Feedback

Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki.

Informasi dokumen
ANALIS SIS KONFL LIK SOSIA AL TOKOH UTAMA A “BOTCH HAN” DALAM NOVEL L “BOTCHA YA NATSU UME SOSE EKI AN” KARY NATSUM ME SOSEK KI NO SAK KUHIN NO O “BOTCH HAN” NO SSHOSETSU U NI OKE ERU “BOT TCHAN” T TO IU SHU UJINKO NO N SAKAIITEKI NA TAIR RITSU NO BUNSEKII SKRIP PSI Skripsi ini diajuk kan kepadaa Panitia Ujjian Progra am Studi SSastra Jepang Fak kultas Ilmu u Budaya U Universitas Sumatera Utara Meddan untuk Melenggkapi Salah h Satu Syarrat Ujian Sarjana S dallam Bidangg Ilmu Sasttra Jepan ng Oleh: JESSI M MEGA SIM MANJUNTAK NIM. 0607 708038 DEPARTE EMEN SASTRA JEP PANG FAKU ULTAS ILM MU BUDAY YA UNIVERSI U ITAS SUM MATERA UTARA U MEDA AN 2011 1 1 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah . 1 1.2 Perumusan Masalah. 6 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan . 8 1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori . 9 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 14 1.6 Metode Penelitian . 15 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL, SOSIOLOGI SASTRA DAN KONFLIK SOSIAL 2.1 Defenisi Novel . 16 2.1.1 Unsur Intrinsik . 18 a. Tema . 18 b. Penokohan . 19 c. Alur atau Plot . 21 d. Setting atau Latar. 24 1. Setting Tempat . 25 2. Setting Waktu . 25 3. Setting Sosial . 25 2.1.2 Unsur Ekstrinsik . 30 2.1.3 Biografi Pengarang . 30 2.2 Defenisi Sosiologi Sastra . 35 2 Universitas Sumatera Utara 2.3 Interaksi Sosial . .38 2.4 Konflik Sosial . 40 BAB III ANALISIS KONFLIK SOSIAL TOKOH UTAMA “BOTCHAN” DALAM NOVEL BOTCHAN KARYA NATSUME SOSEKI 3.1 Sinopsis Cerita . 45 3.2 Konflik Sosial yang dialami Botchan . 50 3.2.1 Konflik Sosial dengan Murid . 50 3.2.2 Konflik Sosial dengan Sesama Guru . 59 BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan . 76 4.2. Saran . 78 DAFTAR PUSTAKA ABSTRAK 3 Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut Wellek dan Warren dalam Melani Budianto, (1995:109) sastra adalah instutusi sosial yang memakai medium bahasa yang “menyajikan kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Menurut Teeuw dalam Nyoman Kutha Ratna, (2005:4), sastra berasal dari akar kata sas (sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi secara leksikal berarti kumpulan alat untuk mengajar atau buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Karya sastra berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua macam sifat yaitu, karya sastra yang bersifat imajinasi (fiksi) dan karya sastra yang bersifat non imajinasi (non fiksi). Menurut Aminudin (2000:66), sastra fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Dengan demikian karya sastra lahir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan refleksi kehidupan manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Sebagai sebuah karya yang imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusian, hidup dan kehidupan. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan seksama, Nurgiyantoro (1995:3). Karya fiksi 4 Universitas Sumatera Utara lebih lajut masih dapat dibedakan dalam berbagai macam bentuk, baik itu roman, novel, maupun cerita pendek. Salah satu bentuk karya fiksi adalah novel. Menurut H. B. Jassin dalam Suroto, (1989:19) novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan kejadian secara luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh-tokoh cerita), luar biasa karena dari kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka. Ada dua unsur pokok yang membangun sebuah karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur dalam sastra yang ikut serta membangun karya sastra tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lainlain. