Feedback

Efektivitas Komunikasi Nonverbal (Studi kasus tentang peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan Agen dan Konsumen PT. Axa Financial Indonesia cabang Medan)

Informasi dokumen
SKRIPSI EFEKTIVITAS KOMUNIKASI NONVERBAL (Studi kasus tentang peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan Agen dan Konsumen PT. Axa Financial Indonesia cabang Medan) Diajukan Oleh : ARA AUZA 070904081 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Ara Auza NIM : 070904081 Departemen : Ilmu Komunikasi Judul : Efektivitas Komunikasi Nonverbal (studi kasus peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan agen dan konsumen PT. Axa Financial Indonesia Cabang Medan. Medan, Agustus 2011 Dosen Pembimbing Ketua Departemen a.n. Sekretaris Departemen Drs. Fatma Wardy Lubis, M.A NIP. 196208281996012001 Dra. Dayana, M.Si NIP. 196007281987032002 Dekan FISIP USU Prof. Dr. Badaruddin, M.Si NIP.196805251992031002 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI LEMBAR PENGESAHAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan di hadapan panitia penguji Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara oleh : Nama : Ara Auza NIM : 070904081 Judul : Efektivitas Komunikasi Nonverbal (studi kasus peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan agen dan konsumen PT. Axa Financial Indonesia Cabang Medan. Hari/Tanggal : Pukul : TIM PENGUJI Ketua Penguji : () Penguji Utama : () Penguji : () Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Efektivitas Komunikasi Nonverbal (studi kasus peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan agen dan konsumen PT. Axa Financial Indonesia Cabang Medan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses, peranan dan bentuk-bentuk komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi efektif di kalangan agen dan konsumen PT. Axa Financial Indonesia Cabang Medan. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi, komunikasi antar pribadi, komunikasi nonverbal, interaksi simbolik, komunikasi efektif dan asuransi. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, sumber data yang digunakan melalui wawancara mendalam dan observasi diharapkan mampu menjelaskan secara komprehensif penelitian ini. Informan dalam penelitian ini adalah agen senior yang sudah memiliki kapabilitas dan syarat sebagai agen manager serta nasabah yang menggunakan asuransi Axa. Dari hasil penelitian dapat dilihat proses komunikasi nonverbal agen banyak dipengaruhi oleh komunikasi verbal. Bentuk-bentuk komunikasi verbal pada saat prospecting yang banyak dilakukan adalah penampilan fisik, kinesik dan intonasi. Sementara komunikasi nonverbal bau-bauan dan waktu jarang menjadi perhatian dari informan. Jarak yang digunakan oleh agen kepada nasabah adalah jarak personal dan sentuhan yang dilakukan sebatas berjabat tangan dan tidak terlalu ekstreme. Peranan komunikasi nonverbal juga dipengaruhi sifat holistic dengan komunikasi verbal. Komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal secara bersamaan disampaikan kepada nasabah. Fungsi mayoritas dari pesan nonverbal adalah fungsi aksentuasi (menegaskan pesan atau menggarisbawahi). Walaupun fungsi komplemen (melengkapi dan memperkaya), fungsi repetisi (mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal). Komunikasi verbal dan nonverbal berperan penting dalam mewujudkan komunikasi efektif antara informan dan nasabah. Secara sederhana komunikasi efektif ditampilkan dengan pemahaman akan asuransi, kesenangan saat melakukan komunikasi, yang berimplikasi pada hubungan makin baik antara keduanya. Wujud nyata dari komunikasi efektif yang dilakukan antara agen dan nasabah adalah tindakan nasabah mengikuti asuransi. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum, Wr.Wb. Puji syukur saya panjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena atas rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis junjung kepada Nabi Muhammad SAW, semoga kita diberi syafaatnya di yaumil mashar kelak. Rasa hormat dan ucapan terimakasih yang terdalam penulis persembahkan kepada kedua orang tua tersayang, Binta Maela, S.Pd dan Lisnawaty S.PD yang telah banyak melimpahkankan kasih sayang dan dukungan baik materi maupun doa. Kasih dan dukungan kepada anak-anaknya, tidak pernah letih. Kepada saudara-saudaraku tersayang, bang Riansa Ariefa serta adikku Muhammad. Alfiqi terimakasih untuk dukungan serta perhatian dan doanya kepada penulis. Rasa terimakasih juga penulis ucapkan untuk nenek dan keluarga besar yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu pemenuhan syarat kelulusan dan perolehan gelar sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan, nasehat serta dukungan dari berbagai pihak sehingga penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Drs. Zakaria, M.SP selaku pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 3. Ibu Drs.Fatma Wardy, Ma selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fisip USU dan juga Dosen Pembimbing pada penelitian ini. Terima kasih atas kesabaran ibu dalam memberi pengarahan dan masukan dalam penelitian ini. 4. Staff Pengajar Ilmu Komunikasi yang banyak menginspirasi saya selama proses perkuliahan, Ibu Mazdalifah, M.Si, Bapak Syafruddin Pohan, Bapak Hendra Harahap, M.Si, Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, S.Psi dan Ibu Jovita, M.Si. Kak Windi A. Siregar selaku Staff Radio USU KOM serta Kak Faridah Hanim, Kak Puan, Kakanda Roemono selaku Staff Laboratorium Komunikasi USU. 5. Pak Yosi selaku Agency Director Manager yang memberikan saya izin untuk meneliti. Ibu Zahraini dan keluarga yang banyak membantu saya dalam penelitian ini. Bapak Dwi Tanoyo dan Mein Riza yang bersedia menjadi informan dalam penelitian. 6. Kawan-kawan Imperium Group, kakanda Suhendra Tanjung, kakanda Abbdurrasyid, Kakanda M.Agung, Kakanda Ismuhar Ramadhan, kakanda Eden Ginting dan Akbar Pribadi yang menjadi teman seperjuangan. Terima kasih Universitas Sumatera Utara yang sebesar-sebesarnya kepada kakanda Lagut Sutandra, M.SP yang banyak memberi perjalanan akan hidup. 7. Kawan-kawan Stambuk 2007, Nindy Harahap, Dhina Rissa, Dwi Kurniati, Rival A. Tanjung, Devia Pratiwi, Wulan Sastra, T. Said Syah Maulana, Harry Syahputra Munthe, Siti H. Siregar, Hera Sundari, Muhammad Arief, Hanan Lubis, Yoga Prananta, Mulya Adhtia, Muhammad Reza, Kiki Pratiwi Ningrum, Natasha Simangunsong, Firman dan kawan-kawan lain yang memberi pengalaman luar biasa selama perkuliahan. Anugerah dari Tuhan yang mempertemukan kita. 8. HMI Komisariat FISIP USU, kawan-kawan Panitia Temu Ramah 2007, Miftah Khairuza, Dika Yudhistira, Edo, Afdhal, Firdha Yuni Gustia, Dedi, Budi Irwansyah, Ferdiansyah Putra, Rholand Muary, Amirullah, Muhammad Taufik, Arief Pratama, Arfeni Daulay, Ovi Aldino, Fachrurrozi, Muhammad Rizal, Ibrahim, Ridho Silalahi, Try Yunita, Ika Krisna, Maurina Raffanda, Nenda Pratiwi, Fauzan Ismail, Wirda A. Suzli, Erlina H. Siregar, Indra Fitri Hutabarat, Siti Maryam selama proses perkuliahan menjadi kawan bermain dan belajar dalam mengenal arti kehidupan dan hidup. Kakanda Aulia, Kakanda Fernanda, Kakanda Yuswaniati Ramadhani, Kakanda Mario, Kakanda Nurhidayat. 9. Buat sahabat terbaikku, Dinda Sholiha, terimakasih untuk semua dukungan dan perhatiannya baik dalam duka maupun suka. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi seluruh pihak dan dapat membuka khazanah berfikir kita mengenai komunikasi nonverbal dan komunikasi efektif. Medan, Agustus 2011 ARA AUZA Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAKSI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI . ii DAFTAR TABEL .iii DAFTAR GAMBAR .iv BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah .1 I.2 Perumusan Masalah .7 I.3 Pembatasan Masalah . .7 I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian . . .8 I.4.1) Tujuan Penelitian . .8 I.4.2) Manfaat Penelitian . .8 I.5 Kerangka Teori . 9 I.5.1) Komunikasi .10 I.5.2) Komunikasi Antar Pribadi . .11 I.5.3) Komunikasi Efektif . 12 I.5.4) Komunikasi Nonverbal . 13 I.5.5) Asuransi . . 15 I.6 Kerangka Konsep . 17 I.7 Konseptualisasi .18 BAB II URAIAN TEORITIS II.1 Komunikasi .21 II.1.1) Sejarah Perkembangan Komunikasi Manusia . 21 II.1.2) Definisi Komunikasi. . 27 II.1.3) Prinsip Komunikasi .31 Universitas Sumatera Utara II.1.4) Dimensi-dimensi Ilmu Komunikasi . . 32 II.1.5) Unsur - unsur Komunikasi . 36 II.1.6) Proses Komunikasi . 41 II.1.7) Fungsi Komunikasi .42 II.1.8) Tujuan Komunikasi 43 II. 2 Komunikasi Antar Pribadi . . .43 II.2.1) Pengertian Komunikasi Antar Pribadi . . . 43 II.2.2) Ciri-ciri Komunikasi Antar Pribadi . 44 II.2.3) Tujuan Komunikasi Antar Pribadi . . 45 II.2.4) Faktor-faktor yang Menumbuhkan Komunikasi Antar Pribadi . 