itu perlu dipertimbangkan akses visual dari dan ke Gereja. Sedangkan untuk poliklinik GSS diusulkan untuk menjadi ruang kantor sekertariat stasi. Nilai positif dari mempertahankan Gereja sementar adan poliklinik GSS, adalah sebagai peringatan akan peristiwa gempa 27 Mei 2006, dimana umat haus beribadah di tempat yang sempit dan kurang mendukung suasana dan juga mengingatkan masyarakat umum tempat dimana mereka dirawat di poliklinik GSS, dalam kompleks Gereja Dalem. Hal berikut yang perlu dipertimbangkan adalah mempertahankan keberadaan sumur baik fungsi maupun lokasinya sebagai sumber air bersih, yang keberadaannya dikaitkan dengan fungsi-fungsi penunjang, seperti KM/WC, dapur, dan kebutuhan yang lain, baik untuk keperluan Gereja, Pastoran, maupun untuk Rumah Koster. 2.8 Program Perkembangan 2.8.1 Master plan a. Program Ruang Kebutuhan akan ruang ruang fungsional ditentukan oleh aktivitas/kegiatan yang akan ditampung. Terdapat dua fungsi utama dalam perencanaan master plan ini, yaitu fungsi Gereja dan fungsi Pastoran. 46 Fungsi Gereja : kebutuhan ruang-ruang pada fungsi Gereja adalah standar, namun dimungkinkan setiap Gereja mempunyai ciri khas sendiri. Kebutuhan ruang-ruang secara prinsip menyesuaikan dengan yang lama, yaitu : 1. Ruang Umat : Kapasitas 600-800 orang, dengan beberapa ruang pengakuan dosa yang aksesnya tidak langsung terlihat oleh umat dari ruang umat (privat). Disamping bentuk bangunannya, beberapa vegetasi juga menambah suasana rindang halaman komplek Gereja, sehingga keberadaannya perlu untuk dipertahankan. 2. Altar : Dengan ruang pendukungnya, sebagai ruang utama yang menjadi fokus visual pada saat ibadah. Penempatan Altar Sebaiknya menjadi sentral dari berbagai arah sudut pandang. 3. Ruang Sakristi : Berada di belakang Altar, untuk menyimpan peralatan ibadah dan persiapan Romo sebelum dan sesudah misa. 4. Ruang Prodiakon : Untuk mendukung persiapan prodiakon sebelum dan sesudah misa. Dapat juga digunakan sebagi ruang rapat. 47 5. Ruang Operator : Sebagai raung kontrol mekanikal dan elektrikal Gereja. 6. Gudang : Untuk menyimpan peralatan pendukung. 7. Ruang Koor : Berada di bagian depan, mudah diakses oleh petugas koor dan organis. 8. Ruang Gamelan : Untuk mewadahi Gamelan, berada di bagian depan sekitar Altar, sehingga mudah diakses oleh petugas. Posisinya setara dengan ruang koor. 9. Lavatori : Berupa KM/WC untuk umat dan mempertahankan sumur

Dokumen baru