Feedback

Tingginya Tindak Pidana Penganiayaan Di Kota Medan Dan Upaya Penanggulangannya (Studi Di Polresta Medan)

Informasi dokumen
TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Polresta Medan) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas - tugas dan memenuhi syarat – syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum Oleh : IVO GEMA PRADANA NIM. 050200243 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Polresta Medan) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas - tugas dan memenuhi syarat – syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum Oleh : IVO GEMA PRADANA NIM. 050200243 Disetujui oleh: Ketua Departemen Hukum Pidana Dr. M. Hamdan, SH, MH Pembimbing I Pembimbing II Abul Khair, SH, M.Hum Nurmalawaty, SH, M.Hum FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rakhmat, taufik dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menempuh ujian tingkat Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul “TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Polresta Medan)”. Di dalam menyelesaikan skripsi ini, telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : - Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. - Bapak Dr. M. Hamdan, SH, MH, sebagai Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. - Bapak Abul Khair, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I Penulis. - Ibu Nurmalawaty, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II Penulis. - Bapak dan Ibu Dosen serta semua unsur staf administrasi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. - Rekan-rekan se-almamater di Fakultas Hukum khususnya dan Umumnya Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara Pada kesempatan ini juga penulis mengucapkan rasa terima-kasih yang tiada terhingga kepada isteri tercinta Anna Friska Sibarani, SPd, dan anak-anakku tersayang Daniel Kristian Pasaribu, Dian Kristy Pasaribu dan Dela Kristanty Pasaribu, semoga kebersamaan yang kita jalani ini tetap menyertai kita selamanya. Demikianlah penulis niatkan, semoga tulisan ilmiah penulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Medan, Juni 2011 Penulis Ipo Gema Pradana NIM : 050200243 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI halaman KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . iii ABSTRAKSI . v BAB I. PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang. 1 B. Permasalahan . 3 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . 3 D. Keaslian Penulisan. 4 E. Tinjauan Kepustakaan . 4 F. Metode Penelitian . 14 G. Sistematika Penulisan . 16 BAB II. TINDAK PIDANA YANG MENONJOL DI POLRESTA MEDAN . 18 A. Situasi Wilayah Tugas Polresta Medan . 18 B. Situasi Personil Pada Polresta Medan . 20 C. Jumlah Sarana di Polresta Medan. 23 D. Rekapitulasi Kasus Penganiayaan Tahun 2009 dan Januari sampai dengan Desember 2010 . BAB III FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA 25 KASUS Universitas Sumatera Utara PENGANIAYAAN DI POLRESTA MEDAN. 27 A. Rendahnya Pendidikan . 29 B. Melonjaknya Angka Pengangguran . 31 C. Rendahnya Tingkat Kesadaran Masyarakat Tentang Hukum dan Peraturan . 38 D. Kemiskinan . 57 E. Lingkungan . 62 F. Lahan . 64 BAB IV. PENEGAKAN HUKUM ATAS TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN OLEH APARAT KEPOLISIAN DI BAB V. POLRESTA MEDAN . 67 A. Upaya Hukum Preventif . 67 B. Upaya Hukum Persuasif . 72 C. Upaya Hukum Represif . 78 KESIMPULAN DAN SARAN. 79 A. Kesimpulan . 79 B. Saran . 80 DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara ABSTRAK TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Polresta Medan) Oleh : IVO GEMA PRADANA NIM. 050200243 Kepolisian sebagai bagian intgral fungsi pemerintahan negara, ternyata fungsi tersebut memiliki takaran yang begitu luas, tidak sekedar aspek refresif dalam kaitannya dengan proses penegakan hukum pidana saja, tetapi juga mencakup aspek preventif berupa tugas-tugas yang dilakukan yang begitu melekat pada fungsi utama administrasi negara mulai dari bimbingan dan pengaturan sampai dengan tindakan kepolisian yang bersifat administrasi dan bukan kompetensi pengadilan. Peran kepolisian dalam penelitian ini akan dikaitkan dengan semakin tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. Esensi kepolisian dalam menindak lanjuti terjadinya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan amat sangat penting khususnya dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat daripada tindak pidana penganiayaan itu sendiri. Pembahasan yang akan dilakukan adalah tentang bagaimana perkembangan tindak pidana penganiayaan di Kota Medan, apa faktor penyebab tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan dan bagaimana upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian.   