Tinjuan Yuridis Upaya Hukum Yang Dilakukan Debitur Terhadap Penarikan Benda-Benda Bergerak Yang Ditarik Paksa Oleh Leasing/ Kreditur

 24  139  115  2017-01-18 05:19:22 Laporkan dokumen yang dilanggar

TINJUAN YURIDIS UPAYA HUKUM YANG DILAKUKAN DEBITUR TERHADAP PENARIKAN BENDA-BENDA BERGERAK YANG DITARIK PAKSA OLEHLEASING/ KREDITUR

SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh : HAROLD MARNANGKOK MARBUNGARAN MAHARA MANURUNG NIM: 080200385 DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN/ BW FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012 TINJUAN YURIDIS UPAYA HUKUM YANG DILAKUKAN DEBITUR TERHADAP PENARIKAN BENDA-BENDA BERGERAK YANG

DITARIK PAKSA OLEHLEASING/ KREDITUR

HAROLD MARNANGKOK MARBUNGARAN MAHARA MANURUNG

  SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat-SyaratUntuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh : NIM: 080200385 Disetujui OlehKetua Departemen Hukum Perdata (Dr. M.

SH, MH.) NIP. 195008081980021001 NIP. 19582021988031004

  Akan tetapi hasrat dan ketergiuran masyarakat ini kadang tidak dibarengi dengan kemampuan finansial ataupun pemikiran yang panjang tentang sumberpembayaran cicilan di kemudian hari dengan mempertimbangkan pendapatan, kebutuhan yang terus meningkat, dan pengeluaran dari Debitur. Metode yang penulis pergunakan dalam penulisan skripsi ini ada dua macam metode yakni, tinjauan kepustakaan (Library Research) dilakuakn untuk mengumpulkan buku-buku yang berkaitan langsung dengan judul skripsiyang penulis buat dan penelitian lapangan (Field Research), dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data dan bahan-bahan serta informasi tentang perjanjian Leasing serta untuk mengetahui dimana diatur leasing tersebut dalam KUHPerdata.

KATA PENGANTAR

  Penulis telah berusaha mengerahkan segala kemampuan dan ilmu pengetahuan yang penulis dapatkan selama perkuliahan di Fakultas HukumUniversitas Sumatera Utara dalam menyelesaikan skripsi ini. Tetapi penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan jauhn darikesempurnaan, untuk itu penulis mohon saran dan kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

1. Bapak Prof. DR. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Dekan di Fakultas

  Hum selaku Pembantu Dekan III di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan sekaligus sebagai Dosen Pembimbing II penulis yang telah banyak memberikan saran, motivasi dan koreksi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini 5. Dharma Bhakti Nasution, SE, SH, MH sebagai Ketua BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) Kota Medan yang telah menyambut prnulis dengan hangat dan membantu penulis dalam memperolehketerangan mengenai penyelesaian sengketa Konsumen dalam perjanjian leasing yang ditangani BPSK dan memberikan makalah-makalah BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) sebagai sumber pustaka untuk menyelesaikan skripsi ini.

10. Buat seseorang yang istimewa di hati penulis Yosephine Monica Sriulina

  Teman-teman dan sahabat seangkatan penulis (2008) di kampus yang telah menjadi teman yang baik dan lucu bagi penulis baik di dalam dan di luarkampus: (Sefira, Sere, Ewik, Zola, Dedi,Kebo, Dll) 13. Sahabat-sahabat dan abang-abang SC PRM, khususnya sahabat-sahabat dan abang-abang yang terkumpul dalam “Mess Squad” terima kasih telah mengisihari-hari penulis dan menjadi sahabat yang luar biasa baik di dalam maupun di 15.

17. K’ Yeti yang telah banyak membantu penulis mengedit dan memeriksa penulisan skripsi ini

  Akan tetapi hasrat dan ketergiuran masyarakat ini kadang tidak dibarengi dengan kemampuan finansial ataupun pemikiran yang panjang tentang sumberpembayaran cicilan di kemudian hari dengan mempertimbangkan pendapatan, kebutuhan yang terus meningkat, dan pengeluaran dari Debitur. Metode yang penulis pergunakan dalam penulisan skripsi ini ada dua macam metode yakni, tinjauan kepustakaan (Library Research) dilakuakn untuk mengumpulkan buku-buku yang berkaitan langsung dengan judul skripsiyang penulis buat dan penelitian lapangan (Field Research), dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data dan bahan-bahan serta informasi tentang perjanjian Leasing serta untuk mengetahui dimana diatur leasing tersebut dalam KUHPerdata.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara hukum pada prinsipnya mengakui bahwa

  Tapi mengingat usaha leasing ini sebenarnya tidak lain daripada perjanjian sewa- menyewa berarti tidak terlepas dari buku III KUHPerdata seperti yang disebutkan 1 pada Pasal 1319 KUHPerdata yang berbunyi :“Semua persetujuan, baik yang memiliki suatu nama khusus, maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan-peraturan umum, yang termuat dalam bab-bab ini dan bab-bab yang lalu”. Diterimanya leasing sebagai suatu alternatif pembiayaan di Indonesia berawal dari adanya sistem terbuka (open system) yang dianut oleh KUHPerdata,seperti yang dituangkan pada Pasal 1338 (1) KUHPerdata, yang menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang 3 bagi mereka yang membuatnya .

