EFEK MODEL INQUIRY TRAINING DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS FISIKA SISWA SMP.

29 

Full text

(1)

EFEK MODEL INQUIRY TRAINING DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP KETERAMPILAN

PROSES SAINS FISIKA SISWA SMP

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan

Dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan (M.Pd) Pada Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh :

TETTY OMPUSUNGGU NIM. 8146176021

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)

i ABSTRAK

Tetty Ompusunggu (NIM: 8146176021). Efek Model Inquiry Training Dan Kemampuan Berpikir Kritis Terhadap Keterampilan Proses Sains Fisika Siswa SMP. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2016.

Penelitian ini bertujuan 1) untuk mengetahui hasil keterampilan proses sains siswa yang diajarkan dengan model Inquiry Training lebih baik daripada pembelajaran konvensional, 2) untuk mengetahui hasil keterampilan proses sains siswa dengan Kemampuan berpikir kritis diatas rata-rata lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis dibawah rata-rata dan 3) untuk mengetahui interaksi antara model Inquiry Training dan pembelajaran konvensional dengan Kemampuan berpikir kritis dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain two group pretest posttest design dan desain anava. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cluster random sampling dan sampel dibagi menjadi dua kelas dimana kelas pertama sebagai kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran inquiry training dan kelas kedua sebagai kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir kritis yang berbentuk uraian serta lembar observasi keterampilan proses sains. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan anava dua jalur.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Keterampilan proses sains siswa yang diajarkan dengan model Inquiry training lebih baik dari keterampilan proses sains siswa dengan pembelajaran konvensional, Keterampilan proses sains siswa dengan kemampuan berpikir kritis diatas rata-rata lebih baik daripada keterampilan proses sains siswa dengan kemampuan berpikir kritis dibawah rata-rata, serta terdapat interaksi antara model pembelajaran inquiry training dan kemampuan berpikir kritis dalam meningkatkan keterampilan proses sains fisika siswa.

(3)

ii

ABSTRACT

TETTY OMPUSUNGGU (NIM: 8146176021). The Effect Of Inquiry Training Learning Model and Critical Thinking on Student’s Science Process Skills of Physics in Junior High School . A Thesis. Medan : Post Graduate Program State University of Medan, 2016.

The aims of this research were 1) to analyze the result of student’s Science Process Skills by using Inquiry Training Learning Model better than conventional learning, 2) to analyze the result of student’s Science Process Skills who had critical thinking ability above average better than critical thinking ability below average and 3) to analyze if there was no interaction between Inquiry training learning model and critical thinking ability of physics student’s Science Process Skills.

This research was a quasi-experimental research with two group pretest and post test design and anova design. The sample in this research was conducted by cluster random sampling of two classes, which the first class as experiment class was taught with inquiry training Learning Model, and the second class as a control class with Conventional Learning. The research instrument consisted of science process skills test and critical thinking test. Data in this research was analyzed by using two ways Anova.

The results of the research showed that: the Science Process Skills of students using inquiry training learning model better than the conventional learning, the Science Process Skills of the students who had critical thinking above average better than critical thinking below average, and there was interaction between Inquiry training learning model and critical thinking ability to improve physics sudent’s Science Process Skills.

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Biarlah semua yang hidup memuji dan memuliakan Tuhan Yesus Kristus

Sang Pencipta dan Juruselamat dunia. Oleh karena kasih, anugerah dan

penyertaan Tuhan yang begitu luar biasa sehingga penulis mampu menjalani

perkuliahan dengan baik dan hingga saat ini dapat menyelesaikan penulisan tesis

ini. Mazmur 121:2 “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi ”.

Adapun yang menjadi judul tesis ini adalah “Efek Model Pembelajaran Inquiry Training dan Kemampuan Berpikir Kritis Terhadap Keterampilan Proses Sains Fisika Siswa SMP”. Tesis ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mendapatkan Gelar Megister Pendidikan Fisika Program

Pascasarjana Universitas Negeri Medan. Dalam kesempatan ini dengan segenap

kerendahan hati penulis menghanturkan banyak terimakasih kepada:

1. Ibu Dr. Betty M. Turnip, M.Pd sebagai Pembimbing I dan Bapak Dr.

Makmur Sirait, M.Si sebagai Pembimbing II

2. Bapak Prof. Dr. Sahyar, M.S, M.M sebagai narasumber I Bapak Prof. Dr.

Nurdin Bukit, M.Si. sebagai narasumber II dan Bapak Prof. Dr. Mara

Bangun Harahap, MS sebagai narasumber III

3. Bapak Dr. Rahmatsyah, M.Si sebagai Program Studi Pendidikan Fisika

Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan (UNIMED),

4. Bapak Dr. Nurdin Siregar. M.Si dan Bapak Dr. Karya Sinulingga. M.Si

selaku validator instrumen penelitian yang telah memberikan saran dan

(5)