46 II.3 Komunikasi Nonverbal . 49 II.4 Teori Interaksi Simbolik .62 II.4.1) Sejarah Teori Interaksi Simbolik .62 II.4.2) Tema dan Asumsi Teori Inteaksi Simbolik .63 II.5 Komunikasi Efektif . . 67 II.6 Asuransi .68 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Metodologi Penelitian . 71 III.2 Lokasi Penelitian 73 III.2.1) Ringkasan Sejarah PT AXA FINANCIAL INDONESIA . 74 III.2.2) Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan 75 III.2.3) Kegiatan Usaha Perusahaan .75 III.2.4) Jenis-jenis Produk .76 III.2.5) Struktur Organisasi Tim Agency .81 III.3 Waktu Penelitian 81 III.4 Subjek dan Informan Penelitian . 81 Universitas Sumatera Utara III.5 Teknik Pengumpulan Data . 83 III.6 Teknik Analisis Data . 84 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Latar Belakang Informan . 85 IV.5 Pembahasan .88 BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan . . 100 V.2 Saran 103 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No Tabel 1 Halaman : Konseptualisasi . 21 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No. Gambar 1 : Istilah Penting yang Digunakan dalam Mendefenisikan Komunikasi .30 2 : Field of Experince .32 3 : Unsur-unsur Komunikasi .41 4 : Tipe-tipe Komunikasi 52 5 : Struktur Organisasi Tim Agency .81 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Efektivitas Komunikasi Nonverbal (studi kasus peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan agen dan konsumen PT. Axa Financial Indonesia Cabang Medan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses, peranan dan bentuk-bentuk komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi efektif di kalangan agen dan konsumen PT. Axa Financial Indonesia Cabang Medan. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi, komunikasi antar pribadi, komunikasi nonverbal, interaksi simbolik, komunikasi efektif dan asuransi. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, sumber data yang digunakan melalui wawancara mendalam dan observasi diharapkan mampu menjelaskan secara komprehensif penelitian ini. Informan dalam penelitian ini adalah agen senior yang sudah memiliki kapabilitas dan syarat sebagai agen manager serta nasabah yang menggunakan asuransi Axa. Dari hasil penelitian dapat dilihat proses komunikasi nonverbal agen banyak dipengaruhi oleh komunikasi verbal. Bentuk-bentuk komunikasi verbal pada saat prospecting yang banyak dilakukan adalah penampilan fisik, kinesik dan intonasi. Sementara komunikasi nonverbal bau-bauan dan waktu jarang menjadi perhatian dari informan. Jarak yang digunakan oleh agen kepada nasabah adalah jarak personal dan sentuhan yang dilakukan sebatas berjabat tangan dan tidak terlalu ekstreme. Peranan komunikasi nonverbal juga dipengaruhi sifat holistic dengan komunikasi verbal. Komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal secara bersamaan disampaikan kepada nasabah. Fungsi mayoritas dari pesan nonverbal adalah fungsi aksentuasi (menegaskan pesan atau menggarisbawahi). Walaupun fungsi komplemen (melengkapi dan memperkaya), fungsi repetisi (mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal). Komunikasi verbal dan nonverbal berperan penting dalam mewujudkan komunikasi efektif antara informan dan nasabah. Secara sederhana komunikasi efektif ditampilkan dengan pemahaman akan asuransi, kesenangan saat melakukan komunikasi, yang berimplikasi pada hubungan makin baik antara keduanya. Wujud nyata dari komunikasi efektif yang dilakukan antara agen dan nasabah adalah tindakan nasabah mengikuti asuransi. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Komunikasi merupakan aktivitas dasar bagi manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, di pasar, di sekolah, dalam masyarakat atau dimana saja manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam komunikasi. Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan nonverbal secara bersama-sama. Keduanya, bahasa verbal dan nonverbal, memiliki sifat holistic, bahwa masing-masing tidak dapat saling dipisahkan. Ketika kita menyatakan terima kasih (bahasa verbal), kita melengkapinya dengan tersenyum (bahasa nonverbal). Kita setuju terhadap pesan yang disampaikan orang lain dengan anggukan kepala (bahasa nonverbal). Dua peristiwa tersebut merupakan contoh bahwa bahasa verbal dan nonverbal bekerja secara bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku komunikasi (Sendjaja,2005:225). Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Adakalanya seseorang menyampaikan buah pikirannya kepada orang lain tanpa menampakkan perasaan tertentu. Pada saat lain seseorang menyampaikan perasaannya kepada orang lain tanpa pemikiran. Tidak jarang pula seseorang menyampaikan pikirannya disertai perasaan tertentu, disadari atau tidak disadari (Effendy, 1999:11). Setidaknya ada tiga ciri utama yang menandai wujud atau bentuk komunikasi verbal dan nonverbal. Pertama, lambang-lambang nonverbal digunakan sejak kita lahir Universitas Sumatera Utara di dunia ini, sedangkan setelah tumbuh pengetahuan dan kedewasaan kita, barulah bahasa verbal kita kuasai. Kedua, komunikasi verbal dinilai kurang universal dibanding dengan komunikasi nonverbal, sebab bila kita ke luar negeri misalnya dan kita tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Negara tersebut, kita bisa menggunakan isyarat-isyarat nonverbal dengan orang asing yang kita ajak berkomunikasi. Dan ciri yang ketiga adalah, bahwa komunikasi verbal merupakan aktivitas yang lebih intelektual dibanding dengan bahasa nonverbal yang lebih merupakan aktivitas emosional. Artinya, bahwa dengan bahasa verbal, sesungguhnya kita mengkomunikasikan gagasan dan konsep-konsep yang abstrak, sementara melalui bahasa nonverbal, kita mengkomunikasikan hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian, perasaan dan emosi yang kita miliki (Sendjaja, 2005:227) Komunikasi akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang disadari; sebaliknya komunikasi akan gagal jika sewaktu menyampaikan pikiran, perasaan tidak terkontrol. Kita (manusia) akan melakukan komunikasi nonverbal seperti menggunakan bahasa tubuh agar orang lain dapat memahami perasaan kita. Seseorang yang sedang jatuh cinta boleh menulis surat kepada pacarnya dan mengungkapkan gelora kerinduannya. Dia akan tertegun, kerena tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu yang begitu mudah diungkapkan melalui pesan nonverbal. Menurut Mahrabian (1967), hanya 7% perasaan kasih sayang dapat dikomunikasikan dengan kata-kata. Selebihnya 38% dikomunikasikan lewat suara, dan 55% dikomunikasikan melalui ungkapan wajah (senyum, kontak mata, dan sebagainya) (dalam Rakhmat, 2005:288). Komunikasi nonverbal digunakan untuk memastikan bahwa makna yang sebenarnya dari pesan-pesan verbal dapat dimengerti atau dapat dipahami. Keduanya, Universitas Sumatera Utara komunikasi verbal dan nonverbal, kurang dapat beroperasi secara terpisah, satu sama lain saling membutuhkan guna mencapai komunikasi efektif (Sendjaja,2004:234). Komunikasi dikatakan baik apabila komunikasi itu efektif. Salah satu indikator keefektifan komunikasi adalah apabila memenuhi sejumlah syarat tertentu, dimana salah satunya adalah komunikasi yang mampu menimbulkan kesenangan diantara pihak yang terlibat. Komunikasi akan terus berlangsung selama kedua pihak merasa senang dan dihargai. Orang ingin kehadirannya tidak hanya dianggap bilangan, tetapi juga diperhitungkan. Di sisi lain, fenomena asuransi di negeri ini semakin menarik untuk dicermati, dengan masuknya perusahan-perusahan multinasional semakin menambah ketatnya persaingan memperebutkan pasar. Sebagai salah satu Negara dengan populasi penduduk kedua tindakan tersebut telah menambahkan kepada makna yang berkaitan dengan interaksi antara kedua orang tersebut, dan ini oleh Ekman dan Friesen disebut sebagai “expressive behaviour”. Selanjutnya Ekman dan Friesen mengidentifikasi lima kategori dari expressive behaviour yaitu emblem, illustrator, regulator, adaptor dan emosi (penggambaran perasaan), dimana masing-masing memberikan kedalaman pada makna yang berkaitan dengan situasi komunikasi. Emblem adalah gerakan tubuh atau ekspresi wajah yang memiliki nilai sama dengan pesan verbal, yang disengaja, dan dapat berdiri sendiri tanpa bantuan pesan verbal. Contohnya adalah setuju, pujian, atau ucapan selamat jalan yang dapat digantikan dengan lambaian tanagan, anggukan kepala, atau acungan jempol. Ilustrator adalah gerakan tubuh atau ekspresi wajah yang mendukung dan melengkapi pesan verbal. Misalnya raut muka yang serius ketika memberikan penjelasan untuk menunjukkan bahwa yang dibicarakan adalah persoalan yang serius atau gerakan tangan yang menggambarkan sesuatu