DESKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT USAHA RAKYAT KEPADA USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim)

Gratis

10
96
46
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK DESKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT USAHA RAKYAT BANK RAKYAT INDONESIA KEPADA USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim) Oleh HOKKOP DEDY COY NABABAN UMKM membutuhkan dana dalam menjalankan kegiatan usahanya namun ketersediaan modal yang tidak mencukupi. UMKM melakukan penambahan dana tujuannya adalah untuk pengembangan usahanya. Modal UMKM berasal dari modal sendiri dan modal pinjaman. Bank Rakyat Indonesia merupakan salah satu lembaga perbankan yang membantu UMKM dalam memenuhi ketersediaan modal. Hal ini menjadi dasar terjadinya perjanjian kredit antara Bank Rakyat Indonesia dengan UMKM. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan perjanjian Kredit Usaha Rakyat antara Bank Rakyat Indonesia dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian normatif terapan. Tipe penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif. Pendekatan masalah adalah normatif terapan, untuk itu data yang digunakan berupa data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi lapangan, studi kepustakaan dan studi dokumen. Pengelolaan data umumnya dilakukan dengan cara pemeriksaan data, penandaan data, rekontrusi data, dan sistematis data. Analisis data dilakukan secara analisis kualitatif, komprehensif dan lengkap. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam pelaksanaan pemberian kredit yang dilakukan antara Bank Rakyat Indonesia dengan UMKM harus memenuhi syarat dan prosedur yang telah ditentukan oleh Bank Rakyat Indonesia. UMKM sebagai penerima kredit harus memenuhi syarat yang lazim sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada Bank Rakyat Indonesia. Prosedur pemberian KUR antara Bank Rakyat Indonesia dengan UMKM melalui beberapa tahapan yaitu tahap permohonanan, tahap analisis, tahap rekomendasi, tahap pemberian persetujuan, tahap pengikatan dan yang terakhir adalah tahap pencairan kredit. Hokkop Dedy Coy Nababan Bank Rakyat Indonesia mempunyai hak membuat klausul-klausul yang pada umumnya cenderung melindungi Bank Rakyat Indonesia, sehingga ketentuan yang mengatur kepentingan bank lebih diutamakan, sedangkan kewajiban utama Bank Rakyat Indonesia adalah menyediakan dana kredit selama jangka waktu yang telah ditentukan, dengan berbagai syarat dan ketentuan yang berlaku. UMKM mempunyai hak pokok untuk menerima jumlah kredit sesuai dengan perjanjian kredit tersebut dan juga mempunyai hak untuk menerima pemberitahuan mengenai suku bunga kredit, sedangkan kewajiban utama UMKM adalah melunasi hutangnya. Bentuk wanprestasi dari perjanjian kredit dapat berupa wanprestasi pembayaran pokok kredit dan bunga, wanprestasi terhadap penggunaan kredit, dan wanprestasi terhadap agunan, dalam hal ini terjadi wanprestasi penyelesaian pada UMKM yaitu lebih mengutamakan menggunakan penyelesaian melalui administrasi perkreditan berupa tindakan rescheduling, reconditiong dan restructuring. Kata Kunci: Bank, UMKM, Perjanjian Kredit, Wanprestasi 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hukum Perjanjian 1. Pengertian Perjanjian Pengertian perjanjian sebagaimana terdapat dalam Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa suatu perjanjian adalah suatu perbuatan satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Pengertian tersebut menurut para sarjana kurang lengkap karena banyak mengandung kelemahan-kelemahan dan terlalu luas pengertiannya karena istilah perbuatan yang dipakai dapat juga mencakup juga perbuatan melawan hukum dan perwalian sukarela, padahal yang dimaksud adalah perbuatan melawan hukum. Sedangkan yang dimaksud perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak, di satu pihak ada hak dan di lain pihak ada kewajiban Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal mengenai harta kekayaan Apabila diperinci, maka perjanjian itu mengandung unsur-unsur sebagai berikut 1: 1 Muhammad. Abdulkadir.2000. Hukum Perdata Indonesia.Bandung. PT Citra. hlm.225 8 1. Adanya pihak-pihak, sedikitnya dua orang (subjek) 2. Adanya persetujuan antara pihak-pihak itu (consensus) 3. Adanya objek berupa benda 4. Adanya tujuan bersifat kebendaan (mengenai harta kekayaan) 5. Adanya bentuk tertentu, lisan atau tertulis. Pengertian perjanjian itu pada pokoknya menyebutkan kebendaan para pihak (orang) dan adanya perikatan sebagai hal yang penting dalam perjanjian kemudian terdapat adanya consensus antara para pihak, untuk melakukan sesuatu hal mengenai harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. Pendapat lain menyatakan bahwa perjanjian menimbulkan dan berisi ketentuanketentuan hak dan kewajiban antara dua pihak, atau dengan kata lain perjajian berisi perikatan2. Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam perjanjian terdapat beberapa unsur yaitu: a) Ada pihak-pihak. Pihak di sini adalah subyek perjanjian sedikitnya dua orang atau badan hukum dan harus mempunyai wewenang melakukan perbuatan hukum sesuai yang ditetapkan oleh undang-undang. b) Ada persetujuan antara pihak-pihak, yang bersifat tetap dan bukan suatu perundingan. 2 J. Satrio, Perikatan Pada Umumnya,Bandung,Alumni,1999,hlm.5 9 c) Ada tujuan yang akan dicapai. Hal ini dimaksudkan bahwa tujuan para pihak hendaknya tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan undang-undang. d) Ada prestasi yang akan dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan bahwa prestasi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi, oleh pihak-pihak sesuai dengan syarat-syarat perjanjian. e) Ada bentuk tertentu, lisan atau tulisan. Hal ini berarti bahwa perjanjian bias dituangkan secara lisan atau terulis. Hal ini sesuai ketentuan undang-undang yang menyebutkan bahwa hanya dengan bentuk tertentu suatu perjanjian mempunyai kekuatan mengikat dan bukti yang kuat. Pada umumnya perjanjian tidak terikat pada suatu bentuk tertentu, dapat dibuat secara lisan dan andaikata dibuat secara tertulis, perjanjian ini bersifat alat pembuktian apabila terjadi perselisihan. Namun dalam hal untuk beberapa perjanjian undangundang menentukan bentuk tertentu. Apabila bentuk tersebut tidak dipenuhi perjanjian itu tidak sah. Dengan demikian, bentuk tertulis perjanjian tidak hanya semata-mata merupakan alat pembuktian, tetapi merupakan syarta adanya perjanjian 3. .2. Asas-asas Perjanjian Hukum perjanjian mengenal beberapa asas penting yang merupakan dasar kehendak pihak-pihak dalam mencapai tujuan, yaitu 4: 3 4 Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, Jakarta,Alumni,1994,hlm 137 Ibid, hlm.225 10 a. Asas kebebasan berkontrak Setiap orang bebas melakukan perjanjian apa saja, baik yang sudah diatur atau belum diatur dalam undang-undang. b. Asas pelengkap Asas ini mengandung arti bahwa ketentuan undang-undang boleh tidak diikuti apabila pihak-pihak menghendaki dan membuat ketentuan-ketentuan sendiri yang menyimpang dari ketentuan undang-undang. c. Asas Konsensual Asas ini mengandung arti bahwa perjanjian itu terjadi saat tercapainya kata sepakat (consensus) antara pihak-pihak mengenai pokok perjanjian. d. Asas obligator Asas ini mengandung arti bahwa perjanjian yang dibuat pihak-pihak itu baru dalam tahap menimbulkan hak dan kewajiban saja, belum memindahkan hak milik 5. 