iv

5. Prof. Dr. Bornok Sinaga, M.Pd sebagai direktur Pascasarjana Unimed dan

Prof. Dr. Syawal Gultom, M. Si sebagai Rektor Universitas Negeri Medan

6. Seluruh Staff tata usaha Pascasarjana Universitas Negeri Medan.

7. Bapak Arifuddin S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Medan.

Teristimewa untuk keluargaku terkasih dalam nama Tuhan Yesus

“God will be with Us forever” dengan penuh hormat penulis menyampaikan

terimakasih tidak terhingga kepada Ibunda yang luar biasa Hotnauli Siburian

yang tidak pernah lelah mendoakan dan memberi semangat dan doamu selalu

berhasil membuatku menangis (Mauliate Inongku Hasian), Abangku

Parlaungan Aritonang, S.S.T.Pel dan Adekku Jamihot Aritonang (semangat

buat studinya ya dek), dan semua keluarga besar Aritonang yang telah

memberi dukungan doa baik moril maupun materil kepada penulis selama

perkuliahan sampai penyelesaian tesis ini, kiranya Tuhan semkin memberkati

setiap detik kehidupan kita.

Teman-teman seperjuangan semasa perkuliahan kelas Pendidikan

Fisika B Lylis Bahriani M.Pd, Sartika Sari Rambe M.Pd, Rizki Noveri

Pandiangan M.Pd, Yosua Nadeak M.Pd, Risdo Gultom M.Pd, Unita Sukma

M.Pd, Sari wahyuni M.Pd, Bu Yanti, Kasden Silalahi M.Pd, Narso M.Pd, Rika

Yulia M.Pd, Wita Siallagan, Bellina Siburia S.Pd, Theresya Nainggolan S.Pd,

Lammindo Pakpahan S.Pd, Bg Basten serta teman-teman pendidikan fisika

dari kelas A1 dan A2 dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu

per satu, terimakasih atas kerjasama dan semangat yang kalian berikan (kita

(6)

v

terjaga. Serta para pihak yang telah berkontribusi memberikan bantuan yang

tidak dapat penulis ucapkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih.

Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam

menyelesaikan tesis ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan

dari segi isi maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan

saran yang bersifat membangun dari pembaca demi sempurnanya tesis ini.

Kiranya tesis ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat memperkaya khasanah

ilmu pendidikan. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.

Medan, Juni 2016

Tetty Ompusunggu

(7)

vi

2.1.1. Model Pembelajaran Inquiry Training ... 12

2.1.1.1.Sintaks Model Pembelajaran Inquiry Training ... 14

2.1.1.2.Sistem sosial Model Pembelajaran Inquiry Training ... 16

2.1.1.3.Prisip Reaksi ... 17

2.1.1.4.Sistem Pendukung ... 18

2.1.2. Pembelajaran Konvensional ... 20

2.1.3. Kemampuan Berpikir Kritis ... 21

2.1.3.1.Cara Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis ... 24

2.1.4. Keterampilan Proses Sains ... 25

(8)

vii

2.1.5.1. Teori Konstruktivisme ... 29

2.1.5.2. Teori Belajar David Ausubel ... 32

2.1.5.3. Teori Belajar Perkembangan Koqnitif Piaget ... 33

2.1.6. Penelitian yang Relevan ... 33

2.2. Kerangka Konseptual ... 38

2.2.1. Keterampilan Proses Sains Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Inquiry Training Lebih Baik Dibandingkan Dengan Menggunakan Pembelajaran Konvensional ... 38

2.2.2. Keterampilan Proses Sains Siswa Yang Memiliki Kemampuan Berpikir Kritis Diatas Rata-Rata Lebih Baik Dibandingkan Dengan Keterampilan Proses Sains Siswa Yang Memiliki Kemampuan Berpikir Kritis Dibawah Rata-Rata ... 39

(9)

viii

4.1.4.3. Deskripsi Keterampilan Proses Sains Berdasarkan Kemampuan Berpikir Kritis ... 76

4.1.5 Pengujian Hipotesis ... 78

4.2 Pembahasan Hasil Peneltian ... 87

4.2.1. Keterampilan Proses Sains Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Inquiry Training Lebih Baik Dibandingkan Dengan Menggunakan Pembelajaran Konvensional ... 87

4.2.2. Keterampilan Proses Sains Siswa Yang Memiliki Kemampuan Berpikir Kritis Diatas Rata-Rata Lebih Baik Dibandingkan Dengan Keterampilan Proses Sains Siswa Yang Memiliki Kemampuan Berpikir Kritis Dibawah Rata-Rata ... 89

4.2.3. Interaksi antara model pembelajaran Inquiry Training dan Kemampuan berpikir kritis terhadap keterampilan proses sains siswa ... 91

