Feedback

Klasifikasi Dan Evaluasi Klinis Glass Ionomer Cement

Informasi dokumen
KLASIFIKASI DAN EVALUASI KLINIS GLASS IONOMER CEMENT Oleh : Fitri Yunita Batubara, drg DEPARTEMEN ILMU KONSERVASI GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman BAB 1. PENDAHULUAN . 1 BAB 2. KLASIFIKASI GLASS IONOMER CEMENT 3 BAB 3. EVALUASI KLINIS GLASS IONOMER CEMENT 3.1 Adhesi . 5 3.2 Penghambatan Karies . 5 3.3 Efek pada Karies Dentin . 6 3.4 Fissure Sealant . 7 3.5 Gigi Desidui . 8 3.6 Teknik Atraumatic Restorative Treatment (ART) . 8 3.7 Cervical Lining . 9 BAB 4. KESIMPULAN . 10 DAFTAR PUSTAKA . 11 Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN Glass Ionomer Cement (GIC) merupakan salah satu jenis bahan yang biasanya digunakan dalam kedokteran gigi sebagai bahan tumpatan dan semen perekat. Bahan ini berdasarkan pada reaksi bubuk kaca silikat dan asam polialkenoat yang merupakan tambahan dari golongan dental semen berbasis air dan terdiri dari silicate cement, zinc phospate cement dan zinc polycarboxylate cement. Glass ionomer konvensional terdiri dari fluoroaluminosilicate glass, biasanya dalam garam stronsium atau kalsium dan cairan asam polialkenoat, sebagai contoh poliakrilik, maleat, itakonik dan asam trikarbalilik. Bahan konvensional dibuat dengan reaksi unsur asam antara cairan asam dan bubuk dasar. Baru-baru ini, untuk memperbaiki sifat fisik dan mengurangi sensitivitas air dan bahan konvensional, dikembangkanlah resin-modified glass ionomer cements. Bahan ini mengandung resin yang dapat berpolimerisasi, biasanya hydroxyethylmethacrylate (HEMA), dan memiliki reaksi pengerasan tambahan dari polimerisasi resin yang dapat berupa self-cure atau lightcure.1 Beberapa kasus karies yang menggunakan bahan tumpatan glass ionomer cement yaitu: karies yang menyerang permukaan serviks gigi yang disebabkan oleh abrasi (yang menurut klasifikasi G.V. Black termasuk lesi kelas V), karies yang terdapat pada akar, karies yang menyerang permukaan aproksimal gigi-gigi anterior Universitas Sumatera Utara (yang menurut klasifikasi G.V. Black termasuk lesi kelas III) dan penutupan pit atau fisur ( fissure sealant ).2 Adapun keunggulan dari bahan restorasi glass ionomer cement antara lain:3 1. Mempunyai kekuatan kompresi yang tinggi. 2. Bersifat adhesi. 3. Tidak iritatif. 4. Mengandung fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk mencegah karies lebih lanjut. 5. Mempunyai sifat penyebaran panas yang sedikit. 6. Daya larut yang rendah. 7. Bersifat translusent atau tembus cahaya. 8. Perlekatan bahan ini secara fisika dan kimiawi terhadap jaringan dentin dan email. 9. Di samping itu, semen glass ionomer juga bersifat biokompatibilitas, yaitu menunjukkan efek biologis yang baik terhadap struktur jaringan gigi dan pulpa. Kelebihan lain dari bahan ini yaitu semen glass ionomer mempunyai sifat anti bakteri. Dalam tulisan ini akan dibahas klasifikasi dan evaluasi klinis glass ionomer cement yang merupakan salah satu bahan tumpatan yang sering dipakai oleh dokter gigi. Universitas Sumatera Utara BAB 2 KLASIFIKASI GLASS IONOMER CEMENT Berdasarkan aplikasi klinisnya, glass ionomer cements diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu:3 tipe I : luting cements tipe II : restorative cement tipe III : lining dan base cement Sedangkan, menurut sifat fisik dan kimianya, glass ionomer cement diklasifikasikan menjadi empat tipe, yaitu:4 glass ionomer cement konvensional resin-modified glass ionomer cement hybrid ionomers tri-cure glass ionomer cement metal-reinforced glass ionomer cements GIC konvensional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh Wilson dan Kent. Bahan ini berasal dari asam polialkenoat cair seperti asam poliakrilat dan Universitas Sumatera Utara komponen kaca yang biasanya adalah fluoroalumino silikat. Reaksi asam