Feedback

Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang.

Informasi dokumen
NIHON NO SHINTOU NO DENTOUTEKI NA KEKKON SHIKI KERTAS KARYA Dikerjakan O L E H EVI CINRA SAGALA NIM : 082203019 PROGRAM STUDI BAHASA JEPANG DIII FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini guna melengkapi syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya pada Universitas Sumatra Utara. Adapun judul kertas karya ini adalah “Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang”. Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurnah. Baik dari pengkajian kalimat, penguraian materi, dan pembahasan masalah. Tetapi berkat bimbingan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini. Dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah banyak membantu terutama kepada: 1. Bapak Dr.Syahron Lubis ,M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Zulnaidi SS. M,Hum, selaku ketua program studi Bahasa Jepang D-3 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. 3. Ibu Hj. Muhibbah SS ,selaku Dosen Pembimbing yang dengan ikhlas telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis hingga selesainya kertas karya ini. 4. Bapak Drs.Nandi .S, Selaku Dosen pembaca 5. Bapak Drs. H. Yuddi Adrian M, MA. selaku Dosen wali Universitas Sumatera Utara 6. Seluruh staf pengajar jurusan bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama mengikuti perkuliahan. 7. Keluarga yang kukasihi, ayahanda tercinta Wadin Sagala dan Ibunda Rukia Situmorang serta kakak dan abang-abang ku; kak Eva, bang Vandes, bang Asrul, bang Alven, bang Lahi, kak Wirma, kak Rippi, serta seluruh keluarga yang selama ini memberikan dukungan, baik secara moril, maupun materi kepada penulis. Terima kasih atas doa dan dukungan kalian. Tak akan bisa aku melangkah sendiri. 8. Rekan-rekan mahasiswa program studi Bahasa Jepang stambuk 2008 khususnya kelas A. 9. Buat semua rekan anggota Hinode dan Aotake. 10. Sahabat terbaikku Desminita Surbakti dan Prisdo Sinaga. Teman yang selalu ada disaat suka dan duka. Terima kasih buat pengertian, doa, dan motivasinya selama ini. 11. Teman-teman ku, Ratih, Yessi, Wanri, bang Jefri, kak Heny, Eko, iban Nael, Hartawan, bang Yuddi, yang tak bosan-bosannya menanyakan gimana perkembangan TA. Terima kasih buat semua perhatiannya. 12. Buat Frengky, bang Sakban, Hery Bath, Evi Sri, Alvy, Ami, Nina Pandia, Putri, thanks dah mau jadi teman touring dikala jenuh menghadapi semua. 13. Special thanks buat si busuk “Leo Mansen” yang selalu ada memotivasi. Semua perhatian dan saran-saran darimu menjadi inspirasi buat aku. 14. Kepada semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu, terima kasih buat dukungannya. Universitas Sumatera Utara Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kertas karya ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan masukan untuk kesempurnaan kertas karya ini sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua . Medan , Juni 2011 Penulis Evi Cinra Sagala 082203019 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.iii DAFTAR ISI. vi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Alasan Pemilihan Judul. 1 1.2. Tujuan Peulisan. 3 1.3. Pembatasan Masalah . 3 1.4. Metode Penulisan. 3 BAB II GAMBARAN UMUM NEGARA JEPANG 2.1. Letak Geografis. 5 2.2. Penduduk. 6 2.3. Mata Pencaharian. 6 2.4. Agama . 7 BAB III PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG 3.1 Perkawinan Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang . 10 3.2 Bentuk Keluarga Pada Masyarakat Jepang. 13 3.3 Tahapan Upacara perkawinan Secara Shinto di Jepang. 14 3.3.1. Pelaksanaan Pertunangan . 14 3.3.2. Tahapan Menjelang Upacara Perkawinan . 15 3.3.3. Upacara Pelaksanaan Perkawinan . 16 3.4. Resepsi Pernikahan (Hiroen) Dan Bulan Madu. 19 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan . 23 4.2. Saran . 24 DAFTAR PUSTAKA . 