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 93

5.1 Kesimpulan ... 93

5.2 Saran ... 94

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Sintaks Model Pembelajaran Inquiry Training ... 15

Tabel 2.2. Penelitian yang relevan ... 34

Tabel 3.1. Jadwal Penelitian ... 44

Tabel 3.2. Rancangan Desain Penelitian ... 45

Tabel 3.3. Desain Penelitan ANAVA 2x2 ... 46

Tabel 3.4. Kisi-kisi Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 50

Tabel 3.5. Deskripsi Kategori Persentase KPS ... 51

Tabel 3.6. Validitas Instrumen Kemampuan Berpikir Kritis ... 54

Tabel 3.7. Rumus Unsur Tabel Persiapan Anava Dua Jalur ... 59

Tabel 4.1. Data Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 62

Tabel 4.2. Uji Normalitas Data Pretes ... 63

Tabel 4.3. Uji Homogenitas Data Pretes ... 64

Tabel 4.4. Uji Kesamaan Rata-rata Data Pretes ... 65

Tabel 4.5. Nilai rerata pretes kategori butir soal Indikator keterampilan proses sains kelas kontrol dan kelas eksperimen ... 65

Tabel 4.6. Persentase Siswa Yang Menjawab Benar Per Indikator KPS Kelas Eksperimen Dan Kelas Kontrol (Pretes) ... 66

(11)

Tabel 4.8. Data Kelompok Kemampuan Berpikir Kritis diatas

rata-rata dan dibawah rata-rata-rata-rata Pada kelas Kontrol dan

Eksperimen ... 68

Tabel 4.9. Data Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 72

Tabel 4.10. Uji Normalitas Data Postes ... 73

Tabel 4.11. Uji Homogenitas Nilai Postes ... 73

Tabel 4.12. Nilai Rerata Postes KPS Perbutir Soal ... 74

Tabel 4.13. Persentase Siswa yang menjawab Benar Perindikator Keterampilan Proses Sains Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol (postes) ... 74

Tabel 4.14. Keterampilan Proses Sains Berdasarkan Kemampuan Berpikir Kritis ... 76

Tabel 4.15. Keterampilan Proses Sains Berdasarkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Masing-Masing Kelas ... 77

Tabel 4.16. Hasil ANAVA ... 78

Tabel 4.17. Statistik ANAVA... 79

Tabel 4.18. Hasil Perhitungan ANAVA Dua Jalur ... 79

(12)

vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Dampak-dampak Instruksional dan Pengiring dalam

Model Inquiry Training ... 19

Gambar 3.1. Tahapan Alur Kerja Penelitian ... 49

Gambar 4.1. Grafik Uji Normalitas Data Pretes ... 63

Gambar 4.2. Hasil Pretes Keterampilan Proses Sains siswa Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Tiap Indikator

... 66

Gambar 4.3. Hasil Observasi KPS Siswa Setiap Pertemuan ... 70

Gambar 4.4. Persentase Peningkatan Hasil Lembar Kerja Siswa

Setiap Pertemuan ... 71

Gambar 4.5. Hasil Postes Keterampilan Proses Sains siswa Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Tiap Indikator ... 75

Gambar 4.6. Hubungan Nilai KPS dengan Model Pembelajaran ... 76

(13)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I ... 99

Lampiran 1b Bahan Ajar Pertemuan I ... 107

Lampiran 1c. Lembar Kerja Siswa I ... 112

Lampiran 1d Evaluasi Pertemuan I ... 115

Lampiran 2a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II ... 117

Lampiran 2b Bahan Ajar Pertemuan II ... 126

Lampiran 2c Lembar Kerja Siswa II... 129

Lampiran 2d Evaluasi Pertemuan II ... 133

Lampiran 3a Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III ... 135

Lampiran 3b Bahan Ajar Pertemuan III ... 143

Lampiran 3c Lembar Kerja Siswa III ... 146

Lampiran 3d Evaluasi Pertemuan III ... 149

Lampiran 4a Instrumen Keterampilan Proses Sains ... 150

Lampiran 4b Jawaban Instrumen Keterampilan Proses Sains ... 153

Lampiran 5 Tabel Spesifikasi Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 159