3. Jenis-jenis Perjanjian Menurut Abdulkadir Muhammad terdapat beberapa jenis perjanjian berdasarkan kriteria , yaitu 6: 5 6 Ibid, hlm.225 Ibid, hlm.227 11 a. Perjanjian timbal balik dan sepihak Pembedaan jenis perjanjian ini berdasarkan kewajiban berprestasi perjanjian, timbal balik adalah perjanjian yang mewajibkan kedua belah pihak berprestasi secara timbal balik. Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang mewajibkan salah satu pihak berprestasi kepada pihak lain. b. Perjanjian bernama dan tidak bernama Perjanjian bernama adalah perjanjian yang sudah mempunyai nama sendiri sebagai perjanjian khususnya dan jumlahnya terbatas. Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak mempunyai nama tertentu dan jumlahnya tidak terbatas. c. Perjanjian obligator dan kebendaan Perjanjian obligator adalah perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban. Perjanjian kebendaan adalah perjanjian untuk memindahkan hak milik dan jual beli. d. Perjanjian konsensual dan riil Perjanjian konsensual adalah perjanjian yang terjadi baru dalam tahap menimbulkan hak dan kewajiban saja bagi pihak-pihak 4. Syarat Sah Perjanjian Perjanjian yang sah adalah perjanjian yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh Undng-Undang. Perjanjian yang sah diakui dan diberi akibat hukum. Menurut 12 ketentuan Pasal 1320 KUHPdt adalah supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat : a. Kesepakatan mereka yang mngikatkan dirinya. b. Kecakapan untuk membuat suatu prikatan c. Suatu pokok persoalan tertentu d. Suatu sebab yang halal. Kemudian dapat dijelaskan bahwa syarat sah perjanjian adalah : a. Adanya persetujuan kehendak antara para pihak yang mengadakan perjanjian (consensus) b. Adanya kecakapan pihak-pihak yang membuat perjanjian (capacity) c. Adanya suatu hal tertentu (objek) d. Adanya suatu sebab yang halal (causa) Dua syarat yang pertama disebut syarat subjektif karena mengenai subjek yang melakukan perjanjian, tidak terpenuhinya syarat ini menyebabkan perjanjian dapat dibatalkan (voidable atau vernietigbaar). Dua syarat yang terakhir disebut syarat objektif karena mengenai objek perjanjian, tidak terpenuhinya syarat ini menyebabkan perjanjian batal demi hukum, bahwa perjanjian tersebut dianggap tidak pernah dibuat sehingga tidak pernah ada perikatan. Perjanjian yang tidak memenuhi syarat-syarat terebut tidak akan diakui oleh hukum, walaupun diakui oleh pihak-pihak yang membuatnya. 13 5. Wanprestasi Pelanggaran atas perjanjian disebut wanprestasi, yang berarti prestasi buruk berasal dari bahasa Belanda yaitu “wanbeheer” yang berarti pengurusan buruk, “wandaad” yang berarti perbuatan buruk. Wanprestasi seorang Debitur dapat berupa empat macam : 1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya. 2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjiakan. 3. Melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat. 4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya Pihak yang melakukan wanprestasi dapat dituntut oleh pihak yang merasa dirugikan. Tuntutan atas wanprestasi dapat berupa 7: 1. Pemenuhan perjanjian secara sempurna. 2. Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi, terdiri atas biaya, rugi, dan bunga. 3. Pembayaran ganti rugi saja. 4. Pembatalan perjanjian, pembatalan perjanjian disertai ganti rugi Ganti rugi atas wanprestasi menurut hukum perdata belanda hanya dapat ditentukan dlam bentuk uang jika objek perjanjian uang, maka kerugian yang diderita kreditur dimintakan pembayaran interest, rente, atau bunga. Pemberian ganti rugi hanya harus mengandung apa yang merupakan akibat langsung dan segera dari cidera gaji. 7 R.Subekti,. 1984. Pokok-pokok Hukum Perdata. Intermasa, Jakarta. hlm. 45 14 6. Berakhirnya Perjanjian Pasal 1381 KUHPdt mengatur cara hapusnya suatu perikatan sebagai berikut : 1. Pembayaran 2. Penawaran pembayaran tunai dengan penyimpanan atau penitipan 3. Pembaharuan hutang 4. Perjumpaan hutang dan kompensasi 5. Pencampuran hutang 6. Pembebasan hutang 7. Musnahnya barang yag terutang 8. Batal/pembatalan 9. Berlakunya suatu syarat batal 10. Lewat waktu Berakhirnya perjanjian tidak diatur secara tersendiri dalam undang-undang, tetapi hal itu dapat disimpulkan dari beberapa ketentuan yang ada dalam undang-undang tersebut. Berakhirnya suatu perjanjian tersebut disebabkan oleh 8: a. Ditentukan terlebih dahulu oleh para pihak, misalnya dengan menetapkan batas waktu tertentu, maka jika sampai pada batas yang telah ditentukan tersebut, mengakibatkan perjanjian hapus, b. Undang-undang yang menetapkan batas waktunya suatu perjanjian, 8 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja,2004,Perikatan yang Lahir dari Perjanjian,.