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar tubuh karya sastra itu sendiri yang ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra. Unsur-unsur tersebut meliputi latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan dan pandangan hidup pengarang, adat istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik, persoalan sejarah, ekonomi, pengetahuan agama dan lain-lain yang dapat mempengaruhi pengarang dalam penulisan karyanya. Novel sebagai salah satu karya sastra fiksi memiliki kedua unsur tersebut. Salah satu unsur instrinsik yang akan ditelaah adalah tokoh cerita. Peristiwa dalam karya sastra fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Aminudin (2000:79), tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Novel hanya menceritakan salah satu kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa yang 5 Universitas Sumatera Utara mengakibatkan terjadinya perubahan nasib. Tentunya dalam novel tersebut terdapat beberapa peristiwa kehidupan sang tokoh sehingga ia mengalami perubahan jalan hidup. Pada penelitian ini, penulis akan membahas sebuah novel yang berjudul “Botchan” karya Natsume Soseki. Natsume Soseki merupakan seorang tokoh terbesar dalam kesusastraaan modern Jepang yang lahir di Tokyo pada tahun 1867. Soseki tidak diragukan lagi sebagai salah seorang pengarang Jepang yang terbesar. Tidaklah mengherankan kalau karya-karya Soseki sampai sekarangpun tetap menarik dan tetap popular bagi orang Jepang, sedangkan orang-orang asing pun berlomba-lomba menerjemahkanya ke dalam bahasanya masing-masing. Karya Soseki adalah buah tangan pengarang Jepang yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, beberapa diantaranya, seperti Botchan dan Aku Seekor kucing, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris saja. Salah satu novel yang telah dihasilkan oleh Natsume Soseki adalah novel yang berjudul “Botchan”, yang dibuat tahun 1906. Novel ini merupakan novel satir dan tema utama dari novel ini adalah moralitas. Cerita yang diturturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang, dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang Modern. Walaupun novel ini tergolong klasik, namun isinya sangat relevan dengan zaman modern saat ini karena sarat dengan nilai-nilai moral. Menceritakan kehidupan seorang pemuda Tokyo bernama “Botchan” yang mempunyai sifat jujur, adil, idealis, blak-blakan, bertanggung jawab dan teguh pendiriannya, yang pergi ke desa terpencil untuk menjadi seorang guru. Karena sifat yang dimilikinya 6 Universitas Sumatera Utara tersebutlah banyak masalah dan konflik yang dialami Botchan dengan orang di sekitarnya. Di awal cerita, novel ini menceritakan kehidupan Botchan kecil yang tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya karena dianggap sebagai anak yang nakal. Hanya Kiyo sang pelayan tua yang sangat menyayangi Botchan, ia selalu bisa melihat sisi positif dan kejujuran dari seorang Botchan. Hubungan Botchan dengan ibu, ayah dan kakaknya tidak pernah baik hingga ayah dan ibunya pun meninggal dunia. Lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo, Botchan menerima tawaran menjadi guru matematika di sekolah menengah pedesaan di Shikoku. Di sinilah cerita seperti benar-benar dimulai di mana sosok seorang Botchan yang jujur, adil dan tidak suka kepura-puraan dan blak-blakan dipertemukan dengan dunia nyata di mana banyak sekali ketidakadilan, kemunafikan, dan kepura-puraan berada. Semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut, ia terlibat dalam berbagai konflik dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal menyangkut tatakrama, status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. Botchan yang sebelumnya tinggal di Tokyo sering terkejut dengan kebiasaan dan peraturan yang berlaku di sekolah tempat Botchan mengajar seperti seorang guru dilarang berkunjung dan makan di restoran ramen dan dango. Awalnya “Botchan” tidak tau akan hal itu dan ia berkunjung dan makan di toko ramen dan dango. Keesokan harinya ia diejek dan ditertawakan murid-muridnya. Botchan yang seorang guru baru memberontak terhadap “sistem” yang selama ini berlaku di sekolah desa tersebut karena ketidakadilannya dan tidak dapat bersikap tegas terhadap kenakalan siswa. Seperti ketika terjadi insiden ia 7 Universitas Sumatera Utara dikerjai murid-muridnya yang nakal yang memasukkan belalang ke dalam futonnya ketika ia tugas malam di sekolah. Tentu saja Botchan marah besar dan menimbulkan keributan di sekolah karena muridnya tidak mau jujur mengakui kesalahan. Dan menurutnya kepala sekolah tidak dapat bersikap tegas. Karena Sifat Botchan