HUBUNGAN PARENTING STRESS DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU KEKERASAN TERHADAP ANAK

Gratis

12
64
130
2 years ago
Preview
Full text
HUBUNGAN PARENTING STRESS DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU KEKERASAN TERHADAP ANAK SKRIPSI disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi oleh Selma Nugrahani 1511411101 JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2015 ii iii MOTTO DAN PERUNTUKAN MOTTO “Hal-hal terbaik yang dapat kita berikan pada anak, selain tingkah laku yang baik adalah kenangan yang indah" PERUNTUKAN Penulis peruntukan karya ini untuk Mama, Papa, Bude Ninil, Eyang, Satio, Inu, Santi dan keluarga besar tercinta iv KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah, dan anugerah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan Parenting Stress dengan Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak”. Bantuan, motivasi, dukungan, dan doa dari berbagai pihak membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih setulus hati kepada: 1. Prof. Dr. Fakhruddin, M.Pd, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang 2. Dr. Edy Purwanto, M.Si., Ketua Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah membimbing penulis untuk belajar selama ini. 3. Liftiah, S.Psi., M.Si., sebagai dosen pembimbing yang dengan sabar dan kebesaran hati memberikan arahan, bimbingan dan masukan yang sangat membangun selama proses penyelesaian skripsi ini. 4. Anna Undarwati, S.Psi., M.A., sebagai penguji I, yang telah memberikan masukan dan penilaian terhadap skripsi ini. 5. Andromeda, S.Psi., M.Psi., sebagai penguji II, yang juga telah memberikan saran dan penilaian kepada penulis terkait skripsi ini. 6. Dr. Sri Maryati Deliana, M.Si., sebagai dosen pembimbing akademik, yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menempuh masa studi. v 7. Seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staf di Jurusan Psikologi yang telah berkenan membagikan ilmu dan pengalaman kepada penulis. 8. Bapak dan Ibu lurah Kelurahan Bugangan, Rejosari, dan Karangtempel yang telah berkenan memberikan izin kepada penulis untuk melakukan Penelitiann di wilayahnya. 9. Mama, Papa, Bude Ninil, Eyang, Satio, Inu, Santi dan keluarga besar, yang selalu siap membantu dan memberikan doa, kasih sayang, serta dukungan baik moril maupun materil kepada penulis. 10. Ilma, Merdiah, Novi, Herlin, Ghinna, Edy, yang telah membantu penulis dalam penyebaran skala Penelitiann ini. 11. Kholiq, Bunga, Nani, Adriana, Rufik, Febri, Desti, Hana, Haiva, Aal, Dwi, Aldila, Intan, Epin, Ana yang selalu memberikan dukungan, pemikiran, dan waktu untuk mendengarkan segala keluh kesah selama pengerjaan skripsi ini. 12. Teman-teman Psikologi angkatan 2011, yang bersama-sama dengan penulis menempuh studi dalam suka maupun duka. 13. Semua pihak yang turut membantu penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Hanya do’a yang tulus yang dapat penulis panjatkan. Semoga Allah SWT membalas semua amal baik yang telah kalian berikan. Penulis berharap skripsi ini memberi manfaat dan kontribusi bagi perkembangan ilmu, khususnya psikologi. Semarang, 23 September 2015 Penulis vi ABSTRAK Nugrahani, Selma. 2015. Hubungan Parenting Stress dengan Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak. Skripsi. Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Utama: Liftiah, S.Psi, M.Si Kata Kunci: Parenting Stress, Kekerasan Anak, Pengasuhan. Orang tua merupakan pihak yang paling berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi setiap kebutuhan dasar anak baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Namun, faktanya, tidak semua orang tua sanggup untuk memenuhi kebutuhan dasar anak. Maraknya pemberitaan kekerasan anak yang dilakukan oleh orang tua beberapa tahun terakhir ini menjadi bukti bahwa tidak semua orang tua dapat memperlakukan anaknya dengan baik. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak yaitu parenting stress. Parenting stress merupakan stress yang dialami orang tua dalam mengurus anak. Parenting stress timbul ketika orang tua mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan menjadi orang tua. Oleh sebab itu maka, Penelitiann ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara parenting stress dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak. Penelitiann ini merupakan Penelitiann kuantitatif korelasional. Populasi Penelitiann ini adalah ibu yang memiliki anak usia 2-14 tahun di wilayah Kecamatan Semarang Timur. Teknik sampling yang digunakan dalam Penelitiann ini adalah teknik purposive sampling. Jumlah sampel dalam Penelitiann ini sebanyak 90 orang. Data Penelitiann diperoleh dengan menggunakan dua skala, yakni skala parenting stress dan skala kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak. Skala parenting stress terdiri dari 32 item. Skala parenting stress mempunyai koefisien validitas item antara 0,290 sampai dengan 0,732 dan koefisein reliabilitas sebesar 0,989. Sedangkan skala kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak terdiri dari 30 item dengan koefisien validitas antara 0,321 sampai dengan 0,871, dan koefisien reliabilitas sebesar 0,944. Parenting stress yang dialami ibu berada pada kategori sedang dengan aspek yang paling menonjol, yaitu aspek difficult child. Adapun kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak yang dilakukan juga berada dalam kategori sedang, Kekerasan fisik dan kekerasan psikis adalah bentuk kekerasan yang paling menonjol dibandingakan dengan bentuk kekerasan lainnya. Metode analisis menggunakan Product Moment dengan hasil koefisien korelasi ( ) = 0,818 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil Penelitiann menunjukkan bahwa parenting stress memiliki hubungan yang positif dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak. Semakin tinggi tingkat parenting stress yang dialami orang tua, maka semakin tinggi kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak,, begitu pula sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut maka, hipotesis yang menyatakan “ada hubungan positif antara parenting stress dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak” diterima. vii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i PERNYATAAN .............................................................................................. ii PENGESAHAN .............................................................................................. iii MOTTO DAN PERUNTUKKAN ................................................................ iv KATA PENGANTAR .................................................................................... v ABSTRAK..…… ............................................................................................ vii DAFTAR ISI.. ................................................................................................. viii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xv BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 11 1.3 Tujuan Penelitiann .................................................................................. 11 1 1.4. Manfaat Penelitiann ................................................................................ 12 1.4.1. Manfaat Teoretis ..................................................................................... 12 1.4.2. Manfaat Praktis ....................................................................................... 12 2. LANDASAN TEORI 2.1. Perilaku Kekerasan terhadap Anak ......................................................... 13 2.1.1 Defisi Perilaku Kekerasan terhadap Anak .............................................. 13 2.1.2 Bentuk-bentuk Perilaku Kekerasan terhadap Anak ................................ 14 2.1.3 Faktor-faktor Penyebab Perilaku Kekerasan terhadap Anak .................. 17 2.1.4 Dampak Perilaku Kekerasan terhadap Anak…………………………… 20 2.2. Parenting Stress ...................................................................................... 21 2.2.1. Definisi Parenting Stress ........................................................................ 21 2.2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Parenting Stress ............................. 22 2.2.3. Aspek-aspek Parenting Stress……… .................................................... 24 viii 2.2.4. Dampak Parenting Stress………. .......................................................... 26 2.3. Hubungan antara Parenting Stress dengan Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak…………………………............................. 26 2.4. Kerangka Berpikir Penelitiann ............................................................... 38 2.5. Hipotesis ................................................................................................. 28 3. METODE PENELITIANN 3.1. Jenis Penelitiann ..................................................................................... 29 3.2. Desain Penelitiann .................................................................................. 29 3.3. Identifikasi Variabel Penelitiann ............................................................ 29 3.4. Definisi Operasional ............................................................................... 30 3.5. Populasi dan Sampel Penelitiann ............................................................ 31 3.5.1. Populasi .................................................................................................. 31 3.5.2. Sampel Penelitiann ................................................................................. 32 3.6. Metode dan Alat Pengumpul Data .......................................................... 34 3.6.1. Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak ..................... 34 3.6.2. Skala Parenting Stress ............................................................................ 36 3.7. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ....................................................... 37 3.7.1. Validitas .................................................................................................. 37 3.7.1.1 Hasil Uji Coba Validitas Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak………………………………………………………. 39 3.7.1.2 Hasil Uji Coba Validitas Skala Parenting Stress… ............................ 42 3.7.2. Reliabilitas .............................................................................................. 43 3.7.2.1 Hasil Uji Coba Reliabilitas Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak……………………………………………. 44 3.7.2.2 Hasil Uji Coba Reliabilitas Skala Parenting Stress…………………. 44 3.8. Metode Analisis Data ............................................................................. 44 4. HASIL PENELITIANN DAN PEMBAHASAN 4.1. Persiapan Penelitiann .............................................................................. 46 4.1.1. Orientasi Kancah Penelitiann ................................................................. 46 4.1.2. Penentuan Subjek Penelitiann................................................................. 47 4.1.3. Perijinan Penelitiann… ........................................................................... 48 4.1.4. Penyusunan Instrumen… ........................................................................ 49 ix 4.2. Pelaksanaan Penelitiann.......................................................................... 50 4.2.1. Pengumpulan Data .................................................................................. 50 4.2.2. Pelaksanaan Skoring ............................................................................... 51 4.3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitiann .................... 52 4.3.1. Hasil Uji Validitas .................................................................................. 52 4.3.1.1. Hasil Uji Validitas Skala Parenting Stress… .................................... 52 4.3.1.2. Hasil Uji Validitas Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak… ................................................................................ 52 4.3.2. Hasil Uji Reliabilitas............................................................................... 53 4.3.2.1. Hasil Uji Reliabilitas Skala Parenting Stress .................................... 53 4.3.2.2. Hasil Uji Reliabilitas Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak……………………………………………………… 53 4.4. Gambaran Subjek Penelitiann................................................................. 54 4.4.1. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Usia ................................... 54 4.4.2. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Pekerjaan ........................... 54 4.4.3. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Tingkat Pendidikan ........... 55 4.4.4. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Usia Saat Menikah.. .......... 55 4.4.5. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Jumlah Anak.. ................... 56 4.5. Hasil Penelitiann ..................................................................................... 56 4.5.1. Deskripsi Hasil Penelitiann..................................................................... 56 4.5.1.1. Gambaran Umum Parenting Stress ................................................... 57 4.5.1.2. Gambaran Spesifik Parenting Stress Berdasarkan Aspek Parental Distress………………………………………………………… 59 4.5.1.3. Gambaran Spesifik Parenting Stress Berdasarkan Aspek Difficult Child………………………………………………………………... 61 4.5.1.4. Gambaran Spesifik Parenting Stress Berdasarkan Aspek ParentChild Dysfunctional Interaction…………………………………… 63 4.5.1.5. Gambaran Umum Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak………………………………………………………………… 67 4.5.1.6. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Fisik……………………………….. 69 x 4.5.1.7. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Psikis……………………………… 71 4.5.1.8. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Seksual…………………………….. 73 4.5.1.9. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek…………………………………………………. 76 4.5.2. Hasil Uji Normalitas……… ................................................................... 79 4.5.3. Hasil Uji Linearitas.. ............................................................................... 80 4.5.4. Hasil Uji Hipotesis.................................................................................. 81 4.6. Pembahasan ............................................................................................ 83 4.7. Keterbatasan Penelitiann… .................................................................... 88 5. PENUTUP 5.1. Simpulan ................................................................................................. 89 5.2. Saran .................................................................................................. 90 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 91 LAMPIRAN .................................................................................................. 95 xi DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.1. Jumlah Kasus Kekerasan di Indonesia Periode 2011-2014 .................... 4 1.2. Sebaran Wilayah Kasus Kekerasan di Kota Semarang Tahun 2014.. .... 6 1.3. Kasus Kekerasan terhadap Anak di Kota Semarang Tahun 2014.. ........ 6 3.2. Blueprint Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak . 35 3.2. Blueprint Skala Parenting Stress ........................................................ 37 3.2. Hasil Uji Coba Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan teradap Anak40 3.2. Blueprint Skala Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Setelah Uji Coba ........................................................................... 41 3.2. Hasil Uji Coba Skala Parenting Stress ............................................... 42 3.2. Blueprint Skala Parenting Stress Setelah Uji Coba............................ 43 3.2. Interpretasi Reliabilitas ....................................................................... 44 4.1. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Usia ................................... 54 4.2. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Pekerjaan ........................... 54 4.3. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Tingkat Pendidikan.. ......... 55 4.4. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Usia Saat Menikah.. .......... 55 4.5. Gambaran Subjek Penelitiann Berdasarkan Jumlah Anak… ................. 56 4.6. Pengkategorisasian Berdasarkan Mean Teoritik.. .................................. 56 4.7. Statistik Deskriptif Parenting Stress… .................................................. 58 4.8. Gambaran Umum Parenting Stress ........................................................ 59 4.9. Statistik Deskriptif Parenting Stress Berdasarkan Aspek Parental Distress……………………………………………………………… 66 4.10. Gambaran Parenting Stress Berdasarkan Aspek Parental Distress ....... 60 4.11. Statistik Deskriptif Parenting Stress Berdasarkan Aspek Difficult Child 62 4.12. Gambaran Parenting Stress Berdasarkan Aspek Difficult Child............ 63 4.13. Statistik Deskriptif Parenting Stress Berdasarkan Aspek Parent-Child Dysfunctional Interaction…………………………………………………… 64 4.14. Gambaran Parenting Stress Berdasarkan Aspek Parent-Child Dysfunctional Interaction………………………………………………… 65 xii 4.15. Ringkasan Gambaran Parenting Stress Secara Spesifik Berdasarkan Tiap Aspek…………………………………………………………… 66 4.16. Mean dalam Persen Tiap Aspek Parenting Stress .................................. 66 4.17. Statistik Deskriptif Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak 67 4.18. Gambaran Umum Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak . 68 4.19. Statistik Deskriptif Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Fisik ...................................................... 69 4.20. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Fisik…………………………………... 70 4.21. Deskriptif Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Psikis ..................................................... 72 4.22. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Psikis….. ............................................... 73 4.23. Deskriptif Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Seksual .................................................. 74 4.24. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Seksual… .............................................. 75 4.25. Deskriptif Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Penelantaran Anak .................................................. 76 4.26. Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Penelantaran Anak……….. .................................... 77 4.27. Ringkasan Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Secara Spesifik Berdasarkan Tiap Aspek ..................................... 78 4.28. Hasil Uji Normalitas .............................................................................. 79 4.29. Hasil Uji Linieritas ................................................................................. 