Pasal 13 38 Kitab Undang-undang Hukum Perdata

  Untuk mengetahui perjanjian leasing sebagai lembaga pembiayaan dan kaitannya dengan Kitab Undang-undang Hukum Perdata Untuk mengetahui dan mengatasi sengketa penarikan benda-benda bergerak yang dialami Debitur pada khususnya maupun masyarakatdan Konsumen pada umumnya c. Untuk mengetahui peranan BPSK (Badan Penyelesaian SengketaKonsumen) dalam menyelesaikan sengketa antara Konsumen dan Lessor/ Pelaku Usaha, serta sanksi apa yang diberikan BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) terhadap Lessor/ Pelaku Usaha yang melakukan perbuatan melawan hukum dengan melakukanpenarikan paksa terhadap benda-benda bergerak.

2. Manfaat penulisan

  Secara umum manfaat penulisan skripsi ini dapat dilihat dari dua sudut yakni secara teoritis dan praktisManfaat penelitian ini adalah : 1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam membuat kontrak-kontrak atau perjanjian leasing yang dibuat oleh parapihak.

2. Dilihat dari segi praktis

  Penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan bagi masyarakat khususnya pelaku bisnis baik itu perusahaan leasing,perusahaan asuransi, suplier dan pelaku usaha lain. Penelitian ini dapat dipakai sebagai tambahan referensi bagi mahasiswa maupun pihak lain yang memerlukan informasimengenai perjanjian leasing khususnya.

D. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi ini berjudul “ Tinjauan yuridis upaya hukum yang dilakukan debitur terhadap penarikan benda-benda bergerak yang ditarik paksaoleh leasing /kreditur”, yang pada prinsipnya atau pada dasarnya melihat perjanjian leasing sebagai lembaga pembiayaan dan kaitannya denganKUHPerdata, keuntungan dan kerugian dalam menggunakan perjanjian leasing, penyebab putusnya perjanjian leasing yang disebabkan karena wan prestasi dan force majeure, dan akibat hukum dari timbulnya perjanjian leasing yang terdiri dari perjanjian yang dapat dibatalkan serta perjanjian yang batal demi hukum yang diperoleh dari perpustakaan, dari media massa baik cetak maupunelektronika. Selanjutnya dari penelusuran ke perpustakaan umum Universitas Sumatera Utara dan perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara belum ada yang menyangkut judul tersebut dalam suatu penulisan skripsi.

E. Tinjauan Kepustakaan

  Di dalam pokok pembahasan ini akan dijadikan lebih lanjut mengenai hal- hal yang berkaitan dengan tinjauan yuridis upaya hukum yang dilakukan krediturterhadap penarikan benda-benda bergerak yang ditarik paksa oleh leasing/ kreditur dalam perjanjian fidusia. Dalam bentuk ini pada akhir kontrak leasing mempunyai hak pilih untuk memberi barang modal sesuai dengan nilai sisa yang disepakati ataumengembalikan barang modal kepada lessor atau memperjanjang kontrak sewa-menyewa.

2. Biayanya lebih murah

  3. Leasing dikaji dari hukum perdata berdasarkan asas kebebasan berkontrak maka perjanjian leasing seharusnya dirumuskan oleh ke dua belah pihak yang memutuskan lessor dan lesse, tapi dalam praktek ternyata perjanjian leasing(lease agreement) bentuknya dalam kontrak baku yang merumuskan adalah lessor.

F. Metode Penulisan

  Adapun metode pengumpulan data serta analisa data yang penulis pergunakan dalam penulisan ilmiah untuk skripsi ini adalah: Bahan atau materi penulisan 1. Dalam metode penelitian kepustakaan ini penulis mengumpulkan data- data berdasarkan sumber-sumber kepustakaan atau bacaan dari buku-buku, pendapat sarjana, Undang-undang serta bahan-bahan yang bersifat teoritis.

2. Field research (Penelitian lapangan)

  Melalui penelitian lapangan dan melalui instansi terkait yang berkenaan dengan ketentuan mengenai leasing Alat pengumpul data Alat pengumpul data yang dipakai adalah dengan cara: 1. Jalannya penelitian, dimana penulis langsung mengadakan wawancara pihak terkait yang sedang terkait perjanjian leasing 2.