yang selalu terus terang dan pemberani sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam perjalananya sebagai seorang guru inilah Botchan banyak merasakan keadaankeadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan sesama guru, masyarakat dan para muridnya. Ternyata tidak mudah menjadi seorang guru baru di desa terpencil. Botchan dianggap remeh dan tidak sopan oleh orang-orang disekitarnya karena memiliki sifat jujur, adil dan blak-blakan. Novel ini juga bercerita tentang perseteruan/konflik terselubung antara Botchan dan Kepala Guru yang di beri julukan si Kemeja Merah oleh Botchan, yang dinilai Botchan munafik, licik dan pura-pura baik, sok intelek dan merasa superior. Ia memanfaatkan jabatannya untuk merebut tunangan orang lain seorang guru yang lebih rendah jabatannya, dan akhirnya guru tersebut dipindah tugaskan. Kemeja Merah juga mengadu domba Botchan dengan seorang guru Matematika senior yang bernama Hotta yang mengakibatkan pertengkaran diantara Botchan dan guru tersebut. Tetapi Botchan kemudian sadar bahwa ia sedang di adu domba dan segera berbaikan dengan Hotta. Karena tak betah lagi tinggal lebih lama di desa terpencil ini, akhirnya ia dan Hotta meninggalkan desa tersebut setelah sebelumnya memergoki kepala guru dan rekannya yang penjilat seorang guru seni yang diberi julukan si Badut oleh Botchan berkunjung ke Kagoya (rumah bordil). Kemudian Hotta dan Botchan melayangkan tinju kepada kepala guru dan 8 Universitas Sumatera Utara rekannya tersebut. Padahal sebelumnya si kepala guru berkata pergi ke tempattempat hiburan merusak disiplin sebagai seorang guru. Bagi pembaca di dunia Barat alur cerita novel ini mungkin terasa tipis, dan mungkin bertanya-tanya mengapa buku ini begitu menarik bagi pembaca Jepang. Buku ini memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat Jepang. Sebagian dari daya tarik buku ini dapat ditemui pada sifat ksatria yang diembuskan Botchan dari suatu kemelut ke kemelut lain. Botchan tumbuh menjadi sosok yang idealis, jujur dan terkadang bersikap sinis terhadap orang lain. Botchan tidak tunduk pada seseorang atau suatu norma, ini yang membuatnya dicintai pembaca modern Jepang sampai sekarang, karena bahkan saat inipun orang Jepang terkungkung ketatnya tatakrama sosial. Dari uraian di atas terlihat konflik sosial yang dialami sang tokoh utama Botchan dalam lingkungan pekerjaanya. Berdasarkan uraian di atas dan setelah membaca novel tersebut, maka penulis tertarik menulis skripsi yang berjudul “Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki”. 1.2 Perumusan Masalah Novel Botchan merupakan novel Natsume Soseki yang sangat terkenal. Menceritakan tentang kehidupan dan konflik sosial yang dialami tokoh utamanya yang dipanggil “Botchan” yang berasal dari Tokyo pergi ke Shikoku untuk mengajar Matematika di Sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang jujur, adil dan blak-blakan banyak menimbulkan konflik dengan orang-orang disekitar lingkungan tempat Botchan mengajar di sekolah menengah Matsuyama. 9 Universitas Sumatera Utara Dalam novel ini diceritakan bahwa setelah lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo, Botchan menerima tawaran menjadi guru matematika di sekolah menengah pedesaan di Shikoku. Di sinilah konflik seperti benar-benar di mulai di mana sosok seorang Botchan yang jujur, adil dan tidak suka kepura-puraan dipertemukan dengan dunia nyata dimana banyak sekali ketidakadilan, kemunafikan orang-orang yang bermuka dua dan penjilat berada. Dan semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut, Botchan terlibat dalam berbagai konflik dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal menyangkut tatakrama, status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. Kejujuran serta kepolosan dan sifatnya yang blak-blakan bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya. Mulai dari kepala sekolah, guru-guru dan para murid. Dia mendapat masalah dengan adanya penipuan, pencemaran nama baik, hingga perkelahian, semua hal yang menyebabkan dirinya semakin lama semakin muak dengan kemunafikan serta kepura-puraan yang terjadi di sekelilingnya Dalam