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,hlm.43 15 c. Karena terjadinya peristiwa tertentu selama perjanjian dilaksanakan, d. Salah satu pihak meninggal dunia, e. Adanya pernyataan untuk mengakhiri perjanjian yang diadakan oleh salahsatu pihak atau pernyataan tersebut sama-sama adanya kesepakatan untuk mengakhiri perjanjian yang diadakan, f. Putusan hakim yang mengakhiri suatu perjanjian yang diadakan, g. Telah tercapainya tujuan dari perjanjian yang diadakan oleh para pihak. B. Perjanjian Kredit 1. Istilah Kredit Kredit berasal dari bahasa latin “Credere” yang artinya kepercayaan dari Kreditur terhadap Debitur yang berarti Kreditur percaya bahwa Debitur akan mengembalikan pinjaman beserta bunganya sesuai perjanjian kedua belah pihak. Sedangkan bagi penerima kredit berarti ia menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya, jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu pemberian kredit dapat terjadi apabila di dalamnya terkandung ada kepercayaan orang atau badan yang memberi kredit kepada orang yang menerima kredit, tegasnya Kreditur percaya bahwa kredit itu tidak akan macet. Berdasarkan Pasal 1 angka (11) Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan kredit adalah penyediaaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank 16 dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu dengan pemberian bunga, dalam praktek dengan perbedaaan yang tidak prinsipil, akad “perjanjian kreditur” diberi nama “perjanjian kredit” atau “persetujuan buka kredit”atau”perjanjian pinjam uang”. 2. Pengertian Perjanjian Kredit Perjanjian Kredit sama halnya dengan perjanjian secara umum yang diatur dalam Buku III KUHPerdata, namun, tidak ada satupun pertauran perundang-undangan yang khusus mengatur tentang Perjanjian Kredit, bahkan dalam Undang-Undang Perbankan sekalipun. Menurut Soebekti, Perjanjian Kredit pada hakikatnya sama dengan Perjanjian Pinjam Meminjam yang diatur dalam Pasal 1754 sampai 1769 KUHPerdata. Dalam prakteknya, Perjanjian Kredit memiliki 2 (dua) bentuk, yaitu: 1. Bentuk Akta Bawah Tangan (Pasal 1874 BW) merupakan akta perjanjian yang baru memiliki kekuatan hukum pembuktian apabila diakui oleh pihak-pihak yang menandatangani dalam akta perjanjian tersebut. agar akta ini tidak mudah dibantah, maka diperlukan pelegalisasian oleh Notaris, agar memiliki kekuatan hukum pembuktian yang kuat seperti akta otentik. 2. bentuk Akta Otentik.merupakan akta perjanjian yang memiliki kekuatan hukum pembuktian yang sempurna, karena ditanda tangani langsung oleh pejabat pembuat akta yaitu notaris, dan akta ini dianggap sah dan benar tanpa perlu membuktikan keabsahannya dari tanda tangan pihak lain. 17 Pada umumnya perjanjian tidak terikat pada suatu bentuk tertentu, dapat dibuat secara lisan dan andaikata dibuat secara tertulis, perjanjian ini bersifat sebagai alat pembuktian apabila terjadi perselisihan, namun dalam hal untuk beberapa perjanjian undang-undang menentukan bentuk tertentu, apabila bentuk tersebut tidak dipenuhi perjanjian itu tidak sah, dengan demikian, bentuk tertulis perjanjian tidak hanya semata-mata merupakam alat pembuktian, tetapi merupakan syarat adanya perjanjian9. 3. Syarat-Syarat Perjanjian Kredit Menurut Muhammad Djumhana, praktek perbankan dalam pemberian kredit harus melalui analisis dan penelitian. Analisis dan penelitian tersebut merupakan syarat pemberian kredit yang lazim disebut 5 (lima) C, yaitu10; a) Character (watak) Pada prinsip ini di perhatikan dengan teliti tentang kebiasaan-kebiasaan, sifat-sifat pribadi, cara hidup (Style of living) keadaan keluarganya (anak istri) hobi dan sosial standing calon Debitur. Prinsip ini merupakan ukuran tentang kemauan untuk membayar (willingnestopay). b) Capacity (kemampuan) Penelitian terhadap capacity debitor ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan Debitur mengembalikan pokok pinjaman serta bunga pinjamannya. Penilaian kemampuan membayar tersebut dilihat dari kegiatan usaha dan 9 Mariam darus Badrulzaman.1994.Aneka Hukum Bisnis.Jakarta: Alumni. hlm.137 Muhammad Djumhana, 2003,Hukum Perbankan di Indonesia, Bandung, , hlm.386 10 18 kemampuannya melakukan pengelolaan atas usaha yang akan di biaya dengan kredit. c) Capital(permodalan) Penyelidikan atas prinsip capital atau permodalan debitor tidak hanya melihat besar kecilnya modal tersebut tetapi juga bagaimana distribusi modal itu ditempatkan oleh Debitur. d) Collateral (agunan) Penilaian terhadap barang jaminan (Collateral) yang diserahkan debitor sebagaimana jaminan atas kredit bank, yang diperolehnya adalah untuk mengetahui sejauh mana nilai barang jaminan atau agunan dapat menutupi resiko kegagalan pengembaliankewajiban-kewajiban Debitur. e) Condition of economy (kondisi perekonomian) Pada prinsip kondisi ini, di nilai kondisi ekonomi secara umum serta kondisi pada sektor usaha calon Debitur11. 4. Pihak-Pihak dalam Perjanjian Kredit Perjanjian merupakan merupakan sumber terpenting yang melahirkan perikatan, dengan demikian antara perjanjian dan perikatan terdapat hubungan yang erat. Para pihak dalam suatu perjanjian kredit disebut subjek perjanjian kredit. Subjek perjanjian kredit dapat berupa manusia pribadi dan badan hukum, dalam penelitian ini terdapat dua subjek hukum yaitu Kreditur sebagai pihak pemberi dana dan Debitur sebagai pihak penerima yang berkewajiban atas prestasi. 11 Muhamad Djumhana. 2003. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung. hlm.386 19 a. Pihak Pemberi Kredit Menurut UU Perbankan secara tegas ditentukan pemberi kredit adalah bank. Sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberi kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Pemberi kredit (Bank) disini pada hakekatnya melaksanakan secara tidak langsung tugas-tugas Pemerintah yang berkaitan dengan pengembangan sektor ekonomi untuk meningkatkan kesejahtraan rakyat menurut pola yang ditetapkan Undang-undang Dasar 1945. b. Pihak Penerima Kredit Pihak Penerima Kredit adalah siapa saja yang mendapat kredit dari Bank dan wajib mengembalikan setelah jangka waktu tertentu12. Selain subjek, terdapat pula objek perjanjian kredit. Berdasarkan ketentuan Pasal 1234 KUHPerdata objek perikatan adalah suatu prestasi yang berupa: (1) Memberikan sesuatu (2) Berbuat sesuatu atau melakukan sesuatu perbuatan (3) Tidak berbuat sesuatu atau tidak melakukan suatu perbuatan 5. Hak dan Kewajiban pihak-pihak dalam Perjanjian kredit Pelaksanaan perjanjian pada dasarnya selalu berupa pembayaran sejumlah uang, penyerahan suatu benda, pelayanan, atau gabungan dari perbuatan-perbuatan tersebut. Pembayaran sejumlah uang dan penyerahan benda dapat terjadi secara serentak dan 12 Mariam darus Badrulzaman.1983.Aneka Hukum Bisnis.Jakarta: Alumni. hlm.70 20 dapat pula secara tidak serentak, tetapi pelayanan jasa selalu dilakukan lebih dulu, baru kemudian pembayaran sejumlah uang13. Kewajiban Bank adalah dalam perjanjian Kredit Usaha Rakyat adalah memberikan dana usaha kepada Debitur, dan Debitur berkewajiban membayar angsuran bulanan kredit kepada Bank dan berkewajiban mematuhi segala ketentuan yang terdapat dalam ketentuan dan syarat-syarat umum perjanjian Kredit Usaha Rakyat. Pihak Bank berhak menerima angsuran pembayaran bulanan kredit usaha, sedangkan hak Debitur adalah memperoleh dana dari bank yang memberikan dana usaha. C. Bank dan Perbankan 1. Pengertian Bank dan Perbankan Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dana dan penyalur dana masayarakat (Pasal 3). Pasal 3 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan telah merumuskan bahwa fungsi utama perbankan sebgai penghimpun dan penyalur dana masyarakat14. Menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. 