26 ABSTRAK Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Upacara perkawinan adalah tahapan acara yang dilakukan mulai dari awal menentukan pasangan sampai kepada pesta pernikahan dan sesudahnya, yang mana didalamnya mengandung unsur-unsur ritual dan nilai-nilai. Di Jepang bentuk perkawinan sangat erat kaitannya dengan bentuk keluarga. Dalam masyarakat Jepang ada dua buah bentuk keluarga yaitu Kazoku dan Ie. Kazoku adalah hubungan suami istri, hubungan orang tua dan anak, dan diperluas pada hubungan persaudaraan yang didasarkan pada struktur masyarakat tersebut. Kazoku merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan komponen terpenting dalam pembentukan sistem kekerabatan, dari Kazoku inilah akan lahir sistem keluarga tradisional Jepang yang disebut dengan Ie. Ie, yang banyak diungkapkan dengan katakana (イエ) adalah sekelompok orang yang tinggal di sebuah lingkungan rumah, memiliki keterikatan antara anggota. Ikatan sosial para anggota khususnya di bidang kepercayaan (pemujaan), ekonomi dan moral. Pada masyarakat tradisional Jepang, perkawinan yang sering terjadi adalah Miai kekkon (perjodohan) dan ren’ai kekkon (atas dasar cinta). Miai kekkon yaitu perkawinan yang dijodohkan oleh pihak ketiga yang disebut nakoodo. Fungsi nakoodo adalah mengatur perkawinan, termasuk memperkenalkan pihak-pihak yang berminat untuk mencari calon suami atau calon istri. Tujuan miai kekkon adalah meneruskan keturunan sistem Ie. Upacara perkawinan di Jepang dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Butsuzen Kekkonshiki (perkawinan berdasarkan agama Buddha), Kirisutokyoo kekkonshiki (perkawinan berdasarkan agama kristen) dan Shinzen kekkonshiki Universitas Sumatera Utara (perkawinan berdasarkan agama Shinto). Shinzen kekkonshiki sangat dipengaruhi agama Shinto. Dalam perkawinan tradisional secara Shinto, setelah pasangan calon pengantin memutuskan untuk meneruskan hubungan ke jenjang perkawinan maka akan diadakan acara pertunangan yang disebut yuinoo, dimana dilakukan pertukaran barang-barang pihak pria dan wanita. Barang-barang yang biasanya diberikan adalah berupa uang sebanyak tiga bulan gaji pria kepada pihak wanita. Perkawinan tradisional secara Shinto berlangsung secara sederhana tetapi sangat khidmat. Perkawinan Shinto diadakan disebuah altar Shinto. Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta Shinto yang dihadiri oleh anggota keluarga, mak comblang (nakoodo) dan teman dekat dari kedua mempelai. Urutan upacara perkawinan Shinto yaitu, pendeta akan memimpin upacara, ia berdoa di depan altar, kemudian pengantin pria akan mengucapkan janji pernikahan. Setelah itu akan diadakan upacara San-San-Ku-Do untuk meneguhkan mereka sebagai suami istri. Di altar kuil Shinto terdapat persembahan seperti nasi, air, garam, buah-buahan, sayur-sayuran, sake, beberapa surume dan konbu. Dua ekor ikan Tai (sejenis ikan Kakap berwarna putih keperakan), cincin nikah dan sake yang dipersembahkan kepada Dewa Shinto. Bagian lainnya dari persembahan adalah pemurni (Hara) dan pendoa (Norito) yang semuanya memiliki makna khusus dalam Shinto. Setelah selesai upacara kemudian diadakan upacara minum sake bersama dan resepsi pernikahan (Hiroen). Hal ini dimaksudkan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas tentang pernikahan mereka. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Alasan Pemilihan Judul Setiap manusia pasti akan mengalami tahap-tahap kehidupan dimulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua sampai ia meninggal. Biasanya pada usia dewasa dan sudah memiliki pekerjaan, manusia akan memikirkan tentang perkawinan. Perkawinan merupakan suatu saat yang sangat penting dimana hubungan persaudaraan berubah dan diperluas. Perkawinan juga merupakan rencana untuk meneruskan keturunan yaitu untuk menjaga kesinambungan satu keluarga. Secara umum, perkawinan adalah penggabungan antara seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk sebuah rumah tangga. Dalam pelaksanaan sebuah perkawinan, diperlukan tata cara tertentu yang mengatur individu-individu yang bersangkutan. Sistem, nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan yang mengatur masyarakat sehubungan dengan perkawinan disebut dengan pranata perkawinan (Rifai Abu, 1984:51). Koentjaraningrat (1997:92), mengatakan bahwa hampir setiap masyarakat, hidupnya dibagi-bagi ke dalam tingkat-tingkat. Tingkatan tersebut dinamakan tingkat-tingkat sepanjang daur hidup yang meliputi: masa bayi, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, masa sesudah menikah, masa kehamilan dan masa tua. Pada masa peralihan antara satu tingkat kehidupan ke tingkat berikutnya, biasanya diadakan pesta atau upacara yang sifatnya universal. Universitas Sumatera Utara Secara umum yang dimaksud dengan upacara