G. Sistematika Penulisan

  1169/ 1991 tentang kegiatan usaha leasing, yang dimaksud leasing atau sewa guna usaha adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dan hak opsi (finance lease) atau hak guna usaha tanpa opsi ( operating lease)untuk digunakan oleh leasing selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala ( Pasal 1 huruf a KEPMENKEU Nomor 1169 / 4 1991). 30/Kpb/1974 tanggal 7Februari 1974, menyebutkan bahwa leasing itu adalah : “ Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untukdigunakan oleh suatu perusahaan tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan Hak Plih (opsi) bagi perusahaan tersebut untukmemberi barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama “.

5 Herwastoeti, Aspek Yuridis Dalam Perjanjian Leasing dan Akibat Hukumnya Dalam Hal Terjadinya Wanprestasi, Malang: Laporan Penelitian Universitas Muhammadiyah Maklang

  Dasar Hukum Leasing Seperti yang kita ketahui pengaturan leasing dalam hal ini masih sangat sederhana,dan pelaksanaan sehari-hari didasarkan kepada kebijaksanaan yangtidak bertentangan dengan Surat Keputusan Menteri yang ada. Sumber hukum yang lebih luas dan mendalam yang melandasi dan mendasari kegiatan leasing dewasa ini diIndonesia antara lain : 7 Munir Fuadi Hukum Tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktek, (Bandung:penerbitPT. Citra Aditya Bakti, 1999), hal 98 Y.

1. Umum (General) a

  Asas concordantie hukum berdasarkan pasal II aturan peralihan Undang-Undang Dasar 1945 pasca amandemen atas hukum perdata yang berlaku bagi penduduk eropab. Pasal ini memberikan kebebasan kepada semua pihak untuk memilih isi pokok perjanjian mereka sepanjang hal ini tidakbetentangan dengan Undang-Undang,kepentingan atau kebijaksanaan umum.

Pasal 15 48 sampai 1580 KUHPerdata(Buku III sampai dengan Buku IV)

  yang berisikan ketentuan mengenai sewa-menyewa sepanjang tidak ada dilakukan penyimpangan oleh para pihak. Pasal ini membahas hak dankewajiban lessee.

2. Khusus a

  Yahya Harahap dalam bukunya “Ruang Lingkup permasalahan Eksekusi Bidang Perdata”, memberikanpengertian sebagai berikut : “Eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara, merupakan aturan Secara umum eksekusi merupakan pelaksanaan atau keputusan pengadilan atau akta, maka pengambilan pelunasan kewajiban kreditur melalui hasilpenjualan benda-benda tertentu milik debitur. Tetapi untuk menjamin kepastian hukum bagi kreditur maka dibuat akta yang dibuat oleh notaris dan didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia.

9 Jaminan Fidusia

  Mungkin karena kekosongan hukum atau hukum yang tidak selalu secepat10 Pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Saat ini banyak lembaga pembiayaan melakukan eksekusi pada objek barang yang dibebani jaminan fidusia yang tidak didaftarkan. Dalam proses eksekusi kita mengetahui bahwa asas perjanjian “pacta sun servanda” yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh pihak-pihak yang bersepakat, akan menjadi undang-undang bagi keduanya (diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata), tetap berlaku dan menjadi asas utama dalam hukum perjanjian.

C. Pengertian

  Secara umum definisi Debt collector adalah pihak ketiga yang menghubungkan antara kreditur dan debitur dalam hal penagihan kredit,Penagihan tersebut hanya dapat dilakukan apabila kualitas tagihan kartu kredit dimaksud telah termasuk dalam kategori kolektibilitas diragukan atau macetberdasarkan kolektibilitas yang digunakan oleh industri kartu kredit di Indonesia. Penerbit wajib menjamin bahwa penagihan oleh pihak lain tersebut, selain wajib dilakukan dengan memperhatikan ketentuan pada angka 1, jugawajib dilakukan dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum.”Jika penunggak ini tetap tidak mampu melunasi tagihan kartunya, debt collector yang diperintah oleh bank penerbit kartu kredit akan mengambil sejumlah barang baik bergerak maupun tidak bergerak sebagai jaminan.

1. Mengarah ke Pidana

  Di sisi lain debt collector sebagai utusan bank dan lembaga- Masalahnya, belum ada batasan dan aturan yang jelas tentang tata cara penagihan oleh seorang debt collector . Yang lebih ironis, ketika konsumen meminta penyelesaianlangsung lewat manajemen bank dan lembaga-lembaga pembiayaan yang bersangkutan, justru ditolak dengan alasan persoalan tersebut telah dilimpahkan 11 kepada pihak ketiga, yang dalam hal ini adalah debt collector.