Setelah dilakukan pembahasan maka diketahui perkembangan  tindak pidana penganiayaan di Kota Medan semakin tahun semakin  meningkat hal ini ditandai dengan jumlah kasus penganiayaan tahun  2009 yang terbesar apabila diperbandingkan dengan penganiayaan  ringan, dimana penganiayaan berat crime totalnya sebagnyak 868 kasus  sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 135 kasus. Demikian juga  halnya crime clearance penganiayaan berat sebanyak 427 kasus  sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 38 kasus. Demikian juga  Universitas Sumatera Utara halnya penganiayaan tahun 2010 menunjukkan bahwa penganiayaan  berat lebih besar jumlahnya apabila diperbandingkan dengan  penganiayaan ringan. Dimana penganiayaan berat dengan jenis crime  total sebanyak 112 kasus sedangkan crime clearance sebanyak 99 kasus.  Penganiayaan ringan untuk crime total sebanyak 14 kasus dan untuk  crime clearance sebanyak 5 kasus. Faktor penyebab tingginya tindak  pidana penganiayaan di Kota Medan adalah karena rendahnya tingkat  pendidikan masyarakat, permasalahan pengangguran, kemiskinan,  rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat, lingkungan dan lahan.  Upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian adalah  melalui tindakan preventif berupa pencegahan dengan jalan razia, upaya  hukum persuasif berupa pendekatan kepada masyarakat dan upaya  hukum represif berupa penindakan.  Universitas Sumatera Utara ABSTRAK TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Polresta Medan) Oleh : IVO GEMA PRADANA NIM. 050200243 Kepolisian sebagai bagian intgral fungsi pemerintahan negara, ternyata fungsi tersebut memiliki takaran yang begitu luas, tidak sekedar aspek refresif dalam kaitannya dengan proses penegakan hukum pidana saja, tetapi juga mencakup aspek preventif berupa tugas-tugas yang dilakukan yang begitu melekat pada fungsi utama administrasi negara mulai dari bimbingan dan pengaturan sampai dengan tindakan kepolisian yang bersifat administrasi dan bukan kompetensi pengadilan. Peran kepolisian dalam penelitian ini akan dikaitkan dengan semakin tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. Esensi kepolisian dalam menindak lanjuti terjadinya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan amat sangat penting khususnya dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat daripada tindak pidana penganiayaan itu sendiri. Pembahasan yang akan dilakukan adalah tentang bagaimana perkembangan tindak pidana penganiayaan di Kota Medan, apa faktor penyebab tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan dan bagaimana upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian.   Setelah dilakukan pembahasan maka diketahui perkembangan  tindak pidana penganiayaan di Kota Medan semakin tahun semakin  meningkat hal ini ditandai dengan jumlah kasus penganiayaan tahun  2009 yang terbesar apabila diperbandingkan dengan penganiayaan  ringan, dimana penganiayaan berat crime totalnya sebagnyak 868 kasus  sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 135 kasus. Demikian juga  halnya crime clearance penganiayaan berat sebanyak 427 kasus  sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 38 kasus. Demikian juga  Universitas Sumatera Utara halnya penganiayaan tahun 2010 menunjukkan bahwa penganiayaan  berat lebih besar jumlahnya apabila diperbandingkan dengan  penganiayaan ringan. Dimana penganiayaan berat dengan jenis crime  total sebanyak 112 kasus sedangkan crime clearance sebanyak 99 kasus.  Penganiayaan ringan untuk crime total sebanyak 14 kasus dan untuk  crime clearance sebanyak 5 kasus. Faktor penyebab tingginya tindak  pidana penganiayaan di Kota Medan adalah karena rendahnya tingkat  pendidikan masyarakat, permasalahan pengangguran, kemiskinan,  rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat, lingkungan dan lahan.  Upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian adalah  melalui tindakan preventif berupa pencegahan dengan jalan razia, upaya  hukum persuasif berupa pendekatan kepada masyarakat dan upaya  hukum represif berupa penindakan.  Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN  Latar Belakang  Sebagai suatu negara hukum bangsa Indonesia mempunyai sistem peradilan dan catur penegak hukum. Namun dalam komponen peradilan yang cukup urgen adalah Kepolisian. Hal ini disebabkan kepolisian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan antar satu dengan lainnya, karena merupakan bagian satu sistem yang terintegrasi. Sebagai suatu sistem, peradilan pidana memerlukan keterikatan dan keterkaitan dengan komponen-komponen lainnya. Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP telah mengatur secara lebih rinci tentang kedudukan, peranan dan tugas kepolisian negara Republik Indonesia dalam kaitannya dengan proses pidana sebagai penyelidik dan penyidik serta melaksanakan koordinasi dan pengawasan terhadap penyidik pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Dalam KUHAP Pasal 1 butir 1 disebutkan pengertian penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. Pada dasarnya Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana 1 Universitas Sumatera Utara dimaksud dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam Pasal 4 bertujuan untuk menjamin tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman masyarakat guna mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri, terselenggaranya fungsi pertahanan keamanan negara, dan tercapainya tujuan nasional dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia. Fungsi kepolisian adalah satu fungsi pemerintahan negara di bidang penegakan hukum, perlindungan dan pelayanan masyarakat serta pembimbingan masyarakat dalam rangka terjaminnya ketertiban dan tegaknya hukum. Kepolisian sebagai bagian intgral fungsi pemerintahan negara, ternyata fungsi tersebut memiliki takaran yang begitu luas, tidak sekedar aspek refresif dalam kaitannya dengan proses penegakan hukum pidana saja, tetapi juga mencakup aspek preventif berupa tugas-tugas yang dilakukan yang begitu melekat pada fungsi utama administrasi negara mulai dari bimbingan dan pengaturan sampai dengan tindakan kepolisian yang bersifat administrasi dan bukan kompetensi pengadilan. Peran kepolisian dalam penelitian ini akan dikaitkan dengan semakin tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. Esensi kepolisian dalam menindak lanjuti terjadinya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan amat sangat penting khususnya dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat daripada tindak pidana penganiayaan itu sendiri. Universitas Sumatera Utara Permasalahan  Adapun permasalahan yang diajukan dalam penulisan skripsi ini adalah: 1. Bagaimana perkembangan tindak pidana penganiayaan di Kota Medan? 2. Apa faktor penyebab tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan? 3. Bagaimana upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian ? Tujuan dan Manfaat Penelitian  Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui perkembangan tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. 2. Untuk mengetahui faktor penyebab tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. 3. Untuk mengetahui upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian . Berangkat dari permasalahan-permasalahan di atas penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Dari segi teoritis sebagai suatu bentuk penambahan literatur di bidang hukum kepidanaan tentang peran dan tugas kepolisian dan kaitannya dengan penanggulangan penganiayaan. 2. Dari segi praktis sebagai suatu bentuk sumbangan pemikiran dan masukan para pihak yang berkepentingan sehingga didapatkan kesatuan pandangan tentang pelaksanaan penindakan penganiayaan. Universitas Sumatera Utara Keaslian Penulisan  Adapun penulisan skripsi yang berjudul “Tingginya Tindak Pidana Penganiayaan di Kota Medan dan Upaya Penanggulangannya (Studi di Polresta Medan)” ini merupakan luapan dari hasil pemikiran penulis sendiri. Penlisan skripsi yang bertemakan mengenai kepolisian memang sudah cukup banyak diangkat dan dibahas, namun skripsi perihal penganiayaan belum pernah ditulis sebagai skripsi. Dan penulisan skripsi ini tidak sama dengan penulisan skripsi lainnya. Sehingga penulisan skripsi ini masih asli serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan akademik. Tinjauan Kepustakaan  1. Pengertian Tindak Pidana Berdasarkan literatur hukum pidana sehubungan dengan tindak pidana banyak sekali ditemukan istilah-istilah yang memiliki makna yang sama dengan tindak pidana. Istilah-istilah lain dari tindak pidana tersebut adalah antara lain : 1. Perbuatan melawan hukum. 