Lampiran 6 Deskriptor Penilaian KPS Siswa ... 163

Lampiran 7 Data Nilai Pretes ... 164

Lampiran 8 Data Nilai Kemampuan Berpikir Kritis ... 166

Lampiran 9 Data Nilai Postes ... 168

(14)

vii

Lampiran 11 Rekapitulasi Nilai LKS Siswa ... 177

Lampiran 12 Analisis Statistik Data Pretes ... 178

Lampiran 13 Analisis Statistik Data Postes ... 181

Lampiran 14 Uji Hipotesis Dengan Anava 2 Jalur (2x2)... 184

Lampiran 15 Uji Scheffe ... 186

Lampiran 16 Dokumentasi Penelitian ... 188

Lampiran 17 Lembar Validasi KBK ... 196

Lampiran 18 Lembar Validasi KPS ... 198

Lampiran 19 Contoh jawaban Kemampuan Berpikir Kritis siswa ... 200

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu wahana untuk membentuk karakter anak

bangsa, dan dunia pendidikan juga merupakan salah satu solusi pembentukan dari

karakter tersebut, sekolah adalah lokasi penting dimana para generasi muda

Indonesia diharapkan dapat berjuang membawa negara bersaing di kancah

internasional. Seiring dengan perkembangan zaman dan kerasnya tantangan

global, persaingan dunia pendidikan pun menjadi semakin besar, hal ini yang

mendorong para siswa harus mendapatkan prestasi terbaik. Pendidikan sangatlah

penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan

bahkan akan terbelakang. Pendidikan sangat dibutuhkan kapanpun dan dimanapun

manusia berada.

Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah proses

pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung

serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik. Interaksi

atau hubungan timbal balik dalam peristiwa belajar-mengajar tidak sekedar

hubungan antara guru dengan siswa saja, tetapi berupa interaksi edukatif. Interaksi

yang menghasilkan komunikasi yang baik, efisien antara guru dan siswa. Interaksi

edukatif ini sangat dibutuhkan dalam pendidikan fisika karena pendidikan fisika

merupakan pendidikan yang mengembangkan cara berpikir yang kritis, logis, dan

kreatif dalam membentuk manusia yang handal dan mampu berkompetensi dan

bersaing secara global.

(16)

2

Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai

hasil seperti yang diharapkan. Hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai

melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit

diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Berarti pokok permasalahan

mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemprosesan pembelajaran.

IPA salah satu cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam.

IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena

alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang

dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode

ilmiah. Bidang studi sains fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA) merupakan mata pelajaran yang menarik dan lebih banyak memerlukan

pemahaman daripada penghafalan. Pengetahuan tentang fisika yang dilakukan

melalui kegiatan belajar akan menjadi landasan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan

Teknologi (IPTEK), dan pendidikan dari tingkat bawah ke tingkat berikutnya.

Proses pembelajaran fisika harus lebih menekankan pembelajaran yang

berpusat pada siswa dan proses pembelajaran fisika bukan merupakan sejumlah

informasi yang harus dihafalkan siswa, sehingga siswa dapat memperoleh

pengalaman belajar. Oleh karena itu proses pembelajaran yang seharusnya lebih

menekankan pada pentingnya belajar bermakna (meaningfull learning)

(Dahar,2011:112).

Tujuan pembelajaran sains antara lain untuk mendidik siswa untuk dapat

beradaptasi dengan kondisi yang berbeda, berpikir fleksibel, mengajukan

pertanyaan, kreatif, berpikir kritis, menghormati masyarakat, dan menghargai

(17)

3

dapat digunakan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain serta untuk

membuat keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi siswa pembelajaran fisika sering membosankan sehingga

pembelajaran sering diabaikan oleh siswa dalam belajarnya karena pembelajaran

yang berlangsung di sekolah ternyata masih sangat teoritis dan para guru kurang

menerapkan model pembelajaran yang telah dikembangkan oleh ahli pendidikan.

Hasil literasi sains anak-anak Indonesia dapat digunakan untuk menilai

implementasi sains di Indonesia. Literasi sains (scientific literacy) ditandai dengan

kerja ilmiah, dan tiga dimensi besar literasi sains yang ditetapkan oleh PISA

(Programme for International StudentAssessment), yaitu konten IPA, proses IPA,

dan konteks IPA. Tingkat literasi sains dapat dijadikan sebagai indikator bagi

kualitas pendidikan dan sumber daya manusia suatu negara. Studi literasi sains

tingkat dunia, misalnya pada PISA (Programme for International Student

Assessment) tahun 2009, Indonesia menduduki urutan ke 60 dari 65 negara, survei

Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) Prestasi sains

siswa Indonesia berada pada peringkat 35 dari 49 negara. Pada tahun 2011

Indonesia berada pada peringkat 40 dari 45 negara peserta dengan perolehan skor

406 dan masih jauh dari skor Internasional yaitu 500 (Martin, et al 2012:55). Data

dari PISA dan TIMSS menunjukkan kualitas penguasaan sains siswa Indonesia

masih rendah.