11 Undang-Undang Nomor 8 Tahun1999 Tentang Perlindungan Konsumen

2. Penyelesaian secara patut

  Penyelesaian kredit macet seharusnya lebih terfokus pada pihak bank dan lembaga pembiayaan seperti leasing beserta konsumen yang bersangkutan secaralangsung karena pada waktu aplikasi kedua pihak tersebut yang bertindak sebagai subyek hukum. Peraturan dari Bank Indonesia ini diharapkan juga dapat diberlakukan secara konsisten kepada lembaga-lembaga pembiayaan lain, dalam hal ini jugatermasuk tidak mudah mengeluarkan perjanjian leasing tanpa melakukan peninjauan (survey) yang mendalam terhadap calon debitur.

13 Ibid

BAB II I TINJAUAN UMUM TENTANG PENARIKAN BENDA-BENDA BERGERAK YANG DITARIK PAKSA OLEH LEASING/KREDITUR A. Jenis- Jenis Leasing Pada prinsipnya ada 2 macam prototipe leasing, yaitu leasing yang

  berbentuk operating dan leasing yang berbentuk financial. Namun demikian terdapat juga berbagai bentuk lainnya yang lebih merupakan derivasi dari keduabentuk pokok tersebut.

1. Operating lease

  Biasanya operating lease dikhususkan untuk barang-barang yang mudah terjual setelah pemakaian (yang laku di pasar barang bekas)e. Biasanya kontrak leasing dapat dibatalkan sepihak oleh lessee, dengan mengembalikan barang yang bersangkutan kepada lessor.

2. Financial Lease Financial lease ini sering disebut juga dengan capital lease atau full-payout

  Harga sewa yang dibayar per bulan oleh lessee dapat dengan jumlahnya yang tetap, maupun dengan cara berubah-ubah sesuai dengan suku bungapinjaman f. Biasanya bentuk sale and lease back inimengambil bentuk financial lease, oleh karena lessor dari semula memang tidak berkeinginan memiliki barang tersebut, sehingga,bentuk sale and lease back ini mirip dengan hutang untuk suatu keperluan tertentu dengan bayaran cicilan di mana barang tersebutdipergunakan sebagai jaminan hutang.

2. Direct lease

  Biasanya leveraged lease ini dilakukan terhadap barang-barangyang mempunyai nilai tinggi, di mana pihak lessor hanya membiayai antara 20% sampai 40% dari pembelian barang, sedangkan selebihnyaakan dibiayai oleh pihak ketiga, yang merupakan hasil pinjaman lessor dari pihak ketiga tersebut dengan memakai kontrak leasing yangbersangkutan sebagai jaminan hutangnya. Pihak ketiga ini sering disebut dengan Credit Provider atau Debt Participant, biasanya dalam Leveraged Lease ini terdapat juga seorang yang disebut lesse, dan mengatur hubungan dan negosiasi antara lessor dan debt participant.

11. Wrap Lease

  Yang dimaksud dengan straight payble lease adalah leasing yang cicilannya dibayar oleh lessee kepada pihak lessor tiap bulannya dandengan jumlah cicilan yang selalu sama. Sementara itu, yang dimaksud dengan seasonal lease adalah leasing yang metode pembayarancicilannya oleh lessee kepada lessor dilakukan setiap periode tertentu.

B. Upaya Hukum yang dilakukan Debitur Terhadap Penarikan Benda- Benda Bergerak Menurut Ketentuan Undang-undang

Untuk memperjuangkan hak-haknya dan memperoleh kepastian hukum di dalam permasalahan penarikan paksa yang dialami oleh debitur, debitur dapatmelakukan upaya-upaya hukum yaitu:

1. Melakukan gugatan ke Pengadilan Umum Perdata

  Di dalam suatu sengketa perdata sekurang-kurangnya terdapat 2 (Dua) pihak, yaitu pihak Penggugat yang mengajukan gugatan yang dalam kasussengketa Konsumen dapat berupa Konsumen yang dirugikan tersebut maupun pihak Kreditur dan pihak Tergugat (bisa Konsumen atau Kreditur). Adapun perbedaan diantara keduanyayaitu bahwa dalam perkara gugatan ada suatu sengketa yang harus diselesaikan oleh Pengadilan yang diakhiri dengan sebuah putusan, sedangkan dalam perkarayang disebut permohonan, disini tidak ada sengketa dan diakhiri dengan sebuah penetapan Hakim.

