Kajian Ketahanan Keluarga Petani: Hubungan Kesejahteraan Keluarga Dengan Kualitas Perkawinan

 5  40  83  2017-05-10 04:37:59 Report infringing document
KAJIAN KETAHANAN KELUARGA PETANI: HUBUNGAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DENGAN KUALITAS PERKAWINAN Oleh: KHOIRUL MUNAWAR RITONGA PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 RINGKASAN KHOIRUL MUNAWAR RITONGA. Kajian Ketahanan Keluarga Petani: Hubungan Kesejahteraan Keluarga Dengan Kualitas Perkawinan. Dibimbing oleh EUIS SUNARTI. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji ketahanan keluarga terutama menganalisis hubungan antara kesejahteraan keluarga petani dengan kualitas perkawinan. Secara khusus, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi karakteristik keluarga dan dukungan sosial keluarga petani; 2) Mengidentifikasi kesejahteraan keluarga petani; 3) Mengidentifikasi kualitas perkawinan keluarga petani; 4) Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kesejahteraan keluarga petani; 5) Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kualitas perkawinan keluarga petani; 6) Menganalisis hubungan antara kesejahteraan keluarga dengan kualitas perkawinan petani; 7) Menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, kesejahteraan keluarga dan kualitas perkawinan antara keluarga penggarap dan buruh tani. Desain penelitian ini adalah cross sectional study dan dilaksanakan di Desa Ciasihan dan Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa masih banyak penduduknya yang bermata pencaharian sebagai petani serta kemudahan akses, yaitu di wilayah Desa Ciasihan dan Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Contoh penelitian adalah keluarga utuh yang terdiri dari suami, isteri dan anak, bermata pencaharian sebagai petani serta mempunyai anak yang berusia sekolah dasar di dalam keluarga contoh. Contoh ditarik dari dua desa yang masing-masing terdiri dari 30 petani penggarap dari Desa Ciasihan, 30 buruh tani dari Desa Ciasihan, 30 petani penggarap dari Desa Ciasmara, dan 30 buruh tani dari Desa Ciasmara. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan, mulai dari bulan April 2007 hingga bulan Mei 2007. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik keluarga contoh (besar keluarga, umur orangtua, tingkat pendidikan orangtua, pendapatan per kapita, kepemilikan aset, dan akses informasi), dukungan sosial, kualitas perkawinan (kepuasan perkawinan dan kebahagiaan perkawinan), dan kesejahteraan keluarga (obyektif dan subyektif). Data sekunder meliputi gambaran lokasi penelitian yang diperoleh dari arsip desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar keluarga contoh berkisar dari 2 hingga 13 orang, persentase terbesar keluarga petani penggarap (61.7%) dan buruh tani (43.3%) memiliki besar keluarga 5-6 orang yang termasuk dalam kategori sedang. Umur suami berkisar antara 29-60 tahun, persentase terbesar suami pada petani penggarap (43.3%) termasuk dalam kategori usia dewasa madya (31-40 tahun) sedangkan setengah suami pada buruh tani (50.0%) termasuk dalam kategori usia dewasa akhir (41-50 tahun). Umur isteri berkisar antara 24 hingga 55 tahun dan persentase terbesar berada pada kategori dewasa madya yaitu 56.7 persen untuk isteri petani penggarap dan 48.3 persen untuk isteri buruh tani. Persentase terbesar tingkat pendidikan untuk petani penggarap berada pada kategori tamat SD, sedangkan persentase terbesar tingkat pendidikan untuk buruh tani berada pada kategori tidak tamat SD. Persentase terbesar keluarga penggarap (28.3%) memiliki pendapatan per kapita per bulan lebih dari Rp 250 000, sedangkan persentase terbesar keluarga buruh tani (53.3%) memiliki pendapatan per kapita per bulan kurang dari Rp 100 000. Lebih dari setengah keluarga petani penggarap (75.0%) memiliki aset lebih dari 20 juta rupiah, sedangkan pada buruh tani lebih dari setengahnya (78.3%) memiliki aset sebesar kurang dari 5 juta rupiah. Persentase terbesar perolehan akses informasi dari keluarga petani penggarap (63.3%) dan buruh tani (60.0%) berada pada kategori sedang, dan persentase terbesar dukungan sosial yang diperoleh oleh keluarga petani penggarap (35.0%) berada pada kategori tinggi sedangkan buruh tani (41.7%) berada pada kategori sedang. Dengan menggunakan indikator pendapatan, lebih dari separuh contoh keluarga penggarap (53.3%) berada pada kategori sejahtera (berada di atas garis kemiskinan), sedangkan sebagian besar contoh buruh tani (85.0%) berada pada kategori tidak sejahtera (berada di bawah garis kemiskinan). Secara subyektif, persentase terbesar contoh petani penggarap (85.0%) dan buruh tani (63.3%) menyatakan puas dengan kesejahteraan keluarganya. Terdapat perbedaan kesejahteraan yang nyata antara petani penggarap dan buruh tani baik dari pendekatan secara obyektif maupun dari pendekatan secara subyektif yang dirasakan oleh contoh. Skor kepuasan perkawinan contoh (istri) berkisar antara 20 hingga 100 persen dan persentase terbesar contoh petani penggarap (91.7%) dan buruh tani (76.7%) berada pada kategori kepuasan perkawinan yang tinggi. Skor kebahagiaan perkawinan contoh berkisar antara 33 hingga 100 persen dan persentase terbesar contoh petani penggarap (88.3%) dan buruh tani (71.7%) berada pada kategori kebahagiaan perkawinan yang tinggi. Kualitas perkawinan contoh berada pada kisaran 37 hingga 100 persen. Hampir seluruh contoh petani penggarap memiliki kualitas perkawinan yang tinggi yaitu sebesar 91.7 persen, dan persentase terbesar kualitas perkawinan contoh buruh tani (73.3%) berada pada kategori tinggi juga. Terdapat perbedaan kualitas perkawinan yang nyata pada isteri contoh antara keluarga petani penggarap dan buruh tani. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga, maka semakin rendah tingkat pendapatan keluarga, tetapi tidak terdapat hubungn yang nyata antara besar keluarga dengan kesejahteraan subyektif. Umur orangtua tidak berhubungan nyata dengan tingkat pendapatan keluarga dan kesejahteraan obyektif. Semakin tinggi tingkat pendidikan suami, maka semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga dan kesejahteraan subyektif. Semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, maka semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga dan kesejahteraan subyektif. Semakin tinggi akses informasi, maka semakin tinggi tingkat pendapatan dan kesejahteraan subyektif. Tidak terdapat hubungan yang nyata antara dukungan sosial yang diterima keluarga dengan tingkat pendapatan dan kesejahteraan subyektif. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. Semakin tinggi contoh dalam kemudahan mengakses informasi, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. Sedangkan dukungan sosial yang diterima keluarga, besar kaluarga dan umur isteri tidak berhubungan nyata dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tingkat pendapatan berkorelasi positif dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan contoh (isteri), artinya semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan. Sama halnya dengan kesejahteraan secara subyektif yang dirasakan keluarga contoh berkorelasi positif dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan, dimana semakin tinggi kepuasan contoh terhadap kesejahteraan yang dimilikinya, maka semakin tinggi kepuasan dan kebahagiaannya terhadap perkawinan yang berarti semakin tinggi pula kualitas perkawinan. KAJIAN KETAHANAN KELUARGA PETANI: HUBUNGAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DENGAN KUALITAS PERKAWINAN Skripsi Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : KHOIRUL MUNAWAR RITONGA A54102901 PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 JUDUL : KAJIAN KETAHANAN KELUARGA PETANI: HUBUNGAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DENGAN KUALITAS PERKAWINAN Nama : Khoirul Munawar Ritonga Nomor Pokok : A54102901 Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Euis Sunarti, MS NIP 131 803 646 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019 Tanggal Disetujui : RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Padangsidimpuan, Sumatra Utara pada tanggal 05 April 1984 dari pasangan H. Amir Hamzah Ritonga, BA dan Hotlan Tambunan. Penulis adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Tahun 1990 penulis memulai pendidikan di SD Muhammadiyah I Padangsidimpuan dan melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Padangsidimpuan. Tahun 2002 penulis menamatkan pendidikannya dari SMU Negeri I Padangsidimpuan dan pada tahun yang sama penulis diterima di IPB melalui jalur SPMB. Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif pada beberapa organisasi kemahasiswaan. Tahun 2002 sampai 2005, penulis menjadi pengurus Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan. Penulis juga aktif mengikuti kepanitian yang diselenggarakan baik oleh Departemen GMSK, Fakultas Pertanian maupun dari Institut Pertanian Bogor. PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tidak lupa penulis kirimkan salam dan shalawat kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Dengan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan skripsi, yaitu kepada: 1. Dr. Ir. Euis Sunarti, MS selaku dosen pembimbing skripsi, terimakasih telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi. 2. Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS selaku dosen pembimbing akademik. 3. Ir. Retnaningsih, MSi selaku dosen pemandu seminar dan penguji sidang, terima kasih atas saran yang mendukung kesempurnaan penulisan skripsi ini. 4. Ayah, Ibu, kakak-adikku : de’ Fitri, bang Ais, ka’ Iya, ka’ Ati, bang Ijan dan ka’ Odang, serta keluarga besar ayah ibu yang telah memberikan cinta, semangat dan perhatian kepada penulis (i’m proud to be yours). 5. Rekan-rekan terbaikku : Syarief, Herman, E.R. Poesoko, Ocid, Saidah, Hasni, Rivo dan Asep. Terimakasih atas cinta, semangat dan keceriaan yang telah kalian berikan (you are the best friend I ever had). 6. Rekan-rekan sepenelitian payung (Ana, Nia dan Mali) serta seluruh Gamasaker’s 40 dan 41 (Eka April, Andi, Atfe, Selly, Mutia, Betsy, Naok, Pritha dan semua yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu). Terima kasih atas keceriaan dan pengalaman yang kita lalui bersama (love u all). 7. Seluruh staf GMSK dan IPB yang telah membantu dalam proses akademik. 8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, karenanya saran dan kritik yang membangun sangat disterituhkan dalam perbaikan selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis serta pembaca pada umumnya…amin. Bogor, Agustus 2007 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xi PENDAHULUAN Latar Belakang .................................................................................... 1 Tujuan .................................................................................................. 3 Kegunaan ............................................................................................ 4 TINJAUAN PUSTAKA Pertanian Indonesia ............................................................................ 5 Ketahanan Keluarga ........................................................................... 6 Keluarga Petani ..................................................................................... 6 Kesejahteraan Keluarga ....................................................................... 8 Kualitas Perkawinan............................................................................. 10 Kepuasan Perkawinan ........................................................................ 12 Kebahagiaan Perkawinan ................................................................... 12 Karakteristik Keluarga ......................................................................... 13 Dukungan Sosial ................................................................................. 14 KERANGKA PEMIKIRAN ......................................................................... 16 METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian ................................................ 18 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ................................................... 18 Jenis dan Cara Pengumpulan Data .................................................... 19 Pengolahan dan Analisis Data ............................................................ 20 Definisi Operasional ............................................................................ 25 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................................... 27 Karakteristik Keluarga ........................................................................... 28 Dukungan Sosial .................................................................................. 34 Tingkat Kesejahteraan ......................................................................... 37 Kualitas Perkawinan ............................................................................. 45 Hubungan Karakteristik Keluarga dan Dukungan Sosial dengan Kesejahteraan Keluarga ...................................................................... 51 Hubungan Karakteristik Keluarga dan Dukungan Sosial dengan Kualitas Perkawinan ............................................................................. 52 Hubungan Kesejahteraan Keluarga dengan Kualitas Perkawinan .... 53 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ........................................................................................... 55 Saran .................................................................................................... 57 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 58 LAMPIRAN ................................................................................................. 62 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian. Sebagian besar penduduk Indonesia (70-80%) masih menggantungkan hidupnya pada sektor agribisnis dan agroindustri sehingga sudah seharusnya Indonesia menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu pengelola pembangunan ekonomi yang utama (Solahuddin 1999). Petani sebagai pengelola sektor pertanian memiliki arti penting dalam menentukan kualitas pertanian di Indonesia, yang terdiri dari petani buruh dan petani penggarap. Keluarga petani merupakan keluarga yang memperoleh pendapatan sehari-harinya dari kegiatan bertani. Sensus Pertanian 2003, tentang perkembangan pertanian dari tahun 1983 hingga 2003 menunjukkan bahwa selama kurun waktu duapuluh tahun jumlah rumah tangga petani di negeri ini meningkat dari 19.5 juta pada tahun 1983 menjadi 25.4 juta pada tahun 2003, atau dengan laju pertambahan sekitar 2.2 persen per tahun.sehingga telah terjadi peningkatan sebesar lebih dari 27 persen. Jumlah rumah tangga pertanian sebagian besar (54,6%) terkonsentrasi di pulau Jawa, dan sebagian besar merupakan rumah tangga pertanian tanaman padi dan palawija. Besarnya jumlah petani serta pentingnya peranan petani dalam pembangunan mengindikasikan akan pentingnya memperhatikan kesejahteraan keluarga petani di Indonesia, dimana kesejahteraan keluarga merupakan output dari ketahanan keluarga. Ketahanan suatu keluarga dapat dilihat dari kemampuan keluarga dalam mengelola masalah yang dihadapinya, berdasarkan sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Sebagian besar (70%) penduduk termiskin berada di wilayah pedesaan yang penghidupan pokoknya bersumber dari pertanian subsistem. Bagi mereka mempertahankan hidup merupakan masalah pokok (Todaro 1994). Pada tahun 2002, dari 38.4 juta orang miskin di Indonesia, 65.4 persen di antaranya berada di pedesaan, dan 53.9 persen adalah petani. Tahun 2003, dari 24.3 juta rumah tangga pertanian (yang berbasis lahan), 20.1 juta atau sekitar 82.7 persen di antaranya dapat dikategorikan miskin. Sensus Pertanian 2003 juga memberikan gambaran serupa tentang seriusnya masalah kemiskinan dan ketidaksejahteraan petani di Indonesia. KAJIAN KETAHANAN KELUARGA PETANI: HUBUNGAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DENGAN KUALITAS PERKAWINAN Oleh: KHOIRUL MUNAWAR RITONGA PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 RINGKASAN KHOIRUL MUNAWAR RITONGA. Kajian Ketahanan Keluarga Petani: Hubungan Kesejahteraan Keluarga Dengan Kualitas Perkawinan. Dibimbing oleh EUIS SUNARTI. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji ketahanan keluarga terutama menganalisis hubungan antara kesejahteraan keluarga petani dengan kualitas perkawinan. Secara khusus, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi karakteristik keluarga dan dukungan sosial keluarga petani; 2) Mengidentifikasi kesejahteraan keluarga petani; 3) Mengidentifikasi kualitas perkawinan keluarga petani; 4) Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kesejahteraan keluarga petani; 5) Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kualitas perkawinan keluarga petani; 6) Menganalisis hubungan antara kesejahteraan keluarga dengan kualitas perkawinan petani; 7) Menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, kesejahteraan keluarga dan kualitas perkawinan antara keluarga penggarap dan buruh tani. Desain penelitian ini adalah cross sectional study dan dilaksanakan di Desa Ciasihan dan Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa masih banyak penduduknya yang bermata pencaharian sebagai petani serta kemudahan akses, yaitu di wilayah Desa Ciasihan dan Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Contoh penelitian adalah keluarga utuh yang terdiri dari suami, isteri dan anak, bermata pencaharian sebagai petani serta mempunyai anak yang berusia sekolah dasar di dalam keluarga contoh. Contoh ditarik dari dua desa yang masing-masing terdiri dari 30 petani penggarap dari Desa Ciasihan, 30 buruh tani dari Desa Ciasihan, 30 petani penggarap dari Desa Ciasmara, dan 30 buruh tani dari Desa Ciasmara. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan, mulai dari bulan April 2007 hingga bulan Mei 2007. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik keluarga contoh (besar keluarga, umur orangtua, tingkat pendidikan orangtua, pendapatan per kapita, kepemilikan aset, dan akses informasi), dukungan sosial, kualitas perkawinan (kepuasan perkawinan dan kebahagiaan perkawinan), dan kesejahteraan keluarga (obyektif dan subyektif). Data sekunder meliputi gambaran lokasi penelitian yang diperoleh dari arsip desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar keluarga contoh berkisar dari 2 hingga 13 orang, persentase terbesar keluarga petani penggarap (61.7%) dan buruh tani (43.3%) memiliki besar keluarga 5-6 orang yang termasuk dalam kategori sedang. Umur suami berkisar antara 29-60 tahun, persentase terbesar suami pada petani penggarap (43.3%) termasuk dalam kategori usia dewasa madya (31-40 tahun) sedangkan setengah suami pada buruh tani (50.0%) termasuk dalam kategori usia dewasa akhir (41-50 tahun). Umur isteri berkisar antara 24 hingga 55 tahun dan persentase terbesar berada pada kategori dewasa madya yaitu 56.7 persen untuk isteri petani penggarap dan 48.3 persen untuk isteri buruh tani. Persentase terbesar tingkat pendidikan untuk petani penggarap berada pada kategori tamat SD, sedangkan persentase terbesar tingkat pendidikan untuk buruh tani berada pada kategori tidak tamat SD. Persentase terbesar keluarga penggarap (28.3%) memiliki pendapatan per kapita per bulan lebih dari Rp 250 000, sedangkan persentase terbesar keluarga buruh tani (53.3%) memiliki pendapatan per kapita per bulan kurang dari Rp 100 000. Lebih dari setengah keluarga petani penggarap (75.0%) memiliki aset lebih dari 20 juta rupiah, sedangkan pada buruh tani lebih dari setengahnya (78.3%) memiliki aset sebesar kurang dari 5 juta rupiah. Persentase terbesar perolehan akses informasi dari keluarga petani penggarap (63.3%) dan buruh tani (60.0%) berada pada kategori sedang, dan persentase terbesar dukungan sosial yang diperoleh oleh keluarga petani penggarap (35.0%) berada pada kategori tinggi sedangkan buruh tani (41.7%) berada pada kategori sedang. Dengan menggunakan indikator pendapatan, lebih dari separuh contoh keluarga penggarap (53.3%) berada pada kategori sejahtera (berada di atas garis kemiskinan), sedangkan sebagian besar contoh buruh tani (85.0%) berada pada kategori tidak sejahtera (berada di bawah garis kemiskinan). Secara subyektif, persentase terbesar contoh petani penggarap (85.0%) dan buruh tani (63.3%) menyatakan puas dengan kesejahteraan keluarganya. Terdapat perbedaan kesejahteraan yang nyata antara petani penggarap dan buruh tani baik dari pendekatan secara obyektif maupun dari pendekatan secara subyektif yang dirasakan oleh contoh. Skor kepuasan perkawinan contoh (istri) berkisar antara 20 hingga 100 persen dan persentase terbesar contoh petani penggarap (91.7%) dan buruh tani (76.7%) berada pada kategori kepuasan perkawinan yang tinggi. Skor kebahagiaan perkawinan contoh berkisar antara 33 hingga 100 persen dan persentase terbesar contoh petani penggarap (88.3%) dan buruh tani (71.7%) berada pada kategori kebahagiaan perkawinan yang tinggi. Kualitas perkawinan contoh berada pada kisaran 37 hingga 100 persen. Hampir seluruh contoh petani penggarap memiliki kualitas perkawinan yang tinggi yaitu sebesar 91.7 persen, dan persentase terbesar kualitas perkawinan contoh buruh tani (73.3%) berada pada kategori tinggi juga. Terdapat perbedaan kualitas perkawinan yang nyata pada isteri contoh antara keluarga petani penggarap dan buruh tani. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga, maka semakin rendah tingkat pendapatan keluarga, tetapi tidak terdapat hubungn yang nyata antara besar keluarga dengan kesejahteraan subyektif. Umur orangtua tidak berhubungan nyata dengan tingkat pendapatan keluarga dan kesejahteraan obyektif. Semakin tinggi tingkat pendidikan suami, maka semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga dan kesejahteraan subyektif. Semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, maka semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga dan kesejahteraan subyektif. Semakin tinggi akses informasi, maka semakin tinggi tingkat pendapatan dan kesejahteraan subyektif. Tidak terdapat hubungan yang nyata antara dukungan sosial yang diterima keluarga dengan tingkat pendapatan dan kesejahteraan subyektif. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. Semakin tinggi contoh dalam kemudahan mengakses informasi, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. Sedangkan dukungan sosial yang diterima keluarga, besar kaluarga dan umur isteri tidak berhubungan nyata dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tingkat pendapatan berkorelasi positif dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan contoh (isteri), artinya semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan. Sama halnya dengan kesejahteraan secara subyektif yang dirasakan keluarga contoh berkorelasi positif dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan, dimana semakin tinggi kepuasan contoh terhadap kesejahteraan yang dimilikinya, maka semakin tinggi kepuasan dan kebahagiaannya terhadap perkawinan yang berarti semakin tinggi pula kualitas perkawinan. KAJIAN KETAHANAN KELUARGA PETANI: HUBUNGAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DENGAN KUALITAS PERKAWINAN Skripsi Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : KHOIRUL MUNAWAR RITONGA A54102901 PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 JUDUL : KAJIAN KETAHANAN KELUARGA PETANI: HUBUNGAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DENGAN KUALITAS PERKAWINAN Nama : Khoirul Munawar Ritonga Nomor Pokok : A54102901 Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Euis Sunarti, MS NIP 131 803 646 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019 Tanggal Disetujui : RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Padangsidimpuan, Sumatra Utara pada tanggal 05 April 1984 dari pasangan H. Amir Hamzah Ritonga, BA dan Hotlan Tambunan. Penulis adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Tahun 1990 penulis memulai pendidikan di SD Muhammadiyah I Padangsidimpuan dan melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Padangsidimpuan. Tahun 2002 penulis menamatkan pendidikannya dari SMU Negeri I Padangsidimpuan dan pada tahun yang sama penulis diterima di IPB melalui jalur SPMB. Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif pada beberapa organisasi kemahasiswaan. Tahun 2002 sampai 2005, penulis menjadi pengurus Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan. Penulis juga aktif mengikuti kepanitian yang diselenggarakan baik oleh Departemen GMSK, Fakultas Pertanian maupun dari Institut Pertanian Bogor. PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tidak lupa penulis kirimkan salam dan shalawat kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Dengan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan skripsi, yaitu kepada: 1. Dr. Ir. Euis Sunarti, MS selaku dosen pembimbing skripsi, terimakasih telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi. 2. Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS selaku dosen pembimbing akademik. 3. Ir. Retnaningsih, MSi selaku dosen pemandu seminar dan penguji sidang, terima kasih atas saran yang mendukung kesempurnaan penulisan skripsi ini. 4. Ayah, Ibu, kakak-adikku : de’ Fitri, bang Ais, ka’ Iya, ka’ Ati, bang Ijan dan ka’ Odang, serta keluarga besar ayah ibu yang telah memberikan cinta, semangat dan perhatian kepada penulis (i’m proud to be yours). 5. Rekan-rekan terbaikku : Syarief, Herman, E.R. Poesoko, Ocid, Saidah, Hasni, Rivo dan Asep. Terimakasih atas cinta, semangat dan keceriaan yang telah kalian berikan (you are the best friend I ever had). 6. Rekan-rekan sepenelitian payung (Ana, Nia dan Mali) serta seluruh Gamasaker’s 40 dan 41 (Eka April, Andi, Atfe, Selly, Mutia, Betsy, Naok, Pritha dan semua yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu). Terima kasih atas keceriaan dan pengalaman yang kita lalui bersama (love u all). 7. Seluruh staf GMSK dan IPB yang telah membantu dalam proses akademik. 8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, karenanya saran dan kritik yang membangun sangat disterituhkan dalam perbaikan selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis serta pembaca pada umumnya…amin. Bogor, Agustus 2007 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xi PENDAHULUAN Latar Belakang .................................................................................... 1 Tujuan .................................................................................................. 3 Kegunaan ............................................................................................ 4 TINJAUAN PUSTAKA Pertanian Indonesia ............................................................................ 5 Ketahanan Keluarga ........................................................................... 6 Keluarga Petani ..................................................................................... 6 Kesejahteraan Keluarga ....................................................................... 8 Kualitas Perkawinan............................................................................. 10 Kepuasan Perkawinan ........................................................................ 12 Kebahagiaan Perkawinan ................................................................... 12 Karakteristik Keluarga ......................................................................... 13 Dukungan Sosial ................................................................................. 14 KERANGKA PEMIKIRAN ......................................................................... 16 METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian ................................................ 18 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ................................................... 18 Jenis dan Cara Pengumpulan Data .................................................... 19 Pengolahan dan Analisis Data ............................................................ 20 Definisi Operasional ............................................................................ 25 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................................... 27 Karakteristik Keluarga ........................................................................... 28 Dukungan Sosial .................................................................................. 34 Tingkat Kesejahteraan ......................................................................... 37 Kualitas Perkawinan ............................................................................. 45 Hubungan Karakteristik Keluarga dan Dukungan Sosial dengan Kesejahteraan Keluarga ...................................................................... 51 Hubungan Karakteristik Keluarga dan Dukungan Sosial dengan Kualitas Perkawinan ............................................................................. 52 Hubungan Kesejahteraan Keluarga dengan Kualitas Perkawinan .... 53 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ........................................................................................... 55 Saran .................................................................................................... 57 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 58 LAMPIRAN ................................................................................................. 62 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja di bidang pertanian. Sebagian besar penduduk Indonesia (70-80%) masih menggantungkan hidupnya pada sektor agribisnis dan agroindustri sehingga sudah seharusnya Indonesia menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu pengelola pembangunan ekonomi yang utama (Solahuddin 1999). Petani sebagai pengelola sektor pertanian memiliki arti penting dalam menentukan kualitas pertanian di Indonesia, yang terdiri dari petani buruh dan petani penggarap. Keluarga petani merupakan keluarga yang memperoleh pendapatan sehari-harinya dari kegiatan bertani. Sensus Pertanian 2003, tentang perkembangan pertanian dari tahun 1983 hingga 2003 menunjukkan bahwa selama kurun waktu duapuluh tahun jumlah rumah tangga petani di negeri ini meningkat dari 19.5 juta pada tahun 1983 menjadi 25.4 juta pada tahun 2003, atau dengan laju pertambahan sekitar 2.2 persen per tahun.sehingga telah terjadi peningkatan sebesar lebih dari 27 persen. Jumlah rumah tangga pertanian sebagian besar (54,6%) terkonsentrasi di pulau Jawa, dan sebagian besar merupakan rumah tangga pertanian tanaman padi dan palawija. Besarnya jumlah petani serta pentingnya peranan petani dalam pembangunan mengindikasikan akan pentingnya memperhatikan kesejahteraan keluarga petani di Indonesia, dimana kesejahteraan keluarga merupakan output dari ketahanan keluarga. Ketahanan suatu keluarga dapat dilihat dari kemampuan keluarga dalam mengelola masalah yang dihadapinya, berdasarkan sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Sebagian besar (70%) penduduk termiskin berada di wilayah pedesaan yang penghidupan pokoknya bersumber dari pertanian subsistem. Bagi mereka mempertahankan hidup merupakan masalah pokok (Todaro 1994). Pada tahun 2002, dari 38.4 juta orang miskin di Indonesia, 65.4 persen di antaranya berada di pedesaan, dan 53.9 persen adalah petani. Tahun 2003, dari 24.3 juta rumah tangga pertanian (yang berbasis lahan), 20.1 juta atau sekitar 82.7 persen di antaranya dapat dikategorikan miskin. Sensus Pertanian 2003 juga memberikan gambaran serupa tentang seriusnya masalah kemiskinan dan ketidaksejahteraan petani di Indonesia. Menurut Ferguson, Horwood dan Beutrais (Sumarwan dan Hira 1993) bahwa kesejahteraan keluarga dapat dibedakan ke dalam kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan material. Kesejahteraan ekonomi keluarga misalnya, diukur dalam pemenuhan akan input keluarga (pendapatan, upah, aset dan pengeluaran), sedangkan kesejahteraan material keluarga diukur dari berbagai bentuk barang dan jasa yang diakses oleh keluarga. Santamarina et al. (2002) diacu oleh Suandi (2005) mengemukakan bahwa tingkat kesejahteraan keluarga dapat dilihat dari dua pendekatan yakni pendekatan obyektif dan subyektif. Kesejahteraan yang bersifat obyektif dapat diukur berdasarkan ukuran ekonomi, sosial, dan lain-lain. Sedangkan tingkat kesejahteraan subyektif berdasarkan persepsi masing-masing orang akan kesejahteraan. Peningkatan ketahanan keluarga menjadi penting sehubungan dengan fakta adanya variasi tingkat kepuasan dan kebahagiaan perkawinan yang dirasakan oleh suatu keluarga dalam menilai pekawinannya. Tingkat kesejahteraan yang berbeda (dalam hal keluarga petani), tentu akan memberikan penjelasan yang berbeda terhadap keragaan interaksi pasangan dalam keluarga petani, dimana interaksi merupakan faktor penentu dalam menentukan kualitas perkawinan. Kualitas perkawinan didefenisikan sebagai sejauh mana mutu perkawinan, baik sebagai pandangan pasangan pada titik waktu tertentu, maupun sebagai kombinasi perasaan yang dialami pasangan, dan ciri-ciri relasional antar pasangan pada titik waktu tertentu (Suhardono 1998). Kualitas perkawinan memiliki dua dimensi yakni kebahagiaan perkawinan dan kepuasan perkawinan (Conger et al. 1994). Kualitas perkawinan berdimensi kebahagiaan perkawinan memiliki ciri adanya kemampuan berkomunikasi dengan baik antar pasangan, hubungan yang setara antar pasangan, hubungan yang baik dengan mertua dan ipar, menginginkan hadirnya anak, memiliki minat di bidang yang sama, memiiki cinta, saling menghormati, kesesuaian dalam kehidupan seksual, menikmati waktu luang bersama, hubungan penuh afeksi dan kebersamaan, dan kemampuan untuk memberi dan menerima (Zastrow & Kirsht 1987, diacu oleh Nurani 2004). Kualitas perkawinan berdimensi kepuasan perkawinan meliputi ekspresi afeksi yang terbuka satu sama lain, terjalinnya rasa saling percaya, tidak ada dominasi satu terhadap lainnya, komunikasi yang bebas dan terbuka antara pasangan, kesesuaian kehidupan seksual, melakukan kegiatan bersama dalam hal aktifitas di luar rumah, tempat tinggal relatif stabil, dan penghasilan yang memadai (Duvall & Miller 1985). Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengkaji ketahanan keluarga terutama mengenai hubungan antara kesejahteraan keluarga petani dengan kualitas perkawinan. Maka dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain: 1. Bagaimana keragaan kualitas perkawinan dan kesejahteraan keluarga petani? 2. Apakah ada hubungan antara karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kesejahteraan keluarga petani? 3. Apakah ada hubungan antara karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kualitas perkawinan keluarga petani? 4. Apakah ada hubungan antara kesejahteraan keluarga dengan kualitas perkawinan keluarga petani? 5. Apakah ada perbedaan karakteristik keluarga, kesejahteraan keluarga dan kualitas perkawinan antara keluarga penggarap dan buruh tani? Tujuan Penelitian Tujuan Umum Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji ketahanan keluarga petani terutama menganalisis hubungan antara kesejahteraan keluarga dengan kualitas perkawinan. Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi karakteristik keluarga dan dukungan sosial keluarga petani. 2. Mengidentifikasi kesejahteraan keluarga petani. 3. Mengidentifikasi kualitas perkawinan keluarga petani. 4. Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kesejahteraan keluarga petani. 5. Menganalisis hubungan karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kualitas perkawinan keluarga petani. 6. Menganalisis hubungan antara kesejahteraan keluarga dengan kualitas perkawinan keluarga petani. 7. Menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, kesejahteraan keluarga dan kualitas perkawinan antara keluarga penggarap dan buruh tani. Kegunaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyediakan informasi yang berharga mengenai hubungan antara kualitas perkawinan dan kesejahteraan keluarga untuk meningkatkan kualitas perkawinan serta kesejahteraan dalam keluarga. Bagi penulis informasi tersebut diharapkan dapat menambah wawasan khususnya di bidang keluarga, serta memberi sumbangan pemikiran bagi pemerintah dan lembaga terkait dalam mengadakan usaha peningkatan kualitas perkawinan serta khususnya keluarga petani. untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga TINJAUAN PUSTAKA Pertanian Indonesia Pertanian memiliki arti penting dalam posisinya bersama dengan bidang dan sektor lain dilihat dari perannya bagi kesejahteraan dan berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Pertanian tidak dapat digantikan oleh apapun dalam mendukung kehidupan manusia (Krisnamurthi 2006), dimana sektor pertanian akan tetap memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, karena sektor pertanian merupakan produsen utama produk primer, yaitu pangan. Pembangunan pertanian dan ketahanan pangan ibarat dua sisi mata uang yang saling melekat, sulit untuk dipisahkan. Karena indikator outcome ketahanan pangan yaitu umur harapan hidup, prevalensi kurang gizi, dan angka kematian bayi, dapat diibaratkan barang komplementer ketahanan keluarga yang saling bersimbiosis (Wasito 2006). Dua faktor yang berpengaruh terhadap usaha tani yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi petani sebagai pengelola, tanah usaha tani, tenaga kerja, modal, tingkat teknologi, kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga, dan jumlah keluarga petani. Sedangkan faktor ekstern meliputi ketersediaan sarana transportasi dan komunikasi, aspek-aspek yang menyangkut pemasaran hasil dan bahan usaha tani, fasilitas kredit, dan sarana penyuluhan bagi petani (Hernanto 1989). Sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia sudah seharusnya menjadikan agribisnis dan agroindustri sebagai penghela pembangunan ekonomi nasional yang paling utama. Karena 60 persen angkatan kerja nasional atau sekitar 70-80 persen jumlah penduduk masih menggantungkan hidupnya pada sektor agribisnis dan agroindustri, sehingga pengembangan agribisnis dan agroindustri sebagai komitmen nasional tidak dapat ditawar lagi (Solahuddin 1999). Pengembangan agribisnis dan agroindustri sangat penting artinya bagi kesejahteraan angkatan kerja masyarakat Indonesia. Solahuddin (1999) mengemukakan bahwa angkatan kerja Indonesia pada tahun 1994 berjumlah 82 juta jiwa, sekitar 46 persen atau 38 juta jiwa bekerja di sektor usaha tani. Ketahanan Keluarga Ketahanan keluarga menurut UU No. 10 tahun 1992 (BBKBN 1992) merupakan kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengandung kemampuan fisik-material dan psikis mental spritual guna hidup mandiri, dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin. Menurut Sunarti (2001) ketahanan keluarga meliputi ketahanan fisik, ketahanan sosial dan ketahanan psikologis. Indikator ketahanan fisik adalah pendapatan per kapita keluarga melebihi kebutuhan minimum yang disterituhkan oleh keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Indikator ketahanan sosial dikatakan tinggi apabila memiliki sumberdaya non fisik yang baik dan dapat mengatasi masalah dengan baik untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Ketahanan psikologis adalah kemampuan keluarga mengelola emosinya dalam mengatasi segala permasalahan non fisik yang terjadi di dalam keluarga (Sunarti 2001). Syarief (1997a) mengemukakan bahwa ketahanan keluarga merupakan gabungan sinergis dari ketahanan ekonomi, ketahanan moral, dan ketahanan budaya. Ketahanan ekonomi adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Ketahanan moral yaitu kemampuan keluarga untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai dan norma-norma moral kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ketahanan budaya yaitu kemampuan keluarga untuk memelihara dan mengembangkan cipta, karsa, dan karya sehingga mampu beradaptasi dan mengelola berbagai perubahan dan perkembangan. Ketahanan moral dan ketahanan budaya merupakan benteng yang tangguh dalam menghadapi berbagai perubahan dan perkembangan zaman dalam dunia yang semakin terbuka. Di dalam keluarga pemeran utama dalam membentuk ketahanan keluarga adalah wanita. Wanita sebagai isteri dan atau isteri bukan hanya sebagai benteng keluarga (family safeguard) tetapi juga sebagai pemersatu keutuhan dan kerukunan keluarga (Syarief 1997b). Keluarga Petani Keluarga merupakan suatu kelompok yang terdiri atas dua atau lebih orang yang berikatan karena sedarah, pernikahan, atau adopsi (Knox & Caroline 1994). Keluarga merupakan suatu unit dalam sistem ekonomi, yang senantiasa berinteraksi (mempengaruhi dan dipengaruhi) oleh sistem ekonomi yang lebih besar (Bryant & Keith 1990). Keluarga sebagai sebuah sistem sosial mempunyai tugas atau fungsi, agar sistem tersebut berjalan. Pencapaian tujuan, integrasi dan solidaritas, serta pola kesinambungan, atau pemeliharaan keluarga terkait dengan tugas keluarga (Megawangi 1999). Agar fungsi keluarga berada pada kondisi optimal, perlu peningkatan fungsionalisasi dan struktur yang jelas, berupa suatu rangkaian peran agar sistem sosial dibangun. Menurut Rice dan Tucker (1986), fungsi keluarga dapat digolongkan menjadi dua fungsi utama, yaitu fungsi instrumental, seperti memberikan nafkah dan memenuhi kebutuhan biologis dan fisik kepada para anggota keluarga, umumnya dikaitkan dengan peran orangtua sebagai pencari nafkah. Sedangkan fungsi kedua adalah fungsi ekspresif, yaitu memenuhi kebutuhan psikologis, sosial dan emosi, dikaitkan dengan peran orangtua sebagai pendidik, pengasuh, dan pelindung bagi anggota keluarganya. Keluarga sebagai institusi pertama, mempunyai peran yang amat penting dalam mewujudkan SDM berkualitas (Syarief 1997a). Sebuah rumah tangga dikategorikan sebagai rumah tangga pertanian apabila rumah tangga tersebut melakukan minimal salah satu kegiatan pengguna lahan, bukan pengguna lahan, petani gurem yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar, atau buruh pertanian (BPS 2005). Buruh pertanian adalah orang yang bekerja di sektor pertanian yaitu yang bekerja pada orang lain atau perusahaan yang jenis pekerjaannya masih erat dengan kegiatan pertanian atas dasar balas jasa dengan diberi upah/gaji baik berbentuk uang atau barang (Wasito 2006). Hasil Sensus Pertanian (SP) 1983 menunjukkan jumlah rumah tangga pertanian 19,5 juta, dan pada SP 1993 meningkat menjadi 21,5 juta, serta pada SP 2003 lebih dari 24 juta, sehingga selama 20 tahun telah terjadi peningkatan lebih dari 27 persen. Jumlah rumah tangga pertanian sebagian besar (54,6%) terkonsentrasi di pulau Jawa, dan sebagian besar merupakan rumah tangga pertanian tanaman padi dan palawija. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia, pemerintah melakukan berbagai macam program antara lain program peningkatan kepemilikan lahan oleh petani, dimana melalui Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan mencanangkan pembagian lahan seluas lebih dari 10 juta hektar untuk petani gurem yang lahannya tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua (Riyadi & Barus 2006). Terdapat juga program reformasi agraria yakni memberikan lahan kepada petani yang tidak memiliki lahan dengan tujuan untuk mengurangi pengangguran, kemiskinan serta mendukung program ketahanan pangan (Anonymous 2007). Program lain yang dilakukan pemerintah adalah konversi berbagai lahan non pertanian menjadi lahan pertanian, pengucuran dana untuk pembelian benih gratis bagi petani, program bibit unggul murah untuk petani miskin, program pupuk murah, subsisi pupuk, subsidi benih, subsidi gabah, serta program Raskin yakni subsidi beras untuk petani miskin (Wasito 2006). Sedangkan program pembiayaan kredit pertanian dengan bantuan jaminan pemerintah sebesar Rp 255 miliar yang digulirkan sejak Oktober 2006 kurang menyentuh kelompok petani kecil karena petani kecil tidak memiliki aset sebagai jaminan pinjaman (Anonymous 2006). Kesejahteraan Keluarga Menurut Ferguson, Horwood dan Beutrais (Sumarwan & Hira 1993) mengemukakan bahwa kesejahteraan keluarga dapat dibedakan ke dalam kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan material. Kesejahteraan ekonomi keluarga misalnya, diukur dalam pemenuhan akan input keluarga (pendapatan, upah, aset dan pengeluaran), sedangkan kesejahteraan material keluarga diukur dari berbagai bentuk barang dan jasa yang diakses oleh keluarga. Secara nasional terdapat dua versi pengukuran kesejahteraan keluarga yaitu pengukuran kesejahteraan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). BPS mengukur kesejahteraan dilihat dari konsep kebutuhan minimum (kalori) proxy pengeluaran yaitu rata-rata Rp.122 775 per kapita per bulan (SUSENAS 2004), sedangkan BKKBN membagi kesejahteraan keluarga ke dalam tiga kebutuhan, yakni: (1) kebutuhan dasar (basic needs) yang terdiri dari pangan, sandang, papan, dan kesehatan, (2) kebutuhan sosial psikologis (social psychological needs) yang terdiri dari pendidikan, rekreasi, transportasi, interaksi sosial internal, dan eksternal, dan (3) kebutuhan pengembangan (developmental needs) yang terdiri dari tabungan, pendidikan khusus/kejuruan, dan akses terhadap informasi. Cara mengukur kesejahteraan dapat dilihat dari dua pendekatan, yakni: 1) Kesejahteraan diukur dengan pendekatan obyektif atau disebut dengan istilah kesejahteraan obyektif. Pendekatan dengan indikator obyektif melihat bahwa tingkat kesejahteraan individu atau kelompok masyarakat hanya diukur secara rata-rata dengan patokan tertentu baik ukuran ekonomi, sosial maupun ukuran lainnya. Dengan kata lain, tingkat kesejahteraan masyarakat diukur dengan pendekatan yang baku (tingkat kesejahteraan masyarakat semuanya dianggap sama). Santamarina et al 2002:93, diacu oleh Suandi 2005 mengemukakan bahwa ukuran yang sering digunakan yaitu terminologi uang, pemilikan akan tanah, pengetahuan, energi, keamanan, dan lain-lain. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan konvensional dan digunakan untuk kepentingan politik karena pengukurannya sangat praktis dan mudah dilakukan, namun sedikit sekali menyentuh kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. 2) Kesejahteraan diukur dengan pendekatan subyektif atau disebut dengan istilah kesejahteraan subyektif. Menurut Noll (Santamarina et al 2002:93, diacu oleh Suandi 2005), kesejahteraan dengan pendekatan subyektif diukur dari tingkat kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat sendiri bukan oleh orang lain. Ukuran ini merupakan ukuran kesejahteraan yang banyak digunakan di negara maju termasuk Amerika Serikat. Pendekatan dengan indikator subyektif secara filosofis berhubungan erat dengan psikologi sosial masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian Sumarwan dan Hira (1993) bahwa pada delapan negara bagian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat sangat dirasakan melalui tingkat kepuasan finansial yang dimiliki dan dikuasai. Berdasarkan tingkat ketergantungan dari dimensi standar hidup (standard of living) masyarakat, maka tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dibedakan ke dalam satu sistem kesejahteraan (well-being) dan empat subsistem, yakni: (1) subsistem bio-fisik, (2) sosial, (3) ekonomi, dan (4) subsistem logistik dan utilitas dengan beberapa faktor (Suandi 2005). Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran keadaan kesejahteraan penduduk. Semakin tinggi pendapatan maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran untuk makanan ke pengeluaran untuk bukan makanan. Menurut data dari Biro Pusat Statistik (1998), di Indonesia pengeluaran untuk pangan masih merupakan bagian terbesar, kurang lebih setengah dari jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangga. Kualitas Perkawinan Perkawinan merupakan perwujudan formal antara pasangan laki-laki dan perempuan yang akan membentuk suatu rumah tangga dan sudah merupakan kodrat alami antara dua insan manusia yang berlainan jenis, adanya saling ketertarikan satu sama lain untuk tujuan hidup bersama (Tati 2004). Williamson (1972) mengemukakan bahwa perkawinan adalah suatu lembaga universal yang secara formal melanggengkan kehidupan pasangan suami isteri yang secara tradisi dan turun temurun diwariskan kepada generasi berikutnya. Diperkuat lagi dengan aspek hukum perkawinan yaitu menurut UU Perkawinan No 1 tahun 1974 pasal 1 Bab 1 yaitu perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan adalah suatu pola sosial yang disetujui dengan cara dua orang atau lebih membentuk keluarga. Perkawinan tidak hanya mencakup hak untuk melahirkan dan membesarkan anak tetapi juga seperangkat kewajiban dan hak istimewa yang mempengaruhi banyak orang (masyarakat). Artinya bahwa ikatan perkawinan merupakan bentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan yang diterima oleh masyarakat (Ram dan Tita 1991, diacu oleh Tati 2004) Williamson (1972) menyatakan bahwa perkawinan merupakan alat/sarana untuk menumbuhkan dan memperkaya aspek kepribadian seseorang agar diterima secara sosial, sebagai suatu cara untuk memenuhi harapan grupnya dan memiliki status menikah, sebagaimana diinginkan masyarakat. Schwartz dan Scott (1994) mengemukakan bahwa secara fitrah manusia memerlukan adanya kebutuhan akan rasa aman, hidup stabil dan hubungan yang kekal. Hal tersebut dapat dipenuhi melalui perkawinan. Kekekalan hubungan hanya akan tercapai jika didasarkan atas komitmen untuk seumur hidup dan meyakini bahwa perkawinan sebagai institusi sakral dan atau suci Perkawinan sebagai kontrak hukum dimaknai dari dua sudut pandang yakni, aspek sosial dan aspek hukum. Secara sosial perkawinan merupakan hubungan pasangan yang hidup bersama tanpa menikah dan setuju untuk menikah yang esensinya sama dengan perkawinan hukum. Secara hukum, perkawinan merupakan perjanjian yang diikat secara hukum atau hubungan kontrak antara dua orang yang diakui dan disahkan oleh hukum agama dan hukum negara (Schwartz & Scott 1994). Seseorang melangsungkan pernikahan memiliki suatu tujuan yaitu untuk mencapai keluarga yang sakinah (keluarga yang tenang dan rukun), mawaddah (terjalin hubungan mesra) dan rahmah (penuh kasih sayang). Artinya bahwa pasangan suami isteri dalam perkawinan memiliki rasa saling menerima, saling mengasihi untuk menjadi satu kesatuan yang utuh (Basri 1996, diacu oleh Nurani 2004). Duvall dan Miller (1985) mengemukakan bahwa jauh sebelum menikah suami isteri telah membawa karakteristik yang dapat mendukung atau sebaliknya kurang mendukung terjadinya perkawinan yang berkualitas. Perkawinan berkualitas menjamin kehidupan perkawinan yang bahagia dan memuaskan yang menjadi harapan dan idaman setiap pasangan suami isteri sejak awal pernikahan. Scanzoni dan Scanzoni (1988) menjelaskan kualitas perkawinan sebagai dimensi ekspresif dengan tiga elemen yaitu bekerjasama (companionship), afeksi fisik (physical affecion) dan empati (empathy). Di dalam penelitian pada keluarga petani, Booth dan Joh (1985) diacu oleh Tati (2004) mengukur kualitas perkawinan berkenaan dengan kebahagiaan perkawinan, pemikiran tentang perceraian, dan komunikasi perkawinan. Sedangkan sumber utama masalah hubungan suami isteri adalah kesulitan perkawinan, kurangnya kasih sayang, seks, perbedaan budaya, peran sosial, kesulitan ekonomi, dan tidak adanya hubungan yang saling menguntungkan (Burgess & Locke 1960). Burgess dan Locke (1960) mengemukakan bahwa berhasilnya suatu perkawinan dapat dilihat dari keberhasilan beberapa faktor yaitu : bertahannya suatu keluarga, kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan suami isteri, kepuasan perkawinan, kesesuaian hubungan seksual, kesesuaian perkawinan, dan integrasi diantara pasangan. Kepuasan perkawinan dilihat berdasarkan perbandingan kepuasan dalam menjalani hubungan dengan yang diharapkan oleh pasangan, sedangkan kebahagiaan sifatnya lebih subyektif dari perasaan sangat bahagia sampai sangat tidak bahagia oleh pasangan perkawinan. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas perkawinan adalah pengakuan sosial, kepribadian pasangan serta berhasilnya kerjasama diantara pasangan suami isteri. Terdapat beberapa jenis tanggung jawab dalam menjalankan hubungan suami isteri yang hampir ditemukan pada setiap lapis masyarakat antara lain: kebenaran dan ketergantungan, saling berbagi peran dalam keluarga, saling memberi semangat dan simpati, komunikasi dan mendengarkan pendapat pasangan, kepuasan hubungan seksual dan kehangatan fisik, serta kemauan melakukan sesuatu untuk pasangan (Benson 1971). Kepuasan Perkawinan Menurut Roach et al (1981) diacu oleh Nurani (2004) kepuasan perkawinan adalah persepsi terhadap kehidupan perkawinan seseorang. Sehingga kepuasan perkawinan bersifat subyektif menurut apa yang dirasakan oleh pasangan. Kepuasan perkawinan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain memiliki cinta, adanya kebersamaan, memiliki anak, saling pengertian di antara pasangan serta kebutuhan standar hidup (Synder, diacu oleh Rathus & Nevid 1983). Sedangkan kepuasan perkawinan tertinggi terjadi pada awal perkawinan dan akan menurun setelah anak pertama lahir (Smolak 1993). Kebahagiaan Perkawinan Kebahagiaan perkawinan akan tumbuh terhadap pasangan suami isteri jika dilandasi adanya perasaan cinta antar kedua pasangan, kasih sayang, adanya kebersamaan, saling percaya, saling menghargai dan menghormati serta adanya pengorbanan untuk pasangan dan keluarga. Olson (2002) mengemukakan bahwa kebahagiaan perkawinan terdiri dari faktor ekstrinsik dan intrinsik. Faktor ekstrinsik meliputi aktivitas waktu luang, sikap religius, keuangan, anak, teman, dan kecenderungan stres. Faktor intristik meliputi kecocokan kepribadian, komunikasi, penyelesaian masalah/konflik, dan seksualitas. Salah satu faktor utama penentu kebahagiaan keluarga adalah faktor ekonomi. Kebahagiaan dalam keluarga akan terwujud apabila keluarga memiliki uang yang cukup. Sehingga uang juga merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya pertengkaran di antara pasangan suami isteri (Markman 1997). Susmayanti (1995) mengemukakan bahwa skor kebahagiaan perkawinan akan meningkat seiring dengan meningkatnya alokasi pribadi dan waktu luang di dalam keluarga. Sehingga terdapat perbedaan kebahagiaan perkawinan antara isteri yang bekerja dengan isteri yang tidak bekerja. Isteri yang bekerja sebagai buruh relatif kurang bahagia dibandingkan dengan isteri yang tidak bekerja. Tetapi isteri yang bekerja di bidang jasa relatif lebih bahagia dibandingkan dengan isteri yang tidak bekarja. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Palungan (1993) diacu oleh Cahyaningsih (1999) mengemukakan bahwa besar keluarga ditentukan oleh banyaknya jumlah anggota keluarga, biasanya jumlah anak. Besarnya jumlah anggota keluarga dapat mempengaruhi tingkah laku anak karena semakin besar suatu keluarga maka semakin sedikit perhatian yang diperoleh anak dari orangtua Dalam masyarakat Indonesia, masih ada kemungkinan jumlah keluarga ditambah dengan nenek, adik, bibi, paman, dan keponakan-keponakan, namun inti keluarga tetap terdiri dari orangtua dan anak. Semua anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan kasih sayang dan mendapatkan pendidikan yang sama (Monks, Knoers, Haditono 2002). Tingkat Pendidikan Orangtua Tingkat pendidikan orangtua baik secara langsung maupun tidak langsung akan menentukan berhasilnya suatu komunikasi di antara anggota keluarga (Gunarsa & Gunarsa 2004). Alsa dan Bachroni (1984) diacu oleh Kartini (1997) mengemukakan bahwa tingkat pendidikan orangtua berhubungan positif dengan cara mendidik anak. Pendidikan orangtua yang tinggi akan lebih memberikan stimulasi lingkungan (fisik, sosial, emosional, psikologis) bagi anakanaknya dibandingkan dengan orangtua yang pendidikannya rendah. Pendapatan per Kapita Pendapatan per kapita adalah pendapatan total yang diperoleh keluarga dibagi jumlah anggota keluarga. Pendapatan keluarga dapat berasal dari lebih satu sumber pendapatan. Pendapatan yang diperoleh masyarakat pedesaan berasal dari pendapatan usaha tani dan non usaha tani. Salah satu ukuran standar ekonomi keluarga adalah tingkat pendapatan total yang diterima keluarga atau jumlah pengeluaran totalnya, meliputi pengeluaran atas pangan dan non pangan (Suhardjo 1989). Kepemilikan Aset Sumberdaya rumah tangga dapat diartikan sebagai sumber dari kekuatan, potensi, dan kemampuan untuk mencapai suatu manfaat atau tujuan. Sumberdaya rumah tangga dapat dipilah menjadi human resources dan physical resources. Human resources mencakup time, skill, dan energi dari setiap anggota keluarga rumah tangga. Physical resources mencakup financial resources yang dapat diurutkan dari yang most liquid sampai less liquid berupa credit line, saving accounts, saham, surat obligasi, mobil, rumah, dan tanah (Bryant & Keith 1990). Akses Informasi Komunikasi memainkan peranan pada situasi konflik, sebagai media untuk mengakses informasi. Dalam komunikasi yang rusak tampak jelas manifestasi dari persepsi yang salah, kalkulasi yang salah dan interpretasi yang salah yang akan dapat mempengaruhi konflik maritas yang lebih serius (Sodarjoen 2005). Pada zaman globalisasi sekarang pengaruh informasi dari lingkungan semakin besar. Oleh karena itu, keluarga dituntut untuk lebih mampu memilih dan memilah pengaruh informasi luar agar berdampak positif bagi pengembangan keluarga (Syarief 1997b). Dukungan Sosial Manusia sebagai individu dalam kehidupannya membutuhkan bantuan atau pertolongan dari orang lain. Manusia tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dari orang lain dan salah satu bentuk bantuan tersebut adalah berupa dukungan sosial. Dukungan sosial sangat disterituhkan dalam menjalani kehidupan perkawinan, Gottlieb (1995) diacu oleh Tati (2004) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan tindakan alamiah sebagai sumberdaya lingkungan yang secara erat berkaitan dengan interaksi sosial. Kendig (1986) mendefenisikan dukungan sosial sebagai “kesenangan, bantuan atau keterangan yang diterima seseorang melalui hubungan formal dan informal dengan yang lain atau kelompok”. Dukungan sosial adalah “sejumlah orang dengan siapa ia berinteraksi, frekuensi hubungan dengan orang lain atau persepsi individu tentang kecukupan hubungan pribadi, pertukaran informal atau materil, tersedianya suatu kepercayaan dan kepuasan kebutuhan dasar” (Djarkasih 1987). Purnomosari (2004) diacu oleh Tati (2004) mengatakan bahwa dukungan sosial yang positif akan membuat isteri dapat melaksanakan tugas dan perannya dengan perasaan aman dan nyaman dalam mengelola rumah tangga dan melaksanakan pengasuhan anak. Menurut Sarafino (1996) diacu oleh Tati (2004), bentuk dukungan sosial yang disterituhkan dalam keluarga terdiri dari dukungan emosi instrumen, penghargaan, dan informasi. KERANGKA PEMIKIRAN Kesejahteraan keluarga merupakan kondisi yang diidamkan semua keluarga dan juga tujuan semua keluarga. Menurut UU No 10/1992, keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan YME, serta memilki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antar anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan (BBKBN 1992). Kesejahteraan keluarga mempengaruhi kualitas perkawinan dari suatu keluarga. Tingkat kesejahteraan keluarga berbeda-beda, dalam hal ini adalah keluarga petani yang terdiri dari penggarap dan buruh tani. Pengukuran tingkat kesejahteraan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan obyektif dan subyektif. Pengukuran kesejahteraan obyektif diukur dengan menggunakan instrumen melalui terminologi uang (pendapatan) dan indikator tambahan. Kesejahteraan subyektif yaitu diukur dari tingkat kepuasan yang dirasakan oleh seseorang atau keluarga contoh. Kualitas perkawinan diukur dari kepuasan dan kebahagiaan perkawinan. Kualitas perkawinan meliputi besarnya pengertian, rasa cinta, terpenuhinya kebutuhan secara material dan spiritual, hubungan dengan keluarga besar suami, dan adanya kerjasama dalam membina keluarga. Karakteristik keluarga yang meliputi besar keluarga, pendidikan orangtua, pendapatan per kapita, kepemilikan aset, dan akses informasi akan berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga dan kualitas perkawinan. Dukungan sosial dalam berbagai bentuk seperti materi, tenaga, perhatian, dukungan, maupun nasehat dari tetangga atau saudara terdekat diduga juga turut berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga dan kualitas perkawinan. Kesejahteraan keluarga yang berbeda-beda diduga juga berpengaruh terhadap kualitas perkawinan. Karakteristik Sosial Ekonomi - Umur - Besar keluarga - Tingkat Pendidikan - Pendapatan per kapita - Kepemilikan aset - Akses informasi Proses Output Input Dukungan Sosial Adaptasi, Goal Attainment, Integrasi,Latency Kesejahteraan Keluarga - Kesejahteraan obyektif - Kesejahteraan subyektif Kualitas Perkawinan - Kepuasan perkawinan - Kebahagiaan perkawinan Keterangan: : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti : Hubungan yang diteliti : Hubungan yang tidak diteliti Gambar 1 Kerangka pemikiran kajian ketahanan keluarga petani: hubungan kesejahteraan keluarga dengan kualitas perkawinan. METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian payung yang berjudul “Kajian Ketahanan Keluarga Petani”. Judul dari penelitian ini sendiri adalah “Kajian Ketahanan Keluarga Petani: Hubungan Kesejahteraan Keluarga dengan Kualitas Perkawinan”. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study, yaitu data dikumpulkan dalam waktu tertentu dan tidak berkelanjutan (Singarimbun & Effendi 1991). Penelitan dilaksanakan di Desa Ciasihan dan Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian dipilih dengan menggunakan metode purpossive, dengan pertimbangan bahwa masih banyak penduduknya yang bermata pencaharian sebagai petani serta kemudahan akses dari kampus IPB Darmaga. Pengambilan data dilakukan mulai bulan April sampai dengan Mei 2007. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Penarikan contoh menggunakan metode purpossive, dengan syarat contoh adalah keluarga utuh yang terdiri dari bapak, isteri dan anak, bermata pencaharian sebagai petani serta terdapat anak yang berusia sekolah dasar di dalam keluarga contoh. Contoh ditarik dari dua desa di Kecamatan Pamijahan yaitu Desa Ciasihan dan Desa Ciasmara yang masing-masing terdiri dari 30 petani penggarap dari Desa Ciasihan, 30 buruh tani dari Desa Ciasihan, 30 petani penggarap dari Desa Ciasmara, dan 30 buruh tani dari Desa Ciasmara. Sehingga jumlah contoh keseluruhan berjumlah 120 orang. Teknik pengambilan contoh tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Kecamatan Pamijahan (15 desa) Desa Ciasihan Penggarap n = 30 orang Desa Ciasmara Buruh tani n = 30 orang Penggarap n = 30 orang Total n = 120 orang Gambar 2. Bagan cara penarikan contoh Buruh tani n = 30 orang Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik keluarga contoh (besar keluarga, umur orangtua, tingkat pendidikan orangtua, pendapatan per kapita, kepemilikan aset, dan akses informasi), dukungan sosial, kualitas perkawinan (kepuasan perkawinan dan kebahagiaan perkawinan), dan kesejahteraan keluarga (obyektif dan subyektif). Data sekunder meliputi gambaran lokasi penelitian yang diperoleh dari arsip desa. Jenis dan cara pengambilan data, variabel, responden, alat dan cara pengukuran serta skala data disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Jenis data, variabel data, skala data, responden, alat dan cara pengukuran Jenis data Variabel Skala Responden Alat & Cara Pengukuran Primer Karakteristik Keluarga: 1. Besar Keluarga 2. Umur Orangtua 3. Pendapatan/Kapita 4. Tingkat Pendidikan 5. Kepemilkan Aset 6. Akses Informasi Rasio Rasio Rasio Ordinal Rasio Ordinal Orangtua Orangtua Orangtua Orangtua Orangtua Orangtua Dukungan Sosial Ordinal Orangtua Kuesioner dan Wawancara Ordinal Orangtua Kuesioner dan Wawancara Tingkat Kesejahteraan: 1. Kategori Kesejahteraan Obyektif 2. Kategori Kesejahteraan Subyektif Kualitas Perkawinan: 1. Kepuasan Perkawinan 2. Kebahagiaan Perkawinan Sekunder Data Demografi Orangtua Kuisioner dan Wawancara Ordinal Ordinal Isteri Ordinal Isteri Kuesioner dan Wawancara Pengolahan dan Analisis Data Data yang telah diperoleh diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data, dan analisis data. Tahapan editing yaitu pengecekan terhadap datadata yang telah dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, coding yaitu pemberian kode tertentu terhadap jawaban responden untuk memudahkan analisis data. Data yang telah dicoding kemudian discoring. Tahapan selanjutnya adalah entry data yaitu memasukkan data yang telah discoring ke dalam komputer untuk diolah dan dianalisis. Data yang dianalisis meliputi karakteristik keluarga, dukungan sosial, kesejahteraan keluarga, dan data kualitas perkawinan. Untuk melihat hubungan dan perbedaan antar variabel dilakukan uji hubungan dan uji beda. Semua data diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel 2003 dan SPSS versi 13.0 for Windows. Data karakteristik keluarga meliputi besar keluarga, umur orangtua, tingkat pendidikan orangtua, pendapatan per kapita, kepemilikan aset dan akses informasi. Besar keluarga dikelompokkan berdasarkan BKKBN (1998) menjadi tiga kategori yaitu kecil (=4 orang), sedang (5-6 orang), dan besar (>7 orang). Umur orangtua dibagi menjadi empat kategori yaitu dewasa awal (20-30), dewasa madya (31-40), dewasa akhir (41-50), dan lansia awal (51-65) (Papalia & Old 1981). Tingkat pendidikan orangtua dikelompokkan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, dan tamat PT/akademi. Pendapatan per kapita diperoleh dari penjumlahan antara pendapatan keluarga dan pendapatan hasil usaha tani selama setahun yang dikonversikan menjadi per bulan, kemudian dibagi menjadi lima kategori, kurang dari Rp 100 000, Rp 100 001-150 000, Rp 150 001-200 000, Rp 200 001-250 000, dan lebih dari Rp 250 000. Aset yang dimiliki keluarga contoh diuangkan dan dikategorikan menjadi kurang dari Rp 5 000 000, Rp 5 000 001-10 000 000, Rp 10 000 001-15 000 000, Rp 15 000 001-20 000 000, dan lebih dari Rp 20 000 000. Akses informasi diberi skor 1 jika jawabannya Ya, dan skor 0 jika jawabannya Tidak, kemudian disteriat tiga kategori berdasarkan transformasi dengan skala 0-100 persen, yaitu rendah (0-33.3), sedang (33.4-66.7), dan tinggi (66.8-100). Hasil transformasi dikategorikan berdasarkan interval kelas. Berdasarkan Slamet (1993), interval kelas ditentukan menggunakan rumus sebagai berikut: Interval kelas = Skor maksimum (NT) – Skor minimum (NR) = Interval (I) Jumlah kategori Pengelompokan kategori adalah sebagai berikut : - Rendah = NR sampai (NR+I) = 0-33.3 - Sedang = (NR+I) sampai {(NR+I)+I} = 33.4-66.7 - Tinggi = {(NR+I)+I} sampai NT = 66.8-100 Data dukungan sosial yang terdiri dari dukungan sosial terhadap masalah ekonomi, pengasuhan, kesehatan, dan konflik dalam keluarga, diberi skor 1 jika jawabannya Ya, dan skor 0 jika jawabannya Tidak. Langkah selanjutnya sama dengan cara pengolahan data akses informasi, sehingga diperoleh tiga kategori yaitu rendah (0-33.3), sedang (33.4-66.7) dan tinggi (66.8-100). Data kesejahteraan diukur berdasarkan dua dimensi kesejahteraan yaitu kesejahteraan obyektif dan kesejahteraan subyektif. Pendekatan pendapatan yang digunakan berdasarkan pendapatan per kapita per bulan menurut garis kemiskinan BPS untuk Bogor (2006b) yaitu Rp 152 847. Berdasarkan garis kemiskinan tersebut, disteriat dua kategori menjadi sejahtera jika berada di atas garis kemiskinan dan tidak sejahtera jika berada di bawah garis kemiskinan. Kesejahteraan subyektif diukur berdasarkan tingkat kepuasan yang dirasakan keluarga contoh terhadap berbagai macam pemenuhan kebutuhan dalam rumah tangga yakni berdasarkan delapan item pertanyaan tentang kepuasan responden terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, pakaian, kualitas rumah, kualitas pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan pendapatan per kapita. Masing-masing item pertanyaan diberi skor, yaitu skor 1 tidak puas, 2 kurang puas, 3 puas, dan 4 sangat puas. Selanjutnya skor yang diperoleh dari masing-masing item pertanyaan dijumlahkan, kemudian ditransformasikan dari skala ordinal ke skor dengan skala 0 - 100 persen. Selanjutnya dikategorikan menjadi sejahtera jika skor > 50 persen dan tidak sejahtera jika skor < 50 persen. Data kualitas perkawinan meliputi data kepuasan dan kebahagiaan perkawinan yang masing-masing terdiri dari 15 pertanyaan, dimana setiap pertanyaan yang dijawab Ya diberi skor 0 dan yang dijawab Tidak diberi skor 1. Untuk pertanyaan bertanda bintang yang menjawab Ya diberi skor 1 dan yang menjawab Tidak diberi skor 0, sehingga masing-masing kepuasan perkawinan dan kebahagiaan perkawinan memiliki skor minimal 0 dan skor maksimal 15. Skor total kualitas perkawinan merupakan penjumlahan dari skor kepuasan perkawinan dan kebahagiaan perkawinan. Skor yang diperoleh ditransformasikan dari skala ordinal ke skor dengan skala 0-100 persen, selanjutnya dikategorikan menjadi tinggi jika skor > 80%, sedang jika skor 60-79%, dan rendah jika skor <60%. Transformasi skala ordinal ke skor dengan skala 0 - 100 menggunakan formula : Z = Y – Min x 100 Max – Min Keterangan : X = Total Skor Jawaban responden Y = Hasil Konsistensi dari X Z = Peubah Penelitian Min = Total Skor Minimum jawaban responden Max = Total Skor Maximum jawaban responden Formula untuk mengkonsistensikan skor a < X < b karena X tidak konsisten maka dikonsistenkan misalnya Y dengan formula Y= b-X, a < X < b. Pengolahan dan analisis data-data di atas, dilakukan secara deskriptif dan inferensia. Analisis deskriptif yang digunakan antara lain sebaran frekuensi dan tabulasi silang. Sedangkan analisis inferensia yang digunakan yaitu uji beda independent sample t test, dan uji korelasi Rank Spearman. 1. Uji beda dilakukan untuk melihat adanya perbedaan variabel antara keluarga penggarap dan buruh tani. 2. Uji korelasi Rank Spearman dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang diteliti. Uji korelasi Rank Spearman: rs = 1 − 6Σ di 2 N n2 − 1 ( ) di 2 = ( xi − yi ) Keterangan: rs di xi yi N : koefisien korelasi rank spearman : selisih ranking xi dan yi : ranking xi : ranking yi : banyaknya pasangan data Tabel 2 Jenis pertanyaan dan kategori data Variabel Penelitian Jenis Pertanyaan Besar Keluarga Besar keluarga Umur Orangtua Umur orangtua Pendidikan Orangtua Pendapatan Kepemilikan Aset Akses Informasi Dukungan Sosial Kategori Data Kecil : =4 orang Sedang : 5-6 orang Besar : >7 orang Dewasa awal : 20-30 tahun Dewasa madya : 31-40 tahun Dewasa akhir : 41-50 tahun Lansia awal : 51-65 tahun Lama pendidikan yang telah diselesaikan 1:Tidak pernah sekolah (0 tahun) 2 : Tidak tamat SD (< 6 tahun) 3 : SD (1-6 tahun) 4 : SMP (7-9 tahun) 5 : SMA (10-12 tahun) 6 : PT /Akademi (>12 tahun) Pendapatan per kapita keluarga Berdasarkan sebaran data: < Rp 100 000 Rp 100 001 – Rp 150 000 Rp 150 001 – Rp 200 000 Rp 200 001 – Rp 250 000 RP > 250 000 Berdasarkan garis kemiskian BPS 2006 Rp 152 847 Tidak sejahtera (Rp 152 847) Lahan sawa dan tegalan, barang elektronik, kendaraan, barang berharga, tabungan keluarga dan ternak. Mudah/tidak memperoleh informasi, s umber informasi dan jenis informasi Ekonomi, pengasuhan, kesehatan dan konflik dalam keluarga Frekuensi makan Pangan Berdasarkan sebaran data: < Rp 5 000 000 Rp 5 000 001-10 000 000 Rp 10 000 001-15 000 000 Rp 15 000 001-20 000 000 RP > 20 000 000 Berdasarkan sebaran interval: Rendah (0-33.3) Sedang (33.4-66.7) Tinggi (66.8-100) Berdasarkan sebaran interval: Rendah (0-33.3) Sedang (33.4-66.7) Tinggi (66.8-100) 1 : Tidak tahu 2 : 1 kali 3 : 2 kali 4 : 3 kali Keragaman makan 0 : Tidak 1 : Ya Jumlah rata-rata pakaian yang dimiliki anggota keluarga (dewasa) 1 : 1 stel 2 : 2 stel 3 : 3 stel 4 : 4 stel Penggunaan pakaian yang berbeda untuk aktifitas yang berbeda 1 : tidak pernah 2 : jarang 3 : kadang-kadang 4 : selalu Pakaian Tabel 2 (Lanjutan) Variabel Penelitian Luas dan Status Kepemilikan Rumah Jenis Pertanyaan Status kepemilikan rumah dan pekarangan Luas rumah Dinding Kondisi Fisik Rumah Atap Lantai Sumber air minum Fasilitas Rumah Tempat BAB 1 : Halaman rumah 2 : TPS Alat penerangan rumah 1 : Lampu tempel 2 : Listerik 0 : Tidak 1 : Ya Anak usia sekolah bersekolah Kesehatan Keluarga Cara mengatasi keluarga yang sakit serius Kesejahteraan Subyektif 1 : Numpang(ortu/mertua, orang lain) 2 : Sewa 3 : Milik sendiri Berdasarkan luas rumah per kapita menurut BKKBN 2 <8m 2 =8m 1 : Bambu 2 : Kayu 3 : Sebagian tembok 4 : Tembok 1 : Bambu 2 : Nifah 3 : Seng 4 : Genteng 1 : tanah 2 : Semen 3 : Ubin 4 : Keramik 1 : Mata air 2 : Sumur 3 : PDAM 1 : Sungai/kali 2 : WC umum 3 : WC sendiri Tempat pembuangan sampah Pendidikan Anak Kualitas Perkawinan Kategori Data Kepuasan perkawinan dan kebahagiaan Perkawinan Pangan, pakaian, kualitas rumah, kualitas pendidikan anak, kesehatan keluarga dan pendapatan per kapita 1 : Ditangani sendiri 2 : Pengobatan alternatif 3 : Dibawa ke puskesmas 4 : Dibawa ke rumah sakit Rendah (< 60%) Sedang (60% – 79%) Tinggi (> 80%)) Tidak sejahtera : < 50% Sejahtera : = 50% Definisi Operasional Keluarga petani adalah sekelompok orang yang terdiri dari suami, isteri, dan anak yang salah satu anggota keluarganya bermata pencaharian sebagai petani baik sebagai mata pencaharian utama ataupun tambahan. Petani penggarap adalah petani yang mengusahakan lahan milik sendiri atau menyewa lahan untuk dikelola sendiri ataupun mempekerjakan orang lain untuk mengolah lahan tersebut. Buruh tani adalah petani yang tidak memiliki lahan pertanian dan hanya bekerja sebagai buruh atau tenaga kerja dengan upah sejumlah yang telah ditentukan, dan kadang mendapatkan hasil usahatani pada saat musim panen dengan perbandingan antara pemilik dan buruh tani yaitu 5 : 1. Karakteristik keluarga adalah ciri-ciri dari aspek sosial ekonomi yang dimiliki atau melekat pada suami-isteri yang meliputi besar keluarga, umur orangtua, tingkat pendidikan orangtua, pendapatan per kapita, kepemilikan aset, dan akses informasi. Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang masih tinggal dalam satu rumah atau tidak yang masih menjadi tanggungan orangtua dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pendidikan orangtua adalah tingkat pendidikan formal terakhir yang ditempuh oleh suami atau isteri yaitu tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, dan tamat PT/akademi. Pendapatan per kapita adalah pendapatan total yang diperoleh keluarga dibagi jumlah anggota keluarga yang dinyatakan dalam rupiah per kapita per bulan. Kepemilikan aset adalah banyaknya aset yang dimiliki keluarga dilihat dari kepemilikan barang-barang elektronik, binatang ternak, alat transportasi, barang berharga (perhiasan), tabungan, modal usaha, dan luas lahan/tanah yang dikonversikan ke dalam nilai uang. Aset dalam penelitian ini tidak termasuk rumah dan belum dibandingkan dengan rasio hutang keluarga. Akses informasi adalah kemampuan keluarga untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber informasi yang tersedia, dalam penelitian ini akses informasi dinilai berdasarkan kemudahan keluarga memperoleh informasi, sumber informasi, dan jenis informasi yang diperoleh. Dukungan sosial adalah bantuan yang diterima individu dari orang lain, baik sebagai individu perorangan atau kelompok, dalam penelitian ini dukungan yang diteliti yaitu masalah ekonomi, pengasuhan, kesehatan, dan konflik dalam keluarga. Kesejahteraan keluarga adalah kemakmuran, kebahagian, dan kualitas hidup pada kelompok keluarga petani penggarap dan buruh tani yang diukur berdasarkan dimensi kesejahteraan obyektif dan kesejahteraan subyektif. Kesejahteraan obyektif adalah kesejahteraan yang diukur melalui dua indikator yaitu indikator utama dan tambahan. Indikator utama menggunakan pendekatan pendapatan berdasarkan garis kemiskinan BPS (2006) yaitu, keluarga dikatakan sejahtera apabila memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas RP 152 847 dan sebaliknya. Indikator tambahan yang digunakan berdasarkan pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan anak, dan kesehatan keluarga. Kesejahteraan subyektif adalah kesejahteraan yang diukur berdasarkan kebahagiaan atau kepuasan yang dirasakan oleh keluarga petani dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan, pakaian, kualitas rumah, kualitas pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan pendapatan per kapita keluarga. Kualitas perkawinan diukur berdasarkan kepuasan dan kebahagiaan menurut persepsi isteri dalam menilai kehidupan perkawinannya. Total skor terendah 0 dan tertinggi 30, dengan kategori tinggi: >80%, sedang: 6079%, dan rendah: <60%. Kepuasan perkawinan diukur berdasarkan persepsi isteri dalam menilai kehidupan perkawinannya yakni kepuasan dari aspek cinta, keterbukaan, pengasuhan anak, dan aspek ekonomi. Total skor terendah 0 dan tertinggi 15, dengan kategori tinggi: >80%, sedang: 60-79%, dan rendah: <60%. Kebahagiaan perkawinan diukur berdasarkan suatu kenikmatan yang relatif permanen, yang dirasakan isteri dalam menilai kehidupan perkawinannya dari aspek kepribadian pasangan, komunikasi dengan keluarga pasangan, pengasuhan anak, dan aspek ekonomi. Total skor terendah 0 dan tertinggi 15, dengan kategori tinggi: >80%, sedang: 60-79%, dan rendah: <60%. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di kecamatan Pamijahan, kabupaten Bogor, propinsi Jawa Barat, tepatnya di dua desa yaitu Desa Ciasihan dan Desa Ciasmara. Secara geografis, desa ini berada di kaki gunung Salak yang dialiri oleh dua sungai yaitu sungai Ciasmara dan sungai Cianteun. Desa Ciasihan Desa Ciasihan memiliki luas wilayah 669.274 ha yang terdiri dari 342 ha tanah sawah, 70.6 ha tanah kering, dan 6.31 ha tanah untuk keperluan fasilitas umum. Secara administratif Desa Ciasihan berbatasan dengan: a. Sebelah Utara : berbatasan dengan Desa Cisteringbulang Kulon. b. Sebelah Timur : berbatasan dengan Desa Gunung Sari. c. Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Ciasmara. d. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Topografi Desa Ciasihan berupa dataran sampai berombak sebesar 200.774 ha dan berbukit sampai bergunung sebesar 462 ha. Suhu rata-rata Desa Ciasihan yaitu 350C dan ketinggian dari permukaan laut yaitu 700 m. Jarak Desa Ciasihan ke Kecamatan Pamijahan ± 3 km. Jumlah penduduk Desa Ciasihan sebanyak 8 488 orang yang terdiri dari 4 275 orang laki-laki dan 4 213 orang wanita. Mata pencaharian penduduk Desa Ciasihan yaitu sebagai petani, pedagang, tukang, pengemudi/jasa, dan Pegawai Negeri Sipil. Berdasarkan mata pencahariannya tersebut, sebagian besar penduduk Desa Ciasihan bergerak di bidang pertanian dan perdagangan. Struktur mata pencaharian penduduk Desa Ciasihan pada subsektor bidang pertanian tanaman pangan yaitu sebanyak 1 611 orang dengan status pemilik tanah sawah, 14 orang pemilik tanah tegal/ladang, dan 62 orang penyewa atau penggarap. Desa Ciasmara Luas Desa Ciasmara 626.250 ha yang terdiri dari 325 ha tanah pertanian, 200 ha tanah kehutanan, dan 101.250 ha pemukiman penduduk dan lainnya. Secara administratif Desa Ciasmara berbatasan dengan: a. Sebelah Utara dan Timur : berbatasan dengan Desa Ciasihan. b. Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Purwabakti. c. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Desa Kebandungan Kabupaten Sukabumi. Topografi Desa Ciasmara berupa dataran sampai berombak dengan suhu rata-rata 280-350C, ketinggian minimum 400 meter dan maksimum 500 meter dari permukaan laut. Jarak Desa Ciasmara ke kecamatan Pamijahan lebih kurang ± 35 km. Jumlah penduduk Desa Ciasmara adalah sebanyak ± 6 851 orang, yang terdiri dari 3 485 orang laki-laki dan 3 366 orang wanita. Pendidikan rata-rata 50 persen tidak tamat SD, 15 persen SLTP, 5 persen SLTA dan Perguruan Tinggi. Mata pencaharian penduduk di Desa Ciasmara sebagian besar bergerak di bidang pertanian yaitu sebesar 85 persen padi sawah, 10 persen berdagang, dan 5 persen lainnya. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Keluarga contoh merupakan keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari suami, isteri dan anak. Besar keluarga contoh berkisar antara 2 sampai 13 orang dengan rata-rata 5.6 orang untuk penggarap dan 5.9 orang untuk buruh tani (Tabel 3). Tabel 3 Sebaran contoh menurut besar keluarga Penggarap Besar Keluarga n % Kecil (= 4 orang) 9 15.0 61.7 37 Sedang (5-6 orang) 14 23.3 Besar (>7 orang) 60 100.0 Total 5.6 ± 1.1 Rata-rata ± SD 0.272 p-value Buruh tani n % 14 23.3 43.3 26 20 33.3 60 100.0 5.9 ± 1.8 Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar keluarga contoh termasuk keluarga sedang yaitu 61.7 persen untuk penggarap dan 43.3 persen untuk buruh tani (Tabel 3). Berdasarkan hasil uji beda, tidak terdapat perbedaan yang nyata antara besar keluarga pada petani penggarap dan buruh tani. Hal ini diduga berkaitan dengan umur orangtua yang berada pada selang yang relatif sama pada keluarga contoh. Umur Orangtua Umur suami berkisar antara 29 hingga 60 tahun dengan rata-rata umur 43.3 tahun. Umur isteri berkisar antara 24 hingga 55 tahun dengan rata-rata umur 37.5 tahun (Tabel 4). Tabel 4 Sebaran contoh menurut umur orangtua Suami Penggarap Buruh tani Umur (tahun) n % n % Dewasa awal (20-30) 0 0.0 1 1.7 43.3 Dewasa madya (31-40) 26 25 41.7 50.0 Dewasa akhir (41-50) 23 38.3 30 Lansia awal (51-65) 11 18.3 4 6.7 Total 60 100.0 60 100.0 Rata-rata ± SD 43.3 ± 7.0 p-value 0.327 Isteri Penggarap Buruh tani n % n % 10 16.7 17 28.3 56.7 34 29 48.3 13 21.7 14 23.3 3 5.0 0 0.0 60 100.0 60 100.0 37.5 ± 6.9 0.110 Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar umur suami pada petani penggarap berada pada kategori dewasa madya (43.3%) dan untuk buruh tani setengah dari suami berada pada kategori dewasa akhir (50.0%). Sedangkan persentase terbesar umur isteri, baik petani penggarap dan buruh tani berada pada kategori umur dewasa madya yakni lebih dari setengah untuk isteri penggarap (56.7%) dan sebesar 48.3 persen untuk isteri buruh tani (Tabel 4). Berdasarkan hasil uji beda, tidak terdapat perbedaan yang nyata antara umur suami dan isteri pada keluarga penggarap dan buruh tani. Hal ini diduga karena usia contoh yang diteliti untuk melangsungkan pernikahan relatif sama, disamping faktor lain yang mempengaruhi usia perkawinan seperti latar belakang keluarga, tingkat pendidikan, dan masa usia subur yang relatif sama (Jay et al. 1987). Tingkat Pendidikan Orangtua Alsa dan Bachroni (1984) diacu oleh Kartini (1997) mengemukakan bahwa tingkat pendidikan orangtua berhubungan positif dengan cara mendidik anak. Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orangtua disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Sebaran contoh menurut tingkat pendidikan orangtua Suami Isteri Penggarap Buruh tani Penggarap Buruh tani Tingkat Pendidikan n % n % n % n % Tidak pernah sekolah 0 0.0 1 1.7 0 0.0 0 0.0 50.0 68.3 Tidak tamat SD 13 21.7 30 17 28.3 41 35.0 24 40.0 Tamat SD 21 40.0 24 15 25.0 Tamat SMP 9 15.0 5 8.3 15 25.0 4 6.7 Tamat SMA 11 18.3 0 0.0 3 5.0 0 0.0 Tamat PT/akademi 6 10.0 0 0.0 1 1.7 0 0.0 Total 60 100.0 60 100.0 60 100.0 60 100.0 p-value 0.000 0.000 Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar tingkat pendidikan orangtua pada keluarga penggarap baik suami maupun isteri adalah tamat SD masing-masing sebesar 35 persen dan 40 persen. Sedangkan persentase terbesar tingkat pendidikan orangtua pada keluarga buruh tani baik pada suami (50.0%) maupun isteri (68.3%) adalah tidak tamat SD (Tabel 5). Tingkat pendidikan orangtua pada keluarga penggarap dan buruh tani secara garis besar belum memenuhi tuntutan Undang-Undang Sistem Pendidikan Indonesia (UU.RI No.2 Tahun 1989) yang menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak menempuh sekurang-kurangnya jenjang pendidikan dasar 9 tahun. Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat pendidikan orangtua pada keluarga penggarap dan buruh tani. Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan pada keluarga penggarap cenderung lebih tinggi daripada tingkat pendidikan pada keluarga buruh tani. Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan, akan semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusianya, dan akan memiliki pendapatan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan orang dengan tingkat pendidikan yang rendah (Guhardja et. al 1992). Pendapatan per Kapita Pendapatan per kapita adalah pendapatan total yang diperoleh keluarga dibagi jumlah anggota keluarga yang dinyatakan dalam rupiah per kapita per bulan. Pendapatan per kapita contoh berkisar antara Rp 38 142.9 sampai dengan Rp 1 078 333.3. dengan rata-rata 242 435.4 untuk petani penggarap dan 99 442.9 untuk buruh tani (Tabel 6). Tabel 6 Sebaran contoh menurut pendapatan per kapita Penggarap Buruh tani Pendapatan per kapita (Rp) n % n % 53.3 15 25.0 32 < 100 000 13 21.7 19 31.7 100 001-150 000 6 10.0 7 11.7 150 001-200 000 9 15.0 1 1.7 200 001-250 000 28.3 17 1 1.7 > 250 000 60 100.0 60 100.0 Total 242 435.4 ± 235 699.5 99 442.9 ± 48 067.6 Rata-rata ± SD 0.000 p-value Hasil penelitian menunjukkan bahwa 28.3 persen keluarga petani penggarap memiliki pendapatan per kapita di atas Rp 250 000 sedangkan lebih dari setengah keluarga buruh tani memiliki pendapatan per kapita di bawah Rp 100 000 (53.3%) (Tabel 6). Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan per kapita per bulan pada keluarga penggarap lebih besar daripada keluarga buruh tani. Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan yang nyata pendapatan per kapita per bulan antara keluarga penggarap dan keluarga buruh tani. Hal ini terkait dengan kepemilikan lahan yang dimiliki oleh keluarga penggarap yang menghasilkan pendapatan lebih besar dibandingkan dengan keluarga buruh tani yang tidak mempunyai lahan dan hanya memperoleh upah dari lahan orang lain yang digarapnya. Kepemilikan Aset Aset keluarga dalam penelitan ini merupakan hasil penjumlahan beberapa aset yang kemudian diuangkan. Aset tersebut meliputi lahan pertanian milik sendiri, barang elektronik, kendaraan, barang berharga, tabungan keluarga, dan ternak. Tabel 7 Sebaran contoh menurut jenis aset yang dimiliki Penggarap Jenis Aset n % Barang elektronik 38 63.3 Radio 90.0 54 TV 22 36.7 Kulkas 26 43.3 Video/VCD 23 38.3 HP 35 58.3 Lain-lain Kendaraan 3 5.0 Mobil 0 0.0 Truk 29 48.3 Motor 51.7 31 Sepeda 0 0.0 Lain-lain Barang berharga 35.0 21 Emas 0 0.0 Lain-lain Tabungan 15 28.0 Keluarga 31.7 19 Anak Ternak 0 0.0 Sapi 1 1.7 Kerbau 9 15.0 Kambing 58.3 35 Ayam 17 28.3 Itik 4 6.7 Lain-lain 100.0 Lahan 60 n Buruh tani % 17 47 3 25 6 19 28.3 78.3 5.0 41.7 10.0 31.7 0 0 8 12 0 0.0 0.0 13.3 20.0 0.0 9 0 15.0 0.0 7 14 11.7 23.3 0 1 10 36 20 0 0 0.0 1.7 16.7 60.0 33.3 0.0 0.0 Berdasarkan jenis aset yang dimiliki, persentase terbesar untuk barang elektronik yang dimiliki petani adalah TV yakni hampir semua petani penggarap (90.0%) memiliki TV dan sebesar 78.3 persen buruh tani memiliki TV. Persentase terbesar kendaraan yang dimiliki oleh petani adalah sepeda yakni sebesar 51.7 persen keluarga petani penggarap dan 20.0 persen keluarga buruh tani menyatakan memiliki sepeda. Untuk barang berharga, sebesar 35.0 persen petani penggarap dan 15.0 persen buruh tani memiliki barang berharga berupa emas (Tabel 7). Untuk aset berupa tabungan, hanya 28.0 persen petani penggarap dan 11.7 persen buruh tani yang memiliki tabungan keluarga. Selain itu, sebesar 31.7 persen petani penggarap dan 23.3 persen buruh tani menyatakan bahwa anak mempunyai tabungan (Tabel 7). Hewan ternak yang paling banyak dipelihara oleh keluarga contoh adalah ayam, yakni lebih dari setengah petani penggarap (58.3%) dan buruh tani (60.0%) memelihara ayam. Untuk lahan, semua petani penggarap (100.0%) memiliki lahan sedangkan buruh tani tidak ada (0.0%) yang memiliki lahan, sesuai dengan statusya sebagai buruh tani yang hanya menggarap lahan milik petani penggarap (Tabel 7). Dalam penelitian ini, luas dan keadaan rumah tidak dihitung sebagai aset yang akan diuangkan karena keadaan rumah petani di lokasi penelitian adalah relatif sama/homogen. Tabel 8 Sebaran contoh menurut kepemilikan aset keluarga Penggarap Buruh tani Kepemilikan Aset (Rp) n % n % 78.3 8 13.3 47 < 5 000 000 2 3.3 8 13.3 5 000 001-10 000 000 1 1.7 2 3.3 10 000 001-15 000 000 4 6.7 1 1.7 15 000 001-20 000 000 75.0 2 3.3 > 20 000 000 45 60 100.0 60 100.0 Total 99 282 960±87 688 209 3 449 900±3 369 126 Rata-rata ± SD 0.000 p-value Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata aset setelah diuangkan yang dimiliki oleh keluarga penggarap adalah sebesar Rp 99 282 960, sedangkan pada keluarga buruh tani hanya sebesar Rp 3 449 900 (Tabel 8). Persentase terbesar kepemilikan aset keluarga penggarap berada pada kategori lebih dari Rp 20 000 000 yaitu sebesar 75 persen, sedangkan pada keluarga buruh tani persentase terbesar berada pada kategori kurang dari Rp 5 000 000 yaitu sebesar 78.3 persen (Tabel 8). Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan yang nyata kepemilikan aset antara keluarga penggarap dan keluarga buruh tani, hal ini terkait dengan tingkat pendapatan petani penggarap yang lebih tinggi dibandingkan buruh tani. Akses Informasi Akses informasi dinilai dari kemudahan keluarga contoh memperoleh infomasi, berbagai sumber untuk memperoleh informasi (TV, radio, surat kabar, teman/tetangga), dan jenis informasi yang diperoleh (informasi pekerjaan, pengasuhan, pendidikan, kesehatan). Tabel 9 Sebaran contoh menurut akses informasi Penggarap Akses Informasi n % Kemudahan memperoleh informasi 86.7 52 Ya 8 13.3 Tidak 60 100.0 Total Sumber informasi 95.0 TV 57 Radio 29 48.3 Surat kabar 4 6.7 47 78.3 Teman Jenis informasi 36 60.0 Pekerjaan 17 28.3 Pengasuhan 13 21.7 Pendidikan 81.7 49 Kesehatan n Buruh tani % 46 14 60 76.7 23.3 100.0 46 13 2 47 76.7 21.7 3.3 78.3 24 15 7 39 40.0 25.0 11.7 65.0 Berdasarkan hasil penelitian, keluarga penggarap (86.7%) lebih mudah memperoleh informasi daripada keluarga buruh tani (76.7%) (Tabel 9). Hal ini diduga terkait dengan tingkat pendidikan keluarga penggarap yang lebih tinggi daripada keluarga buruh tani, dimana seseorang dengan pendidikan yang relatif lebih tinggi umumnya memiliki akses informasi yang lebih baik dibandingkan dengan seseorang yang berpendidikan rendah. Sebagian besar keluarga penggarap (95.0%) dan lebih dari setengah keluarga buruh tani (76.7%) memperoleh informasi dari TV. Selain dari TV, sumber informasi yang banyak diperoleh keluarga contoh berasal dari teman (78.3%). Hanya sebagian kecil keluarga penggarap (6.7%) dan keluarga buruh tani (3.3%) mengakses informasi dari surat kabar (Tabel 9). Hal ini disebabkan karena terbatasnya media massa yang masuk ke desa lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis informasi yang banyak diperoleh keluarga contoh adalah mengenai pekerjaan dan kesehatan. Lebih dari setengah keluarga penggarap (60.0%) dan lebih dari sepertiga keluarga buruh tani (40.0%) mendapatkan jenis informasi tentang pekerjaan. Biasanya jenis informasi yang diterima berupa lowongan pekerjaan. Sebagian besar keluarga penggarap (81.7%) dan lebih dari setengah keluarga buruh tani (65.0) mendapatkan informasi mengenai kesehatan. Jenis informasi yang diperoleh biasanya mengenai tempat pengobatan yang bagus dan cara untuk mengatasi penyakit (Tabel 9). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah keluarga petani penggarap (63.3%) dan buruh tani (60.0%) termasuk dalam kategori akses informasi sedang (Tabel 10). Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan yang nyata akses informasi yang diperoleh antara keluarga penggarap dan keluarga buruh tani. Perbedaan akses informasi diduga berhubungan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga, maka peluang untuk memperoleh kemudahan dalam mengakses berbagai informasi penting bagi keluarga juga semakin tinggi. Tabel 10 Sebaran contoh menurut kategori akses informasi Penggarap Buruh tani Kategori Akses Informasi n % n % Rendah 11 18.3 21 35.0 63.3 60.0 Sedang 38 36 Tinggi 11 18.3 3 5.0 Total 60 100.0 60 100.0 0.000 p-value Dukungan Sosial Dukungan sosial adalah bantuan yang diberikan keluarga luas dan tetangga berupa dukungan emosional, fisik, dan moral pada keluarga contoh. Dukungan sosial yang diukur pada penelitian ini adalah berbagai macam dukungan yang diberikan oleh tetangga atau lingkungan sekitar terhadap berbagai macam permasalahan/kesulitan yang dialami oleh keluarga contoh yakni masalah ekonomi, pengasuhan anak, kesehatan, dan konflik di dalam keluarga. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa persentase terbesar keluarga contoh baik petani penggarap (53.3%) maupun buruh tani (78.3%) memperoleh dukungan sosial dalam bentuk dukungan ekonomi. Bentuk dukungan sosial ekonomi terbesar berupa pinjaman uang dari tetangga/saudara yakni sebesar 93.9 persen untuk keluarga petani penggarap dan 72.3 persen untuk keluarga buruh tani (Tabel 11). Untuk dukungan sosial kesehatan, sebesar 88.3 persen keluarga petani penggarap dan 86.7 persen keluarga buruh tani memperoleh dukungan sosial ketika keluarga memperoleh kesulitan dalam hal kesehatan, dimana bentuk dukungan sosial kesehatan terbesar berupa dijenguk dan dibawakan makanan oleh tetangga/saudara untuk keluarga petani penggarap dan berupa pinjaman uang untuk keluarga buruh tani (Tabel 11). Dukungan sosial ini sangat penting dimana dukungan sosial dapat mengurangi kesulitan seseorang dalam menjalani kehidupannya, termasuk kesulitan finansial (Gove dkk 1990, Kessier & Essex 1982, Pearlin Johnson 1977, Umberson 1996, diacu oleh Tati 2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang tidak banyak diterima keluarga contoh adalah mengenai masalah pengasuhan dan konflik keluarga. Lebih dari setengah contoh petani penggarap (56.7%) dan buruh tani (63.3 %) tidak menerima dukungan sosial masalah pengasuhan (Tabel 11). Hal ini diduga karena keluarga contoh lebih ingin mengasuh anaknya sendiri daripada meminta bantuan orang lain. Padahal menurut Hill (1970) diacu oleh Tati (2004) mengemukakan bahwa dukungan sosial bisa menjembati kesulitan pengasuhan, sehingga orangtua dapat meningkatkan hubungan dengan relasi atau teman-teman dalam menciptakan kepuasan pengasuhan, keyakinan diri sebagai orangtua dan perilaku pengasuhan yang positif. Untuk bentuk dukungan sosial pengasuhan anak terbesar adalah menitipkan anak pada tetangga/saudara yakni sebesar 43.3 persen untuk keluarga petani penggarap dan 36.7 persen untuk keluarga buruh tani. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keluarga contoh yang tidak menerima dukungan sosial masalah konflik keluarga adalah sebesar 78.3 persen pada petani penggarap dan 83.3 persen pada buruh tani (Tabel 11). Hal ini diduga karena konflik keluarga ataupun membicarakan masalah intern keluarga kepada orang lain masih dianggap aib ataupun tabu bagi masyarakat di lingkungan keluarga contoh. Untuk bentuk dukungan sosial konflik keluarga terbesar adalah memperoleh nasehat dari tetangga/saudara yakni sebesar 84.6 persen untuk keluarga petani penggarap dan 60.0 persen untuk keluarga buruh tani. Tabel 11 Sebaran contoh menurut dukungan sosial keluarga Penggarap Buruh tani Dukungan Sosial n % n % Ekonomi 53.3 78.3 32 47 Ya 28 46.7 13 21.7 Tidak 60 100.0 60 100.0 Total Bentuk dukungan sosial ekonomi 93.9 72.3 30 34 Pinjaman uang 1 3.1 0 0.0 Lahan pekerjaan 1 3.1 0 0.0 Nasehat 0 0.0 12 25.5 Pinjaman uang dan beras Lahan pekerjaan dan 0 0.0 1 2.1 pinjaman uang 32 100.0 47 100.0 Total Pengasuhan anak 26 43.3 22 36.7 Ya 56.7 63.3 34 38 Tidak 60 100.0 60 100.0 Total Bentuk dukungan sosial pengasuhan 88.5 77.3 23 17 Titip anak 1 3.8 1 4.5 Saran 2 7.7 4 18.2 Titip anak dan saran 26 100.0 22 100.0 Total Kese hatan 88.3 86.7 50 52 Ya 10 16.7 8 13.3 Tidak 60 100.0 60 100.0 Total Bentuk dukungan sosial kese hatan 30.8 9 18.0 16 Pinjaman uang 4 8.0 6 11.5 Makanan Makanan dan pinjaman 3 6.0 9 17.3 uang 9 18.0 6 11.5 Jenguk 4 8.0 2 3.8 Jenguk, makanan, uang 32.0 16 3 5.8 Jenguk dan makanan Jenguk dan pinjaman 4 8.0 2 3.8 uang 1 2.0 8 15.4 Bantuan fisik dan moril 50 100.0 52 100.0 Total Konflik keluarga 13 21.7 10 16.7 Ya 78.3 83.3 47 50 Tidak 60 100.0 60 100.0 Total Bentuk dukungan sosial konflik keluarga 84.6 60.0 11 6 Nasehat 0 0.0 3 30.0 Saran 2 15.4 1 10.0 Nasehat dan saran 13 100.0 10 100.0 Total Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa presentase terbesar petani penggarap (35.0%) termasuk dalam kategori tinggi dan persentase terbesar buruh tani (41.7%) termasuk dalam kategori sedang dalam hal dukungan sosial yang diterima dari tetangga atau lingkungan sekitar (Tabel 12). Berdasarkan hasil uji beda, tidak terdapat perbedaan yang nyata dukungan sosial yang diperoleh antara keluarga penggarap dan buruh tani. Hal ini diduga karena keragaman karakteristik pada keluarga contoh penelitian relatif rendah. Tabel 12 Sebaran contoh menurut kategori dukungan sosial Penggarap Buruh tani Kategori dukungan sosial n % n % Rendah 20 33.3 12 20.0 41.7 Sedang 19 31.7 25 35.0 Tinggi 21 23 38.3 Total 60 100.0 60 100.0 p-value 0.382 Tingkat Kesejahteraan Tingkat kesejahteraan yang dimaksud dalam penelitian ini diukur berdasarkan dua pendekatan kesejahteraan ekonomi yaitu pendekatan secara obyektif dan pendekatan secara subyektif. Pendekatan kesejahteraan secara obyektif diukur melalui indikator pendapatan dan indikator tambahan. Pendekatan kesejahteraan secara subyektif diukur berdasarkan tingkat kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan oleh keluarga contoh sendiri bukan oleh orang lain Kesejahteraan Obyektif Pendekatan kesejahteraan secara obyektif diukur melalui indikator utama dan indikator tambahan. Indikator utama yang diukur adalah pendapatan keluarga dan indikator tambahan yang diukur meliputi indikator pemenuhan kebutuhan di bidang pangan, pakaian, perumahan, pendidikan anak, dan kesehatan keluarga. 1. Indikator Pendapatan Pendapatan yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan obyektif keluarga contoh dalam penelitian ini adalah pendapatan per kapita per bulan berdasarkan garis kemiskinan untuk Bogor menurut BPS (2006b). Keluarga contoh yang berada di bawah garis kemiskinan dikatakan tidak sejahtera, sedangkan keluarga contoh yang berada di atas garis kemiskinan dikatakan sejahtera. Tabel 13 Sebaran contoh menurut pendapatan per kapita Penggarap Buruh tani Kategori pendapatan per kapita n % n % 85.0 Tidak sejahtera 28 46.7 51 53.3 Sejahtera 32 9 15.0 Total 60 100.0 60 100.0 p-value 0.000 Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa lebih dari setengah (53.3%) keluarga contoh petani penggarap berada pada kategori sejahtera, sebaliknya sebagian besar keluarga contoh buruh tani berada pada kategori tidak sejahtera yakni sebesar 85.0 persen. Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan pendapatan per kapita antara keluarga petani penggarap dan buruh tani (Tabel 13). Tingkat kesejahteraan yang berbeda antara petani penggarap dan buruh tani diduga karena keluarga penggarap mendapatkan penghasilan yang relatif besar dari lahan pertanian yang dimilikinya, sedangkan keluarga buruh tani yang tidak mempunyai lahan pertanian hanya mendapatkan upah dari hasil mengelola lahan milik petani penggarap dengan jumlah upah yang relatif rendah yakni berkisar antara Rp 15 000-Rp 20 000 per hari serta memperoleh seperenam bagian dari hasil pada setiap panen. 2. Pemenuhan Kebutuhan Pangan Pemenuhan kebutuhan pangan dalam penelitian ini dilihat berdasarkan frekuensi makan dan keragaman pangan. Dari Tabel 14 dapat diketahui bahwa lebih dari setengah contoh (76.7%) keluarga penggarap dan setengah contoh (50.0%) keluarga buruh tani dapat makan tiga kali sehari, sedangkan sisanya 23.3 persen keluarga penggarap dan 50.0 persen keluarga buruh tani hanya makan satu atau dua kali sehari. Sebagian besar contoh (86.7%) keluarga penggarap dan 56.7 persen keluarga buruh tani mengkonsumsi makanan yang beragam, sisanya 13.3 persen keluarga penggarap dan 43.3 persen keluarga buruh tani mengkonsumsi makanan yang tidak beragam. Mereka cenderung mengkonsumsi makanan seadanya tanpa lauk pauk yang memadai. Hal ini diduga karena kemampuan daya beli keluarga buruh tani terhadap pangan yang masih rendah, karena sebagian besar keluarga buruh tani memiliki pendapatan per kapita di bawah garis kemiskinan. Tabel 14 Sebaran contoh menurut pemenuhan kebutuhan pangan Penggarap Buruh tani Kebutuhan Pangan n % n % Frekuensi Makan (per hari) 1 kali 0 0.0 3 5.0 2 kali 14 23.3 27 45.0 76.7 50.0 3 kali 46 30 Total 60 100.0 60 100.0 Keragaman Pangan 86.7 56.7 Ya 52 34 Tidak 8 13.3 26 43.3 Total 60 100.0 60 100.0 3. Pemenuhan Kebutuhan Sandang Pemenuhan kebutuhan sandang atau pakaian sangat penting dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Pemenuhan kebutuhan sandang dalam penelitian ini dilihat dari jumlah rata-rata pakaian yang dimiliki anggota keluarga dan keragaman pakaian dalam melakukan aktivitas. Hampir seluruh contoh (90.0%) keluarga penggarap dan sebesar 71.7 persen keluarga buruh tani memiliki pakaian rata-rata lebih dari empat stel. Kepemilikan jumlah rata-rata pakaian lebih dari empat stel ini memungkinkan anggota keluarga untuk berganti pakaian setiap aktivitas berbeda. Sebanyak 43.3 persen keluarga penggarap dan 13.3 persen keluarga buruh tani selalu berganti pakaian pada setiap aktivitas yang berbeda. Akan tetapi, sebesar 25 persen keluarga buruh tani dan 11.7 persen keluarga penggarap menyatakan jarang berganti pakaian. Bahkan sebesar 8.3 persen buruh tani dan sebesar 1.7 persen keluarga penggarap menyatakan tidak pernah berganti pakaian pada setiap aktivitas yang berbeda (Tabel 15). Tabel 15 Sebaran contoh menurut pemenuhan kebutuhan sandang Penggarap Buruh tani Kebutuhan Sandang n % n % Jumlah Pakaian Rata-Rata 2 stel 0 0.0 2 3.3 3 stel 3 5.0 8 13.3 4 stel 3 5.0 7 11.7 90.0 71.7 > 4 stel 54 43 Total 60 100.0 60 100.0 Keragaman Berpakaian Tidak pernah 1 1.7 5 8.3 Jarang 7 11.7 15 25.0 43.3 53.3 Kadang-kadang 26 32 43.3 Selalu 26 8 13.3 Total 60 100.0 60 100.0 4. Pemenuhan Kebutuhan Perumahan Rumah merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan manusia, disamping kebutuhan sandang dan pangan. Kondisi dan kualitas rumah yang ditempati dapat menunjukkan keadaan sosial ekonomi rumahtangga. Semakin baik kondisi dan kualitas rumah yang ditempati menunjukkan semakin baik keadaan sosial ekonomi rumahtangga tersebut (BPS 2000). Pemenuhan kebutuhan perumahan yang diamati dalam penelitian ini yaitu status kepemilikan rumah, luas lantai rumah, kondisi fisik rumah, dan fasilitas rumah Status kepemilikan rumah merupakan salah satu variabel yang menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Artinya, semakin baik status kepemilikan rumah keluarga maka diasumsikan bahwa kondisi kesejahteraan masyarakat tersebut tergolong sejahtera, dan sebaliknya (Suandi 2005). Status kepemilikan rumah diukur dari status kepemilikan rumah keluarga contoh yang terdiri dari hak milik sendiri, sewa, atau numpang. Berdasarkan Tabel 16 menunjukkan sebagian besar contoh keluarga petani penggarap (96.7%) dan buruh tani (83.3%) memiliki rumah dengan status kepemilikan milik sendiri. Hanya sebesar 3.3 persen keluarga penggarap dan sebesar 16.7 persen keluarga buruh tani yang memiliki rumah dengan status kepemilikan menumpang. Luas lantai rumah berkaitan dengan jumlah anggota keluarga yang mendiami rumah tersebut sehingga pada gilirannya akan berdampak kepada keserasian dan kesehatan anggota keluarga yang berkaitan dengan ruang gerak udara dalam rumah (BPS 2000). Menurut BKKBN salah satu kriteria rumah sehat adalah rumah tinggal yang memiliki luas lantai per orang minimal 8 m 2. Persentase terbesar luas rumah per kapita keluarga penggarap sebesar 86.7 persen yaitu lebih dari 8 m2, sedangkan pada keluarga buruh tani sebesar 46.7 persen memiliki luas rumah per kapita kurang dari 8 m 2 (Tabel 16). Kondisi fisik rumah dapat diamati dari luas lantai rumah, tipe dinding, tipe atap, dan tipe lantai. Persentase terbesar contoh pada keluarga penggarap (95.0%) dan keluarga buruh tani (75.0%) memiliki dinding rumah yang terbuat dari tembok. Namun, pada keluarga buruh tani masih ada yang dinding rumahnya terbuat dari kayu sebesar 3.3 persen dan sebesar 10.0 persen terbuat dari bambu (Tabel 16). Tabel 16 Sebaran contoh menurut pemenuhan kebutuhan perumahan Penggarap Buruh tani Kebutuhan Perumahan n % n % Status kepemilikan rumah 96.7 83.3 Milik sendiri 58 50 Sewa 0 0.0 0 0.0 Numpang 2 3.3 10 16.7 Total 60 100.0 60 100.0 Luas rumah per kapita < 8 m2 8 13.3 28 46.7 = 8 m2 52 86.7 32 53.3 Total 60 100.0 60 100.0 Kondisi fisik rumah Tipe dinding 95.0 75.0 Tembok 57 45 Sebagian tembok 3 5.0 7 11.7 Kayu 0 0.0 2 3.3 Bambu 0 0.0 6 10.0 Total 60 100.0 60 100.0 Tipe atap 96.7 78.3 Genteng 58 47 Seng 2 3.3 0 0.0 Nifah 0 0.0 1 1.7 Bambu 0 0.0 12 20.0 Total 60 100.0 60 100.0 Tipe lantai Keramik 25 41.7 5 8.3 48.3 Ubin 29 22 36.7 Semen 51.7 6 10.0 31 Tanah 0 0.0 2 3.3 Total 60 100.0 60 100.0 Fasilitas rumah Sumber air minum PDAM 0 0.0 0 0.0 83.3 68.3 Sumur 50 41 Mata air 10 16.7 19 31.7 Total 60 100.0 60 100.0 Tempat buang air besar 51.7 WC sendiri 31 11 18.3 WC umum 10 16.7 11 18.3 63.3 Sungai/kali 19 31.7 38 Total 60 100.0 60 100.0 Tempat pembuangan sampah TPS 5 8.3 13 21.7 91.7 78.3 Halaman rumah 55 47 Total 60 100.0 60 100.0 Alat penerangan 100.0 95.0 60 57 Listerik 0 0.0 3 5.0 Lampu tempel Total 60 100.0 60 100.0 Hampir sebagian besar (96.7%) keluarga penggarap dan sebesar 78.3 persen keluarga buruh tani memiliki atap rumah yang terbuat dari genteng. Namun, pada rumah keluarga buruh tani sebesar 20 persen masih beratapkan bambu, dan sebesar 1.7 persen atap rumahnya berasal dari nifah. Berdasarkan penelitian, persentase terbesar jenis lantai rumah keluarga penggarap berupa ubin sebesar 48.7 persen dan sebesar 41.7 persen lantai rumah penggarap berupa keramik. Sementara persentase terbesar lantai rumah keluarga buruh tani berupa semen sebesar 51.7 persen, bahkan ada sebesar 3.3 persen yang masih berupa tanah (Tabel 16). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar sumber air minum keluarga contoh baik pada keluarga penggarap maupun buruh tani berasal dari sumur masing-masing 83.3 persen dan 68.3 persen. Sedangkan untuk tempat buang air besar, persentase terbesar pada keluarga penggarap dilakukan di WC sendiri yaitu sebesar 51.7 persen, sedangkan lebih dari setengah contoh (63.3%) pada keluarga buruh tani tempat buang air besarnya dilakukan di sungai/kali. Hampir sebagian besar contoh (91.7%) keluarga penggarap dan sebesar 78.3 persen keluarga buruh tani membuang sampah di halaman rumah. Selain itu, alat penerangan yang digunakan pada kedua keluarga contoh, semua penggarap (100.0%) dan sebesar 95 persen buruh tani menggunakan listerik sebagai alat penerangan di rumah. Akan tetapi, ada sebesar 5 persen keluarga buruh tani yang masih menggunakan lampu tempel sebagai alat penerangan rumahnya (Tabel 16). 5. Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan Anak Pemenuhan kebutuhan pendidikan anak dalam penelitian ini dilihat berdasarkan anak usia sekolah yang bersekolah. Secara umum, anak usia sekolah yang bersekolah pada keluarga penggarap sebesar 75.0 persen dan pada keluarga buruh tani sebesar 51.7 persen. Sedangkan sisanya sebesar 25.0 persen keluarga penggarap dan 48.3 persen keluarga buruh tani sudah putus sekolah atau tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu (Tabel 17). Penyebab utama putus sekolah antara lain karena kurangnya kesadaran orangtua terhadap pendidikan anak, kondisi ekonomi orangtua yang tidak mampu dan keadaan geografis yang kurang menguntungkan (BPS 2006a). Tabel 17 Sebaran contoh menurut pemenuhan kebutuhan pendidikan anak Penggarap Buruh tani Anak Usia Sekolah yang Bersekolah n % n % 75.0 51.7 45 31 Ya 15 25.0 29 48.3 Tidak Total 60 100.0 60 100.0 6. Pemenuhan Kebutuhan Perawatan Kesehatan Keluarga Kesehatan merupakan salah satu indikator untuk menentukan kesejahteraan. Tabel 18 menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga contoh baik pada keluarga penggarap maupun buruh tani membawa keluarga yang sakit ke puskesmas karena biaya pengobatan yang relatif terjangkau, yaitu masingmasing sebesar 83.3 persen dan 95 persen. Sementara itu, terdapat 15 persen keluarga penggarap yang membawa anggota keluarganya yang sakit ke rumah sakit untuk ditangani lebih intensif oleh dokter. Hal ini terkait dengan alasan keluarga tersebut untuk menjaga status sosialnya dalam masyarakat. Hanya sebesar 1.7 persen keluarga penggarap dan 5.0 persen keluarga buruh tani yang membawa keluarganya yang sakit ke dukun atau pengobatan alternatif. Tabel 18 Sebaran contoh menurut pemenuhan kebutuhan perawatan kesehatan keluarga Penanganan keluarga yang Penggarap Buruh tani sakit serius n % n % Rumah sakit 9 15.0 0 0.0 83.3 95.0 Puskesmas 50 57 Dukun/pengobatan alternatif 1 1.7 3 5.0 Ditangani sendiri di rumah 0 0.0 0 0.0 Total 60 100.0 60 100.0 Kesejahteraan Subyektif Kesejahteraan subyektif dalam penelitian ini diukur berdasarkan kepuasan seseorang dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan, kualitas pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan pendapatan per kapita keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar contoh petani penggarap dan buruh tani merasa puas dengan frekuensi makan sehari-hari yaitu sebesar 85.0 persen untuk petani penggarap dan 88.3 persen untuk buruh tani. Untuk keragaman pangan yang dikonsumsi sehari-hari lebih dari setengah contoh petani penggarap (78.3%) dan buruh tani (55.0%) juga merasa puas (Tabel 19). Tabel 19 Sebaran contoh menurut kesejahteraan subyektif Tingkat Kepuasan Frekuensi makan Keragaman pangan 1 % Penggarap (n=60) 2 3 4 % % % Total 1 % Buruh (n=60) 2 3 % % 4 % Total 1.7 5.0 85.0 8.3 100.0 0.0 11.7 88.3 0.0 100.0 1.7 20.0 78.3 0.0 100.0 0.0 45.0 55.0 0.0 100.0 Jumlah pakaian Keragaman pakaian 0.0 26.7 71.7 1.7 100.0 1.7 45.0 53.3 0.0 100.0 0.0 35.0 65.0 0.0 100.0 1.7 56.7 41.7 0.0 100.0 Kualitas rumah Kualitas pendidikan anak 0.0 38.3 60.0 1.7 100.0 1.7 55.0 43.3 0.0 100.0 3.3 31.7 65.0 0.0 100.0 3.3 53.3 43.3 0.0 100.0 0.0 11.7 88.3 0.0 100.0 0.0 23.3 76.7 0.0 100.0 Pendapatan/kapi 0.0 46.7 51.7 1.7 100.0 5.0 71.7 ta Keterangan: 1=tidak puas, 2=kurang puas, 3=merasa puas, 4= sangat puas 23.3 0.0 100.0 Penanganan keluarga sakit Berdasarkan Tabel 19 dapat dilihat bahwa dari segi jumlah pakaian, lebih dari setengah petani penggarap dan buruh tani menyatakan merasa puas yakni sebesar 71.7 persen untuk petani penggarap dan 53.3 persen untuk buruh tani. Sedangkan dari segi keragaman pakaian yang dipakai untuk berbagai aktifitas yang berbeda, lebih dari setengah contoh petani penggarap (65.0%) menyatakan merasa puas dan 56.7 persen contoh buruh tani menyatakan kurang puas. Hal ini diduga karena jumlah dan kualitas pakaian yang dimilki buruh tani relatif lebih rendah, terkait dengan daya beli yang lebih rendah karena pendapatan per kapita yan lebih rendah bila dibandingkan dengan petani penggarap. Dari segi kualitas rumah, kualitas pendidikan anak dan pendapatan per kapita per bulan, sebagian besar petani penggarap menyatakan merasa puas sedangkan sebagian besar buruh tani menyatakan kurang puas. Sedangkan dalam hal penanganan apabila terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita sakit parah, baik petani penggarap (88.3%) maupun buruh tani (76.7%) sebagian besar menyatakan merasa puas (Tabel 19). Berdasarkan delapan item yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan keluarga contoh, maka keluarga contoh dikategorikan menjadi sejahtera dan tidak sejahtera, dimana semakin tinggi tingkat kepuasan contoh maka semakin sejahtera keluarga tersebut. Tabel 20 Sebaran contoh menurut kategori kesejahteraan subyektif Penggarap Buruh tani Kategori kesejahteraan n % n % subyektif Tidak sejahtera 9 15.0 22 36.7 85.0 63.3 Sejahtera 51 38 Total 60 100.0 60 100.0 p-value 0.000 Hasil pengkategorian menunjukkan bahwa persentase terbesar untuk keluarga petani penggarap dan buruh tani berada pada kategori sejahtera yaitu sebesar 85.0 persen untuk petani penggarap dan 63.3 persen untuk buruh tani. Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan kesejahteraan subyektif antara keluarga petani penggarap dan buruh tani (Tabel 20). Hal ini diduga terkait dengan tingkat kesejahteraan obyektif dari petani penggarap yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh tani. Kualitas Perkawinan Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan pada intinya adalah suatu ikatan yang dapat menyatukan suami dan isteri dalam menghadapi kenyataan hidup (Alkhasyt 1999, diacu oleh Tati 2004). Konflik dalam perkawinan merupakan suatu hal yang alamiah, normal, dan tidak dapat dihindari dalam sebuah sistem sosial (Sunarti 2002, diacu oleh Tati 2004). Pasangan suami isteri harus memiliki kemampuan untuk saling memahami pasangan untuk mengatasi konflik yang terjadi dalam perkawinan. Kualitas perkawinan dalam penelitian ini diukur berdasarkan dua dimensi yaitu dimensi kepuasan perkawinan dan kebahagiaan perkawinan. Kepuasan Perkawinan Kepuasan perkawinan diukur berdasarkan persepsi isteri dalam menilai kehidupan perkawinannya. Dalam penelitian ini kepuasan perkawinan yang diteliti yang terdiri dari beberapa indikator yakni kepuasan dari aspek cinta, keterbukaan, pengasuhan anak, dan aspek ekonomi. Kepuasan perkawinan yang dirasakan isteri dilihat dari aspek cinta, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar isteri baik pada petani penggarap (96.7%) maupun buruh tani (88.3%) merasa puas karena contoh dicintai pasangannya. Selain itu, sebagian besar isteri baik petani penggarap (96.7%) maupun buruh tani (93.3%) merasa puas diperlakukan oleh pasangannya sesuai dengan keinginannya (Tabel 21). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Lazzani (2001) diacu oleh Nurani (2004) yang mengemukakan bahwa perkawinan yang dilandasi dengan cinta dapat memenuhi kepuasan suatu perkawinan. Kepuasan perkawinan dilihat dari aspek keterbukaan, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar isteri baik pada petani penggarap (98.3%) maupun buruh tani (96.7%) merasa puas dalam hal saling bermusyawarah dengan pasangan dalam segala hal. Sebagian besar isteri baik petani penggarap (91.7%) maupun buruh tani (90.0%) juga merasa puas dalam hal melakukan aktifitas bersama dengan pasangan di waktu luang (Tabel 21). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Duvall dan Miller (1985) bahwa kepuasan perkawinan ditunjang oleh perhatian dari pasangan suami isteri yang meliputi komunikasi yang terbuka dan kebersamaan dalam melakukan kegiatan. Tabel 21 Sebaran contoh menurut kepuasan perkawinan Pernyataan Kepuasan Perkawinan Penggarap Ya Tidak (%) (%) Aspek Cinta Saya merasa puas karena pasangan saya selalu 96.7 3.3 memperlakukan saya seperti yang saya inginkan* Saya merasa puas karena pasangan saya 96.7 3.3 mencintai saya sampai saat ini* Aspek Keterbukaan Saya dan pasangan dalam segala hal selalu 98.3 1.7 mengadakan musyawarah* Saya merasa puas dengan waktu luang yang diisi 91.7 8.3 dengan aktifitas bersama dengan pasangan saya* Aspek Pengasuhan Anak Kami sering konflik dalam hal pembagian tanggung 0.0 100.0 jawab dalam membesarkan anak-anak Kami selalu bersitegang dalam menentukan 0.0 100.0 pendidikan anak-anak Aspek Ekonomi Saya selalu mempermasalahkan pekerjaan 8.3 91.7 pasangan saya Sumber penghasilan keluarga menimbulkan konflik 10.0 90.0 dalam keluarga kami Saya merasa tidak puas dengan apa yang kami 10.0 90.0 miliki sekarang, sehingga saya sering mengeluh terhadap pasangan saya Saya merasa tidak puas atas tingkat pekerjaan 11.7 88.3 yang telah dicapai oleh pasangan saya. Kami sering bertengkar karena tidak terbuka 3.3 96.7 tentang masalah keuangan Kami sering berbeda pendapat mengenai 8.3 91.7 penggunaan keuangan keluarga Saya merasa kesal dengan kegagalan pasangan 13.3 86.7 saya dalam memenuhi keuangan saya Saya merasa terganggu dengan campur tangan 1.7 98.3 pasangan saya dalam mengatur keuangan keluarga Saya merasa terganggu karena keluarga pasangan 3.3 96.7 saya selalu minta bantuan keuangan kepada kami *)saat pengolahan data dilakukan transformasi konsistensi nilai skor Ya (%) Buruh Tidak (%) 88.3 11.7 93.3 6.7 96.7 3.3 90.0 10.0 5.0 95.0 5.0 95.0 20.0 80 16.7 83.3 28.3 71.7 26.7 73.3 8.3 91.7 15.0 85.0 36.7 63.3 5.0 95.0 5.0 95.0 Kepuasan perkawinan ditinjau dari aspek pengasuhan anak, hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh isteri petani penggarap (100.0%) tidak sering konflik dengan pasangan dalam hal pembagian tanggung jawab dalam membesarkan anak-anak dan jarang bersitegang dalam menentukan pendidikan anak-anak. Untuk isteri dari keluarga buruh tani, hampir semua contoh (95.0%) juga tidak sering konflik dengan pasangan dalam hal pembagian tanggung jawab dalam membesarkan anak-anak dan jarang bersitegang dalam menentukan pendidikan anak-anak (Tabel 21). Sejalan dengan pendapat Meyer (1988) bahwa pengasuhan yang penuh dukungan dalam keluarga akan meningkatkan kepuasan perkawinan. Kepuasan perkawinan ditinjau dari aspek ekonomi, hasil penelitian menunjukkan bahwa isteri dari keluarga petani penggarap dan buruh tani sebagian besar sudah merasa puas terhadap aspek ekonomi yang dapat dilihat pada semua item-item yang terdapat pada indikator kepuasan perkawinan pada aspek ekonomi (Tabel 21). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Duvall dan Miller (1985) bahwa kepuasan perkawinan ditunjang oleh kestabilan ekonomi. Kebahagiaan Perkawinan Kebahagiaan perkawinan diukur berdasarkan suatu kenikmatan yang relatif permanen, yang dirasakan isteri dalam menilai kehidupan perkawinannya. Kebahagiaan perkawinan yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari aspek kepribadian pasangan, komunikasi dengan keluarga pasangan, pengasuhan anak, dan aspek ekonomi. Kebahagiaan perkawinan dilihat dari aspek kepribadian pasangan, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 56.7 persen isteri dari keluarga petani penggarap merasa bahagia karena pasangannya selalu memuji atas kemampuan yang dimilikinya sedangkan pada si teri dari keluarga buruh tani sebesar 51.7 persen merasa tidak bahagia karena pasangan tidak selalu memuji atas kemampuan yang dimiliinya (Tabel 22). Dari aspek sifat dan sikap pasangan yang tidak disukai, lebih dari setengah isteri dari petani penggarap (61.7%) dan buruh tani (55.0%) menyatakan tidak ada sifat yang tidak disukai dari pasangan, tetapi untuk sikap pasangan, sebagian besar isteri dari keluarga petani penggarap (71.7%) dan buruh tani (61.7%) menyatakan ada sikap pasangan yang tidak disukai (Tabel 22). Kebahagiaan perkawinan dilihat dari aspek komunikasi dengan keluarga pasangan, hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh isteri dari keluarga petani penggarap (100.0%) menyatakan tidak merasa terasing ditengah keluarga pasangannya, tidak sulit berkomunikasi dengan keluarga pasangannya, tidak sulit menganggap keluarga pasangannya seperti keluarga sendiri, dan tidak merasa disepelekan oleh mertua atau ipar dalam membina rumah tangga. Sedangkan untuk isteri dari keluarga buruh tani dapat dilihat bahwa sebanyak 95.0 persen menyatakan tidak merasa terasing ditengah keluarga pasangannya, sebanyak 96.7 persen menyatakan tidak sulit berkomunikasi dengan keluarga pasangannya, sebanyak 95.0 persen menyatakan tidak sulit menganggap keluarga pasangannya seperti keluarga sendiri, dan sebanyak 93.3 persen menyatakan tidak merasa disepelekan oleh mertua atau ipar dalam membina rumah tangga (Tabel 22). Sesuai dengan pendapat Duvall dan Miller (1985) yang mengemukakan bahwa kebahagiaan ditandai dengan adanya komunikasi yang terbuka antara pasangan dengan keluarga pasangan. Tabel 22 Sebaran contoh menurut kebahagiaan perkawinan Pernyataan Kebahagiaan Perkawinan Aspek Kepribadian Pasangan Pasangan saya selalu memuji atas kemampuan saya sebagai isteri* Apakah ada sifat pasangan anda yang tidak disukai? Apakah ada sikap pasangan anda yang tidak disukai? Aspek Komunikasi dengan Keluarga Pasangan Saya merasa terasing ditengah keluarga pasangan saya, karena mereka memusuhi saya Saya sulit berkomunikasi dengan keluarga pasangan saya, karena saya merasa dimusuhi mereka Saya merasa disepelekan oleh mertua atau ipar dalam membina rumah tangga Saya sulit menganggap keluarga pasangan saya seperti keluarga saya sendiri Aspek Pengasuhan Anak Kami sering bertengkar dengan anak-anak kami Kami sering konflik dalam hal mengasuh anak-anak kami Kami sering konflik dalam hal mendisiplinkan anakanak kami Penggarap Ya Tidak (%) (%) Ya (%) Buruh Tidak (%) 56.7 43.3 48.3 51.7 61.7 28.3 38.3 71.7 55.0 38.3 45.0 61.7 0.0 100.0 5.0 95.0 0.0 100.0 3.3 96.7 0.0 100.0 5.0 95.0 0.0 100.0 6.7 93.3 8.3 0.0 91.7 100.0 18.3 10.0 81.7 90.0 3.3 96.7 13.3 86.7 30.0 70.0 13.3 86.7 13.3 86.7 11.7 88.3 18.3 81.7 Aspek Ekonomi Saya selalu bersitegang dengan pasangan saya 16.7 83.3 mengenai uang untuk makanan Saya selalu bersitegang dengan pasangan saya 0.0 100.0 mengenai uang untuk pakaian Saya selalu bersitegang dengan pasangan saya 3.3 96.7 mengenai uang untuk pengobatan Saya selalu bersitegang dengan pasangan saya 8.3 91.7 mengenai uang untuk perawatan rumah Saya selalu bersitegang dengan pasangan saya 5.0 95.0 mengenai uang untuk pendidikan anak *)saat pengolahan data dilakukan transformasi konsistensi nilai skor Kebahagiaan perkawinan dilihat dari aspek pengasuhan anak, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar isteri keluarga petani penggarap (91.7%) dan buruh tani (81.7%) menyatakan jarang bertengkar dengan anak- anaknya. Seluruh isteri dari keluarga petani penggarap (100.0) dan sebagian besar isteri dari keluarga buruh tani (90.0%) menyatakan jarang konflik dengan pasangan dalam hal mengasuh anak-anak. Dalam hal mendisiplinkan anak-anak, sebagian besar isteri dari keluarga petani penggarap (96.7%) maupun keluarga buruh tani (86.7%) menyatakan jarang terjadi konflik (Tabel 22). Hal ini sesuai dengan pendapat Meyer (1988) yang menyatakan bahwa pengasuhan yang penuh dukungan dalam keluarga akan meningkatkan kebahagiaan perkawinan. Kebahagiaan perkawinan dilihat dari aspek ekonomi, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar isteri keluarga petani penggarap (83.3%) dan buruh tani (70.0%) menyatakan jarang bersitegang dengan pasangan mengenai uang untuk makanan. Seluruh isteri dari keluarga petani penggarap (100.0) dan sebagian besar isteri dari keluarga buruh tani (86.7%) menyatakan jarang bersitegang dengan pasangan mengenai uang untuk pakaian. Mengenai uang untuk pengobatan, baik isteri dari keluarga petani penggarap (96.7%) maupun buruh tani (86.7%) sebagian besar menyatakan jarang bersitegang dengan pasangan. Sebagian besar isteri dari keluarga petani penggarap (91.7%) dan buruh tani (88.3) menyatakan jarang bersitegang dengan pasangan mengenai uang untuk perawatan rumah (Tabel 22). Tabel 23 Sebaran contoh menurut kategori kualitas perkawinan Kualitas Perkawinan Kepuasan Perkawinan Rendah (< 60%) Sedang (60-79%) Tinggi (>=80%) Total Mean+SD p-value Kebahagiaan Perkawinan Rendah (< 60%) Sedang (60-79%) Tinggi (>=80%) Total Mean+SD p-value Kualitas Perkawinan Rendah (< 60%) Sedang (60-79%) Tinggi (>=80%) Total Mean+SD p-value Penggarap n % Buruh n % 2 3.3 3 5.0 91.7 55 60 100.0 94.2+10.9 0.05 4 6.7 10 16.7 76.7 46 60 100.0 86.4+17.7 0.0 0 7 11.7 88.3 53 60 100.0 88.3+9.4 0.01 4 6.7 13 21.7 71.7 43 60 100.0 80.5+14.9 1 1.7 4 6.7 91.7 55 60 100.0 91.3+9.2 0.01 4 6.7 12 20.0 73.3 44 60 100.0 83.5+14.8 Kualitas kebahagiaan perkawinan perkawinan merupakan yang akumulasi dirasakan oleh dari isteri. kepuasan Hasil dan penelitian menunjukkan bahwa skor kepuasan perkawinan keluarga contoh berkisar antara 20 hingga 100 persen, dengan rata-rata 94.2 untuk keluarga petani penggarap dan 86.4 untuk keluarga buruh tani. Persentase terbesar kepuasan perkawinan pada isteri keluarga petani penggarap hampir seluruhnya berada pada kategori tinggi yakni sebesar 91.7 persen dan untuk isteri keluarga buruh tani sebesar 76.7 persen berada pada kategori kepuasan perkawinan yang tinggi (Tabel 23). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor kebahagiaan perkawinan keluarga contoh berkisar antara 33 hingga 100 persen, dengan rata-rata 88.3 untuk keluarga petani penggarap dan 80.5 untuk keluarga buruh tani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88.3 persen isteri dari keluarga petani penggarap berada pada kategori tinggi untuk kebahagiaan perkawinannya dan tidak terdapat isteri (0.0%) yang berada pada kategori rendah. Sebagian besar (71.7%) isteri dari keluarga buruh tani juga berada pada kategori kebahagiaan perkawinan yang tinggi (Tabel 23). Tingginya tingkat kebahagiaan pada keluarga petani penggarap dan buruh tani diduga karena faktor-faktor yang membawa kebahagiaan telah terpenuhi di dalam perkawinannya. Sebagaimana dikatakan Alkhasyt (1999) diacu oleh Tati (2004) bahwa faktor-faktor yang membawa kebahagiaan kehidupan perkawinan adalah adanya jalinan cinta di antara pasangan, saling mendukung, meningkatkan kewaspadaan, mampu memenuhi kebutuhan seksual pasangan, pengaturan ekonomi yang bijak, dan menjauhi halhal yang menimbulkan perbedaan pendapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor kualitas perkawinan keluarga contoh berada pada kisaran antara 37 hingga 100 persen dengan rata-rata 91.3 pada keluarga petani penggarap dan 83.5 pada keluarga buruh tani. Tabel 23 menunjukkan bahwa persentase terbesar kualitas perkawinan pada isteri dari keluarga petani penggarap berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 91.7 persen yang berarti hampir semua keluarga contoh petani penggarap memiliki kualitas perkawinan yang baik. Sebagian besar isteri dari keluarga buruh tani (73.3%) juga berada pada kategori kualitas perkawinan yang tinggi. Sebaran persentase kategori kualitas perkawinan, kepuasan perkawinan dan kebahagiaan perkawinan yang cenderung sama (berada pada kategori tinggi) baik pada petani penggarap maupun pada buruh tani menunjukkan bahwa tingkat kepuasan dan kebahagiaan perkawinan merupakan kontristeritor terhadap kualitas perkawinan (Glenn & Weaver 1979, diacu oleh Nurani 2004). Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan kepuasan perkawinan, kebahagiaan perkawinan, dan kualitas perkawinan antara keluarga penggarap dan buruh tani (Tabel 23). Hal ini diduga terkait dengan karakteristik isteri dari keluarga petani penggarap yang lebih baik dibandingkan dengan isteri dari keluarga buruh tani seperti tingkat pendidikan yang lebih baik, tingkat pendidikan suami yang lebih baik, kondisi ekonomi keluarga yang lebih sejahtera dan perolehan akses informasi yang lebih baik dan mudah, yang menunjang terhadap kepuasan, kebahagiaan serta kualitas perkawinan yang dirasakan isteri dalam menilai kehidupan perkawinannya. Hubungan antara Karakteristik Keluarga dan Dukungan Sosial dengan Kesejahteraan Keluarga Hubungan antara karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kesejahteraan keluarga dapat dilihat pada Tabel 24. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang nyata antara umur suami dan umur isteri dengan kesejahteraan obyektif dan subyektif keluarga contoh. Besar keluarga berkorelasi negatif dengan kesejahteraan obyekif (r=0.000; p<0.01), artinya semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin kecil tingkat kesejahteraan obyektif dari keluarga contoh. Sedangkan besar keluarga tidak memiliki hubungan yang nyata dengan tingkat kesejahteraan subyektif. Tabel 24 Koefisien korelasi spearman karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kesejahteraan keluarga Kesejahteraan Kesejahteraan Variabel obyektif subyektif Umur suami -.117 .033 Umur isteri -.058 .099 Besar keluarga -.324** -.056 Tingkat pendidikan suami .443** .212** Tingkat pendidikan isteri .273** .293** Akses informasi .231* .426** Dukungan sosial -.009 -.066 Keterangan = * : korelasi signifikan pada p<0.05 ** : korelasi signifikan pada p<0.01 Hasil uji korelasi Spearman (Tabel 24) menunjukkan adanya hubungan nyata positif antara tingkat pendidikan suami dan isteri dengan pendapatan per kapita (r=0.443; p<0.01 dan r=0.273; p<0.01). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orangtua, maka semakin tinggi pendapatan per kapita keluarga. Sejalan dengan pernyataan Syarief (1997a) yang mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga akan memudahkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman, terdapat hubungan nyata positif antara akses informasi dengan pendapatan per kapita (r=0.231; p<0.05). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi akses informasi yang diperoleh, maka semakin tinggi pendapatan per kapita keluarga. Hal ini diduga karena akses informasi yang tinggi akan meningkatkan kemampuan seseorang dalam melihat dan memperoleh peluang untuk memperoleh pekerjaan yang akan menambah pendapatan. Namun, tidak terdapat hubungan yang nyata antara dukungan sosial dengan pendapatan per kapita keluarga (Tabel 24). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan nyata positif antara tingkat pendidikan suami dan isteri dengan kesejahteraan subyektif (r=0.212; p<0.01 dan r=0.293; p<0.01), hal ini berarti bahwa semakin tinggi pendidikan orangtua, maka semakin tinggi tingkat kepuasan keluarga berdasarkan kesejahteraan subyektif. Akses informasi yang diperoleh juga berhubungan nyata positif dengan kesejahteraan subyektif (r=0.426; p<0.01) yang berarti semakin tinggi akses informasi dari keluarga contoh, maka semakin tinggi tingkat kepuasan keluarga berdasarkan kesejahteraan subyektif. Namun, tidak terdapat hubungan yang nyata antara dukungan sosial yang diperoleh keluarga dengan kesejahteraan subyektif (Tabel 24). Hubungan antara Karakteristik Keluarga dan Dukungan Sosial dengan Kualitas Perkawinan Hubungan antara karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kualitas perkawinan dapat dilihat pada Tabel 25. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang nyata antara umur isteri dan besar keluarga dengan kepuasan, kebahagiaan dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan nyata positif antara tingkat pendidikan isteri dengan kepuasan perkawinan (r=0.254; p<0.01), tingkat pendidikan isteri dengan kebahagiaan perkawinan (r=0.230; p<0.05), dan tingkat pendidikan isteri dengan kualitas perkawinan (r=0.249; p<0.01) (Tabel 25). Artinya bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan dalam keluarga. Hal ini diduga karena semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, semakin besar pula pengetahuan dan perhatiannya yang berhubungan dengan perbaikan kualitas perkawinan ke arah yang lebih baik, sesuai dengan hasil penelitian Rogers & Amato (1997) diacu oleh Nurani (2004) bahwa tingkat pendidikan berhubungan dengan kualitas perkawinan. Tabel 25 Koefisien korelasi spearman karakteristik keluarga dan dukungan sosial dengan kualitas perkawinan Variabel Kepuasan perkawinan Kebahagiaan perkawinan Kualitas perkawinan Umur isteri Besar keluarga Tingkat pendidikan isteri Akses informasi Dukungan sosial .045 -.144 .254** .308** -.128 -.006 -.140 .230* .243** -.095 .007 -.153 .249** .278** -.113 Keterangan = * : korelasi signifikan pada p<0.05 ** : korelasi signifikan pada p<0.01 Akses informasi mempunyai hubungan yang nyata positif dengan kepuasan perkawinan (r=0.308; p<0.01), kebahagiaan perkawinan (r=0.243; p<0.01), dan kualitas perkawinan (r=0.278; p<0.01). Artinya bahwa semakin tinggi tingkat akses informasi, maka semakin tinggi pula kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri keluarga contoh. Hal ini diduga semakin mudah contoh dalam mengakses informasi, maka akan semakin banyak informasi yang diperoleh khususnya mengenai perkawinan sehingga semakin tinggi wawasan, pemahaman dan perhatian isteri dalam hal meningkatkan kulitas perkawinan ke arah yang lebih baik. Sebaliknya dukungan sosial tidak berhubungan nyata dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan (Tabel 25). Hubungan antara Kesejahteraan Keluarga dengan Kualitas Perkawinan Hubungan antara kesejahteraan keluarga yang diukur dari pendekatan pendapatan per kapita dan kesejahteraan subyektif dengan kualitas perkawinan dapat dilihat pada Tabel 26. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata positif antara pendapatan per kapita keluarga contoh dengan kepuasan perkawinan (r=0.234; p<0.05), kebahagiaan perkawinan (r=0.188; p<0.05), dan kualitas perkawinan (r=0.232; p<0.05) yang dirasakan isteri (Tabel 26). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita keluarga contoh, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan oleh isteri dalam menilai kehidupan perkawinannya. Sebagian besar pertengkaran antara suami isteri terjadi karena keuangan yang tidak memadai, sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Markman (1997) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang memberikan kepuasan dan kebahagiaan di dalam perkawinan adalah keuangan yang cukup dan memadai dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Tabel 26 Koefisien korelasi spearman kesejahteraan keluarga dengan kualitas perkawinan Variabel Kepuasan perkawinan Kebahagiaan perkawinan Kualitas perkawinan Kesejahteraan obyektif Kesejahteraan subyektif .234* .214* .188* .252** .232* .244** Keterangan = * : korelasi signifikan pada p<0.05 ** : korelasi signifikan pada p<0.01 Dari Tabel 26 dapat dilihat bahwa kesejahteraan subyektif berhubungan nyata positif dengan kepuasan perkawinan (r=0.214; p<0.05), kebahagiaan perkawinan (r=0.252; p<0.01), dan kualitas perkawinan (r=0.244; p<0.01). Maknanya bahwa semakin tinggi kesejahteraan subyektif keluarga contoh, semakin tinggi pula kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinannya. Hal ini diduga karena semakin tinggi tingkat kepuasan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh isteri terhadap kesejahteraan keluarganya akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kepuasan dan kebahagiaan perkawinannya sehingga akan meningkatkan kualitas perkawinannya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Persentase terbesar keluarga petani penggarap dan buruh tani memiliki besar keluarga 5-6 orang yang termasuk dalam kategori sedang. Umur suami berkisar antara 29-60 tahun, persentase terbesar suami pada petani penggarap termasuk dalam kategori usia dewasa madya (31-40 tahun) sedangkan persentase terbesar suami pada buruh tani termasuk dalam kategori usia dewasa akhir (41-50 tahun). Persentase terbesar umur isteri berada pada kategori dewasa madya. Persentase terbesar tingkat pendidikan untuk petani penggarap berada pada kategori tamat SD, sedangkan persentase terbesar tingkat pendidikan untuk buruh tani berada pada kategori tidak tamat SD. Persentase terbesar keluarga penggarap memiliki pendapatan per kapita per bulan lebih dari Rp 250 000, sedangkan lebih dari setengah buruh tani memiliki pendapatan per kapita per bulan kurang dari Rp 100 000. Lebih dari setengah keluarga petani penggarap memiliki aset lebih dari 20 juta setelah diuangkan, sedangkan pada buruh tani lebih dari setengahnya memiliki aset sebesar kurang dari 5 juta. Perolehan akses informasi dari keluarga petani penggarap dan buruh tani lebih dari setengahnya berada pada kategori sedang, dan dukungan sosial yang diperoleh oleh keluarga petani penggarap lebih dari setengahnya berada pada kategori tinggi sedangkan buruh tani berada pada kategori sedang. 2. Berdasarkan tingkat kesejahteraan obyektif dapat disimpulkan bahwa sebagian besar petani penggarap lebih sejahtera dibandingkan dengan buruh tani. Secara subyektif, baik contoh petani penggarap dan buruh tani sebagian besar menyatakan puas dengan kesejahteraan keluarganya, tetapi petani penggarap lebih sejahtera dibandingkan dengan buruh tani. 3. Persentase terbesar contoh petani penggarap dan buruh tani berada pada kategori kepuasan dan kebahagiaan perkawinan yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa baik petani penggarap maupun buruh tani memiliki tingkat kualitas perkawinan yang tinggi. Tetapi petani penggarap memiliki kualitas perkawinan yang lebih tinggi daripada buruh tani. 4. Semakin besar jumlah anggota keluarga maka semakin rendah tingkat kesejahteraan obyektif keluarga, namun tidak terdapat hubungan yang nyata antara besar keluarga dengan kesejahteraan subyektif. Umur orangtua juga tidak berhubungan nyata dengan tingkat kesejahteraan obyektif maupun subyektif. Semakin tinggi tingkat pendidikan suami, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan obyektif dan kesejahteraan subyektif. Semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan obyektif dan kesejahteraan subyektif. Semakin tinggi akses informasi, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan obyektif dan kesejahteraan subyektif. Tetapi tidak terdapat hubungan yang nyata antara dukungan sosial yang diterima keluarga dengan tingkat kesejahteraan obyektif dan kesejahteraan subyektif. 5. Tidak terdapat hubungan yang nyata antara besar keluarga dan umur isteri dengan tingkat kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan. Semakin tinggi tingkat pendidikan isteri, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. Semakin tinggi contoh dalam kemudahan mengakses informasi, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. Sedangkan dukungan sosial yang diterima keluarga tidak berhubungan nyata dengan kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan yang dirasakan isteri. 6. Semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan, dan kualitas perkawinan. Semakin tinggi kepuasan contoh terhadap kesejahteraan yang dimilikinya, maka semakin tinggi kepuasan, kebahagiaan dan kualitas perkawinannya. Saran 1. Kepada pemerintah khususnya Departemen Pertanian agar lebih memperhatikan kesejahteraan keluarga petani melalui upaya pemberdayaan petani untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik. 2. Bagi peneliti lain yang tertarik pada ilmu keluarga dan kesejahteraan keluarga, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan kajian untuk penelitian selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 01 Mei 2007. Petani kecil terabaikan. Target bantuan jaminan kredit SP3 belum menyentuh sasaran. Kompas:11(kolom 6-8) Anonymous. 2006. Program reformasi agraria: pemerintah bagikan 8.2 juta hektar lahan buat petani. http://www.fspi.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=366&I temid=1. [28 September 2006]. Benson L. 1971. The Family Bond. Marriage, Love, and Sex in America. New York: Random House. [BKKBN] Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 1992. Undangundang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1992 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2006a. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Indikator Kesejahteraan Rakyat 2005. . 2006b. Tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2005-2006. http://www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-01sep06.pdf. [20 Februari 2007]. . 2005. Jawa Barat dalam Angka 2006. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat kerjasama dengan Badan Perencanaan Daerah Provinsi Jawa Barat. . 2004. Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Jakarta: Badan Pusat Statistik. . 2000. Statistik Kesejahtraan Rakyat. Jakarta: Badan Pusat Statistik. . 1998. Statistik Kesejahtraan Rakyat. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Bryant W & Keith. 1990. The Economic Organization of the Houshold. US: Cambridge University Press. Burgess EW & Harvey J Locke. 1960. The Family. Second Edition. New York: American Book Company. Cahyaningsih N. 1999. Persepsi remaja terhadap gaya pengasuhan orangtua dan hubungannya dengan kenakalan remaja SMU di Jakarta Pusat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Conger et al. 1994. Familis in Troubled Times. Adapting to Change in Rural America. New York: Aldine De Cruyter. Djarkasih. 1987. Peran dukungan sosial untuk lansia di panti wreda [tesis]. Bandung: Universitas Pajajaran. Duval EM & BC Miller. 1985. Marriage and Family Development. New York: Harper & Row Publisher Inc. Guhardja S, Puspitawati H, Hartoyo & Martianto DH. 1992. Manajemen sumberdaya keluarga [diktat]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Gunarsa SD, & SY. Gunarsa. 2004. Psikologi Praktis: Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hernanto F. 1989. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya. Jay D et al. 1987. Demography of the Family. Dalam Handbook of Marriage and the Family. New York and London: Plenum Press. Kartini T. 1997. Pola asuh, konsumsi dan status gizi balita pada keluarga migran dan non migran suku Minang [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Kendig H. 1986. Ageing and Families: A Social Network Perspektif. Australia: Alen & Unwi. Knox D & S Caroline. 1994. Choices In Relationships An Introduction To Marriage and The Family. West Publishing Company. Krisnamurthi B. 2006. Revitalisasi Pertanian (sebuah konsekuensi sejarah dan tuntutan masa depan). Dalam Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban. Jakarta: Buku Kompas. Markman H. 1997. Kiat pasutri mengelola uang. http://Intisari online.com. Megawangi R. 1999. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Tentang Relasi Gender. Bandung: Mizan Pustaka. Meyer HJ. 1988. Marital and Mother Child Relationship: Developmental History, Parent Personality and Child Difficultness. New York: Ran. Monks FJ, AMP Knoers, SR Haditono. Yogyakarta: UGM Press. 2002. Psikologi Perkembangan. Nurani AS. 2004. Pengaruh kualitas perkawinan, pengasuhan anak, dan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar anak [tesis]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Olson DH. 2002. Tujuh tipe perkawinan. http://www.Intisari online.com. Papalia DE & SW Olds. 1981. Human Development 2nd ed. US : McGraw Hill Book Company. Ratus SA & JS Nevid. 1983. Family Life Management. New York: McMillan Publishing Company. Rice AS & SM Tucker. 1986. Family Life Management 6n d ed. New York: McMillan Publishing Company. Riyadi MA & DM Barus. 2006. Tanah pertanian - bagi-bagi lahan untuk si gurem. http://www.greenvisions.blogspot.com/2006_11_01_archive.html. [4 November 2006]. Scanzoni LD & J Scanzoni . 1988. Man Woman and Change. New York: McGraw Hill. Schwartz & Scott. 1994. Marriages and Family Diversity and Change. New Jersey: Prentice Hall Inc. Singarimbun M & S Effendi. 1991. Metode Penelitian Survei. Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. Slamet Y. 1993. Analisis Kuantitatif Untuk Data Sosial. Solo: Dabara Publisher. Smolak L. 1993. Adult Development. New Jersey: Prentice Hall Inc. Sodarjoen SS. 2005. Konflik Marital–Pemahaman Konseptual, Aktual dan Alternatif Solusinya. Bandung: PT Refika Aditama. Solahuddin S. 1999. Visi Pembangunan Indonesia. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Sumarwan U & T Hira. 1993. The effects of percieved locus of control and percieved incomes adequacy on satisfaction with financial status of rural household. Journal of Family Economic Issues 14(4):43-64. Suandi. 2005. Hubungan antara social capital dengan kesejahteraan keluarga di daerah perdesaan Propinsi Jambi [rencana penelitian pasca sarjana]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Suhardjo. 1989. Sosio Budaya Gizi. Bogor: IPB Press. Suhardono E. 1998. Model teori keputusan pasca krisis perkawinan di jawa [disertasi]. Depok: Program Pascasarjana, Universitas Indonesia. Sunarti E. 2001. Ketahanan keluarga dan pengaruhnya terhadap kualitas kehamilan [disertasi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Susmayanti T. 1995. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan perkawinan pada isteri bekerja dan tidak bekerja [tesis]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Syarief H. 1997a. Membangun Sumberdaya Manusia Berkualitas Suatu Telaahan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Bogor: Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. . 1997b. Pemberdayaan Wanita dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga . Bogor: Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Tati. 2004. Pengaruh tekanan ekonomi keluarga, dukungan sosial, dan kualitas perkawinan terhadap pengasuhan anak [tesis]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Todaro MP. 1994. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. 1994. (UU.RI No. 2 TH. 1989) dan Peraturan Pelaksanaannya. Jakarta: Sinar Grafika. Wasito. 2006. Perspektif Ketahanan Keluarga dalam Program Ketahanan Pangan di Indonesia. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Williamson R. 1972. Marriages and Family Relations. Sidney-Toronto: John Willey and Sons. New York-London- Lampiran 1 Hasil uji korelasi spearmen antar peubah Variabel Umur ayah Umur ayah Umur ibu Besar keluarga Jenjang pendidikan ayah Jenjang pendidikan ibu Dukungan sosial 1,000 Umur ibu 1,000 Besar keluarga -,324(**) ,033 ,099 -,056 ,045 -,006 ,007 -,144 -,140 -,153 Kebahagiaan perkawinan Kualitas perkawinan ,099 ,045 -,006 ,007 -,144 -,140 -,153 ,443(**) ,212(*) ,273(**) ,293(**) ,254(**) ,230(*) ,249(**) -,009 -,066 -,128 -,095 -,113 1,000 ,231(*) ,426(**) ,308(**) ,243(**) ,278(**) 1,000 ,234(*) ,188(*) ,232(*) 1,000 ,214(*) ,252(**) ,244(**) 1,000 1,000 -,058 Kepuasan perkawinan -,056 1,000 -,117 Kesejahteraan subyektif ,033 -,058 1,000 Akses informasi Kesejahteraan obyektif -,117 -,324(**) 1,000 Jenjang pendidikan ayah Jenjang pendidikan ibu Dukungan sosial Kesejahteraan obyektif Kesejahteraan subyektif Kepuasan perkawinan Kebahagiaan perkawinan Kualitas perkawinan Akses informasi ,443(**) ,273(**) -,009 ,231(*) ,212(*) ,293(**) -,066 ,426(**) ,254(**) -,128 ,308(**) ,234(*) ,214(*) ,230(*) -,095 ,243(**) ,188(*) ,252(**) ,249(**) -,113 ,278(**) ,232(*) ,244(**) 1,000 1,000 Lampiran 2 Hasil uji beda peubah menurut status petani Variabel Umur ayah Umur ibu Besar keluarga Jenjang pendidikan ayah Jenjang pendidikan ibu Jumlah anggota keluarga Dukungan sosial Akses informasi Aset total yang diuangkan Kesejahteraan obyektif Kesejahteraan subyektif Kepuasan perkawinan Kebahagiaan perkawinan Kualitas perkawinan Sig. (2-tailed) 0,327 0,110 0,272 0,000 0,000 0,272 0,382 0,000 0,000 0,000 0,000 0,005 0,001 0,001
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Kajian Ketahanan Keluarga Petani: Hubungan Ke..

Gratis

Feedback