perjalanannya sebagai seorang guru, Botchan banyak merasakan keadaan-keadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan sesama guru, masyarakat dan para muridnya. Ketidaksesuain hati terhadap kondisi yang dihadapinya sehari-hari inilah yang menjadi pembangunan alur cerita dan konflik dalam novel Botchan. Kejujuran dan keteguhan hati Botchan serta pesan moral yang ingin di sampaikan penulis dalam cerita inilah yang membuat novel ini menarik. Botchan betul-betul menampilkan karakter dirinya sendiri. Untuk memudahkan arah sasaran yang ingin dikaji, maka masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 10 Universitas Sumatera Utara 1. Bagaimanakah kondisi sosial dalam novel Botchan karya Natsume Soseki? 2. Bagaimanakah konflik sosial yang dialami oleh tokoh utama “Botchan” dalam novel Botchan karya Natsume Soseki? 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan Dari permasalahan-permasalahan yang ada maka penulis menganggap perlu adanya pembatasan ruang lingkup dalam pembahasan. Hal ini dimaksudkan agar masalah penelitian tidak terlalun luas, sehingga penulisan dapat lebih terarah dan terfokus. Dalam analisis ini, penulis hanya akan membatasi ruang lingkup pembahasan yang difokuskan pada masalah konflik sosial yang dihadapi tokoh utama “Botchan” dalam novel Botchan. Tokoh Botchan merupakan seorang pemuda Tokyo yang pergi ke sebuah sekolah desa untuk mengajar Matematika. Ia mempunyai sifat jujur, adil, idealis, blak-blakan, dan terkadang bersifat sinis terhadap orang lain yang menimbulkan banyak masalah dan konflik dengan orang di sekitarnya, khususnya di lingkungan pekerjaanya di sebuah sekolah desa. Kejujuran dan sifatnya yang blak-blakan sering bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya. Agar dalam pembahasan novel ini lebih akurat, logis dan terarah, maka penulis sebelum bab pembahasan menjelaskan lagi tentang defenisi novel, setting novel Botchan, riwayat hidup Natsume Soseki, dan pengertian dan teori tentang konflik sosial. 11 Universitas Sumatera Utara 1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1) Tinjauan Pustaka Menurut Aminudin (2000:66), sastra fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Dengan demikian karya sastra lahir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan refleksi kehidupan manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Menurut Selo Soemarjan dan Soemardi dalam Soekanto, (2000:21) Sosiologi adalah ilmu yang memepelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Interaksi sosial menurut Soekanto (2003:61) merupakan yang berjudul Stratifikasi dan Interaksi Tokoh-Tokoh Novel Langit Taman Hati Karya Cucuk Hariyanto: pendekatan sosiologis, membahas tentang stratifikasi dan interaksi sosial tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Kajiaan yang dilakukan Rohma Junita sangat membantu penulis dalam menganalisis interaksi sosial tokoh, karena persamaan unsur yang diteliti, bedanya Rohma Junita menganalisis semua tokoh sedangkan, penulis hanya tokoh utama saja. Nova Mandasari (2010) dalam skripsinya yang berjudul Cerita Calon Arang Karya Pramoedya Ananta Toer: Analisis Sosiosastra, membahas tentang gambaran intrinsik dan nilai sosial yang terdapat dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer. Kajian yang dilakukan Nova Mandasari sangat membantu penulis dalam melihat gambaran novel Cerita Calon Arang dari aspek nilai sosialnya. Iwan Sebastian (2013) dalam skripsinya yang berjudul Moralitas Tokoh Utama Roman 813 Karya Maurice Leblanc: Analisis Sosiologi Sastra, membahas tentang moralitas tokoh utama berdasarkan tinjauan sosiologis Emile Durkheim. Kajian yang dilakukan Iwan Sebastian sangat membantu penulis dalam melihat gambaran moral tokoh utama dari aspek nilai sosialnya. Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Ratna (2004: 46-48) mengatakan bahwa metode kualitatif memberikan perhatian terhadap data alamiah, data dalam hubungannya dengan konteks keberadaannya. Cara-cara inilah yang mendorong metode kualitatif dianggap sebagai multimetode sebab penelitian pada gilirannya melibatkan sejumlah besar gejala sosial yang relevan. Ratna (2004: 47-48) mengatakan bahwa ciri-ciri terpenting metode kualitatif, yaitu: 1. Memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek, yaitu sebagai studi kultural. 2. Lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. 3. Tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. 4. Desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. 5. Penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks sosial budayanya masing- masing. 3.2 Sumber Data Judul : Novel Cerita Calon Arang Pengarang : Pramoedya Ananta Toer Penerbit : Lentera Dipantara Tahun terbit : Juli 2003 Nomor : ISBN 979-97312-10-5 Universitas Sumatera Utara Tebal : 96 halaman, 13 x 20 cm Percetakan : Grafika Mardi Yuana, Bogor 3.3 Teknik Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah library research, yaitu dengan mengumpulkan informasi melalui studi kepustakaan. Untuk menambah korpus data, penelitian ini mengupayakan pencarian korpus data melalui internet research (pencarian data dengan menelusuri artikel ilmiah di internet). 3.4 Teknik Analisis Data Kuntjara (2006: 99) menjelaskan bahwa data merupakan konstruksi makna yang diperoleh dari sumber data. Menganalisis data sama dengan mengonstruksi dari konstruksi makna yang diperoleh. Moleong (2007: 157) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Sedangkan data tertulis, foto dan statistik adalah data tambahan. Data adalah konteks + objek kajian, yang berkaitan langsung dengan permasalahan penelitian. Objek kajian berada dalam konteks, oleh karena itu konteks perlu dipertimbangkan. Moleong (2007:3) mengatakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Ratna (2004: 49) menegaskan bahwa dasar pelaksanaan metode analisis isi adalah penafsiran. Dasar penafsiran dalam metode analisis isi yaitu memberikan perhatian pada isi pesan. Pencarian data dalam Novel dengan membaca teks bab demi bab yang terdapat dalam cerita lalu menandai teks data. Ketika pembacaan tersebut diharapkan terjadi pemahaman agar dapat menghubungkan permasalahan dengan data. Data yang sesuai dengan permasalahan kemudian dicatat lalu dikelompokkan berdasarkan kelompok permasalahannya hingga dianalisis berdasarkan teori yang telah dipilih. Universitas Sumatera Utara IV INTERAKSI DAN KONFLIK SOSIAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL CERITA CALON ARANG KARYA: PRAMOEDYA ANANTA TOER 4.1 Interaksi Sosial Tokoh Utama dalam novel Cerita Calon Arang Priyatna (2013: 70) menyatakan bahwa interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sehingga ada lawan dari hubungan satu arah yang terjadi pada sebab akibat. Priyatna (2013: 70) menjelaskan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok, baik dalam bentuk kerjasama, persaingan atau pertikaian. Interaksi sosial melibatkan proses-proses sosial yang bermacam-macam yang menyusun unsur-unsur dari masyarakat, yaitu proses tingkah laku yang dikaitkan dengan struktur sosial. Setiadi (2011: 95) mengatakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antarindividu dalam kehidupan sosial. Adapun manusia sebagai insan individu yang masing-masing memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Interaksi sosial secara umum ada tiga, yaitu: 1. Kerja sama 2. Persaingan 3. Pertentangan/pertikaian Priyatna (2013: 70) menerangkan bahwa interaksi sosial ada dua yaitu yang besifat asosiatif yaitu yang mengarah kedalam bentuk kerjasama. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif yang mengarah kedalam bentuk perlawanan. Universitas Sumatera Utara Bentuk-bentuk interaksi sosial yang terdapat didalam novel Cerita Calon Arang yaitu: 4.1.1. Kerja sama Soekanto (2006: 65) mengatakan bahwa kooperasi atau kerja sama merupakan perwujudan minat dan perhatian orang untuk bekerja bersama-sama dalam suatu kesepahaman, sekalipun motifnya sering dan bisa tertuju kepada kepentingan diri sendiri. 