13 14 Abdulkadir Muhammad. Op. Cit, hlm 236 dan 237 Ratna Syamsiar.2006.Hukum Perbankan.Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung. hlm. 11 21 Dari definisi bank di atas dapat ditarik kesimpulan, yaitu bank merupakan suatu lembaga dimana kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, seperti tabungan, deposito, maupun giro, dan menyalurkan dana simpanan tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan, baik dalam bentuk kredit maupun bentuk-bentuk lainnya. 2. Bentuk Usaha Bank Dalam melaksanakan usahanya, Bank dibedakan antara kegiatan Bank Umum dengan kegiatan Bank Perkreditan Rakyat. Kegiatan bank umum lebih luas Bank Perkreditan Rakyat. Produk ditawarkan oleh Bank umum lebih beragam, hal ini disebabkan bank umum mempunyai kebebasan untuk menentukan produk dan jasanya. Sedangkan bank perkreditan rakyat mempunyai keterbatasan tertentu, sehingga usahanya lebih sempit. Menurut Ratna Syamsiar usaha-usaha bank yang ada di Indonesia dewasa ini adalah: a. Menghimpun dana dari masyarakat Bank merupakan lembaga keuangan, dalam opersainya memerlukan kepentingan setiap perusahaan ataupun perorangan yang akan mempercayakan dananya kepada bank. Dana tersebut berupa simpanan yang dipercayakan oleh para nasabah penyimpan dana kepada bank. Bentu-bentuk simpanan itu diatur dalam pasal 1 Ayat (6,7,8, dan 9) UU Perbankan yang diuraikan sebagai berikut: 22 1) Giro adalah simpanan penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindahbukuan. 2) Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank. 3) Sertifikat deposito adalah simpanan dalam bentuk deposito yang sertifikat bukti penyimpanannya dapat dipindahtangankan. 4) Tabungan adalah simpanan dan penariakan hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan/atau alat-alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. b. Pemberian kredit Salah satu dari sekian banyak usaha bank adalah member kredit. Pemberian kredit tersebut harus dilaksanakan dengan menggunakan prinsip kehati-hatian karena setiap pemberian kredit oleh lembaga perbankan akan mengandung reiko kegagalan atau kemacetan.Pemanfaatan dana simpanan nasabah harus tanpa merugikan atau mengurangi nilai piutang kreditur yang bersangkutan. Dari segi ekonomi, simpanan pada bank berfungsi meningkatkan kesejahtraan masyarakat di satu pihak, dan mengembangkan jasa perbankan di lain pihak.Pemberian kredit biasa dalam bentuk kredit investasi,kredit modal kerja, dan kredit perdagangan. 23 c. Jual beli surat berharga Surat berharga adalah surat pengakuan hutang, wesel, saham, obligasi, sekuritas kredit, atau setiap derivatif dari surat berharga atau kepentingan lain atau suatu kewajiban penerbit dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal. Contoh surat berharga adalah surat wesel, surat pengakuan hutang dan kertas dagang, kertas perbendaharaan Negara dan surat jaminan pemerintah, sertifikat Bank Indonesia, saham, dan obligasi15. 3. Jenis Bank Dalam ketentuan Pasal 1 Ayat (3 dan 4) pada UU perbankan, bank hanya ada 2 jenis, yaitu: a. Bank Umum. Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. PT Bank Rakyat Indonesia dalam skripsi ini digolongkan sebagai bank umum b.Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bank perkreditan rakyat adalah bank yng melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 15 Ibid hlm. 99-115 24 D. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) UMKM adalah usaha mikro, kecil, dan menengah. Pengertian UMKM dipisahkan menjadi usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. UMKM merupakan pengaturan baru mengenai jenis usaha, pengaturan sebelumnya hanya mengatur mengenai usaha kecil saja. Pengertian UMKM mengatur juga mengenai criteria setiap jenis usaha mikro, kecil dan menengah. Pasal 3 UU No. 20 tahun 2008 tentang UMKM mengatur mengenai tujuan dari adanya UMKM itu sendiri, yaitu: UMKM bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan. E. Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI 1. Pengertian Kredit Usaha Rakyat Modal usaha bagi kelompok usaha kecil merupakan permasalahan yang cukup pelik. Tidak hanya menghambat kelangsungan bisnis tetapi bisa mejadi penyebab gagalnya usaha yang tengah dirintis. Bank Rakyat Indonesia (BRI) memiliki komitment untuk membantu mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu bentuk komitment itu adalah dengan dibukanya Kredit untuk Modal usaha bagi UMKM dan koperasi yang disebut dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR ini merupakan alternatif bagi Usaha Kecil, Mikro dan Koperasi untuk mendapatkan modal usaha. Kendala yang seringkali dihadapi oleh pengusaha Kecil, Mikro dan Koperasi adalah masalah permodalan di dalam mengembangkan usahanya. 25 Karena itulah Bank BRI melalui Kredit Usaha Rakyat ini bermaksud memberikan kemudahan akses yang lebih besar bagi para pelaku usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi, yang sudah feasible tetapi belum bankable . Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah kredit atau pembiayaan yang diberikan oleh perbankan kepada UMKM-K yang feasible tapi belum bankable. Maksudnya adalah usaha tersebut memiliki prospek bisnis yang baik dan memiliki kemampuan untuk mengembalikan16. Pinjaman modal usaha ini merupakan alternatif yang cocok bagi UMKM. Biasanya Pihak Bank agak sulit untuk memberikan kredit modal usaha bagi kelompok ini,dengan pertimbangan-pertimbangan usaha yang belum bankable dan UMKM dianggap memiliki resiko yang cukup tinggi bagi bank. Dengan pemberian kredit modal usaha ini diharapkan akan meningkatkan akses pembiayaan dan mengembangkan UMKM dan Koperasi kepada Lembaga Keuangan Implikasi lebih jauh kucuran kredit ini akan dapat mempercepat pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Pada kenyataannya berkembangnya Usaha Kecil, Mikro dan menengah mampu menyerap tenaga kerja yang sangat besar, harapan lebih jauh dengan modal usaha melalui KUR angka pengangguran dan angka kemiskinan dapat dikurangi. Mempermudah penyaluran modal usaha bagi rakyat diharapkan mampu mendorong tumbuhnya ekonomi secara signifikan. 