basa terjadi saat bubuk dan cairan dicampur menjadi satu.4,5 Resin-Modified Glass Ionomer Cement mengkombinasikan reaksi asambasa ionomer kaca tradisional dengan reaksi polimerisasi amine-peroksida self-cured. Sistem light-cured ini telah dikembangkan dengan menambahkan kelompok methacrylate fungsional yang dapat dipolimerisasi dengan photo-initiator pada formulasi ini. Dikembangkan pada tahun 1992 resin-modified glass ionomer cement dalam bentuk paling sederhana adalah glass ionomer cement yang mengandung sedikit komponen resin larut dalam air, yang dapat dipolimerisasi. Bahan yang lebih rumit telah dikembangkan dengan memodifikasi asam polialkenoat dengan rantai samping yang dapat dipolimerisasi menggunakan mekanisme light-cured dengan adanya photo initiators. Namun pengerasan tetap terjadi melalui reaksi asam-basa.4,5 Metal-reinforced glass ionomer cements pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977. Penambahan bubuk campuran perak-amalgam pada bahan konvensional meningkatkan kekuatan fisik semen dan memberikan radiopasitas. Selanjutnya, partikel perak dilelehkan menjadi serpihan-serpihan seperti kaca, dan sejumlah produk kemudian muncul dimana kandungan campuran amalgam telah ditetapkan untuk memperbaiki keluhan sampai tingkat yang dikatakan menghasilkan sifat mekanis optimum untuk metal-reinforced glass ionomer cements.4,5 Universitas Sumatera Utara BAB 3 EVALUASI KLINIS GLASS IONOMER CEMENT Glass ionomer cement (GIC) telah menjadi subjek dari berbagai penelitian dalam kaitannya dengan pelaksanaan klinisnya. 3.1 Adhesi Glass ionomer cement merupakan bahan restorasi yang ideal untuk lesi servikal non-karies karena sifat adesifnya dan beban restorasi akhirnya yang tidak berarti. Oleh karena itu terdapat sejumlah penelitian pada sifat glass-ionomer pada lesi-lesi tertentu. Kebanyakan lesi servikal non karies bukan merupakan undercut yang terpisah dan retensi dari restorasi tergantung pada adhesi yang efektif antara bahan dan dentin.1 Karena banyak resin modified glass-ionomer cements yang diperkenalkan saat ini, hanya penelitian yang dilakukan dalam waktu yang singkat yang berlaku. Pada umumnya, rata-rata retensi sama tinggi dengan glass-ionomer konvensional. Tetapi beberapa bahan telah menunjukkan masalah dengan mempertimbangkan stabilitas warna. Akan tetapi resin modified glass-ionomer telah berkembang dengan kestabilan sifatnya sejak beberapa tahun yang lalu.1 Universitas Sumatera Utara Resin modified glass-ionomer cement dapat juga digunakan sebagai lapisan adesif untuk retensi resin komposit dengan cara yang sama dengan penggunaan dentine bonding agent.1 3.2 Penghambatan Karies GIC melepaskan fluoride yang awalnya pada tingkat yang tinggi, kemudian menurun setelah beberapa hari menjadi tingkatan rendah yang cocok selama bertahun-tahun. Percobaan pelepasan fluoride seluruhnya menyatakan bahwa glassionomer memiliki insiden terjadinya sekunder karies yang rendah. Tetapi hanya sedikit penelitian klinis yang memenuhi kebutuhan suatu percobaan dengan rancangan yang tepat untuk memutus aktivitas antikariogenik dari glass-ionomer. Percobaan-percobaan yang dipublikasikan tersebut meragukan, sebagian menyatakan keuntungan glass-ionomer cement pada pencegahan karies sekunder dan yang lain menyatakan tidak ada keuntungan.1 3.3 Efek pada Karies Dentin Karies dentin dapat dibagi ke dalam dua zona; zona yang paling dekat dengan pulpa yang disebut sebagai ’inner carious’ atau ’affected dentine’ dan zona yang paling dekat dengan rongga mulut disebut ’outer carious’ atau ’infected dentine’. Zona-zona ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dentin yang terpengaruh memiliki sedikit atau bahkan tidak ada bakteri, warna coklat-hitam dan mengandung kolagen. Oleh karena itu dentin yang demikian dapat diremineralisasi karena