Hasil belajar siswa yang masih berada dibawah KKM yaitu dibawah 70,

belum menunjukkan hasil yang maksimal dan masih tergolong rendah, hal ini

dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:

(18)

4

bahasa dan simbol fisika yang diset dalam konteks atau soal yang jauh dari realitas sehari-hari. 2). Siswa Indonesia pada umumnya lebih suka menghafal dari pada latihan dan analisa. 3). Siswa menganggap fisika sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. 4). Metode pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan tradisional (Sudirman, 2012)

Guru merupakan faktor yang paling berpengaruh, dimana sebagian besar

guru masih menyampaikan materi pelajaran fisika menggunakan pembelajaran

konvensional, artinya pembelajaran ini berpusat pada guru sebagai penceramah

dan komunikasi berlangsung hanya searah tanpa ada respon (feedback) dari

siswa.

Hal tersebut diatas terbukti dari hasil observasi awal di sekolah SMP N 6

Medan yang menyatakan bahwa selama ini proses pembelajaran fisika ternyata

masih berfokus kepada guru sebagai sumber informasi serta yang berperan

dominan dalam setiap kegiatan proses pembelajaran sehingga siswa hanya pasif

menerima pelajaran tanpa berusaha mencari informasi pendukung untuk materi

yang akan dipelajari.

Proses pembelajaran fisika yang monoton dengan ceramah yang masih

menekankan penjelasan materi, penyelesaian soal dan penugasan tanpa mengajak

siswa untuk saling berinteraksi, dengan pembelajaran yang seperti itu

mengakibatkan kurangnya kesempatan siswa untuk berpartisipasi, pengalaman

belajar yang sedikit terutama dalam kegiatan eksperimen di laboratorium, karena

siswa jarang melakukan praktikum sehingga pada saat praktikum banyak siswa

yang masih terlihat kebingungan mengikuti prosedur percobaan pada lembar

kegiatan siswa, kurang mampu mengamati fenomena yang terjadi saat praktikum,

kurang mampu berkomunikasi dengan teman satu kelompok, dan siswa masih

(19)

5

benar. Dengan keadaan yang seperti itu sehingga menyebabkan keterampilan

proses sains siswa kurang terbentuk.

Selain itu, proses pembelajaran yang terjadi belum memaksimalkan siswa

baik fisik maupun psikisnya untuk dapat menyerap lebih banyak informasi dan

belum memperhatikan keterampilan berpikir siswa. Dalam proses pembelajaran di

kelas terlalu fokus pada sains sebagai sebuah pengetahuan saja. Siswa hanya

dipenuhi oleh berbagai pengertian konsep, hukum, prinsip dan teori tentang sains

tanpa memahami proses sains dengan benar, pengetahuan mereka hanya dalam

bentuk ingatan atau hapalan.

Permasalahan tersebut sebenarnya dapat diatasi jika guru dapat melihat

permasalahan-permasalahan di kelas dan mencari suatu pendekatan belajar yang

tepat agar materi pelajaran yang disampaikan dapat diserap dan dipahami oleh

siswa dengan baik sebab cara penyampasian materi oleh guru berperan besar

dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan keterampilan proses sains. Dalam

proses pembelajaran seorang guru berperan sebagai motivator dan fasilitator,

dimana guru harus mampu memberikan dorongan agar siswa terangsang untuk

mengembangkan keterampilan-keterampilan dan menggali potensi diri menjadi

aktif dan kreatif sehingga terjadi proses belajar mengajar yang inovatif dan

memudahkan para guru.

Salah satu inovasi pembelajaran sains adalah mengimplementasikan model

pembelajaran berorientasi inkuri. Menurut Joyce (2009:201), model pembelajaran

Inquiry Training dirancang untuk membawa siswa secara langsung ke dalam

proses ilmiah melalui latihan-latihan yang dapat memadatkan proses ilmiah

(20)

6

mengembangkan disiplin dan mengembangkan keterampilan intelektual yang

diperlukan untuk mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya

berdasarkan rasa ingin tahunya.

Model pembelajaran Inquiry Training dimulai dengan menyajikan

peristiwa yang mengandung teka-teki kepada siswa. Siswa yang menghadapi

situasi tersebut akan termotivasi menemukan jawaban masalah-masalah yang

masih menjadi teka-teki tersebut. Guru dapat menggunakan kesempatan ini untuk

mengajarkan prosedur pengkajian sesuai dengan langkah-langkah model

pembelajaran Inquiry Training. Model pengajaran inkuiri merupakan pengajaran

yang berpusat pada siswa. Dalam hal ini siswa menjadi aktif belajar. Tujuan

utama model inkuiri adalah mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir

kritis dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah (Dimyati dan Mudjiono,

2013:173)

Berpikir kritis merupakan keterampilan yang paling berharga yang dapat

diwariskan sekolah untuk lulusan mereka. Pembelajaran berpikir kritis selalu

menjadi tujuan pembelajaran bagi para guru di semua tingkat disiplin ilmu

(Thompson, 2011:1). Berpikir kritis memungkinkan siswa untuk menganalisis

pikirannya dalam menentukan pilihan dan menarik kesimpulan dengan cerdas.