2. Pelanggaran pidana. 3. Perbuatan yang boleh dihukum. 4. Perbuatan yang dapat dihukum.1 1 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, Aksara Baru, Jakarta, 1983, hlm. 32. Universitas Sumatera Utara Menurut R. Soesilo, tindak pidana yaitu suatu perbuatan yang dilarang atau yang diwajibkan oleh undang-undang yang apabila dilakukan atau diabaikan, maka orang yang melakukan atau mengabaikan diancam dengan hukuman.2 Menurut Moeljatno “peristiwa pidana itu ialah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan undang-undang lainnya terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman Simons, peristiwa pidana adalah perbuatan melawan hukum yang berkaitan dengan kesalahan (schuld) seseorang yang mampu bertanggung jawab, kesalahan yang dimaksud oleh Simons ialah kesalahan yang meliputi dolus dan culpulate.3 Secara dogmatis masalah pokok yang berhubungan dengan hukum pidana adalah membicarakan tiga hal, yaitu : 1. Perbuatan yang dilarang. Dimana dalam Pasal-Pasal ada dikemukakan masalah mengenai perbuatan yang dilarang dan juga mengenai masalah pemidanaan seperti yang termuat dalam Titel XXI Buku II KUH Pidana. 2. Orang yang melakukan perbuatan dilarang. Tentang orang yang melakukan perbuatan yang dilarang (tindak pidana) yaitu : setiap pelaku yang dapat dipertanggung jawabkan secara pidana atas perbuatannya yang dilarang dalam suatu undang-undang. 2 R. Soesilo, Pokok-Pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik-Delik Khusus, Politeia, Bogor, 1991, hlm. 11. 3 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hlm. 62. Universitas Sumatera Utara 3. Pidana yang diancamkan. Tentang pidana yang yang dapat dijatuhkan diancamkan terhadap si pelaku yaitu hukuman kepada setiap pelaku yang melanggar undang- undang, baik hukuman yang berupa hukuman pokok maupun sebagai hukuman tambahan.4 Pembentuk Undang-undang telah menggunakan perkataan “Straafbaarfeit” yang dikenal dengan tindak pidana. Dalam Kitab Undangundang hukum Pidana (KUHP) tidak memberikan suatu penjelasan mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dengan perkataan “Straafbaarfeit”.5 Perkataan “feit” itu sendiri di dalam Bahasa Belanda berarti “sebagian dari suatu kenyataan” atau “een gedeele van werkwlijkheid” sedang “straaf baar” berarti “dapat di hukum” hingga cara harafia perkataan “straafbaarfeit” itu dapat diterjemahkan sebagai “sebagian dari suatu kenyataan yang dapat di hukum” oleh karena hukum kebanyakan orang akan kehilangan kekuatan mengikat. Hal ini masih memerlukan kritik. Perlu kiranya diketahui bahwa Krabbe dan juga Kranenburg termasuk mereka yang mengembangkan teori tentang kesadaran hukum. 25 Kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan mana kita membedakan antara hukum dan tidak hukum (onrecht), antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak seyogyanya dilakukan. (Scholten, 1954: 166) . Kesadaran tentang apa hukum itu berarti kesadaran bahwa hukum itu merupakan perlindungan kepentingan manusia. Bukankah hukum itu merupakan kaedah yang fungsinya adalah untuk melindungi kepentingan manusia? Karena jumlah manusia itu banyak, maka kepentingannyapun banyak dan beraneka ragam pula serta bersifat dinamis. Oleh karena itu tidak mustahil akan terjadinya pertentangan antara kepentingan manusia. Kalau semua 25 Sudikno Mertokusumo, Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat, Kertas kerja dalam rangka kerja sama Kampanye Penegakan Hukum antara Fakultas Hukum UGM dengan Kejaksaan Agung RI tahun 1978, hal. 11. kepentingan manusia itu dapat dipenuhi tanpa terjadinya sengketa atau pertentangan, kalau segala sesuatu itu terjadi secara teratur tidak akan dipersoalkan apa hukum itu, apa hukumnya, siapa yang berhak atau siapa yang bersalah. Kalau terjadi seseorang dirugikan oleh orang