yang sedang dibicarakan. Sementara itu, regulator adalah tindakan yang disengaja yang biasanya digunakan dalam percakapan, misalnya mengenai giliran berbicara. Bentuk-bentuk lain dari Universitas Sumatera Utara regulator dalam percakapan misalnya senyuman, anggukan kepala, tangan yang menunjuk, mengangkat alis, orientasi tubuh, dan sebagainya, yang kesemuanya berperan dalam mengatur arus informasi dalam suatu situasi percakapan. Adaptor yaitu tindakan yang disengaja, yang digunakan untuk menyesuaikan tubuh dan menciptakan keamanan bagi tubuh dan emosi. Terdapat dua sub kategori dari adaptor yaitu: self (seperti menggaruk kepala, menyentuh dagu atau hidung), dan object (menggigit pensil, memainkan kunci). Perilaku ini biasanya dipandang sebgai refleksi kecemasan atau prilaku negatif. Kategori kelima adalah penggambaran emosi atau affect display yang dapat disengaja ataupun tidak, dapat menyertai pesan verbal maupun berdiri sendiri. Menurut Ekman dan Friesen, terdapat tujuh bentuk affect display yang pengungkapannya cukup universal, yaitu: marah, menghina, malu, takut, gembira, sedih dan terkejut. Mereka mengemukakan pula bahwa affect display yang berbeda dapat diungkapkan secara bersamaan, dan bentuk seperti ini disebut affect blend. Teori Tindakan (Action Theory) Morris juga mengemukakan suatu pandangan mengenai kinesic yang lebih didasarkan pada tindakan. Dia mengasumsikan bahwa prilaku tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan terbagi kedalam suatu rangkaian panjang peristiwa yang terpisah-pisah. Menurutnya terdapat lima kategori yang berbeda dalam tindakannya itu: pembawaan (inborn), ditemukan (discovered), diserap (absorbed), dilatih (trained), dan campuran (mixed). Inborn merupakan instink yang dimiliki sejak lahir, Universitas Sumatera Utara seperti prilaku menyusu. Discovered diperoleh secara sadar dan terbatas pada struktur genetik tubuh, seperti menyilangkan kaki. Absorbed diperoleh secara tidak sadar melalui interaksi dengan orang lain (biasanya teman), seperti meniru ekspresi atau gerakan seseorang. Trained diperoleh dengan belajar, seperti berjalan, mengetik dan sebagainya. Sedangkan mixed actions diperoleh melalui berbagai macam cara yang mencakup keempat hal diatas. 2. Pendekatan Antropologi (Anthropological Approach) Pendekatan antropologis menganggap komunikasi nonverbal terpengaruh oleh kultur atau masyarakat, dan pendekatan ini diwakili oleh dua teori yang dikemukakan oleh Birdwhistell dan Edward T. Hall. Analogi linguistik Dalam teorinya ini Birdwhistell mengasumsikan bahwa komunikasi nonverbal memiliki struktur yang sama dengan komunikasi verbal. Bahasa distrukturkan atas bunyi dan kombinasi bunyi yang membentuk apa yang kita sebut kata. Kombinasi kata dalam suatu konteks akan membentuk kalimat, dan berikutnya kombinasi kalimat akan membentuk paragraf. Birdwhistell mengemukakan bahwa hal yang sama terjadi dalam konteks nonverbal, yaitu terdapat bunyi nonverbal yang disebut allokines (satuan gerakan tubuh terkecil yang sering kali tidak dapat dideteksi). Kombinasi allokines akan membentuk kines dalam suatu bentuk yang serupa dengan bahasa verbal, yang dalam teori ini disebut sebagai analogi linguistik. Teori ini mendasarkan penjelasannya pada enam asumsi sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara 1) Terdapat tingkat saling ketergantungan yang tinggi antara kelima indera manusia, yang bersama-sama dengan ungkapan verbal akan membentuk “infracommunicational system” 2) Komunikasi kinesik berbeda antarkultur dan bahkan antar mikrokultur. 3) Tidak ada simbol bahasa tubuh yang universal. 4) Prinsip-prinsip pengulangan (redundancy) tidak terdapat pada prilaku kinesik. 5) Prilaku kinesik lebih primitif dan kurang terkendali dibanding komunikasi verbal. 