2. Mengadukan ke BPSK

  BPSK dalam hal ini diwakilkan oleh Hakim-hakim BPSK bertindak sebagai negoisiator yang menjadi penengah bagi Konsumen dan Kreditur untuk Keempat, apabila proses Negoisasi tidak menemukan kesepakatan maka kedua belah pihak yang bersengketa diminta untuk memilih menyelesaikan persoalan tersebut melalui jalur Mediasi (Non-Litigasi) atau melalui jalurArbitrase . Jika kedua belah pihak memilih menyelesaikan sengketa mereka melalui jalur Mediasi maka Hakim-hakim BPSK bertindak sebagai Mediator dalampersoalan tersebut dan akan memediasi kedua belah pihak untuk mendapatkan“win-win solution” yang berarti keputusan yang diambil merupakan kesepakatan bersama yang paling menguntungkan bagi kedua belah pihak tanpa ada istilah“win or lose ( kalah atau menang )” seperti dalam penyelesaian sengketa melalui jalur Litigasi (Pengadilan).

18 Pembangunan Nasional)

  Mengenai pembuktian yang mana di dalamnya terdapat proses pengajuan bukti-bukti yang dibebankan kepada Kreditur atau Pelaku Usaha maka tidakmenutup kesempatan kepada Konsumen untuk mengajukan bukti-bukti untuk mendukung pengaduannya yang dilampirkan bersama dengan Pengaduan yangdibuat secara tertulis pada saat proses Pengaduan pertama sekali. Keputusan yangdikeluarkan BPSK sifatnya adalah final dan mengikat, artinya keputusan BPSK merupakan keputusan yang pertama dan terakhir dalam penyelesaian sengketakonsumen dan harus dipatuhi oleh kedua belah pihak yang bersengeta.

19 Undang-undang No. 30 tahun 99 tentang Penyelesaian Sengketa Alternatif

  Kedelapan, apabila para pihak (Konsumen atau Debitur) masih merasa tidak mendapatkan keadilan sesuai dengan apa yang diinginkan maka para pihak yang terkait (Konsumen atau Debitur) dapat mengajukan keberatan di tingkatberikutnya yaitu di Mahkamah Agung. Jangka waktu yang tegas dan mempunyai batasan yang diatur jelas untukPenyelesaian sengketa Konsumen di dalam BPSK merupakan salah satu keunggulan Penyelesaian sengketa Konsumen melalui BPSK dibandingkan bilaKonsumen menempuh penyelesaian sengketa melalaui jalur Pengadilan Umum.

1. Biaya lebih murah

  Dari mekanisme pengajuan keberatan yang diuraikan diatas maka diketahui bahwa proses penyelesaian sengketa Konsumen melalui BPSK sampai upaya Kenyataan ini jelas merupakan waktu yang relatif singkat dan cepat dibandingkan bila Konsumen memilih menyelesaikan masalahnya melaluiPengadilan Umum yang bisa memakan waktu bertahun-tahun tanpa ada ketentuan yang jelas mengatur tentang jangka waktunya. Kepastian Hukum yang dikeluarkan BPSK final dan mengikat serta tidak memerlukan proses yang berlarut-larut.

4. Hukum acara yang digunakan di BPSK bersifat semi formal

BPSK sebagai lembaga penyelesaian sengketa Konsumen tidak hanya mengedepankan penyelesaian sengketa melalui cara Arbitrase, tetapi HakimBPSK saat memanggil para pihak (Konsumen dan Kreditur) yang bersengketa untuk bertemu terlebih dahulu menyarankan para pihak untuk melakukanproses negoisasi untuk mencari sepakat dan mufakat terhadap sengketa yang Pemberlakuan penyelesaian sengketa didalam BPSK yang mengedepankan cara Negoisasi dan Mediasi menggambarkan bahwa BPSK mengutamakanperdamaian antara kedua belah pihak yang bersengketa untuk mencari kesepakatan bersama dan keputusan yang paling menguntungkan bagi keduabelah pihak dibanding bila penyelesaian sengketa ditempuh melalui cara Arbitrase yang menyebabkan adanya pihak yang kalah (win or lose). Keunikan didalam hukum acara BPSK ini menyebabkan para pihak maupunHakim BPSK tidak perlu memakai hukum acara formal seperti didalamPengadilan Umum, fakta ini dapat dilihat dari pakaian hakim BPSK yang tidak memakai jas hakim tetapi memakai pakaian yang rapi, maupun ruangpersidangan BPSK yang relatif santai dan penuh suasana kekeluargaan yang tidak memberikan kesan para pihak (Konsumen atau Kreditur) takut karenameja Hakim berdiri sama tinggi dengan meja Konsumen dan Kreditur yang bersengekata.