16 http://kredit-usaha-rakyat.co.cc diakses tanggal 28 Januari 2012 26 KUR adalah skema Kredit/Pembiayaan yang khusus diperuntukkan bagi UMKM dan Koperasi yang usahanya layak namun tidak mempunyai agunan yang cukup sesuai persyaratan yang ditetapkan Perbankan. Tujuan akhir diluncurkan Program KUR adalah meningkatkan perekonomian, pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja. Perguliran KUR dimulai dengan adanya keputusan Sidang Kabinet Terbatas yang diselenggarakan pada tanggal 9 Maret 2007 bertempat di Kantor Kementerian Negara Koperasi dan UKM dipimpin Bapak Presiden RI. Salah satu agenda keputusannya antara lain, bahwa dalam rangka pengembangan usaha UMKM dan Koperasi, Pemerintah akan mendorong peningkatan akses UMKM dan Koperasi kepada kredit/pembiayaan dari perbankan melalui peningkatan kapasitas Perusahaan Penjamin. Dengan demikian UMKM dan Koperasi yang selama ini mengalami kendala dalam mengakses kredit/pembiayaan dari perbankan karena kekurangan agunan dapat diatasi. KUR telah diluncurkan oleh Bapak Presiden RI pada tanggal 5 Nopember 2007. Peluncuran KUR merupakan upaya Pemerintah dalam mendorong Perbankan menyalurkan kredit/ pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi. Peluncuran tersebut merupakan tindaklanjut dari ditandatanganinya Nota Kesepahaman Bersama (MoU) pada tanggal 9 Oktober 2007 tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi antara Pemerintah (Menteri Negara Koperasi dan UKM, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Perusahaan Penjamin (Perum Sarana Pengembangan Usaha 27 dan PT. Asuransi Kredit Indonesia) dan Perbankan (Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Bukopin, dan Bank Syariah Mandiri). KUR ini didukung oleh Kementerian Negara BUMN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta Bank Indonesia. F. Kerangka Pikir Berdasarkan judul dan pokok bahasan di atas, maka kerangka pikir dari penelitian ini dibuat skematik sebagai berikut: Perjanjian Kredit PT. Bank Rakyat Indonesia Syarat dan prosedur pemberian kredit kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah Hak dan kewajiban para pihak Penyelesaian kredit jika terjadi wanprestasi Berdasarkan skema di atas dapat dijelaskan bahwa: UU Perbankan mengatur kegiatan perbankan di Indonesia. Salah satu kegiatan perbankan di Indonesia adalah pemberian kredit. Bank dapat melakukan perjanjian 28 pemberian dengan nasabahnya. Pemberian Kredit Usaha Rakyat tersebut merupakan salah satu program pemerintah berlandaskan UU Perbankan yang diberikan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah . Bank dalam hal ini melakukan perjanjian kredit dengan UMKM. Pelaksaan pemberian kredit antara suatu bank dengan UMKM diperlukan suatu keyakinan dari pihak kreditur bahwa kredit yang telah diserahkan kepada debitur dapat dikembalikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian kredit untuk itu, sebelum memberikan kredit, UMKM wajib memenuhi seluruh persyaratan dan mematuhi prosedur pelaksanaan perjanjian kredit yang ditentukan oleh bank. Perjanjian kredit tersebut akan mengikat para pihak dan menimbulkan hak-hak serta kewajiban-kewajiban para pihak. Perjanjian kredit merupakan ikatan antara bank dengan debitur yang isinnya menentukan dan mengatur tentang hak dan kewajiban kedua pihak sehubungan dengan pemberian atau pinjaman kredit, supaya tidak ada permasalahan dalam perjanjian kredit seharusnya pihak UMKM dan pihak bank wajib mengetahui dan menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan kesepakatan. Pelaksannan perjanjian kredit tersebut sering kali dijumpai bahwa salah satu pihak tidak dapat melaksanakan prestasi dengan baik, atau yang disebut dengan wanprestasi sehingga menimbulkan masalah yang harus diselesaikan oleh para pihak untuk itu, perlu dilakukan upaya hukum penyelesaian masalah dalam pelaksanaan perjanjian kredit. 29 III. METODE PENELITIAN Metode penelitian hukum adalah ilmu cara melakukan penelitian hukum secara teratur (sistematis)1. Masalah metode penelitian adalah masalah penting dalam suatu penelitian ilmiah karena nilai, mutu, dan hasil suatu penelitian ilmiah sebagian besar ditentukan oleh ketetapan dalam memilih metodenya. Adapun metode yang digunakan adalah: A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah penelitian hukum normatif terapan, yaitu penelitian terhadap asas-asas hukum. Penelitian asas-asas hukum dilakukan terhadap kaidah-kaidah hukum yang merupakan patokan-patokan berperilaku dan bersikap tindak yang pantas. Penelitian tersebut dapat dilakukan (terutama) terhadap bahan-bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, sepanjang bahan-bahan tadi mengandung kaedah hukum. Di dalam penelitian ini, kaidah-kaidah tersebut dapat berupa prosedur untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat oleh UMKM dan melihat isi perjanjian kredit usaha rakyat untuk mengetahui hak dan jewajiban masing-masing pihak serta melihat 1 Abdulkadir Muhammad.. Hukum dan Penelitian Hukum.Citra Aditya Bakti.Bandung,2004,hlm.57 2 Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Pengantar Hukum Normatif, CV Rajawali, Jakarta,1985,hlm.70 30 kendala apa saja yang mungkin timbul dalam pengambilan kredit dan melihat akibat hukumnya bagi kedua belah pihak. B. Tipe Penelitian Berdasarkan permasalahan pada pokok bahasan dalam penelitian ini, maka tipe penelitian adalah tipe deskriptif, yaitu mendeskripsikan secara jelas, rinci dan sistematis tentang proses mendapatkan kredit usaha rakyat dan isi perjanjian kredit usaha rakyat dan UMKM serta melihat akibat hukum bagi keduanya jika terdapat masalah dalam pengambilan kredit. C. Pendekatan Masalah Pendekatan masalah yang digunakan adalah normatif-terapan dimana penulis akan merumuskan masalah dan tujuan penelitian terebih dahulu, dengan prosedur sebagai berikut :3 1. Identifikasi pokok bahasan dan sub pokok bahasan berdasarkan rumusan masalah. 2. Identifikasi ketentuan hukum normatif yang menjadi tolak ukur terapan yang bersumber dari dan lebih sesuai dengan sub pokok bahasan. 3. Penerapan ketentuan hukum normatif tolak ukur terapan pada peristiwa hukum yang bersangkutan, yang menghasilkan perilaku terapan yang sesuai atau tidak sesuai.. ✁ Abdulkadir Muhammad , Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung :PT.Citra Aditya Bakti,2004. hal.144. 