lain, katakanlah dua orang pengendara sepeda motor saling bertabrakan, maka dapatlah dipastikan bahwa, kalau kedua pengendara itu masih dapat berdiri setelah jatuh bertabrakan, akan saling menuduh dengan mengatakan “Kamulah yang salah, kamulah yang melanggar peraturan lalu lintas” atau “Saya terpaksa melanggar peraturan lalu lintas karena kamu yang melanggar peraturan lalu lintas lebih dulu”. Kalau tidak terjadi tabrakan, kalau tidak terjadi pertentangan kepentingan, sekalipun semua pengendara kendaraan mengendarai kendaraannya simpang siur tidak teratur, selama tidak terjadi tabrakan, selama kepentingan manusia tidak terganggu, tidak akan ada orang yang mempersoalkan tentang hukum. Kepentingan-kepentingan manusia itu selalu diancam oleh segala macam bahaya: pencurian terhadap harta kekayaannya, pencemaran terhadap nama baiknya, pembunuhan dan sebagainya. Maka oleh karena itulah manusia memerlukan perlindungan terhadap kepentingan-kepentingannya. Salah satu perlindungan kepentingan itu adalah hukum. Dikatakan salah satu oleh karena disamping hukum masih ada perlindungan kepentingan lain: kaedah kepercayaan, kaedah kesusilaan dan kaedah kesopanan. Dari uraian tersebut di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa timbulnya hukum itu pada hakekatnya ialah karena terjadinya bentrok atau konfik antara kepentingan manusia atau “conflict of human interest” 26 Dalam melindungi kepentingannya masing-masing, maka manusia di dalam masyarakat harus mengingat, memperhitungkan, menjaga dan menghormati kepentingan manusia lain, jangan sampai terjadi pertentangan atau konflik yang merugikan orang lain. Tidak boleh kiranya dalam melindungi kepentingannya sendiri, dalam melaksanakan haknya, berbuat semaunya, sehingga merugikan kepentingan manusia lain (eigenrichtig). Jadi kesadaran hukum berarti kesadaran tentang apa yang seyogyanya kita lakukan atau perbuat atau yang seyogyanya tidak kita lakukan atau perbuat terutama terhadap orang lain. Ini berarti kesadaran akan kewajiban hukum kita masing-masing terhadap orang lain. Kesadaran hukum mengandung sikap tepo sliro atau toleransi. Kalau saya tidak mau diperlakukan demikian oleh orang lain, maka saya tidak boleh memperlakukan orang lain demikian pula, sekalipun saya sepenuhnya melaksanakan hak saya. Kalau saya tidak suka tetangga saya berbuat gaduh di malam hari dengan membunyikan radionya keras-keras, maka saya tidak boleh berbuat demikian juga. Tepo sliro berarti bahwa seseorang harus mengingat, memperhatikan, memperitungkan dan menghormati kepentingan orang lain dan terutama tidak merugikan orang lain. 26 Soerjono Soekanto, Beberapa Permasalahan Hukum Dalam Kerangka Pembangunan Di Indonesia, Yayasan Penerbit UI, Jakarta, 1975, hal. 35 Penyalah gunaan hak atau abus de droit seperti misalnya mengendarai sepeda motor milik sendiri yang diperlengkapi dengan knalpot yang dibuat sedemikian sehingga mengeluarkan bunyi yang keras sehingga memekakan telinga jelas bertentangan dengan sikap tepo sliro. Kesadaran akan kewajiban hukum tidak semata-mata berhubungan dengan kewajiban hukum terhadap ketentuan undang-undang saja, tidak berarti kewajiban untuk taat kepada undang-undang saja, tetapi juga kepada hukum yang tidak tertulis. Bahkan kesadaran akan kewajiban hukum ini sering timbul dari kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang nyata. Kalau suatu peristtiwa terjadi secara terulang dengan teratur atau ajeg, maka lama-lama akan timbul pandangan atau anggapan bahwa memang demikianlah seharusnya atau seyogyanya dan hal ini akan menimbulkan pandangan atau kesadaran bahwa demikianlah hukumnya atau bahwa hal itu merupakan kewajiban hukum. Suatu peristiwa yang terjadi berturut-turut secara ajeg dan oleh karena itu lalu biasa dilakuan dan disebut kebiasaan, lama-ama akan mempunyai kekuatan mengikat (die normatieve Kraft des Faktischen). Memang keadaan akan kewajiban hukum itu merupakan salah satu faktor untuk timbulnya hukum kebiasaan. Faktor lain untuk timbulya hukum kebiasaan ialah terjadinya sesuatu yang ajeg. Akan tetapi kesadaran akan kewajiban hukum tidak perlu menunggu sampai terjadinya suatu peristiwa secara berulang. Suatu peristiwa cukup terjadi sekali saja untuk dapat memperoleh kekuatan mengikat asal peristiwa yang hanya terjadi sekali saja itu