Kemampuan berpikir kritis merupakan cara berpikir reflektif dan beralasan yang

difokuskan pada pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah. Dengan

demikian, proses mental ini akan memunculkan kemampuan berpikir kritis siswa

untuk dapat menguasai fisika secara mendalam.

Berpikir kritis dengan jelas menuntut interpretasi dan evaluasi terhadap

(21)

7

keterampilan dalam memikirkan asumsi-asumsi, dalam mengajukan

pertanyaan-pertanyaan yang relevan, dalam menarik implikasi-implikasi-singkatnya,

memikirkan dan memperdebatkan isu-isu secara terus menerus. (Fisher, 2001:10).

Berpikir Kritis mengidentifikasi isu-isu antar hubungan, mengidentifikasi dan

menantang asumsi, mengajukan pertanyaan strategis, dan mengembangkan

jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.

Kemampuan berpikir kritis dan keterampilan proses sains saling terkait,

jika siswa memiliki keterampilan proses sains maka siswa tersebut akan mampu

memecahkan permasalahan dengan berpikir kritis. Keterampilan proses sains

adalah keterampilan yang dibangun dari kemampuan berpikir kritis dan penemuan

dalam ilmu sains (Remziye 2011:49) menyatakan bahwa keterampilan proses

sains adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam

memahami, menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Keterampilan

proses sains memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya dengan

penggunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan. Selain itu, keterampilan proses

sains juga perlu dilatih dan dikembangkan karena keterampilan proses sains

mempunyai peranan sebagai berikut: 1) Membantu siswa mengembangkan

pikirannya, 2) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan, 3)

pengembangan fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri siswa, 4)

Membantu siswa mempelajari konsep-konsep sains. Dengan kata lain

keterampilan proses sains sangat penting ditingkatkan pada siswa.

Dari hasil penelitian Siddiqui (2013:108) yang berjudul “Inquiry

Training Model of Teaching : A Search of Learning “ menyatakan bahwa model

(22)

8

logis, mengembangkan toleransi dan ambiguitas dan ketekunan, mempromosikan

strategi penyelidikan dan penemuan, nilai-nilai dan sikap yang diperlukan untuk

bertanya, berpikir, meningkatkan keterampilan proses seperti mengamati,

mengumpulkan dan pengorganisasian data. Rajshree S (2013:1216) dengan judul

Effectiveness of Inquiry Training Model for Teaching Science” Hasil belajar dan

pengetahuan siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah diberi

perlakuan model pembelajaran inkuiri. Kegiatan pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran inkuiri mendapatkan respon yang sangat baik

dari siswa. Pandey et. al (2011:7) menyatakan bahwa mengajarkan fisika dengan

menggunakan model pembelajaran Inquiry Training lebih efektif

dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Proses pembelajaran hendaknya mengikuti perkembangan zaman terutama

perkembangan sains dan teknologi. Fasilitas yang diberikan teknologi dalam

dunia pendidikan merupakan salah satu sumber belajar yang sangat baik.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti akan melakukan penelitian dengan

judul “ Efek Model Inquiry Training Dan Kemampuan Berpikir Kritis

Terhadap Keterampilan Proses Sains Fisika Siswa SMP”

1.2.Identifikasi Masalah

1. Kemampuan siswa dalam pembelajaran fisika belum maksimal.

2. Penyampaian materi pelajaran fisika masih menggunakan pembelajaran

yang konvensional dimana pembelajaran masih berpusat pada guru

(teacher centered) sebagai informan dan komunikasi berlangsung hanya

(23)

9

3. Proses pembelajaran fisika yang masih menekankan penjelasan materi dan

penyelesaian soal.

4. Pembelajaran laboratorium yang kurang dilaksanakan

5. Pembelajaran fisika belum mengarah pada penilaian keterampilan proses

sains siswa.

6. Saat proses pembelajaran guru kurang merangsang siswa dalam menggali

kemampuan berpikir kritis siswa dalam proses sains

1.3.Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Model yang diterapkan selama pengumpulan data adalah model

pembelajaran Inquiry Training.

2. Kemampuan berpikir kritis siswa

3. Hasil yang akan diperoleh pada model pembelajaran ini adalah keterampilan

Proses Sains siswa.

1.4.Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang

masalah maka permasalahan utama pada penelitian ini adalah: “Apakah ada efek

model pembelajaran Inquiry Training dan Kemampuan berpikir kritis terhadap

keterampilan proses siswa pada materi pembelajaran suhu dan kalor?”. Rumusan

masalah ini dijabarkan menjadi pertanyaan - pertanyaan penelitian sebagai

berikut:

1. Apakah keterampilan proses sains siswa yang diajarkan dengan model

(24)

10

2. Apakah keterampilan proses sains siswa dengan Kemampuan berpikir

kritis diatas rata-rata lebih baik daripada siswa yang memiliki

kemampuan berpikir kritis dibawah rata-rata?