31 D. Data dan Sumber Data Dikarenakan jenis penelitian ini adalah normatif terapan, maka data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Bahan hukum primer yang digunakan bersumber dari KUH Perdata, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Sedangkan bahan hukum sekunder yang digunakan terdiri dari bahan hukum kepustakaan, internet, literatur-literatur ilmu pengetahuan hukum khususnya mengenai kredit usaha rakayat. Serta bahan hukum tersier yang digunakan yaitu kamus-kamus hukum. E. Metode Pengumpulan Data Dalam metode pengumpulan data pada umumnya dikenal dua jenis alat atau cara yaitu studi dokumen atau studi pustaka, pengamatan atau observasi, dan wawancara atau interview.4 Metode pengumpulan data yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah studi pustaka, studi dokumen dan wawancara atau interview sebagai penunjang bahan pustaka. 1. Studi Kepustakaan Studi ini dilakukan dengan mengadakan penelaahan terhadap peraturan perundangundangan, buku-buku, literatur-literatur, dan karya ilmiah lainnya. Teknis yang digunakan adalah mengumpulkan, mengidentifikasikan, lalu membaca untuk mencari dan memahami data yang diperlukan kemudian dilakukan pencatatan atau pengutipan. 4 Soekanto, Soejono, Pengantar Penelitian Hukum. Universitas Indonesia Press. Jakarta, 1984, hal. 66 32 2. Studi Dokumen Studi dokumen dilakukan dengan melihat perjanjian KUR antara bank dengan UMKM yang diperoleh pada saat penelitian dilakukan. 3. Metode Wawancara Metode wawancara dilakukan untuk mendapat tambahan informasi serta mencari kesesuaian informasi data yang diperoleh penulis termasuk mencari perbandingan lain dari data yang telah ada. Wawancara akan dilakukan pada kepala unit BRI unit Way Halim yaitu bapak Ramson Tambunan. F. Pengolahan Data Data yang diperoleh dari studi pustaka dan wawancara kemudian diolah dengan cara : 1. Seleksi data, yaitu memilih data dan memilah data yang diperoleh mengenai kelengkapannya, kejelasanya, dan kebenarannya atas jawaban data, kesesuaian atau relevansi informasi jawaban yang diterima dengan pokok bahasan yang akan dibahas. 2. Klasifikasi data, yaitu data yang telah diseleksi selanjutnya diklasifikasikan dan dihubungkan dengan data yang dipergunakan atau diperlukan menurut pokok bahasannya masing-masing. 3. Penyusunan data, yaitu penempatan data pada tiga pokok bahasan secara sistematis sehingga memudahkan interprestasi data. 33 G. Analisis Data Analisis data dan pembahasan dilakukan secara kualitatif , komprehensif dan lengkap sehingga menghasilkan produk penelitian hukum normatif-empiris yang lebih sempurna.5,dengan metode ini maka data yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis, dan selanjutnya diuraikan dalam bentuk kalimat secara terperinci dan sistematis yang bersifat keterangan sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan. 5 Ibid. hal. 152. 56 V. PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Dalam perjanjian Kredit Usaha Rakyat terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu syarat umum yang terdapat dalam KUHPdt dan syarat khusus yang ditentukan oleh pihak bank. Sedangkan prosedur perjanjian Kredit Usaha Rakyat, dilaksanakan melalui lima tahap yaitu tahap permohonan, tahap analisis, tahap rekomendasi kredit, tahap pemberian persetujuan kredit, dan akad kredit. 2. Hak dan kewajiban yang mengikat para pihak yang terlibat di dalam perjanjian Kredit Usaha Rakyat yaitu antara bank dan nasabah sesuai dengan ketentuan yang diberikan Bank Rakyat Indonesia, dari hasil wawancara dengan pihak Bank Rakyat Indonesia, telah dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing pihak. Sehingga perjanjian Kredit Usaha Rakyat berjalan dengan baik. 3. Penyelesaian kredit jika terjadi wanprestasi yang terdapat dalam Kredit Usaha Rakyat prinsip syariah terjadi apabila debitur lalai dalam keterlambatan pembayaran, adanya pernyataan yang tidak benar dan 57 menyesatkan, dan melanggar peraturan mengenai agunan. Apabila hal itu terjadi, terdapat beberapa tahapan dalam penyelesaian sengketa yaitu dengan musyawarah (atau teguran) pada nasabah apabila nasabah masih tidak mampu melaksanakan kewajibannya, maka akan diselesaikan melalui jalur pengadilan dimana tempat domisili. B. Saran 1.Proses pemberian kredit usaha rakyat di BRI Unit Way Halim sebaiknya perlu mengkaji ulang penilaian aspek character dalam tahap peninjauan dan analisis kredit. 2.Pemerintah diharapkan dapat menurunkan kembali tingkat bunga pada kredit usaha rakyat karena kredit usaha rakyat ini merupakan program pemerintah dalam membantu pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, menengah. DESKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT USAHA RAKYAT KEPADA USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim) (Skripsi) Oleh HOKKOP DEDY COY NABABAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2012 DESKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT USAHA RAKYAT KEPADA USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim) Oleh HOKKOP DEDY COY NABABAN Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum pada Bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Lampung FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2012 DAFTAR ISI Halaman I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang.................................................................................... B. Rumusan Masalah............................................................................... C. Ruang Lingkup ................................................................................... D. Tujuan Penelitian ................................................................................ E. Kegunaan Penelitian ........................................................................... 1 4 5 5 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hukum Perjanjian .............................................................................. 1. Pengertian Perjanjian................................................................... 2. Asas-asas Perjanjian ................................................................... 3. Jenis-jenis Perjanjian .................................................................. 4. Syarat Sah Perjanjian .................................................................. 