berisi Universitas Sumatera Utara kolagen utuh yang berperan sebagai pendukung bagi endapan hidroksiapatit. Dalam perbedaannya dentin yang terinfeksi memiliki muatan bakteri yang lebih berat, kolagen yang terdegradasi, memiliki penampilan batas kuning-coklat, basah dan tidak dapat teremineralisasi. Untuk mengikuti prinsip intervensi minimum preparasi kavitas, dentin yang terpengaruh dapat ditinggalkan pada tempatnya dengan potensial untuk remineralisasi di bawah pengaruh glass ionomer cement. Beberapa publikasi telah melakukan investigasi kemampuan GIC untuk meningkatkan remineralisasi dentin yang terpengaruh.1 3.4 Fissure Sealant Pada awalnya salah satu yang direkomendasikan untuk penggunaan glassionomer cement adalah sebagai bahan fissure sealant. Fisur membutuhkan paling sedikit perluasan 100 µm untuk mencapai penetrasi semen dan melindunginya dari beban oklusal. Pada keadaan dimana fisur berdiameter lebih kecil dari 100 µm direkomendasikan untuk membuka fisur agar diperoleh penetrasi sealant. Beberapa studi klinis telah mengidentifikasi masalah retensi fissure sealant glass-ionomer. Cara tradisional untuk mendapatkan penampilan fissure sealant pada percobaan klinis adalah dengan bahan retensi. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa fissure sealant glass ionomer akan hilang dari fisur dalam beberapa bulan setelah aplikasi, akan tetapi pada penggunaan teknik impression ditemukan bahwa glass-ionomer cement akan ditahan pada kedalaman fisur. Hal ini menjelaskan penemuan efek glass- Universitas Sumatera Utara ionomer cement yang umumnya sama dimana sealant yang berbasis resin mencegah karies fisur sehingga resin sealant lebih tahan dalam beberapa tahun.2,6 3.5 Gigi desidui Glass-ionomer cement telah mendapatkan penelitian intensif sebagai bahan restorasi untuk gigi desidui. Beberapa penelitian telah dilakukan terus menerus pada bahan konvensional yang asli dengan bahan yang dimodifikasi resin. Pada umumnya hasil yang diperoleh tidak memuaskan khususnya pada kavitas aproksimal dimana semen relatif tidak mendukung. Karena kerapuhannya, glass-ionomer cement membutuhkan pendukung di sekeliling struktur gigi sehingga penampilannya lebih baik pada permukaan kavitas dengan permukaan tunggal dibandingkan dengan kavitas dengan berbagai permukaan.1,2 3.6 Teknik Atraumatic Restorative Treatment (ART) Glass ionomer cement merupakan bahan pilihan pada teknik perawatan Atraumatic Restorative Treatment (ART). Beberapa percobaan klinis ART yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa rata-rata ketahanan GIC dapat dibandingkan dengan dental amalgam. Beberapa kesimpulan yang telah diambil dari banyak penelitian tentang ART termasuk pengaruh usia pasien, pengaruh operator, restorasi pada permukaan tunggal lebih baik daripada restorasi dengan berbagai permukaan, Universitas Sumatera Utara terdapat nyeri dan ketidaknyamanan yang minimal, sering tidak membutuhkan anestesi, keefektifan biaya mirip dengan amalgam, dibutuhkan evaluasi teknik pada pasien dengan rampan karies.1,2 3.7 Cervical Lining Pada teknik ini porsi servikal dari boks aproksimal kavitas posterior direstorasi dengan glass-ionomer cement dan restorasi akhirnya resin komposit atau amalgam. Teknik ini biasanya diindikasikan untuk restorasi posterior resin komposit karena enamel servikal sering kurang baik untuk bahan etsa, resin-dentine bonding merupakan teknik sensitif, isolasi dari saliva dan cairan gingiva sulit dan sebagai tambahan telah dibuktikan bahwa banyak karies sekunder yang terjadi pada margin servikal.4 Universitas Sumatera Utara BAB 4 KESIMPULAN Glass Ionomer Cement (GIC) sering dikenal sebagai bahan biomimetik karena sifat mekanisnya yang sama dengan dentin. Selain itu, terdapat juga keuntungan adhesi dan melepas fluoride sehingga menjadi bahan yang cocok pada banyak restorasi. Akan tetapi, sifat mekanis yang relatif buruk juga harus diperhatikan. Oleh karena itu, bahan ini hanya dapat digunakan pada daerah dengan tekanan rendah dan harus dilindungi dengan resin komposit atau amalgam pada daerah dengan tekanan tinggi. Karena pelepasan fluornya yang tinggi dan kebutuhan preparasi kavitas yang minimal GIC sekarang merupakan bahan pilihan untuk restorasi gigi yang karies yang banyak digunakan. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA 1. Tyas MJ. Clinical Evaluation of Glass-Ionomer Cement Restorations. J Appl Oral Sci. 2006;14:10-3. 2. Berg JH. Glass ionomer cements. Pediatric Dentistry 2002;24:340 3. Mount GJ, Hume WR. Preservation and restoration of tooth structure. Australia: Knowledge Book and Software, 2005: 163-196. 4. Quiec C. Different types of glass ionomers and their uses. http://www.DrQDental.net (26/September/2011). 5. Nagaraja UP, Kishore G. Glass ionomer cement-the different generations.Trends Biomater. Artif. Organs 2005;18(2):158-65. 6. Randall RC, Wilson NHF. Glass-ionomer restoratives: a systematic review of a secondary caries treatment effect. J Dent Res.1999;78:628-37. Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara karies secukupnya. Beberapa perubahan pokok yang dilakukan diantaranya fokus preparasi hanya pengambilan jaringan karies, dan perluasan kavitas di sesuaikan dengan perkembangan kavitas pada batas enamel dan dentin. Sehingga bentuk luar kavitas dengan mengikutsertakan enamel yang tidak terdukung dentin. Diantara bentuk minimal preparasi tersebut adalah Atraumatic Restorative Treatment dan Tunnel preparation. Kavitas ini ditumpat dengan bahan Glass Ionomer Cement, karena di dalam bahan ini mempunyai sifat adhesif yang sangat baik terhadap permukaan gigi, mengandung fluor dan nilai estetisnya baik, Sehingga nantinya bentuk preparasi yang dilakukan lebih banyak mempertahankan struktur gigi yang sehat. Hal ini sesuai dengan tujuan ilmu konservasi gigi yang sebenamya dalam mempertahankan jaringan gigi yang sehat. Daftar Rujukan (1994 0- 2002) Rafinus Arifin: Tumpatan Glass Ionomer Cement, Pada Atraumatic Restorative Treatment Dan Tunnel Preparation, 2003. USU e-Repository © 2008 menggantung seperti Usnea dan Alectoria. Cladonia adalah tipe antara kedua bentuk itu. 2002 digitized by USU digital library 7 Alectoria samentosa Cladonia cornuta Secara umum Taksonomi lichenes menurut Misra dan Agrawal (1978) adalah sebagai berikut : Klas : Ascolichens Ordo : Lecanorales Famili : Lichinaceae, Collemataceae, Heppiaceae, Pannariaceae, Coccocarpiaceae, Perltigeraceae, Stictaceae, Graphidaceae, Thelotremataceae, Asterothyriaceae, Gyalectaceae, Lecidaeceae, Stereocaulaceae, Cladoniaceae, Umbilicariaceae, Lecanoraceae, Parmeliaceae, Usneaceae, Physciaceae, Theloshistaceae. Ordo : Sphariales Famili : Pyrenulaceae, Strigulaceae, Verrucariaceae Ordo : Caliciales Famili : Caliciaceae, Cypheliaceae, Sphaephoraceae Ordo : Myrangiales Famili : Arthoniaceae, Myrangiaceae Ordo : Pleosporales Famili : Arthopyreniaceae Ordo : Hysteriales Famili : Lecanactidaceae, Opegraphaceae, Rocellaceae Klas : Basidiolichens Famili : Herpothallaceae, Coraceae, Dictyonamataceae, Thelolomataceae. Klas : Lichens Imperfect Genus : Cystocoleus, Lepraria, Lichenothrix, Racodium. PERKEMBANGBIAKAN LICHENES Perkembangbiakan lichenes melalui tiga cara, yaitu : A. Secara Vegetatif - Fragmentasi Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi individu baru. Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan fragmen. Pada beberapa fruticose lichenes, bagian tubuh yang lepas tadi, dibawa oleh angin ke batang kayu dan berkembang tumbuhan lichenes yang baru. Reproduksi vegetatif dengan cara ini merupakan cara yang paling produktif untuk peningkatan jumlah individu. - Isidia Kadang-kadang isidia lepas dari thallus induknya yang masing-masing mempunyai simbion. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika kondisinya sesuai. - Soredia 2002 digitized by USU digital library 8 Soredia adalah kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah dan diselubungi benag-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat terlepas dari induknya. Dengan robeknya dinding thallus, soredium tersebar seperti abu yang tertiup angin dan akan tumbuh lichenes baru. Lichenes yang baru memiliki karakteristik yang sama dengan induknya. B. Secara Aseksual Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya. Spora yang aseksual disebut pycnidiospores. Pycnidiospores itu ukurannya kecil, spora yang tidak motil, yang diproduksi dalam jumlah yang besar disebut pygnidia. Pygnidia ditemukan pada permukaan atas dari thallus yang mempunyai suatu celah kecil yang terbuka yang disebut Ostiole. Dinding dari pycnidium terdiri dari hifa yang subur dimana jamur pygnidiospore berada pada ujungnya. Tiap pycnidiospore menghasilkan satu hifa jamur. Jika bertemu dengan alga yang sesuai terjadi perkembangan menjadi lichenes yang baru. C. Secara Seksual Perkembangan seksual pada lichenes hanya terbatas pada pembiakan jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah kelompok jamur yang membangun tubuh lichenes. KEGUNAAN EKONOMI LICHENES Lichenes memiliki bermacam-macam kegunaan dan bahaya, antara lain : A. Lichenes sebagai bahan makanan Thallus dari lichenes belum digunakan sebagai sumber makanan secara luas, karena lichenes memiliki suatu asam yang rasanya pahit dan dapat menimbulkan gatal-gatal, khususnya asam fumarprotocetraric. Asam ini harus dibuang terlebh dahulu dengan merebusnya dalam soda. Tanaman ini mempunyai nilai, walaupun tidak sama dengan makanan dari biji-bijian. Pada saat makanan sulit didapat, orang-orang menggunakan lichenes sebagai sumber karbohidrat dengan mencampurnya dengan tepung. Di Jepang disebut Iwatake, dimana Umbilicaria dari jenis foliose lichenes digoreng atau dimakan mentah. Lichenes juga dimakan oleh hewan rendah maupun tingkat tinggi seperti siput, serangga, rusa dan lain-lain. Rusa karibu menjadikan sejumlah jenis lichenes sebagai sumber makanan pada musim dingin, yang paling banyak dimakan adalah Cladina stellaris. Kambing gunung di Tenggara Alaska memakan lichenes dari jenis Lobaria linita. Umbilicaria americana Lobaria linita 2002 digitized by USU digital library Cladina stellaris 9 B. Lichenes sebagai obat-obatan Pada abad pertengahan lichenes banyak digunakan oleh ahli pengobatan. Lobaria pulmonaria digunakan untuk menyembuhkan penyakit paru-paru karena Lobaria dapat membentuk lapisan tipis pada paru-paru. Selain itu lichenes juga digunakan sebagai ekspektoran dan obat liver. Sampai sekarang penggunaan lichenes sebagai obat-obatan masih ada. Dahulu di Timur Jauh, Usnea filipendula yang dihaluskan digunakan sebagai obat luka dan terbukti bersifat antibakteri. Senyawa asam usnat (yang terdapat dalam ekstrak spesis Usnea) saat ini telah digunakan pada salep antibiotik, deodoran dan herbal tincture. Spesies Usnea juga digunakan dalam pengobatan Cina, pengobatan homeopathic, obat tradisional di kepulauan Pasifik, Selandia Baru dan lain benua selain Australia. Banyak jenis lichenes telah digunakan sebagai obat-obatan, diperkirakan sekitar 50% dari semua spesies lichenes memiliki sifat antibiotik. Penelitian bahan obat-obatan dari lichenes terus berkembang terutama di Jepang. Lobaria pulmonaria Usnea filipendula C. Lichenes sebagai antibiotik Substrat dari lichenes yaitu pigmen kuning asam usnat digunakan sebagai antibiotik yang ampu menghalangi pertumbuhan mycobacterium. Cara ini telah digunakan secara komersil. Salah satu sumber dari asam usnat ini adalah Cladonia dan antibiotik ini terbukti ampuh dari