perkawinan adalah tahapan acara yang dilakukan mulai dari awal menentukan pasangan sampai kepada pesta pernikahan dan sesudahnya, yang mana didalamnya mengandung unsur-unsur ritual dan nilai-nilai. Upacara perkawinan adalah kegiatan-kegiatan yang telah dilazimkan dalam usaha mematangkan, melaksanakan dan menetapkan suatu perkawinan (Depdikbud;1978/1979:10). Bagi suku bangsa yang memiliki adat budaya, perkawinan merupakan suatu hal yang amat penting dalam daur kehidupan dan dilaksanakan dalam satu upacara yang terhormat serta mengandung unsur sakral dan religi didalamnya. Salah satu suku bangsa didunia yang memiliki adat tersendiri dalam melaksanakan perkawinan adalah bangsa Jepang. Upacara perkawinan di Jepang dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Butsuzen kekkonshiki, yaitu upacara pernikahan berdasarkan agama Buddha. Kirisutokyoo kekkonshiki, yaitu upacara pernikahan berdasarkan agama kristen. Dan Shinzen kekkonshiki, yaitu upacara perkawinan berdasarkan agama Shinto. Nilai-nilai budaya leluhur sangat dijunjung tinggi, sehingga upacara perkawinan yang dijalankan juga kebanyakan masih mengikuti adat tradisional. Meskipun saat sekarang ini sudah banyak perkawinan yang dilaksanakan secara modern. Meskipun Jepang dikenal sebagai negara yang bertekhnologi canggih dengan masyarakat yang sangat modern, orang Jepang tetap mempunyai kesadaran untuk berkeluarga serta tetap taat pada adat istiadat warisan leluhur. Masyarakat Jepang memiliki adat dan istiadat tentang perkawinan yang berbeda dari negara lain. Penyelenggaraan kehidupan berkeluarga di Jepang di atur oleh Universitas Sumatera Utara sistem keluarga (Martha, 1995:2). Untuk itulah penulis memilih judul “PERKAWINAN TRADISIONAL SECARA SHINTO DI JEPANG”. 1.2. Tujuan Penulisan Kekayaan warisan budaya yang diinventarisasikan dan didokumentasikan secara baik, akan sangat besar gunanya bagi pembinaan bangsa, negara, dan warga negara. Oleh karena itu mengumpulkan dan menyusun bahan tentang Adat dan Upacara Perkawinan di Jepang adalah sangat penting artinya. Adapun tujuan kertas karya ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk perkawinan dan proses pelaksanaan Perkawinan secara Shinto di Jepang 2. Untuk menambah wawasan pembaca tentang budaya Jepang 3. Sebagai salah satu syarat kelulusan dari program diploma III jurusan Bahasa Jepang Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. 1.3. Batasan Masalah Pengaruh luar terhadap adat dan upacara perkawinan itu adalah diterimanya unsur-unsur kebudayaan luar (asing) yang mempengaruhi adat di dalam upacara perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara perkawinan. Demikian hal nya di Jepang, tidak tertutup kemungkinan mereka menerima pengaruh kebudayaan luar itu sehingga di Jepang saat sekarang ini sudah banyak yang melakukan perkawinan modern. Tetapi dalam hal ini, penulis membatasi pembahasan perkawinan tradisional secara Shinto di Jepang. Universitas Sumatera Utara 1.4. Metode penulisan Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan. Dalam melakukan penelitian, sangat diperlukan metode-metode untuk menunjang keberhasilan tulisan yang akan disampaikan penulis kepada pembaca. Untuk itu penulis menggunakan metode studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan studi aktifitas yang sangat penting dalam penelitian yang dilakukan. Beberapa aspek perlu dicari dan diteliti meliputi: masalah, teori, konsep, dan penarikan kesimpulan (Nasution, 1946:14). Dengan kata lain studi kepustakaan adalah pengumpulan dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini. Data yang diperoleh dari referensi tersebut kemudian dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan. Teknik penelitian yang digunakan adalah meneliti data berupa buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas. Jadi teknik pengumpulan data yang digunakan adalah library research. Selain itu penulis juga memanfaatkan koleksi pribadi, dan berbagai informasi dari situs-situs internet yang membahas tentang masalah yang akan dibahas untuk melengkapi data-data dalam penelitian ini. Universitas Sumatera Utara BAB II GAMBARAN UMUM NEGARA JEPANG 2.1. Letak Geografis Kepulauan Jepang yang terletak lepas pantai timur benua Asia, membentang seperti busur yang ramping sepanjang 3.800 KM. Luas totalnya adalah 377.815 KM persegi-sedikit lebih luas dari Inggris. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau utama, honshu, hokkaido, kyushu, dan shikoku (berurut dari besar sampai kecil), sejumlah gugusan pulau, dan sekitar 3.900 pulau yang lebih kecil lagi. Pulau honshu memiliki luas lebih dari 60% dari seluruh kepulauan Jepang. Jepang mengenal empat musim yaitu musim panas (natsu) Juni, Juli, Agustus. Musim gugur (aki) September, Oktober, dan november. Musim dingin (fuyu) Desember, Januari, dan Februari. Musim semi (haru) bulan Maret, April, dan bulan Mei. Tokyo, ibukota Jepang, terletak pada garis lintang yang hampir sama dengan Athena, Los Angeles dan Teheran. Kota ini menikmati musim dingin yang tidak terlampau dingin, kelembaban udara yang rendah dan sekali-sekali turun salju, berlainan dengan kelembaban dan suhu udara yang tinggi pada bulan-bulan musim panas. Curah hujan yang tinggi dan iklim yang sedang di sebagian besar dari kepulauan ini menyebabkan pertumbuhan hutan yang lebat dan vegetasi yang rimbun di seluruh daerah pedalaman. Universitas Sumatera Utara 2.2. Penduduk Jumlah penduduk di Jepang hingga akhir Maret 2009 melebihi 127 juta jiwa. Naik dibandingkan pada bulan yang sama tahun 2008. Naiknya jumlah penduduk dipengaruhi oleh banyaknya perusahaan Jepang yang mengurangi kegiatan bisnis di luar negeri akibat dari merosotnya perekonomian dunia. Karena situasi ini, jumlah penduduk Jepang yang kembali ke Jepang lebih banyak dibandingkan yang pergi ke luar negeri. Banyaknya jumlah penduduk Jepang yang kembali dari luar negeri serta karena beberapa faktor lainnya, berhasil mengimbangi penurunan jumlah penduduk akibat tingkat kematian yang melebihi tingkat kelahiran tahun 2009 yaitu sebanyak 45,914 jiwa. Berdasarkan data dari kementerian dalam negeri, jumlah keseluruhan penduduk Jepang (belum termasuk warga asing) sekarang mencapai 127,076,183 jiwa. Meningkat sebanyak 10,005 jiwa dibandingkan tahun 2008. Sekitar 76% rakyat Jepang hidup di kota-kota besar. Dari populasi kota ini, hampir 60% memadati empat kawasan metropolitan terbesar Jepang, yang mencakup 16 prefektur yang berpusat pada Tokyo, Osaka, Nagoya, dan Kita Kyushu. 2.3. Mata Pencaharian Jepang termasuk negara industri terbesar di dunia, dari barang keperluan sehari hari seperti sumpit, sampai industri berat seperti pembuatan kapal. Oleh karena itu, banyak orang Jepang yang bekerja sebagai karyawan. Para karyawan perusahaan banyak menghabiskan waktu di kantor, dan seringkali banyak yang Universitas Sumatera Utara menempuh jarak yang jauh dari rumah ke tempat kerjanya. Sama seperti di Indonesia, terkadang perusahaan mengalih tugaskan karyawannya ke cabang di kota lain. Meskipun perindustrian sudah sangat maju, masyarakat Jepang tidak meninggalkan mata pencaharian primer seperti pertanian dan perikanan. Selain itu ada juga banyak bisnis kecil seperti usaha milik keluarga, sanggar seni, restoran kecil, serta toko di lingkungan perumahan. Bisnis demikian acapkali merupakan bisnis keluarga yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Banyak ibu rumah tangga dan orang orang yang sudah pensiunan yang melakukan pekerjaan paruh waktu misalnya sebagai petugas kebersihan, penjaga toko, kasir dan sebagainya. Ada juga siswa SMA yang bekerja paruh waktu namun tidak banyak karena kesibukan sekolah. 2.4. Agama Di Jepang, kebebasan agama dijamin bagi semua orang berdasarkan Undang-Undang Dasar. Pasal 20 menyatakan bahwa “tidak satupun organisasi agama dapat menerima hak istimewa dari negara, dan tidak satupun dapat mempunyai wewenang politik apapun. Tidak pada pengaturan yang sangat ketat, mencerminkan nilai – nilai luhur agama dan budaya yang dianut oleh masyarakat. Kemudian tujuan perkawinan pada hakekatnya adalah legalisasi tingkah laku sosial seksual antara suami – isteri yang sah guna Universitas Sumatera Utara menampung semua akibatnya, terutama keturunan atau kelahiran anak ( Suwondo, 1979 : 42 ). Usia perkawinan di daerah ini sebelum era modern saat sekarang ini adalah untuk laki – laki berkisar antara 17 – 25 tahun, dan bagi perempuan berkisar antara 15 – 20 tahun. Pada zaman sekarang usia perkawinan dalam masyarakat Aceh sudah tinggi, yaitu untuk laki – laki antara 23 – 30 dan wanita antara 20 – 25 tahun. Perubahan tersebut disebabkan antara lain : 1. Tingginya tingkat pendidikan dalam masyarakat. 