6) Kita harus membandingkan tanda-tanda nonverbal secara berulangulang sebelum kita dapat memberikan interpretasi yang akurat. Keenam prinsip yang mendasari analogi linguistik ini pada dasarnya menyatakan bahwa kelima indera kita berinteraksi atau bekerja sama untuk menciptakan persepsi dan dalam setiap situasi, satu atau lebih indera kita akan mendominasi indera lainnya. Menurut Birdwhistell, prilaku kinesik bersifat unik bagi setiap kultur atau subkultur di mana individu berada. Oleh karenanya, kultur harus diperhitungkan dalam studi tentang komunikasi nonverbal. Prinsip ketiga menegaskan kembali bahwa prilaku nonverbal lebih banyak diperoleh sebagai hasil belajar daripada faktor genetik yang diturunkan antara generasi. Dia juga menganggap bahwa komunikasi nonverbal lebih bersifat melengkapi komunikasi verbal daripada mengulang atau menggantikannya, yaitu keduanya bekerja secara Universitas Sumatera Utara bersama-sama dalam menghasilkan makna. Dan akhirnya, karena komunikasi nonverbal tidak selalu dilakukan secara sadar dan lebih bersifat primitif, kita cenderung untuk melupakan apa yang kita katakan secara nonverbal. Selanjutnya Birdwhistell menjelaskan bahwa fenomena parakinesik (yaitu kombinasi gerakan yang dihubungkan dengan komunikasi verbal) dapat dipelajari melalui struktur gerakan. Struktur ini mencakup tiga faktor yaitu: intensitas dari tegangan yang tampak dari otot, durasi dari gerakan yang tampak dan luasnya gerakan. Dari faktor-faktor ini kita dapat menganalisis berbagai klasifikasi gerakan/prilaku yang meliputi allokine, kine, kineme (pengelompokkan kine yang artinya menyerupai suatu “kata” dalam bahasa), dan kinemorpheme (yang menyerupai kalimat dalam konteks bahasa). Jadi kita dapat menganalisis komunikasi nonverbal seperti jika kita melakukannya pada komunikasi verbal, namun kita mengganti unit analisisnya dari “bunyi dan kata” menjadi “gerak dan gerakan”. Analogi Kultural Analogi Kultural yang dikemukakan oleh Edward T.Hall membahas komunikasi nonverbal dari aspek proksemik dan kronemik. Teori Hall mengenai proksemik mengacu kepada penggunaan ruang sebagai ekspresi spesifik dari kultur. Teori Hall mencakup batasan-batasan mengenai ruang yang disebutnya sebagai lingkungan (artifactual), teritorial, dan personal. Lebih lanjut, Hall mengemukakan adanya tiga jenis ruang masing-masing dengan norma dan ekspektasi yang berbeda yaitu: informal space, ruang Universitas Sumatera Utara terdekat yang mengitari kita (personal space); fixed-feature space, yaitu benda dilingkungan kita yang relatif sulit bergerak atau dipindahkan seperti rumah, tembok dan sebagainya; dan semifixed-feature space, yaitu barang-barang yang dapat dipindahkan yang berada dalam fixed-feature space. Salah satu aspek terpenting dari teori Hall adalah kajiannya mengenai preferensi dalam personal space. Menurutnya preferensi ruang seseorang ditentukan oleh delapan faktor yang saling terkait yang ditemukan dalam tiap kultur. Yang pertama adalah jenis kelamin dan posisi dari orang yang saling berinteraksi, yaitu laki-laki dan perempuan, dan apakah mereka duduk, berdiri, dan sebagainya. Kedua, sudut pandangan atau angle yang terbentuk oleh bahu, dada/ punggung dari orang yang berkomunikasi (faktor sociofugal-sociopetal axis). Ketiga, posisi badan ketika berkomunikasi yang berada dalam jarak sentuhan (faktor kinesthetic). Keempat, sentuhan dan jenis sentuhan (faktor zeroproxemic). Kelima, frekuensi dan cara-cara kontak mata (faktor visual code). Keenam, persepsi tentang panas tubuh yang dapat dirasakan ketika berinteraksi (faktor thermal code). Ketujuh, odor atau bau yang tercium ketika berinteraksi (faktor olfactory code). Delapan, kerasnya atau volume suara dalam berinteraksi (faktor voice loudness). Dalam analisisnya mengenai waktu atau chronemics sebagai salah satu tanda nonverbal, Hall mengemukakan bahwa norma-norma waktu ditemukan dalam berbagai kultur dalam bentuk yang berbeda-beda. Waktu memiliki apa yang disebut dengan formal time, informal time, dan Universitas Sumatera Utara technical time. Formal time mencakup susunan dan siklus, memiliki nilai, memiliki durasi dan kedalaman. Informal time biasanya didefinisikan secara lebih longgar ectomorphy, Pak Suwardi endomorphy, Pak Abdi Universitas Sumatera Utara endomorphy, Pak Mukti ectomorphy, Pak Danan endomorphy, Pak Safrin endomorphy sama kayak Bang Iskandar. 25. Bagaimana komunikasi ruang (proksemik) yang digunakan oleh dosen Ilmu Komunikasi ketika mereka mengajar maupun ketika mereka berinteraksi dengan mahasiswa di luar kelas?. Siapa dosennya? Jawab:Kalau Bu Fatma lebih ke jarak pribadi sama kayak Bu Mazda, Bu Dayana lebih ke jarak sosial, kalau Kak Emil lebih ke jarak akrab, Kak Jo dan Bu Lusi jarak sosial, Bu Bani jarak akrab, Bu Inon jarak publik, Bu Rusni jarak publik, Bang Hendra jarak pribadi, Pak Amir jarak sosial, Pak Pohan jarak akrab, Pak Humaizi pribadi, Pak Suwardi jarak sosial, Pak Abdi jarak publik, Pak Mukti jarak sosial, Pak Danan jarak sosial, Pak Safrin jarak pribadi dan Bang Is jarak sosial. 