80 4.30. Hasil Uji Hipotesis.................................................................................. 81 4.31. Interpretasi terhadap Koefisien Korelasi ................................................ 82 4.32. Hasil Perhitungan R Squared….. ............................................................ 83 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1. Kerangka Berpikir Penelitiann ............................................................... 28 4.1. Diagram Gambaran Umum Parenting Stress ......................................... 59 4.2. Diagram Parenting Stress Berdasarkan Aspek Parental Distress ......... 61 4.3. Diagram Parenting Stress Berdasarkan Aspek Difficult Child .............. 63 4.4. Diagram Parenting Stress Berdasarkan Aspek Parent-Child Dysfunctional Interaction…………………………………………… 65 4.5. Diagram Ringkasan Gambaran Parenting Stress ................................... 66 4.6. Diagram Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak ................ 69 4.7. Diagram Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Fisik………………………………. 71 4.8. Diagram Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Psikis………………………………. 73 4.9. Diagram Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Kekerasan Seksual………………………………. 75 4.10. Diagram Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Aspek Penelantaran Anak………………………………. 78 4.11. Diagram Ringkasan Gambaran Kecenderungan Perilaku Kekerasan terhadap Anak................................................................................... 78 xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Hasil Uji Coba Validitas dan Reliabilitas Skala ........................................ 96 2. Skala Penelitiann ........................................................................................ 111 3. Tabulasi Skala Penelitan ............................................................................ 120 4. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Penelitiann ............................... 128 5. Statistik Deskriptif ..................................................................................... 139 6. Hasil Uji Normalitas .................................................................................. 151 7. Hasil Uji Linieritas ..................................................................................... 153 8. Hasil Uji Hipotesis ..................................................................................... 154 9. Surat Keterangan Selesai Penelitiann......................................................... 155 xv BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa anak-anak merupakan fase terpenting, karena pada masa ini anak mengalami berbagai macam hal yang akan mempengaruhi kehidupannya di masa dewasa. Para tokoh psikologi menyebutkan bahwa masa anak-anak adalah masa belajar. Seseorang di masa dewasa merupakan hasil dari proses belajar di masa anak-anak. Dalam masa anak-anak inilah, seseorang mulai belajar mengenai banyak hal, seperti; benar-salah suatu hal, sebab-akibat, belajar memahami diri sendiri dan juga belajar bersosialisasi dengan orang tua, teman serta masyarakat di lingkungan sekitarnya. Lingkungan, khususnya lingkungan keluarga, harus bisa menjadi lingkungan yang nyaman dan aman bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Menurut Locke, anak merupakan pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan (Hastuti, 2012: 7). Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian seorang anak, sebab di dalam keluargalah seorang anak dilahirkan dan dididik hingga dewasa. Meier (2004: 35), menyebutkan bahwa seorang anak akan berkembang menjadi orang dewasa yang matang dan bahagia, baik secara emosi maupun fisik, jika berada di dalam keluarga yang sehat secara mental, yaitu, keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar anak seperti; 1 2 kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang dan kebutuhan akan harga diri. Anak merupakan makhluk yang membutuhkan perlindungan, kasih sayang dan pemeliharaan dari orang-orang di sekitarnya. Seorang anak tidak mungkin mampu untuk mengurus dan mengasuh dirinya sendiri (Geldard & Davin, 2011: 80). Anak membutuhkan orang dewasa, terutama orang tua, sebagai sosok yang dapat menyayangi, mengasuh dan memberikan rasa aman bagi dirinya. Orang tua merupakan pihak yang paling berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Orang tua berkewajiban dalam memenuhi setiap kebutuhan dasar anak hingga anak dapat tumbuh secara sehat dan wajar (Huraerah, 2012: 38). Kebutuhan dasar anak tidak hanya mencakup kebutuhan fisik semata, melainkan juga kebutuhan psikis. Menurut Suharto (1997: 363), dalam menjamin pertumbuhan fisiknya, anak membutuhkan makanan yang bergizi, sanitasi, pakaian, dan perawatan kesehatan. Sedangkan dalam menjamin perkembangan psikis dan sosialnya, anak membutuhkan kasih sayang, pemeliharaan, perlindungan, pemahaman, aktualisasi diri dan pengembangan intelektual. Muhidin (1997: 3) mengemukakan bahwa kebutuhan dasar yang sangat penting bagi anak adalah adanya hubungan orang tua dan anak yang sehat, dimana kebutuhan anak seperti; perhatian dan kasih sayang yang kontinu, perlindungan, dorongan dan pemeliharaan dapat dipenuhi oleh orang tua. Sedangkan Knowles (1970: 15) mengatakan bahwa, terdapat enam kebutuhan dasar bagi anak yang harus diperhatikan yaitu; kebutuhan fisik, kebutuhan tumbuh, kebutuhan akan rasa 3 aman, kebutuhan kasih sayang, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan untuk terlibat dalam pengalaman baru yang positif. Seorang anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal jika semua kebutuhan dasar anak, baik fisik maupun psikis dapat terpenuhi. Hal ini merupakan tugas utama para orang tua sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam memenuhi setiap kebutuhan anak. Namun, pada kenyataannya, tidak semua orang tua sanggup untuk memenuhi kebutuhan dasar anak. Maraknya pemberitaan kekerasan anak yang dilakukan oleh orang tua beberapa tahun terakhir, menjadi bukti bahwa tidak semua orang tua dapat memperlakukan anaknya dengan baik. Beberapa orang tua, bahkan tega melukai dan membunuh anaknya sendiri. Data dari U.S Departement of Health and Human Services menyebutkan bahwa, di Amerika Serikat, sekitar 869.000 anak-anak menjadi korban kekerasan dan 84% di antaranya disiksa oleh orang tua mereka sendiri (Santrock, 2007: 171). Pelaku kekerasan terhadap anak merupakan orang-orang terdekat dari anak itu sendiri, yaitu orang tua mereka, dimana seharusnya orang tua menjadi pihak yang berkewajiban dalam mengasuh, memelihara, mendidik serta melindungi anak. Orang tua yang seharusnya menjadi sosok yang menyayangi dan memberikan perlindungan pada anak, justru menjadi sosok yang mengerikan di mata anak. Kasus kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, namun, juga terjadi di beberapa negara lain, temasuk di Indonesia. Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Indonesia, baik kekerasan fisik, psikis, seksual maupun penelantaran mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari 4 tahun ke tahun. Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), selama tahun 2011 tercatat ada 664 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan pada tahun 2012, jumlahnya meningkat sebesar 60% menjadi 1056 kasus. Peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap anak juga terjadi di tahun 2013. Jumlah kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2013 diketahui sebanyak 1192 kasus. Jumlah ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 13% dari jumlah kasus pada tahun sebelumnya. Begitu pula dengan hal yang terjadi pada tahun 2014. Pada tahun 2014 jumlah kasus kekerasan terhadap anak bahkan mecapai hingga 1697 kasus. Tabel 1.1 Jumlah Kasus Kekerasan terhadap anak di Indonesia Periode 2011 - 2014 No Klaster / Bidang Tahun 2011 2012 2013 2014 Jumlah 1 Kekerasan Fisik 126 110 291 492 1019 2 Kekerasan Psikis 49 27 127 291 494 3 Kekerasan Seksual 329 746 590 671 2336 4 Penelantaran dan Eksploitasi 160 173 184 243 760 Total 664 1056 1192 1697 4609 Sumber: Komisi Perlindungan Anak Indonesia Bidang Data Informasi dan Pengaduan (2014) Hasil monitoring dan evaluasi KPAI di 9 provinsi menunjukkan bahwa, 91% anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarganya. Selain itu, berdasarkan hasil tersebut juga diketahui bahwa ibu lebih sering melakukan perilaku kekerasan terhadap anak dibandingkan ayah, yakni dengan presentase sebesar 60%. Hal ini sangat ironis, mengingat sosok ibu merupakan pihak yang 5 paling penting dalam pengasuhan seorang anak. Seorang ibu seharusnya menjadi pembimbing, pendidik dan guru di rumah bagi anak-anaknya (Sukmana, 1995: 5) Menurut undang-undang perlindungan anak nomor 23 tahun 2002, perilaku kekerasan terhadap anak adalah perbuatan semena-mena yang dilakukan kepada anak, baik secara fisik, psikis, seksual, dan penelantaran oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung pada seorang anak. Sedangkan menurut Huraerah (2012:47), perilaku kekerasan terhadap anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui desakan, hasrat, hukuman fisik yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual yang biasanya dilakukan para orang tua atau pihak yang seharusnya merawat anak. Kota Semarang merupakan wilayah yang memiliki angka kekerasan paling tinggi di daerah Jawa Tengah. Berdasarkan laporan tahunan PPT Seruni periode 2014, diketahui bahwa jumlah kasus kekerasan di Kota Semarang tercatat sebanyak 244 kasus, yang terdiri dari kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 169 kasus, kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 67 kasus, dan anak berkonflik dengan hukum sebanyak 8 kasus. Kasus kekerasan tersebut tersebar di seluruh kecamatan di wilayah kota Semarang. Jumlah kasus tertinggi terjadi di wilayah Kecamatan Semarang Timur, dimana kekerasan yang dilaporkan sebanyak 34 kasus kekerasan. 6 Tabel 1.2 Sebaran Wilayah Kasus Kekerasan di Kota Semarang Tahun 2014 No Kecamatan Jumlah Kasus 1 Semarang Timur 34 2 Banyumanik 31 3 Pedurungan 26 4 Semarang Utara 21 5 Tembalang 20 6 Semarang Barat 20 7 Candisari 17 8 Ngaliyan 14 9 Gayamsari 13 10 Gunungpati 11 11 Semarang Selatan 10 12 Gajahmungkur 9 13 Genuk 8 14 Semarang Tengah 5 15 Mijen 4 16 Tugurejo 1 Jumlah Total 244 Sumber: Laporan Tahunan PPT Seruni Periode 2014 Kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan di wilayah Semarang tercatat sebanyak 67 kasus. Adapun jenis kasus kekerasan terhadap anak yakni 39 kasus kekerasan seksual, 13 kasus kekerasan fisik, 10 kasus kekerasan psikis, dan 5 kasus penelantaran anak. Tabel 1.3 Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Kota Semarang Tahun 2014 No 1 2 3 4 Jenis Kasus Jumlah Kekerasan Seksual 39 Kekerasan Fisik 13 Kekerasan Psikis 10 Penelantaran 5 Jumlah Total 67 Sumber: Laporan Tahunan PPT Seruni Periode 2014 7 Berdasarkan laporan PPT Seruni kota Semarang tahun 2014, jumlah kasus kekerasan seksual pada anak adalah 39 kasus. Kasus kekerasan yang terjadi antara lain pelecehan seksual dimana anak dipertontonkan film porno, pencabulan atau tindakan yang mengarah pada aktivitas seksual, hingga perkosaan pada anak. Usia yang paling banyak menjadi korban yakni usia 7-12 tahun. Pelaku kekerasan seksual terhadap anak merupakan orang-orang yang dikenal korban. Dalam kasus kekerasan tersebut bahkan terdapat kasus inses dimana pelakunya merupakan ayah kandung dari korban sendiri. Selain kasus kekerasan seksual, ada pula kasus kekerasan fisik. Anak yang menjadi korban kasus kekerasan fisik sejumlah 13 orang, dimana pelaku kekerasan tersebut merupakan orang tua, tetangga, guru dan teman sesama anak. Sedangkan kasus kekerasan psikis yang terjadi sejumlah 10 kasus dengan pelaku kekerasan adalah orang tua dari korban. Kasus penelantaran anak pada tahun 2014 juga kerap terjadi di wilayah kota Semarang. Anak yang menjadi korban penelantaran orang tua sejumlah 5 anak, dimana dalam kasus ini anak diajak mengemis oleh orang tuanya dan tidak diberi nafkah. Nunik, salah satu pengurus PPT Seruni Kota Semarang, menyebutkan bahwa, beberapa latar belakang kasus kekerasan terhadap anak di antaranya karena kenakalan anak, persoalan keluarga dan status ekonomi. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap perilaku kekerasan anak antara lain: immaturitas/ketidakmatangan orang tua, kurangnya pengetahuan bagaimana menjadi orang tua, harapan yang tidak realistis terhadap kemampuan dan perilaku 8 anak, isolasi sosial, gangguan jiwa pada orang tua, serta pengalaman negatif orang tua di masa lampau. Sekecil apapun bentuk kekerasan terhadap anak berdampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan anak. Dampak kekerasan terhadap anak berupa dampak fisik dan dampak psikologis. Huraerah (2012: 56), menyebutkan bahwa dampak fisik yang dialami oleh korban kekerasan terhadap anak antara lain: luka memar, luka gores, luka bakar, kerusakan otak, cacat permanen, hingga kematian. Sedangkan dampak psikologis pada pada anak korban kekerasan bisa menetap seumur hidup, seperti: rasa harga diri yang rendah, ketidakmampuan berhubungan dengan teman sebaya, masa perhatian tereduksi, gangguan belajar, depresi, kecemasan yang berlebihan, gangguan identitas disosiatif, dan bertambahnya resiko bunuh diri. Salah satu faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua adalah parenting stress. Beberapa studi menunjukkan bahwa ada hubungan antara parenting stress dengan potensi untuk penganiayaan anak dan variasi yang ekstrim dalam tingkah laku parenting yang maladaptif (Ahern, 2004: 617). Parenting merupakan serangkaian interaksi antara orang tua dengan anak, yang memberikan perubahan kepada kedua belah pihak (Brooks, 1999: 7). Parenting meliputi aktivitas yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan anak oleh orang tua. Menurut Gunarsa, (2006: 298), parenting dapat menimbulkan kesulitan tersendiri bagi orang tua, khususnya ibu, yang merupakan figur utama dalam proses parenting. 9 Parenting Stress didefinisikan oleh Abidin sebagai kecemasan dan ketegangan berlebihan yang secara khusus terkait dengan peran orang tua dan interaksi orang tua dengan anak (Ahern, 2004: 615). Parenting stress merupakan bentuk proses yang mengakibatkan reaksi psikologis dan fisiologis yang tidak baik yang berasal dari keharusan untuk memenuhi kewajiban sebagai orang tua (Deckard, 2004: 6). Menurut Anthony (2005: 134), parenting stress adalah stress yang timbul ketika orang tua mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan menjadi orang tua yang mempengaruhi perilaku, kesejahteraan, penyesuaian diri terhadap anak. Peneliti melakukan Penelitiann awal dengan memberikan kuesioner terbuka kepada 30 ibu di wilayah Kecamatan Semarang Timur. Berdasarkan hasil kuesioner tersebut, diketahui bahwa 23 dari 30 ibu (77%) pernah mengalami kesulitan dalam mengurus anak. Hal yang membuat mereka merasa kesulitan dalam mengurus anak antara lain karena karena kebutuhan anak yang terbilang banyak, perilaku anak yang terlalu aktif dalam keseharian, anak yang rewel, anak yang susah diatur dan anak yang terlalu manja. Sebagian besar orang tua menganggap masa anak-anak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia yang sulit (Harlock, 1980: 108). Tekanan-tekanan yang orang tua rasakan akibat kegiatan mengasuh, mengakibatkan para orang tua cenderung memperlakukan anak dengan kata-kata kasar (termasuk cemooh) dan orang tua cenderung menanamkan disiplin dalam diri anak dengan melakukan tindakan kekerasan pada anak (Gunarsa, 2006: 297). Penelitiann yang dilakukan atas 241 ibu di Kenya menunjukkan bahwa khususnya mereka yang masih berusia 10 relatif muda cenderung menggunakan ancaman verbal pada anak-anak ketika anak dianggap bertindak kurang kooperatif (Gunarsa, 2006: 298). Hasil wawancara dengan narasumber di wilayah Kecamatan Semarang Timur menyebutkan bahwa ada beberapa situasi yang menyulitkan orang tua dalam menghadapi anak sehingga, tanpa disadari mereka mengatakan atau melakukan sesuatu yang dapat membahayakan atau melukai anak mereka sendiri. “Kadang Saya merasa jengkel dengan anak saya.. jika diberi tahu tidak pernah nurut.. mintanya macem-macem, semua harus dituruti, kalau tidak pasti menangis..” (Wawancara; Jumat, 27 Februari 2015) “Kalau sudah tidak tahu harus bagaimana lagi ya biasanya terpaksa saya pukul atau saya bentak.. Kadang saya juga ngga tega tapi ya mau gimana lagi.. harus seperti itu baru mereka (anak-anak) nurut.” (Wawancara; Minggu, 1 Maret 2015) Mengasuh anak merupakan suatu pekerjaan berat yang membutuhkan penyesuaian dan sering menimbulkan stress (Deckard, 2004: 2). Seberapapun besarnya keinginan pasangan untuk memiliki anak, dan seberapapun cukupnya perhatian yang mereka rencanakan untuk kehadiran anak, mereka akan tetap mengalami stress (Brooks, 1999: 7). Menurut Bird dan Melville (1994: 334), ketika anak lahir, orang tua dihadapkan dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan bagaimana mereka harus mengurus anak. Stress dialami oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, stress mengasuh anak atau parenting stress memiliki kekhasan tersendiri (Gunarsa, 2006: 305). Parenting menjadi sebuah pengalaman yang memunculkan stress bagi kebanyakan orang tua, bagaimanapun keadaan lingkungan di sekitarnya. Menurut Button,et al sekalipun stress pengasuhan cenderung lebih 11 tinggi pada orang tua yang menangani anak-anak bermasalah namun, pada hakikatnya bagi para orang tua, apa pun jenis kelamin anaknya, berapapun usia anaknya, stress pengasuhan relatif tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (Gunarsa, 2006: 309). Beberapa orang di antaranya bahkan telah terlatih dan memiliki persiapan dalam menghadapi pengalaman mereka saat melahirkan serta membesarkan anak namun, hal itu tidak membuat orang merasa cukup mampu menjadi orang tua (Bird & Melville, 1994: 335). Parenting stress yang tinggi ditemukan memiliki hubungan dengan gaya parenting yang kurang kooperatif, kurang sensitif, dan lebih intrusive (Ahern, 2004: 615). Orang tua yang merasa letih karena menghadapi kebutuhan keluarga yang tidak ada habisnya, terutama yang berkaitan dengan anak, dapat kehilangan antusiasme mereka dalam parenting. Selain itu, menurut Gunarsa (2006: 301), orang tua yang sedang dalam kondisi stress, dalam hal ini stress mengasuh anak maka, intensitasnya dalam menunjukkan emosi cenderung lebih tinggi. Orang tua dengan tingkat parenting stress yang tinggi cenderung menunjukkan perilaku amarah yang lebih intens daripada mereka yang memiliki tingkat parenting stress yang rendah. Perilaku amarah yang ditunjukkan tersebut cenderung mengarah pada tindakan kekerasan terhadap anak. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Hasket (2006: 302) menyebutkan bahwa parenting stress cenderung meningkatkan tingkat kekerasan terhadap anak dan kelalaian orang tua. Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti hubungan parenting stress dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak. Penelitiann ini penting untuk dilakukan mengingat banyaknya kasus 12 kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua, dimana orang tua merupakan pihak yang paling berpengaruh pada perkembangan anak. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah yang diangkat dalam Penelitiann ini adalah: “Apakah ada hubungan antara parenting stress dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak?” 1.3 Tujuan Penelitiann Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dari Penelitiann ini yaitu, untuk mengetahui hubungan antara parenting stress dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak. 1.4 Manfaat Penelitiann 1.4.1 Manfaat Teoretis Penelitiann ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan tentang perilaku kekerasan terhadap anak, khususnya hubungan antara parenting stress dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak. Selain itu, hasil dari Penelitiann yang ada nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi PenelitiannPenelitiann selanjutnya. 1.4.2 Manfaat Praktis Setelah mengetahui hubungan parenting stress dengan kecenderungan perilaku kekerasan terhadap anak, diharapkan masyarakat khususnya pembaca untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak. BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perilaku Kekerasan terhadap Anak 2.1.1 Definisi Perilaku Kekerasan terhadap Anak Berdasarkan Undang-undang perlindungan anak nomor 23 tahun 2002, perilaku kekerasan terhadap anak didefinisikan sebagai perbuatan semena-mena yang dilakukan kepada anak, baik secara fisik, psikis, seksual, dan penelantaran oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung pada seorang anak. Sedangkan menurut Tursilarini (2005: 245), kekerasan terhadap anak merupakan peristiwa perlukaan fisik, mental dan seksual yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, yang diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan serta kesejahteraan anak. World Health Organization (2002: 59) menyebutkan bahwa, perilaku kekerasan terhadap anak adalah semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, pelalaian, eksploitasi komersial atau eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera atau kerugian nyata maupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak, atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan. Selain itu, U.S. Departement of Health, Education and Welfare, mendefinisikan perilaku kekerasan terhadap anak sebagai 13 14 segala bentuk kekerasan fisik, mental, seksual, dan penelantaran terhadap seorang anak yang dilakukan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, sehingga kesehatan atau kesejahteraan anak tersebut terancam (Sukamto, 2000: 13). Dari uraian definisi-definisi para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku kekerasan terhadap anak adalah perlakuan menyakiti baik secara fisik, psikis, seksual maupun penelantaran terhadap anak, yang dilakukan oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab dalam merawat anak. 2.1.2 Bentuk-bentuk Perilaku Kekerasan terhadap Anak Pengelompokkan bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak berbeda-beda setiap ahli. Hal tersebut didasarkan pada latar belakang ahli yang mengemukakannya. Namun, secara umum bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dapat dikategorikan ke dalam empat bentuk, yakni; kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran. Menurut Santrock (2007: 173), meskipun bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak bisa ditemukan secara terpisah, namun bentuk kekerasan tersebut lebih sering terjadi dalam kombinasi, misalnya kekerasan psikis yang hampir selalu ada ketika bentuk kekerasan lain terjadi. 1) Kekerasan fisik Kekerasan fisik terhadap anak merupakan segala bentuk perlakuan yang menyebabkan luka atau cedera fisik pada anak. Kekerasan fisik diartikan sebagai sebuah tindakan kelalaian orang yang menimbulkan bahaya secara fisik, termasuk kematian pada anak (Diana, 1998: 39). Menurut Huraerah 15 (2012: 47), kekerasan fisik adalah penyiksaan, pemukulan, dan penganiayaan terhadap anak, dengan atau tanpa menggunakan benda-benda tertentu, yang menimbulkan luka-luka fisik atau kematian pada anak. Kekerasan fisik dicirikan oleh terjadinya cedera fisik karena pemukulan, penendangan, penggigitan, pembakaran, atau pembahayaan anak lainnya (Santrock, 2007). Perilaku yang termasuk dalam kekerasan fisik terhadap anak antara lain memukul (tanpa menggunakan benda maupun dengan menggunakan benda seperti; benda tajam, benda tumpul maupun benda panas) , mencubit, menendang, mencakar, menikam, menyiram, menjewer, menampar dan mencekik anak (World Health Organization, 2002: 60). 2) Kekerasan Psikis Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat (Diana, 1998: 39). Perilaku kekerasan terhadap anak secara psikis, meliputi; penghardikan, pemberian ancaman, penyampaian kata-kata kasar maupun kata-kata kotor, mencemooh, serta memanggil anak dengan nama julukan. Gejala fisik dari kekerasan psikis seringkali tidak sejelas gejala pada kekerasan lainnya. Penampilan anak pada umumnya tidak memperlihatkan derajat penderitaan yang dialaminya. Cara berpakaian, keadaan gizi dan keadaan fisik dapat memadai namun, ekspresi wajah, gerak-gerik, bahasa badan, dapat mengungkapkan perasaan sedih, keraguan diri, kebingungan, kecemasan, ketakutan, atau adanya marah yang terpendam (Putri, 2012: 11). Bagian penting dari kekerasan psikis yakni 16 menunjukkan dampak psikologis yang bersifat menetap dan terus menerus (Santrock, 2007: 173). 