5. Keputusan BPSK bersifat “win win solution” bukan “win or lose”

  Penarikan paksa termasuk rana hukum pidana yang tidak terdapat sesuai ketentuan Hukum Perdata Jaminan fidusia yang tidak dibuatkan sertifikat jaminan fidusia menimbulkan akibat hukum yang komplek dan beresiko. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan dirinya atau orang lain dengan melawan hukum, memaksa orang dengan kekerasan atau denganancaman kekerasan supaya orang itu memberikan suatu barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain,atau supaya orang itu membuat utang atau menghapuskan piutang, dipidana karena pemerasan dengan pidana penjara selama-lamanya 9 (sembilan) tahun.

2. Ketentuan pasal 365 ayat kedua, ketiga, dan keempat berlaku bagi kejahatan

  Situasi ini dapat terjadi jika kreditur dalam eksekusi melakukan pemaksaan dan mengambil barang secara sepihak, padahal diketahui dalam barangtersebut sebagian atau seluruhnya milik orang lain. Walaupun juga diketahui bahwa sebagian dari barang tersebut adalah milik kreditur yang maumengeksekusi tetapi tidak didaftarkan dalam di kantor fidusia.

Pasal 36 5 Kitab Undang-undang Hukum Pidana

  Mungkin saja debitur yang mengalihkan barang objekjaminan fidusia di laporkan atas tuduhan penggelapan sesuai Pasal 372KUHPidana menandaskan: Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan oranglain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda 24 paling banyak sembilan ratus rupiah. Peradilan perdata dan juru sita pengadilan sebagai aparat negara yang mempunyai kewenangan untuk melakukan penyitaan terhadap bendabergerak sesuai Undang-undang Proses peradilan perdata merupakan suatu aktifitas penegakan hukum yang bertujuan untuk mencari dan menemukan kebenaran formil.

Pasal 18 65 Kitab Undang-undang Hukum Perdata

  Seseorang pemilik barang bergerak yang berada ditangan orang lain, karena tidak maumengembalikan barang tersebut secara sukarela, maka pemilik tersebut dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri dalam daerah mana Cara-cara penyitaannya sama dengan yang telah diterangkan pada bagian Executie beslag tersebut di atas. Apabila gugat dikabulkan, sita conservatoir akan dinyatakan sah dan berharga dan dalam rangka eksekusi barang-barang tersebut akan diserahkan secaranyata kepada penggugat atau dalam hal yang digugat adalah sejumlah uang, barang-barang tersebut akan dilelang cukup untuk memenuhi putusan,termasuk biaya perkara, sedangkan apabila gugat ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima, sita conservatoir akan diperintahkan untuk diangkat.

2. Dalam rangka eksekusi, kedua sita tersebut akan secara otomatis berubah

30 menjadi sita eksekusi. 29 Retnowulan Sutantio, Jurusita, Tugas dan Tanggung jawabnya, Proyek PembinaanTeknis Yustisial Mahkamah Agung RI, MARI, Jakarta, tahun 1993, hal 1630 Ibid

BAB IV A. Perjanjian Leasing Sebagai Lembaga Pembiayaan Dan Kaitannya Dengan Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pada umumnya masyarakat lebih dekat dan akrab dengan lembaga

  Di Amerika Serikat, leasing dalam arti modern ini pertama31 Munir Fuady, Hukum Tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktek, (Bandung:penerbit PT. Citra Aditya Bakti, 1999), hal 12 32 Serikat yang beroperasi di bidang leasing kereta api. Eksistensi pranata hukum leasing di Indonesia baru terjadi di awal dasawarsa 1970-an, dan baru diatur untuk pertama kali dalam perundangan RI ditahun 1974, Beberapa peraturan di 1974 itu merupakan tonggak sejarah perkembangan hukum tentang leasing di Indonesia.

B. Keuntungan dan Kerugian Dalam Menggunakan Perjanjian Leasing

  Namun demikian, apabila ditimbang-timbang, leasing banyakmanfaatnya dan kelebihannya yang tidak dapat dikover oleh jenis-jenis pembiayaan lainnya. Adapun yang merupakan kelebihan-kelebihan leasing bila dibandingkan dengan metode-metode pembayaran lainnya, terutama dengan kredit bank, dapatdisebutkan sebagai berikut : 1.

2. Ongkos yang Relatif Murah

  Karena sifatnya yang relatif sederhana, maka untuk dapat ditandatangani kontrak dan direalisasi suatu leasing relatif tidak memerluka memerlukanongkos/biaya yang besar, yang biasanya dalam praktek semua biaya tersebut diakumulasikan ke dalam satu paket. Satu dan lain hal diakibatkan karena selama sengketa terjadi, barang leasing berada dalam keadaan status quo(setelah adanya sita revindikator misalnya), yang seperti barang leasing tersebut tetap dikuasai dan dipergunakan oleh lessee.