3. Apakah ada interaksi antara model Inquiry Training dan pembelajaran

konvensional dengan Kemampuan berpikir kritis dalam meningkatkan

keterampilan proses sains siswa?

1.5.Tujuan Penelitian

Secara khusus penelitian ini bertujuan :

1. Untuk mengetahui hasil keterampilan proses sains siswa yang

diajarkan dengan model Inquiry Training lebih baik daripada

pembelajaran konvensional.

2. Untuk mengetahui hasil keterampilan proses sains siswa dengan

Kemampuan berpikir kritis diatas rata-rata lebih baik daripada siswa

yang memiliki kemampuan berpikir kritis dibawah rata-rata.

3. Untuk mengetahui interaksi antara model Inquiry Training dan

pembelajaran konvensional dengan Kemampuan berpikir kritis dalam

meningkatkan keterampilan proses sains siswa.

1.6. Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

1. Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang efek model pembelajaran

Inquiry Training yang dapat meningkatkan Kemampuan berpikir kritis

(25)

11

2. Sebagai alternatif pilihan dan sebagai bahan pertimbangan, landasan

empiris maupun kerangka acuan bagi peneliti pendidikan yang relevan di

masa yang akan datang.

Manfaat Praktis

1. Memberikan informasi kepada sekolah tentang kelebihan model

pembelajaran Inquiry Training dan Kemampuan berpikir kritis dalam

meningkat keterampilan proses sains siswa.

2. Membantu guru dalam memperkaya penerapan model pembelajaran yang

relevan.

1.7. Defenisi Operasional

Untuk menghindari kekeliruan dan kesalahpahaman dalam pengertian

yang dikehendaki pada penelitian ini, maka dibuat definisi operasional sebagai

berikut:

1. Model pembelajaran Inquiry Training adalah upaya pengembangan para

pembelajar yang mandiri dengan menerapkan metode yang mensyaratkan

partisipasi aktif siswa dalam penelitian ilmiah (Joyce, 2003:188).

2. Berpikir kritis adalah kemampuan menginterpretasi serta aktif dan

melakukan evaluasi terhadap suatu hasil pengamatan,

mengkomunikasikan, menginformasikan dan memberikan argumentasi

(Fisher, 2001:10).

3. Keterampilan Proses Sains adalah keterampilan fisik dan mental terkait

dengan kemampuan-kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai

dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Aljaafreh, Abdul Rahim. (2013). The effect of using the Directed Inquiry Strategy On The Development Of Critical Thinking Skills And Achievement In

Physics Of The Tenth Grade Students In Shouterm Mazar. Journal of

Education and Practice. Vol.4, No.27:191-198

Arikunto, S. (2012). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Arikunto, S (2007). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Arends, R.I., (2008), Learning To Teach, Belajar Untuk Mengajar Edisi ketujuh

/jilid I, Buku Satu, Penerbit Pustaka Belajar,Yogyakarta.

Azizah, Aulia., (2012), Inquiry Training Untuk Mengembangkan Keterampilan

Meneliti Mahasiswa. Unnes Science Education Journal. ISSN

2252-6617:1-11

Bailin, S. (2002). Critical Thinking and Science Education. Kluwer Academic

Publishers. Science & Education. Volume 11:361-375.

Dahar, R. W. (2002). Teori-Teori Belajar. Jakarta. Erlangga.

Dahar,R.W.(2011). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga

Dimyati Dan Mudjiono, (2006), Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta

Djamarah, S., (2006). Startegi Belajar Mengajar, Rineka Cipta ,Jakarta.

Ennis, (1996). Critical Thinking. New Jersey: Prentice Hall, Uper Saddle river.

Facione, P. A. (2011). Critical Thingking : What Its is and Why It Counts. Measured Reasons and The California Academic Press, Millbrae, CA. ISBN 13 : 978-1-891557-07-1. Volume 13:1-28.

Fisher, A. (2001). Critical Thinking An Introduction. New York: Cambridge

University Press

Guptal, K. (2012). Validly an Reliability of California Critical Thinking Disposition Inventory (CCTDI) in Kermanshah University of Medical

Sciences. Edu R Med S 2012. Volume 1(1):6-10.

(27)

Kenya. International Journal of Academic Research in Education and Review. Vol. 2(1): 1-16

Harlen, W., Elsgeest, J. (1992). UNESCO Sourcebook for Science in the Primary

School. France. Imprimerie de la Manutention.

Hassoubah, Z.I., (2004), Developing Creative & Critical Thinking Skills,

Bandung, Yayasan Nuansa Cendikia.

John, W. J. (2001). Critical Thinking in Physical Education. Institute of Education

Singapura. Volume 18(1):83-92.