4.1.1.1 Kerja sama Calon Arang dengan murid-muridnya untuk memuja kedatangan Dewi Durga Kerja sama Calon Arang dengan murid-murid terkemukanya yaitu, Weksirsa, Mahisa, Wadana, Lendesi, Larung, Guyung dan Gandi secara bersama-sama di dalam Candi Durga memuja Dewi Durga dengan mengucapkan segala mantra supaya Dewi Durga datang. Setelah niatnya pasti, dipanggillah semua muridnya. Diantaranya murid-muridnya yang terkemuka ialah Weksirsa, Mahisa, Wadana, Lendesi, Larung, Guyung, dan Gandi. Semua murid-muridnya menyetujui maksudnya. Tanpa banyak pertimbangan berangkatlah mereka ke Candi Durga. Durga yang juga disebut Bagawati adalah dewi yang menghendaki kerusakan. Di dalam candi inilah Calon Arang memuja dewinya. Diucapkan segala mantra dan maksudnya hendak membunuh orang banyak-banyak. Api pedupaan pun mengepul-ngepulkan asap. Bau ratus dan pandanwangi semerbak memenuhi ruangan candi. Lama Calon Arang memujanya. Murid-muridnya mengikuti memuja. Berdengung-dengunglah bunyi puja mereka. Sambil memuja, murid-murid itu menandak dan menari-nari. Seperti kawanan orang gila saja nampaknya. Dalam menari-nari itu mereka melangkah berputar-putar. Tidak karuan tariannya, yang satu tidak sama dengan yang lain. Seorang menjelir-jelirkan lidah seperti ular. Seorang yang lain mendelik-delik menakutkan. Sedangkan, yang lain lagi miring-miring dan kakinya dipendekkan. Macam-macamlah. Universitas Sumatera Utara Tidak lama kemudian datanglah dewi yang mereka puja itu. Dewi Durga! Semua yang ada di candi berjongkok. Kemudian kepala mereka ditundukkan hingga ke tanah. Melalui asap pedupaan itulah Dewi Durga datang. Kian lama kian nyata rupanya. Ia adalah dewi yang luar biasa cantik dan bagusnya. Tidak sedikit pun ada cacat pada tubuhnya. Tenang kembali keadaan candi itu. (halaman 15). 4.1.1.2 Kerja sama Calon Arang dengan Dewi Durga untuk membuat penyakit Kerja sama Calon Arang dengan Dewi Durga untuk membuat penyakit besarbesaran. Calon Arang dengan Dewi Durga mendatangkan penyakit kepada warga Kediri. Dewi Durga adalah dewi yang menghendaki kerusakan. “Calon Arang anakku, “ kata Sang Dewi,” apakah maksudmu memanggil daku?” Sekali lagi Calon Arang menyembah. Kemudian menjawab: “Izinkanlah hambamu memohon kasih dari paduka Dewi.” “Katakan maksudmu, anakku.” “Ya, paduka Dewi, berilah hamba izin untuk membangkitkan penyakit buat menumpas orang banyak-banyak.” “Itulah maksudmu, anakku?” kata Dewi Durga. “Demikianlah, paduka Dewi,” ujar Calon Arang. “Jangan kau kuatirkan sesuatu apapun. Aku izinkan engkau membangkitkan penyakit dan banyak sekali orang akan mati karenanya.” Bukan main girangnya hati Calon Arang. Serentak murid-muridnya bangkit berlutut dan kembali melompat-lompat, menari dan menandak-nandak. “Tetapi, anakku,” kata Sang Dewi lagi. “Tidak kuijinkan engkau meratakan penyakit hingga ke dalam ibukota. Engkau boleh membunuh orang di luar ibukota saja”. Universitas Sumatera Utara orang-orang dan orangtua Kanjat yang pasti tidak akan setuju, terlebih janji yang terlanjur diucapkannya. Lasi bukanlah orang yang ingkar janji. Data 7 “Masalahnya bukan alim atau tidak alim, melainkan lebih sederhana. Melakukan hal seperti itu, bahkan baru membayangkannya, bagi saya terasa sangat ganjil, itu saja” (Bekisar Merah, halaman 269) Dari data di atas dapat kita lihat bahwa Lasi benar-benar wanita yang baik dan masih mengingat etika meskipun ia sudah hidup dengan kemewahan dan berada di dunia yang serba glamor dan praktis, Lasi menolak keras tawaran suaminya untuk mencari borahi bebas di luar sana dan Bu Lanting mendukung usul itu. Lasi menolak, ia tak sanggup melakukan itu bahkan membayangkannya saja baginya sesuatu yang ganjil Lasi masih eling. 70 Khatib Lubis Data 8 “Kang Mukri bilang, surau Eyang Mus perlu dipugar, betul?” “Eyang Mus tidak ingin surau kita berlantai tegel dan berdinding tembok? Surau berdinding bambu sudah ketinggalan zaman” “Kalau begitu, bagaimana bila saya membeli pengeras suara untuk surau kita? Eyang Mus, dimana-mana orang memasang pengeras suara untuk mesjid dan surau mereka” (Bekisar Merah, halaman 278-279) Dari data di atas dapat kita lihat bahwa Lasi bukan lah orang yang lupa kacang pada kulitnya, meskipun ia sudah makmur, ia mau membantu orang-orang di desanya, terutama niatnya yang ingin memperbaiki surau Eyang Mus, walaupun beliau menolak tawaran Lasi tersebut Lasi berusaha menyakinkan Eyang Mus bagaimana caranya agar suraunya diperbaiki dengan menawarkan hal-hal