2. Pola pikir masyarakat yang telah maju. 3. Terjadinya perubahan peranan adat dalam kehidupan masyarakat. Perbedaan usia antara suami dengan isteri biasanya berkisar antara 3 sampai 5 tahun. Pada umumnya pasangan yang baru menikah mempunyai kebiasaan menetap di rumah orang tua isterinya sebelum mereka mampu mendirikan sebuah rumah. Kemudian peranan adat sangat penting dalam mengatur sistem perkawinan dalam masyarakat ini. Adat yang dimaksud bersumber dari ajaran agama Islam sebagai landasan kehidupan orang Aceh yang umumnya beragama Islam. 2.2.1. Bentuk Keluarga pada Masyarakat Aceh Dalam masyarakat Aceh terdapat kesatuan kekerabatan yang secara teknis disebut keluarga inti ( batih ), keluarga luas dan klen kecil. Bentuk keluarga inti masyarakat Aceh pada umumnya mempunyai kesamaan dari berbagai sub etnis. Adapun bentuk keluarga terdiri dari seorang suami, isteri dan anak – anak yang belum kawin ( Alfian, 1977 : 118 ). Universitas Sumatera Utara Disamping keluarga lengkap, terdapat pula keluarga tidak lengkap. Seorang isteri berpisah dengan suaminya karena bercerai atau kematian. Pada keluarga seperti ini, isteri mempunyai kedudukan ganda yaitu sebagai kepala keluarga dan ibu rumah tangga. Disamping adanya wujud keluarga inti, terdapat pula wujud keluarga luas,yaitu apabila salah satu anggota ke;luarga sudah menikah, ia akan pindah kedalam satu bilik ( kamar ), tetapi dalam rumah itu juga, dan masih dalam satu kesatuan ekonomi dengan keluarga senior. Dalam keluarga batih ayah dan ibu mempunyai peranan penting untuk mengasuh anak sampai dewasa. Peranan ini sudah menjadi tanggung jawab ayah dan ibu meliputi segala kebutuhan keluarga seperti kebutuhan akan sandang, pangan, kesehatan dan pendidikan. 2.2.2. Makna Perkawinan pada Masyarakat Aceh Dalam masyarakat Aceh, perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan religius, dan dianggap sebagai suatu ibadah dalam menjalankan perintah Tuhan. Selain itu tidak hanya sebagai sarana untuk kebutuhan biologis, tetapi juga dalam rangka peningkatan status sosial. Suwondo ( 1979 : 40 ), mengungkapkan bahwa perkawinan bagi masyarakat Aceh mempunyai tujuan dalam rangka meneruskan keturunan dan memenuhi hasrat seksual manusia. Pendapat diatas dipertegas lagi oleh Alfian ( 1978 : 118 ), antara tujuan memperoleh anak dan perbuatan seksual dalam perkawinan terdapat hubungan yang erat, terutama bagi kedudukan anak. Universitas Sumatera Utara Dari pendapat diatas, jelaslah bahwa makna perkawinan bagi masyarakat Aceh adalah untuk meneruskan keturunan yang sah. Dalam perkawinan akan terbentuklah sebuah keluarga dimana akan terlihat bagaimana tanggung jawab seorang suami terhadap isteri dan anak – anak dan sebaliknya. Perkawinan juga dapat membina kasih sayang dan saling menghormati. 2.2.3. Jenis – jenis Perkawinan pada Masyarakat Aceh Suwondo ( 1979 47 ), mengatakan jenis – jenis perkawinan dalam masyarakat Aceh dibagi dalam dua bagian, yaitu : Perkawinan yang baik dan perkawinan yang tidak baik. Perkawinan baik adalah perkawinan yang didasarkan pada ajaran agama dan adat – istiadat serta diakui oleh masyarakat sekitarnya. Sedangkan perkawinan tidak baik adalah perkawinan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama, berlawanan dengan adat dan mencemarkan nama baik. Perkawinan baik meliputi : 1. Perkawinan biasa, yaitu perkawinan yang dilakukan secara normal dan menurut adat – istiadat. 2. Perkawinan gantung, yaitu dilakukan dengan jarak waktu yang relatif lama, pelaksanaannya menurut hukum dan adat – istiadat. 3. Perkawinan janda atau duda, yaitu perkawinan antara laki – laki duda dengan wanita janda atau laki – laki duda dengan perawan dan bisa sebaliknya dimana pelaksanaannya masih menurut hukum dan adat – istiadat. Universitas Sumatera Utara 4. Perkawinan berimpal, yaitu perkawinan antara anak – anak saudara laki – laki ibu atau saudara perempuan ayah yang sekandung. 5. Perkawinan tukar tikar, yaitu perkawinan apabila seorang laki – laki kematian isterinya kemudian ia kawin dengan adik isterinya demi melanjutkan hubungan keluarga dan kepentingan anak – anak. Kemudian perkawinan tidak baik meliputi : 1. Perkawinan paksa, yaitu perkawinan karena terpaksa. Bisa karena kecelakaan atau termakan budi, untuk menebus hutang dipaksa kawin oleh orang tuanya. 