C. Hak-hak Debitur yang harus dilindungi oleh hukum terhadap penarikan benda-benda bergerak

Hak-Hak Konsumen Indonesia sesuai Pasal 4 Undang-undang No. 8/ 1999 meliputi :

a. Hak Kenyamanan, Keselamatan dan Keamanan

  Hak InformasiBisa dipenuhi dengan cara antara lain, melalui diskripsi (penjelasan) barang menyangkut harga dan kualitas atau kandungan barang dan tidak hanyaterbatas informasi pada satu jenis produk, tetapi juga informasi beberapa merek untuk produk sejenis, dengan demikian konsumen bisamembandingkan antara satu merk dengan merk lain untuk produk sejenis. Hak Untuk Mendapat PendidikanDefinisi dasar hak ini adalah konsumen harus berpendidikan secukupnya, dapat dilakukan baik melalui kurikulum dalam pendidikan formal maupunmelalui pendidikan informal yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan konsumen.

g. Hak Untuk Tidak Diperlakukan Diskriminatif

  Bentuk ganti rugi dapat berupa: Pengembalian uang -Penggantian barang dan atau jasa yang sejenis atau setara nilainya Perawatan kesehatan dan atau pemberian santunan (pasal 19 Ayat (2) UUPK) i. 42 tahun 1999 Undang – undang Jaminan Fidusia sebagai roh dan dasar hukum mengenai perjanjian fidusia di Indonesia dalam setiap pasal-pasalnya tidak ada mengaturmengenai tindakan penarikan paksa sebagai tindakan yang dapat dilakukan olehDebitur dalam mengeksekusi benda bergerak (yang menjadi objek jaminan fidusia).

35 Wawancara dengan Ketua BPSK, Bapak H.M. Dharma Bakti Nasution, SE, SH, MH pada tanggal 3 April 2012 di Kantor BPSK Medan

  Bunyi dan makna dari pasal 30 Undang – undang Jaminan Fidusia jelas menggambarkan bahwa tidak ada mengatur dan memperbolehkan benda bergerakyang menjadi objek jaminan fidusia diambil dan direbut secara paksa oleh penerima fidusia atau lessor. Penulis memperhatikan dalam ayat ini dinyatakan bahwa pemberi fidusia wajib menyerahkan benda bergerak yang menjadi objek jaminan fidusia.

E. Penyelesaian Sengketa Terhadap Penarikan Benda Bergerak yang Ditarik Paksa Oleh Lessor

  Dalam hal terjadi perselisihan ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul dari kedua belah pihak, yaitu dengan carasebagai berikut: 1. Pengadilan 3.

1. Perdamaian

Arti kata damai disini adalah bahwa antara pihak lessor dengan pihak lessee mengadakan suatu perdamaian sendiri di luar Pengadilan. Pelaksanaan

2. Pengadilan

  Untuk memulihkan hak-hak lessor yang telah menderita kerugian akibat ingkar janji dari pihak lessee sebagaimana yang telah disepakati dalam perjanjiandan juga kemungkinan sebagai akibat dari perbuatan pihak lessee yang melawan hukum maka pihak lessor antara lain dapat menuntut ke Pengadilan agarpengadilan : a. Menghukum pihak lesse membayar ganti rugi kepada pihak lessor atas kerugian yang telah dideritanya sebagai akibat dari tindakan ingkarjanji/wanprestasi dan atau melawan hukum yang telah dilakukan oleh pihak lessee yaitu berupa : Uang sewa yang masih tertunggak -Denda yang tertunggak ditambah bunganya Meletakkan sita jaminan atas harta milik lessee untuk menjamin pembayaran ganti rugi dan lain-lain tuntutan tersebut diatas.

3. Arbitrase

  Jadi untuk penyelesaian sengketa perjanjian leasing pihak-pihak yang terlibat dapat memakai jasa badan arbitrase tersebut dengan ketentuan bahwadalam perjanjian /kontrak yang bersangkutan dicantumkan suatu ketentuan (pasal) yang menyebutkan bahwa setiap perselisihan atau persengketaan yang mungkintimbul dari perjanjian leasing akan diajukan kepada arbitrase untuk diputus. Hal ini mengingat yang ditonjolkan dalam proses penyelesaian sengketa adalah musyawarah kekeluargaan, bukan masalah aspek hukum yangketat dan kaku karena keputusan yang diharapkan dari BPSK adalah putusan bersifat win-win solution.