yang dibutuhkan surau untuk kepentingan orang-orang didesanya. Data 9 “Jat, bila aku mau jadi orang nggak benar, sangat gampang, aku boleh dibilang punya semua kemudahan untuk melakukan hal itu, bahkan sudah kubilang, suamiku pun mengizinkannya,, tetapi, Jat aku masih eling, masalahnya, kalau ada orang benar yang mau membawaku keluar dari persoalan ini, sampai kapankah aku bisa bertahan eling? Jelasnya, bila aku sudah jadi janda lagi nanti, apa yang mungkin akan terjadi pada diriku? Jat, kamu bisa mengatakannya?” (Bekisar Merah, halaman 296) Dari data di atas dapat kita lihat bahwa Lasi seorang yang jujur dan terbuka, ia mengemukakan segala permasalahannya yang terjadi pada rumah tangganya yang menurutnya sangat aneh dan ganjil. Sebuah perkawinan main-main membuatnya menderita dan tak tahan menjalani pernikahan seperti itu. Lasi berterus terang pada Kanjat dan menginginkan kejujuran Kanjat padanya juga, ia ingin Kanjat membantunya, mengeluarkan ia dari persoalan ini, namun ia menyesal telah jujur pada Kanjat karena Kanjat tidak menanggapi kata-katanya, tapi dugaan Lasi salah, Kanjat tahu bagaimana perasaan Lasi padanya. Data 10 “Berikan uang ini kepada Kang Darsa. Uang itu cukup untuk makan kalian selama setahun bila kalian gunakan untuk menyewa pohon kelapa. Sudah, jangan terus menangis.” (Bekisar Merah, halaman 304-306) Dari data di atas dapat kita lihat bahwa Lasi adalah seorang yang pengiba dan penuh kasih sayang, meskipun ia pernah disakiti Darsa, mantan suaminya. Lasi tidak mendendam ia justru prihatin dan perhatian pada nasib keluarga Darsa, masih mau membantu mereka, meskipun ia sudah makmur ia tidak sombong dan masih mau membantu orang yang kesusahan, walaupun orang tersebut pernah menyakitinya. 71 Telangkai Bahasa dan Sastra, Tahun Ke-8, No 2, April 2014 KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan penulis menyimpulkan: 1. Gambaran Konflik Lasi tak menyangka kesetiaannya dibalas dengan pengkhianatan dari suaminya. Darsa berbuat kesalahan hingga Sipah, gadis pincang itu hamil serta merta meminta pertanggung jawaban dari Darsa, suami Lasi. membuat hidup Lasi porak poranda, hancur dan sakit hati karena ulah suaminya. Keadaan ini membuat Lasi nekat kabur dan tak tahu kemana tujuan, hingga ia bertemu dengan Pardi yang sedang mengenderai truk yang membawa gula kelapa menuju kota, Lasi ikut dengan Pardi yang akan ke kota Jakarta mengantarkan gula kelapa. Pada saat berada di Jakarta Lasi diperkenalkan dengan seorang pria kaya bernama Handarboni tak disangka menyukai Lasi dan menikahinya. Namun setelah menikah dengan Handarboni Lasi mengalami kekecewaan, karena pernikahannya hanya pernikahan main-main, longgar, dan dimata Lasi sangat ganjil hingga muncul Kanjat dan Lasi berharap Kanjat dapat membantunya untuk keluar dari masalahnya. Sejak kecil Kanjat telah menyukai Lasi, gadis keturunan Jepang teman masa kecilnya dulu, hingga dewasa Kanjat masih menyimpan perasaan itu. Namun tak kesampaian karena Lasi menikah dengan Darsa dan Kanjat sendiri meneruskan pendidikannya ke bangku kuliah di Universitas Jenderal Sudirman, teknik pertanian, Purwokerto, setelah kuliahnya selesai, Kanjat kembali kekampungnya untuk keluar dari problematika mereka sebagai penyadap nira kelapa, berbagai percobaan mereka lakukan untuk meringankan beban para penyadap itu, mulai dari memperkenalkan bahan kimia pengawet nira serta bahan untuk membantu mengeraskan gula. Berbagai macam penelitian Kanjat dan teamnya lakukan, membuat tungku hemat kayu bakar, tetapi ternyata hasilnya boleh dibilang nihil, karena para penyadap tidak mudah menerima perubahan, maka hanya ada beberapa penyadap yang mau menggunakan tungku buatan Kanjat dan teamnya. Hal ini membuat Kanjat sadar bahwa permasalahan para penyadap disini memang besar dan rumit, sehingga tak bisa diselesaikan dengan cara kecil-kecilan. Ketika Kanjat mengetahui Lasi sudah menjadi janda, ia datang menemui Lasi dan mengutarakan perasaannya pada gadis pujaannya, namun Kanjat harus menelan kekecewaan karena Lasi menolaknya, sebab Lasi sudah mempunyai rencana dengan pria lain. Penolakan Lasi membuatnya tak ingin pacaran dan mengenal