2. Kawin tangkap, yaitu perkawinan yang dilakukan karena pasangan tersebut tertangkap basah melakukan perbuatan maksiat, melakukan keluarga dan dikucilkan dalam masyarakat. 3. Kawin lari, yaitu terpaksa dilakukan oleh pihak laki – laki karena memalukan kedua belah pihak dan hukum adat. 4. Kawin madu, yaitu seorang suami kawin lagi dengan wanita lain karena isterinya sakit – sakitan. 5. Kawin lain agama, yaitu perkawinan yang dilakukan dengan pasangan yang tidak seagama. 6. Kawin busuk, yaitu perkawinan dengan perempuan jahat ( pelacur ), yang pernah berzina atau tidak perawan lagi dan sebaliknya. 2.2.4. Tahapan Upacara Perkawinan pada Masyarakat Aceh Dalam adat – istiadat orang Aceh, menentukan pasangan adalah kegiatan pertama yang dilakukan dalam tahapan perkawinan. Banyak cara yang dilakukan Universitas Sumatera Utara untuk mendapatkan hasil didalam menentukan pasangan hidup. Singkatnya, apabila lamaran diterima maka akan dilakukan acara pertunangan sekaligus antar tanda. Pada acara pertunangan ini juga akan dibicarakan tentang hari yang baik untuk melangsungkan hari resepsi perkawinan. Sebelum upacara perkawinan, kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan adalah pengucapan ijab qabul atau akad nikah. Acara ini biasanya diadakan selesai sholat magrib atau pagi hari sebelum upacara perkawinan dimulai. Pada saat upacara perkawinan, pengantin pria akan diarak kerumah pengantin wanita sebagai simbol mengantarkan anak laki – laki untuk pindah ke rumah kerumah isterinya. Universitas Sumatera Utara BAB III PERBANDINGAN TAHAPAN UPACARA PERKAWINAN PADA MASYARAKAT JEPANG DAN MASYARAKAT ACEH 3.1. Tahapan Upacara Perkawinan Pada Masyarakat Jepang 3.1.1. Sebelum Upacara Perkawinan selalu berdasarkan pada gishiki ( 儀式 ), sebagai cara untuk mengumumkan kepada masyarakat. Ada bermacam – macam upacara perkawinan di Jepang. Kemudian, juga diselenggarakan resepsi. Resepsi biasanya dalam bentuk jamuan makan. Dalam hal ini tamu – tamu yang diundang dianggap sebagai saksi, yaitu orang – orang yang mengakui perkawinan itu. Di Jepang perkawinan selain didasarkan atas hukum perkawinan yang berlaku, juga diselenggarakan dengan upacara tradisional yang masih berlaku dalam masyarakat. Hal ini juga ditegaskan oleh Aoyama Michio : “Prinsip Hooritsukon sejak awal Zaman Meiji tidak akrab dengan kebiasaan rakyat. Sejak zaman feodal diubahnya Gishikikon dengan Hooritsuko sebagai kebiasaan rutin merupakan hal yang sangat sulit ” . Tahapan upacara dari beberapa jenis perkawinan di Jepang hampir sama. Perbedaannya hanya pada latar belakang dan altar yang digunakan, dan mempunyai tahapan – tahapan yang kompleks di dalam pelaksanaannya. Ada dua cara dalam menentukan pasangan yang akan dinikahi dalam masyarakat Jepang, yaitu dengan ren’ai atau saling cinta dan mia atau dijodohkan. Sedangkan perkawinan yang terjadi karena didasari oleh saling cinta disebut ren’ai kekkon dan perkawinan karena dijodohkan disebut mia kekkon. Universitas Sumatera Utara Ada dua istilah yang umum digunakan dalam bahasa Jepang untuk mengartikan “ cinta “ adalah ren’ai ( 恋愛 ) dan aijoo ( 愛情 ), dimana keduanya memiliki unsur yang sama yaitu ai ( 愛 ). Konsep “ cinta “ dalam pengertian yang luas, meliputi cinta diantara orang tua dan anak, antara teman, manusia dengan hewan dan lain – lain. Perkawinan yang didasari oleh cinta ( ren’ai kekkon ) bagi masyarakat Jepang adalah sangat menarik karena cinta merupakan landasan yang kuat dalam suatu perkawinan. Terutama ini sangat menarik hati para gadis ; seperti yang diungkapkan oleh Kamishima Jiroo dalam bukunya “ Nihonjin Ni Kekkon “ . “ Wanita terpesona dalam impian dan lamunan tentang seorang pria yang menjadi kekasihnya ; yang rela mati untuk wanita, bekerja demi wanita, berperang demi wanita, bekerja demi wanita karena cinta yang abadi ; seperti yang dinyatakan dalam drama, puisi dan novel. Para wanita ini kemudian akan menikah. Tanpa adanya cinta, perkawinan tidak ada .” Selain ren’ai, ada pengantin, antara lain Universitas Sumatera Utara apakah mereka tinggal di rumah orang tua pengantin laki-laki atau disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami atau mungkin tinggal di rumah sendiri. Di daerah pedesaan Jepang, masih umum diharapkan bahwa pengantin perempuan akan masuk ke dalam rumah tangga