26. Ada enam faktor yang mempengaruhi ruang menurut DeVito (status, kultur, konteks, masalah yang dibahas, usia dan jenis kelamin dan evaluasi positif dan negatif), menurut Anda faktor apa saja yang mempengaruhi komunikasi ruang dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Menurut saya lebih ke konteks masalah yang dibahas, status dan usia. 27. Dalam paralanguage ada yang namanya pola titinada. Pola titinada adalah tinggi atau rendahnya nada vokal. Pola titinada seperti apa yang digunakan oleh dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Menurut saya yang sering menggunakan ini Bu Mazda ya, Bu Bani sama Bu Dayana. 28. Dalam paralanguage ada yang namanya volume. Volume adalah keras atau lembutnya nada. Bagaimana volume yang digunakan oleh dosen Ilmu Komunikasi ketika mereka marah, menjelaskan materi ataupun ketika berbicara seperti biasa?. Siapa dosennya? Jawab:Bu Fatma pelan, Bu Mazda kalau bicara sehari-hari termasuk pelan kalau di dalam kelas tergantung kondisi. Kalau dia lagi emosinya lagi marah itu nadanya bisa naik sewaktu-waktu, Bu Dayana itu pelan, Kak Emil pelan, Kak Jo keras, Bu Lusi pelan, Bu Nurbani keras, Bu Dewi keras, Bu Inon pelan, Bu Rusni keras, Bang Hendra keras, Pak Amir keras, Bang Haris Universitas Sumatera Utara sedang, Pak Pohan pelan, Pak Humaizi pelan, Pak Suwardi pelan, Pak Abdi keras, Pak Mukti keras, Pak Danan pelan, Pak Safrin keras, Pak Is keras. 29. Dalam paralanguage ada yang namanya kecepatan. Kecepatan mengacu kepada kecepatan pada saat orang berbicara. Bagaimana yang terjadi dengan dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Bu Fatma sedang, Bu Fatma sedang, Bu Dayana lambat, Kak Emil sedang, Kak Jo cepat, Bu Lusi sedang, Bu Bani cepat, Bu Dewi cepat, Bu Inon cepat, Bu Rusni sedang, Bang Hendra cepat, Pak Amir cepat, Bang Haris sedang, Pak Pohan sedang, Pak Humaizi sedang, Pak Suwardi sedang, Pak Abdi lambat, Pak Mukti cepat, Pak Danan lambat, Pak Safrin cepat, Bang Is lambat. 30. Dalam paralanguage ada yang namanya kualitas. Kualitas merupakan bunyi dari suara seseorang. Bagaimana kualitas suara yang dimiliki oleh dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Kualitas suara Bu Fatma baik, Bu Mazda juga baik, Bu Dayana kurang, Kak Emil baik, Kak Jo baik, Bu Lusi kurang, Bu Bani baik, Bu Dewi kurang, Bu Inon kurang, Bu Rusni kurang, Bang Hendra kurang, Pak Amir baik, Bang Haris baik, Pak Pohan baik, Pak Humaizi baik, Pak Suwardi baik, Pak Abdi kurang, Pak Mukti kurang, Pak Danan kurang, Pak Safrin baik, Bang Is baik. 31. Pada saat kapan dosen Ilmu Komunikasi melakukan komunikasi nonverbal “diam” ketika mereka mengajar di dalam kelas?. Siapa dosennya? Jawab:Misalnya kalau kondisi kelas nggak kondusif gitu biasanya dosen langsung diam. 32. Artifak selain dimaksudkan untuk kepentingan estetika juga untuk menunjukkan status atau identitas diri seseorang, misalnya topi, baju, gelang, cincin dan sebagainya. Jenis artifak seperti apa yang sering digunakan oleh dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Bu Fatma biasanya pakaian dan aksesoris kalungnya, Bu Mazda aksesoris kalung dan pakaian-pakaian tradisionalnya, Bu Dayana lebih ke pakaiannya, keliatan pakaiannya cukup sederhana, Kak Jo pakaian dan aksesoris, Kak Emil lebih ke pakaiannya rapi dan sopan, Bu Lusi lebih ke Universitas Sumatera Utara pakaiannya, Bu Bani ciri khasnya itu sering pakai baju warna hitam, Bu Dewi lebih ke make upnya, lipstiknya kelihatan merah, Bu Inon lebih ke pakaian dan aksesoris yang dia gunakan kelihatan glamour. Bu Rusni biasa aja, kelihatan seperti sudah usia lanjut, Bang Hendra sering pakai sendal dan pakaiannya lebih kayak mahasiswa, Pak Amir rapi dan sering jalan sambil merokok, Bang Haris kemana-mana sering pakai jacket, Pak Pohan topinya, Pak Humaizi lebih ke pakaian yang dia pakai sering pakai warna merah jambu, Pak Suwardi ciri khasnya jenggot dan rambutnya di tengah-tengahnya botak dan putih, Pak Abdi ciri khasnya kulitnya hitam dan kalau senyum biasanya cuma giginya aja yang nampak, senyumnya itu senyum pepsodent, hahaha. Pak Mukti topi kebanggaannya itu yang warna biru yang ada tulisannya tapi saya lupa. Pak Danan mobil sedannya yang warna hijau itu terkenal, Pak Safrin ciri khasnya itu potongan rambutnya. Potongan rambutnya itu agak mudalah sedikit dari umurnya, kalau Bang Is lebih ke perutnya yang buncit dan bajunya itu model-model baju yang kebesaran. 