gadis lain bahkan memikirkannya pun tak ada dibenaknya. Waktu berselang, Lasi ingin menemui Kanjat setelah Lasi menikah dengan lelaki lain, dipertemuan mereka tersebut, Lasi mengutarakan semua permasalahan yang ia alami dalam pernikahannya yang treasa aneh, ganjil dan main-main dari penuturannya. Lasi ingin Kanjat menolongnya keluar dari permasalahan yang ia hadapi. Lasi juga mengutarakan perasaannya pada Kanjat. Membuatnya berada dalam keadaan yang sulit, dilema, bebannya terasa makin berat belum lagi masalah para penyadap yang terus memanggil keterpihakan Kanjat, sudah menjadi kesadaran yang mendalam dihati Kanjat bahwa para penyadap menyimpan piutang yang sangat besar pada orang-orang dari lapisan yang lebih makmur, termasuk Kanjat sendiri yang seorang anak tengkulak gula di Karangsoga. Ia merasa gagal membayarnya kembali. Keringat para penyadap itu mungkin akan menjadi utang abadi baginya. 72 Khatib Lubis 2. Gambaran Watak Lasi, seorang wanita yang cantik, baik dan penurut. Ia seorang istri yang setia, menurut pada suaminya, selalu sabar menghadapi kesulitan hidupnya sebagai istri seorang penyadap. Walaupun suaminya pernah mengkhianati dan menyakitinya ia tak pernah menyimpan dendam malah ia mau membantu kesulitan keluarga mantan suaminya itu, karena ia orang yang pengiba pada kesulitan orang lain. Ia seorang yang tahu balas budi, menghargai orang yang pernah membantunya, tapi ia seorang yang keras kepala mempertahankan pendapat dan keyakinannya dan berusaha untuk menempati janji yang pernah ia ucapkan dan mempertanggung jawabkan setiap kata-kata dan perbuatannya. Kanjat, seorang pemuda yang baik, penuh perhatian dan tanggung jawab pada orang-orang yang lemah yang mengalami kesulitan, ia selalu berusaha membantu orangorang yang kesusahan dengan penuh semangat. Kanjat pria yang lembut, sopan, dan penyayang. Walaupun ia mengalami kekecewaan ia tetap sabar dan bijaksana mengatasi kekecewaan hatinya. Ia pria yang pintar dan cepat tanggap dalam memahami dan mengatasi permasalahan orang-orang di desanya, para kaum penyadap, meskipun ia mengalami kegagalan membantu kesulitan yang menghimpit mereka tetap semangat ingin membantu karena ia orang yang pengiba dengan kesusahaan orang-orang disekelilingnya. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1998. ________________, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan, Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006. Hamzah Adjib, A, Pengantar Bermain Drama, Bandung: CV. Rosda, 1985. Ibrahim, Syukur ABD, Kesusastraan Indonesia Sajian Latih Ajar Mandiri, Surabaya: Usaha Nasional, 1987. Keraf, Gorys, Argumentasi dan Narasi, Jakarta: Gramedia, 2007. __________, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta: Gramedia, 2006. __________, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007. Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000. Saini dan Sumardjo Jakob, Apresiasi Kesusastraan, Jakarta: Gramedia. 1991. Tarigan, Henry Guntur, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, Bandung: Angkasa, 1991. Tohari, Ahmad, Bekisar Merah, Jakarta: Gramedia, 2005. Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Http://sahabatblogspot.com/2008/04/Pengertian-novel.html diakses tanggal 10 Oktober 2010. 73 74
Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Alur atau Plot Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Defenisi Sosiologi Sastra Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Interaksi Sosial Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Kesimpulan Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Konflik dengan murid Cuplikan 1 Konflik dengan Rekan Sesama Guru Cuplikan 7 Konflik Sosial Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Latar Belakang Masalah Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Perumusan Masalah Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki. Ruang Lingkup Pembahasan Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori Tujuan dan Manfaat Penelitian Penokohan Unsur Ekstrinsik Novel Biografi Natsume Soseki Unsur Intrinsik Novel a.
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki.

Gratis