cukup menyebabkan timbulnya kesadaran bahwa peristiwa atau perbuatan itu seyogyanya terjadi atau dilakukan. Pada hakekatnya kesadaran hukum masyarakat tidak lain merupakan pandangan-pandangan yang hidup dalam masyarakat tentang apa hukum itu. Pandangan-pandangan yang hidup di dalam masyarakat bukanlah semata-mata hanya merupakan produk pertimbangan-pertimbangan menurut akal saja, akan tetapi berkembang di bawah pengaruh beberapa faktor seperti agama, ekonomi poliitik dan sebagainya Sebagai pandangan hidup didalam masyarakat maka tidak bersifat perorangan atau subjektif, akan tetapi merupakan resultante dari kesadaran hukum yang bersifat subjektif. Di muka telah diketengahkan bahwa ratio adanya hukum itu adalah “conflict of human interest”. Hukum baru dipersoalkan apabila justru hukum tidak terjadi, apabila hukum tidak ada.(onrecht) atau kebatilan. Kalau segala sesuatu berlangsung dengan tertib (bukankah tujuan hukum itu ketertiban?), maka tidak akan ada orang mempersoalkan tentang hukum. Baru kalau terjadi pelanggaran, sengketa, bentrokan atau “conflict of human interest”, maka dipersoalkan apa hukumnya, siapa yang berhak, siapa yang benar dan sebagainya. Dengan demikian pula kiranya dengan kesadaran hukum. Kesadaran hukum pada hakekatnya bukanlah kesadaran akan hukum, tetapi terutama adalah kesadaran akan adanya atau terjadinya “tidak hukum” atau “onrecht”. Memang kenyataannya ialah bahwa tentang kesadaran hukum itu baru dipersoalkan atau ramai dibicarakan dan dihebohkan di dalam surat kabar kalau justru kesadaran hukum itu merosot atau tidak ada, kalau terjadi pelanggaranpelanggaran hukum: pemalsuan ijazah, pembunuhan, korupsi, pungli, penodongan dan sebagainya. Sesuai dengan apa yang telah dikemukan di atas, bahwa kesadaran hukum pada hakekatnya adalah kesadaran akan adanya atau terjadinya “tidak hukum” atau “onrecht”, maka marilah kita lihat apakah di dalam masyarakat sekarang ini banyak terjadi hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang dinilai sebagai “tidak hukum” atau “onrecht”. Akhir-akhir ini banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum. Kalau kita mengikuti berita-berita dalam surat kabar-surat kabar, maka boleh dikatakan tidak ada satu hari lewat di mana tidak dimuat berita tentang terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum, baik yang berupa pelanggaranpelanggaran, kejahatan-kejahatan, maupun yang berupa perbuatan melawan hukum, ingkar janji atau penyalah gunaan hak. Berita-beria tenang penipuan, penjambretan penodongan pembunuhan, tabrak lari dan sebagainya setiap hari dapat kita baca di dalam surat kabar-surat kabar. Yang menyedihkan ialah bahwa tidak sedikit dari orang-orang yang tahu hukum melakukannya, baik ia petugas penegak hukum atau bukan. Memang kriminalitas dewasa ini meningkat. Hal ini diakui juga oleh pihak kepolisian. Yang mencemaskan ialah bahwa meningkatnya kriminalitas bukan hanya dalam kuantitas atau volume saja, tetapi juga dalam kualitas atau intensitas. Kejahatan-kejahatan lebih terorganisir, lebih sadis serta di luar peri kemanusiaan: perampokan-perampokan yang dilakukan secara kejam terrhadap korban-korbannya tanpa membedakan apakah mereka anak-anak atau perempuan, pembunuhan-pembunuhan dengan memotong-motong tubuh korban. Rasanya tidak mau percaya kalau mengingat bahwa bangsa Indonesia itu terkenal sebagai dan hasil penyidikan. Dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Guna mencapai dan menunaikan cita-cita dan harapan para pencipta hukum khususnya dan seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA I. Buku Abdussalam HR, Prospek Hukum Pidana Indonesia, Jakarta; Restu Agung, 2006 Amin Rais, Menyikapi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di Indonesia, Yogyakarta, Aditya Media, 1999 Anthon F. Susanto, Wajah Peradilan Kita, Bandung : Reflika Aditama, 2004 Awhil Luthan, Perbandingan Sistem Kepolisian di Negara-negara Demokratis, Word Press, Jakarta : 2000 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1996 -------------------------, Sistem Peradilan Pidana Terpadu Dalam Kaitannya dengan Pembaruan Kejaksaan, Jakarta : Media Hukum, 2002 David H. Bayley, Police For The Future Polisi Masa Depan, Jakarta; Cipta Manunggal, 1998 Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007 Danil