33. Warna apa yang sering digunakan oleh dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Bu Fatma suka menggunakan warna-warna yang slow seperti warna cream, terus warna coklat muda, Bu Mazda warna-warna yang cerah dan bercorak, Bu Dayana lebih sering pakai warna yang lembut, Kak Emil sering pakai warna biru, Kak Jo sering pakai warna terang, Bu Lusi lebih sering warna lembut, Bu Bani warna hitam, Bu Dewi warna merah, Bu Inon warnawarna cerah dan bercorak, Bu Rusni warna-warna yang lembut, Bang Hendra sering pakai warna putih dengan motif kotak-kotak, Pak Amir warna-warna cerah, Bang Haris warna gelap, Pak Pohan warna lembut tapi kadang juga terang, Pak Humaizi warna cerah, Pak Suwardi warna agak gelap, Pak Abdi warna cerah, Pak Mukti warna gelap, Pak Danan warna gelap, Pak Safrin warna cerah, Bang Is warna cerah. 34. Adakah warna spesifik untuk menunjukkan bahwa dosen tersebut adalah dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Nggak ada. Universitas Sumatera Utara 35. Bagaimana cara dosen Ilmu Komunikasi menggunakan atau mengatur waktu dalam proses belajar mengajar?. Siapa dosennya? Jawab:Bu Fatma tepat waktu, Bu Mazda juga, Bu Dayana kurang, Kak Emil tepat waktu, Kak Jo tepat waktu, Bu Lusi kurang, Bu Bani kurang, Bu Dewi kurang, Bu Inon kurang, Bu Rusni tepat waktu, Bang Hendra kurang, Pak Amir kurang, Bang Haris tepat waktu, Pak Pohan balance, Pak Humaizi tepat waktu, Pak Suwardi tepat waktu, Pak Abdi kurang, Pak Mukti kurang, Pak Danan kurang, Pak Safrin tepat waktu, Bang Is tepat waktu. 36. Bau-bauan seperti apa yang sering dipakai oleh dosen Ilmu Komunikasi?. Siapa dosennya? Jawab:Dosen yang wangi itu kayak Bu Fatma, Bu Mazda, Kak Emil, Kak Jo, terus kalau dari dosen laki-laki itu kayak Pak Humaizi, Pak Pohan, yang lain biasa aja. Kalau wanita lebih sering wangi-wangi buah kalau dosen laki-laki wangi-wangi yang glamour gitu atau tajam. 37. Pernahkah Anda melihat atau mengalami dosen Ilmu Komunikasi menyentuh Anda atau mahasiswa lain ketika di dalam maupun di luar kelas?. Siapa dosennya? Jawab:Pernah sih. 38. Jika ya, bentuk sentuhan (touching) seperti apa yang pernah mereka lakukan?. Siapa dosennya? Jawab:Pak Humaizi dia sering nyentuh kepala, Bu Mazda sering pegang ujung tangan, kalau lagi marah dia kadang mukul pundak. Itu aja sih. Universitas Sumatera Utara DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Jl. Dr. A. Sofyan No. 1 Telp. (061) 8217168 LEMBAR CATATAN BIMBINGAN SKRIPSI NO NAMA : Yesi Kusmasari NIM :100904103 PEMBIMBING : Dr. Nurbani, M.Si TANGGAL PEMBAHASAN PARAF PERTEMUAN 1. 19 Desember 2013 PEMBIMBING - Pembahasan mengenai BAB I, II dan III - Pembahasan mengenai informan 2. 13 Februari 2014 - Pembahasan mengenai informan - Pembahasan sistematika penulisan. 3. 27 Februari 2014 - Pembahasan sistematika penulisan 4. 24 Maret 2014 - Pembahasan mengenai BAB I-V 5. 26 Maret 2014 - Pembahasan mengenai BAB I-V 6. 30 Maret 2014 - Pembahasan mengenai BAB I-V 7. 4 April 2014 - Pembahasan mengenai BAB I-V 8. 5 April 2014 Penyerahan kelengkapan Universitas Sumatera Utara skripsi Universitas Sumatera Utara BIODATA PENELITI Nama/NIM : YESI KUSMASARI/100904103 Tempat/Tanggal Lahir : Siberuang/ 26 Januari 1992 Departemen : Ilmu Komunikasi FISIP USU Alamat : Jln. Jamin Ginting Gang Medan Area No. 23 Medan Email : yesikusmasari@gmail.com Ayah : Jhon Rinaldi Ibu : Nesmawarni Anak ke : 1 dari 3 bersaudara Nama Saudara Kandung : Jania Putri Orangtua Indra Alfiansyah Agama : Islam Pendidikan : 1996-1998 TK Tunas Agung Sei Siasam 1998-2004 SDN 030 Pendalian 2004-2007 SMP N 1 Bangkinang 2007-2010 SMA Harapan Mandiri Medan 2010-2014 Departemen Ilmu Komunikasi USU Universitas Sumatera Utara
Efektivitas Komunikasi Nonverbal (Studi kasus tentang peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan Agen dan Konsumen PT. Axa Financial Indonesia cabang Medan)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Efektivitas Komunikasi Nonverbal (Studi kasus tentang peranan komunikasi nonverbal dalam mewujudkan komunikasi yang efektif di kalangan Agen dan Konsumen PT. Axa Financial Indonesia cabang Medan)

Gratis