suaminya. Namun lama-kelamaan terlihat tandatanda perubahan ke arah posisi pasangan baru sebagai keluarga inti yang mandiri. Di daerah perkotaan Jepang, pasangan baru lebih suka hidup terpisah dari orang tua mereka. Tetapi secara keseluruhan, kecenderungan untuk membangun rumah sendiri setelah menikah belumlah sepenuhnya merupakan cara hidup yang mapan. Orang menganggap wajar bila pasangan baru tetap tinggal dengan orang tuanya apalagi di daerah pedesaan, dengan tujuan kelanjutan generasi Ie. Adat menetap dalam masyarakat Tapanuli Selatan biasanya mula-mula pasangan pengantin baru menetap untuk beberapa hari di rumah orang tua pengantin lakilaki, kemudian selanjutnya mereka pindah ke rumah sendiri. Karena kaidah adat perkawinan Tapanuli Selatan tidak memperkenankan suami tinggal menetap di rumah orang tua isterinya. Persamaan dan perbedaan tersebut terdapat dalam tahapan upacaranya seperti pada tabel di bawah ini: No Tahapan Upacara 1. Sebelum Upacara Persamaan - Cara menentukan pasangan pada dasarnya adalah dijodohkan dan atas dasar cinta. - Adanya perantara di dalam mencari jodoh, di Jepang disebut Nakoodo sedang di Tapanuli Selatan disebut Anak boru (pihak laki-laki). Universitas Sumatera Utara - Kegiatan perantara pencarian jodoh dalam dilakukan melakukan dengan cara bersembunyi (dirahasiakan). - Kedua suku bangsa tersebut juga sama-sama melakukan acara pertunangan setelah jodoh ditentukan. - Adanya pemberian barang-barang pada saat acara pertunangan. - Sekarang ini di Jepang sebelum upacara perkawinan dilakukan pasangan pengantin terlebih dahulu harus mendaftarkan diri di kantor catatan sipil, begitu juga di Tapanuli Selatan, sebelum Ijab Qabul diharuskan mendaftar di kantor urusan agama. - Di Jepang dan di Tapanuli Selatan sama-sama melakukan pernikahan berdasarkan agama dan pemerintahan/hukum. 2. Upacara Perkawinan - Upacara perkawinan pada kedua masyarakat tersebut sama-sama telah banyak mengadopsi kebudayaan barat walaupun kebudayaan asli tetap dipertahankan. 3. Setelah Upacara - Masyarakat Jepang dan masyarakat Tapanuli Selatan sama-sama melakukan acara perkenalan dengan keluarga setelah upacara. Universitas Sumatera Utara - Pada kedua masyarakat tersebut akan memikirkan tempat tinggal mereka setelah menikah. No. 1. Tahapan Upacara Sebelum Upacara Perbedaan - Barang-barang yang diberikan pada saat pertunangan berbeda. Di Jepang barang yang diberikan adalah uang sebanyak tiga bulan gaji, sake, ikan tai dan lain-lain. Sedangkan di Tapanuli Selatan adalah bahan-bahan makanan, pakaian dan mas kawin atau mahar. 2. Upacara Perkawinan - Di Jepang tempat melakukan resepsi biasanya di rumah pengantin laki-laki, sedangkan pada masyarakat Tapanuli Selatan resepsi dilakukan di rumah pengantin perempuan. - Di Jepang upacara dimulai dari Karishugen dan dilanjutkan dengan acara San-san-ku-do dan Hiroen, yaitu pemberitahuan kepada masyarakat luas. Di Tapanuli Selatan upacara ditandai dengan arak-arakan pengantin lakilaki ke rumah pengantin perempuan, dilanjutkan dengan upacara Mangupa dan acara bersanding. Universitas Sumatera Utara 3. Setelah Upacara - Acara perkenalan keluarga di Jepang dilakukan dengan cara mengundang keluarga kedua mempelai dan disetai dengan minum sake bersama, perkenalan sedangkan di Tapanuli Selatan dilakukan dengan cara mengunjungi rumah keluarga dekat mereka. - Di Tapanuli Selatan setelah selesai upacara pernikahan biasanya dilakukan lagi upacara adat yaitu, Pabuat boru (memberangkatkan pengantin perempuan ke rumah mertuanya) dan upacara Mangalap boru (menjemput pengantin perempuan dari rumah orang tuanya). Sedangkan di Jepang tidak ada lagi acara setelah selesai upacara perkawinan. Universitas Sumatera Utara BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Melihat dari uraian sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Perkawinan merupakan sebuah proses dalam pembentukan suatu kesatuan yang disebut rumah tangga, yang mempunyai tujuan untuk meneruskan keturunan yang sah. 2. Perpaduan antara unsur tradisional dan modern terlihat dalam pelaksanaan resepsi perkawinan baik di Jepang maupun di Tapanuli Selatan. Contohnya, pakaian pengantin tradisional digunakan saat upacara berlangsung. Tetapi dalam resepsi, mereka akan menggantinya dengan pakaian pengantin barat. 