Elwi, Korupsi, Konsep; Tindak Pidana dan Pemberantasannya, Jakarta : Raja Grafindo, 2012 Hamid, Edy Suwandi dan Muhammad Sayuti, Menyingkap Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di Indonesia, Yogyakarta; Aditya Media, 1999 Hamzah Andi, Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2008 Hamzah Andi, Perkembangan Hukum Pidana Khusus, Jakarta; PT Melon Putra, 1991 Universitas Sumatera Utara Harahap Yahya, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Edisi Kedua, Jakarta : Sinar Grafika, 2009 Harun M. Husein, Surat Dakwaan Teknik Penyusunan, Fungsi dan Permasalahannya, tanpa tahun, tanpa penerbit. Henry Campbell Black, Black,s Law Dictionary With Pronouncations, St.Paul, Minn: West Publishing Co, 1983 Irjen Pol. Purn. Momo Kelana, Bunga Rampai Ilmu Kepolisian, , M.si, Jakarta : 2002 Jeremy Pope, Strategi Memberantas Korupsi Elemen Sistem Integritas Nasional, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2002 Jur Andi Hamzah, Perbandingan Pemberantasan Korupsi di Berbagai negara, Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2005 _______________, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004 Kaligis OC, Perlindungan Hukum atas Hak Asasi Tersangka, Terdakwa dan Terpidana, Bandung ; PT Alumni, 2006 _________, Pengawasan Terhadap Jaksa Selaku Penyidik Tindak Pidana Khusus dalam Pemberantasan Korupsi, Bandung : P.T. Alumni, 2006. Kunarto, Tribrata Catur Prasetya Sejarah Perspektif & Prospeknya, Jakarta : PT Cipta Manunggal. 1997. Kunarto dan Hariadi Kuswaryono, Polisi dan Masyarakat, Jakarta; Cipta Manunggal, 1998 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Memahami Untuk Membasmi, Buku Panduan Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta ; 2006 Universitas Sumatera Utara Laurence M Friedmen, Legal Theory, 5 th Edition, 1967, p.4 dalam lan Mcleod, Legal Theory, London : Macmillan Press Ltd., 1998 ----------------------------, American Law, New York-London: W.M Norton and Company, 1984 ----------------------------, Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial, Bandung : Nusa Media, 2009 Lilik Mulyadi, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Bandung : P.T. Alumni, 2007 Loqman Loebby, Beberapa Ikhwal didalam Undang-undang No.3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta; Data Com, 1991 _______________, Delik Politik di Indonesia, Jakarta; Ind-Hill-Co, 1993 Made Darma Weda, Kronik Dalam Penegakan Hukum Pidana, Jakarta : Guna Widya, 2003 Manan Bagir, Sistem Peradilan Berwibawa, Jakarta : FH UII Press Yogyakarta, 2005 Mansyur Semma, NEGARA dan KORUPSI Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara Manusia Indonesia dan Perilaku Politik, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2008. Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana, ( Jakarta : Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi), Jakarta : UI Press, 1999 -------------------------, Sistem Peradilan Pidana Indonesia (Peran Penegak Hukum Melawan Kejahatan) dalam Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana, Jakarta : Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum UI, 1997 Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 1990 Universitas Sumatera Utara Muljatno Sindhudarmoko, Masruchin, M.Sadeli, Suharli Marbun, Nugroho Arimuljarto, Ekonomi Korupsi, Jakarta : Penerbit Pustaka Quantum, 2001 Moeljatno, Asar-asas Hukum Pidana, Jakarta; PT Rineka Cipta, 2008 Moleong, Lexy J, Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2002 R. Abdussalam, Penegakan Hukum dilakukan oleh Polisi, Jaksa, Hakim dan Lembaga Pemasyarakatan sebagai Law Enforcement Officer, Jakarta : PT Jasguna Wiratama, 1997 R Abdussalam dan Zen Zenibar, Refleksi Keterpaduan penyidikan, Penuntutan dan Peradilan dalam Penanganan Perkara, Jakarta : PT Jasguna Wiratama, 1998 R. Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia Edisi Revisi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1984 Robert Klitgaard, Membasmi Korupsi, (Jakarta, Yayasan Obor, 1998 _____________, Penuntutan Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Derah, diterjemahkan oleh Masri Maris, (Jakarta; Yayasan Obir dan Partnership for Governance Reform in Indonesia, 2002 Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana : Persfektif Eksistensialisme dan Abilisionisme, Bandung: Bina Cipta, 1996 Said Buchari, Sari Pati Hukum Acara Pidana, Cetakan Pertama, Jakarta : 1997 Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan Sosial, Bandung : Alumni, 1979 _______________, Hukum dan Masyarakat, Bandung; Angkasa, 1986 _______________, Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, Jakarta : Genta Publishing, 2009 _______________, Polisi Sipil dalam Perubahan Sosial Budaya, Penerbit Kompas, Jakarta; 2002 Universitas Sumatera Utara Syed Hussein Alatas, Sosiologi Korupsi ; Sebuah Penjelajahan dengan data Kontemporer, Jakarta : LP3ES, 1983 Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Grafindo, 2006 Soerjono Soekanto dalam Khudzaifah Dimyati & Kelik Wardiono, Metode Penelitian Hukum, Surakarta : Universitas Muhamadiyah Surakarta, 2004 Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif ( Suatu Pengantar ), Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004 _______________, Beberapa Aspek Sosio Yuridis Masyarakat, (Bandung; Alumni, 1983 Seodikno Mertokusumo, Mengenal Hukum ( Suatu Pengantar ), Yogyakarta : Liberty, 1988. Soemitro, Ronny Hanitijio, Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1982 Sudarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat ; Kajian Terhadap Pembaharuan Hukum Pidana, Bandung; Sinar Baru, 1983 ______, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung; Alumni, 1986 Suwarni, Perilaku Polisi, Studi atas Budaya Organisasi dan Pola Komunikasi, Bandung; Nusa Media, 2009 The United Nation, “The United Nations and Crime Prevention” New York : United Nation, 1996 Warasih Esmi, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang : Suryandaru Utama, 2005 Universitas Sumatera Utara II. Artikel / Makalah / Jurnal Bagaimana Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Badan Reserse Kriminal Polri Direktorat III/ Pidana Korupsi & WCC, Jakarta : Maret 2005 Berantas Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, Bareskrim Mabes Polri, Jakarta : 2008. Manan Bagir, Pemikiran Negara Berkonstitusi di Indonesia, Makalah Temu Ilmiah Nasional Mahasiswa Hukum se Indonesia, Bandung : FH Unpad, 6 April 1999 Hubungan Polisi Dan Jaksa Dalam Peradilan Pidana Terpadu, ”Media Hukum Vol 2 No 8 November 2003 Penanganan dan Penanggulangan Korupsi Oleh KPK, Diskusi Internal Harian Umum PIKIRAN RAKYAT, Bandung, 25 Januari 2005 Korupsi Bias dan Strategi Penyidikan, Kuliah Umum Sespati Polri, Lembang : 2008. “Mencegah Korupsi dan Keterbukaan”, Majalah Forum Keadilan No.3, tanggal 9 Januari 2005 Tindak Pidana Khusus (Korupsi) dalam Pembentukan Hukum Pidana Nasional, Dalam PERSAHI, Nomor Perdana, September 1988. Segitiga Latar Korupsi, Pelatihan Pemberantasan Tipkor, BRR NADNIAS, Banda Aceh; 2008. “Korupsi dalam Perspektif Good Governence” Jurnal Kriminilogi Indonesia, Vol.2 No.1 FISIP.UI Januari 2002 Universitas Sumatera Utara III. Peraturan Perundang-undangan Perpu No. 24 tahun 1960, kemudian Undang-undang R.I No. 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Undang-undang R.I No. 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Undang-undang R.I No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan TP. Korupsi. Undang-undang R.I No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undangundang R.I No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-undang RI No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI. Undang-undang R.I No. No. 16 tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Undang-undang No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi Korupsi. Inpres No. 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Universitas Sumatera Utara
Tingginya Tindak Pidana Penganiayaan Di Kota Medan Dan Upaya Penanggulangannya (Studi Di Polresta Medan) Bentuk-Bentuk Penganiayaan Tingginya Tindak Pidana Penganiayaan Di Kota Medan Dan Upaya Penanggulangannya (Studi Di Polresta Medan) Pengertian Tindak Pidana Tingginya Tindak Pidana Penganiayaan Di Kota Medan Dan Upaya Penanggulangannya (Studi Di Polresta Medan) Upaya Hukum Preventif FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KASUS PENGANIAYAAN DI
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Tingginya Tindak Pidana Penganiayaan Di Kota Medan Dan Upaya Penanggulangannya (Studi Di Polresta Medan)

Gratis