Joyce,B,Weil,M.& Calhoun,E.(2009). models of teaching (8th ed). Model-Model

Pengajaran ( Terjemahan Achmad Fawai & Ateila Mirza). Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Kanginan, Marthen. (2007). Fisika SMA Kelas X A. Jakarta: Erlangga.

Kazempour, E. (2013). The Effects Of Inquiry-Based Teaching On Critical

Thinking Of Students. Journal of Social Issues & Humanities. Nomor

2345-2633. Volume 1:23-27.

Liliasari. (2005). Membangun Keterampilan Berpikir Manusia Indonesia Melalui

Pendidikan Sains. Naskah Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Pendidikan IPA pada Fakultas PMIPA UPI : Bandung.

Martin, M.O., Mullis I.V.S., dkk. (2012). TIMSS 2011 International Results in

Science. Chestnut Hill: TIMSS & PIRLS International Study Center

McGregor, D., (2007), Developing Thinking; Developing learning. A Guide to

Thinking Skills in Education, New York, McGraw Hill Open University Press.

Muhfahroyin. (2009). Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis.

http://muhfahroyin.blogspot.com/2009/01/berpikir-kritis.html

[19http://muhfahroyin.blogspot.com/2009/01/berpikir-kritis.html. %5b19

September 2012]

Pandey A., Nanda G.K., Ranjan V. (2011). Effectiveness of Inquiry Training Model over Conventional Teaching Method on Academic Achievement of

Science Students in India. Journal of Innovative Research in Education

1(1):7-20.

Popescu, A. & Morgan, J. (2007). Teaching Information Evaluation and Critical

Thinking Skills in Physics Classes. The Physics Teacher. Volume

(28)

Rao, B. Dan Digumarti. (2008). Science Process Skill of School Student. New Delhi: Aurora Offset

Redhana, W., (2003), Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Melalui

Pembelajaran Kooperatif Dengan Strategi Pemecahan Masalah, Tesis Pada IKIP Negeri Singaraja, Tidak diterbitkan.

Remziye, (2011). The Effects Of Inquiry-Based Science Teaching On Elementary

School Students’ Science Process Skills And Science Attitudes. Bulgarian

Journal of Science and Education Policy (BJSEP), Volume 5, Number 1: 47-68

Rustaman, N.Y. (2003). Strategi Belajar Mengajar Biologi. Common Textbook

JlCA lMSTEP. Bandung: FPMTP A UPl

Sagala, Syaiful.(2011). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Sanjaya, Wina., (2008), Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis

Kompetensi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Sardiman, A. M., (2006), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Raja Grafindo

Persada, Jakarta.

Siddiqui, Mujibul Hasan. (2013). Inquiry Training Model of Teaching : A Search

of Learning. International Journal of Scientific Research. Research Paper

Vol-2 Issue-3:108-110

Sudirman, (2011), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ,

( http://zainurie.wordpress.com// 21 desember 2011)

Sudjana. (2005), Metode Statistika, Tarsito, Bandung.

Sukarno. (2013). The profile of Science Process Skill (SPS) Student at Secondary

High School (Case Study in Jambi). International Journal of Engineering an

Research (IJSER). Volume 1(1):79-83.

Susanti, A. (2014) Pembelajaran Biologi Menggunakan Inquiry Training dengan Vee Diagram dan KWL Chart Ditinjau dari Keterampilan Berpikir Kritis

dan Kemampuan Penaran Formal. JURNAL INKUIRI.

(29)

Thompson, Claudette. (2011). Critical Thinking Across the Curriculum: Process

Over Output. St Bonaventure University. Internasional Journal Of

Humanities and Social Science.Vol 1 No 9 :1-7

Trianto. (2011). Model-Model Pembelajaran Inovatif sBerorientasi

Konstruktivistik, Penerbit Prestasi Pustaka, Jakarta

Uno, Hamzah, B., (2008), Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar

Mengajar yang Aktif dan Kreatif,Jakarta : Bumi Aksara.

Vaishnav, Rajshree S. (2013). Effectiveness of Inquiry Training Model for

Teaching Science. Scholarly Research Journal For Interdisciplinary

Studies. Chirayu, K C Bajaj College of Education . Nagpur (M.S.) India. Vol-I Issue :1216-1220

Gambar

Tabel 4.8.
Tabel 4 8 . View in document p.11
Gambar 2.1.  Dampak-dampak Instruksional dan Pengiring dalam
Gambar 2 1 Dampak dampak Instruksional dan Pengiring dalam . View in document p.12
Tabel Spesifikasi Tes Kemampuan Berpikir Kritis  ..........       159
Tabel Spesifikasi Tes Kemampuan Berpikir Kritis 159 . View in document p.13

Referensi

Memperbarui...

Download now (29 pages)