penisilin. Selain asam usnat terdapat juga zat lain seperti sodium usnat, yang terbukti ampuh melawan kanker tomat. Virus tembakau dapat dibendung dan dicegah oleh ekstrak lichenes yaitu : lecanoric, psoromic dan asam usnat. D. Lichenes yang berbahaya Pigmen kuning yang berasal dari jenis Usnea dan Everia dapat menyebabkan alergi pada kulit dan menyebabkan gatal-gatal. Abu soredia yang melekat pada kulit akan menimbulkan rasa gatal. Lichen serigala atau Letharia vulpina adalah lichen beracun. Dari namanya menggambarkan kegunaannya secara tradisional di bagian utara Eropah sebagai racun untuk serigala. Bangsa Achomawi menggunakannya (kadang-kadang dicampur dengan bisa ular) untuk membuat panah beracun. Walaupun demikian, suku Blackfoot dan Okanagan-Colville memakai Letharia sebagai teh obat. 2002 digitized by USU digital library 10 E. Kegunaan lain dari lichen Dari hasil ekstraksi Everina, Parmelia, dan Ramalina diperoleh minyak. Beberapa di antaranya digunakan untuk sabun mandi dan parfum. Di Mesir digunakan sebagai bahan pembungkus mummi dan campuran buat pipa cangklong untuk merokok, khususnya Parmelia audina yang mengandung asam lecanoric. Ekstrak lichenes dapat juga dibuat sebagai bahan pewarna untuk mencelup bahan tekstil. Bahan pewarna di ekstrak dengan cara merebus lichenes dalam air, dan sebagian jenis lain diekstrak dengan cara fermentasi lichenes dalam amonia. Parmelia sulcata digunakan untuk pewarna wol di Amerika Utara. Evernia prunastri yang tumbuh di ranting pohon oak di Utara California. Spesies ini di diproduksi secara komersial di Eropa dan dikirim ke Prancis untuk industri parfum. PENUTUP Dari pembahasan mengenai lichenes ini dapat disimpulkan bahwa lichenes adalah sejenis tumbuhan yang unik. Tumbuhan ini merupakan simbiosis antara alga dan jamur tertentu, dan memiliki morfologi, reproduksi dan klsifikasi yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok tersendiri. Tubuhnya berupa thallus yang terdiri dari benang-benang hifa. Sebagai tumbuhan perintis, lichenes ikut berperan dalam pembentukan tanah dan tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi. Tumbuhan lichenes tidak akan terbentuk tanpa adanya simbiosis antara alga dan jamur yang sesuai. Tumbuhan ini juga menghasilkan senyawa-senyawa metabolit yang tidak dihasilkan oleh alga dan jamur yang hidup terpisah. Selain keunikan struktur, fisiologi maupun reproduksinya, lichenes juga memiliki kegunaan ekonomi yang tidak kalah pentingnya. Sampai sekarang para ahli masih terus meneliti tumbuhan ini dan ada yang mengusulkan agar lichenes dimasukkan ke dalam golongan tersendiri dan terpisah dari jamur dan alga. 2002 digitized by USU digital library 11 DAFTAR PUSTAKA Bold, H.C., C.J. Alexopoulus, T. Delevoryas, 1987. Morphology of Plants and Fungi. Fifth edition. Harper and Row Publishers. New York. Duta, A.C. 1968. Botany for Degree Stuudens. Oxford University Press. BombayCalcuta-Madras. Misra, A. ,R.P. Agrawal. 1978. Lichens (A Preliminary Text). Oxford and IBH Publishing Co. New York-Bombay-Calcuta. Sharnoff. S. D. 2002. Lichen Biology And The Environment The Special Biology Of Lichens. http:/ www.lichen.com. _________________. Lichens And Wildlife. http://www.lichen.com _________________. Lichens And People. For a Bibliographical Database of the Human Uses of Lichens. http://www.lichen.com Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 2002 digitized by USU digital library 12
Klasifikasi Dan Evaluasi Klinis Glass Ionomer Cement KLASIFIKASI GLASS IONOMER CEMENT PENDAHULUAN Klasifikasi Dan Evaluasi Klinis Glass Ionomer Cement Penghambatan Karies Efek pada Karies Dentin Fissure Sealant Klasifikasi Dan Evaluasi Klinis Glass Ionomer Cement
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Klasifikasi Dan Evaluasi Klinis Glass Ionomer Cement

Gratis