5. Wanprestasi ................................................................................ 6. Berakhirnya Perjanjian ............................................................... 7 7 9 10 11 12 13 B. Perjanjian Kredit ............................................................................... 1. Istilah Kredit ............................................................................. 2. Pengertian Perjanjian Kredit........................................................ 3. Syarat-syarat Perjanjian Kredit.................................................... 4. Pihak-pihak dalam Perjanjian Kredit........................................... a. Pihak Pemberi Kredit............................................................... b.Pihak Penerima Kredit.............................................................. 5. Hak dan Kewajiban Para Pihak ................................................... 15 15 16 18 19 20 20 21 C. Bank dan Perbankan ........................................................................ 1. Pengertian Bank........................................................................... 2. Bentuk Usaha Bank .................................................................... 3. Jenis Bank ................................................................................... 21 21 22 24 D. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ................................. 25 E. Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI .................................................... 1. Pengertian Kredit Usaha Rakyat ................................................. 25 25 F. Kerangka Pikir .................................................................................. 28 III. METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. G. Jenis Penelitian ................................................................................. Tipe Penelitian .................................................................................. Pendekatan Masalah ......................................................................... Data dan Sumber Data....................................................................... Metode Pengumpulan Data .............................................................. Pengolahan Data ............................................................................... Analisis Data .................................................................................... 30 31 31 32 32 33 34 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Syarat dan Prosedur KUR oleh BRI Kepada UMKM....................... 1. Syarat Perjanjian KUR ................................................................ 2. Prosedur Pemberian KUR .......................................................... 35 35 38 B. Hak dan Kewajiban Para Pihak Perjanjian KUR oleh BRI Kepada UMKM ............................................................................................. 1. Hak dan Kewajiban BRI ............................................................. 2. Hak dan Kewajiban UMKM ...................................................... 45 45 48 C. Wanprestasi dan Penyelesaiannya Dalam Pemberian KUR Kepada UMKM ............................................................................................. 50 V. PENUTUP A. Kesimpulan........................................................................................ B. Saran .................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 56 57 DAFTAR PUSTAKA A. Buku Badrulzaman, Mariam Darus. 1983. Perjanjian Kredit Bank. Citra Aditya Bhakti, Bandung. . 1994. Aneka Hukum Bisnis. Alumni, Jakarta. Djumhana, Muhamad. 2003. Hukum Perbankan di Indonesia. PT Citra Aditya Bakti, Bandung. Firdaus, Rachmat Firdaus, dan Maya Ariyanti. 2003. Manajemen Perkreditan Bank Umum. Alfabeta, Bandung. Muhammad, Abdulkadir. 2000. Hukum Perdata Indonesia.Bandung. PT Citra Aditya Bakti, Bandung. . 2004. Hukum dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti, Bandung. Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja. 2004. Perikatan yang Lahir dari Perjanjian. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Salam, Mochamad Faisal.2005.Pemberdayaan BUMN di Indonesia. Pustaka, Bandung. Satrio, J. 1999. Perikatan Pada Umumnya. Alumni. Bandung. Soebekti, R. 1984. Pokok-pokok Hukum Perdata. Intermasa, Jakarta. Soekanto, Soejono. 1984. Pengantar Penelitian Hukum. Universitas Indonesia Press, Jakarta. _______________ dan Sri Mamudji. 1985. Pengantar Hukum Normatif. CV Rajawali, Jakarta. Suhardi, Gunarto. 2007. Usaha Perbankan dalam Perspektif Hukum. Kanisius, Yoyakarta. Syamsiar, Ratna. 2006. Hukum Perbankan. Penerbit Universitas Lampung. Lampung. B. Peraturan Perundang-undangan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM C. Internet http://kredit-usaha-rakyat.co.cc diakses tanggal 28 Januari 2012 http://www.bri.co.id diakses tanggal 28 Januari 2012 Judul Skripsi : DESKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT USAHA RAKYAT KEPADA USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (Studi pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim) Nama Mahasiswa : HOKKOP DEDY COY NABABAN No. Pokok Mahasiswa : 0852011105 Bagian : Hukum Perdata Fakultas : Hukum MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing Hj. Nilla Nargis, S.H., M.Hum. NIP 195701251985032002 Hj. Aprilianti, S.H.,M.H. NIP 196501011990032002 2. Ketua Bagian Hukum Perdata Dr. Wahyu Sasongko, S.H., M.Hum. NIP 1958052711984031001 MENGESAHKAN 1. Tim Penguji Ketua : Hj. Nilla Nargis, S.H., M.Hum. ........................... Sekretaris/Anggota: Hj. Aprilianti, S.H., M.H. .......................... Penguji Bukan Pembimbing: Hj. Rosida, S.H. ........................... 2 Dekan Fakultas Hukum Dr. Heryandi, S.H., M.S. NIP.196211091987031003 Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 9 April 2012 MOTTO Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11) Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan. (Penulis) Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan. (Penulis) Emas yang murni diperoleh melalui proses pembakaran dengan api dan penyaringan dan semua itu butuh proses. (Penulis) PERSEMBAHAN Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YME atas nikmat yang telah diberikan kepadaku, Kupersembahkan karya kecilku ini kepada orang tuaku tercinta “Bpk. Dorman Nababan,S.Pd dan Ibu Julia Panggabean” Yang telah membesarkan penulis dengan penuh kasih sayang. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tanjung Karang, Bandar Lampung tanggal 9 Januari 1990, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dari Bapak Dorman Nababan, S.Pd dan Ibu Julia Panggabean. Riwayat pendidikan penulis dimulai pada Taman Kanak-Kanak Xaverius Way Halim Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 1996 . Sekolah Dasar diselesaikan pada tahun 2002 di SD Xaverius Way Halim Bandar Lampung, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Xaverius Way Halim Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2005, dan SMA Fransiskus Bandar Lampung, diselesaikan pada tahun 2008. Pada tahun 2008, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung. Penulis aktif dalam kegiatan pemantau persidangan kerjasama antara Fakultas Hukum Unila dengan KPK khususnya persidangan Tipikor di Bandar Lampung Tahun 2011-2012 dan Tahun 2011 mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Tulang Bawang Barat tepatnya desa Balam Asri kecamatan Way Kenanga. SANWACANA Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Deskripsi Pelaksanaan Perjanjian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim)”. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi masih banyak jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun, semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya maupun bagi siapa saja yang membacanya terutama bagi mahasiswa fakultas hukum sendiri. Pada penyelesaian skripsi ini penulis banyak mendapat saran, bantuan, dan petunjuk, maka pada kesempatan ini saya haturkan banyak terima kasih dan rasa hormat saya yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.S., Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung. 2. Bapak Prof. Dr. I Gede AB Wiranata, S.H., M.H., Ketua Bagian Hukum Perdata. 3. Ibu Nilla Nargis, S.H, M.Hum., Dosen Pembimbing sekaligus Ketua Penguji yang telah banyak membantu dan membimbing dalam penyusunan skripsi ini. Teriamakasih untuk masukan dan saran-saran yang diberikan dengan penuh kesabaran kepada penulis sehingga skripsi ini terselesaikan. 4. Ibu Aprilianti, S.H., M.H., Dosen Pembimbing sekaligus Sekertaris Penguji yang telah banyak membantu dan membimbing dalam penyusunan skripsi ini. Teriamakasih untuk masukan dan saran-saran yang diberikan dengan penuh kesabaran kepada penulis sehingga skripsi ini terselesaikan. 5. Ibu Rosida, S.H., Dosen Pembahas 1 sekaligus Penguji Utama yang telah banyak membantu dan memberi saran dalam penyusunan skripsi ini. 6. Ibu Kasmawati, S.H., M.H. Dosen Pembahas 2 yang telah banyak membantu dan memberi saran dalam penyusunan skripsi ini. 7. Bapak Ahmad Saleh, S.H., M.H. Dosen Pembimbing Akademik Penulis. 8. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Lampung. 9. Bapak Ramson Tambunan selaku Pimpinan cabang BRI Way Halim yang banyak membantu serta memberikan jawaban dan izin dalam melakukan penelitian ini 10. Kedua orang tuaku D. Nababan, S.Pd. dan J. Panggabean yang telah banyak memberi bantuan, dan dorongan baik moril maupun materil. 11. Buat kedua adikku Samuel Natanael Nababan dan Rebecca Aprilia Nababan yang mendokan serat mendukung penulis. 12. Ibu Sartini, S.E.,M.H. yang memotifasi untuk membantu penulis 13. Sahabat-sahabatku Formahkris dari alumni sampai yang masih kuliah yang memotifasi untuk membantu penulis. 14. Mas Tarno dan Mba Siti yang telah banyak membantu. 15. Seluruh angkatan 2008 Fakultas Hukum. 16. Fepi Gustia Yolandari, A.Md. A.K. yang selalu memberi perhatian, motifasi dan doanya 17. Semua pihak yang telah memberikan dorongan dan dukungan kepada penulis yang tidak dapat disebut satu-satu. Penulis berharap semoga Tuhan YME memberikan balasan atas atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dan semoga skripsi ini dapat bermamfaat untuk menambah wawasan keilmuan bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya. Bandar Lampung, April 2012 Hokkop Dedy Coy

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN KREDIT USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) PADA BANK UMUM DI INDONESIA
3
21
88
ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN DALAM PROSES PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (StudiKasusPada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Oro-Oro Dowo Malang)
160
687
25
ANALISIS YURIDIS PEMBERIAN KREDIT MIKRO BAGI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI P.T. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK CABANG JEMBER UNIT GAJAH MADA
0
7
66
ANALISIS YURIDIS PEMBERIAN KREDIT MIKRO BAGI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI P.T. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK CABANG JEMBER UNIT GAJAH MADA
0
5
16
EVALUASI PELAKSANAAN PENGENDALIAN INTERNAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS SISTEM PEMBERIAN KREDIT USAHA MIKRO KECIL MENENGAH ( Studi Kasus Bank UMKM Cabang Jember )
0
7
53
PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO BERJANGKA (Studi Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Unit Pasar Induk, Cabang Teluk Betung, Bandar Lampung)
1
10
41
DESKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT USAHA RAKYAT KEPADA USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim)
10
96
46
ANALISIS KREDIT USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS BANK BADAN USAHA MILIK NEGARA DI INDONESIA
0
2
59
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBERIAN KREDIT USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (STUDI KASUS PADA BANK NEGARA INDONESIA)
0
16
53
MEMBANGUN LOYALITAS NASABAH DEBITOR USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
0
0
12
KEBIJAKAN DINAS KOPERASI DAN UMKM DALAM MENYALURKAN KREDIT USAHA RAKYAT OLEH PIHAK KETIGA UNTUK MODAL USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI PROVINSI LAMPUNG
1
0
16
ASAS KESEIMBANGAN PADA PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN DENGAN NASABAH PELAKU USAHA KECIL E y Mulya Abstrak - ASAS KESEIMBANGAN PADA PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN DENGAN NASABAH PELAKU USAHA KECIL
0
1
7
PERBANKAN SYARIAH SEBAGAI DAYA PENDORONG USAHA MIKRO KECIL MENENGAH DI INDONESIA
0
0
10
PELAKSANAAN PENYALURAN KREDIT USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH PADA BANK TABUNGAN NEGARA CABANG MEDAN SKRIPSI
0
0
83
DINAS KOPERASI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH KABUPATEN BEKASI 2015
1
5
29
Show more