3. Dalam perkawinan masyarakat Jepang dan Masyarakat Tapanuli Selatan selain perlu disahkan berdasarkan agama, juga disahkan berdasarkan pemerintah/hukum. Tetapi pada masyarakat Tapanuli Selatan perkawinan tidak hanya perlu disahkan berdasarkan agama dan hukum tetapi juga berdasarkan adat. 4. Terdapat kesamaan maupun perbedaan dalam upacara perkawinan masyarakat Jepang dan masyarakat Tapanuli Selatan. Persamaannya adalah pada tahapan upacaranya, sama-sama memiliki 3 tahapan, yaitu sebelum upacara perkawinan, upacara perkawinan dan setelah upacara perkawinan. Sedangkan perbedaannya adalah di Tapanuli Selatan Universitas Sumatera Utara melaksanakan pernikahan secara adat, tetapi di Jepang tidak ada pernikahan secara adat. 5. Dengan mengenali persamaan dan perbedaan kedua budaya, kita akan semakin dapat memahami keanekaragaman pola hidup yang ada, yang akan bermanfaat saat berkomunikasi dan berinteraksi dengan pihak yang berasal dari budaya yang berbeda. Selain itu, hal yang menarik dalam konsep perbandingan, dua wilayah yang berjauhan secara geografis dan sangat berbeda dalam cultural mempunyai kemiripan budaya disertai dengan perbedaannya. 4.2 Saran Berdasarkan pada beberapa kesimpulan yang dikemukakan di atas, maka dapat disarankan antara lain: 1. Diharapkan pada generasi muda saat ini tidak melupakan adat-istiadat tradisionalnya masing-masing dan mengkhayati serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat membangkitkan kebanggaan terhadap kebudayaan bangsa sendiri, diantaranya terhadap perkawinan. 2. Dengan adanya perbandingan budaya seperti ini, diharapkan menjadi pemikiran kita bahwasanya suatu bangsa yang berjauhan secara geografis dan sangat berbeda dalam hal budaya dan watak ternyata tidak menutup kemungkinan terdapatnya kesamaan-kesamaan budaya. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Ajip Rosidi. 1981. Mengenal Jepang. Jakarta: Pustaka Jaya. Dananjaja, James. 1997. Foklor Jepang Dilihat dari Kaca Mata Indonesia. Jakarta; PT. Pustaka Utama Grafitri (Anggota Ikapi). Dilla. 2004. Skripsi: Perbandingan Sistem Ie di Jepang dengan Sistem Rumah Gadang di Sumatera Barat. Medan: USU. Ghozally, R Fitri. 2004. Semua Tentang Jepang. Jakarta: Progres Jepang. Haviland, D William, Soekadijo. 1993. Antropologi Jilid 2. Surakarta: Erlangga. Horton, Paul B, Hunt, Chester L. 1987. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga. Keesing, Roger. M. 1992. Antropologi Budaya (Suatu Perspektif Kontemporer). Jakarta: Erlangga. Koentjaraningrat. 1980. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. _____________. 1997. Pengantar Antropologi II. Jakarta: Rineka Cipta. Lubis, Z Pangaduan, Zulkifli B. 1998. Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok. Medan: BPPS dan USU Press. Martha, Ervina. 1995. Sistem Perkawinan Orang Jepang. Skripsi Sarjana Sastra Jurusan Sastra Asia Timur Program Studi Jepang Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. Mulyadi. 2004. Dasar-dasar Penulisan Ilmiah. Medan: USU Press. Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Rahmadayani, Neny. 2005. Skripsi: Pernikahan Secara Shinto di Jepang. Medan: Universitas Sumatera Utara. Reischaver, O Edwin. 1982. Manusia Jepang. Jakarta: Sinar Harapan. Universitas Sumatera Utara Ritonga, Parlaungan. 1997. Makna Simbolik Dalam Upacara Adat Mangupa Masyarakat Angkola-Sipirok di Tapanuli Selatan. Medan: USU Press. Ritonga, Parlaungan, Azhar, Ridwan. 2002. Sistem Pertuturan Masyarakat Tapanuli Selatan. Yandira Agung. Situmorang, Hamzon. 2000. Telaah Pranata Masyarakat Jepang I (Diktat). Medan: Universitas Sumatera Utara. _________________. 2005. Ritus-ritus Daur Hidup Orang Jepang (Diktat). _________________. 2005. Telaah Pranata Masyarakat Jepang I (Diktat). _________________. 2006. Ilmu Kejepangan. Medan: USU Press. Staruss Claude Levi. 2000. Ras dan Sejarah. Yogyakarta: Lkis. Suryohadiprojo, Sayidiman. 1982. Manusia dan Masyarakat Jepang Dalam Perjuangan. Jakarta: Pustaka Brajaguna dan UI Press. TP. 2001. Kesimpulan Seminar Adat Mandailing. USU. Yani, Fitri. 2010. Perbandingan Tahapan Upacara Perkawinan Pada Masyarakat Aceh dan Masyarakat Jepang. Skripsi. Medan: USU. Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang. Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perkawinan Tradisional Secara Shinto Pada Masyarakat Jepang.

Gratis