01/ Pen/BPSK-Mdn/2009

  T Pangaribuan sebagai kuasa dariKreditur/ Lessor yang dalam perkara ini dimuka persidangan menyatakan bahwa memang benar Kreditur/ Lessor telah menarik sepeda motor konsumen karenatelah menunggak cicilan yang ke-36 atau yang terakhir , bahwa benar sepeda motor tersebut telah dilelang, bahwa benar sepeda motor dilelang seharga Rp. 8 Tahun 1999 tentangPerlindungan Konsumen, dan BPSK memberikan pertimbangan bahwa Kreditur/Lessor dalam menjalankan kegiatan usahanya tidak sesuai dengan yang diamanatkan UU Perlindungan Konsumen yaitu untuk dapat mendapatkanmeningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan Merujuk pada Pasal 19 ayat 1 UU Perlindungan Konsumen No.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Setelah diuraikan dan dibahas permasalahan dalam skripsi ini, maka dapat

  Asas kebebasan berkontrak yang dianut Kitab Undang-undang Hukum Perdata ini memungkinkan perkembangan dalam hukum perjanjian, karenamasyarakat maupun kebutuhannya dapat menciptakan sendiri bermacam- macam perjanjian disamping perjanjian-perjanjian khusus yang diatur dalamKitab Undang-undang Hukum Perdata, asal tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, atau kesusilaan (mempunyai causa yanghalal menurut Pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata ) 2. Menurut UUPK ganti rugi yang dimaksuddalam UUPK, adalah ganti rugi yang nyata yang dialami oleh Konsumen, ganti rugi yang bersifat in-materil yang tidak nyata dialami oleh Konsumentidak termasuk kedalam pengertian ganti rugi dalam UUPK, misalnya:Konsumen kehilangan waktu akibat sakit, kehilangan waktu tersebut dianggap sebagai kerugian dan dinilai seratus juta rupiah atau Konsumen kehilangankeuntungan akibat sakit.

5. Pemerintah yang telah melahirkan Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang

  Tugas pemerintah sebagai Pembina dan Pengawas sebagaimana yang diamantkan dalam Pasal 29 dan 30UUPK, diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 01/M-Dag/Per/3/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perdagangan bahwapembinaan berada pada Direktorat Perlindungan Konsumen, sebagai penyusun kebijakan di bidang Perlindungan Konsumen sedangkan tugas Pengawasanyang melakukan Pengawasan atas barang dan jasa yang beredar di pasar dilaksanakan oleh Direktorat Pengawasan Barang dan Jasa.

B. Saran

  Pentingnya kesadaran masyarakat untuk memahami isi dan bentuk kontrak baku, Perjanjian Leasing dalam hal ini sebagai perjanjian yang seringmenimbulkan sengketa di kemudian hari, ada baiknya masyarakat membaca secara teliti isi perjanjian sebelum melakukan Perjanjian Leasing dengan leasing/ lessor, selain itu masyarakat sebaiknya memastikan kepada Kreditur tentang dimana dan kapan sertifikat jaminan fidusia selesai dibuat untuk menjamin kepastian hukum bila terjadi sengketa di kemudian hari. BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) sebagai lembaga Negara resmi yang mempunyai otoritas untuk menyelesaikan sengketa-sengketa Konsumen yang berada di bawah naungan Pemerintah Daerah diharapkan lebih aktif untuk melakukan tindakan preventif (pencegahan) melaui programkerja dan penyuluhan-penyuluhan ataupun melalui jalur negoisasi, mediasi, dan arbitrase terhadap pengaduan-pengaduan masyarakat yang mengalamisengketa Konsumen.

6. Pembentukan peraturan yang jelas dan tegas tentang penggunaan jasa Debt

  Ketegasan dan kepastian hukum oleh Peradilan perdata dan lembaga-lembaga negara yang berwenang menangani tentang sengketa Konsumen terhadapeksekusi sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Putusan yang berkekuatan hukum dalam rangka memberikan kepastian hukum dan pemenuhan rasakeadilan bagi pihak-pihak yang telah mengadukan nasibnya dengan mendaftarkan gugatan. Diharapkan bahwa ke depannya (Hukum yang akan datang) BPSK hendaknya diberikan dana untuk melakukan Eksekusi terhadap putusan BPSK karenaselama ini BPSK menghadapi kendala untuk melakukan eksekusi terhadap putusan karena BPSK tidak memiliki anggaran dana untuk dapat melakukanEksekusi, sementara dalam menjalankan suatu proses Eksekusi diperlukan biaya.

DAFTAR PUSTAKA

  3,(Jakarta:Sinar Grafika, 2003), hal.10Munir Fuadi Hukum Tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktek, Bandung:penerbit PT. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan FidusiaKeputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : KMA/055/SK/X/1996 tentang Tugas dan Tanggung Jawab serta TataKerja Jurusita pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Tinjuan Yuridis Upaya Hukum Yang Dilakukan De..

Gratis

Feedback