3) Kekerasan Seksual Wolrd Health Organization (2002: 60) mendefinisikan kekerasan seksual pada anak sebagai pelibatan anak dalam kegiatan seksual, pada saat ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, atau tidak mampu memberi persetujuan. Kekerasan seksual meliputi mempermainkan alat kelamin anak, hubungan seksual, inses, pemerkosaan, sodomi, ekshibisionisme, dan eksploitasi komersial melalui pelacuran atau produksi materi pornografi (Santrock, 2007: 172). Menurut Huraerah (2012: 48), perilaku kekerasan terhadap anak secara seksual dapat berupa perlakuan pra-kontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar (melalui kata, sentuhan, gambar visual, ekshibisionis), maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incest, perkosaan, eksploitasi seksual). Selain itu, Putri (2012: 7), membagi bentuk kekerasan seksual menjadi dua, yaitu kekerasan seksual ringan dan kekerasan seksual berat. Kekerasan seksual ringan berupa pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti; meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, pemaksaan hubungan seksual serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa mual/jijik, terror, terhina dan merasa dikendalikan. Sedangkan kekerasan seksual ringan berupa pelecehan seksual secara verbal dan non verbal, seperti; komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan, ekspresi wajah, gerakan tubuh ataupun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual. 17 4) Penelantaran anak Penelantaran anak dicirikan oleh kegagalan dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Penelantaran bisa berupa penelantaran fisik, pendidikan, atau emosional. Penelantaran fisik meliputi penolakan atau penundaan dalam mencari perawatan kesehatan, peninggalan, pengusiran dari rumah atau penolakan terhadap kembalinya anak yang minggat, dan pengawasan yang kurang memadai. Penelantaran pendidikan mencakup pembiaran tidak peduli pada urusan pendidikan anak, tidak mendafarkan anak usia sekolah ke sekolah, dan tidak memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Penelantaran emosional mencakup tindakan seperti tidak adanya perhatian terhadap kebutuhan anak, penolakan atau ketidakmampuan untuk memberikan kepedulian psikologis yang perlu, kurangnya pengawasan dan pembiaran penggunaan alkohol, rokok dan obat-obatan oleh anak (Santrock, 2007: 172). 2.1.3 Faktor Penyebab Perilaku Kekerasan terhadap Anak Huraerah (2012: 52) mengemukakan bahwa perilaku kekerasan terhadap anak terjadi karena berbagai faktor, antara lain: 1) Pewarisan Kekerasan Antar Generasi (intergenerational transmission of violence) Perilaku kekerasan diwarisi (transmitted) dari generasi ke generasi. Banyak anak belajar perilaku kekerasan dari orangtuanya dan ketika tumbuh menjadi dewasa, mereka melakuakan tindakan kekerasan kepada anaknya. Studi-studi menunjukkan bahwa 30% anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan menjadi orang tua yang bertindak keras kepada anak-anaknya. 18 2) Stres Sosial (social stres) Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup: pengangguran (unemployment), penyakit (illness), kondisi perumahan buruk (poor housing conditions), ukuran keluarga besar dari rata-rata (a larger than average family size), kelahiran bayi baru (the presence of a new baby), orang cacat (disabled person) di rumah, dan kematian (the death) seorang anggota keluarga. Sebagian besar kasus dilaporkan tentang tindakan kekerasan terhadap anak berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Tindakan kekerasan terhadap anak juga terjadi dalam keluarga kelas menengah dan kaya, tetapi tindakan yang dilaporkan lebih banyak di antara keluarga miskin. Beberapa orang tua yang kurang matang secara psikologis juga meningkatkan resiko kekerasan terhadap anak. Hal itu disebabkan karena mereka memiliki anak hanya atas dasar tuntutan sosial, sehingga tidak siap menerima kehadiaran anak. Faktor tertentu dari anak-anak, seperti; anak yang mengalami kelahiran prematur, anak yang mengalami sakit sehingga mendatangkan masalah, adanya proses kehamilan atau kelahiran yang sulit, kehadiran anak yang tidak dikehendaki, anak yang mengalami cacat baik mental maupun fisik, anak yang sulit diatur sikapnya dan anak yang meminta perhatian khusus juga meningkatkan stres dari orang tua dan meningkatkan resiko tindak kekerasan. Selain itu, keluarga yang memiliki banyak anak juga menjadi faktor penyebab perilaku kekerasan terhadap anak. Keluarga yang memiliki banyak anak tentu 19 akan kesulitan dalam pengasuhan apalagi jika jarak kelahiran antar anak terlalu dekat. Kondisi inila

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pnegaruh kepuasan pernikahan terhadap parenting stress:studi pada Ibu dengan anak usia2-5 tahun
7
22
165
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU KENAKALAN REMAJA Hubungan Antara Konformitas dengan Kecenderungan Perilaku Kenakalan Remaja.
2
12
15
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING Hubungan Antara Kelekatan Tidak Aman Dengan Kecenderungan Perilaku Bullying.
0
1
16
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TIDAK AMAN DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING Hubungan Antara Kelekatan Tidak Aman Dengan Kecenderungan Perilaku Bullying.
0
2
14
HUBUNGAN ANTARA STRESS AKADEMIK DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU MEROKOK PADA MAHASISWI Hubungan Antara Stress Akademik Dengan Kecenderungan Perilaku Merokok Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Surakarta.
0
6
15
HUBUNGAN ANTARA STRESS AKADEMIK DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU MEROKOK PADA MAHASISWI Hubungan Antara Stress Akademik Dengan Kecenderungan Perilaku Merokok Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Surakarta.
0
3
17
PENDAHULUAN Hubungan Antara Stress Akademik Dengan Kecenderungan Perilaku Merokok Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Surakarta.
0
2
11
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING Hubungan Antara Konformitas Dengan Kecenderungan Perilaku Bullying.
0
2
16
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING Hubungan Antara Konformitas Dengan Kecenderungan Perilaku Bullying.
0
1
18
HUBUNGAN ANTARA DEPRESI DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Hubungan Antara Depresi Dengan Kecenderungan Perilaku Merokok Pada Remaja.
0
1
12
HUBUNGAN PAPARAN KEKERASAN DENGAN PERILAKU Hubungan Paparan Kekerasan Dengan Perilaku Bullying Di Sekolah Dasar.
0
1
16
HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP PERILAKU PERMISIF SEKSUAL DENGAN KECENDERUNGAN Hubungan Antara Sikap Terhadap Perilaku Permisif Seksual dengan Kecenderungan Voyeurisme pada Remaja.
0
0
8
hubungan adegan kekerasan komedi pesbukers dengan perilaku agresif anak.
0
0
2
HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU KEKERASAN VERBAL PADA ANAK
0
1
7
HUBUNGAN PARENTING STRESS, PENGASUHAN DAN PENYESUAIAN DALAM KELUARGA TERHADAP PERILAKU KEKERASAN ANAK DALAM RUMAH TANGGA Kinanti Ayu Ratnasari, Kuntoro Departemen Biostatistika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga E-mail :
0
0
11
Show more